Kemudian masing-masing aktivitas tersebut dideskripsikan berdasarkan persentase yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini: Tabel 4.1 Persentase Aktivitas peserta didik Selama Proses Pembelajaran Aktivitas siswa Pertemuan Rata-rata I II III I

Full text

(1)

59 A. Deskripsi Data

Bagian ini merupakan deskripsi dan analisis data dari instrumen yang digunakan pada penelitian yaitu berupa data tentang kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik dan mendeskripsikan proses pembelajaran berupa aktivitas belajar. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan pada tanggal 01 February sampai dengan 22 February 2017 di kedua kelas sampel. Data tentang kemampuan pemahaman matematis peserta didik diperoleh dari hasil tes akhir yang diberikan pada kedua kelas sampel dengan:

Materi : Aritmatika Sosial

Kompetensi Dasar : 3.11. Menganalisis aritmatika sosial (penjumlahan, pembelian, keuntungan, kerugian, potongan, bunga tunggal, persentase , bruto, netto, dan tara)

4.11. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aritmatika sosial (penjualan, pembelian, keuntungan, kerugian, potongan, bunga tunggal, persentase, bruto, netto, dan tara)

Indikator Pencapaian Kompetensi

: 4.11.1. Menemukan konsep harga penjualan, harga pembelian, untung dan rugi 4.11.2. Menemukan konsep persentase

keuntungan dan kerugian

4.11.3. Menemukan konsep bunga tunggal, diskon dan pajak

(2)

Jumlah peserta didik pada kelas eksperimen yaitu kelas VII4 berjumlah 34 siswa, sedangkan pada kelas kontrol yaitu kelas VII5 berjumlah 34 siswa. Rincian masing-masing deskripsi dan analisis data dari instrumen yang digunakan pada penelitian diuraikan dibawah ini:

1. Lembar Observasi

Mendeskripsikan data aktivitas peserta didik diperoleh dari lembar observasi dalam bentuk persentase. Persentase aktivitas peserta didik ini diperoleh dengan cara jumlah frekuensi masing-masing aktivitas peserta didik dibagi dengan jumlah peserta didik kali 100% selama 4 kali pertemuan.

Kemudian masing-masing aktivitas tersebut dideskripsikan berdasarkan persentase yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini:

Tabel 4.1

Persentase Aktivitas peserta didik Selama Proses Pembelajaran Aktivitas

siswa

Pertemuan

Rata-rata

I II III IV

a. 44,11% 50% 52,94% 58,82% 41,17%

(3)

Kemudian dengan menggunakan grafik dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 4.1

Persentase Aktivitas Peserta Didik Selama Proses Pembelajaran Keterangan aktivitas peserta didik :

a. Siswa bertanya pada guru jika kurang memahami materi yang telah disampaikan guru.

b. Siswa berdiskusi dengan anggota kelompok dalam memahami materi.

c. Siswa memperhatikan penjelasan guru.

d. Siswa mencatat konsep penting dari materi pelajaran. e. Siswa mengerjakan soal pada LKPD secara individual.

Dari tabel 4.1 dan gambar 4.1 di atas memperlihatkan bahwa persentase aktivitas peserta didik selama pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Pair Check rata-rata meningkat setiap pertemuan.

2. Pemahaman Konsep Matematis Peserta Didik

(4)

siswa. Skor tertinggi pada kelas eksperimen 100 dan skor terendah 45, sedangkan skor tertinggi pada kelas kontrol 100 dan skor terendah 34. Hasil deskripsi data yang diperoleh berdasarkan tes yang telah dilakukan dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2

Hasil Deskripsi Nilai Tes Akhir Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis eksperimen lebih tinggi daripada rata-rata hasil tes kelas kontrol. Rata-rata hasil tes kelas eksperimen yaitu 67,64% sedangkan rata-rata hasil tes kelas kontrol yaitu 50%. Jumlah peserta didik yang mencapai KKM pada kelas eksperimen adalah sebanyak 23 orang sedangkan pada kelas kontrol adalah sebanyak 17 orang. Hasil tes lebih lengkap dapat dilihat pada lampiran XVII.

(5)

Tabel 4.3

Nilai Rata-rata Peserta Didik Setiap Indikator Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis

No.

Soal Indikator Pemahaman Konsep Matematis

Nilai Rata-rata Eksperimen Kontrol

1 Mengidentifikasi sifat-sifat operasi atau

konsep 83,82 77,57

2,4,5 Menerapkan konsep secara logis 81,48 75 3 Mengklasifikasikan objek menurut

sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya 84,56 76,47 Kemudian dengan menggunakan grafik dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 4.2

Nilai Rata-Rata Peserta Didik Setiap Indikator Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis

Kemampuan peserta didik pada masing-masing indikator kemampuan pemahaman konsep matematis diberi skor 0, 1, 2, 3, 4 sesuai dengan kriteria berdasarkan rubrik penskoran kemampuan pemahaman konsep matematis. Berdasarkan Tabel 43 dan Gambar 4.2 terlihat bahwa secara umum nilai rata-rata kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas kontrol.

(6)

B. Analisis Data

Analisis data hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen dilakukan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan, apakah diterima atau tidak. Untuk mengetahui hal itu terlebih dahulu harus dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas variansi terhadap hasil belajar matematika siswa pada kedua sampel.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas hasil kemampuan pemahaman kosep matematis peserta didik kelas sampel dilakukan dengan menggunakan uji liliefors (Sudjana, 2005 : 446), bertujuan untuk melihat apakah sampel berdistribusi normal atau tidak, menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Menyusun skor hasil belajar peserta didik dalam suatu tabel, skor yang disusun mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar.

b. Mencari skor mentah dan skor baku dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

̅

Keterangan :

= Skor dari tiap peserta didik

̅ = Skor rata-rata = Simpangan baku

c. Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku dihitung peluang :

( ) ( )

d. Menghitung harga ( ) yaitu proporsi skor baku yang lebih kecil atau sama dengan dengan rumus :

(7)

e. Menghitung selisih ( ) ( ), kemudian tentukan harga mutlaknya. Harga mutlak terbesar dinyatakan dengan

Untuk menolak atau menerima hipotesis nol bandingkan antara dengan nilai kritis L pada uji Liliefors.

Kriteria pengujiannya :

Jika berarti data sampel berdistribusi normal Jika berarti data sampel tidak berdistribusi normal

Untuk lebih jelasnya pengujian normalitas untuk masing-masing kelas dapat dilihat pada lampiran XIX. Berdasarkan penghitungan uji normalitas diperoleh perbandingan ltabel dan l0 kelas eksperimen dan kelas

kontrol sebagai berikut :

Tabel 4.4

Perbandingan L0 dengan Ltabel Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol No Kelas L0 Ltabel Kesimpulan Keterangan

1 VII 4 L0 < Ltabel Data Normal

2 VII 5 L0 < Ltabel Data Normal

Selain itu, untuk menentukan data berdistribusi normal atau tidak, juga dilakukan pengujian normalitas dengan Software SPSS. Dengan bantuan software SPSS hasil uji normalitas kedua kelas sampel dapat dilihat pada table 4.5 berikut :

Tabel 4.5

Output Uji Normalitas Sampel Tests of Normality Kelas Kolmogorov-Smirnov

a

Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic Df Sig. Nilai VII4 0,101 34 0,200* 0,942 34 0,069

(8)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa signifikan kelas eksperimen dan kelas kontrol lebih besar dari 0,05. Pada uji Kolmogorov-smirnov nilai probabilitas kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing adalah 0,101 dan 0,132, dan pada uji Shapiro-wilk nilai probabilitas kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing adalah 0,069 dan 0,071, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelas sampel berdistribusi normal. 2. Uji Homogenitas Variansi

Setelah dilakukan uji normalitas selanjutnya dilakukan uji homogenitas, yang bertujuan untuk melihat kedua kelas sampel mempunyai variansi yang homogen atau tidak. Uji homogenitas variansi juga dilakukan dengan uji F pada taraf nyata , dengan menggunakan rumus :

Keterangan :

S12 = Variansi hasil belajar eksperimen

S22 = Variansi hasil belajar kelas kontrol

Berdasarkan data yang diperoleh, maka S12 =

S22 =

Lakukan Uji Homogenitas dengan rumus :

Berdasarkan tabel distribusi F didapatkan harga Ftabel untuk taraf dan derajat bebas = ( n1-1, n2-1) (33, 33) adalah 1,84. Jadi harga

Fhitung < Ftabel = < 1,84 sehingga dapat disimpulkan bahwa dari hasil

(9)

homogen. Perhitungan lebih jelas dapat dilihat lampiran XX. Dengan menggunakan bantuan software SPSS hasil uji homogenitas sampel dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut :

Tabel 4.6

Output Uji Homogenitas Sampel Test of Homogeneity of Variances

Nilai

Levene Statistic df1 df2 Sig.

3,092 1 66 0,083

Berdasarkan tabel Test of homogeneity of variances dapat dilihat nilai probablilitasnya yaitu 0,083 lebih besar dari 0,05, maka diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel mempunyai variansi yang homogen.

3. Uji Hipotesis

Hasil uji normalitas dan uji homogenitas dua variansi data tes hasil belajar kedua kelas sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan variansi yang homogen. Maka untuk menguji hipotesis dengan menggunakan uji-t, yang berguna untuk melihat apakah tes hasil belajar kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Pair Check lebih tinggi dari pada tes hasil belajar kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional pada kelas VII SMPN 31 Padang. Pada uji hipotesis, uji yang dilakukan adalah uji-t satu arah dengan rumus :

(10)

( )

Dengan dan diperoleh sedangkan dengan taraf kepercayaan . Karena

( ) ( )maka hipotesis H0 ditolak dan H1 diterima

sehingga disimpulkan hasil kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik yang diajar dengan Model Pembelajaran Pair Check lebih tinggi daripada hasil kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik yang diajar dengan model pembelajaran konvensional. Untuk lebih jelas maka dapat dilihat pada lampiran XXI.

C. Pembahasan

1. Aktivitas Belajar Peserta Didik

Selama proses pembelajaran dari pertemuan pertama sampai pertemuan keempat ada peserta didik yang hadir ada yang tidak, berikut penjelasan mengenai aktivitas peserta didik.

a. Siswa bertanya pada guru jika kurang memahami materi yang telah disampaikan guru.

(11)

termasuk dalam kategori sedikit. Pada pertemuan kedua juga sebanyak 17 siswa dengan persentase 50% termasuk kategori banyak. Pertemuan ketiga sebanyak 18 siswa dengan persentase 52,94% termasuk kategori banyak. Begitu juga pada pertemuan keempat sebanyak 20 siswa dengan persentase 58,82% termasuk dalam kategori banyak. Seperti terlihat pada gambar 4.3 berikut :

Gambar 4.3

Persentase Siswa Bertanya Pada Guru Jika Kurang Memahami Materi Yang Telah Disampaikan Guru

b. Siswa berdiskusi dengan anggota kelompok dalam memahami materi. Aktivitas siswa dalam berdiskusi dengan anggota kelompok dalam memahami materi dapat dilihat pada tabel 4.1, pada pertemuan pertama sebanyak 22 siswa dengan persentase 64,70%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang berdiskusi dengan anggota kelompok dalam memahami materi tergolong kategori banyak. Pada pertemuan kedua sebanyak 25 siswa dengan persentase sebanyak 73,52% meningkat menjadi kategori banyak . Begitu juga pada pertemuan ketiga sebanyak 27 siswa dengan

0 10 20 30 40 50 60

pert 1 pert 2 pert 3 pert 4 44,11

50 52,94

58,82

(12)

persentase 79,41% termasuk kategori banyak sekali sedangkan pada pertemuan keempat sebanyak 29 siswa dengan persentase 85,29% termasuk kategori banyak sekali. Seperti diperlihatkan terlihat pada gambar 4.4 berikut :

Gambar 4.4

Persentase Siswa Berdiskusi dengan Anggota Kelompok dalam Memahami Materi

c. Siswa memperhatikan penjelasan guru.

Aktivitas siswa memperhatikan penjelasan guru pada pertemuan pertama sebanyak 18 siswa dengan persentase 52,94% termasuk dalam kategori banyak. Pada pertemuan kedua juga sebanyak 20 siswa dengan persentase 58,82% termasuk kategori banyak. Pertemuan ketiga sebanyak 23 siswa dengan persentase 67,64% termasuk kategori banyak. Begitu juga pada pertemuan keempat 26 siswa dengan persentase 76,47% termasuk dalam kategori banyak sekali. Seperti terlihat pada gambar 4.5 berikut :

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

pert 1 pert 2 pert 3 pert 4 64,7

73,52 79,41

85,29

(13)

Gambar 4.5

Persentase Siswa Memperhatikan Penjelasan Guru d. Siswa mencatat konsep penting dari materi pelajaran.

Aktivitas siswa mencatat konsep penting dari materi pelajaran pada pertemuan pertama sebanyak 26 orang dengan presentasi 76,47% termasuk kategori banyak sekali. Pada pertemuan kedua siswa yang menyimpulkan pelajaran sebanyak 27 siswa dengan persentasi 79,41% dengan kategori banyak sekali. Pada pertemuan ketiga adalah sebanyak 28 siswa dengan presentasi 82,35% termasuk kategori banyak sekali, begitu juga pada pertemuan keempat siswa yang merangkum hasil diskusinya sebanyak 29 siswa dengan presentasi 85,29% juga termasuk kedalam kategori banyak sekali. Seperti terlihat pada gambar 4.6 berikut:

0 10 20 30 40 50 60 70 80

pert 1 pert 2 pert 3 pert 4 52,94 58,82

67,64

76,47

(14)

Gambar 4.6

Persentase Siswa Mencatat Konsep Penting Dari Meteri Pelajaran e. Siswa Mengerjakan Soal Pada LKPD Secara Individual.

Aktivitas siswa mengerjakan soal pada LKPD secara individual pada pertemuan pertama sebanyak 30 siswa dengan presentasi 88,23% termasuk kategori banyak sekali. Pada pertemuan kedua meningkat menjadi 31 siswa dengan presentasi 91,17% tetapi masih termasuk kategori banyak sekali. Pada pertemuan ketiga siswa yang mendengarkan temannya sebanyak 32 siswa dengan presentasi 94,11% meningkat menjadi kategori banyak sekali. Begitu juga pada pertemuan keempat siswa yang mendengarkan penjelasan temannya ketika tampil 32 siswa dengan presentasi 97,05 % termasuk kategori banyak sekali. Seperti terlihat pada gambar 4.7 berikut :

72 74 76 78 80 82 84 86

pert 1 pert 2 pert 3 pert 4 76,47

79,41

82,35

85,29

(15)

Gambar 4.7

Persentase Siswa Mengerjakan Soal Pada LKPD Secara Individual

2. Pemahaman Konsep Matematis Peserta Didik

Berdasarkan hasil deskripsi data, diperoleh rata-rata kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik kelas eksperimen adalah 82,85 dan 76,44 pada kelas kontrol. Dari hasil pengujian hipotesis, diperoleh H1 diterima dengan taraf nyata α = 0,05. Dengan demikian,

dapat dikatakan bahwa secara umum kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik kelas eksperimen lebih tinggi daripada kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik kelas kontrol. Hal ini disebabkan karena pada kelas eksperimen diajar dengan Model Pembelajaran Pair Check yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Karena dalam model pembelajaran ini konsep yang dipelajari tidak langsung diberikan oleh guru kepada peserta didik melainkan siswa memperoleh konsep dari materi yang dipelajari dengan pemahamannya atau hasil berpikirnya sendiri.

82 84 86 88 90 92 94 96 98

pert 1 pert 2 pert 3 pert 4 88,23

91,17

94,11

97,05

(16)

Pada tahap Pair, peserta didik juga terlihat lebih berani bertanya dan mengungkapkan ide-idenya dengan pasangannya. Hal ini terlihat pada saat proses pembelajaran yang dilakukan. Sehingga, dengan demikian kemampuan pemahaman konsep peserta didik menjadi meningkat.

Meningkatnya kemampuan pemahaman siswa dengan Model Pembelajaran Pair Check juga disebabkan karena dalam memecahkan suatu permasalahan, siswa tidak hanya menggunakan pemahamannya sendiri melainkan sudah berdiskusi dan memperbaiki pemahaman konsep yang keliru saat berpasangan kemudian mencek (Check) dan menyimpulkan dengan seluruh siswa di kelas. Sehingga siswa tidak hanya terpaku pada penjelasan yang diberikan guru. Jadi, pembelajaran dengan Model Pembelajaran Pair Check memberikan kesempatan kepada siswa berinteraksi dengan siswa lain sehingga kemampuan pemahaman konsep peserta didik menjadi lebih tinggi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Model Pembelajaran Pair Check dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa.

(17)

tugas, yang tidak ikut menyelesaikan soal maka harus mempresentasikannya di depan kelas sehingga ada usaha peserta didik tersebut untuk bertanya pada pasangannya yang lebih pintar.

Pada saat mempresentasikan hasil diskusi dengan pasanganya di depan kelas, peserta didik terlihat masih malu-malu dan masih sulit menyampaikan kepada peserta didik lain mengenai hasil diskusi dengan pasanganya, sehingga peserta didik yang lain lebih banyak mengobrol dan enggan menaggapi presentasi temannya. Hal ini disebabkan karena sebelumnya pembelajaran hanya berpusat pada guru, sehingga peserta didik belum terbiasa unruk menyampaikan pendapat ataupun bertanya jika ada penjelasan yang belum dipahami.

Pada pertemuan selanjutnya sedikit demi sedikit ada perubahan yang baik pada kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik, hal ini dilihat dari hasi diskusi peserta didik. Peserta didik lebih aktif bertanya jika mengalami kesulitaan dalam menyelesaikan masalah atau kurang memahami materi. Peserta didik pun lebih berani mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas dan peserta didik yang lain pun tidak ragu-ragu dalam mengungkapkan pendapatnya.

(18)

cendrung menghafal bentuk atau kalimat dalam menyelesaikan soal matematika. Pembelajaran dikelas kontrol, peserta didik tidak diberikan LKPD hanya diberikan soal latihan yang ada pada buku paket setelah guru selesai menjelaskan. Sehingga peserta didik tidak terbiasa dalam menjawab soal harus mengidentifikasi diketahui, ditanya, dan dijawab.

Dari uraian pembahasan penelitian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Model Pembelajaran Pair Check dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik. Dengan kata lain kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik yang diajar dengan Model Pembelajaran Pair Check lebih tinggi dari pada model pembelajaran konvensional.

D. Kendala dalam Penelitian

Meskipun pada penelitian ini diperoleh hasil kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik di kelas eksperimen lebih tinggi daripada kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik di kelas kontrol, tetapi dalam pelaksanaanya tidak terlepas dari kendala dan keterbatasan yang dihadapi selama penelitian ini dilakukan. Adapun kendala yang dihadapi pada kelas eksperimen, yaitu :

1. Dari segi waktu pembentukan kelompok.

(19)

kelompok serta mempersiapkan peralatan untuk keperluan belajar. Untuk pertemuan berikutnya, masing-masing kelompok harus membentuk kelompok sebelum memulai pembelajaran agar waktu pembelajaran efektif.

2. Pengerjaan LKPD

Dalam proses pembelajaran untuk setiap pertemuan masing-masing kelompok diberikan LKPD yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang menuntun peserta didik untuk memahami konsep dan menemukan prinsip dari materi yang dipelajarinya. Peneliti mengalami kesulitan dalam membimbing peserta didik dalam menyelesaikan LKPD. Ada beberapa kelompok yang tidak membaca petunjuk yang terdapat pada LKPD dan cenderung bertanya apa perintahnya. Untuk itu, perlu diingatkan kepada masing-masing kelompok untuk membaca terlebih dahulu perintah yang terdapat pada LKPD yang diberikan, kemudian baru mendiskusikan jawabannya.

3. Keterbatasan waktu untuk diskusi kelompok

Gambar

Gambar 4.1 Persentase Aktivitas Peserta Didik Selama Proses Pembelajaran
Gambar 4 1 Persentase Aktivitas Peserta Didik Selama Proses Pembelajaran . View in document p.3
Tabel 4.2 Hasil Deskripsi Nilai Tes Akhir
Tabel 4 2 Hasil Deskripsi Nilai Tes Akhir . View in document p.4
Tabel 4.3
Tabel 4 3 . View in document p.5
Tabel 4.5 Output Uji Normalitas Sampel
Tabel 4 5 Output Uji Normalitas Sampel . View in document p.7
Tabel 4.6 Output Uji Homogenitas Sampel
Tabel 4 6 Output Uji Homogenitas Sampel . View in document p.9
gambar 4.3 berikut :
gambar 4.3 berikut : . View in document p.11
gambar 4.4 berikut :
gambar 4.4 berikut : . View in document p.12
Gambar 4.5 Persentase Siswa Memperhatikan Penjelasan Guru
Gambar 4 5 Persentase Siswa Memperhatikan Penjelasan Guru . View in document p.13
Persentase Siswa Mencatat Konsep Penting Dari Meteri PelajaranGambar 4.6
Persentase Siswa Mencatat Konsep Penting Dari Meteri PelajaranGambar 4 6 . View in document p.14
Gambar 4.7 Persentase Siswa Mengerjakan Soal Pada LKPD Secara
Gambar 4 7 Persentase Siswa Mengerjakan Soal Pada LKPD Secara . View in document p.15

Referensi

Memperbarui...

Download now (19 pages)