Dinamika penderita nomophobia berat - USD Repository

Gratis

0
0
106
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DINAMIKA PENDERITA NOMOPHOBIA BERAT Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Ni Nyoman Indah Triwahyuni 149114010 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI DINAMIKA PENDERITA NOMOPHOBIA BERAT Disusun oleh: Ni Nyoman Indah Triwahyuni NIM: 149114010 Telah disetujui oleh: Dosen Pembimbing, Prof. Dr. A. Supratiknya Tanggal, ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PENGESAHAN DINAMIKA PENDERITA NOMOPHOBIA BERAT Dipersiapkan dan ditulis oleh: Ni Nyoman Indah Triwahyuni NIM: 149114010 Telah dipertanggungjawabkan di depan Panitia Penguji Pada tanggal 22 Januari 2019 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji Nama Penguji Tanda Tangan 1. Penguji 1 : Prof. A. Supratiknya, Ph.D. 2. Penguji 2 : Dr. Tjipto Susana, M.Si. 3. Penguji 3 : R. Landung Eko Prihatmoko, M.Psi., Psi. Yogyakarta, Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma (Dr. Titik Kristiyani, M.Psi) iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO “Bekerjalah terus tanpa henti dan berikan yang terbaik atas semua energi yang kamu miliki, serta persembahkan apa yang kamu kerjakan untuk Tuhan dan orang-orang terdekatmu. Maka, yakinlah apa yang kamu kerjakan akan memberikan hasil yang terbaik bagi dirimu” (Mank Indah) iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini saya persembahkan untuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para Leluhur Untuk Bapak, Mama, Kakak, dan Adik, serta sahabat dan teman-teman, Atas semangat, kasih, canda, dan penyertaannya selama ini Untuk para kaum muda dan partisipan, yang telah memberikan sudut pandang dan ceritanya terkait kecemasan saat tidak bisa menggunakan smartphone. v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar acuan, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 30 Januari 2019 Penulis Ni Nyoman Indah Triwahyuni vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DINAMIKA PENDERITA NOMOPHOBIA BERAT Ni Nyoman Indah Triwahyuni ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana dinamika penderita nomophobia berat. Data dikumpulkan dengan pendekatan mixed-method, diawali dengan penggunaan metode kuantitatif untuk mendapatkan responden dengan kategori nomophobia berat dan dilanjutkan dengan metode kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner nomophobia yang dimiliki Yildirim dan Correia (2015), sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui proses wawancara. Analisis data kuantitatif dilakukan dengan metode analisis statistik deskriptif. Sementara data kualitatif dianalisis menggunakan analisis isi kualitatif (AIK) dengan pendekatan deduktif, yakni analisis terarah. Partisipan penelitian ini merupakan mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta. Pada Studi 1 berjumlah 221 orang dan pada Studi 2 berjumlah empat orang. Hasil yang ditemukan adalah dari 221 orang responden, semuanya mengalami nomophobia dan kaum perempuan lebih rentan mengalami nomophobia berat. Secara umum, kecemasan saat tidak bisa menggunakan smartphone muncul sejak kuliah dan SMA yang diduga disebabkan oleh pengalaman negatif yang diberikan dari orang terdekat. Gejala yang dominan muncul adalah cemas jika ada seseorang yang menghubungi, sehingga partisipan menganggap koneksi adalah hal yang penting untuk dapat uptodate dengan informasi di sosial medianya. Strategi coping yang dominan digunakan untuk mengalihkan kecemasan adalah berinteraksi sosial dan melakukan hobi. Kata kunci :Dinamika, nomophobia, mixed-method vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DYNAMICS OF SEVERE NOMOPHOBIA PATIENTS Ni Nyoman Indah Triwahyuni ABSTRACT This study aims to explore how the dynamics of patients with severe nomophobia. Data were collected with a mixed-method approach, starting with the use of quantitative methods to get respondents with severe nomophobia category and followed by qualitative methods. The quantitative data were collected using questionnaires nomophobia owned Yildirim and Correia (2015), while the qualitative data collected through the interview process. Quantitative data analysis was conducted using descriptive statistical analysis. While the qualitative data were analyzed using qualitative content analysis with a deductive approach, the analysis focused. Participants of this study arestudents one of private Colleges in Yogyakarta. There were 221 people in study onewhile in Study two there were four people. Results are from 221 respondents. All of them experienced nomophobia where women were more susceptible to suffer from severe nomophobia. In general, anxiety when unable to use smartphones emerged since college and high school which is suspected to be caused by the negative experience came from significant others. The dominant symptoms appear is feeling anxious if someone contacted them, so that participants assume that connection is important in order to be up to date with information on social media. The most used coping strategy used to distract their anxiety was by interacting socially and doing hobbies. Keywords: Dynamics, nomophobia, mixed-method viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Ni Nyoman Indah Triwahyuni Nomor Mahasiswa : 149114010 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya berjudul : Dinamika Penderita Nomophobia Berat Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis, tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada Tanggal: 30 Januari 2019 Yang menyatakan, Ni Nyoman Indah Triwahyuni ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Perjalanan yang tidak mudah untuk menyelesaikan pembuatan skripsi hingga harus menambah satu semester untuk dapat menyelesaikannya. Tidak hanya untuk mendapatkan tanda kelulusan atau ijazah, namun untuk menemukan sebuah pembelajaran dalam berproses membuat suatu karya yang baik dan benar. Proses ini tidak akan mudah untuk saya jalani sendiri. Begitu banyak orang-orang hebat dan luar biasa yang mendukung perjalanan saya. Setulus hati saya ingin mengucapkan terima kasih pada semua orang yang telah berperan serta membantu saya secara langsung ataupun tidak langsung. 1. Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang Maha Segalanya! Saya beryukur atas pengalaman dan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk dapat berproses sedemikian rupa dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih sudah menjadi tempat saya berkeluh kesah saat saya merasakan ketidaknyamanan dalam hati saya. Terima kasih atas energi yang Engkau berikan kepada saya hingga saya bisa sampai pada titik ini. 2. Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu sabar dan memiliki dedikasi yang tinggi memberikan waktu serta segala hal yang dimilikinya untuk membantu kami menyelesaikan skripsi dengan baik. Terima kasih telah mengajari banyak hal untuk bisa membuat hasil karya yang baik dan benar. Terima kasih telah mengembangkan kami Bapak. 3. Terima kasih saya ucapkan kepada seluruh jajaran Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, atas segala informasi dan sistem pembelajaran x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang diterapkan. Berproses di tempat ini membuat saya lebih berkembang dan lebih mampu memahami diri saya sendiri serta orang lain. 4. Terima kasih kepada Bapak Eddy Suhartanto M.Si selaku dosen pembimbing akademik yang selalu memberikan bantuannya dalam proses menyelesaikan administrasi kegiatan perkuliahan saya. 5. Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si. dan Bapak R. Landung Eko Prihatmoko, M.Psi., Psi. selaku dosen penguji. Terima kasih atas diskusi dan masukan yang diberikan untuk membuat skripsi ini menjadi lebih baik. 6. Bapak Ketut Sumiartha, Ibu Wayan Sutri, Ayu Sri Adnyani, Aditya Jaya Permana, Ketut Sri Muliati, dan Krisna Yuliawan yang selalu memberikan semangat dan selalu mengingatkan saya bahwa skripsi adalah prioritas utama. 7. Terima kasih kepada Deva “Pabo” selaku teman kos sekaligus teman dekatku yang selalu ada dalam segala situasi Mank Indah. Terima kasih telah menjadi teman bercerita, bermain, bercanda, menangis, dan segalanya. Aku sayang Pabo. 8. Kepada rekan diskusi yang sungguh luar biasa Dimas Maharani Parwanto (Kuncung). Terima kasih atas waktu dan pemikiran kritismu yang selalu membuatku mencari tahu lebih dalam terkait suatu hal. 9. Keluargaku PBB “Deva, Pande, Indri, Okta, Gantih, dan Dewa” yang menjadi tempatku untuk pulang di perantauan. Kalian yang memberikan warna bahagia saat kita berkumpul bersama. Tetaplah seperti ini nanti dan aku selalu sayang kalian. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. Teman-temanku OMI “Intan, Dea, dan Grace” yang selalu mendukungku, memahamiku, dan mengajak aku pergi untuk menghilangkan rasa suntukku. Terima kasih telah menerimaku yang apa adanya ini, aku sayang kalian. 11. Kepada teman-teman kelas A angkatan 2014 yang telah menemaniku sejak semester awal. Terima kasih atas semangat dan kerjasamanya selama ini. 12. Terima kasih kepada semua teman-temanku dari PF 2015, AKSI 2016, PF 2017, AKSI 2018, dan P2TKP yang selalu memberikan semangat dan pengalaman berharga saat berdinamika dengan kalian. 13. Kepada adik-adikku, Anting, Brian, dan Alma, yang selalu menjadi temanteman bercerita segala hal. Senang mengenal kalian, semangat penyusunan skripsi ke depan!! 14. Anak-anak Profesor yang menjadi teman seperjuangan dalam menyelesaikan skripsi. Terima kasih atas diskusi, canda, dan sedihnya. Tetaplah semangat dan yakinlah ketika kalian terus berusaha memberikan yang terbaik atas apa yang kalian miliki, pasti akan berujung baik. Semangat!! 15. Para partisipan yang mengalami nomophobia, terima kasih atas partisipasi kalian. Tanpa kalian skripsi ini tidak akan berarti dan selesai. 16. Serta segala pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Terima kasih telah membantu saya memberikan dukungan emosional, teknis, atau lainnya. Kendati segala ucapan terima kasih ini saya berikan kepada segala pihak, hanya sayalah yang bertanggung jawab penuh atas semua kesalahan yang mungkin terjadi dalam skripsi ini.Saya ingin mempersembahkan skripsi ini xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terutama kepada orangtua saya sebab mereka telah mengajarkan saya menjadi seorang yang mandiri dan pekerja keras. Yogyakarta, 30 Januari 2019 Penulis Ni Nyoman Indah Triwahyuni xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii HALAMAN MOTTO ............................................................................................ iv HALAMAN PERSEMBAHAN ..............................................................................v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................... vi ABSTRAK ............................................................................................................ vii ABSTRACT ........................................................................................................... viii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUANPUBLIKASI KARYA ILMIAH .................................................................................................. ix KATA PENGANTAR .............................................................................................x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xiv BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................1 A. Latar Belakang .............................................................................................1 B. Pertanyaan Penelitian ...................................................................................7 C. Tujuan Penelitian .........................................................................................7 D. Manfaat Penelitian ......................................................................................8 1. Manfaat Teoritis .....................................................................................8 2. Manfaat Praktis ......................................................................................8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................................9 A. Remaja dan Teknologi Informasi .................................................................9 B. Nomophobia ...............................................................................................12 1. Pengertian .............................................................................................12 2. Dimensi Nomophobia ..........................................................................13 a. Not Being Able to Communicate ....................................................13 b. Losing Connectedness ....................................................................15 c. Not Being Able to Access Information ...........................................16 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI d. Giving Up Convenience .................................................................17 3. Pengukuran Nomophobia .....................................................................19 4. Dinamika Mahasiswa Penderita Nomophobia Berat............................21 C. Kerangka Konseptual .................................................................................23 BAB III STUDI 1 .................................................................................................................28 A. Jenis dan Desain Penelitian ........................................................................28 B. Variabel Penelitian & Definisi Operasional ...............................................28 C. Partisipan ...................................................................................................29 D. Metode Pengambilan Data .........................................................................30 E. Analisis dan Interpretasi Data ...................................................................36 F. Hasil dan Pembahasan ...............................................................................37 BAB IV STUDI 2 .................................................................................................................40 A. Jenis dan Desain Penelitian ........................................................................40 B. Fokus Penelitian .........................................................................................40 C. Partisipan ....................................................................................................41 D. Peran Peneliti .............................................................................................42 E. Metode Pengambilan Data .........................................................................43 F. Analisis dan Interpretasi Data ....................................................................46 G. Penegakan Kredibilitas dan Dependibilitas Penelitian ..............................48 H. Hasil dan Pembahasan................................................................................49 1. Latar Belakang Partisipan dan Dinamika Proses Wawancara ...............50 2. Hasil Penelitian dan Pembahasan ..........................................................58 BAB V PEMBAHASAN UMUM ......................................................................................73 A. Keseluruhan Subjek Mengalami Nomophobia ..........................................73 B. Prevalensi Perempuan Lebih Tinggi Mengalami Nomophobia Berat .......73 C. Asal-Usul Munculnya Kecemasan .............................................................74 D. Gejala dan Keluhan Terkait dengan Dimensi Nomophobia.......................75 E. Strategi Coping Mengurangi Kecemasan ..................................................77 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB VI PENUTUP ..............................................................................................................79 A. Kesimpulan ................................................................................................79 B. Keterbatasan penelitian ..............................................................................80 C. Saran ..........................................................................................................81 1. Bagi peneliti selanjutnya ......................................................................81 2. Bagi praktisi psikologi .........................................................................82 3. Bagi keluarga dan orang terdekat partisipan ........................................82 4. Bagi partisipan .....................................................................................82 DAFTAR ACUAN ................................................................................................83 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Bagan Kerangka Konseptual ............................................................... 26 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Hasil Adaptasi Kuesioner Nomophobia Yildirim dan Correia (2015) .... 32 Tabel 2. Blue Print Kuesioner Nomophobia ......................................................... 35 Tabel 3. Koefisien Korelasi Setiap Item ............................................................... 36 Tabel 4. Norma Tingkat Nomophobia Menurut Yildirim dan Correia (2015) ..... 37 Tabel 5. Sebaran Subjek Nomophobia Berat ........................................................ 38 Tabel 6. Partisipan Nomophobia Berat di Studi 2 ................................................. 41 Tabel 7. Pedoman Wawancara .............................................................................. 45 Tabel 8. Kerangka Analisis Asal-Usul Timbulnya Kecemasan ........................... 47 Tabel 9. Kerangka Analisis Dimensi Nomophobia ............................................... 47 Tabel 10. Kerangka Analisis Strategi Coping untuk Mengatasi Kecemasan........ 48 Tabel 11. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Penelitian .......................................... 49 Tabel 12. Hasil Analisis Asal-Usul Timbulnya Kecemasan ................................. 63 Tabel 13. Hasil Analisis Gejala dan Keluhan Terkait Dimensi Nomophobia ...... 69 Tabel 14. Hasil Analisis Strategi Coping Mengatasi Kecemasan ......................... 71 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Contoh Lembar Persetujuan Partisipan/ Informed Consent ..............86 xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Orang Indonesia adalah pengguna smartphone nomor satu di dunia (“Orang Indonesia”, 2014). Lembaga riset digital Marketing atau Emarketer memperkirakan bahwa pada tahun 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia akan mencapai lebih dari 100 juta orang (Wahyudi, 2016). Di sisi lain, di tahun 2013, riset yang dilakukan Yahoo dan Midshare menemukan bahwa dari 41 juta orang di Indonesia yang menggunakan smartphone, 39% diantaranya adalah kaum muda dengan rentang usia 16 sampai 21 tahun (Wulandari, Darmawiguna, & Wahyuni, 2014). Diduga bahwa populasi anak muda yang menggunakan smartphone di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan tersebut terlihat dari hasil observasi peneliti bahwa kaum muda tidak bisa terpisahkan dari smartphone yang mereka miliki dalam melakukan aktivitas sehari-hari mereka. Hasil observasi ini dapat diperkuat dengan pemaparan Bragazii dan Puente (2014) yang menyatakan bahwa perubahan kebiasaan dan perilaku sehari-hari individu saat ini terjadi karena meningkatnya pemanfaatan dan penetrasi teknologi serta komunikasi virtual baru yang bersifat pribadi, dimana salah satu teknologi perantaranya adalah smartphone. Pemanfaatan akan smartphone ini seperti dapat mengirim pesan singkat, melakukan panggilan, mengecek dan mengirim e-mail, berselancar di dunia maya, belajar, jejaring sosial, mencari informasi di internet, permainan, dan bahkan untuk membuat jadwal (Mulyar, 2016). 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Namun, selain memberikan banyak manfaat, smartphone juga dapat memberikan dampak negatif. Menurut Hoffman (Bragazii dan Puente, 2014) penggunaan jangka panjang pada media baru ini mudah mengarahkan seseorang ke perilaku adiktif dan impulsif. Yildirim dan Correia (2015) menambahkan ada beberapa masalah terkait dengan penggunaan smartphone, salah satunya adalah nomophobia. Nomophobia atau no mobile phone phobia adalah phobia yang menggambarkan kecemasan atau ketidaknyamanan saat seseorang berada jauh atau tidak dapat kontak dengan smartphone atau komputer yang dimilikinya (King, Valenca, & Nardi, 2010, dalam Yildirim & Correia, 2015). Yildirim dan Correia (2015) dalam hal ini mengungkapkan bahwa nomophobia merupakan akibat interaksi individu dengan smartphone. Pernyataan ini diungkapkan karena bertolak dari definisi King et al. (2010, dalam Yildirim & Correia, 2015) mengenai nomophobia. Menurutnya, nomophobia adalah fobia yang modern yang dihasilkan dari interaksi individu dengan teknologi baru. Kemudian, Yildirim dan Correia (2015) juga melihat bahwa smartphone semakin marak pada lima tahun terakhir, dimana telah mengambil alih pasar telepon selular bahkan hampir menggantikan frasa “telepon selular” (Yildirim & Correia, 2015). Lalu, menurut Yildirim dan Correia (2015), nomophobia memiliki empat dimensi yaitu, not being able to communicate, losing connectedness, not being able to access information, and giving up convenience. Not being able to communicate adalah perasaan kehilangan komunikasi ketika tidak dapat dihubungi atau menghubungi seseorang. Losing connectedness adalah perasaan

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 kehilangan koneksi dan terputus dengan identitas online seseorang pada sosial media. Not being able to access information adalah munculnya rasa ketidaknyamanan yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengakses informasi melalui smartphone. Giving up convenience menggambarkan sebuah kenyamanan untuk tetap berada di dekat smartphone yang dimiliki. Yildirim dan Correia (2015) menyatakan bahwa mengingat banyaknya penggunaan smartphone di kalangan mahasiswa, maka tidak mengejutkan bahwa mereka rentan dengan nomophobia. Pernyataan ini diperkuat dengan temuan penelitian yang dilakukan di Universitas Airlangga. Dari 380 responden, hanya 17 responden yang ditemukan tidak mengalami nomophobia. Sedangkan sisanya, masuk ke dalam beberapa kategori, yaitu 88 responden masuk kategori nomophobia ringan, 148 responden masuk kategori nomophobia sedang, 92 masuk kategori nomophobia berat, dan 34 masuk kategori nomophobia sangat berat (Mulyar, 2016). Temuan tersebut tentu mengkhawatirkan, sebab menurut Dixit et al. (2010, dalam Gezgin & Cakir, 2016) bahwa perilaku nomophobic dapat menyebabkan seorang individu merasakan efek kecemasan negatif yang berujung pada sulitnya berkonsentrasi saat melakukan aktivitas sehari-hari. Selain itu, sebuah artikel berita menyebutkan terdapat dua orang anak yang mengalami guncangan jiwa akibat tidak diizinkan memegang atau menggunakan gadget oleh orangtuanya (Flora, 2018). Mengingat bahwa nomophobia adalah sebuah phobia yang mampu mengubah kehidupan keseharian manusia ke arah yang negatif dan saat ini masih

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 terdengar asing di kalangan masyarakat Indonesia, maka peneliti bertujuan melakukan penelitian secara lebih mendalam dengan mencari tahu dinamika dari penderita nomophobia berat. Dinamika penderita nomophobia berat yang dimaksud meliputi: (1) asal-usul munculnya kecemasan ketika tidak bersama smartphone, (2) gejala dan keluhan apa saja terkait dengan empat dimensi nomophobia yang dialami oleh penderita nomophobia berat, (3) strategi coping untuk mengatasi kecemasan yang muncul ketika tidak bersama dengan smartphone. Penelitian terdahulu, baik di luar atau dalam negeri, belum banyak yang membahas nomophobia secara lebih mendalam. Sejauh ini, penelitian di luar negeri ada yang bertujuan mencari tahu prevalensi nomophobia di kalangan mahasiswa, seperti dilakukan di medical college di Bangalore (Pavithra, Suwarna, & Murthy, 2015) dan di Turkish college students (Yildirim, Sumuer, Adnan, & Yildirim, 2015). Lalu, ada pula yang mencari prevalensi nomophobia ini di kalangan pengguna smartphone di India (Kanmani, Bhavani, & Maragatham, 2017). Kemudian, penelitian lain ada yang berusaha mencari dimensi dari nomophobia serta melakukan validasi kuesioner nomophobia yang telah dibuat (Yildirim & Correia, 2015). Sementara penelitian di Indonesia lebih banyak mencari hubungan nomophobia dengan beberapa aspek psikologis, seperti kepercayaan diri (Sudarji, 2017), self esteem (Mayangsari & Ariana, 2015), dan the big five personality (Prasetyo & Ariana, 2016). Dari segi desain penelitian yang digunakan, kebanyakan laporan penelitian terdahulu menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan instrumen

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 pengumpulan datanya berupa kuesioner (King et al., 2014; Yildirim et al., 2015; Pavithra et al., 2015; Mayangsari & Ariana, 2015; Gezgin & Cakir, 2016; Prasetyo & Ariana, 2016; Kanmani et al., 2017; Prasad, Patthi, Singla, Grupta, Saha, Kumor, Malhi, & Venisha, 2017; Sudarji, 2017; Wahyuni & Harmaini, 2017). Lalu, ada pula penelitian yang menggunakan desain kualitatif dan mix method, yaitu penelitian yang dilakukan Yildirim dan Correia (2015). Mix method yang dilakukan Yildirim dan Correia (2015) digunakan untuk mencari dimensi dan mengembangkan kuesioner untuk mengukur nomophobia. Tahap pertama yang dilakukan oleh Yildirim dan Correia (2015) adalah menggunakan desain kualitatif dengan wawancara sebagai instrumen yang dipilih untuk mengumpulkan data. Selanjutnya, mereka menggunakan desain kuantitatif dan kuesioner sebagai instrumennya. Dalam menggunakan desain mix method ini, Yildirim dan Correia (2015) lebih berfokus pada pengembangan kuesioner untuk mengukur nomophobia. Sedangkan dari segi partisipan, sebagaian besar penelitian baik di luar maupun di dalam negeri menggunakan partisipan yang memiliki rentang usia 17-35 tahun dengan mahasiswa sebagai profesi yang sebagian besar digunakan untuk sampel penelitian (Mayangsari & Ariana, 2015; Pavithra et al., 2015; Yildirim & Correia, 2015; Yildirim, Sumuer, Adnan, & Yildirim, 2015; Prasetyo & Ariana, 2016; Kanmani et al., 2017; Prasad, Patthi, Singla, Grupta, Saha, Kumor, Malhi, & Venisha, 2017; Sudarji, 2017). Dari segi hasil penelitian, terdapat dua penelitian yang mengungkapkan sebuah prevalensi nomophobia di kalangan generasi muda. Pertama, penelitian Pavithra et al. (2015) mendapati dari 200 mahasiswa yang diteliti 79 diantaranya

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 nomophobic. Kedua adalah penelitian dari Yildirim et al. (2015). Mereka menemukan bahwa 42.6% kaum muda di Turki mengalami nomophobia. Ketiga, Kanmani et al. (2017) menemukan bahwa perempuan memiliki level nomophobia yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki dan mahasiswa (18-24 tahun) lebih rentan terkena nomophobia dibandingkan kalangan yang sudah bekerja. Lalu, penelitian di Indonesia hanya mengungkapkan bahwa tidak ada hubungan antara nomophobia dengan aspek psikologis yang diteliti, yaitu kepercayaan diri (Sudarji, 2017), self esteem (Mayangsari & Ariana, 2015), dan the big five personality (Prasetyo & Ariana, 2016). Berdasarkan tinjauan pustaka tersebut, peneliti menemukan beberapa defisiensi. Dari segi fokus penelitian, belum ada yang meneliti mengenai dinamika penderita yang mengalami nomophobia berat di luar maupun dalam negeri. Penelitian di Indonesia sebelumnya lebih banyak mencari keterkaitan nomophobia dengan aspek psikologis. Dari segi desain penelitian, hanya satu yang ditemukan menggunakan desain mix method dan berlokasi di luar negeri, yaitu Amerika Serikat. Desain tersebut digunakan dengan lebih dominan pada desain kuantitatif untuk dapat mengembangkan kuesioner yang mampu mengukur nomophobia. Sisanya, lebih banyak yang menggunakan desain penelitian kuantitatif yang lebih berfokus mencari suatu hubungan dengan aspek psikologis dan melihat prevalensi kasus nomophobia di suatu populasi. Hal tersebut kurang dapat memberikan gambaran secara lebih mendalam mengenai dinamika penderita nomophobia berat.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Bertolak dari defisiensi yang dipaparkan itu, peneliti ingin menggunakan mix method untuk mengetahui dinamika penderita nomophobia berat, dengan subjek mahasiswa aktif di suatu Universitas. Tujuan dari penggunaan mix method adalah: pertama, menemukan subjek yang tergolong memperoleh skor kategori nomophobia berat dengan metode kuantitatif dan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan datanya. Setelah itu, yang kedua, sampel subjek yang tergolong berat akan diwawancara menggunakan metode kualitatif. Hal ini dilakukan untuk dapat mengeksplorasi dinamika nomophobia berat yang dialami oleh subjek tersebut. Kemudian, data yang diperoleh akan dianalisis dengan analisis isi kualitatif. B. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan pokok: Bagaimana dinamika mahasiswa yang mengalami nomophobia berat? Pertanyaan turunan: 1. Bagaimana asal-usul munculnya kecemasan ketika tidak bersama smartphone? 2. Gejala dan keluhan apa saja terkait dengan empat dimensi nomophobia yang dialami oleh mahasiswa yang memiliki nomophobia berat? 3. Bagaimana strategi coping untuk mengatasi kecemasan yang muncul ketika tidak bersama smartphone? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi dinamika mahasiswa yang mengalami nomophobia berat, meliputi:

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 1. Asal-usul munculnya kecemasan ketika tidak bersama smartphone 2. Gejala dan keluhan terkait empat dimensi nomophobia yang dialami mahasiswa yang memiliki nomophobia berat 3. Strategi coping yang digunakan untuk mengatasi kecemasan yang muncul ketika tidak bersama smartphone D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur khususnya kajian psikologis mengenai nomophobia di Indonesia, terutama berkaitan dengan dinamika penderita nomophobia berat, khususnya di kalangan mahasiswa. 2. Manfaat Praktis Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa nomophobia saat ini sangat rentan terjadi pada kaum muda khususnya di Indonesia. Selanjutnya, ketika masyarakat mampu memahami bagaimana dinamika seseorang yang mengalami nomophobia, harapannya adalah keluarga maupun lembaga masyarakat juga mampu memberikan gambaran dan penanganan yang tepat untuk membantu subjek yang mengalami nomophobia berat.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini, penulis akan mengawali penjelasan terkait dinamika mahasiswa yang masuk dalam golongan remaja dan hubungannya dengan teknologi. Lalu, penjelasan akan dilanjutkan pada apa yang dimaksud dengan nomophobia. Penjelasan nomophobia tersebut melingkupi pengertian dan dimensi-dimensi yang dimiliki oleh nomophobia, serta alat ukur atau kuesioner nomophobia yang digunakan. Sesudah itu, peneliti berlanjut menjelaskan sedikit mengenai strategi coping secara umum dan konteks penelitian yang dituju, yaitu mengenai mahasiswa dengan nomophobia berat, serta pemaparan maksud peneliti mengenai dinamika mahasiswa yang menderita nomophobia berat. Pada bagian akhir, peneliti akan memberikan sebuah bagan kerangka konseptual untuk membantu memperlihatkan alur berpikir penelitian ini. A. Remaja dan Teknologi Informasi Teknologi informasi dan komunikasi merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kita saat ini (Lee, Tam, & Chei, 2013; Salehan & Negahban, 2013, dalam Yildirim & Correia, 2015). Kemunculan teknologi telekomunikasi ini didorong oleh kebutuhan manusia untuk menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi dan diselesaikan dalam waktu cepat dan singkat (Oulasvirta, Rattenbury, Ma, & Raita, 2012, dalam Yildirim & Correia, 2015). Di era sekarang, ponsel cerdas atau yang kerap disebut smartphone merupakan teknologi komunikasi yang 9

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 menjadi trendi masyarakat (Oulasvirta et al., 2012, dalam Yildirim & Correia, 2015). Tren tersebut dapat ditunjukkan dengan adanya peningkatan yang signifikan pada pengguna smartphone di Indonesia. Pada tahun 2015 penggunanya sebesar 52,2 juta jiwa, kemudian pada tahun 2016: 69,4 juta jiwa, 2017: 86,6 juta jiwa, dan diperkirakan semakin memuncak pada tahun 2018, yakni sebanyak 103 juta jiwa (Wahyudi, 2017). Riset yang dilakukan Yahoo dan Midshare pada tahun 2013 menemukan bahwa dari 41 juta orang di Indonesia yang menggunakan smartphone, 39% diantaranya adalah kaum muda dengan rentang usia 16 sampai 21 tahun (Wulandari, Darmawiguna, & Wahyuni, 2014). Hasil tersebut mencerminkan bahwa di samping terjadinya peningkatan pengguna smartphone di Indonesia secara umum dari tahun ke tahun, terdapat rentang usia yang menguasai porsi terbesar dalam kepemilikan smartphone, yakni pada usia 16-21 tahun. Bagi kaum muda, smartphone atau yang masih akrab disebut oleh masyarakat Indonesia sebagai handphone (HP) adalah sebuah perangkat yang memudahkan mereka untuk melakukan dan menyelesaikan berbagai tugas harian, seperti menelepon dan mengirim pesan, memeriksa dan mengirim email, membuat janji, menjelajahi internet, berbelanja secara online, menikmati jejaring sosial, mencari informasi, game, hiburan, dll (Park, Kim, Shon, & Shim, 2013, dalam Yildirim & Correia, 2015). Selain itu, adanya smartphone juga mampu meningkatkan status sosial mereka. Manfaat tersebut membuat remaja merasa lebih terikat pada smartphone yang justru menuntun mereka pada permasalahan

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 terkait penggunaan yang berlebihan pada smartphone (Yilmaz, Sar, & Cilvan, 2015; dalam Gezgin & Cakir, 2016). Smartphone dapat menyebabkan penggunaan kompulsif (Oulasvirta et al., 2012, dalam Yildirim & Correia, 2015) dan membuat ketagihan di kalangan remaja (Chiu, 2014; Lee et al., 2014; Salehan & Negahban, 2013, dalam Yildirim & Correia, 2015). Hal ini mungkin terjadi karena remaja cenderung menghabiskan sebagian besar waktu yang mereka miliki bersama smartphone-nya. Lebih bahayanya lagi, di zaman globalisasi, smartphone dapat memberi efek yang besar pada perkembangan sosial dan emosional remaja (Gezgin & Cakir, 2016). Samaha dan Hawi (2015) menemukan bahwa kecanduan smartphone meningkatkan stres dan menurunkan kinerja akademik. Selain itu, penelitian Lee, Kim, Ha, Yoo, Han, Jung, & Jang (2016) yang dilakukan di kalangan mahasiswa membuktikan bahwa ketergantungan smartphone dapat menimbulkan perasaan cemas. Hal tersebut diduga mampu membawa remaja lebih rentan pada kecanduan oleh smartphone dibandingkan orang dewasa (Kwon, Kim, Cho, dan Yang, 2013, dalam Gezgin & Cakir, 2016). Efek kecanduan inilah yang menyebabkan remaja rentan terkena nomophobia. Dalam konteks penelitian ini, peneliti ingin melihat bagaimana remaja khususnya mahasiswa mengalami dinamika sebagai penderita nomophobia berat. Mahasiswa yang dimaksud adalah orang-orang yang masuk ke dalam golongan remaja dan merupakan peserta didik yang sedang menjalani proses pendidikan di suatu perguruan tinggi. Dalam penelitian ini, remaja khususnya mahasiswa yang

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 digunakan oleh peneliti adalah mereka yang berusia 18-24 tahun (Curtis, 2015) dan masuk dalam kategori nomophobia berat. B. Nomophobia 1. Pengertian Nomophobia atau disebut juga no mobile phone phobia merupakan sebuah phobia yang menggambarkan kecemasan seseorang ketika berada jauh dari mobile phone miliknya (SecurEnvoy, dalam Yildirim & Correia, 2015). Cheever et al. (Prasetyo & Ariana, 2014) juga menjelaskan bahwa nomophobia adalah phobia yang menggambarkan kondisi seseorang yang tidak dapat lepas dari telepon genggam miliknya. Oleh karena itu, Yildirim dan Correia (2015) mengungkapkan bahwa nomophobia memiliki keterkaitan dengan interaksi seseorang dengan mobile phone. Kemudian, King et al. (2014) yang mengutip dari sebuah majalah Nomophobia fear pada tahun 2012, menambahkan bahwa nomophobia adalah sebuah ketakutan yang terjadi karena tidak dapat melakukan komunikasi melalui mobile phone atau tidak dapat terhubung dengan internet. Phobia yang memiliki keterkaitan dengan interaksi seseorang dengan mobile phone ini menyebabkan seseorang memiliki kecemasan dan ketakutan berlebih jika ia kehilangan atau jauh dari ponselnya (Wahyuni & Harmaini, 2017). Dixit et al. (Gezgin & Cakir, 2016) juga menyatakan hal yang sama bahwa individu yang memiliki perilaku nomophobic akan merasakan cemas saat individu tersebut kehilangan, kehabisan baterai, atau tidak mendapatkan koneksi pada handphone-nya. Selain itu, individu dengan nomophobia juga mengalami ketakutan ketika ia melewatkan sebuah telepon atau pesan singkat dan

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 melewatkan informasi penting dari jejaring sosial (Mayangsari, 2012; dalam Sudarji, 2017). Lebih lanjut, Sudarji (2017) juga menjelaskan orang yang mengalami nomophobia selalu hidup dalam kekhawatiran dan kecemasan ketika ia meletakkan atau menyimpan smartphone. Hal tersebut pula yang membuat orang yang menderita nomophobia selalu membawa smartphone-nya kemana pun ia pergi. Lalu, Sudarji (2017) kembali memaparkan bahwa penderita nomophobia dapat memeriksa smartphone mereka hingga 34 kali dalam sehari dan kerap membawanya hingga ke toilet. Maka, penjelasan King, Valenca, Silva, Baczynski, Carvalho, dan Nardi (2013) dapat memberikan kesimpulan bahwa nomophobia mengacu pada suatu ketidaknyamanan atau kecemasan yang disebabkan oleh tidak tersedianya ponsel, PC atau perangkat komunikasi virtual lainnya. 2. Dimensi Nomophobia Menurut Yildirim dan Correia (2015), nomophobia memiliki empat dimensi yaitu, not being able to communicate, losing connectedness, not being able to access information, dan giving up convenience. a. Not Being Able to Communicate atau tidak dapat berkomunikasi, adalah perasaan kehilangan komunikasi dan tidak bisa menggunakan layanan yang memungkinkan komunikasi secara langsung dengan orang lain. Hal tersebut meliputi perasaan tidak bisa menghubungi atau dihubungi. Dalam temuan hasil wawancaranya, Yildirim dan Correia (2015) menemukan para partisipannya sangat mengandalkan smartphone dan fitur-fitur yang ada untuk keperluan komunikasi. Pernyataan-pernyataan yang muncul misalnya seperti: “Ini

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 memungkinkan saya berkomunikasi lebih mudah dengan seseorang. Jadi, jika jadwal saya diubah atau saya perlu bertanya dengan seseorang, saya dapat melakukannya dengan lebih mudah.” (Olivia). Ada pula yang mengatakan, “Anda bisa saja mengirimkan pesan teks ke grup untuk memberitahu dimana Anda akan bertemu.” (Lily). Satu partisipan juga menyatakan bahwa telepon sangat membantunya dalam berkomunikasi, Ted berkata, “Ketika saya pertama kali datang ke AS, saya merasa rindu rumah, tapi telepon saya dapat membantu saya untuk berkomunikasi dengan keluarga saya dan saya merasa lebih baik”. Melalui kutipan pernyataan tersebut dapat ditunjukkan bahwa smartphone sebagai alat komunikasi begitu penting bagi orang dewasa muda. Para partisipan menyatakan bahwa ketika mereka tidak dapat menggunakan smartphone, mereka akan merasa cemas. Hal ini tergambar dari kutipan-kutipan pernyataan di bawah ini: “Bagian yang paling disayangkan adalah ketika saya tidak dapat menerima pesan atau e-mail apapun. Saya tidak dapat menghubungi orang yang perlu saya hubungi dan hal tersebut memunculkan perasaan tidak menyenangkan.” (Petrus). Pernyataan lain dari Lily seperti, “Uhmm..itu agak aneh, ketika saya tidak bisa mengirimkan pesan kepada teman sekamar saya. Saya seakan tidak bisa berkomunikasi”. Kemudian, Yildirim dan Correia (2015) menemukan bahwa komunikasi secara langsung atau yang dikatakan instan berarti bisa mendapatkan pesan teks dari seseorang dengan segera. Selain pesan teks, media komunikasi lain yang dilakukan oleh beberapa orang adalah pesan e-mail. Misalnya, partisapan Astrid yang menyatakan “Ketika saya tidak memeriksa e-mail saya, saya akan merasa

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 cemas karena saya tahu di akhir hari saya akan mendapatkan e-mail yang banyak. Di sisi lain, saya tidak dapat memeriksanya. Jika seseorang membutuhkan sesuatu, saya tidak dapat segera meresponnya.”. Pernyataan tersebut juga menunjukkan bahwa ada sebuah keinginan dari Astrid untuk segera merespon seseorang yang menghubunginya. b. Losing Connectedness atau kehilangan koneksi adalah perasaan kehilangan koneksi pada smartphone dan terputus dengan identitas online khususnya pada sosial media yang dimiliki. Para peserta menjelaskan bahwa koneksi merupakan alasan utama kaum muda menggunakan smartphone. Hal tersebut dapat tergambarkan dari salah satu hasil wawancara Yildirim dan Correia dengan seorang mahasiswi yaitu, Astrid. Ia mengatakan bahwa smartphone memungkinkannya untuk tetap terhubung pada teman-temannya yang berada di negeri yang berbeda dan ia juga dapat mengikuti perkembangan dari temantemannya. Selain itu, keterhubungan atau terkoneksi yang dijelaskan oleh peserta lainnya adalah ia mampu mengetahui arti dari notifikasi yang muncul melalui smartphone miliknya. Hal ini seperti lampu berwarna ungu memiliki arti bahwa itu adalah e-mail. Warna biru mengartikan teman dan yang lainnya. Melalui hal tersebut peserta dapat memperhatikan dari kejauhan dan bisa pula memutuskan untuk tidak memperdulikan hal-hal yang dianggap tidak penting. Peserta lainnya ada pula yang mencontohkan bahwa keterhubungan yang dimaksud seperti ia akan memeriksa sesegera mungkin jika terdapat pemberitahuan yang masuk ke dalam smartphone miliknya.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Pernyataan-pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya orang-orang muda memberikan sebuah tanda yang berfungsi untuk memastikan mereka melihat pemberitahuan yang masuk ke dalam smartphone mereka. Pemberitahuan tersebutlah yang membuat mereka memiliki keinginan untuk memeriksa smartphone mereka. Tampaknya, melihat sebuah notifikasi yang ada di smartphone merupakan salah satu cara memastikan keterhubungan. Jika mereka melihat pemberitahuan, berarti mereka merasa tetap terhubung dengan identitas dan jaringan online yang mereka miliki. Selain itu, keterhubungan tersebut tidak hanya terkait dengan identitas online yang mereka miliki, namun juga dengan smartphone itu sendiri. Pernyataan ini diperkuat oleh pernyataan Olivia yang menyatakan bahwa ia merasa hampa ketika ia meninggalkan teleponnya di rumah. Kemudian ungkapan John juga mencerminkan hal yang sama, ia mengatakan akan merasa tidak nyaman ketika ia meninggalkan teleponnya. c. Not Being Able to Access Information atau tidak dapat mengakses informasi adalah dimensi yang menggambarkan ketidakmampuan seseorang dalam mengakses informasi. Dimensi ini tercermin dengan adanya ketidaknyamanan ketika individu kehilangan akses untuk mendapatkan informasi dari smartphone. Mengakses informasi melalui smartphone ditemukan menjadi hal yang sangat penting dilakukan oleh para kaum muda. Hasil wawancara Yildirim dan Correia memberikan gambaran bahwa kaum muda sangat merasakan berbagai manfaat dari kepemilikan smartphone. Misalnya, ketika mereka sedang berjalan-jalan dan mendengarkan sebuah lagu, mereka dapat langsung mencari lagu apa yang sedang diputarkan tersebut. Selain

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 itu, ketika seseorang bertanya mengenai suatu hal, maka mereka langsung dapat mencari jawabannya dengan segera. Mereka juga dapat mengecek ramalan cuaca, jadwal pertandingan bola, berita, dan lainnya. Berbagai manfaat tersebutlah yang membuat kaum muda merasakan bahwa dengan smartphone mereka bisa mendapatkan banyak informasi yang mereka inginkan. Terlebih lagi, tidak hanya dengan informasi yang berbasis online, mereka juga bisa mendapatkan informasi dari smartphone mereka karena aplikasi yang diberikan mampu membantu mereka dalam mencatat materi perkuliahan dan lainnya. Kemudian, ketika para anak-anak muda ini ditanyai mengenai masalah yang didapatkan ketika mereka tidak bisa mengakses informasi melalui smartphone, jawaban mereka adalah mereka merasa cemas. Misalnya Olivia, ia mengatakan “Jika saya tidak dapat menjawab pertanyaan dengan segera dan tanpa akses internet, hal itu akan membuat saya merasa tidak nyaman”. Peter pun juga menyatakan hal yang serupa. Ia berpendapat, “Saya akan merasa cemas ketika saya tidak mendapatkan informasi dari google”. d. Giving up Convenience atau kehilangan kenyamanan merupakan dimensi yang berkaitan dengan perasaan kehilangan kenyamanan yang disediakan oleh sebuah smartphone dan hal ini mencerminkan adanya keinginan untuk dapat memanfaatkan kenyamanan dalam memiliki smartphone. Yildirim dan Correia (2015) menemukan bahwa smartphone membuat kaum muda merasakan sebuah kenyamanan ketika mereka bersama dengan smartphone mereka. Terdapat seorang subjek yang menyadari bahwa dirinya sangat berlebihan dalam penggunaan smartphone, namun subjek itu melakukannya karena dirinya merasa

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 sangat nyaman dengan smartphone miliknya. Ia merasa benar-benar memiliki semua yang ia butuhkan di dalam sakunya. Ketiadaan akses untuk dapat menggunakan smartphone membuat kaum muda merasakan kecemasan. Dari wawancara Yildirim dan Correia, ada yang mengemukakan bahwa smartphone hampir seperti sebuah kenyamanan yang selalu dapat dibawa bersama kemanapun kita pergi. Ia juga menganggap smartphone tersebut seperti sebuah ketenangan pikiran. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa smartphone memberikan mereka semacam kebebasan. Kebebasan ini dirasakan karena dengan smartphone kita dapat bergerak kemana pun untuk mendapatkan internet dan mengakses segala sesuatu yang kita inginkan. Hal tersebut bisa dilakukan kapan saja. Di sisi lain, ketika kemudahan akses internet dirasakan tidak stabil, maka perasaan ketidaknyamanan akan muncul. Kemudian hal ini menyebabkan mereka selalu berusaha mencari tahu apakah mereka memiliki sebuah layanan atau dapat tersambung pada suatu layanan yang mirip. Kecemasan dan ketidaknyamanan tidak hanya melanda ketika koneksi internet tidak didapatkan, namun kehabisan baterai juga dapat menyebabkan perasaan cemas, tidak nyaman, atau bahkan kehilangan ketenangan pikiran. Ada subjek yang menyatakan bahwa ketika ia kehabisan baterai, ia akan berusaha untuk mengisi daya baterai smartphone-nya. Hal ini ia upayakan untuk dapat menghidupkan kembali smartphone-nya. Akan tetapi, Ted salah seorang peserta wawancara Yildirim dan Correia (2015) menyatakan bahwa ketidaknyamanan tersebut bisa saja tidak terjadi ketika dia sedang bersama keluarga atau temannya.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Ia menyatakan hal tersebut dapat terjadi karena ia tidak merasakan kesepian. Maka, Ted pun mengatakan bahwa kontrol dari efek kesepian yang berhubungan dengan keluarga dan teman tersebut terkait dengan kemelekatannya pada smartphone. 3. Pengukuran Nomophobia Pada awalnya nomophobia diukur dengan kuesioner yang dibuat oleh King et al. yaitu Mobile Phone Use Questionnaire (MP-UQ) (2014, dalam Yildirim et al., 2015).. Akan tetapi, kuesioner ini tidak memiliki pengukuran psikometri yang baik mengenai validitas isi dan reliabilitasnya (Yildirim et al., 2015). Kuesioner ini tidak diperiksa struktur yang mendasarinya dengan analisis faktor dan konsistensi internalnya juga tidak diuji (Yildirim et al., 2015). Kemudian, Yildirim dan Correia (2015) menyusun sebuah kuesioner yang dapat mengukur perilaku nomophobic pada mahasiswa melalui penelitian mix method. Kuesioner yang disusun oleh Yildirim dan Correia (2015) dikenal dengan Nomophobia Questionnaire (NMP-Q). Saat ini nomophobia lazim diukur dengan NMP-Q. Nomophobia Questionnaire (NMP-Q) disusun melalui dua tahap. Tahap pertama menggunakan desain penelitian kualitatif mengenai dimensi nomophobia (Yildirim & Correia, 2015). Dimensi nomophobia yang ditemukan dalam penelitian tersebut yaitu not being able to communicate (tidak dapat berkomunikasi), losing connectedness (kehilangan koneksi), not being able to access information (tidak dapat mengakses informasi), dan giving up convenience (kehilangan kenyamanan yang diberikan oleh smartphone).

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Tahap kedua, kuesioner nomophobia disusun menjadi 20 item. Semua item NMP-Q disusun menggunakan skala Likert 7 poin, yaitu dengan 1 “Sangat Tidak Setuju” dan 7 “Sangat Setuju”. Skor total didapatkan dengan cara menjumlahkan respon untuk setiap item, sehingga menghasilkan skor nomophobia mulai dari 20 hingga 140. Skor yang lebih tinggi menyatakan bahwa keparahan nomophobia terjadi lebih berat. Kategori skor tersebut terurai sebagai berikut: skor NMP-Q sama dengan 20 menunjukkan tidak adanya nomophobia; skor NMP-Q lebih dari 20 sampai dengan kurang dari 60 masuk dalam kategori nomophobia ringan; skor NMP-Q lebih dari atau sama dengan 60 dan kurang dari 100 masuk dalam kategori nomophobia sedang; dan skor NMP-Q lebih besar dan atau sama dengan 100 masuk dalam kategori nomophobia berat. Reliabilitas skala pada kuesioner nomophobia ini tergolong baik, yaitu alpha Cronbach sebesar 0,945. Kemudian pada masing-masing dimensinya juga mempunyai alpha Cronbach yang baik yaitu .939, .874, .827, .814. Artinya, kuesioner ini secara empiris memiliki konsistensi internal yang baik dan memiliki skor yang dapat diandalkan. Lalu, kuesioner ini juga sudah melalui proses validasi, yaitu validasi konten dan validasi konstruk. Validasi konten pada kuesioner ini dilakukan oleh ahli yang mengevaluasi kejelasan kalimat serta bahasa, kepentingan item, dan relevansi item. Dari 23 item NMP-Q para ahli mengeliminasi 3 item karena dirasa kurang relevan, sehingga hanya bersisa 20 item. Selanjutnya, validasi konstruk dilakukan dengan cara menghubungkan skor partisipan pada NMP-Q dan Mobile Phone Involvement Questionnaire (MPI-Q). Hal ini karena NMP-Q dan MPI-Q memiliki jenis skala yang sama yaitu Likert

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 scale dengan rentang 1 (sangat tidak setuju) sampai 7 (sangat setuju). Hasil yang ditemukan adalah r(299) = .710, p < .01. Artinya NMP-Q dan MPI-Q memiliki kemiripan dengan ditemukannya hubungan yang kuat antara dua skor kuesioner tersebut. Peneliti memilih NMP-Q sebagai alat untuk mengukur nomophobia karena beberapa alasan. Pertama, Mobile Phone Use Questionnaire (MP-UQ) yang disusun oleh King et al. (2014) tidak memiliki kualitas psikometri yang baik. Kedua, NMP-Q memiliki hasil pengukuran psikometri yang baik dan NMP-Q merupakan kuesioner terbaru yang dapat mengukur nomophobia. 4. Dinamika Mahasiswa Penderita Nomophobia Berat Dinamika dalam kamus psikologi memiliki makna umum sebagai suatu hal yang terkait dengan kondisi pergolakan atau mudah berubah-ubah (Reber & Reber, 2010), sedangkan makna khususnya memiliki arti sebuah label bagi sistem-sistem psikologi yang menekankan pada motivasi dan memfokuskan diri pada proses-proses bawah sadar. Di lain sisi, pada penelitian ini dinamika yang dimaksud peneliti adalah sebuah proses yang dialami mahasiswa penderita nomophobia berat, yaitu meliputi : pertama, asal-usul dari munculnya kecemasan ketika tidak bersama dengan smartphone. Kedua, gejala-gejala dan keluhankeluhan terkait dengan empat dimensi nomophobia. Lalu yang ketiga mengenai cara mengatasi kecemasan (strategi coping) ketika ia tidak bersama smartphone. Asal-usul dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal mula dan penyebab mahasiswa bisa menjadi seseorang yang masuk dalam kategori nomophobia berat, atau dengan kata lain bagaimana asal-muasal mahasiswa

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 penderita nomophobia berat bisa mengalami kecemasan yang berlebih ketika ia jauh dari smartphone-nya. Terdapat tiga poin utama yang menjadi fokus peneliti dalam melihat asal-usul, yaitu waktu mulai mengalami kecemasan saat jauh dari smartphone, siapa yang memicu timbulnya kecemasan, dan apa yang menyebabkan mahasiswa penderita nomophobia berat mengalami hal ini. Setelah melihat asal-usul tersebut, peneliti mengeksplorasi gejala-gejala dan keluhan-keluhan terkait dengan empat dimensi nomophobia yang dirasakan. Eksplorasi dilakukan untuk melihat sejauh mana mahasiswa penderita nomophobia berat mengalami kecemasan terkait dimensi tidak dapat berkomunikasi, kehilangan koneksi, tidak dapat mengakses informasi, dan kehilangan kenyamanan yang diberikan oleh smartphone. Melalui kegiatan itu, peneliti juga ingin melihat apakah ada hal yang dilakukan penderita untuk dapat mengurangi perasaan cemasnya saat tidak bersama dengan smartphone-nya. Dengan kata lain, peneliti ingin melihat strategi coping yang digunakan mahasiswa penderita nomophobia berat ketika ia mengalami kecemasan saat jauh dari smartphone. Menurut Lazarus dan Folkman (1984) coping adalah suatu respon untuk menghadapi stres yang menimbulkan efek kurang menguntungkan atau kurang nyaman baik secara fisiologis maupun psikologis. Terdapat dua strategi coping menurut Lazarus dan Folkman (1984) yaitu problem focused coping dan emotion focused coping. Problem focused coping disebut juga sebagai strategi coping yang berfokus pada pemecahan masalah. Seseorang yang biasanya menggunakan

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 strategi coping ini menilai bahwa masalahnya masih dapat dikontrol dan diselesaikan (Lazarus dan Folkman, 1984). Strategi coping ini tidak dapat diterapkan untuk setiap situasi. Strategi ini akan berjalan secara efektif ketika sumber stres yang dirasakan berasal dari tekanan saat sedang ingin mencapai suatu tujuan (Folkman & Lazarus, 1980). Salah satu stressor yang dirasa efektif jika dipecahkan menggunakan problem focused coping adalah permasalahan manajemen waktu. Lain daripada itu, emotion focused coping atau strategi coping yang berfokus pada emosi adalah suatu usaha-usaha yang dilakukan seseorang untuk mengalihkan fokus dan perhatian dari sumber masalah. Misalnya menuliskan masalah yang dihadapinya atau berdoa. Strategi ini dirasa kurang efektif dalam menyelesaikan permasalahan jangka panjang, justru cenderung membuat seseorang melakukan penundaan untuk menyelesaikan masalahnya. Oleh karena itu, emotion focused coping justru menambah masalah dan stres yang berujung pada perilaku destruktif, seperti menggunakan obat-obat terlarang, menggunakan alkohol, atau merokok (Genco, Ho, Grossi, Dunford, & Tedesco, 1999). C. Kerangka Konseptual Peneliti melihat bahwa kebiasaan menggunakan smartphone pada mahasiswa adalah hal yang lumrah. Kebiasaan tersebut dipicu oleh keinginan mahasiswa untuk mendapatkan sebuah pengalaman baru, ingin diakui oleh lingkungan sekitar, ataupun mendapatkan komentar/respon dari orang lain melalui media sosial (Gifary & Kurnia, 2015). Keinginan-keinginan semacam ini membuat penggunaan smartphone mahasiswa tidak terkontrol dan rentan akan

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 kecanduan smartphone (Kwon, Kim, Cho, dan Yang, 2013, dalam Gezgin & Cakir, 2016). Kecanduan ini juga dapat menggiring mahasiswa masuk ke dalam kondisi nomophobia, yaitu ketika mahasiswa merasa tidak nyaman/cemas saat ia tidak berada dekat dengan smartphone-nya. Peneliti memiliki harapan agar nomophobia tidak semakin meluas terjadi di kalangan muda maupun tua. Maka, untuk mencegah hal tersebut, alangkah lebih baik jika terdapat sebuah informasi mengenai penyebab dan proses terjadinya nomophobia ini. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengeksplorasi dinamika mahasiswa yang mengalami nomophobia berat. Dalam mengeksplorasi dinamika ini, peneliti harus melalui langkah penentuan mahasiswa yang menderita nomophobia berat terlebih dahulu. Mahasiswa nomophobia yang dimaksud peneliti, yaitu remaja perempuan dan laki-laki yang memiliki ketidaknyamanan tinggi ketika tidak bersama dengan smartphone-nya. Ketidaknyamanan yang dialami oleh mahasiswa nomophobia ini dapat berupa tidak mampu berkomunikasi, kehilangan koneksi, tidak dapat mengakses informasi, ataupun kehilangan kenyamanan yang diberikan oleh smartphone. Lalu, untuk meneliti hal tersebut secara akurat, peneliti menyebarkan NMP-Q ke populasi mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta. Kuesioner tersebut diajukan agar peneliti menemukan responden mahasiswa yang masuk dalam kategori nomophobia berat, yaitu mereka yang memiliki skor total 100-140. Skor total ini didapatkan dengan cara menjumlahkan seluruh skor pada masing-masing item. Selanjutnya, mahasiswa yang terjaring

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 akan dipilih beberapa orang yang kemudian digali pengalamannya untuk mengeksplorasi dinamika sebagai mahasiswa dengan nomophobia berat. Maka, untuk mengeksplorasi dinamika atau proses yang dialami penderita nomophobia berat tersebut, peneliti berfokus pada tiga poin besar. Pertama, penelitiakan mencari asal-usul mahasiswa menjadi penderita nomophobia berat. Asal-usul yang ditekankan peneliti ada tiga hal, yaitu waktu mulai mengalami kecemasan, seseorang yang mungkin menyebabkan timbulnya kecemasan, dan penyebab atau peristiwa yang menimbulkan kecemasan ketika jauh dari smartphone. Setelah itu, peneliti akan mengeksplorasi gejala-gejala dan keluhankeluhan terkait empat dimensi nomophobia. Dimensi-dimensi ini bertolak dari teori dimensi nomophobia yang ditemukan Yildirim dan Correia (2015). Dimensi tersebut meliputi tidak dapat berkomunikasi, kehilangan koneksi, tidak dapat mengakses informasi, dan kehilangan kenyamanan yang diberikan oleh smartphone (Yildirim & Correia, 2015). Gejala yang dimaksud peneliti dalam hal ini misalnya, perasaan cemas yang muncul dari subjek akibat tidak bisa berkomunikasi dengan keluarganya karena smartphone yang dimilikinya jauh darinya. Selebihnya, keluhan dalam penelitian ini yang dimaksudkan seperti, subjek mengeluhkan bahwa perasaan cemas yang ia miliki membuat ia menjadi tidak tenang. Kemudian yang ketiga, peneliti mencoba mencari tahu terkait strategi coping yang digunakan mahasiswa penderita nomophobia berat untuk mengurangi kecemasan yang muncul saat ia sedang jauh dari smartphone-nya. Apakah

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 mahasiswa penderita nomophobia berat ini lebih cenderung menggunakan problem focused coping atau emotional focused coping. Melalui pemaparan mengenai dinamika mahasiswa yang menderita nomophobia berat tersebut, diharapkan mampu memberikan gambaran pada berbagai pihak khususnya para orangtua yang kemudian mampu mencari tindakan untuk para remaja, khususnya mahasiswa yang menderita nomophobia. Agar dapat memudahkan melihat kerangka berpikir peneliti, peneliti membuat bagan kerangka konseptual, seperti di Gambar 1. Bagan Kerangka Konseptual. Mahasiswa penderita nomophobia Tidak dapat berkomunikasi Kehilangan koneksi Ringan Tidak dapat mengakses informasi Sedang Kehilangan kenyamanan Berat Dinamika penderita nomophobia berat Asal-usul Gejala & keluhan timbul terkait 4 dimensi kecemasan Gambar 1. Bagan Kerangka Konseptual Cara mengatasi cemas

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Penelitian ini menerapkan pendekatan mixed methods atau disebut juga dengan metode campuran. Penelitian mixed methods merupakan penelitian yang mengkombinasikan dua bentuk metode, yaitu metode kuantitatif dan kualitatif (Creswell, 2009, dalam Sugiyono, 2014). Model metode campuran pada penelitian ini menurut Sugiyono (2014) disebut sebagai metode kombinasi model sequential. Penelitian ini terdiri dari dua studi yaitu, Studi 1 dengan pendekatan kuantitatif dan Studi 2 dengan pendekatan kualitatif.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III STUDI 1 A. Jenis dan Desain Penelitian Studi pertama dalam penelitian ini untuk menentukan subjek berkategori nomophobia berat. Pada studi ini metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan desain survei. Dalam penelitian kuantitatif, data yang dihasilkan berupa angka-angka dan dianalisis menggunakan statistik (Sugiyono, 2013). Sementara itu, desain survei mampu memberikan informasi dengan mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan datanya. Atas pertimbangan tersebut, metode ini dirasa cocok digunakan karena mampu berfungsi untuk menentukan subjek dengan instrumen yang sesuai, yaitu kuesioner nomophobia. B. Variabel Penelitian & Definisi Operasional Variabel merupakan atribut atau karakteristik pada individu atau organisasi yang dapat diobservasi atau diukur dan berbeda-beda pada setiap individu (Creswell, 2009, dalam Supratiknya, 2015). Variabel pada studi pertama ini adalah nomophobia. Melalui variabel tersebut, peneliti berharap mendapatkan subjek yang masuk dalam kategori nomophobia berat. Yildirim dan Correia (2015) menyatakan bahwa nomophobia mempunyai empat dimensi, meliputi: 1. Tidak dapat berkomunikasi adalah perasaan kehilangan komunikasi dan tidak bisa menggunakan layanan yang memungkinkan komunikasi secara langsung 28

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 dengan orang lain. Hal tersebut meliputi perasaan tidak bisa menghubungi atau dihubungi. 2. Kehilangan koneksi ialah perasaan kehilangan koneksi pada smartphone dan terputus dengan identitas online khususnya pada sosial media yang dimiliki. 3. Tidak dapat mengakses informasi adalah dimensi yang menggambarkan ketidakmampuan seseorang dalam mengakses informasi. Ketidakmampuan ini dicerminkan dengan adanya ketidaknyamanan ketika individu kehilangan akses untuk mendapatkan informasi dari smartphone. 4. Kehilangan kenyamanan merupakan dimensi yang berkaitan dengan perasaan kehilangan kenyamanan yang diberikan oleh sebuah smartphone. Hal ini mencerminkan suatu keinginan untuk dapat memanfaatkan kenyamanan dalam memiliki smartphone. Ringan atau beratnya nomophobia yang dialami seseorang dapat dilihat melalui skor total NMP-Q. Jika skor total yang diperoleh subjek tinggi, maka subjek masuk dalam kategori nomophobia berat dan subjek dianggap memiliki kecemasan yang tinggi ketika ia jauh dari mobile phone-nya. Semakin rendah skor total pengisian NMP-Q, maka subjek masuk dalam kategori nomophobia ringan atau bahkan tidak masuk dalam kategori nomophobia. Jika demikian, dapat disimpulkan bahwa perasaan cemas subjek ketika jauh dari mobile phone sangat kecil. C. Partisipan Partisipan adalah mahasiswa-mahasiswi S1 salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta. Proses pengambilan sampel dilakukan dengan cara

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 menyebarkan kuesioner NMP-Q melalui google form. Proses ini dilakukan agar mempermudah peneliti mendapatkan subjek dalam jangka waktu yang tidak lama. Proses ini merupakan cara yang conventional dan masuk pada jenis proses nonrandom sampling. Non-random sampling artinya sampel dapat dipilih berdasarkan kemudahan dalam mengaksesnya (Supratiknya, 2015). Jumlah total sampel pada Studi 1 yang didapatkan peneliti adalah 221 yang terdiri dari 25,8% laki-laki dan 74,2% perempuan, berusia antara 18-23 tahun. D. Metode Pengambilan Data Peneliti menggunakan kuesioner nomophobia (NMP-Q) yang berasal dari United State of America (USA). Bahasa yang dimiliki oleh kuesioner ini adalah Bahasa Inggris. Maka, untuk dapat menggunakan kuesioner ini di Indonesia, kuesioner ini diadaptasi dengan berpedoman pada beberapa tahap backtranslation menurut Brislin (1970, dalam Supratiknya, 2018). Langkah-langkah proses adaptasi yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut: 1. Kuesioner ini diadaptasi oleh peneliti setelah melalui proses perizinan dari Caglar Yildirim, selaku pemilik kuesioner. File asli kuesioner ini dikirimkan langsung oleh Caglar Yildirim melalui email resminya. 2. Peneliti mencari dua orang penerjemah yang menguasai Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang menjadi fokus peneliti. Penerjemah merupakan seseorang lulusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Sastra Inggris yang aktif menggunakan smartphone. 3. Peneliti meminta satu orang penerjemah menerjemahkan instruksi pengerjaan dan item-item pada kuesioner dari bahasa sumber yaitu Bahasa Inggris ke

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Bahasa Indonesia. Kemudian, penerjemah kedua diminta peneliti secara buta menerjemahkan kembali instruksi pengerjaan dan item-item tersebut dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. 4. Peneliti bersama dosen pembimbing memeriksa versi orisinal (bahasa Inggris), versi sasaran (bahasa Indonesia), dan versi terjemahan kembali (bahasa Inggris) untuk melihat kesesuaian hasil terjemahan dengan versi asli. Hasilnya mengungkapkan, dari 20 item terdapat 16 item yang dinyatakan sesuai dan 4 item perlu direvisi karena terdapat penggunaan kata yang kurang tepat. Pada bagian petunjuk pengerjaan juga terdapat kalimat yang dinilai kurang baku. Lalu, peneliti melakukan revisi pemilihan kata terkait petunjuk pengerjaan dan 4 item yang kurang tepat. 5. Peneliti menyusun petunjuk pengerjaan dan 20 item pernyataan menjadi bentuk jadi kuesioner yang akan disebarkan. Selanjutnya, peneliti mengujicobakan kuesioner kepada 6 responden supaya peneliti mengetahui kejelasan format, petunjuk, dan pernyataan yang disusun peneliti. Hasilnya, terdapat beberapa hal yang masih kurang dipahami atau dirasa sulit oleh responden terkait petunjuk dan beberapa kata-kata pada item pernyataan. 6. Hasil uji coba yang dijelaskan pada poin 5, lalu peneliti revisi dan diskusikan bersama dengan dosen pembimbing peneliti. Revisi ini dilakukan untuk memudahkan subjek dalam memahami petunjuk dan menjawab item-item yang ada, tanpa mengurangi arti atau maksud dari petunjuk dan item yang sesungguhnya. Berikut hasil akhir translation-back translation NMP-Q:

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Petunjuk Bahasa Inggris Please indicate how much you agree or disagree with each statement in relation to your smartphone. Petunjuk Bahasa Indonesia Berikut ada 20 pernyataan terkait dengan smartphone. Tunjukkanlah seberapa Anda setuju atau tidak setuju pada setiap pernyataan dengan cara memilih bilangan yang telah disediakan. Tabel 1 Hasil Adaptasi Kuesioner Nomophobia Yildirim dan Correia (2015) No. Versi Bahasa Inggris Versi Bahasa Indonesia 1 I would feel uncomfortable without Saya akan merasa tidak nyaman constant access to information ketika tidak mengakses informasi through my smartphone. secara terus menerus melalui smartphone saya. 2 I would be annoyed if I could not Saya akan merasa kesal jika tidak look information up on my bisa melihat informasi pada smartphone when I wanted to do so. smartphone saya ketika saya ingin melakukannya. 3 4 5 Jika saya tidak mampu mendapatkan berita (misalnya, kejadian, cuaca, dll) pada smartphone saya akan merasa gugup. I would be annoyed if I could not Saya akan merasa kesal jika saya use my smartphone and/or its tidak bisa menggunakan capabilities when I wanted to do so. smartphone dan/atau kemampuannya ketika saya ingin melakukannya. Running out of battery in my Kehabisan baterai di smartphone smartphone would scare me. saya akan membuat saya takut. Being unable to get the news (ex: happenings, weather, etc.) on my smartphone would make me nervous.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 No. Versi Bahasa Inggris Versi Bahasa Indonesia 6 If I were to run out of credits or hit Jika saya kehabisan pulsa atau my monthly data limit, I would mencapai batas data bulanan saya, panic. saya akan panik. 7 If I did not have a data signal or could not connect to Wi-Fi, then I would constantly check to see if I had a signal or could find a Wi-Fi network. 8 If I could not use my smartphone, I Jika saya tidak bisa menggunakan would be afraid of getting stranded smartphone saya, saya akan takut somewhere. jika tersesat di suatu tempat. 9 If I could not check my smartphone Jika saya tidak bisa mengecek for a while, I would feel a desire to smartphone saya untuk sementara waktu, saya merasa seperti check it. terdorong untuk memeriksanya. 10 If I did not with me, I because I communicate friends. 11 Jika saya tidak memiliki sinyal data atau tidak bisa terhubung ke Wi-Fi, maka saya akan terus menerus memeriksa untuk melihat apakah saya memiliki sinyal atau bisa menemukan jaringan Wi-Fi. Jika saya tidak membawa smartphone saya, saya akan merasa cemas karena saya tidak bisa langsung berkomunikasi dengan keluarga dan/atau teman-teman saya. If I did not have my smartphone Jika saya tidak membawa with me, I would be worried smartphone saya, saya akan because my family and/or friends khawatir karena keluarga dan/atau could not reach me. teman-teman saya tidak bisa menghubungi saya. have my smartphone would feel anxious could not instantly with my family and/or 12 If I did not have my smartphone with me, I would feel nervous because I would not be able to receive text messages and calls. Jika saya tidak membawa smartphone saya, saya akan merasa gugup karena tidak akan dapat menerima pesan teks dan panggilan. 13 If I did not have my smartphone with me, I would be anxious because I could not keep in touch with my family and/or friends. Jika saya tidak membawa smartphone saya, saya akan cemas karena saya tidak bisa tetap terhubung dengan keluarga dan/atau teman-teman saya.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 No. Versi Bahasa Inggris 14 If I did not have my smartphone with me, I would be nervous because I could not know if someone had tried to get a hold of me. 15 16 17 Versi Bahasa Indonesia Jika saya tidak membawa smartphone saya, saya akan gugup karena saya tidak bisa tahu apakah seseorang telah mencoba untuk menghubungi saya. Jika saya tidak membawa smartphone, saya akan merasa cemas karena hubungan konstan (terus-menerus) dengan keluarga saya dan teman-teman akan terganggu. If I did not have my smartphone Jika saya tidak membawa with me, I would be nervous smartphone saya, saya akan gugup because I would be disconnected karena saya akan terputus dari from my online identity. identitas online saya. If I did not have my smartphone with me, I would feel anxious because my constant connection to my family and friends would be broken. If I did not have my smartphone with me, I would be uncomfortable because I could not stay up-to-date with social media and online networks. If I did not have my smartphone with me, I would feel awkward because I could not check my notifications for updates from my connections and online networks. Jika saya tidak membawa smartphone saya, saya akan tidak nyaman karena saya tidak bisa tetap up-to-date dengan media sosial dan jaringan online. Jika saya tidak membawa smartphone, saya akan merasa janggal karena saya tidak bisa memeriksa notifikasi terbaru dari aplikasi smartphone saya (pesan, panggilan, media sosial, games, dll). 19 If I did not have my smartphone with me, I would feel anxious because I could not check my email messages. Jika saya tidak membawa smartphone, saya akan merasa cemas karena saya tidak bisa memeriksa pesan email saya. 20 If I did not have my smartphone Jika saya tidak membawa with me, I would feel weird because smartphone, saya akan merasa aneh I would not know what to do. karena saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. 18

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Item-item pernyataan terkait dengan dimensi nomophobia ini disusun dengan menggunakan skala likert 7 poin, yaitu dengan poin 1 berarti “Sangat Tidak Setuju” dan meningkat sampai poin 7 yang berarti “Sangat Setuju”. Susunan item-item pada kuesioner nomophobia ini sebagai berikut: Tabel 2 Blue Print Kuesioner Nomophobia No. Dimensi 1 2 3 4 Not being able to communicate Losing connectedness Not being able to access information Giving up convenience Total Item No. Ketersebaran Item 10, 11, 12, 13, 14, 15 16, 17, 18, 19, 20 1, 2, 3, 4 5, 6, 7, 8, 9 20 Total Item 6 5 4 5 20 Selain item-item utama tersebut, peneliti menyusun kuesioner dengan memberikan sejumlah pernyataan terkait data demografis, seperti: nama, jenis kelamin, usia, prodi, tahun angkatan, nomor handphone/WhatsApp, ID Line, dan e-mail. Data demografi ini disusun peneliti agar dapat mempermudah peneliti menghubungi kembali subjek yang memenuhi syarat untuk menanyakan kesediaan sebagai partisipan pada Studi 2. Setelah penyusunan selesai dilakukan, peneliti melakukan tryout kepada 221 orang subjek yaitu mahasiswa dan mahasiswi dengan cara disebarkan melalui google form. Tujuan dilakukan tryout pada tahap ini adalah untuk memeriksa kualitas psikometrik item dan alat ukur, dengan 2 parameter: korelasi item-total untuk memeriksa daya beda item dan koefisien Alpha Cronbach untuk melihat reliabilitas konsistensi internal alat ukur.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Hasilnya adalah sebagai berikut. Reliabilitas kuesioner nomophobia memiliki koefisien Alpha Cronbach yang tinggi, yaitu 0,938. Hasil tersebut membuktikan bahwa reliabilitas kuesioner ini memuaskan. Setiap itemnya juga memiliki skor koefisien korelasi item-total lebih dari 0,4, artinya butir-butir item pada instrumen tersebut baik. Supratiknya (2014) menyatakan instrumen tes yang baik idealnya memiliki item-item yang skor koefisien korelasi item-totalnya di atas 0,20. Tabel 3 Koefisien Korelasi Setiap Item Item-Total Statistics No. Item Corrected Item-Total Correlation (Rit) No. Item Corrected Item-Total Correlation (Rit) i1 .421 i11 .712 i2 .539 i12 .768 i3 .464 i13 .785 i4 .486 i14 .744 i5 .632 i15 .769 i6 .588 i16 .715 i7 .542 i17 .627 i8 .522 i18 .725 i9 .667 i19 .630 i10 .742 i20 .612 Kemudian melihat hasil reliabilitas yang memuaskan dan skor koefisien korelasi item-total yang baik pada setiap butir item, peneliti memutuskan untuk langsung menggunakan data tryout sebagai data penelitian yang sesungguhnya. E. Analisis dan Interpretasi Data Studi 1 pada penelitian ini menggunakan metode analisis statistik deskriptif. Metode analisis ini digunakan untuk dapat menganalisis data dengan

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 cara mendeskripsikan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat sebuah kesimpulan yang berlaku untuk umum (Sugiyono, 2014). Selebihnya, untuk menentukan kategori nomophobia ringan, sedang, atau berat, peneliti berpedoman dengan norma skoring yang telah dibuat oleh Yildirim dan Correia (2015). Tabel 4 Norma Tingkat Nomophobia Menurut Yildirim dan Correia (2015) Skor Skor NMP-Q = 20 Tingkat Nomophobia Tidak ada 21 ≤ Skor NMP-Q < 60 Ringan 60 ≤ Skor NMP-Q < 100 Sedang 100 ≤ Skor NMP-Q ≤ 140 Berat F. Hasil dan Pembahasan Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa-mahasiswi pengguna smartphone yaitu sejumlah 221 orang. Usia minimal subjek yang mengisi kuesioner ini adalah 18 tahun, sedangkan usia maksimalnya adalah 23 tahun. Berdasarkan frekuensinya, mahasiswa-mahasiswi yang menggunakan smartphone terdapat 14 orang yang berusia 18 tahun, 34 orang berusia 19 tahun, 52 orang berusia 20 tahun, 68 orang berusia 21 tahun, 45 orang berusia 22 tahun, dan 8 orang berusia 23 tahun. Berdasarkan sebaran data jenis kelamin, dari 221 orang subjek tersebut, 57 orang atau 25,8% di antaranya berjenis kelamin laki-laki dan 164 orang sisanya atau sejumlah 74,2% berjenis kelamin perempuan. Dari 221 orang subjek yang mengisi kuesioner nomophobia, semua masuk dalam golongan yang menderita nomophobia. Akan tetapi, mereka terbagi ke

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 dalam beberapa kategori, yaitu 44 orang atau 19,9% masuk dalam kategori nomophobia ringan dengan skor total terendahnya adalah 27, 149 orang atau 67,4% masuk kategori nomophobia sedang, dan 28 orang lainnya atau 12,7% masuk ke dalam kategori nomophobia berat dengan skor total tertingginya menyentuh 137. Kemudian, penelitian ini juga menemukan bahwa 22 dari 164 sampel perempuan mengalami nomophobia berat (13,4%). Sementara laki-laki yang mengalami nomophobia berat adalah 6 dari 57 orang (10,5%). Hasil tersebut dapat disimpulkan perempuan cenderung lebih rentan masuk dalam kategori nomophobia berat. Hasil penelitian ini mirip dengan yang dilakukan oleh Kanmani et al. (2017), dimana mereka menemukan bahwa perempuan memiliki level nomophobia yang lebih tinggi daripada laki-laki. Penemuan tersebut diduga akibat durasi penggunaan internet yang tinggi pada perempuan (Gezgin & Cakir, 2016). Tabel 5 Sebaran Subjek Nomophobia Berat No. Nama Inisial Jenis Kelamin Usia Skor NMP-Q 1 A R K N. Perempuan 18 112 2 G R B D R. Laki-laki 19 131 3 JA Perempuan 21 105 4 F Perempuan 22 104 5 D A D S P.A. Perempuan 19 114 6 A Laki-laki 22 106 7 RRA Perempuan 22 103 8 M Perempuan 18 100 9 AI Perempuan 21 100 APL Perempuan 22 108 10

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 No. Nama Inisial Jenis Kelamin Usia Skor NMP-Q 11 Ay Perempuan 21 102 12 MN Perempuan 20 106 13 ADT Laki-laki 21 135 14 MA Perempuan 22 116 15 AM Perempuan 20 117 16 PAS Perempuan 20 102 17 DMLP Laki-laki 22 109 18 P M I G N I. Laki-laki 20 102 19 D G K M. Perempuan 18 102 20 K Perempuan 20 116 21 N L P G. V D. Perempuan 19 112 22 TR Perempuan 21 119 23 OY Laki-laki 18 137 24 NPIR Perempuan 20 103 25 YP Perempuan 20 103 26 DAVA Perempuan 19 131 27 LADP Perempuan 20 122 28 RK Perempuan 21 112 Melalui keseluruhan responden yang masuk dalam kategori nomophobia berat (Tabel 5), peneliti memilih beberapa orang untuk menjadi partisipan di Studi 2. Peneliti melakukan pengurutan skor dari tinggi ke rendah. Kemudian, peneliti akan mengambil responden yang memiliki skor nomophobia berat yang tergolong rendah dan tinggi untuk mengikuti proses wawancara. Di sisi lain, peneliti tetap memperhitungkan jenis kelamin dalam proses pemilihan partisipan di Studi 2, yaitu terdiri dari laki-laki dan perempuan.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV STUDI 2 A. Jenis dan Desain Penelitian Studi kedua merupakan penelitian mengenai dinamika penderita nomophobia berat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis isi kualitatif sebagai desain penelitiannya. Analisis isi kualitatif yaitu sebuah penafsiran secara subjektif dari isi data yang berupa teks dengan proses klasifikasi sistematis berupa coding atau disebut juga pengkodean dan pengidentifikasian berbagai tema dan pola (Hsieh & Shannon, 2005, dalam Supratiknya, 2015). B. Fokus Penelitian Penelitian pada studi kedua ini bertujuan untuk mengungkapkan dinamika dari mahasiswa berkategori nomophobia berat. Maksud dari dinamika mahasiswa berkategori nomophobia berat adalah proses yang dialami penderita nomophobia berat meliputi: pertama, asal-usul dari munculnya kecemasan ketika mahasiswa tidak bersama dengan smartphone. Kedua, gejala-gejala dan keluhan-keluhan terkait dengan dimensi nomophobia yang dimunculkan pada mahasiswa yang menderita nomophobia berat, yaitu tidak dapat berkomunikasi, kehilangan koneksi, tidak dapat mengakses informasi, dan kehilangan kenyamanan. Lalu yang ketiga mengenai strategi coping yang digunakan mahasiswa untuk mengatasi kecemasan yang muncul ketika ia tidak bersama smartphone. 40

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 C. Partisipan Pengambilan sampel pada Studi 2 dipilih berdasarkan kriteria tertentu atau criterion-based. Partisipan pada studi 2 ini dipilih dari 22 orang perempuan dan 6 orang laki-laki yang dalam Studi 1 ditemukan masuk pada kategori nomophobia berat. Peneliti mengurutkan skor nomophobia berat partisipan dari yang terendah sampai yang tertinggi. Setelah itu, peneliti mengambil terlebih dahulu salah satu partisipan yang masuk dalam kategori nomophobia berat yang tergolong rendah dan setelah itu berlanjut pada kategori nomophobia berat yang tergolong tinggi. Berikut adalah data partisipan yang dipilih peneliti untuk proses wawancara pada Studi 2: Tabel 6 Partisipan Nomophobia Berat di Studi 2 No. Nama Inisial Jenis Kelamin Usia Skor NMP-Q 1 JA Perempuan 21 105 2 OY Laki-laki 18 137 3 ADT Laki-laki 21 135 4 LADP Perempuan 20 122 Selain kriteria pemilihan di atas, partisipan yang terpilih pada studi 2 adalah partisipan yang bersedia ikut berpartisipasi dalam proses wawancara dan bersepakat untuk bertemu dengan peneliti dalam proses pengambilan data. Selanjutnya, pada proses pengambilan data peneliti menemukan titik redundansi berhenti pada partisipan keempat. Artinya, peneliti merasa tidak akan terdapat informasi baru dengan menambah data pada partisipan kelima karena data dari

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 keempat partisipan sudah dalam dan beragam (Patton, 1990, dalam Marrow, 2005, dalam Supratiknya, 2018). D. Peran Peneliti Pada studi kedua ini, peneliti memiliki peran penting yaitu sebagai instrumen kunci. Artinya, peneliti memiliki peranan yang penting dalam pengambilan data. Peneliti juga berperan untuk menangkap suara partisipan dan mengolahnya. Dalam hal ini, peneliti turun langsung ke lokasi penelitian untuk mengumpulkan data dengan mewawancarai partisipan yang dibantu adanya sebuah protokol, yakni instrumen pengumpulan data berupa pedoman wawancara atau pedoman observasi, namun tetap peneliti sendiri yang benar-benar mengumpulkan data (Supratiknya, 2015). Pada penelitian ini, peneliti tidak memiliki ikatan kedekatan dengan partisipan, hanya saja peneliti dan partisipan berasal dari universitas yang sama. Peneliti memilih salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta sebagai lokasi penelitian karena merupakan tempat peneliti menuntut ilmu dan peneliti juga belum menemukan ada penelitian sejenis di tempat peneliti berkuliah. Potensi buruk yang dapat muncul dalam penelitian ini adalah timbulnya perasaan malu atau perasaan-perasaan lain yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri partisipan ketika menceritakan pengalamannya sebagai seorang mahasiswa penderita nomophobia berat. Upaya yang dilakukan peneliti untuk memastikan bahwa partisipan merasa bebas dari perasaan tidak nyaman adalah dengan menempuh prosedur informed consent, yaitu mempersilahkan partisipan untuk mengetahui tema penelitian, prosedur

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 pengambilan data, dan potensi paling buruk yang mungkin terjadi dalam penelitian. Kemudian, peneliti juga berusaha membangun rapport yang baik dengan partisipan. Aktivitas tersebut peneliti lakukan supaya partisipan merasa nyaman untuk menceritakan pengalaman dan perasaannya sebagai seseorang yang menderita nomophobia berat. E. Metode Pengambilan Data Pada Studi 2, wawancara merupakan metode yang digunakan peneliti untuk proses pengambilan data. Wawancara adalah sebuah percakapan panjang yang dilakukan dengan cara bertatap muka langsung antara peneliti dan partisipan penelitian, yang bertujuan untuk memperoleh informasi mendalam terkait topik tertentu (Alshenqeeti, 2014, dalam Supratiknya, 2018). Wawancara yang dilakukan pada penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur dengan menggunakan daftar pertanyaan wawancara sebagai pedoman wawancara. Akan tetapi, jenis wawancara ini tetap memberi ruang untuk peneliti dan partisipan keluar dari konteks pertanyaan utama. Adanya daftar pertanyaan wawancara dapat membantu peneliti melakukan probing secara mendalam tanpa keluar dari tujuan penelitian yang direncanakan (Alshenqeeti, 2014, dalam Supratiknya, 2018). Sebelum dilakukannya proses wawancara, ada beberapa langkah yang dilakukan oleh peneliti agar proses pengambilan data mampu terlaksana dengan baik. Tahapannya adalah sebagai berikut: 1. Membangun rapport, menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yang akan dilakukan dan memastikan kembali kesediaan partisipan untuk berpartisipasi dalam penelitian.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 2. Menyiapkan panduan wawancara, kategori analisis asal-usul timbulnya kecemasan, kategori analisis dimensi nomophobia, kategori analisis strategi coping untuk mengurangi kecemasan, serta beberapa alat untuk observasi seperti kertas dan alat tulis. 3. Menyiapkan lembar kesediaan berpartisipasi atau informed consent untuk partisipan. Hal ini bertujuan untuk dapat melindungi hak-hak dan kesejahteraan partisipan yang sudah merelakan diri berkontribusi dalam penelitian ini (Grady, 2017, dalam Supratiknya, 2018). 4. Melaksanakan wawancara sesuai dengan kesepakatan yang telah dilakukan oleh peneliti dan partisipan. Dalam psoses wawancara, peneliti menggunakan alat perekam suara (digital recorder) sebagai alat bantuan. Di sisi lain, peneliti yang dibantu rekan peneliti juga melakukan proses observasi saat wawancara berlangsung, seperti mencatat perilaku nonverbal yang muncul pada partisipan. 5. Sebelum dimulainya proses wawancara, peneliti menjelaskan terlebih dahulu garis besar dari penelitian yang sedang dilakukan. 6. Setelah data terkumpul dan proses wawancara selesai, peneliti mengucapkan terima kasih kepada partisipan karena telah bersedia meluangkan waktu untuk berpartisipasi dalam penelitian pneliti. 7. Terakhir, data yang terkumpul tersebut peneliti proses dengan membuat verbatim dari hasil perekaman saat wawancara dilakukan.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 Tabel 7 Pedoman Wawancara Pertanyaan Pembuka  Sejak kapan memiliki smartphone?  Berapa jumlah smartphone yang kamu miliki?  Berapa pulsa yang dihabiskan dalam 1 bulan?  Berapa kuota yang dihabiskan dalam 1 bulan?  Berapa kali kamu membuka tutup smartphone dalam 1 hari?  Kira-kira dalam sehari berapa lama intensitas penggunaan smartphone mu?  Hal apa yang paling sering kamu buka dalam smartphone mu? Pertanyaan Utama  Bisa tidak kamu ceritakan jika kamu tidak dengan smartphone mu, itu gimana?  Sejak kapan kamu mulai merasa cemas ketika tidak ada smartphone? Kenapa itu bisa terjadi?  Biasanya kalau kamu tidak bisa menggunakan smartphone mu, apa yang kamu lakukan?  Apakah pernah kamu berupaya untuk mengurangi intensitasmu dalam menggunakan smartphone? Pertanyaan Probes Terkait 4 Dimensi Nomophobia  Coba ceritakan perasaan seperti apa yang muncul ketika kamu tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga/temanmu melalui smartphone yang kamu miliki!?  Coba ceritakan apa kamu rasakan ketika kamu kehilangan koneksi pada smartphone dan juga terputus dengan identitas online khususnya pada sosmed!?  Coba ceritakan ketika kamu terpaksa tidak bisa mengakses informasi melalui smartphone, bagaimana perasaanmu!?  Bagaimana rasanya ketika kamu terlepas dari smartphone? Kenyamanan seperti apa yang kamu rasakan dari smartphone mu?

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 F. Analisis dan Interpretasi Data Pada Studi 2, metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah Analisis Isi Kualitatif (AIK). Metode ini merupakan metode untuk menganalisis pesan-pesan komunikasi, baik tertulis, lisan ataupun visual (Supratiknya, 2015). Analisis penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif, yaitu analisis isi terarah. Kemudian, data yang dihasilkan pada penelitian ini berupa transkrip hasil wawancara. Sesudah itu, transkrip tersebut nantinya akan dianalisis melalui analisis isi (analisis tematik) (Wiggins, Gordon-Finlayson, Becker, & Sullivan, 2015, dalam Supratiknya, 2018) dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Membaca secara berulang-ulang corpus data berupa transkrip verbatim ungkapan partisipan yang didapatkan melalui wawancara. 2) Melakukan initial coding atau menemukan kode-kode berupa konsep-konsep tertentu dalam transkrip verbatim secara induktif baris demi baris. 3) Mengelompokkan kode-kode ke dalam tema-tema yang lebih lebih luas untuk menemukan sejenis narasi analitik yang koheren dari keselurahan corpus data. 4) Memperhalus dan mempertajam analisis dengan menempatkan tema-tema dalam susunan hirarkis menjadi tema-tema dan sub-sub tema di bawah masingmasing tema. 5) Tema-tema dan sub-sub tema diberi label atau nama, lalu masing-masing subtema dilengkapi dengan kutipan-kutipan yang diambil dari transkripsi verbatim sebagai bukti atau pendukung. Langkah-langkah ini dilakukan untuk memperoleh narasi yang utuh mengenai fenomenanya.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 Tabel 8 Kerangka Analisis Asal-Usul Timbulnya Kecemasan No. Asal-Usul Timbulnya Kecemasan 1 Waktu munculnya kecemasan ketika jauh dari smartphone 2 Adakah seseorang yang memicu timbulnya kecemasan 3 Penyebab timbulnya perasaan cemas ketika jauh dari smartphone Tabel 9 Kerangka Analisis Dimensi Nomophobia No. 1 Not being able to communicate (tidak dapat berkomunikasi) Dimensi  Tidak dapat langsung menghubungi keluarga/teman  Khawatir ada yang menghubungi  Tidak dapat menerima pesan/panggilan  Cemas akan rusaknya hubungan yang konstan (terus-menerus) dengan keluarga/teman 2 Losing connectedness (kehilangan koneksi)  Takut tidak bisa up to date dengan media sosial dan jaringan online  Tidak bisa memeriksa notifikasi pembaharuan  Tidak bisa memeriksa e-mail  Merasa aneh karena tidak tahu apa yang harus dilakukan 3 Not being able to access information (tidak dapat mengakses informasi)  Tidak bisa mengakses informasi secara konstan (terus-menerus)  Tidak bisa melihat informasi  Kesal tidak bisa menggunakan ketika ingin menggunakan 4 Giving up convenience (tidak mampu menghindari kenyamanan yang diberikan oleh smartphone).  Takut kehabisan baterai  Panik jika pulsa/paketan data habis  Selalu memeriksa sinyal/koneksi wifi ketika tidak ada sinyal/tidak terhubung dengan wifi  Takut terdampar di suatu tempat karena smartphone tidak bisa dipakai  Selalu ingin memeriksa smartphone walaupun tidak bisa digunakan

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Tabel 10 Kerangka Analisis Strategi Coping untuk Mengatasi Kecemasan Jenis Strategi Coping No. 1 Strategi coping yang berfokus pada masalah  2 Mengurangi keinginan untuk dekat dengan smartphone Strategi coping yang berfokus pada emosi  Melakukan sesuatu hal hanya untuk mengurangi kecemasan tapi tidak untuk menghilangkannya G. Penegakan Kredibilitas dan Dependenbilitas Penelitian Peneliti melakukan beberapa strategi untuk menguji kredibilitas data penelitian. Strategi pertama adalah thick description atau deskripsi mendalam dan rinci yang dilakukan peneliti untuk memaparkan temuan-temuan terkait setting serta dinamika saat wawancara. Strategi ini dilakukan untuk memperlihatkan hasil-hasil penelitian lebih realistik dan lebih mendalam (Supratiknya, 2015). Strategi kedua adalah member checking atau pengecekan kembali kepada partisipan terkait tema-tema yang ditemukan peneliti. Pengecekan kembali dilakukan agar partisipan mengetahui dan merasa bahwa rumusan tema-tema yang ditemukan peneliti sudah akurat. Strategi ketiga adalah peer-debriefing atau review oleh rekan sejawat yang bertujuan untuk proses akurasi laporan penelitian. Strategi ketiga ini dilakukan untuk memperkuat validitas laporan penelitian (Supratiknya, 2015).

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 Pengujian konsistensi hasil penelitian dilakukan dengan dua strategi. Strategi pertama adalah peneliti melakukan pemeriksaan berulang kali transkriptranskrip rekaman wawancara agar tidak terjadi kesalahan serius dalam proses transkripsi. Strategi kedua, peneliti membandingkan data dengan kode-kode yang telah dirumuskan. Hal ini dilakukan untuk menghindari pergeseran makna kodekode yang mungkin terjadi saat proses transkripsi. H. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini dilaksanakan di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta pada bulan Juni sampai pertengahan November 2018. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan metode wawancara semi terstruktur pada empat mahasiswa yang masuk dalam kategori nomophobia berat. Durasi wawancara dalam penelitian ini bervariasi antara 25 menit sampai 45 menit. Pemaparan waktu dan tempat pada masing-masing partisipan diuraikan pada tabel di bawah ini: Tabel 11 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Penelitian Kode Partisipan P1 JA (Perempuan, 21 tahun) P2 Waktu Tempat 10 Juni 2018 16 Oktober 2018 Rumah Partisipan Kampus OY (Laki-laki, 18 tahun) 11 September 2018 20 November 2018 Kampus Via telepon P3 ADT (Laki-laki, 21 tahun) P4 LADP (Perempuan, 20 tahun) 18 Oktober 2018 23 November 2018 21 Oktober 2018 24 November 2018 Remen Guest House Estuary Café Kampus RM. Babi Rica B2

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 1. Latar Belakang Partisipan dan Dinamika Proses Wawancara Wawancara pada penelitian ini dilakukan dengan cara bertatap muka langsung dengan partisipan. Sebelum wawancara dilaksanakan, peneliti menjelaskan garis besar dari penelitian yang sedang dilakukan dan memberikan lembar persetujuan (informed consent). Lembar pesetujuan ini diberikan peneliti untuk dapat memberikan informasi lengkap tentang penelitian, termasuk beberapa risiko yang mungkin terjadi dan pernyataan kesediaan untuk partisipan setelah mengetahui seluk-beluk dan risikonya. Lalu, peneliti juga melakukan proses wawancara kedua untuk melakukan probes dan mengkonfirmasi hasil temuan peneliti pada masing-masing partisipan. Proses wawancara kedua dilakukan dengan tatap muka, kecuali pada P2 yang melalui via telepon karena keterbatasan waktu untuk bertemu dengan peneliti. Partisipan pertama atau P1 adalah seorang perempuan berusia 21 tahun yang berasal dari Yogyakarta. Di Yogyakarta, partisipan tinggal bersama keluarga inti sejak kecil hingga saat ini. P1 memiliki handphone sejak kelas 1 SMP dan berganti ke jenis smartphone sejak kelas 1 SMA. Smartphone yang ia miliki pertama kali merupakan pemberian dari kakaknya karena handphone-nya terdahulu telah rusak. Terkait dengan penggunaan pulsa atau data paket pada P1 mengalami peningkatan sejak awal penggunaan sampai saat ini. Pada awalnya dengan pulsa 25 ribu P1 sudah mendapatkan paket data yang bisa dia gunakan selama sebulan. Akan tetapi, setelah kuliah ia merasa kurang sehingga pulsa yang ia butuhkan bertambah menjadi 50 ribu dengan data paket sebesar 3GB. Selain menggunakan

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 data paket di smartphone-nya P1 juga kerap kali menggunakan wifi di rumah maupun di kampus. Hal tersebut membuat dirinya menghemat penggunaan data paket yang ia miliki. Wifi yang berada di rumah kerap kali digunakan P1 untuk mendownload video, film, dan menonton Youtube. Ia juga menggunakan wifi tersebut untuk dapat mengakses media Line dan WhatsApp. Di sisi lain, hal yang paling sering atau dilakukan P1 ketika menggunakan smartphone-nya adalah bermain games. Jika diurutkan berdasarkan intensitas penggunaan, yang paling tinggi adalah games, lalu menonton youtube, scrolling sosial media, dan terakhir membalas chat. Kegiatan-kegiatan tersebut membuat P1 dalam satu hari penggunaan smartphone-nya rata-rata dapat mencapai 10 jam. Kemudian, dalam satu hari, intensitas membuka tutup smartphone yang dilakukannya dapat menyentuh angka 50 kali. Namun, jika penggunaan sekali membuka smartphone-nya terbilang lama atau berjam-jam, maka intensitasnya dalam membuka tutup smartphone-nya menjadi berkurang yaitu 3-4 kali. Proses wawancara awal dengan P1 dilaksanakan pada tanggal 10 Juni 2018 di rumahnya dengan durasi waktu 45 menit. Tempat wawancara dilakukan di ruang tamu dengan situasi yang cukup nyaman dan kondusif, walaupun beberapa kali terdapat beberapa orang yang berada di rumahnya menyapa peneliti. Wawancara dilakukan di malam hari, sehingga situasi lingkungan tidak begitu terang. Hal ini juga didukung karena lampu yang berada di ruang tamu partisipan merupakan lampu berwarna kuning.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 Pada saat wawancara, P1 menggunakan baju berbahan kaos dengan celana training berwarna abu-abu. Pada saat wawancara, P1 membawa smartphone yang ia selipkan di antara kedua kakinya. Beberapa kali ia terlihat membuka smartphone-nya. Ketika wawancara, P1 terlihat antusias. Hal ini karena saat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti, P1 menjawab dengan memberikan penjelasan yang cukup panjang dan memberikan contoh dengan sebuah gerakan. Selain itu, beberapa kali ia mengatakan “Ayo tanya lagi, tanya lagi, aku mau ditanyain lagi.” Di sisi lain, peneliti juga mengobservasi bahwa P1 beberapa kali meminta ulang peneliti untuk menjelaskan maksud dari pertanyaan. Kemudian, wawancara kedua dilaksanakan di Lantai 2, Gedung Pusat Kampus P1. Wawancara kedua dilakukan pada tanggal 16 Oktober 2018 dengan durasi waktu 10 menit. Wawancara ini dilakukan untuk menggali beberapa hal yang belum ditemukan peneliti. Tempat wawancara kedua terbilang kondusif dan nyaman walaupun ada beberapa orang di lokasi wawancara. Pada saat wawancara kedua, P1 terlihat menggunakan baju berjenis kemeja dengan celana panjang, dan memakai sepatu. P1 juga terlihat membawa beberapa lukisan dan tas gendong berwarna hitam. Proses wawancara berlangsung dengan lancar dan tidak begitu lama. Lancarnya proses wawancara karena P1 menjawab pertanyaan dari peneliti dengan cukup jelas dan panjang. Setelah proses wawancara berlangsung, P1 dan peneliti melakukan obrolan ringan terkait kegiatan yang sedang digeluti P1. Partisipan kedua atau P2 adalah seorang laki-laki dengan usia 18 tahun yang merupakan mahasiswa perantau asal Kalimantan. Rumahnya di Kalimantan

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 merupakan rumah yang terletak jauh dari perkotaan. Sementara itu, di Yogyakarta ia tinggal di sebuah rumah kos yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat keramaian. Hal tersebut membuatnya merasakan perbedaan saat menggunakan smartphone-nya. Ketika di rumah P2 kesulitan mendapatkan sinyal, di kosnya tersebut ia malah sangat mudah mendapatkan sinyal pada smartphone-nya. Letak rumah yang jauh dari perkotaan ini yang terkadang menjadi sebuah kendala bagi orangtuanya dalam menghubungi atau melakukan pemenuhan kebutuhan P2 (mentransfer biaya hidup di Yogyakarta). Berbicara mengenai smartphone, awalnya ia memiliki smartphone sejak kelas 1 SMA. Akan tetapi, sebelum ia memiliki smartphone, P2 sudah pernah merasakan memiliki handphone sejak kelas 1 SMP. Semua alat komunikasi yang ia miliki baik itu handphone atau smartphone, P2 dapatkan dengan cara meminta kepada orangtuanya. Akan tetapi, smartphone ini ia dapatkan tidak dengan cumacuma. P2 diberikan sebuah syarat tertentu dari orangtuanya untuk dapat memiliki alat komunikasi ini, seperti harus mendapatkan IPK yang baik. Sejak awal ia memiliki smartphone hingga saat ini, penggunaan paket data pada dirinya meningkat, yaitu dari 2GB naik menjadi 5GB dan berakhir di 7GB sampai sekarang. Peningkatan ini terjadi menurutnya karena dari waktu ke waktu aplikasi yang terdapat pada smartphone semakin bertambah. Hal tersebut membuatnya terus memperbaharui aplikasi yang ada. Terkait dengan penggunaan smartphone-nya, rata-rata dalam sehari P2 bisa menggunakan selama 11 jam. Minimal waktu penggunaan sekali membuka smartphone adalah 30 menit dan

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 maksimal 4 jam. Lalu, ia menjelaskan bahwa dalam sehari ia bisa membuka tutup smartphone-nya rata-rata menjadi 7 kali. Penggunaan yang paling sering dilakukan secara berurutan adalah untuk membuka Instagram, Line, dan WhatsApp. Alasan dari seringnya ia menggunakan smartphone-nya adalah untuk mendapatkan hiburan dan membantunya dalam mengefektifkan serta mengefisienkan kegiatan perkuliahannya. Hal tersebutlah yang membuat P2 merasakan bahwa intensitas penggunaannya meningkat sejak berkuliah. Proses wawancara pada P2 dilaksanakan pada tanggal 11 September 2018 di selasar Farmasi Kampus partisipan. Durasi waktu wawancara berlangsung selama 25 menit. Tempat wawancara cukup kondusif karena tidak terlalu banyak orang berada di sekitarnya. Di sekitar lokasi wawancara terdapat banyak pohon yang membuat udaranya menjadi segar dan tidak begitu panas. Pada saat wawancara, P2 menggunakan jaket dan celana panjang. Ia juga membawa tas yang berisi beberapa buku. Selain itu, P2 juga terlihat mengeluarkan smartphone dan meletakkannya di atas meja. Ketika wawancara ia terlihat sedikit tidak fokus karena pada saat itu ia ingin mempersiapkan lomba yang akan ia ikuti. Hal ini terlihat ketika selesai wawancara ia langsung meminta waktu untuk belajar. Namun demikian, ia tetap menjalani proses wawancara dengan baik. Saat proses wawancara, P2 juga menjawab pertanyaan dengan memberikan contoh secara langsung bagaimana ia melihat notifikasi di smartphone-nya. Wawancara kedua dilaksanakan melalui via telepon dengan durasi 8 menit. Proses wawancara ini dilakukan untuk menggali kembali data yang dirasa

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 belum mendalam. Wawancara ini berlangsung dengan lancar, partisipan terdengar menjawab dengan lancar dan jelas, serta mampu memahami maksud peneliti. Pada wawancara ini nada suara partisipan juga terdengar bersemangat. Partisipan ketiga atau P3 adalah seorang laki-laki yang berusia 21 tahun dan berasal dari Yogyakarta. Ia tinggal di rumah bersama keluarga inti. Sejak duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar, P3 telah memiliki sebuah handphone. Lalu, pada kelas 1 SMA handphone yang ia miliki berganti jenis menjadi smartphone. Sejak awal menggunakan smartphone hingga saat ini, P3 merasakan ada peningkatan yang terjadi pada dirinya. Penyebabnya karena banyaknya media sosial pada saat ini. Di antara media sosial yang ada, Instagram merupakan salah satu media sosial yang paling sering dibuka oleh P3 ketika ia bosan. Sementara itu, aplikasi yang sering ia gunakan ada aplikasi WhatsApp dan kemudian aplikasi Go-jek. Kegiatan-kegiatan membuka aplikasi tersebut membuat penggunaan smartphone P3 rata-rata dalam sehari mencapai 13 jam. Intensitasnya dalam membuka tutup smartphone dalam satu hari rata-rata sebanyak 30 kali. Wawancara bersama P3 diadakan di Remen Guest House pada tanggal 18 Oktober 2018 dengan durasi waktu 25 menit. Situasi saat wawancara sangat kondusif dan nyaman karena tidak terdapat banyak orang di sekitar tempat wawancara. Suhu udara pada tempat wawancara juga tidak panas karena terdapat AC di ruangan wawancara. Pada saat wawancara, P3 menggunakan baju berbahan kaos yang berwarna hitam dengan celana panjang berbahan jeans. P3 merupakan seorang laki-laki yang berambut pendek dan memakai kacamata. P3 datang ke

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 tempat wawancara dengan membawa dompet berwarna hitam dan smartphonenya. Saat wawancara berlangsung ia terlihat tidak menggunakan smartphonenya. Ia juga terlihat fokus dalam melakukan tanya jawab pada proses wawancara berlangsung. Kerap kali ia terlihat tertawa dan tersenyum pada saat menjawab. Nada suara yang dikeluarkan P3 terdengar cukup keras sehingga peneliti tidak kesulitan dalam mendengarkan jawaban dari partisipan. Setelah wawancara berlangsung P3 terlihat fokus membuka smartphone-nya beberapa menit. Sesudah itu, ia mulai berhenti dan mencoba melakukan interaksi sosial dengan mengajak peneliti mengobrol hal-hal yang tergolong ringan. Proses wawancara kedua dilaksanakan tanggal 23 November 2018 dengan durasi 13 menit. Wawancara kedua ini bertempat di Estuary Café. Ruangannya memiliki penerangan yang cukup baik berwana putih dan kuning terang. Suasana di dalam café cukup ramai, namun tidak begitu bising. Pada saat wawancara kedua partisipan mengajak salah seorang teman perempuannya. Mereka duduk berselahan dan peneliti duduk di depan partisipan. Proses wawancara ini berjalan dengan lancar. Partisipan mau terbuka dalam menjawab pertanyaan dari peneliti. Walaupun ada satu pertanyaan yang sulit dijawab olehnya, namun secara perlahan ia mencoba menghitung dan menjawab pertanyaan peneliti terkait durasi penggunaan smartphone dalam sehari. Partisipan juga terlihat beberapa kali tertawa ketika proses wawancara berlangsung. Kemudian, peneliti mengobservasi partisipan yang kerap kali

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 melihat dan serius menggunakan smartphone-nya saat peneliti bercakap-cakap dengan teman partisipan. Partisipan keempat atau P4 adalah seorang perempuan berusia 20 tahun yang merupakan mahasiswa perantau. Di Yogyakarta P4 tinggal dengan menyewa salah satu kamar kos di dekat kampusnya. P4 merupakan seorang anak yang cukup dekat dengan orangtuanya. Ketika P4 merantau ke Yogyakarta, ia selalu menjalin komunikasi yang rutin via smartphone dengan orangtuanya. Dalam sehari, ia pasti ditelepon oleh orangtuanya dengan maksud menanyakan kabar. Terkait dengan kepemilikan alat komunikasi, P4 memiliki handphone sejak kelas 5 SD. Untuk alat komunikasi berjenis smartphone, ia mendapatkannya sejak duduk di kelas 3 SMP. Awalnya, alat komunikasi ini digunakan untuk mendapatkan informasi terkait dengan kegiatan menarinya. Akan tetapi, P4 menjelaskan bahwa jika dihitung dari sejak awal dirinya memiliki smartphone, terjadi peningkatan pemakaian paket data olehnya. Jumlah kuota paket data yang ia gunakan adalah 2GB, lalu meningkat menjadi 2GB yang unlimited, dan sejak SMA hingga saat ini menjadi 10GB yang unlimited. Peningkatan yang terjadi pada P4 disebabkan karena saat ini ia sering membuka Instagram yang banyak menghabiskan kuotanya. Selain Instagram, hal yang sering dilakukan P4 dengan smartphone-nya adalah membuka WhatsApp, lalu menonton Youtube, dan terakhir membuka Line. Total penggunaan smartphone-nya dalam satu hari rata-rata bisa mencapai 6-7 jam dengan 20-40 kali membuka tutup smartphone.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 Proses wawancara dengan P4 dilakukan di Hall Utara Kampus partisipan, pada tanggal 21 Oktober 2018. Durasi wawancara pada P4 adalah 25 menit. Wawancara dilakukan di malam hari sehingga tempat wawancara tidak begitu terang. Namun, pada saat itu kondisi di lingkungan sekitar tempat wawancara cukup kondusif. Pada saat wawancara, P4 menggunakan baju berwarna merah marun, rok yang cukup panjang, dan rambut tergerai. Ia datang dengan membawa tas coklat yang berisi smartphone-nya. Sebelum memulai wawancara, P4 melontarkan beberapa pertanyaan terkait penelitian yang sedang peneliti lakukan. Dia terlihat antusias dalam melakukan wawancara dengan peneliti. Pada saat wawancara berlangsung, P4 juga terlihat menjawab semua pertanyaan yang peneliti lontarkan dengan panjang dan cukup lengkap. Ia juga sangat jarang menanyakan kembali maksud pertanyaan yang peneliti berikan kepadanya. Selanjutnya, proses wawancara kedua dilaksanakan di Rumah Makan Babi Rica B2 sekitar pukul 20.00 WIB. Durasi wawancara kedua ini berlangsung 10 menit. Proses wawancara ini dilakukan peneliti untuk menggali beberapa hal yang dirasa belum mendalam. Selain itu, peneliti juga melakukan konfirmasi hasil yang ditemukan sebelumnya kepada partisipan. Proses wawancara kedua berlangsung dengan lancar sebab partisipan mampu memahami maksud peneliti dan menjawab dengan jelas. 2. Hasil Penelitian dan Pembahasan Dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian, peneliti akan memaparkan hasil yang ditemukan di lapangan terkait dinamika penderita nomophobia berat.

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Tiga hal yang menjadi fokus utama peneliti dalam pemaparan hasil dinamika ini adalah (a) asal-usul munculnya kecemasan, (b) gejala dan keluhan yang muncul terkait dengan dimensi nomophobia, dan (c) strategi coping yang digunakan partisipan untuk mengatasi kecemasan yang muncul ketika jauh dari smartphonenya. Kemudian, untuk upaya memperkuat hasil yang ditemukan, peneliti akan memberikan kutipan yang mampu mendukung pemaparan hasil temuan peneliti. a. Asal-Usul Timbulnya Kecemasan Asal-usul timbulnya kecemasan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui asal muasal penyebab dari timbulnya kecemasan pada penderita nomophobia berat. Asal muasal timbulnya kecemasan ini akan dilihat dari waktu mulai timbulnya kecemasan, siapa yang mungkin memicu timbulnya kecemasan, dan peristiwa apa yang menyebabkan timbulnya kecemasan. 1) Waktu Munculnya Kecemasan Berdasarkan hasil asal-usul timbulnya kecemasan, sebagian besar partisipan mulai merasakan kecemasan pada saat kuliah (P1, P2, P4), namun ada pula yang mulai merasakannya ketika SMA (P3). Bagi mereka yang mulai merasakan kecemasan baru di waktu kuliah, ada yang dimulai dari semester awal dan ada pula yang baru muncul di semester 4. Hal ini dapat dibuktikan dari kutipan berikut: Muncul Saat Kuliah P4 Baru kuliah ini deh kayaknya kak. Kalau SMA enggak terlalu. P1 …Mungkin sekitar, semester 4 kemarin. Yang bener-bener itu semester 4 ke semester 5..

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Muncul Saat SMA P3 Mungkin sejak kelas 1 juga. Nah memang kan kelas 1 aku ada pacar itu lho… Munculnya perasaan cemas yang dirasakan partisipan saat kuliah dan SMA ini dilatarbelakangi oleh beberapa sebab. Bagi partisipan yang merasakan cemas saat awal perkuliahan memiliki latar belakang sebagai mahasiswa perantau. Latar belakang ini membuat partisipan kerap kali harus stand by dengan smartphone-nya untuk dapat berkomunikasi dengan orangtuanya. Sementara itu, partisipan yang merasakan cemas saat semester 4 dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa yang membuatnya merasa sendiri. Peristiwa tersebut membuatnya merasa lebih nyaman ketika ia bisa menggunakan smartphone untuk bermain. Di sisi lain, pemicu timbulnya kecemasan untuk partisipan yang sudah merasakannya sedari SMA adalah karena partisipan sudah mulai berpacaran sejak SMA. Oleh sebab itu, ia merasa harus selalu memberi kabar pada kekasih hatinya tersebut. 2) Siapa yang Memicu Timbulnya Kecemasan Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang mengalami kecemasan, diantaranya adalah orang-orang di sekitar kita. Maka dalam sub ini, peneliti ingin mengetahui siapakah yang mungkin utamanya memicu timbulnya kecemasan ketika partisipan tidak dapat menggunakan smartphone-nya. Hasil di lapangan membuktikan bahwa orang terdekat merupakan salah satu faktor yang dapat memicu seseorang memiliki perasaan cemas. Akan tetapi, 3 dari 4 partisipan mengatakan orang terdekat yang dimaksud adalah orangtua (P1, P2,

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 P4). Satu partisipan lainnya mengungkapkan bahwa orang terdekat yang memicu kecemasannya adalah sang pacar (P3). Temuan tersebut dibuktikan dengan kutipan di bawah ini: Dipicu Orangtua P1 Heemm karena kan hp ku aku silent, terus kadangan tu ibuku telepon berkali-kali tapi aku enggak tahu tu loo. Misalnya aku lagi di jalan. Terus aku dimarahin, terus aku jadi cemas tu loo. Dipicu Pacar P3 Karena kalau dulu SMA kan masih jamannya pacaran kan. Jadi komunikasi itu perlu. Jadi kalau tanpa handphone pun nanti kadang si ceweknya suka kamu seharian kemana aja kok enggak ada kabar, kayak gini kayak gini. Jadi kita serba salah kan kalau..mungkin handphone nya ketinggalan, tapi namanya cewek kan paling kamu suka dikasi tahu kayak gitu loo. Jadi memang mungkin dari situ harusss stay handphone kayak gitu. Orang terdekat yang menjadi pemicu kecemasan partisipan ini sebagian besar pernah memberikan dampak negatif pada partisipan. Orang terdekat seakan-akan meminta partisipan selalu stand by pada smartphone mereka untuk dapat menghubungi dan memberikan informasi terkait kabar atau hal lainnya. Maka, ketika partisipan merasakan dampak negatif seperti terkena marah, partisipan akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi dengan selalu stand by pada smartphone-nya. Partisipan ingin untuk tetap siaga agar dapat mempertahankan hubungan baik dengan orang terdekat mereka. 3) Peristiwa Penyebab Timbulnya Kecemasan Terdapat beberapa peristiwa atau penyebab yang membuat partisipan memiliki perasaan cemas ketika mereka tidak bersama dengan smartphonenya. Ada yang disebabkan karena faktor internal, seperti merasa sendiri (P1),

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 ada yang disebabkan karena faktor eksternal, seperti berada jauh dari keluarga (P2, P4), serta pernah menerima dampak negatif dari orang-orang terdekat karena tidak stand by pada smartphone (P1, P2, P3). Penemuan tersebut dapat dibuktikan dari beberapa kutipan partisipan di bawah ini: Merasa sendiri P1 Mungkin intinya ada suatu peristiwa terus itu membuat aku ngerasa aahh aku sendirian. Terus apa yaaa yang bisa aku lakukan dengan aku sendirian. Oh main hp, gitu sih. Berada jauh dari keluarga P2 Semenjak ke Jogja, semenjak jauh dari orangtua. Partisipan menjelaskan bahwa ketika ia mulai merantau dan berada jauh dari keluarga mereka, ada beberapa hal yang harus mereka perhatikan. Misalnya pada P2, ia merasa perlu cepat dalam merespon pesan yang diberikan orangtuanya karena jika tidak dilakukan maka pemenuhan kebutuhan seperti uang sulit dilakukan oleh orangtuanya sewaktu-waktu. Kesulitan ini disebabkan oleh jarak tempat pengiriman uang dari lokasi rumahnya sangat jauh. Sementara bagi P4, ia dipesankan oleh orangtuanya untuk selalu memberi kabar aktivitasnya ketika dirinya hidup di Yogyakarta. Ketika P4 tidak memberi kabar, terbuka kemungkinan orangtuanya memikirkan hal yang tidak benar terhadap P4. Pada partisipan lainnya, hal negatif lain bisa saja terjadi misalnya, seperti contoh di bawah ini: Menerima dampak negatif dari orang-orang terdekat karena tidak stand by pada smartphone P1 Heemm karena kan hp ku aku silent, terus kadangan tu ibuku telepon berkali-kali tapi aku enggak tahu tu loo. Misalnya aku lagi di jalan. Terus aku dimarahin, terus aku jadi cemas tu loo. Ha..ha..ha

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 P3 Karena kalau dulu SMA kan masih jamannya pacaran kan. Jadi komunikasi itu perlu. Jadi kalau tanpa handphone pun nanti kadang si ceweknya suka kamu seharian kemana aja kok enggak ada kabar, kayak gini kayak gini. Jadi kita serba salah kan kalau..mungkin handphone-nya ketinggalan, tapi namanya cewek kan paling kamu suka dikasi tahu kayak gitu loo. Jadi memang mungkin dari situ harusss stay handphone kayak gitu. Mungkin pengalaman pacaran yang protective kali ya, haha lebih harus stay handphone. Kesimpulan yang dapat ditarik dari kutipan-kutipan di atas adalah sebagian besar peristiwa atau keadaan yang membuat partisipan merasa cemas disebabkan oleh dampak negatif yang diberikan oleh orang terdekatnya, termasuk keberadaan partisipan yang jauh dari orangtua. Penjelasan Mayangsari dan Ariana (2015) pun mampu mendukung hal tersebut, yakni adanya beberapa faktor yang dapat memicu munculnya nomophobia yaitu, lingkungan, pengalaman masing-masing individu, pola pengasuhan, dan sosial ekonomi. Pengalaman masing-masing partisipan termasuk dampak negatif yang diterima, membawa partisipan berusaha untuk selalu stand by pada smartphone mereka atau bahkan berusaha menggunakannya agar selalu mendapatkan hiburan. Berdasarkan pemaparan di atas, asal-muasal timbulnya kecemasan dapat terangkum pada tabel di bawah ini: Tabel 12 Hasil Analisis Asal-Usul Timbulnya Kecemasan Tema Asal-Usul Timbulnya Kecemasan Kategori Kode Waktu munculnya kecemasan  Kuliah  SMA Seseorang yang memicu timbulnya kecemasan Orang terdekat (Orangtua, pacar) Penyebab timbulnya perasaan cemas  Merasa sendiri  Berada jauh dari keluarga

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Tema Kategori Kode  Menerima dampak negatif dari orang-orang terdekat karena tidak stand by pada smartphone b. Gejala-gejala dan Keluhan-keluhan Terkait dengan Dimensi Nomophobia Gejala-gejala dan keluhan-keluhan terkait dengan dimensi nomophobia yang akan dipaparkan pada hasil penelitian ini berpedoman dengan dimensidimensi nomophobia Yildirim dan Correia (2015). Dimensi-dimensinya meliputi: tidak dapat berkomunikasi, kehilangan koneksi, tidak dapat mengakses informasi, dan kehilangan kenyamanan ketika tidak bersama dengan smartphone. 1) Tidak Dapat Berkomunikasi Dimensi tidak dapat berkomunikasi diartikan sebagai suatu perasaan kehilangan komunikasi, sehingga tidak dapat menggunakan layanan yang memungkinkan komunikasi secara langsung dengan orang lain. Ada dua gejala yang muncul pada partisipan terkait dengan dimensi yang pertama. Gejalagejala tersebut seperti cemas ada yang menghubungi (P1, P2, P3, P4) dan cemas tidak dapat menghubungi (P4). Hal ini terbukti dari kutipan ungkapan partisipan di bawah ini: Cemas Ada yang Menghubungi P2 Eee perasaan yang paling sering muncul itu, khawatir aja sih khawatir. Mungkin ada keluarga yang, yang menghubungi. Soalnya kalau jauh dari keluarga parnoan. Parnoan itu yang paling sering

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 aku alami itu, takut ada keluarga ngehubungin, papa, itu yang paling sering. Cemas Tidak Dapat Mengubungi P4 …Tapi kalau orangtua tu karena di orangtuanya A hampir setiap hari bisa 4 kali 3 kali hubungin kan buat nanyak dimana. Mungkin mikir oohh sekarang enggak bawa hp enggak bisa ngabarin, apa orangtuanya ngabarin. Pasti bingung kan nyarinya kemana. Tu samalah kayak tadi cemas juga kalau enggak bisa ngabarin. Kesimpulan yang didapat oleh peneliti pada dimensi ini adalah sebagian besar partisipan merasakan bahwa menghubungi atau dihubungi merupakan aktivitas penting untuk mereka lakukan dengan orang terdekat mereka. Kondisi ini bertolak dari latar belakang yang dimiliki partisipan, ketika partisipan tidak melakukan komunikasi yang baik via smartphone pada orang terdekat mereka, partisipan akan menerima sebuah dampak negatif dari hal tersebut. 2) Kehilangan Koneksi Kehilangan koneksi diartikan sebagai sebuah perasaan yang muncul ketika seseorang tidak mendapatkan sebuah koneksi pada smartphone-nya dan hal tersebut membuatnya merasa terputus dengan identitas online khususnya pada sosial media yang dimiliki. Gejala-gejala yang muncul terkait dengan dimensi kehilangan koneksi, seperti cemas tidak dapat menerima notifikasi (P1, P2, P3), takut tidak bisa up to date (P2, P3, P4), dan tidak tahu apa yang harus dilakukan (P1, P2, P3, P4). Hasil yang ditemukan ini dapat terlihat dari beberapa kutipan partisipan di bawah ini:

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Cemas Tidak Dapat Menerima Notifikasi P1 …Jadi cemas sih kayak, ini beneran enggak ada apa-apa?! Ahaha gitu sih… Terus ini beneran enggak ada notif terus aku buka lagi. Oh enggak ada beneran. Terus ternyata ohhh ada lagi. Gitu sih. Takut Tidak Bisa Up To Date P2 Eee itu tadi ee karena takut ketinggalan informasi. Karena itu tadi. Jadi berusaha, berusaha untuk tetap on… P4 Iya cemas. Kan bisa tau info-info dari luar yang biar enggak terlalu apa ya kudet tu lo jadi apa yang orang lain tahu tu kita juga bisa tahu kayak gitu. Biasanya gitu sih dari sosial media. Tidak Tahu Apa yang Harus Dilakukan P3 Kalau enggak ada handphone, haduhhh ini mau ngapain yaa? (mencotohkan) Kayak enggak ada apa-apa gitu. Melalui pemaparan kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa koneksi merupakan suatu hal yang penting dan utama untuk partisipan miliki. Yildirim dan Correia (2015) juga menjelaskan kesimpulan yang sama bahwa koneksi adalah alasan utama kaum muda dalam menggunakan smartphone. Adanya koneksi membuat partisipan dapat melakukan banyak hal dengan smartphonenya, seperti up to date informasi terkini atau terkait dengan teman-temannya. Beberapa partisipan pun merasakan, jika koneksi yang dimilikinya hilang, maka semua aktivitas pada smartphone-nya lumpuh sampai pada tidak ada notifikasi yang masuk. Kondisi tersebut membuat mereka seakan bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. 3) Tidak Dapat Mengakses Informasi Dimensi tidak dapat mengakses informasi digambarkan sebagai ketidakmampuan seseorang ketika ia ingin mengakses informasi dari

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 smartphone-nya. Pada dimensi ini, keluhan-keluhan yang muncul adalah seperti takut tidak bisa melihat informasi (P2), tidak bisa mengakses informasi dengan segera (P3, P4), dan kesal tidak bisa digunakan saat ingin menggunakan (P1). Temuan ini dibuktikan dengan kutipan di bawah ini: Takut Tidak Bisa Melihat Informasi P2 Itu lebih ke takut ketinggalan informasi aja sih. Soalnya kalau sama temen itu mesti yang dibahas seputar kuliah. Gitu, praktikum dan lain-lain. Ee takut ketinggalan aja. Tidak Bisa Mengakses Informasi dengan Segera P3 Ada sih, kayak rasanya pingin segera segera bisa diakses gitu loo. Kesal Tidak Bisa Digunakan Saat Ingin Menggunakan P1 Yampun kok harus sekarang gitu lhoo. Kok harus sekarang sih matinya. Pas lagi butuh, pas lagi bener-bener kepo terus enggak ada akses untuk mencari informasi itu eee aaaahh (menghela nafas). Kesimpulan yang dapat ditarik dari dimensi ini ialah bahwa sebuah informasi memang benar menjadi suatu hal yang selalu ingin dilihat oleh partisipan dengan segera. Walaupun mereka mengeluhkan ketika tidak dapat mengakses informasi dengan segera, pada saat wawancara partisipan menjelaskan bahwa mereka akan mengaksesnya di lain waktu saat smartphone mereka sudah bisa digunakan. Namun, saat informasi dirasa benar-benar dibutuhkan dan mendesak, partisipan akan berusaha meminta tolong temannya untuk mencarikan informasi yang mereka butuhkan.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 4) Kehilangan Kenyamanan Dimensi kehilangan kenyamanan adalah suatu perasaan kehilangan kenyamanan saat tidak dapat memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang disediakan smartphone. Hal ini membuat seseorang selalu ingin memanfaat kenyamanan yang diberikan oleh smartphone tersebut. Gejala-gejala yang muncul terkait dengan dimensi ini seperti, panik ketika baterai habis (P1, P3, P4), dan berusaha mencari sinyal/koneksi yang hilang (P1, P2, P4). Gejala-gejala yang ditemukan ini dibuktikan dari kutipan partisipan di bawah ini: Panik Ketika Baterai Habis P3 Eeemm rasanya cemas sih, kayak pingin buru-buru di charge kayak gitu. Jadi kalau emang kan kalau hp aku ini udah 20% itu biasanya ada pemberitahuan untuk di charger. Gitu, yaitu cemas aduhh ini baterainya udah mau habis. Apalagi kalau lupa bawa charger gitu kan. Kalau ada charger aja kalau ada colokan udah dimanapun enggak mikir tempat dicolokin aja (sambil ketawa) haha. Berusaha Mencari Sinyal/Koneksi yang Hilang P2 Cemas, berusaha cari tempat yang koneksinya ada. P4 A sih biasanya nyari sampe dapet hahaha. Sementara pada penemuan lainnya, ada beberapa partisipan mengeluh ketika ia tidak bersama dengan smartphone-nya. Keluhan itu seperti mengeluhkan tidak ada sinyal (P3). Keluhan ini dibuktikan dari kutipan wawancara partisipan di bawah ini: Mengeluhkan Tidak Ada Sinyal P3 Iya enggak ada sinyal itu kayak ihh ini kenapa sih sinyalnya hehe, kayak gitu.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Pemaparan di atas memperlihatkan bahwa kebermanfaatan yang diberikan smartphone saat ini membuat semua partisipan merasa tergantung pada smartphone yang mereka miliki. Ketergantungan inilah yang membuat partisipan merasa tidak nyaman ketika mereka kehilangan „nyawa‟ yang mampu menghidupkan smartphone mereka, yaitu sinyal, koneksi, ataupun baterai. Dampak dari perasaaan kehilangan dan ketidaknyamanan tersebut membuat partisipan selalu berusaha mencari sinyal, koneksi, ataupun cara untuk baterainya tidak habis. Ringkasan hasil yang didapatkan pada poin kedua, mengenai gejala dan keluhan terkait dimensi nomophobia akan ditampilkan pada tabel di bawah ini: Tabel 13 Hasil Analisis Gejala dan Keluhan Terkait Dimensi Nomophobia Dimensi Nomophobia Tema Tidak dapat Kehilangan Tidak dapat Kehilangan berkomunikasi koneksi mengakses kenyamanan informasi yang diberikan Kategori oleh smartphone  Cemas ada yang menghubungi Kode  Cemas tidak dapat menghubungi  Cemas tidak dapat menerima notifikasi  Takut tidak bisa up to date  Tidak tahu apa yang harus dilakukan  Takut tidak bisa melihat informasi  Tidak bisa mengakses informasi dengan segera  Kesal tidak bisa digunakan saat ingin menggunakan  Panik ketika baterai habis  Berusaha mencari sinyal/koneksi yang hilang  Mengeluhkan tidak ada sinyal

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 c. Strategi Coping Mengatasi Kecemasan Seseorang yang mengalami kecemasan memiliki berbagai respon untuk menghadapi kecemasannya. Ada yang akan berlarut dan tidak bisa menghadapi kecemasan yang ia rasakan, namun ada juga yang bangkit dan berupaya mencari suatu solusi untuk mengurangi kecemasannya tersebut. Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan temuan terkait strategi coping yang dimiliki partisipan untuk mengurangi kecemasan ketika sedang berada jauh atau tidak dapat menggunakan smartphone-nya. Keempat partisipan ketika ditanyakan apa yang akan ia lakukan ketika smartphone-nya tidak bisa digunakan atau tertinggal di suatu tempat adalah mereka akan mencoba menjalin interaksi sosial (P1, P2, P3, P4). Hal ini dibuktikan dari kutipan beberapa partisipan di bawah ini: Menjalin Interaksi Sosial P2 Biasanya aku, aku eee ajak temen-temen keluar gitu. Biasanya kan ada kelompok belajar tu, kelompok belajar tu kayak yang ketawa-ketawa terus jadi asik gitu, jadi aku lebih yang keluar bareng-bareng temen. P3 Yaa mencoba mendekatkan diri pada orang di sekitar yang real real bener bener ada di sekitar gitu. Dari pada tidak berinteraksi ya kan hahaha. Namun pada penelitian ini juga ditemukan beberapa usaha yang dilakukan partisipan dalam menghadapi stressor cemas terkait dengan smartphone, yaitu melukan hobi (P1) yang ia senangi, seperti bermain video game dan melukis. Berikut merupakan kutipan partisipan yang mampu menggambarkan di atas: Melakukan Hobi P1 Sebenernya dulu sempet sih dikasi NDS tuu loo khusus buat main game. Itu sempet membuat ku menjauh dari hp sebentar. Tapi tu, mungkin karena itu enggak bisa buat update, terus aku bosen sama game-game nya tu, yaudah aku balik lagi ke hp.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Eemm iya sih aku mulai mengalihkan apa yaa, mengalihkan tanganku sih sebenarnya. Misalnya gambar, melukis, gitu. Tapi tu..hehe tetep cemas tu lho kek kalo lagi melukis tu lho. Liat hp, heheh gitu sih. Terus misalnya nanti lagi nunggu cat kering nih, em ngapain yaa, main hp hehehe gitu sih. Dapat disimpulkan bahwa ketika partisipan benar-benar tidak dapat menghidupkan atau mengaktifkan smartphone-nya kembali, mereka akan melakukan cara lain untuk mengurangi kecemasan yaitu dengan berinteraksi sosial. Interaksi sosial ini partisipan lakukan untuk dapat mengaktifkan kehidupan sosialnya secara nyata, tidak hanya bermain dengan smartphone mereka. Selain itu, mereka melakukan hal tersebut juga bertujuan untuk melupakan sejenak ketidaknyamanan ketika tidak dapat menggunakan smartphone. Di sisi lain, terdapat partisipan yang berusaha melakukan hobinya sebagai pengalihan untuk mengurangi keinginan selalu dekat dengan smartphone. Namun, pengalihan tersebut terlihat sulit dipertahankan. Oleh karena itu, dapat dikatakan strategi coping yang digunakan oleh seluruh partisipan masuk dalam emotion focused coping, yakni usaha yang dilakukan merupakan usaha yang tidak mengubah atau bahkan menghilangkan perasaan “tidak bisa jauh dari smartphone”, tetapi hanya sebagai pengalihan sementara (Lazarus & Folkman, 1984). Pemaparan hasil mengenai strategi coping ini dapat teringkas dalam tabel di bawah ini: Tabel 14 Hasil Analisis Strategi Coping Mengatasi Kecemasan Tema Jenis Strategi Coping Kategori Emotion focus coping Kode Menjalin interaksi sosial Melakukan hobi

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Secara umum dapat disimpulkan bahwa, kecemasan terkait dengan ketidakmampuan menggunakan smartphone dapat muncul sejak SMA ataupun kuliah, saat suatu peristiwa kurang nyaman dirasakan oleh partisipan karena orang-orang terdekat mereka. Efek dari peristiwa yang memunculkan ketidaknyamanan tersebut membuat partisipan harus terbiasa menggunakan smartphone-nya atau harus selalu stand by dengan smartphone-nya. Kebiasaan tersebutlah yang memicu kecemasan partisipan saat mereka tidak mampu menggunakan smartphone-nya. Maka dari itu, mereka selalu berupaya untuk menghidupkan smartphone mereka supaya mampu berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya, seperti berusaha mengisi daya baterai dimanapun mereka berada dan selalu berusaha terkoneksi atau memiliki paket data pada smartphone-nya. Sewaktu mereka benar-benar tidak mampu menghidupkan atau menggunakan smartphone, partisipan akan mencoba melihat lingkungan sekitarnya untuk dapat menjalin interaksi yang nyata sehingga mereka mampu mengurangi kecemasan yang muncul akibat tidak dapat menggunakan smartphone. Di sisi lain, ada partisipan yang berupaya untuk mengurangi aktivitasnya dekat dengan smartphone, yaitu dengan cara melakukan hobi. Akan tetapi, usaha yang dilakukan ini tidak berhasil dan pada akhirnya partisipan kembali dekat dengan smartphone-nya.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PEMBAHASAN UMUM Pada bagian ini, peneliti akan membahas terlebih dahulu terkait penemuan kuantatif pada Studi 1. Setelah itu, peneliti membahas hasil penemuan Studi 2, yaitu asal-usul timbulnya kecemasan ketika jauh dari smartphone. Pembahasan lalu berlanjut pada gejala dan keluhan mengenai dimensi-dimensi nomophobia menurut Yildirim dan Correia (2015). Terakhir, peneliti akan membahas mengenai strategi coping yang digunakan partisipan untuk mengurangi kecemasan ketika mereka jauh dari smartphone. A. Keseluruhan Subjek Mengalami Nomophobia Pada Studi 1 ditemukan bahwa dari 221 responden yang mengisi kuesioner nomophobia, seluruhnya masuk ke dalam kategori nomophobia. Tidak ada yang masuk dalam kategori tidak mengalami nomophobia. Hasil ini dirasa wajar terjadi apabila melihat penelitian yang pernah dilakukan di Universitas Airlangga. Pada penelitian tersebut dari 380 responden, yang tidak mengalami nomophobia hanya 17 orang (Mulyar, 2016). Maka, dapat dilihat bahwa pada kalangan remaja khususnya mahasiswa, nomophobia sudah semakin banyak dan menjalar. B. Perempuan Lebih Rentan Mengalami Nomophobia Berat Hasil penelitian pada Studi 1, dari 221 responden ditemukan bahwa semua responden mengalami nomophobia dan 12,7% masuk dalam kategori nomophobia berat. Jika ditelaah lebih lanjut, ditemukan remaja perempuan memiliki rentan dibanding remaja laki-laki dalam mengalami nomophobia berat, yaitu 13,4%. Hal 73

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 ini bisa jadi akibat durasi penggunaan internet yang tinggi pada mereka yang berjenis kelamin perempuan (Gezgin dan Cakir, 2016). Diduga, durasi penggunaan yang tinggi tersebut disebabkan oleh aktivitas perempuan yang lebih sering menggunakan ponsel untuk mengungkapkan informasi dan emosi pribadinya (Geser, 2006). Selain itu, wanita juga kerap menggunakan ponselnya untuk sekadar bergosip atau berdiskusi terkait selera dan minat mereka (Geser, 2006). Kemudian, Geser (2006) juga menemukan bahwa perempuan lebih berupaya memelihara jaringan sosial yang ia miliki, terutama diantara anggota keluarga dan kerabat. Maka, situasi menjadi wajar jika perempuan terlihat lebih intens dan terbiasa dalam menggunakan smartphone. Kebiasaan tersebut dapat berujung pada kecemasan jika mereka tidak dapat menggunakan smartphone-nya. C. Asal-Usul Munculnya Kecemasan Pemicu timbulnya nomophobia pada partisipan disinyalir terjadi karena lingkungan dan pengalaman yang dimiliki pada setiap individu. Mayangsari dan Ariana (2015) juga menemukan bahwa lingkungan dan pengalaman adalah dua dari empat faktor yang dapat memicu nomophobia. Lingkungan yang dimaksudkan pada temuan penelitian ini adalah lingkungan keluarga khususnya orangtua atau orang-orang terdekat seperti pacar. Suatu peristiwa atau pengalaman yang negatif yang diberikan orangtua atau pacar ini yang diduga memicu partisipan untuk tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Misalnya, ketika mereka tidak stand by pada smartphone mereka, orangtua atau pacar dari partisipan akan menghubungi mereka. Maka,

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 ketika partisipan tidak menjawab atau menghubungi dengan segera mereka akan terkena marah. Sebuah peristiwa yang mungkin terlihat kecil, namun partisipan merasa kurang nyaman atau cemas akan hal tersebut, sehingga memicu partisipan selalu berusaha untuk stand by pada smartphone mereka. Berawal dari alasan di atas, partisipan akan menjadi terbiasa dan dikontrol oleh ketidaksadaran untuk membuka smartphone mereka setiap harinya. Tujuannya hanya untuk melihat notifikasi yang masuk dan kemudian berupaya untuk segera membalas pesan yang menurut mereka penting. Kebiasaan inilah yang juga membawa mereka pada sebuah perasaan tidak nyaman yang berujung cemas ketika mereka tidak bisa menggunakan atau jauh sekalipun dengan smartphone mereka. D. Gejala dan Keluhan Terkait dengan Dimensi Nomophobia Kecemasan yang dirasakan oleh partisipan ketika mereka tidak bisa menggunakan smartphone mereka, entah karena smartphone mereka tertinggal, kehabisan baterai, atau kehabisan data paket akan membuat mereka merasakan gejala-gejala atau keluhan tertentu. Gejala dan keluhan yang dipaparkan pada bagian ini akan dikaitkan dengan dimensi nomophobia menurut Yildirim dan Correia (2015), yaitu tidak dapat berkomunikasi, kehilangan koneksi, tidak dapat mengakses informasi, dan kehilangan kenyamanan. Gejala yang pasti muncul pada setiap partisipan tatkala mereka tidak dapat menggunakan smartphone mereka ialah cemas jika ada yang menghubungi. Pada dimensi nomophobia menurut Yildirim dan Correia (2015) cemas ada yang menghubungi termasuk dalam dimensi pertama yaitu tidak dapat berkomunikasi.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Kecemasan terkait hal ini bisa muncul pada semua partisipan sebab menjalin komunikasi dengan orang terdekat seperti orangtua atau pacar dianggap menjadi hal yang penting bagi mereka. Oleh karena itu, saat mereka tidak dapat menggunakan smartphone, mereka akan mulai merasakan kecemasan dan berpikir apakah ada seseorang yang akan menghubungi mereka terutama orang-orang terdekat. Di sisi lain, menurut partisipan, koneksi merupakan satu hal yang penting. Adanya koneksi membuat partisipan bisa melakukan banyak hal dengan smartphone mereka. Ketika koneksi yang mereka miliki menghilang, maka mereka akan merasakan cemas. Keluhan yang muncul pun seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hal ini terjadi karena dengan adanya koneksi maka mereka mampu menghubungi siapa saja yang ingin mereka hubungi, mereka mampu mengakses dan up to date terkait informasi yang mereka inginkan melalui sosial media, dan juga bisa memanfaatkan smartphone mereka untuk hiburan (games atau Instagram) dengan koneksi yang baik. Maka, kelihatannya koneksi merupakan suatu yang sangat penting dan utama yang harus mereka miliki pada smartphone mereka di zaman sekarang ini. Kondisi ini pun dijelaskan Yildirim dan Correia (2015) pada penelitiannya. Bahkan dengan kecanggihan teknologi saat ini, melihat notifikasi saja mampu membuat seseorang merasa terkoneksi (Yildirim & Correia, 2015). Pada penelitian ini pun ditemukan bahwa terdapat gejala cemas ketika tidak dapat menerima notifikasi pada beberapa partisipan. Walaupun perasaan cemas tidak dapat menerima notifikasi ini hanya dirasakan pada beberapa partisipan, semua

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 partisipan mengungkapkan bahwa notifikasi menjadi suatu hal yang penting dan kerap mereka gunakan untuk melihat pesan masuk. Pemaparan terkait kehilangan koneksi di atas berhubungan dengan temuan gejala pada dimensi kehilangan kenyamanan, yaitu partisipan akan berusaha mencari koneksi atau sinyal yang hilang sampai mereka mendapatkannya. Selain itu, beberapa partisipan juga akan merasa panik ketika baterai smartphone mereka habis. Selanjutnya, pada dimensi ketiga yaitu tidak dapat mengakses informasi, ditemukan bahwa partisipan memang merasakan gejala cemas ketika mereka tidak dapat mengakses informasi dengan segera. Akan tetapi, semua partisipan mengungkapkan bahwa kecemasan tersebut tidak begitu berarti. Hal ini terjadi karena mereka dapat meminta bantuan teman untuk mencari informasi yang mereka inginkan atau mereka bisa mencarinya di waktu lain ketika smartphonenya sudah bisa digunakan. Hanya saja, ketika smartphone tersebut tidak bisa digunakan saat mereka ingin mengakses informasi tertentu, mereka akan merasa kesal. E. Strategi Coping Mengatasi Kecemasan Hasil dan pembahasan sebelumnya memperlihatkan bahwa ketiadaan smartphone memang betul memberikan sebuah kecemasan kepada partisipan. Menurut Lazarus dan Folkman (1984) terdapat suatu tindakan yang akan dilakukan oleh seseorang untuk mengurangi stres yang dialami dalam bentuk fisiologis ataupun psikologis, mereka menyebutnya sebagai coping. Menurut mereka, strategi coping terbagi menjadi dua jenis, yaitu strategi coping yang

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 berfokus pada masalah (problem focused coping) dan strategi coping yang berfokus pada emosi (emotion focused coping). Pada kasus ini ditemukan bahwa semua partisipan menggunakan strategi coping yang berfokus pada emosi, yakni bahwa mereka mencoba untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial mereka. Bentuk interaksi sosial ini dilakukan untuk mengurangi kecemasan agar mereka lupa dengan smartphone ketika tidak dapat menggunakannya. Kemudian, ditemukan pula kegiatan lain yang dilakukan partisipan untuk selalu dekat dengan smartphone yaitu melakukan hobi. Namun, pengalihan tersebut ternyata tidak mampu menghilangkan perasaan “tidak bisa jauh dari smartphone”. Hal ini dimungkinkan karena smartphone memiliki fitur yang dapat bertindak sebagai penguatan positif bagi penggunanya (Bisen & Deshpande, 2016), sehingga mereka yang sudah terbiasa mendapatkan penguatan positif ini sulit untuk menjauhinya. Maka, dapat dikatakan bahwa usaha yang dilakukan oleh partisipan tersebut merupakan usaha yang tidak mengubah stressor mereka yaitu “tidak bisa jauh dari smartphone”.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu: 1. Dari 221 responden pada Studi 1, semuanya masuk dalam kategori nomophobia dan 12,7% masuk dalam kategori nomophobia berat. 2. Perempuan lebih rentan mengalami nomophobia berat dibandingkan laki-laki, yaitu 13,4%. 3. Secara umum, kecemasan saat jauh atau tidak dapat menggunakan smartphone pada penderita nomophobia berat bisa muncul saat kuliah dan SMA. Pemicunya diduga oleh orang terdekat (orangtua dan pacar) yang memberikan suatu peristiwa yang kurang nyaman bagi remaja, seperti terkena marah ketika tidak stand by pada smartphone dan tidak memberi kabar pada mereka. 4. Jika dilihat dari keseluruhan, kecemasan yang dirasakan partisipan lebih dominan mengarah pada perasaan cemas ada yang menghubungi atau tidak. Gejala pada dimensi tidak dapat berkomunikasi ini dominan muncul diduga karena semua partisipan mengganggap bahwa komunikasi yang mereka jalin merupakan suatu hal yang penting. Kemudian, partisipan merasakan bahwa koneksi adalah hal utama yang harus mereka miliki untuk dapat melakukan apapun dengan smartphone mereka. Maka, ketika mereka kehilangan koneksi, mereka akan mengeluhkan tidak tahu apa yang harus dilakukan, 79

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 misalnya mereka tidak dapat up to date dengan informasi terkini yang berada di sosial media. Hal tersebut berujung pada usaha untuk selalu mendapatkan koneksi, sinyal, atau mengisi daya baterai pada smartphone. 5. Umumnya, partisipan melakukan strategi coping yang berfokus pada emosi. Hal ini karena usaha yang dilakukan partisipan untuk mengatasi kecemasannya hanya bersifat sementara, yaitu berinteraksi sosial dan melakukan hobi yang disenangi. B. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan yang ditemukan pada penelitian ini ada terdapat tiga poin, yaitu sebagai berikut: 1. Peneliti kurang memperhitungkan proses pengambilan data yang baik pada Studi 1 dengan langsung menggunakan data tryout sebagai data yang terpakai. 2. Peneliti kurang dapat mempertimbangkan pemilihan partisipan pada studi kedua dengan baik dan matang. 3. Peneliti kurang mempertimbangkan secara matang metode pengambilan data pada Studi 2. 4. Peneliti kesulitan menggali informasi pada partisipan yang berjenis kelamin laki-laki. Hal ini mungkinterjadi karena rapport yang dijalin peneliti dengan partisipan kurang baik.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 C. Saran Bertolak dari kesimpulan dan keterbatasan penelitian di atas, peneliti mencoba memberikan beberapa saran sebagai berikut: 1. Bagi Penelitian Selanjutnya a. Peneliti selanjutnya diharapkan melakukan tahap-tahap pengambilan data dengan baik dan benar. Sebisa mungkin tidak menggunakan tryout terpakai agar tidak mencampurkan proses pemeriksaan psikometrik alat ukur dengan pengambilan data penelitian. b. Lalu, diharapkan pula peneliti selanjutnya mempertimbangkan pemilihan partisipan dengan matang, seperti mengurutkan skor nomophobia berat dari tinggi sampai yang paling rendah. Kemudian memilih dari skor paling bawah terlebih dahulu, lalu naik ke skor yang paling tinggi dan begitu terus secara berulang sampai data dinyatakan jenuh. Tidak lupa pula mempertimbangkan jenis kelamin secara merata sesuai dengan jumlah partisipan yang diambil. c. Peneliti selanjutnya dapat lebih mempertimbangkan metode pengambilan data yang lebih tepat pada Studi 2, misalnya dengan focused group discussion (FGD). d. Lalu, sebaiknya peneliti melakukan rapport yang lebih baik dan mendalam dengan partisipan laki-laki. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak ngobrol lebih lama terkait dengan smartphone dan hal lain seputar partisipan.

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 e. Terakhir, peneliti juga bisa melakukan penelitian terkait dengan nomophobia pada subjek berkategori nomophobia ringan atau sedang. 2. Bagi Praktisi Psikologi Bagi praktisi dapat lebih membuka wawasan terkait dengan nomophobia yang sedang banyak dialami oleh masyarakat di era smartphone saat ini. 3. Bagi Keluarga dan Orang Terdekat Partisipan Bagi keluarga dan orang terdekat partisipan, dimohon memberi ruang dan mempercayai partisipan ketika mereka tidak stand by pada smartphone. Hal ini akan membuat partisipan tidak takut, khawatir, atau cemas tatkala mereka tidak dapat menggunakan atau jauh smartphone mereka. 4. Bagi Partisipan Bagi partisipan yang masuk dalam kategori nomophobia berat bisa melakukan beberapa hal yang dapat mengurangi intensitas penggunaan smartphone. Misalnya, dengan menerapkan waktu penggunaan smartphone pada jam-jam tertentu. Pembatasan waktu ini ditata agar penggunaan yang dilakukan dengan smartphone tidak setiap saat. Lainnya, partisipan bisa melakukan beberapa kegiatan yang lebih berhubungan dengan lingkungan, seperti berdiskusi, olahraga, melukis, dan lainnya.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 DAFTAR ACUAN Bisen, S., & Deshpande, Y. (2016). An analytical study of smartphone addiction among engineering students: A gender differences. Journal of Indian Psychology, 4(1), 70-83. Bragazzi, N., & Puente, G. (2014). A proposal for including nomophobia in the new DSM-V. Psychology Research and Behavior Management, 7, 155160. Chiu, S. (2014). The relationship between life stress and smartphone addiction on Taiwanese university student: A meditation model of learning self afficacy and social efficacy. Computer in Human Behavior, 34, 49-57. Curtis, A. (2015). Defining adolescence. Journal of Adolescent and Family Health, 7(2), 1-39. Flora, M. (2018, Januari 17). Kecanduan gawai akut, 2 pelajar Bondowoso masuk RS Jiwa. Liputan6. Diunduh 8 Februari, 2018, dari http://news.liputan6.com/read/3229494/kecanduan-gawai-akut-2-pelajarbondowoso-masuk-rs-jiwa Genco, R., Ho, A., Grossi, S., Dunford, R., & Tedesco, L. (1999). Relationship of stress, distress, and inadequate coping behaviors to periodontal disease. Journal Periodontol, 70, 711-723. Geser, H. (2006). Are girl (even) more addicted? Some gender patterns of cell phone usage. Sociology in Switzerland: Sociology of the Mobile Phone. Gezgin, D. M., & Cakir, O. (2016). Analysis of nomophobic behaviors of adolescents regarding various factors. Journal of Human Sciences, 13, 2505-2519. Gifary, S., & Kurnia, I. (2015). Intensitas penggunaan smartphone terhadap perilaku komunikasi. Jurnal Sosioteknologi, 14(2), 170-178. Kanmani, A. S., Bhavani.,& Maragatham, R.S. (2017). Nomophobia-an insight into its psychological aspects in India. The International Journal of Indian Psychology, 4(87), 5-15. King, A., Valenca, A., Silva, A., Baczynski, T., Carvalho, M., & Nardi, A. (2013). Nomophobia: Dependency on virtual environments or social phobia?.Journal of Computers in Human Behavior, 29, 140-144. King, A., Valenca, A., Silva, A., Sancassiani, F., Machado, S., & Nardi, A. (2014). Nomophobia: Impact of cell phone use interfening with symptms and emotions of indviduals with panic disorder compared with a control group. Clinical Practice & Epidemology in Mental Health, 10, 28-35.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Lazarus, R., & Folkman. S. (1980). An analysis of coping in a middle-age community sample. Journal of Health and Social Behavior, 21, 219-239. Lazarus, R., & Folkman. S. (1984). Stress appraisal and coping. New York: Spinger Publishing Company. Lee, S., Tam, C., & Chei, Q. (2013). Mobile phone usage preferences: The contributing factors of personality, social anxiety and loneliness. Journal of School of Medicine and Health Sciences, Monas University. Lee, K., Kim, S., Ha, T., Yoo, Y., Han, J., Jung, J., & Jang, J. (2016). Dependency on smartphone use and its association with anxiety in Korea. Journal of Public Health Reports, 131, 411-419. Mayangsari, A. P., & Ariana, A. D. (2015). Hubungan antara self-esteem dengan kecenderungan nomophobia pada remaja. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 4(3), 157-163. Mulyar, B. K. (2016). Dinamika adaptif penggunaan smartphone mahasiswa fisip universitas airlangga di kota Surabaya. Jurnal Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga, 5(3), 489-503. “Orang Indonesia pengguna ponsel nomor 1 di dunia”. (2014). Diakses 6 Oktober, 2017, dari http://www.bbc.com/Indonesia/majalah/2014/06/140605_majalah_ ponsel_indonesia Pavithra., Madhukumar, S., & Murthy, M. (2015). A study on nomophobiamobile phone dependence, among student of a medical college in Bangalore. National Journal of Community Medicine, 6, 340-344. Prasad, M., Patthi, B., Singla. A., Grupta, R., Saha, S. S., Kumor, J. K., Malhi, R., Venisha. (2017). Nomophobia: A scross-sectional study to assess mobile phone among dental student. Journal of Clinical and Diagnostic Research, 11(2), 34-39. Prasetyo, A., & Ariana, A. D. (2016). Hubungan antara the big five personality dengan nomophobia pada wanita dewasa awal. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 5(1), 1-9. Reber, A., & Reber, E. (2010). Kamus psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Samaha, M., & Hawi, N. (2016). Relationships among smartphone addiction, stress, academic performance, and satisfaction with life. Journal of Computers in Human Behavior, 57, 321-325. Sudarji, S. (2017). Hubungan antara nomophobia dengan kepercayaan diri. Jurnal Psikologi Psibernetika, 10(1), 51-61.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Sugiyono. (2013). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung; Alfabeta. Sugiyono. (2014). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan kombinasi (mixed methods). Bandung; Alfabeta. Supratiknya, A. (2014). Pengukuran psikologis. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, A. (2015). Metodologi penelitian kuantitatif & kualitatif dalam psikologi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, A. (2018). Diktat metodologi penelitian. Yogyakarta: Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma. Wahyudi, Ade. (2016, Agustus 8). Survei smartphone 2016-2018. Diakses 31 Oktober, 2017, dari http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/08/ pengguna-smartphone-diindonesia-20162019?_ga=2.93231133.1507172696-1058212072.1507172696 Wahyuni, R., & Harmaini. (2017). Hubungan intensitas menggunakan facebook dengan kecenderungan nomophobia pada remaja. Jurnal Psikologi, 13(1), 22-29. Wulandari, M., Darmawiguna, M., & Wahyuni, S. (2014). Survei deskriptif optimalisasi pengguna smartphone di kalangan mahasiswa dan siswa sekota Singaraja. Kumpulan Artikel Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika, 3(6), 401-410. Yildrim, C., & Correia, A. P. (2015). Understanding nomophobia: A modern age phobia among college students. Spinger International Publishing Switzerland, 724-735. Yildirim, C., & Correia, A. P. (2015). Exploring the dimensions of nomophobia: Development and validation of a self-reported questionnaire. Elsevier Journal, 49, 130-137. Yildrim, C., Sumuer, E., Adnan, M., & Yildrim, S. (2015). A growing fear: Prevalence of nomophobia among Turkish college students. Journals Permissions, 1-10.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Lampiran 1. Contoh Lembar Persetujuan Partisipan/ Informed Consent Kesepakatan Partisipasi Penelitian Saya menyatakan bersedia berpartisipasi sebagai subjek dalam penelitian yang dilakukan oleh Ni Nyoman Indah Triwahyuni bersama tim dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Saya paham bahwa penelitian ini bertujuan memperoleh informasi tentang dinamika penderita nomophobia berat. Saya adalah salah satu orang yang akan dilibatkan sebagai subjek dalam penelitian ini. 1 Partisipasi saya dalam penelitian ini bersifat suka rela. Saya paham bahwa sebagai subjek saya tidak akan memperoleh imbalan materi. Saya bisa membatalkan dan tidak melanjutkan partisipasi saya sebagai subjek tanpa sanksi apa pun. Jika saya memutuskan membatalkan dan tidak melanjutkan partisipasi saya sebagai subjek, tidak seorang pun akan tahu selain (para) peneliti. 2 Saya paham bahwa apa yang akan saya lakukan dalam penelitian ini penting dan mungkin menarik. Namun bila ternyata saya merasa tidak nyaman melakukannya maka saya berhak menolak memberikan jawaban atau melakukan tugas yang diminta. 3 Saya paham bahwa partisipasi yang dibutuhkan dari saya adalah menjalani wawancara dan observasi yang diselenggarakan oleh para peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Kegiatan tersebut membutuhkan waktu selama 1,5 jam. Para peneliti mungkin akan membuat catatan-catatan, membuat rekaman audio-video saat kegiatan berlangsung dan melakukan tanya-jawab pada akhir kegiatan. 4 Saya paham bahwa para peneliti tidak akan menyebutkan nama saya dalam laporan yang disusun berdasarkan informasi yang diperoleh dari penelitian ini, dan bahwa kerahasiaan saya sebagai subjek dalam penelitian ini dijamin sepenuhnya. Data dan informasi lain yang diperoleh dari penelitian ini hanya

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 akan digunakan untuk kepentingan ilmiah yang menjamin kerahasiaan individu dan institusi yang menjadi sumbernya. 5 Saya paham bahwa dosen atau pihak lain di kampus tidak akan pernah mengetahui jawaban atau hasil pengerjaan tugas saya dalam penelitian ini. Dengan demikian saya tidak akan pernah mengalami akibat negatif apa pun dari apa yang saya katakan atau lakukan dalam penelitian ini. 6 Saya paham bahwa penelitian ini sudah mendapatkan persetujuan dari Dewan Penilai Kelayakan Penelitian di kampus. Jika ada masalah atau pertanyaan terkait subjek dalam penelitian ini, saya bisa menghubungi Dekan Fakultas Psikologi di 08121562470. 7 Saya telah membaca dan memahami penjelasan yang diberikan kepada saya. Saya telah memperoleh jawaban yang memuaskan terhadap semua pertanyaan saya, dan secara suka rela saya menyatakan sepakat berpartisipasi sebagai subjek dalam penelitian ini. 8 Saya telah memperoleh salinan Kesepakatan Partisipasi Penelitian ini. Yogyakarta, … …………. ….. Mengetahui, Ni Nyoman Indah Triwahyuni ……………………………….

(107)

Dokumen baru

Download (106 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

angka kejadian dan karakteristik penderita preeklampsia berat dan eklampsia di RSUP Dr
0
0
12
Dinamika coping stress pada orangtua dari anak penderita kanker - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
19
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Dinamika coping stress pada orangtua dari anak penderita kanker - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
11
Kajian pengetahuan dan motivasi untuk menggunakan produk penurun berat badan pada mahasiswa kampus I Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
147
Gejala-gejala depresi pada penderita paraplegia korban gempa bumi Yogyakart 2006 : studi deskriptif di pusat rehablitas Yakkum Yogyakarta - USD Repository
0
0
152
Poros propeler pada kendaraan berat - USD Repository
0
0
106
Studi deskriptif strategi coping pada penderita pasca stroke dewasa madya - USD Repository
0
0
211
Studi kasus mengenai strategi coping stres pada penderita HIV/AIDS di Yogyakarta - USD Repository
0
0
162
Makna pendampingan personal bagi kecakapan emosional penderita autis di Arogya Mitra Klaten dalam perspektif pastoral - USD Repository
0
0
198
Relevansi semangat hidup dan pelayanan Santo Damian De Veuster bagi pendampingan pastoral penderita HIV/AIDS - USD Repository
0
0
150
Dinamika pengalaman krisis dalam kehidupan pastor - USD Repository
0
0
182
Bentuk dan strategi dukungan sosial terhadap Psychological Well Being pada penderita kanker payudara - USD Repository
0
0
268
Dinamika psikologis pengalaman hidup wanita usia dewasa madya setelah kematian pasangan - USD Repository
0
0
137
Dinamika kebutuhan dan kecemasan penderita latah - USD Repository
0
0
186
Kepuasan seksual pada kelompok berat badan normal dan berat badan obesitas - USD Repository
0
0
110
Show more