Sistem Pendidikan di Amerika Serikat AS

 0  0  32  2018-09-16 21:58:57 Report infringing document

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Terbentuknya koloni-koloni di Amerika Utara telah memunculkan tuntutan akan pendidikan bagi anak-anak di daerah koloni yang sangat membutuhkan pendidikan ala Eropa. Sejak 1647 di beberapa koloni, di antaranya Massachussets Bay, telah melaksanakan wajib belajar bagi siswa sekolah dasar. Hal itu kemudian diikuti oleh koloni yang lainnya.di daerah ladang dan perkebunan yang saling terpisah. Beberapa pemilik perkebunan bersama-sama memanggil guru.

  Selain itu tidak sedikit mereka yang mengirimkan anaknya untuk bersekolah di Inggris. Koloni yang giat memajukan bidang pendidikan adalah Pensylvania. Sekolah pertama didirikan pada tahun 1683 yang mengajarkan ilmu membaca, menulis tata buku, bahasa klasik, sejarah, dan kesusastraan. Philadelpia mendirikan sekolah matematika, ilmu pengetahuan alam, dan bahasa. Akhirnya, pendidikan berkembang dan kelak akan memegang peranan dan sebagai dasar bagi perkembangan pendidikan dan kebudayaan Amerika.

  Pendidikan umum di Amerika Serikat dikelola oleh negara bagian dan pemerintah daerah, serta diregulasikan oleh

  dengan anggaran dari pemerintah federal. Di sebagian

  besar negara bagian, anak-anak diwajibkan bersekolah ketika berusia enam atau tujuh tahun atau kelas satu) sampai mereka berusia delapan belas tahun (kira-kira kelas dua belas, akhir da Beberapa negara bagian memperbolehkan siswa untuk meninggalkan sekolah pada usia 16 atau 17 tahun. Sekitar 12% anak-anak terdaftar diataupun non-

  Amerika Serikat memiliki banyak institusi sekolah tinggi yang kompetitif, baik yang berstatus negeri maupun swasta. Menurut sebuah pemeringkatan internasional, 13 dari 15 sekolah tinggi dan universitas di Amerika menempati daftar 20 universitas terkemuka di dunia. Ada juga kolese komunitas lokal yang menawarkan kebijakan yang lebih terbuka, program akademik yang lebih singkat, dan biaya pendidikan yang lebih murah. Dari keseluruhan warga Amerika yang berusia di atas 25 tahun, 84,6% di antaranya adalah lulusan sekolah menengah atas, 52,6% sedang kuliah di universitas, 27,2% telah menyandang gelar dan 9,6% selebihnya telah meraih ijazahdi AS diperkirakan sebesar 99%, dengan artian hanya 1% warga AS yang tidak bisa membaca. Pada 2006, PBB memberikan Indeks Pendidikan 0,97 kepada Amerika Serikat; yang tertinggi ke-12 di dunia. Negara Amerika Serikat merupakan penduduk nomor tiga terbanyak di dunia yaitu berjumlah kira-kira 275 juta jiwa dan terdiri dari 50 negara bagian. Luas wilayahnya kurang lebih 9,5 juta km persegi.

  Bangsa Amerika terdiri dari bangsa-bangsa emigran dari berbagai kawasan dunia, terutama dari kawasan Eropa sebagai bagian dominannya. Imigrasi tua berasal dari Eropa Utara dan Barat seperti Inggris, Scotlandia, Prancis, Belanda, Jerman dan sebagainya yang kemudian diikuti oleh imigrasi yang muda berasal dari Eropa Selatan dan timur seperti Italia, Rusia, Polandia, Austria, Hongaria dan lain sebagainya. Setiap bangsa membawa kepercayaan, adat istiadat, bahasa dan segi-segi kebudayaannya masing-masing ke Amerika sehingga Amerika menjadi periuk peleburan bagi segala jenis kebudayaan asli dan pendatang dari benua hitam Afrika. Itulah yang membentuk kebudayaan Amerika sekarang.

  Karena bagian terbesar warga Amerika berasal dari kaum imigran Eropa, maka sudah tentu tradisi pendidikan yang berkembang di Amerika oleh orang-orang gereja pada pertemuan-pertemuan gereja. Di daerah New Netherland pengawasan dilakukan oleh petugas-petugas gereja dan dibeberapa tempat oleh kelompok orang tertentu. Pengawasan terhadap sekolah-sekolah yang dilakukan oleh pribadi-pribadi melalui pertemuan- pertemuan orang-orang dan petugas gereja yang terus dipertahankan oleh para imigran itu, menjadi sebab timbulnya tanggung jawab atas sekolah- sekolah pada akhirnya dipikul oleh masyarakat setempat.

  Kota-kota besar seperti New York, Washington DC, Chicago, Detroit dan Los Angeles merupakan tempat-tempat terkonsentrasinya para penganggur, orang miskin, orang yang tidak bisa berbahasa inggris dan minoritas diiringi oleh maslah ekonomi social. Masalah kependudukan lain ialah semakin kurangnya orang yang bergerak di bidang pertanian, kira-kira 50% penduduk bekerja sebagai juru tulis sampai pada tenaga- tenaga professor. Jumlah tenaga wanita pun meningkat sementara tingkat pengangguran relatif tinggi. Pada pemerintahan presiden Ronald Reagon dimulai pengurangan bantuan dana serta campur tangan pemerintah federal terhadap pendidikan dan menyerahkan tanggung jawab ke negara bagian. Selama ini Amerika Serikat telah berhasil menyediakan pendidikan gratis selama 12 tahun dan biaya pendidikan yang relatif murah pada tingkat pendidikan tinggi.

  Pada awal perkembangannya persekolahan di Amerika telah dimulai sejak zaman penjajahan. Persekolahan ketika itu bersifat elitis dan berorientasi pada agama. Masyarakat yang berada pada lapisan sosial- ekonomi bawah hanya boleh mengenyam pendidikan di “sekolah ibu”, yaitu suatu sekolah yang mengajarkan membaca, menulis, berhitung, dan agama. Sedangkan masyarakat pada lapisan sosial-ekonomi atas dipersiapkan untuk menjadi pemimpin gereja, pemimpin masyarakat, ataupun pemimpin negara melalui sekolah latin dan colleges. Pada masa bentuk nyata diskriminasi gender yang terjadi di banyak negara yang sedang terjajah— (Dimyati, 1988).

  Rakyat Amerika berhasil memperoleh kemerdekaannya dan membentuk negara Amerika Serikat pada 4 Juli 1776. Iklim kemerdekaan ini berdampak pada perubahan pola pendidikan di Amerika. Pendidikan yang bersifat elitis diubah. Pada masa ini muncullah gerakan Public School yang bersifat terbuka untuk semua anak kulit putih baik pria maupun wanita. Public School dibentuk dan dirancang untuk membentuk kompetensi dan keterampilan dasar warga negara. Upaya pengembangan Public School telah menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Sebagian masyarakat setuju dengan campur tangan dan intervensi pemerintah dalam pengembangan Public School, namun sebagian lagi menolaknya.

  Kegiatan pendidikan di Amerika tidak terhenti sampai disini saja. Sejarah panjang mewarnai kegiatan pendidikan di negeri “Paman Sam” tersebut. Tiga periode reformasi pendidikan berikut ini akan mengisi catatan panjang sejarah pendidikan Amerika. Ketiga periode reformasi pendidikan tersebut adalah gerakan sekolah umum pada tengah abad 19, alam progressive pada awal abad 20, dan gerakan fermentaso generasi terakhir. Setiap periode selalu mempertanyakan dan mengubah pola-pola pendidikan yang telah ada.

  Pada abad 19 Public School tersebar luas di seluruh Amerika, namun ironisnya tenaga pendidik dan fasilitas-fasilitas penunjang pendidikan ketika itu sangat minim. Dalam perkembangan selanjutnya, terjadilah reformasi di bidang pendidikan yang berhasil memunculkan gerakan yang bisa mempersatukan kelompok-kelompok sosial yang berbeda keinginannya. Keberhasilan gerakan tersebut mendukung diharapkan mampu berpartisipasi dalam kehidupan politik dan dapat memasuki dunia kerja Pada zaman progressive terjadi sentralisasi pengawasan dan elaborasi dalam system pendidikan Common School. Para ahli pendidikan menggunakan kekuatan negara untuk memperkuat posisi, misalnya untuk memperoleh sertifikasi, dana, standarisasi fasilitas dan kurikulum. Pada masa ini muncul pemikiran bahwa Common School tidak hanya membekali siswanya dengan pendidikan dasar di bidang 3 R (reading, writing, aritmathic) dan pendidikan moral saja, tetapi juga diharapkan mampu menyiapkan siswa secara langsung agar dapat melakukan peranan dalam hidup bermasyarakat, sehingga disini sekolah merupakan suatu lembaga yang menjadi pintu gerbang untuk mengarahkan siswa ke arah dunia kerja.

  Gerakan fermentaso generasi terakhir dalam sejarah pendidikan Amerika diawali pada 1958 sampai tengah tahun 1970-an. Pada masa ini terjadi reformasi di bidang pendidikan yang berciri lebih menekankan fungsi dari pada tujuan pendidikan. Sentralisasi kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan semakin bertambah sebagai akibat dari reformasi pendidikan tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, organisasi- organisasi guru tumbuh, makin berpengaruh, dan memperoleh kekuatan politik. Hal itu menyebabkan guru bersatu untuk menuntut perbaikan ekonomi dan sosial. Pada awal tahun 1980-an peminat public school merosot. Ketika itu public school menghadapi suatu krisis kepercayaan umum dan moral profesional yang rendah. Masyarakat menghendaki terjadinya perubahan-perubahan pada public school, namun para pengambil keputusan seringkali kurang memahami public education itu sendiri, sehingga mereka tidak dapat menentukan prioritas untuk memperbaiki lembaga ini (public school). Reformasi datang dan pergi silih

1.2. Tujuan Penulisan

  Adapun tujuan dari penulisan makalah ini sebagai bentuk tugas penambahan materi tentang sistem pendidikan di negara Amerika Serikat untuk mata kuliah psikologi pendidikan.

1.3. Manfaat Penulisan

  Manfaat penulisan dari makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang sistem pendidikan di negara Amerika Serikat dari sejarah dunia pendidikan, perkembangan sampai saat ini, anak berbakat, kerjasama anatar negara, dan individu kebutuhan khusus..

BAB II ISI

2.1. Sejarah Dunia Pendidikan

2.1.1. Filosofi Pendidikan di Amerika Serikat

  Filsafat pada dasarnya merupakan pernyataan secara sengaja tentang suatu kebudayaan tertentu, kekhususan pada adat-istiadat, pola tingkah laku, ide-ide, maupun sistem nilai. Filsafat juga bisa berarti sebagai suatu ekspresi atau interpretasi secara objektif tentang watak nasional suatu bangsa. Amerika merupakan suatu negara yang dibentuk dari bangsa-bangsa asing yang mendiaminya. Mereka secara sadar memilih menjadi warga negara Amerika.

  Kondisi tersebut berbeda dengan bangsa-bangsa lain di dunia, karena pada umumnya suatu negara dibentuk dari penduduk-penduduk asli bangsanya. Perbedaan tersebut memicu berkembangnya 2 aliran filsafat yang berlainan, yaitu Transcendentalisme dan Pragmatisme. Transcendentalisme mengekspresikan hal-hal yang berkenaan dengan kebudayaan, sedangkan Pragmatisme merupakan suatu pemikiran yang berusaha membentuk Amerika yang hidup, dinamis, dan progresif. Kedua aliran filsafat tersebut saling tidak bersesuaian sehingga belum ada kesepakatan tentang filsafat nasional Amerika. Meskipun demikian, kegiatan pendidikan di Amerika tetap berpijak pada landasan kependidikan yang berupa pemikiran kefilsafatan/keilmuwan/wawasan- wawasan lain. Ada seperangkat nilai yang merupakan sumber perilaku dan sikap orang Amerika yaitu: 1) berorientasi pada prestasi kerja individual; 2) bekerja atau melakukan kegiatan sebagai nilai kesusilaan; 3) berorientasi pada efisiensi, nilai praktis, dan kegunaan; 4) berorientasi pada masa yang akan datang sebagai suatu kemajuan, oleh karenanya harus bekerja keras; 5) percaya bahwa dengan rasionalitas dan ilmu pengetahuan orang akan dapat menguasai lingkungan; 6) berorientasi pada keuntungan material; 7) berorientasi pada nilai kesamaan derajat di bidang kesempatan pada berbagai bidang kehidupan; 8) berorientasi pada kemerdekaan; dan 9) berorientasi pada nilai kemanusiaan,dalam arti membantu yang lemah.

  Amerika merupakan suatu negara yang dibentuk dari bangsa- bangsa asing yang mendiaminya mereka secara sadar memilih menjadi warga negara Amerika. Kondisi tersebut berbeda dengan bangsa-bangsa lain di dunia, karena pada umumnya suatu negara dibentuk dari penduduk asli bangsanya. Perbedaan tersebut memicu berkembangnya dua aliran filsafat yang berlainan yaitu Trancendentalisme dan Pragmatisme. Trancendentalisme mengekspresikan hal-hal yang bekenaan dengan kebudayaan ,sedangkan Pragmatisme merupakan pemikiran yang berusaha membentuk Amerika yang hidup, dinamis, dan progresif. Kedua filsafat tersebut saling tidak bersesuaian sehingga belum ada kesepakatan tentang filsafat nasional Amerika. Meskipun demikian, kegiatan pendidikan Amerika tetap berpijak pada landasan kependidikan yang berupa pemikiran kefilsafatan/ keilmuan/ wawasan lain. (Dimyati,

2.1.2. Ideologi Pendidikan di Amerika Serikat

  Segala sesuatu yang dapat dilakukan oleh sebuah negara sehingga tetap eksis sebagai sebuah negara, tentu berlandas pada suatu dasar negara yakni Ideologi. Begitu pula dengan Amerika Serikat, Amerika Serikat tetap eksis sebagai sebuah Negara adalah karena tatanan hidup yang mereka miliki. Sebuah tatanan hidup (Ideologi) untuk mengatur tiap-tiap aspek kehidupan baik politik, pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.

  Dalam hal ideologi, Amerika Serikat menganut ideologi kapitalis. Kapitalisme, sebagai ideologi Amerika Serikat merupakan ideologi yang menjadi motor pergerakan Amerika Serikat di kancah internasional.

  Kapitalisme adalah sebuah ideologi yang lahir setelah keruntuhan paham feodalisme yang diterapkan pada masa imperium Romawi abad 14-16M. Kapitalisme merupakan ideologi yang dibangun berlandaskan sekularisme yakni pemisahan campur tangan agama dari kehidupan. Sekularisme itu sendiri muncul karena gerahnya rakyat Eropa karena sistem pemerintahan kerajaan yang dikendalikan oleh doktrin-doktrin palsu gereja yang memicu munculnya gerakan-gerakan anti agama.

  Sistem pendidikan kapitalis masih berdasarkan modal. Pendidikan dalam sistem kapitalisme dapat dinikmati oleh orang-orang yang hanya memiliki uang atau modal saja, jika tidak mereka hanya bisa menghisap jari. Sehingga orang-orang cerdas sebagian besar lahir dari orang-orang yang bermodal tinggi. Teknologi canggih mampu dibangun oleh Negara Adidaya karena modal yang mumpuni. Sistem pendidikan kapitalis yang berasas modal pun menjadikan lembaga-lembaga pendidikan sebagai ladang bisnis bagi pemilik modal.

  Pendidikan sekular kapitalis melahirkan generasi yang meterialistik. Hidup hanya untuk pemenuhan meteri. Kegersangan jiwa karena jauh dari agama merasuk para pemuda dan masyarakat kapitalis. Dalam sistem pendidikan ini, Mata pelajaran Agama hanya dapat ditemukan beberapa jam per minggu, bahkan dalam perkuliahan pembelajaran agama hanya menjadi mata kuliah pilihan.

2.2. Perkembangan Dunia Pendidikan Sampai Saat Ini

  Amerika sebuah negara dengan julukan “Paman Sam” yang beribu kota di Washington D.C. ini memiliki luas wilayahnya 9.372.610

  2 km dengan jumlah penduduk lebih dari 258.103.721. jiwa (1993).

  Sedangkan (menurut sensus 1995). sekitar 262.775.000. Penduduk Amerika berlipat dua kali lebih antara tahun 1910-1980, sementara jumlah tanah yang produktif hampir tetap saja. Keragaman Amerika berasal dari kenyataan bahwa Negara ini sangat luas dan memiliki berbagai jenis dataran, iklim, dan manusia. Amerika serikat membentang sepanjang 2.575 km dari utara ke selatan dan 4.500 dari timur ke barat.

  Pemerintahan Amerika Serikat masih berdasarkan konstitusi. Perjalanan konstitusi Amerika Serikat terus menerus berubah dan berkembang. Sejak tahun 1789 atau masa enlightenment hingga kini, konstitusi Amerika mengalami 26 kali amandemen dan tetap memungkinkan untuk direvisi lagi dimasa depan. Perubahan paling luar biasa terjadi dalam dua tahun setelah pengesahannya. Dalam kurun itu, 10 amandemen pertama, yang dikenal dengan bill of right (pernyataan hak asasi), ditambahkan. 10 amandemen itu disetujui sebagai suatu kesatuan oleh kongres pada September 1789.

  Pada dasarnya, konstitusi menetapkan pembagian kekuasaan dan wewenang antara negara-negara bagian dan pemerintahan federal. Struktur dasar masing-masing cabang pemerintah federal yakni federal, legeslatif, dan yudikatif ditetapkan dalam konstitusi, tetapi bentuk sesungguhnya untuk masing-masing cabang pemerintah federal di atas menangani kantor, dewan dan badan yang dibedakan satu sama lain.

  Presiden Amerika Serikat dipilih oleh rakyat melalui dewan pemilih untuk masa jabatan 4 tahun, terbatas sampai 2 kali masa jabatan. Tugas lainnya adalah melaksanakan UU yang dibuat oleh kongres, kekuasaan lainnya adalah merekomendasikan perundang-undangan kepada kongres, mamanggil sidang khusus

  Karakteristik utama sistem pendidikan di AS adalah sangat menonjolnya desentralisasi. Pemerintah federal, negara bagian, dan pemerintah daerah memiliki aturan dan tanggung jawab administratif masing-masing yang sangat jelas. Pemerintah federal AS tidak mempunyai mandat untuk mengontrol / mengadakan pendidikan untuk masyarakat.

  Hal ini disebabkan soal pendapatan tidak disebutkan dalam kondisi Amerika, dan para penyusun konstitusi menyebutkan bahwa semua kekuasaan yang tidak disebutkan tersebut diberikan kepada pemerintah federal menjadi tanggung jawab pemerintah lain.

  Kebijakan utama mengenai pendidikan berada pada pemerintah negara bagian dan daerah. Terdapat 50 negara bagian dan 15.358 distrik. dan sebanyak itu local school boards, yang masing-masing mempunyai aturan dan sistem pendidikan. Tujuan sistem pendidikan Amerika secara umum sebagai berikut :

  3. Untuk membantu pengembangan individu

  4. Untuk memperbaiki kondisi sosial masyarakat 5. Untuk mempercepat kemajuan nasional.

  Sistem pendidikan Amerika serikat bukanlah merupakan suatu sistem yang dikuasai dan dikelola oleh pemerintah federal dan juga tidak diatur oleh pemerintah negara bagian secara langsung. Pelaksanaan dan pengaturan sistem pendidikan di negara Adidaya ini dijalankan oleh apa yang disebut dengan Unifield School District (USD) misalnya USD Los Angeles merupakan salah satu sekolah district yang tersebar di amerika yang mempunyai lebih dari 7000 siswa dengan lebih dari 600 sekolah dan 30.000 staf pengajar beserta administrasinya.

  Disamping itu, setiap sekolah yang berada dibawah pengelola USD harus memenuhi standar minimum mutu sekolah. Setiap sekolah akan mendapatkan evaluasi berkala dari Negara bagian ataupun federal.

  Biasanya USD ini mengelola SD (Elementary School), SMP (Junior

  High School) dan SMA (High School). Pendidikan SD memakan waktu 6 tahun. SMP 2 tahun dan SMA 4 tahun.

2.3. Fokus Utama Bidang Pendidkan

2.3.1. Pendidikan Multikultural

  Pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menghargai perbedaan dan mewadahi beragam perspektif dari berbagai kelompok kultural. Tujuan penting dari pendidikan multikultural adalah pemerataan kesempatan bagi semua murid. Ini termasuk mempersempit gap dalam prestasi akademik antara murid kelompok utama dengan kelompok

  Sebagai sebuah bidang, pendidikan multikultural mencakup isu-isu yang berkaitan dengan status sosioekonomi, etnisitas, dan gender. Karena keadilan sosial adalah salah satu nilai dasar dari bidang ini, maka reduksi prasangka dan pedagogi ekuitas menjadi komponen utamanya (Banks, 2001). Reduksi prasangka adalah aktivitas yang dapat diimplementasikan guru di kelas untuk mengeliminasi pandangan negatif dan streotip terhadap orang lain. Pedagogi ekuitas adalah modifikasi proses pengajaran dengan memasukkan materi dan strategi pembelajaran yang tepat baik itu untuk anak lelaki maupun perempuan dan untuk semua kelompok etnis.

  Pengajaran yang relevan secara kultural adalah aspek penting dari pendidikan multikultural. Pengajaran ini dimaksudkan untuk menjalin hubungan dengan latar belakang kultur dari pelajar (Pang, 2001). Pakar penelitian kultural percaya bahwa guru yang baik akan mengetahui dan mengintegrasikan pengajaran yang relevan secara kultural ke dalam kurikulum akan membuat pengajaran lebih efektif (Diaz, 2001).

  Pendidikan yang berpusat pada isu juga merupakan aspek penting dari pendidikan multikultural. Dalam pendekatan ini, murid diajari secara sistematis untuk mengkaji isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan dan keadilan sosial. Pendidikan ini tak hanya mengklarifikasikan nilai, tetapi juga mengkaji alternatif dan konsekuensi dari pandangan tertenu yang dianut murid.

2.3.2. Pendidikan Bilingual

  Pendidikan bilingual bertujuan untuk mengajar mata pelajaran kepada anak imigran dengan menggunakan bahasa asal mereka, sembari secara bertahap memberikan pelajaran dengan bahasa Inggris. Kebanyakan program bilingual adalah program transisional yang dikembangkan untuk membantu murid sampai mereka bisa memahami bahasa Inggris secara setidaknya setengah dari pengajaran dilakukan dengan bahasa Inggris sejak awal (Gracia, 1992; Gracia, dkk., 2002).

  Pendidikan bilingual memberikan dampak positif pada perkembangan kognitif anak. Anak yang lancar dalam dua bahasa bisa lebih baik dalam mengerjakan tes kontrol atensional, formasi konsep, penalaran analitis, fleksibilitas kognitif, dan kompleksitas kognitif ketimbang anak yang hanya bisa satu bahasa (Bialy-stok, 1999, 2001). Mereka juga lwbih memahami struktur bahasa tulis dan lisan dan lebih tahu kesalahan tata bahasa dan makna. Keahlian ini akan membantu mereka dalam meningkatkan kemampuan membacanya (Bialystok, 1993, 1997).

  2.3.3. Pendidikan Berbasis Teknologi Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologinya dan mengintegrasikan komputer ke dalam proses belajar di kelas (Male,

  20003). Integrasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid, termasuk kebutuhan mempersiapkan murid untuk mencari pekerjaan masa depan, yang akan sangat membutuhkan keahlian teknologi dan keahlian berbasis komputer (Maney, 1999).

  Guru yang efektif tahu cara menggunakan komputer dan cara mengajar murid untuk menggunakan komputer untuk menulis dan berkreasi. Guru yang efektif bisa mengevaluasi efektivitas game instruksional dan simlulasi komputer, tahu cara menggunakan dan mengajari murid untuk menggunakan alat komunikasi melalui komputer seperti initernet. Dan, guru yang efektif memahami dengan baik berbagai perangkat penting lainnya untuk mendukung pembelajaran murid yang cacat.

2.4. Metode Pencarian Anak Berbakat

2.4.1. Siapa Anak Berbakat Itu?

  Anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi tinggi karena memiliki kemampuan yang unggul. Kemampuan yang dimaksud tidak sebatas kemampuan melihat hubungan-hubungan logis dan mengadaptasi prinsip-prinsip abstrak kepada situasi konkret, tetapi juga memiliki kemampuan menggeneralisasikan, lebih dari orang lainnya. Oleh karenanya, kita dapat mendefinisikan anak berbakat itu sebagai anak yang : (1) memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata; (2) memiliki tanggung jawab (komitmen) yang tinggi terhadap tugas; (3) memiliki kreativitas yang tinggi. Dengan demikian, anak berbakat akan mampu mengembangkan sifat-sifat tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan di masyarakat.

  Anak berbakat (gifted) harus dibedakan dengan anak genius. Karena anak genius adalah anak berbakat tetapi dengan taraf sangat tinggi (highly gifted) jauh di atas anak berbakat pada umumnya walaupun anak berbakat itu sendiri telah memiliki kemampuan di atas rata-rata.

  Berdasarkan teori Triarchic, pada prinsipnya ada 3 macam keberbakatan: Pertama, bakat analitik, yakni bakat dalam memilah masalah dan memahami bagian-bagian dari masalah tersebut. Kedua, bakat sintetik, yakni bakat dalam kemampuan intuitif, kreatif dan cakap dalam mengatasi situasi-situasi tertentu. Ketiga, bakat praktis, yakni bakat dalam analitik maupun sintetik dalam kehidupan sehari-hari Bagian terpenting dari teori di atas menurut Stenberg adalah kemampuan mengkoordinasikan 3 aspek kemampuan dan bagaimana mengaplikasikannya untuk memperoleh keberhasilan. Oleh karena itu menurut Stenberg, orang yang berbakat adalah orang yang mampu mengelola sendiri cara berpikir yang baik.

  Anak berbakat (gifted) punya kecerdasan di atas rata-rata (biasanya mempunyai IQ diatas 130) dan/atau punya bakat unggul di beberapa bidang, seperti seni, musik, atau matematika. Program untuk anak berbakat di sekolah biasanya didasarkan pada kecerdasan dan prestasi akademik. Namun, belakangan ini kriteria ini diperluas dengan memasukkan faktor-faktor seperti kreativitas dan komitmen (Renzulli & Reis, 1997).

2.4.2. Karakteristik Anak Berbakat

  Ellen Winner (1996), seorang ahli di bidang kreativitas dan anak berbakat, mendeskripsikan tiga kriteria yang menjadi ciri anak berbakat:

  1. Dewasa lebih dini (precocity). Anak berbakat adalah anak yang dewasa sebelum waktunya apabila diberi kesempatan untuk menggunakan bakat atau talenta mereka. Mereka mulai menguasai suatu bidang lebih awal ketimbang teman-temannya yang tidak berbakat. Dalam banyak kasus, anak berbakat dewasa lebih dini karena mereka dilahirkan dengan membawa kemampuan di dominan tertentu, walau bakat sejak lahir ini tetap harus dipelihara dan dipupuk.

  2. Belajar menuruti kemauan mereka sendiri. Anak berbakat belajar secara berbeda dengan anak lain yang tak berbakat. Mereka tidak membutuhkan banyak dukungan dari orang dewasa. Seringkali mereka tak mau menerima instruksi yang jelas. Mereka juga kerap membuat penemuan dan memecahkan masalah sendiri dengan cara yang unik di bidang yang memang menjadi bakat mereka. Tapi, kemampuan mereka di bidang lain boleh jadi normal atau biasa juga

  3. Semangat untuk menguasai. Anak yang berbakat tertarik untuk memahami bidang yang menjadi bakat mereka. Mereka memperlihatkan minat besar dan obsesif terhadap fokus kemampuan yang kuat. Mereka tidak perlu didorong oleh orang tuanya. Mereka mempunyai motivasi internal yang kuat.

  Selain ketiga karakteristik anak berbakat diatas, area keempat di mana mereka unggul adalah keahlian dalam memproses informasi. Para peneliti telh menemukan bahwa anak berbakat belajar lebih cepat, memproses informasi lebih cepat, menggunakan penalaran yang lebih baik, menggunakan strategi yang lebih baik, dan memantau pemahaman mereka dengan lebih baik ketimbang anak yang tidak berbakat (Sternberg & Clickenbeard, 1995).

2.5. Memperlakukan Anak-Anak Berbakat

  Ellan Winner (1997) mengatakan bahwa sering kali anak-anak berbakat akan terisolasi secara sosial dan tidak mendapat tantangan yang berarti di kelas. Mereka kerap diejek dan dijuluki “kutu buku” atau “orang aneh” (Silverman, 1993). Jika seorang murid adalah satu-satunya anak berbakat dikelasnya, maka dia tak punya kesempatan untuk belajar dengan murid yang setara kemampuannya. Banyak orang dewasa yang terkenal dan dahuku adalah anak berbakat melaporkan bahwa sekolah mereka merupakan pengalaman buruk. Mereka bosan dan terkadang lebih tahu dari pada guru mereka (Bloom, 1985). Winner percaya bahwa pendidikan Amerika akan lebih baik jika standarnya dinaikan untuk semua murid. Jika masih ada anak yang merasa tidak tertantang, dia merekomendasikan agar anak itu diizinkan untuk melompat kelas atau masuk kekelas khusus. Misalnya, beberapa murid sekolah menengah yang cerdas diperbolehkan masuk ke kelas akademi yang sesuai dengan bidang kemampuannya.

  Oleh karena itu kita perlu melakukan program untuk anak berbakat yaitu :

  1. Kelas khusus, ini adalah cara yang lazim untuk mendidik anak

  berbakat. Kelas khusus selama sekolah regular dinamakna program

  “pull-out” yaitu cara penanganan anak berbakat dengan

  memperbolehkan naik kelas secara meloncat (Skipping) atau menyelesaikan program reguler di dalam jangka waktu yang lebih singkat.

  2. Akselerasi dan pengayaan di kelas regular.

  3. Program mentor dan pelatihan, beberapa pakar percaya ini adalah

  cara penting yang jarang di pakai untuk memotivasi, menantang, dan mendidik anak berbakat secara efektif (pleis & feldhusen, 1995)

  4. Kerja/ studi dan program pelayanan masyarakat.

2.6. Ke-efektifan Memperlakukan Program Anak Berbakat

  Menurut kami program anak berbakat ini efektif, karena Anak berbakat adalah mereka yang menurut orang-orang profesional diidentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi tinggi karena memiliki kemampuan yang unggul dari anak seumurannya. Kemampuan yang dimaksud tidak sebatas kemampuan melihat hubungan- hubungan logis dan mengadaptasi prinsip-prinsip abstrak kepada situasi konkret, tetapi juga memiliki kemampuan menggeneralisasikan, lebih dari orang lainnya. Oleh karenanya, kita dapat mendefinisikan anak berbakat itu sebagai anak yang :

  2) Memiliki tanggung jawab (komitmen) yang tinggi terhadap tugas. 3) Memiliki kreativitas yang tinggi.

  Dengan demikian, anak berbakat akan mampu mengembangkan sifat- sifat tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan di masyarakat.

2.7. Alternatif Lain Untuk Program Anak Berbakat

  Cara yang diterapkan oleh Negara Amerika Serikat cukup efektif tetapi diperlukan beberapa cara tambahan untuk memperlakukan anak- anak berbakat yaitu :

   Pada anak berbakat diberi tambahan pelajaran dimana mereka bebas memilih mana yang disenangi. Tujuannya agar anak berbakat dapat mengasah kemampuannya pada bidang yang dia ingginkan dan dia minati  Penyediaan Secondary School Special Science &Arts Curriculum.

  Bagi mereka yang mahir atau berbakat dalam bidang science dan sangat ahli dalam sesuatu bidang sejak sekolah menengah telah disediakan untuk menampung mereka. Misalnya: ketehnikan, seni, musik dan lain-Iainnya

   Pengelompokan Khusus (Segregation) dapat dilakukan secara penuh atau sebagian yaitu apabila sejumlah anak-anak berbakat dikumpulkan menjadi satu kelompok dan diberi kesempatan untuk secara khusus memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan potensinya. Kegiatan yang dimaksud dapat berlangsung satu minggu sekali atau selama satu semester penuh.

2.8. Individu Kebutuhan Khusus

  Di Amerika Serikat, kebutuhan khusus adalah istilah yang digunakan dalam pengembangan diagnostik dan fungsional klinis untuk menggambarkan individu yang memerlukan bantuan untuk cacat yang mungkin medis, mental, atau psikologis. Misalnya, Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental dan Klasifikasi Internasional Penyakit edisi ke- 9 berdua memberikan pedoman untuk diagnosis klinis. Jenis kebutuhan khusus bervariasi dalam tingkat keparahan. Orang dengan autisme, sindrom Down, disleksia, kebutaan, ADHD, atau cystic fibrosis, misalnya, dapat dianggap memiliki kebutuhan khusus. Namun, kebutuhan khusus juga dapat mencakup bibir sumbing dan atau selera, pelabuhan tanda lahir anggur, atau anggota badan hilang.

  Di Inggris, kebutuhan khusus sering merujuk pada kebutuhan khusus dalam konteks pendidikan. Hal ini juga disebut sebagai kebutuhan pendidikan khusus (SEN). Di Amerika Serikat, 18,5 persen dari semua anak di bawah usia 18 (lebih dari 13,5 juta anak-anak) memiliki kebutuhan perawatan kesehatan khusus pada 2005.

  Lebih sempit, itu adalah istilah hukum yang berlaku di asuh di Amerika Serikat, berasal dari bahasa dalam Adopsi dan Aman Keluarga Act of 1997. Ini adalah diagnosis yang digunakan untuk mengklasifikasikan anak sebagai membutuhkan "lebih" layanan daripada anak-anak tanpa kebutuhan khusus yang berada di sistem orangtua asuh. Ini adalah diagnosis berdasarkan perilaku, anak-anak dan riwayat keluarga, dan biasanya dibuat oleh seorang profesional perawatan kesehatan.

  Di Amerika Serikat, lebih dari 150.000 anak-anak dengan kebutuhan khusus yang menunggu rumah permanen. Secara tradisional, anak-anak dengan kebutuhan khusus telah dianggap sulit untuk menempatkan untuk diadopsi daripada anak-anak lainnya, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa banyak anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat ditempatkan sukses dengan keluarga yang ingin mereka. Adopsi dan Aman Keluarga Act of 1997 (PL 105-89) telah memfokuskan perhatian lebih pada mencari rumah untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus dan memastikan mereka menerima layanan pasca-adopsi mereka butuhkan. Layanan pra-adopsi juga sangat penting untuk memastikan bahwa orangtua angkat sudah dipersiapkan dengan baik dan dilengkapi dengan sumber daya yang diperlukan untuk kesuksesan adopsi. Kongres Amerika Serikat memberlakukan hukum untuk memastikan bahwa anak- anak asuh yang tidak bisa bertemu kembali dengan orang tua kelahiran mereka dibebaskan untuk diadopsi dan ditempatkan dengan keluarga permanen secepat mungkin.

  Tingkat gangguan untuk kebutuhan khusus adopsi ditemukan di suatu tempat antara sepuluh dan enam belas persen. Sebuah studi tahun 1989 yang dilakukan oleh Richard Barth dan Marianne Berry menemukan bahwa orang tua angkatnya yang terganggu, 86% mengatakan mereka mungkin atau pasti akan mengadopsi lagi. 50% mengatakan bahwa mereka akan mengadopsi anak yang sama, mengingat kesadaran yang lebih besar dari apa yang adopsi anak berkebutuhan khusus membutuhkan. Juga, dalam kebutuhan khusus terganggu kasus adopsi, orang tua sering mengatakan bahwa mereka tidak menyadari sejarah anak atau keparahan masalah anak sebelum adopsi.

2.9. Perbedaan Sistem Pendidikan Amerika Serikat VS Indonesia

  Dalam bidang pendidikan banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia berhasil lulus dan kemudian menjadi ahli ekonomi, politik, hukum, teknik,

  IT. Mereka kemudian menjadi penentu kebijakan publik, menggerakkan peraturan-peraturan dalam bidang ekonomi makro dan mikro, Menjadi profesor yang ahli dalam strategi kebijakan ekonomi. Para ahli lulusan Amerika itu menjadi elitis ditengah keterpurukan pendidikan yang melanda mayoritas penduduk negeri ini.

  Ternyata sudah menjadi kultur budaya yang sangat mengakar dalam sejarah AS bahwa pendidikan menjadi tugas bagi keluarga dan masyarakat. oleh karena itu masyarakat tidak mau kalau pendidikan diatur oleh pemerintah pusat, bahkan oleh pemerintah negara bagian, bahkan oleh pemerintah lokal sekalipun. Masyarakat merasa memiliki hak yang sangat kuat untuk menentukan sistem pendidikan seperti apa yang paling tepat untuk masyarakat mereka. Mereka menganggap tantangan yang dihadapi oleh setiap komunitas tidaklah sama, jadi sistem pendidikan juga tidak boleh atau tidak perlu disamakan antara satu kota dengan kota lain, antara satu state dengan state lain.

  Amerika Serikat terdiri dari berbagai orang dari negara-negara lain didunia. makanya AS sering disebut sebagai Negri Imigran. Meskipun imigran tapi mereka diperlakukan sama. Demokrasi dan hak setiap individu dijunjung tinggi. Keberhasilan letaknya pada individu masing- masing bukan pada sistemnya. Di New York banyak gelandangan berkeliaran dikota yang sangat padat, lebih padat dari Jakarta. Lebih padat dari pusat pertokoan di kota Sukabumi. Dan banyak orang miskin, tetapi itu bukan lantaran mereka tidak diperhatikan pemerintah, tetapi karena mereka sendiri yang mau seperti itu, dan sebagiannya lagi karena sudah kebanyakan orang kulit hitam, suku African American dan orang Hispanik (Amerika Latin). Kalo dari sisi agama, yang kaya adalah orang Yahudi dan Muslim. Ada sekitar 10% dari seluruh penduduk AS yang paling kaya. penghasilan pemerintah pusat atau federal adalah dari pajak penghasilan atau PPH (kalo tadi pemerintah lokal penghasilannya dari pajak proverty atau PBB). Dari keseluruhan pendapatan banyak 70%nya berasal dari 10% orang paling kaya di AS.

  Tidak dipungkiri Pendidikan di Amerika jauh lebih baik dari Indonesia. Dalam segala segi ada ketergantungan kuat negara ini terhadap segala gertak amerika. Dari intervensi ekonomi, utang luar negeri, kebijakan makro ekonomi sampai pergerakan mata uang asing. Dari segi keamanan regionalpun Amerika masih banyak memberi tekanan khususnya Asia Tenggara.

  Di Indonesia kita mengenal wajib belajar SD dan SMP. Di Amerika kesempatan memperoleh pendidikan bagi seluruh warga sudah lama diberlakukan. wajib belajar di AS mulai dari SD sampai SMA. Tapi pemerintah menggratiskan biaya sekolah sejak TK sampai SMA untuk sekolah-sekolah negri. Untuk sekolah swasta, pemerintahan dipusat sampai lokal tidak memberikan anggaran apapun, dan sebaliknya sekolah itupun tidak diwajibkan mengikuti seluruh kebijakan pemerintah dibidang pendidikan.

  Pada tahun 2001 pemerintah pusat melakukan Reformasi di bidang pendidikan dengan meluncurkan kebijakan NCLB atau No Child Left Behind atau Tak ada satupun anak yang tertinggal dibelakang. Kebijakan ini terkait dengan mutu atau kualitas anak didik. Negara bagian Massachusetts yang selalu terbaik dalam pendidikan telah lebih dulu mengawali kebijakan ini pada tahun 1993. Kebijakan NCLB ini antara lain negara bagian untuk membuat standar pendidikan, membuat kurikulum, membuat soal Ujian nasional dan menyelenggarakan Ujian nasional. materi yang diujikan samapai saat ini baru Matematik dan Bahasa Inggris, tapi tahun depan akan ditambah Sejarah AS dan IPA.

  Intervensi pemerintah pusat dalam pendidikan dilakukan karena melihat kualitas pendidikan anak-anak SMA sangat menurun. Angka Drop Out (tidak meneruskan sekolah) sebesar rata-rata 50%, dari 50% yang ikut Ujian nasional lulus 90%, dari yang lulus ini sebagian meneruskan kuliah dan sebagian lagi bekerja. Sebelum masuk perguruan tinggi atau bekerja mereka juga di tes, dan hanya 50% dari yang ikut tes lulus masuk perguruan tinggi atau bekerja. akibatnya banyak pengangguran atau bekerja ditempat yang dibayar murah, dan akibatnya angka kemiskinan makin meningkat, seterusnya pembayar pajak semakin sedikit dan pendapan negara semakin berkurang.

  Kita melihat masih terlalu banyak problema dan ketidakpuasan diseputar persoalan pendidikan ini, tetapi sebagai bangsa yang besar dan sudah tua mereka sangat berpengalaman dalam memberikan respon yang cepat dan tepat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi. Karakter ini sudah menjadi budaya bangsa Amerika yang perlu kita pelajari untuk kita ambil manfaat

  Pendidikan di Indonesia terpusat di Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia / Depdiknas). Sistem pendidikan di Indonesia adalah Sentralisasi. Sistem pendidikan di Amerika Negara (AS) mengacu pada karakteristik dari sistem pemerintah di sana yang federal dengan cara sistem desentralisasi melalui negara pemerintah Amerika. Yang menonjol pemimpin sistem pendidikan di sana adalah pemerintah federal pendidikan

2.10. Kerjasama Antar Amerika Serikat Dengan Indonesia

  Kerjasama RI-AS di bidang pendidikan sudah dimulai sejak tahun 1952 melalui program beasiswa Fulbright dan dalam perkembangan lebih lanjut juga dilakukan oleh lembaga American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF). Sesuai MoU RI – AS mengenai AMINEF yang ditandatangani pada 16 Februari 2009, disepakati antara lain teknis pemberian beasiswa pendidikan tinggi melalui mekanisme Fulbright di AS dengan memanfaatkan kebebasan maupun keringanan biaya kuliah dan biaya hidup. Selain itu, pada 17 Desember 2009 Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Kemlu RI dan AMINEF telah menandatangani kerjasama guna meningkatkan kapasitas diplomat Indonesia.

  Kerjasama pendidikan RI – AS juga dibentuk melalui USINDO melalui penandatanganan MoU Kerjasama Pendidikan, Sosial dan Kebudayaan pada tanggal 15 Mei 2006. Melalui kerjasama ini, USINDO menyediakan kesempatan bagi para diplomat Indonesia mengikuti pendidikan di AS serta menyediakan tenaga pengajar sukarela bagi program pendidikan bahasa Inggris di Indonesia.

  Pada 11 Desember 2009 telah ditandatangani MOU Peace Corps RI

  • – AS. Sebagai implementasinya, pada bulan Maret 2010 sejumlah volunteer AS telah dikirim ke provinsi Jawa Timur untuk mengajar bahasa Inggris kepada guru Bahasa Inggris di sekolah negeri dan madrasah. Melihat sambutan positif atas program ini, pada tahun 2011 jumlah sukarelawan PC ditambah menjadi 33 orang pada tahun 2011 dan 50 orang pada tahun 2012 serta memperluas program tersebut di luar propinsi Jawa Timur.

  Terkait pidato Presiden AS Barack Obama di Universitas Al-Azhar Kairo pada tanggal 4 Juni 2009 yang antara lain menyampaikan perlunya Yudhoyono menyampaikan komitmen Pemri untuk menjembatani dunia Islam dan Barat dalam sambutannya di Universitas Harvard pada tanggal

  29 September 2009 di Amerika Serikat. Beranjak dari perkembangan tersebut, kedua negara sepakat mempertemukan para pemangku kepentingan dengan beberapa negara di kawasan dalam suatu kegiatan Kerjasama Lintas Agama RI-AS pada tanggal 25 hingga 27 Januari 2010 dan menghasilkan butir-butir kerjasama yang tertuang dalam Shared Concerns and Commitments Indonesia-US Interfaith Cooperation. Guna menindaklanjuti butir-butir kerjasama dimaksud, Kemlu telah memfasilitasi kalangan akademisi, tokoh agama, dan masyarakat madani untuk memberikan public lecture mengenai Demokrasi dan Islam Moderat di Indonesia di beberapa universitas di wilayah Amerika Serikat (Chicago, Houston, LA dan San Fransisco) pada 8 hingga 12 November 2010.

  Pemerintah Indonesia-Amerika Serikat menjalin kerja samaelalui beasiswa dari Lembaga Bantuan Pemerintah Amerika Serikat atau USAID. Selama ini Unib telah bekerja sama dengan pihak Perguruan Tinggi di Amerika Serikat (AS) melalui program studi lanjut bagi staf pengajarnya. Kualifikasi staf pengajar Unib sudah cukup baik, dimana sebesar 86 persen berkualifikasi S-2 dan S-3 seta sisanya masih S-1 namun itupun tengah studi lanjut S-2.

  Kegiatan ini merupakan salah satu komponen dalam mempererat kerjasama di bidang pembangunan khususnyaantara pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia.

  Program-program beasiswa yang ditawarkan sendiri terdiri dari program master di bidakebijakan dan manajemen, pembangunan manusia dan psikologi, Kemudianpe nilaian,spesial dan konseling.

  Untuk program master di bidangmasyarakat dan epidemiologi,metode pencegahan dan pembasmian infeksi penyakitreproduktif, memperkuat sistemkeuangan/ekonomi.

  Lalu kebijaksanaan, rencana dan pembelaan, kemunculan penyakit dan kemunculan infeksi penyakit, kedokteran hewan danpromosi serta program laboratorium. Untuk program master di bidang Lingkungan meliputi bidang manajemen kehutanan, manajemen, manajemen sumberdaya laut, energi bersih, air dan sanitasi serta perubahan iklim.

  Adapun persyaratan untuk pelamar diantaranya berpengalaman kerja di bidang masing-masing dan berkomitmen untuk pembangunan Indonesia, paling sedikit masih mempunyai masa pengabdian selama lima tahun terhitung sejak tanggal sekembalinya dari studi, warga negara Indonesia, melengkapi formulir aplikasi dan melampirkan daftar riwayat hidup.

  Selanjutnya foto copy tanda pengenal dan satu halaman esai, melampirkan surat nominasi dari lembaga dimana pelamar saat ini bekerja, melampirkan surat rekomendasi dari tiga orang yang berbeda dengan orang yang telah memberikan surat nominasi, melampirkan hasil tes bahasa inggris : ITP TOEFL, IBT TOEFL atau IELTS. dipertimbangkan, penerima beasiswa akan diberikan kontrak selama 24 bulan untuk belajar di luar negeri.

  Semua logistik, keperluan atau kebutuhan akan ditanggung oleh penyelenggara dalam hal ini USAID. Beasiswa ini akan diterima sebanyak 42 orang, dengan rincian tujuh orang di bidangmasyarakat, dan 24-26 di bidang lingkungan.

BAB III STUDI KASUS DAN ANALISA Valerie Pang (2001), seorang pakar isu-isu kultural di sekolah, pecaya

  bahwa banyak guru tidak memerhatikan konteks kultural sekolah dan latar belakang kultural dari murid di kelas karena para guru tersebut hidup di tempat yang jauh dari lokasi sekolah tempat mereka mengajar. Guru dan murid juga mungkin besar di dalam kultur yang berbeda. Pang (2001) mengatakan bahwa guru harus memahami lingkungan tempat sekolah berada jika guru tersebut tinggalnya jauh dari lingkungan sekolah tersebut. Guru-guru itu bisa berbelanja di toko di sekitar sekolah, mengenal tokoh masyarakat di sekitar sekolah, dan membaca koran setempat. Dengan cara ini para guru dapat menjadi lebih mengerti akan ritme dan kultur kehidupan murid mereka. Pang juga merekomendasikan agar guru memberi contoh berdasarkan kehidupan murid mereka. Meskipun buku ajar akademik tentang pengajaran bisa menjadi sumber informasi yang berharga tentang muatan dan tujuan pendidikan, namun makna dan muatan lokal hanya bisa diberikan oleh sang guru.

  Salah satu contoh dari pemberian pengajaran muatan lokal di sekolah adalah pengajaran di sebuah sekolah di San Diego, di mana sang guru mengundang Dr. Dorothy Smith, seorang Afrika-Amerika, untuk menjadi guru tamu di kelas. Dr. Smith adalah profesor dan tokoh masyarakat setempat (dia mantan Dewan Sekolah San Diego) di wilayah sekolah itu berada. Dr. Smith diminta untuk berbicara tentang isu-isu yang dihadapi oleh murid dan orang tua sebagai warga negara. Dia memaparkan banyak isu, seperti: Bagaimana rasanya menjadi seorang Afrika-Amerika? Seberapa pentingkah melanjutkan pendidikan sampai ke universitas? Bagaimana saya bisa memberi kontribusi untuk lingkungan masyarakat? perbincangan ini sehingga rekaman pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa diputar untuk kelas lain. Kelompok anak lainnya mencatat dan menulis artikel tentang perbincangan ini untuk dimuat di koran sekolah.

  Ketika murid diberi kesempatan untuk bertemu dengan tokoh seperti Dr. Smith, mereka tak hanya mendapatkan model peran kultural yang penting, tetapi juga bisa berhubungan dengan kultur lingkungan tempat mereka berada.

BAB IV KESIMPULAN DAN DAFTAR PUSTAKA

4.1. Kesimpulan

  Sistem pendidikan di negara Amerika Serikat mengedepankan fokus bidang utamanya pada pendidikan multikultural, pendidikan bilingual, dan pendidikan keahlian teknologi. Pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang menghargai perbedaan dan mewadahi beragam perspektif dari berbagai kelompok etnis kultural. Pendidikan bilingual digunakan untuk mengajar mata pelajaran kepada anak imigran dengan menggunakan bahasa asal mereka, sembari secara bertahap memberikan pelajaran dengan bahasa Inggris. Pendidikan berbasis teknologi merupakan sistem pendidikan yang perhatian utamanya mendapatkan akses belajar yang memadai serta bisa mendekatkan ke masyarakat luas melalui komunikasi menggunakan internet.

  Karakteristik utama sistem pendidikan di AS adalah sangat menonjolnya desentralisasi. Pemerintah federal, negara bagian, dan pemerintah daerah memiliki aturan dan tanggung jawab administratif masing-masing yang sangat jelas. Pemerintah federal AS tidak mempunyai mandat untuk mengontrol/ mengadakan pendidikan untuk masyarakat. Hal ini disebabkan soal pendapatan tidak disebutkan dalam kondisi Amerika, dan para penyusun konstitusi menyebutkan bahwa semua kekuasaan yang tidak disebutkan tersebut diberikan kepada pemerintah federal menjadi tanggung jawab pemerintah lain.

4.2. Daftar Pustaka

   Santrock, John W. 2010. Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

   Sutratinah. 1984. Cakrrawala Pendidikan No. 12 Vol: III.

   

  

   

  

  

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait
Tags

Kebijakan Pendidikan Di Amerika Serikat

Lowongan Kedutaan Amerika Serikat As Makalah Perbandingan Pendidikan Pendidikan Di Amerika Serikat Gurupintar

Sistem Politik Amerika Serikat Mendukung

Amerika Serikat Memiliki Sistem Federal

Kunjungan Presiden Amerika Serikat As Ba

Di Amerika Serikat Di Asia

Islamophobia Di Amerika Serikat Tinjauan

Kapitalisme Amerika Serikat Di Indonesia

Sistem Pendidikan di Amerika Serikat AS

Gratis

Feedback