Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
150
2 months ago
Preview
Full text

  PENGEMBANGAN ALAT PERAGA PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN ALA MONTESSORI UNTUK SISWA KELAS I SD KREKAH YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Theresia Kristi Panca Wijayanti

NIM: 091134027 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

  

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA

PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN ALA MONTESSORI

UNTUK SISWA KELAS I SD KREKAH YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Theresia Kristi Panca Wijayanti

  

NIM: 091134027

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2013

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

  

HALAMAN PENGESAHAN

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Skripsi ini saya persembahkan kepada: 1.

  Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang berkenan memberikan rahmat dan cinta kasih-Nya kepada saya.

  2. Kedua nenek saya tercinta, Alm. Tuniyah dan Laminem yang selalu memberikan doa dan dukungan selama ini.

  3. Kedua orang tua saya, Alexius Waluyo Subroto dan Lucia Muntiwi tercinta yang selalu setia memberikan dukungan, bimbingan, kasih sayang, dan doa.

  4. Keempat kakak saya, Sr. Baptista, S. Kristanto Dwi A. U., C. K. Tri Werdiningtyas, dan M. Kristiarso Wibowo C. Y., yang selalu memberikan dukungan dan doa selama ini.

  5. Kedua adik saya L. Kristiawan Satria Sadyoga dan A. Kristi Septiani Setyaningwidhi yang selalu memberikan dukungan dan doa selama ini.

  6. Semua saudara yang telah memberikan dukungan dan doa kepada saya selama ini.

  7. Sahabat dan teman telah memberikan dukungan dan doa selama ini.

  8. Teman-teman seperjuangan PGSD ’09.

HALAMAN MOTTO

  

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan

kekekalan dalam hati mereka .”

(Pengkotbah, 3:11)

  

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan

mendapat; ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu.”

(Matius, 7:7)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 30 Mei 2013 Peneliti, Theresia Kristi Panca Wijayanti

  

PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma: Nama : Theresia Kristi Panca Wijayanti Nomor Mahasiswa : 091134027 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul:

  

Pengembangan Alat Peraga Penjumlahan dan Pengurangan Ala Montessori

untuk Siswa Kelas I SD Krekah.

  Beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk apa saja, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Yogyakarta, 30 Mei 2013 Yang menyatakan, Theresia Kristi Panca Wijayanti

  

ABSTRAK

  Wijayanti, Theresia Kristi Panca. (2013). Pengembangan alat peraga

  penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru

  Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma.

  

Kata kunci: metode penelitian pengembangan, alat peraga Montessori,

penjumlahan dan pengurangan, dan matematika.

  Alat peraga merupakan komponen penting dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. Alat peraga memudahkan siswa untuk memahami konsep yang abstrak melalui benda konkret. Sementara itu, salah satu metode pembelajaran yang menggunakan alat peraga dalam pembelajaran adalah metode Montessori. Fenomena yang terjadi, alat peraga Montessori masih mahal karena menggunakan bahan berstandar khusus dan belum diproduksi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan alat peraga Montessori untuk penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I SD semester genap SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.

  Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D). Langkah yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas 4 tahap yaitu, (1) kajian standar kompetensi dan kompetensi dasar, (2) analisis kebutuhan dan pengembangan perangkat pembelajaran, (3) produksi alat peraga Montessori untuk penjumlahan dan pengurangan, dan (4) validasi dan revisi produk, sehingga dihasilkan prototipe produk alat peraga Montessori untuk penjumlahan dan pengurangan kelas I semester genap.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I semester genap memiliki lima ciri, yaitu menarik, bergradasi, auto-

  education, auto-correction, dan kontekstual;

  dan (2) memiliki kualitas “sangat baik” berdasarkan skor rerata validasi produk dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, guru kelas I, dan siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta, serta peningkatan skor posttest siswa sebesar 73,44%. Dengan demikian alat peraga penjumlahan dan pengurangan yang dikembangkan sudah layak untuk digunakan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas I semester genap.

  

ABSTRACT

  Wijayanti, Theresia Kristi Panca. (2013). Developing a set of Montessori addition

  and subtraction materials for the

  1 grade students of Krekah Primary

  School, Yogyakarta. A Thesis. Yogyakarta: Primary School Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University.

  

Keywords: research and development method, Montessori method, Montessori

materials, addition and subtraction, and mathematics.

  Media are an important component of learning in Primary School. They help students to understand the abstract concepts through concrete objects. One of the learning methods that make use of materials is the Montessori Method. The Montessori materials, however, are still very expensive because they use special standardized material and have not been produced in Indonesia. The study was aimed at developing a set of Montessori addition and subtraction materials for the 1 grade students at Krekah Primary School, Yogyakarta in the second term of the academic year of 2012/2013.

  This study employed the Research and Development method (R&D). The development procedures consist of four steps: 1) examining the competency standard and the math concept, 2) analyzing the students' needs, 3) producing the Montessori addition and subtraction materials, and 4) validating and revising the prototype of Montessori addition and subtraction materials.

  The result of the research showed that 1) the set of Montessori addition and subtraction materials developed satisfied the five criteria. It was interesting/attractive, it contained a rational gradation of stimuli, auto-education, auto-correction, and it was contextual; and 2) it was measured as

  “very good” after a quality assessment involving a couple of Math education experts, the class teacher, and the group of students. The posttest scores of students increased by 73.44%. It could be concluded, therefore, that the developed Montessori material for addition and subtraction was appropriate and ready to test on a wider audience.

  

PRAKATA

  Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengembangan Alat Peraga Penjumlahan dan Pengurangan Ala

  

Montessori untuk Siswa Kelas I SD Krekah Yogyakarta . Skripsi ini disusun

  sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak maka skripsi ini tidak akan terwujud seperti adanya sekarang ini. Karena itu, dengan hati yang tulus perkenankanlah peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan, bantuan, dan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini.

  Ucapan terima kasih ini peneliti sampaikan kepada: 1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

  2. G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Kaprodi PGSD sekaligus pembimbing I yang telah memberikan bimbingan kepada peneliti dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dari awal penulisan skripsi hingga selesai.

3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. selaku Wakaprodi PGSD.

  4. Ag. Kustulasari 81, S.Pd., M.A. selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan bantuan kepada peneliti dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan.

  5. Wiyanta, S.Pd. selaku Kepala Sekolah SD Krekah Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian kepada peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah.

  6. Lisa Erviana, S.Pd.SD. selaku guru kelas I SD Krekah Yogyakarta yang telah memberikan ijin, bantuan, dan dan partisipasi dalam pelaksanaan penelitian.

  7. Veronika Fitri Rianasari, M.Si. selaku pakar pembelajaran matematika yang telah memberikan kontribusi dan bantuan dalam penelitian pengembangan ini.

  8. Andri Anugrahana, M.Pd. selaku pakar alat peraga yang memberikan kontribusi dan bantuan dalam penelitian pengembangan ini.

  9. Seluruh siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 yang telah memberikan waktu kepada peneliti untuk bekerja sama selama penelitian berlangsung 10. Kedua orang tua saya, Alexius Waluyo Subroto dan Lucia Muntiwi yang telah memberikan dukungan materi maupun moril kepada peneliti.

  11. Keempat kakak saya, Sr. Baptista, S. Kristanto Dwi A. U., C. K. Tri Werdiningtyas, dan M. Kristiarso Wibowo C. Y., yang selalu memberikan dukungan dan doa selama ini.

  12. Kedua adik saya L. Kristiawan Satria Sadyoga dan A. Kristi Septiani Setyaningwidhi yang selalu memberikan dukungan dan doa selama ini.

  13. Budhe Kus, Mas Bayu, dan Mas Nanang yang telah memberikan bantuan, fasilitas, dan dukungan selama penelitian.

  14. Teman-teman saya satu perjuangan skripsi payung Montessori, Dian Aprelia Rukmi, Mukti Sari Putri, dan Esterlita Pratiwi. Sebuah kebanggaan bisa berjuang bersama kalian.

  15. Sahabat-sahabat saya, Dian Aprelia Rukmi, Maria Yuanita Kurniasih, Yuni Darojatiningtyas, Martina Setyowati, Natalia Susanti, Risti Pamudji, Y. Sigit Dwi W., dan Bonaventura Ika A. R. Sebuah berkat dan keajaiban dapat mengenal dan berbagi cerita bersama kalian.

  16. Teman-teman PGSD angkatan 2009 kelas A, Deny Adventy S., Silvia Erawati, A. Risca Putantri, Maria Assumpta P. R., Debora Nareswari Widya P., Gorius Geor, Heronimus Yudi K., Yoga Dharmawan, dan semuanya yang selalu memberikan motivasi untuk terus berkembang.

  Selamanya kita tetap bersaudara.

  17. Teman-teman kelompok PPL SD Krekah Yogyakarta yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama pelaksanaan penelitian.

  18. Keluarga kecil di kos TB X No.12, Ibu Sri Wahyuningsih, Bapak Abdullah Edris, Natalia Susanti, Tari, Noni, Fakih, Noufal, dan Awan.

  19. Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih untuk bantuan, dukungan, dan doanya selama ini.

  Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak untuk perbaikan menuju lebih sempurnanya skripsi ini. Akhirnya semoga skripsi ini bermanfaat untuk dunia pendidikan. Terima kasih.

  Penulis, Theresia Kristi Panca Wijayanti

  

DAFTAR ISI

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Literature map penelitian-penelitian yang relevan ............................. 23Bagan 3.1 Langkah-langkah penelitian R&D menurut Sugiyono ....................... 27Bagan 3.2 Langkah-langkah penelitian R&D menurut Borg & Gall ................... 28Bagan 3.3 Prosedur penelitian pengembangan mengadopsi model Sugiyono dan

  Borg & Gall ......................................................................................... 30

  

DAFTAR TABEL

  Tabel 3.8.Tabel Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima menurut Sukardjo ................................................................................. 38

Tabel 4.2 Konversi Skala Lima ............................................................................ 52Tabel 4.3 Kriteria Skor Skala Lima ..................................................................... 53Tabel 4.8 Komentar Ahli terhadap Produk dalam Uji Validasi ........................... 55Tabel 4.9 Hasil Pretest dan Posttest .................................................................... 60

DAFTAR DIAGRAM

  Diagram 4.1. Diagram Perbandingan Hasil Pretest dan Posttest ......................... 61

  

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Instrumen Analisis Kebutuhan

  Lampiran 1.1 Kisi-kisi Wawancara ..................................................................... 71 Lampiran 1.2 Kisi-kisi Kuesioner ....................................................................... 71 Lampiran 1.3 Kuesioner Analisis Kebutuhan Terhadap Guru ............................ 72 Lampiran 1.4 Kuesioner Analisis Kebutuhan Terhadap Siswa .......................... 76 Lampiran 1.5 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa ............ 78

  Lampiran 2. Instrumen Validasi Ahli

  Lampiran 2.1 Kisi-kisi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Ahli .................... 80 Lampiran 2.2 Rekapitulasi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar

  Pembelajaran Matematika ............................................................ 80 Lampiran 2.3 Rekapitulasi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar Alat

  Peraga ........................................................................................... 81 Lampiran 2.4 Rekapitulasi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Guru Kelas I. ............................................................................................................................... 81 Lampiran 2.5 Resume Hasil Penilaian Alat Peraga oleh Para Ahli .................... 82

  Lampiran 3. Uji Coba Lapangan Terbatas dengan Tes

  Lampiran 3.1 Kisi-Kisi Kuesioner Pretest dan Posttest ...................................... 83 Lampiran 3.2 Sampel Pretest ............................................................................... 84 Lampiran 3.3 Sampel Posttetst ........................................................................... 85

  Lampiran 4. Kuesioner uji Coba Lapangan Terbatas

  Lampiran 4.1 Kisi-Kisi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa .................. 86 Lampiran 4.2 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa .. 86 Lampiran 4.3 Sampel Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa ..................... 87 Lampiran 5. Surat permohonan Ijin Penelitian ke SD ....................................... 89 Lampiran 6. Surat keterangan Telah Melaksanakan Penelitian dari SD ............ 90

  Lampiran 7. Dokumentasi Lampiran 7.1 Desain Alat Peraga

  Lampiran 7.1.1 Desain Kancing Penjumlahan dan Pengurangan ......................... 91 Lampiran 7.1.2 Desain Kotak Alat Peraga dan Tutupnya ................................... 92 Lampiran 7.1.3 Desain Kotak Soal ...................................................................... 93 Lampiran 7.2 Kancing Penjumlahan dan Pengurangan ....................................... 94 Lampiran 7.3 Uji Coba Lapangan Terbatas ......................................................... 95

  

Lampiran 8. Album Alat Peraga ..................................................................... 98

BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3)

  tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) spesifikasi produk yang dikembangkan, dan (6) definisi operasional.

1.1 Latar Belakang Siswa Sekolah Dasar (SD) merupakan anak-anak yang berusia 7-12 tahun.

  Pada usia ini anak memiliki karakteristik tersendiri dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut teori kognitif Jean Piaget anak usia 7-12 tahun berada pada tahap operasional konkret dan tahap awal operasi formal (Suparno, 2001:25). Pada tahap operasional konkret pemikiran anak sudah berdasarkan logika atau aturan logis tertentu. Anak sudah mampu memecahkan masalah dengan pemikiran yang lebih teratur dan terarah menggunakan logikanya namun masih terbatas pada masalah konkret. Pada tahap ini konsep akan bilangan, waktu, dan ruang juga semakin terbentuk. Pada aspek afektif anak mulai mencari teman dan menyadari bahwa orang lain memiliki pemikiran yang lain. Aspek psikomotorik ditandai dengan kesukaan anak pada usia ini untuk melakukan aktivitas motorik. Berdasarkan uraian ketiga aspek tersebut dapat diketahui bahwa anak pada usia SD memiliki karaktersitik tersendiri. Berkaitan dengan hal tersebut pentinglah menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

  Pembelajaran menurut Undang-Undang Pendidikan Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pengertian tersebut berarti bahwa hal pokok dalam pembelajaran adalah terciptanya komunikasi dua arah antara pendidik ke siswa, siswa ke pendidik, dan siswa ke siswa. Sementara itu, Sugiyono dan Hariyanto (2011:17) menyebutkan bahwa pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang saling bergantung dan terorganisir antara kompetensi yang harus diraih siswa, materi pelajaran, pokok bahasan, metode dan pendekatan pengajaran, media pengajaran, sumber belajar, pengorganisasian kelas, dan penilaian. Masing-masing komponen memiliki peran dan kontribusi bagi terlaksananya suatu pembelajaran. Pembelajaran akan berhasil apabila pemilihan dan penggunaan semua komponen tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran. Berkaitan dengan pengertian pembelajaran dalam UU Pendidikan No. 20 tahun 2003, pemilihan dan penggunaan komponen yang tepat dapat memfasilitasi terciptanya proses interaksi dua arah dalam pembelajaran. Pada pembelajaran bagi siswa SD salah satu komponen yang penting untuk mendukung terciptanya interaksi tersebut adalah media pembelajaran. Berkaitan dengan karakteristik siswa SD pada uraian sebelumnya, media yang dapat diupayakan dalam pembelajaran pada siswa SD adalah alat peraga.

  Salah satu metode pembelajaran yang menggunakan alat peraga adalah metode Montessori. Metode Montessori merupakan sebuah metode pembelajaran yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh Montessori, seorang dokter wanita Italia yang memiliki keprihatinan khusus terhadap dunia anak-anak dan pendidikan. Metode ini menekankan pembelajaran yang berbasis sensorial. Untuk mendukung hal tersebut Montessori membuat alat peraga atau didactic apparatus yang dapat digunakan oleh anak. Esensi dari metode Montessori terletak pada proses “normalisasi” seorang anak untuk berkembang. Anak memiliki kesempatan untuk berkembang secara alami sesuai dengan tuntunan dari lingkungannya.

  Dalam proses tersebut muncul motivasi intrinsik dari seorang anak untuk bekerja yang mendukung terciptanya konsentrasi penuh (flow theory) dan kemampuan untuk menjadi tuan atas dirinya (Kahn, 2003:1). Esensi tersebut didukung dengan filosofi Montessori terhadap anak, bahwa anak merupakan individu yang unik dan memiliki kemampuan melakukan sesuatu menggunakan kemampuannya sendiri sehingga patut untuk dihormati (Seldin, 2006:12). Metode ini berawal dari hasil observasi yang dilakukannya terhadap anak-anak didiknya di Casa Dei Bambini, sebuah sekolah yang didirikan untuk anak-anak yang kurang beruntung di daerah pinggiran Itali. Montessori berhasil membawa anak-anak tersebut lulus dalam ujian nasional yang diselenggarakan untuk anak-anak yang bersekolah di sekolah umum. Berdasarkan keberhasilan tersebut metode ini menjadi metode pembelajaran yang diakui oleh dunia.

  Metode Montessori bukan menjadi hal yang baru dalam pendidikan di Indonesia. Dewasa ini beberapa sekolah di Indonesia mulai menerapkan metode ini seiring dengan banyaknya penelitian yang mengungkapkan keberhasilan metode tersebut. Sekolah Montessori yang pertama di Indonesia berdiri pada tahun 1986 yaitu Jakarta Montessori School. Sekolah Montessori lain yag berkembang saat ini adalah Bali Montessori School, Sekolah Montessori di Bandung, Batam, dan Yogyakarta sendiri. Meskipun demikian sampai saat ini penerapan metode Montessori di Indonesia masih sebatas pada sekolah-sekolah swasta yang berlabel mahal. Hal tersebut menjadi fenomena yang wajar karena alat-alat peraga Montessori belum diproduksi di Indonesia dan masih menggunakan bahan terstandar khusus. Dari sejarahnya, metode ini bermula dari pelayanan pendidikan terhadap anak-anak pinggiran di Itali dan Montessori sendiri mengembangkan media pembelajaran berdasarkan hasil observasinya terhadap kesulitan belajar anak didiknya (Montessori, 2002:36). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya media pembelajaran Montessori dapat dikembangkan sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh penyelenggara pendidikan.

  Lokasi penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah SD Krekah yang terletak di Ds. Krekah, Gilangharjo, Kec. Pandak Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan didominasi wilayah pertanian. Rata-rata profesi orang tua siswa adalah petani dan buruh. Letak sekolah yang berada di pedesaan membuat sekolah ini memiliki beberapa potensi lokal yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran di antaranya hasil alam berupa pohon kelapa, rumput ilalang, pasir laut, batu, dan sabut kelapa.

  Berdasarkan wawancara terhadap kepala sekolah pada tanggal 24 November 2012 didapatkan bahwa sekolah masih menggunakan alat peraga secara terbatas karena minimnya alat peraga yang dimiliki. Selain itu berdasarkan wawancara dan observasi terhadap guru kelas dan tujuh siswa kelas I pada tanggal

  15 Januari 2013 didapatkan bahwa masih ada kesulitan dalam kemampuan penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I. Siswa mengalami kesulitan untuk penjumlahan dan pengurangan bilangan yang lebih dari 10. Peneliti juga mendapati masih minimnya penggunaan alat peraga oleh guru dalam pembelajaran. Guru sendiri menyampaikan bahwa alat peraga untuk kelas I masih minim, sebatas pada gambar-gambar, kartu huruf dan kartu bilangan. Alat-alat peraga tersebut biasanya hanya digunakan di awal semester untuk pengenalan konsep huruf dan bilangan. Guru juga menyampaikan pernah membuat alat peraga sendiri untuk perkalian bilangan dengan menggunakan konsep kelipatan namun media tersebut tidak bertahan lama.

  Antara kesempatan dan kesenjangan di atas peneliti berinisiatif untuk mengembangkan alat peraga ala Montessori dengan memanfaatkan potensi lokal sebagai upaya membuka akses yang lebih luas terhadap pendidikan yang berkualitas. Alat peraga yang akan dikembangkan oleh peneliti merupakan alat peraga untuk penjumlahan dan pengurangan sesuai dengan kebutuhan siswa kelas I dengan memanfaatkan potensi lokal di daerah sekitar sekolah.

  Penelitian ini dibatasi pada pengembangan alat peraga Montessori untuk kemampuan penjumlahan dan pengurangan pada mata pelajaran Matematika dengan Standar Kompetensi (SK) “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah

  ” dan Kompetensi Dasar (KD) “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka” pada siswa kelas I semester genap tahun ajaran 2012/2013 di SD Krekah Yogyakarta.

  1.2 Rumusan Masalah

  1.2.1 Bagaimanakah ciri-ciri alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013?

  1.2.2 Bagaimana kualitas alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013?

  1.3 Tujuan Penelitian

  1.3.1 Mengembangkan alat peraga Montessori sesuai ciri-ciri yang telah ditetapkan untuk melatih kemampuan penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.

  1.3.2 Mengembangkan alat peraga Montessori yang berkualitas untuk melatih kemampuan penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.

1.4 Manfaat Penelitian

  1.4.1 Bagi siswa Siswa kelas I semester genap di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 terbantu dalam belajar penjumlahan dan pengurangan menggunakan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori.

  1.4.2 Bagi guru Menambah referensi dalam penggunaan alat peraga penjumlahan dan pengurangan yang bersifat kontekstual.

  1.4.3 Bagi sekolah Menambah referensi penelitian pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan untuk kelas I semester genap.

  1.4.4 Bagi perkembangan ilmu pengetahuan Memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan SD khususnya pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan untuk kelas I semester genap yang bersifat kontekstual.

  1.4.5 Bagi peneliti Mendapatkan pengalaman baru dalam mengembangkan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori sebagai upaya pengaplikasian ilmu pengetahuan tentang Montessori.

1.5 Spesifikasi Produk

  Produk yang akan dikembangkan dalam penelitian ini adalah kancing penjumlahan dan pengurangan berupa satu set kancing emas. Satu set kancing emas terdiri atas kancing satuan, puluhan, ratusan dan ribuan. Alat peraga ini dilengkapi dengan kartu bilangan yang terdiri dari satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan serta album alat peraga. Album alat peraga berisi deskripsi alat peraga dan cara penggunaannya. Alat peraga penjumlahan dan pengurangan tersebut mengadaptasi alat peraga Montessori yaitu manik-manik emas.

  Pada alat peraga Montessori, manik-manik emas terdiri atas manik emas satuan, puluhan, ratusan dan ribuan. Manik emas satuan berupa manik-manik lepas berwarna emas. Manik emas puluhan berupa 10 manik emas satuan yang dironce menjadi satu puluhan. Manik emas ratusan berupa 10 manik emas puluhan yang dironce dengan diberi pemisah atau penanda untuk setiap 1 roncean manik puluhan dan dibentuk menjadi papan ratusan. Manik emas ribuan berupa 10 papan ratusan yang dibentuk menjadi sebuah kubus. Kartu bilangan terdiri atas kartu bilangan satuan berwarna hijau, kartu bilangan puluhan berwarna biru, kartu bilangan ratusan berwarna merah, dan kartu bilangan ribuan berwarna hijau.

  Pada penelitian ini, peneliti membatasi pengembangan produk berupa kancing emas dan kartu bilangan hanya sampai pada ratusan. Hal tersebut disebabkan dalam KTSP SD bilangan tertinggi yang dipelajari oleh siswa sampai dengan kelas VI adalah bilangan tiga angka atau ratusan. Dengan demikian alat peraga penjumlahan dan pengurangan tersebut berpotensi dapat digunakan secara berkelanjutan sampai dengan kelas VI. Meskipun demikian peneliti lebih menekankan penggunaan kancing satuan dan puluhan dalam penelitian ini, mengingat bilangan yang dipelajari di kelas I merupakan bilangan dua angka atau puluhan.

  Pengembangan produk dalam penelitian ini bersifat kontekstual yaitu menggunakan potensi lokal di sekitar lokasi penelitian. Peneliti menggunakan potensi lokal berupa tempurung kelapa sebagai bahan utama pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan. Tempurung digunakan sebagai bahan utama pembuatan kancing emas satuan, puluhan, dan ratusan. Tempurung tersebut dibentuk menjadi lingkaran-lingkaran kecil berbentuk kancing dengan ukuran diameter 2 cm kemudian diberi warna emas sesuai dengan manik emas Montessori. Langkah selanjutnya adalah kancing tersebut dironce menyerupai manik emas puluhan dan ratusan. Potensi lokal lainnya yang akan digunakan adalah papan kayu sebagai bahan untuk pembuatan tempat alat peraga penjumlahan dan pengurangan. Kartu bilangan dan album alat peraga akan dibuat dari bahan kertas yang memiliki kualitas baik sehingga dapat digunakan untuk jangka waktu yang lama.

1.6 Definisi Operasional

  1.6.1 Alat peraga Montessori adalah media pembelajaran berbentuk 3 dimensi yang menerapkan filosofi pembelajaran Montessori dan memiliki karakteristik yang berbeda dengan alat peraga pada umumnya.

  1.6.2 Album alat peraga penjumlahan dan pengurangan Montessori adalah buku panduan yang berisi materi pembelajaran, tema pembelajaran, nama alat peraga, tujuan pembelajaran, dan presentasi penggunaan alat peraga, serta beberapa latihan soal.

  1.6.3 Penjumlahan bilangan adalah materi dalam mata pelajaran Matematika SD berupa operasi bilangan yang menjumlahkan suatu bilangan dengan bilangan lainnya sehingga menghasilkan bilangan tertentu dan menggunakan simbol (+) dalam operasi tersebut.

  1.6.4 Pengurangan bilangan adalah materi dalam mata pelajaran Matematika SD berupa operasi bilangan yang mengurangkan suatu bilangan dengan bilangan lainnya sehingga menghasilkan bilangan tertentu dan menggunakan simbol (-) dalam operasi tersebut.

  1.6.5 Kontekstual adalah segala sesuatu yang berada di suatu tempat atau daerah dan berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi benda yang memiliki kegunaan.

  1.6.6 Alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori yang bersifat kontekstual adalah alat peraga penjumlahan dan pengurangan yang mengadaptasi alat peraga Montessori dan dikembangkan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar.

  1.6.7 Siswa SD adalah siswa kelas I semester 2 SD Krekah, Bantul, Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa 27 yang terdiri atas 14 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan.

BAB II LANDASAN TEORI Dalam bab ini, pembahasan tentang landasan teori dibagi menjadi empat

  bagian, yaitu (1) kajian pustaka, (2) penelitian yang relevan, (3) kerangka berpikir, dan (4) hipotesis.

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Metode Montessori

2.1.1.1 Sejarah Metode Montessori

  Metode Montessori merupakan metode pembelajaran yang diperkenalkan oleh Maria Montessori. Montessori adalah seorang dokter wanita pertama di Italia yang lahir pada tanggal 31 Agustus 1870. Minat Montessori pada pendidikan anak-anak khususnya anak bermasalah muncul ketika bekerja di klinik psikiatri. Rasa ketertarikan Montessori pada pendidikan anak-anak bermasalah membawanya mempelajari penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh para pendahulunya seperti Phillipe Pinel, Jean Marc Gaspare Itard dan Eduard Seguin. Menurut Seguin pendidikan harus mencakup berbagai aspek yang meliputi kegiatan muskular dan sensorial, pendidikan intelektual dan pendidikan moral yang di dalamnya terdapat “kemauan” anak atau “will” (Montessori, 2002:30).

  Montessori mulai masuk dalam bidang pendidikan dengan mendirikan atau Children's House tahun 1907 di Roma. Casa dei Bambini

  Casa dei Bambini merupakan sebuah sekolah bagi siswa dari golongan pinggiran dan miskin.

  Kepekaan Montessori dalam menangani anak-anak dan kemampuannya mengelola sekolah dengan melibatkan keluarga berhasil membawa anak-anak yang kurang beruntung tersebut memperoleh hasil optimal pada ujian negara (Montessori, 2002:38). Keberhasilan lainnya adalah Montessori berhasil membawa anak-anak pinggiran membaca dan menulis pada usia dini dan menunjukkan kemampuan untuk peduli terhadap diri mereka sendiri (Hainstock, 1997:58). Melalui Casa dei Bambini, Montessori menemukan metode untuk membantu anak didiknya belajar, hasil dari trial and eror yang Montessori lakukan dengan inspirasi dari pemikiran Itard dan Sequin (1846).

2.1.1.2 Karakteristik Metode Montessori

  Slogan yang digunakan oleh sekolah-sekolah Montessori dan mewakili esensi dari metode Montessori adalah Teach Me to Do It Myself. Slogan tersebut mengandung makna bahwa Montessori mempercayai kemampuan seorang anak untuk bekerja dan menemukan cara belajarnya sendiri (Seldin, 2006:12). Anak dipercaya dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Filosofi tersebut mendukung anak untuk membantu anak menjadi tuan atas dirinya sendiri. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Koh dan Frick dalam penelitiannya mengenai metode Montessori. Koh dan Frick (2010:1) menyatakan bahwa pendidikan Montessori muncul dari filosofinya mengenai membantu anak untuk menjadi tuan atas dirinya dan mandiri. Seorang anak dikatakan akan melakukan belajar ketika anak tersebut sudah siap dan mau untuk belajar. Filosofi tersebut menunjukkan bahwa metode Montessori menghormati kebebasan setiap individu untuk belajar. Kebebasan yang dimaksudkan adalah kebebasan kepada setiap anak untuk tertarik, memilih, dan melakukan kegiatan yang membantu perkembangan dirinya selama hal tersebut tidak mengganggu orang lain (Montessori, 2002:95). Kebebasan menurut Montessori bukanlah membiarkan anak melakukan hal sesuka hatinya tanpa ada batasan melainkan memberikan kesempatan penuh kepada anak untuk berkembang dengan batasan tidak mengganggu kepentingan orang lain. Hasil dari kebebasan tersebut adalah sikap disiplin aktif yaitu anak dapat mengatur dan mengarahkan tindakannya sendiri, anak menjadi tuan atas dirinya (Montessori, 2002:86). Dalam hal ini masing-masing anak akan berkembang sesuai dengan kesiapannya sehingga dalam metode ini hasil belajar yang dicapai oleh setiap anak pun akan berbeda.

  Pendidik dalam metode Montessori berperan sebagai teman sekaligus observer di kelas. Pendidik memberikan bantuan kepada anak hanya ketika benar- benar dibutuhkan karena anak dipercaya dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Sebagai observer, pendidik mengamati kemajuan yang dilakukan oleh setiap anak dalam setiap hari, meskipun hanya berupa kemajuan kecil.

  Karakteristik lain dari metode Montessori adalah pembelajaran yang berbasis panca indera yang bertujuan mempertajam kepekaan indera seorang anak (Dewantara, 1962:272). Menurut Montessori pendidikan yang berbasis panca indera penting bagi anak karena perkembangan indera anak berlangsung lebih awal dibandingkan perkembangan intelektualnya (Montessori, 2002:215-223). Perkembangan penginderaan yang tepat menjadi hal yang penting bagi anak karena perkembangan indera merupakan persiapan bagi pendidikan intelektual seorang anak. Berdasarkan hal tersebut Montessori mempersiapkan materi-materi didaktis (alat peraga) untuk mendukung pendidikan yang berbasis panca indera. Alat peraga tersebut diproduksi oleh Montessori sendiri dengan mendasarkan pada pemikiran Itard dan Seguin (Hainstock, 1997:13). Montessori menciptakan alat peraga sesuai dengan keterampilan yang ada dalam tahap perkembangan anak, yaitu keterampilan hidup sehari-hari, bahasa, matematika, geografi, kesenian, pengetahuan alam, dan budaya.

  Berdasarkan karakteristik metode Montessori terdapat tiga kriteria mengenai bagaimana pembelajaran semestinya diberikan kepada anak, yaitu (1) singkat, (2) sederhana, dan (3) objektif (Montessori, 2002:108). Pelajaran sebaiknya diberikan dengan singkat. Singkat yang dimaksudkan adalah menghilangkan kata-kata yang tidak berguna dalam pembelajaran. Ketika seorang pendidik mempersiapkan pelajaran yang akan diberikannya, pendidik mesti sungguh-sungguh mempertimbangkan bobot kata-kata yang akan diucapkannya untuk menilai perlu tidaknya kata-kata tersebut. Pelajaran sebaiknya sederhana. Sederhana yang dimaksudkan adalah pemilihan kata-kata yang akan digunakan haruslah merupakan kata yang paling sederhana dan mengacu pada kebenaran. Pelajaran sebaiknya objektif. Dalam hal ini, pelajaran diberikan kepada anak dengan semestinya, guru tidak boleh menarik perhatian anak kepada dirinya melainkan hanya kepada objek yang ingin guru terangkan. Penjelasan singkat dalam pembelajaran haruslah merupakan penjelasan mengenai objek yang akan dipelajari oleh anak.

  Secara garis besar karakteristik metode Montessori tampak pada penerapan filosofi yang digunakan dalam pembelajaran, tugas pendidik, dan adanya alat peraga. Ketiga komponen tersebut menunjukkan bahwa metode Montessori merupakan metode pembelajaran yang berlandaskan pada perkembangan anak dengan pembelajaran yang berbasis panca indera. Kebebasan anak untuk melakukan tugas-tugas perkembangan dalam usianya sesuai dengan kemampuannya sangat dihormati dalam metode ini. Keberhasilan dari metode ini dilihat dari keberhasilan anak melakukan suatu tugas perkembangan sesuai dengan kesiapan dan kemampuan anak.

2.1.2 Karakteristik Alat Peraga Montessori

  Alat peraga Montessori diciptakan oleh Montessori sendiri berdasarkan hasil observasi terhadap anak didiknya di Casa dei Bambini (Montessori, 2002:36 & 81). Alat peraga tersebut berfungsi sebagai sumber belajar sekaligus guru bagi anak ketika belajar sehingga memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan alat peraga pada umumnya. Alat peraga Montessori memiliki empat karakteristik, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, dan (4) auto-correction (Montessori, 2002:170-176). Berikut ini merupakan uraian dari keempat karakteristik alat peraga Montessori.

  2.1.2.1 Menarik

  Alat peraga Montessori diciptakan menarik dengan memiliki nilai keindahan baik dari segi warna dan kecerahannya. Warna-warna yang dipakai pada alat peraga Montessori merupakan warna yang lembut, terang dan menunjukkan langsung ketika ada ketidakharmonisan dengan lingkungan sekitarnya seperti adanya coretan atau noda. Alat peraga yang diciptakan menarik perhatian anak dengan tujuan anak dapat memegang dan merasakan alat tersebut. Hal tersebut menciptakan pembelajaran sensorial atau education of senses dalam metode Montessori (Montessori, 2002:174).

  2.1.2.2 Bergradasi

  Alat peraga Montessori memiliki gradasi rangsangan yang rasional (Montessori, 2002:175). Penekanan gradasi terletak pada keterlibatan lebih dari satu indera dalam pembelajaran Montessori. Ketika anak bermain menggunakan alat peraga Montessori lebih dari satu indera terlibat dalam kegiatan tersebut sehingga memunculkan rangsangan rasional yang bergradasi. Dua hal yang tampak pada alat Montessori berkaitan dengan karakteristik ini adalah bentuk dan warna alat. Kedua hal tersebut mampu melibatkan lebih dari satu indera pada anak ketika menggunakan alat tersebut.

  Salah satu contoh alat peraga yang memiliki gradasi bentuk adalah Pink

Tower . Alat peraga ini terdiri atas 10 kubus dengan ukuran yang bergradasi. Kubus pertama berukuran 10 cm untuk setiap sisinya. Kubus kedua berukuran 1 cm lebih kecil dari kubus pertama. Kubus ketiga berukuran 1 cm lebih kecil dari kubus kedua dan begitu seterusnya sampai kubus kesepuluh. Anak akan berlatih menyusun kubus-kubus tersebut dari ukuran paling besar ke ukuran paling kecil dan membentuk sebuah menara (Montessori, 2002:174).

  Gradasi warna tampak pada alat peraga papan warna. Papan warna merupakan alat peraga yang digunakan anak untuk belajar mengenai berbagai jenis warna. Pada papan warna, satu warna misal warna hijau akan dikenalkan secara gradasi dari hijau muda, lebih tua dan paling tua, begitu juga dengan warna yang lain.

  Gradasi juga tampak pada penggunaan alat peraga Montessori yang bertahap atau memiliki kelanjutan. Salah satu contohnya adalah alat peraga manik-manik bilangan. Manik-manik bilangan terdiri atas manik bilangan satuan dan manik-manik emas. Pada tahap awal manik satuan digunakan untuk mengenalkan sistem desimal yang kemudian dilanjutkan dengan manik emas untuk pengenalan konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

2.1.2.3 Auto-education

  Setiap alat peraga Montessori diciptakan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak, baik dari segi ukuran maupun beratnya. Tujuan dari hal ini adalah anak dapat bekerja menggunakan alat peraga dengan dirinya sendiri. Tujuan lainnya adalah anak dapat mengetahui sendiri suatu konsep atau pengetahuan baru melalui bekerja menggunakan alat peraga. Sebagai salah satu contohnya adalah satu set blok incastri solidi yang terdiri dari 10 kayu-kayu berbentuk silinder dengan ukuran bergradasi sekitar 2 mm yang disebut dengan

  incastri (Montessori, 2002:169).

  Permainan yang dilakukan dengan alat peraga ini adalah anak memasangkan setiap silinder dengan lubang yang tepat. Bagi anak permainan ini sangat menarik. Anak akan berusaha menyelesaikan sendiri permainan tersebut, anak tidak ingin ada intervensi dari orang lain meskipun berupa bantuan. Pengetahuan yang diperoleh anak dari permainan ini adalah anak mempelajari hubungan antara setiap incastri dengan lubang pada blok. Setiap incastri memiliki ukuran yang berbeda dan begitu pula dengan lubang pada blok. Anak mempelajari bahwa setiap incastri akan masuk pada lubang yang tepat sesuai dengan ukuran

  

incastri tersebut dan begitu sebaliknya. Secara garis besar dapat disimpulkan

  bahwa anak belajar mengenai dimensi ukuran pada alat tersebut (Montessori, 2002:170).

2.1.2.4 Auto-correction

  Alat peraga Montessori selalu memiliki pengendali kesalahan. Tujuan dari adanya pengendali kesalahan adalah anak dapat mengetahui dengan sendirinya tanpa diberitahu oleh orang lain ketepatan dan kebenaran dari aktivitas yang dilakukannya bersama alat peraga tersebut. Sebagai contoh pada permainan menggunakan incastri solidi.

  Ketika anak memasukkan incastri pada lubang yang tidak tepat, yang terjadi adalah incastri tidak dapat masuk ke dalam lubang atau incastri dapat masuk ke dalam lubang tetapi dengan menyisakan tempat yang longgar. Anak akan menyadarinya kemudian mengeluarkan kembali incastri tersebut dan mencoba memasukkan pada lubang yang lain. Anak akan mengulang permainan ini sampai beberapa kali hingga anak dapat memasukkan incastri pada lubang yang tepat dan merasa puas (Montessori, 2002:171). Dari permainan tersebut anak dapat mengetahui sendiri kesalahan yang dilakukannya dan memperbaiki kesalahannya tanpa harus diberi tahu oleh orang lain.

  Selain alat peraga, lingkungan dalam pembelajaran Montessori juga dipersiapkan dengan memilki pengendali kesalahan, misalnya kursi dan meja yang digunakan oleh anak-anak (Montessori, 2002:83). Apabila anak melakukan gerakan yang tidak tepat ketika duduk atau berdiri, anak dapat menciptakan suara dari kursi atau meja di dekatnya, dengan demikian anak mengetahui bahwa gerakan yang dilakukannya tidak tepat.

  Pada penelitian ini, peneliti menggunakan keempat karakteristik tersebut sebagai pedoman dalam mengembangkan alat peraga penjumlahan dan pengurangan. Peneliti juga menambahkan satu karakteristik yaitu kontekstual dalam pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan. Dengan demikian terdapat lima karakteristik yang digunakan oleh peneliti sebagai pedoman dalam pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan.

  Karakteristik pertama, menarik terletak pada warna kancing penjumlahan dan pengurangan. Karakteristik ke dua, bergradasi yang terletak pada keterlibatan lebih dari satu indera ketika alat peraga digunakan oleh anak. Indera penglihatan dan peraba digunakan oleh anak ketika belajar menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan. Selain itu gradasi juga terletak pada potensi alat yang dapat digunakan secara berkelanjutan untuk kelas selanjutnya dengan materi yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan. Karakteristik ke tiga, auto-

  

education terletak pada penggunaan kancing penjumlahan dan pengurangan oleh

siswa secara mandiri untuk mengenal konsep dan melakukan latihan.

  Karakteristik ke empat, auto-correction terletak pada kancing penjumlahan yang memiliki bentuk berbeda antara satuan, puluhan, dan ratusan. Selain itu kartu bilangan juga berfungsi sebagai pengendali kesalahan dalam penggunaan alat peraga oleh anak. Pengendali kesalahan juga terletak pada kunci jawaban yang terletak pada halaman sebalik kartu soal. Karakteristik ke lima, kontekstual terletak pada bahan yang digunakan oleh peneliti dalam membuat kancing penjumlahan dan pengurangan, yaitu tempurung kelapa. Bahan tersebut merupakan potensi lokal yang ada di lingkungan sekitar sekolah dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan kancing.

2.1.3 Alat Peraga Penjumlahan dan Pengurangan Ala Montessori

  Keterampilan penjumlahan dan pengurangan menggunakan metode Montessori dimulai dengan pengenalan konsep penjumlahan dan pengurangan statis (tanpa teknik menyimpan) dan dinamis (dengan teknik menyimpan) yang kemudian diikuti dengan latihan-latihan. Alat peraga yang digunakan untuk pengenalan konsep penjumlahan dan pengurangan terdiri atas satu set manik- manik emas dan kartu bilangan.

  Manik-manik emas terdiri atas manik emas satuan, puluhan, ratusan dan ribuan. Kartu bilangan terdiri atas satuan dengan warna hijau, puluhan dengan warna biru, ratusan dengan warna merah dan ribuan dengan warna hijau. Semua alat peraga tersebut biasanya diletakkan dalam suatu kotak sebagai tempat penyimpan.

  Latihan penjumlahan bilangan terdiri atas beberapa permainan, yaitu pengenalan konsep penjumlahan dinamis dan statis menggunakan manik-manik emas, latihan penjumlahan dinamis dan statis dengan lembar kerja, permainan ular positif 1° yang menggunakan manik-manik satuan, permainan ular positif 2° yang menggunakan manik-manik satuan dan emas puluhan, dan permainan ular positif 3° yang menggunakan manik-manik satuan, manik emas puluhan, dan manik- manik hitam putih. Permainan ular positif 1° berupa permainan menyusun manik- manik satuan membentuk sebuah piramid. Permainan ular positif 2° berupa permainan penjumlahan dinamis dan statis dengan merubah susunan manik-manik satuan yang memiliki nilai 10 dengan sebuah manik emas sehingga menjadi sebuah ular emas. Permainan ular positif 3° terdiri atas dua buah permainan yaitu permainan menyusun manik-manik hitam putih menjadi piramid dan permainan merubah susunan manik-manik satuan menjadi ular emas berekor hitam atau putih. Manik hitam putih merupakan manik-manik satuan dengan warna hitam untuk manik 1-5 sedangkan warna hitam putih untuk manik 6-9.

  Sementara latihan pengurangan terdiri dari pengenalan konsep pengurangan statis dan dinamis dengan manik-manik emas, pengurangan statis dengan permainan stamp, pengurangan dinamis dengan permainan stamp, dan permainan ular negatif. Permainan stamp merupakan permainan yang menggunakan alat peraga berupa papan bilangan dengan warna bilangan satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan sama dengan warna kartu bilangan, yaitu hijau untuk satuan dan ribuan, biru untuk puluhan, dan merah untuk ratusan (Album Matematika Montessori: Anak Usia 6-9 tahun, 2011).

2.1.4 Materi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan di Kelas I SD

  Matematika merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang dipelajari oleh siswa sekolah dasar. Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2007, tujuan dari matematika adalah membangun kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Materi yang menjadi ruang lingkup matematika di SD adalah bilangan, geometri dan pengukuran, pengolahan data.

  Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penjumlahan dan pengurangan bilangan untuk siswa kelas I semester genap. SK yang digunakan adalah “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah” dengan KD “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka”. Materi penjumlahan terdiri atas penjumlahan bilangan satu angka dengan satu angka, penjumlahan bilangan dua angka dengan satu angka, dan penjumlahan bilangan dua angka dengan dua angka. Materi pengurangan terdiri atas pengurangan bilangan satu angka dengan satu angka, pengurangan bilangan dua angka dengan satu angka, dan pengurangan bilangan dua angka dengan dua angka. Jenis bilangan yang digunakan dalam materi penjumlahan dan pengurangan merupakan bilangan kardinal karena menunjukkan sebuah kuantitas. Bilangan ini digunakan untuk meyatakan hitungan dalam menghitung benda, menghitung umur, dan waktu. Konsep yang perlu dikuasai oleh siswa sebelum melakukan penjumlahan dan pengurangan adalah nilai tempat sebuah bilangan. Berkaitan dengan materi penjumlahan dan pengurangan kelas I, siswa perlu menguasai konsep nilai tempat untuk menentukan nilai satuan dan puluhan dari sebuah bilangan. Penguasaan terhadap konsep tersebut membantu siswa untuk melakukan penjumlahan dan pengurangan dengan konsep dan langkah yang benar.

2.1.5 Karateristik Perkembangan Siswa SD Usia rata-rata anak yang mengenyam pendidikan di SD adalah 7-12 tahun.

  Pada usia ini, anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang meliputi aspek fisik-motorik, bahasa, sosial, emosi, dan intelektual (Yusuf & Sugandhi, 2001:59).

  Perkembangan aspek fisik-motorik anak ditandai dengan kemajuan berbagai kemampuan motorik halus dan kasar, misalnya menggambar, menulis, berjalan, berlari, berbaris, bermain sepak bola, dan sebagainya. Anak sudah mampu mengkoordinasi gerak atau aktivitas motoriknya dengan baik. Gerak yang dilakukan anak memiliki tujuan yang jelas, misalnya (1) menggerakkan tangan untuk menulis, menggambar, menggunting, melempar, dan sebagainya; (2) menggerakkan kaki untuk berjalan, berlari, menendang bola, dan sebagainya, dan

  (3) menggerakkan kepala untuk menggeleng atau menggangguk. Perkembangan bahasa anak ditunjukkan dengan peningkatan jumlah kata yang dikuasai oleh anak. Syamsuddin dan Syaodih (2001:62) menyebutkan bahwa pada usia awal SD seorang anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata dan bertambah menjadi 5.000 kata di akhir fase ini. Selain itu anak pada usia ini juga sudah mampu mengkomunikasikan gagasannya melalui bahasa lisan dan tulisan menggunakan kalimat yang sederhana.

  Perkembangan emosi anak pada usia ini terlihat pada kelas tinggi (4,5, dan 6) yang ditandai dengan kemampuan untuk mengontrol ekspresi emosi diri (Yusuf & Sugandhi, 2001:63). Anak memperoleh kemampuan tersebut melalui peniruan dan latihan. Anak meniru orang yang lebih dewasa dalam menunjukkan ekspresi emosi diri. Perkembangan tersebut diiringi dengan perkembangan sosial anak. Pada usia ini seorang anak mulai belajar untuk bergaul dan bekerja dalam kelompok. Anak mulai memperluas interaksi sosial yang dilakukannya, tidak lagi terbatas pada keluarga tetapi mulai bergaul dengan teman sebaya (Yusuf & Sugandhi, 2001:66). Perkembangan sosial anak juga ditunjukkan dengan cara pikir anak yang sosiosentris atau memperhatikan kepentingan orang lain. Anak tidak lagi memandang suatu hal hanya dari dirinya (egoisentris) dan menyadari bahwa orang lain juga memiliki pandangan yang berbeda dari dirinya. Anak mulai menyesuaikan dirinya dengan orang lain dalam interaksi sosial.

  Perkembangan kognitif anak didasarkan pada teori kognitif Piaget dalam tahap operasional konkret. Tahap ini memiliki ciri yaitu adanya perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Anak sudah memperkembangkan operasi-operasi logis yang bersifat reversible yaitu. suatu pemikiran yang dapat dimengerti dalam dua arah atau suatu pemikiran yang dapat dikembalikan kepada awalnya lagi (Suparno, 2001:69). Anak mulai menggunakan operasi-operasi logis tersebut dalam pemecahan masalah. Anak juga mampu menganalisis masalah dari berbagai segi. Meskipun begitu tahap ini tetap ditandai dengan sistem operasi yang didasarkan pada hal-hal atau benda yang kelihatan nyata/konkret.

  Karakteristik perkembangan anak usia 7-12 tahun dilihat dari teori perkembangan anak yang dibuat oleh Montessori termasuk ke dalam tahap

  

fanciulezza (6-12 tahun). Pada tahap ini seorang anak memiliki beberapa periode

  sensitif yang meliputi (1) periode sensitif untuk logika dan pembenaran dengan ditandai banyaknya pertanyaan menggunakan kata “mengapa”, (2) periode sensitif untuk perkembangan imajinasi, (3) periode sensitif untuk perkembangan moral, (4) periode sensitif untuk perkembangan rasa berkelompok, dan periode (5) sensitif untuk keterampilan fisik.

  Berdasarkan uraian di atas karakteristik perkembangan anak usia 7-12 tahun ditandai dengan beberapa kemajuan dalam aspek motorik, bahasa, emosi, sosial, dan kognitif. Secara umum anak pada usia ini berada pada masa puncak senang melakukan aktivitas motorik, memiliki rasa ingin tahu yang besar yang menyebabkan anak banyak bertanya, mulai mencari teman dengan cara pikir yang sosiosentris, dan kemampuan kognitif anak dalam memecahkan masalah-masalah yang konkret dengan menggunakan logika.

2.1.5.1 Karakteristik Perkembangan Siswa SD Kelas I (7-8 tahun)

  Kelas I SD merupakan kelas pertama yang dilalui oleh anak dalam mengeyam pendidikan di SD. Usia minimal anak menurut UU No. 20 tahun 2003 untuk masuk ke SD adalah 7 tahun. Secara umum karakteristik perkembangan siswa SD kelas I hampir sama dengan karakteristik perkembangan siswa SD pada umumnya. Anak pada usia ini senang bermain, bergerak, bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan sesuatu secara langsung (Desmita, 2009:35).

  Berdasarkan teori perkembangan kogitif Piaget, anak pada usia ini berada dalam tahap operasional konkret. Anak sudah mengalami kemajuan dalam cara berpikir menggunakan aturan-aturan logis namun masih terbatas pada hal-hal yang konkret. Menurut Montessori anak pada usia 6-12 tahun memiliki periode sensitif untuk logika dan pembenaran. Hal tersebut yang melatarbelakangi pada usia siswa kelas I SD anak sering bertanya pada orang dewasa dan senang belajar ketika dapat merasakan sesuatu secara langsung. Anak pada usia ini juga senang melakukan berbagai aktivitas motorik. Anak senang untuk bergerak dan melakukan kegiatan bersama dengan teman. Menurut teori perkembangan anak milik Montessori, hal tersebut merupakan hal yang wajar karena pada usia ini anak memiliki periode sensitif untuk mengembangkan rasa berkelompok atau sosial.

2.2 Penelitian yang Relevan

2.2.1 Pengembangan Alat Peraga Penjumlahan dan Pengurangan

  Beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan dalam pembelajaran di SD di antaranya adalah penelitian oleh Letten (2010), Suryati (2012), dan Kristinawati (2012).

  Letten (2010) meneliti keefektifan penggunaan metode demonstrasi menggunakan media kertas berwarna untuk meningkatkan kemampuan berhitung dalam operasi penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I SDK Kotabaru Yogyakarta. Penelitian tersebut berhasil dengan ditunjukkan adanya peningkatan sebesar 90,90% pada kemampuan penjumlahan dan pengurangan yang dimiliki oleh siswa.

  Suryati (2012) meneliti peningkatan perhatian siswa kelas 3 SD Negeri 02 Sambirejo tahun pelajaran 2011/2012 dalam pembelajaran matematika penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan penggunaan media botol hijau kuning. Hasil yang diperoleh ditunjukkan dengan 33,33%, dari seluruh siswa di kelas mencapai ketuntasan belajar dan pada siklus II persentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebesar 96,29%.

  Kristinawati (2012) meneliti peningkatan pemahaman operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah menggunakan permainan kartu bridge pada siswa kelas II SDN 01 Gemantar Jumantono. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peningkatan nilai rata-rata siswa pada siklus I sebesar 6,56 dan pada siklus II meningkat menjadi 7,30.

  Secara garis besar ketiga penelitian di atas meneliti efektivitas penggunaan alat peraga dalam pembelajaran dengan tujuan meningkatkan pemahaman siswa tentang materi yang disampaikan. Hasil dari ketiga penelitian di atas menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa setelah mengalami pembelajaran menggunakan alat peraga. Berdasarkan studi literatur penelitian di Indonesia mengenai pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan bilangan peneliti belum menemukan satu pun jenis penelitian yang berupa penelitian dan pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan bilangan.

2.2.2 Penelitian tentang Metode Montessori

  Penelitian yang berkaitan dengan metode Montessori dilakukan oleh , Rathunde (2003), Lillard & Else-Quest (2006) dan Koh & Frick (2010). Rathunde (2003) meneliti perbandingan motivasi, kualitas pengalaman, dan sosial pada sekolah Montessori dengan sekolah menengah tradisonal. Penelitian ini dilakukan terhadap 150 siswa kelas VI dan VIII (60% perempuan dan 40% laki-laki) dari lima sekolah Montessori yang berada di empat negara bagian Amerika Serikat dan 400 siswa kelas VI dan VIII dari dua puluh sekolah menengah tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) siswa Montessori lebih memiliki pengaruh yang tinggi, potensi (semangat dan giat), motivasi intrinsik (kesenangan dan ketertarikan), dan pengalaman berkonsentrasi penuh (flow experience) terhadap tugas akademik di sekolah dan (2) siswa Montessori memiliki kesan yang lebih baik terhadap sekolah dan guru, memiliki persepsi yang positif terhadap teman sekelas (menerima mereka lebih dari sekedar teman atau teman sekelas). Secara umum, siswa Montessori lebih sedikit menghabiskan waktu di kelas mendengarkan untuk pengajaran dan melihat media. Sementara itu siswa Montessori lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dengan alat peraga dan penguasaan diri.

  Lillard & Else-Quest (2006) meneliti pencapaian nilai akademik dan sosial siswa Montessori dibandingkan dengan siswa sekolah dasar lainnya. Pada penelitiannya Lillard dan Else-Quest membentuk kelompok eksperimen dan kontrol. Kelompok eksperimen dalam penelitian tersebut adalah siswa sekolah Montessori yang terletak di Milwaukee, Misconsin. Sekolah tersebut merupakan sekolah yang melayani sebagian besar anak-anak yang termarginalkan pada daerah tersebut dan sudah diakui oleh cabang Association Montessori

  

Internationale (AMI/USA) di Amerika. Kelompok siswa tersebut berusia 3-6

  tahun dan 6-12 tahun. Kelompok eksperimen dalam penelitian tersebut adalah 40 siswa dari 27 sekolah publik, 13 siswa dari 12 suburban public, private/voucher, atau charter schools. Kebanyakan dari sekolah publik tersebut menggunakan special program seperti kurikulum untuk anak gifted dan talented, language

  

immersions , seni dan pembelajaran berbasis discovery (2006:1893). Hasil

  penelitian ini terdiri atas dua hal, yaitu (1) siswa Montessori usia 3-6 tahun menunjukkan hasil yang lebih baik dalam tes membaca dan matematika, memiliki dorongan yang positif dalam berinteraksi dengan orang lain, menunjukkan kemajuan dalam kesadaran sosial, dan peduli terhadap kejujuran serta keadilan, dan (2) siswa Montessori usia 6-12 tahun lebih kreatif dalam membuat essay dengan susunan kalimat yang lebih kompleks, selektif dalam memberikan respon yang positif terhadap masalah-masalah sosial, dan menunjukkan perasaan yang peka terhadap komunitasnya di sekolah. Secara garis besar, kedua hasil tersebut menunjukkan pencapaian skor akademik dan sosial siswa Montessori lebih tinggi dari kelompok kontrol.

  Koh & Frick (2010) meneliti penerapan dukungan untuk kebebasan individu (autonomy support) dalam kelas Montessori. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik guru yang memiliki autonomy support dalam kelas Montessori dan bagaimana hal tersebut berpengaruh terhadap motivasi intrinsik siswa dalam bekerja. Penelitian ini dilakukan terhadap guru dan asistennya pada sekolah Montessori serta kelas Montessori yang terdiri dari 28 siswa yang berusia 9-11 tahun, sejajar dengan kelas 4-6 pada sekolah dasar tradisional. Penelitian ini dilakukan di salah satu sekolah Montessori yag terletak di Indiana, USA. Hasil penelitian ini terdiri atas dua hal, yaitu (1) guru dan asistennya memiliki stategi yang sesuai dengan filosofi Montessori dalam mendukung kemandirian siswa dan (2) siswa Montessori memiliki motivasi intrinsik yang tinggi dalam mengerjakan tugasnya. Berkaitan dengan hasil yang pertama, guru dan asistennya mendukung kemandirian siswa melalui memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih sendiri jenis aktivitas yang akan dilakukannya dan teman bekerjanya. Guru mengembangkan kemandirian berpikir siswa melalui pemberian dorongan terhadap kebebasan berpikir siswa, inisiatif diri, dan menghormati pendapat siswa. Dalam menerapkan kontrol, guru dan asistennya mengakui dan menghargai perasaan siswa, mendukung rasional untuk tingkah laku yang diharapkan, dan menekan kecaman. Berkaitan dengan hasil yang ke dua, siswa Montessori memiliki kecenderungan untuk mengerjakan setiap tugas belajarnya dikarenakan siswa menyadari pentingnya aktivitas tersebut untuk dirinya dan tujuan yang dicapai dari aktivitas tersebut. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa filosofi Montessori mendukung anak untuk dapat menjadi tuan atas dirinya sendiri dan mandiri (2010:12).

  Ketiga penelitian terhadap metode Montessori tersebut menunjukkan bahwa metode Montessori berpengaruh positif terhadap perkembangan diri seorang anak secara menyeluruh. Hal tersebut ditunjukkan dengan tingginya motivasi intrinsik, kemandirian, pencapaian nilai akademik, dan tingkah laku (sosial) seorang anak ketika belajar di sekolah Montessori. Seorang anak mengalami perkembangan secara alami baik dalam kemampuan maupun kepribadiannya. Hal tersebut sesuai dengan sesuai dengan tujuan pendidikan menurut Montessori yaitu memberi kesempatan kepada anak untuk berekspresi secara merdeka sealamiah mungkin atau sesuai dengan nature anak (Montessori, 2002:9-10).

  Berdasarkan studi literatur penelitian di Indonesia mengenai pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan serta metode Montessori, peneliti belum menemukan satu pun penelitian mengenai pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan bilangan dengan berlandaskan pada filosofi pembelajaran Montessori. Karena itu, penelitian ini akan memberikan khasanah baru pada dunia penelitian khususnya mengenai pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan bilangan. Secara ringkas kerangka penelitian dalam penelitian ini dapat dilihat literature map dalam bagan 2.1.

Bagan 2.1. Literature map dari penelitian-penelitian yag relevan

  Alat peraga penjumlahan Metode Montessori dan pengurangan Rathunde (2003) perbandingan motivasi,

  Letten (2010) kualitas pengalaman, dan

sosial pada sekolah media kertas berwarna

Montessori dan sekolah menegah tradisional Lillard dan Else-Quest (2006) pencapaian nilai akademik dan Suryati (2012) sosial siswa Montessori media botol hijau kuning dibandingkan siswa sekolah publik, privat, dan charter.

  Frick Koh dan Frick (2010) penerapan kemandirian dan dampaknya terhadap motivasi Kristinawati (2012) intrinsik siswa Montessori kartu bridge

  Yang perlu diteliti: Metode Montessori dan pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan untuk siswa SD

2.3 Kerangka Berpikir

  Karakteristik siswa SD berbeda dengan balita, remaja, atau orang dewasa lainnya. Anak pada usia ini lebih senang bermain, bergerak, memiliki rasa ingin tahu yang besar, berkelompok, dan merasakan suatu hal secara langsung. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget siswa SD (7-12 tahun) berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini seorang anak sudah mampu menggunakan operasi-operasi dalam pengetahuan tetapi masih terbatas pada hal/benda yang konkret. Karena itu anak pada usia ini lebih senang belajar dengan objek nyata yang dapat ditangkap oleh panca indera anak.

  Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pada pembelajaran terdapat komponen-komponen yang mendukung terlaksananya pembelajaran dengan baik. Salah satunya adalah komponen yang diperlukan untuk menciptakan pembelajaran yang konkret bagi siswa SD adalah alat peraga.

  Salah satu metode pembelajaran yang menggunakan alat peraga dalam pembelajaran adalah metode Montessori. Metode Montessori merupakan metode pembelajaran yang berlandaskan pada perkembangan anak dan berbasis panca indera sehingga penting adanya alat peraga. Alat peraga Montessori memiliki beberapa karakteristik tersendiri, salah satunya adanya pengendali kesalahan yang mendukung pembelajaran secara mandiri oleh anak. Keberhasilan metode Montessori dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak membuat metode ini mulai diterapkan oleh sekolah-sekolah di berbagai negara termasuk Indonesia. Beberapa sekolah yang menerapkan metode Montessori adalah Jakarta Montessori School, Bali Montessori School, Bogor Montessori School, Sekolah Montessori di Batam, dan Yogyakarta sendiri. Penerapan metode Montessori di Indonesia masih sebatas pada sekolah-sekolah swasta yang berlabel mahal karena alat peraga Montessori belum diproduksi di Indonesia dan masih menggunakan bahan terstandar khusus. Sementara apabila melihat pada sejarah metode Montessori, alat peraga dalam pembelajaran diciptakan oleh Montessori sendiri dengan berdasar hasil observasinya terhadap anak didiknya di Casa dei Bambini.

  Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang peneliti lakukan di SD Krekah, Bantul terhadap kepala sekolah, guru kelas I, dan delapan siswa kelas I didapatkan permasalahan berkaitan dengan alat peraga dan rendahnya keterampilan penjumlahan dan pengurangan bilangan pada siswa kelas I. Belum adanya alat peraga yang mendukung pembelajaran menjadi salah satu faktor yang menyebabkan permasalahan tersebut.

  Berdasarkan uraian di atas peneliti berinisiatif untuk mengenalkan metode Montessori melalui pengembangan alat peraga ala Montessori yang kontekstual untuk keterampilan penjumlahan dan pengurangan bilangan pada siswa kelas I SD Krekah, Bantul sebagai solusi dari permasalahan yang ada di SD tersebut.

2.4 Hipotesis Penelitian

  2.4.1 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I semester 2 di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mengandung lima ciri alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-correction, dan (5) kontekstual.

  2.4.2 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I semester 2 di SD Krekah Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mempunyai kualitas “baik”.

BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini diuraikan (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3)

  prosedur pengembangan, (4) uji validasi produk, (5) instrumen penelitian, (6) teknik pengumpulan data, (7) teknik analisis data, dan (8) jadwal penelitian.

3.1 Jenis Penelitian

  Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Research and Development (R&D). Penelitian R&D merupakan proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada dan dapat dipertanggungjawabkan (Sukmadinata, 2011:164). Penelitian ini berbasis pada model pengembangan industri yang menggunakan penelitian untuk menemukan suatu desain produk dan prosedur yang baru (Borg & Gall, 2007:589). Penelitian R&D lebih menekankan pengembangan model-model proses, bahan, dan sarana yang berawal dari adanya kebutuhan akan sebuah produk untuk memecahkan suatu permasalahan. Produk yang dihasilkan dapat berupa hardware atau software.

  Menurut Sugiyono (2011:298) penelitian R&D memiliki 10 langkah yang terdiri atas (1) analisis potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, (8) uji coba pemakaian, (9) revisi produk, dan (10) produksi masal. Kesepuluh langkah tersebut membentuk suatu siklus yang tampak pada bagan 3.1. Secara garis besar kesepuluh langkah tersebut dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu analisis kebutuhan, pengembangan produk, dan uji coba produk.

  1. Potensi dan

  2. Pengumpu-

  3. Desain

  4. Validasi

masalah lan data produk Desain

  8. Uji Coba

  7. Revisi

  6. Uji Coba

  5. Revisi

Pemakaian Produk Produk Desain

9. Revisi

  10. Produksi Produk Masal

Bagan 3.1.Langkah-langkah dalam penelitian R&D

  Sementara itu,

  Walter Dick, Lou Carey, dan James Carey (dikutip dalam Borg & Gall, 2007:589) menyebutkan bahwa penelitian R&D dalam bidang pendidikan memiliki 10 langkah yang terdiri atas (1) identifikasi tujuan yang meliputi analisis kebutuhan, (2) analisis keterampilan-keterampilan khusus, prosedur, dan tugas-tugas belajar yang terlibat dalam pencapaian tujuan, (3) identifikasi tingkat kemampuan dan perilaku siswa, karakteristik pembelajaran yang ada, dan materi serta keterampilan yang akan dikembangkan, (4) menuliskan rencana pengembangan program atau produk berdasarkan hasil analisis langkah 1, 2, dan 3, (5) pengembangan instrumen penilaian, (6) pengembangan strategi, (7) pengembangan materi, (8) membuat desain evaluasi formatif, (9) melakukan revisi, dan (10) membuat desain evaluasi sumatif. Secara garis besar kesepuluh langkah tersebut dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu analisis kebutuhan, pengembangan produk, dan penilaian produk. Alur dari kesepuluh langkah tersebut ditunjukkan pada bagan 3.2.

  

Step 1

Identify

intstructional goal

  

(s)

Step 2 Step 3

  Conduct Analyze learners instructional and context analysis

  

Step 4

Write performance

objectives

  

Step 5

Develop assessment

instruments

  

Step 6

Develop

  Step 9

instructional

Revise instruction

strategy

  

Step 7

Develop and select

instructional

materials

  

Step 8

Design and conduct

formative evaluation

of instruction

  Step 10 Design and conduct summative evaluation

Bagan 3.2 Langkah-langkah R&D menurut Borg & Gall mengadopsi dari Walter Dick, Lou Carey, dan James Carey

  Setting Penelitian

  3.2

3.2.1 Objek Penelitian

  Objek penelitian ini adalah alat peraga Matematika Montessori yang berupa kancing penjumlahan dan pengurangan.

  3.2.2 Lokasi Penelitian

  Tempat penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah SD Krekah, Bantul Yogyakarta. Sekolah tersebut terletak di Ds. Krekah, Gilangharjo, Kec. Pandak, Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

  3.2.3 Subjek Penelitian

  Terdapat dua subjek dalam penelitian ini. Subjek pertama dalam penelitian ini adalah sekelompok siswa kelas I semester genap tahun ajaran 2012/2013 di SD Krekah, Bantul. Sekelompok siswa yang dipilih oleh peneliti adalah siswa yang mendapatkan nilai matematika di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada KD “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka”. Pemilihan sekelompok siswa tersebut sebagai subjek pertama karena mengacu pada filosofi metode Montessori, yaitu pembelajaran individual. Alat peraga Montessori didesain untuk pembelajaran yang bersifat individual. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti memilih sekelompok siswa kelas I yang tidak lulus KKM sebagai subjek penelitian untuk mengakomodasi penerapan filosofi Montessori. Subjek kedua adalah guru kelas I SD Krekah yang bernama Lisa Erviana, S.Pd.SD.

3.3 Prosedur Pengembangan

  Berdasarkan tahapan langkah yang digunakan dalam penelitian R&D menurut Sugiyono (2011) dan Borg & Gall (2007), peneliti memodifikasi langkah-langkah tersebut menjadi empat tahap. Keempat tahap tersebut terdiri dari (1) kajian SK dan materi pembelajaran, (2) analisis kebutuhan dan pengembangan program pembelajaran, (3) memproduksi alat peraga Montessori untuk penjumlahan dan pengurangan, (4) validasi dan revisi produk. Alur dari keempat tahap tersebut ditunjukkan pada bagan 3.3. Pada setiap tahap terdapat beberapa langkah yang akan dilakukan oleh peneliti.

Bagan 3.3 Prosedur Penelitian Pengembangan Mengadaptasi Model Sugiyono dan Borg&Gall

  

Tahap III

Memproduksi Alat Peraga Montessori untuk Penjumlahan dan Pengurangan

Desain Alat Peraga

  Album Alat Peraga Pengumpulan Bahan Pembuatan

  

Prototipe Produk Alat Peraga Montessori untuk Penjumlahan dan Pengurangan Kelas I Semester Genap

Tahap II

Analisis Kebutuhan dan Pengembangan Perangkat Pembelajaran

  Analisis Kebutuhan dan Pengembangan Produk Analisis Sumber Belajar

  Penetapan Kompetensi Dasar dan Materi Analisis Karakteristik Siswa Pengembangan Perangkat

  Pembelajaran

Tahap I

Kajian Standar Kompetensi dan Materi Pembelajaran

  

Tahap IV

Validasi dan Revisi Produk

Validasi Pakar Pembelajaran Matematika

  Pakar Alat Peraga Analisis I Guru Kelas I Revisi Produk

  Uji Coba Lapangan Terbatas Analisis II Berdasarkan bagan 3.3, tahap pertama yang dilakukan peneliti adalah mengkaji SK dan materi pembelajaran matematika kelas I pada semester genap. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan supaya peneliti memiliki gambaran mengenai materi pembelajaran matematika.

  Tahap kedua yang dilakukan oleh peneliti adalah melakukan analisis kebutuhan dan pengembangan program pembelajaran. Pada tahap ini peneliti melakukan tiga hal yang terdiri atas analisis sumber belajar, penetapan KD dan materi serta analisis karakteristik siswa. Ketiga hal tersebut dapat dilakukan dalam waktu yang bersamaan melalui kegiatan wawancara dan observasi. Peneliti melakukan wawancara terhadap guru dan siswa kelas I SD Krekah mengenai kesulitan belajar siswa, usaha yang sudah dilakukan oleh guru dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Selain wawancara, peneliti juga melakukan observasi terhadap dua hal, yaitu pembelajaran matematika yang dilakukan oleh guru kelas I dan ketersediaan alat peraga di sekolah. Hal lain yang dapat diperoleh melalui observasi adalah karakteristik siswa kelas I. Peneliti juga melakukan penetapan KD dan materi matematika yang akan digunakan dalam penelitian. Berdasarkan ketiga hal yang dilakukan pada tahap kedua, peneliti mendapatkan hasil mengenai jenis alat peraga yang akan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang ada di kelas I. Alat peraga yang akan dikembangkan adalah alat peraga penjumlahan dan pengurangan.

  Tahap ketiga yang dilakukan oleh peneliti adalah memproduksi alat peraga Montessori untuk penjumlahan dan pengurangan. Pada tahap ini peneliti membuat desain alat peraga penjumlahan dan pengurangan serta album alat peraga.

  Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah menentukan dan mengumpulkan bahan yang akan digunakan untuk memproduksi alat peraga. Bahan tersebut merupakan bahan yang ada di lingungan sekitar lokasi penelitian. Langkah terakhir pada tahap ini adalah memproduksi alat peraga penjumlahan dan pengurangan dengan memanfaatkan potensi lokal.

  Tahap keempat yang dilakukan oleh peneliti adalah melakukan validasi dan revisi produk. Validasi dilakukan oleh pakar pembelajaran Matematika, pakar alat peraga, dan guru kelas I. Berdasarkan hasil validasi, peneliti melakukan revisi terhadap produk yang dikembangkan. Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah melakukan uji coba lapangan terbatas kepada sekelompok siswa kelas I yang sudah dipilih berdasarkan nilai ulangan pada materi penjumlahan dan pengurangan. Setelah peneliti melakukan uji validasi dan uji coba lapangan terbatas diperoleh hasil berupa prototipe produk alat peraga Matematika Montessori untuk penjumlahan dan pengurangan kelas I semester genap.

3.4 Uji Validasi Produk

  Uji validasi produk dilakukan dengan tujuan memperoleh tanggapan, komentar, saran, kritik, dan penilaian terhadap kelayakan dan kualitas produk yang dikembangkan. Uji validasi produk dilakukan dalam dua tahap yaitu uji validasi produk oleh para ahli dan uji validasi produk melalui uji coba lapangan terbatas yang dijelaskan dalam sub bab berikut ini.

  3.4.1 Uji Validasi Produk oleh Para Ahli

  Tahap pertama dalam uji validasi produk adalah meminta penilaian dari para ahli yang terdiri dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru kelas I SD Krekah. Penilaian, masukan, dan komentar dari beberapa ahli tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti untuk melakukan revisi atas kualitas dan kelayakan produk yang dikembangkan.

  3.4.2 Uji Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan Terbatas

  Tahap kedua yang dilakukan dalam uji validasi produk adalah uji coba lapangan. Produk yang sudah direvisi berdasarkan hasil penilaian dari uji validasi produk oleh para ahli kemudian diujikan secara terbatas kepada sekelompok siswa kelas I semester genap yang mendapatkan nilai matematika di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada KD “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka ” pada tahun ajaran 2012/2013 di SD Krekah Yogyakarta.

3.5 Instrumen Penelitian

3.5.1 Jenis Data

  Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh dari hasil analisis kebutuhan, hasil validasi produk oleh para ahli dan hasil validasi produk melalui uji coba lapangan terbatas yang diuraikan dalam sub bab berikut ini.

  3.5.1.1 Analisis kebutuhan

  Jenis data yang diperoleh dalam analisis kebutuhan adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berbentuk deskripsi mengenai proses pembelajaran yang terlaksana di kelas I, ketersediaan alat peraga di sekolah, khususnya kelas 1 dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Data tersebut diperoleh melalui wawancara dan observasi. Data kuantitatif berbentuk angka atau skor yang menunjukkan kebutuhan alat peraga penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I. Data tersebut diperoleh melalui pengisian kuesioner oleh siswa kelas I.

  Subjek yang menjadi narasumber dalam wawancara adalah kepala sekolah, guru kelas I, dan 7 siswa kelas I. Wawancara kepada kepala sekolah bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai ketersediaan alat peraga di sekolah. Wawancara kepada guru kelas I bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai ketersediaan alat peraga di kelas I, penggunaan alat peraga dalam pembelajaran, pengembangan alat peraga oleh guru, dan kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa. Wawancara kepada 7 siswa kelas I bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai kesulitan belajar yang dialami siswa, penggunaan alat peraga oleh guru dalam pembelajaran, dan model pembelajaran yang berlangsung di kelas.

  Observasi dilakukan oleh peneliti di kelas I dan perpustakaan. Peneliti melakukan observasi terhadap pembelajaran Matematika yang berlangsung di kelas I dan ketersediaan alat peraga yang ada di kelas. Selain itu peneliti juga melakukan observasi di perpustakaan yang menjadi tempat penyimpanan semua alat peraga milik sekolah.

  Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner terbuka yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan jawaban lebih dari satu. Tujuan dari penggunaan kuesioner adalah memperoleh informasi mengenai karakteristik pembelajaran yang berlangsung di kelas dan kebutuhan siswa terhadap alat peraga.

  3.5.1.2 Validasi Produk oleh Para Ahli

  Pada validasi produk oleh para ahli diperoleh data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa komentar dan saran dari penilaian pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru kelas I SD Krekah Yogyakarta. Data kuantitatif berupa skor yang diberikan oleh para ahli untuk setiap indikator penilaian atas alat peraga yang sudah dikembangkan.

3.5.1.3 Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan Terbatas

  Jenis data yang diperoleh dari uji coba lapangan terbatas adalah data kuantitatif. Data kuantitatif berupa nilai atau skor dari pretest, posttest dan kuesioner yang diperoleh dari sekelompok siswa kelas I yang tidak lulus KKM pada materi penjumlahan dan pengurangan.

3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data

3.5.2.1 Analisis Kebutuhan

  Jenis instrumen yang digunakan dalam analisis kebutuhan adalah wawancara, observasi, dan kuesioner. Wawancara merupakan suatu proses tanya jawab sepihak antara pewawancara dan yang diwawancarai yang dilaksanakan sambil bertatap muka, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan maksud memperoleh jawaban dari pihak diwawancarai (Masidjo, 1995:72). Peneliti melakukan wawancara terhadap kepala sekolah, guru kelas I, dan 7 siswa kelas I SD Krekah. Teknik wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur merupakan teknik wawancara yang menggunakan kombinasi dari teknik terstruktur dan tidak terstruktur. Pada pelaksanaannya peneliti telah membuat topik-topik pertanyaan yang terdapat pada tabel 3.1, tabel 3.2, dan tabel 3.3 (lihat lampiran 1.1 halaman 71). Selanjutnya pertanyaan yang diajukan dikembangkan oleh peneliti berdasarkan jawaban dari pihak yang diwawancara.

  Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan pengamatan atau pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian (Margono, 2003:158). Jenis observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah observasi langsung yaitu pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa. Pelaksanaan observasi dilakukan oleh peneliti terhadap proses pembelajaran matematika yang dilakukan oleh guru kelas I dan ketersediaan alat peraga di sekolah. Pada pelaksanaan observasi pembelajaran, peneliti mengamati cara mengajar guru dan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Peneliti membuat catatan anekdot dalam pelaksanaan observasi untuk mencatat hal-hal penting yang terjadi secara detail. Observasi terhadap ketersediaan alat peraga di sekolah dilakukan peneliti di ruang perpustakaan untuk mengetahui macam alat peraga yang sudah dimiliki oleh sekolah.

  Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011:142). Jenis kuesioner yang digunakan adalah kuesioner terbuka yang memberikan kesempatan kepada responden untuk memberikan jawaban lebih dari satu sesuai dengan pendapatnya sendiri (Margono, 2003:168). Kuesioner diberikan kepada guru kelas I dan seluruh siswa kelas I. Kuesioner terdiri dari 10 butir pertanyaan yang mencakup indikator- indikator yang akan dinilai oleh pakar pembelajaran Matematika dan pakar alat peraga. Indikator-indikator tersebut terangkum dalam tabel 3.4 yang dapat dilihat pada lampiran 1.2 halaman 71. Hasil penilaian ini selanjutnya digunakan untuk memberikan pertimbangan dalam merancang alat peraga yang akan dikembangkan oleh peneliti.

  3.5.2.2 Validasi Produk oleh Para Ahli

  Jenis instrumen yang digunakan dalam uji validasi produk oleh para ahli adalah kuesioner. Rentang nilai pada kuesioner tersebut adalah 1, 2, 4, dan 5 yang mengadopsi pada model skala Likert. Kuesioner diisi oleh para ahli setelah peneliti melakukan presentasi mengenai alat peraga yang sudah dikembangkan. Kuesioner tersebut disusun berdasarkan 5 karakteristik alat peraga yang akan digunakan oleh peneliti dalam pengembangan produk. Kelima karakteristik tersebut terdiri atas 4 karakteristik alat peraga Montessori dan 1 karakteristik yang ditambahkan oleh peneliti. Kelima karakteristik tersebut adalah (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-correction, dan (5) kontekstual. Kisi-kisi kuesioner validasi produk oleh para ahli dapat dilihat pada tabel 3.5 (lihat lampiran 2.1 halaman 80).

  3.5.2.3 Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan Terbatas

  Jenis instrumen yang digunakan dalam uji validasi produk melalui uji coba lapangan terbatas adalah tes dan non tes.

  1. Tes

  Tes merupakan seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar bagi penetapan skor angka (Margono, 2003:170). Jenis tes yang digunakan oleh peneliti adalah tes bentuk objektif dengan jawaban singkat (short answer). Tes tersebut digunakan sebagai pretest dan posttest. Jumlah soal yang disusun oleh peneliti sebanyak 20 soal dengan pembagian kriteria 10 soal penjumlahan dan 10 soal pengurangan. Kedua puluh soal tersebut disusun berdasarkan kisi-kisi soal yang telah disusun sebelumnya pada tabel 3.6 (lampiran 3.1 halaman 83).

  2. Non Tes

  Jenis instrumen non tes yang akan digunakan dalam uji validasi produk melalui uji coba lapangan terbatas adalah kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011:142). Jenis kuesioner yang dipakai dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup yang berisi pertanyaan atau pernyataan dengan disertai sejumlah alternatif jawaban (Margono, 2003:168). Kuesioner disusun berdasarkan kisi-kisi yang memuat 4 karakteristik alat peraga Montessori. Kisi-kisi tersebut teruraikan pada

tabel 3.7 (lampiran 4.1 halaman 86). Tujuan penggunaan kuesioner adalah untuk mengetahui keefektifan alat peraga yang dikembangkan dalam upaya menjawab

  kebutuhan dan kepuasan siswa terhadap alat peraga tersebut.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

3.6.1 Analisis Kebutuhan

  Pada pengumpulan data mengenai analisis kebutuhan, peneliti menggunakan wawancara, observasi, dan kuesioner. Jenis wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur merupakan teknik wawancara yang menggunakan bentuk pertanyaan campuran, yaitu pertanyaan yang menuntut jawaban campuran ada yang bersruktur ada pula yang bebas (Arifin, 2009:158). Wawancara tersebut dilakukan peneliti terhadap kepala sekolah, guru kelas I, dan 7 siswa kelas I. Langkah- langkah yang dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan wawancara adalah merumuskan tujuan, membuat kisi-kisi pertanyaan, dan menyusun daftar pertanyaan pokok yang akan digunakan dalam wawancara.

  Observasi dilakukan peneliti di ruang kelas I dan perpustakaan untuk memperoleh infromasi mengenai pembelajaran Matematikan dan alat peraga yang ada. Kuesioner ditujukan kepada seluruh siswa kelas I yang berjumlah 27 siswa dan guru kelas I.

  3.6.2 Validasi Produk oleh Para Ahli Pada tahapan ini peneliti melakukan presentasi di hadapan para ahli.

  Presentasi yang dilakukan oleh peneliti mencakup tiga hal yaitu latar belakang pengembagan alat peraga, proses pembuatan alat peraga, dan simulasi penggunaan alat peraga. Para ahli memberikan penilaian, komentar, dan saran terhadap alat peraga tersebut dengan mengacu pada indikator dalam kuesioner penilaian. Rentang nilai yang ada pada kuesioner penilaian alat peraga adalah 1, 2, 4, dan 5. Hasil dari penilaian tersebut digunakan oleh peneliti sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan revisi terhadap alat peraga yang dikembangkan.

  3.6.3 Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan

3.6.3.1 Tes

  Bentuk tes yang digunakan pada penelitian ini adalah tes bentuk objektif dengan jawaban singkat (short answer). Penyusunan soal tes didasarkan pada kisi- kisi yang memuat indikator-indikator sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu pretest dan posttest. Pretest dilakukan setelah uji validasi produk oleh para ahli dan di awal penelitian. Pretest digunakan untuk mengetahui kemampuan awal sekelompok siswa yang sudah dipilih sebagai subjek penelitian. Posttest dilakukan di akhir penelitian, setelah siswa selesai mengikuti rangkaian pendampingan belajar menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan. Tujuan dari posttest adalah mengetahui kemampuan siswa setelah mengalami pendampingan belajar menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan. Secara umum kedua tes tersebut yang digunakan bertujuan untuk mengetahui efektivitas alat peraga penjumlahan dan pengurangan yang sudah dikembangkan oleh peneliti.

3.6.3.2 Kuesioner

  Bentuk kuesioner yang digunakan pada tahapan ini adalah kuesioner tertutup. Siswa memberikan penilaian dengan memilih salah satu jawaban dari pilihan jawaban yang sudah disediakan dalam kuesioner. Kuesioner diujikan kepada sekelompok siswa yang menjadi subjek dalam penelitian. Pengisian kuesioner dilakukan setelah seluruh proses pendampingan belajar menggunakan alat peraga penjumlahan dan pengurangan selesai dilakukan. Hasil kuesioner tersebut selanjutnya akan diolah dalam bentuk turus dengan tujuan mengetahui keberhasilan alat peraga yang dikembangkan dalam menjawab kebutuhan siswa.

3.7 Teknik Analisis Data

  3.7.1 Analisis Kebutuhan

  Teknik analisis data yang digunakan dalam analisis kebutuhan adalah interpretasi data dan penghitungan nilai dalam bentuk persen. Interpretasi data dilakukan terhadap hasil wawancara dan observasi. Pada pelaksanaannya peneliti menyusun interpretasi data hasil wawancara dan observasi dengan mengkonsultasikan secara langsung kepada narasumber. Penghitungan nilai dalam bentuk persen dilakukan terhadap data yang diperoleh dari kuesioner analisis kebutuhan. Penghitungan tersebut bertujuan untuk mengetahui persentase setiap item pada kuesioner.

  Rumus persentase jawaban pada kuesioner

  ℎ

  Persentase jawaban =

  100 % ℎ

  3.7.2 Validasi Produk oleh Para Ahli

  Data yang diperoleh dalam validasi produk oleh para ahli berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berbentuk skor atau nilai untuk setiap pernyataan pada kuesioner penilaian alat. Skor tiap item pernyataan tersebut kemudian dijumlahkan dan dirata-rata. Skor rata-rata yang diperoleh kemudian dikonversikan menjadi data kualitatif skala lima dengan acuan menurut Sukardjo (2008: 101) yang tampak pada tabel 3.8.

  

Tabel 3.8.Tabel Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima

menurut Sukardjo

Interval Skor Kategori

  Sangat Baik X > + 1,0 Sbi i Baik i i + 0,60 SBi < X < + 1,80Sbi Cukup i i - 0,60 SBi < X < + 0,60Sbi Kurang i i - 1,80 SBi < X < + 0,60Sbi Sangat Kurang X < i – 1,80Sbi

  Keterangan:

  1 Rerata ideal ( i ) : (skor maksimal ideal + skor minimal ideal)

  2

  1 Simpangan baku ideal (SB i ) : (skor maksimal ideal - skor minimal ideal)

  6 X : Skor aktual

  Peneliti hanya menggunakan 4 kriteria penilaian alat peraga, yaitu (1) sangat kurang baik, (2) kurang baik, (4) baik, dan (5) sangat baik. Kriteria sangat kurang baik dan kurang baik mengandung arti bahwa alat peraga yang dikembangkan belum memenuhi keempat karakteristik alat peraga Montessori dan karakteristik ke lima yaitu kontekstual. Kriteria baik dan sangat baik mengandung arti bahwa alat peraga yang dikembangkan telah memenuhi keempat karakteristik alat peraga Montessori dan karakteristik ke lima yaitu kontekstual. Berdasarkan 4 kriteria tersebut, peneliti membuat tiga jenis kesimpulan, yaitu 1 yang berarti layak digunakan/uji coba lapangan tanpa revisi, 2 yang berarti layak digunakan/uji coba lapangan dengan revisi sesuai saran, dan 3 yang berarti tidak layak untuk digunakan/uji coba lapangan.

3.7.3 Validasi Produk melalui Uji Coba Lapangan Terbatas

3.7.3.1 Tes Jawaban Singkat (Short Answer)

  Pada tahapan ini, analisis data yang dilakukan berupa penghitungan skor yang diperoleh oleh sekelompok siswa kelas I yang dipilih sebagai subjek penelitian. Skor tersebut diperoleh dari hasil pretest dan posttest yang diberikan dengan materi penjumlahan dan pengurangan yang menghasilkan bilangan dua angka. Nilai untuk setiap soal adalah satu. Penghitungan nilai pretest dan posttest menggunakan rumus berikut ini:

   Rumus untuk mendapatkan nilai pretest dan posttest:

  ℎ

  Nilai akhir =

  100

  Hasil nilai pretest dan posttest siswa digunakan peneliti untuk menghitung nilai rata-rata pretest dan posttest. Dari nilai rata-rata tersebut peneliti dapat mengetahui persentase peningkatan nilai pretest ke posttest.

   Rumus untuk mendapatkan nilai rata-rata akhir:

  Rata-rata nilai akhir =

  ℎ

   Rumus persentase peningkatan nilai:

  ( − )

  Persentase peningkatan nilai =

  100% Keterangan:

  : rata-rata nilai posttest : rata-rata nilai pretest

3.7.3.2 Kuesioner

  Data kuesioner diperoleh dengan menghitung rata-rata skor kuesioner setiap siswa. Rata-rata tersebut diperoleh dari total skor yang diperoleh dibagi dengan jumlah item pernyataan. Setelah rata-rata skor kuesioner diperoleh, peneliti menghitung rata-rata skor kuesioner untuk seluruh siswa. Rata-rata tersebut disebut dengan nilai rata-rata akhir. Nilai rata-rata akhir kemudian dikonverskan menjadi data kualitatif menggunakan skala lima menurut Sukardjo (2008:101).

  Pada kuesioner yang digunakan peneliti hanya memakai empat kriteria penilaian alat peraga, yaitu (1) sangat kurang baik, (2) kurang baik, (4) baik, dan (5) sangat baik. Berdasarkan empat kriteria tersebut peneliti membuat tiga jenis kesimpulan, yaitu 1 yang berarti layak digunakan/uji coba lapangan tanpa revisi, 2 yang berarti layak digunakan/uji coba lapangan dengan revisi sesuai saran, dan 3 yang berarti tidak layak untuk digunakan/uji coba lapangan.

   Rumus untuk mendapatkan nilai akhir:

  ℎ

  Nilai akhir =

  ℎ

   Rumus untuk mendapatkan nilai rata-rata akhir:

  −

  Rata-rata nilai akhir =

  ℎ

3.8 Jadwal Penelitian

  Waktu penelitian berlangsung selama 9 bulan mulai dari bulan November tahun 2012 sampai bulan Juli tahun 2013.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi uraian tentang (1) kajian standar dan kompetensi

  pembelajaran, (2) analisis kebutuhan dan pengembangan perangkat pembelajaran, (3) produksi alat peraga Montessori untuk pembelajaran penjumlahan dan pengurangan, (4) validasi dan revisi produk, dan (5) alat peraga Montessori untuk penjumlahan dan pengurangan SD kelas I semester genap.

  4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Materi Pembelajaran

  Pada tahap ini, peneliti mengkaji SK dan KD serta materi pembelajaran Matematika di kelas I semester genap. Hal tersebut bermanfaat untuk memberikan gambaran secara umum mengenai materi pembelajaran matematika yang dipelajari siswa kelas I pada semester genap.

  4.2 Analisis Kebutuhan dan Pengembangan Perangkat Pembelajaran

  Analisis kebutuhan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu (1) wawancara terhadap kepala sekolah dan guru kelas I serta 7 siswa kelas I, (2) observasi pembelajaran Matematika dan ketersediaan alat peraga di sekolah, dan (3) kuesioner analisis kebutuhan terhadap seluruh siswa kelas I dan guru kelas I.

  

4.2.1 Wawancara terhadap Kepala Sekolah, Guru Kelas I, dan 7 Siswa

Kelas I

  Wawancara terhadap Bapak Wiyanta, S.Pd. selaku kepala sekolah SD Krekah Yogyakarta dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 24 November 2012. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sekolah masih memiliki keterbatasan dalam penyediaan alat peraga dan penggunaannya oleh guru yang belum maksimal. Wawancara terhadap Ibu Lisa Erviana, S.Pd.SD. selaku guru kelas I dan 7 siswa kelas I yang dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 15 Januari 2013. Berdasarkan wawancara tersebut peneliti memperoleh hasil (1) ketersediaan alat peraga di sekolah, khususnya kelas I masih minim dan (2) kesulitan belajar yang dialami siswa adalah penjumlahan dan pengurangan yang menghasilkan bilangan dua angka pada SK 4. Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah dan KD 4.4 Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka.

  4.2.2 Observasi terhadap Pembelajaran Matematika di Kelas I

  Observasi terhadap pembelajaran matematika di kelas I dan ketersediaan alat peraga di sekolah dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 15 Januari 2013. Berdasarkan observasi terhadap pembelajaran matematika di kelas I diperoleh hasil bahwa pembelajaran yang berlangsung masih bersifat konvensional. Belum tampak adanya penggunaan metode inovatif dalam pelaksanaan pembelajaran. Selain itu pembelajaran berlangsung tanpa adanya penggunaan alat peraga oleh guru untuk mengenalkan konsep penjumlahan bilangan dua angka dengan satu angka. Secara umum kegiatan yang dilakukan berupa penjelasan tentang materi kemudian pemberian latihan soal kepada siswa dan penilaian yang dilakukan secara langsung oleh guru dengan meminta siswa maju satu per satu tanpa adanya pembahasan. Hasil dari observasi terhadap ketersediaan alat peraga di sekolah menunjukkan bahwa jumlah dan jenis alat peraga yang dimiliki sekolah masih terbatas dan tingkat penggunaannya oleh guru yang masih rendah.

  4.2.3 Kuesioner Analisis Kebutuhan

4.2.3.1 Kuesioner Analisis Kebutuhan oleh Guru

  Kuesioner analisis kebutuhan oleh guru diberikan kepada guru kelas I pada hari Rabu, tanggal 13 Februari 2013. Kuesioner tersebut terdiri dari sepuluh pertanyaan dengan beberapa pilihan jawaban yang sudah disediakan. Berdasarkan hasil kuesioner (lihat lampiran 1.3 halaman 72) diperoleh data bahwa guru sudah pernah menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika berupa bangun datar, bangun ruang, dan benda-benda yang ada di kelas, yaitu buku, pensil, meja, kursi pada materi pengukuran berat dan panjang. Guru juga menyatakan bahwa penggunaan alat peraga dalam pembelajaran memberikan manfaat, yaitu (1) siswa lebih terbantu dalam memahami konsep dari materi pelajaran, (2) alat peraga dapat menarik perhatian siswa dalam pembelajaran, dan (3) penggunaan alat peraga membuat situasi kelas menjadi lebih kondusif.

  Guru juga menyatakan bahwa kriteria alat peraga yang menarik adalah (1) bentuk, (2) bahan, (3) warna, dan (4) ukuran. Bentuk menjadi prioritas utama karena menurut guru bentuk yang menarik dapat menarik perhatian siswa. Prioritas kedua adalah bahan, menurut guru pengembangan alat peraga sebaiknya menggunakan bahan yang aman bagi siswa. Prioritas ketiga adalah warna. Guru berpendapat bahwa warna yang digunakan sebaiknya warna yang cerah dan mencolok untuk menarik perhatian siswa. Prioritas keempat adalah ukuran. Menurut guru alat peraga yang berukuran besar akan lebih jelas terlihat daripada yang berukuran kecil. Prioritas yang terakhir adalah berat. Guru berpendapat bahwa alat peraga yang terlalu berat akan merepotkan siswa. Pada item pertanyaan mengenai rentangan biaya yang terjangkau oleh sekolah dalam pengadaan alat peraga, guru memilih rentang biaya Rp 100.000,00

  • –Rp 300.000,00.

  Berdasarkan penjabaran analisis kebutuhan oleh guru dapat disimpulkan bahwa guru berpendapat bahwa alat peraga lebih membantu siswa untuk memahami suatu konsep dari materi pelajaran dan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif. Karena itu, perlu adanya pengembangan alat peraga matematika yang berdasar pada kebutuhan siswa dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada.

4.2.3.2 Kuesioner Analisis Kebutuhan oleh Siswa

  Pemberian kuesioner analisis kebutuhan oleh siswa dilaksanakan selama tiga hari yaitu tanggal 28-30 Januari 2013. Hal tersebut karena perlu adanya bimbingan untuk siswa kelas bawah dalam mengisi kuesioner tersebut sehingga dalam pelaksanaannya peneliti membagi seluruh siswa kelas I menjadi 3 kelompok kecil. Pada pelaksanaannya peneliti membimbing satu kelompok yang terdiri dari 9 siswa untuk mengisi kuesioner tersebut.

  Kuesioner terdiri dari 10 pertanyaan dengan pilihan jawaban yang sudah disediakan. Berdasarkan hasil pengisian kuesioner oleh siswa, 92,59% siswa kelas I menjawab bahwa guru tidak pernah menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika. Sementara itu, 7,41% siswa menyatakan bahwa guru pernah menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika. Alat peraga yang dimaksudkan oleh siswa adalah sempoa namun dalam penggunaannya guru tidak memberikan penjelasan mengenai cara menggunakannya. Siswa hanya sebatas membawa alat tersebut di kelas tanpa menggunakannya secara tepat dan maksimal.

  Selanjutnya 59,26% siswa menyatakan bahwa mereka lebih suka belajar menggunakan alat peraga dan 40,74% siswa lebih suka belajar tanpa menggunakan alat peraga. Kemudian 74,07% siswa menyatakan bahwa mereka tidak pernah belajar matematika menggunakan benda-benda yang ada di sekitarnya dan 25,93% siswa menyatakan pernah menggunakan benda di sekitar berupa lidi untuk belajar matematika ketika di rumah. Pada item pertanyaan mengenai benda-benda di sekitar yang dapat digunakan untuk belajar matematika 62,96% siswa menyatakan bahwa kayu dapat digunakan untuk belajar Matematika, 33,33% memilih tempurung kelapa dan 14,81% menyebutkan benda lainnya yaitu batu dan lidi.

  Pada item mengenai urutan ciri-ciri alat peraga yang menarik bagi siswa, sebanyak 77,78% memilih warna sebagai urutan pertama, 74,07% siswa memilih bentuk sebagai urutan kedua, dan 81,84% siswa memilih bahan sebagai urutan yang ketiga. Selanjutnya 96,30% siswa memilih alat peraga yang mudah dibawa. Berikutnya sebesar 92,59% siswa menyatakan bahwa alat peraga memudahkan siswa untuk belajar Matematika. Untuk item berkaitan dengan kesalahan yang dilakukan siswa ketika belajar, sebanyak 59,26% lebih suka mengetahui kesalahannya sendiri dari alat peraga saat belajar matematika dan sisanya sebanyak 40,74% lebih suka mengetahui kesalahannya karena diberitahu guru atau teman ketika belajar matematika menggunakan alat peraga.

  Item pertanyaan nomor 9 mengenai kemandirian siswa saat belajar, sebanyak 96,30% siswa menyatakan dapat menggunakan alat peraga tanpa bantuan guru atau teman untuk belajar matematika. Selanjutnya pada item pertanyaan nomor 10, sebanyak 66,67% siswa memilih lebih suka menggunakan alat peraga secara individu untuk belajar matematika, 18,52% memilih menggunakan alat peraga secara berkelompok, dan 14,81% memilih menggunakan alat peraga secara klasikal untuk belajar matematika.

  Rekapitulasi hasil kuesioner analisis kebutuhan siswa dapat dilihat pada

tabel 4.1 (lampiran 1.5 halaman 78). Berdasarkan kuesioner tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa membutuhkan alat peraga untuk belajar matematika

  yang memiliki empat kriteria yaitu menarik dengan urutan kriteria (1) warna, (2) bentuk, (3) bahan, dapat digunakan oleh siswa secara mandiri, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengetahui dan mengoreksi sendiri kesalahan yang dilakukannya dan dapat digunakan secara individu.

  

4.3 Produksi Alat Peraga Montessori untuk Penjumlahan dan

Pengurangan

4.3.1 Desain

4.3.1.1 Alat Peraga

  Desain alat peraga terdiri dari (1) kancing penjumlahan dan pengurangan, (2) kartu bilangan, (3) kartu soal penjumlahan dan pengurangan, (4) kartu simbol (+), (-), (=), (5) kotak penyimpanan alat peraga, (6) kotak kartu soal, dan (7) kotak pembatas kancing ratusan.

  Kancing penjumlahan dan pengurangan terdiri atas kancing satuan, puluhan, dan ratusan. Kancing tersebut dibuat menggunakan bahan dari tempurung kelapa. Setiap kancing terdiri atas setangkup kancing berbentuk lingkaran dari tempurung kelapa dengan diameter 2 cm. Kancing satuan berbentuk kancing-kancing lepas. Kancing puluhan berbentuk roncean dari sepuluh kancing satuan. Kancing ratusan berbentuk papan persegi panjang yang terdiri dari sepuluh roncean kancing puluhan. Jumlah kancing dalam satu set alat peraga adalah 18 biji kancing satuan, 180 biji kancing puluhan, dan 200 biji kancing ratusan. Peneliti melakukan modifikasi untuk warna yang digunakan pada kancing satuan, puluhan, dan ratusan. Alat peraga Montessori yang asli menggunakan satu warna yaitu emas. Pada kancing penjumlahan dan pengurangan yang dikembangkan, peneliti menggunakan tiga warna yang berbeda yaitu hijau, kuning, dan merah untuk kancing satuan, puluhan, dan ratusan. Hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang lebih menyukai warna yang berwarna-warni. Pemilihan ketiga warna tersebut juga merupakan hasil dari survei melalui wawancara yang dilakukan peneliti terhadap siswa kelas I SD Krekah. Gambar desain kancing penjumlahan dan pengurangan dapat dilihat pada lampiran 7.1.1 halaman 91.

  Kartu bilangan terdiri dari kartu bilangan satuan, puluhan, dan ratusan. Kartu bilangan satuan berukuran 5 cm x 5 cm. Bilangan satuan menggunakan warna hijau sesuai dengan kancing satuan. Kartu bilangan puluhan berukuran 10 cm x 5 cm. Bilangan puluhan berwarna kuning sesuai dengan kancing puluhan. Kartu bilangan ratusan berukuran 15 cm x 5 cm. Bilangan ratusan menggunakan warna merah sesuai dengan kancing ratusan. Jumlah kartu bilangan yaitu dua set untuk masing-masing kartu. Kartu bilangan tersebut nantinya dicetak menggunakan jenis kertas yang tebal.

  Kartu soal merupakan kartu yang berisi soal dan kunci jawaban di halaman sebaliknya. Soal yang digunakan dalam kartu soal adalah 16 soal penjumlahan dan 16 soal pengurangan. Kedua jenis soal tersebut masih terbagi menjadi tiga kategori untuk setiap jenisnya. Kartu soal penjumlahan terdiri atas penjumlahan tanpa teknik menyimpan (nomor 1-5), penjumlahan dengan teknik menyimpan (npmpr 6-11), penjumlahan bilangan dengan angka 0 (nomor 12-16). Kartu soal pengurangan terdiri atas pengurangan tanpa teknik meminjam (nomor 1-5), pengurangan dengan teknik meminjam (nomor 6-11), dan pengurangan bilangan dengan angka 0 (nomor 12-16). Bilangan tertinggi yang digunakan dalam kartu soal adalah 99 mengingat materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Setiap kartu soal berukuran 9 cm x 7 cm. Penomoran soal menggunakan angka 1-16 yang diletakkan pada pojok kiri atas kartu soal. Selain itu, kartu soal juga dilengkapi dengan indeks penanda untuk setiap kategori soal.

  Kartu simbol (+), (

  • –), dan (=) berukuran 5 cm x 5 cm. Kartu simbol dibuat dalam jumlah dua set yang terdiri dari dua buah kartu untuk masing-masing jenis kartu simbol. Ketiga kartu simbol tersebut dicetak menggunakan jenis kertas yang sama dengan kertas yang digunakan untuk mencetak kartu soal dan kartu bilangan.

  Kotak penyimpanan alat peraga digunakan untuk menyimpan kancing penjumlahan dan pengurangan, kartu simbol dan kartu bilangan. Ukuran kotak adalah 27 cm x 23, 5 cm x 7 cm dengan ketebalan kayu kira-kira 1-1,5 cm. Kotak tersebut terdiri dari 5 ruang yaitu (1) ruang untuk kartu bilangan, (2) ruang untuk kartu simbol, (3) ruang untuk kancing satuan, (4) ruang untuk kancing puluhan, (5) ruang untuk kancing ratusan. Ruang untuk kartu bilangan berukuran 19, 5 cm x 7, 5 cm x 7 cm. Ruang untuk kartu simbol dan kancing satuan berukuran 8 cm x 7,5 cm x 7 cm. Ruang untuk kancing puluhan berukuran 19,5 cm x 7,5 cm x 7 cm. Ruang untuk kancing ratusan berukuran 27 cm x 8,5 cm x 7 cm. Ukuran tersebut merupakan ukuran dalam belum termasuk ketebalan kayu yang akan digunakan. Kotak penyimpanan alat peraga dilengkapi dengan tutup yang berukuran 30 cm x 27, 5 cm x 2 cm. Tutup tersebut juga berfungsi sebagai alas kotak ketika digunakan. Jenis kayu yang digunakan merupakan kayu yang ringan, antara lain adalah pinus, sengon, dan melinjo. Hal tersebut bertujuan supaya siswa mudah memindahkan kotak yang berisi alat peraga tersebut. Pembuatan kotak dan tutupnya juga memperhatikan faktor keamanan untuk siswa. Kehalusan kayu dan penggunaan paku sangat diperhatikan. Permukaan kayu pada kotak akan dibuat halus sehingga tidak menyakiti tangan anak ketika memegang kotak. Permukaan paku yang lancip dibuat agar tidak keluar dari permukaan kayu dengan tujuan supaya tidak menyakiti tangan. Selain itu kotak dan tutupnya hanya akan diplitur sehingga warna alami kayu tetap dapat terlihat. Hal tersebut sesuai dengan kotak alat peraga Montessori yang memperlihatkan warna-warna alami bahan. Gambar desain kotak alat peraga dan tutupnya dapat dilihat pada lampiran 7.1.2 halaman

  92. Kotak untuk kartu soal dibuat tanpa disertai tutup. Hal tersebut bertujuan supaya indeks untuk setiap kategori soal dapat terlihat. Ukuran kotak soal adalah 9,5 cm x 5 cm x 4 cm. Ukuran tersebut merupakan ukuran ruang dalam belum termasuk ketebalan kayu. Ketebalan kayu yang akan digunakan sekitar 1-1,5 cm. Pewarnaan kotak soal juga sama dengan kotak alat peraga yaitu menggunakan plitur. Kehalusan permukaan kotak dan penggunaan paku juga diperhatikan supaya tidak menyakiti tangan. Jenis kayu yang digunakan sama dengan kayu yang digunakan untuk kotak alat peraga. Gambar desain kotak kartu soal dapat dilihat pada lampiran 7.1.3 halaman 93.

  Kotak pembatas kancing ratusan berukuran 25 cm x 7 cm x 2 cm. Ukuran tersebut merupakan ukuran dalam dengan ketebalan kayu sekitar 0,5 cm-1cm. Kotak tersebut berfungsi sebagai pembatas kancing ratusan agar dapat membentuk papan persegi panjang. Pewarnaan kotak pembatas menggunakan plitur, sama dengan dua kotak lainnya. Kehalusan permukaan kotak dan penggunaan paku juga diperhatikan supaya tidak menyakiti tangan.

4.3.1.2 Album Alat Peraga

  Album alat peraga merupakan kelengkapan alat peraga yang berfungsi sebagai pedoman penggunaan alat peraga. Pengertian album dalam penelitian ini berbeda dengan pengertian album pada umumnya, bukan album dalam pengertian map yang berisi kumpulan foto. Album dalam metode Montessori merupakan kumpulan tulisan direktris (guru) mengenai penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Secara umum album alat peraga dalam penelitian ini berisi identitas materi dan langkah-langkah dalam mempresentasikan materi menggunakan alat peraga. Album tersebut terdiri atas dua bab yaitu penjumlahan dan pengurangan.

  Penjumlahan terdiri atas empat sub bab yaitu (1) pengantar penjumlahan, (2) penjumlahan tanpa teknik menyimpan, (3) penjumlahan dengan teknik menyimpan, (4) penjumlahan bilangan dengan angka 0. Pengantar penjumlahan berisi tentang 3 materi yaitu pengenalan nama alat peraga, pengenalan nilai tempat pada bilangan, dan pengenalan konsep penjumlahan. Tujuan langsung dari materi pengantar adalah mengenalkan alat peraga dan konsep penjumlahan pada anak. Sub bab yang kedua yaitu penjumlahan tanpa teknik menyimpan berisi pengenalan konsep penjumlahan tanpa teknik menyimpan dan latihan soal menggunakan kartu soal (soal nomor 1-5). Selanjutnya sub bab yang ketiga yaitu penjumlahan dengan teknik menyimpan berisi pengenalan konsep penjumlahan dengan teknik menyimpan dan latihan soal menggunakan kartu soal (soal nomor 6-11). Sub bab yang ketiga yaitu penjumlahan bilangan dengan angka 0 berisi latihan soal yang mencakup dua materi penjumlahan sebelumnya (soal nomor 12- 16).

  Materi yang kedua adalah pengurangan. Pengurangan terdiri atas 4 sub bab materi, yaitu (1) pengantar pengurangan, (2) pengurangan tanpa teknik meminjam, (3) pengurangan dengan teknik menyimpan, (4) pengurangan bilangan dengan angka 0. Pengantar pengurangan berisi pengenalan konsep pengurangan yang bertujuan mengenalkan konsep pada anak. Sub bab yang kedua yaitu pengurangan tanpa teknik meminjam berisi pengenalan konsep pengurangan tanpa teknik meminjam dan latihan soal menggunakan kartu soal (soal nomor 1-5). Sub bab yang ketiga yaitu pengurangan dengan teknik meminjam berisi pengenalan konsep pengurangan dengan teknik meminjam dan latihan soal menggunakan kartu soal (soal nomor 6-11). Sub bab yang keempat yaitu pengurangan bilangan dengan angka 0 berisi latihan soal yang mencakup dua materi pengurangan sebelumnya (soal nomor 12-16). Album alat peraga dapat dilihat pada lampiran 8 halaman 98.

4.3.2 Pembuatan Alat Peraga

  Pembuatan alat peraga terdiri atas empat proses pokok, yaitu (1) pembuatan kancing, (2) pembuatan kotak alat peraga, (3) pembuatan kelengkapan kancing, dan (4) pembuatan album alat peraga.

  Pembuatan kancing dilakukan oleh seorang pengrajin kancing tempurung kelapa di daerah Nitikan, Bantul, Yogyakarta. Bahan dasar pembuatan kancing adalah tempurung kelapa muda. Hal tersebut karena warna tempurung kelapa muda lebih terang (putih) dibandingkan warna tempurung kelapa tua (coklat kehitaman), sehingga memudahkan dalam proses pewarnaan kancing. Pembuatan kancing diawali dengan pembersihan tempurung kelapa kemudian dilanjutkan pengeringan tempurung dengan menjemurnya di bawah sinar matahari. Proses selanjutnya adalah pembuatan kancing menggunakan mesin pencetak kancing. Kancing yang sudah tercetak selanjutnya dihaluskan menggunakan mesin bubut. Proses tersebut dilanjutkan dengan menangkupkan setia dua buah kancing supaya menjadi satu menggunakan lem. Selanjutnya kancing-kancing yang sudah ditangkupkan tersebut dihaluskan kembali menggunakan mesin bubut supaya bentuknya lebih rapi. Proses selanjutnya adalah pelubangan kancing menggunakan mesin. Jumlah lubang kancing adalah satu buah yang diletakkan di tengah kancing.

  Proses pewarnaan kancing dilakukan oleh tukang cat di daerah Bantul. Cat yang digunakan adalah cat kayu. Teknik pewarnaan menggunakan cara penyemprotan yang bertujuan supaya warna dapat menempel secara rata pada kancing. Kancing-kancing tersebut dimasukkan ke dalam sebuah batang kawat yang kemudian digantungkan supaya memudahkan proses penyemprotan. Penyemprotan dilakukan sebanyak empat kali dengan dua kali penyemprotan untuk setiap sisi kancing. Terdapat tiga jenis warna yang digunakan yaitu hijau untuk kancing satuan, kuning untuk kancing puluhan, dan merah untuk kancing ratusan. Ketiga warna tersebut merupakan hasil pilihan siswa kelas I pada analisis kebutuhan. Proses selanjutnya dalam pembuatan kancing adalah peroncean kancing puluhan dan ratusan. Peroncean dilakukan sendiri oleh peneliti.

  Pembuatan kotak alat peraga dilakukan oleh carpenter di daerah Sleman. Kotak tersebut terdiri atas kotak penyimpanan alat peraga dan kotak untuk kartu soal. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu mahoni. Jenis kayu tersebut berbeda dengan rencana awal yaitu kayu sengon atau pinus karena kualitas serat kayu sengon yang kurang baik ketika dihaluskan permukaannya, sedangkan kayu pinus sulit ditemukan di daerah tersebut. Kayu mahoni menjadi pilihan bahan pembuatan kotak karena tekstur kayu mahoni yang agak keras sehingga awet dan mudah dihaluskan. Selain itu kayu mahoni juga mudah ditemukan dan harganya terjangkau. Kotak untuk penyimpanan alat peraga dilengkapi dengan tutup sedangkan kotak untuk kartu soal tidak dilengkapi dengan tutup. Kotak tersebut dibuat dengan berdasar pada desain kotak alat peraga yang sudah dibuat oleh peneliti. Uraian mengenai kotak alat peraga dapat dilihat dalam sub bab 4.3.1.1. Tahap akhir dari pembuatan kedua kotak tersebut adalah pelapisan kotak menggunakan plitur yang bertujuan supaya kotak tetap awet dan tekstur kayu tetap terlihat.

  Kelengkapan alat peraga terdiri atas kartu bilangan, kartu simbol (+), (-), dan (=), kartu soal, dan kotak pembatas untuk kancing ratusan. Semua kelengkapan tersebut dibuat sendiri oleh peneliti dengan menggunakan desain yang sudah dipersiapkan. Warna bilangan pada kartu bilangan sama dengan warna kancing, hijau untuk satuan, kuning untuk puluhan, dan merah untuk ratusan. Warna simbol pada kartu simbol adalah hitam. Kartu soal dilengkapi dengan indeks soal dengan gradasi warna yang berbeda untuk jenis soal penjumlahan dan pengurangan. Gradasi warna ungu digunakan untuk kartu soal penjumlahan. Gradasi warna jingga digunakan untuk kartu soal pengurangan. Desain kartu bilangan, kartu simbol, dan kartu soal dibuat menggunakan bantuan program

  

Microsoft Word . Karakter font yang digunakan adalah Raavi. Hal tersebut karena

  angka 4 yang dihasilkan oleh karakter font Raavi hampir menyerupai jenis tulisan yang ada pada kartu bilangan Montessori yang asli. Ukuran huruf yang digunakan untuk bilangan dan simbol adalah 120. Ukuran huruf untuk soal adalah 70. Ketiga kartu tersebut dicetak menggunakan kertas Ivory dengan kategori paling tebal.

  Kotak pembatas kancing ratusan dibuat dengan berdasar pada ukuran kancing ratusan ketika dibentuk menjadi sebuah papan persegi panjang. Kotak tersebut dibuat dengan menggunakan sisa kayu yang dimiliki peneliti di rumah. Kotak tersebut hanya dilapisi plitur seperti kedua kotak yang lain untuk membuat kotak dapat awet dan tektur kayu tetap terlihat.

  Pembuatan album alat peraga dilakukan sendiri oleh peneliti. Sistematika penulisan dan isi album mengadopsi album Montessori. Pada langkah penggunaan alat peraga, peneliti melengkapinya dengan gambar ilustrasi untuk membantu pembaca dalam menggunakan alat peraga sesuai album alat peraga. Desain album alat peraga dibuat menggunakan bantuan program Microsoft Word. Karakter font yang digunakan adalah Times New Roman dengan ukuran huruf 12. Album alat peraga terdiri atas 32 halaman yang terdiri atas halaman cover, pengantar, penggunaan alat peraga untuk materi penjumlahan, dan penggunaan alat peraga untuk pengurangan. Album tersebut dicetak menggunakan kertas HVS A4 80gr.

4.4 Validasi dan Revisi Produk

  Validasi produk dilakukan oleh para ahli yang meliputi pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru kelas I SD Krekah. Pada pelaksanaan validasi produk oleh para ahli, peneliti melakukan presentasi dan simulasi penggunaan alat peraga di depan para ahli. Validasi produk dilakukan untuk mengetahui kualitas alat peraga yang sudah dikembangkan oleh peneliti. Pedoman penyekoran yang digunakan dalam validasi produk adalah pedoman penyekoran skala lima menurut Sukardjo (2008:101) seperti dalam tabel 4.2. Pada pelaksanaannya peneliti menghilangkan skor 3 dengan tujuan untuk mendapatkan penilaian yang objektif. Para ahli dapat memberikan skor 1/2 apabila kualitas alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti kurang baik dan skor 4/5 apabila kualitas alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti baik.

Tabel 4.2 Konversi Skala Lima Interval Skor Kategori

  X > + 1,80 Sb Sangat baik i i Baik i i ≤ i i + 0,60 SB < X + 1,80 Sb 0,60 SB < X + 0,60 Sb Cukup i i i i

  • – Kurang 1,80 SB < X - 0,60 Sb i i ≤ i i
  • – X Sangat Kurang I – 1,80 Sb i

  Keterangan:

  1 Rerata idel ( i) : (skor maksimal ideal + skor minimal ideal)

  2

  1 Simpangan baku ideal : (skor maksimal ideal + skor minimal ideal)

  6 X : Skor aktual

  Peneliti menerapkan rumus konversi di atas untuk melakukan penghitungan terhadap data-data kuantitatif dengan tujuan memperoleh data kualitatif. Adapun penentuan rumus kualitatif pengembangan ini diterapkan dengan konversi sebagai berikut.

  Diketahui: Skor maksimal : 5 Skor minimal : 1

1 Rerata Ideal ( i ) : (5 + 1) = 3

  2

  1

  2 Simpangan baku ideal (SB i ) : (5 - 1) = = 0,67

  6

  3 Ditanyakan:

  Interval skor kategori sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan sangat kurang baik.

  Jawaban: Kategori sangat baik = X > i + 1,80 SB i

  = X > 3 + (1,80 . 0,67) = X > 3 + (1,21) = X > 4,21 i

  Kategori baik = + 0,60 SB + 1,80 i < X ≤ i SB i

  = 3 + (0,60 . 0,67) < X ≤ 3 + (1,80 . 0,67) = 3 + (0,40) < X ≤ 3 + (1,21) = 3,40 < X ≤ 4,21 i

  Kategori cukup baik = - 0,60 SB + 0,60 SB i < X≤ i i

  = 3 - (0,60 . 0,67) < X ≤ 3 + (0,60 . 0,67) = 3

  • – (0,40) < X≤ 3 + (0,40) = 2,60 < X≤ 3,40 Kategori kurang baik = - 1,80 SB i - 0,60

  i i SB i < X≤ = 3 -

  (1,80 . 0,67) < X ≤ 3 - (0,60 . 0,67) = 3 - (1,21) < X ≤ 3 - (0,40) =

  1,79 < X ≤ 2,60 Kategori sangat kurang baik = i – 1,80 SB i

  

= X ≤ 3 - (1,80 . 0,67) = X ≤ 3 - (1,21) = X ≤ 1,79

  Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh konversi data kuantitatif menjadi data kualitatif skala lima seperti pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Kriteria Skor Skala Lima Interval Skor Kriteria

  X > 4,21 Sangat Baik Baik 3,40 < X ≤ 4,21 Cukup Baik 2,60 < X ≤ 3,40 Kurang Baik 1,79 < X ≤ 2,60 Sangat Kurang Baik

  X ≤ 1,79

4.4.1 Hasil Validasi

4.4.1.1 Pakar Pembelajaran Matematika

  Pakar pembelajaran matematika yang menjadi validator produk dalam penelitian ini adalah Veronika Fitri Rianasari, M.Si. Beliau merupakan salah satu dosen matematika di program studi Pendidikan Matematika dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Validasi dilakukan pada hari Senin, tanggal 18 Maret 2013. Aspek penilaian pada kuesioner penilaian alat peraga oleh ahli mencakup empat karakteristik alat peraga Montessori dan potensi lokal yang digunakan. Kelima aspek tersebut terdiri atas (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-correction , dan (5) kontekstual.

  Berdasarkan hasil validasi, skor rata-rata penilaian kualitas alat peraga yang diperoleh adalah 4,5 dengan kategori “sangat baik”. Hal tersebut menunjukkan bahwa alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti sudah memenuhi empat karakteristik alat peraga Montessori dan kontekstual. Meskipun demikian pakar pembelajaran Matematika juga memberikan komentar dan saran perbaikan untuk menambahkan kartu simbol (=) dalam paket alat peraga dan mempertimbangkan kembali penggunaan warna yang berbeda pada kancing satuan, puluhan, dan ratusan. Rekapitulasi hasil validasi pakar pembelajaran dapat dilihat pada tabel 4.4 (lampiran 2.2 halaman 80).

  4.4.1.2 Pakar Alat Peraga

  Pakar alat peraga yang menjadi validator produk dalam penelitian ini adalah Andri Anugrahana, M.Pd. Beliau merupakan salah satu dosen di program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Validasi dilakukan pada hari Jumat, tanggal 22 Maret 2013.

  Berdasarkan hasil validasi oleh pakar alat peraga, skor rata-rata penilaian kualitas alat peraga adalah 4,3 dengan kategori “sangat baik”. Penilaian tersebut juga menunjukkan bahwa alat peraga yang dikembangkan sudah memenuhi empat karakteristik alat peraga Montessori dan penggunaan potensi lokal. Komentar yang diberikan oleh pakar alat peraga adalah alat peraga yang dikembangkan sudah baik dan dapat dikembangkan lagi untuk kelas selanjutnya di SD. Dari hasil validasi tersebut, pakar alat peraga menyatakan bahwa alat peraga layak digunakan atau uji coba lapangan tanpa revisi. Rekapitulasi hasil validasi pakar palat peraga dapat dilihat pada tabel 4.5 (lampiran 2.3 halaman 81).

  4.4.1.3 Guru Kelas I

  Guru kelas I yang menjadi validator produk dalam penelitian ini adalah Lisa Erviana, S.Pd.SD. Beliau merupakan guru kelas I di SD Krekah. Validasi dilakukan pada hari Rabu, tanggal 20 Maret 2013.

  Skor rata-rata yang diperoleh dalam validasi tersebut adalah 3,8 dengan kategori “baik”. Guru memberikan skor 2 pada item pernyataan nomor 7 yang berkaitan dengan aspek auto-education. Dalam hal ini guru mencemaskan siswa tidak dapat menggunakan alat peraga secara mandiri tanpa adanya bantuan dari guru atau teman. Selain itu guru juga memberikan komentar bahwa alat peraga sudah baik dan perlu adanya penjelasan dengan kalimat yang sederhana kepada siswa ketika menggunakan alat peraga sehingga siswa mudah memahami materi. Dari hasil validasi tersebut, guru kelas I menyatakan bahwa alat peraga layak digunakan atau uji coba lapangan tanpa revisi. Rekapitulasi hasil validasi guru kelas I dapat dilihat pada tabel 4.6 (lampiran 2.4 halaman 81).

4.4.2 Analisis I

  Skor rata-rata yang diperoleh dari uji validasi produk kepada para ahli adalah 4,2. Rekapitulasi skor tersebut dapat dilihat pada tabel 4.7 (lampiran 2.5 halaman 82). Skor yang diperoleh menunjukkan bahwa kualitas alat peraga yang dikembangkan sudah tergolong dalam kategori “baik”. Meskipun demikian terdapat komentar dan saran dari para ahli terhadap alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti, dapat dilihat pada tabel 4.8. Saran dan komentar tersebut digunakan oleh peneliti sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut terhadap alat peraga yang dikembangkan.

Tabel 4.8 Komentar Ahli terhadap Produk dalam Uji Validasi Komentar

  No. Pakar Pembelajaran Pakar Alat Peraga Guru Kelas I Matematika

1. Pada paket alat peraga Alat peraga yang Alat peraga yang dapat ditambahkan kartu dikembangkan sudah baik. dikembangkan sudah baik.

  simbol (=).

  2. Pemberian warna pada Perlu dikembangkan lagi Saat menggunakan alat alat peraga (kancing jika ingin digunakan di peraga, berikan penjelasan

satuan, puluhan, dan kelas atas dengan kalimat yang

ratusan) perlu sederhana agar siswa paham. dipertimbangkan dengan matang agar tidak membingungkan anak.

4.4.3 Revisi Produk

  Revisi produk dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan kelengkapan alat peraga yang dikembangkan. Peneliti menambahkan kartu simbol (=) pada paket alat peraga. Revisi tersebut sebagai tindak lanjut yang dilakukan oleh peneliti terhadap komentar dan saran pertama yang diberikan oleh pakar pembelajaran Matematika.

  Berkaitan dengan komentar dan saran yang kedua dari pakar pembelajaran matematika, peneliti melakukan kajian ulang terhadap metode Montessori sebagai tindak lanjut. Hal tersebut karena peneliti menduga bahwa saran tersebut tidak selaras dengan prinsip Montessori. Berdasarkan hasil kajian ulang terhadap metode Montessori, peneliti menemukan bahwa metode Montessori merupakan hasil eksperimental yang mendasarkan pada pengamatan langsung terhadap aktivtas spontan anak yang merdeka dalam berekspresi (Montessori, 2002:10). Salah satu penerapan prinsp tersebut nampak pada karakteristik lingkungan belajar yang diciptakan oleh Montessori. Lingkungan belajar tersebut meliputi

  

didactic apparatus atau alat peraga yang diciptakan oleh Montessori sendiri

  berdasar kepada anak (Montessori, 2002:36 & 81 dan 1965:12). Dalam hal ini, anaklah yang menjadi acuan dalam pengembangan alat peraga dalam metode Montessori.

  Untuk memastikan kebenaran kajian ulang yang dilakukan terhadap metode Montessori, peneliti melakukan uji empiris terhadap siswa kelas I pada tanggal 25 Maret 2013. Hasil yang diperoleh dari uji empiris adalah siswa memilih alat peraga yang berwarna-warni. Hasil tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti untuk melakukan tindak lanjut berkaitan dengan komentar dan saran kedua dari pakar pembelajaran Matematika. Hal lain yang menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti adalah hasil uji validasi oleh pakar alat peraga dan guru kelas I yang tidak menunjukkan perlu adanya revisi terhadap alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti.

  Berdasarkan hasil kajian ulang terhadap metode Montessori dan validasi pakar alat peraga dan guru kelas I tersebut, peneliti tidak melakukan revisi terhadap warna kancing penjumlahan dan pengurangan.

4.4.4 Uji Coba Lapangan Terbatas

  Uji coba lapangan terbatas dilakukan dalam bentuk pendampingan belajar menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan. Kegiatan tersebut dilakukan terhadap 6 siswa kelas I SD Krekah yang mendapatkan nilai matematika di bawah KKM pada KD “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka

  ”. Sebelum melaksanakan pendampingan belajar, peneliti mengadakan pretest terhadap keenam siswa tersebut. Tujuan pengadaan pretest adalah mengetahui kemampuan awal siswa.

  Rentang waktu pelaksanaan pendampingan belajar adalah dua minggu. Keenam siswa tersebut dibagi menjadi tiga kelompok (kelompok A, B, dan C) dengan setiap kelompok beranggotakan dua siswa. Setiap kelompok memiliki waktu empat kali pertemuan untuk mengikuti pendampingan tersebut. Satu kali pertemuan berlangsung selama 90 menit. Pembagian materi pendampingan belajar untuk empat kali pertemuan yaitu (1) pengenalan alat peraga dan konsep nilai satuan, puluhan, dan ratusan, (2) pengenalan konsep penjumlahan tanpa dan dengan teknik menyimpan, (3) pengenalan konsep dan latihan pengurangan tanpa teknik meminjam, (4) pengenalan konsep dan latihan pengurangan dengan teknik meminjam. Setelah pelaksanaan pendampingan belajar, peneliti mengadakan

  

posttest dan pemberian kuesioner terhadap keenam siswa tersebut. Kedua hal

  tersebut bertujuan untuk mengetahui kualitas kancing penjumlahan dan pengurangan oleh siswa.

  Pada pelaksanaannya, peneliti menemukan tiga hal menarik berkaitan dengan karakteristik alat peraga dan metode Montessori. Peneliti mengamati bahwa keenam siswa tersebut mengalami perkembangan dalam kemampuan berhitung. Melalui penggunaan kancing penjumlahan dan pengurangan, kemampuan pertama yang tampak berkembang pada anak adalah mengenali nilai satuan, puluhan, dan ratusan pada bilangan. Kemampuan tersebut menjadi dasar bagi anak untuk menguasai konsep penjumlahan dan pengurangan. Pada latihan penjumlahan dan pengurangan, peneliti mengamati bahwa anak mulai teratur untuk menghitung mulai dari kancing yang memiliki nilai bilangan yang lebih kecil ke nilai bilangan yang lebih besar. Melalui keteraturan tersebut anak dapat menguasai dengan sendirinya konsep penjumlahan dan pengurangan ketika mereka mengerjakan soal posttest tanpa menggunakan alat peraga. Ketika anak mendapatkan soal penjumlahan atau pengurangan yang terdiri dari dua bilangan, anak dapat dengan sendirinya menyelesaikan soal tersebut dengan menghitung dari bilangan satuan terlebih dahulu kemudian menghitung bilangan puluhan. Hal tersebut selaras dengan karakteristik alat peraga Montessori yaitu auto-education.

  Hal lain yang ditemukan oleh peneliti dalam pendampingan belajar adalah anak memiliki keinginan yang kuat dan konsentrasi yang tinggi ketika belajar menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan. Pada pelaksanaan pendampingan belajar, peneliti mengamati bahwa anak tampak serius dan memiliki dunianya sendiri ketika bekerja dengan kancing penjumlahan dan penurangan. Sebagai salah satu contoh, ketika salah satu anak dampingan sedang bekerja dengan kancing penjumlahan dan pengurangan untuk menyelesaikan latihan soal penjumlahan, anak tersebut tampak serius dengan apa yang dikerjakannya dan tidak terpengaruh dengan keadaan di sekitarnya. Pada saat itu situasi di luar kelas ramai, banyak siswa kelas atas yang melihat dari jendela kegiatan belajar di dalam kelas, sementara itu salah satu temannya asik bermain di kelas. Meskipun demikian anak tersebut tampak seolah-olah tidak melihat maupun mendengar keributan yang ada di sekitarnya. Anak tersebut tetap bekerja dengan kancing tersebut. Ketika anak mengetahui bahwa jawabannya tidak sesuai dengan kunci jawaban, anak berhenti sejenak. Anak tampak memperhatikan kancing-kancing yang masih tersusun. Anak mendapati bahwa dia melakukan kesalahan dengan meletakkan kancing yang tidak sesuai dengan jumlah bilangan. Anak kembali menghitung kemudian membenarkan jawabannya. Peristiwa tersebut menunjukkan karakteristik alat peraga Montessori yaitu auto-correction. Ketika anak tersebut selesai dengan pekerjaannya, mimik wajah anak tersebut berubah, anak tersebut tersenyum kepada peneliti dan mengatakan bahwa dia berhasil menyelesaikannya. Peristiwa tersebut menunjukkan siswa yang berada dalam tingkat konsentrasi yang tinggi atau disebut dengan flow.

  Menurut Csikszentmihalyi (Kahn, 2003:2) flow dapat diartikan sebagai kualitas pengalaman yang menunjukkan hubungan antara tantangan dan kemampuan, di mana keduanya berada dalam tingkatan yang tinggi. Flow juga berarti motivasi intrinsik, fokus terhadap tugas yang ditunjukkan dengan konsentrasi yang penuh, tidak peduli terhadap waktu (waktu berjalan dengan cepat), perasaan jelas dan kontrol terhadap tugas atau aktivitas yang dikerjakan, hilangnya kesadaran terhadap diri (ego) ketika melakukan aktivitas (Rathunde, 2003:19). Pada metode Montessori hal tersebut disebut dengan normalization.

  

Normalization merupakan keadaan seorang anak yang menunjukkan ketertarikan terhadap aktivitas atau pekerjaan yang dipilih atas inisatif sendiri, tingkat konsentrasi yang tinggi, dan kemampuan menjadi tuan atas dirinya sendiri (The

  

Absorbent Mind , 1949:257). Anak yang tidak terpengaruh dengan keadaan

  sekitarnya ketika bekerja menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan menunjukkan bahwa anak tersebut berada dalam tingkat konsentrasi yang penuh, seolah-olah dirinya terserap penuh dengan pekerjaan yang dilakukannya. Anak mencurahkan semua perhatian, konsentrasi dan energinya terhadap pekerjaan yang dilakukannya dan membiarkan dirinya menjadi seorang master atau tuan atas dirinya sendiri. Secara tidak langsung hal tersebut menunjukkan bahwa anak tertarik dengan apa yang dikerjakannya. Hal tersebut selaras dengan karakteristik alat peraga Montessori yaitu menarik.

4.4.4.1 Tes

  Hasil pretest menunjukkan bahwa rata-rata nilai keenam siswa adalah 53,33. Dari keenam siswa hanya terdapat satu siswa yang mendapatkan nilai di atas KKM, yaitu 75. Berdasarkan hasil pekerjaan siswa, peneliti mendapati bahwa siswa mengalami kesulitan untuk menghitung bilangan lebih dari 10 karena sebagian besar siswa masih menghitung menggunakan jari. Selain itu siswa juga masih kesulitan untuk membedakan bilangan satuan dan puluhan serta nilainya dalam sebuah bilangan. Hal tersebut mengakibatkan siswa kesulitan untuk melakukan penjumlahan dan pengurangan di atas bilangan 10. Rekapitulasi hasil pretest dapat dilihat pada tabel 4.9.

  Hasil posttest menunjukkan adanya peningkatan terhadap rata-rata nilai keenam siswa. Peningkatan yang terjadi sebesar 73,44% dari nilai rata-rata

  

pretest . Peningkatan tersebut dapat dilihat pada diagram batang 4.1. Rata-rata nilai

  keenam siswa tersebut dalam posttest adalah 92,5. Dari keenam siswa terdapat dua siswa yang mendapatkan nilai 100, sedangkan empat siswa yang lain mendapatkan nilai antara 85-95. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, keempat siswa tersebut cenderung terburu-buru dan tidak teliti dalam mengerjakan soal

  

posttest sehingga berdampak pada nilai yang mereka dapatkan. Rekapitulasi hasil

posttest dapat dilihat pada tabel 4.9.

Tabel 4.9 Hasil Pretest dan Posttest No. Nama Siswa Kelompok

  75

  4,5 dengan kategori “sangat baik”. Rata-rata skor siswa 3 adalah 4,8 dengan kategori “sangat baik”. Rata-rata skor siswa 4 adalah 4,6 dengan kategori “sangat baik”. Rata-rata skor siswa 5 adalah 4,6 dengan kategori “sangat baik”. Rata-rata skor siswa 7 ad alah 4,7 dengan kategori “sangat baik”. Hasil rata-rata dari keenam siswa tersebut adalah 4,65 dengan kategori “sangat baik”. Rekapitulasi hasil kuesioner penilaian alat peraga oleh siswa dapat dilihat pada tabel 4.10 (lampiran 4.2 halaman 86). 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 F E A L B S Pretest Posttest

  Rata-rata skor yang diperoleh pada kuesioner penilaian kualitas alat peraga oleh siswa 1 adalah 4,7 dengan kategori “sangat baik”. Rata-rata skor siswa 2 adalah

  92.5 Persentase kenaikan rata-rata nilai siswa 73.44%

Diagram 4.1. Diagram Perbandingan Hasil Pretest dan Posttest

  53.33

  95 Rerata

  55

  6 S C

  90

  5 B C

  Nilai Pretest Posttest

  85

  55

  4 L B

  85

  40

  3 A B

  2 E A 40 100

  1 F A 55 100

  5 & 6 April 2013 22-Apr-13

4.4.4.2 Kuesioner

4.4.5 Analisis II

  Berdasarkan hasil uji coba lapangan terbatas, diperoleh hasil bahwa (1) kancing penjumlahan dan pengurangan membantu siswa untuk memahami konsep penjumlahan dan pengurangan dan (2) kualitas kancing penjumlahan dan pengurangan termasuk dalam kategori “sangat baik”. Hasil yang pertama ditunjukkan dengan adanya peningkatan rata-rata nilai yang diperoleh siswa pada

  

pretest dan posttest. Peningkatan rata-rata nilai siswa pada posttest sebesar

  73,44%. Hasil yang ke dua ditunjukkan dengan rerata skor yang diperoleh dalam kuesioner penilaian alat peraga oleh keenam siswa adalah 4,65 dengan kategori “sangat baik”.

  Melalui kuesioner penilaian kualitas kancing penjumlahan dan pengurangan oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, guru kelas I, dan siswa kelas I diperoleh rerata skor 4,31 dengan kategori “sangat baik”. Perolehan kategori “sangat baik” menunjukkan bahwa kancing penjumlahan dan pengurangan telah memenuhi keempat karakteristik alat peraga Montessori dan karakteristik kontekstual. Hal tersebut sesuai dengan isi pernyataan pada kuesioner penilaian alat peraga yang disusun dengan mengacu pada kelima karakteristik alat peraga yang dijadikan sebagai pedoman dalam pengembangan kancing penjumlahan dan pengurangan. Resume hasil penilaian tersebut dapat dilihat pada tabel 4.11.

Tabel 4.11 Resume Penilaian Kancing Penjumlahan dan Pengurangan No. Penilaian Skor Kategori

  1 Pakar Pembelajaran Matematika 4,5 “Sangat Baik”

  2 Pakar Alat Peraga 4,3 “Sangat Baik”

3 Guru Kelas I 3,8 “Baik”

  4 Siswa Kelas I 4,65 “Sangat Baik” Rerata Skor 4,31 Kategori “Sangat Baik”

4.4.6 Penilaian Akhir

  Penilaian akhir dilakukan dengan teknik triangulasi pendapat yang berasal dari guru kelas I, siswa kelas I, dan peneliti untuk mengkonfirmasi klaim perolehan skor validasi produk yang termasuk dalam kategori “sangat baik”. Rangkuman pendapat guru kelas I, siswa kelas I, dan peneliti setelah uji coba lapangan terbatas menggunakan alat peraga akan dipaparkan sebagai berikut.

4.4.6.1 Guru Kelas I

  Guru melakukan pendampingan dalam pelaksanaan pendampingan belajar menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan terhadap sekelompok siswa kelas I. Setelah mengikuti pendampingan belajar sebanyak tiga kali pertemuan, guru memberikan komentar mengenai konsentrasi siswa selama belajar menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan. Beliau menyampaikan bahwa siswa memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi ketika belajar menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan. Hal tersebut tampak ketika siswa tetap fokus mengerjakan soal menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan sementara keadaan sekitar tidak kondusif, teman belajar dalam kelompoknya sudah selesai dengan pekerjaannya dan bermain dengan alat tulisnya. Sementara itu situasi di luar kelas ramai dan beberapa siswa kelas atas mencoba masuk ke ruangan untuk melihat pendampingan belajar. Meskipun demikian siswa tersebut tidak mempedulikan keadaan sekitar yang ramai, siswa tetap fokus bekerja dengan kancing penjumlahan dan pengurangan. Keadaan tersebut tampak berbeda ketika siswa mengikuti pembelajaran selama jam sekolah berlangsung. Siswa mudah terpengaruh dengan situasi yang tidak kondusif, ketika situasi di luar ramai siswa berlari ke jendela untuk melihat apa yang terjadi. Selain itu siswa juga cenderung menghentikan pekerjaannya selama pembelajaran ketika ada siswa lain yang mengajaknya berbicara.

  Seminggu setelah pelaksanaan posttest guru menyampaikan bahwa keenam siswa yang mengikuti pendampingan belajar menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan mengalami kemajuan dalam penjumlahan dan pengurangan. Keenam siswa tersebut sudah lancar dalam melakukan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan meskipun bilangan yang digunakan besar (terdiri dari dua angka). Selain itu keenam siswa tersebut juga dapat menentukan nilai tempat sebuah bilangan dengan tepat.

  4.4.6.2 Siswa Kelas I

  Setelah pelaksanaan posttest, peneliti melakukan wawancara terhadap keenam siswa kelas I yang menjadi subjek penelitian mengenai perasaan dan kesan siswa terhadap pendampingan belajar yang sudah dilaksanakan. Berdasarkan hasil wawancara tersebut diperoleh hasil: (1) siswa merasa senang ketika belajar menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan karena hal tersebut merupakan hal baru bagi mereka, (2) siswa merasa senang dengan warna alat peraga yang berwarna-warni sesuai dengan pilihan warna siswa, dan (3) siswa merasa senang ketika dapat memberikan contoh yang benar kepada temannya dalam menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan.

  4.4.6.3 Peneliti

  Peneliti menilai bahwa produk yang dikembangkan memiliki kualitas yang sangat baik, terbukti dari pendapat yang diungkapkan oleh guru kelas I dan siswa kelas I. Lalu, meski baru baru diuji secara terbatas produk ini bukan hanya memiliki kualitas yang sangat baik tapi juga sangat efektif untuk pembelajaran, terbukti dari hasil peningkatan nilai posttest. Hasil penilaian tersebut menunjukkan bahwa kancing penjumlahan dan pengurangan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut melalui uji coba lapangan yang lebih luas.

BAB V PENUTUP Dalam bab ini diuraikan (1) kesimpulan, (2) keterbatasan penelitian, dan (3) saran.

5.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  5.1.1 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I semester 2 di SD Krekah tahun ajaran 2012/2013 mengandung lima ciri alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-correction dan (5) kontekstual. Menarik terletak pada warna kancing penjumlahan dan pengurangan. Bergradasi yang terletak pada keterlibatan lebih dari satu indera ketika alat peraga digunakan oleh anak, yaitu indera penglihatan dan peraba. Selain itu gradasi juga terletak pada potensi alat yang dapat digunakan secara berkelanjutan untuk kelas selanjutnya dengan materi yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan. Auto-education terletak pada penggunaan kancing penjumlahan dan pengurangan oleh siswa secara mandiri untuk mengenal konsep dan melakukan latihan. Auto-correction terletak pada bentuk kancing berbeda antara satuan, puluhan, dan ratusan, serta kunci jawaban yang terletak pada halaman sebalik kartu soal. kontekstual terletak pada bahan yang digunakan oleh peneliti dalam membuat kancing penjumlahan dan pengurangan, yaitu tempurung kelapa.

  5.1.2 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih kemampuan penjumlahan dan pengurangan pada siswa kelas I semester 2 di SD Krekah tahun ajaran 2012/2013 mempunyai kualitas “sangat baik”. Hal tersebut ditunjukkan dengan skor rerata validasi produk dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, guru kelas I, dan siswa kelas I SD Krekah. Alat peraga kancing penjumlahan dan pengurangan memperoleh skor rerata 4,31 dan termasuk kategori “sangat baik” ditinjau dari aspek lima kriteria alat paraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-

  correction , dan (5) kontekstual. Alat peraga yang dikembangkan terbukti

  dapat mengatasi kesulitan belajar siswa dalam penjumlahan dan pengurangan. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan skor posttest siswa sebesar 73,44%.

5.2 Keterbatasan Penelitian

  Produk yang dikembangkan memiliki beberapa keterbatasan, yaitu:

  5.2.1 Produk yang dikembangkan hanya melalui satu kali tahapan uji validasi produk oleh para ahli.

  5.2.2 Pada uji validasi produk oleh para ahli, belum adanya ahli Montessori.

  5.2.3 Uji coba lapangan terhadap produk baru dilakukan dalam skala yang terbatas.

  5.2.4 Soal pretest dan posttest yang digunakan pada uji coba lapangan terbatas belum diuji validitas dan reabilitasnya.

5.3 Saran

  Saran untuk peneliti selanjutnya yang akan mengembangkan alat peraga Montessori adalah sebagai berikut:

  5.3.1 Validasi produk oleh para ahli dilakukan lebih dari satu kali.

  5.3.2 Adanya ahli Montessori dalam uji validasi terhadap alat peraga yang dikembangkan.

  5.3.3 Uji coba lapangan dilakukan dalam skala yang lebih luas dengan adanya kelompok kontrol.

  5.3.4 Soal pretest dan posttest diuji validitas dan reabilitas terlebih dahulu sebelum diberikan kepada siswa.

DAFTAR REFERENSI

  Amin, S. M., & Sani, Z. M. (2007). Matematika SD di sekitar kita untuk sekolah dasar kelas I semester 2 . Jakarta: Erlangga. Arifin, Z. (2009). Evaluasi pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Standar isi dan standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar . Jakarta: BP. Cipta Jaya. Desmita, (2009). Psikologi perkembangan peserta didik panduan bagi orang tua dan guru dalam memahami pskologi anak usia SD, SMP, dan SMA .

  Bandung: ROSDA. Dewantara, K.H. (1962). Karja Ki Hajar Dewantara. Yogyakarta: Madjelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

  Frick, T. W., and Koh, J. H. L. (2010). Implementing autonomy support: Insights from a Montessori classroom. International Journal of Education, 2(2). 1- 12. dilihat pada

  27 Oktober 2012, dari

  

  Gall, D., Gall, J. P., & Borg, W. R. (2007). Educational research: An introduction

  (

  8

  ℎ edt.) . Boston: Pearson Education, Inc.

  Hainstock, E. G. (1997). The essential Montessori an introduction to the woman, the writings, the method, and the movement . New York: Penguin Books. Hariyanto, S. D. (2011). Belajar dan pembelajaran: teori dan konsep dasar.

  Bandung: Remaja Rosdakarya. Kahn, D. (2003). Montessori and optimal experience research: Toward building a comprehensive education reform, The NAMTA Journal, 28(3). 1-10. dilihat pada

  27 Oktober 2012,

   Kelompok 1. (2011). Album matematika Montessori: Anak usia 6-9 tahun.

  Yogyakarta: PGSD Universitas Sanata Dharma. Kristinawati, E (2012). Peningkatan pemahaman operasi hitung pengjumlahan

  dan pengurangan bilangan cacah melalui permainan kartu bridge pada siswa kelas II SDN 01 Gemantar Jumantono pada mata pelajaran

  matematika, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Skripsi. Tidak dipublikasikan. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

  Letten. (2010). Peningkatan kemampuan berhitung dalam operasi penjumlahan

  dan pengurangan menggunakan media kertas berwarna pada siswa kelas I SDK Kotabaru Yogyakarta , Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Skripsi.

  Tidak dipublikasikan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Magini, A. P. (2010). Ciri-ciri alat peraga dengan pendekatan montessori dalam

  modul workshop Maria Montessori usia 3-6 tahun

  , Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Magini, A. P. (2010), Presentasi perkembangan anak dalam modul workshop Maria Montessori usia 3-6 tahun , Yogyakrta: Universitas Sanata Dharma. Margono, S. (2003). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Montessori.(1965).

  DR. Montessori’s own handbook. New York: Shocken Books.

  Montessori. (1949). The absorbent mind. Rev. Ed. Trans. Claude A. Claremont.

  India: Kalakshetra. Montessori, M. (2002). The Montessori method. New York: Dover Publication. Rathunde, K. (2003) . A comparison of Montessori and traditional middle schools:

  Motivation, quality of experience, and social context. The NAMTA

  Journal , 28(3), 13-46. dilihat pada

  1 Mei 2013, dari

  

  Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan (Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D) . Bandung: Alfabeta. Sukardjo. (2008). Kumpulan materi evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Sukmadinata, N. S. (2011). Metode penelitian pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Siregar, E., & Nara, H. (2010). Teori belajar dan pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia. Suryati, L. A. (2012) .Peningkatan perhatian siswa dalam mengikuti

  pembelajaran matematika melalui media botol hijau kuning pada siswa kelas III SD negeri 02 Sambirejo Jumantoro Karanganyar tahun

  2011/2012 . Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Skripsi. Tidak dipublikasikan. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

  Tim, S. (2006), How to raise an amazing child the Montessori Way. New York: DK. Undang-Undang (UU) Republik Indonesia No 20.tahun 2003. Diunduh tanggal

  15 Desember 2012.

  

  Yusuf, S., & Sugandhi, N. M. (2011). Perkembangan peserta didik: Mata kuliah

  dasar profesi (MKDP) Bagi para mahasiswa calon guru di lembaga

pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) . Jakarta: Rajawali Press.

  

LAMPIRAN

  Lampiran 1. Instrumen Analisis Kebutuhan Lampiran 1.1 Kisi-kisi Wawancara

Tabel 3.1 Kisi-kisi topik pertanyaan wawancara terhadap kepala sekolah No. Topik Pertanyaan

  1. Identitas dan informasi yang berkaitan dengan sekolah meliputi sejarah dan perkembangannya.

  2. Ketersediaan alat peraga di sekolah meliputi: a.

  Alat peraga yang sudah ada di sekolah b.

  Pengadaan alat peraga di sekolah c. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran 3. Penelitian yang sudah dilaksanakan di sekolah

Tabel 3.2 Kisi-kisi topik pertanyaan wawancara terhadap guru kelas I No. Topik Pertanyaan

1. Ketersediaan alat peraga di kelas I meliputi: a.

  Alat peraga yang dimiliki oleh kelas I b.

  Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran c. Pengadaan alat peraga oleh guru 2. Kesulitan belajar yang dialami oleh siswa 3. Usaha yang dilakukan guru untuk mengatasi kesulitan tersebut

Tabel 3.3 Kisi-kisi topik pertanyaan wawancara terhadap siswa No. Topik Pertanyaan

1. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran 2.

  Kesulitan belajar yang dialami oleh siswa Lampiran 1.2 Kisi-kisi Kuesioner

Tabel 3.4 Kisi-kisi kuesioner analisis kebutuhan terhadap siswa dan guru Indikator Nomor Item

  

Menunjukkan adanya penggunaan alat peraga pembelajaran selama ini. 1, 2, 3, 4

Adanya karakteristik alat peraga yang digunakan. 5, 6 Menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan alat peraga dengan 7, 8, 9, 10 konsep Matematika.

  Lampiran 1.3 Kuesioner Analisis Kebutuhan Terhadap Guru

  Lampiran 1.4 Kuesioner Analisis Kebutuhan Terhadap Siswa

  Lampiran 1.5 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa Waktu : 28-30 Januari 2013

Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Analisis Kebutuhan Siswa No. Butir Pertanyaan Jumlah Perentase Resp.

1 Apakah gurumu pernah menggunakan alat peraga ketika mengajar

  matematika? a.

  2 7,41% Pernah, sebutkan …

b. Tidak pernah

  25 92,59%

  2 Manakah yang lebih kamu suka?

  a. Belajar matematika menggunakan alat peraga 16 59,26 %

  b. Belajar matematika tanpa menggunakan alat peraga 11 40,74%

  3 Apakah kamu pernah menggunakan benda-benda yang ada di sekitarmu untuk belajar matematika? a.

  Pernah, sebutkan …. 7 25,93%

  b. Tidak pernah 20 74,07%

  Menurutmu, manakah benda di sekitar yang dapat digunakan untuk

  4 belajar matematika?

  a. Kayu 17 62,96%

  b. Tempurung kelapa 9 33,33%

  c. Lainnya, sebutkan: lidi 4 14,81%

  5.1 Urutkan ciri-ciri alat peraga dari yang paling menarik sesuai dengan kesukaanmu! Berilah nomor 1 sampai 3 pada tempat yang disediakan, 1 untuk ciri yang paling kamu sukai.

  (Urutan 1) a.

  Warna 21 77,78% b.

  Bentuk 2 7,41% c.

  Bahan 4 14,81%

  5.2 Urutkan ciri-ciri alat peraga dari yang paling menarik sesuai dengan kesukaanmu! Berilah nomor 1 sampai 3 pada tempat yang disediakan, 1 untuk ciri yang paling kamu sukai.

  (Urutan 2)

  d. Warna 5 18,52%

  e. Bentuk 20 74,07%

  f. Bahan 2 7,41%

5.3 Urutkan ciri-ciri alat peraga dari yang paling menarik sesuai dengan

  kesukaanmu! Berilah nomor 1 sampai 3 pada tempatyang disediakan, 1 untuk ciri yang paling kamu sukai. (Urutan 3)

  g. Warna

  h. Bentuk 5 18,52% i. Bahan

  22 81,48% Apakah kamu memerlukan alat peraga yang mudah dibawa?

  6

  a. Perlu 26 96,30%

  b. Tidak perlu 1 3,70%

7 Menurutmu, apakah alat peraga memudahkanmu belajar matematika?

  a. Ya 25 92,59%

  b. Tidak 2 7,41%

  8 Manakah yang lebih kamu suka saat belajar matematika?

  a. Mengetahui kesalahanmu sendiri dari alat peraga saat belajar matematika 16 59,26%

  b. Mengetahui kesalahanmu karena diberitahu guru atau teman ketika belajar matematika menggunakan alat peraga 11 40,74%

  9 Apakah kamu dapat menggunakan alat peraga tanpa bantuan guru atau teman untuk belajar matematika?

  a. Dapat 26 96,30%

  b. Tidak dapat 1 3,70%

10 Manakah yang lebih kamu suka?

  a. Menggunakan alat peraga secara individu untuk belajar matematika 18 66,67%

  b. Menggunakan alat peraga secara berkelompok untuk belajar matematika 5 18,52%

  c. Menggunakan alat peraga secara klasikal untuk belajar matematika 4 14,81%

  Lampiran 2. Instrumen Validasi Ahli Lampiran 2.1 Kisi-kisi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Ahli

  6

  5

  3

  5

  4

  5

  5

  4

  4

  4

  7

  4

  8

  5

  9

  4

  10

  5 Rerata Skor

  2

  1

Tabel 3.5 Kisi-kisi Kuesioner Penilaian Kancing Penjumlahan dan Pengurangan oleh Para Ahli

  3 Auto-correction Mengetahui kesalahan sendiri

  No. Karakteristik Alat Peraga Indikator No.Item

  1 Menarik Menunjukkan warna yang menarik

  1 Menunjukkan bentuk yang menarik

  2

  2 Bergradasi Memiliki rangsangan terhadap beberapa indera

  3 Menunjukkan bahwa alat peraga dapat digunakan pada jenjang kelas yang berbeda

  4

  5 Membetulkan kesalahan sendiri

  

No. Pernyataan Skor

  6

  4 Auto-education Berlatih secara mandiri

  7 Memahami konsep secara mandiri

  8

  5 Kontekstual Bahan mudah di temukan di lingkungan sekitar

  9 Alat peraga dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar

  10 Lampiran 2.2 Rekapitulasi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar Pembelajaran Matematika

Tabel 4.4 Rekapitulasi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar Pembelajaran Matematika

  4.5 Kategori Sangat Baik

  

Lampiran 2.3 Rekapitulasi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar Alat

Peraga

  4

  4

  2

  4

  3

  4

  4

  4

  5

  6

Tabel 4.6 Rekapitulasi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Guru Kelas I No. Pernyataan Skor

  4

  7

  2

  8

  4

  9

  4

  10

  1

  5 Rerata Skor 4,3 Kategori Sangat Baik Lampiran 2.4 Rekapitulasi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Guru Kelas I

Tabel 4.5 Rekapitulasi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Pakar Alat Peraga No. Pernyataan Skor

  5

  1

  5

  2

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  10

  6

  4

  7

  4

  8

  4

  9

  5

  4 Rerata Skor 3,8 Kategori Baik

  Lampiran 2.5 Resume Hasil Penilaian Alat Peraga oleh Para Ahli

Tabel 4.7 Rekapitulasi penilaian alat peraga oleh para ahli No. Ahli Skor Kategori

  1. Pakar pembelajaran matematika 4,5 “Sangat baik”

  2. Pakar alat peraga 4,3 “Sangat baik”

  3. Guru Kelas I 3,8 “Baik” Rerata Skor 4,2 Kategori

  “Baik”

  Lampiran 3. Uji Coba Lapangan Terbatas dengan Tes Lampiran 3.1 Kisi-kisi Soal Pretest dan Posttest

Tabel 3.6 Kisi-Kisi Soal Pretest dan Postest Penjumlahan dan Pengurangan

  

Kategori Indikator Nomor Soal

Penjumlahan bilangan dua angka dengan satu 1,2,3,4,5 angka

  Penjumlahan Penjumlahan bilangan dua angka dengan 6,7,8,9 bilangan dua angka Penjumlahan dengan teknik menyimpan

  10 Pengurangan bilangan dua angka dengan satu 11,12,13,14,15 angka Pengurangan bilangan dua angka dengan 16,17,18,19 Pengurangan bilangan dua angka

Pengurangan bilangan dengan teknik

  20 meminjam

  Lampiran 3.2 Sampel Pretest

  Lampiran 3.2 Sampel Posttetst

  Lampiran 4. Kuesioner Uji Coba Lapangan Terbatas Lampiran 4.1 Kisi-Kisi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa

  4 Auto-education Berlatih secara mandiri

  5. B 4,7 “Sangat Baik”

  4. L 4,6 “Sangat Baik”

  3. A 4,8 “Sangat Baik”

  2. E 4,7 “Sangat Baik”

  1. F 4,5 “Sangat Baik”

Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa Kelas I No. Siswa Skor Kategori

  5 Kontekstual Bahan mudah ditemukan di lingkungan sekitar 9,10

Lampiran 4.2 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa

  8

  7 Memahami konsep secara mandiri

  6

Tabel 3.7 Kisi-Kisi Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa No. Karakteristik

  5 Mengoreksi kesalahan sendiri

  3 Auto-correct Mengetahui kesalahan sendiri

  4

  3 Menunjukkan bahwa alat peraga dapat digunakan pada jenjang kelas yang berbeda

  2 Bergradasi Memiliki rangsangan terhadap beberapa indera

  2

  1 Menunjukkan bentuk yang menarik

  1 Menarik Menunjukkan warna yang menarik

  Alat Peraga Indikator No.Item

  6. S 4,6 “Sangat Baik” Rerata Skor 4,65 Kategori “Sangat Baik”

  Lampiran 4.3 Sampel Kuesioner Penilaian Alat Peraga oleh Siswa

  Lampiran 5. Surat permohonan Ijin Penelitian ke SD

  Lampiran 6. Surat keterangan Telah Melaksanakan Penelitian dari SD

  Lampiran 7. Dokumentasi Lampiran 7.1 Desain Alat Peraga

  Lampiran 7.1.1 Desain Kancing Penjumlahan dan Pengurangan

  Lampiran 7.1.2 Desain Kotak Alat Peraga dan Tutupnya

  Lampiran 7.1.3 Desain Kotak Soal

  Lampiran 7.2 Kancing Penjumlahan dan Pengurangan

  Gambar 1. Kancing penjumlahan dan pengurangan Gambar 2. Kartu soal penjumlahan dan pengurangan

  Lampiran 7.3 Uji Coba Lapangan Terbatas

  Gambar 2. Siswa mengerjakan soal pretest secara individu tanpa alat peraga (Jumat, 5 April 2013)

  Gambar 3. Siswa (kel.B) menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan untuk menyelesaikan soal penjumlahan secara mandiri (Kamis, 11 April 2013)

  Gambar 4. Siswa berlatih mengenal nilai tempat pada bilangan menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan (Jumat, 12 April 2013) Gambar 5. Siswa (kel. C) berlatih memasangkan kancing dengan kartu bilangan

  (Jumat, 12 April 2013) Gambar 6. Siswa (kel. A) menggunakan kancing penjumlahan dan pengurangan untuk menyelesaikan soal latihan pengurangan (Selasa, 16 April 2013) Gambar 7. Siswa mengerjakan soal posttest secara individu tanpa menggunakan alat peraga (Senin, 22 April 2013)

  Lampiran 8. Album Alat Peraga

MATA PELAJARAN

MATEMATIKA

  

A. Materi Pembelajaran : KONSEP DAN LATIHAN PENJUMLAHAN

A.1 Tema Pembelajaran : Pengantar Alat Peraga :

  1. Kancing penjumlahan yang terdiri dari: Kancing satuan berwarna hijau

  • Kancing puluhan berwarna kuning
  • Kancing ratusan berwarna merah
  • 2. Kartu bilangan yang terdiri dari

  Kartu bilangan satuan berwarna hijau

  • Kartu bilangan puluhan berwarna kuning
  • Kartu bilangan ratusan berwarna merah
  • Tujuan Langsung : 1.

  Mengenalkan konsep bilangan satuan, puluhan dan ratusan

  Usia : dari usia 6 tahun Syarat : Anak sudah dapat membilang bilangan sampai

  dengan 100.

  Presentasi : 1.

  Membawa alat peraga ke lokasi kerja.

  2. Mengundang anak untuk bekerja bersama direktris.

  3. Direktris membuka kotak kancing penjumlahan dan pengurangan.

  4. Direktris mengambil 1 kancing satuan berwarna hijau sambil berkata, “Ini satu, kancing satuan.” 5.

  Direktris bertanya kepada anak, “Mau memegangnya?

  6. Direktris memberikan kesempatan kepada anak untuk memegang dan meraba kancing satuan.

  7. Direktris meletakkan kancing satuan pada alas kerja.

  8. Direktris mengambil 1 kancing puluhan yang berwarna kuning sambil berkata, “Ini kancing puluhan”.

  9. Direktris meminta anak untuk menghitung jumlah kancing pada kancing puluhan.

  10. Direktris meletakkan kancing puluhan di atas kancing satuan.

  11. Direktris mengambil 1 kancing ratusan yang berwarna merah sambil berkata, “Ini kancing ratusan.”

  12. Direktris menghitung jumlah kancing ratusan dengan menggunakan kancing puluhan.

  13. Direktris meletakkan kancing ratusan di atas kancing puluhan.

  14. Direktris bertanya kepada anak, “Mana kancing satuan?” 15.

  Direktris bertanya kepada anak, “Mana kancing ratusan?” 16. Direktris bertaya, “Mana kancing puluhan?” 17. Direktris bertanya, “Ini kancing berapa?” sambil menunjuk kancing puluhan.

  18. Direktris bertanya, “Ini kancing berapa?”sambil menunjuk kancing satuan.

  19. Direktris bertanya, “Ini kancing berapa?” sambil menunjuk kancing ratusan.

  20. Direktris mengeluarkan kartu bilangan.

  21. Direktris mengambil kartu bilangan satu yang berwarna hijau dan meletakkannya di sebelah kanan kancing satuan sambil berkata, “satu”.

  22. Direktris mengambil kartu bilangan sepuluh yang berwarna kuning dan meletakkannya di sebelah kanan kancing puluhan sambil berkata, “sepuluh”.

  23. Direktris mengambil kartu bilangan seratus dan meletakkannya di sebelah kanan kancing ratusan sambil berkata, “seratus”.

  24. Direktris meminta anak membantu mengembalikan alat peraga ke tempatnya.

  Pengendali Kesalahan :

  • Kartu bilangan

  Jumlah kancing

  A.2 Tema Pembelajaran : Penjumlahan tanpa teknik menyimpan Alat Peraga :

  1. Kancing penjumlahan yang terdiri dari: Kancing satuan berwarna hijau

  • Kancing puluhan berwarna kuning
  • Kancing ratusan berwarna merah
  • 2. Kartu bilangan yang terdiri dari

  Kartu bilangan satuan berwarna hijau

  • Kartu bilangan puluhan berwarna kuning
  • Kartu bilangan ratusan berwarna merah
  • 3. Kartu soal

  Tujuan Langsung : 1.

  Mengenalkan konsep penjumlahan tanpa teknik menyimpan.

  2. Latihan melakukan operasi hitung penjumlahan tanpa teknik menyimpan

  Usia : dari usia 6 tahun Syarat : Anak sudah dapat membilang bilangan sampai

  dengan 100.

  Presentasi : 1.

  Membawa alat peraga ke lokasi kerja.

  2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan tanpa teknik menyimpan.

  3. Direktris mengambil salah satu kartu soal, misal 11 + 13.

  4. Direktris meminta anak menuliskan soal tersebut pada lembar kerja.

  5. Direktris menyusun kartu bilangan 11 6.

  Direktris mengambil 1 kancing satuan dan 1 kancing puluhan kemudian meletakkan di sebelah kartu bilangan 11.

  7. Direktris mengambil kartu simbol penjumlahan (+) kemudian meletakkannya di bawah kartu bilangan 11.

  8. Direktris menyusun kartu bilangan 13 dibawah kartu simbol penjumlahan (+).

  9. Direktris meminta anak untuk memasangkan kancing yang sesuai dengan kartu bilangan 13.

  10. Direktris meminta anak untuk menghitung jumlah semua kancing mulai dari kancing satuan kemudian puluhan.

  11. Direktris meminta anak menuliskan hasil penjumlahan tersebut pada lembar kerja.

  12. Direktris mengecek jawaban anak menggunakan kunci jawaban yang ada pada halaman sebalik kartu soal.

  13. Anak melanjutkan latihan soal selanjutnya.

  14. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula ketika sudah selesai menggunakannya.

  Pengendali Kesalahan :

  Kunci jawaban

  • Jumlah kancing
  • >Kartu bilangan

  A.3 Tema Pembelajaran : Penjumlahan dengan teknik menyimpan Alat Peraga :

  1. Kancing penjumlahan yang terdiri dari: Kancing satuan berwarna hijau

  • Kancing puluhan berwarna kuning
  • Kancing ratusan berwarna merah
  • 2. Kartu bilangan yang terdiri dari
  • Kartu bilangan puluhan berwarna kuning

  Kartu bilangan satuan berwarna hijau

  • Kartu bilangan ratusan berwarna merah
  • 3. Kartu soal

  Tujuan Langsung : 1.

  Mengenalkan konsep penjumlahan dengan teknik menyimpan.

  2. Latihan melakukan operasi hitung penjumlahan dengan teknik menyimpan

  Usia

  : dari usia 6 tahun

  

Syarat : Anak sudah dapat melakukan penjumlahan

tanpa teknik menyimpan.

  Presentasi : 1. Membawa alat peraga ke lokasi kerja.

  2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan tanpa teknik menyimpan.

  3. Direktris mengambil salah satu kartu soal, misal 14 + 9.

  4. Direktris meminta anak untuk menuliskan soal tersebut pada lembar kerja.

  5. Direktris menyusun kartu bilangan 14

  6. Direktris mengambil 4 kancing satuan dan 1 kancing puuhan kemudian meletakkannya di sebelah kartu bilangan 14.

  7. Direktris mengambil kartu simbol penjumlahan (+) kemudian meletakkannya di bawah kartu bilangan 14.

  8. Direktris menyusun kartu bilangan 9 kemudian meletakkannya di bawah kartu simbol penjumlahan (+).

  9. Direktris meminta anak memasangkan kancing yang sesuai dengan kartu bilangan 9.

10. Direktris meminta anak menghitung jumlah semua kancing, dimulai dari kancing satuan. Jumlah seluruh kancing satuan adalah 13.

  Direktris mengganti 10 kancing satuan dengan 1 kancing puluhan lalu meletakkannya pada kelompok puluhan sehingga kancing satuan tersisa 3 kancing.

  Jumlah semua manik (14+9) 10 satuan ditukar dengan 1 puluhan

  11. Direktris meminta anak menghitung jumlah seluruh kancing puluhan, terdapat 2 kancing puluhan yang menunjukkan bilangan 20. jumlah kancing setelah 10 kancing satuan ditukar dengan 1 kancing puluhan 12.

  Direktris meminta anak menghitung hasil dari 14 + 9.

  13. Direktris meminta anak menuliskan hasil dari 14 + 9 pada lembar kerja.

  14. Direktris mengecek jawaban anak menggunakan kunci jawaban yang ada pada halaman sebalik kartu soal.

  15. Anak melanjutkan latihan soal selanjutnya.

  16. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula ketika sudah selesai menggunakannya.

  Pengendali Kesalahan :

  • Jumlah kancing

  Kunci jawaban

  • Kartu bilangan

  A.4 Tema Pembelajaran : Penjumlahan bilangan dengan angka 0 Alat Peraga :

  1. Kancing penjumlahan yang terdiri dari: Kancing satuan berwarna hijau

  • Kancing puluhan berwarna kuning
  • Kancing ratusan berwarna merah
  • 2. Kartu bilangan yang terdiri dari
  • Kartu bilangan puluhan berwarna kuning

  Kartu bilangan satuan berwarna hijau

  • Kartu bilangan ratusan berwarna merah
  • 3. Kartu soal

  Tujuan Langsung : 1.

  Mengenalkan konsep penjumlahan bilangan dengan angka 0.

  2. Latihan penjumlahan bilangan dengan angka 0.

  Usia : dari usia 6 tahun Syarat :

  1. Anak sudah dapat melakukan penjumlahan tanpa teknik menyimpan.

  2. Anak sudah dapat melakukan penjumlahan dengan teknik menyimpan.

  Presentasi 1 : 1.

  Membawa alat peraga ke lokasi kerja.

  2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan bilangan dengan angka 0.

  3. Direktris mengambil salah satu kartu soal, misal 7 + 20.

  4. Direktris meminta anak untuk menuliskan soal tersebut pada lembar kerja.

  5. Direktris menyusun kartu bilangan 7.

  6. Direktris meminta anak memasangkan kancing yang sesuai dengan kartu bilangan 7.

  7. Direktris mengambil kartu simbol penjumlahan (+) kemudian meletakkannya di bawah kartu bilangan 7.

  8. Diirektris menyusun kartu bilangan 20 kemudian meletakkannya di bawah kartu simbol penjumlahan (+).

  9. Direktris meminta anak memasangkan kancing yang sesuai dengan kartu bilangan 20.

  10. Direktris meminta anak menghitung jumlah seluruh kancing mulai dari kancing satuan.

  11. Direktris bertanya kepada anak, “Berapa 7 + 20?” 12.

  Direktris meminta anak menuliskan hasil dari 7 + 20 pada lembar kerja.

  13. Direktris mengecek jawaban anak menggunakan junci jawaban yang ada pada halaman sebalik soal.

  14. Anak melajutkan latihan soal yang lain.

  15. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan.

  Pengendali Kesalahan :

  • Jumlah kancing

  Kunci jawaban

  • Kartu bilangan

  

B. Materi Pembelajaran : KONSEP DAN LATIHAN PENGURANGAN

B.1 Tema Pembelajaran : Pengurangan tanpa teknik meminjam Alat Peraga :

  1. Kancing penjumlahan yang terdiri dari:

  • Kancing satuan berwarna hijau
  • Kancing puluhan berwarna kuning
  • Kancing ratusan berwarna merah

  2. Kartu bilangan yang terdiri dari

  • Kartu bilangan satuan berwarna hijau
  • Kartu bilangan puluhan berwarna kuning
  • Kartu bilangan ratusan berwarna merah

  3. Kartu soal

  Tujuan Langsung : 2.

  Mengenalkan konsep pengurangan tanpa teknik meminjam.

3. Melatih melakukan operasi hitung pengurangan tanpa teknik meminjam

  Usia : dari usia 6 tahun Syarat : Anak sudah dapat membilang bilangan sampai

  dengan 100.

  Presentasi : 1.

  Membawa alat peraga ke lokasi kerja.

  2. Mengundang anak untuk bermain pengurangan tanpa teknik meminjam.

  3. Direktris mengambil salah satu kartu soal, misal 15-12.

  4. Direktris meminta anak menuliskan soal tersebut pada lembar kerja.

  5. Direktris menyusun kartu bilangan 15.

  6. Direktris meminta anak memasangkan kancing yang sesuai dengan kartu bilangan 15.

  7. Direktris mengambil kartu simbol pengurangan (-) kemudian meletakannya di bawah kartu bilangan 15.

  8. Direktris menyusun kartu bilangan 12 di bawah simbol pengurangan (-).

  9. Direktris mengatakan kepada anak 15 – 12 sambil menunjuk bilangan 15 dan 12.

  10. Direktris mengambil 2 kancing satuan dari bilangan 15 lalu meletakannya di sebelah kartu bilangan 12.

  11. Direktris mengambil 1 kancing puluhan dari bilangan 15 lalu meletakannya di sebelah kiri kancing satuan.

  12. Direktris mengatakan kepada anak, “Ini 12.” 13.

  Direktris meminta anak menghitung sisa kancing yang ada pada bilangan 15.

  14. Direktris menanyakan kepada anak, “Jadi, berapa 15-12?” 15.

  Direktris meminta anak menuliskan hasilnya pada lembar kerja.

  16. Direktris mengecek jawaban siswa menggunakan kunci jawaban yang ada di halaman sebalik kartu soal.

  17. Anak melanjutkan dengan latihan soal selanjutnya.

  Pengendali Kesalahan :

  • Kunci jawaban
  • Jumlah kancing

  B.2 Tema Pembelajaran : Pengurangan dengan teknik meminjam Alat Peraga :

  1. Kancing penjumlahan yang terdiri dari:

  • Kancing satuan berwarna hijau
  • Kancing puluhan berwarna kuning
  • Kancing ratusan berwarna merah

  2. Kartu bilangan yang terdiri dari

  • Kartu bilangan satuan berwarna hijau
  • Kartu bilangan puluhan berwarna kuning
  • Kartu bilangan ratusan berwarna merah

  3. Kartu soal

  Tujuan Langsung : 1.

  Mengenalkan konsep pengurangan dengan teknik meminjam.

  2. Latihan melakukan operasi hitung pengurangan dengan teknik meminjam

  Usia : dari usia 6 tahun

Syarat : Anak sudah dapat melakukan pengurangan

  dengan teknik meminjam.

  Presentasi : 1.

  Membawa alat peraga ke lokasi kerja.

  2. Mengundang anak untuk bermain pengurangan dengan teknik meminjam.

  3. Direktris mengambil salah satu kartu soal, misal 12-8.

  4. Direktris meminta anak menuliskan soal tersebut pada lembar kerja.

  5. Direktris menyusun kartu bilangan 12.

  6. Direktris meminta anak memasangkan kancing yang sesuai dengan kartu bilangan 12.

  7. Direktris mengambil kartu simbol pengurangan (-) kemudian meletakannya di bawah kartu bilangan 12.

  8. Direktris menyusun kartu bilangan 8 kemudian meletakannya di bawah kartu simbol pengurangan (-).

  9. Direktris mengatakan kepada anak 12 – 8 sambil menunjuk bilangan 12 dan 8.

  10. Direktris bertanya kepada anak, “Bisakah kita mengambil 8 kancing satuan dari 2 kancing satuan pada bilangan 12?” 11.

  Direktris mengatakan kepada anak, “Kita pinjam 1 kancing puluhan dari bilangan 12 kemudian kita tukarkan dengan 10 kancing satuan”.

  12. Direktris menukarkan 1 kancing puluhan dari bilangan 12 dengan 10 kancing satuan kemudian meletakannya pada bilangan 12.

  1 kancing puluhan ditukar dengan 10 kancing satuan

  13. Direktris meminta anak menghitung jumlah kancing satuan pada bilangan 12.

  14. Direktris bertanya kepada anak, “Apakah sama jumlahnya dengan tadi?” 15.

  Direktris bertanya kepada anak, “Apakah sekarang kita sudah bisa mengambil 8 kancing satuan dari bilangan 12?”

  16. Direktris mengambil 8 kancing satuan dari bilangan 12 kemudian meletakannya di sebelah kartu bilangan 8.

  17. Direktris meminta anak menghitung sisa kancing pada bilangan 12.

  18. Direktris bertanya kepada anak, “Jadi, berapa 12-8?” 19.

  Direktris meminta anak menuliskan hasilnya pada lembar kerja.

  10 kancing satuan diletakkan menjadi satu dengan 2 kancing satuan pada bilangan 12

  21. Anak melanjutkan dengan latihan soal selanjutnya.

  20. Direktris mengecek jawaban siswa menggunakan kunci jawaban yang ada di halaman sebalik kartu soal.

  Pengendali Kesalahan :

  • Kunci jawaban
  • Jumlah kancing

  B.3 Tema Pembelajaran : Pengurangan bilangan dengan angka 0 Alat Peraga :

  1. Kancing penjumlahan yang terdiri dari:

  • Kancing satuan berwarna hijau
  • Kancing puluhan berwarna kuning
  • Kancing ratusan berwarna merah

  2. Kartu bilangan yang terdiri dari

  • Kartu bilangan satuan berwarna hijau
  • Kartu bilangan puluhan berwarna kuning
  • Kartu bilangan ratusan berwarna merah

  3. Kartu soal

  Tujuan Langsung : 1. Latihan pengurangan bilangan dengan angka 0. Syarat :

  Anak sudah dapat melakukan pengurangan tanpa teknik meminjam dan pengurangan dengan teknik meminjam.

  Presentasi 1 : 1.

  Membawa alat peraga ke lokasi kerja.

  2. Mengundang anak untuk bermain pengurangan bilangan dengan angka 0.

  3. Direktris mengambil salah satu kartu soal, misal 95-50.

  4. Direktris meminta anak menuliskan soal tersebut pada lembar kerja.

  5. Direktris menyusun kartu bilangan 95.

  6. Direktris meminta anak memasangkan kancing yang sesuai dengan kartu bilangan 95.

  7. Direktris mengambil kartu simbol pengurangan (-) kemudian meletakannya di bawah kartu bilangan 95.

  8. Direktris menyusun kartu bilangan 50 kemudian meletakannya di bawah kartu simbol pengurangan (-).

  9. Direktris mengatakan kepada anak 95-50 sambil menunjuk bilangan 95 dan 50.

  10. Direktris bertanya kepada anak, “Bisakah kita mengambil 5 kancing puluhan dari bilangan 95?’

  11. Direktris mengambil 5 kancing puluhan dari bilangan 95 kemudian meletakannya di sebelah kanan kartu bilangan 50.

  12. Direktris meminta anak menghitung sisa kancing pada bilangan 95.

  13. Direktris bertanya kepada anak, “Jadi, berapa 95-50?” 14.

  Direktris meminta anak menuliskan hasilnya pada lembar kerja.

  16. Anak melanjutkan dengan latihan soal selanjutnya.

  15. Direktris mengecek jawaban siswa menggunakan kunci jawaban yang ada di halaman sebalik kartu soal.

  Pengendali Kesalahan :

  • Kunci jawaban
  • Jumlah kancing

  B.3 Tema Pembelajaran : Pengurangan bilangan dengan angka 0 Alat Peraga :

  1. Kancing penjumlahan yang terdiri dari:

  • Kancing satuan berwarna hijau
  • Kancing puluhan berwarna kuning
  • Kancing ratusan berwarna merah

  2. Kartu bilangan yang terdiri dari

  • Kartu bilangan satuan berwarna hijau
  • Kartu bilangan puluhan berwarna kuning
  • Kartu bilangan ratusan berwarna merah

  3. Kartu soal

  Tujuan Langsung : 1.

  Latihan pengurangan bilangan dengan angka 0.

  Syarat :

  Anak sudah dapat melakukan pengurangan tanpa teknik meminjam dan pengurangan dengan teknik meminjam.

  Presentasi 2 : 1.

  Membawa alat peraga ke lokasi kerja.

  2. Mengundang anak untuk bermain pengurangan bilangan dengan angka 0.

  3. Direktris mengambil salah satu kartu soal, misal 20-12.

  4. Direktris meminta anak menuliskan soal tersebut pada lembar kerja.

  5. Direktris menyusun kartu bilangan 20.

  6. Direktris meminta anak memasangkan kancing yang sesuai dengan kartu bilangan 20.

  7. Direktris mengambil kartu simbol pengurangan (-) kemudian meletakannya di bawah kartu bilangan 20.

  8. Direktris menyusun kartu bilangan 12 kemudian meletakannya di bawah kartu simbol pengurangan (-).

  9. Direktris mengatakan kepada anak 20-12 sambil menunjuk bilangan 20 dan 12.

  10. Direktris bertanya kepada anak, “Bisakah kita mengambil 2 kancing satuan dari bilangan 20?’

  11. Direktris mengatakan kepada anak, “Kita pinjam 1 kancing puluhan dari bilangan 20 kemudian kita tukarkan dengan 10 kancing satuan”.

  12. Direktris menukarkan 1 kancing puluhan dari bilangan 20 dengan 10 kancing satuan kemudian meletakannya pada bilangan 20.

  13. Direktris meminta anak menghitung jumlah seluruh kancing pada bilangan 20.

  14. Direktris bertanya kepada anak, “Apakah sama jumlahnya dengan tadi?” 15.

  Direktris bertanya kepada anak, “Apakah sekarang kita sudah bisa mengambil 2 kancing satuan dari bilangan 20?”

  16. Direktris mengambil 2 kancing satuan dari bilangan 20 kemudian meletakannya di sebelah kartu bilangan 12.

  17. Direktris mengatakan “Dua” sambil menujuk jumlah kancing satuan pada bilangan 12.

  18. Direktris mengambil 1 kancing puluhan dari bilangan 20 kemudian meletakannya di sebelah kiri kancing satuan pada bilangan 12.

  19. Direktris mengatakan, “Ini 12” sambil menunjuk kacing pada bilangan 12.

  20. Direktris meminta anak menghitung sisa kancing pada bilagan 20.

  21. Direktris bertanya kepada anak, “Jadi, berapa 20-12?” 22.

  Direktris meminta anak menuliskan hasilnya pada lembar kerja.

  23. Direktris mengecek jawaban siswa menggunakan kunci jawaban yang ada di halaman sebalik kartu soal.

24. Anak melanjutkan dengan latihan soal selanjutnya.

  Pengendali Kesalahan :

  • Kunci jawaban
  • Jumlah kancing

CURRICULUM VITAE

  Theresia Kristi Panca Wijayanti lahir di Demak, 4 Juli 1991. Pendidikan dasar di peroleh di SD N 1 Gajah sampai dengan kelas III dan dilanjutkan di SD K Bintoro Demak, tamat pada tahun 2003. Pendidikan menengah pertama diperoleh di SMP N 2 Demak, tamat pada tahun 2006.

  Pendidikan menengah atas diperoleh di SMA Pangudi Luhur Sedayu, Yogyakarta, tamat pada tahun 2009. Pada tahun 2009, peneliti tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selama menempuh pendidikan di PGSD, peneliti mengikuti berbagai macam kegiatan di luar perkuliahan. Pada tahun 2010, peneliti mengikuti workshop pembelajaran Montessori usia 3-6 tahun sebagai peserta dan aktif dalam organisasi HMPS PGSD periode 2010/2011 sebagai Ketua I. Pada tahun 2011 peneliti mengikuti workshop pembelajaran Montessori usia 6-9 tahun sebagai panitia sekaligus peserta. Pada tahun 2012 peneliti mengikuti workshop pembelajaran Montessori usia 9-12 tahun sebagai peserta. Pada tahun 2011-2012, peneliti juga lolos dalam pendanaan PKM-M oleh Dikti dan memperoleh juara III dalam PIMNAS XXV. Masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma diakhiri dengan menulis skripsi sebagai tugas akhir yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Penjumlahan dan Pengurangan Ala Montessori untuk Siswa Kelas I SD Krekah”.

Dokumen baru

Download (150 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Pengembangan alat peraga matematika materi penjumlahan dan pengurangan untuk siswa dengan Attention Deficit and Hyperactivity Disorde (ADHD) di SD N Sarikarya.
1
2
176
Pengembangan alat peraga montessori materi perkalian untuk siswa kelas II SD.
0
33
299
Pengembangan alat peraga pembelajaran Matematika untuk siswa kelas III SD materi perkalian berbasis metode Montessori.
1
17
357
Pengembangan alat peraga matematika materi penjumlahan dan pengurangan untuk siswa dengan Attention Deficit and Hyperactivity Disorde (ADHD) di SD N Sarikarya
0
15
174
Implementasi media pegs for the algebraic peg board terhadap materi penjumlahan dan pengurangan siswa kelas I SD Kanisius Ganjuran.
0
0
276
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi penjumlahan dan pengurangan berbasis Metode Montessori.
0
26
414
Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta.
1
15
138
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta.
1
26
135
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta.
3
39
152
Pengembangan alat peraga matematika materi perkalian untuk siswa dengan lambat belajar di SD Muhammadiyah Sagan Yogyakarta
0
2
200
Pengembangan alat peraga montessori materi perkalian untuk siswa kelas II SD
0
6
297
Peningkatan kemampuan berhitung dalam penjumlahan dan pengurangan dengan metode demonstrasi menggunakan media kertas berwarna pada siswa kelas I SDK Kotabaru Yogyakarta semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010 - USD Repository
0
0
114
Analisis kesulitan siswa kelas VB SD Pangudi Luhur Sugiyapranata Klaten pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat tahun pelajaran 2009/2010 - USD Repository
0
0
288
Analisis kesulitan siswa kelas VII SMP Pius Pekalongan dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat - USD Repository
0
0
214
Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar menggunakan pendekatan kontekstual untuk melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah pada siswa kelas II SD N Cancangan Cangkringan Sleman - USD Repository
0
0
89
Show more