Full text

(1)

Pengobatan Non Psikofarmaka Dalam Penanganan

Gangguan Tidur Pada Lansia

Populasi Penduduk dengan lanjut tua (lansia) mengalami peningkatan hampir di seluruh dunia berkat kemajuan dalam pengobatan modern. Beberapa masalah kesehatan seperti masalah penyakit kronis, kerentanan mengalami masalah gangguan psikiatri berupa depresi, penurunan produktivitas kerja dan juga insomnia sering kali terjadi. Insomnia merupakan keluhan kesehatan yang paling umum dialami oleh lansia dengan prevalensi 9 %-57%. Insomnia kronik dipandang sebagai bagian dari gejala gangguan medik dan mental. Sehingga berdasarkan hal ini, perlu untuk mencari dan mengevaluasi penyakit yang mendasari gangguan tidur ini. Konsep yang baru mengenai insomnia merupakan penyakit yang berdiri sendiri seperti tercantum dalam kode DSM V dan ICSD 3 dimana insomnia merupakan diagnosis yang berdiri sendiri. Implikasi dari hal ini bahwa kita jangan menunggu untuk mengatasi komorbiditas dari segi medik dan psikiatrik sebelum intervensi gangguan tidur.

(2)

Penyebab dari gangguan tidur pada orang tua dengan demensia meliputi faktor psikologik dan fisik seperti kesepian, kecemasan nyeri, inkontinensia, rasa lapar dan konstipasi, cara petugas menghadapi pasien serta faktor lingkungan seperti suara ribut, suhu ruangan dan pencahayaan. Proses perubahan baik itu fisik yang mengalami penuaan dan serta perubahan dari fungsi organ juga berperanan dalam hal ini. Assesmen mengenai faktor-faktor ini dalam mengevaluasi gangguan tidur sangat diperlukan sehingga faktor yang mendasari gangguan tidur dapat dikenali dan diatasi dengan lebih efektif. Bukti-bukti terbaru yang menyatakan efek dari insomnia pada gangguan medik dan mental serta adanya hubungan resiprokal dan dua arah antara insomnia dan kondisi medik umum dan kejiwaan.

(3)

Mekanisme pasti dari bagaimana minyak esensial dapat membantu tidur belum diketahui dengan pasti, namun efek membantu tidur dan mengantuk sudah dibuktikan oleh banyak penelitian. Aroma lavender yang mengandung komponen linalool berperan dalam menginhibisi aktivitas sistem saraf simpatis dan membantu aktivitas sistem saraf parasimpatis. Minyak esensial dengan kandungan santalol (pada cendana) secara signifikan meningkatkan total waktu terjaga dan tidur NREM pada tikus. Penelitian Yamamoto dkk melaporkan bagian lavender yang tidak harum dan cedrol yang merupakan komponen dari minyak esensial cedar wood meningkatkan tidur pada wanita muda. Yamagishi dkk melaporkan minyak esensial piperonal dapat membantu tidur pada orang dewasa. Mekanismenya melalui integrasi dari minyak esensial yang memberikan signal biologis pada reseptor olfaktorius selama inhalasi. Signal ini ditransmisikan ke area limbik dan hipotalamus yang mengakibatkan pelepasan neurotransmiter seperti serotonin dan endorphin yang memberikan perasaan lega, menenangkan dan rasa nyaman.

(4)

menggunakan obat anxiolitik, obat tidur dan antipsikotik 2 minggu sebelum tanggal seleksi, mengalami sindrom apneu saat tidur dan mengalami nyeri dikeluarkan dari penelitian.

Definisi operasional berdasarkan the International Classification of Sleep Disorders (ICSD-2) dimana gangguan tidur didefinisikan sebagai :

A. Satu atau lebih gejala berikut yang menetap selama 3 bulan yaitu

1. Kesulitan memulai tidur : memerlukan 30 menit atau lebih untuk mulai tidur

2. Kesulitan mempertahankan tidur : terbangun 3 kali atau lebih selama tidur dan memerluka waktu lebih dari setangah jam untuk bisa tidur lagi

3. Bangun lebih awal : bangun sebelum pukum 3 dinihari dan kesulitan untuk tidur lagi B. Gejala pada poin A terjadi meskipun lingkungan untuk tidur sudah adekuat

C. Poin A dan B ada serta ditemukan adanya gejala behavioral and psychological symptoms in dementia (BPSD)

Metode penelitian berupa penggunaan 3 jenis minyak esensial yaitu true lavender,true lavender dan sweet orange oil blend (Re:Brain; HyperBrain, Tottori) ; Japanese cypress, Virginian cedarwood, cypress, ; pine oil blend (RelaxationWoody;HyperBrain,Tottori). Subyek dapat memilih satu jenis dari 3 aromaterapi yang digunakan. 20 hari pertama digunakan sebagai kontrol dan 20 hari kedua sebagai periode intervensi. Selama masa kontrol, seorang peneliti mengunjungi subyek di kamarnya pada pukul 18.00 -20.00 dan membungkuskan handuk yang tidak berisi minyak aromaterapi pada bantal subyek sebelum subyek tidur. Selama masa intervensi seroang peneliti juga datang ke kamar subyek pada jam yang sama serta membungkuskan handuk yang sudah mengandung minyal esensial. Handuk dikumpulkan keesokan harinya baik itu pada masa kontrol dan juga masa intervensi. Untuk menghindari efek Hawthorne maka disiapkan lingkungan yang sama antara masa kontrol dan intervensi.

(5)

dikumpulkan. Data dikumpulkan menggunakan vibrometer yang diletakkan di bawah kasur yang mengambil data 24 jam selama 40 hari dan kesulitan tidur diukur sebagai berikut :

1. Kesulitan memulai tidur : sleep latency (SL)

2. Kesulitan mempertahankan tidur : total sleep time (TST), SE (sleep efficacy), duration of longest sustained sleep period (DLSSP),and wake time after sleep onset (WTASO)

3. EMA : number of times of early morning awakening

4. Daytime disorder : BPSD yang diukur menggunakan Neuropsychiatric Inventory (NPI) and day time sleep

Vibrometer berfungsi mengukur dan mencatat waktu yang dihabiskan di tempat tidur, jam tidur dimulai, waktu bangun pagi, waktu tidur, waktu terjaga dan waktu yang dihabiskan di luar tempat tidur selama 24 jam. Pengolah data menggunakan statistic menggunakan t test dan menggunakan ANOVA dan Wilcoxon serta SPSS versi 23. Berikut tabel dari hasil penelitian:

Pada Penelitian ini, dari sampel yang berjumlah 22 orang pada awal penelitian, mengalami drop out karena 1 sampel mengalami rawat inap, satu sampel mengundurkan diri dari penelitian dan 1 orang sampel menggunakan obat tidur selama penelitian sehingga tersisa 19 orang.

(6)

letak perabotan atau barang kepunyaan sampel; jumlah staf dan perlakukan dari staf. Perubahan fisik dan lingkungan tidak ada dan tidak mempengaruhi intervensi.

(7)

waktu tidur meningkat, namun masih sering terjaga sepanjang tidur sehingga efikasi tidur tidak dapat tercapai. SL yaitu waktu untuk memulai tidur tidak ada perbedaan antara kontrol dan intervensi.

Kesimpulan

Penanganan gangguan tidur pada orang lanjut usia dapat berupa intervensi farmakoterapi dan non farmakoterapis. Penggunaan obat yang bersifat sedatif diupayakan seminimal mungkin mengingat kejadian insomnia pada lansia bersifat kronis sehingga efek samping dari penggunaan obat-obat sedatif seperti pusing, kemungkinan terjatuh akibat gangguan keseimbangan dapat diturunkan. Hal ini dapat juga mengurangi mortality rate akibat penggunaan obat yang bersifat sedatif.

(8)

REFERENCE

Conroy, D. A. and Ebben, M. R. (2015) ‘Referral Practices for Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia : A Survey Study’, 2015.

Perlis, M. L. and Youngstedt, S. D. (2014) ‘The diagnosis of primary insomnia and

treatment alternatives’, Comprehensive Therapy, 26(4), pp. 298–306. doi: 10.1007/s12019-000-0033-6.

Riemann, D. et al. (2017) ‘European guideline for the diagnosis and treatment of insomnia’,

Journal of Sleep Research. doi: 10.1111/jsr.12594.

Takeda, A., Watanuki, E. and Koyama, S. (2017) ‘Effects of Inhalation Aromatherapy on Symptoms of Sleep Disturbance in the Elderly with Dementia’, 2017.

Wilson, S. and Nutt, D. (2012) ‘Insomnia : guide to diagnosis and choice of treatment’,

Prescriber, (April), pp. 14–24. Available at: www.escriber.com.

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (8 pages)