Evaluasi interaksi penggunaan obat hipoglikemi pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.

Gratis

0
1
92
2 years ago
Preview
Full text

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Kriteria inklusinya adalah pasien yang menggunakan obat hipoglikemi saat dirawat inap di Bangsal Cempaka pada bulan Agustus 2015. Evaluasi penggunaan obat berdasarkan kajian interaksi obat secara teoritis berdasarkan DrugInteraction Facts (Tatro, 2007) dan Medscape drug interaction checker yang disajikan dalam bentuk tabel.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Diabetes melitus merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan

  Hal ini karena pasien membutuhkan terapi obat yang aman, tidak terpenuhinya kebutuhan akan keamanan pengobatan salah satunya disebabkan oleh adanyainteraksi obat (Rovers, 2007). Penelitian ini dilakukan di Bangsal Cempaka karena Bangsal Cempaka merupakan Bangsal penyakit dalam yang ada di RSUD Panembahan Senopati, disamping Bangsal Bakung.

1. Perumusan Masalah

  Akan tetapi terdapat beberapa penelitian yang terkait dengan masalahpenggunaan obat pada pasien diabetes melitus yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya: Penelitian mengenai evaluasi drugs therapy problems obat hipoglikemi kombinasi pada pasien geriatri diabetes melitus tipe 2 di Bangsal rawat jalan RSUP Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu pada waktu penelitian dan jenis penelitian retrospektif, serta terdapat persamaandalam hal topik penyakit, penelitian lokasi penelitian, rancangan penelitian yang bersifat deskriptif evaluatif, pengambilan data berdasarkan rekam medis, dan topikterkait keamanan penggunaan obat dalam hal interaksi obat.

b. Tujuan Khusus

  1)Untuk mengidentifikasi profil penggunaan obat pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015. 2)Untuk mengetahui interaksi pada pengobatan pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Diabetes Melitus Diabetes melitus (DM) adalah sekelompok gangguan metabolik yang

  Faktor resiko diabetes melitus tipe 2 adalah riwayat penyakit (diabetes dalam keluarga, diabetes gestational, kista ovarium), obesitas dengan >120% berat badanideal, umur dengan umur 20-59 tahun memiliki resiko 8,7% dan >65 tahun memiliki resiko 18%, etnik atau ras, hipertensi dengan tekanan darah >140/90mmHg, sertahiperlipidemia dengan kadar HDL rendah <35mg/dl dan kadar lipid darah tinggi >250mg/dL (Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2005). Target penatalaksanaan diabetes Parameter Kadar ideal yang diharapkanKadar glukosa darah puasa 80 Kadar glukosa plasma puasa 90 Kadar glukosa darah saat tidur (bedtime blood glucose)100 Kadar glukosa plasma saat tidur (bedtime plasma glucose)110 Kadar insulin <7 % Kadar HbA1C <7mg/dlKadar kolesterol HDL >45mg/dl (pria) Kadar kolesterol HDL >55mg/dl (wanita)Kadar trigliserida <200mg/dl Tekanan darah <130/80mmHg (Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2005).

B. Obat Hipoglikemi 1. Obat Hipoglikemi Oral

Obat hipoglikemik oral berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi 5 golongan yaitu pemicu sekresi insulin (sulfonilurea dan glinid), peningkat sensitivitas terhadapinsulin (tiazolidindion), penghambat glukoneogenesis (metformin), penghambat absorpsi glukosa (Acarbose), dan DPPIV inhibitor (PERKENI, 2011).

a. Pemicu sekresi insulin

  2)Glinid Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea, dengan penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung kelas I-IV karena dapat memperberat edema/ retensicairan dan juga pada gangguan faal hati (PERKENI, 2011).

2. Suntikan

  Obat hipoglikemi dalam bentuk suntikan adalah insulin dan agonis GLP-1/incretin mimetic. Berdasarkan lama kerja, insulin dibagi menjadi 4 jenis, yaitu insulin kerja cepat (rapid acting insulin), insulin kerja pendek (short acting insulin), insulin kerjamenengah (intermediate acting insulin), insulin kerja panjang (long acting insulin), dan insulin campuran tetap, kerja pendek dan menengah (premixed insulin)(PERKENI, 2011).

C. Algoritma Terapi

  Penatalaksanaan terapi diabetes melitus tipe 2 sesuai dengan standar PERKENI tahun 2011 sebagai berikut. Algoritma terapi DM tipe 2 (PERKENI, 2011)Gambar 2.

D. Komorbiditas 1. Atherosklerosis

  Berkaitan dengan peningkatan kolesterol (khususnya LDL) yang terjadi khususnya pada arteri medium dan besar. Atherosklerosis berakibat pada insufisiensikoroner, serebrovaskular, mesentrik, dan sirkulasi perifer.

2. Dislipidemia

  Penyakit dengan usia <40 tahun dengan denganresiko penyakit kardiovaskular yang gagal dengan perubahan gaya hidup, dapat diberikan terapi farmakologis (PERKENI, 2011). Ketoasidosis Ketoasidosis merupakan komplikasi akut yang umum pada DM tipe 1 namun dapat pula trjadi pada DM tipe 2 yang sudah tergantung pada insulin tetapitidak mendapatkan insulin oleh karena berbagai alsan.

b. Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS)

  HHS merupakan kondisi perubahan status mental oleh karena hiperosmolaritas, dehidrasi, hiperglikemi parah tanpa ketoasidosis. Kriterianyakadar glukosa ≥600mg/dl, pH >7,30, HCO3 >15, ketouria, dan serum minimal, osmolalitas serum >320, stupor/ koma (Widyati, 2015).

2. Komplikasi Jangka Panjang a. Makrovaskuler

  Jenis komplikasi makrovaskular yang umum berkembang pada penderita diabetes adalah penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah otak, danpenyakit pembuluh darah perifer. Walaupun komplikasi makrovaskular dapat terjadi pada DM tipe 1, namun yang lebih sering merasakan komplikasimakrovaskular ini adalah DM tipe 2 yang umumnya menderita hipertensi, dislipidemia, dan atau kegemukan.

b. Mikrovaskuler

  Hiperglikemi yang persisten dan pembentukan protein yang terglikasi (termasuk HbA1C) menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi semakinlemah dan rapuh dan terjadi penyumbatan pada pembuluh-pembuluh darah kecil. Hal inilah yang mendorong timbulnya komplikasi-komplikasi mikrovaskular, antara lain: retinopati, nefropati, dan neuropati (Bina Kefarmasian dan AlatKesehatan, 2005).1) NeuropatiNeuropati diabetik periferal dapat berakibat munculnya nyeri, hilangnya sensasi rasa, dan kelemahan otot.

F. Interaksi Obat

  Interaksi obat adalah interaksi antara satu atau lebih obat yang diberikan bersamaan yang hasilnya mengubah efektivitas atau toksisitas dari obat yangdiberikan. Sedangkan interaksi farmakikonetik adalah interaksi yang terjadi ketika satu obat menggangguabsorbsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi obat yang lain yang mengubah konsentrasi obat di plasma dan kemudian pada sisi target obat (Atkinson. 2007).

G. Keterangan Empiris yang Diharapkan

  Interaksi obat merupakan satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai keamanan penggunaan obat, karena adanya interaksi obat dapat menyebabkankesakitan dan kematian yang signifikan. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai interaksi penggunaan obat hipoglikemi dikaji dari interaksi obatyang terjadi pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.

BAB II I METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian Evaluasi Interaksi Penggunaan Obat Hipoglikemi pada Pasien Rawat Inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati periode Agustus 2015

  Penelitian case series terdiri dari sekelompok pasien yang telah didiagnosis dengan kondisi yang sama atau yang mengikuti prosedur yang sama selama peridewaktu tertentu, tidak ada kelompok perbandingan. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah hasil laboratorium, penggunaan obat hipoglikemi, dan kondisi pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD PanembahanSenopati periode Agustus 2015.

2. Definisi Operasional a

  Obat hipoglikemi yang dimaksud adalah obat yang memiliki efek untukmenurunkan kadar glukosa darah meliputi golongan penghambat glukoneogenesis (metformin), sulfonilurea (glibenklamid dan glimepirid),penghambat glukosidase alfa (acarbose), insulin kerja cepat (insulin aspart), insulin kerja panjang (insulin glargin), dan insulin kombinasi (campuraninsulin aspart protamine/insulin aspart 70%/30%). Interaksi obat aktual adalah interaksi obat yang berdasarkan referensimenunjukkan adanya interaksi obat dan interaksi tersebut terjadi pada pasien yang dilihat dari kondisi klinis pasien berdasarkan hasil pemeriksaanlaboratorium.

C. Ruang Lingkup Penelitian

  Penelitian ini merupakan penelitian bersama beberapa mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang secara garis besar bertujuan untukmengevaluasi penggunaan obat pada pasien dengan penggunaan obat diabetes mellitus dan hipertensi yang dirawat di instalasi rawat inap bangsal Cempaka danBakung RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015. Blangko pengambilan data berisi identitas pasien (no. RM, nama, jenis kelamin, dan usia), tanggal masuk dan keluarrumah sakit, anamnese, diagnosis penyakit, hasil pengukuran tanda vital pasien, hasil cek laboratorium, obat yang digunakan pasien, status pulang, obat yang dibawapulang, dan catatan rekomendasi untuk pasien.

F. Lokasi Penelitian

G. Tata Cara Penelitian

  Penelitian Evaluasi Interaksi Penggunaan Obat Hipoglikemi pada Pasien Rawat Inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati periode Agustus 2015dilakukan di Bangsal Cempaka, kantor rekam medis, dan instalasi farmasi RSUD Penelitian Evaluasi Interaksi Penggunaan Obat Hipoglikemi pada Pasien Rawat Inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati periode Agustus 2015meliputi beberapa tahap sebagai berikut: 1. Kemudian datang ke Bangsal Cempaka dan memperkenalkan diri dan menggali informasi mengenai jam efektif penggambilan data kepada kepalaruang dan petugas yang berjaga di Bangsal Cempaka agar tidak mengganggu pekerjaan petugas kesehatan lainnya.

2. Pengambilan Data

  Pada tahap ini subjek penelitian ditentukan berdasarkan kriteria inklusi secara prospektif selama periode Agustus 2015. Pengumpulan data dilakukan denganmengikuti perkembangan pasien melalui rekam medis pasien yang ada di Bangsal pasien (no. RM, nama, jenis kelamin, dan usia), tanggal masuk dan keluar rumah sakit, diagnosis penyakit, pengukuran tanda vital pasien, hasil cek laboratorium, obatyang digunakan pasien, anamnese, obat yang dibawa pulang, dan catatan rekomendasi untuk pasien.

3. Analisis Data

  Persentase demografi pasien yang meliputi jenis kelamin, usia, lamaperawatan, dan adanya penyakit penyerta dan komplikasi dihitung dengan cara jenis kelamin, usia, lama perawatan, dan adanya penyakit penyerta dankomplikasi dibagi dengan jumlah keseluruhan pasien dikalikan 100%. Persentaseterjadi atau tidaknya kejadian interaksi obat, kejadian interaksi obat berdasarkan mekanisme interaksi obat, kejadian interaksi obat berdasarkansifat interaksi obat, dan proporsi interaksi obat antarobat hipoglikemi dan antara obat hipoglikemi dengan obat lain dihitung dengan cara jumlahinteraksi obat dibagi jumlah keseluruhan interaksi obat dikalikan 100%.

2. Penyajian Data Hasil Penelitian

Data yang diperoleh dari rekam medis pasien disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil analisis data mencakup demografi pasien, profil penggunaan obat

I. Keterbatasan dan Kelemahan Penelitian

  Penelitian ini tidak dapat mengevaluasi efek samping obat karena peneliti tidak menemui pasien secara langsung sehingga tidak bisa memantau kondisi pasien secaralangsung dan berdasarkan rekam medis tidak mendapatkan informasi terkait efek samping obat karena tidak diketahui kondisi klinis yang dialamai pasien merupakanefek samping obat ataupun kondisi klinis pasien tersebut. Kejadian interaksi obat hanya dilihat berdasarkan pemeriksaan laboratorium sehingga adanya penyakit penyerta dan komplikasi dapatmempengaruhi penilaian kejadian interaksi obat pada pasien, sehingga kejadian interaksi obat yang ditemukan pada pasien tidak dapat digambarkan dengan jelasapakah merupakan kejadian akibat interaksi obat yang terjadi pada pasien.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian mengenai Evaluasi Interaksi Penggunaan Obat Hipoglikemi pada Pasien Rawat Inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Agustus 2015 dilakukan dengan cara menelusuri kasus pasien rawat inap di Bangsal Cempaka yang menerima terapi obat hipoglikemi. Hasil dan pembahasan pada

  Bagian pertama yaitu profil penggunaan obat hipoglikemi berdasarkan golongan obat meliputi demografi pasien dan profilpenggunaan obat hipiglikemi. Selama dilakukan penelitian tidak terdapatpasien yang dieksklusi, karena dari 14 pasien yang masuk kriteria inklusi semua di rawat di Bangsal Cempaka dari awal hingga akhir.

A. Demografi Pasien dan Profil Penggunaan Obat Hipoglikemi di Instalasi Rawat Inap Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Agustus 2015 1. Demografi Pasien

Hasil penelitian menunjukkan 14 pasien dengan diabetes melitus tipe 2 di instalasi rawat inap Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul memilikikarakteristik demografi sebagai berikut:

a. Jenis Kelamin, Usia, dan Lama Perawatan

  Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian Arifin (2007) yang menunjukkan bahwa pasien laki-laki yang menderita diabetes melitus lebih banyak pada laki-laki yaitusebanyak 52,94%. Hasil penelitian berdasarkan pengelompokan lama perawatan pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus2015 yang menggunakan obat hipoglikemi ditampilkan pada Tabel III.

b. Distribusi Jumlah Obat

  Distribusi jumlah obat per hari yang diterima pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015Jumlah Obat Per Hari Jumlah Kasus Persentase (%) <5 19 24,1≥5 60 75,9 Total 79 100,0Kemungkinan terjadinya interaksi obat akan semakin besar ketika pasien diberikan semakin banyak obat. Menurut Albadr (2014), sekitar 11% pasienditemukan interaksi obat setidaknya satu interaksi obat, dan kemungkinan interaksi obat akan meningkat sekitar 40% di antara pasien yang menggunakan 5 obat,dan >80% pada pasien yang menggunakan 7 atau lebih obat.

c. Penyakit Penyerta dan Komplikasi

  Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Edwina (2015) dengan 75% pasien dengan penderita diabetes melitus tipe 2 memilikikomplikasi kronik. Selain itu, menurut Rohilla (2011), diabetes melitus dapat menstimulasi sel-sel ginjal untuk menghasilkanmediator humoral, sitokin, dan faktor pertumbuhan yang bertanggung jawab atas perubahan struktur seperti peningkatan deposisi matriks ekstraseluler dan perubahanfungsi seperti peningkatan permeabilitas membran dasar glomerulus yang dapat Pasien diabetes melitus juga sering mengalami komplikasi ulkus.

2. Profil Penggunaan Obat Hipoglikemi

  Seluruh pasien dalam penelitian di instalasi rawat inap Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015 dikelompokkanberdasarkan golongan obat hipoglikemi yang diterima selama menjalani rawat inap di rumah sakit. 4 Penghambat glukosidase alfa + Insulin kerja cepat +Insulin premixed Acarbose + Insulin aspart 6 Total 6 1 Tanpa obat hipoglikemi 1 Insulin premixed + Insulin kerja panjang + BiguanidInsulin premixed + Insulin glargine + Metformin 2 Penghambat glukosidase alfa + Insulin kerja cepatAcarbose + Insulin aspart 4 Biguanid + Sulfonilurea Metformin + Gliblenclamid 18 Insulin kerja cepat + Insulin premixedInsulin aspart + insulin premixed kasus (92,4%) yang menggunakan obat hipoglikemi.

a. Penggunaan Obat Hipoglikemi Monoterapi

  Obat hipoglikemi secara monoterapi yang diterima pasien sebanyak 55 kasus dari 73 kasus (75,3%), yang diberikan kepada pasien secara oral maupun injeksi. Glibenklamid merupakan obat golongan sulfonilurea yang mempunyaiefek utama meningkatkan sekresi insulin dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang.

1 C sebesar -2%. Selain itu, pemberian obat golongan sulfonilurea dimulai

dengan dosis rendah dan ditingkatkan secara bertahap untuk mencapai gula darah target dan dilakukan pengawasan untuk mencegah hipoglikemia (Kurniawan, 2010).

b. Penggunaan Obat Hipoglikemi Kombinasi

  Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat hipoglikemi kombinasi pada pasien di instalasi rawat inap Bangsal Cempaka RSUDPanembahan Senopati sebanyak 18 dari 73 kasus (24,7%). Terapi kombinasi yang diterima pasien sebanyak 6 jenis kombinasi dan kombinasi yang paling banyakdigunakan adalah kombinasi antara insulin glargine dan metformin yaitu sebesar 6 dari 18 kasus (33,3%).

B. Hasil Evaluasi Interaksi Penggunaan Obat Hipoglikemi

  Kejadian interaksi obat pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Agustus 2015Kejadian Interaksi Obat Jumlah Kasus Persentase (%) Terdapat interaksi obat 45 56,9 Tanpa interaksi obat34 43,1 Total 79 100,0Berdasarkan Tabel VII, sebagian besar pasien mengalami interaksi obat, yaitu sebesar 45 dari 79 kasus (56,9%). Dalam penelitian ini terdapat obat yang diterimapasien yang tidak dapat dinilai interaksi obatnya karena tidak tercantum di daftar obat pada Tatro (2007) maupun Medscape, obat-obat tersebut adalah ambroxol, citikolin,ketorolac, OBH, micobalamin, dan glibenklamid.

I. Melibatkan obat hipoglikemi

  Kejadian interaksi obat berdasarkan mekanisme interaksi obat pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus2015 Mekanisme Interaksi Obat Jumlah Interaksi Persentase (%)Farmakodinamik 107 53,5 Farmakokinetik 26 13,0 Tidak diketahui67 33,5 Total 200 100,0Kejadian interaksi obat berdasarkan mekanisme interaksinya disajikan dalam Tabel IX. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan mekanisme interaksi obatnya yang paling sering terjadi adalah mekanisme farmakodinamik yaitu sebanyak 107 interaksi obat (53,5%), diikuti mekanisme interaksi secara farmakokinetiksebanyak 26 interaksi obat (13,0%), sedangkan yang tidak diketahui jenis mekanisme interaksi obatnya sebanyak 67 interaksi obat (33,5%).

D, G, H, K, dan L yang berpotensi interaksi sinergis farmakodinamik pada obat-obat

  Kejadian interaksi obat berdasarkan sifat interaksi obat pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015Sifat Interaksi Obat Jumlah Interaksi Persentase (%) Minor 70 35,0 Signifikan 120 60,0Serius 10 5,0 Total 200 100,0Interaksi signifikan yang terjadi sebagian besar berpengaruh meningkatkan efek obat-obatan hipoglikemi dan keseimbangan kalium. Terapi insulin dapat menyebabkan Adanya interaksi antara insulin dan KCl dapat berefek pada meningkatnya level insulin, akan tetapi kombinasi obat ini juga menguntungkan karena KCl dapatmencegah terjadinya hipokalemia pada pasien yang diberikan insulin, yaitu pasien C dan L.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dengan

  Penggunaan obat hipoglikemi secara monoterapi yang palingbanyak adalah insulin aspart (65,5%), sedangkan penggunaan obat hipoglikemi secara kombinasi yang paling banyak adalah insulin glargine dan metformin(33,3%). Mekanismeinteraksi obat yang paling sering terjadi adalah mekanisme farmakodinamik (53,5%) dan sifat kejadian interaksi obat yang paling banyak terjadi yaitu bersifatsignifikan (60,0%), diikuti yang bersifat minor (35,0%), dan yang bersifat serius (5,0%).

1. Bagi peneliti selanjutnya, untuk menambah referensi untuk pengecekan interaksi obat seperti ambroxol, citokilin, ketorolac, OBH, micobalamin, dam glibenclamid

  Peneliti menggali informasi mengenai riwayatpengobatan pasien yang kemungkinan dapat mempengaruhi penilaian interaksi obat pada pasien. Bagi pihak rumah sakit, disarankan dilakukan pemeriksaan laboratoium tambahan untuk memonitoring kondisi klinis pasien yang mengalami interaksi obat degansifat potensial dan signifikan terhadap kenaikan atau penurunan level kalium.

DAFTAR PUSTAKA

  Arifin, I., dkk, 2007, Evaluasi Kerasionalan Pengobatan Diabetes Melitus Tipe 2 pada Pasien Rawat Inap di Rumash sakit Bhakti Wira Tamtama Semarang Tahun 2006, Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi klinik, 4(1), Hal. Ismansyah, dkk, 2012, Faktor-faktor yang Berhubungan dengan lama Hari Rawat pasien Diabetes Melitus Tipe II, Jurnal Husada Mahakam, III(4), Hal.

2 Diabetes Melitus and Its Association with Baseline Characteristics in the Multinational A1chieve Study, Diabetology and Metabolic Syndrome, 5(57), p. 1

  Miharja, L., 2009, Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Gula Darah pada Penderita Diabates Mellitus di Perkotaan Indonesia, Maj Kedokt Indon, 59(9), hal. Samoh, W., 2014, Evaluasi Ketepatan Obat dan Dosis pada Pasien Diabetes MelitusTipe 2 dengan Komplikasi Hipertensi di Rumash Sakit “X” Surakarta Periode Januari-April 2014, Naskah Publikasi, Hal.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

EVALUASI IMPLEMENTASI CLINICAL PATHWAY PNEUMONIA DI RUANG RAWAT INAP BANGSAL ANAK RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
13
64
229
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien di insatalasi rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.
1
2
49
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.
0
1
50
Evaluasi peresepan antibiotika pada pasien diare dengan metode gyssens di instalasi rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode April 2015.
0
4
213
Evaluasi interaksi penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.
0
4
109
Evaluasi pelayanan informasi obat pada pasien di instalasi farmasi RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
8
72
110
Evaluasi penggunaan obat Hipoglikemia pada pasien di instalasi rawat inap bangsal Bakung RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Agustus 2015.
1
6
117
Efektivitas penggunaan obat antihipertensi di Instalasi Rawat Inap bangsal Bakung RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.
1
9
95
Studi literatur interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik di instalasi rawat jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013.
7
45
147
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien di insatalasi rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul
0
0
47
Studi pustaka interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013.
1
7
142
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul
0
0
48
HUBUNGAN PENGALAMAN DIRAWAT DENGAN LOYALITAS PASIEN RAWAT INAP DI BANGSAL PENYAKIT DALAM RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Pengalaman Dirawat dengan Loyalitas Pasien Rawat Inap di Bangsal Penyakit Dalam RSUD Panembahan Senopati B
0
0
16
Studi pustaka interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 - USD Repository
0
0
140
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di instalasi rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul - USD Repository
0
0
152
Show more