Hubungan antara adversity quotient dan stres pada mahasiswa yang bekerja - USD Repository

Gratis

0
0
119
3 months ago
Preview
Full text

  

HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY QUOTIENT DAN STRES PADA

MAHASISWA YANG BEKERJA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.)

  

Program Studi Psikologi

Oleh:

Frederikus Renda Tricahya

  

NIM: 059114019

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

  HALAMAN MOTTO "layang-layang dapat terbang karena melawan angin, bukan bersama angin."

  

...dan aku persembahkan untuk......

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian orang lain, kecuali yang telah saya sebutkan

dalam kutipan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 30 September 2010 Penulis Frederikus Renda Tricahya

  

HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY QUOTIENT DAN STRES PADA

MAHASISWA YANG BEKERJA

Frederikus Renda Tricahya

  

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada hubungan antara Adversity Quotient

dan Stres pada mahasiswa yang bekerja. Hipotesis dari penelitian ini adalah bahwa ada hubungan

yang negatif antara Adversity Quotient dan stres pada mahasiswa yang bekerja. Dengan demikian

peneliti menarik asumsi bahwa apabila Adversity Quotient tinggi maka stres akan menjadi rendah

dan begitu juga sebaliknya apabila Adversity Quotient rendah maka stres akan menjadi tinggi.

Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang masih aktif dalam hal akademis dan bekerja

sebagai pekerja paruh waktu (part timer). Mahasiswa yang masih aktif dalam hal akademis adalah

mahasiswa yang masih mengambil minimal 12 sks dalam setiap semester dan tidak dalam masa

cuti studi. Sedangkan pekreja paruh waktu adalah pekerja yang bekerja minimal 4 jam sehari

dengan waktu kerja minimal 5 hari dalam seminggu. Alat pengumpul data yang digunakan terdiri

dari dua alat ukur, skala Adversity Quotient dan skala stres. Masing-masing skala telah melalui

penyaringan item dengan tryout, sehingga diperoleh 40 item pada skala Adversity Quotient dengan

koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,917 dan 39 item pada skala stres dengan koefisien reliabilitas

alpha sebesar 0,934. Dari hasil analisis data penelitian diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,329

dengan signifikasi sebesar 0,003. Hal ini berarti terdapat hubungan yang negatif dan signifikan

antara variabel Adversity Qoutient dan Stres. Hal juga ini menandakan bahwa hipotesis awal

penelitian, yaitu ada hubungan negatif dan signifikan antara adversity quotient dan stress pada

mahasiswa yang bekerja dapat diterima. Kata Kunci : Adversity Quotient, Stres

  

THE RELATIONSHIP BETWEN ADVERSITY QUOTIENT AND STRESS

ON THE WORKING STUDENTS

Frederikus Renda Tricahya

  

ABSTRACT

The aim of the research was to test whether any relationship between Adversity Quotient

and stress on the working students. The hypothesis of the research was that there was negative

relationship between Adversity Quotient and stress on the working students. Thus, the researcher

assumed that the higher the Adversity Quotient the lower the stress and the lower the Adversity

Quotient the higher the stress. The subjects of the research were academically active students and

worked as part timers. Academically active students were students who still took at least 12 credits

on each semester and were not on the free period of study. Part timers were workers who worked

at least 4 hours a day with minimum 5 days working period a week. The instruments used were 2

scaling devices those were Adversity Quotient scale and stress scale. Each scale had items sorting

by tryouts so there were 40 items on the Adversity Quotient scale with 0.917 alpha reliability

coefficients and 39 items on the stress scale with 0.934 alpha reliability coefficients. The result of

the data analysis indicated that the correlation coefficients were 0.329 with 0.003 significances. It

indicated that there was negative and significant relationship between the Adversity Quotient and

stress variables. It also indicated that the hypothesis of the research, there was negative and

significant relationship between Adversity Quotient and stress on working students was

acceptable.

  Keyword : Adversity Quotient, stress

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Frederikus Renda Tricahya Nomor Mahasiswa : 059114019

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

  

Hubungan Antara Adversity Quotient dan Stres

Pada Mahasiswa Yang Bekerja

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan

kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, me-

ngalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data,

mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media

lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun

memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai

penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 30 September 2010 Yang menyatakan,

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan

rahmatnya kepada penulis hingga dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada

waktunya. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :

  1. Dr. Christina Siwi Handayani selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  2. Y. Heri Widodo, S.Psi., M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang

telah membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  3. Minta Istono, S.Psi., M.Si. selaku dosen penguji skripsi, yang telah membimbing dan memberikan masukan hingga mempermudah pengerjaan skripsi ini

  4. Agnes Indar Etikawati, S.Psi., Psi,. M.Psi. selaku dosen penguji skripsi, yang telah memberikan masukan hingga mempermudah pengerjaan skripsi ini.

  5. Bapak Ibu dosen Fakultas Psikologi yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya selama penulis menempuh studi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  6. Segenap karyawan Fakultas Psikologi (Mas Gandung, Mbak Nanik, Mas Muji, Mas Doni dan Pak Gie), terimakasih atas segala kerjasama yang diberikan untuk kelancaran studi penulis di Fakultas Psikologi.

  

8. Sahabat-sahabatku, Joana, Budi, Uci, Rindi, Sella, yang tak henti-

hentinya meneriakan jangan pernah menyerah dan mendampingi selalu dalam pengerjaan karya ini.

  

9. Teman-teman di kontrakan AKSI 05 ( Lucky, Hanes, Tristan, Sherly,

Arya, Aan, Bagoes, Bayu), teman-teman PASTEL, teman-teman Red Pavlov, teman-teman UNISON dan teman-teman di Psikologi yang selalu memberikan semangat dan tempat untuk mengaduh serta yang slalu memberikan keceriaan kepadaku.

  

10. Kurt Cobain, Eddie Vedder, dan Alexander Supertramp, yang telah

memberikan inspirasi dan pelajaran hidup yang berharga.

  

11. Semua pihak yang tidak bisa penulis tulis satu persatu. Terimakasih

semuanya.

  Penulis, Frederikus Renda Tricahya

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii

HALAMAN MOTTO .......................................................................................... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. vi

ABSTRAK ........................................................................................................... vii

  

ABSTRACT ........................................................................................................ viii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .............................. ix

KATA PENGANTAR ......................................................................................... x

DAFTAR ISI ....................................................................................................... xii

  

DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xvi

DAFTAR LAMPIRAN.....................................................................................xvii

  

BAB I : PENDAHULUAN ................................................................................. 1

A. Latar Belakang Masalah ............................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 6

C. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 6

D. Manfaat Penelitian ..................................................................................... 6

  1 Pengertian Stres .................................................................................. 7

  2 Gejala Stres ......................................................................................... 8

  3 Faktor-Faktor Penyebab Stres ............................................................. 9

  4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketahanan Terhadap Stres ........ 14

  5 Stres Pada Mahasiswa Yang Bekerja .................................................. 15

  

B. Adversity Quotient ..................................................................................... 19

  1 Pengertian Adversity Quotient ............................................................ 19

  2 Dimensi Adversity Quotient ................................................................ 20

  3 Tiga Tipe Manusia Berdasar Adversity Quotient ................................. 23

  4 Adversity Quotient Pada Mahasiswa Yang Bekerja ............................. 26

  

C. Dinamika Adversity Quotient dan Stres ..................................................... 27

  

D. Hipotesis .................................................................................................... 32

  

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN ......................................................... 33

A. Jenis Penelitian ........................................................................................ .33

B. Identifikasi Variabel Penelitian ............................................................... .33

C. Definisi Operasional Variabel Penelitian ................................................ .33

D. Subyek Penelitian ..................................................................................... .34

E. Metode dan Alat Penelitian ........................................................................ .35

F. Pertanggungjawaban Mutu.......................................................................... .38

  1 Estimasi Validitas Alat Tes .................................................................. .38

  2 Seleksi Aitem ....................................................................................... .39

  

G. Teknik Analisis Data .................................................................................. .44

  1 Uji Asumsi ........................................................................................... .44

  2 Uji Hipotesis ........................................................................................ .45

  

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. .46

A. Pelaksanaan Penelitian ............................................................................... .46

B. Data Demografi Subjek Penelitian ............................................................. .46

B. Uji Asumsi ................................................................................................. .47

  1 Uji Normalitas ...................................................................................... .47

  2 Uji Linearitas........................................................................................ .48

  

C. Hasil Penelitian .......................................................................................... .48

  1 Uji Hipotesis ........................................................................................ .48

  2 Uji Tambahan ....................................................................................... .49

  

E. Pembahasan ................................................................................................. .51

BABV KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. .56

A. Kesimpulan ................................................................................................ .56

  

B. Saran .......................................................................................................... .56

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... .57

LAMPIRAN ....................................................................................................... .59

  

DAFTAR TABEL

  

1. Tabel Spesifikasi Item-Item Skala Adversity Quotient ................................ 36

  

2. Tabel Skor Jawaban Subjek Pada Skala Adversity Quotient ......................... 37

  

3. Tabel Spesifikasi Item-Item Skala Stres ....................................................... 38

  

4. Tabel Skor Jawaban Subjek Pada Skala Stres................................................ 38

  

5. Tabel Skala Adversity Quotient Sebelum Dan Sesudah Uji Coba ............... 41

  

6. Tabel Spesifikasi Item-Item Skala Adversity Quotient Setelah Uji Coba .... 42

  

7. Tabel Skala Stres Sebelum Dan Sesudah Uji Coba ...................................... 43

  

8. Tabel Spesifikasi Item-Item Skala Stres Setelah Uji Coba ............................ 44

  

9. Tabel Data Pekerjaan Subjek ......................................................................... 47

  

10. Tabel Hasil Uji Normalitas ............................................................................ 47

  

11. Tabel Data Teoritis Dan Empiris ..................................................................... 50

  

DAFTAR GAMBAR

  

1. Hubungan Antara Adversity Quotient Dengan Stres .............................. 32

  

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Skala .............................................................................................. 59

  

1.1 Skala Adversity Quotient Sebelum Uji Coba ......................................... 60

  

1.2 Skala Stres Sebelum Uji Coba ................................................................ 65

  

1.3 Skala Adversity Quotient Setelah Uji Coba ............................................ 69

  

1.4 Skala Stres Setelah Uji Coba................................................................... 72

Lampiran 2 : Hasil Analisis Aitem Dan Reabilitas ............................................. 75

  

2.1 Reabilitas Skala Adversity Quotient ...................................................... 75

  

2.2 Reabilitas Skala Stres ............................................................................. 81

Lampiran 3 : Data Penelitian............................................................................... 85

  

3.1 Data Skala Adversity Quotient .............................................................. 86

  

3.2 Data Skala Stres ..................................................................................... 92

Lampiran 4 : Hasil Uji Asumsi ........................................................................... 98

  

4.1 Uji Normalitas ......................................................................................... 99

  

4.2 Uji Linearitas ........................................................................................... 99

Lampiran 5 : Hasil Uji Hipotesis dan Tambahan ................................................ 100

  

4.1 Uji Hipotesis ........................................................................................... 101

  

4.2 Data Deskriptif Statistik .......................................................................... 101

  

4.2 Uji T ........................................................................................................ 101

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bekerja merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari manusia

  karena bekerja merupakan hakikat dasar, sehingga bekerja akan memberikan status pada orang tersebut. Kerja juga bisa mengikat individu, sehingga pada akhirnya dapat memberikan isi dan makna kehidupan seorang manusia. (Anoraga, 1995). Fenomena yang berkembang pada saat ini adalah banyak mahasiswa yang selain kuliah memanfaatkan waktunya untuk bekerja. Mereka bekerja dengan motivasi yang berbeda-beda. Ada yang bekerja dengan alasan ekonomi, atau dengan alasan psikologis yang berhubungan dengan tingkat perkembangan yang telah dicapai, yaitu remaja ingin mewujudkan dirinya sendiri, ingin merdeka dan menentukan hidupnya sendiri (Monk, 2001). Disamping itu ada sebagian mahasiswa yang bekerja dengan keinginan untuk mencari pengalaman kerja. Dengan adanya pengalaman kerja mereka berharap dapat memberi nilai tambah bagi mereka ketika melamar pekerjaan baru selepas menempuh pendidikan di Universitas atau perguruan tinggi (Lina, 2000).

  Sasaran pertama yang dilakukan mahasiswa adalah menjadi pekerja paruh waktu (part timer). Bekerja part time dapat di definisikan sebagai bekerja selama waktu yang telah ditentukan dan disepakati oleh perusahan atau majikan, dengan masa waktu kerja 4-6 jam perhari dengan waktu kerja 5-7 hari perminggunya atau di simpulkan bahwa bekerja paruh waktu adalah bekerja dengan standard yang lebih rendah dari pada bekerja full time . Dari segi waktu dan pendapatan, umumnya waktu kerja pada pekerjaan paruh waktu juga lebih pendek dan gajinyapun lebih sedikit tergantung dari kesepakatan atau kontrak kerja yang di sepakati.

  Seorang mahasiswa yang bekerja tentunya memiliki kesibukan-kesibukan akademik juga seperti adanya tugas-tugas mata kuliah dan jadwal kuliah yang harus dihadapi setiap harinya. Oleh karena itu, beban tugas dan pada mahasiswa yang bekerja tentu lebih besar dari pada beban tugas mahasiswa pada umumnya karena mahasiswa yang bekerja memiliki tanggung jawab lain yaitu bekerja di sela-sela kesibukan akademisnya sebagai seorang mahasiswa (Handianto, 2006).

  Seringnya terjadi benturan dua tuntutan yang berbeda ini menimbulkan tegangan (stres) pada diri mahasiswa yang bekerja. Stres yang dialami mahasiswa yang bekerja dapat berupa kelebihan beban atau overload dalam hal tuntutan tugas- tugas yang harus dikerjakannya, time pressur, dan konflik peran (role conflict) (Girdano,1990).

  Tuntutan tugas merupakan faktor yang dikaitkan pada pekerjaan seseorang. Mahasiswa mempunyai tugas begitu juga dengan karyawan.

  Mahasiswa dalam kuliahnya meskipun tidak semua mata kuliah diberikan tugas dan tidak semua dosen memberikan tugas tapi setiap semesternya pasti ada beberapa tugas yang harus dikerjakan. Selain itu mahasiswa juga harus belajar untuk mempersiapkan ujian dan dalam kuliah terdapat juga beberapa kuis. mahasiswa yang bekerja tuntutan tugas mereka dua kali lipat karena pada satu peran ia harus mengerjakan tugas-tugas kuliah dan pada peran lainnya harus mengerjakan tugas-tugas kantornya. Tuntutan peran berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai suatu fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam organisasi itu. Peran sebagai mahasiswa dan peran karyawan seringkali mengalami ketidaksesuaian. Pada mahasiswa yang bekerja, time

  

pressure yang mereka rasakan pasti tidak bisa dihindari. Time pressure ini terjadi

  karena harus melakukan terlalu banyak hal dengan waktu yang sedikit (Munandar, 1995). Munandar mengatakan bahwa waktu dalam masyarakat industri merupakan suatu unsur yang sangat penting. Setiap tugas diharapkan dapat diselesaikan secepat mungkin secara tepat dan cermat. Waktu merupakan salah satu ukuran dari efisiensi. Atas dasar ini orang sering harus bekerja berkejaran dengan waktu. Tugas harus diselesaikan sebelum waktu berakhir (dead line).

  Bagaimanapun juga stres yang dialami mahasiswa yang memiliki peran ganda harus dihadapi agar segala yang menjadi keinginan dalam bekerjanya dapat terpenuhi. Kemampuan untuk bertahan dalam keadaan stres yang dialami mahasiswa yang bekerja ini tentunya juga dipengaruhi oleh berbagai kekuatan dari dalam seorang mahasiswa tersebut untuk bertoleransi terhadap stress yang atara lain self esteem, self efficacy, locus of control, tipe kepribadian A – B dan

  

coping strategy . Ada wacana baru yang yang mengungkap suatu kemampuan

  individu dalam menghadapi stres dan kesulitan sehingga individu tersebut dapat menghadapi stres dengan baik. Kemampuan ini oleh Paul G. Stoltz (2000) pengaruh yang sangat besar dalam mengadapi kegagalan, kondisi-kondisi sulit, dan tekanan. Dengan Adversity Quotient, seseorang tidak hanya dapat menghadapi kondisi sulit dan kegagalan namun juga dapat mengubahnya menjadi peluang untuk meraih kesuksesan yang lebih besar. Di Amerika telah banyak perusahaan-perusahan yang besar telah menggunakan model training Adversity

  

Quotient untuk menghadapi stres kerja dan burnout yang sering dirasakan

  karyawan pada perusahaan tersebut. Dengan training Adversity Quotient ini tidak hanya mampu mengurangi stres yang dirasakan karyawan namun juga dapat memberikan peningkatan produktivitas pada perusahaan tersebut (Century, 2004). Bagi mahasiswa yang bekerja, Adversity Quotient ini menjadi sangat penting karena Adversity Quotient akan memberikan cara dalam menghadapi situasi sulit (stres) yang dialami mahasiswa yang bekerja sehingga tidak menghambat aktifitasnya baik sebagai mahasiswa maupun pekerja.

  Adversity Quotient sendiri merupakan derajat kemampuan seseorang dalam bertahan dan menanggulangi situasi yang dianggapnya sebagai masalah.

  Satu proses yang dimulai dari persepsi seseorang terhadap sebuah situasi yang menentukan tindakan orang itu dalam menghadapi situasi tersebut. Tindakan ini akan menjadi pola reaksi dari individu yang mana pola ini dapat berubah dan diubah. Selanjutnya Adversity Quotient (AQ) akan berinteraksi dengan kecerdasan umum (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) sehingga memungkinan individu mampu menghadapi rintangan hidup. Surekha (2001) menambahkan bahwa

  

Adversity adalah kemampuan berpikir, mengelola dan mengarahkan tindakan yang membentuk suatu pola–pola tanggapan kognitif dan prilaku atas stimulus peristiwa-peristiwa dalam kehidupan yang merupakan tantangan atau kesulitan.

  Mahasiswa yang bekerja telah menerima segala konsekuensi dari keputusannya untuk bekerja seperti harus membagi waktu kuliah dengan bekerja demi mendapatkan tambahan uang saku, pengalaman kerja dan pengembangan diri dalam kaitannya dengan persaingan di dunia kerja yang sebenarnya (pujianto 2002). Seligman (dalam Stoltz, 2000) menyatakan perbedaan individu yang pesimis dan optimis sebagai perbandingan seseorang yang memiliki Adversity

  

Quotient yang tinggi atau rendah. Kondisi stress yang terima oleh mahasiswa

  yang bekerja tentunya dapat direduksi apabila seseorang tersebut memiliki

  

Adversity Quotient yang tinggi karena kesulitan- kesulitan yang didapatkan dalam

  aktivitasnya baik dalam bekerja maupun belajar dapat dihadapi dengan baik, sehingga segala macam tujuan yang menjadi motivasi dalam diri mahasiswa yang bekerja dapat tercapai.

  Dari berbagai uraian di atas dapat dilihat adanya hubungan yang erat antara Adversity Quotient seseorang dalam menghadapi stres. Banyak penelitian sebelumnya tentang stres kerja yang dialami oleh karyawan atau pekerja. Beberapa penelitian meneliti tentang stres pada mahasiswa. Tetapi belum banyak penelitian yang menyoroti kemampuan individu dalam menghadapi stres dari segi internal pada mahasiswa yang bekerja. Oleh karena itu dalam penelitian ini ingin meneliti tentang hubungan antara Adversity Quotient dan stres pada mahasiswa yang bekerja.

  B. Rumusan Masalah

  Atas dasar latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah apakah ada hubungan antara Adversity Quotient dan stres pada mahasiswa yang bekerja?

  C. Tujuan Penelitian

  Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Adversity Quotient dan stres pada mahasiswa yang bekerja

  D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis Hasil dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberi sumbangan kepada perkembangan ilmu Psikologi Perkembangan dan

  Industri.

  2. Manfaat Praktis Dengan adanya penelitian tentang hal ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk membantu mahasiswa yang bekerja untuk mengetahui diri sehingga dapat menjadi siap dalam menghadapi tantangan-tantangan yang akan dihadapi dalam peranya sebagai mahasiswa dan pekerja.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. STRES

1. Pengertian Stres

  Menurut Hans Selye dalam buku Hawari (2001) stres dapat di definisikan sebagai respon tubuh yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan yang melebihi kemampuanya

  Hal tersebut sama dengan definisi yang di ungkapkan oleh Rice (1992) bahwa stres merupakan subjektif respon. Ini berasal dari internal seseorang seperti emosinya dan bagaimana ia menanggapi dan mengatasi stimulus tersebut.

  Menurut David (1990) stres juga didefinisikan sebagai respon otomatis dari tubuh yang berasal dari pikiran-pikiran, perubahan-perubahan, dan tantangan yang muncul pada kehidupan sehari-hari yang menyebabkan seseorang merasa terganggu.

  Stress dapat juga berarti respon fisiologis, psikologis, dan prilaku dari seseorang dalam upaya untuk menyesuaikan diri dari tekanan baik secara internal maupun eksternal (Laurentius, 2003).

  Dari uraian diatas maka stres dapat didefinisikan yaitu merupakan bentuk respon psikologis dari stimulus yang berasal dari suatu kejadian, lingkungan dan kondisi fisik yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tegang dan berada

2. Gejala Stres

  Menurut Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1992) gejala stres dapat di bagi dalam 3 (tiga) aspek, yaitu : a. Gejala Psikologis : Kecemasan, ketegangan; bingung, marah, sensitif; memendam perasaan; komunikasi tidak efektif; mengurung diri; depresi; merasa terasing dan mengasingkan diri; kebosanan; ketidakpuasan kerja; lelah mental; menurunnya fungsi intelektual; kehilangan daya konsentrasi; kehilangan spontanitas dan kreativitas; kehilangan semangat hidup; menurunnya harga diri dan rasa percaya diri.

  b. Gejala Fisik : Meningkatnya detak jantung dan tekanan darah; meningkatnya sekresi adrenalin dan noradrenalin; gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung); mudah terluka; mudah lelah secara fisik; kematian; gangguan kardiovaskuler; gangguan pernafasan; lebih sering berkeringat; gangguan pada kulit; kepala pusing, migrain; kanker ketegangan otot; problem tidur (sulit tidur, terlalu banyak tidur)

  c. Gejala Perilaku : Menunda ataupun menghindari pekerjaan/tugas; penurunan prestasi dan produktivitas; meningkatnya penggunaan minuman keras dan mabuk; perilaku sabotase; meningkatnya frekuensi absensi; perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan atau kekurangan); kehilangan nafsu makan dan penurunan drastis berat ngebut, berjudi; meningkatnya agresivitas dan kriminalitas;penurunan kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman; kecenderungan bunuh diri

3. Faktor-faktor yang menyebabkan stres

  a) Stres Akademik Menurut P. G. Hanson (1987) Stres akademik adalah stres yang berasal dari akademi atau pendidikan. Lingkungan dimana mahasiswa kuliah dapat berperan dalam menimbulkan stres seperti misalnya lingkungan yang padat dan ramai. Dalam menghadapi ujian dapat mengakibatkan terjadinya stres. Kecemasan dalam menghadapi ujian merupakan masalah utama yang dihadapi mahasiswa. Mengerjakan tugas yang banyak dapat menyebabkan terjadi academic overload. Lingkungan masyarakat dimana terdapat tuntutan untuk mendapat pendidikan yang tinggi membuat lingkungan pendidikan menjadi sangat kompetitif. Tuntutan untuk mendapat gelar agar bisa mendapatkan pekerjaan yang baik menjadi sebuah tekanan yang mengakibatkan stres bagi pelajar.

  b) Stres Pekerjaan Yang menjadi penyebab stres pada faktor pekerjaan adalah banyaknya beban pekerjaan (overload). Overload adalah keadaan dimana tuntutan atau kebutuhan melebihi kapasitas individu untuk melakukannyan (Girdano,1990). Overload ini dapat dibedakan secara kuantitatif dan yang ditarge tkan melebihi kapasitas individu tersebut. Akibatnya karyawan tersebut mudah lelah dan berada dalam "tegangan tinggi".

  

Overload secara kualitatif bila pekerjaan tersebut sangat kompleks dan

  sulit, sehingga menyita kemampuan teknis dan kognitif karyawan. Dalam sebuah perusahaan tidak jarang seorang karyawan mengerjakan tugas yang sebenarnya bukan bidangnya.

  c) Stres Organisasi Organisasi adalah suatu unit sosial yang dikoordinasikan dengan sadar, yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang berfungsi atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan atau serangkaian tujuan bersama (Robbins, 1998). Perusahaan atau universitas dapat digolongkan sebagai sebuah organisasi.

  Robbins (1998) membuat tiga kategori penyebab potensial stres yaitu faktor lingkungan, faktor organisasional dan faktor individu. Karena sekolah, perusahaan atau unit kegiatan lain termasuk dalam dikategorikan sebagai organisasi maka faktor organisasional tentunya akan lebih berpengaruh.

  Faktor ini lebih banyak terjadi pada perusahaan tapi dapat juga terjadi pada mahasiswa karena universitas merupakan sebuah organisasi.

  Banyak sekali faktor di dalam organisasi yang dapat menimbulkan stres. Tekanan untuk menghindari kekeliruan atau menyelesaikan tugas dalam suatu kurun waktu yang terbatas, beban kerja yang berlebihan, seorang atasan yang menuntut dan tidak peka, serta rekan kerja yang tidak menyenangkan merupakan beberapa contoh.

  Berdasarkan contoh-contoh tersebut, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi berkisar dalam kategori tuntutan tugas, tuntutan peran, tuntutan antar pribadi, struktur organisasi dan kepemimpinan organisasi. Tuntutan tugas merupakan faktor yang dikaitkan pada pekerjaan seseorang. Faktor ini mencakup desain pekerjaan, kondisi kerja, dan tata letak kerja fisik.

  Tuntutan peran berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai suatu fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam organisasi itu. Konflik peran terjadi bila harapan-harapan tidak dapat diwujudkan atau dipuaskan . Peran yang kelebihan beban dialami bila individu diharapkan untuk melakukan lebih daripada yang dimungkinkan oleh waktu. Tuntutan antarpribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh rekan kerja. Kurangnya dukungan sosial dari rekan-rekan dan hubungan antar pribadi yang buruk dapat menimbulkan stres yang cukup besar.

  Struktur organanisasi menentukan tingkat diferensiasi (pembedaan) dalam organisasi, tingkat aturan dan pengaturan, dan di mana keputusan diambil. Aturan yang berlebihan dan kurangnya partisipasi dalam keputusan mengenai seorang karyawan merupakan suatu contoh dari variabel struktural yang mungkin merupakan sumber potensial dari stres.

  Kepemimpinan organisasi menggambarkan gaya manajerial dari eksekutif senior organisasi. Beberapa pejabat eksekutif kepala menciptakan suatu budaya yang dicirikan oleh ketegangan, rasa takut, dan kecemasan. Mereka membangun tekanan yang tidak realistis untuk berprestasi dalam jangka pendek, memaksakan pengawasan yang berlebihan ketatnya, dan secara rutin memecat karyawan yang tidak dapat mengikuti.

  d) Faktor Individu (Internal) Selain faktor-faktor penyebab stres yang berasal dari luar (eksternal), ada pula yang berasal dari faktor individu sendiri (internal).

  Faktor ini adalah berdasarkan kepribadian (personality) individu yang bersangkutan. Allport (dalam Hawari 2001) mendefinisikan personality sebagai :

  “Personality is the dynamic organization within the individual of

those psychophysical systems that determine his unique adjustments to his

environment”.

  Setiap individu memiliki penyesuaian tersendiri terhadap lingkungannya. Hal ini mempengaruhi tingkat ketahanan individu terhadap stres. Aspek-aspek kepribadian yang dapat mempengaruhi tingkat ketahanan individu terhadap stres antara lain self esteem, self efficacy,

  locus of control, dan tipe kepribadian A – B Self esteem atau pandangan yang positif terhadap diri sendiri

  merupakan sumber coping untuk stres. Individu dengan self esteem yang untuk mengadopsi strategi coping yang efektif untuk mengatasi stres ketimbang individu dengan self esteem yang rendah.

  Self efficacy adalah sebagaimana baik seorang individu dapat

  mengatasi atau menghadapi sebuah situasi (Bandura, 1982). Jika individu yakin dengan kemampuannya untuk mengatasi sebuah situasi dengan baik atau dengan kata lain mempunyai self efficacy yang tinggi lebih tahan dalam menghadapi stres.

  Wrightsman & Deaux (dalam Hawari, 2001) menyebutkan, Locus

  

Of Control (LOC) merupakan kecenderungan secara umum untuk

  meyakini bahwa kontrol atas kejadian-kejadian dalam kehidupan ada secara internal maupun eksternal. LOC internal cenderung merasa yakin bahwa kontrol kejadian-kejadian ada di dalam tangannya sendiri. LOC eksternal memiliki keyakinan bahwa kehidupannya dipengaruhi oleh orang lain atau peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dikontrolnya. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa individu dengan LOC internal lebih tahan terhadap stres. Hal ini disebabkan karena mereka percaya bahwa mereka dapat mengontrol situasi atau keadaan yang ada dalam mencapai tujuan mereka (Hawari, 2001).

  Individu dengan Tipe Kepribadian A lebih mudah terserang stres ketimbang individu dengan Tipe Kepribadian B. Hal ini disebabkan ciri- ciri dari Tipe Kepribadian A. Dalam buku Manajemen Stres, Cemas dan Depresi (Dadang Hawari, 2001) Rosenmen & Chesney 1980

  1. ambisius, agresif dan kompetitif 2. kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung dan marah

  (emosional) 3. kewaspadaan berlebihan, kontro diri kuat, percaya diri berlebihan

  (over confidence)

  4. cara bicara cepat, bertindak cepat, hiperaktif, tidak dapat diam 5. bekerja tidak mengenal waktu (workcoholik) 6. pandai berorganisasi dan memimpin dan memerintah (otoriter) 7. lebih suka bekerja sendirian 8. kaku terhadap waktu, tidak dapat tenang (tidak relaks), serba tergesa-gesa 9. mudah bergaul, pandai menimbulkan perasaan empati dan bila tidak tercapai maksudnya mudah bersikap bermusuhan 10. tidak mudah dipengaruhi, kaku (tidak fleksibel) 11. bila berlibur pikirannya ke pekerjaan, tidak dapat santai 12. berusaha keras untuk dapat segala sesuatunya terkendali

  

4. Faktor- faktor yang mempengaruhi ketahanan (resilience) terhadap

stres

  Menurut Norman Garmezy (dalam Santrock, 2003) faktor-faktor yang mempengaruhi stres ketahanan (resilience) seseorang terhadap stres yaitu : 1. ketrampilan kognitif (perhatian, pemikiran reflektif) dan respon

  2. keluarga, ditandai dengan adanya kehangatan, keterikatan satu sama lain, dan ada orang dewasa yang memperhatikan 3. ketersediaan sumber dukungan eksternal, seperti ketika kebutuhan yang kuat akan tokoh ibu dapat dipenuhi oleh tokoh guru, tetangga, orang tua teman, atau struktur institusional.

5. Stress pada mahasiswa yang bekerja

  Seorang mahasiswa tentunya memiliki kesibukan-kesibukan akademik seperti adanya tugas-tugas mata kuliah dan jadwal kuliah yang harus dihadapi setiap harinya. Oleh karena itu, beban tugas pada mahasiswa yang bekerja tentu lebih besar dari pada beban tugas mahasiswa pada umumnya karena mahasiswa yang bekerja memiliki tanggung jawab lain yaitu bekerja di sela-sela kesibukan akademisnya sebagai seorang mahasiswa (Handianto, 2006). Seringnya terjadi benturan dua tuntutan yang berbeda ini menimbulkan tegangan (stres) pada diri mahasiswa yang telah bekerja. Seseorang yang berada dalam keadaan seperti itu akan merasa kelebihan beban dan menjadi tegang. Kelebihan beban itu yang disebut overload (Girdano,1990).

  Overload ini dapat dibedakan secara kuantitatif dan kualitatif (Girdano,

  1990). Dikatakan overload secara kuantitatif jika banyaknya pekerjaan yang ditargetkan melebihi kapasitas seseorang. Overload secara kualitatif bila pekerjaan tersebut sangat kompleks dan sulit, sehingga menyita kemampuan teknis dan kognitif. Mahasiswa maupun karyawan dapat saja mengalami kuantitatif dan kualitatif dialami secara bersamaan. Overload secara kuantitatif pada mahasiswa dapat terjadi bila mendapat materi kuliah yang diberikan untuk ujian dan tugas yang diberikan terlalu banyak sedangkan waktu yang diberikan untuk mempelajari dan mengerjakannya tidak sebanding. Overload secara kualitatif pada mahasiswa terjadi bila materi kuliah yang diberikan terlalu beragam sehingga sulit untuk dapat memahaminya dan tugas yang diberikan terlalu komplek dan sulit bagi mahasiswa untuk mengerjakannya. Pada karyawan yaitu bila tugas yang diberikan juga beragam dan terlalu sulit sehingga sangat menyita kemampuannya atau bahkan tidak sesuai dengan kemampuannya untuk mengerjakanya.

  Keputusan seorang mahasiswa ini menjadikan seorang mahasiswa yang juga bekerja memiliki peran ganda baik sebagai mahasiswa maupun pekerja.

  Peran (role) adalah aspek fungsional yang berasosiasi dengan posisi spesifik dalam konteks sosial. Setiap orang memiliki lebih dari satu peran dalam kehidupannya. Ada kalanya peran-peran yang dijalani memiliki ketidaksesuaian antara kebutuhan atau tuntutan peran yang satu dengan yang lainnya.

  Ketidaksesuaian ini menyebabkan terjadinya konflik peran (role conflict) (Girdano, 1990).

  Role conflict dapat dibedakan menjadi dua yaitu interrole conflict dan

intrarole conflict . Kedua jenis role conflict itu dialami oleh mahasiswa yang

  bekerja. Sebagai mahasiswa, mereka mengalami intrarole conflict ketika harus menyelesaikan tugas atau menghadapi ujian dua mata kuliah yang berbeda. atau lebih tugas pada waktu yang relatif bersamaan. Pada mahasiswa yang bekerja selain konflik tersebut mereka juga mengalami interrole conflict. Ini terjadi karena peran mereka sebagai karyawan yang harus melakukan aktivitas dalam pekerjaannya dan juga sebagai mahasiswa yang harus melakukan aktivitas dalam kuliahnya.

  Tuntutan tugas merupakan faktor yang dikaitkan pada pekerjaan seseorang. Mahasiswa mempunyai tugas begitu juga dengan karyawan.

  Mahasiswa dalam kuliahnya meskipun tidak semua mata kuliah diberikan tugas dan tidak semua dosen memberikan tugas tapi setiap semesternya pasti ada beberapa tugas yang harus dikerjakan. Selain itu mahasiswa juga harus belajar untuk mempersiapkan ujian dan dalam kuliah terdapat juga beberapa kuis.

  Karyawan sudah pasti mempunyai tugas yang diberikan dati tempat ia bekerja. Pada mahasiswa yang bekerja tuntutan tugas mereka dua kali lipat karena pada satu peran ia harus mengerjakan tugas-tugas kuliah dan pada peran lainnya harus mengerjakan tugas-tugas kantornya. Tuntutan peran berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai suatu fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam organisasi itu. Telah dijelaskan sebelumnya tentang peran ganda yang dialami mahasiswa yang bekerja. Peran sebagai mahasiswa dan peran karyawan seringkali mengalami ketidaksesuaian. Hal ini mungkin merupakan sumber potensial stes yang besar bagi mahasiswa yang bekerja.

  Pada mahasiswa yang bekerja, time pressure yang mereka rasakan pasti tidak bisa dihindari. Time pressure ini adalah salah satu penyebab utama melakukan terlalu banyak hal (Munandar, 1995). Munandar mengatakan bahwa waktu dalam masyarakat industri merupakan suatu unsur yang sangat penting.

  Setiap tugas diharapkan dapat diselesaikan secepat mungkin secara tepat dan cermat. Waktu merupakan salah satu ukuran dari efisiensi. Atas dasar ini orang sering harus bekerja berkejaran dengan waktu. Tugas harus diselesaikan sebelum waktu berakhir (dead line).

  Individu yang mempunyai aktivitas, baik dalam sekolah (academic) maupun pekerjaan (occupational) akan menemui masalah deadline (Hanson, 1986). Deadline merupakan salah satu penyebab terjadinya time pressure. Mahasiswa dalam aktivitas kuliahnya sering menghadapi time pressure. Banyaknya bahan mata kuliah yang harus dipelajari sebelum ujian dan tugas- tugas yang harus dikumpulkan pada waktunya (deadline) merupakan time

  pressure yang mereka hadapi.

  Mahasiswa yang bekerja ketika menghadapi deadline baik dari kuliahnya dan pekerjaannya akan mengalami time pressure yang besar karena pada saat yang bersamaan mereka harus menyelesaikan kedua tugas tersebut. Hal ini mungkin juga merupakan sumber potensial stes yang besar bagi mahasiswa yang bekerja.

  Tingkat stres masing-masing peran berbeda. Begitu juga tingkat stres masing-masing individu. Oleh karena itu dapat diasumsikan jika satu peran saja dapat menimbulkan stres maka dua peran yang dijalani bersamaan akan mempunyai tingkat stres yang lebih daripada hanya menjalani satu peran saja.

B. Adversity Quotient

1. Pengertian Adversity Quotient

  Adversity memiliki akar kata “adverse” yang berarti negatif atau bertolak belakang. Berdasarkan akar kata tersebut adversity memiliki arti yang luas.

  Mulai dari berita buruk, kesusahan, nasib sial sampai pada penyakit yang tak tersembukan, masa-masa sulit, kepedihan dan bencana. Adversity dapat juga dipahami sebagai sebuah keadaan tidak beruntung atau bencana, kesusahan dan digambarkan sebagai kecelakaan yang tak terelakan (Laksmono, 2001)

  Sementara Quotient, menurut esiklopedia Wikipedia selain berarti hasil akhir dari pembagian soal, juga dapat diartikan sejenis test seperti Test Kecerdasan (Intelligent Quotient) yang mana dalam hal ini quotient memberikan gambaran derajat atau tingkat kecerdasan individu dalam bentuk skor. Jadi berdasarkan akar katanya, Adversity Quotient berarti skor seseorang saat bertahan dalam kepedihan, kesulitan, bencana, kecelakaan atau situasi negatif lain. Stoltz (2000) menyatakan Adversity Quotient adalah daya juang yang diuraikan sebagai derajat kemampuan seseorang dalam bertahan, menanggulangi situasi yang dianggapnya sebagai masalah, dan melampaui masalah yang dihadapi dalam bentuk skor.

  Dari uraian diatas maka Adversity Quotient dapat didefinisikan sebagai derajat kemampuan seseorang dalam bertahan dan menanggulangi situasi yang dianggapnya sebagai masalah.

2. Dimensi Adversity Quotient

  Stoltz (2000) membagi daya juang individu atas empat dimensi yang terdiri dari Control, Origin – Owner, Reach dan Endurance (CO

  2 RE). Berikut ini diuraikan tiap-tiap dimensi tersebut.

  a. Control/C (control) Dimensi ini menekankan kemampuan seseorang mengendalikan respons dirinya dalam situasi yang ada serta mempengaruhi situasi tersebut secara positif. Seseorang yang berpandangan optimis mampu mengendalikan respons diri agar tetap aktif, memegang kontrol dan mampu mempengaruhi situasi yang dihadapinya. Sementara pandangan pesimis akan berdampak sebaliknya.

  Gandhi (dalam Stoltz, 2000) meyakini bahwa manusia dapat mengubah penjajahan (situasi tertekan) bukan dengan mengubah pandangan sang penjajah (situasi) itu sendiri tetapi dengan mengubah keyakinan yang ada dalam dirinya yaitu kemerdekaan dapat diwujudkan.

  Jadi kontrol atas diri (kemerdekaan) Gandhi tidak ada pada penjajah (situasi) tetapi pada diri sendiri, walau kontrol lingkungan hidup ada pada penjajah. Gandhi mulai mengubah anggapan bangsa India melalui kesediaan untuk mengambil kontrol hidup dari tangan penjajah. Semakin besar kontrol seseorang, semakin seseorang dimampukan untuk bertindak, berkembang, dan hidup bahagia. Ada empat tingkatan dalam pengendalian yaitu:

  1) Pengendalian Seketika, yaitu individu dapat mengendalikan respons sekaligus segera memberikan respon positif saat berhadapan dengan situasi bermasalah. 2) Pengendalian Tertunda, yaitu individu mampu mengendalikan respons tetapi belum segera memberikan respon positif saat berhadapan dengan situasi bermasalah

  3) Luapan Emosi Secara Verbal, yaitu individu yang tak mampu mengendalikan respon dan memberikan respon negatif berupa ungkapan verbal yang negatif. 4) Luapan Emosi Secara Fisik, yaitu individu yang tak mampu mengendalikan respon dan memberikan respon negatif berupa ungkapan fisik yang negatif.

  b. Origin dan Ownership (O2) Adalah sejauh mana seseorang mau mengakui masalah yang dihadapi dan bersedia menanggung akibat atas situasi yang dihadapi secara objektif. 1) Ownership (pengakuan)

  Adalah dimensi yang berhubungan dengan pengakuan atas situasi bermasalah yang dihadapi seseorang. Dengan kemampuan dan kemauan untuk mengakui adanya masalah, akan meningkatkan kesadaran bertanggung jawab dan akhirnya memperluas kendali atau kontrol hidup, meningkatkan keberdayaan dan motivasi dalam kemampuan untuk bertanggung jawab secara wajar serta mengakui bagian yang memang harus ditanggung. Sementara orang berdaya juang rendah cenderung tidak bertanggung jawab karena enggan mengakui kesalahan mereka.

  2) Origin (asal-usul) Adalah dimensi yang mencari akar persoalan dengan titik berat pada siapa dan apa yang menjadi asal usul kesulitan yang ada. Hal ini berkaitan dengan rasa bersalah dan penyesalan seseorang. Jika seseorang menghadapi kegagalan, maka akan baik jika orang tersebut mengalami rasa bersalah yang adil dan penyesalan yang wajar. Orang tersebut tidak melemparkan semua kesalahan pada diri sendiri atau pada lingkungan. Tapi sebaliknya, orang tersebut dapat melihat sisi mana yang dapat dipertanggung-jawabkan sebagai kesalahan diri sendiri dan sisi mana yang memang merupakan bagian dari kekurangan lingkungan.

  Orang dengan daya juang tinggi memiliki kemampuan untuk melihat asal usul persoalan yang dihadapi dengan jernih, memiliki rasa bersalah yang adil dan bersedia bertanggung jawab. Sebaliknya orang dengan daya juang rendah cenderung tidak mampu mencari asal-usul persoalan yang dihadapi. Orang dengan daya juang rendah akan menimbun diri dengan rasa bersalah yang tak perlu sehingga mematikan harapan dalam diri sendiri atau sebaliknya, melempar c. Reach/R (jangkauan) Dimensi ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melokalisasi permasalahan yang dihadapi. Individu yang berdaya juang tinggi melihat persoalan yang dihadapi secara tepat dan tetap fokus sehingga tidak mempengaruhi semua aspek hidupnya. Sedangkan individu berdaya juang rendah cenderung memandang persoalan yang dihadapi akan meluas dan mempengaruhi aspek hidup lain.

  d. Endurance/E (daya tahan) Dimensi ini merujuk pada prediksi waktu seseorang atas situasi yang dihadapi. Individu berdaya juang rendah akan memprediksi situasi yang dihadapi berlangsung lama karena penyebab persoalan dipandang sebagai sesuatu yang permanen serta tak dapat diperbaiki. Sebaliknya individu berdaya juang tinggi menganggap situasi yang dihadapi akan segera berakhir karena penyebabnya dapat diubah dan diperbaiki.

3. Tiga Tipe Manusia Berdasarkan Derajat Daya Juang

  Stoltz (2000) dalam penelitiannya menemukan bahwa adalah tiga jenis kelompok manusia berdasarkan tingkatan daya juang. Berikut ini diuraikan ketiga jenis kelompok tersebut:

  1. Quiters (Penyerah), yaitu orang dengan daya juang rendah Tipe ini memiliki ciri-ciri yaitu berkarakter menolak, mundur, mengabaikan, berhenti atau meninggalkan tanggung jawab, bergaya tanpa makna. Di tempat kerja umumnya bekerja sekadar saja, tidak ada ambisi, mutu kerja di bawah standar, tidak mau ambil resiko dan tidak kreatif. Relasinya memiliki banyak teman sejenis untuk memupuk rasa tak berdaya. Respon terhadap perubahan cenderung menolak atau lari bahkan menyabot peluang kesuksesan diri secara aktif. Menggunakan kalimat yang bersifat membatasi dan menolak seperti “saya tidak mampu”, “saya tidak bisa” dan sebagainya. Kontribusi yang diberikan sedikit dan tak ada visi dalam berkarya karena ambang daya tahan yang rendah 2. Campers (Mapan), yaitu orang dengan daya juang sedang.

  Tipe ini memiliki ciri-ciri yaitu mampu menanggapi tantangan tetapi cepat puas lalu berhenti, menciptakan ilusi kesuksesan agar tidak perlu untuk berusaha lebih baik lagi, gaya hidup menetap, menciptakan daerah aman dan mapan untuk dirinya. Di tempat kerja punya sejumlah inisiatif, cukup bersemangat dan memiliki kreativitas tetapi tidak berani mengambil resiko. Relasi cenderung mencari aman dan tidak mau lepas dari kemapanan yang diciptakan. Respon terhadap perubahan adalah menahan dan diam bukan karena menunggu waktu yang tepat, tetapi lebih karena takut mengambil tindakan. Orang berdaya juang sedang secara aktif dapat mengikuti perubahan sejauh perubahan itu tidak berskala besar dan secara aktif menolak perubahan jika perubahan itu berskala besar. Mereka menggunakan bahasa yang kompromi antara lain tetapi tidak banyak karena belum menggunakan

  campers

  kemampuannya secara optimal. Ambang daya tahannya lebih besar dari

  quitters tetapi tidak cukup besar untuk menghadapi perubahan yang cepat dan lama.

  3. Climbers (Pendaki), yaitu orang dengan daya juang tinggi.

  Ciri-ciri tipe ini adalah memiliki karakter ingin terus bertumbuh dan mengembangkan diri dengan gaya hidup penuh gairah, gigih, ulet, tabah, tidak takut, bersedia diam bahkan mundur untuk kemudian maju lagi. Ditempat kerja memiliki inisiatif yang tinggi, kreatif dan semangat untuk terus maju berkembang. Climbers cenderung membuat segala sesuatunya mejadi terwujud. Climbers bekerja dengan visi, memiliki inspirasi dan karenanya mampu menjadi pemimpin yang baik. Membentuk berbagai jenis relasi dan tidak takut untuk menjajaki semua potensi yang ada. Menyambut baik resiko akibat kritikan tetapi memiliki relasi yang bemakna. Komitmen climbers dalam berelasi adalah mampu menerima keceriaan sama seperti rasa sakit dan penderitaan. Respons terhadap perubahan adalah positif. Bagi climbers perubahan adalah tantangan dan tantangan membuat climbers semakin berkembang.

  Climbers adalah jenis orang yang dapat diandalkan saat adanya

  perubahan. Climbers sadar bahwa perubahan adalah sesuatu yang tak dapat dihindarkan. Climbers berkembang pesat berkat adanya perubahan. Bahasa yang digunakan oleh climbers selalu penuh dengan kerjakan’, ‘kita pasti bisa’, ‘jika satu pintu tertutup pasti pintu lain terbuka’, ‘masalah bukan untuk dihindari tetapi untuk dihadapi’ dan sebagainya. Jenis orang seperti ini merupakan orang yang paling banyak memberikan kontribusi. Climbers menggunakan seluruh kemampuannya untuk bertumbuhkembang serta mengembangkan lingkungan sekelilingnya. Climbers secara aktif mengupayakan hasil optimal dalam tiap perubahan hidup. Ambang daya tahan climbers sangat tinggi.

  

Climbers mampu bekerja di bawah tekanan dan tetap berkembang.

4. Adversity Quotient pada mahasiswa yang bekerja

  Mahasiswa yang bekerja berarti juga memiliki dua peran yang berbeda yaitu sebagai seorang siswa yang sedang menempuh pendidikan dan seorang pekerja yang bekerja dalam sebuah tempat bekerja. Di samping mahasiswa yang bekerja bisa mempunyai penghasilan sendiri, pengalaman yang didapatkan saat bekerja sangat bermanfaat untuk mendukung perkuliahan itu sendiri. Setidaknya seorang mahasiswa tersebut dapat merasakan langsung semua hal yang berhubungan dengan dunia kerja yang sesungguhnya, yang selama ini hanya kita tahu dari buku dan sharing dari dosen (Handianto, 2006). Dengan pengetahuan dan pengalaman langsung, tentunya akan lebih mudah memahami isi perkuliahan tersebut. Karena pada dasarnya, isi perkuliahan memang menjelaskan istilah-istilah dan hal-hal yang terjadi dan berhubungan erat dengan dunia kerja.

  Sikap optimis juga ditunjukan pada mahasiswa yang bekerja yang berani mengambil keputusan untuk bekerja dan membagi waktunya antara belajar dan bekerja menunjukkan adanya sifat tahan banting dan keuletan. Werner (dalam Stoltz, 2000) menyatakan bahwa orang yang optimis adalah para perencana yang mampu menyelesaikan masalah dan orang yang dapat memanfaatkan masalah sebagai peluang. Hal ini didukung oleh penelitian Seligman (dalam Stoltz, 2000) menyatakan perbedaan individu yang pesimis dan optimis sebagai perbandingan seseorang yang memiliki Adversity

  Quotient yang tinggi atau rendah. Individu pesimis akan memandang kesulitan

  sebagai situasi yang menetap, pribadi dan berdampak ke semua aspek hidup lain, sedangkan individu optimis akan memandang kesulitan sebagai kondisi sementara, eksternal dan terbatas pada persoalan saat itu saja.

C. Dinamika Adversity Quotient dan Stress

  Stres merupakan hal yang dekat dengan kita. Dalam berbagai bidang kehidupan, kita dapat mengalami stress karena berbagai masalah atau kesulitan yang timbul di dalamnya. Mahasiswa sering kali mengalami stress yang di sebabkan oleh aktivitas-aktivitas akademiknya seperti tugas-tugas maupun ujian.

  Begitu juga dengan para pegawai yang merasakan stress karena pekerjaan- pekerjaannya. Robbins (1998) membuat tiga kategori penyebab potensial stres yaitu faktor lingkungan, faktor organisasional dan faktor individu. Faktor lingkungan dan organisasional menjadi faktor eksternal penyebab stres menghadapi kekeliruan, menyelesaikan tugas pada waktu yang terbatas, serta beban kerja yang berlebihan. Faktor individu merupakan faktor internal dikarenakan faktor ini berada di dalam diri manusia (persepsi). Faktor inilah yang mempengaruhi tingkat ketahanan individu terhadap stres.

  Terganggu atau tidaknya individu, tergantung persepsinya terhadap peristiwa yang dialaminya. Faktor kunci dari stres adalah persepsi seseorang dan penilaian terhadap situasi dan kemampuannya untuk menghadapi atau mengambil manfaat dari situasi yang dihadapi (Diana, 1991). Kemampuan untuk dapat mereduksi stres ini tergantung kepada presepsi positif masing-masing individu tersebut dalam menanggapi stress yang diterimanya.

  Menurut Selye, (dalam Monk, 2001) Stressor yang sama dapat dipersepsi secara berbeda, yaitu dapat sebagai peristiwa yang positif dan tidak berbahaya, atau menjadi peristiwa yang berbahaya dan mengancam. Penilaian kognitif individu dalam hal ini nampaknya sangat menentukan apakah stressor itu dapat berakibat positif atau negatif. Penilaian kognitif tersebut sangat berpengaruh terhadap respon yang akan muncul. Maka diperlukan sikap optimis dari individu untuk dapat meganggap stressor sebagai peristiwa yang positif sehingga dapat memunculkan respon yang positif pula.

  Seligman (dalam Stoltz, 2000) menyatakan perbedaan itu sebagai individu yang pesimis dan optimis sebagai perbandingan seseorang yang memiliki

  

Adversity Quotient yang tinggi atau rendah. Individu pesimis akan memandang

  kesulitan sebagai situasi yang menetap, pribadi dan berdampak ke semua aspek hidup lain, sedangkan individu optimis akan memandang kesulitan sebagai kondisi sementara, eksternal dan terbatas pada persoalan saat itu saja.

  Sikap optimis juga menunjukkan adanya sifat tahan banting dan keuletan. Orang yang memiliki sifat tahan banting dan ulet mampu mengatasi kesulitan lebih baik daripada yang tidak memiliki sifat itu. Werner (dalam Stoltz, 2000) menyatakan bahwa orang yang optimis adalah para perencana yang mampu menyelesaikan masalah dan orang yang dapat memanfaatkan masalah sebagai peluang. Misalnya seorang pelajar mendapat nilai jelek dalam sebuah tes sehingga harus mengulang kembali. Pelajar tersebut menganggap masalah yang dihadapinya (mengulang tes) sebagai peluang untuk memperbaiki nilai.

  Stoltz (2000) membagi Adversity Quotient individu atas empat dimensi yang terdiri dari Control, Origin – Owner, Reach dan Endurance (CO

  2 RE). Empat

  dimensi ini menjadi indikasi bahwa seseorang yang memiliki Adversity Quotient yang tinggi berarti individu tersebut memiliki tingkat kendali yang kuat atas kesulitan-kesulitan yang dialami, mengaggap bahwa sumber kesulitan tersebut berasal dari luar diri atau orang lain. Disamping itu individu tersebut juga memiliki kemampuan untuk merespon kesulitan sebagai sesuatu yang spesifik dan terbatas yang berarti tidak membiarkan kesulitan-kesulitan menjadi sebuah bencana dengan membiarkannya meluas. Individu tersebut juga berarti mengaggap kesulitan-kesulitan yang dialaminya bersifat sementara sehingga tidak terus menerus memikirkan tentang kesulitan tersebut dan menjalani hal-hal sulit dengan mengganggap hal tersebut adalah sebuah proses. Begitu juga sebaliknya tidak mempunyai kendali atas kesulitan-kesulitan yang dialami. Menganggap kesulitan-kesulitan tersebut karena kesalahan diri dan akan memasuki area-area lain dalam kehidupan. Individu yang memiliki Adversity Quotient yang rendah juga memandang kesulitan sebagai peristiwa yang berlangsung lama.

  Empat dimensi yang menjadi indikator tinggi rendahnya Adversity

Quotient ini mengacu kepada kesulitan yang dihadapi individu dalam hidupnya.

  Kesulitan-kesulitan yang dialami individu tentunya memberikan beban stres dan membuat individu berada dalam tekanan sehingga individu tersebut memberikan respon dalam menghadapi kesulitan atau stress dalam hidupnya. Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1992) membagi tiga gejala individu yang berada dalam stress yang tinggi. Tiga gejala ini meliputi gejala psikologis, gejala fisik, dan gejala prilaku. Gejala psikologis misalnya kecemasan, komunikasi tidak efektif, mengurung diri, depresi, merasa terasing dan mengasingkan diri, dan kebosanan. Gejala Fisik misalnya meningkatnya detak jantung dan tekanan darah, meningkatnya sekresi adrenalin dan noradrenalin, gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung), mudah terluka, lebih sering berkeringat, dan mudah lelah secara fisik. Begitu juga gejala prilaku seperti contohnya menunda ataupun menghindari pekerjaan/tugas, serta penurunan prestasi dan produktivitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator-indikator pada Adversity Quotient memberikan dampak gejala pada diri individu. Apabila individu tersebut tidak mempunyai kendali (control) atas kesulitan-kesulitan yang dialami yang berdampak pada individu tersebut sehingga berada dalam kondisi kecemasan, karena kesalahan diri (origin - ownership) dan akan memasuki area-area lain dalam kehidupan sehinga individu tersebut menjadi sensitif, kurang percaya diri, kurang kreatif, kurang spontan, dan sering menghindari pekerjaan. Begitu juga sebaliknya seseorang yang menganggap kesulitan-kesulitan tersebut berasal dari luar diri dan merespon kesulitan-kesulitan tersebut sesuatu yang terbatas (reach) berarti individu terbuka terhadap perubahan, percaya diri, dan spontan, serta kreatif. Sama halnya ketika individu tersebut memandang kesulitan yang terjadi bersifat sementara (endurance) berarti individu tersebut akan lebih memiliki semangat dan sikap optimis. Begitu juga sebaliknya, individu yang memandang kesulitan yang terjadi berlangsung lama sehingga individu tersebut akan merasa bosan, tidak puas dengan hasil kerjanya, dan kurang bersemangat.

  Hal ini menjadi tolak ukur bagaimana kemampuan bertahan dalam kesulitan atau Adversity Quotient pada diri seseorang sangat berpengaruh dalam kemampuan seseorang menanggapi masalah atau kesulitan yang dihadapinya. Dapat dikatakan juga apabila seseorang memiliki Adversity Quotient yang tinggi maka seseorang tersebut memiliki kemampuan untuk memandang stress sebagai suatu yang positif. Begitu juga sebaliknya, seseorang memiliki Adversity Quotient yang rendah maka seseorang tersebut memiliki kemampuan untuk memandang stress sebagai suatu yang negatif.

  Kita dapat lihat dinamika antara Adversity Quotient dan stres dalam bagan respon individu sebagai berikut:

D. Hipotesis

  Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah Ha: Ada hubungan negatif antara Adversity Quotient dan Stres pada mahasiswa yang bekerja. Semakin tinggi

  

Adversity Quotient maka semakin rendah stres pada mahasiswa yang bekerja.

  Begitu juga sebaliknya, semakin rendah Adversity Quotient maka semakin tinggi stres pada mahasiswa yang bekerja

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian inferensial

  kuantitatif korelasional. Penelitian inferensial adalah metode penelitian yang dirancang untuk membuat suatu kesimpulan tentang populasi dengan pengambilan sampel (Deuna, 1996). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dan membuat suatu kesimpulan antara dua variabel. Variabel tersebut adalah

  adversity quotient dan stres pada mahsiswa yang bekerja.

  B. Identivikasi Variabel Penelitian Penelitian ini memiliki dua variabel yang diidentifikasi sebagai berikut :

  1. Variabel prediktor yaitu Adversity Quotient

  2. Variabel kriterium yaitu stres

  C. Definisi Operasional Variabel Pnelitian

  1. Adversity Quotient

  Adversity Quotient merupakan daya juang yang diuraikan sebagai

  derajat kemampuan seseorang dalam bertahan dan menanggulangi situasi yang dianggapnya sebagai masalah. Adversity Quotient diukur menggunakan skala Adversity Quotient yang di susun berdasarkan empat dimensi menurut Paul G. Stoltz (2000), yaitu : Control, Origin-Ownership, Reach, dan Endurance Seseorang dapat dinyatakan memiliki stres yang tinggi apabila seseorang tersebut memiliki skor yang tinggi pada item-item Control, Origin- Ownership, Reach, dan Endurance

  2. Stres Stres merupakan bentuk respon psikologis dari stimulus yang berasal dari suatu kejadian, lingkungan dan kondisi fisik yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tegang dan berada dalam tekanan. Stres diungkapkan dengan menggunakan skala stres yang di susun berdasarkan gejala stres menurut Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1992) yaitu gejala psikogis, gejala fisik, dan gejala prilaku.

  Seseorang dapat dinyatakan memiliki Adversity Quotient yang tinggi apabila seseorang tersebut memiliki skor yang tinggi pada item-item yang menunjukan gejala psikogis, gejala fisik, dan gejala prilaku.

D. Subjek Penelitian

  Subjek penelitian adalah mahasiswa yang masih aktif dalam hal akademis dan bekerja sebagai pekerja paruh waktu (part timer). Mahasiswa yang masih aktif dalam hal akademis adalah mahasiswa yang masih mengambil minimal 12 sks dalam setiap semester dan tidak dalam masa cuti pekerja yang bekerja minimal 4 jam sehari dengan waktu kerja minimal 5 hari dalam seminggu.

E. Metode Pengumpulan Data

  Penelitian ini mengukur hubungan antara Adversity Quotient dengan stres pada mahasiswa yang bekerja. Maka untuk mengolah data digunakan tehnik korelasi. Adapun alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

  1. Skala Adversity Quotient

  2. Skala Stres Dalam penelitian ini data dikumpulkan dengan menggunakan skala model Linkert. Pernyataan yang digunakan dalam skala merupakan skala terstruktur, yang mana jawaban sudah disediakan dan subjek hnaya memilih satu jawaban yang sesuai dengan kondisi diri subjek.

  Adapun skala yang digunakan dalam masing-masing variabel penelitian ini adalah:

  1. Skala Adversity Quotient Penyusunan skala Adversity Quotient disusun berdasarkan 4 dimensi yang dikemukakan oleh Paul G. Stoltz yaitu a. Control Dimensi ini menekankan kemampuan seseorang mengendalikan respon dirinya dalam situasi sulit yang ada, serta mempengaruhi b. Origin dan Ownership Adalah sejauh mana seseorang menempatkan masalah yang dihadapi tidak hanya pada diri sendiri namun juga melihat faktor dari luar sebagai asal usul masalah dan bersedia menanggung akibat atas situasi sulit yang dihadapi secara objektif.

  c. Reach Adalah kemampuan seseorang untuk melokalisasi permasalahan yang dihadapi agar tidak merembes ke hal-hal lain.

  d. Endurance Dimensi ini merujuk pada prediksi waktu seseorang atas situasi sulit yang dihadapi.

  Berdasarkan empat dimensi diatas, selanjutnya peneliti menyusun 80 butir pernyataan yang terdiri dri 40 pernyataan favorable dan 40 pernyataan unfavorabel. Pernyataan-pernyataan tersebut dapat dilihat dari tabel sebagai berikut

  

Tabel 1

Tabel spesifikasi item-item Skala Adversity Quotient

  Dimensi No Item Jumlah

  Adversity Bobot

  Favourable Unfavorable Aitem Quotient

  4, 5, 10, 21, 45, 50, 6, 8, 11, 29, 30, 31, Control

  25%

  20 51, 52, 71, 72 32, 53, 54, 55

  Origin 2, 25, 26, 27, 28, 7, 48, 49, 67, 68

  25%

  20 O2 3, 33, 46, 47, 56 9, 34, 35, 65, 66

  Ownership

  Skor jawaban subjek pada Skala Adversity Quotient, yaitu :

  Tabel 2 Skor jawaban subjek pada Skala Adversity Quotient

  Respon favorabel unfavorabel Sangat Sesuai (SS)

  4

  1 Sesuai. (S)

  3

  2 Tidak Sesuai (TS)

  2

  3 Sangat Tidak Sesuai

  1

  4 (STS)

  Semakin tinggi skor subjek yang diperoleh, maka semakin tinggi juga Adversity Quotient yang dimiliki. Sebaliknya semakin rendah skor total yang diperoleh, maka semakin rendah juga Adversity Quotient yang dimiliki.

  2. Skala Stres Penyususnan skala Stres disusun berdasarkan 3 gejala yang dikemukakan oleh Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1992) yaitu:

  a. Gejala Psikologis

  b. Gejala Fisik

  c. Gejala Prilaku Berdasarkan tiga gejala diatas, selanjutnya peneliti menyusun 60 butir pernyataan yang terdiri diri pernyataan favorable. Pernyataan- pernyataan tersebut dapat dilihat dari tabel sebagai berikut

  Tabel 3 Tabel Spesifikasi Item-item Stres

  Respon favorabel unfavorabel Sangat Sering (SS)

  1. Estimasi Validitas Uji validitas adalah pengujian alat ukur untuk melihat seberapa jauh suatu alat ukur memiliki ketepatan dan kecermatan dalam

  4 Semakin tinggi skor subjek yang diperoleh, maka semakin tinggi pula tingkat stres yang dialami. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah skor subjek yang diperoleh, maka semakin rendah pula tingkat stres yang dialami.

  1

  3 Tidak Pernah (STS)

  2

  2 Jarang (TS)

  3

  1 Sering (S)

  4

  

Skor jawaban subjek pada Skala Stres

  Indikator stress No Item bobot Jumlah

  60 Tabel 4

  20 Jumlah 100%

  39, 40, 41, 43, 46, 47, 54, 55, 58, 60 33,3%

  20 Gejala Prilaku 7, 8, 9, 14, 15, 16, 26, 27, 32, 33,

  30, 31, 34, 35, 44, 45, 48, 49, 53, 59 33,3%

  20 Gejala Fisik 4, 5, 6, 10, 17, 18, 19, 20, 28, 29,

  25, 36, 37, 38, 42, 50, 51, 52, 56, 57 33,3%

  Psikologis 1, 2, 3, 11, 12, 13, 21, 22, 23, 24,

  Aitem Gejala

F. Pertanggungjawaban Mutu

  adalah validitas isi. Validitas isi dilakukan melalui pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat penilaian (judment) yang bersifat subyektif. Validitas isi terdapat 2 jenis yaitu validitas tampang dan validitas logik (Azwar, 1997).

  Validitas tampang adalah validitas yang paling rendah signifikasinya karena hanya berdasarkan penilaian terhadap format penampilan tes. Validitas ini dilakukan dengan cara memeriksa sebuah skala dan menyimpulkan apakah skala tersebut dapat memberi kesan mengukur sikap yang akan diukur (profesional judgement).

  2. Seleksi Aitem Seleksi aitem dilakukan dengan cara menguji karateristik masing- masing aitem yang menjadi bagian tes. Apabila terdapat aitem tidak memenuhi syarat kualitas, maka tidak dapat diikutkan dalam bagian tes. Salah satu kualitas yang baik adalah konsistensi antara aitem dengan tes secara keseluruhan atau sering disebut dengan korelasi aitem total. Pengujian reliabilitas dan validitas hanya dapat dilakukan terhadap aitem-aitem yang telah teruji dan terpilih (Azwar, 1999). Sebagai kriteria pemilihan berdasarkan koefisien korelasi total, digunakan batasan (r ) 0,3. Semua aitem yang mencapai koefisien

  ix

  korelasi minimal 0,3 daya pembedanya dianggap memuaskan (Azwar, 1999).

  Peneliti melakukan uji coba Skala Adversity Quotient dan Skala Stres dengan melibatkan 50 mahasiswa yang bekerja. Setelah data terkumpul, Skala Adversity Quotient dan Skala Stres kemudian diproses menggunakan SPSS for windows seri 17.

  3. Estimasi Reliabilitas Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (Azwar, 1997).

  Penelitian Adversity Quotient dan Stres menggunakan estimasi reliabilitas konsistensi internal Alpha-Cronbach yaitu melalui pendekatan reliabilitas konsistensi internal. Koefisien Alpha merupakan estimasi yang baik terhadap reliabilitas pada banyak situasi pengukuran (Azwar, 2008). Nilai reliabilitas skala dianggap memuaskan apabila mendekati 0,90. Koefisien yang tidak setinggi itu kadang sudah dianggap memuaskan (Azwar, 1997).

  4. Hasil Uji Coba Alat Penelitian

  a. Hasil Uji Coba Skala Adversity Quotient Skala Adversity Quotient dihitung menggunakan SPSS for

  Windows versi 17.0. Seleksi aitem menggunakan koefisien korelasi dan sama dengan atau lebih besar dari 0,3 (Azwar, 1999). Uji reliabilitas Skala Adversity Quotient pada 80 aitem dengan = 0,9093 dan 40 aitem gugur. Setelah menghilangkan aitem gugur, koefisien reliabilitas = 0,917 dengan 40 aitem. Hasil uji coba Skala Adversity Quotient dapat dilihat pada tabel berikut :

  

Tabel 5

Tabel Skala Adversity Quotient Sebelum dan Sesudah Uji Coba

  Dimensi No Item Adversity

  Jumlah Aitem Favourable Unfavorable

  Quotient 4, 5*, 10, 21, 45, 50*, 51, 6, 8* 11*29, 30, 31*

  Control

  14 52, 71, 72 32, 53, 54, 55*

  Origin 2*, 25*, 26* 27, 28* 7* 48, 49, 67* 68*

  10 O2 3, 33, 46, 47, 56 9* 34, 35* 65* 66

  Ownership 1, 12, 13, 36* 37, 38* 57, 14* 15, 16* 19, 20, 69,

  Reach

  11 58, 59*,60* 70* 74* 75, 76*

  17, 18, 22* 23, 24, 73, 77, 39* 40, 41, 42, 43, 44, Endurance

  14 78, 79* 80 61* 62* 63* 64

  Jumlah

  28

  21

  49 Pada tabel diatas nomer item yang diberi tanda bintang adalah nomor item yang gugur. Adanya item yang gugur membuat proporsi pada setiap aspek menjadi berbeda, sehingga peneliti memutuskan untuk menyamakan proporsi tiap aspek dengan cara memilih 10 item dengan reabilitas terbaik pada tiap aspek.

  Tabel 6 berikut ini menunjukan spesifikasi item Skala Adversity

  

Tabel 6

Tabel spesifikasi item-item Skala Adversity Quotient Setelah Uji Coba

  Dimensi No Item Adversity

  Bobot Jumlah Aitem Favourable Unfavorable

  Quotient 3, 5, 13, 28,

  Control 4, 15, 29, 30 25%

  10 37, 38

  Origin 14 26, 27 25%

  10 O2 2, 16, 24, 25,

  17, 35 Ownership

  31 1, 6, 7, 18, 32,

  Reach 8, 11, 12, 36 25%

  10

  33 19, 20, 21, 22, 23,

  Endurance 9, 10, 49, 40 25%

  10

  34 Jumlah

  22 18 100%

  40

  b. Hasil Uji Coba Skala Stres Skala Stres dihitung menggunakan SPSS for Windows versi

  17.0. Seleksi aitem menggunakan memakai koefisien korelasi aitem total. Kriterian aitem yang diterima jika korelasinya positif dan sama dengan atau lebih besar dari 0,3 (Azwar, 1999). Uji reliabilitas skala iklim komunikasi organisasi pada 60 aitem dengan

  = 0,930 dan 21 aitem gugur. Se telah menghilangkan aitem gugur, koefisien

  reliabilitas Hasil uji coba Skala Stres = 0,934 dengan 39 aitem. dapat dilihat pada tabel berikut :

  Tabel 7 Tabel Skala Stres Sebelum dan Sesudah Uji Coba

  Indikator stress No Item Jumlah 1*, 2, 3, 11, 12, 13, 21, 22*, 23, 24, 25, 36, 37,

  Gejala Psikologis

  17 38, 42, 50, 51, 52*, 56, 57

  4, 5, 6, 10, 17, 18, 19, 20, 28, 29, 30, 31, 34, Gejala Fisik

  16 35, 44, 45*, 48*, 49*, 53, 59*

  7*, 8*, 9, 14*, 15, 16, 26, 27, 32, 33*, 39, 40, Gejala Prilaku

  13 41*, 43, 46, 47*, 54*, 55, 58, 60

  Jumlah

  46 Pada tabel diatas nomer item yang diberi tanda bintang adalah nomor item yang gugur. Adanya item yang gugur membuat proporsi pada setiap aspek menjadi berbeda, sehingga peneliti memutuskan untuk menyamakan proporsi tiap aspek dengan cara memilih 13 item dengan reabilitas terbaik pada tiap aspek.

  Tabel 10 berikut ini menunjukan spesifikasi item Skala Stres setelah dilakukan penelitian uji coba :

  Tabel 8 Tabel Spesifikasi Item-item Skala Stres Setelah Uji Coba

  bobot Jumlah Indikator stress No Item

  Aitem Gejala 1, 2, 8, 13, 14, 15, 24, 25, 26. 29,

  33,3%

  13 Psikologis 34, 36, 37 3, 4, 5, 7, 11, 17, 18, 19, 20, 22, 23,

  Gejala Fisik 33,3%

  13 31, 33

  6, 9, 10, 16, 17, 21, 27, 28, 30, 32, Gejala Prilaku 33,3%

  13 35, 38, 39

  Jumlah 100%

  39 G. Tehnik Analisis Data

  1. Uji Asumsi Uji asumsi merupakan salahsatu syarat dalam penggunaan tehnik korelasi untuk memperoleh kesimpulan yang benar berdasarkan data yang ada. Adapun uji asumsi yang dilakukan adalah sebagai berikut : a. Uji normalitas, yaitu untuk mengetahui apakah hubungan antara distribusi sebaran variabel prediktor dan variabel kriterium dalam penelitian ini bersifat normal atau tidak. Data dinyatakan berdistribusi normal apabila signifikasi lebih besar daripada 5% atau 0.05. Sebaliknya, apabila nilai signifikasi yang diperoleh lebih berdistribusi normal. Pada penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan Kolmogorov-Smirnov pada SPSS for Windows versi 17.0 b. Uji linearitas, yaitu untuk mengetahui apakah hubungan antara skor variabel prediktor dan variabel kriterium merupakan bergaris lurus atau tidak. Jika hubungan antara dua variabel tersebut menunjukan garis lurus maka dapat dinyatakan terdapat korelasi linier antara kedua variabel. Data dinyatakan linear apabila dua variabel mempunyai signifikasi kurang dari 0.05 (Priyatno, 2008).

  2. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan untuk melihat apakah ada hubungan negatif antara adversity quotient dan stres pada mahasiswa yang bekerja.

  Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan formula

  teknik

  korelasi Pearson Product Moment melalui SPSS for Windows versi 17.0.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada Senin, 14 Juni 2010 sampai dengan 5 Juli 2010. Penelitian ini melibatkan 70 subjek. Pengumpulan data

  penelitian dilaksanakan dengan cara meminta subjek untuk memberikan jawaban pada kuesioner yang berisi dua skala, yaitu Skala Adversity

  Quotient dan Skala Stres. Peneliti membagikan 70 skala pada subjek dan kembali dengan jumlah yang sama pada peneliti.

B. Data Demografi Subjek Penelitian

  Subjek dalam penelitian ini memiliki bidang pekerjaan yang berbeda-beda. Subjek dengan pekerjaan sebagai penjaga warnet (OP) sebanyak 46 orang atau sebesar 65,71%. Subjek dengan pekerjaan sebagai waitres sebanyak 12 orang atau sebesar 17,14%. Subjek dengan pekerjaan sebagai penjaga toko sebanyak 10 orang atau sebesar 14,28%. Sedangkan subjek dengan pekerjaan sebagai seles sebanyak 2 orang atau sebesar 2,8%.

  

Tabel 9

Data Pekerjaan Subjek

  Pekerjaan Jumlah Presentase OP Warnet 46 65,71%.

  Waitres 12 17,14%. Penjaga toko 10 14,28%.

  Seles 2 2,8%

C. Uji Asumsi

  1. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran variabel dalam penelitian normal atau tidak. Apabila sebaran variabel tidak normal maka data tidak dapat dianalisis. Penelitian uji normalitas diolah dengan menggunakan SPSS for Windows versi 17.0 .

  Tabel 10 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov- Variabel Signifikansi Keterangan Smirnov

  Adversity 1,062 0,209 Normal

  Quotient Stress 0,901 0,391 Normal

  Hasil di atas diperoleh Kolmogorov-Smirnov untuk variabel

  Adversity Quotient sebesar 1,063 dengan signifikansi 0,209. Nilai

  signifikansi tersebut lebih besar dari 5 % pada variabel Adversity Quotient , dengan demikian sebaran data adalah normal.

  Data variabel Stres Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,901 dengan signifikansi 0,391. Nilai signifikansi tersebut lebih dari 5 % pada variabel stres, dengan demikian sebaran data adalah normal.

  2. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah data antara kedua variabel berupa garis lurus atau tidak. Uji linearitas tersebut dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows versi 17.0. Dari hasil pengolahan data, menunjukan bahwa nilai signifikan sebesar 0,006. Nilai ini menunjukkan bahwa data antara variabel Adversity

  Quotient dan stres adalah linear karena nilai signifikan lebih kecil

  dari 0,05 (0,006 < 0,05).

D. Hasil Penelitian

  1. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment Pada taraf signifikasi 5% (0,05).

  Uji Hipotesis dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows versi 17.0. Uji hipotesis satu ekor (one tailed) dilakukan pada penelitian ini karena hipotesis dalam penelitian ini sudah mengarah, yaitu berarah negatif.

   Dari hasil analisi data diketahui bahwa koefisien korelasi antara

  variabel Adversity Qoutient dan Stres sebesar -0,329 dengan signifikansi sebesar 0,003. Hal ini berarti terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara variabel Adversity Qoutient dan Stres. Jadi, semakin tinggi Adversity Quotient seseorang maka semakin rendah stres yang di rasakan oleh orang tersebut. Begitu juga sebaliknya semakin rendah Adversity Quotient seseorang, maka sekin tinggi stres yang di rasakan oleh orang tersebut.

  Dari penelitian ini, diktahui bahwa r = -0, 329 dan koefisien determinan (r

  2 ) sebesar 10,8%. Hal ini berarti Adversity Quotient

  memiliki sumbangan efektif sebesar 10,8 % terhadap stres pada mahasiswa yang bekerja, sedangkan 89,2% lainya dipengaruhi oleh variabel lain.

  2. Uji Tambahan Uji tambahan dilakukan untuk mengetahui apakah keseluruhan subyek memiliki adversity quotient tinggi dan stres yang tinggi.

  Pada tabel berikut ini disajikan data teoritis dan empiris skala Adversity Quotient dan skala stres pada mahasiswa yang bekerja:

  Tabel 12 Data Teoritis dan Empiris

  Mean Variabel N t SD P

  Teoritis Empiris Adversity

  78.013 12.562 0,00 100 117,13 Quotient

  70 Stres 49.385 15.538 0,00 97,5 91,71 Nilai P pada skala Adversity Quotient sebesar 0.00. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean teoritis dan empiris pada skala Adversity Quotient. Mean teoritis adalah rata-rata skor pada alat ukur penelitian. Mean Teoritis diperoleh dari angka titik tengah skor alat ukur penelitian. Mean empiris adalah rata-rata skor dalam penelitian. Skala Adversity menunjukkan mean empiris 117,13 lebih tinggi

  Quotient

  dibandingkan mean teoritis 100. Hal tersebut menunjukkan subjek penelitian pada kenyataannya memiliki Adversity Quotient yang lebih tinggi.

  Nilai P pada skala Stres sebesar 0.00. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean teoritis dan empiris pada skala Stres. Skala Stres menunjukkan mean empiris

  91,71 lebih rendah dibandingkan mean teoritis 97,5 Hal tersebut menunjukkan subjek penelitian pada kenyataannya memiliki stres yang lebih rendah.

E. Pembahasan

  Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan negatif antara adversity quotient dan stress pada mahasiswa yang bekerja.

  Dari analisis data yang telah dilakukan, menunjukan nilai koefisien korelasi antara adversity quotient dan stress pada mahasiswa yang bekerja sebesar -0,329 dengan signifikansi 0,003. Nilai tersebut menunjukan bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara adversity quotient dan stress pada mahasiswa yang bekerja. Hal ini menandakan bahwa hipotesis awal penelitian, yaitu ada hubungan negatif dan signifikan antara adversity quotient dan stress pada mahasiswa yang bekerja di Yogyakarta dapat diterima. Dalam penelitian ini Adversity Quotient memiliki sumbangan efektif sebesar 10,8% terhadap stres pada mahasiswa yang bekerja sedangkan 98,8% lainya dipengaruhi oleh variabel lain.

  Kesulitan-kesulitan yang dialami individu tentunya memberikan beban stress dan membuat individu berada dalam tekanan sehingga individu tersebut memberikan respon dalam menghadapi kesulitan atau stress dalam hidupnya. Stoltz (2000) membagi Adversity Quotient individu atas empat dimensi yang terdiri dari Control, Origin – Owner, Reach dan Endurance (CO

2 RE). Empat dimensi yang menjadi indikator tinggi rendahnya

  

Adversity Quotient ini mengacu kepada kesulitan yang dihadapi

  individu dalam hidupnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa indikator-indikator pada Adversity Quotient memberikan dampak gejala pada diri individu. Apabila individu tersebut tidak mempunyai kendali (control) atas kesulitan-kesulitan yang dialami berdampak pada individu tersebut mengalami kondisi kecemasan, tertekan, dan depresi sehingga memiliki stres yang tinggi. Individu yang menganggap kesulitan-kesulitan tersebut karena kesalahan diri (origin - ownership) dan akan memasuki area-area lain dalam kehidupan sehinga individu tersebut menjadi sensitif, kurang percaya diri, kurang kreatif, kurang spontan, dan sering menghindari pekerjaan sehingga mudah sekali terkena stres yang tinggi. Begitu juga sebaliknya seseorang yang menganggap kesulitan-kesulitan tersebut berasal dari luar diri dan merespon kesulitan-kesulitan tersebut sesuatu yang terbatas (reach) berarti individu terbuka terhadap perubahan, percaya diri, dan spontan, serta kreatif sehingga memiliki stres yang rendah. Sama halnya ketika individu tersebut memandang kesulitan yang terjadi bersifat sementara (endurance) berarti individu tersebut akan lebih memiliki semangat dan sikap optimis sehingga individu tersebut akan memandang stres adalah sesuatu yang ringan dan dapat dikatakan memiliki stres yang rendah.

  Begitu juga sebaliknya, individu yang memandang kesulitan yang terjadi berlangsung lama sehingga individu tersebut akan merasa bosan, tidak puas dengan hasil kerjanya, dan kurang bersemangat sehingga memiliki stres yang tinggi.

  Pada penelitian lain menyebutkan bahwa faktor kunci dari stres adalah persepsi seseorang dan penilaian terhadap situasi dan kemampuannya untuk menghadapi atau mengambil manfaat dari situasi yang dihadapi. Kemampuan untuk dapat mereduksi stress ini tergantung kepada presepsi positif masing-masing individu tersebut dalam menanggapi stres yang diterimanya (Diana, 1991). Stressor yang sama dapat dipersepsi secara berbeda, yaitu dapat sebagai peristiwa yang positif dan tidak berbahaya, atau menjadi peristiwa yang berbahaya dan mengancam. Penilaian kognitif individu dalam hal ini nampaknya sangat menentukan apakah stressor itu dapat berakibat positif atau negatif. Penilaian kognitif tersebut sangat berpengaruh terhadap respon yang akan muncul (Selye, 1956). Maka diperlukan sikap optimis dari individu untuk dapat meganggap

  

stressor sebagai peristiwa yang positif sehingga dapat memunculkan

respon yang positif pula.

  Subjek penelitian merupakan mahasiswa yang telah bekerja part time selama lebih dari 5 bulan. Dari penelitian ini diketahui bahwa subjek tergolong memiliki Adversity Quotient yang tinggi. Mahasiswa yang bekerja memiliki Adversity Quotient yang tinggi mungkin disebabkan sikap optimis yang ditunjukan pada mahasiswa yang bekerja yang berani mengambil keputusan untuk bekerja dan membagi waktunya antara belajar dan bekerja. Hal ini juga menunjukkan adanya sifat tahan banting dan keuletan. Werner (dalam Stoltz, 2000) menyatakan bahwa orang yang optimis adalah para perencana yang mampu menyelesaikan masalah dan orang yang dapat memanfaatkan masalah sebagai peluang. Hal ini didukung oleh penelitian Seligman (dalam Stoltz, 2000) menyatakan perbedaan individu yang pesimis dan optimis sebagai perbandingan seseorang yang memiliki Adversity Quotient yang tinggi atau rendah. Individu pesimis akan memandang kesulitan sebagai situasi yang menetap, pribadi dan berdampak ke semua aspek hidup lain, sedangkan individu optimis akan memandang kesulitan sebagai kondisi sementara, eksternal dan terbatas pada persoalan saat itu saja.

  Dari penelitian ini juga diketahui bahwa subjek tergolong memiliki stres yang rendah. Hal ini mungkin disebabkan karena mahasiswa yang bekerja memiliki motivasi yang lebih. Menurut Handianto (2006) mahasiswa yang bekerja memiliki motivasi sudah memiliki penghasilan sendiri dan mereka berharap dengan tambahan pendidikan dan gelar sarjana yang akan dimiliki nanti dapat meningkatkan penghasilan mereka lebih baik dari yang mereka terima saat ini sehingga dapat merencanakan masa depan yang lebih baik. Menurut Mohammad As'ad (2001) motivasi adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan yang mendorong individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Dengan memiliki motivasi ini segala kesulitan yang menghadang pasti akan dapat diatasi demi tercapainya tujuan sehingga strespun akan dapat dikalahkan demi hasil yang lebih baik.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil penelitian dan pembahasan menyimpulkan bahwa Adversity Quotient berhubungan secara negatif dan signifikan dengan stres pada

  mahasiswa yang bekerja. Koefisien korelasi pada penelitian ini sebesar - 0,329 dan signifikansi 0,003. Hal tersebut berarti semakin tinggi Adversity

  Quotient seseorang maka semakin rendah stres yang di rasakan oleh orang tersebut.

B. Saran

  Untuk dapat memperkaya hasil penelitian, peneliti lain diharapkan dapat melihat variabel lain yang mungkin dapat mempengaruhi stres pada mahasiswa yang bekerja. Berdasarkan penelitian ini, ada 89, 2 % pada variabel lain yang mempengaruhi stres pada mahasiswa yang bekerja.

  Peneliti memberikan saran pada mahasiswa yang bekerja untuk bisa terus menjalani dua peran yaitu sebagai mahasiswa dan pekerja dengan terus mempertahankan dan meningkatkan adversity quotient yang dimiliki.

  Daftar Pustaka

  Allport, G.W. (1937). Personality: A psychological interpretation. New York: Henry Holt and Company Anoraga, P. (1995). Psikologi Kerja. Jakarta: Rineka Cipta.

  As'ad, Moh (2001) Psikologi Industri. Yogyakarta : Liberti Azwar, S. (2000). Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Azwar. (1997). Reliabilitas Dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar. (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Pustaka Pelajar. Deaux, K., Dane, F. C. & Wrightsman, L. S. (1993). Social Psychology in the

  th 90’s (6 ed). California: Wadsworth, Inc.

  Diana, P (1991). Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University

  Girdano,D.S. (1990). Controling Stress and Tension. A Holistic Approach. New Jersey:Prentice-Hall, Inc

  Gunarsa, S. D. & Gunarsa, Y. S. (2001). Psikologi remaja. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia Hadi, S. (1982). Metodologi Research J Hid 2. Yogyakarta: Yayasan Penerbit.

  Fakultas. Psikologi Universitas Gadjah Mada. Hager. 1999. Stress and The Woman's Body. Jakarta: Interaksa Hanson, P.G, M.D. (1987). Nikmatnya Stres. Jakarta : Arcan Handianto, A. (2006). Perbedaan Tingkat Stres Mahasiswa Yang Bekerja

  Dengan Yang Tidak Bekerja . Skripsi (tidak diterbitkan). Jakarta: Atma

  Jaya Hawari, dadang . (2001). Managemen stress cemas dan depresi. Jakarta: Balai penerbit FK UI Lina, (2000). Gaya Hidup Bekerja. Diambil 28 April 2010. www.e- psikologi.com/anak/index.htm. Monk, F. J., A.M.P. Knoers, Siti Rahayu Haditono. (2001). Psikologi

  Perkembangan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press

  Morgan, Richard A.King, John R. Weisz, John Schopler. (1986). Introduction

  Psychology (7ed). New York :McGraw-Hill

  Munandar, a.s, prof. Dr. (1995) Kuliah pengantar psikologi industri (edisi

  pertama). Jakarta : tommy

  Rice, P.L. (1992). Stress and Health (2nd ed).. California: Broosa/Cole Pub Robbins, S.P. (1998). Organizational Behavior (8th ed). New Jersey : Prentice

  Hill, Inc Rudi, S. (2003). Asiknya Bekrja Part-Time. Diambil 4 Maret 2010. http://www.Detikpost.com. Santrock, John W. (1995). Life-Span Development Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga. Stoltz, Paul G. (2000). Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang . Jakarta:Grasindo. Supratiknya, A. (1998). Statistik Psikologi. Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Penelitian Sumber Belajar Fakultas Psikologi Universitas Sanata

  Dharma Surekha, 2001, Adversity Intellengence. Jakarta: Pustaka Umum

  LAMPIRAN 1 Skala

  

1.1 Skala Adversity Quotient Sebelum Dilakukan Uji Coba

  1.2 Skala Stres Sebelum Dilakukan Uji Coba

  

1.3 Skala Adversity Quotient Setelah Dilakukan Uji Coba

  1.4 Skala Stres Setelah Dilakukan Uji Coba

1.1 Skala Adversity Quotient sebelum dilakukan uji coba

  Petunjuk Pengisian Berikut ini akan disajikan beberapa pernyataan. Bacalah setiap pernyataan dengan teliti, kemudian Anda diminta memilih salah satu jawaban yang paling sesuai dengan situasi, kondisi, pengalaman yang saudara alami, dan yang paling menggambarkan keadaan diri Anda, bukan jawaban yang ideal atau yang seharusnya anda lakukan, karena tidak ada jawaban yang dianggap salah, semua jawaban benar apabila sesuai dengan yang Anda alami. Kerjakan seluruh pernyataan tanpa ada satu nomorpun yang terlewati, semua nomor harus terisi. Peneliti akan merahasiakan seluruh jawaban Anda, sehingga Anda tidak perlu ragu dalam menjawab. Pilihan jawaban yang tersedia adalah : SS = Bila pernyataan tersebut Sangat Sesuai dengan diri anda.

  S = Bila pernyataan tersebut Sesuai dengan diri anda. TS = Bila pernyataan tersebut Tidak Sesuai dengan diri anda. STS = Bila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan diri anda Berilah tanda silang (X) pada salah satu jawaban dari empat pilihan tersebut. Apabila Anda ingin mengganti jawaban, berilah tanda sama dengan (=) pada tanda silang (X) yang dianggap tidak sesuai, kemudian berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda anggap lebih sesuai. Atas bantuan Anda saya ucapkan terima kasih.

  

Skala

STS No Item SS S TS

  1 Saya yakin bahwa masalah yang saya hadapi SS S TS STS bukan merupakan contoh kegagalan saya

  2 Saya selalu percaya bahwa setiap orang pasti SS S TS STS memperoleh rintangan dalam hidubnya

  3 Saya cenderung untuk mencari penyebab kesalahan-kesalahan saya dan berusaha SS S TS STS bertanggung jawab atas akibat dari kesalahan saya

  4 Saya bisa mengendalikan emosi saya apabila SS S TS STS berhadapan dengan masalah

  5 Menurut saya, saya bisa mengatasi rasa marah SS S TS STS saya yang muncul pada saat ada masalah

  6 Saya merasa keadaan sulit yang ada saat ini SS S TS STS memang merupakan nasib saya

  7 Saya sering berfikir kesulitan-kesulitan yang SS S TS STS terjadi karena kesalahan saya

  8 Saya merasa tidak dapat mengendalikan emosi SS S TS STS saya ketika berhadapan dengan masalah

  9 Saya kurang dapat menerima konsekuensi dari SS S TS STS pilihan yang didapatkan dari keputusan bersama

  10 Walaupun banyak kesulitan-kesulitan yang saya hadapi namun saya tetap harus berjuang untuk SS S TS STS menyelesaikannya

  11 Saya sering merasa takut saya tidak dapat SS S TS STS menyelesaikan tugas-tugas saya

  12 Kuliah saya tidak akan banyak terganggu SS S TS STS walaupun banyak pekerjaan menumpuk

  13 Apabila saya mendapati kesulitan, secepat mungkin saya akan bertindak untuk SS S TS STS menyelesaikananya agar tidak mempengaruhi hal lain

  14 Kesulitan yang saya hadapi menunjukkan SS S TS STS ketidakmampuan saya dalam bekerja

15 Pertengkaran antara saya dan sahabat saya

  

16 Beban tugas saya selalu berat SS S TS STS

  27 Saya dapat belajar dari kesalahan-kesalahan saya dan tidak larut dalam penyesalan yang begitu dalam SS S TS STS

  34 Saya merasa sering menunda-nunda pekerjaan namun saya tidak mencoba memperbaiki hal tersebut

  

33 Saya dapat menerima kesalahan-kesalahan saya SS S TS STS

  32 Saya selalu merasa takut tidak memiliki jalan keluar bagi masalah saya SS S TS STS

  SS S TS STS

  31 Saya selalu merasa takut apabila usaha saya usaha saya dalam menghadapi masalah nanti gagal

  30 Saya merasa kurang dapat memaksimalkan usaha saya dalam menghadapi masalah SS S TS STS

  29 Saya cenderung untuk menghindari tugas-tugas yang berat menurut saya SS S TS STS

  28 Saya cenderung beranggapan kesulitan-kesulitan yang saya hadapi disebabkan oleh hal-hal yang diluar dari kemampuan saya SS S TS STS

  SS S TS STS

  17 Masalah yang saya hadapi hanya sedikit merintangi tujuan saya SS S TS STS

  26 Saya merasa kesulitan-kesulitan yang saya hadapi tidak tidak hanya terjadi pada diri saya sendiri.

  25 Saya menyadari kesalahan-kesalahan yang terjadi di luar kemampuan saya SS S TS STS

  24 Saya merasa kesulitan-kesulitan yang saya hadapi tidak akan berlangsung lama SS S TS STS

  

23 Saya merasa kesulitan ini tidak selalu ada SS S TS STS

  22 Saya tidak akan menemui kesulitan yang tidak dapat saya atasi SS S TS STS

  21 Saya merasa ada banyak jalan keluar dalam masalah saya SS S TS STS

  20 Masalah-masalah yang saya hadapi di pekerjaan membuat saya kurang konsentrasi dalam kuliah SS S TS STS

  19 Apa yang saya kerjakan selalu kurang memuaskan bagi diri saya SS S TS STS

  18 Saya tidak akan terlalu lama larut dalam kesedihan SS S TS STS

  SS S TS STS

  36 Saya merasa tidak terlalu terpengaruh oleh segala masalah-masalah saya SS S TS STS

  SS S TS STS

  52 Saya percaya bahwa pasti ada jalan keluar pada setiap rintangan yang saya hadapi SS S TS STS

  SS S TS STS

  51 Saya cenderung beranggapan kesulitan-kesulitan yang saya hadapi pasti juga dialami oleh banyak orang, sehingga saya pasti juga dapat melaluinya.

  50 Saya cenderung beranggapan kesulitan merupakan keadaan yang harus saya hadapi SS S TS STS

  49 Saya merasa kesalahan-kesalahan saya selalu berasal dari kecerobohan saya SS S TS STS

  

48 Saya sering merasa saya orang yang gagal SS S TS STS

  47 Saya merasa mampu untuk menanggung konsekuensi dari kesalahan-kesalahan saya SS S TS STS

  46 Saya tidak merasa gagal karena adanya masalah yang saya buat SS S TS STS

  45 Munculnya masalah yang cukup rumit dalam hidup saya itu adalah hal yang tidak bisa saya kendalikan namun saya berusaha untuk menanggapi segala macam masalah saya dengan positif

  37 Disaat saya sedang santai saya benar-benar bisa beristirahat tanpa terlalu memilirkan masalah- masalah saya SS S TS STS

  

44 Saya merasa kesulitan selalu mengikuti diri saya SS S TS STS

  43 Saya merasa tidak akan pernah bisa membagi waktu antara kuliah dan bekerja SS S TS STS

  

42 Saya slalu menyerah saat menghadapi masalah SS S TS STS

  

41 Saya merasa adalah orang yang gagal SS S TS STS

  40 Saya merasa segala sesuatunya tidak akan pernah membaik SS S TS STS

  39 Menurut saya situasi sulit ini akan selalu terjadi

  SS S TS STS

  38 Masalah yang saya hadapi tidak akan mengganggu hubungan relasi saya dengan orang lain

  53 Saya merasa tidak yakin bisa menyelesaikan masalah yang saya hadapi SS S TS STS

  55 Saya merasa menyesal karena saya tidak mampu SS S TS STS menyelesaikan masalah yang saya hadapi

  56 Saya merasa bersalah ketika saya menghindari SS S TS STS tanggung jawab saya

  57 Kesulitan yang saya hadapi hanya sedikit SS S TS STS menghambat kinerja saya

  58 Meskipun mendapati kesulitan namun hal itu malah membuat fokus pada apa yang sedang SS S TS STS saya kerjakan

  59 Saya mampu menikmati liburan tanpa harus SS S TS STS memikirkan segala tugas yang ada

  60 Walaupun sedikit merintangi presentasi saya karena tidak adanya viewer, namun saya merasa SS S TS STS saya dapat mempresentasikan tugas saya dengan baik

  61 Saya selalu kurang memberikan usaha saya yang terbaik sehingga selalu muncul masalah dalam SS S TS STS setiap pekerjaan saya

  62 Saya merasa usaha saya untuk mengatasi SS S TS STS masalah saya selalu tidak berjalan dengan mulus

  63 Saya merasa selalu ada kesulitan yang SS S TS STS merintangi tujuan saya

64 Tidak ada kata keberhasilan dalam benak saya SS S TS STS

  65 Tanggung jawab merupakan hal yang paling SS S TS STS merisaukan bagi saya

  66 Saya sering merasa segala kesalahan berasal SS S TS STS dari faktor diluar diri saya

  67 Saya selalu menyalahkan diri sendiri ketika SS S TS STS muncul kesulitan dalam hidup saya

  68 Saya selalu memikirkan kesalahan-kesalahan SS S TS STS saya walaupun saya sedang bersistirahat

  69 Saya masih saja memikirkan tugas-tugas saya SS S TS STS walaupun saat sedang berlibur

  70 Saya kurang berkonsentrasi dalam kuliah karena SS S TS STS saya bekerja

  71 Saya merasa harus sepenuhnya memaksimalkan tenaga saya saat menghadapi situasi-situasi yang SS S TS STS sulit

  72 Saya merasa tertantang dengan adanya kesulitan SS S TS STS dalam tugas-tugas saya

  74 Saya mer asa pasti ada masalah dalam setiap pekerjaan SS S TS STS saya

  75 Saya lebih banyak memikirkan kesulitan- kesulitan yang saya hadapi daripada memikirkan SS S TS STS segi positifnya

  76 Hidup saya merasa hancur ketika saya SS S TS STS memutuskan hubungan dengan kekasih saya

  77 Apa yang telah saya capai menunjukkan SS S TS STS keberhasilan diri saya

  78 Apa yang telah saya capai selama ini membuktikan kemampuan saya dalam SS S TS STS menghadapi situasi sulit

  79 Walaupun menemui kesulitan, namun saya SS S TS STS bukan orang yang gagal

  80 Saya yakin pasti berhasil memperbaiki SS S TS STS kesalahan saya

1.2 Skala Stres sebelum dilakukan uji coba

  

Petunjuk Pengisian

Berikut ini akan disajikan beberapa pernyataan. Bacalah setiap

pernyataan dengan teliti, kemudian Anda diminta memilih salah satu

jawaban yang paling sesuai dengan situasi, kondisi, pengalaman yang

saudara alami, dan yang paling menggambarkan keadaan diri Anda,

bukan jawaban yang ideal atau yang seharusnya anda lakukan, karena

tidak ada jawaban yang dianggap salah, semua jawaban benar

apabila sesuai dengan yang Anda alami. Kerjakan seluruh pernyataan

tanpa ada satu nomorpun yang terlewati, semua nomor harus terisi.

Peneliti akan merahasiakan seluruh jawaban Anda, sehingga Anda

tidak perlu ragu dalam menjawab. Pilihan jawaban yang tersedia

  SS = Bila pernyataan tersebut Sangat Sering dialami diri anda.

S = Bila pernyataan tersebut Sering dialami diri anda.

J = Bila pernyataan tersebut Jarang dialami diri anda.

TP = Bila pernyataan tersebut Tidak Pernah dialami diri

anda Berilah tanda silang (X) pada salah satu jawaban dari empat

pilihan tersebut. Apabila Anda ingin mengganti jawaban, berilah tanda

sama dengan (=) pada tanda silang (X) yang dianggap tidak sesuai,

kemudian berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda anggap

lebih sesuai. Atas bantuan Anda saya ucapkan terima kasih.

  Skala

No Item SS S J TP

  1 Saya sering memikirkan tugas atau pekerjaan SS S J TP yang belum tuntas

  2 Banyaknya tugas kuliah dan tanggung jawab SS S J TP memicu kecemasan dalam diri saya

  3 Saya sering merasa tidak fokus saat SS S J TP melaksanankan tugas

  4 Saya sering merasa lesu bahkan saat bangun SS S J TP tidur apabila memiliki banyak masalah

  5 Saya sering kehilangan nafsu makan saya SS S J TP apabila banyak tugas yang sedang saya kerjakan

  6 Saya banyak mengeluarkan keringat dingin saat SS S J TP melakukan tugas-tugas saya yang menumpuk

  7 Saya merasa memiliki tendensi makan dengan cepat saat banyak tugas belum yang SS S J TP terselesaikan

  8 Karena memiliki banyak tugas, jam makan saya SS S J TP menjadi tidak teratur

  9 Saya banyak mengurung diri saat memiliki SS S J TP masalah

  10 Saya sering merasa pusing saat menghadapi SS S J TP tugas yang datang

  12 Saya kurang percaya diri saat bertemu dengan atasan SS S J TP

  23 Saya sering merasa waktu sehari tidak cukup bagi tugas-tugas saya SS S J TP

  30 Saya menjadi sakit perut bila atasan mengawasi saya saat bekerja SS S J TP

  29 Saya merasa mudah lelah karena memikirkan tugas-tugas yang belum terselesaikan SS S J TP

  28 Kepala saya terasa sakit bila banyak pekerjaan yang belum selesai SS S J TP

  27 Saya merasa ragu-ragu dalam menentukan sikap saat beberapa tugas menumpuk SS S J TP

  26 Saya merasa jauh dari keluarga dan teman-teman karena memiliki masalah SS S J TP

  

25 Saya bosan( jemu) dengan pekerjaan saya SS S J TP

  

24 Saya merasa takut saat menghadapi ujian SS S J TP

  22 Saya merasa tugas dan tangung jawab saya mengejar-ngejar saya SS S J TP

  

13 Saya sering merasa bersalah jika bersantai SS S J TP

  21 Saya sering mendapati diri saya berfikir tentang masalah pada saat seharusnya saya bersantai SS S J TP

  20 Telapak tangan saya bergetar saat saya melakukan pekerjaan yang berat SS S J TP

  19 Karena tugas-tugas saya yang menumpuk selama sebulan ini saya mengalami penurunan berat badan SS S J TP

  18 Saya menjadi susah tidur bila saya sedang memiliki banyak masalah SS S J TP

  17 Jantung saya sering terasa berdetak kencang saat menghadapi persoalan atau masalah SS S J TP

  16 Saya merasa jarang bergaul karena selalu memikirkan tugas-tugas sya yang belum terselesaikan SS S J TP

  15 Saya sering kesulitan untuk membuat keputusan saat berada pada situasi panik SS S J TP

  14 Saya sering membolos saat kuliah karena belum mengerjakan tugas SS S J TP

  31 Bila mengerjakan tugas kuliah terlalu lama saya sering mengeluarkan keringat dingin SS S J TP

  33 Saya tidak senang bila atasan mengawasi saya saat bekerja SS S J TP

  44 Saya sering mengalami kesulitan bernafas pada situasi yang membuat saya panik SS S J TP

  51 Saya sering merasa jengkel apabila ada yang tidak sesuai dengan harapan saya SS S J TP

  50 Saya merasa mudah marah disaat saya memiliki masalah SS S J TP

  49 Saya sering mengalami pingsan apabila saya tertekan dan kecewa SS S J TP

  48 Mata saya sering berkunag-kunang saat berada pada situasi panik SS S J TP

  47 Saya merasa bingung bila melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan saya SS S J TP

  46 Rutinitas pekerjaan sehari-hari membuat saya mudah menyalahkan orang lain SS S J TP

  45 Saya merasa sering mengalami migren (sakit kepala sebelah) saat tugas yang saya kerjakan terlalu berat SS S J TP

  43 Saya sering merasa kesulitan menyelesaikan tugas-tugas SS S J TP

  34 Saya merasa nafas saya menjadi cepat bila membuat kesalahan atau kekeliruan saat bekerja SS S J TP

  42 Saya merasa tersinggung dan marah apabila ada yang menegur saya SS S J TP

  41 Beban kerja yang harus saya selesaikan membuat saya mudah bersikap kasar terhadap orang lain SS S J TP

  40 Saya tidak dapat berkonsentrasi dalam bekerja apabila sedang memiliki masalah SS S J TP

  39 Saya banyak melakukan kekeliruan atau kesalahan saat bekerja SS S J TP

  38 Jika melihat keberhasilan orang lain saya menemukan banyak kekurangan pada diri saya SS S J TP

  37 Saya merasa takut dan berfikir tentang hal-hal negatif yang akan menimpa saya SS S J TP

  

36 Saya sering lupa akan hal-hal kecil SS S J TP

  35 Kepala saya terasa berat saat menghadapi tugas kuliah yang berat SS S J TP

  52 Saya slalu merasa tidak puas karena tidak punya

  53 Saya menjadi mual ketika saya memikirkan tugas-tugas yang akan saya lakukan SS S J TP

  54 Saya sering mondar-mandir saat memimikirkan masalah saya SS S J TP

  55 Bicara saya terbata-bata saat sedang dalam situasi panik SS S J TP

  56 Pekerjaan dan tugas saya sering membuat saya frustasi SS S J TP

  57 Saya merasa kurang bersemangat dalam menjalani hari-hari saya SS S J TP

  58 Saya sering merasa kesulitan untuk membuat prioritas saat berada pada situasi yang menekan saya

  SS S J TP

  59 Saya merasa sering buang air kecil saat eakan menghadapi ujian SS S J TP

  60 Saya sering marah-marah ketika pekerjaan saya tidak kunjung selesai SS S J TP

1.3 Skala Adversity Quotient setelah dilakukan uji coba

  Petunjuk Pengisian Berikut ini akan disajikan beberapa pernyataan. Bacalah setiap pernyataan dengan teliti, kemudian Anda diminta memilih salah satu jawaban yang paling sesuai dengan situasi, kondisi, pengalaman yang saudara alami, dan yang paling menggambarkan keadaan diri Anda, bukan jawaban yang ideal atau yang seharusnya anda lakukan, karena tidak ada jawaban yang dianggap salah, semua jawaban benar apabila sesuai dengan yang Anda alami. Kerjakan seluruh pernyataan tanpa ada satu nomorpun yang terlewati, semua nomor harus terisi. Peneliti akan merahasiakan seluruh jawaban Anda, sehingga Anda tidak perlu ragu dalam menjawab. Pilihan jawaban yang tersedia

  SS = Bila pernyataan tersebut Sangat Sesuai dengan diri anda. S = Bila pernyataan tersebut Sesuai dengan diri anda. TS = Bila pernyataan tersebut Tidak Sesuai dengan diri anda. STS = Bila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan diri anda Berilah tanda silang (X) pada salah satu jawaban dari

empat pilihan tersebut. Apabila Anda ingin mengganti jawaban,

berilah tanda sama dengan (=) pada tanda silang (X) yang dianggap

tidak sesuai, kemudian berilah tanda silang (X) pada jawaban yang

anda anggap lebih sesuai. Atas bantuan Anda saya ucapkan terima

kasih.

  STS No Item SS S TS

  1 Saya yakin bahwa masalah yang saya hadapi SS S TS STS bukan merupakan contoh kegagalan saya

  2 Saya cenderung untuk mencari penyebab kesalahan-kesalahan saya dan berusaha SS S TS STS bertanggung jawab atas akibat dari kesalahan saya

  3 Saya bisa mengendalikan emosi saya apabila SS S TS STS berhadapan dengan masalah

  4 Saya merasa keadaan sulit yang ada saat ini SS S TS STS memang merupakan nasib saya

  5 Walaupun banyak kesulitan-kesulitan yang saya hadapi namun saya tetap harus berjuang untuk SS S TS STS menyelesaikannya

  6 Kuliah saya tidak akan banyak terganggu SS S TS STS walaupun banyak pekerjaan menumpuk

  7 Apabila saya mendapati kesulitan, secepat mungkin saya akan bertindak untuk SS S TS STS menyelesaikananya agar tidak mempengaruhi hal lain

  8 Pertengkaran antara saya dan sahabat saya merupakan bukti ketidakmampuan saya dalam SS S TS STS

  9 Masalah yang saya hadapi hanya sedikit merintangi tujuan saya SS S TS STS

  

19 Saya merasa adalah orang yang gagal SS S TS STS

  27 Saya percaya bahwa pasti ada jalan keluar pada setiap rintangan yang saya hadapi SS S TS STS

  26 Saya merasa kesalahan-kesalahan saya selalu berasal dari kecerobohan saya SS S TS STS

  

25 Saya sering merasa saya orang yang gagal SS S TS STS

  24 Saya merasa mampu untuk menanggung konsekuensi dari kesalahan-kesalahan saya SS S TS STS

  23 Saya tidak merasa gagal karena adanya masalah yang saya buat SS S TS STS

  

22 Saya merasa kesulitan selalu mengikuti diri saya SS S TS STS

  21 Saya merasa tidak akan pernah bisa membagi waktu antara kuliah dan bekerja SS S TS STS

  

20 Saya slalu menyerah saat menghadapi masalah SS S TS STS

  18 Saya merasa segala sesuatunya tidak akan pernah membaik SS S TS STS

  10 Saya tidak akan terlalu lama larut dalam kesedihan SS S TS STS

  17 Disaat saya sedang santai saya benar-benar bisa beristirahat tanpa terlalu memilirkan masalah- masalah saya SS S TS STS

  SS S TS STS

  

16 Saya dapat menerima kesalahan-kesalahan saya SS S TS STS

Saya merasa sering menunda-nunda pekerjaan namun saya tidak mencoba memperbaiki hal tersebut

  15 Saya selalu merasa takut tidak memiliki jalan keluar bagi masalah saya SS S TS STS

  14 Saya dapat belajar dari kesalahan-kesalahan saya dan tidak larut dalam penyesalan yang begitu dalam SS S TS STS

  13 Saya merasa ada banyak jalan keluar dalam masalah saya SS S TS STS

  12 Masalah-masalah yang saya hadapi di pekerjaan membuat saya kurang konsentrasi dalam kuliah SS S TS STS

  11 Apa yang saya kerjakan selalu kurang memuaskan bagi diri saya SS S TS STS

  28 Saya merasa tidak yakin bisa menyelesaikan masalah yang saya hadapi SS S TS STS

  30 Saya merasa bersalah ketika saya menghindari SS S TS STS tanggung jawab saya

  31 Kesulitan yang saya hadapi hanya sedikit SS S TS STS menghambat kinerja saya

  32 Meskipun mendapati kesulitan namun hal itu malah membuat fokus pada apa yang sedang SS S TS STS saya kerjakan

  33 Walaupun sedikit merintangi presentasi saya karena tidak adanya viewer, namun saya merasa SS S TS STS saya dapat mempresentasikan tugas saya dengan baik

34 Tidak ada kata keberhasilan dalam benak saya SS S TS STS

  35 Saya sering merasa segala kesalahan berasal SS S TS STS dari faktor diluar diri saya

  36 Saya masih saja memikirkan tugas-tugas saya SS S TS STS walaupun saat sedang berlibur

  37 Saya merasa harus sepenuhnya memaksimalkan tenaga saya saat menghadapi situasi-situasi yang SS S TS STS sulit

  38 Saya merasa tertantang dengan adanya kesulitan SS S TS STS dalam tugas-tugas saya

  39 Saya merasa banyak keberhasilan yang saya SS S TS STS dapatkan dengan bekerja

  40 Apa yang telah saya capai selama ini membuktikan kemampuan saya dalam SS S TS STS menghadapi situasi sulit

1.4 Skala Stres setelah dilakukan uji coba

  

Petunjuk Pengisian

Berikut ini akan disajikan beberapa pernyataan. Bacalah setiap

pernyataan dengan teliti, kemudian Anda diminta memilih salah satu

jawaban yang paling sesuai dengan situasi, kondisi, pengalaman yang

saudara alami, dan yang paling menggambarkan keadaan diri Anda,

bukan jawaban yang ideal atau yang seharusnya anda lakukan, karena

tidak ada jawaban yang dianggap salah, semua jawaban benar

  

tanpa ada satu nomorpun yang terlewati, semua nomor harus terisi.

Peneliti akan merahasiakan seluruh jawaban Anda, sehingga Anda

tidak perlu ragu dalam menjawab. Pilihan jawaban yang tersedia

adalah :

  SS = Bila pernyataan tersebut Sangat Sering dialami diri anda. S = Bila pernyataan tersebut Sering dialami diri anda.

J = Bila pernyataan tersebut Jarang dialami diri anda.

TP = Bila pernyataan tersebut Tidak Pernah dialami diri

anda Berilah tanda silang (X) pada salah satu jawaban dari empat

pilihan tersebut. Apabila Anda ingin mengganti jawaban, berilah tanda

sama dengan (=) pada tanda silang (X) yang dianggap tidak sesuai,

kemudian berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda anggap

lebih sesuai. Atas bantuan Anda saya ucapkan terima kasih.

o Item SS S J TP

  1 Banyaknya tugas kuliah dan tanggung jawab SS S J TP memicu kecemasan dalam diri saya

  2 Saya sering merasa tidak fokus saat SS S J TP melaksanankan tugas

  3 Saya sering merasa lesu bahkan saat bangun SS S J TP tidur apabila memiliki banyak masalah

  4 Saya sering kehilangan nafsu makan saya SS S J TP apabila banyak tugas yang sedang saya kerjakan

  5 Saya banyak mengeluarkan keringat dingin saat SS S J TP melakukan tugas-tugas saya yang menumpuk

  6 Saya banyak mengurung diri saat memiliki SS S J TP masalah

  7 Saya sering merasa pusing saat menghadapi SS S J TP tugas yang berat

8 Saya kurang percaya diri saat bertemu dengan

  9 Saya sering kesulitan untuk membuat keputusan saat berada pada situasi panik SS S J TP

  20 Bila mengerjakan tugas kuliah terlalu lama saya sering mengeluarkan keringat dingin SS S J TP

  27 Saya banyak melakukan kekeliruan atau kesalahan saat bekerja SS S J TP

  26 Jika melihat keberhasilan orang lain saya menemukan banyak kekurangan pada diri saya SS S J TP

  25 Saya merasa takut dan berfikir tentang hal-hal negatif yang akan menimpa saya SS S J TP

  

24 Saya sering lupa akan hal-hal kecil SS S J TP

  23 Kepala saya terasa berat saat menghadapi tugas kuliah yang berat SS S J TP

  22 Saya merasa nafas saya menjadi cepat bila membuat kesalahan atau kekeliruan saat bekerja SS S J TP

  21 Beban kerja yang menumpuk membuat saya sering melewatkan hal-hal penting SS S J TP

  19 Saya menjadi sakit perut bila atasan mengawasi saya saat bekerja SS S J TP

  10 Saya merasa jarang bergaul karena selalu memikirkan tugas-tugas sya yang belum terselesaikan SS S J TP

  18 Saya merasa mudah lelah karena memikirkan tugas-tugas yang belum terselesaikan SS S J TP

  17 Saya merasa ragu-ragu dalam menentukan sikap saat beberapa tugas menumpuk SS S J TP

  16 Saya merasa jauh dari keluarga dan teman-teman karena memiliki masalah SS S J TP

  

15 Saya bosan( jemu) dengan pekerjaan saya SS S J TP

  

14 Saya merasa takut saat menghadapi ujian SS S J TP

  13 Saya sering mendapati diri saya berfikir tentang masalah pada saat seharusnya saya bersantai SS S J TP

  12 Karena tugas-tugas saya yang menumpuk selama sebulan ini saya mengalami penurunan berat badan SS S J TP

  11 Jantung saya sering terasa berdetak kencang saat menghadapi persoalan atau masalah SS S J TP

  28 Saya tidak dapat berkonsentrasi dalam bekerja apabila sedang memiliki masalah SS S J TP

  30 Saya sering merasa kesulitan menyelesaikan tugas-tugas SS S J TP

  31 Saya sering mengalami kesulitan bernafas pada situasi yang membuat saya panik SS S J TP

  32 Rutinitas pekerjaan sehari-hari membuat saya mudah menyalahkan orang lain SS S J TP

  33 Saya merasa mudah marah disaat saya memiliki masalah SS S J TP

  34 Saya sering merasa jengkel apabila ada yang tidak sesuai dengan harapan saya SS S J TP

  35 Bicara saya terbata-bata saat sedang dalam situasi panik SS S J TP

  36 Pekerjaan dan tugas saya sering membuat saya frustasi SS S J TP

  37 Saya merasa kurang bersemangat dalam menjalani hari-hari saya SS S J TP

  38 Saya sering merasa kesulitan untuk membuat prioritas saat berada pada situasi yang menekan saya

  SS S J TP

  39 Saya sering marah-marah ketika pekerjaan saya tidak kunjung selesai SS S J TP

LAMPIRAN 2

  

Hasil Analisis Item dan Reabilitas

  2.1 Reabilitas Skala Adversity Quotient

  2.2 Reabilitas Skala Stres

2.1 Skala Adversity Quotient Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha N of Items .909

  80 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's

  Alpha if Item Deleted

item1 220.86 337.551 .389 .908

item2 220.38 341.914 .161 .909

item3 220.60 333.143 .508 .907

item4 220.80 335.184 .520 .907

item5 220.76 347.002 -.081 .911

item6 220.94 334.302 .429 .907

item7 221.34 346.556 -.057 .911

item8 221.10 338.133 .291 .908

item9 221.06 344.384 .034 .910

item10 220.60 332.694 .556 .907

item11 221.36 338.602 .266 .909

item12 221.30 335.194 .384 .908

item13 220.70 335.724 .562 .907

item14 221.00 337.959 .271 .909

item15 220.84 333.933 .376 .908

item16 220.86 340.490 .197 .909

item17 221.18 335.293 .422 .907

  

item19 221.06 328.874 .607 .906

item20 221.44 336.864 .390 .908

item21 220.64 332.194 .570 .906

item22 221.22 345.849 -.029 .911

item23 221.20 336.816 .400 .908

item24 221.02 336.755 .412 .908

item25 220.96 346.039 -.035 .911

item26 220.76 340.431 .173 .909

item27 220.68 333.773 .411 .907

item28 221.10 351.847 -.282 .912

item29 221.20 335.714 .364 .908

item30 221.22 338.869 .301 .908

item31 221.42 338.085 .266 .909

item32 221.26 331.870 .565 .906

item33 220.78 336.869 .366 .908

item34 221.40 333.918 .443 .907

item35 221.02 342.510 .124 .910

item36 221.18 339.212 .228 .909

item37 221.04 332.039 .491 .907

item38 220.96 340.774 .200 .909

item39 221.12 338.312 .268 .909

item40 220.70 332.582 .414 .907

item41 220.46 330.213 .607 .906

item42 220.72 330.410 .607 .906

item43 220.84 329.280 .733 .905

item44 220.84 334.994 .418 .907

item45 220.78 336.991 .383 .908

item46 221.08 333.014 .539 .907

item47 220.82 328.844 .630 .906

item48 220.70 331.684 .518 .907

  

item50 220.98 346.796 -.070 .911

item51 220.74 335.502 .404 .908

item52 220.54 331.192 .594 .906

item53 220.92 330.524 .565 .906

item54 221.10 334.908 .406 .908

item55 221.36 340.684 .218 .909

item56 220.86 337.960 .343 .908

item57 221.14 335.796 .457 .907

item58 220.84 336.015 .396 .908

item59 221.08 338.932 .235 .909

item60 220.96 340.407 .250 .909

item61 221.08 348.851 -.163 .911

item62 221.04 345.264 .001 .910

item63 221.36 346.398 -.049 .911

item64 220.58 323.922 .686 .905

item65 221.12 343.863 .058 .910

item66 220.96 338.202 .362 .908

item67 221.16 342.790 .096 .910

item68 221.22 340.093 .176 .909

item69 221.32 337.406 .313 .908

item70 221.02 346.551 -.053 .912

item71 220.66 336.719 .402 .908

item72 220.78 331.808 .535 .907

item73 220.86 333.470 .557 .907

item74 221.74 351.870 -.284 .912

item75 221.16 335.198 .319 .908

item76 220.92 336.647 .230 .909

item77 220.54 337.600 .303 .908

item78 220.56 334.170 .500 .907

item79 220.62 337.016 .289 .909

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .917

  40 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's

  Alpha if Item Deleted

Item1 114.13 152.838 .351 .911

item2 113.87 150.027 .459 .910

item3 114.20 151.959 .372 .911

item4 114.31 149.233 .451 .910

item5 113.87 147.737 .607 .908

item6 114.59 150.884 .352 .911

item7 114.07 150.009 .518 .909

item8 114.26 151.759 .275 .913

item9 114.47 150.948 .413 .910

item10 114.14 147.747 .551 .909

item11 114.43 147.698 .540 .909

item12 114.81 151.922 .355 .911

item13 113.97 148.144 .605 .908

item14 114.07 148.937 .475 .910

item15 114.50 147.993 .602 .908

item16 114.11 151.233 .401 .911

item17 114.71 150.816 .383 .911

item18 114.44 148.105 .529 .909

item19 113.97 149.188 .392 .911

item20 113.60 151.867 .389 .911

  

item22 114.03 150.231 .496 .910

item23 114.19 149.748 .474 .910

item24 114.16 151.787 .331 .911

item25 114.20 147.467 .590 .908

item26 114.06 149.243 .450 .910

item27 114.50 155.007 .149 .914

item28 113.84 149.062 .513 .909

item29 114.26 147.614 .569 .908

item30 114.47 151.383 .356 .911

item31 114.10 151.367 .401 .911

item32 114.44 152.279 .382 .911

item33 114.26 151.759 .346 .911

item34 113.93 145.256 .581 .908

item35 114.27 152.490 .393 .911

item36 114.61 152.356 .288 .912

item37 114.06 152.345 .404 .911

item38 114.07 150.792 .407 .911

item39 114.23 150.875 .526 .909

item40 113.91 152.746 .324 .911

2.2 Skala Stres Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha N of Items .930

  60 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's

  Alpha if Item Deleted

item1 137.50 391.194 .194 .930

item2 137.76 380.104 .497 .928

item3 138.08 381.953 .498 .928

item4 138.14 375.470 .627 .927

item5 138.48 374.051 .606 .927

item6 139.08 384.687 .393 .929

item7 138.64 389.704 .158 .930

item8 138.20 386.163 .266 .930

item9 138.48 366.377 .741 .926

item10 138.22 374.910 .617 .927

item11 138.64 385.868 .371 .929

item12 138.46 379.560 .517 .928

item13 138.28 385.716 .311 .929

item14 138.68 386.998 .279 .929

item15 138.06 381.119 .535 .928

item16 138.92 378.361 .644 .927

item17 138.28 381.838 .480 .928

item18 138.04 386.856 .335 .929

item19 138.66 381.249 .440 .928

  

item21 138.16 384.504 .388 .929

item22 138.30 387.765 .224 .930

item23 137.92 384.647 .325 .929

item24 138.24 383.615 .398 .929

item25 138.36 385.704 .424 .929

item26 138.70 370.867 .690 .926

item27 138.32 374.385 .676 .927

item28 138.46 380.498 .504 .928

item29 138.22 383.196 .452 .928

item30 139.02 380.714 .458 .928

item31 139.12 374.067 .701 .927

item32 138.24 385.819 .391 .929

item33 138.18 387.334 .282 .929

item34 138.20 384.490 .404 .929

item35 138.22 382.706 .414 .929

item36 137.92 384.279 .395 .929

item37 138.26 380.931 .456 .928

item38 138.08 376.157 .595 .927

item39 138.34 388.392 .302 .929

item40 138.14 384.613 .370 .929

item41 138.58 391.187 .181 .930

item42 138.80 380.327 .490 .928

item43 138.22 381.767 .464 .928

item44 139.12 385.822 .382 .929

item45 138.66 387.494 .221 .930

item46 138.62 378.077 .514 .928

item47 138.06 392.221 .125 .930

item48 138.96 385.468 .292 .929

item49 139.40 390.939 .144 .930

item50 138.36 385.990 .347 .929

  

item52 138.36 392.970 .065 .931

item53 138.80 382.816 .365 .929

item54 138.92 391.422 .110 .931

item55 138.54 380.294 .405 .929

item56 138.38 379.220 .484 .928

item57 138.70 380.541 .563 .928

item58 138.34 382.066 .436 .928

item59 138.88 388.965 .179 .930

item60 138.38 377.138 .549 .928

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .934

  46 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Cronbach's

  Alpha if Item Deleted item1 88.71 229.482 .479 .928 item2

  89.10 227.830 .562 .927 item3 89.13 225.331 .653 .926 item4 89.41 224.971 .586 .927 item5 90.00 232.232 .418 .929 item6 89.47 220.688 .687 .926 item7 89.27 224.954 .596 .927 item8 89.36 227.943 .546 .928 item9 89.03 229.680 .575 .928 item10 89.83 228.202 .653 .927 item12 89.59 232.478 .333 .930 item13 89.11 231.349 .430 .929 item14 89.14 232.820 .360 .929 item15 89.33 233.267 .410 .929 item16 89.54 225.411 .586 .927 item17 89.34 226.055 .626 .927 item18 89.40 228.417 .518 .928 item19 89.29 229.743 .487 .928 item20 90.00 230.609 .454 .928 item21 89.96 226.100 .553 .927 item22 89.23 233.425 .379 .929 item23 89.14 230.559 .450 .929 item24 89.19 228.994 .491 .928 item25 88.91 230.456 .442 .929 item26 89.13 231.708 .378 .929 item27 89.06 224.402 .687 .926 item28 89.24 233.926 .402 .929 item29 89.26 232.745 .324 .930 item30 89.71 233.627 .329 .930 item31 89.29 230.352 .459 .928 item32 90.06 235.069 .294 .930 item33 89.54 231.440 .385 .929 item34 88.99 233.811 .473 .929 item35 89.51 229.529 .427 .929 item36 89.40 228.417 .518 .928 item37 89.67 230.485 .517 .928 item38 89.29 230.178 .467 .928 item39 89.33 228.340 .512 .928

Dokumen baru

Download (119 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara adversity quotient dengan intensi untuk pulih dari ketergantungan napza pada residen badan narkotika nasional BNN
4
24
84
Hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan tingkat stres pada mahasiswa perantau.
2
7
138
Hubungan antara adversity quotient dan employability pada mahasiswa tingkat akhir.
2
25
206
Hubungan antara Manajemen waktu dengan performansi kerja pada mahasiswa yang bekerja part-time di PT. X Yogyakarta.
0
3
114
Hubungan antara adversity intelligence dan kesejahteraan psikologis pada pensiunan.
1
3
124
Hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan tingkat stres pada mahasiswa perantau
1
8
136
Hubungan antara adversity intelligence dan kesejahteraan psikologis pada pensiunan
0
9
122
Hubungan antara stres akademik dan kecenderungan impulsive buying pada mahasiswa
1
4
125
Pengaruh adversity quotient AQ dan kemam
0
0
10
Hubungan antara adversity quetient dengan stres akademik pada mahasiswa tahun pertama Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
18
Hubungan antara ketrampilan komunikasi interpersonal perawat dengan pasien dan stres kerja perawat - USD Repository
0
1
98
Hubungan antara perilaku asertif dan kecemasan presentasi proposal penelitian skripsi pada mahasiswa - USD Repository
0
0
134
Hubungan antara stres kerja pada prajurit TNI-AD di Yonif 400/Raider dan kekerasan dalam rumah tangga - USD Repository
0
0
184
Hubungan antara penyesuaian diri dalam perkawinan dengan kepuasan dalam perkawinan pada wanita yang bekerja - USD Repository
0
0
158
Hubungan antara intensitas mengakses facebook dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa - USD Repository
0
0
135
Show more