PENINGKATAN KEMAMPUAN MENENTUKAN LANGKAH – LANGKAH PENYELESAIAN SOAL MATEMATIKA MATERI HITUNG CAMPUR DENGAN MENGGUNAKAN METODE CERITA DI KELAS III SD TARAKANITA BUMIJO YOGYAKARTA Penelitian Pra Eksperimen SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Gratis

0
0
74
11 months ago
Preview
Full text

  PENINGKATAN KEMAMPUAN MENENTUKAN LANGKAH – LANGKAH PENYELESAIAN SOAL MATEMATIKA MATERI HITUNG CAMPUR DENGAN MENGGUNAKAN METODE CERITA DI KELAS III SD TARAKANITA BUMIJO YOGYAKARTA Penelitian Pra Eksperimen SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Disusun oleh :

F. Rustiati ( 071134060 ) PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2010

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Hasil penelitian ini saya persembahkan kepada :

  1. Tuhan Yang Maha Kasih

  2. Pimpinan beserta Staff Yayasan Tarakanita Cabang Yogyakarta

  3. Semua rekan guru SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta

  4. Suami dan anak – anakku tercinta

  5. Mbah Mamak, semua Budhe dan keponakan

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah

  Yogyakarta, 14 Januari 2010 Penulis Francisca Rustiati

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Francisca Rustiati

  Nomor Mahasiswa : 071134060 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

  

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENENTUKAN LANGKAH – LANGKAH

PENYELESAIAN SOAL MATEMATIKA MATERI HITUNG CAMPUR DENGAN

MENGGUNAKAN METODE CERITA DI KELAS III SD TARAKANITA BUMIJO

YOGYAKARTA ” Penelitian Pra Eksperimen beserta perangkat yang diperlukan ( bila ada

  ). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan data, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannyadi internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 14 Januari 2010 Yang menyatakan

  

ABSTRAK

  Peningkatan Kemampuan Menentukan Langkah – Langkah Penyelesaian Soal Matematika Materi Hitung Dengan Menggunakan Metode Cerita di Kelas III SD Tarakanita Bumijo

  Yogyakarta Francisca Rustiati

  071134060 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Selama tiga tahun berturut – turut peneliti mengajar di SD Tarakanita, siswa kelas III mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika materi hitung campur. Kesulitan tersebut terletak pada bagaimana menentukan urutan langkah penyelesaian soal dengan benar.

  Untuk mengatasi hal tersebut peneliti mengambil metode cerita di mana dalam metode tersebut dihadirkan cerita yang diharapkan mampu membangkitkan imaginasi siswa. Kemudian tokoh – tokoh cerita tersebut dipadankan dengan operasi hitung dalam soal hitung campur sesuai dengan kuat lemahnya operasi hitung. Diharapkan dengan pemadanan tersebut siswa akan tertuntun oleh imaginasinya dalam menentukan langkah – langkah penyelesaian soal hitung campur secara benar. Metode ini hanya membantu siswa dalam menentukan langkah penyelesaian soal saja, sedangkan bagaimana siswa melakukan operasi hitung tidak terbantu lewat metode ini.

  Data yang diperlukan adalah hasil pekerjaan siswa yang diperoleh dengan memberikan tes uraian di mana siswa diminta menjawab dengan mencantumkan langkah – langkah pengerjaannya. Dari jawaban siswa itulah akan diketahui tingkat kemampuan siswa dalam menentukan langkah – langkah penyelesaian soal.

  Setelah dilakukan penelitian, diketahui kemudian bahwa ada kecenderungan peningkatan kemampuan siswa dalam menentukan langkah – langkah penyelesaian soal hitung campur secara benar. Dari 36 siswa terdapat 32 siswa yang mengalami peningkatan nilai langkah dan 24 anak mencapai ketuntasan. Namun begitu terdapat beberapa siswa yang belum dapat memperoleh nilai yang memuaskan karena faktor ketidaktelitian, kekurangmampuan siswa dalam melakukan operasi hitung, dan ketidakcocokan metode ini pada siswa.

  

Kata Kunci : Kisah yang disampaikan lewat metode cerita, menginspirasi siswa dalam

mengerjakan soal hitung campur.

  

ABSTRACT

The Improvement of The Ability To Decide Steps In Solving The Problem of Mixing Counting

Material Test of Mathematic By Using Story Method In The Third Grade of Yogyakarta

Tarakanita Bumijo Elementary School

  

Francisca Rustiati

071134060

Teacher Training and Education Faculty

Elementary School Teacher’ Training Study Program

  For 3 years teaching in grade 3 at Tarakanita Elementary School, the writer found that the students had problem in solving themixing counting material of mathematic. The problem is on how deciding the steps to solve the problem properly.

  

To solve the problem, the writer used a story method ti rise counting operation in

counting mixing test which was placed on the strenght of the counting operation. By using the

method, the writer hoped the students had imagination to decide the steps to solve the mixing

counting test properly. This method helps students in deciding the steps, but not in how to do

counting operation.

  The writer got the data from the students work sheet, in the form of explain test with the steps. From the work sheet, the writer know the students ability in solving the problem. Based on the research, there is an improvement in the students’ability to solve the mixing counting operation properly. The mark of 32 students of 36 increased 24 students reached the standard. But there are some students couldn’t reach the standard because of their not accuracy disability, and not settlement.

  Key Word : The story told through the story method gives inspiration for the students in solving the mixing counting problem

KATA PENGANTAR

  Segala puji dan syukur saya haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kasih, sebab berkat bimbingan dan limpahan kasih-Nya, karya tulis yang berjudul : PENINGKATAN

  

KEMAMPUAN MENENTUKAN LANGKAH – LANGKAH PENYELESAIAN SOAL

MATEMATIKA MATERI HITUNG CAMPUR DENGAN MENGGUNAKAN

METODE CERITA DI KELAS III SD TARAKANITA BUMIJO YOGYAKARTA ini

dapat terselesaikan.

  Saya menyadari bahwa karya ini tidak mungkin dapat selesai apabila tanpa bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu saya sampaikan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :

  1. Dra. Sr. Surani, CB beserta staff Yayasan Tarakanita cabang Yogyakarta atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada saya sehingga dapat menyelesaikan kuliah hingga jenjang S1 PGSD di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Bapak Prof. St. Suwarsono Ph.D dan Bapak Drs. Th. Sugiarto P, M. T. , sebagai dosen pembimbing yang banyak memberi arahan hingga berakhirnya karya tulis ini.

  3. Suami dan anak – anak tercinta atas semua dukungan dan pengertian, serta semua budhe dan keponakan yang bersedia menjaga anak – anak selama proses pembuatan naskah ini.

  4. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, atas semua dorongan, pertimbangan serta perhatian, hingga karya ini dapat terselesaikan.

  Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan saya, maka disadari betul bahwa karya ini masih memiliki banyak kekurangan. Namun begitu saya berharap, karya ini dapat memberi masukan positif bagi siapa saja yang membaca serta dapat memberikan inspirasi bagi pengembangan dunia pendidikan terutama pendidikan Sekolah Dasar dan pembelajaran Matematika pada khususnya.

  Yogyakarta, July 2009 Penulis

  F. Rustiati 071134060

  DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................. iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................ v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ........................... vi

ABSTRAK ............................................................................................................... vii

ABSTRACT .............................................................................................................. viii

KATA PENGANTAR ............................................................................................. ix

DAFTAR ISI ............................................................................................................ xi

DAFTAR TABEL ................................................................................................... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xv

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................................

  1 B. Identifikasi Masalah ..........................................................................

  2 C. Perumusan Masalah ..........................................................................

  3 D. Batasan Istilah ....................................................................................

  3 E. Pembatasan Masalah ..........................................................................

  3 F. Tujuan Penelitian ..............................................................................

  4 G. Manfaat Penelitian ............................................................................

  4 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teoritis ...................................................................................

  5

  2. Hitung Campur Pada Pelajaran Matematika ..................................

  6 3. Peranan Cerita Bagi Pendidikan Anak ...........................................

  7 4. Peranan Cerita Bagi Pembelajaran Matematika ............................

  9 5. Penggunaan Cerita Putri Tidur Dalam Operasi Hitung Campur ....

  9 B. Kerangka Berpikir ..............................................................................

  13 BAB III METODE PENELITIAN A.

   Jenis Penelitian .................................................................................. 15 B. Setting ...............................................................................................

  15 1. Subyek Penelitian...........................................................................

  15 2. Obyek Penelitian ............................................................................

  15 3. Lama Penelitian .............................................................................

  15 4. Lokasi Penelitian ............................................................................

  16 5. Jadwal Penelitian ...........................................................................

  16 6. Keadaan Kelas III B1 .....................................................................

  16 7. Data dan Pengumpilan Data ...........................................................

  18 8. Analisis Data .................................................................................

  18 C. Prosedur Penelitian ...........................................................................

  20 1. Persiapan .......................................................................................

  20 a. Menyusun Silabus .....................................................................

  21 b. Menyusun RPP .........................................................................

  21 c. Menyusun LKS .........................................................................

  21 d. Lembar Penilaian ......................................................................

  21 e. Mata Pelajaran Terkait ..............................................................

  22

  a. Pertemuan Pertama .....................................................................

  23 b. Pertemuan Kedua .......................................................................

  24 c. Pertemuan Ketiga ......................................................................

  24

  d. Pertemuan Keempat .................................................................. 25

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian .....................................................................

  26 B. Analisis Data ....................................................................................

  28 C. Pembahasan ......................................................................................

  29 1. Pretes .............................................................................................

  29 2. Postes ............................................................................................

  31

  a. Siswa yang Mengalami Kenaikan Nilai Baik Langkah Maupun Hasil, dan Mengalami Ketuntasan .............................................

  32

  b. Siswa yang Mengalami Kenaikan Nilai Baik Langkah Maupun Hasil Namun Tidak Tuntas .........................................................

  32

  c. Siswa yang Nilai Langkah dan Hasil Meningkat, Nilai Langkah Tuntas Namun Nilai Hasil Tidak Tuntas ..................

  33 d. Siswa yang Tidak Mengalami Peningkatan Apapun ................

  34

  e. Siswa yang Nilai Langkah Meningkat, Nilai Hasil Turun, Namun Tetap Mencapai Ketuntasan ...........................................

  35 f.Siswa yang Nilai Langkah Meningkat dan Mencapai Ketuntasan, Nilai Hasil Menurun dan Tidak Mengalami Ketuntasan ...................................................................................

  35

  Namun Mengalami Ketuntasan Baik Nilai Langkah Maupun Hasil. ...........................................................................................

  36 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan .......................................................................................

  37 B. Saran ..................................................................................................

  37 DAFTAR PUSTAKA

  LAMPIRAN

  DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Jadwal Penelitian ......................................................................................

  16 Tabel 3.2 Daftar Nomer Induk Siswa .......................................................................

  17 Tabel 3.3 Contoh Lembar Penilaian .........................................................................

  20 Tabel 3.4 Tabel Keterkaitan Antar Mata Pelajaran ..................................................

  23 Tabel 4.1 Data Penelitian .........................................................................................

  27 Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Penelitian ...................................................................

  28

  DAFTAR LAMPIRAN

I. LKS I .....................................................................................................

  40 LKS II ....................................................................................................

  41 II. Soal Pretes .............................................................................................

  42 Soal Postes ..............................................................................................

  43 III. Kisi – kisi soal pretes ............................................................................

  44 Kisi – kisi soal postes .............................................................................

  45 IV. SILABUS ..............................................................................................

  46 V. RPP I ..................................................................................................... 48 RPP II ....................................................................................................

  50 VI. Kertas kerja pretes siswa .....................................................................

   VII. Kertas kerja postes siswa ....................................................................

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika adalah mata pelajaran yang memuat konsep – konsep yang abstrak di

  mana hal ini kurang sesuai dengan kondisi psikologi anak usia sekolah dasar yang sedang memasuki tahap operasional kongkrit. Maka dari itu pelajaran ini bagi kebanyakan anak termasuk mata pelajaran yang sulit, terlebih pada materi hitung campur.

  Hitung campur adalah materi pembelajaran matematika yang sudah menggunakan campuran dari beberapa operasi bilangan seperti perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan dalam satu kalimat matematika. Di kelas III materi ini termasuk materi yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena dalam menyelesaikan satu soal siswa harus melalui beberapa langkah penyelesaian. Banyak siswa salah dalam menentukan urutan langkah – langkah pengerjaannya. Hal itu yang menyebabkan banyak siswa kelas III memiliki nilai rendah. Di samping itu hal lain yang memungkinkan siswa kurang mendapat nilai maksimal untuk materi ini adalah faktor ketidaktelitian siswa dalam menghitung. Untuk menyelesaikan soal hitung campur, siswa dituntut lebih teliti lagi karena langkah penyelesaian soal yang melalui beberapa tahap.

  Selama ini, materi ini diajarkan secara konvensional, yaitu dengan memberi tahu operasi mana yang harus dikerjakan lebih dulu. Namun cara ini rupanya kurang efektif terbukti dengan banyaknya siswa yang belum dapat mencapai nilai yang diharapkan. Hal ini dapat dipahami karena dengan sekedar memberi tahu belum membuat materi tersebut memberi kesan dan tertanam dalam benak siswa, sehingga bila dihadapkan pada soal yang harus diselesaikan, siswa cenderung bingung dan lupa mana dulu yang akan dihitung meskipun guru baru saja menjelaskan hal tersebut.

  Untuk mengatasi hal ini peneliti memilih metode cerita. Pemilihan metode ini didasarkan pada kondisi psikologi anak yang sedang dalam masa operasional kongkrit. Di samping itu cerita sangat akrab dan disukai oleh anak – anak. Dalam metode ini disampaikan cerita yang diharapkan mampu membangkitkan daya imaginasi siswa.

  Dengan imaginasi siswa yang terbentuk lewat cerita itu, peneliti memanfaatkan perlakuan pada para tokoh cerita untuk menuntun siswa dalam menentukan langkah penyelesaian soal – soal materi hitung campur. Dengan demikian pelajaran matematika yang abstrak ini dapat menjadi kongkrit dengan menggunakan imaginasi siswa.

  Pada penelitian ini, peneliti lebih menitik beratkan pada langkah – langkah penyelesaian soal karena peneliti mengetahui bahwa untuk kemampuan mengerjakan (melakukan operasi hitung) sebagian siswa telah menguasainya karena telah diajarkan sejak kelas satu.

B. Identifikasi Masalah

  Soal hitung campur adalah soal matematika di mana dalam satu kalimat matematika terdapat beberapa macam operasi hitung sekaligus. Sejumlah operasi hitung tersebut tidak selalu diselesaikan urut dari kiri ke kanan karena adanya kesepakatan bahwa operasi hitung yang kuat, harus didahulukan dalam menghitungnya. Dalam menyelesaikan soal matematika hitung campur, siswa harus mengikuti kesepakatan tersebut. Namun pada umumnya siswa masih bingung dalam menentukan mana dulu operasi hitung yang harus dikerjakan, sehingga hasil akhirnya juga menjadi salah. Hal ini karena mereka terbiasa menyelesaikan operasi hitung dari kiri ke kanan.

  C. Perumusan Masalah

  Apakah pemanfaatan metode cerita, dapat membantu siswa dalam menentukan langkah

  • – langkah penyelesaian soal hitung campur dengan benar?

  D. Batasan Istilah

  1. Operasi hitung campur adalah operasi hitung yang melibatkan lebih dari satu operasi hitung dalam satu kalimat matematika.

  2. Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika materi hitung campur adalah dapat atau tidaknya siswa menggunakan langkah – langkah pengerjaan yang tepat dalam menyelesaikan soal hitung campur.

  3. Metode cerita adalah metode dimana guru menyajikan cerita terlebih dahulu untuk membangun imaginasi siswa. Imaginasi yang telah terbangun itulah yang digunakan siswa dalam membantu menyelesaikan soal hitung campur.

  E. Pembatasan Masalah

  Materi hitung campur tidak hanya diajarkan di kelas III saja, namun juga diajarkan di kelas yang lebih tinggi dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi juga. Namun begitu peneliti membatasi penelitian ini hanya pada materi hitung campur untuk siswa kelas III. Hal ini dikarenakan di kelas III, materi ini termasuk baru dan menjadi dasar bagi kelas selanjutnya. Selain itu operasi hitung yang dipakai masih terbatas pada perkalian, pembagian, penjumlahan, pengurangan dan penggunaan tanda kurung untuk operasi matematika di atas.

  F. Tujuan Penelitian

  Mengetahui apakah metode cerita dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menentukan langkah – langkah penyelesaian soal – soal hitung campur.

  G. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti.

  Sebagai sarana untuk mendapatkan pengalaman melakukan penelitian pra eksperimen yang akan dapat dikembangkan lebih lanjut.

  2. Bagi guru dan kepala sekolah.

  Memberi masukan bagi guru dan kepala sekolah dalam penggunaan metode cerita dalam pelajaran matematika materi hitung campur sebagai salah satu metode pengajaran matematika.

  3. Bagi siswa Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal – soal matematika materi hitung campur.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teoritis 1. Perkembangan Kognitif Anak Menurut Piaget Menurut Piaget, yang dipetik peneliti dari buku Pengantar Psikologi karangan Rita L. Atkinson, Richard C. Atkinson, dan Ernest R. Hilgard, ( 1983 : 97 )

  perkembangan kemampuan kognitif anak adalah sebagai berikut :

  a. 0 – 2 tahun, tahap sensorimotor Tahap ketika pemahaman anak berdasarkan pada indra ( sens ) dan gerak ( motor ) b. 2 – 7 tahun, tahap praoperasional

  Pemikiran anak telah berkembang. Bisa berpikir tentang hal yang tidak hanya berdasarkan indra tetapi masih bersifat egosentris c. 7 – 12 tahun, tahap operasional kongkrit

  Anak dapat berpikir secara obyektif tetapi tetap harus dibantu dengan benda – benda kongkrit untuk mengoperasikan hal – hal yang ada dalam pikirannya.

  d. 12 tahun ke atas, tahap formal operasional Anak bisa berpikir secara obyektif, rasional dan logis tentang berbagai hal tanpa harus didukung benda – benda kongkrit.

  Berdasarkan uraian di atas tentang tahap perkembangan kemampuan kognitif, anak yang berada di usia 7 – 12 tahun sedang berada pada tahap operasional kongkrit.

  Agar pemahaman anak terhadap berbagai hal dapat lebih jelas, maka segala sesuatu harus disampaikan secara kongkrit. Hal ini tentu saja menjadi sulit untuk diterapkan pada pembelajaran matematika, karena pada dasarnya matematika adalah pelajaran yang memuat konsep – konsep yang abstrak.

2. Hitung Campur pada Pelajaran Matematika

  Dalam matematika mengenal suatu kesepakatan adanya tingkatan kuat lemah suatu operasi hitung. Operasi hitung pemangkatan dan penarikan akar lebih kuat dari perkalian dan pembagian. Operasi hitung perkalian dan pembagian lebih kuat dari penjumlahan dan pengurangan. Operasi hitung apapun yang terdapat di dalam kurung, lebih kuat dari pada operasi hitung apapun yang tidak berada dalam kurung.

  Hitung campur adalah salah satu materi pembelajaran pada mata pelajaran matematika. Pada materi ini, dalam tiap kalimat matematika terdapat beberapa operasi hitung sekaligus. Untuk dapat menyelesaikan soal hitung campur ini siswa harus memperhatikan kuat lemahnya suatu operasi hitung. Operasi hitung yang lebih kuat harus dikerjakan lebih dahulu. Maka dalam menyelesaikan soal hitung campur tidak selalu dimulai dari kiri ke kanan.

  Dalam pelajaran matematika, misalnya dalam satu kalimat matematika terdapat perkalian ( x ) atau pembagian ( : ) dan penjumlahan ( + ) atau pengurangan ( - ), maka perkalian ( x ) atau pembagian ( : ) harus dikerjakan lebih dahulu karena perkalian dan

  pembagian lebih kuat dari pada penjumlahan atau pengurangan. Namun apabila terdapat penjumlahan maupun pengurangan yang berada dalam kurung maka penjumlahan atau pengurangan itu harus didahulukan, karena operasi hitung apapun yang berada dalam kurung kedudukannya lebih kuat dari operasi hitung yang tidak berada dalam kurung.

  Contoh : 87-32:(53-48)= yang di dalam kurung ( 53-48 ) dikerjakan lebih dahulu sehingga menjadi 87-32:5= , pembagian lebih kuat dari pada pengurangan, maka pembagian dikerjakan lebih dahulu sehingga menjadi 87-7=80.

  3.Peranan Cerita Bagi Pendidikan Anak

  Meskipun anak sedang berada pada tahap operasional kongkrit, namun pada usia ini, anak juga memiliki daya imaginasi yang tinggi. Menurut Marjorie Taylor, pakar psikologi merangkap peneliti dari University of Oregon di Eugene, ”Kanak – kanak menggunakan imaginasinya sebagai alat pemikiran mereka.” (Pembacaan, Imaginasi Sains pada Kanak – kanak, Hasan Rajiah. )

  ”Bagi anak – anak, bayangan, khayalan, dan imaginasi mereka begitu nyata,

seolah – olah itu ada di alam nyata....” ”Kemampuan berimaginasi yang demikian

tersebut disebut sebagai kecerdasan visual-spasial. Kecerdasan ini sangat menonjol

pada anak – anak dan kemudian digunakan untuk memecahkan berbagai masalah

yang berhubungan dengan kemampuan tersebut.” ( Wijanarko Jarot. 2005 : 57 ) Pada masa kanak – kanak, seorang anak senang berkhayal atau melamun.

  

”Khayalan dan lamunan ini digunakan sebagai hiburan ..... “ .....Dengan

bertambahnya informasi tentang bermacam – macam hal, anak yang lebih besar

memiliki dasar yang lebih banyak untuk membuat lamunan. Seperti diterangkan oleh

Pulaski : “....Kebanyakan bahan – bahan ini diperoleh dari cerita – cerita yang

dibacakan oleh orang dewasa kepada anak.....” ” ( Hurlock Elizabeth B. 1996:161)

  Dengan memanfaatkan daya imaginasi yang tinggi itulah, maka disampaikan sebuah cerita. Sebab anak – anak biasanya sangat suka dengan cerita atau dongeng.

  Selain karena jalan cerita yang menarik juga karena dongeng memiliki banyak manfaat yang tanpa sadar dapat mereka peroleh. Manfaat dongeng untuk anak adalah : (1) Mengasah daya pikir dan imaginasi serta menumbuhkan kreatifitas. (2) Menanamkan berbagai nilai dan etika. (3) Menumbuhkan minat baca. ( Rudy Maryati, dan Kak Agam di

  http://www.dongengkakrico.com )

  Ketika mendengarkan sebuah cerita, secara otomatis akan muncul dalam pikiran anak tersebut gambaran – gambaran yang seolah nyata ( imaginasi ) tentang cerita tersebut. Imaginasi ini akan mengasah daya pikir anak dan kemudian menumbuhkan kreatifitas anak.

  Selain itu dalam cerita tersebut biasanya termuat berbagai macam nilai dan etika hidup yang disampaikan lewat karakter tokoh serta peristiwa yang dialami para tokohnya. Nilai dan etika inilah yang berusaha untuk ditanamkan pada siswa lewat cerita.

  Setelah mengetahui betapa menariknya suatu cerita, anak akan penasaran untuk tahu lebih banyak tentang cerita tersebut. Dari sinilah anak akan dikenalkan dengan buku sumber dari cerita tersebut. Hal inilah yang kemudian dapat menumbuhkan minat baca anak.

4. Peranan Cerita Bagi Pembelajaran Matematika

  Sebelum masuk pada pokok pembelajaran matematika, peneliti terlebih dahulu menyampaikan sebuah cerita. Agar cerita yang disampaikan sesuai dengan materi pembelajaran maka harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

  a. Isi cerita sesuai dengan materi yang akan disampaikan

  b. Mengandung esensi dari materi pembelajaran yang akan disampaikan c. Dapat membangkitkan daya imaginasi siswa.

  d. Menarik dan sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Cerita yang disampaikan nanti diharapkan dapat membangkitkan imaginasi siswa. Dengan dituntun oleh imaginasinya tersebut diharapkan siswa dapat menentukan langkah – langkah penyelesaian soal hitung campur dengan benar.

5.Penggunaan Cerita Putri Tidur Dalam Operasi Hitung Campur

  Dalam penelitian ini cerita yang diambil adalah dongeng putri tidur. Dongeng ini diambil dari buku kumpulan dongeng dunia berjudul Disney’s Dunia Pengetahuan yang Mengagumkan. SINOPSIS DONGENG PUTRI TIDUR Bagian satu

  Dikisahkan sebuah kerajaan, sang raja dan permaisuri sangat ingin memiliki seorang anak. Akhirnya permaisuri melahirkan seorang anak perempuan. Untuk itu diadakanlah pesta kerajaan yang meriah. Rakyat di luar istana bergembira ( rakyat biasa tidak boleh masuk istana ), para menteri menghadap raja serta para raja dari kerajaan tetangga datang dengan diiringi pengawal masing – masing. Tak lupa diundang juga para peri kerajaan yang baik hati. Semua bergembira menyambut kelahiran sang bayi.

  Namun ditengah kegembiraan itu datanglah peri jahat dan mengutuk si bayi bahwa nanti pada usia 16 tahun putri itu akan tertusuk jarum pintal dan mati. Peri yang baik hati tidak dapat membatalkan kutukan itu namun masih dapat mengubahnya. Yaitu putri nanti akan tertusuk jarum pintal namun tidak mati melainkan tidur dan akan bangun kembali jika mendapat ciuman dari pangeran tampan.

  Kutukan itu akhirnya terjadi juga. Setelah tertusuk jarum pintal putri kemudian tertidur bahkan diikuti oleh seluruh penghuni kerajaan mulai dari prajurit hingga keluarga raja.

  Bagian kedua Beberapa tahun kemudian datanglah pangeran tampan yang berhasil mengalahkan penyihir jahat dan membebaskan putri dari kutukannya dengan ciuman.

  Karena jasa pangeran itulah kerajaan kembali gembira. Akhirnya putri dinikahkan dengan pangeran dan dirayakan secara meriah. Semua rakyat diluar istana bergembira. Demikian juga mentri yang berada di dalam istana dan para raja dari kerajaan tetangga datang dengan diiringi pengawal mereka masing – masing.

  Dongeng yang disampaikan tersebut baik pada bagian satu maupun pada bagian dua nantinya peneliti akan lebih menekankan pada bagian pestanya dengan mendeskripsikan secara detail tentang hiasan ruangan, suasana, bagaimana para undangan disambut kehadirannya sampai dengan kehadiran putri Aurora. Dari situ kemudian siswa akan memahami bahwa tiap tokoh mendapatkan perbedaan perlakuan karena adanya perbedaan tugas dan kewajiban.

  Suatu kalimat soal matematika biasanya diselesaikan mulai dari kiri ke kanan. Namun pada penyelesaian soal hitung campur tidak selalu begitu. Untuk operasi hitung yang kuat maka pengerjaannya didahulukan. Sebagai contoh untuk operasi perkalian dan pembagian lebih kuat dari penjumlahan dan pengurangan. Maka perkalian dan pembagian harus dikerjakan lebih dulu dari pada penjumlahan dan pengurangan. Namun apabila penjumlahan dan pengurangan tersebut ada dalam kurung, maka harus dihitung lebih dahulu dari pada perkalian atau pembagian, karena operasi yang berada dalam kurung dipandang lebih kuat dari pada yang tidak berada dalam kurung.

  Dengan memanfaatkan daya imaginasi siswa yang kuat karena sedang berada pada masa operasional kongkrit itulah perbedaan perlakuan itu dipadankan dengan perbedaan kekuatan operasi hitung yang dipergunakan dalam soal hitung campur dengan penerapan sebagai berikut : para menteri sebagai perkalian ( X ) dan pembagian ( : ), dan masyarakan umum sebagai penjumlahan ( + ) dan pengurangan ( - ). Operasi perkalian ( X ) dan pembagian ( : ) dipadankan dengan perlakuan terhadap para menteri karena menurut hukum yang berlaku secara umum operasi perkalian ( X ) dan pembagian ( : ) memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari penjumlahan ( + ) dan pengurangan ( - ), dengan demikian bila dalam satu kalimat matematika terdapat operasi perkalian atau pembagian bersama dengan penjumlahan dan pengurangan, maka operasi perkalian dan pembagian harus dihitung lebih dahulu.

  Tokoh raja dalam cerita dipadankan dengan operasi hitung yang lebih tinggi dari pada perkalian dan pembagian yaitu operasi pemangkatan dan penarikan akar.

  Namun karena di kelas tiga materi pembelajarannya belum sampai pada operasi pemangkatan dan penarikan akar, maka pemadanan raja dengan operasi pemangkatan dan penarikan akar ini tidak disampaikan.

  Sedangkan operasi matematika yang berada di dalam kurung dipadankan dengan orang yang mendapat pengawalan. Tanda kurung dalam kalimat matematika dipadankan dengan pengawal. Kebetulan dalam cerita tersebut yang mendapat pengawalan adalah raja. Namun guru perlu menegaskan bahwa dalam kehidupan nyata yang mendapat pengawalan tidak selalu raja. Siapa saja bahkan masyarakat umumpun dapat juga mendapat pengawalan. Siapapun yang mendapat pengawalan adalah orang spesial. Maka untuk yang mendapat pengawalan haruslah didahulukan. Hal ini juga berlaku dalam kalimat matematika. Operasi hitung apapun yang berada dalam kurung harus didahulukan dari pada operasi hitung yang tidak berada dalam kurung.

  Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin memanfaatkan kemampuan berimaginasi anak yang kuat pada masa operasional kongkrit yang sedang dialami siswa untuk menyelesaikan soal materi hitung campur dengan benar.

B. Kerangka Berpikir

  Masalah yang dihadapi siswa dalam menyelesaikan soal hitung campur adalah menentukan urutan langkah – langkah penyelesaian soal. Untuk itu peneliti mengambil metode cerita sebagai sarana untuk menuntun siswa dalam menyelesaikan soal hitung campur.

  Dalam metode tersebut akan disajikan dongeng putri tidur yang didalamnya terdapat suasana pesta pada awal dan akhir cerita. Penekanan cerita pada suasana pesta, sehingga akan tergambar bagaimana tiap tokoh cerita mendapat perlakuan yang berbeda sesuai dengan tugas dan kewajiban mereka masing – masing.

  Dari dongeng yang fiktif ini kemudian anak dibawa guru ke kehidupan nyata, bahwa dalam kenyataan sering dijumpai juga adanya perbedaan perlakuan yang terkait dengan adanya perbedaan tugas dan kewajiban maupun situasi dan kondisi.

  Perbedaan perlakuan ini kemudian dipadankan dengan kuat lemahnya operasi hitung dalam kalimat matematika pada materi hitung campur. Dengan dituntun pemadanan inilah siswa diharapkan dapat mengerjakan soal hitung campur dengan langkah yang benar.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pra

  eksperimental. Penelitian pra eksperimental adalah penelitian yang bukan eksperimen murni. Dalam penelitian pra eksperimen tidak menggunakan kelas pembanding. Maka hasil penelitianpun sangat dimungkinkan dipengaruhi faktor lain diluar treatment peneliti. Namun begitu hasil dari penelitian pra eksperimental ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah selanjutnya dalam pembelajaran.

B. Setting

  1. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa kelas III SD Tarakanita, Bumijo, Yogyakarta

  2. Obyek Penelitian Obyek penelitian adalah kemampuan dalam menentukan langkah – langkah penyelesaian soal hitung campur.

  3. Lama Penelitian Dengan mempertimbangkan metode yang akan dipakai, keluasan materi pembelajaran, serta langkah – langkah pembelajaran yang akan diterapkan dalam penelitian, maka peneliti memperkirakan lamanya waktu penelitian adalah 4 kali pertemuan, dengan 8 jam pelajaran. Waktu tersebut terbagi dalam 2 kali perlakuan, 1 kali pretes dan 1 kali postes.

  4. Lokasi Penelitian Penelitian akan dilaksanakan di SD Tarakanita, Bumijo, Yogyakarta.

  5. Jadwal Penelitian Berhubung kelas III B1 tersebut bukanlah kelas yang diampu peneliti, maka peneliti perlu membuat kesepakatan dengan guru kelas yang mengampu kelas tersebut dengan mempertimbangkan jam kosong dari peneliti dan jam kosong dari guru kelas III B1 tersebut. Dari kesepakatan itu tersusunlah jadwal sebagai berikut :

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

  NO KEGIATAN HARI, TANGGAL JAM PELAJARAN

  1 Pretes Rabu, 11 Maret 2009 4 - 5

  2 Pertemuan 1 Jumat, 13 Maret 2009 1 - 2

  3 Pertemuan 2 Rabu, 18 Maret 2009 4 - 5

  4 Postes Jumat, 20 Maret 2009 1 - 2

  6. Keadaan Kelas III B1 Kelas III B 1 terdiri atas 36 siswa yang terdiri dari 17 siswa laki – laki dan 19 siswa perempuan. Berikut ini adalah daftar nomer induk siswa kelas III B1 yang menjadi subyek penelitian:

Tabel 3.2 Daftar Nomer Induk Siswa

  No Nomer Induk 1 4105 2 4124 3 4263 4 4264 5 4265 6 4266 7 4267 8 4268 9 4269

  10 4270 11 4272 12 4273 13 4274 14 4275 15 4276

  16 4277 17 4278 18 4279 19 4280 20 4281 21 4282 22 4283 23 4284 24 4285 25 4286 26 4287 27 4288 28 4290 29 4291 30 4294 31 4295 32 4296 33 4297 34 4298 35 4299 36 4300

  7. Data dan Pengumpulan Data Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah hasil pekerjaan siswa dalam menyelesaikan soal – soal hitung campur. Cara pengumpulan data dengan memberikan tes. Tes dilaksanakan dalam dua tahap yaitu pretes dan postes. Bentuk soal pretes maupun postes sama, yaitu soal uraian. Dengan begitu akan terlihat urutan langkah – langkah penyelesaian soal yang dilakukan siswa. Siswa yang mampu menentukan langkah penyelesaian dengan benar akan memperoleh hasil akhir yang benar pula. Untuk siswa yang demikian tentu akan mendapat nilai yang tinggi. Demikian juga sebaliknya.

  Soal pretes dan postes yang digunakan berbeda, namun memiliki bobot yang kurang lebih sepadan. Kesepadanan ini diusahakan dengan digunakannya operasi hitung yang sama untuk tiap nomer soal. Peneliti hanya mengganti angka dengan selisih yang tidak jauh berbeda antara soal pretes dan postes.

  Tes ini terdiri dari 10 soal, dengan bobot setiap soal yang sama yaitu 1. Soal disusun berdasarkan indikator hasil belajar, dan dikelompokkan atas soal mudah, sedang, sukar dengan perbandingan 1 : 3 : 1 yaitu 2 soal mudah, 6 soal sedang, dan 2 soal sukar. Soal pretes dapat dilihat di halaman 42 sedangkan soal postes dapat dilihat di halaman 43. Adapun kisi – kisi soal pretes dapat dilihat di halaman 44 sedangkan kisi – kisi soal postes dapat dilihat di halaman 45.

  8. Analisis Data Karena fokus penelitian ini pada bagaimana siswa menentukan urutan langkah penyelesaian, maka peneliti merasa perlu untuk membedakan antara nilai langkah penyelesaian dan nilai hasil akhir. Dengan demikian akan menjadi lebih jelas apakah siswa memang benar – benar telah mampu menyelesaikan soal hitung campur dengan langkah yang benar serta memperoleh hasil hitung dengan benar atau tidak.

  Langkah yaitu urutan cara yang diambil siswa dalam menyelesaikan soal. Bila siswa dalam mengambil langkah penyelesaian soal itu benar, maka diberi skor 1; bila langkah penyelesaian soal salah, maka mendapat skor 0. Semua skor dari tiap nomer itu kemudian dijumlahkan. Hasil penjumlahan inilah yang menjadi nilai langkah pengerjaan.

  Hasil yaitu angka terakhir yang diperoleh lewat langkah penyelesaian soal secara benar. Bila angka terakhir tersebut benar, maka mendapat skor 1; bila angka terakhir tersebut salah, maka mendapat skor 0. Skor dari tiap nomer ini dijumlahkan. Hasil penjumlahan inilah yang menjadi nilai hasil pengerjaan.

  Bagi siswa yang berhasil mendapatkan nilai minimal 6 untuk nilai langkah maupun nilai hasil maka dinyatakan siswa tersebut telah memahami penyelesaian soal hitung campur. Nilai 6 ini diambil berdasarkan standar ketuntasan yang harus dicapai siswa di SD Tarakanita untuk mata pelajaran matematika kelas III. Sebaliknya bila nilai siswa belum mencapai 6 maka dinyatakan bahwa siswa tersebut belum tuntas dan belum menguasai materi pembelajaran tersebut.

  Untuk mendokumentasikan nilai yang diperoleh siswa, peneliti menggunakan instrument lembar penilaian sebagai berikut :

Tabel 3.3 Contoh Lembar Penilaian

  No Nomer Induk Siswa

  Nilai yang Diperoleh Pretes Postes

  Langkah hasil langkah hasil 1 4105 2 4125 3 4263 4 4264 5 4265

  Analisis Data : Hasil = ( jumlah siswa yang memperoleh nilai

  ≥ 60 : jumlah siswa ) X 100% Langkah = ( jumlah siswa yang memperoleh nilai

  ≥ 60 : jumlah siswa ) X 100% C.

   Prosedur Penelitian

  1.Persiapan Sebelum melakukan penelitian, peneliti mencoba menyusun segala perangkat yang akan diperlukan dalam penelitian nanti. Perangkat itu antara lain : silabus tematik, RPP tematik, LKS, Lembar penilaian, Kisi – kisi soal, soal pretes dan soal postes.

  a. Menyusun Silabus Format silabus yang digunakan adalah silabus yang sudah ada dan disusun oleh Drs. Puji PurnomoM.Si. Langkah ini diambil oleh peneliti karena peneliti memandang format silabus tersebut lebih ringkas dan jelas. Silabus tersebut dapat dilihat di halaman 46 - 47.

  b. Menyusun RPP Format RPP yang digunakan adalah RPP yang sudah ada dan disusun oleh Drs.

  Puji PurnomoM.Si. Langkah ini diambil oleh peneliti karena peneliti memandang format silabus tersebut lebih ringkas dan jelas. RPP tersebut dapat dilihat di halaman 48 – 51.

  c. Menyusun LKS Untuk LKS, peneliti mencoba mengkombinasi model LKS dari USD dan hasil pikiran peneliti sendiri agar lebih sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dipaparkan pada halaman 4. LKS tersebut dapat dilihat di halaman 40 – 41.

  d. Lembar Penilaian Lembar penilaian yang digunakan dalam penelitian nanti disusun sendiri oleh peneliti agar lebih sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dipaparkan pada halaman 4. Lembar penilaian tersebut dapat dilihat di halaman 20. e. Mata Pelajaran Terkait Berhubung pembelajaran di kelas III masih menggunakan pembelajaran tematik, maka cerita putri tidur tidak hanya digunakan untuk kepentingan pembelajaran matematika saja. Namun cerita ini juga digunakan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, PKN, dan SBK terutama untuk seni rupa yaitu menggambar.

  Pada pelajaran Bahasa Indonesia siswa diajak untuk menceritakan kembali dongeng putri tidur ini dengan bahasa mereka sendiri secara runtut. Di sini siswa dilatih aspek berbicaranya dan diajak unnntuk dapat menyampaikan isi pikirannya dengan bahasa yang benar secara runtut.

  Pada pelajaran PKn, dongeng putri tidur ini dikaitkan dengan materi pelajaran tentang norma yang berlaku di masyarakat. Di sini siswa diajak untuk melihat perbuatan yang baik dan jahat, yang boleh dan tidak untuk dilakukan.

  Untuk pelajaran SBK, khususnya menggambar, siswa diajak untuk menuangkan ide kreatif, ataupun imaginasi mereka tentang dongeng putri tidur dalam wujud gambar sesuai dengan interpretasi mereka masing – masing.

Tabel 3.4 Tabel Keterkaitan Antar Mata Pelajaran

    B.

   Indonesia : Siswa dapat  PKN:  Siswa dapat menyebut  menceritakan aturan

   kembali dongeng   yang berlaku  Putri dalam  Tidur yang didengarnya 

   masyarakat  dengan  bahasanya sendiri 

HIBURAN

  Matematika  : Siswa dapat  SBK  : Siswa dapat  melakukan

  

 operasi hitung  menggambar

 suasana  campur   pertemuan

   raja dengan para  mentri  dan masyarakat 

  2. Rencana Pelaksanaan Penelitian

  a. Pertemuan Pertama Pertemuan pertama akan dilakuan selama 2 jam pelajaran. Dalam pertemuan itu akan dilakukan pretes bagi siswa. Soal pretes berbentuk uraian dengan jumlah soal 10. Siswa diminta untuk menjawab soal tersebut dengan menyertakan juga urutan langkah – langkah penyelesaian soal pada lembar jawab mereka. Target dari pertemuan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami langkah – langkah penyelesaian soal hitung campur. b. Pertemuan Kedua Pertemuan kedua dilakukan selama 2 jam pelajaran. Target pada pertemuan ini adalah untuk mengenalkan langkah – langkah penyelesaian soal hitung campur lewat pemadanan kuat lemahnya operasi hitung dalam kalimat soal dengan perlakuan yang diterima para tokoh cerita.

  Rencana Perlakuan ( Treatment ):

  • Guru menyampaikan cerita Putri Tidur bagian I untuk membangun imaginasi siswa. ( Penekanan cerita pada pesta kerajaan, lihat hlm. 11 )
  • Guru menyampaikan penerapan cerita dengan memadankan cerita pada operasi hitung campur untuk menyelesaikan soal. ( lihat hlm 11 – 12 )
  • Siswa menyelesaikan soal hitung campur dari guru berdasarkan penerapan cerita pada materi hitung campur secara kelompok.

  c. Pertemuan Ketiga Pertemuan ketiga dilakukan selama 2 jam pelajaran. Target pertemuan ini adalah untuk menanamkan lebih dalam lagi pemahaman tentang langkah – langkah penyelesaian soal hitung campur lewat pemadanan kuat lemahnya operasi hitung dengan perbedaan perlakuan para tokoh cerita.

  Rencana Perlakuan ( Treatment ):

  • Guru menyampaikan cerita Putri Tidur bagian I untuk membangun imaginasi siswa. ( Penekanan cerita pada pesta kerajaan, lihat hlm. 11 )
  • Guru mengingatkan kembali penerapan cerita dengan padanannya dalam operasi hitung campur untuk menyelesaikan soal. ( lihat hlm 11 – 12 )
  • Siswa menyelesaikan soal hitung campur dari guru berdasarkan penerapan cerita pada materi hitung campur secara individu

  d.Pertemuan keempat Pertemuan keempat akan dilakukan selama 2 jam pelajaran. Dalam pertemuan akan dilakukan postes bagi siswa. Soal postes berbentuk uraian dengan jumlah soal 10.

  Semua soal postes ini merupakan paralel dari soal pretes. Dengan demikian soal postes memiliki bobot yang kurang lebih sama dengan pretes. Dalam postes ini siswa diminta untuk menjawab soal tersebut dengan menyertakan juga urutan langkah – langkah penyelesaian soal pada lembar jawab mereka. Dengan demikian akan diketahui dengan pasti apakah siswa telah menggunakan urutan langkah penyelesaian soal dengan benar atau tidak. Dari hasil postes inilah nanti akan diketahui hasil dari penelitian ini.

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 11 Maret 2009 dengan beragendakan pemberian pretes. Pertemuan tersebut berlangsung selama 2 jam pelajaran. Soal – soal pretes berjumlah 10 butir. Semua soal tersebut telah disiapkan peneliti kemudian ditulis oleh peneliti di papan tulis, sedang siswa mengerjakan soal pada kertas yang diberi nama, nomer absen, dan kelas masing – masing.

  Pertemuan kedua berlangsung pada hari Jumat tanggal 13 Maret 2009 dan berlangsung selama 2 jam pelajaran. Pada pertemuan tersebut, peneliti menyampaikan treatment seperti telah direncanakan pada halaman 18 – 19.

  Pertemuan ketiga berlangsung pada hari Rabu tanggal 18 Maret 2009. Kegiatan ini berlangsung selama 2 jam pelajaran. Pada pertemuan tersebut peneliti melakukan treatment seperti telah direncanakan pada halaman 19.

  Pertemuan ke empat ( terakhir ) terjadi pada hari Jumat tanggal 20 Maret 2009 dan berlangsung selama 2 jam pelajaran. Pada pertemuan tersebut peneliti menyampaikan soal – soal hitung campur sebagai postes. Soal – soal tersebut merupakan soal paralel dari soal – soal pretes yang lalu. Keseluruhan soal postes berjumlah 10 butir.

  Sama dengan saat pretes, pada saat postes peneliti menuliskan semua soal postes di papan tulis kemudian siswa mengerjakan pada selembar kertas yang telah ditulisi nama, nomer absen, dan kelas masing – masing.

Tabel 4.1 Data Penelitian

  Nilai yang diperoleh Pretes Postes

  No Nomer induk siswa Langkah hasil langkah hasil 1 4105 0 0 3 2 2 4124 6

  6

  9

  8 3 4263 4 4 9 6 4 4264 3 3

  10

  5

  5 4265 9

  6

  10

  6 6 4266 5 5 10 10 7 4267 5 5 10 9 8 4268 7

  4 8 8

  9 4269 9

  9

  10

  8 10 4270 10

  8

  10

  9 11 4272 9

  9

  10

  8 12 4273 8

  4

  8

  4

  13 4274 4 4 10 8 14 4275 4 4 9 6 15 4276 6

  6

  10

  9 16 4277 4 2

  9

  4

  17 4278 6

  7

  10

  35 4299 5 5 10 8 36 4300 2 2

  5

  10

  6

  8 34 4298 9

  10

  6

  10 32 4296 1 1 4 2 33 4297 6

  10

  7

  7 31 4295 7

  10

  9 27 4288 2 2 10 6 28 4290 5 5 10 10 29 4291 5 5 10 9 30 4294 7

  6

  10

  6

  10 26 4287 6

  10

  8

  24 4285 4 2 10 10 25 4286 10

  4

  7

  7 23 4284 3 3

  9

  8

  7 18 4279 5 4 9 10 19 4280 3 3 10 7 20 4281 5 5 5 5 21 4282 4 4 10 8 22 4283 8

  9

  5 B. Analisis Data

Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Penelitian

  Nilai yang diperoleh Pretes Postes

  No Nomer induk siswa Langkah hasil langkah hasil 1 jumlah nilai 197 178 327 253

  2 Tuntas 16 15 33 26 3 tidak tuntas 20 21 3 10 4 nilai rerata 5.472222 4.944444 9.083333 7.027778 5 prosentase tuntas 44% 42% 92% 72% 6 prosentas tidak tuntas 56% 58% 8% 28%

  Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa pada pretes sebanyak 16 anak telah memahami langkah – langkah penyelesaian soal hitung campur, sedangkan 20 anak belum memahami langkah – langkah penyelesaian soal hitung campur. Ini berarti 44% siswa telah memahami langkah – langkah penyelesaian soal hitung campur.

  Hal ini diketahui berdasarkan hasil pekerjaansiswa yang terdapat pada lembar jawaban.

  Dari 16 siswa yang telah memahami langkah – langkah pengerjaan soal hitung campur tersebut ternyata hanya 15 siswa yang mencapai ketuntasan belajar dengan memperoleh nilai 6 ke atas. ( Standar ketuntasan belajar untuk pelajaran matematika di SD Tarakanita adalah 6 ). Nilai rata – rata kelas yang dicapai untuk pretes ini adalah : nilai dalam menentukan langkah – langkah pengerjaan mencapai 5,47 sedangkan nilai prestasi siswa adalah 4,94.

  Setelah siswa mendapatkan treatment, maka pada pertemuan terakhir siswa diberi postes. Hasil dari postes tersebut adalah 33 siswa dinilai telah memahami langkah – langkah penyelesaian soal hitung campur, dan 27 diantaranya mengalami ketuntasan dalam nilai prestasi materi hitung campur. Ini berarti 92% siswa telah memahami langkah – langkah pengerjaan hitung campur dan 75 % siswa mengalami ketuntasan dalam nilai prestasi materi hitung campur. Nilai rata – rata kelas yang diperoleh pada postes ini, untuk menentukan langkah- langkah pengerjaan soal mencapaui 9,05 sedangkan nilai rata – rata prestasi belajar mencapai 7,08.

  C. Pembahasan

  1. Pretes Pada saat hasil pretes dicermati ternyata langkah – langkah yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal hitung campur tidak selalu sama dengan langkah – langkah yang telah diajarkan oleh guru kelasnya. Hal ini diakibatkan karena sebagian dari siswa tersebut telah diajarkan materi hitung campur dengan langkah pengerjaan yang berbeda oleh guru les mereka. Sebagi contoh keberagaman langkah yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal hitung campur adalah sebagai berikut :

  Contoh 1a : 87 – 32 : ( 53 – 45 ) = ( 87 – 32 ) : 8 = 55 : 8 = 47

  Contoh 1b : ( 36 + 45 ) : 9 + 2 X 5 = = ( 81 : 9 ) + 2 X 5 = 9 + ( 2 X 5 ) = 9 + 10

  =

  19 Contoh 2 : ( 36 + 45 ) : 9 + 2 X 5 = = 81 : 9 = 9 + 2 = 11 x 5

  =

  55 Contoh 3 : ( 36 + 45 ) : 9 + 2 X 5 = 81 : 9 = 9 X 2 = 16 + 2 = 18 Menurut saya langkah yang diambil pada contoh nomer 1a dan 1b masih rawan bila dilakukan siswa, karena disini siswa diminta untuk menambahkan kurung sendiri pada tiap langkah. Kerawanan pada langkah ini adalah apabila siswa keliru dalam meletakkan tanda kurung tersebut ( langkah pertama contoh 1a ), maka langkah pengerjaan soalpun akan salah dan hasil yang diperoleh juga akan mengalami kesalahan.

  Langkah yang dilakukan pada contoh nomer 2 juga masih rawan. Pada langkah nomer 2 siswa diminta untuk memilah – milah soal. Langkah ini selain membingungkan siswa juga memiliki tingkat ketidaktelitian yang tinggi. Membingungkan karena siswa diharapkan dapat memilah dengan tepat bagian mana yang harus dipilah. Apabila siswa salah dalam memilah maka langkah selanjutnya juga akan salah. Pada saat memilah tersebut, sangat dimungkinkan ada angka atau operasi matematika yang tanpa sengaja terlupakan siswa sehingga hasil pengerjaan siswa juga akan menjadi salah. Selain itu bagi siswa yang tidak paham bagaimana harus memilah – milah juga mengakibatkan siswa hanya asal memilah sehingga hasilnya jauh dari yang diharapkan.

  Dari 36 anak di kelas tersebut, ada 16 siswa yang menggunakan cara ini, dan dari 16 anak tersebut 3 anak mengerjakan dengan cara ditulis bersusun seperti contoh nomer 2 sedangkan 13 anak menuliskannya dengan cara memanjang seperti contoh nomer 3.

  Dari 16 siswa yang menggunakan cara memilah ini hanya 3 anak yang berhasil mencapai ketuntasan belajar yaitu 2 anak mendapat nilai 6 baik langkah maupun hasil, dan 1 anak mendapat nilai 7 baik langkah maupun hasil, sedangkan sisanya belum berhasil memperoleh nilai 6 sebagai syarat ketuntasan belajar.

  Namun begitu diakui oleh peneliti tidak semua keberagaman langkah yang dilakukan siswa tersebut memberikan hasil yang salah. Beberapa siswa yang memiliki tingkat ketelitian dan kecerdasan yang tinggi, meskipun tidak menggunakan langkah yang diajarkan guru kelasnya, namun dapat juga mendapat hasil yang benar seperti terlihat pada contoh 1b. Namun begitu kenyataan hasil pretes menunjukkan sedikitnya siswa yang berhasil memahami langkah penyelesaian soal dan masih minimnya nilai rata – rata kelas dari hasil pengerjaan soal hitung campur.

  Tingkat ketelitian siswa yang rendah dalam menyelesaikan soal juga dapat kita lihat dari hasil pretes ini. Dari 16 siswa yang telah memahami langkah pengerjaan soal hitung campur, hanya ada 8 siswa yang mengalami ketuntasan nilai prestasi untuk materi hitung campur ini. Hal ini dikarenakan siswa kurang teliti dalam menghitung ataupun dalam melakukan operasi matematika seperti terlihat pada contoh nomer 1a diatas. Contoh ketidak telitian yang lain adalah sebagai berikut : Contoh 1 : 88 – ( 3 X 4 ) + 23 = 88 – 12 + 23 =

  76 + 23 = 98 seharusnya 99 Contoh 2 : 6 X 7 + ( 15 – 5 ) – 37 = 6 X 7 + 10 – 37 = 42 + 10 – 37 = 52 + 37 = 89

  Seharusnya = 52 – 37 = 15

  2. Postes Setelah dilakukan penelitian ternyata semua siswa menggunakan langkah / cara seperti yang telah disampaikan peneliti, meskipun peneliti telah menyampaikan pada siswa bahwa siswa boleh menggunakan cara mereka sendiri. Dari data penelitian yang terdapat pada tabel 4.1 diketahui :

  a. Siswa yang Mengalami Kenaikan Nilai Baik Langkah Maupun Hasil, dan Mengalami Ketuntasan

  Hampir semua siswa mengalami kenaikan nilai, baik dalam nilai langkah maupun dalam nilai hasil. Dari siswa yang mengalami kenaikan nilai tersebut terdapat 8 siswa yang mengalami kenaikan cukup drastis yaitu siswa dengan nomer urut 6, 7, 13, 21, 24, 28, 29, dan 35. Dari 8 siswa tersebut terdapat 3 siswa yang semula nilainya ( langkah dan hasil ) tidak tuntas, setelah dilakukan pene3litian ini mampu mencapai nilai maksimal yaitu 10 baik pada nilai langkah maupun pada nilai hasil.

  b. Siswa yang Mengalami Kenaikan Nilai Langkah dan Hasil, Namun Tidak Tuntas.

  Dari semua siswa yang mengalami kenaikan nilai tersebut terdapat 2 siswa yang meskipun telah mengalami kenaikan nilai namun tetap belum mampu mencapai ketuntasan belajar. Siswa tersebut adalah siswa dengan nomer urut 1 dan 32.

  Untuk siswa dengan nomer urut 1 tidak dapat mencapai ketuntasan dimungkinkan karena tingkat pemahaman yang tidak maksimal, terbukti bahwa siswa tersebut pernah tinggal kelas pada kelas yang lebih rendah pada tahun yang lalu. Di samping itu pada lembar jawabnya, siswa tersebut tidak mengerjakan 5 soal, yaitu soal nomer 6 – 10. Nomer tersebut belum dikerjakan karena sepengamatan peneliti, selama mengerjakan siswa tersebut lebih banyak berbicara dengan teman daripada mengerjakan soal, sehingga hingga waktu pengerjaan selesai siswa tersebut belum selesai mengerjakan semua soal.

  Sedangkan pada siswa dengan nomer urut 32 dimungkinkan siswa tersebut kurang paham karena memang pada saat diadakan treatment kedua siswa tersebut sakit dan tidak masuk sekolah. Selain itu pada lembar jawabnya siswa tersebut tidak mengerjakan 4 soal yaitu soal nomer 5, 8, 9, dan 10. Namun begitu siswa tersebut menuliskan semua soal mulai dari nomer 1 sampai 10, hanya nomer tertentu itulah yang tidak dikerjakan. Keempat nomer tersebut, kebetulan termasuk dalam tingkat sedang dan sukar.

  c. Siswa yang Nilai Langkah dan Hasil Meningkat, Nilai Langkah Tuntas Namun Nilai Hasil Tidak Tuntas

  Terdapat 4 siswa yang mengalami kenaikan nilai pada langkah pengerjaandan hasil. Dari kenaqikan nilai tersebut nilai langkah mengalami ketuntasan, namun pada nilai hasil belajar, mereka tidak tuntas. Berdasarkan hasil kerja mereka yang terdapat pada lembar jawab diketahui bahwa ketidaktuntasan nilai hasil ini dikarenakan ketidaktelitian mereka dalam menyelesaikan soal. Contoh ketidaktelitian tersebut adalah sebagai berikut : Contoh 1 : 8 X 4 + ( 25 – 10 ) – 28 = = 8 X 4 + 15 – 28 = 32 + 15 – 28 = 74 – 28 = 26

  Contoh 2 : 76 – ( 2 X 9 ) + 17 = = 78 – 18 + 17 = 60 + 17 = 77

  Pada contoh nomer 1, langkah kedua dituliskan 32 + 15, seharusnya hasilnya adalah 47. Namun pada langkah ketiga siswa menuliskan posisi angka terbalik menjadi 74. Ketidaktelitian ini membuat hasil akhir menjadi salah.

  Contoh nomer 2, pada soal tertulis angka 76, namun pada langkah pertama siswa menuliskan angka menjadi 78. Selisih angka akibat ketidaktelitian ini menjadikan hasil akhir juga salah.

  d. Siswa yang Tidak Mengalami Peningkatan Apapun Siswa yang tidak mengalami perubahan apapun setelah diadakan treatment berjumlah 2 anak yaitu anak dengan nomer urut 12 dan 20. Tidak adanya perubahan apapum pada kedua siswa tersebut dimungkinkan adanya kekurangcocokan metode cerita ini terhadap kedua anak tersebut. Disamping kekurangcocokan tersebut, diketahui adanya keterbatasan kemampuan berhitung dari kedua siswa tersebut. Misalnya :

  Contoh 1 : ( 39 + 33 ) : 8 + 3 X 4 = = 6 : 8 + 3 X 4 = 6 : 11 X 4 = 6 X 44 = 83

  Contoh 2 : 82 – 25 : ( 41 – 36 ) = = 82 – 25 : 11 = 82 – 25 = 57

  Dari contoh 1 di atas terlihat jelas bagaimana siswa tidak mampu melakukan langkah pengerjaan dengan tepat sekaligus memiliki kemampuan hitung yang terbatas. Pada soal tertulis 39 + 33, seharusnya hasilnya adalah 72, tetapi siswa menuliskannya 6. Padahal 6 adalah hasil pengurangan 39 dan 33. Kemudian pada langkah selanjutnya yang dihitung terlebih dahulu adalah operasi hitung pembagian, namun siswa tersebut menjumlahkan terlebih dahulu. Langkah ini jelas sudah salah. Pada langkah terakhir siswa menuliskan 6 X 44 = 83. Hasil akhir ini juga jauh dari benar mengingat 6 X 44 = 264.

  Pada contoh nomer 2, tertulis pada soal 41 – 36, namun pada langkah pertama siswa menuliskan angka 11 sebagai hasil pengurangan tersebut. Dari sini diketahui terbatasnya kemampuan hitung siswa tersebut. Lebih aneh lagi terlihat pada langkah selanjutnya dimana angka 11 itu hilang sehingga terkesan siswa hanya asal mengerjakan. e. Siswa yang Nilai Langkah Meningkat, Nilai Hasil Turun, Namun Tetap Mencapai Ketuntasan

  Terdapat 2 anak yang mengalami peningkatan nilai langkah, namun nilai hasil menurun. Meskipun nilai hasil menurun anak tersebut tetap dapat mencapai ketuntasan nilai karena nilai mereka di atas 6. Kasus ini terjadi karena faktor ketidak telitian siswa dalam melakukan operasi hitung ataupun dalam menuliskan angka. Sehingga kesalahan seperti contoh di halaman 33 terjadi juga dalam kasus ini.

  f. Siswa yang Nilai Langkah Meningkat dan Mencapai Ketuntasan, Nilai Hasil Menurun dan Tidak Mengalami Ketuntasan.

  Ada 1 anak yang mengalami peningkatan nilai langkah namun nilai hasil menurun dan tidak mencapai ketuntasan nilai. Hal ini menunjukkan sebenarnya anak sudah lebih memahami langkah – langkah pengerjaan soal namun karena faktor ketidak telitian mengakibatkan hasil pengerjaan menurun dan tidak tuntas.

  g. Siswa yang Nilai Langkah Meningkat, Nilai Hasil Tetap, Namun Mengalami Ketuntasan Baik Nilai Langkah Maupun Hasil.

  Terdapat 1 anak yang mengalami ketuntasan nilai baik langkah maupun hasil meskipun nilai langkah meningkat dan nilai hasil tidak mengalami perubahan apapun. Hal ini terjadi karena sebelumnya siswa tersebut telah mermiliki pemahaman yang baik tetantang langkah – langkah pengerjaan soal hitung campur. Dengan adanya penelitian ini pemahaman siswa tersebut semakin dimantapkan sehingga mengalami peningkatan nilai langkah.

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan semua uraian di atas, maka dapat disampaikan bahwa setelah dilakukan penelitian oleh peneliti dengan menggunakan metode cerita, ternyata terlihat adanya indikasi terjadi peningkatan nilai langkah. Indikasi tersebut terlihat dengan semakin tepatnya langkah - langkah yang diambil siswa dalam menyelesaikan soal hitung campur. Selain itu dari 36 siswa, 32 siswa mengalami peningkatan nilai langkah dan 24 diantaranya mengalami ketuntasan nilai hasil.

  Karena metode ini hanya menuntun siswa dalam menentukan langkah – langkah penyelesaian soal, maka adanya kenaikan nilai prestasi belajar yang terjadi hanyalah merupakan efek samping dari ketepatan siswa dalam menentukan langkah penyelesaian soal. Sebab metode ini tidak menuntun siswa dalam melakukan operasi hitung hingga memperoleh hasil akhir.

  B. Saran Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka peneliti menyarankan agar para guru menggunakan metode tersebut sebagai salah satu metode yang dapat dijadikan pilihan dalam menyampaikan materi hitung campur.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini ternyata tidak bisa diterapkan pada semua siswa. Untuk itu bagi siswa yang belum dapat mencapai ketuntasan tersebut guru memang harus memberi perhatian lebih sehingga siswa tersebut akan lebih terbimbing untuk dapat memahami dalam menentukan langkah penyelesaian soal.

  Dengan segala keterbatasan kemampuan yang dimiliki peneliti, tentu masih terdapat kekurangan di sana – sini. Untuk itu tidak menutup kemungkinan adanya pembenahan dan penyempurnaan metode ini pada penelitian yang akan datang yang mungkin akan dilakukan oleh siapa saja yang memiliki minat serupa dengan penelitian ini.

  Sebelum dipergunakan instrumen yang dipergunakan dalam penelitian ini dinilai validitasnya dengan penilaian pakar ( expert judgment ) yaitu penilaian dari dua dosen pembimbing. Untuk kelengkapan, bisa disarankan oleh peneliti agar apabila nantinya ada yang ingin melanjutkan penelitian ini ada baiknya instrumennya dilakukan uji validitas secara empiris juga, sehingga diharapkan akan diperoleh hasil yang lebih optimal.

  DAFTAR PUSTAKA 1. Disney’s Dunia Pengetahuan yang Mengagumkan. Grolier International, INC.

  Diedarkan khusus oleh PT Widyadara.

  2. Hasan Rajiah. Pembacaan, Imaginasi Sains pada Kanak – kanak.

  http://cikgumat,ummisakinah.com . ( diakses tanggal 7 Oktober 2008 ) 3. Hurlock Elizabeth B. 1996. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

  4. Jarot Wijanarko. 2005. Mendidik Anak. Jakarta: PT Gramedia Utama.

  5. Mönks F.J. – Knoers A.M.P.- Siti Rahayu Haditono. 1996. Psikologi Perkembangan . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  6. Rita L Atkinson, Richard C. Atkinson, Ernest R. Hilgard. 1983. Pengantar Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.

  Psikologi

  7. Rudy Maryati, S.Pd dan Kak Agam. Manfaat dan Kekuatan Dongeng Pada

  Psikologi Anak. http://dongengkakrico.com . ( diakses tanggal 9 September

  2009 )

  8. Sindhunata. 2000. Membuka Masa Depan Anak – anak kita. Yogyakarta: Kanisius.

  9. Siti M Amin, dan Zaini M.Sani. 2002. Matematika SD di sekitar kita, untuk Sekolah Dasar kelas III sem I. Jakarta: Esis.

  10. Tim Matematika. 2006. Cerdas Matematika, Kelas 3 SD. Jakarta: Yudhistira.

  LKS I Satuan Pendidikan : SD Tarakanita Bumijo Hari / Tanggal : Kelas / Semester : III / I Alokasi Waktu : 2 JP Nama / abs : 1.

  2.

  3. I. Indikator Hasil Belajar : Siswa mampu menentukan langkah penyelesaian soal hitung campur berdasarkan cerita tentang perbedaan perlakuan yang berhubungan dengan perbedaan status sosial secara kelompok.

  II. Petunjuk :

  1. Kerjakan soal sesuai petunjuk guru !

  2. Tanyakanlah pada guru bila kamu mengalami kesulitan !

  III. Kegiatan Belajar Kerjakan soal berikut ini dalam kelompok, berdasarkan cerita yang telah kamu dengar dari guru. Sertakan juga langkah – langkah pengerjaannya !

  IV. Soal

  21 X 2 : 7+ 4 + 10 = 42 : 6 X 7 + 1 – 25 =

  20 X 3 + 48 : 8 – 6 = ( 72 – 2 ) : 7 X 2 + 5 = ( 60 + 3 – 13 ) : 5 X 5 =

  V. Jawab : LKS II

  Satuan Pendidikan : SD Tarakanita Bumijo Hari / Tanggal : Kelas / Semester : III / I Alokasi Waktu : 2 JP

  Nama siswa : Kelas/ No abs : I.Indikator Hasil Belajar : Siswa mampu menentukan langkah penyelesaian soal hitung campur berdasarkan cerita tentang perbedaan perlakuan yang berhubungan dengan perbedaan status sosial secara kelompok.

  II. Petunjuk :

  1. Kerjakan soal sesuai petunjuk guru !

  2. Tanyakanlah pada guru bila kamu mengalami kesulitan !

  III. Kegiatan Belajar Kerjakan soal berikut ini dalam perorangan, berdasarkan cerita yang telah kamu dengar dari guru. Sertakan juga langkah – langkah pengerjaannya !

  IV. Soal 1)63:9+8X2-3= 2)81:3-20-7X1= 1)5+3-2X(4-2)= 2)(46-6):5+6X2= 3)(29-9+25):5X2=

  V. Jawab:

  Soal Pretes Kerjakan soal hitung campur berikut ini beserta langkah – langkahnya ! 1 ) 181-9x9= 2 ) (8+16):3-4= 3 ) 4X3+(30:5)= 4 ) 40+(95-55):5= 5 ) 87-32:(53-48)= 6 ) 88-(3x4)+23= 7 ) 6x7+(15-5)-37= 8 ) (36+45):9+X5= 9 ) 480:(71-59)X(142-135)= 10 ) 9x(45+45)-(280:40)= Soal Postes Kerjakan soal berikut ini berdasarkan cerita yang telah disampaikan guru ! 1 ) 156-8x7= 2 ) (9+19):4-5= 3 ) 3X5+(40:5)= 4 ) 30+(85-40):9= 5 ) 82-27:(41-36)= 6 ) 76-(2x9)+17= 7 ) 8x4+(25-10)-28= 8 ) (39+33):8+3x4= 9 ) 390:(82-69)X(151-143)= 10 ) 8x(35+35)-(320:40)=

  Kisi – kisi Penyusunan Soal Pretes

  Indikator hasil belajar No soal

  Mudah Sedang Sukar 1 ) 181-9x9= 9 ) 480:(71-59)X(142-135)=

  1.Nilai/hasil siswa dalam menyelesai- 3 ) 4X3+(30:5)= kan soal hitung campur 4 ) 40+(95-55):5= 2 ) (8+16):3-4=

  2.Ketelitian siswa dalam menyelesai- 5 ) 87-32:(53-48)= kan soal hitung

  10 ) 9x(45+45)-(280:40)= 6 ) 88-(3x4)+23=

  3.Ketepatan dalam mengambil langkah penyelesaian soal 7 ) 6x7+(15-5)-37= 8 ) (36+45):9+X5=

  Total 2 6 2 Yogyakarta,

  5 Februari 2009 Guru kelas

  F. Rustiati Nim : 071134060

     

  

Kisi – kisi Penyusunan Soal Postes

  Indikator hasil belajar No soal

  Mudah Sedang Sukar 1 ) 156-8x7= 9 ) 390:(82-69)X(151-143)=

  1.Nilai/hasil siswa dalam menyelesai- 3 ) 3X5+(40:5)= kan soal hitung campur 4 ) 30+(85-40):9= 2 ) (9+19):4-5=

  2.Ketelitian siswa dalam menyelesai- 5 ) 82-27:(41-36)= kan soal hitung

  10 ) 8x(35+35)-(320:40)= 6 ) 76-(2x9)+17=

  3.Ketepatan dalam mengambil langkah penyelesaian soal 7 ) 8x4+(25-10)-28= 8 ) (39+33):8+3x4=

  Total 2

  6

  2 Yogyakarta,

  5 Februari 2009 Guru kelas

  F. Rustiati Nim : 071134060

  2    

SILABUS TEMATIK

  • Siswa dapat menyebut aturan yang berlaku dalam masyarakat
  • Siswa dapat menyebut contoh penerapan aturan dalam masyarakat
  • Siswa dapat menceritakan kembali cerita putri tidur
  • Cerita Putri Tidur - Pintar Matematik
    • – aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat sekitar

  • Pelajaran Matematik Tes Kinerja

  3    

  Satuan Pendidikan : SD Tarakanita Bumijo Mata Pelajaran Terkait : Bahasa Indonesia, matematika, PKN, SBK Kelas / Semester : III / I Aspek Terkait : Bahasa Indonesia, PKN, SBK Unit / Tema : VI / Hiburan

  Mata Pelajaran Kompetensi Dasar Indikator Materi Pokok

  Kegiatan Pembelajaran

  Sumber Belajar

  Peni- laian PKN

  2.1 Mengenal aturan

  Norma yang berlaju dalam masyarakat

  Pertemuan I

  4. Kegiatan awal

  f. Memberi salam,apersepsi B. Kegiatan Inti

  1. Bercerita Putri Tidur bagian I

  2. Siswa menceritakan

  a, Grasindo

  2.1 Menceritakan secara runtut. kembali dengan

  a, bahasa yang pengalaman yang

  Erlangga Siswa dapat melakukan operasi runtut. mengesankan dengan hitung campur.

  3. Siswa menggunakan menyebutkan kalimat yang runtut

  Siswa dapat mengekspresikan aturan yang dan mudah dipahami berlaku dalam suasana kerajaan lewat sebuah dunia kerajaan gambar. Dongeng

  4. Menjelaskan Putri Tidur penerapan

  Bahasa Indonesia Tes perlakuan pada Kinerja para mentri dan masyarakat dalam kalimat matematika

  5. Siswa

  1.4 Melakukan mengerjakan tugas operasi hitung kelompok campur

  6. Siswa berdiskusi dengan guru tentang cara menyelesaikan soal matematika

  7. Siswa menggambar suasana pertemuan kerajaan. Matematika

  C. Kegiatan akhir Hitung

  Tes

  1. Evaluasi, refleksi

  4     campur tertulis SBK Berekspresi melalui

  Pertemuan II gambar A. Kegiatan Awal

  2. Memberi salam apersepsi

  5. Kegiatan Inti

  • Bercerita Putri Tes Tidur bagian I kinerja

  3. Siswa menyebutkan aturan yang berlaku dalam dunia kerajaan.

  4. Menjelaskan penerapan perlakuan pada para mentri dan masyarakat dalam kalimat matematika

  5. Siswa menyelesaikan soal secara perorangan berdasar hasil diskusi pada pertemuan yang

  5     lalu

  6. Siswa menggambar suasana pertemuan kerajaan.

  C. Kegiatan Akhir

  2. Evaluasi, refleksi Yogyakarta, 5 Februari 2009

  Guru kelas

  F. Rustiati Nim : 071134060

  6     Tes Tertulis : Kerjakan soal dibawah ini ! 1)21X2:7+4+10 = 2)42:6X7+1- 25=

  13. Siswa mampu menentukan langkah

  Indikator Penilaian Sumber

  12. Siswa dapat menyebut aturan yang berlaku di dunia kerajaan

  11. Siswa dapat menceritakan kembali cerita putri tidur secara runtut

  D. Kegiatan Awal

  Cerita Putri Tidur

  Menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunaka n kalimat yang runtut dan mudah

  B. Indonesia Mengungkapk an pikiran, perasaan,peng alaman, dan petunjuk dengan bercerita dan memberikan tanggapan/sara

  Kegiatan Pembelajaran

  7    

  Sub Materi Pokok

  Kompetensi Dasar

  Standar Kompetensi

  Mata Pelajaran

  Satuan Pendidikan : SD Tarakanita Hari, tanggal : 13 Maret 2009 Kelas / Semestar : III / I Aspek Terkait : Bahasa Indonesia, PKN, SBK Unit / Tema : VI / hiburan Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran Tujuan :Setelah mengikuti pembelajaran siswa dapat mengungkapkan pikirannya dengan bahasa yang runtut, mengikuti aturan yang berlaku dalam masyarakat, menyelesaiakan soal matematika dengan langkah yang benar, serta mengekspresikan imaginasinya lewat gambar.

  RPP I

  • Guru memberi salam, mengabsen,dan mengajak siswa berdoa.
  • Apersepsi,guru melakukan tanya jawab dengan siswa tentang bermacam
n. dipahami dongeng yang penyelesaian soal 3)20X3+48:8- pernah hitung 6=

  Melaksanakan didengarnya. campurdengan norma yang dimulai dari 4)(72- perkalian atau berlaku di

  2):7X2+5=

  E. Kegiatan Inti pembagian lebih masyarakat.

  4. Guru dahulu secara 5)(60+3- menceritakan kelompok.

  13):5X5= Mengenal tentang Putri Tidur

  14. Siswa dapat aturan yang

  5. Siswa menggambar Tes Kinerja :

  PKN berlaku di menceritakan suasana kembali dengan masyarakat pertemuan

  1. Ceritakan Norma bahasa yang kerajaan. kembali sekitar runtut. cerita Putri

  6. Siswa Tidur yang menyebutkan baru kamu aturan yang dengar! berlaku dalam

  2. Aturan apa Melakukan dunia kerajaan. saja yang

  Melakukan Matematika operasi

  7. Menjelaskan berlaku di operasi hitung penerapan dalam hitung

  Hitung bilangan perbedaan kerajaan ? campur campur perlakuan sampai tiga

  3. Gambarlah berdasarkan suasana angka perbedaan status pertemuan sosial dalam dalam dunia kalimat kerajaan

  SBK matematika.

  8. Siswa mengerjakan tugas

  8     Mengga kelompok.

  9. Siswa berdiskusi mbar dengan guru tentang cara menyelesaikan soal matematika.

  10. Siswa menggambar suasana pertemuan kerajaan

  F. Kegiatan Akhir

  • Guru bersama siswa melakukan refleksi

  Yogyakarta,

  5 Februari 2009 Guru kelas

  F. Rustiati Nim :071134060

  9    

RPP II

  Melaksanakan Menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunaka n kalimat yang runtut dan mudah

  Tes Tertulis : Kerjakan soal dibawah ini ! 1)63:9+8X2-3= 2)81:3-20-7X1= 1)5+3-2X(4-2)= 2)(46-

  24. Siswa mampu menentukan langkah

  23. Siswa dapat menyebut aturan yang berlaku di dunia kerajaan

  22. Siswa dapat menceritakan kembali cerita putri tidur secara runtut

  G. Kegiatan Awal

  Cerita Putri Tidur

  Mengungkapkan pikiran, perasaan,pengala man, dan petunjuk dengan bercerita dan memberikan tanggapan/saran.

  10    

  Indikator Penilaian Sumber B.Indone sia

  Kegiatan Pembelajaran

  Sub Materi Pokok

  Kompetensi Dasar

  Standar Kompetensi

  Mata Pelajaran

  Satuan Pendidikan : SD Tarakanita Hari, tanggal : 18 Maret 2009 Kelas / Semestar : III / I Aspek Terkait : Bahasa Indonesia, PKN, SBK Unit / Tema : VI / hiburan Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran Tujuan :Setelah mengikuti pembelajaran siswa dapat mengungkapkan pikirannya dengan bahasa yang runtut, mengikuti aturan yang berlaku dalam masyarakat, menyelesaiakan soal matematika dengan langkah yang benar, serta mengekspresikan imaginasinya lewat gambar.

  • Guru memberi salam, mengabsen,dan mengajak siswa berdoa.
  • Apersepsi,guru melakukan tanya jawab dengan siswa tentang
norma yang dipahami bermacam penyelesaian soal 6):5+6X2= dongeng yang hitung berlaku di

  3)(29- pernah campurdengan masyarakat. didengarnya. dimulai dari 9+25):5X2= perkalian atau

  Melakukan pembagian lebih operasi hitung

  H. Kegiatan Inti dahulu secara bilangan sampai

  Tes Kinerja :

  15. Guru perorangan. Mengenal tiga angka menceritakan

  25. Siswa dapat aturan yang

  4. Ceritakan tentang Putri menggambar kembali berlaku di

  Tidur suasana pertemuan cerita Putri

  16. Siswa masyarakat kerajaan.

  PKN Norma

  Tidur yang menceritakan sekitar baru kamu kembali dengan dengar! bahasa yang

  Melakukan

  5. Aturan apa runtut. operasi saja yang

  17. Siswa hitung berlaku di menyebutkan campur dalam aturan yang kerajaan ? berlaku dalam

  6. Gambarlah dunia kerajaan. Matemati Hitung suasana

  18. Menjelaskan pertemuan ka campur penerapan dalam dunia perlakuan pada kerajaan para mentri dan masyarakat dalam kalimat matematika.

  19. Siswa mengerjakan

  11     SBK Mengga tugas kelompok. mbar

  20. Siswa berdiskusi dengan guru tentang cara menyelesaikan soal matematika.

  21. Siswa menggambar suasana pertemuan kerajaan

  I. Kegiatan Akhir

  • Guru bersama siswa melakukan refleksi

  Yogyakarta, 5 Februari 2009 Guru kelas

  F. Rustiati Nim :071134060

  12    

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar SARJANA PENDIDIKAN
0
0
14
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
2
15
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
1
26
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
0
0
102
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
126
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Informatika
0
0
98
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Matematika
0
0
176
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi
0
0
75
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
160
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi
1
1
100
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL MATERI PECAHAN SEDERHANA MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DI KELAS IIIA3 SEMESTER II TAHUN AJARAN 20082009 SD TARAKANITA I BUMIJO YOGYAKARTA SKRIPSI
0
0
109
Show more