UNJUK KERJA DUTCH WIND MILL DENGAN TIGA VARIASI BENTUK SUDU TUGAS AKHIR - Unjuk kerja dutch wind mill dengan tiga variasi bentuk sudu - USD Repository

Gratis

0
0
58
8 months ago
Preview
Full text

UNJUK KERJA DUTCH WIND MILL DENGAN TIGA VARIASI BENTUK SUDU

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

  Program studi Teknik Mesin

  Oleh: Andhi Riswantyo NIM : 045214068 PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2009

  

THE PERFORMANCE OF DUTCH WINDMILL

WITH THREE VARIATION OF BLADES TYPES

FINAL PAPER

  Presented as Fulfillment of the Requirements For the Degree of Mechanical Engineers

  Mechanical Engineering Study Programme

  

By:

Andhi Riswantyo

Student Number : 045214068

MECHANICAL ENGINEERING STUDY PROGRAMME

  

SCIENCE AND TECHNOLOGY FACULTY

SANATA DHARMA UNIVERSITY

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2009

  

INTISARI

  Turbin angin atau kincir angin secara umum dibedakan dalam dua jenis berdasarkan kedudukan porosnya yaitu poros vertikal atau VAWT (Vertical Axis

  

Wind Turbine ) dan turbin angin poros horizontal atau HAWT (Horizontal Axis Wind

Turbine ) adalah turbin dengan poros utama horizontal dan generator pembangkit

  listrik pada puncak menara. Poros mendatar pada HAWT terdiri atas posisi poros sejajar dengan permukaan tanah dan posisi poros sejajar dengan arah datang angin. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan daya keluaran, efisiensi dan besarnya tip speed ratio pada tiga variasi bentuk sudu yang berbeda. Bentuk sudu yang digunakan pada kincir 1 yaitu empat persegi panjang, kincir 2 yaitu trapesium melebar pada ujung sudu dan untuk kincir 3 adalah trapesium mengecil pada ujung sudu. 2 Ketiga model kincir dibuat dengan ukuran diameter 0,86 m dengan luas 2 penampang 0,58 m . Agar menghasilkan listrik, poros kincir dihubungkan dengan altenator dengan transmisi sabuk dan puli. Dari altenator kita bisa mengukur tegangan dan arus. Alat ini menggunakan 10 variasi lampu sebagai pembebanannya. Lampu dirangkai menggunakan rangkaian paralel. Pada setiap pembebanan dilakukan pengukuran putaran kincir.

  Daya kincir tertinggi yaitu 9,76 watt pada kecepatan angin 8,26, efisiensi paling besar pada kincir 2 yaitu 4,97% pada tsr 1,10 dan efisiensi terkecil pada kincir 3 yaitu 4,45% pada tsr 1,07.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yesus Kristus atas setiap waktu yang telah diberikan serta semangat, harapan baru yang berlimpah dan tiada henti di dalam penulisan tugas akhir ini hingga selesai.

  Tugas akhir ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi mahasiswa Teknik Mesin sebelum dinyatakan lulus sebagai Sarjana Teknik. Dalam pelaksanaan dan penulisan tugas akhir ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik berupa materi, bimbingan, kerja sama serta dukungan moril. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Yosef Agung Cahyanta, S.T., M.T., selaku Dekan Fakultas Saints dan Teknologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Ir. YB. Lukiyanto, M.T., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, dorongan serta meluangkan waktu untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir.

  3. Seluruh dosen, staf dan karyawan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas kuliah, bimbingan , serta fasilitas yang diberikan selama masa kuliah.

  4. Kepada kedua orang tua, atas dukungan moral, financial, doa dan motivasi yang tiada henti hingga tugas akhir ini bisa selesai.

  5. Segenap teman-teman Teknik Mesin angkatan 2004 dan 2005, banyak pembelajaran yang penulis dapatkan bersama kalian.

  6. Saudara-saudara penulis dan teman-teman penulis yang tidak dapat disebutkan oleh penulis satu per satu.

  Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari sempurna, banyak yang perlu diperbaiki dalam tugas akhir ini, untuk itu penulis mengharapkan masukan dan kritik, serta saran dari berbagai pihak untuk menyempurnakannya. Semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat, baik bagi penulis maupun pembaca.

  Terima kasih.

  

DAFTAR ISI

Hal.

  HALAMAN JUDUL ...…………..………………………………………...... i HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING .…………………………...... iii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI DAN DEKAN ………................... iv HALAMAN PERNYATAAN .………………………………….................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  ILMIAH.…………………………………....................................................... vi

  INTISARI …………………………………………………………………… vii KATA PENGANTAR …………………………………...………………….. viii DAFTAR ISI …………………………………………………….................... x DAFTAR TABEL……………………………………………………………. xii DAFTAR GAMBAR………………………………………………………… xiv BAB I PENDAHULUAN ……………………………...................................

  1 1.1. Latar Belakang Masalah ……………...……………..................

  1 1.2. Batasan Masalah ……………………………………………….

  2 1.3. Tujuan Penelitian ………………………………………............

  3 1.5. Manfaat Penelitian ……………………………………………..

  3 BAB II DASAR TEORI………………….......…….…………………...........

  4 2.1. Pengertian Angin ………..…………………………………….

  4 2.2. Macam-macam Kincir Angin .....................................................

  4

  2.3. Daya yang Dihasilkan Angin .....................................................

  6 2.4. Tip Speed Ratio ………………………………………………..

  7 2.5. Transmisi Sabuk dan Puli ……………………………...............

  10 BAB III METODE PENELITIAN…………………………………………...

  13 3.1. Metode Penelitian........................................................................

  13 3.1.1. Bahan ................................................................................

  14 3.1.2. Peralatan ...........................................................................

  15 3.2. Variabel yang Diukur .................................................................

  17 3.3. Langkah Penelitian .………………………………..…………..

  17 BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN.......... …...………...........

  19 4.1. Data Penelitian ...........................................................................

  19 4.2. Pengolahan Data dan Perhitungan ……………………………..

  24

  4.3. Grafik Hasil Perhitungan ………………………………………

  31 BAB V PENUTUP ..........................................................................................

  38 5.1. Kesimpulan .................................................................................

  38 5.2. Saran ...........................................................................................

  39 DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................

  40 LAMPIRAN...................................................................................................... 41

  

DAFTAR TABEL

  Hal Tabel 4.1 Data perolehan dari kincir 1 dengan kecepatan angin 8,26 m/s ...

  20 Tabel 4.2 Data perolehan dari kincir 1 dengan kecepatan angin 7,13 m/s ...

  20 Tabel 4.3 Data perolehan dari kincir 1 dengan kecepatan angin 5,44 m/s ...

  21 Tabel 4.4 Data perolehan dari kincir 2 dengan kecepatan angin 8,26 m/s ...

  21 Tabel 4.5 Data perolehan dari kincir 2 dengan kecepatan angin 7,13 m/s ...

  22 Tabel 4.6 Data perolehan dari kincir 2 dengan kecepatan angin 5,44 m/s ...

  22 Tabel 4.7 Data perolehan dari kincir 3 dengan kecepatan angin 8,26 m/s ...

  23 Tabel 4.8 Data perolehan dari kincir 3 dengan kecepatan angin 7,13 m/s ...

  23 Tabel 4.9 Data perolehan dari kincir 3 dengan kecepatan angin 5,44 m/s ...

  24 Tabel 4.10 Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 1 pada kecepatan angin 8,26 m/s...............................................................

  26 Tabel 4.11 Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 1 pada kecepatan angin 7,13 m/s...............................................................

  27 Tabel 4.12 Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 1 pada kecepatan angin 5,44 m/s...............................................................

  27 Tabel 4.13 Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 2 pada kecepatan angin 8,26 m/s...............................................................

  28 Tabel 4.14 Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 2 pada kecepatan angin 7,13 m/s...............................................................

  28

Tabel 4.15 Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 2 pada kecepatan angin 5,44 m/s...............................................................

  29 Tabel 4.16 Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 3 pada kecepatan angin 8,26 m/s...............................................................

  29 Tabel 4.17 Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 3 pada kecepatan angin 7,13 m/s...............................................................

  30 Tabel 4.18 Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 3 pada kecepatan angin 5,44 m/s...............................................................

  30

  

DAFTAR GAMBAR

  Hal Gambar 1. Kincir angin poros mendatar ...................................................

  5 Gambar 2. Penentuan tip speed ratio ........................................................

  8 Gambar 3. Kontruksi sabuk v ...................................................................

  11 Gambar 4. Ukuran penampang sabuk v………………………………….

  11 Gambar 5. Skema alat ........................... ...................................................

  13 Gambar 6. Bentuk sudu kincir ..................................................................

  14 Gambar 7. Altenator .................................................................................

  15 Gambar 8. Grafik hubungan tsr dengan cp pada semua jenis kincir.........

  10 Gambar 9. Rangkaian paralel dengan 10 lampu........................................

  16 Gambar 4.3.1. Grafik hubungan daya output dengan kecepatan angin pada kincir 1 ....................................................................................

  31 Gambar 4.3.2. Grafik hubungan daya output dengan kecepatan angin pada kincir 2 ...................................................................................

  32 Gambar 4.3.3. Grafik hubungan daya output dengan kecepatan angin pada kincir 3 ................................................................................... 33

Gambar 4.3.4. Grafik hubungan daya output dengan kecepatan angin pada ketiga kincir ...........................................................................

  33 Gambar 4.3.5. Grafik hubungan efisiensi terhadap tsr pada kincir 1 ............. 34

Gambar 4.3.6. Grafik hubungan efisiensi terhadap tsr pada kincir 2 ............. 35Gambar 4.3.7. Grafik hubungan efisiensi terhadap tsr pada kincir 1 ............. 36 Gambar 4.3.8. Grafik hubungan efisiensi terhadap tsr pada ketiga kincir .....

  37

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Di jaman sekarang, kebutuhan energi terus meningkat diperkirakan mencapai 40% per tahun. Hal ini dikarenakan semakin banyak populasi penduduk. Hampir semua peralatan rumah tangga, komunikasi, transportasi, maupun industri juga sangat membutuhkan sumber energi dalam bentuk minyak bumi yang diolah, untuk menunjang penggunaannya.Energi akan semakin meningkat penggunaannya seiring dengan perkembangan jaman dan pertumbuhan penduduk. Saat ini energi juga dapat digolongkan sebagai barang yang mahal. Hal ini dapat terlihat dari bagaimana cara masyarakat memperoleh energi. Masyarakat seringkali harus mengeluarkan biaya untuk memperoleh energi yang dibutuhkan.

  Seringkali masyarakat yang kurang mampu tidak bisa menikmati energi tersebut. Misalnya saja, energi listrik yang perolehannya harus membayar kepada pihak PLN. Bahkan, sebagian besar masyarakat yang kurang mampu lebih memilih untuk hidup tanpa adanya sumber energi listrik. Hidup tanpa penerangan dan juga tanpa hiburan seringkali kita jumpai di lingkungan masyarakat tersebut.

  Sebenarnya, masih banyak sumber energi lain dari alam yang pemanfaatannya belum dimaksimalkan. Misalnya saja energi angin dan tertentu, kedua energi tersebut dapat dikonversi menjadi suatu energi yang siap pakai.

  Kedua macam energi tersebut dapat dikonversi menjadi energi listrik yang akan sangat berguna bagi kahidupan masyarakat. Energi surya dapat dikonversi menjadi energi listrik melalui suatu alat yang disebut solar cell. Energi angin dapat dikonversi menjadi energi listrik menggunakan kincir angin.

  Energi angin dapat dengan mudah diperoleh di daerah pantai. Indonesia yang memiliki garis pantai yang panjang sebenarnya juga sangat mendukung dipergunakannya energi angin sebagai sumber energi. Dengan tambahan transmisi untuk menambah kecepatan putaran poros dari kincir dan sedikit modifikasi tambahan, generator listrik dapat dimanfaatkan sebagai penghasil energi listrik.

  Energi listrik yang dihasilkan dapat digunakan sebagai sumber energi untuk penerangan dan pemenuhan kebutuhan lain dalam rumah tangga.

  Biaya yang seharusnya dikeluarkan masyarakat untuk membayar listrik kepada PLN, dapat digunakan untuk keperluan yang lain.

1.2. Batasan Masalah

  Penelitian kincir dutch wind mill dengan tiga variasi bentuk sudu, dengan cara mencari unjuk kerja dengan menggunakan 3 bentuk sudu berbeda, luas penampang sama, dengan bentuk sudu sebagai berikut b. Trapesium melebar keluar pada ujung sudu.

  c. Trapesium mengecil kedalam pada ujung sudu.

  1.3. Tujuan

  a. Mendapatkan hubungan daya output dengan kecepatan angin untuk kincir angin dengan tiga variasi bentuik sudu.

  b. Hubungan efisiensi dengan tsr (tip speed ratio) pada ketiga variasi bentuk sudu.

  c. Mendapatkan efisiensi kincir maksimal pada ketiga variasi bentuk sudu.

  1.4. Manfaat

  a. Kincir angin diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu usaha untuk menjaga kelestarian sumber energi yang telah tersedia dari alam, sehingga ketersediaan energi akan selalu terjamin.

  b. Energi angin yang dikonversi menjadi energi listrik menggunakan kincir angin diharapkan dapat mengurangi krisis energi yang selama ini sering dialami oleh masyarakat.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Angin Udara bergerak karena adanya gaya Coriolis, yaitu gaya yang

  menyebabkan adanya perbedaan temperatur. Perbedaan temperatur ini menyebabkan adanya perbedaan tekanan udara. Tempat dengan tekanan yang lebih rendah akan ditempati oleh udara. Udara yang bergerak menempati daerah tersebut itulah yang akhirnya disebut sebagai angin.

  Angin terjadi di lapisan atmosfer pada lapisan troposfer. Lapisan troposfer ini memiliki ketebalan kurang lebih 11 km (3600 ft) dari permukaan laut ke atas.

2.2. Macam-macam Kincir Angin

  Kincir angin memiliki berbagai macam jenis. Ditinjau dari bentuk dan ukurannya, kincir angin dapat dikelompokkan berdasarkan kegunaan dan berdasarkan posisi porosnya

  Berdasarkan kegunaannya, kincir angin terbagi menjadi wind turbine dan wind mill. Wind turbine biasanya digunakan sebagai pembangkit energi listrik, sedangkan wind mill biasanya digunakan bukan sebagai pembangkit energi listrik. Berdasarkan posisi porosnya, kincir angin terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kincir angin poros mendatar (horizontal axis wind turbine) dan kincir angin poros tegak/vertikal (vertical axis wind turbine).

  Dalam pembuatan kincir angin dengan poros mendatar, biasanya diberi peralatan tambahan untuk menyearahkan rotor dengan arah datangnya angin. Tanpa peralatan tambahan, kincir ini tidak akan dapat memberikan efisiensi maksimum, apalagi jika arah datangnya angin berubah-ubah.

  

Gambar 1. Kincir angin poros mendatar

  Kincir angin poros mendatar berbeda dengan kincir angin poros tegak/vertikal. Kincir angin poros vertikal dapat menerima angin dari segala arah. Kincir ini tidak membutuhkan peralatan tambahan untuk menyearahkan rotor dengan arah datangnya angin. Selain itu, kincir poros vertikal biasanya memiliki konstruksi yang lebih sederhana, sehingga biaya pembuatannya pun tidak semahal pembuatan kincir angin poros mendatar.

  Menurut American Wind Energy Association (AWEA), kincir angin Contoh kincir angin jenis lift type adalah kincir angin Darrius yang memiliki dua atau tiga buah sudu. Bentuk sudu yang aneh menjadi ciri khas kincir Darrius. Sedangkan contoh kincir angin jenis drag type adalah kincir angin

  cup-anemometer yang biasanya digunakan untuk mengukur kecepatan

  angin. Contoh kincir angin poros tegak yang lain adalah kincir angin Savonius.

  Kincir angin Savonius memiliki torsi awalan yang besar. Torsi yang besar inilah yang menjadikan keuntungan pemakaian kincir angin Savonius.

  Akan tetapi, bobot kincir yang ada menjadi kekurangan dari kincir Savonius ini. Bobot kincir yang terlalu berat menjadikan kincir angin ini terganggu perputarannya, walaupun angin yang berputar cukup kencang.

  Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan di beberapa negara, kincir angin Savonius ini belum dapat dipastikan berapa efisiensi yang tepat.

  Kincir angin Savonius dapat menyerap energi angin dengan effisiensi kurang lebih 30%. Menurut Profesor Betz, effisiensi maksimum kincir Savonius sekitar 20%. Pada penelitian di Universitas Illionis, efisiensi maksimalnya 35%.

2.3. Daya yang Dihasilkan Angin

  Energi angin terjadi karena adanya beberapa penyebab. Penyebab utama terjadinya energi angin, yaitu pemanasan udara atmosfer yang menghasilkan arus konveksi dan gerakan relatif udara atmosfer terhadap dihitung dengan persamaan yaitu (Tony Burton, David Sharpe, Nick Jenkins, Ervin bossanyi, 2001) :

  ( )

  ρ = massa jenis udara, kg / m

  kecepatan angin. Tip speed ratio akan menentukan berapa cepat turbin angin yang diinginkan akan berputar dan juga sebagai implikasi untuk altenator yang dapat digunakan.

  Tip speed ratio adalah kecepatan keliling ujung sudu dibagi

  P

  v = kecepatan angin, m / s = daya angin, W in

  2

  3 A = luas penampang melintang arus angin yang ditangkap kincir, m

  …………………………………………………………. (2) Dengan :

  1000 2 /

  3 P 6 , v A in ⋅ ⋅ =

  ρ 1 = 3

  Apabila massa jenis udara ( standar kg/m ), maka persamaan di atas dapat disederhanakan menjadi 225 ,

  ρ ……………………………………….. (1)

  ⋅ ⋅ ⋅ =

  P in

  1 3 A v

2.4. Tip Speed Ratio

  Gambar 2. Penentuan tip speed ratio pada tiap jumlah sudu berbeda.

  (Sumber : http://www.hugh.piggott@enterprise.net)

  Turbin angin modern dibuat untuk berputar pada kecepatan bervariasi. Menggunakan aluminium dan komposit pada sudu – sudunya menghasilkan putaran inertia rendah, yang mana turbin angin yang baru dapat dengan mudah mempercepat putaran jika angin dapat mengangkat, dan menjaga tip speed ratio lebih mendekati konstan. Pengoperasian mendekati pada optimalnya tip speed ratio saat hembusan keras dari angin mengizinkan turbin angin untuk meningkatkan energi yang ditangkap dari hembusan keras yang tiba – tiba adalah merupakan tipe di tempat berpopulasi.

  Sebaliknya, bentuk lama turbin angin dibuat dengan sudu besi yang berat, dimana lebih memiliki inertia yang besar, dan berputar pada kecepatan, berpengaruh atas frekuensi AC (alterning current) pada hasil daya. Inertia yang tinggi menahan perubahan dalam kecepatan putaran dan itu membuat daya keluaran lebih stabil.

  Pada intinya aspek ratio sangat penting dan merupakan indikator dari liftdan drag pada sudu yang terbentuk. Di sebuah pesawat yang mempunyai aspek rasio tinggi – dengan sayap lebar dan tipis – akan menyebabkan drag berkurang, dimana keadaannya didominasi dengan angin kecepatan rendah. Itulah mengapa Para Gliders mempunyai sayap yang panjang.

  Tip speed ratio ditentukan sendiri tetapi bila perlu dapat

  diperhitungkan dengan rumusan yaitu (Tony Burton, David Sharpe, Nick Jenkins, Ervin bossanyi, 2001) :

  π Dn Tsr =

  .......................... (3)

  60 ×V

  Dengan : Tsr = Tip speed ratio D = diameter sudu n = kecepatan putar kincir

  Ganbar 8. Grafik hubungan tsr dengan cp pada semua jenis kincir.

2.5. Transmisi Sabuk dan Puli

  Jarak yang jauh antara dua poros sering tidak memungkinkan transmisi langsung dengan roda gigi. Oleh karena itu, dalam perancangan kincir angin ini digunakan transmisi berupa sabuk dan puli.

  Sabuk yang digunakan dalam transmisi ada 2 macam, yaitu sabuk- V dan sabuk gilir. Sabuk-V terbuat dari karet dan mempunyai penampang trapesium. Tenunan atau semacamnya dipergunakan sebagai inti sabuk untuk membawa tarikan yang besar. Sedangkan sabuk gilir terbuat dari karet neoprene atau plasik poliuretan sebagai bahan cetak dengan inti dari serat gelas atau kawat baja. Selain itu, sabuk gilir juga mempunyai gigi-gigi yang dicetak secara teliti di permukaan sebelah dalam.

  Gambar 3. Konstruksi sabuk-V ( Sumber : Sularso dan Kiyokatsu Suga, 1997 )

  Transmisi sabuk-V bekerja berdasarkan gesekan belitan. Sabuk ini memili ki konstruksi yang sederhana, mudah untuk didapatkan perbandingan putarannya, dan murah harganya. Dilihat dari keuntungan yang ada, maka sabuk-V digunakan sebagai transmisi pada konstruksi kincir angin ini.

  Dalam perhitungan sabuk dan puli, maka perlu lebih da hulu diketah ui ukuran diameter poros yang nantinya dihubungkan pada kedua puli. Jika diameter kedua poros sudah diketahui, maka diperlukan pemilihan jenis sabuk-V yang sesuai dan diameter minimal puli.

  Gambar 4. Ukuran penampang sabuk-V ( Sumber : Sularso dan Kiyokatsu Suga, 1997 )

  U ntuk mendapatkan putaran yang diinginkan untu k dihubungkan antara kedua puli. Perbandingan putaran dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut ( Sumber : Sularso dan Kiyokatsu Suga, 1997. ) :

  n 2 i n n . i

  = ⎯ ⎯→ = ………………………………………………(4) 2 1

  n 1 Dengan : n 1 = putaran puli yang terhubung pada poros kincir, rpm n 2 = putaran puli yang terhubung pada poros generator, rpm

  Set elah iketahui perbandingan putaran kedua puli, maka diame d ter masing- ma sing uli juga harus diperhitungkan. p

  Kecepatan linear sabuk-V dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

  dn p 1 v = ……………………………………………..………(5)

  60 × 1000 Di pasaran terdapat bermacam-macam ukuran sabuk. Akan tetapi, ukuran yang sesuai dengan hasil perhitungan biasanya sulit didapatkan.

  Oleh k arena itu, perhitungan yang dilakukan menyesuaikan dengan sabuk dan puli yang diperdagangan.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian Daya dikonversikan menjadi listrik, pengujian dilakukan didalam

  terowongan angin (wind tunnel). Kincir angin yang digunakan akan dirancang untuk kecepatan angin maksimum 9m / detik dengan diameter kincir 86cm. Kincir tersebut akan dihubungkan pada transmisi. Transmisi yang akan digunakan dalam kincir ini berupa puli dengan penghubung daya berupa sabuk. Daya tersebut akan dihubungkan pada poros rotor generator. Rotor generator akan berputar sehingga menghasilkan energi listrik. Energi listrik inilah yang nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai penerangan dan pemenuhan kebutuhan listrik lain dalam rumah tangga.

  Hasil yang diharapkan adalah suatu prototype atau alat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kecil sebagai mitra kerja mereka. Model atau disainnya dapat digambarkan sebagai berikut :

  Transmisi Kincir Altenator Kerangka

  Kincir

3.1.1. Bahan

  Bahan atau materi yang digunakan untuk pembuatan kincir angin sebagai pembangkit listrik ini adalah sebagai berikut :

  1. Poros Poros yang digunakan terbuat dari besi cor

  2. Sudu kincir Sudu kincir terbuat dari triplek dengan ketebalan 0.5cm. Bahan tersebut diharapkan dapat membuat kincir ringan dan kuat.

  23,5cm 16,5cm 40 cm

  20cm 23,5cm 16,5cm

  Kincir 1 Kincir 2 Kincir 3

   Gambar 6. Bentuk sudu kincir 3. Dudukan kincir dan altenator.

  Dudukan kincir dan altenator terbuat dari besi cor .

  4. Kerangka kincir terbuat dari besi cor.

  5. Bantalan Bantalan ini berfungsi sebagai pengikat poros agar tidak berubah-ubah saat terkena angin.

3.1.2. Peralatan

  1. Anemometer Anemometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin.

  2. Altenator Altenator merupakan alat yang digunakan mengubah energi mekanik menjadi energi listrik.

   Gambar 7. Altenator

  3. Multimeter Multimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur

  4. Tachometer Alat ini digunakan untuk mengukur putaran poros motor DC.

  Tachometer yang digunakan tachometer jenis digital light tachometer, yang prinsip kerjanya dengan memancarkan sinar untuk membaca sensor yang berupa pemantul cahaya (contoh alumunium foil) yang dipasang pada poros.

  Lampu / beban 5.

  Berfungsi sebagai beban dalam percobaan ini, lampu yang digunakan 10 lampu, tiap lampu memiliki daya 8 watt. Dengan menggunakan rangkaian paralel seperti dibawah ini.

  Keterangan

  altenato r

  = lampu V = voltmeter

  Amper meter

  V

  6. Wind Tunnel Alat ini berfungsi sebagai lorong yang menangkap dan mengumpulkan angin dan menghembuskannya pada kincir yang juga diletakkan didalam wind tunnel tersebut, pengaturan kecepatan angin dilakukan dialat ini.

3.2. Variable yang diukur : a.

  dihasilkan ( P

  Memasang kabel yang keluar dari altenator kedalam rangkaian paralel lalu memasang lampu pada kabel multimeter, Lampu sebagai beban untuk mengambil arus dan tegangan yang keluar seperti pada Gambar 9.

  b.

  e. Perhitungan TSR.

  ) untuk menghitung efisiensi ( η).

  out

  in ) dan perhitungan daya yang

  7. Peralatan lainnya yang berfungsi untuk membongkar pasang kerangka kincir, misalnya saja kunci pas / ring, obeng, tang, dan lain sebagainya.

  Perhitungan daya kincir ( P

  d.

  out ).

  Tegangan (V) dan arus (A) yang dihasilkan Altenator untuk menghitung daya yang dihasilkan ( P

  b. Kecepatan angin (v) c.

  Putaran poros yang dihasilkan ( n ).

3.3. Langkah penelitian : a. Mengangkat kincir yang dibuat kedalam terowongan angin.

  c. Memasang anemometer untuk mengetahui kecepatan angin, kecepatan angin untuk perbandingan putaran poros dan daya kincir.

  d. Menghidupkan blower untuk mengatur kecepatan angin e.

  Mengubah-ubah beban lampu hingga 10 variasi lampu dalam 1 kali percobaan dan Mencatat data dari lampu pertama hingga kesepuluh f. Data yang di ambil yaitu kecepatan angin, putaran poros kincir, tegangan dan arus yang keluar dari altenator.

  g. Mengganti bentuk sudu setelah selesai pada percobaan pertama.

  h.

  Mengulangi percobaan diatas hingga 3x bentuk sudu yang berbeda- beda.

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

4.1.Data Penelitian

  Data yang diperoleh pada saat percobaan dengan menggunakan bentuk sudu yang berbeda dengan 3 kecepatan angin sama sebagai berikut : Keterangan: v = kecepatan angin ( m s ) = 8,26 m s = 7,13 m s

  = 5,44 m s

  r = Jari - jari sudu = 0,43 m d = diameter poros kincir = 0,025 m d = diameter generator = 0,016 m alt d = diameter puli kecil = 0,076 m pulikecil d = diameter puli besar = 0,38 m pulibesar a.

   Data hasil percobaan

  Percobaan dilakukan 3 kali supaya diperoleh hasil baik dan dirata-rata supaya mempermudah perhitungan, pada tiap percobaan disertakan variasi bentuk sudu supaya dapat dilihat secara langsung.

Tabel 4.1 Data perolehan dari kincir 1 dengan kecepatan angin 8,26 m/s

  Beban Tegangan Arus Putaran (N) No. (Lampu) (Volt) (Ampere) (rpm)

  1 1 8.81 0.81 289.70 2 2 7.46 1.00 274.50 3 3 6.52 1.31 262.10 4 4 5.90 1.47 254.80 5 5 4.74 1.85 250.40 6 6 4.54 1.98 243.70 7 7 3.95 2.27 232.10 8 8 3.46 2.12 227.10 9 9 3.21 2.13 189.90 10 10

  2.94 2.20 177.30

Tabel 4.2. Data perolehan dari kincir 1 dengan kecepatan angin 7,13 m/s

  Beban Tegangan Arus Putaran (N) No. (Lampu) (Volt) (Ampere) (rpm)

  1 1 6.44 0.56 162.50 2 2 5.38 0.85 153.50 3 3 4.82 1.20 141.50 4 4 3.92 1.41 131.10 5 5 3.32 1.58 125.20 6 6 2.97 1.73 112.30 7 7 2.69 1.92 107.70 8 8 2.10 1.95 105.80 9 9 1.89 2.03 98.90 10 10

  1.79 2.11 93.20

Tabel 4.3. Data perolehan dari kincir 1 dengan kecepatan angin 5,44 m/s

  Beban Tegangan Arus Putaran (N) No. (Lampu) (Volt) (Ampere) (rpm)

  1 1 3.00 0.36 97.70 2 2 2.13 0.55 70.50 3 3 1.08 0.61 56.70 4 4 0.78 0.69 49.00 5 5 0.66 0.75 45.60 6 6 0.70 0.80 42.60 7 7 0.56 0.78 34.20 8 8 0.54 0.77 32.40 9 9 0.51 0.81 31.70 10 10

  0.44 0.80 29.40 Tabel 4.4 Data perolehan dari kincir 2 dengan kecepatan angin 8,26 m/s.

  No. Beban Tegangan Arus Putaran (N) (Lampu) (Volt) (Ampere) (rpm)

  1 1 7.75 0.82 276.50 2 2 6.59 1.22 252.60 3 3 6.16 1.37 242.20 4 4 5.51 1.59 216.30 5 5 4.83 1.83 212.90 6 6 4.44 2.02 205.10 7 7 3.95 2.47 201.40 8 8 3.83 2.43 196.10 9 9 2.78 2.48 179.90 10 10

  2.57 2.55 165.50

Tabel 4.5. Data perolehan dari kincir 2 dengan kecepatan angin 7,13 m/s.

  

No. Beban Tegangan Arus Putaran

(N) (Lampu) (Volt) (Ampere) (rpm)

  1 1 6.05 0.47 165.70 2 2 5.34 0.80 162.90 3 3 4.61 1.02 145.00 4 4 3.41 1.42 139.30 5 5 3.08 1.56 136.70 6 6 2.80 1.72 124.70 7 7 2.43 1.86 118.30 8 8 2.10 1.90 114.90 9 9 1.97 1.98 112.60 10 10

  1.61 2.01 110.80

Tabel 4.6. Data perolehan dari kincir 2 dengan kecepatan angin 5,44 m/s

  

No. Beban Tegangan Arus Putaran

(N) (Lampu) (Volt) (Ampere) (rpm)

  1 1 3.23 0.37 90.30 2 2 1.83 0.57 63.70 3 3 1.57 0.73 61.00 4 4 1.03 0.80 53.90 5 5 0.71 0.83 46.70 6 6 0.65 0.86 46.50 7 7 0.72 0.87 44.60 8 8 0.54 0.89 44.30 9 9 0.65 0.90 41.40 10 10

  0.63 0.91 38.80

Tabel 4.7 Data perolehan dari kincir 3 dengan Kecepatan angin 8,26 m/s.

  No. Beban Tegangan Arus Putaran (N) (Lampu) (Volt) (Ampere) (rpm)

  1 1 8.13 0.63 300.10 2 2 6.94 0.90 244.80 3 3 6.01 1.30 224.60 4 4 5.56 1.57 196.50 5 5 4.59 1.81 179.00 6 6 4.05 2.03 172.80 7 7 3.24 2.05 175.40 8 8 2.77 2.10 166.90 9 9 2.50 2.31 154.40 10 10

  2.29 2.43 142.10 Tabel 4.8. Data perolehan dari kincir 3 dengan kecepatan angin 7,13 m/s.

  No. Beban Tegangan Arus Putaran (N) (Lampu) (Volt) (Ampere) (rpm)

  1 1 6.03 0.58 165.30 2 2 4.43 0.80 149.20 3 3 4.00 1.10 133.30 4 4 3.16 1.30 123.40 5 5 2.75 1.53 122.80 6 6 2.47 1.65 119.30 7 7 2.12 1.80 112.80 8 8 2.03 1.86 100.70 9 9 1.56 1.88 99.20 10 10

  1.29 2.03 97.80

Tabel 4.9. Data perolehan dari kincir 3 dengan kecepatan angin 5,44 m/s.

  No. Beban Tegangan Arus Putaran (N) (Lampu) (Volt) (Ampere) (rpm)

  1 1 2.13 0.78 107.60 2 2 1.65 1.02 90.70 3 3 1.28 1.05 60.80 4 4 0.68 1.14 55.70 5 5 0.56 1.18 48.80 6 6 0.53 1.23 40.80 7 7 0.54 1.20 39.50 8 8 0.49 1.29 38.50 9 9 0.48 1.36 37.80 10 10

  0.40 1.45 37.50

4.2 Pengolahan data dan perhitungan

  1. Luas penampang kincir 2 A r

  π = = 3,14 × 0,43 2

  = 0,58 m 2

2. Daya keluaran (Pout)

  P out = V×I (watt)

  dengan:

   P out = daya output (watt) V = tegangan ( volt )

  3. daya yang tersedia pada angin

  3 p A v

  = , 6 ⋅ ⋅ in

  Dengan : = daya angin, (watt)

  P in

  A= luas penampang kincir 3

  v

  = kecepatan angin Kecepatan angin: 1. 8,26 m/s = 0,6 x 0,53 x 8,26 = 196,12 watt 2. 7.13 m/s = 0,6 x 0,53 x 7,13 = 126,14 watt 3. 5,44 m/s = 0,6 x 0,53 x 5,44 = 56,02 watt 4.

   Perbandingan putaran puli n 2

  = i ⎯ ⎯→ n = n . i 2 1

  n 1 Dengan :

n = putaran puli yang terhubung pada poros kincir, rpm

  1 n 2 = putaran puli yang terhubung pada poros generator, rpm

  1446

   i =

  289 ,

  2

   =

  5

5. Menghitung TSR (tip speed ratio) dan Efisiensi.

  4.42 5 5 4.74 1.85 8.77 250.40

  3.30

  0.97

  3.49 10 10 2.94 2.20 6.47 177.30

  1.03

  3.74 9 9 3.21 2.13 6.84 189.90

  1.24

  4.57 8 8 3.46 2.12 7.34 227.10

  1.26

  4.58 7 7 3.95 2.27 8.97 232.10

  1.33

  4.47 6 6 4.54 1.98 8.99 243.70

  1.36

  ∞ = xV Dn tsr

  60

  4.36 4 4 5.90 1.47 8.67 254.80

  1.43

  3.80 3 3 6.52 1.31 8.54 262.10

  1.50

  3.64 2 2 7.46 1.00 7.46 274.50

  1.58

  1 1 8.81 0.81 7.14 289.70

  Beban Tegangan Arus Daya (Pout) Putaran (N) Efisiensi No. (Lampu) (Volt) (Ampere) (Watt) (rpm) tsr (%)

Tabel 4.10. Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 1 pada kecepatan angin 8,26 m/s

  6. Tabel perhitungan pada ketiga kincir.

  Dengan : tsr = Tip speed ratio D = diameter kincir n = kecepatan putar kincir

  P P

  π , efisiensi = 100 × in out

  1.39

Tabel 4.11. Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 1 pada kecepatan angin 7,13 m/s.

  42.60

  0.58

  2.09 3 3 1.08 0.61 0.66

  56.70

  0.47

  1.18 4 4 0.78 0.69 0.54

  49.00

  0.41

  0.96 5 5 0.66 0.75 0.50

  45.60

  0.38

  0.88 6 6 0.70 0.80 0.56

  0.35

  1.93 2 2 2.13 0.55 1.17

  1.00 7 7 0.56 0.78 0.44

  34.20

  0.28

  0.78 8 8 0.54 0.77 0.42

  32.40

  0.27

  0.74 9 9 0.51 0.81 0.41

  31.70

  0.26

  0.74 10 10 0.44 0.80 0.35

  29.40

  0.24

  70.50

  0.81

  Beban Tegangan Arus Daya (Pout) Putaran (N) Efisiensi No. (Lampu) (Volt) (Ampere) (Watt) (rpm) tsr (%)

  0.71

  1 1 6.44 0.56 3.61 162.50

  1.03

  2.85 2 2 5.38 0.85 4.57 153.50

  0.97

  3.62 3 3 4.82 1.20 5.78 141.50

  0.89

  4.58 4 4 3.92 1.41 5.53 131.10

  0.83

  4.37 5 5 3.32 1.58 5.25 125.20

  0.79

  4.15 6 6 2.97 1.73 5.14 112.30

  4.06 7 7 2.69 1.92 5.16 107.70

  97.70

  0.68

  4.09 8 8 2.10 1.95 4.10 105.80

  0.67

  3.24 9 9 1.89 2.03 3.84

  98.90

  0.62

  3.04 10 10 1.79 2.11 3.78

  93.20

  0.59

  2.99 Tabel 4.12. Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 1 pada kecepatan angin 5,44 m/s.

  Beban Tegangan Arus Daya (Pout) Putaran (N) Efisiensi No. (Lampu) (Volt) (Ampere) (Watt) (rpm) tsr (%)

  1 1 3.00 0.36 1.08

  0.63

Tabel 4.13. Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 2 pada kecepatan angin 8,26 m/s.

  3.83 5 5 3.08 1.56 4.80 136.70

  1 1 6.05 0.47 2.84 165.70

  1.05

  2.25 2 2 5.34 0.80 4.27 162.90

  1.03

  3.38 3 3 4.61 1.02 4.70 145.00

  0.92

  3.72 4 4 3.41 1.42 4.84 139.30

  0.88

  0.86

  3.34 Tabel 4.14. Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 2 pada kecepatan angin 7,13 m/s.

  3.80 6 6 2.80 1.72 4.82 124.70

  0.79

  3.81 7 7 2.43 1.86 4.52 118.30

  0.75

  3.58 8 8 2.10 1.90 3.99 114.90

  0.73

  3.16 9 9 1.97 1.98 3.90 112.60

  0.71

  No. Beban Tegangan Arus Daya (Pout) Putaran (N) Efisiensi (Lampu) (Volt) (Ampere) (Watt) (rpm) tsr (%)

  0.90

  No. Beban Tegangan Arus Daya (Pout) Putaran (N) Efisiensi (Lampu) (Volt) (Ampere) (Watt) (rpm) tsr (%)

  4.47 5 5 4.83 1.83 8.84 212.90

  1 1 7.75 0.82 6.36 276.50

  1.51

  3.24 2 2 6.59 1.22 8.04 252.60

  1.38

  4.10 3 3 6.16 1.37 8.44 242.20

  1.32

  4.30 4 4 5.51 1.59 8.76 216.30

  1.18

  1.16

  3.52 10 10 2.57 2.55 6.55 165.50

  4.51 6 6 4.44 2.02 8.97 205.10

  1.12

  4.57 7 7 3.95 2.47 9.76 201.40

  1.10

  4.97 8 8 3.83 2.43 9.31 196.10

  1.07

  4.75 9 9 2.78 2.48 6.89 179.90

  0.98

  3.09 10 10 1.61 2.01 3.24 110.80 0.70 2.56

Tabel 4.15. Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 2 pada kecepatan angin 5,44 m/s.

  1.07

  38.80

  0.32

  1.02 Tabel 4.16. Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 3 pada kecepatan angin 8,26 m/s.

  No. Beban Tegangan Arus Daya (Pout) Putaran (N) Efisiensi (Lampu) (Volt) (Ampere) (Watt) (rpm) tsr (%)

  1 1 8.13 0.63 5.12 300.10

  1.64

  2.61 2 2 6.94 0.90 6.25 244.80

  1.33

  3.18 3 3 6.01 1.30 7.81 224.60

  1.22

  3.98 4 4 5.56 1.57 8.73 196.50

  4.45 5 5 4.59 1.81 8.31 179.00

  0.34

  0.98

  4.24 6 6 4.05 2.03 8.22 172.80

  0.94

  4.19 7 7 3.24 2.05 6.64 175.40

  0.96

  3.39 8 8 2.77 2.10 5.82 166.90

  0.91

  2.97 9 9 2.50 2.31 5.78 154.40

  0.84

  2.94 10 10 2.29 2.43 5.56 142.10

  0.77

  1.04 10 10 0.63 0.91 0.57

  41.40

  No. Beban Tegangan Arus Daya (Pout) Putaran (N) Efisiensi (Lampu) (Volt) (Ampere) (Watt) (rpm) tsr (%)

  0.45

  1 1 3.23 0.37 1.20

  90.30

  0.75

  2.13 2 2 1.83 0.57 1.04

  63.70

  0.53

  1.86 3 3 1.57 0.73 1.15

  61.00

  0.50

  2.05 4 4 1.03 0.80 0.82

  53.90

  1.47 5 5 0.71 0.83 0.59

  0.86 9 9 0.65 0.90 0.59

  46.70

  0.39

  1.05 6 6 0.65 0.86 0.56

  46.50

  0.38

  1.00 7 7 0.72 0.87 0.63

  44.60

  0.37

  1.12 8 8 0.54 0.89 0.48

  44.30

  0.37

  2.84

Tabel 4.17. Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 3 pada kecepatan angin 7,13 m/s.

  0.36

  3.00 3 3 1.28 1.05 1.34

  60.80

  0.53

  2.40 4 4 0.68 1.14 0.78

  55.70

  0.49

  1.38 5 5 0.56 1.18 0.66

  48.80

  0.43

  1.18 6 6 0.53 1.23 0.65

  40.80

  1.16 7 7 0.54 1.20 0.65

  90.70

  39.50

  0.35

  1.16 8 8 0.49 1.29 0.63

  38.50

  0.34

  1.13 9 9 0.48 1.36 0.65

  37.80

  0.33

  1.17 10 10 0.40 1.45 0.58

  37.50

  0.33

  0.79

  2.97 2 2 1.65 1.02 1.68

  No. Beban Tegangan Arus Daya (Pout) Putaran (N) Efisiensi (Lampu) (Volt) (Ampere) (Watt) (rpm) tsr (%)

  0.75

  1 1 6.03 0.58 3.50 165.30

  1.04

  2.77 2 2 4.43 0.80 3.54 149.20

  0.94

  2.80 3 3 4.00 1.10 4.40 133.30

  0.84

  3.48 4 4 3.16 1.30 4.11 123.40

  0.78

  3.25 5 5 2.75 1.53 4.21 122.80

  0.78

  3.33 6 6 2.47 1.65 4.08 119.30

  3.22 7 7 2.12 1.80 3.82 112.80

  0.94

  0.71

  3.02 8 8 2.03 1.86 3.78 100.70

  0.64

  2.99 9 9 1.56 1.88 2.93

  99.20

  0.63

  2.32 10 10 1.29 2.03 2.62

  97.80

  0.62

  2.07 Tabel 4.18. Perhitungan tsr, efisiensi dan daya output pada kincir 3 pada kecepatan angin 5,44 m/s.

  No. Beban Tegangan Arus Daya (Pout) Putaran (N) Efisiensi (Lampu) (Volt) (Ampere) (Watt) (rpm) tsr (%)

  1 1 2.13 0.78 1.66 107.60

  1.04

4.3. Grafik Hasil Perhitungan

  

Kincir 1

  10.00

  8.00 tt)

  6.00 a t(w u

4.00 P o

  2.00

  0.00

  2

  4

  6

  8

  10 Kec angin(m/s)

Gambar 4.3.1. Grafik hubungan daya output dengan kecepatan angin pada kincir1

  Pada Gambar 4.3.1. dapat disimpulkan bahwa semakin besar kecepatan angin, maka daya yang dihasilkan kincir semakin besar yaitu 8,99 watt pada kecepatan angin 8,26 dengan persamaan 2 daya output = 18,52Ln(kecepatan angin) – 30,29 pada R = 1,00

  

Kincir 2

  10.00

  8.00 tt) a

  6.00 (w t u

4.00 O

  P

  2.00

  0.00

Gambar 4.3.2. Grafik hubungan daya output dengan kecepatan angin pada kincir 2

  Pada Gambar 4.3.2. dapat disimpulkan bahwa semakin besar kecepatan angin, maka daya yang dihasilkan kincir semakin besar yaitu 9,76 watt pada kecepatan angin 8,26 dengan persamaan 2 daya output = 19,62Ln(kecepatan angin) – 32,47 pada R = 0,98

  

Kincir 3

  10.00

  8.00 tt) a

  6.00 (w t u

4.00 O

  P

  2.00

  0.00

  2

  4

  6

  8

  10 Kec angin (m /s)

Gambar 4.3.3. Grafik hubungan daya output dengan kecepatan angin pada kincir 3

  Pada Gambar 4.3.3. dapat disimpulkan bahwa semakin besar kecepatan angin, maka daya yang dihasilkan kincir semakin besar yaitu 8,73 watt pada kecepatan angin 8,26 dengan persamaan 2 daya output = 16,03Ln(kecepatan angin) – 25,90 pada R = 0,91

  Kincir 1 Kincir 2 Kincir 3

  12.00

  10.00 tt) a

  8.00 w t ( u tp

  6.00 u O a y

  4.00 a D

  2.00

  0.00

  4

  5

  6

  7

  8

  9 Kecepatan angin (m/s)

Gambar 4.3.4. Grafik hubungan daya output dengan kecepatan angin pada ketiga kincir

  Pada ketiga kincir diatas dengan bentuk sudu yang berbeda dapat disimpulkan bahwa semakin besar kecepatan angin maka daya yang dihasilkan semakin besar. Daya tertinggi dari ketiga kincir adalah 9,76 pada kecepatan angin 8,26 dan terdapat pada kincir 2.

  

Kincir 1

  0.00

  1.00

  2.00

  3.00

  4.00

  5.00

  6.00

  0.00

  0.50

  1.00

  1.50

  2.00 Tsr E fe s ien si ( % )

Gambar 4.3.5. Grafik hubungan Efisiensi dengan TSR

  Pada kincir 1 Pada Gambar 4.3.5. dapat disimpulkan semakin besar tsr maka efesiensi pada kincir semakin kecil. Efisiensi tertinggi pada 4,58% pada tsr

  1,33 dengan persamaan efisiensi = -3,79 tsr 2 + 9,46 tsr – 1,6 pada R = 0,81 2

  

Kincir 2

  0.00

  1.00

  2.00

  3.00

  4.00

  5.00

  6.00

  0.00

  0.50

  1.00

  1.50

  2.00 Tsr Efe s ie n s i (% )

Gambar 4.3.6. Grafik hubungan Efisiensi dengan TSR

  Pada kincir 2 Pada Gambar 4.6. dapat disimpulkan semakin besar tsr maka efesiensi pada kincir semakin kecil. Efisiensi terbesar yaitu pada 4,97% pada tsr 1,10 dengan persamaan efisiensi = -4,50 tsr 2 + 11,06 tsr – 2,46 pada R = 0,94. 2

  

Kincir 3

  0.00

  1.00

  2.00

  3.00

  4.00

  5.00

  6.00

  0.00

  0.50

  1.00

  1.50

  2.00 Tsr E fesi en si ( % )

Gambar 4.3.7. Grafik hubungan Efisiensi dengan TSR

  Pada kincir 3 Pada Gambar 4.3.7. dapat disimpulkan semakin besar tsr maka efesiensi pada kincir semakin kecil. Efisiensi tertinggi 4,45% pada tsr 1,07 dengan persamaan efisiensi = -4,17 tsr 2 + 9,59 tsr – 1,79 pada R = 0,86. 2

  0.00

  1.00

  2.00

  3.00

  4.00

  5.00

  6.00

  0.00

  0.50

  1.00

  1.50

  2.00 Tsr E fe s ie n s i (% )

  Poly. (Kincir 2) Poly. (Kincir 3) Poly. (Kincir 1)

Gambar 4.3.8. Grafik hubungan Efisiensi dengan TSR

  Pada ketiga kincir dengan bentuk sudu berbeda Pada Gambar 4.3.8. dari ketiga kincir, efisiensi tertinggi terdapat pada kincir 2 yaitu 4,97% pada tsr 1,10. Dapat disimpulkan semakin besar

  Efisiensi maka tsr semakin kecil. Hal ini disebabkan karena adanya penurunan daya pada kincir saat mencapai maksimum.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  Dari penelitian dan perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa :

  a) Semakin besar kecepatan angin, maka semakin tinggi daya output yang dihasilkan.

  b) Semakin besar efisiensi, maka tsr (Tip Speed Ratio) semakin besar.

  c) Dari hasil ketiga bentuk sudu dapat disimpulkan bahwa efisiensi tertinggi diperoleh dari bentuk sudu kedua yaitu 4,97%.

5.2 Saran

  Adapun saran untuk pihak yang akan mengembangkan penelitian pada bidang ini adalah : a) Bentuk sudu yang digunakan dalam percobaan lebih baik divariasi lagi, karena hal tersebut juga berpengaruh dalam hasil efisiensi.

  b) Bahan pembuatan sudu sebaiknya divariasikan dengan menggunakan mika agar lebih ringan.

  c) Luas penampang pada kincir dan sudut divariasikan lagi, karena hal tersebut mempengaruhi besarnya daya dan efisiensi.

  d) Untuk mendapatkan daya maksimal pada kincir dibutuhkan kecepatan angin yang besar.

  e) Pada saat percobaan dimulai alangkah baiknya apabila alat – alat yang digunakan berfungsi sebagaimana mestinya.

DAFTAR PUSTAKA

  Allan, C. L. C., 1959, Water Turbine Driven Induction Generator, Proc IEE, Paper no. 3140S.

  Dietzel, Fritz , 1996, Turbin Pompa dan Kompresor, cetakan ke-5, Penerbit Erlangga, Jakarta

  Jensen, K. K., 1990, Grid Connection of Wind Turbines and Wind Farms, DEFU Report No.77.

  Sularso dan Kiyokatsu Suga, 1980, Dasar Perancangan dan Pemilihan Elemen

  Mesin , cetakan ke-11. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.

  Tony Burton, David Sharpe, Nick Jenkins, Ervin Bossanyi, 2001, Wind Energy Handbook . England: Wiley.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Unjuk kerja model kincir angin propeler tiga sudu mengerucut dari bahan dasar kayu dengan tiga variasi lapisan permukaan sudu.
0
0
63
Unjuk kerja model kincir angin american multi-blade sembilan sudu dengan tiga variasi pitch angle.
1
10
66
Unjuk kerja kincir angin propeler tiga sudu lengkung silindris dari bahan dasar kayu dengan tiga variasi permukaan sudu.
0
1
67
Unjuk kerja kincir angin model american multi-blade tiga belas sudu dari bahan aluminium dengan tiga variasi pitch angle.
0
0
59
Unjuk kerja kincir angin propeler tiga sudu datar dari bahan triplek dengan variasi lapisan aluminium dan anyaman bambu.
0
0
66
Unjuk kerja kincir angin propeler dua sudu berbahan dasar triplek dengan tiga variasi permukaan sudu.
0
0
62
Unjuk kerja kincir angin propeler tiga sudu berbahan dasar kayu berlapis pelat seng dengan sudu - sudu dari belahan dinding silinder.
0
2
70
Unjuk kerja kincir angin jenis american multibladedari bahan aluminium sepuluh sudu dengan tiga variasi pitch angle.
3
16
66
Unjuk kerja model kincir angin American Multi-Blade berbahan aluminium dua belas sudu dengan tiga variasi Pitch Angle.
0
0
66
Unjuk kerja kincir angin jenis " WEPOWER " sudu pipa pvc dengan variasi kemiringan sudu.
1
3
78
Unjuk kerja kincir angin jenis " WEPOWER " sudu pipa pvc dengan variasi kemiringan sudu.
0
2
78
Unjuk kerja kincir angin Magwind dengan variasi bentuk sudu.
0
0
62
Unjuk kerja model kincir angin savonius enam tingkat dengan variasi bentuk sudu.
0
0
59
Unjuk kerja kincir angin poros horisontal 4 sudu berbahan pipa PVC 8” dengan variasi kemiringan sudu
0
0
67
KINCIR ANGIN TIPE SAVONIUS DENGAN EMPAT SUDU DATAR TUGAS AKHIR - Kincir angin tipe savonius dengan empat sudu datar - USD Repository
0
0
52
Show more