PEMANFAATAN CAMPURAN LUMPUR SIDOARJO DAN FLY ASH DALAM PEMBUATAN MORTAR GEOPOLIMER MUTU TINGGI | Jodjana | Jurnal Dimensi Pratama Teknik Sipil 2589 4792 1 SM

Gratis

0
0
8
1 year ago
Preview
Full text

  

PEMANFAATAN CAMPURAN LUMPUR SIDOARJO DAN FLY ASH

DALAM PEMBUATAN MORTAR GEOPOLIMER MUTU TINGGI

1 2 3 4 Aleksander Jodjana , Alvin Cahyadi Djoewardi , Antoni , Djwantoro Hardjito

  ABSTRAK : Luapan lumpur Sidoarjo merupakan permasalahan lingkungan yang hingga saat ini belum dapat diatasi. Lumpur Sidoarjo yang telah diolah sebelumnya, terbukti dapat digunakan sebagai material pozzolan yang baik, yang dapat menggantikan sebagian semen, karena mengandung SiO 2 ,

  Fe 2 O 3 dan Al 2 O 3 yang tinggi. Akan tetapi, penggunaan lumpur Sidoarjo sebagai bahan dasar pembuatan geopolimer belum dapat menghasilkan mortar geopolimer mutu tinggi. Di lain pihak, fly

  

ash sudah terbukti dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan mortar geopolimer mutu tinggi.

  Oleh karena itu, penelitian ini memanfaatkan campuran lumpur Sidoarjo dan fly ash sebagai material mortar geopolimer yang diharapkan dapat menghasilkan mortar geopolimer mutu tinggi. Dalam penelitian ini, variabel yang ditinjau adalah variasi molaritas NaOH, perbandingan massa larutan NaOH dengan sodium silikat, perbandingan larutan dengan pasta, serta perbandingan massa lumpur Sidoarjo dengan fly ash. Karakteristik mortar geopolimer yang dievaluasi adalah kuat tekan, berat jenis, kelecakan dengan menggunakan metode flow table dan initial setting test dengan menggunakan penetrometer. Dari hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dengan mencampurkan fly ash dengan lumpur Sidoarjo sebagai material dasar geopolimer, dihasilkan mortar geopolimer mutu tinggi dengan kuat tekan 64 MPa pada umur 28 hari yang telah memenuhi syarat mortar geopolimer mutu tinggi.

  KATA KUNCI : geopolimer, geopolimer mutu tinggi, lumpur Sidoarjo, fly ash, kuat tekan.

  1. PENDAHULUAN Bencana luapan lumpur di Sidoarjo yang terjadi sejak tanggal 29 Mei 2006 menyebabkan tergenangnya kawasan pemukiman, pertanian dan perindustrian di tiga kecamatan dan sekitarnya, serta mempengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Lumpur Sidoarjo yang sekarang ini semakin menumpuk perlu dimanfaatkan untuk membantu mengurangi volume lumpur yang ada. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menghentikan luapan lumpur tersebut, tapi hingga sekarang masih belum berhasil dan hanya ditampung dengan tanggul.

  Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa lumpur Sidoarjo memiliki kandungan SiO , 2 Al 2 O 3 , dan Fe 2 O 3 masing-masing lebih kurang sebesar 53%, 18%, dan 6% (Aristianto, 2006). Dengan komposisi semacam ini, material tersebut berpotensi untuk digunakan sebagai pengganti sebagian semen, yang disyaratkan harus memiliki kandungan senyawa SiO , Al O , dan Fe O minimum 70%. 2 2 3 2 3 Sebelum adanya penelitian tentang lumpur Sidoarjo yang dapat digunakan sebagai material dasar geopolimer, fly ash sudah terlebih dahulu dikenal sebagai bahan dasar yang baik untuk pembuatan 1 beton geopolimer. 2 Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra, m21410076@john.petra.ac.id 3 Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra, m21410079@john.petra.ac.id 4 Dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Krsiten Petra, antoni@petra.ac.id Dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra, djwantoro.h@petra.ac.id

   

  Fly ash dan lumpur Sidoarjo memiliki kandungan senyawa Al 2 O 3 , dan Fe 2 O 3 yang tinggi. Akan tetapi

  untuk penelitian dengan menggunakan material lumpur Sidoarjo sampai saat ini masih belum memenuhi syarat beton mutu tinggi. Sedangkan dari hasil penelitian (Leoindarto & Sanjaya, 2006) yang menggunakan material fly ash Jawa Power Paiton sebagai bahan pembuatan beton geopolimer telah memenuhi syarat beton mutu tinggi. Oleh karena itu dengan mencampurkan fly ash dengan lumpur Sidoarjo diharapkan dapat menghasilkan kuat tekan geopolimer yang baik. Sehingga dapat memanfaatkan material lumpur Sidoarjo sebagai mortar geopolimer mutu tinggi.

  2. METODE PENELITIAN Setelah melakukan pengambilan lumpur Sidoarjo yang masih basah, lumpur tersebut dibentuk seperti batu bata dengan ketebalan 2-3 cm yang tujuannya agar pada proses pembakaran lumpur tersebut matang secara merata. Selanjutnya lumpur Sidoarjo yang masih basah tersebut dioven dalam suhu o O 110 C selama 24 jam. Lalu lumpur Sidoarjo yang sudah dioven dibakar pada suhu pembakaran 700 C selama 6 jam, setelah itu penggilingan lumpur bakar Sidoarjo dilakukan selama 8 jam. Awalnya, peneliti menggunakan komposisi campuran untuk pasta geopolimer. Variabel terikatnya adalah perbandingan lumpur bakar Sidoarjo dengan fly ash yaitu 1 : 1. Sedangkan komposisi sodium silikat, NaOH, dan molaritas NaOH merupakan variabel bebas. Komposisi perbandingan sodium silikat dan larutan NaOH adalah 1,5, 2, 2,5 dan komposisi molaritas NaOH 8M dan 10M. Peneliti melakukan pencampuran lumpur menggunakan larutan NaOH, Sodium Silikat, dan fly ash dengan 3 komposisi yang sudah ditentukan. Penelitian ini menggunakan benda uji sebesar 5 x 5 x 5 cm , dan o dioven dengan suhu 110 selama 24 jam.

  Berikutnya, peneliti memvariasikan komposisi dari perbandingan antara larutan dan pasta yaitu 0,3, 0,35 dan 0,4. Larutan yang dimaksudkan adalah campuran larutan sodium silikat dan larutan NaOH. Penelitian tahap ini menggunakan perbandingan massa pasir : pasta yaitu 2 : 1. Campuran mortar yang 3 telah dibuat, dituang dalam cetakan benda uji sebesar 5 x 5 x 5 cm , dan dioven selama 24 jam pada o suhu 110 . Komposisi mix design tahap kedua ini dengan hasil kuat tekan paling tinggi yang memvariasikan komposisi dari perbandingan antara larutan dan pasta yaitu 0,3, 0,35 dan 0,4 selanjutnya dipilih sebagai komposisi mix design mortar tahap berikutnya.

  Pada tahap ketiga penelitian ini, peneliti memvariasikan komposisi dari perbandingan antara Lumpur Sidoarjo dan Fly ash yaitu 100% : 0%, 60% : 40%, 50% : 50%, 40% : 60% dan 0% :100%. Penelitian tahap ini juga menggunakan perbandingan massa pasir : pasta yaitu 2 : 1. Campuran mortar yang telah 3 dibuat, lalu dituang dalam cetakan benda uji sebesar 5 x 5 x 5 cm , dan dioven selama 24 jam pada o suhu 90 . Setelah dilakukan pengetesan, hasil dari kuat tekan, kelecakan dan berat jenisnya dianalisis.

  3. ANALISIS DAN HASIL

  3.1. Pengaruh Molaritas NaOH dan Perbandingan Larutan NaOH dengan Larutan Sodium Silikat dalam Pembuatan Pasta Geopolimer Pada penelitian pasta geopolimer dibuat 3 benda uji untuk tiap komposisi, dengan ukuran yang sama 3 yaitu 5×5×5 cm . Variabel bebas pada tahap ini adalah Molaritas NaOH yaitu 8M dan 10M, juga perbandingan larutan Sodium Silikat : larutan NaOH yaitu 1.5, 2, dan 2.5. Sedangkan variabel terikatnya ialah perbandingan massa lumpur Sidoarjo dengan fly ash yaitu 1 : 1. Massa air pada komposisi campuran ini digunakan untuk melarutkan padatan NaOH. W/b yang dimaksud adalah perbandingan massa air dengan massa total campuran pasta geopolimer.

   

  Lumpur Sidoarjo : Fly Ash = 1 : 1

  60

  52.0

  49.3

  (MPa)

  50

  40

  36.5

  40.0

  8M

  36.7

  30

  10M

  31.1

  20

  10 Compressive Strength

  1.5

  2

  2.5 Larutan Sodium Silikat : Larutan NaOH

      Gambar 1. Hasil Tes Kuat Tekan Pasta Geopolimer Umur 7 Hari.

  Lumpur Sidoarjo : Fly Ash = 1 : 1 2350 2304 2296 2288 2300

  2288 2280 2250 2264

  8M 2200 2150

  10M 2100 2050

  Berat Jenis (kg/m³)

  2000

  1.5

  2

  2.5 Perbandingan Sodium Silikat : NaOH

      Gambar 2. Berat Jenis Pasta Geopolimer.

  Hasil dari tes kuat tekan pasta geopolimer umur 7 hari pada Gambar 1 dan Gambar 2 memperlihatkan bahwa penggunaan larutan NaOH 10M menghasilkan kuat tekan lebih tinggi dibandingkan larutan NaOH 8M. Dan penggunaan larutan NaOH 10M dengan perbandingan antara larutan sodium silikat dan larutan NaOH sebesar 2 menghasilkan kuat tekan yang paling optimal. Dari hasil penelitian pada tahap ini, komposisi dengan hasil kuat tekan yang paling tinggi digunakan untuk komposisi campuran mortar geopolimer yang menggunakan variasi perbandingan larutan dan pasta.

  3.2. Pengaruh Perbandingan Larutan dengan Pasta dalam Pembuatan Mortar Geopolimer Pada penelitian berikut ini dibuat 3 benda uji untuk tiap komposisi, dengan volume yang sama yaitu 3

  5×5×5 cm . Variabel bebasnya adalah perbandingan larutan (larutan sodium silikat dan larutan NaOH) dengan pasta yaitu 0,3, 0,35, dan 0,4 dijadikan sebagai komposisi campuran dengan komposisi perbandingan massa lumpur Sidoarjo dan fly ash 1 : 1, alkaline activator yang digunakan berupa larutan NaOH 10 M dan larutan sodium silikat. Perbandingan larutan NaOH dan larutan sodium silikat sebesar 1:2. Dan perbandingan massa pasta : massa pasir Lumajang yaitu 1 : 2. Massa air pada komposisi campuran ini digunakan untuk melarutkan padatan NaOH. W/b yang dimaksud adalah perbandingan massa air dengan massa total campuran pasta geopolimer.

   

     

  40

  Berat Jenis (kg/m³)

  0.4 Umur

  0.35

  0.3

  NaOH 10M Sodium Silikat : NaOH = 2 : 1 Pasir : Pasta = 2 : 1 Lumpur Sidoarjo : Fly Ash = 1 : 1 2312 2323 2312 2269 2296 2309 2205 2267 2216 2000 2050 2100 2150 2200 2250 2300 2350 7 hari 14 hari 28 hari

  Compressive Strength (MPa)

  0.4 Larutan/Pasta Umur

  0.35

  0.3

  70 7 hari 14 hari 28 hari

  60

  50

  30

  Gambar 3. Hasil Tes Kuat Tekan Mortar Geopolimer dengan Variasi Perbandingan Larutan dan Pasta

  20

  10

  33.1

  34.7

  32.3

  56.3

  56.7

  56.3

  63.9

  63.3

  62.7

  Gambar 4. Berat Jenis Mortar Geopolimer dengan Variasi Perbandingan Larutan dan Pasta Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa semakin kecil perbandingan antara massa larutan dan pasta maka semakin besar kuat tekan pada mortar geopolimer dengan variasi perbandingan larutan dan pasta tersebut. Hal ini disebabkan semakin sedikitnya kandungan air di dalam mix design mortar geopolimer yang menggunakan perbandingan larutan : pasta 0,3 dibandingkan dengan lainnya. Dan dari Gambar 4 penggunaan komposisi dengan perbandingan larutan : pasta yang semakin kecil nilainya menghasilkan sampel yang lebih padat. Hal ini disebabkan karena semakin kecil perbandingan larutan : pasta maka semakin besar berat jenis mortar tersebut.

   

  Larutan/Pasta NaOH 10M Sodium Silikat : NaOH = 2 : 1 Pasir : Pasta = 2 : 1 Lumpur Sidoarjo : Fly Ash = 1 : 1

  25

  20

  20

  15

  (mm)

  12

  10 Flow

  9 NaOH 10M Sodium Silikat : NaOH = 2 : 1

  5 Pasir : Pasta = 2 : 1 Lumpur Sidoarjo : Fly Ash = 1 : 1

  0.3

  0.35

  0.4 Perbandingan Larutan / Pasta

    Gambar 5. Flow Mortar Geopolimer dengan Variasi Perbandingan Larutan dan Pasta.

  Dari hasil uji flow table pada Gambar 5 dapat dilihat bahwa kelecakan mortar geopolimer kurang baik apabila diaplikasian untuk pengerjaan yang membutuhkan nilai slump yang tinggi seperti pengecoran balok. Akan tetapi untuk pengerjaan yang membutuhkan nilai slump yang rendah seperti pengecoran bendungan, maka kelecakan mortar geopolimer ini dapat digunakan. Variasi perbandingan larutan dengan pasta tidak seberapa berpengaruh terhadap kelecakan mortar geopolimer tersebut.

  Larutan/Pasta Gambar 6. Initial Setting Time pada Mortar Geopolimer dengan Variasi Perbandingan Larutan dan Pasta.

  Hasil dari initial setting time pada Gambar 6 mortar geopolimer yang menggunakan variasi mortar geopolimer dengan variasi perbandingan larutan dan pasta menunjukkan bahwa semakin banyak larutan maka initial setting time yang terjadi semakin lama.

  3.3. Pengaruh Perbandingan Massa Lumpur Sidoarjo dan Fly Ash dalam Pembuatan Mortar Geopolimer Ada beberapa perbedaan perlakuan dalam penelitian ini dibandingkan penelitian sebelumnya. Pada penelitian berikut ini dibuat 3 benda uji untuk tiap komposisi, dengan volume yang sama yaitu 5×5×5 3 cm . Variabel bebasnya adalah perbandingan massa lumpur Sidoarjo dengan fly ash yaitu 100%: 0,

  60% : 40%, 50% : 50%, 40% : 60%, dan 0% : 100%. Kemudian alkaline activator yang digunakan

    berupa larutan NaOH 10 M dan larutan sodium silikat. Perbandingan larutan NaOH dan larutan sodium silikat sebesar 1:2. Sedangkan untuk perbandingan larutan : pasta sebesar 0,3. Dan perbandingan massa pasta : massa pasir Lumajang yaitu 1 : 2. Massa air pada komposisi campuran ini digunakan untuk melarutkan padatan NaOH. W/b yang dimaksud adalah perbandingan massa air dengan massa total campuran mortar geopolimer.

   

  NaOH 10M Sodium Silikat : NaOH = 2 : 1 120 Larutan : Pasta = 0.3 : 1 103.7 104.7

  (MPa) 101.3

  Pasir : Pasta = 2 : 1 100 Lumpur : Fly Ash

  80 100% : 0%

  64.0

  62.7

  63.3

  60 60% : 40%

  59.9

  59.6

  59.7

  40

  48.7

  48.3

  44.7 50% : 50%

  20

  25.1

  25.1

  25.1 40% : 60%

  Compressive Strength

  0% : 100% 7 hari 14 hari 28 hari Umur

   

  Gambar 7. Hasil Tes Kuat Tekan Mortar Geopolimer dengan Variasi Perbandingan Massa Lumpur Sidoarjo dan Fly Ash. Tabel 1.   Berat Jenis Mortar Geopolimer dengan Variasi Perbandingan Massa Lumpur Sidoarjo dan Fly Ash. Perbandingan Berat Jenis 3 (kg/m ) Massa Lumpur Sidoarjo : Fly Ash

  7 Hari

  14 Hari

  28 Hari 2112 2112 2112

  100% : 0% 60% : 40% 2325 2331 2339 50% : 50% 2312 2323 2328 40% : 60% 2355 2347 2349 0% : 100% 2339 2341 2355

  Dari hasil penelitian ini, pada Gambar 7 dan Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa pemadatan benda uji sangat mempengaruhi berat jenis dan hasil kuat tekan mortar geopolimer. Dengan menggunakan komposisi campuran 100% lumpur Sidoarjo didapatkan hasil kuat tekan yang lebih rendah dibandingkan dengan komposisi benda uji lainnya. Hal ini disebabkan karena permukaan butiran dari lumpur Sidoarjo yang tidak beraturan sehingga menyebabkan pemadatan menjadi lebih susah dibandingkan dengan komposisi lainnya.

   

  25

  25

  20

  (mm)

  15

  15

  10 Flow

  9 NaOH 10M

  7 Sodium Silikat : NaOH = 2 : 1

  5

  5 Larutan : Pasta = 0.3 : 1 Pasir : Pasta = 2 : 1 100% : 0% 60% : 40% 50% : 50% 40% : 60% 0% : 100% Lumpur : Fly Ash

    Gambar 8. Flow Mortar Geopolimer dengan Variasi Perbandingan Massa Lumpur Sidoarjo dan Fly Ash.

  Dari hasil penelitian ini, pada Gambar 8 juga dapat disimpulkan bahwa semakin banyak penambahan kadar fly ash pada komposisi campuran mortar geopolimer, maka akan meningkatkan kelecakan dan kuat tekan mortar geopolimer tersebut. Hal ini disebabkan karena permukaan butiran fly ash lebih halus dibandingkan dengan lumpur Sidoarjo.

Lumpur : Fly Ash

  Gambar 9. Initial Setting Time pada Mortar Geopolimer dengan Variasi Perbandingan Massa Lumpur Sidoarjo dan Fly Ash.

  Hasil initial setting time pada Gambar 9 menunjukkan bahwa semakin banyak kandungan fly ash pada mortar geopolimer tersebut akan memperlambat initial setting time yang terjadi.

  4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan penelitian dapat ditarik kesimpulan mengenai mortar geopolimer, sebagai berikut:

  1. Kualitas mortar geopolimer dipengaruhi dari kadar molaritas NaOH dan perbandingan antara NaOH dan sodium silikat. Semakin tinggi molaritas larutan NaOH akan meningkatkan kuat tekan mortar geopolimer. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan larutan NaOH 10M pada pasta geopolimer memiliki hasil kuat tekan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan larutan NaOH 8M.

   

  2. Kualitas mortar geopolimer juga dipengaruhi oleh perbandingan massa antara larutan (larutan sodium silikat dan larutan NaOH) dengan pasta (lumpur Sidoarjo, fly ash, larutan sodium silikat dan larutan NaOH). Semakin sedikit kandungan larutan yang terdapat pada mortar geopolimer akan menghasilkan kuat tekan yang semakin tinggi pula. Akan tetapi dengan sedikitnya kandungan larutan pada mortar geopolimer akan mempengaruhi kelecakan sehingga lebih susah untuk dikerjakan. Hal ini dapat dilihat dari komposisi mortar geopolimer dengan perbandingan larutan dengan pasta sebesar 0,3 memiliki hasil kuat tekan yang paling tinggi yaitu 64 Mpa pada umur 28 hari dan memiliki flow sebesar 9 mm. Sehingga dari hasil kuat tekan tersebut dapat dikategorikan sebagai mortar geopolimer mutu tinggi.

  3. Pada penelitian tentang pengaruh perbandingan massa lumpur Sidoarjo dan fly ash, dapat disimpulkan bahwa semakin banyak penggunaan fly ash terhadap lumpur Sidoarjo pada komposisi campuran mortar geopolimer, maka akan meningkatkan kuat tekan mortar geopolimer tersebut. Hal ini dapat dilihat dari komposisi mortar geopolimer yang menggunakan 100% fly ash memiliki hasil kuat tekan yang paling tinggi yaitu 104,7 MPa pada umur 28 hari. Partikel fly ash yang telah diamati dengan SEM memiliki permukaan butiran yang halus dan berbentuk bulat, sehingga proses pemadatan menjadi lebih baik yang dapat meningkatkan kuat tekan.

  4. Initial setting time dipengaruhi oleh perbandingan larutan dan pasta, juga dipengaruhi oleh perbandingan lumpur Sidoarjo dan fly ash. Semakin banyak kandungan larutan dalam mortar geopolimer maka semakin lama pula initial setting time yang terjadi. Dan semakin banyak kandungan fly ash yang terdapat dalam mortar geopolimer maka initial setting yang terjadi juga semakin lama.

  Aristianto. (2006). Pemeriksaan Pendahuluan Lumpur Panas Lapindo Sidoarjo. Balai Besar Keramik Departemen Perindustrian Bandung, Bandung. Leoindarto, C., Sanjaya, A., Antoni, A., & Sugiharto, H. (2006). Komposisi Alkaline Aktivato dan Fly

  Ash Untuk Beton Geopolimer Mutu Tinggi. Jurnal Dimensi Teknik Sipil, Universitas Petra Surabaya, 1–50.

     

Dokumen baru

Download (8 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PEMBERIAN SEDUHAN BIJI PEPAYA (Carica Papaya L) TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus strain wistar) YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK
22
184
21
ANALISIS KOMPARATIF PENDAPATAN DAN EFISIENSI ANTARA BERAS POLES MEDIUM DENGAN BERAS POLES SUPER DI UD. PUTRA TEMU REJEKI (Studi Kasus di Desa Belung Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
22
204
16
FREKUENSI KEMUNCULAN TOKOH KARAKTER ANTAGONIS DAN PROTAGONIS PADA SINETRON (Analisis Isi Pada Sinetron Munajah Cinta di RCTI dan Sinetron Cinta Fitri di SCTV)
27
200
2
DEKONSTRUKSI HOST DALAM TALK SHOW DI TELEVISI (Analisis Semiotik Talk Show Empat Mata di Trans 7)
21
179
1
ANALISIS ISI LIRIK LAGU-LAGU BIP DALAM ALBUM TURUN DARI LANGIT
22
184
2
FREKWENSI PESAN PEMELIHARAAN KESEHATAN DALAM IKLAN LAYANAN MASYARAKAT Analisis Isi pada Empat Versi ILM Televisi Tanggap Flu Burung Milik Komnas FBPI
10
142
3
SENSUALITAS DALAM FILM HOROR DI INDONESIA(Analisis Isi pada Film Tali Pocong Perawan karya Arie Azis)
33
225
2
STRATEGI PEMERINTAH DAERAH DALAM MEWUJUDKAN MALANG KOTA LAYAK ANAK (MAKOLA) MELALUI PENYEDIAAN FASILITAS PENDIDIKAN
69
400
39
PERANAN ELIT INFORMAL DALAM PENGEMBANGAN HOME INDUSTRI TAPE (Studi di Desa Sumber Kalong Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso)
36
224
2
KEBIJAKAN BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN DAERAH (BAPEDALDA) KOTA JAMBI DALAM UPAYA PENERTIBAN PEMBUANGAN LIMBAH PABRIK KARET
110
656
2
ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN DALAM PROSES PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) (StudiKasusPada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Oro-Oro Dowo Malang)
159
672
25
DOMESTIFIKASI PEREMPUAN DALAM IKLAN Studi Semiotika pada Iklan "Mama Suka", "Mama Lemon", dan "BuKrim"
130
599
21
PROSES KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM SITUASI PERTEMUAN ANTAR BUDAYA STUDI DI RUANG TUNGGU TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA
97
584
2
REPRESENTASI CITRA PEREMPUAN DALAM IKLAN DI TELEVISI (ANALISIS SEMIOTIK DALAM IKLAN SAMSUNG GALAXY S7 VERSI THE SMARTES7 ALWAYS KNOWS BEST)
129
435
19
PENGARUH PENGGUNAAN BLACKBERRY MESSENGER TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU MAHASISWA DALAM INTERAKSI SOSIAL (Studi Pada Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2008 Universitas Muhammadiyah Malang)
127
496
26
Show more