Medication error resep obat racikan pasien pediatri rawat inap di RSUP Dr. Sardjito pada periode Februari 2014 (tinjauan fase dispensing dan fase administration) - USD Repository

Gratis

0
1
116
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MEDICATION ER ERROR RESEP OBAT RACIKAN PASIEN IEN PEDIATRI RAWAT INAP DI R RSUP Dr. SARDJITO PADA PERIODE E FEBRUARI 2014 (Tinj injauan Fase Dispensing dan Fase Administrat stration) SKRIPSI Dia Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Me Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Diajukan oleh : Septi Martiani Pertiwi NIM : 108114017 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA U YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MEDICATION ER ERROR RESEP OBAT RACIKAN PASIEN IEN PEDIATRI RAWAT INAP DI R RSUP Dr. SARDJITO PADA PERIODE E FEBRUARI 2014 (Tinj injauan Fase Dispensing dan Fase Administrat stration) SKRIPSI Dia Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Me Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Diajukan oleh : Septi Martiani Pertiwi NIM : 108114017 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA U YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kssh&nffinfr MEI}TUW&NIqEEET REffiP (BAT RACIXABT PA$EFT TUBilAXS} RAIryAT INAP DI RSUP Dr. SABIUITO PADA Pf,SIODS $&BRUAAi 2014 Ginjauan F*e Dispensing ilatf,larr Admiaisfrolian) Skripd yredie$sffi d€to: @irilatimiPmtiwi NIM: l{r8l l4{rl7 Telahdi@iuide -"-'w Aris Vrri&1nati, M.Si., AS- Phl) fef,Esd aAgffiz0la l-!

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penge**hrn Slrirspsi Xeri*t MEDICATIANEEEC}* EESIEP (}BAT B,ACIXAFU trASilEIg PEE}TA,:f]Etr RAWAT INAP DI RSUP DT. SARDJITO PADA PERIODI r'f,BRUARI 2014 (finjauan Fase Dispensing danEa*e Adadaisffiim\ Sle&: Se,pti lUartimi P€rtiwi NIM: 108114017 d*t*@ "S: '*,,. rl"q- ': .'- 1l;! :il']. : re :, Unived$${a"ata Dtrardra .ilff '1da-S, I " ,t'ft\. 1 i:";r ,* Agustus 2ot {$*" ,tu 9:i?*' 'd,i' ;1'.i *r,..{ riil' ,:' ss#. w {t- . efi& .i&. ,$Sf ffiy; . ,,-,1*J **e,;? ". *,.r; i;-,*y" '4Sal ,.sn'"1","i ,.i*^: SaoafaDharma ..*.*rq _f (Aris Wi@xi, MSi-, AF*, F!*"S) Panitia Peirguj i Slaipsi 1. 2. Aris Widayati, M.Si., Apf Ph.D l_-- lp*gUjr*o,M-$a- AS i I 3- DiteMtrie Yirgfuia S, Fm",Ap*, h6.Ss -

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN “DIA TIDAK PERNAH MELEWATKAN SATU KATA PUN DARI UCAPAN YANG KITA PANJATKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH, JANJI-NYA ADALAH IYA DAN AMIN” Karya ini ku persembahkan untuk: Tuhan Yesus Kristus, Papa, Mama dan Adik-adikku tercinta Sahabat dan teman-temanku Almamaterku “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4: 13)“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang (Amsal 23: 18). iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAII$ KEASLIAF$ I{ANYA Srya merryd*m deugam ryffigguhya ffiurs dnipi 1mg "Medication Ewor Resep Obat Racikm Pasien Pediafi Rawal berjrldul I*p di RSUP Dr.Sardjito Pada Periode Februari 2014 (TitrJauan Fase Dispensing Dan Fase Administr*iwf,tidak mt# kffiya dffi @iam ka5ra ry Daia kmwli yry telah disebutkan dalaln kutipan rlan daftar pustaka sebagaimana laya*nya karya ilmiah. Apabila di kemudian hari ditemukan indikasi plagiatisme dalam naskah ini, md(a saye Mia ErffiIg$ry f,epne dsi sffiai porm,m, 1mr;ffig- undangan yang betlaku- Yogyakarta" 7 Agustus 2014 ****w' (Septi Martiani Pertiwi) -.r

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERF{YATAAN PERSSTUJUAN PUBLIKASI IL*IIAH I}NTT'I( KEPEIT$TINGAF{ AKABEIT4IS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Septi Mafiiani Pertiwi NomorMalrasiswa : lO8I140l7 Demi an itnu pengetahum, saya memrberikan ke@a Pa,pstakam Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yailg berjudul: "Medication Error Resep Obat Racikan Pasien Pediatri Rawat Inap di RSUP Ilr,S*rdiito Prd* Peri@ frehru*ri 2ela $ininmr F.roc.@ufrry1l}an S*c Administrdbnf beserta yang diperldcm @ila ada). kryan demikim saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pmgkalan data mendistrib'usikm ssffna te$fitas, dam @ di Internet atau media lain untrlk kepuilingan akdemis tarrya perturueminta ljin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selarna tetap mencantumkan narna saya sebagai penulis. Demikimpernyatam ini yang sayahrat dengm Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 7 Agustus 2014 Yang i Pertiwi) vt se a.

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Medication error Resep Obat Racikan Pasien Pediatri Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Pada Periode Februari 2014 (Tinjauan Fase Dispensing Dan Fase Administration)” dengan baik sebagai salah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) program studi Farmasi Universitas Sanata Dharma. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung baik berupa moral, materiil maupun spiritual. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Papa dan Mama selaku Orangtua penulis atas doa, kasih sayang dan motivasi yang diberikan baik dukungan moral maupun materi kepada penulis selama penulis menempuh kuliah di Farmasi. 2. Ibu Aris Widayati, M.Si., Apt., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma dan Dosen Pembimbing skripsi atas bimbingan, perhatian, kesabaran dan motivasi yang diberikan kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi ini. 3. Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. Selaku Dosen Penguji skripsi yang telah memberi kritik dan saran yang membangun selama proses pembuatan skripsi. vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Ibu Dita Maria Virginia, S.Farm., Apt, M.Sc Selaku Dosen Penguji skripsi yang telah memberi kritik dan saran yang membangun selama proses pembuatan skripsi. 5. Pihak RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang memberikan ijin kepada penulis selama penelitian berlangsung. 6. Adik - adikku tercinta Deddie Marthin Perwira dan Arjuna Mesa Putra atas doa, dukungan dan penghiburan yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi. 7. Teman seperjuangan dalam tim Harris Kristanto untuk semangat, kebersamaan, kerjasama dan informasi yang dibagikan dalam proses penyusunan skripsi dari awal hingga akhir. 8. Sahabatku Vera, Lenny, Yosri, Oswaldine, Adra, Haris, Mala, Dino, Defilia, Kezia, Cilla, Juli, Tari, Gemah, Ista, Mita terimakasih untuk kebersamaan, sukacita dan semangat yang diberikan kepada penulis. 9. Dionysius Aji Prasetyo atas semangat dan dukungan yang diberikan dalam proses penyusunan skripsi. 10. Teman - teman FSM 2010 dan FKK A 2010, terimakasih atas kebersamaan, keceriaan dan pengalaman yang tak tergantikan selama menjalani perkuliahan bersama penulis. 11. Keluarga besar Paduan Suara Inovatif GKI Gejayan dan kos difa untuk kasih sayang, sukacita dan semangat yang diberikan kepada penulis. 12. Seluruh pihak yang membantu selama penelitian berlangsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pdis my n bry&F kdrrymgaeek Hfrffi kjr& tglae ini, se*ringga p@ulis dCIqgro terkdm reima dru ttryqghery&s* Hik dm saran untuk dapat memperbaiki dfui bqhffiry mega krya t*dis ini di hs@ kemudian hari. Aldrir ki kat4 penulis @ddqEpgr ;km pergeYryya*a$a7 Agushls 2014 4d' Pemlis ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING............................................... ii HALAMAN PENGESAHAN........................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN........................................................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA............................................................ v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS.......................................... vi PRAKATA........................................................................................................ vii DAFTAR ISI..................................................................................................... x DAFTAR TABEL............................................................................................. xiii DAFTAR GAMBAR........................................................................................ xiv DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xv INTISARI.......................................................................................................... xvi ABSTRACT........................................................................................................ xvii BAB I. PENGANTAR...................................................................................... 1 A. Latar Belakang............................................................................................. 1 1. Perumusan masalah.................................................................................. 3 2. Keaslian penelitian................................................................................... 4 3. Manfaat penelitian.................................................................................... 5 a. Manfaat teoritis.................................................................................... 5 b. Manfaat praktis...................................................................................... 5 B. Tujuan Penelitian.......................................................................................... 5 1. Tujuan umum............................................................................................ 5 2. Tujuan khusus........................................................................................... 6 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA............................................................... 7 A. Patient Safety................................................................................................ 7 B. Resep............................................................................................................ 7 1. Definisi.................................................................................................... 7 2. Tata Cara Penulisan................................................................................. 7 x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Racikan.................................................................................................... 8 C. Medication error.......................................................................................... 8 1. Definisi................................................................................................... 8 2. Fase Medication error............................................................................ 9 3. Bentuk-bentuk Medication error........................................................... 10 4. Faktor Penyebab Medication error........................................................ 11 5. Medication error di Pediatrik................................................................ 12 6. Pencegahan medication error di pediatrik............................................. 14 C. Keterangan Empiris...................................................................................... 15 BAB III. METODE PENELITIAN................................................................... 16 A. Jenis dan Rancangan Penelitian................................................................... 16 B. Variabel Penelitian....................................................................................... 16 C. Definisi Operasional..................................................................................... 17 D. Lokasi dan Waktu Penelitian........................................................................ 18 E. Objek dan Subyek Penelitian........................................................................ 18 F. Metode Pengambilan Data............................................................................ 19 G. Instrumen Penelitian..................................................................................... 20 1. Penyusunan Panduan Wawancara............................................................ 20 2. Validasi Pertanyaan.................................................................................. 21 3. Penyusunan Lembar Inform Consent....................................................... 21 H. Tata Cara Penelitian..................................................................................... 21 I. Tata Cara Analisis Hasil............................................................................... 24 1. Data Kuantitatif......................................................................................... 24 2. Data Kualitatif........................................................................................... 24 J. Keterbatasan Dalam Penelitian.................................................................... 25 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................... 26 A. Angka Kejadian dan bentuk Medication error Resep Obat Racikan Pasien Pediatri Pada Fase Dispensing dan Administration.......................... 26 1. Fase Dispensing...................................................................................... 27 a. Kesalahan Penulisan Etiket.............................................................. 28 b. Kesalahan Pengambilan Obat........................................................... 34 xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Kesalahan dalam Membuat Bentuk Sediaan Obat........................... 36 2. Fase Administration................................................................................ 40 B. Faktor yang Menyebabkan Terjadi Medication error Resep Obat Racikan Pasien Pediatri Pada Fase Dispensing dan Admnistration........................... 41 1. Fase Dispensing...................................................................................... 41 2. Fase Administration................................................................................ 43 C. Langkah yang Sudah di Lakukan Pihak RSUP Dr. Sardjito Untuk Mencegah Medication error Fase Dispensing dan Fase Administration.... 47 1. Fase Dispensing...................................................................................... 47 2. Fase Administration................................................................................ 50 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN........................................................... 53 A. Kesimpulan................................................................................................... 53 B. Saran............................................................................................................. 55 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 57 LAMPIRAN...................................................................................................... 61 BIOGRAFI PENULIS....................................................................................... 98 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Tabel II. Tabel III. Tabel IV. Tabel V. Tabel VI. Tabel VII. Tabel VIII. Tabel IX. Tabel X. Tabel XI. Tabel XII. Tabel XIII. Bentuk-bentuk Medication error pada tahap Penyiapan Obat...................................................................................... Kesalahan Penulisan Etiket.................................................. Kesalahan Penulisan Etiket pada Penulisan Nama Obat..... Kesalahan Penulisan Etiket pada Penulisan Kekuatan Obat...................................................................................... Kesalahan Penulisan Etiket pada Penulisan Aturan Pakai Obat.................................................................................... Kesalahan Penulisan Etiket pada Penulisan Bentuk Sediaan Obat....................................................................... Kesalahan Pengambilan Obat............................................. Kesalahan Pengambilan Obat pada Pengambilan Jenis Obat...................................................................................... Kesalahan Pengambilan Obat pada Pengambilan Jumlah Obat..................................................................................... Kesalahan dalam membuat Bentuk Sediaan Obat.............. Kesalahan dalam membuat Bentuk Sediaan Obat pada Pengemasan........................................................................ Kesalahan dalam membuat Bentuk Sediaan Obat pada saat peracikan..................................................................... Hasil Wawancara dengan Orangtua Pasien Pediatri pada Fase Administration............................................................. xiii 10 30 30 31 32 34 35 36 36 37 38 39 45

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Tahap Pelayanan Resep di Apotek Instalasi Rawat Inap 2 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta................................................. Gambar 2. Diagram perbandingan resep racikan yang teridentifikasi medication error dan tidak teridentifikasi medication error pada fase dispensing............................................................ Gambar 3. Medication error pada fase dispensing di RSUP Dr. Sardjito Periode Februari 2014................................................................ Gambar 4. Medication error pada fase dispensing di RSUP dr. Sardjito Periode Februari 2014................................................................ xiv 27 28 29 40

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4. Lampiran 5. Lampiran 6 Hasil Observasi Medication error pasien pediatri resep racikan di RSUP Dr. Sardjito pada Fase Dispensing periode Februari 2014....................................................... Hasil Wawancara dengan Apoteker dan Asisten Apoteker mengenai Medication error pasien pediatri resep racikan di RSUP Dr. Sardjito pada Fase Dispensing periode Februari 2014.................................... Hasil Wawancara dengan Orangtua Pasien Pediatri mengenai Medication error dengan orangtua pasien pediatri di RSUP Dr. Sardjito pada Fase Administration periode Februari 2014....................................................... Hasil wawancara dengan perawat mengenai Medication error pada Resep Racikan untuk Pasien Pediatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta........................................ Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta................................................... Surat Izin Ethical Clearence untuk Melakukan Penelitian di RSUP Dr. Sardjito....................................... xv 62 83 85 94 96 97

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI INTISARI Medication error (ME) merupakan kejadian yang dapat membahayakan pasien dan masih dibawah pengawasan tenaga kesehatan. Pediatri merupakan golongan usia yang sering mengkonsumsi obat racikan. Resep racikan memiliki risiko ME yang cukup besar, terkait proses peracikan dan penggunaan obat racikan pada pasien. Tujuan penelitian adalah mengetahui angka kejadian ME, bentuk-bentuk ME, faktor penyebab ME, dan langkah yang sudah dilakukan oleh pihak RSUP Dr. Sardjito untuk mencegah ME khususnya pada fase dispensing dan administration. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data diambil pada Februari 2014 dengan melakukan observasi dan wawancara terstruktur terkait ME kepada asisten Apoteker, Apoteker, orangtua pasien dan perawat. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian ME fase dispensing 26,45% dari 155 resep racikan meliputi kesalahan penulisan nama obat, dosis, aturan pakai, bentuk sediaan obat, pengambilan obat, jumlah obat, pengemasan, dan peracikan. Fase administration ditemukan 11,1% dari 9 responden yang melakukan administration dan ME yang ditemukan adalah kesalahan meminum obat. Faktor penyebabnya adalah penulisan etiket yang tidak lengkap, tidak terbaca, kurangnya ketelitian saat bekerja dan kurangnya informasi yang diberikan pihak rumah sakit kepada orangtua pasien. Upaya yang dilakukan tenaga kesehatan mencegah ME adalah menelaah dan mengecek obat, bekerja sesuai SOP dan teliti saat bekerja. Kata kunci : Medication error, Resep Racikan, Pediatri, Dispensing, Administration xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Medication errors (ME) is an event that can harm patients and still under the control of health workers. Pediatrics is the age group that often consume the drug concoction. Compounded prescription has a highly risk of ME, related to the process of compounding and the use of personalized medicine for patients. The purpose of the study was to determine the percentage of the ME, ME forms, the causes of ME, and the steps that have been taken by RSUP Dr. Sardjito to prevent ME especially in dispensing and administration phases. This study is an observational study with cross-sectional approach. Data were taken in February 2014 with the observation and structured interviews to assistant pharmacist, pharmacists, patient's parents and nurse. The results showed the percentage of ME phase dispensing events 26.4% of the 155 precriptions blend include inapropriate drug name, rules of use, dosage form drugs, taking drugs, number of drugs, packaging, compounding. Phase administration found 11.1% of the 9 respondents and that is only found taking drugs. Factors contributing is the etiquette of writing incomplete, illegible, the lack of rigor at work and lack of information provided by the hospital to the patient's parents. Efforts are made to prevent health workers ME is reviewing and checking the drug, according to the SOP and meticulous work while working. Keywords: Medication error, Prescription Mixing, Pediatrics, Dispensing, Administration xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang National Coordinating Council for Medication Error Reporting and Prevention (NCC MERPP) menyatakan medication error adalah kesalahan pada proses pengobatan yang seharusnya dapat di cegah karena masih dalam pengawasan tenaga kesehatan (NCC MERPP, 2013). Di Denmark, hasil penelitian yang dilakukan oleh Lisby, Nielsen dan Mainz (2005) di Aarhus University Hospital presentase terjadinya medication error (ME) pada fase prescribing sebesar 39%, fase transcribing sebesar 56%, fase dispensing sebesar 4%, dan fase administration sebesar 41% (Lisby,et.,al, 2005). Di Indonesia, belum di dapatkan data yang spesifik dan akurat. Namun demikian, dari hasil penelitian Dwiprahasto (2006) dari 2.585 total resep, 90 % dari jumlah resep tersebut tergolong tidak lengkap dan banyak dijumpai ME seperti pemilihan obat yang tidak tepat indikasi, cara pemberian obat yang salah, frekuensi pemberian dan sedian obat yang tidak tepat. Sebuah penelitian melaporkan kejadian medication error di rumah sakit berkisar antara 4-17% dari seluruh pasien yang dirawat di rumah sakit, 11% medication error terjadi dalam bentuk dispensing error yaitu pemberian dosis dan obat yang keliru. United States Pharmacopeia melaporkan pada tahun 1999, 3% dari 6224 medication error berakhir dengan kegawatan pada pasien (USP, 1999). 1

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Medication error pada anak-anak merupakan kejadian yang perlu diwaspadai, jika potensi ME pada anak-anak tiga kali lipat lebih besar dibanding orang dewasa (Kozer, 2005). Penelitian (Fortescue, 2003) lebih dari 50% yaitu 616 resep dari 10788 peresepan pediatri berpotensial terjadi error, sejumlah 120 (19,5%) termasuk kategori sangat membahayakan. Pediatri merupakan golongan usia yang rentan terserang penyakit dan untuk pengobatannya dokter sering memberikan resep obat racikan. Hal ini dilakukan karena tidak tersedianya dosis dan bentuk sediaan obat yang sesuai dipasaran bagi anak-anak, sehingga obat racikan dianggap lebih efektif diberikan agar tujuan terapi yang diinginkan tercapai. Namun, resep racikan tersebut juga dapat menyebabkan resiko yang besar, seperti kesalahan penghitungan dosis yang seharusnya disesuaikan dengan umur dan berat badan pasien, kesalahan ini dalam berisiko terhadap munculnya overdosis atau under-dosing (Anonim a, 2013). Hinlandou (2008) melaporkan kejadiaan ME obat racikan yang terjadi pada pasien pediatri, ditemukan kesalahan pembaca resep 3,1%, pengambilan obat 6,8%, peracikan 4,6%, pengemasan 0,2%, kesalahan penyebuan nama pasien 0,2%, kesalahan pelabelan 0,4% dan kesalahan kalkulasi dan rekalkulasi 1,5%. Berdasarkan Laporan Peta Nasional Keselamatan Pasien kesalahan dalam pemberian obat menduduki peringkat pertama (24,8%) dari 10 besar insiden yang dilaporkan (Bayang, Pasinringi, dan Sangkala., 2014). Jika disimak lebih lanjut, dalam proses penggunaan obat yang meliputi prescribing, transcribing, dispensing dan administration, dispensing menduduki peringkat pertama (Anonim b, 2008).

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 Penelitian ini penting dilakukan karena resep racikan memiliki potensi terjadinya ME yang lebih tinggi dibandingkan resep non-racikan. Penelitian ini difokuskan kepada pasien pediatri karena obat racikan banyak diresepkan kepada pasien pediatri dengan pertimbangan kesesuaian dosis. Penelitian ini dilakukan pada tahap dispensing dan administration karena hasil pada tahap ini juga berpengaruh terhadap tingginya kejadian ME. Rumah Sakit yang dipilih sebagai model adalah RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Rumah Sakit (RS) ini dipilih sebagai model penelitian karena RS ini merupakan RS pendidikan yang dapat dijadikan tempat untuk melakukan penelitian. Dipilih Instalasi Rawat Inap karena memudahkan akses wawancara dengan orangtua pasien pediatri yang diperlukan dalam penelitian. 1. Permasalahan a. Berapa angka kejadian medication error (ME) resep obat racikan pada pasien pediatri dan apa saja kejadian ME pada fase dispensing dan fase administration di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta? b. Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya ME resep obat racikan pada pasien pediatri pada fase dispensing dan fase administration di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta? c. Apa saja langkah yang sudah dilakukan pihak RSUP Dr. Sardjito untuk mencegah ME di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta?

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 2. Keaslian penelitian Penelitian mengenai medication error (ME) fase dispensing dan fase administration pada obat racikan pada pasien pediatri di RSUP Dr. Sardjito periode Februari 2014 belum pernah dilakukan. Sementara terdapat beberapa penelitian yang terkait dengan masalah ME pada pasien pediatri telah dilakukan oleh beberapa peneliti lain dengan judul sebagai berikut: a. Errors in The Medication Process: Frequency, Type,and Potential (Lisby, et al, 2005). Dari penelitian yang bertujuan mengetahui frekuensi terjadinya medication error di setiap fase ini ditemukan frekuensi terjadinya medication error pada fase prescribing: 167 dari 433 (39%), transcribing: 310 dari 558 (56%), dispensing: 22 dari 538 (4%), administration: 166 dari 412 (41%). b. Evaluasi medication error resep racikan pasien pediatrik di farmasi rawat jalan rumah sakit Bethesda pada bulan Juli tahun 2007 : tinjauan fase dispensing (Hinlandou, pengambilan obat sebesar 2007). Hasil dari penelitian ini adalah 6,8%, peracikan sebesar 4,6%, interpretasi sebesar 3,1%, kalkulasi dan rekalkulasi dosis sebesar 1,5%, pelabelan sebesar 0,4%, pengemasan sebesar 0,2%, dan penyebutan nama pasien sebesar 0,2%. c. Evaluasi masalah utama kejadian medication errors fase administrasi dan drug therapy problems pada pasien Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta periode Agustus 2008 : kajian terhadap penggunaan obat golongan

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 antasida dan antiulserasi (Simanjuntak, 2010). Pada penelitian ini ditemukan 47,2% medication error pada fase administration. Adapun perbedaan antara penelitian-penelitian diatas adalah penelitian ME obat racikan pada fase dispensing dan fase administration pada pasien pediatri, kemudian juga berbeda pada tempat, waktu, tatacara penelitian dan tujuan penelitian. 3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi dan referensi bagi tenaga kesehatan untuk mendeskripsikan ME obat racikan pada fase dispensing dan administration pada pasien pediatri. b. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan untuk pengambilan keputusan oleh tenaga kesehatan mengenai penggunaan obat racikan pada pasien pediatri untuk mencegah ME pada fase dispensing dan administration di RSUP Dr. Sardjito yang akhirnya dapat membantu untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di RSUP Dr. Sardjito. B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Tujuan umum penelitian ini adalah mengevaluasi terjadinya ME pada fase dispensing dan fase administration obat racikan pada pasien pediatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 2. Tujuan khusus Tujuan khusus penelitian ini bertujuan untuk : a. Identifikasi angka kejadian medication error (ME) resep obat racikan pada pasien pediatri dan ME yang terjadi pada fase dispensing dan fase administration di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. b. Identifikasi faktor apa saja yang menyebabkan ME fase dispensing dan fase administration di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. c. Identifikasi langkah apa saja yang sudah dilakukan untuk mencegah ME di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Patient Safety Menurut (Council of Europe, 2005) patient safety adalah aktivitas untuk mencegah dan mengatas efek samping; bebas dari kejadian yang dapat merugikan pasien yang tidak disengaja dilakukan selama masa pengobatan. Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah sistem yang dibuat rumah sakit untuk menjaga dan meminimalkan terjadinya resiko dalam pelayanan kesehatan. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera (Anonim c, 2006). B. RESEP 1. Definisi Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.1197 tentang Standar Pelayanan Farmasi di RS (Anonim d, 2004) menyebutkan bahwa : “Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada Apoteker Pengelola Apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan perundang yang berlaku.” 2. Tata cara penulisan Resep Hal yang terpenting dalam menuliskan resep adalah bahwa tulisan harus jelas sehingga mudah dimengerti. Penulisan resep yang menimbulkan ketidakjelasan, keraguan, atau salah pengertian mengenai nama obat serta dosis yang harus diberikan, sedapat mungkin harus dihindari. Kebiasaan buruk di kalangan dokter dalam menulis resep dengan tulisan yang tidak jelas, kadangkadang menyebabkan pengobatan yang tidak efektif dan tidak aman, masa sakit 7

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 memanjang, membahayakan, dan menimbulkan kekhawatiran pasien, serta menyebabkan pembengkakan biaya (Zunilda, 1998). Resep yang lengkap memuat hal-hal sebagai berikut :1) Nama, alamat, dan nomor izin praktik dokter, dokter gigi, atau dokter hewan; 2) Tanggal penulisan resep (inscriptio); 3) Tanda R pada bagian kiri setiap penulisan resep (invocatio); 4) Nama setiap obat dan komposisinya (prescriptio/ordonatio); 5) Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatura); 6) Tanda tangan atau paraf dokter penulisan resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (subscriptio); 7) Jenis hewan serta nama dan alamat pemiliknya untuk resep dokter hewan; 8) Tanda seru dan/atau paraf dokter untuk resep yang melebihi dosis maksimalnya (Syamsuni, 2006). 3. Racikan Resep racikan adalah resep yang memerlukan keahlian Apoteker dalam mencampur berbagai bahan obat menjadi bentuk sediaan obat. Resep racikan mengandung nama dan kuantitas tiap bahan yang diperlukan. Nama bahan pada umumnya ditulis dengan nama generik (Siregar dan Amalia, 2004). C. Medication error 1. Definisi Medication error adalah suatu kesalahan pada proses pelayanan obat yang dapat membahayakan pasien dan seharusnya dapat dicegah karena masih dalam pengawasan tenaga kesehatan (NCC MERPP, 2013). Kejadian medication error merupakan indikasi tingkat pencapaian patient safety, khususnya terhadap tujuan tercapainya medikasi yang aman. Kriteria medication error menurut

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 (Lisby, et al,2005) terjadi pada tahap order/permintaan, transkripsi, dispensing dan administering 2. Fase Medication error Kejadian ME terdiri dari 4 fase, yaitu fase prescribing, transcribing, dispensing dan fase administration. a. Fase prescribing kesalahan yang dapat timbul karena pemilihan obat yang salah untuk pasien. Kesalahan meliputi dosis, jumlah obat, indikasi, atau peresepan obat yang seharusnya menjadi kontraindikasi. Kekurangan pengetahuan tentang obat yang diresepkan, dosis yang direkomendasikan dan kondisi pasien berkontribusi dalam prescribing errors (Swandari, 2013). b. Fase transcribing adalah kesalahan yang terjadi pada tahap pembacaan resep untuk proses dispensing (Swandari,2013). c. Fase dispensing adalah kegiatan pelayanan dari tahap validasi, interprestasi, persiapan dan peracikan obat, pemberian etiket, penyerahan obat dengan pemberian informasi obat yang disertai dengan sistem dokumentasi (Anonim d, 2004). d. Fase administration adalah esalahan pengobatan atau kelalaian yang terjadi dalam tahap administrasi ketika obat harus diberikan oleh perawat, atau pasien sendiri, atau pengasuh (Council of Europe, 2005). Seperti perbedaan antara obat yang diterima pasien dengan obat yang dimaksudkan oleh dokter. Administration error juga termasuk kelalaian dalam meminum obat, teknik pemberian obat yang tidak tepat, dan sediaan yang kadaluarsa (Swandari, 2013).

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 3. Bentuk-bentuk Medication error Bentuk-bentuk ME dapat terjadi pada berbagai fase mulai dari fase atau tahap penulisan (prescribing), pembacaan (transcribing), peracikan (dispensing) sampai tahap pemakaian (administration). Dwiprahasto (2008) mengelompokkan bentuk-bentuk medication error dalam empat tahap penyiapan obat yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel I. Bentuk-Bentuk Medication error Pada Tahap Penyiapan Obat (Dwiprahasto, 2008) Precribing Transcribing Dispensing Administration 1. Kontra 1. Copy error 1. Kontra 1. Administration indikasi 2. Keliru saat indikasi error 2. Duplikasi pembacaan 2. Extradose 2. Kontraindikasi 3. Resep tidak 3. Instruksi ada 3. Gagal 3. Obat tertinggal terbaca yang mengecek disamping bed 4. Instruksi tidak terlewatkan instruksi 4. Extradose jelas 4. Mis-stamped 4. Sediaan obat 5. Gagal 5. Instruksi 5. Instruksi buruk mengecek keliru tidak 5. Instruksi instruksi 6. Instruksi tidak dikerjakan penggunaan 6. Tidak lengkap 6. Salah obat tidak jelas mengecek 7. Perhitungan menerjemah- 6. Salah identitas dosis keliru kan instruksi menghitung pasien verbal dosis 7. Dosis keliru 7. Salah memberi 8. Salah menulis label instruksi 8. Salah menulis 9. Patient off unit instruksi 10. Pemberian 9. Dosis keliru obat diluar 10. Pemberian instruksi obat diluar 11. Instruksi instruksi verbal keliru 11. Keliru dijalankan menerjemahkan instruksi verbal

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 4. Faktor penyebab Medication error Faktor penyebab ME tersebut diantaranya berupa : 1) Komunikasi yang buruk baik secara tertulis dalam bentuk kertas resep maupun secara lisan (antara pasien, dokter dan Apoteker), 2) sistem distribusi obat yang kurang mendukung (sistem komputerisasi, sistem penyimpanan obat, dan lain sebagainya), 3) sumber daya manusia (kurang pengetahuan, pekerjaan yang berlebihan, dan lain-lain), 4) edukasi kepada pasien kurang, 5) kurangnya peran pasien dan keluarga dalam pengobatan (Cohen, 1999). 6) nama obat yang hampir sama, 7) kesalahan pada penulisan dan penempelan label, 8) kesalahan pengemasan yaitu kemasan dan bentuk sediaan yang kurang tepat (Thomas,2001), 9) cara dispensing obat yang baik (CDOB) tidak diterapkan, dan 10) pelaksanaan sistem formularium yang belum memadai (Siregar dan Amalia, 2004). 11) penggunaan, dan monitoring, 12) faktor lingkungan, 13) pendidikan staf dan kompetensi, pendidikan pasien (Anderson dan Townsend, 2013) Prescribing error dapat terjadi karena tulisan dokter yang buruk dan beban kerja yang berat. Penyebab dispensing error adalah faktor lingkungan kerja, faktor tenaga kesehatan seperti tulisan dokter yang tidak jelas, resep tidak lengkap (tidak ada keterangan bentuk sediaan obat, beban kerja yang berlebihan dan pasien yang tidak kooperatif (Bayang, et al, 2014). Faktor lain yang juga mempengaruhi dispensing error karena prosedur pengelolaan obat yang kurang baik nama dagang atau penampilan yang mirip. Misalnya Lasix® (Furosemide) dan Losec® (omeprazole) memiliki nama yang ketika dituliskan namanya terlihat serupa. Hal lain yang berpotensi menimbulkan

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 dispensing error adalah dosis yang salah, kesalahan obat, kesalahan pasien, penulisan label yang salah (Williams, 2007). Faktor penyebab administration error adalah faktor tenaga kesehatan karena beban kerja berat, selain itu juga dikarenakan faktor pasien seperti pasien atau keluarga pasien yang tidak kooperatif dan tidak paham mengenai prosedur pengambilan obat (Bayang, et al, 2014). 5. Medication error di pediatrik Tenaga kesehatan profesional sering kali tidak dapat mempersiapkan dan memberikan dosis dari formulasi yang tersedi dipasaran yang sesuai seperti yang dibutuhkan pasien pediatri. Akibatnya bentuk sediaan obat untuk pasien pediatrik sering diubah. Tablet digerus, kapsul dibuka dan diminum bersama makanan atau minuman. Situasi ini dapat meningkatkan permasalahan kelarutan dan bioavailabilitas. Walaupun dilakukan reformulasi, masalah dapat timbul dari kekurangan informasi tentang stabilitas, sterilitas produk, dan bioavailabilitas (Cohen, 1999). Walaupun pabrik obat memproduksi obat dengan konsentrasi untuk dewasa dan anak-anak, masih timbul potensi kesalahan. Produk anak-anak dan dewasa biasanya disimpan bersebelahan pada rak. Jika farmasis atau pelanggan tidak membaca label, maka dia akan memilih obat dengan konsentrasi yang salah (Cohen, 1999). Resiko pelayanan resep pada pasien pediatrik salah satunya adalah kesalahan perhitungan dosis. Kesalahan perhitungan dosis disebabkan kurang teliti dan tulisan resep yang tidak jelas yang mengakibatkan kesalahan

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 interprestasi. Resiko ini dapat diminimalisasi dengan memeriksa kembali,dan menstandarisasi dosis yang diminta (Cohen, 1999). Medication error pada anak-anak perlu perhatian khusus karena penggunaan obat pada anak-anak berkaitan dengan perbedaan laju perkembangan organ, sistem dalam tubuh dan enzim yang bertanggung jawab pada metabolisme pediatri, selain itu juga dikarenakan sistem ekskresi pediatri yang belum sempurna (Aslam., Tan., dan Prayitno, 2003). Salah satu faktor penyebab ME adalah kegagalan komunikasi (salah interpretasi) antara penulis resep dengan orang yang melakukan dispensing. Kegagalan komunikasi ini dapat disebabkan karena ketidakjelasan serta tidak lengkapnya penulisan resep. Contoh ketidaklengkapan resep pada peresepan pediatri seperti tidak tercantumnya berat badan dan umur pasien yang sangat penting dalam perhitungan dosis pediatri (Bayang, et al, 2012). Faktor lain yang berpotensi cukup tinggi menyebabkan terjadinya ME adalah racikan pada resep pediatri yang berisi lebih dari tiga kombinasi jenis obat dan adanya obat dalam satu peresepan memiliki aksi farmakologi yang sama (Hartayu dan Widayati, 2005). Bayi dan anak-anak memiliki resiko ME yang tinggi karena beberapa faktor yaitu perubahan perkembangan fisiologis (mempengaruhi disposisi obat), perhitungan dosis yang bersifat individual berdasarkan berat badan, kurangnya bentuk sediaan obat dan konsentrasi obat dipasaran, dan kurangnya informasi dan pelabelan untuk pediatri pada berbagai obat (Bell, 2003).

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 6. Pencegahan ME di pediatrik Cara yang paling efektif mengurangi kesalahan adalah pencegahan. Semua dosis dan rute pemberian harus diperiksa dua kali oleh dua petugas kesehatan profesional. Perhatian harus difokuskan pada kemungkinan kesalahan menghitung, kesalahan desimal, dan kesalahan konsentrasi pada penggunaan sediaan oral, atau sediaan parenteral pada pasien pediatri (Cohen, 1999). Tindakan nyata yang dapat dilakukan untuk mencegah medication error oleh seorang farmasis adalah melakukan skrining resep yang dapat ditinjau dari kelengkapan resep yang meliputi identitas dokter, identitas pasien, nama obat, regimen dosis, serta kelengkapan administratif yang lain (Anonim d, 2004). Beberapa cara perubahan yang dapat menurunkan angka kejadian ME pada fase dispensing dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dari pendekatan yang berbeda untuk penyimpanan produk di rak-rak apotek. Penyimpanan barang serupa secara terpisah dilakukan upaya untuk menghindari kesalahan pengambilan obat (Beso, Franklin dan Barber, 2005). Persiapan Obat dan administrasi merupakan bagian dari prosedur pengobatan, yang dapat mengurangi resiko terjadinya ME, yang melibatkan langkah-langkah berikut; pengurangan gangguan dan interupsi selama pemberian obat, wajib untuk memeriksa kembali obat oleh dua perawat yang terpisah (terutama dalam obat berisiko tinggi, yang biasanya bertanggung jawab untuk efek samping atau kesalahan), pelaksanaan "lima hak" (obat yang tepat, dosis yang tepat, rute yang tepat, waktu yang tepat, pasien yang tepat) ketika mempersiapkan obat (meskipun faktor ini berfokus pada kinerja individu dan

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 tidak mencerminkan kompleksitas prosedur pengobatan), pemisahan jelas obat dengan kesamaan baik dalam warna atau nama, dengan meletakkan label LASA (Look Alike Sound Alike),mengecek jika obat telah diadministrasikan kepada pasien yang tepat (Athanasakis, 2012). Academy of Managed Care Pharmacy (AMCP) menyatakan cara untuk mencegah ME tidak hanya dari tenaga kesehatan, namun juga dapat dilakukan oleh pasien sendiri. Tenaga harus memberikan pendidikan pasien yang memadai tentang penggunaan yang tepat dari obat pasien untuk mencegah ME. Beberapa hal yang dapat pasien lakukan untuk membantu mencegah ME adalah mengetahui nama dan indikasi obat, membaca lembar informasi obat yang diberikan oleh Apoteker, jangan berbagi obat dengan pasien lain, periksa tanggal kedaluwarsa obat dan membuang obat kadaluarsa, pelajari tentang penyimpanan obat yang tepat, simpan obat dari jangkauan anak-anak dan pelajari tentang interaksi obat potensial dan peringatannya (AMCP, 2010). D. Keterangan Empiris Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan presentasi angka kejadian ME pada resep racikan pediatri yang terjadi pada fase dispensing dan fase administration, bentuk ME, penyebab terjadinya ME, dan tindakan pencegahan yang sudah dilakukan pada fase dispensing dan fase administration.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan pendekatan rancangan penelitian cross-sectional yaitu tiap subyek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan (Notoadmodjo, 2012). Dalam penelitian ini dipilih cross-sectional karena pengamatan peracikan satu resep, dan pemberian informasi ke pasien dilakukan sekali saja dan evaluasi kesalahan dilakukan langsung pada saat observasi. Penelitian observasional merupakan penelitian yang tidak melakukan perlakuan atau intervensi dan hanya melakukan pengamatan saja pada subjek yang diteliti. Penelitian observasional dilakukan untuk melihat kejadian ME yang terjadi pada fase dispensing dan administration dan self-reported dilakukan dengan wawancara terstruktur. B. Variabel Penelitian 1. Angka kejadian medication error dan bentuk medication error pada resep racikan pasien pediatri pada fase dispensing dan fase administration. 2. Penyebab terjadinya medication error pada resep racikan pasien pediatri pada fase dispensing dan fase administration. 3. Tindakan pencegahan medication error yang sudah dilakukan pada fase dispensing dan fase administration pada resep racikan pasien pediatri. 16

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 C. Definisi Operasional 1. Medication error (ME) pada penelitian ini diartikan sebagai kesalahan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan pada fase dispensing dan administration. Kejadian ME pada fase dispensing diungkap melalui observasi langsung proses peracikan yang terjadi di Instalasi Farmasi di Instalasi Rawat Inap II (IRNA II) dan administration diungkap dengan menganalisis hasil wawancara terstruktur dengan orangtua pasien pediatri. 2. Jenis atau bentuk ME pada resep racikan yang diteliti dalam penelitian ini adalah ME pada fase dispensing dan fase adminstration yang dijelaskan pada poin 5 dan 6. 3. Penyebab terjadinya ME adalah faktor - faktor yang memicu terjadinya ME, yang diungkapkan melalui wawancara terstruktur kepada Apoteker, asisten Apoteker, orangtua pasien dan perawat. 4. Tindakan pencegahan ME yang telah dilakukan adalah upaya yang dilakukan oleh pihak RSUP Dr. Sardjito untuk mencegah terjadinya ME pada fase dispensing dan administration yang diungkap melalui wawancara tersturuktur kepada Apoteker, asisten Apoteker, dan perawat. 5. Fase dispensing adalah kesalahan yang terjadi saat proses peracikan obat yang meliputi tahap penulisan etiket, pengambilan obat, peracikan, pengemasan. 6. Fase administration adalah kesalahan yang terjadi saat proses penggunaan obat oleh orangtua pasien pediatri kepada pasien pediatri.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 7. Resep racikan adalah setiap R/ dengan satu atau lebih dari satu komponen obat dan memerlukan proses peracikan maupun perubahan bentuk sediaan obat yang ada pada setiap lembar resep pada periode Februari 2014. 8. Pembaca resep adalah semua tenaga kefarmasian di Instalasi Farmasi IRNA II RSUP Dr. Sardjito, yaitu Apoteker dan Asisten Apoteker yang menangani resep racikan yang digunakan dalam penelitian ini. 9. Peracik obat adalah semua tenaga kefarmasian seperti Apoteker maupun Asisten Apoteker yang memiliki kewenangan untuk meracik obat di Instalasi Farmasi IRNA II RSUP Dr. Sardjito. 10. Pasien pediatri adalah pasien anak-anak yang berobat di IRNA II RSUP Dr. Sardjito yang berumur dibawah 12 tahun di ruang melati II dan melati IV. D. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian Medication error Resep Obat Racikan pada Pasien Pediatri Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito periode Februari 2014 (Tinjauan fase dispensing dan fase administration) dilakukan di IRNA II dan Instalasi Farmasi IRNA II pada periode Februari 2014 yang dilakukan dari tanggal 5 Februari 2014 pada jam 10.00 - 13.00 WIB setiap hari Senin - Sabtu, kecuali hari Jumat dari jam 10.00 12.00 WIB. E. Objek dan Subjek Penelitian Objek penelitian ini adalah resep racikan (R/) pasien pediatri yang diracik oleh Apoteker dan asisten Apoteker dibawah pengawasan Apoteker yang berwenang pada periode Februari 2014. Kriteria inklusi untuk objek penelitian ini adalah resep racikan (R/) untuk pasien pediatri dan resep hanya berisi obat yang

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 memerlukan proses peracikan baik pencampuran maupun perubahan bentuk sediaan obat. Kriteria eksklusi untuk objek penelitian ini adalah resep obat nonracikan dan obat injeksi. Subjek dalam penelitian ini adalah Apoteker, Asisten Apoteker di Instalasi Farmasi IRNA II di RSUP Dr. Sardjito. Orangtua pasien pediatri yang anaknya mendapatkan obat racikan di IRNA II ruang rawat inap Melati II dan Melati IV pada periode Februari 2014 yang bersedia memberikan informasi dan terlibat dalam penelitian ini. Perawat yang menangani pasien di IRNA II Melati II dan Melati IV yang bersedia memberikan informasi dan terlibat dalam penelitian ini. Subjek dan objek yang diteliti diambil dengan menggunakan teknik accidental sampling. Subjek dan objek yang diambil adalah subjek dan objek yang dapat diteliti pada saat waktu penelitian berlangsung. Penelitian dilakukan pada saat jam yang telah ditentukan yaitu setiap jam 10.00-13.00 WIB. F. Metode Pengambilan Data 1. Angka kejadian dan bentuk medication error serta penyebab terjadinya ME pada resep racikan pediatri pada fase dispensing dan fase administration diperoleh dengan: a. Fase dispensing diperoleh dengan cara observasi langsung pada proses peracikan sampai penyerahan obat. b. Fase administration dilakukan dengan cara wawancara tersturuktur dengan orangtua pasien pediatri.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 2. Faktor penyebab dan tindakan pencegahan medication error pada fase dispensing diperoleh dengan menggunakan wawancara tersturuktur yang ditunjukan kepada Apoteker dan asisten Apoteker di Instalasi Farmasi IRNA II. Sedangkan fase administration untuk faktor penyebabnya diperoleh dengan wawancara terstruktur dengan orangtua pasien pediatri di IRNA Melati II dan Melati IV dan tindakan pencegahan pihak RSUP Dr. Sardjito dilakukan wawancara terstruktur dengan perawat di IRNA Melati IV. G. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar observasi yang memuat memuat hal yang perlu dilakukan dalam tahap dispensing, panduan wawancara terstruktur dan Inform consent yang memuat ketersediaan subyek untuk di ikutkan dalam penelitian. Lembar observasi dibuat mengacu kepada KEPMENKES RI No.1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Pendoman wawancara disusun dengan melalui tahap-tahap: 1. Penyusunan panduan wawancara Panduan wawancara dibuat dengan memuat pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan ME meliputi pertanyaan mengenai penyebab terjadinya ME dan usaha yang telah dilakukan sebagai upaya pencegahan ME. Pertanyaanpertanyaan tersebut diberikan kepada Apoteker, asisten Apoteker, orangtua pasien pediatri dan perawat yang terdapat pada fase dispensing dan administration. Pada fase administration juga dibuat pertanyaan yang berkaitan mengenai ME yang

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 terjadi pada pasien pediatri dan penyebab terjadinya kejadian ME pada pasien pediatri yang menimbulkan ME pada fase administration. 2. Validasi pertanyaan Validasi isi dilakukan dengan cara validasi by expert adjustment yang meliputi validasi muka dan validasi isi untuk memastikan pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat bisa digunakan untuk memperoleh informasi yang diharapkan, sesuai dengan tujuan penelitian. Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga harus jelas dan tidak membingungkan. Jika pertanyaan yang telah dibuat tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka peneliti harus merevisi kembali pertanyaan yang belum sesuai. 3. Penyusunan lembar inform consent Lembar inform consent yang dibuat memuat ketersediaan subjek penelitian dalam mengikuti penelitian dan perjanjian bahwa selama penelitian subyek mau memberikan informasi yang dibutuhkan dengan sebenar-benarnya tanpa ada manipulasi. H. Tata Cara Penelitian Ada empat tahapan yang dijalani dalam penelitian ini, yaitu tahap observasi awal, tahap permohonan izin, orientasi dan pengumpulan data. 1. Observasi awal Tahap ini dilakukan pembuatan proposal penelitian dan kunjungan ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta untuk mengetahui persyaratan untuk melakukan penelitian dan cara memperoleh data.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 2. Permohonan izin Tahap ini dilakukan setelah observasi. Pada observasi diperoleh informasi bahwa untuk memperoleh data diperlukan persyaratan seperti proposal, surat izin penelitian dari Universitas Sanata Dharma dan ethical clearance. Permohonan izin pembuatan ethical clearance diperlukan karena penelitian ini melibatkan manusia sebagai responden. Permohonan ijin ethical clearence dilakukan dengan mengajukan proposal penelitian ke Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta dengan nomor protokol ethical clearence: KE/13/12/2013. Permohonan izin penelitian juga di ajukan ke RSUP Dr. Sardjito. Permohonan diperlukan untuk memperoleh ijin penelitian dari pihak RSUP Dr. Sardjito, dan di dapatkan surat keterangan penelitian dari RSUP Dr. Sardjito dengan nomor surat: LB.02.01/II.2/15078-1/2014. 3. Orientasi Orientasi dilakukan selama satu hari pada tanggal 3 Februari 2014, orientasi dilakukan untuk mengetahui proses pelayanan obat yang terjadi di Instalasi Farmasi IRNA II. Setelah proses pelayanan obat diketahui, kemudian dapat disusun lembar observasi yang sesuai dan memungkinkan untuk di observasi.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 4. Pengumpulan data a. Data kuantitatif. 1) Data kuantitatif fase dispensing i. Observasi langsung kepada Apoteker yang sedang melakukan proses dispensing resep racikan pasien pediatri pada saat penelitian dilakukan. Menggunakan bantuan lembar observasi yang memuat hal yang perlu dilakukan dalam peracikan untuk mengetahui jumlah medication error yang terjadi pada tahap ini. Dari observasi didapatkan 155 resep yang dapat di ikuti. ii. Kesalahan yang terjadi selama proses dispensing dicatat dan digunakan sebagai data untuk mengetahui persentase medication error pada fase dispensing. 2) Data kuantitatif fase administration i. Wawancara dengan wawancara terstruktur dilakukan kepada orangtua pasien pediatri yang anaknya berobat dan mendapatkan terapi obat racikan di IRNA II ruang Melati II dan Melati IV RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Wawancara dilakukan dengan 9 orangtua pasien pediatri yang bersedia diwawancara. ii. Pelaksanaan wawancara dilakukan kurang lebih selama 15 menit. iii. Setelah wawancara terjawab seluruhnya, hasil wawancara dibawa oleh peneliti dan digunakan sebagai data penunjang dari data yang diperoleh pada observasi langsung.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 b. Data Kualitatif. Pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan menggunakan wawancara terstruktur kepada Apoteker, asisten Apoteker dan perawat yang pernah menangani resep racikan pasien pediatri. Data yang diperoleh digunakan sebagai data untuk menjawab masalah yang terkait dengan penyebab dan usaha pencegahan medication error. I. Tata Cara Analisis Hasil 1. Data kuantitatif fase dispensing Kejadian medication error yang terjadi pada fase dispensing didapatkan dengan cara: presentase ME = 2. total resep yang terdapat ME pada fase dispensing x 100% total resep obat racikan yang diobservasi Data kuantitatif fase Administration Kejadian kesalahan pada fase administration didapatkan dengan cara: presentase ME= total observasi yang terdapat error pada fase administration x 100% total proses administration yang diobservasi Total observasi yang terdapat error pada fase administration adalah satu kejadian ME pada satu proses administration dihitung satu kesalahan, walaupun ME yang terjadi pada satu proses yang dilakukan oleh orangtua pasien ditemukan lebih dari satu kesalahan. 3. Data kualitatif Pernyataan yang diberikan oleh Apoteker, asisten Apoteker, orangtua pasien pediatri dan perawat mengenai penyebab dan usaha pencegahan medication error disusun dalam lampiran terpisah. Pernyataan yang diperoleh digunakan

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 sebagai data penunjang untuk membantu mengidentifikasi faktor penyebab, usaha pencegahan ME yang sudah dilakukan dan usaha perbaikan yang sebaiknya dilakukan. J. Keterbatasan dalam Penelitian Keterbatasan penelitian yang dihadapi: 1. Pada fase dispensing pertama dilakukan penulisan etiket yang dilakukan oleh Apoteker. Proses yang dilakukan setelah penulisan etiket adalah melakukan input data dari kartu informasi pemberian obat (KIPO) ke komputer, sementara Asisten Apoteker pada waktu yang bersamaan melakukan peracikan obat berdasarkan etiket yang dibuat oleh Apoteker, kedua proses tersebut juga dilakukan di tempat yang berbeda sehingga pada saat observasi tidak dapat dilakukan pencocokan apakah obat yang tertulis di KIPO dan di etiket sudah sesuai atau tidak. Selain itu juga karena input data dan peracikan dilakukan bersamaan menyebabkan penulisan R/ asli tidak dapat ditampilkan karena peneliti tidak dapat melihat KIPO yang ada. 2. Pada penelitian tidak dapat dilakukan pencocokan terhadap obat yang didapat pasien dengan informasi mengenai obat yang disampaikan orangtua pasien kepada peneliti, informasi obat yang didapat hanya berdasarkan informasi yang berdasarkan ingatan orangtua pasien saja, hal ini dikarenakan obat diberikan oleh pihak perawat pada saat jam minum obat saja, sehingga peneliti tidak dapat memastikan apakah informasi yang disampaikan oleh orangtua pasien benar atau tidak.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 3. Wawancara yang dilakukan dengan Apoteker, Asisten Apoteker, Orangtua pasien pediatri dan Perawat memungkinkan adanya informasi yang diberikan berdasarkan personal bias, responden mungkin memaparkan hal yang baik-baik saja. 4. Penyimpanan obat di IRNA II disimpan di lemari tertutup sehingga peneliti tidak dapat melihat kondisi penyimpanan yang terjadi di dalam lemari obat, sehingga pada fase administration peneliti tidak dapat memastikan apakah penyimpanan obat di IRNA II sudah baik atau tidak.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian mengenai “Medication error Resep Obat Racikan Pasien Pediatri Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito pada Periode Februari 2014 (Tinjauan Fase Dispensing dan Fase Administration)” dilakukan dengan mengobservasi resep racikan pasien pediatri dan wawancara dengan Apoteker dan asisten Apoteker di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II, perawat dan orangtua pasien pediatri di Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Bagian-bagian yang dibahas sebagai berikut: A. Bentuk medication error dan angka kejadian medication error pada resep racikan pasien pediatri pada fase dispensing dan fase administration. Medication error (ME) adalah kejadian kesalahan pada proses pengobatan yang dapat merugikan pasien, yang sebenarnya masih dalam tahap pengawasan dan penanganan tenaga kesehatan yang seharusnya dapat dicegah. Melalui observasi, dapat diketahui tahap-tahap yang berlangsung selama pelayanan resep adalah sebagai berikut: Pengetikan di komputer Skrining resep Pengemasan Pelabelan Peracikan Pengambilan obat Penyerahan obat ke perawat Penulisan etiket Rekalkulasi dosis Pemeriksa ulang oleh perawat Penyerahan obat kepada pasien oleh perawat Gambar 1. Tahap Pelayanan Resep di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta 27

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 1. Fase dispensing sing ikan untuk pasien Angka kejadi jadian Medication error (ME) resep obat racika sep racikan yang pediatri, diketahui 41 resep teridentifikasi ME dari 155 resep teramati. Angka kejadi jadian ME pada fase dispensing sebesar 26,5% dari 155 total resep. Resep yang tida tidak teridentifikasi ME sebanyak 114 resepp aatau 73,5% dari ukkan bahwa kejadian 155 resep racikan yan ang teramati. Data yang didapat menunjukkan ME yang ditemukann llebih kecil dibandingkan dengan resep yangg ttidak ditemukan ukan di Rumah Sakit ME. Menurut peneliti litian (Lisby., et al, 2005) ME yang ditemukan yak 22 error dari Aarhus University di ditemukan ME pada fase dispensing sebanya ditemukan tidak 538 resep, dengan pre presentase kejadian 4%. Perbedaan hasil yangg di nelitian, populasi dapat dibandingkann secara spesisifik dikarenakan lokasi pene penelitian, tata cara pe penelitian dan obat yang di amati berbeda. 26,5% 73,5% R/ yang teridentifikasi ME R/ yang tidak teridentifikasi ME eridentifikasi Gambar 2. Diagr agram perbandingan resep racikan yang teri rror pada fase medication error rror dan tidak teridentifikasi medication error dispensing si F Farmasi Instalasi Berdasarkan an hasil observasi yang dilakukan di Instalasi uari didapatkan 155 Rawat Inap II (IRNA A II) RSUP Dr. Sardjito selama bulan Februari dapatkan sebanyak resep yang bisa diikut kuti pada fase dispensing, dari 155 resep didapa

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 41 resep yang teride ridentifikasi ME. Sementara terdapat 44 ke kesalahan yang ditemukan dari 41 re resep tersebut, dari data terdapat 3 resep ya yang didalamnya terjadi 2 kesalahan. n. Bila diuraikan error yang terjadi tersebut but adalah sebagai berikut: 68,20% 27,30% 80,00% 0% 60,00% 0% 40,00% 0% 20,00% 0% 0,00% 0% 4,50% Kesalahan kesalahan Kesalahan penulisan pengambilan pembuatan etiket obat bentuk sediaan obat Bentuk - bentuk kesalahan ME Gambar 3. Medi Medication error pada fase dispensing di Instalasi alasi Farmasi Instalasi Rawat awat Inap II RSUP Dr. Sardjito Periode Febru bruari 2014 Kesalahan ya yang terjadi pada fase dispensing di RSU SUP Dr. Sardjito diuraikan sebagai beri berikut: a. Kesalahan Penul enulisan etiket. Pada gambar bar 2 diketahui kejadian ME yang paling sering ing terjadi selama se aawal dari proses penelitian adalahh kesa kesalahan penulisan etiket yang merupakan fase dispensing, dari 44 kesalahan yang didapat selama observasi si dinyatakan 30 kesalahan yang terjadi jadi pada penulisan etiket, dengan presentasee 668,2% kesalahan dari total 44 kesalahan. han. Kesalahan tersebut adalah sebagai berikut: kut:

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 Tabel II. Kesalahan Penulisan Etiket di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada Periode Februari 2014 No 1 2 3 4 Macam Kesalahan Kesalahan Penulisan Nama Obat Kesalahan Penulisan Kekuatan Obat Kesalahan Penulisan Aturan Pakai Obat Kesalahan Penulisan Bentuk Sediaan Obat Jumlah Presentase kesalahan kesalahan (N= 44)% 1 2,3% 3 6,8% 24 54,5% 2 4,5% Pada penulisan etiket ditemukan kesalahan nama obat, kesalahan tersebut ditemukan pada satu etiket dengan angka kejadian 2,3% dari 44 kesalahan yang terjadi. Kesalahan pada penulisan nama obat dapat mempengaruhi proses peracikan dan jika kesalahan ini tidak ditangani dapat mengakibatkan kesalahan pada proses administration. Kesalahan tersebut dapat menyebabkan error dikarenakan ada nama obat yang hampir sama, contohnya cetirizin dengan ceftriaxon, klonidin dengan konidin®, dimana kedua obat ini memiliki indikasi yang berbeda. Konidin® merupakan obat batuk sementara klonidin merupakan obat antihipertensi. Kesalahan ini berakibat fatal karena jika sampai ke tangan pasien dapat menyebabkan pasien mendapatkan terapi yang tidak sesuai dengan diagnosis yang ditegakkan. Kesalahan penulisan nama obat yang dimaksud sebagai berikut: Tabel III. Kesalahan Penulisan Etiket pada Penulisan Nama Obat di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada Periode Februari 2014 No Etiket 1 cetirisi 2 mg 1x 1 bungkus sehari Dibuat 5 bungkus Kesalahan yang terjadi cetirizin di tulis cetirisi

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Berdasarkan hasil observasi ditemukan kesalahan pada tiga etiket. Ditemukan bahwa pada ketiga etiket ini, Apoteker yang menulis etiket tidak menuliskan kekuatan obat yang dimaksud. Kesalahan yang ditemukan adalah sebagai berikut: Tabel IV. Kesalahan Penulisan Etiket pada Penulisan Kekuatan Obat di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada Periode Februari 2014 No Etiket 1 captopril 2 gram 2x 1 bungkus sehari Dibuat 12 bungkus 2 Phenobarbital 3 piracetam 210 mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 12 bungkus Kesalahan yang terjadi mg ditulis gram, namun yang diambil mg Tidak ada kekuatan dan aturan pakai obat, penanganannya Asisten Apoteker (AA) menanyakan dosis ke Apoteker, kekuatannya 5mg 200 mg ditulis 210 mg, namun AA menanyakan kepada Apoteker untuk memastikan kekuatan yang dimaksud, jadi yang diambil 200 mg Kesalahan penulisan kekuatan obat merupakan hal yang fatal dilakukan, karena kesalahan ini dapat menyebabkan peracik obat salah dalam meracik obat yang dimaksud oleh dokter. Jika kesalahan penulisan kekuatan obat terjadi dapat menyebabkan kesalahan kalkulasi dosis yang dapat mengakibatkan kesalahan pengambilan jumlah obat. Dengan demikian dapat menyebabkan pasien mendapat dosis yang tidak sesuai dengan terapi yang diharapkan. Jika peracik obat tidak teliti dan membiarkan saja kesalahan ini terjadi, hal ini dapat berpengaruh terhadap patient safety, khususnya jika kejadian ini terjadi kepada pasien pediatri yang dosisnya perlu diperhatikan dengan teliti. Dosis obat yang kurang dari kadar efek minimum dapat menyebabkan obat tidak berefek, sedangkan dosis yang melebihi kadar efek maksimum dapat

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 memberikan efek toksik. Selama penelitian, jika Asisten Apoteker (AA) dalam hal ini yang bertugas meracik obat racikan menemukan etiket yang tidak ada kekuatan obatnya, AA segera melakukan konfirmasi kepada Apoteker yang menulis etiket untuk memastikan kekuatan obat yang diinginkan. Karena AA juga kebingungan dalam meracik obat jika dosis obatnya tidak diketahui, sehingga membingungkan berapa obat yang harus diambil. Kesalahan yang juga terjadi pada penulisan etiket adalah kesalahan penulisan aturan pakai obat. Kesalahan ini merupakan kesalahan yang paling besar terjadi yaitu 54,5% dari 44 kesalahan atau sebanyak 24 kesalahan. Berdasarkan data hasil observasi, diketahui kesalahan pada penulisan aturan pakai obat dikarenakan Apoteker yang menulis etiket tidak menuliskan aturan pakai obat. Aturan pakai obat adalah hal yang sangat penting tercantum di etiket, karena jika aturan pakai obat tidak ditulis di etiket, hal ini bisa saja sebagai faktor terjadinya medication error pada pasien karena ketidaktahuan pasien dan perawat terhadap aturan pakai obat yang harusnya dapat dicegah karena proses penulisan aturan pakai ini masih dalam pengawasan tenaga farmasi yang berwenang. Kesalahan penulisan aturan pakai obat yang ditemukan adalah sebagai berikut: Tabel V. Kesalahan Penulisan Etiket pada Penulisan Aturan Pakai Obat di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada Periode Februari 2014 No Etiket 1 paracetamol 120 mg luminal ¼ tablet Dibuat 20 bks 2 metilprednisolon 1 mg Dibuat 12 bungkus 3 azitromisin 50 mg Dibuat 5 bungkus Kesalahan yang terjadi Tidak ada aturan pakai obat Tidak ada aturan pakai obat Tidak ada aturan pakai obat

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 phenobarbital 25 mg chlorpromazin 6 mg Dibuat 6 bungkus paracetamol 150 mg luminal 15 mg salbutamol 0,4 mg Dibuat 10 bungkus paracetamol 160 mg luminal 16 mg Dibuat 19 bungkus paracetamol 140 mg Dibuat 10 bungkus paracetamol 200 mg phenobarbital 20 mg Dibuat 10 bungkus paracetamol 150 mg phenobarbital 15 mg Dibuat 10 bungkus paracetamol 140 mg luminal 10 mg Dibuat 21 bungkus paracetamol 160 mg luminal 16 mg Dibuat 22 bungkus paracetamol 90 mg Dibuat 11 bungkus Phenobarbital paracetamol 130 mg luminal 13 mg Dibuat 11 bungkus paracetamol 160 mg phenobarbital 16 mg Dibuat 19 bungkus paracetamol 250 mg phenobarbital 25 mg Dibuat 10 bungkus metilprednisolon 4 mg Dibuat 8 bungkus paracetamol 130 mg luminal 13 mg Dibuat 20 bungkus salbutamol 1 mg Dibuat 12 bungkus Tabel lanjutan Tidak ada aturan pakai obat Tidak ada aturan pakai dan jumlah obat yang harus dibuat, AA menanyakan ke Apoteker, aturan pakai jadi 2x sehari 1 bungkus, dibuat 10 bungkus Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 21 22 23 24 diazepam 2,5 mg Dibuat 8 bungkus diazepam 5 mg Dibuat 6 bungkus paracetamol 200 mg luminal 25 mg Dibuat 12 bungkus paracetamol 90 mg Dibuat 11 bungkus Tabel lanjutan Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Tidak ada aturan pakai minum obat Selain kesalahan etiket pada penulisan nama obat, kekuatan dan aturan pakai obat, juga ditemukan kesalahan penulisan etiket pada penulisan bentuk sedian obat. Kesalahan penulisan bentuk sediaan obat ini jika terjadi dapat menggangu tujuan terapi yang maksud oleh dokter. Berdasarkan hasil observasi ditemukan kesalahan penulisan bentuk sediaan obat sebagai berikut: Tabel VI. Kesalahan Penulisan Etiket Pada Penulisan Bentuk Sediaan Obat di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada Periode Februari 2014 No Etiket 1 paracetamol 400 mg 1x1 tablet sehari Dibuat 5 2 rifampisin 450 mg 1x1 tablet sehari Sebelum makan Kesalahan yang terjadi Bungkus ditulis tablet Bungkus ditulis tablet Dari dua data diatas, di etiket ditulis bentuk sediaan obat yang dibuat adalah tablet, namun AA melakukan konfirmasi kepada Apoteker bentuk sediaan apa yang sebenarnya dimaksud pada etiket, karena jika diteliti lebih lanjut, paracetamol tablet kekuatannya hanya ada yang 500 mg. Obat rifampisin karena di Instalasi Farmasi IRNA2 lebih banyak melayani resep untuk anak dalam hal ini pasien pediatri, AA mengkofirmasi apakah benar obat rifampisin yang dimaksud

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 adalah tablet, setelah dikonfirmasi diketahui Apoteker salah menulis bentuk sediaan dan sediaan yang dimaksud adalah puyer. b. Kesalahan Pengambilan Obat. Tabel.VII. Kesalahan Pengambilan Obat di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada Periode Februari 2014 No Macam Kesalahan 1 2 Salah ambil Obat Salah ambil jumlah obat Jumlah kesalahan 1 1 Presentase kesalahan (N= 44) % 2,3 2,3 Medication error yang terjadi karena kesalahan pengambilan obat dari hasil observasi diketahui merupakan kesalahan yang paling kecil terjadi yaitu 2 kesalahan dari 44 kesalahan yaitu 4,5%. Sedangkan penelitian Hinlandao (2008) menunjukkan kesalahan pada pengambilan sebesar 6,8% dari 456 resep. Hal ini menunjukkan bahwa kesalahan saat pengambilan obat pasti pernah terjadi, kesalahan pengambilan obat dikarenakan kurangnya ketelitian peracik saat melakukan persiapan peracikan obat. Sekecil apapun kesalahan yang terjadi, hal ini tetap dapat membahayakan pasien, karena menimbulkan potensi besar untuk terjadinya ME. Kesalahan pengambilan obat yang terjadi disebabkan karena pada tahap ini pengambilan obat dilakukan berdasarkan pembacaan dari etiket yang ditulis Apoteker, tidak berdasarkan pembacaan langsung dari KIPO ataupun resep asli. Berdasarkan hasil observasi diketahui kesalahan yang terjadi pada pengambilan obat adalah sebagai berikut :

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Tabel VIII. Kesalahan Pengambilan Obat Pada Pengambilan Jenis obat di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada Periode Februari 2014 No Etiket 1 captopril 0,6 mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 21 bungkus Kesalahan yang terjadi AA mengambil salbutamol, namun bisa ditangani , obat kemudian diganti dengan captopril Selama observasi ditemukan kasus kesalahan pengambilan obat seperti data pada tabel VIII. Hal tersebut jika tidak dikerjakan dengan teliti dan tidak segera ditangani, dapat menyebabkan ME yang sangat fatal, karena dilihat dari indikasinya, obat salbutamol dan captopril sangatlah berbeda. Salbutamol diindikasikan untuk penyakit asma sedangkan captopril diindikasikan untuk penyakit hipertensi. Jika kesalahan ini sampai ke tangan pasien, dapat terjadi hal yang tidak diinginkan, karena obat terapi yang di inginkan tidak tepat sasaran. Kesalahan yang juga terjadi saat pengambilan obat adalah Tabel IX. Kesalahan Pengambilan Obat pada Pengambilan Jumlah obat di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada Periode Februari 2014 No Etiket 1 captopril 4 mg 2x sehari 1 bungkus Dibuat 12 bungkus Kesalahan yang terjadi Diambil 4 tablet captopril 25 mg, harusnya 2 tablet 25 mg. Ditangani jumlah obat dikurangi menjadi 2 tablet. Kesalahan pengambilan jumlah obat juga terjadi selama proses dispensing. Seperti diketahui dari tabel diatas, di resep dituliskan captopril 4 mg dan dibuat 12 bungkus. Jika dihitung 4 mg x 12 bungkus = 48 mg. Jika AA ingin menggunakan captopril 25 mg, maka obat yang diambil adalah sebanyak 2 tablet, namun diawal AA mengambil 4 tablet captopril 25 mg, hal ini tentu saja sangat jauh dari

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 perhitungan dosis yang sebenarnya. Kesalahan pengambilan jumlah obat ini disadari oleh AA, kemudian AA mengurangi jumlah tablet yang diambil 2 tablet. Bila diteliti lebih lanjut, kesalahan ini terjadi karena letak obat captopril 25 mg yang berdampingan dengan dosis captopril 12,5 mg. Dimungkinkan AA sebelumnya ingin mengambil captopril 12,5 mg sebanyak 4 tablet, namun kurang teliti sehingga dosis obat yang diambil salah. Kesalahan juga ditemukan dari tabel IX yaitu adanya ketidaktepatan dosis dan peracikan, seharusnya resep pada tabel IX bila dikalkulasi captopril 4 mg x 12 bungkus = 48 mg. Tablet captopril yang diambil adalah captopril 25 mg sejumlah 2 tablet dengan dosis 50 mg. Hal ini menunjukkan adanya ketidaktepatan dosis saat peracikan karena tidak dilakukan pengenceran dosis. Pengenceran dosis perlu dilakukan agar ketepatan dosis dapat tercapai. c. Kesalahan dalam membuat bentuk sediaan obat. Tabel X. Kesalahan dalam membuat Bentuk Sediaan Obat di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada Periode Februari 2014 No Macam Kesalahan 1 2 Kesalahan pengemasan Kesalahan saat peracikan Jumlah kesalahan 2 10 Presentase kesalahan (N= 44) % 4,5 % 22,7 % Berdasarkan hasil observasi, kesalahan yang terjadi dalam membuat bentuk sediaan obat ditemukan ada 12 kesalahan dari 44 kesalahan yang terjadi. Kesalahan yang terjadi adalah kesalahan pada pengemasan dan peracikan obat, kedua jenis kesalahan tersebut di uraikan sebagai berikut:

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 Tabel XI. Kesalahan dalam Membentuk Sediaan Obat pada Pengemasan No Etiket 1 KCL 200mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 10 bungkus 2 ranitidin 50mg 3x sehari 1 bungkus Dibuat 9 bungkus Kesalahan yang terjadi AA membuatnya 20 bungkus KCL, seharusnya 10 bungkus, namun bisa ditangani dengan dijadikan jadi 10 bungkus. AA mengemas obat menjadi 10 bungkus, seharusnya 9 bungkus. Namun bisa ditangani dengan membuat ulang sediaan Berdasarkan hasil observasi diketahui kesalahan pengemasan terjadi dikarenakan kurangnya ketelitian saat membaca etiket yang akan diracik. Kesalahan pengemasan yang ditemukan sebesar 4,5% dari 44 kesalahan. Sedangkan pada penelitian Hinlandou (2008) kesalahan pengemasan yang terjadi sebesar 0,2% dari 456 resep. Pada penelitian yang dilakukan Hinlandou kesalahan yang ditemukan dikarenakan kesalahan yang terjadi saat memasukan obat ke kemasan dengan label yang salah sehingga obat yang dikemas tertukar. Sedangkan pada penelitian yang penulis lakukan kesalahan pengemasan terjadi karena kurangnya ketelitian. Kurangnya ketelitian dalam proses pengemasan ini menyebabkan kesalahan pada jumlah obat racikan yang harusnya dikemas. Berdasarkan data pada tabel IX jika obat sampai ditangan pasien, dapat menyebabkan tujuan terapi yang diinginkan tidak tercapai, hal ini dikarenakan kesalahan pengemasan yang menyebabkan dosis obat menjadi berkurang. Kesalahan yang selanjutnya terjadi selama membuat bentuk sediaan obat adalah:

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Tabel XII. Kesalahan Dalam Bentuk Sediaan Obat pada Saat Peracikan di Instalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada Periode Februari 2014 No Etiket 1 cotrimoksazole 180mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 12 bungkus 2 amfetamin 20mg 1x1 bungkus sehari Dibuat 5 bungkus 3 ulsidex 125mg 3x1 bungkus sehari Dibuat 12 bungkus 4 captopril 18mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 16 bungkus 5 phenobarbital 25mg Clorpromazin 6mg Dibuat 6 bungkus 6 piracetam 210mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 12 bungkus 7 metilprednisolon 2mg 3x1 bungkus sehari Dibuat 8 bungkus 8 ranitidin 50mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 25 bungkus 9 cotrimoksazole 360mg 2x1bungkus sehari Dibuat 10 bungkus 10 phenobarbital 12,5mg 2x1 kapsul sehari Dibuat 10 kapsul Kesalahan yang terjadi Racikan berhamburan di meja sehingga mempengaruhi dosis obat. Racikan berhamburan di meja Racikan berhamburan di meja Pecahan tablet jatuh kelantai saat digerus Racikan berhamburan di meja Racikan berhamburan di meja Racikan berhamburan di meja Racikan berhamburan terkena baju Pecahan tablet terlempar dari mortir Racikan berhamburan saat dimasukan ke kapsul Berdasarkan hasil observasi ditemukan 22,7% dari 44 kesalahan. kesalahan saat peracikan yang paling banyak terjadi adalah obat yang diracik berhamburan dan dikarenakan obat yang keluar dari mortir saat digerus. Hal ini tentu saja dapat berpengaruh terhadap dosis awal, karena obat yang berhamburan dapat mempengaruhi dosis, sehingga dosis awal yang seharusnya tepat justru

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 berkurang karena prose roses peracikan yang tidak hati-hati. Pada penel nelitian Hinlandou (2008) kesalahan per peracikan ditemukan sebesar 4,6% dari 4566 re resep. Kesalahan yang terjadi padaa penelitian Hinlandou dikarenakan obat tumpah saat pengemasan, pengam gambilan kekuatan sirup berdasarkan perkiraan, aan, pencampuran obat yang tidak homoogen dan pembulatan obat yang tidak tepat. B Berdasarkan hasil penelitian, jika data-da ta-data diatas digabungkan maka, didapatkann bentuk diagram kesalahan sebagai ber erikut : 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00% 54,50% 22,70% 2,30% 0% 6,80% 4,50% 2,30% 2,30% 4,50% Bentuk Medication error Gambar 4. Medicati ation error pada fase dispensing di Instalasi asi F Farmasi Rawat Inap ap II R RSUP Dr. Sardjito Periode Februari 2014 Pada gambar bar 4 ditunjukkan bahwa kesalahan yang palin paling tinggi terjadi pada penulisan aturan uran pakai. Aturan pakai yang tidak dituliss pa pada etiket dapat menyebabkan ME,, ka karena dapat menyebabkan kesalahan penggun ggunaan obat oleh pasien. Selain itu juga ga tidak adanya aturan pakai pada etiket mengur ngurangi informasi penting yang harusn rusnya diketahui oleh pasien dalam mel elakukan proses

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 administration. Kesalahan saat peracikan merupakan kesalahan yang paling kecil terjadi selama fase dispensing. Hasil observasi menunjukkan bahwa penulisan aturan pakai memberi kontribusi besar terjadinya ME, yang sebenarnya masih di bawah penanganan tenaga kefarmasian. ME pada fase dispensing merupakan tanggung jawab tenaga farmasi. Tenaga kefarmasian berperan penting untuk meminimalkan kejadian ME yang mungkin terjadi karena kesalahan aturan pakai dengan berfokus pada penulisan aturan pakai obat. ME yang terjadi dapat diminimalkan dengan cara selalu menuliskan aturan pakai pada etiket. Kejadian ME yang mungkin dapat terjadi pada administration juga dapat dihindari seminimal mungkin. 2. Fase administration Pada fase administration ME yang terjadi sebesar 11,1% dari sembilan responden yang melakukan proses administation pada pasien pediatri, dalam hal ini adalah orangtua pasien pediatri. Pada penelitian Lisby, dkk ME pada fase administration ditemukan lebih besar yaitu sebesar 41%, perbedaan hasil penelitian ini dikarenakan, Lisby, dkk melakukan observasi di beberapa bangsal, sehingga jumlah kesalahan yang di temukan lebih besar, sementara pada penelitian ini hanya dilakukan di dua bangsal saja. Pada fase administration tidak dilakukan observasi, penelitian hanya dilakukan berdasarkan data hasil wawancara. Data yang digunakan merupakan data kualitatif, dimana dari hasil wawancara dengan orangtua pasien pediatri di IRNA II ruang Melati II dan Melati IV, diketahui ME yang terjadi pada fase administration adalah sebagai berikut: kesalahan penggunaan obat.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Pada penelitian ini satu kasus ditemukan pada orangtua pasien pediatri yang menjawab obat paracetamol yang penggunaannya hanya digunakan ketika anak demam menjawab bahwa paracetamol diminum terus walaupun demamnya sudah turun. Hal ini merupakan salah satu kesalahan yang terjadi selama proses administration yang bisa diketahui dari hasil wawancara dengan beberapa orangtua pasien pediatri. Kesalahan ini disebabkan kurangnya informasi yang diterima orangtua pasien mengenai obat yang digunakan anaknya. Pada fase administration tidak dapat dilakukan pengecekan terhadap obat yang diterima pasien, dikarenakan obat hanya diberikan perawat bangsal kepada orangtua pasien untuk diminumkan ke anaknya hanya pada saat jam minum obat. Sehingga pengecekan tidak dapat dilakukan karena pasien tidak menyimpan obatnya sendiri. Kemungkinan biasnya data yang didapat pun besar. B. Faktor yang menyebabkan terjadinya ME resep obat racikan Pasien Pediatri pada Fase Dispensing dan Fase Administration 1. Fase Dispensing Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ME pada fase dispensing dapat dilihat dari hasil wawancara dan observasi. Wawancara mendalam dilakukan pada tenaga kerja yang terkait didalam fase dispensing. Dilihat dari hasil observasi yang dilakukan saat fase dispensing. Tenaga kerja yang dimaksud adalah tenaga kefarmasian yaitu Apoteker dan asisten Apoteker yang terlibat dalam fase dispensing. Penelusuran faktor-faktor penyebab dilihat dari sisi Apoteker dan asisten Apoteker disebabkan mereka lebih berperan pada fase

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 dispensing. Wawancara tidak dilakukan dengan dokter dikarenakan penelitian ini lebih terfokus pada fase dispensing dan administration. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi pada fase dispensing dengan tenaga farmasi di apotek IRNA II, penyebab utama ME adalah penulisan etiket yang tidak lengkap, penulisan etiket yang kurang jelas dan tidak terbaca, kurangnya ketelitian seperti salah membaca dosis dan salah ambil obat yang letaknya berdampingan. Faktor penyebab ini bila diteliti lebih lanjut, lebih banyak disebabkan karena kurangnya sumber daya manusia, beban kerja yang berat dan kurangnya ketelitian saat mempersiapkan obat, khususnya obat yang memiliki nama yang sama, dan obat yang memiliki dosis yang beragam. Selain itu juga dikarenakan penulisan resep dan etiket yang tidak jelas dan tidak lengkap, sehingga dapat menyebabkan ME terjadi dan berlanjut ke tangan pasien, namun biasanya ketika obat sampai di bangsal, perawat juga melakukan pengecekan ulang terhadap obat pasien, jika obat yang diberikan dari instalasi farmasi salah, maka perawat akan kembali ke Instalasi Farmasi untuk melakukan penukaran obat yang benar. Berdasarkan hasil observasi, jika terdapat penulisan pada etiket yang kurang jelas dan tak terbaca, asisten Apoteker yang bertindak sebagai peracik resep melakukan konfirmasi kepada Apoteker yang menulis etiket untuk memastikan obat yang harus diracik dengan cara menanyakan obat apa sebenarnya yang dimaksud pada etiket. Menurut Hinlandao (2008) faktor-faktor yang menyebab terjadinya ME adalah karena kesalahan interpretasi yang disebabkan karena tulisan dokter yang

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 tidak jelas dan pembaca resep tidak mengkonfirmasi kembali kepada penulis resep. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan pada penelitian peneliti ME disebabkan karena resep yang ditulis dokter tidak lengkap dan tidak jelas, selain itu juga kurangnya konsentrasi dan ketelitian saat bekerja. Seperti disebutkan di atas, kedua kesalahan itu dapat terjadi karena kurangnya sumber daya manusia (tenaga kerja) dan beban kerja yang berat. 2. Fase administration Pada fase administration dilakukan dengan wawancara terstruktur dengan orangtua pasien pediatri dan perawat di melati IV. Wawancara dilakukan dengan orangtua pasien pediatri yang anaknya menerima terapi obat racikan. Wawancara ini dilakukan di bangsal melati II dan melati IV di IRNA II. Wawancara ini digunakan untuk mengetahui pemahaman orangtua pasien pediatri terhadap penggunaan obat racikan untuk mengetahui proses administration yang berjalan di IRNA II setelah obat diberikan oleh perawat bangsal yang bertugas. Pemahaman pasien terhadap pemberian informasi ketika penyerahan obat juga merupakan hal yang penting terkait penyebab terjadinya ME yang dijelaskan berdasarkan Standar pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit mengenai penjelasan pemberian informasi pada saat penyerahan obat yang harus diberikan ke pasien yang meliputi cara pemakaian obat, penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas makanan dan minuman selama terapi. Selain itu juga dilakukan pengecekan terhadap ketepatan kepemilikan obat pasien. Diketahui dari hasil wawancara yang lebih sering memberikan informasi mengenai obat kepada orangtua pasien adalah dokter dan perawat, karena dalam hal ini di Instalasi

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 Farmasi Rawat Inap II tidak ada farmasis bangsal. Berdasarkan analisis hasil wawancara dengan orangtua pasien dan perawat, diketahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ME pada fase administration sebagai berikut: a. Cara pemakaian obat. Menurut hasil wawancara dengan perawat, informasi yang diberikan kepada pasien pada saat penyerahan obat adalah nama obat, indikasi, cara pemberian, dosis obat, efek samping dan rute pemberian obat. Pemberian informasi pemakaian obat yang tidak lengkap dapat berpotensi menyebabkan terjadinya ME pada saat proses administration. Berdasarkan hasil wawancara dengan orangtua pasien pediatri, diketahui: Tabel XII. Hasil Wawancara dengan Orangtua Pasien Pediatri pada Fase Administration No Hasil wawancara Jumlah Orangtua pasien 1 Orangtua pasien tidak mendapatkan informasi mengenai obat yang digunakan anaknya, orangtua hanya di berikan 2 intruksi untuk meminumkan obat kepada anaknya. 2 Orangtua pasien tidak mengetahui kekuatan obat yang 1 diberikan untuk pengobatan anaknya 3 Orangtua pasien tidak tahu aturan pakai obat anaknya. Orangtua pasien hanya memberikan obat kepada anaknya 3 untuk dikonsumsi ketika obat diberikan oleh perawat. 4 Orangtua pasien hanya mengetahui obat di minum saat 1 pagi dan malam Tabel diatas menunjukkan bahwa orangtua pasien tidak menerima informasi yang lengkap dan jelas mengenai obat yang diberikan kepada anaknya. Kurangnya informasi yang diterima orangtua pasien dapat mengakibatkan kepatuhan minum obat pasien pediatri berkurang. Orangtua pasien pediatri perlu mengetahui informasi yang lengkap mengenai terapi anaknya, hal ini bertujuan

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 agar orangtua pasien dapat ikut serta dalam terapi anaknya, agar terapi yang diberikan dapat menghasilkan hasil yang optimal sesuai dengan tujuan terapi yang sudah di rencanakan. Selain itu juga informasi yang diberikan kepada orangtua pasien dapat meminimalkan kemungkinan terjadinya ME jika terapi dapat dilakukan dengan tepat. Wawancara juga dilakukan kepada perawat yang menangani pasien. Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat untuk fase administration, menurut perawat faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya ME adalah ketidaktaatan pasien dalam meminum obat. Hal ini dikarenakan pasien tidak mengerti mengenai pemakaian obat dari segi aturan pakai walaupun perawat sudah melakukan edukasi kepada pasien. Salah satu penyebab terjadinya ME adalah kurangnya edukasi ke pasien (Cohen, 1999). Kurangnya komunikasi antara pemberi obat dalam hal ini perawat dalam memberikan edukasi dan informasi kepada orangtua pasien dapat mempengaruhi ketaatan orangtua pasien dalam memberikan obat kepada anaknya, selain itu juga dapat menghambat berjalannya proses untuk mencapai onset terapi obat jika obat yang diminum tersebut tidak tepat waktunya. b. Cara penyimpanan obat. Berdasarkan observasi obat disimpan oleh perawat di tempat lemari obat khusus. Obat diberikan kepada pasien dengan sistem UDD (Unit Daily Dose) yaitu obat diberikan kepada pasien ketika jam minum obat. Pada observasi tidak dapat dilakukan pengecekan lemari penyimpanan obat, peneliti tidak mengetahui bagaimana kondisi penyimpanan obat di dalam lemari yang ada di IRNA II.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 Sehingga tidak dapat dipastikan apakah penyimpanan obat di IRNA II sudah tepat atau tidak. Menurut penelitian Hinladaou (2007), kesalahan penyimpanan obat dapat berpengaruh terhadap stabilitas obat, sehingga penyimpanan obat harus sesuai berdasarkan suhu dan tempat yang tepat. c. Jangka waktu pengobatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan orangtua pasien, satu dari sembilan orangtua pasien pediatri tidak mengetahui jangka pemakaian obat anaknya, orangtua pasien menjawab untuk obat yang penggunaannya hanya perlu, dalam kasus ini adalah obat paracetamol untuk menurunkan panas diminumkan terus sampai habis. Hal ini dikarenakan kurangnya kelengkapan informasi yang diberikan kepada pasien sehingga mempengaruhi terhadap ketaatan dan kepatuhan pasien dalam terapi. d. Aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi. Informasi mengenai aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi jarang di informasikan oleh pihak farmasi atau perawat. Sehingga peran perawat dan dokter yang menangani secara langsung pasien diperlukan dalam pemberian informasi ini, agar terapi yang dikehendaki dapat berjalan baik. Selain empat poin diatas, peneliti juga melakukan wawancara yang salah satu pertanyaannya berisi mengenai ketepatan obat dengan pasien. Berdasarkan hasil wawancara dengan orangtua pasien, 4 dari 9 orangtua pasien yang diwawancara menjawab bahwa orangtua pasien tidak melakukan pengecekan ulang terhadap obat yang mereka terima untuk anaknya, mereka tidak mengecek

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 apakah obat yang digunakan benar milik pasien atau tidak. Dalam hal ini ME mungkin saja dapat terjadi karena kesalahan obat yang tidak tepat pasien yang diakibatkan kurangnya ketelitian orangtua pasien terhadap obat yang diterimanya. Sehingga ketelitian orangtua pasien juga diperlukan agar proses administration dapat berjalan dengan baik dan benar. Hasil observasi diketahui bahwa di IRNA II Apoteker tidak berperan banyak dalam fase administration. Hal ini juga dapat menjadi penyebab terjadinya ME. Apoteker sangat berperan dalam fase administration, peran Apoteker salah satunya dapat ditunjukan dengan pemberian informasi obat dan monitoring kepada pasien. Faktor penyebab ketidaktahuan orangtua pasien pediatri terhadap terapi yang ditujukan pada anaknya dikarenakan kurangnya peran Apoteker dalam pemberian informasi obat. Apoteker memiliki tugas penting dalam pemberian infomasi obat, melalui pemberian informasi obat diharapkan orangtua pasien dapat mengerti mengenai terapi anaknya, sehingga orangtua pasien dapat menjalankan terapi anaknya dengan benar. Kejadian ME yang mungkin dapat karena kurangnya informasi yang didapatkan orangtua pasien pediatri dalam menerapkan proses administration kepada anaknya dapat diminimalisir. C. Langkah yang Sudah dilakukan Pihak RSUP Dr. Sardjito untuk mencegah Medication error fase Dispensing dan Fase Administration 1. Fase Dispensing Upaya pencegahan yang dilakukan oleh pihak farmasi, berdasarkan hasil wawancara dengan asisten Apoteker dan Apoteker yang terlibat dalam fase dispensing obat racikan adalah sebagai berikut:

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 a. Melakukan verifikasi dan skrining resep oleh farmasis. Verifikasi dan skrining resep merupakan tahap awal yang perlu dilakukan oleh farmasis dalam mencegah terjadi ME, dengan melakukan verifikasi dan skrining kesalahan persiapan dan peracikan obat yang dilakukan selanjutnya dapat dihindari, sehingga ME dapat dicegah lebih awal. b. Melakukan konfirmasi dengan dokter mengenai resep. Komunikasi yang baik dengan dokter merupakan hal yang penting ditanam agar pelayanan di RSUP Dr. Sardjito berjalan baik. Komunikasi dengan dokter perlu dilakukan oleh pihak farmasis, jika terdapat resep yang tulisannya tidak jelas ataupun jika ada obat yang diminta dokter namun tidak tersedia di apotek. Hal ini perlu dilakukan agar masalah yang dapat menyebabkan kesalahan terapi pada pasien tidak terjadi, karena pihak farmasis tidak boleh menetapkan terapi sendiri jika ditemukan resep yang tidak jelas, dan tidak boleh menggantikan obat terapi tanpa seijin dan konfirmasi dokter yang menangani pasien tersebut. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, seringkali juga pihak dokter mengganti obat atau dosis tidak langsung memberitahukannya ke pihak farmasi, dokter meminta pergantian obat melalui perawat yang selanjutnya mengomunikasikannya ke pihak farmasi. Hal ini bisa saja menyebabkan terjadinya ME jika informasi yang disampaikan dokter itu tidak dimengerti artinya oleh pihak farmasi. Karena hal itu komunikasi yang baik sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman antara dokter dan pihak farmasi agar terapi yang diinginkan untuk pasien benar-benar tepat dan tidak salah. c. Melakukan penulisan etiket yang jelas dan benar sesuai SOP.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 Pihak farmasis yang melakukan penulisan etiket harus menulis etiket dengan jelas, agar pembaca etiket yang selanjutnya melakukan peracikan obat dapat mengambil dan meracik obat dengan benar. Penulisan etiket harus jelas karena berpengaruh terhadap pekerjaan dispensing selanjutnya. Etiket harus ditulis jelas dan lengkap, yang berisi, nama pasien, nama ruang inap, nama obat, dosis, aturan pakai, bentuk sediaan dan tanggal peresepan obat, selain itu juga penggunaan etiket biru dan putih harus tepat. d. Melakukan konfirmasi dengan Apoteker berkaitan dengan etiket. Pada saat peracikan obat, jika pihak farmasis yang melakukan persiapan dan peracikan obat menemukan etiket yang tidak lengkap atau tidak jelas dan tidak benar harus melakukan konfirmasi dengan Apoteker berkaitan dengan etiket tersebut, agar kesalahan peracikan tidak terjadi. e. Teliti sebelum pengambilan obat. Ketelitian saat mengambil obat sangatlah penting dilakukan, karena jika tidak dilakukan dengan teliti dapat menyebabkan kesalahan, seperti salah dalam pengambilan obat dengan nama yang sama atau memiliki dosis yang bermacammacam. Ketelitian ini juga perlu didukung dengan obat yang tersusun rapi sesuai abjad, kemudian obat yang memiliki nama dan dosis yang bermacam-macam juga perlu ditandai dengan Look Alike Sound Alike (LASA) dan untuk obat yang perlu perhatian khusus diberi tanda High Alert. f. Menelaah dan mengecek obat dengan resep.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Obat yang sudah selesai diracik perlu dilakukan pengecekan kembali. Pengecekan ini perlu dilakukan agar kesalahan yang mungkin terlewat saat pengecekan diawal dapat dihindari, sebelum sampai ke tangan pasien. g. Bekerja sesuai SOP. Medication error dapat dihindari dengan cara bekerja sesuai SOP yang sudah ditentukan oleh pihak RSUP Dr. Sardjito. Hal ini dapat menghindari kesalahan yang mungkin terjadi atau keluar dari prosedur. Selain itu juga ketelitian dan tingkat konsentrasi yang tinggi saat bekerja sangat diperlukan agar kemungkinan terjadinya kesalahan tidak terjadi. Upaya yang juga dapat dilakukan untuk mencegah ME pada fase dispensing adalah dengan menerapkan resep elektronik, dengan resep elektronik kesalahan yang mungkin disebabkan karena tulisan dokter yang tidak terbaca dapat dihindari sehingga tidak berimbas ke tahap pelayanan resep selanjutnya. Selain itu juga dengan cara menerapkan CDOB (Cara dispensing obat yang baik), mengatur obat sesuai abjad, tidak meletakan obat yang sama namun memiliki kekuatan berbeda pada posisi berdampingan untuk mengurangi resiko terjadinya kesalahan pengambilan obat, melakukan pengecekan obat kembali oleh orang yang berbeda sebelum obat diberikan kepada perawat untuk menghindari terjadinya kesalahan obat atau pasien. 2. Fase Administration Pada proses ini, dilakukan wawancara dengan perawat. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui upaya pencegahan ME apa saja yang sudah dilakukan oleh pihak RSUP Dr. Sardjito dalam pencegahan ME. Berdasarkan

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 analisis hasil wawancara, diketahui bahwa upaya pencegahan yang sudah dilakukan yaitu: a. Pengecekan ulang obat yang sudah dibuat di apotek. Pihak perawat bangsal harus melakukan pengecekan ulang obat yang sudah dibuat dari Instalasi Farmasi IRNA II, apakah obat sudah sesuai dengan kartu informasi pemberian obat pasien atau tidak. Jika ditemukan obat yang tidak sesuai, pihak perawat wajib melakukan pengembalian obat ke apotek dan melakukan penggantian dengan obat yang sesuai. b. Pengecekan ulang kebenaran obat sebelum diberikan kepada pasien. Pengecekan ulang mengenai kebenaran obat sebelum diberikan kepada pasien harus selalu dilakukan oleh perawat. Pengecekan ini dilakukan agar pasien menerima obat yang benar sesuai dengan yang diresepkan untuk pasien, dan kemungkinan salah pasien dapat dihindari, sehingga ME tidak terjadi. c. Pemberian edukasi kepada pasien mengenai obat yang digunakan. Edukasi kepada pasien perlu dilakukan, terkait penggunaannya. Seperti aturan pakai, waktu pemberian obat, cara pemakaian, dan makanan minuman yang harus dihindari selama terapi berlangsung. Edukasi yang diberikan kepada pasien dapat membantu pasien untuk menjalankan terapinya dengan optimal. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan perawat, pasien perlu diingatkan untuk taat meminum obat, karena biasanya pasien lupa untuk meminum obatnya. Hal ini perlu ditegaskan oleh perawat agar terapi yang dijalani oleh pasien dapat optimal. Selain itu juga untuk menghindari terjadinya kesalahan yang dilakukan oleh pihak pasien dalam menjalankan terapi.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 d. Menunggu pasien sampai pasien minum obat. Perawat di bangsal juga sering menunggu pasien sampai obat yang harus diminum benar-benar sudah diminum oleh pasien. Hal ini dilakukan oleh pihak perawat untuk memantau kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat, karena biasanya pasien sering menunda pengkonsumsian obat pada jamnya, sehingga waktu terapi tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. e. Melakukan konfirmasi dengan dokter dan Apoteker. Pada saat-saat tertentu, jika perawat tidak memahami mengenai informasi obat terapi yang didapat pasien, perawat melakukan konfirmasi kepada dokter dan Apoteker mengenai obat tersebut, agar saat diterima pasien informasi yang didapat benar. Selain itu juga, jika perawat menemukan hal yang tidak diinginkan terjadi pada pasien, perawat harus segera melakukan konfirmasi kepada dokter mengenai kondisi pasien, agar kemungkinan terburuk tidak terjadi.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1. Angka kejadian dan bentuk medication error resep obat racikan di RSUP Dr. Sardjito, ditemukan sebagai berikut : a. Fase dispensing yang dilakukan di Instalasi Farmasi IRNA II ditemukan 26,5% kesalahan yang terjadi selama periode Februari 2014, meliputi kesalahan penulisan nama obat 2,3%, kekuatan obat 6,8%, kesalahan penulisan aturan pakai 54,5%, kesalahan penulisan bentuk sediaan obat 4,5%, kesalahan pengambilan obat 2,3%, kesalahan pengambilan jumlah obat 2,3%, kesalahan pengemasan 4,5% dan kesalahan saat peracikan 22,7%. b. Medication error pada fase administration yang terjadi di IRNA II pada bangsal Melati II dan Melati IV, ditemukan 11,1% kesalahan administration yang dilakukan oleh orangtua pasien pediatri selama periode Februari 2014. Kesalahan yang terjadi adalah kesalahan pasien dalam meminum obat yang pemakaiannya hanya perlu. 2. Faktor yang menyebabkan terjadinya ME resep obat racikan Pasien Pediatri. a. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ME pada fase dispensing meliputi penulisan etiket yang tidak lengkap, penulisan etiket yang 54

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 kurang jelas dan tidak terbaca, kurangnya ketelitian seperti salah membaca dosis dan salah ambil obat yang letaknya berdampingan. b. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ME pada fase administration karena kurangnya informasi obat yang didapat pasien, pasien tidak tahu aturan pakai obat dan lamanya terapi, pasien tidak tahu indikasi obat, kesalahan pada cara pemakaian obat, jangka waktu pengobatan, ketidaktaatan pasien dalam meminum obat dan kurangnya peran Apoteker dalam monitoring obat. 3. Langkah yang sudah dilakukan pihak RSUP Dr. Sardjito untuk mencegah medication error meliputi: a. Fase dispensing Upaya pencegahan ME yang telah dilakukan pihak farmasi IRNA II di RSUP Dr. Sardjito adalah melakukan verifikasi dan skrining resep, melakukan konfirmasi dengan dokter, melakukan penulisan etiket yang jelas dan benar sesuai SOP, melakukan penulisan etiket yang jelas dan benar sesuai SOP, melakukan konfirmasi dengan Apoteker berkaitan dengan etiket yang tidak jelas, teliti sebelum mengambil obat, menelaah dan mengecek obat dengan resep apakah sudah sesuai atau belum dan bekerja sesuai SOP. b. Fase Administration Upaya pencegahan ME yang telah dilakukan perawat di bangsal melati IV di RSUP Dr. Sardjito adalah mengecek ulang obat yang sudah dibuat di apotek IRNA II, melakukan konfirmasi dengan dokter dan

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 Apoteker, mengecek ulang kebenaran obat sebelum diberikan kepada pasien, memberikan edukasi kepada pasien mengenai obat yang digunakan, mengingatkan pasien agar taat minum obat dan menunggu pasien sampai pasien minum obat. B. Saran Saran yang diajukan adalah : 1. Saran untuk penelitian selanjutnya: a. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam pada proses administration karena pada penelitian tidak dapat dilakukan pengecekan terhadap obat yang diterima pasien. Data mengenai obat pasien hanya didapatkan melalui informasi yang diberikan orangtua pasien pediatri berdasarkan ingatan orangtua pasien pediatri, sedangkan obat yang diterima pasien hanya diterima saat jam minum obat dan observasi dilakukan tidak pada saat jam minum obat, sehingga peneliti tidak dapat melakukan pencocokan antara kebenaran informasi yang diberikan orangtua pasien pediatri kepada peneliti dengan obat yang didapatkan oleh pasien. b. Dapat dilakukan penelitian kembali di unit yang berbeda untuk mengetahui kejadian medication error yang mungkin juga terjadi di tempat lain. 2. Saran untuk RSUP Dr. Sardjito : a. Melakukan penulisan etiket yang lengkap dan jelas untuk membantu mencegah ME yang kemungkinan dapat terjadi.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 b. Mengatur ulang SOP yang ada dengan mempertimbangkan kesalahan – kesalahan yang mungkin terjadi selama proses pelayanan kesehatan untuk mengurangi angka kejadian dan kemungkinan terjadinya ME, kemudian menerapkan dan menjalankan SOP dengan sungguh – sungguh pada proses pelayanan kesehatan. c. Melakukan pelayanan pharmacist bangsal pada IRNA II untuk memonitor penggunaan obat yang dilakukan oleh pasien, guna meminimalisir kejadian ME pada fase dispensing dan guna memonitor adanya kesalahan terapi yang mungkin dapat membahayakan kondisi pasien.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA ACMP, 2010, Medication errors, Academy of Managed Care Pharmacy, 2. Anderson, P., Townsend, T., 2010, Medication errors : Dont’t let them happen to you, American Nurse Today, 1-6. Anonim a, 2013, Keterbatasan Sediaan Obat Dorong Dokter Berikan Resep Racikan, http://www.ugm.ac.id/id/post/page?id=5551 , di akses tanggal 11 september 2013 Anonim b, 2008, Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Keselamatan Pasien (Patient Safety), http://binfar.depkes.go.id/bmsimages/1361517912.pdf, diakses tanggal 24 Juli 2014. Anonim c, 2006, Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety), Departemen Kesehatan RI, Jakarta Anonim d, 2004, Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No.%201 197%20ttg%20Standar%20Pelayanan%20Farmasi%20Di%20RS.pdf di akses tanggal 24 Juli 2014 Aslam, M., Tan, C., dan Prayitno, A., 2003, Farmasi Klinik Menuju Pengobatan Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien, Elex Computindo, Jakarta. Athanasakis, E., 2012 , Prevention of medication errors made by nurses in clinical practice, Health Science Journal, 6, Issue 4, 776-777. Bayang, A., Pasinringi, S., dan Sangkala., 2014, Faktor Penyebab Medication error Di RSUD Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng, Tesis, Universitas Hasanuddin, Makassar. Beso, A., Franklin, B,D., dan Barber, N., 2005, The Frequency And Potential Causes Of Dispensing Errors In A Hospital Pharmacy, Parm World Sci, 27, 182-190. Bell,E.A., 2003, Medication errors in pediatrics, Infectious Diseases in Children, http://www.healio.com/pediatrics, diakses tanggal 25 september 2013 Cohen, Michael.R., 1999, Medication errors, American Pharmaceutical Association, Washington DC, PP.1.1-17,16.1-16.7. Council of Europe, 2005, Glossary of terms related to patient and medication safety, Council of Europe, 1, 8. 58

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Dwiprahasto, 2006, Intervensi Pelatihan untuk Meminimalkan Risiko Medication error di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer, Jurnal Berkala Ilmu Kedokteran 2006, http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/detail.php?dataId=5603, di akses tanggal 10 September 2013 Dwiprahasto, 2008, Masalah dan Pencegahan Medication errors, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Fortescue, E.B., 2003, Prioritizing Strategies for Preventing Medication errors and Adverse Drug Events in Pediatric Inpatients, Pediatrics, American Academy of Pediatrics, III. No. 4 April, pp.722-729. Hartayu, T.S., dan Widayati, A., 2005, Kajian Kelengkapan Resep yang Berpotensi Menimbulkan Medication error di 2 rumah Sakit dan 10 Apotek di Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Hinlandou, E.Y., 2008, Evaluasi Medication error Resep Racikan Pasien Pediatrik Di Farmasi Rawat Jalan Rumah Sakit Bethesda Pada Bulan Juli Tahun 2007 (Tinjauan Fase Dispensing), Skrispsi, 55, Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta. Kozer, E., 2005, Variables Associated With Medication errors in Pediatric Emergency Medicine, Pediatrics, American Academy of Pediatrics, March 4, pp. 737-743 Lisby, M., Nielsen, L.P., Mainz, J., 2005, Errors in the medication process: frequency, type, and potential, International Journal for Quality in Health Care., 17 (1): pp. 15–22 NCCMERP, 2013, National Coordinating Council for Medication error Reporting and Prevention, http://www.nccmerp.org/, di akses pada tanggal 10 september 2013 Notoadmojo, S., 2012, Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi 2, Rineka Cipta, Jakarta, pp.26. Simanjuntak, W.T., 2010, Evaluasi masalah utama kejadian medication errors fase administrasi dan drug therapy problems pada pasien Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta periode Agustus 2008 : kajian terhadap penggunaan obat golongan antasida dan antiulserasi, Skripsi, 64, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Siregar, C.J.P., Amalia, Lia., 2004, Farmasi Rumah Sakit, EGC, Jakarta. pp.25 Swandari, S., 2013, Medication error, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar, http://bbpkmakassar.or.id/index.php/Umum/Info-Kesehatan/MedicationError.phd, diakses tanggal 20 november 2013

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Syamsuni.H, 2006, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, EGC, Jakarta, PP. 10-11 Thomas, M.R,Holquist, C., dan Philips,J., 2001, Medication Error Reports To FDA Show A Mixed Bag, MEDWATCH, http://www.fda.gov/cder/drug/MedErrors/mixed.pdf, diakses tanggal 20 november 2013 USP, 1999, The U.S. Pharmacopeia (USP) and Medication errors, http://www.therubins.com/health/usp.htm, diakses tanggal 22 februari 2014 USP, 2003, Preventing Medication errors in Children, Unit Doses, Independent Verifications Can Help Reduce Errors In Pediatric Populations, United States Pharmacopea, 1-2. Zunilda., B.M.S., 1998, Pedoman Penulisan Resep , (1) , ITB, Bandung, pp. 62. Williams, D.J.P., 2007, Medication errors, J R Coll Physicians Edinb, 37, 345.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 61

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Lampiran 1. Hasil Observasi Medication error pasien pediatri resep racikan di Insalasi Farmasi Instalasi Rawat Inap 2 RSUP Dr. Sardjito pada Fase Dispensing periode februari 2014 Beri tanda () jika terdapat kesalahan pada resep, tanda (-) jika tidak terdapat kesalahan pada resep Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 1 2 3 4 5 6 7 Etiket salbutamol 5 mg 3x1 bungkus sehari Dibuat 16 bungkus cotrimoksazole 180 mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 12 bungkus metronidazole 150 mg 3x1 bungkus sehari Dibuat 17 bungkus paracetamol 120 mg Luminal ¼ tablet Dibuat 20 bungkus amfetamin 20 mg 1x1 bungkus sehari Dibuat 5 bungkus furosemide 15 mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 10 bungkus captopril 15 mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 10 bungkus Bentuk Jumlah Sediaan Obat Obat Obat Tanggal 5 Februari 2014 Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Peracikan Pengemasan - - - - - - - - Ada yang jatuh berhamburan di meja - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai - - - - -  - Ada yang jatuh berhamburan - - - - - - - - - - - - - - - - - -

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Etiket captopril 2 gram 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus ulsidex 125 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus asam folat 1 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 5 bungkus amoxicillin 175 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus phenobarbital 20 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus captopril 18 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus metilprednisolon 1 mg dibuat 12 bungkus azitromisin 50 mg dibuat 5 bungkus captopril 5 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus Bentuk Jumlah Sediaan Obat Obat Obat Tanggal 5 Februari 2014 Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai -  - - - - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Peracikan Pengemasan - - - 2 mg ditulis 2 gram - - -  Ada yang jatuh berhamburan di meja - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - Jatuh ke lantai saat digerus - -  - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - Tidak ada aturan pakai obat Tidak ada aturan pakai obat -

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 17 18 Etiket salbutamol 1 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus urdafalk 50 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 13 bungkus Bentuk Jumlah Sediaan Obat Obat Obat Tanggal 5 Februari 2014 Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Peracikan Pengemasan - - - - - - - - Tanggal 6 Februari 2014 19 20 21 22 23 piracetam 100 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus urdafalk 30 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 8 bungkus salbutamol 0,3 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 20 bungkus furosemide 2,5 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 21 bungkus diazepam 4 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 24 25 26 27 28 29 Etiket phenobarbital 25 mg chlorpromazin 6 mg dibuat 6 bungkus piracetam 150 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus phenobarbital 40 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus glaucon 60 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 8 bungkus paracetamol 150 mg luminal 15 mg salbutamol 0,4 mg dibuat 16 bungkus Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai Bentuk Sediaan Obat Obat Jumlah Obat Kesalahan Peracikan Keterangan Peracikan Pengemasan - -  - - -  - Tidak ada aturan pakai Ada yang jatuh saat diracik - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai obat, kemudian AA menanyakan ke Apt yang menulis etiket, aturan pakai menjadi 2x1 bungkus sehari , dibuat 10 bungkus Tidak ada aturan pakai obat

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 30 31 Etiket phenobarbital 15 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus diamox 75 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus Bentuk Sediaan Obat Obat Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - - - - - - - - - - Tanggal 7 Februari 2014 32 33 34 35 cotrimoxazole 300 mg 2x1 bungkus sehari (senin, rabu, jumat) dibuat 6 bungkus furosemide 300 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus ctm 3 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus paracetamol 160 mg luminal 16 mg dibuat 19 bungkus - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai obat

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 36 37 Etiket KCL 200 mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 10 bungkus furosemide 15 mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 10 bungkus Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai Bentuk Sediaan Obat Obat Jumlah Obat Kesalahan Peracikan Keterangan Peracikan Pengemasan - - - - - - -  Dibuat 20 bungkus, namun segera ditangani dijadikan 10 bungkus - - - - - - - - - Tanggal 8 Februari 2014 38 39 40 41 42 43 captopril 15 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus captopril 0,6 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus paracetamol 140 mg dibuat 10 bungkus salbutamol 1 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 8 bungkus furosemide 5 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 8 bungkus cetirizin 2 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 44 45 46 47 48 49 50 51 Etiket glaucon 80 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus axyclovir 110 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 28 bungkus salbutamol 1 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 8 bungkus phenitoin 10 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus captopril 5 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus furosemide 15 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 14 bungkus cotrimoxazole 180 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus cotrimoksazole 180 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus Bentuk Jumlah Sediaan Obat Obat Obat Tanggal 10 Februari 2014 Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Peracikan Pengemasan - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 52 53 54 Etiket paracetamol 200 mg phenobarbital 15 mg phenobarbital 20 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus paracetamol 150 mg phenobarbital 15 mg dibuat 10 bungkus Bentuk Sediaan Obat Obat Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - -  - - - - - -  Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - - - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - - - - - - Tidak ada aturan pakai obat Tanggal 11 Februari 2014 55 56 57 58 59 60 salbutamol 1,5 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus paracetamol 140 mg luminal 10 mg dibuat 21 bungkus cefixime 35 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus paracetamol 160 mg luminal 16 mg dibuat 22 bungkus captopril 4 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus captopril 4,5 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 11 bungkus - - - - - - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - - - - - - - - - - - - -

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 61 62 63 64 65 66 67 Etiket phenobarbital 17,5 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus piracetam 130 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus salbutamol 1,5 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus captopril 1,2 mg 2x1 bungkus sehari sebelum makan dibuat 10 bungkus paracetamol 90 mg dibuat 11 bungkus paracetamol 400 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 11 tablet salbutamol 1 mg 3x1 bungkus sehari sesudah makan dibuat 10 bungkus Bentuk Jumlah Sediaan Obat Obat Obat Tanggal 12 Februari 2014 Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Peracikan Pengemasan - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - -  - - - - Tidak ada aturan pakai obat Bungkus ditulis tablet - - - - - - - - -

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 68 69 70 Etiket diazepam 3 mg 3x1 bungkus sehari sesudah makan dibuat 10 bungkus furosemide 2 mg 1x1 bungkus sehari sesudah makan dibuat 10 bungkus rifampisin 450 mg 1x1 tablet sehari sebelum makan dibuat 5 bungkus 71 Bentuk Sediaan Obat Obat Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - - - - - - - - - - - -  - - - - Bungkus ditulis tablet   - - - - - Tidak ada dosis obat, namun sudah dikonfirmasi ke Apoteker menjadi 5mg Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - - - - - - - phenobarbital dibuat 6 bungkus 72 salbutamol 1,5 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus Tanggal 13 Februari 2014 73 glaucon 80 mg 1x1 bungkus sehari Dibuat 3 bungkus - - - - -

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 74 75 76 77 Etiket amoxicilin 300 mg 3x1 bungkus sehari, habiskan dibuat 5 bungkus cefixime 50 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus urdafalk 3 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus cotrimoksazole 360 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 5 bungkus Bentuk Sediaan Obat Obat Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Tanggal 15 Februari 2014 78 79 80 phenobarbital 12,5 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 6 bungku phenobarbital 25 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus paracetamol 130 mg luminal 13 mg dibuat 11 bungkus - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai obat

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 81 Etiket phenobarbital 150 mg 3x1 bungkus sehari Dibuat 6 bungkus Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - Bentuk Sediaan Obat Obat - - Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - - - - 17 Februari 2014 82 83 84 85 86 cotrimoksazole 360 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus captopril 2 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus captopril 4 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus aldocfone 6,25 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus captopril 0,6 mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 12 bungkus - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - AA mengambil 4 tablet 25 mg, harusnya hanya 2 tablet. Namun bisa ditanganin dengan mengurangi jumlah tablet menjadi 2. - - - - - - - - - - - Tanggal 18 Februari 2014  - - AA mengambil salbutamol, namun bisa ditangani dengan diganti captopril

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 87 88 89 90 91 92 93 94 Etiket piracetam 210 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus paracetamol 160 mg phenobarbital 16 mg dibuat 19 bungkus phenobarbital 60 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus estazor 65 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus paracetamol 250 mg phenobarbital 25 mg dibuat 10 bungkus salbutamol 0,3 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 13 bungkus salbutamol 0,5 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 13 bungkus ketoconazole 100 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai Bentuk Sediaan Obat Obat Jumlah Obat Kesalahan Peracikan Keterangan Peracikan Pengemasan -  - - - -  - 200 mg ditulis 210 mg Racikan berhamburan dimeja - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 95 96 97 98 99 100 101 102 Etiket CTM 3 mg 3x1 bungkus sehari Dibuat 8 bungkus ranitidin 50 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 9 bungkus captopril 18 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 9 bungkus furosemide 5 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 8 bungkus metilprednisolone 4 mg dibuat 8 bungkus phenobarbital 100 mg 2x1 kapsul sehari dibuat 6 kapsul metilprednisolone 2 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 8 bungkus furosemide 7,5 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 5 bungkus Bentuk Sediaan Obat Obat Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Tanggal 19 Februari 2014  - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - - - - - - - - - -  - Berhamburan saat penggerusan - - - - - - - - -

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 103 104 105 106 107 108 109 110 Etiket paracetamol 130 mg luminal 13 mg dibuat 20 bungkus ranitidin 50 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus ranitidin 50 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus urdafalk 15 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 17 bungkus salbutamol 1,5 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 13 bungkus cetirizin 2 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 5 bungkus glaucon 80 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus captopril 4 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus Bentuk Sediaan Obat Obat Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - -  - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - - - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - Tanggal 20 Februari 2014 -  - Berceceran terkena lengan baju - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - Cetirisi - - - - - - - - - - - - - - - - - -

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 111 112 113 114 Etiket paracetamol 320 mg 4x1 bungkus sehari dibuat 11 bungkus azitromisin 300 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 5 bungkus glaucon 20 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus captopril 4 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus Bentuk Jumlah Sediaan Obat Obat Obat Tanggal 21 Februari 2014 Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Peracikan Pengemasan - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Tanggal 22 Februari 2014 115 116 117 118 salbutamol 0,5 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus salbutamol 1 mg dibuat 12 bungkus lansoprazole 100 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus furosemide 20 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 3 bungkus - - - - - - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - - - - - - - - - - - - -

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 119 120 121 122 123 Etiket captopril 4,5 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus phenobarbital 25 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus estazor 65 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 4 bungkus phenobarbital 100 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus cotrimoksazole 100mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus Bentuk Sediaan Obat Obat Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Tanggal 24 Februari 2014 124 125 salbutamol 0,5 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus captopril 18 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 11 bungkus - - - - - - - - - - - - - - - - - -

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 126 127 128 129 130 131 132 133 Etiket propanolol 10 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus captopril 6 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus ranitidin 50 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus salbutamol 1 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 8 bungkus diazepam 5 mg dibuat 8 bungkus captopril 6 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus CTM 3 mg 3x1 bungkus sehari Dibuat 12 bungkus diazepam 5 mg 2x1 bungkus sehari Dibuat 10 bungkus Bentuk Sediaan Obat Obat Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 134 135 Etiket cotrimoksazole 360mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus metronidazole 200 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 15 bungkus Bentuk Sediaan Obat Obat Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - -  - Ada yang loncat saat menggerus - - - - - Tanggal 25 Februari 2014 136 137 138 139 140 sanmol 250 mg 4x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus diazepam 5 mg dibuat 6 bungkus anemolat, hari 1 pagi 5 bungkus, lanjut 1x1 bungkus dibuat 6 bungkus ranitidin 50 mg 3x1 bungkus sehari Dibuat 9 bungkus phenobarbital 100 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus - - - - - - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - - - - - - Tanggal 26 Februari 2014 - -  AA mengemas 10, tapi AA menyadarinya dan mengemas ulang sejumlah 9 - - - - - - - - -

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 141 142 143 144 Etiket phenobarbital 125 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 kapsul ibuprofen 200 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus salbutamol 1 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 16 bungkus omeprazole 10 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus Bentuk Sediaan Obat Obat Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - - - - - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - -  - Berhamburan - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Tanggal 27 Februari 2014 145 146 147 salbutamol 0,7 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 14 bungkus cotrimoksazole 180mg 2x1 bungkus sehari dibuat 10 bungkus salbutamol 1 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Kesalahan Pengambilan Kesalahan Penulisan No 148 149 150 Etiket cetirizin 2 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 5 bungkus paracetamol 250 mg luminal 25 mg dibuat 12 bungkus salbutamol 0,5 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 12 bungkus Bentuk Sediaan Obat Obat Nama Obat Kekuatan Aturan Pakai - - - - - -  - - - Kesalahan Peracikan Keterangan Jumlah Obat Peracikan Pengemasan - - - - - - - - - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - Tanggal 28 Februari 2014 151 152 153 154 155 furosemide 4 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 5 bungkus captopril 4 mg 2x1 bungkus sehari dibuat 6 bungkus salbutamol 1,5 mg 3x1 bungkus sehari dibuat 11 bungkus paracetamol 90 mg dibuat 11 bungkus cetirizin 2,5 mg 1x1 bungkus sehari dibuat 4 bungkus - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - Tidak ada aturan pakai obat - - - - - - - - -

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Lampiran 2. Hasil Wawancara dengan Apoteker dan Asisten Apoteker mengenai Medication error pasien pediatri resep racikan di RSUP Dr. Sardjito pada Fase Dispensing periode februari 2014 1. Menurut anda, apakah pengertian medication error itu ? Apoteker : Kesalahan pengobatan Asisten Apoteker 1 : Kesalahan pengobatan Asisten Apoteker 2 : Kesalahan pengobatan Asisten Apoteker 3 : kesalahan pengobatan 2. Menurut anda, apa saja contoh-contoh medication error yang telah terjadi pada fase dispensing ? Apoteker : penulisan resep tidak lengkap / tidak ditulis dengan benar Asisten Apoteker 1 : diagnosa tidak ditulis, penulisan resep tidak lengkap Asisten Apoteker 2 : Salah baca Asisten Apoteker 3 : Salah baca dosis, misalkan diminta piracetam 1 gram dikasih 3 gram. 3. Menurut anda, apa saja faktor-faktor yang bisa menyebabkan terjadinya medication error khususnya pada fase dispensing ? Apoteker : penulisan di etiket kurang jelas/ tidak terbaca Asisten Apoteker 1 : penulisan resep tidak jelas/ tidak lengkap Asisten Apoteker 2 : Tulisan di etiket kurang jelas Asisten Apoteker 3 : salah baca, letak obat berdampingan 4. Menurut anda, upaya apa saja yang telah dilakukan dalam pencegahan terjadinya medication error terutama pada fase dispensing ? Apoteker : penulisan etiket yang jelas dan benar sesuai SOP Asisten Apoteker 1 : telaah resep dan di cek lagi Asisten Apoteker 2 : tanya ulang Asisten Apoteker 3 : teliti sebelum mengambil 5. Menurut anda, bagaimana cara-cara mengatasi medication error jika sudah terjadi pada fase dispensing ? Apoteker : dicarikan jalan keluar/alternatif lain. Misalkan : obat yang diracik bisa digunakan lain waktu lagi. Asisten Apoteker 1 : konfirmasi dokter Asisten Apoteker 2 : dibuat ulang Asisten Apoteker 3 : jika terjadi kesalahan, si pengambil (pramuniaga) komplain, lalu obat yang salah diambil digantikan dengan obat yang benar.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 6. Menurut anda, tindakan apa saja yang telah dilakukan oleh pihak RSUP Sr.Sardjito untuk mencegah terjadinya medication error ? Apoteker : verifikasi/ skrining resep oleh farmasis , bekerja sesuai SOP Asisten Apoteker 1 : belum ada Asisten Apoteker 2 : skrining, bekerja sesuai Standar Operasional Asisten Apoteker 3 : skrining 7. Menurut anda, perbaikan apa sajakah yang perlu dilakukan dalam usaha dan pencegahan ME untuk meningkatakan pelayanan di RSUP Dr. Sardjito ? Apoteker : Adanya komunikasi antara medis dan farmasis sehingga terjadi adanya pengobatan yang cepat, tepat dan aman. Asisten Apoteker1 : belum ada Asisten Apoteker2 : ada komunikasi dan kolaborasi antara tim medis dan perawat. Asisten Apoteker3 : pelayanan harus lebih bagus, ramah tamah dengan pasien dan pelayanan cepat.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Lampiran 3. Hasil Wawancara dengan Orangtua Pasien Pediatri mengenai Medication error dengan orangtua pasien pediatri di RSUP Dr. Sardjito pada Fase Administration periode februari 2014 Orangtua pasien pediatri 1 Pertanyaan Jawaban Obat apa saja yang anak anda dapatkan? cotrimoksazol dan PCT Sejak kapan anak anda menggunakan obat ini Sejak di Rumah Sakit (awal penggunaan)? misalkan sejak sakit di RS Disaat kapan anak anda mengkonsumsi obat paracetamol (hanya saat panas) ini ? (untuk obat yang penggunaannya hanya bila perlu) Bagaimana cara mengkonsumsi obat tsb? Ditelan (ditelan, dioleskan, dll) Bagaimana aturan pakai obat tersebut? Pasien hanya mengikuti jam saat disuruh perawat Informasi apa sajakah yang anda dapatkan kegunaan obat mengenai obat anak anda? Apakah anda mendapat informasi yang dosisnya tidak diberitahukan lengkap dan jelas tentang tatacara pemakaian obat tersebut? jika anda merasa kurang yakin, siapa yang anda akan cari untuk mendapatkan informasi lebih jelas? Siapa yang sering menjelaskan tentang Perawat tatacara atau aturan pakai dari obat anda, apakah dokter, Apoteker atau perawat? Apakah anak anda mengkonsumsi obat teratur sewaktu obat diberikan secara teratur sesuai dengan informasi yang perawat diberikan? Apakah selama mengkonsumsi obat yang Tidak pernah diberikan, anak anda mengalami efek yang dirasa merugikan? jika ada, seperti apa dan bagaimana pengatasannya ? Apakah anak anda pernah mengkonsumsi Tidak obat lain selain yang diresepkan selama waktu pengobatan? apa nama obatnya? dari mana mendapatkannya? Apakah selama pengobatan pihak rumah sakit Tidak pernah pernah mengganti obat yang anak anda gunakan sebelum obat anda habis? Apakah anda pernah melakukan pengecekan tidak ada kertas etiketnya, ulang terhadap resep yang diberikan kepada sehingga gak bisa ngecek anak anda? (terkait dengan kesesuaian obat nama pasien, umur, tanggal )?

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Orangtua pasien pediatri 2 Pertanyaan Jawaban Obat apa saja yang anak anda dapatkan? infus, zinc, antibiotik, paracetamol Sejak kapan anak anda menggunakan obat ini Sejak di Rumah Sakit (awal penggunaan)? misalkan sejak sakit di RS Disaat kapan anak anda mengkonsumsi obat Paracetamol (jika perlu saat ini ? (untuk obat yang penggunaannya hanya panas) , antibiotik :bila perlu) Bagaimana cara mengkonsumsi obat tsb? Di telan kecuali infus (ditelan, dioleskan, dll) Bagaimana aturan pakai obat tersebut? 2x 1 Informasi apa sajakah yang anda dapatkan jam konsumsi dan kegunaan obat mengenai obat anak anda? Apakah anda mendapat informasi yang sudah lengkap lengkap dan jelas tentang tatacara pemakaian obat tersebut? jika anda merasa kurang yakin, siapa yang anda akan cari untuk mendapatkan informasi lebih jelas? Siapa yang sering menjelaskan tentang Perawat tatacara atau aturan pakai dari obat anda, apakah dokter, Apoteker atau perawat? Apakah anak anda mengkonsumsi obat Iya secara teratur sesuai dengan informasi yang diberikan? Apakah selama mengkonsumsi obat yang Tidak ada diberikan, anak anda mengalami efek yang dirasa merugikan? jika ada, seperti apa dan bagaimana pengatasannya ? Apakah anak anda pernah mengkonsumsi Tidak pernah obat lain selain yang diresepkan selama waktu pengobatan? apa nama obatnya? dari mana mendapatkannya? Apakah selama pengobatan pihak rumah sakit Tidak pernah mengganti obat yang anak anda gunakan sebelum obat anda habis? Apakah anda pernah melakukan pengecekan selalu check, takut salah ulang terhadap resep yang diberikan kepada anak anda? (terkait dengan kesesuaian obat nama pasien, umur, tanggal )?

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Orangtua pasien pediatri 3 Pertanyaan Jawaban Obat apa saja yang anak anda dapatkan? Tidak tahu Sejak kapan anak anda menggunakan obat ini Sejak masuk Rumah Sakit (awal penggunaan)? misalkan sejak sakit di RS Disaat kapan anak anda mengkonsumsi obat Tidak tahu ini ? (untuk obat yang penggunaannya hanya bila perlu) Bagaimana cara mengkonsumsi obat tsb? Tidak tahu (ditelan, dioleskan, dll) Bagaimana aturan pakai obat tersebut? 3x1 sehari Informasi apa sajakah yang anda dapatkan Nama obat dan aturan pakai mengenai obat anak anda? Apakah anda mendapat informasi yang Cukup lengkap, tanya dokter lengkap dan jelas tentang tatacara pemakaian obat tersebut? jika anda merasa kurang yakin, siapa yang anda akan cari untuk mendapatkan informasi lebih jelas? Siapa yang sering menjelaskan tentang Dokter tatacara atau aturan pakai dari obat anda, apakah dokter, Apoteker atau perawat? Apakah anak anda mengkonsumsi obat Ya, saat diminta diminumkan secara teratur sesuai dengan informasi yang diberikan? Apakah selama mengkonsumsi obat yang Tidak pernah diberikan, anak anda mengalami efek yang dirasa merugikan? jika ada, seperti apa dan bagaimana pengatasannya ? Apakah anak anda pernah mengkonsumsi Tidak obat lain selain yang diresepkan selama waktu pengobatan? apa nama obatnya? dari mana mendapatkannya? Apakah selama pengobatan pihak rumah sakit Tidak pernah mengganti obat yang anak anda gunakan sebelum obat anda habis? Apakah anda pernah melakukan pengecekan Tidak ulang terhadap resep yang diberikan kepada anak anda? (terkait dengan kesesuaian obat nama pasien, umur, tanggal )?

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Orangtua pasien pediatri 4 Pertanyaan Jawaban Obat apa saja yang anak anda dapatkan? Obat mual, antibiotik dan Paracetamol Sejak kapan anak anda menggunakan obat ini Sejak di Rumah Sakit (awal penggunaan)? misalkan sejak sakit di RS Disaat kapan anak anda mengkonsumsi obat Paracetamol diminum terus, ini ? (untuk obat yang penggunaannya hanya antibiotik: bila perlu) Bagaimana cara mengkonsumsi obat tsb? Di telan (ditelan, dioleskan, dll) Bagaimana aturan pakai obat tersebut? 3x1 Informasi apa sajakah yang anda dapatkan Hanya kegunaan obat mengenai obat anak anda? Apakah anda mendapat informasi yang Kadang kegunaanya gak dikasih lengkap dan jelas tentang tatacara pemakaian tahu obat tersebut? jika anda merasa kurang yakin, siapa yang anda akan cari untuk mendapatkan informasi lebih jelas? Siapa yang sering menjelaskan tentang Dokter yang lebih banyak tatacara atau aturan pakai dari obat anda, memberi informasi apakah dokter, Apoteker atau perawat? Apakah anak anda mengkonsumsi obat Iya secara teratur sesuai dengan informasi yang diberikan? Apakah selama mengkonsumsi obat yang Tidak ada diberikan, anak anda mengalami efek yang dirasa merugikan? jika ada, seperti apa dan bagaimana pengatasannya? Apakah anak anda pernah mengkonsumsi Tidak obat lain selain yang diresepkan selama waktu pengobatan? apa nama obatnya? dari mana mendapatkannya? Apakah selama pengobatan pihak rumah sakit Tidak pernah pernah mengganti obat yang anak anda gunakan sebelum obat anda habis? Apakah anda pernah melakukan pengecekan Check ulang terhadap resep yang diberikan kepada anak anda? (terkait dengan kesesuaian obat nama pasien, umur, tanggal )?

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Orangtua pasien pediatri 5 Pertanyaan Jawaban Obat apa saja yang anak anda dapatkan? Paracetamol, antibiotik dan infus Sejak kapan anak anda menggunakan obat ini Sejak masuk di Rumah Sakit (awal penggunaan)? misalkan sejak sakit di RS Disaat kapan anak anda mengkonsumsi obat Tidak tahu ini ? (untuk obat yang penggunaannya hanya bila perlu) Bagaimana cara mengkonsumsi obat tsb? Sirup ditelan (ditelan, dioleskan, dll) Bagaimana aturan pakai obat tersebut? 3x1 Informasi apa sajakah yang anda dapatkan Informasi hanya disuruh mengenai obat anak anda? diminumkan Apakah anda mendapat informasi yang Cukup lengkap, bertanya pada lengkap dan jelas tentang tatacara pemakaian dokter obat tersebut? jika anda merasa kurang yakin, siapa yang anda akan cari untuk mendapatkan informasi lebih jelas? Siapa yang sering menjelaskan tentang Dokter tatacara atau aturan pakai dari obat anda, apakah dokter, Apoteker atau perawat? Apakah anak anda mengkonsumsi obat Ya secara teratur sesuai dengan informasi yang diberikan? Apakah selama mengkonsumsi obat yang Tidak ada diberikan, anak anda mengalami efek yang dirasa merugikan? jika ada, seperti apa dan bagaimana pengatasannya? Apakah anak anda pernah mengkonsumsi Tidak pernah obat lain selain yang diresepkan selama waktu pengobatan? apa nama obatnya? dari mana mendapatkannya? Apakah selama pengobatan pihak rumah sakit Tidak pernah mengganti obat yang anak anda gunakan sebelum obat anda habis? Apakah anda pernah melakukan pengecekan Obat di check oleh orangtua ulang terhadap resep yang diberikan kepada anak anda? (terkait dengan kesesuaian obat nama pasien, umur, tanggal )?

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Orangtua pasien pediatri 6 Pertanyaan Jawaban Obat apa saja yang anak anda dapatkan? Captopril dan adapton puyer Sejak kapan anak anda menggunakan obat ini Dari rumah sudah menggunakan (awal penggunaan)? misalkan sejak sakit di obat captopril, tapi saat di RS RS gunakan yang dari RS, namun obatnya sama. Disaat kapan anak anda mengkonsumsi obat ini ? (untuk obat yang penggunaannya hanya bila perlu) Bagaimana cara mengkonsumsi obat tsb? Di telan (ditelan, dioleskan, dll) Bagaimana aturan pakai obat tersebut? Captopril 2x1, adapton 2x1 Informasi apa sajakah yang anda dapatkan mengenai obat anak anda? Apakah anda mendapat informasi yang Sudah jelas lengkap dan jelas tentang tatacara pemakaian obat tersebut? jika anda merasa kurang yakin, siapa yang anda akan cari untuk mendapatkan informasi lebih jelas? Siapa yang sering menjelaskan tentang Perawat tatacara atau aturan pakai dari obat anda, apakah dokter, Apoteker atau perawat? Apakah anak anda mengkonsumsi obat Teratur secara teratur sesuai dengan informasi yang diberikan? Apakah selama mengkonsumsi obat yang Tidak pernah diberikan, anak anda mengalami efek yang dirasa merugikan? jika ada, seperti apa dan bagaimana pengatasannya? Apakah anak anda pernah mengkonsumsi Tidak pernah obat lain selain yang diresepkan selama waktu pengobatan? apa nama obatnya? dari mana mendapatkannya? Apakah selama pengobatan pihak rumah sakit Diberi infus setelah operasi pernah mengganti obat yang anak anda gunakan sebelum obat anda habis? Apakah anda pernah melakukan pengecekan Selalu check ulang terhadap resep yang diberikan kepada anak anda? (terkait dengan kesesuaian obat nama pasien, umur, tanggal )?

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Orangtua pasien pediatri 7 Pertanyaan Jawaban Obat apa saja yang anak anda dapatkan? Captopril (puyer) dan capto (tablet) Sejak kapan anak anda menggunakan obat ini Di RS (awal penggunaan)? misalkan sejak sakit di RS Disaat kapan anak anda mengkonsumsi obat - (Tidak ada obat yang hanya ini ? (untuk obat yang penggunaannya hanya perlu) bila perlu) Bagaimana cara mengkonsumsi obat tsb? Ditelan (ditelan, dioleskan, dll) Bagaimana aturan pakai obat tersebut? Tidak tahu Informasi apa sajakah yang anda dapatkan Tidak diberi informasi mengenai obat anak anda? Apakah anda mendapat informasi yang Tidak lengkap dan jelas tentang tatacara pemakaian obat tersebut? jika anda merasa kurang yakin, siapa yang anda akan cari untuk mendapatkan informasi lebih jelas? Siapa yang sering menjelaskan tentang Perawat tatacara atau aturan pakai dari obat anda, apakah dokter, Apoteker atau perawat? Apakah anak anda mengkonsumsi obat Iya secara teratur sesuai dengan informasi yang diberikan? Apakah selama mengkonsumsi obat yang Tidak ada diberikan, anak anda mengalami efek yang dirasa merugikan? jika ada, seperti apa dan bagaimana pengatasannya? Apakah anak anda pernah mengkonsumsi Tidak pernah obat lain selain yang diresepkan selama waktu pengobatan? apa nama obatnya? dari mana mendapatkannya? Apakah selama pengobatan pihak rumah sakit Ditambah amoxicilin pernah mengganti obat yang anak anda gunakan sebelum obat anda habis? Apakah anda pernah melakukan pengecekan Selale ngecheck ulang terhadap resep yang diberikan kepada anak anda? (terkait dengan kesesuaian obat nama pasien, umur, tanggal )?

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 Orangtua pasien pediatri 8 Pertanyaan Jawaban Obat apa saja yang anak anda dapatkan? Prednison , caleg, amlodipin, loperten, captopril, albumin infus Sejak kapan anak anda menggunakan obat ini Sejak masuk RS (awal penggunaan)? misalkan sejak sakit di RS Disaat kapan anak anda mengkonsumsi obat Antibiotik sampai obatnya habis ini ? (untuk obat yang penggunaannya hanya bila perlu) Bagaimana cara mengkonsumsi obat tsb? Ditelan (ditelan, dioleskan, dll) Bagaimana aturan pakai obat tersebut? Pagi dan malam Informasi apa sajakah yang anda dapatkan Nama obat mengenai obat anak anda? Apakah anda mendapat informasi yang Cukup lengkap dan jelas tentang tatacara pemakaian obat tersebut? jika anda merasa kurang yakin, siapa yang anda akan cari untuk mendapatkan informasi lebih jelas? Siapa yang sering menjelaskan tentang Dokter dan perawat tatacara atau aturan pakai dari obat anda, apakah dokter, Apoteker atau perawat? Apakah anak anda mengkonsumsi obat Teratur secara teratur sesuai dengan informasi yang diberikan? Apakah selama mengkonsumsi obat yang Tidak pernah diberikan, anak anda mengalami efek yang dirasa merugikan? jika ada, seperti apa dan bagaimana pengatasannya? Apakah anak anda pernah mengkonsumsi Tidak pernah obat lain selain yang diresepkan selama waktu pengobatan? apa nama obatnya? dari mana mendapatkannya? Apakah selama pengobatan pihak rumah sakit Tidak pernah mengganti obat yang anak anda gunakan sebelum obat anda habis? Apakah anda pernah melakukan pengecekan Tidak ulang terhadap resep yang diberikan kepada anak anda? (terkait dengan kesesuaian obat nama pasien, umur, tanggal )?

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Orangtua pasien pediatri 9 Pertanyaan Jawaban Obat apa saja yang anak anda dapatkan? metilprednisolon, captopril, caleg Sejak kapan anak anda menggunakan obat ini Sejak masuk RS (awal penggunaan)? misalkan sejak sakit di RS Disaat kapan anak anda mengkonsumsi obat - (tidak ada obat yang ini ? (untuk obat yang penggunaannya hanya penggunaanya hanya perlu) bila perlu) Bagaimana cara mengkonsumsi obat tsb? Ditelan (ditelan, dioleskan, dll) Bagaimana aturan pakai obat tersebut? Metilprednisolon 4x1, caleg 1x1, captopril 1x1 Informasi apa sajakah yang anda dapatkan Informasi hanya metilprednisolon mengenai obat anak anda? dipakai 1 bulan Apakah anda mendapat informasi yang Cukup lengkap, tanya dokter lengkap dan jelas tentang tatacara pemakaian spesialis obat tersebut? jika anda merasa kurang yakin, siapa yang anda akan cari untuk mendapatkan informasi lebih jelas? Siapa yang sering menjelaskan tentang Dokter tatacara atau aturan pakai dari obat anda, apakah dokter, Apoteker atau perawat? Apakah anak anda mengkonsumsi obat Ya secara teratur sesuai dengan informasi yang diberikan? Apakah selama mengkonsumsi obat yang Mual, batuk, kasih tahu perawat. diberikan, anak anda mengalami efek yang dirasa merugikan? jika ada, seperti apa dan bagaimana pengatasannya? Apakah anak anda pernah mengkonsumsi Tidak pernah obat lain selain yang diresepkan selama waktu pengobatan? apa nama obatnya? dari mana mendapatkannya? Apakah selama pengobatan pihak rumah sakit Tidak pernah pernah mengganti obat yang anak anda gunakan sebelum obat anda habis? Apakah anda pernah melakukan pengecekan Dicek kembali oleh orangtua ulang terhadap resep yang diberikan kepada anak anda? (terkait dengan kesesuaian obat nama pasien, umur, tanggal )?

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Lampiran 4. Hasil wawancara dengan perawat mengenai Medication error pada Resep Racikan untuk Pasien Pediatrik di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta 1. Apakah anda mengetahui mengenai Medication error? Seberapa pentingkah medication error bagi Anda sebagai perawat? Perawat 1 : kesalahan pemberian obat terapi yang tidak sesuai dengan pasien dan prosedurenya. Perawat 2 : tahu, sangat penting, tentang kesalahan pemberian obat baik rute/dosis. 2. Bagaimana pandangan perawat jika Apoteker terlibat dalam memonitor penggunaan obat? Perawat 1 : setuju, karena yang menyediakan obatnya pihak apotek. Perawat 2 : setuju, karena Apoteker lebih tau tentang obat dan untuk mencegah kesalahan pemberian obat. 3. Jika anda menemukan obat yang tidak dicantumkan aturan pakainya, apa yang anda lakukan sebagai perawat? Perawat 1 : konfirmasi dengan pihak apotek. Perawat 2 : konfirmasi ke dokter tentang dosis obat dan konfirmasi ke Apoteker mengenai aturan pakainya. 4. Apakah anda memberikan informasi penggunaan obat terhadap pasien? jika iya, informasi apa saja yang anda berikan? Perawat 1 : iya, informasi tata tertib, hak dan kewajiban sebagai pasien, tentang terapi (oral atau injeksi), tindakannya apa saja, jadwal kunjungan. Perawat 2 : iya, nama obat , fungsi, cara pemberian/ dosis obat, efek samping, rute obat. 5. Apakah anda sebagai perawat selalu mengecek ulang terlebih dahulu obat untuk pasien sebelum menyerahkannya? Perawat 1 : pastinya selalu mengecek. Perawat 2 : iya, memastikan benar obat dan dosis. 6. Apabila terdapat pasien yang tidak memenuhi aturan pakai obat , apa yang Anda lakukan? Perawat 1 : di edukasi lagi. Perawat 2 : ada, mengingatkan kembali pasien agar fungsi obat bekerja baik. 7. Pada saat Anda memberikan obat kepada pasien, apakah Anda menunggu/melihat hingga pasien menggunakan semua obatnya? Perawat 1 : iya, ditunggu sampai diminumkan.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 Perawat 2 : iya, melihat dan memastikan, kecuali pada pasien yang tidur. 8. Apakah anda sering menemukan obat pasien yang ketinggalan di bangsal ? kalau iya, apa yang anda lakukan ? Perawat1 : tidak pernah , selalu ada obat kontrolnya, obat apa saja yang dibawa pulang. Perawat2 : jarang, sesekali pernah, menghubungi pihak keluarga pasien untuk mengambil. 9. Apakah anda pernah menjumpai obat yang kemungkinan sengaja dibuang atau disembunyikan oleh pasien ? jika iya, apa yang anda lakukan ? Perawat1 : tidak pernah. Perawat2 : tidak pernah. 10. Menurut anda, apa yang menyebabkan terjadinya ME pada fase administration ? Perawat1 : ketidaktaatan pasien untuk meminum obat. Perawat2 : pasien tidak taat. 11. Menurut anda, upaya apa saja yang telah dilakukan pihak RSUP Dr. Sardjito dalam pencegahan terjadinya ME ? Perawat1 : pemberian edukasi ke pasien. Perawat2 : melakukan edukasi pasien.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Lampiran 5. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Lampiran 6. Surat Ijin Ethical Clearence untuk melakukan penelitian di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Biografi Penulis Penulis skripsi dengan judul “Medication error Resep Obat Racikan Pasien Pediatri Di RSUP Dr. Sardjito Pada Periode Februari 2014 (Tinjauan Fase Dispensing dan Fase Administration)” memiliki nama lengkap Septi Martiani Pertiwi. Penulis lahir di Palangkaraya pada tanggal 25 September 1992 dari pasangan Medie dan Sari Indang sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Pendidikan formal yang ditempuh penulis dimulai di TK Adhyaksa Palangkaraya (1996-1998), SDN Langkai 6 Palangkaraya (1998-2004), SDN sidorejo 1 Pangkalan Bun (2001-2004), SMPN 1 Arut Selatan Pangkalan Bun (2004-2007), dan melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA Negeri 2 Palangkaraya (20072010). Pada tahun 2010 penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Fakultas Farmasi. Selama menempuh kuliah, penulis aktif dalam berbagai kegiatan dan kepanitiaan. Penulis pernah menjadi anggota seksi konsumsi Acara Pelepasan Wisuda (2010), koordinator seksi kesekretariatan Acara Pelepasan Wisuda (2012), anggota tim penyuluhan “Cegah sebelum terlambat kanker serviks di Jetis, Sleman” (2012).

(117)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis potensi interaksi obat diabetes melitus pada resep obat pasien rawat jalan di RSAL Dr. Mintohardjo
3
33
84
Medication error dalam fase dispensing dan fase administration pada resep racikan (studi kasus) di empat apotek di Kabupaten Sleman periode Februari dan Maret 2014.
3
20
115
Evaluasi medication error resep racikan pasien pediatrik di farmasi rawat jalan rumah sakit Bethesda pada bulan Juli tahun 2007 : tinjauan fase dispensing.
0
1
128
Kajian medication error pada resep racikan pasien pediatrik di unit farmasi Rumah Sakit "X" bulan Juli 2007 (tinjauan fase dispensing).
0
1
20
Pola peresepan obat kardiovaskuler berdasarkan tinjauan dosis, interaksi, kontradiksi, dan efek samping obat pada pasien gagal jantung di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito periode Januari-Desember tahun 2003 - USD Repository
0
0
112
Evaluasi medication error resep racikan pasien pediatrik di farmasi rawat jalan rumah sakit Bethesda pada bulan Juli tahun 2007 : tinjauan fase dispensing - USD Repository
0
0
126
Evaluasi komposisi, indikasi, dosis, dan interaksi obat resep racikan untuk pasien pediatri Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta periode Juli 2007 - USD Repository
0
0
148
Evaluasi peresepan pada pasien hepatitis B kronis di instalasi rawat inap RSUP DR. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007 - USD Repository
0
0
102
Evaluasi penggunaan analgetik dan antibiotik pada pasien kanker serviks di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember tahun 2008 - USD Repository
0
0
171
Pengaruh jumlah pemberian obat terhadap ketaatan minum obat pasien rawat jalan di Poli Geriatri RSUP DR Sardjito Yogyakarta periode Februari-Maret 2010 - USD Repository
0
1
93
Evaluasi penggunaan antibiotika berdasarkan metode Prescribed Daily Dose (PDD) pada pasien anak rawat inap di Bangsal INSKA II RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari - Juni 2013 - USD Repository
0
0
75
Kajian pengetahuan dan alasan pemilihan obat herbal pada pasien geriatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta - USD Repository
0
0
130
Medication error dalam fase prescribing dan transcribing pada resep racikan : studi kasus di empat apotek di Kabupaten Sleman - USD Repository
0
1
123
Medication error fase prescribing dan fase transcribing pada resep racikan untuk pasien pediatrik di rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Februari 2014 - USD Repository
0
1
119
Kajian literatur rasionalitas peresepan antibiotika berdasarkan kriteria gyssens pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013 - USD Repository
0
1
230
Show more