ANYAMAN BAMBU HIAS

RP. 10,000

0
15
26
5 months ago
Preview
Full text

  
EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA KERAJINAN
ANYAMAN BAMBU DI DESA ANTIROGO JEMBER
SEBAGAI BAHAN LEMBAR KERJA SISWA GEOMETRI
  PROPOSAL SKRIPSI Oleh
  
Nur Isnaini
NIM 160210101072
  Dosen Pembimbing 1 : Dosen Pembimbing 2 :
  
HALAMAN JUDUL
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019BAB PENDAHULUAN 1.1.1 Latar Belakang
  Pendidikan merupakan hal yang utama yang mutlak dan wajib didapatkan setiap individu, karena pendidikan merupakan peranan penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan salah satu jembatan untuk memperoleh pengetahuan, nilai, dan keterampilan. Pendidikan dapat diperoleh secara formal, informal dan non-formal sesuai dengan UU Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yaitu pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstuktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan formal dimulai dari jenjang TK, SD, SMP sampai SMA, berdasarkan kurikulum yang memuat beberapa materi pelajaran yang salah satunya adalah matematika.
  Matematika merupakan ilmu pendukung bagi cabang ilmu lainnya untuk mendapatkan solusi dari berbagai permasalahan yang muncul, selain itu matematika sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Matematika yang berkembang dalam masyarakat dan sesuai dengan kebudayaan setempat, merupakan pusat proses pembelajaran dan metode pengajaran. Kedudukan matematika sebagai pelayan ilmu pengetahuan, tersirat bahwa matematika sebagai suatu ilmu yang berfungsi pula untuk melayani ilmu pengetahuan (Erman dan Winataputra, 1993:29).
  Kebudayaan berasal dari kata budaya, dalam bahasa Sanskerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Buddhi berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Menurut Koentjoroningrat (1981), budaya adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar serta keseluruhan dari hasil budi pekerti. manusia dalam masyarakat yang diperoleh dengan cara belajar termasuk pikiran dan tingkah laku. Jadi, dapat disimpulkan budaya adalah seluruh gagasan maupun karya manusia yang menjadi kebiasaan masyarakat setempat dan diajarkan kepada generasi berikutnya.
  Menurut Orey, D.C dan Rosa, M (2008) proses pembelajaran matematika akan berjalan dengan baik ketika seorang guru dalam mengajarkan mengkaitkan dengan proses interaksi sosial dan budaya melalui dialog, bahasa, melalui representasi makna simbolik dalam matematika. D’Ambrosio, U (2004) mengatakan bahwa pengajaran matematika bagi setiap orang seharusnya disesuaikan dengan budayanya. Untuk itu diperlukan keterhubungan antara matematika diluar sekolah dengan matematika sekolah. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan memanfaatkan pendekatan ethnomathematics sebagai awal dari pengajaran matematika formal yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa yang berada pada tahapan operasional konkret. Hal yang sama dikemukakan bahwa kehadiran matematika yang bernuansa budaya akan memberikan kontribusi yang besar terhadap matematika sekolah, karena sekolah merupakan intuisi sosial yang berbeda dengan yang lain sehingga memungkinkan terjadinya sosialisasi antara beberapa budaya (Shirley, L, 2008). Budaya akan mempengaruhi perilaku individu dan mempunyai peran yang besar pada perkembangan pemahaman individual, termasuk pembelajaran matematika (Bishop, 1991).
  Budaya yang menjadi kebiasaan suatu kelompok atau masyarakat disebut kearifan lokal. Menurut Rahyono (2009), kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat. Artinya, pengalaman yang dimiliki oleh suatu masyarakat belum tentu dialami oleh masyarakat lain. Hayati Soebadio berpendapat bahwa kearifan lokal merupakan suatu identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986). Di antara wujud kebudayaan masyarakat yang dimiliki Kabupaten Jember, salah satunya adalah kerajinan anyaman. Menganyam berarti mengatur bilah atau lembaran-lembaran secara tindih-menindih dan silang menyilang.
  Etnomatematika muncul sebagai konsep baru yang merupakan pengaruh timbal balik antara matematika, pendidikan dan budaya. Etnomatematika merupakan sebuah kajian terhadap ide-ide matematika pada masyarakat. Menurut D’Ambrosio (dalam Kholifah, 2018) etnomatematika adalah suatu studi tentang pola hidup, kebiasaan atau adat istiadat dari suatu masyarakat di suatu tempat yang memiliki kaitan dengan konsep-konsep matematika namun tidak disadari sebagai bagian dari matematika oleh masyarakat tersebut. Salah satu kegiatan etnomatematika yang ada di masyarakat adalah kerajian anyaman bambu.
  Kerajinan anyaman bambu adalah seni merajut yang biasanya menggunakan bahan dari bambu, rotan, daun-daunan yang memiliki serat yang dapat ditipiskan seperti enceng gondok, daun lontar, daun pandan, dan lain-lain, serta plastik. Kerajinan anyaman bambu banyak digunakan sebagai alat keperluan rumah tangga sehari-hari. Biasanya seni kerajinan anyaman bambu ini diolah dengan alat yang masih sederhana seperti pisau pemotong, pisau penipis, tang dan catut bersungut bundar, yang membutuhkan kreativitas tinggi, ide, perasaan pemikiran dan kerajinan tangan.(unnes anyaman bambu)
  Daerah yang dipilih dalam penelitian ini adalah Desa Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember. Karena Desa Antirogo termasuk salah satu tempat penghasil kerajinan tangan, khususnya kerajinan tangan anyaman bambu sebagai industri unggulan yang mampu dipasarkan di luar Kabupaten Jember. Dalam menjalankan aktivitas membuat kerajinan tangan anyaman secara tidak sadar mereka telah menerapkan konsep dasar matematika dalam melakukan aktivitas membuat beserta mengidentifikasi bentuk-bentuk geometris pada kerajinan tangan anyaman dari bambu yang dibuat.
  Penelitian yang terkait dengan etnomatematika sudah banyak dilakukan diberbagai daerah dengan topik bahasan yang beragam, antara lain : Penelitian yang dilakukan oleh Wijaya (2015) menunjukan bahwa pada kerjinan anyaman bambu di kerinci banyak memproduksi produk dan motif-motif anyaman yang etnomatematika dalam pembelajaran matematika yang merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan guru dalam melakukan inovasi pembelajaran di kelas dan upaya memperbaiki kualitas pembelajaran matematika, dilain sisi guru dapat mengarahakan siswa untuk lebih mengenal budaya yang ada.
  Penelitian selanjutnya tentang etnomatenatika juga dilakukan oleh
Ratuanik & Kundre (2010).Aktivitas pengrajin anyaman dalam membuat
kerajinan tangan anyaman melewati beberapa tahapan. Tahapan pertama dengan
pemotongan atau pembelahan bambu, selanjutnya proses pengeringan bambu.
Setelah proses pengeringan bambu selesai, dilanjutkan dengan perautan bambu.
Setelah itu dilanjutkan dengan menentukan pola kerajinan tangan anyaman yang
akan dibuat, dilanjutkan dengan menentukan sudut-sudut di masing-masing
kerajinan tangan anyaman dan tahapan yang terakhir menentukan bentuk-bentuk
dari kerajinantangan anyaman. Aktivitas tersebut menggunakan ilmu matematika
yaitu menghitung, mengukur, dan mendesain. Dari penelitian ini nantinya dapat digunakan dalam pembelajaran disekolah maupun di masyarakat.
  Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui lebih jelas tentang bangun-bangun geometris apa saja yang dibuat oleh pembuat kerajinan tangan anyaman di desa Antirogo Sumbersari Jember. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang berkaitan dengan mengidentifikasi hasil kerajinan anyaman bambu hias, dengan judul “Eksplorasi Etnomatematika Pada Kerajinan Anyaman Bambu Di Desa Antirogo Jember Sebagai Bahan Lembar Kerja Siswa Geometri ”.1.2 Rumusan Masalah
  Dari latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
  1) Bagaimanakah eksplorasi etnomatematika pada kerajinan anyaman bambu
  di Desa Antirogo Jember sebagai bahan ajar geometri?
  2) Bagaimanakah produk yang dihasilkan berdasarkan penelitian berupa
  bahan ajar geometri berkenaan dengan eksplorasi etnomatematika pada kerajinan anyaman bambu di Desa Antirogo Jember?1.3 Tujuan Penelitian
  Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
  1) Mendeskripsikan hasil eksplorasi etnomatematika pada pada kerajinan anyaman bambu di Desa Antirogo Jember sebagai bahan ajar geometri. 2) Membuat produk yang dihasilkan berdasarkan penelitian berupa bahan ajar
  geometri berkenaan dengan eksplorasi etnomatematika pada kerajinan anyaman bambu di Desa Antirogo Jember.1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini dalah sebagai berikut.
  1) Bagi masyarakat umum, dapat mengubah opini bahwa matematika berkaitan erat dengan budaya, bahkan saling berhubungan satu sama lain, hasil budaya secara tersirat terdapat ilmu matematika yang perlu diungkap. 2) Bagi pengrajin anyaman bambu di Desa Antirogo Jember dapat mengetahui bahwa dalam eksplorasi kerajinan anyaman bambu terdapat unsur matematika. 3) Bagi guru adalah sebagai inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran geometri di sekolah dengan hal-hal yang berkaitan dengan budaya khususnya kerajinan anyaman bambu. 4) Bagi siswa, sebagai salah satu upaya meningkatkan kemampuan geometris yang ada pada kehidupan sehari-hari dan meningkatkan kecintaan terhadap budaya asli Jember. 5) Bagi peneliti dapat menjawab permasalahan yang ada berkenaan dengan etnomatematika pada kerajinan anyaman bambu di Desa Antirogo
  Jember dan menambah pengetahuan. 6) Bagi peneliti lain, sebagai referensi untuk mengadakan penelitian yang relevan.BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA2.1 Hakikat Matematika
  Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang sudah tersusun secara sistematis dari konsep paling sederhana hingga konsep yang sangat kompleks (Fataturrohmah dan Masykur, 2017). Menurut Gerdes (Verawati, 2014) pandangan yang dominan mengenai matematika bahwa mathematics as a culture

–free, universal. Matematika berbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya
  secara empiris. Kemudian pengalaman itu diproses di dalam dunia rasio sampai terbentuk konsep-konsep matematika. Agar konsep tersebut mudah dipahami oleh orang lain maka digunakan bahasa matematika atau notasi matematika yang bernilai global (universal). Konsep matematika didapat karena proses berpikir, karena itu logika adalah dasar terbentuknya matematika.
  Matematique (Perancis), atau Wiskunde (Belanda) berasal dari bahasa Yunani
mathematikos yaitu ilmu pasti, dari kata mathema atau mathesis yang berarti
  ajaran, pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Istilah matematika menurut bahasa latin (manthanein atau mathema) yang berarti belajar atau hal yang dipelajari, yang semuanya berkaitan dengan penalaran. Matematika adalah salah satu pengetahuan tertua dan dianggap sebagai induk atau alat dan bahasa dasar banyak ilmu. Matematika pada suatu tingkat rendah terdapat illmu hitung, ilmu ukur dan aljabar.
  Menurut Purba (dalam Rohma, 2018) matematika sendiri dibagi menjadi beberapa cabang ilmu yaitu aljabar, aritmatika, geometri, trigonometri, kalkulus. Berikut mengenai penjelasan cabang matematika:
  1) Aljabar Aljabar merupakan salah satu cabang penting dalam ilmu matematika.
  Aljabar berkenaan dengan penggunaan variabel (peubah), baik berupa huruf- huruf atau lambang-lambang lainnya. Ikatan antar variabel satu dan variabel lainnya dinyatakan dengan bilangan dan operasi bilangan. Operasi hitung aljabar mencakup penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan
  2) Aritmatika Aritmatika merupakan ilmu hitung yang mempelajari operasi dasar bilangan.
  Operasi dasar aritmatika adalah penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Yang dipelajari dalam aritmatika seperti bilangan asli, bilangan bulat, bilangan rasional, dan bilangan real. 3) Geometri
  Geometri merupakan salah satu cabang ilmu matematika. Geometri berasal dari bahasa Yunani, geo yang berarti bumi dan metri yang berarti mengukur. Geometri mempelajari tentang bentuk, bangun ruang, sudut, garis, dan sebagainya. Dalam geometri mengenal dimensi dua dan dimensi tiga. Bangun dalam dua dimensi seperti segitiga, segitiga, lingkaran, trapezium, layang- layang, dan lain-lain. Dalam bangun dimensi tiga kita mempelajari tentang kubus, balok, bola, tabung, kerucut, prisma, dan lain-lain. 4) Trigonometri
  Trigonometri berasal dari bahasa Yunani, yaitu trigono artinya “tiga sudut” dan metro artinya “mengukur”. Jadi trigonometri adalah sebuah cabang matematika yang berhadapan dengan sudut segitiga dan fungsi trigonometri, seperti sinus, kosinus, dan tangen. 5) Kalkulus Secara bahasa calculus (bahasa latin) artinya batu kecil untuk menghitung.
  Cabang matematika yang mencakup limit, turunan, integral, dan deret tak hingga. Contoh dalam kehidupan sehari-hari kecepatan sesaat, percepatan sesaat. Dalam kalkulus juga mempelajari limit fungsi, diferensial, dan integral
  Matematika merupakan ilmu yang paling dasar karena segala aktivitas manusia berkaitan dengan ilmu matematika. Matematika mencakup segala jenis bidang ilmu dan juga diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Menurut Glorin (1980) matematika adalah aktivitas manusia yang berhubugan dengan pola, pemecahan masalah, pemikiran logis dan lainnya yang bertujuan memahami dunia. Dari beberapa pengertian matematika yang telah diuraikan, dapat diambil kesimpulan bahwa matematika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari konsep fakta, ruang dan bentuk yang didapat melalui proses berpikir serta mencakup proses bernalar, berpikir kritis, sistematis, logis dan kreatif. Oleh karena itu eksplorasi nilai-nilai matematika dalam aktivitas masyarakat perlu dilakukan. Hal ini juga dapat digunakan dalam pembelajaran matematika sekolah sehingga siswa mengetahui kegunaan matematika dalam aktivitas sehari-hari.2.2 Eksplorasi Etnomatematika
  Menurut Koesoemadinata (2000), eksplorasi adalah kegiatan teknis ilmiah untu mencari tahu suatu are, daerah, keadaan, ruang yang sebelumnya tida diketahui keberadaan akan isinya. Eksplorasi yang ilmiah akan memberikan sumbangan terhadap khazanah ilmu pengetahuan. Eksplorasi tidak hanya dilakukan di suatu daerah, dapat pula di kedalaman laut yang belum pernah dijelajah, ruang angkasa, bahkan wawasan alam pikiran (Eksploration of the
  
mind). Sementara itu, istilah etnomatematika pertama kali dikemukakan oleh
  D’Ambrosio (1984) seorang matematikawan Brazil yang menjelaskan bahwa:
  
“Ethnomathematics is the way different cultural groups mathematics (count,
measure, relate, classify and infer)”. Menurutnya imbuhan ethno menjelaskan
  semua fenomena yang membentuk identitas budaya yang dikelompokkan sebagai bahasa, kode, nilai, dialek, keyakinan, makanan dan pakaian serta kebiasaan dan perilaku. Kata mathematics menjelaskan pandangan yang luas tentang matematika termasuk perhitungan atau pemecahan, aritmatika, pengklasifikasian, pengurutan, pengambilan keputusan dan pemodelan. Dengan demikian ethnomathematika merupakan cara penggunaan matematika oleh kelompok dan budaya yang berbeda.
  Etnomatematika menurut Wahyuni et al., (2013) sering disebut dengan istilah ethnomathematic. Dari segi bahasa, awalan “ethno” diartikan sebagai sesuatu yang sangat luas yang mengacu pada sosial budaya, meliputi bahasa, jargon, mitos, kode perilaku, dan simbol. Kata “mathema” bermakna menjelaskan, mengetahui, memahami, dan melakukan kegiatan seperti mengukur, mengklasifikasi, menyimpulkan, dan memodelkan. Akhiran “tics” bermakna teknik.
  D’Ambrosio (2006) menjelaskan ethnomathematics adalah matematika yang dipraktekkan oleh kelompok budaya, seperti masyarakat perkotaan dan pedesaan, kelompok pekerja, ana-anak dalam kelompok usia tertentu, masyarakat adat, dan begiru banyak kelompok lainnya. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa etnomatematika merupakan kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat dalam kelompok tertentu mulai dari anak kecil sampai orang dewasa dan telah menjadi budaya yang berhubungan dengan konsep dasar matematika. Aktivitas yang dilakukan dan berkaitan dengan konsep dasar matematika seperti mengukur, menghitung,

Dokumen baru

Tags

Budaya Etnomatematika

Dokumen yang terkait

ANALISIS NILAI TAMBAH PRODUK ANYAMAN BAMBU KELOMPOK USAHA KERAJINAN DI DUSUN CALOK KABUPATEN JEMBER.
2
10
7
TINJAUAN HISTORIS PERKEMBANGAN KERAJINAN TANGAN ANYAMAN BAMBU HALUS TASIKMALAYA
0
2
22
PERANCANGAN ALAT BANTU PENYAYATAN UNTUK PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI ANYAMAN BAMBU KROSO
0
2
8
ANALISIS KERAJINAN ANYAMAN BAMBU DITINJAU DARI TEKNIK, BENTUK DAN FUNGSI DI INDUSTRI KERAJINAN BUNGA MATAHARI DI BINJAI.
4
22
26
UJI KUAT LENTUR DINDING DARI TULANGAN ANYAMAN BAMBU YANG DI PLESTER UJI KUAT LENTUR DINDING DARI TULANGAN ANYAMAN BAMBU YANG DI PLESTER.
0
0
15
PENDAHULUAN UJI KUAT LENTUR DINDING DARI TULANGAN ANYAMAN BAMBU YANG DI PLESTER.
0
0
4
RANCANG BANGUN ANIMASI 3 DIMENSI ANYAMAN BAMBU KHAS KEBUDAYAAN BALI BERBASIS ANDROID.
0
3
33
MODEL PENGEMBANGAN DESAIN BERBASIS PARTISIPASI PERAJIN UNTUK MENINGKATKAN DIVERSIFIKASI PRODUK KRIYA ANYAMAN BAMBU DI RINGINAGUNG MAGETAN.
0
4
16
PENGARUH ANYAMAN BAMBU TERHADAP DAYA DUKUNG DAN PENURUNAN PONDASI DANGKAL PADA TANAH KOHESIF.
0
1
8
IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PENGRAJIN ANYAMAN BAMBU DI DESA WARANGAN, KEPIL, WONOSOBO.
0
12
171
KERAJINAN ANYAMAN BAMBU DI BANJARWARU, NUSAWUNGU, CILACAP, JAWA TENGAH.
1
24
127
DESAIN YANG KREATIF DAN INOVATIF KERAJINAN ANYAMAN BAMBU BARU
0
0
9
PENGGUNAAN SEKAM PADI DENGAN ANYAMAN BAMBU SEBAGAI PAPAN SEMEN DEKORATIF
0
0
8
KONTRIBUSI KERAJINAN ANYAMAN BAMBU TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA PETANI PENGRAJIN DI KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN - repository perpustakaan
0
0
14
ANYAMAN BAMBU HIAS
0
15
26
Show more