BAB II LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu yang Relevan 1. Penelitian dengan Judul “Penyimpangan Sosial dalam Novel Hati yang - BAB II YADIT AGUS KUSUMA PBSI'16

Gratis

0
0
17
2 months ago
Preview
Full text

BAB II LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu yang Relevan

  1. Penelitian dengan J udul “Penyimpangan Sosial dalam Novel Hati yang Bercahaya Karya Wiwid Prasetyo

  Penelitian tersebut dilakukan oleh Leni Marlina mahasiswa Universitas Negeri Padang. Penelitian tersebut dilakukan Leni Marlina pada tahun 2013 sebagai salah satu tugas akhir. Permasalahan yang dibahas dalam penelitiaannya adalah mengenai terjadinya penyimpangan sosial. Hasil analisis dan pembahasannya ditemukan bahwa dalam novel Hati yang Bercahaya terdapat penyimpangan sosial. Penyimpangan sosial yang ditemukan meliputi adanya; penyimpangan terhadap kekuasaan dan wewenang, penyimpangan agama, dan penyimpangan terhadap pergaulan.

  Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada sumber data. Karena Leni Marlina dalam sumber data penelitiannya menggunakan novel Hati Yang Bercahaya karya Wiwid Prasetyo. Sedangkan sumber data pada penelitian ini menggunakan novel Setelah Lonceng Berbunyi 12 Kali karya Giyanto Jangkung. Dengan demikian data yang disajikan dalam pembahasan memiliki perbedaan. Oleh karena itu, hasil pembahasan dalam penelitian ini berbeda.

  2. Penelitian dengan Judul “Penyimpangan Perilaku Remaja di Gondanglegi sebagai Masalah Sosial

  

  Penelitian tersebut dilakukan oleh Isna Mufidah mahasiswa di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Penelitian tersebut dilakukan oleh Isna Mufidah pada tahun 2010. Hasil penelitian secara ringkas menunjukkan bahwa

  6 bentuk/jenis-jenis penyimpangan perilaku remaja di Gondanglegi tergolong berat dan sebagian melanggar hukum. Hal-hal yang menjadi penyebab penyimpangan perilaku remaja itu adalah karena pengaruh dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sedangkan upaya yang dilakukan keluarga dan masyarakat menggunakan upaya preventif, represif, kuratif, dan rehabilitasi.

  Perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh Isna Mufidah jenis penelitiannya yang digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan studi kasus.

  Sedang dalam pengumpulan mengggunakan metode obesrvasi, interview, dan dokumentasi. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Kemudian metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode desktiptif analitik. Sedang untukpengumpulan datanya menggunakan teknik baca dan catat. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan oleh peneliti benar-benar berbeda dengan penelitian sebelumnya. Oleh karena itu, peneliti berpendapat bahwa penelitian ini perlu dilakukan.

B. Penyimpangan Sosial

1. Pengertian Penyimpangan Sosial

  Menurut Zenden, dalam Sunarto (2004: 175) penyimpangan sosial merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi. Horton (2013) bahwa penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.

  Lawang (2013) penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang itu.

  Berdasarkan beberapa pendapat di atas,peneliti mengambil salah satu pendapat yang diungkapkan oleh Zenden dalam Sunarto (2004: 175). Pendapat tersebut adalah bahwa penyimpangan sosialmerupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.Oleh karena itu, bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku penyimpangan dapat dikenakan hukum sosial. Maka disebutkan bahwa dalam penyimpangan sosial terdapat bentuk-bentuk penyimpangan untuk melihat tingkat pelanggaran yang terjadi. Namun semua bentuk- bentuk penyimpangan sosial tersebut tentu berhubungan dengan tindakan yang tidak dapat diberi toleransi. Melalui bentuk-bentuk penyimpangan sosial tersebut, dapat lebih mudah untuk membedakan tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh masing- masing pelakunya. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui batas toleransi yang harus diberikan sehingga tidak menimbulkan perselisihan.

  Schaefer (2012: 194) berpendapat penyimpangan melibatkan pelanggaran norma kelompok yang mungkin atau tidak mungkin diformal menjadi hukum. Ini adalah konsep komprehensif yang tidak hanya mencakup perilaku kriminal, tetapi juga banyak tindakan yang tunduk pada hukuman. Penyimpangan sosial, lebih dipandang memiliki makna negatif pada masyarakat. Pada kasus penyimpangan sosial, mayoritas hal ini memang lebih mengarah pada makna negatif. Ini karena penyimpangan sosial memang melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Norma merupakan aturan dan ekspektasi yang terbentuk dari berbagai anggota masyarakat. Tindakan penyimpangan norma tentu dapat berdampak buruk bagi masyarakat yang meyakini norma tersebut, meski belum tentu berlaku pada masyarakat lainnya.

2. Bentuk-bentuk Penyimpangan Sosial.

  Jumlah dan macam perilaku menyimpang cukup banyak di masyarakat. Dari penyimpangan kecil seperti mengluarkan kata-kata tidak sopan, hingga penyimpangan besar dalam bentuk kejahatan. Menurut Suhardi dan Sri Sunarti (2009: 137) bentuk- bentuk penyimpangan sosial yang melanggar batas toleransi terdapat empat macam yaitu; penyalahgunaan NAZA atau narkoba, perkelahian antar pelajar, penyimpangan perilaku seksual, tindak kriminalitas atau tindak kejahatan. Berikut adalah penjelasan dari empat bentuk penyimpangan sosial.

a. Penyalahgunaan NAZA atau Narkoba

   Narkotika, alkohol, dan zat adiktif (NAZA) narkotika daun obat-obat

  berbahaya (Narkoba). Menurut Suhardi dan Sri Sunarti (2009: 137) Narkotika adalah zat-zat kimia yang digunakan dalam kedokteran untuk membius partsien. Dokter memanfaatkannya untuk menangani operasi. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis atau semisintesis, yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan arasa sakit nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Syahrizal, 2013: 2).

  Penggunaan di luar tujuan itu merupakan bentuk penyimpangan (Suhardi dan Sri Sunarti, 2009: 136). Misalnya, penggunaan ekstasi untuk pelarian diri dari beban hidup atau melupakan masalah yang dihadapi. Namun dari pada kegunaan secara medis yang membutuhkan zat-zat tersebut sebagai bahan untuk penanganan medis pandangan lain dikemukakan melalui norma hukum. Norma hukum telah memberi sanksi tegas kepada para pengedar dan pengguna narkotika (Suhardi dan Sri Sunarti,

  2009: 137). Dengan alasan tersebut maka narkotika atau pun narkoba merupakan salah satu bentuk dari penyimpangan sosial. Karena penggunaan dari batas yang seharusnya menyebabkan seseorang menjadi ketergantungan. Hingga pada akhirnya hal tersebut merusak syaraf otak sehingga tidak jarang terjadi berbagai tindak kejahatan yang dilakukan oleh para pecandu narkotika atau narkoba.

  b. Perkelahian Antar Pelajar

  Perkelahian antar pelajar disebut juga tawuran, yang artinya perkelahian yang melibatkan banyak pelajar. Perkembangan jiwa remaja belum stabil, emosinya lebih menonjol daripada rasio. Perkelahian termasuk jenis kenakalan remajra akibat kompleksnya kehidupan kota yang disebabkan karena masalah sepele misalnya, saling mengejek di antara pelajar. Rasa solidaritas negatif kemudian membawa pelajar- pelajar lain melibatkan diri. Faktor yang menjadi penyebab penyimpangan sosial tersebut yaitufaktor internal dan faktor eksternal (Kartono, 2002: 109)

  c. Penyimpangan Perilaku Seksual

  Menurut Suhardi dan Sri Sunarti (2009: 140) ada dua macam penyimpangan seksual, yaitu perilaku seksual di luar nikah dan homoseksual. Hubungan seksual di luar nikah dapat berupa pelacuran, perkosaan, dan perselingkuhan (kumpul kebo). Kumpul kebo adalah hidup seperti suami istri tanpa ikatan pernikahan yang sah. Semua bentuk perilaku seks menyimpang berakibat buruk. Baik terhadap para pelakunya ataupun lingkungan masyarakat pada umumnya.

  Hubungan seks di luar nikah adalah bentuk dari pelanggaran norma, terutama norma agama. Bagi yang beragama islam, hal itu adalah zina besar yang berat pula hukumannya. Masyarakat pun akan memandang jijik kepada mereka yang melakukannya. Sedangkan dari segi kesehatan, hubungan seks bebas rawan terhadapat penularan penyakit kelamin. Selain itu, hubungan seks bebas juga dapat menyebabkan penyakit HIV AIDS.

  Hubungan seks karena perselingkuhan, dapat mengakibatkan keretakan rumah tangga. Apabila satu pihak tidak bisa menerima perselingkuhan tersebut, maka dapat terjadi perceraian. Menurut Sunarto (2004: 64) terjadimya perceraian maka dengan sendirinya fungsi keluarga mengalami gangguan dan pihak yang bercerai maupun anak-anak harus menyesuaikan diri dengan situasi baru. Setiap perceraian akan membawa dampak negatif kepada anak. Anak yang seharusnya mendapat kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tua kandungnya menjadi terabaikan. Anak- anak korban keretakan rumah tangga (broken home) seperti itu biasanya nakal dan berperilaku menyimpang.

d. Tindak Kriminalitas atau Tindak Kejahatan

  Semua bentuk pelanggaran norma hukum adalah tindakan kriminal (kejahatan). Kejahatan seperti ini merugikan orang lain, baik secara pidana maupun perdata. Ada tindakan kriminal yang bersifat terang-terangan seperti pencopetan, penjambretan, pencurian, penodongan, dan perampokan. Menurut Suhardi dan Sri Sunarti (2009: 141) tindak kriminal adalah tindak kejahatan atau tindakan yang merugikan orang lain dan melanggar norma hukum, norma sosial, dan norma agama.

  Dalam tindakan kriminalitas atau tindak kejahatan terdapat beberapa contoh yaitu; kejahatan tanpa korban, kejahatan terorganisasi, kejahatan kerah putih, kejahatan kerah biru, dan kejahatan korporat. Berikut adalah penjelasan dari beberapa tindak kriminalitas atau tindak kejahatan.

  1) Kejahatan Tanpa Korban ( crime without victim)

  Menurut Muin (2013: 172) kejahatan tanpa korban adalah kejahatan yang tidak mengakibatkan penderitaan pada korban akibat tindak pidana orang lain. Meskipun tidak membawa korban namun perbuatan demikian digolongkan sebagai kejahatan karena dianggap sebagai perbuatan tercela oleh masyarakat ataupun kelompok yang berkuasa (Sunarto, 2004: 182). Dengan segala bentuk persoalandalam kejahatan tersebut maka contohnya adalah berjudi, mabuk-mabukan, penyalahgunaan narkotika, dan sebagainya. Pada kenyataanya kejahatan seperti merugikan diri sendiri pada setiap pelakunya.

  2) Kejahatan Terorganisasi ( organized crime) Menurut Sunarto (2004: 182) kejahatan terorganisasi adalah pelaku kejahatan

  komplotan yang secara berkesinambungan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang atau kekuasaan dengan jalan menghindari hukum. Kejahatan terorganisasi merupakan kejahatan yang melampaui batas negara yang dilakukan oleh organisasi-organisasidengan jaringan global. Contohnya komplotan korupsi, penyediaan jasa pelacur, pengedaran narkotika, dan penyelundupan pekerja asing ke dalam suatu negara.

  3) Kejahatan Kerah Putih ( white collar crime)

  Menurut Sunarto (2004: 183) kejahatan kerah putih adalah kejahatan yang mengacu pada kejahatan orang-orang terpandang atau berstatus tinggi dalam rangka pekerjaannya. Kejahatan tersebut menjerumus pada kecurangan yang dapat merugikan masyarakat. Contoh tindak kejahatan ini misalnya; korupsi,kolusi, dan nepotisme atau yang sering disebut dengan KKN. Kejahatan seperti ini sering kali melibatkan pejabat publik dari tingkat pemerintah daerah hingga pemerintah pusat.

  4) Kejahatan Kerah Biru ( blue collar crime)

  Menurut Hius J, Dkk (2014) kejahatan kerah biru adalah kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang golongan rendah. Tindak kejahatan ini misalnya; perampokan/perampasan,mencuri jemuran, pencurian sandal di masjid dan sebagainya. Meski kejahatan ini dilakukan oleh orang-orang dengan golongan rendah namun yang dilihat bukan dari sisi tersebut melainkan dampak yang ditimbulkan. Oleh karena itu, masyarakat tetap menganggap kejahatan ini sebagai gangguan yang dapat merugikan. Dengan demikian kejahatan kerah biru merupakan salah satu kejahatan yang harus ditindak tegas.

  5) Kejahatan Korporat ( corporate crime)

  Menurut Sunarto (2004: 183) kejahatan korporat adalah jenis kejahatan yang dilakukan atas nama organisasi dengan tujuan menaikkan keuntungan atau menekan kerugian. Salah satu contoh dari tindak kejahatan ini biasanya dilakukan oleh suatu perusahaan membuang limbah beracun ke sungai yang mengakibatkan penduduk sekitar mengalami berbagai jenis penyakit.Kejahatan seperti ini banyak dijumpai oleh perusahaan-perusahan pertambangan minyak, emas, batu bara. Bahkan juga kejahatan seperti itu banyak dilakukan oleh perusahaan tekstil yang menggunakan bahan-bahan kimia.

3. Pencegahan Penyimpangan Sosial.

  Menurut Winles (2013) penyimpangan sosial dapat dicegah melalui tiga faktor yaitu; keluarga, lingkungan tempat tinggal dan teman sepermainan, dan media massa.

  Tiga faktor tersebut memiliki peran masing-masing sesuai dalam melakukan pencegahan terhadap terjadinya penyimpangan sosial. Oleh karena itu, masyarakat sebagai mahkluk sosial perlu mempelajari tiga factor tersebut. Karena masyarakat tidak bisa dilepaskan dari interaksi dengan lingkungan. Berikut adalah penjelasan dari faktor pencegah terjadinya penyimpangan sosial.

  a. Keluarga

  Keluarga merupakan awal proses sosialisasi dan pembentukan kepribadian seorang anak. Kepribadian seorang anak akan terbentuk dengan baik apabila dia lahir dan tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarga yang baik begitu pulasebaliknya. Secara tidak langsung seorang anak selalu melihat dan meniru setiap perilaku dari lingkungannya. Oleh karena itu, dalam sistem keluarga mengenal istilah sosialisasi.

  Sosialisasi merupakan suatu proses yang berlangsung sepanjang hidup manusia. Dalam sosialisasi banyak hal yang dapat dipelajari terutama dalam pergaulan di masyarakat.

  b. Lingkungan Tempat Tinggal dan Teman Sepermainan

  Lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang untuk melakukan penyimpangan sosial. Seseorang yang tinggal dalam lingkungan tempat tinggal yang baik, warganya taat dalam melakukan ibadah agama dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik maka keadaan ini akan mempengaruhi kepribadian seseorang menjadi baik sehingga terhindar dari penyimpangan sosial dan begitu juga sebaliknya.

c. Media Massa

  Media massa baik cetak maupun elektronik merupakan suatu wadah sosialisasi yang dapat mempengaruhi seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pencegahan agar tidak terpengaruh akibat media massa adalah apabila kamu ingin menonton acara di televisi dengan memilih acara yang bernilai positif. Kemudian menghindari tayangan yang dapat membawa pengaruh tidak baik.Terutama pada anak-anak remaja yang begitu rentan terhadap pengaruh-pengaruh negatif. Dengan langkah tersebut maka penyimpangan sosial dalam masyarakat dapat dicegah.

4. Faktor-faktor Penyebab Penyimpangan Sosial

  Menurut Suhardi dan Sri Sunarti (2009: 135) faktor penyebab penyimpangan sosial terdapat empat macam yaitu; ketidaksempurnaan sosialisasi, menganut suatu kebudayaan menyimpang, kesalahan memahami informasi, dan ikatan sosail menyimpang. Berikut adalah penjelasan empat faktor penyebab terjadinya penyimpangan sosial.

a. Ketidaksempurnaan Sosialisasi Nilai-nilai

  Menurut Suhardi dan Sri Sunarti (2009: 135) perilaku manusia dikendalikan oleh nilai dan norma sosial. Nilai dan norma tersebut diterima seorang individu melalui proses sosialisasi. Sosialisasi dialami seorang melalui berbagai media. Apabila antar media itu tidak sejalan dalam menyosialisasikan nilai dan norma, maka terjadilah ketidaksempurnaan sosialisasi. Salah satunya adalah ketidakselarasan antara sosialisasi di rumah, sekolah, dan masyarakat.

  Penyimpangan sosial juga terjadi sebagai akibat tidak berfungsinya media sosialisasi secara baik. Misalnya, keluarga diharapkan berperan sebagai sumber kasih sayang bagi anak. Peran itu dapat saja tidak terpenuhi karena berbagai hal antara lain kehancuran keluarga (broken home) akibat perceraian, perselingkuhan, kematian salah satu atau kedua orang tuanya, sifat otoriter orang tua dalam mendidik, tekanan ekonomi yang menghimpit kehidupan sehari-hari keluarga, ataupun karena kemiskinan. Hal-hal tersebutdi atas, menjadikan keluarga tidak mampu menjadi media sosialisasi yang wajar. Akibatnya anak-anak yang berasal dari keluarga yang demikian banyak yang berperilaku menyimpang. Hingga pada akhirnya mereka terpengaruh untuk melakukan perbuatan yang menjerumus pada penyimpangan sosial.

b. Menganut Nilai-nilai Subkebudayaan Menyimpang.

  Menurut Suhardi dan Sri Sunarti (2009: 135) masyarakat adalah satu kesatuan hidup bersama yang memiliki kebudayaan di dalam suatu masyarakat terdapat bagian- bagian (sub-sub) atau kelompok-kelompok orang. Setiap kelompok memiliki ciri-ciri kebudayaan tersendiri, namun masih merupakan bagian dari keseluruhan dari keseluruhan masyarakat itu. Hal tersebut yang kemudian dinamakan dengan subkebudayaan. Ada kalanya subkebudayaan menganut tata nilai yang menyimpang.

  Misalnya, sekelompok warga masyarakat yang sehari-hari hidup dalam dunia pelacuran, perjudian, dan berbagai kehidupan malam tidak sehat lainnya.

  Penyimpangan sosial bersumber dari pergaulan dengan orang tua atau kelompok yang menerapkan nilai dan norma yang berbeda (differential association). Nilai dan norma yang berbeda dipelajari melalui proses alih budaya (culture

  

transformation ). Melalui proses ini alih budaya seorang meyerap subkebudayaan

  menyimpang dari lingkungan tertentu dalam masyarakat. Pergaulan negatif membuat seseorang berperilaku menyimpang. Seorang anak berasal dari keluarga baik-baik, namun dia tinggal di lingkungan para pemabuk dan penjudi sehingga terpengaruhi.

  c. Kesalahan Memahami Informasi

  Seringkali kita salah dalam memahami suatu kejadian, peristiwa, atau informasi yang disampaikan oleh pihak lain, terutama media elektronik.

  Penggambaran peristiwa, berita, dan tayangan-tayangan yang menampilkan perilaku menyimpang sangat berpetensi untuk ditiru oleh masyarakat. Hal ini, karena mayoritas mesyarakat kita belum terbiasa menyeleksi atau menganalisis secara kritis terhadap berbagai infromasi yang datang. Menurut Suhardi dan Sri Sunarti (2009: 136) masyarakat cenderung menerima mentah-mentah dan menganggapnya sebagai hal yang lumrah. Contoh yang aktual dapat dilihat dari media televisi di masyarakat antara lain informasi-informasi kriminalitas, perselingkuhan artis, sinetron-sinetron yang menceritakan konflik warisan, dan lain-lain. Informasi dan acara-acara tersebut memperoleh apresiasi yang tinggi dari masyarakat, sehingga secara tidak langsung mereka terobsesi untuk mengikuti bahkan meniru apa yang ditayangkan di media televisi.

  d. Ikatan Sosial Menyimpang

  Menurut Suhardi dan Sri Sunarti (2009: 136) di dalam masyarakat terdapat berbagai individu yang berbeda perilaku dan kebiasaannya. Ada yang hidup tertib dan santun karena sudah mapan secara sosial ekonomi, namun ada pula yang kurang beruntung sehingga kekecewaan hidup itu mereka terlampiaskan lewat berbagai perilaku keseharian yang menyimpang dari norma-norma. Di sisi lain, setiap orang cenderung memilih teman bergaul. Apabila yang dipilih baik, maka baiklah Perilakunya. Sebaliknya, apabila teman bergaulnya berperilaku menyimpang, maka dia pun akan ikut berperilaku menyimpang. Seseorang tidak akan mudah menghindar dari ikatan sosialnya. Ikatan sosial dapat berupa teman bergaul, kelompok atau organisasi yang dia ikuti.

C. Sosiologi Sastra

  Menurut Kurniawan (2012: 3-4) sosiologi mempunyai dua akar kata: socius (dari bahasa latin) yang berarti “teman” dan logos (dari bahasa Yunani) yang berarti “ilmu tentang”. Secara harfiah sosiologi berarti “ilmu tentang pertemanan”. Dalam sudut pandang ini, sosiologi bisa didefinisikan sebagai “studi tentang dasar-dasar keanggotaan sosial (masyarakat)”. Secara lebih teknis sosiologi adalah analisis mengenai struktur hubungan sosial yang terbentuk melalui interaksi sosial.

  Menurut Ratna (2013: 61) ilmu pengetahuan lain, seperti sosiologi, sejarah,antropologi, dan ilmu sosial justru menunggu hasil-hasil analisis melaluipendekatan sosiologis yang akan digunakan untuk membantu memahami gender, feminis, status peranan, wacana sosial dan sebagainya. Menurut Endaswara (2013:10) sosiologi adalah ilmu objektif kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini (das sein), bukan apa yang seharusnya terjadi (das sollen).

  Pendekatan sosiologis juga memiliki implikasi metodologi berupa pemahaman mendasar mengenai kehidupan manusia dalam masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan ini disenangi oleh tradisi Marxis, tradisi Lekra di Indonesia (Ratna, 2013:61). Proses sosial adalah pengaruh timbal-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh timbal-balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidupan politik, antara segi kehidupan hukum dan segi kehidupan agama, antara segi kehidupan agama dan segi kehidupan ekonomi.

  Menurut Soekanto (2002: 21) tujuan sosiologi adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang sedalam-dalamnya tentang masyarakat, dan bukan untuk mempergunakan pengetahuan tersebut terhadap masyarakat. Hartono dan Rahmanto dalam Noor (2010: 87) memapaparkan bahwa sosiologi sastra adalah cabang ilmu sastra yang mempelajari sastra dalam hubungannya dengan kenyataan sosial. Kenyataan sosial mencakup pengertian konteks pengarang dan pembaca (produksi dan resepsi) dan sosiologi sastra (aspek-aspek sosial dalam teks sastra).

   Menurut Damono (2002: 8-9) secara singkat dapat dijelaskan bahwa sosiologi

  adalah telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat, telaah tentang lembaga dan proses sosial. Sosiologi mencoba mencaritahu bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung, danbagaimana dia tetap ada. Dengan demikian peran sosial dalam masyarakat dapat dijalankan sesuai fungsinya. Salah satunya dalam menghadapi segala persoalan yang ada ditengah-tengah masyarakat.

  Jack Douglas dalam Sunarto (2004: 16) membedakan sosiologi dalam kehidupan sehari-hari the sociology of everday life situations dan sosiologi struktur sosial the sociology of social structures. Sosiologi kehidupan sehari-hari menggunakan apa yang dinamakannya perspektif sehari-hari, iteraksionis atau mikrososial sedangkan sosiologi struktur sosial menggunakan struktur atau perspektif makrososial. Sosiologi struktur sosial mempelajari masyarakat secara keseluruhan serta hubungan antara bagian masyarakat. Masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang melebihi kumpulan individu yang membentuknya.

  Suatu usaha untuk menjabarkan perbedaan antara makrososiologi dan mikrososiologi kita jumpai, antara lain: dalam pandangan Randall Collins dalam Sunarto (2004:16) Collin mengemukakan mikrososiologi melibatkan analisis terinci mengenai apa yang dilakukan, dikatakan, dan dipikirkan manusia dalam laju pengalaman sesaat. Sedangkan makrososiologi melibatkan analisis proses sosial berskala besar dan berjangka panjang. Menurut Sunarto (2004: 16) mikrososiologi lebih difok``uskan pada seseorang dan kelompok kecil, sedangkan makrososiologi lebih diarakan pada pengelompokan yang lebih besar seperti kerumunan atau organisasi, komunitas, dan masyarakat teritorial. Menurut Inkeles dalam Sunarto (2004: 18 melihat bahwa sosiologi mempunyai tiga pokok bahasan yang khas yaitu: hubungan sosial, institusi, dan masyarakat.

  Menurut Kurniawan (2012:2) kata “sastra” berasal dari bahasa Sansekerta, akar katanya adalah “sas” dalam kata kerja turunan yang berarti “mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, atau instruksi. Pada akhiran

  “tra”, biasanya menunjukkan pada alat atau sarana. Oleh karena itu, sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Namun, untuk keperluan pemahaman yang komprehensif, perlu secara singkat dipaparkan beberapa pengertian sastra yang sudah banyak dikemukakan oleh para ahli (Kurniawan, 2012: 1). Berikut beberapa pendapat dari beberapa ahli.

  1. Sastra merupakan cabang seni, yaitu hasil cipta dan ekspresi manusia yang estetis (indah). Seni sastra sama kedudukannya dengan seni-seni lainnya, seperti seni musik, seni lukis, seni tari, dan seni patung, yang diciptakan untuk menyampaikan keindahan kepada penikmatnya (pembaca).

  2. Di sisi lain, definisi sastra juga banyak yang mengarah pada pengertian sastra ditinjau secara etimologis, asal muasal kata. Menurut Teeuw (1988: 22) dalam bahasa barat kata “sastra” itu sepengertian dengan kata literature (Inggris), literatur (Jerman), litterature (Prancis) yang semuanya berasal dari bahasa latin litteratura.

  Menurut Ratna (2013, 332-333) ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat dan dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai berikut:

  1. Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita,disalin oleh penyalin, sedangkan ketiga subyek tersebut adalah anggota masyarakat.

  2. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga difungsikanoleh masyarakat.

  3. Medium karya sastra, baik lisan maupun tulisan, dipinjam melalui kompetensi masyarakat, yang dengan sendirinya telah mengandung masalah-masalah kemasyarakatan.

  4. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat istiadat, dan tradisiyang lain, dalam karya sastra terkandung estetika, etika, bahkan jugalogika.

  Masyarakat jelas sangat berkepentingan terhadap ketiga aspek tersebut.

  5. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersunjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya. Dengan demikian, maka pengertian sosiologi sastra adalah konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra ditulis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan a salient being, makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam masyarakatnya. Menurut Suwardi (2011:13) secara tradisional sosiologi dan sastra adalah manusia dalam masyarakat, sedangkan objek ilmu-ilmu kealaman adalah gejala-gejala alam.

  Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.

  Dengan demikian, berdasarkan pada pengertian di atas, sosiologi sastra pada hakikatnya adalah interdisiplin antara sosiologi dengan sastra. Menurut Ratna (2009:

  3) keduanya memiliki objek yang sama, yaitu manusia dalam masyarakat. Oleh karena itu, perbedaan sosiologi dan sastra merupakan perbedaan hakikatnya, sebagai ciri-ciri, sebagaimana ditunjukkan melalui perbedaan antara rekaan dan kenyataan atau fiksi dengan fakta. Menurut Kurniawan (2012: 5) sosiologi sastra merepresentasikan hubungan interdisiplin yang masuk dalam ranah sastra, mencakup:

  1. Pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek- aspek kemasyarakatannya.

  2. Pemahaman terhadap totalitas karya sastra yang disertai dengan aspek- aspek kemasyarakatan yang terkandung didalamnya.

  3. Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungan dengan masarakat yang melatarbelakanginya.

  4. Hubungan dialektik antara sastra dengan masyarakat. Dengan demikian, sosiologi sastra di sini objek kajian utamanya adalah sastra yang berupa karya sastra, sedangkan sosiologi berguna sebagai ilmu untuk memahami gejala sosial yang ada dalam sastra, baik penulis, fakta sastra, maupun pembaca dalam relasi dialektiknya dengan kondisi masyarakat yang menghidupi penulis, masyarakat yang digambarkan, dan pembaca sebagai individu kolektif yang menghidupi masyarakat.

Dokumen baru