DESKRIPSI KEMAMPUAN REFLEKTIF SISWA KELAS V SD KANISIUS SENGKAN DAN SD KANISIUS EKSPERIMENTAL MANGUNAN

Gratis

0
1
158
10 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DESKRIPSI KEMAMPUAN REFLEKTIF SISWA KELAS V SD KANISIUS SENGKAN DAN SD KANISIUS EKSPERIMENTAL MANGUNAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh Yosephine Widya Permanasari NIM: 061124019 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2012

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Kupersembahkan skripsi ini kepada Para suster Kongregasi Putri-Putri Bunda Hati Kudus Provinsi Indonesia, Konsuster Komunitas PBHK Deresan – Yogyakarta yang menginspirasiku, Keluargaku tercinta yang selalu mendukung dan mendoakan aku, Prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma tempat aku menimba ilmu iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO Non Scholae, sed Vitae Dicimus (Belajar bukan untuk sekolah, tetapi untuk hidup) “Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi (Socrates) Kita semua di sini tidak lain adalah alat-alat Allah yang dipakai untuk melakukan hal kecil dan …..kemudian berlalu (Ibu Teresa) “......Tinggallah di dalam kasih-Ku” (Yoh 15:9) v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang telah saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 25 Juni 2012 , , Penulis Yosephine Widya Permanasari

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBARAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Yosephine Widya Permanasari Nomor Mahasiswa : 061124019 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: DESKRIPSI KEMAMPUAN REFLEKTIF SISWA KELAS V SD KANISIUS SENGKAN DAN SD KANISIUS EKSPERIMENTAL MANGUNAN beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikialah pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada Tanggal 25 Juni 2012 Yang yeny atakan i Yos phine Widya Permanasari vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Skripsi ini berjudul DESKRIPSI KEMAMPUAN REFLEKTIF SISWA KELAS V SD KANISIUS SENGKAN DAN SD KANISIUS EKSPERIMENTAL MANGUNAN. Penulis memilih judul ini berdasarkan fakta bahwa di SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan telah menggunakan proses Pedagogi Reflektif. Oleh karena itu, skripsi ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan reflektif siswa SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan melalui proses dinamika pemaknaan pengalaman hidup dengan menggunakan aspek mengingat pengalaman, aspek perasaan terhadap pengalaman, aspek mengolah pengalaman dan aspek membangun niat. Kemampuan Refleksi adalah suatu proses dinamika pemaknaan pengalaman hidup dengan menggunakan daya ingat, pemahaman, imajinasi dan perasaan terhadap pengalaman, yang berdasarkan pada pengetahuan, ketrampilan dan nilainilai dasar yang tampak dalam bentuk tingkah laku dan perkembangannya sehingga dapat menangkap nilai serta makna dari apa yang sedang dialami. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif berbentuk metode survei deskriptif. Populasi dari penelitian ini adalah siswa-siswi kelas V SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan sebanyak 72 responden. Instrumen yang digunakan ialah skala sikap yang dikembangkan dalam 25 pernyataan mengenai kemampuan reflektif siswa yang meliputi aspek mengingat pengalaman, aspek perasaan terhadap pengalaman, aspek mengolah pengalaman dan aspek membangun niat. Dari hasil uji validitas pada taraf signifikansi 5%, N 72 siswa dan diperoleh sebanyak 19 item valid. Sedangkan dari hasil uji reliabilitas diperoleh 0,60, yang berarti reliabilitas instrumen tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan reflektif siswa atas keseluruhan aspek ialah 63.292. Hal ini berarti kemampuan reflektif siswa baik. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan perlu peningkatan proses kegiatan refleksi melalui pendampingan intensif bagi siswa yang belum mampu mengolah pengalamannya saat proses refleksi terjadi dan dituangkan dalam buku refleksi harian mereka, sarana-sarana pendukung kemampuan refleksi, misalnya gambar, cerita,alat peraga dan kegiatan-kegiatan pendukung kemampuan refleksi, misalnya diskusi kelompok, dihadapkan pada suatu masalah konkret, pemberian tugas dengan membuat laporan pertanggungjawaban secara jujur dan lain sebagainya serta peningkatan peranan Pendidikan Agama Katolik maupun Komunikasi Iman bagi kemampuan reflektif siswa. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT The title of this thesis was DESCRIPTION ABOUT THE REFLECTIVE ABILITY OF ELEMENTARY SCHOOLS STUDENTS OF KANISIUS SENGKAN AND KANISIUS EKSPERIMENTAL MANGUNAN. The writer chose this title based on fact that the elementary schools of Sengkan and Kanisius Eksperimental Mangunan have used the process of Reflective Pedagogical. Therefore, this thesis aimed to comprehend that how far the reflective ability of elementary schools of Kanisius Sengkan and Kanisius Eksperimental Mangunan through the process of meaning dynamic of life experience by using the aspects of remembering experience, feeling experience, managing experience and building intention. The Reflection Ability was a process of meaning dynamic of life experience by using remembering ability, comprehension, imagination and the sense to the experiences, which based on knowledge, skills and basic values that showed in attitude and the progressing so they able to comprehend the value and the meaning of what they have being experienced. This research was qualitative method by using descriptive survey technique. The population of this research was students of V grade of Elementary Schools of Sengkan and Kanisius Eksperimental Mangunan. The respondents were 72 students. The tools of attitude scale was used which implemented in 25 questions about the reflective ability of the students involved aspect of remembering experience, feeling experience, managing experience and building intention. The validity test at the significant rate 5%, N 72 students, 19 items is valid. While from the reliability test obtained 0,60, it meant the reliability instrument is high. The result pointed that the average value of reflective ability to the all aspects was 63.292. It meant that the reflective ability of the students is good. Based on the result, it was recommended that it should be risen up the process of reflection activity through the intensive facilitation for the students who had not able to cultivate their experience at the moment of ongoing reflection process and it should be written down in their diary, the supporting equipments of reflection ability, for instance: picture, story, the experiment tools and the supporting activities of reflection ability, such as: group discussion to the material of concrete cases, giving task or assignment, by making responsibility report honestly and etc and rising up the role of Catholic Religion Education and Faith Communication to the reflective ability of students. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur dan limpah terima kasih kepada Allah Bapa yang telah menyertai, membimbing, dan menuntun penulis dalam menapaki hidup ini sehingga penulis mampu memaknai pengalaman-pengalaman sepanjang waktu penulisan skripsi ini sebagai rajutan kasih Allah yang indah yang telah dipersiapkan bagi penulis. TanganNya yang lembut mengajak penulis untuk tetap setia dan bertekun dalam menyelesaikan penulisan skripsi kendati penulis mengalami keletihan, inspirasiNya tak pernah berhenti mengalirkan ide-ide yang membuat penulis memiliki kepercayaan diri dan pendampinganNya tak pernah lelah dengan memberikan malaikat-malaikat kecil yang senantiasa menemani, membantu, mendukung dan memotivasi selama proses penulisan ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul DESKRIPSI KEMAMPUAN REFLEKTIF SISWA KELAS V SD KANISIUS SENGKAN DAN SD KANISIUS EKSPERIMENTAL MANGUNAN Skripsi ini disusun oleh penulis berdasarkan situasi konkret yang ada di sekitar penulis. Lembaga Pendidikan tidak cukup hanya menempah kemampuan kognitif atau sekedar meningkatkan potensi inteligensi, melainkan juga mengembangkan kemampuan afektif-emosional, kemampuan sosialisasi dan bahkan kemampuan dalam aspek religius. Salah satu proses pembelajaran yang menjadikan siswa memiliki pribadi yang utuh ialah membiasakan siswa mengadakan refleksi atas pengalaman hidupnya. Melalui buku refleksi harian, siswa belajar setahap demi setahap mengembangkan kemampuan reflektifnya serta menjadi sarana bagi mereka untuk membarui hidup ke arah yang lebih baik sebagai manusia yang utuh. Mengolah pengalaman harian juga menjadi pergumulan bagi penulis. Di saat penulisan skripsi, penulis mengalami pengalaman yang mengajak penulis melihat kehadiran Allah serta menerima rencanaNya sebagai penyempurnaan hidup penulis. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ketika pengalaman tersebut hadir, berbagai penolakan terjadi (rasa ketidak mampu, rasa kurang dipahami dan rasa dilumpuhkan) yang membuat penulis tidak lagi melihat bahwa Allah ikut terlibat dalam hidup. Dengan berjalannya waktu dan keyakinan yang ditemukan dalam doa, menyediakan waktu mengolah pengalaman dan perjumpaan dengan sesama yang meneguhkan, membuat penulis terbuka dan menyiapkan diri untuk rencana Allah yang indah ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini dapat selesai pada waktunya berkat bantuan dari berbagai pihak baik yang secara langsung maupun tidak langsung telah mendampingi, membimbing dengan penuh kerelaan, kesabaran dan kesetiaan serta mendukung lewat doa-doa sehingga memotivasi penulis untuk setia dan bertekun menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada: 1. F.X. Dapiyanta, SFK, M.Pd., selaku dosen pembimbing utama yang selalu menginspirasi, membuka pandangan baru bagi penulis serta memperkaya penulisan ini. Penulis mengucapkan terima kasih atas bimbingan, kesabaran, kemurahan hati serta pemahaman terhadap kesulitan dan kebutuhan penulis serta kesetiaan dalam memberi ruang dan waktu mendengarkan pergumulan penulis, memberi masukan dan kritikan dalam seluruh proses penulisan skripsi ini. 2. Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ, selaku dosen penguji II dan sekaligus dosen wali yang selalu mempunyai waktu dan hati di saat penulis mengalami kegelisahan dalam upaya menyelesaikan penulisan. Penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan dan motivasi yang diberikan sehingga penulis mampu untuk tetap tersenyum menyelesaikan penulisan ini. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Y.H. Bintang Nusantara, SFK, M.Hum, selaku dosen penguji III yang banyak memberi waktu luang bagi penulis di saat penulis mengalami kepenatan dan kelelahan hati di sela-sela penulisan. Penulis mengucapkan terima kasih atas gagasan yang inspiratif yang mampu memotivasi penulis untuk maju dan terus mau mengembangkan diri. 4. Segenap Staf Dosen Prodi IPPAK-JIP, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma yang telah membimbing, mendukung dan mendidik penulis selama belajar sampai selesainya skripsi ini. Penulis mengucapkan limpah terima kasih karena melalui bimbingan dan penemanan penulis semakin menyadari bahwa belajar bukan untuk sekolah, tetapi untuk hidup. 5. Suster Immaculae, PBHK beserta Staf Dewan Pimpinan Provinsi Kongregasi Putri-Putri Bunda Hati Kudus Provinsi Indonesia yang telah memberikan perutusan studi di Prodi IPPAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis mengucapkan terima kasih atas kesempatan studi yang diterima penulis sehingga penulis belajar menghargai dan memaknai setiap pengalaman yang dijumpai dalam rencana akan kehadiran Allah sendiri (Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi). 6. Sr. Christine Sumiatsih, PBHK, selaku Pemimpin Komunitas suster studi dan para suster lainnya yang sama-sama berjuang dalam perutusan studi, selalu mendoakan, setia mendampingi, mendukung, memahami pergumulan dan memfasilitasi penulis selama menjalani perutusan studi. Penulis mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungan Suster selama ini. 7. Ibu M. Sri Wartini, selaku Kepala sekolah SD Kanisius Sengkan, tempat penelitian skripsi ini dilaksanakan. Penulis mengucapkan terima kasih atas xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI keterbukaan hati dalam menerima penulis untuk mengadakan penelitian serta mendapatkan informasi secara leluasa yang diberikan pada penulis selama proses penelitian skripsi ini berlangsung. 8. Bapak H.J. Ponidjan,B.A. selaku Kepala sekolah SD Kanisius Mangunan, tempat penelitian skripsi ini dilaksanakan. Penulis mengucapkan terima kasih atas kerelaan, keterbukaan dan dukungan yang diberikan pada penulis selama proses penelitian skripsi ini berlangsung. 9. Sr Agnes, FCJ dan Ibu Olivia Dewi Maharani,S.Pd selaku guru kelas V SD Kanisius Sengkan. Penulis mengucapkan terima kasih atas keterbukaan hati memberi ruang dan waktu untuk penelitian serta kesabaran dalam melayani penulis mendapatkan data penunjang penelitian. 10. Ibu Padmi,S.Pd selaku guru kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan. Penulis mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati dan dukungan dalam memberikan kesempatan bagi penulis untuk mengadakan penelitian. 11. Para murid kelas V SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Mangunan. Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas penerimaan yang penuh kepolosan dan kegembiraan di saat penulis mengadakan penelitian di dalam kelas. Keterbukaan yang tulus dari mereka menjadi oase yang menyejukkan dan saat-saat perjumpaan yang berharga bagi penulis. 12. Teman-teman angkatan 2006 dan angkatan 2008 yang telah memberikan banyak dukungan, perhatian, saran, masukan dan selama ini menjadi rekan kerjasama yang baik dalam menjalani perutusan studi di Prodi IPPAK. xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13. Orang tua dan anggota keluarga yang telah mendukung penulis lewat doa dan cinta serta perhatian selama menjalani masa studi. 14. Para Romo, sahabat dan kenalan serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang selama ini dengan ikhlas dan tulus hati telah memberikan dukungan doa dan bantuan hingga selesainya studi dan penulisan skripsi ini. Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman sehingga penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Dengan demikian penulis mengharapkan masukan, saran dan kritik dari para pembaca demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Yogyakarta, 25 Juni 2012 Penulis Yosephine Widya Permanasari xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv MOTTO ........................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN.......................................................................... vi LEMBARAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK ........................................ vii ABSTRAK ....................................................................................................... viii ABSTRACT ....................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ..................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xv DAFTAR TABEL ............................................................................................ xx DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xxv BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1 A. Latar Belakang ................................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ........................................................................... 3 C. Pembatasan Masalah .......................................................................... 4 D. Rumusan Masalah .............................................................................. 4 E. Tujuan Penulisan ................................................................................ 4 F. Manfaat Penulisan .............................................................................. 5 G. Metode Penulisan............................................................................... 6 H. Sistematika Penulisan ........................................................................ 7 BAB II. KAJIAN PUSTAKA ......................................................................... 9 A. Kemampuan Reflektif Siswa ............................................................ 9 1. Pengertian Kemampuan .............................................................. 9 2. Pengertian Refleksi ..................................................................... 11 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Pengertian Kemampuan Reflektif ............................................... 13 4. Tujuan Refleksi ........................................................................... 14 5. Unsur-Unsur atau Aspek-Aspek Kegiatan Refleksi.................... 15 a. Ingatan atas Pengalaman ........................................................ 15 b. Akal Budi ............................................................................... 17 c. Fantasi/Imajinasi ..................................................................... 18 d. Perasaan .................................................................................. 18 e. Kehendak ................................................................................ 19 6. Proses dari Kegiatan Refleksi ..................................................... 20 a. Tahap Pertama ........................................................................ 20 b. Tahap Kedua ........................................................................... 21 c. Tahap Ketiga........................................................................... 21 d. Tahap Keempat ....................................................................... 22 7. Ciri-Ciri Siswa Reflektif ............................................................. 23 B. Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar ......................................... 24 1. Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg ........................ 24 2. Teori Perkembangan Kognitif Piaget .......................................... 25 3. Teori Perkembangan Kepercayaan/Iman James Fowler ............. 26 C. Program Kegiatan Pendukung Kemampuan Refleksi ....................... 28 D. Kegiatan Reflektif Dalam Pembelajaran ........................................... 29 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ....................................................... 31 A. Jenis Penelitian ................................................................................. 31 B. Populasi dan Sampel ......................................................................... 31 1. Populasi ....................................................................................... 31 2. Sampel ......................................................................................... 32 C. Jenis Sumber Data............................................................................. 32 1. Data Primer ................................................................................. 33 2. Data Sekunder ............................................................................. 33 D. Instrumen .......................................................................................... 33 E. Tehnik Uji Instrumen ........................................................................ 34 1. Validitas ......................................................................................... 34 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Reliabilitas ..................................................................................... 35 F. Tehnik Analisis Data ......................................................................... 36 G. Kisi-Kisi Penelitian ........................................................................... 37 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................ 42 A Hasil Penelitian ................................................................................... 42 1. Deskripsi Kemampuan Reflektif Siswa ........................................ 42 a. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman.................................. 43 b. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman .................... 44 c. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman ................................... 44 d. Deskripsi Aspek Membangun Niat ........................................... 45 2. Deskripsi Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Sengkan ..... 45 a. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman.................................. 46 b. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman .................... 48 c. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman ................................... 50 d. Deskripsi Aspek Membangun Niat ........................................... 51 3. Deskripsi Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Mangunan .. 53 a. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman.................................. 54 b. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman .................... 56 c. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman ................................... 57 d. Deskripsi Aspek Membangun Niat ........................................... 59 B. Hasil Studi Dokumen ......................................................................... 61 1. Deskripsi Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Sengkan ..... 62 a. Pengalaman Awal..................................................................... 62 1). Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman ........................... 62 2). Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman .............. 63 3). Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman ............................ 65 4). Deskripsi Aspek Membangun Niat ..................................... 66 b. Pengalaman Tengah ................................................................. 67 1). Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman ........................... 67 2). Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman .............. 69 3). Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman ............................ 70 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4). Deskripsi Aspek Membangun Niat ..................................... 71 c. Pengalaman Akhir .................................................................... 72 1). Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman ........................... 72 2). Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman .............. 74 3). Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman ............................ 75 4). Deskripsi Aspek Membangun Niat ..................................... 76 2. Deskripsi Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Mangunan .. 77 a. Pengalaman Awal..................................................................... 77 1). Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman ........................... 78 2). Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman .............. 79 3). Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman ............................ 80 4). Deskripsi Aspek Membangun Niat ..................................... 82 b. Pengalaman Tengah ................................................................. 83 1). Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman ........................... 83 2). Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman .............. 84 3). Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman ............................ 86 4). Deskripsi Aspek Membangun Niat ..................................... 87 c. Pengalaman Akhir .................................................................... 88 1). Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman ........................... 88 2). Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman .............. 90 3). Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman ............................ 91 4). Deskripsi Aspek Membangun Niat ..................................... 92 C. Pembahasan Hasil Penelitian ............................................................. 93 1. Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Mangunan ...................................................................... 93 2. Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Mangunan Secara Khusus ............................................. 99 a. Aspek Mengingat Pengalaman .................................................. 99 b. Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman ..................................... 102 c. Aspek Mengolah Pengalaman ................................................... 105 d. Aspek Membangun Niat ........................................................... 109 xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................... 112 A. Kesimpulan ........................................................................................ 112 B. Saran .................................................................................................. 114 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... LAMPIRAN ..................................................................................................... Lampiran 1: Hasil Uji Validitas, Reliabilitas ......................................... Lampiran 2: Hasil Data Dokumentasi .................................................... Lampiran 3: Surat Permohonan .............................................................. Lampiran 4: Daftar Siswa kelas V A SD Kanisius Sengkan .................. Lampiran 5: Daftar Siswa kelas V B SD Kanisius Sengkan .................. Lampiran 6: Daftar Siswa kelas V SD Kanisius Mangunan................... xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Deskriptif Kemampuan Reflektif Siswa 43 Tabel 2. Rangkuman Statistik Deskripsi Nilai Keseluruhan SD Kanisius Sengkan 45 Tabel 3. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek mengingat pengalaman SD Kanisius Sengkan 46 Tabel 4. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman SD Kanisius Sengkan 47 Tabel 5. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman SD Kanisius Sengkan 48 Tabel 6. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman SD Kanisius Sengkan 48 Tabel 7. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman SD Kanisius Sengkan 50 Tabel 8. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman SD Kanisius Sengkan 50 Tabel 9. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Membangun Niat SD Kanisius Sengkan 52 Tabel 10. Deskripsi Aspek Membangun Niat SD Kanisius Sengkan 52 Tabel 11. Rangkuman Statistik Deskripsi Nilai Keseluruhan SD Kanisius 53 Eksperimental Mangunan Tabel 12. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman SD Kanisius Eksperimental Mangunan 54 Tabel 13. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman SD Kanisius Eksperimental Mangunan 55 Tabel 14. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman SD Kanisius Eksperimental Mangunan 56 Tabel 15. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman SD Kanisius Eksperimental Mangunan 56 Tabel 16. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman SD Kanisius Eksperimental Mangunan xx 58

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 17. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman SD Kanisius Eksperimental Mangunan 58 Tabel 18. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Membangun Niat SD Kanisius Eksperimental Mangunan 60 Tabel 19. Deskripsi Aspek Membangun Niat SD Kanisius Eksperimental Mangunan 60 Tabel 20. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman Awal SD Kanisius Sengkan 62 Tabel 21. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman Awal SD Kanisius Sengkan 62 Tabel 22. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman Awal SD Kanisius Sengkan 63 Tabel 23. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman Awal SD Kanisius Sengkan 64 Tabel 24. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman Awal SD Kanisius Sengkan 65 Tabel 25. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman Awal SD Kanisius Sengkan 65 Tabel 26. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Membangun Niat Pengalaman awal SD Kanisius Sengkan 66 Tabel 27. Deskripsi Aspek Membangun Niat Pengalaman Awal SD Kanisius Sengkan 66 Tabel 28. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengingat pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Sengkan 67 Tabel 29. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Sengkan 68 Tabel 30. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Sengkan 69 Tabel 31. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Sengkan Tabel 32. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman xxi 69

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Sengkan 70 Tabel 33. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Sengkan 70 Tabel 34. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mambangun Niat pada pengalaman Tengah SD Kanisius Sengkan 71 Tabel 35. Deskripsi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Sengkan 72 Tabel 36. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 72 Tabel 37. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 73 Tabel 38. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 74 Tabel 39. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 74 Tabel 40. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 75 Tabel 41. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 75 Tabel 42. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 76 Tabel 43. Deskripsi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 77 Tabel 44. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 78 Tabel 45. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 78 Tabel 46. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 79 Tabel 47. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada xxii

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 79 Tabel 48. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 80 Tabel 49. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 81 Tabel 50. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 82 Tabel 51. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 82 Tabel 52. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 83 Tabel 53. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Eksperimental Mangunan 83 Tabel 54. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Eksperimental Mangunan 84 Tabel 55. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Eksperimental Mangunan 85 Tabel 56. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Eksperimental Mangunan 86 Tabel 57. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Eksperimental Mangunan 86 Tabel 58. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Eksperimental Mangunan 87 Tabel 59. Deskripsi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Eksperimental Mangunan 87 Tabel 60. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Eksperimental Mangunan 88 Tabel 61. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Eksperimental Mangunan Tabel 62. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap xxiii 89

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Eksperimental Mangunan 90 Tabel 63. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Eksperimental Mangunan 90 Tabel 64. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD kanisius Eksperimental Mangunan 91 Tabel 65. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Eksperimental Mangunan 91 Tabel 66. Rangkuman Statistik Deskripsi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Eksperimental Mangunan 92 Tabel 67. Deskripsi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Eksperimental Mangunan xxiv 93

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Frekuensi Aspek Mengingat Pengalaman SD Kanisius Sengkan 47 Gambar 2. Frekuensi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman SD Kanisius Sengkan 49 Gambar 3. Frekuensi Aspek Mengolah Pengalaman SD Kanisius Sengkan 51 Gambar 4. Frekuensi Aspek Membangun Niat SD Kanisius Sengkan 52 Gambar 5. Frekuensi Aspek Mengingat Pengalaman SD Kanisius Eksperimental Mangunan 55 Gambar 6. Frekuensi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman SD Kanisius Eksperimental Mangunan 57 Gambar 7. Frekuensi Aspek Mengolah Pengalaman SD Kanisius Eksperimental Mangunan 59 Gambar 8. Frekuensi Aspek Membangun Niat SD Kanisius Eksperimental Mangunan 60 Gambar 9. Frekuensi Aspek Mengingat Pengalaman Awal SD Kanisius Sengkan 63 Gambar 10.Frekuensi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman Awal SD Kanisius Sengkan 64 Gambar 11.Frekuensi Aspek Mengolah Pengalaman Awal SD Kanisius Sengkan 65 Gambar 12.Frekuensi Aspek Membangun Niat Pengalaman Awal SD Kanisius Sengkan 67 Gambar 13. Frekuensi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Sengkan 68 Gambar 14. Frekuensi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Sengkan 69 Gambar 15. Frekuensi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Sengkan Gambar 16. Frekuensi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman xxv 71

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tengah SD Kanisius Sengkan 72 Gambar 17. Frekuensi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 73 Gambar 18. Frekuensi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 74 Gambar 19. Frekuensi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 76 Gambar 20. Frekuensi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Sengkan 77 Gambar 21. Frekuensi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 78 Gambar 22. Frekuensi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 80 Gambar 23. Frekuensi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 81 Gambar 24. Frekuensi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Awal SD Kanisius Eksperimental Mangunan 82 Gambar 25. Frekuensi Aspek Mengingat Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Eksperimental Mangunan 84 Gambar 26. Frekuensi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Eksperimental Mangunan 85 Gambar 27. Frekuensi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Eksperimental Mangunan 86 Gambar 28. Frekuensi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Tengah SD Kanisius Eksperimental Mangunan 88 Gambar 29. Frekuensi Aspek Menginat Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Eksperimental Mangunan 89 Gambar 30. Frekuensi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Eksperimental Mangunan 90 Gambar 31. Frekuensi Aspek Mengolah Pengalaman pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Eksperimental Mangunan xxvi 92

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 32. Frekuensi Aspek Membangun Niat pada Pengalaman Akhir SD Kanisius Eksperimental Mangunan xxvii 93

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Di tengah kesadaran pentingnya pengembangan kemampuan reflektif dalam mengolah pengalaman hidup keseharian, maka lembaga pendidikan berupaya mencari model pendidikan yang mampu mengembangkan aspek-aspek kemunusiaan untuk menjadikan pribadi yang mandiri dan utuh. Pendidikan tidak cukup hanya menempah kemampuan kognitif atau sekedar meningkatkan potensi inteligensi, melainkan juga mengembangkan kemampuan afektif-emosional, kemampuan sosialisasi dan bahkan kemampuan dalam aspek religius. Kemampuan reflektif adalah suatu proses dan dinamika pemaknaan pengalaman hidup dengan menggunakan daya ingat, pemahanan, imajinasi dan perasaan yang berdasarkan pada pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar yang tampak dalam bentuk tingkah laku dan berkembangnya aspek-aspek rasio sehingga dapat menangkap arti hakiki dari apa yang sedang dialami (keyakinan akan, nilai, sikap serta seluruh cara bernalar). Pemaknaan pengalaman hidup yang ditemukan dalam hidup harian serta dalam proses pembelajaran di sekolah dan dituangkan melalui buku refleksi harian menjadi metode dan media refleksi yang efektif. Melalui buku refleksi harian, siswa belajar setahap demi setahap mengembangkan kemampuan reflektifnya. Buku refleksi harian siswa juga membantu para guru dan siswa menyadari kembali dinamika (proses) pemaknaan pengalaman yang telah terjadi,

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 mengenali kemampuan diri dengan segala kekuatan dan kelemahannya serta mengubah dan mengembangkan diri melalui tindakan pembaruan yang mengarah pada hidup yang lebih baik. Menurut Barbara K Given (2007: 302), kemampuan berefleksi yang dikembangkan secara serius akan membantu siswa mengatasi berbagai masalah, mampu membuat keputusan, mampu memahami situasi sulit, dan melaksanakan tugas intelektual lain yang membebani dengan lebih baik, oleh karena itu kemampuan reflektif siswa perlu dipupuk karena dengan refleksi membantu siswa mengenali dirinya dengan kesadaran yang penuh. Fenomena menarik terjadi dalam proses pembelajaran di SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan. Di mana pada kedua sekolah tersebut telah menerapkan pedagogi reflektif. Paradigma pedagogi reflektif ini diaplikasikan dalam proses pembelajaran yaitu dengan cara memberikan waktu seusai proses pembelajaran pada hari tersebut. Kebiasaan menuliskan pengalaman yang telah terjadi, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam pengalaman di luar proses belajar mengajar menjadi salah satu sarana efektif untuk membantu para siswa (SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan) berkembang kemampuan reflektif mereka dalam menemukan nilai dan makna dari setiap pengalaman yang dialami. Kemampuan reflektif mereka, mendorong mereka untuk melakukan tindakan pembaruan bagi diri sendiri dalam hubungan dengan Tuhan dan sesama. Pembiasaan merefleksikan pengalaman ini mengajak siswa mengembangkan segi kognitif mereka dalam mengingat pengalaman dan menuangkannya dalam

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 bentuk tulisan, mengembangkan segi afektif-emosional dengan pemberian nama kepada perasaan yang dialami saat pengalaman itu terjadi dan mengolah pengalaman itu serta mengembangkan siswa untuk mengungkapkan diri dalam perubahan hidup yang lebih baik. Dengan merenungkan pengalaman secara mendalam serta menemukan konsekwensi dari apa yang telah dipelajari diterima, siswa dapat maju dengan bebas dan dengan penuh keyakinan mampu memilih tindakan-tindakan yang sesuai dan cocok menunjang pengembangan diri sebagai manusia utuh. Dari latar belakang tersebut, maka penulis mengambil kedua sekolah di atas sebagai tempat penelitian untuk melihat sejauhmana kemampuan reflektif siswa berkembang. Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka judul yang dipilih untuk penulisan skripsi ini adalah: ”DESKRIPSI KEMAMPUAN REFLEKTIF SISWA SD KANISIUS SENGKAN DAN SD KANISIUS EKSPERIMENTAL MANGUNAN” B. IDENTIFIKASI MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan penelitian ini diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Bagaimana pemahaman kemampuan reflektif siswa? 2. Bagaimana kemampuan reflektif siswa kelas V SD Kanisius Sengkan Depok Sleman Yogyakarta dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan di Mangunan Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta?

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 3. Bagaimana cara efektif menerapkan pola pembelajaran reflektif siswa kelas V SD Kanisius Sengkan Depok Sleman Yogyakarta dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan di Mangunan Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta. C. PEMBATASAN MASALAH Mengingat luasnya topik penelitian dan keterbatasan yang ada, maka penelitian ini dibatasi pada bagaimana kemampuan reflektif siswa kelas V SD Kanisius Sengkan Depok Sleman Yogyakarta dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan di Mangunan Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta. D. RUMUSAN PERMASALAHAN Berdasarkan pembatasan permasalahan di atas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut: “Sejauhmana kemampuan reflektif siswa kelas V SD Kanisius Sengkan Depok Sleman Yogyakarta dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan di Mangunan Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta”. E. TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan penulisan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah: untuk mengetahui sejauhmana kemampuan reflektif siswa SD Kanisius Sengkan Depok Sleman Yogyakarta dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan di Mangunan Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta yang meliputi aspek mengingat pengalaman, aspek perasaan terhadap pengalaman, aspek

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 mengolah pengalaman dan aspek membangun niat yang menunjang pengembangan diri sebagai manusia yang bermartabat. F. MANFAAT PENULISAN 1. Bagi Penulis Meningkatkan kualitas keilmuan serta sebagai bahan inspirasi bagi penulis sebagai calon guru agama Katolik melalui proses belajar mengajar yang disertai dengan kegiatan reflektif akan memampukan siswa menginterpretasikan ilmu pengetahuan agama dan imannya dalam kehidupan nyata, sehingga mengembangkan kemampuan reflektifnya untuk membentuk dirinya menjadi manusia utuh bagi sesamanya 2. Bagi Guru Agama Guru agama sebagai pelaku utama dalam menghadirkan dimensi religius bagi siswa di sekolah diharapkan mampu menjalankan tugasnya dengan baik, yakni sebagai pelaku utama. Oleh karena itu, tulisan ini dapat digunakan oleh guru agama katolik sebagai salah satu acuhan untuk memahami pentingnya kegiatan refleksi dalam proses pembelajaran pada pembelajaran agama Katolik untuk peningkatan kemampuan reflektif siswa. 3. Bagi Sekolah Agar sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sungguh-sungguh menjadi agen pendidikan, maka sekolah dapat menjadikan skripsi ini sebagai bahan inspirasi dan referensi dalam memajukan kualitas pendidikannya. Sehingga

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 diharapkan dalam setiap proses pembelajaran dapat menerapkan pembelajaran reflektif terlebih dalam proses pembelajaran pendidikan agama Katolik sebagai media peningkatan kemampuan reflektif siswa. Dengan demikian dapat menghasilkan sumber daya manusia yang tangguh, baik di bidang akademis maupun bidang kerohanian atau religius. 4. Bagi Siswa Dengan menerapkan proses kegiatan refleksi dalam pembelajaran pelajaran pendidikan agama Katolik, diharapkan mengakomodasi terciptanya kemampuan reflektif siswa sehingga siswa mampu mengimplementasikan imannya dalam kehidupan nyata dan dapat mengolah hidupnya menjadi bermakna bagi diri, sesama dan dunia. G. METODE PENULISAN Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian deskriptif yang sifatnya ingin mengetahui sekaligus menganalisis bagaimanakah kemampuan reflektif siswa SD Kanisius Sengkan Depok Sleman Yogyakarta dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan di Mangunan Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta. Untuk mendapatkan data, penulis menggunakan instrumen penelitian melalui kuesioner tipe pilihan. Dalam pengolahan data peneliti menggunakan indeks skala likert pada setiap pertanyaan menjadi sangat setuju (skor 4), setuju (skor 3), tidak setuju (skor 2) dan sangat tidak setuju (skor 1).

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 H. SISTEMATIKA PENULISAN Supaya memperoleh gambaran yang jelas mengenai penulisan ini, maka penulis akan menguraikan pokok-pokok gagasan dalam penulisan. Bab I menguraikan pendahuluan, yang meliputi latar belakang penulisan, rumusan permasalahan, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II berisi tinjauan teoritis yang meliputi kemampuan reflektif siswa terdiri dari: pengertian kemampuan, pengertian refleksi, pengertian kemampuan reflektif siswa, tujuan refleksi, unsur-unsur atau aspek-aspek kegiatan refleksi, proses dari kegiatan refleksi, ciri-ciri siswa reflektif, teori perkembangan moral Lawrence Kolberg, teori perkembangan kognitif Piaget, teori perkembangan kepercayaan/iman James Fowler, dan program/kegiatan pengembangan kemampuan refleksi. Bab III mengenai metodologi penelitian deskripsi kemampuan reflektif siswa kelas V SD Kanisius Sengkan Depok Sleman Yogyakarta dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan di Mangunan Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta yang meliputi jenis penelitian, populasi dan sampel, jenis sumber data, instrumen, dan teknik analisis data. Bab IV membahas tentang hasil analisis deskripsi kemampuan reflektif siswa kelas V SD Kanisius Sengkan Depok Sleman Yogyakarta dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan di Mangunan Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 Bab V membuat kesimpulan dan saran-saran, agar penulisan ini bermanfaat dan dapat diterapkan oleh penulis dan para guru di sekolah-sekolah sebagai salah satu acuhan untuk memahami pentingnya kegiatan refleksi dalam proses pembelajaran untuk peningkatan kemampuan reflektif siswa.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Fokus pembahasan bab kedua ini terdiri atas satu bagian saja yang berisi tentang penjabaran kemampuan reflektif siswa berupa pengertian kemampuan, pengertian refleksi, pengertian kemampuan reflektif siswa, tujuan refleksi, unsurunsur atau aspek-aspek kegiatan refleksi, proses dari kegiatan refleksi, ciri-ciri siswa reflektif, teori perkembangan moral menurut Lawrence Kolberg, teori perkembangan kognitif Piaget, teori perkembangan kepercayaan/iman menurut James Fowler, dan program/kegiatan pengembangan kemampuan refleksi. A. Kemampuan Reflektif Siswa 1. Pengertian Kemampuan Menurut Radno Harsanto (2007: 130), kemampuan seringpula disebut dengan istilah kompetensi. Kompetensi merupakan turunan dari bahasa inggris competence yang berarti kecakapan, kemampuan dan wewenang. Dalam konteks kependidikan, kompetensi merupakan pengetahuan, sikap-perilaku, dan keterampilan yang tercermin dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak yang dilakukan secara konsisten dan terus-menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten. Dengan kata lain, seseorang dianggap memiliki kemampuan jika ia memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang tercermin dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Dalam kamus bahasa Indonesia, kemampuan berasal dari kata “mampu” yang berarti

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 kuasa (bisa, sanggup, melakukan sesuatu, dapat, berada, kaya, mempunyai harta berlebihan). Kemampuan adalah suatu kesanggupan dalam melakukan sesuatu. Seseorang dikatakan mampu apabila ia bisa melakukan sesuatu yang harus ia lakukan. Menurut Chaplin ability (kemampuan, kecakapan, ketangkasan, bakat, kesanggupan) merupakan tenaga (daya kekuatan) untuk melakukan suatu perbuatan. Sedangkan menurut Robbins kemampuan bisa merupakan kesanggupan bawaan sejak lahir, atau merupakan hasil latihan atau praktek. Ada pula pendapat lain menurut Akhmat Sudrajat menghubungkan kemampuan dengan kata kecakapan. Setiap individu memiliki kecakapan yang berbeda-beda dalam melakukan suatu tindakan. Kecakapan ini mempengaruhi potensi yang ada dalam diri individu tersebut. Menurut W Gulo (2005: 34-35) Kemampuan dapat dipahami dalam dua aspek, yaitu aspek yang tampak dan aspek yang tidak tampak. Kemampuan dalam aspek yang tampak disebut penampilan (performance). Performence ini tampil dalam bentuk tingkah laku yang dapat didemonstrasikan sehingga dapat diamati, dilihat dan dirasakan. Karena sifatnya yang demikian, maka performence dapat ditangkap oleh semua orang. Kemampuan dalam aspek yang tidak tampak disebut kemampuan dalam aspek rasional. Kemampuan dalam aspek ini tidak dapat diamati karena tidak tampil dalam bentuk perilaku yang empiris. Kemampuan dalam aspek rasional ini umumnya dikenal dalam taksonomi Bloom sebagai kognitif, afektif dan psikomotorik. Kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir, afektif berhubungan dengan sosial-emosional dan psikomotorik berhubungan dengan keterampilan. Kedua aspek dari kemampuan ini mempunyai

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 hubungan yang saling berinteraksi. Kemampuan dalam arti penampilan (performence) akan berkembang jika kemampuan rasional mengalami peningkatan. Seseorang yang telah menguasai banyak teori ilmu pengetahuan akan membuat penampilan profesinya lebih berkembang. Perbaikan terusmenerus pada penampilannya, akan meningkatkan kemampuan rasionalnya. Cara belajar seperti ini sering disebut dengan learning by doing, sebaliknya kemampuan rasional akan berkembang jika ada peningkatan dalam performence. Ungkapan: “pengalaman adalah guru yang baik” menunjukkan pengembangan kemampuan rasional melalui praktik nyata. Dari pendapat di atas, maka kemampuan dapat dimengerti sebagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang tampak dalam bentuk tingkah laku serta berkembangnya aspek-aspek rasio dalam diri seseorang yang kemudian direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sehingga menghasilkan kualitas diri. 2. Pengertian Refleksi Menurut Webster (1994), “refleksi” berasal dari kata (dalam bahasa Latin) “reflectere” yang artinya memutar, memalingkan, memantulkan, memikirkan kembali secara lebih serius terhadap apa saja. Prasetya (1992), dalam konteks kehidupan rohani, refleksi dipahami sebagai upaya mengambil jarak sejenak dari pengalaman dalam suasana keheningan untuk memaknai dan mengendapkan buah-buah rohani/makna dari setiap peristiwa yang dialaminya.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 Menurut Pedagogi Ignasian (1999: 52-53), istilah refleksi dipakai dalam arti; suatu penyimakan penuh perhatian dari bahan studi tertentu, pengalaman, ide-ide, usul-usul, atau reaksi spontan untuk mengerti pentingnya lebih dalam. Jadi refleksi adalah suatu proses yang menonjolkan makna dalam pengalaman manusiawi. Pada tingkat refleksi ini, daya ingat, pemahaman, daya khayal (imajinasi), dan perasaan dipergunakan untuk menangkap arti dan nilai hakiki dari apa yang sedang dipelajari. Refleksi ini adalah sebuah proses yang membentuk orang, membentuk suara hati pelajar (keyakinan mereka, nilai, dan sikap mereka, serta seluruh cara bernalar). Provinsi Indonesia Serikat Jesus (1998: 9), refleksi merupakan tindakan kunci pada waktu maju dari pengalaman ke bertindak. Tanpa refleksi atas pengalaman hidup seseorang akan berusaha menyesuaikan diri dengan yang sekarang berlaku. Dan ini sama sekali bukan pengembangan diri melainkan tenggelam dalam konformisme (sikap ikut-ikutan saja). Menurut P3MP Universitas Sanata Dharma (2008: 10-11), refleksi juga merupakan suatu proses menuju perubahan pribadi yang dapat mempengaruhi perubahan lingkup sekitarnya. Refleksi berarti mengadakan pertimbangan seksama dengan menggunakan daya ingat, pemahaman, imajinasi, dan perasaan menyangkut bidang ilmu, pengalaman, ide, tujuan yang diinginkan atau reaksi spontan untuk menangkap makna dan nilai hakiki dari apa yang dipelajari maka melalui refleksi, pengalaman siswa diharapkan menjadi bermakna sehingga mampu mendorong melakukan aksi.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Berdasarkan dari beberapa pengertian ini, refleksi kiranya dapat dipahami sebagai usaha manusia dalam mengambil jarak dari pengalaman dengan menggunakan daya ingat, pemahaman, imajinasi, dan perasaan guna menemukan nilai atau makna di balik peristiwa-peristiwa yang dialaminya. 3. Pengertian Kemampuan Reflektif Berdasarkan pengertian dari kemampuan dan refleksi di atas, maka kemampuan refleksi dapat ditarik pengertian yaitu: suatu proses dan dinamika pemaknaan pengalaman hidup dengan menggunakan daya ingat, pemahanan, imajinasi dan perasaan yang berdasarkan pada pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar yang tampak dalam bentuk tingkah laku dan berkembangnya aspek-aspek rasio sehingga dapat menangkap arti hakiki dari apa yang sedang dialami (keyakinan akan, nilai, sikap serta seluruh cara bernalar). Dari pengertian di atas, maka daya ingat, perasaan dan hati berperan penting untuk menangkap makna (nilai) yang paling penting dan hubungan antara apa yang dipelajari dengan tanggungjawab sebagai manusia di tengah masyarakat. Dalam proses ingatan, pemahaman, imajinasi dan perasaan dipakai untuk menangkap arti pokok dan nilai-nilai dari yang dipelajari guna menemukan hubungan dengan segi-segi lain dari pengetahuan dan kegiatan manusiawi dan untuk menghargai implikasi-implikasi dalam pencarian terus-menerus dari kebenaran. Barbara K Given (2007: 302), berefleksi harus menjadi suatu proses yang membentuk hati nurani para siswa, yaitu sikap hidup sehari-hari, nilai-nilai dan

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 keyakinan-keyakinan maupun cara berpikir dan bernalar, sehingga para siswa didorong bergerak melewati pengetahuan menuju bertindak. Kemampuan berefleksi yang dikembangkan secara serius akan membantu siswa mengatasi berbagai masalah, mampu membuat keputusan, mampu memahami situasi sulit, dan melaksanakan tugas intelektual lain yang membebani dengan lebih baik, oleh karena itu kemampuan reflektif siswa perlu dipupuk karena dengan refleksi membantu siswa mengenali dirinya dengan kesadaran yang penuh. Menurut Barbara K Given (2007: 306-307), kesadaran yang penuh lebih dari pemahaman tentang di sini dan kini tetapi lebih mencakup mengenai proses merenungkan perspektif masa lalu (didasarkan pada ingatan masa lalu yang kaya) dan antisipasi ke masa depan (kilasan tentang akan menjadi siapa diri kita di masa depan). Kesadaran yang dibangun di sini, berkaitan dengan perasaan yang terjadi saat seseorang melihat, mendengar, menyentuh, membaui atau merasakan sesuatu yang menciptakan perasaan visual/imajinasi. Kesadaran inilah yang membuat seseorang merasa ingin tahu tentang sang diri yang mengarah pada berkembangnya hati nurani seseorang. 4. Tujuan Refleksi Menurut P3MP Universitas Sanata Dharma (2008: 12), bahwa tujuan kegiatan refleksi adalah: a. Menangkap arti atau nilai hakiki dari apa yang dipelajari. b. Menemukan keterkaitan antara pengetahuan dan antara pengetahuan dengan realitasnya.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 c. Memahami implikasi pengetahuan dan seluruh tanggung jawabnya. d. Membentuk hati nurani. Menurut Subagya (2008: 43), tujuan kegiatan refleksi adalah agar siswa semakin mampu meyakini makna yang terkandung dalam pengalamannya yang otentik. Siswa dapat menggali sendiri dan mengambil suatu pertimbangan dan keputusan pribadi. Bukan berdasarkan patuh pada tradisi, mengikuti himbauan dan ajaran dari guru atau taat pada aturan yang ada. Melalui refleksi mereka mampu membentuk pribadi sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pengalamannya. Dari dua tujuan refleksi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari refleksi adalah menemukan nilai-nilai yang hakiki dibalik suatu pengalaman yang telah terjadi serta melalui refleksi dapat membentuk diri sebagai manusia yang utuh sehingga menghantar seseorang pada kedalaman hidup beriman yang terwujud dalam relasinya dengan Tuhan dan sesama. 5. Unsur-Unsur atau Aspek-Aspek Kegiatan Refleksi Berpijak dari pengertian dan tujuan refleksi yang sudah dijabarkan di atas maka, unsur-unsur yang menyebabkan terjadinya kegiatan refleksi, yaitu: a. Ingatan atas pengalaman Menurut Rita, L, dkk. (1991: 341), segala macam belajar melibatkan ingatan. Jika kita tidak dapat mengingat apa pun mengenai pengalaman kita, kita tidak akan dapat belajar apa-apa. Tanpa ingatan kita tidak dapat merefleksikan diri

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 kita sendiri, karena pemahaman diri tergantung pada suatu kesadaran yang berkesinambungan yang hanya dapat terlaksana dengan adanya ingatan. Siswa beserta aktivitas-aktivitasnya tidak semata-mata ditentukan oleh pengaruh-pengaruh dan proses-proses yang berlangsung waktu kini, tetapi juga oleh pengaruh-pengaruh dan proses-proses yang lampau ikut menentukan perkembangan kepribadiannya. Mengingat berarti menyerap atau meletakkan pengalaman dengan jalan menangkap atau menerima pengalaman, menyimpan pengalaman dan menghasilkan pengalaman. Paradigma Pedagogi Reflektif (2010: 48-52), pengalaman menurut Ignatius berarti “mengenyam sesuatu hal dalam batin”. Dari pengertian tersebut mengandaikan adanya fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang dialami oleh siswa dalam hidup keseharian. Pengalaman itu bisa diperoleh dengan mengingatingat dari pengalaman hidup sendiri (mengalami langsung), contohnya: pengalaman perjumpaan dengan teman dekat, pengalaman dalam kegiatan mengikuti perlombaan menyanyi, pengalaman dalam kegiatan mengikuti ibu pergi ke pasar, dan sebagainya atau pengalaman yang diperoleh dari membaca dan mendengarkan, contohnya: membaca cerita tentang gempa yang terjadi akhirakhir ini, membaca tentang anak kelaparan yang disebabkan oleh makanan tidak sehat dan kurang memadai, melihat tayangan film atau video,dan sebagainya. Pengalaman tersebut tidak hanya mengantar peserta didik pada pemahaman intelektual tetapi juga menyangkut keseluruhan pribadi, budi, perasaan dan kehendak dalam menghayati suatu pengalaman.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 b. Akal Budi Salah satu karunia Tuhan yang sangat istimewa yang diterima manusia adalah akal budi. Dengan akal budi, manusia memiliki keunggulan dari makhluk hidup lainnya. Akal atau rasio untuk berpikir, mengarahkan manusia mempunyai rasa ingin tahu (curiosity). Rasa ingin tahu inilah yang membuat manusia selalu mempertanyakan segala hal yang dipikirkannya, menyangsikan segala apa yang dilihat, dan mencari segala bentuk permasalahan yang dihadapi. Manusia berusaha menjawab semua pertanyaan yang dihadapi dan mengajukan alternatif pemecahan suatu masalah. Menurut Jose dalam Syah (2006:46), menjelaskan mengenai akal sebagai kemampuan untuk memahami sesuatu, dengan akal manusia dapat melihat diri sendiri dalam hubungannya dengan lingkungannya, juga dapat mengembangkan konsepsi mengenai waktu dan keadaan diri sendiri, serta melakukan tindakan yang bersifat antisipatif. Budi yang biasa disebut dengan hati nurani (suara hati), sangat esensial dalam refleksi. Suara hati ialah tempat manusia pribadi mendengarkan panggilan untuk berjumpa dan berhubungan dengan Tuhan secara pribadi (KWI, 1996: 16). Melalui perjumpaan dengan Tuhan, manusia menyadari tugas moral dan untuk mengambil keputusan moral terhadap suatu permasalahan. Berdasarkan suara hatinya, manusia dapat menimbang baik buruk segala sesuatu, benar atau tidaknya suatu tindakan. Maka dengan akal budinya, manusia menyadari segala apa yang terjadi atas dirinya, sekaligus ia mampu merenungkan dan mempelajari segala sesuatu yang pernah terjadi dalam hidupnya, juga apa yang terjadi dengan orang

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 lain. Singkatnya manusia tidak akan mampu merefleksikan segala pengalaman hidupnya tanpa adanya kekuatan akal budi. c. Fantasi/Imajinasi Menurut Yulia Supriyati (2010: 13), fantasi adalah daya jiwa yang dapat membentuk tanggapan-tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada dan tanggapan baru tersebut belum tentu sesuai dengan tanggapan yang sudah ada. Berhubung tanggapan baru belum tentu atau tidak perlu sesuai dengan tanggapan yang sudah ada, maka fantasi kadang sangat luas. Syaiful Sagala (2011: 127), menemukan makna atau tanggapan-tanggapan baru bagi diri pribadi tentang kejadian-kejadian, ide-ide, kebenaran atau pemutarbalikan dari kebenaran. Hasil dari fantasi atau imajinasi, memungkinkan siswa dapat membuat perencanaan untuk dilaksanakan di masa mendatang dan berusaha merealisasikannya. Misalnya, “Kebanyakan siswa beranggapan bahwa perlu mencintai orang orangtua dengan sepenuh hati, bahkan para siswa beranggapan bahwa mencintai orangtua tersebut merupakan tuntutan mutlak. Mungkinkah sikap saya yang selalu menuntut terhadap orangtua mengakibatkan kesedihan bagi orangtua saya? Apakah saya sanggup merubah sikap agar orangtua menjadi bangga akan diri saya? d. Perasaan Perasaan dapat diartikan sebagai suasana psikis yang mengambil bagian pribadi dalam situasi, dengan jalan membuka diri terhadap suatu hal yang berbeda dengan keadaan atau nilai diri. Apabila berpikir itu bersifat objektif, maka

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 perasaan itu bersifat subjektif karena lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan diri. Misalkan: Apa yang baik, menarik dan indah menurut siswa pertama belum tentu demikian bagi siswa yang berikutnya. Menurut Syaiful Sagala (2011: 131-132), perasaan dapat dibagi atas: perasaan jasmaniah, yaitu perasaan yang berhubungan dengan indera misalnya dingin, hangat, pahit, masam, lelah, lesu, lemah, segar, dan sehat; dan perasaan rohani, yaitu perasaan luhur yang terdiri dari perasaan intelektual, perasaan etis, perasaan estetis, perasaan sosial dan perasaan harga diri. Perasaan siswa dapat diwujudkan dalam bentuk ekspresi, yaitu pernyataan emosi yang dapat diamati oleh orang lain seperti tersenyum, tertawa, menangis, murung, muram, tunduk kepala, mengelus dada, cemberut, merengut, dan lain-lain. Oleh karena itu ekspresi dapat membantu guru dalam usaha mengenal emosi dan perasaan siswa. Misalnya, waktu mendapat nilai ulangan jelek, muka menjadi cemberut dan tidak mau bermain bersama teman-teman. Nilai jelek menimbulkan perasaan apa dalam dirimu? Mengapa demikian? Apakah kamu merasa malu dengan nilai jelek? Kalau ya, mengapa? e. Kehendak Syaiful Sagala (2011: 132-133), kehendak adalah kekuatan dari dalam untuk memilih dan merealisasikan suatu tujuan yang merupakan pilihan di antara berbagai tujuan yang bertentangan. Pemilihan dan realisasi tujuan memerlukan suatu kekuatan yang disebut kehendak. Kehendak dapat bekerja baik secara paksaan maupun dalam bentuk pilihan sendiri. Kehendak yang bebas adalah kehendak yang sesuai dengan keinginan diri, sedangkan kehendak yang terikat

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 adalah kehendak yang ditimbulkan oleh kondisi kebutuhan yang terbatasi oleh norma sosial ataupun kondisi lingkungan. 6. Proses dari Kegiatan Refleksi Suatu pengalaman pada dirinya sendiri adalah netral. Bermakna dan tidaknya suatu pengalaman tergantung pada orang yang mengalaminya, yakni bergantung pada bagaimana ia mengolah dan mengartikan pengalamannya tersebut. Merefleksikan pengalaman berarti menempatkan pengalaman tersebut dalam keseluruhan tata pengalaman hidup dan menggali maknanya untuk menyongsong serta mengartikan pengalaman yang masih akan datang. Oleh karenanya, dalam bagian ini penulis memaparkan proses refleksi menurut Gibbs dalam Finlay (2008: 8-12) yang merupakan suatu proses kegiatan melalui beberapa tahapan sebagai berikut: a. Tahap Pertama: menggambarkan peristiwa/kejadian Pada tahap ini seorang siswa menggambarkan secara detail atau rinci peristiwa atau kejadian yang sedang direfleksikan. Guru dapat membantu siswa dengan pertanyaan-pertanyaan: apa yang kamu alami hari ini? Apa yang kamu lakukan ketika bermain dalam kelompok? Permainan apa yang sedang kamu mainkan bersama teman-temanmu? Siapa saja yang bersama denganmu dalam kelompok bermain tadi? Saat bermain dalam kelompok apa yang kamu lakukan atau apa keterlibatanmu? dan apa keterlibatan teman-temanmu dalam permainan? Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas sebagai sarana bantu bagi siswa untuk mengingat kembali pengalaman yang telah mereka alami.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 b. Tahap Kedua: Perasaan dan pikiran (kesadaran diri) Pada tahap ini, seorang siswa diajak untuk melihat kembali dan menyelidiki perasaan apa saja yang muncul dalam pikiran. Hal-hal ini, antara lain mencakup: bagaimana perasaanmu ketika bermain dalam kelompok? Apa yang kamu pikirkan pada saat terlibat dalam permainan? Apa pendapatmu tentang permainan yang sudah kamu mainkan?. Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, siswa dibantu dalam mengungkapkan perasaan selama proses permainan dalam kelompok yang mereka alami. Ketika unsur perasaan dilibatkan dalam proses pembelajaran, maka siswa akan termotivasi untuk ambil bagian dalam proses pembelajaran. Kehendak untuk terlibat dalam proses pembelajaran menjadi kesempatan bagi siswa mengolah perasaan mereka. c. Tahap Ketiga: menilai dan mengolah pengalaman Pada tahap ini seorang siswa diajak untuk menilai atau membuat penegasan tentang apa yang sudah dialami dari sudut pandang manusiawi, moral dan religius. Dari sudut pandang manusiawi, siswa menilai pengalamannya apakah bermanfaat untuk mengembangkan dirinya serta studinya. Dari sudut pandang moral, siswa mampu menilai baik dan buruknya dari pengalaman dalam proses pembelajaran tersebut. Dari sudut pandang religius, siswa dibantu melalui pengalaman belajar sampai pada pengalaman akan kehadiran Allah atau dalam artian bahwa siswa semakin beriman. Pada tahap ketiga merupakan tahap yang paling penting dalam proses refleksi karena siswa diajak menilai pengalaman dalam beberapa sudut pandang. Melalui refleksi siswa tidak hanya dibantu untuk melihat pengalaman dari sisi

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 yang manusiawi dan moral saja tetapi dengan refleksi siswa sampai pada pengembangan kehidupan religiusnya. Siswa mampu menemukan makna iman dan tujuan hidup yang terdalam dari relasinya dengan yang ilahi, diri sendiri, sesama dan alam ciptaan melalui proses pembelajaran yang direfleksikan. Pada tahap ini guru dapat membantu siswa menemukan nilai-nilai tersebut dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang, nilai-nilai apa saja yang kamu dapatkan dari permainan dalam kelompok tadi? Apakah ada sikap-sikap yang ikut berkembang demi perkembangan pribadimu? Dari permainan kelompok yang sudah dilakukan tadi, manakah yang berguna atau bermanfaat bagi hidupmu selanjutnya? Melalui bermain dalam proses belajar tadi, apakah kamu juga menemukan dan mengalami kehadiran Allah? d. Tahap Keempat: Aksi Pada tahap ini menjadi tindak lanjut dari tahap sebelumnya. Seorang siswa perlu berpikir ke depan, tentang apa yang hendak ia lakukan untuk menghadapi pengalaman yang sama. Apakah mau bertindak dengan cara yang berbeda atau mau bertindak sebagaimana ia menghadapi pengalaman itu sebelumnya, maka niat konkret ditentukan bagaimana siswa memaknai pengalamnnya. Pada tahap ini guru dapat membimbing siswa dalam merumuskan niat konkret berdasarkan proses sebelumnya. Misalnya untuk mencapai suatu kerjasama yang baik dalam kelompok dibutuhkan kepekaan, rela berkorban dan menerima teman dengan tulus hati dan senantiasa berdoa bagi kebaikan teman-teman, maka aksi yang direncanakan ialah membuat daftar kebaikan dan melakukan kebaikan setiap hari untuk satu teman serta mendoakannya.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Model Gibbs ini menampilkan semua aspek penting dalam membuat refleksi. Tahapan-tahapan ini, tidak hanya berfokus pada refleksi atas/terhadap tindakan (reflection on action), tetapi secara praktis juga berfokus pada refleksi dalam tindakan (reflection in action) dan refleksi sebelum tindakan (reflection before action). 7. Ciri-Ciri Siswa Reflektif Menurut Salhah Abdullah (2005: 74), bagaimana hendak mengetahui siswa yang reflektif atau tidak? Dibawah ini ada tabel tentang ciri siswa reflektif dan ciri siswa tidak reflektif. Ciri Siswa Reflektif Ciri Siswa Tidak Reflektif Berpikir terbuka Berpikir sempit Proaktif Reaktif Kritis dan kreatif Tidak kritis dan kreatif Bersedia mengkritik diri sendiri dan Tidak bersedia mengkritik diri sendiri terbuka menerima kritikan dan dikritik Fleksibel Terikat/tidak berkembang Bersedia berubah ke arah baik Tidak bersedia berubah ke arah baik Bertindak dengan berpikir dan teliti Bertindak melulu

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 B. Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar Manusia bertanggung jawab atas kehidupan dan tingkah lakunya. Untuk sampai pada tahap manusia yang kompeten, bertanggungjawab, dan penuh perhatian bagi sesama atau memiliki pribadi yang utuh, manusia memerlukan persiapan yang lama. Hal ini terjadi pula dalam diri pribadi yang reflektif, bahwa menjadi siswa yang reflektif atau siswa yang mampu merefleksikan pengalaman hidupnya tidak terjadi begitu saja tanpa adanya suatu proses pembelajaran dan kematangan dari setiap tahap perkembangannya. Perkembangan itu meliputi perkembangan moral, perkembangan kognitif dan perkembangan iman/religius. 1. Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg dalam Hurlock (1990: 80), menguraikan tahapan moral anak, yaitu: tahap pra-konvensional (1-8 tahun), tahap konvensional (9-13 tahun) dan tahap pascakonvensional (14 tahun ke atas). Pada usia SD kelas V, siswa masuk dalam tahap pra-konvensional dengan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. Dengan kata lain aturan dikontrol oleh orang lain (eksternal) dan tingkah laku yang baik akan mendapat hadiah dan tingkah laku yang buruk mendapatkan hukuman. Pada tahap pertama tingkat ini, orientasi anak pada patuh dan takut hukuman yaitu : suatu tingkah laku dinilai benar bila tidak dihukum dan salah bila perlu dihukum. Anak harus patuh pada otoritas (orang dewasa) karena otoritas tersebut berkuasa yang menuntutanak untuk taat. Pada

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 tahap kedua tingkat ini, penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah) dan kepentingan sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah. 2. Teori Perkembangan Kognitif Piaget dalam Paul Suparno (2001: 26-100), mengelompokkan tahapan- tahapan perkembangan kognitif seorang anak menjadi empat tahap, yaitu: tahap sensorimotor (0-2 tahun), tahap praoperasi (2-7 tahun), tahap operasi konkret (umur 7-11 tahun), dan tahap operasi formal (11 tahun ke atas). Pada usia SD kelas V, siswa masuk dalam tahap operasi konkret dengan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pada tahap operasi konkret mengalami perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Anak sudah memperkembangkan operasi-operasi logis bersifat reversibel, artinya dapat dimengerti dalam dua arah. Melalui operasi tersebut, anak telah mengembangkan sistem pemikiran logis yang dapat diterapkan dalam memecahkan persoalan-persoalan konkrit yang dihadapi dan anak dapat menganalisis dari berbagai segi. Meskipun Inteligensi anak pada tahap ini sudah sangat maju, tetapi anak masih menerapkan logika berpikir pada barang-barang yang konkrit, belum bersifat abstrak apalagi hipotetis. Cara berpikir seorang anak tetap terbatas karena masih berdasarkan sesuatu yang konkrit, misalnya anak mulai dapat menggambarkan secara menyeluruh ingatan, pengalaman, dan objek yang

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 dialami, seperti anak mulai dapat menggambarkan situasi sekolahnya, perjalanan dari sekolah ke rumah, dan lain-lain. Anak juga mulai dapat melihat persoalan dari sudut yang lebih luas dan bukan dari satu persepsi, seperti dalam menggambar suatu benda, unsur-unsur yang terkait dengan benda tersebut telah digabungkan, anak mulai dapat berhubungan dengan beberapa teman secara serentak dan memperhatikan beberapa hal lain yang dibicarakan teman-temannya, sikap tersebut membuat anak sudah tidak begitu egosentris dalam pemikirannya. Ia sadar bahwa orang lain dapat mempunyai pemikiran yang berbeda. 3. Teori Perkembangan Kepercayaan/Iman James Fowler dalam Agus Cremers (1995: 15), membagi teori perkembangan kepercayaan/imannya ke dalam tujuh kategori sebagai berikut: tahap kepercayaan awal dan elementer (0-2 tahun), tahap kepercayaan intuitifproyektif (2-6 tahun), tahap kepercayaan mistis-harfiah (6-11 tahun), tahap kepercayaan sintetis-konvensional (12 sampai masa dewasa), tahap kepercayaan individukatif-reflektif (18 tahun dan seterusnya), tahap kepercayaan yang konjungtif (usia setengah baya 30-40 tahun), dan tahap kepercayaan yang mengacu pada universalitas. Pada usia SD kelas V, siswa masuk dalam tahap kepercayaan mistisharfiah dengan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: anak mulai berpikir secara “logis” dan mengatur dunia dengan kategori-kategori baru, seperti kasualitas, ruang dan waktu. Ia akan berusaha untuk menyelidiki segala hal dan seluruh kenyataan. Aspek paling penting dan mencolok dari tahap ini ialah bahwa anak

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 akan menyusun dan mengartikan dunia pengalamanya melalui medium cerita dan hikayat. Tentang struktur ketergantungan terhadap orang lain, pada masa ini akan ingin memantapkan kemandirian dan mengokohkan harga dirinya dengan mengembangkan dan memperlihatkan kompetensi sosialnya. Mengapa pada tahap ini dikatakan sebagai tahap kepercayaan mistis? alasannya adalah cerita mistis merupakan unsur pembentukan kognitif dan struktural utama dalam proses pembangunan identitas diri sosial dan hidup kepercayaan anak. Mistis meliputi seluruh dimensi naratif (termasuk cerita, simbol, mitos dan sebagainya). Mengandung khazanah arti dan nilai yang kaya dari tradisi budaya dan religius sebagaimana disajikan kepada anak oleh lingkungan sosial dan kelompok miliknya. Tahap ini diberi ciri harafiah alasannya adalah pada tahap ini anak sebagai besar mengunakan simbol dan konsep secara konkret dan menurut arti harafiahnya. Pada tahap mistis-harafiah, Allah tidak lagi digambarkan dalam konteks imajinasi-antropomorf, melainkan lebih dipahami menurut simbolisasi antropomorf melulu. Allah dipadang semata-mata sebagai seorang pribadi, ibarat orangtua, atau seorang penguasa yang bertindak dengan sikap memperhatikan secara konsekuen, tegas, dan jika perlu, keras. Kekuatan dari tahap ini adalah: munculnya daya naratif yaitu segala cerita, drama, motif sebagai sarana yang paling cocok dan digemari anak untuk menyusun arti dan menciptakan koherensi diberbagai aliran pengalaman anak. Kelemahannya adalah timbulnya prinsip mengenai gambaran seluruh lingkungan akhir dan Allah. Prinsip dan sikap ini adalah perfeksionis yang kaku tidak kenal krompomi.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 C. Program Kegiatan Pendukung Kemampuan Refleksi Menurut Paul Suparno (2002: 78-79) ada beberapa contoh programprogram yang dapat diberikan kepada siswa untuk membantu pengembangan kemampuan refleksi mereka, sebagai berikut: 1. Problem solving: siswa dihadapkan suatu masalah konkret. Misalnya, adanya perkelahian antar siswa, prestasi kelas merosot, dan komunikasi dengan guru tertentu yang kurang lancar. Siswa diajak memikirkan bersama, mendiskusikan bersama, dan memecahkan persoalan ini secara bersama pula. 2. Reflective thinking/critical thinking: siswa secara pribadi atau kelompok dihadapkan pada suatu cerita, peristiwa, gambar, foto, dan lain sebagainya. Siswa diajak untuk membuat catatan refleksi atau anggapan atas bahan-bahan tersebut. Bahan-bahan sebaiknya dipilih sendiri atau bersama-sama, tetapi tidak ditentukan oleh guru. 3. Group dynamic: siswa dibimbing untuk kerja kelompok secara kontinu dalam mengerjakan suatu kegiatan tertentu. 4. Community building: siswa satu kelas diajak untuk membangun komunitas atau masyarakat mini dengan aturan-aturan, tugas-tugas, hak dan kewajiban, yang mereka atur sendiri secara demokratis. 5. Responsibility building: siswa diberi tugas yang konkret dan diminta membuat laporan pertanggungjawaban secara jujur. 6. Picnic: siswa merancang kegiatan santai di luar sekolah. Piknik tidak harus ke tempat yang jauh dan dengan biaya mahal. Misal: ke tempat salah seorang

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 temannya yang tinggal di desa pun dapat dikembangkan menjadi kegiatan piknik yang menarik. Satu atau dua tahun sekali baik juga kalau diadakan piknik yang jauh dari sekolah, yang tentu saja hatus dipersiapkan lama sebelumnya, termasuk siswa diajak untuk menabung lebih dahulu. 7. Camping study: siswa diajak melakukan kegiatan camping dalam rangka belajar. Kegiatan inipun tidak harus dilakukan jauh dari sekolah, di halaman sekolah atau lokasi sekitar sekolah juga bisa. 8. Rekoleksi atau ziarah: siswa dibimbing mengambil waktu khusus untuk mengambil jarak dari kesibukannya sehari-hari guna secara intensif mengolah kehidupan rohaninya. D. Kegiatan Reflektif Dalam Pembelajaran Menurut P3MP Universitas Sanata Dharma (2008:12), dalam proses reflektif hal yang penting adalah: 1. Guru perlu menyiapkan pertanyaan panduan yang tepat dan menyiapkan kondisi kelas yang memungkinkan terjadinya refleksi yang efektif. 2. Guru menghormati kebebasan siswa untuk berefleksi dan memilih tindakannya. 3. Siswa merefleksikan pengalaman belajarnya dengan bimbingan guru. Pokokpokok yang perlu direfleksikan antara lain: a) butir-butir penting apa saja yang sungguh-sungguh dipahami siswa, b) akibat apa yang dapat dipelajari dari makna suatu materi yang sedang berlangsung, c) kemajuan apa yang aku alami, d) niat-niat apa yang muncul dan dapat kulakukan.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 4. Guru dan siswa saling berbagi refleksinya dalam rangka memperkaya pemaknaan pengalaman belajar, 5. Siswa dibimbing untuk berani berpikir, bersikap, dan bertekad untuk bertindak menurut panggilan hati nuraninya.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan tentang jenis penelitian, jenis sumber data, metode penelitian, populasi dan sampel, tehnik pengumpulan data, kisi-kisi penelitian, kemudian dilanjutkan dengan tehnik uji instrumen, dan tehnik analisis data. A. Jenis penelitian Menurut Kriyantono (2009: 59), jenis survei yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei deskriptif, yang digunakan untuk menggambarkan populasi yang sedang diteliti. Dalam penelitian ini pula, fokus penelitian terdapat pada perilaku yang sedang terjadi dan terdiri satu variabel. Survei merupakan studi yang bersifat kuantitatif yang digunakan untuk meneliti gejala suatu kelompok atau perilaku individu. Survey adalah suatu desain yang digunaan untuk penyelidikan informasi yang berhubungan dengan prevalensi, distribusi dan hubungan antar variabel dalam suatu popilasi. Pada survey tidak ada intervensi, survey mengumpulkan informasi dari tindakan seseorang, pengetahuan, kemauan, pendapat, perilaku, dan nilai. B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Menurut Riduwan (2009: 10), adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit pengukuran yang menjadi objek penelitian. Dari pendapat di atas dapat

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 ditarik kesimpulan bahwa populasi merupakan jumlah keseluruhan dari sampel yang digunakan dalam penelitian yaitu seluruh siswa kelas V SD Kanisius Sengkan, Depok-Sleman Yogyakarta yang berjumlah 47 siswa dan seluruh siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan Yogyakarta yang berjumlah 25 siswa. 2. Sampel Teknik yang digunakan untuk penarikan sampel adalah teknik purposive sampling, yaitu: dengan memilih responden yang memiliki ciri-ciri tertentu sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti (Ruswanto, 1995: 122). Dalam hal ini penulis mengambil sampel sesuai dengan kriteria penulis, kriteria tersebut adalah: para siswa kelas V SD Kanisius Sengkan Depok Sleman Yogyakarta dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental mangunan Yogyakarta menggunakan pola pembelajaran reflektif dengan diserta kegiatan merefleksikan peristiwa atau pengalaman dalam bentuk tulisan yang ditulis dalam buku refleksi siswa dan siswa SD kelas V dirasa oleh peneliti memiliki kemampuan untuk mengingat pengalaman sesuai dengan kenyataan, mengalami perasaan yang muncul, mengolah pengalaman sehingga menemukan sebab akibatnya dan usaha membuat suatu niat dalam tindakan kearah yang lebih baik. C. Jenis Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari sumber:

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 1. Data primer: data yang didapat dari kuesioner yang disebarkan pada siswa kelas V SD Kanisius Sengkan Depok Sleman Yogyakarta dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan di Mangunan Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta. 2. Data sekunder: dokumentasi, berupa buku refleksi mengenai peristiwa atau pengalaman satu hari ataupun satu minggu yang ditulis oleh siswa sendiri. Pada penelitian ini oleh siswa kelas V SD Kanisius Sengkan Depok Sleman dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan. Dalam buku refleksi siswa SD Kanisius Sengkan setiap lembar refleksi terbagi dalam 7 kolom berupa: kolom 1 untuk penomeran, kolom 2 untuk menulis hari, tanggal dan bulan terjadinya peristiwa, kolom 3 untuk menulis pengalaman atau peristiwa, kolom 4 untuk refleksi, kolom 5 untuk aksi, kolom 6 untuk tanggapan orangtua dan kolom 7 untuk tanggapan guru. Siswa SD Kanisius Eksperimental Mangunan dalam melaksanakan kegiatan refleksi menggunakan buku pribadi siswa dan dalam menuliskan refleksi tidak menggunakan kolom-kolom. D. Instrumen Dalam penelitian ini penulis menggunakan isntrumen penelitian berupa kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh data yang diinginkan. Penelitian item dalam kuesioner didasarkan pada skala likert. Setiap item memiliki 4 kemungkinan jawaban (Sugiyono, 1994), yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Masingmasing jawaban akan diskor antara 1-4 sesuai dengan skala penilaiannya.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Jawaban Item favorable Item non favorable SS 4 1 S 3 2 TS 2 3 STS 1 4 E. Tehnik Uji Instrumen Untuk mempermudah analisis, peneliti menggunakan SPSS for windows version 17.00 dengan tahap-tahap analisis sebagai berikut: 1. Validitas Uji validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan atau kesahihan suatu alat ukur. Jika suatu instrumen dikatakan valid berarti menunjukkan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid sehingga valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2004: 137). Dari hasil jawaban responden dikumpulkan dan ditabulasikan yang selanjutnya dilakukan pengujian validitas dengan menghitung korelasi antara masing-masing butir pernyataan dengan skor total menggunakan rumus teknik korelasi product moment dari pearson. Pengukuran ini menunjukkan korelasi antar variabel terhadap total skornya, nilai koefisien r = 0,3 dianggap cukup valid. Angka ini ditetapkan sebagai konvensi yang didasarkan pada asumsi distribusi skor dari kelompok subyek yang berjumlah besar (Azwar,1997). Jika korelasi antar butir dengan skor total kurang dari 0,3 maka butir dalam instrumen tersebut dinyatakan tidak valid atau gugur. Uji validitas item menggunakan teknik uji korelasi dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Menghitung total skor dari setiap responden b. Mencatat skor item yang akan diuji

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 c. Mencari koefisien korelasi skor pada responden di item tersebut d. Item yang mempunyai koefisien korelasi di bawah 0,3 tidak dapat digunakan dan dinyatakan tidak valid. Instrumen penelitian ini terdiri dari 25 pertanyaan pada satu variabel yaitu kemampuan reflektif siswa. Pertanyaan yang valid terdapat 19 nomer (nomer 2, 3, 4, 7, 8, 9, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 23, 24) dan yang tidak valid terdapat 6 nomer (nomer 1, 5, 6, 12, 18, 25). Dalam penelitian ini uji validitas akan dilakukan dengan menggunakan program Ms. Exel yang akan dilihat dari hasil korelasi Pearson Product Moment. Korelasi Pearson dapat menghasilkan intensitas ke arah positif atau negatif. 2. Reliabilitas Uji reliabilitas adalah tingkat keandalan kuesioner. Kuesioner yang reliabel adalah kuesioner yang apabila dicobakan secara berulang-ulang kepada kelompok yang sama akan menghasilkan data yang sama (Simamora, 2002). Reliabilitas digunakan untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Pengukuran reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara one shot (pengukuran sekali) melalui pengukuran korelasi antara pertanyan. Uji reliabilitas akan dilakukan dengan menggunakan program SPSS for windows version 17.00 yang akan diukur dengan uji statistik alpha Cronbach (α) dengan ketentuan bahwa variabel yang diteliti dinyatakan reliabel apabila alpha cronbach (α) lebih besar dari 0,6 maka alat ukur dinyatakan reliabel, sebaliknya apabila nilai alpha cronbach (α) dibawah 0,6 maka alat ukur dinyatakan tidak reliabel (Nazir, 1998).

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Dari seluruh variabel yang diujikan niainya sudah diatas 0,60, maka dapat disimpulkanbahwa seluruh variabel dalam penelitian ini lolos dalam uji reliabilitas dandinyatakan reliabel.Sehingga dapat dinyatakan bahwa instrumen penelitian telah layak digunakan untuk mengambil data penelitian. F. Tehnik Analisis Data Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang dikehendaki oleh data. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif statistik dan deskriptif frekuensi, dimana terdapat pengujian nilai mean, median, modus, quartiel, varians, standar deviasi dan berbagai macam bentuk diagram (Wiratna Sujarweni dkk,2012: 23). Pengolahan data dalam penelitian ini dimulai dari penghitungan data-data yang diperoleh melalui kuesioner dan kemudian dikelompokkan dan diolah. Pembuatan kuesioner dengan menggunakan metode skala Likert. Peneliti menggunakan skala 4 dengan memberi skor atau bobot pada masing-masing intensitas jawaban dengan ketentuan sebagai berikut sangat setuju (skor 4), setuju (skor 3), tidak setuju (skor 2) dan sangat tidak setuju (skor 1). Adapun dalam perhitungan jumlah skor dapat digunakan sebagai berikut: Skor tertinggi (untuk jawaban sangat setuju) : 4 X 25 = 100 dan Skor terendah (untuk jawaban sangat tidak setuju) : 1 X 25 = 25.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 G. Kisi-Kisi Penelitian Kemampuan Reflektif: Definisi Konseptual: suatu proses dan dinamika pemaknaan pengalaman hidup dengan menggunakan daya ingat, pemahaman, imajinasi, dan perasaan untuk menangkap makna dan nilai hakiki dari apa yang sedang dialami. Definisi Operasional: siswa mengolah pengalaman melalui tahapan mengingat pengalaman, mengingat perasaan baik positif maupun negatif dalam pengalaman, mengolah serta belajar dari pengalaman, dan membangun niat. Kisi-kisi dari instrumen kemampuan reflektif siswa ASPEK INDIKATOR • Siswa mengemukakan 1. MENGINGAT PENGALAMAN NO. ITEM 1,2,3,4,5,6 kembali kenyataan dari peristiwa yang direfleksikan 2. MENGINGAT PERASAAN DALAM PENGALAMAN • Siswa mengingat respon dari perasaan-perasaan baik positif maupun negatif melalui peristiwa yang direfleksikan • Siswa menemukan nilai manusiawi, moral dan 3. MENGOLAH PENGALAMAN 7,8,9,10,11 religius dari pengalaman yang direfleksikan • Siswa dapat belajar dari pengalaman yang direfleksikan 12,13,14,15,16 ,17,18

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 4. MEMBANGUN NIAT • Siswa membuat 19,20,21,22,23 ,24,25 keputusan untuk perbaikan diri INSTRUMEN PENELITIAN DESKRIPSI TENTANG KEMAMPUAN REFLEKTIF SISWA Nama lengkap siswa : Nama Sekolah : Kelas : Petunjuk : A. Bacalah dengan cermat kalimat-kalimat dibawah ini B. Pilihlah salah satu kolom yang kalian anggap paling benar: dengan memberi tanda cek list ( √ ) SS : Sangat Setuju S : Setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju C. Kalian langsung menjawab di lembar angket ini D. Selamat menjawab! Alternatif Jawaban No Pernyataan MENGINGAT PENGALAMAN 1 Dalam refleksi aku mengemukakan kenyataan dari pengalaman yang kurefleksikan 4 SS 3 S 2 TS 1 STS

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 2 Dalam refleksi aku menuliskan tempat dimana peristiwa itu terjadi 3 Dalam refleksi aku menuliskan nama orangorang yang ada dalam peristiwa yang aku alami 4 Dalam refleksi aku menuliskan waktu/saat peristiwa itu terjadi 5 Dalam refleksi aku ingat jelas apa yang aku lakukan 6 Dalam refleksi aku menuliskan tindakan yang dilakukan oleh orang lain MENGINGAT PERASAAN DALAM PENGALAMAN 7 Dalam refleksi aku merasakan kembali perasaan-perasaan yang muncul dari suatu peristiwa 8 Dalam refleksi aku merasakan kembali hal-hal yang tidak baik yang ada padaku 9 Dalam refleksi aku merasakan kembali hal-hal baik yang ada padaku 10 Dalam refleksi aku merasakan hal-hal baik yang ada pada orang lain 11 Dalam refleksi aku mencari sebab-sebab dari peristiwa itu MENGOLAH PENGALAMAN

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 12 Dalam refleksi aku belajar menerima hal-hal yang tidak baik dari suatu pengalaman 13 Dalam refleksi aku belajar mengembangkan kecenderungan-kecenderungan (kebiasaan) yang baik 14 Dalam refleksi aku belajar sebab akibat dari sebuah tindakan 15 Dalam refleksi aku belajar menghormati orang yang lebih tua 16 Dalam refleksi aku belajar bekerjasama 17 Dalam refleksi aku belajar mengendalikan emosi (misal mengampuni) 18 Dalam refleksi aku belajar percaya akan Tuhan yang hadir melalui peristiwa MEMBANGUN NIAT 19 Dalam refleksi aku memunculkan niat-niat untuk mengatasi hal-hal yang tidak baik 20 Dalam refleksi aku memunculkan niat-niat untuk meningkatkan hal-hal yang baik 21 Dalam refleksi aku memunculkan niat untuk berpikir sebelum melakukan sesuatu

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 22 Dalam refleksi aku memunculkan niat untuk menghormati orang yang lebih tua 23 Dalam refleksi aku memunculkan niat untuk bekerjasama 24 Dalam refleksi aku memunculkan niat untuk mengendalikan emosi dengan mengampuni 25 Dalam refleksi aku memunculkan niat untuk percaya akan Tuhan yang selalu hadir melalui peristiwa SELAMAT MENGISI

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab IV membahas mengenai laporan hasil penelitian yang meliputi pengolahan atau analisis data untuk menghasilkan temuan dan pembahasan atau analisis temuan serta pembahasan hasil penelitian. A. Hasil Penelitian Instrumen pengumpulan data primer dalam penelitian ini adalah skala. Jumlah kuesioner yang disebarkan kepada siswa SD Kanisius Sengkan kelas V A berjumlah 23 dan kelas V B berjumlah 24 serta untuk SD Kanisius Eksperimental Mangunan kelas V berjumlah 25, maka seluruhnya berjumlah 72 lembar kuesioner. 1. Deskripsi Kemampuan Reflektif Siswa Berdasarkan hasil pengolahan data dapat diperoleh gambaran tentang kemampuan reflektif siswa yang dideskripsikan di bawah ini:

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Tabel 1. Deskriptif Kemampuan Reflektif Siswa Statitistik Deskriptif Mean Median Mode Std. Deviation Skewness Kurtosis Range Minimum Maximum Sum Mengingat Pengalaman 9.74 10 10 1.256 -0.227 0.129 5 7 12 701 Perasaan terhadap Pengalaman 16.32 17 18 2.312 -0.866 1.086 12 8 20 1175 Mengolah Pengalaman Membangun Niat Nilai Keseluruhan 16.75 17 18 1.963 -0.64 -0.035 8 12 20 1206 20.49 21 19 2.518 -0.893 1.666 13 11 24 1475 63.292 64 62 6.290 -0.852 1.053 30 44 74 4557 Pada nilai keseluruhan diperoleh nilai terkecil (minimum) adalah 44 dan terbesar (maksimum) 74. Rata-rata nilai keseluruhan pada periode pengamatan adalah 63.292 dengan standar deviasi 6.290. Nilai Modus dan Median masing masing adalah 62 dan 64. Nilai range merupakan selisih antara nilai maksimum dengan nilai minimum yaitu sebesar 30 dengan nilai sum yang merupakan penjumlahan nilai keseluruhan pada periode pengamatan adalah sebesar 4557. Nilai skewness dan kurtosis masing-masing -0.852 dan 1.053 sehingga dapat disimpulkan bahwa data nilai keseluruhan terdistribusi. a. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman Pada aspek mengingat pengalaman diperoleh nilai terkecil (minimum) adalah 7 dan terbesar (maksimum) 12. Rata-rata aspek mengingat pengalaman pada periode pengamatan adalah 9.74 dengan standar deviasi 1.256. Nilai Modus dan Median masing masing adalah sebesar 10 dan 10. Nilai range merupakan selisih antara nilai maksimum dengan nilai minimum yaitu 5 dengan nilai sum yang merupakan penjumlahan seluruh aspek mengingat pengalaman pada periode pengamatan adalah 701. Nilai skewness dan kurtosis masing-masing -0.227 dan

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 0.129 sehingga dapat disimpulkan bahwa data aspek mengingat pengalaman terdistribusi. b. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman Pada aspek perasaan terhadap pengalaman diperoleh nilai terkecil (minimum) adalah 8 dan terbesar (maksimum) 20. Rata-rata Aspek perasaan terhadap pengalaman pada periode pengamatan adalah 16.32 dengan standar deviasi 2.312 Nilai Modus dan Median masing-masing adalah sebesar 18 dan 17. Nilai range merupakan selisih antara nilai maksimum dengan nilai minimum yaitu sebesar 12 dengan nilai sum yang merupakan penjumlahan seluruh aspek perasaan terhadap pengalaman pada periode pengamatan adalah 1175. Nilai skewness dan kurtosis masing-masing -0.866 dan 1.086 sehingga dapat disimpulkan bahwa data aspek perasaan terhadap pengalaman terdistribusi. c. Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman Pada aspek mengolah pengalaman diperoleh nilai terkecil (minimum) adalah 12 dan terbesar (maksimum) 20. Rata-rata aspek mengolah pengalaman pada periode pengamatan adalah 16.75 dengan standar deviasi 1.963 Nilai Modus dan Median masing-masing adalah 18 dan 17. Nilai range merupakan selisih antara nilai maksimum dengan nilai minimum yaitu sebesar 8 dengan nilai sum yang merupakan penjumlahan seluruh aspek mengolah pengalaman pada periode pengamatan adalah sebesar 1206. Nilai skewness dan kurtosis masing-masing 0.640 dan -0.035 sehingga dapat disimpulkan bahwa data aspek mengolah pengalaman terdistribusi secara normal atau mendekati normal.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 d. Deskripsi Aspek Membangun Niat Pada aspek membangun niat diperoleh nilai terkecil (minimum) adalah 11 dan terbesar (maksimum) 24. Rata-rata aspek membangun niat pada periode pengamatan adalah 20.49 dengan standar deviasi 2.518. Nilai Modus dan Median masing masing adalah 19 dan 21. Nilai range merupakan selisih antara nilai maksimum dengan nilai minimum yaitu sebesar 13 dengan nilai sum yang merupakan penjumlahan seluruh aspek membangun niat pada periode pengamatan adalah sebesar 1475. Nilai skewness dan kurtosis masing-masing -0.893 dan 1.666 sehingga dapat disimpulkan bahwa data aspek membangun niat terdistribusi secara normal atau mendekati normal. 2. Deskripsi Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Sengkan Tabel 2. Rangkuman statistik deskripsi nilai keseluruhan SD Kanisius Sengkan Statitistik Deskriptif Mean Median Mode Std. Deviation Skewness Kurtosis Range Minimum Maximum Sum Nilai Keseluruhan SD Kanisius Sengkan 62.596 64 62 6.303 -1.217 1.802 28 44 72 2942 Pada nilai keseluruhan SD Kanisius Sengkan diperoleh nilai terkecil (minimum) adalah 44 dan terbesar (maksimum) 72. Rata-rata nilai keseluruhan SD Kanisius Sengkan pada periode pengamatan adalah 62.596 dengan standar deviasi 6.303. Nilai Modus dan Median masing masing adalah 62 dan 64. Nilai

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 range merupakan selisih antara nilai maksimum dengan nilai minimum yaitu sebesar 28 dengan nilai sum yang merupakan penjumlahan nilai keseluruhan SD Kanisius Sengkan pada periode pengamatan adalah sebesar 2942. Nilai skewness dan kurtosis masing-masing -1.217 dan 1.802 sehingga dapat disimpulkan bahwa data nilai keseluruhan SD Kanisius Sengkan terdistribusi secara normal atau mendekati normal. a. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman Dari aspek mengingat pengalaman dengan jumlah instrument 3 butir dan populasi sebanyak 47 siswa SD Kanisius Sengkan diperoleh data mean (rata-rata) 9,47 dengan standar deviasi (simpangan baku) sebesar 1,060. Skor maksimum sebesar12 dan skor minimum sebesar 3, maka range (rentang skor) yang diperoleh 9. Nilai median (nilai tengah) dari aspek mengingat pengalaman) yang diperoleh adalah 10 dan mode (nilai yang sering muncul aspek mengingat pengalaman) adalah 10. Tabel 3. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengingat pengalaman SD Kanisius Sengkan MENGINGAT PENGALAMAN Jumlah Instrumen 3 Mean 9.47 Median 10.00 Mode 10 Std. Deviation 1.060 Range 9 Minimum 3 Maximum 12

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Tabel 4. Deskripsii aspek menggingat pengaalaman SD Kanisius K Sen ngkan Kualifikasi Interrval Frekuensi Pressentase Sangat setuju 9.76 - 12.00 26 555.3% Setu uju 7.51 - 9.75 18 388.3% Tidak setuju 5.26 - 7.50 3 6 6.4% Sangat Tiddak setuju 3.00 - 5.25 0 0% Total 47 100% Mengin ngat Pengallaman 30 25 20 15 10 5 0 9.76 - 12.00 77.51 - 9.75 5.26 - 7.500 3.00 - 5.25 Sangaat setuju Setuju Tidak setujuu Sangat Tidak T setujju Preseentase 55..30% 38.30% 6.40% 0.00% % Freku uensi 2 26 18 3 0 Gambarr 1. Frekuenssi aspek menngingat penggalaman SD Kanisius Seengkan Padaa tabel 3 datta menunjukkkan bahwa nilai mean dari aspek mengingat p pengalaman siswa SD Kanisisus Sengkan S sebbesar 9,47. Hal ini berrarti aspek m mengingat p pengalaman SD Kanisiuss Sengkan masuk m dalam m kategori settuju. Siswa y yang menjaw wab sangat setuju sebannyak 26 oran ng (55,30%),, siswa yangg menjawab s setuju sebannyak 18 oraang (38,30%) dan siswa yang menjaawab pertanyyaan tidak s setuju seban nyak 3 oraang (6,40%)). Dengan demikian d darri data variabel aspek m mengingat p pengalaman dapat disim mpulkan bahw wa dengan nnilai rata-ratta jawaban s siswa SD Kaanisius Senggkan sebesarr 9,47 adalahh dalam kateggori setuju.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 b. Deskripsi Aspek Mengingat Perasaan Terhadap Pengalaman Dari aspek perasaan terhadap pengalaman dengan jumlah instrumen 5 butir dan populasi sebanyak 47 siswa SD Kanisius Sengkan diperoleh data mean (rata-rata) 16,19 dengan standar deviasi (simpangan baku) sebesar 2,446. Skor maksimum sebesar 20 dan skor minimum sebesar 5, maka range (rentang skor) yang diperoleh 3,75. Nilai median (nilai tengah) dari aspek perasaan terhadap pengalaman yang diperoleh adalah 17 dan mode (nilai yang sering muncul aspek perasaan terhadap pengalaman) adalah 17. Tabel 5. Rangkuman statistik deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman SD Kanisius Sengkan PERASAAN TERHADAP PENGALAMAN Instrumen 5 Mean 16.19 Median 17.00 Mode 17 Std. Deviation 2.446 Range 3.75 Minimum 5 Maximum 20 Tabel 6. Deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman SD Kanisius Sengkan Kualifikasi Interval Frekuensi Presentase Sangat setuju 16.26 - 20.00 25 53.2% Setuju 12.51 - 16.25 19 40.4% Tidak setuju 8.76 - 12.50 2 4.3% Sangat Tidak setuju 5.00 - 8.75 1 2.1% Total 47

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Perasaan n Terhadap Pengalaman P n 30 25 20 15 10 5 0 16.26 - 20.000 12.51 - 16.2 25 8.76 - 12.5 50 5.00 - 8.25 8 Sangat setuju u Setuju Tidak setu uju Sangat Tidak u setuju Presentase 53.20% 40.40% 4.30% 2.10% % Frekuensi 25 19 2 1 Gambar 2. Frekuensi F asspek perasaan terhadap ppengalaman SD K Kanisius Sen ngkan Padaa tabel 5 daata menunjuukkan bahwaa nilai meann dari aspekk perasaan t terhadap penngalaman siiswa SD kannisisus Seng gkan sebesarr 16,19. Hal ini berarti a aspek perasaan terhaadap pengallaman SD Kanisius Seengkan massuk dalam k kategori setuuju. Siswa yang y menjaw wab sangat seetuju sebanyyak 25 orang g (53,2%) , s siswa yang menjawab setuju s sebanyyak 19 orang (40,4%) siswa yang menjawab p pertanyaan tidak setuju u sebanyak 2 orang (44,30%) dan siswa yang menjawab p pertanyaan s sangat tidakk setuju sebaanyak 1 orang (2.1%). Dengan dem mikian dari d data variabeel aspek peerasaan terhhadap pengaalaman dapaat disimpulkkan bahwa d dengan nilaii rata-rata jaawaban sisw wa SD Kanissius Sengkann sebesar 166,19 adalah d dalam kategori setuju.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 c. Deskripsi Aspek Mengelola Pengalaman Dari aspek mengolah pengalaman dengan jumlah instrumen 5 butir dan populasi sebanyak 47 siswa SD Kanisius Sengkan diperoleh data mean (rata-rata) 16,62 dengan standar deviasi (simpangan baku) sebesar 1,962. Skor maksimum sebesar 20 dan skor minimum sebesar 5, maka range (rentang skor) yang diperoleh 3,75. Nilai median (nilai tengah) dari aspek mengolah pengalaman yang diperoleh adalah 17 dan mode (nilai yang sering muncul aspek mengolah pengalaman) adalah 18. Tabel 7. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengolah pengalaman SD Kanisius Sengkan MENGOLAH PENGALAMAN instrumen 5 Mean 16,62 Median 17,00 Mode 18 Std. Deviation 1,962 Range 3,75 Minimum 5 Maximum 20 Tabel 8. Deskripsi aspek mengolah pengalaman SD Kanisius Sengkan Kualifikasi Interval Frekuensi Presentase Sangat setuju 16.26 - 20.00 26 55.3% Setuju 12.51 - 16.25 18 38.3% Tidak setuju 8.76 - 12.50 3 6.4% Sangat Tidak setuju 5.00 - 8.25 0 0% Total 47

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Mengolah Pengalaman 30 25 20 15 10 5 0 16.26 20.00 12.51 - 16.25 8.76 - 12.50 5.00 - 8.25 Sangat setuju Setuju Tidak setuju Sangat Tidak setuju Presentase 55.30% 38.30% 6.40% 0.00% Frekuensi 26 18 3 0 Gambar 3. Frekuensi aspek mengolah pengalaman SD Kanisius Sengkan Pada tabel 7 data menunjukkan bahwa nilai mean dari aspek mengolah pengalaman siswa SD Kanisisus Sengkan sebesar 16,62. Hal ini berarti aspek mengolah pengalaman SD Kanisius Sengkan masuk dalam kategori sangat setuju. Siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 26 orang (55,30%), siswa yang menjawab setuju sebanyak 18 orang (38,30%) dan siswa yang menjawab pertanyaan tidak setuju sebanyak 2 orang (4,30%). Dengan demikian dari data variabel aspek mengolah pengalaman dapat disimpulkan bahwa dengan nilai ratarata jawaban siswa SD Kanisius Sengkan sebesar 16,62 adalah dalam kategori sangat setuju. d. Deskripsi Aspek Membangun Niat Dari aspek mengolah pengalaman dengan jumlah instrumen 6 butir dan populasi sebanyak 47 siswa SD Kanisius Sengkan diperoleh data mean (rata-rata) 20,32 dengan standar deviasi (simpangan baku) sebesar 2,529. Skor maksimum sebesar 24 dan skor minimum sebesar 11, maka range (rentang skor) yang

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 diperoleh 13. Nilai median (nilai tengah) dari aspek membangun niat yang diperoleh adalah 20 dan mode (nilai yang sering muncul aspek membangunn niat) adalah 19. Tabel 9. Rangkuman statistik deskripsi aspek membangun niat SD Kanisius Sengkan MEMBANGUN NIAT Instrumen Mean Median Mode Std. Deviation Range Minimum Maximum 6 20.32 20.00 19(a) 2.529 13 11 24 Tabel 10. Deskripsi aspek membangun niat SD Kanisius Sengkan Kualifikasi Sangat setuju Setuju Tidak setuju Sangat Tidak setuju Total Interval 19.51 - 24.00 15.01 - 19.50 10.51 - 15.00 6 .00 - 10.50 Frekuensi Presentase 30 63.8% 16 34.0% 1 2.1% 0 0% 47 Membangun Niat 35 30 25 20 15 10 5 0 19.51 - 24.00 15.01 - 19.50 10.51 - 15.00 6 .00 - 10.50 Sangat setuju Setuju Tidak setuju Sangat Tidak setuju Presentase 63.80% 34.00% 2.10% 0% Frekuensi 30 16 1 0 Gambar 4. Frekuensi aspek membangun niat SD Kanisius Sengkan

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Pada tabel 9 data menunjukkan bahwa nilai mean dari aspek membangun niat siswa SD Kanisisus Sengkan sebesar 20,32. Hal ini berarti aspek membangun niat dalam pengalaman SD Kanisius Sengkan masuk dalam kategori sangat setuju. Siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 30 orang (63,80%), siswa yang menjawab setuju sebanyak 16 orang (34,00%) dan siswa yang menjawab pertanyaan tidak setuju sebanyak 1 orang (2,10%). Dengan demikian dari data variabel aspek membangun niat dapat disimpulkan bahwa dengan nilai rata-rata jawaban siswa SD Kanisius Sengkan sebesar 20,32 adalah dalam kategori sangat setuju. 3. Deskripsi Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Eksperimental Mangunan Tabel 11. Rangkuman statistik deskripsi nilai keseluruhan SD Kanisius Eksperimental Mangunan Statitistik Deskriptif Mean Median Mode Std. Deviation Skewness Kurtosis Range Minimum Maximum Sum Nilai Keseluruhan SD Kanisius Mangunan 64.600 65 59 6.178 -0.200 -1.158 21 53 74 1615 Pada nilai keseluruhan SD Kanisius Mangunan diperoleh nilai terkecil (minimum) adalah 53 dan terbesar (maksimum) 74. Rata-rata nilai keseluruhan SD Kanisius Mangunan pada periode pengamatan adalah 64.600 dengan standar deviasi 6.178. Nilai Modus dan Median masing masing adalah 59 dan 65. Nilai

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 range merupakan selisih antara nilai maksimum dengan nilai minimum yaitu sebesar 21 dengan nilai sum yang merupakan penjumlahan nilai keseluruhan SD Kanisius Mangunan pada periode pengamatan adalah sebesar 1615. Nilai skewness dan kurtosis masing-masing -0.200 dan -1.158 sehingga dapat disimpulkan bahwa data nilai keseluruhan SD Kanisius Mangunan terdistribusi secara normal atau mendekati normal. a. Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman Dari aspek mengingat pengalaman dengan jumlah instrumen 3 butir dan populasi sebanyak 25 siswa SD Kanisius Mangunan diperoleh data mean (ratarata) 10,24 dengan standar deviasi (simpangan baku) sebesar 1,451. Skor maksimum sebesar12 dan skor minimum sebesar 3, maka range (rentang skor) yang diperoleh 2,25. Nilai median (nilai tengah) dari aspek mengingat pengalaman yang diperoleh aalah 10 dan mode (nilai yang sering muncul aspek mengingat pengalaman) adalah 10. Tabel 12. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengingat pengalaman SD Kanisius Mangunan MENGINGAT PENGALAMAN Instrumen 3 Mean 10.24 Median 10 Mode 10 Std. Deviation 1.451 Range 2.25 Minimum 3 Maximum 12

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Tabel 13. Deskripsi aspek mengingat pengalaman SD Kanisius Mangunan Kualifikasi Interval per skor Frekuensi Presentase Sangat setuju 9.76 - 12.00 18 72% Setuju 7.51 - 9.75 5 20% Tidak setuju 5.26 - 7.50 2 8% Sangat Tidak setuju 3.00 - 5.25 0 0% Total 25 Mengingat Pengalaman 20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 19.51 24.00 15.01 - 19.50 10.51 - 15.00 6 .00 - 10.50 Sangat setuju Setuju Tidak setuju Sangat Tidak setuju Presentase 72% 20% 8% 0% Frekuensi 18 5 2 0 Gambar 5. Frekuensi aspek mengingat pengalaman SD Kanisius Mangunan Pada tabel 12 data menunjukkan bahwa nilai mean dari aspek mengingat pengalaman siswa SD kanisisus Mangunan sebesar 10,24. Hal ini berarti aspek mengingat pengalaman SD Kanisius Mangunan masuk dalam kategori sangat setuju. Siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 18 orang (72%), siswa yang menjawab setuju sebanyak 5 orang (20%) dan siswa yang menjawab pertanyaan tidak setuju sebanyak 2 orang (8%). Dengan demikian dari data variabel aspek mengingat pengalaman dapat disimpulkan bahwa hasil rata-rata jawaban siswa SD Kanisius Mangunan adalah dalam kategori sangat setuju.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 b. Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman Dari aspek perasaan terhadap pengalaman dengan jumlah instrumen 5 butir dan populasi sebanyak 25 siswa SD Kanisius Mangunan diperoleh data mean (rata-rata) 16,56 dengan standar deviasi (simpangan baku) sebesar 2,063. Skor maksimum sebesar 19 dan skor minimum sebesar 12, maka range (rentang skor) yang diperoleh 7. Nilai median (nilai tengah) dari aspek perasaan terhadap pengalaman yang diperoleh adalah 17 dan mode (nilai yang sering muncul aspek perasaan terhadap pengalaman) adalah 18. Tabel 14. Rangkuman statistik deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman SD Kanisius Mangunan PERASAAN TERHADAP PENGALAMAN Instrumen 5 Mean 16.56 Median 17 Mode 18 Std. Deviation 2.063 Range 7 Minimum 12 Maximum 19 Tabel 15. Deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman SD Kanisius Mangunan Kualifikasi Interval Frekuensi Presentase Sangat setuju 16.26 - 20.00 15 60% Setuju 12.51 - 16.25 8 32% Tidak setuju 8.76 - 12.50 2 8% Sangat Tidak setuju 5.00 - 8.25 0 0% Total 25

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Perasaan Terhadap Pengalaman 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 16.26 - 20.00 12.51 - 16.25 8.76 - 12.50 5.00 - 8.25 Sangat setuju Setuju Tidak setuju Sangat Tidak setuju Presentase 60% 32% 8% 0% Frekuensi 15 8 2 0 Gambar 6. Frekuensi aspek perasaan terhadap pengalaman SD Kanisius Mangunan Pada tabel 14 data menujukkan bahwa nilai mean dari aspek perasaan terhadap pengalaman siswa SD Kanisius Mangunan sebesar 16,56. Hal ini berarti aspek perasaan terhadap pengalaman SD Kanisius Mangunan masuk dalam kategori sangat setuju. Siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 15 orang (60%), siswa yang menjawab setuju sebanyak 8 orang (32%) siswa yang menjawab pertanyaan tidak setuju sebanyak 2 orang (8%). Dengan demikian dari data variabel aspek perasaaan terhadap pengalaman dapat disimpulkan bahwa dengan nilai rata-rata jawaban siswa SD Kanisius Mangunan sebesar 16,56 adalah dalam kategori sangat setuju. c. Deskripsi Aspek Mengelola Pengalaman Dari aspek mengolah pengalaman dengan jumlah instrumen 5 butir dan populasi sebanyak 25 siswa SD Kanisius Mangunan diperoleh data mean (rata-

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 rata) 17, dengan standar deviasi (simpangan baku) sebesar 1,979. Skor maksimum sebesar 20 dan skor minimum sebesar 13, maka range (rentang skor) yang diperoleh 7. Nilai median (nilai tengah) dari aspek mengolah pengalaman yang diperoleh adalah 17 dan mode (nilai yang sering muncul aspek mengolah pengalaman) adalah 16. Tabel 16. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengolah pengalaman SD Kanisius Mangunan MENGOLAH PENGALAMAN Instrumen 5 Mean 17 Median 17 Mode 16 Std. Deviation 1.979 Range 7 Minimum 13 Maximum 20 Tabel 17. Deskripsi aspek mengolah pengalaman SD Kanisius Mangunan Kualifikasi Interval Frekuensi Presentase Sangat setuju 16.26 - 20.00 15 60% Setuju 12.51 - 16.25 10 40% Tidak setuju 8.76 - 12.50 0 0% Sangat Tidak setuju 5.00 - 8.25 0 0% Total 25

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Mengolah Pengalaman 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 16.26 - 20.00 12.51 - 16.25 8.76 - 12.50 5.00 - 8.25 Sangat setuju Setuju Tidak setuju Sangat Tidak setuju Presentase 60% 40% 0% 0% Frekuensi 15 10 0 0 Gambar 7. Frekuensi aspek mengolah pengalaman SD Kanisius Mangunan Pada tabel 16 data menujukkan bahwa nilai mean dari aspek mengolah pengalaman siswa SD Kanisius Mangunan sebesar 17. Hal ini berarti aspek mengolah pengalaman SD Kanisius Mangunan masuk dalam kategori sangat setuju. Siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak15 orang (60%) dan siswa yang menjawab setuju sebanyak 10 orang (40%). Dengan demikian dari data variabel aspek mengolah pengalaman dapat disimpulkan bahwa dengan nilai ratarata jawaban siswa SD Kanisius Mangunan sebesar 17 adalah dalam kategori sangat setuju. d. Deskripsi Aspek Membangun Niat Dari aspek membangun niat dengan jumlah instrumen 6 butir dan populasi sebanyak 25 siswa SD Kanisius Mangunan diperoleh data mean (rata-rata) 20,80 dengan standar deviasi (simpangan baku) sebesar 2,517 Skor maksimum sebesar 24 dan skor minimum sebesar 15, maka range (rentang skor) yang diperoleh 9.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Nilai median (nilai tengah) dari aspek membangun niat yang diperoleh adalah 21 dan mode (nilai yang sering muncul aspek membangun niat) adalah 21. Tabel 18. Rangkuman statistik deskripsi aspek membangun niat SD Kanisius Mangunan MEMBANGUN NIAT Instrumen 6 Mean 20.8 Median 21 Mode 21 Std. Deviation 2.517 Range 9 Minimum 15 Maximum 24 Tabel 19. Deskripsi aspek membangun niat SD Kanisius Mangunan Kualifikasi Interval Frekuensi Presentase Sangat setuju 19.51 - 24.00 16 64% Setuju 15.01 - 19.50 9 36% Tidak setuju 10.51 - 15.00 0 0% Sangat Tidak setuju 6 .00 - 10.50 0 0% Total 25 Membangun Niat 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 19.51 24.00 15.01 19.50 10.51 15.00 6 .00 - 10.50 Sangat setuju Setuju Tidak setuju Sangat Tidak setuju Presentase 64% 36% 0% 0% Frekuensi 16 9 0 0 Gambar 8. Frekuensi aspek membangun niat SD Kanisius Mangunan

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Pada tabel 18 data menujukkan bahwa nilai mean dari aspek membangun niat siswa SD Kanisisus Mangunan sebesar 20,80. Hal ini berarti aspek membangun niat dalam pengalaman SD Kanisius Mangunan masuk dalam kategori sangat setuju. Siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 16 orang (64%) dan siswa yang menjawab setuju sebanyak 9 orang (36%). Dengan demikian dari data variabel aspek membangun niat dapat disimpulkan bahwa dengan nilai rata-rata jawaban siswa SD Kanisius Mangunan sebesar 20,80 adalah dalam kategori sangat setuju. B. Hasil Studi Dokumen Peneliti dalam melakukan penelitian terhadap kemampuan reflektif siswa juga didukung dengan hasil studi dokumen untuk menguatkan fakta mengenai kemampuan reflektif siswa di lapangan selain dari pengisian kuesioner yang telah peneliti lakukan. Studi dokumen ini mengacu pada hasil refleksi siswa yang tertuang dalam buku refleksi harian siswa. Melalui studi dokumen ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang kemampuan reflektif siswa. Kemampuan reflektif siswa diukur melalui 4 aspek yaitu mengingat pengalaman, perasaan terhadap pengalaman, mengolah pengalaman dan membangun niat. Masing-masing aspek akan dinilai berdasarkan refleksi pribadi yang tertuang dalam buku refleksi harian siswa dengan rentang 1,2,3,4 untuk aspek mengingat, perasaan dan mengolah pengalaman dan rentang 3,4 untuk aspek membangun niat. Dari semua aspek peneliti membagi menjadi tiga

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 pengalaman dari satu semester, yaitu pengalaman awal, tengah dan akhir untuk mengetahui kemampuan reflektif siswa. 1. Deskripsi Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Sengkan a. Pengalaman Awal 1) Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman Tabel 20. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengingat pengalaman awal SD Kanisius Sengkan Mengingat Pengalaman N 47.00 Mean 2.87 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.58 Variance 0.33 Range 2.00 Minimum 2.00 Maximum 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan anak dalam mengingat pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 21. Deskripsi aspek mengingat pengalaman awal SD Kanisius Sengkan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase 1 Kurang Detail 0 0.00% 2 Cukup Detail 11 23.40% 3 Detail 31 65.96% 4 Sangat Detail 5 10.64% Total 47 100.00%

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Mengingat Pengalaman Kurang Detail Cukup Detail Detail Sangat Detail 11% 0% 23% 66% Gambar 9. Frekuensi aspek mengingat pengalaman awal SD Kanisius Sengkan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam mengingat pengalaman ketika berefleksi. Dari 47 siswa 5 anak sangat detail (11%) , 31 anak detail (66%) dan 11 anak cukup detail (23%). 2) Deskripsi Aspek Perasaan terhadap Pengalaman Tabel 22. Rangkuman statistik deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman awal SD Kanisius Sengkan Perasaan Terhadap Pengalaman N 47.00 Mean 2.85 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.72 Variance 0.52 Range 2.00 Minimum 2.00 Maximum 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan siswa dalam perasaan terhadap pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut :

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Tabel 23. Deskripsi kemampuan aspek perasaan terhadap pengalaman awal SD Kanisius Sengkan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase 1 Kurang Mampu 0 0.00% 2 Cukup Mampu 16 34.04% 3 Mampu 22 46.81% 4 Sangat Mampu 9 19.15% Total 47 100.00% Perasaan terhadap Pengalaman Kurang Mampu Cukup Mampu Mampu Sangat Mampu 0% 19% 34% 47% Gambar 10. Frekuensi aspek perasaan terhadap pengalaman awal SD Kanisius Sengkan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam perasaan terhadap pengalaman ketika berefleksi. Dari 47 siswa 9 siswa sangat mampu (11%) , 22 siswa mampu (47%) dan 16 siswa cukup mampu (23%).

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 3) Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman Tabel 24. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengolah pengalaman awal SD Kanisius Sengkan Mengolah Pengalaman N 47.00 Mean 2.87 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.49 Variance 0.24 Range 2.00 Minimum 2.00 Maximum 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan siswa mengolah pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 25. Deskripsi aspek mengolah pengalaman awal SD Kanisius Sengkan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase 1 Kurang Mampu 0 0.00% 2 Cukup Mampu 9 19.15% 3 Mampu 35 74.47% 4 Sangat Mampu 3 6.38% Total 47 100% Mengolah Pengalaman Kurang Mampu Cukup Mampu 6% 0% Mampu Sangat Mampu 19% 75% Gambar 11. Frekuensi aspek mengolah pengalaman awal SD Kanisius Sengkan

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam mengolah pengalaman ketika berefleksi. Dari 47 siswa 3 siswa sangat mampu (6%) , 35 siswa mampu (75%) dan 9 siswa cukup mampu (19%). 4) Deskripsi Aspek Membangun Niat Tabel 26. Rangkuman statistik deskripsi aspek membangun niat pengalaman awal SD Kanisius Sengkan Membangun Niat N Mean Median Mode Std. Deviation Variance Range Minimum Maximum 47.00 2.91 3.00 3.00 0.97 0.95 4.00 4.00 Berdasarkan tabel statistik di atas mengenai kemampuan anak membangun niat , maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 27. Deskripsi aspek membangun niat pengalaman awal SD Kanisius Sengkan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase Tidak Menjawab 4 8.51% 3 Konkret 35 74.47% 4 Sangat Konkret 8 17.02% Total 47 100.00%

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Membangun Niat Tidak Menjawab Kongkrit Sangat Kongkrit 9% 17% 74% Gambar 12. Frekuensi aspek membangun niat pada pengalaman awal SD Kanisius Sengkan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam membangun niat ketika berefleksi. Dari 47 siswa 8 anak sangat Konkrit (17%) , 35 anak konkret (74%) dan 4 anak tidak menjawab (9%). b. Pengalaman Tengah 1) Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman Tabel 28. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan Mengingat Pengalaman N Mean Median Mode Std. Deviation Variance Range Minimum Maximum 47.00 3.17 3.00 3.00 0.56 0.32 2.00 2.00 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan anak dalam mengingat pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut :

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Tabel 29. Deskripsi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase 1 Kurang Detail 0 0.00% 2 Cukup Detail 4 8.51% 3 Detail 31 65.96% 4 Sangat Detail 12 25.53% Total 47 100.00% Mengingat Pengalaman Kurang Detail Cukup Detail Detail Sangat Detail 0% 8% 26% 66% Gambar 13. Frekuensi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam mengingat pengalaman ketika berefleksi. Dari 47 siswa 12 siswa sangat detail (26%) , 31 siswa detail (66%) dan 4 siswa cukup detail (9%).

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 2) Deskripsi Aspek Perasaan terhadap Pengalaman Tabel 30. Rangkuman statistik deskriptif aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan Perasaan Terhadap Pengalaman N 47.00 Mean 2.94 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.64 Variance 0.41 Range 2.00 Minimum 2.00 Maximum 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan anak dalam perasaan terhadap pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 31. Deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan Interval Kualifikasi Jumlah Persentase 1 Kurang Mampu 0 0.00% 2 Cukup Mampu 11 23.40% 3 Mampu 28 59.57% 4 Sangat Mampu 8 17.02% Total 47 100.00% Perasaan terhadap Pengalaman Kurang Mampu Cukup Mampu Mampu Sangat Mampu 17% 0% 23% 60% Gambar 14. Frekuensi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam perasaan terhadap pengalaman ketika berefleksi. Dari 47 siswa 8 siswa sangat mampu (17%) , 28 siswa mampu (60%) dan 11 siswa cukup mampu (23%). 3) Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman Tabel 32. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan Mengolah Pengalaman N 47.00 Mean 2.94 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.53 Variance 0.28 Range 2.00 Minimum 2.00 Maximum 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan anak mengolah pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 33. Deskripsi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase 1 Kurang Mampu 0 0.00% 2 Cukup Mampu 8 17.02% 3 Mampu 34 72.34% 4 Sangat Mampu 5 10.64% Total 47 100.00%

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Mengolah Pengalaman Kurang Mampu Cukup Mampu 11% Mampu Sangat Mampu 0% 17% 72% Gambar 15. Frekuensi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek mengolah pengalaman ketika berefleksi. Dari 47 siswa 5 siswa sangat mampu (11%) , 34 siswa mampu (72%) dan 8 siswa cukup mampu (17%). 4) Deskripsi Aspek Membangun Niat Tabel 34. Rangkuman statistik deskripsi aspek membangun niat pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan Membangun Niat N Mean Median Mode Std. Deviation Variance Range Minimum Maximum 47.00 2.94 3.00 3.00 0.99 0.97 4.00 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan anak membangun niat, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut :

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Tabel 35. Deskripsi aspek membangun niat pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase Tidak Menjawab 4 8.51% 3 Konkret 34 72.34% 4 Sangat Konkret 9 19.15% Total 47 100.00% Membangun Niat Tidak Menjawab 19% Konkret Sangat Konkret 9% 72% Gambar 16. Frekuensi aspek membangun niat pada pengalaman tengah SD Kanisius Sengkan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek membangun niat ketika berefleksi. Dari 47 siswa 9 siswa sangat Konkret (19%), 34 siswa konkret (72%) dan 4 siswa tidak menjawab (9%). c. Pengalaman Akhir 1) Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman Tabel 36. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan Mengingat Pengalaman N 47.00 Mean 3.26 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.64 Variance 0.41 Range 2.00 Minimum 2.00 Maximum 4.00

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan anak dalam mengingat pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 37. Deskripsi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase 1 Kurang Detail 0 0% 2 Cukup Detail 5 10.64% 3 Detail 25 53.19% 4 Sangat Detail 17 36.17% Total 47 100.00% Mengingat Pengalaman Kurang Detail Cukup Detail Detail Sangat Detail 0% 11% 36% 53% Gambar 17. Frekuensi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek mengingat pengalaman ketika berefleksi. Dari 47 siswa 17 siswa sangat detail (36%) , 25 siswa detail (53%) dan 5 siswa cukup detail (11%).

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 2) Deskripsi Aspek Perasaan terhadap Pengalaman Tabel 38. Rangkuman statistik deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan Perasaan Tehadap Pengalaman N 47.00 Mean 3.02 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.57 Variance 0.33 Range 2.00 Minimum 2.00 Maximum 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan anak dalam aspek perasaan terhadap pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 39. Deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase 1 Kurang Mampu 0 0.00% 2 Cukup Mampu 7 14.89% 3 Mampu 32 68.09% 4 Sangat Mampu 8 17.02% Total 47 100.00% Perasaan terhadap Pengalaman Kurang Mampu Cukup Mampu 17% 0% Mampu Sangat Mampu 15% 68% Gambar 18. Frekuensi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek perasaan terhadap pengalaman ketika berefleksi. Dari 47 siswa 8 siswa sangat mampu (17%) , 32 siswa mampu (68%) dan 7 siswa cukup mampu (15%). 3) Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman Tabel 40. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan Mengolah Pengalaman N 47.00 Mean 3.00 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.63 Variance 0.39 Range 2.00 Minimum 2.00 Maximum 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan anak mengolah pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 41. Deskripsi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase 1 Kurang Mampu 0 0.00% 2 Cukup Mampu 9 19.15% 3 Mampu 29 61.70% 4 Sangat Mampu 9 19.15% Total 47 100.00%

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Mengolah Pengalaman Kurang Mampu Cukup Mampu Mampu Sangat Mampu 0% 19% 19% 62% Gambar 19. Frekuensi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek mengolah pengalaman ketika berefleksi. Dari 47 siswa 3 siswa sangat mampu (6%), 35 siswa mampu (75%) dan 9 siswa cukup mampu (19%). 4) Deskripsi Aspek Membangun Niat Tabel 42. Rangkuman statistik deskripsi aspek membangun niat pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan Membangun Niat N 47.00 Mean 2.79 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 1.14 Variance 1.30 Range 4.00 Minimum Maximum 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan siswa dalam aspek membangun niat , maka dapat disusun tabel deskripsi berikut :

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Tabel 43. Deskripsi aspek membangun niat pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan Jumlah Persentase Interval Kualifikasi 6 12.77% Tidak Menjawab 33 70.21% 3 Konkret 8 17.02% 4 Sangat Konkret 47 100.00% Total Membangun Niat Tidak Menjawab Kongkrit 17% Sangat Kongkrit 13% 70% Gambar 20. Frekuensi aspek membangun niat pada pengalaman akhir SD Kanisius Sengkan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek membangun niat ketika berefleksi. Dari 47 siswa 8 siswa sangat konkret (19%) , 33 siswa konkret (70%) dan 6 siswa tidak menjawab (13%). 2. Deskripsif Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Eksperimental Mangunan a. Pengalaman Awal

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 1) Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman Tabel 44. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan Mengingat Pengalaman N 25.00 Mean 3.20 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.91 Variance 0.83 Range 4.00 Minimum 0.00 Maximum 4.00 Berdasarkan tabel statistik di atas mengenai kemampuan siswa dalam mengingat pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 45. Deskripsi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase Tidak Menjawab 1 4.00% 1 Kurang Detail 0 0.00% 2 Cukup Detail 2 8.00% 3 Detail 12 48.00% 4 Sangat Detail 10 40.00% Total 25 100.00% Mengingat Pengalaman Tidak Menjawab Kurang Detail Detail Cukup Detail Sangat Detail 4% 0% 8% 40% 48% Gambar 21. Frekuensi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek mengingat pengalaman ketika berefleksi. Dari 25 siswa 10 siswa sangat detail (40%), 12 siswa detail (48%) dan 2 siswa cukup detail (8%), dan 1 siswa tidak menjawab. 2) Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman Tabel 46. Rangkuman statistik deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan Perasaan Terhadap Pengalaman N Mean Median Mode Std. Deviation Variance Range Minimum Maximum 25.00 3.20 3.00 3.00 0.91 0.83 4.00 0.00 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan anak dalam aspek perasaan terhadap pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 47. Deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase Tidak Menjawab 1 4.00% 1 Kurang Mampu 0 0.00% 2 Cukup Mampu 2 8.00% 3 Mampu 12 48.00% 4 Sangat Mampu 10 40.00% Total 25 100.00%

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Perasaan terhadap Pengalaman Tidak Menjawab Kurang Mampu Mampu Cukup Mampu Sangat Mampu 4% 8% 0% 40% 48% Gambar 22. Frekuensi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek perasaan terhadap pengalaman ketika berefleksi. Dari 25 siswa 10 siswa sangat mampu (40%) , 12 siswa mampu (48%) dan 2 siswa cukup mampu (8%). Dan 1 siswa tidak menjawab. 3) Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman Tabel 48. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan Mengolah Pengalaman N 25.00 Mean 2.84 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.69 Variance 0.47 Range 4.00 Minimum 0.00 Maximum 4.00

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan siswa mengolah pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 49. Deskripsi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan Interval Kualifikasi Jumlah Anak Persentase Tidak Menjawab 1 4.00% 1 Kurang Mampu 0 0.00% 2 Cukup Mampu 2 8.00% 3 Mampu 21 84.00% 4 Sangat Mampu 1 4.00% Total 25 100.00% Mengolah Pengalaman Tidak Menjawab Kurang Mampu Mampu Cukup Mampu Sangat Mampu 4% 4% 0%8% 84% Gambar 23. Frekuensi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek mengolah pengalaman ketika berefleksi. Dari 25 siswa 1 siswa sangat mampu (4%) , 21 siswa mampu (84%) dan 2 siswa cukup mampu (8%). Sedangkan 1 siswa tidak menjawab.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 4) Deskripsi Aspek Membangun Niat Tabel 50. Rangkuman statistik deskripsi aspek membangun niat pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan Membangun Niat N 25.00 Mean 3.08 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.76 Variance 0.58 Range 4.00 Minimum 0.00 Maximum 4.00 Berdasarkan tabel statistik di atas mengenai kemampuan siswa dalam aspek membangun niat , maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 51. Deskripsi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan Interval 3 4 Kualifikasi Tidak Menjawab Konkret Sangat Konkret Total Jumlah Anak 1 19 5 25 Persentase 4.00% 76.00% 20.00% 100.00% Membangun Niat Tidak Menjawab Konkret Sangat Konkret 4% 20% 76% Gambar 24. Frekuensi aspek membangun niat pada pengalaman awal SD Kanisius Mangunan

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek membangun niat ketika berefleksi. Dari 25 siswa 5 siswa sangat Konkret (20%) , 19 siswa konkret (76%) dan 1 siswa tidak menjawab (4%). b. Pengalaman Tengah 1). Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman Tabel 52. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan Mengingat Pengalaman N 25.00 Mean 2.88 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 1.24 Variance 1.53 Range 4.00 Minimum Maximum 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan anak dalam aspek mengingat pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 53. Deskripsi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan Interval 1 2 3 4 Kualifikasi Tidak Menjawab Kurang Detail Cukup Detail Detail Sangat Detail Total Jumlah siswa 3 0 2 12 8 25 Persentase 12.00% 0.00% 8.00% 48.00% 32.00% 100.00%

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Mengingat Pengalaman Tidak Menjawab Kurang Detail Detail Cukup Detail Sangat Detail 12% 0% 8% 32% 48% Gambar 25. Frekuensi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek mengingat pengalaman ketika berefleksi. Dari 25 siswa 8 siswa sangat detail (32%) , 12 siswa detail (48%) dan 2 siswa cukup detail (8%). 3 siswa anak tidak menjawab. 2). Deskripsi Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman Tabel 54. Rangkuman statistik deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan Perasaan Terhadap Pengalaman N 25.00 Mean 2.96 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 1.27 Variance 1.62 Range 4.00 Minimum Maximum 4.00

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan siswa pada aspek perasaan terhadap pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 55. Deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan Interval Kualifikasi Jumlah siswa Persentase 3 12.00% Tidak Menjawab 1 Kurang Mampu 0 0.00% 2 Cukup Mampu 2 8.00% 3 Mampu 10 40.00% 4 Sangat Mampu 10 40.00% Total 25 100.00% Perasaan terhadap Pengalaman Tidak Menjawab Kurang Mampu Mampu Cukup Mampu Sangat Mampu 12% 0% 8% 40% 40% Gambar 26. Frekuensi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek perasaan terhadap pengalaman ketika berefleksi. Dari 25 siswa 10 siswa sangat mampu (40%) , 10 siswa mampu (40%) dan 2 siswa cukup mampu (8%). Sedangkan 3 siswa tidak menjawab.

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 3). Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman Tabel 56. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan Mengolah Pengalaman N 25.00 Mean 2.56 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 1.00 Variance 1.01 Range 3.00 Minimum Maximum 3.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan siswa dalam aspek mengolah pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 57. Deskripsi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan Interval Kualifikasi Jumlah Persentase Tidak Menjawab 3 12.00% 1 Kurang Mampu 0 0.00% 2 Cukup Mampu 2 8.00% 3 Mampu 20 80.00% 4 Sangat Mampu 0 0.00% Total 25 100.00% Mengolah Pengalaman Tidak Menjawab Kurang Mampu Mampu Cukup Mampu Sangat Mampu 0% 12% 0% 8% 80% Gambar 27. Frekuensi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek mengolah pengalaman ketika berefleksi. Dari 25 siswa 20 siswa mampu (80%) dan 2 siswa cukup mampu (8%). Dan 3 siswa tidak menjawab. 4). Deskripsi Aspek Membangun Niat Tabel 58. Rangkuman statistik deskripsi aspek membangun niat pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan Membangun Niat N 25.00 Mean 2.64 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.99 Variance 0.99 Range 3.00 Minimum Maximum 3.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan siswa dalam aspek membangun niat , maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 59. Deskripsi aspek membangun niat pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan Interval Kualifikasi Jumlah Persentase Tidak Menjawab 3 12.00% 3 Konkret 22 88.00% 4 Sangat Konkret 0 0.00% Total 25 100.00%

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Membangun Niat Tidak Menjawab Konkret Sangat Konkret 4% 20% 76% Gambar 28. Frekuensi aspek membangun niat pada pengalaman tengah SD Kanisius Mangunan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek membangun niat ketika berefleksi. Dari 25 siswa 22 siswa Konkret (88%), dan 3 siswa tidak menjawab (12%). c. Pengalaman Akhir 1). Deskripsi Aspek Mengingat Pengalaman Tabel 60. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan Mengingat Pengalaman N 25.00 Mean 3.20 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.87 Variance 0.75 Range 4.00 Minimum Maximum 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan siswa dalam aspek mengingat pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut :

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Tabel 61. Deskripsi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan Interval Kualifikasi Persentase Jumlah Anak 4.00% Tidak Menjawab 1 1 Kurang Detail 0.00% 0 2 Cukup Detail 4.00% 1 3 Detail 56.00% 14 4 Sangat Detail 36.00% 9 Total 100.00% 25 Mengingat Pengalaman Tidak Menjawab Kurang Detail Detail Cukup Detail Sangat Detail Gambar 29. Frekuensi aspek mengingat pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek mengingat pengalaman ketika berefleksi. Dari 25 siswa 9 siswa sangat detail (36%) , 14 siswa detail (56%) , 1 siswa cukup detail (4%) dan 1 siswa tidak menjawab (4%)

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 2). Deskripsi Aspek Perasaan terhadap Pengalaman Tabel 62. Rangkuman statistik deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan Perasaan dalam Pengalaman N Mean Median Mode Std. Deviation Variance Range Minimum Maximum 25.00 3.00 3.00 3.00 0.82 0.67 4.00 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan siswa dalam perasaan terhadap pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 63. Deskripsi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan Interval Kualifikasi Persentase Jumlah 4.00% Tidak Menjawab 1 1 Kurang Mampu 0.00% 0 2 Cukup Mampu 8.00% 2 3 Mampu 68.00% 17 4 Sangat Mampu 20.00% 5 Total 100.00% 25 Perasaan terhadap Pengalaman Tidak Menjawab Kurang Mampu Mampu Cukup Mampu Sangat Mampu 20% 4% 0% 8% 68% Gambar 30. Frekuensi aspek perasaan terhadap pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek perasaan terhadap pengalaman ketika berefleksi. Dari 25 siswa 5 siswa sangat mampu (20%), 17 siswa mampu (68%), 2 siswa cukup mampu (8%) dan 1 siswa tidak menjawab (4%). 3). Deskripsi Aspek Mengolah Pengalaman Tabel 64. Rangkuman statistik deskripsi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan Mengolah Pengalaman N 25.00 Mean 2.92 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.70 Variance 0.49 Range 4.00 Minimum Maximum 4.00 Berdasarkan tabel Statistik di atas mengenai kemampuan siswa mengolah pengalaman, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut : Tabel 65. Deskripsi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan Interval Kualifikasi Persentase Jumlah 4.00% Tidak Menjawab 1 1 Kurang Mampu 0.00% 0 2 Cukup Mampu 4.00% 1 3 Mampu 84.00% 21 4 Sangat Mampu 8.00% 2 Total 100.00% 25

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Mengolah Pengalaman Tidak Menjawab Kurang Mampu Mampu Cukup Mampu Sangat Mampu 8% 4% 0% 4% 84% Gambar 31. Frekuensi aspek mengolah pengalaman pada pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek mengolah pengalaman ketika berefleksi. Dari 25 siswa 2 siswa sangat mampu (8%), 22 siswa mampu (84%), 1 siswa cukup mampu (4%) dan 1 siswa tidak menjawab (4%). 4). Deskripsi Aspek Membangun Niat Tabel 66. Rangkuman statistik deskripsi aspek membangun niat pad pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan Membangun Niat N 25.00 Mean 2.92 Median 3.00 Mode 3.00 Std. Deviation 0.64 Variance 0.41 Range 4.00 Minimum Maximum 4.00 Berdasarkan tabel statistik di atas mengenai kemampuan siswa dalam aspek membangun niat, maka dapat disusun tabel deskripsi berikut :

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Tabel 67. Deskripsi aspek membangun niat pada pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan Interval Kualifikasi Jumlah Persentase Tidak Menjawab 1 4.00% 3 Konkret 23 92.00% 4 Sangat Konkret 1 4.00% Total 25 100.00% Membangun Niat Tidak Menjawab Konkret Sangat Konkret 4%4% 92% Gambar 32. Frekuensi aspek membangun niat pada pengalaman akhir SD Kanisius Mangunan Dari tabel dan diagram di atas diketahui kemampuan siswa dalam aspek membangun niat ketika berefleksi. Dari 25 siswa 1 siswa sangat konkret (4%), 23 siswa konkret (92%) dan 1 siswa tidak menjawab (4%). C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan Berdasarkan hasil deskripsi data melalui kuesioner kemampuan reflektif siswa di SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan secara

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 keseluruhan hasilnya baik. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai pada tiap aspek yang mendekati skor maksimal. Pada aspek mengingat pengalaman nilai rata-rata secara keseluruhan adalah 9,74 di mana skor maksimal adalah 12, sehingga pada aspek mengingat pengalaman persentase kemampuan siswa adalah 81,17%. Pada aspek mengingat pengalaman ini, siswa memfokuskan perhatian pada pengalaman yang akan direfleksikan. Pengalaman yang direfleksikan menjadi bahan utama dalam penulisan pada buku refleksi harian mereka. Pada tahap ini membutuhkan kemampuan kognitif untuk mengingat pengalaman secara rinci. Hal ini sejalan dengan pemahaman mengenai pengalaman yang terdapat pada bab dua, pada tahap pengenalan dan pengingatan akan pengalaman ini para siswa diajak untuk melakukan kegiatan belajar yang melibatkan aspek kognitif, aspek afektif dan aspek konatif untuk mengembangkan hidup berdasarkan pengalaman. Pada tahap ini, kemampuan kognitif berperan sangat penting. Melalui mengingat akan pengalaman, para siswa menghadirkan kembali pengalaman-pengalaman yang dialami dan ingin direfleksikan. Pengalamanpengalaman hidup harian ataupun pengalaman dalam proses pembelajaran yang dihadirkan atau diingat-ingat ini menyangkut, apa yang kamu alami hari ini? Apa yang kamu lakukan ketika proses pembelajaran saat bermain dalam kelompok? Permainan apa yang sedang kamu mainkan bersama teman-temanmu? Siapa saja yang bersama denganmu dalam kelompok bermain tadi? Saat bermain dalam kelompok apa yang kamu lakukan atau apa keterlibatanmu? Dan apa keterlibatan teman-temanmu dalam permainan?

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Aspek mengingat pengalaman dengan nilai rata-rata sebesar 9,74 dan prosentase kemampuan siswa pada aspek tersebut 81,17 % menunjukkan bahwa para siswa kelas V SD kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan dalam mengingat pengalaman yang direfleksikan serta dituliskan dalam buku refleksi harian secara detail. Disamping itu ada juga siswa yang belum dapat mengingat pengalaman dan menuliskannya secara detail dalam buku refleksi harian mereka. Data tersebut terlihat bahwa siswa yang mengingat pengalaman dan menuliskannya secara detail dengan siswa yang belum dapat mengingat pengalaman dan menuliskan secara detail masih lebih banyak siswa yang mengingat pengalaman dan menuliskan secara detail. Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa kelas V SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan tergolong cukup baik dalam mengingat pengalaman dan menuliskan pengalaman secara detail. Pada aspek perasaan terhadap pengalaman, nilai rata-rata secara keseluruhan adalah 16,32 di mana skor maksimal adalah 20, sehingga pada aspek perasaan terhadap pengalaman persentase kemampuan siswa adalah 81,60%. Pada aspek perasaan terhadap pengalaman ini, siswa memfokuskan perhatian pada perasaan yang dialami pada saat pengalaman tersebut terjadi yang menjadi bahan untuk direfleksikan. Perasaan yang direfleksikan menjadi bahan utama dalam penulisan pada buku refleksi harian mereka. Pada tahap ini membutuhkan kemampuan afektif untuk merasakan perasaan terhadap pengalaman. Perasaan dalam suatu pengalaman mungkin saja dapat berupa perasaan yang menyenangkan atau perasaan yang menyedihkan. Maka pada tahap ini siswa

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 diajak untuk mengingat respon dari perasaan-perasaan, baik perasaan positif maupun perasaan negatif melalui pengalaman yang direfleksikan, merasakan akibat dari perasaan yang muncul atas sikap orang-orang lain dalam pengalaman tersebut. Seperti bagaimana perasaanmu ketika bermain dalam kelompok? Apa yang kamu pikirkan pada saat terlibat dalam permainan? Apa pendapatmu tentang permainan yang sudah kamu mainkan?. Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, siswa dibantu dalam mengungkapkan perasaan selama proses permainan dalam kelompok yang mereka alami Aspek perasaan terhadap pengalaman dengan nilai rata-rata sebesar 16,32 dan prosentase kemampuan siswa pada aspek tersebut 81,60 % menunjukkan bahwa para siswa kelas V SD kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan memiliki kemampuan dalam aspek perasaan terhadap pengalaman yang direfleksikan serta dituangkan dalam buku refleksi harian mereka. Disamping itu ada juga siswa yang belum mampu mengalami perasaan terhadap pengalaman dan menuangkan ke dalam buku refleksi harian mereka. Data tersebut terlihat bahwa siswa yang mampu mengalami perasaan terhadap pengalaman dan menuliskannya secara baik dengan siswa yang belum mampu mengalami perasaan terhadap pengalaman serta menuangkannya secara baik masih lebih banyak siswa yang mengalami perasaan terhadap pengalaman dan menuangkannya secara baik dalam buku refleksi harian mereka. Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa kelas V SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan tergolong cukup baik dalam aspek perasaan terhadap pengalaman dan menuangkan perasaannya secara baik.

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Pada aspek mengolah pengalaman nilai rata-rata secara keseluruhan adalah 16,75 di mana skor maksimal adalah 20, sehingga pada aspek mengolah pengalaman persentase kemampuan siswa adalah 83,75%. Pada aspek mengolah pengalaman ini, siswa memfokuskan perhatian pada nilai-nilai serta makna dari suatu pengalaman yang direfleksikan. Nilai-nilai serta makna dari pengalaman yang direfleksikan menjadi bahan utama dalam penulisan pada buku refleksi harian mereka. Pada tahap ini membutuhkan kemampuan kognitif untuk mengolah pengalaman sehingga menemukan nilai-nilai serta makna dari suatu pengalaman. Hal ini sejalan dengan pemahaman mengenai kemampuan refleksi pada bab dua. Barbara K Given (2007) mengungkapkan bahwa berefleksi harus menjadi suatu proses yang membentuk hati nurani para siswa, yaitu sikap hidup sehari-hari, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan maupun cara berpikir dan bernalar, sehingga para siswa didorong bergerak melewati pengetahuan menuju bertindak dan melalui refleksi membantu siswa mengenali dirinya dengan kesadaran penuh. Pada aspek mengolah pengalaman ini para siswa diajak untuk menemukan nilai-nilai manusiawi, nilai moral dan nilai religius dari pengalaman serta membuat penegasan tentang apa yang sudah terjadi dengan mempertimbangkan apa yang baik dan apa yang tidak baik dari pengalaman, atau apa yang sudah berjalan serta belajar dari pengalaman yang direfleksikan. Pada tahap ini, kemampuan kognitif berperan sangat penting. Aspek mengolah pengalaman dengan nilai rata-rata sebesar 16,75 dan prosentase kemampuan siswa pada aspek tersebut 83,75 % menunjukkan bahwa

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 para siswa kelas V SD kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan dalam aspek mengolah pengalaman yang direfleksikan serta dituliskan dalam buku refleksi harian mereka secara detail. Disamping itu ada juga siswa yang belum secara detail atau belum dapat mengolah pengalaman dan menuliskan ke dalam buku refleksi harian mereka. Data tersebut terlihat bahwa siswa yang mengolah pengalaman dan menuliskannya secara detail dengan siswa yang belum secara detail atau tidak dapat mengolah pengalaman serta menuliskannya secara detail masih lebih banyak siswa yang dapat mengolah pengalaman dan menuliskannya secara detail dalam buku refleksi harian mereka. Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa kelas V SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan tergolong cukup baik dalam aspek mengolah pengalaman dan menuliskannya secara detail. Pada aspek membangun niat nilai rata-rata secara keseluruhan adalah 20,49 di mana skor maksimal adalah 24, sehingga pada aspek membangun niat persentase kemampuan siswa adalah 85,38%. Pada aspek membangun niat ini, siswa memfokuskan perhatian pada rencana untuk aktivitas selanjutnya berdasarkan pada inspirasi yang diperoleh dari refleksi. Proses refleksi bermuara pada keputusan dan tindakan konkret bagi diri sendiri dan orang lain. Tindakan merupakan hasil dari pilihan matang dan perwujudan nyata yang dapat dipertanggungjawabkan. Pada aspek ini siswa diajak untuk membuat keputusan demi perbaikan dan perkembangan diri, orang lain dan hubungan dengan Tuhan. Aspek membangun niat dengan nilai rata-rata sebesar 20,49 dan prosentase kemampuan siswa pada aspek tersebut 85,38 % menunjukkan bahwa

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 para siswa kelas V SD kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan memiliki kemampuan dalam aspek membangun niat secara konkret yang dituangkan dalam buku refleksi harian mereka. Disamping itu ada juga siswa yang belum mampu membangun niat dan menuangkan ke dalam buku refleksi harian mereka secara konkret. Data tersebut terlihat bahwa siswa yang mampu membangun niat dan menuliskannya secara konkret dengan siswa yang belum mampu membangun niat serta menuangkannya secara konkret masih lebih banyak siswa yang mampu membangun niat dan menuangkannya secara konkret dalam buku refleksi harian mereka. Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa kelas V SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan tergolong cukup baik dalam aspek membangun niat dan menuangkan niat secara konkret pada buku refleksi harian mereka. 2. Pembahasan Hasil Penelitian Kemampuan Reflektif Siswa SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Mangunan Secara Khusus a. Aspek Mengingat Pengalaman Berdasarkan hasil deskripsi data melalui kuesioner menunjukkan bahwa kemampuan siswa SD Kanisius Sengkan dalam berefleksi atas aspek mengingat pengalaman dari 47 siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 26 siswa (55,3%), yang menjawab setuju sebanyak 18 siswa (38,3%), yang menjawab tidak setuju 3 siswa (6,4%). Dari data dokumentasi menunjukkan adanya perkembangan pemahaman dalam diri siswa pada aspek mengingat pengalaman saat melakukan refleksi yang terlihat dari pengalaman awal sampai pada pengalaman akhir,

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 terbukti dengan meningkatnya jumlah siswa yang mampu menuliskan pengalaman secara detail. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam aspek mengingat pengalaman dan menuliskannya dalam buku refleksi harian mereka sudah baik. Buku refleksi harian menjadi salah satu sarana yang baik bagi siswa untuk menuliskan segala pengalaman mereka, baik pengalaman yang mengesan, menarik dan menantang dapat terungkap secara detail dalam buku tersebut. Selain buku refleksi menjadi sarana untuk mengingat pengalaman, para guru membiasakan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mengingat kembali pengalaman yang sudah berjalan pada proses pembelajaran selanjutnya. Berdasarkan hasil deskripsi data melalui kuesioner menunjukkan bahwa kemampuan siswa SD Kanisius Mangunan dalam berefleksi atas aspek mengingat pengalaman dari 25 siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 18 siswa (72%), yang menjawab setuju sebanyak 5 siswa (20%), yang menjawab tidak setuju 2 siswa (8%). Dari data dokumentasi menunjukkan adanya dinamika situasi dalam diri siswa yang kemudian berpengaruh pada aspek mengingat pengalaman siswa saat melakukan refleksi. Dinamika situasi itu nampak dari pengalamanpengalaman yang ditulis pada tengah pengalaman terdapat 3 siswa yang tidak menuliskan pengalamannya dan pada pengalaman awal dan akhir siswa menuliskan pengalaman secara detail. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam aspek mengingat pengalaman dan menuliskannya dalam buku refleksi harian mereka dipengaruhi oleh faktor interen siswa. Seperti kondisi siswa yang sedang sakit, siswa yang sedang malas untuk menulis, dan lain sebagainya. Maka pengalaman tidak berhenti pada pemahaman intelektual tetapi juga

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 menyangkut keseluruhan pribadi, budi, perasaan dan kehendak dalam menghayati suatu pengalaman (Pedagogi Reflektif, 2010: 52). Aspek mengingat pengalaman merupakan langkah awal untuk dapat melakukan koreksi diri sebelum siswa mewujudkannya dalam tindakan nyata. Jika kita tidak dapat mengingat apa pun mengenai pengalaman kita, kita tidak akan dapat belajar apa-apa. Tanpa ingatan kita tidak dapat merefleksikan diri kita sendiri, karena pemahaman diri tergantung pada suatu kesadaran yang berkesinambungan yang hanya dapat terlaksana dengan adanya ingatan (Rita L dkk, 1991: 341). Kemampuan siswa dalam melakukan tahapan refleksi pada aspek mengingat pengalaman tersebut dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya. Siswa mengalami proses perkembangan kemampuan refleksinya berjalan seiring dengan perkembangan kognitifnya. Teori perkembangan kognitif Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada masa ini disebut pemikiran operasi konkret (7-11 tahun). Pada masa ini siswa mulai dapat menggambarkan secara menyeluruh ingatan, pengalaman, dan objek yang dialami. Misalnya siswa dapat menuliskan tentang situasi saat neneknya meninggal karena sakit. Banyak orang datang melayat di rumahnya sambil menangis dan berdoa dihadapan neneknya. Ketika ada salah satu tamu bertanya tentang neneknya, siswapun dapat bercerita mengenai kata-kata terakhir yang diucapkan nenek untuk dirinya. Jika anak mengalami hambatan perkembangan kognitif pada tahap sebelumnya yaitu tahap praoperasi, di mana tahap ini menjadi jembatan antara tahap sesorimotor dengan tahap operasi konkret, maka anak akan mengalami

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 kesulitan dalam penggunaan bahasa simbolis yang berupa gambaran dan bahasa ucapan. Hambatan penggunaan bahasa simbolis ini membuat anak masih berpusat pada dirinya yang mengakibatkan anak mengalami hambatan dalam menganalisis persoalan yang ada di sekitar mereka. Bahasa memacu perkembangan pemikiran anak supaya dapat menggambarkan sesuatu (Paul Suparno,2001: 67). Bagi siswa yang mengalami hambatan dalam mengingat pengalaman, guru dapat memberikan sarana dan media bantuan. Misalnya gambar, cerita, alat peraga, melalui simbolsimbol lainnya yang dapat membantu siswa dalam mengingat pengalaman mereka serta dengan memberikan panduan pertanyaan refleksi yang sederhana berkaitan dengan tema-tema yang akan mereka refleksikan. b. Aspek Perasaan Terhadap Pengalaman Hasil deskripsi data melalui kuesioner menunjukkan bahwa kemampuan siswa SD Kanisius Sengkan dalam berefleksi atas aspek perasaan terhadap pengalaman dari 47 siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 25 siswa (53,2%), yang menjawab setuju sebanyak 19 siswa (40,4%), yang menjawab tidak setuju 2 siswa (4,3%), dan yang menjawab sangat tidak setuju 1 siswa (2,1%). Dari data dokumentasi melalui pengalaman awal sampai akhir menunjukkan kemampuan siswa dalam aspek perasaan terhadap pengalaman sudah baik. Pada buku refleksi, siswa dapat menulis perasaannya seperti sedih, senang, gembira, kecewa, marah, bingung, kesal dan jengkel. Perasaan yang dominan dituliskan oleh siswa adalah perasaan senang dan gembira.

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Siswa kelas V SD Kanisius Sengkan, memiliki latar belakang keluarga yang baik. Artinya siswa sebagian besar mendapatkan cinta kasih dan perhatian yang utuh dari orang tua mereka. Secara ekonomis, siswa berkecukupan dan bahkan tak berkekurangan. Latar belakang tersebut sangat membantu siswa dalam upaya memberi nama perasaan yang muncul terhadap pengalaman yang dialami. Kemampuan siswa dalam memberi nama atas perasaan terhadap pengalaman menjadi titik awal dari proses refleksi karena proses pembelajaran reflektif berfokus pada mengenali, menamai dan memaknai pengalaman pribadi. Hasil deskripsi data melalui kuesioner menunjukkan kemampuan siswa SD Kanisius Eksperimental Mangunan dalam berefleksi atas aspek perasaan terhadap pengalaman dari 25 siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 15 siswa (60%), yang menjawab setuju sebanyak 8 siswa (32%), yang menjawab tidak setuju 2 siswa (8%), dan dari data dokumentasi juga mendukung data yang ditemukan melalui kuesioner. Pada pengalaman awal, semua siswa mampu memberi nama perasaan terhadap pengalaman, pada pengalaman tengah ada 3 siswa yang tidak mampu menamai perasaan terhadap pengalaman dan pada pengalaman akhir ada 1 siswa yang tidak mampu menamai perasaan terhadap pengalaman. Kemampuan siswa dalam mengungkapkan dengan menamai perasaannya menunjukkan perkembangan dalam berefleksi atas perasaan terhadap pengalaman. Para siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan berasal dari latar belakang keluarga yang sangat homogen dengan berbagai permasalahan yang terjadi. Ketika anak mendengar dan melihat orang tuanya sedang bertengkar atau

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 anak sendiri mendapat perlakukan yang kurang baik dari orang tuanya, maka situasi tersebut berakibat terhadap perasaan dan perilaku anak di sekolah. Situasi tersebut juga menjadi salah satu yang mengakibatkan siswa tidak mudah mengungkapkan perasaan mereka terhadap pengalaman yang dihadapi. Pada situasi tersebut anak belum dapat mengolah dengan baik perasaaannya, sehingga yang muncul dipermukaan adalah perilaku tidak gembira dan menyendiri. Terhadap siswa yang berperilaku seperti di atas dapat membantu para guru dalam usaha mengenal emosi dan perasaan mereka sehingga mereka dibantu dalam mengungkapkan dan menamai perasaan yang muncul terhadap pengalaman yang dialami. Perasaan dalam suatu pengalaman mungkin saja dapat berupa perasaan yang menyenangkan atau perasaan yang menyedihkan. Jika pengalaman yang pernah dirasakan adalah pengalaman yang baik dan menyenangkan tidak akan menjadi masalah untuk anak mengingat dan merasakannya kembali. Jika pengalaman yang dilalui adalah pengalaman yang buruk dan menyedihkan maka tidak semua anak memiliki keberanian untuk mengingat, merasakan dan menuliskan pengalaman tersebut. Proses perkembangan kemampuan siswa menamai perasaan dalam teori perkembangan kognitif pada tahap operasi konkret, siswa diharapkan sudah tidak begitu egosentris pada pemikirannya sendiri sehingga sadar bahwa orang lain dapat mempunyai pikiran yang berbeda dengan dirinya (Paul Suparno, 2001: 86). Seperti siswa tidak lagi marah dan tersinggung apabila pendapat dan hasil

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 karyanya tidak atau belum diterima oleh temannya dan siswa tidak mudah putus asa apabila menemukan kegagalan, dan sebagainya. Jika tahap ini dapat dilalui oleh siswa dengan baik, maka siswa berkembang dalam kemampuan menamai perasaan dan pada akhirnya siswa dapat mengolah perasaannya dengan baik. Sangatlah baik, jika guru teratur dan disiplin dalam memberikan waktu mengadakan refleksi atas pengalaman yang dialami siswa sehingga membantu siswa berkembang dalam kemampuan menamai perasaaannya dan berkembang pula dalam mengolah perasaan yang terungkap pada sikap serta perilaku hidup harian siswa. c. Aspek Mengolah Pengalaman Berdasarkan hasil deskripsi data melalui kuesioner menunjukkan bahwa kemampuan siswa SD Kanisius Sengkan dalam berefleksi atas aspek mengolah pengalaman dari 47 siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 26 siswa (55,3%), yang menjawab setuju sebanyak 18 siswa (38,3%), yang menjawab tidak setuju 3 siswa (6,4%). Dari data dokumentasi menunjukkan adanya kemampuan siswa dalam mengolah pengalaman sehingga siswa mampu menemukan dan menuliskan nilai serta makna yang mereka peroleh dari hasil refleksi. Kendati nilai serta makna yang mereka peroleh dari hasil refleksi masih pada taraf nilai manusiawi dan nilai moral, dan sebagian kecil siswa sampai pada nilai religius. Seperti nilai manusiawi yang terungkap dalam buku refleksi harian siswa berupa “ketika saya tidak mematuhi nasihat orang tua, saya menemukan diri kurang menghormati orang tua”, “saat ibu mempersalahkan aku karena adik jatuh waktu

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 bermain denganku, aku belajar untuk mengendalikan marahku dan menyadari keteledoranku”, dan “pada waktu saya membantu teman yang belum selesai membuat ketrampilan dan sudah harus dikumpulkan, saya belajar bekerjasama”. Nilai moral yang terungkap dalam buku refleksi harian siswa berupa siswa dapat menimbang kalau berbohong, membolos, memukul teman dengan sengaja dan mencuri uang ibu merupakan perbuatan baik atau tidak baik. Ada juga dari para siswa yang sampai mengolah pengalaman pada nilai religius berupa saya sedih kehilangan simbah (meninggal) karena simbah selama ini yang dekat dengan saya. Ketika saya kangen dengan simbah, saya mendoakan simbah. Setelah berdoa saya menjadi gembira dan saya merasa berdoa membuat saya menjadi dekat dengan simbah dan Tuhan. Berdasarkan hasil deskripsi data melalui kuesioner menunjukkan bahwa kemampuan siswa SD Kanisius Mangunan dalam berefleksi atas aspek mengolah pengalaman dari 25 siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 15 siswa (60%), dan yang menjawab setuju sebanyak 10 siswa (40%). Dari data dokumentasi menunjukkan pada pengalaman awal, siswa mampu menemukan dan menuliskan nilai serta makna yang diperoleh dari hasil refleksinya tetapi pada pengalaman tengah ada 3 siswa dan ada 1 siswa pada pengalaman akhir yang belum menemukan serta menuliskan nilai dan makna yang diperoleh dari hasil refleksi mereka. Situasi siswa SD Kanisius Eksperimental Mangunan pada aspek mengolah pengalaman memiliki dinamika yang berbeda dengan SD Kanisius Sengkan. Pada situasi siswa SD Kanisius Eksperimental Mangunan, diawal pengalaman mampu

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 mengolah pengalaman sehingga dapat menemukan dan menuliskan nilai serta makna dari pengalamannya. Tetapi pada tengah pengalaman ada tiga siswa dan diakhir pengalaman hanya ada satu siswa yang mengalami kesulitan dalam menemukan dan menuliskan nilai serta makna dari pengalaman. Hal di atas bisa dipahami karena pada usia mereka ada dalam tahap operasi konkret, yaitu ditandai dengan adanya operasi berdasarkan apa saja yang kelihatan nyata/konkret. Mereka masih menerapkan logika berpikir pada barangbarang yang konkret dan belum bersifat abstrak apalagi hipotesis (Paul Suparno,2001: 70). Sesuatu yang bersifat abstrak seperti menemukan nilai, ide dan gagasan (makna) perlu dikonkretkan agar dipahami oleh mereka. Misalnya para guru dapat membimbing siswa dengan memberikan contoh cerita melalui tokoh-tokoh dari kitab suci yang memiliki kemampuan mengolah pengalaman, seperti tokoh yusup dan saudara-saudaranya, tokoh kain dan habel, dan lain sebagainya. Contoh-contoh konkret dari mereka dalam mengolah pengalaman akan membantu siswa dalam mengolah pengalamannya sendiri. Selain lewat cerita-cerita Kitab Suci, para guru juga dapat membantu memperkembangkan kemampuan mengolah pengalaman dengan menciptakan komunikasi yang baik dalam proses pembelajaran. Misalnya dalam proses pembelajaran siswa diberi kesempatan untuk diskusi kelompok, memberikan tugas yang konkret dan diminta membuat laporan pertanggungjawaban secara jujur sehingga siswa berperan secara aktif dalam tanggungjawab dan pengambilan keputusan.

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 Di usia mereka pula kemampuan mengolah pengalaman dipengaruhi oleh perkembangan moralitas. Pada usia ini siswa berada pada tahap prakonvensional. Tahap tersebut orientasi perbuatan anak berdasarkan pada ukuran benar-salah. Suatu tingkah laku dinilai benar bila tidak dihukum dan dinilai salah bila dihukum (Elizabeth B Hurlock: 80). Maka untuk dapat menemukan nilai atau makna dari suatu pengalaman, siswa membutuhkan respon dari pihak luar, seperti dari para guru atau dari orang tua mereka. Misalnya dengan memberikan tanggapan yang positif atau yang mendukung apabila siswa dapat mengolah pengalamannya dan menuliskan melalui buku refleksi mereka. Bisa juga para guru membantu siswa dalam kemampuan mengolah pengalaman melalui pemberian penilaiaan atas nilai dan makna yang ditemukan dan dituliskan siswa ketika berefleksi pada buku refleksi siswa. Tanggapan positif dan penilaiaan yang baik dari para guru dan orang tua, lambat laun akan membawa siswa pada kesadaran pribadi untuk menemukan nilai serta makna dari mengolah pengalaman sebagai campur tangan Allah dalam pengalaman hidup mereka. Melalui mengolah pengalaman siswa menjadi sadar atas segala pengalaman yang baru saja dialami, sikap dan tindakan dalam mengolah pengalaman, serta akibat dari sikapnya dan tindakannya dihadapan Allah dan sesama. Kemampuan mengolah pengalaman menunjukkan bahwa anak mampu mengemukakan kembali pengalaman dan menemukan nilai-nilai dibalik pengalaman tersebut. Semakin tinggi kemampuan siswa dalam mengolah pengalaman, maka siswa semakin mampu menemukan tidak hanya sampai pada

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 nilai-nilai manusiawi, nilai-nilai moral tetapi sampai pada nilai-nilai religius dari pengalaman yang dialaminya. Pada aspek mengolah pengalaman merupakan aspek yang paling penting dalam proses refleksi karena siswa diajak menilai pengalaman dalam beberapa sudut pandang. Melalui refleksi siswa tidak hanya dibantu untuk melihat pengalaman dari sisi yang manusiawi dan moral saja tetapi dengan refleksi siswa sampai pada pengembangan kehidupan religiusnya. Siswa mampu menemukan makna iman dan tujuan hidup yang terdalam dari relasinya dengan yang ilahi, diri sendiri, sesama dan alam ciptaan melalui proses pembelajaran yang direfleksikan. d. Aspek Membangun Niat Hasil deskripsi data melalui kuesioner menunjukkan bahwa kemampuan siswa SD Kanisius Sengkan dalam berefleksi atas aspek membangun niat terhadap pengalaman dari 47 siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 30 siswa (63,8%), yang menjawab setuju sebanyak 16 siswa (34,0%), yang menjawab tidak setuju 1 siswa (2,1%), dan dari data dokumentasi melalui pengalaman awal terdapat 4 siswa yang belum dapat menuliskan niat, pada tengah pengalaman 4 siswa yang belum dapat menuliskan niat dan pada akhir pengalaman ada 6 siswa yang belum dapat menuliskan niat secara konkret. Hal ini menunjukkan bahwa membangun niat konkret dipengaruhi oleh aspek-aspek sebelumnya serta dibutuhkan kehendak kuat dari siswa untuk merealisasikan, karena niat yang hanya sebatas niat dan tanpa usaha konkret tidaklah mengubah sikap dan membangun hidup yang lebih baik. Pada hakekatnya proses refleksi atas

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 pengalaman bermuara pada keputusan (pilihan) dan tindakan konkret bagi diri sendiri dan orang lain. Lebih jauh lagi bahwa melalui refleksi siswa dihantar dan diharapkan semakin berkembang dalam iman mereka. Hasil deskripsi data kuesioner menunjukkan bahwa kemampuan siswa SD Kanisius Mangunan dalam berefleksi atas aspek membangun niat dari 25 siswa yang menjawab sangat setuju sebanyak 16 siswa (64%), yang menjawab setuju sebanyak 9 siswa (36%), dan dari data dokumentasi menunjukkan diawal pengalaman ada 1 siswa yang tidak menuliskan niat konkret, ditengah pengalaman ada 3 siswa yang tidak menuliskan niat konkret dan diakhir pengalaman ada 1 siswa yang tidak menuliskan niat konkret. Situasi di atas menggambarkan bahwa siswa berusaha untuk membangun niat dan mewujudkannya secara konkret, kendati dalam buku refleksi harian mereka dalam membangun niat masih bersifat umum, seperti saya akan bangun pagi, saya akan rajin belajar, saya akan membantu, saya akan jujur. Membangun niat konkret, baik siswa kelas V SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental mangunan melalui data dokumentasi terdapat beberapa siswa yang belum dapat membangun niat secara konkret. Mengingat refleksi pada prinsipnya harus sampai pada membangun niat konkret. Pada saat membangun niat konkret nampaknya siswa menemukan kesulitan dalam merumuskan niat yang sesuai dengan apa yang mereka refleksikan. Hal tersebut terungkap dalam buku refleksi harian mereka yang hanya menuliskan niat yang sama dan diulang-ulang.

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Membangun niat konkret selain membutuhkan kehendak yang kuat dalam diri siswa untuk merealisasikan tetapi juga siswa perlu memahami apa yang mereka refleksikan. Niat siswa yang sungguh konkret akan memotivasi siswa untuk sungguh-sungguh mewujudkannya dalam sebuah tindakan. Jika niat yang ditulis belum konkret maka akan membuat siswa sendiri mengalami kesulitan untuk melaksanakannya. Apabila siswa memiliki kemampuan dalam berefleksi sampai pada membangun niat, diharapkan siswa tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada masa lalu, dan dapat bersikap lebih optimis bahwa dirinya mampu berbuat lebih baik lagi untuk dirinya sendiri dan orang lain.

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini penulis akan menegaskan kembali beberapa hal yang perlu ditingkatkan dan diupayakan lebih lanjut sehubungan dengan sejauhmana kemampuan refleksi siswa kelas V SD Kanisius Sengkan Depok-Sleman Yogyakarta dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan Kalitirto Berbah Sleman Yogyakarta. A. Kesimpulan Dari data penelitian serta pembahasan, penulis menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Kemampuan reflektif merupakan suatu proses dan dinamika pemaknaan hidup dengan mengunakan daya ingat, pemahaman, imajinasi dan perasaan terhadap pengalaman, yang berdasarkan pada pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar yang tampak dalam bentuk tingkah laku dan perkembangannya sehingga dapat menangkap nilai serta makna dari apa yang sedang dialami. Tujuan dari refleksi adalah menangkap arti atau nilai dan makna dari yang dipelajari, menemukan keterkaitan antara pengetahuan dan antara pengetahuan dengan realitasnya, memahami implikasi pengetahuan dan seluruh tanggung jawabnya dan membentuk hati nurani. Kemampuan refleksi siswa diukur melalui proses kegiatan refleksi yang dilaksanakan dalam empat aspek. Pertama aspek mengingat pengalaman. Pada aspek

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 mengingat pengalaman, siswa menggambarkan rincian peristiwa atau kejadian yang sedang direfleksikan, termasuk: bertanya tempat kejadian, waktu, siapa yang ada bersama saat kejadian, mengapa ada ditempat tersebut, apa yang sedang dilakukan, apa yang sedang dikerjakan oleh orang lain yang ada disekitar kejadian. Kedua aspek perasaan terhadap pengalaman. Pada aspek ini siswa mengingat respon dari perasaan-perasaan terhadap pengalaman yang sudah terjadi. Baik itu perasaan positif maupun perasaan negatif melalui pengalaman yang direfleksikan, merasakan akibat dari perasaan yang muncul atas sikap orang-orang lain maupun dari dirinya dalam pengalaman itu. Ketiga aspek mengolah pengalaman. Pada aspek ini siswa menemukan nilai manusiawi, nilai moral dan nilai religius dari pengalaman dan membuat penegasan tentang apa yang sudah terjadi dengan mempertimbangkan apa yang baik dan apa yang tidak baik dari pengalaman, atau apa yang sudah berjalan dan belajar dari pengalaman yang direfleksikan. Dan keempat aspek membangun niat. Pada aspek ini siswa membuat keputusan berupa niat untuk perbaikan demi perkembangan diri, orang lain dan hubungan dengan Tuhan. 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan reflektif siswa atas keseluruhan aspek ialah 63.292. Hal ini berarti kemampuan reflektif siswa baik. Dengan demikian para siswa kelas V SD Kanisius Sengkan dan siswa kelas V SD Kanisius Eksperimental Mangunan memiliki kemampuan refleksi yang baik. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap siswa

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 melakukan kegiatan refleksi dalam setiap pengalaman melalui empat aspek dari kegiatan reflektif mereka. B. Saran Pada penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan reflektif siswa kelas V SD Kanisius Sengkan dan SD Kanisius Eksperimental Mangunan pada masing-masing aspek dari aspek mengingat pengalaman diperoleh nilai rata-rata (mean) sebesar 9,74 pada aspek mengingat pengalaman, sebesar 16,32 pada aspek perasaan terhadap pengalaman, sebesar 16,75 pada aspek mengolah pengalaman dan sebesar 20,49 pada aspek membangun niat. Dengan demikian penulis melihat bahwa kemampuan reflektif siswa baik. Oleh karena itu penulis menyampaikan saran-saran yang bisa digunakan untuk memelihara, mempertahankan dan meningkatkan kemampuan reflektif siswa. Saran tersebut yaitu: a. Para guru perlu meningkatkan daya kreativitas untuk menciptakan saranasarana pendukung bagi para siswa mengadakan refleksi. Misalnya melalui cerita tokoh-tokoh dari Kitab Suci. Di mana tokoh-tokoh Kitab Suci itu memiliki kemampuan reflektif. Seperti Yusup dan saudara-saudaranya, tokoh Kain dan Habel, dan lain sebagainya. Contoh-contoh dari tokoh-tokoh tersebut akan membantu para siswa, lebih-lebih bagi siswa yang belum mampu dalam mengolah pengalamannya sendiri. b. Selain melalui cerita, guru dapat membantu dengan menciptakan komunikasi yang baik melalui proses pembelajaran dengan berbagai macam kegiatankegiatan pendukunga kemampuan reflektif. Misalnya dalam proses

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 pembelajaran siswa diberi kesempatan untuk diskusi kelompok, memberikan tugas yang konkret dan siswa diminta membuat laporan pertanggungjawaban secara jujur sehingga siswa berperan aktif dalam tanggungjawab dan pengambilan keputusan dan adanya kegiatan di mana siswa dihadapkan pada suatu masalah konkret.

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Agus, Cremers. (1995). Tahapan-Tahapan Perkembangan Kepercayaan-Manurut James w. Fowler, sebuah gagasan baru dalam Psikologi Agama. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 15 Atkinso, Rita L, Atkinso, Richard C & Hilgard, Ernest R. (1991). Pengantar Psikologi. Alih bahasa: Dra. Nurdjannah Taufiq & Dra. Rukmini Barhana. Jakarta: Erlangga. Azwar, S. (1997). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Drost. (1999). Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan. Jakarta: Grasindo Finlay, Linda. “Reflecting of Refelctive Practice.” Jurnal Pendidikan No. 52. (Januari, 2008). hlm. 8-12 Given, Barbara K. (2007). Brain-Based Teaching. Bandung: Kaifa. Hurlock, Elizabeth (1990). Perkembangan Anak. Jilid 2. Alih bahasa: Dr. Med. Meitasari Tjandrarasa. Jakarta: Erlangga ICAJE. (2010). Paradigma Pedagogi Reflektif. Yogyakarta: Kanisius. Isjoni. (2008). Belajar Demi Hidup. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Juliansyah, Noor. (2011). Metodologi Penelitian. Jakarta: Kencana Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius Kriyantono, R. (2009). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Pranada Media Nazir, M. (1998). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Prasetya,F.M. (1992). Pasikologi Hidup Rohani 2. Yogyakarta: Kanisius. Radno, Harsanto. (2007). Pengelolaan Kelas yang Dinamis. Yogyakarta: Kanisius Riduwan. (2009). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta. Riduwan & Adun, Rusyana & Enas. (2011) Cara Mudah Belajar SPSS 17.0 Dan Aplikasi Statistik Penelitian. Bandung: Alfabeta. Ruswanto, Wawan. (1995). Penelitian Komunikasi. Jakarta PT. Universitas Terbuka Salhah, Abdullah. (2005). Guru Sebagai Fasilitator. Selangor: PTS. Professional Setyakarjana. (1997) Kateketik Pendidikan Dasar. Yogyakarta: Pusat Kateketik Yogyakarta. Silalahi, A. (2003). Metode Penelitian dan Studi Kasus. Sidoarjo: Citra Media Singarimbun, Masri & Sofian, Effendi. (1989). Matode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES. Subagya. (2008). Paradigma Pedagogi Reflektif. Yogyakarta: Kanisius Sujarweni, Wiratna V & Endrayanto, Poly. (2012). Statistika Untuk Penelitian. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sugiati, Sukarso. (1980). Psikologi dan Bimbingan Anak. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Sugiyono. (2004). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta Suparno, Paul. (2001). Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Supriyati, Yulia. (2010). Psikologi Umum. Yogyakarta

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Spiritualitas Ignasian. (2009). Pedagogi Ignasian Dalam Praktik Pembelajaran. Yogyakarta: Pusat Studi Ignasian Universitas Sanata Dharma. Syah, Muhibbin. (2006). Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada Syaiful, Sagala. (2011). Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Tim penyusun P3MP & LPM USD. (2008). Pedoman Model Pembelajaran Berbasis Pedagogi Ignasian. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. __________ (2012). Pedoman Model Pembelajaran Berbasis Padagogi Ignasian. Yogyakarta: P3MP dan LPM Universitas Sanata Dharma Webster,J. (1994). The New Webster Encylopedia Dictionary of English. W, Gulo. (2005). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(147) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT

(148) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT

(149) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT

(150) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT

(151) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT

(152) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT

(153) PLAGIAT MERUPAKAN MERUPAKAN TINDAKAN TINDAKAN TIDAK TIDAK TERPUJI TERPUJI PLAGIAT

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR SISWA SEKOLAH DASAR KANISIUS SENGKAN TAHUN AJARAN 2011/2012 KELAS VA SEMESTER 1 NOMOR URUT INDUK 1 1275 2 1290 3 1369 4 1374 5 1385 6 1412 7 1413 8 1414 9 1415 10 1418 11 1419 12 1420 13 1421 14 1422 15 1423 16 1424 17 1426 18 1427 19 1428 20 1429 21 1430 22 1432 23 1433 24 1436 NAMA Laurentius Aldo Kristian B. Deki Tri Saputra Angela Merici Sari K Christiana Lydia Verawati Lukas Okto Fajar R Amarani Rotua Hutajulu Anthony Bryan Vernico Sany Arkadia Ravika Sita Bonifasia Sekar Dissa A Debora Titisari Dionisius Iwa Denaya Eusibius Diananto Putraadi Fabian Virgi Evora E Hendrikus Wiku Dwicahyo Hieronimus Alan K. Grinspana Ignatius Loyola Iswaradatta Kyla Geraldine Hartadi Leo Agung Bayu Panuntun Maria Agustha Naresvari Monica Putri Amanda Raka Nata Mahendra K Theresia Putri Nirmala Vigo Vargas Septiyano Alexander David Sengkan,………………………2012 Guru Kelas V Olivia Dewi Maharani

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR SISWA SEKOLAH DASAR KANISIUS SENGKAN TAHUN AJARAN 2011/2012 KELAS VB SEMESTER 1 NOMOR URUT INDUK 1 1437 2 1439 3 1440 4 1443 5 1444 6 1446 7 1449 8 1450 9 1451 10 1454 11 1456 12 1458 13 1459 14 1494 15 1495 16 1564 17 1572 18 1664 19 1666 20 1668 21 1669 22 1670 23 24 NAMA Anastasia Marcella Astriani Angela Ayu Putri M Bhre Kusuma Yakti Fiorence Naomi Aufrida Geovani Sekar K Gregorius Satrio Dewanto Lkaranydia Amandita Leonardus Adam Irawan Ludgardis Fabiola Delvi Mayang Puspitasari Pius Bonaventura Ado R.P. Nandana Bajradaka A Roberto Bagas Salwa Yunaika A Regina Amalia S Yuditya Maheswara Putra Monica Suci Utami Yeremias Lintang Permana Alexander Evan Waldo Joan Setianie Gabriella Hot Marsondang Simamora Karinda Audrey Zenia Stephani Helen M Sebastianus Didha Sengkan,………………………2012 Guru Kelas V Sr Agnes Dinihari,FCJ

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR SISWA SEKOLAH DASAR KANISIUS EKSPERIMENTAL MANGUNAN TAHUN AJARAN 2011/2012 KELAS V SEMESTER 1 NOMOR URUT INDUK 1 1157 2 1156 3 1174 4 1204 5 1205 6 1206 7 1207 8 1208 9 1210 10 1211 11 1212 12 1215 13 1217 14 1218 15 1221 16 1224 17 1225 18 1227 19 1228 20 1229 21 1309 22 1314 22 23 24 25 NAMA Gregorius Tegar Aji Putra Dale Ari Yanto Joko Susanto Gabrielle Alfareza Dewi M Christian Andika Wisan D Adika Nadata Wibowo Adhitya Shelomita K Elizabeth Puteri C Stefani Junita Parhusip Eugenia Ajeng Larasati Mayang Mithayani Agung Kurniawan Stefhani Anne F Dokras Dolorosa Anastasia Nadine Kelana H Elisabet Septian Putri A Kelfin Dhimas Yogatama Mikhael Angelo Dinda Kemuning Puspitasari Christo Jeva Jireh Jalmav Romanos Daniel O Velicia Feyga Manua Maria Agnificatia Michelle Angela Hermawan Martin Leonardus Mangunan,………………………2012 Guru Kelas V Khatarina Supatminingsih

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(159)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

LAYANAN SIRKULASI DI PERPUSTAKAAN SD NEGERI KENTUNGAN DAN SD KANISIUS SENGKAN DEPOK SLEMAN.
0
0
191
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KHAS PADA SD KANISIUS EKSPERIMENTAL MANGUNAN SLEMAN YOGYAKARTA.
1
3
212
UPAYA PENINGKATKAN PEMBELAJARAN LARI JARAK PENDEK DENGAN PENDEKATAN BERMAIN SISWA KELAS V SD KANISIUS MINGGIR.
0
1
139
PERKEMBANGAN SINTAKSIS SISWA KELAS RENDAH SD KANISIUS KLEPU, SLEMAN, YOGYAKARTDALAM KARANGAN PENCERITAAN ULANG.
0
0
422
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI SISWA KELAS IV SD KANISIUS WIROBRAJAN YOGYAKARTA TAHUN PELAJARAN 20092010 MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL
0
0
114
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA AUDIOVISUAL DALAM PEMBELAJARAN MENYIMAK CERITA RAKYAT SISWA KELAS V SD KANISIUS SENGKAN PADA TAHUN AJARAN 20102011
0
1
148
MENINGKATKAN KETERLIBATAN DAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV SD KANISIUS SENGKAN YOGYAKARTA TAHUN PELAJARAN 2010-2011
0
0
160
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SD KANISIUS SOROWAJAN TAHUN PELAJARAN 20102011
0
0
184
HUBUNGAN MINAT BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VB SD KANISIUS SENGKAN SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 20102011
0
1
169
HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF DI KELAS IV SD KANISIUS WIROBRAJAN TAHUN PELAJARAN 20102011
0
1
128
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SD KANISIUS WIROBRAJAN TAHUN PELAJARAN 20102011
0
3
226
EFEKTIVITAS PERKEMBANGAN NILAI KEMANUSIAAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF PADA SISWA KELAS IV SD KANISIUS WIROBRAJAN Skripsi
0
0
105
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SD KANISIUS PUGERAN TAHUN PELAJARAN 20102011
0
3
198
PENGARUH PENGGUNAAN MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN MENGANALISIS DAN MENGEVALUASI PADA MATA PELAJARAN IPA DI SD KANISIUS SENGKAN
0
0
111
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK KETERAMPILAN MEMBACA BAHASA INDONESIA KELAS V SD KANISIUS GAYAM YOGYAKARTA
0
1
124
Show more