Faktor-faktor penyebab perilaku kenakalan remaja santri dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial - USD Repository

Gratis

0
0
113
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERILAKU KENAKALAN REMAJA SANTRI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI SOSIAL (Studi Deskriptif Pada Santri Putra Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh: Vitaly Rica Fernando NIM 091114069 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERILAKU KENAKALAN REMAJA SANTRI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI SOSIAL (Studi Deskriptif Pada Santri Putra Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh: Vitaly Rica Fernando NIM 091114069 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO “Ngawiti Ingsun Nglaras syi ‘iran Kelawan muji maring Pangeran Kang paring rahmat lan kenikmatan Rino wengine tanpo pitungan” (Gus Dur) “Betapa banyak jalan keluar yang datang setelah rasa putus asa dan betapa banyak kegembiraan datang setelah kesusahan. Siapa yang berbaik sangka pada Pemilik ‘Arasy dia akan memetik manisnya buah yang dipetik di tengah-tengah pohon berduri” (Q.S. ath-Thalaq : 4) “Uripe ayem rumongso aman, Dununge roso tondo yen iman Sabar narimo najan pas pasan, Kabeh tinakdir saking pangeran” (Gus Dur) “Kebodohan merupakan tanda kematian jiwa, terbunuhnya kehidupan dan membusuknya umur” (Vitaly Rica Fernando) iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Karya sederhana ini ku persembahkan untuk: Allah SWT Setiap orang yang mencintai dunia pendidikan khususnya Bimbingan dan Konseling... v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pernyataan Keaslian Karya Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka dengan mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang lazim. Yogyakarta, 18 Maret 2014 Penulis Vitaly Rica Fernando vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pernyataan Persetujuan Publikasi Saya yang bertanda tangan di bawah ini mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Vitaly Rica Fernando Nomor Induk Mahasiswa : 091114069 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERILAKU KENAKALAN REMAJA SANTRI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI SOSIAL (Studi Deskriptif Pada Santri Putra Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014) Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Yogyakarta, 18 Maret 2014 Yang menyatakan Vitaly Rica Fernando vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERILAKU KENAKALAN REMAJA SANTRI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN PRIBADI SOSIAL (Studi Deskriptif Pada Santri Putra Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014) Vitaly Rica Fernando Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2014 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kenakalan remaja yang paling tinggi menyebabkan kenakalan remaja santri di Asrama Sunan Gunung Djati dan menyusun usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial untuk membantu mengatasi kenakalan remaja Santri Asrama Sunan gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode survei. Subjek penelitian ini adalah Santri Putra Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta dengan jumlah 35 orang. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesione berdasarkan faktor-faktor penyebab perilaku kenakalan remaja. Validitas instrument menggunakan validitas isi dengan cara expert judgment. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan SPSS 15 dan diperoleh nilai koefisien reliabilitas 0,921. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Azwar (2011). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa faktor masyarakat lebih dominan menyebabkan kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati dibandingkan dengan faktor sekolah dan keluarga. Dalam membantu mengatasi kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati penelitian ini menyusun topik-topik bimbingan pribadi social sebagai berikut: 1) Pentingnya membangun komunikasi antar keluarga 2) Menciptakan kelas yang kondusif 3) Pentingnya mempunyai sahabat 4) Pentingnya menjaga fasilitas sekolah 5) Perkembangan tekhnologi zaman sekarang. Kata kunci: Kenakalan remaja, Pondok Pesantren, Bimbingan Pribadi Sosial. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT FACTORS CAUSING NAUGHTINESS OF STUDENTS AT TRADITIONAL MUSLIM SCHOOL AND ITS IMPLICATIONS TOWARD THE TOPICS OF PERSONALITY CONSULTATION (A Descriptive Study toward Traditional Muslim School Male Student at Sunan Gunung Djati Krapyak Dormitory Yogyakarta in 2013/2014) Vitaly Rica Fernando Sanata Dharma University Yogyakarta 2014 This study aims to discover the factors cause the highest level of adolescent naughtiness which cause naughtiness of traditional muslim school students at Sunan Gunung Djati Dormitory and to compile topics of personality consultation to overcome the naughtiness of Sunan Gunung Djati Krapyak Yogyakarta students in 2013/2014. The type of this study is descriptive using survey method. The subject of this study are 35 traditional muslim male students of Sunan Gunung Djati Dormitory Krapyak Yogyakarta. The process of data collecting used questionnaire which based on the factors cause naughtiness of adolescent. The validity instruments based on content validity using expert judgement. The reliability test used SPSS 15 and the result was realibility coefficient which valued 0,921. The technique used according to Azwar (2011) The result of this study stated that the society factors more dominant than the school and family factors in causing the naughtiness of traditional muslim male students of Sunan Gunung Djati Dormitory. In helping to overcome the naughtiness of Sunan Gunung Djati students, the writer compile some topics of personality consultation as follows: 1)The importance of communication in family 2) Creating condusive condition in the class 3)The importance of having bestfriend 4)The importance of mantaining the school facility 5) The modern technology development. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur atas berkah dan rahmat Allah SWT, sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Penulis banyak menerima bantuan, semangat, dan doa dari berbagai pihak yang sangat mendukung dalam penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Dr. Gendon Barus, M.Si selaku Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah membantu dan memberikan kelancaran dalam proses penyelesaian skripsi ini. 2. A. Setyandari, S.Pd., S.Psi., P.Si., M.A, selaku sekretaris Program Studi Bimbingan dan Konseling yang telah membantu dan memberikan kelancaran dalam proses penyelesaian skripsi ini. 3. Dr. Gendon Barus, M.Si selaku dosen pembimbing yang selalu meluangkan waktu dengan penuh kesabaran dan ketekunan dalam membimbing dan mendampingi penulis pada setiap tahap dan seluruh proses penyusunan skripsi ini. 4. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah mencurahkan ilmunya dengan sepenuh hati sehingga berguna untuk bekal hidup. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Saiful Bahri selaku Kepala Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang berkenan menerima dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian. 6. Khoironi selaku ustad pembimbing Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang bersedia membantu penulis dalam melaksanakan penelitian. 7. Seluruh Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta khususnya Santri Tsanawiyah atas kebersamaan dan kebahagiaannya saat penulis melaksanakan penelitian. 8. Kedua orangtua tersayang, Drs. Jafar Rodhi dan Ibu Setya Rini yang tiada henti-hentinya memberikan motivasi, doa, kasih sayang dan segalanya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 9. Adikku tersayang Valent Matovany yang selalu mendukung penulis dengan penuh kasih sayang, kebahagiaan, dan kebersamaan. 10. Alm (nenek Margareta Sumarti, kakek Suripto Nindyo Harjono, kakek Sugito Wiryono) yang selalu memberikan kasih sayang dan memotivasi serta memberikan dukungan dari penulis masih kecil hingga dewasa. 11. Kekasihku Lisbeth Riany Fernando yang selalu menemani, memberikan motivasi dan semangat pada penulis sehingga skripsi ini bisa terselesaikan. 12. Sahabat-sahabatku Deddy Setiawan, Puteri Rahmawati Cahyani, Florentina Oktivani Rossi Maharani, Aldian P.H, Arista Abriawati, Thomas Kris Susanto, Wiratama Rahman, Galih Herwin Prasetyo, Nupik Wahyu Widagdo, Albinus Embu Sella, Uut Triwiyarto, Rino Novidianta, Dwi Elok P.N, Sadtya xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Edy Nugroho,dan seluruh mahasiswa BK USD angkatan 2009 yang selalu memberikan motivasi, semangat, dan kebahagiaan. 13. Teman-teman kos “Amanah” Kazam, Syuhada, Yuli, Denis, Septia dan bu kost atas kebersamaannya dan kebahagiaannya. 14. Mas A. Priyatmoko, atas kesabaran dalam membantu penulis mengurus administrasi perkuliahan serta penyelesaian skripsi ini. 15. Perpustakaan USD beserta karyawan perpustakaan atas pelayanan pada penulis selama penulis menyelesaikan studi. 16. Kepada seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam skripsi ini namun penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Vitaly Rica Fernando xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................... ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................. iii HALAMAN MOTTO .......................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI.................................. vii ABSTRAK .......................................................................................... viii ABSTRACT .......................................................................................... ix KATA PENGANTAR ......................................................................... x DAFTAR ISI ....................................................................................... xi i i DAFTAR TABEL…………………………………………………….. xvi DAFTAR DIAGRAM………………………………………………… xviii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ..................................................... 1 B. Masalah Penelitian ............................................................. 7 C. Tujuan Penelitian................................................................ 7 D. Manfaat Penelitian .............................................................. 8 E. Definisi Operasional ........................................................... 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Remaja Santri ..................................................................... xiii 10

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Pengertian Remaja ........................................................ 10 2. Ciri-ciri Remaja ............................................................ 12 3. Tugas Perkembangan Remaja…………………………. 14 B. Kenakalan Remaja .............................................................. 17 1. Pengertian Kenakalan Remaja....................................... 17 2. Ciri-ciri Kenakalan Remaja........................................... 19 3. Bentuk-bentuk Kenakalan Remaja ................................ 19 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja.. 20 5. Dampak Kenakalan Remaja .......................................... 25 C. Pendidikan di Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta .............................. 27 1. Pengertian Pondok Pesantren ........................................ 28 2. Tujuan Pondok Pesantren.............................................. 29 3. Materi Pelajaran di Pondok Pesantren ........................... 29 4. Sistem Pengajaran di Pondok Pesantren ........................ 30 5. Santri ............................................................................ 31 D. Layanan bimbingan ............................................................ 32 1. Pengertian Bimbingan Pribadi Sosial………………….. 32 2. Tujuan Bimbingan Pribadi Sosial……………………... 33 3. Fungsi Bimbingan Pribadi Sosial……………………... 34 E. Layanan Bimbingan Pribadi Sosial Untuk Menanggulangi Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta ............................. xiv 35

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ................................................................... 37 B. Subjek Penelitian ................................................................ 37 C. Instrumen Penelitian ........................................................... 38 1, Format Pernyataan……………………………………… 38 2. Penentuan Skor…………………………………………. 39 3. Kisi-kisi Instrumen……………………………………… 40 D. Validitas dan Reliabilitas .................................................... 41 1. Validitas……………………………………………….. 41 2. Reliabilitas……………………………………………... 44 E. Proses Penelitian ................................................................ 46 1. Persiapan dan Pelaksanaan……………………………. 46 2. Teknik Analisis Data………………………………….. 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian .................................................................. 51 1. Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 ............. 51 2. Item Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 ............. 54 B. Pembahasan........................................................................ 62 C. Usulan Topik-topik Bimbingan yang Relevan Bagi Remaja xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 ................... 69 D. Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial……………………. 70 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ........................................................................ 79 B. Saran .................................................................................. 80 C. Kelemahan Penelitian……………………………………… 80 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 81 LAMPIRAN ....................................................................................... 83 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1: Kisi-kisi Instrumen Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati (sebelum uji coba)…………………. ............... 40 Tabel 2: Hasil Perhitungan Koefisien Korelasi Instrumen …………… 43 Tabel 3: Kriteria Guilford……………………………………………... 45 Tabel 4: Kisi-kisi Instrumen Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (setelah uji coba) …………………………………………….. Tabel 5 : Norma Kategorisasi Karakter Subjek Penelitian……………… 45 49 Tabel 6 : Kategorisasi Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014………………. 50 Tabel 7: Kategorisasi Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014……………….. 51 Tabel 8: Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014…………………………. Tabel 9 :Lima Item tertinggi Faktor Masyarakat yang Menyebabkan Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati xvii 53

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014………………………………………... 61 Tabel 10: Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial di Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta……………………….. xviii 76

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR DIAGRAM Diagram 1: Diagram Persentase Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014……………………………………. 52 Diagram 2: Item Pada Aspek Masyarakat Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta……………………… 53 Diagram 3: Item Pada Aspek Sekolah Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta……………………….. 57 Diagram 4: Item Pada Aspek Keluarga Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta………………………... 59 xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB 1 PENDAHULUAN Dalam bab ini diuraikan beberapa hal yang berhubungan dengan latar belakang masalah, masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan definisi operasional. A. Latar Belakang Masalah Pada zaman sekarang ini, kemajuan dan perkembangan melaju di berbagai bidang, informasi saat ini dapat dengan mudah menyebar ke seluruh penjuru dunia dengan cepat. Termasuk juga penyebaran nilai-nilai budaya juga dapat menjangkau setiap ruang di dunia ini dengan mudahnya. Hal ini karena kemajuan dalam bidang teknologi informasi. Oleh karena itu, jarak dan waktu tidak menjadi masalah lagi dalam dunia sekarang ini, semua terasa begitu dekat dan cepat. Masa dunia seperti sekarang ini biasa disebut era globalisasi. Di era globalisasi ini, pertukaran ataupun adopsi budaya sangat mudah terjadi, baik secara utuh maupun selektif. Akibatnya benturan dengan nilai-nilai yang bersifat antagonis juga tak terelakkan. Pendidikan, terutama pendidikan agama berperan penting dalam menyeleksi budaya yang masuk yang sekirannya dapat merusak citra moral bangsa dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Masyarakat Indonesia dikenal religius dan sangat menjiwai dalam beragama, berbangsa dan bernegara meskipun bukan negara yang berdasar agama. Akan tetapi, saat ini telah terjadi dualisme pendidikan di Indonesia, yaitu pendidikan umum yang mengedepankan pengembangan 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 daya akal dan pendidikan agama yang mengutamakan daya hati nurani. Saat ini yang lebih dikedepankan adalah pengembangan daya akal dengan pengetahuan umum melalui lembaga pendidikan umum. Sedangkan pengembangan daya hati nurani atau pendidikan agama kurang mendapat porsi. Mengacu pada hal itu, Pondok Pesantren menjadi satu lembaga penting untuk mengembangkan nilai-nilai agama yang bertujuan pada pengembangan daya hati nurani. Sementara lembaga-lembaga pendidikan formal lebih mengutamakan pendidikan umum, Pesantren dapat menjadi benteng bagi umat Islam untuk mempertahankan nilai-nilai religius dari serbuan budaya modern yang cenderung sekuler. Pesantren menjadi sentral pendidikan agama yang sangat penting peranannya di era sekarang ini. Arus perkembangan zaman yang melaju pesat memungkinkan kita terjebak pada budaya sekuler. Hal ini karena proses penyebaran informasi dan budaya yang bebas dan dapat dengan mudah menjangkau setiap daerah di dunia ini. Sedangkan budaya yang tersebar bukan hanya budaya yang sesuai dengan nilai-nilai agama saja, akan tetapi juga budaya yang berpotensi merusak moral bangsa. Bahaya yang mungkin timbul adalah lunturnya nilai-nilai moral, terutama bagi remaja, sebagai generasi penerus bangsa remaja sangat rentan terhadap pengaruh budaya bebas yang merusak moral. Untuk itulah perlu adanya filterisasi budaya atau paling tidak melestarikan budaya bangsa yang

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 bermoral dan beradab yang berguna untuk membekali para penerus bangsa yang akan mengarungi era gobal ini. Remaja sebagai bagian dari komunitas masyarakat sosial yang majemuk merupakan individu yang penuh potensi dan semangat, juga merupakan bagian terbesar dari anggota masyarakat dan bangsa Indonesia. Masa depan bangsa dan negara terletak dipundak dan tanggung jawab remaja ini mereka adalah tunas bangsa (Basri, 1996:3). Pada usia remaja, umumnya kondisi jiwa seseorang masih labil dan belum mempunyai pedoman yang kokoh. Masa remaja adalah masa bergejolaknya berbagai macam perasaan yang sering bertentangan satu sama lain. Pada remaja, sering nampak gejolak-gejolak yang ekstrim, dan ini terjadi di hampir semua remaja. Hal ini wajar, sebab pada usia ini mereka memiliki energi berlebih yang menyebabkan mereka suka ramai, berkelahi, lincah dan berani. Terlebih lagi didukung kondisi kejiwaan mereka yang belum stabil, bila tidak dibimbing dengan benar maka akan sangat mudah terpengaruh setiap budaya atau apa saja yang datang pada mereka. Di sinilah letak guru pembimbing dan pentingnya penanaman nilai-nilai agama pada anak untuk mengembangkan daya hati nurani mereka dan memperkuat keimanan mereka, dengan begitu segala potensi yang ada dalam diri para remajapun dapat berkembang dan diarahkan kearah yang positif. Dalam lembaga pendidikan seperti Pondok Pesantren, para santri dididik ilmu-ilmu keagamaan untuk menguatkan daya hati nurani mereka

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 dengan keimanan untuk menuju hal-hal baik, bukan hanya dengan mengaji atau sekolah saja, tapi peraturan yang mengikat merekapun mendidik mereka untuk selalu disiplin, patuh dan taat serta berkelakuan sesuai dengan ajaran agama Islam. Jadi tujuan pendidikan pondok pesantren adalah membentuk manusia yang memiliki kesadaran tinggi bahwa ajaran Islam merupakan ajaran yang bersifat menyeluruh. Selain itu pondok pesantren diharapkan memiliki kemampuan tinggi untuk mengadakan responsi terhadap tantangan-tantangan dan tuntutan-tuntutan hidup dalam konteks ruang dan waktu yang ada di Indonesia dan dunia abad sekarang (Madjid, 1997). Asrama Sunan Gunung Djati adalah salah satu asrama tempat tinggal para santri yang ada dibawah naungan pondok pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Asrama ini diperuntukkan bagi santri yang masih duduk dibangku Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Jadi yang tinggal di asrama ini adalah siswa yang sekaligus santri. Rata-rata santri yang tinggal di asrama ini masih berada pada jenjang usia remaja. Usia mereka berkisar antara 13 sampai 19 tahun. Meskipun mereka santri tetapi mereka juga adalah remaja, dan seperti remaja lainnya para santri di asrama Sunan Gunung Djati ini pun juga mengalami hal-hal yang lazimnya dialami oleh seorang remaja dan mereka melampiaskan dengan hal yang melanggar peraturan. Di asrama Sunan Gunung Djati, pendidikan berlangsung selama sehari semalam. Santri mulai menjalani aktivitas pendidikan dari bangun

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 tidur sampai tidur lagi di malam hari. Hampir tidak ada waktu untuk melakukan kegiatan yang tidak bernilai pendidikan. Akan tetapi, masih banyak sisi lain kehidupan santri di asrama ini. Sisi lain tersebut diantaranya adalah berbagai perilaku negatif santri atau dengan kata lain kenakalan remaja santri. Berdasarkan hasil wawancara dengan Wasul Mualif selaku ustad di Asrama Sunan Gunung Djati. Kenakalan-kenakalan remaja Santri diantaranya merokok, kencan atau pacaran, menginap di luar asrama, pencurian, bullying, dan lain-lain (27 Februari 2013). Dari permasalahan tersebut peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang kenakalan remaja pada kehidupan santri yang ada di asrama Sunan Gunung Djati. Hidup di pondok pesantren mendidik para santrinya untuk menjadi manusia disiplin. Peraturan yang dibuat juga mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mendidik siswanya agar bisa disiplin. Akan tetapi tidak semua siswa mentaati. Sesuai dengan perkembangannya bahwa periode remaja ditandai dengan usia bermasalah. Permasalahan yang umum dilakukan remaja santri adalah membolos sekolah, mencuri, berkelahi bahkan melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh asrama dan sekolah tersebut adalah salah satu bentuk permasalahan yang kerap dijumpai pada anak remaja santri pondok pesantren. Dalam kehidupan di pesantren harus di l i put i suasana kesederhanaan tetapi tetap agung. Sederhana bukan berarti pasif nrimo (pasrah) dan bukan karena melarat atau miskin, tetapi mengandung

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 kekuatan dan ketabahan dalam diri, penguasaan diri dalam menghadapi segala kesulitan. Dengan demikian, dibalik kesederhanaan itu terpancar jiwa besar, berani maju dalam menghadapi perjuangan hidup dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan disinilah hidup tumbuhnya mental/karakter yang kuat yang menjadi syarat bagi suksesnya perjuangan dalam segala segi kehidupan. Perlunya life skill ditingkatkan di pondok pesantren akhir-akhir ini menjadi penting sebagaimana realitas yang terjadi, sehingga di pondok pesantren tidak hanya difokuskan dengan pendidikan agama saja sehingga banyak dijumpai pada santri setelah keluar dari pondok pesantren banyak yang belum siap kembali ke masyarakat salah satunya memperoleh life skill sebagai bekal masa depannya. Semua hasil data penelitian akan di sumbangkan kepada pihak Pondok Pesantren Krapyak Asrama Sunan Gunung Djati guna untuk meminimalisir kenakalan remaja santri yang bermukim di pondok pesantren dengan cara menggunakan pendekatan bimbingan dan konseling yang menggunakan hati dan nurani untuk membantu seseorang dalam memecahkan masalah dan mampu berkembang dengan baik sesuai dengan tahap perkembangan hidupnya.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 B. Masalah Penelitian Berdasar latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, dapat dirumuskan pokok permasalahan penelitian sebagai berikut: 1. Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja manakah yang paling tinggi menyebabkan kenakalan remaja santri di Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak yogyakarta? 2. Usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial yang relevan untuk menanggulangi kenakalan remaja di Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta berdasarkan item-item instrument yang teridentifikasi tinggi? C. Tujuan Penelitian Berdasar pada latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka Penelitian ini bertujuan untuk 1. Mengetahui faktor-faktor penyebab kenakalan remaja manakah yang paling tinggi menyebabkan kenakalan remaja santri di Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. 2. Menyusun usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial yang relevan untuk membantu mengatasi kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta berdasarkan item instrument yang teridentifikasi tinggi.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 D. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian adalah: 1. Teoritis Hasil penelitian ini dimanfaatkan untuk menambah wacana yang berhubungan dengan Bimbingan dan Konseling, khususnya untuk penyusunan ragam bimbingan pribadi sosial dalam menangani kasus kenakalan remaja di kalangan Santri. 2. Praktis a. Bagi Santri: 1) Dapat memberi kesadaran baru kepada santri yang belum mengerti akan pentingnya layanan bimbingan dan konseling dalam perkembangan pribadinya. 2) Santri bisa menentukan tindakan atau perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-harinya. b. Bagi Guru Pembimbing asrama Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai dasar penyusunan topik-topik bimbingan pribadi sosial bagi santri. E. Definisi Operasional 1. Kenakalan remaja pada hakekatnya adalah berbagai perilaku remaja (santri) yakni dengan perbuatan atau tingkah l a ku tersebut bertentangan dengan nilai atau norma sosial yang ada di lingkungan hidupnya.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Bimbingan 9 pribadi sosial pada hakekatnya merupakan usaha bimbingan dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang bersifat pribadi dan sosial.. 3. Santri pada hakekatnya adalah orang yang selalu mengikuti seorang guru kemanapun guru ini pergi menetap, tentunya dengan tujuan dapat belajar mengenai suatu keahlian darinya.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Dalam bab ini diuraikan pengertian remaja, tugas perkembangan remaja, kenakalan remaja, ciri-ciri kenakalan remaja, bentuk-bentuk kenakalan remaja, faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja remaja, dampak kenakalan remaja, upaya mengatasi kenakalan remaja, pendidikan di Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, pengertian Pondok Pesantren, tujuan Pondok Pesantren, Santri, bimbingan pribadi sosial, tujuan bimbingan pribadi sosial, fungsi bimbingan pribadi sosial. A. Remaja Santri Pengertian Remaja Para ahli mengemukakan beberapa pendapat mengenai pengertian remaja. Hurlock (1994) mengatakan bahwa remaja dalam bahasa aslinya disebut adoslescence, berasal dari Bahasa Latin yaitu adoslescere yang artinya tumbuh. Istilah adoslescence sebenarnya memiliki istilah yang cukup luas, mencakup kematangan mental, emosional, dan fisik. Sedangkan menurut Darajat (1997) usia remaja merupakan masa bergejolaknya berbagai macam perasaan yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain. Masa tersebut merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjelang dewasa yang merupakan perkembangan terakhir bagi pembinaan kepribadian, atau masa persiapan untuk memasuki umur dewasa. Pada masa ini, problem yang dihadapi remaja tidak sedikit merekapun sangan peka terhadap 10

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 Pengaruh-pengaruh dari luar dirinya, baik itu bersifat negatif maupun positif. Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Peralihan bukan sekedar peralihan psikologis saja, tapi juga fisik. Gejala primer dalam masa pertumbuhan seorang remaja adalah adanya perubahan-perubahan pada fisiknya. Sedangkan perubahan psikologis muncul antara lain karena perubahan-perubahan fisik tersebut. Perubahan-perubahan fisik yang paling besar pengaruhnya dalam perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh. Misalnya, badan menjadi besar dan bertambah tinggi serta mulai berfungsinya alat reproduksi ditandai haid pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. Hurlock (1994) menyebutkan bahwa pada fase remaja, anak berada dalam masa puber. Pada masa ini remaja mempunyai beberapa tugas perkembangan, yaitu: a. Mencari hubungan baru dengan teman sebaya. b. Mencapai peran sosialnya. c. Menerima dan menggunakan fisiknya secara efektif d. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial dan bertanggungjawab. e. Mencapai kemandirian sosial. f. Mempersiapkan perkawinan. g. Memperoleh nilai etis sebagai pegangan untuk berperilaku.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 Mujib (2001) dalam Psikologi Islam, mengemukakan fase remaja termasuk dalam fase baligh. Fase baligh adalah fase dimana usia anak telah sampai dewasa. Usia ini anak telah memiliki kesadaran penuh akan dirinya, sehingga dia diberi beban tanggung jawab (taklif), terutama tanggung jawab sosial dan agama. Para ahli mengemukakan bahwa secara teoritis dan empiris dari segi psikologi, masa remaja dibagi menjadi dua yaitu masa remaja awal dan masa remaja akhir. 2. Ciri-ciri Remaja Masa remaja mempunyai ciri tertentu yang membedakan dengan periode sebelumnya. Ciri-ciri remaja menurut Hurlock (1994), adalah sebagai berikut: a. Masa remaja sebagai periode yang penting yaitu perubahan-perubahan yang dialami masa remaja akan memberikan dampak langsung pada individu yang bersangkutan dan akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. b. Masa remaja sebagai periode pelatihan. Disini berarti perkembangan masa kanak-kanak belum dapat dianggap sebagai orang dewasa. Status remaja tidak jelas, keadaan ini memberi waktu padanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan dirinya.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 c. Masa remaja sebagai periode perubahan, yaitu perubahan pada emosi perubahan tubuh, minat dan peran (menjadi dewasa yang mandiri), perubahan pada nilai-nilai yang dianut, serta keinginan akan kebebasan. d. Masa remaja sebagai masa mencari identitas diri, yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa peranannya dalam masyarakat. e. Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan. Dikatakan demikian karena remaja sulit diatur, cenderung berperilaku yang kurang baik. f. Masa remaja adalah masa yang tidak realistik. Remaja cenderung memandang kehidupan dari kacamata berwarna merah jambu, melihat dirinya sendiridan orang lain sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih dalam cita-cita. g. Masa remaja sebagai masa dewasa. Remaja mengalami kebingungan atau kesulitan didalam usaha meninggalkan kebiasaan pada usia sebelumnya dan didalam memberikan kesan bahwa mereka hampir atau sudah dewasa, yaitu dengan merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perilaku seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra. Adanya perubahan fisik maupun psikis pada diri remaja, kecenderungan remaja akan mengalami masalah dalam penyesuaian diri dengan

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 lingkungan. Hal ini diharapkan agar remaja dapat menjalani tugas perkembangan dengan baik-baik dan penuh tanggung jawab 3. Tugas Perkembangan Remaja Menurut Garrison (dalam Al-Mighwar, 2006) ada 6 kelompok pembagian tugas perkembangan remaja yaitu : a. Menerima Keadaan Jasmani. Pada periode pra-remaja (periode pubertas), anak tumbuh cepat yang mengarahkannya pada bentuk orang dewasa. Pertumbuhan ini diiringi juga oleh perkembangan sikap dan citra diri. Mereka memiliki gambaran diri seolah-olah sebagai model pujaannya. Remaja wanita biasanya sering mendambakan wajahnya secantik bintang film pujaannya, sementara remaja laki-laki sering berkhayal menjadi seorang pahlawan pujaannya. Mereka sering membandingkan dirinya dengan teman-teman sebayanya, sehingga akan cemas bila kondisinya tidak seperti model pujaannya atau teman-teman sebayanya. Pada masa remaja, hal itu semakin berkurang, dan mereka mulai menerima kondisi jasmaninya, serta memelihara dan memanfaatkannya seoptimal mungkin. b. Memperoleh Hubungan Baru dan Lebih Matang dengan Teman Sebaya Antara Dua Jenis Kelamin. Kematangan seksual yang dicapai sejak awal masa remaja mendorong remaja untuk menjalin hubungan social, terutama dengan lawan jenis.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Remaja diharapkan bisa mencari dan mendapatkan teman baru yang berlainan jenis. Mereka ingin mendapat penerimaan dari kelompok teman sebaya lawan jenis ataupun sesama jenis agar merasa dibutuhkan dan dihargai.kematangan fisik dan psikis banyak mempengaruhi penerimaan teman-teman sekelompok remaja dalam pergaulannya. Tanpa penerimaan teman sebaya, dia akan mengalami berbagai gangguan perkembangan psikis dan social, seperti membentuk geng sendiri yang berperilaku mengganggu orang lain. c. Menerima kondisi dan belajar hidup sesuai jenis kelaminnya. Sejak masa puber, perbedaan fisik antara laki-laki dan wanita tampak jelas lalu berembang matang pada masa dewasa. Apabila bentuk tubuhnya tidak memuaskan, mereka menyesali diri sebagai laki-laki atau wanita. Padahal, mereka seharusnya menerima kondisinya dengan penuh tanggung jawab. Remaja laki-laki harus bersifat maskulin, lebih banyak memikirkan soal pekerjaan sedangkan remaja wanita harus bersifat feminine, memikirkan pekerjaan yang berkaitan dengan urusan rumah tangga dan pola asuh anak. d. Mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Bebas dari kebergantungan emosional merupakan tugas perkembangan penting yang dihadapi remaja. Apabila tidak memiliki kebebasan emosional, mereka akan menemui berbagai kesukaran dalam masa

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 dewasa, tidak bisa membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan yang ditempuhnya. e. Mendapatkan kesanggupan berdiri sendiri dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Tugas lainnya adalah kesanggupan berdiri sendiri dalam masalah ekonomi karena kelak mereka akan hidup sebagai orang dewasa. f. Memperoleh nilai-nilai dan falsafah hidup. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa masalah yang berkaitan dengan kehidupan dan falsafah hidup seperti tujuan hidup, perilaku dirinya, keluarganya dan orang lain, serta soal keagamaan menjadi daya tarik tersendiri bagi remaja. Para remaja memang diharapkan memiliki pola pikir, sikap perasaan, dan perilaku yang menuntun dan mewarnai berbagai aspek kehidupannya dalam masa dewasa kelak. Dengan demikian mereka memiliki kepastian diri, tidak mudah bingung, tidak mudah terbawa arus kehidupan yang terus berubah yang pada akhirnya tidak mendapatkan kebahagiaan. Garisson (2006) membagi masa remaja menjadi remaja awal dan akhir. Menurutnya, tugas-tugas perkembangan remaja awal adalah: a. Mampu mengotrol diri sendiri seperti orang dewasa. Remaja awal diharapkan mampu mengontrol segala perbuatannya. Timbulnya tugas perkembangan ini akibat bertambahnya pekerjaan atau perbuatan remaja, baik yang boleh dilakukan atau yang tidak.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 b. Mendapat kebebasan. Tugas perkembangan lainnya bagi remaja awal adalah mendapatkan kebebasan. Maksudnya, remaja awal diharapkan belajar dan berlatih untuk menentukan pilihan, membuat keputusan dan bertanggung jawab dengan kebebasan ini remaja awal diharapkan tidak lagi bergantung pada orang tua dan orang dewasa lainnya. c. Bergaul dengan teman-teman lawan jenis. Rasa simpati, rasa tertarik untuk selalu bersama-sama dengan lawan jenisnya mulai di dasari oleh remaja awal, meskipun mereka masih meragukan apakah lawan jenisnya tertarik kepadanya, merasa malu untuk saling mendekat dan saling bergaul, merasa bimbang pada daya tarik dirinya sendiri bagi lawan jenisnya, sehingga tidak sedikit remaja yang tidak mau berpacaran. d. Memiliki citra diri yang nyata. Remaja awal juga diharapkan mampu menilai kondisi dirinya secara apa adanya. Maksudnya, kekurangannya serta mampu dapat mengukur menerima, kelebihan memelihara dan dan memanfaatkannya semaksimal mungkin, dan mampu mengukur apa saja yang disenangi atau tidak disenangi oleh teman-teman sebayanya. B. Kenakalan Remaja 1. Pengertian Kenakalan Remaja Kenakalan remaja biasa disebut dengan istilah juvenile delinquent berasal dari Bahasa Latin juvenilis dan delinquent. Juvenilis berarti

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja. Sedangkan delinquent berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggaran aturan, pembuat ribut, pengacau, peneror, dan sebagainya. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku menyimpang (Kartono, 2008). Sedangkan menurut Basri (1996) etimologi kenakalan remaja berarti suatu penyimpangan tingkah laku yang dilakukan oleh remaja sehingga mengganggu ketentraman diri sendiri dan orang lain. Menurut Kartono (2008) kenakalan remaja juga merupakan bagian dari sosiopatik atau penyakit sosial. Sosiopatik yaitu semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal. Gejala sosiopatik itu sendiri dapat berupa penyimpangan tingkah laku dari kebiasaan dan norma yang berlaku, struktur sosial yang menyimpang, peranan-peranan sosial, status dan interaksi sosial yang keliru, penyimpangan tingkah laku tersebut pada suatu tempat dapat sangat ditolak, meskipun di tempat lain dan waktu yang berbeda dapat diterima oleh kelompok masyarakat yang lain.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Melalui beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kenakalan remaja ialah tindakan perbuatan remaja yang bertentangan dengan hukum, agama, norma-norma masyarakat sehingga akibatnya dapat merugikan orang lain, mengganggu ketentraman umum dan juga merusak diri sendiri. 2. Ciri-ciri Kenakalan Remaja Agar bisa membedakan kenakalan remaja dengan aktivitas yang menunjukkan ciri khas remaja perlu diketahui ciri-ciri kenakalan remaja yaitu: a. Harus terlihat adanya perbuatan atau tingkah laku yang bersifat pelanggaran hukum yang berlaku dan pelanggaran nilai-nilai moral. b. Kenakalan tersebut mempunyai tujuan yang asosial yakni dengan perbuatan atau tingkah laku tersebut bertentangan dengan nilai atau norma sosial yang ada di lingkungan hidupnya. c. Kenakalan remaja dapat dilakukan oleh seorang remaja atau dapat juga dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok remaja. 3. Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja Bentuk-bentuk dan tingkat kenakalan remaja secara kualitatif dapat digolongkan menjadi tiga tingkatan Sarwono (2002) yaitu:

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 a. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, misalnya: perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan dan lain-lain. b. Kenakalan yang menimbulkan korban materi, misalnya: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, perampokan dan lain-lain. c. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak lain, misalnya: pelacuran, penyalahgunaan obat. d. Kenakalan yang melawan status, misalnya: membolos, minggat dari rumah. 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja Ada berbagai faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kenakalan remaja, yaitu faktor keluarga, sekolah dan masyarakat Kartono (2003). a. Faktor Keluarga Keluarga merupakan kesatuan terkecil dalam masyarakat namun menempati kedudukan yang primer dan fundamental. Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan masingmasing anggotanya terutama remaja yang masih dalam bimbingan tanggungjawab orangtuanya. Pengaruh keluarga dalam munculnya perilaku kenakalan remaja ada tiga hal, yaitu:

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 1) Keluarga tidak harmonis Dikatakan tidak harmonis apabila struktur keluarga tidak utuh lagi dan interaksi diantara keluarga tidak berjalan dengan baik. Masa remaja adalah masa dimana seseorang mengalami saat kritis sebab ia akan menginjak ke masa dewasa. Proses perkembangan yang serba sulit membuat remaja membutuhkan bantuan dan perhatian dari orangorang terdekatnya terutama keluarganya. Masalah keluarga broken home bukanlah hal baru tetapi merupakan masalah utama dalam akar-akar kehidupan remaja. 2) Pendidikan yang salah Pendidikan yang baik akan mengembangkan pribadi yang dewasa bagi anak namun pendidikan yang salah dapat membawa akibat tidak baik bagi perkembangan anak . 3) Komunikasi antar keluarga yang tidak baik Hal ini ditandai oleh tidak adanya komunikasi dan dialog yang baik antar anggota keluarga, keadaan ini akan memunculkan rasa frustasi dan jengkel pada anak-anak. Bila orangtua tidak memberikan kesempatan dialog dan komunikasi dalam arti yang sungguh-sungguh yaitu bukan basa-basi atau sekedar bicara pada hal-hal yang penting saja, anak-anak tidak mungkin mau mempercayakan permasalahannya dan membuka diri. Kenakalan remaja

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 dapat berakar pada kurangnya dialog dalam masa kanakkanak dan masa berikutnya karena orangtua selalu menyibukkan diri sehingga kebutuhan cinta kasih terabaikan pada akhirnya membuat anak menjadi terlantar dalam kesendirian. b. Faktor sekolah Sekolah merupakan tempat pendidikan kedua setelah keluarga. Terkadang tidak menutup kemungkinan sekolah menjadi penyebab dari timbulnya perilaku kenakalan remaja, hal ini bisa bersumber dari guru, fasilitas pendidikan dan lain-lain. 1) Faktor guru Kemampuan guru juga menentukan dalam usaha membina murid. Guru tidak hanya sekedar menguasai materi tapi bagaimana dia mampu menggunakan metode mengajar yang tepat sehingga akan memunculkan ketertarikan murid pada pelajaran tersebut. Guru yang baik tahu bagaimana caranya menghargai usaha khusus yang telah dilakukan murid. Mereka juga tahu bagaimana menciptakan keadaan dimana remaja merasa nyaman terhadap dirinya sendiri dan tahu bagaimana menghadapi remaja yang tidak menganggap pergi ke sekolah sebagai suatu hal yang penting untuk dilakukan, berbeda dengan guru yang bekerja tanpa dedikasi dan hanya sekedar bermotif mencari uang tanpa rasa

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 tanggungjawab biasanya bersikap tidak peduli dengan masalah murid. Akibatnya murid menjadi korban, kelas kacau, murid menjadi terlantar, disiplin murid menjadi menurun dan inilah yang bisa menjadi sumber kenakalan sebab guru tidak memberikan perhatian penuh pada tugasnya. 2) Faktor Fasilitas Pendidikan Fasilitas pendidikan dalam hal ini adalah gedung, alat-alat sekolah, fasilitas belajar dan lingkungan sosial lainya dimana lingkungan sekolah yang tidak teratur, kotor, tidak ada tanam-tanaman akan menimbulkan kebosanan. Kurangnya fasilitas atau alat-alat yang membantu kelancaran pendidikan membuat murid kesulitan dalam belajar dan tugas guru akan menjadi lebih berat. Selain itu, ketidaklengkapan fasilitas pendidikan dapat menyebabkan penyaluran bakat serta keinginan murid-murid menjadi terhalang sehingga ketika semuanya tidak dapat tersalur pada masa sekolah, mungkin akan mencari penyaluran pada hal-hal yang negatif. c. Faktor Masyarakat 1) Kurangnya pelaksanaan ajaran agama Masyarakat dapat pula menjadi penyebab munculnya perilaku kenakalan remaja terutama di lingkungan

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 masyarakat yang kurang sekali dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, padahal dalam ajaran agama banyak sekali hal-hal yang dapat membantu pembinaan remaja. Masyarakat yang kurang beragama tersebut merupakan sumber munculnya perilaku kejahatan dimana tingkah laku tersebut akan mudah mempengaruhi remaja yang sedang berada dalam masa perkembangan. 2) Masyarakatnya yang kurang memperoleh pendidikan Keterbelakangan pendidikan banyak terjadi dalam masyarakat dan hal ini berpengaruh pada bagaimana cara orangtua mendidik anak-anaknya dimana kurang memahami perkembangan jiwa anak, bagaimana membantu kea rah pendewasaan anak dan bagaimana membantu usaha sekolah dalam meningkatkan kecerdasan anak sehingga sering membiarkan saja keinginan anak-anaknya. Lingkungan dengan tingkat pendidikan yang rendah, sehingga banyak pengangguran dan kemiskinan akan berpengaruh pada kehidupan remaja, asumsinya adalah seseorang belajar menjadi kriminal karena interaksi. Apabila lingkunganya cenderung tidak baik, maka seseorang akan mempunyai kemungkinan besar untuk belajar tentang teknik dan nilai-nilai yang ada dan memungkinkan untuk menumbuhkan tindakan kriminal.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 3) Pengaruh norma-norma baru dari luar Kebanyakan anggota masyarakat beranggapan bahwa setiap norma yang datang dari luar itulah yang benar, melalui sarana televisi atau media massa, pergaulan sosial, model dan sebagainya. Remaja biasanya dengan mudah menelan apapun yang dilihatnya namun terkadang bertentangan dengan masyarakat yang masih berpegang pada normanorma asli yang bersumber pada agama dan adat istiadat. Pertentangan juga dapat timbul dari dalam diri remaja sendiri, yakni ketika norma-norma yang dianut dari rumah (keluarga) bertolak belakang dengan norma masyarakat yang menyimpang dari norma keluarga. Apabila secara terus-menerus terjadi konflik pada remaja yakni antara keinginannya dengan tuntutan masyarakatnya, maka akan timbul perilaku salah suai yang nantinya menimbulkan tingkah laku negative seperti menentang atau bermusuhan dengan dapat merugikan orang lain, mengganggu ketentraman umum dan juga merusak diri sendiri. 5. Dampak Kenakalan Remaja Remaja yang labil umumnya rawan sekali melakukan hal-hal yang negatif, di sinilah peran orang tua. Orang tua harus mengontrol dan mengawasi putra-putri mereka dengan melarang hal-hal

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 tertentu.Namun, bagi sebagian anak remaja, larangan-larangan tersebut malah dianggap hal yang buruk dan mengekang mereka. Akibatnya, mereka akan memberontak dengan banyak cara. Tidak menghormati, berbicara kasar pada orang tua, atau mengabaikan perkataan orang tua adalah contoh kenakalan remaja dalam keluarga. Dampak kenakalan remaja yang paling nampak adalah dalam hal pergaulan. Sampai saat ini, masih banyak para remaja yang terjebak dalam pergaulan yang tidak baik. Mulai dari pemakaian obat-obatan terlarang sampai seks bebas. Menyeret remaja pada sebuah pergaulan buruk memang relatif mudah, dimana remaja sangat mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif yang menawarkan kenyamanan semu. Akibat pergaulan bebas inilah remaja, bahkan keluarganya, harus menanggung beban yang cukup berat. Kenakalan dalam bidang pendidikan memang sudah umum terjadi, namun tidak semua remaja yang nakal dalam hal pendidikan akan menjadi sosok yang berkepribadian buruk, karena mereka masih cukup mudah untuk diarahkan pada hal yang benar. Kenakalan dalam hal pendidikan misalnya, membolos sekolah, tidak mau mendengarkan guru, tidur dalam kelas dan lain-lain. Kriminalitas bisa menjadi salah satu dampak kenakalan remaja. Remaja yang terjebak hal-hal negatif bukan tidak mungkin akan memiliki keberanian untuk melakukan tindak kriminal. Mencuri demi uang atau merampok untuk mendapatkan barang berharga.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 C. Pendidikan di Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Pesantren atau pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang cukup unik keren memiliki elemen dan karakteristik yang berbeda dengan lembaga pendidikan Islam lainnya. Elemen-elemen Islam yang paling pokok, yaitu: pondok atau tempat tinggal para santri, masjid, kitab-kitab klasik, kyai dan santri. Kelima elemen inilah yang menjadi persyaratan terbentuknya sebuah pcsantren, dan masing-masing elemen tersebut saling terkait satu sama dengan lain untuk tercapainya tujuan pesantren, khususnya, dan tujuan pendidikan Islam, pada umumnya, yaitu membentuk pribadi muslim seutuhnya (insan kamil). Adapun yang dimaksud dengan pribadi muslim seutuhnya adalah pribadi ideal meliputi aspek individual dan sosial, aspek intelektual dan moral, serta aspek material dan spiritual. Sementara, karakteristik pesantren muncul sebagai implikasi dari penyelenggaraan pendidikan yang berlandaskan pada keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian (menolong diri sendiri dan sesama), ukhuwwah diniyyah dan islamiyyah dan kebebasan. Dalam pendidikan yang seperti itulah terjalin jiwa yang kuat, yang sangat menentukan falsafah hidup para santri. Penyelenggaraan pendidikan pesantren berbentuk asrama yang merupakan komunitas tersendiri dibawah pimpinan kyai atau ulama, dibantu seorang atau beberapa ustadz (pengajar) yang hidup ditengahtengah para santri dengan masjid atau surau sebagai pusat peribadatan,

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 gedung-gedung sekolah atau ruang-ruang belajar sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar serta pondok-pondok sebagai tempat tinggal para santri. Kegiatan pendidikannya pun diselenggarakan menurut aturan pesantren itu sendiri dan didasarkan atas prinsip keagamaaan. Selain itu, pendidikan dan pengajaran agaman Islam tersebut diberikan dengan metode khas yang hanya dimiliki oleh pesantren. 1. Pengertian Pondok Pesantren Daradjat (1997) mengemukakan bahwa Pondok Pesantren adalah asrama pendidikan Islam tradisional dimana para siswanya tinggal dan belajar bersama di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang biasa disebut “Kyai”. Dalam sebuah pesantren sekurang-kurangnya biasanya terdiri dari tiga unsur, yaitu: a. Kyai, yaitu sebagai guru yang mengajarkan ilmu kepada para murid, biasanya kedudukanya sebagai pengasuh atau pemegang kendali pesantren. b. Santri, yaitu para murid yang belajar di pesantren, baik dia tinggal menetap di pesantren tersebut maupun tidak. c. Masjid, selain sebagai tempat ibadah, di pesantren masjid biasanya sekaligus berfungsi sebagai sentral kegiatan belajar mengajar.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 2. Tujuan Pondok Pesantren. Menurut Daradjat (1997), tujuan pondok pesantren dapat dibagi menjadi dua, yaitu: a. Tujuan umum, yakni mempersiapkan para santri untuk menjadi orang yang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kyai serta mengamalkannya dalam masyarakat. b. Tujuan khusus, yakni membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi muballigh Islam dalam masyarakat sekitar dengan ilmu dan amalannya. Dari tujuan di atas, dapat disimpulkan bahwa pesantren sebagai salah satu sub sistem pendidikan nasional, maka tujuannya pun harus bersifat integral, yaitu dapat menampung cita-cita ulama sekaligus negara. 3. Materi Pelajaran di Pondok Pesantren Daradjat (1997) mengemukakan bahwa sebagian besar mata pelajaran pondok pesantren terbatas pada kajian ilmu yang secara langsung membahas masalah aqidah, syari’ah, dan bahasa arab, antara lain Al Qur’an dengan tajwid dan tafsirnya, aqidah, fiqh dan ushul fiqhnya, hadist dengan musthola’ah hadistnya, bahasa Arab dengan alatnya seperti nahwu, shorf, bayan, ma’anii, badi’, tarikh, manthiq, dan tasawuf.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Namun demikian, pada masa sekarang ini kebanyakan pondok pesantren telah memiliki sistem pendidikan yang lebih modern, yaitu dengan mendirikan madrasah sebagai lembaga pendidikan formal yang berada dibawah naungan pondok pesantren. Mengenai kurikulum yang dipakai biasanya perpaduan antara kurikulum dari pemerintah dan pondok pesantren. Jadi bagi santri selain mengaji, mereka juga bisa mendapatkan pendidikan secara formal di madrasah. 4. Sistem Pengajaran di Pondok Pesantren Secara garis besar, pengajaran di Pondok Pesantren ada dua macam cara, yaitu: a. Sorogan Berasal dari kata Bahasa Jawa yang berarti sodoran atau yang disodorkan. Maksudnya suatu sistem belajar secara individu, dimana santri menyetorkan hasil belajarnya, baik berupa membaca Al Qur’an, kitab, atau telaahnya kepada kyai secara berhadapan langsung. Dengan begitu akan terjadi saling mengenal yang lebih akrab antara kyai dan santri, selain itu juga dapat menciptakan hubungan kyai-santri yang dekat karena kyai dapat mengenal santrinya secara lebih mendalam baik kemampuannya maupun pribadinya secara satu persatu. Kyai senantiasa berorientasi pada satu tujuan, yaitu selalu berusaha santri tidak hanya bisa membaca kitab saja, tetapi juga mengerti dan memahami isi kitab yang dikaji.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 b. Bandongan Hasbullah (1999) menyatakan bandongan sering disebut juga halaqoh, dimana dalam pengajian, seorang Kyai membaca sebuah kitab, sedang para santri membawa kitab yang sama kemudian mendengarkan dan menyimak bacaan atau dari Kyai. Kitab-kitab yang di pelajari adalah kitab kuning, taqrib dan La tahzan. 5. Santri Menurut Madjid (1997) asal-usul kata santri, ada dua pendapat yang bisa dijadikan acuan. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa santri berasal dari kata Sastri, sebuah kata dari bahasa sansekerta yang berarti melek huruf. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa kata santri berasal dari kata bahasa Jawa Cantrik yang artinya orang yang selalu mengikuti seorang guru kemanapun guru ini pergi menetap, tentunya dengan tujuan dapat belajar mengenai suatu keahlian darinya. Menurut Dhofier (1998) santri dapat digolongkan menjadi dua kelompok menurut statusnya, yaitu: a. Santri Mukim, yakni santri yang menetap di pondok pesantren, biasanya berasal dari daerah yang jauh. b. Santri Kalong, yakni santri yang tidak menetap di pondok pesantren, mereka nglaju, atau pulang-pergi untuk mengikuti pelajaran di pesantren. Biasanya berasal dari desa atau kampung-kampung di sekitar pesantren.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Santri memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan dan juga hak yang dapat dituntut bila tidak sesuai dengan peraturan. Sedangkan yang paling berkaitan erat dengan kenakalan remaja disini adalah mengenai santri sebagai remaja yang tinggal dalam Pondok Pesantren. Selain kewajiban yang tetuang dalam undang-undang tersebut, pada umumnya setiap sekolah atau lembaga pendidikan lainnya juga memiliki peraturan tertentu yang khusus berlaku di sekolah itu saja. Begitu juga dengan asrama sunan gunung djati, disini juga memiliki peraturan-peraturan yang khusus diterapkan pada para santri penghuninya. Maka apabila dengan sengaja melanggar ketentuan atau peraturan tersebut maka dapat disebut sebagai tindakan menyimpang atau kenakalan dan anak atau siswa pelakunya disebut anak nakal. D. Layanan Bimbingan Pribadi Sosial 1. Pengertian bimbingan Pribadi Sosial Ahmadi (1991) mengemukakan bahwa bimbingan pribadi sosial adalah seperangkat usaha bantuan kepada peserta didik agar dapat menghadapi sendiri masalah-masalah pribadi dan sosial yang dialaminya, mengadakan penyesuaian pribadi dan sosial, memilih kelompok sosial serta berdaya upaya sendiri dalam memecahkan masalah-masalah pribadi dan sosial yang dialaminya. Yusuf (2005) mengemukakan bahwa bimbingan pribadi sosial adalah bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah-masalah sosial dan pribadi.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 2. Tujuan Bimbingan Pribadi Sosial Yusuf (2005) mengemukakan tujuan yang ingin dicapai dari bimbingan pribadi sosial antara lain: a. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah, tempat kerja maupun masyarakat pada umumnya. b. Memiliki sikap toleran terhadap umat beragama lain dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibanya masingmasing.. c. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan oranglain. 3. Fungsi Bimbingan Pribadi Sosial Rima ( 2007) mengemukakan berbagai fungsi bimbingan pribadi sosial yaitu a. Belajar berkomunikasi yang lebih sehat sebagai media pelatihan bagi individu untuk berkomunikasi secara lebih sehat dengan lingkunganya. b. Belajar untuk mengungkapkan diri secara penuh dan utuh melalui bimbingan pribadi sosial diharapkan individu dapat dengan spontan, kreatif, inovatif dalam mengungkapkan perasaan, keinginan dan inspirasinya.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 c. Berubah menuju pertumbuhan pada bimbingan pribadi sosial konselor secara berkesinambungan memfasilitasi individu agar mampu menjadi agen perubahan bagi dirinya dan lingkunganya. Konselor juga berusaha membantu individu sedemikian rupa sehingga individu mampu menggunakan segala sumber daya yang dimilikinya untuk berubah. d. Menghilangkan gejala-gejala yang disfungsional. Konselor membantu individu dalam menghilangkan atau menyembuhkan gejala yang mengganggu sebagai akibat dari krisis. e. Pemahaman diri secara penuh dan utuh. Individu memahami kelemahan dan kekuatan yang ada dalam dirinya, serta kesempatan dan tantangan yang ada diluar dirinya. Pada dasarnya melalui bimbingan pribadi sosial diharapkan individu mampu mencapai tingkat kedewasaan dan kepribadian yang utuh dan penuh seperti yang diharapkan, sehingga individu tidak memiliki kepribadian yang terpecah lagi dan mampu mengintegrasi diri dalam segala aspek kehidupan secara utuh, selaras, serasi dan seimbang. f. Berlatih tingkah laku baru yang lebih sehat. Bimbingan pribadi sosial digunakan sebagai media untuk menciptakan dan berlatih perilaku baru yang lebih sehat. g. Individu mampu bertahan melalui bimbingan pribadi sosial diharapkan individu dapat bertahan dengan keadaan masa kini,

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 dapat menerima keadaan dengan lapang dada dan mengatur kembali kehidupanya dengan kondisi yang baru E. Layanan Bimbingan pribadi sosial untuk Menanggulangi Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Upaya untuk mencegah dan mengatasi kenakalan remaja ada tiga tindakan, yaitu: a. Tindakan Preventif yaitu segala tindakan yang bertujuan mencegah timbulnya kenakalan. Upaya ini bisa dilakukan dengan beberapa pendekatan, misalnya pendekatan psikologis dan keagamaan. Ini adalah usaha yang paling mudah dan efektif untuk dilakukan, karena bersifat pencegahan, karena jika kenakalan sudah meluas akan lebih sulit untuk menanggulanginya. Namun demikian, upaya ini tidak bisa dilakukan secara sepihak, tetap harus melibatkan orang lain. Upaya ini menurut ruang lingkupnya terbagi menjadi tiga, yaitu: 1)Dalam keluarga 2) Dalam sekolah 3) Dalam masyarakat. b. Tindakan Represif yaitu tindakan untuk memberikan tekanan dan menahan kenakalan yang lebih parah. Adapun jenis dan proses pelaksanaan dari upaya ini antara lain: 1) Anak dikembalikan kepada orang tuanya atau walinya 2) Dijatuhi hukuman. Dalam hal pelaksanaanya hendaknya usaha yang dilakukan, baik berupa pengusutan, penahanan, penuntutan, maupun hukuman yang dilakukan menjamin rasa kasih sayang kepada anak atau remaja.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Sebaiknya menghindari anggapan bahwa mereka jahat dan pantas dihukum atau dibenci, tapi anggaplah mereka orang baik yang terlanjur berbuat kesalahan karena suatu sebab. Jika pelaksanaan upaya tersebut dapat dilaksanakan dengan penuh pengertian dan kasih sayang maka tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. c. Tindakan Kuratif dan rehabilitasi adalah revisi akibat perbuatan nakal terutama individu yang telah melakukan kenakalan tersebut. Menurut Kartono (2008) diantara bentuk-bentuk pelaksanaan dari upaya ini adalah: 1) Menghilangkan semua sebab-sebab kenakalan remaja. 2) Melakukan perubahan lingkungan. 3) Memberi latihan pada remaja untuk hidup tertib. 4) Memanfaatkan waktu senggang untuk kegiatan positif. 5) Memperbanyak lembaga pelatihan kerja bagi remaja. 6) Menggiatkan organisasi pemuda atau remaja dengan programprogram latihan voksional untuk mempersiapkan remaja dalam pasaran kerja. Tindakan ini tidak hanya ditujukan pada anak atau remaja yang bersangkutan saja, tetapi juga pada orang tua maupun pengasuh juga, agar supaya mereka memperoleh pengetahuan tentang cara yang lebih baik dalam membina anak.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab ini diuraikan beberapa hal yang berhubungan dengan metodologi penelitian, yaitu jenis penelitian, variabel penelitian, subyek penelitian, instrumen penelitian/alat ukur dan teknik analisis data. A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan metode survei. Menurut Furchan (2005) penelitian deskriptif dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat penelitian dilakukan. Menurut Rahmat (2000) penelitian deskriptif bertujuan mengidentifikasikan masalah atau memeriksa kondisi dan praktek yang berlaku. Tujuan penelitian deskriptif adalah melukiskan variabel atau kondisi “apa yang ada” dalam suatu situasi (Furchan, 2005). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui faktor-faktor yang paling dominan tinggi penyebab kenakalan remaja santri putra Asrama Sunan Gunung Djati Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014. B. Subyek Penelitian Subyek penelitian ini adalah para santri yang bermukim di Asrama Sunan Gunung Djati tahun ajaran 2013/2014. Peneliti memilih asrama Sunan Gunung Djati sebagai tempat penelitian karena (1) asrama Sunan Gunung Djati mudah dijangkau oleh peneliti. (2) Santri asrama Sunan Gunung Djati tergolong remaja dengan usia rata-rata 12-16 tahun. Sampel penelitian ini sebanyak 35 santri, dari 350 santri. Sampel penelitian ini diambil dengan teknik Sampling Purposive. Sugiyono (2011) menyatakan bahwa Sampling Purposive adalah teknik penentuan 37

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 sampel dengan pertimbangan tertentu yaitu pertimbangan dengan berdasarkan usia remaja antara 12 sampai 16 tahun dan domisili subjek dari berbagai daerah di pulau Jawa. C. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner faktor penyebab kenakalan remaja. Menurut Arikunto, (2002) angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahuinya. Kuesioner ini menggunakan 3 variabel yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat. Kuesioner dirancang untuk mengetahui faktor-faktor yang dominan menyebabkan kenakalan remaja santri asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. 1. Format Pernyataan Kuesioner ini berbentuk pernyataan tertutup dengan menyediakan empat jawaban pada setiap itemnya. Pernyataan yang disajikan dibedakan menjadi pernyataan favorable dan unfavorable yaitu: a. Untuk pernyataan yang mendukung (favorable) mencerminkan aspek penyebab kenakalan remaja santri asrama Sunan Gunung Djati. b. Untuk pernyataan yang tidak mendukung (unfavorable) atau yang tidak mengarah terhadap aspek penyebab kenakalan remaja santri asrama Sunan Gunung Djati.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 2. Penentuan Skor (scoring) Penentuan skor untuk setiap jawaban dari item-item pernyataan adalah sebagai berikut: a. Untuk pernyataan yang tidak mendukung (unfavorable) atau yang tidak mengarah terhadap aspek penyebab kenakalan remaja, jawaban “Sangat Setuju” (SS) diberi skor 1, “Setuju” (S) diberi skor 2, “Tidak Setuju” (TS) diberi skor 3 dan “Sangat Tidak Setuju” (STS) diberi skor 4. b. Untuk pernyataan yang mendukung (favorable) atau yang mencerminkan aspek penyebab kenakalan remaja, jawaban “Sangat Setuju” (SS) diberi skor 4, “Setuju” (S) diberi skor 3, “Tidak Setuju” (TS) diberi skor 2 dan “Sangat Tidak Setuju” (STS) diberi skor 1. Subyek diminta untuk memilih satu dari empat alternatif jawaban yang disediakan peneliti pada setiap pernyataan, dengan memberikan tanda centang (√) pada alternatif jawaban. Guna mengungkap penyebab kenakalan responden, keseluruhan jawaban diakumulasi. Semakin tinggi skor total pada item-item yang tidak mendukung (unfavorable), maka semakin rendah penyebab kenakalan para santri. Demikian pula sebaliknya, semakin tinggi skor total pada item-item yang mendukung (favorable), maka semakin tinggi penyebab kenakalan para santri. Tingkat kemampuan tersebut nampak konsistensi munculnya/tampilnya perilaku tersebut. Indikator-indikator untuk berdasarkan penyebab kenakalan remaja. menyusun kuesioner dibuat

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 3. Kisi-kisi Instrument Kisi-kisi instrument disusun berdasarkan faktor-faktor penyebab kenakalan remaja. Kisi-kisi item kenakalan remaja pada Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun ajaran 2013/2014 sebelum uji coba dapat dilihat pada tabel di halaman selanjutnya. Tabel 1 Kisi-kisi Instrumen Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati (sebelum uji coba) Aspek Indikator Keluarga Kurangnya pendidikan dalam keluarga Sekolah Masyara kat Total No Item Favorable Unfavorable agama 2, 3 Jumlah 1, 4, 5 5 Pendidikan yang salah dari orangtua 6, 7, 9, 10 Kondisi rumah tangga yang tidak 13, 14 harmonis 8 11,12, 16 5 15, 6 Komunikasi yang kurang antara orangtua dan anak 18, 21, 22, 9 23, 24 baik 17,19, 20, 25 Pendidik tidak bias menciptakan 26 suasana proses belajar yang baik Pengaruh pergaulan dari teman sebaya di sekolah Kurangnya organisasi dalam sekolah Fasilitas sarana dan prasarana kurang memadai Pengaruh teman sebaya dirumah 27, 28, 29, 7 30, 31, 32 35, 36, 37, 33, 34 6 38 41, 44, 45 39, 40, 42, 8 43, 43 46 47, 48, 49 4 52, 55, 56 Kurangnya sarana pemanfaatan 59, 60, 61 waktu dengan kegiatan positif bagi remaja Pengaruh media massa 69, 70 Kurangnya pendidikan keagamaan 64 dalam masyarakat 30 50,51, 54 57, 58 53, 6 5 66, 67, 68 62, 63, 65 5 4 40 70

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 D. Validitas dan Reliabilitas Instrumen penelitian digunakan untuk memperoleh hasil olah data tentang variabel. Alat ukur tersebut harus valid dan reliabel. 1. Validitas Validitas merupakan taraf kemampuan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Saifudin, 2001). Dari cara estimasinya yang disesuaikan dengan sifat dan fungsi setiap test, validitas pada umumnya digolongkan dalam tiga kategori, yaitu validitas isi, validitas konstrak, dan validitas berdasarkan kriteria. Validitas kuesioner ini adalah validitas isi. Sebagaimana namanya, validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi test dengan analisis rasional atau lewat professional judgement (Saifudin, 2001). Dalam penelitian ini validitas isi diperiksa oleh Juster Donal Sinaga, M.Pd., selaku dosen pembimbing skripsi di Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Juster Donal Sinaga, M.Pd., memberi koreksi dan masukan untuk lebih memperhatikan pernyataan dalam item. Pertama, membuat pernyataan item yang favorable dan unfavorabel. Kedua, menghilangkan kata yang bernuansa frekuensi pada pernyataan, misalnya “teman-teman sering mengajak saya berkelahi dengan sekolah lain”. Kata “sering” sebaiknya dihilangkan saja sehingga menjadi “teman-teman mengajak saya berkelahi dengan sekolah lain”. Ketiga, memastikan pernyataan menunjukkan

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 tentang kenakalan remaja. Selain itu, validitas isi juga diperiksa oleh Drs. Margono, Beliau adalah guru BK SMP Negeri 1 Yogyakarta memberi koreksi dan masukan mengenai penulisan item dan tanda baca. Kata “mempukul” yang benar memukul. Pemeriksaan ini dilakukan guna menelaah kualitas konstruk secara logis dari setiap butir item pernyataan kuisioner kenakalan remaja santri yang disusun oleh peneliti. Validitas isi mencari sejauh mana isi test mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur. Dikarenakan estimasi validitas ini tidak melibatkan perhitungan statistik apapun melainkan hanya analisis rasional, maka bisa terjadi perbedaan pendapat mengenai sejauh mana validitas isi suatu tes tercapai, maka diperlukan untuk mengetahui koefisien korelasi untuk menguji daya beda. Teknik yang digunakan adalah korelasi product momen dari Pearson, dengan rumus sebagai berikut (Azwar, 2007) N rXY = N X2 XY X X 2 N Y Y2 Y 2 Keterangan : rXY = Koefisien korelasi skor item ganjil/genap N = Jumlah subyek ∑X = Skor belahan item ganjil ∑Y = Skor belahan item genap Sebagai kriteria penilaian item berdasarkan korelasi skor tiap item dan skor total, digunakan batas minimal 0,30. Jadi item yang memiliki

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 ≥0,30 dianggap valid. Setelah dianalisis dengan program Analisis Kesahihan Butir Seri Program Statistik (SPSS versi 15.00), maka diperoleh 58 item valid dan 12 item yang gugur. Hasil analisis tersebut kemudian ditata dan diurutkan kembali penomoranya agar mudah dalam perhitungan. Berdasarkan kriteria penilaian di atas ada, 12 item pernyataan kuesioner yang dinyatakan tidak valid yaitu item 5, 8, 11, 13, 29, 30, 32, 49, 50, 53, 54, 67. Tabel 2 Hasil Perhitungan Koefisien Korelasi Instrumen Aspek Keluarga Sekolah Masyarakat Total No Item Favorable Unfavorable Valid Tidak Valid 2, 3 1, 4, 5 2, 3, 1, 4 5 6, 7, 9, 10 13, 14 8 11,12, 15, 16 6,7,9,10 14, 12,15, 16 8 11, 13 17 ,19, 20, 25 18, 21, 22, 23, 24 26 27, 28, 29, 30, 31, 32 17,19,20, 25,18,21, 22,23,24 26,27,28, 31,32 35, 36, 37, 38 41, 44, 45 33, 34 39, 40, 42, 43 46 52, 55, 56 59, 60, 61 47, 48, 49 50,51, 53, 54 57, 58 69, 70 66, 67, 68 64 62, 63, 65 30 40 35,36,37, 38,33,34 41,44,45, 39,40,42, 43 46,47,48 55,56,51,52 59,60,61, 57,58 69,70,66, 68 64,62,63, 65 58 29, 30, 32 49 50, 53, 54 67 12

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 2. Reliabilitas Reliabilitas menunjuk pada pengertian apakah sebuah instrumen dapat mengukur sesuatu yang diukur secara konsisten dari waktu ke waktu (Saifudin, 2001). Jadi kata kunci untuk syarat kualifikasi suatu instrumen pengukuran adalah konsisten, keajegan atau tidak berubah-ubah. Pengujian reliabilitas pada penelitian ini menggunakan pendekatan koefisien Alpha Cronbach (α). Penggunaan teknik analisis Alpha Cronbach ini didasarkan atas pertimbangan penghitungan reliabilitas skala diperoleh lewat penyajian satu bentuk skala yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok responden atau single trial administration (Azwar :2011). Rumus koefisien reliabilitas alpha adalah sebagai berikut: α = 2[1- Sx 2 + Si 2 Sx 2 ] Keterangan rumus : S12 dan S22 : varians skor belahan 1 dan varians skor belahan 2 Sx2 : varians skor skala Berdasarkan hasil data penelitian yang telah dihitung melalui program komputer Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 16.0 for Window, diperoleh perhitungan reliabilitas seluruh instrumen dengan menggunakan rumus koefisien alpha (α), yaitu 0,921. Hasil perhitungan dikonsultasikan ke kriteria Guilford. Kriteria Guilford dapat dilihat pada tabel di halaman selanjutnya.

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Tabel 3 Kriteria Guilford Koefisien Korelasi Kualifikasi 0,91 -1,00 Sangat Tinggi 0,71 – 0,90 Tinggi 0,41 – 0,70 Cukup Tinggi 0,21 – 0,40 Rendah Negatif -0,20 Sangat Rendah (Azwar, 2011) Berdasarkan kriteria Guilford dapat disimpulkan bahwa koefisien reliabilitas kuesioner termasuk sangat tinggi artinya, instrumen penelitian terpercaya atau reliabel. Kisi-kisi penelitian disusun berdasarkan faktor-faktor penyebab kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014. Setelah uji coba kisi-kisi ditata kembali, seperti tampak pada Tabel 4. Tabel 4 Kisi-kisi Instrumen Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (setelah uji coba) Aspek Keluarga Sekolah Indikator Kurangnya pendidikan agama dalam keluarga Pendidikan yang salah dari orangtua Kondisi rumah tangga yang tidak harmonis Komunikasi yang kurang baik antara orangtua dan anak Pendidik tidak bisa menciptakan No Item Jumlah Favorable Unfavorable 2, 3 1, 4, 5, 6, 7, 8 9 18 10, 12, 14 11, 13, 16 15 17, 18 19, 20 21, 22

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 suasana proses belajar yang baik Pengaruh pergaulan dari teman sebaya di sekolah Kurangnya organisasi dalam sekolah Fasilitas sarana dan prasarana kurang memadai Pengaruh teman sebaya dirumah Kurangnya sarana pemanfaatan waktu dengan kegiatan positif bagi remaja Pengaruh media massa Kurangnya pendidikan keagamaan dalam masyarakat Masyarakat Total 25, 26, 27 23, 24 28, 31, 34 29, 30, 32, 33 35, 36 37, 38 40, 43 39, 41, 42 44, 47, 48 45, 46 57, 58 53, 54, 55, 56 52, 49 51, 50 29 29 20 20 58 E. Proses Penelitian 1. Persiapan dan pelaksanaan a. Mempelajari buku-buku tentang kenakalan remaja dan pondok pesantren b. Menyusun kuesioner tentang kenakalan remaja c. Menetapkan dan mendefinisikan variabel penelitian, yaitu faktor penyebab kenakalan remaja santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013. d. Menjabarkan variabel penelitian ke dalam aspek-aspek dan indikator-indikatornya.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 e. Menyusun item-item pernyataan sesuai dengan aspek dan indikator yang sudah dibuat. f. Melakukan expert judgment alat penelitian kepada dosen ahli dan guru BK SMP N 1 Yogyakarta. g. Menguhubungi dan bertemu dengan Kepala Pondok asrama Sunan Gunung Djati dan pembimbing asrama Sunan Gunung Djati dan meminta ijin untuk mengadakan uji coba alat penelitian. h. Melaksanakan uji coba penelitian di Asrama Sunan Gunung Djati dengan responden 30 orang santri. i. Pengumpulan data uji empirik terhadap validitas dan reliabilitas kuesioner uji coba. j. Merevisi kuesioner dan mengkonsultasikan kepada dosen pembimbing. k. Melaksanakan penelitian di Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta dengan responden 35. 2. Teknik Analisis Data Kuesioner yang telah diujicobakan dan telah direvisi kemudian dipergunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Pengumpulan data dilaksanakan pada santri Asrama Sunan Gunung Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 pada tanggal 8 November 2013. Jumlah santri yang menjadi subjek penelitian sebanyak 35 peserta didik. Penyebaran dan pengawasan pengisian kuesioner dilakukan oleh

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 peneliti dan dibantu oleh teman. Langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan analisis data, yaitu: a. Memberi skor pada setiap alternatif jawaban yang dipilih. Norma skoring untuk pernyataan positif adalah: Sangat Setuju = 4, Setuju = 3, Tidak Setuju = 2, Sangat Tidak Setuju = 1. b. Mentabulasi data, menghitung skor total masing-masing responden maupun item kuesioner dan skor rata-rata responden maupun rata-rata butir. c. Kategorisasi faktor-faktor penyebab kenakalan remaja santri asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Kategorisasi faktor-faktor penyebab kenakalan remaja santri asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 mengungkap faktor-faktor manakah yang paling tinggi menyebabkan kenakalan remaja. Kategorisasi disusun berdasarkan distribusi normal dengan model kategorisasi jenjang ordinal. Menurut Azwar (2011: 106), kategorisasi jenjang (ordinal) bertujuan menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang posisinya berjenjang menurut suatu kontinum berdasar atribut yang diukur. Norma kategorisasi yang digunakan berpedoman pada norma kategorisasi Azwar (2011: 147-148) dengan lima jenjang kategori diagnosis yaitu, sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Norma kategorisasi yang digunakan dapat dilihat pada tabel 5.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Tabel 5 Norma Kategorisasi Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Perhitungan Skor µ+ 1.5σ < X µ + 0.5 σ < X ≤ µ+ 1.5σ µ - 0.5 σ < X ≤ µ + 0.5 σ µ- 1.5σ < X ≤ µ - 0.5 σ X ≤ µ- 1.5σ Keterangan: X maksimum teoritik : Keterangan Sangat Dominan Dominan Sedang Kurang Dominan Tidak Dominan Hasil perkalian skor tertinggi item dengan jumlah subjek penelitian X minimum teoritik : Hasil perkalian skor terendah item dengan jumlah subjek penelitian σ (standar deviasi) : Luas jarak rentang yang dibagi dalam 6 satuan deviasi sebaran. µ (mean teoritik) : Rata-rata teoritis dari skor maksimum dan minimum. Kategori di atas digunakan untuk mengelompokkan tinggi rendah faktor penyebab kenakalan remaja santri asrama Sunan Gunung Djati. Perhitungan dalam penggolongan norma kategorisasi adalah sebagai berikut: X maksimum teoritik : 4 x 35 = 140 X minimum teoritik : 1 x 35 = 35 Luas jarak : 140 – 35 = 105 σ (standar deviasi) : 105 / 6 = 17,5 µ (mean teoritik) : (140+35) : 2 = 87,5

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Setelah dilakukan perhitungan maka didapatkan kategori skor. Kategori skor dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6 Kategorisasi Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Perhitungan Skor µ+ 1.5σ < X µ + 0.5 σ < X ≤ µ+ 1.5σ µ - 0.5 σ < X ≤ µ + 0.5 σ µ- 1.5σ < X ≤ µ - 0.5 σ X ≤ µ- 1.5σ Kategorisasi X > 114 96-114 79-96 61-79 ≤ 61 Keterangan Sangat Dominan Dominan Sedang Kurang Dominan Tidak Dominan Setelah perhitungan pada kategori skor didapatkan, maka dilakukan perhitungan prosentase faktor-faktor penyebab kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta dengan rumus dapat dilihat dibawah ini: Prosentase Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Keterangan 1. Skor yang dicapai per aspek adalah hasil perkalian skor item yang diperoleh dengan jumlah subjek penelitian dan jumlah item aspek 2. Hasil perkalian skor item maksimal dengan jumlah subjek penelitian dan jumlah item subjek

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini diuraikan hasil penelitian, pembahasan, dan penyusunan program Bimbingan pribadi sosial yang relevan untuk membantu menangani faktor kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014. A. Hasil Penelitian 1. Kategorisasi Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014. Berdasarkan hasil olahan data penelitian diketahui bahwa FaktorFaktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta tampak pada tabel dibawah ini. Tabel 7 Kategorisasi Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Skor f No Item Kategorisasi % X> 114 0 0 Sangat 0% Dominan 96-114 0 0 Dominan 0% 79-96 1 41 Sedang 1% 61-79 21 2, 9. 12, 13, 15, 18, 19, Kurang 36% 20, 22, 26, 27, 30, 35, 38, Dominan 43, 44, 50, 54, 55, 56, 57 ≤ 61 36 1, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, Tidak 62% 14, 16, 17, 21, 23, 24, 25, Dominan 28, 29, 31, 32, 33, 34, 36, 37, 39, 40, 42, 45, 46, 47, 48, 49, 51, 52, 53, 58 51

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Tabel diatas menyatakan bahwa 1 dari 58 item penelitian masuk dalam kategori sedang dan 21 dari 58 item penelitian masuk dalam kategori kurang dominan dan 36 dari 58 item penelitian masuk dalam kategori tidak dominan. Agar lebih jelas kategorisasinya dapat di lihat pada diagram dibawah ini Diagram 1 Kategorisasi Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapayk Yogyakarta Penelitian ini juga mempersentasekan faktor-faktor penyebab kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Adapun persentase aspek tampak pada tabel berikut ini.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Tabel 8 Persentase Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Aspek Aspek Keluarga Aspek Sekolah Aspek Masyarakat Frekuensi Persentase (%) 38,73 % 42,51 % 44,36 % 976 1250 1180 Agar lebih jelas persentase Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta dapat dilihat pada diagram berikut ini: 45.00% 44.00% 44.36% 43.00% 42.00% 42.51% 41.00% 40.00% 39.00% 38.00% 38.73% 37.00% 36.00% 35.00% keluarga sekolah masyarakat Diagram 2 Diagram Persentase Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Berdasarkan tabel dan diagram persentase Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 dapat diketahui bahwa skor faktorfaktor penyebab kenakalan Santri paling tinggi adalah Masyarakat yaitu 1180

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 (44,36%) dibandingkan dengan Sekolah 1250 (42,51%) dan Keluarga 976 (38,73%). Artinya faktor masyarakat lebih berperan menyebabkan kenakalan remaja santri asrama Sunan Gunung Djati dalam melakukan kenakalan di bandingkan faktor sekolah dan keluarga. 2. Analisis Item Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014. a. Aspek Masyarakat Berdasarkan hasil perhitungan 19 item faktor-faktor penyebab kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta pada aspek masyarakat diurutkan dari yang paling rendah sampai tertinggi hasil analisis tersebut tampak pada gambar di bawah ini. Diagram 2 Analisis Item Pada Aspek Masyarakat Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Setelah mendapat gambaran faktor-faktor mana yang paling dominan menyebabkan kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta masing-masing faktor tersebut dianalisis item-itemnya. Berikut ini akan di deskripsikan hasil analisis masing-masing faktor-faktor penyebab kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. No No Bunyi Item Item Saya menyukai acara yang berbau kekerasan dan 1 53 pornography Saya lebih percaya dengan teman dibandingkan 2 42 keluarga Saya mendukung bila ada kegiatan keagamaan 3 47 dalam masyarakat Saya hidup di lingkungan yang rukun dan terhindar 4 48 dari tindak kekerasan Saya menolak dengan adanya karang taruna 5 45 dimasyarakat Saya acuh dengan adanya kegiatan keagamaan di 6 51 masyarakat Teman adalah motivasi dalam hidup saya 7 40 Banyaknya aktivitas keagamaan di kampung 8 52 membuat saya aktif dalam keagamaan Saya benci hidup dimasyarakat yang banyak 9 46 aturanya Saya memiliki sikap toleransi antar umat beragama 10 49 Media massa membantu membuka wawasan yang 11 58 luas Teman adalah tempat dimana saya dapat berbagi 12 43 rasa Masyarakat saya terlalu sibuk dengan aktivitasnya, 13 50 sehingga acuh dengan kegiatan agama yang ada di masyarakat Acara di tv membantu saya memperoleh informasi 14 57 baik dalam negri maupun luar negri Saya sepakat dengan adanya pemberlakuan jam 15 44 belajar dimasyarakat Saya acuh dengan kabar berita di media massa 16 54 Skor 46 50 50 51 55 55 56 58 60 60 60 63 63 65 66 74

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 17 18 55 56 19 41 Acara di tv membuat saya menjadi malas Saya akan meniru gaya seperti artis atau tokoh idaman saya Saya rela berkorban membantu teman yang berkelahi atas dasar setia kawan 76 76 96 Dari pemaparan analisis item faktor masyarakat di atas dapat disimpulkan bahwa skor item tertinggi yaitu 66, 74, 76, 76, 96 dan kelima item tersebut yang terindikasi tinggi akan dijadikan usulan topik bimbingan yang relevan untuk menanggulangi kenakalan remaja santri asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. b. Aspek Sekolah Berdasarkan hasil perhitungan 21 item faktor-faktor penyebab kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta pada aspek sekolah diurutkan dari yang paling rendah sampai tertinggi hasil analisis tersebut tampak pada gambar di bawah ini Diagram 3

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Analisis Item Pada Aspek Sekolah Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Setelah mendapat gambaran faktor-faktor mana yang paling dominan menyebabkan kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta masing-masing faktor tersebut dianalisis item-itemnya. Berikut ini akan di deskripsikan hasil analisis masing-masing faktor-faktor penyebab kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 No Bunyi Item Item 24 Saya kerap merokok bersama dengan teman-teman ditempat umum 33 Organisasi sama sekali tidak ada manfaatnya bagi saya 23 Berkelahi dengan sekolah lain adalah kebanggaan tersendiri bagi saya 39 Saya mempengaruhi teman-teman untuk tidak berangkat kumpulan rutin karangtaruna dikampung 21 Guru meremehkan saya di depan teman-teman satu kelas 28 Saya mendukung apabila sekolah memiliki banyak kegiatan yang mendukung bakat siswa 34 Mengikuti organisasi melatih diri menjadi pribadi yang bertanggung jawab 29 Saya benci dengan adanya OSIS disekolah 25 Teman adalah motivasi dan semangat saya dalam bersekolah 32 Sekolah tidak mengajarkan pentingnya mengikuti organisasi 37 Saya acuh dengan adanya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah 31 Adanya organisasi disekolah membuat saya belajar menghargai pendapat orang lain 36 Saya turut menjaga dan prasarana yang dimiliki sekolah 19 Guru mempunyai gaya belajar yang mudah dipahami 26 Teman selalu ada diwaktu saya senang, susah, sedih dan galau Skor 45 45 48 50 51 53 56 57 58 58 59 60 60 63 65

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 16 17 20 35 18 38 19 20 27 22 21 30 Saya bangga dengan guru humoris Sarana dan prrasarana disekolah yang memadai membantu menunjang kegiatan belajar-mengajar siswa Sekolah acuh tentang banyaknya sarana dan prasarana yang tidak berfungsi Teman bisa menunjukkan jati diri saya Saya bosan ketika guru hanya ceramah dan tidak ada waktu untuk diskusi bersama Ekstrakurikuler yang monoton membuat saya mudah bosan 66 67 69 70 74 76 Dari pemaparan analisis item faktor sekolah di atas dapat disimpulkan bahwa skor item tertinggi yaitu 67, 69, 70, 74, 76 dan kelima item tersebut yang terindikasi tinggi akan dijadikan usulan topik bimbingan yang relevan untuk menanggulangi kenakalan remaja santri asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta c. Aspek Keluarga Berdasarkan hasil perhitungan 18 item faktor-faktor penyebab kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta pada aspek keluarga diurutkan dari yang paling rendah sampai tertinggi hasil analisis tersebut tampak pada gambar di bawah ini

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Jumlah Aspek Keluarga 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Item 1 4 3 17 8 11 14 5 10 7 16 6 2 12 15 9 13 18 Nomor Item Diagram 4 Analisis Item Pada Aspek Keluarga Faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Setelah mendapat gambaran faktor-faktor mana yang paling dominan menyebabkan kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta masing-masing faktor tersebut dianalisis item-itemnya. Berikut ini akan di deskripsikan hasil analisis masing-masing faktor-faktor penyebab kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. No 1 2 3 4 5 6 No Bunyi Item Item 1 Saya tidak diajarkan berdoa sejak kecil oleh kedua orangtua 4 Saya tidak diajarkan beribadah oleh orangtua 3 Orangtua saya memberikan suri teladan yang baik dalam melakukan kewajiban beragama 17 Orangtua tidak peduli terhadap apa yang saya lakukan 8 Memiliki sikap sopan santun adalah cara menghargai seseorang 11 Saya diacuhkan oleh kedua orangtua Skor 38 38 41 45 46 46

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 7 14 8 5 9 10 10 7 11 16 12 13 6 2 14 12 15 16 15 9 17 13 18 18 Saya mendapat pujian dari orangtua ketika berprestasi Saya diajarkan orangtua bersikap baik terhadap orang lain Orangtua memperlakukan saya, adik, dan kakak secara adil Saya diajarkan selalu bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan Saya didiamkan orangtua ketika melakukan kesalahan Saya ditegur orangtua saat melakukan kesalahan Ketika saya melakukan perbuatan yang bertentangan dengan agama saya ditegur oleh kedua orangtua Saya bangga ketika orangtua mendengarkan ide/gagasan saya Saya bisa terbuka dengan orangtua Orangtua saya sibuk dengan urusanya masingmasing Saya tertekan dengan peraturan yang diberikan orangtua Ketika mempunyai masalah saya takut untuk membicarakan dengan orangtua 48 49 50 55 56 59 62 62 62 69 72 78 Dari pemaparan analisis item faktor keluarga di atas dapat disimpulkan bahwa skor item tertinggi yaitu 62, 62, 69, 72, 78 dan kelima item tersebut yang terindikasi tinggi akan dijadikan usulan topik bimbingan pribadi sosial yang relevan untuk menanggulangi kenakalan remaja santri asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Setelah dianalisis item dari masing-masing Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, maka diketahui terdapat 15 item yang terindikasi tinggi dan 15 item tersebut tampak pada tabel berikut ini

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Tabel 9 Item Unfavorabel dan Favorabel Terindikasi Tinggi yang Menyebabkan Kenakalan Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 No Faktor No Item 1 Masyar akat 44 2 54 3 55 4 56 5 41 6 Sekolah 35 7 38 8 9 27 22 10 30 11 Keluarga 12 12 13 15 9 14 13 15 18 Bunyi Item F/ Un Skor Saya sepakat dengan adanya pemberlakuan jam belajar dimasyarakat Saya acuh dengan kabar berita di media massa Acara di tv membuat saya menjadi malas Saya akan meniru gaya seperti artis atau tokoh idaman saya Saya rela berkorban membantu teman yang berkelahi atas dasar setia kawan Sarana dan prasarana disekolah yang memadai membantu menunjang kegiatan belajar-mengajar siswa Sekolah acuh tentang banyaknya sarana dan prasarana yang tidak berfungsi Teman bisa menunjukkan jati diri saya Saya bosan ketika guru hanya ceramah dan tidak ada waktu untuk diskusi bersama Ekstrakurikuler yang monoton membuat saya mudah bosan Un 66 F 74 F 76 F 76 F 96 Un 67 F 69 Un F 74 74 F 76 Saya bangga ketika orangtua mendengarkan ide/gagasan saya Saya bisa terbuka dengan orangtua Orangtua saya sibuk dengan urusanya masing-masing Saya tertekan dengan peraturan yang diberikan orangtua Ketika mempunyai masalah saya takut untuk membicarakan dengan orangtua Un 62 Un F 62 69 F 72 F 78

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Lima belas item tertinggi masing-masing faktor tersebut di atas dijadikan dasar penyusunan usulan topik-topik bimbingan di Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta B. Pembahasan Hasil penelitian membuktikan bahwa kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 diketahui bahwa rata-rata skor pada faktor masyarakat lebih dominan daripada rata-rata skor pada faktor sekolah dan keluarga. Dengan demikian dapat dinyatakan faktor masyarakat merupakan faktor penyebab dari perilaku kenakalan remaja yang dominan. Hasil analisis deskriptif dengan membandingkan rata-rata hitung diperkuat pula oleh hasil analisis persentase, yang menunjukkan sebagian besar subyek menunjukkan bahwa faktor masyarakat memiliki persentase paling besar sebagai faktor penyebab perilaku kenakalan remaja. Adapun item-item yang dominan dalam aspek masyarakat seperti “saya akan meniru gaya seperti artis atau tokoh idaman saya” dan “saya rela berkorban membantu teman yang berkelahi atas dasar setia kawan” kedua item ini terindikasi tinggi mengartikan bahwa remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati menyukai model atau gaya seperti tokoh idamannya dan mereka rela membantu teman berkelahi atas dasar setia kawan hal ini dapat pula menjadi penyebab munculnya perilaku kenakalan remaja terutama di lingkungan masyarakat yang kurang sekali dalam melaksanakan ajaran agama

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 yang dianutnya, padahal dalam ajaran-ajaran agama yang dianutnya, banyak sekali hal-hal yang kurang dapat membantu pembinaan remaja. Masyarakat yang kurang beragama tersebut merupakan sumber munculnya perilaku kejahatan dimana tingkah laku tersebut akan mudah mempengaruhi remaja yang sedang berada dalam masa perkembangan. Nyata sekali bahwa sebagian anggota masyarakat telah melupakan ajaran agama dalam kehidupan seharihari karena terpengaruh oleh kehidupan materi sehingga tak jarang manusiawinya menghilang. Keterbelakangan pendidikan banyak terjadi dalam masyarakat dan ini berpengaruh pada bagaimana cara orangtua mendidik anak-anaknya dimana kurang memahami perkembangan jiwa anak, bagaimana membantu kearah pendewasaan anak dan bagaimana membantu usaha sekolah dalam meningkatkan kecerdasan anak sehingga sering membiarkan saja keinginan anak-anaknya. Lingkungan dengan tingkat pendidikan rendah, sehingga banyak pengangguran dan kemiskinan akan berpengaruh pada kehidupan remaja, asumsinya adalah seseorang belajar menjadi kriminal karena interaksi. Kecenderungan untuk menjadi sama ini bersifat tidak sadar dan tidak hanya merupakan kecenderungan menjadi seperti orang lain secara lahiriah saja, tetapi juga secara batin. Remaja biasanya dengan mudah menelan apapun yang dilihatnya namun terkadang bertentangan dengan masyarakat yang masih berpegang pada norma-norma asli yang bersumber pada agama dan adat-istiadat. Adanya pengaruh norma-norma baru dari luar dapat menjadi penyebab perilaku

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 kenakalan remaja yang berasal dari faktor masyarakat. Kebanyakan anggota masyarakat beranggapan bahwa setiap norma yang datang dari luar itulah yang benar, melalui sarana televisi, media massa, pergaulan sosial, model dan sebagainya. Lingkungan Pondok Pesantren yang terletak di kota, dimana di sekitar lingkungan Pondok Pesantren banyak terdapat tempat hiburan. Bagi santri yang masih remaja berbagai hiburan tersebut sangat menarik minat mereka, sehingga sangat berpengaruh bagi sikap kunsumtif di kalangan santri. Kebutuhan mereka akan hiburan yang membutuhkan biaya tidak sebanding dengan uang saku mereka yang hanya cukup untuk kebutuhan primer saja. Masyarakat di lingkungan Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang begitu kental dengan nilai-nilai keagamaan seharusnya memiliki tradisi yang modern dalam mendidik dan membimbing santrinya, oelh karena itu berbagai fasilitas harus segera dibenahi supaya santri tidak menghabiskan waktu luang mereka untuk bermain di luar asrama yang tidak jelas arahnya, seperti diketahui bahwa lingkungan pondok pesantren berada di tengah kota dan banyak berbagai hiburan ditakutkan mereka santri tidak bisa mengontrol uang jajan mereka dan bisa terjadi tindak kriminal atau pencurian jika santri tidak segera dibimbing dalam proses mendidik di dalam Pondok Pesantren. Pada usia remaja seorang anak sangat peka terhadap pengaruh-pengaruh dari luar dirinya, baik itu yang bersifat positif maupun negatif, mereka mempunyai kecenderungan untuk mencoba-coba berbagai hal baru, apalagi hal tersebut adalah sesuatu yang menarik bagi mereka dan banyak digemari

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 oleh anak seusia mereka, seperti bermain game, oleh karena itu perlu adanya penanaman nilai-nilai kedisiplinan dan pemanfaatan waktu luang yang lebih baik dan bermanfaat bagi para santri Oleh karena hal tersebut diatas maka diperlukan optimalisasi peran pembimbing sebagai murabbi (pendidik) untuk sejak dini memberikan pendidikan tentang sikap disiplin dan tanggungjawab moral yang tinggi terhadap para remaja. Seorang remaja cenderung masih labil dalam menentukan sikap ketika menghadapi suatu masalah dan sangat perlu diberikan pendidikan yang bermoral dengan tujuan supaya mereka tidak salah mengambil suatu tindakan dalam memecahkan masalah mereka dan mengarahkan kearah kemajuan yang positif, oleh karena itu pola dalam mendidik dan membimbing santri harus benar-benar diperhatikan dan alangkah baiknya jika hukuman yang berlaku pada pondok pesantren tidak memakai kekerasan seperti dicambuk rotan jika santri bermasalah, karena hal itu akan menjadikan santri semakin tertekan dengan hukuman seperti ini. Orangtua seharusnya tidak lepas tangan begitu saja dalam mendidik dan mengawasi perkembangan anak, baik ketika anak berada di Pondok Pesantren maupun ketika pulang ke rumah. Upaya bisa dilakukan antara lain dengan mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan anak secara wajar, menciptakan suasana yang harmonis, menanamkan sifat disiplin, mengadakan kontrol dan pengawasan terhadap kegiatan anak dalam pergaulanya dan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Hasil penelitian ini memberikan informasi yang tepat dari dugaan peneliti sebelumnya. Dugaan awal peneliti yaitu bahwa faktor penyebab kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013-2014 adalah rendah. Adapun alasan tersebut berdasarkan data di media cetak maupun internet dan masyarakat lokal yang melihat Santri sebagai remaja yang mengkaji tentang pendalaman agama yang tinggi secara otomatis pandangan bahwa Santri adalah remaja yang terhindar dari permasalahan remaja dan tidak akan melakukan kenakalan yang berlebihan atau tinggi. Pemberitaan hal tersebut ternyata sama dengan keadaan yang sebenarnya di dalam pondok pesantren. Hal ini terbukti dengan rendahnya faktor kenakalan santri, perilaku para santri di dalam dan di luar asrama tentu saja berbeda. Sejalan dengan itu faktor penyebab kenakalan santri perwujudannya bisa pula berbeda saat mereka berada di dalam asrama dan di luar asrama. Faktor lain yang juga mempengaruhi munculnya perilaku kenakalan remaja adalah sekolah. Terbukti dengan item yang terindikasi tinggi pada aspek sekolah adalah “Saya bosan ketika guru hanya ceramah dan tidak ada waktu untuk diskusi bersama” dan “Sekolah acuh tentang banyaknya sarana dan prasarana yang tidak berfungsi” hal ini menunjukkan bahwa siswa mudah bosan ketika materi yang disampaikan guru monoton, tidak menarik dan sekolah kurang memperdulikan sarana dan prasarana yang dimiliki hal ini membuat siswa kurang nyaman dengan kondisi lingkungan sekolah yang seperti itu. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 harus mendidik siswanya tetapi sekolah terlebih dahulu dinilai dari kualitas pengajarannya. Maka, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar misalnya ekstrakurikuler yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum maupun fasilitas belajar-mengajar yang tidak memadai akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Begitu pun dengan faktor keluarga adanya bukti dengan item yang terindikasi tinggi pada aspek keluarga “Saya tertekan dengan peraturan yang diberikan orangtua” dan “Ketika mempunyai masalah saya takut untuk membicarakan dengan orangtua” hal ini menunjukkan bahwa anak merasa tertekan dengan peraturan yang diberikan orang tua begitu juga ketika anak mempunyai masalah merekapun takut untuk membicarakanya kepada orangtua. Keluarga merupakan kesatuan terkecil dalam masyarakat namun menempati kedudukan yang primer dan fundamental. Kualitas rumah tangga atau kehidupan keluarga memainkan peranan penting dalam membentuk kepribadian remaja. Misalnya, rumah tangga yang tidak utuh disebabkan oleh kematian ayah atau ibu, perceraian orangtua, hidup terpisah, poligami, keluarga yang diliputi konflik disertai kekerasan, semua itu merupakan sumber yang bisa menjadi penyebab untuk memunculkan perilaku kenakalan remaja. Selain itu anak kurang mendapat perhatian, kasih sayang dan tuntunan agama serta pendidikan dari orangtua karena masing-masing sibuk dengan masalah serta konflik batin sendiri. Akibatnya, anak menjadi bingung, risau, malu, sering diliputi perasaan dendam, benci sehingga anak menjadi

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 kacau dan liar, dikemudian hari mereka mencari kompensasi diluar lingkungan keluarga. Menurut Kartono (1992) anak yang tidak mendapatkan cinta kasih dan tuntunan moril berkecenderungan untuk tumbuh menjadi individu-individu yang delinquen. Pola pengasuhan juga turut mempengaruhi sikap remaja. Orangtua yang otoriter membuat batasan dan kendali yang tegas terhadap remaja dan hanya sedikit melakukan komunikasi verbal. Sikap ini akan memunculkan rasa takut yang justru membuat anak tidak berkembang daya kreatifnya sehingga menjadi orang yang penakut dan penggugup di masyarakat. Selain itu, sikap otoriter orangtua juga bisa menimbulkan dendam sehingga merupakan sumber kenakalan remaja, seperti menentang, tidak ada rasa kasih sayang terhadap orangtua, bahkan melakukan hal-hal yang berlawanan dengan agama. Sebaliknya, orangtua yang permisif seringkali tidak memiliki kemampuan mengontrol perilaku anaknya yaitu terlalu memberikan kebebasan terhadap anaknya tanpa adanya norma-norma tertentu. Pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja serta penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai turut menentukan munculnya kenakalan remaja. Hasil penelitian ini menunjukkan penyebab kenakalan santri yang sangat rendah terutama dari faktor keluarga, akan tetapi sebenarnya kenakalan remaja itu ada dan wajar dan tidak akan menjadi masalah jika kenakalan tersebut tidak melebihi batas normal. Hasil ini dapat dikatakan bahwa penyebab kenakalan remaja santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013-2014 berada pada kondisi yang aman dan terkendali, akan tetapi harus terus dipantau agar ke depannya semakin baik, karena santri adalah pundasi bagi agama kelak yang akan menjadi khalifah-khalifah untuk menyiarkan agama Islam, dan membentuk moral bangsa menjadi beretika, bermartabat, bijaksana, adil dan makmur. C. Usulan Topik-Topik Bimbingan yang Relevan Bagi Remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta Tahun Ajaran 2013-2014. Berdasarkan hasil penelitian, usulan topik-topik bimbingan yang relevan diberikan Bimbingan Dan Konseling dalam menangani faktor kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Tampak pada tabel berikut:

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Tabel 10 Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi Sosial di Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta No 1 Item Yang Terindikasi Tinggi a. Ketika mempunyai masalah saya takut untuk membicarakan dengan orangtua (F). b. Saya tertekan dengan peraturan yang diberikan orangtua (F). c. Orangtua saya sibuk dengan urusanya masingmasing (F). d. Saya bisa terbuka dengan orangtua (Un). e. Sayabangga ketika orangtua mendengarkan ide Tujuan Bimbingan Santri mampu terbuka dengan orangtua dan santri mampu membangun komunikasi yang baik dengan orangtua Topik Pentingnya membangun komunikasi antar keluarga Waktu 45 menit Bidang Bimbingan Pribadisosial Metode Sumber Dinamika kelompok, sharing dan ceramah Husein, Muhammad. 2013. Kumpulan Kupas Tuntas Fenomena Remaja. Jakarta: Adamssein Media.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 saya (Un) 2 a. Ekstrakurikuler yang monoton membuat saya mudah bosan. (F) b. Saya bosan ketika guru hanya ceramah dan tidak ada waktu untuk diskusi bersama (F) c. Teman bisa menunjukkan jati diri saya (Un) d. Sekolah acuh tentang banyaknya sarana dan Santri mampu menciptakan berbagai macam ekstrakurikuler yang beraneka ragam. Ekstrakurikuler 45 dapat menit membantu melatih bakat dan minat seseorang Pribadisosial Dinamika kelompok, sharing dan ceramah Mediawan, Andro. 2012. Ragam Ekskul Bikin Kamu Jadi Bintang. Jakarta: Niaga Swadaya. Santri berani bertanya kepada guru dan aktif di dalam kelas Menciptakan kelas yang kondusif 45 menit Pribadisosial Dinamika kelompok, sharing dan ceramah Bluestein, Jane. 2013. Teknik-Teknik Manajemen Kelas yang Memberdayakan Anda dan Para Siswa. Jakarta: Indeks. Santri mampu memahami pentingnya mempunyai sahabat Pentingnya mempunyai sahabat 45 menit Pribadisosial Dinamika kelompok, sharing dan ceramah Husein, Muhammad. 2013. Kumpulan Kupas Tuntas Fenomena Remaja. Jakarta: Adamssein Media. Santri turut Pentingnya 45 Pribadi- Dinamika Arifin, Bernard. 2013.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 prasarana yang tidak berfungsi(F). 3 e. Sarana dan prasarana disekolah yang memadai membantu menunjang kegiatan belajarmengajar siswa (Un) a. Saya rela berkorban membantu teman yang berkelahi atas dasar setia kawan (F) b. Saya akan meniru gaya seperti artis atau tokoh idaman saya(F) c. Acara di tv membuat saya menjaga fasilitas sekolah yang telah disediakan Menjaga fasilitas sekolah menit sosial kelompok, sharing dan ceramah Manajemen Sarana&Prasarana Sekolah. Surabaya: Karya Abadi. Santri mampu memahami arti sebuah kesetiakawanan Arti sahabat 45 menit Pribadisosial Dinamika kelompok, sharing dan ceramah. Husein, Muhammad. 2013. Kumpulan Kupas Tuntas Fenomena Remaja. Jakarta: Adamssein Media. 45 menit Pribadisosial Dinamika kelompok, sharing dan ceramah Budyarto, Arniwati. 2012. Dampak Tekhnologi Terhadap Kehidupan Rohani Anak dan Remaja. Bandung: Pustaka Santri memahami Perkembangan tentang manfaat tekhnologi adanya media zaman massa sekarang

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 menjadi malas(F) d. Saya acuh dengan kabar berita di media massa(F) e. Saya sepakat dengan adanya pemberlakuan jam belajar dimasyarakat(Un) Media. Manfaat jam Santri memahami belajar bagi pelajar pentingnya adanya jam belajar di masyarakat 45 menit Pribadisosial Dinamika kelompok, sharing dan ceramah Husein, Muhammad. 2013. Kumpulan Kupas Tuntas Fenomena Remaja. Jakarta: Adamssein Media.

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Dalam upaya mengatasi kenakalan santri di Asrama Sunan Gunung Djati peneliti akan membagi upaya tersebut menjadi tiga bagian, yaitu: a. Upaya represif, yaitu tindakan untuk menindas dan menahan kenakalan yang lebih parah. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan memperbaiki pelaku kenakalan dan mencegah terjadinya kenakalan yang semakin parah serta melindungi remaja lainnya agar tidak ikut melakukan kenakalan. Adapun represif yang dapat dilakukan adalah: 1) Memanggil santri yang bermasalah Upaya perbaikan pertama yang harus dilakukan pembimbing untuk mengatasi kenakalan adalah dengan memanggil santri yang melakukan kenakalan. Selain itu santri juga diminta untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Kemudian santri juga diminta untuk membuat surat pernyataan untuk tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Pemanggilan ini bertujuan untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap santri yang bermasalah serta untuk mengetahui problem apa yang sedang dihadapi santri dengan lebih mendalam sehingga pembimbing dapat membantu mencarikan jalan keluar yang baik, dengan begitu diharapkan santri tersebut akan merasa diperhatikan dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. 2) Memanggil orangtua atau wali santri yang bermasalah Pemanggilan terhadap orangtua atau wali santri adalah upaya selanjutnya yang harus dilakukan oleh pembimbing asrama Sunan

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Gunung Djati, jika santri yang bermasalah kembali mengulangi atau telah berulang kali melakukan kenakalan, sebelumnya surat pernyataan yang dibuat oleh santri dikirimkan kepada orangtua atau wali santri dengan surat pemanggilan. Upaya ini dimaksudkan untuk meningkatkan komunikasi dan kerjasama antara pembimbing dan orangtua santri, memberitahu aktivitas santri di asrama dan mengingatkan kepada orangtua santri untuk lebih mengontrol keadaan anaknya selama hidup di Pondok Pesantren. Upaya ini perlu dilakukan dengan harapan agar orangtua lebih mengontrol dan memperhatikan perkembangan anaknya serta tidak merasa lepas tangan sama sekali dalam pengawasan terhadap anaknya. 3) Memberikan hukuman Hukuman diberikan kepada santri dengan maksud untuk menuntun dan memperbaiki perilaku santri supaya tidak mengulangi perbuatannya lagi. Hukuman yang diberikan dapat berupa hukuman fisik maupun hukuman yang bersifat tindakan yang harus dikerjakan oleh santri. Upaya ini bertujuan untuk memberikan efek jera pada santri agar tidak mengulangi perbuatannya lagi. Sebab pemberian hukuman dalam pendidikan adalah untuk memperbaiki anak-anak yang dihukum dan melindungi murid-murid yang lain dari kesalahan yang sama. Maka dalam pelaksanaanya pembimbing perlu memperhatikan dan

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 mempelajari terlebih dahulu tabiat dan sifat santri sebelum diberi hukuman. b. Upaya Kuratif Upaya ini dilakukan untuk menghilangkan sebab-sebab kenakalan ataupun pengaruh yang tidak baik yang dapat menimbulkan kenakalan. Diantara upaya kuratif yang harus dilakukan pembimbing asrama Sunan Gunung Djati adalah: 1) Memberikan bimbingan khusus kepada santri yang sedang bermasalah Upaya ini perlu dilakukan dengan maksud tujuan untuk mengadakan pendekatan terhadap santri secara agama dan psikologi secara mendalam. Diharapkan dengan upaya ini santri yang bersangkutan menjadi lebih baik karena merasa sangat diperhatikan. 2) Mengeluarkan atau mengembalikan santri yang bermasalah kepada orangtuanya. Alternatif terakhir yang ditempuh untuk mengatasi kenakalan santri adalah dengan mengeluarkan atau mengembalikan santri kepada orang tuanya. Hal ni dilakukan jika santri yang melakukan kenakalan sudah tidak bias lagi diatur atau dinasehati. Meskipun sudah diberikan hukuman tapi selalu mengulangin perbuatannya. Upaya ini dilakukan untuk menghilangkan kenakalan yang sudah sangat parah beserta dengan sebab-sebabnya yang dikhawatirkan dapat

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 mengganggu dan mempengaruhi santri lainnya. Tujuannya adalah untuk memberi rasa aman pada santri dan menghindarkan serta melindungi para santri dari pengaruh yang dapat mengakibatkan kenakalan tersebut pada santri yang lain. c. Upaya Preventif Selain upaya mengatasi kenakalan santri yang telah terjadi, pembimbing juga berupaya mencegah timbulnya kenakalan baru terhadap santri lain, terutama pada santri baru. Upaya preventif, yaitu segala tindakan yang mencegah timbulnya kenakalan. Upaya ini bias dilakukan dengan beberapa pendekatan, misalnya pendekatan psikologis dan keagamaan, ini adalah usaha yang paling mudah dan efektif untuk dilakukan, karena bersifat pencegahan, sebab jika kenakalan sudah meluas akan menjadi lebih sulit untuk menganggulanginya. Upaya yang harus dilakukan pembimbing antara lain: 1) Menempatkan santri baru dan santri lama dalam kamar dan asrama yang berbeda. Upaya ini bertujuan untuk menghindarkan santri baru dari pengaruh yang kurang baik dari santri senior, selain itu juga untuk menghindarkan santri baru dari intimidasi dari senior mereka 2) Mengadakan program temu wali santri. Upaya ini sangat perlu dilakukan dengan maksud untuk menjalin kerjasama dengan orang tua santri. Akan tetapi upaya ini harus dilanjutkan dengan komunikasi yang baik dan intens antara

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 pembimbing dan orang tua santri, selain itu juga untuk memberi pengertian kepada orang tua santri tentang berbagai aturan dan larangan yang berlaku di Pondok Pesantren sehingga orang tua dapat lebih mengidentifikasi dan mengontrol kebutuhan anaknya dengan wajar. 3) Menyediakan sarana hiburan yang memadai Penyediaan sarana ini bertujuan untuk memberi informasi yang up to date kepada santri, dengan adanya hiburan kemungkinan santri tidak akan merasa jenuh, bosan berada di dalam asrama, sehingga mereka tidak akan melampiaskan dengan kegiatan atau aktivitas di luar asrama yang tidak terkendali oleh pembimbing. 4) Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai Asrama Sunan Gunung Djati seharusnya mempunyai sebuah lapangan olahraga yang bisa dimanfaatkan oleh santri, dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai di dalam asrama bertujuan untuk mengembangkan bakat dan minat santri, kurangnya bimbingan untuk mengisi waktu dan kurangnya tempat Bimbingan dan Konseling bagi remaja dapat menyebabkan terjadinya kenakalan remaja. Oleh karena itu upaya ini perlu dilakukan sebagai kegiatan pengisi waktu luang santri yang bersifat positif.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP Pada bab ini disajikan kesimpulan dan saran-saran. Bagian kesimpulan memuat kesimpulan dari hasil penelitian, sedangkan bagian saran memuat saransaran untuk pihak Asrama Sunan Gunung Djati Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa prosentase pada faktor masyarakat lebih tinggi daripada prosentase faktor sekolah dan keluarga. Dari hasil tersebut dapat diartikan bahwa di antara faktor keluarga, sekolah dan masyarakat yang paling dominan menurut faktor penyebab kenakalan remaja santri asrama Sunan Gunung Djati adalah faktor Masyarakat. 2. Usulan topik-topik Bimbingan pribadi sosial yang relevan dalam menangani kenakalan remaja Santri Asrama Sunan Gunung Djati adalah a) pentingnya membangun komunikasi antar keluarga b) ekstrakurikuler dapat membantu melatih bakat dan minat seseorang c) menciptakan kelas yang kondusif d) pentingnya mempunyai sahabat e) perkembangan tekhnologi zaman sekarang f) pentingnya menjaga fasilitas sekolah g) arti sahabat dan dengan beberapa upaya seperti represif, kuratif dan preventif. 79

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 B. Saran-saran Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang menjadi penyebab perilaku kenakalan remaja, peneliti mengemukakan beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan pertimbangan sebagai berikut: 1. Bagi subyek penelitian Disarankan agar remaja lebih bersikap terbuka dengan masalahnya kepada orang-orang terdekat, yaitu orangtua atau saudara (keluarga) selain itu juga diharapkan remaja bisa memanfaatkan waktu luang dengan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat sehingga bisa mencegah munculnya perilaku kenakalan remaja. 2. Bagi peneliti selanjutnya Lebih mengembangkan beragam penelitian mengenai perilaku kenakalan remaja agar tindakan penyelesaiannya terhadap perilaku tersebut dilakukan dengan cara yang tepat. C. Kelemahan Penelitian Adapun besarnya sampel dalam penelitian ini adalah 10% dari 350 subjek, artinya sebenarnya cukup mewakili akan tetapi lebih baik diambil 50% supaya hasilnya lebih kuat. Begitu juga dalam menyusun alat supaya lebih banyak dan lebih menarik dan data yang diambil dalam penelitian ini terlalu luas.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Daftar Pustaka Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Jakarta: Rineka Cipta. Azwar, Saifuddin. 2011. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Arifin, Bernard. 2013. Manajemen Sarana&Prasarana Sekolah. Surabaya: Karya Abadi Bluestein, Jane. 2013. Teknik-Teknik Manajemen Kelas yang Memberdayakan Anda dan Para Siswa. Jakarta: Indeks. Budyarto, Arniwati. 2012. Dampak Tekhnologi Terhadap Kehidupan Rohani Anak dan Remaja. Bandung: Pustaka Media. Basri, Hasan. 1996. Remaja Berkualitas Problematika Remaja dan Solusinya. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Daradjat, Zakiyah. 1997. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang. Dhofier, Zamakhsyari. 1998. Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES. Furchan, Arief. 2005. Pengantar Pendidikan.Yogyakarta:Pustaka Pelajar Penelitian Dalam Garisson, Muhammad al-mighwar. 2006. Psikologi Remaja:petunjuk bagi guru dan orangtua. Bandung; Pustaka Setia Hasbullah, Zaki Muhammad. 1999. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Hurlock, B. Elisabeth. 1994. Perkembangan Anak Jilid 1 dan Perkembangan Anak Jilid II. Jakarta: Erlangga. Husein, Muhammad. 2013. Kumpulan Kupas Tuntas Fenomena Remaja. Jakarta: Adamssein Media. Kartono, Kartini. 2003. Kenakalan remaja. Jakarta : PT Radja Grafindo Persada. Kartono, Kartini. 2008. Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Mediawan, Andro. 2012. Ragam Ekskul Bikin Kamu Jadi Bintang. Jakarta: Niaga Swadaya

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Madjid, Nurcholish. 1997. Bilik-Bilik Pesantren. Jakarta: Paramadina. Mujib, Abdul. 2001. Nuansa-Nuansa Psikologi Islami. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Prayitno. 1999. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta. Prayitno. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta Rahmat, Jalaluddin. 2000. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Karya. Saifuddin, M. A. 2001. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Sarwono, S. W. 2002. Psikologi Remaja. Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Winkel, W.S & Sri Hastuti. 2004. Bimbingan Dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 LAMPIRAN

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 LAMPIRAN

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI subjek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 38 976 38 2 4 1 4 2 3 2 1 3 1 1 2 3 1 2 1 2 1 1 2 2 2 4 1 1 2 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 62 3 1 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 41 4 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 38 5 1 2 1 2 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 2 3 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 49 6 2 1 1 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 1 2 1 4 1 3 2 1 1 1 2 4 1 2 2 2 4 2 1 1 1 59 7 2 2 1 1 2 2 2 1 2 1 2 1 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 1 2 2 1 55 8 1 1 1 1 2 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 2 4 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 46 9 1 2 1 3 2 3 1 2 3 2 1 1 2 3 1 2 2 2 2 1 2 2 2 4 2 2 2 3 2 2 3 2 1 2 1 69 10 1 1 2 1 2 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 2 2 1 1 2 3 1 50 11 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 2 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 46 12 1 1 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 1 2 62 13 2 3 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 3 3 2 2 2 1 2 1 4 3 1 3 2 2 2 3 3 1 2 2 72 14 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 2 1 3 1 1 1 3 1 2 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 48 15 1 3 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 62 16 2 1 2 2 1 2 2 2 1 1 3 3 1 1 1 1 1 3 1 1 2 1 2 3 1 2 1 2 2 2 2 1 1 1 1 56 62 41 38 49 59 55 46 69 50 46 62 72 48 62 56

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 45 18 Jumlah 2 26 3 28 2 27 2 29 2 33 3 32 3 26 2 30 2 28 3 27 1 27 2 28 2 25 2 30 2 21 4 31 3 28 3 36 1 29 3 27 2 30 2 30 1 27 1 30 2 28 3 27 2 26 2 27 2 28 3 27 1 27 3 27 2 24 4 28 1 22 78 976 45 78 19 2 3 4 2 2 2 1 2 2 1 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 2 2 1 1 2 1 1 3 2 1 2 2 2 1 63 1250 63 20 1 1 1 3 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 3 2 2 2 3 4 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 66 21 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 3 2 2 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1 51 22 1 3 3 1 2 2 2 2 3 3 2 4 2 2 1 2 2 2 3 2 3 2 3 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 3 1 74 23 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 1 2 1 2 4 1 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 48 24 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 3 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 45 25 1 1 1 1 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 3 3 2 2 1 1 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 58 26 1 2 2 3 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 3 2 3 3 2 2 1 2 2 1 1 1 2 2 1 2 2 2 65 27 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 3 2 2 2 2 1 3 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 70 28 1 1 2 1 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 3 2 2 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 2 53 29 1 2 2 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 2 1 4 2 2 1 2 2 2 2 1 1 2 1 1 2 2 1 2 1 2 2 57 30 2 3 2 2 1 2 4 2 1 4 2 3 2 2 1 1 2 3 1 2 3 1 2 4 2 3 2 2 2 2 1 2 2 4 2 76 31 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 1 60 66 51 74 48 45 58 65 70 53 57 76 60

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 2 2 2 2 2 2 4 2 2 2 1 2 2 2 1 1 1 2 2 3 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 2 1 58 33 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 1 45 34 1 1 1 1 2 1 1 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 2 3 2 2 1 1 2 1 1 1 2 1 2 56 35 1 2 2 3 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 67 36 1 1 2 3 2 2 1 2 2 1 2 1 2 1 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 60 37 1 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 2 2 2 2 2 1 1 3 2 1 1 2 2 4 2 1 1 1 59 38 2 3 1 2 3 2 2 3 3 3 2 3 2 2 1 1 1 2 1 3 1 2 2 1 4 1 1 2 2 2 1 3 1 2 2 69 39 jumlah 2 27 2 36 1 37 1 35 1 36 2 35 1 39 2 42 2 40 2 41 1 33 1 38 1 38 2 35 1 24 1 40 1 33 2 41 2 38 1 44 2 41 1 34 1 36 1 33 2 38 1 35 1 28 1 30 2 39 2 34 2 30 2 38 1 33 1 36 1 33 50 1250 58 45 56 67 60 59 69 50 40 1 1 2 2 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 1 2 2 4 1 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 1 56 1180 56 41 1 1 3 4 1 3 3 2 2 4 2 4 2 3 1 4 3 4 3 3 1 4 3 4 4 3 3 3 3 3 2 3 1 3 3 96 42 1 1 2 1 2 2 1 2 1 2 1 1 1 2 1 1 2 2 2 1 1 1 2 1 2 1 2 2 1 1 1 1 1 1 3 50 43 1 1 2 3 2 1 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 1 2 1 3 4 63 44 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 4 2 2 1 3 1 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 3 66 45 1 1 2 2 1 1 2 2 3 2 1 2 1 2 4 1 1 2 1 2 2 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 1 55 46 1 3 1 1 2 2 2 2 2 1 1 1 1 2 1 4 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 1 2 1 2 2 60 96 50 63 66 55 60

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 1 2 1 2 2 2 1 4 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 4 2 1 1 1 1 1 1 50 48 1 1 2 1 2 2 2 1 1 2 2 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1 2 2 1 1 1 2 2 51 49 1 2 2 1 2 2 1 2 2 2 3 1 2 2 1 1 2 2 3 2 1 2 1 1 2 1 1 3 2 2 2 2 2 1 1 60 50 1 3 2 2 1 1 2 2 4 2 1 1 1 2 1 1 1 2 2 3 1 1 2 3 2 2 1 1 2 2 2 2 2 3 2 63 51 1 2 1 2 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 1 1 2 2 2 3 2 1 1 4 2 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 55 52 1 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 1 2 1 1 2 3 2 3 1 2 1 2 1 1 1 2 2 1 1 1 2 2 2 58 53 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2 1 2 4 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 46 54 4 2 3 2 2 2 1 2 3 2 1 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 1 2 1 2 2 2 2 2 4 3 2 2 1 74 55 1 1 2 1 1 3 3 2 2 1 1 3 2 2 4 1 2 3 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 4 3 3 3 76 56 4 2 2 1 3 3 1 2 2 2 2 4 3 2 1 1 3 2 2 2 2 1 1 2 1 2 2 3 2 3 2 2 2 3 4 76 57 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 3 2 2 3 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 65 58 jumlah 1 25 2 33 2 36 1 33 2 33 1 35 1 28 2 37 2 37 3 34 2 28 2 36 2 30 2 35 2 34 2 29 2 35 2 39 2 36 1 38 2 36 1 32 2 31 1 37 2 36 2 30 2 31 1 33 2 38 1 35 1 30 2 36 2 30 1 35 2 39 60 1180 50 51 60 63 55 58 46 74 76 76 65 60 jumlah total 78 97 100 97 102 102 93 109 105 102 88 102 93 100 79 100 96 116 103 109 107 96 94 100 102 92 85 90 105 96 87 101 87 99 94 SR SR SR SR R R SR R R R SR R SR SR SR SR SR R R R R SR SR SR R SR SR SR R SR SR SR SR SR SR

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR ANGKET UNTUK SANTRI Disusun Oleh Vitaly Rica Fernando 091114069 PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013 Petunjuk Pengisian Bacalah dan pahami baik-baik setiap pernyataan yang ada, kemudian pilihlah jawaban sesuai dengan kondisi/situasi anda sendiri dengan cara memberikan tanda centang (√) di lembar jawaban yang terpisah pada salah satu pilihan jawaban yang tersedia, yaitu: SS : Sangat Setuju S : Setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju Setiap orang dapat memiliki jawaban yang berbeda dan tidak ada jawaban yang bernilai benar atau salah.Untuk itu pilihlah jawaban yang sesuai atau keadaan anda dan bukan jawaban yang dianggap benar atau salah yang berlaku secara umum. Mohon anda menjawab seluruh pernyataan yang ada dengan jujur dan memastikan bahwa tidak ada pernyataan yang terlewatkan.Sebelum mengisi angket ini, Anda dimohon menuliskan identitas Anda secara lengkap, kerahasiaan identitas Anda dijamin sepenuhnya oleh peneliti. Terimakasih atas kesediaan dan kerjasama Anda SELAMAT MENGERJAKAN A. Identitas Responden Nama Umur Suku (Asal) Tanggal Pengisian

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Kuesioner NO PERNYATAAN SS S 1 Saya tidak diajarkan berdoa sejak kecil oleh kedua orangtua 2 Ketika saya melakukan perbuatan yang bertentangan dengan agama saya ditegur oleh kedua orangtua 3 Orangtua saya memberikan suri teladan yang baik dalam melakukan kewajiban agama 4 Saya tidak diajarkan beribadah oleh orangtua 5 Saya diajarkan orangtua bersikap baik terhadap orang lain 6 Saya ditegur orangtua saat melakukan kesalahan 7 Saya diajarkan untuk selalu bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan 8 Memiliki sikap sopan santun adalah cara menghargai seseorang 9 Orangtua saya sibuk dengan urusannya masing-masing 10 Orangtua memperlakukan saya, adik dan kakak secara adil 11 Saya diacuhkan oleh kedua orangtua 12 Saya bangga ketika orangtua mendengarkan ide/gagasan saya 13 Saya tertekan dengan peraturan yang diberikan orangtua 14 Saya mendapat pujian dari orangtua ketika berprestasi 15 Saya bisa terbuka dengan orangtua 16 Saya didiamkan orangtua ketika melakukan kesalahan 17 Orangtua tidak peduli terhadap apa yang saya lakukan 18 Ketika mempunyai masalah saya takut untuk membicarakan dengan orang tua 19 Guru mempunyai gaya belajar yang mudah dipahami 20 Saya bangga dengan guru humoris 21 Guru meremehkan saya di depan teman-teman satu kelas 22 Saya bosan ketika guru hanya ceramah dan tidak ada waktu untuk diskusi bersama 23 Berkelahi dengan sekolah lain adalah kebanggaan tersendiri bagi saya 24 Saya kerap merokok bersama dengan teman-teman ditempat umum 25 Teman adalah motivasi dan semangat saya dalam bersekolah 26 Teman selalu ada diwaktu saya senang, susah, sedih dan galau 27 Teman bisa menunjukkan jati diri saya 28 Saya mendukung apabila sekolah memiliki banyak kegiatan yang mendukung bakat siswa 29 Saya benci dengan adanya OSIS disekolah 30 Ekstrakurikuler yang monoton membuat saya mudah bosan 31 Adanya organisasi disekolah membuat saya belajar menghargai pendapat orang lain 32 Sekolah tidak mengajarkan pentingnya mengikuti organisasi 33 Organisasi sama sekali tidak ada manfaatnya bagi saya 34 Mengikuti organisasi melatih diri menjadi pribadi yang bertanggung jawab 35 Sarana dan prrasarana disekolah yang memadai membantu menunjang kegiatan belajar-mengajar siswa TS STS

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 Saya turut menjaga dan prasarana yang dimiliki sekolah Saya acuh dengan adanya sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah Sekolah acuh tentang banyaknya sarana dan prasarana yang tidak berfungsi Saya mempengaruhi teman-teman untuk tidak berangkat kumpulan rutin karangtaruna dikampung Teman adalah motivasi dalam hidup saya Saya rela berkorban membantu teman yang berkelahi atas dasar setia kawan Saya lebih percaya dengan teman dibandingkan keluarga Teman adalah tempat dimana saya dapat berbagi rasa Saya sepakat dengan adanya pemberlakuan jam belajar dimasyarakat Saya menolak dengan adanya karang taruna dimasyarakat Saya benci hidup dimasyarakat yang banyak aturanya Saya mendukung bila ada kegiatan keagamaan dalam masyarakat Saya hidup di lingkungan yang rukun dan terhindar dari tindak kekerasan Saya memiliki sikap toleransi antar umat beragama Masyarakat saya terlalu sibuk dengan aktivitasnya, sehingga acuh dengan kegiatan agama yang ada di masyarakat Saya acuh dengan adanya kegiatan keagamaan di masyarakat Banyaknya aktivitas keagamaan di kampung membuat saya aktif dalam keagamaan Saya menyukai acara yang berbau kekerasan dan pornography Saya acuh dengan kabar berita di media massa Acara di tv membuat saya menjadi malas Saya akan meniru gaya seperti artis atau tokoh idaman saya Acara di tv membantu saya memperoleh informasi baik dalam negri maupun luar negri Media massa membantu membuka wawasan yang luas

(114)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh bimbingan pribadi dan sosial terhadap kemandirian santri pondok pesantren Darunnajah Jakarta
0
7
157
Persefsi mahasiswa terhadap perilaku asertifnya : studi deskriftif pada mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan tahun 2014 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial.
0
2
99
Deskripsi penyesuaian sosial siswa SMP BOPKRI 3 Yogyakarta kelas VII tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi-sosial.
1
0
93
Deskripsi tingkat perilaku bullying siswa SMP Kanisius Pakem Yogyakarta tahun ajaran 2012-2013 dan implikasinya terhadap penyusunan topik-topik bimbingan pribadi sosial.
0
3
139
Deskripsi penyesuaian sosial siswa SMP BOPKRI 3 Yogyakarta kelas VII tahun ajaran 2013 2014 dan implikasinya terhadap usulan topik topik bimbingan pribadi sosial
0
0
91
Tingkat kesiapan hidup perkawinan ditinjau dari kematangan psikologis mahasiswa berpacaran dan implikasinya terhadap usulan topik topik bimbingan pribadi sosial
0
0
93
Deskripsi tingkat kemampuan penyesuaian sosial remaja terhadap kelompok sebaya Panti Asuhan Wira Karya Tama Purworejo tahun 2007/2008 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial - USD Repository
0
0
113
Deskripsi tingkat kecerdasan spiritual para suster yunior Ordo Santa Ursula tahun 2007/2008 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan kelompok - USD Repository
0
1
126
Hambatan-hambatan aktualisasi diri siswa-siswi kelas XI SMA Stella Duce Bantul, Yogyakarta tahun pelajaran 2008/2009 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan klasikal - USD Repository
0
0
132
Deskripsi tingkat konsep diri siswa SMP Xaverius Tugumulyo Palembang kelas VIII tahun ajaran 2010/2011 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi - USD Repository
0
0
118
Kebiasaan belajar siswa-siswi kelas VII SMP Kanisius Kalasan Yogyakarta tahun pelajaran 2012/2013 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan belajar - USD Repository
0
0
77
Tingkat religiusitas dan moralitas remaja awal di asrama : studi deskriptif pada remaja Asrama St. Aloysius, Turi dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan dan konseling di asrama - USD Repository
0
0
138
Tingkat kemampuan mengelola rasa marah : studi deskriptif siswa kelas VII SMP Pangudi Luhur Bayat tahun ajaran 2013-2014 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial - USD Repository
0
0
93
Penyebab kecemasan menghadapi menstruasi pada remaja putri SD Kelas VI di Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman, Padang tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya pada usulan topik-topik bimbingan pribadi - USD Repository
0
0
116
Tingkat kecerdasan emosional remaja panti asuhan : studi deskriptif tingkat kecerdasan emosional pada reemaja Panti Asuhan Pondok Harapan Diakonia Bawen dan implikasinya terhadap usulan topi-topik bimbingan pribadi sosial - USD Repository
0
1
94
Show more