Pengembangan modul internalisasi nilai-nilai `Berjiwa Besar` ST. Fransiskus Asisi di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung - USD Repository

Gratis

0
0
164
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGEMBANGAN MODUL INTERNALISASI NILAI-NILAI “BERJIWA BESAR” ST. FRANSISKUS ASISI DI SD FRANSISKUS 2 BANDAR LAMPUNG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Agusta Mistiyah 101134018 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGEMBANGAN MODUL INTERNALISASI NILAI-NILAI “BERJIWA BESAR” ST. FRANSISKUS ASISI DI SD FRANSISKUS 2 BANDAR LAMPUNG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Agusta Mistiyah 101134018 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”. (Lukas 11:9) “Dalam segala perbuatan-Nya, Tuhan selalu berkehendak baik” (Mdr.M. Anselma Bopp) “Catumkanlah dalam hati anak-anak, bahwa tidak ada surga tersendiri bagi orang miskin atau kaya; melainkan baik orang miskin maupun kaya akan masuk ke dalam surga yang sama”. (Mdr.M. Anselma Bopp) PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan kepada : 1. TuhanYesus Kristus sebagai Sang Sumber Hidupku. 2. Mdr. Julia Juliarti pemimpin Propinsi beserta staf dewan Propinsi St. Yusuf Pringsewu-Lampung. 3. Para suster sekomunitas dan para suster Propinsi St. Yusuf Indonesia. 4. Teman-teman PGSD angkatan 2010 yang kucintai. 5. Semua pihak yang telah memberikan doa, dukungan dan semangat. iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PENGEMBANGAN MODUL INTERNALISASI NILAI-NILAI “BERJIWA BESAR” St. FRANSISKUS ASISI DI SEKOLAH DASAR FRANSISKUS 2 BANDAR LAMPUNG Oleh: Agusta Mistiyah NIM: 101134018 Hasil wawancara dan lembar koesioner dari para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung menunjukkan bahwa pengetahuan mereka tentang nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi termasuk dalam kategori rendah. Hal tersebut dapat mempengaruhi totalitas pelayanan mereka dalam mendidik anakanak di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung yang menghidupi nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan Modul Internalisasi Menjadi “Guru Berjiwa Besar” Berlandaskan Semangat St. Fransiskus Asisi. Peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D). Metode ini digunakan untuk mengetahui prosedur pengembangan dan kualitas produk yang dihasilkan. Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa modul pembinaan yang berisi nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Nilai-nilai tersebut adalah beriman, ugahari dan sederhana, murah hati dan aktif dalam hidup menggereja. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, kualitas produk ini mendapat kriteria baik dengan skor 4. Skor tersebut diperoleh dari hasil validasi empat orang yang memahami spiritualitas Fransiskan dan dari dua orang guru SD yang berkarya di SD 2 Fransiskus Bandar Lampung. Kata kunci: modul, Internalisasi, nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT DEVELOPMENT MODULE INTERNALIZATION "THE BIG THOUGHT" ST. FRANCIS OF ASSISI IN PRIMARY SCHOOL FRANCIS 2 BANDAR LAMPUNG by: Agusta Mistiyah NIM: 101134018 The result of observations and questionnaires for teachers in St. Francis Elementary School 2, Bandar Lampung about their appreciation of “The Big Thought” spirit of St. Francis of Asisi was relatively low. It can affect the totality of their service in educating children in St. Francis Elementary School 2 in Bandar Lampung who live out the values of “The Big Thought” spirit of St. Francis of Asisi. Based on the background, the research is intended to Develop Module for the Internalization of a “The Big Thought” spirit of St. Francis of Asisi. The method used in is the research was the research and development (R & D). This method was implemented to identify the procedures of development and the product quality. Products that are produced in this research in the form of coaching module which contains the values “The Big Thought” spirit of St. Francis of Asisi. These values are faithful, frugal and modest, generous and being active at church activities. The result of research indicated that the score of the quality of this product was a good criteria, that was 4. This score was based on the opinion of four who understand spirituality Franciscan and two teachers at Franciscan Elementary School 2 Bandar Lampung. Keywords: modules, Internalization, St Francis of “The Big Thought” viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur dan terima kasih atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan berkat dan rahmat-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Penelitian skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Proses penelitian skripsi ini, telah melibatkan banyak pihak mulai dari awal hingga akhir penyusunannya. Oleh sebab itu, dengan hati yang penuh syukur dan terima kasih saya selaku peneliti mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bpk. R. Rohadi, M.Ed, Ph.D Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Romo G. Ari Nugrahanta, SJ., SS., BST., MA., Kepala Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma. 3. Ibu Dra. Ignatia Esti S., M. Hum., dosen pembimbing yang telah memberikan sumbangan pemikiran, saran dan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini. 4. Ibu Eny Winarti, S. Pd., M. Hum., Ph. D., dosen pembimbing, yang dengan sabar, penuh cinta dan tanggung jawab mendampingi, membimbing dan mengarahkan dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Ibu Th. Yunia S, S.Pd., M. Hum pembimbing akademik. 6. Sr. M. Constantin FSGM, yang telah banyak memberikan masukan dan perubahan yang sangat berarti dalam pembuatan modul yang telah disusun oleh peneliti. ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Sr. M. Albertha FSGM, kepala sekolah SD Fransiskus 2 Bandar Lampung yang telah memberi izin kepada peneliti untuk mengadakan penelitian. 8. Sr. M. Avelin FSGM, kepala sekolah SD Fransiskus Kampung Ambon Jakarta yang telah membantu peneliti dalam mencarikan data. 9. Para dewan guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung dan SD Fransiskus Kampung Ambon yang telah berpartisipasi dalam penelitian. 10. Mdr. M. Julia Juliarti FSGM, pemimpin Kongregasi FSGM dan para dewan yang telah mendukung, mendoakan dan membimbing peneliti. 11. Sr. M. Anita dan para suster Komunitas Santa Maria yang telah memberikan semangat, cinta dan juga kritikan sehingga peneliti dapat menyelesaikan karya tulis ini. 12. Teman-teman PGSD angkatan 2010, yang telah memberikan dukungan, perhatian dan semangat kepada peneliti. 13. Semua pihak yang telah memberikan bantuan atas terselesainya skripsi ini. Peneliti menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak kekurangannya. Namun demikian, peneliti berharap semoga karya tulis ini tetap bermanfaat bagi banyak orang terutama Program Studi PGSD Universitas Sanata Dharma ini. Yogyakarta, 16 Juni 2014 Peneliti, Agusta Mistiyah x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN................................................................................ iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN.................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................. v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ...................................................... vi ABSTRAK ............................................................................................................ vii ABSTRACT........................................................................................................... viii KATA PENGANTAR ........................................................................................... ix DAFTAR ISI.......................................................................................................... xi DAFTAR TABEL................................................................................................ xiv DAFTAR BAGAN ............................................................................................. xvii DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xviii BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 3 1.3 Tujuan Penelitian........................................................................................... 4 1.4 Manfaat Penelitian......................................................................................... 4 1.5 Spesifikasi Produk yang Diharapkan ............................................................ 5 1.6 Definisi Operasional...................................................................................... 5 xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................. 6 2.1 St. Fransiskus Asisi dan Nilai yang diteladankannya.................................... 6 2.1.1 Sejarah St. Fransiskus Asisi .................................................................. 6 2.1.2 Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi .............................. 10 2.1.3 Karya Pendidikan Para Suster FSGM: Yayasan Dwi Bhakti.............. 21 2.2 Internalisasi dan Proses Internalisasi.......................................................... 24 2.3 Modul ......................................................................................................... 26 2.4 Metode Penelitian dan pengembangan ....................................................... 27 2.3.1 Pengertian Penelitian dan pengembangan.......................................... 27 2.3.2 Model ADDIE..................................................................................... 29 2.4 Hasil Penelitian yang Relevan..................................................................... 30 2.5 Kerangka Berpikir ....................................................................................... 33 BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 35 3.1 Jenis Penelitian ............................................................................................ 35 3.2 Setting Penelitian......................................................................................... 36 3.2.1 Subyek Penelitian................................................................................ 36 3.2.2 Lokasi Penelitian................................................................................. 36 3.2.3 Waktu Penelitian ................................................................................. 36 3.3 Prosedur Pengembangan ............................................................................. 36 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4 Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 42 3.4.1 Wawancara ........................................................................................ 42 3.4.2 Kuisioner ........................................................................................... 42 3.5 Instrument Pengumpulan Data .................................................................... 43 3.6 Teknik Pengujian Instrumen........................................................................ 46 3.7 Teknik Analisis Data ................................................................................... 50 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ................................ 51 4.1 Analisis Kebutuhan ..................................................................................... 51 4.2 Deskripsi Produk Awal ............................................................................... 52 4.3 Validasi Produk ........................................................................................... 54 4.3.1 Data validasi pakar Fransiskan .......................................................... 55 4.3.2 Data validasi Guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung ..................... 68 4.4 Revisi Produk dan Penilaian Para Ahli ....................................................... 74 4.4.1 Revisi Produk .................................................................................... 75 4.4.2 Penilaian dari Ahli ............................................................................. 78 4.4.2 Kajian Produk Akhir ................................................................................. 97 BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN............................ 100 5.1 Kesimpulan................................................................................................ 100 5.2 Keterbatasan Produk.................................................................................. 101 5.3 Saran .......................................................................................................... 102 Daftar Referensi .................................................................................................. 103 LAMPIRAN........................................................................................................ 105 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Nilai-nilai Beriman ......................................................................... 13 Tabel 2.2 Nilai-nilai Ugahari dan Sederhana ................................................... 16 Tabel 2.3 Nilai-nilai Murah Hati...................................................................... 18 Tabel 2.4 Nilai-nilai Aktif dalam Hidup Menggereja ...................................... 21 Tabel 3.2 Lembar wawancara ......................................................................... 43 Tabel 3.3 Lembar Deskriptor Nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus ...... 45 Tabel 3.4 Hasil Expert Jugment ...................................................................... 47 Tabel 3.5 Kriteria Penskoran .......................................................................... 48 Tabel 3.6 Lembar Kuisioner .......................................................................... 48 Tabel 3.9 Tabel Skala Lima ............................................................................ 50 Tabel 4.1 Tabel Konversi data kuantitatif ke data kualitatif ........................... 55 Tabel 4.2 Tabel Aspek Tampilan ..................................................................... 56 Tabel 4.3 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk ..................................... 57 Tabel 4.4 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ....................................... 57 Tabel 4.5 Tabel Penilaian Aspek Isi ................................................................ 58 Tabel 4.6 Tabel Aspek Tampilan ..................................................................... 59 Tabel 4.7 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk ..................................... 60 Tabel 4.8 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ....................................... 60 Tabel 4.9 Tabel Penilaian Aspek Isi ................................................................ 61 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.10 Tabel Aspek Tampilan ................................................................... 62 Tabel 4.11 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk................................... 63 Tabel 4.12 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ..................................... 63 Tabel 4.13 Tabel Penilaian Aspek Isi .............................................................. 64 Tabel 4.14 Tabel Aspek Tampilan ................................................................... 65 Tabel 4.15 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk................................... 66 Tabel 4.16 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ..................................... 66 Tabel 4.17 Tabel Penilaian Aspek Isi .............................................................. 67 Tabel 4.18 Tabel Aspek Tampilan ................................................................... 68 Tabel 4.19 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk................................... 69 Tabel 4.20 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ..................................... 69 Tabel 4.21 Tabel Penilaian Aspek Isi .............................................................. 70 Tabel 4.22 Tabel Aspek Tampilan ................................................................... 71 Tabel 4.23 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk................................... 72 Tabel 4.24 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ..................................... 72 Tabel 4.25 Tabel Penilaian Aspek Isi .............................................................. 73 Tabel 4.26 Tabel Revisi Produk....................................................................... 74 Tabel 4.27 Tabel Aspek Tampilan ................................................................... 79 Tabel 4.28 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk................................... 80 Tabel 4.29 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ..................................... 80 Tabel 4.30 Tabel Penilaian Aspek Isi .............................................................. 81 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.31 Tabel Aspek Tampilan ................................................................... 82 Tabel 4.32 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk................................... 83 Tabel 4.33 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ..................................... 83 Tabel 4.34 Tabel Penilaian Aspek Isi .............................................................. 84 Tabel 4.35 Tabel Aspek Tampilan ................................................................... 85 Tabel 4.36 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk................................... 86 Tabel 4.37 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ..................................... 86 Tabel 4.38 Tabel Penilaian Aspek Isi .............................................................. 87 Tabel 4.39 Tabel Aspek Tampilan ................................................................... 88 Tabel 4.40 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk................................... 89 Tabel 4.41 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ..................................... 89 Tabel 4.42 Tabel Penilaian Aspek Isi .............................................................. 90 Tabel 4.43 Tabel Aspek Tampilan ................................................................... 91 Tabel 4.44 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk................................... 92 Tabel 4.45 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ..................................... 92 Tabel 4.46 Tabel Penilaian Aspek Isi .............................................................. 93 Tabel 4.47 Tabel Aspek Tampilan ................................................................... 94 Tabel 4.48 Tabel Aspek Perintah Penggunaan Produk................................... 95 Tabel 4.49 Tabel Penilaian Aspek Urutan/Sistematis ..................................... 95 Tabel 4.50 Tabel Penilaian Aspek Isi .............................................................. 96 Tabel 4.51 Tabel Skor Penilaian ...................................................................... 98 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR BAGAN Bagan 2.1 Skema Penelitian.......................................................................... 33 Bagan 3.1 Prosedur Pengembangan.............................................................. 41 xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1 Surat Ijin Penelitian ................................................................ 105 LAMPIRAN 1.1 Surat Ijin Penelitian dari Prodi PGSD ................................. 106 LAMPIRAN 1.2 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian .................. 107 LAMPIRAN 2 Data Awal ............................................................................ 108 LAMPIRAN 2.1 Hasil Wawancara.................................................................. 109 LAMPIRAN 2.2 Lembar Kuisioner................................................................ 112 LAMPIRAN 3 Hasil Produk........................................................................... 114 xviii

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini menguraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, spesifikasi produk yang dikembangkan dan definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah SD Fransiskus 2 Bandar Lampung, merupakan salah satu SD yang dikelola oleh Suster-Suster Fransiskan dari Santo Gregorius Martir (FSGM). Kongregasi FSGM adalah salah satu kongregasi yang menghidupi nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi (Fransiskus Magnanimus). Maksud dari “Berjiwa Besar” ialah sikap seseorang yang mau menerima keadaan diri sendiri, bersikap optimis dan selalu memperjuangkan nilai-nilai yang luhur. Nilai-nilai luhur yang diperjuangkan oleh Fransiskus Asisi adalah beriman, ugahari dan sederhana, murah hati dan aktif dalam hidup menggereja. Beriman adalah sikap percaya kepada Tuhan dan berani menyerahkan secara total segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini kedalam tangan-Nya. Ugahari dan sederhana adalah sikap hidup seseorang yang dalam kepemilikan dan penggunaan harta benda tidak berlebih-lebihan (=hidup secukupnya) serta hidup bersahaja. Murah hati adalah sikap mudah memberikan bantuan kepada orang lain terutama kepada orang yang sangat memerlukan. Aktif dalam hidup menggereja merupakan sikap perwujudan iman melalui karya karitatif yang dilakukan dalam hidup keseharian. 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransisikus Asisi menjiwai pelayanan kongregasi para suster FSGM dalam bidang pendidikan, kesehatan, pastoral, sosial, dan rumah tangga. Orang-orang yang terlibat dalam membantu karya pelayanan para suster FSGM diharapkan untuk menghidupi nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi, supaya mereka dapat bekerja dengan total. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat dihidupi juga oleh para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung, sebagai bekal dalam mendidik anak-anak di SD tersebut. Pada tanggal 29 Juli 2013 peneliti melakukan wawancara terhadap 12 orang dari 30 jumlah guru yang ada di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Hasil wawancara menyatakan bahwa tingkat pemahaman para guru tentang nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi masih tergolong rendah. Pernyataan tersebut, diperkuat dengan hasil analisis lembar kuesioner yang menunjukkan bahwa 13 dari 30 guru (43,33%) masih kurang dalam memahami nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi, 11 dari 30 guru (36,66%) cukup memahami dan 6 dari 30 guru (20%) sangat memahami nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Bertolak dari pengetahuan para guru yang masih rendah, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan pemahaman terhadap nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Berdasarkan uraian di atas, peneliti mengadakan penelitian R&D (Research and Development). R&D adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2008:297). Produk yang akan dikembangkan dalam penelitian ini adalah modul. Modul sebagai salah satu upaya untuk membantu para guru dalam

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 memahami nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus ini, akan dirancang menggunakan model ADDIE. Model ini memiliki lima tahapan yaitu Analysis, Design, Development or Production, Implementation or Delivery and Evaluations (Gafur, 2012). Oleh karena itu, penelitian ini berjudul Pengembangan Modul Internalisasi Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi di Sekolah Dasar Fransiskus 2 Bandar Lampung. Modul sebagai hasil produk dalam penelitian ini, akan divalidasi oleh empat orang yang memahami spiritualitas Fransiskan dan dua orang guru dari SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Hasil dari validasi tersebut, akan peneliti gunakan sebagai acuan untuk memperbaiki produk yang telah dihasilkan, sehingga menjadi produk yang lebih baik dan dapat digunakan di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana prosedur pengembangan produk untuk menginternalisasi nilainilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi yang dapat digunakan oleh para guru di SD 2 Fransiskus Bandar Lampung? 2. Bagaimana bentuk produk yang dikembangkan untuk menginternalisasi nilainilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi di SD 2 Fransiskus Bandar Lampung? 3. Bagaimana kualitas produk yang dikembangkan untuk para guru dalam menginternalisasi nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi di SD 2 Fransiskus Bandar Lampung?

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah produk berupa modul yang dapat digunakan oleh para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung dalam mengenal nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi yang menyangkut empat nilai yaitu beriman, ugahari dan sederhana, murah hati dan aktif dalam hidup menggereja. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan manfaat : 1.4.1 Bagi peneliti Peneliti semakin terampil dalam mengembangkan modul yang berlandaskan nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi dalam dunia pendidikan. 1.4.2 Bagi Guru Guru memiliki wawasan yang lebih luas dan lebih mudah dalam mengenal nilai-nilai “Berjiwa Besar” St.Fransiskus Asisi sebagai pelindung di sekolah tersebut dan bekal untuk mendidik dan membina anak-anak SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. 1.4.3 Bagi sekolah Sekolah semakin diperkaya dan dipermudah dalam mengenal nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi sebagai pelindung dan teladan sekolah dalam mendidik para siswa SD Fransiskus 2 Bandar Lampung.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 1.5 Spesifikasi Produk yang Diharapkan Spesifikasi produk yang diharapkan berupa modul yang terinternalisasi dengan nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Modul ini berisi tentang materi pokok St. Fransiskus yang “Berjiwa Besar” yang meliputi beriman, ugahari dan sederhana, murah hati dan aktif dalam hidup menggereja. 1.6 Definisi Operasional Di bawah ini adalah beberapa istilah dan penjelasannya. Istilah-istilah tersebut adalah pengembangan, modul, nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi yang yang bertujuan untuk memperjelas pemahaman tentang dasar pengembangan. 1.6.1 Pengembangan adalah suatu cara atau proses tertentu dalam membuat sesuatu. 1.6.2 Modul adalah suatu program kegiatan terkecil yang memiliki komponen yang sistematis dan dapat dipelajari sendiri. 1.6.3 Nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi meliputi beriman, ugahari dan sederhana, murah hati dan aktif dalam hidup menggereja. 1.6.4 Internalisasi ialah proses penghayatan suatu nilai tertentu yang dianggap sebagai kebenaran ke dalam pribadi seseorang yang dapat terwujud dalam sikap dan perilaku. 1.6.5 Guru adalah para dewan guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab ini membahas kajian pustaka, hasil penelitian yang relevan dan kerangka berpikir yang akan dilakukan oleh peneliti. Kajian pustaka memuat tentang tokoh St. Fransiskus Asisi dan kelima nilai “Berjiwa Besar” yang diteladankanya, sejarah SD Fransiskus 2 Bandar Lampung beserta visi dan misinya, model pengembangan dan penelitian ADDIE, serta teori tentang modul. Kerangka berpikir berisi tentang kerangka konsep berpikir untuk menyelesaikan masalah. 2.1 Fransiskus Asisi dan Nilai yang Diteladankannya Pembahasan dalam bagian ini berkaitan tentang sejarah Fransiskus Asisi, Nilai-nilai hidup Fransiskus Asisi, upaya SD Fransiskus 2 Bandar Lampung dalam mengenal semangat hidup Fransikus Asisi dan nilai-nilai yang diharapkan tumbuh di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung sebagai sekolah yang berlindung pada Fransiskus Asisi. 2.1.1 Sejarah Fransiskus Asisi Sejarah Fransiskus Asisi menurut “Riwayat Hidup St. Fransiskus Asisi” (Wahyosudibyo 1984) ia lahir pada tahun 1182 di kota Asisi Italia dan berasal keluarga bangsawan. Ibunya, Donna Pica berasal dari keluarga Perancis. Sedangkan ayahnya bekerja sebagai pedagang kain yang sukses di kota Asisi, Italia. Semasa kanak-kanak, ia sering diajak oleh ibunya untuk mengikuti sekolah 6

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 minggu yang diadakan di gereja. Jadi sejak kecil, Fransiskus sudah mengenal Yesus. Saat Fransiskus memasuki masa remaja, ia cenderung mengikuti arus kehidupan dengan berpesta pora bersama teman-temannya (Rosali, 2010:4). Pada saat ia berusia 16 tahun, ia berhasrat menjadi seorang ksatria dengan menjadi ksatria. Sang ayah merestui keinginannya dengan mengizinkannya mengikuti peperangan saat kota Asisi diserang oleh tentara Perugia pada tahun 1202. Tentara Asisi mengalami kekalahan yang cukup besar dalam pertempuran tersebut, banyak tentara yang gugur dan menjadi tahanan tentara Perugia. Salah satu dari tentara yang menjadi tahanan adalah Fransiskus. Selama satu tahun Fransiskus ditahan dalam penjara. Akhirnya, ia dapat dibebaskan setelah ayahnya membayar uang tebusan baginya. Selang beberapa tahun kemudian tepatnya pada akhir tahun 1204 pecah perang kembali antara Asisi dan Perugia. Panggilan Fransiskus untuk menjadi ksatria untuk membela negaranya tetap berkobar. Ia bergabung kembali bersama para tentara Asisi untuk berperang melawan Perugia. Rasa bangga pun ia rasakan saat tinggal bersama para tentara Asisi untuk melawan Perugia. Pada malam sebelum peperangan, Fransiskus mengalami suatu kejadian yang akhirnya merubah seluruh orientasi hidupnya. Kejadiannya: ia bermimpi bertemu dengan Yesus yang bertanya kepadanya “Fransiskus....Fransiskus, kembalilah ke rumahmu. Mengapa engkau mengabdi kepada hamba, bukan kepada Tuan?. Siapa yang lebih besar Tuan atau hamba?” (Groenen, 2008:13).. Fransiskus terbangun dari tidurnya dan ia terus-menerus merenungkan arti mimpinya itu. Hasil

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 permenungan atas mimpinya itu membuatnya menjadi ragu-ragu untuk menjadi tentara. Akhirnya Fransiskus memutuskan meninggalkan medan pertempuran. Setelah meninggalkan medan pertempuran, Fransiskus tidak ingin lagi mengabdi kepada raja dengan menjadi hamba atau tentara, melainkan ia memutuskan untuk menolong para penderita kusta yang waktu itu disingkirkan. Selain itu, ia pun menjadi seorang pendoa. Suatu hari, ketika ia sedang berdoa di sebuah kapel di San Damiano, dari sebuah salib yang tergantung di altar ia mendengar suara “Fransiskus pergilah dan perbaikilah Gereja-Ku yang nyaris roboh ini”. Fransiskus terkesima dan juga bahagia mendengar suara tersebut, ia merasa yakin bahwa inilah jawaban dari mimpi yang selama ini dipikirkannya. Ia yakin bahwa Tuhan Yesus memintanya untuk mengabdi-Nya dengan cara membangun gereja-Nya yang hampir roboh. Terinspirasi dari suara itu, Fransiskus mengambil kain dagangan milik orangtuanya kemudian menjualnya dan memberikannya kepada pastor paroki untuk membangun gedung gereja. Pemberian Fransiskus tersebut di tolak oleh pastor paroki. Kendati ditolak, Fransiskus tidak putus asa. Ia tetap bertekat mewujudkan perintah Tuhan membangun Gereja-Nya yang roboh. Yaitu dengan tetap mengunjungi gereja-gereja yang hampir roboh dan mulai membangunnya sendiri. Perbuatan baik yang dilakukan Fransiskus seperti membangun gedung gereja dan menolong orang sakit terutama penderita kusta, tidak berjalan lancar. Hal ini terjadi karena ayahnya menentang aktivitas pelayanan itu, tetapi Fransiskus tetap melakukannya. Hingga akhirnya, Fransiskus diusir oleh ayahnya

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 dan ia juga diminta untuk melepaskan seluruh harta benda yang melekat pada tubuhnya. Fransiskus dengan tekad bulat karena kecintaannya kepada Tuhan, tanpa ragu melepaskan seluruh harta benda yang ada padanya bahkan pakaian yang melekat pada tubuhnya. Demikianlah Fransiskus dengan telanjang meninggalkan keluarga dan seluruh kekayaan yang ada di dalamnya. Seorang uskup yang terharu melihat sikapnya, segera menghampirinya dan menyematkan mantol untuk menutupi tubuh Fransiskus. Fransiskus, hidup miskin, ia bekerja keras dengan tangannya, membantu orang lain yang berkesusahan dan bersahabat dengan para penderita kusta. Selain itu, Fransiskus banyak berdoa dan mewartakan injil disekitar Asisi. Cara hidup Fransiskus menarik simpati dari banyak orang. Banyak golongan terpelajar dan kaya raya yang mengikuti jejak Fransiskus hingga akhirnya, Fransiskus membuat peraturan hidup bagi para pengikutnya. Para pengikut Fransiskus diantaranya adalah ordo pertama, ordo kedua, ordo ketiga regular dan ordo ketiga sekular. Ordo pertama terdiri dari para imam OFM, OFM Capusin, dan OFM Conventual. Ordo kedua diikuti oleh para suster Claris OSC hidup mereka dipingit dalam suatu komunitas tertentu (pertapaan), ordo ketiga regular diikuti oleh para suster dan para bruder dan salah satunya adalah FSGM. Ordo ketiga sekular adalah para kaum awam yang sudah hidup berkeluarga dan menghayati semangat hidup Fransiskus Asisi. FSGM, sebagai salah ordo ketiga regular Fransiskus Asisi ini, didirikan Sr. M. Anselma Bopp. Kongregasi ini lahir di Thuine Jerman pada tanggal 25 November 1869. FSGM lahir di Jerman untuk melayani masyarakat Jerman yang

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 saat itu sangat miskin. Inilah alasan kuat bagi Sr. M. Anselma yang telah mengambil semangat hidup Fransiskus Asisi menjadi landasan dalam karya pelayanannya karena beliau merasa bahwa cara hidup yang beliau tempuh selaras dengan cara hidup yang telah ditempuh oleh Fransiskus Asisi (Konstitusi FSGM 1987: 102). Cara hidup itu yaitu hidup dalam semangat kemiskinan dan berusaha untuk mampu memberikan daya yang menghidupakan bagi semua orang yang membutuhkan, menderita dan miskin. 2.1.2 Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi Pengalaman hidup dan perjuangan Fransiskus yang berani meninggalkan keluarganya untuk melayani orang kecil menunjukkan jika ia memiliki sikap “Berjiwa Besar”. Berjiwa besar ialah sikap seseorang yang mau menerima keadaan diri sendiri, bersikap optimis dan selalu memperjuangkan nilai-nilai yang luhur. Nilai-nilai luhur yang diperjuangkan oleh Fransiskus adalah beriman, ugahari dan sederhana, murah hati dan aktif dalam hidup menggereja. Adapun nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi tersebut, diuraikan sebagai berikut: a. Beriman Secara sederhana sikap percaya kepada Allah disebut beriman. Menurut Fransiskus beriman adalah sikap mencintai Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan akal budi, segenap kekuatan serta mencintai sesamanya seperti dirinya sendiri (Ladjar, 1988:181). Maksudnya, menjadi seorang yang beriman berarti percaya sungguh-sungguh pada Allah, mengarahkan seluruh diri pada Allah dan menunjukkannya dalam praktek hidup setiap hari.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar semakin mengenal Allah, yaitu dengan berdoa. Hal serupa pun dilakukan oleh Fransiskus. Baginya, dengan berdoa ia mampu menyampaikan segala keinginannya kepada Allah. Doa berikut misalnya menggambarkan itu, “Allah yang Maha Tinggi dan penuh kemuliaan, terangilah kegelapan hatiku, berilah aku iman yang benar, harapan yang teguh dan kasih yang sempurna. Berilah aku ya Allah perasaan yang peka dan budi yang cerah agar aku mampu melaksanakan perintah-Mu yang kudus dan tak menyesatkan” (Doa Salib). Fransiskus seorang pendoa yang sejati. Walaupun demikian, sebagai seorang manusia ia tetap saja mengalami banyak tantangan dan kesulitan. Banyak pengalaman yang tidak menyenangkan yang ia alami. Misalnya, ia diusir dari keluarganya karena rajin berdoa dan menolong orang miskin sebab, perilaku tersebut bertentangan dengan kehendak ayah yang tidak beriman dan kikir. Ia juga pernah sakit parah dan hampir buta namun, hal itu tidak menghalanginya untuk tetap berdoa dan pasrah kepada kehendak Tuhan. Berkat ketulusan doa dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan, ia mendapatkan penyembuhan dari sakitnya, melalui seorang dokter yang mengobatinya. Selain menjalin relasi yang baik dengan Allah, iman juga harus terwujud dalam tindakan konkret sehari-hari. Tentang ini, Fransiskus sendiri telah memberikan teladan. Ia merawat dan melayani orang sakit, terutama penderita kusta. Dalam wasiatnya, ia menulis demikian, “ketika aku dalam dosa, aku amat muak melihat orang kusta. Akan tetapi, Allah sendiri menghantar aku ke tengah orang kusta dan aku merawat mereka dengan penuh kasihan”. (Ladjar: 2008,

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 193). Pengalaman melayani orang sakit kusta, merupakan contoh konkret paktek hidup beriman yang dilakukan Fransiskus yang sudah terarah pada Allah dan sesama. Kisah berikut ini, menunjukkan penghayatan iman St. Fransiskus Asisi: Seperti hujan dan salju yang turun dari langit dan tidak kembali lagi kesana, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan….., demikianlah firman yang keluar dari mulut-Ku, Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes 55:1011). Kiranya firman inilah, yang telah tumbuh dan berkembang dalam diri Fransiskus. Sejak kecil, ibunya telah memperkenalkan sosok Yesus kepadanya. Dan disini pula ia belajar untuk mengimani Yesus. Setelah Fransiskus beranjak dewasa, ia banyak mengalami perubahan. Kemewahan keluarganya, telah membawanya jauh dari Yesus dan ia lebih senang untuk hidup berfoya-foya bersama dengan teman-temannya. Sebagai anak seorang bangsawan yang kaya raya, ia mempunyai banyak teman, di hormati dan ia juga memiliki cita-cita yang besar yaitu sebagai ksatria bagi negaranya. Fransiskus berusaha keras, untuk menggapai cita-citanya tersebut. Ia bergabung bersama para ksatria negaranya untuk ikut berperang melawan penjajah namun, ia mengalami kekalahan, ditangkap musuh dan dipenjarakan. Satu tahun Fransiskus berada dalam penjara. Ia dapat terbebas dari penjara setelah ayahnya membayar uang tebusan bagi dirinya. Kegagalannya dalam mengikuti perang yang pertama ternyata tidak menyurutkan hati Fransiskus untuk terus menggapai cita-citanya menjadi seorang ksatria bagi negaranya. Hal itu terjadi karena dua tahun kemudian, pecah perang kembali terjadi dan ia bergabung kembali dalam laskar pertempuran untuk melawan Perugia. Ia merasa bangga tinggal bersama dengan para ksatria yang lain untuk melawan musuh. Pada malam hari saat ia sedang tidur, ia bermimpi bertemu dengan Yesus. Yesus dalam mimpinya berkata “Fransiskus....Fransiskus, kembalilah ke rumahmu. Mengapa engkau mengabdi kepada hamba, bukan kepada Tuan?. Siapa yang lebih besar Tuan atau hamba?”. Fransiskus terbangun dari tidurnya. Ia terus-menerus memikirkan arti mimpinya itu akibatnya, ia mengalami keraguan yang besar untuk melanjutkan pertempurannya melawan Perugia. Keraguan dan keingintahuannya akan makna mimpinya, membuatnya berani untuk memutuskan meninggalkan laskar pertempuran dan kembali ke Asisi. Setelah peristiwa mimpi itu, Fransiskus mengalami banyak perubahan. Ia semakin rajin berdoa dan banyak berbuat kebaikan diantaranya ialah menolong orang sakit kusta. Suatu hari, ketika ia sedang berdoa di sebuah kapel di San Damiano, dari sebuah salib yang tergantung di altar ia mendengar suara “Fransiskus pergilah dan perbaikilah Gereja-Ku yang nyaris roboh ini”. Fransiskus terkesima dan juga bahagia mendengar suara tersebut, ia merasa

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 yakin bahwa inilah jawaban dari mimpi yang selama ini dipikirkannya. Ia yakin bahwa Tuhan Yesus memintanya untuk mengabdi-Nya dengan cara membangun gereja-Nya yang hampir roboh. Akhirnya tanpa ragu, Fransiskus melaksanakan perintah tersebut dengan mulai membangun gereja secara fisik. Perubahan yang terjadi dalam diri Fransiskus sangat ditentang oleh ayahnya. Ayahnya, berusaha keras agar ia meninggalkan perbuatannya yang baik itu. Beberapa kali ayahnya memberikan hukuman kepada Fransiskus yaitu dengan hukuman cambuk dan dikurung dalam rumah. Harapannya, agar Fransiskus jera dan kembali kepada ayahnya. Kendati demikian, Fransiskus tidak pernah berkeinginan untuk meninggalkan perbuatan baik yang telah dilakukannya. Justru sebaliknya, ia semakin bersemangat mengerjakannya. Sikap Fransiskus yang tetap bersikeras melakukan perbuatannya yang baik itu, membuat ayahnya geram. Hingga akhirnya, ayah Fransiskus memberikan pilihan kepadanya siapa yang akan dipilihnya dirinya (ayahnya) atau perbuatan baik yang menurut Fransiskus sebagai kehendak Tuhan. Kecintaan Fransiskus kepada Yesus membuat Fransiskus berani memberikan keputusan bahwa dirinya lebih memilih Tuhan dengan melakukan karya baik yang selama ini telah ia lakukan dan memutuskan meninggalkan ayah dan keluarganya. Keputusan Fransiskus ini semakin membuat ayahnya semakin marah dan akhirnya ayahnya memintanya untuk melepaskan seluruh harta benda yang ada pada dirinya. Permintaan sang ayah pun tidak berat bagi Fransiskus, maka dengan segera ia mengembalikan semua harta benda yang ada pada dirinya bahkan pakainan yang melekat pada tubuhnya (Mat 19:21). Demikianlah Fransiskus telanjang pergi meninggalkan ayah, keluarga dan seluruh kekayaan yang ada. Ia dengan tulus iklas meninggalkannya dan memilih Tuhan sebagai satu-satunya harapan hidupnya. Ia akhirnya, mendapatkan mantol untuk menutupi tubuhnya yang telanjang dari seorang uskup yang terharu melihat sikap dan segala keputusan yang telah diambilnya. Tindakan radikal yang telah dilakukan oleh Fransiskus untuk berani meninggalkan segala-galanya dan memilih menjadi pelayan Allah hal ini terjadi karena ia telah bersatu dengan Allah dan menjadikan Allah sebagai tujuan dan arah hidupnya. Ia tidak lagi bimbang atau ragu akan pekerjaan yang dilakukannya dalam bekerja membangun gereja dan menolong sesamanya yang miskin, sakit dan menderita. Dan ia pun telah mencintai Allah dengan segenap jiwa, kekuatan, akal budi dan seluruh keberadaan hidupnya (Mat 22:37). Jadi, nilai-nilai beriman yang perlu diketahui oleh para guru antara lain: Tabel 2.1 nilai-nilai “Beriman” Nilai Deskriptor Mengerti iman sebagai penyerahan diri secara total kepada Allah “Beriman” Meluangkan waktu untuk beribadat dan berdoa Merasa ada campur tangan Allah dalam seluruh perjalanan hidup Pada waktu mengalami kesulitan, bersandar pada kekuatan Allah

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 Oleh karena mengalami dicintai oleh Allah, maka membalas cinta-Nya itu dengan mencintai sesama. Yakin setiap kebaikan yang diterima berasal dari Tuhan Bersyukur kepada Tuhan untuk semua anugerah yang telah diterima dalam hidup ini. b. Ugahari dan Sederhana Kehidupan orang pada zaman ini, diwarnai dengan semangat untuk mencari kenikmatan diri (hedonisme), menikmati segalanya tanpa memikirkan penting atau tidaknya (konsumerisme), semangat mencari segala yang segera dapat dirasakan hasilnya berupa benda-benda (materialisme) dan semangat untuk mencari yang serba cepat atau gampang. Kecenderungan ini, membuat manusia hanya mengandalkan pada sesuatu yang tampak. Segala sesuatunya juga dinilai dari banyaknya harta benda yang dimiliki. Selain itu, manusia kurang mampu mengendalikan diri. Mereka menjadi rakus, kejam, dan jarang yang mengenal saudara, orang lain menjadi ancaman. Hidup ugahari adalah sikap hidup seseorang yang dalam kepemilikan dan penggunaan harta benda tidak berlebih-lebihan namun berani berkata cukup. Sedangkan sederhana menunjukkan sikap bersahaja dan tidak berlebih-lebihan. Memang benar bahwa hidup manusia memerlukan harta benda sebagai penunjang hidup. Namun keliru, bila dalam penggunaannya berlebih-lebihan. Fransiskus Asisi memandang bahwa harta benda bukan sesuatu hal yang paling penting dalam hidup, tetapi ia menggunakan harta benda tersebut sesuai dengan nilai fungsionalnya. Tujuan penggunaan harta benda, bukan untuk bermegah-megah atau untuk menunjukkan kehebatan tetapi digunakan sebagai sarana untuk hidup.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Praktek hidup Fransiskus menunjukkan hal itu. Ia mengenakan pakaian (jubah) petani miskin. Tempat tinggalnya sangat sederhana. Ia bersama para pengikutnya hidup dari bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari. Kisah berikut sikap hidup ugahari dan sederhana yang dijalankan oleh Santo Fransiskus Asisi: Fransiskus sebagai seorang anak pedagang kain yang sukses, seringkali mengenakan pakaian yang maha indah. Selain itu, ia juga senang mengadakan pesta bersama teman-temannya. Makanan dan minuman yang istimewa selalu ia hidangkan untuk teman-temannya. Sikapnya yang murah hati dan kedudukannya sebagai seorang anak bangsawan, membuat ia disenangi, disanjung dan dihormati oleh teman-temannya. Kebiasaan Fransiskus dalam mengenakan pakaian yang indah-indah dan berpesta pora kini telah berakhir setalah ia memutuskan untuk memilih menjadi pelayan Tuhan. Pilihan hidup yang telah ditentukannya, telah memberikan konsekuensi yang berat juga bagi hidupnya. Misalnya, dahulu ia banyak memiliki teman namun setelah ia hidup miskin dan sendiri teman-teman itu pun tak ada yang peduli lagi. Pernah suatu hari ketika ia bertemu dengan salah seorang temannya, Fransiskus menyapanya namun teman itu justru menghinanya sebagai seorang seorang yang bodoh. Dahulu juga Fransiskus tinggal di rumah yang hangat, aman dan nyamannamun kini ia tinggal di sebuah kapel di San Damiano yang berantakan dan hampir roboh. Setiap hari Fransiskus harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bila dahulu Fransiskus menghabiskan uang hanya untuk kesenangannya bersama dengan teman-temannya, kini ia membagikan hasil kerjanya dengan para penderita kusta dan sebagian lagi ia kumpulkan untuk pembangunan gereja. Fransiskus tidak lagi memikirkan kesenangan dirinya namun ia memikirkan para penderita kusta dan pembangunan gereja sesuai dengan arti mimpi yang telah ia yakini sebagai kehendak Tuhan. Keinginana Fransiskus sangat kuat untuk mewujudkan apa yang dikehendaki Tuhan walaupun demikian, banyak orang yang tidak perduli akan apa yang dikerjakannya. Justru sebaliknya, banyak orang yang menganggapnya sudah gila dan tidak manusiawi lagi. Apa yang telah dilakukan oleh Fransiskus sangat bertentanagan dengan pola pikir masyarakat pada waktu itu. Misalnya, banyak orang yang menjahui para penderita kusta, namun Fransiskus justru merawat dan berteman dengan mereka. Banyak orang mengejar kekayaan, kenyamanaan, hidup enak namun Fransiskus justru meninggalkan itu semua dan memilih hidup miskin. Pilihan hidup Fransiskus itulah yang membuat orang mengganggapnya sudah gila dan tidak wajar lagi. Oleh sebab itu, ia seringkali mendapat penghinaan, menjadi bahan tertawaan, seringkali juga diusir dan ditolak oleh penduduk Asisi. Fransiskus tidak pernah putus asa, menghadapi perlakuan kasar orang lain terhadapnya. Ia tetap berjuang terus untuk

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 mewujudkan mimpinya menjadi pelayan Tuhan. Hal itu ia wujudkan dengan tetap bekerja keras, merawat orang sakit kusta dan mencari dana untuk pembangunan gereja. Berikut ini adalah nilai-nilai ugahari dan sederhana yang harus dipahami oleh para guru. Tabel 2.2 nilai-nilai “Ugahari dan Sederhana” Nilai Deskriptor Membeli barang-barang sesuai kebutuhan “Ugahari dan Sederhana” Membeli barang sesuai kemampuan Mensyukuri penghasilan yang diterima setiap bulan Mengelola keuangan dengan cermat supaya tidak melebihi pengeluaran Menggunakan barang-barang secara tidak berlebihan. Sadar harta benda yang dimiliki adalah anugrah Tuhan yang harus di gunakan dengan tepat guna c. Murah Hati Murah hati adalah sikap mudah memberi kepada orang lain. Seorang yang murah hati, tidak akan berdiam diri ketika melihat sesamanya sakit dan menderita. Hatinya akan cepat tergerak untuk memberikan bantuan seberapun itu besarnya. Sikap spontan yang dimiliki oleh seorang yang murah hati senantiasa dilandasi oleh hati yang tulus, jujur dan tanpa mengharapkan imbalan. Selain itu, seorang yang murah hati tidak akan membeda-bedakan orang yang ditolongnya. Baginya, siapa pun itu orangnya dan ia mengalami kesulitan dan penderitaan dialah sesama yang membutuhkan pertolongan. Fransiskus dalam hal ini menegaskan bahwa hendaknya kita bersedia membagikan apa yang kita punyai kepada orang lain (Iriarte, 1995). Sikap mau membagi apa yang kita miliki kepada orang lain terutama yang miskin adalah

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 sikap yang murah hati. Sikap ini sehakekat dengan sikap Tuhan yang murah hati memberikan kepada umat manusia. Tuhan memberikan segalanya untuk umat manusia. Murah hati secara sederhana dimengerti sebagai perbuatan baik yang riil, kelembutan dalam bertutur dan berlaku terhadap sesama. Dalam tradisi Biblis (Kitab Suci), kemurahan hati selalu merujuk pada sikap Tuhan pada manusia sekaligus ajakan agar manusia berbuat demikian juga. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Luk 6:36). Adapun sikap murah hati St. Fransiskus Asisi kepada sesamanya dapat disimak dari kisah berikut ini: Bagi kebanyakan orang, penderita kusta adalah orang yang dikutuk oleh Allah. Oleh karena itu, mereka harus diusir dari lingkungan masyarakat. Penderitaan para penderita kusta memang sangat berat. Selain harus menderita secara fisik, mereka juga harus menderita secara batin. Mereka harus tinggal terasing di tengah hutan dan apabila kedapatan dari antara mereka yang masuk ke pemukiman penduduk, mereka langsung dibunuh. Tinggal di tengah hutan, membuat mereka semakin parah sakitnya. Hal itu terjadi karena tidak ada yang memberikan perawatan, perlindungan atau pun pemberian bahan makanan bagi mereka. Keadaan demikianlah yang membuat Fransiskus tergerak hatinya untuk membantu mereka. Baginya, para penderita kusta adalah saudara dan saudarinya yang harus tetap ditolong dan diperhatikan. Oleh karena itu, Fransiskus berupaya keras untuk membantu kehidupan mereka. Ia bekerja keras untuk mendapatkan uang guna membeli keperluan hidup mereka dan tanpa malumalu, ia sering meminta-minta kepada orang kaya agar mereka berkenan membagi rejekinya untuk menolong para penderita kusta. Demikianlah Fransiskus, dengan kerja keras, penuh perhatian dan cinta yang besar telah menolong sesamanya yang menderita. Dasar kecintaannya sebagai saudara sesama ciptaan Allah itulah yang memberikan semangat dan energi yang besar bagi Fransiskus untuk dengan rela hati menolong mereka. Sikapnya yang penuh perhatian terhadap yang menderita dan kerelaannya untuk untuk berbagi kepada sesamanya yang membutuhkan bantuannya telah membuatnya menjadi bahagia. Ia bersyukur karena ia telah dipakai Allah untuk memberikan sesuatau yang kecil bagi para penderita kusta. Ia sangat mencintai pekerjaannya ini dan dengan tulus hati ia melakukannya. Kerelaan yang ditampakkan oleh Fransiskus dalam melayani orang sakit kusta ini, telah membuka mata orang banyak dan sedikit demi sedikit mereka pun tergerak pula untuk membantu dan memperhatikan mereka. Hingga akhirnya, banyak orang di

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 kota Asisi yang bergabung bersama Fransiskus dalam merawat dan membantu para penderita kusta ini. Nilai-nilai murah hati yang harus dipahami oleh para guru adalah sebagai berikut: Tabel 2.3 nilai-nilai “Murah Hati” Nilai Deskriptor Memahami makna murah hati sebagai tanda kepedulian terhadap sesama Bersedia memaafkan orang yang menyakiti hati Meluangkan waktu untuk menolong anak didik yang kesulitan belajar Bersedia memberikan sumbangan sesuai kemampuan kepada siapa pun yang membutuhkan. “Murah Hati” Bersikap tulus iklas dalam memberikan bentuk bantuan kepada orang lain Memberikan bantuan tanpa mengharapkan imbalan Menyumbangkan gagasan atau pemikiran saat diperlukan Bersikap terbuka terhadap kritik dan saran dari rekan kerja d. Aktif dalam Hidup Menggereja Pada umumnya, pengertian Gereja ada 2 yaitu gereja dalam arti fisik dan gereja dalam arti rohani. Gereja dalam arti fisik berarti tempat ibadah bagi orangorang yang beriman akan Yesus Kristus. Sedangkan Gereja dalam arti rohani sebagai sekumpulan orang (=komunitas) yang mengimani Yesus. Ciri komunitas (=Gereja) itu adalah menjalankan hidup dengan semangat cinta kasih dan pelayanan. Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan, dipanggil untuk ikut berperan aktif dalam hidup menggereja. Keterlibatan ini penting karena ini sebagai perwujudan dari iman akan Yesus tersebut. Keterlibatan aktif seorang yang hidup menggereja, cangkupannya sangat luas. Artinya, orang bukan hanya

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 bergelut pada urusan gereja dalam arti fisik saja, namun orang mampu memberikan kesaksian secara rohani kepada orang banyak sebagai seorang pribadi yang percaya kepada Yesus Kristus. Teladan yang jelas, yang dapat kita ikuti adalah St. Fransiskus Asisi. Fransiskus mula-mula membangun Gereja dalam arti fisik, sebagai gedung. Seiring perjalanan waktu, ia merasa bahwa apa yang telah dikerjakannya terasa masih kurang. Berkat relasinya dengan Tuhan yang sangat baik, Fransiskus mampu menangkap kehendak Allah. Ternyata, Allah menghendakinya untuk membangun Gereja dalam arti rohani yaitu dengan memberikan teladan hidup yang baik dan benar kepada masyrakat Asisi dan berkotbah mewartakan injil kerajaan Allah. St. Fransiskus Asisi telah menghayati imannya sebagai seorang katolik sejati dan melakukan imannya itu pembaharuan dalam hidupnya seturut. Pembaharuan iman yang ia wujudkannya dalam praktek hidup yang nyata, telah memikat banyak orang. Banyak golongan kaya miskin, terpelajar maupun yang tidak terpelajar tertarik untuk bergabung dalam pembaharuan iman yang telah dilakukannya. Berikut ini adalah beberapa orang yang telah menjadi pengikutnya, karena tertarik atas cara hidup St. Fransiskus Asisi. St. Clara dari Asisi St. Clara adalah seorang putri bangsawan dari kota Asisi yang lahir pada tahun 1193. Sebagai seorang putri bangsawan, ia mendapatkan pendidikan yang cukup tinggi. Diantaranya pendidikan agama, pendidikan membaca dan menulis, pendidikan Bahasa Latin dan berbagai macam ketrampilan. Bekal pendidikan yang diterimanya, menjadikannya seorang wanita yang pandai dan dapat mengerjakan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Keberadaan Clara yang demikian, telah memikat banyak hati para putra bangsawan. Kendati demikian, Clara tidak pernah menaruh simpati kepada setiap putra bangsawan yang datang mendekatinya. Justru sebaliknya, ia telah terpikat dengan cara hidup Fransiskus.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Suatu hari di sebuah kapel, ia melihat Fransisikus dan beberapa pengikutnya, sedang berkotbah. Hatinya sangat gembira melihat Fransiskus, kemudian dengan seksama ia mendengarkan kotbah tersebut. Setelah selesai berkotbah, ia mendekati Fransiskus dan menanyakan perihal cara hidup yang telah ditempuhnya. Fransiskus pun menjelaskan cara hidup yang ditempuhnya semata-mata karena kecintaannya kepada Yesus dan saudara-saudaranya yang menderita. Mendengar penjelasan tersebut, hati Clara semakin berkobar-kobar untuk mengikuti jejak Fransiskus. Clara mewujudkan impiannya itu tepat ketika ia berusia 18 tahun. Waktu itu, ia dengan diam-diam pergi meninggalkan rumahnya dan bergabung bersama Fransiskus. Di gereja Portiuncula, Clara menyerahkan diri kepada Tuhan dan berjanji untuk hidup perawan seumur hidupnya dan hal ini disaksikan oleh Fransiskus dan para pengikutnya. Sejak peristiwa itu, Clara tinggal di kompleks kecil gereja San Damiano disana ia mengabdikan diri kepada Tuhan dengan hidup doa, tapa dan puasa. St. Antonius dari Padua Antonius lahir pada tahun 1195 di Lisabon, Portugal. Ia bergabung menjadi pengikut Fransiskus karena tertarik dengan teladan hidup para martir pengikut Fransiskus. Antonius adalah seorang imam yang sangat tekun dalam berdoa, studi dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rohani yaitu memperhatikan jiwa-jiwa. Suatu hari, ketika ia diminta untuk berkotbah, semua orang tertarik untuk mendengarkannya karena ia sangat pandai menjelaskan arti kitab suci sehingga setiap orang yang mendengarnya dapat memahami arti kitab suci. Kotbah-kotbah Antonius sangat mendalam. Banyak orang yang berbondong-bondong untuk pergi mendengarkannya. Hingga akhirnya, Paus Gregorius pun ikut pergi mendengarkannya dan beliau sanagat mengagumi kotbah-kotbah yang telah disampaikannya dan Antonius mendapat julukan “ahli kitab suci”. Antonius dikagumi oleh banyak orang karena bakat dan kepandaiannya memahami kitab suci. Walaupun demikian, ia tetap menjadi seorang yang rendah hati dan memperhatikan orang-orang miskin. Ia sangat ingin meneladani cara hidup St. Fransisksus Asisi yang telah lebih dahulu mencintai kesederhanaan dan penuh perhatian bagi orang-orang miskin. St. Yohanes Yosef dari Salib Yohanes Yosef, lahir di pulau Ischia, Italia Selatan. Ia adalah seorang bangsawan. Ketika ia berusia ke-16 tahun, ia bergabung dalam persaudaraan bersama St. Fransiskus Asisi. Ia memilih untuk menjadi pengikut St. Fransiskus Asisi, karena tertarik dengan kesederhanaan hidup yang telah dihayati oleh St. Fransiskus Asisi. Keteladanan sikap hidup yang telah diwariskan St. Fransiskus Asisi, telah berani membuat dirinya untuk menjual semua harta bendanya dan memberikannya kepada orang miskin. Semangat kesederhanaan dan kecintaannya pada orang miskin, mampu membuatnya merubah cara hidup yang selama ini ia agung-agungkan. Baginya saat ini yang terpenting adalah pemberian diri yang total kepada Allah melalui pelayanannya kepada orang miskin terutama mereka yang sangat menderita.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 Yohanes Yosef secara radikal pula telah meninggalkan kebangsawanannya seperti yang telah dilakukan oleh St. Fransiskus Asisi dan kini ia telah merelakan diri menjadi alat Allah dalam menolong sesamanya yang menderita.berkat karya baik yang dilakukannya ini, banyak orang yang berbalik kepada Allah dan mereka kembali hidup baik dan benar. Nilai-nilai aktif dalam hidup menggereja yang harus dipahami oleh para guru adalah sebagai berikut: Tabel 2.4 nilai-nilai “Aktif dalam Hidup Menggereja” Nilai “Aktif Deskriptor dalam Hidup Menggereja” Aktif mengikuti kegiatan di lingkungan tempat tinggal Berupaya menciptakan persaudaraan dan kerukunan di lingkungan tempat tinggal Berupaya menjadi saksi kebenaran di lingkungan tempat tinggal Sebagai salah satu anggota Gereja, terpanggil untuk menjalankan semua tugas yang diberikan secara bertanggung jawab Menjadi seorang pendidik yang sungguh-sungguh sebagai sikap kepedulian terhadap hidup menggereja. Memberikan teladan yang baik kepada peserta didik Menerima rekan kerja tanpa membeda-bedakan status maupun golongan 2.1.3 Karya Pendidikan Para Suster FSGM: Yayasan Dwi Bhakti Suster FSGM merupakan salah satu konggregasi yang menghidupi nilainilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Salah satu karya mereka adalah bidang pendidikan. Yayasan Dwi Bhakti merupakan yayasan pendidikan yang dikelola oleh para suster FSGM yang berdomisili di Bandar Lampung. Yayasan tersebut, mengelola 8 SD. Salah satu SD yang menjadi tempat penelitian adalah SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Jumlah keseluruhan guru ada 30 orang, yang terdiri dari 19 guru putri dan 11 orang guru putra. Latar belakang pendidikan mereka sudah sarjana pendidikan. Sekolah ini, menangani kurang lebih 675 siswa

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 golongan menengah keatas. Berikut ini adalah sejarah singkat SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. SD Fransiskus 2 Bandar Lampung, dirintis pada tanggal 1 Agustus 1963. Tujuan didirikannya sekolah tersebut adalah untuk melayani dan memberikan pendidikan yang cukup bagi masyarakat disekitar Bandar Lampung. Pengelolaan sekolah sampai dengan tahun 1996/1997 dibawah naungan Yayasan Xaverius Tanjungkarang. Pada usia 45 tahun, SD Fransiskus telah mengalami beberapa pergantian nama sekolah. Pergantian nama-nama tersebut menyesuaikan perkembangan sekolah Xaverius di Lampung saat itu, untuk nama-nama yang pernah dipakai adalah: SD Xaverius Bandar Lampung, SD Xaverius 24 Bandar Lampung, SD Xaverius 3 Rawalaut, dan akhirnya sejak 1 Juli 1997 menjadi SD Fransiskus 2 Bandar Lampung, yang langsung dikelola oleh Yayasan Dwi Bhakti Bandar Lampung. Sebuah yayasan karya para Suster-Suster dari Santo Georgius Martir (FSGM). Para suster FSGM sebagai perintis sekolah tersebut, mampu melihat kebutuhan bangsa Indonesia akan pendidikan. SD Fransiskus 2 dirintis menjelang masa-masa sulit dan krisis terberat bangsa ini. Krisis tersebut mencangkup krisis pangan, sosial dan politik pada masa itu. Sebagaimana sekolah-sekolah Fransiskus yang dikelola para suster FSGM di seluruh dunia, yang juga didirikan ditengahtengah krisis masyarakat yang membutuhkan pendampingan dan perhatian SD Fransiskus 2 pun hadir untuk mesnjawab kebutuhan masyarakat. Turut ambil bagian dalam cita-cita luhur para pendiri negara tercinta Indonesia.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 SD Fransiskus 2 adalah sekolah berciri khas agama Katolik, yang menjunjung nilai-nilai universal dalam pelayanan pendidikan. Pendidikan untuk semua golongan tanpa membeda-bedakan keragaman yang ada. Berbagai perbedaan suku, agama, sosial dan ekonomi bertemu di sini. Hal ini merupakan atmosfir pendukung pengembangan pribadi anak-anak, menerima keragaman dengan cinta, mengembangkan dan memiliki kepekaan sosial dan lingkungan dalam dirinya. Masyarakat yang telah ambil bagian dalam karya ini, menjadi pilar utama pembangunnya. Hal itu terjadi karena masyarakat mulai terbuka akan pentingnya nilai-nilai pendidikan sehingga mereka mulai terlepas dari kebodohan yang selama ini memanjarakan mereka. Kesaksian hidup yang mereka wartakan ditengah-tengah masyarakat menjadi sesuatu yang penting yaitu perkembangan tersendiri bagi SD Fransiskus 2 ini. SD Fransiskus 2 Bandar Lampung ini, memiliki visi dan misi yang jelas dalam upaya mendidik para siswa yang mengenyam pendidikan di tempat ini. Adapun visinya adalah Sekolah Fransiskus merupakan komunitas pendidikan yang dijiwai oleh cinta kasih Allah yang penuh kerahiman, menumbuh kembangkan iman yang mendalam, terwujud dalam persaudaraan sejati, unggul dalam kepribadian, moral, etika, estetika, cerdas dan terampil dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Visi ini, seturut dengan nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus berkaitan dengan hidup beriman. Selain itu, misi yang hendak dicapai oleh SD tersebut diantaranya (1) Membentuk dan mengembangkan pribadi yang tangguh dan handal dengan

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 membina hati nurani agar selalu hidup sederhana, jujur, disiplin, bertanggung jawab, peka terhadap seni dan karya seni, peduli terhadap lingkungan dan membela kehidupan. Misi sejalan dengan nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus berkaitan dengan nilai ugahari dan sederhana serta murah hati. (2) Mengupayakan pengamalan iman yang mendalam melalui kegiatan spiritual yang terintegrasi dalam hidup sehari-hari. Misi ini seirama dengan nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus berkaitan dengan aktif dalam hidup menggereja. Visi dan misi SD Fransiskus 2 Bandar Lampung, ternyata sejalan dengan niali-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Oleh karena itu, Yayasan Dwi Bhakti menghendaki agar para guru mampu meneladani nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi, sebagai landasan untuk mendidik setiap pribadi yang menimba ilmu sekolah ini. Harapan yang ingin digapai ialah agar mereka mampu tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan seimbang antara perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik. 2.2 Internalisasi dan Proses Internalisasi 2.2.1 Pengertian Internalisasi Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 439) internalisasi berarti penghayatan terhadap suatu ajaran nilai tertentu sebagai suatu kebenaran yang dapat diwujudkan dalam sikap dan perilaku. Sedangkan menurut Kartono (2000:236) Internalisasi adalah pengaturan kedalam pikiran atau kepribadian, suatu nilai tertentu dari praktek hidup orang lain menjadi bagian dari diri sendiri. Sedangkan dalam pandangan psikologis, internalisasi berarti penggabungan atau

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 penyatuan sikap, standar tingkah laku, pendapat dan seterusnya didalam kepribadian seseorang. Berdasarkan pengertian tersebut, internalisasi dapat diartikan sebagai proses penghayatan suatu nilai tertentu yang dianggap sebagai kebenaran ke dalam pribadi seseorang yang dapat terwujud dalam sikap dan perilaku. Proses penghayatan nilai yang dilakukan secara teratur, akan membentuk karakter pribadi seseorang menjadi lebih baik dan menjadi pembeda antara seorang yang satu dengan yang lainnya (Wibowo, 2013:11). Karakter yang terbentuk tersebut dapat mencangkup watak, tabiat maupun aklhak pribadi seseorang. Karakter sebagai nilai kebaikan dari pribadi seseorang akan memberikan dampak yang baik pula bagi diri sendiri maupun lingkungannya. 2.2.2 Proses Internalisasi Proses internalisasi untuk membentuk karakter yang baik bagi seseorang (good chacater) memiliki tiga proses (Wibowo 2013:12) yaitu: a. Menanamkan pengetahuan tentang nilai kebaikan (moral knowing) b. Menumbuhkan niat atau komitmen tentang nilai kebaikan (moral feeling) c. Melakukan kebaikan (moral behavior) Berdasarkan urutan ketiga proses internalisasi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa internalisasi suatu nilai, diawali dengan memberikan pengetahuan atau pemahaman kepada seseorang tentang suatu nilai yang baik untuk dapat dihidupi atau dimiliki. Proses selanjutnya setelah seseorang memahami dari maksud atau tujuan dari suatu nilai yang telah ditawarkan diharapkan seseorang mampu untuk membuat suatu komitmen atau niat yang

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 selaras dengan tujuan dari nilai yang telah ditawarkan. Pada proses terakhir, setelah seseorang memahami, membuat komitmen diharapkan seseorang tersebut mampu mewujudkan nilai kebaikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Tiga proses internalisasi menjadi urutan proses yang saling terkait dan tidak terpisahkan antara proses yang satu dengan proses selanjutnya. Sebagai bagian yang tak terpisahkan, diperlukan suatu ketekunan yang teratur sehingga niliai yang tawarkan dapat dengan sungguh-sungguh menjadi milik atau pembentuk dari pribadi seseorang. Namun demikian dalam penelitian ini, peneliti baru mampu melakukan pada tahap pertama yaitu tahap penanaman pengetahuan tentang nilai kebaikan yang hendak ditawarkan oleh peneliti kepada para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung yang meliputi hidup beriman, ugahari, sederhana, murah hati dan aktif dalam Gereja. 2.3 Modul 2.3.1 Pengertian Modul Menurut Winkel (2009) adalah satuan program kegiatan pembelajaran yang terkecil dan dapat dipelajari sendiri (self instructional). Senada dengan pernyataan tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) modul didefinisikan sebagai komponen dari suatu sistem yang berdiri sendiri, tetapi menunjang dari sistem itu. Menurut Siahaan (dalam Bintarto 2004: 69) menyatakan bahwa modul adalah suatu satuan pelajaran terkecil yang telah direncanakan dan ditulis secara operasional sistematis. Berdasarkan dari pengertian tersebut, dapat diambil kesimpulan modul adalah suatu program kegiatan terkecil yang memiliki komponen yang sistematis dan dapat dipelajari sendiri.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 2.3.2 Karakteristik Modul Berikut ini adalah beberapa karakteristik modul menurut Anwar (2010): a. Self instructional yaitu mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung pada pihak lain b. Self contained yaitu seluruh materi dari satu unit yang dipelajari terdapat di dalam satu modul utuh. c. Stand alone yaitu modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media yang lain d. User friendly yaitu modul yang dikembangkan hendaknya akrab atau bersahabat dengan pemakainya. e. Konsistensi yaitu konsisten dalam penggunaan font, spasi dan tata letak. 2.4 Metode Penelitian dan pengembangan 2.4.1 Pengertian Penelitian dan pengembangan Pengertian penelitian dan pengembangan menurut Sujadi (2003:164) adalah suatu proses untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada. Secara lebih jelas Sugiyono (2008) menjelaskan bahwa penelitian dan pengembangan adalah suatu model penelitian untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Dengan penjelasan yang sedikit berbeda, Creswell (2003) menjelaskan lagi bila dalam penelitian pengembangan, peneliti dapat dengan tepat mengkaji suatu obyek yang sedang aktual, dan hasil penelitian mampu menjawab prediksi atau persoalan, maka penelitian tersebut akan memiliki pengaruh terhadap hasil kajian tersebut. Produk

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 penelitian yang dihasilkan dari penelitian, akan dianalisis untuk dilihat keefetifannya sehingga dapat berfungsi bagi banyak orang. 2.4.2 Model ADDIE Model ADDIE merupakan singkatan dari Analysis, Design, Development or Production, Implementation or Delivery and Evaluations (Gafur, 2012). Model ini, memiliki lima komponen atau lima tahapan yaitu sebagai berikut: a. Analisis (Analysis) Analisis dilakukan untuk menentukan kebutuhan pembelajar, apa yang akan diberikan, dan kompetensi apa yang akan diharapkan atau dikuasai oleh pembelajar. b. Desain (Desaign) Setelah kebutuhan pembelajar teridentifikasi, langkah selanjutnya ialah mendesain kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan produk yang diinginkan. Pada tahap ini desain kegiatan meliputi: merumuskan tujuan, urutan kegiatan, sumber belajar dan evaluasi c. Pengembangan (Develop) Pada tahap ini yang dilakukan adalah memproduksi atau mewujudkan spesifikasi desain produk sesuai dengan yang telah ditentukan. Secara khusus, spesifikasi produk yang diharapkan dalam penelitian ini berbentuk modul. Pada pengembangan ini, peneliti mengadopsi materi dari buku Developing Language Course Materials, (Richards C. Jack, 2004). Tindakan yang dilakukan oleh peneliti; (1) menentukan subyek yang akan menggunakan produk pengembangan, (2) menentukan tujuan yang hendak dicapai, (3) prosedur atau urutan kegiatan

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 yang akan dilakukan, (4) penentuan sifat dari kerangka kegiatan yang dilakukan. Menentukan subyek yang akan menggunakan produk pengembangan, hal ini menyangkut tentang siapa (orang) yang akan mendapat perlakuan, usia, pekerjaan, dan keadaan lingkungan. Penentuan subyek ini menjadi bagian yang penting, karena hal ini akan menentukan arah tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan. Segala kegiatan yang akan dilakukan, akan menyesuiakan dengan subyek yang akan melakukannya. Menentukan tujuan yang ingin dicapai adalah suatu tindakan yang harus dilakukan bagi setiap orang yang hendak melakukan rencana suatu kegiatan. Tujuan menjadi arah dasar dari suatu kegiatan. Tujuan yang jelas akan menjadi indikasi dari suatu kegiatan yang baik. Dan akhirnya, keseluruhan kegiatan akan mengarah kepada tujuan yang hendak dicapai. Prosedur atau urutan kegiatan yang akan dilakukan. Prosedur kegiatan merupakan tindakan konkrit yang hendak dilakukan yang telah disesuaikan dengan pokok bahasan, subyek yang hendak belajar dan tujuan yang hendak dicapai. Prosedur kegiatan yang tersusun dengan baik, akan mampu menghantar subyek pembelajar untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Penentuan sifat dari kerangka kegiatan yang dilakukan maksudnya, ialah peneliti menentukan apakah rancangan kegiatan yang hendak dilakukan dalam produk pengembangan bersifat tetap harus berurutan atau dapat berubah setiap saat tanpa urutan. Hal ini dipandang perlu karena berkaitan erat dengan tujuan yang hendak dicapai.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 d. Implementasi (Implement) Setelah produk dikembangkan pada tahap ketiga, selanjutnya memanfaatkan atau menggunakan hasil produk tersebut kepada pembelajar yang sudah ditentukan. e. Evaluasi (Evaluate) Evaluasi merupakan proses terakhir dari model desain ADDIE. Evaluasi merupakan suatu proses yang dilakukan untuk memberikan nilai terhadap produk tertentu yang telah dihasilkan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan produk bila digunakan di lapangan. Pada pembuatan produk pengembangan ini, peneliti menggunakan model ADDIE. Model tersebut, memiliki lima tahapan yaitu: analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Namun, dalam pengembangan produk ini, peneliti hanya akan sampai pada tahap ketiga yaitu tahap pengembangan. Alasan peneliti hanya sampai pada tahap ini karena pertama subyek yang diteliti sudah mengadakan retret pada bulan Desember 2013, kedua keterbatasan tempat dan keterbatasan waktu antara peneliti dan subyek yang diteliti untuk mengujikan produk tersebut. 2.5 Hasil Penelitian yang Relevan Ada 4 penelitian yang penulis anggap relevan dengan penelitian yang saat ini sedang dilakukan oleh peneliti. Penelitian yang dilakukan oleh Smith (2007) mengungkapkan pentingnya perpaduan nilai-nilai iman katolik dalam setiap mata pelajaran yang hendak disampaikan kepada siswa. Hal ini sangat penting, mengingat dalam dunia pendidikan saat ini, banyak sekolah-sekolah katolik yang

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 masih memberikan pembedaan antara iman dan materi pelajaran. Padahal seharusnya, iman berpadu dengan ilmu pengetahuan yang hendak diterima oleh siswa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukannya dibeberapa sekolah, perpaduan yang benar antara pemahaman iman dan perkembangan ilmu pengetahuan yang telah diterima siswa, menghasilkan pribadi yang mudah bersyukur, berkembang sikap mencintai dan peduli, tidak mudah putus asa dan lebih bertanggung jawab. Selanjutnya, Darmaatmadja (2013) dalam dalam tulisannya yang berkaitan dengan hidup ugahari dan sederhana, ia menyampaikan betapa pentingnya di zaman sekarang ini orang mampu untuk melatih hidup ugahari sehingga akan menjadi pribadi yang sederhana. Pernyataan ini penting karena di zaman ini banyak orang yang hidupnya menuruti kesenangannya sendiri. Mudah tergoda oleh barang-barang mewah dan segala kenikmatannya. Jika seseorang tidak mampu mengendalikan diri, maka ia bisa menjadi budak atas kesenangannya sendiri dan atas barang-barang duniawi. Sedangkan seseorang yang mampu menghayati hidup ugahari akan menjadi orang yang bijaksana dalam segala tingkah laku maupun dalam menentukan barang-barang yang diperlukan dalam hidup. Coughlin (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Serving Generously and Loving Rightly: Insights for a Value-Centered Life from the Franciscan Tradition” telah memberikan sumbangan pemikiran bagi Gereja terutama yang menghidupi semangat hidup St. Fransiskus Asisi. Tulisannya ini berangkat dari sebuah lukisan di gereja Greccio yang menggambarkan tentang pelayanan yang

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 dilakukan oleh St. Fransiskus Asisi dan para saudaranya terhadap orang-orang kusta. St. Fransiskus Asisi dengan sikap kesiapsediaannya dan rasa cinta yang mendalam telah rela memberikan perhatian dan hartanya kepada sesamanya yang menderita. Hasil dari penelitiannya telah menunjukkan peningkatan pada mahasiswa dalam salah satu universitas di Amerika yang semakin rela untuk mewujudkan sikap berbagi bagi sesamanya. Perry (2007) ia melakukan penelitian yang berjudul “Promoting Global Solidarity, One Student at a Time: Franciscans International at the Service of Franciscan Colleges and Universities”. Gerakan ini dipelopori oleh Fransiskan Internasional dan mengajak mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat untuk terlibat aktif dalam menangani masalah yang terjadi di dunia ini berkaitan dengan tindak kekerasan terhadap kaum miskin. Hal ini dilakukan sebagai salah satu gerakan perwujudan iman sebagai anggota Gereja, terutama sebagai pengikut Fransiskus Asisi. Penelitian ini diadakan di Darfur (Sudan), utara Uganda, Kolombia. Pencapaian dari penelitian ini adalah menanamkan sikap kepedulian terhadap sesama yang miskin dengan penanaman sikap tidak merendahkan dan tidak merusak martabat manusia. Bentuk perwujudan yang lain yaitu dengan memberikan jaringan kerja untuk menciptakan ikatan solidaritas yang lebih baik, sehingga akan tercipta situasi yang adil dan lebih manusiawi.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Berdasarkan hasil penelitian yang sudah ada, maka skema penelitian ini sebagai berikut: Bagan 2.1 Skema Penelitian Smith (2007) “Beriman” Darmaatmadja (2013) “Ugahari dan Sederhana Modul Meneladan Fransiskus yang “Berjiwa Besar” Coughlin (2010) “Murah Hati” Perry (2007) “Aktif dalam Hidup Menggereja” 2.6 Kerangka Berpikir SD Fransiskus 2 Bandar Lampung merupakan lembaga pendidikan yang diinspirasikan oleh nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Para guru sebagai pendidik diharapkan mampu memahami nilai-nilai tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner yang telah dilakukan oleh peneliti, menyatakan bahwa pengetahuan para guru tentang nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi masih dalam kategori rendah. Rendahnya tingkat pengetahuan para guru

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 mengenai nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi, akan mempengaruhi totalitas pelayanan mereka dalam mendidik anak-anak yang belajar di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Berdasarkan uraian diatas, peneliti mengembangkan produk berupa modul yang berjudul Meneladan Fransiskus yang “Berjiwa Besar”. Modul sebagai salah satu upaya untuk membantu para guru dalam memahami nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus ini, akan rancang menggunakan langkah-langkah Research and Development (R&D) dari model pengembangan ADDIE. Hasil produk pengembangan akan divalidasi oleh empat orang yang memahami spiritualitas Fransiskan dan dua orang guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif. Modul ini diharapkan dapat digunakan dan bermanfaat bagi para guru.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab tiga ini menguraikan tentang jenis penelitian, setting penelitian prosedur pengembangan, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data. Jenis penelitian memberikan gambaran berkaitan cara yang akan digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan, sedangkan setting penelitian memuat subjek, waktu dan lokasi penelitian. Prosedur pengembangan meliputi urutan proses pembuatan produk sebagai jawaban dari persoalan. Selanjutnya instrumen dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian serta analisis data yang digunakan dalam penelitian ini. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan (Research and Development). Menurut Creswell (2012:5), penelitian pengembangan adalah pendekatan penelitian yang menggabungkan bentuk kualitatif dan kuantitatif. Sedangkan Sugiyono (2007:297) mengatakan penelitian pengembangan adalah metode yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Penelitian ini mengembangkan sebuah produk yang terintegrasi dengan semangat hidup St. Fransiskus Asisi. Nilai-nilai yang terintegrasi tersebut antara lain beriman, ugahari dan sederhana, murah hati dan aktif dalam hidup menggereja. Pada penelitian ini mengembangkan produk yang dilakukan dalam beberapa tahap yaitu analisis kebutuhan, pengembangan materi, tahap memproduksi, validasi dan revisi produk. 35

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Produk yang dihasilkan berupa modul untuk para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. 3.2 Setting Penelitian Bagian ini akan membahas tentang subyek penelitian, lokasi penelitian dan waktu pelaksanaan penelitian 3.2.1 Subyek Penelitian Subyek penelitan adalah para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung, yang berjumlah 30 orang guru. 3.2.2 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung Jl. H. Ir. Juanda No. 10C Rawalaut Tanjungkarang Timur Bandar Lampung. 3.2.3 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan bulan Juli-Agustus 2013. 3.3 Prosedur Pengembangan Peneliti akan menggunakan prosedur pengembangan berdasarkan model pengembangan ADDIE dan dipadukan dengan pengembangan materi menurut Richards (2004) dalam buku Developing Language Course Materials. Ada lima langkah pengembangan yang akan dilakukan dalam model ADDIE. Namun, dalam pengembangan produk ini, peneliti hanya akan sampai pada tahap ketiga yaitu tahap pengembangan. Alasan peneliti hanya sampai pada tahap ini karena pertama subyek yang diteliti sudah mengadakan retret pada bulan Desember 2013, kedua keterbatasan tempat dan keterbatasan waktu antara peneliti dan

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 subyek yang diteliti untuk mengujikan produk tersebut. Tahap-tahap yang digunakan peneliti dalam pengembangan produk yaitu sebagai berikut: Tahap pertama, melakukan analisis kebutuhan di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Selanjutnya, analisis kebutuhan ini dilakukan dengan para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung terhadap nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi sebagai pelindung sekolah. Setelah menganalisis kebutuhan, selanjutnya pada tahap kedua tindakan yang dilakukan yaitu dengan mendesain produk yang disesuaikan dengan kebutuhan para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Langkah awal yang dilakukan peneliti yaitu dengan mengumpulkan bahan yang akan digunakan dalam upaya untuk menjawab kebutuhan. Bahan-bahan yang sudah dikumpulkan kemudian diolah sesuai dengan rencana desain yang telah direncanakan oleh peneliti. Prosedur pada tahap ketiga yaitu pengembangan materi dan kegiatan untuk mengenal nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Berikut ini adalah urutan kegiatan yang akan dilakukan dalam produk yang akan dibuat, yaitu sebagai berikut: 1. Pendahuluan Bagian awal dari setiap pertemuan, akan diawali dengan kata pendahuluan. Maksud pada bagian ini ialah untuk membantu guru memberikan gambaran umum tentang nilai yang akan dibahas dari pertemuan yang akan dilakukan.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 2. Tujuan Tujuan merupakan gambaran arah pemikiran yang hendak dicapai. Rumusan tujuan dari keseluruhan pertemuan masih dalam taraf mengenal. Sebab, memang demikianlah tujuan dari modul ini untuk memberikan pengenalan kepada para guru mengenai nilai-nilai Berjiwa Besar St. Fransiskus Asisi. 3. Doa Pembuka Rumusan doa yang disajikan dalam setiap pertemuan menjadi kegiatan awal untuk memulai kegiatan sesuai dengan tema yang terkait. Doa yang telah dirumuskan sudah disesuaikan dengan tema. Tujuan dengan adanya doa pembuka adalah memohon rahmat Tuhan agar menyertai dalam kegiatan yang akan dilaksanakan. 4. Pokok Bahasan Materi Pada bagian ini dalam masing-masing pertemuan sesuai dengan tema, akan membahas secara rinci mengenai makna dari nilai yang akan dibahas. Disajikan pula cerita tentang Fransiskus Asisi dalam upayanya mendalami dari masing-masing nilai tersebut. Tujuannya, supaya guru mengetahui bahwa Fransiskus pun berjuang dengan sepenuh hati dalam menghidupi dari masingmasing nilai tersebut. Selain itu, ada juga cerita yang disajikan yang sesuai dengan konteks jaman. Harapannya dengan dua cerita yang disajikan, para guru mampu menangkap lebih baik tentang makna nilai yang hendak ditawarkan tersebut.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 5. Refleksi Pengambilan sikap untuk hening dan melihat secara lebih mendalam pengalaman hidup yang telah dialami. Refleksi yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan jujur akan membuat seseorang menjadi lebih mengenal setiap nilai. Hal ini terjadi karena orang berani melihat secara jujur keberadaan diri baik itu pengalaman kegagalan maupun keberhasilan dan berani mengambil sikap yang benar terhadap pengalaman-pengalaman tersebut. Untuk mempermudah refleksi, akan dipandu dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dapat membantu guru dala berefleksi. 6. Sharing Sharing berasal dari kata Bahasa Inggris, to share yang berarti berbagi (Hartana,2008:13). Saat sharing para guru membagikan pengalaman hidup yang telah dialami terkait dengan nilai yang ditawarkan. Pengalaman tersebut, dapat berupa pengalaman yang menyedihkan maupun yang membahagiakan. Tujuan dari berbagi pengalaman ini adalah untuk memperkaya satu sama lain, dan lebih dari itu untuk melihat (mengevaluasi) sejauh mana nilai-nilai yang ingin dicapai pada minggu itu sudah dipahami. 7. Doa Penutup Merupakan ungkapan syukur pada Tuhan atas berkat-Nya yang telah menyertai dalam pertemuan yang telah berlangsung dan tetap memohon berkat untuk mewujudkan apa yang telah diterima hari itu.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 8. Catatan Pribadi Lembaran kosong yang dapat digunakan guru untuk mencatat segala pengalaman yang telah dialaminya dalam kaitannya dengan pengetahuan nilai yang terkait pada hari itu. Prosedur tahap keempat yaitu validasi dan revisi poduk. Dalam penelitian ini, produk hasil pengembangan ini akan divalidasi oleh empat orang yang memahami tentang Fransiskus dan dua orang guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Selanjutnya hasil validasi akan dianalisis dan direvisi oleh peneliti sehingga diperoleh hasil produk yang baik dan layak untuk diujicobakan. Berikut ini adalah bagan rancangan pengembangan produk yang dilakukan oleh peneliti:

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.1 Bagan Prosedur Pengembangan Tahap 1: Analisis kebutuhan Tahap 2: Mengkaji materi tentang St. Fransiskus Asisi yang “Berjiwa Besar” yaitu beriman, ugahari dan sederhana, murah hati dan aktif dalam hidup meggereja Tahap 3: Mendesain Produk Analisis hasil kajian semangat St. Fransiskus Asisi yang “Berjiwa Besar”. Refleksi Sumber Belajar Karakter Guru Tujuan Kegiatan pendalaman materi Urutan Isi Tahap 4: Memproduksi Produk Tahap 4: Revisi Produk Validasi 1 ahli Fransiskan dan Guru Validasi 2 ahli Fransiskan dan Guru Analisis Analisis Revisi 1 Revisi 2 Modul : Meneladan “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 41

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 3.4 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini meliputi wawancara dan kuisioner. 3.4.1 Wawancara Peneliti menggunakan teknik wawancara secara semi terbuka untuk mengetahui tingkat pengetahuan para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung terhadap nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi sebagai pelindung sekolah. Teknik ini, menjadi cara yang tepat untuk mengetahui keadaan awal dalam suatu penelitian. Menurut Sugiyono (2009:137), wawancara merupakan instrumen pengumpul data lisan yang berasal dari sumber data secara langsung. Dari 30 guru orang yang ada, peneliti hanya melakukan wawancara dengan 12 orang saja. Alasannya, 12 orang guru sudah cukup untuk mewakili dari jumlah keseluruhan guru yang ada. 3.4.2 Kuisioner Perolehan data yang kedua, diperoleh dari kuisioner. Menurut Sugiyono (2009:142) kuisioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuisioner juga sebagai alat yang baik untuk mendapatkan informasi dari suatu penelitian. Kuisioner dalam penelitian ini akan dibagikan kepada para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 1.5 Instrumen Pengumpulan Data Penelitian ini, menggunakan instrument pengumpulan data berupa lembar wawancara dan lembar kuisioner. Tindakan pertama yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan data awal keadaan para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung dengan melakukan wawancara. Peneliti melakukan wawancara secara semi terbuka untuk mengetahui tingkat pengetahuan para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung terhadap nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi sebagai pelindung sekolah. Narasumber wawancara ini adalah para dewan guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Berikut ini adalah pedoman pertanyaan wawancara yang digunakan oleh peneliti. Tabel 3.2 Lembar wawancara No. Pertanyaan 1 Menurut bapak/ibu, siapakah St. Fransiskus Asisi? 2 St. Fransiskus Asisi adalah seorang tokoh yang “Berjiwa Besar”. Nilai-nilai “Berjiwa Besar” itu diantaranya adalah beriman, ugahari, sederhana, murah hati dan aktif dalam kehidupan Gereja. Apakah bapak/ibu memahami dengan baik nilai-nilai tersebut? Bagaimana menurut bapak/ibu mengenai sosok St. Fransiskus Asisi yang beriman? Apa upaya ibu dalam meneladani St. Fransiskus Asisi yang beriman itu dalam kehidupan sehari-hari terutama di sekolah? 3 4 5 6 7 8 9 St. Fransiskus Asisi kita kenal juga sebagai seorang yang ugahari bagaimana menurut bapak/ibu? Bagaimana pendapat bapak/ibu tentang St. Fransiskus Asisi yang sederhana? Sejauhmana pemahaman bapak/ibu berkaitan dengan St. Fransiskus Asisi yang murah hati? Bagaimana pengalaman bapak/ibu untuk mewujudkan sikap ini? Upaya St. Fransiskus Asisi untuk mewujudkan imannya dengan cara terlibat aktif dalam kegiatan Gereja. Bagaimana dengan pengalaman bapak/ibu? Bagaimana upaya bapak/ibu dalam mewujudkan nialai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi tersebut? Jawaban

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 44 Upaya apa yang sudah dilakukan untuk semakin mengenal St. Fransiskus Asisi sebagai pelindung sekolah ini? Pada tabel 3.2 merupakan lembar wawancara yang digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan data awal dengan para guru di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Soal wawancara yang digunakan berjumlah 10 butir pertanyaan terkait erat dengan nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Selain itu, peneliti juga menanyakan hambatan dan keberhasilan apa saja yang telah dialami dalam mengupayakan nilai-nilai tersebut. Tindakan kedua setelah wawancara ialah peneliti menanalisis hasil wawancara tersebut, setelah itu, peneliti membuat lembar kuisioner. Tujuannya untuk melihat seberapa besar pengetahuan para guru berkaitan dengan nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Kuisioner ini disusun dengan cara mengkaji wacana yang sesuai dengan penghayatan hidup St. Fransiskus Asisi dan dari buku-buku yang bersemangatkan nilai-nilai Fransiskan. Langkah selanjutnya ialah menyusun instrumen kuisioner dan melakukan internal validity (validitas internal) yang terdiri dari validitas isi dan validitas tampang (face validity) (Widoyoko, 2012: 129). Validitas isi yaitu penilaian yang bersifat logis antara kesesuaian indikator dengan materi. Sedangkan validitas tampang digunakan untuk mengetahui dan memperbaiki pernyataan bila ada katakata yang kurang tepat atau ambigu. Selanjutnya, setiap pernyataan dari setiap indikator tersebut, diperbaiki dan dimintakan pendapat kepada dua orang yang memahami spiritualitas Fransiskan. Setelah diperbaiki, item-item siap untuk diuji

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 cobakan kepada para guru. Berikut ini adalah nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi dan deskriptor dari masing-masing nilai tersebut. Tabel 3.3 Deskriptor nilai-nilai“Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. No 1 Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi Beriman Deskriptor Mengerti iman sebagai penyerahan diri secara total kepada Allah Meluangkan waktu untuk beribadat dan berdoa Merasa ada campur tangan Allah dalam seluruh perjalanan hidup Pada waktu mengalami kesulitan, bersandar pada kekuatan Allah Oleh karena mengalami dicintai oleh Allah, maka membalas cinta-Nya itu dengan mencintai sesama. Yakin setiap kebaikan yang diterima berasal dari Tuhan Bersyukur kepada Tuhan untuk semua anugerah yang telah diterima dalam hidup ini. 2 Ugahari dan Sederhana Membeli barang-barang sesuai kebutuhan Membeli barang sesuai kemampuan Mensyukuri penghasilan yang diterima setiap bulan Mengelola keuangan dengan cermat supaya tidak melebihi pengeluaran Menggunakan barang-barang secara tidak berlebihan. Sadar harta benda yang dimiliki adalah anugrah Tuhan yang harus di gunakan dengan tepat guna 3 Murah hati Memahami makna murah hati sebagai tanda kepedulian terhadap sesame Bersedia memaafkan orang yang menyakiti hati Meluangkan waktu untuk menolong anak didik yang kesulitan belajar Bersedia memberikan sumbangan sesuai kemampuan kepada siapa pun yang membutuhkan. Bersikap tulus iklas dalam memberikan bentuk bantuan kepada orang lain

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Memberikan bantuan tanpa mengharapkan imbalan Menyumbangkan gagasan atau pemikiran saat diperlukan Bersikap terbuka terhadap kritik dan saran dari rekan kerja 4. Aktif dalam hidup menggereja Aktif mengikuti kegiatan di lingkungan tempat tinggal Berupaya menciptakan persaudaraan dan kerukunan di lingkungan tempat tinggal Berupaya menjadi saksi kebenaran di lingkungan tempat tinggal Sebagai salah satu anggota Gereja, terpanggil untuk menjalankan semua tugas yang diberikan secara bertanggung jawab Menjadi seorang pendidik yang sungguh-sungguh sebagai sikap kepedulian terhadap hidup menggereja. Memberikan teladan yang baik kepada peserta didik Menerima rekan kerja tanpa membeda-bedakan status maupun golongan 3.6. Teknik Pengujian Istrumen Validitas merupakan kemampuan suatu tes untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Azwar, 2012:51). Senada dengan pengertian tersebut, Sugiyono (2009) juga menegaskan bahwa validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu tes. Berdasarkan pengertian validitas di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa validitas merupakan suatu standar ukuran yang menunjukkan ketepatan dan kesahihan suatu instrumen. Validitas instrumen terdiri dari tiga jenis yaitu (1) validitas permukaan (face validity), (2) validitas isi (content validity), (3) validitas konstrak (constrack validity) (Sugiyono, 2009:123). Validitas permukaan yaitu suatu kriteria untuk melihat dari sisi muka atau tampang dari instrumen itu sendiri. Untuk validitas ini, peneliti meminta bantuan atau pendapat dari dosen pembimbing.

(66) 47 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Validitas isi (content validity) merupakan jenis validitas yang berfungsi untuk menguji dan membandingkan antara butir-butir dalam setiap instrumen dengan teori-teori tertentu terkait dengan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan (Sugiyono, 2009:123).Validitas isi pada penelitian ini dilakukan dengan bantuan expert judgment. Peneliti meminta bantuan kepada 2 orang yang memahami spiritualiats Fransiskan mereka adalah seorang imam OFM dan seorang suster FSGM yang medalami spiritualitas Fransiskan. Berikut ini adalah hasil validitas isi dari beberapa ahli tersebut. Tabel 3.4 Hasil Expert Jugment Penilai No 1 Komponen yang dinilai Kesesuaian indikator dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Rerata Skor Validator Validator 1 2 3 4 3,5 Besar” St. Fransiskus Asisi 2 Perintah pengerjaan kuisioner 3 3 3 3 Format peneliti an kuisioner 4 3 3,5 4 Kesesuaian indikator ke-1 dengan item nomor 1-5 3 4 3,5 5 Kesesuaian indikator ke-2 dengan item nomor 6 -10 4 4 2,5 6 Kesesuaian indikator ke-3 dengan item nomor 11- 15 4 4 4 7 Kesesuaian indikator ke-4 dengan item nomor 16- 20 Jumlah Rerata Skor 4 7 24 3,4 Berdasarkan validitas instrumen tentang semangat hidup St. Fransiskus Asisi yang terdapat dalam tabel 3.4, didapatkan rerata skor sebesar 3,4.

(67) 48 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan kriteria penilaian pensekoran, nilai tersebut masuk dalam “kategori baik” sehingga instrumen layak untuk diuji cobakan. Tabel 3.5 Kriteria pensekoran (Widoyoko, 2009 : 246) Rerata Skor >4,2 Klasifikasi Sangat Baik >3,4 – 4,2 Baik >2,6 – 3,4 Cukup >1,8 – 2,6 Kurang ≤1,8 Sangat Kurang Berdasarkan hasil validasi dari dua orang yang memahami spiritualitas Fransiskan dan menghasilkan penilaian dengan kategori baik, maka peneliti menggunakan instrument tersebut untuk disebarkan di SD 2 Fransiskus Bandar Lampung. Adapun lembar kuisioner tersebut adalah sebagai berikut. Tabel 3.8 lembar kuisioner siap digunakan No 1 Pernyataan Saya mengerti iman sebagai penyerahan diri secara total kepada Allah 2 Saya meluangkan waktu untuk beribadat dan berdoa 3 Saya merasa ada campur tangan Allah dalam seluruh perjalanan hidup 4 Pada waktu mengalami kesulitan, saya bersandar pada kekuatan Allah 5 Oleh karena saya mengalami dicintai oleh Allah, maka saya membalas cinta-Nya itu dengan mencintai sesama. 6 Saya yakin setiap kebaikan yang terima berasal dari Tuhan 7 Saya membeli barang-barang sesuai kebutuhan 8 Saya membeli barang sesuai kemampuan 9 Saya mensyukuri penghasilan yang diterima setiap bulan SS S J K TP

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 Saya mengelola keuangan dengan cermat supaya tidak melebihi pengeluaran 11 Saya menggunakan barang-barang secara tidak berlebihan. 12 Saya sadar harta benda yang dimiliki adalah anugrah Tuhan yang harus di gunakan dengan tepat guna 13 Saya memahami makna murah hati sebagai tanda kepedulian terhadap sesama 14 Saya bersedia memaafkan orang yang menyakiti hati 15 Saya meluangkan waktu untuk menolong anak didik yang kesulitan belajar 16 Saya bersedia memberikan sumbangan sesuai kemampuan kepada siapa pun yang membutuhkan. 17 Saya bersikap tulus iklas dalam memberikan bentuk bantuan kepada orang lain 18 Saya aktif mengikuti kegiatan di lingkungan tempat tinggal 19 Saya berupaya menciptakan persaudaraan dan kerukunan di lingkungan tempat tinggal 20 Saya berupaya menjadi saksi kebenaran di lingkungan tempat tinggal 21 Saya sebagai salah satu anggota Gereja, terpanggil untuk menjalankan semua tugas yang diberikan secara bertanggung jawab 22 Saya menjadi seorang pendidik yang sungguh-sungguh sebagai sikap kepedulian terhadap hidup menggereja. 23 Saya bersyukur kepada Tuhan untuk semua anugerah yang telah diterima dalam hidup ini. 24 Saya memberikan bantuan tanpa mengharapkan imbalan 25 Saya menyumbangkan gagasan atau pemikiran saat diperlukan 26 Saya menerima rekan kerja tanpa membeda-bedakan status maupun golongan 27 Saya memberikan teladan yang baik kepada peserta didik 49

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 3.7 Teknik Analisis Data Data yang akan dianalisis berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa skor dan data kualitatif berupa catatan yang diberikan oleh para ahli dan guru. Skor kuantitatif hasil uji coba produk kemudian dikonversikan dengan skala lima dengan mengacu pada kriteria penilaian Widoyoko (2009:238) sebagai berikut: Tabel 3.9 Skala Lima Interval Skor Kategori X  Xi + 1,80 Sbi Sangat baik Xi + 0,60 SBi  X ≤Xi + 1,80 Sbi Baik Xi − 0,60 SBi  X ≤Xi + 0,60Sbi Cukup Xi − 1,80 SBi  X ≤Xi − 0,60Sbi Kurang X ≤ Xi − 1,80 Sbi Sangat kurang Keterangan: Rerata ideal ( Xi ) : ½ (Skor Maksimal Ideal + Skor Minimal Ideal) Simpangan baku ideal (SBi) : 1/6 (Skor Maksimal Ideal - Skor Minimal Ideal) X : Skor aktual

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Bab empat ini berisi tentang hasil pengembangan yang meliputi analisis kebutuhan, deskripsi produk awal, validasi produk, dan revisi produk serta kajian produk akhir. 4.1 Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung terhadap nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi sebagai pelindung sekolah. Data yang telah diperolah, digunakan untuk mengetahui berbagai hal berkaitan dengan pengenalan nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Subyek penelitian adalah para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung yang berjumlah 30 orang. Perolehan data dilakukan melalui wawancara dan kuesioner. Wawancara dilakukan pada tanggal 29 Juli 2013 terhadap 12 orang dari jumlah keseluruhan guru yang ada. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan para guru, mereka mengungkapkan bahwa telah beberapa kali mengikuti retret dan rekoleksi namun demikian, pendalaman untuk nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi belum sepenuhnya dipahami. Perolehan data selanjutnya dengan kuesioner. Peneliti membagikan 30 lembar kuesioner kepada responden. Lembar kuesioner tersebut, semua kembali dalam keadaan baik dan sudah diisi sesuai perintah yang terdapat dalam lembar kuesioner. Hasil analisis kuesioner menunjukkan bahwa 43,33% para guru masih kurang memahami nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. 51

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 Fransiskus Asisi, 36,66% cukup memahami dan 20% sangat memahami nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Berdasarkan analisis kuesioner tersebut, maka diperoleh kesimpulan bahwa diperlukan sebuah modul untuk mengenal nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi sebagai pelindung sekolah SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. 4.2 Deskripsi Produk Awal Penelitian ini, bertujuan untuk menghasilkan produk berupa modul yang akan dipergunakan oleh para guru untuk mengenal nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi sebagai pelindung sekolah SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Langkah awal yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengumpulkan bahanbahan yang terkait dengan St. Fransiskus Asisi yang “Berjiwa Besar” kemudian menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam setiap bagiannya. Nilai-nilai “Berjiwa Besar” yang dimaksud disini adalah empat nilai yang telah dihidupi oleh St. Fransiskus Asisi yaitu hidup beriman, ugahari dan sederhana, murah hati dan aktif dalam Gereja. Keempat nilai tersebut merupakan satu rangkaian yang tak terpisahkan. Hidup beriman diletakkan pada urutan pertama karena ini menjadi dasar dari keseluruhan nilai yang ada. Seorang beriman pasti akan memiliki sifat-sifat seperti ugahari dan sederhana, murah hati. Selanjutnya, penghayatan nilai-nilai tersebut akan membuat orang aktif dalam hidup menggereja. Materi yang digunakan dalam produk ini diperoleh dari bukubuku Fransiskan dan sumber-sunber yang relevan. Produk ini dibuat dengan menggunakan Microsoft Office Excel 2007 dan Microsoft Office Word 2007. Modul ini menggunakan jenis huruf Times New

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Roman dengan ukuran huruf 12 poin. Jumlah halaman dalam modul ini ada 29 halaman dan dicetak menggunakan kertas HVS yang berukuran 210x297mm. Unsur-unsur yang terdapat dalam modul yaitu: (1) Sampul atau cover . Pada bagian terdepan modul ini, terdapat judul modul yaitu Meneladan St. Fransiskus Asisi yang “Berjiwa Besar”, modul untuk guru SD St. Fransiskus Asisi. Di samping itu terdapat pula nama peneliti, gambar St. Fransiskus Asisi dengan pilihan warna gradasi warna coklat. (2) Kata pengantar yang berisi ucapan terima kasih dari peneliti untuk semua pihak yang telah membantu menyusun modul ini, garis besar isi modul serta harapan peneliti untuk penggunaan modul ini. (3) Daftar isi sebagai petunjuk pokok isi modul beserta nomor halamannya. (4) Petunjuk penggunaan modul. (6) Isi pokok modul bagian ini terdapat lima kali pertemuan. (7) Penyusun, bagian ini berisi tentang biodata peneliti. (8) Referensi, berisi tentang berbagai sumber yang telah peneliti gunakan dalam penyusunan modul pengembangan ini. Desain materi, ini terdiri dari lima pertemuan, masing-masing pertemuan berlangsung sekitar 1-2 jam. Unsur-unsur yang terdapat dalam isi pokok modul yaitu modul, pada pertemuan pertama terdapat unsur-unsur: (1) Pendahuluan, pada bagian ini memberikan gambaran umum tentang nilai yang akan dibahas dari pertemuan yang akan dilakukan. (2) Tujuan dari pertemuan sesuai dengan tema. (3) Doa pembuka sebagai sarana untuk memuji Tuhan serta memohon rahmatNya sebelum memulai seluruh kegiatan. (4) Pokok bahasan materi bagian ini menyajikan materi pokok terkait dengan tema. (5) Refleksi berisi panduan pertanyaan-pertanyaan yang dimaksudkan untuk memperdalam materi dan

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. (6) Sharing, bagian ini memberikan kesempatan kepada para guru untuk membagikan segala pengalaman hidup mereka sesuai dengan tema yang sedang dibahas. (7) Doa penutup merupakan ungkapan syukur pada Tuhan atas berkat-Nya yang telah menyertai dalam pertemuan yang telah berlangsung dan tetap memohon berkat untuk mewujudkan apa yang telah diterima hari itu (10) Catatan pribadi lembaran kosong yang dapat digunakan guru untuk mencatat segala pengalaman yang telah dialaminya dalam kaitannya dengan penghayatan tema yang terkait. 4.3 Validasi Produk Modul yang dikembangkan ini, telah divalidasi oleh enam pakar yaitu empat pakar Fransiskan dan dua guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Data yang diperoleh dari para pakar berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuatitatif berupa skor yang terdapat pada skala penilaian terhadap aspek-aspek yang dinilai dalam modul. Selanjutnya data kualitatif berupa saran atau tanggapan dari para pakar terhadap kualitas modul tersebut. Perhitungan akhir dari data tersebut, diperoleh dari hasil konversi data kuantitatif ke data kualitatif dengan mengacu pada skala lima menurut Widoyoko (2009) yaitu sebagai berikut: Skor maksimal ideal yang digunakan peneliti :5 Skor minimal ideal yang digunakan peneliti :1 Rerata ideal ( Xi ) : ½ (Skor Maksimal Ideal + Skor Minimal Ideal) Maka Xi = ½(5+1) =3

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Simpangan baku ideal Sangat kurang (SBi) : 1/6 (Skor Maksimal Ideal - Skor Minimal Ideal) Maka Sbi = 1/6(5-1) = 0,67 Berdasarkan penghitungan konversi tersebut, maka didapatkan rumus kualifikasi sebagai berikut: Sangat baik = % > 3 + (1,80)(0,67) = % > 3 + 1,21 = % > 4,21 Baik = 3 + (0,60)(0,67) < % ≤3 + (1,80) (0,67) = 3 + 0,40 < % ≤3+ 1,21 = 3,40 < % ≤4,21 = 3 – (0,60) (0,67) < % ≤3 + (0,60) (0,67) = 3 – 0,40 < % Cukup ≤3 + 0,40 = 2,60 < % ≤3,40 Kurang baik = 3 – (1,80) (0,67) < % ≤3 + (0,60) (0,67) = 3 – 1,21 < % ≤3 + 0,40 = 1,79 < % ≤2,60 Sangat Kurang = x ≤3 - (1,80) (0,67) = x ≤3 - 1,21 = x ≤1,79 Menurut perhitungan di atas, maka konversi data kuantitatif ke data kualitatif skala lima dapat disederhanakan sebagai berikut: Tabel 4.1 Hasil Konversi data kuantitatif ke data kualitatif Interval Skor Kategori Sangat baik X  4,21 Baik 3,40  X ≤4,21 Cukup 2,60  X ≤3,40 Kurang 1,79  X ≤2,60 X ≤1,79 Sangat kurang 4.3.1 Data validasi pakar Fransiskan Validasi pakar Fransiskan dilakukan oleh empat orang dan dilaksanakan melalui dua tahap. Tahap pertama dimulai dari tanggal 26 April 2014 sampai tanggal 28 April 2014. Validasi tahap kedua pada tanggal dimulai tanggal 3 Mei

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 2014 sampai tanggal 8 Mei 2014. Penilaian yang dilakukan mencakup aspek tampilan, aspek perintah penggunaan modul, aspek urutan/sistematis, dan aspek isi. Berikut ini adalah hasil dari penilaian para pakar. 1. Pakar Fransiskan pertama Pakar Fransiskan ini adalah seorang imam dari Kongregasi OFM, beliau seorang ahli dalam spiritualitas Fransiskan dan sebagai imam formator di Kongregasi OFM. a. Aspek Tampilan Tabel 4.2 Penilaian Aspek Tampilan No. Aspek yang dinilai 1 Skala Penilaian 2 3 4 √ 1 Desain Cover 2 Ketepatan pemilihan jenis huruf √ 3 Ketepatan ukuran huruf Ketepatan warna huruf √ √ Tata letak setiap halaman √ 4 5 6 7 8 9 10 11 12 √ Warna halaman (1 warna atau lebih) Keterbacaan teks √ Ketepatan penempatan teks √ Kejelasan gambar √ Ketepatan penempatan gambar √ Kemenarikan gambar √ Ketepatan ukuran gambar √ Jumlah 15 Jumlah skor 43 Rerata skor 3,5 Kriteria Penilaian Baik 28 Komentar 5

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 b. Aspek Perintah penggunaan Modul Tabel 4.3 Penilaian Aspek Perintah Penggunaan Modul No. Aspek yang dinilai 1 Kejelasan petunjuk penggunaan modul 2 Kejelasan instruksi dalam modul 3 Sistematika peneliti an petunjuk Skala Penilaian 2 3 4 √ 1 5 √ √ Jumlah 3 Jumlah Skor 9 Rerata Skor 3 Cukup KriteriaAspek Perintah penggunaan Modul Komentar c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.4 Penilaian Aspek Urutan/Sistematis No. 1 2 3 Aspek yang dinilai 1 3 4 √ √ Penggunaan bahasa dalam modul Jumlah Rerata Skor Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis 2 √ Urutan tema yang disediakan Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul Jumlah Skor Komentar Skala Penilaian 1 9 3 Cukup 1 1 5

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 d. Aspek Isi Tabel 4.5 Penilaian Aspek Isi No. 1 Aspek yang dinilai Skala Penilaian 1 2 3 4 5 Kelengkapan komponen dalam memuat modul (tujuan, materi kegiatan, refleksi). √ √ 2 Kesesuain modul dengan tujuan yang akan dicapai. 3 Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 4 Kemudahan materi dalam modul untuk memahami Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 5 Kesesuaian kegiatan untuk mendalami semangat Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 6 √ Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi Jumlah √ 5 Jumlah Skor 13 Rerata Skor 2,1 Kriteria Aspek Isi Komentar 1 Kurang Berdasarkan hasil penilaian pakar yang pertama dari tabel 4.2, pakar memberikan rerata skor sebesar 3,5 maka menurut Widoyoko (2009) hal itu dinyatakan “baik”. Tabel 4.3 dan 4.4, penilaian rerata yang didapat dari masingmasing sebesar 3 ini berarti “cukup” pernyataan ini membuat peneliti untuk memperhatikan secara cermat hal-hal yang mendapatkan skor yang rendah untuk diperbaiki seperti pada bagian urutan dalam kegiatan-kegiatan dalam modul mendapatkan skor 2 sehingga peneliti segera untuk memperbaikinya. Catatan penting yang beliau berikan berkaitan dengan pendalaman materi adalah adanya penambahan sub bagian yang mampu menghantar seseorang untuk memahami materi yang akan dipelajari. Dalam hal ini, materi yang hendak

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 dipelajari berkaitan dengan wejangan St. Fransiskus Asisi, Anggaran Dasarnya atau pengalaman hidup St. Fransiskus Asisi. 2. Pakar Fransiskan kedua Pakar kedua yang telah dipilih oleh peneliti adalah seorang Bruder MTB. Beliau seorang ahli spiritualitas Kongregasi MTB dan saat ini beliau juga menjabat sebagai pembimbing para Bruder Junior di Indonesia. a. Aspek Tampilan Tabel 4.6 Penilaian Aspek Tampilan No. Aspek yang dinilai 1 Desain Cover 2 Ketepatan pemilihan jenis huruf 3 Ketepatan ukuran huruf 4 Ketepatan warna huruf 5 Tata letak setiap halaman 6 Warna halaman (1 warna atau lebih) 7 Keterbacaan teks 8 Ketepatan penempatan teks 9 Kejelasan gambar 10 Ketepatan penempatan gambar 11 Kemenarikan gambar 12 Ketepatan ukuran gambar 1 Komentar 5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Jumlah 3 Jumlah skor 47 Rerata skor 3,9 Kriteria Penilaian Skala Penilaian 2 3 4 √ Baik 7 2

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Aspek Perintah penggunaan Modul Tabel 4.7 Penilaian Aspek Perintah Penggunaan Modul No. Aspek yang dinilai 1 Kejelasan petunjuk penggunaan modul 2 Kejelasan instruksi dalam modul 3 Sistematika peneliti an petunjuk 1 5 √ √ √ Jumlah 1 Jumlah Skor 11 Rerata Skor 3,6 KriteriaAspek Perintah penggunaan Modul Komentar Skala Penilaian 2 3 4 2 Baik c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.8 Penilaian Aspek Urutan/Sistematis No. Aspek yang dinilai 1 Urutan tema yang disediakan 2 Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul 3 Penggunaan bahasa dalam modul Skala Penilaian 1 2 3 4 5 √ √ √ Jumlah 2 Jumlah Skor 13 Rerata Skor 4,3 Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis Sangat baik 1 Komentar 60

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 d. Aspek Isi Tabel 4.9 Penilaian Aspek Isi Skala Penilaian 1 2 3 4 No. Aspek yang dinilai 1 Kelengkapan komponen dalam memuat modul (tujuan, materi kegiatan, refleksi). √ 2 Kesesuaina modul dengan tujuan yang akan dicapai. √ 3 Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 4 Kemudahan materi dalam modul untuk memahami Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 5 Kesesuaian kegiatan untuk mendalami semangat Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 6 Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 5 Komentar √ √ Jumlah 1 Jumlah Skor 24 Rerata Skor 4 Kriteria Aspek Isi Baik 4 1 Hasil penilaian dari pakar kedua Fransiskan ini secara garis besar memberikan penilaian yang cukup tinggi. Ini tampak pada tabel 4.6, tabel 4.7 dan tabel 4.9 dengan kriteria baik dan tabel 4.8 dengan kriteria amat baik.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 3. Pakar Fransiskan ketiga Pakar Fransiskan yang ketiga yaitu seorang Bruder MTB. Beliau adalah seorang yang mendalami spiritualitas Fransiskan dan juga ahli bahasa. a. Aspek Tampilan Tabel 4.10 Penilaian Aspek Tampilan No. Aspek yang dinilai 1 Desain Cover 4 √ 2 Ketepatan pemilihan jenis huruf √ 3 Ketepatan ukuran huruf √ 4 Ketepatan warna huruf √ 5 Tata letak setiap halaman √ 6 Warna halaman (1 warna atau lebih) √ 7 Keterbacaan teks √ 8 Ketepatan penempatan teks √ 9 Kejelasan gambar 10 Ketepatan penempatan gambar √ 11 Kemenarikan gambar √ 12 Ketepatan ukuran gambar 1 2 3 ukuran gambar masih kecil √ 4 Jumlah skor 44 Rerata skor 3,6 Baik 5 gambar masih kabur √ Jumlah Kriteria Penilaian Komentar Skala Penilaian 8

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 b. Aspek Perintah penggunaan Modul Tabel 4.11 Penilaian Aspek Perintah Penggunaan Modul No. Aspek yang dinilai 1 Skala Penilaian 2 3 4 Komentar 5 √ 1 Kejelasan petunjuk penggunaan modul 2 Kejelasan instruksi dalam modul √ 3 Sistematika peneliti an petunjuk √ Jumlah 3 Jumlah Skor 12 Rerata Skor 4 KriteriaAspek Perintah penggunaan Modul Baik c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.12 Penilaian Aspek Urutan/Sistematis No. Aspek yang dinilai 1 Urutan tema yang disediakan 2 Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul Skala Penilaian 1 2 3 4 5 √ √ √ 3 Komentar Masih terdapat Bahasa lisan Penggunaan bahasa dalam modul bukan Bahasa tulis Jumlah 1 Jumlah Skor 10 Rerata Skor 3,3 Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis Cukup 1 1

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI d. 64 Aspek Isi Tabel 4.13 Penilaian Aspek Isi Skala Penilaian No. Aspek yang dinilai 1 Kelengkapan komponen dalam memuat modul (tujuan, materi kegiatan, refleksi). √ 2 Kesesuaina modul dengan tujuan yang akan dicapai. √ 3 Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 4 Kemudahan materi dalam modul untuk memahami Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. √ 5 Kesesuaian kegiatan untuk mendalami semangat Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 6 Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 1 3 4 5 Komentar √ √ Jumlah 5 Jumlah Skor 25 Rerata Skor 4,1 Kriteria Aspek Isi 2 1 Baik Penilaian dari pakar yang ketiga ini, cukup detail selain melihat dari segi isi, beliau juga memperhatikan tata bahasa yang digunakan oleh peneliti . Secara keseluruhan penilaian yang diberikan cukup tinggi. Hal ini tampak dalam tabel 4.10, tabel 4.11 dan tabel 4.13 dengan kriteria penilaian “baik”. Sedangkan untuk tabel 4.12 mendapat kriteria penilaian “cukup”. Oleh sebab itu, peneliti memperhatikan secara lebih seksama untuk tabel 4.12. Secara umum, sang pakar

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 memberikan evaluasi terkait dengan cover yang masih kabur dan peneliti an kalimat yang tidak terstuktur. 4. Pakar Fransiskan keempat Pakar keempat Fransiskan ini adalah seorang suster FSGM, beliau mendalami spiritualias FSGM, Fransiskan dan saat ini bertugas di rumah retret. a. Aspek Tampilan Tabel 4.14 Penilaian Aspek Tampilan No. Aspek yang dinilai 1 Desain Cover 2 Ketepatan pemilihan jenis huruf 3 Ketepatan ukuran huruf 4 Ketepatan warna huruf 5 Tata letak setiap halaman 6 Warna halaman (1 warna atau lebih) 7 Keterbacaan teks 8 Ketepatan penempatan teks 9 Kejelasan gambar 10 Ketepatan penempatan gambar 11 Kemenarikan gambar 12 Ketepatan ukuran gambar 1 2 3 √ 4 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Jumlah 10 Jumlah skor 38 Rerata skor 3,1 Kriteria Penilaian Komentar Skala Penilaian Cukup 2 5

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 b. Aspek Perintah penggunaan Modul Tabel 4.15 Penilaian Aspek Perintah Penggunaan Modul No. Aspek yang dinilai Skala Penilaian 2 3 4 1 1 Kejelasan petunjuk penggunaan modul √ 2 Kejelasan instruksi dalam modul √ 3 Sistematika peneliti an petunjuk √ Jumlah Komentar 5 3 Jumlah Skor 12 Rerata Skor 4 KriteriaAspek Perintah penggunaan Modul Baik c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.16 Penilaian Aspek Urutan/Sistematis No. Aspek yang dinilai 1 Urutan tema yang disediakan 2 Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul 3 Penggunaan bahasa dalam modul 1 Skala Penilaian 2 3 4 5 √ √ √ Jumlah 1 Jumlah Skor 12 Rerata Skor 4 Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis Baik 1 1 Komentar

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 d. Aspek Isi Tabel 4.17 Penilaian Aspek Isi Skala Penilaian 1 2 3 4 No. Aspek yang dinilai 1 Kelengkapan komponen dalam memuat modul (tujuan, materi kegiatan, refleksi). √ 2 Kesesuaina modul dengan tujuan yang akan dicapai. √ 3 Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai Fransiskus Asisi yang “Berjiwa Besar” 4 Kemudahan materi dalam modul untuk memahami Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi yang 5 Kesesuaian kegiatan untuk mendalami semangat Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 6 Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi St. Komentar √ √ √ √ Jumlah 2 Jumlah Skor 25 Rerata Skor 4,1 Kriteria Aspek Isi 5 1 3 Baik Penilaian yang diberikan oleh pakar keempat ini, cukup tinggi menurut peneliti . Hal itu terbukti dari beberapa tabel yang memberikan nilai dengan kriteria “baik” seperti pada tabel 4.15, tabel 4.16 dan tabel 4.17. sedangkan untuk tabel 4.14, mendapatkan kriteria “cukup”. Sang pakar memberikan masukan yang cukup berarti bagi peneliti diantaranya yaitu, perubahan sharing untuk diletakkan pada awal pertemuan, penambahan lagu untuk awal pertemuan dan akhir pertemuan, perubahan beberapa pokok materi yang harus dikaitkan dengan tema

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 dan penambahan satu pertemuan lagi untuk merangkum seluruh pertemuan yang telah dijalani 4.3.2 Data validasi dari Guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung Validasi untuk guru di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung, peneliti menetapkan dua orang guru. Mereka adalah dua orang guru yang sudah menjadi guru tetap di sekolah tersebut. Berikut ini adalah penilaian modul yang telah mereka lakukan: 1. Guru pertama a. Aspek Tampilan Tabel 4.18 Aspek Tampilan No. 1 Aspek yang dinilai 1 2 3 4 √ Desain Cover 2 Ketepatan pemilihan jenis huruf 3 Ketepatan ukuran huruf 4 Ketepatan warna huruf 5 Tata letak setiap halaman 6 Warna halaman (1 warna atau lebih) 7 Keterbacaan teks 8 Ketepatan penempatan teks 9 Kejelasan gambar 10 Ketepatan penempatan gambar 11 Kemenarikan gambar 12 Ketepatan ukuran gambar √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Jumlah 8 Jumlah skor 40 Rerata skor 3,3 Kriteria Penilaian Komentar Skala Penilaian Baik 4 5

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Aspek Perintah penggunaan Modul Tabel 4.19 Aspek Perintah Penggunaan Modul No. Aspek yang dinilai Skala Penilaian 1 2 3 4 Komentar 5 √ 1 Kejelasan petunjuk penggunaan modul 2 Kejelasan instruksi dalam modul √ 3 Sistematika peneliti an petunjuk √ Jumlah 1 Jumlah Skor 11 Rerata Skor 3,6 Kriteria Aspek Perintah penggunaan Modul Baik 2 c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.20 Aspek Urutan/Sistematis No. Aspek yang dinilai Skala Penilaian 1 2 3 4 5 1 Urutan tema yang disediakan √ 2 Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul √ 3 Penggunaan bahasa dalam modul √ Jumlah 2 Jumlah Skor 10 Rerata Skor 3,3 Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis Baik 1 Komentar 69

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 d. Aspek Isi Tabel 4.21 Aspek Isi No. Aspek yang dinilai Skala Penilaian 1 2 3 4 √ 1 Kelengkapan komponen dalam modul memuat (tujuan, materi kegiatan, refleksi). 2 Kesesuaian modul dengan tujuan yang akan dicapai. 3 Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 4 Kemudahan modul untuk memahami NilaiNilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ √ 5 Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 6 Relevansi modul dengan kebutuhan para guru √ 7 Modul membuat para guru dapat terlibat aktif dalam setiap kegiatannya √ Daya tarik modul untuk mendalami semangat √ 8 5 Komentar √ hidup St. Fransiskus Asisi. Jumlah 2 Jumlah Skor 40 Rerata skor 3,7 Kriteria Aspek Isi 6 Baik Berdasarkan tabel 4.18 sampai dengan tabel 4.21, penilai menyatakan bahwa kriteria keseluruhan modul adalah baik. Catatan yang dilampirkan berkaitan dengan modul ialah tampilan gambar yang masih terlalu kecil dan peneliti an kalimat yang belum benar.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Guru kedua a. Aspek Tampilan Tabel 4.22 Aspek Tampilan No. Aspek yang dinilai 1 Desain Cover 2 Ketepatan pemilihan jenis huruf 3 Ketepatan ukuran huruf 4 Ketepatan warna huruf 5 Tata letak setiap halaman 6 Warna halaman (1 warna atau lebih) 7 Keterbacaan teks 8 Ketepatan penempatan teks 9 Kejelasan gambar 10 Ketepatan penempatan gambar 11 Kemenarikan gambar 12 Ketepatan ukuran gambar 1 2 3 √ 4 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Jumlah 7 Jumlah skor 41 Rerata skor 3,4 Kriteria Penilaian Komentar Skala Penilaian Baik 5 5 71

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Aspek Perintah penggunaan Modul Tabel 4.23 Aspek Perintah Penggunaan Modul No. Aspek yang dinilai Skala Penilaian 1 2 3 4 5 Komentar √ 1 Kejelasan petunjuk penggunaan modul 2 Kejelasan instruksi dalam modul √ 3 Sistematika peneliti an petunjuk √ Jumlah 1 Jumlah Skor 11 Rerata Skor 3,6 Kriteria Aspek Perintah penggunaan Modul Baik 2 c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.24 Aspek Urutan/Sistematis No. Aspek yang dinilai 1 Urutan tema yang disediakan 2 Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul 3 Penggunaan bahasa dalam modul Skala Penilaian 1 2 3 4 5 √ √ √ Jumlah 2 Jumlah Skor 10 Rerata Skor 3,3 Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis Baik 1 Komentar 72

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 d. Aspek Isi Tabel 4.25 Aspek Isi No. Aspek yang dinilai Skala Penilaian 1 2 3 4 1 Kelengkapan komponen dalam modul memuat (tujuan, materi kegiatan, refleksi). √ 2 Kesesuaian modul dengan tujuan yang akan dicapai. √ 3 Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 4 Kemudahan modul untuk memahami NilaiNilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 5 Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 6 Relevansi modul dengan kebutuhan para guru √ 7 Modul membuat para guru dapat terlibat aktif dalam setiap kegiatannya √ Daya tarik modul untuk mendalami √ 8 5 Komentar √ √ semangat hidup St. Fransiskus Asisi. Jumlah 1 Jumlah Skor 31 Rerata skor 3,8 Kriteria Aspek Isi 7 Baik Hasil penilaian dari guru kedua ini, cukup tinggi hal ini tampak dari tabel 4.22 sampai 4.25 yang memberikan penilaian dengan kriteria baik. Catatan yang dilampirkan untuk saran perbaikan yaitu kurang konsisten dalam penggunanaan

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 sebuah kata tertentu, penggunaan huruf dalam kalimat yang masih kurang dan kalimat perintah yang belum jelas. 4.4 Revisi Produk dan Penilaian Para Ahli Perbaikan produk dilakukan setelah mendapatkan penilaian dan saran yang telah dari para ahli Fransisakan dan para guru. Berikut ini adalah tabel gambaran umum masukan, saran dan perbaikan yang telah dilakukan. Tabel 4.26 Revisi Produk No 1 2 3 Pakar Fransiskan 1 Fransiskan 2 Fransiskan 3 Saran Perbaikan Perlu adanya pengantar untuk Telah dibuat pengantar yang telah memberikan gambarab umum disesuaikan dengan tema dalam setiap dalam setiap pertemuan. pertemuan. Gambar kurang sesuai dengan Gambar telah disesuaikan dengan isi isi modul modul yaitu sebagai berikut: Desain cover kabur Desain cover menjadi Ada kata tanya yang kurang Kata tanya telah diperbaiki dan tepat. disesuaikan dengan isi bacaan Masih terdapat bahasa lisan Telah diperbaiki penggunaan bahasa bukan bahasa tulis 4 Fransiskan 4 lisan menjadi bahasa tulis. Ada beberapa pokok materi Ada dua materi yang kurang tepat yang dengan tema yaitu pada pertemuan tema. kurang tepat dengan keempat dan kelima dan sudah

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 disesuaikan lagi. 5 Guru 1 Penulisan kalimat yang belum benar 6 Guru 2 Kurang konsisten dalam penggunaan istilah atau kata Ditemukan ada beberapa kalimat yang salah penulisan dan sudah diperbaiki. Ada penggunaan kata yang kurang konsisten misalnya kata guru/peserta. tertentu Kesalahan tersebut, sudah diperbaiki. Penulisan huruf dalam kalimat yang kurang Ditemukan beberapa kalimat yang hurufnya kurang misalnya penulisan kata St. Fransiskus Asisi (Frasiskus). Kesalahan telah diperbaiki. Kalimat perintah kurang jelas Terdapat dalam modul penulisan perintah yang sulit dipahami dan sudah direvisi. 4.4.1 Revisi Produk Berdasarkan penilaian dan saran yang telah diberikan oleh para pakar Fransiskan dan dua orang guru SD 2 St. Fransiskus Asisi Bandar Lampung, maka peneliti melakukan revisi produk yang mencakup aspek tampilan, aspek perintah penggunaan modul, aspek urutan dan sitematis, dan aspek isi. 1. Aspek Tampilan Perubahan pada aspek tampilan meliputi: (1) perubahan pada cover yaitu cover tampil lebih sederhana dan lebih disesuaikan dengan tema dari modul itu

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 sendiri. (2) judul yang awalnya Meneladan St. Fransiskus yang “Berjiwa Besar”, berubah menjadi Modul Pembinaan “Guru Berjiwa Besar” Berlandaskan Semangat St. Fransiskus Asisi. 2. Aspek Perintah Penggunaan Modul Secara umum perintah penggunaan modul dan arah pemikirannya, semuanya telah terangkum dalam kata pengantar yang diletakkan dalam halaman awal modul setelah daftar isi. Tujuannya untuk mempermudah bagi pengguna modul. 3. Aspek Urutan/Sitematis Modul sebagai hasil produk dari penelitian ini, berisi empat pertemuan yaitu: Pertemuan pertama dengan tema “Beriman”. Tujuannya membantu para guru mencintai Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan sekaligus dapat merasakan penyertaan Allah dalam hidup sehari-hari. Pertemuan kedua adalah “Ugahari dan Sederhana”. Ugahari adalah sikap hidup seseorang yang dalam kepemilikan dan penggunaan harta benda tidak berlebih-lebihan namun berani berkata cukup. Penghayatan hidup ugahari ini, nampak dalam sikap hidup sederhana (=hidup bersahaja atau tidak berlebih-lebihan). Pertemuan ketiga akan membahas tentang “Murah Hati”. Murah hati adalah sikap mudah memberi kepada orang lain. Seorang yang murah hati, tidak akan berdiam diri ketika melihat sesamanya sakit, menderita dan membutuhkan pertolongan. Sikap ini akan muncul ketika seseorang tidak lagi memikirkan diri sendiri tetapi berani melihat keadaan sesamanya yang menderita. Pertemuan keempat yaitu “Aktif dalam Hidup

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Menggereja”. Makna Gereja selain sebagai bangunan tempat ibadah bagi orangorang yang percaya kepada Yesus Kristus, juga dimaknai sebagai sekumpulan orang (=komunitas) yang mengimani Yesus. Ciri komunitas (=Gereja) itu adalah menjalankan hidup dengan semangat cinta kasih dan pelayanan. 4. Aspek Isi Aspek isi dalam setiap pertemuan meliputi: a. Pengantar Pada bagian ini memberikan gambaran umum tentang nilai yang akan dibahas dari setiap pertemuan. b. Tujuan Tujuan merupakan gambaran arah pemikiran yang hendak dicapai. Rumusan tujuan yang hendak dicapai, disesuaikan dengan masing-masing tema yang akan dibahas dalam pertemuan yang akan berlangsung. c. Proses meliputi 1) Doa Pembuka Rumusan doa yang disajikan dalam setiap pertemuan menjadi kegiatan awal untuk memulai kegiatan sesuai dengan tema yang terkait. Doa yang telah dirumuskan sudah disesuaikan dengan tema. Tujuan dengan adanya doa pembuka adalah memohon rahmat Tuhan agar menyertai dalam pertemuan yang akan dilaksanakan. 2) Mendalami kisah Fransiskus Asisi Pada bagian ini dalam masing-masing pertemuan sesuai dengan tema, akan memperdalam secara rinci mengenai makna dari nilai yang akan

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 dibahas. Disajikan pula cerita tentang Fransiskus Asisi dalam upayanya mendalami dari masing-masing nilai tersebut. Tujuannya, supaya guru mengetahui bahwa Fransiskus pun berjuang dengan sepenuh hati dalam menghidupi dari masing-masing nilai tersebut. 3) Mendalami kisah St. Fransiskus Asisi dengan menjawab pertanyaan Bagian ini berisi tentang pertanyaan berkaitan dengan isi bacaan tentang kisah hidup Fransiskus Asisi yang sesuai dengan tema pertemuan. Tujuannya ialah untuk membantu mempermudah mendalami kisah hidup St. Fransiskus Asisi. 4) Pendalaman Kisah Hidup Pribadi Pada bagian ini akan ditampilkan sebuah kisah atau pengalaman nyata yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas. Harapannya, untuk mempermudah dalam memahami makna tema yang sedang dibahas yang dikaitkan dengan pengalaman hidup sehari-hari. 5) Penutup Berisi Rangkuman dan Doa Penutup Rangkuman singkat berisi tentang kesimpulan dari makna tema pertemuan yang telah dibahas sedangkan doa penutup sebagai ungkapan syukur pada Tuhan atas berkat-Nya yang telah menyertai dalam pertemuan yang telah berlangsung dan tetap memohon berkat untuk mewujudkan apa yang telah diterima hari itu. 4.4.2 Penilaian Dari Ahli Setelah tahap pertama penilaian oleh para pakar Fransiskan dan dua guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung, banyak hal yang harus diperbaiki oleh peneliti.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Berdasarkan hasil masukan yang telah mereka berikan, peneliti telah berusaha untuk memperbaiki produk yang telah dibuatnya. Sebagai langkah kedua untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, setelah selesai merevisi produk, peneliti kembali meminta para pakar dan dua guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung untuk kembali memberikan penilaian terhadap produk yang sudah direvisi. Berikut ini adalah hasil penilaian dari para pakar Fransiskan dan dua orang guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. 1. Pakar Fransiskan pertama Penilaian pada tahap kedua ini dilakukan pada tanggal 3 Mei 2014. Berikut ini adalah hasil penilaian berdasarkan modul yang sudah direvisi: a. Aspek Tampilan Tabel 4.27 Penilaian Aspek Tampilan No. Aspek yang dinilai 1 Desain Cover 2 Ketepatan pemilihan jenis huruf 3 Ketepatan ukuran huruf 4 Ketepatan warna huruf 5 6 7 8 9 10 11 12 1 Skala Penilaian 2 3 4 Komentar 5 √ √ √ √ √ Tata letak setiap halaman √ Warna halaman (1 warna atau lebih) √ Keterbacaan teks √ Ketepatan penempatan teks √ Kejelasan gambar √ Ketepatan penempatan gambar √ Kemenarikan gambar √ Ketepatan ukuran gambar Jumlah Jumlah skor 7 43 3 2

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No. Aspek yang dinilai Rerata skor Kriteria Penilaian Skala Penilaian 2 3 4 1 80 Komentar 5 3,5 Baik b. Aspek Perintah penggunaan Modul Tabel 4.28 Penilaian Aspek Perintah Penggunaan Modul No. Aspek yang dinilai 1 Kejelasan petunjuk penggunaan modul 2 Kejelasan instruksi dalam modul 3 Sistematika peneliti an petunjuk Skala Penilaian 2 3 4 1 5 √ √ √ Jumlah 1 Jumlah Skor 11 Rerata Skor 3,6 KriteriaAspek Perintah penggunaan Modul Komentar 2 Baik c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.29 Penilaian Aspek Urutan/Sistematis No. Aspek yang dinilai 1 Urutan tema yang disediakan 2 Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul 3 Penggunaan bahasa dalam modul Skala Penilaian 1 2 3 4 √ √ √ Jumlah 1 Jumlah Skor 11 Rerata Skor 3,6 Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis Baik 2 Komentar 5

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 d. Aspek Isi Tabel 4.30 Aspek Isi Skala Penilaian No. Aspek yang dinilai 1 Kelengkapan komponen dalam memuat modul (tujuan, materi kegiatan, refleksi). 2 Kesesuaina modul dengan tujuan yang akan dicapai. √ 3 Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ √ 4 Kemudahan materi dalam modul untuk memahami Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 5 Kesesuaian kegiatan untuk mendalami semangat Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 6 Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan NilaiNilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 1 3 4 √ 5 Komentar √ Jumlah 5 Jumlah Skor 25 Rerata Skor 4,1 Kriteria Aspek Isi 2 1 Baik Berdasarkan hasil penilaian dari pakar Fransiskan yang pertama, dapat dilihat pada tabel 4.27 sampai dengan tabel 4.30. Tampak dari penilaian tersebut, memiliki kriteria penilaian pada tabel 4.27 dengan skor 3,5 yang berarti “baik”, tabel 4.28 dan tabel 4.29 dengan skor masing-masing 3,6 dengan kualifikasi “baik”, dan pada tabel 4.30 dengan jumlah skor 4,1 berarti “baik”. Pada penilaian kedua ini pakar memberikan catatan yaitu bahwa pertemuan ke dua dengan tema hidup ugahari, dapat diintegrasikan menjadi satu kesatuan dengan pertemuan ke

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 tiga dengan tema hidup sederhana. Hal itu terjadi karena kedua tema memiliki persamaan makna yang sama. 2. Pakar Fransiskan kedua Pakar Fransiskan ini memberikan penilaian terhadap modul yang sudah direvisi pada tanggal 3 Mei 2014. a. Aspek Tampilan Tabel 4.31 Aspek Tampilan No. Aspek yang dinilai 1 Skala Penilaian 2 3 4 √ 1 Desain Cover 2 Ketepatan pemilihan jenis huruf √ 3 Ketepatan ukuran huruf √ 4 Ketepatan warna huruf 5 Tata letak setiap halaman 6 Warna halaman (1 warna atau lebih) √ 7 Keterbacaan teks √ 8 Ketepatan penempatan teks √ 9 Kejelasan gambar 10 Ketepatan penempatan gambar 11 Kemenarikan gambar 12 Ketepatan ukuran gambar Jumlah Jumlah skor Rerata skor Kriteria Penilaian Komentar 5 √ √ √ √ √ 5 46 3,8 Baik 4 √ 3

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 b. Aspek Perintah Penggunaan Modul Tabel 4.32 Penilaian Aspek Perintah Penggunaan Modul No. Aspek yang dinilai 1 Kejelasan petunjuk penggunaan modul 2 Kejelasan instruksi dalam modul 3 Sistematika peneliti an petunjuk 1 Skala Penilaian 2 3 4 5 √ √ √ Jumlah 1 Jumlah Skor 12 Rerata Skor 4 KriteriaAspek Perintah penggunaan Modul Komentar 1 1 Baik c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.33 Penilaian Aspek Urutan/Sistematis No. Aspek yang dinilai 1 Urutan tema yang disediakan 2 Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul 3 Penggunaan bahasa dalam modul Skala Penilaian 1 2 3 4 5 √ √ √ Jumlah 1 Jumlah Skor 14 Rerata Skor 4,6 Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis Sangat baik 2 Komentar

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 d. Aspek Isi Tabel 4.34 Aspek Isi No. Aspek yang dinilai 1 Kelengkapan komponen dalam memuat modul (tujuan, materi kegiatan, refleksi). 2 Kesesuaina modul dengan tujuan yang akan dicapai. 3 Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 4 Kemudahan materi dalam modul untuk memahami Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 5 6 Skala Penilaian 1 2 3 4 Komentar √ √ √ √ Kesesuaian kegiatan untuk mendalami semangat Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ Jumlah 2 Jumlah Skor 24 Rerata Skor 4 Kriteria Aspek Isi 5 2 2 Baik Berdasarkan tabel 4.31, tabel 4.32, dan tabel 4.34 masing-masing tabel mendapatkan kriteria “baik”. Sedangkan pada tabel 4.33 mendapatkan kriteria “sangat baik”.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 3. Pakar Fransiskan pakar ketiga Penilaian ini dilakukan pada tanggal 4 Mei 2014. Berikut ini adalah hasil penilaian untuk modul yang sudah direvisi: a. Aspek Tampilan Tabel 4.35 Penilaian Aspek Tampilan No. 1 2 3 4 5 6 7 Aspek yang dinilai Komentar Skala Penilaian 1 2 3 4 √ 5 Desain Cover √ Ketepatan pemilihan jenis huruf √ Ketepatan ukuran huruf √ Ketepatan warna huruf √ Tata letak setiap halaman √ Warna halaman (1 warna atau lebih) √ Keterbacaan teks 8 Ketepatan penempatan teks 9 Kejelasan gambar 10 Ketepatan penempatan gambar 11 Kemenarikan gambar 12 Ketepatan ukuran gambar √ √ √ √ √ Jumlah 5 Jumlah skor 46 Rerata skor 3,8 Kriteria Penilaian Baik 4 3

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 b. Aspek Perintah penggunaan Modul Tabel 4.36 Penilaian Aspek Perintah Penggunaan Modul No. Aspek yang dinilai 1 Skala Penilaian 2 3 4 1 Kejelasan petunjuk penggunaan modul 2 Kejelasan instruksi dalam modul √ 3 Sistematika peneliti an petunjuk √ 5 √ Jumlah 1 Jumlah Skor 11 Rerata Skor 3,6 KriteriaAspek Perintah penggunaan Modul Komentar 2 Baik c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.37 Penilaian Aspek Urutan/Sistematis No. Aspek yang dinilai 1 Urutan tema yang disediakan 2 Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul 3 Penggunaan bahasa dalam modul Skala Penilaian 1 2 3 4 5 √ √ √ Jumlah 1 Jumlah Skor 14 Rerata Skor 4,6 Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis Sangat baik 2 Komentar

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 d. Aspek Isi Tabel 4.38 Aspek Nilai Skala Penilaian 1 2 3 4 5 No. Aspek yang dinilai 1 Kelengkapan komponen dalam memuat modul (tujuan, materi kegiatan, refleksi). 2 Kesesuaina modul dengan tujuan yang akan dicapai. 3 Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai Besar” St. Fransiskus Asisi 4 Kemudahan materi dalam modul untuk memahami Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 5 Kesesuaian kegiatan untuk mendalami semangat Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 6 Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi Komentar √ √ “Berjiwa √ √ √ √ Jumlah 2 Jumlah Skor 24 Rerata Skor 4 Kriteria Aspek Isi Baik 4 Hasil penilaian yang telah diberikan oleh pakar ketiga Fransiskan ini, terjadi pada tanggal 4 Mei 2014. Hasil tersebut dapat dilhat dari tabel 4.36 sampai 4.38. secara garis besar, kriteria penilaian antara “baik” dan secara tegas beliau mengungkapkan bahwa modul tersebut layak untuk digunakan tanpa revisi.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 4. Pakar Fransiskan keempat Penilaian terakhir dari pakar keempat Fransiskan ini, terjadi pada tanggal 8 Mei 2014. Berikut ini adalah hasil penilainannya: a. Aspek Tampilan Tabel 4.39 Penilaian aspek tampilan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang dinilai 1 Skala Penilaian 2 3 4 Komentar 5 √ Desain Cover √ Ketepatan pemilihan jenis huruf √ Ketepatan ukuran huruf √ Ketepatan warna huruf √ Tata letak setiap halaman √ Warna halaman (1 warna atau lebih) √ Keterbacaan teks √ Ketepatan penempatan teks √ Kejelasan gambar √ Ketepatan penempatan gambar √ Kemenarikan gambar √ Ketepatan ukuran gambar Jumlah Jumlah skor Rerata skor Kriteria Penilaian 6 45 3,75 Baik 3 3

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 b. Aspek Perintah penggunaan Modul Tabel 4.40 Penilaian Aspek Perintah Penggunaan Modul No. 1 Aspek yang dinilai 1 Skala Penilaian 2 3 4 Kejelasan petunjuk penggunaan modul √ 2 Kejelasan instruksi dalam modul √ 3 Sistematika peneliti an petunjuk 5 √ Jumlah 1 Jumlah Skor 11 Rerata Skor 3,6 KriteriaAspek Perintah penggunaan Modul Komentar 2 Baik c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.41 Penilaian Aspek Urutan/Sistematis No. Aspek yang dinilai 1 Urutan tema yang disediakan 2 Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul 3 Penggunaan bahasa dalam modul Skala Penilaian 1 2 3 4 5 √ √ √ Jumlah 1 Jumlah Skor 14 Rerata Skor 4,6 Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis Sangat baik 2 Komentar

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 d. Aspek Isi Tabel 4.42 Aspek Isi No. Aspek yang dinilai 1 Kelengkapan komponen dalam memuat modul (tujuan, materi kegiatan, refleksi). 2 Kesesuaina modul dengan tujuan yang akan dicapai. 3 Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi 4 Kemudahan materi dalam modul untuk memahami Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi Skala Penilaian 1 2 3 4 5 Komentar √ √ √ √ √ 5 Kesesuaian kegiatan untuk mendalami semangat Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 6 Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi Jumlah 2 Jumlah Skor 24 Rerata Skor 4 Kriteria Aspek Isi Baik 4 Meninjau dari hasil penilaian berdasarkan tabel 4.39 hingga 4.42, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kriteria penilaian sangat tinggi yaitu berkisar antara penilaian “baik” oleh sebab itu modul ini dinyatakan bahwa dapat digunakan tanpa revisi lagi.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 5. Guru Pertama Di bawah ini, akan dipaparkan hasil penilaian akhir yang telah diberikan oleh guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung yang menjadi validator pertama: a. Aspek Tampilan Tabel 4.43 Aspek Tampilan No. Skala Penilaian Aspek yang dinilai 1 1 2 3 4 5 2 3 4 √ Ketepatan pemilihan jenis huruf √ Ketepatan ukuran huruf √ Ketepatan warna huruf √ Tata letak setiap halaman Warna halaman (1 warna atau lebih) √ 7 Keterbacaan teks √ 9 10 11 12 5 √ Desain Cover 6 8 Komentar √ Ketepatan penempatan teks √ Kejelasan gambar √ Ketepatan penempatan gambar √ Kemenarikan gambar √ Ketepatan ukuran gambar Jumlah 6 Jumlah skor 45 Rerata skor 3,75 Kriteria Penilaian Baik 3 3

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Aspek Perintah penggunaan Modul Tabel 4.44 Aspek Perintah Penggunaan Modul No. Aspek yang dinilai Skala Penilaian 1 2 3 4 5 1 Kejelasan petunjuk penggunaan modul √ 2 Kejelasan instruksi dalam modul √ 3 Sistematika peneliti an petunjuk √ Jumlah 1 Jumlah Skor 14 Rerata Skor 4,6 Kriteria Aspek Perintah penggunaan Modul Komentar 2 Sangat baik c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.45 Aspek Urutan/Sistematis No. 1 Aspek yang dinilai 2 Urutan tema yang disediakan Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul 3 Penggunaan bahasa dalam modul 1 2 3 4 5 √ √ √ Jumlah 1 Jumlah Skor 12 Rerata Skor 4 Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis Komentar Skala Penilaian Baik 1 1 92

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 d. Aspek Isi Tabel 4.46 Aspek Isi No. Skala Penilaian Aspek yang dinilai 1 2 3 4 1 Kelengkapan komponen dalam modul memuat (tujuan, materi kegiatan, refleksi). 2 Kesesuaian modul dengan tujuan yang akan dicapai. 3 Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 4 Kemudahan modul untuk memahami NilaiNilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 5 Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ √ Relevansi modul dengan kebutuhan para guru √ 7 Modul membuat para guru dapat terlibat aktif dalam setiap kegiatannya √ Daya √ tarik modul untuk Komentar √ 6 8 5 mendalami semangat hidup St. Fransiskus Asisi. Jumlah 4 Jumlah Skor 29 Rerata skor 3,6 Kriteria Aspek Isi 3 1 Baik Berdasarkan hasil penilaian dari guru 1 SD Fransiskus 2 Bandar Lampung tertanggal 5 Mei 2014, dapat dilihat pada tabel 4.43 dengan skor 3,75 yang berarti “baik”, tabel 3.44 dengan skor 4,6 berarti “sangat baik”, tabel 4.45 mendapat skor 4 yang berarti “baik” dan pada tabel 4.46 yang memperoleh kriteria “baik”.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 6. Guru Kedua Berikut ini adalah penilaian akhir yang diberikan oleh guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung sebagai validator kedua: a. Aspek Tampilan Tabel 4.47 Aspek Tampilan No. Aspek yang dinilai 1 Desain Cover 2 Ketepatan pemilihan jenis huruf 3 Ketepatan ukuran huruf 4 Ketepatan warna huruf 5 Tata letak setiap halaman 6 Warna halaman (1 warna atau lebih) 7 Keterbacaan teks 8 Ketepatan penempatan teks 9 Kejelasan gambar 10 Ketepatan penempatan gambar 11 Kemenarikan gambar 12 Ketepatan ukuran gambar 1 2 3 √ 4 5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Jumlah 7 Jumlah skor 42 Rerata skor 3,5 Kriteria Penilaian Komentar Skala Penilaian Baik 4 1

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Aspek Perintah penggunaan Modul Tabel 4.48 Aspek Perintah Penggunaan Modul No. Aspek yang dinilai 1 Kejelasan petunjuk penggunaan modul 2 Kejelasan instruksi dalam modul 3 Sistematika peneliti an petunjuk Skala Penilaian 1 2 3 4 5 √ √ √ Jumlah 2 Jumlah Skor 13 Rerata Skor 4,3 Kriteria Aspek Perintah penggunaan Modul Komentar 1 Sangat baik c. Aspek Urutan/ Sistematis Tabel 4.49 Aspek Urutan/Sistematis No. Aspek yang dinilai 1 Urutan tema yang disediakan 2 Urutan kegiatan-kegiatan dalam modul Penggunaan bahasa dalam modul 3 Skala Penilaian 1 2 3 4 5 √ √ √ Jumlah 1 Jumlah Skor 12 Rerata Skor 4 Kriteria Aspek Urutan/ Sistematis Baik 1 1 Komentar 95

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 d. Aspek Isi Tabel 4.50 Aspek Isi No. Aspek yang dinilai Skala Penilaian 1 2 3 Kelengkapan komponen dalam modul memuat (tujuan, materi kegiatan, refleksi). Kesesuaian modul dengan tujuan yang akan dicapai. Kesesuaian modul dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi Kemudahan modul untuk memahami NilaiNilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi Keefektifan modul untuk memfasilitasi guru dalam melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah mereka alami selama ini dengan Nilai-Nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi √ 6 Relevansi modul dengan kebutuhan para guru √ 7 Modul membuat para guru dapat terlibat aktif dalam setiap kegiatannya Daya tarik modul untuk mendalami semangat 1 2 3 4 5 8 4 √ 5 Komentar √ √ √ √ √ hidup St. Fransiskus Asisi. Jumlah 3 Jumlah Skor 30 Rerata skor 3,7 Kriteria Aspek Isi 4 1 Baik Perolehan penilaian dari guru kedua SD Fransiskus 2 Bandar Lampung berdasarkan tabel 4.47 mendapat skor 3,5 yang berarti “baik”, pada tabel 4.48 dengan skor 4,3 yang berarti “sangat baik”, tabel 4.49 mendapat skor 4 dengan kriteria “baik” dan tabel 4.50 dengan perolehan skor 3,7 mendapat kriteria penilaian “baik”.

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 4.5 Kajian Produk Akhir Kajian produk akhir ini, diperoleh dari masukan, saran dan komentar dari para pakar Fransiskan, dua orang guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung dan dosen penguji skripsi. Berdasarkan hasil analisis dosen dan beberapa ahli validator dikatakan bahwa tema ugahari dan kesederhanaan, diintergrasikan atau dijadikan satu kesatuan. Hal ini terjadi karena makna dari kedua tema hampir sama. Produk akhir ini berbentuk modul yang telah dikembangkan dengan menggunakan program Microsoft Office Word 2007. Dalam modul tersebut, terdapat beberapa unsur-unsur yaitu, (1) sampul atau cover, (2) kata pengantar, (3) daftar isi, (4) kegiatan inti, (5) referensi (6) biodata peneliti. 1. Sampul atau cover Sampul atau cover halaman depan dari modul ini terdapat judul, Modul Pembinaan Menjadi “Guru Berjiwa Besar” Berlandaskan Semangat St. Fransiskus Asisi. 2. Kata pengantar Bagian ini berisi tentang gambaran umum isi modul beserta arah pemikiran dan penggunaan modul. 3. Daftar isi Daftar isi berisi tentang petunjuk pokok isi modul beserta nomor halamannya. 4. Kegiatan inti Dalam kegiatan inti ini, terdapat empat kali pertemuan. Setiap pertemuan membahas satu tema tentang nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi yang meliputi beriman, ugahari dan sderhana, murah hati dan aktif dalam hidup menggereja.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 5. Referensi Referensi berisi tentang berbagai sumber yang telah peneliti gunakan untuk menyusun modul tersebut. 6. Biodata peneliti Pada bagian ini berisi tentang biodata peneliti . Produk pengembangan ini telah divalidasi dalam dua tahap oleh empat orang yang memahami spiritualitas Fransiskan dan dua orang guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. Hasil validasi yang kedua menujukkan kemajuan dibandingkan pada validasi yang pertama. Berikut ini adalah paparan peningkatan validasi dari tahap pertama ke tahap kedua: Tabel 4.51 Skor Penilaian Validator Tahap 1 Keterangan Tahap 2 Keterangan Fransiskan 1 2,9 Cukup 3,7 Baik Fransiskan 2 3,75 Baik 4,1 Baik Fransiskan 3 3,75 Baik 4 Baik Fransiskan 4 3,8 Baik 3,9 Baik Guru 1 3,47 Baik 3,9 Baik Guru 2 3,52 Baik 3,8 Baik Berdasarkan paparan tabel 4.51 pakar Fransiskan pertama memberikan penilaian 2,9 menurut Patokan Skala Lima dalam Widoyoko (2009:238) berarti “cukup”. Pada tahap kedua meningkat menjadi 3,7 menurut Patokan Skala Lima

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 dalam Widoyoko (2009:238) berarti “baik” hal ini terjadi setelah peneliti menambahkan bagian pokok bahasan sebelum masuk dalam pendalaman materi. Pakar Fransiskan kedua pada tahap penilaian pertama memberikan skor penilaian sebesar 3,75 hal ini menurut Patokan Skala Lima dalam Widoyoko (2009:238) berarti “baik”. Setelah peneliti melakukan revisi sesuai dengan masukan meningkat menjadi 4,1 berdasarkan Patokan Skala Lima dalam Widoyoko (2009:238) berarti “baik”. Peningkatan terjadi pula pada pakar yang ketiga dari skor pertama 3,75 menurut kriteria Patokan Skala Lima dalam Widoyoko (2009:238) berarti “baik”, menjadi 4 hal ini menurut Patokan Skala Lima dalam Widoyoko (2009:238) berarti “baik”. Peningkatan ini terjadi setelah peneliti memperbaiki cover yang masih kabur dan peneliti an kalimat yang tidak terstuktur. Tidak berbeda dengan pakar Fransiskan sebelumnya, pakar yang keempat juga memberikan peningkatan dalam penilaian. Berdasarkan revisi yang telah dibuat oleh peneliti penilaian meningkat dari 3,8 pada tahap pertama yang berarti “baik” menurut Patokan Skala Lima dalam Widoyoko (2009:238), menjadi 3,9 menurut Patokan Skala Lima dalam Widoyoko (2009:238) berarti “baik”. Demikian pula dengan penilaian yang dilakukan oleh dua orang guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung, mengalami peningkatan. Guru pertama pada penilaian pertama memberikan penilaian 3,47 setelah melakukan revisi menjadi 3,9. Pada guru kedua pada penilaian pertama memberikan skor 3,52 dan setelah melakukan revisi menjadi 3,8. Kedua penilaian tersebut menurut Patokan Skala Lima dalam Widoyoko (2009:238) berarti “baik”.

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN Pada bab ini akan diuraikan tentang kesimpulan hasil pengembangan yang memuat jawaban atas rumusan masalah, keterbatasan produk yang pengembangan dan saran untuk pengembangan selanjutnya. 5.1 Kesimpulan Penelitian yang dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk menghasilkan sebuah produk berupa modul untuk menjawab kebutuhan para guru di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung dalam upaya untuk mengenal nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi. Pembahasan hasil penelitian telah diuraikan pada bab sebelumnya. Berikut ini adalah kesimpulan dari keseluruhan bab yaitu sebagai berikut: 5.1.1 Prosedur pengembangan produk untuk menginternalisasi nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi yang dapat digunakan oleh para guru di SD 2 Fransiskus Bandar Lampung melalui beberapa tahapan yaitu: pertama analisis kebutuhan, melalui wawancara dan kuisioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan para guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung terhadap nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi, kedua pengembangan materi, ketiga tahap memproduksi dan keempat validasi dan revisi produk. 5.1.2 Bentuk produk yang dikembangkan untuk menginternalisasi nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi di SD 2 Fransiskus Bandar Lampung yaitu berupa modul yang berjudul Modul Pembinaan Menjadi “Guru Berjiwa 100

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Besar” Berlandaskan Semangat St. Fransiskus Asisi”. Adapun nilai-nilai “Berjiwa Besar” tersebut adalah beriman, ugahari dan sederhana, murah hati dan aktif dalam hidup menggereja. 5.1.3 Kualitas produk yang dikembangkan untuk para guru dalam menginternalisasi nilai-nilai “Berjiwa Besar” St. Fransiskus Asisi di SD 2 Fransiskus Bandar Lampung yang dilihat dari empat aspek yaitu aspek tampilan, aspek perintah penggunaan modul, aspek urutan sistematis dan aspek isi mendapat skor 4 dengan kriteria “baik” hal ini berdasarkan hasil validitas dari empat orang yang memahami spiritualitas Fransiskan dan dua orang guru SD Fransiskus 2 Bandar Lampung. 5.2 Keterbatasan Produk Peneliti merasa bersyukur, karena dapat menghasilkan produk pengembangan yang sangat berguna bagi para guru di SD Fransiskus 2 Bandar Lampung dan secara lebih luas, untuk yayasan peneliti. Penelitian ini masih banyak memiliki keterbatasan dalam mengembangkan produk ini. Berikut ini adalah beberapa keterbatasan yang peneliti rasakan dalam proses pengembangannya: 5.2.1 Judul yang semula “Meneladan Fransiskus yang Berjiwa Besar” menjadi Modul Pembinaan “Guru Berjiwa Besar” Berlandaskan Semangat St. Fransiskus Asisi. 5.2.2 Tema dalam modul yang semula ada lima tema menjadi empat tema yaitu beriman, ugahari dan sederhana, murah hati dan aktif dalam hidup Menggereja.

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.2.3 102 Nilai ugahari dan sederhana, tidak dapat dipisahkan melainkan menjadi satu kesatuan. 5.3 Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat diberikan bagi penelitian selanjutnya ialah: 5.3.1 Produk hasil pengembangan sebaiknya diujicobakan di lapangan melalui beberapa tahap. Misalnya tahap pertama kepada kelompok kecil kemudian direvisi lagi dan diujicobakan lagi pada kelompok yang lebih besar sehingga data yang dihasilkan akan beragam dan lebih valid. 5.3.2 Produk hasil pengembangan ini masih sangat sederhana dan belum menggunakan media elektronik. Akan lebih menarik, bila pendalaman materi menampilkan film-film St. Fransiskus Asisi sehingga akan lebih mudah dipahami dan tidak membosankan. 5.3.3 Tema-tema dalam modul ini, belum membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Padahal, Fransiskus Asisi dinobatkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1982 sebagai Santo Lingkungan Hidup.

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR REFERENSI Abdul, G. (2012). Desain Pembelajaran : Konsep, Model dan Aplikasinya dalam Perencanaan Pembelajaran. Yogyakarta: Ombak Duo Arifin, Z. (2011). Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosdakarya. Anwar, I. (2010). Pengembangan Bahan Ajar. Bandung: Direktori UPI Di akses dari http://www.kajianpustaka.com/2013/03/pengertian-kelebihankelemahan-modul-pembelajaran.html, tanggal 5 Mei 2014. Azwar, S. (2011). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Bigaroni, M. (2003). Legenda Perugia. Jakarta: Sekafi. Bintarto. (2004). Pengembangan Silabus dan Materi Pembelajaran Sastra Drama Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Kelas V Sekolah Dasar Pangudi Luhur Muntilan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Bodo, M. (2003). Fransiskus Perjalanan dan Impian. Jakarta: Sekafi. Budiningsih. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Conti, M. (2006). Identitas Fransiskan. Jakarta: Sekafi. Coughlin, F. E. (2010). “Serving Generously and Loving Rightly: Insights for a Value-Centered Life from the Franciscan Tradition” Journal Franciscan Perspective On Higher Education,Vol 7, No. 1. Cresswell, J. W. (2012). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cletus, G. (2008). Fransiskus dari Asisi. Jakarta: Sekafi Haessly, J. (2006). “Franciscan Values, Kinship, and Academic Service Learning” Journal Franciscan Perspective On Higher Education, Vol. 3, No. 1. Iriarte, L. (1995). Panggilan Fransiskan Jilid 1. Sibolga. Propinsialat Kapusin. Ladjar, L. (1988). Karya-karya Fransiskus Asisi. Jakarta: Sekafi. Ladjar, L. (2008). Fransiskus Asisi. Jakarta: Sekafi. Lengkong, P. (2009). Koleksi Games Seru. Yogyakarta : Percetakan Galangpress. 103

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 Masidjo. (1995). Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Mulyasa, H. E. (2009). Menjadi Guru Professional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Rosdakarya. Perry, M. (2007). “Franciscans International at the Service of Franciscan Colleges and Universities” Journal Franciscan Perspective On Higher Education, Vol 4, No.1. Richards, J. C. dkk. (2004). Developing Language Course Materials. Singapore: Seameo Regional Language Center. Rosali. (2010). Santo Fransiskus Asisi Pecinta Kehidupan. Yogyakart: PUSKAT. Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R& D. Bandung: Alfabeta Stoutzenberger, J. M dan Bohrer, J.D (2005). Meditasi Bersama Fransiskus Asisi. Jakarta: Sekafi. Talbot, J. M. (2007). Ajaran-Ajaran St. Fransiskus. Medan: Penerbit Bina Media Perintis. Tim Penyusun. (2004). Terpujilah Engkau Tuhanku. Jakarta: Sekafi. Tim Penyusun. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Tim Penyusun. (1982). Anggaran Dasar dan Cara Hidup Saudara-Saudari Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus. Pringsewu: Provinsialat FSGM. Tim Penyusun. (1994). Sejarah Kongregasi FSGM. Pringsewu: Provinsialat FSGM. Walters, J. D. (2009). Rahasia Meditasi. Yogyakarta: Kanisius. Wahyosudibyo, P. Y. (1984). Riwayat Hidup St. Fransiskus. Jakarta: Sekafi. Widoyoko, E. P. (2009). Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Winkel. (2009). Psikologi Pengajaran. Yogyakarta : Media Abadi. Vicarii, O. L. (1977). Wejangan dari Santo Fransiskus Asisi. Ende: Penerbit Nusa Indah.

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Perizinan 105

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.1 Surat Izin Penelitian 106

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.2 Surat Keterangan Telah Mengadakan Penelitian 107

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN Lampiran 2 Data Awal 108

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1 Hasil Wawancara 109

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2 Lembar Kuisioner 112

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 LAMPIRAN Lampiran 3 PRODUK

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(165)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hidup Selibat Pada Komunitas Calon Biarawan (Studi kasus: Komunitas Calon Biarawan di Biara ST. Fransiskus Asisi Seminari Tinggi Filsafat Teologi ST. Yohanes Kab. Simalungun Pematang Siantar)
6
120
137
Ajakan resolusi Paus Fransiskus (1).
0
0
1
Ajakan resolusi Paus Fransiskus (2).
0
0
1
Belajar dari Paus Fransiskus Mengajar dan Mempengaruhi Dunia.
0
0
4
Relevansi semangat kedinaan Santo Fransiskus Assisi dalam tugas pelayanan para Suster Fransiskus Dina (SFD) pada masa kini bagi kaum difabel.
1
15
164
Analisis minat siswa/i masuk Universitas Sanata Dharma Yogyakarta : studi kasus pada SMA Xaverius Pahoman dan Fransiskus Raja Basa Bandar Lampung - USD Repository
0
0
121
Analisis minat siswa/i masuk Universitas Sanata Dharma Yogyakarta : studi kasus pada SMA Xaverius Pahoman dan Fransiskus Raja Basa Bandar Lampung - USD Repository
0
0
121
Relevansi spiritualitas kosmis St. Fransiskus Asisi bagi pemberdayaan jemaat di Keuskupan Agung Pontianak dalam rangka pelestarian lingkungan hidup - USD Repository
0
4
177
Upaya inovasi pelaksanaan liturgi perayaan ekaristi di Paroki ST. Fransiskus Xaverius Kidul Loji Yogyakarta demi keterlibatan kaum muda - USD Repository
0
0
123
Hubungan pendidikan iman dalam keluarga kristiani dengan kecerdasan spiritual siswa/siswi SMP Santo Fransiskus Assisi Samarinda - USD Repository
0
0
124
Peranan spriritualitas persaudaraan Santo Fransiskus Asisi dalam semangat pelayanan para suster OSF Sibolga - USD Repository
0
0
145
Deskripsi tingkat kecemasan berbicara di depan kelas siswa kelas X dan kelas XI SMA Fransiskus Bandar Lampung tahun ajaran 2009/2010 - USD Repository
0
1
157
Peran pendampingan orang tua dalam sekolah minggu terhadap perilaku iman anak di Paroki St Fransiskus Assisi Berastagi - USD Repository
0
6
182
Pembinaan hidup religius para suster yunior kongregasi suster-suster Fransiskanes Sibolga dalam proses pematangan pribadi berdasarkan nilai-nilai spiritualitas Santo Fransiskus Asisi - USD Repository
0
4
142
Usaha menghayati usia lanjut berdasarkan spiritualitas Suster Fransiskus Dina San Damiano Pati melalui katekese model biblis - USD Repository
1
1
150
Show more