Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika

Gratis

0
0
87
3 months ago
Preview
Full text

  

PEMBELAJARAN FISIKA

DENGAN METODE DEMONSTRASI UNTUK

MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA

TENTANG GAYA LORENTZ

PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh :

Ida Andriyani Rahayuningsih

  

011424005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  

PEMBELAJARAN FISIKA

DENGAN METODE DEMONSTRASI UNTUK

MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA

TENTANG GAYA LORENTZ

PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh :

Ida Andriyani Rahayuningsih

  

011424005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  Halaman Motto dan Persembahan “Apapun yang terjadi hadapi dengan senyuman dan maju terus pantang

   putus asa”

Skripsi ini kupersembahkan untuk keluargaku, suamiku dan putri kecilku yang

telah memberikan semangat dalam hidupku dan membuat hidupku lebih berarti.

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tugas "SKRIPSI" ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan dan dibuat di perguruan tinggi manapun kecuali kami mengambil atau mengutip data dari buku yang tertera pada daftar pustaka. Dan, sepengetahuan kami juga tidak terdapat karya tulis yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, sehingga karya tulis yang kami buat ini adalah asli karya penulis.

  Yogyakarta, 30 Juli 2010 Penulis IDA ANDRIYANI R.

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma: nama :

  IDA ANDRIYANI R Nomor Induk Mahasiswa : 011424005 demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul

PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA TENTANG GAYA LORENTZ PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS

  beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Yogyakarta, 30 Juli 2010 Yang menyatakan,

  IDA ANDRIYANI R

  

ABSTRAK

  Penelitian tentang pembelajaran fisika dengan Metode Demonstrasi untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa pada pokok bahasan gaya Lorentz di SMA Negeri I Ngaglik Sleman Yogyakarta pada kelas XI IPA.

  Dalam penelitian ini dua kelas diambil sebagai sampel dari tiga kelas yang ada, kelas X1 IPA I ditetapkan sebagai kelas kontrol dan kelas X1 IPA 2 sebagai kelas penelitian. Kedua kelas itu diambil berdasarkan nilai raport semester satu. Dari nilai raport tersebut dapat terlihat bahwa kedua kelas itu tidak ada perbedaan yang signifikan atau tidak ada yang unggul. Untuk hasil tes prestasi dilihat melalui Uji beda ( uji t) pada kedua kelas itu. Dari hasil uji beda tersebut dapat dilihat bahwa metode demonstrasi berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman konsep siswa yang dapat ditunjukkan dari hasil nilai prestasi kelas penelitian mempunyai rata-rata kenaikan 1,09. Kenaikan nilai ini lebih tinggi daripada rata- rata kenaikan nilai kelas kontrol yaitu 0,80. Pada kedua kelas itu sama-sama mengalami kenaikan pada nilai prestasi rata-rata tetapi untuk kelas penelitian mempunyai kenaikan nilai rata-rata lebih tinggi daripada kelas kontrol. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi pada pembelajaran gaya Lorentz meningkatkan pemahaman konsep siswa pada siswa kelas X1 IPA SMA Negeri 1 Ngaglik, Sleman Yogyakarta lebih baik daripada pembelajaran konvensional.

   ABSTRACT

  A research of Physics learning process using Demonstrative method about student’s concept understanding on Lorentz force in SMA Negeri 1 Ngaglik, Sleman, Yogyakarta for grade XI IPA.

  In this research, there are 2 classes taken as samples among three classes; class XI IPA 1 is decided as control class and class XI IPA 2 as research class.

  Both of the classes are taken based on the scores on their school report cards in semester 1. From the school report card, it can be seen that between those two classes there are no significant differences or in other words, they are slightly the same. The achievement test result can be seen by t test on both those classes.

  From the result of the t test, it can be seen that demonstrative method influences in the improvement of student’s concept understanding, which can be shown from the result of achievement score of the research class that has average score 1.09. This score improvement is higher than the average score of control class, which is

  0.80. Those two classes have improvement on the average of the achievement score, but the research class has higher average score than control class. Thus, it can be concluded that by using demonstrative method on the learning process of Lorentz force, the improvement of student’s concept understanding on students of class XI IPA 1 SMA Negeri 1 Ngaglik, Sleman, Yogyakarta is better than the conventional learning process.

  

DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………… i Halaman Persetujuan Pembimbing ………………………………. ii Halaman Pengesahan………………………………………………. iii

Persembahan……………………………………………………….. iv

Pernyataan Keaslian Karya……………………………………….. v

Abstrak……………………………………………………………… vi

Abstract……………………………………………………………... viii

Daftar Isi…………………………………………………………….. ix Kata Pengantar……………………………………………………… xi Daftar Gambar……………………………………………………… xiii Daftar Tabel…………………………………………………………. xiv BAB I. PENDAHULUAN………………………………………….

  1 A. Latar Belakang Permasalahan…………………………………. 1

  B. Perumusan Masalah………………………………………

  4 C. Tujuan Penelitian…………………………………………

  4 D. Pembatasan Masalah……………………………………...

  5 E. Manfaat Penelitian………………………………………..

  5 BAB II. DASAR TEORI……………………………………………

  6 A. Hakikat Pembelajaran Fisika…………………………….

  6 B. Tujuan Pembelajaran Fisika………………………………

  8 C. Macam–macam Metode Pembelajaran……………………

  10 D. Prestasi Belajar……………………………………………

  10

BAB III. METODE PENELITIAN………………………………….

  16 A. Jenis Penelitian……………………………………………..

  16 B. Waktu Dan Tempat Penelitian……………………………...

  16 C. Subyek Penelitian…………………………………………..

  16 D. Prosedur Pengambilan Data………………………………...

  17 E. Instrumen Penelitian……………………………………….

  21 F. Analisis Data………………………………………………..

  22 BAB IV. DATA DAN PEMBAHASAN…………………………….

  26 A. Pelaksanaan Penelitian……………………………………..

  26 B. Data Penelitian Dan Pembahasan………………………….

  27 a. Data Penelitian Perbedaan Kelas…………………..

  27 b. Pengambilan Data Prestasi Belajar………………...

  30 BAB V. PENUTUP…………………………………………………..

  40 A. Kesimpulan……………………………………………….. 40

  B. Saran……………………………………………………… 40 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………….

  42 LAMPIRAN………………………………………………………… 43

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karuniaNya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini adalah sebagian persyaratan untuk mencapai derajat sarjana S-1 program studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

  Penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “ Pembelajaran Fisika

  

Dengan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa

tentang gaya Lorentz Pada Sekolah Menengah Atas” karena adanya bantuan dan

  kerjasama dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini perkenankan penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Drs. A. Atmadi, M.Si. selaku dosen pembimbing yang memberikan dorongan, semangat, saran dan kritikan serta membimbing penulis dalam penulisan skripsi ini.

  2. Kepala sekolah SMA Negeri 1 Ngaglik Sleman Yogyakarta

  3. Ibu Sri Setiyati, selaku guru bidang studi Fisika kelas X1 IPA SMA Negeri 1 Ngaglik Sleman Yogyakarta.

  4. Drs. Domi Saverinus, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Akademik.

  5. Segenap dosen Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma, yang telah membimbing penulis selama kuliah di Universitas Sanata Dharma.

  6. Bapak dan Ibu tercinta untuk doa, dukungan, nasehat dan kasih sayangnya.

  7. Suamiku dan putri kecilku “ARETA” yang selalu memberikan dukungan

  8. Adik-adikku yang selalu mendukung dan membantu terselesainya skripsi ini.

  9. Semua rekan-rekan mahasiswa, sahabat dan teman-teman yang membantu terselesaikan skripsi ini.

  10. Serta semua pihak yang telah membantu atas terselesainya Skripsi ini serta yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

  Penulis menyadari dalam pembahasan masalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis terbuka untuk menerima kritik dan saran yang membangun.

  Semoga naskah ini berguna bagi mahasiswa Pendidikan Fisika dan pembaca lainnya. Jika ada kesalahan dalam penulisan naskah ini penulis minta maaf yang sebesar-besarnya, terima kasih.

  Yogyakarta, 30 Juli 2010 Penulis IDA ANDRIYANI R.

  

DAFTAR GAMBAR

Hal

Gambar 4.1. Grafik Nilai Tes Prestasi Belajar Siswa Kelas Kontrol………… 32Gambar 4.2. Grafik Nilai Tes Prestasi Belajar Siswa Kelas Penelitian………. 34

  DAFTAR TABEL Hal

Tabel 4.1. Daftar Nilai Raport Semester Kelas XI IPA……………………

  27 Tabel 4.2. Daftar Nilai Kelas Kontrol Kelas XI IPA 1…………………….

  31 Tabel 4.3. Daftar Nilai Kelas Penelitian Kelas XI IPA 2…………………..

  32 Tabel 4.4. Selisih Nilai Pos Test Dan Pre Test Pada kelas Kontrol maupun Pada Kelas Penelitian………………………………………………… 34 Tabel 4.2. Ringkasan Hasil Statistik………………………………………..

  38 Tabel 4.6. Ringkasan Hasil Analisis Tes Prestasi…………………………... 39

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Banyak siswa mempunyai pendapat bahwa pelajaran fisika

  merupakan pelajaran yang sukar. Hal ini dikarenakan pembelajaran fisika sering dilakukan secara tradisional yang didominasi oleh pemindahan pengetahuan dari guru kepada siswa. Siswa tidak tertarik pada fisika, tidak memiliki motivasi untuk belajar fisika dan akhirnya menutup diri pada fisika.

  Pelajaran fisika yang sukar dan tidak menyenangkan biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan satu dengan yang lainnya, seperti kurikulum, kemampuan dan sikap guru, sistem evaluasi, sikap siswa terhadap fisika dan motivasi siswa dalam belajar fisika serta sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran fisika.

  Proses pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang kegiatannya didominasi oleh siswa. Yang ditekankan bukan bagaimana guru mengajar, melainkan bagaimana guru menciptakan situasi, merancang kegiatan, membimbing dan membantu siswa, sehingga siswa terlibat dalam kegiatan belajar yang relevan dan berkesinambungan. Pembelajaran yang seperti itulah yang secara terus menerus mengaktifkan siswa. Pembelajaran berpusat pada siswa artinya siswa sebagai pelaku utama atau subyek belajar, kegiatan didominasi oleh siswa, siswa dalam menciptakan situasi belajar yang mendukung supaya kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik.

  Reorientasi sistem pembelajaran baru yang lebih efektif dapat dilakukan melalui berbagai macam metode dan pendekatan. Pendekatan dan metode merupakan dua hal yang sering kita jumpai penggunaannya secara bersamaan. Dalam prakteknya, penggunaan kedua kata ini seringkali saling menggantikan meskipun memiliki pengertian yang berbeda. Menurut Masofa (2008), pendekatan merupakan teori atau asumsi. Metode adalah pengembangan yang lebih konkret dari teori tersebut, berupa prosedur-prosedur berdasarkan teori tersebut di dalam berbagai bentuk kegiatan kelas.

  Untuk pembelajaran fisika, salah satu pendekatan yang efektif adalah pendekatan penemuan yang disertai metode demonstrasi. Dengan pendekatan penemuan yang disertai dengan metode demonstrasi, rasa keingintahuan siswa dapat tersalurkan karena dengan pembelajaran dengan pendekatan ini, guru menyajikan masalah kepada siswa dan meminta mereka untuk memecahkan masalah tersebut malalui kegiatan penelitian yang ditunjukkan dengan demonstrasi. Pendekatan dan metode ini dapat menstimulasi siswa untuk lebih aktif dan kreatif berorientasi pada proses, yaitu psoses untuk menangkap permasalahan yang diajukan oleh guru, mengamati obyek yang diteliti dalam praktek demonstrasi, memunculkan hipotesis, mempresentasikan hasil pengamatan mereka dan mengambil

  Di dalam proses belajar mengajar sains diperlukan adanya suatu rentetan proses gejala alam yang terjadi. Siswa dituntut untuk dapat menjelaskan fenomena yang terjadi. Untuk dapat menjelaskan fenomena tersebut diperlukan suatu urutan pertanyaan pembelajaran yang dapat mengembangkan pola berfikir siswa. Oleh karena itu sentral pengajaran sains adalah prosesnya (menekankan pada aspek proses), maka metode mengajar yang memberikan peluang untuk terlaksannya pendekatan keterampilan proses akan sangat berperan dalam membantu pola pikir dan pemahaman siswa.

  Metode mengajar yang mengutamakan pendekatan keterampilan proses dalam proses belajar mengajar sains akan membuat sains lebih menyenangkan dengan membentuk sikap meneliti di dalam diri siswa. Pendekatan keterampilan proses akan mendorong kebiasaan berpikir siswa, di mana siswa dibantu untuk menggagas pertanyaan-pertanyaan yang muncul sebelum pembelajaran berlangsung. Dengan demikian dalam diri siswa telah ditumbuhkembangkan sikap keilmuan.

  Metode pembelajaran yang memungkinkan terlaksananya pendekatan keterampilan proses salah satunya adalah metode demonstrasi.

  Keterampilan proses dapat dikembangkan melalui pebelajaran sains dengan berbantuan media, karena dengan adanya media siswa dirangsang agar lebih berminat mencari pengetahuan dan melibatkan siswa secara aktif untuk dapat mengobservasi, mengukur, mengklarifikasi data, melakukan eksperimen, mengaplikasikan data dan mengaplikasikan pengetahuan yang telah didapatkan dalam kehidupan bermasyarakat.

  Penerapan sistem pembelajaran dengan menerapkan pendekatan dan metode yang kreatif dan inovatif diharapkan dapat memicu minat siswa dalam aktifitas belajar yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan prestasi belajar siswa. Tujuan lain yang dapat dicapai dengan keberhasilan pendekatan dan metode tersebut adalah terciptanya lingkungan belajar yang kondusif dan berkualitas. Lingkungan belajar yang kondusif dan berkualitas memberi pengaruh nyata bagi subyek didik, mengembangkan potensi dan intelektualitasnya.

  B. Perumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah, perumusan masalahnya adalah “Apakah pembelajaran fisika dengan metode demonstrasi pada pokok bahasan gaya Lorentz dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa lebih baik daripada metode konvensional (ceramah)? “

  C. Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pembelajaran fisika dengan metode demonstrasi pada pokok bahasan gaya Lorentz ini berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman konsep siswa dibandingkan dengan metode konvensional (ceramah).

  D. Pembatasan Masalah

  Dalam penelitian ini penulis hanya akan membatasi pada pembelajaran fisika dengan metode demonstrasi untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa pada pokok bahasan gaya Lorentz.

  E. Manfaat Penelitian

  Manfaat dari penelitian ini adalah menambah pengetahuan dan wawasan bagi guru dan calon guru fisika tentang pembelajaran sains yang menekankan aspek proses dengan metode demonstrasi dan juga menambah pembendaharaan guru dan calon guru fisika bahwa pembelajaran sains dengan metode demonstrasi yang dipandu dengan pertanyaan dapat lebih mengembangkan pemahaman siswa.

BAB II DASAR TEORI A. Hakikat Pembelajaran Fisika Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses interaksi antara

  peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (Mulyasa, 2002: 100). Proses pembelajaran akan senantiasa merupakan proses interaksi antara dua unsur manusiawi, yaitu siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar (Sardiman A. M, 1986: 14).

  Komponen pendukung dalam proses interaksi antara siswa dan guru adalah sebagai berikut: a.

  Interaksi pembelajaran memiliki tujuan, yaitu untuk membantu siswa dalam suatu perkembangan tertentu.

  b. Ada suatu prosedur (cara interaksi) yang direncana, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

  c.

  Interaksi pembelajaran ditandai dengan aktivitas siswa, baik secara fisik maupun mental karena siswa merupakan subyek pembelajaran, maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi proses pembelajaran.

  d. Dalam interaksi pembelajaran, guru berperan sebagai pembimbing. e.

  Dalam interaksi pembelajaran diperlukan adanya batas waktu tertentu dalam usaha pencapaian tujuan pembelajaran.

  Selama melakukan kegiatan dalam pembelajaran perlu ditumbuh- kembangkan kemampuan-kemampuan dalam menggunakan keterampilan proses seperti mengajukan pertanyaan, menduga pertanyaan, merancang penyelidikan, melakukan percobaan, mengelola dan merubah data, mengevaluasi hasil dan mengkomunikasikan temuannya kepada beragam orang dengan berbagai cara yang dapat memberi pemahaman dengan baik ( Balitbang, 2002: 1-2).

  Kegiatan pembelajaran dapat diartikan sebagai menciptakan situasi, kondisi, dan kemudahan, memberikan pengarahan dan bimbingan yang mengantar siswa melakukan sederetan proses secara berkesinambungan untuk membangun sendiri konsep dan mendefinisikan (Kartika Budi, 1998: 169).

  Menurut Elis dalam Kartika Budi (2001), efektifitas suatu pembelajaran mengacu pada proses dan hasil. Pembelajaran dikatakan berhasil jika dengan pembelajaran tersebut dapat menghasilkan siswa dengan prestasi akademik tinggi. Keberhasilan pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa, yaitu banyaknya siswa yang berhasil dan kualitas keberhasilannya.

  Salah satu cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains adalah Kartika Budi (1991: 8), sains adalah suatu bangunan pengetahuan (body of knowlage) dan proses keillmuan (scientific process); Sains adalah serangkaian konsep-konsep dan skema konsep-konsep yang saling terkait yang dikembangkan sebagai hasil dari eksperimen dan observasi serta berguna untuk eksperiment selanjutnya. Di sisi lain menurut Conant yang dikutip oleh Kartika Budi (1991: 8), obyek dari IPA (Sains) adalah mengkoordinasi pengalaman–pengalaman kita dan menyusunnya dalam suatu sistem yang logis. Menurut Cambell (sebagai mana dikutip oleh Kartika Budi, 1998: 161), sains adalah pengetahuan (knowlage) yang bermanfaat dan praktis serta cara atau metode untuk memperolehnya.

  Dari beberapa pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sains merupakan suatu pengetahuan sebagai hasil dari eksperimen yang dipelajari melalui interaksi dengan alam dengan menggunakan proses keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis sehingga sains bukan penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan proses penemuan (Depdiknas, 2003: 1).

B. Tujuan Pembelajaran Fisika

  Tujuan pembelajaran fisika harus meliputi tiga aspek yaitu pengetahuan, proses dan sikap. Dari aspek pengetahuan tujuan pembelajaran fisika adalah agar siswa mampu menguasai konsep-konsep fisika adalah agar siswa memiliki ketrampilan proses dalam menemukan pengetahuan (Fakta dan Konsep); sedangkan dari aspek sikap tujuan pembelajaran fisika adalah agar siswa mempunyai sikap keilmuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

  Pembelajaran fisika di sekolah diharapkan dapat memberikan berbagai pengalaman pada siswa dengan mengijinkan siswa melakukan berbagai penelusuran ilmiah yang relevan. Pembelajaran sains diharapkan membimbing dan melatih siswa melakukan proses kegiatan ilmiah, secara rasional dan empiris melakukan penyelidikan tentang hal-hal yang dihadapi. Lewat penyelidikan dan mungkin dengan percobaan-percobaan siswa diharapkan mampu mamahami serta merumuskan pengetahuannya. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh siswa merupakan hasil dari proses kegiatan ilmiah yang dilakukan dan bukan hanya sekedar dihafal.

  Tujuan utama pembelajaran sains adalah untuk mengembangkan cara berpikir siswa dan untuk mengembangkan skill siswa dalam proses keilmuan seperti pengumpulan data, analisis, pengajuan hipotesis dan eksperimen. Hal tersebut sejalan dengan hakikat sains, yang dicapai melalui pembelajaran sains yang harus dapat mengembangkan pemahaman siswa tentang alam, mengembangkan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk memperoleh atau mengolah pengetahuan baru dan mengembangkan sikap positif.

  C. Macam-macam Metode Pembelajaran

  Metodologi mengajar adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktifitas yang sistematis dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan kegiatan sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai. Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai yang telah dirumuskan oleh pendidik, maka perlu mengetahui, mempelajari beberapa metode mengajar serta dipraktekkan pada saat mengajar. Terdapat beberapa jenis metode pembelajaran, antara lain: a.

  Metode ceramah

  b. Metode diskusi c.

  Metode demonstrasi d.

  Metode percobaan

  e. Metode karya wisata f.

  Metode penemuan ( discovery), dll.

  D. Prestasi belajar

  Prestasi merupakan hasil yang dicapai setelah seseorang atau siswa melakukan kegiatan. Seseorang anak dikatakan memiliki prestasi yang tinggi jika hasil evaluasi yang didapat adalah tinggi, begitu sebaliknya evaluasi adalah rendah (Arikunto; 2001: 32). Sementara menurut Oemar Hamalik (1982: 28), prestasi adalah hasil yang diperoleh dari hasil kegiatan belajar, yaitu dari belum mengerti menjadi mengerti.

  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 45), dituliskan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan.

  Sedangkan menurut Tabrani dan Rusyan (1989: 8), prestasi belajar merupakan tingkat atau besarnya perubahan tigkah laku yang dicapai dari suatu pengalaman yang mengarah pada penguasaan pengetahuan, kecakapan dan kebiasaan. Jadi, belajar saja tidak cukup, harus diiringi dengan pengalaman. Pengalaman lebih mudah dipahami, untuk mencapai penguasaan dan kecakapan dalam belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prestasi belajar diperoleh siswa setelah mengalami proses belajar fisika.

  Usaha mengevaluasi hasil belajar biasanya dilakukan dengan mengadakan pengukuran dalam bentuk ujian tertulis, lisan, maupun praktik yang kemudian diberi skor, yang biasanya berwujud angka. Skor adalah angka yang menyatakan tingkat kebenaran jawaban siswa dalam ujian atau tes. Hasil pengukuran ini merupakan data yang diwujudkan dalam bentuk angka-angka, atau yang disebut nilai. Nilai adalah simbol yang digunakan untuk menyatakan peringkat keberhasilan siswa selama mengikuti pelajaran.

E. Metode Demonstrasi

  Metode demonstrasi adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung obyeknya, atau cara melakukan sesuatu atau mempertunjukkan prosesnya (Jusuf, 1982: 93).

  Dalam pembelajaran fisika, metode demonstrasi tidak hanya dipergunakan untuk mempelihatkan sesuatu untuk dilihat, melainkan banyak dipergunakan untuk mengembangkan suatu pengertian, mengemukakan suatu masalah, memperlihatkan penerapan suatu prinsip, menguji kebenaran suatu hukum dan untuk memperkuat suatu pengertian.

  Metode demonstrasi dapat diterapkan untuk mencapai tujuan: 1) menyelaraskan suatu konsep tertentu: 2) mengatasi suatu miskonsepsi atau kesenjangan pemahaman; 3) membantu memahami penyelesaian suatu persamaan; dsb.

  Demonstrasi tidak harus selalu dilakukan oleh guru. Terkadang dalam hal yang mudah dan tidak memerlukan suatu ketrampilan yang tinggi, demonstrasi dapat dilakukan oleh siswa. Hal tersebut dimaksudkan agar siswa menjalani proses keilmuan dan akhirnya memiliki sikap dan nilai nilai keilmuan.

  Demonstrasi yang dirancang, dipersiapkan, dan dilaksanakan dengan baik, memberi peluang yang besar akan terlaksananya pendekatan ketrampilan proses, dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, dapat dipakai sebagai variasi kegiatan dan metode pembelajaran sehingga mengurangi kebosanan siswa (Kartika Budi, 1991: 11).

  Tujuan dan manfaat demonstrasi adalah sbb : 1) Demonstrasi memberikan gambaran dan penertian yang lebih jelas daripada hanya penjelasan lisan.

  2) Demonstrasi memberri kesempatan kepada siswa untuk melakukan pengamatan secara cermat.

  3) Menghindari adanya verbalisme karena dalam metode ini setelah anak melihat peragaan kemudian siswa sendiri bisa mencoba melakukannya. 4) Dalam metode ini anak lebih dapat berfikir karena dengan melihat sesuatu maka siswa akan memikirkan apa yang telah mereka lihat. Langkah- langkah pelaksanaan demonstrasi: 1)

  Mempersiapkan langkah-langkah yang akan didemonstrsi sehingga dapat dikuasai sepenuhnya.

  2) Lakukan sendiri langkah tersebut sebelum didemonstrasikan di muka kelas.

  3) Catatlah kerangka garis besar yang akan didemonstrasikan sehingga siswa lebih mudah mengikuti jalannya peragaan.

  4) Pelaksanaan demonstrasi dengan mengusahakan agar semua siswa dapat mengikuti dengan baik.

  5) Suruh salah satu atau beberapa orang siswa untuk mencoba melakukannya.

  6) Siswa disuruh merumuskan hasil pengamatan. 7)

  Melakukan tanya jawab mengenai hasil demonstrasi, kesimpulan dan penjelasannya.

  8) Kemudian melakukan diskusi dan penjelasan secara lengkap. 9) Siswa diberi evaluasi berupa soal atau pertanyaan. Demonstrasi yang dipandu pertanyaan akan sangat membantu mengungkap pemahaman siswa. Untuk itulah perlu dibahas pentingnya bertanya dalam demonstrasi dan pemilihan pertanyaan dalam demonstrasi F.

   Pemahaman Konsep

  Salah satu tujuan pembelajaran di sekolah adalah agar siswa memiliki kemampuan untuk memahami hal yang dipelajari. Pemahaman adalah suatu bentuk pengertian yang menyebabkan seseorang mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Seseorang dikatakan memahami apabila dia dapat menjelaskan suatu situasi, menafsirkan grafik, mengubah hukum kedalam persamaan matematis, mengubah persamaan matematis kedalam kalimat dan menafsirkan tabel (Irmina, 2002: 17).

  Fisika pada hakekatnya merupakan akumulasi hasil keilmuan berupa konsep-konsep fisika, prinsip, hukum dan teori yang diperoleh melalui proses keilmuan dan sikap keilmuan. Dengan demikian memfasilitasi siswa, dapat diartikan sebagai memfasilitasi proses siswa membangun konsep, hukum, teori. Bila hal ini dilakukan, maka tujuan yang harus dicapai siswa dalam belajar fisika supaya dapat memahami konsep adalah dengan melakukan proses keilmuan dan memiliki sikap keilmuan yang diperlukan dalam melakukan proses tersebut. (Kartika Budi, 1992: 133). Proses pembelajaran fisika yang benar haruslah mengembangkan perubahan konsep. Pemahaman konsep merupakan dasar dari pemahaman prinsip dan teori, artinya untuk memahami prinsip dan teori haruslah dipahami terlebih dahulu konsep-konsep yang menyusun prinsip dan teori yang bersangkutan. Berdasarkan hal ini pemahaman konsep memegang peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar agar dapat dimengerti dan diterima sejauh tidak mengabaikan aspek-aspek lainnya. Pemahaman merupakan aspek kognitif, karena berhubungan dengan hasil belajar intelegensia.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan ini bersifat kuantitatif yaitu

  suatu usaha untuk mengumpulkan, menyusun, menginterprestasikan data yang ada kemudian menganalisis data tersebut, menggambarkan dan menelaah secara lebih jelas dari berbagai faktor yang berkaitan dengan keadaan situasi dan fenomena yang diselidiki. Dalam hal ini penulis mencari fakta dan data untuk mengetahui efektifitas peningkatan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran dengan metode demonstrasi pada pokok bahasan gaya Lorentz.

  B. Waktu dan Tempat Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas Negeri I Ngaglik Sleman Yogyakarta, pada bulan April 2010.

  C. Subyek Penelitian

  Subyek penelitian ini adalah siswa SMA kelas X1 IPA . Dari tiga kelas kelas yang ada, dipilih dua kelas sebagai sampel, yaitu kelas X1

  IPA2 sebagai kelas penelitian dan kelas X1 IPA1 sebagai kelas kontrol. Kedua kelas itu dipilih berdasarkan nilai raport fisika yang tidak ada perbedaan berarti semester satu yang diampu oleh guru yang sama. Tidak adanya perbedaan di kedua kelas tersebut ditunjukkan melalui hasil uji t terhadap nilai tersebut yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan diantara kedua kelas itu.

D. Prosedur Pengambilan Data

  Pengambilan data dilakukan pada masing-masing kelas, yaitu pada kelas penelitian yang diajar dengan pendekatan metode demonstrasi dan pada kelas kontrol yang diajar dengan pendekatan metode ceramah (konvensional). Secara umum prosedur penelitian ini mencakup tiga tahapan yaitu: a) Pre test pada setiap kelas

  Pada pertemuan awal, siswa pada masing-masing kelas yang diteliti diberikan pengarahan singkat mengenai pokok bahasan yang akan diajarkan. Pengarahan tersebut berupa deskripsi mengenai pokok bahasan gaya Lorentz. Setelah itu, dilaksanakan tes kemampuan awal siswa pada masing-masing kelas. Pre test diberikan dengan soal yang sama untuk setiap kelas.

  b) Pembelajaran pada setiap kelas 1) Langkah-langkah pembalajaran kelas penelitian

  1. Kegiatan pendahuluan Kegiatan pendahuluan pada kelas ini yaitu: peneliti memberitahukan tentang pokok bahasan yang akan diberikan yaitu tentang gaya Lorentz.

2. Kegiatan inti

  Dalam tahap ini peneliti melaksanakan langkah-langkah pembelajaran untuk diterapkan dalam kelas. Kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini dilaksanakan dengan mengikuti prosedur sebagai berikut: a.

  Memusatkan perhatian siswa.

  Peneliti yang bertindak sebagai guru menarik dan memusatkan perhatian siswa dengan memberikan contoh-contoh kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang pernah ditemui atau dialami oleh siswa sesuai dengan pokok bahasan. Contoh-contoh dan penggalian kembali fenomena-fenomena yang pernah ditemui tersebut dijadikan dasar dan modal untuk memasuki topik bahasan yang direncanakan.

  b. Memunculkan pertanyaan-pertanyaan.

  Dengan pengalaman dan pengetahuan dasar yang telah dimiliki oleh siswa, peneliti mencoba menstimulasi perhatian dan minat siswa dengan mengajukan pertanyaan dan permasalahan yang dapat memancing rasa keingintahuan mereka untuk mengadakan pembelajaran dan penelitian lebih lanjut. c.

  Memberikan motivasi Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan. Dari kedua tahap di atas, guru dapat melihat tanggapan siswa terhadap topik bahasan yang akan dipelajari. Kemudian peneliti memberikan motivasi kepada siswa untuk mengadakan penyelidikan lebih lanjut mengenai pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan- permasalahan yang muncul dari pembelajaran singkat. Sebisa mungkin diberikan motivasi kepada siswa untuk terlibat aktif dan kreatif untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya.

  d. Pengelolaan kelas.

  Siwa yang kelasnya dijadikan sebagai kelompok penelitian diajarkan dengan metode demonstrasi e. Pendahuluan pembelajaran

  Pendahuluan pembelajaran diselenggarakan dengan memberikan penjelasan skenario pembelajaran, penjelasan tujuan pembelajaran, pelaksanaan pre test untuk mencari gambaran tertentu pemahaman f. Pelaksanaan pembelajaran Siswa diminta untuk mengikuti kegiatan pembelajaran sesuai alur yang telah ditentukan dalam rencana pembelajaran yaitu dengan mengamati dan melakukan observasi pada demonstrasi yang dilaksanakan tentang gaya Lorentz.

3. Kegiatan penutup

  Kegiatan penutup adalah kegiatan akhir dari suatu proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk merangkumseluruh materi, serta untuk memberikan evaluasi berupa tanya jawab lisan dan pemberian pertanyaan dalam bentuk soal. 2) Langkah-langkah pembelajaran kelas kontrol

  Pada kelas kontrol langkah-langkah pembelajaran yang diterapkan adalah pembelajaran biasa dengan metode ceramah, dimana guru lebih dominan dalam proses belajar mengajar. Berikut prosedur pembelajaran yang diberikan bagi kelas kontrol:

  1. Kegiatan pendahuluan Sebelum melaksanakan proses pengajaran, terlebih dahulu guru menyusun dan mempersiapkan materi yang

  2. Kegiatan inti a.

  Guru berbicara di depan kelas untuk menyampaikan materi bahan ajar kepada siswa dengan bantuan papan tulis sebagai media untuk menjelaskan materi.

  b.

  Penjelasan mengenai teori-teori yang ada dengan memberikan sedikit contoh soal kepada siswa.

  3. Kegiatan penutup Kegiatan penutup adalah kegiatan dari suatu proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk merangkum yang sudah diterangkan dan memberikan evaluasi berupa pertanyaan lisan.

  c) Pos test pada setiap kelas Pada kegiatan akhir dari pembelajaran, peneliti merangkum seluruh rangkaian kegiatan, serta memberikan pos test sebagai akhir dari kegiatan pembelajaran.

E. Instrumen penelitian

  Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui prestasi belajar fisika bagi siswa yang diajar melalui pendekatan penemuan dengan metode demonstrasi dan prestasi belajar fisika bagi siswa yang diajar dengan pendekatan konvensinal (metode ceramah).

  Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah penguasaan pemahaman konsep baik sebelum maupun sesudah pembelajaran.

F. Analisis Data

  a) Teknik pengumpulan data Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui:

1. Tes tertulis sebelum pembelajaran ( pre test) 2.

  Tes tertulis setelah pembelajaran ( pos test)

  b) Metode analisis data Pada penelitian ini, data hasil belajar siswa dianalisis secara kuantitatif. Analisis uji beda (uji t) digunakan untuk menguji keberhasilan perlakuan pendekatan penemuan terhadap pre test belajar. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran dengan pendekatan penemuan dengan metode demonstrasi yang telah dilakukan, penulis melakukan pengujian terhadap prestasi belajar dari kelas kontrol dan kelas penelitian. Prestasi belajar diukur dari hasil pos test dan pre test dari kelas kontrol dan kelompok penelitian. Prestasi belajar siswa :

  a) Hipotesis Dengan parameter selisih nilai pos test dan pre test (

  ∆X) pada kedua kelompok kelas, maka untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan prestasi belajar di antara kedua kelas, hipotesis pengujian dapat diberikan sebagai berikut: Ho : tidak terdapat perbedaan selisih nilai pos test dan pre test antara kelas kontrol dan kelas penelitian H : terdapat perbedaan selisih nilai pos test dan pre

  1

  test antara kelas kontrol dan kelas penelitian

  b) Data Untuk menentukan kelas kontrol dan kelas penelitian bahwa tidak terdapat perbedaan nilai raport yang signifikan dapat dirangkum dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 3.1. Tabel daftar nilai kelas sesuai nilai fisika raport semester

  Siswa Nilai A B

  Jumlah ( ∆X)

  Hasil jawaban pre test dan pos test siswa yang sudah diperoleh, dirangkum seperti pada tabel dibawah ini.

  Tabel. 3.2 . Selisih nilai pre test dan pos test Nilai

  Selisih Nilai Siswa

  Pre test (X ) Pos test (X ) Pos test – Pre test

  1

  2 A

  B

  Dari tabel diatas selanjutnya, hasil belajar ini digunakan pula untuk membandingkan prestasi belajar kelas penelitian dan kelas kontrol.

  Tabel. 3.3 . Selisih nilai pre test dan pos test pada kelas kontrol dan kelas penelitian.

  Nilai pre test dan pos test pada kelas Siswa

  Kontrol ( ) Penelitian ( )

  k p

  ∆X ∆X A B C

  c) Pengujian data Dari data pada tabel 3.2, selanjutnya dilakukan analisa mengenai perbedaan prestasi belajar siswa pada kelas kontrol dengan kelas penelitian. Statistika uji yang digunakan yaitu :

  X X

  ∆ − ∆ p k

  t = hitung

  ⎛ ⎞

  1

  1 ⎜ ⎟ 2 +

  S

  ⎜ ⎟

  n n

k p

  ⎝ ⎠ Dengan : 2 2

  1 n

  • n

  1 2 ( p ) p k ( ) k

  S S

  =

  S

  • p k

  −

  2

  ( )

  n n 2 2

  −

  ( ) ∑ kk 2 X

  X k n k = S k

n

  2 2

  − p p ( ) 2X

  X p n p = S p n

  ∆

  X = Rata–rata selisih nilai pos test dan pre test pada k kelas kontrol.

  ∆

  X = Rata–rata selisih nilai pos test dan pre test pada p kelas penelitian.

  n = Jumlah siswa kelas kontrol.

  k n = Jumlah siswa kelas penelitian. p 2 k = Fariansi selisih nilai test siswa kelas kontrol.

  S 2 p = Fariansi selisih nilai test siswa kelas penelitian.

  S

  Pengambilan keputusan yang diberikan yaitu bahwa Ho diterima jika t < t , dan Ho ditolak jika t >

  hitung tabel hitung

  t , dengan db = ( n + n – 2). Apabila Ho diterima maka

  tabel k p

  tidak terdapat perbedaan selisih nilai pos test dan pre test antara kelas kontrol dan kelas penelitian. Sebaliknya, jika Ho ditolak maka terdapat perbedaan selisih nilai pos test dan pre test antara kelas kontrol dan kelas penelitian.

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X1 IPA 1 dan X1 IPA 2 SMA Negeri 1 Ngaglik Sleman Yagyakarta, pada bulan April 2010, pada saat jam

  pelajaran fisika berlangsung. Penelitian ini diawali dengan sedikit penjelasan tentang peneltian pembelajaran dengan metode ceramah dan dengan metode demonstrasi. Pada kelas X1 IPA 1 diajarkan dengan metode pembelajaran ceramah dan X1 IPA 2 dengan metode demonstasi. Kedua kelas dari tiga kelas yang ada, dipilih berdasarkan atas nilai raport fisika semester satu yangyang berdasarkan uji t tidak menunjukkan perbedaan berarti. Kedua kelas tersebut diberi pre test pada awal sebelum pembelajaran berlangsung dan pos test setelah diberikan pelajaran mengenai pokok bahasan gaya Lorentz. Pre test diberikan bertujuan untuk mengetahui pemahaman awal siswa tentang gaya Lorentz. Dalam proses pembelajaran ini siswa dapat mengikuti dengan baik walaupun ada beberapa yang kurang memperhatikan. Pembelajaran dengan metode ceramah berlangsung selama dua jam pelajaran begitu juga untuk yang dengan metode demonstrasi. Pada masing-masing akhir pembelajaran dilakukan pos test yang bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan pemahaman setelah proses pembelajaran tentang pokok bahasan gaya Lorentz. Dengan adanya pre test dan pos test pada masing-masing kelas dapat diperoleh nilai yang berupa skor atau

B. Data Penelitian dan Pembahasan.

  a.

  Data Penelitian Perbedaan Kelas Subyek penelitian ini adalah kelas X1 IPA. Dari tiga kelas yang ada dipilih diambil dua kelas sebagai sampel penelitian yaitu kelas X1 IPA 1 sebagai kelas kontol dan X1 IPA 2 sebagai kelas penelitian. Kedua kelas tersebut dipilih berdasarkan nilai raport fisika selama satu semester tahun ajaran 2009/2010 yang diampu oleh guru yang sama. Daftar nilai raport kelas kontrol maupun kelas penelitian tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.1 Daftar nilai raport semester Kelas X1 IPA

  Nilai Raport No

  Kelas X1 Ipa 1 Kelas X1 Ipa 2 Siswa

  (Kontrol) (Penelitian) 1 6,5 6,6 2 7,0 7,0 3 7,0 6,6 4 6,5 7,5 5 6,5 7,5 6 6,5 7,5 7 6,8 7,0 8 6,8 6,8 9 6,5 6,7

  10 6,7 6,6 11 6,7 6,6 12 7,0 6,6 13 7,0 6,8 14 6,7 7,0 15 6,5 6,6 16 6,6 7,0 17 6,6 6,6

Tabel 4.1 Daftar nilai raport semester Kelas X1 IPA (Lanjutan)

  =

  = 1.00

  k

  1 S

  k = 001 .

  = 1.001 S

  k 2

  23 03 .

  =

  S k 2

  1 22 . 44 −

  23 92 .

  S k 2

  No Siswa Nilai Raport

  6 2 2

  6 65 ,

  23 23 / 65 ,

  ( )

  =

  S p 2

  − =

  X X S k k k k k 2 2 2 ∑ ∑

  ( ) n n

  Rata-rata 6,65 6,83 Dengan tidak adanya perbedaan di kedua kelas tersebut dapat ditunjukkan melalui hasil nilai uji terhadap nilai semester pelajaran fisika yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada kedua kelas tersebut. Uji t nilai raport kedua kelas tersebut sebagai berikut: a.

  Kelas X1 Ipa 1 Kelas X1 Ipa 2 18 6,5 6,8 19 6,5 6,8 20 6,6 6,5 21 6,5 6,6 22 6,5 6,7 23 6,5 6,7

23 S

44 S

  44 ) 1 )(

  1 2 2 2 − +

  − + − = k p k k p p

  n n n n S S S S 2

  2

  23

  23 ) 00 . 1 )(

  1 ) 23 ( 39 . 1 )(

  1 23 ( 2 2 − +

  − + − =

  ) 22 ( 93 . 1 )( 22 ( 2 +

  2

  =

  S

  44

  22 46 .

  42 2

  S S 2

  44 46 .

  64 =

  S 2

  = 1.465 = 465 . 1 = 1.21

  1

  ( ) ( )

  b.

  =

  ( ) n n

  X X S p p p p p 2 2 2 ∑ ∑

  − =

  S p 2

  =

  23 ) 23 / 83 . 6 ( 83 .

  6 2 2

  ∑

  −

  S p 2

  23 03 .

  = 1.39 Jadi :

  2 65 . 46 −

  S p 2

  =

  23 62 .

  p 2

  = 1.94 S

  p

  = 94 .

  1 S

  p

  • =
  • ∆ − ∆

  Sehingga : ⎟ ⎟ ⎠ ⎞

  21 .

  = 1.93 Jadi F tabel ( 0,05 ; db= 22;22) = 2.074 sehingga F hitung < F tabel yang artinya ragam kedua kelompok kelas adalah sama.

  

hitung

  F = 1.94 / 1.001 F

  = 0.53 Pengujian kesamaan ragam : F = S 2 besar / S 2 kecil

  t

  18 . hitung

  hitung t = 34 .

  1 18 .

  hitung t = . 28 .

  ⎜ ⎜ ⎝ ⎛

  6 83 . 6 −

  1 65 .

  ) 080 . ( 21 .

  hitung t =

  1 2

  1

  X X t

  n n S

  = p k k p hitung

  b. Pengambilan data prestasi belajar Untuk menilai seberapa jauh hasil belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran, prestasi belajar merupakan salah satu indikatornya. Dari hasil penelitian pada siswa kelas X1 IPA SMA negeri 1 Ngaglik Sleman, dapat diperoleh nilai tes yang menunjukkan prestasi belajar siswa dari hasil pembelajaran. Prestasi belajar diukur dari hasil pre test dan pos test dari kelas kontrol dan kelas penelitian. Untuk tabel nilai prestasi belajar siswa dari kelas kontrol sebagai berikut:

  Tabel. 4.2. Daftar nilai kelas kontrol kelas X1 IPA 1 Kelas Kontrol (A)

  Selisih Nilai Nilai Tes Prestasi

  No Siswa Pos Test – Pre Pre Test Pos Test Test 1 7,0 7,0 0,0

  2 6,0 6,5 0,5 3 6,0 6,5 0,5 4 7,5 7,5 0,0 5 6,0 7,5 1,5 6 5,0 5,5 0,5 7 6,5 7,0 1,0 8 6,5 8,0 1,5 9 4,0 5,5 1,0

  10 5,5 6,5 1,0 11 7,0 7,0 0,0 12 6,0 7,0 1,0 13 7,0 7,5 0,5 14 5,0 5,5 0,5 15 7,0 7,0 0,0 16 6,5 7,5 1,0 17 6,0 6,5 0,5 18 6,5 7,0 0,5 19 7,0 7,0 0,0 20 7,5 8,0 0,5 21 4,0 6,5 2,5 22 4,0 6,5 2,5 23 4,0 5,5 1,5

  Rata-rata 5,98 6,78 0,80 Dari daftar nilai kelas kontrol di atas terlihat sebagian besar mengalami kenaikan nilai pos test dari nilai pre test . Sebaran nilai pre test dan pos test dari hasil tes prestasi pada kelas kontrol secara umum dapat digambarkan seperti pada gambar grafik 4.2. Pada grafik tersebut terlihat bahwa sebagian besar siswa pada kelas kontrol memiliki ke naikan nilai prestasi.

  9,0 a

  8,0 w is 7,0 S r

  6,0 ja la 5,0

  Pre Test e

  4,0 Post Test t B s

  3,0 e i T

  2,0 ila

  1,0 N

  0,0

  1

  3

  5

  7

  9

  11

  

13

  15

  17

  19

  21

  23 Siswa Kelas Kontrol

Gambar 4.1. Grafik nilai prestasi belajar siswa kontrol

  Sedangkan untuk prestasi belajar siswa pada kelas penelitian diperoleh hasil sebagi berikut: Tabel. 4.3. Daftar nilai kelas penelitian kelas X1 IPA 2

  Kelas Penelitian (B) Selisih Nilai

  No Nilai Tes Prestasi

  Pos Test – Pre Siswa

  Pre Test Pos Test Test 1 5,0 7,5 2,5 2 6,5 8,5 2,0 3 6,0 6,5 0,5 4 7,0 7,0 0,0 5 5,0 7,5 2,5 6 6,5 6,5 0,0 7 6,5 7,5 1,0 Tabel. 4.3. Daftar nilai kelas penelitian kelas X1 IPA 2 (Lanjutan) No

  Siswa Kelas Penelitian (B)

  Selisih Nilai Pos Test – Pre

  Test Nilai Tes Prestasi

  Pre Test Pos Test 8 7,5 8,0 0,5 9 5,0 5,5 0,5 10 5,5 8,0 2,5

  11 6,0 7,5 1,5 12 5,0 6,5 1,5 13 7,0 7,5 0,5 14 6,0 8,5 2,5 15 6,0 6,5 0,5 16 7,0 7,5 0,5 17 6,0 8,0 2,0 18 6,0 7,0 1,0 19 7,0 8,0 1,0 20 7,0 7,0 0,0 21 7,5 8,0 0,5 22 6,0 7,0 1,0 23 6,0 6,5 0,5

  Rata-rata 6,22 7,30 1,09 Untuk nilai pre test dan pos test dari hasil tes prestasi pada kelas penelitian secara umum dapat digambarkan seperti pada gambar grafik 4.3. Pada grafik tersebut terlihat bahwa sebagian besar siswa pada kelas penelitian memiliki kenaikan nilai prestasi. Kenaikan nilai tes prestasi pada kelas penelitian lebih merata pada setiap siswa, selain itu peningkatan yang besar juga lebih banyak terdapat pada kelas penelitian dibandingkan dengan kelas kontrol.

  9,0 a

  8,0 w is 7,0 r S

  6,0 ja la 5,0

  Pre Test e

  4,0 Post Test t B s

  3,0 e i T

  2,0 ila

  1,0 N

  0,0

  1

  3

  5

  7

  9

  11

  

13

  15

  17

  19

  21

  23 Siswa Kelas Penelitian Gambar 4.3. Grafik nilai Tes prestasi Belajar siswa kelas penelitian.

  Hasil tes prestasi yang telah dilakukan oleh siswa pada kelas kontrol dan kelas penelitian selanjutnya dihitung selisih antara nilai pos test dan nilai pre test.

  Hal ini dilakukan sebagai langkah dalam menganalisis apakah terdapat perbedaan pada prestasi belajar antara kedua kelas, yaitu untuk kelas kontrol yang diajarkan dengan metode ceramah serta kelas penelitian yang diajarkan dengan memberikan pendekatan metode demonstrasi pada mata pelajaran fisika dengan materi gaya Lorentz. Selisih nilai pos test dan pre test pada kedua kelas dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Selisih nilai pos test dan pre test pada kelas kontrol maupun pada kelas penelitian

  Selisih Nilai Pos Test-Pre Test No Siswa Kelas Kontrol Kelas Penelitian

  (A) (B) 1 0,0 2,5 2 0,5 2,0 3 0,5 0,5 4 0,0 0,0

Tabel 4.4 Selisih nilai pos test dan pre test pada kelas kontrol maupun pada kelas penelitian (Lanjutan)

  Selisih Nilai Pos Test-Pre Test No Siswa

  Kelas Kontrol Kelas Penelitian (A) (B) 7 1,0 1,0

  8 1,5 0,5 9 1,0 0,5 10 1,0 2,5 11 0,0 1,5 12 1,0 1,5 13 0,5 0,5 14 0,5 2,5 15 0,0 0,5 16 1,0 0,5 17 0,5 2,0 18 0,5 1,0 19 0,0 1,0 20 0,5 0,0 21 2,5 0,5 22 2,5 1,0 23 1,5 0,5

  Rata-rata 0,80 1,09 Dari tabel 4.4 di atas dapat dilihat bahwa rata-rata selisih nilai pos tes dan pre test untuk kelas kontrol dan kelas penelitian, masing-masing adalah 0,80 dan

  1,09. Untuk menguji sejuah mana pengaruh peningkatan pemahaman dengan perlakuan pendekatan metode demonstrasi yang diberikan pada kelas penelitian dalam pembelajaran fisika terhadap prestasi belajar siswa, digunakan uji t pada taraf signifikan 0,05.

  Analisis uji t yang digunakan untuk menguji keberhasilan perlakuan dengan pendekatan demonstrasi terhadap nilai pre test dan nilai pos test kelas kontrol dan kelas penelitian adalah sebagai berikut: 2 2

  − k k ( ) 2X

  X k n

  a. = k

  S k 2 . 2 n 2 80 ( .

  80 ) /

  23 − k =

  S 2 .

  23 64 .

  03 − k =

  S 2 . 613

  23 k =

  S 2

  23 k = 0.026

  S

  S = . 026

  k

  S = 0.16

  k 2 2

  − p p ( )

  ∑ ∑ 2 X

  X p n

  b. p =

  S p 2 n 2 2 − ( ) 1 .

  09 1 . 09 /

  23 p =

  S 2

  23 1 . 18 − .

  05 p =

  S 2

  23 1 .

  13 p =

  S 2

  23 p = 0.049

  S

  29 .

  1

  S 2 = 037 .

  S = 037 .

  S

  = 0.19 Sehingga :

  ⎟ ⎟ ⎠ ⎞

  ⎜ ⎜ ⎝ ⎛

  = p k k p hitung

  n n S

  X X t

  1 2

  44 628 .

  hitung t =

  ) ( 08 . 19 .

  80 . 09 .

  1 −

  hitung t

  = . 28 .

  19 .

  29 .

  hitung t = 053 .

  1 =

  S S 2

  S

  S 2

  p

  = 0.22 Jadi :

  ( ) ( )

  ( )

  2

  1

  1 2 2 2 − +

  − + − =

  n n S S S k p k k p p n n

  2

  1 2 + =

  23

  23 ) )( 16 .

  1 ) 23 ( )( 22 .

  1 23 ( 2 2 − +

  − + − =

  44 ) 0256 . )(

  ) 22 ( 0484 . )( 22 ( 2 + =

  S

  44 . 0648 5632 .

  • ∆ − ∆
Terlihat bahwa t > t , sehingga rata- rata selisih nilai pada kedua

  hitung tabel

  kelas itu adalah berbeda. Dengan kata lain Ho ditolak maka terdapat perbedaan selisih nilai pos test dan pre test antara kelas kontrol dan kelas penelitian.

  Dari tabel 4.4 di atas setelah dilakukan pengujian diperoleh t = 5,47

  hitung

  (tabel 4.2). Harga ini jauh lebih besar dari t ( tabel α = 0,05; db= 44) yaitu 2,021. Selain nilai t, nilai signifikan diperoleh sebesar 0,238 atau lebih besar dari

  α = 0,05. dengan demikian, keputusan yang dapat diambil adalah menolak Ho dan menerima Hi sehingga dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa pada pelajaran fisika pada pokok bahasan gaya Lorentz di kelas penelitian berbeda (lebih baik) dengan kelas kontrol.

  Dari penghitunan uji t ( analisis uji beda ) di atas bisa dirangkum sebagai berikut:

Tabel 4.5. Ringkasan Hasil Statistik

  Statistik Kelas kontrol Kelas penelitian n 23 23 Rata-rata 0,80 1,09

  SD 0,73 0,86

  2 S 0,026 0,049

  2 S gabungan 0,037

  t 5,47

  hitung

  2,021 t

  tabel

  Sedangkan ringkasan hasil analisis baik kelas kontrol maupun kelas penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 4.6. Ringkasan Hasil Analisis Tes Prestasi

  Jumlah Rata rata Rata rata Rata rata Kelas t t Sign Hitung Tabel Siswa Pre test Pos Test Selisih

  Kontrol 23 5,98 6,78 0,80 5,47 2,021 0,238 Penelitian 23 6,22 7,30 1,09

  Sehingga dengan semua penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini, yang ditujukkan dengan uji t tersebut bahwa pembelajaran kelas penelitian dengan metode demonstrasi ini terlihat meningkatkan pemahaman konsep siswa pada pokok bahasan gaya Lorentz dengan lebih baik dibandingkan pembelajaran kelas kontrol dengan metode ceramah walaupun pada kelas kontrol juga mengalami kenaikan.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat

  diperoleh kesimpulan bahwa perlakuan pendekatan metode demonstrasi yang diberikan pada pembelajaran fisika mempunyai pengaruh yang berarti terhadap hasil belajar siswa kelas X1 IPA SMAN 1 NGAGLIK Sleman Yogyakarta, yaitu ada peningkatan hasil belajar pada kelas yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan metode demonstrasi walaupun pada kelas yang dipilih sebagai sampel tidak ada perbedaan yang besar berdasarkan nilai raport semester satu. Dengan kata lain bahwa pembelajaran fisika dengan pendekatan metode demonstrasi lebih terlihat peningkatan pemahaman konsep siswa dibandingkan dengan metode ceramah pada kelas kontrol. Walaupun untuk kelas kontrol juga mengalami kenaikan pada nilai rata-rata tetapi untuk kelas penelitian mempunyai kenaikan nilai rata-rata lebih tinggi yaitu 1,09 dibanding kelas kontrol yaitu hanya 0,80.

B. Saran

  Dengan segala keterbatasannya maka dari hasil penelitian ini dikemukakan saran sebagai berikut:

  1. Penggunaan pendekatan metode demonstrasi harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti, pengelolaan kelas dan waktu harus efisien.

2. Perlu adanya pembahasan antara guru dan siswa ataupun sesama guru agar lebih bermakna dan terkontrol proses pembelajaran.

  3. Perlu adanya kreatifitas guru untuk meningkatkan kualitas layanan guru dalam pembelajaran dengan pendekatan metode demonstrasi ini.

DAFTAR PUSTAKA

  Arikunto, S. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Budi Aksara Balitbang Depdiknas, Pusat kurikulum. 2002. Kurikulum Berbasisi Kompetensi (kegiatan Belajar Mengajar). Jakarta Pusat.

  Budi Kartika, Fr.Y. (1991). Sikap Siswa Jurusan A1 da A2 Sekolah Menengah Atas De Brito dan Stama terhadap Pendekatan Ketrampilan Proses Dengan Metode Demonstrasi dan Pendapat Siswa Siswi Tersebut Tentang Pengaruh Pendekatan Sikap Mereka terhadap Kegiatan Belajar Mengajar Fisika.

  Penelitian Ilmiah. Yogyakarta. USD. Budi Kartika, Fr. Y. 1992. Konsep dan Definisi dalam Fisika dan Implikasinya dalam Proses Belajar Mengajar Fisika, dalam Arena Almamater Majalah

  Ilmiah. Kopertis Wilayah V. Yogyakarta : Andi Offset. Budi Kartika, Fr. Y. 1998. Pemetaan Konsep Sebagai strategi Membangun

  Kesatuan Pengetahuan IPA pada Siswa (Mahasiswa), Pendidikan Matematika dan Sains : Tantangan dan Harapan. Yogyakarta : USD. Budi Kartika, Fr. Y. 2001. Berbagai Setrategi Untuk Melibatkan Siswa Secara

  Aktif dalam Pembelajaran Fisika di SMU, Efektifitasnya, dan Sikap Mereka dalam Setrategi Tersebut, dalam Widya Dharma. Yogyakarta : USD. Demdikbud. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia . Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Hamalik, O. 1982. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung : Tarsito. Irmina Umi P. 2002. Evaluasi Hasil Pembelajaran Fisika Berupa Pengetahuan dan Ketrampilan Proses, Yogyakarta : Skripsi pada FKIP Sanata Dharma. Jusuf Djaja Disastra. 1982. Metode-Metode Mengajar. Bandung : Angkasa. Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Bebasis Kompetensi, Konsep Karakteristik dan Implementasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset. Sardiman, A.M. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT.

  Raya Grafindo Persada. Tabrani dan Rusyan. 1989. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif.

  Jakarta: PT. Rineka Cipta.

  LAMPIRAN Mata Pelajaran : Fisika Kelas :

  XI IPA Semester : Satu Waktu : 2 JP Topik : Gaya Lorentz Sub Topik : Besar dan arah Gaya Lorentz Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat memahami besar dan arah Gaya Lorentz

MODEL PEMBELAJARAN

  “ Kawat Bergerak atau Berayun Karena Adanya Arus” Langkah - langkah pembelajaran: A.

  Kegiatan Awal

  1. Motivasi Dilakukan langkah - langkah motivasi sebagai berikut : b. Pertama - tama disediakan alat alat sebagai berikut :

  • Kawat tipis atau kawat spull

  Magnet U

  • Baterai -
  • Statip - Saklar -

  Kabel penghubung c.

  Kemudian rangkai alat - alat diatas seperti gambar dibawah ini: Gambar. Rangkaian tanpa magnet.

  d.

  Selanjutnya kepada siswa ditanyakan, “ Apa yang terjadi jika pada rangkaian didekatkan magnet pada kawat? “siswa dipersilahkan menyampaikan dugaan - dugaannya.

  KU KS Gambar. Rangkaian ditambah magnet dengan arah kutub magnet seperti gambar diatas e. Selanjutnya untuk mengetahui persis apa yang terjadi, dilakukan pendekatan magnet pada rangakaian dan siswa diminta untuk

  KU KS Gambar. Belum ada magnet Gambar. Diberikan magnet dengan arah kutub seperti gambar diatas

  f. Kemudian siswa ditanya, “ Apa yang terjadi jika arah kutub magnet dirubah dari keadaan awal pada percobaan point d”.

  KS KU Gambar. Arah kutub magnet dibalik.

  g. Untuk mengetahui persis apa yang terjadi, percobaan dilakukan.

  Siswa diminta untuk mengamati apa yang terjadi?

  KU KS Gambar. Tanpa magnet. Gambar. Ada magnet dengan arah kutub seperti gambar diatas

  KS KU Gambar. Ada magnet dengan arah kutub seperti gambar diatas

  B. Kegiatan inti

  1. Perumusan masalah Kepada siswa diajukan pertanyaan: “ Mengapa kawat tetap diam walaupun magnet didekatkan dalam keadaan saklar terbuka atau tidak dihubungkan?”

  2. Pengajuan hipotesis Siswa diberi kesempatan untuk mencoba menjawab pengetahuan awal siswa). Berbagai inti penjelasan siswa ditulis sebagai hipotesis hipotesis.

3. Pengumpulan data dan penyimpulannya

  Dilakukan serangkaian percobaan dengan mengubah arah medan ,arah arus dan jarak magnet.

  a.

  Percobaan pertama • Dilakukan percobaan sebagai berikut.

  KU KS

  Saklar ditutup

  • Siswa diminta untuk melakukan pengamatan terhadap gerakan kawat setelah saklar ditutup.
  • Hasilnya dicatat sebagai data dalam bentuk tabel. Keadaan saklar Gerakan kawat

  Sebelum saklar ditutup Diam Sesudah saklar ditutup Berayun atau bergerak

  • Mengapa setelah saklar ditutup kawat berayun atau bergerak? ( jawaban yang diharapkan karena adanya arus).
  • Gaya yang ditimbulkan oleh kawat berarus atau muatan bergerak dalam medan magnet inilah yang disebut gaya lorentz.
  • Faktor- faktor apa yang mempengaruhi besar dan arah gaya lorentz? ( jawaban yang diharapkan panjang kawat, kuat arus kuat medan magnet).
  • Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi besar dan arah gaya lorentz yaitu panjang kawat, kat arus dan kuat medan magnet.

  b.

  Percobaan kedua (arah batere yang diuabah).

  • Dilakukan percobaan sebagai berikut;
  • Siswa diminta untuk melakukan pengamatan terhadap gerakan kawat setelah saklar ditutup.
  • Hasil dicatat sebagai data dalam bentuk tabel; Keadaan saklar Gerakan kawat

  Sebelum saklar ditutup Diam Sesudah saklar ditutup Berayun atau bergerak

  KU KS

  Saklar ditutup

  • Apa yang akan terjadi apabila arah batere (arus) dibalik? (Jawaban yang diharapkan yaitu kawat akan tetap berayun).

  KU KS Saklar ditutup

  • Kemanakah arah kawat untuk arah batere yang dibalik? ( jawaban yang diminta mendekati kita atau menjauhi kita).
  • Jadi kesimpulannya apabila arah batere dibalik maka arah gaya yang ditimbilkan oleh kawat juga berbeda.

  c.

  Percobaan Ketiga (jarak medan magnet diubah)

  • Dilakukan percoabaan sebagai beikut :

  KU KS

  • Siswa diminta untuk melakukan pengamatan terhadap gerakan kawat setelah saklar ditutup apabila jarak medan magnet dirubah. (dijauhkan atau didekatkan).
  • Apa yang akan terjadi pada kawat apabila saklar ditutup dan medan magnet didekatkan?
  • Apa yang akan terjadi pada kawat apabila saklar ditutup dan medan magnet dijauhkan?
  • Jadi jaraknya medan magnet terhadap kawat juga berpengaruh terhadap besar kecilnya gerakan kawat. Jadi dari ketiga percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa besarnya gaya lorentz bergantung pada arah arus, panjang kawat dan medan magnet. Jadi besar gaya lorentz dapat ditulis dalam ersamaan F = B. I . L C.

  Kegiatan pemantapan

  1. Perangkuman Dengan kawat bergerak atau berayun karena di aliri arus dan berada dalam medan magnet akan mendapat gaya. Gaya yang dialami oleh penghantar ber arus dalam medan magnet disebut Gaya Lorentz.

  Dari hasil pengamatan percobaan 1, 2, 3 dapat ditunjukkan magnet dan arah arus yang dapat ditunjukkan seperti gambar di bawah ini.

  Gambar. Aturan genggaman tangan kanan Rantangkan ibu jari, telunjuk dan jari tengah tangan kananmu seperti gambar diatas. Ibu jari menunjuk arah arus, telunjuk menunjuk arah medan magnet dan jari tengah menunjukkan arah gaya lorentz.

  Dari hasil percobaan dapat diketahui lebih lanjut bahwa gaya lorentz akan semakin besar jika : a. Semakin kuat medan magnetnya.

  b. Semakin besar kuat aruanya.

  c. Semakin panjang bagian kawat yang menerima gaya.

  Gaya lorentz sebanding dengan kuat medan magnet, arus listrik, panjang kawat. Kedudukan gaya, kuat medan magnet dan arus listrik saling tegak lurus. Besar gaya lorentz dapat di tuliskan dalam persamaan sebagai berikut :

  Keterangan : F : Gaya lorent dengan satuan Newton ( N ) B : Kuat medan magnet dengan satuan Tesla ( T ) i : Kuat arus dengan satuan Ampere ( A ) L : Panjang kawat dengan satuan kawat ( m ) 2. Penerapan Motor listrik, Amperemeter, Multimeter dll.

3. Evaluasi, pekerjaan rumah dan atau tugas.

  • Apa yang terjadi pada gerakan kawat apabila percobaan digunakan kawat penghantar berukuran tebal atau besar?
  • Apa yang terjadi pada gerakan kawat apabila percobaan digunakan magnet berbentuk lain?
  • Lakukanlah percobaan demikian dan jelaskan apa yang terjadi?

  SOAL PRE TEST DAN SOAL POS TEST 1. Cara memperbesar gaya lorent yaitu.......

  d. F = B.V.I 3. Arah gaya lorent yang tepat ditunjukkan oleh gambar......

  I I F B B

  I F F B

  d. B

  b.

  c.

  a.

  c. F = V.I.L

  a. memperbesar arus listrik’ memperpanjang kawat, dan menambah kekuatan magnet.

  b. F = B.V.L

  a. F = B.I.L

  2. Untuk menentukan besarnya gaya lorent dapat menggunakan rumus....

  d. Memperkecil arus listrik, memendekkan kawat dan mengurangi kekuatan magnet.

  c. Memperbesar arus listrik, mengurangi panjang kawat, dan mengurangi kekuatan magnet.

  b. Memperbesar arus listrik, memperpanjang kawat, dan mengurangikekuatan magnet.

  I F

  4. Berikut adalah faktor- faktor yang mempengaruhi besr gaya lorent, kecuali.....

  a. panjang kawat

  b. kuat medan magnet

  c. kuat arus liatrik d. jenis penghantar.

  5. Arah gaya lorent berikut ini benar adalah.....

  I F F a.

  c. B

  I B b.

  d.

  I B F B

  I F

  6. Kawat berarus listrik 0,5 A berada dalam medan magnet sehingga menimbulkan gaya lorentz sebesar 70N. Jika kawat tersebut panjangnya 25 cm, kuat medan magnetnya adalah.....

  a. 650 T

  b. 560 T

  c. 140 T d.

  35 T

  7. Kawat yang panjangnya 50 cm berada didalam muatan magnet yang berkekuatan 20 T. Apabila arus listrik yang mrngalir pada kawat itu 5A, gaya lorent yang dihasilkan adalah...

  a. 500 N b.

  75 N c.

  50 N d.

  25 N

  8. Suatu alat menghasilkan gaya lorent 20 N dengan kuat arus listrik 2 A dan kumparan yang panjangnya 200cm. Besarnya kekuatan medan magnet itu adalah....

  a.

  5 T b.

  40 T c.

  80 T

  d. 222 T

  9. Peralatan listrik dalam kehidupan sehari-hari yang prinsip kerjanya berdasarkan gaya lorent adalah sebagai berikut, kecuali.....

  a. kipas angin

  b. multimeter

  c. lemari es

  d. motor mesin jahit 10. Berikut iniyang bukan termasuk komponen utama motor listrik adalah...

  a. kumparan putar c. komutator

  d. alternator 11.

  a)

  I B F

  I B F

  I B F

  d)

  c)

  b)

  d. Arus diperkecil, medan diperlemah 13. Mana yang menunjukkan arah gaya lorent yang benar..........

  Gaya Lorent adalah :...................

  c. Arus diperkecil, medan diperkuat

  b. Arus diperkuat, medan diperkuat

  a. Arus diperkuat, medan diperlemah

  d. Gaya dalam medan magnet 12. Gaya lorent pasti akan lebih besar jika :................

  c. Gaya yang ditimbulkan oleh kawat berarus dalam medan magnet

  b. Gaya yang menyebabkan jarum kompas menyimpang

  a. Gaya tarik antar Magnet

  I B F

  14. Berapa panjang kawat nirkom yang diperlukan agar pada kawat terjadi gaya lorent 72 N. Jika kawat dilalirir arus listrik 0,25 A dan berada dalam medan magnet 600 T !

  a. 0,25 m

  c) 0,72 m

  b. 0,48 m

  d) 0,15 m 15. Sebuah kawat panjangnya 50 m terletak dalam medan magnet dan saling tegak lurus dialiri arus 5A. Berapa Gaya Lorent yang terjadi pada kawat tersebut B = 20 T?

  a. 100 N

  c) 2500 N

  b. 250 N

  d) 5000 N

  16. Sebuah kawat dialiri arus 2A terletak dalam medan magnet B = 40 T, pada kawat terjadi gaya lorent sebesar 1000 N. Berapa panjang kawat ? a. 12,5 m

  c) 10 m

  b. 10,5 m

  d) 12 m

  17. Seutas kawat panjangnya 50 cm terletak dalam medan magnet 100 T dan saling tegak lurus dialiri arus 2 A. Berapa gaya lorent pada kawat ? a.

  25 N

  c) 75 N b.

  50 N

  d) 100 N

  18. Saat elektron memasuki medan magnet, elektron mendapat gara lorent yang searah dengan ........

  a. Sumbu X positif c. Sumbu Z positif

  d. Sumbu Z negative 19. 1 ampere adalah ….

  • 7

  a. arus yang menimbulkan gaya lorent sebesar 2.10 N pada dua kawat yang berarus listrik.

  • 7

  b. arus kawat yang menimbulkan gaya lorentz sebesar 2.10 N pada dua kawat yang berarus listrik.

  c. arus yang mengalir pada dua kawat sejajar dengan jarak 1 cm

  • 7 sehingga menimbulkan gaya lorentz sebesar 2. 10 N.

  d. arus yang mengalir pada dua kawat sejajar dan jarak 1 m sehingga menimbulkan gaya lorentz sebesar 1 N.

  20. Arah gaya lorent pada penghantar adalah...........

  a. Keatas

  b. Berlawanan dengan arah medan magnet

  c. Mendekati pengamat

  d. Menjauhi pengamat

  KUNCI JAWABAN PRE TEST DAN POST TEST 1. A

  11. C 2. A

  12. B 3. A

  13. D 4. D

  14. B 5. A

  15. D 6. B

  16. A 7. C

  17. D

  8. A

  18. A

  9. C

  19. D

  10. D

  20. D Mata Pelajaran : Fisika Kelas :

  XI IPA Semester : Satu Waktu : 2 JP Topik : Gaya Lorentz Sub Topik : Besar dan arah Gaya Lorentz Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat memahami besar dan arah Gaya Lorentz

Kompetensi Dasar Indikator Materi

  • Dapat menerapkan indiksi magnetik dan gaya magnetik pada beberapa produk tehnologi Dapat:

  1. Gaya lorentz (besar dan arah) pada kawat berarus atau muatan bergerak dalam medan magnet.

  • memformulasikan gaya

    magnetik ( gaya lorentz) pada magnetik

    (gaya lorentz) pada

    kawat berarus atau

    partikel bermuatan

    yang bergerak dalam medan magnet

  2. Aplikasi gaya lorentz.

  • mengaplikasikan gaya

    lorentz pada persoalan

    fisika sehari – hari.

  • gaya lorentz

  Konsep Pengertian/uraian Indikator pemahaman Alat ukur pemahaman Penilaian pemahaman

  • gaya yang dialami oleh penghantar berarus didalam medan magnet disebut gaya lorentz
  • terdapat hubungan antara gaya lorentz, arah medan magnet dsn arah arus yang dapat ditunjukkan dengan aturan genggaman tangan kanan. Rentangkan ibu jari ,telunjuk dan jari tengah tangan kanan . ibu jari menunjukkan arah arus, telunjuk menunjukkan arah medan magnet dan >dapat menunjukkan adanya gaya lorentz
  • dapat memformulasikan gaya magnetik (gaya lorentz) pada medan magnetik pada kawat berarus atau partikel bermuatan yang bergerak dalam medan magnet
  • dapat mengaplikasikan gaya lorentz pada penerapan fisika sehari
  • obsevasi pengamatan demonstrasi
  • tes tertulis

  1. Cara memperbesar gaya lorentz yaitu.......

  • aturan gengaman tangan kanan
  • Yang menentukan gaya lorentz
  • Persamaan gaya lorentz
  • Penerapan pada beberapa produk tehnologi
  •   a. memperbesar arus listrik’ memperpanjang kawat, dan menambah kekuatan magnet.

      b.

      Memperbesar arus listrik, memperpanjang kawat, dan mengurangikekuatan magnet.

      c.

      Memperbesar arus listrik, mengurangi panjang kawat, dan mengurangi kekuatan magnet.

      d.

      Memperkecil arus listrik, memendekkan kawat dan mengurangi kekuatan magnet.

      2. Untuk menentukan besarnya gaya lorentz dapatmenggunakan rumus....

      a. F = B.I.L

      b. F = B.V.L tengah menunjukkan arah gaya lorentz.

    • c. F = V.I.L

      d. F = B.V.I 3. Arah gaya lorentz yang tepat ditunjukkan oleh gambar......

    • Gaya lorentz akan semakin besar jika semakin kuat medan magnet, semakin kuat kuat arusnya,semakin panjang bagian kawat yang menerima gaya

      a.

      c.

      b.

      d.

    • Besar gaya lorentz dapat ditulis dalam persamaan: F = B. i. L F = gaya lorentz satuan newton B = kuat medan satuan tesla i = kuat arus satuan amere L= panjang kawat satuan meter
    • memberikan contoh

      4. Berikut adalah faktor- faktor yang mempengaruhi besr gaya lorentz, kecuali.....

      a. panjang kawat b. kuat medan magnet

      c. kuat arus liatrik d. jenis penghantar.

      B

      I F F B

      I I F B B

      I F contoh penerapan 5.

      Arah gaya lorentz berikut ini benar produk tehnologi adalah.....

      F

      I a.

      c. F

      I B B B b.

      d.

      I F

      I B F 6. Kawat berarus listrik 0,5 A berada dalam medan magnet sehingga menimbulkan gaya lorentz sebesar 70N. Jika kawat tersebut panjangnya 25 cm, kuat medan magnetnya adalah.....

      a. 650 T

      b. 560 T c.

      140 T d.

      35 T

      7. Kawat yang panjangnya 50 cm berada didalam muatan magnet yang berkekuatan 20 T. Apabila arus listrik yang mrngalir pada kawat itu 5A, gaya lrentz yang dihasilkan adalah...

      a.

      500 N b.

      75 N c.

      50 N d.

      25 N 8. Suatu alat menghasilkan gaya lorentz

      20 N dengan kuat arus listrik 2 A dan kumparan yang panjangnya 200cm. Besarnya kekuatan medan magnet itu adalah....

      a.

      5 T b.

      40 T c.

      80 T

      d. 222 T

      9. Peralatan listrik dalam kehidupan sehari- hari yang prinsip kerjenya berdsarkan gaya lorentz adalah sebagai berikut, kecuali.....

      a. kipas angin b. multimeter

      c. lemari es d. motor mesin jahit 10. Berikut iniyang bukan termasuk komponen utama motor listrik adalah...

      a. kumparan putar

      b. magnet tetap

      c. komutator d. alternator 11. Gaya Lorentz adalah :....

      a. Gaya tarik antar Magnet b.

      Gaya yang menyebabkan jarum kompas menyimpang c. Gaya yang ditimbulkan oleh kawat berarus dalam medan magnet d. Gaya dalam medan magnet.

      12. Gaya lorentz pasti akan lebih besar jika :.....

      a. Arus diperkuat, medan diperlemah b.

      Arus diperkuat, medan diperkuat

      c. Arus diperkecil, medan diperkuat d.

      Arus diperkecil, medan diperlemah

      13. Mana yang menunjukkan arah gaya lorentz yang benar........

      a.

      c.

      I I B B F F B b.

      d.

      I I B F F

      14. Berapa panjang kawat nirkom yang diperlukan agar pada kawat terjadi gaya lorentz 72 N. Jika kawat dilalirir arus listrik 0,25 A dan berada dalam medan magnet 600 T !

      a. 0,25 m b.

      0,48 m

      c. 0,72 m d.

      0,15 m 15. Sebuah kawat panjangnya 50 m terletak dalam medan magnet dan saling tegak lurus dialiri arus 5A. Berapa Gaya Lorentz yang terjadi pada kawat tersebut B = 20 T.

      a. 100 N b.

      250 N c. 2500 N

      d. 5000 N 16. Sebuah kawat dialiri arus 2A terletak dalam medan magnet B = 40 T, pada kawat terjadi gaya lorentz sebesar 1000 N. Berapa panjang kawat ? a.

      12,5 m

      b. 10,5 m

      c. 10 m d.

      12 m

      17. Seutas kawat panjangnya 50 cm terletak dalam medan magnet 100 T dan saling tegak lurus dialiri arus 2 A. Berapa gaya lorentz pada kawat ? a.

      25 N b.

      50 N c.

      75 N d. 100 N

      18. Saat Elektron memasuki medan magnet, electron mendapat gara lorentz yang searah dengan a.

      Sumbu X positif

      b. Sumbu Y possitif c.

      Sumbu Z positif d. Sumbu Z negative 19. 1 ampere adalah ….

      a. arus yang menimbulkan gaya

    • 7

      lorentz sebesar 2. 10 N pada dua kawat yang berarus listrik.

      b. arus kawat yang menimbulkan

    • 7

      gaya lorentz sebesar 2. 10 N pada dua kawat yang berarus listrik.

      c. arus yang mengalir pada dua kawat sejajar dengan jarak 1 cm sehingga menimbulkan gaya lorentz sebesar 2. 10

    • 7 N.

      d. arus yang mengalir pada dua kawat sejajar dan jarak 1 m sehingga menimbulkan gaya lorentz sebesar 1 N.

      20. Arah gaya lorentz pada penghantar adalah.............

      a.

      Keatas b. Berlawanan dengan medan magnet c. Mendekati pengamat d.

      Menjauhi pengamat

Dokumen baru

Download (87 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
15
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
17
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
0
147
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
224
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
114
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
0
0
97
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
205
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah
0
0
225
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
217
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah
0
0
185
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
0
190
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Program Studi Pendidikan Fisika
0
0
90
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Program Studi Ilmu Sejarah
0
0
103
Show more