Tinjaan Klaim Proyek Konstruksi Pada Sen

 0  1  20  2018-05-16 22:05:47 Report infringing document
Informasi dokumen

  

Tinjaan Klaim Proyek Konstruksi Pada Sengketa

Di Pengadilan Negeri

  1

  2 Naufal Abdurrahman , Ayomi Dita Rarasati

  1. Program Studi Teknik Sipil, Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok, 1624, Indonesia.

  2. Program Studi Teknik Sipil, Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok, 1624, Indonesia.

  E-mail

  Abstrak

  Perkembangan kemajuan proyek di Indonesia berkembang semakin pesat. Dalam penyelenggaraan proyek, seluruh aktivitas yang berlangsung di dalamnya tidak terlepas dari kontrak. Oleh karena itu, kita harus benar-benar mengerti dan memahami isi kontrak tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman. Hal-hal yang tidak memenuhi kewajiban dan hak salah satu pihak sebagaimana yang tercantum dalam kontrak dapat menyebabkan timbulnya klaim. Berdasarkan 10 Putusan Pengadilan Negeri yang didapat, penyebab utama klaim adalah wanprestasi serta faktor alam dan administrasi. Klaim dapat diselesaikan melalui Pengadilan Negeri dan Arbitrase. Banyak perusahaan yang lebih memilih menyelesaikan klaim melalui Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) karena sifat persidangannya yang tertutup diibandingkan melalui Pengadilan Negeri yang bersifat terbuka. Namun biaya yang harus dikeluarkan melalui BANI berkisar antara Rp 200.000.000,00 – Rp 850.000.000,00, berbeda jauh dengan Pengadilan Negeri yang berkisar Rp 350.000,00 – Rp 600.000,00. Klaim yang diputuskan melalui Arbitrase dapat dibatalkan melalui Pengadilan Negeri berdasarkan Pasal

  70 UU No. 30/1999, yaitu adanya dokumen palsu atau dinyatakan palsu, adanya dokumen yang bersifat menentukan disembunyikan, dan adanya tipu muslihat. Selain dari tiga hal di atas, maka alasan apapun tidak dapat dijadikan untuk membatalkan putusan BANI.

  

Claim Construction Project Analysis In District Court Case

Abstract

  The progress of the project in Indonesia is growing more rapidly. In the operation of the project, all the activity that takes place in it can not be separated from the contract, therefore, we must thoroughly understand and comprehend the contents of the contract in order to avoid misunderstandings. Things that do not fulfill one of the obligations and rights of the parties as specified in the contract may lead to a claim. Based on the 10 District Court obtained, the main cause of the claim is in default as well and force major and administration. Claims can be settled by the District Court and Arbitration. Many companies prefer to resolve claims through the Indonesian National Arbitration Board (BANI) due to the closed trial than using District Court because it is open trial. But the costs to be incurred through BANI ranges between Rp 200.000.000,00 - Rp 850.000.000,00, far with the District Court that ranges from Rp 350.000,00 - Rp. 600.000,00. Claims are decided through arbitration can be canceled by the District Court based to Article 70 of Law No. 30/1999, which is the existence of false documents or false otherwise, the decisive document is hidden, and the ruse. Apart from the three above, then any reason can not be used to overturn the decision of BANI.

  Key Words : Contract, Claim, Construction, Arbitration

  Pendahuluan

  Dalam penyelenggaraan proyek, seluruh aktivitas yang berlangsung di dalamnya tidak terlepas dari kontrak, yaitu bentuk perikatan mengenai kegiatan jasa konstruksi (Yasin, 2006). Oleh karena itu, kita harus benar-benar mengerti dan memahami isi kontrak tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam pelaksanaan proyek kontrak konstruksi.

  Klaim bukanlah hal yang tabu ataupun sebuah hal tuntutan. Klaim merupakan sebuah permintaan, dimana kita meminta hak kita yang telah hilang berdasarkan kesepakatan antara dua atau lebih pihak yang menyetujui perjanjian tersebut. Oleh karena itu, perlu kita mengetahui apa saja penyebab terjadinya klaim, dan bagaimana cara menyelesaikan klaim tersebut. Berdasarkan hal diatas, penulis ingin mengangkat masalah seputar penyelesaian klaim di Pengadilan Negeri, baik dari hal apa saja penyebab klaim, proses penyelesaian klaim yang ditempuh, maupun dasar pengajuan ke Pengadilan Negeri untuk kasus di bidang proyek konstruksi.

  Tinjauan Pustaka

  Ada beberapa definisi klaim konstruksi sebagai berikut :

  a. Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan-Komite Standar Akuntansi Pemerintah, 2004 Jumlah yang diminta kontraktor kepada pemberi kerja sebagai pengganti biaya-biaya yang tidak termasuk dalam nilai kontrak.

  b.

  H. N. Yasin, 2006 Klaim bukanlah hal tabu, klaim diartikan sebagai tuntutan, suatu permintaan

  c. Edward & Fisk (1997) Klaim adalah permasalahan yang dapat menimbulkan terjadinya perselisihan dan permohonan tambahan uang, waktu pelaksanaan, atau perubahan metode pekerjaan.

  Penyebab utama klaim dapat dikategorikan dalam 3 hal, yaitu (Yasin, 2004) :

  a. Dari pengguna jasa terhadap penyedia jasa, seperti pengurangan nilai kontrak, percepatan waktu penyelesaian pekerjaan, dan kompensasi atas kelalaian penyedia jasa. b. Dari penyedia jasa terhadap pengguna jasa, seperti tambahan waktu pelaksanaan pekerjaan, tambahan kompensasi, dan tambahan konsesi atas pengurangan spesifikasi teknis atau bahan.

  c. Dari sub penyedia jasa atau pemasok bahan terhadap penyedia jasa utama. Berikut pasal-pasal yang digunakan terkait dalam penelitian skripsi : a.

  Pasal 71 UU no 30/1999 Permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan secara tertulis dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak hari penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri.

  b.

  Pasal 1 angka 4 UU no 30/1999 Pengadilan Negeri adalah Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal pemohon.

  c.

  Pasal 70 UU No. 30/1999 Terhadap putusan arbitrase para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur sebagai berikut :

  • Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu;
  • Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, disembunyikan oleh pihak lawan; atau
  • Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa.

  d.

  Pasal 31 ayat (1) UU RI No. 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa dan Lambaga Negara serta Lagu Kebangsaan “(1) Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam nota kesepahaman atau perjanjian yang melibatkan lembaga negara, instansi pemerintah Republik Indonesia, lembaga swasta Indonesia atau perseorangan Warga Negara Indonesia” e.

  Pasal 62 ayat (4) UU No. 30/1999 Ketua Pengadilan Negeri tidak memeriksa alasan atau pertimbangan dari Putusan Arbitrase.

  f.

  Pasal 4 ayat (2) UU No. 30/1999 Persetujuan untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase dimuat dalam suatu dokumen yang ditandatangani oleh para pihak.

  Lewat waktu ialah suatu sarana hukum untuk memperoleh sesuatu atau suatu alasan untuk dibebaskan dari suatu perikatan dengan lewatnya waktu tertentu dan dengan terpenuhinya syarat-syarat yang ditentukan dalam undang-undang.

  h.

  Pasal 3 ayat (1) UU No. 30/1999 Arbitrase adalah cara penyelesaian satu perkara perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian-perjanjian yang dibuat secara tertulis oleh pihak yang bersengketa. i.

  Pasal 1 Butir 7 Peraturan Presiden No. 54/2010 Yang dimaksud kontrak Pengadaan Barang/Jasa yang selanjutnya disebut kontrak adalah perjanjian tertulis antara PPK dengan Penyedia Barang/Jasa atau pelaksana Swakelola. j.

  Pasal 13 ayat (1) UU No. 30/1999 Dalam hal para pihak tidak dapat mencapai kesepakatan mengenai pemilihan arbiter atau tidak ada ketentuan yang dibuat mengenai pengangkatan arbiter, Ketua Pengadilan Negeri menunjuk arbiter atau Majelis Arbitrase. k.

  Pasal 72 ayat (4) UU No. 30/1999 Atas Putusan Pengadilan Negeri (Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase) dapat diajukan banding ke Mahkamah Agung Republik Indonesia

  Metode Penellitian

  Data yang digunakan merupakan data sekunder, yaitu ptuusan Pengadilan Negeri sebanyak 10 kasus proyek konstruksi. Metode penelitian yang digunakan pada skripsi ini adalah metode yuridis normatif, yaitu penelitian hukum dalam pengertian meneliti kaidah-kaidah dan norma-norma, dimana penelitian yuridis normatif biasanya hanya merupakan studi dokumentasi dengan mempergunakan sumber-sumber data sekunder seperti peraturan perundang-undangan, putusan-putusan pengadilan, teori hukum, dan pendapat para ahli (Mertokusumo, 2002). Berikut langkah penulis dalam mengolah dan menganalisis data : a. Meresume sumber-sumber putusan yang diperoleh.

  b. Mengidentifikasi penyebab klaim dari tiap putusan.

  c. Mengidentifikasi cara penyelesaian klaim yang di tempuh dari tiap putusan.

  d. Mengidentifikasi dasar pengajuan ke Pengadilan Negeri.

  e. Membuat matriks tiap putusan. g. Menarik kesimpulan dan memberikan saran.

  Hasil dan Pembahasan

  Berikut kasus berdasarkan 10 putusan Pengadilan Negeri :

  1. Kasus Pekerjaan Pemancangan di Lampung Pemohon : PT Manunggal Engineering Melawan Termohon I : PT Terapan Nilai Osilasi Indonesia Termohon II : Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI)

  2. Kasus Proyek Pembuatan Runway dan Fasilitas Penunjang di Bandar Udara Internasional Lombok Pemohon : PT Angkasa Pura I Melawan Termohon I : Badan Arbitase Nasional Indonesia Termohon II : PT Hutama Karya

  3. Kasus PLTU Jawa Barat Pemohon : PT Truba Jaya Engineering Melawan Termohon I : Badan Arbitrase Nasional Indonesia Termohon II : PT Adhi Karya

  4. Kasus Tender Pembangunan Dermaga Pemoohon : PT Hutama Karya Melawan Termohon I : Badan Arbitase Nasional Indonesia Termohon II : PT Krakatau Bandar Samudra

  5. Kasus Pembangunan Pusat Perbelanaan PTC Pemohon I : PT Asia Pacific Coating Pemohon II : Kohar Melawan Termohon I : PT Nusantara Jaya Konstruksi Termohon II : Herianto Tan

  6. Kasus Cirebon Superblock Mall

  Pemohon : PT Karya Bersama Takarob Melawan Termoohon I : Badan Arbitrase Nasional Indonesia Termohon II : PT Adhi Karya

  7. Kasus Proyek Jalan Tol Pemohon : Dipl. Ing. John Wiraman (Direktur Utama CV Jaya Wahana Lestari) Melawan Termohon I : PT Waskita Karya Termohon II : Badan Arbitrase Nasional Indonesia

  8. Kasus Wanprestasi Manunggal Engineering Pemohon : PT Manunggal Engineering Melawan Termohon I : Badan Arbirase Nasional Indonesia Termohon II : PT Multi Adverindo Termohon III : PT Geostructure Dinamics

  9. Kasus Pembangunan Komplek Griya Kemayoran Pemohon : PT Tunas Diptapersada Melawan Termohon I : PT Hutama Karya Termohon II : PT Hutama Binamaint Join Operation Termohon III : Tuan M. Husseyn Umar, SH Termoohon IV : Tuan Ir. H. R. Sidjabat

  10. Kasus Penggunaan Anggaran Pelaksanaan Jalan BTS, Jabar-Tegal-Slawi Pemohon I : Ir. Krido Lucky Widyantoro, M.M Pemohon II : Ir. Eddy Soetarno, M.T Pemohon III : Ir. Herman Soeroyo, M.T Pemohon IV : Soemarjono, S.T., M.T Pemohon V : Ir. Noertjahjo Widodo, M.T Melawan Termohon : PT Bumirejo dan PT Brantas Abipraya, Join Operation

  Berdasarkan kasus diatas didapat hal-hal berikut :

  Penyebab utama klaim :

  1. Wanprestasi Kasus wanprestrasi dalam skripsi ini terdapat pada kasus 1, 5, 6, 7, 8, dan 9. Pada kasus 1 wanprestasi terjadi karena PT Manunggal Engineering tidak mampu melaksanakan tugas sesuai kontrak Pekerjaan Pemancangan No. 046/Lampungext/Pilling Works/CLD/07-08-YY tertanggal 17 Juli 2008, sehingga dialihkan ke PT Truba Alam Manunggal Engineering. Oleh karena itu, PT Terapan Osiliasi Indonesia menuntut mereka ke BANI. Dilain pihak berbeda dengan kasus 5, yaitu kasus Pembangunan Pusat Perbelanjaan PTC dimana Kohar ditunjuk oleh PT Asia Pacific Coating (PT APC) untuk mencari kontraktor pemborong utntuk melaksanakan pembangunan tersebut, lalu ditunjuklah PT Nusantara Jasya Konstruksi (PT NJK) melalui Direkturnya Herianto Tan untuk melakukan pemborongan yang meliputi pekerjaan pendahuluan, struktur, finishing, mekanikal, dan elektrikal dengan borongan senilai Rp 34.850.000.000,00 berdasarkan SPK No. 0101-PTC/SPK/XII- 2003. Pekerjaan mampu dilakukan oleh pemborong, yaitu PT NJK dengan bukti berita acara prestasi fisik yang telah mencapai 100%, namun banyak terjadi defect kerja yang dilakukan oleh pemborong sehingga menimbulkan kerugian diantaranya banyak kios yang batal dibeli maupun disewa.

  Pada kasus 6 yaitu Proyek Pembangunan Cirebon Superblock Mall yang berlokasi di Jl. Cipto Mangunkusumo senilai Rp 77.850.000.000,00 lump sum termasuk PPn terhitung dari 14 Februari 2011 sampai dengan 11 Desember 2011 antara PT Karya Bersama Takarob sebangai pengguna jasa dengan PT Adhi Kartya sebagai penyedia jasa. Bahwa terjadi ketidakcakapan kerja yang dilakukan oleh PT Adhi Karya (PT AK) yang ditandai dengan kualitas pekerjaan yang tidak baik, ditambah lagi dengan pengunduran PT AK dalam proyek tersebut. Dilain pihak, PT AK menuntut PT Karya Bersama Takarob (PT KBT) kepada BANI karena menurut PT AK, PT KBT lah yang melakukan cidera janji yaitu keterlambatan pembayaran termin. Pada kasus 7 yaitu Proyek Jalan Tol Semarang – Solo tahap I ruas Semarang Bawen Seksi III Penggaron

  • – Beji antara Direktur Utama CV Jaya Wahana Lestari dengan PT Waskita Karya- DIY II. Dimana Direktur CV Jaya Wahan Lestari (CV JWL) merasa keberatan atas putusan BANI No. 498/XXI/ARB-BANI/2012 tanggal 3 September 2013 karena CV
dituntut untuk mengembalikan uang yang merupakan hak dari PT WK sebesar Rp 742.544.300,00. Awalnya PT WK sebagai kontraktor menerima pekerjaan dari PT Trans Marga Jateng sebagai owner, kemudian PT WK memberikan tanggun jawab pekerjaan yang telah diterima dari PT Trans Marga Jateng kepada CV JWL berdasarkan Surat Perjanjian Pemborongan Pekerjaan No. 14/SPP/WK.D-II/2012 tanggal 14 Maret 2012. Namun, karena CV JWL tidak mampu melaksanakannya dengan baik, maka PT WK menuntutnya di BANI.

  Pada kasus 8 tejadi sengketa wanprestasi antara PT Manunggal Engineering dengan PT Multi Adverindo dan PT Geostructure Dinamics. Sehingga PT Multi Adverindo dan PT Geostructure Dinamics menuntutnya di BANI yang kemudian pada intinya BANI mengeluarkan putusan untuk menghukum PT Manunggal Engieering membayar ganti rugi sebesar Rp 13.197.546.400,00. Untuk kasus 9, yaitu kasus Proyek Pembangunan Komplek Griya Kemayoran antara PT Tunas Diptapersada sebagai pengguna jasa dan PT Hutama Karya sebagai penyedia jasa serta PT Hutama Binamaint Join Operation sebagai penyedia jasa yang berlokasi di Jl. Industri No. 9- 11, Jakarta Pusat sesuai dengan SPK No. 004/TDP/SPK/PMBG/1/96 tentang pemborongan. Tanpa alasan dan dasar hukum yang sah, PT Hutama Karya dan PT Hutama Binamaint Join Operation mengajukan permohonan penyelesaian sengketa melalui BANI karena adanya upaya cidera janji yang dilakukan oleh PT Tunas Diptapersada yang pada intinya BANI menghukum untuk memerintahkan PT Tunas Diptapersada membayar ganti rugi sebesar Rp 26.353.364.455,00.

  2. Faktor Alam dan Administrasi Kasus force major yang terjadi terdapat pada kasus 2, 4, dan 10. Pada kasus 2, yaitu kasus Proyek Pembuatan Runway dan Fasilitas Penunjang di Bandar Udara Internasional Lombok, faktor alam yang mempengaruhi terjadinya klaim adalah terdapat hujan yang menggenangi lokasi, lalu untuk pengamanan pekerjaan utama dilakukan Cross Drain dan Dewatering. Meskipun hal ini tidak terdapat dalam hitungan BQ seusai dengan kesepakatan, namun hal ini mutlak harus dilakukan oleh PT Hutama Karya. PT Angkasa Pura I tetap bersikukuh bahwa PT Hutama Karya telah melakukan Cross drain dan Dewatering tanpa ijin dari PT Angkasa Pura I. Di lain pihak, PT Hutama Karya mengkaim bahwa tanggapan dari PT Angkasa Pura I sangat lambat, dan apabila PT Hutama Karya menunggu ijin dari PT Angkasa Pura I untuk melaksanakannya tentu itu akan memakan waktu ekstra dan list pekerjaan masih banyak yang harus dilakukan. Pada kasus 4 yaitu Tender Pemabangungan dermaga antara PT Hutama Karya sebagai penyedia jasa dengan PT Krakatau Bandar Samudra sebagai pengguna jasa berupa pekerjaan pengerukan karang keras dan kompak dalam lapisan tanah yang berlokasi di Dermaga Pelabuhan Cigading, Banter dengan sistem kontrak Lump sum fixed price. Permasalahan berawal dari timbulnya lapisan tanah keras kurang dari 17 meter, padahal berdasarkan hasil uji sebelumnya menyatakan bahwa tanah keras hanya berada pada kedalaman diatas 17 meter. PT Hutama Karya merasa sangat tidak adil kepada pihak Arbitrase karena berpendapat sistem pembayaran Fixed Lump Sum

  Price, maka pekerjaan tanah dengan SPT > 50 menjadi resiko dan tanggung jawab

  sepenuhnya PT Hutama Karya. PT Hutama Karya berpendapat bahwa Fixed Lump

  Sum Price berarti nilai kontrak bersifat tetap sepanjang gambar dan spesifikasi tidak berubah.

  Yang terakhir adalah kasus 10, yaitu Kasus Penggunaan Anggaran Pelaksanaan Jalan BTS, Jabar, Tegal, Slawi antara Ir. Krido Lucky Widyantoro, M.M., Ir. Eddy Soetano, M.T., Ir. Herman Suroyo, M.T., Sumarjono, S.T., M.T., dan Ir. Noertjahjo Widodo, M.T., yang kemudian disebut sebagai Para Pemohon sebagai pengguna jasa dengan PT Bumirejo dan PT Brantas Abipraya, Joint Operation yang kemudian disebut dengan BBJO sebagai penyedia jasa untuk pekerjaan Brebes-Tegal By Pass dengan nilai kontrak Rp. Rp. 190.360.238.851,22 termasuk PPn. Awal mulanya timbul klaim adalah tidak adanya kesepakatan antara 2 belah pihak, yaitu adanya justifikasi teknik yang diajukan BBJO mengenai perubahan nilai kontrak menjadi Rp 205.920.819.000,00 dan mengubah lama pekerjaan dari 720 hari kalender menjadi 920 hari kalender. Namun proyek telah berjalan sebagian dan masalah justifikasi tidak juga selesai, sehingga BBJO menuntut Para Pemohon dalam BANI yang putusannya menghukum Para Pemohon untuk membayar kerugian sebesar Rp 26.871.672.000,00 kepada pemohon untuk klaim akibat idle alat, idle tenaga kerja, sewa lahan base

camp, alat pendukung yang sudah tersedia, uang jaminan, dan bunga pinjaman.

  Cara Penyelesaian Klaim

  Cara untuk menyelesaikan proses klaim pada dasarnya ada 6 yaitu melalui melaui badan peradilan, melalui arbitrase, mediasi, negosiasi, engineering judgement, dan mini trial. Namun yang akan dibahas pada skripsi ini adalah proses penyelesaian melalui badan peradilan dan arbitrase. Pada dasarnya banyak perusahaan yang mengutamakan cara penyelesaian klaim melalui badan arbitrase yaitu Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) dibandingkan mengutamakan penyelesaian melaui badan peradilan yaitu Pengadilan Negeri. Kelebihan Arbitrase (Suyud, 2000) :

  • Bebas dan otonom menentukan aturan dan intuisi arbitrase
  • Menghindari ketidakpastian akibat perbedaan sistem hukum dengan Negara tempat sengekta diperiksa, maupun keputusan sepihak dari hakim yang menguntungkan salah satu pihak
  • Waktu prosedur lebih efisien
  • Persidangan tertutup, dan memberi perlindungan terhadap data yang rahasia
  • Pertimbangan hukum bersifat win-win solution

  Namun dibalik itu semua, tentu ada kekurangan dari menggunakan Majelis Arbitrase, berikut kekurangan dari penggunaan Majelis Arbitrase (Suyud, 2000) :

  • Honor relatif mahal
  • Tidak memiliki juru sita sendiri, sehingga menghambat penerapan prosedur dan mekanisme arbitrase secara efektif
  • Putusan arbitrase tidak memiliki daya paksa yang efektif
  • Eksekusi putusan arbitrase cenderung mudah diinterprestasi oleh pihak kalah melalui lembaga peradilan

  Sedangkan berikut kekurangan menggunakan Majelis Peradilan (Suyud, 2000) :

  • Penyelesaian sengketa lambat
  • Peradilan tidak tanggap
  • Putusan pengadilan tidak menyelesaikan masalah
  • Kemampuan para hakim bersifat generalis

  Dilain sisi adapun kelebihan menggunakan Majelis Peradilan :

  • Biaya relatif lebih murah dibandingkan dengan menggunakan arbitrase
  • Proses yang terjadi bersifat transparan

  Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber, Pengadilan Negeri dari mulai pendaftaran hingga menjatuhkan putusan paling cepat tiga bulan. Itupun termasuk kasus yang paling cepat satu bulan. Tentu ini merupakan pertimbangan utama bagi para pihak yang bersengketa karena dapat menghemat waktu dalam mengatasi pemeriksaan terkait sengketa yang terjadi, karena selisih perbedaan waktu yang digunakan mulai dari pendaftaran hingga putusan dijatuhkan bisa mencapai dua bulan. Selain itu, yang menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan menggunakan Majelis Arbitrase adalah persidangan yang tertutup, dan memberi perlindungan terhadap data yang rahasia. Dengan adanya persidangan yang tertutup, para pihak yang terkait sengketa tidak perlu khawatir informasi seputar sengketa yang terjadi akan bocor keluar dan muncul di media massa. Dengan begitu nama baik dari perusahaan tersebut akan tetap terjaga di mata umum. Di balik itu semua, biaya penyelesaian melalui Majelis Arbitrase sangatlah tinggi. Harga untuk membayar biaya perkara pada BANI bisa mencapai Rp 900.000.000,00. Bila dibandingkan dengan melalui Majelis Peradilan yang tidak mencapai Rp 1.000.000,00 untuk kasus nonbanding. Selisih biaya yang dikeluarkan sangat besar, karena Majelis Arbiter adalah majelis swasta, berbeda dengan Majelis Peradilan yang merupakan majelis negeri yang dibayar oleh Negara. Belum lagi apabila menggunakan BANI, biaya akan semakin besar jika menggunakan banyak arbiter. Untuk mendapatkan nilai pasti, penulis memaparkan biaya Pengadilan Negeri dari kasus 4.2.1 – 4.2.10 yang ditunjukkan pada tabel 5.1 diluar dari biaya pengacara.

Tabel 4.1 Biaya Penyelesaian Perkara Melalui Pengadilan Negeri

  Kasus Biaya (Rp) 4.2.1 500.000 4.2.2 581.000 4.2.3 416.000 4.2.4 514.000 4.2.5 562.000 4.2.6 516.000 4.2.7 500.000 4.2.8 341.000

  4.2.9 500.000 4.2.10 342.000

  Berdasarkan tabel di atas, didapatkan range biaya yang harus dikeluarkan melalui Pengadilan Negeri adalah sebesar Rp 342.000,00 – Rp 581.000,00. Sedangkan untuk biaya menggunakan jasa BANI ditunjukkan pada Tabel 5.2.

Tabel 4.2 Biaya Penyelesaian Perkara Melalui BANI

  

Kasus Biaya (Rp)

4.2.1 296.861.000

  4.2.2 Tidak disebutkan

4.2.3 198.188.750

  4.2.5 Tidak melalui proses BANI

4.2.6 330.163.500

  4.2.7 Tidak disebutkan

4.2.8 298.331.000

4.2.9 251.607.850

4.2.10 839.687.000

  Berdasarkan tabel di atas, didapatkan range untuk biaya jasa BANI sebesar Rp 198.861.000,00 – Rp 839.687.000,00. Biaya menggunakan BANI relatif mahal, hal ini tergantung dari berapa banyak arbiter yang ditunjuk untuk menyelesaikan kasus tersebut, serta gelar atau pengalaman dari arbiter terssebut. Semakin banyak arbiter yang ditunjuk maka semakin besar pula biaya yang harus dikeluaran, begitu pula semakin tingginya pendidikan dan pengalaman arbiter tersebut maka biaya pun semakin mahal. Seperti halnya pada kasus 4.2.10 dimana ditunjuk 3 majelis arbiter sehingga biaya yang harus dikeluarkan

  Pengajuan Penyelesaian Di Pengadilan Negeri Pengajuan ini pada dasarnya dikarenakan tidak puas dengan putusan BANI sebelumnya.

  Ketidakpuasan yang dimaksud adalah putusan dianggap mengandung salah satu unsur maupun seluruh unsur dari pasal 70 No. 30/199, berikut bunyi Pasal 70 No. 30/1999 : “Terhadap putusan arbitrase para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur sebagai berikut :

  Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan - dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu Setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, - disembunyikan oleh pihak lawan, atau Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak - dalam pemeriksaan sengketa”

  Dokumen Yang Bersifat Menentukan Disembunyikan Oleh Pihak Lawan

  Untuk kasus dokumen yang bersifat menentukan disembunyikan oleh pihak lawan terdapat pada kasus 2 yaitu Kasus Proyek Pembuatan Run Way dan Fasilitas Penunjang di Bandar Udara Internasional Lombok, PT Angkasa Pura I mengajukan permohonan pembatalan putusan BANI karena ditemukannya dokumen antara PT Hutama Karya dengan PT Metropolitan Aulia Mix yang mana PT Metropolitan Aulia Mix ini bertindak sebagai subkontraktor dari PT Hutama Karya untuk pengerjaan aspal bandara. Bahwa kontrak ini terjalin tanpa sepengetahuan PT Angksa Pura I, dan bisa saja masih banyak lagi kontrak perjanjian seperti ini antara PT Hutama Karya dengan subkontraktor lain agar PT Hutama Karya memperoleh keuntungan yang lebih. Namun dilain pihak PT Angkasa Pura I malah lebih menekankan kepada eskalasi PT Hutama Karya yang mengada-ada tanpa adanya bukti yang ditunjukkan dan dibandingkan dengan bukti adanya dokumen yang disembunyikan oleh PT Hutama Karya. Namun setelah dihitung volume pekerjaan yang dilakukan oleh PT Metropolitan Aulia MIX hanya sebagian kecil dari total pekerjaan PT Hutama Karya. Oleh karena itu, pernyataan tentang adanya dokumen yang bersifat menentukan yang disembunyikan oleh PT Hutama Karya tidak dapat dibenarkan. Selain itu, tentang eskalasi harga yang dilakukan PT Hutama karya tidak dapat dipertimbangkan karena tidak memiliki bukti yang kuat.

  Selanjutnya, pada kasus 7, yaitu kasus Proyek Jalan Tol antara direktur Utama CV Jaya Wahan Lestari melawan PT Waskita Karya-DIY II untuk pengerjaan Jalan Tol Semarang- Solo, Tahap I ruas Semarang Bawen Seksi III Penggaron-Beji, dimana Direktur Utama CV Jaya Wahana Lestari mengatakan adanya dokumen yang disembunyikan oleh PT Waskita Karya-DIY II atara PT Firma Karya selaku perusahaan perencana dengan PT Trans Marga Jateng selaku pemilik poyek. Awalnya PT waskita Karya terikat kerja dengan PT Trans Marga Jateng, lalu PT Waskita Karya mengalihkan dan/atau memberikan tanggung jwab pekerjaan kepada Direktur CV Jaya Wahana Lestari berdasarkan Surat Perjanjian Pemborongan Pekerjaan No. 14/SPP/WK.D-II/2012, yang mana SPPP tersebut cacat hukum. Oleh karena itu, Direktur Utama CV Jaya Wahana Lestari ingin membatalkan putusan BANI atas SPPP yang digunakan tidak dapat dijadikan sebagai dasar perjanjian. Di lain pihak, SPPP tersebut telah diungkapkan dalam pemeriksaan BANI sebelumnya. Kasus ini merupakan suatu pembatalan yang sangat tidak jelas, yang mana dasar pembatalan putusan BANI ini berdasarkann adanya dokumen yag disembunyukan, yaitu dokumen antara PT Waskita Karya dengan PT Firma Karya dan PT Trans Marga Jateng.Namun di lain sisi, Direktur Utama CV Jaya Wahana Lestari menitikberatkan tentang SPPP yang cacat hukum namun tidak dapat dibuktikan secara jelas. Terlebih lagi pengajuan tentang SPPP yang cacat hukum sudah diajukan sebelumnya pada persidangan BANI sehingga Pengadilan Negeri tidak berhak untuk mengadili alasan BANI sebelumnya. Oleh karena itu, Pengadilan Negeri menolak untuk mengabulkan permohonan pembatalan putusan BANI.

  Adanya Tipu Muslihat

  Sedangkan untuk terdapat tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak pada kasus 1 yaitu kasus Pekerjaan Pemancangan di Lampung antara PT Manunggal Engineering sebagai penyedia jasa dengan PT Terapan Nilai Osilasi Indonesia sebagai pengguna jasa berdasarkan SPK No 046/Lampungext/Pilling Works/CLD/07-08-YY. Adapun bentuk tipu muslihat yang dilakukan oleh PT Terapan Nilai Osilasi Indnesia adalah adanya pernyataan dari PT Terapan Nilai Osilasi Indonesia mengenai kewajiban PT Manunggal Engineering untuk pembayaran

  

Pilling Works sebesar Rp 2.547.980.453,00. Namun, perubahan kontrak yang disepakati

  berdasarkan 7 Mei 2009 hanya membahas kewajiban PT Manunggal Engineering untuk membayar Piling Material sebesar Rp 7.642.587.645,00.

  Pada kasus 3, yaitu kasus PLTU Jawa Barat antara PT Truba Jaya Engineering sebagai digunakan oleh PT Truba Jaya Engineering adalah adanya tipu muslihat yang dilakukan oleh PT Adhi Karya, dimana PT Adhi Karya menuntut atas biaya keterlambatan sebesar Rp 21.715.905.090,00. Namun, tidak ada satu pasal perjanjian yang mengatur ganti rugi atas keterlambatan, meskipun keterlambatan tersebut diakibatkan oleh PT Adhi Karya. Di lain pihak, BANI menyatakan bahwa pengajuan tuntutan merupakan hak dari PT Adhi Karya yang dijamin oleh hukum untuk mendapatkan kembali apa yang dilanggar oleh PT Truba Jaya Engineering. Selain itu, alasan pembatalan putusan BANI yang diajukan oleh PT Truba Jaya Engineering telah diperiksa sebelumnya pada proses pemeriksaan BANI. Oleh karena itu, Pengadilan Negeri tidak berhak untuk menanggapii maupun mempertanyakan putusan BANI, hal ini sesuai dengan Pasal 62 ayat (4) No. 30/1999 yang berbunyi sebagai berikut : “Ketua Pengadilan Negeri tidak memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan Arbitrase”. Berdasarkan pasal ini, maka alasan BANI tidak dapat diperiksa dan alasan pembatalan putusan BANI oleh PT Truba Jaya Engineering tidak dapat diterima.

  Selanjutnya, pada kasus 6, yaitu Proyek Cirebon Superblock Mall antara PT Karya Bersama Takarob sebagai pengguna jasa dengan PT Adhi Karya sebagai penyedia jasa yang mana lokasi proyek ini berada di Jl Cipto Mangunkusumo. Pembatalan putusan BANI berawal dari adanya tipu muslihat yang dilakukan oleh PT Adhi Karya, yaitu dengan menunjukkan adanya tagihan pada termin ke VII sebesar Rp 7.458.434.820,00 mengandung cacat administrasi karena tidak ditandatangani dan disetujui oleh PT Karya Bersama Takarob. Tidak ditandatanganinya administrasi perihal tagihan termin tersebut karena adanya perbedaan penilaian volume pekerjaan, dimana penilaian antara PT Karya Bersama Takarob dengan PT Adhi Karya tidak sama. Berdasarkan hal tersebut sudah jelas adanya tipu muslihat dan penggunaan dokumen yang tidak sah yang dilakukan oleh PT Adhi Karya yang memengaruhi BANI dalam menjatuhkan putusan. Namun di lain pihak, PT Karya Bersama Takarob hanya karena tidak puas atas putusan BANI yang diterima dan disebabkan karena PT Karya Bersama Takarob tidak mampu mempertimbangkan termasuk dalam golongan tipu muslihat atau penggunaan dokumen yang tidak sah sehingga menjadi tidak jelas. Oleh karena itu, Pengadilan Negeri memutuskan alasan yang digunakan oleh PT Karya Bersama Takarob menjadi kabur dan tidak dapat diterima.

  Pada kasus 8, yaitu terjadinya wanprestasi antara PT Manunggal Engineering dengan PT Multi Adverindo dan PT Geostructure Dinamics. PT Manunggal Engineering mengungkapkan adanya pemberian surat kuasa oleh PT Multi Adverindo dan PT

  BANI sebelumnya. Adapun surat kuasa yang digunakan tidak bersifat khusus yang dapat mewakili persidangan dan tidak menyebutkan secara legkap subjek dan objek perkara. Selain itu, pengangkatan Arbiter ke-3 tidak sah menurut PT Manunggal Engineering karena pengangkatan arbiter ke-3 merupakan kesepakatan bersama. Namun BANI menunjuk arbiter ke-3 atas kehendak sendiri tanpa adanya kesepakatan dari PT Manunggal Engineering, PT Multi Adverindo, dan PT Geostructrual Dinamics. Dalil yang digunakan oleh PT Manunggal Engineering tidak berdasar hukum dan mengada-ada karena dalil tersebut seharusnya diajukan dalam proses pemeriksaan arbitrase, bukan dalam Pengadilan Negeri. Oleh karena itu, Pengadilan Negeri memutuskan untuk menolak permohonan PT Mangunggal Engineering. Kasus 10 yaitu Kasus Penggunaan Anggaran Pelaksanaan Jalan BTS, Jabar, Tegal, Slawi antara Ir. Krido Lucky Widyantoro, M.M., Ir. Eddy Soetano, M.T., Ir. Herman Suroyo, M.T., Sumarjono, S.T., M.T., dan Ir. Noertjahjo Widodo, M.T., yang kemudian disebut sebagai Para Pemohon sebagai pengguna jasa dengan PT Bumirejo dan PT Brantas Abipraya, Joint

  

Operation yang kemudian disebut dengan BBJO. BBJO yang pada awalnya adalah Pemohon

  dalam BANI yang kemudian permohonannya dikabulkan sebagian berupa mendapat ganti rugi sebesar Rp 26.871.672.000,00 dalam putusan BANI No. 516/V/ARB-BANI/2013 tanggal 28 Januari 2014. Para Pemohon kemudian menyatakan pembatalan kepada Pengadilan Negeri Tegal karena adanya unsur tipu muslihat berupa suspensi dari Bank Dunia yang disembunyikan oleh BBJO. Selain itu, Para Pemohon menyatakan Majelis Arbiter cacat hukum karena penunjukan arbiter oleh Para Pemohon terlambat dan adanya arbiter sepihak tanpa melalui penetapan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, alasan-alasan yang diajukan oleh Para Pemohon sudah diperiksa sebelumnya dalam proses pemeriksaan BANI, sehingga Pengadilan Negeri Tegal tidak memiliki wewenang berdasarkan Pasal 62 ayat (4) UU No. 30/1999. Kewenangan Pengadilan Negeri sebatas pembatalan putusan BANI, bukan memeriksa alasan putusan BANI sepanjang memenuhi unsur Pasal 70 UU No. 30/1999. Adapun alasan yang diajukan harus dibuktikan dengan putusan pengadilan, sehingga pengadilan menyatakan alasan-alasan tersebut dapat atau tidak dijadikan sebagai pertimbangan pembatalan putusan. Di lain sisi, BBJO menyatakan bahwa surat dari Bank Dunia merujuk kepada Para Pemohon karena Bank Dunia bekerja sama dengan Pemerintah Republik Indonesia. Oleh karena itu, tidak mungkin surat tersebut untuk BBJO, melainkan untuk Para Pemohon. Menanggapi tanggapan dari Para Pemohon dan BBJO, Pengadilan Negeri Tegal memutuskan untuk menolak permohonan dari Para Pemohon dan putusan Pengadilan Negeri Tegal, Para Pemohon mengajukan banding ke Mahkamah Agung yang pada intinya Pengadilan Negeri Tegal tidak menilai dan mempertimbangkan unsur tipu muslihat yang telah diungkapkan sebelumnya karena kehilangan kewenangan. Namun karena alasan banding Para Pemohon tidak memiliki bukti yang kuat, maka Mahkamah Agung menolak permohonan banding Para Pemohon dan menghukum Para Pemohon membayar Rp 500.000,00.

  Selain dari tiga unsur di atas, maka apapun alasan yang digunakan tidak dapat dijadikan sebagai dasar pembatalan BANI. Apa pun pertimbangannya, tentu pengajuan pembatalan selain tiga unsur di atas merupakan hal yang sia-sia karena tidak mungkin dapat dimenangkan. Terlebih lagi putusan BANI tidak dapat dibatalkan, tidak dapat diubah isinya berupa tuntutan balik, baik menuntut dari pihak perseorangan maupun dari sebuah badan. Sebagai contoh pada kasus 4, yaitu Tender Pembangunan Dermaga antara PT Hutama Karya sebagai penyedia jasa dengan PT Krakatau Bandar Samudra sebagai pengguna jasa, dimana proyek ini berlokasi di Dermaga Pelabuhan Cigading, Banter. PT Hutama Karya menolak putusan BANI, yang mana BANI menjatuhkan putusan menghukum PT Hutama Karya membayar seluruh biaya administrasi. Pada intinya PT Hutama Karya tidak puas karena BANI menganggap sistem pembayaran

  

Fixed Lump Sum Price menjadi seluruh tanggung jawab dari PT Hutama Karya serta tidak

  mempertimbangkan notulen rapat dimana terdapat kesepekatan pada tanggal 28 Juli 2009 yang menyetujui bahwa tanah dengan SPT > 50 bukan tanggung jawab kontraktor (PT Hutama Karya). Kondisi tersebut menghilangkan kewajiban PT Krakatu Bandar Samudra untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan tanah (karang) keras yang telah dilakukan oleh PT Hutama Karya karena sebelumnya pada tanggal 27 Agustus 2010 PT Krakatau Bandar Samudra berkeinginan untuk volume pekerjaan karang keras hanya diperhituungkan sebesar denda 5% dari nilai kontrak. Pada kasus ini, jelas terlihat bahwa alasan yang digunakan oleh PT Hutama Karya tidak ada satupun yang mewakili unsur dari Pasal 70 No. 30.1999. Hal yang dilakukan oleh PT Hutama Karya merupakan hal sia-sia karena pihak lawan langsung membalas pernyataan dari PT Hutama Karya dengan alasan tidak ada satupun alasan yang dikemukakan mengandung unsur dari Pasal 70 No. 30/1999, dan itupun sudah cukup untuk Pengadilan Negeri membatalkan permohonan dari PT Hutama Karya walaupun pihak dari PT Hutama Karya menggunakan alasan dengan berbagai pasal.

  Selain itu, pembatalan putusan BANI atas Pasal 70 No. 30/1999, tidak mungkin ada bukti yang diajukan adalah hal yang sama, namun melanggar dua unsur sekaligus, yang mana terjadi pada kasus 9 yaitu Proyek Pembangunan Komplek Griya Kemayoran antara PT Tunas Diptapersada sebaga pengguna jasa dengan PT Hutama Karya dan PT Hutama Binamaint

Join Operation sebagai penyedia jasa. Perjanjian atar pihak terkait terikat dalam SPK No.

004/TDP/SPK/PMBG/1/96 yang mnegatur tentang pemborongan. Dalam pelaksanaannya PT Hutama Karya dan PT Hutama Binamaint Join Operation mengalami keterlambatan dan membuat SPK baru No. HK-BM/1040/SP.B-GK/34 tanpa sepengetahuan dan ditandatangani PT Tunas Diptapersada dan SPK tersebut diajadikan sebagai dasar klaim pada persidangan BANI. PT Tunas Diptapersada menyatakan bahwa SPK tersebut cacat hukum. Oleh karena itu dokumen yang diajukan dalam persidangan merupakan dokumen palsu. Di lain sisi, PT Tunas Diptapersada mengatakan bahwa dokumen tersebut disembunyikan oleh PT Hutama Karya dan PT Hutama Binamaint Join Operation. Berdasarkan pernyataan PT Tunas Diptapersada, sungguh jelas tidak masuk akal karena bangaimana mungkin dokumen yang diajukan palsu dan kemudian dokumen tersebut disembunyikan selama proses pemeriksaan. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar.

  Penutup

  Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut : a. Penyebab utama klaim yang terjadi adalah karena 2 hal yatu wanprestasi, dan faktor alam dan administrasi.

  b. Pemilihan untuk penyelesaian sengketa dapat melalui BANI dan Pengadilan Negeri dengan pertimbangan bila penyelesaian sengketa melalui BANI jauh lebih singkat yaitu selama 1 bulan, namun biaya yang dikeluarkan mahal yaitu berkisar antara Rp. 200.000.000 – Rp. 850.000.000, sedangkan melalui Pengadilan Negeri membutuhkan waktu paling cepat tiga bulan untuk kasus ringan dan biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah yaitu berkisar Rp. 350.000 – Rp. 600.000

  c. Pada dasarnya pengajuan di Pengadilan Negeri berdasarkan putusan yang didapat adalah untuk menyelesaikan sengketa, adapun sengketa yang di maksud adalah pembatalan putusan BANI berdasarkan Pasal 70 No. 30/1999. a. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk penyelesaian klaim melalui mediasi dan negosi.

  b. Mengunakan data primair seperti benuk kontrak yang digunakan sehingga dapat mengkaji lebih dalam.

  Daftar Referensi

  Barrie, D.S., and Paulson, B. C. (1992). Professional Construction Management. New York : Mc. Graw-Hill. Chaterine Tay, Swee Kian and Tang, See Chim. (2004). Contract Law : Marshall Cavendish International. Chow Kok Fong. (2006). Construction Contract Dictionary : Sweet and Maxwell Asia. Edward R., Fisk, P.E. (1997). Construction Project Administration. New Jersey : Fifth Edition, Prentice Hall. Ervianto, wolfram. (2009). Manajemen Proyek Konstruksi. Garner, Bryan A. (2004). Black;s Law Dictionary : Thomson West. Lukman ali et al. (1994). Kamus Besar Bahasa Indonesia : Balai Pustaka. Mahkamah Agung Republik Indonesia. Putusan Mahkamah Agung. Diakses pada tanggal 4

  November Malak, A., Asem, M.U., El-Saadi, M. M.H., Abouzed, M.G. (2002). Journal of Construction Engineering and Management. Margono, Suyud. Alternative Dispute Resolution And Arbitrase – Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum. Indonesia : Ghalia. Mertokusumo, Sudikno. (2002). Penemuan Hukum Suatu Pengantar. Yogyakarta : Liberti. PP No. 24 tahun 2005. Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan, Standar Akutansi Pemerintah, p.1,p.4. UU No. 30 tahun 1999. Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Yasin, Ir. H. Nazarkhan. (2004). Mengenal Klaim Konstruksi dan Penyelesaian Sengketa Konstruksi. Indonesia : Gramedia Pustaka Utama. Yasin, Ir. H. Nazarkhan. (2006). Mengenal Kontrak Konstruksi di Indonesia. Indonesia : Gramedia Pustaka Utama.

Tinjaan Klaim Proyek Konstruksi Pada Sen
Dokumen baru

Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait

Tinjaan Klaim Proyek Konstruksi Pada Sen

Gratis

Feedback