Hubungan antara tingkat dependensi dan tingkat stres pada mahasiswa - USD Repository

Gratis

0
0
127
3 months ago
Preview
Full text

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPENDENSI DAN TINGKAT STRES PADA MAHASISWA

  Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi oleh: Patricia Erisa Marthadewi K

  06 9114 027

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2010

  

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPENDENSI

DAN TINGKAT STRES PADA MAHASISWA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

oleh:

Patricia Erisa Marthadewi K

  

06 9114 027

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2010

  

G ive thanks for what you are now,

and keep fighting for what you want to be tomorrow.

  

~Fernanda Miramontes-Landeros~

Do not judge, and you will not be

judge; do not condemn and you will

not be condemned; forgive and you

  

Skripsi ini ku persembahkan untuk :

  Tuhan Yesus Kristus Kedua Orang Tuaku, Yustinus Gan Kong Liok dan

  Veronica Jeniarti Kakakku Raymondus Nonatus Eros Pratomo Kusumanto

  Kedua adikku Yoanes Kapistran Ervan Prasetio Kusumanto dan Felicito Erdin Kwartanto Kusumanto

  

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPENDENSI

DAN TINGKAT STRES PADA MAHASISWA

Patricia Erisa Marthadewi K

  

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat dependensi dan

tingkat stres pada mahasiswa. Subyek penelitian ini adalah 48 orang mahasiswa. Dalam penelitian

ini, tingkat stres diukur dengan tiga skala yang telah tersedia (dengan melalui proses penerjemahan

dan adaptasi), yakni skala Symptoms of Stress (SOS) dengan koefisien reliabilitas hasil uji coba

sebesar 0,821; skala The Inventory of College Students’ Recent Life Experiences (ICSRLE) dengan

koefisien reliabilitas hasil uji coba sebesar 0,942; dan Perceived Stress Scale (PSS) dengan

koefisien reliabilitas hasil uji coba sebesar 0,781. Tingkat dependensi diukur dengan skala

(ROD) dengan reliabilitas interater sebesar 0,824. Uji korelasi Rorschach Oral Dependency

Pearson Product Moment dilakukan terhadap total skor skala ROD dengan ketiga skala stres

secara sendiri-sendiri. Hasil uji korelasi secara berturut-turut antara skor skala ROD dengan skor

skala SOS, ICSRLE dan PSS adalah r = 0,076 r = 0,002 dan r = -0,006. Kesimpulan dari

penelitian ini adalah tidak ada hubungan positif yang signifikan antara tingkat dependensi dan

tingkat stres pada mahasiswa.

  Kata kunci : tingkat dependensi, tingkat stres, mahasiswa

  

RELATIONSHIP BETWEEN THE LEVEL OF DEPENDENCIES AND

LEVEL OF STRESS ON COLLEGE STUDENTS

Patricia Erisa Marthadewi K

ABSTRACT

  This study aims to find out the relationship between the level of dependencies and level of

stress on college students. The subjects of this study were 48 college student. In this study, stress

levels were measured with three scales are already available (through the process of translation

and adaptation), the Symptoms of Stress (SOS) scale, The Inventory of College Students’ Recent

Life Experiences (ICSRLE) and Perceived Stress Scale (PSS). Reliability analysis conducted on all

three scales that have been tested. Results are as follows: The Cronbach’s alpha coefficients for

SOS scale were 0,821; The Cronbach’s alpha coefficients for the The Inventory of College

Students’ Recent Life Experiences (ICSRLE) were 0,942; and The Cronbach’s alpha coefficients

for Perceived Stress Scale (PSS) were 0,781. Dependency level was measured with the the

Rorschach Oral Dependency (ROD) scale with interater reliability were 0.824. Pearson Product

Moment correlation test performed on the total score from ROD scale with the third stress scale

independently. The correlation between ROD scale scores with scores of SOS scale, ICSRLE scale

and PSS consecutively is r = 0.076, r = 0.002 and r = - 0.006. The conclusion of this study is there

is no significant positive correlation between levels of dependency and level of stress in college

students. Key Word : level of dependencies, level of stress and college students

  

KATA PENGANTAR

  Puji syukur dan terima kasih penulis sampakan pada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi

  dari Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Skripsi ini ber judul ”Hubungan Antara

  Tingkat Dependensi dan Tingkat Stres Pada Mahasiswa”.

  Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah memberikan bantuan dan dukungan tersebut :

  1. Tuhan Yesus ku dan Bunda Maria yang selalu menemaniku disetiap saat bahkan disaat ku ’mengabaikan’ Kalian.... From deep inside of my heart, I believe that you’ve been there....

  2. Papa dan Mama yang... entahlah... I just wanna say thank you for everything.

  Ko Eros, pulang aja deh ke Jogja... Ervan dan Erdin, meski menurutku kalian semua sering menggangguku, tapi makasih karena membuat duniaku ramai.

  Mak Giam dan Mak Ing, makasih karena selalu mendoakan ku....

  3. Bapak V. Didik Suryo Hartoko S.Psi., M.Si. selaku pembimbing skripsi saya, Terima kasih banyak Pak, atas bimbingannya, juga atas kuliah-kuliah di kelas PD II : Observasi dan spesial di mata kuliah Tes Rorschach yang banyak menginspirasi saya.

  4. Ibu Agnes Indar Etikawati, S.Psi., M.Si., Psi. yang telah membukakan peluang saya untuk bergabung di unit konseling, tanpa pemberitahuan Ibu, mungkin

  segala bimbingan dan ispirasi yang Ibu berikan selama bekerja sama di Unit Konseling.

  5. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Sanata Dharma, banyak terima kasih atas ilmu, bimbingan dan inspirasi yang telah saya dapatkan dari Bapak/Ibu semua.

  6. Seluruh karyawan Fakultas Psikologi Sanata Dharma, terima kasih atas bantuan-bantuan dan keramahannya yang membuat saya nyaman selama kuliah di Fakultas Psikologi USD.

  7. Spesial untuk Cie Mila dan Ko Emil yang telah membantuku menerjemahkan skala-skala yang digunakan dalam skripsi ini.

  8. Seluruh teman di Fakultas Psikologi USD, makasih untuk masa-masa kuliah yang menyenangkan. Spesial untuk Mia, yang selalu siap sedia membantu dan mendengarkan curhatanku, he...he... Dengarkan curhatku sampai tua nanti ya... Juga untuk Berto, Satria, Ardian, Adit, Rafa, Chika, Viany, Novita utuk kedekatan kita di semester-semester awal yang tak terlupakan. Liem, Jean dan Mas Yandu yang turut memberikan kontribusi nyata dalam skripsi ini, terima kasih banyak atas bantuan kalian.

  9. Seluruh teman di Unit Konseling, Mbak Puput, Mbak Karen, Mbak Wira makasih atas transfer ilmunya, he…he… Wayan, Rara, Ike, Mas Yandu, Mbak

  dan Mbak Ndoel, kapan-kapan kita piknik lagi ya, he…he… Riana dan

  Ika,

  Komenk yang tetap bertahan di unit konseling karena tiga pendatang baru kita harus mengundurkan diri.

  10. Seluruh teman yang bersedia mengisi skala untuk try out, seluruh subyek

penelitian yang bersedia meluangkan waktu untuk pengambilan data skripsi ini.

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL.......................................................................................................i HALAMAN PERSETUJUAN...................................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN...................................................................................... iii HALAMAN MOTTO ...................................................................................................iv HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................................v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................................vi ABSTRAK .................................................................................................................. vii ABSTRACT............................................................................................................... viii LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................................... ix KATA PENGANTAR ...................................................................................................x DAFTAR ISI.............................................................................................................. xiii DAFTAR TABEL...................................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................. xvii

  BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................................1 A. Latar Belakang Masalah.....................................................................................1 B. Rumusan Masalah ..............................................................................................6 C. Tujuan Penelitian ...............................................................................................6 D. Manfaat Penelitian .............................................................................................7

  1. Manfaat Teoritis .................................................................................................7

  2. Manfaat Praktis ..................................................................................................7

  BAB II DASAR TEORI ................................................................................................8 A. Stres....................................................................................................................8

  1. Dependensi .......................................................................................................34

  4. Skala Rorschach Oral Dependency (ROD Scale)............................................39

  3. Perceived Stress Scale......................................................................................38

  2. The Inventory of College Students’ Recent Life Experiences.........................37

  1. Symptoms of Stress Scale .................................................................................36

  D. Alat Pengumpulan Data ...................................................................................35

  2. Stres..................................................................................................................35

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN.....................................................................34 A. Jenis Penelitian.................................................................................................34 B. Identifikasi Variabel Penelitian........................................................................34 C. Definisi Operasional Variabel Penelitian.........................................................34

  1. Pengertian Stres..................................................................................................8

  E. Hipotesis Penelitian..........................................................................................33

  D. Hubungan Antara Tingkat Dependensi dan Tingkat Stres Pada Mahasiswa...29

  C. Mahasiswa........................................................................................................28

  2. Pengukuran Dependensi...................................................................................26

  1. Pengertian Dependensi.....................................................................................17

  B. Dependensi .......................................................................................................17

  2. Faktor-faktor Psikologis yang Dapat Mempengaruhi Stres .............................15

  E. Subyek Penelitian.............................................................................................42

  G. Validitas dan Reliabilitas Alat Pengumpulan Data..........................................43

  1. Validitas dan Reliabilitas Skala Simtom Stres.................................................43

  2. Validitas dan Reliabilitas The Inventory of College Students’ Recent Life

  Experiencens ...................................................................................................44

  3. Validitas dan Reliabilitas Skala Perceived Stress ............................................46

  4. Validitas dan Reliabilitas Skala Rorschach Oral Dependency ........................47

  5. Uji Korelasi Ketiga Alat Ukur Stres ................................................................49

  H. Metode Analisis Data.......................................................................................50

  BAB IV HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN ..................................................51 A. Pelaksanaan Penelitian .....................................................................................51 B. Hasil Penelitian ................................................................................................52

  1. Deskripsi Subyek Penelitian ............................................................................52

  2. Deskripsi Data Penelitian.................................................................................53

  3. Analisis Data ...................................................................................................54

  C. Pembahasan......................................................................................................59

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................................62 A. Kesimpulan ......................................................................................................62 B. Keterbatasan Penelitian....................................................................................62 C. Saran.................................................................................................................63 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................64 LAMPIRAN.................................................................................................................67

  DAFTAR TABEL

  Tabel 1 Blueprint Skala Stres.................................................................................... 35 Tabel 2 Deskripsi Statistik Data Penelitian Variabel Stres ....................................... 53 Tabel 3 Deskripsi Statistik Data Penelitian

  Variabel Dependensi .................................................................................... 54

  DAFTAR LAMPIRAN

  Skala Penelitian.............................................................................................................. 68 Analisis Reliabilitas Alat Ukur Stres ............................................................................. 76

  A. Analisis Reliabilitas Skala Symptoms of Stress.................................................. 76

  B. Analisis Reliabilitas Skala The Inventory of College Students’ Recent Life Experiences .....................................................................................

  77 C. Analisis Reliabilitas Skala The Inventory of College Students’

  Recent Life Experiences aitem no 11, 20 dan 32 digugurkan ............................ 79

  D. Analisis Reliabilitas Perceived Stress Scale ...................................................... 81 Data Skoring Rorschach Oral Dependency Scale ......................................................... 82 Analisis Reliabilitas Interater Rorschach Oral Dependency Scale................................ 83 Uji Normalitas Data Penelitian ..................................................................................... 84

  A. Uji Normalitas RS Skala Symptoms Of Stress .................................................. 84

  B. Uji Normalitas RS Skala Symptoms Of Stress setelah outliers dibuang (46 subyek) .......................................................................................... 86 C. Uji Normalitas RS Skala The Inventory of College Students’ Recent Life Experiences .....................................................................................

  88 D. Uji Normalitas RS Skala The Inventory of College Students’

  Recent Life Experiences

  46 Subyek ................................................................... 90

  E. Uji Normalitas RS Skala Perceived Stress ........................................................ 92

  F. Uji Normalitas RS Skala Perceived Stress 46 Subyek....................................... 94

  H. Uji Normalitas RS Skala Rorschach Oral Dependency 46 Subyek................... 98 Uji Korelasi .................................................................................................................... 100

  48 Subyek........................................................................................................... 104

  Rorschach Oral Dependency

  F. Uji Linearitas RS Skala Perceived Stress & RS Skala

  48 Subyek ........................................................... 106

  Rorschach Oral Dependency

  E. Uji Linearitas RS Skala Perceived Stress & RS Skala

  46 Subyek........................................................................................................... 105

  Recent Life Experiences & RS Skala Rorschach Oral Dependency

  D. Uji Linearitas RS Skala The Inventory of College Students’

  Recent Life Experiences & RS Skala Rorschach Oral Dependency

  A. Uji Korelasi 48 subyek....................................................................................... 100

  C. Uji Linearitas RS Skala The Inventory of College Students’

  46 Subyek ........................................................... 103

  Rorschach Oral Dependency

  B. Uji Linearitas RS Skala Symptoms Of Stress & RS Skala

  48 Subyek ........................................................... 102

  Rorschach Oral Dependency

  A. Uji Linearitas RS Skala Symptoms Of Stress & RS Skala

  B. Uji Korelasi 46 subyek....................................................................................... 101 Uji Linearitas.................................................................................................................. 102

  46 Subyek ........................................................... 107

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada jaman yang serba sulit ini, manusia pada umumnya mengalami

  banyak tantangan dalam hidupnya, terlebih mahasiswa. Mahasiswa dapat digolongkan dalam tahap perkembangan dewasa awal. Pada tahap perkembangan ini seseorang mengalami transisi dari akhir masa remaja ke awal masa dewasa, dimana salah satu kriterianya, menuntut individu untuk menjadi mandiri dalam segala hal (Santrock, 2002). Kemandirian yang dituntut pada masa ini, mengharuskan individu untuk sesegera mungkin menyesuaikan diri terhadap hal-hal baru yang harus mereka selesaikan sendiri. Hal tersebut dapat membuat individu pada masa dewasa awal khususnya mahasiswa merasa stres.

  Dalam kehidupan ini, mahasiswa memiliki tuntutan-tuntutan khusus yang dapat membuat mahasiswa merasa stres. Misalnya tuntutan yang terkait dengan kehidupan akademik mahasiswa seperti beban kerja yang lebih berat bila dibandingkan pelajar sekolah menengah atas. Beban kerja tersebut juga harus dikerjakan tanpa adanya banyak campur tangan dari orang tua maupun guru. Sistem yang berbeda terkait dengan penyusunan jadwal kuliah juga menuntut mahasiswa untuk dapat mengatur kegiatannya sendiri (Scott, 2008). Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam kehidupan akademisnya mahasiswa dituntut untuk dapat lebih mandiri bila dibandingkan dengan pelajar sekolah menegah atas yang masih banyak dituntun.

  Dalam kehidupan sosial, seorang mahasiswa juga mengalami suatu perubahan yang dapat menyebabkan stres. Perubahan tersebut antara lain seperti meninggalkan jaringan sosial yang lama dan masuk atau membuat jaringan sosial yang baru dan bergabung dengan individu-individu pada tahap dewasa awal. Meninggalkan dan berada jauh dari rumah juga dapat menjadi penyebab stres. Seorang mahasiswa juga dituntut untuk dapat menyeimbangkan antara kehidupan sosial dan akademisnya (Scott, 2008).

  Kehidupan akademis dan sosial bukan hanya menjadi dua hal yang dapat menyebabkan seorang mahasiswa merasa stres. Tuntutan-tuntutan lain diluar kedua hal tersebut juga dapat menjadi suatu penyebab mahasiswa merasa stres. Tuntutan-tuntutan tersebut antara lain masalah logistik seperti makan, mencuci pakaian, merawat kendaraan dan sebagainya, kemudian terkait dengan pengejaran terhadap apa yang menjadi cita-cita mereka dan masih banyak hal lainnya (Scott, 2008).

  Dalam kehidupan sehari-hari kata stres dapat dengan mudah ditemui. Mulai dari pembicaraan sehari-hari hingga pada artikel dalam surat kabar, majalah, maupun berita di televisi. Stres sebenarnya merupakan pengalaman yang wajar dalam kehidupan manusia, mengingat manusia tidak pernah puas dengan apa yang telah dicapainya, yang menuntunnya pada suatu tuntutan yang lebih sulit untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Stres juga dapat hal yang mengancam dan ia merasa tidak mampu untuk menghadapinya (Lemme, 1999).

  Banyak penelitian yang telah dilakukan terkait dengan stres. Misalnya saja penelitian mengenai kontribusi hardiness (kontrol terhadap hidup, komitmen yang tinggi dan melihat kesulitan sebagai tantangan) dan self-

  

efficacy terhadap stres kerja (studi pada perawat RSUP DR. Soeradji

  Tirtonegoro Klaten) yang dilakukan oleh Wahyu Rahardjo (2004). Dari hasil penelitian tersebut dikatakan bahwa hardiness dan self efficacy memberikan kontribusi dalam mengurangi stres kerja, yakni sebesar 30.4 %. Secara terpisah hardiness memberikan kontribusi dalam mengurangi stres kerja sebesar 13.7 % dan variabel self efficacy memberikan kontribusi dalam mengurangi stres kerja sebesar 29.7%.

  Penelitian lain yang berbicara mengenai pengaruh efikasi diri terhadap stres mahasiswa yang sedang menyusun skripsi juga menghasilkan hal yang senada dengan penelitian milik Wahyu Rahardjo. Dalam penelitian milik Pandu Occasear (2009) dengan judul ”Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Stres Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang yang Sedang Menyusun Skripsi” dikatakan bahwa efikasi diri memiliki pengaruh yang signifikan terhadap stres mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Hasil dari analisis regresi yang dilakukan menunjukkan bahwa efikasi diri memberi kontribusi dalam mengurangi tingkat stres sebesar 20.5%.

  Selain itu ada pula penelitian mengenai hubungan antara tingkat yang sedang menjalani kemoterapi pasca operasi, yang dilakukan oleh Nisa Muftie Dyahsari (2009). Hasil dari penelitian ini menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat optimisme dan tingkat stres pada penderita kanker payudara stadium lanjut yang sedang menjalani kemoterapi pasca operasi, sebesar r = - 0, 582 dengan p = 0.007. Hal ini membuktikan bahwa jika tingkat optimisme yang dimiliki seseorang yang menderita kanker payudara stadium lanjut yang sedang menjalani kemoterapi pasca operasi tinggi, maka tingkat stres orang tersebut rendah.

  Kemudian, Alfindra Primaldhi melakukan penelitian berjudul ”Hubungan Antara Trait Kepribadian Neuroticism, Strategi Coping dan Stress Kerja”. Penelitian ini dilakukan pada 163 orang dewasa warga negara Indonesia yang berusia antara 25-55 tahun, karyawan perusahaan telekomunikasi di Jakarta. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara trait kepribadian neurotism dengan stres kerja dan strategi koping berfokus emosi. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan tidak adanya hubungan negatif antara trait kepribadian neurotism dengan strategi koping berfokus masalah dan strategi koping berfokus religi.

  Penelitian terkait dengan stres lainnya berjudul Relationship between

  

Cortisol Responses to Stress and Personality yang dilakukan oleh Lynn M

  Oswald, Peter Zandi, Gerald Nestadt, James B Potash, Amanda E Kalaydjian dan Gary S Wand (2006). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji asosiasi antara sifat-sifat (traits) kepribadian dan respon kortisol terhadap stres telah direvisi. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa kurangnya

  

Openness (keterbukaan) berasosiasi dengan respon kortisol yang rendah

  terhadap tantangan. Respon kortisol yang rendah juga berasosiasi dengan

Neuroticism yang tinggi pada wanita dan Extraversion yang rendah pada pria.

  Hasil ini menyatakan bahwa personality traits yang biasanya diasosiasikan dengan psikopatologi yang lebih besar juga berasosiasi dengan tumpulnya respon hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis terhadap stres. Respon kortisol yang rendah mengindikasikan tingkat stres yang tinggi. Oleh karena itu, hasil penelitian ini juga menyatakan bahwa kurangnya keterbukaan berkorelasi dengan tingkat stres yang tinggi, neurotism yang tinggi pada wanita berkorelasi dengan stres yang tinggi serta ekstraversi yang rendah pada pria berkorelasi dengan stres yang tinggi.

  Melihat beberapa penelitian diatas, dapat dikatakan bahwa : efikasi diri, hardiness, openness dan optimisme memiliki korelasi negatif yang signifikan dengan tingkat stres. Selain itu, neurotism memiliki korelasi positif yang signifikan dengan tingkat stres. Hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan tersebut, menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang berhubungan dengan tingkat stres yang merupakan beberapa karakteristik yang dimiliki individu dengan tipe kepribadian dependen.

  Individu dengan kepribadian dependen atau dengan kata lain individu yang memiliki tingkat dependensi yang tinggi memiliki beberapa karakteristik diantaranya pesimistik atau dengan kata lain tidak optimis (Pervin dan John,

  (powerless) atau dapat dikatakan tidak memiliki efikasi diri (Bornstein, 1993), dan juga sulit untuk menyatakan ketidaksetujuan pada orang lain (kurang atau tidak memiliki sifat openness dan ekstraversi) karena ketakutan yang tidak realistik (neurotism) akan kehilangan dukungan dan persetujuan dari orang lain (DSM IV TR, 2000). Dengan melihat kedua hal diatas, dimana beberapa faktor yang berkorelasi negatif dengan stres, kurang atau tidak dimiliki oleh individu dengan tingkat dependensi yang tinggi serta salah satu faktor yang berkorelasi positif dengan tingkat stres (neurotism) dimiliki oleh individu dengan tingkat dependensi yang tinggi maka peneliti memiliki suatu pertanyaan yaitu apakah ada hubungan yang bersifat positif antara tingkat dependensi dan tingkat stres.

  B. Rumusan Masalah

  Apakah ada hubungna yang bersifat positif antara tingkat dependensi dan tingkat stres pada mahasiswa?

  C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang positif antara tingkat dependensi dan tingkat stres.

D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis Penelitian ini bermanfat secara teoritis yang berarti memberikan pengetahuan baru di bidang psikologi. Pengetahuan baru yang dimaksud adalah sebagai berikut : Pertama, adanya beberapa faktor yang mempengaruhi stres, yang telah banyak diteliti sebelumnya, mengarah pada karakteristik dari kepribadian dependen. Kedua, faktor-faktor tersebut secara bersama-sama (yang terintegrasi sebagai karakter kepribadian dependen) merupakan salah satu hal yang berhubungan secara positif dengan stres.

  2. Manfaat Praktis Manfaat praktis dalam penelitian ini adalah dengan mengetahui hubungan yang positif antara tingkat dependensi dan tingkat stres maka keluhan-keluhan stres dapat diantisipasi dan diatasi dengan melihat karakteristik dependensi yang dimiliki individu, khususya dalam setting konseling.

BAB II DASAR TEORI A. Stres

  1. Pengertian Stres Stres merupakan salah satu kata yang hampir setiap hari kita dengar. Selain itu, akhir-akhir ini media pun menggemborkan bahaya dari stres. Namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan stres merupakan hal yang sulit dideskripsikan dan masih terus menjadi perdebatan diantara para ahli. Stres dapat dikatakan merupakan istilah ‘payung’, atau dengan kata lain, stres merupakan istilah yang menggabungkan variasi masalah- masalah yang mungkin terjadi pada hal-hal dasar yang umum terjadi hingga hal-hal serius yang lebih jarang terjadi (Palmer dan Puri, 2006).

  Salah satu definisi stres yang paling banyak digunakan ialah definisi dari Richard Lazarus : stres terjadi saat individu merasa bahwa mereka tidak dapat dengan tepat mengatasi tuntutan yang ditujukan kepada mereka atau ancaman pada kesejahteraan mereka (Lazarus & Folkman, 1984). Definisi lainnya mengatakan bahwa stres merupakan suatu tuntutan yang mendorong organisme untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri (Nevid, Rathus dan Greene, 2005). Canon menggunakan istilah stres untuk menjelaskan respon tubuh terhadap hal- hal darurat (dalam Feist dan Feist, 2008).

  Selain beberapa definisi diatas, masih banyak definisi-definisi stres konteks-konteks tertentu yang nantinya digunakan dalam penelitian ini yakni sebagai berikut : a. Stres Sebagai Respon

  Pada awalnya, Canon (1929) melihat stres sebagai respon fisiologis yang mana dikenal sebagai fight-or-flight response. Ketika menemui situasi yang berbahaya, aktivitas detak jantung dan kesiagaan manusia (atau hewan) meningkat. Hal tersebut dapat menimbulkan konsekuensi baik positif dan negatif. Positif karena hal tersebut membuat seseorang dapat secara cepat bereaksi, dan negatif karena hal tersebut merugikan kesehatan apabila keadaan siaga tersebut berlangsung terus menerus (dalam Lyons dan Chamberlain, 2006).

  Kemudian pada tahun 1956, Hans Selye mengungkapkan sebuah konsep yang dikenal dengan General Adaptation Syndrome (GAS). Dalam konsep tersebut ada tiga fase reaksi (fase bagaimana seseorang beradaptasi dengan stres). Fase tersebut ialah : fase alarm (alarm phase), dimana tubuh mengaktivasi sistem untuk merespon stresor, meliputi kesiagaan sistem saraf dan perubahan tingkat hormon tertentu; fase resistensi (resistance phase), dimana sistem saraf, hormon dan kekebalan tubuh tetap berada dalam keadaan tinggi/siaga, sebagai cara tubuh untuk mencoba beradaptasi dengan stresor; fase

  keletihan (exhaustion phase), dimana tubuh gagal untuk beradaptasi,

  sistem kekebalan tubuh melemah, dan disini batas resistensi dan

  Dalam perkembangannya, stres sebagai respon dapat dilihat sebagai reaksi fisiologis dan psikologis seseorang terhadap suatu kejadian atau situasi (Lyons dan Chamberlain, 2006). Definisi stres sebagai respon merujuk pada suatu keadaan stres; individu dibicarakan sebagai seseorang yang sedang bereaksi terhadap stres, berada dalam situasi yang stres, dan sebagainya (Lazarus dan Folkman, 1984).

  Dalam penelitian ini stres yang dilihat sebagai respon diukur dengan menggunakan skala Symptoms of Stress.

  b. Stres Sebagai Stimulus Stres sebagai stimulus dilihat sebagai sesuatu dari lingkungan yang memicu reaksi seperti yang dijelaskan pada stres sebagai respon.

  Pada awalnya terdapat paradigma mengenai major life events. Paradigma ini fokus pada stres sebagai suatu faktor lingkungan yang terletak diluar individu, dan berasumsi bahwa mengadaptasi major

  events mengarah pada respon fisiologis yang sama dengan yang

  diungkapkan dalam GAS milik Selye. Oleh karena itu, mengalami kejadian-kejadian besar (major events) dapat berkontribusi terhadap munculnya penyakit (Lyons dan Chamberlain, 2006).

  Kemudian muncul paradigma mengenai minor life events. Paradigma ini fokus pada bagaimana minor life events seperti kesulitan sehari-hari (seperti tidak mendapat tempat parkir, terjebak dalam kemacetan) berpengaruh ada kesehatan fisik. Secara umum, kesulitan memprediksikan kesehatan, dan kesulitan sehari-hari tersebut lebih memiliki pengaruh terhadap kesehatan (Lyons dan Chamberlain, 2006).

  Menurut Lazarus dan Folkman, definisi stres sebagai stimulus fokus pada kejadian-kejadian dalam lingkungan seperti bencana alam, kondisi yang berbahaya, penyakit atau dipecat. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa situasi tertentu secara normatif menjadi situasi yang penuh tekanan (stressful) tetapi tidak memperhatikan perbedaan individual dalam menilai situasi tersebut (Lazarus dan Folkman, 1984).

  Dalam penelitian ini stres yang dilihat sebagai stimulus diukur dengan menggunakan skala The inventory of College Students’ Recent Life

  Experiences .

  c. Stres dan Cognitive Appraisal

  Cognitive appraisal lebih mudah dipahami sebagai proses

  mengkategorisasikan suatu encounter dan berbagai aspeknya, dengan mengingat pentingnya hal tersebut bagi kesejahteraan. Cognitive

  appraisal dapat dibedakan menjadi primary appraisal dan secondary appraisal (Lazarus dan Folkman, 1984).

  1) Primary Appraisal dapat dibedakan menjadi : Tidak relevan, ketika suatu pertemuan dengan lingkungan tidak membawa implikasi terhadap kesejahteraan seseorang.

  Individu tersebut tidak memiliki investasi mengenai lingkungan dengan nilai, kebutuhan, atau komitmen; tidak ada yang akan berkurang atau meningkat dalam transaksi tersebut.

  Tidak berbahaya-positif (Benign-positive appraisal) terjadi jika hasil dari suatu pertemuan ditafsirkan positif, yakni, jika hal tersebut meningkatkan atau menjanjikan untuk peningkatkan kesejahteraan. Appraisal ini ditandai oleh emosi yang menyenangkan seperti kegembiraan, cinta, kebahagiaan, keriangan atau ketentraman. Akan tetapi secara total, tidak benign-positive

  

appraisal yang tanpa derajat ketakutan sangat jarang terjadi. Untuk

  beberapa orang, selalu ada prospek bahwa sesuatu yang diinginkan akan menjadi masam/tidak diinginkan, dan untuk itu seseorang percaya bahwa dia harus membayar sesuatu yang baik dengan hal yang tidak baik kemudian, benign-positive appraisal dapat menghasilkan kecemasan. Ilustrasi tersebut mengantisipasi ide bahwa appraisal dapat menjadi kompleks dan tercampur, tergantung pada faktor individu dan konteks.

  Stress appraisal meliputi kerugian/kehilangan, ancaman

  dan tantangan. Dalam kerugian/kehilangan, sejumlah kerusakan terhadap individu berlangsung terus menerus, seperti dalam luka atau penyakit yang menjadikan tidak mampu, rekognisi sejumlah kerusakan pada diri atau harga diri sosial, atau kehilangan seseorang yang dicintai. Peristiwa hidup yang paling merusak yang besar. Ancaman lebih merupakan kerusakan /kehilangan yang belum terjadi tetapi telah diantisipasi. Meskipun saat kerusakan/kehilangan terjadi, hal tersebut selalu tergabung dengan ancaman karena setiap kehilangan juga selalu mengandung implikasi negatif di masa yang akan datang. Tantangan, sering terjadi dengan ancaman, juga sering disebut mobilisasi terhadap usaha coping. Perbedaan yang utama adalah bahwa challenge appraisal fokus pada potensi untuk meningkatkan atau menumbuhkan keterkaitan dalam suatu pertemuan dan hal tersebut dikarakteristikan oleh emosi yang menyenangkan seperti hasrat, ketertarikan, kegembiraan, sedangkan ancaman terpusat pada emosi negatif seperti ketakutan, kecemasan,dan kemarahan.

  Penilaian ancaman dan tantangan tidak dilihat sebagai kutub dari satu hal yang tersambung. Ancaman dan tantangan dapat terjadi secara bersamaan, dan harus dipertimbangkan sebagai hal yang terpisah, meskipun seringkali terkait konstruk. Selain itu, hubungan antara penilaian ancman dan tantangan dapat berubah menjadi suatu encounter yang berkembang. Suatu situasi yang dinilai lebih sebagai ancaman daripada tantangan dapat menjadi dinilai lebih sebagai tantangan daripada ancaman karena usaha koping secara kognitif yang mana mampu membuat seseorang melihat suatu kejadian lebih positif, atau melalui perubahan dalam lingkungan yang mengubah hubungan antara orang yang bermasalah-lingkungan menjadi lebih baik.

  Tantangan, sebagai sesuatu yang berlawanan dengan ancaman, memiliki implikasi penting terhadap adaptasi. Kualitas fungsi seseorang cenderung lebih baik dalam tantangan karena orang tersebut merasa percaya diri, sedikit emosi yang meluap- luap, dan lebih mampu untuk melihat sumber-sumber yang tersedia daripada orang-orang yang terhambat. Pada akhirnya, adalah hal yang mungkin bhawa respon stres psikologis untuk tantangan berbeda dengan ancaman, sehingga penyakit adaptasi dapat berkurang (Lazarus dan Folkman, 1984). 2) Secondary Appraisal

  Saat seseorang berada dalam bahaya, baik itu ancaman maupun tantangan, sesuatu harus dilakukan untuk mengatur situasi.

  Dalam kasus ini, bentuk appraisal yang lebih tinggi menjadi penting, yakni evaluasi terhadap apa yang mungkin dan bisa dilakukan, yang disebut sebagai secondary appraisal. Secondary

  appraisal merupakan proses evaluatif yang kompleks terhadap

  sejumlah pilihan coping yang tersedia, kemungkinannya pilihan

  coping yang diberikan akan berhasil sesuai dengan yang

  seharusnya, dan kemungkinannya bahwa seseorang dapat mengaplikasikan strategi yang biasa digunakan atau mengatur dan primary appraisal terhadap sesuatu yang berbahaya berinteraksi satu sama lain, membentuk derajat atau tingkat stres dan kekuatan dan kualitas (atau konten) reaksi emosional (Lazarus dan Folkman, 1984). Dalam penelitian ini stres yang terkait dengan cognitive appraisal diukur dengan menggunakan skala Perceived Stress .

  Stres sebagai suatu konstruk memiliki definisi yang dapat dikatakan tidak terbatas. Oleh karena itu, peneliti berusaha tidak terbatas pada salah satu definisi stres untuk melakukan penelitian ini. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan definisi stres sebagai respon, stres sebagai stimulus dan stres yang terkait dengan cognitive appraisal. Dengan demikian, pengukuran stres yang dilakukan dalam penelitian ini menjadi lebih luas.

  2. Faktor-faktor Psikologis yang Dapat Mempengaruhi Stres Faktor-faktor psikologis yang dapat mempengaruhi stres ialah

  (Nevid et al., 2005):

  a. Cara coping stress Coping stress dibedakan menjadi dua, yaitu coping yang berfokus pada emosi (emotion-focused coping) dan coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping). Pada coping yang berfokus pada emosi, individu berusaha segera mengurangi dampak situasi. Coping yang berfokus pada emosi tidak membantu individu dalam mengembangkan cara yang lebih baik untuk mengatur stressor, sedangkan pada coping yang berfokus pada masalah, orang menilai stresor yang mereka hadapi dan melakukan sesuatu untuk mengubah stresor atau memodifikasi reaksi mereka untuk meringankan efek dari stresor tersebut. Coping yang berfokus pada masalah akan menjadi coping yang lebih efektif.

  b. Harapan akan efikasi diri Harapan mengenai efikasi diri berkenaan dengan harapan seseorang terhadap kemampuan dirinya dalam mengatasi tantangan yang dihadapi, harapan terhadap kemampuan diri untuk dapat menampilkan tingkah laku terampil, dan harapan terhadap kemampuan diri untuk dapat menghasilkan perubahan hidup yang positif. Dituliskan juga bahwa apabila efikasi diri meningkat maka tingkat hormon stres menurun.

  c. Ketahanan psikologis Ketahanan psikologis merupakan sekumpulan trait individu yang dapat membantu dalam mengelola stres yang dialami. Ada tiga trait yang membentuk ketahanan psikologi, yakni : komitmen yang tinggi, tantangan yang tinggi serta pengendalian yang kuat terhadap hidup. Secara psikologis orang yang ketahanan psikologisnya tinggi cenderung lebih efektif dalam mengatasi stres dengan menggunakan d. Optimisme Dari beberapa penelitian disimpulkan bahwa optimisme berkorelasi dengan kesehatan, dimana individu yang memiliki nilai optimisme tinggi merupakan individu yang lebih sehat.

  e. Dukungan sosial Dengan adanya dukungan sosial, akan membantu seseorang menemukan alternatif cara coping dalam menghadapi stresor atau sekedar memberi dukungan emosional yang dibutuhkan selama masa- masa sulit.

  f. Kebanggaan akan identitas etnik Kebanggaan terhadap identitas ras atau identitas etnik dapat membantu individu menghadapi stres yang disebabkan oleh rasisme dan intoleransi.

B. Dependensi

  1. Pengertian Dependensi Dalam ilmu psikologi, konsep dependensi merupakan konsep yang terkandung dalam beberapa teori. Salah satu persepektif yang menggambarkan konsep dependensi adalah psikologi abnormal atau dengan kata lain dalam perspektif psikologi abnormal dependensi dianggap sebagai suatu gangguan kepribadian. Bornstein, dalam bukunya sebenarnya merupakan suatu konsep yang terkandung dalam setiap teori kepribadian, baik secara eksplisit maupun implisit. Misalnya, dalam teori humanistik, dependensi dianggap sebagai perilaku defensif, yang dilakukan individu untuk meminimalkan kecemasan dan ketidaknyamanan yang diasosiasikan dengan kegagalan individu untuk menjadi individu yang teraktualisasi secara penuh. Dalam perspektif ini, individu yang tidak teraktualisasi dianggap menjadi sulit untuk diajak independen (mandiri), mengatur perilakunya sendiri dan bahkan menjadi bergantung pada orang lain untuk mendapatkan perlindungan, tuntunan dan dukungan.

  Seperti teori kepribadian humanistik, teori eksistensial memandang dependensi sebagai perilaku defensif. Disini dependensi merepresentasikan suatu usaha untuk mencabut/membatalkan (contoh :

  

externalize ) tanggung jawab dari aksi seseorang sebagai usaha

  penyangkalan akan kematian seseorang dan isolasi dari dunia yang tidak terprediksi dan terkontrol. Konsekuensinya, pandangan dunia orang yang dependen menjadi semakin dangkal dan terdistorsi. Berdasarkan model eksistensial, individu yang dependen pada akhirnya melihat dirinya sebagai 1) dikendalikan oleh orang lain dan kejadian-kejadian diluar dirinya, 2) tidak berdaya untuk mempengaruhi hasil dari suatu kejadian, 3) tidak bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari tingkah laku mereka sendiri (Borstein,1993).

  Meskipun setiap teori kepribadian menawarkan suatu asosiasi pada yang lain. Dua model yang memiliki pengaruh pervasif terhadap teori dan penelitian dependensi ialah pendekatan psikodinamika dan pandangan pembelajaran sosial (Bornstein, 1993).

  Berikut merupakan penjelasan konsep dependensi menurut beberapa perspektif: a. Konsep Dependensi Sebagai Gangguan Kepribadian

  Dependensi juga dibicarakan dalam salah satu jenis gangguan kepribadian, yaitu gangguan kepribadian dependen. Dalam Diagnostic

  and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (American Psychiatric Association, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders

  IV-TR, 2000), gangguan kepribadian dependen merupakan suatu kebutuhan yang menginternalisasi dan berlebihan untuk diperhatikan oleh orang lain yang berujung pada perilaku patuh dan perilaku tidak bisa mandiri serta takut akan perpisahan. Hal ini dimulai pada masa dewasa awal dan muncul dalam konteks yang beraneka ragam. Gangguan ini ditandai oleh paling tidak lima (atau lebih) dari kriteria berikut ini :

  1) Memiliki kesulitan dalam pengambilan keputusan sehari-hari tanpa nasehat dan persetujuan yang berlebihan dari orang lain.

  2) Membutuhkan orang lain untuk memikul tanggung jawab mengenai hal-hal utama dalam hidupnya.

  3) Memiliki kesulitan dalam mengekspresikan ketidaksetujuan dukungan dan persetujuan dari orang lain (catatan : tidak termasuk ketakutan yang realistik akan balas jasa/ganti rugi).

  4) Memiliki kesulitan dalam mengambil inisiatif atau melakukan hal-hal pada dirinya sendiri (lebih karena kurangnya rasa percaya diri dalam penilaian atau kemampuaan daripada kurangnya motivasi atau energi).

  5) Melakukan usaha keras yang berlebihan untuk mendapatkan pemeliharaan dan dukungan dari orang lain, mengarah pada kerelaan untuk melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan. 6) Merasa tidak nyaman dan tak berdaya ketika sendiri karena ketakutan yang berlebihan akan ketidakmampuan untuk memperhatikan atau merawat dirinya sendiri. 7) Amat sangat mencari/mengejar suatu hubungan sebagai sumber perhatian dan dukungan ketika suatu hubungan yang dekat berakhir. 8) Penuh dengan ketakutan yang tidak realistik akan ditinggalkan atau tidak diperhatikan.

  Menurut Paul T. Costa, Jr., dan Thomas A. Widiger (2005) dalam DSM IV-TR, kriteria diagnostik yang diberikan pada gangguan kepribadian dependen juga dapat dijelaskan mengguanakan perspektif teori kepribadian lima faktor, yakni : terdapat contoh-contoh

  

agreeableness yang patologis seperti kerelaan yang berlebihan melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan), kerendahan hati (membutuhkan nasehat dan persetujuan dari orang lain dalam membuat keputusan sehari-hari). Selain itu, terdapat banyak kriteria yang menunjukkan neurotism, yakni kerentanan (psikologis), kecemasan, kesadaran diri (seperti merasa tidak mampu menjaga diri sendiri, merasa tidak nyaman dan tidak berdaya saat sendiri, kurangnya rasa percaya diri dalam suatu penilaian atau kemampuannya, takut kehilangan dukungan dan persetujuan).

  b. Konsep Dependensi Menurut Pendekatan Pembelajaran Sosial Menurut Bornstein (1993) model pembelajaran sosial mengenai dependensi pada awalnya menganggap dependensi sebagai suatu dorongan (seperti lapar dan kecemasan) yang terbentuk melalui adanya penguatan utama (seperti makanan dan kehangatan) dalam konteks hubungan bayi-perawat (Dollard-Miller, Heathers, Sears, Walters & Parke, Whiting). Secara ringkas Ainsworth mengungkapkan bahwa pandangan pembelajaran sosial klasik, dependensi diangggap sebagai suatu kelas perilaku, yang dipelajari dalam konteks dimana dependensi bayi berhubungan dengan ibunya. Meskipun hubungan ketergantungan pada awalnya merupakan suatu hubungan yang khusus, selanjutnya dependensi dilihat sebagai penggeneralisasian terhadap hubungan interpersonal lainnya.

  Beberapa variasi teori pembelajaran sosial menekankan perilaku dependen, teori-teori pembelajaran sosial memiliki kemiripan dasar hipotesis bahwa seseorang “belajar” menjadi tergantung. Secara implisit, dalam perspektif pembelajaran sosial, perilaku dependen ditunjukan karena mereka mendapat reward, sudah mendapat reward atau akan diberi reward. Singkatnya, model ini berhipotesis bahwa perbedaan individu dalam dependensi saat dewasa dihasilkan dari variasi dalam derajat kepasifan (degree to which passive), seberapa perilaku dependen mendapat penguatan dari perawat dan dari figur signifikan lainnya (saudara kandung, guru, dsb.) selama awal dan tengah masa anak-anak.

  c. Konsep Dependensi Menurut Pendekatan Psikodinamika Dalam teori psikoanalis yang dikemukakan oleh Sigmund

  Freud terdapat teori yang disebut dengan tahap-tahap perkembangan psikoseksual. Tahap-tahap ini menekankan pentingnya tahun-tahun awal dalam kehidupan. Menurut Freud pengalaman-pengalaman pada tahun-tahun awal inilah yang akan menentukan karakteristik kepribadian individu dewasa. Kelima tahap psikoseksual tersebut adalah sebagai berikut : oral stage, anal stage, phallic stage, latency

  stage dan genital stage (Hergenhahn dan Olson, 2007). Oral dependency merupakan suatu konsep yang terkait dengan tahap yang

  pertama, yakni oral stage.

  Tahap oral terjadi selama tahun pertama kehidupan. Pada tahap terbesar dari stimulasi dan kesenangan terletak (Hergenhahn dan Olson, 2007). Mulut sebagai erogenous zone pada tahap ini setidaknya memiliki lima fungsi terpenting, yakni : memasukkan, menahan, menggigit, meludahkan keluar dan menutup (Hall, 1995). Seorang dewasa yang mengalami oral fixation (dengan kata lain tidak terpuaskan saat berada pada tahap oral stage) akan dipenuhi oleh aktivitas-aktivitas oral seperti makan, minum, merokok, menggigit jari, berciuman, dan sebagainya (Bornstein, 1993). Namun aktivitas- aktivitas oral tidak hanya berupa aktivitas-aktivitas yang langsung terkait dengan mulut. Kelima aktivitas terpenting mulut diatas dapat merupakan suatu prototype. Berikut penjelasan mengenai kelima aktivitas tersebut :

  1) Aktivitas memasukkan sesuatu ke dalam mulut merupakan prototype untuk memiliki sesuatu.

  2) Aktivitas menahan sesuatu di dalam mulut merupakan prototype untuk kekerasan hati dan kesungguhan.

  3) Aktivitas menggigit merupakan prototype untuk sifat merusak. 4) Aktivitas meludahkan keluar untuk menolak dan menghina. 5) Aktivitas menutup mulut merupkan prototype untuk membangkang dan negativisme.

  Sebagai contoh, seseorang yang berorientasi pada prototype memasukkan sesuatu ke dalam mulut tidak berarti hanya memasukkan hal yang sifatnya ‘masuk’ ke individu tersebut. Misalnya keinginan untuk mendapatkan cinta, pengetahuan, uang, kekuasaan, kepemilikan materi, keserakahan dan sebagainya. Hal-hal tersebut berkembang karena pada tahun-tahun pertama inividu tidak cukup mendapat makanan atau cinta, khususnya dari seorang ibu. Individu yang berada pada tahap oral (bayi) tentunya bergantung pada orang lain (biasanya ibu), untuk mendapat kepuasan terkait dengan mulut. Ibu dapat menguasai tingkah laku bayi dengan misalnya memberikan makanan kepadanya kalau bayi menuruti keinginan ibunya dan menahan untuk memberikan makanan ketika bayi itu tidak menurut. Pemberian makanan terhubungkan dengan cinta dan persetujuan, sedangkan penahanan pemberian makanan terhubungkan dengan penolakan serta pencelaan. Oleh karena itu, bayi akan menjadi cemas ketika ibunya menolak atau meninggalkannya, karena hal ini berarti bayi (individu) akan kehilangan pemberian keperluan-keperluan mulut yang diinginkan. Ketika kecemasan tertimbun karena ancaman terhadap kesenangan bayi ini maka bayi cenderung mengembangkan sikap yang bergantung pada ibunya, orang lain, bahkan secara umum pada dunia.

  Hal ini terjadi karena individu belajar bahwa benda-benda yang ia inginkan akan diberikan kepadanya bila ia berlaku baik, dan sebaliknya akan diambil darinya bila ia berlaku buruk. Individu tipe ini akan disebut sebagai individu yang bergantung kepada mulut (individu

  Individu dengan kepribadian oral merupakan individu yang narsisistik dimana individu tersebut hanya tertarik pada diri mereka sendiri dan tidak memiliki pengenalan yang baik terhadap orang lain sebagai individu yang terpisah. Orang lain hanya dilihat dari apa yang dapat orang tersebut berikan. Kepribadian oral selalu meminta sesuatu dengan rendah hati, memohon atau dengan permintaan yang agresif.

  Karakteristik-karakteristik kepribadian oral lainnya seperti banyak menuntut, tidak sabar, pencemburu, mudah iri hati, mudah mendengki, penuh kemarahan/mudah marah, tertekan (merasa kosong), penuh kecurigaan dan pesimistik (Pervin dan John, 1997).

  Robert F. Bornstein (1993), mendefinisikan dependensi sebagai gaya (tipe) kepribadian dengan karakterisitik yang terdiri dari 4 komponen utama, yakni:

  1) Motivasional (ditandai dengan adanya kebutuhan akan tuntunan, persetujuan dan dukungan dari orang lain) 2) Kognitif (memiliki persepsi diri yang relatif tidak berdaya dan tidak berguna serta meyakini bahwa orang lain penuh daya dan dapat mengendalikan situasi)

  3) Afektif (memiliki kecenderungan untuk menjadi cemas dan penuh ketakutan ketika diminta dalam menjalankan fungsi yang independen, khususnya ketika hal tersebut akan dinilai

  4) Perilaku (cenderung untuk mencari pertolongan, dukungan, persetujuan, tuntunan dari orang lain dan cenderung mengalah pada orang lain dalam transaksi interpersonal. Definisi menurut Bornstein ini pada dasarnya merupakan turunan dari apa yang telah dijelaskan Freud. Hanya saja dalam definisi Bornstein, pendeskripsian dependensi dikelompokkan menjadi empat komponen utama. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan konsep dependensi yang diungkapkan oleh Bornstein. Konsep yang disampaikan Bornstein dipilih karena menurut peneliti definisi yang diberikan Bornstein merupakan definisi yang lebih mudah untuk dipahami.

  2. Pengukuran Dependensi Dependensi dapat diukur secara obyektif maupun proyektif.

  Namun pengukuran dependensi dengan dua cara yang berbeda akan menghasilkan skor yang berbeda. As McClelland, Koestner, dan Weinberger (1989) menunjukkan bahwa kebanyakan tes kepribadian self

  report mengukur kebutuhan secara eksplisit (atau self-atributed) – sebab

  pernyataan seseorang mengenai karakteristiknya berdasarkan pada fungsi dan pengalaman mereka sehari-hari. Sebaliknya, tes proyektif mengukur kebutuhan atau dorongan-dorongan implisit yang secara otomatis mempengaruhi perilaku responden yang sedikit atau tidak disadari oleh

  Dalam penelitian ini, konsep dependensi yang diambil menurut Bornstein memiliki empat komponen : motivasional, kognitif, afektif dan perilaku seperti telah dijelaskan sebelumnya. Empat komponen yang tekandung dalam dependensi tersebut mengarahkan dependensi sebagai apa yang disebut oleh McAdams sebagai personal concerns. Sebagaimana disebutkan dalam penelitiannya yang berjudul What Do We Know When

  

We Know a Person (McAdams, 1995), personal concerns, bila

  dibandingkan dengan dispositional traits , secara khusus meliputi motivasional, perkembangan, atau pola strategi. Personal concerns berbicara mengenai apa yang seseorang inginkan, seringkali selama periode-periode khusus dalam kehidupan atau dalam aksi tertentu, dan metode hidup apa yang digunakan seseorang (seperti strategi, perencanaan, pertahanan diri, dan sebagainya) dalam tujuannya untuk memperoleh yang diinginkan atau menghindari apa yang tidak diinginkan dalam hidup seseorang, dalam tempat-tempat tertentu, dan/atau dalam peran-peran tertentu.

  Dengan komposisi yang demikian, personal concern merupakan bagian dari kepribadian seseorang yang lebih cocok diukur dengan pengukuran secara proyektif (McAdams, 1995). Dengan demikian dependensi dalam penelitian ini, yang termasuk dalam kategori personal

  concerns akan diukur dengan pengukuran secara proyektif.

  Alat pengukuran yang digunakan untuk mengukur dependensi Masling. Alat ini dipilih karena Rorschach merupakan alat dengan teknik proyektif dan kategori yang ada pada skala tersebut merupakan hal-hal yang dibuat berdasarkan konsep yang dijelaskan oleh Bornstein.

C. Mahasiswa

  Mahasiswa dalam perspektif psikologi perkembangan merupakan individu yang berada pada masa dewasa awal. Usia dewasa awal yang oleh ahli sosiologi, Kenneth Kenniston disebut sebagai masa muda merupakan periode transisi antara masa remaja dan masa dewasa yang merupakan masa perpanjangan kondisi ekonomi dan pribadi yang sementara. Menurut Erikson, masa ini terjadi dalam rentang 20an hingga 30an tahun (Santrock, 2002).

  Sementara itu, dalam perspektif psikososial, periode ini merupakan periode dimana perubahan progresif dari rasa individualis dan egosentris menuju hubungan yang lebih baik dengan significant others. Daniel Levinson (1978) mendefinisikan masa ini sebagai periode dimana stabilitas terombang-ambing dan periode stres, yang ditandai dengan transisi yang terjadi pada waktu kronologis tertentu selama rentang kehidupan (Hutchison, 2003).

  Secara khusus tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa dimulai pada terjadinya masa transisi dari sekolah menengah atas menuju kehidupan universitas. Dalam hal ini top-dog phenomenon terjadi. Fenomena yang dimaksud adalah adanya perubahan dari siswa yang paling tua (senior) di sekolah menengah atas menjadi siswa yang paling muda dan paling tidak mahasiswa baru di universitas lebih banyak mengalami tekanan dan depresi (Sabtrock, 2002).

  

D. Hubungan Antara Tingkat Dependensi dan Tingkat Stres pada

Mahasiswa

  Hubungan antara tingkat dependensi dan tingkat stres pada mahasiswa dapat dilihat dari adanya komponen dalam variabel dependensi yang merupakan faktor faktor yang dapat meningkatkan stres. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: dependensi merupakan tipe atau gaya kepribadian dengan karakteristik yang terdiri dari empat komponen utama, yakni komponen motivasional, kognitif, afektif dan perilaku (Bornstein, 1993).

  Komponen motivasional meliputi adanya kebutuhan akan tuntunan, persetujuan dan dukungan dari orang lain.

  Komponen kognitif meliputi persepsi diri yang relatif tidak berdaya dan tidak berguna serta meyakini bahwa orang lain penuh daya dan dapat mengendalikan situasi. Dalam komponen kognitif tersebut persepsi diri yang relatif tidak berdaya dan berguna mengarah pada kurangnya efikasi diri dan optimisme, sedangkan meyakini bahwa orang lain mampu mengendalikan situasi, sementara tidak pada dirinya sendiri, mengarah pada salah satu komponen dari ketahanan psikologis yakni pengendalian terhadap hidup yang kurang (mengurangi ketahanan psikologis seseorang).

  Komponen Afektif meliputi adanya kecenderungan untuk menjadi independen, khususnya ketika hal tersebut dinilai oleh orang lain. Hal ini juga tertera dalam DSM IV-TR dan oleh Paul T. Costa, Jr., dan Thomas A. Widiger (2005) digolongkan dalam neurotism. Selain itu, dalam komponen afektif tersebut terkandung bahwa seseorang yang memiliki dependensi tinggi cenderung kurang atau tidak melihat sesuatu sebagai suatu tantangan yang harus dihadapi, dan hal ini menjadi salah satu komponen yang juga mengurangi ketahanan psikologis seseorang.

  Komponen perilaku meliputi kecenderungan untuk mencari pertolongan, dukungan, persetujuan, tuntunan dari orang lain dan cenderung mengalah pada orang lain dalam transaksi interpersonal. Dalam komponen perilaku ini, orang yang memiliki dependensi yang tinggi akan cenderung menyelesaikan masalahnya dengan jalan mencari dan meminta orang lain untuk memecahkan permasalahannya, dengan demikian individu tersebut cenderung melakukan emotion focused coping. Selain itu, komponen tersebut juga menunjukkan bagaimana individu dengan tingkat dependensi yang tinggi menjadi kurang atau tidak memiliki komitmen dalam melakukan tugas- tugasnya karena cenderung melimpahkannya pada orang lain, dan hal tersebut merupakan komponen yang juga mengurangi ketahanan psikologis individu tersebut.

  Dalam penjelasan tersebut maka dapat dikatakan bahwa individu dengan tingkat dependensi yang tinggi memiliki kebutuhan akan tuntunan, persetujuan dan dukungan dari orang lain, efikasi diri dan optimisme yang berfokus pada emosi (emotion focused coping), serta ketahanan psikologis yang rendah. Adanya karakteristik efikasi diri yang rendah, optimisme yang rendah, neurotism yang tinggi, kecenderungan menggunakan strategi koping yang berfokus pada emosi serta ketahanan psikologis yang rendah dapat meningkatkan tingkat stres seseorang. Karena karakteristik-karakteristik tersebut merupakan sebagian besar faktor-faktor yang dapat meningkatkan stres selain faktor dukungan sosial yang rendah, kebanggaan akan identitas etnik yang rendah, serta openness yang rendah.

  Selain itu, mahasiswa menghadapi tuntutan-tuntutan baru, seperti tuntutan yang terkait dengan kuliah maupun tuntutan yang terkait dengan relasi sosial, yang seringkali merupakan stresor yang dapat menjadikan individu-individu pada masa ini rentan terhadap stres. Oleh karena itu, peneliti memiliki hipotesis bahwa ada hubungan yang positif antara tingkat deependensi dan tingkat stres pada mahasiswa.

  Secara ringkas dinamika antara stres dan dependensi dapat dilihat dalam skema berikut ini : Skema dinamika antara stres dan dependensi

  Dependensi merupakan tipe atau gaya kepribadian dengan karakteristik yang terdiri dari empat komponen utama, yakni (Bornstein, 1993) :

  KOGNITIF memiliki persepsi diri yang relatif tidak berdaya dan tidak berguna serta meyakini bahwa orang lain penuh daya dan dapat mengendalikan situasi AFEKTIF memiliki kecenderungan untuk menjadi cemas dan penuh ketakutan ketika diminta dalam menjalankan fungsi yang independen, khususnya ketika hal tersebut akan dinilai oleh orang lain PERILAKU cenderung untuk mencari pertolongan, dukungan, persetujuan, tuntunan dari orang lain dan cenderung mengalah pada orang lain dalam transaksi interpersonal

  Cenderung melakukan emotion focus coping Tidak memiliki komitmen untuk berusaha Tidak/kurang memiliki efikasi Mempersepsi bahwa dirinya tidak bisa mengendalikan situasi Pesimis (tidak optimis) Tidak/kurang melihat sesuatu sebagai tantangan yang harus ditaklukan Ketahanan psikologis

  Kebanggaan akan identitas etnik rendah Dukungan sosial rendah

  Neurotism tinggi Cara coping stress: emotion focused coping Efikasi diri rendah Optimisme rendah T

  I N G K A T S T R E S T

  I N G G

  I Tuntutan untuk menjadi otonom Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat stres :

E. Hipotesis Penelitian

  Ada hubungan yang positif antara tingkat dependensi dan tingkat stres pada mahasiswa. Dimana jika tingkat dependensi tinggi maka tingkat stres yang dimiliki mahasiswa tinggi. Begitu juga sebaliknya, jika tingkat dependensi rendah maka tingkat stres yang dimiliki mahasiswa rendah.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif-korelasional. yang

  bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara dua variabel. Peneliti memilih jenis penelitian ini karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara tingkat dependensi dan tingkat stres pada mahasiswa.

  B. Identifikasi Variabel Penelitian

  Variabel bebas : tingkat dependensi Variabel tergantung : tingkat stres

  C. Definisi Operasional Variabel Penelitian

  1. Dependensi Dalam penelitian ini, tingkat dependensi yang dimaksud adalah hasil dari skala Rorschach Oral Dependency yang didapat dari hasil analisis isi dari tes proyektif yakni tes Rorschach. Semakin tinggi skor yang dihasilkan dari pengukuran skala Rorschach Oral Dependency akan menunjukkan tingkat dependensi yang semakin tinggi.

  2. Stres Stres yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan stres sebagai respon, yang akan diukur dengan skala Symptoms of Stress; stres sebagai stimulus yang akan dikur dengan menggunakan skala adaptasi dari The

  Inventory of College Students’ Recent Life Experiences ; dan stres yang

  terkait dengan cognitive appraisal, yang akan diukur dengan menggunakan skala Perceived Stress. Dalam pengukuran menggunakan ketiga skala tersebut, skor yang semakin tinggi menunjukkan tingkat stres yang semakin tinggi.

D. Alat Pengumpulan Data

  Dalam penelitian ini, stres akan diukur dengan beberapa alat ukur yakni : Symptoms of Stress Scale, The Inventory of College Students’ Recent

  Life Experiences , dan Perceived Stress Scale. Masing-masing dari ketiga alat

  tersebut mewakili suatu konstruk tertentu. Hal ini dapat dilihat lebih jelas dalam tabel 1. Sementara itu, variabel dependensi akan diukur dengan skala

  Rorschach Oral Dependency .

  Tabel 1 Blueprint Skala Stres

  Konstruk Skala No. Aitem Stres sebagai respon Symptoms of Stress Scale

  (Bagian I) 1 - 10 Stres sebagai stimulus The Inventory of College 1 - 49

  Experiences (Bagian II)

  Stres terkait dengan cognitive Perceived Stress Scale 1 - 10

  appraisal (Bagian III)

  Pada ketiga skala stres, penerjemahan dilakukan dengan tiga proses oleh peneliti dan dua orang yang berkompetensi dalam bahasa inggris. Proses pertama, peneliti menerjemahkan menerjemahkan ketiga skala stres dalam bahasa indonesia. Proses kedua, salah satu orang yang berkompetensi dalam bahasa inggris menerjemahkan kembali terjemahan peneliti ke dalam bahasa inggris. Proses terakhir, ketiga skala stres berbahasa inggris yang dihasilkan dalam proses kedua dibandingkan dengan ketiga skala stres asli, apakah keduanya memiliki makna yang sama. Proses terakhir ini dilakukan oleh satu orang lainnya.

  Berikut ini penjelasan mengenai masing-masing alat pengumpulan data :

  1. Symptoms of Stress Scale Skala ini mengukur frekuensi seseorang mengalami permasalahan baik fisik maupun psikologis yang merupakan simtom- simtom stres yang biasa terjadi.

  Simtom-simtom tersebut akan diukur dengan frekuensi sebagai berikut tidak pernah (skor = 0), sekali sebulan (skor = 1), sekali seminggu (skor = 2), dua sampai tiga kali seminggu (skor = 3), setiap malam atau setiap pagi (skor = 4), sekali atau dua kali sehari (skor = 5) dan hampir

  2. The Inventory of College Students’ Recent Life Experiences Skala ini terdiri dari 49 aitem, pada dasarnya didesain untuk mengidentifikasi keterbukaan individu terhadap sumber-sumber stres atau kesulitan-kesulitan (hassles) dan juga mengidentifikasi tingkat stressor tersebut dialami dalam satu bulan terakhir. Skala ini diciptakan khusus untuk mahasiswa. Berikut beberapa contoh aitem dari skala The Inventory

  

of College Students’ Recent Life Experiences yang telah diterjemahkan :

Adaptasi dari The Inventory of College Students’ Recent Life Experiences

  Berikut ini adalah daftar beberapa pengalaman yang Anda telah alami beberapa kali atau lebih. Silahkan mengindikasikan setiap pengalaman, seberapa besar hal tersebut menjadi bagian hidup Anda selama satu bulan terakhir ini. Tandailah jawaban Anda berdasarkan petunjuk berikut ini: Intensitas kejadian dalam satu bulan terakhir: 0 = Sama sekali bukan bagian dari hidup saya 1 = Hanya sedikit dari bagian hidup saya 2 = Sebagian besar hidup saya 3 = Benar-benar bagian besar hidup saya

  _____ Dikecewakan oleh teman-teman (aitem no.2) _____ Terlalu banyak tugas yang harus dikerjakan (aitem no. 5) _____ Tidak memiliki cukup waktu untuk bersantai (aitem no. 13) _____ Pertentangan dengan keluarga Anda (aitem no. 28) _____ Menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan, seperti di bank, toko, dll. (aitem no. 43) _____ Kekecewaan atas kemampuan atletis/keolahragaan Anda

  (aitem no. 49)

  3. Perceived Stress Scale

  Perceived Stress Scale merupakan instrumen psikologis yang

  mengukur persepsi terhadap stres, yang paling banyak digunakan. PSS bukan merupakan alat diagnostik sehingga tidak ada cut-off terhadap aitem-aitemnya. Secara khusus, Perceived Stress Scale mengukur derajat dimana situasi-situasi dalam kehidupan seseorang dinilai sebagai situasi yang penuh tekanan (stressfull). Aitem-aitem dalam skala ini didesain untuk mengungkapkan seberapa besar hal-hal yang ditemukan seseorang dalam hidupnya tidak dapat diprediksi, tidak dapat dikendalikan dan overload .

  Berikut merupakan beberapa contoh aitem dari Perceived Stress

  Scale yang telah diterjemahkan : Perceived Stress Scale

  Pertanyaan-pertanyaan dalam skala ini menanyakan bagaimana perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran Anda selama satu bulan terakhir ini. Dalam semua kasus, Anda akan diminta untuk mengindikasikannya dengan melingkari seberapa sering anda merasa dan memikirkannya. Nama : Usia : Jenis Kelamin : P / L (lingkarilah)

  : tidak pernah 1 : hampir tidak pernah 2 : kadang-kadang 3 : cukup sering 4 : sangat sering

  1) Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda jengkel karena sesuatu terjadi tidak

  (aitem nomor 1) 2) Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda yakin dengan kemampuan Anda mengatasi masalah-masalah pribadi Anda?.................................0

  1

  2

  3

  4 (aitem nomor 4)

  3) Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda menyadari bahwa Anda tidak mampu mengatasi segala hal yang harus Anda lakukan?...............................0

  1

  2

  3

  4 (aitem nomor 6)

  Dalam Perceived Stress Scale, aitem nomor 4, 5, 7 dan 8 di skor secara terbalik (0 = 4, 1 = 3, 2 = 2, 3 = 1, dan 4 = 0)

  4. Skala Rorschach Oral Dependency (ROD Scale) Pengukuran tingkat dependency akan dilakukan dengan menggunakan tes proyektif yakni dengan skala Rorschach Oral

  Dependency (ROD) yang akan dilakukan secara klasikal maupun

  individual. Kedua administrasi dapat dilakukan karena kedua administrasi ini terbukti tidak memberikan efek untuk hasil yang akan diperoleh sejauh dilakukan dengan prosedur yang sama (Bornstein, 1993).

  Prosedur administrasi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :10 bercak tinta ditunjukan kepada subyek, dan tiap bercak ditunjukan dalam beberapa menit. Subyek diminta untuk menuliskan dua atau tiga hal yang meraka lihat dalam bercak-bercak tinta tersebut, dengan dua respon pada kartu IV, V, VI, VII, IX dan tiga respon untuk 5 kartu lainnya.

  Subyek menuliskan deskripsi yang nantinya akan di skor untuk respon yang digunakan dalam skoring ROD : 1. dependent imagery (seperti figur-figur yang menunjukkan perilaku dependen yang tampak, situasi meliputi kepasifan dan ketidakbersayaan, figure-figur yang memberi bantuan dan dukungan (nurturing) dan figur-figur yang merawat (caretaking figures) dan 2. oral imagery (seperti makanan dan persepsi yang berhubungan dengan mulut). Kategori nomor 6, 9, 10, 11, 13, 14, dan 15 merupakan persepsi yang berhubungan dengan dependensi. 1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 12 merupakan persepsi yang berhubungan engan oral. 16 bisa masuk kedua kategori, tergantung pada apa yang terkandung dalam persepsi subyek.

  Subyek menerima satu poin untuk baik respon yang mengandung persepsi dependent maupun oral pada ROD. Skor ROD berkisar antara

  • – 25, dengan skor yang lebih tinggi mengindikasikan tingkat dependensi yang lebih tinggi. Akan tetapi dalam penelitiannya Bornstein (1993) menyimpulkan bahwa rata-rata skor ROD berkisar 0-8.

  Berikut disajikan skala Rorschach Oral Dependency Skala Rorschach Oral Dependency terdiri dari 16 kategori yakni :

  1) Makanan dan minuman 2) Sumber makanan (seperti restoran, payudara, sawah, dan sebagainya) 3) Objek makanan (seperti sendok, panci, dan sebagainya) 4) Penyedia makanan (seperti koki, ibu, dan sebagainya)

  5) Penerima makanan (seperti burung dalam sangkar, dan sebagainya) 6) Memohon dan berdoa 7) Organ yang dipakai untuk makan (seperti bibir, mulut, perut, dan sebagainya) 8) Oral instrument (seperti lipstick, dot bayi, rokok, dan sebagainya) 9) Nurturance (ayah, ibu, dokter, Tuhan, dan sebagainya) 10) Hadiah-hadiah 11) Objek pembawa keberuntungan (seperti jimat, dan sebagainya) 12) Aktivitas oral (menyanyi, makan, dan sebagainya) 13) Kepasifan dan ketidakberdayaan (tersesat, tidur-tiduran, dan sebagainya) 14) Kehamilan dan organ-organ reproduksi (khusus perempuan, seperti rahim, vagina, dan sebagainya) 15) Baby talk (berbicara seperti anak-anak) 16) Negation of oral dependent percepts (tidak ada mulut, perempuan tanpa payudara, ini bukan makanan, dan sebagainya)

  E. Subjek Penelitian

  Subyek penelitian ini adalah mahasiswa yang tergolong pada tahap perkembangan dewasa awal. Karakteristik subyek yang lain tidak dibatasi namun peneliti meminta data demografi yang berupa usia dan jenis kelamin untuk menjelaskan bila hasil penelitian menunjukkan adanya variasi yang dkarenakan oleh hal-hal/ variabel-variabel lain yang tidak dikontrol oleh peneliti.

  Subyek diperoleh dengan mengumpulkan mahasiswa yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini, khususnya di kota Yogyakarta. Peneliti akan mencari responden sejumlah 60 orang. Dengan tujuan mendapatkan hasil yang bervariasi sehingga dapat membedakan tingkat dependensi maupun stres secara jelas serta cukup untuk membuktikan apakah tingkat dependensi berhubungan dengan tingkat stres.

  F. Uji Coba Alat Pengumpulan Data

  Uji coba yang dilakukan untuk ketiga skala yang mengukur stres dilakukan pada individu-individu yang juga merupakan mahasiswa mengikuti karakteristik subyek penelitian. Ketiga skala tersebut dibagikan kepada 100 mahasiswa. Dengan demikian, jumlah tersebut memenuhi standar perhitungan statistik. Namun demikian tidak semua skala yang dibagikan dapat digunakan karena ketidaklengkapan pengisian. Jumlah data uji coba yang diperoleh setelah pengurangan tersebut adalah 85.

G. Validitas dan Reliabilitas Alat Pengumpulan Data

  Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat pengumpulan data yang sudah tersedia. Oleh karena itu, selain melakukan uji coba ketiga skala stres untuk mengetahui reliabilitas, peneliti juga mengumpulkan beberapa informasi mengenai validitas dan reliabilitas ketiga alat ini dalam penelitian- penelitian yang pernah dilakukan. Berikut informasi mengenai validitas dan reliabilitas ketiga skala stres serta informasi validitas dan reliabilitas dari

  Rorschach Oral Dependency Scale (RODS).

  1. Validitas dan Reliabilitas Skala Simtom Stres Sampai saat ini peneliti belum menemukan informasi mengenai validitas dan reliabilitas alat ukur ini. Oleh karena itu, peneliti akan menjelaskan validitas dan reliabilitas berdasarkan hasil analisis peneliti sendiri. Validitas skala ini dapat dilihat berdasarkan isi aitem-aitemnya.

  Aitem-aitem pada skala ini menunjukkan kesesuaian dengan salah satu teori stres, yakni stres sebagai respon. Seperti telah dijelaskan pada bab II, stres sebagai respon dapat dilihat sebagai reaksi fisiologis dan psikologis tehadap suatu kejadian atau situasi (Lyons dan Chamberlain, 2006).

  Aitem-aitem pada skala ini berisi mengenai beberapa respon baik fisiologis maupun psikologis yang mungkin muncul ketika seseorang mengalami kejadian atau situasi tertentu. Dengan demikian skala ini dapat dikatakan memiliki validitas isi karena aitem-aitemnya memiliki kesesuaian dengan apa yang ingin diukur, yakni stres sebagai respon.

  Berdasarkan hasil analisis reliabilitas yang dilakukan dengan teknik Alpha Cronbach, dengan bantuan SPSS versi 17.0, diperoleh koefisien Alpha sebesar 0.821. Hasil ini menunjukkan bahwa skala ini merupakan skala yang reliabel karena koefisien Alpha yang dihasilkan mendekati 1.00. Selain itu, analisis tiap aitem juga dilakukan. Pada skala ini tidak ada aitem yang dinyatakan gugur karena pada skala ini tiap aitem memiliki korelasi aitem total yang melebihi 0.3 (standar korelasi aitem yang sering digunakan dalam menggugurkan aitem). Aitem-aitem pada skala ini memiliki korelasi aitem total yang berkisar antara 0.373 hinga 0.621. Dengan demikian, pada skala ini tidak ada aitem yang harus dibuang.

  2. Validitas dan Reliabilitas The Inventory of College Students’ Recent Life

  Experiences

  Dalam sebuah abstrak penelitian milik Kohn, Lafreniere dan Gurevich yang berjudul “The Inventory of College Students’ Recent Life

  Experiences: a decontaminated hassles scale for a special population ,”

  dikatakan bahwa koefisien reliabilitas yang dihasilkan dari 49 aitem ICSRLE dan korelasinya dengan Perceived Stress Scale adalah tinggi.

  Selain penelitian tersebut, penelitian lain yang berjudul “Analysis of the

  inventory of college students’ Recent Life Experiences, ” mengatakan bahwa koefisien alpha dari 49 aitem ICSRLE adalah 0.94.

  Seperti telah diketahui, pada penelitian ini skala ICSRLE yang Indonesia dan disesuaikan dengan subyek penelitian ini (tidak hanya mahasiswa tetapi juga individu yang telah bekerja). Namun demikian isi dari aitem-aitemnya tidak mengalami perubahan. Melihat pada aitem- aitemnya skala ini dapat dikatakan memiliki validitas isi. Validitas isi diperoleh dari kesesuaian antara isi dari skala ini dengan apa yang hendak diukur. Aitem-aitem pada skala ini sesuai dengan indikator dari stres yang dilihat sebagai stimulus. Stres sebagai stimulus yang dimaksud adalah sesuatu yang ada di lingkungan yang memicu reaksi seperti yng dijelaskan pada stres sebagai respon (Lyons dan Chamberlain, 2006).

  Berdasarkan hasil try out, analisis reliabilitas pada skala ini menghasilkan koefisien Alpha sebesar 0.942, sehingga skala ini dapat dikatakan skala yang reliabel. Namun demikian pada skala ini, ada beberapa aitem yang perlu dilihat kembali karena memiliki korelasi aitem total kurang dari 0.3. Aitem-aitem tersebut ialah aitem nomor 3 dengan korelasi aitem total sebesar 0.298, aitem nomor 11 dengan korelasi aitem total sebesar 0.174, aitem nomor 20 dengan korelasi aitem total sebesar 0.163 dan aitem 32 dengan korelasi aitem total sebesar 0.197. Melihat hasil korelasi aitem total pada nomor-nomor tersebut, peneliti memutuskan untuk menggugurkan aitem nomor 11, 20 dan 32, sedangkan aitem nomor 3 tidak digugurkan karena hasil korelasi item totalnya mendekati angka

  0.3. Setelah melakukan pengguguran 3 aitem tersebut, maka koefisien Alpha yang dihasilkan meningkat menjadi 0.945.

  3. Validitas dan Reliabilitas Perceived Stress Scale Cohen dan Williamson (1988) mengatakan bahwa skor PSS berelasi secara sedang dengan respon pada pengukuran mengenai

  appraised stress lainnya. Cohen juga menunjukkan beberapa bukti

  validitas lainnya seperti skor PSS yang lebih tinggi berasosiasi dengan kegagalan untuk berhenti merokok, kegagalan pada penderita diabetes dalam mengontrol tingkat gula dalam darah dan frekuensi flu yang tinggi. Selain itu, Cohen dan Williamson (1988) juga mengatakan bahwa PSS memiliki reliabilitas internal dengan koefisien alpha sebesar 0.78.

  Skala ini merupakan skala yang mengukur persepsi terhadap stres. Aitem-aitem dalam skala ini memiliki kesesuaian dengan stres yang terkait dengan cognitive appraisal. Dalam stres yang terkait dengan

  cognitive appraisal , stres dilihat melalui bagaimana seseorang menilai dan

  menerima suatu situasi (Lazarus dan Folkman, 1984). Aitem-aitem pada skala ini berisi mengenai seberapa besar suatu situasi dinilai sebagai situasi yang penuh tekanan (stressfull). Dengan demikian skala ini dapat dikatakan memiliki validitas isi.

  Berdasarkan hasil try out, analisis reliabilitas pada skala ini menghasilkan koefisien Alpha sebesar 0.781, sehingga skala ini dapat dikatakan skala yang reliabel. Pada skala ini juga terdapat aitem yang memiliki korelasi aitem total dibawah 0.3, yakni aitem nomor 7 dengan korelasi aitem total sebesar 0.231 dan aitem nomor 8 dengan korelasi tidak melakukan pengguguran aitem pada skala ini karena seperti telah dikatakan pada penjelasan mengenai Perceived Stress Scale, Perceived

  Stress Scale bukan merupakan alat diagnostik sehingga tidak ada cut-off terhadap aitem-aitemnya.

  4. Validitas dan Reliabilitas Rorschach Oral Dependency Scale

  Rorschach Oral Dependency Scale (RODS), merupakan

  pengukuran yang valid atas variasi normal dalam dependensi (Bornstein, 1996). Lebih lanjut, skala ROD dapat digunakan dalam penelitian pada pasien psikiatrik, pasien medis, mahasiswa dan anggota komunitas yang secara sukses memprediksi dependesi terkait dengan perilaku dalam laboratorium, kelas, maupun seting klinis (Bornstein dan Masling, 2005).

  Beberapa penelitian telah melakukan penilaian terhadap hubungan antara skor ROD dan perilaku terkait dengan dependensi. Seperti yang dilakukan oleh Shilkret dan Masling (1981) mendemonstrasikan bahwa skor ROD memprediksikan dimana mahasiswa menghampiri eksperimenter (namun tidak meminta bantuan secara langsung) saat kesulitan menyelesaikan puzzle dalam laboratorium (r : .85). Dua investigasi (Bornstein & Masling, 1985; O’Neill et al., 1981) menunjukan bahwa skor ROD yang tinggi berasosiasi dengan penyelesaian awal terhadap dimintanya permintaan partisipasi penelitian introductory

  psychology , agaknya karena mahasiswa dengan skor ROD yang tinggi

  fokus pada menyenangkan instrukturnya dengan menuruti petunjuk pengerjaan (rs = .12 dan .29, berturut-turut dalam penelitian-penelitian ini).

  Tambahan informasi terkait dengan hubungan skor ROD-perilaku dependen datang dari meta analisis yang dilakukan Bornstein (1999), yang mana membandingkan koefisien validitas yang berhubungan secara perilaku yang diproduksi oleh suatu susunan self-report dan tes dependensi proyektif. Dalam analisis ini skala ROD menghasilkan koefisien validitas secara keseluruhan (r) = .37 (Z = 8.49, p < .001)

  Secara keseluruhan, penemuan-penemuan terkait dengan validitas konstuk dari skala ROD sangat positif. Skor ROD menunjukkan reliabilitas interater yang sangat baik, reliabilitas yang baik reliabilitas retest yang dapat diterima sampai dengan 60 minggu. Penemuan validitas konvergen juga mendukung sama baiknya : skor ROD menunjukkan korelasi yang sedang hingga kuat dengan skor-skor pada perilaku dan self- report yang mengindikasikan orality dan dependensi dan dengan skor yang terkait pada pengukuran sifat-sifat yang terkait secara teoritis, seperti : sensitivitas interpersonal dan insecure attachment (Bornstein dan Masling, 2005).

  Selain informasi terssebut, peneliti juga melakukan analisis reliabilitas untuk mengetahui interater reliability RODS. Interater

  

reliability dicapai dengan dua orang partisipan yang diminta melakukan

  skoring dari 55 data penelitian RODS. Kemudian, analisis reliabilitas didapat dari dua orang partisipan tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan dengan SPSS for Windows 17 reliabilitas yang dicapai sebesar 0,824.

  Dengan demikian dapat dikatakan RODS dalam penelitian ini memiliki reliabilitas interater.

  5. Uji Korelasi Ketiga Alat Ukur Stres Uji Korelasi Antar Alat Pengukuran Stres juga dilakukan untuk menambah informasi mengenai validitas konvergen alat-alat ukur stres tersebut. Uji korelasi antara skala Symptoms of Stress dan skala The

  Inventory of College Students’ Recent Life Experiences yang telah melalui

  seleksi item (46 item) menghasilkan r sebesar 0.563 dengan p = 0,000. Uji korelasi antara skala Symptoms of Stress dan Perceived Stress Scale menghasilkan r sebesar 0.592 dengan p = 0,000. Uji korelasi antara skala adaptasi dari The Inventory of College Students’ Recent Life Experiences yang telah melalui seleksi item (46 item) dan Perceived Stress Scale menghasilkan r sebesar 0,543 dengan p = 0,000. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketiga alat ukur stres memiliki korelasi yang signifikan atau dapat dikatakan bahwa ketiga alat ukur stres dalam penelitian ini memiliki validitas konvergen.

H. Metode Analisis Data

  Dalam penelitian ini, karena data yang akan dihasikan adalah data yang berjenis interval maka peneliti akan menganalisis data dengan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment, dimana teknik ini merupakan teknik korelasi yang dapat melukiskan bagaimana hubungan antara dua gejala interval.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 14 Juni 2010 hingga 21 Juni

  2010. Penelitian ini tidak dilakukan secara serentak mengingat peneliti harus menyamakan waktu yang dapat diberikan oleh para partisipan. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah melakukan pengambilan data secara serempak atau dengan kata lain menggunakan administrasi klasikal. Cara ini dilakukan pada hari Selasa tanggal 15 Juni 2010 bertempat di Ruang Psikologi Umum, Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Pelaksanaan penelitian dengan cara ini diikuti oleh 14 partisipan yang terbagi menjadi 5 partisipan pria dan 9 partisipan wanita.

  Selain dengan administrasi klasikal, penelitian juga dilaksanakan dengan administrasi individual dan kelompok (maksimal 3 orang) yang berlangsung pada tanggal 14 Juni 2010 hingga 21 Juni 2010. Admistrasi individual atau kelompok ini dilakukan pada 41 partisipan yang terbagi menjadi 14 partisipan pria dan 27 partisipan wanita. Pelaksanaan penelitian dengan administrasi individual dan kelompok ini dilakukan di lingkungan kampus III, Universitas Sanata Dharma dan beberapa dilakukan di tempat tinggal partisipan.

B. Hasil Penelitian

  1. Deskripsi Subyek Penelitian Dalam bahasan mengenai pelaksanaan penelitian, jumlah partisipan secara keseluruhan adalah 55 orang. Lima puluh lima data yang dihasilkan tersebut tidak semua dapat diproses lebih lanjut karena tidak termasuk dalam karakteristik subyek yang diminta. Pengurangan tersebut menghasilkan jumlah subyek sebanyak 48. Berikut rangkuman deskripsi data subyek penelitian agar pembaca memperoleh gambaran mengenai karakteristik subyek penelitian :

  a. Usia Berdasarkan usia, maka karakteristik subyek penelitian dapat dilihat sebagai berikut : usia 20 tahun sebanyak 6 orang, usia 21 tahun sebanyak 14 orang, subyek berusia 22 tahun sebanyak 20 orang dan usia 23 tahun sebanyak 7 orang, dan subyek penelitian berusia 24 tahun sebanyak 1 orang. Berdasarkan data tersebut juga dapat dihitung rerata usia subyek penelitian yakni 21,67 tahun. Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa usia maksimum subyek penelitian adalah 24 tahun dan usia minimum subyek adalah 20 tahun sehingga usia subyek penelitian memiliki rentang 4 tahun. Selain itu, dengan menggunakan program SPSS for Windows 17 diketahui pula standar deviasi data tersebut ialah 1,108. b. Jenis Kelamin Subyek penelitian ini sebagian besar wanita yakni sejumlah 34 atau sebesar 70,83 %, sedangkan subyek pria berjumlah 14 orang atau sebesar 29,17%.

  2. Deskripsi Data Penelitian

  a. Variabel Stres Berikut ini adalah deskripsi data penelitian variabel stres :

  Tabel 2 Deskripsi Statistik Data Penelitian Variabel Stres Alat Ukur Variabel Stres N x x min x maks SD Skala Symptoms of Stress

  10 21,19

  5 51 9,328

  Skala The Inventory of College Students’ Recent Life Experiences

  46 40,69

  10 81 15,117

  Skala Perceived Stress

  10 17,52

  5 30 5,585 b. Variabel Dependensi Berikut ini adalah deskripsi data penelitian variabel dependensi :

  Tabel 3 Deskripsi Statistik Data Penelitian Variabel Dependensi Alat Ukur Variabel Dependensi N x x min x maks SD Skala Rorschach Oral

  25 3,52

  8

  2 Dependency

  3. Analisis Data

  a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak (Priyatno, 2008). Uji normalitas dilakukan terhadap skor total dari ketiga skala stres serta skor total dari skala Rorschach Oral Dependency.

  Uji normalitas yang dilakukan terhadap skala terjemahan dari

  Symptoms of Stress dengan uji Kolmogorov-Smirnov menghasilkan

  taraf signifikansi sebesar 0.031, sementara itu dengan uji Shapiro-Wilk menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0.002. Apabila dilihat berdasarkan taraf signifikasi dari kedua uji tersebut maka dapat dikatakan data skor total skala Symptoms of Stress merupakan data yang tidak berdistribusi normal karena taraf signifikansi yang kurang dari 0.05 (Santoso, 2008). Namun demikian, apabila dilihat melalui normal, hanya saja terdapat 2 data yang letaknya agak jauh dari garis distribusi normal. Oleh sebab itu, peneliti mencoba menguji ulang dengan membuang 2 data yang letaknya agak jauh dengan garis distribusi normal tersebut. Hasil uji normalitas setelah membuang dua data tersebut maka taraf signifikansi yang dihasilkan dengan uji Kolmogorov-Smirnov menjadi 0.2 dan dengan Shapiro-Wilk menjadi 0.825. Dengan demikian berdasarkan kedua taraf signifikansi tersebut dapat dinyatakan bahwa data skor total skala Symptoms of Stress mengikuti distribusi normal.

  Uji normalitas yang dilakukan terhadap skala adaptasi dari The

  

Inventory of College Students’ Recent Life Experiences yang telah

  melalui seleksi item (46 item) dengan uji Kolmogorov-Smirnov menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0.2, sementara itu dengan uji Shapiro-Wilk menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0.565. Dengan demikian berdasarkan kedua taraf signifikansi tersebut dapat dinyatakan bahwa data skor total skala terjemahan dari The Inventory

  

of College Students’ Recent Life Experiences mengikuti distribusi

normal, begitu pula bila dilihat berdasarkan grafik Q-Q Plots.

  Uji normalitas yang dilakukan terhadap skala terjemahan dari

  

Perceived Stress Scale dengan uji Kolmogorov-Smirnov menghasilkan

  taraf signifikansi sebesar 0.2, sementara itu dengan uji Shapiro-Wilk menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0.827. Dengan demikian data skor total skala terjemahan dari Perceived Stress Scale mengikuti distribusi normal, begitu pula bila dilihat berdasarkan grafik Q-Q

  Plots .

  Uji normalitas yang dilakukan terhadap skala Rorschach Oral

  

Dependency dengan uji Kolmogorov-Smirnov menghasilkan taraf

  signifikansi sebesar 0.039, sementara itu dengan uji Shapiro-Wilk menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0.134. Dengan demikian berdasarkan taraf signifikasi dengan uji Kolmogorov-Smirnov, data tersebut dikatakan tidak mengikuti distribusi normal, akan tetapi berdasarkan taraf signifikansi yang diperoleh dengan uji Shapiro-Wilk dapat dinyatakan bahwa data skor total skala Rorschach Oral

  

Dependency mengikuti distribusi normal. Begitu pula bila dilihat

  berdasarkan grafik Q-Q Plots, grafik tersebut menunjukkan bahwa sebaran data tersebut berada dekat dengan garis distribusi normal, maka peneliti menyimpulkan bahwa dara tersebut mengikuti distribusi normal. Apabila mengikuti uji normalitas skor total skala Symptoms of

  

Stress dengan membuang dua data yang sama, maka taraf signifikansi

  dengan uji Kolmogorov-Smirnov menjadi sebesar 0.072, sementara itu dengan uji Shapiro-Wilk menghasilkan taraf signifikansi sebesar 0.162. Dengan demikian, kedua taraf signifikansi tersebut menunjukkan bahwa data tersebut mengikuti distribusi normal. b. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan untuk melihat apakah hipotesis dalam penelitian ini terbukti atau tidak. Pada penelitian ini, uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Pearson Product

  Moment . Uji korelasional ini dilakukan terhadap variabel bebas

  (dependensi) dan variabel tergantung (stres). Stres sebagai variabel tergantung, dalam penelitian ini terdiri dari tiga hal yakni, stres sebagai respon, stres sebagai stimulus dan stres yang terkait dengan cognitive appraisal. Oleh karena itu, uji korelasional dilakukan terhadap variabel dependensi dan ketiga hal yang merupakan bagian dari variabel stres secara sendiri-sendiri.

  Uji korelasional terhadap variabel dependensi dan variabel stres sebagai respon menghasilkan r = 0,076 dengan p = 0,305, Uji korelasional terhadap variabel dependensi dan variabel stres sebagai stimulus menghasilkan r = 0,002 dengan p = 0,495 dan uji korelasional terhadap variabel dependensi dan stres yang terkait dengan cognitive

  appraisal menghasilkan r = -0,006 dengan p = 0,485. Hasil tersebut

  merupakan hasil dari uji korelasional yang dilakukan terhadap data yang berjumlah 48.

  Uji korelasional yang sama juga dilakukan terhadap data yang berjumlah 46, dengan tujuan membandingkan hasilnya, mengingat hasil uji normalitas berubah ketika dua data ekstrim yang tampak pada dengan p = 0,157 untuk korelasi anatara variabel dependensi dan variabel stres sebagai respon, r = 0,050 dengan p = 0,370 untuk korelasi antara variabel dependensi dan variabel stres sebagai stimulus dan r = 0,002 dengan p = 0,495 untuk korelasi antara variabel dependensi dan stres yang terkait dengan cognitive appraisal.

  Kedua hasil uji korelasional menunjukkan angka yang berbeda dimana hasil uji korelasional terhadap data yang berjumlah 53 lebih tinggi, akan tetapi kedua hasil tersebut sama-sama menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel dependensi dan variabel stres (yang terdiri dari tiga hal).

  c. Uji Linearitas Hasil uji hipotesis dengan teknik korelasi product moment yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tidak ada hubungan positif yang signifikan antara tingkat dependensi dan tingkat stres pada usia dewasa awal. Hal tersebut didukung oleh hasil uji linearitas. Uji linearitas dilakukan terhadap a.) skor total RODS dan skor total skala terjemahan dari Symptoms of Stress, b.) skor total RODS dan skor total skala adaptasi dari The Inventory of College Students’ Recent Life

  Experiences dan c.) skor total RODS dan skala terjemahan dari Perceived Stress Scale . Hasil uji linearitas untuk ketiganya

  menunjukkan bahwa skor total RODS terhadap skor total ketiga skala stres tidak linear. Hal ini tampak pada gambar yang menunjukkan hubungan linear, tidak juga membentuk kurva. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa tidak ada hubungan positif yang signifikan antara tingkat dependensi dan tingkat stres pada usia dewasa awal.

C. Pembahasan

  Uji korelasi yang dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini tidak terbukti. Dengan kata lain, tidak ada hubungan yang positif antara tingkat dependensi dan tingkat stres pada mahasiswa. Hal tersebut tidak sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Peneliti memang belum menemukan penelitian yang serupa, akan tetapi beberapa penelitian sebelumnya, yang telah dituliskan dalam pendahuluan, menyatakan hasil-hasil yang mengarah pada adanya hubungan positif yang signifikan antara tingkat dependensi dan tingkat stres.

  Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian tersebut tampak bahwa hampir semua karakteristik orang dengan tingkat dependensi yang tinggi merupakan faktor-faktor yang dapat meningkatkan tingkat stres.

  Ada beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab hipotesis pada penelitian ini tidak terbukti. Pertama, terkait dengan variasi data khususnya pada data dari pengukuran variabel dependensi. Variabel dependensi diukur menggunakan skala Rorschach Oral Dependency dimana pengukuran tersebut memiliki administrasi khusus sehingga memiliki skor total 25 (25 respon). Bornstrein (1993) menyatakan bahwa semakin tinggi skor tersebut Bornstein juga mengatakan bahwa skor yang berkisar antara 0 - 8 atau 0 – 32% (dapat dilihat pada tabel) adalah skor yang tergolong normal. Sementara itu, data skor skala Rorschach Oral Dependency yang dihasilkan dari penelitian ini memiliki rentang 0 – 8 atau dengan kata lain, seluruh data yang didapat tergolong dalam kategori normal. Hal ini menunjukkan bahwa data variabel kepribadian dependen merupakan data yang tidak bervariasi. Hal ini juga tampak dalam perhitungan standar deviasi yakni sebesar 2.019.

  Kedua, berdasarkan pada dinamika hubungan antara tingkat dependensi dan tingkat stres secara teoritis maka dapat dilihat bahwa masih ada beberapa faktor yang tidak termasuk dalam karakteristik kepribadian dependen, yang mempengaruhi tingkat stres. Faktor-faktor tersebut ialah kebanggaan akan identitas etnik, dukungan sosial dan tingkat keterbukaan seseorang (openness). Ketiga faktor tersebut tidak diukur dalam penelitian ini sehingga hal tersebut tidak dapat dikontrol oleh peneliti.

  Dukungan sosial tampaknya menjadi faktor yang penting dalam keterkaitannya dengan hubungan antara tingkat dependensi dan tingkat stres.

  Buku yang berjudul Sourcebook of social support and personality mengatakan bahwa sebelumnya, seseorang yang tidak mandiri (non-self-reliance) atau dependen dianggap sebagai seseorang yang lemah, tidak matang dan tidak berkompeten. Namun demikian dalam perkembangannya, kemandirian atau independensi bukan menjadi atribut positif yang penting. Seseorang yang secara sosial tergantung (dependen) dengan orang lain (seseorang yang kesejahteraan yang lebih baik, meningkatkan kemampuan untuk menahan stres, dan kualitas hubungan interpersonal yang lebih baik ( Pierce, Lakey, Sarason, dan Sarason, 1997).

  Terkait dengan hal tersebut Ryan & Lynch (1989) berpendapat bahwa seseorang yang tidak ingin atau tidak mampu mencari dukungan dari orang lain seringkali juga tidak berarti orang tersebut mandiri, terpisah maupun terasing (dalam Pierce, Lakey, Sarason, dan Sarason, 1997). Berdasarkan perbedaan poin tersebut, jelas bahwa kemandirian dan independensi bukanlah suatu nilai yang sama dalam tiap kebudayaan. Dalam banyak kebudayaan, khususnya yang disebut sebagai budaya kolektivistik lebih menekankan atau menganjurkan interdependensi daripada independensi (Rhee, Uleman, Lee & Roman, 1995; Triandis, 1989 dalam Pierce, Lakey, Sarason, dan Sarason, 1997).

  Indonesia termasuk salah satu Negara dengan budaya kolektivistik. Dengan demikian, Indonesia memiliki budaya yang lebih menekankan dependensi (khususnya interdependensi). Penekanan terhadap karakter yang tergantung dengan orang lain tersebut memudahkan seseorang untuk mendapatkan dukungan sosial. Oleh karena itu, faktor dukungan sosial menjadi sangat perlu dipertimbangkan dalam melihat hubungan tingkat dependensi dan tingkat stres.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat

  disimpulkan bahwa :

  1. Tidak ada hubungan positif yang signifikan antara tingkat dependensi dan tingkat stres pada usia dewasa awal. Hasil tersebut disebabkan oleh kurangnya variasi data pada salah satu variabel. Selain itu, ada beberapa variabel lain yang mempengaruhi stres, yang dalam penelitian ini tidak diikutsertakan.

  2. Secara umum, rerata tingkat stres yang dimiliki subyek penelitian menunjukkan hasil yang tergolong rendah. Hal tersebut ditunjukkan oleh rerata empiris yang lebih rendah daripada rerata teoritis untuk seluruh alat ukur stres.

B. Keterbatasan Penelitian

  Pada penelitian ini peneliti menyadari adanya beberapa keterbatasan, yaitu :

  1. Data yang diperoleh kurang bervariasi khususnya data pada variabel dependensi.

  2. Penelitian ini kurang memperhitungkan adanya beberapa variabel lain yang mungkin mempengaruhi variabel stres terutama variabel dukungan

C. Saran

  Pada penelitian selanjutnya para peneliti diharapkan :

  1. Dapat mengambil data dengan sampel yang lebih luas sehingga data yang diperoleh lebih bervariasi.

  2. Penelitian berikutnya diharapkan dapat membuktikan bahwa kepribadian dependen dapat menjadi menguntungkan dalam budaya kolektivistik dengan adanya pengaruh dari dukungan sosial.

  3. Para peneliti juga diharapkan dapat mengukur atau mengontrol variabel- variabel lain yang dapat memberikan pengaruh pada tingkat stres.

  Terutama faktor dukungan sosial yang dapat menjadi sangat berpengaruh pada budaya kolektivistik.

DAFTAR PUSTAKA

  American Psychiatric Association. (2000) Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (ed. Ke-4). Washington DC: Author. Bodenhorn, Nancy., Miyazaki, Yasuo., Ng, Kok-Mun., dan Zalaquett, Carlos.

  Analysis of the inventory of college students’ Recent Life Experiences .

  Diakses dari http://www.bwgriffin.com/gsu/courses/edur9131/content/9_FA_alienation. pdf pada 10 April 2010.

  Bornstein, R. F. (1993). The Dependent Personality. [Versi Elektronik]. New York : Guilford Press. Bornstein, R. F. dan Maling, Joseph M. (2005). Scoring The Rorschach : Seven

  Validated Systems. [Versi Elektronik]. New Jersey : Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

  Caruthers, Nyree

  D. (2009). Stress and Self-Esteem . Diakses dari http://clearinghouse.missouriwestern.edu/manuscripts/25.php pada

  15 Februari 2010. Cohen, Sheldon. Perceived Stress Scale . Diakses dari http://www.mindgarden.com/products/pss.htm pada 07 April 2010. Costa, Paul T. dan Widiger, Thomas A.(2005). Personality Disorders and The

  Five-Factor Model of Personality Second Edition . Washington. DC: American Psychological Association.

  Dyahsari, Nisa Muftie. (2009). Hubungan Antara Tingkat Optimisme dan Tingkat

  Stres pada Penderita Kanker Payudara Stadium Lanjut yang Sedang Menjalani Kemoterai Pasca Operasi. Surabaya : Fakultas Psikologi

  Universitas Airlangga. Feist, J. & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality Edisi Keenam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

  Hadi, Sutrisno. (2004). Metodologi Research Jilid 1. Yogyakarta : Andi Offset. Hadi, Sutrisno. (2004). Metodologi Research Jilid 2. Yogyakarta : Andi Offset. Hadi, Sutrisno. (2004). Metodologi Research Jilid 3. Yogyakarta : Andi Offset.

  Hergenhahn, B. R., Olson, M. H. (2007). An Introduction to Theories of Personality Sevent Edition . New Jersey : Pearson Education, Inc. Hutchison, Elizabeth, D. (2003). Dimensions of Human Behavior : The Changing Life Course . [versi elektronik]. United Kingdom : Sage Publication, Ltd. Kosaka, Moritaka. (1996). Relationship Between Hardiness and Psychological

  Stress Response. Diakses dari http://www.websitemk.jp/papers/hard96.html pada 15 Februari 2010.

  Lazarus, Richard S. and Folkman, Susan. (1984). Stress, Appraisal and Coping.

  [Versi Elektronik]. New York : Springer Publishing Company, Inc. Lemme, Barbara Hansen. (1999). Development in Adulthood. USA : Allyn and Bacon.

  Lyons, C. Antonia and Chamberlain, Kerry.(2006). Health Psychology A Critical Introduction . Cambridge : Cambridge University Press. McAdams, Dan P. (1995). What Do We Know When We Know a Person. Journal of Personality (1995) 63 : 3. Nevid, J. S., Rathus, S. A., Greene, B. (2005). Psikologi Abnormal Edisi Kelima Jilid 1 (Terjemahan). Jakarta : Penerbit Erlangga. Novvida S, Kartika. (2007). Penerimaan Diri dan Stres pada Penderita Diabetes

  Mellitus . Diakses dari rac.uii.ac.id/server/document/Public/20080505120738SKRIPSI.doc pada

  15 Februari 2010 Oswald, Lynn M., Zandi, P., Nestadt, G., Potash, James B., Kalaydjian Amanda

  E., dan Wand, Gary S. (2006). Relationship between Cortisol Responsen

  to Stress and Personality . [Versi Elektronik]. Neuropsychopharmacology (2006) 31, 1583-1591.

  Palmer, Stephen and Puri, Angela. (2006). Coping With Stress at University: a

Survival Guide [Versi Elektronik]. London : Sage Publication, Ltd.

  

Perceived Stress Scale . Diakses dari

  http://www.google.co.id/search?client=firefox- a&rls=org.mozilla%3AenUS%3Aofficial&channel=s&hl=id&source=hp& q=perceived+stress+scale+validation&meta=&btnG=Google+Penelusuran pada 07 April 2010. Pierce, Gregory R., Lakey,B., Sarason, Irwin G. dan Sarason, Barbara R. (1997).

  Sourcebook of social support and personality [Versi Elektronik]. New York : Plenum Press.

  PM, Kohn., K, Lafreniere dan M, Gurevich. 1990. The Inventory of College

  Students' Recent Life Experiences: a decontaminated hassles scale for a special population (Abstract) . Graduate Programme in Psychology, York

  University, North York, Ontario, Canada. Diakses dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2077142 pada 10 April 2010. Priyatno, Dwi. (2008). Mandiri Belajar SPSS (Statistical Product and Service

  Solution) untuk Analisis Data dan Uji Statistik . Jakarta : PT. Buku Kita

  Rahardjo, Wahyu. (2008). Kontribusi Hardiness dan Self-Efficacy Terhadap Stres Kerja (Studi pada Perawat RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten).

  Depok : Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma. Santoso, Singgih. (2008). Panduan Lengkap Menguasai SPSS 16. Jakarta : PT.

  Elex Media Komputindo. Santrock, John W. (2002). Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5, Jilid II (Terjemahan). Jakarta: Penerbit Erlangga.

  Scott, M. S., Elizabeth. (2008). Stress In College: Common Causes of Stress In

  College . Diakses dari

  http://stress.about.com/od/studentstress/a/stress_college.htm pada

  5 November 2010.

  

Stress Self Assessment . Diakses dari

  http://faculty.weber.edu/molpin/healthclasses/1110/bookchapters/selfasses smentchapter.htm pada 07 April 2010.

  LAMPIRAN

  SKALA PENELITIAN oleh : Patricia Erisa Marthadewi K 069114027 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2010

SKALA PENELITIAN

  Yogyakarta, 25 Mei 2010 Kepada Yth. Saudara/i yang turut berpartisipasi dalam penelitian ini

  Dengan hormat, saya Nama : Patricia Erisa Marthadewi K NIM : 069114027 Fakultas : Psikologi Universitas : Sanata Dharma Yogyakarta

sedang menyusun tugas akhir guna menyelesaikan tanggung jawab saya sebagai seorang

mahasiswa. Oleh karena itu, saya mohon bantuan Anda untuk memberi tanggapan

terhadap pertanyaan-pertanyaan maupun pernyataan-pernyataan yang telah tersusun

dalam skala ini. Semua tanggapan yang Anda berikan akan dijaga kerahasiaannya. Oleh

sebab itu, saya mengharapkan Anda untuk menjawab sesuai dengan keadaan yang

sebenarnya.

  Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih atas kesediaan Anda untuk mengisi skala penelitian ini.

  Hormat saya, (Patricia Erisa M. K)

  Identitas Usia : Jenis Kelamin : L/P *) Coret yang tidak perlu Status : Bekerja/Kuliah, Menikah/Belum Menikah *) Coret yang tidak perlu

Bagian I Berikut ini merupakan daftar beberapa hal yang mungkin kita alami. Berilah tanda X

  pada kolom frekuensi gejala, seberapa sering Anda mengalami hal-hal di bawah ini? Frekuensi Gejala

  Hampir Setiap sepanjang malam

  

Gejala hari, 1-2 atau 2-3 kali 1 kali Sekali Tidak

  setiap kali setiap semingg semingg sebula perna hari sehari pagi u u n h Sakit kepala Otot tegang, leher dan punggung terasa sakit Kelelahan Kecemasan, kegelisahan, ketakutan Susah tidur Mudah marah Mengalami insomnia (tidak bisa tidur) kemarahan/ perselisihan singkat Kebosanan, perasaan tertekan Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit

Bagian II Berikut ini adalah daftar beberapa pengalaman yang Anda telah alami beberapa kali atau

  

lebih. Silahkan mengindikasikan setiap pengalaman seberapa besar hal tersebut menjadi

bagian hidup Anda selama satu bulan terakhir ini. Tandailah jawaban Anda berdasarkan

petunjuk berikut ini: Intensitas kejadian dalam satu bulan terakhir : 0 = Sama sekali bukan bagian dari hidup saya 1 = Hanya sedikit dari bagian hidup saya 2 = Sebagian besar hidup saya 3 = Benar-benar bagian besar hidup saya

  No. Intensitas Pengalaman-pengalaman yang Anda alami

  16. Ketidakpuasaan dengan pendidikan/pekerjaan

  28. Pertentangan/Konflik dengan keluarga Anda

  27. Tidak cukup beristirahat

  26. Konflik dengan asisten pengajar

  25. Nilai/hasil kerja Anda lebih rendah dari yang Anda harapkan

  24. Kesepian

  23. Keputusan penting mengenai pendidikan Anda

  22. Ketidakpuasaan atas kemampuan membaca Anda

  21. Beban keuangan

  20. Keputusan penting mengenai karir masa depan Anda

  19. Ketidakpuasaan dengan kemampuan matematis/berhitung Anda

  18. Tidak cukup waktu untuk memenuhi kewajiban-kewajiban Anda

  17. Keputusan-keputusan mengenai hubungan personal yang mendalam

  15. Mengemban banyak tanggung jawab

  1. Konflik dengan keluarga pasangan (pacar/suami/istri)

  

14. Berusaha memenuhi target akademis/ pekerjaan yang ditetapkan oleh

orang lain

  13. Tidak memiliki cukup waktu untuk bersantai

  

12. Dimanfaatkan oleh orang lain (orang lain mengambil keuntungan dapat

berupa materi, pikiran, tenaga, dan sebagainya, dari Anda)

  11. Berjuang keras untuk mencapai target akademis/pekerjaan Anda

  

10. Sumbangan/kontribusi yang Anda lakukan untuk orang lain diabaikan

  9. Berpisah dengan orang-orang yang Anda sayangi

  8. Dikhianati teman

  7. Konflik (dalam hal) keuangan dengan anggota keluarga

  6. Melakukan sesuatu yang tidak dihargai oleh orang lain

  5. Terlalu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan

  4. Penolakan sosial

  3. Konflik dengan dosen/atasan

  2. Dikecewakan oleh teman-teman

  29. Pemenuhan tuntutan kegiatan ekstra (diluar studi/pekerjaan)

  31. Konflik dengan teman-teman

  

43. Menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan (contoh di bank, toko,

dll.)

  : tidak pernah 1 : hampir tidak pernah 2 : kadang-kadang 3 : cukup sering 4 : sangat sering

  pikiran-pikiran Anda selama satu bulan terakhir ini. Dalam semua kasus, Anda akan diminta untuk mengindikasikannya dengan memberi tanda X, seberapa sering Anda merasa dan memikirkannya.

  49. Kekecewaan atas kemampuan atletis/keolahragaan Anda

  48. Gagal mendapatkan pekerjaan yang diharapkan

  47. Gosip mengenai seseorang yang Anda sayangi

  

46. Menganggap (beberapa) mata kuliah/pekerjaan yang Anda lakukan

tidak menarik

  45. Tidak puas dengan penampilan fisik Anda

  44. Tidak dipedulikan

  42. Isolasi/Pengasingan sosial

  32. Berjuang keras untuk maju

  41. Gangguan-gangguan dalam mengerjakan tugas/pekerjaan Anda

  

40. Ketidakpuasan atas kemampuan menulis Anda/berekspresi secara

tertulis

  39. Konflik dengan pasangan (pacar/suami/istri)

  38. Tidak menyukai (beberapa) teman sekelas/teman kerja

  37. Kesulitan mengenai alat transportasi

  36. Konflik sosial mengenai (me)rokok

  35. Dibohongi/dicurangi/diperas dalam pembelian jasa

  34. Tidak menyukai studi/pekerjaan Anda

  33. Memiliki teman yang tidak sehat/sering sakit

Bagian III Pertanyaan-pertanyaan dalam skala ini menanyakan bagaimana perasaan-perasaan dan

  No. Pertanyaan

  1

  2

  3

  4

  1. Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering anda jengkel karena sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapan Anda?

  2. Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda merasa tidak mampu mengendalikan hal-hal penting dalam hidup Anda?

  3. Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda merasa cemas dan tertekan?

  4. Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda merasa yakin dengan kemampuan Anda mengatasi masalah-masalah pribadi Anda?

  5. Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda merasa segala sesuatu telah sesuai dengan rencana anda

  6. Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda menyadari bahwa Anda tidak mampu mengatasi segala hal yang harus Anda lakukan?

  7. Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda mampu mengendalikan gangguan-gangguan (kejengkelan) dalam hidup Anda?

  8. Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda merasa hebat?

  9. Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda dibuat marah karena hal-hal diluar kendali Anda?

  10. Dalam satu bulan terakhir, seberapa sering Anda merasa bahwa kesulitan-kesulitan menumpuk sangat tinggi dan Anda tidak dapat mengatasinya?

  Analisis Reliabilitas Alat Ukur Stres

  A. Analisis Reliabilitas Skala Symptom Of Stress

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha

  Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items

  .821 .829

  

10

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Squared Multiple

  Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted

  C1 20.04 88.439 .508 .420 .805 C2 19.44 88.606 .447 .384 .811 C3 18.76 88.563 .534 .453 .803 C4 19.78 83.676

  .593 .514 .796 C5

  19.62 85.642 .411 .710 .817 C6 19.32 84.600 .585 .460 .797 C7 20.24 87.682

  .373 .711 .821 C8

  19.93 88.019 .556 .560 .801 C9 19.61 82.002 .621 .681 .792 C10 19.26 84.146

  .497 .346 .806 B. Analisis Reliabilitas Skala The Inventory of College Students’ Recent Life

  Experiences Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on

  Standardized Items N of Items .942 .944

  

49

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation

  Squared Multiple Correlation Cronbach's Alpha if Item

  Deleted B1 47.76 397.111 .526 . .941 B2 47.53 402.824 .528 . .941 B3 47.94 408.223 .298 . .942 B4 48.18 404.218 .502 . .941 B5 46.52 401.276 .438 . .941 B6 47.66 394.442 .711 . .940 B7 47.68 397.624 .535 . .941 B8 47.78 396.866 .562 . .940 B9 47.26 401.813 .372 . .942 B10 47.64 390.758 .752 . .939 B11 46.07 409.638 .174 . .943 B12 47.42 395.128 .559 . .940 B13 47.18 400.576 .395 . .942 B14 46.80 392.233 .561 . .940 B15 46.52 404.753 .343 . .942 B16 47.35 394.707 .604 . .940 B17 47.01 402.536 .371 . .942 B18 47.45 391.703 .691 . .939 B21 47.34 392.013 .611

  . .940 B22 48.09 401.443

  . .940 B43 47.64 395.711

  47.73 400.962 .480

  . .941 B39 47.71 395.496

  .585 . .940 B40

  47.69 393.262 .634

  . .940 B41 47.38 401.404

  .498 . .941 B42

  48.19 398.964 .670

  .647 . .940 B44

  . .942 B37 47.84 396.377

  47.82 399.814 .553

  . .940 B45 47.62 399.809

  .491 . .941 B46

  47.42 399.009 .554

  . .940 B47 47.66 399.418

  .451 . .941 B48

  47.93 401.328 .531

  . .941 B49 47.73 405.271

  .531 . .941 B38

  47.71 402.782 .307

  .541 . .941 B23

  . .941 B28 47.74 397.932

  46.52 401.848 .352

  . .942 B24 47.61 403.145

  .344 . .942 B25

  47.41 397.697 .593

  . .940 B26 48.11 397.548

  .626 . .940 B27

  47.16 396.115 .510

  .524 . .941 B29

  .499 . .941 B36

  47.32 400.576 .435

  . .941 B30 46.92 398.648

  .428 . .941 B31

  47.79 398.121 .578

  . .940 B32 46.01 409.417 .197 . .943 B33 47.69 406.001

  .332 . .942 B34

  47.89 401.143 .465

  . .941 B35 48.09 403.729

  .307 . .942 C. Analisis Reliabilitas Skala The Inventory of College Students’ Recent Life

  Experiences aitem no 11, 20 dan 32 digugurkan Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on

  Standardized Items N of Items .945 .947

  

46

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation Squared Multiple

  Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted

  B1 40.85 378.583 .546 . .943 B2 40.61 384.859 .526 . .944 B3 41.02 390.047 .299 . .945 B4 41.26 385.837 .517 . .944 B5 39.60 383.481 .432 . .944 B6 40.74 376.599 .712 . .942 B7 40.76 379.230 .551 . .943 B8 40.86 378.789 .568 . .943 B9 40.34 383.466 .382 . .945 B10 40.72 372.967 .754 . .942 B12 40.51 376.967 .569 . .943 B13 40.26 382.646 .394 . .944 B14 39.88 375.129 .543 . .943 B15 39.60 387.481 .316 . .945 B16 40.44 376.939 .602 . .943 B17 40.09 384.872 .360 . .945 B18 40.53 373.466 .706 . .942 B19 40.69 373.024 .686 . .942

  B23 39.60 385.290 .312 . .945 B24 40.69 385.096 .345 . .945 B25 40.49 379.920 .589 . .943 B26 41.19 379.464 .633 . .943 B27 40.25 378.093 .514 . .944 B28 40.82 379.790 .531 . .943 B29 40.40 382.767 .430 . .944 B30 40.00 380.952 .421 . .944 B31 40.87 379.995 .585 . .943 B33 40.78 387.604 .343 . .945 B34 40.98 383.095 .467 . .944 B35 41.18 385.290 .516 . .944 B36 40.79 384.050 .325 . .945 B37 40.92 378.743 .524 . .944 B38 40.81 383.036 .478 . .944 B39 40.79 377.431 .592 . .943 B40 40.78 375.247 .640 . .943 B41 40.46 383.132 .509 . .944 B42 41.27 381.009 .671 . .943 B43 40.72 377.919 .644 . .943 B44 40.91 381.824 .554 . .943 B45 40.71 381.758 .494 . .944 B46 40.51 381.086 .554 . .943 B47 40.74 381.218 .458 . .944 B48 41.01 383.226 .536 . .944 B49 40.81 386.917 .315 . .945 D. Analisis Reliabilitas Perceived Stress Scale

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha

  Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items

  .781 .771

  

10

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if

  Item Deleted Corrected Item- Total Correlation

  Squared Multiple Correlation Cronbach's Alpha if Item

  Deleted A1 15.89 20.620 .614 .552 .742 A2 16.25 20.569 .587 .567 .744 A3 16.16 18.568 .712 .622 .722 A4 17.21 23.026 .319 .414 .777 A5 16.80 23.329 .300 .405 .779 A6 16.61 21.836 .502 .452 .757 A7 16.85 23.488 .231 .389 .788 A8 16.45 24.964 .052 .185 .807 A9 16.16 20.758 .520 .514 .753 A10 16.26 19.123 .635 .556 .735

  Data Skoring Rorschach Oral Dependency Scale No.

RS RODS RS RODS1 RS RODS2 1.

  4

  4 26.

  5

  6 29.

  5

  7

  3 28.

  5

  6

  6 27.

  4

  5

  4

  7 30.

  4

  3 25.

  4

  2

  5 24.

  4

  5

  1 23.

  3

  2

  6 22.

  5

  2

  6

  8

  5

  5

  4

  5 38.

  2

  2

  1 37.

  2

  1

  7 36.

  9

  2 35.

  5

  2

  3 34.

  2

  3

  5 33.

  3

  3

  6 32.

  4

  4

  4 31.

  3

  4 21.

  5 2.

  6 7.

  3

  4

  4 10.

  2

  3

  6 9.

  4

  6

  5 8.

  1

  5

  1

  4

  2

  5 6.

  3

  4

  4 5.

  5

  5 4.

  2

  6

  4 3.

  2

  4 11.

  3

  5

  4

  3

  2 20.

  1

  2

  5 19.

  3

  4

  5 18.

  7

  5

  3 17.

  2

  3 12.

  1 16.

  1

  1

  7 15.

  2

  8

  1 14.

  2

  3 13.

  3

  3

  3

  41.

  2

  

3

  .824 .822

  Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha

  5

  4

  1 55.

  1

  1

  2 50.

  1 49.

  1

  1 48.

  1

  3 47.

  3

  2

  5 46.

  5

  4

  4 45.

  5

  4

  2 44.

  2

  2 43.

  3

  3

  4 42.

  2

4 Analisis Reliabilitas Interater Rorschach Oral Dependency Scale

  Uji Normalitas Data Penelitian

  A. Uji Normalitas RS Skala Symptoms Of Stress

  Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

  RSsos .134 48 .031 .918 48 .002

a. Lilliefors Significance Correction

  RSSOS Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf .00 0 .

  4.00 0 . 5789 6.00 1 . 123333

  14.00 1 . 55777778999999 11.00 2 . 00002222344

  7.00 2 . 5678999 3.00 3 . 124 1.00 3 .

  6

  2.00 Extremes (>=50) Stem width:

  10 Each leaf: 1 case(s)

  B. Uji Normalitas RS Skala Symptoms Of Stress setelah outliers dibuang (46 subyek)

  

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

  RSsos .104 46 .200 * .985 46 .825

a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

  RSSOS Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf .00 0 .

  4.00 0 . 5789 6.00 1 . 123333

  14.00 1 . 55777778999999 11.00 2 . 00002222344

  7.00 2 . 5678999 3.00 3 . 124 1.00 3 .

  6 Stem width:

  10 Each leaf: 1 case(s)

  C. Uji Normalitas RS Skala The Inventory of College Students’ Recent Life

  Experiences Tests of Normality a

  Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk * Statistic df Sig. Statistic df Sig. RSics46item .081 48 .200 .980 48 .565

a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

  RSICSAFT Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf

  4.00 1 . 0668 6.00 2 . 036778

  12.00 3 . 033334444678 13.00 4 . 0000023345579

  8.00 5 . 01222456 3.00 6 . 489 1.00 7 .

  1

  1.00 Extremes (>=81) Stem width:

  10 Each leaf: 1 case(s)

  D. Uji Normalitas RS Skala The Inventory of College Students’ Recent Life

  Experiences

  46 Subyek

  Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

  RSics46item .076 46 .200 * .983 46 .747

a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

  RSICSAFT Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf

  4.00 1 . 0668 6.00 2 . 036778

  12.00 3 . 033334444678 12.00 4 . 000023345579

  8.00 5 . 01222456 3.00 6 . 489 1.00 7 .

  1 Stem width:

  10 Each leaf: 1 case(s)

  E. Uji Normalitas RS Skala Perceived Stress

  Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

  RSpss .088 48 .200 * .986 48 .827

a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

  RSPSS Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf .00 0 .

  3.00 0 . 568 13.00 1 . 0112223333344 12.00 1 . 566677778999 16.00 2 . 0000011112233444

  3.00 2 . 559 1.00 3 . Stem width:

  10 Each leaf: 1 case(s)

  F. Uji Normalitas RS Skala Perceived Stress 46 Subyek

  Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

  RSpss .089 46 .200 * .985 46 .805

a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

  RSPSS Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf .00 0 .

  3.00 0 . 568 13.00 1 . 0112223333344 11.00 1 . 56667778999 15.00 2 . 000011112233444

  3.00 2 . 559 1.00 3 . Stem width:

  10 Each leaf: 1 case(s)

  G. Uji Normalitas RS Skala Rorschach Oral Dependency

  

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

  RSrods .131 48 .039 .963 48 .134

a. Lilliefors Significance Correction

  RSRODS Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf

  3.00 0 . 000 4.00 1 . 0000

  10.00 2 . 0000000000 7.00 3 . 0000000 9.00 4 . 000000000 7.00 5 . 0000000 5.00 6 . 00000 1.00 7 .

  2.00 8 .

  00 Stem width:

  1 Each leaf: 1 case(s)

  H. Uji Normalitas RS Skala Rorschach Oral Dependency 46 Subyek

  

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnov a Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

  RSrods .124 46 .072 .964 46 .162

a. Lilliefors Significance Correction

  RSRODS Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf

  3.00 0 . 000 4.00 1 . 0000 9.00 2 . 000000000 7.00 3 . 0000000 8.00 4 . 00000000 7.00 5 . 0000000 5.00 6 . 00000 1.00 7 .

  2.00 8 .

  00 Stem width:

  1 Each leaf: 1 case(s)

  Uji Korelasi

  A. Uji Korelasi 55 subyek

  Correlations RSSOS RSICSAFT RSPSS RSRODS ** **

  .588 .378 .076 RSSOS Pearson Correlation

  1 Sig. (1-tailed) .000 .004 .305 N 48 ** **

  48

  48

  48 .002

  RSICSAFT Pearson Correlation .588 1 .547 Sig. (1-tailed) .000 .000 .495 N

  48

  48 ** **

  48

  48 .547 -.006

  RSPSS Pearson Correlation .378

  1 Sig. (1-tailed) .004 .000 .485 N

  48

  48

  48

  48 RSRODS Pearson Correlation .076 .002 -.006

  1 Sig. (1-tailed) .305 .495 .485 N

  48

  48

  48

  48 **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed). A. Uji Korelasi 46 subyek

  Correlations RSSOS RSICSAFT RSPSS RSRODS ** ** RSSOS Pearson Correlation

  1 .584 .472 .152 Sig. (1-tailed) .000 .000 .157 N

  46

  46

  46 ** **

  46 RSICSAFT Pearson Correlation .584 1 .568 .050 Sig. (1-tailed) .000 .000 .370 N

  46

  46 ** **

  46

  46 RSPSS Pearson Correlation .472 .568 1 .002 Sig. (1-tailed) .000 .000 .495 N

  46

  46

  46

  46 RSRODS Pearson Correlation .152 .050 .002

  1 Sig. (1-tailed) .157 .370 .495 N

  46

  46

  46

  46 **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

  Uji Linearitas Data Penelitian

  A. Uji Linearitas RS Skala Symptoms Of Stress & RS Skala Rorschach Oral

  Dependency

  48 Subyek

  ANOVA Table Sum of Mean Squares df Square F Sig.

  RSSOS * Between Groups (Combined) 162.119 8 20.265 .201 .989 RSRODS

Linearity 23.393

1 23.393 .232 .633

Deviation from Linearity 138.726

  7 19.818 .197 .984 Within Groups 3927.194 39 100.697 Total 4089.313

  47 B. Uji Linearitas RS Skala Symptoms Of Stress & RS Skala Rorschach Oral

  Dependency

  46 Subyek

  ANOVA Table Sum of Squares df

  Mean Square F Sig.

(Combined) 190.692

8 23.836 .419 .902

Linearity 53.046

  1 53.046 .932 .341 Between Groups

Deviation from Linearity 137.646

7 19.664 .346 .927 Within Groups 2104.960

  37 56.891 RSSOS * RSRODS Total 2295.652

  45 C. Uji Linearitas RS Skala The Inventory of College Students’ Recent Life & RS Skala Rorschach Oral Dependency 48 Subyek

  Experiences ANOVA Table

  Sum of Mean Squares df Square F Sig. RSICSAFT * Between Groups (Combined) 518.538 8 64.817 .247 .979 RSRODS

  Linearity .042 1 .042 .000 .990 Deviation from Linearity 518.496 7 74.071 .283 .957 Within Groups 10221.77

  39 262.097

  5 Total 10740.31

  47

  3 D. Uji Linearitas RS Skala The Inventory of College Students’ Recent Life & RS Skala Rorschach Oral Dependency 46 Subyek

  Experiences ANOVA Table

  Sum of Mean Squares df Square F Sig. RSICSAFT * Between Groups (Combined) 952.234 8 119.029 .542 .902 RSRODS

  Linearity 23.031 1 23.031 .105 .341 Deviation from 929.203 7 132.743 .604 .927 arity

  Within Groups 8128.375 37 219.686 Total 9080.609

  45 E. Uji Linearitas RS Skala Perceived Stress & RS Skala Rorschach Oral

  Dependency

  48 Subyek

  ANOVA Table Sum of Squares df

  Mean Square F Sig. (Combined) 179.486 8 22.436 .680 .706 Linearity .049

  1 .049 .001 .970 Between Groups Deviation from Linearity

  179.437 7 25.634 .777 .610 Within Groups 1286.494 39 32.987 RSPSS *

  RSRODS Total 1465.979

  47 F. Uji Linearitas RS Skala Perceived Stress & RS Skala Rorschach Oral

  Dependency

  46 Subyek

  ANOVA Table Sum of Squares df

  Mean Square F Sig. (Combined) 195.276 8 24.410 .714 .902 Linearity .006

  1 .006 .000 .341 Between Groups Deviation from Linearity

  195.270 7 27.896 .816 .927 Within Groups 1264.202 37 34.168 RSPSS *

  RSRODS Total 1459.478

  45

Dokumen baru

Download (127 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis pengambilan keputusan untuk menikah, tingkat kepuasan dan tingkat stres yang dialami mahasiswa berstatus menikah
0
3
96
Tingkat stres dan strategi koping menghadapi stres pada mahasiswa tingkat persiapan bersama tahun akademik 2005/2006
0
3
8
Hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan tingkat stres pada mahasiswa perantau.
2
7
138
Hubungan antara adversity quotient dan employability pada mahasiswa tingkat akhir.
2
25
206
Hubungan antara hardiness dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir.
3
27
170
Hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan tingkat stres pada mahasiswa perantau
1
8
136
Hubungan antara penyesuaian sosial dengan tingkat stres pada ibu berperan ganda.
0
0
157
Hubungan pemenuhan kebutuhanberafiliasi dengan tingkat stres pada mahasiswi kost.
0
0
125
Hubungan antara frekuensi mendengarkan musik ``R&B`` dengan tingkat stres pada remaja.
0
0
139
Hubungan antara dukungan sosial dan tingkat stres orangtua dari anak autis.
0
6
123
Hubungan antara stres akademik dan kecenderungan impulsive buying pada mahasiswa
1
4
125
Hubungan tingkat stres akademik dengan kualitas tidur mahasiswa - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
17
Perbedaan tingkat stres kerja antara karyawan administrasi dan buruh kasar di PT. Pantjatunggal Knitting Mill Semarang - USD Repository
0
0
53
Hubungan antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja - USD Repository
0
0
122
Hubungan antara adversity quotient dan stres pada mahasiswa yang bekerja - USD Repository
0
0
119
Show more