Pengembangan alat peraga matematika untuk pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori - USD Repository

Gratis

0
6
178
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Mido Rahayu 101134099 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Mido Rahayu 101134099 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada: 1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan berkat dan cinta kasih-Nya yang tiada terbatas kepada saya. 2. Kedua orang tua saya, Hudiyono dan Rusiyah tercinta yang tiada lelah memberikan dukungan, doa, bimbingan, dan kasih sayang. 3. Kedua kakak kandung saya, Titik Lestari dan Beny Wirawan yang telah memberikan dukungan dan doa. 4. Kedua kakak ipar saya, Novian Eka Atmaja dan Deasy Haryani yang telah memberikan dukungan dan doa. 5. Ketiga keponakan saya, Natanael Wisnu Murti, Michael Arya Widjaya, dan Albert Dimas Widjaya yang selalu memberi penghiburan. 6. Semua saudara yang telah memberikan dukungan dan doa kepada saya selama ini. 7. Sahabat dan teman yang telah memberikan dukungan dan doa selama ini 8. Teman-teman seperjuangan PGSD 2010. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTTO Selalu bersyukur dalam setiap apapun “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.” (Roma, 12:12) “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” (Pengkhotbah, 3:11a) “Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh di sini di depan kening kamu, jangan menempel, biarkan dia menggantung, mengambang 5 cm di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi, keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya kamu pasti bisa.” (Novel 5 cm, hal 378) v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 6 Juni 2014 Penulis, Mido Rahayu vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma: Nama : Mido Rahayu Nomor Induk Mahasiswa : 101134099 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul: “PENGEMBANGAN PEMBAGIAN ALAT BILANGAN PERAGA DUA MATEMATIKA ANGKA BERBASIS UNTUK METODE MONTESSORI” beserta perangkat yang diperlukan, (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu permintaan dari izin saya maupun royalti kepada saya, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyatan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 26 Mei 2014 Yang menyatakan, Mido Rahayu vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Rahayu, Mido. (2014). Pengembangan alat peraga matematika untuk pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Kata kunci: Metode penelitian pengembangan, metode Montessori, alat peraga Montessori, pembagian, dan matematika. Metode Motessori adalah salah satu metode yang dapat digunakan dalam mengajar siswa di Sekolah Dasar. Metode ini dapat diterapkan dengan menggunakan alat peraga saat mengajar di kelas. Alat peraga ini dapat membantu siswa untuk mempelajari materi yang sifatnya abstrak menuju konkret. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan alat peraga matematika untuk pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan (R & D). Prosedur penelitian dan pengembangan alat peraga berbasis metode Montessori melalui lima tahap, yaitu (1) kajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, (2) analisis kebutuhan, (3) produksi alat peraga, (4) pembuatan instrumen penelitian, dan (5) validasi alat peraga, sehingga dihasilkan prototipe alat peraga matematika untuk pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori di kelas II Sekolah Dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) alat peraga Montessori yang dikembangkan memiliki lima ciri, yaitu menarik, bergradasi, auto-correction, auto-education, dan kontekstual; (2) alat peraga papan pembagian bilangan dua angka memiliki kualitas “sangat baik” dengan skor rerata validasi produk oleh pakar pembelajaran matematika, pakar pembelajaran Montessori, guru kelas II, dan siswa kelas II sebesar “3,74”; dan (3) alat peraga yang dikembangkan memiliki dampak hasil belajar siswa dengan kenaikan 78.06% dan siswa memiliki minat belajar menggunakan alat peraga. Selain itu, alat peraga yang dikembangkan dapat digunakan ntuk kelasa II Sekolah Dasar dan dapat diproduksi secara massal. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Rahayu, Mido. (2014). Developing a set of Mathematics teaching aids for division two rates number based on Montessori method. A thesis. Yogyakarta: Elementary Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University. Keywords: research and development method, Montessori method, Montessori aids, division. and mathematics. Montessari Method is one of methods that could be used to teach Elementary School. The method could be applicated using materials when teaching in the class. This teaching aids could also help the students in learning the abstract subjects into the concrete ones. This study was conducted to developing a set of Mathematics teaching aids for division two rates number based on Montessori method. This research used the research and development method (R & D). The procedure of research and development of materials based on Montessori method was performed in five stages: (1) review of standard of competencies and basic competencies; (2) analysis of needs; (3) materials production; (4) how to make research instruments; and (5) validation of demonstrating devices in order to generate the prototypes of mathematics teaching aids at Primary School to division two rates number based on Montessori method used for of grade II at Primary School. Resulth of research showed that: (1) Montessori’s teaching aids had five characteristics: interesting, gradations, auto-correction, auto-education, and contextual; (2) teaching aids for division two rates had “good quality” with average score of validating product by the professionals of learning mathematics, learning of Montessori, teachers of grade II, and students of grade II of “3,74”; (3) the developped demonstrating devices had the study results of the students that raised to 78.06% and the students had learning intention. Therefore, the developing a set of Mathematics teaching aids for division two rates number based on Montessori to were already proper to be used in learning mathematics in grade and ready to be producted in bulk. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan karunia yang telah diberikan. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengembangan Alat Peraga Matematika untuk Pembagian Bilangan Dua Angka Berbasis Metode Montessori Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak maka skripsi ini tidak akan terwujud seperti adanya sekarang ini. Karena itu, dengan hati yang tulus perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan, bantuan, dan dukungan secara baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih ini penulis sampaikan kepada: 1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Kaprodi PGSD sekaligus pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan bijaksana. 3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D selaku Wakaprodi PGSD. 4. Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd. selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan bijaksana. 5. Theresia Mardinah, S.Si. selaku Kepala Sekolah SDK Pugeran Yogyakarta yang telah memberikan ijin peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah. 6. Fransisca Defeb Akadiana selaku guru kelas II SDK Pugeran Yogyakarta yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian di sekolah. 7. Seluruh guru SDK Pugeran Yogyakarta yang telah memberikan dukungan selama ini. 8. Seluruh siswa kelas II SDK Pugeran Yogyakarta yang telah memberikan waktu kepada peneliti untuk bekerjasama selama penelitian berlangsung. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9. Kedua orang tua saya, Hudiyono dan Rusiyah tercinta yang tiada lelah memberikan dukungan, doa, bimbingan, dan kasih sayang. 10. Kedua kakak kandung saya, Titik Lestari dan Beny Wirawan yang telah memberikan dukungan dan doa selama ini. 11. Kedua kakak ipar saya, Novian Eka Atmaja dan Deasy Haryani yang telah memberikan dukungan dan doa selama ini. 12. Ketiga keponakan saya, Natanael Wisnu Murti, Michael Arya Widjaya, dan Albert Dimas Widjaya yang selalu memberi penghiburan. 13. Semua saudara dari kedua orang tua saya yang telah memberikan dukungan dan doa kepada saya selama ini. 14. Teman-teman saya satu perjuangan skripsi payung Yovita Tira Vianita, Marlisa Dwi Kritianingsih, Danik Puspita Sari, Andreas Erwin Prasetya, Febri Wulandari, Patricia Risma Ananti, dan Agatha Rizki Ratri. Sebuah kebanggan bisa berjuang bersama kalian. 15. Sahabat-sahabat saya Yovita Tira Vianita, Elyta Wahyu Padmasari, Rischa Kristiana, Nindy Ayu, Septiana Anggraeni, Endika Elshanta, Kurnia Sera dan Melati Ayu Kusumaningdyah. Sebuah berkat yang indah memiliki teman seperti kalian. 16. Teman-teman PGSD angkatan 2010 kelas C, Ika Lusiana Ratnasari, Dwi Wulandari, Lia Anesti Oktavia, Luciana Renny Febrianti, Priyanti, Felicia Sinta, Bernadus Rangga Widyama, Ignatius Tri Prasetyo, Maria Prasetyaningrum, Mita Heny Oktavia dan semuanya yang selalu memberikan motivasi untuk selalu berjuang dan berkembang. 17. Teman-teman PPL SDK Pugeran Yogyakarta Marlisa Dwi Kristianingsih, Yustina Deny , Ignatius Tri Prasetyo, Bernadus Rangga Widyama, dan Euphemia Tya Cristy. 18. Teman-teman PGSD Montessori Club, Fetra, Noi, Bowo, Charla, Dina, Rindi, Stefi, Sinta, Bayu, Tasia, Susan, Tri, Andre, Tira, Kristi, Danik, dan Ima 19. Keluarga kecil kos Azizah I, Elyta Wahyu Padmasari, Yovita Tira Vianita, Agatha Fetri, Floryberta Kusuma Putri, Mb Eny, Yuli, Jatrina, Ria, Mb Putri, Rindang, Mb Indah, Mb Dena, Mb Elisa, Tya, Mb Desi. xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20. Teman-teman Komisi Remaja Pemuda GKJ Kebonarum. 21. Teman-teman Sub Komisi Remaja Blok III GKJ Kebonarum. 22. Paduan Suara Eklesia GKJ Kebonarum. 23. Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih utuk bantuan, dukungan, dan doanya selam ini. Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak untuk perbaikan menuju lebih kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya semoga skripsi ini bermanfaat untuk dunia pendidikan. Penulis, Mido Rahayu xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... iv HALAMAN MOTTO ............................................................................................v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ........................... vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ............................................................................................x DAFTAR ISI ....................................................................................................... xiii DAFTAR BAGAN.............................................................................................. xvi DAFTAR TABEL ............................................................................................. xvii DAFTAR RUMUS ........................................................................................... xviii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xix DAFTAR DIAGRAM ..........................................................................................xx DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xxi BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1 1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................4 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................4 1.4 Manfaat Penelitian ..........................................................................................4 1.4.1 Bagi Siswa ....................................................................................................4 1.4.2 Bagi Guru .....................................................................................................4 1.4.3 Bagi Peneliti .................................................................................................5 1.4.4 Bagi Sekolah ................................................................................................5 1.5 Spesifikasi Produk yang Dikembangkan ........................................................5 1.6 Definisi Operasional .......................................................................................6 BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................8 2.1 Kajian Pustaka ................................................................................................8 2.1.1 Hakikat Belajar .............................................................................................8 2.1.2 Metode Pembelajaran Montessori ................................................................9 2.1.2.1 Sejarah Metode Montessori .......................................................................9 2.1.2.2 Metode Montessori ..................................................................................10 2.1.2.3 Prinsip Pembelajaran Metode Montessori ...............................................11 2.1.3 Teori Perkembangan Anak .........................................................................12 2.1.3.1 Teori Perkembangan Anak menurut Piaget .............................................12 2.1.3.2 Teori Perkembangan Anak menurut Montessori .....................................13 2.1.4 Alat Peraga Matematika Berbasis Montessori ...........................................14 2.1.4.1 Pengertian Alat Peraga.............................................................................14 2.1.4.2 Manfaat alat peraga ..................................................................................15 2.1.4.3 Pengertian Alat Peraga Montessori..........................................................16 2.1.4.4 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori ..............................................................16 2.1.5 Alat Peraga Pembagian berbasis Montessori .............................................19 2.1.6 Pembelajaran Matematika ..........................................................................19 2.1.6.1 Hakikat Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar..............................19 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.6.1.2 Materi Pembagian Bilangan dalam Matematika ........................................20 2.2. Penelitian yang Relevan ..................................................................................21 2.2.1 Alat Peraga Matematika ................................................................................21 2.2.2 Metode Montessori .......................................................................................23 2.3 Kerangka Berpikir ............................................................................................24 2.4 Pertanyaan-pertanyaan Penelitiaan ..................................................................26 BAB III METODE PENELITIAN ....................................................................27 3.1 Jenis Penelitian .............................................................................................27 3.2 Setting Penelitian ..........................................................................................29 3.2.1 Waktu Penelitian ........................................................................................29 3.2.2 Objek Penelitian .........................................................................................29 3.2.3 Lokasi Penelitian ........................................................................................29 3.2.4 Subjek Penelitian ........................................................................................30 3.3 Prosedur Pengembangan...............................................................................30 3.4 Teknik Pengujian Instrumen .........................................................................33 3.4.1 Uji Keterbacaan terhadap Instrumen Analisis Kebutuhan .........................34 3.4.2 Validasi Instrumen Tes oleh Pakar............................................................34 3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes secara Empirik ....................34 3.4.4 Uji Keterbacaan terhadap Instrumen Validitas Produk oleh Ahli ..............35 3.4.5 Uji Validitas terhadap Produk Oleh Ahli ...................................................35 3.4.6 Uji Validitas Produk dengan Uji Coba Lapangan Terbatas .......................35 3.5 Instrumen Penelitian .....................................................................................35 3.5.1 Jenis Data ...................................................................................................35 3.5.1.1 Kuantitatif ................................................................................................35 3.5.1.2 Kualitatif ..................................................................................................36 3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data ....................................................................36 3.5.2.1 Tes ............................................................................................................36 3.5.2.2 Non tes .....................................................................................................36 3.6 Teknik Pengumpulan Data ...........................................................................37 3.6.1 Observasi ....................................................................................................37 3.6.2 Wawancara .................................................................................................38 3.6.3 Kuesioner ...................................................................................................39 3.6.4 Tes ..............................................................................................................39 3.7 Teknik Analisis Data ....................................................................................40 3.7.1 Tes ..............................................................................................................40 3.7.2 Observasi ....................................................................................................41 3.7.3 Wawancara .................................................................................................41 3.7.4 Kuesioner ...................................................................................................42 3.7.5 Triangulasi Data .........................................................................................43 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN....................................45 4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Materi Pembelajaran .................................45 4.2 Analisis Kebutuhan.......................................................................................45 4.2.1 Analisis Karakteristik Alat Peraga Montessori ..........................................45 4.2.2 Analisis Karakteristik Siswa ......................................................................47 4.2.3 Pembuatan Kuesioner Analisis Kebutuhan..............................................47 4.2.4 Data Analisis Kebutuhan ............................................................................51 4.3 Pembuatan Alat Peraga .................................................................................54 4.3.1 Desain Alat Peraga .....................................................................................54 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.3.2 Album Alat Peraga .....................................................................................58 4.3.3 Pengumpulan Bahan ...................................................................................59 4.3.4 Pembuatan Alat Peraga ..............................................................................59 4.4 Instrumen Penelitian .....................................................................................61 4.4.1 Instrumen Tes .............................................................................................61 4.4.2 Hasil Uji Keterbacaan Intrumen Tes ..........................................................62 4.4.3 Validitas dan Reliabiltas Instrumen secara Empirik ..................................63 4.4.4 Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk .............................................64 4.5 Validasi Alat Peraga .....................................................................................66 4.5.1 Hasil Validasi Alat Peraga oleh Pakar .......................................................66 4.5.1.1 Pakar Pembelajaran Matematika .............................................................67 4.5.1.2 Pakar Pembelajaran Montessori...............................................................67 4.5.1.3 Guru .........................................................................................................67 4.5.2 Analisis I .......................................................................................................68 4.5.3 Revisi Produk .............................................................................................69 4.5.4 Ujicoba Lapangan Terbatas ..........................................................................69 4.5.5 Analisis Proses dan Dampaknya ................................................................70 4.5.5.1 Analisis Hasil Tes.......................................................................................73 4.5.5.2 Analisis Kuesioner Validasi Produk oleh Siswa ........................................75 4.6 Kajian Produk Akhir .....................................................................................76 4.7 Konsekuensi Lebih Lanjut ............................................................................77 BAB V PENUTUP ................................................................................................79 5.1 Kesimpulan ...................................................................................................79 5.2 Katerbatasan Penelitian ................................................................................80 5.3 Saran .............................................................................................................80 DAFTAR REFERENSI .......................................................................................82 LAMPIRAN ..........................................................................................................86 CURRICULUM VITAE ....................................................................................156 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR BAGAN Bagan 2.1 Literature Map dan penelitian sebelumnya .........................................24 Bagan 3.1 Tahap-tahap penelitian R & D dari Sugiyono .....................................27 Bagan 3.2 Tahap-tahap R & D menurut Borg & Gall yang diadaptasi Dari Dick, W., Carey, L., & Carey, J.O. (2007) .................................28 Bagan 3.3 Prosedur penelitian pengembangan mengadopsi model Sugiyono (2012) Dan Borg & Gall (2007)..........................................31 Bagan 3.4 Komponen dalam analisis data ............................................................43 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Tabel 4.7 Tabel 4.8 Tabel 4.9 Tabel 4.10 Tabel 4.11 Tabel 4.12 Tabel 4.13 Tabel 4.14 Tabel 4.14 Kisi-kisi pedoman observasi karakteristik siswa ................................38 Kisi-kisi pedoman wawancara terhadap kepala sekolah .....................39 Kisi-kisi pedoman wawancara terhadap guru .....................................39 Kisi-kisi dan indikator operasi pembagian bilangan dua angka ..........40 Konversi data kuantitatif ke data kualitatif skala lima menurut Widoyoko ..............................................................................42 Konversi data kuantitatif menjadi data kualitatif ................................48 Hasil pengkonversian data skala 1-4 ...................................................49 Hasil tabulasi uji keterbacaan kuesioner .............................................50 Hasil kuesioner analisis kebutuhan siswa ...........................................51 Hasil analisis kebutuhan guru .............................................................53 Hasil tabulasi penilaian instrumen tes .................................................62 Hasil perhitungan validitas soal ..........................................................63 Hasil reliabilitas soal tes ......................................................................64 Hasil reliabilitas soal tes yang digunakan ...........................................64 Hasil penilaian uji keterbacaan kuesioner validitas produk ................65 Hasil validasi produk oleh ahli ............................................................66 Komentar ahli terhadap validasi produk .............................................68 Perbandingan hasil pretest dan posttest ..............................................73 Rekapitulasi kuesioner validasi produk oleh siswa .............................75 Rekapitulasi skor validasi produk .......................................................76 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR RUMUS Rumus 3.1 Rumus perhitungan pretest dan posttest ..............................................41 Rumus 3.2 Rumus perhitungan nilai rerata ............................................................41 Rumus 3.3 Rumus perhitungan peningkatan nilai .................................................41 Rumus 3.4 Perhitungan persentase item kuesioner ................................................42 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.3 Gambar 4.4 Gambar 4.5 Gambar 4.6 Gambar 4.7 Stamp games .....................................................................................54 Gambar desain kotak balok...............................................................55 Gambar tutup balok ..........................................................................56 Desain papan pembagian ..................................................................56 Desain kartu soal ...............................................................................57 Desain balok angka ...........................................................................57 Desain pion .......................................................................................58 xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR DIAGRAM Diagram 4.1 Hasil Pretest dan Posttest Siswa .......................................................74 Diagram 4.2 Perbandingan Skor Rerata Pretest dan Posttest ................................75 xx

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Instrumen Analisis Kebutuhan ....................................................87 Lampiran 1.1 Kisi-kisi Observasi ..........................................................................87 Lampiran 1.2 Kisi-kisi Wawancara........................................................................87 Lampiran 1.3 Kisi-kisi Kuesioner Analisis Kebutuhan .........................................87 Lampiran 2 Analisis Kebutuhan ........................................................................88 Lampiran 2.1 Rekapitulasi Uji Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan Siswa ...............................................................................................88 Lampiran 2.2 Hasil Perbaikan Item Pertanyaan Kuesioner Analisis Kebutuhan...91 Lampiran 2.3 Rekapitulasi Analisis Kebutuhan Siswa ..........................................92 Lampiran 2.4 Rekapitulasi Analisis Kebutuhan Guru ...........................................94 Lampiran 3 Insrumen Penelitian ........................................................................96 Lampiran 3.1 Validasi Instrumen Tes ....................................................................96 Lampiran 3.1.1 Kisi-Kisi Instrumen Tes................................................................96 Lampiran 3.1.2 Rekapitulasi Penilaian Instrumen Tes ..........................................97 Lampiran 3.1.3 Soal Ujicoba Empirik ...................................................................98 Lampiran 3.1.4 Kunci Jawaban Soal Ujicoba Emprik .........................................104 Lampiran 3.1.5 Rekapitulasi Validitas Tes ..........................................................109 Lampiran 3.2 Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk .................................111 Lampiran 4.3 Validasi Alat Peraga ......................................................................112 Lampiran 4 Uji Coba Lapangan Terbatasq ....................................................113 Lampiran 4.1 Soal Tes Ujicoba Lapangan Terbatas ............................................113 Lampiran 4.2 Kunci Jawaban ...............................................................................117 Lampiran 4.3 Rekaptulasi Hasil Pretest...............................................................120 Lampiran 4.4 Rekapitulasi Hasil Posttest ............................................................120 Lampiran 4.5 Rekapitulasi Kuesioner Siswa .......................................................120 Lampiran 4.6 Foto Penelitian ...............................................................................121 Lampiran 5 Surat Ijin Penelitian .....................................................................122 Lampiran 6 Surat Keterangan Penelitian........................................................123 Lampiran 7 Desain Alat Peraga........................................................................124 Lampiran 7.1 Desain Kotak Balok .......................................................................124 Lampiran 7.2 Tutup kotak ....................................................................................125 Lampiran 7.3 Desain Papan Pembagian...............................................................126 Lampiran 7.4 Desain Kartu Soal ..........................................................................127 Lampiran 7.5 Desain Balok Angka ......................................................................127 Lampiran 7.6 Desain Pion ....................................................................................128 Lampiran 7.7 Alat Peraga Papan Pembagian .......................................................129 Lampiran 8 Album Alat Peraga ...........................................................................131 xxi

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) spesifik produk yang dikembangkan, dan (6) definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha yang ditempuh sebagai upaya mengembangkan kemampuan dan kepribadian yang dimiliki oleh seseorang melalui pengajaran ataupun bimbingan belajar serta dengan menjalin hubungan dengan lingkungan sekitarnya (Arifin, 2009: 39). Pengajaran atau bimbingan belajar dilakukan untuk memperoleh sesuatu yaitu pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan seseorang tersebut dapat berkembang dengan baik jika diasah sejak dini. Lembaga pendidikan yang mengajarkan mengenai pengetahuan dan pengalaman adalah Sekolah Dasar (SD). Menurut Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas, 2012) Sekolah Dasar merupakan jenjang pendidikan di Indonesia yang paling mendasar. Proses pembelajaran di SD hendaknya dilaksanakan secara efektif oleh pengajar menggunakan berbagai metode pembelajaran. Guru atau pengajar merupakan sentral penting dalam pendidikan di Indonesia (World Bank, 2011: 1). Saat mengajar guru perlu memberikan suatu pembelajaran yang inovatif. Terlebih lagi sistem pendidikan dan kurikulum yang berganti membuat pemerintah melakukan reformasi terhadap manajemen tenaga pengajar. Pelaksanaan dilakukan untuk meningkatkan keefisienan, keefektifan, dan pengajaran yang berkualitas tinggi bagi para tenaga kerja (World Bank, 2011: 1). Meskipun sistem reformasi sudah dijalankan, namun hasil belajar siswa Indonesia dalam Ujian Standar Nasional Internasional lebih rendah dibandingkan dengan negara berkembang lainnya di dunia (World Bank, 2011: 2). Berdasarkan permasalahan tersebut, kualitas pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran yang aktif dan konstruktivis. Penerapan model pembelajaran aktif dan konstuktivis dapat 1

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI didukung dengannya alat bantu pendidikan (Suparno, 2002: 51) Alat bantu pendidikan adalah alat yang digunakan oleh pendidik untuk menyajikan materi ajarnya (Halim, Suhartini, Arif, dan Sunarto, 2005: 20). Alat bantu yang digunakan guru ini sering disebut dengan alat peraga, karena fungsinya adalah membantu dan memperagakan suatu benda dalam proses belajar mengajar (Halim. dkk, 2005: 20). Melalui belajar konstruktivis, siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman yang ditemukan. Salah satu tokoh pendidikan dunia yang mengajar melalui belajar konstruktivis adalah Maria Montessori. Montessori adalah seorang dokter di Italia, namun seorang Montessori pendidik yang terkenal akan pemikiranpemikirannya yang luar biasa (Magini, 2013: 43). Montessori bersama Talamo membuka sekolah yang diberi nama “Casa dei Bambini”. Sekolah ini dirikan untuk menampung anak-anak di lingkungan kumuh di Roma. Anak-anak yang bersekolah di sana adalah anak-anak yang kurang teratur dan senang melawan. Setiap berkunjung di sekolahan tersebut, Montessori selalu membawa alat peraga yang bersifat didaktis yang dirancang oleh Itard dan Seguin (Magini, 2013: 48). Ketika anak-anak yang bersekolah di Casa dei Bambini melihat alat paraga yang dibawa oleh Montessori, mereka sangat tertarik dan berkonsentrasi menggunakan alat peraga tersebut (Magini, 2013:48-49). Seseorang akan memperoleh pengalaman atau pengetahuan melalui alat bantu pendidikan (Halim. dkk, 2005: 21). Hal ini sesuai dengan tahap perkembangan anak SD yaitu 7-11 tahun. Menurut Piaget tahap perkembangan anak yang masuk pada usia ini tergolong pada tahap operasional konkret (concrete operation) (Suparno, 2001: 69). Pada tahap ini anak mampu menyelesaikan masalah menggunakan benda yang bersifat nyata Meskipun anak sudah mampu berpikir secara logis, akan tetapi anak mempunyai keterbatasan pada hal yang bersifat konkret dan belum mampu berpikir secara abstrak. Salah satu mata pelajaran yang tidak bisa diajarkan secara abstrak adalah Matematika (Shamsudin, 2012: xi). Mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa di SD. Melalui belajar matematika, para siswa diharapkan dapat mengetahui operasi hitung matematika seperti operasi hitung penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. 2

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mempelajari matematika membuat para siswa untuk bisa berpikir secara logis, matematis dan kreatif seperti pada tujuan pembelajaran matematika dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku di Indonesia. Menurut Programme for International Study Asessment (PISA) 2012 pencapaian mutu pendidikan Indonesia berada di peringkat terendah. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Education for All Global Monitoring Report oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menyatakan bahwa Indonesia berada diperingkat 64 dari 120 negara di dunia. Selain itu, peneliti pernah melakukan pengamatan melalui kegiatan bimbingan belajar, Program Pengakraban Lingkungan (Probaling), dan Program Pengalaman Lingkungan (PPL) dibeberapa SD di Yogyakarta di mana guru mengajar siswa menggunakan metode ceramah. Selain itu, gru terkadang menggunakan alat peraga yang terbatas pada alat peraga untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang belum diketahui apakah sudah mengalami proses pengujian atau belum Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti berinisiatif untuk melalukan inovasi pembelajaran melalui pengembangan alat peraga. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan ilmu terhadap pendidikan di Indonesia, khususnya pengembangan alat peraga yang sudah diuji secara ilmiah. Alat peraga yang dikembangkan adalah alat peraga berbasis metode Montessori. Alat peraga ini dirancang dan disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku di Indonesia. Alat peraga dirancang sesuai dengan keempat ciri alat peraga Montessori, yaitu menarik, bergradasi, auto-correction, dan auto-education (Montessori, 2002: 170176). Bahan yang digunakan untuk pembuatan alat peraga ini adalah kayu. Kayu adalah salah satu bahan baku pembuatan alat yang tersedia di lingkungan sekitar. Awalnya Montessori ingin menggunakan kayu sebagai bahan baku pembuatan huruf tegak bersambung, karena tidak tersedinya tukang kayu, akhirnya Montessori menggunakan ketas karton dan kertas amplas untuk membuat huruf tegak bersambung (Magini, 2013: 58). Oleh sebab itu peneliti ingin mengembangkan prototipe alat peraga berbasis Montessori memanfaatkan kayu bahan baku pembuatan alat peraga. Dipilihnya kayu sebagai bahan baku karena bahan ini mudah ditemukan di lingkungan sekitar. 3

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penelitian ini dibatasi pada materi pembagian bilangan dua angka dengan Standar Kompetensi “Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai bilangan dua angka” dengan Kompetensi Dasar “Melakukan pembagian bilangan dua angka” pada siswa kelas II Sekolah Dasar. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana ciri-ciri alat peraga berbasis Montessori yang dikembangkan untuk melatih siswa pembagian bilangan dua angka di kelas II Sekolah Dasar? 1.2.2 Bagaimana kualitas alat peraga berbasis Montessori yang dikembangkan untuk melatih konsep pembagian bilangan dua angka di kelas II di Sekolah Dasar? 1.2.3 Bagaimana dampak penggunaan alat peraga berbasis Montessori untuk melatih konsep pembagian bilangan dua angka di kelas II Sekolah Dasar? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengembangkan alat peraga sesuai dengan ciri-ciri alat peraga berbasis Montessori untuk melatih anak pembagian bilangan dua angka di kelas II Sekolah Dasar. 1.3.2 Mengetahui kualitas pengembangan alat peraga Montessori untuk konsep pembagian bilangan dua angka di kelas II Sekolah Dasar. 1.3.3 Mengetahui dampak penggunaan alat peraga berbasis Montessori untuk melatih konsep pembagian bilangan dua angka di kelas II Sekolah Dasar. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Siswa Penelitian ini dapat membantu siswa-siswa kelas II SD untuk berlatih mengenai bilangan dua angka dengan baik menggunakan alat peraga yang dikembangkan dan sudah diujicoba secara ilmiah. 1.4.2 Bagi Guru Penelitian ini dapat membantu guru untuk memperoleh pengalaman dalam pengembangan alat peraga yang berkualitas dengan memanfaatkan potensi lokal di sekitar lokasi sekolah. 4

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.4.3 Bagi Peneliti Penelitian ini dapat mengembangkan alat membantu peraga peneliti berbasis untuk metode membuat Montessori dan yang berkualiatas dengan memanfatkan potensi lokal di lingkungan sekitar sekolah 1.4.4 Bagi Sekolah Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi sekolah dalam mengembangkan alat peraga di materi pelajaran matematika yang lain dan mata pelajaran lain. selain itu sekolah dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. 1.5 Spesifikasi Produk yang Dikembangkan Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah alat peraga matematika yang berlandaskan pada metode Montessori. Alat peraga ini dikembangkan sesuai dengan prosedur pengembangan suatu produk. Alat peraga ini dikembangkan dengan mengadopsi ciri-ciri alat peraga berbasis metode Montessori dengan memanfaakan potensi lokal di lingkungan sekolah. Dalam penelitian ini, peneliti memilih kayu mindi sebagai bahan baku dalam pembuatan alat peraga. Alat peraga yang dikembangkan berupa papan pembagian bilangan dua angka. Dalam penelitian ini, peneliti membatasi masalah yaitu pembagian bilangan dua angka yang diadopsi dari permainan stamp games. Pengembangan alat peraga ini disesuaikan kebutuhan anak, Standar Kompetensi, dan Kompetensi Dasar di kelas II. Alat peraga yang dikembangkan kemudian diuji cobakan di kelas II SDK Pugeran Yogyakarta. Standar Kompetensi “Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka” dengan Kompetensi Dasar “Melakukan pembagian bilangan dua angka” Papan pembagian bilangan dua angka ini terdiri atas papan pembagian, album penggunaan alat peraga dan balok kotak yang terdiri atas pion, balok angka, kartu soal, dan kunci jawaban di sebalik kartu soal. Papan pembagian yang dikembangkan berukuran 27 x 47 cm. Papan pembagian terdiri atas 18 lubang lingkaran dan 162 buah lubang berbentuk persegi. Album penggunaan alat peraga bertujuan untuk mengenalkan pada siswa bagaimana cara menggunakan alat 5

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI peraga tersebut saat berlatih. Balok kotak yang berisi pion, balok angka, kartu soal dan kunci jawaban memiliki ukuran lebar 19, 5 cm, panjang 26,5 cm, dan tinggi 5 cm. Pion yang terdapat di balok kotak berjumlah 18 buah. Balok angka terdiri atas 81 balok satuan, 30 puluhan, 20 ratusan, dan 20 ribuan. Kartu soal terdiri atas 40 soal beserta kunci jawaban di sebalik kartu soal pembagian. Pemilihan warna pada alat peraga pembagian bilangan disesuikan dengan analisis kebutuhan siswa. Pion pada alat peraga ini berwarna merah. Pion ini berukuran dengan diameter 1,5 cm dan tinggi 4 cm. Pion ini digunakan sebagai pembagi. Alat peraga dibuat layaknya pion dalam permainan catur (skittle) seperti pada alat peraga Montessori. Balok angka pada alat peraga ini berukuran lebar 1,7 cm, panjang 1,7 cm, dan tinggi 1 cm. Balok angka terdiri atas empat warna, yaitu biru muda untuk balok angka satuan, ungu untuk balok angka puluhan, orange untuk balok angka ratusan, dan biru tua untuk balok ribuan. Kartu soal beserta kunci jawaban dibuat dengan ukuran 9 x 4 cm. Kartu soal ini dibuat menggunakan kertas yang cukup tebal dan memiliki kualitas yang baik. 1.6 Definisi Operasional 1.6.1 Metode Montessori adalah metode yang dikembangkan oleh Montessori yang diajarkan yang ditekankan pada langkah-langkah pembelajaran sesuai filosofinya 1.6.2 Alat peraga adalah suatu benda bantu yang digunakan dan diperagakan guru dalam mengajar. 1.6.3 Alat peraga berbasis Montessori adalah material yang menerapkan prinsip pembelajaran Montessori yaitu dengan lima karakter menarik, bergradasi, auto-correction, auto-education, dan kontekstual. 1.6.4 Pembagian adalah materi pelajaran matematika mengenai pengurangan berulang. 1.6.5 Alat peraga papan pembagian bilangan kontekstual adalah seperangkat alat peraga yang komponen utamanya balok angka yang bisa digunakan untuk materi pembagian bilangan dalam matematika yang memanfaatkan potensi lokal di lingkungan sekitar SDK Pugeran Yogyakarta. 6

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.6.6 Matematika adalah mata pelajaran yang mempelajari hitung-menghitung suatu bilangan. 1.6.7 Album alat peraga adalah kumpulan petunjuk penggunaan benda dalam pembelajaran. 1.6.8 Siswa kelas II adalah subjek yang menjadi sasaran penelitian di SDK Pugeran Yogyakarta. 7

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab ini akan menjelaskan mengenai, (1) kajian pustaka, (2) penelitian yang relevan, dan (3) kerangka berpikir. 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Hakikat Belajar Belajar menurut pandangan konstruktivis merupakan hasil dari konstruksi kognitif berdasarkan kegiatan yang dilakukan oleh seseseorang (Suparno dalam Trianto, 2010: 75). Konstruksi kognitif yang dimaksud dalam hal ini adalah pengetahuan yang merupakan hasil bentukan dari pemikiran seseorang. Pengetahuan ini dapat ditemukan seseorang melalui pengalaman di lingkungan sekitarnya. Pemeroleh pengetahuan di lingkungan sekitar sesuai dengan teori belajar Vygotskty, dimana anak belajar melalui interaksi sosial di lingkungan sekitarnya. Interaksi sosial inilah yang mendorong seseorang untuk mengubah atau mentransformasi pengalaman-pengalaman belajar (Schuck, 2012: 339). Salah satu ilmuwan yang terkenal juga dengan teori konstruktivisme (constructivism) adalah Jean Piaget. Belajar menurut Piaget merupakan adaptasi yang bersifat holistik dan bermakna, yang berasal dari dalam diri seseorang terhadap kondisi baru yang ditemui serta dapat membuat seseorang tersebut mengalami perubahan yang tetap (Semiawan, 2008: 11). Mengalami perubahan yang bersifat tetap di sini berkaitan dengan membangun hubungan konsepsi yang dimengerti sebelumnya dengan kenyataan yang baru dipelajari. (Suyono & Haryanto, 2011: 13). Anak tidak hanya sekedar mengumpulkan hal-hal yang telah dipelajari, akan tetapi mereka dapat menggabungkan antara apa yang diperoleh dengan pengalaman-pengalaman yang dialami (Ormrod, 2008: 40). Belajar melalui pengalaman juga merupakan salah satu teori belajar Bruner. Teori Bruner didasarkan pada teori Piaget, dimana siswa secara aktif belajar menemukan sesuatu dan menyusun pengetahuan yang diperolehnya tersebut menjadi sebuah konsep pengetahuan. Tujuan dari pendidikan menurut Bruner adalah membantu siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri serta 8

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mampu membangun makna belajar yang dihasilkan oleh pengetahuan baru dengan pengetahuan terdahulu (Clabaugh dalam Suyono & Haryanto, 2011: 89-90). 2.1.2 Metode Pembelajaran Montessori 2.1.2.1 Sejarah Metode Montessori Maria Montessori adalah seorang dokter wanita yang berasal dari negara Italia. Montessori lahir di kota Chiaravalle, Ancona, Italia Utara pada tanggal 31 Agustus 1870. Semasa hidupnya, Montessori pernah mendapatkan beasiswa dari Rolli Foundation. Melalui keberhasilannya tersebut, Montessori diberi kesempatan menjadi asisten di rumah sakit (Magini, 2013: 20). Pada tanggal 10 Juli 1896, Montessori berhasil lulus dari Fakultas Kedokteran dengan nilai yang sangat luar biasa. Sekitar tahun 1897 Montessori bergabung menjadi seorang asisten di rumah sakit Santo Spirito di klinik psikiatri. Di klinik inilah Montessori bertugas memberikan layanan kesehatan dan terapi bagi pasien yang memiliki gangguan saraf dan cacat mental. Ketika mengunjungi rumah sakit jiwa, Montessori melihat perlakuan yang tidak adil terhadap anak-anak tunagrahita yang dikurung dalam suatu ruangan tanpa aktivitas maupun sarana untuk berkegiatan. Melihat peristiwa itu, Montessori tergugah hatinya untuk mempelajari ilmu mengenai anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental dan membawanya untuk mempelajari tulisan-tulisan dan penelitian terdahulunya, yaitu Jean Marc, Gaspard Itard, dan Edouard Seguin. Menurut Seguin, pendidikan haruslah mencakup aspek di antaranya pelatihan otot-otot tubuh dan saraf sensorial, pendidikan intelektual, dan pendidikan mental yang di dalamnya terdapat kemauan anak (Montessori, 2002: 30). Montessori mulai masuk dalam pendidikan anak dengan mendirikan Casa dei Bambini atau Children’s House pada tanggal 6 Januari 1907 atas usulan Edoardo Talamo seorang Direktur Jenderal Asosiasi Roma. Casa dei Bambini atau Children’s House adalah sekolah yang didirikan untuk anak-anak di lingkungan pinggiran dan kumuh di Roma. Setiap datang untuk mengajar di sekolah ini, Montessori selalu membawa alat peraga didaktis buatan Itard dan Seguin yang sudah diujicobakan di sekolah untuk anak-anak tunagrahita. Setiap 9

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI datang di sekolah itu, Montessori melakukan observasi terhadap aktivitas yang dilakukan anak di kelas. Bertolak dari observasi inilah Montessori menemukan metode pembelajarannya, dimana metodenya tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan anak di Casa dei Bambini. 2.1.2.2 Metode Montessori Metode Montessori mengajarkan kepada para siswa mengenai kebenaran mendasar tata bahasa, matematika, biologi dan sebagainya. Siswa Montessori dibebaskan untuk memilih pekerjaaan yang akan dilakukan dan kapan mereka inginkan. Anak-anak di kelas Montessori juga sering sekali belajar secara kolaboratif bersama temannya, tidak ada penggolongan usia, pekerjaan yang mereka lakukan berfokus pada penyelesaian proyek (Lillard, 2005: 328). Pendidikan Montessori menuntun para siswa semakin dekat dengan penemuannya, dengan maksud yang baik bahwa menggunakan pengulangan mereka tidak pernah gagal dalam mempelajari hal yang mereka temukan. Menurut Hainstock (1997: 10) metode Montessori mengandung pengertian pendekatan yang dilakukan secara tidak langsung untuk mengajarkan anak mengenai pandangan yang luas. Hal mendasar dalam metode Montessori adalah bahwa setiap anak mempunyai kemampuan batin yang dapat memberikan dorongan atau motivasi untuk mencari kegiatan khusus dan berinteraksi. Tujuan kelas yang menggunakan metode Montessori adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang siap, di mana anak dibebaskan untuk menemukan dan meningkatkan pengetahuannya serta disiplin untuk berfokus pada tugas yang dikerjakan. Montessori menghargai ruang kelas sebagai tempat untuk mengamati anak dan menguji serta pemberian gagasan dan pertolongan untuk perkembangan pengetahuan anak. Montessori percaya bahwa semua anak bukan kertas yang kosong (Kallio, 2008: 1). Anak-anak juga dapat mengembangkan keterampilan yang dimilikinya semaksimal mungkin. Melalui penyataannya, Montessori mengatakan bahwa tidak merancang metode pembelajaran, tetapi ide-ide yang beliau temukan merupakan hasil dari observasi yang dilakukan di kelasnya (Patamic, 2013: 7). Dari pengamatan yang telah dilakukan, Montessori menemukan kebutuhan-kebutuhan anak di antaranya kesenangan dalam belajar, cinta keteraturan, kebutuhan untuk mandiri, kebutuhan 10

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI untuk didengar dan dihargai, dan minat. Kebutuhan tersebut bersifat umum, tanpa membedakan kebudayaan, latar belakang, gender, dan ras anak (Patamic, 2013: 8). 2.1.2.3 Prinsip Pembelajaran Metode Montessori Prinsip pembelajaran Montessori ada delapan macam sini (Lillard, 2005: 30-33), yaitu (1) gerak dan kognisi. Gerak dan kognisi merupakan sesuatu yang melekat satu dengan yang lain. Montessori pernah mengatakan bahwa berpikir dan bergerak yang dilakukan oleh anak-anak merupakan proses yang sama. Hubungan antara kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang menarik yang dapat meningkatkan proses dalam pembelajaran. (2) Kebebasan memilih. Montessori menegaskan bahwa anak-anak memiliki perkembangan dalam hal memilih sesuatu dan memiliki kontrol terhadap lingkungan mereka. Anak memiliki kebebasan dalam membuat keputusan, melakukan pekerjaan, menentukan berapa lama ia bekerja, bekerja dengan siapa, dan sebagainya. (3) Ketertarikan minat. Prinsip yang ketiga adalah adanya konteks pembelajaran yang menarik. Montessori menciptakan dan merancang sebuah alat-alat yang digunakan anakanak untuk berinteraksi dengan lingkungan belajarnya. Alat-alat yang digunakan dapat membantu direktris untuk mengajarkan materi belajar. Selain itu, Montessori juga memberikan pelatihan terhadap direktris dalam hal sikap saat membangkitkan semangat anak. Pendidikan Montessori memiliki peranan besar terhadap ketertarikan individu yang unik. (4) Motivasi instrinsik dengan penghapusan hadiah. Pembelajaran Montessori tidak mengenal pemberian hadiah. Penghapusan hadiah bertujuan untuk mendisiplinkan siswa agar lebih menghargai kemampuan dan kebebasan yang dimilikinya. Motivasi instrinsik yang diperoleh siswa berupa rasa kepuasan diri saat menggunakan alat peraga. (5) Belajar dengan teman sebaya. Pendidikan sekolah tradisional, guru memberikan anak-anak informasi, anak-anak jarang diajarkan dengan menggunakan materi (misalnya teks bacaan). Berbeda dengan sekolah tradisional, anak-anak di sekolah Montessori, dengan rekan sebayanya secara berkelompok. Kegiatan ini dapat membentuk anak-anak dalam mengembangkan pemahamannya dibandingkan dengan bekerja secara individu. Melalui kegiatan belajar dengan rekan sebaya, anak dapat belajar untuk memecahkan suatu masalah, memperoleh pengetahuan, dan meningkatkan 11

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI motivasi untuk belajar. (6) Konteks dalam pembelajaran. Montessori membuat satu set alat dan merancang sistem pembelajaran yang mengaplikasikan dan bermakna yang tepat untuk mengajarkan para siswa. Selain itu, siswa yang belajar dengan program pembelajaran Montessori dapat belajar dengan melakukan secara langsung. (7) Gaya interaksi guru terhadap belajar anak. Montessori memberi saran bagi guru untuk menjalin interaksi yang baik dengan siswa. Guru yang peka terhadap tanggapan anak membuat anak mempunyai harapan yang besar untuk belajar, mengembangkan kedewasaan anak, meningkatkatkan prestasi, simpati, empati, dan karakter yang berkembang. (8) Keteraturan dan kerapian dalam lingkungan belajar. Kelas Montessori sangat tertata dengan rapi secara fisik dan secara konseptual (bagaimana penggunaan material yang dikembangkan). Target dalam pembelajaran Montessori adalah adanya keteraturan dalam di sekolah. 2.1.3 Teori Perkembangan Anak 2.1.3.1 Teori Perkembangan Anak menurut Piaget Jean Piaget merupakan seorang psikolog yang sangat terkenal dengan teori konstruktivisme (Suparno, 2001: 5). Secara garis besar, Piaget membagi tahapan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap, yaitu (1) tahap sensorimotor (0-2 tahun). Pada tahap ini, kemampuan inteligensi anak didasarkan pada tindakan inderawi dengan lingkungannya. Tindakan inderawi yang dimaksud adalah anak melakukan hal yang berfokus pada atas apa yang dilakukan dan dilihat (Ormord, 2008: 44). Selain itu, anak mulai belajar mencari dan mencoba memecahkan masalah dengan percobaan, trial and error. Misalnya, seorang anak ingin mengambil botol minum yang jauh dari dirinya dengan cara menggerak-gerakkan tangannya untuk menggapai botol tersebut. (2) Tahap praoperasi (2-7 tahun). Pada tahap ini anak menggunakan bahasa secara simbolis yang berupa gambaran dan bahasa ucapan untuk menjelaskan suatu objek. Tahap ini anak mulai menyukai kegiatan menggambar dengan pensil. Gambar yang dihasilkan oleh anak semakin lama menyerupai bentuk nyatanya. Selain itu, pada awal tahap perkembangan ini anak hanya mampu bicara secara monolog yaitu berbicara sendirian dan terkadang berbicara sendirian sambil bermain. Seiring dengan berjalannya waktu, anak mulai bisa berbicara dengan lancar bersama orang-orang di sekitarnya. (3) Tahap Operasi Konkret (7-11 tahun). Tahap ini ditandai dengan berkembangnya cara 12

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berpikir yang berdasarkan pada aturan tertentu yang logis. Anak yang telah berkembang sistem berpikir secara logis, dapat menerapkannya untuk menyelesaikan masalah-masalah konkret yang dihadapi (Suparno, 2001: 69). Meskipun anak sudah mampu berpikir secara logis, akan tetapi anak mempunyai keterbatasan pada hal yang bersifat konkret dan belum mampu berpikir secara abstrak. (4) Tahap operasi formal (11 tahun ke atas). Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir secara logis dan mulai dapat berpikir secara abstrak. Selain hal tersebut, anak mampu mengambil kesimpulan atas pengalaman yang dialaminya. Misalnya anak mengetahui pemikiran jika hujan turun, maka jalan akan basah. Berpikir logika untuk mengambil kesimpulan seperti di atas lebih menjelaskan pada kemampuan siswa berpikir logika saja. Meskipun hanya menjelaskan pada berpikir secara logika, namun tidak semua anak dapat menyimpulkan seperti hal yang di atas. Berdasarkan teori perkembangan Piaget di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa SD masuk pada tahap operasi konkret. Tahap ini anak memiliki keterbatasan berpikir secara konkret. Siswa perlu belajar pada hal-hal yang bersifat nyata dan belum mampu untuk berpikir secara abstrak. Meskipun para siswa berpikir secara konkret, namun mereka dapat berpikir secara logis untuk membendakan sesuatu tanpa harus diberitahu oleh orang lain, selain itu siswa dapat menarik kesimpulan berdasarkan apa yang mereka peroleh (Ormrod, 2008:45) 2.1.3.2 Teori Perkembangan Anak menurut Montessori Maria Montessori membagi tahap perkembangan anak menjadi tiga(Holt, 2008: xii), yaitu (1) tahap pertama (0-6 tahun). Usia 0-6 tahun merupakan usia emas bagi anak. Pada tahap ini anak termasuk dalam periode sensitif atau periode awal, di mana anak sangat peka, dan mampu menyerap dengan mudah apa yang diajarkan di lingkungannya. Montessori percaya bahwa setiap anak itu unik, memiliki potensi yang luar biasa, dan mampu untuk berkembang. (2)Tahap kedua (6-12 tahun). Usia 6-12 tahun merupakan kelanjutan perkembangan anak yang sudah mengalami tahap perkembangan yang pertama (0-6 tahun). Pada usia ini anak termasuk dalam periode sensitif di mana banyak pertanyaan muncul di pikiran anak untuk ditanyakan. Selain itu, kemampuan yang lain yang 13

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berkembang adalah daya imajinasi anak mulai berkembang, pemahaman atas nilai-nilai moral, mampu bersosialisai dengan orang lain, mulai mengenal budaya sekitar, dan menampilkan kebudayaan fisik. Berkembangnya karakteristik di atas merupakan menjadi awalan dari tahap perkembangan selanjutnya. (3) Tahap ketiga (12-18 tahun). Usia 12-18 tahun merupakan kelanjutan perkembangan anak yang sudah mengalami tahap perkembangan kedua (6-12 tahun). Pada tahap ini kematangan fisik anak mulai berkembang di mana anak mulai mencari identitas diri. Anak akan mulai menyukai kebebasan dan mandiri tanpa harus bergantung terus-menerus dengan keluargnya. Kebebasan dan mandiri anak tidak terlepas dari lingkungan sosial yang mengajarnya. Anak mempunyai tahap perkembangan yang berbeda. Anak yang duduk di bangku SD memasuki tahap perkembangan kedua, dimana karakteristik anak pada tahap perkembangan ini sudah berkembang lebih baik daripada yang sebelumnya. Karakteristik anak atau siswa adalah keseluruhan dan kemampuan anak sebagai pembawaan dan pengalamannya sehingga menentukan gambaran kegiatan untuk menggapai impiannya (Rosyada, 2008: 187). Melalui pengalamannya, anak dapat mengembangkan potensi dalam dirinya untuk mempelajari hal selanjutnya. 2.1.4 Alat Peraga Matematika Berbasis Montessori 2.1.4.1 Pengertian Alat Peraga Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) alat adalah benda yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu. Peraga diartikan sebagai alat media pengejaran untuk memperagakan suatu pelajaran (KBBI, 2005). Pada suatu pembelajaran, sarana yang digunakan untuk menunjang suatu pembelajaran dikenal sebagai media pembelajaran. Media pembelajaran menurut Anitah (2010: 5) diartikan sebagai tiap orang, bahan, alat, atau kejadian yang memungkinkan pembelajar menerima pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap. Smaldino mempunyai pendapat yang berbeda antara media pembelajaran dengan alat peraga. Media pembelajaran diartikan sebagai benda yang berbentuk konkret yang digunakan untuk mempertunjukkan suatu pesan. Media pembelajaran terdiri atas teks, audio, visual, manipulatip, dan orang. Sedangkan 14

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI alat peraga diartikan sebagai benda spesifik yang digunakan untuk mengajarkan (Smaldino, 2012: 4-5). Pengertian benda spesifik yang digunakan untuk mengajar sesuai dengan pengertian alat peraga yang dijelaskan Sugiarni. Menurut Sugiarni (2012: 2) alat peraga alat yang digunakan untuk membantu guru dalam kegiatan belajar mengajar yang bertujuan untuk menjelaskan materi serta memotivasi siswa untuk mau belajar. Berdasarkan pengertian yang dungkapakan oleh ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pengertian alat peraga dengan media pembelajaran. Secara keseluruhan, alat peraga dapat diartikan sebagai suatu benda spesifik yang digunakan oleh guru untuk membantu dalam proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Adanya alat peraga ini hal-hal yang bersifat abstrak bagi siswa dapat disajikan dengan menggunakan alat yang konkret atau nyata sehingga siswa dapat merasakan secara langsung dengan menggunakannya hingga dapat mempermudah dalam memahami. 2.1.4.2 Manfaat alat peraga Menurut Sudjana dan Rifai (dalam Sukiman, 2012: 43-44) ada empat manfaat alat peraga. Manfaat tersebut, yaitu (1) pembelajaran menjadi menarik. Pembelajaran yang menarik dapat mengembangkan motivasi siswa untuk belajar. (2) bahan pelajaran disampaikan lebih jelas maknanya. Melalui proses pembelajaran yang bermakna, siswa dapat terbantu dalam mencapai tujuan pembelajaran. (3) metode pembelajaran lebih bervariasi. Penggunaan alat peraga dapat membantu guru agar peserta didik tidak bosan dalam mengikuti pelajaran, dan (4) siswa lebih banyak melakukan kegiatan pembelajaran. Melalui alat peraga ini dapat membantu siswa dalam kegiatan mengamati, melakukan, dan mendemonstrasikan materi. Penggunaan alat peraga dapat membantu siswa mengalami secara langsung dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan teori belajar konstruktivisme, dimana siswa tidak hanya sekedar mengumpulkan materi yang diajarkan, akan tetapi lebih pada menggabungkan atas apa yang diperoleh dengan pengalaman yang dialami (Ormrod, 2008: 40). Pengalaman ini diperoleh dengan benda yang berbentuk nyata. Hal ini sesuai dengan tahap perkembangan anak Sekolah Dasar yang berada pada tahap operasional konkret (Suparno, 2001: 69). 15

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan hal tersebut, penggunaan alat peraga sangat diperlukan siswa dalam memahami operasi hitung yang masih bersifat abstrak. 2.1.4.3 Pengertian Alat Peraga Montessori Montessori mendefinisikan alat peraga sebagai alat yang digunakan untuk mengajar anak yang dirancang secara sederhana namun terlihat menarik, memungkinkan pemerolehan pengetahauan yang lebih banyak, belajar secara mandiri serta belajar mengetahui kesalahan yang mereka buat saat belajar (Lillard, 1997: 11). Montessori menggunakan alat peraga untuk mengajar para siswanya di Casa dei Bambini. Alat peraga didaktis yang dibawa oleh Montessori merupakan buatan Itard dan Seguin yang sudah dimodifikasi dan diujicobakan di sekolah ortofrenik. Alat peraga yang dibuat oleh Montessori kemudian dimodifikasi sesuai dengan anak normal dan didesain secara sendiri (Magini, 2013: 48). 2.1.4.4 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori Montessori menjabarkan ciri-ciri alat peraganya, yaitu menarik sebagai ciri yang pertama. Tujuan pembelajaran adalah memperoleh pemahaman dan pengetahuan. Untuk memperoleh suatu pemahaman dan pengatahuan tersebut diperlukanlah sebuah alat peraga. Alat-alat peraga haruslah dibuat menarik. Menarik dalam arti guna membangkitkan hasrat anak untuk ingin menyentuh, meraba, memegang, merasakan, dan mempergunakannya untuk belajar. Agar menarik, warna alat peraga haruslah cerah dan lembut untuk dipegang oleh anak sehingga anak menggunakannya (Montessori, 2002: 174). Ciri alat peraga yang kedua adalah bergradasi. Alat peraga Montessori mempunyai rangsangan rasional yang bergradasi (Montessori, 2002: 172). Penekanan gradasi berada pada keterlibatan penggunaan indera dalam pembelajaran Montessori, dan ukuran. Saat anak sedang bermain mempergunakan alat peraga Montessori, lebih dari satu indera yang ikut terlibat dalam menimbulkan rangsangan rasional yang bergradasi saat meraba alat peraga yang miliki ukuran yang berbeda. Sebagai contohnya adalah pink tower. Alat peraga ini memiliki kubus kayu sebanyak 10 buah dengan perbedaan dimensi. Kubus paling bawah atau kubus pertama mempunyai ukuran panjang sisi 10 cm. Kubus kedua memiliki ukuran panjang sisi 1 cm lebih kecil dari pada kubus yang pertama. Kubus ketiga memiliki ukuran panjang sisi 1 cm lebih kecil daripada 16

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kubus kedua. Kubus keempat memiliki ukuran panjang sisi 1 cm lebih kecil dan begitu seterusnya sampai kubus ke sepuluh. Selain bergradasi secara bentuk, alat peraga Monteesori juga memiliki gradasi untuk materi yang berbeda. Sebagai contoh adalah Binomial Cube. Binomial Cube jika digunakan untuk anak Taman Kanak-kanak (TK), alat peraga tersebut digunakan untuk mainan. Apabila alat tersebut untuk kelas yang lebih tinggi, alat tersebut digunakan untuk mengejarkan mengenai materi kuadrat. Ciri alat peraga yang ketiga adalah auto-correction. Alat peraga yang baik adalah alat peraga yang mempunyai pengendali kesalahan. Tujuan pengendali kesalahan ini adalah untuk membantu anak mengoreksi sendiri kekeliruan yang dibuat tanpa perlu diberi tahu oleh orang lain. Sebagai contoh misalnya kartu huruf untuk mengenalkan anak bermacam-macam huruf vokal dengan huruf konsonan. Latihan awal di mulai dengan pendidik memberikan dua macam kartu huruf “a” dan “b” dengan menyebutkan ini “a” dan ini “b”. Anak dibimbing untuk meraba kartu angka tersebut dengan menggunakan jari tengah dan jari telunjuk. Permukaan huruf kasar, sedangkan alas dari kartu tersebut halus. Pengendali kesalahan (auto-correction) terlihat ketika menggunakan jari saat meraba kartu huruf. Untuk melatih ingatan tentang huruf-huruf ini, anak perlu latihan yang berulang-ulang (Montessori, 2002: 171). Ciri alat peraga keempat adalah auto-education. Alat peraga yang dirancang haruslah disesuaikan dengan kecakapan dan kebutuhan anak. Saat bekerja anak dapat membawa dan mempergunakan alat peraga sendiri. Ketika menggunakan alat peraga ini anak dapat menyerap sendiri pemahaman yang diperoleh tanpa diberitahukan oleh orang lain. Tugas direktris di kelas adalah sebagai pengamat yang memberikan arahan pada anak ketika belajar. Arahan yang diberikan oleh direktris haruslah singkat agar anak dapat belajar secara mandiri (Montessori, 2002: 172). Ciri alat peraga kelima adalah kontekstual. Salah satu prinsip pembelajaran Montessori adalah belajar sesuai dengan konteks (Lillard, 2005: 32). Konteks di sini diartikan sebagai lingkungan sekitar. Dalam membuat alat peraga, Montessori memanfaatkan bahan seadanya di sekitar lingkungan sekitar. Bahan yang digunakan oleh Montessori dalam membuat alat peraganya menggunakan 17

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kertas karton untuk membuat huruf tegak bersambung (Magini, 2013: 58). Montessori memanfaatkan lingkungan sebagai konteks pembelajaran tanpa batas. Berdasarkan hal tersebut peneliti menambahkan satu ciri alat peraga yang dikembangkan, yaitu kontekstual. Kontekstual menurut KKBI diartikan sebagai berhubungan dengan konsteks, sedangkan konteks diartikan sebagai pola yang berhubungan di dalam lingkungan langsung seseorang (Johnson, 2002: 34). Menurut Johnson (2002: 31-33) pembelajaran kontekstual dikenal sebagai Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pendidikan yang berbeda, melakukan lebih daripada sekedar menuntun para siswa dalam menggabungkan subjek-subjek akademik dengan konteks keadaan mereka sendiri. Kelebihan dari konteks ini adalah hasil pembelajaran diharapkan lebih alamiah berbentuk kegiatan siswa bekerja mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Berdasarkan ciri-ciri alat peraga Montessori di atas, peneliti menggunakan kelima ciri alat peraga tersebut untuk mengembangkan alat peraga papan pembagian. Alat peraga dibuat dengan memanfaatkan bahan sesuai dengan potensi lokal di lingkungan sekolah. Ciri ketertarikan terlihat pada warna-warna pada balok angka dan pion serta bentuk papan dan pion. Warna pada balok angka, yaitu warna biru muda untuk satuan, ungu untuk puluhan, orange untuk ribuan, dan biru tua untuk ribuan serta pion yang berwarna merah. Penggunaan warna pada balok angka di atas disesuaikan dengan analisis kebutuhan siswa yang dilakukan sebelum pembuatan alat. Ciri gradasi terdapat pada penggunaan alat peraga untuk kompetensi yang berbeda dan ukuran serta berat yang disesuaikan kebutuhan anak. Penggunaan alat peraga untuk kompetensi yang berbeda maksudnya bahwa alat peraga Montessori ini tidak hanya digunakan untuk materi pembagian bilangan dua angka saja, namun bisa untuk pembagian bilangan tiga angka dan perkalian juga. Ciri auto-correction terletak pada lubang papan pembagian bilangan dua angka, kartu bilangan dan jawaban di balik kartu soal. Setiap lubang pada papan pembagian bilangan hanya dapat dimasuki oleh satu balok angka saja. Papan pembagian bilangan dua angka juga memilki ciri autoeducation yang terlihat ketika seorang anak belajar pembagian bilangan sendiri tanpa dibantu oleh orang lain. Anak dapat belajar secara mandiri, bila ia 18

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menemukan kesalahan dia bisa memperbaikinya sendiri tanpa diberi tahu oleh orang lain. Ciri kontekstual terletak pada penggunaan material kayu sebagai bahan utama membuat alat peraga papan pembagian bilangan. Material/bahan kayu dapat ditemukan di lingkungan sekitar sekolah. 2.1.5 Alat Peraga Pembagian berbasis Montessori Pembagian merupakan lawan dari perkalian. Pembagian sering disebut sebagai pengurangan berulang sampai habis (Huruman, 2008: 26). Sebelum mempelajari materi mengenai pembagian, siswa sudah bisa mengenai konsep pengurangan maupun perkalian. Dalam memperkenalkan keterampilan hitung pembagian menggunakan metode Montessori diawali dengan mengenalkan konsep pembagian. Untuk mengenalkan konsep ini diperlukan sebuah alat peraga yaitu manik emas. Selain itu dapat menggunakan pula papan pembagian 10, papan pembagian 20, dan pembagian 30 serta tabel pembagian 10, tabel pembagian 20, dan tabel pembagian 30. 2.1.6 Pembelajaran Matematika 2.1.6.1 Hakikat Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (2007: 143) metematika merupakan suatu ilmu umum yang berdasarkan pada perkembangan teknologi, disiplin ilmu, dan mampu meningkatkan kemampuan pikir manusia. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (kamus elektronik) matematika merupakan ilmu tentang bilangan, yang berhubungan dengan bilangan, serta mengenai prosedur yang pakai untuk menyelesaikan permasalahan bilangan. Berdasarkan dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan sebuah ilmu yang berhubungan dengan bilangan yang dapat meningkatkan kecakapan berpikir seseorang untuk menyelesaikan masalah. Mata pelajaran matematika hendaknya diberikan kepada semua orang yang masih duduk di bangku sekolah. Mata pelajaran ini mulai diberikan pada siswa di sekolah dasar untuk membekali para siswa agar mampu mengembangkan kemampuan berpikir secara logis, analisis, sistematis, kritis, kreatif dan kemampuan berkerja sama dengan orang lain. Ruang lingkup mata pelajaran matematika pada tingkat satuan SD/MI antara lain bilangan, geometri dan pengukuran serta pengolahan data. Dengan mempelajari matematika, kita dapat 19

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menyelesaikan masalah matematika yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari misalnya kegaiatan jual-beli barang, pemberian diskon, perhitungan luas, dll. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pembagian bilangan dua angka untuk kelas II semester genap. Standar Kompetensi yang dipakai adalah “Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka” dengan Kompetensi Dasar “Melakukan pembagian bilangan dua angka”. Pembagian ada dua macam yaitu pembagian statis dan pembagian dinamis. 2.6.1.2 Materi Pembagian Bilangan dalam Matematika Materi pembagian bilangan mulai diajarkan di kelas II SD. Pembagian dapat diartikan sebagai bentuk pengurangan berulang hingga habis (Heruman, 2010: 17). Pembagian merupakan kebalikan dari perkalian. Pembagian merupakan operasi hitung yang paling sukar di antara oparasi hitung penjumlahan, pengurangan, dan perkalian (Sig, 2012: 10). Pembagian dapat disimbolkan dengan tanda “:”. Berikut ini adalah contoh perhitungan pembagian merupakan pengurangan yang berulang sampai habis (Suwanto,dkk., 2010: 20). 1) 10 : 5 = … bilangan yang dibagi bilangan pembagi (artinya 10 dikurangi 5 berulang-ulang hingga hasilnya habis (0)) 10 5 - (dikurangi 1 kali) 5 5 - (dikurangi 2 kali) 0 Ternyata pengurangan habis setelah 2 kali berulang Jadi, 10 : 5 = 2 (2 merupakan hasil baginya) 2) Pembagian eksplisit Pembagian ini maksudnya bahwa pembagian dengan pola keteraturan yang mudah dikenali dan mudah dipecahkan (Sig, 2012: 10). Berikut ini adalah contoh perhitungan pembagian eksplisit. 20

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. Hitunglah 96 : 3 Langkah 1: sisipkan notasi pagar ke dalam bilangan yag akan dibagi dengan melihat pola keteraturannya. 96 = 9│6 Langkah 2: bagi masing-masing bilangan dengan bilangan pembagi [9│6] : 3 = [9:3] │ [6:3] = [3│2] = 32 Dalam contoh di atas perlu melihat pola keteraturan yang diseesaikan secara bersamaan (pararel), tanpa perlu mengerjakan satu demi satu. Tetapi untuk mengenali pola keteraturan pembagian eksplisit perlu, siswa perlu menguasai tabel perkalian terlebih dahulu. 3) Pembagian susun panjang Pembagian susun panjang dikenal sebagai motode subtraktif. Berikut adalah contoh pembagian dengan susun panjang (Amin,2006: 49). Hitunglah 702 : 3 2 23 3 702 6 234 3 702 - 10 6 3 702 - 10 9 12 6 - 10 - 9 - 12 12 0 2.2. Penelitian yang Relevan 2.2.1 Alat Peraga Matematika Sugiarni (2012) melakukan penelitian peningkatan proses dan hasil belajar matematika dengan memanfaatkan media dan alat peraga materi operasi hitung campuran. Penelitian ini mempunyai relevansi mengenai pemanfaatan alat peraga dalam operasi hitung campuran. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II supaya mampu menguasai meteri dengan baik, 21

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II dalam pembelajaran matematika di semester 2, dan meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II supaya siswa mampu menguasai materi yang baik dan meningkat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dapat berjalan cukup baik, dengan nilai 3,6 pada siklus I dan meningkat dengan baik, dengan nilai 4,4 pada siklus II. Kedua prestasi belajar siswa meningkat dari kurang (50,70) sebelum perbaikan pembelajaran menjadi sedang (nilai 60,50) pada perbaikan siklus I dan baik pada siklus II. Ketiga prestasi belajar meningkat melalui aktivitas melibatkan siswa di kelas untuk demonstrasi, tanya-jawab, latihan pengerjaan soal dan pemanfaatan media pembelajaran yang memadai. Barnett dan Eastman (1978) melakukan penelitian dengan tujuan pengaruh penggunaan alat bantu manipulatif dalam pengajaran matematika di SD. Setting dan subjek penelitian adalah siswa di SD di Amerika Serikat. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru SD tidak harus menggunakan alat bantu manipulatif untuk belajar mengenai operasi aritmatika dasar. Peneliti mengharapkan penelitian yang lebih lanjut untuk menyelidiki hipotesis yang sudah dibentuk dalam penelitian ini. Subadi (2013) melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa MTs kelas VII dengan diterapkannya model pembelajaran Cooperative learning metode Student Teams-achievement Divisions (STAD), melalui alat peraga. Penelitian ini mengambil subjek siswa VIII A MTs Thoriqotul Ulm Tlogoharum dengan jumlah siswa 27 siswa tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Berdasarkan hasil penelitiannya terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Pada siklus II peningkatan hasil belajar siswa dari 66,67 menjadi 70,19, sehingga dapat disimpulkan bahwa pendayagunaan alat peraga melalui model coopertive learning metode Student Teams-achievement Divisions (STAD) pada bangun ruang sisi datar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Relevansi penelitian ini mengenai penggunaan alat peraga untuk mengajarkan materi pokok bangun ruang. 22

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.2.2 Metode Montessori Montessori (1961) melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui kontribusi metode Montessori yang diterapkan dalam pembelajaran matematika di lingkungan belajar para siswa di sekolah Montessori. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah para siswa di sekolah Montessori pada saat itu. Penelitian ini mempuyai relevansi dengan metode Montessori dalam pembelajaran matematika. Hal yang menarik adalam pembelajaran matematika adalah anak yang sedang belajar itu sendiri dan tugas yang diberikan pada dirinya yaitu mencoba menemukan proses perkembangan anak dalam berbagai aspek. Hasil penelitiannya adalah metode Motessori yang digunakan mempunyai kontribusi dalam pembelajaran matematika dalam kelas. dengan menggunakan alat peraga, anak-anak dapat paham dan mengerti mengenai konsep matematika. Pengalaman yang diperoleh anak tersebut dapat membentuk pengetahuan yang mendasar misalnya penempatan aritmatika, fakta geometris, dan bentuk aljabar. Rinke, dkk (2012) melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui perubahan lingkungan belajar kelas Montessori untuk mengembangkan minat belajar siswa di lingkungan. Penelitian ini memiliki relevansi mengenai lingkungan belajar di kelas Montessori. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dalam empat kelas Montessori di tingkat SD. Setting penelitian ini adalah empat kelas di kelas Montessori dengan subjek penelitian yaitu para siswa di kelas SD tersebut. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa lingkungan belajar Montessori memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan minat dalam ilmiah dan komunikasi tentang ilmu pengetahuan dalam berbagai cara. Cossentino (2005) melakukan penelitian mengenai untuk membahas praktek pendidikan Montessori melalui lensa ritual. Tujuan penelitian ini adalah bagaimana guru mengajar dengan menggunakan metode Montessori. Subjek penelitian ini adalah para guru SD di Amerika Serikat. di Relevansi dalam penelitian ini mengenai metode Montessori di SD. Penelitian ini dimulai sebagai upaya untuk memeriksa pembangunan pengajaran Montessori dalam praktek. Hasil penelitian ini berupa dalam mempraktekkan pembelajaran Montessori memerlukan partisipasi serta berhubungan dengan kebudayaan sekitar atas dasar pemahaman nilai dan keyakinan. 23

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti di atas sangatlah baik, namun hanya terbatas penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika dan penggunaan metode Montessori di kelas saja. Berdasarkan penelitian relevan tersebut, peneliti akan mengembangkan alat peraga matematika dengan menekankan pada pembagian dan alat peraga tersebut digunakan berdasarkan langkah-langkah pembelajaran metode Montessori. Bagan 2.1. Literature Map dan penelitian sebelumnya 2.3 Kerangka Berpikir Usia anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar berkisar antara 7-12 tahun. Pada usia ini anak masih senang dengan kegiatan bermain dan berkelompok dengan teman sebayanya. Berdasarkan teori perkembangan Piaget, anak pada usia tersebut termasuk dalam tahap operasional konkret (Suparno, 24

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2001: 69). Tahap ini anak mulai memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara konkret dan belum mampu untuk berpikir secara abstrak. Kemampuan yang dimiliki oleh anak terbatas pada hal yang bersifat konkret. Berdasarkan hal itu maka perlu adanya penggunaan benda yang bersifat konkret yang mampu ditangkap oleh anak agar lebih mudah dalam pembangunan pengetahuannya. Salah satu metode pembelajaran yang menekankan pembangunan pengetahuan adalah Metode Montessori. Metode ini menekankan prinsip kebebasan untuk belajar serta membangun pengetahuan yang dimiliki sebelumnya menjadi sesuatu yang bermakna. Dalam proses perkembangannya, anak dapat menciptakan lingkungan belajar sesuai dengan keinginannya. Meskipun anak bebas melakukan proses pembelajaran yang diinginkan, namun sebagai orang yang dewasa guru perlu memberikan pendampingan dan memberikan pengarahan untuk belajar. Metode Montessori merupakan salah satu metode pembelajaran yang cukup terkenal di dunia. Metode pembelajaran ini dikembangkan oleh seorang wanita kebangsaan Italia yang bernama Dr. Maria Montessori. Salah satu sekolah yang sudah dirikan bernama Casa dei Bambini. Sekolah tersebut didirikan untuk tempat belajar bagi anak-anak di lingkungan kumuh sekitar tempat tinggalnya. Setiap datang di sekolah tersebut, Montessori mengamati kegiatan yang sedang dilakukan oleh anak-anak. Dari situlah Montessori mulai membuat alat peraga. Alat peraga tersebut dibuat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Alat peraga yang dibuat oleh Montessori mengandung empat ciri-ciri, yaitu menarik, bergradasi, adanya pengendali kesalahan (auto-correction), dan belajar mandiri (auto-education), serta ciri tambahan kontekstual. Alat peraga ini digunakan untuk menunjang proses pembelajaran di kelas, salah satunya adalah matematika. Matematika adalah salah satu mata pelajaran di SD. Salah satu materi pelajaran matematika adalah pembagian. Operasi pembagian dalam matematika merupakan operasi pengurangan bilangan sampai habis. Operasi ini sering dianggap oleh siswa sebagai topik pelajaran yang sulit dimengerti. Banyak kasus ditemukan anak SD kurang memiliki keterampilan dalam operasi pembagian. Hal 25

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI inilah yang menyebabkan para siswa mengalami kesulitan matematika khususnya materi pelajaran yang berkaitan dengan matematika. Berdasarkan alasan di atas tersebut perlu pengembangan alat peraga yang dibutuhkan untuk membantu menerapkan konsep sesuai dengan tahap perkembangan siswa. Pengembangan alat peraga ini ditujukan untuk mengatasi permasalahan di dunia pendidikan terkait dengan minimnya penggunaan alat peraga di kelas yang diuji secara ilmiah. Selain itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk membantu siswa dalam pembangunan pengetahuan agar lebih bermakna. Jika peneliti mengembangkan alat peraga berdasarkan ciri-ciri alat peraga Montessori dan kontekstual, maka alat peraga yang dihasilkan berkualitas sangat baik. Kualitas yang dimaksudkan adalah alat peraga yang dikembangkan dapat membantu sisawa dalam hal hasil belajar dan minat belajar. 2.4 Pertanyaan-pertanyaan Penelitiaan 2.4.1. Apakah alat peraga papan pembagian yang dikembangkan memiliki ciriciri alat peraga Montessori? 2.4.2 Apakah alat peraga papan pembagian yang dikembangkan mempunyai ciri kontekstual? 2.4.3 Bagaimana persepsi pakar pembelajaran matematika, pakar pembelajaran Montessori, guru kelas II dan siswa kelas II SD terhadap kualitas alat peraga papan pembagian yang dikembangkan? 2.4.4 Apakah alat peraga papan pembagian yang dikembangkan memerlukan revisi produk sebelum diproduksi secara massal? 2.4.5 Bagaimana dampak hasil belajar siswa kelas II SD ketika menggunakan alat peraga papan pembagian? 2.4.6 Bagaimana dampak minat belajar siswa kelas II SD ketika menggunakan alat peraga papan pembagian? 26

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini akan dijelaskan mengenai (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3) prosedur pengembangan, (4) teknik pengujian instrumen, (5) instrumen penelitian, (6) teknik pengumpulan data, dan (7) teknik analis data. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (R&D). Sugiyono (2012: 297) mengartikan “penelitian Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut.” Penelitian ini merupakan model pengembangan berbasis industri yang digunakan untuk merancang produk baru dan prosedurnya yang kemudian diujicoba lapangan secara sistematis, dievaluasi, dan perbaiki sampai menemukan kriteria spesifikasi dari keefektifan, kualitas, atau standar kemiripan (Gall & Borg, 2007: 589). Berdasarkan dua pengertian yang diungkapkan oleh kedua ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian R and D memerlukan suatu bahan dan proses secara sistematis agar menghasilkan suatu produk yang berkualitas dan berdampak ketika dilakukan suatu ujicoba di lapangan secara terbatas. Peneliti dalam hal ini akan mengembangkan suatu produk berupa alat peraga berbasis metode Montessori untuk meteri pembagian bilangan dua angka yang dilakukan secara ujicoba secara terbatas. Penelitian R and D dapat dilakukan menggunakan langkah yang dikembangkan oleh Sugiyono (2012: 298) antara lain: Potensi dan masalah Pengumpulan data Desain produk Validasi produk Ujicoba pemakaian Revisi produk Ujicoba produk Revisi desain Revisi produk Produksi massal Bagan 3.1 Tahap-tahap penelitian R&D dari Sugiyono 27

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tahap penelitian pengembangan menurut Sugiyono (2012: 298-311) berangkat dari adanya potensi dan masalah. Peneliti perlu mengetahui sesuatu yang dapat dipergunakan di lokasi penelitian tersebut dan masalah yang dialami oleh lokasi tersebut. Data yang telah dikumpulkan pada potensi masalah kemudian digunakan sebagai bahan perencanaan desain produk. Desain produk yang dirancang kemudian divalidasi oleh akar. Validasi produk digunakan untuk menilai apakah produk yang dihasilkan. Melalui validasi produk ini, peneliti akan mengetahui kekurangan atas desain produk. Kekurangan tersebut kemudian direvisi guna mendapatkan produk yang siap untuk diuji cobakan. Apabila produk yang telah diuji cobakan masih ada kekurangan, dilakukan revisi produk kembali guna diproduksi secara massal. Berbeda dengan Sugiyono, Walter Dick, Lou Carey, and James Carey (dalam Gall & Borg, 2007: 589) menujukkan 10 tahap dalam educational research and development sepert pada bagan 3.2 Bagan 3.2 Tahap-tahap R & D menurut Borg & Gall yang diadaptasi dari Dick, W., Carey, L., & Carey, J.O. (2007) 28

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tahap pengembangan menurut Brog and Gall, yaitu (1) mengidentifikasi tujuan program atau hasil instruksional yang mencakup dugaan kebutuhan, (2) menganalisis keterampilan khusus, prosedur-prosedur, dan tugas belajar dalam pencapaian tujuan yang diharapkan, (3) mengidentifikasi tingkat kemampuan dan sikap para siswa, serta karakteristik letak lokasi penelitian, (4) menulis rencana pengembangan program dan produk yang hendak dilakukan, (5) mengembangkan instrumen penilaian produk, (6) mengembangkan strategi penilaian produk, (7) pengembangan materi, (8) mengadakan penilaian formatif (9) revisi produk yang didasarkan pada tahap kedelapan, (10) mengadakan penilaian sumatif. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 9 bulan, mulai bulan September 2013 hingga Mei 2014. 3.2.2 Objek Penelitian Objek penelitian ini berupa alat peraga Montessori untuk pelajaran Matematika. Alat peraga digunakan untuk mengajarkan materi pembagian bilangan dua angka. . 3.2.3 Lokasi Penelitian Lokasi yang dipilih peneliti adalah SD Kanisius Pugeran Yogyakarta (SDK Pugeran Yogyakarta). Sekolah tersebut berlokasi di Jln. Suryodiningratan 71, Yogyakarta. SDK Pugeran terletak di tengah Kota Yogyakarta. Kepala sekolah di SD ini memimpin dua sekolahan, yaitu SDK Pugeran Yogyakarta dan SDK Kumendaman Yogyakarta. SDK Pugeran Yogyakarta redapat 203 siswa dengan 105 siswa laki-laki dan 98 siswa perempuan. SD ini terdiri atas 7 kelas yang berbeda yaitu, kelas I sampai kelas V dan kelas VI A serta VI B. Siswa yang bersekolah di SDK Pugeran Yogyakarta berasal dari berbagai tingkat ekonomi yang berbeda, seperti menengah atas, menengah, dan menengah kebawah. Profesi pekerjaan masing-masing orang tua siswa, seperti PNS, pegawai swasta, dan buruh. Kebanyakan siswa yang bersekolah di SD ini menganut agama katholik dari pada agama yang lain. 29

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kondisi yang ada di SDK Pugeran Yogyakarta tersebut menjadi daya tarik bagi peneliti untuk melakukan sebuah penelitian. Daya tarik yang dipertimbangkan oleh penelitian adalah lokasi SD di lingkungan perkotaan dan perubahan akreditasi SD ini. Dulu, SDK Pugeran Yogyakarta memiliki akreditasi A dan mengalami penurunan akreditasi menjadi B saat ini. Turunnya tingkat akreditasi yang dialami oleh SD ini membuat peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian ini. 3.2.4 Subjek Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014. Peneliti menggunakan dua subjek yaitu sekelompok siswa kelas II dan guru kelas II di SDK Pugeran Yogyakarta. Jumlah siswa kelas II adalah 38 siswa yang terdiri atas 22 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Dalam melakukan uji coba lapangan terbatas, peneliti menggunakan subjek siswa sebanyak lima orang. Kelima siswa tersebut merupakan hasil pilihan guru. Peneliti mengikutsertakan guru kelas II SDK Pugeran Yogyakarta sebagai subjek penelitian. Guru kelas II SDK Pugeran Yogyakarta telah mengajar selama 2 tahun di SD ini. 3.3 Prosedur Pengembangan Berdasarkan tahap-tahap penelitian R & D yang dikembangkan oleh Sugiyono (2012) dan Borg dan Gall (2007), peneliti mencoba untuk memodifikasi tahap-tahap yang diungkapkan oleh Sugiyono dan Borg & Gall tersebut menjadi lima tahap. Tahap-tahap tersebut terdiri atas 1) mempelajari Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar, 2) analisis kebutuhan, 3) produksi alat peraga berbasis metode Montessori untuk pembagian bilangan dua angka, 4) pembuatan instrumen penelitian yang dilanjutkan dengan validasi para ahli ahli, 5) validasi alat peraga, dan uji coba lapangan terbatas beserta revisinya. Berikut ini terpaparkan alur dari kelima tahap yang dilaksanakan oleh peneliti yang tercantum pada bagan 3.3. 30

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bagan 3.3 Prosedur penelitian pengembangan mengadopsi model Sugiyono (2012) dan Borg & Gall (2007) 31

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan bagan 3.3 (halaman 31), tahap pertama yang ditempuh peneliti adalah mengkaji Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) kelas II semester genap. Tujuan mengkaji SK dan KD ini adalah mengetahui materi pembelajaran matematika. Tahap kedua adalah analisis kebutuhan siswa sebagai subjek dalam penelitian. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan siswa dalam mempelajari matematika. Analisis kebutuhan ini dilakukan melalui kegiatan observasi, wawancara, dan pemberian kuesioner. Kegiatan observasi dilakukan dua tahap, yaitu observasi di kelas untuk mengetahui karakteristik siswa kelas II dan penggunaan alat peraga dalam pelajaran serta observasi alat peraga Montessori di Laboratorium Montessori. Selain itu, peneliti juga melakukan kegiatan wawancara kepada kepala sekolah, guru kelas II, dan sekelompok siswa kelas II. Wawancara ini terkait dengan ketersediaan alat peraga, penggunaan alat peraga dan kesulitan belajar siswa mengenai mata pelajaran matematika. Hasil yang diperoleh dalam kegiatan observasi dan wawancara kemudian digunakan sebagai acuan pembuatan kuesioner. Kuesioner ini kemudian diuji kelayakannya oleh para pakar pembelajaran matematika, pakar pembelajaran bahasa, guru, dan siswa untuk uji keterbacaan item kuesioner. Apabila ada item kuesioner yang kurang layak untuk diujikan, maka dilakukan revisi agar menjadi kuesioner yang layak untuk diujikan sebagai analisis kebutuhan siswa. Tahap ketiga adalah memproduksi alat peraga Montessori untuk pembagian bilangan dua angka. Produksi alat peraga ini ini di awali dengan pembuatan konsep desain alat peraga dan kerangka album alat peraga. Setelah desain alat peraga selesai di rancang, tahap selanjutnya adalah pengumpulan bahan alat peraga dengan memanfaatkan potensi lokal daerah sekitar lokasi penelitian. Setelah bahan dikumpulkan, selanjutnya adalah pembuatan alat peraga dan pembuatan album yang berisi tentang cara penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori yang dikembangkan. Tahap keempat adalah pembuatan instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah tes dan kuesioner. Instrumen tes yang dibuat diuji validasinya oleh pakar pembelajaran matematika dan diuji validitas dan reliabilitasnya secara empiris oleh para siswa dari SD yang setara dengan lokasi 32

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penelitian. Sedangkan untuk instrumen kuesioner yang dibuat berupa validasi produk alat peraga untuk uji keterbacaan kalimat item kuesioner. Instrumen tersebut diuji keterbacaannya oleh pakar pembelajaran matematika, pakar pembelajaran bahasa, guru dan siswa. Bila instrumen penelitian tersebut kurang layak digunakan, maka dilakukan revisi guna memperoleh instrumen penelitian yang siap digunakan. Tahap kelima adalah validasi alat peraga. Alat peraga yang sudah selesai dibuat kemudian divalidasi oleh pakar pembelajaran Montessori, pakar pembelajaran matematika, dan guru. Validasi ini berguna untuk menilai kelayakan alat peraga berbasis metode Montessori diperagakan untuk menjelaskan materi pembagian bilangan dua angka. Hasil validasi oleh pakar kemudian digunakan sebagai analisis I. Jika alat peraga yang dibuat kurang memenuhi kualitas alat peraga yang diharapkan, maka diadakan revisi produk yang dikembangkan. Hasil revisian produk ini kemudian diuji coba lapangan terbatas di kelas dan ditemukan analisis II. Setelah analisis II dilakukan, maka hasil analisis tersebut disebut sebagai prototipe alat peraga matematika untuk pembagian bilangan dua angka berbasis Montessori. 3.4 Teknik Pengujian Instrumen Setiap penelitian memerlukan suatu instrumen. Menurut Widoyoko (2012: 128) suatu instrumen penelitian dapat dikatakan valid bila instrumen tersebut mampu mengukur hal yang akan diukur sehingga menghasilkan data yang valid pula. Validitas instrumen dibedakan menjadi dua, yaitu validitas internal dan eksternal, (Widoyoko, 2012: 129). Validitas internal terbagi menjadi dua, yaitu validitas isi dan konstruk. Validitas isi merupakan sebuah instrumen tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar seseorang (achievement test) (Sukardi, 2009: 33). Untuk memvalidasi isi instrumen tes perlu pertimbangan dari para pakar sesuai dengan bidang pembelajaran tertentu (Widoyoko, 2009: 130). Instrumen tes disusun berdasarkan materi pelajaran siswa. Suatu tes memiliki validasi isi yang baik bila item tes itu mewakili aspek-aspek penting dari materi tes. Validasi isi dapat dilakukan dengan expert judgment, yaitu pendapat ahli terhadap instrumen yang dibuat (Sugiyono, 2012: 125). 33

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Setelah dilakukan validitas instrumen selanjutnya adalah reliabilitas instrumen. Suatu pengukuran mempunyai reliabilitas yang tinggi berarti keluaran pengukuran tersebut reliabel (Azwar, 2012: 180). Suatu data dikatakan reliabel bila instrumen tersebut diujikan berkali-kali hasilnya tetap atau ajek (Widoyoko, 2009: 144). Ajek dalam kata skor yang diperoleh menunjukan perubahanperubahan yang tetap. Suatu tes tidak memiliki koefisien reliabilitas yang sempurna karena perolehan skor tiap item bervariasi yang disebabkan oleh kesalahan dari pengukuran yang bermacam-macam (Sukardi, 2009: 43). Acuan reliabilitas yang digunakan menurut Nunnally (dalam Ghozali 2009: 46), yaitu harga konstruk dikatakan reliabel jika harga Alpha Cronbach > 0,600. 3.4.1 Uji Keterbacaan terhadap Instrumen Analisis Kebutuhan Dalam analisis kebutuhan, peneliti menggunakan instrumen kuesioner. Instrumen ini diuji keterbacaannya oleh tiga pakar pembelajaran bahasa, dua pakar pembelajaran matematika, satu guru kelas II dan tiga siswa dari SD setara dengan lokasi penelitian. Kesetaraan ini bisa dilihat dari Hasil validasi ini kemudian diolah, sehingga menjadi instrumen analisis kebutuhan yang siap diujikan kepada 38 siswa kelas II dan semua guru dari SDK Pugeran Yogyakarta. 3.4.2 Validasi Instrumen Tes oleh Pakar Sebelum instrumen tes diuji cobakan secara empirik, intrumen tes terlebih dahulu divalidasi oleh pakar pembelajaran matematika. Sebelum tes divalidasi oleh pakar pembelajaran, instrumen tersebut dibuat berdasarkan pada kisi-kisi instrumen yang dibuat disesuaikan dengan materi pembagian bilangan dua angka. Instrumen tes dibuat sebanyak 30 soal yang dibuat berdasarkan pada kisi-kisi soal. 3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes secara Empirik Instrumen tes diuji validitas dan reliabilitasnya oleh siswa kelas kelas II oleh SD setara. Siswa kelas II akan mengerjakan soal pretest dan posttest yang sebelumnya belum pernah diajari mengenai materi pembagian. Setelah selesai dikerjakan, soal tersebut dikoreksi untuk dihitung validitas dan reliabilitasnya menggunakan SPSS 22.00 for Windows. Soal yang valid dan reliabel kemudian diujicobakan secara terbatas pada siswa kelas II SDK Pugeran. 34

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4.4 Uji Keterbacaan terhadap Instrumen Validitas Produk oleh Ahli Dalam validasi produk, peneliti menggunakan instrumen kuesioner. Instrumen tersebut diuji keterbacaannya oleh pakar pembelajaran bahasa, akar pembelajaran matematika, guru dan siswa dari SD setara dengan lokasi penelitian. Apabila Hasil validasi uji keterbacaan kemudian diolah sehingga menjadi sebuah instrumen yang dapat digunakan saat validasi produk alat yang dikembangkan. 3.4.5 Uji Validitas terhadap Produk Oleh Ahli Uji validitas produk dilakukan oleh pakar pembelajaran Montessori, pakar pembelajaran matematika dan guru kelas II SDK Pugeran Yogyakarta untuk menilai kelayakan atas produk yang dikembangkan. Hasil validasi yang telah uji oleh pakar dan guru digunakan sebagai pedoman dalam menentukan revisi produk yang dikembangkan. 3.4.6 Uji Validitas Produk dengan Uji Coba Lapangan Terbatas Uji validitas produk dengan ujicoba lapangan terbatas dilakukan oleh sekelompok siswa yang digunakan sebagai subyek penelitian. Uji validitas ini dilakukan setelah uji coba lapangan terbatas menggunakan produk yang dikembangkan. Hasil validasi akan digunakan untuk menilai kelayakan alat peraga yang dikembangkan setelah ujicoba lapangan secara terbatas. 3.5 Instrumen Penelitian 3.5.1 Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu kuantitatif dan kualitatif. 3.5.1.1 Kuantitatif Data kuantitatif diperoleh dari kuesioner dan tes. Data yang di peroleh dari kuesioner diperoleh dari perolehan skor atau persentase dari uji keterbacaan analisis kebutuhan, hasil analisis kebutuhan, uji keterbacaan instrumen tes, uji keterbacaan validasi produk, hasil validasi produk oleh para ahli, dan hasil validasi produk setelah ujicoba lapangan terbatas. Hasil perolehan skor atau persentase yang diperoleh kemudian dihitung dan diubah menjadi data kualitatif. Data yang diperoleh dari tes diuji validitas dan relialibilitas agar layak digunakan di lapangan. 35

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.5.1.2 Kualitatif Data kualitatif diperoleh dari observasi, konversi kuesioner, dan wawancara. Observasi dilakukan untuk mengetahui perilaku siswa saat belajar di kelas. Konversi kuesioner diperoleh dari saran/komentar yang diberikan oleh pakar pembelajaran matematikan, pakar pembelajaran Montessori, dan Guru kelas terhadap produk yang dikembangkan. Sedangkan wawancara dilkukan untuk menggali informasi yang diperoleh dari responden. 3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan pada penelitian ini ada dua macam yaitu tes dan non tes. 3.5.2.1 Tes Tes digunakan sebagai alat untuk mengukur sesuatu berdasarkan aturan yang telah ditentukan (Arikunto, 2012: 67). Tes dapat didefinisikan sebagai kumpulan butir pertanyaan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, bakat, dan sebagainya agar subjek yang dikenai dapat terdorong menampilkan penampilan yang maksimal (Purwanto, 2009: 65). Jenis tes yang digunakan penelitian adalah tes dengan tipe esai (karangan). Tes dengan tipe esai (karangan) menghendaki para siswa untuk menjabarkan sendiri jawabannya sesuai dengan perintah yang diberikan (Azwar, 2013: 72). 3.5.2.2 Non tes Instrumen penelitian non tes yang digunakan adalah kuesioner, observasi, dan wawancara. 1. Observasi Instrumen penelitian non tes yang kedua adalah observasi. Sudjana (2009: 84) mendefinisikan observasi atau pengamatan sebagai suatu alat penilaian yang dipakai untuk mengukur tingkah laku seseorang dan kegiatan yang sedang terjadi dalam kondisi sebenarnya maupun buatan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis observasi nonpartisipan di mana peneliti bertindak sebagai pengamat untuk mengamati suatu kegiatan saja. 2. Wawancara Instrumen non tes yang ketiga adalah wawancara. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (kamus elektronik) wawancara didefinisikan sebagai kegiatan tanya-jawab dengan seseorang untuk dimintai suatu keterangan dan gagasan 36

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengenai suatu hal yang ditanyakan. Peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur. Dalam melakukan kegiatan wawancara, peneliti menyiapkan daftar pertanyaan untuk diajukan kepada responden serta menyiapkan garis pertanyaan yang ingin diajukan (lihat lampiran 1.2 halaman 87). Instrumen wawancara tidak melalui proses validasi kerena instrumen wawancara kualitatif adalah peneliti sendiri (Krathwohl, 2004: 299). Pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dapat dikembangkan berdasarkan hasil jawaban yang diungkapkan oleh responden. 3. Kuesioner Kuesioner yang disusun peneliti diberikan kepada para siswa yang dijadikan sebagai subyek dalam penelitinya. Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang perlu dijawab oleh responden yang sering disertai dengan pilihan jawaban yang sudah tersedia agar responden dapat secara langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut (Kartikowidi, 2010: 243). Jenis kuesioner yang dipakai dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Dalam menjawab pertanyaan atau pernyataan, responden dapat melilih jawaban yang sudah ada. Kuesioner yang dibagikan berupa analisis kebutuhan siswa mengenai alat peraga dan validasi produk oleh pakar mengenai alat peraga yang dikembangkan. 3.6 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data adalah suatu cara yang digunakan untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam menjawab rumusan masalah sebuah penelitian (Noor, 2011: 138). Pengumpulan data penelitian dapat dilakukan dari berbagai setting, sumber, dan cara (Sugiyono, 2012: 137). Suatu data dapat dikumpulkan dari berbagai tempat itu yang dapat dilihat dari berbagai setting. Dilihat dari sumbernya, data data dapat terkumpul secara primer yaitu sumber yang dapat memberikan informasi langsung dan sekunder yaitu sumber yang memberikan informasi secara langsung. Dilihat dari sumbernya teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan kuesioner (Sugiyono, 2012: 137). 3.6.1 Observasi Observasi digunakan sebagai teknik pengumpulan data analisis kebutuhan dan dampak penggunaan alat peraga pada uji coba lapangan terbatas. Jenis 37

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI observasi yang digunaan adalah observasi non partisipasi dimana peneliti bertindak sebagai pengamat (Sugiyono: 2012: 84). Pada analisis kebutuhan, observasi digunakan untuk mengetahui karakteristik siswa kelas II dan penggunaan alat peraga dalam pelajaran serta observasi alat peraga Montessori di Laboratorium Montessori. Observasi inilah yang digunakan peneliti sebagai pedoman dalam pembuatan kuesioner dalam analisis kebutuhan siswa. Teknik pengumpulan data pada dampak penggunaan alat peraga pada uji coba lapangan terbatas, dilakukan ketika uji coba lapangan secara terbatas. Hal yang diamati dalam uji coba lapangan terbatas ini adalah sikap siswa dalam menggunakan produk yang dikembangkan dalam uji coba lapangan terbatas. Berikut ini pedoman pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Tabel 3.1 Kisi-kisi pedoman observasi karekteristik siswa No. Kisi-kisi 1. Penggunaan alat peraga saat pembelajaran 2. Keinginan siswa untuk belajar 3. Kemandirian siswa saat belajar 3.6.2 Wawancara Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data analisis kebutuhan. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adlah wawancara tidak terstruktur dimana peneliti hanya menyiapkan pedoman wawancara secara garis besar. Wawancara ini dilakukan kepada kepala sekolan, guru kelas II, dan sekelompok siswa SDK Pugeran Yogyakarta. Wawancara kepada kepala sekolah terkait ketersediaan dan penggadaan alat peraga di sekolah. Sedangkan wawancara terhadap guru terkait penggunaan alat peraga di kelas dan kesulitan belajar siswa mengenai mata pelajaran matematika. Sedangkan wawancara terhadap siswa dilakukan untuk mengetahui penggunaan alat peraga oleh guru di kelas. Pada tabel 3.2 adalah pedoman wawancara yang digunakan. Tabel 3.2 Kisi-kisi pedoman wawancara terhadap kepala sekolah No. Kisi-kisi 1. Identitas dan informasi yang berkaitan dnegan sekolah 2. Ketersediaan alat peraga di sekolah yang sudah ada 38

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Pengadaan alat peraga 4. Penggunaan alat peraga saat pembelajaran Tabel 3.3 Kisi-kisi pedoman wawancara terhadap guru No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kisi-kisi Identitas guru dan pengalaman mengajar Jumlah siswa di kelas Metode pembelajaran yang digunakan Materi pembelajaran yang dianggap sulit oleh siswa kelas II Penggunaan alat peraga di kelas Harapan yang diinginkan oleh guru terkait alat peraga 3.6.3 Kuesioner Kuesioner digunakan sebagai teknik pengumpulan data dalam uji keterbacaan instrumen, analisis kebutuhan, dan validasi produk. Kuesioner analisis kebutuan dibuat berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan sebelumnya. Kuesioner ini akan diberikan kepada 38 siswa kelas II dan semua guru di SDK Pugeran Yogyakarta. Sebelum diberikan kepada guru dan siswa, kuesioner ini diuji keterbacaanya oleh pakar pembelajaran matematika, pakar pembelajaran bahasa, guru dan siswa yang berasal dari SD setara dengan lokasi penelitan. Kuesioner yang sudah terkumpul akan direkapitulasi dalam bentuk tabel rekapitulasi. Daftar pertanyaan dalam kuesioner memuat keempat karakteristik alat peraga berbasis Montessori yaitu 1) manarik, 2) bergradasi, 3) auto correction, 4) auto education dan tambahan satu karakteristik alat peraga oleh peneliti, yaitu kontekstual. Kuesioner validasi produk diberikan untuk menilai kelayakan produk yang dikembangkan. Sebelum kuesioner validasi produk digunakan, kesioner ini diuji keterbacaannya oleh pakar pembelajaran matematika, pakar pembelajaran bahasa, guru, dan siswa dari SD setara dengan lokasi penelitian. Kuesioner yang sudah divalidasi kemudian digunakan dalam validitas produk oleh pakar pembelajaran matematika dan pakar pembelajaran Montessori sebelum uji coba lapangan terbatas dan divalidasi oleh sekelompok siswa dan guru kelas II SDK Pugeran Yogyakarta setelah uji coba lapangan terbatas. 3.6.4 Tes Tes digunakan sebagai teknik pengumpulan data dalam uji validitas dan reliabilitas secara empirik serta uji lapangan secara terbatas. Soal tes yang akan 39

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diujikan secara empirik berjumlah 30 yang memuat pertanyaan mengenai materi operasi pembagian bilangan dua angka yang disesuaikan dengan indikator dan kisi-kisinya. Pada tabel 3.4 nampak kisi-kisi dan indikator materi operasi pembagian bilangan dua angka. Tabel 3.4 Kisi-kisi dan indikator operasi pembagian bilangan dua angka No. Indikator Item 1. Melakukan pembagian bilangan sampai habis dengan bilangan satu angka 6 1, 2, 3, 6, 7, dan 8 2. Melakukan pembagian bilangan itu sendiri 8 4, 9, 10, 11, 17, 19, 20, dan 26 3. Melakukan pembagian dengan bilangan 1 6 5, 12, 13, 14, 18, dan 21 4. Melakukan pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka 10 15, 16, 22, 23, 24, 25, 27, 28, 29, dan 30 Total bilangan dengan Nomor Soal 30 Item tes yang valid dan reliabel dihitung menggunakan IBM SPSS 22.00 for Windows. Dalam uji coba lapangan terbatas, pengumpulan data berupa tes, kuesioner, dan wawancara. Tes yang digunakan berupa soal pretest dan posttest. Soal pretest digunakan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang meteri pembagian bilangan dua angka sebelum penerapan penggunaan alat peraga yang dikembangan. Soal posttest diberikan setelah pada siswa belajar menggunakan alat peraga yang dikembangkan. 3.7 Teknik Analisis Data 3.7.1 Tes Pada uji coba secara empirik, tes dihitung validitas dan reliabilitasnya menggunakan program IBM SPSS 20.00 for Windows. Validitas tes diuji menggunkan Product Momet dari Pearson, sedangkan reliabilitas tes diuji menggunakan Alpha Cronbach dari Pearson. Menurut Widoyoko (2009: 128) suatu instrumen penelitian dapat dikatakan valid bila instrumen tersebut mampu mengukur hal yang akan diukur sehingga menghasilkan data yang valid pula. Suatu tes dapat dikatakann reliabel jika harga Alpha Cronbach > 0.600 (Nunnaly dalam Ghozali, 2009: 46). 40

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pada uji coba lapangan terbatas, tes yang digunakan adalah pretest dan posttest. Soal tes yang diberikan mengenai pembagian bilangan dua angka. Nilai pretest dan posttest, nilai rerata dan persentase peningkatan nilai dapat dihitung menggunakan rumus di bawah ini: x 100 Rumus. 3.1 Rumus Perhitungan Pretest dan Posttest Rumus. 3.2 Rumus Perhitungan Nilai Rerata ̅ ̅ ̅ x 100% Rumus. 3.3 Rumus Perhitungan Peningkatan Nilai Keterangan: ̅ pretest 3.7.2 ̅ posttest = rata-rata nilai pretest = rata-rata nilai posttest Observasi Observasi dilakukan sebelum dan saat uji coba lapangan terbatas. Sebelum ujicoba lapangan terbatas, peneliti melakukan observasi guna menemukan analisis kebutuhan. Saat uji coba lapangan, observasi difokuskan pada sikap siswa dalam menggunakan produk yang dikembangkan, namun dimungkinkan sekali jika analisis data ini akan berkembang selama berada di lapangan (Sugiyono, 2012: 245). 3.7.3 Wawancara Analisis data wawancara secara kualitatif dapat dilakukan selama pengumpulan data ataupun sesesudah pengumpulan data. Wawancara ini menggunakan pendekatan kualitatif. Kerampilan pewawancara sangat penting untuk mendapatkan informasi yang baik (Krathwohl, 2004: 299). Pewawancara di 41

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sini adalah peneliti. Peneliti hendaknya dapat membangun suasana agar wawancara dapat dilakukan secara kondusif dan responden dapat menanggapi pertanyaan dengan jujur. 3.7.4 Kuesioner Teknik analisis data kuesioner analisis kebutuhan dihitung dalam bentuk persen. Perhitungan tersebut dilakuak untuk mengetahui persentase tiap item kuesioner.  Rumus perhitungan persentase item kuesioner Rumus 3.4 Perhitungan Persentase Item Kuesioner Teknik analisis data kuesioner validasi produk oleh pakar pembelajaran, guru, dan siswa dihitung dari rata-ratanya. Rata-rata diperoleh dari skor yang diperoleh dari total skor item penyataan kuesioner dibagi dengan jumlah pernyataan item kuesioner. Setelah ditemukan rata-rata, peneliti menghitung rerata tiap validator. Nilai rerata yang diperoleh merupakan data kuantitatif yang kemudian di konversikan menjadi data kualitatif menggunakan skala lima menurut Widoyoko (2009: 238) pada tabel 3.5 Tabel 3.5 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima menurut Widoyoko Interval Skor Rerata Skor Kategori X > ̅ i + 1,8 x SBi 5 - 4,2 Sangat baik ̅ i + 0,60 x SBi < X ≤ ̅ i + 1,80 x SBi 3,4 – 4,2 Baik ̅ i – 0,60 xSBi < X ≤ ̅ i + 0,60 x SBi 2,6 – 3,4 Cukup ̅ i – 1,80 x Sbi < X ≤ ̅ i + 0,60 xSBi 1,8 – 2,6 Kurang baik X ≤ ̅ i – 1,80 x SBi 1 - 1,8 Sangat kurang baik Keterangan: ̅ (Rerata ideal) (Simpangan baku ideal) = ⁄ (skor maksimum ideal + skor ⁄ (Skor maksimum ideal – skor minimum ideal) = minimum ideal) 42

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Skor empiris Skala penilaian yang digunakan oleh peneliti menggunakan skala 4 yang kemudian dikonversikan dalam lima kriteria penilaian alat peraga yaitu (5) sangat baik, (4) baik, (3) cukup, (2) kurang baik, dan (1) sangat kurang baik. Alat peraga dikatakan sangat baik atau baik mengandung arti memenuhi keempat karakteristik alat peraga Montessori dan ciri kelima yang ditambahkan oleh peneliti, yaitu kontekstual. Alat peraga dikatakan kurang baik dan sangat kurang baik mengandung arti belum memenuhi keempat karakteristik alat peraga Montessori dan satu ciri yang ditambahkan peneliti, yaitu kontekstual. 3.7.5 Triangulasi Data Triangulasi pada analisis data dilakukan sebelum di lapangan dan selama di lapangan (Sugiyono, 2012: 245). 1. Analisis sebelum di lapangan Analisis sebelum di lapangan bertujuan untuk menentukan fokus penelitian. Fokus ini bersifat sementara dan berkembang jika sudah memasuk di lapangan. Fokus sementara dalam penelitian ini adalah dampak dari pengembangan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. 2. Analisis selama di lapangan Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, kesimpulan dan verifikasi (Sugiyono, 2012:246-253). Pengumpulan data Reduksi data Penyajia n data Kesimpulan dan verifikasi Bagan 3.4 Komponen dalam analisis data a. Reduksi data Tahap ini digunakan untuk menentukan pusat perhatian yang dituju agar data yang direduksi memberikan data secara jelas. 43

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Penyajian data Penyajian data secara kualitatif dapat disajikan dalam bentuk bagan, uraian singkat, dsb. Setelah reduksi data selesai, selanjutnya adalah penyajian data tersebut dapat mempermudah dalam memahami hal yang ditemukan di lapangan. c. Kesimpulan dan verifikasi Penarikan kesimpulan dan verifikasi didasarkan pada kesimpulan awal yang bersifat sementara. Kesimpulan dan verifikasi ini ditetapkan jika bukti yang ditemukan di lapangan sudah kuat. 44

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi (1) kajian Standar Kompetensi dan materi pembelajaran, (2) analisis kebutuhan, (3) pembuatan alat peraga, dan (4) instrumen penelitian, (5) validasi alat peraga, (6) kajian produk akhir, dan (7) konsekuensi lebih lanjut. 4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Materi Pembelajaran Pada tahap pertama, peneliti melakukan wawancara dengan guru kelas II. Wawancara pertama dilakukan pada tanggal 28 September 2013. Dari hasil wawancara pertama ini, diketahui bahwa kebanyakan anak-anak kelas II sebelumnya mengalami kesulitan dalam operasi hitung. “Kalau untuk materi semester genap anak-anak kelas II dulu yang sekarang kelas III kebanyakan mereka susah belajar pengurangan, perkalian, dan perkalian mbak, apa lagi perkalian dan perkalian itu susah sekali mereka” (wawancara dengan guru 28, September 2013). Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti memilih Standar Kompetensi 3. Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka dengan Kompetensi Dasar 3.2 Melakukan pembagian bilangan dua angka. Kompetensi dasar ini dapat diajarkan jika siswa sudah menguasai materi yang sebelumnya, yaitu pengurangan bilangan dan menentukan nilai tempat. Pembagian bilangan dua angka terdiri atas lima materi, yaitu pembilangan sampai habis dengan bilangan satu angka, pembagian dengan bilangan itu sendiri, pembangian bilangan dengan bilangan satu, dan pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka. 4.2 Analisis Kebutuhan 4.2.1 Analisis Karakteristik Alat Peraga Montessori Analisis karakteristik alat peraga Montessori dilakukan untuk menyesuaikan alat peraga Montessori yang dikembangkan dengan karakteristik siswa. Analisis karakteristik alat peraga Montessori dilakukan dengan cara observasi di laboratorium alat peraga Montessori milik Program Studi Pendidikan 45

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, mengkaji katalog alat peraga Motessori, dan mengkaji album alat peraga Montessori. Peneliti melakukan observasi alat peraga Montessori di awali dengan mengkaji alat peraga Montessori yang ada di laboratorium dengan menggunakan katalog yang ada. Setelah mengkaji alat peraga Montessori dengan katalog, selanjutnya adalah membuka album alat peraga dan mempelajari tata cara penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori. Ketika melakukan observasi alat peraga di laboratorium, alat peraga Montessori pembagian, yaitu division board, division working charts, long division, dan stamp games. Selain melakukan observasi di laboratorium alat peraga Montessori, mengkaji katalog, dan mengkaji album alat peraga, peneliti juga pernah mengikuti workshop pembelajaran Montessori selama 2 minggu pada bulan Juli 2011 dan 2012, serta observasi di sekolah Montessori di Indonesia, dan pelatihan penggunaan alat peraga Montessori bersama guru sekolah Montessori di Indonesia. Kegiatan workshop yang pernah peneliti ikuti adalah untuk mengetahui cara menggunakan alat peraga Montessori yang diajarkan oleh pakar. Sedangkan, observasi di salah satu sekolah Montessori di Indonesia dilakukan pada tanggal 14-15 Januari 2013 pada saat para siswa belajar di kelas. Observasi dilakukan untuk melihat bagaimana guru mengajarkan anak menggunakan alat peraga Montessori. Hal yang menarik dalam observasi ini adalah ketika anak diajarkan oleh guru, anak tersebut langsung mencoba sendiri. Bila mengalami masalah anak-anak tersebut langsung mencoba-cobanya agar masalah yang ditemui dapat dipecahkan. Setelah mencoba-coba anak tersebut dapat menyelesaikannya. Melihat peristiwa tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa alat peraga Montessori dapat mengajarkan anak untuk belajar secara mandiri tanpa harus ada bimbingan dari guru (auto-education) dan memiliki pengendali kesalahan ketika mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas (auto-correction). Selain itu, peneliti juga pernah melakukan pelatihan penggunaan alat peraga pada tanggal 10 Oktober 2013. Observasi ini terkait tentang cara penggunaan alat peraga Montessori yang diperagakan oleh salah satu guru sekolah Montessori di Indonesia. Berdasarkan presentasi yang dilakukan oleh guru Montessori, peneliti dapat melihat bahwa alat peraga Montessori, yaitu Binomial 46

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Cube dapat digunakan untuk materi yang berbeda. Binomial Cube jika digunakan untuk anak Taman Kanak-kanak (TK), alat peraga tersebut digunakan untuk mainan. Apabila alat tersebut untuk kelas yang lebih tinggi, alat tersebut digunakan untuk mengejarkan tentang kuadrat. Berdasarkan pengamatan ini, peneliti dapat menyimpulkan bahawa alat peraga memiliki gradasi untuk kompetensi yang berbeda dan dapat digunakan untuk usia anak yang berbeda. Hal yang peneliti amati yang lain adalah mengenai warna alat peraga dan struktur luar alat peraga Montessori. Alat peraga Montessori memiliki miliki warna yang cerah, seperti warna hijau, biru, dan merah. Selain itu, alat peraga Montessori memiliki tekstur permukaan yang halus jika diraba menggunakan tangan, serat kayu memiliki garis yang lurus sehingga nampak rapi jika dilihat. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan alat peraga Montessori adalah jenis kayu khusus yang tahan rayap jika digunakan selama bertahun-tahun. Berdasarkan hasil pengamatan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa alat peraga Montessori memiliki karakteristik menarik jika dilihat dari segi warna dan tekstur permukaan alat peraga, serta terbuat dari kayu khusus sehingga tahan lama digunakan. 4.2.2 Analisis Karakteristik Siswa Analisis karekateristik siswa dilakukan dengan observasi dan wawancara terhadap guru kelas II SDK Pugeran Yogyakarta. Observasi dan wawancara dilakukan pada tanggal 28 September 2014. Berdasarkan wawancara dan observasi diperoleh data hasil bahwa ada beberapa siswa kelas II yang perlu bimbingan khusus untuk pelajaran matematika di kelas. Hal itu nampak pada beberapa siswa yang meminta bimbingan guru untuk mengerjakan soal yang diberikan. Selain itu ada beberapa siswa yang belum selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Hal tersebut dikarenakan siswa kelas II kurang memiliki minat dalam belajar matematika. 4.2.3 Pembuatan Kuesioner Analisis Kebutuhan Pembuatan kuesioner analisis kebutuhan siswa dilakukan setelah dilakukan analisis kerakteristik alat peraga Montessori dan analisis kerakteristik siswa kelas II. Kuesioner dibuat indikatornya berdasarkan ciri-ciri alat peraga Montessori, yaitu menarik, bergradasi, auto-correction, dan auto-education (Montessori, 2002: 170-176), serta satu ciri alat peraga yang ditambahkan oleh peneliti, yaitu kontekstual. Masing masing indikator ini dideskripsikan menjadi 47

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dua deskriptor pada tiap indikatornya. Instrumen kaesioner analisis kebutuhan kemudian diuji keterbacaannya oleh pakar pembelajaran Matematika, pakar pembelajaran Bahasa, guru dan tiga orang siswa yang berasal dari SD yang setara dengan lokasi penelitian. Pedoman penyekoran yang digunakan oleh peneliti adalah nilai 1-4 yang konversikan dalam penilaian skala 5. Tabel 4.1 Konversi data kuantitatif menjadi data kualitatif ̅ ̅ ̅ ̅ ̅ ̅ ̅ ̅ Keterangan: ̅ (Rerata ideal) Rumus Klasifikasi Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat kurang = (skor maksimum ideal + skor minimum ideal) (Simpangan baku ideal)= (Skor maksimum ideal – skor minimum ideal) = Skor empiris Peneliti menerapkan rumus konversi tersebut untuk mengubah data kuantitatif menjadi data kualitatif. Hasil penjabaran rumus tersebut adalah sebagai berikut. Skor maksimal :4 Skor minimal :1 Rerata ideal ( ̅ ) : (4+1) = 2,5 Simpangan baku ideal ( Sangat baik ) : (4-1) = 0,5 = = ̅ = = Baik = ̅ = ̅ 48

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI = = = ̅ Cukup baik = ̅ = 0,3 = = ̅ Kurang baik ̅ = = = Sangat kurang baik – = = ̅ = = Hasil interval untuk klasifikasi sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang adalah sebagai berikut: Tabel 4.2 Hasil pengkonversian data skala 1-4 Interval Skor 3,5 – 4 2,9 – 3,4 2,3 – 2,8 1,7 – 2,2 1 – 1,6 Klasifikasi Sangat baik Baik Cukup Kurang baik Sangat kurang baik SD setara yang dipilih adalah SD Kanisius Kumendaman Yogyakarta (SDK Kumendaman Yogyakarta). Alasan dipilihnya SDK Kumendaman karena peneliti menganggap sekolah tersebut memiliki kesetaraan yang sama dengan SDK Pugeran Yogyakarta. Kesetaraan tersebut diihat dari berada di kecamatan yang sama, yaitu Matrijeron, satu yayasan yaitu Yayasan Kanisius Cabang 49

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Yogyakarta, dan dipimpin oleh kepala sekolah yang sama. Hasil tabulasi uji keterbacaan kuesioner analisis kebutuhan dapat dilihat pada tabel 4.3 Penilai 1 Jumlah Rerata 1 2 Pakar 1 Pakar 2 2 3 3 4 4 4 2 3 3 3 3 4 3 3 4 3 2 4 2 3 28 34 2.8 3.4 3 Pakar 3 4 4 2 4 2 3 4 4 4 4 35 3.5 4 Pakar 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3 4 36 3.6 5 6 Pakar 5 Pakar 6 4 2 4 4 3 3 3 4 3 2 4 4 4 3 4 3 4 2 4 4 37 31 3.7 3.1 7 8 Guru Siswa 1 3 4 3 2 4 3 3 4 3 3 4 3 4 3 4 3 4 3 3 4 35 32 3.5 3.2 9 Siswa 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40 4 4 33 3.3 3 35 3.5 4 34 3.4 4 35 3.5 4 30 3 4 37 3.7 4 36 3.6 4 37 3.7 4 34 3.4 4 36 3.6 39 347 3.9 Baik Sangat baik Baik Sangat baik Baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik baik Sangat baiik Skor tiap pertanyaan No 10 Siswa 3 Jumlah Rerata Klasifikasi 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Klasifika si Tabel 4.3 Hasil Tabulasi Uji Keterbacaan Kuesioner Cukup Baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Cukup Sangat baik Baik Sangat baik Sangat baik 3.47 Sangat baik Uji keterbacaan analisis kebutuhan menggunakan penilaian 1-4. Secara keseluruhan, item kuesioner mendapatkan klasifikasi “Sangat baik”. Meskipun begitu, tidak berarti tiap item kuesioner layak digunakan untuk digunakan karena ada beberapa saran/komentar yang diberikan kepada peneliti. Saran/komentar yang diberikan dapat dilihat pada lampiran rekapitulasi hasil uji keterbacaan instrumen analisis kebutuhan (lihat lampiran 2.1 halaman 88) Saran dari pakar pembelajaran, guru, dan siswa digunakan peneliti sebagai acuan dalam pembuatan kesioner analisis kebutuhan siswa dan guru. Kuesioner yang sudah diperbaiki siap digunakan sebagai analisis kebutuhan siswa dan guru di lapangan (lihat lampiran 2.2 , halaman 91) 50

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.4 Data Analisis Kebutuhan Kuesioner analisis kebutuhan siswa diberikan pada tanggal 24 Oktober 2013. Kuesioner yang seharusnya diberikan kepada 38 siswa, namun hanya diberikan kepada 37 siswa karena salah satu siswa tidak berangkat sekolah. Pengisian kuesioner dilakukan dan dibaca secara bersama-sama oleh semua siswa dengan pendampingan dari guru. Pengisian kuesioner dilakukan menggunakan satu jam mata pelajaran. Kuesioner yang dibagikan terdiri terdiri dari sepuluh pertanyaan beserta pilihan jawaban yang telah tersedia. Hasil kuesioner analisis kebutuhan siswa dapat dilihat pada tabel 4.4 Tabel 4.4 Hasil kuesioner analisis kebutuhan siswa No 1 2 Indikator Autoeducation 3 Manarik 4 5 Bergradasi 6 7 8 Autocorrection 9 Kontekstual 10 Deskriptor Frekuensi penggunaan alat peraga pada saat pembelajaran matematika Alat peraga membantu pemahaman konsep matematika Warna membuat alat peraga lebih menarik Warna yang disukai pada alat peraga Berat alat peraga yang diinginkan Alat peraga yang dapat digunakan untuk berbagai macam kompetensi Alat peraga yang dapat membantu menemukan kesalahan siswa Alat peraga yang dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar Frekuensi penggunaan bendabenda di lingkungan sekitar saat mengajar Penggunaan benda-benda di lingkungan sekitar sebagai bahan pembuat media Jawaban Siswa 45,95% menyatakan kadang-kadang 91,9% menyatakan “ya” 86,49% menyatakan “ya” 94,6% menyatakan warna cerah 43,24% menyatakan ringan (<1,5 kg) 78,38% menyatakan “ya” 59,46% menyatakan “ya” 81,08% menyatakan “ya” 32,43% menyatakan kadang-kadang 89,19% menyatakan setuju Tabel 4.4 menunjukkan hasil kuesioner yang telah dijawab oleh para siswa yang telah direkapitulasi (lihat lampiran 2.3, halaman 92). Kesioner tersebut terdapat indikator empat ciri-ciri alat peraga Montessori dan satu ciri yang ditambahkan oleh peneliti, yaitu kontekstual. Pada indikator auto-education, sebanyak 17 siswa atas 45,95% siswa menyatakan frekuensi guru menggunakan alat peraga pada pembelajaran matematika masih kadang-kadang. Pada deskriptor kedua, 91,9% siswa menyatakan bahwa alat peraga dapat membantu dalam memahami konsep-konsep matematika. Pernyataan pada deskriptor pertama dan 51

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kedua sesuai dengan ciri alat peraga Montessori, yaitu auto-education. Ketika menggunakan alat peraga siswa dapat menyerap sendiri pemahamannya tanpa harus diberitahu oleh orang lain (Montessori, 2002:172) Indikator kedua adalah menarik. Pada deskriptor ketiga ini sebanyak 34 siswa atau 81,49% siswa menyatakan bahwa pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga menarik. Deskriptor keempat menyatakan 94,6% siswa menyukai alat peraga dengan warna yang cerah. Pemberian warna yang cerah memberikan daya tarik tersendiri bagi siswa ketika menggunakannya. Hal ini sesuai dengan ciri alat peraga Montessori yang menarik dimana dapat membangkitkan hasrat anak untuk menyentuh, meraba, memegang, merasakaan, dan menggunakannya (Montessori, 2002:174). Pada deskriptor kelima, sebanyak 16 atau 43,24% siswa memilih alat peraga ringan (<1,5kg) yang ingin digunakan. Pada deskriptor keenam, sebanyak 29 atau 78,38% siswa menyukai alat peraga yang sama bisa digunakan untuk materi yang berbeda. Pernyataan pada deskriptor kelima dan keenam sesuai dengan ciri alat peraga Montessori, yaitu bergradasi. Penekanan gradasi terletak pada keterlibatan penggunaan indera peraba dan indera penglihat saat memegang dan membawa alat peraga saat digunakan, serta satu alat peraga dapat digunakan untuk mengajarkan lebih dari satu materi (Montessori, 2002:172) Pada deskriptor ketujuh, sebanyak 22 atau 59,46% siswa menyatakan bahwa alat peraga dapat membantu dalam menemukan kesalahan sendiri. Pada deskriptor kedelapan, sebanyak 30 atau 81,08% siswa menyatakan bahwa alat peraga dapat membantu dalam menemukan jawaban yang benar. Pernyataan deskriptor ketujuh dan kedelapan sesuai dengan ciri alat peraga Montessori, yaitu auto-correction. Auto-correction di sini mengenai pengendali kesalahan, alat peraga yang baik adalah alat peraga yang dapat membantu siswa dalam mengoreksi sendiri kekeliruan yang dibuat tanpa perlu diberitahu oleh orang lain (Montessori, 2002: 171) Pada deskriptor kesembilan, sebanyak 12 atau 32,43% siswa menyatakan bahwa frekuensi penggunaan benda-benda yang ada di lingkungan sekitar oleh guru masih kadang-kadang. Pada deskriptor kesepuluh, sebanyak 33 atau 89,19% siswa menyatakan setuju jika alat peraga dibuat menggunakan benda-benda di 52

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI lingkungan sekitar. Deskriptor kesembilan dan kesepuluh merupakan ciri alat peraga Montessori yang ditambahkan oleh peneliti. Kontekstual diartikan sebagai teralami (Johnson, 2002: 20). Teralami disini adalah sesuatu yang dapat membangun makna yang dapat ditemukan langsung di lingkungan sekitar siswa (Johnson, 2002: 34). Kuesioner analisis kebutuhan guru diberikan pada tanggal 24 Oktober 2013. Kuesioner diberikan kepada 7 guru wali kelas I hingga kelas VI, namun hanya 6 guru saja yang mengembalikan kuesioner analisis kebutuhan tersebut. Kuesioner yang dibagika terdiri atas 10 pertanyaan beserta pilihan jawaban yang telah tersedia. Indikator tiap pertanyaan kuesioner disesuaikan dengan keempat karakteristik alat peraga Montessori, yaitu menarik, bergradasi, auto-correction, auto-education, dan satu karakteristik alat peraga yang ditambahkan oleh peneliti, yaitu kontekstual. Tabel 4.5 Hasil Analisis Kebutuhan Guru No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Indikator Frekuensi penggunaan alat peraga pada saat pembelajaran matematika Alat peraga membantu pemahaman konsep matematika Warna membuat alat peraga lebih menarik Warna yang disukai pada alat peraga Berat alat peraga Hasil Jawaban Siswa 83.33% menyatakan sangat kadang-kadang Alat peraga yang dapat digunakan untuk berbagai macam kompetensi Alat peraga yang dapat membantu menemukan kesalahan siswa Alat peraga yang dapat membimbing siswa menemukan jawaban yang benar Frekuensi penggunaan benda-benda di lingkungan sekitar sebagai bahan pembuat media Penggunaan benda-benda di lingkungan sekitar sebagai bahan pembuat media 83,33% menyatakan “ya” 100% menyatakan “ya” 100% menyatakan “ya” 100% menyatakan warna cerah 83,33% menyatakan ringan (< 1,5) 100%menyatakan “ya” 100% menyatakan “ya” 66,67% menyatakan kadang-kadang 100% menyatakan setuju Tabel 4.5 menunjukkan hasil kuesioner yang telah dijawab oleh guru yang telah direkapitulasi (lihat lampiran 2.4 halaman 94). Pada tabel 4.5 terlihat bahwa frekuensi penggunaan alat peraga oleh guru masih masih rendah, hal tersebut 53

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI terbukti pada penyataan guru sebanyak 83,33% kadang-kadang menggunakan alat peraga. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan analsis kebutuhan siswa kelas II yang menyatakan kadang-kadang. Guru sangat setuju sekali alat peraga dapat membantu siswa dalam memahami materi matematika. Semua guru juga sangat setuju jika alat peraga memiliki warna yang cerah agar memberi kesan yang menarik bagi para siswa, membantu siswa dalam menemukan kesalahannya sendiri, membantu siswa dalam menemukan jawaban yang benar, dan bahan yang digunakan dalam pembuatan alat peraga berasal dari lingkungan sekitar. Mengenai berat alat peraga yang dikembangkan, 83,33% guru menginginkan alat peraga yang memeliki berat yang ringan (<1,5 kg). Hal tersebut sesuai dengan analisis kebutuhan yang telah dilakukan oleh siswa kelas II SDK Pugeran Yogyakarta. Terkait dengan gradasi pada alat peraga, guru dan siswa setuju jika satu alat peraga yang dikembangkan dapat digunakan untuk kompetensi yang berbeda. Berdasarkan analisis kebutuhan yang telah dilakukan oleh siswa dan guru SDK Pugeran Yogyakarta, peneliti mencoba merealisaikan analisis kebutuhan tersebut menjadi sebuah alat peraga yang menggunakan keempat ciriciri alat peraga Montessori dan satu ciri alat peraga yang ditambahkan oleh peneliti, yaitu kontekstual. 4.3 Pembuatan Alat Peraga 4.3.1 Desain Alat Peraga Desain alat peraga yang akan dikembangkan mengadopsi pada alat peraga stamp games. Alat peraga stamp games terdiri atas kartu angka satuan hingga ribuan dan skittle sebagai pembagi. Desain alat peraga yang dikembangkan terdiri dari (1) kotak balok, (2) papan pembagian bilangan, (3) kartu soal, (4) balok satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan, dan (5) pion. Desain inilah yang akan dijadikan peneliti dalam merancang alat peraga yang akan dikembangkan. Gambar 4.1 Stamp games 54

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kotak balok merupakan sebuah kotak yang digunakan untuk menyimpan dan meletakkan kartu soal, balok satuan, balok puluhan, balok ratusan, dan balok ribuan, dan pion. Kotak balok ini memiliki ukuran lebar 19,5 cm, panjang 26,5 cm, dan tinggi 5 cm dengan ketebalan 1 cm untuk kotaknya, dan 0,5 cm untuk tutup kotaknya. Kotak tersebut terdiri atas 6 ruangan, yaitu (1) ruang untuk balok satuan, (2) ruang untuk balok puluhan, (3) ruang untuk balok ratusan, (4) ruang untuk balok ribuan, (5) ruang untuk kartu soal, dan (6) ruang untuk pion. Ruang untuk balok satuan berukuran 8 cm x 9 cm x 5 cm. Ruangan untuk balok puluhan berukuran 5 cm x 9 cm x 5 cm. Ruang untuk balok ratusan berukuran 5 cm x 9 cm x 5 cm. Ruang untuk balok ribuan berukuran 5 cm x 9 cm x 5 cm. Ruang untuk kartu soal berukuran 12 cm x 6,5 cm x 5 cm. Ruang untuk pion berukuran 12 cm x 6,5 cm x 5 cm. Kotak ini dilengkapi oleh tutup yang berukuran 26,5 cm x 19,5 x 0,5 cm. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu mindi yang ringan. Pemilihan kayu yang ringan bertujuan supaya siswa dapat membawa dan memindahkan kotak tersebut ketika digunakan. Pembuatan kotak berserta tutup dibuat dengan memperhatikan kehalusan kayu. Gambar 4.2 Gambar desain kotak balok 55

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 4.3 Gambar tutup balok Papan pembagian bilangan merupakan papan yang digunakan anak untuk berlatih mengenai konsep pembangian. Papan ini terbuat dari kayu mindi yang ringan, sehingga anak mudah membawa dan memindahkannya ketika digunakan. Papan ini memiliki ukuran 27 cm x 47 x cm. Papan ini terdiri atas 18 lubang lingkaran dan 162 buah lubang berbentuk persegi. Lubang berbentuk lingkaran memiliki diameter 2,5 cm, dengan ke dalaman lubang 0,5 cm. Setiap lubang lingkaran memiliki jarak 0,5 cm. Sedangkan lubang berbentuk persegi memiiki ukuran 2 cm x 2 cm, dengan ke dalaman lubang 0,5 cm. Setiap lubang persegi memiliki jarak 0,5 cm dengan lainnya. Gambar 4.4 Desain Papan pembagian 56

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kartu soal terbuat dari kertas ivory 260. Kartu soal ini berukuran 8,5 cm x 4 cm. Kartu soal yang digunakan berjumlah 90 soal yang diberi sekat pembatas untuk masing-masing indikator. Kartu soal mengenai pembagian bilangan sampai habis menggunakan satu angka terdiri atas 6 soal. Kartu soal mengenai pembagian bilangan satu angka bilangan dengan bilagan itu sendiri terdiri atas 9 soal. Pembagian dengan bilangan satu terdiri atas 9 soal. Pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka tanpa menukar terdiri atas 15 soal. Pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka dengan menukar terdiri atas 51 soal. Gambar 4.5 Desain kartu soal Balok satuan, balok puluhan, balok ratusan, balok ribuan terbuat dari kayu mindi. Balok ini memiliki ukuran 1,7 cm x 1,7 cm x 1 cm. Agar tampak menarik, balok-balok ini diberi warna yang cerah sesuai dengan analisis kebutuhan. Balok satuan diberi warna biru muda, balok puluhan diberi warna ungu, balok ratusan diberi warna orange, balok rbuan diberi warna biru tua. Masing-masing balok diberi angka yang berbeda untuk menandakan bahwa balok tersebut memiliki nilai yang berbeda. Tiap balok satuan diberi angka 1, balok puluhan diberi angka 10, balok ribuan diberi angka 100, dan tiap balok ribuan diberi angka 1000. Warna angka pada tiap balok dipilih warna putih agar tampak jelas jika ditempelkan pada balok yang sudah diberi warna. Gambar 4.6 Desain balok angka 57

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pion pada alat peraga ini dibuat layaknya pion dalam permainan catur. Pion ini memiliki ukuran tinggi 4 cm dan memiliki diameter 2 cm. Pion ini digunakan sebagai pembagi. Warna pada pion dipilih berdasarkan analisis kebutuhan siswa, yaitu warna merah. Gambar 4.7 Desain pion 4.3.2 Album Alat Peraga Album alat peraga merupakan pelengkap dari sebuah alat peraga. Album alat peraga ini digunakan sebagai pedoman penggunaan alat peraga dalam pembelajaran (lihat lampiran 8, halaman 131). Album alat peraga Montessori berisikan mengenai SK, KD, indikator, tema, tujuan langsung, syarat, usia, presentasi penggunaan alat peraga dan pengendali kesalahan. Album alat peraga ini berisi materi pembagian bilangan dua angka. Materi pembagian bilangan terdiri atas empat indikator yang perlu dicapai siswa saat belajar, yaitu (1) melakukan pembagian bilangan sampai habis dengan bilangan satu angka, (2) melakukan pembagian bilangan dengan bilangan itu sendiri, (3) melakukan pembagian dengan bilangan 1, dan (4) melakukan pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka. Pada indikator keempat dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka tanpa menukar dan pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka dengan menukar. Tema pembelajaran yang diajarkan pada album pembagian bilangan ada enam macam. Tema pembelajaran pertama adalah pengantar. Tujuan pembelajaran ini adalah mengenalkan siswa mengenai konsep satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Tema pembelajaran kedua mengenai pembagian bilangan sampai habis dengan bilangan satu angka. Tema pembelajaran ketiga mengenai pembagian bilangan dengan bilangan itu sendiri. Tema pembelajaran keempat 58

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengenai pembagian dengan bilangan 1. Tema pembelajaran kelima mengenai pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka tanpa menukar. Tema pembelajaran keenam mengenai pembagian bilangan dua angka dnegan bilangan satu angka dengan menukar. Tujuan langsung merupakan tujuan pembelajaran yang perlu dicapai sesuai dengan indikator yang sudah ditetapkan. Syarat pada album merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa sebelum mempelajari materi. Usia pada album merupakan batasan usia siswa saat mempelajari materi. Presentasi merupakan langkah-langkah atau pedoman penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Sedangkan pengendali kesalahan adalah sesuatu yang dapat membantu siswa dalam menemukan kesalahan ketika menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. 4.3.3 Pengumpulan Bahan Pengumpulan bahan akan dilakukan setelah desain alat peraga sudah selesai dibuat. Bahan yang digunakan dalam pembuatan alat peraga dengan memanfaatkan potensi lokal di sekitar lokasi penelitian. Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan alat peraga adalah kayu mindi (Melia azederch Linn) Kayu mindi adalah jenis kayu yang banyak ditemukan di daerah Yogyakarta yang mudah tumbuh di berbagai konsisi tanah (Praptoyo, 2010: 21) ini merupakan kayu yang ringan, mudah ditemukan, tahan dengan rayap. Kayu mindi merupakan bahan utama pembuatan kotak balok, papan pembagian kayu ini bilangan, balok satuan, balok puluhan, balok ratusan, balok ribuan, dan pion. Balok kotak dan papan pembagian bilangan diberi plitur. Sedangkan balok ratusan, balok puluhan, balok ratusan, balok ribuan, dan pion diberi warna menggunakan cat kayu. Plitur dan cat warna kayu dapat ditemukan di toko pembangunan. Alat peraga ini dilengkapi juga dengan kartu soal. Kartu soal dibuat dengan menggunakan kertas ivory dengan ketebalan 230. Kertas ivory ini dapat ditemukan di toko alat tulis. 4.3.4 Pembuatan Alat Peraga Alat peraga dibuat setelah desain alat peraga, desain album alat peraga, dan bahan-bahan yang diperlukan terkumpul. Alat peraga dibuat oleh salah satu mebel di daerah Jagalan, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Alat yang dibuat di mebel ini adalah papan pembagian bilangan, kotak balok, balok satuan, balok puluhan, 59

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI balok ratusan, balok ribuan, dan pion. Bahan baku pembuatan alat peraga ini adalah kayu mindi. Proses pembuatan papan pembagian bilangan dan kotak balok diawali dengan memilian kayu. Tahap selanjutnya adalah menghaluskan kayu menggunakan mesin penghalus kayu. Hal ini lakukan untuk menghaluskan seratserat kayu yang masih kasar. Proses selanjutnya adalah memotong kayu sesuai dengan desain alat peraga menggunakan mesin pemotong. Lubang lingkaran pada papan pembagian dilubangi menggunakan bor, sedangkan lubang persegi pada papan di buat secara manual menggunakan balok kayu kecil yang kemudian dilem sehingga menyerupai lubang persegi. Potongan kayu yang telah terpotong kemudian disatukan menggunakan lem sehingga berbentuk menjadi kotak dan papan pembagian. Alat peraga ini tidak menggunakan paku untuk merekatkan kayu sehingga terbentuklah kotak balok dan papan pembagian yang halus. Proses selanjutnya adalah pemberian dempul pada kotak dan papan pembagian bilangan. Pemberian dempul ini bertujuan untuk menutup lubang-lubang pada kayu yang masih terlihat. Setelah di dempul alat peraga ini dihaluskan menggunakan amplas, agar alat peraga yang dihasilkan memiliki kehalusan yang maksimal. Proses selanjutnya adalah pemberian vernis pada alat peraga. Seharusnya alat peraga ini hanya diberi vernis bening agar terlihat serat kayunya, namun ada kesalahan komunikasi antara pihak pembuat alat dan peneliti sehingga vernis yang seharusnya bening, diberi vernis dengan warna coklat. Pada balok satuan, balok puluhan, balok ratusan, balok ribuan, dan pion diawali dengan pemilihan kayu mindi. Setelah itu, kayu dihaluskan menggunakan mesin penghalus. Proses selanjutnya adalah memotong kayu sesuai dengan desain alat peraga menggunakan mesin pemotong. Khusus untuk pion dibuat menggunakan mesin bubut khusus sehingga bentuk yang dihasilkan menyerupai pion dalam permainan catur. Proses selanjutnya adalah pemberian dempul pada kotak dan papan pembagian bilangan sudah selesai dipotong, tahap selanjutnya menggaluskan balok-balok dan pion menggunakan amplas, agar alat peraga yang dihasilkan memiliki kehalusan yang maksimal. Proses selanjutnya adalah pemberian warna pada balok angka dan pion. Pemberian warna ini dilakukan dua kali penyemprotan. Tujuan penyemprotan warna ini agar warna yang dihasilkan 60

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menempel secara rata pada balok maupun pion. Pemilihan warna pada balok angka disesuaikan dengan analisis kebutuhan siswa. Balok satuan diberi warna biru muda dengan jumlah 81 buah, balok puluhan diberi warna ungu dengan jumlah 20 balok, balok ratusan diberi warna orange dengan jumlah 20 buah balok ribuan diberi warna biru tua dengan jumlah 20 buah, dan pion diberi warna merah dengan jumlah 18 buah. Setelah selesai, proses selanjutnya adalah penjemuran balok dan pion di bawah sinar matahari hingga kering. Setelah kering, baloktersebut diberi angka 1, 10, 100, dan 1000. Proses pemberian angka pada balok dilakukan oleh peneliti sendiri. Angka pada balok dibuat dari sticker cutting berwarna putih. Balok yang sudah diberi warna biru muda, yaitu satuan kemudian diberi angka 1, balok warna ungu, yaitu puluhan diberi angka 10, balok warna orange, yaitu ratusan diberi angka 100, dan balok warna biru tua, yatu ribuan diberi angka 1000. Kartu soal dibuat sendiri oleh peneliti. Kertas yang digunakan untuk membuat kartu soal adalah kertas ivory dengan ketebalan 260. Kartu soal didesain menggunakan program Microsoft Word 2010. Kartu soal dibuat dengan ukuran 8,5 cm x 4 cm. Font yang digunakan adalah Candara. Ukuran font yang digunakan adalah 36. Desain kartu soal kemudian dicetak menggunakan kertas ukuran A3 di percetakan terdekat. Setelah selesai, kartu soal tersebut digunting, dan dibedakan berdasarkan indikator pada tema pembelajaran. 4.4 Instrumen Penelitian Instrumen yang disusun dalam penelitian ini adalah tes dan kuesioner valiadasi produk. Instrumen tes diuji keterbacaannya oleh pakar pembelajaran matematika dan ujikan secara empirik di lapangan. Instrumen Kuesioner validasi produk diuji keterbacaannya oleh pakar. Tes yang yang sudah diuji dapat digunakan dalam penelitian. 4.4.1 Instrumen Tes Instrumen tes diuji keterbacaannya oleh pakar yang sudah ahli dalam bidang matematika. Setelah memperoleh kata layak digunakan, instrumen tes ini akan diujikan secara empirik di lapangan. Melalui ujicoba empirik akan 61

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ditemukan item tes yang sudah diuji validitas dan reliabilitas dan siap digunakan untuk ujicoba lapangan terbatas. 4.4.2 Hasil Uji Keterbacaan Intrumen Tes Instrumen tes yang diujikan sebanyak 30 item soal dengan materi pembagian bilangan dua angka dengan 4 indikator. Insrumen ini diujuikan kepada dua pakar pembelajaran matematika, yaitu dosen matematika Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan salah satu guru kelas II. Tiap komponen penilaian instrumen tes menggunakan skala Likert dengan kriteria skor 4 “sangat baik” skor 3 “baik”, skor 2 “kurang baik”, dan skor 1 “sangat kurang baik”. Rerata Jumlah 7 8 9 10 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 39 3.9 3 4 4 3 4 3 4 4 3 4 36 3.6 3 4 4 4 4 3 3 4 3 3 35 3.5 10 3.3 12 4 12 4 11 3.7 12 4 10 3.3 10 3.3 12 4 10 3.3 11 3.7 110 Sangat baik 6 Baik 5 Sangat baik 4 Baik 3 Baik Klasifikasi 2 Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Pakar 1 Pakar 2 2 Guru 3 1 Jumlah Rerata 1 1 Baik No Pakar Komponen Penilaian Klasifikasi Tabel 4.6 Hasil Tabulasi Penilaian Instrumen Tes Sangat baik Sangat baik Sangat baik 3.7 Sangat baik Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat secara keseluruhan, penilaian instrumen tes tersebut mandapat klasifikasi “sangat baik”. Para pakar memberikan skor 3 dan 4 untuk masing-masing komponen penilaian. Meskipun begitu, ada beberapa saran yang diberikan oleh pakar dan guru pada komponen penilaian nomor 1, 4, 6, dan 9 (lihat lampiran 3.1.2 halaman 97). Saran/komentar dari pakar tersebut, yaitu soal pembangian mengajarkan anak untuk pengurangan berulang, perlu pemberian soal yang kontekstual dalam kehidupan sehari-hari, kurangnya tanda banca (-) pada soal, dan kriteria penilaian yang kurang jelas. Komentar para pakar kemudian dijadikan peneliti sebagai acuan perbaikan instrumen untuk uji validitas dan reliabilitas secara empirik di lapangan. Instrumen tes yang sudah 62

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI divalidasi oleh pakar kemudian di uji validitas dan reliabilitas secara empiris di SD setara dengan lokasi penelitian. 4.4.3 Validitas dan Reliabiltas Instrumen secara Empirik Seteleh intrumen yang diujikan dinyatakan layak digunakan, maka 30 soal tersebut diujikan secara empirik di lapangan. Uji validitas dan reliabilitas secara empirik di lakukan di SDN Keputran I Yogyakarta. SD ini memiliki kesetaraan dengan dengan lokasi penelitian yang dipilih oleh peneliti, yaitu berada satu Unit Pelayanan Terpadu (UPT) kota Yogyakarta. Uji validasi ini menggunakan dua kelas di SDN Keputran I Yogyakarta, yaitu siswa kelas IIA dan IIC sebagai subjek dalam uji coba ini dengan jumlah siswa 52 orang. Instrumen tes ini diujikan menjadi dua tahap yaitu, tanggal 21 November 2013 dan 3 Desember 2013. Item soal tes kemudian dihitung menggunakan program IBM SPSS 22.00 for Windows dengan hasil sesuai dengan tabel 4.7 Tabel 4.7 Hasil perhitungan Validasi Soal No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 r tabel 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 0,273 r hitung 0,668 0,546 0,595 0,516 0,434 0,530 0,611 0,723 0,809 0,719 0,854 0,513 0,549 0,508 0,652 0,742 0,645 0,762 0,654 0,657 0,695 0,749 0,681 0,621 0,543 0,674 0,695 0,569 0,545 0,545 Sig. (2-tailed) 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid 63

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.8 Hasil Reliabilitas Soal Tes Reliability Statistics Cronbach's Cronbach's Alpha Based N of Alpha on Standardized Items Items ,944 ,950 30 Berdasarkan tabel 4.7 bahwa ada 30 soal tes yang valid yang telah diuji coba lapangan secara empirik (lihat lampiran 3.1.3 halaman 98). Tabel 4.8 menunjukkan bahwa 30 soal tersebut memiliki reliabilitas sebesar 0,950. Menurut Nunnally (dalam Ghozali, 2005: 88) mengatakan bahwa suatu tes dikatakan reliabel jika nilai Alpha Cronbach >0.60. Meskipun ada 30 soal yang yang valid, peneliti menyaring kembali soal tersebut menjadi 15 soal sebagai instrumen pretest dan posttest pada ujicoba lapangan terbatas (lihat lampiran 4.1 halaman 113). Alasan dipilihnya 15 soal tersebut karena peneliti menganggap bahwa siswa kelas II bisa menyelesaikan soal tersebut sesuai waktu yang diberikan. Tabel 4.9 Hasil reliabilitas soal tes yang digunakan Reliability Statistics Cronbach's Cronbach's Alpha Based N of Alpha on Standardized Items Items ,901 ,910 15 Berdasarkan tabel 4.9 lima belas soal yang digunakan untuk ujicoba lapangan terbatas mempunyai reliabilitas sebesar 0,910. Hal ini berarti tes yang digunakan reliabel karena Alpha Cronbach > 0,60. 4.4.4 Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk Uji keterbacaan kuesioner validasi produk dilakukan oleh dua pakar pembelajaran matematika, pakar pembelajaran bahasa, tiga guru dan tiga siswa dari SDK Kumendaman Yogyakarta. Kedua pakar pembelajaran matematika adlaah dosen matematika di Universitas Sanata Dharma, dan kedua pakar pembelajaran bahasa merupakan dosen Bahasa Indonesia di Universitas Sanata Dharma. Uji keterbacaan di SDK Kumendaman dilakukan pada bulan November 2013. Hasil uji keterbacaan kuesioner validasi produk diolah secara kuantitatif, kemudian penilaian tersebut dikonversikan secara kualitatif. 64

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rerata 4 3 4 4 4 3 4 4 3 3 36 3.6 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 32 3.2 3 4 4 2 4 2 4 4 4 4 35 3.5 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3 37 3.7 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 38 3.8 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 34 3.4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 39 3.9 4 4 4 4 3 3 4 4 3 3 36 3.6 2 4 4 2 4 4 4 4 4 4 36 3.6 Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik 4 37 3.7 2 35 3.5 4 38 3.8 2 33 3.3 4 38 3.8 2 30 3 4 38 3.8 4 38 3.8 4 35 3.5 4 34 3.4 34 357 3.4 Baik Baik 4 Sangat baik Sangat baik 3 Baik Sangat baik Klasifikasi 2 Baik Sangat baik Pakar 1 Pakar 2 2 Pakar 3 3 Pakar 4 4 Guru 1 5 Guru 2 6 Guru 3 7 Siswa 8 1 Siswa 2 9 Siswa 10 3 Jumlah Rerata 1 1 Sangat baik Sangat baik Sangat baik No Penilai Skor tiap pertanyaan Klasifikasi Tabel 4.10 Hasil penilaian uji keterbacaan kuesioner validitas produk Sangat Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik 3.57 Sangat baik Pakar 1-2 adalah pakar pembelajaran matematika dan pakar 3-4 adalah pakar pembelajaran bahasa. Berdasarkan tebel 4.10 tersebut, ada beberapa item kuesioner mendapatkan skor 2 pada item pertanyaan nomer 1, 2, 4, dan 6. Perolehan skor 2 yang memiliki arti bahwa pertanyaan yang perlu direvisi. Ada beberapa saran/komentar yang diberikan oleh pakar terkait (lihat lampiran 3.2 halaman 111). Berdasarkan penilaian di atas peneliti melakukan beberapa revisi untuk masing-masing item pertanyaan. Tindak lanjut yang dilakukan peneliti adalah merubah kata “alat peraga” menjadi “papan pembagian” agar terlihat konteks alat peraga yang dimaksudkan. 65

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.5 Validasi Alat Peraga 4.5.1 Hasil Validasi Alat Peraga oleh Pakar Salah satu tujuan penelitian ini adalah mengetahui kualitas pengembangan lat peraga yang telah dibuat. Kualitas alat peraga ini berkaitan dengan kelayakan suatu alat peraga jika digunakan dalam suatu pembelajaran. Oleh sebab itu, peneliti meminta bantuan kepada beberapa pakar pembelajaran untuk memvaliadasi alat peraga yang dikembangkan. Validasi alat peraga ini dilakukan oleh pakar pembelajaran matematika, pakar pembelajaran Montessori, dan guru kelas II SDK Pugeran Yogyakarta. Validasi dilakukan oleh pakar pembelajaran matematika karena alat peraga papan pembagian bilangan merupakan alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran matematika. Selain itu, validasi dilakukan oleh pakar Montessori karena pengembangan alat peraga ini menggunakan prinsip pembelajaran di kelas Montessori. Selain itu, validasi ini akan dilakukan oleh guru kelas II SDK Pugeran Yogyakarta, Karena alat peraga ini nantinya akan diuji coba lapangan terbatas saat penelitian. Validasi oleh pakar pembelajaran matematika dan pakar pembelajaran montessori dilakukan pada tanggal 10 Desember 2013, sedangkan validasi oleh guru kelas II SDK Pugeran dilakukan pada saat ujicoba lapangan terbatas. Hal tersebut disebabkan karena tanggal 9-14 Desember 2013 SDK Pugeran Yogyakarta sedang ujian akhir semester genap, jadi peneliti melakukan validasi alat peraga saat uji coba lapangan terbatas setelah ujian akhir semester gasal. Validasi dimulai dengan penjelasan alat peraga yang dikembangkan. Setelah itu, guru melihat cara penggunaan alat peraga saat peneliti mengajarkan siswa tentang cara penggunaan alat tersebut pada materi pembagian. Hasil validasi produk oleh pakar dapat dilihat pada tabel 4.11. No Validator 1 1 Pakar 1 4 2 Pakar 2 4 3 Guru 3 Rerata keseluruhan Klasifikasi 2 3 4 5 6 7 8 9 10 3 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 38 39 38 Rerata Skor tiap Aitem Pernyataan Jumlah Tabel 4.11 Hasil validasi produk oleh ahli 3,8 3,9 3,8 3,8 Klasifikasi Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik 66

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pakar 1 adalah pakar pembelajaran matematika dan pakar 2 adalah pakar pembelajaran Montessori. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan. Hasil validasi produk ditemukan bahwa alat peraga pembagian memiliki kualitas yang sangat baik dan menandakan bahwa alat peraga yang dikembangkan memenuhi lima kriteria alat peraga yang dikembangkan, yaitu menarik, bergradasi, autocorrection, auto-education, dan kontekstual. 4.5.1.1 Pakar Pembelajaran Matematika Alat peraga yang kembangkan dalam penelitian ini diujikan kepada pakar pembelajaran matematika. Pakar pembelajaran matematika ini sudah berpengalaman dalam mengajar matematika. Saat validasi, pakar pembelajaran matematika memberikan saran agar memberikan penekanan perbedaan pada peletakkan nilai puluhan dan satuan pada lubang papan pembagian bilangan agar siswa tidak mengelami kesalahan peletakkan balok puluhan dengan balok satuan. Secara keseluruhan alat peraga yang dikembangkan sudah layak digunakan tanpa revisi. 4.5.1.2 Pakar Pembelajaran Montessori Alat peraga yang kembangkan dalam penelitian ini diujikan kepada pakar pembelajaran Montessori. Dipilihnya validator pakar pembelajaran Montessori, kerena peneliti mengembangkan alat peraga yang digunakan pada kelas Montessori. Validator sudah cukup berpengalaman dalam kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran Montessori, seperti pelatihan tentang Metode Montessori di Belanda dan menjadi anggota dari organisasi yang bernama Association of Indonesian Montessori Schools (AIMS). Saat validasi, pakar pembelajaran Montessori memberikan tanggapan bahwa alat peraga yang dikembangkan menarik, alat peraganya rapi, namun kurang praktis jika anak membawa alat peraga tersebut. Papan pembagian bilangan bisa dibawa oleh anak karena ringan, namun kotak balok yang berisi balok satuan, balok puluhan, balok ratusan, balok ribuan, pion , dan kartu soal cukup berat jika dibawa oleh anak kelas II. 4.5.1.3 Guru Alat peraga yang dikembangkan peneliti divalidasi oleh guru kelas II SDK Pugeran Yogyakarta dan merupakan guru lulusan Diploma II PGSD. Sebelum melakukan validasi, guru bertanya seputar materi yang diajarkan menggunakan alat peraga tersebut. Saat peneliti melakukan uji coba lapangan 67

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI terbatas, guru melihat cara menggunakan alat peraga tersebut. Saat validasi, guru memberikan beberapa komentar terkait alat peraga yaitu menekankan pada pendampingan bimbingan saat mengajar. Selain itu, guru mengomentari terkait berat kotak balok yang cukup berap jika dibawa oleh siswa saat belajar. Berdasarkan komentar dan saran secara keseluruhan, balok angka perlu diberi angka yang varian, tidak hanya angka 1, 10, 100, dan 1000 saja serta balok angka diganti dengan bentuk dadu dengan diberi angka yang berbeda-beda pada sisinya. Dari hasil validasi tersebut, guru kelas II menyatakan bahwa alat peraga layak digunakan. 4.5.2 Analisis I Sesuai dengan hasil validasi produk oleh para ahli (dapat dilihat pada tabel 4.11), skor yang diperoleh menunjukkan angka 3,8 dengan kriteria sangat baik. Meskipun demikian ada beberapa komentar dan saran yang diberikan oleh ahli kepada peneliti yang dapat dilihat pada tabel 4.12. Komentar dan saran yang diberikan oleh para pakar digunakan oleh peneliti sebagai dasar megembangkan alat peraga yang lebih baik. Tabel 4.12 Komentar ahli terhadap validasi produk No. 1. Validator Pakar pembelajaran Matematika Komentar - Penggantian nama balok, karena kurang kontekstual dengan kehidupan anak - Penekanan pada perbedaan peletakkan puluhan dan satuan pada lubang papan pembagian bilangan 2. Pakar pembelajaran Montessori - Alat peraga yang dikembangkan sudah baik - Alat peraga terlalu berat 3. Guru Kelas II SD - Memberi angka varian pada balok - Balok angka diganti dengan dadu dnegan angka varian yang berbeda tiap sisinya Tindak lanjut - Peneliti tidak melakukan revisi dengan istilah balok karena peneii merasa kesulitan untuk menemukan istilah pengganti balok - Peneliti menerima usulan tentang penekanan puluhan dan satuan - Peneliti menerima saran tersebut dan memasukkannya pada keterbatasan penelitian - Peneliti melihat kembali katalog alat peraga Montessori, apakah saran yang diberikan sesuai denga alat peraga Montessori sesungguhnya 68

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.5.3 Revisi Produk Revisi produk dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan alat peraga yang dikembangkan. Dalam metode pembelajaran Montessori, terdapat filosofi bahwa “tak ada orang bebas, kecuali dia MANDIRI” (Magini, 2013: 54). Pernyataan tersebut miliki makna bahwa alat peraga eksperimental yang dikembangkan oleh Montessori didasarkan pada kemerdekaan dan kebebebasan anak dalam menggunakan alat peraga. Anaklah yang digunakan peneliti dalam pengembangan alat peraga. Dalam penelitian ini, peneliti tidak melakukan revisi terhadap produk yang dikembangkan. Penggantian istilah nama balok pada balok satuan, balok puluhan, balok ratusan, dan balok ribuan tidak dilakukan revisi. Hal tersebut dikarena setelah peneliti mencari nama yang sesuai untuk mengganti istilah balok sangat sulit sekali. Setelah berkonsultasi dengan pakar pembelajaran matematika, pakar pembelajaran matematika memaklumi hal tersebut dan menyetujui penggunaan istilah nama balok. Berkaitan dengan komentar yang diberikan oleh guru kelas II, peneliti melakukan pengamatan kembali terhadap alat peraga Montessori baik di Laboratorium Montessori maupun katalog alat peraga Montessori. Alat peraga papan pembagian bilangan merupakan pengembangan alat peraga stamp games pada pembelajaran Montessori. Alat peraga stamp games yang asli menggunakan kartu angka satuan, ribuan, ratusan, dan ribuan yang berbentuk balok dengan satu angka di sisinya, seperti angka 1 untuk satuan, 10 untuk puluhan, 100 untuk ratusan, dan 1000 untuk ribuan. Jika alat peraga tersebut diganti dengan dadu dengan diberi varian angka yang berbeda pada masing-masing sisinya, itu tidak sesuai dengan alat peraga Montessori yang ada. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, peneliti tidak menunjukkan perlu adanya revisi terhadap komentar guru kelas II mengenai bentuk balok angka pada papan pembagian bilangan. Secara keseluruhan, peneliti tidak melakukan revisi terhadap bentuk balok pada alat peraga papan pembagian bilangan. 4.5.4 Ujicoba Lapangan Terbatas Ujicoba lapangan terbatas dilakukan dalam bentuk pendampingan belajar menggunakan alat peraga papan pembagian bilangan. Kegiatan ini dilakukan 69

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kepada 5 orang siswa kelas II SDK Pugeran Yogyakarta yang memperoleh nilai matematika di bawah KKM 70. Sebelum pendampingan dilakukan, peneliti memberikan soal pretest kepada kelima siswa tersebut. Pemberian pretest pada para siswa bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal para siswa terhadap materi pembagian bilangan. Pendampingan belajar dilakukan mulai hari Senin-Jumat pada tanggal 16-20 Desember 2013 di SDK Pugeran Yogyakarta. Pendampingan ini dilakukan sepulang sekolah selama 60 menit, yaitu pada pukul 10.00-11.00 WIB. Materi yang diajarkan pada pertemuan pertama adalah pengantar pengenalan istilah nama balok angka satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan serta pelatihan pembangian bilangan sampai habis dengan bilangan satu angka. Pertemuan kedua pelatihan ulang pembagian bilangan sampai habis dengan bilangan satu angka dan pelatihan pembagian bilangan dengan bilangan itu sendiri. Pertemuan ketiga pelatihan mengenai pembagian bilangan dengan bilangan 1 dan pelatihan pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka. Pertemuan keempat mengenai pelatihan pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka. Pertemuan kelima pemberian posttest. Pemberian posttest bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah mengikuti bimbingan belajar dan kualitas alat peraga papan pembagian yang dibuat. Setiap pelatihan menggunakan alat peraga, peneliti memberikan contoh terlebih dahulu sebelum siswa mencobanya. Setelah memberikan contoh, siswa diberikan bimbingan satu per satu agar mereka paham akan penggunaan alat peraga tersebut. Setelah dirasa bimbingan dirasa cukup, masing-masing siswa mencoba alat tersebut secara mandiri secara bergiliran. 4.5.5 Analisis Proses dan Dampaknya Analisis proses bertujuan untuk mengetahui dampak penggunaan alat peraga oleh siswa menggunakan triangulasi data. Triangulasi data diperoleh berdasarkan pendapat guru kelas II, sekelompok siswa kelas II, dan peneliti. Pada awal pendampingan belajar di awali dengan mengenalkan materi yang di ajar oleh peneliti selaku direktris. Setelah itu, siswa diberikan kesempatan untuk berlatih secara mandiri menggunakan alat peraga secara bergantian. Selama pendampingan, guru beberapa kali mengamati penggunaan alat peraga tersebut sekaligus memvaliadasi alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti. Ketika 70

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengamati kegiatan yang dilakukan oleh siswa, guru memberikan komentar, “Alat peraganya bagus mbak, anak bisa berlatih sendiri”, (wawancara dengan guru, 16 Desember 2013). Pertanyaan tersebut mengindikasikan bahwa alat peraga yang dikembangkan memiliki daya tarik tersendiri bagi siswa dan dapat mengajarkan siswa untuk belajar secara mandiri. Pada saat pretest, siswa W mengatakan, “soalnya susah bu”, (wawancara dengan siswa, 16 Desember 2013. Hal serupa dikatakan oleh siswa siswa V, A, V, dan S yang mengatakan bahwa soal yang berikan susah. Selama proses pendampingan, peneliti juga melakukan pengamatan terkait sikap siswa dalam menggunakan alat peraga tersebut. Berdasarkan hasil observasi yang ditemukan selama uji coba lapangan terbatas, siswa terlihat sangat tertarik dan berminat dalam menggunakan alat peraga yang telah dikembangkan. Ketertarikan terihat saat menggunakan pion dan balok angka. Ketika menggunakan alat tersebut, siswa A mangatakan “yang merah ini bagus kaya buat mainan catur” (wawancara dengan siswa, 16 Desember 2013). Setelah mengatakan hal tersebut, siswa A mengambil pion dan mengambil beberapa balok satuan dan disusun secara urut sederet dengan pion. Hal tersebut mengindikasikan bahwa siswa tertarik menggunakan alat peraga tersebut. Sebelum peneliti datang untuk pendampingan, sekelompok siswa tersebut menyiapkan ruangan dan saling bergotong-royong dengan temantemannya untuk membawa alat peraga yang peneliti titipkan kepada guru kelas II. Menyiapkan alat peraga secara bersama-sama dengan temannya sebelum pendampingan dimulai, mengindiksikan bahwa siswa kelas II sangat berminat sekali untuk belajar bersama. Ketika pendampingan belajar dimulai, peneliti mengajarkan materi yang baru dengan terlebih dahulu memberi contoh penggunaan. Ketika pendampingan secara bergiliran, kelima anak tersebut saling berebut untuk mendapatkan giliran pertama yang dibimbing. Akhirnya peneliti berinisiatif memberikan nomor undian kepada masing-masing siswa, dan siswa tersebut akhirnya tenang. Ketika Peneliti mengajarkan siswa S, siswa S sangat tenang dan memperhatikan peneliti. Ketika memberi bimbingan siswa S, siswa A,V,W dan G memperhatikan dengan seksama pula. Ketika diajarkan mengenai perbedaan peletakkan balok puluhan dan satuan yang berbeda, siswa sangat 71

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memahami. Namun, selang hari siswa lupa dan meletakkan balok satuan ke lubang untuk puluhan. Meskipun begitu, peneliti memaklumi hal tersebut karena dalam prinsip pembelajaran Montessori anak diberi kebebasan untuk belajar, namun dengan menggunakan prosedur yang tepat. Namun diajarkan mengenai materi pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka tanpa menukar, siswa dapat membedakan lubang yang digunakan untuk puluhan dan lubang yang digunakan untuk satuan. Meskipun begitu jawaban yang dihitung oleh siswa benar semua. Berdasarkan wawancara yang kepada guru, guru menyatakan bahwa siswa W adalah siswa yang caper dengan guru dan ramai ketika di kelas. Ketika peneliti memberikan pendampingan terhadap siswa W, siswa W sangat tenang memperhatikan penjelasan peneliti. Dia sering bertanya pada peneliti bila mengalami kesusahan. Berbeda dengan siswa W, siswa G adalah siswa yang tenang ketika belajar, ketika pendampingan siswa G sangat memperhatikan peneliti, jika diberi pertanyaan bisa menjawab dengan benar meskipun masih malu-malu. Hari terakhir penelitian, siswa diberikan soal posttest. Ketika diberikan soal tersebut, siswa W, A, S, dan V secara bersamaan mengatakan” bu ini soalnya sudah dikerjakan kemarin”, (wawancara dengan siswa, 20 Desember 2013). Meskipun begitu sekelompok siswa tersebut mengerjakan soal secara mandiri. Setelah penelitian selesai, peneliti melakukan wawancara dengan guru kelas. Guru kelas II mengucapkan terima kasih, ternyata alat peraga yang dikembangkan dapat membantu siswa. Ketika awal perkenalan dengan sekolah ketika Program Pengalaman Lapangan (PPL), siswa W mengatakan, “bu kapan les lagi” (wawancara dengan siswa, 6 Januari 2013). Pernyataan yang sama diungkapan oleh siswa V dan S yang ingin les kembali menggunakan alat peraga papan pembagian. Setelah empat minggu setelah ujicoba lapangan terbatas, peneliti menanyakan tentang siswa W, V, G, A, dan S ketika di kelas. Guru mengatakan, bahwa “Simon itu sebenarnya pinter mbak, dia butuh pendampingan yang telaten, dan kadang kalau tanya ki suarane pelan mbak”. Setelah melaksanakan posttest dan kuesioner, peneliti melakukan wawancara terhadap kelima siswa tersebut. Ketika ditanyai mengenai penggunaan 72

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI alat peraga, siswa S menjawab, “Pilih belajar dengan alat karena sangat asyik”, (wawancara dengan siswa, 16 April 2014). Hal yang sama diungkapkan oleh siswa W, V, dan G. Siswa V mengatakan bahwa, seneng belajar dengan alat lebih enak,” (wawancara dengan siswa 16 April 2014). Berdasarkan pernyataan yang diungkapkan oleh siswa, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa alat peraga dapat mempunyai dampak yang baik dalam hal proses belajar mereka. Ketika mewawancarai siswa A terkait penggunaan alat peraga, siswa A menyatakan bahwa alat peraga pembagian dapat membuatnya dalam menemukan kesalahannya sendiri. Wawancara yang berbeda dilakukan kepada siswa V dan S, kedua siswa tersebut lebih menyukai belajar secara mendiri. Hal tersebut dikarenakan kedua siswa selalu belajar sendiri jika pulang sekolah tanpa di dampingi oleh orang tua mereka. 4.5.5.1 Analisis Hasil Tes Setelah dilakukan validasi produk, peneliti melakukan ujicoba lapangan terbatas. Sebelum siswa diberi pendampingan belajar dengan menggunakan alat peraga, siswa diberi soal pretest. Pemberian soal ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa. Pretest dilakukan pada tanggal 16 Desember 2013. Pemberian posttest dilakukan pada tanggal 20 Desember 2013 untuk mengetahui seberapa dalam pemahaman siswa terhadap materi pembagian yang telah diajarkan selama 4 hari. Rekapitulasi pretest dan posttest dapat dilihat pada tabel 4.13 Persentase kenaikan dapat dihitung sebagai berikut. Persentase kenaikan= ̅ ̅ ̅ Tabel 4.13 Perbandingan hasil pretest dan posttest No. Nama Siswa 1. G 2. 3. 4. 5. Rerata A S W V Nilai Kenaikan (%) Pretest 41,67 Posttest 75 75.97% 38,33 38,3 36.67 36.67 38,33 48,3 90 75 55 68,33 26.08% 134.08% 104.50% 49.98% 78.06% Pada pelaksanaan pretest, siswa memperoleh skor rerata 38,32. Kelima siswa tersebut memperoleh nilai di bawah 50 (lihat lampiran 4.3 halaman 120). 73

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hal tersebut dikarenakan siswa kelas II belum diajarkan materi pembagian. Hasil posttest menunjukkan adanya peningkatan terhadap rerata nilai kelima siswa tersebut. Peningkatan pretest dan posttest sebesar 78.06% dengan kenaikan tertinggi diperoleh oleh siswa S, yaitu sebesar 134.08% yang diperoleh dengan rumus pada rumus 3.3 halaman 43. Nilai rerata posttest kelima siswa tersebut adalah 68.33. Satu dari kelima siswa tersebut memperoleh nilai 90, dua orang memperoleh nilai di atas 70, dan dua orang memperoleh nilai di bawah 60. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, dua orang yang memperoleh nilai di bawah 60 kurang serius dalam belajar. Siswa A adalah siswa yang memperoleh nilai terendah dibandingkan dengan temannya yang lain, yaitu nilai 48,33 untuk soal posttest. Siswa A tidak mendengarkan penjelasan dalam menggunakan alat peraga dengan baik. Selain itu, siswa A sesekal mengajak temannya untuk bermain menggunakan alat peraga yang peneliti gunakan saat mengajar siswa yang lain. Sedangkan, siswa S mengalami peningkatan paling tinggi di antara siswa yang lainnya yaitu sebesar 134.08%. Peningkatan perolehan nilai siswa S tinggi karena siswa S adalah siswa yang rajin, aktif, dan mampu mengajari temannya yang sama-sama mengikuti pendampingan belajar berdasarkan hasil pengamatan peneliti. Pada saat peneliti mengajarkan materi, S selalu mendengarkan penjelasan peneliti secara seksama. 100 80 60 Pretest 40 Posttest 20 0 G A S W V Diagram 4.1 Hasil pretest dan posttest siswa Berdasarkan diagram 4.1 daat dilihat bahwa hasil pretest dan posttest terjadi peningkatan tinggi dan rendah. Pada nilai pretest, nilai yang diperoleh berkisar 36 hingga 41. Pada diagram tersebut rerata posttest memperoleh 68.33. 74

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Persentase kenaikan pretest ke posttest sebesar 78.06%. Pada diagram, 4.2 dapat dilihat perbendingan dari nilai pretest dan posttest tersebut. 90 80 70 Pretest 60 50 Posttest 40 30 20 10 0 Diagram 4.2 Perbandingan skor rerata pretest dan posttest Berdasarkan diagram 4.2 dapat dilihat peningkatan skor dari soal pretest dan soal posttest. Perbedaan tersebut dikarenakan ketika siswa mengerjakan soal pretest, kelima siswa tersebut belum diajarkan tentang materi pembagian. Sedangkan sebelum posttest, siswa terlebih dahulu diajarkan tentang materi pembagian, sehingga mereka dapat mengerjakan dan mengalami peningkatan nilai. 4.5.5.2 Analisis Kuesioner Validasi Produk oleh Siswa Setelah selesai mengerjakan soal posttest, siswa mengisi kuesioner untuk mengetahui kualitas alat peraga yang dikembangkan. Kuesioner ini menggunaan skala Likert. Pengisian kuesioner dilakukan pada tanggal 8 Januari 2013. Pengisian kuesioner ini dilakukan jauh hari setelah ujicoba lapangan terbatas karena ketika hari terakhir ujicoba lapangan terbatas, siswa mengerjakan soal posttest terlalu lama, sehingga siswa tersebut sudah ditunggu oleh orang tua mereka. Rekapitulasi valiadasi produk oleh kelima siswa dapat dilihat pada tabel 4.14. Tabel 4.14 Rekapitulasi kuesioner validasi produk oleh siswa. No. 1. 2. 3. 4. 5. Rerata Siswa G A S W V Jumlah Skor 30 30 40 40 34 Rerata 3 3 4 3 3.4 3,48 Kalsifikasi Baik Baik Sangat baik Sangat baik Baik Sangat baik 75

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan tabel 4.14 menunjukkan rerata hasil rekapitulasi penilaian produk siswa adalah 3,48 (lihat lampiran 4.5 halaman 120) Hal tersebut menunjukan bahwa kualitas alat peraga papan pembangian bilangan “sangat baik” yang mengindikasikan bahwa alat peraga yang dikembangkan memenuhi lima kriteria alat peraga yang dikembangkan, yaitu menarik, bergradasi, autocorrection, auto-education, dan kontekstual. Hal tersebut mengindikasikan bahwa alat peraga yang dikembangakan memenuhi keempat ciri alat peraga Montessori, yaitu menarik, bergradasi, auto-education, dan auto-correction serta satu ciri tambahan, yaitu kontekstual. 4.6 Kajian Produk Akhir Berdasarkan ujicoaba lapangan terbatas yang telah dilakukan, diketahui bahwa alat peraga papan pembagian dapat membantu siswa dalam memahami konsep pembagian bilangan dua angka. Hal ini nampak pada perbandingan skor pretest dan posttest. Peningkatan hasil prettest dan posttest sebesar 78.06%. Selain itu ditunjukkan dengan perolehan skor kuesioner valiadasi produk oleh siswa sebesar 3.48 yang termasuk pada kategori “sangat baik”. Berdasarkan validasi produk oleh pakar pembelajaran matematika, pakar pembelajaran Montessori, guru kelas II, dan siswa kelas II produk yang dikembangkan miliki kualitas “sangat baik” dengan rerata 3.74. Rekapitulasi hasil valiadasi tersebut dapat dilihat pada tabel 4.15 Tabel 4.15 Rekapitulasi skor validasi produk No. Penilai Skor Keterangan 1 Pakar pembelajaran matematika 3,8 Sangat baik 2 3 Pakar pembelajaran Montessori Guru 3,9 3.8 Sangat baik Sangat baik 4 Siswa Jumlah Rerata Kategori 3,48 Sangat baik 14.98 3,74 Sangat baik Meskipun alat peraga yang dikembangkan diujicobakan secara terbatas, alat peraga papan pembagian bilangan efektif digunakan dalam pembelajaran. Kualitas alat peraga yang dikembangkan sangat baik dan layak digunakan dalam pembelajaran dan berpotensi untuk diujicobakan secara meluas. 76

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.7 Konsekuensi Lebih Lanjut Sistem pendidikan di Indonesia dilakukan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah agar proses pembelajaran di sekolah dapat berjalan secara efektif, efisien, dan berkualitas. Meskipun begitu, kualitas/mutu pendidikan di Indonesia masih berada diperingkat terendah. Menurut Programme for International Study Asessment (PISA) tahun 2012 yang diperkuat oleh pendapat Education for All Global Monitoring Report oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menyatakan bahwa Indonesia berada diperingkat 64 dari 120 negara di dunia. Peringkat tersebut mengindikasikan bahwa prestasi siswa Indonesia yang kurang baik. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki kualitas/mutu pendidikan salah satunya dengan dibentuknya program reformasi tenaga pengajar. Program tersebut berupa sertifikasi dan pemberian tunjangan pada guru. Program sertifikasi diharapkan dapat menanggulangi permasalah pendidikan Indonesia. Meskipun program tersebut sudah dijalankan, namun hasil belajar siswa Indonesia dalam Ujian Standar Nasional Internasional masih rendah dibandingkan dengan negara berkembang lainnya di dunia (World Bank, 2011: 2). Melihat permasalahan tersebut, pemberian sertifikasi perlu ditinjua ulang kembali. Salah satu bagian dari pendidikan adalah pembelajaran. Melalui kegiatan belajar siswa diharapkan mampu untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman yang ditemukan. Melalui kegiatan bimbingan belajar, Probaling, dan PPL dibeberapa SD di Yogyakarta yang pernah peneliti lakukan, ditemukan bahwa kegiatan belajar masih berpusat pada guru. Kondisi belajar yang berpusat pada guru berbanding terbalik dengan teori belajar konstruktivisme dan teori perkembangan kognitif Piaget yang menyatakan bahwa pengalaman adalah hal yang terpenting dalam memperoleh dan membangun pengetahuan. Pemerolehan pengetahuan dapat diperoleh di lingkungan sekitar, seperti penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Alat peraga dapat membantu siswa dalam memperoleh dan membangun pengetahuannya sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam pengembangan alat peraga matematika untuk pembagian bilangan di SDK 77

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pugeran Yogyakarta telah menjadi bukti bahwa alat peraga yang dikembangkan dapat meningkatkan hasil belajar dan minat siswa dalam pembelajaran Berlandaskan pada teori dan penelitian yang telah dilakukan, bahwa kualitas pembelajaran perlu diperbaiki salah satunya dengan penggunaan pembelajaran. Jadi, bukankah reformasi pembelajaran perlu dicanangkan saat ini? 78

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP Dalam bab ini diuraikan mengenai (1) kesimpulan, (2) keterbatasan penelitian, dan (3) saran. 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut ini: 5.1.1 Alat peraga papan pembagian bilangan dua angka yang dikembangkan di kelas II SD mengandung ciri-ciri alat peraga Montessori, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-correction, (4) auto-education, dan (5) kontekstual. Ciri menarik terdapat pada terlihat pada warna-warna pada balok angka dan pion serta bentuk papan pembagian. Ciri bergradasi terlihat pada penggunaan alat peraga untuk materi yang berbeda dan digunakan untuk tingkat kesulitan pada kartu soal. Ciri auto-correction terlihat pada lubang papan pembagian bilangan dua angka, kartu bilangan dan jawaban di balik kartu soal. Setiap lubang pada papan pembagian bilangan hanya dapat dimasuki oleh satu balok angka saja. Ciri autoeducation terlihat pada ketika seorang anak belajar pembagian bilangan sendiri tanpa dibantu oleh orang lain. Anak dapat belajar secara mandiri, bila ia menemukan kesalahan dia bisa memperbaikinya sendiri tanpa diberi tahu oleh orang lain. Ciri kontekstulal terlihat pada penggunaan bahan baku kayu mindi yang dapat ditemukan di lokasi penelitian, yaitu kota Yogyakarta. 5.1.2 Alat peraga Montessori yang dikembangkan memiliki kualitas yang sangat baik untuk melatih konsep pembagian bilangan dua angka di kelas II SD. Hal tersebut ditunjukkan dengan perolehan skor rerata validasi produk oleh pakar pembejaran matematika, pakar pembelajaran Montessori, guru kelas II, dan siswa kelas II SD diperoleh rerata 3,74 dengan kategori “sangat baik”. Hal ini dapat ditinjau berdasarkan keempat ciri-ciri alat peraga Montessori, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-correction, 79

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (4) auto-education, dan satu ciri alat peraga yang ditambahkan peneliti, yaitu kontekstual. 5.1.3 Alat peraga Montessori yang dikembangkan memiliki dampak yang positif untuk melatih konsep pembagian bilangan dua angka di kelas II. Hal ini sesuai dengan peningkatan dampak hasil belajar siswa pada pretest dan posttest memiliki kenaikan sebesar 78.06% dan dampak berupa minat belajar terlihat ketika siswa bersama-sama memerhatikan penjelasan guru dan mau bekerja sama dengan temannya untuk mempersiapkan alat peraga sebelum ujicoba lapangan terbatas. 5.2 Katerbatasan Penelitian Alat peraga papan pembagian bilangan yang dikembangkan mempunyai keterbatasan sebagai berikut. 5.2.1 Alat peraga ini menggunakan SDK Pugeran Yogyakarta sebagai lokasi ujicoba lapagan terbatas. 5.2.2 Alat peraga papan pembagian bilangan memiliki berat yang tidak sesuai dengan analisis kebutuhan. 5.2.3 Warna pada papan pembagian dan kotak yang dikembangkan tidak sesuai dengan analisis kebutuhan. 5.2.4 Ujicoba lapangan terbatas dilakukan selama 60 menit. 5.2.5 Album alat peraga tidak melalui proses valiadasi oleh pakar pembelajara matematika, pakar pembelajaran Montessori dan guru kelas II. 5.2.6 Alat peraga yang dikembangkan memiliki presisi ukuran dan bentuk yang berbeda dengan ukuran aslinya. 5.3 Saran Saran bagi peneliti bagi yang melakukan penelitian pengembangan alat peraga Montessori sebagai berikut ini: 5.3.1 Alat peraga yang dikembangkan diujicobakan di lokasi penelitian dengan skala yang lebih luas, tidak hanya sampai ujicoba lapangan terbatas di satu SD saja. 80

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5.3.2 Alat peraga yang dikembangkan memiliki berat yang sesuai dengan analisis kebutuhan siswa. 5.3.3 Warna pada alat peraga yang dikembangkan sesuai dengan analisis kebutuhan. 5.3.4 Waktu ujicoba lapangan terbatas dilakukan selama 90 menit. 5.3.5 Album alat sebaiknya melalui proses valiadasi oleh pakar pembelajara matematika, pakar pembelajaran Montessori dan guru kelas. 5.3.6 Alat peraga yang dikembangkan memiliki presisi ukuran dan bentuk yang sama dengan ukuran aslinya. 81

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR REFERENSI Amin, S. & Sani, Z., M., (2006) Matematika SD di sekitar kita untuk Sekolah Dasar kelas III semester 1. Erlangga: Jakarta. Anitah, S.. (2008). Media pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka. Arifin, Z.. (2009) Evaluasi pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Arikunto, S. (2012). Dasar-dasar evaluasi pendidikan (Edisi 2). Jakarta: Bumi Aksara. Azwar, S. (2013). Tes prestasi fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Barnett, J. C., & Eastman, P. M. (1978). The use of manipulative materials and student performance in the enactive and iconic modes. Journal for Research in Mathematics Education, 94-102. Diakses pada tanggal 29 Agustus 2013, dari http://www.jstor.org/stable/pdfplus/748872.pdf Cossentino, J. (2005). Ritualizing Expertise: A Non‐Montessorian View of the Montessori Method. American Journal of Education, 111(2), 211-244. Diakses pada tanggal 28 Agustus 2013, dari http://www.jstor.org/stable/pdfplus/10.1086/426838.pdf Depdikbud. (2007) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk Satuan Pendidikan Dasar SD/MI (Semester I & II).Jakarta: Cipta Jaya. Gall, M. D., Gall, J.P. & Borg, W. R.. (2007) Education research: An Introduction. (Eight Edition). Boston: Pearson. Ghozali, I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Universitas Diponegoro. Hainstock. E. G.. (1997). The essential Montessori: An introduction to the woman, the writings, the method, and the movement. New York: Penguin Book. Halim, dkk. (2005). Manajemen pesantren. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. Heruman. (2008). Model pembelajaran matematika. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Holt, H. (2008). The absorbent mind, pikiran yang mudah menyerap. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Johnson., E., B.. (2002). Contextual teaching & learning. Bandung: MLC. 82

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kallio, K. A.. (2008). The Montessori method. EBSCO Publising Inc. Kartikowidi, R. (2010). Asas metodologi penelitian. Yogyakarta: Graha Ilmu. Krathwohl, R., D.. (2004). The Continum of research method: Qualitatif end. Ilionis: WaveLand Press. Lillard, A. S. (2005). Montessori the science behind the genius. New York: Oxford University Press. Magini, A. P. (2013). Sejarah pendekatan Montessori. Yogyakarta: Kanisius. Montessori, M.. (2002). The Montessori method. New York: Schocken Books. Montessori, M. M. (1961). Maria Montessori's contribute to the cultivation of the mathematical mind. Spinger. Diakses pada tanggal 29 Agustus 2013, dari http://www.jstor.org/stable/pdfplus/3441716.pdf Noor, J.. (2011) Metodologi penelitian. Jakarta: Kencana. Ormrod, J., E.. (2008). Psikologi pendidikan membantu siswa tumbuh dan berkembang. Jakarta: Erlangga. Patamic, M. (2013). Teach me to do it mayself (ajari aku melakukannya sendiri) aktivitas-aktivitas Montessori untuk Anda dan anak Anda. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Praptoyo, H. (2010). Sifat anatomi dan sifat fisikan kayu mindi (Melia azedarach Linn). Jurnal Ilmu Kehutanan. Volume IV No. 1 Januari 2010. Purwanto. (2009). Evaluasi hasil belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rinke, C. R., Gimbel, S. J., & Haskell, S. (2012). Opportunities for Inquiry Science in Montessori Classrooms: Learning from a Culture of Interest, Communication, and Explanation. Research in Science Education, 1-17., dari http://link.springer.com/article/10.1007/s11165-012-9319-9 Rosyada, D. (2008). Media pembelajaran sebuah pendekatan baru. Jakarta: Gaung Persada Press. Schunk, D. H.. (2012). Learning theories: An educational perspective. Teori-teori pembelajaran: Perspektif pendidikan: Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Semiawan, C., R.. (2008). Belajar dan pembelajaran prasekolah dan Sekolah Dasar. Jakarta: PT Indeks. 83

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sig, A.A.. (2012). Strategi berhitung tercepat dan terbaru pembagian ajaib. Bandung: Grasindo. Shamsudin, B. (2012). Kamus matematika bergambar. Bandung: Grasindo. Smaldino, S.E., Lowther, D., dan Russell, J. D.. (2012). Instructional technology and media for learning tenth edition. Boston: Pearson Education. Subandi. (2013). Peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan alat peraga melalui model pembelajaran cooperative learning metode STAD pada materi pokok bangun ruang sisi datar bagi siswa. Jurnal Pendidikan Ekonomi IKIP Veteran Semarang. Vol. 01. No. 01, Juni 2013. Diakses pada 19 Agustus 2013 http://ejournal.ikip-veteran.ac.id/ejournal/index.php/jurnalekonomi/article/view/147/182 Sudjana, N.. (2009). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sudjana, N & Rivai, A.. (2002). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru. Sugiarni, S. (2012). Peningkatan proses dan hasil belajar matematika dengan memanfaatkan media dan alat peraga materi operasi hitung campuran. Diakases pada tanggal 20 Agustus 2013, dari http://i-rpp.com/index.php/dinamika/article/view/13 Sugiyono. (2012). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukardi. (2009). Evaluasi pendidikan prinsip & operasional. Jakarta: PT Bumi Aksara Sukiman. (2012). Pengembangan media pembelajaran. Yogyakarta: Pedagogia. Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Suparno, P. (2002). Reformasi pendidikan: Sebuah rekomendasi. Yogyakarta: Kanisius. Suwanto, dkk.. (2010). Ayo belajar di sekolah 2D: Yogyakarta: Kanisius. Suyono & Haryanto. (2011). Belajar dan pembelajaran: Teori, dan konsep dasar. Bandung: Kanisius. Trianto. (2010). Model pembelajaran terpadu. Jakarta: Bumi Aksara. 84

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Widoyoko, E. P.. (2009). Evaluasi program pembelajaran: Paduan praktis bagi pendidik dan calon pendidik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. World Bank. (2011).Transforming Indonesia's teaching force. Volume II: From pre-service training to retirement: Producing and maintaining a hightquality, efficient, and motivated workforce. Jakarta: World Bank Diakses tanggal 15 April 2014, dari https://openknowledge.worldbank.org/handle/10986/2853 85

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 86

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1. Instrumen Analisis Kebutuhan Lampiran 1.1 Kisi-kisi Observasi No. Topik 1. Penggunaan alat peraga saat pembelajaran 2. Keinginan siswa untuk belajar 3. Kemandirian siswa saat belajar Lampiran 1.2 Kisi-kisi Wawancara Lampiran 1.2.1 Wawancara Kepala Sekolah No. 1. 2. 3. 4. Topik Identitas dan informasi yang berkaitan dnegan sekolah Ketersediaan alat peraga di sekolah yang sudah ada Pengadaan alat peraga Penggunaan alat peraga saat pembelajaran Lampiran 1.2.2 Wawancara dengan guru No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Topik Identitas guru dan pengalaman mengajar Jumlah siswa di kelas Metode pembelajaran yang digunakan Materi pembelajaran yang dianggap sulit oleh siswa kelas II Penggunaan alat peraga di kelas Harapan yang diinginkan oleh guru terkait alat peraga Lampiran 1.2.3 Wawancara dengan siswa No. Topik 1. Pengalaman menggunakan alat peraga Lampiran 1.3 Kisi-kisi Kuesioner Analisis Kebutuhan No. 1. 2. 3. 4. 5. Indikator Auto-education Menarik Bergradasi Auto-correction Kontekstual No. Item Pertanyaan 1 dan 2 3 dan 4 5 dan 6 7 dan 8 9 dan 10 87

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2 Analisis Kebutuha Lampiran 2.1 Rekapitulasi Uji Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan Siswa No. Indikator Pertanyaan 1. Autoeducation Seberapa sering Bapak/Ibu gurumu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang 2. Autoeducation 3. Menarik Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu memahami konsepkonsep matematika? a. Ya b. Tidak Apakah menurut kamu, pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga lebih menarik? a. Ya b. Tidak 4. Menarik 5. Bergradasi 6. Bergradasi Warna yang seperti apa yang kamu sukai untuk alat peraga? a. Warna cerah b. Warna gelap Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang sesuai untuk kamu gunakan? a. Berat b. Sedang c. Ringan Apakah Bapak/Ibu lebih suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda? Skor 1 2 2 Saran 3 4 3 5 4 6 1 4 5 1 3 6 2 6 2 3 7 Penggunaan kata tanya “apakah kurang tepat digunakan dan sebaiknya menggunakan kalimat seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan Penulisan kalimat asing menggunakan dicetak miring Sebaiknya menggunakan kalimat, “ apakah pemberian warna ada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat lebih menarik” Perlu diberikan kategori warna cerah seperti apa Kalimat perlu direvisi karena kurang jelas dan perlu pemberian kritera bobot berat, sedang, dan ringan. Kata “berbagai” dan “lebih” dihilangkan 88

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Autocorrection 8. Autocorrection 9. Kontekstual 10. Kontekstual a. Ya b. Tidak Apakah menurut Bapak/Ibu penggunaan alat peraga dapat membantu menemukan kesalahannya sendiri? a. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa untuk menemukan jawaban yang benar? a. Ya b. Tidak Apakah Bapak/Ibu menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering d. Kadang-kadang d. Jarang e. Tidak pernah Apakah Bapak/Ibu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar? a. Sangat setuju b. Setuju c. Kurang setuju d. Tidak setujua Total Skor Jumlah total skor 4 6 3 7 2 2 6 1 2 7 18 102 Perlu adanya tambahan penjelasan makna kesalahannya sendiri dan kalimat awal pertanyaan perlu diganti menjadi menurut Bapak/Ibu, apakah… Sebaiknya menggunakan kalimat seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika. Penggunaan kata pakah kurang sesuai, apakah ada perbedaan anatara kurang setuju dengan tidak setuju 228 348 89

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Rambu- rambu Skoring Skor 1 2 3 4 Penjelasan Tidak jelas Kurang jelas Jelas Sangat jelas 90

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2.2 Hasil Perbaikan Item Pertanyaan Kuesioner Analisis Kebutuhan No. 1. Indikator Autoeducation 2. Autoeducation 3. Menarik 4. Menarik 5. Bergradasi 6. Bergradasi 7. Autocorrection 8. Autocorrection 9. Kontekstual 10. Kontekstual Pertanyaan Seberapa sering Bapak/Ibu gurumu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu memahami konsep-konsep matematika? a. Ya b. Tidak Apakah menurut kamu, pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga lebih menarik? a. Ya b. Tidak Warna yang seperti apa yang kamu sukai untuk alat peraga? a. Warna cerah b. Warna gelap Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang sesuai untuk kamu gunakan? a. Berat (> 3 kg) b. Sedang (1,5 kg – 3 kg) c. Ringan (< 1,5 kg) Apakah kamu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk materi yang berbeda? a. Ya b. Tidak Menurutmu, apakah penggunaan alat peraga dapat membantu menemukan kesalahanmu sendiri? a. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu untuk menemukan jawaban yang benar dari kesalahan saat mengerjakan soal-soal latihan? a. Ya b. Tidak Seberapa sering Bapak/Ibu gurumu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang Apakah kamu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar? a. Setuju b. Tidak setuju 91

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2.3 Rekapitulasi Analisis Kebutuhan Siswa No. Indikator Pertanyaan 1. Autoeducation Seberapa sering Bapak/Ibu gurumu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu memahami konsep-konsep matematika? a. Ya b. Tidak Apakah menurut kamu, pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga lebih menarik? a. Ya b. Tidak Warna yang seperti apa yang kamu sukai untuk alat peraga? a. Warna cerah b. Warna gelap Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang sesuai untuk kamu gunakan? a. Berat (> 3 kg) b. Sedang (1,5 kg – 3 kg) c. Ringan (< 1,5 kg) Apakah kamu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk materi yang berbeda? a. Ya b. Tidak Menurutmu, apakah penggunaan alat peraga dapat membantu menemukan kesalahanmu sendiri? a. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu untuk menemukan jawaban yang benar dari kesalahan saat mengerjakan soal-soal latihan? a. Ya b. Tidak Seberapa sering Bapak/Ibu gurumu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Autoeducation Menarik Menarik Bergradasi Bergradasi Autocorrection Autocorrection Kontekstual Jumlah Responden Persentase 4 4 17 5 7 10,81% 10,81% 45,95% 13,51% 18,92% 34 3 91,9% 8,1% 32 5 86,49% 13,51% 35 2 94,6% 5,4% 14 7 16 37,84% 18,92% 43,24% 29 8 78,38% 21,62% 22 15 59,46% 40,54% 30 7 81,08% 18,81% 5 6 12 9 13,51% 16,22% 32,43% 24,32% 92

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10. Kontekstual e. Sangat jarang Apakah kamu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar? a. Setuju b. Tidak setuju 5 13,51% 33 4 89,19% 10,81% *) Analisis kebutuhan siswa yang sudah direvisi dan dilakukan oleh 37 siswa 93

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2.4 Rekapitulasi Analisis Kebutuhan Guru No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Indikator Autoeducation Autoeducation Menarik Menarik Bergradasi Bergradasi Autocorrection Autocorrection Kontekstual Pertanyaan Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsep-konsep matematika? a. Ya b. Tidak Apakah menurut Bapak/Ibu, pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat lebih menarik? a. Ya b. Tidak Warna yang seperti apa yang Bapak/Ibu sukai untuk alat peraga? a. Warna cerah b. Warna gelap Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang menurut Bapak/Ibu sesuai untuk siswa? a. Berat (> 3 kg) b. Sedang (1,5 kg – 3 kg) c. Ringan (< 1,5 kg) Apakah Bapak/Ibu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk kompetensi dasar yang berbeda? a. Ya b. Tidak Menurut Bapak/Ibu, apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan? a. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa untuk menemukan jawaban yang benar dari kesalahan saat mengerjakan soal-soal latihan? a. Ya b. Tidak Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang Jumlah Responden Persentase 1 5 16,67 % 83,33% 6 100% 6 100% 6 100% 1 5 16,67% 83,33% 5 1 83,33% 16,67% 6 100% 6 100% 4 66,67% 94

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10. Kontekstual d. Jarang e. Sangat jarang Apakah Bapak/ Ibu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar? a. Setuju b. Tidak setuju 2 33,33% 6 100% *) Analisis kebutuhan yang dilakukan oleh 6 guru kelas 95

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3 Insrumen Penelitian Lampiran 3.1 Validasi Instrumen Tes Lampiran 3.1.1 Kisi-kisi Instrumen Tes No. 1 Indikator Melakukan pembagian bilangan sampai habis dengan bilangan satu angka Item 6 Nomor Soal 1, 2, 3, 6, 7, dan 8 Contoh Soal Ibu membeli 6 kue di pasar. Kue tersebut dibagikan dalam 2 piring. Berapakah banyaknya kue masingmasing piring tersebut? Jawab: : 2 Melakukan pembagian bilangan dengan bilangan itu sendiri 8 4, 9, 10, 11, 17, 19, 20, dan 26 6 : 2 =3 Jadi, banyaknya kue di masing-masing piring adalah 3 2 : 2 = ….. : 3 Melakukan pembagian dengan bilangan 1 6 5, 12, 13, 14, 18, dan 21 = = 2 : 2 12 : 4 =…… Penyelesaian 12 4 - (1 kali) … … = 1… … … … 8 4 - (2 kali) 4 4 - (3 kali) 4 Melakukan pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka Total 10 15, 16, 22, 23, 24, 25, 27, 28, 29, dan 30 0 Jadi, 12 : 4 = 3 20 : 4 dapat ditulis dalam bentuk 20 – 4 –4–4–4-4=0 Pengurangan dengan 4 dilakukan 5 kali Jadi, 20 : 4 = 5 30 96

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.1.2 Rekapitulasi Penilaian Instrumen tes Tabel Rekapitulasi Penilaian Instrumen Tes No Komponen penilaian 1 Kesesuaian antara SK, KD, dan Indikator 2 Penggunaan bahasa dan tata tulis baku Kesesuaian indikator 1 dengan item soal Kesesuaian indikator 2 dengan item soal 3 4 5 6 7 8 9 10 Kesesuaian indikator 3 dengan item soal Kesesuaian indikator 4 dengan item soal Kejelasan Perintah pengerjaan soal Bentuk face indikator tes yang disajikan Kualitas pedoman penilaian Pembobotan soal tiap indikator Total skor Jumlah total 1 2 Skor 3 2 4 1 Komentar Soal pembagian mengajarkan anak untuk pengurangan berulang 3 3 1 2 Perlu adanya soal yang kontekstual dan dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari 3 2 1 2 1 3 2 1 30 1 2 80 120 Kurang tanda baca (-) pada nomor 26 dan 30 Kalimat kriteria kurang jelas 97

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.1.3 Soal Ujicoba Empirik 98

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.1.4 Kunci Jawaban 104

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.1.5 Rekapitulasi validitas tes Total Total Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 1 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 2 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 3 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 4 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 5 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 6 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 7 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 8 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 9 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 10 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 11 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 12 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 13 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 14 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 15 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 16 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 17 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 18 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 19 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 20 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 21 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 22 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 23 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N ,652** .000 52 ,742** .000 52 ,645** .000 52 ,762** .000 52 ,645** .000 52 ,657** .000 52 ,695** .000 52 ,749** .000 52 ,681** .000 52 soal 24 Pearson Corellation ,621** 1 52 ,668** .000 52 ,546** .000 52 ,595** .000 52 ,516** .000 52 ,434** .001 52 ,530** .000 52 ,611** .000 52 ,723** .000 52 ,809** .000 52 ,791** .000 52 ,854** .000 52 ,513** .000 52 ,549** .000 52 ,508** .000 52 Sig. (2-tailed) N soal 25 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 26 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 27 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 28 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N soal 29 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N .000 52 ,543** .000 52 ,674** .000 52 ,695** .000 52 ,569** .000 52 ,545** .000 52 109

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI soal 30 Pearson Corellation Sig. (2-tailed) N ,545** .000 52 110

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.2 Uji Keterbacaan Kuesioner Validasi Produk No 1 2 Indikator Auto education Auto education 3 Menarik 4 Menarik 5 Bergradasi 6 Bergradasi 7 Auto correction 8 Auto correction 9 Kontekstual 10 Kontekstual Aspek yang dinilai Siswa dapat menggunakan alat peraga secara mandiri Siswa dapat memahami konsep matematika secara mandiri Warna alat peraga membuat siswa tertarik untuk belajar matematika Bentuk alat peraga)menarik bagi siswa Alat peraga dapat digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda Alat peraga memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan karakteristik siswa Penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar Penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar Bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga mudah didapatkan dari lingkungan sekitar sekolah Alat peraga dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar. Total skor Jumlah total 1 2 3 Skor 3 3 4 1 2 7 1 3 6 3 3 4 2 6 2 1 3 6 Berikan kriteria yang cocok 3 7 Harus diberkan penjelasan 2 8 2 1 7 1 2 7 28 84 232 344 4 Saran Gunakan kalimat yang mirip dengan nomor 3 Perlu di jelaskan konteksnya secara lisan 111

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3.3 Validasi Alat Peraga No 1 Aspek yang dinilai Papan pembagian bilangan dapat digunakan secara mandiri oleh siswa Papan pembagian bilangan mengajarkan konsep matematika secara mandiri Warna papan pembagian bilangan membuat siswa tertarik untuk belajar Bentuk papan pembagian bilangan menarik bagi siswa Papan pembagian bilangan dapat digunakan untuk berbagai kompetensi yang berbeda Papan pembagian bilangan memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan karakteristik siswa Penggunaan papan pembagian bilangan dapat membantu siswa menemukan kesalahan sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan Penggunaan papan pembagian bilangan dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar Bahan yang digunakan untuk membuat papan pembagian bilangan mudah didaptkan dari lingkungan sekitar Papan pembagian bilangan dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar Total skor Jumlah total skor 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 Skor 3 4 1 2 1 Saran 2 3 3 3 2 1 3 3 3 1 2 15 100 115 Saran oleh pakar - Penekanan pada peletakkan nilai puluhan dan satuan Alat peraga terlalu berat untuk kelas II Bentuk balok diganti dadu Balok angka diberi varian angka yang berbeda tiap sisinya gar lebih hemat tempat 112

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4 Ujicoba Lapangan Terbatas Lampiran 4.1 Soal Tes Ujicoba Lapangan Terbatas SOAL PRETEST DAN POSTTES Nama : Kelas : Nama Sekolah : Standar Kompetensi 3. Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka Kompetensi Dasar 3.2 Melakukan pembagian bilangan dua angka Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat! 1. Ani membeli 8 permen di warung. Permen tersebut dibagikan dalam 2 toples. Berapakah banyaknya permen masing-masing toples? Jawab: : 8 = : 2 =….. Jadi, banyaknya permen di masing-masing toples adalah…. 2. Bibi membeli 3 buah sendok di pasar. Sendok tersebut di bagikan dalam 1 gelas. Berapakah banyaknya sendok pada gelas? : 3 : = 1 = …….. Jadi, banyaknya sendok di dalam gelas adalah…… 3. 4 : 2 =…… : = 113

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 : = ………. 2 4. 8: 4 =……. : = …… .. 8 : 4 …… … …… …. …… .. =…………. 5. 5 : 5 =…… : = ……. 5 : ……. ……. = ….... 5 6. 4 : 4= ….. : = …… 4 : …… …… = …… 4 7. 2 : 1 =….. : = …… …. …… … …… 114 … ….

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 : = ……. 1 8. 5 : 1 =….. : = … …. … …. 5 : 1 9. 15 : 3 =……. … …. =……. … …. Penyelesaian 15 3 - (1 kali) …. 3 - (2 kali) 9 …. - (3 kali) 6 …. - (…kali) 3 …. – (… kali) …. Jadi, 15 : 3 =…. 10. 4: 1 = …… Penyelesaian 4 1 - (1 kali) ….. 1 - (… kali) 115

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI .…. ….. - (… kali) ….. ….. - (…kali) 0 Jadi, 4 : 1 =…. 11. 8 : 8 dapat ditulis dalam bentuk 8 - 8= 0 Pengurangan dengan 8 dilakukan 1 kali Jadi, 8 :8 =…. 12. 7 : 7 dapat ditulis dalam bentuk 7 -…. = 0 Pengurangan dengan 7 dilakukan ….. kali Jadi, 7 :7 =…. 13. 6 :1 dapat ditulis dalam bentuk 6 - 1 – 1 -……- ……- …. - ….. =…. Pengurangan dengan 1 dilakukan ….. kali Jadi, 6 :1 =…. 14. 18 : 6 dapat ditulis dalam bentuk 18 - 6 – … - …. =0 Pengurangan dengan … dilakukan …. kali Jadi, 18 : 6 =…. 15. 20 : 4 dapat ditulis dalam bentuk 20 – 4 - …. - …. - …. - …. = …. Pengurangan dengan …. dilakukan …. Kali Jadi, 20 : 4 =….. 116

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.2 Kunci Jawaban KUNCI JAWABAN 1. Ani membeli 8 permen di warung. Permen tersebut dibagikan dalam 2 toples. Berapakah banyaknya permen masing-masing toples? Jawab: : 8 = : 2 =4 Jadi, banyaknya permen di masing-masing toples adalah 4 2. Bibi membeli 3 buah sendok di pasar. Sendok tersebut di bagikan dalam 1 gelas. Berapakah banyaknya sendok pada gelas? : 3 = : 1 =3 Jadi, banyaknya sendok di dalam gelas adalah 3 3. 4 : 2 = 2 : 4 : = 2 =2 4. 8: 4 = 2 : = …… …… … …… …. …… 117

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 : 4 =2 5. 5 : 5 = 1 : 5 = : =1 5 6. 4 : 4 = 1 : 4 = : 4 =1 7. 2 : 1 = 2 : 2 = : 1 =2 8. 5 : 1 = 5 : = 118

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 : 1 =5 9. 15 : 3 = 4 Penyelesaian 10. 4: 1 = 4 15 Penyelesaian 3 - (1 kali) 4 12 1 - (1 kali) 3 - (2 kali) 3 9 1 - (2 kali) 3 - (3 kali) 2 6 1 - (3 kali) 3 - (4 kali) 1 3 1 - (4kali) 3 - (5 kali) 0 0 Jadi, 4 : 1 = 4 Jadi, 15 : 3 = 4 11. 8 : 8 dapat ditulis dalam bentuk 8 - 8= 0 Pengurangan dengan 8 dilakukan 1 kali Jadi, 8 :8 = 1 12. 7 : 7 dapat ditulis dalam bentuk 7 - 7 = 0 Pengurangan dengan 7 dilakukan 1 kali Jadi, 7 :7 =1 13. 6 :1 dapat ditulis dalam bentuk 6 - 1 – 1 – 1 – 1 – 1 – 1 = 0 Pengurangan dengan 1 dilakukan 6 kali Jadi, 6 :1 = 6 14. 18 : 6 dapat ditulis dalam bentuk 18 - 6 – 6 - 6 = 0 Pengurangan dengan 6 dilakukan 3 kali Jadi, 18 : 6 = 3 15. 20 : 4 dapat ditulis dalam bentuk 20 – 4 – 4 – 4 - 4 - 4 = 0 Pengurangan dengan 4 dilakukan 5 kali Jadi, 20 : 4 = 5 119

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.3 Rekaptulasi Hasil Pretest No. 1 2 3 4 5 Nama G A S W V No. Soal 1 1 1 1 1 1 2 4 4 4 4 4 3 2 1 1 1 1 4 2 2 2 2 1 5 2 2 2 2 2 6 2 2 2 2 2 7 2 2 2 1 1 8 3 2 2 2 1 9 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 12 1 1 1 1 2 13 1 1 1 1 1 14 1 1 1 1 2 Jumlah 15 1 1 1 1 1 41.67 38.33 38.33 36.67 36.67 Rerata 38.33 Lampiran 4.4 Rekapitulasi Hasil Posttest No. 1 2 3 4 5 Nama G A S W V No. Soal 1 1 1 1 1 4 2 4 4 4 4 4 3 1 1 1 1 1 4 2 2 4 2 2 5 2 2 4 3 2 6 2 2 4 2 2 7 2 4 4 2 4 8 2 4 4 4 4 9 4 3 4 3 1 10 4 1 4 3 4 11 4 1 4 4 1 12 4 1 4 4 1 13 4 1 4 4 1 14 4 1 4 4 1 Jumlah 15 4 1 4 4 1 73.33 48.33 90 75 55 Rerata 68.33 Lampiran 4.5 Rekapitulasi Kuesioner Siswa No. Aspek yang dinilai 1 1. Papan pembagian bilangan dapat digunakan secara mandiri oleh siswa Papan pembagian bilangan mengajarkan konsep matematika secara mandiri 3. Warna papan pembagian bilangan membuat siswa tertarik untuk belajar 4. Bentuk papan pembagian bilangan menarik bagi siswa 5. Papan pembagian bilangan dapat digunakan untuk berbagai kompetensi yang berbeda 6. Papan pembagian bilangan memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan karakteristik siswa 7. Penggunaan papan pembagian bilangan dapat membantu siswa menemukan kesalahan sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan 8. Penggunaan papan pembagian bilangan dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar 9. Bahan yang digunakan untuk membuat papan pembagian bilangan mudah didapatkan dari lingkungan sekitar 10. Papan pembagian bilangan dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar Penilaian 2 3 4 2 3 2. 1 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 2 4 2 3 2 3 2 3 120

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.6 Foto Penelitian 121

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5 Surat Ijin Penelitian 122

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 6 Surat Keterangan Penelitian 123

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7 Desain Alat Peraga Lampiran 7.1 Desain Kotak Balok 124

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7.2 Tutup kotak 125

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7.3 Desain Papan Pembagian 126

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7.4 Desain Kartu Soal Lampiran 7.5 Desain Balok Angka Note book: tulisan nomor menggunakan sticker cutting 127

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7.6 Desain Pion 128

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7.7 Alat Peraga Papan Pembagian Papan pembagian Kotak balok jika ditutup Kartu soal Kotak balok jika dibuka Balok satuan Balok puluhan Balok ratusan Balok ribuan 129

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pion Lembar kerja 130

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 8 Album Alat Peraga ALBUM PEMBELAJARAN MONTESSORI “PAPAN PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA” A. Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar B. Kelas/ Semester : II/ Genap C. Mata Pelajaran : Matematika D. Standar Kompetensi : 3. Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka E. Kompetensi Dasar : 3.2 Melakukan pembagian bilangan dua angka F. Indikator : 3. 2. 1 Melakukan pembagian bilangan sampai habis dengan bilangan satu angka 3. 2. 2 Melakukan pembagian bilangan dengan bilangan itu sendiri 3. 2. 3 Melakukan pembagian dengan bilangan 1 3. 2. 4 Melakukan pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka G. Tujuan 3. 2. 1. 1 : Siswa mampu melakukan pembagian bilangan sampai habis dengan bilangan satu angka 3. 2. 2. 1 Siswa mampu melakukan pembagian bilangan dengan bilangan itu sendiri 3. 2. 3. 1 Siswa mampu melakukan pembagian dengan bilangan 1 3. 2. 4. 1 Siswa mampu melakukan pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka 131

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGANTAR A.1. Tema Pelajaran Tujuan Langsung : Pengantar : Mengenalkan konsep bilangan satuan, puluhan, ratusan dan ribuan Syarat : Anak sudah dapat membilang sampai dengan 100 Usia : 7-8 tahun Alat Peraga : 1. Balok warna biru muda dengan angka 1 di tengahnya mengindikasikan satuan 2. Balok ungu dengan angka 10 di tengahnya mengindikasikan puluhan 3. Balok orange dengan angka 100 di tengahnya mengindikasikan ratusan 4. Balok biru tua dengan angka 1000 di tengahnya mengindikasikan ribuan 5. Pion merah mengindikasikan pembagi 6. Kartu soal dan kunci jawaban Presentasi : 1. Direktris menyiapkan alat peraga di lokasi kerja. 2. Direktris mengundang anak untuk bekerja “mari ikut ibu belajar mengenal konsep bilangan satuan, puluhan, ratusan , dan ribuan” 3. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris. 4. Direktris mengenalkan papan pembagian bilangan dua angka sambil berkata, “Ini papan pembagian.” 5. Direktris meminta anak untuk memegang papan, “mau memegangnya?” 132

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Direktris membuka kotak yang berisi pion, balok warna-warni, dan kartu soal 7. Direktris mengambil 1 balok satuan berwarna biru muda sambil berkata, “Ini satu, perangko satuan.” 8. Direktris bertanya pada anak, “Mau memegangnya?” 9. Direktris memberikan kesempatan kepada anak untuk memegang dan peraba balok warna-warni satuan. 10. Direktris meletakkan balok satuan ke dalam lubang papan pembagian. 11. Direktris mengambil 1 balok satuan berwarna ungu sambil berkata, “Ini satu, perangko puluhan.” 12. Direktris bertanya pada anak, “Mau memegangnya?” 13. Direktris memberikan kesempatan kepada anak untuk memegang dan peraba balok puluhan. 14. Direktris meletakkan balok puluhan ke dalam lubang papan pembagian. 15. Direktris mengambil 1 balok orange sambil berkata, “Ini satu, balok ratusan.” 133

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16. Direktris bertanya pada anak, “Mau memegangnya?” 17. Direktris memberikan kesempatan kepada anak untuk memegang dan peraba balok ratusan. 18. Direktris meletakkan balok ratusan ke dalam lubang papan pembagian. 19. Direktris mengambil 1 balok satuan berwarna biru tua sambil berkata, “Ini satu, balok ribuan.” 20. Direktris bertanya pada anak, “Mau memegangnya?” 21. Direktris memberikan kesempatan kepada anak untuk memegang dan meraba balok ribuan. 22. Direktris meletakkan balok ribuan ke dalam lubang papan pembagian. Nomenklatur 23. Direktris bertanya, “Mana balok satuan?” 24. Direktris bertanya, “Mana balok puluhan?” 25. Direktris bertanya, “Mana balok ratusan?” 26. Direktris bertanya, “Mana balok ribuan?” 27. Direktris bertanya, “Ini balok berapa?” sambil menunjuk balok puluhan. 28. Direktris bertanya, “Ini balok berapa?” sambil menunjuk balok ratusan. 29. Direktris bertanya, “Ini balok berapa?” sambil menunjuk balok satuan. 30. Direktris bertanya, “Ini balok perangko berapa?” sambil menunjuk balok ribuan. 134

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengendali Kesalahan: 1. Angka pada balok 135

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A.2. Tema Pembelajaran : Pembagian bilangan sampai habis dengan bilangan satu angka. Tujuan Langsung :Siswa mampu melakukan pembagian bilangan sampai habis dengan bilangan satu angka. Usia : 7-8 Tahun Syarat : 1. Anak sudah dapat membilang sampai dengan 100 2. Anak sudah mengetahui nilai tempat satuan dan puluhan Presentasi: 1. Direktris menyiapkan alat peraga di lokasi kerja. 2. Direktris mengundang anak untuk bekerja 3. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris. 4. Direktris mengambil kartu soal, misalnya 8 : 2 5. Direktris menyiapkan lembar kerja siswa 6. Direktris mengambil 2 pion berwarna merah dan diletakkan ke lubang lingkaran papan pembagian 7. Direktris mengambil 8 perangko satuan 136

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Direktris menuliskan 8: 2 pada lembar kerja 9. Direktris memasukkan 2 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 10. Direktis menuliskan 8-2 pada lembar kerja siswa 11. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 12. Direktris memasukkan 2 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 13. Anak menuliskan pengurangan 6-2 pada lembar kerja 14. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 137

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15. Direktris memasukkan 2 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 16. Anak menuliskan pengurangan 4-2 pada lembar kerja 17. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 18. Direktris memasukkan 2 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 19. Anak menuliskan pengurangan 2-2 pada lembar kerja 20. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 138

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21. Anak diminta untuk menghitung balok pada deretan masing-masing pion 22. Direktris bertanya pada anak, “Jadi, berapa hasil 8 : 2?” 23. Anak menjawab pertanyaan dari direktris, kemudian direktris mengecek jawaban anak menggunakan kunci jawaban yang ada di balik kartu soal. 24. Anak diminta melanjutkan latihan sendiri menggunakan kartu soal lain menggunakan bilangan satu angka dengan pembagi 1-9 Pengendali kesalahan : 1. Lubang pada papan pembagian (satu lubang hanya bisa ditempati oleh satu balok) 2. Kunci jawaban yang ada di sebalik kartu soal 139

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A. 3 Tema Pembelajaran : Pembagian bilangan dengan bilangan itu sendiri Tujuan Langsung : Siswa mampu melakukan pembagian bilangan dengan bilangan itu sendiri Usia : 7-8 Tahun Syarat : anak sudah dapat membilang sampai 100 Presentasi : 1. Direktris menyiapkan alat peraga di lokasi kerja. 2. Direktris mengundang anak untuk bekerja 3. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris. 4. Direktris mengambil kartu soal, misalnya 4 : 4 5. Direktris mengambil 4 pion berwarna merah dan diletakkan ke lubang lingkaran papan pembagian 6. Direktris mengambil 4 balok satuan 140

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Direktris menuliskan 4: 4 pada lembar kerja 8. Direktris memasukkan 4 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi 9. Anak diminta menuliskan 4-4 pada lembar kerja 10. Anak diminta menghitung balok pada deretan masing-masing pion 11. Anak diminta mencocokkan hasil lembar kerja yang ditulis dengan jumlah tiap balok pada masing-masingpion 12. Direktris bertanya pada anak, “Jadi, berapa hasil 4 : 4?” 13. Anak menjawab pertanyaan dari direktris, kemudian direktris mengecek jawaban anak menggunakan kunci jawaban yang ada di balik kartu soal. 141

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14. Anak diminta meanjutkan latihan sendiri menggunakan kartu soal pembagian bilangan itu sendiri mulai 1-9 Pengendali kesalaham: 1. Lubang pada papan pembagian (satu lubang hanya bisa ditempati oleh satu balok) 2. Kunci Jawaban yang ada di sebalik kartu soal 142

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A. 4 Tema Pembelajaran : Pembagian dengan bilangan 1 Tujuan Langsung : Siswa mampu melakukan melakukan pembagian dengan bilangan 1. Usia : 7-8 Tahun Syarat : 1. Anak sudah dapat membilang sampai dengan 100 2. Anak sudah mengetahui nilai tempat satuan dan puluhan Presentasi : 1. Direktris menyiapkan alat peraga di lokasi kerja. 2. Direktris mengundang anak untuk bekerja 3. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris. 4. Direktris mengambil kartu soal, misalnya 7 : 1 5. Direktris mengambil 1 pion berwarna merah dan diletakkan ke lubang lingkaran papan pembagian 6. Direktris mengambil 7 balok satuan 143

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Direktris menuliskan 7: 1 pada lembar kerja 8. Direktris memasukkan 1 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi 9. Anak diminta menuliskan 7-1 pada lembar kerja 10. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 11. Direktris memasukkan 1 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 12. Anak menuliskan pengurangan 6-1 pada lembar kerja 144

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 14. Direktris memasukkan 1 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 15. Anak menuliskan pengurangan 5-1 pada lembar kerja 16. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 17. Direktris memasukkan 1 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 18. Anak menuliskan pengurangan 4-1 pada lembar kerja 19. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 20. Direktris memasukkan 1 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 21. Anak menuliskan pengurangan 3-1 pada lembar kerja 145

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 23. Direktris memasukkan 1 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 24. Anak menuliskan pengurangan 2-1 pada lembar kerja 25. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 26. Direktris memasukkan 1 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 27. Anak menuliskan pengurangan 1-1 pada lembar kerja 146

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28. Anak diminta untuk menghitung balok pada deretan masing-masing pion 29. Anak diminta mencocokkan hasil hitungan tiap derat pion dengan hasil hitungan pada lembar kerja siswa 30. Direktris bertanya pada anak, “Jadi, berapa hasil 7 : 1?” 31. Anak menjawab pertanyaan dari direktris, kemudian direktris mengecek jawaban anak menggunakan kunci jawaban yang ada di balik kartu soal. 32. Anak diminta melanjutkan latihan sendiri menggunakan kartu soal pembagian dengan bilangan 1 yang lain. Pengendali kesalahan : 1. Lubang pada papan pembagian (satu lubang hanya bisa ditempati oleh satu balok) 2. Kunci Jawaban yang ada di sebalik kartu soal 147

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A.5. Tema Pembelajaran : Pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka tanpa menukar Tujuan Langsung : Siswa mampu melakukan pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka tanpa menukar Usia : 7-8tahun Syarat : 1. Anak sudah dapat membilang sampai dengan 100 2. Anak sudah mengetahui nilai tempat satuan dan puluhan Presentasi : 1. Direktris menyiapkan alat peraga di lokasi kerja. 2. Direktris mengundang anak untuk bekerja 3. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris. 4. Direktris mengambil kartu soal, misalnya 33 : 3 5. Direktris mengambil 3 pion berwarna merah dan diletakkan ke lubang lingkaran papan pembagian 6. Direktris mengambil 3 balok puluhan dan 3 balok satuan 148

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Direktris membagi balok puluhan pada masing-masing pion. 8. Direktris membagi balok satuan pada masing-masing pion 149

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9. Direktris bertanya pada anak, “Jadi, berapa hasil 33 : 3?” 10. Anak menjawab pertanyaan dari direktris, kemudian direktris mengecek jawaban anak menggunakan kunci jawaban yang ada di balik kartu soal. 11. Anak diminta melanjutkan latihan sendiri menggunakan kartu soal pembagian bilangan dua angka yang lain beserta menggunakan lembar kerja. Pengendali kesalahan: 1. Lubang pada papan pembagian (satu lubang hanya bisa ditempati oleh satu balok) 2. Kunci jawaban disebalik kartu soal 3. Jumlah pion 150

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI A.6. Tema Pembelajaran: Pembagian bilangan dua angka dengan satu angka dengan menukar Tujuan Langsung : Siswa mampu melakukan pembagian bilangan dua angka dengan bilangan satu angka dengan menukar : 7 – 8 tahun Usia Syarat : 1. Anak sudah dapat membilang sampai dengan 100 2. Anak sudah mengetahui nilai tempat satuan dan puluhan Presentasi : 1. Direktris menyiapkan alat peraga di lokasi kerja. 2. Direktris mengundang anak untuk bekerja 3. Direktris meminta anak duduk di sebelah kanan direktris. 4. Direktris mengambil kartu soal, misalnya 15 : 5 5. Direktris mengambil 5 pion berwarna merah dan diletakkan ke lubang lingkaran papan pembagian 6. Direktris menyiapkan lembar kerja 7. Direktris mengambil 1 balok puluhan dan 5 balok satuan 151

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Direktris menuliskan 15 : 5 pada lembar kerja 9. Direktris menuliskan 15 -5 pada lembar kerja 10. Direktris mengambil 1 balok puluhan dan dibagikan ke masingmasing pion. Karena balok puluhan jumlahnya hanya 1 dan tidak bisa dibagikan kelima pion, direktris menukarkan 1 balok puluhan dengan 10 balok satuan 11. Direktris memasukkan 5 balok satuan yang telah ditukarkan ke dalam lubang papan pembagian sampai batas pion bilangan pembagi. 12. Direktis menuliskan 15 - 5 pada lembar kerja siswa 152

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 14. Direktris memasukkan 5 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 15. Anak menuliskan pengurangan 10-5 pada lembar kerja 16. Anak diminta menghitung balok satuan yang tersisa dan menuliskannya hasilnya pada lembar kerja siswa 17. Direktris memasukkan 5 balok satuan pada lubang persegi pada sampai batas pion pembagi. 18. Anak menuliskan pengurangan 5-5 pada lembar kerja 153

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19. Anak diminta untuk menghitung balok pada deretan masing-masing pion 20. Anak diminta mencocokkan hasil hitungan tiap derat pion dengan hasil hitungan pada lembar kerja siswa. 21. Direktris bertanya pada anak, “Jadi, berapa hasil 33 : 3?” 22. Anak menjawab pertanyaan dari direktris, kemudian direktris mengecek jawaban anak menggunakan kunci jawaban yang ada di balik kartu soal. 154

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23. Anak diminta melanjutkan latihan sendiri menggunakan kartu soal pembagian bilangan dua angka yang lain Pengendali kesalahan: 1. Lubang pada papan pembagian (satu lubang hanya bisa ditempati oleh satu balok) 2. Kunci jawaban disebalik kartu soal 3. Jumlah pion 155

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CURRICULUM VITAE Mido Rahayu lahir di Klaten, 11 September 1992. Pada tahun 1998-2004, peneliti memperoleh pendidikan dasar di SD Negeri Jetis I Klaten. Pendidikan menengah pertama diperoleh di SMP Negeri 7 Klaten, tamat pada tahun 2007. Pendidikan menengah tengah atas diperoleh di SMK Kristen 2 Klaten, tamat pada tahun 2010. Pada tahun 2010, peneliti tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Selama menempuh pendidikan di PGSD, peneliti mengikuti kegiatan di luar perkuliahan. Pada tahun 2011, peneliti mengikuti workshop pembelajaran Montessori usia 3-6 tahun sebagai peserta, pendamping kelompok Inisiasi Prodi PGSD 2011, bendahara lomba mendongeng antar mahasiswa PGSD wilayah DIYJawa Tengah, dan sie usaha dana pentas seni Harmoni PGSD. Pada tahun 2012, peneliti pernah mengikuti Co-Fasilitator PPKM I dan PPKM II, panitia serta peserta workshop pembelajaran Montessori usia 9-12 tahun, bendahara II Inisiasi Prodi PGSD, dan peserta workshop pembuatan alat laboratorium genetik. Pada tahun 2013, peneliti berperan sebagai bendahara Diseminasi Model Pembelajaran Montessori, bendahara dalam kegiatan Embracing Montessori Conference, dan aktif sebagai anggota PGSD Montessori Club tahun 2012-2013.

(179)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengembangan alat peraga matematika materi pembagian untuk anak dengan berkesulitan belajar matematika (diskalkulia) di SD Negeri Mertelu.
1
3
194
Implementasi alat peraga pembagian berbasis metode Montessori pada pembelajaran matematika materi pembagian kelas II SD Kanisius Kenalan Magelang.
4
14
253
Persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga bilangan pecahan berbasis metode Montesssori.
0
11
151
Pengembangan alat peraga membaca dan menulis permulaan berbasis metode Montessori.
1
22
232
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi perkalian berbasis Metode Montessori.
3
29
323
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi perkalian berbasis metode Montessori.
1
3
262
Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta.
1
21
138
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta.
1
29
135
Pengembangan alat peraga matematika materi pembagian untuk anak dengan berkesulitan belajar matematika (diskalkulia) di SD Negeri Mertelu
7
25
192
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
0
2
150
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
1
5
133
Pengembangan alat peraga ala Montessori untuk keterampilan geometri matematika kelas III SDN Tamanan I Yogyakarta - USD Repository
0
1
132
Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta - USD Repository
0
0
136
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
1
292
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
381
Show more