Representasi materi pembelajaran oleh dua orang guru fisika pada dua SMA di Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
252
4 months ago
Preview
Full text

  

REPRESENTASI MATERI PEMBELAJARAN OLEH DUA

ORANG GURU FISIKA PADA DUA SMA DI YOGYAKARTA

  Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika

  Oleh: Nama : Nita Krisnandari NIM : 051424028

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

ABSTRAK

Representasi Materi Pembelajaran Oleh Dua Orang Guru Fisika Pada Dua

SMA Di Yogyakarta

Nita Krisnandari

  

Universitas Sanata Dharma

2010

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) alur penyampaian materi yang digunakan oleh dua orang guru fisika pada dua SMA di Yogyakarta, (2) penyampaian konsep yang dianggap penting, (3) metode yang digunakan guru untuk menyampaikan materi pembelajaran, (4) media pendukung yang digunakan guru saat menyampaikan materi pembelajaran.

  Penelitian dilaksanakan pada tanggal 22 Juli - 25 November 2009 di dua SMA Swasta di Yogyakarta. Subyek penelitian adalah satu orang guru fisika dari masing-masing sekolah. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah representasi materi pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan dalam tiga tahap : observasi (field note), pengambilan data video (rekam video), wawancara dengan guru.

  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa : representasi materi pembelajaran dapat dilihat dari alur penyampaian materi, penyampaian konsep yang dianggap penting, metode dan media yang digunakan. (1) Alur penyampaian materi yang digunakan oleh guru bersifat konkrit-abstrak dan sederhana- kompleks. (2) Guru menyampaikan konsep penting dengan memberi simbol menggunakan warna yang berbeda, mengulang penjelasan, memberi penegasan pada saat menjelaskan konsep, memberi kotak pada persamaan. (3) Metode yang digunakan guru adalah metode ceramah siswa aktif, diskusi kelas, metode demonstrasi dan praktikum. (4) Media yang digunakan guru adalah media konvensional, yaitu whiteboard-spidol dan blackboard–kapur dan alat peraga Melde dan Ripple tank.

  

ABSTRACT

Representation of Learning Materials by Two Physics Teachers at Two

Senior High Schools in Yogyakarta

Nita Krisnandari

  

Sanata Dharma University

2010

  The aims of this research are to know: (1) the sequence of presentation used by two teachers in two senior high schools in Yogyakarta, (2) the teaching of concept that are considered important, (3) the method used by teachers to deliver learning materials, (4) the supporting media used by teachers when deliver learning materials.

  th th

  The research was conducted on July 22 – November 25 2009 at two private senior high schools in Yogyakarta. The subjects of the research were physics teachers from each school. The object of the research was representation of learning materials. The data collecting was conducted in three stages : observation (field notes), video camera recording, teacher investigation.

  The results of the research are : learning materials representation can be seen by sequency of material delivery, delivery of concepts that are considered important, method and media are used. (1). The sequence of materials used by teachers are concrete-abstract and simple-complex .(2) Teachers deliver important concepts by giving symbols used different colours, repeating explanation, providing confirmation at the time to explain concepts, giving a grid on the equation. (3) The method used by teachers is an active student lecturing, class discussion, demonstrastion and practicum method. (4) The media used by teachers are conventional media, those are whiteboard-markers, blackboard-chalk, Melde and Ripple tank instrument.

KATA PENGANTAR

  Ucap syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala kasih dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi dengan judul “Representasi Materi Pembelajaran Oleh Dua Orang Guru Fisika Pada Dua Sekolah Di Yogyakarta” dengan baik.

  Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan, Program Studi Pendidikan Fisika. penulis menyadari bahwa penelitian dan penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik karena bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Drs. T. Sarkim, M.Ed, Ph.D, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, pengarahan serta masukan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

  2. Sr.Petra, CB, S.Pd, selaku kepala sekolah SMA Stella Duce I Yogyakarta, yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melakukan penelitian di SMA tersebut.

  3. Bapak Agus Hariyanto, S.Pd, SE, selaku kepala sekolah SMA Kolese De Britto yang telah berkenan memberi ijin kepada peneliti untuk melakukan penelitan di SMA tersebut.

  4. Bapak Linus Karyanto, S.Pd, M.Si, selaku guru fisika SMA Stella Duce I Yogyakarta atas segala bantuan dan dukungan selama peneliti melaksanakan penelitian.

  5. Ibu Dra. M.Th. Nanik Ismarjiati, selaku guru fisika SMA Kolese de Britto atas bantuan dan kerjasamanya saat peneliti melaksanakan penelitian.

  6. Siswi-siswi kelas XII A3 SMA Stella Duce I Yogyakarta dan siswa-siswa kelas XI AI SMA Kolese de Britto Yogyakarta, terima kasih untuk kerjasamanya.

  7. Bapak Drs. Severinus Domi, M.Si dan ibu Dra. Maslichah Asy’ari, M.Pd selaku dosen penguji terima kasih atas masukan yang diberikan.

  8. Para dosen Pendidikan fisika USD, Pak Domi, Bu Maslichah, Pak Sarkim, Pak Kartika, Pak Atmadi, Rm. Paul dan Pak Rohandi. Terima kasih atas segala ilmu yang telah diberikan.

  9. Mas Agus (laboran multimedia), atas bantuannya serta Pak Sugeng dan Mbak Heni sekretariat JP MIPA atas semua bantuannya.

  10. Bapak dan ibukku serta keluarga besarku, atas segala dukungan doa dan kasih sayang yang diberikan.

  11. Mbak Silvi, Wahyu dan adikku Yohanes atas segala dukungan dan doa yang diberikan.

  12. Yuli Kristanto, yang dengan penuh kasih selalu mendukung, memberi motivasi serta doa.

  13. Tim seperjuangan PCK, Eni, Dhiny, Nuning, Wido, Prapti, Agatha, Ambro, Eva, Made, Yoyok dan Indah terima kasih atas kerjasamanya.

  14. Teman-teman P.Fis ’05 : Prapti, Eni, Dhiny, Nuning , Wido, Fery, Nita Sisil, Cici, Rita, Yosi, Era, Wisnu, Ika, Ira, Maya, Asih, Melly, Khoti, Nori, Irene, Dinar, Helen, Vega, Agus dan Arun..trims buat semuanya.

  15. Teman-teman kost Green House, Kristin,Mega, Ita dan Sisil. Terima kasih untuk dukungannya.

  16. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas segala bantuannya.

  Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi para pembaca sekalian.

  Yogyakarta, 28 Juli 2010 Penulis,

  Nita Krisnandari

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ........................................................... vi ABSTRAK ......................................................................................................... vii ABSTRACT ...................................................................................................... viii KATA PENGANTAR ........................................................................................ ix DAFTAR ISI ....................................................................................................... xi DAFTAR TABEL ............................................................................................. xiv DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvii

  BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1 B. Dasar Teori ............................................................................................... 3

  1. Basis Pengetahuan Untuk mengajar ..................................................... 4

  2. Pengetahuan Materi (Content Knowledge) .......................................... 5

  4. Pedagogical Content Knowledge (PCK) .............................................. 6

  5. Komponen-komponen PCK ............................................................... 10

  6. Sumber-sumber PCK ......................................................................... 11

  7. Representasi Materi Pembelajaran ..................................................... 12 C. Batasan Istilah ........................................................................................ 21

  1. Representasi ....................................................................................... 21

  2. Bahan Ajar ......................................................................................... 21

  3. Alur Penyampaian Materi .................................................................. 21 D. Rumusan Masalah .................................................................................. 21 E. Batasan Masalah..................................................................................... 22 F.

  Tujuan Penelitian ................................................................................... 22 G.

  Manfaat Penelitian ................................................................................. 23

  BAB II METODOLOGI PENELITIAN ............................................................ 24 A. Jenis Penelitian ....................................................................................... 24 B. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................ 25 C. Subyek Penelitian ................................................................................... 25 D. Objek Penelitian ..................................................................................... 25 E. Metode Pengumpulan Data .................................................................... 26 F. Instrumen ............................................................................................... 26 G. Metode Analisis Data ............................................................................. 27 BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 29 A. Deskripsi Penelitian ............................................................................... 29

  C.

  Pembahasan ............................................................................................ 65

  BAB V PENUTUP ........................................................................................... 106 A. Kesimpulan .......................................................................................... 106 B. Saran ..................................................................................................... 109 DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................111

  DAFTAR TABEL Tabel 3.1 : Jadwal Pengambilan Data ..............................................................

  31 Tabel 3.2 : Bentuk Data Penelitian ..................................................................

  33 Tabel 3.3 : Alur Penyampaian Materi ..............................................................

  36 Tabel 3.4 : Penyampaian Konsep Penting........................................................

  46 Tabel 3.5 : Metode Yang Digunakan Guru ......................................................

  58 Tabel 3.6 : Media Yang Digunakan Guru ........................................................

  62

  

DAFTAR GAMBAR

  Gambar 3.1: Dua orang siswa sedang menggambar bentuk gelombang stasioner ujung tetap ...................................................................

  67 Gambar 3.2: Guru menggambar gelombang merambat dari kanan ke kiri ......

  74 Gambar 3.3: Guru mereview materi yang telah dibahas ..................................

  75 Gambar 3.4: Guru menjelaskan konsep gaya gesek benda yang dihubungkan dengan tali. ..................................................................................

  80 Gambar 3.5: Guru memberi kotak pada persamaan .........................................

  83 Gambar 3.6: Gambar pemantulan gelombang .................................................

  83 Gambar 3.7: Guru memberi kotak pada persamaan dan memberi keterangan gambar ........................................................................................

  86 Gambar 3.8 : Guru menggambar keadaan dua buah benda dihubungkan dengan tali ...................................................................................

  87 Gambar 3.9 : Gambar sebuah benda yang terletak pada suatu bidang .............

  93 Gambar 3.10: Gambar Guru menerapkan hukum Newton pada benda ...........

  95 Gambar 3.11: Guru mengecek pekerjaan siswa ...............................................

  97 Gambar 3.12 : Seorang siswa sedang bertanya pada guru karena menemukan kesulitan ....................................................................................

  97 Gambar 3.13 : Guru menggunakan media whiteboard dan spidol untuk menjelaskan materi ...................................................................

  99 Gambar 3.14: Guru menggunakan media alat peraga Melde dan rippletank

  Gambar 3.15: Guru menggambar muka gelombang datar dan melingkar ....... 101 Gambar 3.16: Guru menggambar terjadinya pemantulan dan pembiasan ....... 101 Gambar 3.17: Guru menggunakan spidol dengan warna yang berbeda untuk menggambar ............................................................................. 102 Gambar 3.18: Guru menggambarkan keadaaan benda saat membahas soal- soal latihan ....................................................................... 103 Gambar 3.19: Guru memberi ilustrasi untuk gaya gesek dengan menggunakan meja .......................................................................................... 104 Gambar 3.20: Guru memberikan ilustrasi mengenai tegangan tali menggunakan tas .............................................................................................. 104

  DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 : Surat Pemohonan Ijin Penelitian ............................................... 111 Lampiran 2 : Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ........................ 113 Lampiran 3 : Surat Pernyataan Penggunaan Data ........................................... 115 Lampiran 4 : Field Note (catatan lapangan) SMA A ...................................... 116 Lampiran 5 : Field Note (catatan lapangan) SMA B ...................................... 119 Lampiran 6 : Transkrip Data Video Pembelajaran Guru M ........................... 120 Lampiran 7 : Transkrip Data Pembelajaran Guru F ........................................ 146 Lampiran 8 : Daftar Pertanyaan Wawancara Guru M .................................... 147 Lampiran 9 : Daftar Pertanyaan Wawancara Guru F ...................................... 184 Lampiran 10 : Transkrip Data Rekaman Wawancara Guru M ........................ 185 Lampiran 11 : Transkrip Data Rekaman Wawancara Guru F.......................... 211 Lampiran 12 : Contoh Soal yang Disusun oleh Guru M .................................. 229

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan dunia pendidikan akan guru-guru yang profesional semakin

  meningkat. Guru yang professional sekurang-kurangnya harus memiliki dua keahlian, yaitu keahlian yang berkaitan dengan materi pembelajaran sesuai bidang studi (matapelajaran) yang diampunya (content knowledge) dan keahlian yang berkaitan dengan bidang keguruan (pedagogy knowledge) (Kartika Budi, 2005).

  Guru tidak hanya dituntut untuk lebih menguasai materi, namun juga harus dapat menyampaikan materi tersebut dengan baik. Tugas guru tidak hanya memindahkan materi yang ada dalam buku ke dalam pikiran siswa. Melainkan bagaimana materi ajar yang disampaikan dapat diterima dan dicerna oleh siswa. Kedua kemampuan itu tidak dapat dipisahkan.

  Memiliki kemampuan yang cukup tentang materi pembelajaran (konsep, prinsip, teori) dan menguasai pedagogi, belum cukup bagi guru fisika. Masih diperlukan ketrampilan dan kreativitas untuk mengintegrasikan keduanya. Diperlukan keterampilan merepresentasikan pengetahuan materi

  (content) ke dalam bangunan yang dapat dimengerti, dapat dicerna, dan dapat diadaptasi oleh siswa (Kartika Budi, 2005).

  Kemampuan dalam menyampaikan materi juga berdasarkan akan pengetahuan guru terhadap kebutuhan peserta didiknya. Metode-metode yang digunakan dalam penyampaian materi dipengaruhi oleh pengetahuan guru tentang kemampuan siswa-siswanya dalam memahami materi.

  Pedagogical Content Knowledge (PCK) adalah perpaduan dari pengetahuan mengenai materi dan pengetahuan mengenai pedagogi. PCK secara khusus dirumuskan oleh Shulman. Menurut Shulman, 1987 (dalam Baker & Chick) sebagai perpaduan dari pengetahuan tentang mata pelajaran

  

dengan pengetahuan pedagogis yang memungkinkan guru menyajikan suatu

topik pelajaran secara terorganisir sesuai dengan tujuan pembelajaran,

tingkat perkembangan murid, dan situasi tempat pembelajaran berlangsung .

  Para guru terus menerus menghadapi beragam pilihan di dalam kegiatan mengajar. Guru terus dikondisikan untuk membuat keputusan- keputusan dalam situasi yang berbeda dan menentukan aktivitas apa saja yang harus dikerjakan. Guru juga harus mempersiapkan perencanaan pembelajaran sebelum mengajar dan merefleksikan apa saja yang telah dicapai. Oleh karena itu, proses pengajaran memerlukan perencanaan, pengambilan keputusan, penentuan dan refleksi.

  Representasi merupakan bentuk dari PCK yang merupakan cara untuk menjelaskan tentang sesuatu hal. Dalam bidang pendidikan representasi ini

  

dimengerti sebagai cara yang digunakan guru untuk menjelaskan materi

pembelajaran atau menjelaskan pengetahuannya mengenai materi yang akan

disampaikan pada siswa. Dari sinilah penulis memilih REPRESENTASI

MATERI PEMBELAJARAN OLEH DUA ORANG GURU FISIKA

B. Dasar Teori Kegiatan pembelajaran merupakan suatu aktivitas yang rumit.

  Pembelajaran dipandang sebagai proses interaksi peserta didik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran adalah proses yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi antara guru-siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar . Unsur yang terpenting dalam pembelajaran yang baik adalah (Paul Suparno, 2007) :

  • Siswa yang belajar
  • Guru yang mengajar
  • Bahan pelajaran
  • Hubungan antara guru dan siswa Dalam belajar fisika yang terpenting adalah siswa yang aktif belajar fisika, sehingga semua usaha yang dilakukan guru harus diarahkan untuk membantu dan mendorong agar siswa mau mempelajari fisika sendiri. Di lain pihak, guru diharapkan menguasai materi yang diajarkan, mengerti keadaan siswa sehingga dapat mengajar sesuai dengan keadaan dan perkembangan siswa, dapat menyusun bahan agar mudah diterima oleh siswa (Paul Suparno, 2007) 1. Basis Pengetahuan untuk Mengajar. Mengajar merupakan suatu aktivitas yang kompleks. Menurut Barnes (dalam Sarkim, 2005) guru terus dikondisikan untuk membuat keputusan-
harus dikerjakan. Guru juga harus mempersiapkan perencanaan pembelajaran sebelum mengajar dan merefleksikan apa saja yang telah dicapai. Oleh karena itu, proses pengajaran memerlukan perencanaan, pengambilan keputusan, penentuan dan refleksi. Para guru memiliki pengetahuan dasar khusus yang dapat digunakan untuk mengajar. Pengetahuan tersebut dikenal dengan basis pengetahuan untuk mengajar.

  Menurut Bullogh (dalam Sarkim, 2005) basis pengetahuan untuk mengajar adalah kesatuan dari pengetahuan, ketrampilan, pemahaman, teknologi dan juga etika dan penempatan tanggung jawab kolektif, sejalan dengan bagaimana mempresentasikannya dan mengkomunikasikannya.

  Beberapa peneliti sudah melakukan studi-studi mengenai pengetahuan para guru. Shulman (dalam Sarkim, 2005) merupakan peneliti pertama yang mengusulkan suatu kategori menyeluruh mengenai pengetahuan guru. Berdasarkan penelitiannya, ia menggolongkan pengetahuan guru ke dalam tujuh kategori : 1). Pengetahuan materi (Content Knowledge) 2). Pengetahuan pedagogi umum (Pedagogical Knowledge) 3). Pengetahuan kurikulum

  4).Pengetahuan pedagogi dan pengetahuan tentang materi (Pedagogical

  Content Knowledge)

  5). Pengetahuan tentang siswa 6). Pengetahuan konteks bidang pendidikan

  Dari tujuh kategori tersebut kemudian digolongkan ke dalam dua kategori besar, yaitu pengetahuan materi, yang mencakup pengetahuan materi, PCK, dan pengetahuan kurikulum. Sedangkan empat kategori lainnya masuk ke dalam kategori pedagogi umum. Menurut Shulman (dalam Sarkim, 2005) para guru menggunakan kategori-kategori pengetahuan tersebut untuk memahami pengajaran, materi dan konteks dimana pengajaran akan dilaksanakan, untuk mengembangkan persiapan-persiapan pengajaran dan melaksanakannya.

  2. Pengetahuan Materi (Content Knowledge)

  Pengetahuan tentang materi atau content knowledge adalah pengetahaun yang dimiliki oleh guru tentang materi yang akan diajarkan. Pengetahuan materi termasuk pengetahuan tentang fakta-fakta, konsep-konsep dan struktur sintaktis dan subtantif dari pengetahuan. Menurut Schwab & Grossman (dalam Sarkim, 2005) struktur subtantif dari disiplin ilmu mengacu pada cara konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar dari disiplin ilmu itu diorganisir.

  Sedangkan struktur sintaktik dari disiplin ilmu adalah himpunan pertimbangan, validasi atau penetapan ditetapkan.

  3. Pengetahuan Pedagogis (Pedagogical Knowledge)

  Selain pengetahuan mengenai materi yang akan diajarkan, seorang guru harus mempunyai pengetahuan pedagogis. Pedagogis sendiri diartikan sebagai “ilmu” atau seni dalam menjadi guru. Dalam proses pembelajaran, pedagogi dipahami sebagai istilah yang merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya mengajar. John Dewey (dalam Sarkim, 2005) berpendapat bahwa setiap ilmu untuk para guru. Menurut Dewey, bagi para ilmuwan materi merepresentasikan tubuh dari pengetahuan. Ilmuwan menggunakannya untuk menempatkan permasalahan baru dan untuk memandu mereka masuk dalam penelitian baru untuk memperluas pengetahuan mereka. Sedangkan perhatian para guru adalah terletak mengubah materi pokok supaya menjadi bagian dari pengalaman siswa. Menurut Dewey, para guru harus menginterpretasikan kembali konsep-konsep dan metode-metode dari materi pokok dalam bentuk yang mudah diakses, mampu melibatkan siswa dan dengan cara penyampaian yang kuat untuk siswa.

  Menurut Treagust dan Harrison (dalam Sarkim, 2005) perbedaan antara ilmu pengetahuan sebagai disiplin ilmu dan ilmu pengetahuan untuk pengajaran dapat juga ditemukan di dalam model-model penjelasan. Treagust dan Harrison membagi penjelasan ke dalam tiga kategori: penjelasan ilmiah, penjelasan-penjelasan pedagogis efektif, dan penjelasan sehari-sehari. Penjelasan pedagogis dipengaruhi oleh konteks di mana siswa belajar dan dirancang untuk membantu para siswa mempelajari ilmu pengetahuan, mengembangkan pemahaman-pemahaman mereka, menimbulkan keingintahuan dan untuk memberikan motivasi.

4. Pedagogical Content Knowledge (PCK)

  Guru perlu memiliki pengetahuan tentang cara mengelola pembelajaran hingga peserta didik dapat menerima materi yang diajarkan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan proses pembelajaran yang bervariasi, memahami menghindari miskonsepsi. Pengetahuan yang merupakan perpaduan antara materi ajar dan pedagogik dikenal sebagai Pedagogical Content Knowledge

  (PCK).

  Pedagogical Content Knowledge (PCK), pertama kali dikemukakan oleh

  Lee Shulman pada tahun 1986. Shulman, 1987 (dalam Baker & Chick) merumuskan Pedagogical Content Knowledge (PCK), sebagai perpaduan

  

dari pengetahuan tentang mata pelajaran dengan pengetahuan pedagogis

yang memungkinkan guru menyajikan suatu topik pelajaran secara

terorganisir sesuai dengan tujuan pembelajaran, tingkat perkembangan

murid, dan situasi tempat pembelajaran berlangsung . PCK dapat

  digambarkan dalam diagram Venn sebagai berikut :

  PCK mencakup pengetahuan tentang bahan ajar tetapi juga merangkum

  pengetahuan pedagogis untuk mengajarkan atau menyampaikan materi ajar tersebut. Menurut Shulman (dalam Sarkim, 2005) PCK dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu:

  1) Pengetahuan tentang bentuk-bentuk representasi dan bagaimana bahan ajar disampaikan dalam pembelajaran sehingga konsep yang terkait dalam pembelajaran dapat dipahami dan diserap oleh sebagian besar siswa. Hal ini mencakup pengetahuan tentang model, contoh, dan ilustrasi yang paling efektif terkait dengan bahan ajar tertentu.

  2) Pengetahuan tentang faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, termasuk pengetahuan tentang tingkat kesulitan suatu topik, pra- konsepsi dan konsepsi yang di bawa oleh siswa dari berbagai tingkat usia dan latar belakang terkait dengan materi ajar.

  PCK menyiratkan transformasi pengetahuan materi, sehingga dapat

  digunakan secara efektif dan fleksibel dalam proses komunikasi antara guru dan peserta didik selama praktek di kelas. Dengan demikian guru dapat memperoleh PCK dari praktek mengajar mereka sendiri (misalnya menganalisi kesulitan belajar) dan juga kegiatan sekolah (misalnya seminar tentang konsepsi siswa). Semakin banyak representasi yang dimliki oleh guru, mereka menjadi lebih mudah untuk mengenali kesulitan belajar, sehingga semakin efektiflah penyebaran PCK yang mereka miliki.

  Tindakan guru akan ditentukan oleh PCK yang mereka miliki (van Driel, Nico Verloop & Wobbe, 1998). Menurut Beijaard & Verloop (dalam van Driel, Nico Verloop & Wobbe, 1998), pengetahuan tentang kemampuan guru meliputi pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan yang ditempuh sebelumnya dan juga dari kegiatan pengajaran di sekolah.

  Ahli-ahli lain, seperti Grossman (dalam Sarkim, 2005) telah mengadopsi dua elemen kunci PCK yaitu tentang representasi yang dapat dipahami dari suatu materi dan pemahaman tentang materi yang berhubungan dengan mengikutsertakan PCK dalam beberapa kategori pengetahuan dengan pengetahuan dasar menurut Shulman. Grossman menganggap bahwa PCK terdiri dari pengetahuan tentang strategi dan representasi untuk mengajar topik tertentu dan pengetahuan akan siswa, konsepsi, dan miskonsepsi akan topik tertentu.

  Selain itu PCK terdiri dari pengetahuan dan keyakinan tentang tujuan untuk mengajar topik tertentu dan pengetahuan tentang bahan kurikulum yang tersedia untuk mengajar. Menurut Grossman (dalam Sarkim, 2005), dalam model tentang pengetahuan guru, PCK merupakan pusat yang dikelilingi tiga kategori, yaitu, pengetahuan tentang materi pelajaran, pengetahuan pedagogi umum, dan pengetahuan kontekstual. Grossman mengidentifikasi sumber- sumber PCK yang dihasilkan dan dikembangkan :

  a) Observasi kelas, baik sebagai siswa dan sebagai seorang guru dari siswa tersebut, sering mengarah PCK konservatif.

  b) Kedisiplinan pendidikan, yang dapat mengakibatkan preferensi pribadi untuk tujuan atau hal tertentu.

  c) Program studi tertentu selama pendidikan guru yang dampaknya biasanya tidak diketahui.

  Pedagogical Content Knowledge (PCK) diyakini sebagai faktor yang penting yang mempengaruhi efektivitas pembelajaran karena penyajian pengetahuan tentang isi materi pembelajaran ke dalam bentuk kegiatan pembelajaran. PCK dapat dipandang sebagai proses, hasil (pengetahuan), dan Budi, 2005) sebagai “the ways content and pedagogy are blended into an

  

understanding of how particular topic are represented and adapted learners’

various interest and abilities.”

  Sebagai hasil (pengetahuan), PCK merupakan bangunan pengetahuan yang terdiri dari topik-topik khusus yang dikemas sebagai materi pembelajaran bagi siswa, yang merupakan integrasi materi dari materi pembelajaran dan metode pembelajarannya, yang tercermin dalam bagaimana topik-topik, dan masalah-masalah direpresentasikan dan diorganisasikan sesuai dengan minat dan kemampuan siswa (Kartika Budi, 2005)

  Sebagai kemampuan atau ketrampilan, Menurut Shulman (dalam Kartika Budi, 2005) PCK merupakan ‘ teacher’s ability to convey the constructs

  

underlying elements of the content knowledge in manner that assesible to

students”. Jadi PCK merupakan kemampuan atau ketrampilan guru

  mengintegrasikan materi pembelajaran dan ilmu keguruan untuk kepentingan pembelajaran bagi siswa tertentu sesuai dengan kondisi dan kerangka berpikir siswa dan strategi pembelajaran yang sesuai yang akan dipilihnya (Kartika Budi, 2005).

5. Komponen-Komponen PCK

  Shulman telah memperkenalkan dua kategori luas yang berperan untuk pembentukan PCK yaitu: pengetahuan tentang materi dan pengetahuan pedagogi. Di dalam artikelnya, Shulman memperkenalkan pengetahuan- pengetahuan sebagai komponen-komponen PCK yaitu (Sarkim, 2005) :

  • Bentuk-bentuk paling bermanfaat dari representasi
  • Analogi-analogi yang paling kuat, ilustrasi-ilustrasi, contoh-contoh, penjelasan-penjelasan dan demonstrasi-demonstrasi.
  • Prasangka-prasangka siswa. Komponen-komponen tersebut digolongkan ke dalam tiga kategori. Pertama, adalah pengetahuan tentang kurikulum. Pengetahuan tentang kurikulum ini termasuk pengetahuan tentang isi atau materi pokok dan pengetahuan tentang dokumen kurikulum (atau kurikulum yang tercetak) di mana materi pokok diorganisir untuk tujuan pengajaran.

  Kedua, pengetahuan tentang strategi pengajaran. Pengetahuan ini tidak hanya terdiri dari pengetahuan prosedural atau teknis tentang presentasi materi tetapi juga mencakup pengetahuan tentang teori-teori yang mendasari prosedur teknis. Misalnya, pengetahuan bagaimana cara memeriksa pengetahuan terdahulu dari siswa didasarkan pada teori kognitif. Kategori yang ketiga adalah pengetahuan tentang para siswa.

6. Sumber-sumber PCK

  Para guru perlu untuk mengembangkan PCK yang dimiliki. Banyak sumber yang dapat digunakan untuk mengembangkan PCK para guru, di antaranya yaitu studi disiplin ilmu, studi bidang pendidikan, dan pengalaman (Sarkim, 2006). Studi disiplin ilmu adalah studi mengenai pengetahuan- pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan yang dipelajari oleh para siswa di sekolah. Menurut Grossman (dalam Sarkim, 2006) Studi disiplin ilmu terhadap materi dapat diperoleh dari studi disiplin ilmu. Grossman juga berpendapat, bahwa pemahaman disiplin ilmu mempengaruhi keputusan- keputusan guru mengenai seleksi kepentingan relatif dari materi tertentu dan pemilihan urutan materi.

  Sumber kedua dari PCK adalah studi bidang pendidikan. Studi bidang

pendidikan meliputi studi tentang mengajar, belajar, pengembangan

siswa,dasar etis dan filosofis pendidikan. Studi pendidikan menyediakan suatu

dasar bagi pengetahuan dan ketrampilan –ketrampilan para guru dalam strategi

pengajaran, pengelolaan kelas dan model-model penilaian (Sarkim, 2006).

  Sumber ketiga dari PCK adalah pengalaman. Shulman (dalam Sarkim,

2005) menyatakan pentingnya pengalaman di dalam pengembangan PCK para

guru. Para guru perlu terus-menerus merekontruksi dan mengembangan

pemahaman mereka tentang pengajaran yang berdasar pada pengalaman

mengajar mereka melalui proses reflektif. Untuk calon guru atau mahasiswa

calon guru, pemahaman mengenai PCK dapat dilatih melalui perkuliahan

microteaching maupun praktek di lapangan PCK. Selain itu, para calon guru

juga dapat memahami PCK dari para pengjara maupun para dosen ketika

mereka berada dalam proses pembelajaran 7.

   Representasi Materi Pembelajaran Menurut Oxford English Dictionary (dalam Marie Baldano, 1996)

representasi berarti ”kehadiran atau penampilan”. Secara garis besar

representasi dipandang sebagai suatu cara untuk menjelaskan sesuatu atau

  

menempatkan atau menyatakan fakta dalam rangka mempengaruhi tindakan

lain.

  Di dalam bidang pendidikan, yaitu dalam proses pembelajaran, representasi ini dimengerti sebagai cara yang digunakan guru untuk

  

menjelaskan materi pembelajaran atau menjelaskan pengetahuannya

mengenai materi yang akan disampaikan pada siswa. Dari sinilah guru

  dituntut harus mempunyai kemampuan dalam merepresentasikan pengetahuannya mengenai materi pembelajaran kepada siswa. Tidak sekedar menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa tetapi juga membuat agar materi yang disampaikan menjadi mudah diterima dan dimengerti oleh siswa.

  Diperlukan keprofesionalan sebagai seorang guru.

  Menurut Trowbridge & Bybee, (dalam Paul Suparno, 2005) untuk menjadi guru fisika yang profesional dan bermutu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilatih oleh guru, antara lain: a.

   Penguasaan bahan ajar Fisika.

  Guru fisika harus menguasai bahan ajar yang akan diajarkan sehingga tidak menyebabkan miskonsepsi pada siswa. Oleh karena itu guru harus terus mengembangkan diri dengan mempelajari bahan fisika. Ada baiknya mengembangkan bahan yang lebih tinggi setingkat universitas agar dapat mengajarkan dengan lebih luas dan tidak picik. Untuk menunjang hal tersebut, guru harus terus belajar. Sumber belajar yang dapat digunakan untuk menambah pengetahuan dapat diperoleh dari internet, buku-buku, seminar, lokakarya, dan bertanya pada ahli. Selain itu dapat juga saling bertukar informasi dan pengalaman dari guru lainnya.

  b.

   Mengerti (Memahami) tujuan pengajaran fisika.

  Guru yang baik harus mengerti tujuan pengajaran fisika sehingga dapat mengarahkan siswa ke arah dan tujuan yang efektif dan efisien.Guru perlu mengetahui tujuan umum pengajaran fisika sebagai berikut :

  a) Kompetensi fisika yang diharapkan dikuasai oleh siswa

  b) Tuntutan sekolah atau pemerintah dalam pengajaran fisika

  c) Tujuan umum pengajaran fisika, seperti :

  • Mengerti dan menggunakan metode ilmiah
  • Menguasai pengetahuan fisika
  • Menggunakan sikap ilmiah
  • Memenuhi kebutuhan pribadi dan masyarakat
  • Kesadaran akan karir masa depan c.

   Guru dapat mengorganisasi pengajaran fisika Guru fisika harus dapat mempersiapkan pengajaran sesuai tujuan.

  Mengerti cara mengajarkan bahan, dapat memilih alat dan sarana yang digunakan dalam pembelajaran, dapat memilih alat dan sarana yang akan diberikan kepada siswa selama proses pembelajaran.Termasuk merencanakan waktu yang diperlukan dan tugas yang harus dilakukan oleh siswa.

  d.

   Mengerti situasi siswa.

  Guru perlu mengerti siatuasi siswa. Beberapa situasi siswa yang perlu diketahui seperti : konsepsi awal siswa, pemikiran siswa, konsep yang telah dipunyai, tingkah laku, perkembangan kognitif, mode dan kondisi psikologis siswa. Guru juga perlu mengerti bagaimana siswa menganggapi pembelajarannya, apakah senang, bosan atau malas. Dengan demikian, guru dapat membantu pembelajaran secara lebih kontekstual, sesuai dengan situasi siswa.

  e.

   Guru dapat berkomunikasi dengan siswa

  Guru perlu melatih diri berkomunikasi akrab dengan siswa. Hubungan yang akrab dengan siswa perlu dibangun, kemampuan memotivasi, memberikan semangat, menegur, menggerakkan siswa perlu dilatih. Ketrampilan untuk mendekati siswa, membantu siswa belajar, dan juga kemampuan mendengarkan apa yang dirasakan dan diinginkan siswa perlu dikembangkan. Kemampuan mengerti kesulitan siswa dalam belajar dan hidup perlu ditumbuhkan.

  f.

   Guru menguasai berbagai metode

  Untuk membantu siswa yang mempunyai situasi yang bermacam-macam dan kemampuan belajar yang bervariasi, guru perlu menguasai bermacam- macam metode untuk mengajar fisika. Menguasai berbagai metode mengajar dan memilih cara yang diminati siswa akan membuat siswa menyukai fisika yang diajarkan.

  • Ceramah Siswa Aktif Model ceramah adalah model pembelajaran dimana guru sendiri yang menerangkan dengan kata-kata, menjelaskan prinsip atau bahan fisika kepada siswa. Sedangkan model ceramah siswa aktif adalah metode ceramah yang di sela-sela penjelasan, guru sering bertanya kepada siswa dan siswa diminta berpikir sebentar atau menjawab pertanyaan tersebut. Unsur –unsur dalam ceramah siswa aktif antara lain : guru ceramah (menjelaskan)

   diselingi pertanyaan, diskusi, mengerjakan soal

    Perlu digunakan media lain agar ceramah menjadi lebih menarik, misalnya dengan menggunakan power point dan disesuaikan dengan konteks siswa dengan contoh yang sesuai.

   memberi contoh yang sesuai dengan keadaan siswa.

  Hal penting: suara keras, jelas, sistematis, menarik siswa,

  • Eksperimen atau Laboratorium Metode eksperimen merupakan metode mengajar yang mengajak siswa untuk melakukan percobaan sebagai pembuktian, pengecekan bahwa teori yang sudah dibicarakan itu memang benar. Metode eksperimen ini lebih untuk mengecek supaya siswa yakin dan jelas akan teorinya. Metode ekperimen sering disebut juga
di laboratorium. Metode eksperimen dibedakan menjadi dua, yaitu ekperimen terencana atau terbimbing dan ekperimen bebas. Yang dimaksud dengan eksperimen terbimbing adalah seluruh jalannya percobaan sudah dirancang oleh guru sebelum percobaan dilakukan oleh siswa. Sedangkan ekperimen bebas yaitu guru tidak memberikan petunjuk pelaksanaan percobaan secara rinci. Siswa harus lebih banyak berpikir bagaimana merancang alat, apa yang harus diamati, yang harus diukur dan bagaimana menganalisis data.

  Yang sering digunakan dalam pembelajaran fisika adalah ekperimen terbimbing karena hasilnya akan lebih cepat selesai, lebih teratur dan terarah.

  • Demonstrasi Demonstrasi berasal dari kata demonstration yang berarti pertunjukan. Model pembelajaran dengan demonstrasi diartikan sebagai model mengajar dengan pendekatan visual agar siswqa dapat mengamati proses, informasi, peristiwa, alat dalam pembelajaran fisika. Tujuannya agar siswa lebih memahami bahan yang diajarkan lewat suatu kenyaataan yang dapat diamati sehingga mudah dimengerti. Melalui demonstrasi siswa dapat mengamati sesuatu yang nyata.
  • Diskusi Kelompok Inti dari model pembelajaran dengan diskusi kelompok adalah
pembicaraan, saling bertukar gagasan dan ide dengan yang lain, bahkan dapat juga saling bertukar perasaan.

  • Problem solving

  Problem solving merupakan model pembelajaran dengan pemecahan persoalan. Biasanya guru memberikan persoalan sesuai dengan topik yang akan diajarkan dan siswa diminta untuk memecahkan persoalan tersebut. Model ini dapat membantu mengatasi miskonsepsi pada siswa. Siswa mengerjakan beberapa soal yang telah disiapkan oleh guru. Dari pekerjaaan siswa dapat dilihat gagasan yang dimiliki siswa benar atau salah.

  • Simulasi komputer

  Simulasi komputer adalah model pembelajaran menggunakan program komputer untuk mensimulasikan beberapa percobaan fisika. Tidak melaui percobaan langsung, melainkan melalui layar monitor komputer dan siswa dapat mempelajarinya dari simulasi tersebut. Representasi berkaitan erat dengan bahan ajar yang akan disampaikan. Selain bahan ajar, hal lain yang berhubungan erat dengan representasi adalah media pembelajaran. Secara umum, media (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan (FIP-UPI), 2007) merupakan alat bantu yang digunakan oleh guru untuk menerangkan pelajaran. Alat bantu yang sering digunakan adalah alat bantu visual, yaitu berupa sarana yang dapat memberikan pengalaman visual kepada mempermudah konsep yang abstrak, dan mempertinggi daya serap atau retensi yang tinggi.

  Kata “media” berasal dari bahasa latin, yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harafiah kata tersebut berarti perantara antau pengantar. Beberapa pakar merumuskan pengertian media sebagai berikut (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan (FIP-UPI) , 2007)

  • Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Jadi media adalah perluasan dari guru (Schram, 1977)
  • Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969)
  • Alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar

  (Briggs, 1970)

  • Berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar (Gagne, 1970)
  • Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran,perasaan,perhatian dan kemauan siswa untuk belajar (Miarso, 1989)

  Representasi merupakan bagian dari PCK guru yang dipandang sebagai

proses transformasi materi menjadi sebuah pembelajaran. Proses transformasi

tersebut meliputi empat hal, yaitu :

  1) Memilih atau menentukan konsep-konsep yang dipandang penting sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pemilihan ini mungkin berdasarkan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari, atau mendasari pemahaman konsep-konsep lain, atau memiliki makna khusus di dalam sejarah perkembangan pengetahuan, mungkin pula karena sering ditanyakan di dalam soal-soal ulangan atau kajian, atau alasan-alasan. 2)

  Menyusun alur penyampaian bahan pelajaran. Pada proses ini guru mungkin akan menyajikan bahan pelajaran mulai dari yang konkrit kemudian ke yang abstrak, dari yang sederhana kemudian ke yang kompleks, mengikuti alur buku pelajaran, atau alur penyampaian bahan pelajaran di susun oleh guru dengan alasan-alasan tertentu. 3)

  Memilih jenis penjelasan untuk menjelaskan konsep-konsep yang diajarkan. Penjelasan dapat disampaikan secara logis-struktural, secara induktif berdasarkan fakta-fakta hasil pengamatan, menggunakan analogi-analogi, atau guru mempunyai cara lainnya yang memudahkan murid untuk memahami materi pelajaran. 4)

  Memilih metode pembelajaran, misalnya metode ceramah, demonstrasi, eksperimen atau metode-metode lain yang di pilih oleh guru dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Beberapa proses tranformasi tersebut, dilakukan guru dengan alasan- alasan tertentu dengan mempertimbangkan berbagai pengetahuan yang oleh guru dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi efektifitas pembelajaran.

  

Keempat hal tersebut memberikan pemikiran bagi peneliti bagaimana guru

  

fisika dari dua sekolah yang berbeda melakukan proses transformasi materi

menjadi pembelajaran.

C. Batasan Istilah 1. Representasi

  

Representasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bagaimana cara guru

dalam menjelaskan materi atau cara guru menyampaikan materi, termasuk

bagaimana cara guru menyampaikan konsep-konsep yang dianggap penting.

2. Bahan Ajar

  

Bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik

  tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.

3. Alur Penyampaian Materi

  Alur penyampaian materi merupakan rangkaian dari tahapan-tahapan penyampaian materi. Termasuk bagaimana bentuk penyampaian yang digunakan guru, bersifat abstrak-konkrit atau konkrit-abstrak, kemudian kapan guru memberikan soal latihan.

D. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang dan proses transformasi materi menjadi

sebuah pembelajaran, peneliti merumuskan beberapa permasalahan sebagai

berikut:

  1. Bagaimana alur penyampaian materi yang digunakan oleh guru Kelas XII SMA A dan guru kelas XI SMA B?

  2. Bagaimana cara guru fisika Kelas XII SMA A dan guru fisika kelas XI SMA B menyampaikan konsep yang dianggap penting?

  3. Metode apakah yang dipilih kedua guru tersebut untuk menyampaikan materi?

  4. Media apakah yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi? E. Batasan Masalah

  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana PCK guru fisika

pada dua SMA di Yogyakarta dalam bentuk representasi guru sebatas materi

yang disampaikan oleh guru yaitu materi mengenai gejala gelombang dan gaya

gesek.

  F. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah diketahui di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:

  1. Alur penyampaian materi yang digunakan oleh guru Kelas XII SMA A dan guru kelas XI SMA B

2. Cara guru fisika Kelas XII SMA A dan guru fisika kelas XI SMA B dalam menyampaikan konsep yang dianggap penting.

  3. Metode yang digunakan guru dalam merepesentasikan materi pembelajaran.

  4. Media yang digunakan guru untuk mendukung penyampaian materi atau bahan ajar.

G. Manfaat

  Manfaat penelitian ini dapat ditinjau dari berbagai segi, yaitu bagi peneliti sebagai calon guru dan para guru :

  1. Peneliti (sebagai calon guru) Penyampaian konsep yang penting, alur yang digunakan guru saat menyampaikan materi, metode serta media yang digunakan oleh guru, dapat dijadikan referensi oleh para calon guru termasuk peneliti ketika sudah menjadi guru. Dari hasil penelitian, peneliti sebagai calon guru lainnya dapat mempunyai alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengajar.

  2. Para Guru Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan refleksi apakah selama ini sudah dapat mengintegrasikan kemampuan penguasaan materi dan kemampuan menyampaikan materi atau sebaliknya. Selain itu dapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran.

BAB II METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian dekskriptif-kualitatif. Penelitian dekskriptif (Paul Suparno, 2007) adalah penelitian yang

  menekankan pada keadaan yang sebenarnya dan berusaha mengungkap fenomena-fenomena yang ada dalam keadaan tersebut. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian deksriptif-kualitatif karena ingin mengungkap alur penyampaian materi yang digunakan oleh guru, penyampaian konsep yang dianggap penting, metode dan media apa saja yang digunakan guru dalam merepresentasikan materi pembelajaran.

  Secara garis besar penelitian ini bertujuan untuk melihat bentuk representasi yang digunakan guru dalam menyampaikan materi dilihat dari metode, bagaimana guru menyampaikan konsep-konsep penting, alur penyampaian materi, media dan ilustrasi atau contoh-contoh yang diberikan guru untuk menunjang topik yang disampaikan.

  Selain merupakan penelitian dekskriptif-kualitatif, penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif nonparticipant observation.

  Penelitian nonparticipant observation merupakan penelitian dimana peneliti tidak terlibat dalam kegiatan yang diteliti, tetapi lebih melihat dari luar. Tidak secara aktif melibatkan diri dalam situasinya (Paul Suparno, mengumpulkan data. Ada tiga tipe yang termasuk ke dalam nonparticipant observation, yaitu : naturalistic observation, simulasi, dan studi kasus.

  Penelitian ini termasuk ke dalam tipe naturalistic observation. Dimana peneliti meneliti subyek dalam seting yang natural. Peneliti tidak membuat manipulasi apapun, hanya mengamati, mencatat dan merekam apa yang terjadi (Paul Suparno, 2007).

  B. Waktu dan Tempat Penelitian Tempat Penelitian : Dua SMA Swasta di Yogyakarta.

  Waktu Penelitian : Juli – November 2009 C.

   Subyek Penelitian Subyek penelitian merujuk kepada siapa penelitian ini dilakukan.

  Penelitian ini dilakukan pada guru fisika kelas XII SMA A dan guru fisika kelas XI SMA B, keduanya merupakan sekolah swasta di Yogyakarta.

  D. Obyek Penelitian Objek penelitian dalam penelitian ini merujuk pada apa yang akan diteliti.

  Pada penelitian ini , yang menjadi objek penelitian adalah salah satu aspek proses pembelajaran yaitu pada representasi materi pembelajaran.

  E. Metode Pengumpulan Data

  Sebelum pengambilan data, peneliti melakukan kunjungan ke sekolah yaitu SMA A dan SMA B untuk membiasakan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sekolah, terutama dengan kelas yang diteliti. Data penelitian dikumpulkan melalui dua cara utama yaitu melalui rekaman video pembelajaran dan melalui wawancara dengan guru. Dengan seijin guru, pembelajaran satu pokok bahasan yang dilakukan oleh guru direkam dengan video. Proses pembelajaran yang direkam adalah pembelajaran normal seperti yang biasa dilakukan oleh guru dalam kegiatan sehari-hari. Peneliti tidak membuat skenario pembelajaran.

  Pembelajaran yang berlangsung saat penelitian dilakukan murni dirancang oleh guru yang menjadi partisipan dalam penelitian ini.

  Data yang terekam dipergunakan untuk mengungkap model representasi yang dipergunakan dalam pembelajaran fisika. Cara kedua yang dipergunakan untuk memperoleh data penelitian ini adalah melalui wawancara. Guru yang pembelajarannya direkam diwawancarai untuk mengungkap alasan-alasan guru menggunakan model representasi yang dipergunakannya di dalam pembelajaran. Wawancara direkam dengan alat perekam audio yang kemudian dianalisis.

  F. Instrumen

  Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah terbuka yang akan diajukan melalui wawancara dengan guru yang bersangkutan. Wawancara ini dilakukan mengacu pada rekaman video yang diperoleh pada saat guru mengajar (diambil pada saat proses pembelajaran berlangsung). Data wawancara ini digunakan untuk mendukung data video dan mengungkap hal-hal yang mungkin tidak muncul secara langsung dalam rekaman video.

G. Metode Analisis Data

  Proses analisis data dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu : 1. Tahap Transkripsi Data

  Tahap pertama dalam analisis data ialah tahap transkripsi data video pembelajaran dan hasil wawancara. Transkripsi rekaman data adalah penyajian kembali isi rekaman video kegiatan pembelajaran kedalam bentuk tulisan. Untuk meningkatkan validitas data, maka hasil rekaman diputar berulang-ulang saat pembuatan transkripsi data agar data mengenai pembelajaran di kelas yang disajikan dalam transkripsi tidak terlewatkan, peneliti juga melakukan pengecekan ulang saat pembuatan transkripsi guna peningkatan validitas rekaman. Peneliti akan mengidentifikasi moment-moment penting yang termasuk dalam bentuk representasi guru.

2. Tahap Pengkategorian Data

  Tahap kedua yang dilakukan adalah pengkategorian data. Hasil kategori tertentu yang ditentukan oleh peneliti. Kategori data ditentukan berdasarkan data video dan hasil observasi sebelum pengambilan data video atau rekaman proses pembelajaran. Sebelum dimasukkan ke dalam kategori-kategori yang telah ditentukan, transkrip data dianalisis untuk melihat hal-hal menarik. Hal-hal yang menarik atau peristiwa yang menarik tersebut disebut topik data.

3. Tahap Pembahasan

  Tahap yang terakhir atau tahap yang ketiga adalah tahap pembahasan. Setelah pengakategorian data kemudian diambil momen- momen yang sesuai dengan kategori yang sudah ditentukan. Pembahasan dilakukan dengan menunjukkan letak kekhususan bentuk representasi yang digunakan kemudian dihubungkan dengan teori pendukung yang ada dalam dasar teori. Dalam pembahasan disertakan pula hasil wawancara dengan guru untuk menggali dasar guru memilih bentuk representasi tersebut.

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Penelitian Penelitian ini dilakukan di dua SMA swasta yang berbeda di Yogyakarta. Dari masing-masing sekolah peneliti mengamati satu guru fisika

  

sebagai partisipan penelitian. Guru pertama adalah guru M dari SMA A yang

merupakan salah satu SMA swasta Yogyakarta. Sekolah tersebut adalah

sekolah swasta dengan siswa homogen perempuan. Guru M sudah mengajar di

sekolah tersebut kurang lebihnya 18 tahun, yakni sejak tahun 1992.

  Beliau belum pernah mengajar di sekolah lain. Semenjak lulus dari pendidikan S 1 , beliau langsung diminta untuk mengajar di sekolah tersebut

oleh pihak sekolah. Sebelumnya saat masih mahasiswa, beliau praktek

mengajar di sekolah tersebut dan menyelesaikan studi S

  1 pendidikan fisika

kemudian melanjutkan studi S pada jurusan fisika murni. Dari wawancara

  2

terungkap bahwa pengalaman mengajar yang beliau gunakan diperoleh dari

pengalaman beliau sendiri selama mengajar di sekolah tersebut, dari seminar,

hasil tukar pendapat dengan guru lain dan dari buku-buku yang beliau baca.

  Saat ini guru M mengajar 3 level kelas, kelas X, kelas XI dan kelas XII.

Penelitian ini dilakukan saat guru mengajar kelas XII IPA. Materi yang

disampaikan adalah mengenai Gejala Gelombang. Penelitian dilakukan pada 3

kali pertemuan. Selama 3 kali pertemuan tersebut, guru tidak hanya

  

M menggunakan metode ceramah siswa aktif, yaitu dengan tanya jawab dan

demonstrasi.

  Guru kedua adalah guru F, seorang guru di SMA B yaitu sebuah sekolah

swasta di Yogyakarta yang siswanya homogen laki-laki. Beliau menyelesaikan

kuliah S pada fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (KIP) di sebuah

  1

perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Sebelum menjadi seorang guru, guru F

bekerja sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan di Jakarta selama 1

tahun. Kemudian beliau berminat untuk mengajar di sebuah sekolah swasta di

daerah Cilacap selama 2 tahun.

  Beliau mendapat banyak pengalaman terutama dalam hal memotivasi

belajar siswa. Guru F pindah ke Jakarta dan mengajar di sebuah SMA selama 2

tahun. Setelah 2 tahun mengajar di Jakarta, beliau kembali ke Yogyakarta dan

mengajar di sebuah SMA swasta selama 1 tahun, sebelum akhirnya menetap di

sekolah yang sekarang ini. Beliau telah mengajar di sekolah yang sekarang ini

selama 15 tahun. Pengalaman mengajar yang beliau miliki diperoleh dari

pengalamannya mengajar dibeberapa sekolah yang berbeda.

  Penelitian di dua sekolah tersebut dilakukan pada hari dan tanggal yang

berbeda sesuai dengan jadwal pelajaran fisika yang sudah diatur oleh sekolah

yang bersangkutan. Sehingga peneliti hanya mengikuti jadwal sekolah.

Penelitian pertama kali dilakukan di SMA A kemudian dilanjutkan di SMA B.

Waktu observasi dan penelitian secara lengkap dapat dilihat dalam tabel 3.1

berikut:

Tabel 3.1 Jadwal pengambilan data

  Nama Pengambilan Data Sekolah Observasi Data Video (merekam) Wawancara SMA A Selasa (15 Juli 2009) Rabu (22 Juli 2009)

  11 Sept 2009 Rabu (16 Juli 2009) Kamis (23 Juli 2009)

  16 Sept 2009 Sabtu (25 Juli 2009)

  25 Nov 2009 SMA B Rabu (22 Juli 2009) Jum’at (24 Juli 2009)

  8 Sept 2009 Sabtu (25 Juli 2009)

  11 Sept 2009 Rabu (5Agustus 2009) Jum’at(7Agustus2009) Penelitian ini dilakukan dengan cara merekam proses pembelajaran

menggunakan video. Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu

melakukan beberapa kali kunjungan ke sekolah untuk observasi. Observasi

bertujuan agar peneliti dapat mengetahui kondisi kelas dan mengenal siswa-

siswanya, sehingga siswa tidak canggung dan terbiasa dengan kehadiran

peneliti di dalam kelas.

  Observasi dilakukan 2 kali untuk melihat kondisi dan suasana pembelajaran di kelas tanpa merekam proses pembelajaran. Pada saat

melakukan observasi, peneliti membuat catatan lapangan (field note)

mengenai garis besar kondisi kelas ( siswa, guru dan ruang kelas itu sendiri).

  

Field note tersebut juga digunakan sebagai pedoman untuk menentukan

kategori data penelitian mengenai representasi yang digunakan guru saat

mengajar. Penelitian mengenai proses pembelajaran di SMA B dilakukan

sebanyak empat kali pertemuan. Sedangkan di SMA B dilakukan sebanyak

tiga kali pertemuan. Pembelajaran dilakukan di ruang kelas dan di

  

ataupun terlibat dalam penyusunan rencana pembelajaran saat penelitian.

Proses pembelajaran, murni disiapkan oleh guru yang bersangkutan. Peneliti

hanya melakukan pengamatan dan merekam proses pembelajaran menggunakan handycam dari awal hingga jam pelajaran selesai.

  Penelitian dilakukan pada proses pembelajaran dalam materi yang

berkesinambungan atau masih dalam satu topik bahasan (bab). Sehingga dapat

dilihat bagaimana pola mengajar yang digunakan oleh guru. Setelah diperoleh

data dalam bentuk video proses pembelajaran, penelitian dilanjutkan

wawancara langsung dengan guru. Tujuan dilakukan wawancara adalah untuk

mengungkap hal-hal yang mungkin tidak terungkap langsung dalam video

hasil rekaman.

B. Hasil Penelitian dan Analisis Video

  Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk representasi guru

dalam menyampaikan materi yaitu bagaimana cara guru menyampaikan

konsep yang dianggap penting, alur penyampaian materi termasuk bagaimana

guru mereview materi yang sudah disampaikan, bentuk penjelasan yang

digunakan (abstrak-konkrit atau konkrit-abstrak), metode yang digunakan oleh

guru, dan media yang digunakan. Penelitian ini mengacu pada PCK

(Pedagogical Content Knowledge) , secara khusus penelitian ini mengambil

topik Pengetahuan tentang bentuk-bentuk representasi dan bagaimana bahan

ajar disampaikan dalam pembelajaran sehingga konsep yang terkait dalam mencakup pengetahuan tentang model, contoh, dan ilustrasi yang paling efektif terkait dengan bahan ajar tertentu. Data penelitian yang diperoleh berupa: Tabel 3.2

  Bentuk data penelitian Bentuk data penelitian Keterangan

Field note Field Note merupakan catatan

lapangan yang dibuat ketika melakukan observasi. Tujuannya untuk mendokumentasikan data-data yang dipeoreh di lapangan. Field note ini digunakan sebagai pedoman untuk menentukan kategori data mengenai bentuk representasi yang digunakan oleh guru saat menyampaikan materi.

Data video (rekaman) Rekaman video, merupakan data

utama yang digunakan oleh peneliti.

  Dari rekaman data video dapat dilihat bagaimana bentuk representasi yang digunakan guru. Data video ini disajikan kembali dalam bentuk transkripsi. Data wawancara Wawancara dilakukan untuk mengungkap hal-hal yang mendukung hasil rekaman dan untuk mengungkap hal-hal yang muncul dalam rekaman video termasuk alasan guru memilih bentuk representasi untuk menyampaikan materi.

  

Penelitian ini dilakukan selama beberapa kali pertemuan. Di SMA A

penelitian dilakukan selama tiga kali pertemuan berturut-turut di kelas XII Pertemuan:

  1. Materi yang disampaikan adalah mengenai gelombang stasioner ujung tetap atau ujung terikat dan gelombang stasioner ujung bebas

  

2. Guru melakukan demonstrasi untuk menunjukan gejala gelombang atau sifat

sifat gelombang, yaitu, muka gelombang datar dan melingkar pemantulan gelombang, pembiasan gelombang, dan interferensi.

  3. Guru melanjutkan pembahasan mengenai gejala-gejala gelombang.

Sedangkan di SMA B, penelitian dilakukan selama empat kali pertemuan di kelas

  XI Pertemuan: 1. Materi yang dibahas adalah mengenai gaya gesek.

  2. Melanjutkan materi mengenai diagram bebas gaya dan membahas latihan soal 3. Melanjutkan membahas soal latihan.

  

4. Siswa melakukan pratikum di laboratorium fisika mengenai koefisien gesek

statik sebuah benda.

  • Pada bagian analisis ini data hasil transkripsi video dikelompokkan ke dalam

    beberapa kategori sebagai berikut: 1.

  Analisis Video

  Alur penyampaian materi, yaitu mencakup : bagaimana guru menjelaskan materi dimulai dari abstrak-konkrit atau konkrit-abstrak, kapan guru

memberikan soal latihan, bagaimana sifat soal yang diberikan, sederhana atau

kompleks.

  2. Guru menyampaikan konsep penting (menjelaskan materi (konsep),

memberikan contoh, rumus) dan termasuk memberikan penegasan pada konsep

yang dianggap penting.

4. Media pendukung yang digunakan oleh guru saat menyampaikan materi pembelajaran.

  

Kategori data tersebut dirumuskan oleh peneliti berdasarkan pada observasi dan

hasil penelitian pada saat pembelajaran baik di SMA A maupun di SMA B.

  Analisis video dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 3.3 Alur Penyampaian Materi

  Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  Pertemuan 1( 2 jam pelajaran) Guru M

  1.Alur Penyampaian 1.

  Guru mereview materi sebelumnya, kemudian membahas soal SMA A

  Materi

  yang diberikan sebagai PR.Guru memulai pembahasan mengenai Tanggal 22 Juli gelombang stasioner dengan menghadirkan fakta melalui 2009 demonstrasi. Guru meminta siswa untuk menggambarkan apa yang mereka lihat melalui demonstrasi. Kemudian guru mengajak siswa untuk merumuskan persamaan matematis untuk gelombang stasioner. Setelah penjelasan selesai, guru memberi latihan soal. Berikut cuplikan transkrip data : (menit 15:00) G :”Nah..hari ini kita akan melihat gelombang yang lain yang berdasarkan amplitudo... yakni gelombang

  Stasioner. Nah gelombang stasioner ini seperti apa?Ini kita sudah punya alatnya, kita coba.

  (Guru mengambil alat yang sudah dipersiapkan, menempatkan alat tersebut di depan kelas dan menjelaskan cara kerjanya).

  Selama melakukan demonstrasi, guru memberikan pertanyaan- pertanyaan pancingan kepada siswa untuk membawa siswa masuk kedalam pembahasan materi. (menit 17:00) G :”Berjalan..Dari mana ke mana ini??Kalau ini bergetar ke arah kamu? S : ”Kanan...:

  S : ”Kiri” Guru meminta salah satu siswa untuk menggambarkan apa yang mereka lihat saat demonstrasi, kemudian siswa lainnya diminta untuk menyimpulkan.

  36 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  (menit 18:00) Guru M

  1.Alur Penyampaian

  G :”Nah..coba Kitin (menunjuk salah satu siswa) kamu SMA A

  Materi

  gambarkan ke depan apa yang kamu lihat?Silahkan Tanggal 22 Juli dicoba...Apa yang dilihat...Ya..bayanganmu seperti 2009 apa?Gambar saja..lalu yang kamu lihat seperti apa?

  Guru kemudian mengajak siswa untuk merumuskan persamaan yang berlaku pada gelombang stasioner. (menit 24:00) G :”Ini faktanya, ini kenyataannya..nah sekarang kita harus membuat persamaannya. Kita lihat sekarang untuk persamaannya. Perhatikan ya .

  Guru melibatkan siswa saat merumuskan persamaan untuk gelombang stasioner ujung tetap. (menit 25:00) G :”Gelombang datang yang ini ke arah kiri (sambil menunjuk pada gambar). Persamaannya kita namakan sama dengan apa?Persamaan gelombang datang...merambat ke mana dia?

  S :”Kiri...” Guru melanjutkan pembahasan mengenai letak simpul dan perut.

  Guru memberikan pancingan berdasarkan gambar gelombang stasioner, kemudian siswa diminta menyimpulkan letak simpul dan perut. (menit 33:00)

  G :”Kalo kita perhatikan di sini, talinya tadi satu menjadi seperti itu. Ada tempat-tempat tertentu disini dengan disini (menunjuk pada tali yang bergetar membentuk gelombang stasioner, kemudian menunjuk pada gambar gelombang pada papan tulis.)

  37 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  1.Alur Penyampaian G :”Kemudian ini dengan ini juga sama. (menunjuk Guru M Materi pada gambar). Nah titik ini,pernah mendengar titik apa? SMA A Tanggal 22 Juli Selanjutnya guru memberikan persamaan umum untuk letak 2009 simpul dan perut terhadap ujung pemantul. Materi dilanjutkan dengan membahas mengenai gelombang stasioner ujung bebas dan persamaannya. Setelah materi selesai disampaikan guru menuliskan kembali persamaan yang telah dirumuskan untuk mereview materi yang telah dibahas. Kemudian memberikan soal latihan dan meminta beberapa siswa mengerjakan di papan tulis.

  Pertemuan 2 (2 jam pelajaran) Guru M 2. Guru melanjutkan pembahasan soal latihan pada pertemuan SMA A sebelumnya dengan meminta beberapa siswa mengerjakan di Tanggal 23 Juli papan tulis. Selanjutnya guru mengadakan kuis selama 15 2009 menit.

  Kemudian, guru menjelaskan mengenai gejala gelombang dengan demonstrasi menggunakan alat peraga rippletank. Berikut cuplikan transkrip data untuk alur penyampaian materi pada pertemuan kedua: (menit 34:55) G :”Nah hari ini kita akan mempelajari sifat-sifat gelombang atau gejala gelombang. Disini ada alat yang namanya Lippletank atau pembangkit gelombang ya..Ini bisa memperagakan misalnya gelombang itu mengalami pembiasan, pemantulan dan sebagainya.” ( Siswa berputar mengelilingi alat ,guru menjelaskan bagian- bagian dari lippletank dan menunjukkan cara kerjanya,)

  38 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  1.Alur Penyampaian G :”Ini akan berputar, akan timbul gelombang dan Guru M Materi akan disinari dengan sinar ekstra terang, sehingga SMA A

akan terlihat di bawah itu... Tanggal 23 Juli

S :”Wah...” 2009

  G :”Nah itu gelombang berjalan datar ya.. Nah yang berjalan itu apa?ini yang dinamakan muka gelombang (sambil menunjukkan letak muka gelombang pada bayangan yang dihasilkan) Muka gelombangnya berbentuk garis-garis.”

  Selanjutnya, guru menunjukkan bagaimana terjadinya muka gelombang melingkar,pemantulan gelombang pembiasan gelombang dan interferensi. Guru tidak melibatkan siswa secara langsung dalam melakukan percobaan, demonstrasi murni dilakukan oleh guru. Namun, siswa tetap diajak berpikir dengan diberikan pertanyaaan saat demonstrasi dilakukan Siswa diminta untuk mengamati dengan sungguh- sungguh, sehingga memahami prosesnya. Pertemuan 3

  Guru M 3. Guru menjelaskan mengenai gejala-gejala gelombang secara SMA A teoritis.

  Tanggal 25 Juli G :”Nah sekarang kita akan mempelajarinya secara 2009 teoritis. Gejala gelombang (menulis di papan tulis) atau sifat-sifat gelombang,ada empat kemarin yang pertama pemantulan atau bahasa kerennya apa? refleksi, kemudian pembiasan atau bahasa kerennya refraksi, ada lagi pelenturan atau difraksi, perpaduan atau interferensi. Guru menjelaskan mengenai muka gelombang, guru menggambar muka gelombang.

  39 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  1.Alur Penyampaian Guru menunjukkan perbedaan antara muka gelombang datar Guru M Materi dan muka gelombang melingkar. SMA A Tanggal 25 Juli

  G : “Itu muka gelombang datar Ini pembangkitnya 2009 kemarin adalah kayu yang datar (guru menunjuk pada gambar yang dibutadipapan tulis) Kalo yang pembangkitnya kemarin titik berarti akan timbul muka gelombang melingkar (guru mencatat dipapan sambil memberi clue) .Gambarnya seperti apa? ( guru menggambar muka gelombang lingkaran).

  Guru juga menunjukkan bagaimana arah getar atau gerak dari muka gelombang datar dan muka gelombang pantul dengan memberi tanda pada gambar muka gelombang datar dan muka gelombang melingkar. Selanjutnya guru membahas pemantulan gelombang, guru membuat gambar pemantulan gelombang.Saat menggambar, guru terus memberikan pertanyaan pertanyaan pancingan. Sehingga siswa tidak langsung mendapatakn gambar yang sudah jadi begitu saja, tetapi memahami langkah demi langkah.

  G :”Untuk pemantulan gambarnya agak susah,makanya perhatikan betul. Kemarin melihatnya juga sangat susah, menggambarnya sekarang juga susah. Kita lihat, kita buat dulu front gelombang datang, untuk memudahkan kita gambar sinar gelombang dulu. Ingat nanti front muka gelombang dengan sinar muka gelombang harus bagaimana? Ini dengan ini harus? (guru menunjuk pada gambar muka gelombang datar)

  40 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  1.Alur Penyampaian Kemudian guru membahas mengenai pemantulan gelombang Guru M Materi secara detail berdasarkan gambar. Guru menunjukkan letak SMA A sudut datang dan sudut pantul dan garis normal kemudian Tanggal 25 Juli memberi tanda masing masing dengan tinta yang berbeda 2009 warna. Pembahasan dilanjutkan dengan difraksi dan pembiasan.

  G :”Jadi gelombang melewati celah sempit maka terjadi difraksi. Kalo disini gambarnya, kita gambar celah, celah yang sempit (menggambar celah sempit menggunakan spidol biru). Kita gambar front gelombang datang (menggambar front gelombang datang menggunakan spidol merah). Maka pada celah itu seakan-akan sebagai titik bagi front gelombang melingkar. Ini adalah peristiwa difraksi. Ini celah sempit (memberi keterangan pada gambar celah, menggunakan spidol merah) Jadi gelombang yang mula-mula gelombang datar, seakan-akan menjadi sumber front gelombang melingkar. Nah peristiwa dari sini ke sini namanya difraksi (menunjuk pada gambar)

  Materi yang terakhir dibahas adalah pembiasan gelombang. Guru menjelaskan pembiasan gelombang dengan menggambar terjadinya pembiasan.

  Pertemuan 1 Guru F 4.

  Guru melanjutkan pembahasan mengenai gaya gesek, guru SMA B memberikan pertanyaan pancingan untuk mengingatkan siswa Tanggal 24Juli mengenai konsep gaya gesek. Guru memberikan contoh 2009 kasus, kemudian siswa diminta untuk menganalisis.

  G : “Setiap keadaan kita akan menyelidiki dahulu,bendanya masih diam atau bergerak,kita lihat pada diagram bebas gaya,ini ada suatu benda terletak pada suatu bidang datar (guru menggambar di papan tulis),dilihat ada gaya apa saja disitu?”

  41 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  1.Alur Penyampaian Guru terus mengembangkan pertanyaan untuk menggali Guru F Materi pemahaman siswa. SMA B Tanggal 24Juli

  G :” Kalau sekarang benda ini saya tarik dengan gaya F 2009 1 kekanan (pada gambar),arahnya bergerak kekanan,bagaimana dengan arah gaya geseknya?”

  Selanjutnya guru menuliskan soal latihan dipapan tulis ( guru membuat soal secara spontan, tanpa melihat buku) Soal: misalkan di ketahui masa bendanya 10 kg,kemudian percepatan grafitasinya 10 m/s2,koefisien gesek statisnya 0.2,ditarik gaya F =50N,coba diselidiki bendanya sudah 1 bergerak atau belum?(guru melontarkan pertayaan dan melihat kearah siswa,siswa masih ragu-ragu,ada yang menjawab sudah,ada yang belum) Guru kembali mengembangkan soal, kemudian membahasnya bersama-sama. Siswa masih ada yang bingung dan ragu-ragu mengenai konsep gaya gesek. Kemudian guru mendemonstrasikan gaya gesek dengan tujuan memantu siswa untuk memahami konsep gaya gesek.

  G : “Saya praktekan ya,meja ini punya pertahanan maksimum,kalau sekarang saya tarik,aku wis narik le(sambil menunjukkan tangannya)tanganku wis kaku,wis methekol(siswa tertawa)nah tapi mejanya sudah bergerak apa belum?”

  Guru terus mengulang penjelasan, memastikan siswa sudah jelas atau belum. Kemudian guru baru mealnjutkan materi berikutnya

  42 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  1.Alur Penyampaian G : “Sekarang bagaimana diagram bebas gaya kalau Guru F Materi benda dihubungkan dengan tali (guru menulis dipapan SMA B tulis) kita pakai untuk bidang datar dulu(guru Tanggal 24Juli menggambarkan benda ditarik oleh tali tanpa 2009 menggunakan penggaris tapi hasilnya bagus) gambarkan vector gayanya..(sambil berjalan kearah siswa guru bertanya) gaya apa dulu yang harus bekerja?.”

  Dari pertanyaan guru tersebut kemudian terjadi diskusi kelas, beberapa siswa mulai memberikan jawaban, kemudian guru menanggapi. Kemudian guru mengingatkan konsep apa saja yang diperlukan untuk memasuki materi baru. Kemudia kembali terjadi diskusi kelas. Pertemuan 2

  Guru F 5. Guru melanjutkan materi mengenai diagram bebas gaya. SMA B Guru mengecek pemahaman siswa secara Tanggal 25 Juli individu..Kemudian melanjutkan pembahasan soal latihan. 2009 Guru menciptakan suasana diskusi kelas dengan melakukan tanya jawab dengan siswa saat membahas soal latihan.

  G :”oke sekarang kita lanjutkan latihanya, sekarang no 1 (guru memulainya dengan membaca soal no. 1 dan menuliskan dipapan tulis) pertayaan saya, mana yang koefisien gesek statis dan mana yang kinetis Anthony”?

  S1 :”0.3 statis 0.2 kinetis”. G :”alasan kamu gimana”? S1 :”kalau benda bergerak kan gaya geseknya otomatis semakin berkurang”. G : jadi koefisien gesek statis lebih besar dari pada kinetis, jika benda ditarik F 1

  

15 N kekanan, kemana

arah gaya geseknya

  43 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

1.Alur Penyampaian S : berlawanan dengan F Guru F

  1 Materi G : kalau F nya 15 N padahal F 1 gsmax

   30N kita bisa SMA B menyimpulkan gimana Tanggal 25 Juli 2009 Diskusi berlanjut hingga akhir pelajaran, soal-soal yang diberikan guru selalu berkesinambungan, berawal dari yang sederhana hingga ke bentuk yang kompleks. Saol dibahas bersama-sama. Pada akhirnya siswa sendirilah yang membangun konsep

  Pertemuan 3 Guru F 6.

  Guru melanjutkan pembahasan soal latihan pada pertemuan SMA B sebelumnya. Siswa tidak bisa menyelesaikan soal. Kemudian Tanggal 5 guru mengajak siswa untuk mengerjakan bersama. Agustus 2009 1 G :” ini adalah t (menulis pada gambar) dan ini t

  G :“ini sama ndak (menunjukkan pada gambar tegangan tali) S : sama bu G : apa yang dapat kamu simpulkan S :(salah satu siswa) Tnya sama bu G : T =2T terus, apa lagi 1 2 S : a =2a 1 2 G : nah, kalau itu sudah kamu peroleh, ya kamu bisa mulai dari T =2T . Kita mulai dari benda 1 (guru menulis) 1 2 a ya,

  ∑F=m 1 1 ∑Fnya apa? (guru menunjukkan pada benda 1) S : w -T 1 1 Guru mengajak siswa untuk ikut berpikir dengan mengajak berdiskusi untuk menyelesaikan soal latihan.

  44 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

1.Alur Penyampaian Pertemuan 4

  Guru F Materi Siswa melakukan percobaan atau pratikum di laboratorium SMA B fisika. Percobaan yang dilakukan adalah mengenai koefisien Tanggal 7 gesek statik sebuah benda. Guru meminta siswa untuk Agustus 2009 menyebutkan peralatan yang akan digunakan dalam perconaan tersebut. Kemudian siswa melakukan percobaan berdasarkan petunjuk pratikum yang sudah tersedia, guru membimbing.

  45

  46 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep penting (menjelaskan materi, rumus, contoh-contoh)

  1. (Menit 22:50) Guru menjelaskan yang dimaksud dengan gelombang stasioner dan memberikan pengertian gelombang stasioner G :”Pada saat yang sama...apa yang terjadi?ya ditunjukkan seperti ini...gelombang yang terjadi karena gelombang datang, terus ada gelombang yang dipantulkan...pada saat yang sama dijumlahkan atau berinterferensi. Nah itulah namanya gelombang Stasioner atau gelombang henti, atau gelombang diam.

  Maka kelihatannya ini diam yang menunjukan kira-kira fungsi apa ini?. Jadi gelombang stasioner itu tadi apa??Hasil perpaduan antara gelombang yang datang dan gelombang yang dipantulkan. Tetapi apakah cukup begitu??Bagaimana dengan gelombang pantul?Arahnya bagaimana?”

  Pertemuan 1 Menit 22:50 Guru M SMA A

  2. (Menit 33 ) Guru menjelaskan yang dimaksud dengan simpul dan perut gelombang. Saat menjelaskan, guru memberi tanda pada gambar yang dinamakan simpul dan perut. Guru memberi tanda s untuk simpul dan p untuk perut.

  G :”Kemudian ini dengan ini juga sama. (menunjuk pada gambar). Nah titik ini,pernah mendengar titik apa?(menunjuk pada tali dan menunggu kalo- kalo ada siswa yang menjawab,namun tidak ada siswa yang menjawab) titik ini namanya simpul (guru menjelaskan,setelah menunggu jawaban siswa). Yang mblenduk-mblenduk seperti orang hamil, namanya perut (guru menunjuk pada gelombang yang dihasilkan tali pada alat percobaan)

  Guru menjelaskan konsep simpul dan perut,. Guru menunjuk letak titik yang disebut simpul dan letak perut.

  Pertemuan 1 Menit 33 Guru M SMA A

Tabel 3.4 Penyampaian Konsep penting

  47 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep penting (menjelaskan materi, rumus, contoh-contoh)

  3. (Menit 40:25) Guru menggunakan gambar untuk menunjukkan letak simpul.

  G :”Simpul pertama disini jaraknya terhadap ini ya....(menunjuk pada gambar,tepatnya pada garis yang dianggap sebagai ujung pemantul)

  Pertemuan 1 Menit 42:19 Guru M SMA A

  4. (Menit 42 :19) Guru memberikan persamaan umum untuk simpul, guru memberi kotak untuk persamaan letak simpul terhadap ujung pemantul. Tujuan diberi kotak adalah untuk memperjelas.

  G :”Berarti persamaannya ini..” (membuat kotak pada persamaan untuk memperjelas) Pertemuan 1 Menit 42:19 Guru M SMA A

  5. (Menit 46:29) Guru melanjutkan penjelasan mengenai gelombang stasioner pada ujung bebas. Gelombang stasioner ujung bebas sulit dijelaskan karena tidak dapat didemonstrasikan dan hanya bisa dijelaskan dengan gambar.

  G :”Ini tidak bisa dipraktekkan tapi kita gambarkan saja, ujung bebas seperti apa..Ujung bebas itu talinya dibuat logro ya..jadi ini dia bisa... naik turun. Nah ini kita namakan titik asal getaran (guru menggambar gelombang dengan ujung bebas dan memberi keterangan pada gambar)

  Pertemuan 1 Menit 46:29 Guru M SMA A Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep Guru menjelaskan konsep gelombang ujung bebas dengan Pertemuan 1 cara membuat gambar gelombang stasioner ujung bebas. Menit 42:19 penting (menjelaskan Saat menjelaskan, guru menggunakan bahasa jawa yaitu Guru M materi, rumus, contoh- “logro” untuk memudahkan siswa memahami konsep yang SMA A disampaikan. Saat menjelaskan bahwa ujung tali dari contoh) gelombang ujung bebas dapat bergerak naik turun, guru menggerakkan tangannya naik turun( ke atas dan ke bawah) untuk memberikan ilustrasi bagi siswa

  6. Menit 58:01 Pertemuan 1 Guru menjelaskan letak simpul dan letak perut untuk Menit 58:01 gelombang stasioner ujung bebas. Guru M

  G :”Satu, dua,tiga, empat, lima (menghitung sambil SMA A menunjuk pada gambar)Ini sama dengan yang apa tadi?sama dengan yang perut yaitu (2n+1)1/4 lamda, n= 0,1,2,3,..dst.ini namanya simpul ke satu, ini simpul kedua.

  Guru menjelaskan letak simpul dengan lansung menunjukkan letaknya pada gambar sambil menghitung letak simpul pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Sehinnga siswa tahu betul letak simpul. Siswa dapat dengan mudah mengikuti penjelasan yang diberikan guru.

  7. Menit 58:10 Pertemuan 1 Guru memberikan persamaan untuk letak perut terhadap Menit 58:10 ujung pemantul untuk gelombang stasioner ujung bebas. Guru M Guru memberikan cara mudah untuk mengingat persamaan. SMA A G :”Dengan mudah, letak perutnya mestinya apa?apa?sekarang letak perut terhadap ujung pemantul.x nya sama dengan nol ya...perut pertama kan nol, perut kedua?setengah lamda ya, ketiga 1 lamda, dst... x = 2n kali ¼ lamda.Tinggal dibolak-balik saja kalo yang tadi jadi simpul sekarang jadi perut.

  48

  49 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep penting (menjelaskan materi, rumus, contoh- contoh)

  Konsep penting yang guru berikan adalah cara mengingat persamaan agar tidak tertukar dan bingung. Jika pada ujung terikat persamaan tersebut digunakan untuk menentukan letak simpul terhadap ujung pemantul. Sebaliknya pada ujung bebas persamaan tersebut digunakan untuk menentukan perut. Guru mengkotaki persamaan untuk psimpul gelombang stasioner ujung bebas.

  Pertemuan 1 Menit 58:01 Guru M SMA A

8. Menit 61:25

  Guru memberikan cara mudah untuk mengingat persamaan ujung terikat maupun ujung bebas. Selain itu guru juga memberikan cara mudah untuk mengingat persamaan untuk simpul dan perut agar tidak terbalik-balik.

  G :” Bagaimana cara mengingat dengan mudah bahwa ini ujung terikat ini ujung bebas (menunjuk pada 2 persamaan yang sudah ditulis dipapan tulis, kemudian memperhatian keseluruh siswa menunggu ada jawaban dari siswa) .Kalo ini sin kx cos t

  ω , yang ini cos kx sin

  t

  ω . Lagi-lagi

  matematika, grafik sin fungsi x . y =sin x grafiknya seperti apa?Dari nol apa dari satu? Guru terlebih dahulu bertanya kepada siswa sebelum memberikan cara mudah untuk mengingat persamaan.

  G :”Ujung tetap.Kalo ini cos kx?Ditambahi ini jadi apa?ujung bebas.Dilihat sin atau cos kx?ini mesti apa?tinggal

  ω t

(menunjuk pada persamaan).

  Kalo depan sudah sin belakang cos, kalo depan sudah cos belakang mesti sin. Nggak mungkin cos cos atau sin sin ya.

  Pertemuan 1 Menit 61:25 Guru M SMA A Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep 9. (Menit 00:47) Pertemuan 1 Pada menit ini guru memberi kotak pada persamaan sebagai Guru F penting (menjelaskan salah satu konsep penting yang disampaikan. SMA B materi, rumus, contoh-

  G: ”Sekarang persamaannya?(guru menuliskan simbol gaya gesek F ) dan bertanya kepada siswa F kemarin bagaimana? g g contoh)

  S :” µ N..” (guru memberi kotak pada persamaan yang sudah ditulis F = g µ.N) 10. (Menit 01:47)

  Pertemuan 1 Guru selalu memberi kotak pada persamaan atau rumus yang Guru F ditulisnya.

  SMA B G : “Lalu kita bisa menghitung berapa gaya gesek statisnya?” S : µ N (Guru memberi kotak pada persamaan) s G : “Kemudian F gesek kinetisnya?” S : “µ N” (Guru memberi kotak pada persamaan) k

  11. (Menit 02:10-02:34) Pertemuan 1 Saat menjelaskan konsep mengenai diagram bebas gaya, guru Guru F tidak hanya menjelaskan melalui ceramah, tetapi juga SMA B menggunakan gambar. G : “Setiap keadaan kita akan menyelidiki dahulu,bendanya masih diam atau bergerak,kita lihat pada diagram bebas gaya,ini ada suatu benda terletak pada suatu bidang datar(guru menggambar di papan tulis),dilihat ada gaya apa saja disitu?

  50

  51 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep penting (menjelaskan materi, rumus, contoh- contoh)

  12. (Menit 03:57) Guru menggambar saat menunjukkan arah gerak benda.

  G : “Ya,berlawanan dengan kecenderungan arah gerak benda(guru menggambarkan), kalau sekarang seluruh diagram bebas gaya itu kita terapakan/masukan dalam hukum newton,yang mempertahankan benda ini dalam kedaan diam,kita menggunakan persamaan ∑F.”

  Pertemuan 1 Menit 03:57 Guru F SMA B

  13. (Menit 04:42) Guru memberi kotak pada hukum Newton I

  G: “Jadi ∑F y = 0 “(siswa menjawab bersama-sama dan guru memberi kotak pada persamaan)

  Pertemuan 1 Menit 04:42 Guru F SMA B

  14. (Menit 05:04) Saat menjelaskan persaman pada menit ini, guru juga memberi kotak pada persamaan G : “Sekarang pada sumbu x…” (guru dan siswa menjawab bersama-sama dan guru memberi kotak pada persamaan)

  Pertemuan 1 Menit 05:04 Guru F SMA B

  15. (Menit 12:00) Guru memberikan penegasan pada konsep gaya gesek dengan suara yang tegas dan keras.

  Guru : “Sebesar tarikannya,dia (meja,sambil memukul meja) akan bergerak kalau melebihi gaya gesek maksimumnya,nah konsep ini (dengan suara keras dan mantap guru menegaskan) yang sering kali menjebak kita…”

  Pertemuan 1 Menit 12 Guru F SMA B Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep 16. (Menit 14:00) Pertemuan 1

  G : “Sudah bergerak (mengulangi jawaban siswa),siapa yang Menit 14:00 penting (menjelaskan belum jelas? jadi F gesek statis maksimumnya Guru F materi, rumus, contoh-

  SMA B pertahanan maksimum dia supaya bergerak, kalau itu dilampaui baru bendanya akan bergerak, kalau belum contoh) ya tarikan itu besarnya sama dengan gaya gesek, kalau dia sudah bergerak boleh kah kita menggunakan gaya gesek statis?

  17. (Menit 15:26) Pertemuan 1 Sebelum memasuki pembahasan selanjutnya, guru Menit 15:26 mengingatkan dan memberi penegasan. Guru F Guru: “Jadi harus diselidiki apakah benda sudah bergerak SMA B atau..belum (guru dan siswa) benda kalau sudah bergerak kalau melebihi gaya gesek statis maksimum..”

  18. (Menit 18:40) G : normal hanya dimiliki kalau bendanya terletak..ya kan (menegaskan) bagaimana cara menggambarnya dijawab dulu syarat tegak lurus bidang, titik tangkapnya pada bidang (saat guru berbicara guru berada ditengah-tengah siswa)

  19. (Menit 19:36) Pertemuan 1

  G : (guru menuliskan vector-vektor gaya)”Jadi kita Menit 19:36 gambarkan disini W ,kemudian W ,perhatikan cara Guru F 1 2 menggambar W ,ni ya titik tangkapnya (guru sambil SMA B 2 menunjukkan gambarnya dan memperhatikan siswanya),karena bendanya teratur berada dititik pusat simetri,karena kita belum berbicara titik berat,kemudian yang punya gaya normal,tadi apa?”

  52 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep 20. (Menit 23:00) Pertemuan 1 Guru menekankan agar siswa benar-benar memahami dan Menit 23 penting (menjelaskan bukan karena hafalan. Guru F materi, rumus, contoh-

  G: beda, kamu harus melihat, arah gerak benda, arah gaya SMA B gesek,mana gaya yang searah dengan perpindahan, jadi contoh) tidak hafalan, brodol rambutmu lek dihafalke, sekarang kalau dah ketemu a(percepatan),kita bisa menghitung berapa tegangan talinya.

  21. (Menit 28:30) Pertemuan 1

  G: “Kenapa W tidak mempengaruhi (guru menunggu Menit 28:30 1 jawaban siswa)karena bergeraknya kan pada sumbu x, Guru F sedang W dan N bergerak pada sumbu y” SMA B 1 1

  22. (Menit 30:38) Pertemuan 1

  Guru menegaskan bahwa persmaan percepatan yang dipeoreh Menit 30:38 bukanlah patokan. Tetapi arah gerak bendalah yang Guru F menentukan persamaan. SMA B

  G: “Ini rumus?” S:”Bukan..” G:”Bukan rumus, karena apa?kebetulan geraknya ke arah W ,kalau geraknya kearah benda 1 bisa ndak ini ketarik ke 2 m 1,bisa, wong kowe nimbo wae ember sing munggah kowe sing kecemplung

  ”

  23. (Menit 34:00) Pertemuan 1 Guru menegaskan siswa agar tidak menghafal konsep bebas Guru F gaya, tetapi memahami konsep tersebut. SMA B

  G: setiap konstruksi itu tidak dihafalkan, pemahaman kamu tentang diagram bebas gaya, lalu masuk ke hukum Newton,

  53 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep 24. (Menit 37:00) Pertemuan 1 Guru menuliskan persamaan sebagai salah satu konsep Menit 37:00 penting (menjelaskan penting yang harus dikuasai siswa. Guru juga menjelaskan Guru F materi, rumus, contoh- perjanjian tandaya yang digunakan dalam persamaan tersebut. SMA B 2 G: (guru menuliskan persamaan) s = v t+1/2 at , tandanya contoh) positip karena dipercepat, kalau diperlambat negatip, ya, ada yang mau bertanya”

  25. (Menit ) Pertemuan 1 Guru menegaskan bahwa siswa harus dapat menganalisis Guru F gambar dan arah gerak benda SMA B

  G: “kamu juga bisa membuat persamaan matematis ya k an,tapi kenapa saya menggunakan persamaan ini (persamaan yang dikerjakan guru dan siswa berdasarkan analisis pada ganbar dan arah gerak benda) karena ini adalah…cara berpikir setelah melihat dan menganalisis diagram bebas gaya saya tidak mau terjebak menerangkan fisika secara matematis”

26. Menit 40:29

  Pertemuan 1 Guru menegaskan, agar siswa tidak hanya memasukkan rumus saat pengerjakan soal, tetapi harus paham prosesnya. Guru F

  G: “Jangan hanya masukin rumus kamu harus tahu SMA B prosesnya, itu persamaan bukan rumus, melihat keadaan dari benda”

  27. (Menit 41:43) Pertemuan 1 Guru menegaskan agar siswa menggambar dengan tepat Guru F menggunakan penggaris. SMA B

  G: “Gambar yang bener, ini gambar teknik ya, gambar pakai penggaris”

  54 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep 28. (Menit 68:00) Pertemuan 1 Guru memberikan penegasan pada siswa yang mengalami Guru F penting (menjelaskan kebingungan. Guru menunjuk pada gambar. SMA B materi, rumus, contoh- G:”Jadi..yang namanya sumbu x dan y ini lho bidang geraknya bidang miring to le(menunjukkan pada gambar) contoh) sumbu y itu tegak lurus sumbu x jadi mana sumbu Y

29. Menit

  Pertemuan 1 Guru menegaskan siswa agar mengerjakan soal dengan Guru F komplit.

  SMA B G:”Latihan yo harus komplit.w cos w sin tetep digambar komplit, tidak ada dispensasi apapun ya konstruksi gayanya, diagram bebas gaya harus komplit, harus benar menggambar vektornya. harus dimulai dari sekarang menggunakan penggaris karena kamu belum bisa menggaris lurus..komponen gaya dari ujung vector itu teori tentang vector dikelas X cari proyeksinya”.

  30. (Menit 08:40) Pertemuan 2

  Guru mengingatkan konsep mengenai gaya gesek statis Guru F maksimum SMA B

  G :”Gaya gesek statis maksimum benda tidak akan bergerak sehingga gaya gesek saat itu adalah..gaya luar yang diberikan ya kan kemarin saya contohkan menarik meja, mejanya tetap diam padahal sudah saya tarik sampai metekol tapi mejanya masih belum bergerak. berarti gaya gesek saat itu adalah sebesar..gaya yang saya berikan”.

  55 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep 31. (Menit 10) Pertemuan 2

  Guru mengingatkan tentang konsep gaya gesek kinetis. Guru F penting (menjelaskan

  G:”Konsepnya kemarin begitu sudah melewati gaya gesek SMA B materi, rumus, contoh- statis maksimum otomatis kalau bendanya sudah bergerak menjadi gaya gesek kinetis..siapa yang belum jelas?”. contoh)

  32. (Menit 23) Pertemuan 2

  Guru mengimgatkan siswa agar berhati-hati saat menganalis. Guru F

  G: ”Jadi harus hati-hati ya , menyelidiki sebelum benda SMA B bergerak atau benda sudah bergerak, hati-hati konsepnya disitu”.

33. Menit 31:37

  Pertemuan 2 Guru menegaskan agar siswa berhati-hati saat menggambar Guru F diagram bebas gaya. SMA B G: perhatikan baik-baik dalam melukis diagram bebas gaya, vector gaya vector komponen tidak boleh salah harus menggunakan penggaris kalau belum bisa lurus, komponen vector tidak boleh melebihi proyeksinya, itu sudah aturan yang baku

  34. (Menit 05:34) Pertemuan 3

  Guru melingkari persamaan untuk tegangan tali. Guru F SMA B G: ”Ini dicari T dulu (pada persamaan 1) T = m a + w 2 2 2 2 2 terus ini nanti dimasukkan kepersamaan 1, terus ketemu tegangan tali..yo masukan angkanya. jadi konsep yang utamanya disini mas (menunjukkan padaT =2T , 1 2 a =2a dan guru melingkarinya)” 1 2

  56 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  2. Penyampaikan konsep 35. (Menit 11:40) Pertemuan 3

  Guru memberikan cara sederhana untuk memahami konsep. Guru F penting (menjelaskan

  G: “Ya a kan terbagi 2 tali maka punya a dibagi 2, bahasa SMA B 1 2 materi, rumus, contoh- yang paling gampang a bergerak lebih banyak dari pada 1 a 2 contoh)

  36. (Menit 12:18) Pertemuan 3

  Guru memberikan contoh prinsip katrol dalam kehidupan Guru F sehari-hari SMA B

  G:” Nah prinsip catrol seperti ini digunakan pada apa le..ya pada keren dikapal-kapal itu digunakan untuk menaikkan container, memangnya mau diangkat, kalau dirumah kamu punya piano dinaikan dilantai 2 ya pakai susunan katrol- katrol, akhirnya usah kita menjadi kecil, keuntungan mekaniknya lebih besar, di smp kamu hanya mempelajarinya pada tuas nah sekarang dengan sistem katrol

  37. (Menit 15) Pertemuan 3

  Guru mengingatkan siswa mengenai penarapan hukum Guru F Newton SMA B

  G:" Jadi hukum ke II dan hukum ke III, jangan lupa dari konsep kencenderugsn arah gerak benda kemana, gaya yang searah diberi tanda positif. Nah coba sekarang ditentukan persamaanya untuk W piye?” 1

  38. (Menit 21) Pertemuan 3

  Guru melingkari persamaan yang merupakan konsep yang Guru F harus dipahami oleh siswa. SMA B Guru: sekarang persamaan 2 (benda 2) konsep yang utama ini lho (menunjukkan dan melingkarinya) T =2T kemudian

2

1 a nya berapanya a ...setengah a 2 1 1

  57

Tabel 3.5 Metode yang digunakan oleh guru

  Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

3. Metode yang

  1. Pertemuan I (Rabu,22 Juli 2009) Pertemuan 1 digunakan oleh guru Pada pertemuan pertama guru menggunakan metode ceramah Menit 00:11 untuk menyampaikan siswa aktif dan metode demonstrasi untuk menjelaskan materi Guru M materi pembelajaran. gelombang stasioner. Pada saat guru melakukan demonstrasi, SMA A guru juga menggunakan metode ceramah siswa aktif. Guru menjelaskan sambil memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa berdasarkan demonstrasi yang dilakukan.. Guru juga memberikan latihan soal, siswa diminta untuk mengerjakan soal secara berkelompok (diskusi kelompok). Kemudian guru meminta salah siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis kemudian membahasnya bersama-sama. Pada menit ke 24, guru mengajak siswa untuk bersama-sama merumuskan persamaan untuk gelombang stasioner ujung tetap.

  G :”Sama...Jadi..gelombang yang frekuensi dan amplitudonya sama, arahnya berlawanan akan terbentuk gelombang stasioner. Ini faktanya, ini kenyataannya..nah sekarang kita harus membuat persamaannya Guru menjelaskan sambil menunjuk pada gambar, sehingga siswa tahu dan paham apa yang sedang dibahas dan bagaimana merumuskan persamaan gelombang stasioner ujung terikat atau ujung diam. Pada saat merumuskan persamaan, guru melibatkan siswa dengan cara berdiskusi dengan siswa. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan pancingan.

  58

  59 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  3. Metode yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pembelajaran.

  2. Pertemuan 2 (Kamis, 23 Juli 2009) Pertemuan kedua, guru menunjukkan konsep gejala gelombang dengan metode demonstrasi yaitu mengenai pemantulan dan pembiasan. Saatmelalukan demonstrasiguru juga menggunakan metode ceramah siswa aktif. Sehingga terjadi komunikasi antara guru dan siswa saat guru menjelaskan konsep.

  Guru :”Pembiasan, apa yang kamu lihat?bedanya? Siswa :”Bengkong..” Guru :”Kalau bengkong itu tandanya apa?yang berbeda?Ingat ini tadi gelombang datar rahnya ke mana bergeraknya?ke sana ya?Gelombang biasnya yang mana?arahnya kemana?yang ini..arahnya kemana? Lurus ke sana juga...sehingga kalau gelombang melewati medium yang berbeda maka akan... membelok.Atau dengan kata lain...membias. Bagaimana dengan panjang gelombangnya?Panjang gelombang tadi apa? Muka gelombang ke muka gelombang yang berdekatan. Kita lihat, ini yang putih, di kertas putih ini.... Siswa :” Lebih rape t..” Setelah demonstrasi selesai, guru mengadakan kuis. Kuis tersebut bersifat mendadak dan diadakan selama 15 menit.

  Pertemuan 2 Menit 61:25) Guru M SMA A Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

3. Metode yang

  3. Pertemuan 3 (Sabtu 25, Juli 2009) Pertemuan 3 digunakan oleh guru Guru menggunakan metode ceramah siswa aktif. Guru Guru M untuk menyampaikan memberikan pertanyaan-pertanyan di sela-sela penjelasannya. SMA A materi pembelajaran. Guru :”Ya..muka gelombang kemarin kita lihat ada muka gelombang datar. Kalo kita gambar seperti apa?Ya..kita gambar muka gelombang datar (sambil menggambar muka gelombang datar) ,kemarin ya..ini muka gelombang datar. Nah antara muka gelombang yang satu dengan yang lain, itu namanya apa kemarin? Dari sini ke sini?tempat-tempat yang fasenya sama namanya apa?Panjangnya berapa lamda?

  Siswa :”Satu ..” Selain itu guru juga menjelaskan dengan menulis dan menggambarkan konsep yang dibahas.

  4. Pertemuan 1 (24 Juli 2009) Pertemuan 1 Guru menggunakan metode ceramah siswa aktif. Guru Guru F melakukan diskusi kelas dan meminta beberapa siswa SMA B mengerjakan soal di papan tulis. Guru juga menggunakan metode demonstrasi sederhana dengan menggunakan meja dan tas untuk menjelaskan konsep yang guru sampaikan.

  G : saya praktekan ya,meja ini punya pertahanan maksimum,kalau sekarang saya tarik,aku wis narik le(sambil menunjukkan tangannya)tanganku wis kaku,wis methekol(siswa tertawa)nah tapi mejanya sudah bergerak apa belum? S : belum G : pertayaan saya,berapa gaya gesek yang bekerja saat ini. S ; sebesar tarikanya

  60 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  3. Metode yang

  5. Pertemuan 2 Pertemuan 2 digunakan oleh guru Pada pertemuan 2, guru memberikan latihan soal mengenai Guru F untuk menyampaikan materi yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya. Dan SMA B materi pembelajaran. bersama-sama (diskusi kelas) Selanjutnya guru melanjutkan materi dengan metode ceramah siswa aktif dan sering menggambar untuk menjelaskan konsep. Guru melibatkan siswa dengan melakukan tanya jawab dengan siswa (diskusi kelas).

  G:”Jadi koefisien gesek statis lebih besar dari pada kinetis, jika benda ditarik F 1

   15 N kekanan, kemana arah gaya geseknya?” S: “Berlawanan dengan F .” 1 G:” kalau F nya 15 N padahal F 1 gsmax

  

30N kita bisa

menyimpulkan gimana?” S: “Benda diam…”

  6. Pertemuan 3 Pertemuan 3 Guru menggunakan metode ceramah siswa aktif. Terjadi Guru F diskusi kelas dimana guru dan siswa saling berinteraksi tanya SMA B jawab mengenai materi.

  G : “Apa yang dapat kamu simpulkan?” S : (salah satu siswa) “Tnya sama bu..” G : “T =2T terus, apa lagi?” 1 2 S : “a =2a ” 1 2 Pada saat menjelaskan konsep guru menggambar untuk memperjelas penjelasan.

  7. Pertemuan 4 Pertemuan 4 Guru menggunakan metode praktikum. Siswa diminta Guru F melakukan pratikum untuk menentukan koefisien gesek SMA B sebuah benda. Guru menyediakan petunjuk pratikum.

  Selanjutnya siswa sendiri yang melakukan pratikum, guru hanya mendampingi.

  61

Tabel 3.5 Media yang digunakan oleh guru

  Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

4. Media pendukung

  1. Pertemuan 1 (Rabu,22 Juli 2009) Pertemuan 1 Guru M yang digunakan oleh Guru menggunakan media konvensional yaitu whiteboard dan SMA A spidol. Guru memanfaatkan media ini untuk membahas soal guru saat menjelaskan latihan yaitu dengan meminta beberapa siswa untuk materi. mengerjakan soal di papan tulis. Selain itu guru menggunakan media ini untuk menggambar bentuk gelombang yang dihasilkan pada oleh alat peraga. Kemudian untuk merumuskan dan menuliskan persamaan yang berlaku pada gelombang stasoiner ujung tetap atau terikat. Media lain yang digunakan oleh guru adalah alat peraga Melde untuk menunjukkan dan menjelaskan bagaimana terbentuk gelombang stasioner ujung tetap.

  2. Petemuan 2 (Kamis, 23 Juli 2009) Pertemuan 2 Guru tetap menggunakan media konvensional berupa Guru F whiteboard dan spidol. Guru menggunakan media ini untuk SMA A membahas pekerjaan rumah (PR). Guru meminta beberapa siswa untuk menuliskan hasil pekerjaan mereka dipapan tulis kemudian dibahas bersama-sama. Media lain yang digunakan untuk demonstrasi saat menunjukkan gejala gelombang adalah seperangat alat yang disebut ripletank (pembangkit gelombang). Guru memperagakan cara kerja ripletank (siswa mengelilingi ripletank). Saat menjelaskan guru menggunakan laser pointer untuk menunjuk dan menjelaskan bagian-bagian dari Ripletank. Guru menggunakan ripletank ini untuk menjelaskan muka gelombang datar,melingkar dan bagaimana terjadinya pembiasan, dan pemantulan gelombang.

  62 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

4. Media pendukung

  3. Pertemuan 3 (Sabtu 25, Juli 2009) Pertemuan 3 Guru M yang digunakan oleh Guru menggunakan media konvensional yaitu whiteboard, SMA A spidol, dan penggaris kayu. Guru menggunakan media ini guru saat menjelaskan untuk mereview materi yang telah dibahas, menuliskan materi. konsep-konsep yang telah dibahas dan konsep yang akan dibahas. Selanjutnya guru menggunakan media ini untuk menjelaskan konsep tentang gejala-gejala gelombang. Guru menggambar muka datar dan muka gelombang melingkar di papan tulis (whiteboard). Selanjutnya guru menggambarkan terjadinya pemantulan, pembiasan dan difraksi gelombang.

4. Pertemuan 1

  Pertemuan 1 Guru F Guru menggunakan media konvensional yaitu, blackboard dan SMA B kapur. Guru menggunakan media ini saat mereview materi yaitu untuk menuliskan persamaan-persamaan dan rumus- rumus yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Media ini juga digunakan guru untuk menggambar arah gaya gesek yang bekerja pada suatu benda. Siswa diajak untuk menganalisis arah gaya gesek dan gaya-gaya lain yang bekerja pada sebuah benda yang digambar oleh guru. Guru menggunakan media papan tulis dan kapur untuk memberikan soal latihan yang kemudian dibahas bersama-sama. Selain itu guru menggunakan tas dan meja sebagai media demostrasi sederhana, untuk membantu kesulitan siswa dalam memahami konsep.

  63 Kategori data No. Contoh Transkrip Data Data Video Cuplikan Data Video

  4. Media pendukung

  5. Pertemuan 2 Pertemuan 2 Guru F yang digunakan oleh Media yang digunakan adalah media konvensional yaitu, SMA B blackboard dan kapur. Guru menggunakan media tersebut guru saat menjelaskan untuk membahas soal latihan. Guru menuliskan soal latihan di materi. papan tulis kemudian membahasnya bersama-sama dengan siswa. Guru juga menggunakan media tersebutr untuk menggambarkan keadaan benda pada soal yanfg sedang dibahas. Selanjutnya dengan media yang sama guru meminta salah satu siswa untuk mengerjakan soal berikutnya di papan tulis.

  6. Pertemuan 3 Pertemuan 3 Guru F

  Guru menggunakan media konvesional yaitu, blackboard dan SMA B kapur untuk menuliskan persamaan dan menggambar untuk menjelaskan konsep

  7. Pertemuan 4 Pertemuan 4 Guru F

  Guru menggunakan media seperangkat alat percobaan untuk SMA B menentukan koefisien gesek benda yang terdiri dari ticker timer, kertas pita, kereta dinamika,beban, balok. Siswa diminta untuk melakukan percobaan secara berkelompok untuk menentukan koefisien gesek benda. Siswa melakukan percobaan berdasarkan petunjuk praktikum.

  64 C. PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk representasi yang digunakan guru saat mengajar. Bentuk representasi yang diamati dilihat dari bagaimana alur penyampaian materi yang digunakan guru, bagaimana guru menyampaikan konsep yang dianggap penting, serta metode dan media yang digunakan guru dalam merepresentasikan bahan ajar. Peneliti tidak terlibat dalam proses pembelajaran atau pun dalam menyiapkan proses pembelajaran.

  Pembelajaran murni disiapkan oleh guru.

1. Alur Penyampaian Materi

  Guru Fisika harus dapat mengorganisasi pengajaran fisika. Guru fisika harus mengerti cara mengajarkan bahan pengajaran, memilih evaluasi dan latihan yang akan diberikan kepada siswa selama proses pembelajaran. Termasuk merencanakan berapa waktu yang digunakan dan tugas yang akan diberikan kepada siswa (Paul Suparno, 2007). Alur penyampaian materi merupakan runtutan penyampaian materi.

  Dalam penelitian ini, alur penyampaian materi dilihat dari bagaimana alur penjelasan materi apakah berawal dari hal yang abstrak menuju hal yang konkrit atau sebaliknya, dilihat apakah penjelasan dimulai dari hal yang sederhana kemudian kompleks atau justru sebaliknya. Alur penyampaian materi juga dilihat dari kapan guru memberikan soal latihan. Dan apakah alur yang digunakan oleh guru sama dengan alur pada buku sumber atau tidak. Alur penyampaian materi yang digunakan guru M dari SMA A dan guru F dari SMA B dapat dilihat dalam a.

  Guru M (SMA A) Secara keseluruhan alur penyampaian materi mengenai gelombang stasioner dan gejala gelombang yang digunakan oleh guru M bersifat konkrit- abstrak. Alur penjelasannya juga bersifat sederhana-kompleks. Bersifat konkrit- abstrak karena dalam penyampaian, guru M mengawalinya dengan menghadirkan fakta melalui demonstrasi menggunakan melde. Sebelum memulai penjelasan, guru mereview materi yang telah dibahas sebelumnya.

  

Guru : “Baik..kita sudah mempelajari berbagai macam gelombang.

  Berdasarkan arah getarnya dibagi menjadi gelombang apa dan apa?

Siswa : ”Longitudinal dan transversal” (siswa menjawab serempak)

Guru : “Transversal dan longitudinal. Transversal kalo bagaimana?” Siswa :”Tegak lurus..”(siswa menjawab serempak)

  Dari penggalan transkrip tersebut, guru selalu melibatkan siswa saat mereview materi. Guru melakukan tanya jawab dengan siswa tentang materi yang telah dibahas sebelumnya.

  Pada saat demonstrasi, guru menjelaskan bagian-bagian dari Melde dan cara kerjanya. Selanjutnya guru menunjukkan bagaimana terbentuknya gelombang stasioner ujung terikat atau ujung tetap. Guru meminta siswa untuk menyimpulkan bentuk dari gelombang stasioner ujung terikat dengan meminta dua orang siswa menggambarkan bentuk gelombang yang mereka lihat saat demonstrasi.

  

G :Nah..coba Kitin (menunjuk salah satu siswa) kamu gambarkan ke depan apa

yang kamu lihat?Silahkan dicoba...Apa yang dilihat...Ya..bayanganmu seperti apa? Gambar saja..lalu yang kamu lihat seperti apa?Ya..betul seperti itu??coba yang lain? Siapa..?Yang lain yang punya pendapat lain?Marla coba...(menunjuk siswa lain) Coba digambarkan..yang kamu lihat itu seperti

Gambar 3.1 Dua orang siswa sedang menggambar bentuk gelombang stasioner ujung tetap.

  matematik siapa? Siswa :”Lulu..”

  1

  2

  2 t ω  sin

  1

  2

  Y = A [sin ( t ω + kx ) - A sin ( t ω - kx )] Y = 2A cos

  2 ω + t kx ) - A sin ( t ω - kx ).

  Y = A sin (

  1 + y

  Superposisi (jumlah) persamaan gelombang stasioner ujung tetap: Y = y

  Penggalan traskrip menunjukkan guru melibatkan siswa secara langsung untuk memformulasikan persamaan dengan meminta siswa salah satu siswa yang dianggap sebagai ahli matematik maju untuk merumuskannya.

  π nya ilang persamaannya menjadi apa? Ahli

  Dari demostrasi tersebut, siswa diajak merumuskan persamaan yang berlaku untuk gelombang stasioner ujung tetap. Guru melibatkan siswa saat merumuskan persaamaan.

  apa? Supaya

  π boleh ditulis sama dengan

  tanpa matematika gelap gulita ya…Kita perlu bantuan matematika ya..Sekarang y

2 t ω = A sin ( - kx ))+

  π atau 180, maka disini plesπ . Kita tahu bahwa fisika

  Tetapi dalam peristiwa pemantulan gelombang, berlaku, kalau ini ujung tetap, atau ujung terikat itu gelombangnya memantul sebesar

  kx )).

  ω = A sin ( -

  2 t

  2 sama dengan apa?karena dia merambat ke kanan..berarti y

  ) Gelombang pantulnya yang ke sana ya…kita lihat saja, gelombang pantulnya y

  1 ω t =A sin( +

kx

  Guru :”Kalau ke kiri,kemarin apa ya?” Siswa :”ples...” Guru :”Ples... y

  2 kx Y = 2A sin kx cos Selanjutnya, guru menjelaskan mengenai simpul dan perut.

  

Guru :”Kalo kita perhatikan di sini, talinya tadi satu menjadi seperti itu. Ada

tempat-tempat tertentu disini dengan disini (menunjuk pada tali yang bergetar membentuk gelombang stasioner, kemudian menunjuk pada gambar gelombang pada papan tulis).

Guru :”Kemudian ini dengan ini juga sama. (menunjuk pada gambar). Nah titik

ini, pernah mendengar titik apa?(menunjuk pada tal idan menunggu kalo- kalo ada siswa yang menjawab,namun tidak ada siswa yang menjawab) titik ini namanya simpul (guru menjelaskan,setelah menunggu jawaban siswa). Yang blenduk-blenduk seperti orang hamil, namanya perut (guru

menunjuk pada gelombang yang dihasilkan tali pada alat percobaan)

  

(Kemudian guru menunjuk pada gambar, untuk menunjukkan letak simpul dan

perut. Dan memberi tanda pada gambar untuk membedakan antara simpul dan

perut)

  Selanjutnya, bersama-sama dengan siswa,guru memformulasikan persamaan simpul dan perut.

  Materi dilanjutkan dengan membahas gelombang stasioner ujung bebas. Guru menggambar gelombang stasioner ujung bebas karena untuk gelombang stasioner ujung bebas tidak mungkin untuk didemontrasikan.

  Guru :”Ini tidak bisa dipraktekkan tapi kita gambarkan saja, ujung bebas seperti apa..Ujung bebas itu talinya dibuat logro ya..jadi ini dia bisa... naik turun. Nah ini kita namakan titik asal getaran (guru menggambar gelombang dengan ujung bebas dan memberi keterangan pada gambar)Kemudian disini ujung pemantul atau x = 0 ini gelombang datang y

  1 dan ini gelombang pantul, y

  2 Guru :Agak susah membuat peralatan gelombang stasioner ujung bebas.Tetapi untuk ujung bebas itu ini bebas, jadi bisa bergerak ke atas dan ke bawah (menunjuk pada gambar).

  .

  Berbeda dengan gelombang stasioner ujung tetap, saat merumuskan persamaan Simpul: x = 2n. ¼

  λ Perut : x = 2n+ 1

  λ

  4

  1

  tetapi langsung meminta siswa ntuk merumuskannya. Namun, guru tetap membimbing.

  

Guru :”Ya..karena persamaannya sama saya minta tolong salah satu..siapa

...ahli matematika” (meminta salah seorang siswa untuk maju)

Guru :”Arum ya...silahkan Arum...silahkan maju ke depan (memanggil nama

salah satu siswa untuk maju)

Guru :”Pertama gelombang datangnya, gelombang merambat ke kiri (memberi

petunjuk pada siswa,terutama untuk siswa yang maju)

Guru :”Silahkan ditulis y sama dengan apa.....A sin ω t ...ples atau min?kekiri?

  1 Siswa :” min...(beberapa siswa menjawab) Guru :”Kekiri??

  Persamaan gelombang stasioner ujung bebas Gelombang datang: y

  1 = A sin (ωt+kx)

  Gelombang pantul: y

  2

  = A sin (ωt-kx) Superposisi: Y = y

  1 + y

  2

  = A sin (ωt+kx) + A sin (ωt-kx) = A [ sin (ωt+kx) + sin (ωt-kx)] = 2A sin ½ .2ωt . cos ½ .2kx = 2A sin ωt. cos kx = 2A cos kx . sin ωt

  Y = 2A cos kx . sin ωt Persamaan letak simpul dan letak perut :

  Simpul :

  1 Perut:

  λ x = (2n+1) x = 2n. ¼

  4 λ

  n = 0,1,2,3,..dst

  Setelah materi mengenai gelombang stasioner selesai, guru memberikan soal latihan dan membahasnya bersama-sama. Alur penyampaian materi mengenai gelombang stasioner ujung tetap dan ujung bebas yang digunakan oleh guru dapat dilihat dalam bagan sebagai berikut:

  Demonstrasi untuk menunjukkan bentuk gelombang stasioner ujung tetap Formulasi persamaan gelombang stasioner ujung

  Letak simpul dan perut serta persamaannya Formulasi persamaan gelombang stasioner ujung

  Letak simpul dan perut serta persamaannya

Review materi yang telah di sampaikan

Latihan soal

  Begitu pula dengan materi mengenai gejala-gejala gelombang pada pertemuan kedua, guru menggunakan metode demonstrasi menggunakan ripples gelombang, pembiasan, dan interferensi. Sebelum melakukan demonstrasi, guru mengajak siswa untuk membahas soal-soal yang belum selesai dibahas di pertemuan pertama. Pada saat demonstrasi, guru mula-mula menunjukkan bagaimana terbentuknya muka gelombang datar kemudian muka gelombang melingkar. Selanjutnya guru M menunjukkan terjadinya pemantulan gelombang. Setelah pemantulan gelombang. Guru M menunjukkan terjadinya pembiasan gelombang dan dilanjutkan dengan menunjukkan terjadinya interferensi. Alur penyampaian materi mengenai gejala gelombang oleh guru M, digambarkan dalam bagan sebagai berikut :

  Muka gelombang datar & melingkar Pemantulan gelombang

  Gejala-gejala gelombang Pembiasan gelombang

  Interferensi gelombang Pada pertemuan ketiga, guru M memberikan penjelasan mengenai gejala- gejala gelombang yang telah diselidiki melalui demonstrasi di pertemuan kedua.

  Alur penyampaian materi urut sesuai urutan saat dilakukan demonstrasi pada penjelasannya dimulai dengan menjelaskan tentang muka gelombang datar dan melingkar. Saat menjelaskan muka gelombang guru membuat gambar muka gelombang seperti yang sudah ditunjukkan guru melalui demonstrasi. Guru memulai penjelasan dengan menjelaskan muka gelombang untuk mendasari penjelasan berikutnya yang lebih kompleks, yaitu pemantulan gelombang, pembiasan, dan difraksi. Untuk materi interferensi, guru memberikan sebagai tugas. Penjelasan disampaikan dengan menghadirkan fakta melalui gambar.

  Alur penyampaian materi pada pertemuan kedua dan pertemuan ketiga, berbeda dengan alur penyampaian materi dalam buku sumber. Dalam buku sumber, penjelasan mengenai gejala gelombang dimulai dari dispersi gelombang, pemantulan gelombang, pembiasan gelombang, dilanjutkan dengan difraksi gelombang dan diakhiri dengan interferensi gelombang.

  Alur penyampaian materi yang digunakan guru M disesuaikan dengan silabus yang sudah disusun. Dan waktunya disesuaikan dengan kondisi siswa. Hal ini terungkap dalam wawancara langsung dengan guru M.

  P 1 : ”Kemudian dalam penyampaian bahan ajar, apakah selalu urut sesuai dengan silabus yang bapak susun atau sesuai kondisi waktu dan sebagainya?”

G :”Nek perencanaannya sesuai RPP tho? Tapi dalam waktunya itu yo

tergantung dengan kondisi, tapi secara umum memang sudah ada patokannya mengajarkannya ini dulu baru itu, ya itu sudah ada. Jadi ya itu RPP dan silabus itu. Dan itu biasanya juga nggak selalu sama dengan buku ya urutannya, yang jelas misalnya, yang bagus tu ini dulu, baru ini... ini..Kalau seperti yang gelombang stasioner itu kan berbeda, ada yang ngambil gelombang datang dari kiri, saya ngambilnya dari kanan trus balik ke kiri. Ya itu nyoba sendiri, persamaannya supaya cocok.

  Untuk materi gelombang stasioner dan gejala gelombang alur disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Namun dalam penyampaiannya guru M menggunakan cara yang berbeda dengan buku sesuai dengan kondisi siswa yng mempunyai kemampuan yang bervariasi.

  Dalam buku sumber materi gelombang stasioner diawali dengan penjelasan singkat mengenai prinsip superposisi kemudian masuk ke dalam formulasi gelombang stasioner ujung tetap, letak simpul dan perut serta contoh soal. Alur penyampaian materi mengenai gelombang stasioner ujung tetap dalam buku sumber dapat dilihat dalam bagan di bawah ini:

  Gelombang stasioner Formulasi persamaan gelombang stasioner ujung tetap Letak simpul dan perut serta persamaannya

  Contoh soal

  Penyampaian materi kemudian dilanjutkan dengan gelombang stasioner ujung bebas, alur penyampaiannya dalam buku sumber dapat dilihat dalam bagan

  Formulasi persamaan gelombang stasioner

  sebagai berikut :

  ujung bebas Letak simpul dan perut serta persamaannya

Contoh soal Terdapat hal menarik saat guru menjelaskan materi gelombang stasioner. Dalam buku sumber yang digunakan oleh guru, gelombang bergerak dari kiri ke kanan. Namun, guru menggambarkan gelombang bergerak dari kanan ke kiri. Hal tersebut dilakukan oleh guru agar siswa tidak bingung. Tindakan guru ini, mencerminkan bahwa guru mengerti letak kesulitan siswa dalam memahami materi sehingga berusaha untuk menyajikan materi agar mudah diterima oleh siswa. Tindakan guru ini diperkuat melalui penyataan dalam wawancara.

  G : ”Padahal kan saya sudah membuat gelombang itu dari kanan merambat ke kiri dengan harapan x itu selalu positif .Jadi pada jarak x sama dengan kan positif, wong nol nya disini, gelombang merambat ke kanan kan x nya disini. Kalau merambat ke kanan kan ujung pantulnya x nya sini lho kok ga negatif? Itu kan lebih susah Jadi saya membayangkannya begitu. Dibuku juga jarang yang menggunakan kebalikkannya kayaknya, banyak yang ke kanan semua”

Gambar 3.2 Guur membuat gambar gelombang merambat dari kanan ke kiri.

  Selain dari gerakan gelombang yang berbeda dengan buku, guru juga menggunakan penerapan rumus yang berbeda dengan buku.Persamaan tersebut adalah persamaan umum untuk gelombang. Di dalam buku persamaannya ditulis dalam bentuk : v = λf Hal tersebut dilakukan oleh guru dengan pertimbangan, agar siswa tidak sulit untuk mengingatnya.

  P

  1 P : ”Kemudian dalam menyampaikan rumus ya..kalau dulu kami sendiri memandang kalau fisika itu menghafalkan rumus, apakah bapak punya

cara khusus dalam menyampaikan rumus, seperti jurus-jurus jitu..”

  2 G :”Ya pada rumus-rumus tertentu bisa, tapi kalau untuk yang terlalu panjang atau yang lain yang mudah itu kemarin kalau gak salah yang v = : ”Biar siswa tidak selalu menghafal..”

  λ f . Lha itu kan ya agak sulit kan menghafalkannya? v = λ f atau apa ini

  f v

  λ

   .Nah kan saya pakai saya pakai tan , , kecepa v periode T Tv = = = λ .

  Tapi saya pakai Tv =

  λ

   biar gampang, Tv itu jadi satu, mereka lebih mudah. Kalau mau f ya berarti Tnya diganti f

  1

  . Tapi dibenak mereka Tv =

  λ . Setelah materi selesai dibahas, guru selalu mereview kembali materi yang telah dibahas. Untuk materi gelombang stasioner, guru menuliskan kembali persamaan-persamaan yang berlaku dan bagaimana bentuk gelombangnya.

Gambar 3.3 Guru mereview materi yang telah dibahas.

  Guru M selalu memberikan soal-soal latihan. Soal-soal tersebut biasanya diberikan setelah materi selesai dibahas. Bentuk soal berupa ketikan yang sudah dibuat oleh guru berdasarkan buku sumber, latihan kumpulan soal atau murni dari pikiran guru.

  P

1 : ”Itu diambil dari buku lain atau mungkin bapak buat murni

sendiri?”.

G : ”Iya atau saya buat murni sendiri atau kadang-kadang dari dokumen

UNAS itu. Buat latihan, paling nggak sudah kulino lah..Dan itu kalau tidak diketik, dicatet, mereka jadi sangat lama. Nyatet satu lembar saja berapa lama?Satu jam pelajaran saja belum tentu selesai mereka, nyatet sambil liat papan tulis..gini-gini...Jadi gurunya harus rela ngetik dulu”.

  Menurut guru M, soal yang sudah disiapkan sebelumnya dalam bentuk ketikan akan lebih menghemat waktu. Siswa tidak perlu menghabiskan waktu untuk mencatat, tetapi langsung mengerjakan soal.

  P

1 : ”Oh iya ini, tadi berkaitan dengan LKS saya mau tanya, kemarin itu

kan bapak menggunakan soal-soal yang sudah diketik kemudian dibagikan kepada siswa. Apakah selalu begitu, atau seringnya begitu, ya Pak?”

  

G :”Yang..kan ada buku teksnya mereka nah dari buku teksnya mereka

untuk awal-awal ini, saya merasa soal-soalnya ini belum..disamping mereka belum punya bukunya, soal-soalnya itu kurang. Nah saya ketik sendiri terus saya bagikan. Nanti kalau untuk materi yang soalnya sudah cukup komplit ya sudah dari buku saja. Tidak selalu tapi kalau melihat materinya itu kok soalnya kurang tidak sesuai dengan gambaran saya, saya mesti ngetik sendiri”

  Berikut contoh soal yang diberikan oleh guru M sebagai soal latihan mengenai gelombang stasioner ujung terikat dan ujung bebas.

  1. Seutas tali horizontal panjangnya 2 m. Salah satu ujungnya digetarkan harmonik naik-turun, sedangkan ujung lainnya terikat. Jika perut ke -7 berjarak 1,35 m dari titik asal getaran, berapa panjang gelombang yang merambat pada tali?

2. Salah satu ujung dari seutas tali yang panjangnya 115 cm digetarkan harmonik naik turun sedang ujung lainnya dibiarkan bebas bergerak.

  a.

  Berapa panjang gelombang yang merambat pada tali jika perut ke-3 berjarak 15 cm dari titik asal getaran? b.

  Di mana letak simpul ke-2 diukur dari titik asal getaran? Jumlah soal yang diberikan biasanya mencapai lebih dari 10 soal. Soal kompleks. Selain memberikan soal latihan, guru M juga memberikan kuis disela- sela jam pelajaran. Kuis diberikan mendadak, tanpa pemberitahuan kepada siswa terlebih dahulu. Biasanya kuis hanya berlangsung selama kurang lebih 15 menit. Siswa diwajibkan mengerjakan sendiri-sendiri. Kuis yang diberikan oleh guru M bersifat closebook dan banyaknya soal tidak lebih dari 5 buah soal.

  P

  1 G :” Ya..” : ”Berkenaan dengan kuis, memang bapak kalau mengadakan kuis itu dadakan gitu ya?”

  P

  1 G : ”Dalam satu semester itu paling tidak 2 kali. Karena memang dalam tagihan kan ada. Tagihan kuis atau pertanyaan lisan atau mungkin di suruh maju itu nanti ada , tugas juga ada, setidaknya 2 kali. Seperti misalnya kalau ulangan, ulangan itu kan mestinya tiap bab, tapi kalau kuis saya itu paling tidak 2 kali. Tugas paling tidak satu atau dua kali.” : ”Sering ya Bapak lakukan?Kuis dadakan seperti itu?”

  P

  1 G :”Saya sudah bilang sejak awal, kalau yang namanya kuis itu pemahaman saya itu adalah tes mendadak yang dikerjakan pada hari itu materinya bahan pada hari itu. Kalau mereka memperhatikan mestinya mereka bisa.” : ”Kalau kuis itu selalu mendadak ya pak?”

  Dilihat dari ketiga pertemuan yang diamati dan soal-soal yang diberiakan oleh guru M, alur penyampaian materi yang digunakan oleh guru M adalah alur yang bersifat konkrit-abstrak, karena diawali dengan mengahadirkan fakta melalui demonstrasi dan gambar baru kemudian dialnjutkan dengan penjelasan teoritis dan persamaan matematisnya. Selain bersifat konkrit-abstrak, alur penyampaian yang digunakan oleh guru M adalah sederhana-kompleks, yaitu dimulai dari hal yang sederhana kemudian dikembangkan pada hal yang lebih kompleks. b.Guru B ( SMA B)

  Alur penyampaian materi yang dipakai oleh guru F hampir sama dengan pasti berbeda dengan materi yang disampaikan oleh guru M karena keduanya memang mengajar level kelas yang berbeda. Guru M mengajar kelas XII sedangkan guru F mengajar kelas XI. Pada saat penelitian ini dilakukan, guru F menyampaikan materi mengenai gaya gesek. Penyampaian materi dimulai dari hal yang sederhana kemudian dikembangkan ke kompleks.

  Penyampaian materi oleh guru F tidak terpaku pada buku sumber, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks siswa. Hal ini terungkap dalam wawancara yang dilakukan pada tanggal 11 September 2009.

  P : “Berkenaan dengan alur yang ibu sampaikan apakah mengikuti buku atau ibu menyusun sendiri?”

G : “Bukan mengikuti buku ya,kita ada kurikulum ada kompetensi,standar

kompetensi,dan indikator dari situ,kan ada kalender akademiknya saya hitung,tingkat kesulitanya ini mana, penekanannya di mana, lalu yang penting, selain konsep harus masuk, yang kedua sesuai tuntutan pasar,ini penting,ini baik,tapi kalau diujian tidak keluar ya gimana?

  Saat menyampaikan materi mengenai gaya gesek, guru F jarang selkali membuka buku referensi atau buku sumber. Dalam wawancara terungkap bahwa, meskipun jarang membuka buku sumber saat menjelaskan materi, sebelumnya guru F tetap menyiapkan materi yang akan diajarkan. Berikut cuplikan hasil wawancara dengan guru :

  

P: ”Selama melakukan pengambilan data,kami tidak pernah melihat ibu

membuka buku saat mengajar”?

G: “Ya kadang membuka juga ya,kalau untuk materinya sih sudah diluar

kepala.itu jeleknya guru tu itu lalu tidak berkembang.tapi bukan berarti saya tidak membaca atau apa ndk,saya tetep apa?malam sebelum pemebelajaran untuk kelas pertama yang saya ajar,saya tetep menyiapakan diri,saya tetep pnya tanggung jawab itu sejelek-jeleknya saya,misal hari ini mau masuk

  pertama yang saya ajar,saya tetep nyiapkan dulu,terus nanti misalkan dikelas itu ada sesuatu yang menurut saya yang masih kurang,tadi saya ngomong disitu kok anaknya banyak yang ndk ngerti,nanti dikelas laen saya akan mencoba lagi,membuka lagi dibagian itu,lalu dikelas laen,sepertinya ada mek up ada revisi,dengan metode laen untuk masuk ke materi yang sama.”

  Dalam menyampaikan materi, tentang gaya gesek suatu benda guru F menggunakan alur seperti halnya diskusi kelompok. Guru F mengawali pembahasan dengan memberikan kasus atau masalah sederhana, kemudian siswa diajak untuk menganalisis. Sehingga penyampaian materi tidak terjadi secara langsung melainkan tersirat melalui kasus atau soal latihan yang diberikan oleh guru F.

  G : “Setiap keadaan kita akan menyelidiki dahulu,bendanya masih diam atau bergerak,kita lihat pada diagram bebas gaya,ini ada suatu benda

terletak pada suatu bidang datar (guru menggambar di papan

tulis),dilihat ada gaya apa saja disitu?”

  Dari penggalan transkrip data dia atas, terlihat bahwa guru tidak langsung menjelaskan, melainkan siswa diminta untuk menganalisis dan membuat kesimpulan berdasarkan masalah atau soal yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu guru F selalu memberikan soal-soal latihan, selain untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai materi yang telah disampaikan, juga untuk menyampaikan materi yang lebih kompleks melalui soal yang juga bersifat kompleks. Berikut contoh soal yang diberikan oleh guru F. Biasanya guru F membuat soal secara spontan tanpa melihat buku. Dari soal tersebut siswa langsung diminta untuk menganalisis. Contoh soal yang di buat oleh guru F: Soal: Misalkan di ketahui masa bendanya 10 kg,kemudian percepatan gravitasinya 10 m/s2,koefisien gesek statisnya 0.2,ditarik gaya F

  1 =50N,coba diselidiki bendanya

  sudah bergerak atau belum? Untuk konsep gaya gesek pada benda yang dihubungkan dengan tali, guru

  F menyampaikannya dengan membuat gambar dua benda yang dihubungkan dengan tali,. Kemudian siswa dininta nuntuk menganalisis gaya-gaya yang bekerja pada gambar tersebut. Selanjutnya dari gambar yang sudah dilengkapi dengan keterangan gaya –gaya yang bekerja, guru mengajak siswa untuk menerapkan gaya-gaya tersebut ke dalam Hukum I Newton dan Hukum II Newton. Selanjutnya guru mengajak siswa untuk menerapkannya ke dalam soal dan dibahas bersama-sama.

Gambar 3.4 Guru menjelaskan konsep gaya gesek benda yang dihubungkan dengan tali

  Menenai alur atau pola yang digunakan guru dalam menyampaiakan materi, dapat berbeda anatara satu kelas dengan kelas yang lain. Hal ini tergantung pada kondisi kelas.

  P: ”Jadi pola mengajar ibu disetiap kelas nanti akan berbeda”?

G:”Iya,saya kira ada standarnya ya,tetapikan tetap konteks masing-masing kelas

kan berbeda,nantikan kita bisa merasakan saat kita mengajar misal dikelas ini

yang ribut ada lima dan macam-macam permasalahan,lalu bagaimana kita

  Secara keseluruhan alur yang digunakan oleh guru F untuk menyampaikan materi dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Dalam menyampaikan materi guru memulai dengan hal yang sederhana menuju ke penjelasan yang kompleks. Guru mengembangkan materi melalui soal yang diberikan. Awalnya guru F memberikan penjelasan singkat dengan menghadirkan fakta melalui gambar kemudian dikembangkan melalui soal.

  Guru F sangat jarang memberikan penjelasan secara terbuka. Alur penyampaian materi tentang gaya gesek benda yang digunakan oleh guru F dapat secara garis besar digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:

  Penjelasan singkat dengan menghadirkan fakta melalui gambar

  Menerapkan gaya-gaya yang bekerja ke dalam hukum Newton

  Latihan soal

2. Menyampaikan Konsep Penting

  Kategori kedua yang digunakan untuk melihat representasi materi pembelajaran yang digunakan oleh guru yaitu, bagaimana cara guru dalam cara yang beragam untuk menyampaikan konsep yang dianggap penting. Dalam tabel data kedua dapat dilihat cara yang digunakan oleh guru M dan guru F untuk menyampaikan konsep yang dianggap penting. Data mengenai penyampaian konsep yang dianggap penting dapat di lihat pada tabel 3.4 a.

  Guru M ( SMA A ) Dari hasil penelitian, ada beberapa cara yang digunakan oleh guru M dalam menyampaikan konsep yang dianggap penting. Pada pertemuan pertama, konsep penting yang disampaikan oleh guru adalah pengertian mengenai konsep gelombang stasioner ujung tetap atau terikat. Guru lanngsung menyimpulkan konsep gelombang stasioner berdasarkan demonstrasi yang telah dilakukan.

  

G :”Pada saat yang sama...apa yang terjadi?ya ditunjukkan seperti

ini...gelombang yang terjadi karena gelombang datang, terus ada gelombang yang dipantulkan...pada saat yang sama dijumlahkan atau berinterferensi. Nah itulah namanya gelombang Stasioner atau gelombang henti, atau gelombang diam. Maka kelihatannya ini diam yang menunjukan

kira-kira fungsi apa ini?. Jadi gelombang stasioner itu tadi apa??Hasil

perpaduan antara gelombang yang datang dan gelombang yang

dipantulkan. Tetapi apakah cukup begitu??Bagaimana dengan gelombang pantul?Arahnya bagaimana?” Cara lain yang digunakan oleh guru M untuk menyampaikan konsep yang

penting adalah dengan mengkotaki konsep tesebut. Misalnya saat membahas

persamaan untuk gelombang stasioner ujung tetap. Guru mengkotaki persamaan

umum untuk gelombang stasioner ujung terikat atau ujung tetap. Sebelumnya,

guru M bersama dengan siswa memformulasikan persamaan umum untuk

gelombang stasioner ujung tetap yang merupakan superposisi dari persamaan

gelombang datang dan gelombang pantul.

Gambar 3.5 Guru memberi kotak pada persamaan

  Selain kedua cara tersebut, guru M menggambar untuk menyampaikan konsep penting. Gambar yang dibuat dilengkapi dengan simbol-simbol dan keterangan yang ditulis menggunakan spidol dengan warna yang berbeda.

Gambar 3.6 Gambar pemantulan gelombang

  Guru M juga mengulangi penjelasan pada konsep-konsep yang dianggap penting dan harus dipahami oleh siswa. Hal ini terungkap dalam wawancara langsung dengan guru M.

  P

1 : ”Ada satu bagian dimana bapak itu mengulang penjelasan. Jadi, bapak

sudah menjelaskan kemudian belum ada siswa yang bertanya tapi bapak sudah langsung mengulang penjelasan. Apakah memang bapak merasa siswa masih kesulitan atau bagaimana Pak?”

  

G :”Maksudnya biar mereka benar-benar paham betul dan kan tidak semua

yang saya ulang, agak ditekankan pada bagian-bagian tertentu. Kadang- kadang yang ada hubungan dengan yang lain itu yang saya tekankan betul-betul dan dari saya membaca buku alur yang harus ditekankan ya di situ itu..”.

  Selain dengan pengulangan atau penegasan, guru M juga menggunakan gerakan tubuh dalam menjelaskan konsep. Seperti gerakan tangan yang naik turun

  

( ke atas dan ke bawah) untuk memberikan ilustrasi bagi siswa tentang gerakan

gelombang. Untuk memudahkan siswa, konsep yang dianggap penting oleh guru

disampaikan dengan bahasa sehari-hari agar mudah diterima siswa. Seperti

terlihat dalam cuplikan trankrip data berikut.

  

G :”Kemudian ini dengan ini juga sama. (menunjuk pada gambar). Nah

titik ini,pernah mendengar titik apa?(menunjuk pada tali dan menunggu kalo-kalo ada siswa yang menjawab,namun tidak ada siswa yang menjawab) titik ini namanya simpul (guru menjelaskan,setelah menunggu jawaban siswa). Yang mblenduk-mblenduk seperti orang hamil, namanya perut (guru menunjuk pada gelombang yang dihasilkan tali pada alat percobaan) G :”Ini tidak bisa dipraktekkan tapi kita gambarkan saja, ujung bebas seperti apa..Ujung bebas itu talinya dibuat logro ya..jadi ini dia bisa... naik turun. Nah ini kita namakan titik asal getaran (guru menggambar gelombang dengan ujung bebas dan memberi keterangan pada gambar)

Kemudian disini ujung pemantul atau x = 0 ini gelombang datang y

1 dan ini gelombang pantul, y

  2 .” Pada dua cuplikan traskrip data tersebut, guru M menggunakan bahasa daerah

sehari-hari yaitu mblenduk dan logro utuk memudahkan siswa memahami maksud

dari konsep yang sedang dijelaskan. Guru M juga menggunkan gerakan tangan

untuk memudahkan siswa memahami konsep penting yang disampaiakan oleh

guru. Guru M juga sering memberikan cara mudah untuk memahami konsep atau

untuk mengingat konsep .

  G :”Dengan mudah, letak perutnya mestinya apa?apa?sekarang letak perut terhadap ujung pemantul.x nya sama dengan nol ya...perut pertama kan nol, perut kedua?setengah lamda ya, ketiga 1 lamda, dst... x = 2n kali ¼ lamda.Tinggal dibolak-balik saja kalo yang tadi jadi simpul sekarang jadi perut. Selain cara mudah untuk mengingat letak simpul dan letak perut terhadap

ujung pemantul, guru M juga memberikan cara mudah untuk meningat

persamaan.

  G :”Ujung tetap.Kalo ini cos kx?Ditambahi ini jadi apa?ujung

  ω

  bebas.Dilihat sin atau cos kx?ini mesti apa?tinggal t (menunjuk pada persamaan). Kalo depan sudah sin belakang cos, kalo depan sudah cos belakang mesti sin. Nggak mungkin cos cos atau sin sin ya.

  

Secara keseluruhan, cara yang digunakan oleh guru M untuk menyampaikan

konsep penting sangat bervariasi. Yaitu, dengan cara memeberikan penjelasan

mengenai konsep penting secara langsung, memberikan penegasan pada konsep-

konsep penting, memberi kotak pada persamaan atau rumus, memberi tanda atau

simbol menggunakan spidol dengan warna yang berbeda. Selain itu guru M juga

menggunakan bahasa daerah dan gerakan tangan untuk memudahkan siswa

memahami konsep dan memberikan cara mudah untuk mengerti dan mengingat

konsep yang telah diajarkan.

  b.

  Guru F ( SMA B) Ada beberapa cara yang digunakan oleh guru F untuk menyampaikan konsep yang dianggap penting. Guru F selalu mengkotaki persamaan atau rumus yang beliau tulis. Tujuannya agar siswa mudah dalam mempelajari dan mengingat. Siswa juga melakukan hal yang sama dalam membuat catatan. Guru juga membuat gambar yang dilengkapi dengan simbol-simbol yang berlaku untuk menjelaskan konsep-konsep penting, sehingga siswa paham betul mengenai konsep yang sedang dibahas.

Gambar 3.7 Guru memberi kotak pada persaamaan dan memberi keterangan pada gambar

  Selain itu, guru F selalu memberikan penegasan untuk konsep-konsep yang dianggap penting.

  Guru : “Sebesar tarikannya,dia (meja,sambil memukul meja) akan bergerak kalau melebihi gaya gesek maksimumnya,nah konsep ini (dengan

suara keras dan mantap guru menegaskan) yang sering kali menjebak

kita…

  Dari penggalan transkrip data di atas, guru menggunakan suara yang keras dan mantap untuk memberikan penegasan pada konsep yang dianggap penting. Selain dengan suara yang keras dan tegas, guru juga memberikan contoh langsung dengan menarik meja untuk memberikan contoh gaya gesek suatu benda. Guru F juga menyampaikan konsep penting berdasarkan contoh soal, dalam hal ini konsep yang disampaikan adalah tentang gaya gesek sebuah benda.

  

G : “Sudah bergerak (mengulangi jawaban siswa),siapa yang belum jelas? jadi F

gesek statis maksimumnya pertahanan maksimum dia supaya bergerak,

kalau itu dilampaui baru bendanya akan bergerak, kalau belum ya tarikan

itu besarnya sama dengan gaya gesek, kalau dia sudah bergerak boleh kah

kita menggunakan gaya gesek statis?

  Menit selanjutnya guru F menyampaikan konsep penting mengenai gaya gesek dua benda yang dihubungkan dengan tali. Pada awal penjelasan guru mennggambarkan sebuah keadaan dua benda yang dihubungkan dengan tali. Gambar yang dibuat guru dapat dilihat di bawah ini :

Gambar 3.8 Guru menggambar keadaan dua benda dihubungkan dengan tali

  Setelah membuat gambar dua benda yang dihubungkan dengan tali, guru meminta siswa untuk menentukan diagram bebas gayanya. Guru bertanya tentang gaya normal tetapi siswa masih kebingungan mengenai konsep gaya normal. Guru mengingatkan kembali tentang konsep gaya normal.

  G : (bertanya kepda seluruh siswa) M = W, konsep gaya normal piye,masih ada yang ingat? S : tegak lurus,tegak lurus lintasan.. G : tegak lurus?gaya normal hanya dimiliki oleh apa sih?oleh benda yang..(memancing siswa) terletak S : pada bidang G : terletak pada suatu bidang,atau pada benda lain.. sedang M

  2 disitu gimana?(pertayaan keseluruh siswa) S : (salah satu siswa menjawab) melayang.

  G : kok melayang (guru mejawab sambil tertawa kecil dan siswa tertawa) S : menggantung..

  G : normal hanya dimiliki kalau bendanya terletak..ya kan (menegaskan) bagaimana cara menggambarnya dijawab dulu syarat tegak lurus bidang, titik tangkapnya pada bidang (saat guru berbicara guru berada ditengah-tengah siswa,

  Dari penggalan transkrip tersebut, terlihat bahwa konsep penting yang disampaikan oleh guru F adalah tentang konsep gaya normal. Guru F mengulangi konsep gaya normal dengan memberikan penegasan berulang-ulang. Guru menemukan siswa masih kebingungan mengenai konsep gaya normal sehingga konsep gaya normal secara langsung melainkan dengan pertanyaan pancingan. Pada menit 22:24, guru kembali mengulang tentang konsep gaya normal.

  

G : “Kalau..(sambil menunjukkan gambar) mejanya sampai bawah,ada gaya apa

lagi?” S : “Gaya gesek..” G : “Gaya gesek,kemana arah gaya geseknya..?” S :” Ke atas..” G : “Lalu gaya apa lagi..?” S : “Normal..?” G : “Kemana gaya normalny?” S : “Ke kanan..”

  G: “Konsep gaya normal?” S:”Tegak lurus bidang..”

  Konsep penting lainnya yang diberikan oleh guru, adalah ketika guru akan mengajak siswa untuk menerapkan Hukum Newton pada gaya-gaya yang bekerja pada benda yang dihubungkan dengan tali.

  

G:” Nah lihat arah geraknya, dulu dikelas X saya sudah mengatakan, gaya yang

searah dengan kecenderungan gerak diberi tanda?” S :”Positif..”

  G: “Yang berlawanan?” S: “Negatif.

  

G:”Gaya yang searah dengan kecenderungan arah gerak benda diberi tanda

positif dan yang berlawanan negatif”.

  Guru dan siswa bersama- sama menerapkan hukum Newton untuk keadaan benda yang dihubungkan dengan tali.

  Yang mempertahankan benda Jika benda sudah bergerak : dalam keadaan diam : Hukum II Newton Hukum I Newton

  = m.a

  x

  ∑F

  ’ ’ y = 0 W 2 -T 2 +T 2 -T 1 +T 1 f g =(m 1 +m 2 )a

  ∑F N

  1 -W 1 = 0 W 2 -f g = (m 1 +m 2 )a

  N

  1 = W

  1 W 2 -µ.N = (m 1 +m 2 )a

  f g = µ.N

  1 a = W

  2 -µ.N

  (m

  1 +m 2 )a

  Guru menegaskan bahwa persaman yang telah diformulasikan bukanlah rumus, karena persamaan tersebut dapat berubah tergantung arah gerak benda.

  G: “Ini rumus?” S:”Bukan..” G:”Bukan rumus, karena apa?kebetulan geraknya kerah W 2 ,kalau geraknya ke

arah benda 1 bisa ndak ini ketarik ke m 1,bisa, wong kowe nimbo wae ember

sing munggah kowe sing kecemplung..”

  Dari penggalan transkrip video di atas, guru menegaskan bahwa persamaan yang diperoleh bukanlah rumus yang sifatnya permanen atau suatu patokan. Hal ini diperjelas dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru F.

  

P :”Dalam video saya melihat bahwa rumus yang ada bukan suatu patokan”?

G :”Ya..makanya justru disitu itu..lalu kemampuan mereka terlihat disitu..dia

tidak menghafalkan bener..dari yang saya terangkan atau jelaskan kemarin 50% itu sudah terekam ke siswa..begitu siswa menghadapi soal dan menganalisis sendiri..masih ada hal lain dia tidak nyangkut..kita bisa membandingkan nilai 59 dengan 100..terlihat hanya salah hitung yang nilai 59”.

  Secara keseluruhan, cara yang digunakan oleh guru F untuk menyampaiakan konsep yang dianggap penting adalah dengan memberi kotak atau melingkari persamaan atau konsep penting, mengulang penjelasan, dan memberikan penegasan. Alasan guru F mengambil tindakan-tindakan tersebut tidak semuanya terungkap dalam wawancara dengan guru.

3. Metode yang digunakan

  Guru fisika hendaknya mampu menguasai berbagai metode pembelajaran untuk membantu mengatasi kesulitan siswa dalam memahami materi pembelajaran. Metode yang dipilih guru sangat mempengaruhi berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Metode yang digunakan oleh guru sangat bervariasi tergantung dari kondisi dan karakteristik siswa serta oleh kondisi sekolah. Data mengenai metode yang digunakan guru dapat dilihat pada tabel 3.5. a.Guru M

  Pada pertemuan pertama proses pembelajaran dilakukan di laboratorium

fisika, guru menggunakan metode ceramah siswa aktif dan metode demonstrasi

untuk menjelaskan materi gelombang stasioner. Pada saat guru melakukan

demonstrasi, guru menjelaskan sambil memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada

siswa berdasarkan demonstrasi yang dilakukan. Sehingga pada saat dilakukan

demonstrasi terjadi diskusi kelas. Guru M memilih metode demonstrasi agar siswa

  mempunyai gambaran yang jelas mengenai materi yang sedang dibahas.

  P

1 : ”Begini pak, untuk materi gelombang stasioner kemarin kan bapak

memilih metode demonstrasi ya pak? Alasannya?alasan memilih metode demonstrasi?” G :”E..gelombang stasioner itu..kalau tidak di demonstrasikan, mereka

tidak bisa membayangkan. Kalau gelombang berjalan masih

memungkinkan seperti slinki atau air, itu gampang ya..Tapi nek simpul perut kan susah. Simpul perut kan harus ditunjukkan”. P 1 : ”Menurut bapak dengan metode demonstrasi itu yang kemarin itu sangat menarik ya pak? Apakah mereka memang lebih dong kalau disampaikan dengan demonstrasi?” G :”Ya, mereka kan di demonstrasi kan tahu..o yang sebenarnya itu seperti itu.

  Mereka tidak hanya teori atau hanya membaca buku saja ,membayangkan itu nggak”.

  Dari hasil wawancara juga terungkap bahwa sebenarnya siswa akan lebih memahami materi jika langsung melakukan percobaan sendiri. Namun, dalam pembelajaran ini guru memilih metode demonstrasi untuk menghemat waktu

  sendiri. Selain itu jam praktikum siswa secara individu sudah diatur di luar jam pelajaran oleh pihak sekolah A. Dalam hal ini terlihat bahwa guru mampu mengorganisir waktu pelajaran dengan baik. Guru telah mampu mengatur dan memperhitungkan jam pelajaran.

  Selain metode demonstrasi, metode lain yang digunakan oleh guru yaitu metode ceramah siswa aktif. Metode ceramah siswa aktif merupakan metode ceramah yang diantara ceramah atau penjelasannya, guru sering bertanya kepada siswa dan siswa diminta berpikir sebentar atau langsung menjawab pertanyaan ini.

  Guru M juga sering melibatkan siswa dalam pembentukan konsep. Dalam menerapkan metode ceramah siswa aktif ini, guru A sering memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkesinambungan di antara penjelasan-penjelasan yang diberikan. Dari wawancara terungkap bahwa guru ingin mengetahui tingkat pemahaman siswa, apakah siswa sudah paham dengan penjelasan yang diberikan dan apakah siswa mengalami miskonsepsi atau tidak.

  

P1 :”Kemudian dalam setiap proses pembelajaran yang kami amati, saat

bapak mengajar. Bapak selalu memberikan umpan kepada siswa, misalnya melontarkan pertanyaan, memberikan pertanyaan, siswa nanti menjawab, bapak langsung tanya lagi...kominikatif sekali itu,apakah ada pertimbangan khusus?bapak mengambil langkah seperti itu?”

G :”Pertimbangan saya, mengecek anak itu tahu atau sekedar tahu...terus

dikejar...Misalkan saya tanya ini sudah selesai ya sudah tho..kebetulan mereka bisa tahu. Kadang kebetulan pas betul kan bisa jadi, maka saya kadang-kadang, tidak selalu tho...kadang-kadang tak telusur terus, kalo salah ya saya telusur terus. Kalo betul,saya telusur terus. Kalo betul ya sudah, kalo salah kan..dilihat, sampai disini kesalahannya. Maksud saya gitu...Tapi tidak selalu. Karena untuk membuat brondongan pertanyaan yang begitu itu sungguh tidak mudah.”

  Selain memberikan pertanyaan pancingan dan pertanyaan lisan, guru M

  materi selesai dibahas. Siswa diminta untuk mengerjakan dan beberapa siswa diminta untuk mengerjakan di papan tulis. Tindakan yang dilakukan oleh guru dilatarbelakangi oleh hal berikut yang terungkap dlam wawancara :

  P 1 :”Kemarin itu di video saya melihat, bapak meminta siswa untuk mengerjakan soal, maju, mengerjakan di depan. Apakah metode itu sudah lama bapak terapkan?” G :”Metode itu saya terapkan sejak era terbit KTSP, nah untuk yang KTSP itu kan yang untuk materinya dikurang, tapi untuk kelas XI dan XII metode itu masih memungkinkan waktunya. Dan untuk model itu relatif lambat, jadi anak yang lain itu relatif mudah menangkap. Daripada saya menerangkan selesai, itu hanya berapa anak yang dong pada saat itu tapi

kalau sambil ada yang maju terus kita memberi tahu itu lebih jelas.

  Ketika ada siswa yang mengerjakan soal dipapan tulis, guru selalu membimbing dan mengoreksi dari belakang. Menurut guru terkadang siswa tidak langsung bisa mengerjakan sendiri sehingga perlu diberi bimbingan. Selain itu dengan memberikan bimbingan saat siswa mengerjakan soal dipapan tulis dapat menghemat waktu. Guru dapat langsung mengkoreksi jika terdapat kesalahan dan bisa langsung dibetulkan. Sehingga tidak perlu mengoreksi pekerjaan siswa tersebut dari awal. Hal tersebut terungkap saat wawancara langsung dengan guru M.

  

P2 : ”Di pembelajaran berikutnya,setiap ada latihan soal, bapak memang

selalu membimbing. Nah yang ingin saya tanyakan kenapa siswa tidak dibiarkan mengerjakan sendiri baru nanti bapak membahasnya setelah siswa itu selesai dan membahasnya bersama-sama. Jadi bapak membahasnya itu pada saat siswa mengerjakan saat itu juga. Jadi begitu siswa selesai ya selesai..begitu pak.”

  

G :”Itu maksud saya supaya anak dapat melihat kalo guru mengerjakan

nanti kalo mereka mau ulangan mereka diberi waktu sendiri dirumah.

  Karena siswa dibiarkan mengerjakan sendiri belum tentu bisa terus guru berkeliling itu waktunya jadi sangat lama sekali jadi kadang-kadang yang mengerjakan gurunya kadang-kadang anak tapi atas bimbingan guru ya...Maksud saya memang terbentur waktu..yang jelas itu alasan b.Guru F Metode yang digunakan oleh guru F adalah metode diskusi kelas dan ceramah siswa aktif. Pada pertemuan pertama, guru melanjutkan penjelasan mengenai konsep gaya gesek. Metode yang digunakan oleh guru F adalah metode ceramah siswa aktif. Sebelum melanjutkan penjelasan, guru memberikan pertanyaan kepada siswa yang sifatnya mengingatkan siswa mengenai konsep yang telah dipelajari.

  Guru : “Pertemuan yang lalu saya bicara tentang gaya gesekan (guru menulis di papan tulis),konsep gaya gesekan kemarin bagaimana?”(guru memberi pertayaan kesemua murid guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab,lalu guru membantu dengan memberi pancingan)

  Guru : “Terbentuk pada?” Siswa : “Dua bidang..” Guru :”Yang kedua terus (guru sambil berkeliling melihat kearah siswa) arahnya?” Siswa : “Berlawanan dengan kencenderungan arah gerak benda.”

  Kemudian guru F memberikan penjelasan yang diawali dengan menghadirkan fakta melalui gambar tentang sebuah benda yang terletak pada suatu bidang atau suatu permukaan. Guru mengajak siswa untuk menganalisis gaya yang bekerja pada benda tersebut.

  Gambar 3. 9 Sebuah benda yang terletak pada suatu bidang Pada menit kelima, guru F mengajak siswa untuk menerapkan hukum Newton pada sebuah benda yang terletak pada suatu bidang yang permukaannya kasar. Benda tersebut diberi gaya F

  1 ke arah kanan. Siswa diminta untuk

  menganalisis menggunakan hukum Newton jika benda berada dalam keadaan diam.

  G : kalau sekarang benda ini saya tarik dengan gaya F 1 kekanan (pada gambar),arahnya bergerak kekanan,bagaimana dengan arah gaya geseknya? S : berlawanan G : ya,berlawanan dengan kecenderungan arah gerak benda(guru

menggambarkan),kalau sekarang seluruh diagram bebas gaya itu kita

terapakan atau masukan dalam hukum newton,yang mempertahankan

benda ini dalam kedaan diam,kita menggunakan persamaan

  ∑F? S : sama dengan nol G : pada sumbu apa? S : x,x..x(jawaban siswa salah dan guru memberi arahan atau pancingan) G : pada sumbu apa yang mempertahankan benda dalam keadaan diam sumbu? S : Y,Y Guru : jadi y = 0 (siswa menjawab bersama2) (diberi kotak)

  ∑F G : persamaanya ini gimana?(guru siwa menjawab bersama hingga menemukan persamaan)

G : sekarang pada sumbu x (guru dan siswa menjawab bersama-sama

dengan mengotaki persamaan =0,guru memberi pertayaan “,ini artinya ∑F x bendanya masih?” S : diam

  Dari penggalan transkrip tersebut, guru ingin membawa siswa untuk menerapkan hukum Newton. Guru melibatkan siswa saat menerapkan hukum Newton. Dari penggalan transkrip data di atas juga tampak bahwa metode yang digunakan oleh guru adalah dengan melibatkan siswa dalam penerapan konsep hukum Newton pada sebuah benda yang berada dalam keadaan diam.

Gambar 3.10 Guru menerapkan Hukum Newton pada benda

  ∑Fy = 0 ∑Fx = 0

  • N-W = 0 +F

  1 -f g = 0

  N = W F

  1 = f g

  Menit selanjutnya, guru melibatkan siswa untuk menerapkan hukum Newton jika benda sudah bergerak.

  G : kalau bendanya sudah begerak, kalau bergerak pada sumbu apa? S: sumbu x G: berarti.. S : x = ma ∑F Guru dan siswa mengerjakan persaman bersama-sama hingga menemukan persamaan x = m.a

  ∑F F -f = m.a

  1 g

  Selanjutnya, guru memberikan soal latihan sederhana dan dibahas bersama- sama. Kemudian guru mengembangkan soal menjadi lebih kompleks. Dari soal yang sederhana kemudian dikembangkan dalam bentuk yang lebih kompleks tersebut guru menyisipkan penjelasan-penjelasan mengenai konsep gaya gesek.

  Jadi pada pertemuan pertama ini, guru tidak langsung memberikan penjelasan penjelasan pada soal-soal yang beliau berikan. Sehingga pada pertemuan pertama ini terjadi diskusi kelas serta terjadi komunikasi antara guru dan siswa. Selain terjadi komunikasi antara guru dan siswa metode yang digunakan oleh guru F ini membawa siswa untuk menyimpulkan konsep yang disampaikan oleh guru.

  

G : Benda ini mendapat gaya luar sebesar 50 N,tetapi gaya gesek maksimum

yang mempertahankan bendanya 20 N,jadi dia sudah bergerak atau belum?

S : sudah! G : karena F

  1 lebih besar dari F gesek statis maksimum,maka kita bisa menyimpulkan,benda sudah bergerak (merumuskan bersama murid, kemudian guru menuliskan di papan tulis. )

  Pada saat membahas soal latihan, terkadang guru meminta beberapa siswa mengerjakan soal di papan tulis. Guru F sering berkeliling kelas, mengecek pekerjaan siswa. Selain itu guru juga mengecek apakah siswa mengalami kesulitan atau tidak dalam mengerjakan soal. Dalam menjelaskan materi pada pertemuan pertama ini, guru F jarang memberikan penjelasan secara terbuka. Sedikit data yang terekam mengenai penjelasan secara langsung oleh guru F. Guru F sering memberikan penjelasan yang diawali oleh soal atau kasus, kemudian siswa diminta untuk menganalisis. Dari soal atau kasus yang diberikan, guru F mengaitkan dengan konsep yang ingin dibangun.

  Pada pertemuan kedua dan ketiga guru membahas soal-soal latihan. Metode yang digunakan oleh guru adalah metode diskusi kelas. Saat membahas soal latihan, guru F sering meminta siswa untuk mengerjakan di papn tulis, bahkan ada beberapa siswa yang berinisiatif untuk mengerjakan di papan tulis tanpa ditunjuk oleh guru. Pada pertemuan kedua, disela-sela pembahasan soal, guru F terkadang

  Menit 08.40

G:”Gaya gesek statis maksimum benda tidak akan bergerak sehingga gaya gesek

saat itu adalah..gaya luar yang diberikan ya kan kemarin saya contohkan menarik meja, mejanya tetap diam padahal sudah saya tarik sampai metekol tapi mejanya masih belum bergerak. berarti gaya gesek saat itu adalah sebesar..gaya yang saya berikan”.

  Menit 10 G:”Konsepnya kemarin begitu sudah melewati gaya gesek statis maksimum otomatis kalau bendanya sudah bergerak menjadi gaya gesek kinetis..siapa yang belum jelas”.

  Pada pertemuan ketiga, guru melanjutkan membahas soal-soal latihan. Metode yang digunakan adalah diskusi kelas. Namun, pada pertemuan ketiga ini, guru F cenderung fokus pada pemahaman siswa per individu. Guru berkeliling untuk mengecek pekerjaan siswa, dan mengecek apakah siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal. Pada pertemuan ketiga ini, guru juga meminta siswa untuk mengerjakan di papan tulis kemudian membahasnya bersama-sama.

  

Gambar 3. 11

Guru mengecek pekerjaan siswa Sedangkan pada pertemuan keempat, guru F menggunakan metode praktikum, sehingga proses pembelajaran dilakukan di laboratorium fisika.

  Metode pratikum yang digunakan oleh guru adalah untuk menyelidiki koefisien gesek statik suatu benda. Pratikum murni dilakukan oleh siswa berdasarkan petunjuk pratikum yang sudah disediakan oleh guru dan guru hanya mendampingi. Dari keempat pertemuan yang diteliti, guru F menggunakan metode yang bervariasi disesuaikan dengan materi dan kondisi karakter siswa yang berbeda. Hal ini terungkap dalam wawancara langsung dengan guru F.

  P :Lalu,karakter siswa kan berbeda,gaya belajar mereka juga bebeda,lalu cara ibu untuk mengatasi hal tersebut? G : Variasi pembelajaran tergantung pokok pembahasannya,t erkadang kita cerita dulu, terus masuk,kadang saya memberikan kesempatan untuk yang mikir matematisnya agak lama gitu, nanti pada saat mengerjakan soal,pada saya saat menerangkan konsep saya anggap semua kemampuanya sama…”

4. Media yang digunakan

  Selain metode yang digunakan oleh guru, faktor lainnya yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah media yang digunakan oleh guru saat menyampaikan materi. Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran,perasaan,perhatian dan kemauan siswa untuk belajar (Miarso,1989 yang dikutip oleh Tim Pengembang Ilmu Pendidikan PIP-UPI).

  a.

  Guru M Secara umum media yang digunakan guru M saat menyampaikan materi adalah media konvensional, yaitu whiteboard dan spidol. Media tersebut membuat gambar gelombang stasioner ujung terikat dan ujung bebas. Guru juga menggunkan penggaris untuk menggambarkan muka gelombang. Selain itu guru M menggunakan media ini untuk menuliskan soal latihan yang dibuat secara spontan.

Gambar 3.13 Guru menggunakan media whiteboard dan spidol untuk menjelaskan materi

  Media lain yang digunakan oleh guru M saat menyampaikan materi atau menjelaskan materi pembelajaran adalah alat peraga. Pada pertemuan pertama, guru M menggunakan media alat peraga Melde. Guru M menggunakan Melde untuk demonstrasi saat menjelaskan gelombang gelombang stasioner ujung terikat atau ujung tetap. Dengan alat peraga melde guru menunjukkan bagaimana terbentuknya gelombang stasioner ujung terikat.

  Sebelum melakukan demonstrasi, guru menjelaskan bagian-bagian dari melde dan menunjukkan cara kerjanya. Setelah guru M menunjukkan bagaimana terbentuknya gelombang stasioner ujung terikat, guru M meminta dua orang siswa untuk menggambarkan bentuk dari gelombang stasioner ujung terikat. Dan meminta siswa lain untuk membandingkan dan menyimpulkan bagaimana bentuk dari gelombang stasioner ujung terikat berdasarkan yang mereka lihat melalui demonstrasi.

  Pada pertemuan kedua, guru M juga menggunakan alat peraga yaitu, lippletank. Ripples tank digunakan guru untuk menunjukkan gejala-gejala gelombang, antara lain seperti pembiasan, pemantulan, dan interferensi. Guru M juga menunjukkan yang dimaksud dengan muka gelombang datar dan muka gelombang melingkar. Selanjutnya, guru M menunjukkan bagaimana terjadinya pemantulan gelombang, pembiasan gelombang dan interferensi. Saat melakukan demonstrasi mengenai gejala-gejala gelombang guru tidak melibatkan siswa secara langsung, guru demonstrasi murni dilakukan oleh guru.

Gambar 3.14 Guru menggunakan media alat peraga Melde dan ripple tank

  Pada pertemuan ketiga guru hanya menggunakan media konvensional, whiteboard, spidol dan penggaris kayu. Guru M menggunakan media tersebut untuk menjelaskan gejala-gejala gelombang secara teoritis. Pertemuan sebelumnya guru M sudah menunjukkan bagaimana terbentuknya gejala-gejala gelombang seperti pembiasan dan pemantulan gelombang melalui demonstrasi. Guru menjelaskan gejala-gejala gelombang secara teoritis. Urutan penyampaiannya sesuai dengan urutan saat demonstrasi pada pertemuan sebelumnya.

  Guru memulai penjelasan mengenai muka gelombang datar dan muka gelombang melingkar. Guru M membuat gambar muka gelombang datar dan muka gelombang melingkar menggunakan spidol dan penggaris.

Gambar 3.15 Guru menggambar muka gelombang datar dan melingkar

  Guru juga menggunakan media yang sama, yaitu whiteboard, spidol dan penggaris untuk melanjutkan penjelasan yang lebih kompleks yaitu pemantulan gelombang. Guru melakukan hal yang sama, yaitu menggambar terjadinya pemantulan dan pembiasan gelombang.

Gambar 3.16 Guru menggambar terjadinya pemantulan dan pembiasan gelombang

  Saat membuat gambar, guru menggunakan dua spidol dengan warna yang berbeda yaitu merah dan biru untuk membrikan keterangan yang jelas kepda siswa sehingga siswa tidak bingung.

Gambar 3.17 Guru menggunakan spidol dengan warna berbeda untuk menggambar

  Dari pengamatan peneliti selama penelitian ini dilakukan, guru terlihat tidak menemui kesulitan ketika menjelaskan dengan harus menggambar. Hal ini pun terungkap melalui wawancara yang dilakukan langsung dengan guru M.

  P : ”Pak, apakah kalau menjelaskan dengan gambar itu ada kesulitan

  1 tertentu pak? Kan harus detail” G :”Kesulitan menggambar ke anaknya sebenarnya yang sulit . Kalau kita harus belajar dulu, terus nyoba dulu. Gambar-gambar juga harus yang komunikatif jadi anak kalau melihat gambar menjadi jelas bukan malah menjadi tidak jelas. Seperti yang sangat sulit kan menggambar pembiasan pada tempat yang dalam atau dangkal itu, nah itu kan cukup susah itu. Nah itu perlu latihan juga. Tapi kalau tidak digambar mereka tidak punya dokumen itu. Harapan kita, kita mencatat itu kan punya dokumen, sehingga kalau di rumah atau dimana, biar dipelajari atau diulang lagi..Prinsipnya itu ya..”

  Dari hasil wawancara terungkap bahwa, gambar yang dibuat oleh guru harus komunikatif sehingga siswa menjadi jelas bukan sebaliknya, menjadi semakin bingung. Hal tersebut juga yang mendasari guru menggunkan spidol dengan

  Hal yang dilakukan oleh guru ini didasari pengetahuannya tentang materi dan bagaimana materi tersebut harus diajarkan. Dari hasil penelitian selama tiga kali pertemuan, media yang digunakan oleh guru M adalah media konvensional berupa whiteboard dan spidol Media lain yang digunakan adalah alat peraga Melde dan rippletank.

  b.

  Guru F

  Media yang digunakan oleh guru F secara keseluruhan hampir sama

dengan media yang digunakan oleh guru M. Media yang digunakan untuk

menjelaskan materi selama penelitian ini dilakukan adalah media konvensional,

yaitu blackboard dan kapur. Guru F menggunakan media tersebut untuk

menjelaskan konsep, menuliskan soal latihan untuk siswa dan untuk membahas

soal latihan. Saat menjelaskan konsep, terkadang guru membuat gambar untuk

memberikan gambaran pada siswa agar lebih jelas. Hal yang sama juga dilakukan

oleh guru M saat membahas soal latihan, guru membuat gambar tentang keadaan

benda pada soal yang ditanyakan.

Gambar 3.18 Guru menggambarkan keadaaan benda saat membahas soal

  Media lain yang digunakan oleh guru adalah benda-benda yang ada

disekitar ruang kelas seperti meja. Guru menggunakan meja untuk memberikan

  

media untuk memberikan ilustrasi mengenai gaya gesek untuk membantu

kesulitan siswa dalam memahami konsep gaya gesek. Hal ini terlihat dalam cuplikan trankrip data sebagai berikut : G : “Saya praktekan ya,meja ini punya pertahanan maksimum,kalau sekarang

saya tarik,aku wis narik le (sambil menunjukkan tangannya) tanganku wis

kaku,wis methekol (siswa tertawa) nah tapi mejanya sudah bergerak apa belum?”

Gambar 3.19 Guru memberi ilustrasi untuk gaya gesek dengan menggunakan meja

  Kemudian, dari pertanyaan tersebut guru mengajak siswa untuk menganalisis gaya gesek yang bekerja pada meja. Selain meja, guru F juga menggunakan

  tasnya untuk menjelaskan konsep tegangan tali.

Gambar 3.20 Guru memberikan ilustrasi tentang tegangan tali menggunakan tas.

  G:” Ini bukan masalah perasaan..ini masalah logika…gimana,kamu kalau menjinjing tali,karena tidak ada tali aku pake tas wae (guru mengambil dan mengangkat tas) berat dari massa ini (tas) kemana?”

  

Dengan media tas, selain untuk memberikan penjelasan yang mudah dipahami

siswa, guru F juga memberikan penegasan, bahwa konsep yang dibangun adalah

berdasarkan logika.

  Secara keseluruhan, dari hasil penelitian yang telah dilakukan selama

empat kali pertemuan, media yang sering digunakan oleh guru F adalah media

konvensional,yaitu blackboard (papan tulis) dan kapur. Guru menggunakan media

tersebut untuk menjelaskan konsep, menggambarkan konsep, dan menuliskan

soal-soal latihan.

BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN Dari hasil penelitian mengenai representasi materi pembelajaran oleh dua

  orang fisika SMA di Yogyakarta, peneliti menyimpulkan : 1.

  Alur pembelajaran yang digunakan Alur penyampaian materi, yaitu urutan penyampaian materi yang digunakan guru. Guru menyampaikan materi sesuai dengan kebutuhan siswa. Alur penyampaian materi yang digunakan oleh guru M adalah alur yang cenderung bersifat konkrit-abstrak. Guru M menghadirkan fakta melalui demonstrasi. Kemudian mengajak siswa untuk menganalisis peristiwa yang ditunjukkan melalui demonstrasi lalu memformulasikan persamaan matematisnya.

  Penyampaian materi yang dilakukan oleh guru M juga bersifat sederhana-kompleks. Penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh guru M dimulai dari hal yang bersifat sederhana lalu dikembangkan ke hal- hal yang lebih kompleks. Pada setiap pertemuan guru M selalu memberikan soal latihan. Soal latihan dimulai dari yang sederhana kemudian soal yang lebih kompleks.

  Alur penyampaian yang digunakan oleh guru F juga cenderung bersifat konkrit–abstrak. Guru F menjelaskan materi dengan memperoleh persamaan. Pembelajaran berlangsung seperti diskusi kelas. Guru F memberikan soal kemudian dibahas bersama-sama. Soal latihan tidak selalu diberikan setelah materi selesai dibahas, tetapi sering juga diberikan di awal materi sebagai penghantar.

  2. Penyampaian konsep yang dianggap penting Cara yang digunakan guru M dan F untuk menyampaikan konsep penting hampir sama. Keduanya selalu mengkotaki persamaan atau rumus. Keduanya juga menjelaskan konsep dengan gambar, simbol atau gambar dibedakan menggunakan spidol atau kapur warna-warni.

  Selain dengan cara tersebut, cara lain yang digunakan oleh guru M adalah dengan gerakan tangan naik turun untuk menjelaskan gerakan gelombang.

  Cara lainnya yang juga digunakan oleh guru M dan guru F adalah dengan memberikan penegasan dan penjelasan berulang-ulang pada konsep yang dianggap penting. Dalam menyampaikan konsep yang dianggap penting, baik guru M maupun guru F tidak langsung memberikan konsep tersebut melainkan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang mengarah terhadap konsep yang dimaksud. Kemudian siswa sendiri yang akhirnya meyimpulkan konsep penting tersebut .

  3. Metode yang digunakan Metode yang digunakan oleh guru M dan guru F adalah metode ceramah yang disela-sela penjelasannya, guru bertanya pada siswa dan siswa langsung menjawab. Selain menggunakan metode ceramah siswa aktif, guru M menggunakan metode demonstrasi untuk menjelaskan gelombang stasioner ujung terikat dan untuk menunjukkan peristiwa gejala-gejala gelombang. Metode yang digunakan guru untuk membahas soal latihan yaitu dengan meminta beberapa siswa mengerjakan di papan tulis kemudian membahasnya bersama-sama.

  Sedangkan metode lain yang digunakan oleh guru F adalah metode diskusi kelas. Guru F memberikan soal latihan yang langsung dibahas bersama-sama dengan siswa. Guru F meminta beberapa siswa mengerjakan di papan tulis, sementara itu, guru F berkeliling mengecek pekerjaan siswa yang lain dan sambil mengecek pemahaman siswa. Suasana kelas sangat hidup, karena saat membahas soal guru benar-benar melibatkan siswa.

4. Media yang digunakan

  Secara umum media yang digunakan guru untuk menyampaikan materi adalah media konvensional. Guru M menggunakan media konvesional berupa whiteboard, dan penggaris kayu. Sedangkan guru F menggunakan media konvensional yaitu, blackboard dan kapur.

  Media lain yang digunakan oleh guru M adalah alat peraga Melde untuk menunjukkan terbentuknya gelombang stasioner ujung terikat dan rippletank untuk menunjukkan terjadinya gejala-gejala gelombang.

  Media lain yang digunakan oleh guru F adalah benda-benda yang ada di ruang kelas, seperti meja. Guru menggunakan meja untuk memberikan ilustrasi atau contoh saat menjelaskan konsep gaya gesek sebuah benda. Benda lain yang digunkan sebagai media untuk menjelaskan konsep adalah tas. Guru F menggunakan tas untuk menjelaskan konsep tegangan tali.

B. SARAN 1.

  Bagi peneliti dan calon guru Peneliti dan calon guru harus terus belajar dan mengembangkan kemampuan mengenai materi pembelajaran dan kemampuan pedagogi.

  Serta kemampuan memadukan kedua keahlian tersebut. Selain itu calon guru harus mempunyai pengetahuan mengenai bentuk-bentuk representasi materi pembelajaran.

2. Bagi para guru

  Para guru hendaknya tidak lekas puas akan hasil pembelajaran yang dicapai melainkan harus senantiasa mengembangkan diri. Terus membekali diri dengan pengetahuan yang selalu berkembang. Menambah pemahaman dan pengetahuannya mengenai bentuk-bentuk representasi materi pembelajaran. Para guru juga harus mengerti dan

3. Bagi peneliti selanjutnya

  Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan penelitian menjadi lebih kompleks. Sebaiknya diungkap pula dalam penelitian selanjutnya pengaruh representasi materi pembelajaran tersebut terhadap hasil belajar siswa. Cukup efektif atau tidak terhadap hasil belajar siswa.

  DAFTAR PUSTAKA Baker,M & Chick, .2006. Pedagogical Content Knowledge for teaching Primary

Mathematics: A case Study of Two Teachers . University of Melbourne.

Baldonado, Ann Marie.1996.Representation. Dalam diakses tanggal 15

  Maret 2010 Budi, Kartika,. 2005. Pelaksanaan Kuliah Listrik Magnet dengan Pendekatan

  Pedagogical Content Knowledge dan Efektivitasnya , dalam Widya Dharma.Vol. 15, No.2, April. Hal 101-104.

  Sarkim, Tarsisius.(2005).Pedagogical Content Knowledge a basic to Reform

  Secondary Physics Teacher Education in Indonesia . Australia: The University of Melbourne.

  Sarkim, Tarsisius.2005.Investigating Pedagogical Content Knowledge of

  

Secondary School Physics Teacher : A Case Study. Yogyakarta:Widya

Dharma,vol.17.No.1,p.1,Oktober.

  Suparno, Paul.2007.Metode Penelitian Pendidkan Fisika.Yogyakarta:Universitas Sanata Dharma. Suparno, Paul.2007. Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktivistik & Menyenangkan . Yogyakarta:Universitas Sanata Dharma. Tim Pengembang Ilmu Pendidikan (FIP-UPI) .2007.Ilmu & Aplikasi

  Pendidikan .Bag.2 Ilmu Pendidikan Praktis. Bandung : PT Imperial Bhakti Utama.

  Tim Pengembang Ilmu Pendidikan (FIP-UPI) .2007.Ilmu & Aplikasi

  Pendidikan .Bag.3 Pendidikan Disiplin Ilmu. Bandung : PT Imperial Bhakti Utama.

  van Driel, Jan H, Nico Verloop & Wobbe de Vos. 1998.Developing Science

  Teachers’Pedagogical Content Knowledge . Journal of research in science

  teaching.vol. 35, no. 6, pp. 673–695 http://www.beasiswapelangi.org/index.php/news/ diakses pada tanggal 12 September 2009. diakses pada tanggal 13

  Lampiran 4 Field Note (catatan lapangan) SMA A

  Field Note merupakan catatan lapangan yang dibuat ketika melakukan observasi. Tujuannya untuk mendokumentasikan data-data yang dipeoreh di lapangan. Observasi Penelitian PCK tanggal 15 Juli 2009 (Tanpa merekam) Materi : Gejala Gelombang Jumlah siswa 33 orang.

  Kelas XII A3 Awal pembelajaran guru menyampaikan silabus (menjelaskan materi)

   Memasuki materi, guru menyampaikan indikator pembelajaran.

   Guru membuat peta konsep mengenai materi yang akan dipelajari pada

   semester ini .

   meminta 2 orang siswa bereksperimen dengan menggunakn slinki, untuk menunjukkan gelombang.

  Saat menjelaskan materi gejala gelombang, guru menggunakan slinki, dan

   memberikan pertanyaan berdasarkan eksperimen tersebut (yang dilakukan siswa) Saat siswa tidak tepat atau kurang tepat dalam melakukan ekperimen guru

  Setelah siswa selesai melakukan eksperimen (demonstrasi), guru

   tidak langsung menyatakan bahwa yang dilakukan salah, tetapi dengan membuat siswa berpikir ulang dengan jawaban yang diberikan. Misal : “Benar?seperti itu?” Pada akhir pelajaran guru melakukan refleksi mengenai materi yang telah

   dipelajari dengan memberikan pertanyaan pada siswa. NB : Jam pelajaran tidak penuh, terpotong kegiatan MOS. Siswa diminta berkenalan dengan siswa kelas X yang baru .

  Observasi II tanggal 16 Juli 2009

  Melanjutkan materi yang kemarin (sebelumnya)/ langsung ke materi 

   Guru terlalu cepat saat menjelaskan, tapi siswa tidak ada yang bertanya.

   Mulai menjelaskan mengenai persamaan-persamaan yang digunakan dalam gelombang stasioner.

   Salah satu siswa maju, guru membimbing.

   Mengerjakan soal-soal latihan mengenai materi ssebelumnya.

   Apersepsi, pembelajaran masih dilakukan di laaboratorium Fisika.

  Penelitian II tanggal 23 Juli 2009

   Saat ada salah satu siswa yang bertanya, tidak dijelaskan ke seluruh siswa, tetapi hanya pada siswa yang bersangkutan.

   Guru tidak hanya di depan kelas, tapi juga berkeliling .

   Guru menjelaskan sambil menuliskan persamaannya di papan tulis, sesekali bertanya pada kelas (keseluruhan siswa)

   Saat siswa ada yang salah, guru bertanya :”Benar?seperti itu?ada pendapat lain?”Kemudian meminta siswa lain untuk maju.

  (berarti sudah jelas ?!)

   Siswa memperhatikan, diminta untuk menggambar bentuk gelombang yang dihasilkan di papan tulis.

   Melakukan demonstrasi dengan alat berupa tali, beban, statip, catu daya.

   Memasuki materi baru, Gelombang Stasioner.

   Kegiatan pembelajaran dilakukan di laboratorium Fisika  Melanjutkan membahas soal latihan, siswa diminta mengerjakan di papantulis.

  Penelitian I tanggal 22 Juli 2009 (dengan handycam)

   Sebelum pelajaran berakhir,guru membagikan soal-soal sebagai bahan evaluasi (lembaran soal, tiap siswa dapat `

   Pengelolaan kelasnya kurang, siswa yang duduk dibelakang, asyik dengan kegiatannya sendiri, ada yang nyanyi-nyanyi.

   Sementara ada siswa yang mengerjakan di depan, siswa lain tetap mengerjakan.

   Guru membantu siswa saat siswa yang sedang mengerjakan di depan, mengalami kesulitan dengan menuntun langkah-langkahnya.

   Siswa tidak segan untuk bertanya, guru langsung menjelaskan pada siswa yang bersangkutan.

   Setelah selesai membahas soal, guru mengadakan kuis selama 15 menit.

   Guru berkeliling, siswa ada yang larak-lirik.

   Soal kuis dibahas, tapi hanya jawabannya saja.

   Guru melanjutkan materi (menjelaskan contoh gelombang, cara kerja gelombang)

   Guru melakukan demonstrasi mengenai sifat-sifat gelombang sambil memberikan pertanyaan-pertanyaan.

   Siswa diminta maju melihat dari dekat.

  Penelitian III tanggal 25 juli 2009

   Pembelajaran dlakukan di kelas.

   Guru melanjutkan ke materi berdasarkan kegiatan di laboratorium pada pertemuan sebelumnya.

   Guru menjelaskan gelombang dengan membuat gambar di papan tulis.

   Siswa diperingatkan, kalau gambarnya susah jadi harus hati-hati menggambarnya

   Saat menggambar, guru menggunakan spidol warna-warni

   Guru berkeliling, mengecek gambar yang dibuat siswa.

   Sebelum bel, guru mengulang sebentar materi yang sudah dipelajari.

  Field note SMA B

  Rabu, 22 Juli 2009 Peneliti melakukan observasi di kelas XI- AI untuk mempersiapkan

   pengambilan data, tujuannya untuk melihat situasi dan kondisi dalam kelas dan mengatur penempatan handycam, sudud-sudut yang tepat untuk diambil. Jum’at, 24 Juli 2009 Pengambilan data di kelas XI-AI. Guru mengajar mengenai materi gaya

   gesek diagram bebeas gaya.Guru menggunkakan metode ceramah. Guru banyak memberi penegasan-penengasan konsep dan menjelaskan mengenai gaya gesek dengan ilustrasi, menarik meja ke depan. Pada konsep tegangan tali, guru memberi contoh tas yang diangkat oleh tangan . Kelas sangat kondusif karene guru selalu mobile dan keliling kelas untuk melihat siswa apakah sudah mengerti atau belum. Sabtu, 25 Juli 2009 Kelas XI-AI ( 2 jam pelajaran) materi dan pembahasan soal. Pada saat

   pembahasan soal, siswa terlihat aktif, tanpa disuruh siswa mengerjakan semua soal dan maju ke depan untuk mengerjakan. Saat membimbing siswa secara person, jika ada konsep yang penting,langsung mengingatkan keseluruhan. Rabu, 5 Agustus 2009 Pembahasan soal dan materi sebelumnya karena akan diadakan

   ulangan.Siswa masih kuruang mengerti penggambaran vektor-vektor gaya. Guru menjelaskan kembali dan memeberi contoh serta langkah-langkah dalam menentukan gaya-gaya yang bekerja. Jum’at, 7 Agustus 2009 Praktikum di laboratorium fisiska. Siswa mengerjkan pratikum dengan

  

  Lampiran 6

Trankrip Data Video Pembelajaran Guru M

  Pertemuan I, tanggal 22 Juli 2009 Pembelajaran tanggal 22 Juli dilakukan di laboratorium Fisika. Materi pembelajaran yang akan disampaikan adalah mengenai gelombang stasioner Guru : “Baik..kita sudah mempelajari berbagai macam gelombang. Berdasarkan arah getarnya dibagi menjadi gelombang apa dan apa? Siswa : ”Longitudinal dan transversal” (siswa menjawab serempak) Guru : “Transversal dan longitudinal. Transversal kalo bagaimana?” Siswa :”Tegak lurus..”(siswa menjawab serempak) Guru : “Tegak lurus arah …(berhenti sejenak menunggu jawaban siswa) Siswa : “Getarnya…(beberapa siswa menjawab) Guru : “Tegak lurus arah getar atau arah rambat. Kalo longitudinal?(menunggu jawaban siswa) Siswa :”searah…(beberapa siswa menjawab) Guru :”Terus yang kedua berdasarkan apa?(menunggu jawaban siswa) Siswa : “Medium (Salah satu siswa menjawab) Guru : ”Medium yang dilalui apa saja?Gelombangnya?” Siswa : ”Mekanik dan (0.46) Guru :”Yang ketiga berdasarkan apa? Siswa :”Amplitudo..” Guru :”Amplitudo,yang kita pelajari tentang gelombang..gelombang apa? Siswa :”Gelombang berjalan..

  Guru :”Gelombang berjalan...yang kemarin demonstrasinya dipapan tulis adalah penggentar yang dihubungkan dengan tali. Sesudah kita latihan soal,masih ada satu soal yang belum kita bahas, apakah ada permasalahan?

  Siswa :”ada..”(beberapa siswa menjawab) Guru :”Kalo gak ada kita lanjutkan, kalo ada kita bahas dulu..” Siswa :”dibahas dulu..”( serempak menjawab) Guru :”Siapa mau maju?”

  Guru :”Kitin sudah...Lulu..(menunjuk satu orang siswa lainnya). Sudah selesai belum?(bertanya pada lulu) Siswa :” Sudah.”(lulu, siswa yang ditunjuk menjawab) Guru :” Silahkan dikerjakan di depan..Diketahui, ditanyakan, jawab ya...” Guru :”Ya..silahkan dicoba, yang lain memperhatikan dan mencocokkan. Siswa yang bersangkutan, maju untuk menuliskan jawabannya. Guru :”Mulai dari sebelah kiri, biar bagus...diketahui, ditanya, dijawab(mengarahkan siswa yang maju mengerjakan dipapan tulis) Guru :”Persamaan umum simbolnya apa saja?Biar semua jelas...(bertanya pada sisw yang mengerjakan dipapan tulis, sambil mengarahkan)(03:54) Siswa :”Simbolnya y ya pak?(siswa yang maju,bertanya pada guru) Guru :”Iya..y... Selama salah satu siswa mengerjakan dipapan tulis, guru memperhatikan sambil mengoreksi. Guru :”Simpangan, kecepatan dan percepatan..ya y p ,kecepatan v p x dan t-nya sama.t nya berapa?pada x dan t nya berapa?Pada saat x sama dengan berapa dan t sama dengan berapa?”

  Guru memperhatikan pekerjaaan siswa dipapan tulis, Guru :”e...perlu diubah ke meter atau nggak?bisa tapi sebaiknya tidak usah..karena sudah centi semua tho..

  Sambil menunggu siswa yang maju,selesai mengerjakan, guru mengecek pekerjaan siswa lainnya dan mencocokkan dengan yang dikerjakan siswa dipapan tulis. Guru meminta salah seorang siswa untuk maju, mengerjakan di papan tulis. Guru membimbing siswa yang mengerjakan di papan tulis, sambil mengingatkan apabila ada rumus atau persamaan yang kurang. (00.49) Guru membimbing siswa yang mengerjakan di papan tulis, sambil mengingatkan apabila ada rumus atau persamaan yang kurang01.23. (menit 05.43) guru memberi solusi kepada siswa yang mengerjakan didepan kelas. Guru : supaya lebih mudah mungkin mencari besaran dalam teta ,atau mencari 4π/t atau tetanya kamu cari

  guru mundur dan melihat siswa yang mengerjakan dengan tetap membimbing menit 08 .14 siswa bertanya 0.25 π itu dijadikan apa? Guru bertanya pada siswa lainnya

  0.25 π itu berapa? siswa yang lain menjawab 45˚,guru tetap fokus melihat langkah demi langkah yang dikerjakan siswa,jika ada yang kurang atau tidak betul guru langsung membenarkan/memberitahu pertanyaan bagaimana dengan siswa yang laen? Menit 12:04 setelah siswa mengerjakan guru memberi penguatan/penghargaan,”ya bagus” Setelah siswa tersebut selesai mengerjakan, guru bertanya pada siswa, “apakah ada pertanyaan?” sambil tetap mengoreksi pekerjaan siswa dipapan tulis dan mengajak siswa untuk mengoreksi bersama-sama. Guru menjelaskan beberapa persamaan yang digunakan untuk mengerjakan soal tersebut. (menit 11) Guru :”Nah..hari ini kita akan melihat gelombang yang lain yang berdasarkan amplitudo... yakni gelombang Stasioner. Nah gelombang stasioner ini seperti apa?Ini kita sudah punya alatnya, kita coba. (Guru mengambil alat yang sudah dipersiapkan, dan menempatkan alat tersebut di depan kelas). Alatnya cukup sederhana. Ini namanya penggentar, ini bisa menggetarkan (sela menit 16). Ini ada benang, ini dimasukkan ke ujung yang ini, kemudian ditali. Tetapi tidak dibuat tali mati supaya beban dapat diubah-ubah sehingga getarannya juga bisa berubah. Sekarang kita lihat, akan kita coba getarkan tali ini. Ingat getaran yang merambat kemarin namanya apa?

  Siswa :”Gelombang berjalan..(serempak) Guru : ”ya..gelombang berjalan..Jadi karena ini bergetar(menunjuk pada penggetar). Ini tali..mestinya nanti ada gelombang yang..(menunggu respon siswa) Siswa : ”Berjalan...” Guru : ”Berjalan..Dari mana ke mana ini??Kalau ini bergetar ke arah kamu? Siswa : ”Kanan...: Siswa : ”Kiri” Guru :”Penggetarnya dari mana?dari kanan...Berarti dari kanan ke

  PLN. Frekuensi PLN itu berapa? Tegangannya betul 220, tapi frekuensinya berapa?50hz. Kita coba, lalu lihat apa yang terjadi?Kelihatan ndak? Kelihatan ndak dari belakang?Kalau yang nggak kelihatan ya bisa maju..Nah..coba Kitin (menunjuk salah satu siswa) kamu gambarkan ke depan apa yang kamu lihat?Silahkan dicoba...Apa yang dilihat...Ya..bayanganmu seperti apa?Gambar saja..lalu yang kamu lihat seperti apa?Ya..betul seperti itu??coba yang lain? Siapa..?Yang lain yang punya pendapat lain?Marla coba...(menunjuk siswa lain) Coba digambarkan..yang kamu lihat itu seperti apa?pengamatannya sama ndak?ya coba digambarkan..Bisa tidak menggambarkan ini?kelihatan kan?Gambarkan dibawahnya Kitin. Ya betul gambarkan dari kiri ke kanan...Betul begitu?selesai? Kamu tu lihatnya seperti apa?Kalau kamu gambarkan?Ya..memang..beda-beda ya..mungkin Kitin (menit 20) Kalau kita lihat yang betul-betul mirip yang mana??Punya’e Marla tadi..tapi ini lebih mblenduk ya..Ini sebenarnya kalau ini diubah- ubah..kemungkinan akan ada kejadian lain. Kita coba ya..Kalau berat?tambah apa?Selain itu jaraknya kita tambah..apa yang terjadi?Kalau bebannya saya tambah lagi?Sekarang beda lagi...Kira-kira apa yang menyebabkan tali yang satu tadi menjadi kelihatan dua seperti itu?ada yang tahu?Kita lihat dari depan..awalnya terjadi...gelombang ini karena apa? Karena ini digetarkan..Kalau digetarkan ada gelombang..dari mana ke mana?

  Siswa : “Dari kanan ke kiri..” Guru : “Dari kanan ke kiri dari penggetar ke arah kiri, lha kalu sampai di sini terus diapakan kira-kira gelombang yang sampai sini (menunjuk ujung tali, sebelah kiri)

  Siswa :”Dipantulkan...” Guru :”Dipantulkan..siapa yang memantulkan?Ujung pemantul ini memantulkan gelombang. Nah kalau begitu ada gelombang yang ke mana?ke arah mana?

  Guru :”Ada yang ke sana..ada yang ke sini..(menunjuk dari kiri ke kanan). Tapi bareng-bareng atau sendiri-sendiri, atau pada saat yang sama?? Siswa :”saat yang sama..” Guru :”Pada saat yang sama...apa yang terjadi?ya ditunjukkan seperti ini...gelombang yang terjadi karena gelombang datang, terus ada gelombang yang dipantulkan...pada saat yang sama dijumlahkan atau berinterferensi. Nah itulah namanya gelombang Stasioner atau gelombang henti, atau gelombang diam. Maka kelihatannya ini diam yang menunjukan kira-kira fungsi apa ini?. Jadi gelombang stasioner itu tadi apa??Hasil perpaduan antara gelombang yang datang dan gelombang yang dipantulkan. Tetapi apakah cukup begitu??Bagaimana dengan gelombang pantul?Arahnya bagaimana?

  Siswa : ”Berlawanan?” Guru :”Berlawanan, frekuensinya bagaimana? Siswa :”Sama..” Guru :”Sama...Jadi..gelombang yang frekuensi dan amplitudonya sama, arahnya berlawanan akan terbentuk gelombang stasioner. Ini faktanya, ini kenyataannya..nah sekarang kita harus membuat persamaannya. Kita lihat sekarang untuk persamaannya. Perhatikan ya.. Gelombang stasioner atau berhenti atau diam .Nah yang kita peragakan tadi apa?Adalah gelombang stasioner ujung...pemantul ujung tetap.Kita gambar dulu, hasil kita. Ini adalah penggetar, atau boleh kita namakan (guru menggambar sambil menjelaskan ) titik asal getaran. Ini tadi kita namakan ujung pemantul.

  Ujung pemantul ini kita anggap x = 0. Kita buat tadi, misalnya tiga 1 gelombang ya...Kita anggap gelombang datang, y ,yang satunya 2 y .Memang kita tidak bisa mencermati secara detail. Nah kita bahas bersama-sama.....Gelombang datang yang ini ke arah kiri (sambil 1 1 menunjuk pada gambar). Persamaannya kita namakan y . y sama dengan apa?Persamaan gelombang datang...merambat ke mana dia?

  Guru :”Kalau ke kiri,kemarin apa ya?” Siswa :”ples...”

  ω Guru :”Ples... y

  1 =A sin( t kx + ) Gelombang pantulnya yang ke sana ya…kita

  lihat saja, gelombang pantulnya y

  2 sama dengan apa?karena dia merambat

  ke kanan..berarti y = A sin ( ω )). Tetapi dalam peristiwa pemantulan -

  2 t kx

  gelombang, berlaku, kalau ini ujung tetap, atau ujung terikat itu gelombangnya memantul sebesar π atau 180, maka disini plesπ . Kita tahu bahwa fisika tanpa matematika gelap gulita ya…Kita perlu bantuan

  2 = A sin ( ω t kx ))+

  • matematika ya..Sekarang y

  π boleh ditulis sama dengan apa? Supaya π nya ilang persamaannya menjadi apa? Ahli matematik siapa?

  Siswa :”Lulu..” Guru :”Kalo ini jadi apa ini (menunjuk ke persamaan gelombang pantul), y = A

  2

  sin ( ω t kx ))+ - 2 π atau +180 menjadi apa? Guru :”Ini menjadi A (-sin ( t ω - kx )) ) atau bisa ditulis y = -A sin ( t ω - kx )).

  Nah gelombang datang dengan gelombang pantul kita superposisikan atau kita jumlahkan. Sehingga bentuk gelombang itu tadi dinamakan superposisinya atau jumlahnya, y1 + y2 sama dengan apa? Y = A sin ( ω + t kx )) dikurangi atau ple min, langsung min ya…-A sin ( ω - t kx )). A nya bisa kita keluarkan, tinggal yang didalam sin ( ω + ))- sin ( ω -

  t kx t kx )). Lagi lagi kita butuh matematika..Lulu lagi...Ini kan sama saja sin A-

  1

  sin B. Jadinya apa? A kali 2 cos jumlah ini, jadi kita sederhanakan

  2 jadinya y = 2A sin kx cos ω . t

  Superposisi (jumlah) : Y = y

  1 + y

2 Y = A sin ( ω + t kx ) - A sin ( ω - t kx ).

  Y = A [sin ( ω + t kx ) - A sin ( ω - t kx )]

  1

  1 Y = 2 cos 2 ω  sin t 2 kx

  Y = 2A cos t ω sin kx Y = 2A sin

  kx

  cos t ω (Guru bersama-sama dengan siswa memformulasikan persamaan untuk gelombang stasioner ujung terikat y = 2A sin kx cos t ω .) Guru : “Ada pertanyaan?”(bertanya pada semua siswa,kemudian berkeliling mengecek catatan siswa) Guru : “Selesai…?” Siswa : belum pak( beberapa siswa menjawab) Guru : “Persamaan simpangan gelombang stasioner ujung terikat atau tetap.” Guru :”Kalo kita perhatikan di sini, talinya tadi satu menjadi seperti itu. Ada tempat-tempat tertentu disini dengan disini (menunjuk pada tali yang bergetar membentuk gelombang stasioner, kemudian menunjuk pada gambar gelombang pada papan tulis.

  Guru :”Kemudian ini dengan ini juga sama. (menunjuk pada gambar). Nah titik ini,pernah mendengar titik apa?(menunjuk pada talidan menunggu kalo- kalo ada siswa yang menjawab,namun tidak ada siswa yang menjawab) titik ini namanya simpul (guru menjelaskan,setelah menunggu jawaban siswa). Yang blenduk-blenduk seperti orang hamil, namanya perut (guru menunjuk pada gelombang yang dihasilkan tali pada alat percobaan)

  

(Kemudian guru menunjuk pada gambar, untuk menunjukkan letak simpul dan

perut. Dan memberi tanda pada gambar untuk membedakan antara simpul dan

perut)

  Guru :”Ini namanya simpul..ini namanya simpul...ini namanya simpul(menunjukkan letak simpul pada gambar di papan tulis)Yang mblenduk itu boleh disini, boleh disini...namanya apa?

  Siswa :”Perut...”(beberapa siswa menjawab) Guru :”Perut...Jadi kita beri nama..ini tadi simpul..simpul...simpul..perut..perut..ini juga perut.(memberi keterangan s

  untuk simpul dan p untuk perut, pada gambar)

  Guru :”Kalo ini ujung pemantul (menunjuk pada gambar), maka ini simpul

  kedua, ketiga dan seterusnya. Kalo begitu pada percobaan ini ada berapa simpul, ada berapa perut? Siswa :”Dua..” Guru :”perutnya ada..satu...dua..tiga..(sambil menunjuk pada tali percobaan).

  Simpulnya ada? Siswa :”Empat...” Guru :”satu..dua..tiga..empat...Nah sekarang yang dinamakan satu panjang gelombang atau satu lamda itu yang mana?tunjukakan dari sini atau dari sini?” (menunjuk pada alat percobaan dan gambar dipapan tulis)

  

(Guru menunggu jawaban siswa, siswa banyak yang menjawab, namun tidak

berani menunjukkan jari. Akhirnya guru menunjuk salah satu siswa)

  Siswa :”Tiga simpul dan dua perut.(salah satu siswa yang ditunjuk,menjawab)

  

(Guru sedikit mendekat pada siswa yang ditunjuk tadi dengan menyodorkan

telinga karena jawaban siswa tidak jelas)

  Guru :” Tiga simpul dan dua perut, ada lagi yang lain?arum? (menujuk salah

  satu siswa lainnya)

  Siswa :” Tiga simpul dan dua perut” (jawab siswa yang ditunjuk) Guru :”Sama?tiga simpul dan dua perut. Dalam gelombang berjalan yang dinamakan satu lamda itu adalah ini (sambil menggambar) atau kalau dari puncak ya...(sambil menggambar). Kalo pada gelombang stasioner ya betul tadi..yang dikatakan, total ada berapa?

  Siswa :”??(39) Guru :”Ada gini (menunjuk pada gambar perut)jadi 2 perut kalo dua perut berarti tiga simpul. Kalau dimulai dari sini dan sini?(menunjuk pada gambar). Siswa : “Tiga perut....(sebagian siswa menjawab ragu-ragu) Guru :”Tiga perut dua simpul, kalo dari sini tadi tiga simpul dua perut. Ini namanya satu lamda untuk gelombang stasioner. Ini namanya satu lamda untuk gelombang stasioner(memberi simbol lamda pada gambar). Ya betul ya..Jadi simpul atau perutnya dihitung dari mana?Dari ujung

  pemantul atau titik pemantul ujung tetap. Nah sekarang dimanakah letak simpul dan perutnya... sudah selesai mencatatnya?(guru bertanya pada

  siswa kemudian menghapus papan tulis)

  Guru :”Sekarang kita bahas letak simpul terhadap ujung pemantul. Nah letak simpunya pada x sama dengan berapa?pada x sama dengan berapa lamda saja?simpul atau s. Simpul pertama x nya berapa?terhadap ujung pemantul... Siswa :”Nol..” (salah satu siswa menjawab) Guru :”Simpul pertama disini jaraknya terhadap ini ya....(menunjuk pada

  

gambar,tepatnya pada garis yang dianggap sebagai ujung pemantul)

  Siswa :”Nol...” (beberapa siswa menjawab serempak) guru setuju dengan jawaban siswa menulis keterangan x = 0 Guru :”Simpul kedua?simpul kedua adalah disini..(menunjukkan letak x untuk

  simpul kedua pada gambar )Berapa lamda?

  Siswa :”setengah...(beberapa siswa menjawab kompak) Guru :”Setengah...(memberi keterangan pada gambar untuk simpul kedua). Simpul ketiga? Siswa :”Satu... “(salah seorang siswa dengan cepat menjawab) Guru :”Satu...mestinya simpul keempat? Siswa :” Satu setengah... (beberapa siswa menjawab) Guru :”berapa?” Siswa :”Satu setengah.. Guru :”satu setengah,atau 3/2 lamda .Nah kalo ini dibuat sebagai persamaan matematika lagi x sama dengan apa?(diam sejenak,menunggu siswa menjawab). Supaya simpul satu masukkan ketemu, simpul dua masukkan ketemu..kan ini ada persamaan umumnya ya..saya berikan saja 2n+1. ½ lamda (guru langsung memberikan persamaan umum untuk x) ...nanti bisa tanya Pak Boidi atau Pak Heri (menyebut nama guru-guru matematika). Kita cocokkan..n nya mulai dari 0,1,2,dst....Simpul pertama xnya harus berapa..(bertanya pada siswa,namun tidak melihat ke arah siswa, guru

  Siswa :”Nol..(salah seorang siswa menjawab) Guru :”Keliru berarti ya...sori bukan ini ya...simpul harus nol berarti rumusnya keliru... 2n. ¼ lamda. Simpul pertama n nya harus nol maka nnya masukkan nol berarti harus ketemu berapa?

  Siswa :”Nol..” Guru :”Simpul kedua...harus ketemu berapa?setengah lamda...simpul kedua masukkan n nya berapa? Siswa :”Satu.. Guru :”satu.. 2 kali 1 kali ¼ lamda...?” Siswa :setengah..

  Guru :”Berarti persamaannya ini..tadi keliru saya(membuat kotak pada persamaan untuk memperjelas) Guru :” n = 0 beararti simpul ke satu, n = 1 bereti simpul kedua dan seterusnya..Letak simpul terhadap ujung pemantul ya..Boleh menghafalkan ini (menunjuk pada persamaan x +2n ¼ lamda ) boleh menghafalkan ini saja, kalo ini ya tinggal ngitung saja(menunjuk persamaan umum) Jarak simpul dan perut berapa lamda?

  Siswa :”seperempat..(salah seorang siswa menjawab) Guru :”seperempat..jadi kalo simpul kalo simpul kedua ada berapa kali ¼ lamda?simpul kedua?seperempat tambah seperempat...

  Siswa :” setengah Guru :”2 kali seperempat lamda ..sama nggak dengan ini? (menunjuk pada

  Boleh menghafalkan ini..Kalo hafalannya cukup mateng

  persamaan umum)

  dan ukup kuat ya..ndak papa... (guru menghapus papan tulis) Guru :”Sekarang letak perut..letak simpul sudah..Letak perut terhadap ujung pemantul (guru menulis dipapan tulis) Guru :”Kita lihat digambar,sama saja.Perut kedua..berapa kali ¼ lamda? Siswa :Tiga...

  Guru :”satu, dua, tiga...(menunjuk pada gambar, letak perut).3/4 lamda. Perut ketiga?satu, dua, tiga, empat, lima. Lima kali ¼ lamda = 5/4 lamda dst. (menit46)

  Guru :”Nah kalo ada pemantul ujung terikat atau tetap mestinya ada pemantul ujung...? Siswa :Bebas...(berapa siswa menjawab) Guru :”Bebas..(guru menulis dipapan tulis, gelombang stasioner ujung bebas) Guru :”Ini tidak bisa dipraktekkan tapi kita gambarkan saja, ujung bebas seperti apa..Ujung bebas itu talinya dibuat logro ya..jadi ini dia bisa... naik turun.

  Nah ini kita namakan titik asal getaran (guru menggambar gelombang dengan ujung bebas dan memberi keterangan pada gambar)Kemudian disini ujung pemantul atau x = 0 ini gelombang datang y

  1 dan ini

  gelombang pantul, y

  2 Guru :Agak susah membuat peralatan gelombang stasioner ujung bebas.Tetapi

  untuk ujung bebas itu ini bebas, jadi bisa bergerak ke atas dan ke bawah (menunjuk pada gambar). Seperti kalo masih remaja itu masih bebas...bisa kemana-mana masih bebas, tapi kalo nanti sudah menikah beda sudah..(memberi guyonan) . Siswa :( tertawa....) Guru :”Ya dari sini bisa kita lihat, gelombang datang atau y

  1

  sama dengan apa...gelombang pantul, y

  2 (Berhenti sejenak, guru membuka buku referensi)

  sama dengan apa...(sambil menulis dipapan tulis) Guru :”Ya..karena persamaannya sama saya minta tolong salah satu..siapa ...ahli matematika” (meminta salah seorang siswa untuk maju) Siswa :”Lia... (salah satu siswa menyebutkan nama seorang siswa) Guru :”Arum ya...silahkan Arum...silahkan maju ke depan (memanggil nama

  salah satu siswa untuk maju)

  Guru :”Pertama gelombang datangnya, gelombang merambat ke kiri (memberi

  petunjuk pada siswa,terutama untuk siswa yang maju)

  Guru :”Silahkan ditulis y

  1 t ω sama dengan apa.....A sin ...ples atau min?kekiri?

  Siswa :” min...(beberapa siswa menjawab) Guru :”Kekiri??

  Guru :”Ples...ya..kemudian yang gelombang pantul ..sama tapi ke kanan, tidak ada pembalikan fase karena A nya sudah positif.Ya betul, sekarang diselesaikan. Superposisinya. Di hapus paling kanan. Ditulis superposisi atau penjumlahan.(memberi arahan pada siswa yang maju)Ya judulnya superposisi atau penjumlahan. Guru :”y sama dengan apa tadi ....ya yang tadi ditulis..dijumlahkan...ya..Anya dikeluarkan pake kurung kotak. Kalo tadi sin itu min sin itu. Sekarang sin

  A +sin B . Ya bantu temannya jadinya apa? (meminta siswa yang lain untuk membantu) . A kali apa? Siswa yang lain membantu siswa yan maju di depan.

  1 Guru : “2 cos ...kalo sin +sin b jadinya apa?

  2 Guru :”Lha ini persamaan gelombang stasioner ujung bebas.2 A cos kx sin ω t .

  Nah tadi lupa yang ini...yang...A s ya..amplitudo gelombang stasioner. Ynag tadi yang depan tadi juga yang ada sin kx nya juga gini...Persamaannya mirip dengan yang tadi ya..Hati-hati makanya...sin kx itu amplitudo gelombang stasioner ujung itu (bebas)

  Guru :”Ya sama dengan gelombang stasioner ujung terikat, titik ini namanya apa mestinya?Simpul...ini satu, dua,tiga...dst. Ini berarti perut satu, dua, tiga,dst.Sekarang masalahnya letaknya dimana?Letak simpulnya dulu...selalu terhadap ujung pemantul. Unjung pemantul yang bebas ini. x sama dengan berapa?simpul?segini berapa lamda? (menunjuk pada

  gambar simpul satu)

  Siswa :”seperempat..(siswa menjawab) Guru :”Jadi simpul pertama..berapa lamda? Siswa :”1/4 lamda.

  Guru :” simpul kedua?1, 2,3...3/4 lamda.Simpul ke tiga? Siswa :”Lima..

  Guru :”Satu, dua,tiga, empat, lima (sambil menghitung pada gambar)Ini sama dengan yang apa tadi?sama dengan yang perut yaitu (2n+1)1/4 lamda, n= 0,1,2,3,..dst.ini namanya simpul ke satu, ini simpul kedua.

  1

  (2n+1) λ , n= 0,1,2,3,..dst

  4 n = 0 : simpul pertama dst.

  Guru :”Dengan mudah, letak perutnya mestinya apa?apa?sekarang letak perut terhadap ujung pemantul.x nya sama dengan nol ya...perut pertama kan nol, perut kedua?setenagh lamda ya, ketiga 1 lamda, dst... x = 2n kali ¼ lamda.Tinggal dibolak-balik saja kalo yang tadi jadi simpul sekarang jadi perut. Ada pertanyaan?(guru berkeliling sambil menunngu siswa selesai mencatat)

  Guru :”Kalo tidak ada pertanyaan, kita review sebentar. Persamaan gelombang stasioner ujung terikat tadi apa?y sama dengan apa? ω . Siswa :”2 Asin kx cos t

  ω . Terus ujung bebas, y sama dengan?(sambil Guru :”y = 2A sin kx cos t mencatat di papan tulis)

  ω (beberapa siswa menjawab) Siswa :2A cos kx sin t

  ω . Kalo disini mungkin tidak terbalik-balik karena Guru :” 2A cos kx sin t apa?hanya dua tapi besok kalo sudah ulangan banyak yang dihafalkan ada kemungkinan terbalik. Bagaimana cara mengingat dengan mudah bahwa ini ujung terikat ini ujung bebas (menunjuk pada 2 persamaan yang sudah ditulis dipapan tulis, kemudian memperhatian keseluruh siswa menunggu ada jawaban dari siswa).Kalo ini sin kx cos ω , yang ini cos kx sin ω .

  t t

  Lagi-lagi matematika, grafik sin fungsi x . y =sin x grafiknya seperti apa?Dari nol apa dari satu? Siswa :”nol...” Guru :”Nol..(sambil menggambar grafik sinus). Kalo cos? (langsung

  menggambar grafiknya) .Ini bentuknya mestinya sin x atau sin kx . Kalo

  ini bentuknya sin kx maka ini begini tho? (menunjuk pada grafik sin

  Siswa :”Ujung tetap....(beberapa siswa menjawab) Guru :”Ujung tetap.Kalo ini cos kx?Ditambahi ini jadi apa?ujung bebas.Dilihat ω (menunjuk pada persamaan). sin kx atau cos kx?ini mesti apa?tinggal t Kalo depan sudah sin belakang cos, kalo depan sudah cos belakang mesti sin.Nggak mungkin cos cos atau sin sin ya...Nah sekarang kalo biar tidak hafal.. Siswa :”(tertawa) Guru :”Eh..biar tidak lupa...ini letak perut atau letak simpul (menulis persamaan untuk x letak perut dan letsk simpul terhadap ujung pemantul)Yang ini letak perut atau simpul?Cara mengingatnya bagaimana?Cara mengingatnya, kalo ujung apa ini tadi?

  Siswa :”terikat... Guru :”Terikat...simpul pertama x nya berapa?nol..kalo dimasukkan nol ini nol nggak?(04) Siswa :”Nol... Guru :”Kalo ini, nol nggak? Siswa :”Nggak...

  Guru :”Jadi kalo ini simpulnya,dimasukkan nol harus ketemu nol, kalo ini perutnya tidak nol ya.. (menunjuk pada grafik gelombang stasioner ujung

  terikat)

  Berarti kalo yang ini yang perut yang mana? (menunjuk pada grafik

  gelombang stasioner ujung bebas.) Yang kalo dimasukkan n= 0 harus nol

  maka,yang ini jadi perut (menunjuk pada persamaan simpul pada

  gelombang stasioner ujung terikat). Ini grafiknya sinus maka sin kx cos

  ω . Ini grafiknya cosinus maka cos kx sin ω .Ini persamaan ini dan n = 0

  t t

  pasti punya’e ujung terikat dan simpul. Karena kalo dimasukkan n =0 simpul pertama harus nol. Kalo ini persamaannya harus ini juga untuk perut supaya dimasukkan n = 0 harus ketemu nol. Soal yang sudah difotocopy tadi silahkan dibahas.

  

(Siswa berdiskusi mengerjakan soal yang sudah dibagikan dalam bentuk

  Guru :”Ya..siapa mau maju...?Ya kita coba dulu...diketahui apa?berarti panajng kata dari sini ke sini ya..dari ujunt pemantul sampai sana ya...berarti ini l = frekuensinya = 8Hz, amplitudo, amplitudo gelombang yang datang atau yang pantul?v nya berapa?Merambat ke kanan yang lain ujung terikat ya...Tentukan : a apa?amplitudo gelombang hasil interferensi..apa?Tai pada persamaan ini kan kita ...ini namanya apa?A S ini namanya apa?A S

  (melingkari persamaan)Ini namanya amplitudo gelombang interferensi pada titik x . Ya tadi yang ditanya apa? A S Siswa :”Ujung pemantul..(salah satu siswa menjawab) untuk x = 61, x nya berapa?Ingat x tadi dihitung dari mana?

  Guru :”Ujung pemantul ya...jadi ujung pemantul terhadap titik tersebut. Lha kalo titiknya ini titik asal ini pemantul, terus...ini tadi titk awalnya kan setarus ya..jadi 100-61. Yang b apa?Lrtak simpul ke lima dan letak perut keempat dihitung dari mana?Dari titik asal getaran..Ya sudah saya bantu..paling tidak yang a bisa diselesaikan, siapa yang mau maju?Erin coba?yang a saja...Nah jadi untuk ujung terikat yao berarti ini 2A sin kx berarti hraus cari k.

  (Salah seorang siswa maju untuk mengerjakan)

  Siswa :Pak mencari simpul kelima dan keempat dari asal pemantul kan pak? Guru :”Ya pertayaannya apa disitu? Siswa :”Oh ya..

  Guru :”Yang ditanyakan titik asal getaran tapi kalo x tadi apa? Siswa :Pemantul.. Guru :”Ya pemantul..dicari apa dulu? Siswa :”x.. Guru :”Ya nyari x dulu baru..dikurangi,betul sekali Guru :”Ya...k nya sudah tau belum?erin?Sela(14:40) Siswa :”Belum...

  Guru :”k nya kemarin itu sama dengan apa? λ π

  2

  (14)

  Guru :”Paling tidak kita dapat mengerjakan satu soal,yang lain bisa dikerjakan dirumah. Ya untuk hari ini kita sudah belajar Hari ini samapi sekian dulu, selamat siang. Siswa :”Siang pak..

PERTEMUAN II TANGGAL 23 JULI 2009

  Guru :”Kemarin kita telah mempelajari tentang gelombang stasioner. Ada berapa macam? Siswa :”dua..” Guru :”Ujung bebas dan ujung terikat, pada setiap gelombang stasioner mesti berlaku ada apa dan apa? Siswa :”simpul dan perut” G :”Persamaannya masih ingat?” S :”2A sin kx(sela 00:40) Guru :”Ya..hari ini kita masih melanjutkan itu. Kita akan melajutkan soal- soalnya. Guru meminta salah satu siswi untuk mengerjakan soal di papan tulis. Guru mengamati membimbing dan sambil mengoreksi apabila ada persamaan atau perhitungan yang kurang tepat. Saat ada siswa yang mengerjakan dipapan tulis, guru juga berkeliling untuk mengecek apakah siswa lain mengalami kesulitan. Setelah siswa yang mengerjakan dipapan telah selesai, kemudian dibahas bersama-sama.Setelah selesai membahas soal, guru menuliskan kembali persamaan untuk gelombang stasioner, baik ujung terikat maupun ujung bebas, termasuk persamaan untuk perut dan simpulnya.Setelah itu guru mengadakan kuis selama 15 menit mengenai gelombang stasioner. Sifat kuis tertutup, namun rangkuman guru mengenai persamaan untuk gelombang stasioner yang ada dipapan tulis tidak dihapus. Sebelum melaksanakan kuis, guru terlebih dahulu memberitahu aturan mengerjakan soal kuis. Guru menegaskan siswa untuk mengerjakan kuis sendiri-sendiri apabila ada siswa yang ketahuan nyontek akan diberi sanksi nilai nol.

  Setelah kuis selesai, guru menuliskan jawaban kuis di papan tulis, tetapi tidak dibahas secara detail. Guru :”Kita sudah sejak dahulu kala, pertemuan pertama membahas tentang gelombang ya...ada gelombang transversal, longitudinal, dan yang terakhir gelombang stasioner. Nah perhatikan ke depan...Nah gelombang itu nanti dalam kehidupan sehari-hari fungsinya untuk apa?Banyak sekali fungsinya ya...Kalau gelombang cahaya ya untuk hidup, fotosintesis, kalau gelombang..misalnya gelombang yang lain?

  Siswa :”Telepon..” Guru :”Telepon..TV...Pernah membaca atau melihat bagaimana cara mencari minyak dibawah permukaan bumi?Ini kok tahu..di bawah sana ada kandungan minyak?atau disana ada minyaknya?pernah melihat,atau pernah tahu?atau bapaknya dari perindustrian minyak? Nah..salah satu yang dipakai adalah gelombang itu ditimbulkan dengan suatu pembangkit gelombang. Kalau kamu pernah melihat orang mencari minyak biasanya mempergunakan apa?Meledakkan ya..meledakkan itu membangkitkan gelombang, terus gelombang nanti akan melewati suatu lapisan dibawah bumi terus ditangkap dengan kalo tidak salah salah satu alat penangkapnya itu sekumeter itu ditangkap. Berdasarkan sifat-sifat gelombang, nanti bisa tahu..o..ini ada minyaknya..Nah hari ini kita akan mempelajari sifat-sifat gelombang atau gejala gelombang. Disini ada alat yang namanya Lippletank atau pembangkit gelombang ya..Ini bisa memperagakan misalnya gelombang itu mengalami pembiasan, pemantulan dan sebagainya. Alatnya ya cukup ini..penggetar..ini adalah hambatan geser ini lampu untuk menyorot gelombang yang ada di air, nah nanti akan terlihat di bawah. Kita lihat dulu...misalnya gelombang datar dulu. Siswa mengeliling alat, guru menjelaskan bagaimana cara merangkai dan cara kerjanya.

  Guru :”Ini akan berputar, akan timbul gelombang dan akan disinari dengan sinar ekstra terang, sehingga akan terlihat di bawah itu...

  Guru :”Nah itu gelombang berjalan datar ya..Nah yang berjalan itu apa?ini yang dinamakan muka gelombang (sambil menunjukkan letak muka gelombang pada bayangan yang dihasilkan) Muka gelombangnya berbentuk garis- garis. Nah sekarang muka gelombangnya gelombang datar dibangkitkan oleh ini yang mendatar. Bisa kita liat muka gelombang melingkar. Ini penggetarnya pakai yang ini..Itu muka gelombang melingkar. Kalau muka gelombang melingkar itu pusatnya dimana tadi? Ditengah-tengah ini ya?(sambil menunjuk bayangan muka gelombang) arahnya kemana geraknya? Kalau yang muka gelombang datar tadi, arahnya kemana?kesana..nah ini yang dinamakan sinar gelombang, arah gelombangnya ke sana... Siswa :”o...” Guru :”Kalau yang tadi yang melingkar, arah gelombangnya ke mana?ya..segala arah...Ingat, muka gelombang itu sebenarnya apa?Yang kita amati..yang namanya muka gelombang itu adalah...Kalau kemarin kita menggambarkan muka gelombang bentuknya begini..muka gelombangnya ini...(guru menggambar dipapan tulis). Jadi jarak muka gelombang yang satu dengan yang lain...ayo..perhatikan sebelah sini (menegur siswa yang tidak memperhatikan). Ini jarak dari muka gelombang yang satu terhadap yang lain, berapa? Satu lamda(menunjuk pada alat peraga). Nah sekarang kalau ini mengenai bidang pemantul, kita lihat. Ini berarti kan dia gelombangnya mengalir, nggak nabrak apa-apa. Sekarang kita buat disini ada bidang pemantul. Apa yang terjadi?Jadi muka gelombang mengenai bidang pemantul. Kita lihat, arah gelombang datang kemana?ke sana ya...arah gelombang pantul kemana?Sesuai hukum pemantulan, bunyinya apa?

  Siswa :Sudut datang sama dengan sudut pantul” Guru :”Tadi ada bidang yang apa namanya...normal. Nah itu yang sudah memantul yang ada kotak-kotaknya itu...Nah kalau yang memantul itu adalah gelombang..muka gelombang, satuya tadi apa?datar..satunya

  ini tidak mudah. Melihat ini justru kita jadi bingung ya..jelas ini yang mendatar yang memantul yang mana?Sulit untuk melihat, malah gak usah pakai penggetar...Kita timbulkan gelombang melingkar. Begini..tik

  (menyentuh permukaan air pada tank dengan ujung jari) Namanya apa

  tadi? Siswa :”Waw...tik.. (serempak siswa tertawa) Guru :”Yang kalau muka gelombangya melingkar yang memantul bentuknya kayak apa?melingakar.Kalau tadi yang ini gelombangnya datar memantulnya juga datar juga ya... Nah sekarang itu namanya pemantulan gelombang. Sekarang kita lihat yang namanya pembiasan atau pembelokan gelombang. Nah gelombang akan mengalami pembiasan kalau apa?kalau mediumnya beda..sekarang kita ingin membuat medium yang berbeda.

  Caranya bagaimana?ada yang tahu? Usulmu membuat gelombang di udara..mari yo..kita buat...ya nggak bisa ya...Sekarang menggunakan kaca, ditaruh dimana?di dalam air. Nah ini medium dalam yang ini adalah bidang dangkal. Nah jadi dari tempat yang dalam ke tempat yang dangkal..gelombang mengalami apa?

  Siswa :”Pembiasan..” Guru :”Pembiasan, apa yang kamu lihat?bedanya? Siswa :”Bengkong..” Guru :”Kalau bengkong itu tandanya apa?yang berbeda?Ingat ini tadi gelombang datar rahnya ke mana bergeraknya?ke sana ya?Gelombang biasnya yang mana?arahnya kemana?yang ini..arahnya kemana? Lurus ke sana juga...sehingga kalau gelombang melewati medium yang berbeda maka akan... membelok.Atau dengan kata lain...membias. Bagaimana dengan panjang gelombangnya?Panjang gelombang tadi apa? Muka gelombang ke muka gelombang yang berdekatan. Kita lihat, ini yang putih, di kertas putih ini....

  Siswa :” Lebih rapet..” Guru :”Jadi panjang gelombangnya dari sana ke sini...?

  Guru :”Panjang gelombangnya semakin kecil..Kita kan punya v = λ kemarin.

  f

  Kalau f nya ini tidak berubah-ubah, kalau λ nya berubah v nya bagaimana? Siswa :”Berubah...” Guru :”Berubah,berubah bagaimana?untuk yang ini tadi?panjang gelombangnya dari sana ke sini makin apa? Siswa :”Makin kecil..” Guru :”Makin kecil...sedangkan f nya tetap, bagaimana dengan v disini dengan disini? Siswa :”Berbeda ...” Guru :”Makin kecil atau makin besar?” Siswa :”Kecil... Guru :”Jadi kalau kamu berenang ditempat yang dalam itu bisa lebih cepat dari pada yang dangkal.Cobalah kalau tidak percaya...” Guru :”Tadi pemantulnya adalah bidang datar, sekarang kalau bidang lengkung kita lihat seperti apa...Nah ini pemantulnya berbetuk setengah lingkaran Guru :”Nah masih ada satu lagi, kalau gelombang dengan gelombang berpadu..namanya apa tadi?Kalo kamu dalam satu pesta pernikahan, terus pegang halo..halo..halo, tahu-tahu bunyi nging...Interfensi, interfensi bisa saling menguatkan bisa saling melemahkan. Kita lihat sekarang, kita coba gelombang, dua gelombang yang berinterferensi. Kita lihat kalau satu gelombang seperti ini. Kalo dua gelombang pada saat yang sama bertemu, apa yang nampak disitu?nah dideretan ini ada gelomabnagnya ndak?

  Siswa :”Ada...” Guru :”deretan ini?” Siswa :”Ada..

  Guru :”Yang ini?” Siswa :”ada...” Guru :”Berarti beberapa bagian, bedanya denagn yang labil dan yang satunya...?Yang ini,kan gak ada apa-apanya..berarti disitu gak ada

  interferensi ada dua macam,ada yang gelombang ada yang tidak ada yang menguatkan ada yang melemahkan...Titik-titik ini melemahkan,titik ini menguatkan.begitu. Jadi gejala gelombang yang sudah kita amati apa saja??Pemantulan, pembiasan, Interferensi. Ya untuk hari ini cukup.

  PERTEMUAN III TANGGAL 25 JULI 2009 Guru :”Kita sudah mempelajari tentang berbagai macam gelombang.

  Persamaannya sudah,kuis juga sudah. Terakhir kemarin melihat berbagai macam peristiwa. Apa saja disana yang kita lihat? Siswa :”Muka gelombang... Guru :”Ya..muka gelombang ada dua..melingkar dan sejajar atau mendatar. Ada lagi sifat yang kita amati? Siswa :”Pembiasan... Guru :”Pembiasan..terus apa lagi?Interferensi...Yang lain? pemantulan.Satu lagi sebenarnya masih ada yang namanya difraksi. Tetapi..sela (00.40).Nah sekarang kita akan mempelajarinya secara teoritis. Gejala gelombang (menulis di papan tulis) atau sifat-sifat gelombang,ada empat kemarin yang pertama pemantulan atau bahasa kerennya apa refleksi, kemudian pembiasan atau bahasa kerennya refraksi, ada lagi pelenturan ataau difraksi, perpaduan atau interferensi.Ya ini paling tidak yang bisa kita amati kemarin. Sebenarnya masih ada gejala gelombang lain yang kita pelajari tapi nanti belakangan, itu adalah dispersi. Ada lagi nanti namanya polarisasi. Kalo diberi nomer berapa ini kemarin?? Siswa :”Delapan.. Guru :”Ya..ada pertanyaan tentang ini?Tidak ya...kemudian kita lanjutkan..kita gambar tentang muka gelombang Siswa1 :”Pak..nomer enam pak... Siswa2 :”Lima pak... Siswa3 :”Limanya gelombang stasioner... Guru :”Ya..gelombang stasioner ada dua tho itu?(sela04.00)

  Guru :”Ya..muka gelombang kemarin kita lihat ada muka gelombang datar.

  Kalo kita gambar seperti apa?Ya..kita gambar muka gelombang datar ,kemarin ya..ini muka

  (sambil menngambar muka gelombang datar)

  gelombang datar. Nah antara muka gelombang yang satu dengan yang lain, itu namanya apa kemarin? Dari sini ke sini?tempat-tempat yang fasenya sama namanya apa?Panjangnya berapa lamda?

  Siswa :”Satu..” Guru :”Ya...satu lamda...Kemarin pembangkitnya disini maka gelombang itu merambat kemana?Nah maka arah rambatnya adalah ke kanan..ya,kita gambar...disini arah rambatnya ke kanan, nah ini kita namakan sinar gelombang (menulis dipapan tulis) kalo yang ini tadi namanya apa? front atau muka gelombang. Itu muka gelombang datar Ini pembangkitnya kemarin adalah kayu yang datar (guru menunjuk pada gambar yang dibutadipapan tulis) Kalo yang pembangkitnya kemarin titik berarti akan timbul muka gelombang melingkar (guru mencatat dipapan sambil

  memberi clue) .Gambarnya seperti apa? ( guru menngambar muka gelombang lingkaran) . Nah ini adalah lamda, ini lamda...(memberi keterangan pada gambar nuka gelombang melingkar) . Kalo ini kemarin

  berjalannya atau merambatnya kesana (sambil menunjuk arah kanan) kalo ini arahnya kemana? (menunjuk pada gambar muka gelombang

  melingkar).

  Siswa :”Segala arah..” Guru :”Ke segala arah..maka front gelombang melingkar arah getarnya atau arah geraknya ke segala arah, kita gambarkan (guru menggambar arah gerak

  dari muka gelombang melingkar) . Ini ada yang ke sana...ada yang ke

  sana...Nah tang ini juga namanya sinar gelombang (memberi keterangan

  pada gambar) .Kalo kamu punya jangka silahkan pakai

  jangka(menghimbau siswa untuk menggunakan jangka) Ini front atau muka gelombang (memberi keterangan pada gambar muka gelombang.

  Guru berkeliling sambil mengecek catatan siswa) (09.44).(Menunggu

  Guru :”Kuis-kuis,ulangan dan sebagainya disimpan dijadikan syarat nilai portofolio. Nah sekarang pemantulan gelombang terjadi kapan?(menunggu Kapan gelombang akan dipantulkan?

  siswa menjawab)

  Siswa:”Kalo mengenai pemantul.” Guru :”Ya..kalo mengenai bidang pemantul...betul.(mencatat dipapan tulis).

  Untuk pemantulan gambarnya agak susah,makanya perhatikan betul. Kemarin melihatnya juga sangat susah, menggambarnya sekarang juga susah. Kita lihat, kita buat dulu front gelombang datang, untuk memudahkan kita gambar sinar gelombang dulu. Ingat nanti front muka gelombang dengan sinar muka gelombang harus bagaimana? Ini denagn ini harus? (guru menunjuk pada gambar muka gelombang datar)

  Siswa :”Tegak lurus” Guru :”Saling tegak lurus..maka kalo kita gambar dulu front gelombangnya,front gelombang datang atau sinar gelombangnya ya...Sinar gelombang datang (memberi keterangan pada gambar). Maka untuk mebuat frontnya bagaimana??Front gelombang selalu apa?

  Siswa :”tegak lurus” Guru :”Tegak lurus ya, kita buat tegak lurus kesana..tegak lurus itu menggambar garis tegak lurus terhadap sinar gelombang. Nah itu front gelombang datang. Jadi ini kemarin gelombang datang, jadi ini akan dipantulkan ke mana?ke sana?..sudut datang dengan sudut pantul,pastinya sama. Sudut pantul dan sudut datang dihitung terhadap apa?

  Siswa :”Garis normal..” Guru :”Garis normal..garis normal itu apa? Siswa :”Garis yang tegak lurus bidang pantul.” Guru :” Garis yang tegak lurus bidang pantul, makanya ini kita buat garis nomal dulu..garis normal,tegak lurus bidang pantul (membuat garis normal

  ,dibuat garis putus-putus). Kalo gitu sudut ini harus sama dengan sudut apa? Sinar gelombang yang dipantulkan (menggambar sudut-sudutnya).

  Ini sinar gelombang pantul (memberi keterangan pada gambar). Sinar apa?Tegak lurus sinar,kalo begitu..kalo ini sinar gelombang pantul, maka frontnya yang mana?Front gelombang sinar pantulnya..harus tegak lurus ini (menunjuk pada gambar sinar gelombang, dan membuat garis tegak

  lurus pada sinar gelombang). Tegak lurus dengan panjang gelombang

  yang sama, tegak lurus lagi (menggambar garis tegak lurus sinar pantul) Jadi ini sinar datang, ini frontnya, ini sinar pantul ini front gelombang pantulnya. Kalo ini tadi lamda maka kemarin lamdanya juga sama,maka ini juga lamda (memberi keterangan simbol lamda pada muka geombag

  pada sinar datang dan pada muka gelombang sinar pantul). Ini yang

  dinamakan pemantulan, ini dinamakan sudut datang dan ini sudut pantul (memberi simbol i pada sudut datang dan simbol r pada sudut pantul) . Jadi i sudut datang, r sudut pantul, dan N garis normal (memberi

  Yang merah itu yang datang,yang gelombang pantul keterangan gambar). yang biru (menjelaskan gambar). I sudut datang antara sinar datang dengan garis normal, r sudut pantul antara sinar gelombang pantul dengan garis normal (guru menjelaskan gambar). Garis normal tadi, garis yang tegak lurus bidang pantul.

  Guru :”Pelenturan atau difraksi, kemarain lupa kita amati. Tapi dalam partikel kita sudah melihat difraksi cahaya. Difraksi cahaya kemarin apa?

  (menunggu jawaban siswa) .Sinar putih datang, maka pada layar muncul

  titik-titk. Eh...kalo sinar laser datang muncul titik-titik, kalo sinar putih atau dari lampu pijar muncul apa? Siswa :”Warna-warni...” Guru :”Ya..spektrum warna mejikuhibiniu. Maka dari kemarin bisa dikatakan terjadi karena apa? terjadi karena gelombang melewati celah sempit. Jadi gelombang melewati celah sempit maka terjadi difraksi. Kalo disini gambarnya, kita gambar celah, celah yang sempit (menggambar celah

  sempit menggunakan spidol biru). Kita gambar front gelombang datang (menggambar front gelombang datang menggunakan spidol merah). Maka

  pada celah itu seakan-akan sebagai titik bagi front gelombang melingkar.

  gambar celah, menggunakan spidol merah). Jadi gelombang yang mula-

  mula gelombang datar, seakan-akan menjadi sumber front gelombang melingkar. Nah peristiwa dari sini ke sini namanya difraksi (menunjuk

  pada gambar). Terakhir sekali Pembiasan, yang interferensi dibayangkan saja. Pembiasan atau refraksi (mencatat dipapan tulis dan menggambar).

  Pembiasan terjadi karena melewati tempat yang kerapatannya berbeda

  (menulis dipapan tulis) . Kemarin yang kerapatannya berbeda itu dangkal

  dan dalam. Berarti ada bidang batas, daerah dalam, kemarin yang satunya, daerah dangkal.(memberi keterangan pada gambar).

  (Guru berkeliling, sambil mengecek catatan siswa).

  Guru :”Untuk pembiasan selalu melewati bidang batas. Supaya keliatan kita gambar dulu, front sinar gelombang datang (menggambar front gelombang ).Maka front gelombangnya mestinya tegak lurus ini. Nah kalo

  datang

  kemarin begini pada tempat yang dangkal jadi bagaimana kemarin? Kemarin kan ini menggunakan kaca. Ini jadi ke sana apa ke sini? Siswa :”Kesana...

  Guru :”Melewati bidang batas mestinya kemarin,sinar gelombangnya membelok. Kalo membelok berarti ini membeloknya kesana...berarti front gelombang biasnya tegak lurus kemana? Yang ini. Tetapi kemarin kayaknya ini bergandengan. Ini front gelombang datang tegak lurus sinar gelombang datang, front gelombang bias juga tegak lurus sinar gelombang bias (menggambar front gelombang). Kalo ini kita namakan lamda 1 maka ini lamda 2 (memberi simbol pada front gelombang datang sebagai

  lamda1 dan lamda 2 pada front gelombang bias). Beda gak kemarin?

  rapat mana ini dan ini? (menunjuk pada front gelombang bias dan front

  gelombang datang)

  Siswa :”Bawah..” Guru :”Ya..rapat yang ini. Sehingga kalo ini dinamakan sinar gelombang datang, ini adalah sinar bias (memberi keterangan pada gambar ). Sinar datang, tadi diukur terhadap apa?garis normal,maka kalo ingin mengetahui sudut

  Siswa :”Tegak lurus bidang pantul..” Guru :”Tegak lurus bidang pantul, kalo ini tegak lurus bidang batas. Ini adalah garis normal (menggambar garis normal). Berarti sinar datang dengan garis nomal kita namakan sudut datang (i). Garis nomal dengan sinar bias kita namakan sudut bias( r). Bagaimana sudut i dan r ? Tidak sama...i lebih besar daripada sudut r . Jadi, sinar datang dari tempat yang dalam ke tempat yang dangkal dibiaskan menjauhi atau mendekati garis normal?

  Siswa :”Mendekati...” Guru :”Mendekati garis normal, kalo dia tidak dibiaskan sinar itu harusnya kemana?kesana...(lurus) tapi dia dibelokkan mendekati garis normal, gitu ya....Jadi kalo kita SMP dulu, kalo tempat yang dalam identik dengan yang rapat atau kurang rapat?

  Siswa :”kurang...” Guru :”Ya, kurang rapat...kalo dangkal itu adalah rapat. Itu pembiasan atau refraksi. Ada pertanyaan? (berkeliling, melihat catatan siswa).

  Guru :”Masih satu namanya..Interferensi.Nah interferensi sebagai tugas saja. tugasnya apa? Membuat tulisan atau mencari artikel atau tulisan yang berkaitan dengan interferensi gelombang.ya,ini bahannya boleh dari mana saja, dari buku boleh, radio boleh, internet juga bisa. Satu halaman hvs kuarto saja.dikumpul kapan 2 minggu lagi. Ingat bobot nilai kuis berapa?

  Siswa ::’Satu...” Guru :”Bobot nilai tugas? Siswa :”Dua....” Guru :”Bobot nilai ulangan?” Siswa :”Empat...” Guru :”Karena ini yang terakhir, bahan sudah selesai. Sehinnga kita perjanjian ulangan. Bahan gejala gelombang sampai hari ini ya..karena sudah mendekati UAN maka soalnya PG (Pilihan Ganda) (melakukan perjanjian, menentukan hari untuk ulangan).

  Guru :”Ya kita telah beberapa kali pertemuan membahas tentang gelombang.

  atau arah rambatnya?Transversal, longitudinal.Mediumnya?mekanik, elektromagnetik.Trus satu lagi berdasarkan amplitudo stasioner dan berjalan. Stasioner ada gelombang ujung terikat dan ujung bebas.Nah dari sifat-sifat gelombang tadi yang bisa dilihat di lab. Antara lain apa?front gelombang datar, melingkar, pemantulan, difraksi,pembiasan.Interferensi bisa dilihat di internet.Ya kita sudah selesai, minggu depan kita mulai lagi bab berikutnya gelombang bunyi.Hari ini sampai sekian dulu.

  

Transkrip Data Video Pembelajaran Guru F

  Pertemuan I tanggal 24 Juli 2009 Menit 2 Guru : “Pertemuan yang lalu saya bicara tentang gaya gesekan (guru menulis di

  papan tulis) ,konsep gaya gesekan kemarin bagaimana?”(guru memberi pertayaan kesemua murid guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab,lalu guru membantu dengan memberi pancingan)

  Guru : “Terbentuk pada?” Siswa : “Dua bidang..” Guru :”Yang kedua terus (guru sambil berkeliling melihat kearah siswa) arahnya?” Siswa : “Berlawanan dengan kencenderungan arah gerak benda.” Guru menuju papan tulis dan menuliskan : Guru : “Sekarang persamaannya?(guru menuliskan simbol gaya gesek F ) dan

  g

  bertanya kepada siswa F kemarin bagaimana?.”

  g

  Siswa : “µ N” Dan guru memberi kontak pada persamaan yang sudah ditulis F g = µ.N (00.56) Guru : “Karena kita mengenal suatu benda dalam kedudukan diam atau bergerak kemarin kita pisahkan dua kan,yang tepat akan bergerak berarti dia masih?” (saat bertanya guru melihat pada siswa dan terfokus)

  Siswa :”Diam..” Guru :”Maka pada saat benda diam gaya gesek yang bekerja?” Siswa : “Gaya gesek statis.” Guru : “Kalau sudah bergerak?.” Siswa : “Kinetis.” Guru : “Perubahan dari statis ke kinetis terjadi secara?” Guru : “Otomatis.” Guru : “Jadi saat benda diam,gaya geseknya adalah gaya gesek apa?” Siswa : “Statis (guru menulis sambil melihat siswa,dalam hal ini guru

  Guru : “Lalu kita bisa menghitung berapa gaya gesek statisnya?” Siswa : “µ s N (persamaan dikotakin lagi) “ Guru : “Kemudian F gesek kinetisnya.” Siswa :” µ N (dikotakin lagi)

  k

  Guru : “Setiap keadaan kita akan menyelidiki dahulu,bendanya masih diam atau bergerak,kita lihat pada diagram bebas gaya,ini ada suatu benda terletak pada suatu bidang datar (guru menggambar di papan

  tulis), dilihat ada gaya apa saja disitu?”

  Siswa : “Gesek,normal,berat.” Guru : “Bagus,nah sekarang kita lihat dulu,bagaimana menggambarkan gaya beratnya?” Siswa : “Pada pusat simetri.” Guru : “Ya pada pusat simetrinya,itu kalau pada bendanya teratur,arahnya?” Siswa : “Menuju pusat bumi.” Guru : “Gaya normalnya terletak di mana?.” Siswa : “Pada permukaan bidang (dan guru menggambarkan)” Guru : “ Kalau sekarang benda ini saya tarik dengan gaya F

  1 kekanan (pada gambar) ,arahnya bergerak kekanan,bagaimana dengan arah gaya

  geseknya?(03.34) Siswa : “Berlawanan.” Guru : “Ya,berlawanan dengan kecenderungan arah gerak benda(guru menggambarkan),kalau sekarang seluruh diagram bebas gaya itu kita terapakan/masukan dalam hukum newton,yang mempertahankan benda ini dalam kedaan diam,kita menggunakan persamaan

  ∑F?” Siswa :” Sama dengan nol.” Guru : “Pada sumbu apa?.”(04.30) Siswa : “x,x..x”(jawaban siswa salah dan guru memberi arahan/pancingan) Guru : “Pada sumbu apa yang mempertahankan benda dalam keadaan diam sumbu?.” Siswa :” Y,Y.” Guru : “Persamaanya ini gimana?.” (guru siwa menjawab bersama hingga

  menemukan persamaan)

  Guru : “Sekarang pada sumbu x (guru dan siswa menjawab bersama-sama dan

  

mengotaki persamaan) =0, guru memberi pertayaan, ini artinya

  ∑F x bendanya masih?” Siswa : “Diam.” Guru : “Kalau bendanya sudah begerak, kalau bergerak pada sumbu apa?.” Siswa : “Sumbu x.” Guru : “Berarti..?” Siswa : “ = ma.”

  ∑F x

  (Guru dan siswa mengerjakan persaman bersama-sama hingga menemukan persamaan)

  Guru : “Mari kita terapakan dalam soal.”

  Menit 06.12 (guru mencoba melihat apakah siswa mengerti konsep yang diajarkan dengan memberi soal dan guru mencoba menggali pikiran siswa dengan merubah soal)

  Guru menuliskan soal di papan tulis (guru membuat soal spontan tanpa melihat buku) Soal: misalkan di ketahui masa bendanya 10 kg,kemudian percepatan gravitasinya 10 m/s2,koefisien gesek statisnya 0.2,ditarik gaya F

  1 =50N,coba diselidiki

  bendanya sudah bergerak atau belum?(guru melontarkan pertayaan dan melihat kearah siswa,siswa masih ragu-ragu,ada yang menjawab sudah,ada yang belum) Soal menit 07.00 Guru : “Dari mana kamu mengatakan sudah?” Siswa :” Massanya (m) lebih besar dari f gesek statis.” Guru : “Kita selidiki dahulu,masuk y dulu sama dengan nol,berarti

  ∑F berapa?(guru dan siswa menjawab bersama dengan Tanya jawab ) hingga menemukan f gesek maksimum = 20 N.”

  Guru : “Benda ini mendapat gaya luar sebesar 50 N,tetapi gaya gesek maksimum yang mempertahankan bendanya 20 N,jadi dia sudah bergerak atau belum?.”

  Siswa : “Sudah!”

  Guru : “Karena F

  1 lebih besar dari F gesek statis maksimum,maka kita bisa

  menyimpulkan,benda sudah bergerak.(bersama murid) kemudian guru menuliskan kesimpulan (09.01) Menit 09.07 Guru : “Pertayaan yang ke dua sekarang,kalau gaya tarikanya 10 N,perhatikan pertayaanya berapa besar gaya gesekan saat itu?ayo siapa?” (guru

  memberi tanda untuk siswa menjawab dengan mengacungkan tangan) dalam situasi ini siswa mengangkat tangan..

  Siswa : “20.” Guru :”Siapa yang 20, lebih dari 20?.” Guru :” Saya ulangi kita tadi sudah menghitung gaya gesek statis maksimumnya tadi 20N kasusnya masih sama,sekarang benda ini akan saya tarik(guru menunjukkan gambar didepan papan tulis) gayanya saya ubah 10 N,pertayaan saya(guru memberi pertayaan sambil melihat keseluruh siswa)berapa besar gaya gesekan saat itu (siswa diam memikirkan jawaban dan guru melihat siapa siswa yang bisa menjawab, lalu guru memancing)

  Guru : “20?.” Siswa :” 10.” Menit 10.28 akhirnya guru berjalan mendekati siswa..(belum masuk analisis ) Guru :”Alasanmu apa frans kamu mengatakan 20?.” (guru berada disamping siswa) (menit10.20) Siswa1: “Kalau masih diam,gaya geseknya maksimum(dan guru mengulangi jawaban siswa,guru berjalan lagi mendekati siswa lain..) Menit 10.40 guru memberi guyonan Guru :” Kamu bag…km bagyo 1 yang itu bagyo 2,kamu saya panggil bagyo 1(saat guru memberi guyonan bagyo siswa tertawa sehingga mencairkan suasana karena siswa masih pada bingung)..kenapa?” Siswa2 : “Karena menariknya Cuma 10 (dan guru mengulangi jawaban siswa,guru berkeliling lagi mendekati siswa) Guru : “Ada pendapat yang lain,piye de,menurut kamu berapa? .“(guru berada didekat siswa) Siswa3 : “20..” Guru : “Alasanmu apa?”

  Siswa3 : “Kalau masih belum bergerak masih pake yang tadi.” (guru mengulang jawaban siswa) Guru : “Yang tadi yang mana?” Menit 11.30 jawaban alasan siswa tidak jelas, dari hal ini jelas siswa tidak memperhatikan betul, dan guru mencoba menggali terus, walaupun jawaban siswa ditertawai teman-teman lain, guru mendekati siswa Siswa3 :” Gaya gesek statis” (guru terus memburu jawaban siswa) Guru :” Yang statis apa?.” Siswa3 :” Maksimum..” Menit 11.46 guru berjalan kedepan kelas untuk mendemonstrasikan gaya gesek, dengan tujuan membantu kesulitan siswa dalam memahami gaya gesek. Ini juga ada guyonan. Guru : “Saya praktekan ya,meja ini punya pertahanan maksimum,kalau sekarang saya tarik,aku wis narik le(sambil menunjukkan tangannya)tanganku wis kaku,wis methekol(siswa tertawa)nah tapi mejanya sudah bergerak apa belum?” Siswa : “Belum..” Guru : “Pertayaan saya,berapa gaya gesek yang bekerja saat ini.” Siswa : “Sebesar tarikannya..” Menit 12.00 Dalam transkrip dibawah ini guru mengungkapkan alasaan pentingnya konsep gaya gesek. Guru : “Sebesar tarikannya,dia (meja,sambil memukul meja) akan bergerak kalau melebihi gaya gesek maksimumnya,nah konsep ini (dengan suara keras dan mantap guru menegaskan) yang sering kali menjebak kita apalagi nanti kalau kamu dikelas XII,atau mengerjakan soal tes masuk perguruan tinggi,kadang kala terkacau ini gaya gesek maksimum (sambil menunjukkan dipapan tulis) dengan gaya gesek yang bekerja pada benda saat itu,ia kan,jadi kalau tadi kita hitung F gesek statis maksimumnya,tadi berapa newton?.”

  Sisw : “20 N.”(guru mengulangi jawaban siswa) Guru : “20 N (guru menuliskan dipapan tulis) ternyata kita itu baru member F

  2

  sebesar 10 N maka kita bisa menyimpulkan bagaimana?(guru menulis sambil melihat siswa) Siswa : “F

  2 < Fgesek statis maksimum” (dalam hal ini guru tidak langsung

  menulis tetapi menungu jawaban siswa)

  Siswa : “Diam.” (guru menuliskan) Guru :” Sehingga gaya gesek yang bekerja saat itu besarnya berapa?(guru menuliskan dipapan tulis) Siswa : “10 N” Menit 13.54 guru bertanya lagi memastikan apakah siswa sudah mengerti apa belum(mengecek) Guru : “Ya (guru sambil melihat siswa),kalau gaya tarikanya (kemeja lagi) F

  3 20 N, artinya gimana? “(sambil melihat siswa)..

  Siswa : (salah satu siswa) tepat akan bergerak (guru menegulangi jawaban siswa) Guru : “Sudah bergerak apa belum?” Siswa :” Belum…” Guru :” Tapi kalau 20,01 N?” Siswa : “Bergerak.” Guru : “Sudah bergerak (mengulangi jawaban siswa),siapa yang belum jelas,jadi

  F gesek statis maksimumnya pertahanan maksimum dia supaya bergerak,kalau itu dilampaui baru bendanya akan bergerak,kalau belum ya tarikan itu besarnya sama dengan gaya gesek,kalau dia sudah bergerak boleh kah kita menggunakan gaya gesek statis.”

  S iswa : “Tidak…” (guru mengulangi jawaban siswa) Guru :” Maka langsung?” Siswa :” Gaya gesek kinetis (G mengulangi jawaban siswa)(guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami kosep yang ada sambil bertanya)

  Menit 15.00 memberi guyonan Guru :”Dong ora?(guru melihat dari semua sudut kelas)hingga menemukan salah satu siswa.

  Guru : “Ora guya-guyu le..dong ora kowe..(semua siswa tertawa dalam situasi ini guru bercanda) Guru : “Siapa yang mau bertanya?” (guru sambil berjalan mendekati siswa/berkeliling)dan guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mencatat.

  Guru : “Jadi harus diselidiki apakah benda sudah bergerak atau..belum (guru dan siswa)benda kalau sudah bergerak kalau melebihi gaya gesek statis maksimum..kalau sudah tolong dihapus.. Siswa :“genjik..genjik..piket!” Saat siswa menyebut nama temanya yang bukan nama sebenarnya dengan genjik dalam bahasa jawa guru memberi respon Guru :”Yo gen ngerti kene ono genjik..e” (siswa tertawa) Menit 16.50 .saat siswa menghapus guru sedikit melihat buku paket siswa)..

  Menit 17.07 pada materi berikutnya guru memulai dengan melihat kemapuan awal siswa yang digunakan dalam memasuki materi baru, cara guru dengan bertanya Guru :” Sekarang bagaimana diagram bebas gaya kalau benda dihubungkan dengan tali (guru menulis dipapan tulis) kita pakai untuk bidang datar dulu(guru menggambarkan benda ditarik oleh tali tanpa menggunakan penggaris tapi hasilnya bagus) gambarkan vector gayanya..(sambil berjalan kearah siswa guru bertanya) gaya apa dulu yang harus bekerja.. Siswa :” Gaya berat” Guru : “pada benda mana?” Siswa : “1 dan 2” Guru : “terus?” Siswa : “Gaya normal” Guru : (saat siswa menjawab gaya normal guru spontan bertanya kepada siswa yang disampingnya) pada benda mana gaya normalnya? Siswa : (1 orang siswa) M

  1 ,

  Guru : “Kenapa M tidak ada gaya normalnya?”

  2 Siswa : “Ditambah M ”

  1 Guru :”Kamu..” (menunjuk siswa lain)

  Siswa2 :” Menggantung” Menit 18.39 guru bertanya kepada siswa sambil memegang kepala siswa Guru :”Konsep gaya normal gimana?” Siswa1 : “M = W”

  Guru : (bertanya kepda seluruh siswa) “M = W, konsep gaya normal piye,masih ada yang ingat?” Siswa : “Tegak lurus,tegak lurus lintasan..” Guru : “Tegak lurus?gaya normal hanya dimiliki oleh apa sih? oleh benda yang..?”(memancing siswa) terletak…” Siswa : “Pada bidang.” Guru : “Terletak pada suatu bidang,atau pada benda lain.. sedang M

  2 disitu

  gimana?” (pertayaan keseluruh siswa) Siswa : (salah satu siswa menjawab) melayang. Guru : “Kok melayang?” (guru mejawab sambil tertawa kecil dan siswa tertawa) Siswa : “Menggantung..” Guru : “Normal hanya dimiliki kalau bendanya terletak..ya kan (menegaskan) bagaimana cara menggambarnya dijawab dulu syarat tegak lurus bidang, titik tangkapnya pada bidang (saat guru berbicara guru berada ditengah- tengah siswa)

  Menit 19.36 guru mengingatkan pengetahuan/konsep apa saja yang diperlukan untuk memasuki materi baru Guru : (guru menuliskan vector-vektor gaya) jadi kita gambarkan disini

  W ,kemudian W ,perhatikan cara menggambar W ,ni ya titik tangkapnya

  1

  2

  2

  (guru sambil menunjukkan gambarnya dan memperhatikan siswanya),karena bendanya teratur berada dititik pusat simetri,karena kita belum berbicara titik berat,kemudian yang punya gaya normal,tadi apa?

  Siswa : “M

  1 ”

  Guru : “ya (sambil menggambarkan gaya normal)yang bersentuhan dengan meja atau bidang adalah M ,anggap saja bidangnya kasar..maka akan ada?”

1 Siswa : “Gaya gesek”

  menit 21 Guru : “Ini dihubungkan dengan katrol yang licin,saya masih membicarakan katrol yang licin,nanti disemester 2 baru katrolnya kasar,karena kita masih berbicara katrol licin maka tidak ada gesekan antara katrol dengan tali.,sekarang pada tegangan tali. dikelas X kemarin bagaimana menggambarkan gaya tegangan talinya,tentukan dulu arah..” Siswa :”Gerak benda”.

  Siswa : “Atas..” Guru : “Kita sepakati,benda 1 kekanan,benda 2 kebawah..(guru menuliskan dipapan tulis), sekarang arah tegangan talinya,kita mulai dari benda 2,ini pada tali T (menggambar kearah atas,sambil melihat siswa) disini ada

  2

  reaksinya,kita berbicara hukum ke III Newton (gambar kearah bawah).lalu T

  1 arahnya kemana (guru masih dalam poisi siap menggambar)

  Siswa : “Kanan..”

  1 Guru :” Kemudian T 1 ,meluncurnya kekanan untuk benda M 1 maka gaya

  geseknya?” Siswa :” Kekiri” Menit 22.24 Guru :” Kalau..(sambil menunjukkan gambar) mejanya sampai bawah,ada gaya apa lagi?” Siswa : “Gaya gesek” Guru :” Gaya gesek,kemana arah gaya geseknya..

  Siswa :” Ke atas “ Guru :” Lalu gaya apa lagi..?” Siswa :” Normal” Guru :” Kemana gaya normalnya?” Siswa :” Ke kanan” Guru :” Konsep gaya normal?” Siswa :”Tegak lurus bidang..” Guru : “Jadi apapun konstruksinya, kalau kamu memahami tadi.konsep2 dari hari pertama itu, gaya normal, gaya berat, bagaimana penentuan titik tangkap gaya normal,gaya berat.”

  Menit 23

  1

  1 Siswa : “Bu,T 1 sama T 2 (siswa menunjuk pada gambar) itu memang arahnya

  berbeda bu?” Guru :” Lha tadi kamu sepakat mau bergerak kemana?” Siswa : “Ke bawah”

  Guru : “Berarti kalau ini bergerak kebawah (menunjuk pada gambar) tali ini menaggung bebanya keatas atau kebawah, tegang kemana?” Siswa : :Ke bawah..di atas wis” Guru :” Ini bukan masalah perasaan..ini masalah logika…gimna,kamu kalau menjinjing tali,karena tidak ada tali aku pake tas wae(guru mengambil tas)

  (guru sambil mengangkat tas) berat dari masa ini (tas) kemana?” Siswa : “Ke bawah” Guru : “Sekarang tegangan talinya kemana ini?” (sambil melihat kesiswa yang bertanya) Siswa :” Ke bawah” Guru :” Saya menarik ini, yang merasakan talinya ini ke atas atau kebawah?” Siswa : “Ke bawah.” Lalu siswa mencoba sendiri menarik tasnya Guru : “Tegangan talinya rasanya kemana keatas atau kebawah?” Siswa : “Ke atas.Ooo..” Guru : “Maka kalau talinya tidak kuat apa yang terjadi?” Siswa :”Putus..” Guru :”Jelas..?” Siswa : “Jelas..” Guru : “Sekarang pada katrolnya (menunjuk gambar) hukum ke tiga Newton menyatakan aksi reaksi kan, aksi reaksi pada katrol atas bawah,kebalikanya pada benda ini (pada gambar) dia tidak atas bawah, kebalikannya kanan-kiri, dia (benda m1) merasa ditariknya kemana ini?”

  Siswa : “Kanan..” Guru : “Untuk benda 2 merasa ditarik keatas,keatas to.(sambil melihat siswa yang bertanya tadi),beratnya kebawah, dong ra (masih meliaht kesiswa yang bertanya nah sekarang kita masukkan kehukum satu Newton lagi (guru menuliskan dipapan tulis), yang mempertahankan benda ini diam pada sumbu y gaya apa saja?.”

  Siswa :” N dan W ”

  1

  1 Guru : (guru menuliskan jawaban siswa), guru menuliskan persamaan pada

  

y =0, yang punya gaya gesekan?(sambil menunjukkan benda M

1 ),benda

  ∑F 1 kan, berarti f g nya berarti ?” Siswa : “µ N” Guru : “Dong ra?” Siswa :”Dong..” Guru : “Sekarang karena ada beban W

  2 , bendanya bergerak ndak tadi?”

  Siswa : “Bergerak” Guru : “Maka pakai hukum ke berapa?” Siswa : “Ke dua” Guru :”Berarti. Kita ikuti hukum ke 2 Newton (guru dan siswa menyelesaikan persamaan),untuk hulum ke dua berlaku untuk benda yang sudah?” Siswa : “Bergerak” Guru : “Nah lihat arah geraknya, dulu dikelas X saya sudah mengatakan, gaya yang searah dengan kecenderungan gerak diberi tanda?” Siswa :”Positif” Guru :”Yang berlawanan?” Siswa : “negative” Guru : “mana yang searah dengan kecenderungan gerak” (menunjukkan pda gambar)

  1 Siswa :” W 2 ,T 2 ,T”

  Guru : “yang searah itu kan” Siswa : “ya” Guru : “yang berlawanan”

1 Siswa : “T ,T ,dan f ”

  2 1 g

  Guru : “Jadi kalau kita masukkan persamaannya, W

  2 ,(guru berhenti menunggu

  jawaban siswa) ayo gayanya?” (menunjukkan pada gambar benda 2)

  1

  1 Siswa : “min T 2 , ples T 2 ,min T 1 ”

  Guru :” min atau ples?”

  Guru : “ples opo min?” Siswa : “min !!!” Siswa :” Ples T

  1 ”

  Guru : “Terus?” Siswa : “Min Fgesek..” Guru : “Sama dengan?” Siswa :”m.a” Guru :” m apa?” Siswa : “m total “(28.30) Guru : “m total m +m , karena kedua benda ini bergerak”

  1

  2

  (guru dan siswa menyelesaikan persamaan) Guru : “Kenapa W

  1 tidak mempengaruhi (guru menunggu jawaban

  siswa)karena bergeraknya kan pda sumbu x, sedang W

  1 dan N 1 bergerak

  pada sumbu y” menit 29 Guru : “Siapa yang belum dong, itu dulu sebelum nanti bablas?” Guru : “Sup dong rung?” Siswa1 : “Dong” Guru : “Frans dong ra kowe?” Frans :”dong”.

  1 Guru :” Oke sekarang kita lihat disini, min T 2 dengan ples T 2 , hukum ke tiga

  kan aksi reaksi, besarnya sama arahnya.” Siswa : “Berlawanan…” Guru : “Saling menghilangkan, maka persamaannya tinggal” (guru dan siswa menyelesaikan persamaan) menit 30 Guru :” Ini rumus?.” Siswa :”Bukan” Guru :”Bukan rumus, karena apa?kebetulan geraknya kerah W

  2 Siswa : “Haha….”(tertawa semua)

  a, ∑Fnya mana? “(guru dan siswa menyelesaikan persamaan)sampai menit 33.19

  Siswa : (salah satu siswa menjawab)” GLBB”

  diagram bebas gaya, lalu masuk ke hukum Newton, sekarang kalau saya tanya berapa kecepatannya saat t sekon ?”(guru menunggu reaksi/jawaban siswa) a(guru dan siswa menyelesaikan hingga selesai) a nya mana? Ya ini?” (menunjukkan pada papan tulis persamaan yang sudah didapat)

  1 Guru : “Setiap konstruksi itu tidak dihafalkan, pemahaman kamu tentang

  ∑F= m

  ” Siswa : “Ada” Guru : “Seadainya bendanya licin?” Siswa : “Ndak ada..” Guru : “Maka disini, hukum 2 Newton,

  Siswa : “Ke kanan…” Guru : “Maka, gaya positif?” Siswa :” T

  seolah ini kamu potong, benda 1 bergerak kemana?.”

  ,kalau geraknya kearah benda 1 bisa ndk ini ketarik kes m 1,bisa, wong kowe nimbo wae ember sing munggah kowe sing kecemplung “( MENIT 30.38)

  2 Guru : “Kalau untuk benda 1 piye?ini saya katakan (menunjuk pada gambar)

  ∑F= m

  Guru :” Sekarang kita mau menghitung tegangan tali, kita lihat masing-masing benda, pada benda 2 pada benda 1,nah kita lihat benda 2, caranya ini kita lihat seolah-olah kita putus, kita lihat konstruksi pada benda 2 saja.kita masukkan kerumus hukum 2 Newton,

  ) persamaan ini sama ndak?” Guru :” Beda, kamu harus melihat, arah gerak benda, arah gaya gesek,mana gaya yang searah dengan perpindahan, jadi tidak hafalan, brodol rambutmu lek dihafalke, sekarang kalau dah ketemu a(percepatan),kita bisa menghitung berapa tegangan talinya.”

  

1

Siswa : “Ndak….”

  Guru : “Jika geraknya kesana (kearah m

1 Guru : “Ada gaya gesek?”

  Guru :” GLBB, ini mula-mula bendanya diam, sekarang ditanyakan V t nya gimana?(guru menuliskan persamaan)V t = V +at,itu bisa dicari, berapa jauh benda berpindah, masuk s, rumusnya gmana?”

  Siswa : (salah satu siswa menjawab) “vxt” Guru : “v x t, ini geraknya apa ini?” Siswa : (semua siswa) “GLBB”

  2 Guru : (guru menuliskn persamaan)” s = v t+1/2 at , tandanya positip karena

  dipercepat, kalau diperlambat negatip, ya, ada yang mau bertanya?” Guru :” Kalau tidak saya masukkan disini angkanya, m = 25 kg, m = 15 kg,

  1

  2

  µ=0.2, hitung percepatan tegangan tali, saat t=2 s, berapa s, v t yo digarap!”.37.16 Menit 37.20 guru berkeliling meliaht siswa saat mengerjakan soal, Guru : “Siapa yang mau mencoba maju?” Siswa : “Genjik”(salah satu siswa) Menit 37.29 Lalu guru menegor dengan memegang kepala tersebut Guru : aku ngene ki ra saying le karo koe(memegang kepala siswa) tapi meng ngelap (semua siswa tertawa) Lalu guru keliling lagi Guru :” No wani maju ra yo?” (nama siswa cahyo) Menit 37.52 guru mencoba melihat garapan siswa Guru : “Dong ra kowe, yang mana?” Siswa1 : “Itu lho Bu”(menunjukkan pada gambar) Guru : “Tegangan talinya, berarti kamu secara matematisnya apa arah geraknya?” Siswa1 :” Arah geraknya?” Guru :” Ini ada salah satu temanmu tanya (guru maju kedepan)38.20, pada tegangan talinya ini (benda 2) ada dia pakai T

  2 - W 2 bukan W 2 -T 2 ,

  persamaan ini ∑F to mas, resultan gaya nah pada benda ini yang bekerja gaya apa to, tadi sudah saya katakana benda ini seolah-olah saya potong

  (menunjuk pada gambar) gayanya apa?(menunjuk siswa yang bertanya), W

  2 dan T 2 lalu lihat bendanya tadi bergerak kemana?”

  Siswa1 :”Ke bawah” Guru : “Ke bawah, turunkan berarti yang positip kemana, gaya yang searah gerak benda yang mana?” Siswa1 : “W “

  2 Guru : “W 2 maka ples W 2 min T 2 , kalau benda 2 bergerak keatas persamaane

  piye?”(menunjuk siswa yang bertanya) Siswa1 : “T

  2 - W 2 “

  Guru : “maka kecenderungan arah gerak itu diperhatikan”

1 Cahyo : (siswa lain)” Bu T dipakai Bu?”

  2

  1 Guru : “T 2 dan T 2 sama tidak?”

  Cahyo :” Tidak” Guru :” Jadi kamu hitung T

  2 dulu ya kan?”

  Cahyo :”O..ya” (menganggukan kepala) Guru :” Kamu juga bisa membuat persamaan matematis yak an,tapi kenapa saya menggunakan persamaan ini (persamaan yang dikerjakan guru dan siswa berdasarkan analisis pada ganbar dan arah gerak benda) karena ini adalah…cara berpikir setelah melihat dan menganalisis diagram bebas gaya saya tidak mau terjebak menerangkan fisika secara matematis”. Guru : “Siapa lagi yang belum dong?, Ini masih sederhana kalau kamu menguasai bagaimana konstruksinya kamu akan bisa”.

  Saat siswa mengerjakan soal guru berkeliling Menit 40an siswa berdiskusi untuk mengerjakan soal. Nyambung video hp

  Disini juga terjadi interaksi antara siswa namun tidak jelas. Dan guru mendekati kelompok diskusi tersebut.

  Guru : ‘Kamu tadi bingungnya dimana?”10.29 Siswa1 : ‘Tinggal masukin rumus kok Bu?” Guru : ‘Jangan hanya masukin rumus kamu harus tahu prosesnya, itu persamaan bukan rumus, melihat keadaan dari benda”

1 Siswa1: “Itu T berarti cuma mepet pada

  2

  ∑F=ma” Guru : “Iya” Guru :”Bukan dia (persamaan) turun kebawah ya!” Guru : “Itu merupakan suatu kesatuan to Le...(menit 11.13) persamaan tegangangan tali ya,satu tali ya, yang sudah ketemu berapa percepatanya?”

  2”

  Siswa1 :” 2,5 m/s Guru : “Ya bener,terus?’ Lalu guru mengecek Guru : “Kowe bener” (guru mendekati siswa saat menayakan guru tidak menyebut nama) Menit 12.12 guru menyebut nama siswa

  Guru : “Piye Sup tempatmu?” Usup :” 2.5” Menit 11.43 Guru : “Gambar yang bener ini gambar teknik ya! gambar pakai penggaris.”

VIDEO KE DUA MASIH TANGGAL 24

  Menit awal guru menyuruh salah satu siswa maju kedepan untuk mengerjakan soal Menit 00.32 Guru :”Mana w mana w ?gaya yang bekerja?” (siswa mengambarkan diagram

  1

  2

  bebas gaya, guru melihat sambil membimbing dengan bertanya) Menit 01.52 setelah guru meliaht siswa didepan tidak menemui kesulitan guru berkeliling untuk mengecek siswanya.

  Guru :”Sekarang untuk bidang miring, gambarkan komponen gayanya,wis lee?”(guru sambil memegang kepala siswa) Guru : “Gimana ini uraian dari w

  1 ?(sambil menunjukkan gambar yang dibuat

  siswa di buku tulis) yang menjadi bidangnya yang mana?yang datar apa yang miring?” Siswa : “Miring” Guru : “Lha kamu menguraikanya kok dari bidang datar ,hayo? bidangnya kan miring ngene lho diwalik, jadi uraian w itu terhadap bidang miring”.

  Guru : “Lha ini kok Nnya (normal) sudah tegak lurus bidang miring sudutnya 90® kok bisa diuaraikan menjadi Ncos dan Nsin, jadi yang diuraikan yang

  Siswa : “Yang W”. Lalu siswa membetulkan garapanya Guru : “Perhatikan ya, pada bidang miring yang menjadi acuannya bidang atau bidang miring?”(guru bertanya kepad kelas) Siswa : “Miring”. Menit 05.54 guru memeriksa garapan siswa yang mengerjakn dipapan tulis Guru : “Sekarang persamaanya siapa yang mau menghitung?”(guru menunggu siswa maju lalu guru memanggil salah satu siswa) kamu Cahyo!” Cahyo : “ ya Bu!”

  y

  ∑F Guru :”Ya” Cahyo : “Salah je Bu..” Guru : “Salah yo ra po2, ini geraknya kesana berarti sumbu xnya yang mana?”(menunjuk pada gmbr dipapan tulis) Cahyo: “Yang miring”. Guru : “Sumbu Y?” Cahyo : “Yang tegal lurus bidang” Guru : “ = 0” (guru membimbing siswa menulis) apa saja pada

  y y

  ∑F ∑F

  Cahyo :” N-w 1 terus.. Guru : “Coba perhatikan ini tadi sumbu yang x terus yang ini sumbu y jadi w

  1. ”

  Cahyo : “w

  1

  cosα” Guru : “Ya.” Cahyo : “N- w

  1

  cosα=0” Guru : “Siapa yang mau bertanya?” Guru :”Jadi..yang namanya sumbu x dan y ini lho bidang geraknya bidang miring to lee(menunjukkan pada gambar) sumbu y itu tegak lurus sumbu x jadi mana sumbu Y”? Siswa :”Lurus dengan N”.

  Guru “Berarti tali yang ini (yang menggantung) bergerak pada sumbu X apa sumbu Y?” Siswa :”Sumbu X”. Guru :”Dong ora?” Siswa :”Dong”.

bagian 2 video 2

  menit 1 Guru :”Sekarang bagaimana persamaan pada sumbu X, kalian tadi memilih meluncur kearah sini..ada yang mau mencoba ke depan?” Guru :”N satunya apa?itu (siswa bingung dan guru menunjukan persamaan

  1

  yang sudah ada N )N satunya tadi gimana?” (lalu siswa menemukan)

  1

1 Guru :”Konsepnya tadi gimana?”

  siswa pun selesai mengerjakan dengan benar Guru :”Ya gimana betul?” (bertanya kepada kelas) Siswa :”Betul”.

  Guru : “Meskipun dengan susah payah kita membaca tulisanya…!” Siswa : (salah satu siswa) “Dihargai Bu” Guru : “Ya dihargai jelas.” Guru :”Ada yang mau bertanya, sudah cukup jelas?” (sambil menunjukkan gambar)

  “Kenapa disini w cos w sin?” Siswa :” Jelas…!” Guru :”Bagaimana persamaan tegangan talinya (guru memberi kesempatan siswa untuk yang bisa maju kedepan) bisa anthoni persamaan tegangan talinya.(siswa masih mikir2) tadi persamaan tegangan talinya gimna?”(bertanya kepada Anthoni)

  Anthoni:”Dipotong dulu.” Guru :”Ya, lalu..(siswa diam) kedua kencenderungan arah?” Anthoni: ”Arah gerak” Guru :”Masuk kehukum II newton. Toni ..(karena si toni diam dan guru memangil siswa lain) yoo kamu bisa yoo?”(Yohanes) Yohanes:”Sek dicoba dulu bu”. Guru :”Di coba dulu, kalau langsung nyoba didepan gimana..ra sah gowo buku wong wis ono gambare kok.” Yohanes maju kedepan .. Guru :”Ya

  1

  ∑F Nnya N berapa ya N ∑F opo le?”

bagian 3 video 2

  bagian ini mengerjakan soal2 yang ada dibuku Guru : “No 6 kita lihat sebuah balok 6 kg diam, berarti yang diketahui itu apa?” Siswa : “Massa..” Guru : “Diam berarti kecepatannya?” Siswa : “Nol” Guru : “Meluncur dengan waktu 2.5 sekon apanya itu?” Siswa : ”t nya..”

  Siswa :”Mung latihan bu”. Guru :”Latihan yo harus komplit.w cos w sin tetep digambar komplit, tidak ada dispensasi apapun ya konstruksi gayanya, diagram bebas gaya harus komplit, harus benar menggambar vektornya. harus dimulai dari sekarang menggunakan penggaris karena kamu belum bisa menggaris lurus..komponen gaya dari ujung vector itu teori tentang vector dikelas X cari proyeksinya”.

  Guru : “Untuk 1-10 untuk pr, ingat tadi dari konsep gaya gesek, masukkan kehukum 1,2,3 newton slamat siang..” Siswa : “Siang!” TANGGAL 25 JULI menit 1 Guru :”Ya kita lanjutkan yang kemarin diagaram bebas gaya antara dua gaya yang dihubungkan dengan apa?” Siswa :”Tali”. Guru :”Tali katrol bendanya dibidang datar, maupun dibidang miring, bagaimana menghitung kecepatan, gaya gesekan, jarak yang ditempuh menggunakan persamaan hukum I, II, III Newton serta GLBB. ada yang mau ditanyakan sebelum nanti masuk kelatihan soal, apakah sudah cukup jelas..Be”?(nama siswa) Be :”Sudah”.

  Guru :” Bo”. (nama siswa) Bo :”Ya”. Guru :”Yohanes, sudah jelas yang kemarin”. Yohanes:”Sudah”. Guru :”Frans”. Frans :”Jelas”. menit 3 Guru :”Oke sekarang kita lanjutkan latihanya, sekarang no 1 (guru memulainya dengan membaca soal no. 1 dan menuliskan dipapan tulis) pertayaan saya, mana yang koefisien gesek statis dan mana yang kinetis Anthony”?

  Guru :”Alasan kamu gimana”? Anthony:”Kalau benda bergerak kan gaya geseknya otomatis semakin berkurang”.

  Guru : “Jadi koefisien gesek statis lebih besar dari pada kinetis, jika benda ditarik F

  1

  15 N kekanan, kemana arah gaya geseknya? Siswa :”Berlawanan dengan F

  1 ”

  Guru : “Kalau F nya 15 N padahal F

  30N kita bisa menyimpulkan

  1 gsmax

  gimana?” Siswa :”Benda diam..” Guru : “Ya benda masih diam berarti F gs saat itu” Siswa : “15 N.” Guru : “Percepatanya karena masih diam” Siswa : 0 Guru : “Siapa yang masih bertanya coba selidiki yang B nanti maju.” Guru : “Kalau ditarik dengan gaya 30 N siapa yang mau maju?” Siswa : (satu siswa) “Diitung lagi ndak bu?” Guru : “Diitung lg ndak?(bertanya keseluruh kelas) F gsmax Siswa : “Ndak usah..” Guru :”Karena bendanya tidak berubah bidangnya tetap jadi kekasaranya tetap, siapa yang mau maju kedepan rama?(nama sisw) ra sah gowo buku ma wong wis ono neng kene, siapa yang mau mencoba yang c (ada siswa yang maju) siapa yang mau mencoba no.2?” menit 08.40 saat siswa mengerjakn didepan guru mereview kejadian kemarin guru mengingatkan Guru :”Gaya gesek statis maksimum benda tidak akan bergerak sehingga gaya gesek saat itu adalah..gaya luar yang diberikan ya kan kemarin saya contohkan menarik meja, mejanya tetap diam padahal sudah saya tarik sampai metekol tapi mejanya masih belum bergerak. berarti gaya gesek saat itu adalah sebesar..gaya yang saya berikan”. Guru :”Sekarang no. 2 berani 2a sup”.(nama siswa) Guru :”Yo maju..(usup maju kedepan) ya maju. 2b koe frans”. menit 09.37 salah satu siswa sudah selesai (rama) guru membahas/mengecek Guru : “F

  2 = 30 N, f gesek maksnya 30N sehingga f gesek saat itu sama dengan

  F

  

2 maka benda dikatakan tepat akan bergerak, sudah bergerak apa

  belum?” Siswa : “Belum.” Guru : “Jadi percepatan saat itu piro?” Siswa : “Nol.” Guru : “Lah ini mana?” Rama : “Titip bu…” Guru : “Ora (09.56) nitip!” semua siswa tertawa dan rama maju kedepan untuk memperbaiki menit 10. Guru :”Konsepnya kemarin begitu sudah melewati gaya gesek statis maksimum otomatis kalau bendanya sudah bergerak menjadi gaya gesek kinetis..siapa yang belum Jelas”. menit 11.43 ada siswa yang bertanya Siswa1 :”Berarti yang no b gaya gesek yang bekerja saat itu kenapa 30N”? Guru :”Pertayaan yang baik”.

  Siswa2 :”Karena gaya yang bekerja 30N”. Guru :”Ya 30N”. Siswa1 :”Berarti sama dengan gaya yang diberikan jika tidak bergerak”. Guru :”Iya, jadi besarnya selama masih diam sama dengan gaya luar saat itu, gaya luarnya berapa”? Siswa1 :”30N”. Guru :”Besarnya itu sama dengan gaya gesek maksimum”? Siswa1 :”Ya”. foto siswa S1 menit 13 Guru :”Piye sup”. Usup :”Berkonsultasi Bu”. Guru :”Piye lek mu gambar kie”? Usup :”Masih drafnya Bu”.

  Guru :”Yo sisan wae ra go penggaris”. lalu usup mengambil penggaris untuk menggambar. Guru :”M ulane (makanya) koe ora usah kokean(kebayakan) nonton dangdut neng purawisata”.

  Siswa :”Ha ha”.(semua siswa tertawa) saat menggambar guru terus melihat Guru : “Nie pake kapur putih..ra sah degdegan..mung ditonton karo anthoni kok degdegan Siswa : “Ha,,yeah..hi…13.45 guru terus membimbing/melihat gambar yang dibuat siswa langkah demi langkah

  bagian 2 video 1 Guru : “ y sama dengan 0 opo wae : y “(sampai selesai membimbingnya) ∑F ∑F

bagian 3 video 1

  menit 1 Guru :”Nah saiki nek benda ini ditarik oleh gaya F cos 60= 160 N padahal pertahananya 310 N kesimpulanmu opo”? Usup :”Tidak bergerak”. Guru :”Jadi percepatanya saat itu”. Usup :”Nol”. Guru :”Sekarang kalau saya beri gaya 200 N wis gerak rung”? Usup :”Belum”.

  Guru :”Kalau saya beri gaya 310N sudah bergerak apa belum”? Usup :”Hampir gerak”. Guru :”Berarti sudah bergerak apa belum”?

  Guru :” Kalau saya kasih 311N sudah bergerak belum”? Usup :”Sudah”. Guru :”Jadi kesimpulanya benda akan bergerak kalau”? Usup :”Fgesek maks lebih kecil dari F yang diberikan”. Guru :”Ya, gaya luar yang diberikan lebih besar dari F gesek, dong ra”? Usup :”Ya”. menit berikutnya siswa maju 2 orang dan guru membimbing dan melihat guru berada didekat siswa sampai 07.39 Guru : ”Ada yang mau ditanyakan, jadi soal no 1 dan no 2 itu adalah untuk menyelidiki benda sudah bergerak atau belum, ok no 3 siapa yang mau mencoba kedepan,..”

  Siswa1 :”Saya” Guru : “Ya boleh..” menit 08.28 ada siswa yang bertanya yang duduk dibelakang Siswa1 : “Jadi harus dicari satu satu gaya geseknya?” Guru : “Iya inikan tidak dikatakan ditung keempat2nya kan, kecuali dikatakn ini untuk satu roda berarti kamu harus menghitung gaya geseknya empat kali gaya gesekan satu roda, dong!”

  Siswa1 : “Ya”

  Guru : “Jadi dihitung untuk satu roda saja, nah sekarang ditanyakan berapa gaya horizontal, itu gaya luar nah pertayaan saya ini bergerak dengan kecepatan tetap, artinya opo lek bergerak dengan kecepatan tetap”

  Siswa1 : “e…” Siswa2 : (disamping siswa 1) “Nol” sampai 09.40 menit 10 guru mendekati kelompok yang sedang berdiskusi, guru hanya melihat salah satu siswa mengajari temannya sesekali bersuara Guru :”Ya teruskan temennya dibantu, ya betul”. selama ada siswa yang mengerjakan guru mendekati siswa/kelompok menit 13.00 guru membahas garapan siswa yang mengerjakan didepan namun guru menemukan kesalahan dan guru mencoba menggali pemikiran siswa dimana salahnya Guru :”a(percepatan) nya sama dengan tetap sama dengan nol maksudnya piye itu, mana yang soalnya mengatakan a nya tetap, (guru mendekati siswa) bergerak dengan ketetapan tetap, apa symbol dari kecepatan?” Siswa : “V”.(semua siswa menjawab) Guru : ”Nah..sekarang apa konsep dari percepatan itu”.

  Siswa1 : ”Perubahan kecepatan terhadap waktu”.

  Siswa1 :” V”. Guru :”Kalau Vnya tetap, berarti delta Vnya piro? (siswa bingung dan guru memberi arahan) misalkan v

  

1 10m/s v

2 10 maka delta Vnya”? Siswa1 : ”Nol”.

  Guru : ”Sehingga yang tetap itu apanya”? Siswa1 : ” V”. Guru :”Akibatnya a nya sama dengan”? Siswa1 :”Sama dengan V”. Guru :”Kok sama dengan v, tadi a delta V per delta t, kamu tadi setuju Vnya tetap berarti delta Vnya”? Siswa1 :”Nol”. Guru :”Sehingga a nya”? Siswa1 :”Nol”. Guru :”Jadi disitu (menunjuk papan tulis) salah. yang ditulis tetap itu apanya”? Siswa1 :”Vnya”. Guru :”Ini huruf opo ini”?(menunjukkan tulisan siswa diatas) Siswa1 :”N”. Guru :”Untuk symbol apa ini”? Siswa1 :”Normal”. Guru :” n kecil opo N besar (lalu siswa memperbaiki) ini f geseknya yang mana yang kamu pakai?” Siswa1 :” Kinetis”. Guru :”Kinetis? alasanmu opo?” Siswa1 : ”Bendanya bergerak”. Guru : ”Bendanya bergerak dengan?” Siswa1 : “Kecepatan tetap”.

  Guru :”Coba perhatikan ini yang lain, perhatikan teman kamu menghitung fg kinetiknya 260 N fg statisnya 520, untuk menjaga benda bergerak dengan kecepatan tetap berapa gaya luar yang harus kita berikan (pertayaan untuk kelas) yo semua berpikir”?

  Siswa :”(salah satu siswa) sama dengan gaya gesek kinetic”. Siswa :”(siswa lain) 260 N”. Guru :”Lalu berapa lagi, cahyo berapa , berapa lee”? Siswa :”(siswa lain)260N”.

  Guru :”Fuad”? Fuad :”260”. Guru :”Kenapa tidak 520”. Siswa :” Karena bendanya sudah bergerak”. Guru :”Itu jawabanya, jadi meskipun statisnya 520 untuk dia (benda) bergerak memang harus melawan itu, tapi pertayaan disini adalah setelah dia

  (benda) bergerak maka setelah dia (benda) harus mengalahkan 260 N jelas”. Guru :”Jadi harus hati-hati ya , menyelidiki sebelum benda bergerak atau benda sudah bergerak, hati-hati konsepnya disitu”. Guru : Siapa yang mau bertanya, jangan diam kalau belum tahu, no 4,5 siapa yang mau mencoba maju kedepan ada siswa yang maju tanpa dipanggil namanya menit 23.33 saat siswa yang mengerjakan didepan mau menggambar guru memperingatkan dan menegur Guru : “Yo (yohanes) ojo terlalu tegak, nanti lek gawe bendanya repot (pada saat yo menghapus menggunakan tangan guru menegur) woo mbok nganggo klambimu sisan yo” (semua siswa tertawa) menit 26.40 saat ada siswa mengerjakan didepan guru mengecek salah satu siswa yang menurut guru kurang mampu dan guru membimbingnya, guru meliaht cara menggambar diagaram bebas gaya Guru :”Terus gambar bendanya tegak lurus bidang miring, ya terus sejajar bidang miring (menggambar komponen gaya) sekarang gambar w nya kemana arahnya”? Siswa :”Ke bawah sini”.

  Guru :”Ya, w itu tegak lurus pada bidang datar..ini dari titik tengah benda arahnya mana”? Guru :”Coba lihat catatan kamu, gambarnya seperti ini lho. guru terus membimbing langkah demi langkah dan guru menunjukkan gambar yang dibuat guru yang terdapat didalm catatan siswa.. setelah itu guru memriksa garapan siswa yang di depan Guru : “Apakah bendanya tidak memiliki gaya normal?” Siswa : “o..iya bu..” lalu siswa memperbaikinya guru memperingatkan 31.37 Guru : “Perhatikan baik-baik dalam melukis diagram bebas gaya, vector gaya vector komponen tidak boleh salah harus menggunakan penggaris kalau belum bisa lurus, komponen vector tidak boleh melebihi proyeksinya, itu sudah aturan yang baku..” bagian empat video 1 ada siswa yang berdiskusi Siswa1 :”Ini yang dibuat katrol 1 apa 2 dulu” Siswa2 : “Ya dua-duanya..” dalam situasi ini siswa lain mengerjakan dibangku masing2 dan ada yang bekerja berdua-dua menit 02.47 siswa tidak mengerti penentuan w cos dan w sin itu didapatkan dari mana? dan guru membimbing siswa hingga tuntas. Guru :”Kita punya segitiga ini (guru menggambar dicatatan siswa) ini alfa, kalau ini saya perpanjang menjadi suatu segitiga a,b,c siku2 di b, skarang kalau saya punya ini, proyeksinya kesana to ini. jika segitiga ini sebangun mana yang sama dengan alfa ndi sup”?

  Usup :”Yang ini”. Guru :”Gene koe dong neng kene alfa”.

  VIDEO 2 Menit 00.00 ada siswa yang bertanya dan guru mendekati siswa Guru : ”Ini kan satu, jadi beban yang ditanggung katrol 1, lalu yang kedua ini dibagi dua” Siswa1 : “Setengah-setengah ya bu…” Guru :” Iya, tegangan talinya m

  2 +m 1 itu nanti sama dengan T 1 , kamu bisa

  mencari dari ini dulu bisa ini juga, ini kan satu katrol meskipun masanya berbeda tegangan talinya sama le” Siswa1 : “Iya..01.23 Guru : “Saya membantu no.7 ya 01.57 Guru : “Normalnya mana, gaya geseknya mana itu yo..(saat guru memriksai menit 07.08 ada siswa yang bertanya Guru :”Kalau tidak diketahui masanya, bisa dikerjakan tidak?sekarang kamu lihat kesini (menunjukkan persamaan dipapan tulis) ini ada masa ada masa

  (ruas kana dan kiri persamaan ada masa) ruas kanan ruas kiri ada masa, boleh to kalau masanya saya coret”? Siswa :”Boleh”. Guru :”Di situ kalau tidak ada massanya bisa dikerjakan to”? Siswa :”Bisa”. menit 08.55 Guru : “Sampai sejauh ini siapa yang belum tau sama sekali, tunjuk jari saya akan memberi pendampingan khusus, sore hari, siang hari, nanti kalau malu istirahat menemui saya” no. 7, no.8 ya kae disik sing cah cilik(semua siswa tertawa) menit 11.42 saat ada siswa yang mengerjakan didepan guru mengecek siswa dan guru mendekatinya dan terjadi komunikasi namun tidak jelas apa yang ditanyakan siswa

  VIDEO TGL 5 AGUSTUS 2009 1 JAM PELAJARAN melanjutkan soal pada pertemuan 25- 7-2009 Guru : ada yang mau ditanyakan Siswa : semuanya bu? Guru : saya akan membahas satu soal nanti yang laenya kalian pasti bisa PR yang diberikan guru pada pertemuan sebelumnya siswa tidak bisa dan guru mencoba membahas satu soal dan yang lainnya nanti siswanya mengerjakan dikelas.setelah guru selesai menggambarkan soal dipapan tulis, guru mencoba membahas soal dengan Tanya jawab: Guru :oke saya akan membahas satu soal, soal seterusnya apa kamu akan bisa.

  1 Guru :”Ini adalah t (menulis pada gambar) dan ini t

  Guru : “Ini sama ndak?” (menunjukkan pada gambar tegangan tali) Siswa : “Sama bu..” Guru : “Apa yang dapat kamu simpulkan?” Siswa :(salah satu siswa) “Tnya sama bu..” Guru : “T

  1 =2T 2 terus, apa lagi?”

  Siswa : “a

  1 =2a 2 ”

  Guru : “Nah, kalau itu sudah kamu peroleh, ya kamu bisa mulai dari T

  1 =2T 2 .

  Kita mulai dari benda 1 (guru menulis) a ya, ∑F=m

  1 1 ∑Fnya apa?” (guru

  menunjukkan pada benda 1) Siswa : “w

  1 -T 1. ”

  Guru : “Sama dengan?” Siswa : “w

  1 -T 1 = m 1 a 1 ”

  Guru menuliskan persamaan Guru : “Ya ndak? Ini persamaan 1, sekarang persamaan 2 (benda

  2)persamaannya gimana?” Guru : “T

  2 -w 2 sama dengan?”

  Siswa : “m

  2 a 2 ”

  Guru :” Ini dicari T dulu (pada persamaan 1) T = m a + w terus ini nanti

  2

  2

  2

  2

  2

  dimasukkan kepersamaan 1, terus ketemu tegangan tali..yo masukan angkanya. jadi konsep yang utamanya disini mas” (menunjukkan padaT

  1 =2T 2 , a 1 =2a 2 dan guru melingkarinya 05.34)

  Lalu siswa mengerjakan soal

  06.23 Guru : “Sudah ada yang ketemu, berapa cahyo?” Cahyo : “Angkanya jelek bu?” Guru :” Ndak pa pa angkanya jelek. a

  1 dan a 2 berapa?”

  Cahyo : “100/55” Lalu guru mendekati cahyo dan melihat garapan cahyo 06.31 guru mengecek

  Menit 08.18 guru berkeliling mengecek garapan siswa Menit 08.40 ada siswa maju mendekati guru dan bertanya tentang soal. Sampai menit 09.09 Menit 09.24 Guru : “Ayo yang sudah memikirkan soal no.2 yo maju,(siswa maju) prinsipnya hampir sama(guru menunjukkan persamaan soal 1) terus yang no.3 Menit 11 ada siswa yang bertanya Guru : “Tegangan tali disini 2 kali tegangan tali ini, ya kan maka Tnya ini,ya kan (siswa mengangukkan kepala) ini ada dua keadaan, menarik tali neng a sudah diketahui, kalau yang ini kecepatanya tetap berarti kecepatanya nol yo dicoba kedepan, ya konsep dari tegangan tali disini T ini adalah 2 kalinya sana, ini masih satu tali to?”

  Siswa : “Ini masih satu tali to bu?” Guru : “Ya, ini kan masih satu tali…” Siswa : “Bu ini berarti Fnya sama dengan T?” Guru : “Iya” (lalu siswa maju kedepan) Menit 11.40 Siswa :” Bu, a

  2 lebih banyak bu?”

  Guru :”Iya a kan terbagi 2 tali maka punya a dibagi 2, bahasa yang paling

  1

  2 gampang a bergerak lebih banyak dari pada a ”

  1

  2 Guru : “Nah prinsip catrol seperti ini digunakan pada apa le..ya pada keren dikapal-kapal itu digunakan untuk menaikkan container, memangnya mau diangkat, kalau dirumah kamu punya piano dinaikan dilantai 2 ya pakai susunan katrol-katrol, akhirnya usah kita menjadi kecil, keuntungan mekaniknya lebih besar, di smp kamu hanya mempelajarinya pada tuas nah sekarang dengan sistem katrol. Maka kemarin saya melihat teman bapak-bapak karyawan itu menaikan meja-meja bekas laboratorium bahasa ke lab fisika diangkut waduh..maka seharusnya sekolah mengusahakan adanya katrol itu.”

  Rama : “Buat bu..” Guru : “Yo ngenteni koe dadi bose!” kamu ngomong sama pak arifin

  (bapaknya rama)

Strategi pembelajaran guru/mengingatkan

  Menit 13.43 Guru : “Ada yang masih belum bisa...?” Siswa : “Belum…” Guru :” Mana yang belum?” (guru mendekati siswa) Guru :” Kalau ini a

  nya turun, maka talinya yang disini akan menarik benda 2 kemana?” Guru : “Sekarang prinsip dari hukum ke II Newton, searah dengan kecenderungan gerak benda Fnya diberi tanda?” Siswa :” Positif” Guru :”Jadi T

1 Siswa :” Ke atas”

  2 nya positif min W 2 masanya yang tertarik disini m 2 , a juga a

  2

  karena percepatan a

  2 ini tidak sama dengan a 1 , nah sekarang T Guru : “Jadi hukum ke II dan hukum ke III, jangan lupa dari konsep

  2 Siswa :”Iya”

  ini aksen ini masih satu tali, aksi reaksi kan?” Guru : “Maka disini namanya juga masih T

  2 Siswa : “O..iya ya”

  ” Guru :”Ya kan, kemana geraknya yang lebih cepat a

  1 atau a

  2

  meluncurnya lebih cepat nah..makanya percepatan ini 2 kalinya percepatan ini, dong ora?”

  

kencenderugsn arah gerak benda kemana, gaya yang searah diberi

tanda positif. Nah coba sekarang ditentukan persamaanya untuk W

  1

  piye?persamaanya jadi?” Siswa mengerjakan dan guru melihat Siswa : “W

  1 -T 1 ”

  Guru : “Nah ini W

  1 -T 1 , terus hubunganya a 1 dan a 2 tadi gimana, a 1 berapa

  kalinya a

  2 ”

  Siswa :” 2 kalinya” Menit 15.49 Guru : “Jawaban teman kamu ini kurang lengkap, seharusnya untuk benda 1 terus benda 2” (lalu guru menunjukkan untuk benda 1 dan benda 2) Guru : “Semua mengerti pekerjaan cahyo, frans jelas?. Kemudian untuk yang kedua kita lihat, benda 1, benda 2. Benda 2 bergerak ke bawah karena ini turun maka benda 1 bergerak kemana?”

  Siswa :” Ke kanan” Guru : “Maka gaya geseknya ke kiri dong ora?” Siswa : “Dong”

  1

  1 Guru : “semua diagram bebas gaya digambarkan, disini T , T pertayaan saya

  2

  1 T 2 terhadap T 1 bagaimana? T 2 nya dua kali T 1 ya kan, maka percepatanya

  a

  2 nya terhadap a 1 ”

  Siswa :” a

  1 2 kali a 2 ”

  Guru :” a 2 kali a , saat ini (pada benda 1) bergerak sepanjang x kedua tali ini

  1

  2

  bergesernya berapa?” Siswa : “½ x” Guru : “Setengah, maka 1 dibagi 2, konsep itu jelas ndak?” Guru :”Saat ini bergeser sejauh x maka talinya ini, yang ini turun ½ x dan yang ini ½ x (pada benda 2), kalau benda 1 bergerak kekiri sejauh x maka benda 2?”

  Siswa : “Naik setengah x..” Guru :”Dong ra?” Siswa :”Dong” Guru : “Jadi konsep itu, kenapa ini satu kali dan ini setengahnya itu harus

  nangkap dulu. Kalau itu sudah tau ini gampang”

  Menit 21.02 Guru : sekarang persamaan 2 (benda 2) konsep yang utama ini lho

  (menunujukkan dan melingkarinya) T

  2 =2T 1 kemudian a 2 nya berapanya

  a

  1 ...setengah a 1 , mari dipahami dulu yang belum jelas akan saya bantu lagi

  Menit 27.38 Guru : “Minggu depan kita ulangan, mau berapa soal?ayo saya tawarkan.” Siswa : “3, 4” Guru : “Berapa soal? materinya bidang datar, bidang miring dan katrol” Siswa : “3 bu…” Guru : “Ya tiga..” Siswa : “Yang gampang-gampang bu, jangan susah-susah, 5 saja bu.” Guru : “Ya udah 5 biar nanti satu salah masih ada 4, gambar komponen gaya dinilai?” Siswa : “Dinilai bu sebagai tambahan” Guru : “Ya dinilai..” Guru : “Oke waktu habis, kita doa dulu, ayo dipimpin..” Ada siswa yang maju untuk memimpin doa.

  PRATIKUM 7 AGUSTUS 2009 Guru :” Kita masih melajutkan hukum newton, dimeja kalian sudah tersedia petunjuk pratikumnya kemudian alat-alat pratikum, saya masih mendengar suara- suara dan ada yang masih jalan-jalan sudah siap pratikum belum? (guru berhenti sejenak dan menunggu siswa untuk siap mengikuti pelajaran) gon kamu menunda banyak sama dengan saat kita menghitung percepatan pada GLBB di kelas 1 masih ingat?alatnya apa saja?” Siswa : “Neraca” Guru : “Neraca betul! Terus?” Siswa : “Ticker timer, beban berkait..” Guru :”Terus?” Siswa : “Papan luncur, balok, pita kertas” Guru : “kemudian?” Siswa : “benang, katrol” Guru : “Kemudian kereta, sekarang kita mulai, dasar teorinya disitu. Kalau ada suatu benda dengan masa tertentu bergerak karena suatu gaya, gaya itu disebabkan oleh bebanya”2.41

  Daftar Pertanyaan Wawancara Guru M Wawancara sesi I

  • Guru sering meminta siswa untuk maju, mengerjakan soal. Faktor apa yang menjadi alasan guru? Mengapa tidak dikerjakan bersama? • Guru cenderung sering menjawab pertanyaan siswa secara personal.

  Alasan apa yang melatar belakanginya? Saat ada siswa yang bertanya, pertanyaan yang diajukan tidak disharekan/dibagikan pada kelas. Mengapa?

  • Mengenai soal latihan, apakah selalu dalam bentuk lembaran (sudah diketik)? Soal murni dibuat sendiri atau ada referensinya, dari mana?
  • Sebelum memasuki materi baru, guru selalu menjelaskan materi yang akan dibahas, apakah menurut guru hal tersebut perlu dilakukan?Mengapa?
  • Saat menjelaskan materi Gelombang Stasioner, guru memilih metode demonstrasi.Mengapa?
  • Guru mengulang penjelasan. Mengapa?Apakah guru merasa kesilitan pada bagian pembahasan tersebut?(disk 2,menit ke-2)
  • Materi Gelombang Stasioner dijelaskan setelah demonstrasi. Mengapa? • Guru lebih sering memberikan/mengajukan pertanyaan ke seluruh siswa.

  Mengapa?

  • Guru tidak pernah melihat buku referensi saat mengajar?

  Mengapa?Apakah malam sebelumnya guru sudah mempersiapkan materi pembelajaran? Bahan Wawancara SESI 2

  Pertanyaan:

  • Dalam menjelaskan pembiasan, bapak menyebutkan bahwa pembiasan terjadi pada 2 medium yang berbeda. Bapak menyebutkan 2 medium yang berbeda tersebut sebagai dalam dan dangkal.Kemudian sedikit mengingat di SMP sebagai rapat dan kurang rapat, apakah ada alasan tertentu
  • Untuk materi interferensi, mengapa dijadikan tugas?mengapa bukan materi yang lain? Lalu adakah tindak lanjut untuk tugas tersebut?apakah hanya dikumpulkan lalu dinilai atau mungkin dipresentasikan?atau dibahas? • Saat membahas persamaan untuk letak simpul terhadap ujung pemantul.

  Dari transkrip video : Guru :.........Supaya simpul satu masukkan ketemu, simpul dua masukkan ketemu..kan ini ada persamaan umumnya ya..saya berikan saja

  λ (guru langsung memberikan persamaan umum untuk 2n+1. ½ x)(menit 42:22)

  Apakah yang menjadi alasan guru, langsung memberikan persamaan kepada siswa?

  • Dalam tiap proses pembelajaran yang kami amati, bapak sering memberikan umpan kepada siswa (pertanyaan-pertanyaan)yang sifatnya interaktif/tanya jawab atau bentuk komunikatif. Apakah yang sebenarnya melatarbelakangi (menjadi alasan) menggunakan cara seperti itu?Bagaimana pengaruh terhadap pemahaman siswa?
  • Menurut bapak,berdasarkan pengalaman bapak mengajar, letak kesulitan dari gelombang stasioner di bagian mana?baik kesulitan yang dihadapi siswa maupun kesulitan dalam menyampaikan materi?Tindakan yang bapak lakukan sebagai solusi ntuk persoalan tersebut?(ada kemungkinan kesulitan yang dimaksud guru berbeda dengan yang dirasakan oleh siswa??)
  • Pada saat menyampaikan materi yang mencakup gambar, bapak selalu mengingatkan agar siswa teliti dalam menggambar?Alasannya?
  • Kutipan transkrip video : tgl 22 juli Guru :”Kita coba ya..Kalau berat?tambah apa?Selain itu jaraknya kita tambah..apa yang terjadi?Kalau bebannya saya tambah lagi?Sekarang beda lagi...Kira-kira apa yang menyebabkan tali yang satu tadi menjadi kelihatan dua seperti itu?ada yang tahu?

  Kita lihat dari depan..awalnya terjadi...gelombang ini karena apa? Karena ini digetarkan..Kalau digetarkan ada gelombang..dari mana ke mana?

  • Dari kutipan diatas, apa yang menjadi alasan bapak menggulang penjelasan dari awal (mengajak siswa untuk review), apakah bapak menemukan bahwa siswa belum menangkap konsepnya?siswa kesulitan pada bagian tersebut?
  • Pada saat menyampaikan rumus x, letak simpul terhadap ujung pemantul, bapak mengatakan “boleh menghafalkan boleh tidak, kalo hafalannya mateng atau kuat ya nggak apa-apa..”. Dari kalimat tadai apakah itu berati bapak tidak melarang siswa untuk menghafalkan rumus? Alasannya?
  • Dalam hal,dokumentasi catatan, sepertinya bapak memberi no.untuk tiap sub bab atau tiap ganti pembahasan baru. Selalu demikian? alasannya.menjadikan lebih mudah dipelajari?

  Daftar Pertanyaan Wawancara Guru F

  Lampiran 9

  • Apakah ibu pernah mengalami kesulitan dalam mengelola waktu untuk proses pembelajaran? Bagaimana cara mengatasinya?
  • Pola yang ibu terapkan dalam proses pembelajaran, diperoleh darimana? Apakah sama untuk tiap level kelasnya?
  • Pada suatu saat, ibu berkeliling dan membimbing siswa saat mengerjakan soal, bagaimana dengan pengelolaan waktunya?
  • Alur yang penyampaian materi apakah mengikuti buku atau di susun sendiri?
  • Bagaiaman cara menyampaikan konsep yang memuat pengertian,m isal konsep gaya gesek?
  • Fisika memuat banyak rumus, apakah ada cara atau jurus-jurus jitu dalam menyampaikan rumus tersebut agar mudah diterima siswa?
  • Karakter siswa berbeda-beda ,gaya belajar mereka juga bebeda, lalu cara untuk mengatasi hal tersebut?”
  • Pada awal-awal pengamatan, guru sering memberikan soal secara lisan, itu sudah dibiasa?

  TRANSKRIP WAWANCARA GURU M Sesi Wawancara I tgl 11 Sept’09 P1= peneliti 1, P2 = peneliti 2, G = guru

  P : “Mengenai..berkenaan dengan pengambilan data yang sudah dilakukan,

  1 ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Biasa saja sih pak..ya ngobrol, begitu..Kalau boleh saya tahu, sudah berapa lama Bapak mengajar?”

  G : “Mengajar di sini?” P 1 : “Sebelum di sini,mungkin.. jadi akumulasi, menjadi guru tepatnya. G : “Saya mengajar di sini mulai mengajar dari 1992. P : “Langsung ke sini ya pak?”

1 G :“Iya, Juli 1992 itu mengajar di sini.Tapi sebelumnya itu tiga bulan

  mengajar di sini dulu, menggantikan Pak Ganjar. Pak Ganjar pergi, saya menggantikan tiga bulan, mengajar disini, trus tidak ke sini lagi. Juli dipanggil lagi suruh ngajar disini”

  P

  1 : ”Jadi sebelumnya tidak pernah mengajar di sekolah lain ya pak? Jadi pengalaman mengajar murni disini ya pak?” G : ”Iya, betul.

  P

  1 : ”Pertama mengajar kelas berapa pak?

  G : ”Saya dulu kelas I, yang sekarang dikenal dengan kelas X P

  1 :”Saat ini, apakah bapak hanya mengajar kelas XII?.”

  G : ”1,2,3 atau kelas X, XI, XII.” P

  2 : ”Lalu, pola yang Bapak terapkan dalam mengajar kelas X, XI, XII, apakah sama? Metode yang bapak gunakan? Perlakuannya sama atau berbeda?”

  G : ”Berbeda, kelas X masih sangat umum, anak-anak masih sangat heterogen. Masih ada yang mau masuk IPA, IPS dan Bahasa. Metode yang digunakan cenderung ceramah, demonstrasi tidak sampai ada praktikumnya, jadi hanya demonstrasi dan kadang mencoba sendiri tetapi tidak sampai praktikum seperti kelas XI . Kelas XI, XII kan sudah khusus

  IPA . Jadi mereka agak dibebaskan, kita hanya memberi point-pointnya saja, mereka akan mengembangkan sendiri. Harapannya begitu. dan ada kalanya mencoba sendiri.”

  P :”Kemudian kesulitan yang bapak hadapi? Inikan sekolah homogen ya

  1 pak, cewek semua, itu apa?”

  G :”Kesulitan, kayaknya kalau dibandingkan dengan sekolah campur,cewek cowok, kalau di sini motivasi untuk maju, terutama untuk fisika itu agak susah, itu karena ceweknya itu saya kira. Kayaknya itu bukan pelajarannya dia gitu kan. Fisika itu mungkin anggapannya untuk cowok-cowok. Tapi menurut saya ya ada beberapa yang ya..memang semangat sekali belajar,

  P

  2 : ”Lalu tindakan bapak untuk memotivasi mereka biar minat masuk IPA?”

  G : ”Sebelum atau sesudah masuk IPA?” P : “Sebelum, jadi di kelas X”

2 G : “Di kelas X itu sebenarnya tidak ada memotivasi mereka untuk masuk

  IPA. Mereka sudah punya bayangan sendiri, besok kuliah mau masuk apa?sekarang saya harus masuk IPA, atau karena otrang tua, saya ingin masuk IPA.Jadi tidak ada perlakuan khusus.Ini anak-anak yang ingin masuk IPA terus diperhatikan secara khusus. Nah mereka juga nanti dibantu dengan orang tua juga, orang tua kan tanda tangan, jurusannya apa...Kemudian juga ada tes TPA mreka. Jadi IPA ragu-ragu atau cukup atau bagus kan ada kriterianya. Kalau nggak salah dengan Sanata Dharma juga. Jadi tidak ada persiapan khusus”

  P

  2 :”Jadi bener-bener murni dari minat siswa itu sendiri Pak?”

  G :”Iya..iya..” G :”Itu jadi masalah kalau yang mereka tidak mau masuk IPA, belajar fisika atau yang unsur IPA kan jadi...kurang, wong saya tidak mau masuk IPA kok. Tapi kalau yang mau masuk IPA ya memang serius, kalau saya mau masuk IPA ya saya harus belajar bener-bener..gitu. Itu kan jadi ada kontradiksi tho..karena kelas X itu masih tiga jurusan sebenarnya. Ada yang mau IPA, Bahasa, IPS. Kalau mau IPS pelajaran yang IPA ya mesti agak diabaikan. Kalau yang mau IPA ya yang penting saya masuk IPA dulu. Kalau saya mengamati selama ini lho”

  P

  1 : “Bapak kan mengajar 3 level,otomatis yang dulunya di ajar bapak di kelas X, kemungkinan bertemu dengan bapak di kelas XI, XII. Apakah ada keuntungan tersendiri di situ?”

  G :“Untuk murid yang naik justru sangat beruntung karena sudah paham betul gaya saya dan langkah-langkah saya dan cara saya mengajar mereka sudah istilahnya sudah menyesuaikan. Jadi tinggal meneruskan saja.”

  P

  1 : “Jadi, untuk bapak juga menguntungkan?”

  G : “Iya, saya jadi sudah hafal, tapi harus tidak subyektif.Wah ini sejak kemarin ini saja..sebaiknya dihindarkan, meskipun kadang-kadang kepikiran juga ya Misalnya wah anak ini dulu gini, remidi... terus sudah punya image,oh ya ini remidi oh.. wangun..kelas 2 dulu juga remidi.Keuntungannya ya itu tadi, saya tahu anak , anak sudah paham betul gaya-gaya saya. Jadi tidak usah adaptasi lagi.”

  P

  1 :“Untuk pengelolaan kelas?bagaimana pak?susah tidak?kan cewek- cewek..”

  G : “Untuk kelas X,ya perlu kerja keras. Untuk kelas XI dan XII mereka sudah paham siapa saya. Kalau saya tidak memperhatikan ya berarti saya nanti gak bisa, kalau gak bisa ya sudah tahu sendiri,kemungkinan kalo memperhatikan. Kalau kelas X ya gitu heterogen tidak semua masuk IPA.”

  P

  1 :”Jadi untuk kelas XI, XII lebih dikembalikan ke siswa.Sedikit masuk ke dalam hasil analisis video kami, kemarin pada saat mengajar, bapak hampir tidak pernah melihat buku...”

  G :”Setiap kali mengajar, saya selalu mempersiapkan dulu. Kalau mbak liat catatan tahun lalu dan tahun ini, itu berbeda. Karena melihat buku referensi yang berbeda. Sekali, dua kali ya kadang buka buku.membuka itu kadang-kadang buka karena urutannya kan, dan untuk memastikan lagi itu betul atau ndak ”

  P

  1 :”Kadang ada guru yang karena sudah lama mengajar,tidak perlu melihat buka, sepertinya sudah di luar kepala.”

  G :”Saya mempersiapkan dulu,belajar dulu, saya menyarikan, merangkum, kata-kata yang harus saya pilih yang mana supaya catatan mereka itu simpel. Karena kan mengajar itu, ya level kita, level sekolah ini kan sangat heterogen,muridnya memang homogen, tapi kemampuannya sangat heterogen, nuwun sewunya ada yang agak di bawah ada yang tinggi. Nah, saya harus merangkum biar mereka itu bisa terima olehsemua. Kalau yang pinter kan disuruh pakai buku atau handout saja sudah bisa. Tapi kalau yang kemampuannya agak di bawah harus dicarikan yang simpel yang meskipun saat diterangkan tidak dong, tapi saat dibaca ulang bisa, bisa ingat kemarin saat Pak Linus menerangkan oh maksudnya seperti ini...Saya yakin tidak sampai 30% saat diterangkan langsung dong. Mereka dong saat sudah mempelajari lagi. Atau bahkan ada yang ketika ulangan mereka baru bener-bener dong maksudnya. Ya..memang agak gimana ya..ya seperti itu..”

  P

  1 :”Nah,berati itu tadi salah satu cara bapak mengatasi kemampuan siswa yang heterogen. Selain itu apalagi Pak?Apakah ada perhatian-perhatian khusus,apalagi misalnya sudah masuk IPA dan kemampuan mereka masih sangat dibawah, apakah itu ada bimbingan khusus, atau bapak memperhatikan dia secara khusus pak?”.

  G : ”Yang kelas X itu,perhatiannya ya hanya dengan remidi saja.Kalau kelas

  XI biasanya dilaporkan ke wali kelas.Itu yang kelas 2, tapi tetap masih remidi. Lalu yang kelas XII itu biasanya kalau remidi terus, beberapa kali tidak tuntas, misalnya 2 kali atau 3 kali atau lebih masih tidak tuntas, biasanya mereka dipanggil, saya tanya kok kamu remidi terus. Nanti untuk tingkat sekolah itu, untuk anak yang kemamouannya agak dibawah itu akan dijadikan satu.Baik dari kelas saya maupun guru yang lain dijadikan satu, kemudian diberikan tambahan. Kemarin sudah dilaksanakan, tapi ketika, tidak sempat waktunya, karena nanti semester 2 itu, kelas 3 pulang sekolah itu mesti sudah mulai ada tambahan. Nah,kemarin yang sudah dilaksanakan yaitu memanggil,misalnya ditanya..kamu kok remidi terus, di rumah belajar tidak, sudah les apa belum? Paling ga perhatiannya seperti P

  1 :”Kemudian selama ini, selama bapak mengajar, apakah bapak pernah mengalami kesulitan dalam, ya tadi bapak sudah mempersiapkan ya sebelumnya memang, tapi kan kondisi di lapangan tidak selalu seseuai dengan teori ya, mengelola waktu, misalnya dalam menyusun materi,misalnya sudah disusun seperti ini tapi kayaknya ada materi yang keteteran. Apa yang bapak lakukan?Apa memberi materi susulan di luar kelas,atau bagaimana Pak?”

  G :”Itu terjadi biasanya pada kelas X ya, salah satu cara terus karena kita dikejar target,ya itu sebenarnya tidak harus begitu, tapi karena kurikulum mengharuskan seperti itu ya dipercepat. Tapi tetap prinsip saya anak harus punya dokumen.Tapi bukan berarti saya menggunakan handout atau tulis tangan lalu dibagikan. Pengalaman kami disini itu untuk anak yang rentangnya begitu banyak itu mereka tidak akan dong.”

  P

  2 : ”Mengejar jam di luar kelas gak itu pak?”

  G : ”Kalau sangat terpaksa nanti bisa ngambil jamnya yang lain. Biasanya jam yang bisa dipakai jam BK.Itupun kalau sudah sangat kepepet sekali karena banyak sekali acara. Seperti di kelas 10 kemarin itu dari semester awal itu sudah kehilangan 2x4, 2 jam kali 4 itu berapa?padahal cuma 2 jam per minggunya. Ada libur, ada 17an. MOS, nanti itu ada tes TPA. 2 x 4, 8jam.Ya itu biasanya dipercepat. Kadang-kadang dipercepat saja tidak mungkin, jadi minta waktu guru yang lainnya.”

  P

  2 : ”Kalau misalkan dipercepat,mungkin ada konsep atau materi yang kita

  inginkan ternyata tidak tersampaikan,yang aka diulang di kelas 2. Nah pada saat kelas satu mungin bukan bapak yang mengajar,kemudian dikelas 2 bapak yang mengajar, siswa ini masih keketeran, cara mengatasinya bagaimana pak?

  G :”Nggak,biasanya meskipun dipercepat kan ada dokumen tadi, catatan tadi.

  Mereka punya catetan, yang namanya catetan kan bisa dibuka lagi. Jadi dipercepat tidak waton diterangkan terus sudah selesai. Makanya dokumen ini,catetan yang pentingkan. P

  1 :”Jadi untuk pengalaman mengajar benar-benar murni disini ya pak?di luar

  belum?” G : ”Ho..oh..” P :”Kemudian kalau pola mengajar yang bapak terapkan itu diperoleh dari

  1 mana? Ataukah..oh di kelas ini yang kurang ini, maka dikelas lain harus ditambah ini,tambal sulam begitu pak?”

  G :”Untuk pola mengajar pertama kali kelas X dulu, saya masih awal mengajar dulu, itu terbawa oleh siapa guru yang kita favoritkan ketika di SD, atau SMP atau SMA, pertama kali saya mengajar pakai itu kok kayaknya berhasil, tapi dalam perkembangannya ya tidak selalu itu. Saya memperoleh dari MGMP, memperoleh dari pengalaman teman yang lain, pengalaman saya mengajar sendiri. Kalau kemarin pakai cara seperti ini susah, pakai cara lain.Masukan banyak,tapi mengalir dari diri saya sendiri, sehingga bisa dibedakan kalau Pak linus seperti ini, kalau Pak Ganjar seperti ini.Kemudian nanti terintegrasi ke diri sendiri.”

  P : ”Kalau mengenai pendekatan terhadap siswa itu sendiri, kan karena

  1 semua cewek, biasanya bagaimana untuk mengetahui perkembangan mereka dalam belajar fisika?”.

  G :”Itu, guru cowok terlalu dekat dengan cewek kan enggak ya..jadi ya pendekatannya hanya kalau di kelas saja. Di kelas saja kan kadang-kadang harus melihat anak, ini karena belum ya..biasanya nanti pada akhir semester catatan akan saya kumpulkan dan saya nilai. Saya tahu perkembangan anak ya itu dari catatan-catatan itu atau tiba-tiba suatu saat catatan saya kumpulkan saya nilai Terus untuk yang pendekatan harian ya biasa saja kalau ada kesulitan tanya nggak sampai face to face, kecuali ada beberapa yang memang keinginan belajarnya tinggi, rasa ingin tahunya tinggi, biasanya bertanya langsung pada saya.”

  P

  1 :”Kemarin itu di video saya melihat, bapak meminta siswa untuk mengerjakan soal, maju, mengerjakan di depan. Apakah metode itu sudah lama bapak terapkan?”

  G :”Metode itu saya terapkan sejak era terbit KTSP, nah untuk yang KTSP itu kan yang untuk materinya dikurang, tapi untuk kelas XI dan XII metode itu masih memungkinkan waktunya. Dan untuk model itu relatif lambat, jadi anak yang lain itu relatif mudah menangkap. Daripada saya menerangkan selesai, itu hanya berapa anak yang dong pada saat itu tapi kalau sambil ada yang maju terus kita memberi tahu itu lebih jelas. Itu pengalaman saya sendiri saya adopsi dari saya kuliah di S2 itu kan ada yang semester 1 ngulang, nggak lulus semester 1 terus ngulang semester 2 tapi modelnya begitu,anak satu per satu suruh maju, gurunya dibelakang sambil mengoreksi..misalnya..ya itu kalau begitu gimana..nah lalu itu anak yang lain kan memperhatikan, secara tidak langsung mereka menggantikan saya, meskipun mereka lebih lambat karena masih saya bimbing, masih ditanya-tanyai gak langsung dilepas mereka langsung dong, kalau langsung dong kan mereka bisa langsung cepet saja mengerjakan tapi kan masih ada yang bingung harus bagaimana. Nah dengan begitu menambah daya dong anak, meskipun waktunya agak lambat.”

  P

  1 : ”Kemudian dalam penyampaian bahan ajar, apakah selalu urut sesuai dengan silabus yang bapak susun atau sesuai kondisi waktu dan sebagainya?”

  G :”Nek perencanaannya sesuai RPP tho? Tapi dalam waktunya itu yo tergantung dengan kondisi, tapi secara umum memang sudah ada patokannya mengajarkannya ini dulu baru itu, ya itu sudah ada. Nanti nggak selesai. Tapi secara umum sudah ada patokannya. Jadi ya itu RPP dan silabus itu. Dan itu biasanya juga nggak selalu sama dengan buku ya urutannya, yang jelas misalnya, yang bagus tu ini dulu, baru ini... ini..Kalau seperti yang gelombang stasioner itu kan berbeda, ada yang ngambil gelombang datang dari kiri, saya ngambilnya dari kanan trus balik ke kiri. Ya itu nyoba sendiri, persamaannya supaya cocok. Dulu pertama kali ya memang teks book. Kalau sebelah kanan kan x nya plus, lebih mudah. Merambat ke kiri kan min, eh merambat ke kiri plus ke kanan kan min. Nah dalam buku-buku kayaknya ke kanan semua.Lha saya nyoba sendiri itu.Untuk persamaan matematinya juga mereka mudah, pakai sin a+sin b jadi apa itu kan mudah”

  P : ”Kemudian dalam menyampaikan rumus ya..kalau dulu kami sendiri

  1 memandang kalau fisika itu menghafalkan rumus, apakah bapak punya cara khusus dalam menyampaikan rumus, seperti jurus-jurus jitu..”

  P

  2 : ”Biar siswa tidak selalu menghafal..”

  G :”Ya pada rumus-rumus tertentu bisa, tapi kalau untuk yang terlalu panjang atau yang lain yang mudah itu kemarin kalau gak salah yang v = λ f . Lha itu kan ya agak sulit kan menghafalkannya? v = λ f atau apa ini

  v λ

  λ .Nah kan saya pakai saya pakai = Tv , T = periode , v = kecepa tan .

  f

  Tapi saya pakai λ = Tv biar gampang, Tv itu jadi satu, mereka lebih

  1 mudah. Kalau mau f ya berarti Tnya diganti . Tapi dibenak mereka

  f fl

  λ Tv . Terus seperti apa itu.. modulus elastis E . E dan f itu kan

  = =

  Al hampir sama. Terus A dengan itu kan hampir sama, jadi satu kelompok.

  ∆ Terus saya memang tidak mengingat rumus yang sangat banyak ya.

  Seperti dalam persamaan gelombang kan ada yang y A sin ω t kx . Ada

  = ± x

  yang t per apa + itu kan saya gak pernah. Saya yang simpel saja. Dari

  v

  getaran terus tambah kx saja sekarang di kelas 2 untuk

  ±

  ω kan..sudah tinggal nambah + atau +kx saja kan sudah slese

  y = A sin t

  1

  nggak usah pakai + apa pakai T pakai terus + x atau atau v, saya nggak

  x

  pernah gitu. Karena dari yang dasar itu sudah bisa ke sana. Jadi mereka ngirit ngapalke, gitu..” P : ”Karena awalnya sudah, tinggal menambah”

2 G :”Iya, makanya kan kalau memang bisa mengajarkan itu lebih baik. Lebih

  baik lagi kalau soalnya itu selalu mencakup dengan bahan lain yang sudah hukum 2 Newton. Biasanya kelas I kan sudah, kan ada GLBB..kan F=ma, a nya kan dari GLBB 3 itu masukkan. Nah itu mereka akan teringat terus sebenarnya. Tapi kita juga tidak selalu begitu karena sulit menggabungkan konsep menjadi beberapa soal. Karena indikatornya cukup mereka tahu yang ini, kenapa harus ditambah?itukan masuk pengayaan sebenarnya.”

  P

  1 : ”Kemudian sebelum mengajar, bapak selalu menyampaikan materi apa yang dipelajari pada hari itu, misalnya, hari ini kita akan belajar ini..apakah hal itu selalu bapak lakukan?”

  G :”Paling tidak dalam satu bab itu iya..kalau gak paling gak satu bagian yang akan kita ajarkan hari itu atau minggu itu. Misalnya hari ini kita akan belajar gelombang stasioner, kalau hari itu tidak selesai saya jelaskan, bahwa besok kita masih akan belajar tentang gelombang stasioner.Paling tidak kalau lupa pada awal bab sudah saya sampaikan.”

  P

  1 : ”Alasan khususnya mungkin, tujuannya khususnya itu apa?apakah agar siswa tahu bahwa hari itu kita akan belajar itu atau...”

  G :”Biar siswa punya gambaran yang apa..terintegrasi untuk materi yang akan kita pelajari, diharapkan nanti siswa juga punya tujuan yang sama terus anak juga bisa menyiapkan. Kadang-kadang kalau pelajaran tentang praktikum ada yang sms, besok materi praktikumnya apa? Jadi mereka memang, anak IPA jadi memang tidak perlu dikageti, mereka tanya ya tidak semua..Tapi ada beberapa yang tanya, karena mereka ingin mempelajari dulu.Atau mereka mengharap persiapan dulu kalau tiba-tiba kuis, itu mereka sudah bisa. Ada mereka yang sudah les dan mereka minta guru les menjelaskan lebih dahulu. Jadi saya belum sampai dia sudah sampai. Begitu saya sampai dia sudah kedua, nah itu”

  P : ”Itu yang bener-bener minat sekali dengan fisika”

1 G :”Iya, betul”

  P

  1 : ”Ya, untuk bapak sendiri..apakah awalnya sangat berminat pada fisika sehingga bapak menjadi guru fisika,atau bagaimana ini pak?”

  G :”Oh, tidak..saya itu yang namanya pelajaran fisika di SMP itu menjadi sesuatu hal yang sangat menakutkan ya..sangat menakutkan, sampai- sampai kalau mau pelajaran fisika itu cari-cari alasan gimana biar gak ikut. Sangat takut saya dengan fisika dulu itu, SMP. Nah SMA kelas 1,trus kelas 2 kan masih pakai jurusan A1, A2, A3. Yang A1 itu kan yang IPA, A2 yang biologi, A3 yang IPS. SMA dulu saya gak ada yang bahasa. Dulu namanya SMA ya nggleleng tho masuk A1. Ya saya masuk A1 saja. Tapi suka fisika itu ya masuk kelas 3 itu, liat guru itu kok ngajarnya enak, ulangan dapat bagus ya jadi seneng. Ya sejak kelas 3 itu baru seneng fisika”. P

  2 :”Karena gurunya ya pak?”

  G :”Iya, karena gurunya. Makanya saya tadi, pertama mengajar yang saya ngambil jurusan fisika. Jadi bukan saya modalnya pitar fisika itu ndak. Tidak seperti yang olimpiade-olimpiade itu nggak. Saya justru berangkat dari sangat tidak suka fisika, akhirnya yo seperti ini.”

  P : ”Kalau praktikum itu di luar jam ini ya Pak, pelajaran?.”

1 G :”Di luar jam pelajaran, di sore hari..tetapi nilainya masuk ke nilai pagi,

  nilai pelajaran.Ya, yang laporan itu kan masuk kognitif nanti digabung dengan nilai responsif. Terus yang ketika praktikum diamati satu per satu, nilai psikomotorik. Nah kan ada nilai kognitif, psikomotorik dan afektif..jadi ketiga hal itu harus ada.”

  P

  1 : ”Itu memang sudah diatur oleh sekolah?”

  G :”Sini punya kelebihan khusus bidang itu, mungkin kalau sekolah lain praktikumnya kalau gak ambil jam pagi ya sporadif saja. Nek sini terprogram setiap tahun. Jadi diawal tahun ya rapat..rapat mengenai pembagian penggunaan lab.kimia, fisika, biologi itu yang IPA kemudian ada pergantian koordinator, membuat LKS, terus nanti setiap kali ada. Ya kalau sini memang khusus, jadi kadang-kadang kalau ada kunjungan ya di kesinikan. Misal dari luar kota mau study banding kemana, biasanya kesini. Biasanya nanti pulang bawa LKS. LKSnya ya kita buat sendiri, menyadur dari beberapa sumber terus kita buat sendiri atau ya memang ada yang murni bikinan guru sendiri”. P

  1 : ”Oh iya ini, tadi berkaitan dengan LKS saya mau tanya, kemarin itu kan bapak menggunakan soal-soal yang sudah diketik kemudian dibagikan

kepada siswa. Apakah selalu begitu, atau seringnya begitu, ya Pak?”

  G :”Yang..kan ada buku teksnya mereka nah dari buku teksnya mereka untuk awal-awal ini, saya merasa soal-soalnya ini belum..disamping mereka belum punya bukunya, soal-soalnya itu kurang. Nah saya ketik sendiri terus saya bagikan. Nanti kalau untuk materi yang soalnya sudah cukup komplit ya sudah dari buku saja. Tidak selalu tapi kalau melihat materinya itu kok soalnya kurang tidak sesuai dengan gambaran saya, saya mesti ngetik sendiri”

  P

1 : ”Itu diambil dari buku lain atau mungkin bapak buat murni sendiri?”.

G : ”Iya atau saya buat murni sendiri atau kadang-kadang dari dokumen

  UNAS itu. Buat latihan, paling nggak sudah kulino lah..Dan itu kalau tidak diketik, dicatet, mereka jadi sangat lama. Nyatet satu lembar saja berapa lama?Satu jam pelajaran saja belum tentu selesai mereka, nyatet sambil liat papan tulis..gini-gini...Jadi gurunya harus rela ngetik dulu”. P

  1 :”Menurut bapak dengan metode demonstrasi itu yang kemarin itu sangat menarik ya pak? Apakah mereka memang lebih dong kalau disampaikan dengan demonstrasi?”

  G :”Ya, mereka kan di demonstrasi kan tahu..o yang sebenarnya itu seperti itu. Jadi demonstrasi itu kan hanya sebagian kecil dari sistem pengajaran. atau sendiri-sendiri. Jadi mereka tahu, tapi untuk kasus kita kan sangat tidak mungkin itu ya, untuk setiap demonstrasi, anak melakukan sendiri satu per satu. Tapi mereka jadi tahu bener, yang namanya getaran searah dengan atau sejajjar dengan apa..kalau yang transversal itu kan arah rambatnya tegak lurus, tegak lurus seperti apa...kalau searah seperti apa. Itu jadi malah mereka tidak hanya teori atau hanya membaca buku saja,membayangkan itu nggak. Demonstrasi kalau tiap hari sebenarnya sangat bagus”

  P

  1 : ”Kalau tidak salah bapak wali kelas dari kelas yang saya teliti kemarin, bapak sudah cukup mengenal siswa-siwa..sudah cukup hafal.”

  G :”Kemarin itu kan baru awal ya, belum begitu mengenal baru sekitar ¾ nya saja, kan ada sebagian yang kelas 1 nya saya ajar, jadi saya hafal betul.

  Untuk menghafalkan satu per satu itu sangat susah. Menghafalkannya biasanya saya suruh maju satu per satu. Saya langsung hafal, nah ini misalnya raden roro maju..mereka mengerjakan.Terus besoknya saya hafal. Tapi kalua menghafalkan orangnya, ini..ini..lupa. Jadi kemarin itu belum semua hafal”. P

  1 : ”Jadi maju itu juga salah satu cara untuk menghafalkan siswa ya Pak?” G :”Iya, betul”.

  P

  1 : ”Ada satu bagian dimana bapak itu mengulang penjelasan. Jadi, bapak sudah menjelaskan kemudian belum ada siswa yang bertanya tapi bapak sudah langsung mengulang penjelasan. Apakah memang bapak merasa siswa masih kesulitan atau bagaimana Pak?”

  G :”Maksudnya biar mereka benar-benar paham betul dan kan tidak semua yang saya ulang, agak ditekankan pada bagian-bagian tertentu. Kadang- kadang yang ada hubungan dengan yang lain itu yang saya tekankan betul- betul . Kalau yang biasa nggak saya ulang, atau yang saya ulang itu yang materi kemarin yang berhubungan dengan hari itu sehingga pola berpikir mereka itu biar bisa terintegrasi. Seperti kalau nek setelah ini kan mengajar kisi difraksi celah tunggal, celah ganda nah itu kan hampir semua pakai d sin θ n λ . Tapi dicermati d sin θ n λ untuk celah ganda teranga tatu gelap, kisi terang atau gelap, celah tunggal terang atau gelap. Semua kan d sin θ kan harus mengulang terus, menekankan terus. Jadi bener-bener mereka harus bisa membedakan . Oh..meskipun pakai persamaan d sin θ untuk yang ini gelap, untuk yang ini terang.”

  P : ”Jadi sebelumnya bapak memang sudah mengetahui tingkat kesulitan

  1 siswa memang dititik itu ya pak?”

  G :”Bukan, saya..dari saya membaca itu maka dari sekian itu alur yang harus saya tekankan ya disitu itu, letaknya di situ itu jadi bukan, mungkin anak juga yang pinter sudah tahu tapi kalu saya tekankan lagi,itu mereka lebih kali. Kalau mereka sudah bosan dengan persamaan kan berarti dia sudah dong. Setiap kali mengerjakan soal ketemu persamaan ini lagi,ngerjakan soal ketemu persamaan ini lagi, bosan..berarti mereka sudah paham betul. Supaya bosan kan harus diulang-ulang. Kalau hanya sekali saya yakin itu belum. P

  1 : ”Untuk mengetahui apakah siswa yang bapak ajar sudah memahami materi yang bapak ajar itu bagaimana?secara keseluruhan?”

  G :”Secara keseluruhan itu dari ulangan, kalo kelas..jadi beda ya perlakuannya, kalau kelas X ,XI hampir semuanya essay karena saya bisa tahu polanya mereka, ya pola mengerjakannya, mereka sudah dong atau belum, kita tahu. Tetapi kalau kelas 3 itu karena, ya sekali lagi karena mau ke UNAS, saya menggunakan pilihan ganda tetapi pakai cara mereka, pakai cara sehingga tahu sampai mana mereka tingkat kedongannya. Di situ itu yang paling gampang, jelas essay semua pola pikirnya akan kelihatan. Wo ini sama sekali gak dong, yang diketahui dan ditanyakan nggak nyambung sama sekali, ya berarti nggak dong. Tapi ada yang rintik- rintik, nah dari situ. Kalau tidak menggunakan ya tidak tahu. Kalau hanya..seperti ngajar di kelas, ni apa nanti ada yang ngomong, itu tidak mewakili kelas, hanya orang-orang tertentu yang memang aktif supaya kelas ini hidup. P

  1 : ”Kemudian cara bapak mengaktifkan siswa yang tidak aktif tadi itu, disuruh maju atau bagaimana?”

  G :”Ya banyak cara, kalau kita sering memeriksa catatan kan tahu, anak yang aktif atau tidak.Terus kalau yang tidak aktif sama sekali ya kadang disuruh maju. Itu yang biasa saya lakukan gitu. Kalau mereka sangat tidak aktif karena hal lain. Itu BK yang menagani. Ternyata mereka ada masalah yang lain kan itu jadi mempengaruhi yang lain. Saya sudah angkat tangan masalah itu kecuali saya wali kelasnya, saya akan contact ke hp nya. P

  1 : ”Berkenaan dengan kuis, memang bapak kalau mengadakan kuis itu dadakan gitu ya?”

  G :” Ya..” P

  1 : ”Sering ya Bapak lakukan?Kuis dadakan seperti itu?”

  G :”Dalam satu semester itu paling tidak 2 kali. Karena memang dalam tagihan kan ada. Tagihan kuis atau pertanyaan lisan atau mungkin di suruh maju itu nanti ada , tugas juga ada, setidaknya 2 kali. Seperti misalnya kalau ulangan, ulangan itu kan mestinya tiap bab, tapi kalau kuis saya itu paling tiak 2 kali. Tugas paling tidak satu atau dua kali.”

  P

  1 : ”Kalau kuis itu selalu mendadak ya pak?”

  G :”Saya sudah bilang sejak awal, kalau yang namanya kuis itu pemahaman saya itu adalah tes mendadak yang dikerjakan pada hari itu materinya bahan pada hari itu. Kalau mereka memperhatikan mestinya mereka bisa. sekali lagi kalau bener-bener dong hanya 30% yang lain baru dong saat mulai mengerjakan soal atau di rumah membaca-baca.

  Wawancara Sesi II tanggal 16 September 2009

  P

  

1 : ”Begini pak, untuk yang kemarin itu kan yang materi belum sempat saya

tanyakan, untuk materi gelombang stasioner kemarin kan bapak memilih metode demonstrasi ya pak? Alasannya?alasan memilih metode demonstrasi?”

  G :”E..gelombang stasioner itu..kalau tidak di demonstrasikan, mereka tidak bisa membayangkan. Kalau gelombang berjalan masih memungkinkan seperti slinki atau air, itu gampang ya..Tapi nek simpul perut kan susah. Simpul perut kan harus ditunjukkan. Lha itu..demonstrasinya memang begitu. Kalau lebih baik metode praktikum, tapi waktunya terlalu panjang tho? Praktikum berarti tiap kelompok ada satu, anak –anak suruh mengukur bisa jarak simpul-perut, bisa panjang gelombang, bisa nanti panjangnya diubah-ubah atau frekuensinya diubah-ubah.”

  P

  1 : ”Tetapi untuk materi yang gelombang bunyi itu tidak didemonstrasikan ?”

  G :”Ndak dipraktikumkan, nggak di demonstrasikan. Sebenarnya kemarin setiap kali saya ngajar itu pakai alat” P

  

1 : ”Kemudian ini pak, kemarin saat bapak menjelaskan materi, ketika ada

  yang ingin bapak tanyakan, bapak cenderung langsung melemparkan ke seluruh kelas ya pak?tidak ditunjuk?” G :”Karena ini anak IPA. mereka kadang-kadang sudah punya..apa..gambaran tersendiri maka saya tujukan ke umum. Nah di samping itu untuk umum paling ndak kan bisa mengetahui tingkat afektifnya mereka untuk menila, meskipun dalam hati nanti ditransfer ke..untuk anak ini untuk afektif di kelasnya, keseriusan belajar atau perhatiannya nilainya bagus. Untuk yang ditunjuk satu per satu itu sebenarnya kalau maju mengerjakan soal, nanti ada penilaian tersendiri., termasuk tagihan lisan”

  P : ”Nah, dalam memilih siswa apakah ada alasan tertentu mungkin? Saya

  1 sering melihat Citin itu sering sekali maju ya pak?”

  G :”Itu hanya sebagai trik kelas saja supaya kelihatan agak hidup tapi dia memang juga aktif dan agak lumayan. Dan dia memang lebih aktif dibanding yang lain. Kalau ada pertanyaan mesti jawab. Kdang-kadang meskipun salah tetap jawab, jadi agar susana juga tidak terlalu tegang.”

  P

  

1 : ”Pak, apakah kalau menjelaskan dengan gambar itu ada kesulitan

tertentu pak? Kan harus detail”

  G :”Kesulitan menggambar ke anaknya sebenarnya yang sulit . Kalau kita komunikatif jadi anak kalau melihat gambar menjadi jelas bukan malah menjadi tidak jelas. Seperti yang sangat sulit kan menggambar pembiasan pada tempat yang dalam atau dangkal itu, nah itu kan cukup susah itu. Nah itu perlu latihan juga. Tapi kalau tidak digambar mereka tidak punya dokumen itu. Harapan kita, kita mencatat itu kan punya dokumen, sehingga kalau di rumah atau dimana, biar dipelajari atau diulang lagi..Prinsipnya itu ya.. P

  2 : ”Oh ya pak kemarin kesulitan yang bapak hadapi saat mengajar?”

  G : ”Kesulitan tentang fisika ya?atau secara umum? P

  2 : ”Secara umum, mengajar?”

  G :”Untuk yang anak sekarang itu mungkin untuk kesulitan motivasi mereka, untuk blajar keras, untuk mendapat nilai yang bagus itu menurut saya tidak seperti jaman kita dulu. Terutama untuk mereka yang semuanya sudah kelimpahan ya tv ada, handphone ada,apa-apa ada.Motivasinya itu tidak seoptimal kita dulu.Kita kan kalau dulu belajar yang giat biar berhasil, jadi ini, jadi itu . Mereka itu disitu letaknya, jadi mereka tidak lalu berusaha sekali untuk menjadi lebih baik, optimal tu ndak. Tapi mereka juga terus tidak sama sekali. Sebenarnya nek mereka itu motivasinya sangat tinggi, nilai yang lebih tinggi lebih baik pasti bisa dicapai. Motivasi masih agak kurang ya.Kalau dari gender atau homogen cewek atau cowok ya..saya tidak pernah membandingkan dengan yang cowok cewek ya jadi ndak tahu yang cowok dan cewek, kalau yang cewek tu ya sebenarnya sudah tidak masalah, karena tiap hari ketemu dan apa istilahnya sudah biasa. Jadi tidak ada kesulitan yang berarti.Kesulitannya justru dimotivasi mereka itu.” (menit ke 7)

  P : ”Lalu langkah-langkah bapak untuk mengatasi?mungkin melakukan apa

  2 untuk mengatasi hal tersebut?” G :”Banyak,saya harus selalu bilang semangat-semangat, mari semangat.

  Biar mereka juga disadarkan. Apalagi kelas XII sudah mau ujian Nasional. Itupun mereka tidak begitu...ah..masih lama begitu lho. Kalau kita tidak tiap kali menyadarkan nanti mereka susah. Kalau dari sekolah ada retreat itu juga menyadarkan. Wali kelas juga mendampingi sehingga tahu betul , jadi semakin memotivasi mereka untuk belajar bukan sekedar lulus tetapi mendapat nilai yang lebih baik lagi. Terus nanti di kelas XII juga ada bimbingan sore itu juga mengatasi kesulitan itu.”

  P

  2 : ”Kalau retreat gitu, apakah salah satu cara mengenali karakter juga pak?”

  G :”Iya, kan karena dilatih nanti cara bekerja sama, cara dalam kelompok membantu dengan yang lain, terus nanti problem dengan orang tua, problem dengan teman itu nanti juga dibahas. Sehingga diharapkan setelah bekal itu mereka jadi putih. Jadi dari segi keimanan,atau agama itu”.

  G :”Iya program.” P

  1 : ”Kemudian untuk beberapa hal itu, ketika ada siswa yang bertanya, bapak langsung menjawab pada siswa yang bersangkutan, berarti itu alasannya apa pak?kalau misalnya saya tany, langsung dijawab ke saya tidak dibawa ke depan. Itu alasannya apa? .”

  G : ”Kalau yang kadang-kadang langsung ke anak itu karena mungkin merasa bahwa itu problem dia. Terus yang kedua masalah waktu juga.Masalah waktu, mereka segera ingin tahu. Kan kadang-kadang harus ada pertanyaan yang sifatnya umumkadang-kadang ada yang kasuitif. Kalau yang kasuitif langsung ke anaknya saja. Nah misalnya ini, menyangkut umum..harus saya jelaskan ke semua.”

  P : ”Oh..Berarti harus dipilah-pilah ya pak?”

  1 G :”Iya...kita yang..spontan pertanyaan itu ya..langsung. Kadang-kadang juga

  saking abnyaknya pertanyaan harus segera dijawab juga. Kadang-kadang kan dalam setiap pertemuan kan banyak pertanyaan, nah itu harus segera dijawab juga tidak harus melemparkan lagi menanggapi lagi,juga masalah waktu juga. Tapi sebenarnya kita lihat pertanyaannya kalau itu menyangkut umum, misalny seperti saat menerangkan nah itu..ke anak. Atau kadang-kadang langsung dijawab, tapi kalau yang khusus seperti soal-soal itu memang harus dijelaskan khusus atau kelompoknya saja. Biasanya gitu.”

  G :”Karena sudah di IPA jadi sudah kebutuhan secara personal.” P

  1 : ”Satu hal lagi pak, kemarin itu saat menyampaikan materi gelombang stasioner bapak menggunakan demonstrasi dulu, baru kemudian dibawa ke materi.Tidak materi dulu baru demonstrasi, itu yang melatarbelakangi apa pak?”

  G : ”Itu sebenarnya hanya teknis saja.Jadi kalu untuk demonstrasi, demonstrasi kan untuk kasus itu kan anak sudah melihat. Sudah melihat langsung bisa diterapkan ke teorinya. Bayangkan kalau itu hanya teori dulu kan anak akan bertanya-tanya..apa ini...Apalagi itu matematis banget kan stasioner itu. Nah maka demonstrasi dulu baru di jelaskan ke itu, itu alasannya. Sebenarnya ya bisa antarateori dulu kemudian dengan demonstrasi. Tapi saya milih yang demonstrasi dulu karena terlalu matematis sekali ya. Klau matematis sekali kan ..apa ini..Pertimbangannya itu”

  P

  2 : ”Jadi kesulitan materi tersebut, bagaimana pak?”

  G :”Kesulitan yang bagaimana?” P

  2 : ”Siswa untuk memahami materi itu pak?”

  P

  1 : ”Kesulitan dari materi tersebut, kalau menurut bapak, bagian yang mana?”

  G : ”Kalau kita lihat ulangannya kemarin..yang IPA 4 tuntas semua, yang

  salahnya mereka di itu..letak simpul dan perut. Mereka kan letak simpul dan perut itu kan ada rumusnya ya..tapi kan dari pada susah ngapal rumus kan nggambar...Mereka bingung antara membedakan antara x dan yang bukan x. Kan sini ada penggetar terus sini bidang pantul atau ujung pemantul, terus mbalik. Nah..mereka itu lupa x itu yang mana. Kan harus jelas dulu antara titik getaran, misalnya ditanyakan simpul ke 10 terhadap titik asal getaran. mereka langsung pakai x, padahal x itu kan titik terhadap ujung pemantul. Nah yang banyak salah disitu...Tapi kalau persamaan gelombang, terus memasukkan nggak begitu masalah..Asal nanti ketemu sin atau cos nya tidak tidak terlalu besar.Kalau mereka sudah ketemu cos 300 berapa itu juga masalah. Kalau ketemu cos dibawah 360, mereka masih lancar. Tapi kalau sudah diatas itu kan mereka harus mikir ini sudah n kali berapa, sisanya berapa, itu sudah banyak kesalahan. Itu kalau menghafal rumus mereka nggak masalah. Terus mencari panjang gelombang, nggak masalah karena gelombang berjalan kan sudah..tinggal ketemu A ya itu, ketemu ω ya itu nggak masalah banget. Nah ketika sampai ke simpul perut itu mereka banyak yang salah. Karena mereka tidak paham betul, mana x mana bukan x ya. Padahal kan saya sudah membuat gelomabang itu dari kanan merambat ke kiri dengan harapan x itu selalu positif .Jadi pada jarak x sama dengan kan positif, wong nol nya disini, gelombang merambat ke kanan kan x nya disini. Kalau merambat ke kanan kan ujung pantulnya x nya sini lho kok ga negatif? Itu kan lebih susah Jadi saya membayangkannya begitu. Dibuku juga jarang yang menggunakan kebalikkannya kayaknya, banyak yang ke kanan semua. Kalau kanan semua..ini ujung pemantul..x nya kan berarti kekiri lah kok gak –x ? Saya dari sini..sini ujung pemantul nah titiknya disini, itu namanya x. Karena x terhadap ujung pemantul. Saya tanyakan juga pada ujung getaran. Ujung getaran berati mestinya panjang tali dikurangi x nya, nyari x nya dulu..ndak mereka kadang-kadang x langsung dianggep itunya. Banyak yang salah disitu.”

  P

  1 : ”Tapi untuk hasil ulangan keseluruhan..rata ya pak?atau ada yang rata- ratanya 80, 70 tapi ada yang bawah sekali..misalnya dapat 3, rentangnya...untuk hasil..?”

  G : ”Saya ambil nilainya dulu...3IPA 3 ya mbak...” G :”Nah ini, yang pertama 12 IPA 3 tho..yang nggak tuntas ada 4 orang.” P : ”Dan nilainya pun tidak ada yang 3 itu ya..

  1 G :”Iya nggak sampai, jadi paling rendah itu 50..Nah itu kebanyakan mereka

  itu disimpul perut itu. Karena simpul perut itu kan bagian tertentu dari soal sehingga mengurangi. Bahkan tidak ada yang sampai 100 tho...oh..ada yang 100. Wo..ini soale susulan dia.Susulan kan mungkin persiapannya

  G :”Iya...kalau mereka memperhatikan, mereka bisa,tapi hanya sedikit yang betul-betul paham pada saat itu. Sekitar hanya 30% saja selain itu yo iso- isonan. Karena ini nilainya tidak...salah semua sudah saya nilai sekitar 50an. Jadi tidak membunuh..gitu ya.. Tidak seperti ulangan kalau salah semua ya..sudah jelek. Kuis itu salah satu point saja bisa 90. Salah satu 90, salah 2, 80, dan sebagainya. Tapi kalau salah semua..kalau nggak salah malah tuntas ini..67. Nggak ada yang dibawah itu tho..nah penilaiannya seperti itu. Jadi tidak membunuh anak, karena mereka juga sudah mempelajari. ”

  P

  2 : ”Nah untuk ini..setiap siswa kan mempunyai karakter yang berbeda, ada yang sedang gurunya mengajar dengan bercerita, mungkin ada yang dengan demonstrasi. Jadi kan setiap siswa kan berbeda-beda gaya belajarnya. Untuk mengatasi hal tersebut?atau untuk mengatahui hal tersebut, bapak melakukan apa pak?”

  G :”Kalau...dalam proses belajar mengajar itu sebenarnya yang berperan itu guru. Nah siswa itu menyesuaikan sebenarnya. Jadi sangat susah kalau guru menyesuaikan karakter siswa apalagi individu. Nah..supaya mengatasi tidak ada kebosan dan sebagainya ya itu..variasi itu tadi..Ada yang demonstrasi..ada yang praktikum..ada yang 2 jam full teori itu juga ada”

  P

  2 : ”Jadi dibikin umum”

  G :”Apanya...?” P

  2 : ”Metodenya..”

  G : ”Iya..nggak bisa saya mengikuti satu per satu…susah. Tapi sebenarnya ada metode demonstrasi itu secara umum mereka senang. Senang melihat apalagi kalau bias mencoba, lebih senang lagi mereka . Kalau mungkin seperti yang stasioner itu mereka mencoba kan ya hanya melihat, terus mengubah-ubah massanya dan sebagainya. Tapi kalau misalnya bunyi, mereka bisa nyoba.”

  P

  1 : ”Jadi untuk mengatasi variasi siswa, bapak juga memberikan variasi juga, tetapi tidak bisa mengikuti satu per satu ya pak”

  G :”Susah ya..karena mereka banyak..saya hanya satu..mereka sekitar 33..” P : ”33 ya pak?”

1 G :”Iya, yang satunya 32.Saya IPA 3 dan 4, 1 dan 2 Pak Ganjar.Tapi dua

  kelas full materi, kalau dulu kan dibagi ”

  Wawancara Sesi III (25 November 2009)

  P2 : ”Pada saat pertemuan pertama, bapak kan lebih pada pembahasan soal,

  nah pada pembahasan soal itu kan bapak meminta siswa untuk maju ke depan, saat itu juga bapak membimbing, dari awal siswa itu mengerjakan hingga selesai. Yang saya ingin tanyakan maksud dan tujuannya apa G :”Untuk yang pertama kali memang dalam fisika itu kan tidak selalu begitu mereka diberi teori kan langsung jelas begitu perlu diberi contohnya dulu dan kalo tidak gurunya yang mengerjakan ya siswa yang mengerjakan tapi dibimbing olegh guru ya. Karena itu untuk pertama kali, pertama kali memang harus seperti itu. P2 : ”Tapi di pembelajaran berikutnya,setiap ada latihan soal, bapak

  memang selalu membimbing. Nah ini kenapa yang ingin saya tanyakan kenapa siswa tidak dibiarkan mengerjakan sendiri baru nanti baru bapak membahasnya setelah siswa itu selesai dan membahasnya bersama-sama. Jadi bapak melakukan ..membahasnya itu pada saat siswa mengerjakan saat itu juga. Jadi begitu siswa selesai ya selesai..begitu pak.”

  G :”O..itu maksudnya bareng-bareng gitu? P2 : ”Iya..” G :”Itu maksud saya supaya anak dapat melihat kalo guru mengerjakan nanti kalo mereka mau ulangan mereka diberi waktu sendiri dirumah. Kalo model yang ams inginkan itu waktunya akan menjadi sangat lama. Karena siswa dibiarkan mengerjakan sendiri belum tentu bisa terus guru berkeliling itu waktunya jadi sangat lama sekali jadi kadang-kadang yang mengerjakan gurunya kadang-kadang anak tapi atas bimbingan guru ya...Maksud saya memang terbentur waktu..yang jelas itu alasan utamanya kalo yang pertama kali memang harus diberi contoh dulu untuk soal itu.

  Biasanya mereka karena gradenya terlalu tinggi ada yang nun semu agak rendah dan menengah, meskipun di stece 1 kemampuannya heterogen.Jadi tidak bisa melepaskan begitu saja. Meskipun mungkin untuk soal-soal yang sangat mudah. Lha nanti kalo sudah akhir semester itu mereka diberi soal terus biasanya mereka coba sendiri. Bab-bab tertentu, sub bab sub bab dalam pembelajaran itu, menurut saya harus menggunakan itu. Jadi tidak dibiarkan sendiri. Idealnya memang harusnya begitu tapi mengingat waktu apa lagi kelas tiga itu yang berkali-kali saya katakan. P1 : ”Lalu kemudian ada permasalahan nggak dengan mungkin dengan

  siswa lain pak?Kan misalnya ada salah seorang siswa yang maju ke depan kemudian mengerjakan, bapak membimbing otomatis konsentrasi bapak akan terfokus pada siswa yang mengerjakan di depan. Siswa yang lain apakah bisa dikendalikan atau cenderung ribut sendiri atau bagaimana?Memang saya lihat ada yang memperhatikan ada yang tidak. Untuk mengatasi misalnya suatu saat misalnya suatu kondisi dimana siswa ribut tetapi bapak harus mengkonsentrasikan diri pada siswa yang didepan. Itu cara mengelola kelasnya bagaimana?”

  G :”E...anak cenderung..e..kalo pelajaran saya begini biasany mereka tidak terlalu..spaneng gitu ya...ya memang saya mengerti bahwa fisika itu sungguh-sungguh sulit maka mengerjakannya juga jangan secara spaneng.

  berkali-kali saya mengingatkan itu untuk mereka ..karena seperti mbak katakan betul bahwa itu saya memfokuskan ke situ tapi yang lain bisa memperhatikan bener ya... Nah itu setiap kali harus mengingatkan itu. Apalagi untuk kelas tiga itu sudah sungguh-sungguh mengingatkan kalo ingat ujian nasional sudah sangat dekat. Nah biasanya mereka..e apa dengan sendirinya sadar..tapi saya yakin tidak semua..masih ada beberapa yang tidak memperhatikan. Kalo ributnya masih bisa ditekan tapi untuk fokus kesana saya nggak begitu bisa tahu persis. Karena meskipun memperhatikan kan bisa saja ngalamun dan sebagainya..Nah itu makanya, tapi kondisi kelas menurut saya e...sudah tidak terlalu sunyi senyap. Yang saya harapkan memang nggak sunyi senyap tu karena kalo sunyi senyap kan kesannya seperti hantu..gurunya hantu matapelajarannya hantu..yo tho..lha itu..Jadi dibuat supaya memang..itu saya menyadari bahwa fisika itu memang sangat sulit. Apalagi mereka cewek-cewek, kalo belum mulai saja saya sudah pasang muka masam ya...apa yang akan terjadi kan....itu ”. P2 : ”Lalu kemarin kan bapak menggunakan metode demonstrasi...” G :”Ya..betul.. P2 : ”Kalo tidak salah sebanyak dua kali...” G :”Ya... P2 : ”Nah ini yang menjadi pertimbangan bapak pada saat demonstrasi kan

  ada yang harus dilakukan oleh guru sendiri dan kalo misalkan memungkinkan denagn murid.Tapi dari 2 kali demonstrasi tersebut bapak cenderung melakukan sendiri tidak melibatkan siswa secara langsung. Baik memegang alat atau sekedar membantu. Disini yang menjadi pertimbangan bapak..?”

  G :”Pertimbangannya yang pertama masalah praktis saja. Karena itu menyusunnya kan agak susah juga tho?Gelombang stasioner kan juga amat susah tho ..mencari ssuatu yang..kan tidak selalu muncul itu gelombangnya..Saya kan persiapan dulu sehingga harus pas begitu. Itu tidak mungkin dilakukan oleh anak. Terus untuk gelombang..apa yang gejala-gejala gelombang itu susah kalo anak yang melakukan karena untuk melihat..paling diminta bantuan untuk mengecopkan stop kontak atau menyalakan lampu saja itu masih bisa. Tapi kalo untuk kasus seperti itu tidak akan mungkin. Dan lagi juga mereka untuk bekerja sendiri itu nanti ada wadahnya tersendiri..praktikum..makanya itu. Jadi demonstrai itu memang dibuat secepat mungkin, supaya waktu tadi..supaya tidak terlalu lama. Kalo anak ikut terlibat menurut saya itu terlalu lama..Dan wadah untuk mengembangkan kraetivitas itu pada praktikum udah ada. Pertimbangannya itu.”

  P2 : ”Dengan hal yang sama pak?” G :”Tidak selalu..Jadi maksudnya supaya anak terlibat itu ada wadahnya

  yang mendemonstrasikan adalah gurunya. Kecuali tidak bisa gurunya sendiri seperti slinki itu kan harus ada dua orang, itu kan juga tidak sulit.” P1 : ”Untuk praktikum ada petunjuknya ya pak untuk setiap kasusnya..?” G :”Setiap....pratikum kelas tiga itu kalo nggak salah itu ada tiga tambah satu, tiga di semester satu dan 1 disemester dua. Kelas tiga itu da empat kelas tho..satu bulan satu judul.” P2 : ”Satu bulan satu judul?”. G :”Iya..karena sekarang kisi difraksi, IPA 1 minggu depan IPA 2, minggu depannya IPA 3, minggu depannya lagi IPA 4. Sebulan. Soalnya mereka tidak hanya praktikum fisika saja. Sekarang fisika, minngu depan biologi, minngu depan kimia, minngu depan libur. Karena empat kelas. Kalo yang kelas sebelas kan ada tiga kelas jadi pas..nggak usah nunggu.”

  P2 :”Satu lagi pak, jadi kan kemarin setelah bapak melakukan demonstrasi yang kedua kalo nggak salah, tentang gelombang stasioner ya ya. Jadi bapak menunjukkan gelombang itu terus bapak meminta dua siswa kalo nggak salah itu si Marla namanya sama Kitin. Nah disitu kan setelah bapak melakukan demostrasi, siswa suruh melihat, bapak menunjuk dua orang tersebut untuk maju ke depan menggambar sesuai dengan apa yang mereka lihat.Tujuan bapak memanggil mereka berdua ke depan, memilih siswa itu ..pertimbangannya?

  G :”Kalo Kitin itu...termasuk apa..siswi yang apa itu...trengginas menurut saya... Meskipun kemampuannya tidak terlalu..Mereka berusaha menjawab apa yang ditanyakan oleh guru. Yang si Kitin itu. Kalo Marla itu terlalu agak pendiam. Jadi saya coba..meskipun si Marla itu pernah jadi sekretaris tapi karena dia pendiam terus si Marla itu kemampuannya agak jauh dibawah Kitin. Jadi saya padukan dua-duanya. Meskipun saya juga hanya menggambil secara acak saja. Tapi yang apa.. tujuan saya sebenarnya itu ya...Marla itu agak malu..kalo yang Kiti itu memang agak biasanya dia aktif,cerewet dan jawabannya juga sering betul juga dia, si Kitin itu. Pertimbangannya itu., pendiam tho Marla itu. Kecil terus orangnya kan agak kecil itu kurus.”

  P2 : ”Itu kan termasuk salah satu cara bapak untuk mengaktifkan siswa, jadi

  mereka suruh maju ke depan. Terus ada yang bertanya secara spontan, bapak mengecek..berkeliling. Terus cara lain bapak untuk mengaktifkan siswa pada saat pembelajaran,bagaimana?”

  G :”Selain itu untuk kelas tiga...agak jarang untuk yang mengaktifkan sampai aktif sekali itu. Ya karena masalah itu tadi...pertimbangan waktu. Pikir kami itu, materi itu selesai secepat mungkin. Jadi untuk inovasi-inovasi yang untuk mengaktifkan anak sampai mendetail itu nggak saya lakukan memang. P1 : ”Karena sudah kelas tiga ya pak..?”

  G :”Iya..itu pertimbangannya.Kelas tiga itu lagi-lagi memang waktu.apalagi ini maju satu bulan kan cukup...itu..Dulu belum tahu tapi memang mau- tidak mau agak cepat. Jadi untuk mengaktifkan anak ya itu...tidak terlalu spesifik sekali lah....Paling nggak maju itu sudah termasuk mengaktifkan menurut saya.Apalagi maju pun itu tidak bisa satu per satu tho itu...Tidak seperti kelas sebelas. Kalo kelas sebelas masih maju satu per satu bergiliran atau ditunjuk berurutan. Sehinnga guru tahu betul yang dikerjakan anak. Kelas dua belas nggak akan mungkin. P1 : ”Mengejar waktu ya...” G :”Iya....” P2 : ”Tadi kan bapak juga keliling, yang saya lihat itu apa hanya mengecek

  ...dalam hal ini bapak mengecek catatan siswa atau mengecek siswa itu bener-bener terlibat atau gimana pak?”

  G :”Dua-duanya...jadi saya lihat catatannya juga, karena catatan juga masuk ke perhitungan ke nilai akhir. Terus juga melihat anak itu mencata atau tidak...Karena dalam satu kelas itu meskipun urau-pura mencatat ada juga yang tidak mencatat. Nah saya istilahnya saya keliling itu bukan terus ingin mengecek satu per satu tidak mungkin. Hanya istilahnya ngaruhke...bagian sana kok tidak pernah didatangi...bagian sana...Untuk penguasaan kelas kan mestinya seluruh bagian sebisa mungkin itu di capai ya...Meskipun tidak lalu mengamati seperti orang bimbingan atau privat kan nggak mungkin.”

  P2 : ”Lalu kalo bapak menemukan ternyata siswa tidak mencatat, apa yang

  bapak lakukan terhadap siswa tersebut.”

  G :”Ditanya...kenapa tidak mencatat?Mereka biasanya pertama tidak membawa catetan, biasa yang utama itu. Nah mestinya kan dicatat di kertas kan bisa. Terus kalo mereka,kadang-kadang juga belajar yang lain. Masih mungkin itu, nah mereka dengan sendirinya mengakui kesalahan, kemudian mengeluarkan catatan. Nah itu kalo tidak dikelilingi, meskipun sekilas mereka tenang-tenang saja. Karena 35an siswi jadi...mata kita hanya dua. Konsentrasi ke papan tulis, ke siswa. Lha itu...”

  P2 : ”Kemarin itu kan bapak, setelah demonstrai kan masuk ke kelas, setelah

  dua kali di lab terus dikelas masuk ke teori. Nah disitu kan bapak sedikit mengulang. Nah untuk mengulang tersebut, saya melihat bapak, mengulangnya itu, dengan sedikit tanya jawab dengan siswa dan mencatatnya di papan tulis.Terus hal lain yang mungkin bapak lakukan untuk mengulang, jadi untuk mengetahui apakah siswa itu tahu kemarin apa yang dipelajari itu, bertanya secara langsung atau cenderung seperti tadi mencatat di papan tulis?”.

  G :”Saya kalo mengulang sekedar mengingatkan saja, mengingatkan bahwa kemarin kita sudah ini...maka selanjutnya ini...Saya belum masuk ke anak

  memahami secara khusus sebelum mereka ulangan. Sebenernya pemahaman yang utama itu kalo ulangan mereka jadi tahu ini nggak bisanya dimana? Kalo awalnya itu mengulang saya sekedar mengingatkan yang kemarin...ini. Itupun mungkin hanya beberapa yang menjawab karena seperti saya katakan dalam pembelajaran di kelas paling banter kan hanya 30% saja yang bener-bener tahu dan dong. Lha yang lain apa?. Yang lain ya cuma mencatat, mendengarkan pernyataan. Ketika mereka belajar lagi, di rumah, mereka...oh kemarin yang dikatakan pak Linus..ini...Mereka baru..oh menyadari ....Sementara ketika diajari mereka nggak...ya pokoknya mencatat dan melihat misalkan ada yang tertawa ya tertawa...Ya sekitar 30%yang bener-bener dong saya kira sekitar 30 % itu, itupun menurut saya nggak sampe. Jadi leboh ke mengulang ya...Nah kemarin kita sudah ini, kan nyambung logikanya. Nah kemarin dengan yang sekarang tidak terus terputus. Meskipun, mengulangnya bisa nulis, maksud saya mereka melihat dengan mata dan mendengar dengan ucapan saya. Tapi kadang-kadang sok lah mereka tidak bisa membayangkan tho...”

  P2 : ”Gini..kemarin kan waktu diakhir, setelah pembelajaran tanggal 25, 25

  itu kan teori itu terus besoknya mau ada ujian. Disitu bapak memberikan tugas, yaitu untuk sifat gelombang yang interferensi. Alasan bapak memberikan tugas kenapa interferensi dijadikan sebagai tugas atau paper.

Mereka mencari informasi sendiri mengenai interferensi itu gimana?”

G :”Interferensi itukan gejala-gejala gelombang yang baru disinggung saja.

  Interferensi nanti masuk pada interferensi gelombang cahaya pada bab berikutnya, mereka akan masuk pada perhitungan dan sebagainya. Nah maksud saya, interferensi untuk gejala gelombang itu mereka kalo membuat itu pikiran saya ya kan sebenarnya mereka membaca, kalo membaca paling tidak sedikit-sedikit mengerti, kalo mengerti banyak ya oke lah....sebenarnya mereka sebagai prolog untuk masuk ke interferensi. Mereka kan hanya mendengar interfernsi itu apa tho?Ya..setelah mereka masuk ke internet ya ternyata mereka dalam tugasnya itu yang dikumpulkan itu bisa macem-macem. Ada yang interferensi bunyiada yang interferensi gelombang sinus yang amplitudonya beda tapi fasenya sama yang menjadi dua kalinya itu, ada yang..lain. Itu..pikir saya mereka sudah punya bekal untuk masuk ke materi berikutnya. Itu memang disitu disinggung untuk daripada saya menngambarkan, lebih baik mereka kasih tugas dulu. Toh itu materi yang teorinya masih dipelajari setelah itu, nanati yang gelomabang cahaya. Interferensi pada percobaan Young. Istilahnya dari situ..kalo gejala itu gejala sederhana dulu. P2 : ”Lalu tindak lanjut tugas tersebut, hanya sekedar paper apa nanti bapak

  hanya menilai dari hasil papernya, atau mereka nanti mempresentasikan

  G :”Tidak, mereka hanya saya suruh mengumpulkan, saya baca nanti ada nilainya” P1 : ”Follow upnya berarti nanti masuk ke dalam materi bab yang baru itu

  ya pak?

  G :”Ya..nanti dari beberapa yang agak cocok itu saya sampaikan..oh kemarin ternyata kamu sudah mencari tugas interferensi seperti ini” P1 :”Berarti hanya untuk pengantar saja ya pak..” G :”Iya, tidak sampai dipresentasikan nanti waktu lagi...Biar nanti pemerintah juga baca bahwa guru itu ditekan-tekan oleh waktu. Jadi untuk kreativitas yang lebih jauh itu dibatasi itu lho... P1 :”Kemudian ini pak, pada saat memasuki materi pembahasan tentang

  menentukan letak apa..simpul terhadap ujung pemantul itu, bapak kan memeberikan persamaan umum kan ada ya...Nah disitu kami melihat, bahwa bapak langsung ya saya berikan saja persamaan umumnya ya...itu mengapa pak bapak langsung berikan, ini lho persamaannya...”

  G :”Itu persamaan yang mana ya?” P1 :”Yang 2n.1/4 λ ... G :”Yang pertama saya bahas,itu kan untuk ujung terikat ya...satu persatu kan udah dapat, prinsip saya analog dengan itu. Analognya maksudnya sepenalaran..dengan cara yang sama maka didapat itu. Jadi saya tidak harus menjabarkan lagi. Karena didepan kan sudah saya jabarkan dulu tho, kalo nggak salah gelombang datang, gelombang pantul, terus superposisinya. Itu pertama..lah yang kedua, saya biasanya tidak. Untuk kasus-kasus yang lain juga gitu. Nanti kalo nggak lagi-lagi waktu itu tadi. Toh mereka sudah tahu jalan pikirannya. Oh..ternyata ada gelombang, gelombang datang, gelombang pantul berinterferensi. Meskipun yang satu kan ujung bebas satuny ujung terikat. Tidak dua-duanya. Alasannya ya itu pokoknya...karena di depan sudah saya...jadi tinggal analog saja. Jadi tidak harus tiap kali begitu. P2 :”Lalu mengenai pengenalan karakter siswa. Jadi kan dari video

  pembelajaran itu kan saya melihat, bapak melakukan pendekatan. Kalo ini menurut tafsiran saya, yaitu dengan mengajak siswa untuk maju, mengerjakan. Terus memanggil siswa ada yang dua contoh tadi yang Marla, membandingkan dua tadi. Lalu bapak juga memberi sebuah lelucon untuk mencairkan suasana, dan mengecek berkeliling lalu pemberian tugas dan kuis. Lalu juga ada ujiannya...itu kan diamati di dalam kelas, apa itu juga diamati di luar kelas, misalnya becanda di luar kelas atau melihat di kantin jadi untuk lebih mengenali karakter siswa itu sendiri?”

  G :”Ya..kebetulan kan yang IPA 3 kan walinya saya, jadi saya harus lebih

  teriak-teriak papi..saya masuk di sini mereka diatas bilangnya papi...itu Untuk di luar kelas ya..sapaan, sapaan aja...Tapi nek selalu dekat, ndak..Untuk beberapa siswi memang saya undang. Kan ada bberapa dari mereka yang naiknya ke kelas tiga karena remidi, maksudnya gini, kalo nilai semester dua langsung diterapkan ke kriteria kenaikan kelas langsung mereka belum naik. Nah mereka yang kalo belum naik itu untuk kelas dua itu diberi kesempatan remidi. Kalo remidinya memungkinkan ya mereka naik kalo tidak ya tetep tinggal di kelas. Ada lima..biasanya mereka itu saya amati betul. Orangtuanya juga saya perhatikan ketika ketemu.

  Pendekatan khusus terutama yang itu...em.. sama yang ada yang sering tidak masuk. Karena saya walinya maka saya tanya..kenapa kok sering tidak masuk?males e pak...iya ...iya..mungkin karena mereka sudah agak jenuh..mereka itu nyadar kalo udah mau ujian nasional.Tapi kok yo masih begitu tu lho...Tapi tidak semua, hanya beberapa yang memang kasusnya khusus. Nah yang lima itu terutama yang karena remidi itu. P1 :”Ini kan yang kasusnya kalo bapak wali kelasnya, untuk kelas-kelas yang

  lain yang kebetulan wali kelasnya bukan bapak apakah ada pendekatan khusus lainnya?”

  G :”Pendekatan khususnya nanti ke..saya serahkan ke wali kelasnya ya...Ini kan dalam rangka persiapan UAN juga dalam proses pembelajaran kan, guru mata pelajaran harus tahu mana - mana yang lemah. Lha yang lemah itu saya serahkan ke wali kelas, wali kelas nanti akan menyerahkan ke pengajaran. Nanti ada bimbinagn sore..kebetulan sudah dimulai...beberapa anak yang seperti itu itu diambil itu atas laporan guru mata pelajaran, guru mata pelajaran dan wali kelas. Nah kalo saya guru fisika saya menyerahkan dokumen-dokumen yang itu ke wali kelas. Tapi tidak untuk semua ya...Hanya yang bermasalah-bermasalah ..yang menonjolnya jelek ..nah kan biasany menonjol bagus. Nah mereka dianggap bisa, karena apa yang biasa-biasa ke atas itu kan dibiarkan sudah bisa sendiri. Kalo ini harus, karena bagian dari pendekatan dan perhatian juga.”

  P1 :”Tidak ada perhatian khusus lainnya...Pak..?” G :”Tidak ada..” P1 :”Kemudian dalam setiap proses pembelajaran yang kami amati, saat

  bapak mengajar. Bapak selalu memberikan umpan kepada siswa, misalnya melontarkan pertanyaan, memberikan pertanyaan, secara apa ya..kayak peluru itu ya dibrondongini..siswa nanti menjawab, bapak langsung tanya lagi...kominikatuf sekali itu,apakah ada pertimbangan khusus?bapak mengambil langkah seperti itu?”

  G :”Pertimbangan saya, mengecek anak itu tahu atau sekedar tahu...terus dikejar...Misalkan saya tanya ini sudah selesai ya sudah tho..kebetulan mereka bisa tahu. Kadang kebetulan pas betul kan bisa jadi, maka saya

  salah ya saya telusur terus. Kalo betul,saya telusur terus. Kalo betul ya sudah, kalo salah kan..dilihat, sampai disini kesalahannya. Maksud saya gitu...Tapi tidak selalu. Karena untuk membuat brondongan pertanyaan yang begitu itu sungguh tidak mudah.”

  P1 :”Berarti sangat berpengaruh terhadap pemahaman siswa ya pak?” G :”Iya, tapi tidak semua siswa mampu menjawab seperti itu ya...hanya beberapa. Kadang-kadang ini diteruskan sana, diteruskan sana...Tapi audience kelas kan tahu urutannya.Itu maksud saya. P2 :”Apakah karakter siswa, kan bisa mempengaruhi tindakan bapak saat

  mengajar dikelas. Bisa mempengaruhi strategi pembelajaran bapak. Nah apakah karakter siswa dalam hal ini secara umum yang khususnya kelas yang bapak ajar itu, menjadi pertimbangan bapak untuk melakukan strategi kemarin yaitu demostrasi 2 kali dan ceramah di kelas?”

  G :”Untuk yang kelas IPA itu meskipun saya bilang tadi rentangnya kemampuannya sangat tinggi tapi sudah dianggap homogen, karena mereka IPA. Jadi tidak ada strategi khusus..menurut saya strategi apapun bisa diterapkan ke mereka itu. Jadi untuk kelas sepuluh masih mungkin ya...tingkat heterogennya sangat tinggi.IPA, IPS Bahasa ..kelas satu kan masih belum ada penjurusan, kelas sebelas, dua belas kan sudah heterogen dari penjurusannya. Jadi mereka diberi apapun, diberi metode apapun mau tidak mau mereka mau. Karena heterogen IPA nya sudah masuk. Merata..meskipun kemampuannya tidak merata juga. Homogen Ipa nya kan memang sudah mau tidak mau ya begitu..”

  P1 :”Secara global itu menurut bapak, letak kesulitan untuk bapak sendiri

  dalam menyampaikan itu dimananya?Kemudian letak dari segi siswanya sendiri kesulitannya dimana pak?”

  G :”Kalo untuk saya itu kesulitannya justru pada ujung bebasnya itu,. Ujung bebasnya itu mendemonstrasikannya tau membayangkannya itu gimana kan agak susah. Kalo untuk anak meskipun saya udah berkali-kali mengingatkan cara menghafalkannya ini..untuk masalah persamaan ini..mereka masih kebalik-kebalik. Yang 2 A cos kx sin ω itu mereka t kebolak-balik. Meskipun udah tak ajari oh..ini sin kx meskinya gelombang sin nya..mulainya dari nol ya..ujung terikat. Nah kalo cos kx kan dari..cos sendiri kan dari satu tho..nah mereka ujung bebas. Itu masih kebolak- kebalik. P1 :”Jadi kalo dari segi siswanya bapak merasa siswa kesulitan dipersamaan

  yang ada didalammya ya pak?

  G :”Kalo melihatnya ndak tapi mengingatnya iya...itu masih pake yang ini apa ini tu lho.. P1 :”Kalo misalnya itu diterapkan ke soal ya pak..”

  gelombang transversal longitudinal bisa didemonstrasikan. Lha nek yang ujung bebas kan susah. Itu kan dibuat bebas nggak bisa itu nyoba pake ruji. Yang ujung satunya itu ruji trus diberi lubang seperti pada gambar itu susah. Nah makanya hanya diterangkan secara teori saja.”

  P2 :”Berarti untuk kelas yng bapak pegang itu secara umum, bapak

  mengetahui karakter siswa.? G :”Secara umum yang agak lebih tahu ya yang ini bawah dan yang atas.

  Jadi yang atas-atas tu tau o..yang ini..ini..Kalo yang bawah itu..ini..Yang lainnya hanya hafal nama. Tapi untuk secara khusus kemampuan mereka saya nggak begitu paham sekali. Karena nek sing pinter kan jelas keliatan ya..apa ya..ulangan ya apik..nek sing elek itu,ulangan ya jelek.. sok ora

  nggateke barang. Nah ya itu...keliatan .Kalo yang menengah..itu ya hafal

  karena saya wali kelasnya harus hafal..tapi tidak hafal sekali kemampuannya ya..Mereka kan rata-rata bagus. Kalo ulangan ya dapat 70 atau tuntas gitu...Nek karakteristik satu-satu nggak hafal.”

  P2 :”Jadi lebih mengenal kalo siswa itu menonjol baik dan menojol buruk?” G :”Betul...Itu sangat cepat tahu ya...” P1 :”Dari pembicaraan kita tadi, berarti bapak menghalalkan siswa untuk

  menghafal ya pak..menghafal persamaan?

  G :”Iya, karena kalo tidak hafal terus gimana ya..? P1 :”Biasanya kan ada guru yang pokoknya ini jangan dihafal... ini harus

  dikuasai konsepnya. Tapi kalo bapak, nggak papa di hafal asal kalian

punya hafalan yang kuat. Jadi bapak tidak masalah dengan itu ya?”

  G :”Tidak masalah menurut saya...Untuk toh..hafalan saya itu bukan sekedar hafalan tho...hafalan yang menggunakan...cara khusus tho. Gelombang y =sin x itu kan mesti begini?(membuat gelombang sin dengan jari). Dari nol, diterapkan disitu sin 2 kx kan ya sama...Jadi menghafalkannya tidak menghafal Terus seperti sejarah itu ndak..justru menghafal dengan konsep..itu menurut saya. Fisika kalo tidak hafal terus piye..Beberapa bisa tidak dihafal dengan pemahaman seperti Yohanes Surya, itu kan gerak lurus itu tidak pake vt = dengan percepatan itu tapi tidak semua bisa masuk disitu. Kebetulan ya yang gelombang itu yang nggak bisa masuk. Ya yang gelombang, seperti Pak Yohanes Surya kalo ditanya tentang masalah fisika modern itu juga bingung. Pas di Magelang itu ada..ditanyakan itu juga nggak bisa. Yo karena untuk konteks-konteks tertentu tidak sama. Nah kebetulan gelombang itu, menurut saya, persamaan itu harus dihafal. Tapi ngapalnya tidak o..ada persamaan ini, kamu hafal..ndak. Saya mengajarkannya kan pakai gelombang yang satu kan y = sin ω t cos kx itu kan berjalan. Saya tinggal nambahi yang amplitudonya.

  tidak bisa menjawab, kemudian bapak mengajak, ya sudah mari kita lihat dari awal lagi... Jadi bapak mengulangi lagi..mengajak lagi..ini lho kita ulang dari awal lagi..apakah disitu berarti bapak menemukan oh siswa ini kok belum dong..atau apa yang melatarbelakangi bapak mengajak siswa untuk diulang lagi dari depan.?”

  G :”Itu kan masih ada alatnya peraganya ndak ya?” P1 :”Iya..masih ada..” G :”Ya..karena lebih memudahkan..kalo mengulang daripada menjelaskan secara teori alatnya ada kenapa nggak diulang saja. Nah itu pertimbangan saya. Kalo alatnya ada dan bisa diulang lagi kenapa tidak. Itupun sudah pakai demonstrasi ya..apalagi kalo hanya pake kata-kata membayangkan..repot..lebih repot lagi. P1 :”Berarti memang siswa masih belum bisa ya pak?” G :”Iya....” P1 :”Kan waktu itu bapak akhirnya bertanya ..kira-kira apa yang

  menyebabkan tali yang satu tadi menjadi keliatan dua?Kemudian dilihat disistu bahwa siswa itu diam masih bingung..Lalu bapak ya sudah kita lihat lagi...berarti memang bapak merasa siswa belum dong?”

  G :”Dan itu kan prosesnya sungguh susah ya, talinya satu kok iso jadi dua, itu kan susah banget kalo dilihat lagi pun mereka masih tetep kayaknya sulit ya.. ya bisanya yo itu terus kalo nggak salah saya langsung masuk ke dalam persamaannya. Karena kita telusur gelombang berdiri itu seperti apa?Tapi diulang ulang itu maksud saya supaya kalo ada alatnya ya pakailah itu saja. Biar mereka juga liat dengan seksama..”

  P2 :”Jadi metode demonstrasi ini bener-bener membantu siswa memahami

  konsep yang bapak sampaikan ya...?”

  G :”Ya..paling nggak memahami tingkat awal atau kejadian yang terjadi kalo mereka langsung paham dengan segala persamaan saya kira tidak bisa” P2 :”Jadi dilihat dari fakta dulu ya..” G :”Iya...jadi melihat fakta dulu kemudian mereka..kalo itu sebenarnya pancingannya cukup bagus, kalo mereka ditanya tidak bisa, diulang juga tidak bisa. Berarti harus masuk ke persamaan matematis. Nah itulah juga fungsi matematika difisika. Kalo sebenarnya kalo kita itu tidak bisa berdiri sendiri. Istilahnya gitu...Itu sebenarnya idealismenya kesana tapi kan ternyata anak tidak domg dengan ini ya...diulang, diulang nggak dong yo..harus denagn ini. Dengan ini pun saya yakin tidak bisa kemudian mengatakan kenapa jadi dua itu. Talinya satu. ”

  P1 :”Kemudian untuk dokumentasi catatan bapak kan selalu memberi nomer

  ya pak ya...itu apakah karana ..alasannya kenapa pak?”

  G :”Alasan pertama saya memberi nomer kalo yang bab kan jelas ya..Supaya

  hanya ini terus judul, terus ini..lha ini masuk mana?ini masuk mana?Mreka belajar tidak hanya dengan saya ketika di sekolah saja. Justru pemahaman paling terutama itu di rumah, membaca lagi sambil teringat apa yang dikatakan oleh gurunya disekolah itu. Meskipun sudah lama mereka belajar..maksudnya sudah lama saya menerangkannya di rumah mereka kadang-kadang masih ingat..o..pak linus bilang gitu. Lha itu jadi catetan itu saya usahakan serapi mungkin seruntut mungkin terus sesingkat mungkin catetan itu. Jadi mereka punya dokumen dan kenapa kalo dilihat, kenapa tidak handout saja. Itu karena pertimbangan saya, mereka itu belajar menulis rumus-rumus itu. Bagaimana mereka mau hafal kalo mereka tidak pernah menulis. Lha itu...jadi..mungkin masih dianggap secara manual ya..primitip masih menulis..Tapi untuk SMA saya itu menurut saya masih sangat relevan. SMA yang favorit yang NEM nya sangat tinggi, diberi buku saja mereka bisa. Kita nggak.”

  P2 :”Jadi bapak mengusahakan penyajiannya itu lebih simpel?Bahasa

  penulisannya. Kemarin itu kan bapak memulai dengan soal lalu menyelipkan konsep, oh jadi kalo ini di bikin persamaannya seperti ini jadi lebih mudah. Jadi bapak memperpaiki persamaan-persamaan untuk siswa agar lebih simpel begitu ya pak?”

  G :”Iya..simpel.Saya usahakan sesimpel mungkin, sistimatis mungkin, makanya harus pakai nomer kalo ndak gimana?Kan jelas ini anggotanya ini, ini anggotanya ini. Itu memang saya sengaja itu...Nah sya tidak tahu sekolah lain catetannya seperti apa?ada yang pakai nomer atau ndak..saya selalu pakai nomer itu.”

  P1 :”Ada satu hal lagi pak, waktu menggambar di papan tulis, waktu itu

  bapak mengingatkan, hati-hati di dalam menggambar,sebenarnya apa tujuan yang ingin dicapai?sedetail itu mengingatkan siswa untuk berhati- hati dalam menggambar?” G :”Untuk gambar yang semuanya atau......

  P1 :”Yang pembiasan itu pak, kan menggambar muka gelombang...” G :”Ya..untuk pemantulan kan mudah, untuk pembiasan itu sungguh susah.”

  TRANSKRIP WAWANCARA GURU F

  Sesi wawancara 1 P: Peneliti ; G: Guru

  P :”Berapa lama ibu mengajar di SMA ini?” G :”Sejak 1990/1991,kelas selalu berpindah tapi paling lama di kelas 3,de

  Brito guru selalu dirotasi sehingga guru diharap menguasai semua materi,dan untuk guru yang kurang mampu atau guru baru biasanya ditempatkan di kelas satu. Sebelum mengajar di sini saya mengajar di SMA Yos Sudarso jeruk legi cilacap. 2 tahun mengajar. Di Jakarta sang timur 2 tahun, Sang timur Jogja,nyambi atau membantu mengajar”.

  P :”Pola mengajar yang ibu terapakan atau digunakan didapat dari mana”? G :”Belajar dari kesulitan sendiri waktu di SMA,lalu saya mulai menyenangi fisika di Sanata Dharma.sebelum masuk fisika minat dibahasa, saya menyadari indahnya mekanika atau fiiska itu dari dosen-dosen SADAR.belajar yang menyenangkan waktu di Sanata Dharma”.

  P :”Jadi pola mengajar itu didapatkan di Sanata Dharma?” G :”Ya,kurang lebih di SADAR, mencontoh dosen-dosen di sadar.dosen mengajarkan bahwa fisika itu bukan hafalan tetapi berdasarkan dari konsep”. Setelah lulus guru kurang pede mengajar,sehingga beliau lari kejakarta untuk menjadi sekretaris,lalu guru mulai ada panggialn menjadi guru setelah melihat temanya mengajar jadi guru itu enak dan gajinya besar,tidak terlalu capek.waktu mengajar di yos sudarso cilacap,guru mempunyai pengalaman yang menarik,karena kondisi sekolah yang berada didesa dengan maslah-masalah yang rumit.namun dengan pengalaman mengajar ini guru menjadi terpanggil.dengan kondisi sekolah dan masyarakat (9.36)murid-murid yang nakal.namun guru mempunyai cara untuk membantu siswanya untuk sekolah saja.dengan pendekatan dan memberi motivasi sehingga guru dekat sekali dengan siswa sampai-sampai guru pindah ditangisi siswanya.lalu pindah mengajar dengan alasan idealism dan financial.

  P :”Sebenarnya tujuan ibu melakukan pendekatan kepada siswa?” G :”Anak itu seneng dulu pelajaran baik itu matematika atau fisika.contoh yang sulit.tujuananya anak seneng dulu dengan fisika sehingga siswa nantiya akan mudah belajar fisika”. P :”Lalu bagaimana dengan siswa di de brito?” G :”Anak-anak di de Brito itu agrikultur pokoknya komplit. Yang mempunyai kesadaran belajar yang cukup bagus (awal siswa) berbeda dengan sekali dengan kondisi murid di Yos Sudarso.lalu bagaimana mengajarkan siswa yang sudah mempunyai potensi,sayang sekali jika mengajarkan siswa yang sudah mempunayi potensi tadi.tanpa tau apa-apa yang dipelajari.kondisi ini membuat saya tergerak bagaimana sih dulu waktu saya mengajarkan siswa-siswa yang bodoh itu supaya memahami newton itu diajarkan vektornya dulu dan pemahaman diagram bebas gaya jadi anak tau dulu konsep-konsep yang akan diajarakan sehingga soal mau dibalik kayak apapun anak tidak bingung.itu diajarkan dari kelas satu(X),kalau itu sudah dpahami sehingga di kelas 2 tinggal mengikuti,dan dari sekolah guru mengikuti dari kelas satu”. P :”Lalu keuntungan lain mengikuti siswa dari kelas satu dalam mengenali karakter siswa?” G :”Lebih mengenali karakter siswa,dan siswa juga mengenali style gurunya.anak sudah mengerti pola mengajar guru.guru menjadi lebih mengenali siswanya,misal dengan mendengar suaranya saja sudah tau ini siapa?pola kelas sudah sangat mengetahui,mana kelas yang malas,ribut dan sebagainya.jadi guru sudah tidak perlu mengenali konteks dari anak.karena menurut guru dalam mengajar saya harus lebih dulu mengenali konteks anak.maka waktu dikelas X pada saat saya mengajar terutama hari pertama,saya akan menayakan kepada siswa,sekolah asal,tempat tinggal,lalu saya mencari data-data tentang anak ke sekolah,misal murid ini berasal dari mana?contoh,sebagian besar dari SMP STC.meskipun dengan cara guyonan/bercanda.contoh: misal dalam kelas siswa sebagian besar berasal dari SMP STC,disini bagaimana saya harus bisa menghendel agar siswa-siswa ini tidak terlalu dominan.dan siswa dari SMP yang kurang bermutu atau kurang mampu untuk menaikan mereka dalam hal ini memotivasi agar siswa-siswa ini tidak minder.dan guru mempunyai cara untuk menyeimbangkan kelas dengan cara menaikkan dari bawah. Agar harga dirinya tumbuh.tugas guru-guru senior membentuk anak-anak dari kelas satu sesuai dengan visi n misi sekolah”. P :”Apak tugas-tugas untuk membentuk karakter siswa (sesuai visi dan misi

G :”Tidak,ini dilakukan terintegrasi dengan sesuai dengan jam sekolah,justru itu,jadi saya tidak sekedar menerangkan fisika,tapi dari fisika anak harus mengenal Tuhan. Saya tidak hanya mengajarkan anak untuk belajar fisika tetapi mengenal Tuhan bersosial dengan teman,maka saat mengajar dan menerangkan kamu diam memperhatikan itu kotmitmen pertama, nanti saat mengerjakan soal sya memberikan kebebasan, supaya mereka bersosialisasi dengan temanya,yang pinter mengajari yang ndak pinter,itu hal kita inginkan di de Brito,tapi nanti ulangan saya ndk maen-maen,ada sanksi tegas jika mencontek”. P :”Sejauh ini kelas yang ibu pegang,minat mereka (siswa) terhadap fisika sendiri bagaimana?” G :”Dari awalkan kita ada buku refleksi,dari pertama mereka masuk,yaitu apa yang mereka kehendaki, apa kesulitan,kesulitan siswa. Nah dari buku refleksi itu,setelah mid nilainya jelek,itu tidak semata-mata itu karena pengajaran saya jelek,karena memang di SMP dulu mereka tidak suka fisika,mengatakan fisika susah,disatu pihak di SMA kan materinya lebih susah,ini bukan untuk pembenaran, nanti setelah kenaikan kelas,saya bisa menjaring siswa masuk IPA 4-5 kelas,ini membuktikan minat mereka masih tinggi,jadi guru menanamkan kepada siswa kalau nilai saya jelek itu bukan menyalahkan orang lain,tidak punya buku,gurunya,tetapi dia lebih,saya sudah memenuhi persyaratan awal belum,bahwa untuk belajar fisika saya harus tekun,harus memiliki buku,harus belajar sebelumnya,saat diterangkan harus memperhatikan,mereka harus selalu diajak untuk selalu begitu (hal diatas),diakhir pelajaran ada refleksi tentang: bagaimana besaran dan satuan diperoleh menurt kamu bermanfaat tidak”.

  P :”Untuk kelas XI gimana?” G :”Kelas XI juga begitu,sehingga kalau kelas XI ini ulangan kemarin,ada yang dapat poin 100,nyaris tak ada kesalahan sedikit pun, ini yang saya idealkan bagaimana anak harus penguraian gaya-gayanya, titik tangkap gaya,(masih dalam poin 100 tadi),ini anak menggunakan pendekatan fisis ,hebatnya belajar fisika di SADAR adalah kita tidak terjebak menerangkan fisika secara matematis,saya disitu,saya tidak ingin terjebak menerangkan fisika secara matematis harus diterangkan secara konsep,memang itu susah tapi kalau itu di pegang anak-anak enak sekali. Dengan menerangkan secara fisis gerak parabola cepat selesai itu hal yang dirasakan oleh siswa. Lalu untuk mendongkrak mereka saya mengatakan “anak laki-laki itu di membuat siswanya senang lalu siswa mempelajari gerak parabola tidak susah.dari sini guru menyadari kalau dari dulu di SMA saya fisika menghafal.maka dari itu bahwa belajar fisika dari konsep secara fisis,itu mudah dipahami siswa.(dalam pembahasan hasil ujian) ada jawaban siswa yang mendapatkan nilai jelek gambar vektornya tidak berbunyi,karena waktu di kelas X dulu saya tidak mengajar dia,dan baru pertama kali dengan saya,dan dia kaget,dan anak seperti ini harus saya dampingi,misal siswa menulis tegangan tali itu masih t kecil,hal ini tidak akan kamu(peneliti) dapatkan pada anak-anak yang dulu saya ajar meskipun nilainya jelek.jeleknya itu tidak sama dengan yang tidak saya ajar dikleas X,itu bedanya kita menerangkan konsep dengan menerangkan secara matematis”.

  P :”Lalu untuk siswa yang perlu dibimbing apakah perlu bimbingan khusus?” G :”Dia perlu bimbingan khusus”. P :”Bimbinganya pada saat dikelas atau?” G :”Kita masukkan dulu pada pelajaran tambahan,kalau dia tidak bisa lalu sendiri”. P :”Mungkin dalam arti maksudnya bu?” G :”Dia (siswa) akan saya panggil sendiri,lalu saya bimbing,ini saya lakukan dikelas XI beda kalau di kelas X, karena kelas X tidak semua berminat dan punya potensi masuk ke IPA,sehingga untuk yang khusus itu saya melihat bahwa anak ini masih bisa saya perkembangkan, kalau yang sudah habis dalam artian tidak bisa dikembangkan lagi…tapi minimal mereka dalam hal tuntas dulu. Tapi ini (siswa yang veteran dengan nilai jelek dan guru berbeda saat kelas X)akan membebani nantinya,dia tidak bisa nanti dengan bertambahnya materi,akan terus-terus tidak bisa dan resikonya dikelas

  XII,bisa tidak lulus.jadi ini membebani.karena sudah penjurusan,beda dengan kelas X kalau memang tidak mampu ya sudah tidak bisa dipakasakan sehingga penanganan berbeda,guru juga mencari mengenai siswanya,saya juga bertanya dengan guru biologi,kimia,matematika mengenai siswa tersebut.kalau memang tidak bisa dicapai lagi ya sudah,dalam artian guru memberi keputusan bersama, cuman dalam hal nilai saya tu segala-galanya saya tidak akan mematikan siswa, artinya begini,batas tuntasnya 60,nilai siswa misal 20 saya tidak bisa membohongi semua terbaca tidak tuntas,saya memberi nilai 20, dengan nilai 40 itu lebih berkembang sama dia tidak bisa,nanti akan kita panggil akan kita beri tugas,nanti akan saya katakan kamu belum tentu tuntas,tergantung?tapi siswa masih punya harga diri dengan nilai 20, seandainya pun nanti dia tidak naik dan pindah sekolah,nilai itu tetep di hargai,sesuai dengan kenyataan siswa tetap tidak saya tuntaskan,misal nilai 50,55 jika memang siswa bodoh sekali. Dia tidak bisa masuk ke IPA,tetapi dia bisa masuk ke

  IPS jika memang bakatnya ke sana,tetapi kita(guru) tidak curang ya,karena kita memberi dia tugas,tidak sekedar mengkatrol nilai”. P :”Jadi menurut ibu dapat saya simpulkan untuk mengikuti siswa dari kelas satu?” G :”Lebih ideal,terutama pada anak,kalau kita lebih flexsibel ya,kalau anaknya begini ya kita begini dalam artian menyesuaikan,yang selalu saya laukan adalah hari pertama masuk, membuat kotmitmen, memberikan silabus sederhana,menjelaskan isi silabus. dimungkinkan siswa mengerti pokok bahasan yang akan dibahas”. P :”Selama melakukan pengambilan data,kami tidak pernah melihat ibu membuka buku saat mengajar?” G :”Ya kadang membuka juga ya,kalau untuk materinya sih sudah diluar kepala.itu jeleknya guru tu itu lalu tidak berkembang.tapi bukan berarti saya tidak membaca atau apa ndak,saya tetep apa?malam sebelum pemebelajaran untuk kelas pertama yang saya ajar,saya tetep menyiapakan diri,saya tetep pnya tanggung jawab itu sejelek-jeleknya saya,misal hari ini mau masuk gerak lurus,itukan sudah saya ajarkan tahun lalu untuk kelas yang dulu,meskipun tidak saya baca detail,malamnya mesti saya buka untuk kelas pertama yang saya ajar,saya tetep nyiapkan dulu,terus nanti misalkan dikelas itu ada sesuatu yang menurut saya yang masih kurang,tadi saya ngomong disitu kok anaknya banyak yang ndk ngerti,nanti dikelas laen saya akan mencoba lagi,membuka lagi dibagian itu,lalu dikelas laen,sepertinya ada mek up ada revisi,dengan metode laen untuk masuk ke materi yang sama.salah satu contoh dikelas materi trigonometri,saya sudah menerangkan komplit,ternyata masih ada anak yang tetep belum bisa,misalkan sudut 135

  ˚ kok sama dengan sudut

  45 ˚,waktu itu sudah saya terangkan cara seperti ini,tapi anak itu tetep…saya melihat dari matanya mereka,mereka tetep masih bingung,mungkin sudah malu nanya atau takut,maka saya dikelas laen disitu.28.05,jadi kita harus peka ya,atau dikelas ada anak Tanya kebetulan pertayaannya baik,itu nanti mesti akan saya bawa kekelas laen”. P :”Jadi pola mengajar ibu disetiap kelas nanti akan berbeda?” G :”Ya,saya kira ada standarnya ya,tetapikan tetap konteks masing-masing kelas kan berbeda,nantikan kita bisa merasakan saat kita mengajar misal dikelas ini yang ribut ada lima dan macam-macam permasalahan,lalu bagaimana kita menghendel kelas tersebut sehingga kelas kondusif dan guru harus bisa melihat kondisi kelas”. P :”Jadi pengelolaan kelas sangat penting ya bu?” G :”Iya,ya saya kira pengelolaan kelas tadi,ya itu tadi power/kekuatan kita terletak pada penguasaan materi,pengenalaan pada konteks siswa,itu yang utama pada saat dikelas konteksnya dulu,itu yang mendasari pengelolaan kelas adalah mengenali konteks siswanya”. P :”Lalu waktu di kelas XI IPA 1 kemarin,pola mengajar yang ibu terapkan sudah tepat/ideal?” G :”Menurut saya itu,ya sudah cukup efektif,tapi ya saya sadar bahwa yang saya anggap baik belum tentu baik buat mereka,buktinya juga masih ada beberapa siswa nilainya masih belum tuntas,waktu mereka ulangan mereka Tanya kapan bu remidi,lho..belum ulangan kok dah Tanya remidi,tadi(siswa) saya salahnya disini,saya kurang waktu disini..jadi mereka sudah tau persis..makanya saya bisa mengatakan saya bisa berbangga diri mengatakan bahwa..o..kalau begitu mengajar saya efektif..nanti saat remidi saya memberikan soal remidi notaben soalnya masih berimbang,kalau anak yang sudah tuntas mau ikut lagi ya saya biarkan,nanti akan saya ambil nilai yang terbaik,saya hargai itu karena anak mau berkembang..jika itu tidak menggangu dan itu merupakan permintaan mereka sendiri way not bagi saya. selama itu menguntungkan siswa,kita tetep…itu kurikulum..tetep ada celah-celah yang bisa kita pakai”. P :”Dari hasil ujian berapa persen yang tuntas?” G :”75% anak tuntas..dan yang tidak tuntas pun menurut saya tidak parah- parah sekali ya..sebenarya dia (siswa) itu ngerti,kesalahan menghitung..ini menunjukkan meraka tidak tau sama sekali to..paling tidak alur berpikir dia itu sudah masuk.

G :”Kadang kala siswa..konsep diagram bebas gayanya..kadang kala itunganya..menentukan arah tidak teliti”. P :”Dalam video saya melihat bahwa rumus yang ada bukan suatu patokan?” G :”Iya..makanya justru disitu itu..lalu kemampuan mereka terlihat disitu..dia tidak menghafalkan bener..dari yang saya terangkan/jelaskn kemarin 50% itu sudah terekam ke siswa..begitu siswa menghadapi soal dan menganalisis sendiri..masih ada hal lain dia tidak nyangkut..kita bisa membandingkan nilai 59 dengan 100..terlihat hanya salah hitung yang nilai 59”. P :”Secara konsep?” G :”Mereka sudah masuk/mengerti..makanya saya katakan saya masih cukup efektif..kecuali saya membandingkan dengan yang veteran dan bukan anak yang saya ajar waktu kelas satu”. P :”Lalu untuk pendekatan-pedekatan siswa..dari pengalaman ibu mengajar di beberapa sekolah untuk siswa cowok maupun cewek beda tidak Bu?” G :”Kalau dikatakan berbeda ya ada sedikit..kalau siswanya cewek,siswa cewek itu lebih maen rasa..saya ngomongnya harus hati-hati,style saya juga harus hati-hati,nah kalau di de Brito harus mengikuti siswa..katakanlah disini saya pake bando ,pakai kalung..mereka seneng- seneng saja”. P :”Tidak merasa terganggu siswa?” G :”Tidak merasa terganggu,malah mereka..memuji gurunya..afeksi siswa cukup bagus,mereka seneng. dalam memotivasi siswa Cilacap itu,saya sering mengatakan kamu harus pede”. P :”Pendekatan ke orang tua mengenai siswa ada tidak Bu?” G :”Saya kemarin baru memanggil orang tua siswa, kemarin tu saya baru memanggil siswa kelas XI A1 dulu kelas 1 saya juga mengajar dia..sebenarnya anaknya pinter..namun kurang diterima sama teman- temannya..saya memanggil orang tua. saya menunjukkan data-data dan dengan begini anak tau persis kalau ia tidak hanya didampingi oleh sekolah tetapi juga oleh orang tuanya. Anak akan optimal nantinya sudah masuk perguruan tinggi,mereka akan datang pada saya, bu terimakasih

berbeda. Tapi konsep yang kamu pegang akan tetap sama. makanya saya mengatakan di SMA ini konsepnya nanti diperguruan tinggi akan didekati dengan pendekatan matematis. salahnya kita kalau di SMA melakukan pendekatan dengan pendekatan Matematis mereka nanti diperguruan tinggi tidak bisa. mungkin kamu ndk percaya kalau anak-anak atmajaya teknik industry datang pada saya. bu tolong terangkan saya tentang”.

  P :”Apakah hal ini karena siswa merasa dekat dengan ibu?” G :”Ya saya memperlakukan mereka secara adil dan merata ya, karena berdasarkan pengalaman jika ada yang disenengi dosen apa guru saya itu jeles kok, makanya saya memperhatikan biasa aja ndk ada yang istemewa entah itu gateng cantik pinter,semua saya perhatikan sama meskipun saya hanya memberi sentuhan tangan saya tonjok tapi anak merasa saya(siswa) diperhatikan sama makanya saat dia sudah keluar(lulus) mereka akan datang lagi karena merasa dihargai”. P :”Masuk kedalam pembelajaran karena pengalaman ibu kan sudah lama ya, sebelumnya ibu sudah mengalami kesulitan dalam mengelola waktu untuk proses pembelajaran?”

  G :”Kalau mengelola waktu menurut saya masih wajar-wajar aja ya, target kurikulum seberapa saya masih bisa tepat/tercapai. cuman saya mengajar kelas 1,2,3 saya lebih menekankan konsep dikelas 1 dan 2 dulu apalagi kelas 2 IPA,tapi kalau kelas 3 saya acuanya adalah pada soal. misalnya pengukuran rumus umum saya katakan dibuku sudah ada konsepnya ini baru kita pakai untuk mengerjakan soal karena dikelas 1 kan keterbatasan waktu ya supaya waktu selesai anak sudah punya bekal. setiap saya mengajar baik kelas 1,2,3 saya selalu melingkari hal-hal yang ini akan dipakai terus. misalkan saya menerangkan gelombang bunyi rumus yang penting dan sering keluar mesti saya suruh untuk melingkari yang gede dan saya menunjukkan soal tahun kemarin dan saya tunjukkan hal-hal yang sering keluar”.

  P :”Kami simpulkan bahwa disini yang lebih ditekankan adalah proses. Ibu tadikan mengatakan akan tercapai tapikan mungkinkan suatu waktu tidak tercapai.misalnya ada satu materi yang tidak sempat diajarkan.kemudian cara menyiasati itu bagaimana?”

  G :”Sejauh ini selalu materi saya tercapai,itu yang pertama,yang kedua saya seringkali mendapatkan materi dari guru lain saya mengajar kelas 2 jujur kepada anak ini bukan kewenangan saya tapi kalau waktunya sampai saya terangkan kalau tidak saya akan minta tolong guru yang kemarin untuk menerangkan. Biasanya kalau saya mengajar dikelas 3 satu pokok bahasan 1 minggu kalau yang besar 1,5 minggu itu bulan januari harus sudah selesai karena banyak kehilangan waktu saya biasanya bulan februari tapi kalau kelas 1 dan 2 selesai semua jadi masing-masing stylenya harus berbeda kalau mengajar saya tidak bisa mengajar cewek sekasar di de Brito,kecuali kalau saya mengajar sudah lama,guyonan di de Brito saya berikan mereka seneng, saat di Sang Timur saya terangkan seperti di sini mereka seneng,pede dan terangkat,justru saya mengajar di Sang Timur itu untuk mengakat harga diri Sang Timur”. P :”Jadi menurut ibu lebih mengajar sekolah homogen atau heterogen?” G :”Sama ya,saya merasa sama”.

  P :”mungkin punya keunikan masing-masing?” G :”Iya,karena konteks berbeda-beda,saya merasa tidak kesulitan saya aja dulu mengajar orang bodo aja bisa apalagi orang pinter itu kan tergantung pada materinya justru mengajar yang paling sulit itu pengelolaan waktunya bukan pada materinya,pengelolaan kelas didasarkan melihat konteks siswa,kalau konteks siswa kita pegang udah kita jalan..nah kalau kelas 1 melihat konteks lalu kita harus membentuk mereka,maka kalau boleh saya simpulkan ya,di kelas 1 kita ngajar didepan,harus begini..juga harus banyak refresifnya karena harus membentuk pola itu ya nanti di kelas 2 saya di tengah-tengah mereka dikelas 3 kita dibelakang untuk mendorong mereka”.

  P :”Jadi untuk melihat konteks siswa itu melakukan pendekatan itu penting ya Bu?” G :”Iya,selain itu modal kita ialah materi,kalau memperahatikan itu bukan dari yang pinter dari dari tengah ke bawah, kalau yang pinter dilepas sajakan dah bisa..misal jika ada anak yang bisa menjelaskn didepan saya suruh agar jati dirinya tumbuh”.

  

Wawancara Kedua 11 September 2009

  P :” Pada saat pembelajaran saat materi diagram bebas gaya selesai,apakah dengan cara memberi soal ibu dapat mengetahui apakah siswa sudah menguasi materi atau konsep yang ingin dicapai?”

  G : “E..dasarnya dulu dikelas X sudah saya berikan konsep gaya2 yang ada pada suatu bidang,keuntungan kelas itu kan(XI-A1),saya mengikuti,jadi saya mereview kembali konsep yang sudah ia terima di kelas X,kapan suatu benda dikatakan diam,tepat akan bergerak dan sudah bergerak itu konsepnya..nah dari situkan dulu dikelas X sudah saya terangkan bahwa kalau benda dalam kedaan diam terletak pada suatu bidang itukan minimal bekerja 2 gaya: gaya berat,gaya normal,nah siswa sudah mengerti,bagaimana cara kita membuat gaya berat,gaya normal..konsep itukan sudah ada dikelas X,dikelas X saya juga sudah memberikan introduksi tentang benda diam,tepat akan bergerak, dan benda bergerak.maka sekarang dikelas XI karena saya masih mengikuti dia(siswa) saya langsung bisa masuk ke soal.”

  P : “Jadi lebih mengingatkan kembali?” G : “Iya,lebih meningatkan kembali,tapi itu masih ada yang ragu-ragukan… P :“Lalu pada saat ibu member pertayaan,missal berapa gaya gesek jika gaya yang diberiakan 10 N,lalu terlihat siswa banyak sekali yang ingin menjawab dengan mengacung.untuk membiasakan hal tersebut bagaimana bu?

  G :“Lebih pada keaktifan siswa,karena yang mau belajar kan itu siswa,bukan gurunya,jadi kita harus berusaha siswa merasa butuh,aku (siswa) butuh ngerti,jangan segera langsung kita kasih tau ini begini,begini itu nanti yang tambah pinter gurunya bukan muridnya kalau saya begitu..”

  P :” Pada saat pembelajaran ibu melakukan penekanan konsep2 penting,lalu ada siswa ragu tentang gaya gesek,missal gaya 30 N benda masih diam lalu berapa gaya geseknya?ada yang menjawab 30,27dll,disini siswa merasa ragu dengan jawabannya,lalu ibu meberikan contoh dengan menarik meja did pan kelas apakah itu merupakan tindakan spontan?”

  G : “Bukan,dikatakan spontan mungkin karena setiapkali saya mendapatkan kesulitan seperti itu dalam mengajar dengan cara itu anak itu anak lebih gampang melogika,kalau dikatakan kalau saya sudah lama mengajar,sent saya,ini saya memberikan contoh seperti itu dia gampang menangkapnya, contohnya kamu saya tarik seberapa besar kamu bisa sendiri,dengan begitu siswa bisa merasakan sendiri,saat menarik meja tangan masih tegang padahal meja belum bergerak,mereka suruh mencoba. Contoh ini akan nyata dengan neraca pegas,itu terjadi pda kehidupan mereka sehari-hari.”

  P : “Lalu,ibu menjelaskan lagi bahwa konsep ini,diulang dan diulang lagi,apakah konsep ini benar-benar penting?” G : “Penting..” P : “Kenapa hal itu penting?” G : “Alasannya gini suatu benda itu kan memiliki pertahanan maksimum yang kita kenal dengan gaya gesek maksimum,setelah itu terlewatkan baru bendanya akan bergerak dan setelah dia(benda) bergerak gaya geseknya itu ada ndak?ada Cuma otomatis berubah menjadi kinetis itu lebih kecil dari saat dia sebelum bergerak,maka dia harus tau persis bahwa yang diam maupun bergerak kalau bidangnya kasar itu ada gaya gesekanya.”

  P : “Apa siswa,dari pengalaman ibu mengajar mengalami kesulitan dalam hal ini?” G : “Iya,mereka kalau sekedar menerapkan hukum newton bahwa

  ∑f = 0,mereka lalu tidak tau kapan ini kita menggunakan kinetis,kapan ini menggunakan statis,kalau tidak menyelidiki dahulu apakah bendanya masih diam atau tidak,nah itu yang kadang kala kita hanya menggunakan F gs =µ.N tetapi ada F gs maks ,jadi sebelum benda bergerak sudah ditarik gaya geseknya sebesar tarikan itu.”

  P :” Jadi untuk mengatasi kesulitan tersebut ibu lebih menekankan dan selalu meningatkan?” G : “Iya,maka harus diulang-ulang terus?” P : “Adakah cara lain untuk mengatasi hal tersebut?” G : “Cara lain dengan pratikum,dengan menguji dan menganalisis sendiri” P : “Kemudian dari mana ibu tahu bahwa siswa mengalami kesulitan?” G : “Nah,kalau siswa dikelas yang lebih rendah konsep itu tidak jelas,maka nanti begitu kita sudah dikelas XII saat kita mendapatkan soal yang lebih kompleks,mereka lalu benda ditarik gaya,berapa gaya geseknya,mereka menjawab ya gaya gesek statis maksimum itu,bukan gaya tarik yang kita berikan.jadi sebetulnya anak itu mengerti,tapi karena tidak mendalami konsepnya lalu jadi tidak mengerti dan kesalahan itu ternyata berulang dikelas XII,maka karena materi itu dikelas XI,harus bener2 ditekankan anak harus bisa menyelidiki benda masih diam, tepat akan bergerak atau normal,sebetulnya yang ada gaya yang miring dulu09.17,lalu kita uraikan menjadi komponen vector F dengan F gesek,begitu digeser Nnya itukan bergerak,maka kalau benda tepat akan bergerak,dia akan tepat di pinggir(kalau bidangnya kubus) iakan itu yang kadang kala dilupakan,koknya ditengah terus,ndk,anak yang cerdas akan mengatakan berarti benda bergerak ndak ada normal,kalau konstruksi gayanya bener Nnya akan titik..kalau bergerak sebenarnya masih ada dengan ganabr titik2,itukan abstrak sekali maka saya tidak pernah menjelaskan sampai disitu nanti anaknya ndk jadi bingung.”

  P :” Lalu pada saat materi masuk dalam tegangan tali ibu memberi pertayaan kepada siswa,dan mencari jawaban tersebut ibu berkeliling apakah dengan cara itu ibu terbiasa?”

  G :”Iya,saya kalau berkeliling itu lebih untuk,memecah jarak antara guru dan siswa,dia(siswa) kita sama2 belajar,kita tidak menjadi sesuatu yang supel (menit11.29) ,itu yang pertama,yang kedua memberikan perhatian lebih pada siswa,yang ketiga membuat siswa lebih berkonsentrasi,sehingga siswa tidak lepas.dan merupakan keuntungan bagi kita siswa mana yang sudah paham dan belum paham.dan kalau kita didekat siswa,kalau siswa menjawab salahkan cm deket,sehinga untuk anak rasa percaya dirinya lebih. Dan dia merasa aman dan merasa dihargai karena kita dekati,itu Nampak didalam refleksinya.”

  P :“Saat hari sabtu, saat mengerjakan soal,guru membimbing seseorang,sedang siswa yang lain mengerjakan di depan,untuk membimbing satu orang ini, cara ibu untuk menyeimbangkan dengan siswa lain bagaimana bu?”

  G : “Saya saat keliling,jika saya membimbing satu,yang saya lewatkan sudah jalan,yang ini belum jalan,nah ini yang harus diperhatikan lebih dulu.bukan berarti yang laen saya lepas, karena kan banyak soal,begitu selesaikan saya akan keliling lagi,kalau mereka membutuhkan mereka pasti akan memanggil saya,berarti kalau dia tidak memanggil dia sudah bisa berjalan,tetapi ada anak juga yang tidak tau tetapi juga tidak mau Tanya,maka tugas kita dengan berjalan itu akan tau,persis ada refleksinya:kalau saya lagi mengerjakan soal kalau pas ada bu nanik,saya merasa malu,kalau tidak bisa,jadi dari releksi terlihat,mereka sadar,malu kalau tidak bisa.

  P :“Kemudian,berkenaan dengan yang tadi itu ya bu (kelling n membimbing) kan membutuhkan waktu lebih ya bu,lalu bagaimana dengan pengelolaan waktunya,apakah ibu merasa terhambat?”

  G : “Tidak, buktinya juga sesuai dengan rpp ya,saya selesaikan dalam berapa jam semua tetap berjalan,maka kalau dalam mengerjakan soal saya tidak pernah otoritas,ini semua harus begini,tidak,saya beriakan beberapa soal,mana yang menurut mereka tidak bisa,itu pun saya menghargai peran tutor sebayakan,siapa yang bisa ada temenya yang maju ya sudah,biar temenya yang pinter yang maju dulu.

  P :“Lalu untuk soal apakah ibu mengambil dari buku atau membuat sendiri? G :”Ada yang buat sendiri untuk ulangan,untuk latihan saya ambilakn dari buku dan soal2 ujian,jadi variatif,jika dibuku saya melihat soal yang dibuat antara apa yang saya ajarkan dengan konsep yang ingin dicapai seimbang maka saya akan mengambil dari buku.kan tipe buku dari martin kanginan yang saya gunakann,yang pertama penggunaan rumus,yang kedua meningkat.”

  P :“Kemudian pada awal-awal pengamatan yang kami lakukan,ibukan sering memberiakan soal secara lisan,itu sudah dibiasa seperti itu bu?” G : “Iya…” P : “Kemudian apakah mereka bisa mengikutinya?” G :” Bisa,sejak kelas X saya biasakan seperti itu,apalagi nanti dikelas 3 saya tuntut 1 soal 3 menit” P : “Lalu,karakter siswa kan berbeda,gaya belajar mereka juga bebeda,lalu cara ibu untuk mengatasi hal tersebut?” G : “Variasi pembelajaran tergantung pokok pembahasannya,terkadang kita cerita dulu,terus ALUR masuk,kadang saya memberikan kesempatan untuk yang mikir matematisnya agak lama gitu,nanti pada saat mengerjakan soal,pada saya saat menerangkan konsep saya anggap semua kemampuanya sama,karena saya punya target misalkan ini saya terangkan dalam waktu 45 menit,nah nanti yang kedua (45menit yang kedua)saya pakai buat latihan soal to nah dari situ saya sambil berkeliling saya menambahkan untuk anak2 yang kurang,lalu memberi tanggung jawab untuk anak2 yang lebih,nah sambil mengerjakan atau sambil mereka memperhatikan,saat mereka mengerjakan soal mereka mau jalan2 atau apa terserah mereka asal masih dalam lingkup mengerjakan soal.bahkan kalau sudah dikelas XI itu saya mencoba ulangan missal ulangan gravitasi,saya beri waktu,lalu saya tinggal pergi,ndk ada kok mereka yang bergerak untuk mencontek,karena mereka tau tanggung jawabnya mengerjakan soal sekian dalam waktu ini dan resikonya mencotek begini2 dan sekolah pun juga ada peraturanya,ya sudah gengsi mereka mencontek,tapi saat latihan soal kalau ada yang salah y,dipoyoki sama mereka.sedikit demi sedikit menumbuhkan harga diri mereka,kejujuran dan memasukan visi misi sekolah.dan itu terlihat saat mereka mengerjakn soal

  P :” Dalam buku refleksi itu apa saja yang terangkum?” G : “Pertayaan refleksi saya apakah yang kamu dapatkan dari mempelaajri

  bab 1,ada hal ya:22.00 dari refleksi mereka akhirnya fisika itu bukan merupakan hal yang menakutkan..” P :” Berkenaan dengan alur yang ibu sampaikan apakah mengikuti buku atau ibu menyusun sendiri ?” G : “Bukan mengikuti buku ya,kita ada kurikulum ada kompetensi,standar kompetensi,dan indicator dari situ,kan ada kalender akademiknya saya hitung,tingkat kesulitanya ini mana,penekanya dmana,lalu yang penting,selain konsep harus masuk,yang kedua sesuai tuntutan pasar,ini penting,ini baik,tapi kalau diujian tidak keluar ya gman?maka di de Brito itu 1 tim teaching akan melihat materi2 dalam kurikulum itu,lalu kita membuat silabusnyakan,itu yang penting mana,yang digabung mana,yang dihilangkan mana,itu kita teliti dulu bersama2,nanti tiap2 guru kelas yang dipegang,misalkan saya dikelas 2,ini yang penting2,nanti di kelas 3 yang digunak ini,nanti buat diperguruan tinggi ini,kalau yang tidak perlu ya sudah tidak dipakai,nanti kalau waktu cukup nanti kita tambahkan. Misalkan dikelas 1 kan ada gelombang elektro magnetic ngapain kita terangkan banyak2 itu,mereka ndk akan tau rumusnya,didekati di kelas XII kan ya sudah dari pada membuang waktu,lebih baik saya pakai untuk memperpanjang gerak lurus berubah beraturan yang nanti akan dipakai terus,maka gelombang elektromagnetik saya berikan tidak ia saya berikan. P : “Dikordinasikan dengan sekolah bu?” G : ”Dengan teaching, jadi nanti siapa yang pegang kelas 3 gelombang elektromagnetik dikelas X saya cuma mengenalkan tentang ini dasarnya semua anak tidak akan masuk ke ipa kan,lebih baik pengenalannya dan yang penting spektrumnya sinar gama, sianr x perhitungannya nanti dikelas 3,ada lagi..misalakn bu endah mengatakn untuk kelas 2 ini diberi

  bab 2 dulu jgan bab 1 karena ada diferensial integral,sehingga masuk bab 1 mereka agak nyaman,alasan karena nanti masuk gerak harmonic sederhana menurunkn persamaanya diferensialnykan lebih gampang,karena nanti di matematika disemester 2,saya Tanya dulu dengan guru matematika akan diterangkan dulu tidak integral ni ng semester 1,missal tidak,gelem ra gelem guru fisika harus menerangkan,seperti dikelas X kita bicara vector,saya Tanya trigonometri kapan lek nerangke ng matematika,bisa ndk dipercepat,ndk bisa,ya sudah berarti guru fisika menerangkan,caranya menerangkan saya membuat angka dulu dalam soal (pda integral) diferensial yang kita butuhkan saja yang diterangkan,yang kita butuhkan kena.cara mengajar29.36…mikirnya tidak terlalu rumit,jadi kita jadi guru fisika tidak terjebak mengajar matematik itu yang selalu saya hindari.”

  P :” Untuk mendiagnosa kesulitan siswa ibu dapatkan dari refleksi siswa?” G : “Iya,dengan keliling,didepan kelas saja kita sudah tau kok dengan melihat mata mereka,kalau mengajar itu sebetulnya penguasaan kelas itu,menurut saya sebagai guru atau kita pandang matanya anak,dan setiap kali kita mengajar kita memang didepan tapi mata kita keliling,kita ngomong sambil mata kita keliling dan melihat terus yang ramai missal,nah nanti jika tetap ramai kita dekati,menegurnya kasih pertayaan..kalau ndak bisa baru di..kenthel???.nah kita mencairkan suasana itu begitu diluar jam pelajaran atau pada saat latihan soal tadi..guyonan dengan selera mereka,dielus-elus kepalanya,kasih tonjokan pelann..dia akan tau diluar pelajaran ndk kok..guru saya ndak galak..”

  P : “Cara seperti itu ibu dapatkan dari mana?” G : “e..sejak dari menjadi siswa itu rasanya mendapatkan afeksi tersebut rasanya senang..misal kamu jalan dengan seorang dosen walaupun bukan dosen kamu,kamu ditanya jurusan apa mas,padahal dia ndk kenal dan ndk ngajar kamu.kmau sudah respeck kok..misal kita makan dikantin…kpan pinternya kok cm makn mie..itu sentuhan2..jadi kita tau persis.kapan kita menarik sebagai guru,kpan sebagai orang tua kpan sebagai teman..kalau siswa merasa ini ibu saya nanti dikelas pasti dia merasa kita tidak berjarak..kalau sudah di IPA diusik kamu bsk masuk jurusan mana?

  P : “Fisika itu kan banyak rumus..apa ibu punya jurus-jurus tertentu?”

  G : “Ini yang selalu saya katakaa fisika ndak usah dihafalkan,supaya tidak dihafalkan ini lho kita melihat dmna ada titik yang harus tidak dihafalkan,dan dalam refleksi itu muncul..oo bener.setelah bu nanik mengatakn konsepnya disini..mengenal diagram bebas gaya,lalu kemana kecenderungan geraknya jadinya gampang kita cm butuh kemampuan matematis,mereka bisa mengatakan begitu…jadi yang kita berikan kepada mereka itu yang bukan sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan..lalu mereka berfleksi..jadi saya tidak tuntas itu salah saya sendiri..itu hebatnya disitu..saya tidak tuntas karena saya..yang terjadikan anak selalu melempar..”

  P :” Misalkan ada konsep yang hanya pengertian ibu memberikannya dengan cara apa?misal konsep gaya gesek?” G : “Kalau itu memang pengertian ya harus dihafal tetapi dalam menghafal..contohnya..bagaimana bunyi hukum 1 newton

  ∑F= 0,itu bunyi apa rumusan matematik..artinya apa?..siswa harus tau persis apa bedanya F =o Dengan

  ∑F= 0..jadi hukum 1 newton berlaku unutk apa benda yang diam atau benda yang bergerak,,lalu kembalikan lagi..bergerak yang gimana?kecepatanya tetap..lalu disitu mereka menghubungkan dengan kemampuan bhasa dia..penyampaiannya dengan guyonan2,missal gerak lintas planet itu akan selalu begitu..apa pernah mundur..beli minum..ia selalu tetap pergerakanya..jadi mempelajari sesuatu saya selalu mengatakan perlunya apa?ini merupakan salah satu untuk memotivasi siswa dalam belajar fisika..saya itu memberi les anak stc ada fungsinya..gosip dari mereka missal ini pacarnya sana?makanya disekolah nilainya jelek atau apa saya bisa menganalisis salah satu penyebabnya dengan bertanya apa patah hati?km tak kasih tau kesemua siswa apa maju..maju mereka..”

  P : “Apakah menurut ibu fakor guru sangat penting dalam pembelajaran selain dari sisi siswa?” G : “Ya dong, cara mengatasi RSBI45.30an” P :” Menurut ibu karakteristik siswa kelas XI IPA 1 gman bu secara keseluruhan? G : “Hidup,terbagi 2 yang pinter-pinter banget,yang tidak-tidak.sehingga yang ambisius bagian depan(pecinan) yang jawa2 dibelakang cari aman,karena mereka merasa kalah dari segi otak,mereka guyonanya yang maju(jawa), pinter bertanya,maka kalau guru didepan terus mereka akan tersisih yang bodoh2 tadi,maka dengan kita keliling seimbang suasananya,afeksi anak yang pinter siapa yang bisa maju,missal yang bodoh bertanya itu kok bisa begitu to bu?saya tidak segera menjawab..wan coba tolong terangkan maju..begitu nanti ulangan sendiri- sendiri..menurut saya proses belajar itu utama bukan sekedar nilai kognitif.”

  Lampiran 12 1.

  Gelombang air laut melaju di samping kapal dengan kecepatan 20 m/s.

  Jarak antara puncak dan dasar yang ebrdekatan adalah 8 m. Tentukan a.

  Panjang gelombang b. Periode c. Frekuensi 2.

  Dalam 80 sekon melintas gelombang di sisi kapal. Bila jarak antara dua dasar yang berdekatan 40 meter, tentukan cepat rambat gelombang tersebut.

  3. Dua gabus berjarak 12 m satu sama lain. Kedua gabus tersebut turun naik bersama permukaan air. Bila satu gabus di puncak gelombang, gabus yang lain berada di dasar gelombang,sedangkan diantaranya terdapat satu bukit gelombang. Bila cepat rambat gelombang 80cm/s, tentukan panjang gelombang dan frekuensinya.

4. Sebuah gelombang berjalan memenuhi persamaan y = 0,2 sin

  0,4 x dalam cm dan t dalam sekon. Tentukan : a.

  Arah rambat b. Amplitude c. Simpangan maksimum d. Frekuensi e. Panjang gelombang f. Cepat rambat 5.

  Sebuah gelombang berjalan memenuhi persamaan y= 2 sin 0,4 X dalam cm dan t dalam sekon. Tentukan: a.

  Arah rambat b. Amplitude,frekuensi, panjang gelombang dan cepat rambat c. Kecepatan maksimum partikel dalam tali d. Percepatan maksimum partikel dalam tali 6.

  Ujung seutas tali digetarkan harmonic dengan periode 0,5 s dan amplitude 6cm. Getaran ini merambat ke kanan sepanjang tali dengan kecepatan 200 cm/s. Tentukan: a.

  Frekuensi sudut gelombang b. Bilangan gelombang c. Persamaan umum gelombang d. Simpangan, kecepatan, dan percepatan partikel pada titik P yang berada 27,5 cm di sebelah kanan titik asal dan pada saat titik asal sudah bergetar 0,2 s.

  e.

  Sudut fase partikel di P saat titik asal sudah bergetas 0,2 s f. Fase partikel di P saat ttitik asal sudah bergetar 0,2 s ampitudo 16 cm, sedang ujung lainnya terikat. Getaran harmonic tersebut merambat ke kanan sepanjang kawat dengan cepat rambat 4,5 cm/s. Tentukan a.

  Ampitudo gelombang stasioner di titik yang berjarak 61 cm dari titik asal getaran b.

  Letak simpul ke-5 dan perut ke-7 dari titik getaran 8. Seutas tali horizontal panjangnya 2 m. Salah satu ujungnya digetarkan harmonik naik-turun, sedangkan ujung lainnya terikat. Jika perut ke -7 berjarak 1,35 m dari titik asal getaran, berapa panjang gelombang yang merambat pada tali?

  9. Seutas tali horizontal memiliki panajng 225 cm. Salah satu ujungnya digetarkan harmonik naik-turun dengan frekuensi ¼ Hz dan amplitude 10 cm. Sedang ujung lainnya dibiarkan bebas bergerak. Getaran tersebut merambar sepanjang tali dengan cepat rambat 9 cm/s. Tentukan: a. ampitudo gelombang stasioner di titik yang berjarak 225 cm dari titik asal getaran b. letak simpul ke-5 dan perut ke-7 dari titik asal getaran 10. Salah satu ujung dari seutas tali yang panjangnya 115 cm digetarkan harmonik naik turun sedang ujung lainnya dibiarkan bebas bergerak.

  a.

  Berapa panjang gelombang yang merambat pada tali jika perut ke-3 berjarak 15 cm dari titik asal getaran? b.

  Di mana letak simpul ke-2 diukur dari titik asal getaran? 11. Getaran dari sebuah pegas yang panjangnya 60 cm ditampilkan oleh persamaan y = a.

  Tentukan simpangan maksimum suatu partikel pada x =5 cm b. Tentukan letak simpul-simpul sepanjang pegas c. Berapakah kelajuan partikel pada x =5 cm dan t =1/6 s? 12.

  Suatu gelombang dari permukaan air melewati dua tempat kedalaman yang berbeda. Pada tempat ynag dalam v= 4 m/s dan pada yang dangkal v =2 m/s. Gelombang datang dari tempat yang dangkal dengan sudut datang 60 terhadap bidang batas, tentukan sinus dari sudut biasnya.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Peranan guru agama dalam mengoptimalkan emotional quatient (EQ) siswa pada prosess pembelajaran pendidikan agama islam di SMA dua Mei cipuatat tangerang
0
6
104
Profil pedagogical content knowledge dua guru Fisika SMA kelas XI mengenai pembelajaran usaha.
0
3
92
Sikap, keterampilan menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran dan keterampilan melakukan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik dari dua orang guru SMP Kelas VIII di Kabupaten Klaten.
2
42
205
Profil pedagogical content knowledge dua guru Fisika SMA kelas XI mengenai pembelajaran usaha
1
2
90
Desain pembelajaran fisika SMA pada dua belas topik pada bidang mekanika dengan metode demostrasi dan hasil uji cobanya di Asrama Putri ST. Angela SMA Pangudi Luhur Sedayu.
1
8
196
Pengembangan pembelajaran matematika dengan metode sugetopedia berbasis musik pada materi sistem persamaan linier dua variabel.
3
5
153
Perbandingan implementasi PMRI dalam proses pembelajaran matematika di dua sekolah mitra tim PMRI - USD Repository
0
0
360
Pemanfaatan komputer oleh guru fisika dalam pembelajaran fisika di SMA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta [sebuah survei pada tahun 2008] - USD Repository
0
0
190
Perbandingan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika di kelas XI SMA yang dikelola oleh dua orang guru - USD Repository
0
0
161
Pengetahuan 2 orang guru fisika mengenai siswanya pada 2 SMA di Yogyakarta yang diduga berpengaruh terhadap aktivitas pembelajarannya - USD Repository
0
0
233
Identifikasi pengetahuan guru fisika tentang siswanya pada 2 SMA di Yogyakarta sebagaimana terungkap melalui aktivitas guru dalam pembelajaran - USD Repository
0
0
260
Bentuk-bentuk representasi bahan ajar yang digunakan oleh guru fisika pada dua SMA di Yogyakarta serta pengetahuan guru yang diduga mendasarinya - USD Repository
0
0
243
Representasi materi pembelajaran fisika oleh dua orang guru fisika di dua sma Yogyakarta dan pengetahuan yang diduga mendasarinya - USD Repository
0
1
226
Peningkatan kemampuan menyimak cerita rakyat dan keaktifan siswa dalam pembelajaran menyimak dengan menggunakan media audio-visual dan teknik dua tinggal dua tamu siswa kelas X-6 semester 2 SMA N 6 Yogyakarta 2009-2010 - USD Repository
0
0
231
Unjuk kerja kincir angin savorius dua tingkat - USD Repository
0
0
52
Show more