PERSEPSI TERHADAP PERKAWINAN PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DENGAN KONDISI FATHERLESS KARENA PERCERAIAN Skripsi

Gratis

0
0
88
3 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEPSI TERHADAP PERKAWINAN PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DENGAN KONDISI FATHERLESS KARENA PERCERAIAN Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Vania Lorrayne Pamuji 149114108 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO I believe miracle come true – a kid “USAHA TIDAK AKAN MENGKHIANATI HASIL” – FC -You can do it- “Manusia dapat membuat rencana. Tetapi Tuhan yang menentukan jalan hidupnya” - Amsal 16:9 iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini saya persembahkan untuk ayah diatas segala ayah, Sang Pencipta. Dan untuk ayahku yang kucinta. Serta mereka yang kuat karena tidak memiliki ayah di bumi. v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEPSI TERHADAP PERKAWINAN PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DENGAN KONDISI FATHERLESS KARENA PERCERAIAN Vania Lorrayne Pamuji ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu persepsi perempuan dengan keadaan fatherless karena perceraian terhadap perkawinan. Perkawinan dalam penelitian ini meliputi sembilan aspek, yaitu komunikasi, aktivitas bersama, pemecahan konflik, manajemen ekonomi, kehidupan agama, kehidupan seksual, anak dan pengasuhan, keluarga dan teman, serta kesamaan peran. Partisipan dalam penelitian ini adalah 5 perempuan dewasa awal (usia20-30tahun) dengan keadan fatherless karena perceraian. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara semi terstruktur (interview). Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi kualitatif (AIK), menggunakan pendekatan deduktif atau terarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan fatherless karena perceraian memiliki persepsi (pengetahuan, harapan dan peilaian) yang cenderung negatif pada sembilan aspek perkawinan. Kata kunci: persepsi, perkawinan, perempuan fatherless, perceraian. vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERCEPTION ON THE MARRIAGE OF THE FATHERLESS EARLY ADULT FEMALE BECAUSE OF DIVORCE Vania Lorrayne Pamuji ABSTRACT The current research was aimed to investigate the perception of fatherless woman in their early adulthood about marriage. The marriage consisted of nine aspects, included communication, leisure activities, conflict resolution, financial management, sexual relationship, religious orientation, family and friends, children and marriage, and equalitarian roles. The subjects of the current study were five women in their early adulthood (20-30 years old) with fatherless condition caused by divorce. The data was collected using interview and analyzed using qualitative content analysis, with a deductive approach. The results showed that was woman with fatherless condition caused by divorce tended to have negative perception on nine aspect of marriage in their early adulthood who did not have a father due to divorce, that included knowladge, hope and evaluation. Keywords: perception on marriage, fatherless woman, caused of divorced viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Tulisan ini dengan segenap hati saya kerjakan demi mengungkap perasaanperasaan terpendam teman-teman saya yang mengalami kepergian sosok ayah. Ternyata ketidakhadiran sosok ayah berdampak tidak hanya sementara tetapi selamanya. Tulisan yang saya kerjakan dengan penuh sakit hati dan rasa benci kepada laki-laki ini semoga dapat menjadi pelajaran bagi setiap perempuan agar lebih menjaga diri, dan mencintai diri sendiri. Semoga tulisan ini dapat menjadi pelajaran juga bagi laki-laki agar lebih serius dalam mencintai, lebih berpikir kedepan, lebih berpikir bahwa kebahagiaan tidak hanya berpusat pada diri sendiri. Lima belas bulan pengerjaan skripsi ini menjadi perjalanan yang penuh likaliku kehidupan menjadi sebuah perjalanan hidup yang berharga bagi saya. Sebuah perjalanan dengan banyak pelajaran hidup. Perjalanan yang penuh senyum dan air mata, perjalanan yang tidak saya lalui seorang diri, perjalanan yang membuat saya mengenal banyak pribadi. Dengan setulus hati, saya ingin berterimakasih pada pribadi-pribadi yang membantu saya dalam melewati jalan berbatu ini Yang pertama saya mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, ayah dari segala ayah, yang memberi nafkah roh melalui firman-Nya, dan mengirimkan kepada saya Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan tidak sabar membimbing saya, memarahi dan mencoret-coret apapun yang saya kumpulkan, dengan tujuan membentuk saya menjadi pribadi yang logis, teliti, sabar, terorganisir dan rajin membaca. Yang terkasih Ibu Ml. Anantasari selaku Dosen Pembimbing Akademik, serta Ibu Dr. Titik Kristiyani M. Psi selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang memberikan saya ilmu pengetahuan dan ilmu kehidupan. Tak lupa saya juga mengucapkan terimakasih pada Papa, Mama, dan Koko saya yang telah memberikan saya beasiswa tidak bersyarat selama 4 tahun 4 bulan kuliah, saya juga mengucapka terimakasih kepada keluarga besar Psikologi USD, dari setiap angkatan, dan keluarga kecilku (Noia, Yuka, Umik dan Ocha) dalam x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perpustakaan, kantin, kos yang siap menjadi tempat mumet, dan melarikan diri dari kewajiban thank you, arigatou, kamsia, i love you. Saya juga berhutang budi untuk Partisipan saya juga yang sedang berjuang menjalani hidup yang keras. Tak lupa mereka Anak-anak Profesor yang sangat membantuku dalam mencari Pak Pratik, dan yang terakhir Samuel David Sutanto, S.T yang menjadi pendukung secara fisik dan psikis. Penulis sungguh menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Penulis meminta maaf atas segala kesalahan dan kelalaian yang telah diperbuat, baik kata, sikap maupun tulisan. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................................... iii HALAMAN MOTTO .................................................................................................. iv HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. vi ABSTRAK .................................................................................................................. vii ABSTRACT............................................................................................................... viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ................................ ix KATA PENGANTAR .................................................................................................. x DAFTAR ISI ............................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ...................................................................................................... xiii BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1 B. Pertanyaan Penelitian ................................................................................ 6 C. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 6 D. Manfaat Penelitian..................................................................................... 7 1. Manfaat Teoritis ................................................................................... 7 2. Manfaat Praktis .................................................................................... 7 3. Manfaat Kebijakan .............................................................................. 7 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 8 A. Perempuan Dewasa Awal Fatherless karena perceraian ........................... 8 B. Perkawinan .............................................................................................. 12 C. Persepsi terhadap Perkawinan ................................................................. 17 D. Kerangka Konseptual .............................................................................. 21 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III. METODE PENELITIAN ............................................................................ 23 A. Jenis dan Desain Penelitian ..................................................................... 23 B. Fokus Penelitian ...................................................................................... 24 C. Partisipan ................................................................................................. 25 D. Peran Peneliti ........................................................................................... 26 E. Prosedur Pengambilan Data .................................................................... 27 F. Analisis dan Intepretasi Data ................................................................... 28 G. Kredibilitas Data ...................................................................................... 32 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 33 A. Pelaksanaan Penelitian ............................................................................ 33 B. Partisipan dan Dinamika Proses Wawancara .......................................... 34 C. Hasil Penelitian ........................................................................................ 39 D. Pembahasan ............................................................................................. 59 BAB V. PENUTUP .................................................................................................... 67 A. Kesimpulan .............................................................................................. 67 B. Keterbatasan Penelitian ........................................................................... 68 C. Saran ........................................................................................................ 68 1. Bagi peneliti selanjutnya ................................................................... 68 2. Bagi Praktisi Psikologi ...................................................................... 69 3. Bagi Ibu ............................................................................................. 69 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Data Partisipan .............................................................................................. 25 Tabel 2. Kerangka Analisis ......................................................................................... 30 Tabel 3. Lokasi dan waktu pelaksanaan wawancara ................................................... 33 Tabel 4. Hasil wawancara persepsi perempuan fatherless karena perceraian ............. 57 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga merupakan organisasi sosial terkecil dalam masyarakat. Hampir semua individu hidup dalam keluarga yang biasanya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Setiap individu yang menjalani kehidupan rumah tangga tentu mengharapkan rumah tangga yang bahagia, akan tetapi tidak semua kehidupan keluarga berjalan seperti yang diharapkan. Dalam masyarakat ditemui juga rumah tangga yang diwarnai dengan peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan oleh anggota keluarga. Salah satu contoh dari peristiwa yang tidak diharapkan ini adalah perceraian (Yusuf, 2004). Berdasarkan Badan Pusat Statistik, pada tahun 2013 persentase perempuan yang menjadi kepala keluarga karena cerai hidup adalah 13,40%, sedangkan lakilaki hanya 1,09%. Penelitian lain juga mengatakan bahwa dari 27.000 istri ada 22% yang gagal dalam berumah tangga mengalami perceraian dan menjadi kepala keluarga bagi anak-anaknya (Rakhmawati dalam Yanuarti & Sriningsih, 2012). Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil dari perceraian sebagian besar menyebabkan anak mengalami fatherless, yaitu ketiadaan peran dan figur ayah dalam kehidupan seorang anak (Sundari & Herdijani, 2013). Keadaan fatherless dalam penelitian ini adalah yang diakibatkan karena perceraian. Fatherless yang disebabkan oleh perceraian memiliki dampak yang berlipat ganda bagi anak. Pada anak perempuan dampaknya akan terlihat ketika mereka memasuki usia dewasa awal, tepatnya ketika dihadapkan pada tugas 1

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 perkembangan untuk membangun sebuah rumah tangga (Wallerstein dalam Larsen & Buss, 2002). Setiap kali melihat laki-laki dan perempuan, pandangannya akan selalu dipengaruhi dengan apa yang ia lihat pada ayah ibunya. Perasaan curiga, tidak percaya, kecewa dan takut untuk menjalin hubungan pada wanita dewasa dini dari keluarga bercerai akan selalu timbul dan selalu menganggap bahwa karakter yang sama mungkin terdapat pada setiap pria (Grollman, 1996). Menurut Wallerstein (dalam Larsen & Buss, 2002) hal tersebut terjadi karena “hantu dari masa lalu” yang muncul saat mereka memasuki hubungan intim. Hantu masa lalu adalah bayangan dari perkawinan orang tua yang gagal dan berpengaruh kuat. Ketakutan mengulang kesalahan orang tua tanpa sadar membentuk anak untuk berusaha lebih baik dari pada orang tuanya. Bayangan ini merupakan emosi yang berkaitan dengan keinginan yang memusat saat wanita yang berasal dari keluarga bercerai memasuki usia dewasa dini dan mempengaruhi pendekatan mereka dalam membangun hubungan yang akan mengarah pada perkawinan. Persepsi anak perempuan terhadap perkawinan tentu saja tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya. Whalen, Henker, Dotemoto dan Hinshaw (1983) menunjukkan segala sesuatu yang terjadi dalam hubungan antara orang tua-anak (termasuk emosi, reaksi dan sikap orang tua) akan membekas dan tertanam secara tidak sadar dalam diri seseorang. Selanjutnya, apa yang sudah tertanam akan termanifestasi dalam hubungan dengan keluarganya sendiri. Ghufron dan Walgito (2003) mengungkapkan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi mengenai diri mereka dan lingkungan sekitarnya, jadi apa

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 yang dilakukannya merupakan cerminan dari lingkungan sekitarnya. Pada anak perempuan yang mengalami fatherless karena perceraian memiliki lingkungan perkawinan yang berbeda, sehingga diduga memiliki persepsi terhadap perkawinan yang berbeda dengan anak perempuan dengan keluarga lengkap. Penelitian ini ingin mencari tahu bagaimana persepsi terhadap perkawinan pada anak perempuan yang mengalami perceraian kedua orang tuanya yang menyebabkan keadaan fatherless. Persepsi yang baik terhadap perkawinan adalah hal penting untuk membangun perkawinan yang baik, karena ketika mengetahui bagaimana persepsi perempuan dengan kondisi fatherless karena perceraian maka akan mengetahui bagaimana mereka akan berprilaku pada perkawinan persepsi yang baik terhadap perkawinan diduga akan membentuk perkawinan yang baik, begitu pula sebaliknya (Boothroyd & Perrett, 2008), maka dari itu peneliti ingin mencari tahu lebih dalam tentang persepsi anak perempuan fatherless terhadap perkawinan. Persepsi terhadap perkawinan yang terbagi dalam tiga komponen yakni pengetahuan, harapan dan penilaian (Calhoun & Acocella, 1990) tentang perkawinan akan menjadi penting dalam membangun perkawinan Beberapa penelitian yang telah dilakukan tentang perkembangan anak perempuan tanpa ayah menunjukkan bahwa anak fatherless memiliki perbedaan yang signifikan dengan anak-anak yang dibesarkan dengan keluarga utuh (Blankenhorn, 1996; Khorn & Bogan, 2001, Guardia, et.al, 2015). Perbedaan tersebut banyak diasosiasikan dengan hal negatif pada hubungan anak perempuan dengan lawan jenis. Penelitian yang dilakukan oleh Boothroyd & Perrett, (2008) membahas tentang bagaimana anak perempuan memilih pasangan yang seadanya

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 karena memiliki kemampuan yang rendah untuk bersaing untuk pasangan. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa anak perempuan yang hidup tanpa ayah memiliki kecenderungan untuk mencari perhatian dari orang dewasa, kehamilan diluar perkawinan, menjadi ibu di usia remaja dan menjadi ibu tunggal atau kegagalan dalam perkawinan (Demo & Acock, 1988; Boothroyd & Perrett, 2008, Khorn & Bogan, 2001). Penelitian tentang ketiadaan ayah atau fatherless banyak berfokus terhadap aspek-aspek psikologis pada anak perempuan yang terjadi di masa anak-anak dan masih mengalami masa kritis saat hilangnya ayah dalam kehidupan anak, seperti kesejahterahan subjektif & perkembangan sosioemosional (Golombok, Tasher, dan Murray, 1997), pencapaian (Milne, 1986), konsep diri dan penyesuaian diri seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Sundari dan Herdijani (2013). Masih sedikit penelitian yang membahas tentang bagaimana fatherless berdampak pada kehidupan anak pada tahap selanjutnya. Peneliti disini ingin meneliti tentang pengaruh ketiadaan ayah atau fatherless sebagai pembentuk persepsi anak perempuan pada kehidupan perkawinan, karena penelitian tentang persepsi terhadap perkawinan tersebut belum ditemukan oleh peneliti, dan sebagian besar penelitian pada anak karena perceraian lebih berfokus pada aspek-aspek psikologisnya seperti kesejahterahan subjektif, perkembangan sosioemosional, pencapaian, konsep diri dan penyesuaian diri. Beberapa penelitian tentang perceraian yang telah dilakukan baik oleh psikolog maupun mahasiswa sebagai tugas akhir lebih banyak berfokus pada perceraian dari orang tua saja dan tidak banyak penelitian yang mengungkap bahwa

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 anak dari perceraian biasanya mengalami fatherlessness. Selain itu penelitian lain berbicara tentang anak korban dari perceraian dibandingkan dengan anak dari keluarga utuh, biasanya merupakan penelitian kuantitatif, hasilnya merupakan nilai siapa yang lebih dan siapa yang tidak lebih dari suatu variabel seperti penelitian yang dilakukan oleh Santrock, 1975; Stolberg & Anker, 1988; dan Kalter, 1985. Hanya ada sedikit penelitian yang berfokus pada anak korban perceraian dan bagaimana pengaruhnya pada usia dewasa awal. Sehingga penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif. Penelitian tentang persepsi terhadap perkawinan pada individu dewasa awal pernah dilakukan pada individu yang hidup di keluarga yang mengalami KDRT (Marpaung,2016). Akan tetapi penelitian tersebut lebih berfokus tentang bagaimana dampak dari KDRT pada anak, bukan tentang perceraian yang berdampak pada persepsi perkawinan. Penelitian lain yang dilakukan oleh Catwright (2006) lebih berfokus pada efek dari perceraian dan membandingkan antar jenis kelamin, bagaimana dampaknya pada laki-laki ataupun perempuan, dan ternyata dampak perceraian pada anak perempuan terlihat ketika masa dewasa awal ketika menjatuhkan pilihan pada laki-laki sehingga penelitian ini ingin meneliti persepsi terhadap perkawinan pada perempuan dewasa awal dengan kondisi fatherless karena perceraian Defisiensi atau celah dalam penelitian sebelumnya mengenai topik persepsi terhadap perkawinan adalah sebagai berikut. Belum ada penelitian tentang persepsi terhadap perkawinan yang berfokus pada anak korban peceraian yang berdampak pada keadaan fatherless. Dari segi metode sebagian besar penelitian banyak

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 berfokus pada membandingkan anak dari keluarga bercerai dibandingkan dengan anak dari keluarga utuh dan menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Dari segi subjek penelitian juga hanya berfokus pada waktu anak masih mengalami krisis perceraian orang tuanya, belum banyak penelitian yang berfokus pada tahap kehidupan anak selanjutnya, dan kepergian ayah yang menyebabkan fatherless secara spesifik. Untuk menutup defisiensi atau celah dari penelitian – penelitian lalu maka penelitian ini mengungkap persepsi anak perempuan fatherless terhadap perkawinan. Subjek dalam penelitian ini adalah perempuan dewasa awal yang memiliki orang tua bercerai dan dengan kondisi fatherless. Penelitian dilakukan dengan desain kualitatif. Prosedur pengambilan data akan dilakukan dengan metode wawancara semi terstruktur. Peneliti meyakini dengan metode wawancara subjek dapat bercerita lebih personal dan dapat menggali persepsi terhadap perkawinan sesuai dengan hidup yang dihayati oleh subjek. Analisis data menggunakan analisis isi kualitatif. Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat dari penelitian akan dipaparkan sebagai berikut. B. Pertanyaan Penelitian Bagaimana persepsi terhadap perkawinan pada perempuan dewasa awal dengan kondisi fatherless karena perceraian?

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah mencari tahu dan mendeskripsikan tentang persepsi anak perempuan dalam masa perkembangan dewasa awal dalam kondisi fatherless terhadap perkawinan. Melalui pertanyaan wawancara, para subjek yang berusia 20-30 tahun diharapkan dapat mengungkap bagaimana persepsi mereka terhadap perkawinan. Setelah mengetahui bagaimana persepsinya peneliti dapat menunjukkan bahwa dampak perceraian ternyata berdampak jangka panjang atau tidak melalui baik atau buruknya persepsi perempuan dewasa awal fatherless karena perceraian D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teorits Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di bidang psikologi khususnya psikologi perkembangan anak dan psikologi keluarga, khususnya persepsi anak perempuan dalam kondisi fatherless terhadap perkawinan. 2. Manfaat Praktis Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai bagaimana persepsi anak perempuan fatherless terhadap perkawinan. 3. Manfaat Kebijakan Penelitian ini diharapkan juga dapat memberikan sumbangsih bagi kebijakan di negara Indonesia. Khususnya mengenai perceraian dan dampak jangka

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 panjangnya terutama pada anak perempuan, seperti memperketat peraturan pemerintah tentang perceraian.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bagian ini peneliti akan mengelaborasi tentang perempuan pada masa dewasa awal dalam keadaan fatherless, dan tugas perkembangannya yang terhambat ketika tidak ada ayah dalam kehidupan anak perempuan. Pada bagian selanjutnya peneliti akan menjelaskan tentang perkawinan dan aspek-aspek perkawinan. Pada bagian selanjutnya peneliti akan menjelaskan tentang persepsi yang dekat dengan perkawinan, dalam bagian ini peneliti akan menjelaskan apa itu persepsi terhadap perkawinan dan persepsi yang seperti apa yang akan diteliti oleh peneliti. A. Perempuan Dewasa Awal Fatherless Karena Perceraian Subjek dalam penelitian ini adalah perempuan usia 20-30 tahun. Istilah adult atau dewasa awal berasal dari kata latin yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Oleh karena itu orang dewasa adalah seseorang yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukannya di dalam masyarakat bersama orang dewasa lainnya (Hurlock,1991). Di antara delapan tugas-tugas perkembangan dewasa awal, empat di antaranya merupakan kegiatan-kegiatan pokok yang bersangkutan dengan hidup perkawinan dan berkeluarga, yaitu (1) memilih pasangan hidup (2) belajar hidup bersama dengan pasangan (3) Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga (4) mengelola rumah tangga. Tugas-tugas perkembangan itu pada dasarnya merupakan tuntutan atau harapan-harapan sosio-kultural di mana manusia itu hidup (Mappiare,1983). Oleh karena itu manusia dewasa muda pada umumnya 8

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 menginginkan status kedewasaan melekat pada dirinya, dan status tadi sebagian diperoleh dengan hidup berkeluarga dalam suatu tali perkawinan. Masa dewasa awal adalah masa yang tepat untuk memulai rumah tangga yang baru melalui perkawinan. Banyak sumber yang menguraikan tentang aspekaspek yang menimbulkan kesukaran dalam hidup perkawinan. Hal ini adalah hal yang sangat penting bagi individu pada masa dewasa awal yang masih dalam taraf mempersiapkan perkawinan. Keadaan fatherless pada anak perempuan karena perceraian memiliki dampak yang berlipat ganda bagi anak, perceraian adalah keadaan dimana pernikahan ayah dan ibu terputus sebagai akibat kegagalan pasangan (orangtua) untuk menjalankan kewajiban mereka dalam perceraian biasanya sosok ayahlah yang pergi dalam keluarga tersebut padahal keterlibatan ayah adalah hal penting dalam membentuk perkembangan anak terutama dalam mempersiapkan anak menghadapi tugas perkembangan dalam masa dewasa awal (Dally, 2007). Menurut Hart (Yuniardi, 2006) ayah memiliki peran penting dalam kehidupan anak, yakni: (a) economic provider: pendukung finansial keluarga, (b) friend and playmate: ayah dianggap sebagai “fun parent” serta memiliki waktu bermain yang lebih banyak dibandingkan dengan ibu. Ayah banyak berhubungan dengan anak dalam memberikan stimulasi secara fisik, (c) caregiver: ayah dianggap sering memberikan stimulasi afeksi dalam berbagai bentuk, sehingga memberikan rasa nyaman dan penuh kehangatan, (d) teacher and role model: sebagaimana dengan ibu ayah juga bertanggung jawab terhadap apa saja yang dibutuhkan anak untuk masa mendatang malalui latihan dan teladan yang baik bagi anak, (e) monitor

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 and disciplinary: ayah memenuhi peranan penting dalam pengawasan terhadap anak, terutama begitu ada tanda-tanda awal penyimpangan sehingga disiplin dapat ditegakkan, (f) protector: ayah mengontrol dan mengorganisasikan lingkungan anak, sehingga anak terbebas dari kesulitan atau bahaya, (g) advocate: ayah menjamin kesejahterahan anaknya dalam berbagai bentuk terutama kebutuhan anak ketika berada di institusi diluar keluarganya, (h) resource: dengan berbagai cara dan bentuk ayah mendukung keberhasilan anak dengan memberikan dukungan dibelakang layar. Kehadiran ayah berkolerasi secara positif dengan berbagai macam perkembangan sosial anak (Dally, 2007) terutama kapasitas berhubungan dengan orang lain. Dalam kapasitas berhubungan dengan orang lain anak yang mengalami kelekatan aman dengan ayah melaporkan mengalami lebih sedikit konflik dalam interaksinya dengan orang lain. memiliki hubungan yang lebih positif, dan disukai oleh orang lain. Selain itu juga memiliki relasi yang lebih positif dengan orang lain, dan memiliki persahabatan jangka panjang, perkawinan jangka panjang dan sukses, merasa puas dengan pasangan, memiliki relasi intim yang sukses dan lebih sedikit mengalami perceraian (Daly,2007; Krampe & Fairweather, 1993). Ketika ayah tidak hadir dan tidak ada sosok yang berperan seperti itu dalam kehidupan anak perempuan, maka anak perempuan akan memiliki berbagai macam dampak dalam kehidupannya. Anak perempuan dalam kondisi fatherless memiliki kondisi takut ditinggalkan, sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh ayahnya. Beberapa anak perempuan juga cenderung memiliki rasa kecewa dan kehilangan rasa percaya pada laki-laki karena memiliki pengalaman ditinggalkan oleh

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 ayahnya. Selain itu anak perempuan juga mengalami kesulitan dan ketakutan untuk berhubungan dengan laki-laki karena ia tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk berhubungan dengan lawan jenis. Anak perempuan yang tidak dibesarkan oleh ayahnya juga dikatakan memiliki harga diri yang rendah sehingga beberapa penelitian mengatakan bahwa anak perempuan fatherless mengalami kehamilan diluar nikah. Kesepian juga hal yang dialami karena tidak memiliki sosok ayah sebagai teman bermain di masa kanak-kanaknya. Tetapi juga ada spectrum lain dimana perempuan tanpa ayah juga dikenal mudah memutuskan pasangan dengan cepat sebelum ditinggalkan oleh pasangannya. (Blankenhorn,1996; Sundari, 2013, Khorn & Bogan, 2001) Keadaan ketiadaan peran dan figur ayah atau fatherless ternyata terbagi menjadi dua bagian, ketika ayah pergi karena meninggal ternyata memiliki dampak menjauh dari kontak dengan laki-laki, memiliki konsep tentang ayah yang baik dan merasa sosok yang paling sedih karena kehilangannya. Sedangkan anak dengan kondisi fatherless perceraian memencari perhatian lebih dari laki-laki dan teman laki-laki seumurannya, mereka juga sangat mengkritik ayahnya, mereka juga memiliki perilaku yang agresif dan secara konstan mencari perhatian dari sosok yang lebih tua dan agresif secara fisik pada laki-laki dan perempuan di usianya. (Khorn & Bogan 2001)

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 B. Perkawinan Perkawinan adalah suatu hubungan antara laki-laki dan perempuan yang diakui secara sosial, menyediakan hubungan seksual dan pengasuhan anak yang sah, dan didalamnya terjadi pembagian hubungan kerja yang jelas bagi masing-masing pihak baik suami maupun istri (Duvall & Miller,1985). Perkawinan juga diartikan dengan komitmen emosional dan hukum dari dua orang untuk membagi kedekatan emosional dan fisik, berbagi bermacam tugas dan sumber-sumber ekonomi (Olson & Defrain, 2006). Knox, 1975 mengungkapkan tiga alasan mengapa seseorang harus menikah, pada awalnya menempuh atau menjalani perkawinan merupakan pertimbangan bersama, dan keputusan keluarga, namun kemudian terjadi pergeseran. Alasan mengapa seseorang menikah antara lain adalah emotional security atau ingin berada dalam keadaan emosi yang stabil atau rasa aman secara emosional seorang individu ketika menghidupi kehidupan perkawinan, companionship dapat diartikan dengan persahabatan jadi dengan perkawinan seorang individu akan memiliki teman seumur hidupnya atau ada yang menemani, dan desire to be parent yang dapat diartikan sebagai keinginan untuk menjadi orangtua atau menghendaki untuk menjadi orangtua. Sedangkan alasan yang salah untuk menikah antara lain adalah physical attractiveness atau ketertarikan hanya secara fisik misalkan menikahi seseorang karena fisiknya sesuai dengan yang dimimpikan, economic security atau ingin memiliki rasa aman dalam ekonomi bisasanya individu yang memiliki tujuan ini akan menikahi sosok yang lebih mapan secara ekonomi, pressure from parents atau

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 tekanan dari orangtua, peers atau teman sebaya, patners atau pasangan, or pregnancy atau kehamilan yang terjadi sebelum pernikahan, escape atau melarikan diri, rebellion atau pemberontakan dari suatu hal, or rescue atau menolong seseorang. Perkawinan meliputi sejumlah aspek pengalaman. Aspek-aspek perkawinan yang akan dirinci oleh peneliti diambil dari aspek-aspek kepuasan perkawinan yang dirinci oleh Olson dan Fowers (1993), karena aspek-aspek dalam kepuasan perkawinan merupakan aspek yang kompleks dan dapat mewakili aspek-aspek perkawinan, aspek-aspeknya adalah sebagai berikut: Komunikasi / communication. Aspek komunikasi dalam sebuah perkawinan berfokus pada memiliki teman untuk berkomunikasi dan memiliki kenyamanan dan rasa senang yang dirasakan oleh pasangan suami istri dalam membagi dan menerima informasi emosional dan kognitif secara verbal maupun non- verbal. Komunikasi dalam perkawinan dibagi kedalam 5 elemen dasar yaitu: keterbukaan terhadap pasangan (Openess), kejujuran terhadap pasangan (honesty), kemampuan untuk membangun kepercayaan satu sama lain (ability to trust), sikap empati kepada pasangan (emphaty), dan memiliki kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik bagi pasangan (listening skill). Aktivitas Bersama. Aspek ini berfokus pada perkawinan yang menjadikan satu sama lain memiliki teman atau pasangan untuk melakukan kegiatan bersama. Kegiatan bersama yang dilakukan bersama merupakan pilihan bersama, serta saling memiliki harapan-harapan untuk mengisi waktu luang. Pasangan suami istri pada umumnya memiliki kesibukan masing-masing akan tetapi untuk membangun

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 sebuah pernikahan yang harmonis pasangan suami istri harus meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas bersama, aktivitas yang dilakukan bisa kecil namun berarti dan dilakukan bersama. Aktivitas bisa diluar atau didalam rumah. Pemecahan konflik/ conflict resolution. Dalam sebuah perkawinan pasti akan ada konflik seiring dengan berjalannya waktu. Akan tetapi melalui perkawinan juga individu akan memiliki pasangan untuk belajar memecahkan beragam konflik kehidupan. Pemecahan konflik yang baik dalam sebuah perkwinan akan membentuk perkawinan yang saling mengenal dan percaya. Karena konflik pasti dan akan datang dalam sebuah perkawinan oleh karena itu aspek ini akan berfokus pada bagaimana pasangan suami istri menghadapi konflik melalui cara mengambil keputusan dalam sebuah konflik melalui rasa saling percaya keterbukaan dan startegi pemecahan konflik untuk mendapatkan solusi terbaik dalam memecahkan konflik. Pemecahan konflik yang diterapkan pasangan suami istri dibutuhkan untuk mengenal dan memecahkan konflik yang muncul dalam sebuah perkawinan sehingga pasangan suami istri mendapatkan solusi terbaik untuk menghadapi konflik yang dihadapi. Manajemen ekonomi. Aspek ini berfokus pada sikap dan cara pasangan untuk belajar mengatur keuangan bersama, pembuatan keputusan mengenai keuangan serta pasangan mengelola keuangan bersama. Biasanya pada pasangan suami istri ketika salah satu memiliki harapan yang melebihi kemampuan keuangan seperti memiliki barang yang diinginkan, ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan masalah yang dapat timbul dalam sebuah perkawinan. Ketika salah satu pihak menunjukan otoritas terhadap pasangan dan tidak percaya

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 terhadap kemampuan pasangannya dalam mengelola keuangan maka konflik dalam perkawinan dapat muncul. Kehidupan agama. Aspek ini berfokus tentang perkawinan yang menjadikan individu memiliki pasangan untuk menjalankan ibadah bersama serta makna keyakinan beragama dan pelaksanaanya dalam kehidupan sehari-hari. Terutama ketika telah menjalin hubungan suami istri, agama menjadi panutan untuk bersikap dalam kehidupan perkawinan. Seseorang yang memiliki keyakinan beragama akan bersikap peduli terhadap hal-hal keagamaan dan mau beribadah. Pada umumnya, seorang individu yang sudah menikah akan lebih memperhatikan kehidupan beragama. Pasangan suami istri sebagai orangtua akan mengajarkan dasar-dasar dan nilai-nilai agama yang diyakini kepada anaknya, serta menjadi teladan yang baik dengan membiasakan diri beribadah dan melaksanakan ajaran agama yang diyakini Kehidupan seksual. Aspek ini berfokus tentang kehidupan seksual pasangan suami istri, setelah menikah individu memiliki pasangan untuk menyalurkan hasrat seksual. Sebagai pasangan suami istri sudah sewajarnya melakukan hubungan seksual, selain itu sebagai pasangan suami istri seharusnya dapat menerima tingkah laku seksual pasangan, setia terhadap pasangan. Kehidupan seksual pada pasangan suami istri seharusnya dilakukan dengan cinta dan kasih, saling memahami dan mengetahui kebutuhan satu sama lain dan saling memahami dan mengetahui kebutuhan satu sama lain dan saling mengungkapkan hasrat dan cinta yang dirasakan dan dapat membaca tanda-tanda yang diberikan oleh pasangan. Berhubungan seksual bukan hanya dengan tujuan memiliki anak

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 tetapi saling memuaskan dan sebagai cara mengungkapkan cinta agar memiliki kehidupan perkawinan yang harmonis. Keluarga dan teman. Melalui perkawinan individu memiliki pasangan untuk bersosialisasi dengan keluarga dan teman. Aspek ini berfokus pada kehidupan sosial pasangan suami istri setelah menikah, karena perkawinan adalah proses bersatunya laki-laki dan perempuan, dan kedua belah pihak keluarga. Selain dua individu yang menjadi satu tetapi keluarga, kerabat dan teman dari masingmasing individu menjadi satu. Pasangan suami istri akan saling memperhatikan kerabat, mertua dan teman-teman dari pasangan. Biasanya perkawinan yang tidak bahagia dan memiliki banyak masalah disebabkan karena salah satu pihak lebih banyak menghabiskan waktu, lebih percaya dan lebih mudah dipengaruhi oleh keluarga atau kerabat atau teman. Anak-anak dan pengasuhan. Melalui perkawinan individu memiliki pasangan untuk belajar mengasuh anak bersama dengan pasangan. Salah satu tujuan dari perkawinan adalah memiliki keturunan atau anak. Dalam sebuah kehidupan perkawinan kehadiran anak akan menjadi hal yang membahagiakan satu sama lain dan hal yang akan menjadikan satu sama lain lebih bertanggung jawab. Dalam sebuah kehidupan perkawinan pasangan suami istri akan memiliki sikap pada anak tentang tugas untuk mengasuh, keputusan mengenai disiplin anak, cita-cita pribadi terhadap anak, sehingga sebagai pasangan suami istri perlu memiliki kesepakatan dalam mengasuh anak. Hal tersebut perlu dilakukan untuk membentuk keluarga yang harmonis.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Kesamaan peran. Melalui perkawinan individu memiliki teman atau pasangan untuk belajar berbagi peran atau tugas bersama. Menjalani hidup perkawinan adalah menanggung apapun bersama. Untuk menjalani hidup bersama penting untuk menerima dan membantu peran masing-masing pasangan. Aspek ini berfokus pada perasan dan sikap individu terhadap peran yang beragam dalam kehidupan perkawinan yang berfokus pada pekerjaan, tugas rumah tangga, peran sesuai dengan jenis kelamin masing-masing, dan peran sebagai orangtua. Perempuan memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, serta memanfaatkan kemampuan dan pendidikan yang dimiliki untuk mendapatkan kepuasan pribadi. Suami juga tidak merasa malu apabila penghasilan istri lebih besar dan istri memiliki jabatan dalam pekerjaan yang lebih tinggi. Itulah aspekaspek perkawinan yang akan menjadi objek persepsi, yang akan diungkap dalam penelitian ini. C. Persepsi terhadap Perkawinan Persepsi terhadap perkawinan adalah bagaimana anak perempuan memandang perkawinan. Perkawinan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia/ harmonis dan kekal/ kokoh. Persepsi adalah cara pandang atau pengamatan individu terhadap stimulus yang ada di lingkungannya melalui proses pengindraan yang dilakukan secara aktif untuk dapat menafsirkan dan menyimpulkan stimulus tersebut (Myers, 1992). Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi terhadap perkawinan adalah cara pandang individu terhadap perkawinan (ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 wanita), melalui proses pengindraan yang dilakukan secara aktif untuk dapat menafsirkan dan menyimpulkan stimulus tersebut. Menurut Lindgren (dalam Ghufron, 2003) perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi dan pemahaman mereka terhadap situasi yang dikaitkan dengan tujuan. Perilaku individu dapat diprediksikan apabila diketahui bagaimana individu mempersepsikan situasi dan apa yang diharapkan. Perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi mengenai diri mereka dan lingkungan sekitarnya, sehingga apa yang dilakukan merupakan cerminan dari lingkungan sekitarnya dan persepsi dapat mempengaruhi perilaku. Oleh karena itu ketika individu memiliki persepsi yang baik pada perkawinan maka diasumsikan akan memiliki sikap yang baik juga pada perkawinan. Menurut Allport (dalam Mar’at, 1991) persepsi memiliki beberapa komponen pembentuknya salah satunya adalah komponen kognitif, komponen ini tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang objek sikapnya, dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang objek sikap tersebut. Persepsi menurut Young (1956) adalah aktivitas mengindra, mengintergrasikan, memberikan penilaian pada objek-objek fisik maupun objek-objek sosial. Selain itu persepsi juga dibentuk dengan harapan seperti yang dijelaskan oleh Calhoun dan Acocella bahwa pada akhirnya individu cenderung mencampur sebagian besar pemikiran penuh harapan kedalam gambaran kita tentang sesuatu objek.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Berdasarkan pengertian tersebut, dalam penelitian ini persepsi dibatasi pada pengetahuan, harpan, dan penilaian anak perempuan yang tidak memiliki ayah pada perkawinan. Persepsi individu memiliki tiga aspek yaitu pengetahuan yang dimiliki individu mengenai perkawinan, pengharapan yang dimiliki individu untuk perkawinannya sendiri serta penilaian individu mengenai perkawinannya (Calhoun & Acocella, 1990) Pengetahuan. Komponen pertama dari persepsi adalah pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud berupa apa yang kita ketahui atau kita anggap tahu mengenai perkawinan. Pengetahuan tentang perkawinan adalah segala sesuatu yang diketahui tentang perkawinan, karena setiap individu terutama individu dewasa awal memiliki pengetahuan tentang perkawinan. Pengetahuan juga dapat berupa wujud lahirian, perilaku, masa lalu, perasaan dan motif. Hal ini dapat dilihat berdasarkan pengetahuan mengenai perkawinan, faktor-faktor yang mendorong untuk menikah, cara untuk memandang perkawinan, dan tujuan untuk menikah biasanya didapatkan dari masa lalu dan perasaan terhadap kehidupan perkawinan yang ia saksikan (Calhoun & Acocella, 1990). Harapan. Komponen kedua dari persepsi adalah harapan. Harapan juga diartikan dengan gagasan kita tentang perkawinan yang diinginkan seperti apa dan dipadukan dengan ingin melakukan apa. Harapan adalah sesuatu yang diinginkan, dalam komponen ini adalah harapan terhadap perkawinan atau sesuatu yang diinginkan dari perkawinan pribadi. Selain individu mempunyai pengetahuan terhadap perkawinan, individu juga memiliki pengharapan terhadap perkawinannya

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 sendiri, seperti apa perkawinan yang diinginkan, apa yang harus dilakukan dalam perkawinan dan pasangan hidup yang diinginkan (Calhoun & Acocella, 1990). Penilaian atau evaluasi. Komponen terakhir dari persepsi adalah evaluasi. Penilaian atau evaluasi adalah proses pemberian nilai atau kesimpulan individu terhadap perkawinan yang didasarkan pada bagaimana perkawinan tersebut memenuhi pengharapan individu terhadap perkawinan (Calhoun & Acocella, 1990). Penilaian dalam penelitian ini tentang bagaimana anak perempuan fatherless karena perceraian menilai perkawinan kedua orangtuanya, dimana nilai tersebut dapat menjadi salah satu pembentuk persepsi anak terhadap perkawinan. Persepsi ini perlu diteliti karena menurut Sherif (1969, dalam Sadi, 1977), pengalaman dan tingkah laku merupakan sebuah kesatuan. Apa yang dilakukan seseorang baik sebagai ucapan, ekspresi, atau perilaku tidak terlepas dari caranya mempersepsikan situasi, mengapresiasikannya atau apa yang ia ingat mengenai suatu hal. Berdasarkan hal ini, persepsi anak perempuan terhadap perkawinan dapat mempengaruhi perilaku anak perempuan dalam perkawinan. Persepsi terhadap perkawinan yang baik akan menghasilkan kehidupan rumah tangga yang kokoh dan harmonis, begitu pula sebaliknya. Oleh karena berbagai macam hambatan dalam perkembangan sosial (berhubungan dengan lawan jenis) anak perempuan dalam masa dewasa awal dalam kondisi fatherless, peneliti ingin mencari tahu lebih dalam bagaimana pandangan anak perempuan (dengan kondisi fatherless) terhadap perkawinan. Mengingat bahwa pandangan atau persepsi terhadap perkawinan adalah hal yang mempengaruhi perkawinan karena pada masa dewasa awal adalah masa yang

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 penting untuk membangun rumah tangga melalui perkawinan terutama perempuan (seperti yang telah dijelaskan pada bagian pertama) D. Kerangka Konseptual Anak perempuan yang hidup dan mengalami fatherless dalam kehidupannya tidak dapat menjalani perkembangan sosial sesuai dengan anak yang memiliki peran ayah dalam hidupnya (Dally,2007). Terutama fatherless yang disebabkan karena perceraian kedua orang tua. Perempuan yang tidak memiliki ayah memiliki kecenderungan terhambat dalam menjalani masa dewasa awal, sehingga akan memiliki persepsi yang berbeda juga tentang perkawinan. Hal tersebut disebabkan karena persepsi tersebut tidak lepas dari pengalaman sebelumnya, kegagalan perkawinan yang dijalani oleh orang tua akan mempengaruhi persepsi anak terhadap perkawinan. Pada anak perempuan yang sedang dalam masa persiapan untuk perkawinan (masa dewasa awal) kemungkinan anak perempuan dalam keadaan fatherless akan memiliki persepsi yang negatif terhadap kehidupan perkawinan, karena mereka yang memiliki orangtua bercerai dan mengalami ketiadaan ayah memiliki rasa memencari perhatian lebih dari laki-laki dan teman laki-laki seumurannya, mereka juga sangat mengkritik ayahnya, mereka juga memiliki perilaku yang agresif dan secara konstan mencari perhatian dari sosok yang lebih tua dan agresif secara fisik pada laki-laki dan perempuan di usianya. (Khorn & Bogan 2001)

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Untuk mengeksplorasi bagaimana persepsi terhadap perkawinan pada anak perempuan dengan kondisi fatherless karena perceraian maka peneliti mengungkap persepsi terhadap perkawinan dengan melihat perepsi dari tiga hal yakni pengetahuan, harapan dan penilaian tentang perkawinan (Calhoun & Acocella, 1990). Perkawinan yang menjadi objek persepsi juga dibagi menjadi beberapa komponen yang ada dalam perkawinan yakni komunikasi, aktivitas bersama, pemecahan konflik, manajemen ekonomi, kehidupan seksual, kehidupan keagamaan, keluarga dan teman, anak-anak dan pengasuhan, dan kesamaan peran yang akan menjadi objek dari persepsi perkawinan. Sembilan aspek perkawinan yang dirinci dari kepuasan perkawinan oleh Olson dan Fowers (1993) akan menjadi objek dari penelitian ini. Peneliti akan menggali persepsi sembilan objek tersebut pada anak perempuan fatherless karena perceraian. Sembilan objek tersebut akan menjadi parameter baik atau buruk persepsi anak perempuan yang mengalami fatherless karena perceraian. Kerangka dari penelian ini akan digambarkan melalui gambar 2.1. Gambar 1. Kerangka Konseptual

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 E. Pertanyaan Penelitian Bagaimana persepsi terhadap perkawinan pada perempuan dewasa awal dengan kondisi fatherless karena perceraian?

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif dengan deduktif terarah. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mencoba menggali makna mengenai isu atau masalah yang diteliti sesuai apa yang diyakini atau dihayati para partisipan, sehingga peneliti harus terjun langsung ke dalam lingkungan atau suasana alamiah partisipan, untuk mengambil berbagai macam data, baik melalui wawancara, observasi maupun dokumen-dokumen. Penelitian kualitatif mencoba untuk mencari gambaran menyeluruh dari isu yang diteliti, sehingga bisa saja pelaksanaan penelitian ini lebih luas dari rencana penelitian yang telah disusun sebelumnya (Creswell, 2009, dalam Supratiknya, 2015) Dalam penelitian ini peneliti menggunakan desain penelitian analisis isi kualitatif (AIK), yaitu metode penelitian untuk menafsirkan secara subjektif isi data berupa teks melalui proses klasifikasi sistematis berupa coding atau pengodean dan pengidentifikasian aneka tema atau pola (Hsieh & Shanon, 2005, dalam Supratiknya, 2015) Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengungkap dan memahami persepsi terhadap perkawinan pada anak perempuan dewasa awal yang fatherless. Metode pengambilan data dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur, dengan beberapa pertanyaan yang bersifat terbuka, agar subjek dapat mengungkap lebih dalam tentang perasaannya. 24

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Analisis data diawali dengan mentranskripkan data lisan atau rekaman elektronik menjadi teks tertulis atau dokumen. Selanjutnya analisis isi kualitatif (AIK), teks atau trasnkrip tersebut dikelompokkan dalam beberapa kategori. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan deskripsi yang padat dan kaya tentang fenomena yang diteliti (Supratiknya, 2015) B. Fokus Penelitian Fokus dalam penelitian ini adalah persepsi perempuan terhadap perkawinan. Penelitian ini hendak mengungkap bagaimana persepsi perempuan dengan kondisi fatherless karena perceraian terhadap perkawinan. Persepsi sendiri berarti proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi prilaku kita (Mulyana, 2007). Persepsi terhadap perkawinan dapat dibentuk melalui pengalaman perkawinan yang ia saksikan. Persepsi terhadap perkawinan terbentuk karena adanya pengetahuan, harapan dan penilaian dari partisipan terhadap perkawinan. Objek persepsi dari penelitian ini adalah perkawinan, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan. Perkawinan dalam penelitian ini dirinci menjadi sembilan aspek perkawinan. Aspek-aspek perkawinan yang dirinci oleh peneliti adalah: komunikasi, aktivitas bersama, pemecahan konflik, manajemenekonomi, kehidupan agama, kehidupan seksual, keluarga & teman, anak-anak & pengasuhan, serta kesamaan peran. Berdasarkan baik atau buruk persepsi mereka terhadap aspek-aspek tersebut, aspek-aspek tersebut dapat menjadi

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 parameter baik atau buruk persepsi perempuan fatherless karena perceraian terhadap perkawinan. C. Partisipan Partisipan dalam penelitian ini adalah lima perempuan. Kriteria dari subjek penelitian ini adalah perempuan berada dalam masa dewasa awal dengan usia 2030 tahun yang berasal dari keluarga yang fatherless atau tidak mengalami kehadiran ayah dalam keluarga yang disebabkan perceraian kedua orang tua. Pengalaman perceraian orangtua paling tidak telah melewati masa krisis yakni minimal tiga tahun setelah perceraian. Peneliti menggunakan teknik sampling berupa criterion sampling. Criterion sampling bertujuan untuk meninjau dan mempelajari semua kasus yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan peneliti agar sesuai dengan tujan penelitian (Patton,2002). Jumlah partisipan diputuskan setelah peneliti melakukan wawancara pada partisipan ke 6 dan partisipan tersebut memiliki jawaban yang kurang lebih sama dengan kelima partisipan yang telah di wawancara dimana peneliti menemukan bahwa data yang peneliti miliki telah mengalami exhausted. Berikut data partisipan dalam tabel 1: Tabel 1. Data partisipan Inisial Usia Fatherless selama NK (P1) 23 23 th M (P2) 21 7 th ND (P3) 24 24 th K (P4) 25 5 th N 23 23th (P5)

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 D. Peran Peneliti Dalam penelitian kualitatif ini peneliti berperan sebagai instrumen kunci, peneliti turun sendiri ke lokasi penelitian untuk melakukan pengumpulan data. Pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara. Wawancara kualitatif yang dilakukan oleh peneliti yaitu wawancara antara peneliti dan partisipan melalui tatap muka, yang didasarkan pada pertanyaan yang semi terstruktur dan terbuka untuk memancing pandangan dan pendapat para subjek (Supratiknya, 2015) Dalam rangka merekrut atau memilih partisipan peneliti memilih perempuan dalam usia 20-30 tahun yang tidak memiliki ayah melalui administrasi gereja, dan mengajukan permohonan secara informal melalui chat dan telepon langsung kepada subjek untuk mengambil data singkat dan akan memberikan lembar kesepakatan partisipasi penelitian yang kemudian ditanda tangani oleh para subjek ketika subjek bersedia untuk diwawancara, dalam hal ini peneliti akan berperan menjaga kerahasiaan data serta kepercayaan yang telah diberikan subjek kepada peneliti. Kemungkinan yang paling buruk bisa terjadi dari penelitian ini adalah munculnya rasa sedih atau perasaan-perasaan lain yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri subjek, karena pengalaman buruk yang pernah dilalui bersama dengan ayahnya, dan adanya ketidak terbukaan oleh subjek karena membahas tentang relasi dengan lawan jenis. Oleh karena itu peneliti memilih subjek yang telah berpisah dengan ayahnya selama lebih dari tiga tahun, sekiranya

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 subjek sudah melewati masa transisi dari ada menjadi tidak ada ayah dalam hidupnya. E. Prosedur Pengambilan Data Penelitian ini menggunakan metode wawancara semi terstruktur dalam pengambilan data. Wawancara semi terstruktur adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara atau yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang akan memberikan jawaban atas pertanyaan yang telah disampaikan oleh pewawancara (Moleong, 2015). Wawancara yang dilakukan adalah wawancara semi terstruktur dengan menggunakkan daftar pertanyaan. Pertanyaan dapat dimodifikasi menurut respon partisipan saat menjawab pertanyaan sehingga memungkinkan peneliti melakukan dialog dengan subjek. selain itu peneliti dapat menyelidiki lebih jauh tentang halhal menarik dan penting yang mungkin muncul dalam wawancara. Sebelum wawancara dilakukan, ada beberapa langkah yang digunakan agar pengambilan data dapat dilaksanakan dengan baik. Tahapan pelaksanaan wawancara tersebut adalah: 1. Mencari partisipan yang sesuai dengan kriteria dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian 2. Menyusun kesepakatan jadwal dilakukannya wawancara antara peneliti dan partisipan 3. Melaksanakan wawancara sesuai kesepakatan peneliti dan partisipan. Dalam sesi wawancara, peneliti menggunakan alat bantuan alat perekam

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 (digital recorder). Di samping itu peneliti juga mencatat perilaku nonverbal dari partisipan selama proses wawancara berlangsung. Setelah data terkumpul peneliti melakukan transkrip wawancara dari hasil perekaman tersebut. Berikut adalah pedoman wawancara yang digunakan dalam penelitian ini: A. Pertanyaan pembuka 1. Bisa di ceritakan kenapa kedua orangtua mu bercerai? 2. Bagaimana perasaanmu terhadap ayah? B. Pertanyaan inti 1. Apa yang kamu ketahui tentang kehidupan perkawinan? 2. Menurutmu hal apa saja yang mendorong seseorang untuk menikah? 3. Bagaimana gambaran perkawinan menurutmu? 4. Ketika kamu menikah, kehidupan perkawinan seperti apa yang kamu inginkan? 5. Bagaimana penilaianmu tentang kehidupan perkawinan yang telah dilalui oleh orangtuamu? 6. Pengalaman seperti apa yang paling kamu ingat? F. Analisis dan Intepretasi Data Metode analisis data yang digunakan adalah analisis isi kualitatif atau AIK. AIK adalah metode analisis pesan-pesan komunikasi, baik tertulis, lisan maupun visual (Supratiknya, 2015). Dalam AIK, dilakukan klasifikasi atau penyaringan terhadap teks atau kata-kata kedalam sejumlah kategori yang mewakili aneka isi tertentu. Tujuan akhir dari AIK adalah memperoleh pengetahuan dan pemahaman

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 mengenai konsep atau kategori tentang fenomena yang sedang diteliti (Heish & Shanon, 2005; Elo & Kygas, 2008, dalam Supratiknya, 2015) Analisis penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif, atau analisis isi terarah. Penelitian ini menghasilkan data berupa transkrip hasil wawancara. Kemudian data berupa transkrip tersebut dianalisis melalui langkah-langkah berikut: (1) membaca secara berulang-ulang corpus data berupa transkrip verbatim. (2) melakukan initial coding atau menemukan kode-kode berupa konsep-konsep tertentu dalam transkripsi verbatim secara induktif baris demi baris (inductive, line by line approach). (3) mengelompokkan kode-kode kedalam tema-tema yaitu sejenis konsep besar dengan cakupan isi yang lebih luas dibandingkan dengan kode, dengan tujuan menemukan sejenis narasi analitik yang koheren dari keseluruhan corpus data. (4) memperhalus atau mempertajam analisis dengan cara menempatkan tema-tema dan sub-sub tema dibawah masing-masing tema, tematema dan sub-tema tersebut selanjutnya diberi label atau nama, masing-masing subtema, tema-tema dan sub tema tersebut selanjutnya diberi label atau nama masingmasing sub tema dilengkapi dengan kutipan-kutipan yang dicuplik dari transkripsi verbatim sebagai bukti atau pendukung sehingga diperoleh narasi yang utuh tentang fenomena yang diteliti. Kriteria yang hendak digunakan dalam koding tertera dalam tabel 2.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Tabel 2 Tabel kriteria koding persepsi terhadap perkawinan Persepsi perempuan dewasa awal dengan kondisi fatherless karena perceraian Komponen Pengetahuan Harapan Penilaian yang diketahui oleh yang yang dinilai, partisipan berupa diharapkan disimpulkan, Aspek apa yang disadari, atau yang diputuskan,dan dan dijelaskan oleh diinginkan diprasangkai partisipan oleh partisipan Komunikasi memiliki teman untuk berkomunikasi, memilki rasa nyaman dan rasa senang Aktivitas bersama memiliki teman atau pasangan untuk melakukan kegiatan bersama Pemecahan Konflik memiliki pasangan untuk belajar memecahkan beragam konflik kehidupan Manajemen ekonomi memiliki pasangan untuk belajar untuk mengatur keuangan bersama, membuat keputusan mengenai keuangan serta mengelola keuangan bersama

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Persepsi perempuan dewasa awal dengan kondisi fatherless karena perceraian Komponen Pengetahuan Harapan Penilaian yang diketahui oleh yang yang dinilai, partisipan berupa diharapkan disimpulkan, Aspek apa yang disadari, atau yang diputuskan, dan dan dijelaskan oleh diinginkan diprasangkai partisipan oleh partisipan Kehidupan Agama memiliki pasangan untuk menjalankan ibadah bersama serta memiliki keyakinan beragama dan pelaksanaanya dalam kehidupan perkawinan Kehidupan Seksual melalui perkawinan individu memiliki pasangan untuk menyalurkan hasrat seksual Keluarga dan teman memiliki pasangan untuk untuk bersosialisasi dengan keluarga dan teman Anak dan pengasuhan memiliki pasangan untuk belajar mengasuh anak bersama dengan pasangan Kesamaan peran memiliki teman atau pasangan untuk belajar berbagi peran atau tugas bersama

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 G. Kredibilitas Data Peneliti biasanya melakukan beberapa strategi untuk menguji kredibilitas penelitiannya. Dalam penelitian ini ada beberapa strategi yakni strategi pertama adaah member checking. Member checking dilakukan setelah data dirumuskan ke dalam tema-tema, peneliti akan membawa kembali kepada partisipan untuk mengetahui apakah tema-tema yang telah dirumuskan tersebut akurat atau sesuai dengan diri partisipan. Strategi kedua yang dilakukan adalah thick discription atau diskripsi mendalam dimana peneliti menyajikan deskripsi yang sangat rinci tentang setting atau lingkungan penelitian dan dinamika ketika melaksanakan wawancara. Dengan cara itu, hasil-hasil penelitian menjadi lebih realistik dan dapat dipercaya (Supratiknya, 2015). Strategi selanjutnya yang digunakan adalah dengan menuliskan latar belakang setiap partisipan sehingga peneliti dapat membuktikan bahwa setiap partisipan yang dilibatkan dalam penelitian ini benar adanya bukan sekedar partisipan fiktif. Penelitian ini menggunakan dua strategi untuk menguji konsistensi hasil penelitian. Strategi pertama adalah peneliti memeriksa berulangkali transkriptranskrip rekaman wawancara untuk memastikan tidak ada kesalahan yang serius saat proses transkripsi. Pada strategi kedua peneliti juga membandingkan data dengan kode-kode yang telah dirumuskan. Hal ini untuk menghindari pergeseran makna kode-kode yang mungkin terjadi selama proses transkripsi. Strategi lain yang peneliti gunakan agar tidak terjadi pergeseran makna adalah meminta pendapat dari peer dan expert tentang hasil wawancara yang dimasukkan kedalam komponen penelitian yang diteliti oleh peneliti.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini diadakan pada akhir Mei 2018 sampai awal Oktober 2018. Proses pengambilan data menggunakan metode wawancara yang dilakukan oleh peneliti sendiri kepada lima perempuan dewasa awal yang mengalami fatherless karena perceraian. Wawancara dilakukan di berbagai tempat dari kampus sampai rumah partisipan. Durasi wawancara bervariasi antara 60 menit sampai 120 menit. Rangkuman waktu dan tempat diadakanya wawancara disajikan di Tabel 4. Tabel 3. Lokasi dan waktu pelaksanaan wawancara No. Partisipan Waktu Lokasi 1. P1 31 Mei 2018 Ruang Observasi 2 29 Agustus 2018 Kos Partisipan 2. P2 20 September 2018 Ruang diskusi 3. P3 28 Mei 2018 Rumah Partisipan 25 September 2018 Rumah Partisipan 4. P4 4 Oktober 2018 Ruang Observasi 2 5. P5 12 Juni 2018 Kos partisipan 5 Oktober 2018 Kos partisipan 34

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 B. Partisipan dan Dinamika Proses Wawancara Penelitian kualitatif memiliki tujuan menyimpulkan cerita yang rinci tentang tingkah laku dan keyakinan orang atau kelompok orang yang diteliti. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendalami dan mendeskripsikan persepsi anak perempuan fataherless yang disebabkan karena perceraian terhadap perkawinan. Melalui wawancara semi-terstruktur penelitian ini akan menggambarkan persepsi partisipan terhadap perkawinan. Sebelum melaksanakan wawancara peneliti melakukan penyusunan jadwal untuk melakukan wawancara melalui chat. Pada hari yang telah dijadwalkan, peneliti mencoba untuk melihat mood partisipan terlebih dahulu melalui pertanyaan-pertanyaan seputar kegiatan sehari-hari, setelah partisipan mulai terbuka pada peneliti, peneliti menjelaskan bahwa identitas partisipan dan proses wawancara akan dijamin kerahasiaanya, peneliti juga akan meminta informed consent atau pernyataan dari pihak partisipan bahwa dirinya setuju dan bersedia untuk diwawancarai. Selama proses wawancara peneliti melakukan perekaman audio dan mencatat hal-hal seputar ekspresi dan mood partisipan selama wawancara. Setelah wawancara peneliti mengucapkan terimakasih dan memberikan kesempatan pada partisipan kalau ada yang masih ingin ia ungkapkan, setelah itu peneliti akan melakukan debrief atau proses mengembalikan emosi partisipan tentang penelitian yang melibatkan wawancara yang telah dilakukan oleh partisipan dan peneliti.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Partisipan pertama (P1) adalah perempuan dengan usia 23 tahun yang sedang mendalami kuliah S1 Psikologi. Partisipan adalah anak ke-4 dari 4 bersaudara. Kelahiran partisipan adalah momen dimana ayah partisipan memutuskan untuk bercerai dengan ibunya. Partisipan hidup tidak bersama dengan ayah sejak partisipan lahir, karena saat partisipan lahir ayah dari partisipan mengaku telah memiliki istri siri yang menyebabkan ibu dari partisipan marah dan memutuskan untuk bercerai. Partisipan memiliki dua kakak perempuan yang sudah menikah karena hamil terlebih dahulu dan mengalami kegagalan dalam perkawinan. Kegagalan perkawinan kakak pertama adalah kakak pertama mengalami KDRT, kegagalan perkawinan kakak kedua adalah ia harus menerima kenyataan bahwa suaminya telah memiliki anak dari perempuan lain. Berbagai pengalaman yang telah dialami oleh partisipan mengakibatkan partisipan memiliki persepsi yang tidak biasa mengenai perkawinan. Partisipan memiliki keinginan untuk menjadi biarawati dan menghindari sakramen perkawinan. Pengambilan data dilangsungkan sebanyak dua kali, pada pengambilan data yang pertama wawancara berlangsung kurang lebih 120 menit. Pengambilan data yang kedua berlangsung selama 70 menit. Pada saat wawancara yang pertama P1 mengenakan pakaian formal, karena wawancara dilaksanakan setelah kuliah di ruang observasi. Selama wawancara berlangsung partisipan banyak mengungkapkan rasa marah, melalui kata-kata kasar dan makian kepada ayahnya maupun laki-laki pada umumnya. Sekitar lima menit dalam wawancara digunakan oleh partisipan untuk menangis

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 ketika mengenang apa yang telah ayahnya lakukan pada ibunya. Pengambilan data yang kedua dilaksanakan di kos partisipan. Partisipan terlihat lebih baik, lebih banyak tertawa dan terlihat lebih santai. Partisipan kedua (P2) perempuan berusia 22 tahun yang sedang mendalami kuliah S1 Pendidikan Bahasa Inggris. Partisipan adalah anak ke-3 dari 7 bersaudara. Partisipan telah berpisah dengan ayahnya selama 8 tahun. Ayah partisipan memutuskan untuk hidup bersama dengan wanita simpanannya, setelah melakukan perselingkuhan selama 10 tahun. Partisipan dibesarkan oleh ibu dan keuangannya disokong oleh pamannya. Setelah mengalami pengalaman yang begitu kelam, naik turun ekonomi yang begitu drastis dan menerima rasa tidak adil dari ayah yang memutuskan untuk memilih istri muda P2 memiliki rasa cuek dan tidak peduli pada laki-laki terutama pada perkawinan. Subjek memiliki pandangan yang buruk terhadap perkawinan dan sifat dependen yang tinggi. Proses pengambilan data dilakukan di pagi hari di dalam perpustakaan. Pengambilan data berlangsung selama 120 menit. Pada saat wawancara berlangsung P2 menggunakan pakaian rapi dan formal. Selama proses wawancara partisipan terlihat santai dan banyak bercerita, sesekali subjek marah pada apa yang dilakukan ayahnya dan melampiaskan kemarahan dengan berkata kasar pada ayah dan laki-laki pada umumnya, dan sesekali juga subjek menangis ketika membahas tentang perasaannya terhadap ayahnya.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 Partisipan ketiga (P3) adalah perempuan berusia 24 tahun yang hidup bersama dengan ibu dan uti atau nenek. P3 saat ini bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta. P3 tidak memiliki banyak pengalaman dengan ayah karena ayah dan ibu memutuskan untuk bercerai sejak subjek berusia 3 bulan. Ayah P3 memutuskan untuk bercerai karena ingin kembali ke istri tuanya. Ibu dari P3 adalah istri muda dari ayah P3. Ayah dari P3 memutuskan untuk pergi dan tetap menjalin komunikasi hingga P3 menginjak usia SMP. Sesudah itu ayah P3 memutuskan unntuk tidak berhubungan lagi dengan keluarga P3. P3 saat ini memiliki kekasih yang sudah akan beranjak menuju ke perkawinan. Akan tetapi P3 terlihat tidak memiliki hak untuk memilih pasangan karena ibu dan uti bersikap protektif dalam memilih laki-laki yang akan masuk kedalam keluarga mereka. Wawancara dilaksanakan di rumah P3. Suasana rumah terasa sepi dan tenang karena ibu masih bekerja dan uti sedang beristirahat. Wawancara berlangsung selama 60 menit, P3 mengenakan pakaian yang terlihat santai, P3 terlihat lelah karena wawancara dilaksanakan sepulang P3 bekerja. P3 terlihat tenang dalam menceritakan setiap cerita, tidak terlihat marah ataupun sedih, P3 cenderung lebih tertutup terkait masalahnya dengan keluarga. P3 juga memiliki harapan yang tinggi terhadap perkawinan karena P3 akan melaksanakan perkawinan di tahun 2019. P3 terlihat murung saat menceritakan perkawinan dan keluarganya. Partisipan keempat (P4) adalah perempuan berusia 25 tahun. P4 sedang mendalami kuliah S1 psikologi. P4 adalah anak pertama dari dua

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 bersaudara. P4 tidak hidup bersama dengan ayahnya selama 5 tahun. P4 memutuskan untuk hidup tidak bersama dengan orang tua di Yogyakarta karena setelah bercerai ibu dari P4 memutuskan untuk hidup di Amerika Serikat. Selama berada di Yogyakarta P4 memutuskan untk hidup bersama dengan pacarnya. P4 merasa bahwa hidup dengan kekasihnya adalah hal yang menyenangkan tetapi P4 tidak ingin menikah dengan kekasihnya. P4 merasa sudah cukup untuk tinggal bersama tanpa harus menikah. Proses pengambilan data berlangsung selama 50 menit. Wawancara berlangsung di ruang observasi kecil sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta. P4 mengenakan pakaian yang rapi karena wawancara berlangsung ketika P4 selesai ujian. Selama wawancara berlangsung P4 terlihat sangat nyaman untuk bercerita. Saat wawancara berlangsung P4 membawa seorang teman karena merasa tidak nyaman untuk sendiri. P4 menangis ketika menceritakan pengalamanya dipukuli baik oleh ibu tiri ataupun mantan pacarnya. P4 juga banyak berkata kasar dan memaki ayah atau ibu tirinya yang telah banyak menyakitinya baik secara fisik maupun verbal. Partisipan kelima (P5) adalah perempuan berusia 23 tahun yang selama 23 tahun hidup tanpa ayah. Saat ini P5 sedang mendalami kuliah S1 Manajemen. P5 adalah anak ke-2 dari 2 bersaudara. Ayah dari P5 memutuskan untuk pergi saat ibu P5 mengandung P5. P5 bahkan tidak pernah sekalipun diberitahu siapa ayahnya baik oleh ibu ataupun kerabat. P5 banyak menjalin hubungan dengan laki-laki yang jauh lebih tua darinya karena P5 merasa nyaman dengan sosok yang jauh lebih tua. Berdasarkan pengalaman P5, P5

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 memiliki pandangan yang kurang baik pada laki-laki terutama yang sebaya dan mengagungkan laki-laki yang jauh lebih tua darinya. Wawancara dilaksanakan sebanyak dua kali yang pertama berlangsung sekitar 20 menit dan yang kedua sekitar 30 menit. Wawancara pertama dilaksanakan di kos P5. P5 terlihat tegang saat wawancara. P5 merasa bahwa ceritanya merupakan rahasia. Di pertemuan kedua P5 terlihat lebih santai dan nyaman saat menceritakan pengalamannya bersama dengan ibunya. P5 sempat menitikkan air mata ketika ia menceritakan perjuangan ibunya dan terlihat sedih ketika ia tidak tahu menahu tentang ayahnya. C. Hasil Penelitian Dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian, peneliti akan mencari tahu bagaimana cara partisipan perempuan dewasa awal yang mengalami fatherless karena perceraian mempersepsikan perkawinan. Persepsi terhadap perkawinan sendiri terbagi menjadi tiga komponen yakni pengetahuan tentang perkawinan, harapan terhadap perkawinan dan penilaian pada perkawinan (Calhoun & Acocella, 1990). Perkawinan sendiri mencakup 9 aspek, meliputi komunikasi, aktivitas bersama, pemecahan konflik, manajemen ekonomi, kehidupan agama, kehidupan seksual, keluarga dan teman, anak dan pengasuhan serta kesamaan peran (Olson & Fowers 1993). Untuk menjawab pertanyaan penelitian peneliti akan menjabarkan persepsi (pengetahuan, harapan, dan penilaian) partisipan pada sembilan aspek

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 perkawinan. Untuk memperkuat hasil, peneliti juga akan mengutip kutipan wawancara dari partisipan yang mendukung paparan hasil. 1. Aspek Komunikasi Aspek komunikasi dalam perkawinan mengacu pada kenyataan bahwa melalui perkawinan individu memiliki teman untuk berkomunikasi sehingga bisa memilki rasa nyaman dan rasa senang (Olson & Fowers 1993). Terhadap aspek komunikasi ada tiga komponen persepsi yang muncul dalam penelitian ini, yaitu penilaian, pengetahuan dan harapan. Komponen persepsi yang paling sering muncul pada aspek komunikasi adalah penilaian, yaitu apa yang dinilai, disimpulkan, diputuskan, ditafsirkan, dipilih dan diprasangkai oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) tentang komunikasi dalam perkawinan. Partisipan menilai bahwa laki-laki tidak dapat dipercaya. Hal itu dapat dilihat dari pendapat (P2), (P4), dan (P5): Laki-laki tidak dapat dipercaya “laki-laki itu omongannya gak bisa dipercaya tu lho dia bilang mau bersikap untuk tidak memihak tapi dianya malah tetep memihak si perempuan itu dan apa yang dikatain tu kayak gak sesuai dengan apa yang dilakukan.” (P2) “Ada jangan terlalu percaya sama laki-laki 100%.” (P5) “lah kita kan gak boleh terlalu percaya to sama laki-laki, ibuku aja ditinggal pas lagi hamil aku.” (P4) Komponen persepsi kedua yang paling sering muncul dalam aspek komunikasi adalah komponen pengetahuan, yaitu apa yang diketahui oleh partisipan berupa apa yang disadari, disebutkan, dan dijelaskan oleh partisipan

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 (Calhoun & Acocella, 1990). Tentang komunikasi dalam perkawinan menurut pengetahuan partisipan komunikasi tidak selalu terjadi dalam kehidupan perkawinan. Hal ini tampak dari ungkapan berikut: Tak selalu terjadi komunikasi dalam perkawinan “Yo karang aku pas ng omah pas aku lahir tekan seprene bapakku ra eneng dadi aku ratau ndelok bapak ibukku berkomunikasi ki kepiye ya. bapakku ki ratau ngomongke apapun walaupun kui hal penting koyo pernikahane anake dewe dee ra peduli” (P1) Komponen persepsi terakhir yang muncul adalah harapan, yaitu apa yang diharapkan atau yang diinginkan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990). Hal yang diinginkan oleh partisipan dalam komunikasi sebuah perkawinan adalah ingin dipahami. Hal tersebut terungkap melalui pendapat P1 berikut: Ingin dipahami Peneliti: “Jadi maunya ngobrol sama orang yang lebih ngemong?” P1: “Tepatnya luwih ngerteni sih” Dapat disimpulkan, terhadap aspek komunikasi dalam perkawinan anak perempuan fatherless karena perceraian memiliki penilaian, dan pengetahuan yang cenderung negatif, yaitu bahwa laki-laki tidak dapat dipercaya dan tak selalu terjadi komunikasi dalam perkawinan, sekaligus memiliki atau menaruh harapan yang tinggi untuk mendapatkan sesuatu yang positif, yaitu ingin dipahami oleh pasangan.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 2. Aspek Aktivitas Bersama Aspek aktivitas bersama dalam perkawinan mengacu pada kenyataan bahwa dalam sebuah perkawinan seorang lelaki atau suami dan seroang perempuan atau isteri akan memiliki teman atau pasangan untuk melakukan kegiatan bersama (Olson & Fowers 1993). Dalam aspek aktivitas bersama ada tiga komponen persepsi yang muncul dalam penelitian ini, yaitu pengetahuan, harapan, dan penilaian. Komponen persepsi yang paling sering muncul adalah aspek pengetahuan, yaitu apa yang disadari, disebutkan, dan dijelaskan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) tentang aktivitas bersama dalam perkawinan. Partisipan mengetahui bahwa partisipan dapat hidup sendiri tanpa laki-laki dan ketika hidup bersama partisipan tidak akan menjalin hubungan serius atau mengaggap bahwa laki-laki adalah sosok pelengkap saja dan harus bersikap dominan ketika beraktivitas bersama laki-laki. Hal tersebut terungkap melalui pendapat (P1), (P2) dan (P3) berikut: Bisa hidup sendiri “Ya gimana ya mbak aku ki bahkan mikir kalo misal gak nikah juga gakpapa lha wong urip dewe yo iso kok nyatane to kuliah-kuliah dewe ragat dewe wae iso kok ngopo ndadak mbek lanangan hoo to yo nek lanangane ngopeni ha nek ora” “menurutku ku perkawinan ki rak enek gunane ki lho koyo hayo ngopo wong urip dewe wae iso ngopo ndadak nikah” Tidak serius “Iya karena aku selalu end up terlalu cepat mempunyai seseorang dan terlalu cepat mengakhirinya aku bisa memulai sesuatu dengan cepat tapi aku gak bisa gimana sih mengakhirinya karena aku gak

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 enak makanya aku bilang kalo kamu mau mundur-mundur lah sekarang karena yang aku butuhin sekrang tu cuman aku gak bisa sendiri” Laki-laki sebagai pelengkap “ya perempuan kan pada akhirnya juga harus hidup sama laki-laki to jadi laki-laki sebagai pelengkap hidup aja.” Peneliti: “Pelengkap yang kaya gimana? P3: “Ya kalo mau kerja ada yang nganter, ada yang benerin rumah kalau rumah rusak jadi kan hemat to gak usah panggil tukang kalo rumah bocor hahaha” Dominan “aku sama kakaku yang cewek tu kalo pacaran tetep aja ada apa ya kayak apa sih kayak aku yang harus lebih dominan sama dia supaya aku nggak diinjak-injak sama dia jadi aku harus menunjukkan kekuasaanku kita yang ngatur kita yang apa” Komponen persepsi yang sering muncul selanjutnya adalah komponen harapan, yaitu apa yang diharapkan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990). Partisipan memiliki harapan yang begitu banyak yakni menginginkan kehadiran laki-laki akan tetapi tidak ingin ada sakramen perkawinan. Hal tersebut dapat terungkap melalui pendapat (P1), (P2) dan (P5) berikut: Ingin disayang “dia sayang sama mamanya karena kalo dia sayang sama mamanya dia pasti sayang sama aku” (P1) Ingin dibantu “Lebih karena dia melakukan apa gitu buat aku kayak doing a favor for me” (P2) Ingin ditemani “karena yang aku butuhin sekrang tu cuman aku gak bisa sendiri” (P2) Tidak berharap pada perkawinan “Aku nggak berharap ada sakramen perkawinan dan segala macemnya tu aku tidak berharap gitu” (P1)

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 Ingin bersama tetapi tidak ingin menikah “sebenernya kaya sekarang pun aku emang belum nikah cuman kan aku tinggalnya sama cowokku” tetapi “ya sampe sekarang tu aku takut buat nikah walaupun keluargaku tu udah nuntut untuk menikah aku juga kaya belum pengen gitu sih” (P4) Komponen persepsi yang sering muncul selanjutnya adalah komponen penilaian, yaitu apa yang dinilai, disimpulkan, diputuskan, ditafsirkan, dipilih dan diprasangkai oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) tentang aktivitas bersama. Partisipan memiliki nilai buruk pada lakilaki dan perkawinan. Hal tersebut dapat dilihat dari pendapat (P1) dan (P3) berikut: Nilai buruk pada laki-laki “itu menambahkan nilai bahwa laki-laki tu bajingan semua tu lho kayak ayahku ninggalin ibuku demi perempuan lain dan si laki-laki ini juga gitu lho ninggalin aku untuk cewek lain dan cewek lain ini sepupuku sendiri kayak gitu jadi kaya emmm itu keadaan yang paling tidak menyenangkan.” (P1) P3: “Ya nek laki-laki ki gak semuane baik. Peneliti: Gak semua baik gimana? P3: “Ya ada yang gak tanggung jawab to meninggalkan anak dan istri, akeh lah pokokmen, “ Tanya: akeh e ki opo wae? Haha “ya yang menghamili orang, terus pergi terus pergi dari rumah nikahin orang lain, ya akeh lah.” Nilai buruk pada perkawinan “menurtku ki perkawinan ki rak enek gunane ki lho koyo hayo ngopo wong urip dewe wae iso ngopo ndadak nikah” (P1) Dapat disimpulkan, terhadap aspek aktivitas bersama dalam perkawinan, perempuan fatherless karena perceraian memiliki pemahaman dan penilaian yang cenderung negatif, yaitu memandang lelaki tidak serius, dominan, buruk, sehingga memunculkan perasaan bisa hidup sendiri,

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 perkawinan buruk, tidak berharap pada perkawinan kalaupun menikah lelaki hanya dianggap sebagai pelengkap sebab sesungguhnya berharap ingin disayang, dibantu, dan ditemani lewat perkawinan. 3. Aspek Pemecahan Konflik Aspek pemecahan konflik dalam perkawinan mengacu pada kenyataan bahwa dalam sebuah perkawinan akan terjadi konflik dan harus belajar memecahkan beragam konflik kehidupan (Olson & Fowers 1993). Dalam aspek pemecahan konflik ada tiga komponen persepsi yang muncul yaitu penilaian, pengetahuan dan yang terakhir adalah harapan. Komponen persepsi yang paling sering muncul adalah komponen penilaian, yaitu apa yang disimpulkan, ditafsir, dipilih, dan diprasangkai oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) tentang pemecahan konflik. Partisipan menilai bahwa laki-laki buruk dalam menghadapi konflik. Hal tersebut tampak melalui ungkapan P1 dan P2: Laki-laki tidak dapat dipercaya “wah lah aku ki sangat tidak percaya sama laki-laki lho setelah punya masalah sama mantanku ki aku bener-bener berhati-hati banget sama yang namane laki-laki karena gak bisa diandalkan dan gak bertanggung jawab apalagi nek ada masalah paling ki mereka mung lari dan gak mau berurusan sama masalah” (P1) Tidak dimengerti “ya aku tau sih aku egois tapi egoisku tu nggak di mengertiin sama mereka apa sih alesannya ya gitu deh” (P2) Komponen persepsi kedua yang sering muncul dalam aspek ini adalah komponen pengetahuan, yaitu apa yang diketahui oleh partisipan berupa apa yang disadari, disebutkan, dan dijelaskan oleh partisipan (Calhoun

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 & Acocella, 1990) tentang pemecahan konflik. Pengetahuan partisipan pada aspek pemecahan konflik adalah partisipan lebih baik menarik diri dari masalah. Hal tersebut tampak dari ungkapan (P2) berikut: Menarik diri “aku lebih baik menjauhkan diri karena kadang aku melakukan sesuatu yang aku pikir benar tapi menurut mereka enggak kayak tetep dipandangnya salah” Komponen persepsi yang terakhir dalam aspek pemecahan konflik adalah komponen harapan. Harapan dalam penelitian ini adalah apa yang diharapkan oleh partisipan terhadap aspek pemecahan konflik (Calhoun & Acocella, 1990). Harapan partisipan terhadap pemecahan konflik adalah partisipan menginginkan pembelaan dari laki-laki akan tetapi merasa takut dalam menghadapi masalah bersama dengan laki-laki. Hal tersebut dapat ditunjukan dari ungkapan partisipan (P2) dan (P1): Ingin dibela “dia ngomong kamu gimana terus aku bilang kamu gak usah mikirin aku dulu, ini gimana nyelesaiinya terus dia bilang enggak aku pengen tau kamu gimana? Kayak mau tak temuin po maksudnya kayak dia mau membela aku dia maju paling depan mau tanya maksudnya kayak gimana itu sih hal yang paling sweet banget buat aku” (P2) Takut “Tapi niatanku untuk berkeluarga tuh berkurang karena kedua kakakku sih keluarganya juga agak bermasalah, Jadi aku takut tu lho untuk melangkah” (P1) Dapat disimpulkan, terhadap aspek pemecahan konflik dalam sebuah perkawinan, perempuan fatherless karena perceraian memiliki penilaian dan pengetahuan yang cenderung negatif, yaitu menilai bahwa lakilaki tidak dapat dipercaya dan merasa bahwa tidak dimengerti oleh laki-laki.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Sehingga memilih untuk menarik diri dari masalah dan takut. Walaupun tetap memiliki rasa ingin dibela oleh laki-laki. 4. Aspek Manajemen Ekonomi Aspek manajemen ekonomi dalam perkawinan mengacu pada kenyataan bahwa dalam sebuah perkawinan suami atau istri bisa belajar untuk mengatur keuangan bersama, membuat keputusan mengenai keuangan serta mengelola keuangan bersama (Olson & Fowers 1993). Dalam aspek manajemen ekonomi ada tiga komponen persepsi yang muncul yaitu: pengetahuan, harapan dan penilaian. Komponen persepsi yang paling sering muncul dalam aspek manajemen ekonomi adalah pengetahuan, yaitu apa yang diketahui oleh partisipan berupa apa yang disadari, disebutkan, dan dijelaskan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990). Hal yang diektahui dan dialami oleh partisipan adalah kehadiran anak menyebabkan kesulitan ekonomi keluarga. Hal itu dapat dilihat dari pendapat P2, berikut: Kehadiran anak menyulitkan ekonomi “terus sekarang aku dibiayain dia karena kan papaku sekarang anaknya tujuh jadi kan berat” “ya ribet aja punya anak harus masak harus beli apa” Komponen persepsi yang paling sering muncul selanjutnya dalam aspek manajemen ekonomi adalah harapan, yaitu apa yang diharapkan oleh partisipan dalam manajemen ekonomi. Partisipan memiliki harapan untuk

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 memiliki pasangan yang memiliki usia matang karena partisipan ingin mapan secara ekonomi. Hal tersebut tampak dari ungkapan P2, berikut: Ingin pasangan yang matang usianya Peneliti: “Pengennya menikah sama orang yang kaya gimana?” P2: “Ya yang jauh lebih tua 40 tahunan lah kan udah mapan secara ekonomi juga.” Peneliti: “Kenapa?” P2: “Ya enak kan bisa biayain aku buat jalan-jalan” Komponen persepsi yang terakhir adalah penilaian, yaitu apa yang disimpulkan, ditafsirkan, dipilih dan diprasangkai oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990). Partisipan memiliki penilaian bahwa laki-laki tidak bertanggung jawab dalam hal keuangan. Hal tersebut dapat ditunjukkan melalui pendapat P2, berikut: Ayah tidak bertanggung jawab “Sampe ternyata papa tu pake kartu kredit terus utangnya banyak banget rumahnya nggak bisa dilanjutin rumah yang sana udah gak bisa dipakai akhirnya aku dan mamaku tinggal di rumah yang belum jadi itu dilantai 2, yang belum ada pintu belum ada apanya pintu tu cuma plastik, kita lemari baju pake kardus semua masih pake semen, mandi cuma ada ember, buat tidur kita kasur 3 dijadiin 1 dan papa gak pernah pulang mungkin papa tu gak betah tinggal di tempat berdebu. Papa nggak pernah pulang besoknya gak pernah pulang dan ternyata papaku tu pulang minta pisah ya mungkin gak kuat kali hidup di rumah bobrok gitu” Dapat disimpulkan, terhadap aspek manajemen keuangan, perempuan fatherless karena perceraian memiliki pengetahuan dan penilaian yang cenderung negatif, yaitu lelaki tidak bertanggung jawab dalam keuangan dan kehadiran anak menyulitkan ekonomi. Hal tersebut menyebabkan perempuan fatherless memiliki harapan untuk menikahi sosok yang jauh lebih

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 tua karena ingin sosok yang telah mapan secara ekonomi agar dapat membiayainya. 5. Aspek Kehidupan Agama Aspek kehidupan agama dalam perkawinan mengacu pada kenyataan bahwa dalam sebuah perkawinan individu akan memiliki pasangan untuk menjalankan ibadah bersama serta memiliki keyakinan beragama dan pelaksanaanya dalam kehidupan perkawinan (Olson & Fowers 1993). Dalam aspek kehidupan agama terdapat 3 komponen persepsi yang muncul yakni penilaian, pengetahuan, dan harapan. Komponen persepsi yang paling sering muncul adalah penilaian, yaitu apa yang disimpulkan, ditafsir, dipilih dan diprasangkai oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990). Partisipan menilai bahwa Tuhan tidak bekerja dalam kehidupan perkawinan. hal tersebut tampak dari percakapan berikut: Tuhan tidak bekerja dalam kehidupan perkawinan Peneliti: “kalo tentang agama nih kamu percaya gak adanya peran agama dalam sebuah perkawinan?” P2: “mehhhhh enggak.” Peneliti: “Why?” P2: “Karena aku liat mamaku nangis-nangis berdoa tiap hari tiap malem 24 jam nggak berhentipun ya aku nggak tau ya mungkin ya nggak tau sih cuma aku belum melihat kadang masih meragukan sampe detik ini. Tuhan karena nggak nolong mamaku kayak mamaku tu 10 tahun lho masak Tuhan nggak ngasih jawaban selama 10 tahun.” Komponen persepsi selanjutnya adalah pengetahuan, yaitu apa yang diketahui oleh partisipan berupa apa yang disadari, disebutkan, dan dijelaskan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) tentang kehidupan agama.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Partisipan mengetahui bahwa agama adalah alasan orang untuk menikah. Hal tersebut dapat dilihat dari pernyataan P3 dan P1: Agama adalah alasan orang menikah Peneliti: “kalau ditanya tentang tujuan orang menikah apa ya mbak?” (P3): “menyempurnakan agama yang pertama, buat ibadah” “Karena pernikahan itu ibadah kan” (P1) Komponen persepsi yang terakhir adalah harapan. yaitu apa yang diharap-harapkan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) dalam kehidupan beragama dalam perkawinan. Pada aspek kehidupan beragama partisipan memiliki rasa takut gagal dalam berkehidupan beragama dengan pasangan. Hal tersebut tampak dalam ungkapan P1, berikut: Takut gagal dalam perkawinan “Aku nggak berharap ada sakramen perkawinan dan segala macemnya tu aku tidak berharap seperti itu. Maksudnya daripada aku melakukan misalnya terus hubungan keluargaku gagal gitu maksudnya kehidupan rumah tangga apa yang harus aku pertanggung jawabkan pada Tuhan. Bahkan aku sempat berpikir yaudahlah aku yang penting punya anak tapi gak peduli punya suami tu lho” (P1) Dapat disimpulkan, terhadap aspek kehidupan agama perempuan fatherless karena perceraian memiliki pengetahuan, penilaian dan harapan yang cenderung negatif, yaitu memandang Tuhan tidak bekerja dalam perkawinan, dan menjadikan agama sebagai alasan untuk menikah sehingga takut gagal dalam perkawinan karena tak tahu harus mempertanggung jawabkan apa pada Tuhan jika perkawinannya gagal.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 6. Aspek Kehidupan Seksual Aspek kehidupan seksual dalam perkawinan mengacu pada kenyataan bahwa melalui perkawinan individu memiliki pasangan untuk menyalurkan hasrat seksual (Olson & Fowers 1993). Dalam aspek kehidupan perkawinan hanya terdapat satu komponen persepsi yang muncul dalam penelitian ini yakni komponen pengetahuan, yaitu apa yang disadari, disebutkan, dan dijelaskan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) tentang kehidupan seksual. Partisipan menjelaskan bahwa perkawinan terjadi karena kehamilan yang disebabkan oleh nafsu sehingga pernikahan terjadi karena kehamilan. Hal tersebut tampak dari ungkapan P1 dan P5, berikut: Alasan orang menikah adalah napsu Peneliti: “hal yang mendorong orang untuk menikah apa?” (P1): “Emmm mungkin napsu haha goblok banget ya tapi tenanan lho karena kedua kakaku nikah karena napsu karena mereka duaduanya hamil diluar nikah. Pokoknya karena napsu” (P5) “aku sih bingung apa yang membedakan cinta sama napsu jadi menurutku tu ya umur mungkin napsu kalo cinta gak deh menurutku” Dapat disimpulkan, terhadap aspek kehidupan seksual, yang diketahui oleh perempuan fatherless karena perceraian tentang kehidupan seksual cenderung negatif, yaitu napsu seksual yang menyebabkan kehamilan adalah alasan orang untuk menikah. 7. Aspek Keluarga dan Teman Aspek keluarga dan teman dalam kehidupan perkawinan mengacu pada kenyataan bahwa dalam sebuah perkawinan masing-masing pasangan

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 membawa keluarga dan lingkungan teman sehingga memperluas jaringan pergaulan (Olson & Fowers 1993). Dalam aspek keluarga dan teman terdapat dua komponen persepsi yang muncul yaitu harapan dan pengetahuan. Komponen persepsi yang paling sering muncul adalah harapan, yaitu apa yang diharap-harapkan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) dalam hubungan keluarga dan teman. Partisipan memiliki harapan untuk memiliki pasangan yang menerima dirinya dan keluarganya. Hal tersebut dapat dilihat dari pendapat P3: Ingin pasangan yang menerima dirinya dan keluarganya P3: “yo pertama baik dia bisa nerima aku sama keluargaku.” Peneliti: “Emang kenapa kok harus bisa nerima keluarga?” P3: “Iya soalnya kalo gak bisa nerima sama aja tetep perang dunia itu nanti, aku mihak mana coba aku mihak suami apa ibu aku lha bingung kan. jadi harus bisa nerima” Komponen persepsi yang selanjutnya adalah pengetahuan, yaitu apa yang diketahui oleh partisipan berupa apa yang disadari, disebutkan, dan dijelaskan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990). Partisipan mengetahui dan memahami bahwa pasangan partisipan ditentukan oleh ibu partisipan. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapkan P3: Pasangan dipilihkan oleh keluarga Peneliti: “dulu pacaran pertama putus kenapa mbak? P3: “kenapa ya karna ibu ga suka itu, emm udah lama sih sebenernya pacaran terus tak bawa kerumah ibu gak suka njuk yaudah kita putus gitu, kita berdua gak ada pertengkaran yang gimana gitu. Yo sedih sih sedih namane juga deket trus sama ibuk gak boleh sama dia aku di bilang antara milih pacarku apa ibuku yawes to aku ya milih ibuku. Anak yang baik manut sama orang tua,”

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Dapat disimpulkan, perempuan fatherless karena perceraian memiliki pengetahuan yang cenderung negatif dalam aspek keluarga dan teman, yaitu pasangan dipilihkan atau ditentukan oleh ibu atau keluarga menyebabkan partisipan memiliki harapan yang tinggi untuk diterima baik dirinya ataupun keluarganya oleh pasangan. 8. Aspek Anak dan Pengasuhan Aspek anak dan pengasuhan dalam perkawinan mengacu pada kenyataan bahwa melalui perkawinan pasangan suami istri akan memiliki anak dan harus belajar mengasuh anak bersama dengan pasangan (Olson & Fowers 1993). Dalam aspek anak dan pengasuhan terdapat tiga komponen persepsi yang muncul dalam penelitian ini yaitu: penilaian, pengetahuan dan harapan. Komponen persepsi yang paling sering muncul adalah pengetahuan, yaitu apa yang diketahui oleh partisipan berupa apa yang disadari, disebutkan, dan dijelaskan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) tentang anak dan pengasuhan. Partisipan mengetahui bahwa memiliki anak bukanlah tujuan utama dari perkawinan. Hal tersebut terungkap melalui pendapat P1 berikut: Memiliki anak bukan tujuan dari perkawinan “menurutku punya anak bukan tujuan utama sih dari pernikahan. Soalnya kehidupan rumah tangga i bukan cuman sekedar punya anak tapi gimana aku dan patnerku bisa saling mengembangkan terus pun nek misalkan kita sama-sama suka berkarir dan punya keputusan buat gak punya anak menururku gak masalah sih asalkan dari kita juga sepakat dan misalkan ndelalah kita sama sama anak terakhir dan kita sepakat untuk membaktikan hidup kami untuk mengasuh orangtua jadi ya gak masalah.”

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Komponen persepsi yang paling sering muncul selanjutnya adalah penilaian, yaitu apa yang disimpulkan, ditafsir, dipilih dan diprasangkai oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) mengenai anak dan pengasuhan. Partisipan menilai bahwa kedua orangtuanya gagal dalam membesarkan anak. Hal tersebut terungkap melalui pernyataan partisipan P1: Orang tua gagal dalam membesarkan anak “Pernikahan mereka tu pernikahan yang gagal sih anak-anaknya gak ada yang bener semua, kakak-kakaku lho hamil di luar nikah semua, yang aku pandang mereka kurang kasih sayang juga dari lawan jenis dan mungkin ketika mereka mendapatkan kasih sayang dari luar mereka lebih mudah terbuai. Kakak-kakakku juga gagal kehidupan rumah tangganya, mereka gagal sampe ke pola pengasuhannya terhadap kami.” Komponen persepsi yang terakhir adalah harapan, yaitu apa yang diharap-harapkan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) tentang anak dan pengasuhan. Partisipan memiliki harapan untuk menunda memiliki anak. Hal tersebut sesuai terungkap melalui pendapat P2, berikut: Ingin menunda memiliki anak “ya kalo pengennya tu yaudah aku pengennya ditunda dulu punya anak, pengennya rencananya maksudnya aku pengen ya aku pengen jadi diriku dulu terus ya gatau bayanganku tu cuma mentok sampe jalan-jalan aja habis aku gatau” Dapat disimpulkan, terhadap aspek anak dan pengasuhan dalam perkawinan perempuan fatherless karena perceraian memiliki pengetahuan, penilaian dan harapan yang cenderung negatif, yaitu takut gagal dalam

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 membesarkan anak, sehingga mengakibatkan perempuan fatherless berpikir bahwa memiliki anak bukan tujuan dari perkawinan dan kalaupun ingin memiliki anak ingin ditunda terlebih dahulu. 9. Aspek Kesamaan Peran Aspek kesamaan peran dalam perkawinan mengacu pada kenyataan bahwa melalui perkawinan individu memiliki teman atau pasangan untuk belajar berbagi peran atau tugas bersama (Olson & Fowers 1993). Dalam aspek kesamaan peran terdapat tiga komponen persepsi yang muncul dalam penelitiana ini yaitu penilaian, dan pengetahuan. Komponen persepsi yang paling sering muncul adalah penilaian, yaitu apa yang disimpulkan, ditafsir, dipilih dan diprasangkai oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) tentang kesamaan peran. Partisipan menilai bahwa perempuan bukanlah tulang punggung. Hal tersebut terungkap melalui pendapat P3 berikut: Ibu/ perempuan bukanlah tulang punggung “Yo kan kasian masak seorang ibu kan bukan tulang punggung ya sebenernya tapi ibu nyari nafkah sendiri buat nyekolahin aku tu luar biasa.” Komponen persepsi yang sering muncul selanjutnya adalah pengetahuan, yaitu wujud lahiriah, perilaku, masa lalu apa yang disadari, disebutkan dan dijelaskan oleh partisipan (Calhoun & Acocella, 1990) tentang kesamaan peran. Yang partisipan ketahui adalah perempuan tidak perlu bekerja. Hal tersebut terungkap melalui pendapat P2 berikut:

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 ibu tidak boleh bekerja Peneliti: “ooo jadi papamu polisi ya? kalo mamamu kerja apa?” P2: “Ibu rumah tangga gak boleh kerja soalnya.” “dulu tu mamaku tu kaya pembantunya papaku tapi sekarang kayak apa-apa maunya dilayani gitu” Dapat disimpulkan, terhadap aspek kesamaan peran dalam perkawinan, perempuan fatherless karena perceraian memiliki pengetahuan dan penilaian yang cenderung menguntungkan dirinya atau konvensional, yaitu memandang perempuan bukanlah tulang punggung keluarga sehingga perempuan tidak perlu bekerja. Berikut dalam tabel 4 akan dipaparkan ringkasan hasil wawancara terhadap perkawinan pada anak perempuan dengan kondisi fatherless karena perceraian.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 Tabel 4. Hasil wawancara persepsi perempuan fatherless karena perceraian Komponen PENGETAHUAN HARAPAN PENILAIAN Ingin Tidak percaya dimengerti P2 P1, P2, P4, P5 Aspek Komunikasi Tidak pernah P1 Aktivitas Bisa hidup sendiri P1, Ingin disayang Nilai buruk pada Bersama tidak serius P2, laki- P1 dibela P2, laki-laki dan laki hanya sebagai dibantu P3 perkawinan P1 pelengkap P3, bersikap Tidak berharap dominan P2 pada perkawinan P1,P4 Pemecahan Menarik diri dari Ingin dibela P2, Tidak percaya P1, Konflik masalah P2 takut P1 merasa tidak dimengerti P2 Manajemen Kehadiran anak Menikah Laki-laki sosok Ekonomi menyulitkan ekonomi dengan sosok yang tidak P2 yang mapan P1, bertanggung Kehidupan Tujan menikah adalah Agama agama P1,P3 P2, P5 jawab P1,P2 Takut gagal P1 Tuhan tidak bekerja dalam kehidupan perkawinan P2 Kehidupan Tujuan menikah adalah Seksual napsu P1, P5 Keluarga dan Ortu yang memilihkan Ingin diterima, Teman pasangan P3 P3

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Komponen PENGETAHUAN HARAPAN PENILAIAN Menunda Memiliki anak punya anak P2 bukan tujuan Takut gagal P4 perkawinan P1 Tidak ingin Ibu seharusnya memiliki bukan tulang pasangan yang punggung P3 Aspek Anak dan Tidak perlu P1, P4 Pengasuhan Kesamaan Peran Ibu tidak bekerja P2 tidak bekerja P1

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 D. Pembahasan Tujuan dari penelitian ini ingin mencari tahu persepsi perempuan dengan kondisi fatherless karena perceraian terhadap perkawinan. Persepsi terhadap perkawinan adalah bagaimana anak perempuan memandang perkawinan. Perkawinan sendiri meliputi sejumlah aspek pengalaman yakni komunikasi, aktivitas bersama, pemecahan konflik, manajemen konflik, kehidupan agama, kehidupan seksual, keluarga dan teman, anak-anak dan pengasuhan, dan kesamaan peran yang dirinci oleh Olson dan Fowers (1993). Secara garis besar hasil dari penelitian menunjukkan perempuan dengan kondisi fatherless karena perceraian cenderung memiliki persepsi yang negatif terhadap perkawinan. Mereka menunjukkan pengetahuan dan penilaian yang cenderung negatif pada perkawinan dan harapan yang terbagi antara negatif dan positif. Berikut pembahasan hasil penelitian per komponen persepsi. Komponen Pengetahuan Dalam komponen pengetahuan, kesembilan aspek dari perkawinan menurut Olson dan Fowers (1993) muncul semua, yaitu komunikasi, aktivitas bersama, pemecahan konflik, manajemen ekonomi, kehidupan agama, kehidupan seksual, keluarga dan teman, anak dan pengasuhan, dan kesamaan peran. Secara umum, perempuan fatherless karena perceraian memiliki pengetahuan yang cenderung negatif pada kehidupan perkawinan dan laki-laki. Mereka juga memiliki pengetahuan yang salah tentang tujuan orang menikah. Pengetahuan buruk tersebut diduga terkait dengan latar belakang kehidupan keluarga mereka.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Dari sembilan aspek perkawinan, ada empat aspek perkawinan yang menonjol dalam komponen pengetahuan. Dalam aspek aktivitas bersama perempuan fatherless karena perceraian mengetahui bahwa sebagai perempuan bisa hidup sendiri, tidak perlu menjalin hubungan dengan laki-laki. Ketika menjalin hubungan dengan laki-laki pun harus bersikap dominan. Dalam aspek pemecahan konflik perempuan fatherless karena perceraian memilih menarik diri dari masalah. Dalam aspek manajemen ekonomi perempuan fatherless karena perceraian mengetahui bahwa kehadiran anak adalah penyebab kesulitan ekonomi, karena dalam aspek kesamaan peran mereka memandang bahwa ibu atau perempuan tidak perlu bekerja. Tentang tujuan perkawinan, mereka memandang bahwa tujuan orang menikah adalah: (1) mencukupi kebutuhan ekonomi, maka harus menikah dengan sosok yang jauh lebih tua dan mapan secara ekonomi, (2) menuruti keingian orangtua, menikahi sosok yang dipilih oleh ibu, (3) memenuhi ajaran agama, dan (4) nafsu yang menyebabkan kehamilan sebelum menikah, sehingga harus menikah. Pengetahuan yang cenderung negatif tersebut dimiliki oleh perempuan fatherless diduga karena menyaksikan perceraian yang disebabkan oleh perselingkuhan yang dilakukan oleh ayahnya. Pengalaman memiliki ayah yang berselingkuh diduga menjadi penyebab utama perempuan fatherless memiliki pengetahuan yang cenderung negatif pada perkawinan dan pada laki-laki. Pengetahuan yang salah tentang tujuan perkawinan diduga diperoleh dari latar belakang partisipan yang mengalami dan menyaksikan orangtua yang gagal dalam membina hubungan perkawinan.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Pengetahuan yang cenderung negatif pada perkawinan yang diduga akibat perselingkuhan ayah ternyata sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Grollman (1969) bahwa ketika anak korban perceraian melihat hubungan laki-laki dan perempuan pandangannya akan selalu dipengaruhi dengan apa yang ia lihat pada ayah dan ibunya, dan selalu menganggap bahwa karakter yang sama mungkin terdapat pada setiap pria. Di sisi lain ketika perempuan fatherless memiliki pengetahuan yang cenderung negatif akibat menyaksikan kegagalan orang tua dalam membina bahtera rumah tangga, ternyata tujuan tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Knox (1975) tentang alasan yang salah untuk menikah, yakni: physical attractiveness atau ketertarikan hanya secara fisik, economic security atau ingin memiliki rasa aman dalam ekonomi, pressure from parents atau tekanan dari orangtua, peers atau teman sebaya, patners atau pasangan, or pregnancy atau kehamilan yang terjadi sebelum pernikahan, escape atau melarikan diri, rebellion atau pemberontakan dari suatu hal, or rescue atau menolong seseorang. Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang perkawinan yang dimiliki anak perempuan fatherless karena perceraian cenderung negatif dan dalam pengetahuannya yang cenderung negatif itu terdapat tujuan yang salah juga untuk menikah. Latar belakang pengalaman perempuan fatherless karena perceraian seperti perselingkuhan ayah dan hidup tanpa ayah semenjak usia dini diduga menjadi penyebab utama perempuan fatherless memiliki pengetahuan yang cenderung negatif pada perkawinan maupun laki-laki.

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Komponen Harapan Dari tiga komponen persepsi, komponen harapan merupakan komponen yang paling sering muncul dari jawaban partisipan. Dalam komponen harapan terbentuk dua jenis harapan, yakni harapan positif pada perkawinan dan harapan negatif yang berisi ketakutan-ketakutan atau pesimisme pada perkawinan. Dua jenis harapan yang berbeda itu diduga disebabkan karena latar belakang penyebab keadaan fatherless mereka yang terbagi menjadi dua kelompok. Dalam komponen harapan terdapat lima aspek perkawinan yang menonjol dan menunjukkan harapan yang positif perempuan fatherless karena perceraian dalam aspek aktivitas bersama adalah mereka ingin disayang, ingin dilindungi, ingin ditemani dan ingin dibantu. Dalam aspek komunikasi perempuan fatherless ingin dimengerti. Dalam aspek pemecahan konflik perempuan fatherless ingin dibela ketika mendapatkan masalah. Dalam aspek kesamaan peran perempuan fatherless menginginkan untuk memiliki pasangan yang bekerja karena dari aspek manajemen ekonomi, perempuan fatherless menginginkan sosok laki-laki yang mapan secara ekonomi. Dari semua keinginan positif dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa perempuan fatherless menginginkan adanya sosok dan peran laki-laki dalam hidupnya, bahkan memiliki harapan tinggi dan positif ketika lakilaki hadir dalam hidupnya. Dalam komponen harapan terdapat empat aspek perkawinan yang menonjol dan menunjukan harapan negatif perempuan fatherless terhadap perkawinan berisi ketakutan-ketakutan dalam menjalin hubungan laki-laki. Dalam aspek aktivitas bersama perempuan fatherless tidak berharap pada perkawinan, dan ingin hidup

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 bersama tetapi tidak ingin menikah. Dalam aspek pemecahan konflik perempuan fatherless merasa takut untuk melangkah maju dan menjalin hubungan erat dengan lawan jenis ketika mengingat pengalaman keluarga yang memiliki banyak masalah. Dalam aspek kehidupan agama perempuan fatherless memiliki rasa takut gagal dalam perkawinan dan tidak tahu apa yang harus dipertanggung jawabkan pada Tuhan ketika perkawinan itu gagal, bahkan merasa lebih baik jika memiliki anak tanpa pasangan atau laki-laki. Akan tetapi dalam aspek anak dan pengasuhan perempuan fatherless menginginkan untuk menunda memiliki anak. Dari paparan diatas, terdapat dua jenis harapan yang berbada oleh perempuan fatherless karena perceraian. Perbedaan harapan tersebut diduga terkait pengalaman masa lalu subjek. P1, P3, dan P5 tidak mengenal ayah sejak lahir, sehingga memiliki harapan positif terhadap kehadiran lelaki sebagai pengganti sosok ayah. Sebaliknya Hal itu diduga karena penyebab fatherless terbagi menjadi dua kelompok, yang pertama tidak memiliki ayah sejak ia lahir, sehingga tidak memiliki pengalaman bersama sosok ayah sebagai laki-laki seperti P1, P3, dan P5 mereka memiliki harapan yang positif dan tinggi pada laki-laki sebagai pengganti sosok ayah. Sebaliknya P2 dan P4 yang memiliki ayah yang selingkuh mereka memiliki harapan negatif akibat prilaku ayah pada keluarganya seperti selingkuh sebelum bercerai. Pengalamannya bersama dengan ayah diduga dapat memberikan harapan negatif berupa ketakutan-ketakutan tersendiri bagi perempuan fatherless bahkan tidak ingin menjalin hubungan dengan laki-laki karena takut laki-laki tersebut akan melakukan hal seperti yang dilakukan oleh ayahnya.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Harapan positif tersebut sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Hart (dalam Yuniardi, 2006). Harapan-harapan tersebut sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh ayah sebagai sosok laki-laki dalam hidupnya, dimana ayah sebenarnya memiliki peran penting seperti menolong, memperhatikan, dan membantu anak jika ada masalah. Sedangkan harapan negatif dan dugaan latar belakang pengalaman tersebut sebagai pemicu munculnya harapan negatif tersebut ternyata sesuai dengan rangkuman penelitian yang ditulis oleh Dally (2007) bahwa anak yang tidak memiliki ayah akan memiliki rasa kecewa yang tinggi pada ayah maupun laki-laki. Komponen Penilaian Dalam komponen penilaian hanya muncul tujuh dari sembilan aspek perkawinan menurut Olson dan Fowers (1993). Tujuh aspek yang muncul dalam komponen penilaian adalah komunikasi, aktivitas bersama, pemecahan konflik, manajemen ekonomi, kehidupan agama, anak dan pengasuhan, serta kesamaan peran. Partisipan menilai ketujuh aspek tersebut dengan cenderung negatif, dan diduga penilaian negatif tersebut terkait dengan latar belakang kehidupan keluarga mereka. Dalam aspek komunikasi perempuan fatherless karena perceraian menilai bahwa laki-laki tidak dapat dipercaya. Dalam aspek aktivitas bersama perempuan fatherless menilai bahwa laki-laki itu buruk dan perkawinan juga hal yang buruk. Dalam aspek pemecahan masalah perempuan fatherless menilai bahwa laki-laki tidak dapat dipercaya dalam menyelesaikan masalah dan laki-laki tidak mengerti

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 perempuan. Dalam aspek manajamen ekonomi perempuan fatherless menilai bahwa laki-laki tidak bertanggung jawab. Dalam aspek kehidupan agama perempuan fatherless karena perceraian menilai bahwa Tuhan tidak bekerja dalam kehidupan perkawinan. Dalam aspek anak dan pengasuhan perempuan fatherless karena percraian menilai bahwa orangtua yang bercerai gagal dalam mendidik anak. Dalam aspek kesamaan peran perempuan fatherless karena perceraian menilai bahwa perempuan bukanlah tulang punggung keluarga. Penilaian perempuan fatherless karena perceraian terhadap perkawinan cenderung buruk. Penilaian yang buruk terhadap perkawinan diduga dibentuk dari latar belakang partisipan. Penilaian yang buruk ternyata banyak muncul dari partisipan yang ayahnya selingkuh, tidak bertanggung jawab atas keluarga dan tidak pernah hadir selama hidupnya. Sehingga perceraian yang disebabkan karena perselingkuhan ayah, dan perceraian yang menyebabkan ayah tidak pernah hadir dalam hidup anak perempuan diduga menjadi penyebab utama perempuan menilai buruk kehidupan perkawinan dan laki-laki. Penilaian tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dally (2007), Sundari (2013), Blankenhorn (1996), bahwa anak dengan keadaan fatherless akan mengalami kegagalan dalam berhubungan intim dengan lawan jenis. Ternyata nilai buruk bahwa laki-laki tidak dapat dipercaya, tidak bertanggung jawab, tidak mengerti keadaan perempuan dimiliki oleh perempuan dengan latar belakang dimana ayahnya melakukan perselingkuhan, dan tidak bertanggung jawab atas dirinya setelah bercerai.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa penilaian perempuan fatherless karena perceraian terhadap perkawinan cenderung negatif. Latar belakang perempuan fatherless karena perceraian seperti perselingkuhan ayah sebelum bercerai, sikap neglct atau lalai, mengabaikan anak dan keluarga yang dimiliki ayah diduga menjadi pemicu mereka memiliki penilaian yang cenderung negatif pada perkawinan maupun laki-laki.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai persepsi perempuan fatherless karena perceraian terhadap perkawinan, yaitu: 1. Secara umum, perempuan fatherless karena perceraian memiliki persepsi yang cenderung negatif pada perkawinan. 2. Pengetahuan dan penilaian perempuan fatherless karena perceraian cenderung negatif, khususnya terkait aspek komunikasi, aktivitas bersama, pemecahan konflik, manajemen ekonomi, dan kesamaan peran. 3. Perempuan fatherless juga cenderung memiliki pendapat yang salah tentang tujuan untuk menikah, yakni menikah untuk mencukupi kebutuhan ekonomi, tekanan dari orangtua, memenuhi ajaran agama, dan nafsu yang menyebabkan kehamilan sebelum menikah sehingga harus menikah. 4. Pengetahuan dan penilaian negatif terhadap perkawinan tersebut diduga bersumber dari pengalaman lalu dalam keluarga mereka, terbukti dari perbedaan dalam harapan mereka terhadap perkawinan: a. Perempuan fatherless yang tidak pernah memiliki ayah sejak lahir cenderung memiliki harapan yang positif terhadap perkawinan 68

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 khususnya terkait aspek aktivitas bersama, komunikasi, pemecahan konflik, kesamaan peran, dan manajemen ekonomi b. Perempuan fatherless yang mengalami memiliki ayah yang selingkuh dan akhirnya bercerai dengan ibunya cenderung memiliki harapan yang negatif terhadap perkawinan khususnya terkait aspek aktivitas bersama, pemecahan konflik, kehidupan agama, serta anak dan pengasuhan B. Keterbatasan Penelitian 1. Peneliti merasa tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan rapport. 2. Peneliti kewalahan dengan beberapa partisipan penelitian yang menangis, sehingga pada beberapa responden peneliti menghentikkan proses wawancara dan mencari waktu yang tepat di lain hari. 3. Partisipan memiliki latar belakang pengalaman fatherless yang berbedabeda. C. Saran 1. Bagi peneliti selanjutnya a. Partisipan dalam penelitian ini adalah perempuan fatherless karena perceraian yang hidup bersama dengan ibu atau dibawah naungan ibu. Untuk memperkaya hasil penelitian ini, baik jika penelitian selanjutnya dilakukan pada perempuan fatherless yang tidak hidup dibawah naungan ibu (seperti kakak, atau tante).

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 b. Peneliti selanjutnya bisa mengembangkan lagi penelitian tentang persepsi terhadap perkawinan dengan keadaan-keadaan tertentu misalkan persepsi perkawinan pada mereka yang sudah berada dalam usia dewasa akhir tetapi belum menikah. 2. Bagi Praktisi Psikologi a. Bagi praktisi psikologi, agar lebih dapat membuka wawasan baru tentang anak perempuan fatherless karena perceraian dan lebih peka terhadap kehidupan anak-anak korban perceraian, dan mereka yang kehilangan sosok ayah atau fatherless bahwa mereka mengalami pengalaman atau masa berat juga ketika menginjak usia dewasa awal. b. Bagi praktisi psikologi dapat melakukan pendampingan terutama pada anak yang mengalami fatherless ataupun perceraian. Pendampingan untuk mengubah pola pikir bahwa tidak semua lakilaki atau tidak semua perkawinan itu merupakan hal yang buruk 3. Bagi Ibu Bagi ibu yang mengalami masa sulit dengan mantan suaminya sebisa mungkin tidak menambah nilai buruk tentang laki-laki pada anak perempuannya, karena hal tersebut dapat termanifest dalam pikiran anak dan membuat persepsi semakin buruk terhadap laki-laki.

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 DAFTAR ACUAN Allen, S., & Daly, K. (2007). The Effects of Father Involvement: An Updated Research Summary of the Evidence. Badan Pusat Statistik. (2016, Mei 12). Retrieved from Presentase Rumah Tangga menurut daerah tempat tinggal, kelompok umur, jenis kelamin, kepala rumah tangga dan status perkawinan 2009-2013: bps.go.id Blankenhorn, D. (1996). The First Man in Every Girl's Life. 8 (9). Boothroyd, L. G., & Perret, D. I. (2008). Father Absence, Parent- Daughter Relationship and Patner Preferences. Journal of Evolutionary Psychology, 6 (3), 187-205. Calhoun, J., & Acocella, J. (1990). Psikologi Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan, Edisi ke Tiga. Semarang: IKIP Semarang Press. Catwright, C. (2006). You Want to Know How it Affected Me? Young Adults Perceptions of The Impact of Parental Divorce. Journal of Divorce and Remarriage, 44 (3-4), 124-143. Demo, D. H., & Acock, A. C. (1988). The Impact of Divorce on Childern. Journal of Marriage and Family, 50 (3), 619-648. Duvall, E. M., & Mller, B. C. (1985). Marriage and Family Development. New York: Harper & Row. Fowers, B. J., & Olson, D. H. (1993). ENRICH Martial Satisfaction Scale: A Brief Research and Clinical Tool. Journal of Family Psychology, 2, 176-185. Ghufron, M. N., & Walgito, B. (2003). Hubungan Kontrol Diri dan Persepsi Remaja Terhadap Penerapan Disiplin Orangtua dengan Prokrastinasi Akademik. Golombok, S., Tasher, F., & Murray, C. (1997). Childern Raised in Fatherless Families from Infancy: Family Relationship & Socioemotional Development of Childern of Lesbian and Single Heteroseksual Mothers. Journal of Child Psychology and Psychiatry , 783-791. Grollman, E. (1996). Explaining Divorce to Children. Boston: Beacon. Guardia, A. C., Nelson, J. A., & Lertora, I. M. (2014). The Impact of Father Absence on Daughter Sexual Development and Behaviors: Implications for Professional Counselors. The Family Journal: Counseling and Therapy for Couples and Families, 1-8. Hurlock, E. B. (1999). Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Jumlah perceraian di Indonesia. (2018, May 12). Retrieved from lokadata: https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/jumlah-perceraian-di-indonesia2014-2016-1510649052 Knox, D. (1980). Trends in Marriage and Family: the 1980's. Family Relations, 145150. Krampe, E., & Fairweather, P. (1993). Father Presence and Family Formation. Journal of Family Issues, 14 (4), 572-591. Krohn, F., & Bogan, Z. (2001). The Effects Absent Fathers have on Female Development and Collage Attendance. Collage Student Journal, 35 (4). Larsen, R., & Buss, D. (2002). Personality Psychology: Domains of Knowledge About Human Nature. New York: McGraw- Hill. Mappiare, A. (1983). Psikologi Orang Dewasa. Surabaya: Usaha Nasional. Marpaung, W. (2016). Persepsi Pernikahan bagi Dewasa Dini dari Keluarga Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). McCallum, F., & Golombok, S. (2004). Childern Raised in Fatherless Families from Infancy: A Follow Up of Childern of Lesbian and Single Heteroseksual Mother at Early Asdolescence. Journal of Child Psychology and Psychiatri, 45 (8), 1407-1419. Milne, A. M., Myers, D. E., Rosenthal, A. S., & Ginsburg, A. (1986). Single Parents, Working Mothers, and The Educational Achievement of School Childern. Journal of Education, 59, 125-139. Moelong, L. J. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mulyana, D. (2005). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Myers, P. (1984). Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Pusaka Pressindo. Olson, D. H., & Defrain, J. (2006). Marriages & Family: Intimacy, Diversity, Strengths. Boston: McGraw Hill. Patton, M. Q. (2002). Qualitative Research and Evaluation Methods. Calif: Sage Publications. Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2013). Organizational Behavior. Boston: Pearson. Santrock. (1975). Life-Span Development 6th ed. USA: Times Mirror Higher Education Group, Inc.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Stolberg, A. L., & Anker, J. M. (1983). Cognitive and Behavioral Changes in Childern Resulting from Parental Divorce and Consequent Environmental Changes. Journal of Divorce, 7 (2), 23-39. Sundari, A. R., & Herdajani, F. (2013). Dampak Fatherless Terhadap Perkembangan Psikologi Anak. Supratiknya, P. D. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dalam Psikologi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Whalen, C., Henker, B., Dotemoto, S., & Hinshaw, S. (1983). Child & Asdolescent Perception of Normal & Atypical Peers. Child Development, 54 (6). Yanuarti, D., & Sriningsih. (2012). Penyesuaian Diri Terhadap Konflik Perkawinan pada Suami atau Istri bekerja. Yuniardi, S. (2006). Persepsi Remaja Laki-laki dengan Perilaku Anti Sosial terhadap Peran Ayah dalam Keluarga: Penerapan Nilai Kearifan Lokal dalam Intervensi Permasalahan Keluarga . Temu Ilmiah Nasional IPPI V. Yusuf, H. S. (2004). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

(89)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

AKIBAT HUKUM PUTUSNYA PERKAWINAN KARENA PERCERAIAN TERHADAP ANAK DAN HARTA BERSAMA MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM
1
211
18
HUBUNGAN PERSEPSI TERHADAP MASA PENSIUN DENGAN PERILAKU MENABUNG PADA PEKERJA USIA DEWASA AWAL
1
15
78
KEDUDUKAN UTANG PIUTANG DALAM PERKAWINAN TERHADAP PIHAK KETIGA ATAS HARTA BERSAMA DALAM HAL PUTUSNYA PERKAWINAN KARENA PERCERAIAN
3
16
16
KEDUDUKAN UTANG PIUTANG DALAM PERKAWINAN TERHADAP PIHAK KETIGA ATAS HARTA BERSAMA DALAM HAL PUTUSNYA PERKAWINAN KARENA PERCERAIAN
0
4
16
KEPRIBADIAN PADA DEWASA AWAL YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA KEPRIBADIAN PADA DEWASA AWAL YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA.
0
0
16
PENDAHULUAN KEPRIBADIAN PADA DEWASA AWAL YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA.
0
0
10
PERSEPSI PEREMPUAN DI KOTA PADANG TENTANG PERCERAIAN
0
0
22
RUTUSNYA PERKAWINAN KARENA PERCERAIAN
0
0
53
PENYESUAIAN PERKAWINAN PADA PASANGAN SUAMI ISTRI DEWASA MUDA DITINJAU DARI PERSEPSI TERHADAP PERKAWINAN DAN MOTIVASI MENIKAH - Unika Repository
0
1
14
KECEMASAN TERHADAP STATUS LAJANG PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DITINJAU DARI HARGA DIRI
0
0
14
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP CITRA FISIK DENGAN MOTIVASI MELAKUKAN DIET PADA WANITA DEWASA AWAL YANG MENGALAMI KEGEMUKAN SKRIPSI
0
0
16
EFEKTIVITAS ACCEPTANCE AND COMMITMENT THERAPY (ACT) UNTUK MENINGKATKAN KEBAHAGIAAN PADA DEWASA AWAL FATHERLESS - Unika Repository
0
1
28
EFEKTIVITAS ACCEPTANCE AND COMMITMENT THERAPY (ACT) UNTUK MENINGKATKAN KEBAHAGIAAN PADA DEWASA AWAL FATHERLESS - Unika Repository
0
0
35
SIKAP TERHADAP PERNIKAHAN PADA INDIVIDU DEWASA AWAL YANG MENGALAMI PERCERAIAN ORANG TUA
0
0
113
PERSEPSI REMAJA DAN DEWASA AWAL TERHADAP HOMOSEKSUALITAS
0
0
122
Show more