Komposisi Amfibi Ordo Anura di Kawasan W (1)

 0  0  7  2018-09-28 16:44:24 Report infringing document

  46 ISSN: 1978-1520

  

Komposisi Amfibi Ordo Anura di Kawasan Wisata Air Terjun Ironggolo Kediri

Sebagai Bio Indikator Alami Pencemaran Lingkungan

  1

  1 Nadya Ismi Putri Triesita , Mochammad Yordan Adi Pratama , Mohammad

  1

  1

  2 1 Ilham Pahlevi , Mohammad Anwar Jamaluddin , Berry Fakhry Hanifa 2 Mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Nusantara PGRI Kediri

  Laboratorium Zoologi Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Nusantara PGRI Kediri Jl. K.H Achmad Dahlan No.76 Kediri e-mail: nadya.ismi20@gmail.com

  

Abstrak

Anura memiliki 2 fase hidup dan keberadaannya tidak dapat lepas dari habitat terestrial dan

akuatik. Anura dapat dijadikan bio indikator alami pencemaran lingkungan karena memiliki

kepekaan tinggi terhadap perubahan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui

keanekaragman Ordo Anura yang terdapat di Kawasan wisata Air Terjun Ironggolo,

mengetahui karakteristik Ordo Anura dari berbagai tipe habitat, dan mengetahui Ordo Anura

yang berpotensi sebagai bioindikator pencemaran lingkungan pada kawasan wisata Air Terjun

Ironggolo. Pengambilan data dilakukan pada bulan April 2015 hingga Juni 2016 di Kawasan

wisata Air Terjun Ironggolo Kediri. Metode yang digunakan adalah VES (Visual Encounter

Survey) dimodifikasi teknik purposive sampling dan dengan transek 250 meter serta hasil

wawancara warga lokal. Sebanyak 11 jenis Anura dari 6 famili telah teridentifikasi. Famili

yang dijumpai antara lain: Ranidae, Rhacophoridae, Bufonidae, Dicroglossidae,

Megophrylidae, dan Microhylidae yang meliputi Huia masonii, Odorrana hosii, Chalcorana

chanconota, Rhacophorus reinwardtii, Polypedates leucomystax, Duttaphrynus melanostictus,

Phrynoidis aspera, Fejervarya sp, Limnonectes sp, Leptobrachium hasseltii, dan Microhyla

achatina. Indeks keanekaragaman Anura menunjukkan angka yang terbilang tinggi dengan

kemerataan yang relatif rendah. Kondisi lingkungan di wisata Air Terjun Ironggolo terbilang

baik berdasarkan jumlah spesies Leptobrachium hasseltii yang berpotensi sebagai bioindikator

pencemaran lingkungan menduduki urutan terbanyak dengan status melimpah.

  Kata kunci— air terjun Ironggol, anura, bioindikator, keanekaragaman, kemelimpahan.

  PENDAHULUAN

  Indonesia memiliki predikat negara Megabiodifersitas terbesar kedua berdasarkan species

  

richnees dan banyaknya jumlah spesies endemik yang ada didalamnya [1]. Salah satu faktor

  pendukung keberlangsungannya yaitu adanya lingkungan yang masih alami yang dapat mendukung keberlangsungan hidup spesies di habitat aslinya. Di Indonesia banyak dijumpai tempat wisata alam yang dieksploitasi semata-mata untuk meramaikan industri wisata dan mengesampingkan kelestarian alam. Hal tersebut dapat memicu berkurangnya keasrian alam yang sebenarnya merupakan tempat berlindung dan berkembangbiak bagi berbagai spesies baik hewan maupun tumbuhan.

  Salah satu wisata alam yang terkenal di Kediri adalah Air Terjun Ironggolo, yang terletak di kaki Gunung Wilis Desa Besuki, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri (7 53’ 0” LS dan 111 51’ 0” BT). Letaknya yang berada di kaki gunung dengan ketinggian 1200 mdpl. Air Terjun Ironggolo memiliki suhu lingkungan mencapai 21°C yang menjadikan tempat ini sebagai salah satu tempat yang memiliki potensi sebagai tempat megabiodiversitas. Dengan keelokan alamnya, air terjun Ironggolo dapat dengan mudah menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Namun dewasa ini masih belum banyak penelitian yang mengungkap secara pasti seberapa

  Prosiding Semnas Hayati IV

  IJCCS

ISSN: 1978-1520

  47  besar keanekaragaman spesies yang menempati kawasan tersebut, terutama hewan anura yang dapat dijadikan bio indikator pencemaran lingkungan yang sekaligus dapat membuktikan kealamian wilayah air terjun Ironggolo.

  Nama Amfibi berarti hewan yang hidup dalam dua alam yang berbeda: air dan darat [2]. Anura merupakan Ordo dalam kelas Amfibi yang terdiri atas katak dan kodok. Anura sangat berperan penting dalam ekosistem terutama peranannya sebagai bagian rantai makanan.

  Mayoritas Ordo Anura memakan berbagai jenis serangga dan larva serangga untuk menjaga ekosistem agar tetap seimbang [3]. Ordo Anura juga berguna bagi manusia karena membantu memakan jenis serangga yang dapat merusak perkebunan dan pertanian atau jenis serangga yang bisa menjadi vektor penyakit [4]. Sedangkan, peran Ordo Anura secara langsung adalah dimanfaatkan oleh sebagian manusia untuk sumber makanan dan komoditas ekspor [5]. Peran utama Anura adalah menjaga keseimbangan ekosistem dan sebagai agen bioindikator perubahan kondisi lingkungan seperti pencemaran air, perusakan habitat asli, introduksi spesies eksotik, penyakit dan parasit [6][7][8][9], serta perubahan iklim [10]. Dengan demikian menjadikan ordo Anura rentan terhadap kepunahan.

  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragman Ordo Anura yang terdapat di Kawasan wisata Air Terjun Ironggolo, mengetahui karakteristik Ordo anura dari berbagai tipe habitat, dan mengetahui Ordo Anura yang berpotensi sebagai bioindikator pencemaran lingkungan pada kawasan wisata Air Terjun Ironggolo. Serta untuk menambah kajian penelitian di bidang herpetofauna Indonesia khususnya Kediri dan sekitarnya. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk pendukung upaya pelestarian ordo Anura di kawasan Air Terjun Ironggolo Kediri.

METODE PENELITIAN

  Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2015 hingga Juni 2016 dengan 7 kali pengambilan sampel data primer dan dilakukan pada malam hari (nokturnal) pada pukul 19.00-

  23.00 WIB. Pengambilan data berlokasi di kawasan wisata Air Terjun Ironggolo yang dibagi menjadi 3 plot lokasi. Pada plot A terletak di area parkir, masjid, hingga taman atas yang merupakan daerah terestrial. Area plot B berlokasi di sepanjang jalan menuju air terjun yang merupakan wilayah teristrial dan plot C berada di air terjun hingga sepanjang aliran sungai terusan air terjun yang merupakan satu-satunya plot dengan daerah akuatik yang dimungkinkan berpotensi menjadi pusat perkembangbiakan anura.

  Penelitian ini menggunakan beberapa metode penelitian. Menggunakan VES (Visual

  

Encounter Survey ) [11] yang dilakukan pada plot A dan plot C dengan modifikasi teknik

purposive sampling [12] serta dengan transek 250 meter yang diterapkan di plot B dan plot C.

  Hasil wawancara yang dilakukan pada penduduk sekitar dan wisatawan yang berkunjung di Air Terjun Ironggolo untuk mengetahui potensi keanekaragaman jenis anura yang mendiami wilayah tersebut yang nantinya akan menjadi pelengkap data primer dari hasil pengambilan data yang telah dilakukan.

  Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah senter yang digunakan untuk pencahayaan. Termo-Hygrometer yang digunakan untuk mengukur suhu dan kelembaban udara. Termometer raksa untuk mengukur suhu air. Botol sampel untuk wadah sampel. Alat tulis dan tabel keanekaragaman yang digunakan untuk mencatat hasil sampling. Meteran untuk pengukuran transek, jam tangan untuk mengetahui waktu perjumpaan dan kamera sabagai alat dokumentasi. Jarum suntik sebagai alat suntik untuk menunjang pengawetan spesimen serta kertas label untuk memberi label pada spesimen.

  Untuk mengatahui jenis spesies anura yang ditemukan dapat dikoreksi dengan menggunakan beberapa literatur dan buku panduan identifikasi spesies anura oleh Iskandar, 1998 (Amfibi Jawa dan Bali). Bahan yang gunakan dalam penelitian ini adalah kapas dan kloroform untuk eutanasi sampel [13] alkohol 70% yang digunakan untuk pengawetan sampel

  Prosiding Semnas Hayati IV

  Universitas Nusantara PGRI Kediri

  48 ISSN: 1978-1520

  

  spesimen yang akan diawetkan dengan metode awetan basah di Laboraturium Zoologi Universitas Nusantara PGRI Kediri.

  Data komulatif yang di peroleh akan di oleh dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener [14, 15] :

  Keterangan: H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener Pi = Proporsi jenis ke-i.

  Keanekaragaman dikatakan sangat rendah dan dikatakan sedang jika nilainya <1, jika nilainya berkisar antara 1-1,5 maka dikatakan rendah dan dikatakan sedang jika nilainya berkisar antara 1,5-2,0. Adapun dikatakan tinggi jika nilainya >2,0 [16].

  Untuk mengetahui kemerataan spesies anura yang digunakan indeks kemerataan Shimpson sebagai berikut: Keterangan: E = Indeks Kemerataan jenis H’ = Indeks Keanekaragaman Sannon-Wiener S = Jumlah jenis yang ditemuka. Jika nilai E mendekati 1 maka menunjukkan jumlah individu antar jenis relatif sama. Namun, jika lebih dari 1 ataupun kurang maka kemungkinan besar terdapat dominansipada komunitas tersebut.

  Derajat kemelimpahan relatif jenis herpetofauna yang dijumpai selama pengambilan data dikategorikan dalam 4 kelompok, yaitu: dapat dikatakan banyak dijumpai jika minimal tercatat 30 perjumpaan/hari, dikatakan cukup banyak dijumpai jika 10-30 perjumpaan/hari, jarang dijumpai jika hanya 10 perjumpaan/hari, sulit dijumpai jika hanya 5 perjumpaan/hari dan dikatakan langka jika perjumpaannya di bawah 5 perjumpaan/hari pada sebagian besar waktu survei [17].

HASIL DAN PEMBAHASAN

  Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat teridentifikasi 11 jenis dari 6 familli anggota Ordo Anura yang telah ditemukan di kawasan Air Terjun Ironggolo. Meliputi Huia

  

masonii , Odorrana hosii, dan Chalcorana chanconota dari Famili Ranidae. Rhacophorus

reinwardtii dan Polypedates leucomystax dari Famili Rhacophoridae. Duttaphrynus

melanostictus dan Phrynoidis aspera dari Famili Bufonidae. Fejervarya sp dan Limnonectes sp

  dari Famili Dicroglossidae. Leptobrachium hasseltii dari Famili Megophrylidae dan Microhyla

  

achatina dari Famili Microhylidae. Diantara anura yang telah ditemukan 3 spesies diantaranya

Huia masonii , Limnonectes sp, dan Microhyla achatina merupakan spesies endemik Jawa [2].

  Anura di kawasan Air Terjun Ironggolo memiliki tipe habitat yang bervariasi. Dari keenam famili beberapa diantaranya memiliki habitat terestrial yaitu pada Famili Bufonidae dan Megophrylidae yang biasa di temukan di bawah semak-semak, seresah, sepanjang jalan menuju air terjun, tebing dan beberapa bebatuan.

  Jenis-jenis dari Famili Megophrylidae dan Bufonidae mempunyai kaki yang relatif pendek sehingga mereka tidak dapat melompat jauh untuk menghindari bahaya. Untuk menghindari pemangsanya, jenis-jenis dari Famili ini umumnya menyamakan dirinya sesuai dengan habitatnya [2].

  Famili Rhacophoridae memiliki habitat arboreal. Ditemukan pada pohon-pohon yang memiliki ketinggian 1-8 meter dan hanya ditemukan pada area taman. Dijumpai pula beberapa

  Prosiding Semnas Hayati IV

  IJCCS

ISSN: 1978-1520

  49  telur katak yang diduga telur dari Rhacophorus reinwardtii pada kawasan yang sama.

  Sedangkan untuk spesies yang berhabitat akuatik diantaranya Huia masonii dan Limnonectes sp. Biasa dijumpai di sepanjang badan air, baik air terjun dan aliran sungai terusan air terjun. Spesies lain seperti Odorrana hosii, Chalcorana chanconota, Fejervarya sp, dan Microhyla

  

achatina memiliki tipe habitat semi akuatik. Beberapa ditemukan di sepanjang badan air, tanah,

  tebing, semak dan pohon rendah Tabel 1. Jenis-jenis Ordo Anura yang teridentifikasi di kawasan Air Terjun Ironggolo

  Famili Spesies Perilaku

  IUCN Habitat Huia masonii * Nokturnal

  VU Akuatik Odorrana hosii Nokturnal LC Semi Akuatik

  Ranidae Nokturnal LC Semi Akuatik

  Chalcorana chanconota Rhacophorus reinwardtii Nokturnal NT Arboreal

  Rhacophoridae Polypedates leucomystax Nokturnal LC Arboreal Duttaphrynus melanostictus Nokturnal LC Terestrial

  Bufonidae Phrynoidis aspera Nokturnal LC Terestrial Fejervarya sp Nokturnal LC Semi Akuatik

  Dicroglossidae Limnonectes sp * Nokturnal LC/VU Akuatik

  Megophrylidae Leptobrachium hasseltii Nokturnal LC Terestrial Microhylidae Microhyla achatina * Nokturnal LC Semi Akuatik Keterangan: LC: Least Concern

  VU: Vulnerable NT: Naer Threatened

  • : Endemik Jawa

  Berdasarkan IUCN Red List, sebagian besar Anura yang teridentifikasi di kawasan wisata air terjun Ironggolo termasuk kedalam kategori Least Concern (LC) dan hanya satu jenis Ordo Anura yang berstatus Near Threatened (NT). Dari informasi tersebut dapat diperoleh informasi bahwa Ordo Anura yang terdapat di kawasan wisata air terjun Ironggolo kabupaten Kediri tidak ada yang tergolong kritis. Namun, ada jenis Ordo Anura yaitu Rhacophorus reinwardtii yang berstatus mendekati kepunahan (Tabel 1).

  Leptobrachium hasseltii merupakan jenis yang paling sering dijumpai dengan total

  perjumpaan 87 kali (36,87%) dan Phrynoidis aspera merupakan jenis paling langka dengan total 2 perjumpaan (0,85%). Kemelimpahan didominasi oleh Leptobrachium hasseltii yang diduga memiliki mekanisme pertahanan dan adaptasi yang tinggi, serta memiliki pola persebaran yang luas sehingga lingkungan Air Terjun Ironggolo cocok sebagai habitat dan tempat berkembang biak. Sedangkan Phrynoidis aspera diduga memiliki mekaisme pertahanan dan daya adaptasi lingkungan yang rendah terhadap kondisi lingkungan di tempat kajian, selain itu pola persebaran Phrynoidis aspera yang terbatas oleh ketinggian area kajian juga menjadi salah satu faktor rendahnya derajat kemelimpahan Phrynoidis aspera (Tabel 2).

  Berdasarkan indeks Shanon-Wainer keanekaragaman jenis Anura di kawasan Air Terjun Ironggolo terbilang tinggi dengan nilai sebesar 2,0133 [16] dengan indeks kemerataan sebesar 0,8396. Kemerataan menjauhi angka 1 mengindikasikan adanya dominasi spesies antar komunitas ordo Anura (Tabel 2).

  Dari 11 jenis anura yang teridentifikasi memiliki derajat kemelimpahan yang bervariasi.

  

Leptobrachium hasseltii dengan predikat melimpah memiliki perjumpaan lebih dari 30x

  perjumpaan/hari. Predikat cukup melimpah dimilikioleh Odorrana hosii, Chalcorana

  

chanconota , Rhacophorus reinwardtii dan Duttaphrynus melanostictus dengan rentangan 15-30

  perjumpaan/hari. Tiga jenis katak, yaitu Huia masonii, Limnonectes sp dan Microhyla achatina memiliki derajat kemelimpahan yang terbilang cukup degan rentangan 15-10 perjumpaan/hari.

  Prosiding Semnas Hayati IV

  Universitas Nusantara PGRI Kediri

  50 ISSN: 1978-1520

  

  Predikat jarang dimiliki oleh Polypedates leucomystax dan Fejervarya sp dengan 10-5 perjumpaan/hari. Sedangkan kemerataan langka pada spesies Phrynoidis aspera dengan kurang dari 5 perjumpaan/hari Tabel 2 Keanekaragaman, Kemerataan, dan Kemelimpahan Jenis Ordo Anura di Kawasan Air Terjun

  Ironggolo Spesies Jumlah H' E Persentase Derajat Kemelimpahan

  Huia masonii 15 0,17516 0,07305 6,36% Cukup 28 0,2529 0,10547 11,86% Cukup Melimpah

  Odorrana hosii 27 0,24803 0,10344 11,44% Cukup Melimpah

  Chalcorana chanconota 17 0,18949 0,07903 7,20% Cukup Melimpah

  Rhacophorus reinwardtii 8 0,11473 0,04784 3,39% Jarang

  Polypedates leucomystax Duttaphrynus melanostictus 20 0,20916 0,08723 8,47% Cukup Melimpah

  Phrynoidis aspera 2 0,04043 0,01686 0,85% Langka Fejervarya sp 7 0,10435 0,04352 2,97% Jarang

  Limnonectes sp 13 0,15968 0,06659 5,51% Cukup Leptobrachium hasseltii 87 0,36788 0,15342 36,87% Melimpah

  Microhyla achatina 12 0,15147 0,06317 5,08`% Cukup Total 236 2,0133 0,8396 100%

  • *Kemelimpahan: Melimpah jika tercatat lebih dari 30 perjumpaan/hari, Cukup melimpah jika 30-15

    pejumpaan/hari, Cukup jika dijumpai hanya 15-10 perjumpaan/hari, Jarang jika didapati 10-5

    perjumpaan/hari dan Langka jika perjumpaannya di bawah 5 perjumpaan/hari pada sebagian besar waktu

    survei[17].

  Frekuensi perjumpaan Odorrana hosii dan Chalcorana chanconota dapat dijumpai pada setiap sampling. Sedangkan Phrynoidis aspera, Limnonectes sp dan Microhyla achatina hanya dapat ditemukan dalam 1 bulan sampling pada bulan ke-6 dan ke-4. Pada bulan pertama hanya dapat dijumpai 3 spesies yaitu Huia masonii, Chalcorana chanconota dan Polypedates

  

leucomystax . Jumlah spesies terbanyak ditemukan pada bulan ke-4 dan ke-6 dengan 7 spesies

yang berbeda.

  Parameter lingkungan yang tercatat pada saat penelitian cenderung konstan karena selain berada di lokasi pegunungan, di sekitar kawasan Air Terjun Ironggolo tingkat vegatasi tumbuhan dengan berbagai habitus masih tinggi. Hal tersebut dimungkinkan dapat meminimalisir kelebihan panas dan sebagai wilayah resapan air hujan dengan demikian suhu udara dan kelembaban masih terjaga dengan baik. Suhu udara pada area plot A (Tempat parkir, masjid, dan taman) 25 ̊C dan kelembaban berkisar 80-100%. Pada plot B (jalan menuju air terjun) dengan suhu udara 22 ̊C dan kelembaban 80-100%. Pada plot terakhir, plot C (aliran sungai terusan air terjun) memiliki suhu udara lebih rendah dari ke-2 plot sebelumnya yaitu 21 ̊C dengan kelembaban yang sama 80-100% karena lokasi berada di wilayah tipe habitat akutik yang memiliki suhu air 20 ̊C.

  Ordo anura merupakan salah satu hewan yang berpotensi sebagai bioindikator alami karena memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap adanya perubahan lingkungan. Indikator yang bisa teramati jika lingkungan mengalami perubahan adalah mulai turunnya populasi dan keanekaragaman jenis [18]. Salah satu spesies yang diduga dapat dijadikan bioindikator alami pencemaran lingkungan (terutama pencemaran air) adalah Leptobrachium hasseltii dengan karakteristik pada saat masa larva (berudu) sangat sensitif terhadap perubahan senyawa yang terkandung dalam lingkungan perairan. Dengan demikian dapat membuktikan bahwa kawasan Air Terjun Ironggolo kualitas alamnya masih terjaga dengan tingginya nilai keanekaragaman jenis dan kemerataan.

  Prosiding Semnas Hayati IV

  IJCCS

ISSN: 1978-1520

  51 

  SIMPULAN

  Berdasarkan hasil penelitian telah teridentifikasi 11 jenis dari 6 famili anura di kawasan Air Terjun Ironggolo Kediri, meliputi Huia masonii, Odorrana hosii, dan Chalcorana

  

chanconota dari Famili Ranidae. Rhacophorus reinwardtii dan Polypedates leucomystax dari

  Famili Rhacophoridae. Duttaphrynus melanostictus dan Phrynoidis aspera dari Famili Bufonidae. Fejervarya sp dan Limnonectes sp dari Famili Dicroglossidae. Leptobrachium

  

hasseltii dari Famili Megophrylidae dan Microhyla achatina dari Famili Microhylidae. Dari

  keenam famili, beberapa diantara memiliki habitat terestrial yaitu pada Famili Bufonidae dan Megophrylidae. Famili Rhacophoridae memiliki habitat arboreal, spesies yang berhabitat akuatik diantaranya Huia masonii dan Limnonectes sp. Sedangkan Odorrana hosii, Chalcorana

  

chanconota, Fejervarya sp, dan Microhyla achatina memiliki tipe habitat semi akuatik.

  Diantara spesies yang ditemukan Leptobrachium hasseltii memiliki potensi sebagai bioindikator pencemaran lingkungan. Kondisi lingkungan di wisata Air Terjun Ironggolo terbilang baik berdasarkan jumlah spesies Leptobrachium hasseltii yang menduduki urutan terbanyak dengan status melimpah.

  SARAN

  Perlu dilakukan kajian khusus untuk mengukur kualitas air di lokasi penelitian (pH tanah, pH air, intensitas cahaya, DO dalam perairan) dan berbagai uji polutan yang umum dijumpai pada wilayah perairan, serta kajian lebih lanjut mengenai pola hidup dan persebaran serta upaya pelestarian spesies yang berpotensi sebagai bioindikator pecemaran lingkungan.

  DAFTAR PUSTAKA [1] Natus, I. R. 2005. Biodiversity and Endemic Centre of Indonesian Terrestrial Vertebrates.

  Biogeography Institute of Trier University .

  [2] Iskandar, D. T. (1998) Amphibia of Java and Bali. Research and development Center for Biology-LIPI, Bogor. [3] Pratama., M.Y.A., Pahlevi., M.I., Jamaludin., M.A., Hanifa., B.H., Utami., B. 2016.

  Preliminary of Anuran Diversity and Their Habitat Preference for Bio Indicator in Ironggolo Waterfall Ecotourism Area, Besuki, Mojo, Kediri. Seminar Nasional IKIP PGRI

  Madiun . Madiun: 27 April 2016

  [4] Stebbins, R.C. and Cohen, N. W. 1997. A Natural History of Amphibians. New Jersey:Princenton University Press. 316 p. [5] Kusrini, M.D. 2003. Predicting the Impact of the Frog Leg Traden in Indonesia: An

  Ecological View of the Indonesia Frog Leg Trade, Emphasizing Javanes Edible Frog Species. In Kusrini, M.D., Mardiastuti, A., and Harvey, T. (Eds). 2003. Prosiding Seminar Hasil Penelitian: Konservasi Amfibi dan Reptil di Indonesia. Bogor: IRATA dan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

  181 p. [6] Careey, C., Heyer, and Rand A.S. 2001. Amphibian decline and Environmental changes:

  Use of remote-sensing data to identify environmental correlates. Conservation Biology 15(4): 903-913. [7] Corn, P. S. 2005. Climate change and amphibians. Animal Biodiversity and Conservation 28(1): 59-67. [8] Cushman, S.A. 2006. Effects of habitat loss and fragmentation on amphibians: A review and prospectus. Biological Conservation 128:231-240. [9] Kusrini, M.D., and Endarwin, W. 2008. Chytridiomycosis in frog Mount Gede Pangrango, Indonesia. Disease of Aquatic Organisms 87: 187-194.

  Prosiding Semnas Hayati IV

  Universitas Nusantara PGRI Kediri

  

  Prosiding Semnas Hayati IV

  52 [10] Stebbins, R.C. and Cohen, N. W. 1997. A Natural History of Amphibians. New Jersey: Princenton University Press. 316 p. [11] Heyer, W.R., Donnely, M.A., Mc Diarmind, R. W., Hayek, L.C. dan Foster, M.S. 1994 Measuring and Monitoring Biological Diversity: Standart Methods for Amphibians.

ISSN: 1978-1520

  Smithsonian Institution Press, Washington. [12]Hamidy, A., Mulyadi dan Isman. 2007. Herpetofauna di Pulau Waigeo (in press). Pp:4. [13] Hanifa, B.F., N.I.P. Triesita,W. Setyobudi, B. Utami. 2016. Kajian Keanekaragaman dan

  Kemelimpahan Ordo Anura Sebagai Indikator Lingkungan Pada Tempat Wisata Di Karesidenan Kediri. Diprosidingkan di Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam Seminar Nasional Pendidikan dan Saintek 2016. 21 Mei 2016. ISBN: 2527-533X, volume: 1, No:1,

  [14] Kusrini, D.M. 2009. Pedoman penelitian dan Survei Amphibia di Lapangan. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

  [15] Krebs, C.J. 1978. Ecologycal Methodology. Harper and Row Publisher. New York. [16] Brower, J.E. and Zaar, J.H. 1997. Field and Laboratory for General Ecology, W.M.C Brown Company Publishing, Portugue, IOWA.

  [17] Buden, D.W. 2000. The Reptiles of Pohnpei. Federated Stated of Micronesia. Micronesia, 32 (2): 155-180 [18] Kurniati, Hellen. 2008. Jenis-Jenis Kodok Berukuran Besar yang Dapat Dikonsumsi dan Mampu Berdaptasi Dengan Habitat Persawahaan Di Sumatera. Jurnal Fauna Indonesia.

  Vol 8 (1): 6-9.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait

Komposisi Amfibi Ordo Anura di Kawasan W (1)

Gratis

Feedback