BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Metode Talking Stick - BAB II YESY NOVIANI PGSD'13

0
0
27
1 week ago
Preview
Full text

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Metode Talking Stick Menurut Uno dan Mohamad (2011:106) Pembelajaran inovatif

  adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga berbeda dengan pembelajaran pada umumnya yang dilakukan oleh guru (konvensional). Pembelajaran inovatif lebih mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada siswa. Proses pembelajaran dirancang, disusun dan dikondisikan untuk siswa agar belajar. Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa, pemahaman konteks siswa menjadi bagian yang sangat penting, karena dari sinilah seluruh rancangan proses pembelajaran dimulai. Hubungan antara guru dan siswa menjadi hubungan yang saling belajar dan saling membangun. Metode talking

  stick merupakan salah satu pembelajaran yang inovatif karena membuat anak aktif dan pembelajarannya menyenangkan.

  a. Pengertian Metode Talking Stick Sejarah menyebutkan ( Fujioka, 1998) bahwa talking stick

  (tongkat berbicara) adalah sebuah metode yang pada mulanya digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk mengajak semua orang berbicara. Metode ini juga digunakan untuk menyampaikan pendapat dalam suatu forum (pertemuan antarsuku).

  7

  "The talking stick has been used for centuries by many

Indian tribes as a means of just and impartial hearing. The

talking stick was commonly used in council circles to decide who

had the right to speak. When matters of great concern would

come before the council, the leading elder would hold the talking

stick, and begin the discussion. When he would finish what he had

to say, he would hold out the talking stick, and whoever would

speak after him would take it. In this manner, the stick would be

passed from one individual to another until all who wanted to

speak had done so. The stick was then passed back to the elder for

safe keeping." (Locust, in Fujioka,1998:2)

  Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa tongkat berbicara telah digunakan selama berabad-abad oleh suku-suku Indian sebagai alat menyimak secara adil dan tidak memihak. Tongkat berbicara sering digunakan kalangan dewan untuk memutuskan siapa yang mempunyai hak berbicara. Pada saat pimpinan rapat mulai berdiskusi dan membahas masalah, ia harus memegang tongkat berbicara. Tongkat akan pindah ke orang lain apabila ia ingin berbicara atau menanggapinya. Dengan cara ini tongkat berbicara akan berpindah dari satu orang ke orang lain jika orang tersebut ingin mengemukakan pendapatnya. Apabila semua mendapatkan giliran berbicara, tongkat ini dikembalikan lagi ke ketua/pimpinan rapat.

  Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa talking

  

stick dipakai sebagai tanda seseorang mempunyai hak suara

  (berbicara) yang diberikan secara bergiliran/bergantian. Metode

  

talking stick dipergunakan guru dalam mencapai tujuan

  pembelajaran yang berorientasi pada terciptanya kondisi belajar melalui permainan tongkat yang diberikan dari satu siswa kepada siswa yang lainnya pada saat guru menjelaskan materi pelajaran dan selanjutnya mengajukan pertanyaan. Saat guru selesai mengajukan pertanyaan, maka siswa yang sedang memegang tongkat, itulah yang yang memperoleh kesempatan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

  b. Konsep Metode Talking Stick Menurut Suyatno (2009:124) Langkah-langkah Metode pembelajaran talking stick adalah sebagai berikut :

  1) Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm. 2) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran. 3) Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya, guru mempersilahakan siswa untuk menutup bukunya.

  4) Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru. 5) Guru memberikan kesimpulan. 6) Evaluasi. 7) Penutup.

  Berdasarkan penjelasan suyatno di atas, maka pelaksanaan proses pembelajaran matematika menggunakan metode talking stick dapat digambarkan sebagai berikut: 1) Guru membuat media tongkat untuk keperluan bermain dalam proses pembelajaran.

  2) Guru menyajikan materi pelajaran secara klasikal menggunakan alat peraga.

  3) Guru menyuruh siswa untuk membaca buku dan memepelajari materi pelajaran sesuai waktu yang diberikan.

  4) Guru dan siswa memulai permainan talking stick dengan memberikan tongkat kapada salah satu siswa.

  5) Siswa diinstruksikan untuk memberikan tongkat kepada siswa yang terdekat searah jarum jam.

  6) Sambil memberikan tongkat, siswa mendengarkan lagu yang diputar.

  7) Setelah lagunya berhenti, maka siswa yang memegang tongkat diberikan soal.

  8) Kegiatan memutar tongkat terus dilakukan hingga sebagian besar siswa mendapat kesempatan untuk diberikan soal oleh guru. 9) Guru dan siswa menarik kesimpulan 10) Mengevaluasi hasil belajar siswa dengan lembar evaluasi.

  11) Guru menutup pelajaran dengan berdoa bersama. c. Kelebihan dan Kekurangan Metode Talking Stick Pembelajaran dengan metode talking stick memiliki keunggulan yaitu mempersiapkan siswa untuk belajar terlebih dahulu agar siap menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru, membuat siswa menjadi mandiri, membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan, melatih membaca dan memahami dengan cepat, mudah diterapkan dan tidak mahal. Metode talking stick juga mempunyai kekurangan yaitu dapat membuat siswa senam jantung. Siswa merasakan senam jantung ketika lagunya berhenti dan tongkat yang dipegang berada di tangan mereka dan menjawab pertanyaann dari guru.

2. Pembelajaran Langsung

  a. Pengertian model pembelajaran langsung Menurut Uno dan Mohamad (2011:117) Pembelajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang berstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. Pembelajaran langsung (Direct

  Instruction ) merujuk pada berbagai teknik pembelajaran ekspositori

  (pemindahan pengetahuan secara langsung oleh guru kepada peserta didik secara langsung, misalnya melalui ceramah, demonstrasi, dan tanya jawab) yang akan melibatkan seluruh kelas (Roy Killen dalam Kemendiknas, 2010:23).

  Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada tujuan akademik dimana guru mentransformasikan informasi dan keterampilan secara langsung kepada siswa. Pembelajaran ini berpusat pada guru sebagai penyampai materi, sedangkan peserta didik menjadi pengamat, pendengar dan partisipan yang tekun, guru akan menyampaikan isi materi pelajaran dalam format yang sangat terstruktur.

  b. Karakteristik model pembelajaran langsung Kemendiknas (2010:24) mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran langsung yaitu:

  1. Transfomasi dan keterampilan secara langsung

  2. Pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu

  3. Materi pembelajaran yang telah terstruktur

  4. Lingkungan belajar yang telah terstruktur

  5. Distruktur oleh guru

  c. Tahapan model pembelajaran langsung Menurut Bruce dan Well (dalam kemendiknas, 2010:25) tahapan model pembelajaran langsung meliputi:

  1. Orientasi Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, guru akan memberikan kerangka pelajaran dan orientasi terhadap materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk orientasi dapat berupa: kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pelajaran. Memberikan penjelasan atau arahan mengenai pembelajaran yang akan dilaksanakan. menginformasikan materi atau konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. menginformasikan kerangka pelajaran.

  2. Presentasi Guru menyajikan materi pelajaran baik berupa konsep maupun keterampilan. Penyajian materi dapat berupa: penyajian materi dalam langkah-langkah kecil sehingga materi dapat dikuasai siswa. pemberian contoh-contoh konsep pemodelan atau peragaan keterampilan dengan cara demonstrasi menjelaskan ulang hal-hal yang sulit.

  3. Latihan Terstruktur Guru memandu peserta didik untuk mengadakan latihan.

  Peran guru sangat penting dalam memberikan umpan balik terhadap respon peserta didik, memberi penguatan terhadap respon peserta didik yang benar, dan mengoreksi tanggapan peserta didik yang salah.

  4. Latihan Terbimbing Peserta didik diberikan kesempatan oleh guru untuk berlatih konsep atau keterampilan. Latihan terbimbing oleh guru untuk menilai kemampuan peserta didik dalam melaksanakan tugasnya. Dalam tahap ini, peran guru yaitu memonitor dan memberikan bimbingan jika diperlukan.

  5. Latihan Mandiri Peserta didik melakukan latihan secara mandiri. Tahap ini dapat dilalui peserta didik jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 85-90% dalam tahap latihan.

3. Hakikat Belajar

  a. Pengertian Belajar Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan (Jihad dan Haris, 2009:1). Pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Slameto,

  2010:2). Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman (Hamalik, 2010:154-161)

  Learning as a change in behavior or in potential behavior that occurs as a result of experience. This definition has several important elements. First, it excludes change in behavior that occur as a result of purely phsiycal factors such as maturation, injury, fatigue or drugs. Second, by using the term “potential” behavior, the definition includes two different aspects of learning : “knowing how” and “doing” (Smith, 1986:197).

  Dapat diartikan bahwa belajar sebagai perubahan dalam perilaku atau potensi perilaku yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Definisi ini memiliki beberapa elemen penting. Pertama, itu tidak termasuk perubahan perilaku yang terjadi sebagai akibat dari faktor murni fisik seperti pematangan, kelelahan cedera, atau obat-obatan. Kedua, dengan menggunakan istilah "potensial" perilaku, definisi mencakup dua aspek yang berbeda dari pembelajaran: "mengetahui bagaimana" dan "melakukan". Jadi belajar adalah perubahan tingkah laku dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan mengamati, meniru, membaca, mendengarkan untuk membawa perubahan pada diri setiap individu-individu.

  b. Proses Belajar dan Faktor yang memengaruhi Hasil Belajar

  1. Proses belajar Menurut Baharuddin (2010:16) proses belajar adalah serangkaian aktivitas yang terjadi pada pusat saraf individu yang belajar. Proses belajar terjadi secara abstrak, karena terjadi secara mental dan tidak dapat diamati. Oleh karena itu proses belajar hanya dapat diamati jika ada perubahan perilaku dari seseorang yang berbeda dengan sebelumnya. Perilaku tersebut terjadi dalam hal kognitif, afektif dan psikomotornya.

  2. Faktor yang memengaruhi hasil belajar Menurut Baharuddin (2010:19) faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebut saling memengaruhi dalam hasil belajar sehingga menentuka kualitas hasil belajar siswa.

  Faktor Internal, adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu yang meliputi faktor fisiologis (yang berhubungan dengan fisik) dan psiklogis (yang berhubungan dengan keadaan psikologis)

  Faktor eksternal, adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu.

  Menurut Syah (Badarudin, 2010:26) menjelaskan bahwa faktor eksternal yang memengaruhi belajar digolongkan menjadi dua.

  Pertama , yaitu faktor lingkungan sosial, yang meliputi

  lingkungan sosial sekolah, lingkungan sosial masyarakat dan lingkungan sosial keluarga. Kedua, yaitu faktor lingkungan nonsosial yang meliputi faktor lingkungan alamiah, faktor lingkungan instrumental, dan faktor materi pelajaran. c. Pengertian dan Tipe Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan - kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku siswa akibat belajar (Purwanto, 2011: 34). Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan-keterampilan. (Suprijono, 2012:5). Seperti yang dikatakan Sudjana (2010:28) bahwa perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaanya dan lain-lain aspek yang ada pada individu.

  Berdasarkan uraian tentang hasil belajar, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah proses untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik. Hal yang diharapkan dari proses belajar yang dilakukan adalah dengan nampaknya perubahan dalam tiga aspek, yakni aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

  Horward Kingsley (Sudjana, 2010:22) membagi tiga macam hasil belajar, yakni keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah.

  Benjamin S. Bloom (Sudjana, 2010:46) berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang hendak kita capai digolongkan atau dibedakan (bukan dipisahkan) menjadi tiga ranah yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor. Penjelasan lebih rinci dari ketiga aspek tersebut yaitu: 1.

   Aspek Kognitif

  Sudjana (2010:50) berpendapat bahwa aspek kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu:

  a. Tipe hasil belajar pengetahuan atau ingatan (knowledge) merupakan tipe hasil belajar tingkat rendah, tetapi tipe hasil belajar ini penting sebagai prasyarat untuk menguasai dan mempelajari tipe belajar yang lebih tinggi.

  b. Tipe hasil belajar pemahaman (comprehensif) terdiri dari tiga kategori, tingkat pertama yaitu pemahaman terjemahan yaitu kesanggupan memahami makna yang terkandung didalamnya. Tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran yaitu memahami grafik, menghubungkan konsep yang berbeda, membedakan yang bukan pokok. Tingkat ketiga atau tingkat tertinggi adalah pemahaman ekstrapolasi yakni kesanggupan melihat dibalik yang tertulis, tersirat dan tersurat, meramal sesuatu dan memperluas wawasan. c. Tipe hasil belajar penerapan/aplikasi (aplication) adalah kesanggupan menerapkan dan mengabstraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum dalam situasi baru.

  d. Tipe hasil belajar analisis (analysis) adalah kesanggupan memecah, mengurai suatu integritas (suatu yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang mempunyai ati. Analisis merupakan tipe yang kompleks karena memanfaatkan kecakapan dari tipe pengetahuan, pemahaman dan aplikasi

  e. Tipe hasil belajar sintesis (synthesis) yaitu kesanggupan menyatukan unsur-unsur bagian-bagian menjadi suatu integritas

  f. Tipe hasil belajar evaluasi (evaluation) merupakan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan

  judgment yang dimilikinya dan kriteria yang dimiliki.

  Menurut Sagala (2011:157) tujuan-tujuan kognitif adalah tujuan-tujuan yang lebih banyak berkenaan dengan perilaku dalam aspek berfikir / intelektual. Dalam penelitian ini akan lebih difokuskan pada pengetahuan, pemahaman dan penerapan dari materi pembelajaran. Dalam penelitian ini, hasil belajar dalam aspek kognitif dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1 Hasil Belajar Aspek Kognitif Pada Materi Geometri

  No Indikator Aspek Soal kognitif

  1. Mengetahui rumus Menyebutkan rumus keliling dan luas keliling dan luas jajargenjang dan Pengetahuan jajargenjang dan segitiga segitiga

  2. Memahami konsep Menuliskan rumus rumus keliling dan keliling dan luas luas jajargenjang Pemahaman jajargenjang dan dan segitiga segitiga

  3. Menghitung Menerapkan rumus keliling dan luas keliling dan luas jajargenjang dan jajargenjang dan segitiga Penerapan segitiga yang sesuai dalam mengerjakan soal

2. Aspek Afektif Aspek afektif berkenaan dengan sikap dan nilai.

  Pendidikan karakter adalah usaha aktif untuk membentuk kebiasaan (habit) sehingga sifat anak akan terukir sejak dini, agar dapat mengambil keputusan dengan baik dan bijak serta mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari (Fitri, 2012:21).

  Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa sehingga akan terwujud insan kamil (Aunillah, 2011:18-19).

  Untuk mewujudkan karakter bangsa itu tidaklah mudah. Karakter yang berarti mengukir hingga terbentuk pola itu memerlukan proses panjang melalui pendidikan (Fitri, 2012:21).

  Dengan demikian keberhasilan pendidikan karakter ditentukan oleh konsistensi seseorang yang sesuai dengan apa yang diucapkan dan harus didasari ilmu dan pengetahuan dari sumber- sumber nilai yang dapat dipertanggungjawabkan.

  Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk peserta didik menjadi pribadi yang positif dan berakhlak karimah sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat sejumlah nilai budaya yang dapat dijadikan karakter. Hasil belajar afektif ini lebih menekankan kepada sikap mandiri siswa dalam mengikuti pelajaran. Dengan menggunakan metode talking stick diharapkan siswa akan lebih mandiri dan tidak tergantung dengan teman yang lain.

  1. Pengertian Kemandirian Istilah “kemandirian” berasal dari kata “diri” yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an”, kemudian membentuk suatu keadaan atau kata benda. Menurut Erikson (Desmita, 2009:185), kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses mencari ego, yaitu merupakan perkembangan ke arah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri.

  Menurut Mu’in (2011:385) kemandirian merupakan kondisi mental yang penting. Dengan kemnadirian manusia merasa bahwa dirinya bertanggungjawab terhadap dirnya dan memahami untuk mendapatkan sesuatu dibutuhkan proses.

  Jadi orang yang mandiri akan percaya terhadap keputusannya sendiri dan yakin akan keputusan tersebut.

  Jadi dapat disimpulkan bahwa kemandirian merupakan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikan pikiran, perasaan, dan tindakan secara bebas serta berusaha untuk menentukan dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain untuk menyelesaikan tugas. Dengan menyelesaikan tugas sendiri hasilnya akan lebih memuaskan dibandingkan dengan pekerjaan yang dibantu oleh orang lain.

  2. Indikator Kemandirian Belajar Menurut Erikson (dalam Desmita, 2009:185) yang mengatakan bahwa ciri-ciri individu yang memiliki kemandirian adalah: 1. Dapat menemukan identitas atau nasib dirinya.

  2. Memiliki inisiatif dan kreatif.

  3. Membuat pertimbangan-pertimbangan sendiri dalam bertindak.

  4. Bertanggungjawab atas tindakannya.

  5. Mampu menahan diri atau kontrol diri.

  6. Dapat mengambil keputusan sendiri.

  Desmita (2009:185) menyatakan bahwa kemandirian mengandung beberapa pengertian, yaitu: a. Suatu kondisi dimana seseorang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan dirinya sendiri.

  b. Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang dihadapi.

  c. Memiliki kepercayaan diri dan melaksanakan tugas- tugasnya.

  d. Bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya.

  Dari uraian tersebut, secara rinci indikator kemandirian belajar dapat dilihat dalam gambar 2.1 berikut:

  Indikator Kemandirian Belajar Bertanggung Memiliki hasrat

  M

  Mampu mengambil Memiliki jawab dalam

atau keinginan keputusan dan kepercayaan diri

setiap yang kuat untuk inisiatif untuk dan melaksanakan aktivitas belajar demi menghadapi tugas-tugas secara belajar kemajuan diri. permasalahan mandiri

Gambar 2.1. Indikator Kemandirian Belajar

  3. Permasalahan Kemandirian Belajar Dalam konteks proses belajar, terlihat adanya fenomena peserta didik yang kurang mandiri dalam belajar.

  Fenomena tersebut menuntut dunia pendidikan untuk mengembangkan kemandirian peserta didik. Sunaryo Kartadinata (Desmita, 2009:189-190) menyebutkan bahwa gejala-gejala yang berhubungan dengan permasalahan kemandirian yaitu:

  1. Ketergantungan disiplin kontrol luar dan bukan karena niat sendiri yang ikhlas.

  Contoh : Siswa masih tergantung dengan temannya pada saat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

  2. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan hidup.

  Contoh : Ketika ada siswa yang sedang mengemukakan pendapatnya, siswa yang lain mengobrol sendiri. Hal ini menandakan tidak ada rasa menghargai antara siswa yang satu dengan yang lain.

  3. Ketidakjujuran dalam berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.

  Contoh : Siswa diberi kesempatan bertanya kepada guru tentang materi yang belum dipahami, namun siswa tidak memanfaatkan kesempatan bertanya tersebut. Siswa cenderung diam jika diberi kesempatan bertanya.

  Menurut Sagala (2011:158) tujuan-tujuan afektif adalah tujuan-tujuan yang banyak berkaitan dengan aspek perasaan, nilai, sikap, dan minat perilaku peserta didik atau siswa. Pada penelitian ini difokuskan pada sikap mandiri siswa dalam mengikuti pelajaran menggunakan metode talking stick. Lebih jelas hasil belajar dalam aspek afektif dapat dilihat pada

tabel 2.2 berikut ini:Tabel 2.2. Hasil Belajar Aspek Afektif Pada Materi Geometri

  Aspek Kegiatan No Indikator

  Afektif

  1. Memiliki hasrat atau - Siswa dapat keinginan yang kuat membaca dan untuk belajar demi mempelajari kemajuan diri materinya sendiri sesuai dengan . waktu yang diberikan.

  2. Bertanggungjawab - Siswa dapat dalam setiap aktivitas melaksanakan belajar aktivitas belajar dengan

  Keman tanggungjawab dirian

  3. Mampu mengambil - Siswa dapat keputusan dan inisiatif menyelesaikan untuk menghadapi tugas dengan permasalahan inisiatif pemikirannya sendiri

  4. Memiliki kepercayaan - Siswa dapat diri dan melaksanakan mengerjakan tugas tugas-tugas secara dengan mandiri kepercayaan diri.

3. Aspek Psikomotor

  Menurut Sudjana (2010:54) aspek psikomotor berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam tingkatan keterampilan yaitu:

  a. gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar)

  b. keterampilan pada gerakan-gerakan dasar

  c. kemampuan konseptual termasuk didalamnya membedakan visual, membedakan auditif motorik dan lain-lain d. kemampuan dibidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan dan ketepatan e. gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks f. kemampuan yang berkenalan dengan komunilasi non- decursive seperti gerakan ekspresif dan interpretatif.

  Sagala (2011:160) menyebutkan tujuan-tujuan psikomotor adalah tujuan-tujuan yang banyak berkenaan dengan aspek keterampilan motorik atau gerak dari peserta didik atau siswa. Dalam penelitian ini yang berkenaan dengan aspek psikomotor yaitu keterampilan siswa dalam menggunakan alat peraga lebih jelasnya dalam tabel 2.3 berikut ini:

Tabel 2.3. Hasil Belajar Aspek Psikomotor Pada Materi Geometri Aspek Kegiatan No Indikator Psikomotor

  1 Menyiapkan alat tulis Peserta didik dan peralatan untuk menyiapkan alat Ketepatan menggambar sesuai tulis. dengan tugasnya

  2 Mampu menggunakan Peserta didik peralatan yang dibawa mampu sesuai dengan fungsinya Ketepatan menggunakan peralatan yang dibawa.

  3 Kerapihan dalam Peserta didik menirukan gambar yang menirukan gambar Peniruan diberikan guru atas soal yang disajikan yang disajikan oleh guru

  4 Ketepatan, Ketelitian Peserta didik tepat menggunakan alat dan teliti dalam Ketepatan peraga. menggunakan alat peraga 4.

   Matematika

  a. Pengertian Matematika Menurut Ruseffendi (Heruman 2010:1) matematika adalah bahasa symbol; ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif; ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan, ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil. Menurut Suwangsih dan Tiurlina (2006:3) kata matematika berasal dari perkataan Latin mathematika yang mulanya diambil dari perkataan Yunani mathematike yang berarti mempelajari. Perkataan itu mempunyai asal katanya mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge, science). Kata mathematike yang artinya belajar (berfikir). Jadi, berdasarkan asal katanya, maka perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan berfikir (bernalar).

  Berdasarkan pengertian matematika di atas maka dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan ilmu yang mempelajari tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep- konsepyang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui melalui proses penalaran deduktif. Matematika merupakan ilmu deduktif yang butuh pencarian kebenarannya dan matematika merupakan salah satu bidang studi yang tanpa disadari selalu dipakai manusia untuk memecahkan maslaah dalam keseharian terutama bidang ekonomi.

  b. Materi Pelajaran Matematika Dalam penelitian ini peneliti mengambil materi

  Jajargenjang dan Segitiga pada kelas IV semester I. Adapun standar kompetansi dan kompetensi dasar yang akan dijadikan bahan penelitian tertera dalam tabel 2.4 berikut ini:

Tabel 2.4. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar kelas IV

  

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

4. Menggunakan konsep

  4.1 Menentukan keliling dan keliling dan luas bangun luas jajargenjang dan datar sederhana dalam segitiga pemecahan masalah

  Sumber : Panduan KTSP

  Dari kompetensi dasar tersebut dapat diketahui mengenai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan digunakan untuk penelitian. Standar kompetensi poin 4 yaitu menggunakan konsep keliling dan luas bangun datar sederhana dalam pemecahan masalah.Kemudian kompetensi dasar poin 4.1 yaitu Menentukan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga. Dari penjabaran tersebut, dapat diketahui materi yang akan digunakan untuk penelitian adalah materi geometri dengan sub materi masalah yang berkaitan dengan keliling dan luas jajargenjang dan segitiga.

  c. Alat Peraga Menurut Anitah (2009:4) alat peraga dalam pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu alat yang digunakan untuk menunjukan sesuatu yang riil sehingga memperjelas suatu konsep. Jadi alat peraga menjadikan siswa memahami suatu konsep untuk memperjelas materi pelajaran yang akan disajikan.

  Peneliti akan menggunakan alat peraga Luas Daerah Jajargenjang dengan Pendekatan Luas Daerah Segitiga untuk mencari keliling dan luas jajargenjang dan segitiga. Alat peraga tersebut dipilih sebagai alat peraga dikarenakan cara pembuatannya mudah. Alat peraga Luas Daerah Jajargenjang dengan Pendekatan Luas Daerah Segitiga di gunakan untuk membuat siswa lebih memahami konsep dasar materi keliling dan luas jajargenjang dan segitiga sesuai dengan penilaian dalam aspek psikomotor yaitu penilaian unjuk kerja dalam menggunakan alat peraga serta menampakkan aspek afektif kemandirian dalam memahami alat peraga tersebut.

  Pembuatan alat peraga yang dibuat cukup murah dan harganya terjangkau yaitu: kertas buffalo, kertas karton, sterofom, lem kertas, double tape, kertas kado, kertas asturo, pensil, penggaris, gunting dan cutter. Langkah pembuatan alat peraga Luas Daerah Jajargenjang dengan Pendekatan Luas Daerah Segitiga adalah :

  1. Buatlah dengan penggaris dan cutter dua buah model daerah jajargenjang yang kongruen dengan menggunakan kertas buffalo.

  2. Potonglah model daerah jajargenjang menurut diagonalnya menjadi dua model daerah segitiga.

  3. Masing-masing model daerah tersebut di kasih karton.

  4. Bungkus sterofoam dengan kartas kado

  5. Tempelah kertas asturo pada sterofoam bagian atas Cara penggunaannya pun sangat mudah, model daerah jajargenjang yang masih utuh dengan yang sudah digunting dihimpitkan dan tunjukan bahwa kedua bangun tersebut kongruen. Kemudian menunjuk pada bangun jajargenjang yang masih utuh bahwa jajargenjang itu alasnya a, tingginya t, luasnya (a x t). Lalu ubahlah bangun jajargenjang yang sudah dipotong menjadi dua model segitiga. Ternyata bangun jajargenjang tersebut terbentuk menjadi dua buah segitiga. Dan tunjukan bahwa kedua daerah segitiga tersebut luasnya sama dengan daerah jajargenjang yang masih utuh. Dengan mengamati satu buah segitiga maka alasnya a, tingginya t, luasnya (½ x a x t). Dengan demikian luas daerah jajargenjang adalah dua kali luas segitiga. Jadi jika jajargenjang dengan alas dan tingginya berturut-turut a dan t, dan luas daerahnya

  L maka L = a x t. Siswa dapat menemukan rumus sendiri dan membuatnya secara warna-warni agar lebih menarik.

Gambar 2.2. Jajargenjang dan Segitiga B. Hasil Penelitian Yang Relevan

  Peneliti tidak menemukan hasil penelitian yang sama persis dengan permasalahan yang penulis teliti, namun ada yang dilakukan oleh Dewi Setyawati Nur Fadhillah mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Sebelas Maret dengan judul skripsi “Hasil Belajar Biologi Melalui Penerapan Metode

  Talking Stick Dalam Model Learning Cycle Ditinjau dari Motivasi Belajar

  Siswa Di SMA Negeri 5 Surakarta”. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu bahwa ada pengaruh secara signifikan penerapan metode Talking Stick dalam model Learning Cycle terhadap hasil belajar biologi (ranah kognitif, afektif dan psikomotor) di SMA Negeri 5 Surakarta. Ada pengaruh secara signifikan motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar biologi (ranah kognitif, afektif dan psikomotor) di SMA Negeri 5 Surakarta. Ada interaksi antara penerapan metode Talking Stick dalam model Learning Cycle dan motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar biologi ranah psikomotor, tetapi tidak ada interaksi pada hasil belajar biologi (ranah kognitif dan afektif) di SMA Negeri 5 Surakarta. Berdasarkan uji lanjut diperoleh hasil bahwa metode Talking Stick dalam model Learning Cycle efektif dalam pembelajaran dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. (Fadhillah, 2011) C.

   Kerangka Pemikiran

  Peningkatan mutu pendidikan di sekolah banyak dipengaruhi dari berbagai faktor yang ada di lingkungan sekolah tersebut.Salah satunya adalah kualitas dari pembelajaran yang terjadi di dalam kelas. Diharapkan dengan menerapkan metode talking stick siswa merasa senang dalam belajar matematika yang berdampak pula pada hasil belajar matematika yang baik.

  Penilaian hasil belajar bukan hanya mencangkup aspek kognitif saja, tapi juga meliputi aspek afektif dan psikomotor. Penilaian dari segi afektif meliputi kemandirian siswa dalam mengikuti pembelajaran. Penilaian psikomotor mencakup (1) menyiapkan alat tulis dan peralatan untuk menggambar sesuai dengan tugasnya, (2) menggunakan peralatan yang dibawa sesuai dengan fungsinya, (3) kerapihan dalam menirukan gambar yang diberikan guru atas soal yang disajikan, (4) Ketepatan dan ketelitian menggunakan alat peraga. Kerangka Pemikiran Penelitian tersebut dapat dilihat pada gambar 2.3 berikut:

  Hasil Belajar Matematika Penerapan Metode (Kognitif, Afektif, Talking Stick Psikomotor) (X) (Y)

Gambar 2.3. Kerangka Pemikiran Penelitian D.

   Hipotesis Penelitian

  Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berfikir diatas, dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

  1. Ada pengaruh penerapan metode talking stick terhadap hasil belajar matematika aspek kognitif di kelas IV SD Negeri Tambaksari.

  2. Ada pengaruh penerapan metode talking stick terhadap hasil belajar matematika aspek afektif di kelas IV SD Negeri Tambaksari.

  3. Ada pengaruh penerapan metode talking stick terhadap hasil belajar matematika aspek psikomotor di kelas IV SD Negeri Tambaksari.

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (27 Halaman)
Gratis

Tags