Analisis tingkat kesehatan keuangan perusahaan berdasarkan surat keputusan menteri BUMN No. Kep-100/MBU/2002 : studi kasus pada PT Tambang Batubara Bukit Asam [Persero] Tbk. dan PT Perusahaan Gas Negara [Persero] Tbk. - USD Repository

Gratis

0
0
131
10 months ago
Preview
Full text

  

ANALISIS TINGKAT KESEHATAN KEUANGAN

PERUSAHAAN BERDASARKAN SURAT

KEPUTUSAN MENTERI BUMN NO. KEP-

100/MBU/2002

  

Studi Kasus pada PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero)

Tbk. dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

  

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

  

Program Studi Akuntansi

Oleh:

ZUSANA PERDANI SUDIASIH MINULYO

  

NIM : 002114106

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2007

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Hilangnya harta dapat dicari lagi dengan bekerja Hilangnya ilmu dapat dicari lagi dengan belajar

Hilangnya waktu tidak akan pernah tergantikan selamanya

  Skripsi ini ku persembahkan untuk : Tuhan Yesus dan Bunda Maria Bapak B. Susanto Minulyo dan ibu F. Sumarti Adikku Thomas

  Special Someone Karli G

  

ABSTRAK

ANALISIS TINGKAT KESEHATAN KEUANGAN

PERUSAHAAN BERDASARKAN SURAT KEPUTUSAN

MENTERI BUMN NO. KEP-100/MBU/2002

  

Studi Kasus pada PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. dan PT

Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

  

Zusana Perdani Sudiasih Minulyo

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

2007

  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesehatan keuangan perusahaan selama tahun 2002-2004 berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 pada perusahaan PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. dan PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

  Teknik analisis yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah : (1) Menghitung nilai masing-masing indikator aspek keuangan. (2) Menentukan skor masing-masing indikator pada aspek keuangan dari tahun 2002-2004, yaitu dengan cara membandingkan nilai masing-masing indikator dengan daftar skor penilaian masing-masing indikator aspek keuangan. (3) Menjumlahkan skor dari semua indikator aspek keuangan, kemudian total skor aspek keuangan dibandingkan dengan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002. (4) Menarik kesimpulan apakah perusahaan tersebut termasuk dalam kondisi sehat, kurang sehat atau tidak sehat berdasarkan hasil analisis kriteria penilaian diatas.

  Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa : (1) PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. dari tahun 2002-2004 berada dalam kondisi sehat dengan nilai bobot kinerja tahun 2002-2004 mengalami kenaikan. (2) PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. dari tahun 2002-2004 berada dalam kondisi sehat, walaupun nilai bobot kinerja yang didapatkan mengalami penurunan dari tahun 2002-2004.

  

ABSTRACT

AN ANALYSIS OF COMPANY’S FINANCIAL HEALTH

LEVEL BASED ON THE MINISTER OF BUMN DECREE NO.

KEP-100/MBU/2002

  

A Case Study on PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. and PT

Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

  

Zusana Perdani Sudiasih Minulyo

Sanata Dharma University

Yogyakarta

2007

  The aim of this research was to know the company’s financial health level during the year of 2002-2004 based on the Minister of BUMN decree No. KEP-100/MBU/2002 at the companies of PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. and PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

  The analysis technique used by the writer in this research was : (1) Counting the value of each indicator of financial aspect. (2) Determining the score of each indicator on the financial aspect from the year of 2002-2004 by comparing each indicator’s value with a score list of assesment of each indicator on the financial aspect. (3) Summing up the score from all of the financial aspect’s indicators, and then comparing the result with the Minister of BUMN decree No. KEP-100/MBU/2002. (4) Concluding wether the company was classified in the good, low or bad condition based on the analysis result of the assesment criteria above.

  Based on the result of the analysis on the data, it was found out that: (1) PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. during the year of 2002- 2004 was in the good condition with increasing score of performance quality during 2002-2004. (2) PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. was in the good condition during the year of 2002-2004, although the score of performance quality was decreasing during year 2002-2004.

KATA PENGANTAR

  Segala puji, hormat, juga syukur kepada Yesus Kristus dan Bunda Maria atas segala kasih-Nya yang telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Tingkat Kesehatan Keuangan

  

Perusahaan Berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-

100/MBU/2002”

  Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi, Program Studi Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Penulis menyadari bahwa terselesainya skripsi ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada:

  1. Drs. Alex Kahu Lantum, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

  2. Ir. Drs. Hansiadi YH, M.Si., Akt, selaku Ketua Jurusan Akuntansi Universitas Sanata Dharma.

  3. Drs. F.A. Joko Siswanto, Akt, M.M. selaku Dosen Pembimbing I yang memberikan bimbingan, bantuan, masukan, dukungan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  4. MT. Ernawati, SE., M.A, selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, masukan dan dukungan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  5. B. Susanto Minulyo dan F. Sumarti selaku kedua orangtuaku yang telah memberikan doa, kasih sayang, kesabaran, nasehat, dukungan baik moril maupun materil dan segala-galanya kepada penulis.

  6. Adekku “Tom-Ndut” yang sering menyebalkan, makasih sudah meminjamkan komputer sehingga skripsiku selesai dan mau mengalah buat segalanya.

  7. Keluarga Bapak Suherman dan Ibu Rusmini, terimakasih banyak atas semua dukungan dan doanya.

  8. Buat semua keluargaku dan keluarga Kim yang telah membantuku selama aku di Yogya (Keluarga Paingan, Gedongkuning, Godean, dll). Keluarga Pak Dul Pranoto (Arimbi 3), Pak Suroto (Buntu II) dan Ibu Kartini (Buntu II) yang telah menjadi Bapak-Ibu kosku selama ini.

  9. Buat teman-temanku tercinta Arimbi 3 yang telah memberikan dukungan kepada penulis dan rata-rata telah lulus: Yeni, Yustin, M’Elis, M’Rini, M’Ayoe, M’Endank, M’Tama, M’Niken, M’Yeni, Panti, Asween, Dicky, Yosie, Anton, Danu, Karli, Ms Haris, Nita, Moniq.

  10. Buat Oepik, Annae, Dhina, Lucki, Desy & Keluarga, Siwi & Kristin WS, Ika, M’Santi, Hario, Trie, dan M’Woro. Teman-temanku di Sanata Dharma, khususnya buat anak-anak Akuntansi B 2000.

  11. Keluarga Pak Yanto (makasih buat kesempatan yang telah diberikan dan oleh-olehnya) & Akong (Willy). Buat anak-anak Alnect 1 dan Alnect 2 terutama M’Maria, M’Yeti, Rhea makasih buat waktu yang singkat yang telah kita lalui bersama serta dukungan yang telah kalian berikan.

  12. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

  Akhirnya penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun akan penulis terima dengan senang hati. Sehingga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak khususnya pada semua pihak yang berada dibidang yang sama.

  Penulis Zusana Perdani Sudiasih Minulyo

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS......................... v ABSTRAK ....................................................................................................... vi ABSTRACT..................................................................................................... vii KATA PENGANTAR ..................................................................................... viii DAFTAR ISI.................................................................................................... xi DAFTAR TABEL............................................................................................ xiv DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xvi

  BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ......................................................................... 4 C. Batasan Masalah ........................................................................... 4 D. Tujuan Penelitian .......................................................................... 4 E. Manfaat Penelitian ........................................................................ 5 F. Sistematika Penulisan ................................................................... 6

  BAB II LANDASAN TEORI .......................................................................... 8 A. Laporan Keuangan ........................................................................ 8 B. Analisis Laporan Keuangan .......................................................... 11 C. Analisis Rasio Keuangan .............................................................. 13 D. Penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara Berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.............................................................. 14 BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 25 A. Jenis Penelitian............................................................................... 25 B. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................ 25 C. Objek Penelitian ............................................................................. 25 D. Data yang Diperlukan .................................................................... 26 E. Teknik Pengumpulan Data............................................................. 26 F. Teknik Analisis Data...................................................................... 26 BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN .......................................... 36 A. PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk ....................... 36 B. PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk .................................... 39 BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ........................................ 44 A. Deskripsi Data................................................................................ 44 B. Analisis Data .................................................................................. 44 C. Pembahasan.................................................................................... 58

  BAB VI PENUTUP ......................................................................................... 77 A. Kesimpulan ................................................................................... 77 B. Keterbatasan.................................................................................. 78 C. Saran.............................................................................................. 78 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 80

  

DAFTAR TABEL

  Tabel 1 Daftar Indikator dan Bobot Aspek Keuangan................................ 17 Tabel 2 Daftar Skor Penilaian ROE ............................................................. 32 Tabel 3 Daftar Skor Penilaian ROI .............................................................. 32 Tabel 4 Daftar Skor Penilaian Cash Ratio ................................................... 33 Tabel 5 Daftar Skor Penilaian Current Ratio ............................................... 33 Tabel 6 Daftar Skor Penilaian Collection Periods ....................................... 33 Tabel 7 Daftar Skor Penilaian Perputaran Persediaan ................................. 34 Tabel 8 Daftar Skor Penilaian Perputaran Total Asset ................................ 34 Tabel 9 Daftar Skor Penilaian Rasio Modal Sendiri terhadap Total

  Asset................................................................................................ 34 Tabel 10 ROE PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk............................... 45 Tabel 11 ROI PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk................................ 45 Tabel 12 Cash Ratio PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk ..................... 46 Tabel 13 Current Ratio PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk................. 46 Tabel 14 CP PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk.................................. 47 Tabel 15 Perputaran Persediaan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk ... 47 Tabel 16 TATO PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk ............................ 48 Tabel 17 TMS Terhadap TA PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk ........ 48 Tabel 18 Nilai Masing-masing Indikator PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk ....................................................................................... 49

  Tabel 19 Nilai dan Skor Masing-masing Indikator PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk ............................................................................ 49 Tabel 20 Total Bobot Kinerja Keuangan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk ...................................................................................... 50 Tabel 21 Penilaian Kinerja Keuangan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk ....................................................................................... 51 Tabel 22 ROE PT Perusahaan Gas Negara Tbk............................................ 51 Tabel 23 ROI PT Perusahaan Gas Negara Tbk............................................. 52 Tabel 24 Cash Ratio PT Perusahaan Gas Negara Tbk .................................. 52 Tabel 25 Current Ratio PT Perusahaan Gas Negara Tbk.............................. 53 Tabel 26 CP PT Perusahaan Gas Negara Tbk............................................... 53 Tabel 27 Perputaran Persediaan PT Perusahaan Gas Negara Tbk ................ 54 Tabel 28 TATO PT Perusahaan Gas Negara Tbk ......................................... 54 Tabel 29 TMS Terhadap TA PT Perusahaan Gas Negara Tbk ..................... 55 Tabel 30 Nilai Masing-masing Indikator PT Perusahaan Gas Negara

  Tbk ................................................................................................. 55 Tabel 31 Nilai dan Skor Masing-masing Indikator PT Perusahaan

  Gas Negara Tbk.............................................................................. 56 Tabel 32 Total Bobot Kinerja Keuangan PT Perusahaan Gas Negara

  Tbk ................................................................................................. 56 Tabel 33 Penilaian Kinerja Keuangan PT Perusahaan Gas Negara

  Tbk ................................................................................................. 58

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 Neraca Dan Laporan Laba Rugi PT Tambang Batubara Bukit Asam Lampiran 2 Neraca Dan Laporan Laba Rugi PT Perusahaan Gas Negara Lampiran 3 SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memasuki era globalisasi saat ini, persaingan di dunia usaha semakin

  ketat. Ketatnya persaingan ini disebabkan oleh semakin banyaknya perusahaan yang berdiri dengan usaha-usaha sejenis, baik dari perusahaan milik pemerintah, perusahaan swasta nasional, maupun swasta asing. Munculnya perusahaan-perusahaan baru membuat persaingan antar perusahaan semakin ketat. Kemampuan perusahaan dalam menghadapi persaingan dipengaruhi oleh kondisi masing-masing perusahaan. Perusahaan yang sehat akan mampu bersaing dengan perusahaan lain, sedangkan perusahaan yang kondisinya tidak sehat akan kalah dalam persaingan. Kelangsungan hidup perusahaan ditandai dengan kemampuan manajemen dalam melihat kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkan peluang di masa yang akan datang.

  Keberhasilan perusahaan dapat dilihat dari perkembangan kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan dapat diketahui dengan menganalisis laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Salah satu alat yang digunakan untuk melakukan analisis laporan keuangan adalah analisis rasio keuangan. Analisis rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi keadaan keuangan pada masa lalu, sekarang dan memproyeksikan hasilnya untuk kepentingan di masa yang akan datang berdasarkan rasio keuangannya. Hasil analisis rasio keuangan akan menjelaskan dan memberi gambaran tentang kondisi perusahaan juga untuk mengetahui bagaimana perkembangan perusahaan jika dilihat dari perkembangan rasio keuangannya.

  Dalam perubahan keempat Undang-Undang Dasar pasal 33 disebutkan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan, kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Dalam rangka usaha untuk meningkatkan perekonomian nasional tersebut, maka diperlukan untuk meningkatkan seluruh kekuatan ekonomi nasional, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

  Dalam TAP MPR No. IV/MPR/1999 ditetapkan antara lain bahwa arah kebijakan tentang BUMN adalah menata BUMN secara efisien, transparan dan profesional terutama yang usahanya berkaitan dengan kepentingan umum perlu disehatkan dan yang tidak berkaitan dengan kepentingan umum didorong untuk privatisasi melalui pasar modal. BUMN sebagai salah satu pelaku kegiatan perekonomian Indonesia disamping swasta dan koperasi harus mengembangkan sistem dan paradigma baru dalam pengelolaan BUMN. Oleh karena itu BUMN harus mengupayakan peningkatan efisiensi, efektivitas, kinerja, daya saing dan kesehatan BUMN.

  Di Indonesia peranan BUMN kini tidak lagi sebatas pada pengelolaan sumber daya produksi barang-barang yang meliputi hajat hidup orang banyak tetapi juga dalam berbagai kegiatan produksi dan pelayanaan yang dilakukan oleh swasta. Untuk menghadapi perkembangan dunia usaha dalam situasi perekonomian yang semakin berkembang pesat, maka penilaian tingkat kesehatan BUMN harus dilakukan dengan baik. Penilaian tingkat kesehatan BUMN dapat diukur dengan membandingkan hasil perhitungan rasio keuangan yang telah ditetapkan sesuai Surat Keputusan Menteri Keuangan RI.

  Keputusan tersebut sebagai kebijakan pemerintah yang dimaksudkan untuk mendorong perusahaan-perusahaan yang merupakan bagian dari BUMN supaya menjalankan operasi usahanya secara lebih efektif dan efisien.

  Pada tanggal 24 Maret 1998 pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan RI No. 198/KMK.016/1998 berisi mengenai penilaian tingkat kesehatan BUMN. Pada tanggal 4 Juni 2002 pemerintah kembali mengeluarkan Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 sebagai pengganti Surat Keputusan Menteri Keuangan tahun 1998 yang menimbang bahwa dengan dialihkannya kedudukan, tugas dan wewenang Menteri Keuangan pada Perusahaan Perseroan (Persero), Perusahaan Umum (Perum) dan Perusahaan Jawatan (Perjan) kepada Menteri BUMN. Tata cara penilaian tingkat kesehatan BUMN dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. 198/KMK.016/1998 dan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP- 100/MBU/2002 masih sama. Penentuan tingkat kesehatan perusahaan ditetapkan berdasarkan penilaian kinerja perusahaan yang meliputi 3 aspek yaitu keuangan, operasional dan administrasi. Untuk penilaian tingkat kesehatan BUMN mulai tahun 1998 digunakan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. 198/KMK.016/1998 dan mulai tahun 2002 sudah menggunakan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

  Mengingat pentingnya mengetahui kondisi kesehatan perusahaan melalui analisis terhadap laporan keuangan, maka penulis melakukan penelitian dengan topik “Analisis Tingkat Kesehatan Keuangan Perusahaan Berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002”.

  B. Rumusan Masalah

  Bagaimana tingkat kesehatan keuangan perusahaan selama tahun 2002-2004 berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP- 100/MBU/2002?

  C. Batasan Masalah

  Penulis membatasi permasalahan pada analisis laporan keuangan dengan cara membandingkan rasio keuangan perusahaan serta menilai tingkat kesehatan finansial perusahaan berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yang ditinjau dari aspek keuangannya saja.

   Tujuan Penelitian D.

  Untuk mengetahui tingkat kesehatan keuangan perusahaan selama tahun 2002-2004 berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP- 100/MBU/2002.

E. Manfaat Penelitian

  1. Bagi Perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perkembangan kinerja keuangan perusahaan dan tingkat kesehatan perusahaan sehingga berguna dalam penyusunan rencana yang lebih baik dimasa yang akan datang.

  2. Bagi Pemerintah Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan yang berkaitan dengan kinerja keuangan sehingga pemerintah dapat memperhitungkan besarnya keuntungan perusahaan dan besarnya pajak bagi BUMN.

  3. Bagi Stakeholders Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi

  stakeholders , yaitu semua pihak yang berkepentingan terhadap laporan

  keuangan perusahaan sehingga membantu mereka dalam pengambilan keputusan dan kebijakan dalam penanaman modal.

  4. Bagi Universitas Sanata Dharma Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi perpustakaan Universitas Sanata Dharma dan menjadi bahan referensi untuk menambah pengetahuan dan pemahaman studi mengenai informasi keuangan.

  5. Bagi Penulis Penelitian ini merupakan sarana dalam menambah pengetahuan mengenai analisis laporan keuangan dan untuk menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama kuliah kedalam praktek yang sesungguhnya.

F. Sistematika Penulisan

  BAB I Pendahuluan Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

  BAB II Landasan Teori Bab ini menguraikan tentang teori-teori yang digunakan sebagai dasar dalam pengolahan data yang meliputi Laporan Keuangan, Analisis Laporan Keuangan, Analisis Rasio Keuangan dan Penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara Berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002. Teori ini akan digunakan sebagai tinjauan pustaka dalam pembahasan masalah yang akan diteliti.

  BAB III Metode Penelitian Bab ini menguraikan tentang Jenis Penelitian, Tempat dan Waktu Penelitian, Objek Penelitian, Data yang diperlukan, Teknik Pengumpulan Data dan Teknik Analisis Data.

  BAB IV Gambaran Umum Bab ini berisi tentang gambaran umum perusahaan PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. yang meliputi Sejarah Singkat Perusahaan, Tujuan Perusahaan, Lokasi Perusahaan serta Komisaris, Direksi dan Karyawan. BAB V Analisis Data dan Pembahasan Bab ini berisi tentang analisis data dan pembahasan dengan menggunakan metode dan teknik analisis yang telah tertera dalam metodologi penelitian.

  BAB VI Penutup Bab ini berisi tentang kesimpulan dari pembahasan yang ada dan saran-saran yang sekiranya dapat berguna dalam mengembangkan perusahaan serta keterbatasan dari penelitian ini.

BAB II LANDASAN TEORI A. Laporan Keuangan Pengertian Laporan Keuangan 1. Laporan keuangan (financial statements) adalah seperangkat

  laporan yang merupakan hasil akhir dari proses akuntansi. Laporan keuangan bersifat historis dan menyeluruh (Munawir, 2002: 19). Laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang menggambarkan keadaan perusahaan. Laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil akhir dari proses pencatatan, penggolongan dan peningkatan dari peristiwa-peristiwa yang setidak-tidaknya bersifat keuangan dengan cara yang setepat-tepatnya dan dinyatakan dalam satuan uang.

  Laporan keuangan merupakan sarana pengkomunikasian informasi keuangan utama kepada pihak-pihak di luar korporasi. Laporan ini menampilkan sejarah perusahaan yang dikuantifikasi dalam nilai moneter. Laporan keuangan yang sering disajikan adalah neraca, laporan laba-rugi, laporan arus kas, dan laporan ekuitas pemilik atau pemegang saham.

  Selain itu, catatan atas laporan keuangan atau pengungkapan juga merupakan bagian integral dari setiap laporan keuangan (Kieso, 2002: 3).

  Pada umumnya laporan keuangan terdiri dari neraca dan perhitungan laba-rugi serta laporan perubahan modal. Neraca menggambarkan jumlah aktiva, hutang dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu. Sedangkan perhitungan laba-rugi memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan serta biaya yang terjadi selama periode tertentu dan laporan perubahan modal menunjukkan sumber dan penggunaan modal perusahaan.

  Tujuan Laporan Keuangan 2.

  Tujuan utama laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi yang relevan pada pihak-pihak di luar perusahaan (Munawir, 2002: 20). Menurut Standar Akuntansi Keuangan (Ikatan Akuntan Indonesia, 2004); tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi

  yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

  Informasi mengenai posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan sangat diperlukan untuk dapat melakukan evaluasi atas kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas (dan setara kas), dan waktu serta kepastian dari hasil tersebut. Posisi keuangan perusahaan dipengaruhi oleh sumber daya yang dikendalikan, struktur keuangan, likuiditas dan solvabilitas serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan (Prastowo, 2002: 5).

  3. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan Karakteristik kualitatif laporan keuangan merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan tersebut berguna bagi para pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Karakteristik kualitatif laporan keuangan ini meliputi (Standar Akuntansi Keuangan, 2004): a. Dapat Dipahami

  Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai.

  Untuk maksud ini, pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar. Relevan b.

  Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengkoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu.

  Keandalan c.

  Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.

  Dapat dibandingkan d.

  Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan. Pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif.

B. Analisis Laporan Keuangan

  Pengertian Analisis Laporan Keuangan 1.

  Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan untuk membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan utama untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang (Prastowo, 2002: 52).

  Tujuan Analisis Laporan Keuangan 2.

  Tujuan dari analisis laporan keuangan adalah untuk mengurangi ketergantungan para pengambil keputusan pada dugaan murni, terkaan dan intuisi, mengurangi dan mempersempit lingkup ketidakpastian yang tidak bisa dielakkan pada setiap proses pengambilan keputusan. Analisis laporan keuangan bukan berarti mengurangi kebutuhan akan penggunaan keputusan-keputusan, melainkan hanya memberikan dasar yang layak dan sistematis dalam menggunakan keputusan-keputusan tersebut (Prastowo, 2002: 53).

  3. Arti Penting Analisis Laporan Keuangan Laporan keuangan akan menjadi lebih bermanfaat untuk pengambilan keputusan ekonomi, apabila dengan informasi laporan keuangan tersebut dapat diprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dengan mengolah lebih lanjut laporan keuangan melalui proses pembandingan, evaluasi dan analisis trend, akan diperoleh prediksi tentang apa yang mungkin terjadi di masa mendatang. Hasil analisis laporan keuangan akan mampu membantu menginterpretasikan berbagai hubungan kunci dan kecenderungan yang dapat memberikan dasar pertimbangan mengenai potensi keberhasilan perusahaan di masa mendatang (Prastowo, 2002: 51).

  4. Metode Analisis Laporan Keuangan Secara umum, metode analisis laporan keuangan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu (Prastowo, 2002: 54): a.

  Metode Analisis Horizontal (dinamis) Metode analisis horizontal adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa tahun (periode), sehingga dapat diketahui perkembangan dan kecenderungannya. Metode ini disebut analisis horizontal karena analisis ini membandingkan pos yang sama untuk periode yang berbeda dan disebut metode analisis dinamis karena metode ini bergerak dari tahun ke tahun (periode).

  b. Metode Analisis Vertikal (statis) Metode analisis vertikal adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara menganalisis laporan keuangan pada tahun (periode) tertentu, yaitu dengan membandingkan antara pos yang satu dan pos lainnya pada laporan keuangan yang sama untuk tahun (periode) yang sama. Oleh karena membandingkan antara pos yang satu dengan pos lainnya pada laporan keuangan yang sama, maka disebut metode vertikal.

  Metode ini disebut statis karena metode ini hanya membandingkan pos-pos laporan keuangan pada tahun (periode) yang sama.

   Analisis Rasio Keuangan C.

  1. Pengertian Rasio Keuangan Analisis rasio keuangan adalah suatu metode analisis untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan laba-rugi secara individu ataupun kombinasi dari kedua laporan tersebut (Munawir, 2002: 37).

  Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Analisis rasio dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan (Munawir, 2002: 64).

  2. Macam-macam Rasio Keuangan Pada dasarnya ada bermacam-macam rasio keuangan, karena rasio dapat dibuat menurut kebutuhan penganalisis. Dilihat dari sumber rasio keuangan, rasio dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu (Riyanto, 1995: 330): a. Rasio-rasio Neraca (Balance sheet ratios), ialah rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca, misalnya current ratio,

  acid-test ratio, current assets to total assets ratio, current liabilities to total assets ratio dan lain sebagainya.

  Rasio-rasio Laporan Rugi & Laba (Income statement ratios), ialah b. rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari Income Statement, misalnya gross profit margin, net operating margin, operating rasio dan lain sebagainya. Rasio-rasio antar-laporan (Inter-statement ratios), ialah rasio-rasio c. yang disusun dari data yang berasal dari Neraca dan data lainnya berasal dari Income statement, misalnya assets turnover, inventory

  turnover, receivables turnover dan lain sebagainya.

D. Penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara Berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

  1. Pengertian BUMN Dalam keputusan menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yang dimaksud dengan (pasal 1):

  BUMN adalah Badan Usaha Milik Negara yang berbentuk Perusahaan a.

  Perseroan (PERSERO) sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 1998 dan Perusahaan Umum (PERUM) sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 1998. b. Anak Perusahaan BUMN adalah perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas yang sekurang-kurangnya 51% sahamnya dimiliki oleh BUMN.

  Penggolongan BUMN 2.

  BUMN non jasa keuangan adalah BUMN yang bergerak di bidang a. infrastruktur dan non infrastruktur.

  BUMN INFRASTRUKTUR adalah BUMN yang kegiatannya 1) menyediakan barang dan jasa untuk kepentingan masyarakat luas, yang bidang usahanya meliputi : Pembangkitan, transmisi atau pendistribusian tenaga listrik.

  • Pengadaan dan atau pengoperasian sarana pendukung - pelayanan angkutan barang atau penumpang baik laut, udara atau kereta api.

  Jalan dan jembatan tol, dermaga, pelabuhan laut atau sungai

  • atau danau, lapangan terbang dan bandara.

  Bendungan dan irigasi. - BUMN NON INFRASTRUKTUR adalah BUMN yang bidang

  2) usahanya diluar bidang usaha sebagaimana dimaksud dalam BUMN INFRASTRUKTUR.

  b. BUMN jasa keuangan adalah BUMN yang bergerak dalam bidang usaha perbankan, asuransi, jasa pembiayaan dan jasa penjaminan.

  3. Penilaian Tingkat Kesehatan Perusahaan Berdasarkan Aspek Keuangan Berdasarkan kriteria Surat Keputusan BUMN No. KEP-

  100/MBU/2002, penilaian kinerja berpedoman pada besarnya bobot yang diperoleh perusahaan. Untuk menentukan tingkat kesehatan tersebut ditetapkan berdasarkan penilaian terhadap kinerja perusahaan untuk tahun buku yang bersangkutan, yang meliputi tiga aspek penilaian yaitu aspek keuangan, aspek operasional dan aspek administrasi, dimana total skor secara keseluruhan dari ketiga aspek ini sama dengan 100 (TS =100).

  1) SEHAT, yang terdiri dari :

  AAA apabila TS > 95 AA apabila 80 < TS

  ≤ 95 A apabila 65 < TS

  ≤ 80 2) KURANG SEHAT, yang terdiri dari :

  BBB apabila 50 < TS ≤ 65

  BB apabila 40 < TS ≤ 50

  B apabila 30 < TS ≤ 40

  3) TIDAK SEHAT, yang terdiri dari :

  CCC apabila 20 < TS ≤ 30

  CC apabila 10 < TS ≤ 20

  C apabila ≤ 10

  Dalam penelitian ini yang diukur hanya aspek keuangannya saja, maka aspek operasional dan aspek administrasi tidak dihitung dalam penentuan skor. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No. KEP-

  100/MBU/2002 dalam penilaian aspek keuangan, indikator yang dinilai serta bobot-bobotnya adalah sebagai berikut: Tabel 1 Daftar Indikator dan Bobot Aspek Keuangan

  Indikator Bobot

Infrastruktur Non Infrastruktur

  1. Imbalan kepada pemegang saham (ROE)

  15

  20

  2. Imbalan Investasi (ROI)

  10

  15

  3. Rasio Kas

  3

  5

  4. Rasio Lancar

  4

  5

  5. Collection Periods 4

  5

  6. Perputaran Persediaan

  4

  5

  7. Perputaran Total Asset 4

  5

  8. Rasio modal sendiri terhadap total Aktiva

  6

  10 Total Bobot

  50

  70 Sumber: SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002

  Rumus dan arti masing-masing indikator aspek keuangan: Imbalan kepada pemegang saham atau Return on Equity (ROE) 1.

  Laba Setelah Pajak ROE = ------------------------ x 100% Modal Sendiri Definisi:

  Return on Equity (ROE) menunjukkan kemampuan dari modal - sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham preferen dan saham biasa (Riyanto, 1995: 336). Laba Setelah Pajak adalah keuntungan bersih yang diperoleh - perusahaan yang akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen. Modal Sendiri adalah ekuitas pemilik dalam sebuah perusahaan

  • (Thacker, 1998: 22).
  • Aktiva Tetap Dalam Pelaksanaan adalah aktiva tetap yang digunakan untuk kegiatan operasi perusahaan.

  Imbalan Investasi atau Return on Investment (ROI) 2.

  EBIT + Penyusutan ROI = ------------------------- x 100%

  Capital Employed Definisi:

  Return on Investment (ROI) menunjukkan kemampuan dari modal - yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan netto (Riyanto, 1995: 336). EBIT adalah laba bersih atau keuntungan yang diperoleh sebelum - dikurangi bunga dan pajak.

  Penyusutan adalah pengorbanan yang dilakukan pada waktu - sumber daya seperti peralatan dipergunakan dalam menghasilkan pendapatan (Thacker, 1998: 132). Capital Employed adalah modal bersih perusahaan yang menjadi - sumber dana dari dalam yang digunakan untuk kegiatan perusahaan.

  3. Rasio kas atau Cash Ratio Kas + Bank + Surat Berharga Jangka Pendek

  Cash Ratio = ------------------------------------------------------- x 100% Current Liabilities

  Definisi: Cash Ratio menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang

  • harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan (Riyanto, 1995: 332).

  Kas dan Bank adalah uang atau alat pembayaran lain yang dapat

  • disamakan dengan uang dan dapat digunakan secara bebas oleh perusahaan untuk membiayai operasi perusahaan. Untuk dapat disamakan dengan uang, suatu alat pembayaran harus dapat diterima oleh bank sebesar yang tercantum dalam alat pembayaran tersebut. Kas pada umumnya terdiri atas uang kertas dan logam dan saldo rekening giro dibank. Termasuk dalam pengertian kas adalah cek, wesel pos, cek wisata dan bank draft yang diterima dari pihak lain. (Suwardjono, 2002: 75). Surat Berharga Jangka Pendek adalah investasi dalam asset untuk memanfaatkan kas yang sementara menganggur dan akan dijual kembali bila kas dibutuhkan. Surat berharga ini dapat berupa saham dan obligasi (Suwardjono, 2002: 75).

  Current Liabilities adalah kewajiban atau utang yang akan segera - dilunasi dalam waktu kurang dari satu tahun atau kurang dari satu perioda normal sejak tanggal pelaporan (tanggal neraca) dan pelunasannya biasanya menggunakan asset lancar, misalnya kas (Suwardjono, 2002: 78).

  4. Rasio Lancar atau Current Ratio Current Asset Current Ratio = ---------------------- x 100% Current Liabilities

  Definisi: Current Ratio menunjukkan kemampuan untuk membayar utang - yang harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar (Riyanto, 1995:

  332). Current Asset adalah asset yang diharapkan akan segera - terkonversi menjadi kas, terjual, atau terpakai dalam perioda kurang dari satu perioda operasi (siklus operasi) normal perusahaan (Suwardjono, 2002: 75).

  Current Liabilities adalah kewajiban atau utang yang akan segera

  • dilunasi dalam waktu kurang dari satu tahun atau kurang dari satu perioda normal sejak tanggal pelaporan (tanggal neraca) dan pelunasannya biasanya menggunakan asset lancar, misalnya kas (Suwardjono, 2002: 78).

  5. Collection Periods (CP) Total Piutang usaha CP = ------------------------------ x 365 hari Total Pendapatan Usaha

  Definisi: Collection Periods menunjukkan periode atau lamanya piutang

  • dapat dikumpulkan (Riyanto, 1995: 334).

  Total Piutang Usaha adalah total tagihan atau klaim yang timbul - akibat penyerahan barang atau jasa kepada pihak luar sebagai operasi utama (Suwardjono, 2002: 75). Total Pendapatan Usaha adalah total pendapatan yang diperoleh

  • perusahaan dari kegiatan utama atau yang menjadi tujuan utama perusahaan (Suwardjono, 2002: 81).

  Perputaran Persediaan (PP) 6. Total Persediaan PP = ----------------------------- x 365 hari Total Pendapatan Usaha

  Definisi: Perputaran Persediaan menunjukkan berapa kali persediaan

  • perusahaan telah dijual selama periode tertentu, misalnya selama tahun tertentu (Prastowo, 2002: 82).

  Total Persediaan adalah barang atau bahan yang sengaja diperoleh

  • perusahaan dan disediakan dalam rangka operasi umum perusahaan. Pengertian persediaan dalam neraca adalah untuk menunujukkan barang atau bahan yang masih tersisa pada tanggal penyusunan neraca (Suwardjono, 2002: 76).

  Total Pendapatan Usaha adalah total pendapatan yang diperoleh

  • perusahaan dari kegiatan utama atau yang menjadi tujuan utama perusahaan (Suwardjono, 2002: 81).

  7. Perputaran Total Asset atau Total Asset Turn Over (TATO) Total Pendapatan TATO = --------------------- x 100% Capital Employed

  Definisi: Total Asset Turn Over (TATO) mengukur aktivitas aktiva dan

  • kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan melalui penggunaan aktiva tersebut (Prastowo, 2002: 89).

  Total Pendapatan adalah total pendapatan yang diperoleh - perusahaan dari kegiatan utama dalam mencapai tujuannya (pendapatan usaha) dan pendapatan yang berasal bukan dari kegiatan utama perusahaan (pendapatan non usaha), contoh: pendapatan bunga, pendapatan dividen (Suwardjono, 2002: 81). Capital Employed adalah modal bersih perusahaan yang menjadi - sumber dana dari dalam yang digunakan untuk kegiatan perusahaan.

  Rasio Total Modal Sendiri Terhadap Total Asset (TMS terhadap TA) 8. Total Modal Sendiri TMS Terhadap TA = ------------------------ x 100% Total Asset

  Definisi: Rasio Total Modal Sendiri Terhadap Total Asset menunjukkan

  • perbandingan antara modal sendiri dengan total aktiva. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin kecil jumlah modal pinjaman yang
digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan (Munawir, 1983: 82).

  • Total Modal Sendiri adalah seluruh ekuitas pemilik dalam sebuah perusahaan (Thacker, 1998: 22).
  • Total asset adalah total sumber daya yang diperoleh sebuah perusahaan untuk membantunya dalam mencapai tujuannnya (Thacker, 1998: 21). Dalam penelitian ini, perusahaan yang akan diteliti termasuk dalam

  BUMN non infrastruktur, sehingga total skor aspek keuangan yang dipakai adalah 70% (0.7).Untuk mengetahui proporsi khusus pada aspek keuangan saja, maka dilakukan perhitungan sebagai berikut: total skor aspek keuangan sebesar 70% (0.7) dibagi dengan total skor (TS) dikalikan bobot masing-masing. Dengan demikian dapat dicari proporsinya: 1)

  SEHAT AAA apabila total skor keuangan (TSK) > 0.7 x 95 AA apabila 0.7 x 80 < TSK

  ≤ 0.7 x 95 A apabila 0.7 x 65 < TSK

  ≤ 0.7 x 80 2) KURANG SEHAT

  BBB apabila 0.7 x 50 < TSK ≤ 0.7 x 65

  BB apabila 0.7 x 40 < TSK ≤ 0.7 x 50

  B apabila 0.7 x 30 < TSK ≤ 0.7 x 40

  3) TIDAK SEHAT CCC apabila 0.7 x 20 < TSK

  ≤ 0.7 x 30 CC apabila 0.7 x 10 < TSK

  ≤ 0.7 x 20 C apabila TSK

  ≤ 0.7 x 10 Hasil perhitungan dari total skor keuangan (TSK) dikalikan dengan total skor keseluruhan (TS) menjadi:

  SEHAT 1)

  AAA apabila TSK > 66.5 AA apabila 56 < TSK

  ≤ 66.5 A apabila 45.5 < TSK

  ≤ 56 2) KURANG SEHAT

  BBB apabila 35 < TSK ≤ 45.5

  BB apabila 28 < TSK ≤ 35

  B apabila 21 < TSK ≤ 28

  TIDAK SEHAT 3)

  CCC apabila 14 < TSK ≤ 21

  CC apabila 7 < TSK ≤ 14

  C apabila TSK ≤ 7

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, yang telah go public di Bursa Efek Jakarta. Penelitian dilaksanakan

  dengan mengamati objek penelitian sehingga kesimpulan yang diperoleh hanya terbatas pada perusahaan yang bersangkutan.

  B. Tempat dan Waktu Penelitian

  Tempat Penelitian 1.

  Penelitian dilakukan dengan mengambil data-data keuangan dan data lainnya yang dibutuhkan dipojok Bursa Efek Jakarta Universitas Sanata Dharma dan Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada.

  2. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan selama bulan Januari - Februari tahun 2006.

  C. Objek Penelitian

  Objek dalam penelitian ini adalah data tentang laporan keuangan PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk yang meliputi neraca, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan konsolidasian perusahaan selama tahun 2002-2004.

  D. Data Yang Diperlukan

  Data yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain:

  1. Gambaran umum perusahaan yang diambil dari catatan atas laporan keuangan konsolidasian.

  Data mengenai laporan keuangan PT Tambang Batubara Bukit Asam 2.

  (Persero) Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk yang meliputi laporan laba-rugi dan neraca dari tahun 2002 sampai tahun 2004.

  E. Teknik Pengumpulan Data

  Teknik yang digunakan adalah dokumentasi. Teknik ini digunakan untuk menelusuri data keuangan perusahaan. Data tersebut diteliti dengan cara memeriksa dokumen yang ada di perusahaan.

  F. Teknik Analisis Data

  Untuk menjawab rumusan masalah yang telah dikemukakan pada Bab I, berkaitan dengan tingkat kesehatan keuangan perusahaan selama tahun 2002- 2004 berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  Menghitung nilai masing-masing indikator dari aspek keuangan.

  1.

  a. Imbalan kepada pemegang saham atau Return on Equity (ROE) Laba Setelah Pajak ROE = ------------------------ x 100% Modal Sendiri

  Keterangan: Return on Equity (ROE) menunjukkan kemampuan dari modal

  • sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham preferen dan saham biasa (Riyanto, 1995: 336).

  Laba Setelah Pajak adalah laba setelah pajak dikurangi dengan laba

  • hasil penjualan dari: aktiva tetap, aktiva non produktif, aktiva lain- lain, dan saham penyertaan langsung.

  Modal Sendiri adalah seluruh komponen modal sendiri dalam - neraca perusahaan pada posisi akhir tahun buku dikurangi dengan komponen modal sendiri yang digunakan untuk membiayai aktiva tetap dalam pelaksanaan dan laba tahun berjalan. Dalam modal sendiri tersebut diatas termasuk komponen kewajiban yang belum ditetapkan statusnya.

  Aktiva Tetap Dalam Pelaksanaan adalah posisi pada akhir tahun

  • buku aktiva tetap yang sedang dalam tahap pembangunan.

  Imbalan Investasi atau Return on Investment (ROI) b.

  EBIT + Penyusutan ROI = ------------------------- x 100%

  Capital Employed Keterangan:

  Return on Investment (ROI) menunjukkan kemampuan dari modal - yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan netto (Riyanto, 1995: 336).

  • EBIT adalah laba sebelum bunga dan pajak dikurangi laba dari hasil penjualan dari: aktiva tetap, aktiva non produktif, aktiva lain- lain, dan saham penyertaan langsung.
  • Penyusutan adalah depresiasi, amortisasi dan deplesi.
  • Capital Employed adalah posisi pada akhir tahun buku total dikurangi aktiva tetap dalam pelaksanaan.

  c.

  Rasio kas atau Cash Ratio Kas + Bank + Surat Berharga Jangka Pendek

  Cash Ratio = ------------------------------------------------------- x 100% Current Liabilities

  Keterangan:

  • Cash Ratio menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan (Riyanto, 1995: 332).
  • Kas, Bank dan Surat Berharga Jangka Pendek adalah posisi masing-masing pada akhir tahun buku.
  • Current Liabilities adalah posisi total kewajiban lancar pada akhir tahun buku.

  d.

  Rasio Lancar atau Current Ratio Current Asset Current Ratio = ---------------------- x 100% Current Liabilities

  Keterangan:

  • Current Ratio menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar (Riyanto, 1995: 332).
  • Current Asset adalah posisi total aktiva lancar pada akhir tahun buku.
  • Current Liabilities adalah posisi total kewajiban lancar pada akhir tahun buku.

  e.

  Collection Periods (CP) Total Piutang usaha CP = ------------------------------ x 365 hari Total Pendapatan Usaha

  Keterangan:

  • Collection Periods menunjukkan periode atau lamanya piutang dapat dikumpulkan (Riyanto, 1995: 334).
  • Total Piutang Usaha adalah posisi piutang usaha setelah dikurangi cadangan penyisihan piutang pada akhir tahun buku.
  • Total Pendapatan Usaha adalah total pendapatan usaha selama tahun buku.

  f. Perputaran Persediaan (PP) Total Persediaan PP = ----------------------------- x 365 hari Total Pendapatan Usaha

  Keterangan: Perputaran Persediaan menunjukkan berapa kali persediaan

  • perusahaan telah dijual selama periode tertentu, misalnya selama tahun tertentu (Prastowo, 2002: 82).

  Total Persediaan adalah seluruh persediaan yang digunakan untuk

  • proses produksi pada akhir tahun buku yang terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan barang setengah jadi dan persediaan barang jadi ditambah persediaan peralatan dan suku cadang.

  Total Pendapatan Usaha adalah total pendapatan usaha dalam

  • tahun buku yang bersangkutan.

  Perputaran Total Asset atau Total Asset Turn Over (TATO) g. Total Pendapatan TATO = --------------------- x 100% Capital Employed

  Keterangan: Total Asset Turn Over (TATO) mengukur aktivitas aktiva dan - kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan melalui penggunaan aktiva tersebut (Prastowo, 2002: 89). Total Pendapatan adalah total pendapatan usaha dan non usaha - tidak termasuk pendapatan hasil penjualan aktiva tetap.

  Capital Employed adalah posisi pada akhir tahun buku total aktiva - dikurangi aktiva tetap dalam pelaksanaan. h. Rasio Total Modal Sendiri Terhadap Total Asset (TMS terhadap TA) Total Modal Sendiri TMS Terhadap TA = ------------------------ x 100% Total Asset

  2. Menentukan skor masing-masing indikator pada aspek keuangan dari tahun 2002-2004, yaitu dengan cara membandingkan nilai masing-masing indikator dengan daftar skor penilaian masing-masing indikator aspek keuangan.

  Keterangan:

  • Rasio Total Modal Sendiri Terhadap Total Asset menunjukkan perbandingan antara modal sendiri dengan total aktiva. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin kecil jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan (Munawir, 1983: 82).
  • Total Modal Sendiri adalah seluruh komponen modal sendiri pada akhir tahun buku diluar dana-dana yang belum ditetapkan statusnya.
  • Total asset adalah total asset dikurangi dengan dana-dana yang belum ditetapkan statusnya pada posisi akhir tahun buku yang bersangkutan.

  Untuk mengetahui daftar skor penilaian masing-masing indikator yang tergolong dalam aspek keuangan adalah sebagai berikut:

  Daftar Skor Penilaian ROE a. Tabel 2 Daftar Skor Penilaian ROE

  ROE (%) Skor Non Infrastruktur 15 < ROE 20 13 < ROE

  18 ≤ 15 11 < ROE

  16 ≤ 13 9 < ROE

  14 ≤ 11 7.9 < ROE

  12 ≤ 9 6.6 < ROE

  10 ≤ 7.9 5.3 < ROE

  8.5 ≤ 6.6 4 < ROE

  7 ≤ 5.3 2.5 < ROE

  5.5 ≤ 4 1 < ROE

  4 ≤ 2.5 ROE

  2 ≤ 1 ROE ≤ 0

  Sumber: SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002

  b. Daftar Skor Penilaian ROI Tabel 3 Daftar Skor Penilaian ROI

  ROI (%) Skor Non Infrastruktur 18 < ROI 15 15 < ROI

  13.5 ≤ 18 13 < ROI

  12 ≤ 15 12 < ROI

  10.5 ≤ 13 10.5 < ROI

  9 ≤ 12 9 < ROI

  7.5 ≤ 10.5 7 < ROI

  6 ≤ 9 5 < ROI

  5 ≤ 7 3 < ROI

  4 ≤ 5 2 < ROI

  3 ≤ 3 0 < ROI

  2 ≤ 1 ROI

  1 ≤ 0 Sumber: SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 Daftar Skor Penilaian Cash Ratio c.

   Tabel 4 Daftar Skor Penilaian Cash Ratio Cash Ratio = X (%) Skor Non Infrastruktur

  X

  5 ≤ 35

  25

  4 ≤ X ≤ 35

  15

  3 ≤ X ≤ 25

  10

  2 ≤ X ≤ 15

  5

  1 ≤ X ≤ 10 ≤ X ≤ 5 Sumber: SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002

  d. Daftar Skor Penilaian Current Ratio

   Tabel 5 Daftar Skor Penilaian Current Ratio

Current Ratio = X (%) Skor Non Infrastruktur

125 ≤ X

  5 110 ≤ X < 125 4 100 ≤ X < 110 3 95 ≤ X < 100 2 90 ≤ X < 95

  1 X < 90 Sumber: SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002

  e. Daftar Skor Penilaian Collection Periods

  Tabel 6 Daftar Skor Penilaian Collection Periods CP = X (hari) Perbaikan = X (hari) Skor Non Infrastruktur

  X X

  5 ≤ 90 ≥ 35 60 < X 30 < X

  4.5 ≤ 90 ≤ 35 90 < X 25 < X

  4 ≤ 120 ≤ 30 120 < X 20 < X

  3.5 ≤ 150 ≤ 25 150 < X 15 < X

  3 ≤ 180 ≤ 20 180 < X 10 < X

  2.4 ≤ 210 ≤ 15 210 < X 6 < X

  1.8 ≤ 240 ≤ 10 240 < X 3 < X

  1.2 ≤ 270 ≤ 6 270 < X 1 < X

  0.6 ≤ 300 ≤ 3 300 < X 0 < X ≤ 1

  Sumber: SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 f. Daftar Skor Penilaian Perputaran Persediaan

   Tabel 7 Daftar Skor Penilaian Perputaran Persediaan PP = X (hari) Perbaikan = X (hari) Skor Non Infrastruktur

  7.25

  ≤ 40

  X ≤ 0

  2 X ≤ 20 X ≤ 0

  1.5 Sumber: SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 h.

  Daftar Skor Penilaian Rasio Modal Sendiri terhadap Total Asset

   Tabel 9 Daftar Skor Penilaian Rasio Modal Sendiri terhadap Total Asset TMS terhadap TA (%) = X Skor Non Infrastruktur

  X ≤ 0 ≤ X ≤ 10

  4

  10 ≤ X ≤ 20

  6

  20 ≤ X ≤ 30

  30 ≤ X ≤ 40

  3 40 < X ≤ 60

  10

  40 ≤ X ≤ 50

  9

  50 ≤ X ≤ 60

  8.5

  60 ≤ X ≤ 70

  8

  70 ≤ X ≤ 80

  7.5

  80 ≤ X ≤ 90

  7

  90 ≤ X ≤ 100

  X ≤ 0 2.5 20 < X

  ≤ 5

  X ≤ 60 35 < X

  ≤ 10

  5 60 < X ≤ 90 30 < X

  ≤ 35

  4.5 90 < X ≤ 120 25 < X

  ≤ 30

  4 120 < X ≤ 150 20 < X

  ≤ 25

  3.5 150 < X ≤ 180 15 < X

  ≤ 20

  3 180 < X ≤ 210 10 < X

  ≤ 15

  2.4 210 < X ≤ 240 6 < X

  1.8 240 < X ≤ 270 3 < X

  3.5 60 < X ≤ 75 0 < X

  ≤ 6

  1.2 270 < X ≤ 300 1 < X

  ≤ 3

  0.6 300 < X 0 < X ≤ 1 Sumber: SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002

  g. Daftar Skor Penilaian Perputaran Total Asset

   Tabel 8 Daftar Skor Penilaian Perputaran Total Asset TATO = X (%) Perbaikan = X (hari) Skor Non Infrastruktur 120 < X 20 < X

  5 105 < X ≤ 120 15 < X

  ≤ 20

  4.5 90 < X ≤ 105 10 < X

  ≤ 15

  4 75 < X ≤ 90 5 < X

  ≤ 10

  6.5 Sumber: SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002

  3. Menjumlahkan skor dari semua indikator aspek keuangan. Total skor aspek keuangan kemudian dibandingkan dengan SK Menteri BUMN No.

  KEP-100/MBU/2002.

  4. Menarik kesimpulan apakah perusahaan tersebut termasuk dalam kondisi sehat, kurang sehat atau tidak sehat berdasarkan hasil analisis kriteria penilaian diatas. Hasil perhitungan dari total skor keuangan (TSK) dikalikan dengan total skor keseluruhan (TS) adalah: a.

  SEHAT AAA apabila TSK > 66.5 AA apabila 56 < TSK

  ≤ 66.5 A apabila 45.5 < TSK

  ≤ 56 b. KURANG SEHAT

  BBB apabila 35 < TSK ≤ 45.5

  BB apabila 28 < TSK ≤ 35

  B apabila 21 < TSK ≤ 28

  c. TIDAK SEHAT CCC apabila 14 < TSK

  ≤ 21 CC apabila 7 < TSK

  ≤ 14 C apabila TSK

  ≤ 7

  BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. PT TAMBANG BATUBARA BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk

  1. Sejarah Singkat Perusahaan PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk (“Perusahaan”) didirikan pada tanggal 2 Maret 1981, berdasarkan Peraturan Pemerintah

  No. 42 tahun 1980 dengan akta notaris Mohamad Ali No. 1, yang telah diubah dengan akta notaris No. 5 tanggal 6 Maret 1984 dan No. 51 tanggal

  29 Mei 1985 dari notaris yang sama. Akta pendirian dan perubahan tersebut disahkan oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No.

  C2-7553-HT.01.04.TH.85 tanggal 28 November 1985 serta diumumkan dalam Berita Negara No. 33, Tambahan No. 550, tanggal 25 April 1986.

  Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, yang terakhir dengan akta notaris No. 18 tanggal 14 Oktober 2002 dari notaris Nila Noordjasmani Soeyasa Besar, S.H., notaris pengganti Imas Fatimah, S.H., sehubungan dengan, antara lain, perubahan jumlah ekuitas, penawaran umum efek dan perubahan nama Perusahaan menjadi “PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk” dan telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No. C-20119 HT.01.04.TH.2002 tanggal 17 Oktober 2002 dan dituangkan dalam Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. KEP- 123/M.BUMN/2002. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 56 tanggal 30

  Oktober 1990, Perum Tambang Batubara, sebuah perusahaan batubara yang berlokasi di Sawahlunto, Sumatera Barat, digabung dengan Perusahaan. Pada tahun 1993, Perusahaan ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan Satuan Kerja Pengusahaan Briket.

  Pada tahun 1996, Perusahaan mendirikan anak perusahaan PT Batubara Bukit Kendi (“BBK”) yang berkedudukan di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, dengan kepemilikan sebesar 75%. Ruang lingkup kegiatan anak perusahaan terutama mengusahakan pertambangan batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pengangkutan dan pemasaran batubara. BBK mulai beroperasi pada tahun 1997 dan jumlah aktivanya pada tanggal 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp 61,5 miliar.

  Perusahaan memiliki dua unit pertambangan yaitu Unit Pertambangan Tanjung Enim (“UPT”) yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, dioperasikan dengan sistem penambangan terbuka dan Unit Pertambangan Ombilin (“UPO”) yang berlokasi di sawahlunto, Sumatera Barat, dioperasikan dengan sistem tambang dalam (bawah tanah). Selain itu, Perusahaan mengoperasikan satu pelabuhan dan dua dermaga untuk keperluan pengiriman batubara yaitu Pelabuhan Tarahan di Lampung, Dermaga Kertapati di Sumatera Selatan dan Dermaga Teluk Bayur di Sumatera Barat. Sejak tahun 2003 Dermaga Teluk Bayur tidak dioperasikan lagi.

  2. Tujuan Perusahaan Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, maksud dan tujuan Perusahaan terutama bergerak dalam bidang industri tambang batubara, yang meliputi:

  a. kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian, pengangkutan dan perdagangan, pemeliharaan fasilitas dermaga khusus batubara baik untuk keperluan sendiri maupun pihak lain.

  b. Pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap baik untuk keperluan sendiri ataupun pihak lain dan memberikan jasa-jasa konsultasi dan rekayasa dalam bidang yang ada hubungannya dengan industri pertambangan batubara beserta hasil olahannya.

  3. Komisaris, Direksi dan Karyawan Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal

  31 Desember 2004 adalah sebagai berikut: Komisaris Komisaris Utama: Jarman Komisaris: Mahyudin Lubis

  Supriyadi Mirza Mochtar

  Mirman Singgih Riphat Direktur Direktur Utama: Ismet Harmaini Direktur: Abdul Azis Nazori Sukrisno

  A.C. Purba Mahbub Iskandar

  Jumlah gaji dan tunjangan lainnya yang diterima Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan sekitar Rp 3,8 miliar dan Rp 2,8 miliar masing- masing pada tahun 2004 dan 2003. pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, Perusahaan dan Anak perusahaan mempunyai 3.703 dan 4.031 karyawan tetap.

B. PT PERUSAHAAN GAS NEGARA (PERSERO) Tbk

  1. Sejarah Singkat Perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (“Perusahaan”) berasal dari perusahaan swasta Belanda yang bernama Firma L. J. N. Eindhoven

  & Co. Gravenhage pada tahun 1859. Kemudian, pada tahun 1950, pada saat diambil alih oleh Pemerintah Belanda, Perusahaan diberi nama NV.

  Netherland Indische Gaz Maatschapij (NV.NIGM). Pada tahun 1958, saat diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia, nama Perusahaan diganti menjadi Badan Pengambil Alih Perusahaan-perusahaan Listrik dan Gas (BP3LG) yang kemudian beralih status menjadi BPU – PLN pada tahun 1961. Pada tanggal 13 Mei 1965, berdasarkan Peraturan Pemerintah

  No. 19/1965, Perusahaan ditetapkan sebagai Perusahaan Negara dan dikenal sebagai Perusahaan Negara Gas (PN. Gas). Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1984, PN. Gas diubah menjadi perusahaan umum (Perum) dengan nama Perusahaan Umum Gas Negara. Setelah itu, status Perusahaan diubah dari Perum menjadi perusahaan perseroan terbatas yang dimiliki oleh Negara (Persero) dan namanya berubah menjadi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 1994 dan Akta Pendirian Perusahaan No. 486 tanggal 30 Mei 1996 yang diaktakan oleh notaris Adam Kasdarmaji, S.H.

  Anggaran Dasar Perusahaan terakhir diubah dengan Akta Notaris No. 5 dari Fathiah Helmi, S.H. tanggal 3 November 2003, antara lain tentang perubahan nilai nominal saham, peningkatan modal dasar, modal ditempatkan dan disetor penuh Perusahaan serta perubahan status Perusahaan menjadi perusahaan terbuka. Perubahan ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C-26467 HT.01.04 Th.2003 tanggal 4 November 2003, dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia dengan nomor 94 Tambahan No. 11769 tanggal 24 November 2003.

  2. Tujuan Perusahaan Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan dan Peraturan

  Pemerintah No. 37 tahun 1994, Perusahaan bertujuan untuk melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya di bidang pengembangan pemanfaatan gas bumi untuk kepentingan umum serta penyediaan gas dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk melayani kebutuhan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, Perusahaan akan melaksanakan perencanaan, pembangunan, pengelolaan dan usaha hilir bidang gas bumi yang meliputi kegiatan pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan niaga, perencanaan, pembangunan dan pengembangan penyaluran dan distribusi gas buatan, atau usaha lain yang menunjang usaha di atas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada saat ini, usaha utama Perusahaan adalah distribusi dan transmisi gas bumi ke pelanggan industri, komersial dan rumah tangga.

  3. Lokasi Perusahaan Kantor pusat Perusahaan berkedudukan di JL. K. H. Zainul Arifin

  No. 20, Jakarta. Cabang-cabang Perusahaan berlokasi di Medan, Jakarta (termasuk Bandung dan Palembang), Bogor, Cirebon, Surabaya (termasuk Makasar dan Semarang) dan Jambi (Unit Transmisi Sumatera Tengah – UTST). Pada tahun 2002, cabang Jambi didivestasi menjadi PT Transportasi Gas Indonesia (Transgasindo), Anak Perusahaan. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1859. Untuk mencapai sasaran penjualan yang lebih responsif, Perusahaan membagi wilayah usaha menjadi 3 Strategic Business Unit (SBU) yang masing-masing terdiri dari beberapa distrik, yaitu:

  1) SBU distribusi wilayah I, Jawa Bagian Barat SBU distribusi wilayah I yang mencakup wilayah Jawa Bagian Barat sampai dengan Sumatera Selatan, memiliki tujuh distrik dan satu rayon, yaitu: distrik Jakarta, Banten, Bekasi, Karawang, Bogor, Cirebon dan Palembang serta rayon Bandung.

  2) SBU distribusi wilayah II, Jawa Bagian Timur SBU distribusi wilayah II yang mencakup wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan memiliki tiga distrik dan dua rayon, yaitu: distrik Surabaya-Gresik, Sidoarjo-Mojokerto dan Pasuruan- Probolinggo serta rayon Semarang dan makasar. 3) SBU distribusi wilayah III, Sumatera Bagian Utara

  SBU distribusi wilayah III yang mencakup wilayah Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau dan Jambi memiliki dua distrik, yaitu: distrik Medan dan Batam.

  4. Komisaris, Direksi dan Karyawan Pada tanggal 31 Desember 2004, susunan dewan komisaris dan dewan direksi Perusahaan adalah sebagai berikut:

  Dewan Komisaris Komisaris Utama: DR. Sumarno Surono Komisaris: Ir. Bemby Uripto Ir. Pudja Sunasa DR. Ir. Sahala Lumban Gaol

  Komisaris Independen: DR. Ir. Nenny Miryani Saptadji Ir. Rudy Tavinos Dewan Direksi Direktur Utama: Drs. W. M. P. Simandjuntak Direktur Keuangan: Drs. Djoko Pramono, MBA Direktur Pengembangan: Ir. Adil Abas Reksoatmodjo Direktur Pengusahaan: Ir. Nursubagjo Prijono, M.Sc.

  Direktur Umum: Drs. Sutikno, M.Si. Pada tanggal 31 Desember 2004, susunan komite audit Perusahaan adalah sebagai berikut: Ketua: DR. Ir. Nenny Miryani Saptadji Anggota: P. Mamontang Simatupang, SE, MSM Ir. Dumoly Freddy Pardede, MBA Drs. Soeparwan, MM (Alm) Pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, jumlah karyawan tetap Perusahaan dan Anak Perusahaan adalah 1.344 orang dan 1.093 orang (tidak diaudit).

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara

  (Persero) Tbk. Laporan keuangan ini terdiri dari neraca, laporan laba rugi dan catatan atas laporan keuangan. Laporan yang digunakan adalah laporan keuangan konsolidasian tahunan dan telah diaudit oleh akuntan publik untuk tahun 2002 sampai dengan tahun 2004.

  Data laporan keuangan untuk tahun 2003 pada kedua perusahaan menggunakan data yang disajikan kembali pada tahun 2004. Hal ini disebabkan karena Perusahaan menerapkan lebih awal Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 (Revisi 2004) tentang “Imbalan Kerja”.

  Menurut pendapat auditor, penyesuaian tersebut wajar dan telah diterapkan dengan semestinya.

B. Analisis Data

  Untuk menjawab permasalahan yang telah diuraikan pada Bab I, maka berikut ini akan dilakukan analisis data yang diperlukan dari hasil penelitian, dimana penelitian ini untuk mengetahui tingkat kesehatan masing-masing perusahaan yang dilihat dari aspek keuangan perusahaan saja.

  Hasil analisis rasio terhadap laporan keuangan PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2004 adalah sebagai berikut:

1. PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk Menghitung nilai masing-masing indikator dari aspek keuangan.

  a.

  1) Imbalan kepada pemegang saham / Return On Equity (ROE) Laba Setelah Pajak ROE = ------------------------ x 100% Modal Sendiri

   Tabel 10 Return On Equity (ROE) PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk (dalam jutaan rupiah)

  Tahun Laba Setelah Pajak Modal Sendiri ROE (%) 2002 177.955 1.356.372 13,11 2003 210.390 1.393.652 15,09 2004 419.802 1.689.263 24,85

  Sumber: data sekunder yang diolah

  2) Imbalan Investasi / Return On Investment (ROI) EBIT + Penyusutan

  ROI = ------------------------- x 100% Capital Employed

   Tabel 11 Return On Investment (ROI) PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk (dalam jutaan rupiah)

  Tahun EBIT Penyusutan ROI (%)

  Capital Employed

  2002 245.849 25.872 * 1.985.120 13,68 2003 264.910 26.771 ** 2.080.608 14,01 2004 577.038 28.621 *** 2.385.141 25,39

  Sumber: data sekunder yang diolah

  Penyusutan * 2002 = 17.912 + 7.601 + 359

  • 2003 = 20.248 + 6.523
    • 2004 = 22.025 + 6.596

  3) Rasio Kas / Cash Ratio Kas + Bank + Surat Berharga Jangka Pendek

  Cash Ratio = ------------------------------------------------------- x 100% Current Liabilities

   Tabel 12 Cash Ratio PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk (dalam jutaan rupiah)

  Tahun Kas+Bank+Surat Current Liabilities Cash Ratio Berharga Jk. Pdk (%) 2002 584.753 469.183 124,63

  2003 594.897 360.196 165,15 2004 993.730 433.166 229,41

  Sumber: data sekunder yang diolah

  Rasio Lancar / Current Ratio 4)

  Current Asset Current Ratio = ---------------------- x 100% Current Liabilities

   Tabel 13 Current Ratio PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk (dalam jutaan rupiah)

  Tahun Current Asset Current Liabilities Current Ratio (%) 2002 1.257.369 469.183 267,99 2003 1.295.669 360.196 359,71 2004 1.638.657 433.166 378,29

  Sumber: data sekunder yang diolah

  Collection Periods (CP) 5)

  Total Piutang usaha CP = ------------------------------ x 365 hari Total Pendapatan Usaha

   Tabel 14 Collection Periods PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk (dalam jutaan rupiah)

  Tahun Total Piutang Total Pendapatan Collection Usaha Usaha Periods 2002 422.817 * 2.163.689 71,32

  2003 498.136 ** 2.285.038 79,56 2004 430.115 *** 2.614.472 60,04

  Sumber: data sekunder yang diolah

  Total Piutang Usaha * 2002 = 45.954 + 376.863

  • 2003 = 61.200 + 436.936
    • 2004 = 71.213 + 358.902 6) Perputaran Persediaan (PP)

  Total Persediaan PP = ----------------------------- x 365 hari Total Pendapatan Usaha

   Tabel 15 Perputaran Persediaan PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk (dalam jutaan rupiah)

  Tahun Total Persediaan Total Pendapatan Perputaran Usaha Persediaan 2002 191.355 2.163.689 32,28

  2003 151.708 2.285.038 24,23 2004 155.440 2.614.472 21,70

  Sumber: data sekunder yang diolah

  Perputaran Total Asset / Total Asset Turn Over (TATO) 7)

  Total Pendapatan TATO = --------------------- x 100% Capital Employed

  Tabel 16 Total Asset Turn Over PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk (dalam jutaan rupiah)

  Tahun Total Capital Total Asset Pendapatan Employed Turn Over (%) 2002 2.053.368 * 1.985.120 103,43

  2003 2.329.446 ** 2.080.608 111,95 2004 2.688.163 *** 2.385.141 112,70

  Sumber: data sekunder yang diolah

  Total Pendapatan * 2002 = 2.163.689 + (110.321)

  • 2003 = 2.285.038 + 44.408
    • 2004 = 2.614.472 + 73.691 8) Rasio Total Modal Sendiri terhadap Total Asset (TMS terhadap

  TA) Total Modal Sendiri TMS Terhadap TA = ------------------------ x 100% Total Asset

   Tabel 17 Total Modal Sendiri terhadap Total Asset PT Tambang Batubara Bukit asam (Persero) Tbk (dalam jutaan rupiah)

  Tahun Total Modal Total Asset TMS terhadap Sendiri TA (%) 2002 1.356.372 1.985.120 68,32

  2003 1.393.652 2.080.608 66,98 2004 1.689.263 2.385.141 70,82

  Sumber: data sekunder yang diolah

  Berdasarkan perhitungan indikator diatas, maka diperoleh nilai masing-masing indikator sebagai berikut:

   Tabel 18 Nilai Masing-masing Indikator PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk.

  5

  7 Perputaran Total Asset 103,43% 4 111,95% 4,5 112,70% 4,5

  5

  6 Perputaran Persediaan 32 hari 5 24 hari 5 22 hari

  5

  5 Collection Periods 71 hari 4,5 80 hari 4,5 60 hari

  4 Rasio Lancar 267,99% 5 359,71% 5 378,29% 5

  3 Rasio Kas 124,63% 5 165,15% 5 229,41%

  Indikator Aspek Keuangan 2002 2003 2004 ROE 13,11% 15.09% 24,85% ROI 13,68% 14,01% 25,39% Rasio Kas 124,63% 165,15% 229,41% Rasio Lancar 267,99% 359,71% 378,29% Collection Periods 71 hari 80 hari 60 hari Perputaran Persediaan 32 hari 24 hari 22 hari Perputaran Total Asset 103,43% 111,95% 112,70% Rasio Modal Sendiri thdp total aktiva 68,32% 66,98% 70,82% Sumber: data sekunder yang diolah

  15

  2 Imbalan Investasi (ROI) 13,68% 12 14,01% 12 25,39%

  1 Imbalan Kepada Pemegang Saham (ROE) 13,11% 18 15.09% 20 24,85% 20

  Indikator Nilai Skor Nilai Skor Nilai Skor

  Tabel 19 Nilai dan Skor Masing-masing Indikator PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk Tahun 2002 2003 2004 No.

  Menentukan skor masing-masing indikator pada aspek keuangan dari tahun 2002-2004, yaitu dengan cara membandingkan nilai masing- masing indikator dengan daftar skor penilaian masing-masing indikator aspek keuangan dan hasilnya sebagai berikut:

  b.

  8 Rasio Total Modal Sendiri terhdp Total asset 68,32% 8 66,98% 8 70,82% 7,5 Sumber: data sekunder yang diolah c. Menjumlahkan skor dari semua indikator aspek keuangan. Total skor aspek keuangan kemudian dibandingkan dengan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

   Tabel 20 Total Bobot Kinerja Keuangan PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk

No. Indikator 2002 2003 2004

  64

  5

  5

  5

  7 Perputaran Total Asset 4 4,5 4,5

  8 Rasio Total Modal Sendiri terhdp Total asset

  8 8 7,5 Total 61,5

  67 Sumber: data sekunder yang diolah d.

  5

  Menarik kesimpulan apakah perusahaan tersebut termasuk dalam kondisi sehat, kurang sehat atau tidak sehat berdasarkan hasil analisis kriteria penilaian diatas. Kriteria penilaian tingkat kesehatan BUMN menurut SK Menteri BUMN No. KEP 100/MBU/2002 digolongkan menjadi: a).

  SEHAT AAA apabila TSK > 66.5 AA apabila 56 < TSK

  ≤ 66.5 A apabila 45.5 < TSK

  ≤ 56 b). KURANG SEHAT

  BBB apabila 35 < TSK ≤ 45.5

  BB apabila 28 < TSK ≤ 35

  6 Perputaran Persediaan

  5 Collection Periods 4,5 4,5

  1 Imbalan kepada Pemegang Saham (ROE)

  15

  18

  20

  20

  2 Imbalan Investasi (ROI)

  12

  12

  3 Rasio Kas

  5

  5

  5

  5

  4 Rasio Lancar

  5

  5

  B apabila 21 < TSK c). TIDAK SEHAT CCC apabila 14 < TSK

  ≤ 21 CC apabila 7 < TSK

  ≤ 14 C apabila TSK

  ≤ 7 Kriteria penilaian kinerja keuangan PT. Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 diatas dengan total bobot yang diperoleh adalah sebagai berikut: Tabel 21 Penilaian Kinerja Keuangan

PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk.

   Tahun 2002-2004 Tahun Total Skor Keterangan Kinerja Perusahaan 2002 61,5 AA SEHAT

  2003 64 AA SEHAT 2004 67 AAA SEHAT Sumber: data sekunder yang diolah

2. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk Menghitung nilai masing-masing indikator dari aspek keuangan.

  a.

  1) Imbalan kepada pemegang saham / Return On Equity (ROE) Laba Setelah Pajak ROE = ------------------------ x 100% Modal Sendiri

   Tabel 22 Return On Equity (ROE) PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (dalam rupiah)

  Tahun Laba Setelah Pajak Modal Sendiri ROE (%) 2002 1.115.714.395.119 2.248.294.861.284 49,62 2003 509.480.734.340 3.261.966.546.414 15,61 2004 474.338.160.462 3.177.610.927.878 14,92

  Sumber: data sekunder yang diolah

  2) Imbalan Investasi / Return On Investment (ROI) EBIT + Penyusutan

  ROI = ------------------------- x 100% Capital Employed

  Tabel 23 Return On Investment (ROI) PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (dalam rupiah)

  Tahun EBIT Penyusutan Capital Employed ROI(%)

  • 2002 1.690.328.554.394 305.774.194.102 5.770.088.390.099 34,59 2003 740.346.424.754 385.234.761.081 ** 9.127.017.758.403 12,33
    • 2004 683.101.607.097 551.564.631.527 11.039.702.933.604 11,18

  Sumber: data sekunder yang diolah

  Penyusutan * 2002 = 293.405.448.839 + 12.368.745.263

  • 2003 = 378.071.471.044 + 7.163.290.037
    • 2004 = 541.068.028.160 + 10.496.603.367 3) Rasio Kas / Cash Ratio Kas + Bank + Surat Berharga Jangka Pendek Cash Ratio = ------------------------------------------------------- x 100%

  Current Liabilities

   Tabel 24 Cash Ratio PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (dalam rupiah)

  Tahun Kas+Bank+Surat Current Liabilities Cash Ratio Berharga Jk. Pdk (%) 2002 915.545.008.682 * 1.200.295.604.139 76,27

  • 2003 2.613.560.230.623 883.131.770.348 295,94
    • 2004 3.858.475.661.708 1.317.612.202.071 292,84

  Sumber: data sekunder yang diolah

  • 2002 = 792.309.662.022 + 123.235.346.660
    • 2003 = 1.926.742.730.623 + 686.817.500.000
      • 2004 = 3.346.709.661.708 + 511.766.000.000

  4) Rasio Lancar / Current Ratio Current Asset Current Ratio = ---------------------- x 100% Current Liabilities

   Tabel 25 Current Ratio PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (dalam rupiah)

  Tahun

  Current Asset Current Liabilities Current Ratio

  (%) 2002 1.807.821.050.761 1.200.295.604.139 150,61 2003 3.537.890.806.060 883.131.770.348 400,60 2004 4.804.649.199.605 1.317.612.202.071 364,64

  Sumber: data sekunder yang diolah

  5) Collection Periods (CP) Total Piutang usaha CP = ------------------------------ x 365 hari Total Pendapatan Usaha

   Tabel 26 Collection Periods PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (dalam rupiah)

  Tahun Total Piutang Total Pendapatan Collection Usaha Usaha Periods 2002 389.115.477.933 3.151.811.664.964 45,06

  2003 523.352.510.882 3.596.192.187.193 53,11 2004 683.834.568.752 4.457.870.136.709 55,99

  Sumber: data sekunder yang diolah

  Perputaran Persediaan (PP) 6)

  Total Persediaan PP = ----------------------------- x 365 hari Total Pendapatan Usaha

  Tabel 27 Perputaran Persediaan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (dalam rupiah)

  Tahun Total Persediaan Total Pendapatan Perputaran Usaha Persediaan 2002 43.868.075.061 3.151.811.664.964 5,08

  2003 57.800.270.935 3.596.192.187.193 5,86 2004 41.288.373.981 4.457.870.136.709 3,38

  Sumber: data sekunder yang diolah

  7) Perputaran Total Asset / Total Asset Turn Over (TATO) Total Pendapatan TATO = --------------------- x 100% Capital Employed

   Tabel 28 Total Asset Turn Over PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (dalam rupiah)

  Tahun Total Pendapatan Capital Employed Total Asset Turn

  Over (%)

  2002 4.028.206.420.541 * 5.770.088.390.099 69,81 2003 3.673.895.211.244 ** 9.127.017.758.403 40,25

  • 2004 4.772.601.397.890 11.039.702.933.604 43,23

  Sumber: data sekunder yang diolah

  Total Pendapatan * 2002 = 3.151.811.664.964 + 876.394.755.577

  • 2003 = 3.596.192.187.193 + 77.703.024.051
    • 2004 = 4.457.870.136.709 + 314.731.261.181 8) Rasio Total Modal Sendiri terhadap Total Asset (TMS terhadap

  TA) Total Modal Sendiri TMS Terhadap TA = ------------------------ x 100% Total Asset

   Tabel 29 Total Modal Sendiri terhadap Total Asset PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (dalam rupiah)

  Tahun Total Modal Sendiri

  Total Asset TMS

  terhadap TA 2002 2.248.294.861.284 5.770.088.390.099 38,96 2003 3.261.966.546.414 9.127.017.758.403 35,73 2004 3.177.610.927.878 11.039.702.933.604 28,78

  Sumber: data sekunder yang diolah

  Berdasarkan perhitungan indikator diatas, maka diperoleh nilai masing-masing indikator sebagai berikut:

  Tabel 30 Nilai Masing-masing Indikator PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

  Indikator Aspek Keuangan 2002 2003 2004 ROE 49,62% 15,61% 14,92% ROI 34,59% 12,33% 11,18% Rasio Kas 76,27% 295,94% 292,84% Rasio Lancar 150,61% 400,60% 364,64% Collection Periods 45 hari 53 hari 56 hari Perputaran Persediaan 5 hari 6 hari 3 hari Perputaran Total Asset 69,81% 40,25% 43,23% Rasio Modal Sendiri thdp total aktiva 38,96% 35,73% 28,78% Sumber: data sekunder yang diolah

  b.

  Menentukan skor masing-masing indikator pada aspek keuangan dari tahun 2002-2004, yaitu dengan cara membandingkan nilai masing- masing indikator dengan daftar skor penilaian masing-masing indikator aspek keuangan dan hasilnya sebagai berikut:

  Tabel 31 Nilai dan Skor Masing-masing Indikator PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk Tahun 2002 2003 2004 No.

  5

  5

  5

  4 Rasio Lancar

  5

  5

  5

  5 Collection Periods

  5

  3 Rasio Kas

  5

  6 Perputaran Persediaan

  5

  5

  5

  7 Perputaran Total Asset

  3 5 2,5

  8 Rasio Total Modal Sendiri terhdp Total asset

  5

  9

  Indikator Nilai Skor Nilai Skor Nilai Skor

  6 Perputaran Persediaan 5 hari

5 6 hari

5 3 hari

  1 Imbalan kepada Pemegang Saham (ROE) 49,62% 20 15,61% 20 14,92% 18

  2 Imbalan Investasi (ROI) 34,59% 15 12,33% 10,5 11,18%

  9

  3 Rasio Kas 76,27%

5 295,94%

5 292,84%

  5

  4 Rasio Lancar 150,61% 5 400,60% 5 364,64% 5

  5 Collection Periods 45 hari

5 53 hari

5 56 hari

  5

  5

  2 Imbalan Investasi (ROI) 15 10,5

  7 Perputaran Total Asset 69,81% 3 40,25% 5 43,23% 2,5

  8 Rasio Total Modal Sendiri terhdp Total asset 38,96% 10 35,73% 10 28,78% 7,25 Sumber: data sekunder yang diolah

  c. Menjumlahkan skor dari semua indikator aspek keuangan. Total skor aspek keuangan kemudian dibandingkan dengan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

   Tabel 32 Total Bobot Kinerja Keuangan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk No. Indikator 2002 2003 2004

  1 Imbalan kepada Pemegang Saham (ROE)

  20

  20

  18

  10 10 7,25 Total 68 65,5 56,75 Sumber: data sekunder yang diolah d. Menarik kesimpulan apakah perusahaan tersebut termasuk dalam kondisi sehat, kurang sehat atau tidak sehat berdasarkan hasil analisis kriteria penilaian diatas. Kriteria penilaian tingkat kesehatan BUMN menurut SK Menteri BUMN No. KEP 100/MBU/2002 digolongkan menjadi:

  a) SEHAT AAA apabila TSK > 66.5 AA apabila 56 < TSK

  ≤ 66.5 A apabila 45.5 < TSK

  ≤ 56

  b) KURANG SEHAT

  BBB apabila 35 < TSK ≤ 45.5

  BB apabila 28 < TSK ≤ 35

  B apabila 21 < TSK ≤ 28

  c) TIDAK SEHAT

  CCC apabila 14 < TSK ≤ 21

  CC apabila 7 < TSK ≤ 14

  C apabila TSK ≤ 7

  Kriteria penilaian kinerja keuangan PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. menurut SK Menteri BUMN No.KEP- 100/MBU/2002 diatas dengan total bobot yang diperoleh adalah sebagai berikut:

  Tabel 33 Penilaian Kinerja Keuangan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Tahun 2002-2004 Tahun Total Skor Keterangan Kinerja Perusahaan 2002 68 AAA SEHAT

  2003 65,5 AA SEHAT 2004 56,75 AA SEHAT Sumber: data sekunder yang diolah C.

   Pembahasan

  Untuk mengetahui kinerja PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. yang ditunjukkan dengan tingkat kesehatannya melalui indikator-indikator pada aspek keuangannya dilakukan dengan langkah-langkah yang telah diuraikan pada analisis data diatas berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

1. PT Tambang Batubara Bukit asam (Persero) Tbk.

  a.

  Imbalan Kepada Pemegang Saham/Return On Equity (ROE) Berdasarkan perhitungan sebelumnya, pada tahun 2002 tingkat

  ROE yang dimiliki oleh perusahaan sebesar 13,11%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah sebesar 13,11%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,1311 yang tersedia bagi pemegang saham. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-

  100/MBU/2002, skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini adalah 18.

  Pada tahun 2003 tingkat ROE perusahaan sebesar 15,09%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah 15,09%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,1509 yang tersedia bagi pemegang saham. Jika dibandingkan dengan tahun 2002 terjadi peningkatan tingkat ROE sebesar 1,98% yaitu dari 13,11% pada tahun 2002 menjadi sebesar 15,09% pada tahun 2003. Skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 20.

  Pada tahun 2004 tingkat ROE yang dimiliki perusahaan sebesar 24,85%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah 24,85%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,2485 yang tersedia bagi pemegang saham. Tahun 2004 ini juga mengalami peningkatan ROE sebesar 9,76% yaitu dari 15,09% pada tahun 2003 menjadi sebesar 24,85% pada tahun 2004. Menurut SK Menteri BUMN No.

  KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini sebesar 20. Jadi pada tahun 2003 dan 2004 perusahaan memperoleh skor maksimal untuk tingkat ROE. b. Imbalan Investasi/Return On Investment (ROI) Pada tahun 2002 tingkat ROI yang dimiliki perusahaan sebesar

  13,68%. Hal ini berarti bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,1368. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini adalah 12 dari skor maksimal daftar penilaian ROI yang telah ditetapkan yaitu sebesar 15.

  Pada tahun 2003 tingkat ROI yang diperoleh perusahaan sebesar 14,01%. Hal ini berarti bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,1401. Skor yang diperoleh perusahaan berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP- 100/MBU/2002 adalah 12. Peningkatan ROI ini disebabkan karena penjualan pada tahun ini meningkat dibandingkan tahun 2002.

  Peningkatan penjualan ini juga diikuti oleh peningkatan harga pokok penjualan yang menyebabkan EBIT tahun ini menjadi naik.

  Tahun 2004 ROI yang diperoleh perusahaan sebesar 25,39%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,2539. Pada tahun ini perusahaan mengalami peningkatan ROI dan skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 15.

  Rasio Kas/Cash ratio c.

  Tahun 2002 cash ratio yang diperoleh perusahaan sebesar 124,63%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk membayar utang yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan sebesar 124,63%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 1,2463. Skor yang diperoleh perusahaan tahun ini adalah 5.

  Tahun 2003 cash ratio yang diperoleh perusahaan sebesar 165,15%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk membayar utang yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan sebesar 165,15%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 1,6515. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 5.

  Tahun 2004 Cash ratio perusahaan sebesar 229,41%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 2,2941. Skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini juga adalah 5. Selama tiga tahun berturut-turut cash ratio yang dimiliki perusahaan terus meningkat dan skor yang diperoleh adalah skor maksimal dalam penilaian indikator cash ratio menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yaitu sebesar 5.

  Rasio Lancar/Current Ratio d.

  Tahun 2002 perusahaan memperoleh current ratio sebesar 267,99%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 267,99%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 2,6799. Berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 5.

  Tahun 2003 perusahaan memiliki current ratio sebesar 359,71%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 359,71%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 3,5971. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 5.

  Tahun 2004 perusahaan memperoleh current ratio sebesar 378,29%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 378,29%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 3,7829. Skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini adalah 5. Selama tiga tahun berturut-turut current

  ratio perusahaan mengalami peningkatan yang cukup baik dan

  memperoleh skor maksimal yang telah ditetapkan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yaitu sebesar 5.

  Collection Periods (CP) e.

  Tahun 2002 collection periods yang dimiliki perusahaan sebesar 71 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 71 hari sekali. Skor yang diperoleh perusahaan sebesar 4,5 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

  Tahun 2003 collection periods yang diperoleh perusahaan sebesar 80 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 80 hari sekali dan skor yang diperoleh perusahaan sebesar 4,5 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

  Pada tahun 2004 collection periods yang diperoleh perusahaan sebesar 60 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 60 hari sekali dan menurut SK Menteri BUMN No. KEP- 100/MBU/2002 perusahaan memperoleh skor sebesar 5 yaitu skor maksimal.

  f. Perputaran Persediaan (PP) Tahun 2002 perputaran persediaan yang diperoleh perusahaan sebesar 32 hari, hal ini menunjukkan bahwa dalam 32 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan menurut

  SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 perusahaan memperoleh skor maksimal sebesar 5.

  Tahun 2003 perputaran persediaan yang diperoleh perusahaan sebesar 24 hari, hal ini menunjukkan bahwa dalam 24 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP- 100/MBU/2002 adalah sebesar 5.

  Pada tahun 2004 perusahaan memperoleh perputaran persediaan sebesar 22 hari, hal ini berarti bahwa dalam 22 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan perusahaan memperoleh skor sebesar 5. Dalam tiga tahun berturut-turut perusahaan memperoleh skor maksimal menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yaitu skor maksimal sebesar 5.

  g. Perputaran Total Asset/Total Asset Turn Over (TATO) Tahun 2002 perputaran total asset yang diperoleh perusahaan sebesar 103,43%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,0343 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,0343. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 4.

  Pada tahun 2003 perputaran total asset perusahaan sebesar 111,95%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,1195 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,1195 dan skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 4,5.

  Pada tahun 2004 perputaran total asset perusahaan meningkat menjadi sebesar 112,70%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,1270 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 1,1270. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun 2004 adalah sebesar 4,5.

  h. Rasio Total Modal Sendiri Terhadap Total asset (TMS Terhadap TA) Tahun 2002 rasio total modal sendiri terhadap total asset perusahaan sebesar 68,32%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,6832. Menurut SK Menteri BUMN No.

  KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 8.

  Tahun 2003 rasio total modal sendiri terhadap total asset mengalami penurunan menjadi sebesar 66,98%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,6698 dan skor yang diperoleh perusahaan pada tahun 2003 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 8.

  Pada tahun 2004 rasio total modal sendiri terhadap total asset adalah sebesar 70,82%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,7082. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 7,5.

  Setelah melakukan perhitungan pada analisis data diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa tahun 2002 perusahaan dapat dikatakan dalam kondisi sehat dari total skor kinerja sebesar 61,5 dengan kriteria penilaian AA. Tahun 2003 perusahaan dalam kondisi sehat dengan total skor kinerja sebesar 64 dan kriteria penilaian AA. Sedangkan pada tahun 2004 perusahaan berada dalam kondisi sehat sekali dengan total skor kinerja sebesar 67 dan kriteria penilaian AAA.

  Dilihat dari total skor PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk dari tahun ke tahun semakin naik. Hal ini disebabkan karena hampir pada semua indikator yang diteliti dari tahun 2002 sampai tahun 2004 mengalami kenaikan kecuali pada rasio total modal sendiri terhadap total asset, dimana nilai yang paling optimal untuk perbandingan jumlah modal sendiri terhadap total asset adalah 30%-40% sedangkan persentase total modal sendiri terhadap total asset yang diperoleh perusahaan adalah sebesar 66,98%-70,82%. Jika dilihat dari skor menurut standar SK Menteri BUMN No. KEP- 100/MBU/2002 pada cash ratio, current ratio dan perputaran persediaan tidak mengalami kenaikan karena rasio-rasio ini sudah memperoleh skor maksimal.

  Sedangkan untuk indikator imbalan kepada pemegang saham (ROE), imbalan investasi (ROI), collection periods dan perputaran total asset dari tahun ke tahun memperoleh nilai yang mengalami kenaikan kecuali pada collection

  

periods yang pada tahun 2003 mengalami kenaikan dan tahun 2004 menjadi

  turun nilainya. Jika dilihat dari skor yang didapatkan perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 untuk keempat indikator ini walaupun dari tahun 2002 sampai tahun 2004 ada yang tidak mencapai skor maksimal tetapi skor yang didapatkan mengalami kenaikan. Sehingga jika dilihat dari rasio-rasionya maka kondisi PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk dapat dikatakan dalam keadaan baik.

2. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

  Imbalan Kepada Pemegang Saham/Return On Equity (ROE) a.

  Berdasarkan perhitungan sebelumnya, pada tahun 2002 tingkat ROE yang dimiliki oleh perusahaan sebesar 49,62%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah sebesar 49,62%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,4962 yang tersedia bagi pemegang saham. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP- 100/MBU/2002, skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini adalah 20.

  Pada tahun 2003 tingkat ROE perusahaan sebesar 15,61%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah 15,61%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,1561 yang tersedia bagi pemegang saham. Jika dibandingkan dengan tahun 2002 terjadi penurunan tingkat ROE yang cukup signifikan sebesar 34,01% yaitu dari 49,62% pada tahun 2002 menjadi sebesar 15,61% pada tahun 2003. Skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 20.

  Pada tahun 2004 tingkat ROE yang dimiliki perusahaan sebesar 14,92%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham adalah 14,92%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah modal sendiri dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 0,1492 yang tersedia bagi pemegang saham. Tahun 2004 ini juga mengalami penurunan ROE sebesar 0,69% yaitu dari 15,61% pada tahun 2003 menjadi sebesar 14,92% pada tahun 2004. Menurut SK Menteri BUMN No.

  KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini sebesar 18. b. Imbalan Investasi/Return On Investment (ROI) Pada tahun 2002 tingkat ROI yang dimiliki perusahaan sebesar

  34,59%. Hal ini berarti bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,3459. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini adalah 15 dari skor maksimal daftar penilaian ROI yang telah ditetapkan.

  Pada tahun 2003 tingkat ROI yang diperoleh perusahaan mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi 12,33%. Hal ini berarti bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,1233. Skor yang diperoleh perusahaan berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP- 100/MBU/2002 adalah 10,5.

  Tahun 2004 ROI yang diperoleh perusahaan sebesar 11,18%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dari setiap satu rupiah modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan adalah sebesar Rp 0,1118. Pada tahun ini perusahaan mengalami penurunan ROI dan skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 9. c. Rasio Kas/Cash ratio Tahun 2002 cash ratio yang diperoleh perusahaan sebesar

  76,27%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk membayar utang yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan sebesar 76,27%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 0,7627. Skor yang diperoleh perusahaan tahun ini adalah 5.

  Tahun 2003 cash ratio yang diperoleh perusahaan mengalami kenaikan yang cukup signifikan menjadi sebesar 295,94%. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk membayar utang yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan sebesar 295,94%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 2,9594. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah 5.

  Tahun 2004 Cash ratio perusahaan sebesar 292,84%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh kas dan efek sebesar Rp 2,9284. Skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini juga adalah 5. Selama tiga tahun berturut-turut skor yang diperoleh adalah skor maksimal dalam penilaian indikator cash ratio menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yaitu sebesar

  5 walaupun cash ratio perusahaan mengalami perubahan yang cukup signifikan selama tiga tahun ini.

  Rasio Lancar/Current Ratio d.

  Tahun 2002 perusahaan memperoleh current ratio sebesar 150,61%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 150,61%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 1,5061. Berdasarkan SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 5.

  Tahun 2003 perusahaan memiliki current ratio yang mengalami kenaikan cukup tinggi menjadi sebesar 400,60%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 400,60%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 4,0060. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 5.

  Tahun 2004 perusahaan memperoleh current ratio sebesar 364,64%. Hal ini menunjukkan kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar sebesar 364,64%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah utang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp 3,6464. Skor yang diperoleh perusahaan pada tahun ini adalah 5. Selama tiga tahun berturut-turut current

  ratio perusahaan mengalami perubahan yang cukup signifikan dan

  memperoleh skor maksimal yang telah ditetapkan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yaitu sebesar 5.

  Collection Periods (CP) e.

  Tahun 2002 collection periods yang dimiliki perusahaan sebesar 45 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 45 hari sekali. Skor yang diperoleh perusahaan sebesar 5 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

  Tahun 2003 collection periods yang diperoleh perusahaan sebesar 53 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 53 hari sekali dan skor yang diperoleh perusahaan sebesar 5 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002.

  Pada tahun 2004 collection periods yang diperoleh perusahaan sebesar 56 hari, hal ini menunjukkan piutang dapat dikumpulkan setiap 56 hari sekali dan menurut SK Menteri BUMN No. KEP- 100/MBU/2002 perusahaan memperoleh skor sebesar 5 yaitu skor maksimal.

  f. Perputaran Persediaan (PP) Tahun 2002 perputaran persediaan yang diperoleh perusahaan sebesar 5 hari, hal ini menunjukkan bahwa dalam 5 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan menurut SK Menteri

  BUMN No. KEP-100/MBU/2002 perusahaan memperoleh skor maksimal sebesar 5.

  Tahun 2003 perputaran persediaan yang diperoleh perusahaan sebesar 6 hari, hal ini menunjukkan bahwa dalam 6 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 5.

  Pada tahun 2004 perusahaan memperoleh perputaran persediaan sebesar 3 hari, hal ini berarti bahwa dalam 3 hari persediaan perusahaan telah dijual selama satu tahun dan perusahaan memperoleh skor sebesar 5. Dalam tiga tahun berturut-turut perusahaan memperoleh skor maksimal menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 yaitu skor maksimal sebesar 5.

  g. Perputaran Total Asset/Total Asset Turn Over (TATO) Tahun 2002 perputaran total asset yang diperoleh perusahaan sebesar 69,81%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,6981 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,6981. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 3.

  Pada tahun 2003 perputaran total asset perusahaan menurun menjadi sebesar 40,25%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,4025 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,4025 dan skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No.

  KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 5.

  Pada tahun 2004 perputaran total asset perusahaan meningkat menjadi sebesar 43,23%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,4323 melalui penggunaan aktiva atau dengan kata lain setiap satu rupiah total aktiva mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,4323. Menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan pada tahun 2004 adalah sebesar 2,5.

  h. Rasio Total Modal Sendiri Terhadap Total asset (TMS Terhadap TA) Tahun 2002 rasio total modal sendiri terhadap total asset perusahaan sebesar 38,96%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,3896. Menurut SK Menteri BUMN No.

  KEP-100/MBU/2002 skor yang diperoleh perusahaan sebesar 10.

  Tahun 2003 rasio total modal sendiri terhadap total asset mengalami penurunan menjadi sebesar 35,73%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,3573 dan skor yang diperoleh perusahaan pada tahun 2003 menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 adalah sebesar 10.

  Pada tahun 2004 rasio total modal sendiri terhadap total asset mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi sebesar 28,78%, hal ini berarti bahwa setiap satu rupiah jumlah modal sendiri dapat digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan sebesar Rp 0,2878. Skor yang diperoleh perusahaan menurut SK Menteri BUMN No. KEP-100/MBU/2002 juga mengalami penurunan menjadi sebesar 7,25.

  Setelah melakukan perhitungan pada analisis data diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa tahun 2002 perusahaan dapat dikatakan dalam kondisi sehat sekali dari total skor kinerja sebesar 68 dengan kriteria penilaian AAA. Tahun 2003 perusahaan dalam kondisi sehat dengan total skor kinerja sebesar 65,5 dan kriteria penilaian AA. Sedangkan pada tahun 2004 perusahaan berada dalam kondisi sehat dengan total skor kinerja sebesar 56,75 dan kriteria penilaian AA.

  Dilihat dari total skor PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dari tahun ke tahun semakin menurun. Penurunan ini disebabkan karena tidak semua indikator yang diteliti dari tahun 2002 sampai tahun 2004 mengalami perubahan yang sama bila dilihat pada nilai masing-masing indikator.

  Sedangkan jika dilihat dari skor menurut SK Menteri BUMN No. KEP-

  100/MBU/2002 cash ratio, current ratio, collection periods dan perputaran persediaan mendapatkan skor maksimal yaitu sebesar 5. Tetapi pada nilai indikator imbalan kepada pemegang saham (ROE), imbalan investasi (ROI), perputaran total asset dan total modal sendiri terhadap total asset skor yang didapatkan perusahaan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jika dilihat dari rasio-rasionya, kinerja PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dapat dikatakan dalam keadaan baik walaupun dari tahun 2002 sampai tahun 2004 total nilai skor kinerja keuangan semakin menurun sehingga perusahaan menjadi semakin tidak likuid.

BAB VI PENUTUP A. KESIMPULAN PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk.

  1. Dari analisis kinerja keuangan BUMN dapat disimpulkan sebagai

  berikut:

  a. Tahun 2002 perusahaan dapat dikatakan dalam kondisi sehat dilihat dari total skor kinerja sebesar 61,5 dengan kriteria penilaian AA.

  b. Tahun 2003 perusahaan dalam kondisi sehat dengan total skor kinerja sebesar 64 dengan kriteria penilaian kinerja AA.

  c. Tahun 2004 kondisi perusahaan sehat sekali dengan total nilai skor kinerja sebesar 67 dan kriteria penilaian kinerja AAA.

  2. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

  Dari analisis kinerja keuangan BUMN dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Tahun 2002 perusahaan dalam kondisi sehat sekali dengan total nilai skor kinerja sebesar 68 dan kriteria penilaian kinerja AAA.

  b. Tahun 2003 perusahaan dalam kondisi sehat dengan total nilai skor kinerja sebesar 65,5 dengan kriteria penilaian AA.

  c. Tahun 2004 perusahaan juga dalam kondisi sehat walaupun total nilai skor kinerja menurun drastis yaitu sebesar 56,75 dan perusahaan memperoleh kriteria penilaian AA.

  B. KETERBATASAN

  Dalam proses pengumpulan data penulis tidak melakukan penelitian langsung pada kedua perusahaan. Pengumpulan data dilakukan melalui Pojok Bursa Efek Jakarta Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma dan Magister Manajemen Universitas Gajah Mada. Tujuan penelitian tersebut diambil karena peneliti tertarik untuk melihat seberapa besar tingkat kemampuan perusahaan yang dikelola oleh pemerintah. Dalam penelitian ini penulis hanya meneliti pada aspek keuangan dan mengabaikan dua aspek lainnya yaitu aspek operasional dan aspek administrasi. keterbatasan tersebut karena peneliti tidak dapat memperoleh data-data yang berkaitan dengan kedua aspek tersebut, sebab data yang dimaksud tidak termuat dalam laporan keuangan kedua perusahaan.

  C. SARAN

  Mengacu dari hasil penelitian diatas maka saran penulis yang telah melakukan penelitian terhadap dua perusahaan BUMN yaitu PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk adalah:

  1. Bagi Perusahaan Dilihat dari rasio-rasionya, kinerja PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. sudah dalam keadaan baik. Selama tahun 2002-2003 tingkat kesehatan perusahaan dikategorikan berada pada posisi “ Sehat” dan tahun 2004 kondisi perusahaan meningkat dan dalam posisi “Sehat

  Sekali”. Oleh karena itu, perusahaan harus terus menjaga bahkan meningkatkan kinerja yang ada khususnya melalui kebijakan meningkatkan imbalan kepada pemegang saham, imbalan investasi,

  

collection periods , perputaran total asset, dan rasio total modal sendiri

  terhadap total asset. Sedangkan jika dilihat dari rasio-rasio kinerja PT perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. juga sudah dalam keadaan baik.

  Selama tahun 2002-2004 perusahaan dikategorikan berada dalam kondisi “Sehat”, walaupun dari tahun 2002-2004 total nilai skor kinerja keuangan semakin menurun sehingga keadaan perusahaan menjadi tidak likuid. Oleh karena itu, perusahaan harus terus menjaga bahkan meningkatkan kinerja yang ada dengan meningkatkan rasio imbalan kepada pemegang sahan, imbalan investasi, perputaran total asset, dan rasio total modal sendiri terhadap total asset.

  2. Bagi Penelitian selanjutnya Harapan penulis untuk penelitian selanjutnya mengenai penilaian tingkat kesehatan perusahaan berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No.

  KEP-100/MBU/2002 yang mengacu pada tiga aspek penilaian yaitu aspek keuangan, aspek operasional, dan aspek administrasi tetapi dalam penelitian ini penulis hanya meneliti pada aspek keuangan saja. oleh karena itu untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya aspek operasional dan aspek administrasi ikut diteliti sebab nilai suatu perusahaan tidak hanya dapat dilihat dari aspek keuangan saja, tetapi juga terletak pada aspek operasional dan aspek administrasi perusahaan yang dijalankan.

DAFTAR PUSTAKA

  Alwi, Syafaruddin. (1991), Alat-Alat Analisis dalam Pembelanjaan. Yogyakarta: Andi Offset.

  Baridwan, Zaki. (1997), Intermediate Accounting. Edisi ketujuh. Yogyakarta: BPFE, UGM.

  Ikatan Akuntan Indonesia. (2004), Standar Akuntansi Indonesia. Yogyakarta: Salemba Empat.

  Kieso, Weygandt, & Warfield. (2002), Akuntansi Intermediate. Edisi Kesepuluh, Jilid Satu. Jakarta: Erlangga.

  Munawir, S. (2002), Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty. Munawir, S. (1983), Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty. Prastowo, Dwi. P. (2002), Analisis laporan Keuangan : Konsep Dan Aplikasi.

  Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Riyanto, Bambang. (1995), Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada.

  Siwi. (2006), Analisis Penilaian Tingkat Kesehatan Perusahaan Farmasi Ditinjau

  Dari Aspek Keuangan, Berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN RI No. KEP-100/MBU/2002 . Skripsi, Yogyakarta: Universitas Sanata

  Dharma. Surat Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No. KEP-100/MBU/2002.

  Tentang “Penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara” Suwardjono. (2002), Akuntansi Pengantar : Proses Penciptaan Data Pendekatan Sistem. Edisi Ketiga, Bagian 1. Yogyakarta: BPFE, UGM.

  Thacker, Ronald. J. (1998), Dasar-Dasar Akunting. Edisi Kedua. PT Aksara Persada Indonesia.

  Triadji, Bambang. (2003), Evaluasi Program Penyehatan Badan Usaha Milik

  Negara , Jurnal Akuntansi Keuangan Sektor Publik. Vol. 04, No. 01, Hal. 25-37.

  

Lampiran 1

Neraca Dan Laporan Laba Rugi

PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk.

  PT TAMBANG BATUBARA BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

NERACA KONSOLIDASI

  

31 Desember 2004

Dengan angka perbandingan untuk tahun 2003

(Disajikan dalam jutaan rupiah, kecuali data saham)

2003

   (Disajikan kembali, Catatan 2004 Catatan 36) AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2d,3 993.730 594.897 Piutang usaha

  Pihak ketiga (setelah dikurangi penyisihan piutang tidak tertagih sebesar Rp3.418) 2e,4 71.213 61.200 Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa 2e,2f,4,32 358.902 436.936

  Piutang lain-lain (setelah dikurangi penyisihan piutang tidak tertagih sebesar Rp2.747 pada tahun 2004 dan Rp2.781 pada tahun 2003) 2e,5,22 24.145 26.861

  Persediaan - bersih 2h,6 155.440 151.708 Piutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun 9 11.148 10.766 Aktiva lancar lainnya 2g,7 24.079 13.301

JUMLAH AKTIVA LANCAR

  1.638.657 1.295.669 AKTIVA TIDAK LANCAR Taksiran tagihan kelebihan pembayaran pajak 8 8.001 40.446 Piutang jangka panjang - setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun 9 23.577 28.406 Aktiva tetap (setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp748.153 pada tahun

2004 dan Rp662.718 pada tahun 2003) 2i,10 484.502 528.333

  Beban eksplorasi dan pengembangan

tangguhan - bersih 2n,11 83.816 63.181

Uang muka dan jaminan 12 10.597 10.724 Aktiva pajak tangguhan - bersih 2o,16d 123.419 105.857 Aktiva tidak lancar lainnya - bersih 13 12.572 7.992

JUMLAH AKTIVA TIDAK LANCAR 746.484 784.939 JUMLAH AKTIVA

  2.385.141 2.080.608

  

PT TAMBANG BATUBARA BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

NERACA KONSOLIDASI (lanjutan)

  

31 Desember 2004

Dengan angka perbandingan untuk tahun 2003

(Disajikan dalam jutaan rupiah, kecuali data saham)

2003

   (Disajikan kembali, Catatan 2004 Catatan 36) KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN LANCAR Hutang usaha Pihak ketiga

  14 29.697 65.590 Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa 2f,14,32 8.323 9.520 Biaya masih harus dibayar

  15 226.863 232.595

Hutang pajak 2o,16a 104.728 27.118

Bagian penyisihan untuk penutupan tambang terbuka Ombilin yang jatuh tempo dalam

  • satu tahun 2m,19 20.539 Bagian penyisihan untuk pengelolaan lingkungan hidup yang jatuh tempo dalam satu tahun 2m,18 20.130 11.185 Penyisihan untuk program restrukturisasi 20 15.132
  • karyawan Kewajiban lancar lainnya

  17 7.754 14.188

JUMLAH KEWAJIBAN LANCAR 433.166 360.196

KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Penyisihan untuk manfaat pensiun dan kesejahteraan karyawan 2k,21 208.830 168.055 Penyisihan untuk pengelolaan lingkungan hidup

  • setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun 2m,18 44.685 48.002 Penyisihan untuk penutupan tambang terbuka Ombilin - setelah dikurangi bagian yang
  • jatuh tempo dalam satu tahun 2m,19 102.559

  

JUMLAH KEWAJIBAN TIDAK LANCAR 253.515 318.616

JUMLAH KEWAJIBAN 686.681 678.812 HAK MINORITAS ATAS AKTIVA BERSIH ANAK PERUSAHAAN YANG DIKONSOLIDASIKAN 23 9.197 8.144

  PT TAMBANG BATUBARA BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

NERACA KONSOLIDASI (lanjutan)

  

31 Desember 2004

Dengan angka perbandingan untuk tahun 2003

(Disajikan dalam jutaan rupiah, kecuali data saham)

2003

   (Disajikan kembali, Catatan 2004 Catatan 36) EKUITAS Modal saham - nilai nominal Rp500 per saham Modal dasar - 1 lembar saham preferen dan 7.999.999.999 lembar saham biasa Modal ditempatkan dan disetor penuh - 1 lembar saham preferen dan 2.134.304.999 lembar saham biasa pada tahun 2004 dan 1 lembar saham preferen dan 2.131.499.999 lembar saham biasa pada tahun 2003 24 1.067.152 1.065.750 Tambahan modal disetor - bersih

  25 766 275 Saldo laba Telah ditentukan penggunaannya 201.543 199.577 Belum ditentukan penggunaannya 419.802 128.050

JUMLAH EKUITAS

  1.689.263 1.393.652

JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 2.385.141 2.080.608

  

PT TAMBANG BATUBARA BUKIT ASAM (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASI

Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004

Dengan angka perbandingan untuk tahun 2003

  

(Disajikan dalam jutaan rupiah, kecuali laba bersih per saham)

2003 (Disajikan kembali, Catatan 2004 Catatan 36)

  

PENJUALAN 2j,27,32,33 2.614.472 2.285.038

BEBAN POKOK PENJUALAN 2j,28,33 1.573.069 1.535.431

LABA KOTOR

  1.041.403 749.607 BEBAN USAHA 2j,29 Umum dan administrasi

  289.724 287.764 Penjualan dan pemasaran 242.105 238.499 Eksplorasi

  6.227 2.842 Jumlah Beban Usaha

  538.056 529.105 LABA USAHA 503.347 220.502 PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN

  Pemulihan penyisihan untuk penutupan tambang terbuka Ombilin 19 - 82.020 Beban restrukturisasi karyawan 20 - (80.429)

Laba (rugi) kurs - bersih 2c 35.428 (3.314)

  Penghasilan bunga 32 32.863 44.597 Lain-lain - bersih 3.809 3.125 Penghasilan Lain-lain - Bersih

  73.691 44.408

LABA SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 577.038 264.910

BEBAN (MANFAAT) PAJAK PENGHASILAN 2o,16b Kini

  173.137 99.199 Tangguhan (17.561) (45.948)

  

BEBAN PAJAK PENGHASILAN - BERSIH 155.576 53.251

LABA SEBELUM HAK MINORITAS ATAS

LABA BERSIH ANAK PERUSAHAAN YANG DIKONSOLIDASIKAN

  421.462 211.659 HAK MINORITAS ATAS LABA BERSIH ANAK PERUSAHAAN YANG DIKONSOLIDASIKAN 23 (1.660) (1.269) LABA BERSIH

  419.802 210.390 LABA BERSIH PER SAHAM 2q,37 197

  99

   Lampiran

  2 Neraca Dan Laporan Laba Rugi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

  

Lampiran 3

SK Menteri BUMN No. KEP/100/MBU/2002

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis Manajemen Risiko pada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk SBU Distribusi Wilayah III Medan
49
319
59
Analisis Laporan Keuangan pada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
21
151
111
Peramalan Jumlah Pelanggan Energi Gas Pada PT Perusahaan Gas Negara (PERSERO) Cabang Medan Tahun 2012
0
38
78
Analisis Perbedaan Price Earning Ratio Dan Harga Pasar Saham (Studi Kasus Pada PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Dan PT Indosat, Tbk. Serta PT Excelcomindo Pratama, Tbk.)
0
36
85
Analisis penentuan jumlah tenaga kerja langsung pada PT Eratex Djaja LTD. Tbk. di Probolinggo
0
5
102
EVALUASI PERBANDINGAN KECUKUPAN MODAL PADA ASURANSI PT BINA DANA ARTA Tbk. dan PT JASA TANIA Tbk.
9
24
35
PERENCANAAN KEUANGAN PT SEPATU BATA, Tbk.
12
102
30
Analisis rasio keuangan dalam memprediksi kondisi finacial distress perusahaan : studi kasus pada perusahaan yang terdaftar pada bursa efek Indonesia Periode 2007-2010
0
4
152
Pengaruh Penilaian Kinerja Dan Penerapan Audit Internal Terhadap Sistem Pengendalian Intern Perusahaan : studi kasus pada bank negara indonesia (persero) Tbk.
7
98
99
Pengaruh risiko litigasi dan tingkat kesulitan keuangan perusahaan terhadap konservatisme akuntansi : (studi kasus pada Perusahaan Group Bakrie yang terdaftar di BEI)
8
68
50
Implementasi keselamatan dan kesehatan kerja di PT Bukit Makmur Mandiri Utama Jakarta
1
1
77
BAB II PROFIL PT Perusahaan Gas Negara (Persero)Tbk A. Profil PT Perusahaan Gas Negara (Persero)Tbk - Analisis Manajemen Risiko pada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk SBU Distribusi Wilayah III Medan
1
4
24
BAB II PROFIL PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Ringkas - Analisis Laporan Keuangan pada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
0
3
15
Analisis du pont system dan economic value added (eva) dalam menilai kinerja keuangan PT Bukit Asam (Persero) Tbk periode 2010-2014 - Repository Universitas Bangka Belitung
1
1
37
Analisis Sistem Antrian dalam Mengoptimalkan Pelayanan (Studi Kasus : PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk. Kantor Cabang Veteran Selatan) - Repositori UIN Alauddin Makassar
0
4
87
Show more