Sabulungan dalam tegangan identitas budaya: kajian atas religi orang Mentawai di Siberut Selatan - USD Repository

Gratis

0
0
125
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SABULUNGAN DALAM TEGANGAN IDENTITAS BUDAYA: KAJIAN ATAS RELIGI ORANG MENTAWAI DI SIBERUT SELATAN TESIS Diajukan untuk mememenuhi persyaratan mendapat gelar Magister Humaniora (M.Hum) di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Disusun oleh: KORNELIUS GLOSSANTO 156322006 PROGRAM MAGISTER ILMU RELIGI DAN BUDAYA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SABULUNGAN DALAM TEGANGAN IDENTITAS BUDAYA: KAJIAN ATAS RELIGI ORANG MENTAWAI DI SIBERUT SELATAN TESIS Diajukan untuk mememenuhi persyaratan mendapat gelar Magister Humaniora (M.Hum) di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Disusun oleh: KORNELIUS GLOSSANTO 156322006 PROGRAM MAGISTER ILMU RELIGI DAN BUDAYA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING TESIS SABULUNGAN DALAM TEGANGAN IDENTITAS BUDAYA: KAJIAN ATAS RELIGI ORANG MENTAWAI DI SIBERUT SELATAN Oleh Kornelius Glossanto NIM: 156322006 Telah disetujui oleh: Yustinus Tri Subagya, M.A., Ph.D. .............................................. Pembimbing Tanggal, 17 Desember 2018 iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PENGESAHAN TESIS SABULUNGAN DALAM TEGANGAN IDENTITAS BUDAYA: KAJIAN ATAS RELIGI ORANG MENTAWAI DI SIBERUT SELATAN Oleh KORNELIUS GLOSSANTO NIM: 156322006 Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Tesis pada tanggal 8 Januari 2019 dan telah dinyatakan memenuhi syarat. Tim Penguji Ketua : Dr. Y. Devi Ardhiani, M. Hum. ................. Sekretaris/Moderator : Dr. G. Budi Subanar, SJ. ................. Anggota .................. : Dr. St. Sunardi Dr. Y. Devi Ardhiani, M. Hum. .................. Yustinus Tri Subagya, M.A., Ph.D. ................... Yogyakarta, 18 Januari 2019 Direktur Program Pascasarjana Dr. G. Budi Subanar, SJ iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN Yang bertanda tangan di bawah ini, Nama NIM Program Universitas : Kornelius Glossanto : 156322006 : Magister Ilmu Religi dan Budaya : Sanata Dharma Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis: Judul : Sabulungan dalam Tegangan Identitas Budaya: Kajian atas Religi Orang Mentawai di Siberut Selatan Pembimbing : Yustinus Tri Subagya, M.A., Ph.D. Tanggal diuji : 8 Januari 2019 Adalah benar-benar hasil karya saya. Di dalam tesis/ karya tulis/ makalah ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan atau gagasan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang saya aku seolah-oleh sebagai tulisan saya sendiri tanpa memberi pengakuan kepada penulis aslinya. Apabila kemudian terbukti bahhwa saya melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, termasuk pencabutan gelar Magister Humaniora (M. Hum.) yang telah saya peroleh. Yogyakarta, 8 Januari 2019 Yang memberikan pernyataan Kornelius Glossanto v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Nama NIM Program : Kornelius Glossanto : 156322006 : Magister Ilmu Religi dan Budaya Demi keperluan pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karya ilmiah yang berujudil: SABULUNGAN DALAM TEGANGAN IDENTITAS BUDAYA: KAJIAN ATAS RELIGI ORANG MENTAWAI DI SIBERUT SELATAN Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lainya demi kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya atau memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Dengan demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Dibuat di : Yogyakarta Pada tanggal : 8 Januari 2019 Yang menyatakan Kornelius Glossanto vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Sura’ Sabeu kukua ka Ulaumanua Sipulubeunan, Tulisan ini saya persembahkan kepada: Sa’sara’inakku ka sangamberi polak Mentawai, Keluarga dan para sahabat, Universitas Sanata Dharma, Serikat Misionaris Xaverian dan Kepada mereka yang selalu berhasrat untuk mengenal yang lain dan tidak lelah menjadikan kehidupan ini lebih baik. vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Berbicara mengenai budaya orang Mentawai tidak bisa dilepaskan dari telaah mengenai sabulungan. Kepercayaan lokal Mentawai yang mengakui keberadaan dan pengaruh roh-roh alam tersebut seringkali dilukiskan sebagai landasan keselarasan manusia dan lingkungannya. Pada tahun 1954 peristiwa Rapat Tiga Agama menjadi sarana legitimasi tindakan pelarangan sabulungan. Hal tersebut dilatarbelakangi upaya negara ‘mendisiplinkan’ agama di Indonesia sebagai bentuk pengakuan atas Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Dominasi yang diwarnai tindak diskriminasi dan kekerasan. itu memunculkan konflik ideologi antara negara dan orang Mentawai di Siberut. Tesis ini berisikan ulasan mengenai bagaimana dominasi negara atas sebuah kepercayaan lokal di Siberut memicu timbulnya perlawanan terselubung dari orang Mentawai yang berusaha menjaga identitas budaya mereka. Model perlawanan tersebut menurut kajian James C. Scott merupakan ‘senjata orang-orang yang kalah’ menghadapi kelas yang mendominasi kehidupan mereka. Ritual-ritual tradisi sabulungan ditampilkan kembali sebagai ekspresi budaya sambil menghidupi keberagamaan sesuai anjuran dan tuntutan pemerintah. Upaya revitalisasi budaya melalui semangat inkulturatif yang ditawarkan Gereja Katolik dan penyadaran nilai-nilai budaya melalui pendidikan berjalan namun bukan tanpa halangan. Makin lunturnya penghayatan akan sabulungan dan nilai budaya di dalamnya serta perubahan gaya hidup modern menunjukkan gegar budaya dan ambivalensi yang dialami orang Mentawai di Siberut dewasa ini. Istilah kunci: sabulungan, perlawanan sehari-hari, identitas budaya, Mentawai. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Talking about the culture of the Mentawai people cannot be separated from the study of Sabulungan. Mentawai local beliefs that recognize the existence and influence of these natural spirits are often described as the basis of harmony between humans and their environment. In 1954 the event of the Three Religion Meeting became a means of legitimizing the prohibition of sabulungan. This was motivated by the state's efforts to 'discipline' religion in Indonesia as a form of recognition of the One Precept of Godhead. Domination is characterized by acts of discrimination and violence. It gave rise to ideological conflicts between the state and the Mentawai people on Siberut. This thesis contains a review of how the state's dominance of a local belief in Siberut triggered the emergence of covert resistance from the Mentawai people who tried to maintain their cultural identity. The resistance model according to James C. Scott's study is "the weapons of the weak" facing a class that dominates their lives. The rituals of the Sabulungan tradition are reappeared as cultural expressions while living religion according to the recommendations and demands of the government. Efforts to revitalize culture through the inculturative spirit offered by the Catholic Church and awareness of cultural values through education but not without obstacles. The fading away of appreciation of sabulungan and cultural values in it and changes in modern lifestyles show cultural shock and ambivalence experienced by Mentawai people in Siberut today. Keywords: sabulungan, daily resistance, cultural identity, Mentawai. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Tulisan ini semata-mata bukan merupakan karya ilmiah yang disusun atas tuntutan studi dan keperluan akademis. Seluruh rangkaian penyusunan tesis ini ibarat sebuah perjalanan; perjalanan untuk keluar dari diri sendiri dan membuka hati bagi yang lain. Pengalaman satu setengah tahun hidup bersama konfrater Xaverian di pastoran Siberut berdampingan dengan para suster ALI dan KSFL dan saudara-saudara di Mentawai, terutama di Siberut Selatan telah berhasil menggerakkan saya untuk mencintai dunia baru tersebut. Melihat kembali ke belakang, betapa saya sangat berterima kasih kepada: Ferdinanda Maria Saurei, Juliasman Satoko, Marinus Satoleuru, dan Albertina Sakukuret, yang telah membukakan mata dan hati saya akan keunikan bumi sikerei. Terima kasih keluarga baruku di Siberut, terutama pula kepada anak-anak di asrama St. Yosef dan St. Theresia Lisieux yang dengan cara kalian telah membuka mulut saya dan mengajari saya berceloteh dengan bahasa Mentawai. Selama kesempatan-kesempatan kunjungan selanjtutnya saya juga banyak dibantu oleh Marinus Satoleuru dan Petrus Marjuni untuk berjumpa dengan para narasumber. Terima kasih juga atas kesediaan berbagi kisah-kisah kalian: Marinus Saurei, Elyzius Sakeletuk, Bruno Tatebburuk, Teu Lomoi Samalinggai, Hieronimus Keppa Salakoppak, Mateus Samalinggai, Yohanes Laidoak Sanambaliu, pasangan Agustinus Salemurat dan Marianna Saruruk, Pakirek Salakkirat, Marinus Salolosit, Anton Sagoroujou, Yudas Sabbagalet, Mikael Sabaggalet, Hijon Tasirilotik, Hendrikus Erik x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Saurei, Mateus Sakukuret, Thomas Tatebburuk, Yohanes Salakopak, dan Selester Sagurujuw. Kisah pengalaman kalian merupakan pemberian tak ternilai bagi saya yang masih mulai menulis kisahnya sendiri. Sura’ sabeu ku kua ka sarainaku: Siprianus Sokkot Sagoroujou dan Eujenius Salemurat yang telah banyak membantu menterjemahkan banyak hal yang masih baru bagi saya dan terutama semangat yang tak lelah dikobarkan sehingga akhirnya kisah ini bisa dirasakan lebih dekat dan berhasil dituntaskan. Masura’ bagatta ku kua ka tubumui. Terima kasih pula kepada Yustinus Tri Subagya, dosen dan pembimbing saya, yang telah dengan sabar meluangkan waktu dan perhatiannya mendampingi saya yang masih sangat awam dalam penysusunan karya ini. Terima kasih pula kepada para dosen dan teman-teman di IRB Sanata Dharma atas segala bentuk perhatian dan sumbangan pengetahuan, pengalaman, dan kisah-kisahnya. Sebagai lulusan ilmu teologi yang berkutat dengan konsep-konsep mengangkasa, pengalaman belajar bersama kalian telah berhasil menghempaskan saya kembali untuk tidak lupa berpijak pada bumi manusia ini dengan segala kompleksitasnya. Akhirnya kepada ayahanda tercinta Fransiskus Xaverius Tarwoto dan Mas Lukas Sadhana, banyak terima kasih atas dukungan dan doanya yang tak kunjung putus, bahkan makin bertambah di saat rasa putus asa sudah menyelimuti perjalanan pendidikan ini. Kepada seluruh keluarga dan saudara-saudaraku yang selalu menyemangati dan mendukung dari kejauhan, banyak terima kasih untuk cintanya. Akhirnya kepada Serikat Xaverian yang telah mempercayakan misi pembelajaran ini kepada saya, yang mengantar saya mengarungi gugusan pulau-pulau di Mentawai hingga pelosok Nusantara, saya ucapkan terima kasih tak terhingga. Caritas Christi Urget Nos. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI JUDUL ................................................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................... iii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ....................................................... v HALAMAN PERNYATAAN PUBLIKASI ...................................................... vi HALAMAN PERSEMBAHAN.......................................................................... vii ABSTRAK ........................................................................................................... viii ABSTRACT .......................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ......................................................................................... x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii BAB I : PENDAHULUAN.................................................................................. 1 A. Latar Belakang..................................................................................... 1 B. Tema Penelitian ................................................................................... 3 C. Rumusan Masalah................................................................................ 3 D. Tujuan Penelitian ................................................................................. 4 E. Manfaat Penelitian ............................................................................... 4 F. Kajian Pustaka ..................................................................................... 5 G. Kerangka Teori .................................................................................... 18 H. Metode Penelitian ................................................................................ 27 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI I. Sistematika Penulisan .......................................................................... 29 BAB II : KEPULAUAN MENTAWAI, ORANG SIBERUT, DAN SABULUNGAN ...................................................................... 30 A. Gambaran Umum Kepulauan Mentawai .............................................. 31 1. Lokasi Geografis .......................................................................... 31 2. Kependudukan ............................................................................. 34 B. Gagasan Mengenai Komunitas Orang Mentawai ................................. 36 1. Mitos Asal-Usul Orang Mentawai ............................................... 39 2. Perjumpaan Orang Mentawai dengan Petualang, Aparat Kolonial, dan Misionaris ..................................................... 41 C. Sabulungan dan Negara........................................................................ 46 D. Upaya Pembatasan Sabulungan ........................................................... 50 E. Memudarnya Sabulungan dari Kehidupan Orang Mentawai ............... 56 BAB III : SABULUNGAN, PANDANGAN HIDUP DAN RITUS KEHIDUPAN ORANG MENTAWAI .............................. 61 A. Sabulungan dan Sikebukat ................................................................... 63 B. Sabulungan dan Pandangan Hidup Simatoi ......................................... 65 1. Kehidupan yang Diidamkan: Hidup Panjang dan Kematian yang Baik ........................................................................ 66 2. Ritual dalam Siklus Kehidupan Manusia dan Relasi dengan Alam ....................................................................... 69 BAB IV : SABULUNGAN, PELARANGAN PEMERINTAH DAN PERLAWANAN ORANG MENTAWAI....................................... 79 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI A. Dominasi Negara dan ‘Pemaksaan’ Agama Resmi ............................. 79 B. Siasat Sikebukat dan Pemerhati Sabulungan ........................................ 85 C. Ekspresi Sabulungan ............................................................................ 91 D. Identitas Budaya: Ambivalensi Orang Mentawai ................................ 96 BAB V : PENUTUP ............................................................................................ 102 A. Kesimpulan........................................................................................... 102 B. Tanggapan ............................................................................................ 104 Lampiran ............................................................................................................... 105 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 109 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sebagai anggota sebuah kongregasi religius misioner dalam Gereja Katolik, selama masa pendidikan periode tahun 2012-2014, saya mendapat kesempatan untuk berkarya di sebuah paroki di Siberut. Siberut merupakan satu dari empat pulau utama – dan juga pulau terbesar – di wilayah Kepulauan Mentawai. Pada tahun 1999 wilayah kepulauan ini berdiri secara otonom – memisahkan diri dari Kabupaten Padang Pariaman – sebagai sebuah kabupaten (Kab. Kepulauan Mentawai) dengan ibu kota Tuapeijat dan menjadi salah satu dari 12 kabupaten di wilayah Provinsi Sumatera Barat. Mayoritas penduduk di kepulauan ini dikenal sebagai suku Mentawai dan hidup berdampingan dengan para pendatang yang berasal dari suku Minangkabau, Nias, Batak, Jawa dan Flores. Dalam sejarah Gereja Katolik, kegiatan misi di wilayah kepulauan Mentawai dimulai pada tahun 1954 oleh para misionaris dari Serikat Xaverian. Dan hingga saat ini, agama-agama samawi telah dikenal di hampir seluruh wilayah kepulauan itu. Suku Mentawai memiliki kepercayaan tradisional yang dikenal dengan istilah sabulungan. Sabulungan berasal dari dua kata sa = bentuk plural dari sebuah kesatuan dan bulu = persembahan. Kata sabulungan sendiri merujuk pada kumpulan roh, sehingga tradisi 1

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sabulungan mengandung unsur keyakinan akan roh-roh yang dihormati dengan berbagai ritual persembahan (Juniator, 2012: 69). Selama bertugas di Siberut, penulis mengamati sebagian orang masih mempercayai bahwa sakit tertentu bisa jadi disebabkan oleh perjumpaan antar roh (simagre). Oleh karena itu alih-alih pergi berobat ke puskesmas, mereka memilih memanggil sikerei (tabib tradisional) untuk mengobati orang yang mengalami sakit tertentu. Padahal di kota kecamatan di Muara Siberut, telah berdiri Puskemas dan Poliklinik yang dikelola oleh para suster ALI (Assistenti Laiche Internazionali)1. Peristiwa ini menarik bagi penulis, mengingat mayoritas masyarakat Siberut telah menganut agama Katolik (83,49%) dan Protestan (14,39%).2 Masih dilibatkannya sikerei dalam pengobatan tidak terlepas dari tradisi sabulungan yang mempercayai bahwa munculnya penyakit berasal dari pengaruh kekuatan supranatural. Banyak dari orang Mentawai di Siberut yang kendati telah menganut salah satu agama resmi yang ada di sana, seperti Katolik, Protestan maupun Islam, dalam keseharian tetap memegang pantangan-pantangan atau menjalankan ritual-ritual yang dilatarbelakangi oleh tradisi sabulungan.3 Namun tidak sedikit juga orang Mentawai yang sudah tidak mengenal lagi sabulungan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan identitas budaya mereka. Sejarah masa lalu di mana sabulungan dilarang oleh pemerintah, perubahan gaya hidup, dan pembangunan daerah, menjadikan generasi muda orang Mentawai mulai tercabut dari akar religiositasnya sendiri. Fenomena inilah yang menarik bagi saya untuk dikaji lebih dalam. Bagaimana masyarakat Mentawai di P. Siberut ALI atau juga dikenal Institut Sekulir “Mater Amabilis” berdiri pada 11 Oktober 1952 di Milan, Italia. Permohonan Prefek Apostolik Padang, Mgr. Pasquale de Martino, atas tenaga biarawati yang berkarya di bidang medis menjadi latar belakang pembentukan institut tersebut. 2 Data Sensus Penduduk 2010 - Badan Pusat Statistik. 3 Lih. Juniator, 2012. Hlm. 69. 1 2

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bersiasat untuk menjaga nilai-nilai religi budaya yang terkandung dalam sabulungan berhadapan dengan dominasi negara, pewarta agama serta masuknya budaya modern. 1.2. TEMA PENELITIAN Sabulungan merupakan kepercayaan tradisional orang Mentawai. Orang Mentawai pada awalnya tidak memiliki istilah tertentu untuk menyebut sistem kepercayaan mereka atau ‘agama’. Pasca kemerdekaan Indonesia melalui Rapat Tiga Agama4, tahun 1954 keberadaan sabulungan dilarang. Namun selama perjalanan waktu, pengaruh larangan tersebut mulai memudar dan membuat orang Mentawai saat ini memiliki pandangan dan sikap yang berbeda atas kepercayaan lokal tersebut. Sebagian dari mereka masih memandang sabulungan sebagai sumber identitas budaya Mentawai dan mencoba mempertahankannya. Sebagian lagi berada dalam situasi ambivalen antara hendak melupakan dan meninggalkan tradisi tersebut atau menghidupinya dengan cara baru. 1.3. RUMUSAN MASALAH 1. Mengapa negara melalui aparatusnya berusaha menghapuskan sabulungan? Kapan dan dengan cara bagaimana usaha penghapusan itu berlangsung? 2. Bagaimana pandangan orang Mentawai saat ini tentang sabulungan dan ritusritusnya dalam kehidupan sehari-hari? 3. Bagaimana siasat orang Mentawai mempertahankan sabulungan dan di mana posisi sabulungan dalam pandangan orang Mentawai saat ini? 4 Coronesse mencatat perwakilan Rapat Tiga Agama ini merujuk pada Islam, Protestan, dan Arat Sabulungan (Coronesse, 1986:38). 3

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.4. TUJUAN PENELITIAN Melalui rumusan persoalan di atas penulis mencoba menggali data di lapangan dan sejumlah literatur mengenai dominasi negara, pengaruh agama-agama samawi, perubahan pola hidup terhadap religi orang Mentawai yang terkandung dalam kepercayaan sabulungan. Hal itu bertujuan untuk mengungkap beberapa poin di bawah ini: 1. Untuk mengetahui alasan, waktu pelaksanaan dan cara-cara yang dilakukan negara dalam usaha menghapuskan sabulungan. 2. Untuk menganalisa bagaimana sabulungan dan ritus-situsnya dipandang dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Mentawai dewasa ini. 3. Untuk melihat siasat orang Mentawai mempertahankan sabulungan dan di mana posisi sabulungan dalam pandangan orang Mentawai saat ini. 1.5. MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini berguna untuk melihat bagaimana dominasi negara terhadap kepercayaan lokal – seperti yang tampak dalam pelarangan sabulungan – terjadi di lapangan. Selain itu dari hasil penelitian ini bisa juga dilihat bagaimana orang Mentawai di Siberut Selatan mempertahankan dan menghidupi religiositas mereka di tengah pengaruh pembangunan, kehadiran agama-agama samawi, serta perubahan pola kehidupan. Informasi ini akan sangat berguna untuk melihat sejarah perubahan identitas budaya dan religi orang Mentawai serta mengungkap faktor-faktor apa saja yang turut mempengaruhinya pada masa kini. 4

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.6. KAJIAN PUSTAKA Dalam bagian ini akan diuraikan dua pokok pemikiran mengenai konsep agama dan relasi kepercayaan lokal dengan agama-agama resmi pemerintah. Pertama akan kita lihat bagaimana konsep agama dikonstruksi di Indonesia. Selanjutnya pada bagian kedua akan diulas secara singkat bagaimana kepercayaan-kepercayaan lokal berhadapan dengan agama-agama ‘resmi’ di Indonesia dan sejarah perkembangannya hingga saat ini. 1. Konsep Agama di Indonesia Richard King dalam bagian kedua bukunya Agama, Orientalisme dan Poskolonialisme (2001) menjelaskan bagaimana sejarah terjadinya pergeseran makna ‘agama’. Ia merujuk pada konsep Cicero di masa pra-Kristen yang mengatakan akar kata ‘agama’ (religion) adalah bahasa Latin religio. Kata religio memiliki kaitan dengan kata religere yang berarti ‘melacak kembali’ atau ‘membaca ulang’. Cicero dengan alur pemikiran tersebut ingin memperlihatkan bahwa konsep ‘agama’ pada dasarnya berkaitan erat dengan usaha menghadirkan kembali adat dan ritual dari nenek moyang atau leluhur sebuah kelompok (King 2001: 68). Dalam pandangan ini ‘agama’ mengacu pada konsep yang lebih luas dan memungkinkan dinamika kehidupan yang pluralistik. Karena jelas dengan adanya beragam tradisi dan budaya di dunia, dimungkinkan juga muncul beragam ‘agama’. Dari konsep ini semua bentuk kepercayaan dan tradisi budaya lokal suku-suku di Indonesia – seperti Kaharingan, Merapu, Parmalim, Sabulungan – bisa dikategorikan sebagai agama. Namun rupanya sejarah memperlihatkan alur yang beragam. Pada abad ke-3 ditemukan karya seorang penulis Kristen, Lactantius, yang menolak konsep ‘agama’ Cicero. Lactantius berpendapat bahwa kata religio berasal dari kata Latin re dan ligare yang berarti mengikat atau berhubungan. Dalam pemikirannya ini 5

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lactantius memperlihatkan bahwa religio merupakan hubungan atau ikatan antara Yang Ilahi dan manusia. Ia juga kemudian mempertentangkan antara kelompok yang menyembah dewa-dewa dan mereka yang percaya kepada Tuhan sebagai entitas yang tunggal, sebagai sumber kebenaran. Hal ini mengakibatkan berakhirnya kehidupan yang pluralistik karena pergeseran makna ‘agama’ dari pemikiran Cicero kepada pandangan Lactantius menyebabkan pula ketidaksetaraan antara kelompok-kelompok yang ada. Dalam hal ini Kekristenan menempatkan diri sebagai pemegang kebenaran karena konsep monoteisnya dan memandang kelompok-kelompok penyembah dewa-dewa dan tradisi nenek moyang sebagai orang yang terbelakang atau kaum pagan yang masih percaya pada takhayul. King menyimpulkan bahwa perubahan makna semantik sebagaimana dijelaskan Lactantius menyebabkan perubahan seluruh konsep mengenai ‘agama’. Sehingga diskusi-diskusi mengenai istilah ‘agama’ atau religio pada masa modern hingga saat ini cenderung mengacu pada pemikiran Lactantius, di mana ‘agama’ dikonstruksikan dalam paradigma Kekristenan yang secara eksklusif menitikberatkan konsep-konsep keyakinan teistik – baik dalam wujud mono- , poli-, heno-, atau pan- teistik. Selain itu muncul pula konsep dualisme antara dimensi Ilahi dan dimensi manusiawi serta konsep dunia yang suci atau transenden di mana manusia mengikatkan diri (religare) kepadanya. Dengan demikian menurut King, konsep ‘agama’ merupakan konstruksi sosio-kultural yang khas dengan genealoginya sendiri yang khas juga (King, 2001: 71-76). Berbeda dari Lactantius dan Cicero, Clifford Geertz memiliki definisi tersendiri mengenai agama. Ia pertama-tama melihat agama sebagai sebuah sistem simbol. Demikian definisi Geertz atas agama (Geertz, 1992: 5): “... (1) sebuah sistem simbol yang berlaku untuk (2) menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat, yang meresapi, dan yang tahan dalam diri manusia dengan (3) merumuskan 6

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI konsep-konsep mengenai suatu tatatan umum eksistensi dan (4) membungkus konsep-konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas, sehingga (5) suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak khas dan realistis.” Pernyataan Geertz tentang agama yang demikian ini jelas memberikan ‘konsep agama’ ruang lingkup yang sangat luas. Baik agama-agama besar dunia seperti Hinduisme, Kekristenan, Yahudi maupun Islam hingga kepercayaan-kepercayaan tradisional sebuah suku tertentu termasuk dalam definisi tentang agama itu. Menurut Geertz dalam kacamata antropologi sebuah agama menjadi penting karena berfungsi sebagai sumber konsep atau gagasan yang umum dan jelas – mengenai dunia kehidupan, mengenai pribadi manusia, dan juga bagaimana relasi antara keduanya itu – bagi pribadi-pribadi tertentu maupun juga bagi sebuah kelompok masyarakat (Geertz, 1992: 46). Fungsi yang demikian dapat dengan mudah ditemui juga dalam sistem kepercayaan lokal yang ada di Indonesia. Masing-masing kepercayaan tersebut dengan jelas dan sistematis memperlihatkan bagaimana pola relasi antara manusia dan alam kehidupannya. Dengan demikian jika menggunakan sudut pandang antropologis seperti diuraikan oleh Geertz, sistem kepercayaan lokal yang begitu banyak di Indonesia juga bisa dikategorikan sebagai agama. Kata ‘agama’ dalam bahasa Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: “sistem, prinsip kepercayaan kepada Tuhan (dewa dsb) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.” (KBBI edisi ke-2, cetakan ke-4, 1995). Namun jika dilihat dalam sejarah, kata ‘agama’ yang kita kenal saat ini telah mengalami rangkaian proses pemaknaan yang panjang. Dalam sejarah bangsa Indonesia seringkali diceritakan kisah mengenai kedatangan bangsa-bangsa lain ke bumi Nusantara 7

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ini untuk berdagang. Kehadiran para penjelajah samudera dan pedagang ini lah yang memperkenalkan bentuk baru religiositas. Pada masa itu pengaruh Hinduisme dan Budhisme mulai tersebar sehingga memunculkan kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha. Kemunculan kerajaan-kerajaan tersebut memberikan gambaran bagaimana ‘agama’ telah menjadi sumber legitimasi politis dan status sosial. Pada masa itu menjadi ber-‘agama’ pertama-tama berarti menjadi modern, berkuasa, dan sejahtera (Ropi, 2017: 44). Di Indonesia kata ‘agama’ diterima begitu saja secara umum untuk menterjemahkan kata ‘religion’. Padahal secara semantik kata ‘agama’ memiliki makna yang lebih sempit dari kata ‘religi’ – yang juga diadopsi dalam bahasa Indonesia dari bahasa Belanda ‘religie’. Kata ‘agama’ sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki makna harafiah ‘abadi’ dan membawa gagasan mengenai pewahyuan (revelation). Menurut Michael Picard (2011), hal ini yang menjadikan konsep mengenai agama di Indonesia menjadi unik. Menurutnya kata ‘agama’ merupakan paduan unik: sebuah kata Sansekerta yang mengandung pandangan Kekristenan mengenai apa yang disebut sebagai agama dunia dengan pemahaman Islam tentang apa yang didefinisikan sebagai agama yang tepat. Agama yang tepat dalam pandangan itu mengandung unsurunsur seperti: sebuah wahyu Ilahi yang direkam dalam kitab suci oleh para nabi utusan, sistem peraturan bagi pemeluknya, upacara pujian bagi umat, dan pengakuan atau keyakinan akan Tuhan yang Esa (Picard, 2011:3, 2017: 25). Unsur Tuhan, Nabi, dan Kitab suci menjadi elemen utama sebuah agama (Ropi, 2017:119). Kategori-kategori tersebut kemudian digunakan oleh Departemen Agama sebagai syarat sebuah ‘agama’ di Indonesia. Rupanya syarat-syarat ini-lah yang kemudian diusulkan oleh Departemen Agama pada tahun 1952 sebagai kategori resmi untuk melihat apakah sebuah kepercayaan masyarakat lokal bisa dianggap sebagai agama yang sah atau tidak. 8

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia para tokoh kemerdekaan sepakat bahwa agama merupakan elemen yang penting bagi negara (Ropi, 2017:57). Namun dalam perkembangannya sejak kemerdekaan Indonesia pada 1945 terdapat sedikit perubahan mengenai kedudukan agama dalam Undang-Undang Dasar. Tabel berikut memperlihatkan bagaimana kedudukan agama dalam konstitusi 1945, konstitusi 1949 dan konstitusi 1950: Konstitusi 1945 Konstitusi 19495 Konstitusi 19506 Pasal 29 Pasal 18 Pasal 18 (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran keinsjafan batin dan agama; hak ini meliputi pula kebebasan bertukar agama atau kejakinan, begitu pula kebebasan menganut agamanja atau kejakinannja, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, baik dimuka umum maupun dalam lingkungannja sendiri dengan djalan mengadjarkan, mengamalkan, beribadat, mentaati perintah dan aturan-aturan agama, serta dengan djalan mendidik anakanak dalam iman dan kejakinan orang tua mereka. Setiap orang berhak atas kebebasan agama, keinsyafan batin dan pikiran. (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Pasal 41 (1) Penguasa memberi perlindungan jang sama kepada segala perkumpulan dan persekutuan agama jang diakui. (2) Penguasa mengawasi supaja segala persekutuan dan perkumpulan agama patuh-taat kepada Undang-undang, termasuk aturan-aturan hukum jang tak tertulis. Pasal 43 1. Negara berdasar atas KeTuhanan Yang Maha Esa. 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. 3. Penguasa memberi perlindungan yang sama kepada segala perkumpulan dan persekutuan agama yang diakui. Pemberian sokongan berupa apapun oleh penguasa kepada penjabatpenjabat agama dan persekutuan-persekutuan atau perkumpulan-perkumpulan agama dilakukan atas dasar sama hak. 4. Penguasa mengawasi supaya segala persekutuan dan perkumpulan agama patuh-taat kepada undangundang termasuk aturan-aturan hukum yang tak tertulis. Tabel 1. Perbandingan pernyataan pengakuan atas agama dalam konstitusi 1945, 1949, dan 1950. 5 6 Konstitusi Republik Indonesia Serikat sebagaimana diputuskan dalam Keppres Nomor 48 Tahun 1950 Undang-Undang Republik Indonesia Serikat Nomor 7 Tahun 1950 9

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Meskipun terdapat sejumlah perubahan yang terjadi dalam kebijakan negara atas agama di Indonesia, dalam ketiga model konstitusi negara tidak tercantum agama apa saja yang dimaksud. Dan walaupun tampak bahwa kebebasan beragama dan menganut kepercayaan warga negara dijamin oleh pemerintah, dalam praktiknya wujud jaminan dan pengakuan kebebasan beragama tersebut masih terus mengalami perubahan yang panjang. Baru dalam TAPPRES NO.1/PNPS/Tahun 1965 pemerintah secara eksplisit menyatakan 6 agama: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khong Hu Cu – sebagai agama yang dipeluk oleh orang Indonesia dan yang muncul dalam sejarah perkembangan agamaagama di Nusantara. Pada masa Orde Baru berdasar Tap MPR No.4 Tahun 1978, secara tertulis kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dipandang berbeda dengan agama. Selanjutnya keberadaan aliran kepercayaan tradisional atau agama-agama lokal tidak lagi berada dalam wewenang Departemen Agama melainkan dipercayakan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Budaya kemudian membentuk direktorat baru yakni Direktorat Pembinaan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi (Picard, 2011:15). Kemunculan Tap MPR No.4 Tahun 1978 menjadi awal mula peraturan pemerintah yang mewajibkan pengisian kolom agama dalam pembuatan KTP. Dampaknya banyak penganut agama lokal yang harus menghadapi pilihan antara mengkonversi keyakinan mereka pada agama-agama yang diakui oleh pemerintah, atau berjuang dan berafiliasi dengan salah satu agama resmi tersebut. Aliran-aliran kepercayaan tradisional yang telah ada di Nusantara jauh sebelum kemerdekaan akibatnya harus menerima nasib diwacanakan sebagai sesuatu yang kuno, asing, dan penghalang terbentuknya masyarakat yang merdeka dan modern. Padahal melalui sistem kepercayaan tradisional tersebut terangkum identitas budaya yang telah 10

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diwariskan dan mewarnai kehidupan suku turun-temurun. Para penganut aliran kepercayaan dalam rezim pemerintahan Orde Baru disamakan statusnya sebagai orang yang ‘belum beragama’ dan kelompok ini juga belum diakui sebagai warga negara seutuhnya. Mereka dipandang oleh pemerintah sebagai kelompok yang perlu ‘diberadabkan’ (Ropi, 2017:155). Untuk itu masyarakat dalam kelompok ini harus menganut salah satu dari enam agama yang diakui oleh pemerintah sehingga agar bisa memperoleh pengakuan dan pelayanan dari pemerintah sebagai warga negara dan bagian dari kelompok masyarakat modern. Sejarah pembentukan konsep agama di Indonesia dan penerapannya dalam kebijakan negara telah memunculkan apa yang dikenal dengan politik rekognisi. Hal ini mengacu pada upaya kelompok mayoritas yang berkuasa untuk menggunakan agama sebagai alat legitimasi kekuasaan untuk mengontrol kelompok minoritas, yang dalam kasus di atas merupakan para penghayat aliran kepercayaan. 2. Agama Lokal vs Agama ‘Resmi’ Sebelum tahun 1950an sistem kepercayaan tradisional orang Mentawai dikenal dengan nama sabulungan. Baru setelah kemerdekaan di tahun 1950an itu, pemerintah dan para misionaris menambahkan kata arat untuk menyebut sistem kepercayaan lokal tersebut sebagai agama. Sebenarnya kata arat merupakan adaptasi dari kata dalam bahasa Indonesia ‘adat’ (custom). Sebelum kata arat digunakan, orang Mentawai menggunakan kata punen yang berarti ‘kegiatan’ (activity) baru dalam perjalanan waktu kata ini berubah menjadi arat. Kata arat sendiri memiliki makna yang lebih luas. Ia bisa berarti peraturanperaturan, norma-norma, adat maupun kebiasaan-kebiasaan (Juniator, 2012: 68). Kehadiran agama-agama dari luar dan peristiwa yang dikenal dengan Rapat Tiga Agama pada tahun 1954 membawa pengaruh yang besar bagi para penganut sabulungan. 11

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Rapat Tiga Agama sendiri muncul dengan latar belakang program pemerintah pasca kemerdekaan yang bertujuan untuk menyatukan suku-suku dari seluruh nusantara dalam kelompok sosial dan budaya utama yang bersifat nasional (Persoon 2004: 23; Mulhadi 2007: 20-21; Juniator 2012:72). Mulhadi menulis bahwa pelarangan sabulungan oleh pemerintah pada 1954 bukan karena kepercayaan tersebut mengandung unsur ajaran sesat atau juga bukan merupakan sempalan dari agama-agama resmi yang diakui negara. Kepercayaan tradisional suku Mentawai itu dilarang karena ketakutan pemerintah yang memandang sistem kepercayaan itu berpotensi mengancam kestabilan Negara Kesatuan (Mulhadi, 2007:14). Kekhawatiran pemerintah ini kemudian dipertegas dengan dikeluarkannya UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama. Menurut Komisioner Komnas HAM, Imdadun Rahmat, UU tersebut lahir dari keinginan pemerintah Soekarno dalam usaha membendung ateisme dan beragam upaya merekayasa bentuk aliran-aliran baru yang kehadirannya bisa merusak agama-agama yang telah ada7. Dengan pelarangan atas sabulungan serta praktik-praktiknya, pemerintah daerah Sumatera Barat bersama dengan aparat melarang segala bentuk praktik yang berkaitan dengan kepercayaan lokal tersebut bahkan juga membakar dan memusnahkan bendabenda yang berhubungan dengannya. Masyarakat suku Mentawai diminta untuk beralih kepada agama-agama resmi yang kala itu diakui pemerintah Indonesia, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Sabulungan diidentikkan dengan kepercayaan masyarakat ‘primitif’ dan dengan demikian oleh pemerintah bisa dilenyapkan sehingga 7 https://nasional.kompas.com/read/2017/10/23/15091911/penetapan-presiden-1965-soal-penodaanagama-kerap-ditafsirkan-diskriminatif. Diakses pada 14 Maret 2018. 12

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI budaya modern – masyarakat yang merdeka, diakuinya pemerintahan sentralistik, serta penghayatan atas agama resmi – bisa diterima (Juniator 2012:73). Program ‘pendisiplinan’ agama-agama tradisional di Indonesia itu berlangsung selama periode 1950an – 1967 di masa pemerintahan Soekarno dan berlanjut hingga era kepemimpinan Soeharto (1967-1998). Tappres No. 1 tahun 1965 yang menjadi landasan pengaturan agama-agama di Indonesia pada masa pemerintahan Soekarno bertujuan mencegah terjadinya konflik dan kekerasan yang diakibatkan oleh pencemaran agama yang beragam di Indonesia. Dengan begitu banyaknya etnis dan aliran kepercayaan, pencemaran agama bisa memecah belah bangsa dan mempengaruhi stabilitas nasional. Di masa Orde Baru, pemerintahan Soeharto menjadikan peraturan tersebut sebagai sarana politis untuk melawan ideologi komunis dengan memanfaatkan sentimen anti PKI pasca peristiwa 30 September. Keberadaan orang-orang yang tidak beragama yang diidentikkan dengan komunisme menjadi ancaman bangsa. Komunisme bukan saja ditolak tetapi juga dipertentangkan dengan jati diri bangsa dengan menggunakan landasan agama (Ropi, 2017: 132). Di kepulauan Mentawai sendiri proses itu terjadi pula. Pulau-pulau yang berada di selatan, P. Pagai dan P. Sipora mengalami dampak yang paling kentara. Sedangkan di P. Siberut sekelompok orang Mentawai memilih menetap di bagian hulu sungai dan pedalaman untuk menghindari pengaruh pemerintah (Juniator 2012: 73-74; Hammons 2016: 407). Untuk itulah hingga saat ini jejak-jejak tradisi sabulungan masih bisa ditemukan di wilayah P. Siberut. C.S. Hammons menuliskan bahwa pada periode tahun 1980-1990an, banyak penduduk di desa-desa di Siberut menganut agama Kristen (Protestan atau Katolik). Namun demikian di desa-desa hulu, yang terletak jauh dari garis pantai, mereka memilih untuk memegang sabulungan sebagai ‘adat’ (custom) dan menganut Katolik, Protestan 13

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI atau Islam sebagai ‘agama’ (religion) (Hammons 2016:407). Inilah yang disebut oleh Coronesse sebagai sistem ‘bikultural’. Ia berpandangan bahwa tidak mungkin pertemuan Tiga Agama tahun 1954 dan peristiwa pelarangan atas kepercayaan tradisional itu sesudahnya bisa serta merta menjadikan masyarakat suku Mentawai beralih kepercayaan. Sabulungan menurut Coronesse belum terkikis habis di hati orang Mentawai. Ia menulis: Pada hakikatnya Arat Sabulungan belum terkikis habis di lubuk hati orang Mentawai, yang menjalankan upacara Arat dengan sembunyi-sembunyi. Hal mana dapat dibuktikan dalam laporan yang tercantum: - Larangan Pemerintah tentang Arat pada lahirnya dipatuhi, namun secara diam-diam, kegiatan Arat Sabulungan dijalankan juga. - Agama yang baru dipeluk sama sekali belum lagi merasuk ke hati dan tradisi tua yang telah membudaya sangat susah lenyap. - Kepercayaan terhadap obat sikerei, lebih ampuh dan manjur ketimbang obat-obatan modern dan Puskesmas. - Payah sekali mencari suatu metoda untuk meyakinkan pengikut-pengikut arat sabulungan. (Surat Keputusan Pimpinan Proyek Penerangan, Bimbingan Dakwah/Khutbah Agama Katolik tentang pengangkatan tenaga-tenaga team operasional penerangan agama Katolik daerah No.056/ Kep.19/1974-75.) Oleh sebab itu corak keagamaan di Mentawai disebut Bikultural; bersama-sama (dengan) agama resmi, hidup dengan diam-diam agama asli yang digolongkan ke dalam aliran kebatinan (Coronesse, 1986:39). Konsep mengenai bikulturalisme sendiri memiliki cakupan yang cukup luas. Secara umum bikulturalisme mengacu pada gagasan mengenai rasa nyaman dan kemahiran seseorang menghidupi budaya warisannya bersamaan dengan budaya di negara atau wilayah di mana ia berada (SJ. Schwartz, 2010: 26). Dalam pandangan tersebut seseorang yang fasih berbicara baik bahasa Jawa dan Batak umpamanya, atau orang Jawa yang berteman dengan baik orang Sunda maupun orang Mentawai, 14

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI merupakan contoh bikulturalisme. Akan tetapi secara lebih dalam, sebagaimana ditulis oleh Schwartz, bikulturalisme meliputi juga penyatuan nilai-nilai warisan budaya tertentu dengan arus budaya lain menjadi sebuah perpaduan yang unik dan bersifat personal. Dalam pandangan terebut situasi yang dialami orang Mentawai – menghidupi sabulungan sebagai warisan budaya dan menganut agama Katolik dan Protestan sebagaimana dituntut pemerintah – merupakan wujud bikulturalisme. Berbeda dengan sinkretisme – di mana terjadi perbaduan dan perpaduan unsur-unsur agama dan aliranaliran kepercayaan sehingga muncul bentuk baru yang abstrak demi mencari keserasian – dalam bikulturalisme tidak diperoleh bentuk baru budaya yang tunggal. Masing-masing unsur budaya yang dihidupi secara bersamaan tetap berdiri mandiri. Hammons (2016: 404-405) mencatat pula bahwa saat ini banyak dijumpai masyarakat Suku Mentawai yang tetap mempraktikkan kepercayaan lokal sabulungan dan juga memeluk salah satu agama yang ada; Protestan, Katolik atau Islam. Hal itu merupakan sesuatu yang wajar. Menjadi tidak wajar justru mereka yang tidak menganut agama resmi dan hanya mempraktikkan agama lokal saja. Karena dalam pandangan mereka, tidak memeluk agama resmi yang diakui negara berarti anti-negara. Selain peristiwa pelarangan atas sabulungan di Mentawai, kepercayaan lokal masyarakat suku Ngaju, Kaharingan, di Kalimantan Tengah juga mengalami hal yang serupa. Nama Kaharingan berarti: membangkitkan hidup, membuat hidup (Baier 2007: 567, Baier 2014: 172). Kaharingan sendiri sebenarnya merupakan salah satu sistem kepercayaan lokal yang ada di Kalimantan. Seperti juga Arat Sabulungan, para penganut Kaharingan memiliki keyakinan atas roh-roh. Roh-roh itu bisa merupakan roh leluhur 15

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ataupun roh-roh lain yang berada di sekitar mereka. Mereka juga percaya bahwa segala benda dan tumbuhan yang ada memiliki jiwa dan mampu merasa seperti halnya manusia. 8 Jika sabulungan dilarang keberadaanya oleh pemerintah pada 1954, Kaharingan di Kalimantan memiliki sejarah yang berbeda. Para penganut Kaharingan berusaha memperjuangkan sistem kepercayaan mereka untuk bisa diterima sebagai agama resmi. Sebagai salah satu cara agar Kaharingan sejalan dengan butir pertama Pancasila – di mana negara menjunjung Ketuhanan Yang Maha Esa – pada tahun 1953 Kaharingan menyatakan bahwa mereka mengakui pula Tuhan yang Esa yakni apa yang mereka sebut Ranying Hatalla Langit. Ia adalah Yang Mahakuasa sumber kehidupan dan juga penghancur. Teologi yang dianut oleh Kaharingan juga menyerupai Trimurti pada agama Hindu (Baier 2007: 565-566). Perjuangan para penganut Kaharingan memperoleh pengakuan sebagai pemeluk agama resmi negara masih harus menempuh proses yang panjang. Di Indonesia sebuah aliran kepercayaan dianggap sebagai ‘agama’ jika memiliki unusr-unsur mendasar seperti: 1) mangandung kepercayaan akan Tuhan yang Esa, 2) memiliki kitab suci, 3) tempat ibadat, serta 4) hari-hari raya keagamaan9. Untuk memenuhi kriteria tersebut penganut Kaharingan mengadaptasi kembali mitos penciptaan suku Ngaju dan menjadikannya sebagai kitab suci dengan sebutan ‘Panaturan Tamparan Taluh Handiai’.10 Setelah masa tahun 1970-an mereka menyebut tempat ibadat agama Kaharingan dengan istilah Balai Basarah. Dan barulah pada tahun 1980 pemerintah secara resmi mengakui Kaharingan, bukan sebagai agama resmi yang berdiri otonom, 8 Lih. Khalikin, A. 2016. Studi Agama Kaharingan pada Era Reformasi di Kalimantan Tengah. Harmoni, 10(1), Hlm. 189-206. 9 Bdk. Iskandar, N., Suud, A. K., & Si, S. 2017. Penguatan Peran Intelijen Kejaksaan dalam Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Aliran Keagamaan dalam Masyarakat (PAKEM) demi Ketertiban dan Ketenteraman Umum. Jakarta: Miswar. Hlm. 27. 10 Awal Mula. Sumber Segala Sesuatu. (The Origins. The Source of All Being) 16

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI melainkan sebagai bagian dari agama Hindu. Oleh karena itu sistem kepercayaan ini dikenal dengan sebutan agama Hindu Kaharingan (Baier 2007: 566-568). Ada begitu banyak contoh kisah para penganut ‘agama lokal’ dan aliran kepercayaan tradisional yang ada di Indonesia berhadapan dengan kebijakan pemerintah pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Sebagian dari penganut agama-agama lokal tersebut harus rela meninggalkan ajaran para leluhur dan beralih memeluk agama resmi negara. Sebagian yang lain memilih untuk memperjuangkan keyakinan tradisional mereka sehingga bisa diakui negara atau setidaknya menggabungkan diri pada salah satu agama resmi negara sebagaimana dilakukan oleh pemeluk Kaharingan di Kalimantan. Kini keberadaan aliran kepercayaan seperti mendapat angin segar. Pada 7 November 2017, Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan uji materi atas Undang-Undang Administrasi Kependudukan (UU Adminduk). Permohonan uji materi tersebut dilayangkan oleh beberapa perwakilan kelompok penganut kepercayaan di Indonesia. Mereka datang dari Komunitas Merapu di P. Sumba, penganut kepercayaan Parmalim di Sumatera Utara, penganut kepercayaan Ugamo Bangsa Batak di Sumatera Utara, serta perwakilan dari penganut kepercayaan Sapto Darmo di Jawa. Bagian yang diuji dalam sidang MK itu adalah pasal 61 ayat (1) dan (2) serta pasal 64 ayat (1) dan (5) dari UU No.23 tahun 2006 juncto UU No.24 tahun 2013. Hasilnya, ketua MK Arif Hidayat menyatakan bahwa kata 'agama' dalam Pasal 61 ayat (1) dan Pasal 64 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak 17

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI termasuk aliran kepercayaan.11 Melalui putusan itu kini para penganut agama lokal atau aliran kepercayaan bisa mencantumkan status kepercayaan mereka pada kolom Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Hal ini merupakan babak baru dalam sejarah perjuangan pengakuan atas agama dan kepercayaan lokal yang ada di Indonesia. G. KERANGKA TEORI Dalam tesis ini penulis mencoba melihat fenomena peminggiran dan perlawanan yang dialami orang Mentawai di Siberut dalam kehidupan sehari-hari dengan pendekatan James Scott (1985). Scott memaparkan hasil penelitian lapangannya selama 2 tahun (1978-1980) terhadap kaum petani di sebuah desa kecil yang dinamainya Sedaka (bukan nama sebenarnya) di wilayah Kedah, barat laut Malaysia. Fokus perhatiannya tertuju pada perjuangan ideologis kaum petani yang menghasilkan perlawanan terhadap kelompok yang mengeksploitasi mereka dengan latar belakang revolusi hijau yang terjadi pada masa itu. Dari model pendekatan Scott, penulis mencoba mengambil salah satu poin pemikiran penting untuk menganalisis hasil penelitian dalam tesis ini. Buah pemikiran Scott yang penulis gunakan adalah konsepnya mengenai ‘perlawanan dalam wujud keseharian’ (everyday forms of resistance). 1. Perlawanan dalam Wujud Keseharian Scott (1985: xvi) melihat bahwa kemunculan kaum petani sebagai tokoh utama sejarah tidak begitu dominan. Mereka sering hanya dikenal sebagai kelompok anonim yang dikaitkan dengan statistik pajak, pergerakan tenaga kerja, kaum pemilik tanah, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan produksi hasil pertanian. Kondisi dan situasi yang 11 https://nasional.kompas.com/read/2017/11/07/11495511/mk-hak-penganut-kepercayaan-setara-denganpemeluk-6-agama. Diakses pada 14 Maret 2018. 18

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dialami kaum petani tidak memungkinkan mereka melakukan pemberontakan terhadap kelompok yang mendulang keuntungan dan mengeksploitasi diri mereka. Konflik yang muncul di Sedaka antara petani miskin dan para pemilik tanah yang kaya dilatarbelakangi oleh perubahan hubungan produksi. Revolusi hijau yang terjadi memicu perubahan pola pertanian. Panen yang dilipatgandakan dalam dua kali musim tanam serta mekanisasi pertanian yang didukung pemerintah hanya menambah keuntungan di kalangan para pemilik tanah. Hal ini memicu terjadinya ketidakseimbangan sosial antara para tuan tanah dan petani. Kesenjangan yang terjadi tampak dalam perilaku para tuan tanah seperti misalnya: mengubah kebijakan sewa tanah, penggantian buruh tani manusia dengan mesin, dan menyewakan tanah garapan yang luas dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu di dalam relasi kehidupan sosial antara tuan tanah dan petani muncul perubahan perilaku yang merugikan kaum petani miskin. Para tuan tanah mengurangi atau tidak lagi memberikan pesta panen, memberi zakat dan sedekah sebagaimana dilakukan seturut tradisi Islam, serta pengakuan-pengakuan sosial yang dulunya mewarnai kehidupan sosial di wilayah Sedaka (Scott, 1985: 305). Hal ini bagi para petani kecil merupakan hal yang merugikan. Konsekuensinya para petani miskin berusaha memperjuangkan kepentingan mereka agar praktik-praktik sosial masa lalu diperoleh kembali. Diskriminasi oleh para tuan tanah terhadap kelas petani akibat perubahan proses produksi pertanian itu memicu munculnya perlawanan. Bagi Scott kaum minoritas seperti para petani di Sedaka tidak dimungkinkan mengadakan perlawanan frontal, terbuka, dan kolektif karena situasi struktur kelas sosial yang kompleks dan rumit di antara para pemilik tanah dan petani. Selain itu ketika para petani berada di posisi yang tidak dimungkinkan untuk melakukan perlawanan terbuka, 19

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI maka pilihan lainnya adalah melakukan protes sambil ‘melarikan diri’ atau menghindar (Scott 1985: 244). Scott dalam pengamatan lapangannya di Malaysia menitikberatkan perhatiannya pada bentuk perlawanan kelompok petani yang dilakukan secara sederhana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini yang oleh Scott disebutnya sebagai ‘perlawanan dalam wujud keseharian’ kaum petani. Berbeda dengan model perlawanan yang terang-terangan, terorganisir dan terencana rapi, bentuk perlawanan ini muncul dalam hal-hal yang seolah remeh temeh belaka. Sikap bermalas-malasan, kepatuhan palsu, gosip, pencurian kecil-kecilan, hingga melakukan sabotase, merupakan bentuk-bentuk senjata perlawanan kaum petani (Scott 1985: 29). Di permukaan orang akan melihat bagaimana kaum petani seolah ‘tunduk’ pada kebijakan pemerintah dan para pemilik tanah. Namun investigasi Scott menunjukkan bahwa di bawah permukaan yang tampak itu para petani tetap mengadakan perlawanan dan mengkritik pihak yang menguasai mereka. Scott mencermati pola-pola perlawanan yang terjadi di kalangan kaum petani di Sedaka menghasilkan semacam pembedaan antara dua wujud perlawanan. Di satu sisi adalah ‘perlawanan yang sesungguhnya’ yang memiliki ciri: (1) Organik, sistematik, dan kooperatif. (2) Memiliki prinsip tertentu dan tidak mementingkan diri sendiri. (3) Bisa berdampak pada munculnya gerakan revolusioner. (4) Memiliki ide atau tujuan meniadakan kelas dominan. Di sisi lain merupakan ‘perlawanan kecil-kecilan’ yang justru berciri hal yang sebaliknya: (1) Tidak teratur dan tidak sistematis. (2) Oportunis dan mengutamakan kepentingan diri sendiri. (3) Tidak sampai berujung pada gerakan revolusioner. (4) Sama sekali tidak tersirat upaya atau gagasan menggulingkan kelas dominan. Kedua model perlawanan tersebut menurut Scott penting untuk melihat gerakan kaum marginal, dalam hal ini kelompok petani di Sedaka. Menganggap remeh pola-pola 20

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perlawanan yang tampak kecil-kecilan bisa menjadikan analisis terhadap gerakan perlawanan kaum petani itu menjadi kurang lengkap. Keputusan Scott untuk menggali konflik kelas di Sedaka dari sudut pandang kelompok minoritas menjadi penting untuk menggali apa yang terjadi di bawah permukaan situasi sosial yang terjadi. Penelitian Scott di Sedaka memberikan sumbangan gagasan mengenai pembedaan antara public transcript dan hidden transcript. Apa yang tampak di permukaan, seperti relasi kuasa antara petani dan dominasi para pemilik lahan, dipandang sebagai ‘public transcripts’. Sementara perlawanan dan protes para petani yang dilakukan di bawah permukaan itulah yang disebut ‘hidden transcript’. Bentuk resistensi yang dilakukan para petani bisa muncul dalam kegiatan gosip, pencurian dan sabotase kecil-kecilan, mogok kerja atau bermalas-malasan. Menurut Scott perlawanan yang sifatnya frontal dan dilakukan dalam skala besar tidak mungkin terjadi dan hanya akan berakhir sia-sia melawan kaum pemilik tanah yang kaya dan didukung oleh pemerintah. Kelas petani menurut Scott seringkali berada dalam posisi yang ironis dalam konflik antar kelas. Segala bentuk revolusi dan perlawanan terbuka akan dengan mudah ditindak dengan tegas oleh pemerintah dan kelas yang mendominasi. Bahkan ketika para petani memberi dukungan mereka kepada salah satu kelompok partai, tidak memberikan jaminan kepastian bahwa nasib mereka kelak akan diperjuangkan. Bayang-bayang akan pembunuhan massal, penindasan, serta kehancuran moral yang disebabkan oleh pemberontakan menjadikan kaum petani cenderung menghindari konfrontasi secara terbuka (Scott, 1985:29-30). 2. Resistensi Orang Siberut dalam Praktik Sabulungan Ada beberapa pokok pemikiran Scott dalam penelitiannya yang penulis gunakan untuk menganalisis fenomena yang dialami orang Mentawai di Siberut. Pokok-pokok 21

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pemikiran tersebut adalah: hegemoni dalam konflik ideologi, model perlawanan simbolik dan gagasan mengenai narasi terselubung (hidden transcript). a. Hegemoni dalam Konflik Ideologi Jika dalam penelitian James Scott kaum petani berhadapan dengan dominasi para pemilik tanah dengan latar belakang revolusi hijau, orang Mentawai di Siberut dalam penelitian ini berada di posisi serupa berhadapan dengan dominasi negara dan para pewarta agama pasca kemerdekaan Indonesia. Barker (2014:119) secara singkat menjelaskan hegemoni sebagai upaya memproduksi seperangkat makna, gagasan, ideide, dan juga ideologi, oleh golongan yang berkuasa dan kemudian secara otoriter golongan tersebut berupaya menjaga dan mempertahankannya. Menurut Gramsci, ideologi sendiri bisa dipandang sebagai ide-ide, gugus makna, dan praktik yang fungsinya mendukung kekuasaan kelas sosial tertentu (Barker, 2014:138). Dalam konteks konflik di Sedaka, wujud hegemoni tersebut tampak dalam pertarungan ideologi yang terjadi antara tuan tanah dan kaum petani. Para pemilik tanah yang kaya – karena kedudukan sosialnya – dan diperkuat oleh dukungan pemerintah memiliki kuasa untuk memaksakan gagasan dan ide-ide mereka tentang bagaimana sebaiknya perilaku para petani. Namun tidak demikian dengan kelas petani. Mereka selalu berada di posisi subordinat yang tidak menguntungkan untuk memaksakan ide-ide mereka terhadap orang kaya (Scott, 1985: 315). Situasi yang serupa terjadi di Siberut pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Negara muncul sebagai pihak yang mendominasi gagasan dan ide-ide mengenai warga negara modern. Dominasi ideologi tersebut muncul dalam kebijakan pemerintah di P. Siberut. Ide-ide mengenai warga negara yang mengakui sila Ketuhanan Yang Maha Esa 22

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diwacanakan secara dangkal melalui penghayatan atas ‘agama resmi’ 12 – di mana tampak bahwa kepercayaa-kepercayaan tradisional seperti sabulungan tidak termasuk dalam kategori tersebut – hidup dalam desa-desa yang dibentuk pemerintah, dan mengenyam pendidikan. Dan sebagaimana para petani kecil di Sedaka, penghayat sabulungan di Siberut berada dalam posisi yang tidak memungkinkan memaksakan gagasan mereka sendiri terhadap negara sebagai kelas yang berkuasa. Konflik ideologi yang terjadi di Siberut inilah yang kemudian menyebabkan diskriminasi kelompok tertentu sehingga memicu munculnya perlawanan. Dalam hal ini perlawanan dipahami bukan semata-mata sebagai perilaku ofensif yang berusaha membalikkan tatanan kelas sosial melainkan juga sebagai upaya protes serta negosiasi yang terjadi di dalam relasi kekuasaan itu sendiri. Resistensi orang Mentawai di Siberut bukan terwujud dalam perilaku menentang program pemerintah dan menolak segala bentuk peraturan yang diberikan, tetapi justru terjadi melalui negosiasi dengan segala perubahan tersebut. b. Model Perlawanan Simbolik. Suatu tindakan atau aksi seseorang atau sekelompok orang lahir dari kehendak yang dipengaruhi oleh kesadaran mereka. Scott berpendapat bahwa aksi perlawanan dan pemikiran (mengenai) perlawanan selalu berhubungan secara dialogis. Kesadaran untuk melakukan aksi tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk yang sama. Ada kalanya garis aksi yang muncul bisa berupa hal yang mustahil dan unik (Scott, 1985: 38). Menganalisis kesadaran intensional yang ada di balik tindakan resistensi suatu kelompok menjadi penting untuk memahami bentuk protes dalam wujud keseharian. 12 Bdk. Stange, 2007: 127. 23

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bentuk perlawanan simbolik kelas tertentu tidak bisa dilepaskan dari gagasan mengenai ‘mistifikasi’ atau ‘kesadaran palsu’ yang muncul dari hegemoni simbolis pula. Dalam hal ini Scott mengutip pemikiran Gramsci mengenai tindakan kelompok dominan yang berkuasa mengendalikan sektor-sektor idiologis dari masyarakat seperti agama, pendidikan, dan media massa. Mereka dengan demikian berusaha membangun gagasangagasan yang indah, ideal, dan tampak asli. Apa yang dilakukan negara di daerah-daerah seperti di Siberut merupakan wujud hegemoni simbolis tersebut. Gagasan yang dibangun adalah bahwa warga negara yang baik adalah mereka yang menerima sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan hal itu dinyatakan dengan dianutnya agama tertentu. Gagasan lain yang dibangun adalah bahwa masyarakat yang merdeka dan modern meninggalkan segala bentuk tradisi animisme. Gagasan mengenai cara hidup bermasyarakat yang berpusat pada wilayah administratif sebagaimana diakui pemerintah juga merupakan konsepkonsep yang diwacanakan oleh pemerintah. Bagi Gramsci, sebagaimana ditulis Scott, mereka yang merupakan kelas yang didominasi lebih diperbudak dalam tataran pemikiran daripada dalam tataran praktik dan perilaku (Scott, 1985: 39). Hegemoni simbolik negara di atas dengan demikian berhadapan dengan ideologi orang Mentawai di mana relasi keduanya tidak pernah sejajar. Bentuk-bentuk ritual, tradisi, simbol-simbol budaya, serta norma-norma tradisional yang telah dihidupi orang Mentawai sekian lama telah membentuk semacam ideologi yang tidak bisa begitu saja dihilangkan. Bahwa kemudian orang-orang Mentawai di Siberut berduyun-duyun menganut agama sebagaimana diharapkan pemerintah dengan demikian tidak sematamata memperlihatkan tidak adanya perlawanan. Ritual-ritual sabulungan yang masih dihidupi sekelompok orang Mentawai di Siberut bisa jadi merupakan wujud perlawawanan simbolik yang memperlihatkan bahwa mereka tidak lagi menjadi 24

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok yang dikuasai begitu saja oleh tatanan sosial yang diupayakan oleh para penguasa. c. Narasi Terselubung Konflik yang terjadi di antara kelas tuan tanah dan petani miskin di Sedaka berlangsung seperti di atas ‘pentas’. Relasi antara para petani dan tuan-tuan tanah yang kaya tampak berjalan normal. Para petani menghormati kedudukan para pemilik lahan dan mengiyakan apa yang mereka harapkan dari kaum mereka. Demikian pula para pemilik lahan juga menjalankan peran sosial mereka dengan memberikan zakat dan sumbangan kepara orang-orang miskin pada hari-hari besar keagamaan. Namun situasi di bawah pentas justru berbeda. Perlawanan yang berlangsung justru terjadi ‘di bawah permukaan’. Sifat bermalas-malasan, kepatuhan palsu, gosip di kedai-kedai kopi, dan sabotase peralatan produksi pertanian, terus berlangsung. Gerakan di bawah pentas ini merupakan bentuk narasi yang terselubung (hidden transcript) yang oleh Scott dibedakan dengan situasi kehidupan umum yang tampak di permukaan (public transcript) (Scott, 1990:4). Pemikiran Scott mengenai hidden transcript yang diterapkannya dalam penelitian terhadap petani di Sedaka diuraikan secara detail dalam bukunya Hidden Transcripts: Domination and And The Arts of Resistance (1990). Segala bentuk tingkah laku, perbincangan, praktik-praktik yang dilakukan kelompok subordinat di ‘luar pentas’ tersebut sama sekali bertentangan dan mampu mengubah apa yang tampak di ‘atas pentas’. Istilah hidden transcript ini digunakan Scott untuk memperlihatkan bahwa apa yang terjadi di ‘luar pentas’ benar-benar berada di luar pengamatan para pemegang kekuasaan atau kelas yang mendominasi (Scott, 1990:4). Maka untuk melihat bagaimana dominasi terjadi dan beroperasi pada wacana publik penting sekali melihat perbedaan 25

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI antara hidden transcript dan public transcript (Scott, 1990: 5). Ada 3 karakteristik hidden transcript menurut Scott (1990: 14) yang penting untuk diperhatikan. Pertama, narasi terselubung (hidden transcript) secara khusus diperuntukkan bagi kelas sosial tertentu dan terhadap seperangkat tindakan tertentu. Dengan demikian narasi kelas sosial tersebut diuraikan dalam ‘publik terbatas’ dan oleh karena itu ‘tersembunyi’ bagi golongan kelas tertentu. Dalam kisah petani di Sedaka, apa yang dilakukan para petani tersembunyi bagi kelompok tuan tanah dan pemerintah. Sedangkan dalam kasus di Siberut, praktik sabulungan tersembunyi bagi pemerintah dan para pewarta agama. Kedua, narasi terselubung tidak hanya berwujud wacana, cerita-cerita, tetapi juga mencakup serangkaian praktik dan tindakan. Tindakan para petani di Sedaka bekerja sambil bermalas-malasan, pencurian, menghindari pajak, merupakan hal yang tak terlepas dari konsep narasi terselubung. Hal yang mirip terjadi pula dikalangan orang Mentawai di Siberut, yang menghindari istilah sabulungan dan lebih memilih menggunakan kata ‘budaya’ serta menjalankan pula kewajiban hidup beragama sebagaimana dianjurkan agama masing-masing. Karakteristik ketiga dari narasi terselubung adalah situasi yang memperlihatkan bahwa perbatasan antara public transcript dan hidden transcript tidak selalu jelas. Perbatasan tersebut selalu menjadi bagian dari wilayah perjuangan terusmenerus antara kelompok yang mendominasid an kelompok subordinat. Pemikiran Scott ini juga yang akan digunakan untuk melihat fenomena yang terjadi di Siberut. Bagaimana orang Mentawai dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat umum mengikuti arahan pemerintah untuk menganut agama resmi dan meninggalkan tradisi sabulungan? Namun situasi yang terjadi di bawah pentas memperlihatkan hal yang berbeda. Di sini lah teori Scott mengenai hidden transcript bisa memberikan kontribusi 26

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk melihat fenomena yang terjadi di kalangan orang Mentawai di Siberut yang masih menjaga tradisi sabulungan dalam kehidupan mereka saat ini. H. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam (in-depth interview) dan studi pustaka untuk mengumpulkan data. Pemilihan informan dilakukan dengan metode purposive sampling. Wawancara dilakukan kepada sejumlah tokoh masyarakat dan tetua adat yang ada di wilayah Kecamatan Siberut Selatan. Lokasi ini dipilih karena di sana masih bisa dijumpai masyarakat tradisional Mentawai. Wilayah tersebut juga sering menjadi tujuan kunjungan wisatawan mancanegara ataupun domestik yang ingin mengenal dan melihat dari dekat kehidupan tradisional suku Mentawai. Penelitiaan lapangan dilakukan secara khusus oleh penulis dalam 2 periode. Yang pertama pada bulan Januari 2017 selama 2 minggu dan yang kedua dilaksanakan pada bulan Desember 2017 sampai awal Januari 2018 selama 4 minggu. Pada kunjungan pertama, penulis mengadakan perbincangan dengan beberapa kenalan di Siberut mengenai tema tesis ini. Dari pertukaran pikiran tersebut, penulis dibantu beberapa kenalan mencoba mencari tokoh-tokoh masyarakat yang dipandang memiliki pemahaman atas tema yang akan penulis angkat dalam tulisan ini. Waktu kunjungan yang cukup singkat, dan kesulitan menjumpai para informan di kediaman mereka mejadi salah satu kendala yang penulis hadapi di lapangan. Kebanyakan dari mereka sedang tidak berada di rumah kediamannya ketika penulis mengunjungi mereka. Sebagian sedang berada di ladang atau sedang pergi ke tempat lain. Terbatasnya waktu dan kesulitan untuk membuat janji bertemu dengan tokoh yang bersangkutan menjadikan penulis tidak banyak mendapatkan data. 27

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada kunjungan yang kedua, dari pertengahan bulan Desember 2017 hingga awal Januari 2018, penulis lebih banyak mengadakan wawancara dengan beberapa informan yang telah ditentukan. Penulis banyak dibantu oleh seorang guru setempat, Marinus Satoleuru, yang ayahnya juga seorang sikerei. Selain itu penulis juga dibantu oleh sekretaris paroki gereja setempat, Bapak Petrus Marjuni, orang Jawa yang sejak masa mudanya mengabdi di Siberut. Bersama Marinus dan Bapak Petrus Marjuni, penulis mengunjungi sejumlah tokoh, mulai dari orang yang dituakan dalam suku, pejabat pemerintahan, dan orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan dan pariwisata. Semua informan adalah orang Mentawai. Bersama Marinus dan Bapak Marjuni juga penulis banyak bertukar pikiran mengenai tema tesis ini dan menentukan siapa-siapa yang sekiranya cukup memahami situasi budaya setempat dan sejarahnya di masa lalu. Marinus juga banyak membantu penulis dalam berkomunikasi dengan penduduk setempat dengan bahasa Mentawai. Para narasumber yang dipilih merupakan tetua dalam sebuah suku yang mengalami sendiri peristiwa tahun 1954, para katekis atau guru agama Katolik orang Mentawai yang memahami juga budaya setempat, serta tokoh-tokoh yang sempat menjabat sebagai kepala dusun atau desa. Kesulitan menjumpai para informan di waktu yang ditentukan masih menjadi kendala. Sebagian besar wawancara dilakukan pada sore hingga malam hari. Saat itu para informan sudah berada di rumah setelah seharian bekerja. Penulis juga berkesempatan mewawancarai Bupati Kep. Mentawai, Bapak Yudas Sabaggalet yang kebetulan pada saat itu datang untuk merayakan Natal di Muara Siberut. Kesempatan ini tidak dijadwalkan sebelumnya oleh penulis. Data dari wawancara dan pembacaan sejumlah literatur itulah yang menjadi sumber data. Bersamaan dengan itu penulis juga 28

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menggunakan bahan-bahan sekunder dari literatur dan arsip untuk memperkaya analisa tesis ini. I. SISTEMATIKA PENULISAN Tesis ini dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama berisi latar belakang dan tujuan penulisan, pertanyaan penelitian, kajian pustaka, landasan teoritis, dan metode penelitian. Pada bagian kedua akan diulas mengenai gambaran umum kepulauan Mentawai saat ini, gagasan mengenai orang Mentawai dalam mitos tradisonal dan dari sejumlah penelitian. Bagaimana perjumpaan orang Mentawai dengan budaya dari luar, sistem kepercayaan mereka dan relasinya dengan negara juga merupakan poin-poin yang akan disajikan dalam bab yang kedua. Bab yang ketiga akan berisikan pembahasan mengenai sabulungan di mata mereka yang dituakan dalam suku dan masyarakat (sikebukat) serta bagaimana ritual sabulungan masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari orang Mentawai di Siberut. Pada bab yang keempat penulis mencoba menyajikan persoalan dominasi negara terhadap sabulungan serta bagaimana siasat perlawanan orang Mentawai. Akhirnya pada bagian yang terakhir penulis akan memberikan tanggapan dan kesimpulan. 29

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KEPULAUAN MENTAWAI, ORANG SIBERUT DAN SABULUNGAN Bab kedua ini akan menjelaskan tiga pokok bahasan. Bagian pertama akan berisi gambaran umum situasi Kepulauan Mentawai. Hal itu meliputi keadaan geografis, situasi penduduk, hingga perkembangan apa saja yang sedang terjadi di wilayah tersebut hingga saat ini. Pokok bahasan kedua memuat uraian mengenai gagasan komunitas orang Mentawai. Bagian ini akan berisi beberapa tulisan yang disusun oleh para peneliti Mentawai. Pembahasan mengenai bagaimana asal-usul orang Mentawai – sebagaimana termuat dalam hasil penelitian terdahulu dan mitos tradisional mereka – secara singkat juga akan dimuat pada bagian kedua ini. Penjelasan mengenai kepercayaan tradisional orang Mentawai dan bagaimana negara melalui aparatusnya berusaha menghapuskannya akan menjadi poin pembahasan bagian yang ketiga. Pada bagian terakhir itu pula penulis akan memberikan gambaran mengenai situasi memudarnya sabulungan dalam kehidupan orang Mentawai di Siberut. 30

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI A. Gambaran Umum Kepulauan Mentawai 1. Lokasi Geografis Secara geografis kepulauan Mentawai terletak di sebelah barat Pulau Sumatera – dipisahkan oleh Selat Mentawai – dan merupakan 1 dari 12 kabupaten di Provinsi Sumatera Barat. Wilayah kepulauan dengan luas 6.011,35 km 2 dan garis pantai sepanjang 1.402,66 km13 ini terdiri empat pulau utama, yakni P. Siberut, P. Sipora, P. Pagai Utara dan P. Pagai Selatan. Selain keempat pulau utama tersebut terdapat ratusan pulau-pulau Peta 1. Lokasi P. Siberut di Kepulauan Mentawai kecil yang tersebar di wilayah Mentawai. Namun data BPS tahun 2017 baru mencatat 99 13 Lih. BPS. 2018. Kabupaten Kepulauan Mentawai dalam Angka 2018. 31

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI nama pulau yang sebagian besar berada di wilayah Kecamatan Sipora Utara dan Siberut Barat Daya. Sejak tahun 1999 berdasarkan UU RI No. 49 Tahun 1999 wilayah ini resmi berdiri sebagai Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan ibu kota Tuapeijat yang terletak di P. Sipora. Menurut data administrasi pemerintah daerah tahun 201714, Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki 10 kecamatan, 43 desa dan 341 dusun. Sebagian besar daerah di Mentawai hanya bisa dicapai dengan sarana transportasi air (sungai dan laut). Baru sedikit jalan yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Pada tahun 2015 dimulailah proyek pembangunan jalan Trans-Mentawai15. Rencananya proyek ini akan membuka jalan sepanjang 393 km yang menghubungkan keempat pulau utama di wilayah Kab. Kepulauan Mentawai. Menurut Bupati Kab. Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet, saat ini jalan Trans-Mentawai yang sudah selesai mencapai 134 km. Masih tersisa 188,53 km jalan yang belum dikerjakan. Proyek ini akan membutuhkan dana sebanyak Rp. 1,2 triliun yang diperoleh dari APBD dan APBN. 16 Jalur transportasi darat sangat dibutuhkan di wilayah Kepulauan Mentawai. Dengan tersedianya jalan darat yang menghubungkan daerah-daerah di wilayah kepulauan tersebut pembangunan daerah dan pertumbuhan ekonomi bisa meningkat dengan pesat. Program pembangunan daerah Mentawai yang diprioritaskan pada pembangunan infrastruktur, termasuk pembukaan jalur transportasi darat, menjadi hal yang penting mengingat Kepulauan Mentawai juga dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bagi wisatawan mancanegara. Sebagian besar wisatawan luar negeri datang ke wilayah 14 Lih. BPS. 2018. Kabupaten Kepulauan Mentawai dalam Angka 2018, hlm. 4. Lih. https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/08/22/ov38xb428-pembangunaninfrastruktur-mentawai-mendesak diakses pada 30 Nvember 2018. 16 Lih. Kompas. (18 Agustus 2017). Trans-Mentawai Melewati Hutan. Kompas, diambil dari https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170818/281960312863916 pada 26 September 2017. 15 32

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kepulauan itu untuk berselancar. Hal ini tidak mengherankan mengingat Mentawai memiliki 71 titik untuk berselancar dan 2 di antaranya (Lances Right dan Macaronies) termasuk dalam 10 titik selancar terbaik di dunia.17 Menurut Desti Simamora, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kep. Mentawai (Disparpora), pada tahun 2017 tercatat sekitar 10.500 wisatawan mancanegara datang ke Mentawai. Dari jumlah tersebut 50% wisatawan datang dari Australia, Amerika Serikat, Jepang, Spanyol dan Brazil.18 Dengan semakin mudahnya akses ke wilayah-wilayah di Mentawai pemasukan bagi pendapatan daerah dari sektor pariwisata pun akan bertambah. Saat ini sarana transportasi utama yang digunakan untuk menuju Mentawai adalah kapal penyeberangan. Ada beberapa kapal penyeberangan yang beroperasi saat ini, yakni KM. Ambu-Ambu dan KM. Gambolo. Selain itu terdapat juga KM Sabuk Nusantara 37 19 serta kapal cepat MV Mentawai Fast yang dikelola oleh swasta. Dengan menggunakan kapal ferry diperlukan waktu sekitar 10 jam untuk mencapai Muara Siberut – ibu kota Kecamatan Siberut Selatan – dari Pelabuhan Bungus di Padang. Atau jika menggunakan kapal MV Mentawai Fast, pelayaran Padang-Mentawai bisa ditempuh dalam waktu 3-4 jam. Banyak wisatawan dan masyarakat kelas menengah yang memanfaatkan pelayaran ini karena waktu tempuhnya lebih singkat. Berbeda dengan sebagian masyarakat yang memiliki usaha dagang, mereka lebih memilih menggunakan jasa pelayaran ferry untuk mengangkut barang dagangan mereka dari Padang. Masyarakat di Mentawai yang hendak menjual hasil bumi seperti, ikan, udang karang, pisang, coklat, cengkeh, dan enau, juga 17 Lih. Fadjar, Evieta. (2013, April). Mentawai Memiliki 2 Titik Ombak Terbaik Dunia. Tempo.co, diambil dari https://travel.tempo.co/read/473309/mentawai-punya-dua-titik-ombak-terbaik-dunia# pada 27 September 2017. 18 Lih. Puspita, Ratna. (2018, Maret). Pendapatan Mentawai dari Pariwisata Capai Rp. 7,3 Miliar. Republika.co.id, diambil dari https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/18/p5slc7428pendapatan-mentawai-dari-pariwisata-capai-rp-73-miliar pada 14 September 2018. 19 Kapal Sabuk Nusantara 37 merupakan bantuan dari Dinas Perhubungan pada tahun 2014. Namun dari pengamatan penulis dan informasi warga setempat, kapal ini jarang tampak berlabuh di Muara Siberut serta memiliki jadwal yang tidak menentu. 33

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI cenderung memanfaatkan jasa kapal ferry untuk membawa hasil laut dan kebun mereka tersebut ke Padang. 2. Kependudukan Data dari Biro Pusat Statistik Kabupaten Mentawai tahun 201720 menunjukkan jumlah penduduk di Mentawai sebesar 88.692 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 15 jiwa per km2. Sebagian besar masyarakat Mentawai tersebut (64,67%) bekerja di bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan. Sementara itu masih sedikit sekali masyarakat yang bekerja di sektor industri (3,30%), perdagangan, rumah makan, dan jasa akomodasi (9,5%). Kondisi tanah di kepulauan Mentawai memang tergolong sangat subur. Sayangnya pertanian dan perkebunan di Mentawai belum dikelola secara optimal. Pada umumnya mereka menanam tanaman seperti kakao, cengkeh, nilam, pinang, kelapa (yang kemudian dijadikan kopra), pisang dan keladi. Hasil kebun tersebut selanjutnya dijual kepada pedagang besar dan kemudian diangkut ke Padang. Banyak pedagang besar juga memiliki kapal yang singgah di daerah-daerah yang belum memiliki akses jalan guna mengangkut hasil bumi seperti kopra dan rotan. Pada masa lampau kapal-kapal dagang inilah yang sekaligus menjadi sarana transportasi orangorang Mentawai yang hendak pergi ke Padang. Makanan utama warga setempat adalah sagu. Namun dengan semakin banyaknya pendatang serta perubahan pola hidup, disamping sagu masyarakat Mentawai kini telah mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Keadaan ini memicu pemerintah daerah untuk menggalakkan pengadaan lahan persawahan guna menunjang kebutuhan beras di 20 Lih. BPS. 2018. Kabupaten Kepulauan Mentawai dalam Angka 2018. 34

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mentawai yang semakin meningkat. Peningkatan luas lahan persawahan tampak dari data statistik. Pada 2012 hanya terdapat 307 Ha lahan sawah di Mentawai. Saat ini telah tercatat 2.452 Ha area sawah yang tersebar di seluruh kepulauan. Mayoritas penduduk Kabupaten Kepualauan Mentawai adalah suku Mentawai. Selain itu terdapat juga penduduk yang berasal dari etnis lain seperti Minangkabau, Nias, Batak, Jawa, dan Flores. Agama resmi yang dipeluk masyarakat di Mentawai adalah Protestan (50,32%), Katolik (36,62%), dan Islam (16,57%)21. Pada tahun 1901 agama Protestan mulai diperkenalkan di Mentawai yakni di wilayah Sikakap dan Sipora. Baru pada tahun 1953 para misionaris Katolik masuk di Siberut. Gereja Katolik pertama berdiri pada tahun 1954 di Muara Siberut. Walaupun diketahui bahwa para pedagang dari tanah tepi Sumatera Barat yang beragama Islam telah memiliki hubungan dagang dengan wilayah Mentawai sejak zaman Belanda, namun belum ada data yang autentik tentang kapan agama Islam mulai diperkenalkan di kepulauan Mentawai. Namun penyebaran agama Islam di Mentawai, khususnya di Siberut, mulai terorganisir sejak dibentuknya Badan Otorita Khusus Kepulauan Mentawai pada tahun 1971. Dalam bidang pendidikan tampak bahwa tingkat pendidikan masih tergolong rendah. Laporan mengenai jumlah penduduk usia sekolah dan partisipasi sekolah tahun 2017 memperlihatkan hanya 35,20% penduduk usia sekolah, 5-25 tahun ke atas yang sedang bersekolah. Selebihnya sebanyak 59,60% sudah tidak bersekolah lagi. Lebih dari setengah kelompok ini (76,9%) adalah mereka yang berusia 19-24 tahun. Ini menunjukkan bahwa mereka hanya menyelesaikan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) saja. Angka putus sekolah setelah SMA tergolong sangat tinggi. Hingga tahun 2017 dilaporkan terdapat 117 Sekolah Dasar (SD), 29 Sekolah Menengah 21 Data Sensus Penduduk 2010 – Badan Pusat Statistik. Sumber: https://sp2010.bps.go.id 35

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pertama (SMP), dan 15 Sekolah Menengah Atas yang tersebar di Kab. Kepulauan Mentawai. Selama periode 2014-2017 tidak terdapat penambahan jumlah SD. Sedangkan untuk periode yang sama sebanyak 5 unit SMP dan 4 unit SMA baru dibuka. Pada umumnya Sekolah Dasar banyak tersebar di dusun-dusun22. Namun untuk SMP biasanya hanya terdapat desa. Hanya di pusat kecamatan keberadaan SD, SMP, dan SMA bisa dijumpai. Hal ini mengakibatkan anak-anak usia sekolah yang berasal dari daerah-daerah yang jauh harus tinggal di pusat-pusat kecamatan selama masa sekolah. Keberadaan asrama-asrama dan pondokan pelajar menjadi hal yang umum dijumpai hingga saat ini. Persebaran guru juga sejauh pengamatan penulis kurang merata. Di sejumlah sekolah dasar yang terletak di wilayah yang sulit dijangkau, jumlah guru sangat sedikit. Tidak jarang seorang guru harus mendampingi anak-anak dari kelas 1 hingga kelas 3 SD. Situasi ini menjadikan perkembangan pembangungan di Mentawai berjalan lambat. Kabupaten Kepulauan Mentawai hingga 2017 merupakan salah satu dari tiga daerah tertinggal di Sumatera Barat. B. Gagasan Mengenai Komunitas Orang Mentawai Penduduk asli Kepulauan Mentawai adalah suku Mentawai. Catatan sejarah J. R. Logan dalam The Chagalelegat or Mantawe Islander (Logan, 1855) sebagaimana dikutip oleh Coronesse dalam Kebudayaan Suku Mentawai (Coronesse, 1986), memberikan catatan mengenai gambaran fisik orang Mentawai di masa lalu yang berperawakan baik dan menarik. Mereka juga tampak sehat dan jarang yang didapati memiliki cacat fisik. Hal ini dikarenakan cara hidup orang Mentawai yang dekat dengan alam sehingga mereka yang bertahan adalah benar-benar hasil dari seleksi alam. Mereka tidak memiliki 22 Di Mentawai wilayah administratif terkecil adalah dusun. Beberapa dusun – yang letaknya bisa sangat berjauhan – bergabung membentuk sebuah desa. Wilayah kecamatan terdiri dari beberapa desa. 36

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pekerjaan tetap karena hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan hasil bumi. Hasil buruan dan hasil hutan itulah yang nantinya akan ditukar (barter) dengan para pedagang pendatang untuk memperoleh bahan-bahan kebutuhan mereka. Orang Mentawai juga digambarkan sebagai masyarakat yang ramah, baik hati, suka menghormati orang lain dan tidak ingin berperang. Mereka juga dikenal dengan seni tatonya. Ginarti (1985) menulis bahwa bagi masyarakat Mentawai, tato merupakan ‘pakaian abadi’ di mana busana tersebut akan dikenakan hingga akhir hayat. 23 Setiap daerah memiliki pola tatonya tersendiri. Di masa lalu, diperlukan ritual khusus guna membuat tato di badan seseorang. Saat ini di Mentawai, khususnya di P. Siberut, masih bisa kita jumpai orang-orang tua suku Mentawai yang badannya penuh dengan tato. Tradisi tato ini hampir tidak bisa dijumpai lagi pada generasi orang muda Mentawai. Meskipun letak Kepulauan Mentawai berdekatan dengan wilayah Sumatera Barat, namun orang-orang suku Mentawai memiliki adat istiadat yang sangat berbeda dengan orang Minangkabau yang merupakan mayoritas penduduk Sumatera Barat. Bukan hanya itu, Mentawai juga dikenal memiliki keragaman hayati yang berbeda dengan P. Sumatera. Hal ini bisa dipahami dengan mengamati laporan yang disusun oleh WWF tahun 1980 24 yang memperlihatkan gambaran wilayah kepulauan Mentawai di jaman Pleistosen (kurang lebih 1.000.000 sampai 10.000 tahun lalu). Pada masa itu P. Sumatera, P. Jawa dan P. Kalimantan masih dihubungkan oleh daratan. Hal ini juga yang memungkinkan pertukaran fauna yang ada di wilayah tersebut. Namun demikian wilayah Kepulauan Mentawai tetap tinggal terpisah dari daratan Sumatera. 23 Lih. Ginarti K, B. 1985. Tumbangnya Sebuah Aspek Kebudayaan Mentawai: Tato dalam Pulau Siberut. 1985. Gerard Persoon dan Reimar Scefold (ed.). Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. 24 Lih. WWF. 1980. Penyelamatan Siberut: Sebuah Rancangan Induk Konservasi. Bogor: World Wildlife Fund Report. 37

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Belum ada teori yang disepakati bersama mengenai asal-usul nenek moyang orang Mentawai (Coronesse, 1986; Rudito, 1993; Juniator, 2012). Hal ini disebabkan karena ada begitu banyak versi cerita yang menjelaskan hadirnya pendatang pertama di wilayah kepulauan itu. Selain itu tidak tersedianya sumber peninggalan arkeologis dan literaturliteratur menjadikan upaya penelusuran sejarah nenek moyang suku Mentawai menjadi semakin sulit (Caisutti, 2015:13). Juniator dalam desertasinya mencoba mengumpulkan beragam kisah tersebut. Ia menggolongkan kisah-kisah berdasarkan periodisasi waktu: tahun 1842 dan 1930, 1960 dan 1991, serta yang terakhir antara tahun 2002 dan 2006. Dalam penelitian lapangan yang terkahir antara tahun 2002, 2004, dan 2006, ia tidak menemukan lagi penutur Mentawai yang memiliki kisah seperti yang ditulis para ahli antara tahun 1842 dan 1930, yang menjelaskan bahwa penduduk asli Mentawai merupakan orang Melayu yang datang langsung dari wilayah Sumatera (Padang). Kisahkisah yang diceritakan justru memiliki kemiripan dengan laporan-laporan tertulis yang diperoleh pada tahun 1960-1991. Sumber-sumber tersebut memberikan informasi mengenai pendatang dari kepulauan Nias yang bernama Aman Tawe. Baik sumber yang dikumpulkan antara tahun 1884-1930 maupun tahun 1960-1991 hanya memberikan informasi mengenai kehadiran orang-orang Mentawai pertama di P. Siberut dan tidak mencakup kisah mengenai wilayah selatan, seperti di P. Sipora dan Pagai. Di wilayah tersebut, di P. Sipora misalnya, terdapat informasi lain mengenai orangorang yang datang dari daerah Muko-muko di Bengkulu. Dalam hal ini Juniator sependapat dengan Wirz bahwa nenek moyang orang Mentawai datang dari beberapa tempat yang berbeda. Para pendatang itu – baik yang berasal dari beberapa wilayah di P. Siberut maupun dari P. Sipora – kemudian bercampur baur dan dikenal sebagai suku Mentawai sebagaimana dijumpai saat ini (Juniator, 2012). 38

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Mitos Asal-Usul Orang Mentawai Dalam buku yang disusun oleh Bruno Spina, Mitos dan Legenda Suku Mentawai (1981), terdapat 67 judul cerita tradisional Mentawai. Bruno Spina sendiri adalah seorang imam misionaris Xaverian yang ditugaskan di Sikakap (P. Pagai Utara dan P. Pagai Selatan) pada tahun 1963. Selama lima tahun pertama, ia banyak mencatat adat istiadat, kepercayaan orang setempat, dan juga mengumpulkan cerita-cerita kuno yang masih diingat oleh orang Mentawai di sana. Beberapa peneliti Mentawai yang juga telah menerbitkan kisah-kisah tradisional orang Mentawai antara lain: H.A. Mess (1881), J.F.K. Hansen (1915), A.C. Kruyt (1963-1924), dan Edwin M. Loeb (1929). Spina menggabungkan beberapa cerita dari para peneliti terdahulu tersebut – karena dilihat memiliki versi lebih lengkap – dan menjadikannya dalam satu buku dan ditulis kembali dalam bahasa Indonesia. Dari 67 cerita dalam buku Bruno Spina tidak satupun ditemukan kisah mengenai asal-usul orang Mentawai. Bahkan konsep mengenai penciptaan dunia diceritakan dengan sangat sederhana. Menurut Loeb, sebagaimana dikutip Spina dalam bagian pengantar, tidak adanya konsep penciptaan dan cerita mengenai asal-usul keberadaan manusia menjadikan masyarakat suku Mentawai berbeda dengan banyak suku bangsa di Indonesia. Bagi Spina hal tersebut memperlihatkan bagaimana orang Mentawai memandang dunia mereka. Orang Mentawai benar-benar meyakini bahwa dunia yang mereka huni bukanlah milik mereka. Mereka menggambarkan dunia sebagai sebuah taman yang besar, tempat di mana mereka bisa hidup dari memanfaatkan segala yang telah ada di alam. Oleh karena itu mereka harus menjaga relasi yang baik dengan roh-roh yang ada di alam dengan berterima kasih dan tidak menyalahgunakan sesuatu yang mereka gunakan. Menyalahgunakan apa yang mereka dapat di alam akan mengakibatkan 39

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI balas dendam dari roh-roh alam dan hal ini lah yang menjadi sumber malapetaka bagi manusia (Spina, 1981: 14). Keberadaan roh-roh alam menjadi hal yang sentral dalam banyak cerita tradisional orang Mentawai. Satu cerita singkat dalam buku Spina, Panandaat Polak Samba Rua Sirimanua Siboiki (Asal-usul Dunia dan Dua Orang Orang Pertama)25, memperlihatkan bahwa roh-roh inilah yang menciptakan dunia dengan melemparkannya dari langit sehingga terbentuk pulau-pulau Sumatera dan sekitarnya. Roh-roh itu pula menciptakan tumbuhan dan hewan serta manusia. Mereka juga yang dikisahkan selalu memberikan berbagai petunjuk mengenai cara hidup kepada manusia pertama (Spina, 1981: 253). Bagi orang Mentawai pada masa itu dunia berarti kepulauan Mentawai dan Sumatera. Sebuah cerita lain yang lama dikenal orang Mentawai di Sikakap mengisahkan bagaimana jaman dahulu nenek moyang mereka datang dari Padang dengan menggunakan 2 perahu besar. Sebagian dari mereka kembali ke Padang, sebagian berlayar menuju Pulau Siberut (Spina, 1981: 255). Salah seorang misionaris Xaverian awal yang berkarya di Siberut, P. Tonino Caisutti26, dalam catatannya27, mengisahkan bagaimana ia untuk pertama kali mengunjungi daerah Simatalu di bagian utara Siberut. Wilayah itu dipercaya sebagai asal nenek moyang orang Mentawai. Di sana P. Caisutti menemui sejumlah warga setempat yang lanjut usia dan tidak pernah meninggalkan tempat itu serta tidak pernah berjumpa dengan orang di luar wilayah tersebut. Kepada mereka P. Caisutti menanyakan darimana asal mereka. Mereka semua menjawab bahwa mereka datang dari daerah Simalegi. Di 25 Spina mengutip dan menterjemahkan cerita ini dari buku J.F.K. Hansen, de groep Noord en Zuid Pageh van de Mentawei-Eilanden, 1915 halaman 12. 26 P. Tonino Caisutti, SX berkarya di Kep. Mentawai ( Sipora, Siberut, dan Sikabaluan) pada tahun 1966 hingga 1997. 27 Caisutti, Tonino. 2015. La Cultura Mentawaiana. Terjemahan oleh Abis Fernando. Japan: Asian Studi Centre, hlm. 13-15. 40

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lain kesempatan, ketika P. Caisutti berkunjung ke Simalegi, ia juga menemui orang-orang tua di wilayah dan mengajukan pertanyaan yang sama mengenai asal-usul mereka. Orangorang itu menyatakan bahwa mereka tidak berasal dari mana-mana. Sejak semula mereka sudah hidup di tempat itu. Menurut P. Caisutti pada saat itu orang Mentawai tidak bisa menjelaskan darimana asal-usul mereka. Sejak semula telah tinggal di tempat ini, dan pulau ini, Siberut, merupakan pusat dunia (Caisutti, 2015 : 13). 2. Perjumpaan Orang Mentawai dengan Petualang, Aparat Kolonial dan Misionaris Dari penelusuran sejarah yang dilakukan oleh Coronesse, kepulauan Mentawai ditemukan oleh Vornelis Pietersz pada abad ke-17. Dan pada tahun 1600 kepulauan itu dinamakan Nassau sebagai tanda penghormatan kepada keluarga raja dari Kerajaan Belanda. Namun sejak 1620 para pelaut dari Belanda dikabarkan tidak sering lagi datang ke wilayah Mentawai. Baru pada tahun 1663 ditemukan nama-nama pulau di kepulauan Mentawai yang telah dimasukkan dalam catatan pelayaran Wouter Schouten. Nama-nama pulau itu adalah P. Mintaon (Siberut), Goed Fortuin (Sipora) dan Nassau (kepulauan Pagai). Nama-nama itu rupanya telah ada dalam peta tahun 1606 yang dibuat oleh bangsa Portugis. Pada tahun 1792, John Crisp – seorang pegawai Kongsi Dagang Hindia Timur Britania (British East India Company) – beberapa kali mengunjungi kepulauan Mentawai. Laporan yang ditulisnya diterbitkan tahun 1799 di London dan menjadi karya tertulis pertama yang mengulas mengenai Mentawai dan merupakan sumber penting bagi para peneliti Mentawai di kemudian hari. Pada tahun 1864 – setelah sebelumnya terjadi perebutan kekuasaan atas Mentawai oleh Inggris dan Belanda – dikeluarkanlah surat keputusan tertanggal 10 Juli 1864 No. 14, Staatsblad No. 104, yang menyatakan bahwa Pulau Nias, Kepulauan Batu, Kepuluan Mentawai dan Enggano semuanya termasuk 41

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam wilayah kekuasan Pemerintah Belanda. Mentawai menjadi wilayah yang penting bagi perdagangan karena hasil alamnya, terutama kayu. Dari perjumpaan dengan bangsa Barat sebelum tahun 1900an, kegiatan yang dilakukan oleh para pendatang di Mentawai sebagian besar berkisar pada perdagangan (Coronesse, 1986). Beberapa penelitian mengenai kebudayaan Suku Mentawai yang berbicara mengenai sistem kepercayaan tradisional masyarakat Mentawai antara lain terdapat pada tulisan Edwin M. Loeb (1928: 408-433). Ia menulis mengenai kunjungannya ke wilayah Kepulayan Mentawai pada tahun 1926 dan termasuk antropolog awal yang mempublikasikan hasil penelitiannya mengenai budaya Mentawai. Tulisan Loeb fokus pada struktur sosial masyarakat Suku Mentawai termasuk juga mengenai sistem kepercayaan mereka, meskipun ia belum menggunakan istilah arat sabulungan. Istilah arat sabulungan baru digunakan secara umum pada tahun 1950an; pasca kemerdekaan Indonesia. Menurut Juniator istilah itu muncul dari pemerintah dan para misionaris awal (kemungkinan besar Protestan yang masuk ke Mentawai tahun 1900 (Juniator 2012: 68). Mengenai sistem religi Suku Mentawai Loeb melihat adanya kemiripan dengan pengaruh Hinduisme dalam ritual pengorbanan ayam dan babi, cara penyampaian ramalan – terutama dalam praktik hepatoscopy atau upacara menyampaikan ramalan dengan mengamati bagian organ hati dari binatang, seperti ayam atau burung. Namun pengaruh Hinduisme tidak dijumpai dalam kisah-kisah dan mitos-mitos tradisional masyarakat Mentawai.28 Ia justru menuliskan bahwa masyarakat Mentawai meyakini adanya roh alam, jiwa, dan hantu. Roh alam diyakini masyarakat setempat bukan sebagai sebuah entitas tunggal. Roh-roh yang berdiam di langit disebut tai-ka-manua (Bhs. Mentawai: orang-orang di langit), mereka yang menghuni lautan dinamakan tai-ka-baga- 28 Lih. Loeb, EM. 1928. Hlm. 408. 42

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI koat (Bhs. Mentawai: orang-orang di dalam laut), mereka yang tinggal di hutan dikenal sebagai tai-ka-leleu (Bhs. Mentawai: orang-orang di gunung), dan roh-roh yang berada di tanah disebut tai-ka-baga-polak (Bhs. Mentawai: orang-orang di dalam bumi). Tidak ada sebutan personal bagi roh-roh alam tersebut. Dan istilah-istilah itu tidak mendefinisikan bahwa ada roh alam yang lebih tinggi dari roh-roh alam yang lain. Loeb juga mengemukakan pendapat bahwa agama tradisional Suku Mentawai tersebut memiliki kemiripan dengan agama-agama tradisional lain di Indonesia di mana masih mengandung konsep relasi manusia dan roh.29 Reimar Schefold (1985: 20), berpendapat bahwa roh-roh yang diam di alam adalah perwujudan dari konsep tradisional masyarakat Mentawai mengenai Tuhan yang Mahaesa, atau mereka kenal dengan istilah ulau kina (Bhs. Mentawai: Anda yang terang). Seluruh roh yang ada di langit, gunung, dan hutan saling bereaksi dengan jiwa manusia dan jiwa-jiwa yang dimiliki binatang, tumbuhan, dan semua obyek yang ada. Berbeda dengan roh yang bisa hidup bebas tanpa terikat bentuk fisik, jiwa menurut Coronesse merupakan duplikat rohani dari semua obyek: manusia, pohon, tanaman, hewan bahkan batu-batuan. Dengan demikian jiwa ini terikat dengan tubuh fisik meskipun ia bisa juga mengembara keluar dari tubuh dan berjumpa dengan jiwa-jiwa lain yang ada di alam. (Coronesse, 1986: 42). Relasi antara roh-roh, jiwa-jiwa dan dunia manusia harus berlangsung dengan seimbang. Namun dalam kenyataanya aktivitas manusia selalu saja bisa mempengaruhi keseimbangan itu. Munculnya penyakit bisa dipandang sebagai dampak dari relasi jiwa manusia dan jiwa benda-benda di alam yang tidak seimbang. Oleh karena itu ada begitu banyak upacara, larangan dan pantangan yang dipegang oleh orang 29 Lih. Loeb, EM. 1928. Hlm. 412. 43

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mentawai dalam melakukan kegiatan sehari-hari yang bertujuan menjaga relasi mereka dengan dunia roh dan jiwa sehingga tetap seimbang (Schefold 1985:21). Stefano Coronese (1986: 31), imam Misionaris Xaverian berkebangsaan Italia, mencatat perjumpaan masyarakat suku Mentawai dengan budaya lain lewat perdagangan telah ada pada tahun 1621. Dan sebelum tahun 1600 hanya P. Siberut saja yang dianggap berpenghuni Jhon Crisp30 yang datang ke wilayah kepulauan itu pada 1792 membuat catatan yang menjelaskan bahwa mereka yang tinggal di Mentawai – terutama yang mendiami P. Pagai – juga telah melakukan hubungan dagang dengan Bengkulu. Hubungan dagang inilah yang menyebabkan P. Sipora dan P. Sikakap lebih maju jika dibandingkan dengan P. Siberut yang dalam waktu lama ditinggalkan terisolir (Coronesse 1986:32). Agama-agama pendatang dari luar baru dikenal kemudian. Protestan masuk ke Mentawai di Sikakap pada tahun 1901 dan banyak pelaut dan pedagang sudah singgah di Sikakap dan Sipora pada masa itu. Juniator (2012) merangkum informasi yang menujukkan bahwa agama Protestan masuk ke wilayah Mentawai melalui para misionaris Jerman yang datang di P. Pagai pada 1901 atas undangan pemerintah Kolonial Belanda. Coronese mencatat 2 nama pembuka misi Protestantisme di Mentawai, yakni Pdt. August Lett dan rekannya A. Kramer. Kemudian barulah tiba Pdt. F. Borger yang berkarya cukup lama – lebih dari 20 tahun – di Mentawai. Pasca Perang Dunia II kegiatan zending Protestan makin berkembang di wilayah Selatan kepulauan Mentawai itu. Salah satu buah karya yang dihasilkan zending Protestan dalam penyebaran Kekristenan di Mentawai adalah diterjemahkannya Kitab Suci ke dalam bahasa Mentawai (Coronese, 1986: 28) . Penterjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa 30 Coronesse menulis bahwa laporan Crisp termasuk catatan yang penting dan menarik karena menjadi salah satu dokumen tertulis pertama mengenai Mentawai.” Lih. Coronesse, 1986. Hlm. 143. 44

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI setempat (dalam hal ini bahasa Mentawai dengan dialek Sikakap) menjadi sumbangan besar dalam misi Kekristenan di Mentawai. Bahasa dialek Sikakap kemudian menjadi bahasa resmi dalam tata peribadatan Gereja Protestan dan Katolik hingga saat ini. Harun Yunus (Persoon dan Schefold, 1985) menulis bahwa pada tahun 1935 telah ada penduduk Mentawai yang menganut agama Islam di P. Siberut. Pada saat itu, seorang anak Siberut bernama Maruaian dari Simalegi diadopsi oleh seorang opas polisi bernama Umar Said. Orang Mentawai asli pertama yang memeluk agama Islam adalah Kilaek Sakerebau. Namun karena tidak ditemukannya sumber tertulis, sulit diketahui dengan persis kapan tepatnya agama Islam masuk ke wilayah Kep. Mentawai. Walau demikian perjumpaan orang Mentawai dengan para pedagang dari tanah tepi Sumatera Barat yang beragama Islam telah terjalin jauh sebelum kehadiran Belanda. Para pedagang itu datang ke Mentawai untuk membeli daun nipah, rotan, dari masyarakat setempat dengan sistem barter. Pada tahun 1950 para pedagang Minangkabau masuk ke P. Siberut bagian utara. Sambil berdagang mereka perlahan-lahan mengajak orang Mentawai untuk memeluk agama Islam. Pengaruh Islam di Mentawai semakin berkembang dengan masuknya para perantau dari daerah Pariaman dan Jawa. Para perantau ini kemudian tinggal dan menetap di Mentawai dengan mengambil penduduk setempat sebagai pasangan hidup mereka (Persoon dan Schefold, 1985: 116-117). Misi Katolik masuk ke Mentawai, tepatnya di Siberut Selatan, melalui para misonaris Xaverian. Saat itu tahun 1953, Pastor Aurelio Canizzaro, SX mengunjungi P. Siberut, Sikabaluan, Sikakap dan Sipora, atas perintah dari Mgr. De Martino di Padang. Barulah pada 18 Desember 1954 P. Canizzaro bersama dengan P. Angelo Calvi, SX, dengan menumpang kapal Bendalu, berlayar menuju Siberut dan menetap di sana. Pada tahun itu pula berdirilah gereja Katolik pertama di Mentawai. Natal tahun 1954 juga 45

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menjadi tonggak lahirnya gereja Katolik di Mentawai dengan dipermandikannya 10 orang di gereja Siberut. Misi Katolik di Mentawai dimulai dengan pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan. Hadirnya agama Katolik dengan inkulturasinya menghadirkan suasana yang bertolakbelakang dengan situasi pasca pelarangan sabulungan di Mentawai, khususnya di Siberut. Para misionaris awal berusaha mengenal dan mempelajari budaya lokal serta memberikan penghargaan atasnya. Melihat sikap para misionaris tersebut yang tidak membakar alat-alat kerei dan melarang mengadakan upacara-upacara adat, banyak orang Mentawai di Siberut bersedia menjadi Katolik. C. Sabulungan dan Negara Pada masa pemerintahan Orde Lama, Departemen Agama pada tahun 1953 mencatat begitu banyak agama baru dan aliran kepercayaan yang ada di Indonesia. Saat itu tercatat 360 agama baru dan aliran kepercayaan. Hal itu melatarbelakangi pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Perdana Menteri Nomor 167/PM/1954 31 – atas usulan Kejaksaan Agung – yang mengesahkan berdirinya Panitia Interdepartemen Peninjau Aliran-aliran Kepercayaan di dalam masyarakat (Panitia Interdep Pakem). Tugas badan tersebut adalah: a) Mempelajari dan menyelidiki bentuk, corak dan tujuan dari kepercayaankepercayaan dalam masyarakat berserta dengan cara-cara perkawinan yang terjadi di dalam masyarakat. b) Memperhatikan, mengusulkan kepada Pemerintah peraturan-peraturan/undangundang yang mengatur apa yang tersebut pada huruf (a) di atas dan membatasinya 31 Atau dalam beberapa sumber ditulis SK. No.167/PROMOSI/1954 46

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk ketentraman, kesusilaan dan kesejahteraan dalam suatu masyarakat yang demokratis sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tersebut dalam pasal 22 UUD Sementara R.I. Pada tahun yang sama di Mentawai diadakan Rapat Tiga Agama yang hasilnya merugikan masyarakat Mentawai di Siberut yang masih kental menghidupi sabulungan (Coronesse, 1986: 38; Corbey, 2003:14). Peristiwa tersebut muncul karena dilatarbelakangi upaya pemerintah mentertibkan agama-agama dan aliran-aliran kepercayaan yang ada di daerah-daerah. Orang-orang Mentawai di Siberut berduyunduyun menganut agama Katolik dan Protestan yang saat itu baru masuk di wilayah tersebut. Bahkan mereka yang telah menganut agama Baha’i juga berpindah sebab Baha’i tidak termasuk agama yang diakui pemerintah Indonesia. Agama Baha’i telah dilarang keberadaanya oleh pemerintah Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden No. 264 Tahun 196232 yang diterbitkan pada 15 Agustus 1962. Pada tahun 1959 Pakem diubah menjadi Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (BAKOR PAKEM). Keberadaan Pakem pada perkembangannya menjadi semacam ‘polisi’ bagi keberadaan aliran-aliran kepercayaan. Petugas Pakem di daerah-daerah dengan teliti dan teratur mengadakan pertemuan dengan para pemuka aliran kepercayaan. Para pemeluk aliran kepercayaan juga perlu meminta izin ketika hendak mengadakan pertemuan-pertemuan rutin, entah yang bernuansa kerohanian maupun keorganisasian (Stange, 2007). Adanya peraturan pemerintah untuk mentertibkan gerakan aliran kepercayaan lokal mengakibatkan sejumlah penganut aliran kepercayaan berusaha mendapat pengakuan dari negara. Dalam kasus di Mentawai, tidak ditemukan upaya masyarakat lokal untuk 32 Surat Keputusan Presiden No.264 Tahun 1962 ini kemudian dicabut dengan diterbitkannya Keputusan Presiden No. 69 Tahun 2000 oleh Presisn KH. Abdurrahman Wahid pada 23 Mei 2000. 47

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI meminta pengakuan atas sabulungan sebagai aliran kepercayaan. Sebab dengan memeluk agama Katolik dan Protestan, secara sosial mereka merasa aman sebab kedua agama tersebut merupakan agama yang diakui oleh pemerintah. Kehadiran para misionaris Xaverian pada tahun 1954 yang memberikan perhatian pada budaya lokal memberikan angin segar bagi orang Mentawai dan tradisi budayanya. Dengan berlandaskan pada semangat inkulturasi, para misionaris tidak serta merta melarang praktik sabulungan dan membakar benda-benda budaya sebagaimana dilakukan pada masa itu. Orang Mentawai yang kemudian memeluk agama Katolik pun masih dengan bebas menjalankan praktik ritual budaya mereka. Bahkan dalam perkembangan misi Katolik selanjutnya, para misionaris bersama dengan guru-guru agama setempat, berusaha mempelajari budaya Mentawai, mengambil nilai-nilai yang terkandung di dalamnya serta kemudian mempergunakannya dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran agama. Dalam hal ini, kehadiran para misionaris Xaverian memberikan kontribusi bagi pelestarian budaya lokal di Mentawai. Kebijakan pembangunan pemerintah Orde Baru bertujuan membangun semacam identitas tunggal bangsa dan salah satu pilarnya adalah pilar Ketuhanan Yang Maha Esa. Bagian ini ditafsirkan secara umum bahwa sebagai warga negara Indonesia seseorang harus mengakui sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan konsekuensi logisnya mereka merupakan penganut agama ‘resmi’ yang diakui pemerintah Indonesia. Dalam kerangka pemikiran ini mereka yang berada di luar kategori tersebut dipandang sebagai orang yang ‘belum bergama’. Secara dangkal kelompok yang ‘belum beragama’ dipandang sebagai antara belum mengakui sila Ketuhanan Yang Maha Esa atau belum menjadi penganut salah satu agama yang diakui oleh pemerintah. Dalam hal ini tugas negara adalah untuk 48

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ‘membudayakan’ kelompok masyarakat tersebut sehingga secara utuh bisa diakui sebagai warga negara Indonesia (Ropi, 2016: 155). Pasca 1965, gerakan ‘pendisiplinan’ agama-agama dan aliran kepercayaan oleh pemerintah semakin ditingkatkan. Sentimen atas komunisme menjadi isu yang melatarbelakangi ketatnya upaya pemerintah mentertibkan aliran-aliran kepercayaan yang ada di Indonesia. Kerangka pemikiran yang dangkal megeneralisasi para penganut komunisme sebagai orang-orang yang tidak beragama. Dampaknya pemerintah mewajibkan seluruh warga masyarakat untuk menganut salah satu agama yang ditetapkan oleh pemerintah. Dalam TAPPRES No.1 Tahun 1965, dicantumkan bahwa agama-agama yang diakui pemerintah adalah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu (Confusius). Mereka yang tidak memeluk salah satu dari 6 agama tersebut akan dipandang sebagai belum beragama dan sangat mungkin disinyalir sebagai penganut komunisme. Bagi orang-orang Mentawai di Siberut, kebijakan pemerintah pasca 1965 tersebut semakin mempertegas apa yang telah dilakukan pada tahun 1954 dengan Rapat Tiga Agama. Mereka didorong untuk menganut salah satu agama yang diakui pemerintah Indonesia agar terhindar dari label ‘orang tidak beragama’ yang akan dengan mudah ditafsirkan sebagai dukungan terhadapa komunisme. Pada masa reformasi dan dengan masuknya perjuangan atas HAM, sejumlah penganut aliran kepercayaan di Indonesia seperti Parmalim di Sumatera Utara, Kaharingan di Kalimantan, Sunda Wiwitan di Jawa Barat dan Marapu di Sumba, berupaya mendapat pengakuan dari pemerintah. Namun tidak demikian dengan orangorang Mentawai di Siberut. Tidak ditemukan upaya terbuka masyarakat Mentawai untuk memperjuangkan pengakuan negara atas sabulungan sebagai aliran kepercayaan lokal yang independen. Mereka tetap memeluk agama Protestan, Katolik, dan Islam. Ritual- 49

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ritual sabulungan masih dihidupi sejumlah orang di Siberut dan dipandang sebagai bagian dari budaya Mentawai – terutama bagi mereka yang menganut agama Katolik. D. Upaya Pembatasan Sabulungan Pasca kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, wilayah Kepulauan Mentawai praktis secara administratif menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Barat. Posisi kepualaun Mentawai yang jauh dari pusat pemerintahan di Padang, apalagi di Jakarta menjadikan perkembangan wilayah tersebut terabaikan. Ditambah lagi pada masa awal kemerdekaan hingga tahun 1950-an, pemerintah pusat masih harus menghadapi berbagai persoalan dalam upaya menstabilkan pemerintahan yang baru saja terbentuk. Peristiwaperistiwa seperti Agresis Militer Belanda, pembentukan konstitusi, perang sipil, hingga beragam aksi pemberontakan dari dalam negeri menjadi sesuatu yang menyita perhatian besar pemerintahan saat itu. Situasi itu menjadikan wilayah Kepulauan Mentawai sama terabaikannya dengan keberadaan daerah-daerah terluar Indonesia yang lain. Bahkan hampir 3 dekade setelah kemerdekaan Indonesia, gubernur Sumatera Barat masih memandang orang Mentawai sebagai masyarakat primitif (Darmanto, 2012: 58). Keberadaan masyarakat yang dikategorikan sebagai ‘suku terasing’ ini menjadi landasan bagi pemerintah untuk menjalankan program ‘penormalan’ sosial sehingga budaya nasional yang modern bisa merata. Tugas ‘pemberadaban nasional’ itu kemudian menjadi tanggungjawab Departemen Sosial. Alasan tersebut menjadi sebuah landasan yang kuat bagi pemerintah untuk menjalankan misi penghilangan ciri-ciri tradisional dan keprimitifan orang Siberut (Persoon, dkk 2004: 23 seperti dikutip dalam Darmanto, 2012:58). 50

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pengaruh pemerintah atas masyarakat Mentawai tampak dalam kehadiran aparat polisi, militer, kepala pemerintahan (camat, kepala kampung), guru, hingga para pewarta agama yang masuk ke Siberut selama periode 1950-1960-an. Dalam pandangan Persoon (dalam Darmanto, 2012:59) kaki tangan pemerintah di lapangan inilah yang mendorong terbentuknya perkampungan-perkampungan sosial yang menggantikan struktur tertutup uma tradisional. Kruyt (dalam Coronesse, 1986:107) menyebut uma sebagai rumah suku. Rudito (2013:49) menyebut bahwa selain merujuk pada bangunan fisik rumah tradisional yang dimiliki sebuah suku, uma juga menjadi simbol kekerabatan yang luas disebut muntogat (lineage; Mentawai: keturunan). Sebelum terbentuknya perkampungan sosial, masyarakat Mentawai hidup di sekitar uma suku mereka yang terbatas pada wilayah tertentu saja. Dalam situasi itu kepercayaan sabulungan yang juga mengandung budaya dan pola hidup tradisional orang Mentawai di Siberut berhadapan dengan kuasa pemerintah. Menurut banyak cerita dari orang Mentawai di Siberut, sabulungan sudah terlebih dahulu hilang di wilayah Sikakap dan Sipora. Namun penulis tidak banyak mendapat informasi, baik dari perbincangan dengan warga setempat maupun dari literatur mengenai bagaimana hal itu terjadi. Kemungkinan besar lunturnya pengaruh sabulungan di wilayah selatan adalah akibat masuknya agama Protestan serta banyaknya pengaruh dari luar di wilayah itu yang telah seringkali didatangi para pedagang pesisir Sumatera dan para pelaut. Di Seberut perubahan yang besar terjadi justru setelah tahun 1950-an melalui intervensi negara dengan Rapat Tiga Agama. Pertemuan tersebut – sebagaimana dicatat oleh Coronesse (1986: 38) menghasilkan keputusan sebagai berikut: 1. Arat sabulungan harus dihapuskan, bilamana perlu menggunakan kekerasan dengan bantuan tenaga polisi. 2. Dalam tempo 3 bulan diberi kebebasan kepada penduduk asli untuk memilih salah satu agama, Islam atau Kristen Protestan. Jika sudah 51

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berakhir tempo yang diberikan ternyata mereka tidak juga melakukan pilihan, semua alat-alat keagamaan arat sabulugan akan dibakar oleh polisi dan bahkan diancam hukuman. Sabulungan dipandang sebagai bagian dari pola hidup ‘masyarakat primitif’ dan karenanya harus dihilangkan demi program ‘normalisasi’ negara. Rapat Tiga Agama33 menjadi peristiwa yang sangat jelas bagaimana pemerintah memaksakan pengaruhnya terhadap kebudayaan lokal orang Mentawai. Agama-agama baru ‘dipaksakan’ untuk dianut oleh masyarakat setempat tanpa adanya kesempatan yang cukup panjang untuk mengenal agama-agama tersebut. Sabulungan yang melingkupi cara hidup dan cara pandang orang Mentawai terhadap alamnya dilarang. Dalam situasi yang dipenuhi rasa takut akan hukuman dari aparat pemerintah bercampur dengan kebingungan untuk meninggalkan cara hidup yang telah sekian lama dipegang, orang Mentawai di Siberut muncul sebagai saksi bagaimana negara masuk dan mempengaruhi kehidupan mereka. Dalam beberapa kesempatan penulis berbincang-bincang dengan sejumlah orang Mentawai, ada berbagai keterangan yang mereka sampaikan mengenai sabulungan. Anak-anak muda usia SMP dan SMA banyak yang tidak tahu mengenai sabulungan. Secara spontan mereka mengatakan bahwa sabulungan adalah agama orang Mentawai zaman dulu. Yang lain menjawab sabulungan merupakan upacara dengan menggunakan daun-daun. Beberapa orang dewasa pun mengatakan hal yang serupa. Hal ini dapat 33 Ada 2 versi informasi mengenai perwakilan dalam Rapat Tiga Agama. Versi pertama seperti telah ditulis Coronesse (1986:38) melibatkan perwakilan dari agama Protestan, Islam, dan Sabulungan. Keterlibatan perwakilan sabulungan masih dipersoalan di kalangan beberapa informan yang penulis jumpai di lapangan. Mereka mengatakan kemungkinan perwakilan itu adalah orang Mentawai dan dipandang begitu saja sebagai representasi seluruh orang Mentawai. Kemungkinan perwakilan itu adalah orang Mentawai yang tidak lagi menjalankan tradisi sabulungan. Versi kedua (seperti ditulis Darmanto, 2012: 59) menunjukkan perwakilan yang hadir dari agama Protestan, Islam, dan Katolik. Hal ini juga disangsikan kebenarannya mengingat pada tahun 1954 misi Katolik baru saja masuk di wilayah Kepulauan Mentawai dan baru pada Desember 1954 terjadi pembaptisan umat Katolik pertama di Mentawai. Dari data tersebut, praktis sebelum akhir tahun 1954 agama Gereja Katolik belum berdiri di Mentawai. 52

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan mudah dimengerti karena mereka mengaitkan istilah sabulungan dengan kata dasar ‘bulug’ yang dalam bahasa Mentawai berarti daun. Memang dalam banyak upacara tradisional dedaunan ini selalu digunakan. Hal ini yang menjadikan orang dengan mudah mengaitkan sabulungan dengan istilah ‘agama dedaunan’ dan tidak sedikit pula para penulis yang mempertahankan definisi tersebut (bdk. Rudito, 2013: 3; Delfi, 2013: 478). Dalam keyakinan tersebut dipercaya adanya 2 dunia: dunia roh yang tak tampak dan dunia mahkluk hidup yang nampak. Dalam keyakinan tradisional suku Mentawai, ada berbagai istilah untuk menyebut ‘roh’. Segala sesuatu di bumi dan alam semesta ini memiliki simagre - essensi dari semua yang hidup – dan bisa diterjemahkan dengan kata soul dalam Bahasa Inggris. Selain simagre, mahkluk hidup seperti, manusia, hewan, dan tumbuhan, juga memiliki ketsat (spirit). Setelah mahkluk hidup mati, baik simagre maupun ketsat kembali ke dunia roh (spirit world) dan menjadi sesuatu yang disebut ukkui atau kalimeu (spirits of the dead) (Juniator, 2012). Orang Mentawai juga percaya atas keberadaaan roh-roh yang menghuni alam: tumbuhan, hewan, tempat-tempat seperti sungai, laut, dan gunung – yang keberadaanya berelasi satu sama lain dan saling mempengaruhi kehidupan manusia. Munculya penyakit, musibah, dan kematian, merupakan dampak dari ketidakseimbangan antara manusia dan roh-roh di alam tersebut. Dan lewat ritual-ritual tertentu, misalnya dalam upacara pengobatan orang sakit (punen pabettei) atau upacara kematian (punen ke ibara samamatei), manusia – melalui bantuan sikerei - bisa berhubungan dengan dunia roh-roh tersebut. (Coronesese, 1986; Mulhadi, 2007; Juniator, 2012) Menurut Juniator pada tahun 1950an mulai ditambahkan kata arat untuk menyebut kepercayaan tersebut, sehingga kemudian dikenal istilah arat sabulungan sebagai ‘agama’ orang Mentawai. Sebelumnya orang Mentawai menggunakan kata punen untuk 53

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menyebut beragam bentuk kegiatan, upacara, atau pesta. Dalam perjalanan waktu, kata punen inilah yang digantikan dengan kata arat. Arat dalam bahasa Mentawai memiliki makna yang luas. Arat bisa merujuk pada aturan-aturan, norma-norma, tradisi, serta kebiasaan-kebiasaan setempat. Istilah arat sendiri merupakan perubahan dari kata punen. Bagi orang Mentawai kata punen mengacu pada pada perayaan, upacara, atau ritual yang dijalankan dengan serangkaian kegiatan-kegiatan. Kini kata arat sering dipahami juga sebagai kepercayaan (belief) atau ideologi. Sedangkan kata punen lebih sering mengacu pada perayaan-perayaan seremonial, atau upacara-upacara, baik dalam lingkup adat, maupun dalam lingkup agama-agama (Juniator, 2012: 68). Penambahan kata arat – sebagaimana ditulis Tulius Juniator (2012: 67) – muncul karena baik pemerintah maupun para missionaris pada waktu itu membutuhkan sebuah istilah tunggal untuk menyebut beragam agama, termasuk sistem kepercayaan tradisional. Sabulungan dengan demikian dikelompokkan dalam kategori ‘agama’ (religion) dengan penambahan kata arat, kata yang sama yang digunakan untuk menyebut arat Islam, arat Katolik, arat Protestan. Munculah pembedaan antara arat puaranan (kepercayaan agama-agama samawi: Katolik, Protestan, Islam) dan arat sabulungan. Kata puaranan sendiri dalam bahasa Mentawai sering digunakan untuk merujuk pada ‘agama’. Pasca kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 1945, terjadinya pemberontakan DI/ TII serta meningkatnya jumlah aliran kepercayaan mendorong pemerintah melalui Kementerian Agama untuk mengatur legalitas dan penyeragaman agama. Bahkan tahun 1952, Kementerian Agama menyatakan bahwa untuk bisa diakui negara, sebuah agama harus mengandung unsur-unsur: 1) merupakan pewahyuan dari Tuhan, 2) Memiliki nabi dan 3) kitab suci, 4) memiliki sistem peraturan bagi para penganutnya, dan yang lebih jauh lagi 5) diakui secara internasional serta tidak terbatas hanya pada sekelompok etnis 54

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI saja (Picard and Remi Madiner, 2011: 13; Ropi, 2017: 119). Alamsjah Ratu Prawiranegara yang menjabat sebagai menteri agama periode 1978-1983 justru berpendapat bahwa kepercayaan lokal yang telah lama dianut oleh masyarakat adat di berbagai tempat di Indonesia tidak seharusnya dipandang sebagai agama baru di Indonesia melainkan sebagai budaya daerah (culture). Oleh karena itu menurut Alamsjah, keberadaan aliran kepercayaan tersebut menjadi tanggungjawab Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dan bukan berada di bawah naungan Kementraian Agama ( Ropi, 2017: 145). Aliran kepercayaan yang dimaksud tersebut meliputi juga yang kepercayaan lokal yang kini kita kenal seperti: Sunda Wiwitan di Jawa Barat (antara lain di wilayah Banten, Cirebon, Kuningan), Kaharingan di Kalimantan, Marapu di Sumba, Kejawen di Jawa, dan dalam kasus yang akan diulas dalam tesis ini adalah sabulungan di Kep. Mentawai, Sumatera Barat. Rapat Tiga Agama dengan demikian tercatat dalam sejarah dan banyak penelitian mengenai Mentawai sebagai peristiwa yang mengawali pelarangan negara atas sabulungan. Meskipun demikian dalam kenyataanya, sebagaimana juga penulis amati selama bertugas di Siberut periode tahun 2012-2014, masih bisa dijumpai orang-orang Suku Mentawai yang mempraktikkan ritual-ritual yang berkaitan dengan tradisi sabulungan. Saat ini kendati telah banyak orang Mentawai yang menganut agama Protestan, Katolik, dan Islam, kepercayaan akan adanya roh-roh ini belum hilang. Ungkapan ‘awas iorak kise’ (Mentawai: awas kena kise) sering penulis dengar dari anakanak setempat ketika mereka berada di hutan atau mendatangi tempat-tempat baru didatangi. Kata-kata itu menunjukkan kekhawatiran agar jangan sampai kita melakukan sesuatu yang mengganggu keberadaan roh-roh di alam. Sebab, jika roh-roh itu bersentuhan dengan manusia akan meyebabkan orang tersebut sakit. Begitu pula jika 55

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI seorang anak sakit, meskipun sudah ada pelayanan puskesmas, tidak jarang orang tua anak tersebut memanggil sikerei guna mengadakan ritual pengobatan. Mereka percaya sakit si anak terjadi karena roh anak tersebut (dikenal dengan istilah simagere) berada di suatu tempat atau telah bersentuhan dengan roh-roh yang ada di alam. Oleh karena itu upacara pemanggilan simagre oleh sikerei perlu dibuat agar roh anak tersebut kembali dan ia bisa sembuh. Ritual-ritual semacam itu masih banyak dijalankan oleh orang Mentawai hingga saat ini. Bahkan pantangan-pantangan atau dalam bahasa Mentawai dikenal dengan istilah keikei masih tetap diikuti ketika hendak melakukan suatu aktifitas. Kepercayaan akan keberadaan roh-roh yang hidup bersama manusia dan saling mempengaruhi satu sama lain menjadikan budaya sabulungan belum sepenuhnya musnah dari sanubari orang Mentawai. E. Memudarnya Sabulungan dari Kehidupan Orang Mentawai Banyak literatur menyebut bahwa Rapat Tiga Agama tahun 1954 menjadi awal pelarangan sabulungan di Siberut. Namun dalam perjumpaan dengan sejumlah orang di wilayah Siberut Selatan, penulis sering memperoleh informasi yang simpang siur. Sebagian dari orang Mentawai tidak mengetahui mengenai sama sekali mengenai pertemuan Tiga Agama tersebut. Hanya segelintir orang yang pernah menduduki jabatan pemerintahan seperti kepala desa, atau mereka yang berkarya sebagai guru atau guru agama Katolik yang mengiyakan adanya pertemuan tersebut sekitar tahun 1955: Memang benar tahun 1955 ada rapat tiga agama di kecamatan kita disini. Waktu itu kalau ndak salah camat Dulah namanya, orang Pariaman. Rapat Tiga Agama diundanglah tokoh-tokoh masyarakat. Tokoh-tokoh agama, berkumpul di kecamatan kita. Yang hadir itu ada yang mewakili agama Islam, Protestan, Katolik, makanya disebut rapat Tiga Agama.34 34 Wawancara dengan Selester Sagurujuw, Muntei, 3 Januari 2018. 56

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Walau demikian hampir semua orang yang penulis jumpai mengingat peristiwa pembakaran buluat (rangkaian akar-akaran dan rotan yang terdapat di uma dan diyakini sebagai tempat roh pelindung atau penjaga), aksesoris ritual dan budaya di uma serta peralatan sikerei yang terjadi di Siberut. Mereka semua dengan lancar menceritakan peristiwa tersebut dengan cukup detail. Dikisahkan pada masa itu terjadi pembakaran buluat dan alat-alat kerei. Pelakunya justru bukan orang sasareu (orang dari luar Mentawai). Figur yang sangat lekat dengan ingatan para orang-orang tua mengenai peristiwa pembakaran itu adalah orang-orang yang berasal dari Sikakap (mereka menyebutnya Sakalagat) yang menjadi polisi dan beragama Protestan. Sebagian dari mereka tidak mengingat tahun terjadinya peristiwa pembakaran tersebut dengan jelas. Namun dari wawancara sejumlah tokoh masyarakat dan penduduk setempat, peristiwa pelarangan sabulungan di Mentawai terjadi lebih dahulu di wilayah selatan, yakni di daerah Sikakap (P. Pagai Utara dan P. Pagai Selatan) dan Sipora. Di sanalah agama Protestan pertama kali masuk pada tahun 1900-an. Para misionaris Katolik yang datang ke P. Siberut pada tahun 1954 dan 1960-an menyatakan bahwa pada periode tersebut wilayah Sikakap dan Sipora telah lebih modern dibanding dengan Siberut. Akan tetapi penulis tidak mendengar bagaimana peristiwa pelarangan tersebut terjadi di wilayah Sikakap dan Sipora. Beberapa warga mengatakan bahwa program pelarangan sabulungan dimulai di wilayah selatan (Pagai Utara, Pagai Selatan, Sipora). Tidak ada cerita mengenai situasi pelarangan sabulungan di wilayah Sikakap dan Sipora yang disampaikan oleh beberapa orang yang penulis wawancara. Yang jelas, ketika polisi-polisi orang Sikakap yang beragama Protestan melakukan pembakaran atas buluat dan alat-alat kerei di Siberut, 57

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terutama di Siberut Selatan, sekelompok warga masyarakat berusaha menentang dan melawan. Beberapa dari mereka menyembunyikan alat-alat yang dianggap sakral dan penting ketika polisi terjun ke lapangan dan menggeledah uma mereka. Ada pula warga yang membuat tiruan dari alat-alat kerei dan menyerahkan kepada polisi untuk dibawawa ke pusat kecamatan dan dibakar. Dalam ingatan orang Mentawai yang penulis jumpai peristiwa pembakaran tersebut begitu membekas dan menyisakan trauma. Beberapa dari mereka dengan terus terang mengatakan jika penulis berasal dari wilayah selatan (Sikakap atau Sipora), mereka tidak akan menceritakan kisah tersebut dan bahkan mengusir kami. Beberapa orang tua tampak begitu emosional ketika mengingat dan menceritakan kembali peristiwa tersebut. Mereka yang menolak untuk melepas aksesoris yang dikenakan atau melawan bisa dihukum dengan dipukul atau ditahan di ibu kota kecamatan. Seorang mantan guru katekis pribumi, Bapak Mikael Sabaggalet, menceritakan apa yang dilihatnya waktu itu: Ah itu di tahun 1952. Pembakaran kerei masal, di mana -mana. Saya di Sagulubbe. Terakhir mereka datang ke Sagulubbe. Ke kampung lain dibakar, ke Sarereiket, ke Silaoinan. Itu yg membakar orang polisi. Kebetulan polisi ini agama Protestan. Kalau tidak dibakar, dihukum. Atau dipukul. Ah itu polisi. Kebanyakan polisi dulu dari Sikakap dan Sipora. .... Mereka bakar buluat. Bakar. Oh kasihan kita ini. Kan sudah penuh daun-daun itu mereka bakar.35 Pelarangan sabulungan di Siberut masih membekas di hati dan ingatan sejumlah warga. Bahkan mereka yang tinggal di wilayah sepanjang Sungai Rereiket juga masih mengingat peristiwa tersebut. Di wilayah itu, tradisi dan budaya khas orang Mentawai masih bisa dijumpai, sebab pada masa lalu, wilayah tersebut sulit dijangkau dan mereka yang hidup di wilayah itu mengadakan perlawanan ketika pihak polisi datang dan 35 Wawancara dengan Michael Sabaggalet, Muara Siberut, 4 Januari 2018. 58

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mencoba memusnahkan budaya mereka. Hingga saat ini masyarakat di wilayah tersebut dikenal sebagai penjaga tradisi Mentawai yang masih bertahan. Walau demikian mereka juga mengakui kalau tidak banyak lagi ritual-ritual yang bisa dibuat seperti jaman dahulu, seperti umpamanya ritual sinuruk yaitu upacara mendirikan uma baru. Ritual inisiasi pasca kelahiran seorang anak, seperti pangabela, pangambok, dan eneget juga sudah mulai ditinggalkan. Pada masa lalu, ritual pangabela misalnya, harus dilakukan sebelum anak yang baru lahir bisa dibawa keluar rumah. Hal ini bertujuan agar roh sang anak terbiasa dengan roh-roh yang ada di alam sekitarnya. Perbincangan dengan seorang sikebukat (orang yang dituakan) di Ugai mengataka bahwa situasi yang ada saat ini sudah tidak memungkinkan lagi melakukan ritual-ritual seperti jaman dulu. Mereka yang beragama Katolik misalnya, telah merasa cukup jika anak mereka telah dibaptis di gereja. Walau demikian para orang tua itu mengatakan masih tahu tata cara pelaksanaan ritual-ritual tersebut andaikata ingin dibuat kembali. Seorang sikebukat (Mentawai: orang yang dituakan) di dusun Ugai malah menyebut bahwa kehadiran sekolah juga dipandang sebagai sesuatu yang mengubah pola pemikiran anak muda Mentawai. Karena sejak kecil mereka harus bersekolah anak-anak tersebut tidak mengerti lagi cara berladang, cara berburu dan mengumpulkan hasil hutan. Hutan tidak lagi menjadi sesuatu yang penting bagi hidup anak-anak muda ini. Hutan dipandang berharga dari segi ekonomisnya saja. Kayu dan hasil hutan lain sekedar dipandang menguntungkan jika bisa dijual dan menghasilkan uang. Pekerjaan yang dilakukan di kantor atau menjadi pegawai pemerintah lebih tampak menarik dibandingkan mengumpulkan hasil hutan, berburu atau berladang. Hal ini tentu berbeda dengan cara pandang orang tua yang melihat hutan dan ladang sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan dipertahankan. Akibatnya tidak ada lagi ritual-ritual sebelum berburu yang 59

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dibuat. Ritual panaki dan tinungglu yaitu upacara memberi sesaji yang diadakan sebelum menebang pohon untuk membuka ladang baru mulai ditinggalkan. Busur dan anak panah digantikan dengan senapan, dan kampak serta parang digantikan gergaji mesin. Tanahtanah pun dengan begitu mudahnya dijual kepada para pendatang sehingga dengan cepat bisa diperoleh uang. 60

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III SABULUNGAN, PANDANGAN HIDUP DAN RITUS KEHIDUPAN ORANG MENTAWAI Peristiwa tahun 1954 dan rangkaian kegiatan pelarangan sabulungan memang masih menimbulkan trauma pada generasi tua orang Mentawai hingga saat ini. Mereka dipaksa untuk memeluk agama-agama baru dalam tempo yang singkat. Satu sisi mereka belum siap meninggalkan kepercayaan yang telah turun temurun membangun pola hidup bersama alam, namun di sisi lain mereka perlu memeluk agama baru seperti dianjurkan pemerintah dan dengan demikian mereka terhindar dari hukuman aparat pemerintah. Banyak orang Mentawai memilih masuk agama Katolik yang pada tahun 1954 baru saja masuk ke wilayah Kep.Mentawai. Adanya konsep inkulturasi menjadikan kebudayaan tradisional Mentawai tidak serta merta dilarang, namun dimaknai secara baru. Bagaimana kemudian orang-orang Mentawai yang hidup di ‘dua jaman’ – masa di mana sabulungan belum dilarang, dan masa setelahnya – memandang kepercayaan nenek moyang itu saat ini? Di mana jejak-jejak kepercayaan itu bisa dijumpai dalam ritual-ritual budaya serta dalam alam pikiran orang Mentawai saat ini? Sejauh pengamatan penulis dan perjumpaan dengan orang-orang Mentawai di Siberut Selatan, hampir tidak ada yang mengatakan dengan terbuka bahwa mereka menganut ‘agama’ sabulungan. Bahkan di kalangan anak muda Mentawai, sabulungan sebatas dikenal sebagai ‘agama orang dahulu’. Mayoritas masyarakat Mentawai di 61

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Siberut Selatan memeluk agama Katolik. Pada Desember 1954 sejumlah warga setempat dipermandikan dan peristiwa itu menjadi tanda berdirinya Gereja Katolik di Mentawai. Namun, apakah benarr sabulungan telah benar-benar dilupakan orang Mentawai saat ini? Dalam bagian ketiga ini penulis memberikan gambaran mengenai bagaimana jejak-jejak kepercayaan sabulungan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan pandangan orang Mentawai saat ini. Dari pengamatan penulis dan perbincangan dengan sejumlah tokoh masyarakat bisa dilihat bagaimana orang Mentawai bersiasat menghidupi budaya mereka kendati pada tahun 1954 praktik sabulungan telah dilarang melalui Rapat Tiga Agama. Dalam bab ini, pertama penulis akan menyajikan beberapa pandangan orang dewasa mengenai sabulungan saat ini dan membandingkannya dengan apa yang ditulis beberapa peneliti mengenai Mentawai. Pada bagian selanjutnya penulis akan memaparkan bagaimana hubungan antara kepercayaan sabulungan dan pandangan hidup orang Mentawai yang sudah memeluk agama samawi, dalam hal ini agama Katolik. Kisah-kisah yang mereka bagikan menyiratkan bagaimana orang Mentawai berusaha hidup panjang dan mengalami kematian yang baik. Hal itu dicapai dengan mengusahakan relasi harmoni dengan roh-roh yang ada di alam, dan berarti juga menumbuhkan sikap hormat terhadap alam dan segala isinya, tempat mereka hidup. A. Sabulungan dan Sikebukat36 Sabulungan seringkali dianggap sepintas sebagai ‘agama dedaunan’ karena penggunaan beragam daun dalam setiap ritual yang diadakan. Namun ada juga gagasan lain seperti tampak dalam tulisan Juniator (2012). Ia berpendapat bahwa sabulungan merujuk pada roh-roh yang kepada mereka orang Mentawai memberikan persembahan 36 Sikebukat (bhs.Mentawai) artinya orang dewasa atau mereka yang dituakan. 62

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Mentawai: buluat). Hal ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Coronesse, bahwa orang Mentawai menggunakan kata sabulungan untuk menyebut roh secara umum (Coronesse, 1986:48). Selain itu kata ‘arat’ yang ditambahkan oleh para misionaris menjadikan sabulungan dipahami sebagai ‘agama’ dengan dibedakannya dengan agama-agama Samawi, yang dalam bahasa Mentawai dikenal dengan istilah arat puaranan. Banyak orang Mentawai yang penulis jumpai merujuk pada kedua gagasan di atas ketika berbicara mengenai apa itu sabulungan. Orang Mentawai tidak memiliki istilah tertentu untuk menyebut sistem kepercayaan mereka (Juniator, 2012:69). Kepercayaan akan roh-roh di alam, sabulungan, itu lah yang menjadi dasar bagaimana orang Mentawai beraktivitas. Seluruh aktivitas dalam kehidupan orang Mentawai diwarnai dengan beragam pantangan (keikei). Mulai dari kegiatan menyagu, beternak babi, beternak ayam, berburu, membuat racun panah, membuat obat, membuat rumah, dan membuat sampan, terdapat pantangan yang harus dipatuhi. Pantangan-pantangan tersebut dijalankan supaya mereka terhindar dari musibah. Musibah atau malapetaka terjadi jika muncul konflik antara aktivitas manusia dan roh-roh yang ada di alam. Menjalankan segala kegiatan sehari-hari dan mengikuti segala pantangannya menjadi upaya orang Mentawai membangun kehidupan yang selaras alam; beserta roh-roh yang hidup di sana berdampingan dengan mereka. Segala sesuatu dilaksanakan untuk menjaga harmoni antara manusia dan dunia roh-roh, dengan alam. Roh-roh alam itulah yang memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk hidup. Maka sudah selayaknya manusia berterima kasih dengan menjalankan pantanganpantangan yang ada demi keberlanjutan kehidupan yang seimbang. Itulah alam sabulungan; sebuah cara hidup bagi orang Mentawai. 63

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kedatangan agama-agama dari luar serta paksaan pemerintah dengan beragam kebijakannya menjadikan orang Mentawai memeluk agama-agama samawi (Katolik, Protestan, Islam). Mereka pergi ke gereja setiap Minggu atau ke tempat ibadat masingmasing. Perayaan-perayaan memperingati hari besar agama-agama menjadi hal baru bagi masyarakat Mentawai. Namun bagi sebagian orang Mentawai, pantangan-pantangan yang ada tetap dijaga. Bagi mereka akibat yang akan menimpa mereka ketika melanggar pantangan tertentu jauh lebih menakutkan daripada perasaan bersalah ketika melanggar peraturan agama-agama. Sebagai gambaran, petikan percakapan penulis di Dusun Ugai dengan Yohanes Sanambaliu (Teu Jablai) – yang sempat menjadi kepala dusun dan bekerja sama dengan UNESCO pada program Taman Nasional Siberut – bisa memperlihatkan bagaimana pandangan sikebukat atas sabulungan: Tanya : Jadi apa lagi punen yang dulu ada, tapi sekarang tidak ada lagi? Jawab: Yang meninggalkannya itu mereka di bagian Siberut Utara. Sudah mereka lupakan itu pangureijat, puliaijat, arat-arat sikerei, tidak tahu mereka. Je geti, anai le (Kalau di sini sih, masih ada). Tapoi (tapi) itu arat siburu (agama lama). Kalu sekarang ada arat baru, berdoalah yang kita buat. Tapoi, meskipun tidak dibuat lagi, kalau diminta menjalankannya lagi, masih bisa. Masih tahu kami itu tatacaranya. Tanya: Jadi banyak punen-punen di sarereiket tidak hilang ya? Jawab: Tak. Masih ada di sini. Tidak kami tinggalkan. Keikeinia (pantangannya) tak tuhilang (tidak dihilangkan).37 Tidak ada yang menyatakan bahwa mereka menjalankan ‘sebuah agama’ yang namanya sabulungan. Sabulungan dalam pandangan para sikebukat jaman dulu adalah roh-roh yang hidup bersama dengan mereka di alam. Roh-roh itu merupakan roh yang baik, yang akan memberikan hasil bumi kepada mereka jika manusia menjaga hubungan 37 Wawancara dengan Yohanes Laidoak Sanambaliu, Dusun Ugai pada 20 Desember 2017. 64

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang baik. Hubungan yang baik dengan roh-roh ini yang memunculkan beragam bentuk ritual beserta segala pantangannya. B. Sabulungan dan Pandangan Hidup Simataoi38 Sejak permulaan keberadaan roh-roh yang hidup di alam telah ada dalam alam pemikiran orang Mentawai. Bahkan hingga saat ini, jika kita pergi ke wilayah Siberut dan berbincang-bincang dengan orang Mentawai di sana, sebagian masih memiliki pandangan demikian. Kisah-kisah awal kehidupan orang Mentawai pun banyak berisi mengenai keberadaan roh-roh yang menciptakan segala sesuatu di alam demi kehidupan manusia. Orang Mentawai masa lalu sadar sepenuhnya bahwa alam yang mereka tempati ini bukanlah milik mereka. Alam dan segala isinya merupakan pemberian dari roh-roh alam dan oleh karenanya menjaga relasi dengan mereka merupakan cara hidup yang baik dan ideal (Spina, 1981:14). 1. Kehidupan yang Diidamkan : Hidup Panjang dan Kematian yang Baik Dengan alam pemikiran orang Mentawai akan keberadaan roh-roh di alam, manusia perlu membangun pola hidup yang menjaga relasi yang baik. Bagi orang Mentawai hidup yang didambakan adalah terhindar dari malapetaka, mencapai usia panjang dan akhirnya mendapat kematian yang baik. 39 Beberapa narasumber yang penulis jumpai mengisahkan hal yang serupa. Sebagian dari mereka – yang usianya sudah lanjut – masih mempercayai hal ini. Perbincangan penulis dengan Marinus Salolosit di dusun Maseppaket bisa memberi gambaran bagaimana hubungan antara kehidupan yang baik dan kematian: 38 39 Orang Mentawai. Bdk. Loeb, 1929. Hal. 188. 65

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Yang menentukan adalah cara kita mati. Kek maeruk tamatei, maeruk ketcatta (Kalau kita mati dengan baik, baik juga roh kita). Tak meruk tamatei, takmeruk ketcatta (Kalau kita mati dengan tidak baik, tidak baik juga roh kita). Bojoi-bojoi, pasikatnia (Minta maaf ya, umpamanya) yang matinya kena parang, kena tombak, ah itu kematiaanya sikatai (jelek). Mereka akan jadi sanitu. Jadi ketcatnia itu sifatnya jahat. Makatai le ia. Jadi kalau kita meninggal karena sakit itu wajar. Ketcat mereka yang meninggal karena ditippu (dipukul) orang, itu karena ketcatnia masih marah. Marah kepada kita yg masih hidup ini. Makatai ngangania. Kalau kita meninggal dengan baik, maka ketcat kita juga baik. Tetapi meskipun dia ketcat yang baik, kata-katanya itu berefek buruk kepada kita. Walaupun, maksudnya menegur kita, memberitahu kita, misalnya kita sedang bekerja, lalu kita diingatkan, katat-katanya itu tetap membuat kita sakit. Malapetaka bisa membawa kematian yang buruk. Meninggal karena tenggelam, tertimpa pohon, terkena panah ketika berburu, atau terluka karena serangan babi saat beternak, merupakan hal-hal yang harus dihindari karena itulah contoh kematian yang buruk. Semua peristiwa itu dipandang sebagai malapetaka yang muncul karena seseorang tidak melaksanakan pantangan tertentu. Orang Mentawai tidak memandang peristiwa di atas sebagai ‘kecelakaan’ biasa yang wajar terjadi dan bisa menimpa siapa saja karena faktor kebetulan. Mereka percaya bahwa kecelakaan yang terjadi merupakan akibat dari dilanggarnya pantangan tertentu. Hal itu diakibatkan oleh roh-roh di alam yang terganggu dengan tindakan manusia sehingga mencelakai mereka. Kepercayaan akan keberadaan roh-roh alam, yang hidup di hutan, sungai, laut, bahkan di setiap tumbuhan, hewan, dan semua benda, menjadi latar belakang mengapa ada begitu banyak keikei (bhs.Mentawai: tabu, pantangan) dalam kehidupan orang Mentawai (Loeb, 1929: 234-235). Orang Mentawai memandang hidup yang ideal sebagai hal terhindarnya dari segala malapetaka. Agar terhindar dari beragam malapetaka itu setiap pantangan harus 66

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dilakukan dan ditaati. Ada banyak sekali keikei (pantangan) di Mentawai40. Dalam bagian ini diperlihatkan bagaimana orang Mentawai masih memiliki keyakinan akan pengaruh keikei dalam kehidupan mereka. Misalnya beberapa orang yang penulis wawancarai menceritakan bagaimana orang Mentawai berpantang dalam kegiatan berburu. Sebelum pergi ke hutan mereka perlu meminta ijin kepada roh penjaga hutan. Tujuannya agar rohroh hewan buruan itu tidak takut dan mau menunjukkan diri mereka pada manusia. Mereka juga harus pergi dengan diam-diam dengan tujuan agar roh-roh yang jahat tidak mendengar rencana kepergian mereka berburu. Jika sampai roh-roh jahat itu mengetahui mereka hendak pergi berburu, roh-roh itu nantinya bisa saja mencelakai mereka saat berada di hutan. Mereka juga tidak boleh bertengkar atau marah-marah dalam berburu. Bahkan ketika berburu dengan membawa anjing, mereka dilarang memukul anjing pemburu mereka itu. Mereka tidak boleh mandi atau tidur saat membuat racun panah karena diyakini akan menjadikan racun panah menjadi tawar. Tidak mendapat buruan menandakan ada pantangan tertentu yang terlewat sehingga perlu diadakan ritual kembali. Dan jika berhasil mendapatkan hasil buruan, mereka akan menyisihkan sedikit bagian bagi roh-roh nenek moyang. Daging hewan buruan juga akan dibagikan untuk dinikmati anggota suku dan pantang untuk dimakan sendiri saja. 41 Tengkorak hewan buruan kemudian digantungkan menghadap ke luar di beranda uma. Tujuannya agar roh-roh hewan buruan ini bisa memanggil kawan-kawan mereka sehingga manusia akan mendapatkan hasil buruan kembali. Baik dalam hal berburu, membuka ladang, pergi memancing ikan di sungai atau di laut, menebang dan mengolah sagu, membuat sampan, semuanya dipenuhi dengan keikei. 40 41 Lih. Coronesse, 1986, hal. 61-68. Bdk. Loeb, 1929, hal. 240-241 67

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menjaga relasi yang baik dengan roh-roh alam dengan mentaati dan menjalankan setiap keikei yang ada bagi orang Mentawai akan mendatangkan banyak manfaat. Mereka akan terhindar dari gigitan hewan liar saat berada di hutan dan akan mudah mendapatkan hewan buruan yang kemudian bisa dinikmati oleh seluruh keluarga dan suku mereka. Ketika menebang pohon untuk membuka ladang, dengan menjalankan ritual memohon ijin kepada roh-roh hutan, orang Mentawai percaya bahwa mereka akan terhindar dari kecelakaan saat bekerja. Tanaman ladang mereka pun bisa terhindar dari hama dan hewan perusak. Kegiatan berladang mereka juga akan berhasil dan tanaman yang ada di ladang mereka akan berbuah dengan baik. Demikian pula ketika mereka hendak memelihara ayam dan babi. Rangkaian pantangan tetap mereka jaga dan dijalankan. Berbeda dengan keadaan di tempat yang padat penduduknya, di Mentawai masyarakat setempat secara tradisional memelihara ayam dan babi dengan melepaskannya di hutan. Untuk ayam mereka hanya menyediakan kurungan yang digantung di pohon untuk memasukkan ayam-ayam ketika malam hari. Pagi hari ayam-ayam itu di lepas dan dibiarkan berkeliaran di hutan untuk mencari makan. Cara itu membuat ayam lebih cepat berkembang besar. Jika dalam beberapa waktu sejumlah ayam tidak kembali menjelang sore atau mati dimangsa ular, orang Mentawai akan berpikir ada sesuatu pantangan yang dilanggar sehingga mereka tertimpa nasib sial. Demikian pula ketika memelihara babi. Umumnya di daerah Siberut hulu, perkampungan berada berseberangan dengan lahan pemeliharaan babi. Sungai lah yang menjadi batasnya. Babi-babi peliharaan di lepas di dalam hutan dan sesekali dipanggil ketika hendak memberi makan. Jika pantangan dalam ritual untuk memelihara babi dilanggar, babi-babi itu akan hilang di hutan dan menjadi liar. Atau yang lebih parah, babi-babi itu akan mudah terserang penyakit dan mati. Namun jika pantangan yang ada 68

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ditaati dan dijalankan dengan benar maka babi-babi itu akan pulang kembali ketika dipanggil dan menjadi jinak. Itulah mengapa orang Mentawai sangat teguh berpegang pada pantangan-pantangan itu. Meskipun saat ini mayoritas orang Mentawai di Siberut telah memeluk agama dan telah mengenyam pendidikan, masih banyak dijumpai peristiwa yang menunjukkan bahwa keyakinan mereka akan keberadaan roh-roh belum hilang. Beberapa kali penulis melihat bagaimana seorang yang sakit, jika tidak bisa sembuh dengan pengobatan di poliklinik atau puskesmas, akan menggunakan cara tradisional. Dan karena mereka mempercayai bahwa seseorang yang sakit bisa dikarenakan roh-nya (simagre) meninggalkan tubuhnya, dibuatlah upacara pemanggilan roh. Hal ini masih sangat sering dijumpai di Siberut. Ini memperlihatkan bahwa kepercayaan sebagian orang Mentawai akan roh-roh di alam masih dipegang hingga saat ini. 2. Ritual dalam Siklus Kehidupan Manusia dan Relasi dengan Alam Mayoritas orang Mentawai di Siberut dewasa ini telah memeluk agama resmi. Hampir tidak ada yang akan mengatakan bahwa mereka menganut sabulungan. Namun tidak seluruhnya yang berhubungan dengan kepercayaan tradisional itu hilang. Terbatasnya pemahaman akan konsep ‘agama’ dan ‘budaya’ menyebabkan sebagian orang sulit untuk menjelaskan hubungan antara sabulungan dan budaya Mentawai. Upacara-upacara dan ritual yang pada jaman dahulu merupakan bagian kepercayaan sabulungan masih bisa dijumpai di beberapa daerah di Siberut. Beberapa orang tua yang penulis jumpai mengatakan bahwa apa yang dilakukan saat ini memang tidak sama persis dengan apa yang pernah dilakukan di masa lalu. Namun konsep pemikiran akan adanya roh-roh alam yang hidup bersama dengan manusia menjadi benang merah yang menghubungkan mereka dengan cara hidup di masa lalu. 69

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bagian ini akan berisikan beberapa ritual yang berkaitan dengan siklus kehidupan orang Mentawai. Dimulai dari upacara ‘perkenalan’ bayi yang baru lahir kepada alam hingga mereka dianggap dewasa. Kemudian bagian kedua akan berbicara mengenai upacara pangureijat atau pernikahan. Bagian terakhir akan bercerita mengenai upacara panunggru atau kematian yang menjadi proses beralihnya kehidupan fisik kepada dunia roh. Salah satu ritual yang menuntut kehadiran seorang sikerei yang dipercaya menjadi perantara antara manusia dan roh. Upacara-upacara tersebut masih dijalankan oleh sebagian orang Mentawai di wilayah Siberut Selatan, terutama di daerah sepanjang Sungai Rereiket. a. Inisiasi kehidupan Kelahiran merupakan awal dari perjumpaan manusia dengan alam. Bayi yang baru lahir untuk pertama kalinya menghirup udara sekitar dan semenjak itu dimulailah interaksi dengan alam sekitar. Bagi orang Mentawai setelah seorang bayi lahir ia sudah harus ‘diperkenalkan’ dengan alam ini, termasuk juga dengan roh-roh yang hidup di dalamnya. Perkenalan ini penting agar sang bayi terhindar dari penyakit dan kehadirannya tidak mengganggu roh-roh di alam. Ritual pertama yang dilakukan begitu bayi lahir dikenal dengan istilah pangabela. Secara umum kegiatan ini dilakukan sekitar tiga hari setelah bayi itu lahir. Ibu si bayi dengan dibantu beberapa anggota keluarga menyediakan makanan. Setelah makan ia akan membawa anak itu ke luar ke sungai dan memandikannya di sana. Mereka tinggal beberapa jam di sungai hingga dikatakan kulit bayi itu akan menjadi pucat karena dingin. Itulah untuk pertama kalinya bayi ini keluar dari rumah. Si ibu atau saudara bayi ini pergi ke sungai dengan membawa api di suluh dan lailajet. Saudara-saudari si bayi atau yang menemani sang ibu membawa beberapa bibit tanaman untuk ditanam, seperti: mumunen, 70

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI simakainauk, taddek, aileppet. Tanaman-tanaman tersebut merupakan tanaman yang memiliki sifat baik. Setelah beberapa jam di sungai, sang ibu membawa bayinya kembali ke rumah. Sambil berjalan ia akan menuangkan air sungai yang dibawa dalam bambu sedikit demi sedikit sepanjang jalan. Sang ibu juga membawa kembali api dengan suluh yang dibawa ketika berangkat meninggalkan rumah. Pangabela dibuat dengan tujuan agar si anak yang baru lahir terhindar dari penyakit dan malapetaka. Setelah upacara ini juga, bayi yang baru lahir bisa dibawa ke luar rumah ketika ibunya hendak beraktivitas. 42 Pada upacara pangabela sang bayi belum diberi nama. Pemberian nama dilakukan pada ritual beritkutnya yaitu pangambok. Ritual ini dilakukan 1-2 minggu setelah bayi lahir atau jika dirasa sudah cukup dipenuhi persyaratannya. Misalnya keluarga tersebut sudah memiliki ayam atau kalau mereka mampu seekor babi bisa dikurbankan dalam ritual ini. Dalam upacara pangambok sang bayi mendapatkan nama Mentawai nya. Nama itu pada umumnya diambil dari nama nenek moyang suku ayah sang anak. Nama Mentawai seseorang tidak selalu dicantumkan dalam akta kelahiran. Nama ini menjadi penting untuk mengetahui kedudukan sang anak dalam silsilah suku. Namun saat ini kebiasaan tersebut sudah mulai ditinggalkan di beberapa daerah. Mereka yang beragama Katolik umumnya hanya mencantumkan nama baptis dan nama suku masing-masing. Ketika sang anak sudah beranjak remaja, diadakanlah upacara eneget untuk lakilaki, atau upacara sogunei untuk perempuan.43 Upacara ini pada masa lalu diadakan dalam pesta peresmian uma baru (Punen Panegekat Uma). Baik eneget maupun sogunei memiliki makna agar anak-anak tersebut menjadi pandai menangkap monyet atau rusa atau menangkap ikan di sungai serta diberi kemudahan dalam berburu di hutan bagi yang laki-laki dan anak perempuan berhasil ketika mencari ikan di sungai. Kedua bentuk 42 43 Wawancara dengan Agustinus Salemurat dan isteri di Ugai. Bdk. Coronesse, 1986, hal. 120; Rudito, 2013, hal. 149. 71

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI upacara di atas hampir tidak dijumpai lagi di desa-desa besar atau di pusat kecamatan. Kewajiban untuk mengenyam pendidikan dasar dan tersedianya sekolah-sekolah pemerintah menjadikan anak-anak saat ini tidak lagi pergi berburu di hutan. Mereka harus pergi ke desa-desa lain atau ke pusat kecamatan untuk melanjutkan sekolah. Hanya pada masa-masa liburan anak-anak itu akan pulang ke kampungnya masing-masing. Kegiatan berburu di hutan dan mencari ikan di sungai digantikan dengan bermain gawai untuk mendengarkan musik atau mengakses internet. Meskipun demikian beberapa orang yang tinggal di desa-desa bagian hulu masih mengingat dengan jelas tatacara upacara eneget dan sogunei. Beberapa dari mereka menyatakan mereka masih melakukan ritual-ritual tersebut terhadap anak-anak mereka meskipun dengan urutan yang tidak lagi sama. b. Pangureijat Sebelum masuknya agama-agama pernikahan (putalimougat) tradisional di Mentawai dilakukan dalam upacara pangurei. Uraian terperinci mengenai ritual pernikahan tradisional Mentawai ini bisa dilihat dalam tulisan Loeb (1928:425-429) atau penjelasan yang lebih singkat dalam tulisan Coronesse (1986:126-128). Bagian sentral dalam upacara pangurei adalah kegiatan makan bersama antara mempelai pria dan wanita. Hal makan bersama ini menjadi penting, sebab ada masa sebelum pernikahan di mana calon mempelai wanita tinggal bersama dengan mempelai pria dalam satu rumah yang disebut rusuk namun mereka belum diperkenankan makan bersama (Loeb, 1928: 426). Dalam upacara pernikahan tradisional dipersembahkanlah seekor ayam dan telur ayam. Telur dengan bentuknya yang bulat dipandang sebagai simbol keutuhan dan 72

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kesempurnaan. Harapannya pernikahan yang dilakukan kedua mempelai akan menjadi tanda keutuhan dan kesempurnaan hidup yang menyatukan mereka berdua hingga akhir hayat (Coronesse, 1986: 127). Ayam yang juga menjadi salah satu hewan yang penting dalam beragam acara adat di Mentawai selain babi melambangkan hewan yang bijak, terbang secara lurus dan tahu ketika tiba matahari terbit (Loeb, 1986:429). Ayam ini kemudian dipotong dan hatinya dipersembahkan kepada roh-roh nenek moyang dengan harapan kehidupan pengantin baru itu bisa bahagia, aman, tenteram dan makmur (Coronesse, 1986:127). Dewasa ini pangurei masih dijalankan sebagian orang Mentawai di Siberut, namun tata cara nya tidak lagi sama dengan yang dilakukan orang Mentawai pada masa lalu. Bahkan bagi mereka yang telah beragama Katolik, doa-doa secara Katolik sudah disisipkan di dalam rangkaian upacara tersebut. Ada kalanya pangurei diadakan jauh setelah sepasang muda-mudi menikah resmi secara Katolik dan bahkan telah memiliki anak. Hal ini dilakukan karena perlu cukup waktu untuk mengumpulkan biaya ketika suami-isteri tersebut hendak mengadakan pangurei. Namun tidak sedikit pula masyarakat Mentawai di Siberut yang mengadakan pangurei terlebih dahulu dan hidup bersama tanpa meresmikan pernikahan mereka dalam agama masing-masing atau dalam pencatatan sipil. Hal ini hampir bisa dijumpai secara umum mengingat pria dan wanita yang telah menjalankan upacara pangurei bagi masyarakat Mentawai telah dianggap menikah secara yang sah. c. Kematian Dalam alam pikiran orang Mentawai kematian berarti perginya jiwa (ketcat) seseorang meninggalkan tubuh biologisnya untuk selamanya. Jiwa mereka yang sudah 73

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI meninggal ini dipercaya pergi ke suatu tempat yang dikenal dengan istilah laggai sabeu (secara harafiah berarti kampung yang besar) – sebuah tempat di mana berkumpul seluruh roh nenek moyang dari setiap suku. Lokasi laggai sabeu ini berbeda-beda untuk setiap suku. Beberapa orang Mentawai mengatakan tempat yang dipercaya sebagai laggai sabeu terletak di wilayah tanah ulayat. Itulah mengapa keberadaan tanah ulayat sebuah suku ini menjadi begitu penting bagi orang Mentawai. 44 Sebagaimana disebutkan dalam bab terdahulu bahwa tujuan hidup orang Mentawai pada masa lalu adalah hidup yang panjang dan kematian yang baik, maka bagaimana seseorang akhirnya meninggal menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Orang Mentawai percaya ada dua jenis kematian: kamateijat simaeruk (kematian yang baik) dan kamateijat sikataik (kematian yang buruk). Kematian yang baik terjadi ketika jiwa meninggalkan tubuh fisik seseorang karena tubuh tersebut sudah tua atau sakit yang tidak terobati. Seseorang yang sudah lanjut usia dan sakit lalu akhirnya meninggal dipandang mengalami kematian yang baik. Berbeda dengan orang yang meninggal di usia muda karena kecelakaan saat berburu, saat bekerja di ladang atau beternak babi, atau di laut atau di sungai, mereka ini dikatakan mengalami kematian yang buruk. Memikirkan hal itu saja sudah merupakan hal yang dihindari. Mereka percaya kematian yang buruk terjadi jika manusia melanggar pantangan tertentu atau hidup tidak sesuai dengan aturan yang ada. Banyaknya pantangan (keikei) dalam kehidupan orang Mentawai adalah untuk menjauhkan diri dari jenis kematian ini. Kematian yang baik menandakan seseorang telah menjalani hidup sesuai dengan aturan yang ada dan melaksanakan pantangan-pantangan dengan baik. Jiwa yang 44 Tanah ulayat sebuah suku tidak bisa diperjualbelikan atau di bagi-bagi secara sembarangan. Tanah ini dipergunakan bersama oleh anggota suku. Status kepemilikannya adalah komunal. Beberapa orang Mentawai percaya seseorang yang ‘kesurupan’ oleh roh nenek moyang akan lari ke tempat-tempat ini, karena dimikianlah dibawa roh-roh nenek moyang. 74

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI meninggalkan tubuh fisik seseorang dipercaya akan hidup bahagia di laggai sabeu. Namun tubuh fisik yang sudah ditinggalkan ini akan mengundang roh lain yang dikenal dengan sebutan pitok (Coronesse, 1986:44). Pitok ini sangat ditakuti oleh orang Mentawai karena bisa menyebabkan seseorang sakit. Untuk itu perlu dibuat upacara supaya pitok tidak lagi datang mengganggu kehidupan orang yang ditinggalkan. Ritual yang dilakukan berbeda di beberapa daerah namun memiliki tujuan yang sama: agar jiwa mereka yang sudah meninggal bisa dengan tenang meninggalkan rumah, keluarga, kampungnya dan berkumpul bersama jiwa-jiwa nenek moyang. Untuk tujuan itu rangkaian kegiatan yang dibuat antara lain pemimpin upacara akan memerciki rumah orang yang meninggal dengan tujuan membersihkannya dari hal-hal yang buruk. Barang-barang orang yang telah meninggal pun di keluarkan agar roh orang yang meninggal bisa merelakannya dan diharapkan tidak lagi kembali datang untuk mengambilnya. Dalam upacara ini kehadiran sikerei menjadi penting sebagai perantara mereka yang ditinggalkan dengan jiwa orang yang meninggal. Beberapa orang di Siberut mengatakan bahwa ada saatnya roh orang yang meninggal ini berkomunikasi dengan sikerei dan bercerita mengenai kematiannya atau menyampaikan pesan kepada keluarga yang ditinggalkannya. Sikeri lah yang kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada keluarga orang yang meninggal. Dengan rangkaian tindakan tersebut dimaksudkan sebagai upaya pendamaian antara roh orang yang meninggal dengan keluarga dan orang-orang yang masih hidup. Dengan demikian roh orang yang meninggal akan bisa pergi dengan tenang dan damai menuju laggai sabeu. Sebagian orang Mentawai di Siberut masih menjalankan ritual kematian tersebut. Walau demikian tata caranya tidak lagi seperti yang dilakukan pada jaman sebelum kehadiran agama-agama dari luar. Seperti misalnya mereka yang beragama Katolik akan 75

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengadakan ibadat yang bisa juga dipimpin oleh imam dengan menggunakan doa-doa Katolik. Air yang dipercikan yang dulunya diramu oleh sikerei digantikan dengan air suci yang telah diberkati oleh imam. Namun praktik yang telah berubah tidak serta merta menggantikan keyakinan masyarakat Mentawai bahwa relasi yang tidak harmonis antara manusia dan roh-roh yang ada akan mendatangkan malapetaka dan nasib sial. Meskipun pantangan-pantangan adat masih dipertahankan oleh sebagian orang Mentawai di Siberut dan sejumlah upacara yang berakar dari tradisi sabulungan masih dijalankan, apa yang terjadi di masa kini tidaklah sama dengan yang ada di masa lalu. Apa yang dikisahkan Marinus Salolosit kepada penulis bisa memberi gambaran tentang bagaimana nasib arat Mentawai itu saat ini: Ya sekarang dibuat dengan ‘meraba-raba’ (tidak seperti dulu). Karena sudah dibakar semuanya, dan orang yang membuat itu tidak ada lagi. Sekarang kami tidak tahu lagi membuatnya. Anakanak muda sekarang tidak mau lagi mereka. Membuat buluat, tidak tahu lagi. Kami buat pesta, begitu makan babi kami gantung saja kepala babi (di uma). Kalau sekarang ada pemerintah meminta membuat lagi buluat, kerei, seperti dulu, masih mau saya mukerei (menjadi kerei). Tapi saya takut nanti jangan-jangan dibakar lagi seperti dulu. .... Tanya: Kalau dulu masih dilaksanakan punen dan lain sebagainya, bagaimana dengan sekarang? Sudah berkurang. Bukan karena tidak mau, tetapi karena butuh biaya. Jadi acara-acara lia itu kami raba-raba lagi. Karena tidak ada lagi orangtua yg mengajarkan kepada kami. Ukerei, apa lagi, itu tidak tahu. Dulu saya ingin mukerei, tapi skrng ya sudah saya lupakan. Karena saya sudah tua. Sejumlah narasumber yang penulis jumpai adalah mereka yang sudah berusia di atas 50 tahun dan mengalami masa-masa peralihan. Mereka mengalami sendiri kehidupan sebelum dilarangnya sabulungan hingga masa sekarang di mana sabulungan mulai ditinggalkan generasi muda. Pelarangan sabulungan secara paksa menyisakan pengalaman yang buruk bagi mereka. Namun meskipun telah memeluk agama Katolik, 76

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI para sikebukat ini memahami betul apa itu kearifan lokal Mentawai yang berakar dari sabulungan. Nilai-nilai budaya itu menjadi landasan yang kuat bagi relasi kehidupan manusia dan alamnya. Walaupun seiiring perkembangan jaman tradisi sabulungan makin ditinggalkan generasi muda orang Mentawai, tradisi tersebut menyimpan nilai-nilai kearifan lokal yang tetap relevan hingga saat ini. Dari tradisi sabulungan orang Mentawai memperlihatkan bagaimana manusia hidup selaras dengan alamnya. Keyakinan orang Mentawai akan keberadaan roh-roh yang hadir dalam alam fisik menunjukkan adanya relasi vertikal manusia dan yang tidak kelihatan sekaligus relasi horisontal antara manusia dan alam fisik. Kedua relasi tersebut perlu dijaga keseimbangannya. Hutan dengan demikian dipandang sebagai hal yang sentral dalam kehidupan manusia. Rusaknya hutan pasti akan mempengaruhi pula kehidupan manusia. Hal ini tercermin dalam ungkapan beberapa narasumber kepada penulis: Habis hutan, habis juga kehidupan. Budaya habis. Kehidupan orang Mentawai pada masa lalu yang sangat bergantung dari hutan menjadikan budaya mereka sangat bernuansa ekologi. Kalaupun praktik-praktik tradisi sabulungan kian ditinggalkan, semangat ekologis orang Mentawai tetap relevan dan mampu memberikan sumbangan bagi kehidupan masyarakat masa kini. 77

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV DOMINASI NEGARA DAN PERLAWANAN ORANG MENTAWAI Setelah mengamati bagaimana jejak-jejak sabulungan di Siberut dari kisah para sikebukat dan orang Mentawai masa kini, pada bagian ini penulis akan menganalisis beberapa poin penting. Pertama bagaimana proses dominasi negara sebagaimana tampak dalam pelarangan sabulungan oleh pemerintah setempat berlangsung di Siberut. Pada bagian ini penulis akan menggali lebih dalam fenomena tersebut dari kisah-kisah yang dituturkan oleh para informan. Poin kedua akan bercerita mengenai siasat perlawanan yang dilakukan oleh para sikebukat serta orang-orang yang memiliki perhatian pada tradisi sabulungan. Usaha untuk merevitalisasi sabulungan yang muncul dalam berbagai ekspresi akan diulas pada bagian yang ketiga. Pada poin keempat penulis mencoba untuk menguraikan bagaimana saat ini orang Mentawai di Siberut mengalami ambiguitas. A. Dominasi Negara dan ‘Pemaksaan’ Agama Resmi Hasil keputusan Rapat Tiga Agama tahun 1954 yang secara eksplisit meminta orang Mentawai meninggalkan sabulungan merupakan wujud dominasi negara untuk menerapkan gagasan-gagasan mengenai identitas tunggal bangsa. Dalam upaya tersebut pengakuan terhadap dasar ideologi negara Pancasila menjadi penting. Melalui Departemen Agama negara menyatakan bahwa kebebasan beragama rakyatnya dijamin dan dilindungi secara hukum. Hal tersebut diharapkan menjamin ditegakkannya penghayatan atas Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Akan tetapi sejarah pembentukan 78

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI konsep agama di Indonesia menyebabkan beragam tafsiran terhadap sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kategorisasi yang menentukan apa yang diterima dan diakui sebagai ‘agama’ menjadikan banyak aliran-aliran kepercayaan lokal mengalami diskriminasi. Sebenarnya peraturan pemerintah sebagaimana tertulis dalam SK NO.167/PM/1954 – yang dipandang sebagai latar belakang diadakannya Rapat Tiga Agama – hanya berisikan perintah penyelidikan, pengawasan, dan penertiban aliran-aliran kepercayaan demi kesejahteraan masyarakat sesuai dengan Pasal 33 UUD sementara. Sehingga dengan demikian apa yang kemudian diputuskan dalam pertemuan Tiga Agama jelas sekali tampak sebagai upaya pemaksaan. Apalagi tindakan aparat pemerintah – yakni polisi – di lapangan diwarnai dengan perilaku diskriminatif dan kekerasan. Seorang guru dan katekis (guru agama Katolik), Bapak Mikael Sabbagalet, menceritakan pengalamannya menyaksikan sendiri bagaimana sabulungan dilarang di Siberut: Ah itu di tahun 1952. Pembakaran (atribut) kerei masal, di mana -mana. Saya di Sagulubbe. Terakhir mereka datang ke Sagulubbe. Di kampung lain (di)bakar, ke Sarereiket, ke Silaoinan. Itu yg membakar orang polisi. Kebetulan polisi ini agama Protestan. Kalau tidak dibakar, dihukum, atau dipukul. Ah itu polisi. Kebanyakan polisi dulu dari Sikakap dan Sipora.... Maksud mereka supaya jelas, karena sudah merdeka, jangan lagi tampak mentawainya, karena sudah merdeka. Jadi malu, kelihatan sebagai orang Mentawai. Sehingga sekarang kalau tahu bruder, di Sikakap, Sipora, tidak ada lagi budaya (Mentawai). Tinggal ada d sini (Siberut). Tampaknya apa yang menjadi keputusan dalam Rapat Tiga Agama tidak diketahui oleh masyarakat di pelosok. Hal ini bisa dimengerti karena situasi wilayah Mentawai yang sulit dijangkau. Para polisi sering diceritakan oleh para sikebukat datang secara tibatiba, menggeledah uma dan mencari buluat, dan melarang orang berkabit. Aman Pagetai di Desa Madobag punya ingatan sendiri mengenai peristiwa tersebut: 79

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mereka datang begitu saja. Tidak ada dibilang sama dusun, desa, apa yang mau di buat sama masyarakat. Mereka langsung datang, menodong, kabit..kabit... memaksa orang-orang yang ber-kabit melepaskannya. Waktu itu orang tidak tahu apa-apa, jadi ketika diminta menyerahkan itu, ya dibuat saja. Takpei anai puaranan (belum ada agama) waktu itu. Setelah pembakaran itu masuk agama Baha’i. Waktu itu aku kelas 4 SD. Aku kelas 5 kutinggalkan (Baha’i). Karena Baha’i tidak diakui pemerintah. Makanya mereka tinggalkan. Hadirnya polisi sakalagat Protestan di Siberut dalam upaya pelarangan sabulungan menyebabkan trauma di kalangan orang Mentawai. Tindakan pelarangan yang disertai dengan kekerasan tersebut dilegitimasi dengan adanya keputusan Rapat Tiga Agama. Polisi bekerja sama dengan pemerintah kecamatan dan desa memiliki tanggung jawab untuk memastikan himbauan tersebut dijalankan. Di sisi lain, sebagai orang sakalagat yang telah beragama Protestan, mereka telah membawa konsep pemikiran bahwa sabulungan merupakan praktik penyembahan berhala yang perlu dihapuskan. Keberadaan sikerei dan buluat di uma menjadi representasi sabulungan sehingga itulah yang pertama-tama diincar untuk dimusnahkan. Buluat dibakar dan peran sikerei sebisa mungkin dihilangkan. Tujuannya sederhana yakni bahwa praktik sabulungan yang dipandang sebagai cara hidup lama dan mengandung unsur penyembahan berhala ditinggalkan dan diganti dengan agama resmi negara, yakni: Protestan, Katolik, dan Islam. Pada penghujung pemerintahan Orde Lama, dikeluarkan Tappres No.1/PNPS/1965 yang secara eksplisit memperlihatkan 6 agama yang diakui pemerintah, yakni: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Hal itu memunculkan pandangan bahwa mereka yang belum menganut salah satu agama resmi negara dipandang ‘belum beragama’. Secara dangkal mereka yang ‘belum beragama’ dianggap belum bisa 80

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menerima atau menerapkan apa yang tertera pada Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasca peristiwa 1965 dan di awal Orde Baru, rezim Soeharto mempolitisasi sentimen atas ideologi komunis sehingga kepemilikan agama – dan tentu saja agama resmi – menjadi kriteria apakah seseorang telah sepenuhya menerima ideologi Pancasila. Akibatnya orang-orang yang ‘belum beragama’ semakin berada dalam posisi yang dilematis. Jika menolak untuk menganut salah satu agama resmi dengan mudah mereka akan dicurigai sebagai kelompok yang mendukung komunisme. Peristiwa traumatis pada pelarangan sabulungan yang dimulai tahun 1954 semakin diperburuk dalam pemerintahan Orde Baru. Peristiwa pelarangan sabulungan memperlihatkan bagaimana pemerintah Indonesia bersikap terhadap masyarakat daerah yang menghidupi tradisi lokal mereka. Dengan mengusung semangat pemberadaban dan upaya pembentukan identitas tunggal bangsa, gagasan-gagasan mengenai manusia merdeka dan modern dijejalkan pada masyarakat. Upaya tersebut di satu sisi nampak berhasil. Mikael Sababbgalet bercerita pada penulis apa yang dialaminya di di Sagulubbe – wilayah pantai barat Siberut – tentang ketakutan penduduk setempat akibat tindakan para polisi: Nah waktu di Sagulubbe, masih takut mereka, masih ada bakat katsaila. Lalu mereka panggil saya. Guru. Apa? Takut kami datang polisi, jadi kami mau bakar buluat. Tapi ini dari kemauan kalian sendiri? Iya dari kami sendiri mau bakar. Supaya kami lepas dari malapetaka. Jadi kalau mau bakar buluat, agamamu apa sekarang? Kami sekarang Katolik. Tapi masih mendua. Jadi kami memilih saja, Katolik. Oto, kauan. Ada panukanan (pemberkatan). Masilabok buluat. Aku jalankan, kasih panganturat (wejangan). Jadi itu karena taku mereka sama polisi. Termasuk juga apa, tato. Dihukum. Jadi seakan-akan dulu tidak ada lagi arat Mentawai, budaya Mentawai. Tubut mapalik. Terlalu parah. Pakai inu, itu diambil. 81

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tindakan pelarangan sabulungan yang dilakukan di masa lampau tampaknya berhasil menanamkan gagasan bahwa sabulungan adalah cara hidup lama yang harus ditinggalkan. Tindakan para polisi dalam upaya pelarangan sabulungan dikisahkan sejumlah narasumber berlangsung hingga tahun 1980-an. Sebagai bentuk upaya menghindari konflik sejumlah orang memilih untuk menetap di daerah-daerah yang jauh dari pusat kecamatan. Di wilayah tersebut mereka merasa aman karena medan yang berat daerah tersebut sulit dijangkau oleh aparat polisi. Kehadiran para misionaris Katolik pada tahun 1954 – dengan konsep inkulturasinya – memberikan ruang terhadap berlangsungnya praktik-praktik sabulungan. Hal ini rupanya menarik perhatian orang Mentawai. Banyak dari antara mereka yang kemudian menganut agama Katolik. Dengan menganut agama Katolik, yang juga merupakan salah satu agama yang resmi diakui oleh negara, orangorang Mentawai di Siberut terbebas dari ancaman polisi. Tidak heran jika di wilayah Siberut mayoritas penduduknya beragama Katolik jika dibanding dengan wilayah lain seperti di Sikakap dan Sipora. Kehadiran misi Katolik juga membawa perkembangan dalam bidang pendidikan. Banyak sekolah dasar misi dibuka di wilayah-wilayah pedalaman Siberut. Sejumlah Sekolah Dasar misi yang dibuka di Mentawai meliputi: SD. Santa Maria, Muara Siberut (berdiri tahun 1965), SD. Santo Yosef, Sioban (berdiri tahun 1965), SD. Santo Vincentius Sikakap (berdiri tahun 1965), dan SD. Santo Fransiskus, Sikabaluan (berdiri tahun 1970). Dengan kehadiran sekolah-sekolah misi, banyak anak-anak Mentawai mulai mendapat akses terhadap pendidikan. Kehadiran sarana pendidikan di Siberut yang dirintis oleh misi Katolik ini juga sejalan dan turut melengkapi program pendidikan pemerintah. Hal itu secara tidak langsung turut membawa pengaruh terhadap pola kehidupan orang 82

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mentawai. Anak-anak mulai mengenyam pendidikan formal di sekolah-sekolah dan mulai meninggalkan pola kehidupan tradisional mereka. Terbatasnya sekolah di dusundusun menuntut anak-anak ini untuk meninggalkan kampung mereka dan tinggal di desa lain atau di pusat kecamatan jika hendak melanjutkan pendidikan di jenjang selanjutnya. Sebagai gambaran umum, sekolah-sekolah misi di daerah-daerah pada umumnya terbatas hingga kelas 3-4 SD. Jika hendak melanjutkan pendidikan di kelas 4-6 SD, SMP, dan SMA, mereka akan tinggal di desa yang lebih besar atau di pusat kecamatan. Jarak yang cukup jauh dan sarana transportasi yang terbatas menyebabkan para pelajar ini harus tinggal di luar kampung halaman mereka sepanjang tahun pelajaran. Tentu saja situsi ini menyebabkan anak-anak tersebut terpisah dengan kehidupan tradisional orang tua mereka di desa. Perubahan pola kehidupan tersebut rupanya juga turut membawa perubahan cara pandang terhadap budaya. Yohanes Sanambaliu (Teu Jablai) di Ugai menceritakan pandangannya bagaimana kemudian kehadiran pendidikan mempengaruhi gaya hidup anak-anak muda. Ia mengatakan bahwa dengan pergi ke sekolah dan tinggal jauh dari kampung halaman, anak-anak ini kehilangan kemampuan mereka untuk berburu, beternak, atau mengambil hasil hutan. Mereka juga tidak lagi bisa hadir dalam upacaraupcara adat yang diadakan di kampung mereka. Akibatnya mereka tidak paham lagi bagaimana cara memperlakukan hutan, bagaimana menjalankan ritual-ritual sebagaimana dilakukan orangtua dan kakek-nenek mereka. Perlahan-lahan pola kehidupan menganut agama resmi dan mengenyam pendidikan formal turut merubah gaya hidup orang Mentawai dan juga cara pandang mereka terhadap sabulungan. Trauma yang muncul pada pelarangan sabulungan dan dengan menjadi orang Katolik, orang tidak lagi menyatakan secara terbuka bahwa mereka masih menghidupi sabulungan. Mereka akan 83

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengatakan bahwa sekarang mereka telah beragama. Walau tidak mengatakan secara terus terang bahwa sabulungan masih dihidupi, sebagian dari narasumber yang penulis temui menyatakan bahwa mereka masih menjaga pantangan-pantangan sabulungan dan tidak meninggalkannya. Dominasi ideologi negara ini walupun disertai dengan unsur pemaksaan, intimidasi dan kekerasan seperti yang terjadi di Siberut, sulit dilawan dengan konfrontasi secara terbuka dan frontal. Tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah, intimidasi dari aparat polisi dan bayangan hukuman penjara dan kekerasan fisik menjadikan orang Mentawai di Siberut semakin sulit untuk memperjuangkan ideologi mereka. Posisi ketidakmampuan untuk melakukan perlawanan frontal ini mirip dengan situasi yang dialami para petani di Sedaka dalam penelitian Scott. Sebab itu model perlawanan yang dimungkinkan adalah apa yang disebut Scott sebagai ‘gerakan protes sambil menghindar’. Pada bagian selanjutnya akan kita lihat bagaimana para sikebukat memilih cara perlawanan yang menurut penulis memiliki kemiripan dengan model pemberontakan kaum petani di Sedaka. B. Siasat Sikebukat dan Pemerhati Sabulungan James C. Scott berpendapat bahwa selain perlawanan terbuka dan frontal terhadap kelas yang mendominasi terdapat pula model perlawanan ‘terselubung’ yang menjadi senjata kelas petani dan kelompok-kelompok minoritas. Model perlawanan demikian tidak membutuhkan gerakan terstruktur, orasi dan demo besar-besaran, atau revolusi besar-besaran. Apa yang disebut oleh Scott sebagai tindakan protes sambil menghindar ini terjadi dalam hal-hal sederhana dalam hidup sehari-hari. Situasi demikian tampak pula dalam kehidupan orang Mentawai di Siberut yang berusaha untuk tetap 84

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mempertahankan tradisi sabulungan ditengah pengaruh ideologi pembangunan negara dan hadirnya agama-agama samawi. Bentuk perlawanan para sikebukat atas gerakan pelarangan sabulungan yang muncul pertama kali adalah dengan melarikan diri dan menghindar. Ketika polisi mencari dan membakar buluat dan melarang sikerei menjalankan ritual-ritual, sejumlah orang Mentawai yang mendengar atau mengetahu hal tersebut melarikan diri ke desa-desa di hulu sungai. Daerah ini sulit dijangkau oleh polisi. Selain itu, para sikebukat yang pada masa mudanya mengalami sendiri perlakuan para polisi yang berupaya memusnahkan atribut budaya mereka, mencoba menyembunyikan atau membuat benda-benda tiruan untuk mengelabui para polisi. Apa yang diceritakan Yohanes Salakoppak memberi gambaran akan upaya menghindar tersebut: Kadang-kadang marah dia. Kadang-kadang lari. Datang, misalnya ada polisi, lari. Kadang-kadang barangnya itu disembunyikan. Kami dulu, bapak saya sikerei. Lalu barangbarang budaya itu, kalau datang polisi kami sembunyikan. Jejeneng (giring-giring atau lonceng kecil), baklu, leilei, dan salipak (semacam tempat untuk menyimpan alat-alat kerei), yang penting dalam ritual-ritual disembunyikan ketika didengar datangnya polisi ke tempat mereka. Selain itu, ritual-ritual sabulungan diadakan secara sembunyi-sembunyi. Alih-alih secara terbuka mengastakan bahwa mereka masih menjalankan sabulungan, ritual-ritual tersebut ditampilkan sebagai kegiatan budaya. Tindakan ini dipandang lebih menguntungkan dari pada konfrontasi fisik yang sudah jelas akan membawa orang-orang Mentawai ini di posisi yang kalah. Siasat yang lain tampak dalam sikap patuh orang-orang Mentawai untuk menganut agama yang ditawarkan oleh pemerintah. Jika para penganut Kaharingan di Kalimantan 85

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI misalnya berusaha memperoleh pengakuan negara dengan jalan mengadakan gerakan struktural dan bernaung pada agama Hindu, orang Mentawai di Siberut justru dengan terbuka memilih menganut salah satu agama yang diakui pemerintah. Di Siberut, sebagian besar orang Mentawai memilih untuk beragama Katolik yang hadir justru di awal program ‘penertiban’ sabulungan di tahun 1954. Dengan tradisi inkulturasi Gereja Katolik yang memberi ruang pada ekspresi budaya setempat, orang Mentawai di Siberut melihat adanya peluang untuk tetap menjaga tradisi sabulungan. Siasat ini juga dirasa mampu ‘menyelamatkan’ mereka dari label ‘orang tidak beragama’ yang dengan mudah diasosiasikan sebagai anti Pancasila dan penganut paham komunis. Kita telah melihat bagaimana para generasi tua orang Mentawai di Siberut mencoba menjaga ingatan mereka akan tradisi sabulungan dan menghidupinya sebisa mungkin. Walau jaman sudah berubah dan dampak modernisasi tidak bisa dielakkan lagi, nilai-nilai kearifan lokal tidak begitu saja mereka tinggalkan. Kendati telah menganut agama resmi, seperti Katolik, sebagian dari mereka tidak begitu saja meninggalkan cara hidup tradisional. Keikei dan puliaijat tetap dijaga dan dijalankan berdampingan dengan kegiatan di Gereja sebagaimana umat Katolik pada umumnya. Seperti terungkap dalam perbincangan bersama Teu Jablai di dusun Ugai: Jangan karena sabulungan kalian, lalu di tinggalkan gereja (Katolik), tidak ke berdoa di gereja. Datang pastor buat misa kita ikut. Justru baik, kita sabulungan sekaligus ada puaranan (agama). Pantangan yang ada di Katolik sama halnya juga pantangan di sabulungan. Sama halnya pada hari Minggu, kita tidak boleh kerja keras seperti menebang pohon atau membuka ladang. Kalau dilanggar kita akan ditimpa pohon, atau terkena parang. Apa yang dikatakan Teu Jablai menyiratkan apa yang dirasakan sebagian kaum tua orang Mentawai. Kalangan ini tampaknya masih berusaha mempertahankan warisan 86

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI budaya lokal sabulungan kendati telah memeluk agama Katolik. Bisa disimak bagaimana sabulungan dibedakan dari puaranan (agama). Di Mentawai, puaranan selalu merujuk pada ‘agama-agama’ selain sabulungan. Pembedaan yang ditanamkan para misionaris awal dan pemerintah mengenai arat sabulungan dan arat puaranan masih mewarnai bagaimana golongan tua ini menghidupi keyakinan mereka. Ketika ditanya apakah lebih baik kembali kepada sabulungan dan meninggalkan agama Katolik, Teu Jablai mengatakan demikian: Oh tidak bisa. Tak bisa tinggalkan agama Katolik. Tapi kalau ada upacara pangurei, pabetei, memelihara babi, itu kan tidak bisa pakai carai lain, jadi kami pakai adat mentawai. Tapi kalau ada berminggu, ya kami pergi. Secara umum, sabulungan sebagai budaya dan tidak bisa ditinggalkan. Katolik menjadi agama. Akan jadi dilema, kalau kita mengabaikan pantangan, bisa terjadi musibah. Jadi kita tidak bisa meninggalkan pantangan adat. Kita bisa kena musibah. Menghidupi budaya Mentawai (arat sabulungan) dan juga beragama (arat puaranan) masih mereka pandang sebagai bentuk perlawanan terbaik. Jika hanya menjalankan arat sabulungan mereka akan menempatkan diri di posisi yang bertentangan dengan anjuran pemerintah; yakni memiliki agama. Mereka juga akan diberi label sebagai masyarakat yang belum maju, karena belum beragama. Namun di sisi lain mereka tetap menjaga praktik-praktik sabulungan: menjaga pantangan (keikei) untuk beternak dan berburu, mengadakan ritual inisiasi kelahiran, perkawinan (pangureijat), kematian (panunggru), termasuk mempertahankan fungsi sikerei dalam pengobatan tradisional – di mana pengaruh roh-roh alam menjadi salah satu penyebab seseorang sakit. Mereka tidak mengatakan bahwa agama mereka adalah sabulungan. Mereka akan mengatakan bahwa ritual-ritual tersebut adalah budaya Mentawai. Dari luar orang akan melihat bahwa orang Mentawai telah menganut agama Protestan, Katolik, dan Islam. Mereka pergi 87

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI beribadah di Gereja dan Mushola serta menjalankan pesta-pesta keagamaan masingmasing. Penampakkan dari luar ini yang oleh James Scott disebut public transcript, memperlihatkan bagaimana relasi orang Mentawai dengan pemerintah dan kelompok pewarta agama yang masuk. Sementara itu di sisi lain, di bawah permukaan, orang Mentawai tetap menjaga dan menjalankan tradisi sabulungan – meskipun tidak seketat apa yang dihidupi nenek moyang mereka di masa sebelum hadir agama-agama. Praktik menjalankan tradisi sabulungan ini yang merupakan perwujudan hidden transcript dalam pandangan James Scott. Keberadaan dan pengaruh sikebukat (kaum tua) di sebuah wilayah, dalam hal ini di Siberut Selatan dan terlebih lagi di wilayah Sarereiket yang penulis amati selama penelitian, menjadikan tradisi sabulungan tidak cepat terkikis. Mereka masih berusaha mengajarkan tradisi lokal kepada generasi yang lebih muda. Bagaimana beternak babi – yang menjadi kurban yang penting dalam pesta-pesta budaya di Mentawai, berladang, menyambut kelahiran, pernikahan, upacara penyembuhan orang sakit, dan juga bagaimana mengadakan ritual bagi orang yang meninggal. Teu Jablai menceritakannya kepada penulis bagaimana caranya agar generasi muda tidak melupakan tradisi mereka: Bisa itu. Misalnya saya mau beternak babi, itu caranya saya ajarkan ke anak-anak saya. Lalu misalnya ada punen, punen kelahiran, mereka sudah tahu caranya. Saya ajarkan. Tidak hilang. Kalau kami memelihara babi di tanah orang lain (di luar Mentawai), tidak akan bisa bertahan. Antara hilang babi, atau dimakan orang. Budaya Mentawailah yang bisa mengembalikan babi yang hilang itu. Budaya mentawai le ireddet (yang berlaku). Orang muda di sini belajar dari orangtua mereka dan pada saatnya nanti mereka yang akan mengambil peran dalam upacara-upacara adat tersebut. Inilah siasat kedua yang dilakukan oleh orang Mentawai untuk menjaga tradisi mereka. Mereka menganut agamaagama yang diakui oleh pemerintah sebagaimana dianjurkan, namun dalam praktik 88

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kehidupan sehari-hari tradisi sabulungan tetap dihidupi sebagai bagian dari budaya Mentawai. Saat ini sebagian orang Mentawai generasi muda mengatakan bahwa praktik sabulungan sudah tidak ada lagi. Tindakan ini dalam pandangan penulis merupakan siasat lain untuk mempertahankan budaya Mentawai tanpa dicap sebagai masyarakat primitif yang belum maju. Istilah sabulungan bagi kelompok ini memiliki konsep yang berkaitan dengan budaya masa lalu, masa di mana Mentawai belum mengenal agama-agama dan gaya hidup modern. Ritual-ritual adat yang kini tetap dijalankan disebut sebagai wujud budaya Mentawai, tanpa menyinggung soal sabulungan. Dalam hal ini tampak bagaimana peristiwa pelarangan sabulungan, kehadiran pemerintah dan misionaris, berhasil membuat sabulungan – yang pada mulanya menjadi cara hidup orang Mentawai – tampak sebagai sesuatu yang usang, ketinggalan jaman, dan atas nama kemajuan, perlu ditinggalkan. Penggantinya adalah agama-agama baru, yang datang dari luar, yang dikaitkan dengan gaya hidup orang modern, yakni: meninggalkan animisme dan menganut agama monoteis. Dari luar tampak bahwa sabulungan memang telah ditinggalkan, dan mayoritas orang Mentawai telah menganut agama: Protestan, Katolik dan Islam. Namun di balik semua itu, warisan sabulungan masih hidup dalam budaya Mentawai saat ini. Dalam hal ini peranan kaum muda menjadi penting sebab jika mereka enggan menjaga budaya tersebut apa yang diajarkan oleh generasi tua akan terhenti. Jika hal itu terjadi, nilai-nilai kearifan lokal yang berakar dari tradisi sabulungan akan benarbenar hilang. Dan kali ini proses tersebut berlangsung dalam situasi kebebasan, tanpa paksaan, dan tanpa tindak kekerasan. 89

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. Ekspresi Sabulungan Dalam bagian ini penulis mencoba memaparkan unsur-unsur budaya Mentawai yang berakar dari tradisi sabulungan. Meskipun penulis tidak pernah mendengar ungkapan terbuka bahwa sabulungan masih hidup di kalangan sebagian orang Mentawai di Siberut, fenomena yang terjadi di lapangan menunjukkan hal yang lain. Peristiwa pelarangan sabulungan di masa lalu dan proses terjadinya yang melibatkan unsur intimidasi, kekerasan dan paksaan, sebagaimana penulis uraikan, berhasil menimbulkan trauma. Rangkaian tindakan diskriminatif terhadap sabulungan menyebabkan tradisi tersebut diasosiasikan sebagai ciri masyarakat tertinggal, primitf, karena masih kental dengan unsur animisme. Sebelum tahun 1980-an, karena ketakutan akan kontrol polisi, ritual-ritual sabulungan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Menurut Yohanes Salakoppak setelah tahun 1980-an, sikap pemerintah mulai longgar dan sebagian besar orang Mentawai telah menganut agama resmi pemerintah, mereka merasa lebih bebas mengekspresikan diri dalam upacara-upacara adat. Agamaagama resmi tidak ditinggalkan dan upacara tradisional yang mereka lakukan diperkenalkan sebagai bagian dari budaya Mentawai. Penggunaan istilah sabulungan dihindari dan dipilih istilah budaya sebagai gantinya. Beberapa dari orang Mentawai yang penulis jumpai menyatakan bahwa sabulungan adalah agama lama yang sudah ditinggalkan. Sebagian lagi mengatakan itu merupakan agama jaman dulu yang menyembah sanitu (setan). Mereka mengasosiasikan sabulungan dengan gaya hidup orang yang belum maju dan sudah dihilangkan dengan adanya agama resmi pemerintah dan pembangunan. Namun di beberapa daerah, sabulungan – meskipun tetap tidak dinyatakan secara terbuka – masih dijaga keberadaannya. 90

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Di wilayah Siberut Selatan, terlebih di wilayah Sarereiket, praktik budaya Mentawai yang berakar dari tradisi sabulungan masih bisa dijumpai. Hal ini mengindikasikan bahwa sebenarnya penghayatan sabulungan masih dihidupi oleh orang Siberut. Masyarakat masih percaya bahwa penyakit tertentu disebabkan karena roh (simagre) tertinggal di suatu tempat atau berjumpa dengan roh yang ada di alam. Mereka juga percaya nasib sial yang terus menimpa dikarenakan ada ritual tertentu seperti eneget atau pangureijat belum dilaksanakan. Misalnya anak yang belum menjalani ritual eneget akan kurus, atau sering sakit, demam, dan tampak tidak bersemangat. Punen panunggru bagi orang yang meninggal dunia juga masih dipraktikkan kerena diyakini akan menjauhkan mereka dari nasib sial. Bagi mereka yang menjadi sikerei pantangan seperti memakan sejenis belut atau monyet berbulu putih jika dilanggar akan menyebabkan penyakit dan bahkan kematian. Hal itu tampak dalam apa yang disampaikan Thomas Tatebburuk – yang ayahnya adalah seorang sikerei – di Dusun Puro: Selama jadi sikerei, selama seumur hidup, tidak boleh makan itu. Kecuali ada juga yang tidak mau makan belut itu, seperti kita kan. Saya tidak mau makan. Karena ada apa itu, masih ada bau-bau sikerei pada saya. Kalau saya makan timbul penyakit. Jadi ndak boleh dimakan. Kecuali, hanya belut yg tidak boleh dimakan sama saya. Kalau joja (salah satu primata endemik) yang simabulau (putih) dan lain-lain boleh dimakan. Itu pantangnnya. Paling pantang itu belut itu. Upaya revitalisasi tampak dalam peran para sikebukat yang memahami budayanya dan merasa perlu untuk menurunkannya kepada generasi muda. Para sikebukat dalam hal tertentu masih turut berperan dalam ritual-ritual adat. Mereka menjadi penghubung antara generasi orang Mentawai terdahulu dan generasi muda saat ini. Dengan hadirnya para sikebukat keturunan mereka masih bisa menyaksikan bagaimana upacara-upacara tersebut dibuat. Di desa yang jauh dari pusat kecamatan ritual-ritual budaya masih sering dilakukan meskipun mereka mengakui tidak sebanyak masa lalu. Persoalannya adalah 91

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan terbatasnya sekolah di dusun-dusun, anak-anak Mentawai sering harus pergi ke pusat desa atau kecamatan dan tinggal di sana selama masa sekolah. Hampir seluruh kehidupan mereka dihabiskan di asrama pelajar atau kediaman sanak saudara mereka yang jauh dari kampung halaman. Situasi ini menjadikan anak-anak tersebut tidak mengalami lagi kehidupan tradisional di kampung mereka. Kehidupan di kota kecamatan lebih modern dan maju. Ritual-ritual tradisional yang masih sering dilaksanakan di kampung halaman mereka tidak ditemui di kota kecamatan. Masyarakat di kecamatan juga lebih heterogen. Anak-anak ini akan bertemu dengan teman-teman mereka yang datang dari berbagai kampung yang jauh dan bahkan dari daerah-daerah di luar pulau Siberut. Perbedaan masing-masing daerah dipersatukan oleh kesamaan bahwa mereka adalah orang Mentawai dan oleh karena itu mengenal budaya Mentawai secara umum menjadi hal yang penting dalam proses pendidikan mereka. Upaya revitalisasi yang lain muncul dari orang-orang yang merasa penting mengajarkan nilai-nilai budaya Mentawai melalui pendidikan formal. Selama berada dalam wilayah administratif Padang Pariaman, yang diajarkan di sekolah-sekolah adalah budaya Minangkabau dengan pelajaran BAM (Budaya Alam Minangkabau). Di Siberut, sekolah milik Yayasan Prayoga, SD St. Maria, pada tahun 1990-an telah mulai mengajarkan budaya Mentawai atau yang kemudian disingkat ‘Bumen’ secara mandiri dan dimasukkan dalam bahan pengajaran muatan lokal. Hal ini dilakukan agar para peserta didik mengenal budaya Mentawai. Dalam bahan pengajaran Bumen tersebut diperkenalkan mengenai dimensi geografi, sosial, dan budaya Mentawai. Kebijakan ini muncul dari kalangan orang-orang yang peduli terhadap pelestarian nilai-nilai budaya Mentawai. Sebab meskipun merupakan bagian dari wilayah Sumatera Barat yang 92

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dominan dengan kebudayaan Minangkabau, orang Mentawai memiliki budayanya sendiri yang perlu juga dipelajari dan dilestarikan. Kini setelah terbentuk Kabupaten Kepulauan Mentawai dan banyak orang Mentawai yang duduk di pemerintahan, pengajaran muatan lokal Budaya Mentawai (Bumen) di sekolah makin dikembangkan. Saat ini menurut keterangan yang penulis peroleh dari kepala cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Siberut Selatan, Bumen telah menjadi bahan pengajaran wajib bagi siswa-siswa sekolah dasar di seluruh kabupaten. Materi pengajaran Bumen disusun oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan LSM Yayasan Citra Mandiri (YCM). Inilah yang menjadi salah satu upaya pemerintah daerah Mentawai untuk merevitalisasi nilai-nilai budaya Mentawai. Sabulungan sebagai suatu cara hidup tradisional orang Mentawai memang tidak akan muncul lagi seperti masa lalu. Akan tetapi nilai-nilai budaya lokal yang terkandung di dalamnya diusahakan agar tidak lenyap dan dilupakan. Selain dalam bidang pendidikan upaya untuk merevitalisasi nilai-nilai budaya tampak dalam inkulturasi Gereja Katolik. Hal ini dilakukan sejak awal kehadiran Gereja Katolik di Siberut. Para misionaris awal berusaha mempelajari bahasa, budaya, serta cara hidup orang Mentawai. Bersama para guru agama setempat, para misonaris mengadakan pembinaan tentang inkulturasi dan bagaimana nilai-nilai Kristiani diajarkan menggunakan sarana-sarana budaya. Sebenarnya upaya ini telah dimulai oleh para zending Protestan yang berjasa menyusun Kitab Suci dalam bahasa Mentawai. Dalam Kitab Suci bahasa Mentawai dan kemudian dalam bahasa yang digunakan dalam peribadatan Kristen, istilah Taikamanua dan Ulaumanua digunakan sebagai padanan kata ‘Allah’. Memang ada sedikit perbedaan antara kata Taikamanua dan Ulaumanua. Taikamanua (Mentawai, tai: orang; manua: langit) merujuk pada roh-roh 93

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang ada di langit. Konsep serupa yang digunakan untuk menyebut roh-roh misalnya yang ada di laut (taikakoat) dan hutan (taikaleleu). Sementara itu, istilah Ulaumanua (Mentawai, ulau: luar, terang) mengacu pada sesuatu yang beradi di luar, melampaui, manusia dan alam. Konsep mengenai Ulaumanua sangat erat dengan alam pikiran sabulungan. Ulaumanua dipandang sebagai roh yang paling tinggi (melampaui Taikamanua) dan keberadaannya tak terjangkau manusia. Penjelasan Selester Sagurujuw (wawancara di Desa Muntei) mengenai dasar cara hidup orang Mentawai sebelum hadir agama-agama bisa memberi gambaran mengenai gagasan atas Ulamanua: Sebenarnya yang hakiki adalah, ketika sebelum agama ada, sudah diyakini adanya ulaumanua. Ulaumanua menurut keyakinan orangan Mentawai adalah yang mengetahui segala-galanya, yang kuat, yang lebih tinggi dari mereka. Itu yang terjadi. Ketika ada praktik budaya dibuat kepada saudaranya, kepada ulaumanua, kita akan masuk surga, kita akan panjang umur. Hal ini juga diperjelas oleh Aman Pagetai ketika bercerita mengenai tujuan segala bentuk keikei (pantangan) dan ritual-ritual budaya orang Mentawai. Ia mengatakan demikian: Semua keikei, semua pekereijat, semuanya itu kepada Ulaumanua tujuannya. Tidak ada yang lain. Ulaumanua le taloulougi (Hanya pada Ulaumanua saja manusia mengabdi). Bagi orang Mentawai gagasan mengenai Ulaumanua tidak terlepas dari tradisi sabulungan. Memasukkan unsur sabulungan dalam pewartaan agama Kristen tampak sebagai akulturasi budaya. Dalam Gereja Katolik proses akulturasi tersebut berkembang pada tahapan inkulturasi. Konsep inkulutrasi bisa dipahami sebagai upaya Gereja Katolik untuk masuk dan menjadi bagian dari budaya setempat. Gagasan ini lah yang menjadi latar belakang mengapa orang Mentawai tidak merasa budaya sabulungan yang mereka hidupi tidak 94

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ditolak begitu saja. Selain penggunaan konsep Ulaumanua45 para misionaris Katolik juga mencoba menjaga ritual-ritual sabulungan dan memasukkannya dalam peribadatan Katolik. Hal itu bisa dilihat dari disusunnya Buko Panukanan (Buku Pemberkatan) pada tahun 1979. Buku tersebut berisikan beragam tata ibadat Katolik yang digunakan dalam perayaan-perayaan yang khas bagi orang Mentawai. Ritual-ritual sabulungan seperti: punen eneget (inisiasi anak), tinungglu (pembukaan ladang baru), punen laggai, punen lalep (pesta rumah baru), punen abak sibau (‘pemberkatan’ sampan baru), hingga ritualritual bagi peristiwa kematian – dimasukkan dalam tata peribadatan Katolik di buku tersebut. Upacara-upacara yang telah lama dijalankan oleh orang Mentawai di masa lalu dengan demikian tidak begitu saja dilarang dan ditinggalkan, tetapi dihidupi dengan cara baru. Dalam proses inkulturasi ini budaya setempat mendapat pengakuan. D. Identitas Budaya: Ambivalensi Orang Mentawai Kita telah melihat bagaimana dominasi negara berhadapan dengan aliran kepercayaan lokal sabulungan di Siberut. Bagaimana juga para sikebukat memilih jalan untuk melakukan perlawanan di bawah permukaan untuk mempertahankan tradisi mereka. Telah diperlihatkan pula bentuk-bentuk revitalisasi budaya yang diupayakan baik oleh para sikebukat, pemerintah daerah melalui pendidikan, dan Gereja Katolik dengan konsep inkulturasinya. Pada bagian ini penulis akan mengangkat munculnya ambivalensi dalam menghidupi identitas budaya orang Mentawai. Jika merujuk kembali ke masa lalu, sebelum hadirnya agama-agama resmi di Siberut, sabulungan menjadi sebuah cara hidup orang Mentawai. Dalam tradisi yang telah 45 Meskipun gagasan tentang Ulamanua lebih dekat dengan tradisi sabulungan dan memiliki makna lebih luas dari istilah Taikamanua, saat ini justru istilah Taikamanua yang umum digunakan dalam peribadatan Kristen (Protestan dan Katolik) di Mentawai. 95

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengakui kehadiran alam fisik dan sesuatu yang transenden di alam membentuk sebuah pola relasi yang selaras antara manusia dan alamnya. Berbagai ritual, tabu dan pantangan mengatur perilaku manusia terhadap alam bertujuan untuk menjaga keselarasan tersebut. Tradisi sabulungan memberikan gambaran bagaimana manusia melihat alam lingkungannya bukan sebagai milik mereka. Mereka memperoleh segala yang diperlukan dari alam namun mereka tetap menjaga kesadaran untuk berterima kasih – dengan menjaga hubungan – dengan roh-roh yang ada di alam. Relasi antara manusia dan hutan di Siberut memberikan sumbangan pada pembentukan identitas budaya orang Mentawai. Seiring perjalanan waktu, dengan masuknya pemerintah dan program pembangunan (agama dan pendidikan), tampak perubahan yang terjadi yang mempengaruhi cara pandang orang Mentawai di Siberut terhadap identitas budayanya. Pola relasi antara manusia dan hutan yang sebelumnya dipenuhi dengan aturan sabulungan berganti dengan relasi produksi demi kepentingan ekonomi. Pemanfaatan hasil hutan yang semula hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan ritual-ritual beralih menjadi upaya memenuhi permintaan pasar. Ladang-ladang baru di buka untuk menanam coklat dan cengkeh, kayu-kayu dari pohon yang besar ditebang dan dijual, hingga tanah-tanah yang di jual kepada para pendatang, memperlihatkan perubahan cara pandang orang Mentawai di Siberut terhadap hutan. Aman Pagetai (wawancara di dusun Maseppaket) menceritakan keprihatinannya seperti berikut: Sekarang orang buka ladang, tebang pohon, begitu gampangnya. Ambil gergaji mesin, tebang begitu saja. Dulu tidak dibuat. Mereka buat buluat dulu (Panaki sia). Mereka memberitahukan kepada roh-roh alam untuk meminta ijin saat menebang pohon. Selain itu buluat itu juga untuk membeli pohon itu dari roh-roh hutan. Dulu kalaupun berburu simakobu, dia di atas pohon, dan kita harus menebang pohon itu untuk mendapat monyet, itupun harus dibayar pohonnya. Sekarang itu tidak ada lagi yang 96

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI membuat panaki itu. Tapi walau begitu, akan ada akibat buruknya sama kita. Di satu sisi masih ada keinginan untuk menjaga tanah-tanah mereka dan menghidup tradisi nenek moyang, namun di sisi lain mereka melihat bahwa hasil hutan dan penjualan tanah bisa menghasilkan pendapatan yang lebih besar dan cepat. Situasi tersebut makin tampak jelas dengan mulai memudarnya tradisi sabulungan dengan segala nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Situasi ambivelensi juga tampak dari upaya menghidupi sabulungan itu sendiri. Praktik kepercayaan lokal itu tampak berada di posisi koma, antara hidup dan mati. Hadirnya pembangunan, pendidikan, dan agama mengubah pola kehidupan juga. Tuntunan pekerjaan sebagai pegawai pemerintah atau di kantor, tidak memungkinkan waktu yang leluasa untuk mengadakan ritual-ritual yang tentu memerlukan persiapan yang panjang. Tuntutan biaya pendidikan anak dan rumah tangga menggeser pula pelaksanaan upacara adat yang juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Masih ada ketakutan akan ditimpa musibah dan kemalangan jika ritual seperti eneget, pangurei, dan panunggru misalnya tidak dilaksanakan. Aman Pagetai misalnya mengatakan mengapa saat ini ritual-ritual tersebut mulai berkurang pelaksanaanya: Sudah berkurang. Bukan karena tidak mau, tetapi karena butuh biaya. Jadi acara-acara lia itu kami raba-raba lagi. Karena tidak ada lagi orangtua yg mengajarkan kepada kami. Ukerei, apa lagi, itu tidak tahu. Dulu saya ingin mukerei (menjadi sikerei), tapi sekarang ya sudah saya lupakan. Karena saya sudah tua. Hal yang serupa terjadi dalam kehidupan beragama. Mereka yang telah beragama – misalnya Katolik – di satu sisi mereka merasa telah meninggalkan tradisi sabulungan. Mereka hadir di Gereja pada hari Minggu dan mengadakan upacara-upacara keagamaan. Upacara inisiasi seperti pangabela, pangambok, dan abbinen misalnya, digantikan 97

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan baptisan bayi di Gereja. Pak Thomas menceritakan bagaimana perubahan itu dialami. Menurutnya tidak semua ritual tersebut dihilangkan. Hanya saja bergantung apakah keluarga yang bersangkutan ingin mengadakannya atau tidak. Akan tetapi sejumlah keluarga merasa sudah lengkap jika anak mereka sudah dipermandikan. Upacara yang dulu dibuat di sungai agar simagre si bayi diperkenalkan dengan lingkungannya dan tumbuh dengan kuat tidak diadakan lagi. Namun di sisi lain, punen eneget yang diadakan ketika anak mulai remaja, masih dilaksanakan. Hal ini dibuat agar si anak bisa tumbuh sehat dan tidak mudah terkena penyakit. Dalam hal ini tampak bagaimana upaya mereka untuk tidak meninggalkan keduanya, agama dan budaya sabulungan tersebut – karena keduanya memiliki tuntutan masing-masing yang harus tetap dipenuhi. Apa yang dikatakan Teu Jablai mungkin bisa memberikan gambaran mengenai hal tersebut : Waktu kita pakai alat-alat budaya dalam kegiatan di Gereja, itu tidak menghina agama Katolik, dan juga tidak menghina budaya Mentawai. Tapi kalau kita bilang gak usah kita ke gereja, gak usah-lah kita beragama, di situlah kita bersalah. Sama halnya juga dalam sabulungan, misalnya kita sedang melakukan puliaijat, dan kita melanggar pantang, di situlah kita kena. Di Katolik ada keikeinya (pantangannya), di budaya Mentawai ada juga keikeinya Fenomena dalam dunia pariwisata juga memperlihatkan bagaimana orang Mentawai di Siberut tengah mengalami ambivalensi. Kegiatan-kegiatan seperti membuat membuat tato, mengadakan tarian tradisional (turuk laggai), mencari ikan di sungai, dan kehidupan di rumah-rumah ladang dengan busana zaman dulu (menggunakan kabit dan segala aksesorisnya bagi laki-laki), menjadi konsumsi para wisatawan. Kegiatan yang sebenarnya sudah bisa ditinggalkan karena masyarakat telah hidup desa-desa dan bekerja di ladang namun tetap dipertahankan karena dirasa lebih menguntungkan secara finansial. 98

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Masyarakat tersebut telah mengenal teknologi modern: memanfaatkan listrik, menggunakan telepon genggam, dan memiliki kendaraan bermotor. Namun mereka berusaha tetap memperlihatkan keaslian budaya dengan cara hidup tradisional karena hal itu juga bisa mendatangkan penghasilan. Turuk laggai yang dulunya diadakan dalam pesta-pesta tradisional – seperti pernikahan atau pendirian uma – sebagai ungkapan syukur dan kebahagiaan, saat ini selalu diadakan dalam acara penyambutan wisatawan, pejabat pemerintahan atau festival budaya. Penyambutan dengan turuk laggai menurut Thomas Tatebburuk dan Mikael Sabbagalet misalnya tidak digunakan sebagai tarian penyambutan pada masa lalu. Akan tetapi turuk laggai tersebut akan tampak lebih menarik sebagai pertunjukan jika dilakukan oleh sikerei ‘asli’. Mateus Sakukuret yang telah cukup lama berkecimpung dalam kegiatan pariwisata dan sanggar budaya menceritakan bagaimana banyak permintaan menampilkan sikerei dalam turuk laggai. Meskipun tampaknya tarian tersebut telah menjadi komoditi pariwisata, unsur ‘keasliannya’ tetap dipertahankan dengan mengadakan ritual-ritual persiapan tertentu seperti misalnya ritual paruak. Ritual ini umumnya dilakukan oleh sikerei ketika mendatangi tempat yang baru atau berjumpa dengan sikerei dari daerah lain. Jika tidak diadakan ritual tersebut, sikerei yang bersangkutan akan mengalami demam, sakit, dan tidak bisa melanjutkan atraksi turuk laggai yang diharapkan. Melalui paparan di atas tampak bagaiman situasi ambivalen yang dialami orang Mentawai di Siberut. Tradisi sabulungan yang kemudian direduksi dalam ungkapan ‘budaya’ Mentawai di satu sisi ingin ditampilkan kembali. Namun di sisi lain, terputusnya pengetahuan budaya dari generasi pendahulu akibat rangkaian peristiwa diskriminasi di masa lalu menyebabkan praktik-praktik budaya tersebut dihidupi dengan meraba-raba 99

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kembali. Hingga saat ini upaya menegaskan kembali identitas budaya orang Mentawai terus diwarnai dengan situasi ambivalen dan perubahan yang terus dan sedang terjadi. 100

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Program pembangunan pemerintah yang berlangsung pasca kemerdekaan Indonesia rupanya memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat lokal di daerahdaerah, termasuk juga di P. Siberut, Mentawai – salah satu kawasan terluar di barat Indonesia. Semangat merayakan kemerdekaan dengan berdasar pada sila pertama Pancasila, yakni: Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam praktiknya sebagaiman tertera dalam UU PNPS Nomor 1 Tahun 1965 justru dipandang diskriminatif bagi sejumlah penghayat aliran kepercayaan. Meskipun tercantum dalam konstitusi bahwa negara menjamin kemerdekaan setiap warganya untuk memeluk agama dan beribadat sesuai dengan kepercayaannya masing-masing, tidak semua bentuk agama dan kepercayaan mendapat kedudukan yang setara. Pendisiplinan dan penertiban sejumlah agama dan aliran kepercayaan atas nama menjaga stabilitas negara justru membuat para panghayat tradisi lokal yang telah ada sebelum kemerdekaan merasa terancam dan termarginalkan. Pelarangan sabulungan di P. Siberut paska 1954 dengan Rapat Tiga Agama muncul dalam upaya pemerintah tersebut. Kehadiran agama-agama samawi sebagai agama resmi negara ditambah program pembangunan yang dicanangkan untuk membangun identitas tunggal bangsa menjadikan keragaman dan kearifan lokal tersingkir. Fungsi pengawasan dan penertiban aliran-aliran kepercayaan yang mengancam stabilitas negara justru menjadi sarana legitim untuk memaksa masyarakat Mentawai di Siberut meninggalkan 101

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tradisi sabulungan yang mengandung nilai-nilai budaya orang Mentawai. Bersamaan dengan itu pula agama-agama resmi negara dipaksa ditawarkan. Memiliki agama – dan agama tersebut harus merupakan agama yang diakui negara – seolah menjadi tanda masyarakat yang sudah merdeka dan maju. Kepercayaan lokal yang sarat dengan nilainilai budaya diposisikan sebagai cara hidup kuno, terbelakang, dan oleh karena itu perlu ditinggalkan dan diganti. Proses pembaruan dan pemberadaban tersebut sayangnya dilakukan dengan unsur kekerasan dan perilaku intimidatif oleh kalangan polisi sebagai representasi negara. Hal itu memunculkan perlawanan dari masyarakat lokal. Bagi kelompok masyarakat Mentawai di Siberut, melakukan perlawanan secara terbuka dan frontal hanya akan merugikan mereka. Ancaman hukuman penjara dan kekerasan fisik menjadikan orang Mentawai memilih bentuk perlawanan yang terselubung. Tindakan protes sambil menghindar menjadi satu-satunya senjata perlawanan mereka. Tampak di permukaan bahwa orang Mentawai telah meninggalkan tradisi sabulungan dan menganut agama resmi pemerintah seperti Katolik, Protestan dan Islam. Dengan menganut agama resmi negara orang Mentawai terbebas dari stigma sebagai masyarakat penganut animisme yang tertinggal. Namun sejumlah orang dari generasi tua tidak serta merta melepas dan meninggalkan ritual-ritual budaya masa lalu. Tradisi yang berakar dari sabulungan ditampilkan kembali sebagai bagian dari budaya Mentawai. Mereka yang telah beragama Katolik mendapat angin segar dengan konsep inkulturasi yang ditawarkan Gereja melalui para misionaris yang datang di bumi Mentawai bertepatan dengan peristiwa pelarangan sabulungan tahun 1954. Dengan semangat inkulturatif ritual-ritual budaya Mentawai muncul dengan bentuknya yang baru beriringan dengan hidup beragama yang tidak secara mentah-mentah ditolak. Setelah berdiri mandiri sebagai daerah yang otonom, pemerintah Kabubaten Kepulauan 102

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Mentawai, dipimpin oleh orang Mentawai. Upaya revitalisasi budaya lokal mulai diperjuangkan melalui pendidikan dengan memasukkan pelajaran Budaya Mentawai (Bumen) dalam kurikulum pendidikan dasar. Hal ini dimaksudkan agar generasi muda orang Mentawai mengenal nilai-nilai budaya mereka sendiri. Program pembangunan daerah yang terjadi di Siberut masih terus berlanjut hingga saat ini. Meskipun tidak ada lagi ancaman untuk mengekspresikan kebebasan melaksanakan tradisi lokal, upaya menghidupkan kembali identitas budaya Mentawai masih tetap mengalami kendala. Trauma peristiwa pelarangan sabulungan, masuknya agama-agama samawi dan terbukanya wilayah Mentawai akan budaya modern, memperlihatkan gegar budaya dan situasi ambivalensi. Di satu sisi tradisi budaya masa lalu yang memperlihatkan keselarasan hidup manusia dan alam ingin dipertahankan. Namun di sisi lain, masuknya pengaruh agama-agama dan budaya modern melalui pembangunan dan pendidikan turut andil dalam lunturnya tradisi tersebut. Tuntutan perkembangan zaman dan modernisasi membuat masyarakat Mentawai di Siberut terus melakukan upaya negosisasi untuk menegaskan kembali identitas budaya mereka. B. Tanggapan Menggunakan pendekatan teori James Scott mengenai perlawanan dalam wujud sehari-hari dan konsep mengenai hidden transcript sangat membantu penulis melihat peristiwa yang terjadi di Siberut dari sudut pandang yang lain. Konflik ideologi yang terjadi antara negara dan orang Siberut yang mencoba menghidupi tradisi sabulungan muncul karena ketimpangan relasi kekuasaan antara pemerintah dan masyarakat lokal. Bagi penulis teori Scott memberi sumbangan konseptual untuk melihat pola perlawanan yang dilakukan secara pasif dan terselubung yang kadang tidak tampak di permukaan. 103

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scott dengan teorinya menegaskan kembali kenyataan perlawanan yang muncul akibat adanya dominasi. Perasaan diperlakukan secara tidak adil walaupun dialami oleh sekelompok masyarakat yang tampak lemah karena keterbatasan sekalipun akan memicu munculnya gerakan protes. Dalam penelitian mengenai sabulungan – yang biar bagaimanapun tidak akan muncul lagi dalam bentuknya seperti di masa sebelum hadirnya agama-agama – penting untuk mendengarkan suara-suara masyarakat setempat dengan lebih teliti. Sebab perkembangan pembangunan yang terjadi di Siberut meskipun dalam beberapa tahun terakhir berjalan dengan cukup cepat, masih memperlihatkan adanya perbedaan pemahaman akan tradisi sabulungan di kalangan orang tua dan generasi muda orang Mentawai. Mengadakan penelitian di wilayah yang telah ‘maju’ karena makin mudahnya sarana transportasi akan berbeda dengan situasi yang akan dijumpai di daerah-daerah pantai barat misalnya. Perbedaan pemahaman akan sabulungan juga akan berbeda di kalangan orang tua yang seumur hidupnya tinggal di suatu tempat dengan mereka yang telah mengenyam pendidikan dan bahkan merantau ke wilayah-wilayah lain di luar Mentawai. Gagasan mengenai semangat menjaga relasi manusia dan alam yang terkandung dalam tradisi sabulungan bisa menjadi topik kajian yang tetap relevan dan perlu di kembangkan dalam penelitian-penelitian serupa di masa yang akan datang. Berkaitan dengan tradisi sabulungan penelitian yang mendalam mengenai peran sikerei – yang jumlahnya terus menurun saat ini – bisa menjadi topik penelitian yang menarik dan penting. Sebab dalam sabulungan peran mendasar sikerei tidak tergantikan sehingga tidak berlebihan jika masyarakat Mentawai mempercayai bahwa sikerei inilah yang menjadi sumber pengetahuan mengenai sabulungan dan seluruh makna yang terkandung di dalamnya. Selainitu mengingat bahwa sabulungan menempatkan hutan 104

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebagai sesuatu yang mendasar, penulis melihat adanya ruang yang masih terbuka lebar untuk menggali lebih dalam peranan hutan dalam pembentukan filosofi hidup dan identitas budaya orang Mentawai. Hal ini sangat menarik sebab hampir seluruh kebutuhan hidup orang Mentawai mampu diperoleh dari hutan, mulai dari bahan mendirikan rumah, makanan, obat-obatn, perlatan rumah tangga, hingga sarana transportasi seperti sampan. Bagi penulis kendati penghayatan orang Mentawai di Siberut – yang sering dipandang sebagai benteng pertahanan budaya Mentawai – terhadap sabulungan berubah dan praktik-praktik budaya tersebut mulai terkikis, penting untuk mengulas lebih dalam lagi sumbangan tradisi tersebut terhadap lingkungan hidup. Menjaga relasi yang seimbang antara manusia dan alamnya yang pada masa lalu sarat dipengaruhi unsur-unsur supranatural dan kepentingan kelompok tertentu, tetap menjadi sumbangan yang besar bagi dunia modern saat ini. Filosofi yang terkandung dalam sabulungan yang penting untuk diingat adalah bahwa manusia sejak semula hadir sebagai ‘pendatang’ di hadapan alam ini dan bukan merupakan ‘pemilik’ atasnya. Oleh karena itu membangun rasa hormat dan syukur terhadap alam lingkungan yang telah menyediakan berbagai kebutuhan bagi kehidupan manusia merupakan semangat yang selalu relevan bagi kehidupan manusia di jaman modern ini. 105

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1: Contoh Topik Wawancara 1. Sabulungan dan siklus kehidupan Pernikahan, kelahiran, kematian, penyakit, musibah/bencana alam. 2. Sabulungan dan alam Relasi dengan hutan, cara berburu, bercocok tanam, mengambil hasil alam (hutan/laut), pembagian tanah ulayat, tantangan/ancaman dari luar, perusahaan kayu 3. Penganut sabulungan Pemipin upacara, sikerei, perannya, pemilihannya, pantangan, cara hidup, pengaruh agama pendatang, pengaruh hadirnya pemerintah, siapa yang masih bertahan, perlakuan dari mereka yang telah menganut agama pendatang, cara berobat saat sakit, kehadiran dokter dan tenaga medis. 4. Sabulungan dan ritual/punen Ritual utama, pemimpin, sarana yg diperlukan, lokasi/tempat pelaksanaan, ritual yang masih dilaksanakan, pengaruh agama pendatang, turuk laggai 5. Mitos/ legenda tentang sabulungan Cerita dari nenek moyang tentang sabulungan, bagaimana diwariskan, apakah masih diingat generasi muda 6. Pelarangan atas sabulungan Motif, latar belakang, kisah yang beredar, bentuk larangan, sosialisasi,cara yang dilakukan, rapat Tiga Agama, pelaku pelarangan, hukuman, reaksi masyarakat, periodisasi waktu sampai kapan, kapan paling gencar, lokasi pelarangan, efeknya saat ini 7. Sabulungan dan agama pendatang Relasinya dengan agama pendatang, dampak terhadap cara hidup, inkulturasi, tantangan, cara penyebaran, FKUB 8. Sabulungan dan suku pendatang Relasi dengan pendatang (sasareu), konflik, pengaruh yang dirasakan, perlakuan 9. Sabulungan dan pemerintah Pembentukan perkampungan, tanah adat, hutan produksi, hunian tetap dinas sosial, pendidikan, agama lokal, pelayanan KTP, KK, kolom agama 10. Sabulungan dan pariwisata Faktor yang menjadi daya tari, pertunjukkan ritual yg mana, gaya hidup, tabu, tantangan, keuntungan, perkembangannya saat ini, wilayah sering dikunjungi wisatawan 106

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2: Contoh Panduan Pertanyaan Wawancara 1. Apa yang Anda pahami mengenai sabulungan ? 2. Apakah Anda melihat praktik sabulungan masih ada di Mentawai ? 3. Bagaimana praktik tersebut dilaksanakan? 4. Ritual apa saja yang masih dilaksanakan dan masih memiliki kaitan dengan kepercayaan sabulungan ? 5. Apakah Anda mengetahui pelarangan sabulungan zaman dulu? 6. Apa pendapat Anda mengenai peristiwa tersebut? 7. Apakah Anda mengetahui (mendengar, membaca) adanya Rapat Tiga Agama tahun 1954? 8. Menurut Anda bagaimana relasi agama-agama dan budaya pendatang dengan sabulungan ? 9. Bagaimana sabulungan di Siberut saat ini? 10. Di mana letak sabulungan dalam hidup orang Mentawai? 11. Apa perbedaan antara sabulungan dan adat-istiadat di Mentawai? 12. Bagaimana posisi sabulungan dengan agama-agama pendatang? 13. Apakah Anda mengetahui bahwa ada usaha supaya penghayat kepercayaan lokal bisa dicantumkan dalam kolom agama di KTP? 14. Bagaimana pihak pemerintah memandang sabulungan? 15. Bagaimana sabulungan bisa diwariskan ke generasi orang muda Mentawai? 16. Bagaimana peran sikerei dalam sabulungan ? 17. Bagaimana peran pemerintah daerah terhadap penganut sabulungan? 18. Bagaimana Anda melihat hadirnya pariwisata di daerah yang masih tradisional di Siberut? 107

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Baier, M. 2007. The Development of the Hindu Kaharingan Religion: A New Dayak Religion in Central Kalimantan. Anthropos, (H. 2), 566-570.. Baier, M. 2014. Agama Hindu Kaharingan Sebagai Nativisme Sesudah Pengaruh Kristen Menjadi Peristiwa Yang Tak Ada Bangingannya. Jurnal Simpson: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, 1(2). Barker, Chris. 2014. Kamus Kajian Budaya. Yogyakarta: Kanisius. BPS. 2016. Kabupaten Kepulauan Mentawai Dalam Angka 2018. BPS Kabupaten Kepulauan Mentawai. BPS. 2017. Kabupaten Kepulauan Mentawai Dalam Angka 2018. BPS Kabupaten Kepulauan Mentawai. BPS. 2018. Kabupaten Kepulauan Mentawai Dalam Angka 2018. BPS Kabupaten Kepulauan Mentawai. Caisutti, Tonino. 2015. La Cultura Mentawaiana. Terjemahan oleh Abis Fernando. Japan: Asian Studi Centre. Corbey, R. 2003. Destroying the graven image: Religious iconoclasm on the Christian frontier. Anthropology today, 19 (4), 10-14. Coronese, Stefano. 1986. Kebudayaan Suku Mentawai. Jakarta: PT. Grafidian Jaya. Darmanto & Abidah B. Setyowati. 2012. Berebut Hutan Siberut: Orang Mentawai, Kekuasaan, dan Politik Ekologi. Jakarta: (KPG) Kepustakaan Populer Gramedia. Delfi, M. 2012. Sipuisilam dalam selimut arat sabulungan penganut Islam Mentawai di Siberut. Al-Ulum, 12(1), 1-34. Geerzt, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius. 108

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hammons, C.S. 2016. Indigenous Religion, Christianity and the State: Mobility and Nomadic Metaphysics in Siberut, Western Indonesia. The Asia Pacific Journal of Anthropology, Vol. 17, No. 5, hlm. 399-418. Iskandar, N., Suud, A. K., & Si, S. 2017. Penguatan Peran Intelijen Kejaksaan dalam Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Aliran Keagamaan dalam Masyarakat (PAKEM) demi Ketertiban dan Ketenteraman Umum. Jakarta: Miswar. Juniator, Tulius. 2012. Family Stories. Oral Tradition, Memories of The Past, and Contemporary Conflict Over Land in Mentawai – Indonesia. Leiden University. King, Richard. 2001. Agama, Orientalisme, dan Poskolonialisme. Yogyakarta: Qalam. Loeb, Edwin. M. 1929. Mentawei Religious Cult. Dalam University of California Publications in American Archaeology and Ethnology, Vol.25 No.2, hlm.185-247. Berkeley: University of California Press. Mulhadi. 2007. Landasan Yuridis Penghapusan Kepercayaan Tradisional “Arat Sabulungan” di Mentawai. Medan: Universitas Sumatera Utara. Persoon, G. 2004. The Position of Indigenous Peoples in Management of Tropical Forest. Tropenbos International Wageningen. Persoon, G. A. 2003. Conflicts over trees and waves on Siberut Island. Geografiska Annaler: Series B, Human Geography, 85(4), 253-264. Persoon, G. dan Reimar Scefold (ed.). 1985. Pulau Siberut. Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Picard, M. & Madinier, R. (Ed.). 2011. The politics of Religion in Indonesia: Syncretism, Orthodoxy, and Religious Contention in Java and Bali. New York: Routledge. Picard, M. (Ed.). 2017. The Appropriation of Religion in Southeast Asia and Beyond. Springer. Ropi, Ismatu. 2017. Religion And Regulation In Indonesia. Springer. 109

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Rudito, B. 2003. Bebetei Uma. Kebangkitan Orang Mentawai: Sebuah Etnografi. Yogyakarta: Penerbit Gading dan Indonesia Center for Sustainable Development (ICSD). Schefold, R. 1998. The domestication of culture: Nation-building and ethnic diversity in Indonesia. Bijdragen tot de taal-, land-en volkenkunde, 154(2), 259-280. Schwartz, S. J., & Unger, J. B. 2010. Biculturalism and context: What is biculturalism, and when is it adaptive?. Human development, 53(1), 26-32. Scott, J. C. 1985. Weapons of The Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance. Yale University Press. Scott, J.C. 1990. Hidden Transcripts: Domination and The Arts of Resistance. Yale University Press. Spina, B. 1981. Mitos dan legenda suku Mentawai. Jakarta: Balai Pustaka. Stange, P. 1998. Politik Perhatian; Rasa dalam Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: LKIS PELANGI AKSARA. WWF. 1980. Penyelamatan Siberut: Sebuah Rancangan Induk Konservasi. Bogor: World Wildlife Fund Report. Sumber dari Internet: Fadjar, Evieta. (2013, April). Mentawai Memiliki 2 Titik Ombak Terbaik Dunia. Tempo.co, diambil dari https://travel.tempo.co/read/473309/mentawaipunya-dua-titik-ombak-terbaik-dunia# Diakses pada 27 September 2017. https://nasional.kompas.com/read/2017/10/23/15091911/penetapan-presiden-1965-soalpenodaan-agama-kerap-ditafsirkan-diskriminatif. Diakses pada 14 Maret 2018. https://nasional.kompas.com/read/2017/11/07/11495511/mk-hak-penganutkepercayaan-setara-dengan-pemeluk-6-agama. Diakses pada 14 Maret 2018. 110

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170818/281960312863916. Diakses pada 26 September 2017. Puspita, Ratna. (2018, Maret). Pendapatan Mentawai dari Pariwisata Capai Rp. 7,3 Miliar. Republika.co.id, diambil dari https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/18/p5slc7428pendapatan-mentawai-dari-pariwisata-capai-rp-73-mili ar diakses pada 14 September 2018. https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170818/281960312863916. Diakses pada 26 September 2017. https://sp2010.bps.go.id. Diakses pada 28 November 2018. http://www.thejakartapost.com/life/2017/10/11/by-mentawai-for-mentawai-howcommunity-driven-education-can-save-a-tribe.html. Diakses pada 12 Oktober 2017. https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/08/22/ov38xb428-pembangunaninfrastruktur-mentawai-mendesak. Diakses pada 30 Nvember 2018. 111

(126)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Mendokumentasikan Seni Tatoo Arat Sabulungan Mentawai dalam Bentuk Ilustrasi.
0
0
20
Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga: Penyebaran Agama Katolik di Muara Siberut Selatan Kepulauan Mentawai 1954-l988.
0
0
7
Penetapan KB Siberut Selatan
0
1
1
SIPUISILAM DALAM SELIMUT ARAT SABULUNGAN PENGANUT ISLAM MENTAWAI DI SIBERUT Maskota Delfi Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat (maskotadelfigmail.com) Abstrak - View of Sipuisilam dalam Selimut Arat Sabulungan Penganut Islam Mentawai di Siberut
0
0
34
Persepsi Orang Mentawai terhadap Resettlemen di Pulau Siberut - Universitas Negeri Padang Repository
0
0
95
Profil Sekolah Dasar di Kecamatan Siberut Utara Kepulauan Mentawai - Universitas Negeri Padang Repository
0
1
67
Pemilikan dan Penguasaan Lahan pada Orang Mentawai: Studi Enografi pada Masyarakat Dusun Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Mentawai - Universitas Negeri Padang Repository
0
0
72
Pemilikan dan penguasaan lahan pada orang Mentawai: studi etnografi pada masyarakat Dusun Madobag Kecamatan Siberut Selatan Kapubaten Mentawai - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
0
0
17
TUGAS AKHIR - Alat ukur nilai Rms (pengubah tegangan Rms menjadi tegangan DC) - USD Repository
0
0
328
Alat pengukur tegangan permukaan zat cair dengan metode jaeger - USD Repository
0
1
81
Tradisi ngayau dalam masyarakat dayak : kajian sastra dan folklor - USD Repository
0
1
114
Formalisasi agama : studi kasus pada religi balian dalam masyarakat adat Suku Dayak Meratus di Kalimantan Selatan 1970-1980 - USD Repository
0
1
220
Putri pewarta perdamaian : kajian atas putri cina karya Sindhunata - USD Repository
0
0
14
Mendengar suara purba di tengah budaya: telaah semiotik atas musik "Daily" karya I Wayan Sadra - USD Repository
0
0
110
Menggereja dalam masyarakat konsumsi : studi atas pengalaman orang beribadah di Gereja Mal - USD Repository
0
0
186
Show more