Sikap mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap perilaku seksual homoseks - USD Repository

Gratis

0
0
111
5 months ago
Preview
Full text

SIKAP MAHASISWA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL HOMOSEKS

  Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

  Disusun Oleh : Paulina Alfania Kartikasari

  NIM: 019114017 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  2007 S K R I P S I

SIKAP MAHASISWA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL HOMOSEKS

  Oleh : Paulina Alfania Kartikasari

  NIM: 019114017 Telah disetujui oleh :

  Pembimbing, Drs. H. Wahyudi, M.Si. Tanggal 10 Oktober 2007

  S K R I P S I

SIKAP MAHASISWA UNIVERSITAS SANATA DHARAM YOGYAKARTA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL HOMOSEKS

  Yang dipersiapkan dan ditulis oleh Paulina Alfania Kartikasari

  NIM: 019114017 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 12 November 2007 dan dinyatakan memenuhi syarat

  Susunan Panitia Penguji Nama Lengkap Tanda tangan

  Penguji 1 : Drs. H. Wahyudi, M.Si. ……………… Penguji 2 : Sylvia Carolina M.Y.M., S. Psi, M.Si. ……………… Penguji 3 :

  A. Tanti Arini, S.Psi, M.Si. ……………… Yogyakarta, November 2007

  Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Dekan,

  ( P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si. )

  

Ada Sesuatu Yang Indah

Saat kuberdiam....

  

Kurasa kedamaian

Kurasa sukacita

Kurasakan sesuatu yang tak bisa diungkapkan

Saat ku bernyanyi....

  

Ketenangan kudapatkan

Kekuatan baru kudapatkan

Kekuatan baru ku terima

Semangat ku mulai berapi-api

Saat kumendengarkan....

Ada kedasyatan yang luar biasa

Ada kemenangan yang luar biasa

  

Ada Keindahan yang kuraih

Saat ku membaca....

  

Hadirat-Nya kurasakan

Kuasa-Nya begitu nyata

Ingin rasanya mengenalkan pada mereka

Saat kumerenungkan....

  

Ada suatu kreatifitas yang keluar

Ada jalan keluar

Ada penyelesaian sesuatu yang tak terpikirkan

Saat kumembagikan....

  

Sukacita itu keluar

Ketenangan itu ada

Kelegaan dapat dirasakan

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, Oktober 2007 Penulis,

  

ABSTRAK

  Paulina Alfania Kartika Sari (2007). Sikap Mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta terhadap perilaku seksual homoseks. Yogyakarta : Fakultas Psikologi. Universitas Sanata Dharma.

  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Sikap Mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta terhadap perilaku seksual homoseksual. Sikap mahasiswa Sanata Darma terhadap perilaku seksual homoseks sebagai variabel penelitian. Subyek dalam penelitian ini adalah 102 Mahasiswa Sanata

  Darma Yogyakarta, yang diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan satu macam skala yaitu skala sikap. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistik deskriptif yang meliputi penyajian data melalui tabel, perhitungan nilai maksimum, nilai minimum, mean empirik, mean teoritik, dan standar deviasi.

  Hasil analisis data menunjukkan bahwa Mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta memiliki sikap yang negatif (tidak setuju) terhadap perilaku seksual homoseks. Hal ini ditunjukkan dari dari hasil perbandingan yang menyatakan mean empirik lebih kecil dari mean teoritis (114,74 < 135).

  

ABSTRACT

  Paulina Alfania Kartika Sari (2007). Sanata Dharma University Students attitude to homosexual behavior. Faculty Psychology Sanata Dharma University.

  The target of this research is to examine the attitude of Sanata Dharma University Students to homosexual behavior. The research variable of this research is Sanata Dharma University Students. The subject of this research is 102 Students of Sanata Dharma University that is obtained by using purposive sampling technique. The data collected in this research uses attitude scale. The analyzing method data that used in this reseach is descriptive statistical methods covering data by the presentation of calculation table asses maximum, minimum value, mean empiric, mean teoritic, and standard deviation.

  The result of data analysis indicates that Sanata Dharma Students have negative attitude (adverse opinion) to homosexual behavior. This matter is shown by the comparison result expressing the mean empiric which is smaller than the theoretical mean (114,74 < 135).

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih yang telah memberikan berkat dan kekuatan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

  1. P. Eddy Suhartanto, S.Psi, M.Si selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Drs. H. Wahyudi, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  3. Sylvia Carolina M.Y.M M.Si. selaku dosen pembimbing akademik.

  4. Dosen-dosen Fakultas Psikologi yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya selama penulis menempuh studi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  5. Segenap staff Fakultas Psikologi, Mas Gandung, Pak Gie, Mbak Nanik, Mas Muji dan Mas Doni, atas segala bantuan yang diberikan untuk kelancaran studi penulis di Fakultas Psikologi.

  6. Untuk Orangtuaku yang telah mendidik, membimbing, memberi dukungan dan bantuan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.

  7. Adik-adikku tercinta, Betha dan Gamma yang telah membantuku dalam menyelesaikan skripsi.

  8. Keponakan-keponakanku tersayang, Geonk, Deron dan Titan yang lucu-lucu dan menyenangkan, makasi ya dah menghiburku.

  9. Sodara-sodaraku semuanya, mba Nina, mas Roni, dik Fika, Balita, Atin, Putri, Brili, Tika, Lintang, Bulan dan Ajeng, makasi atas segala dukungan yang diberikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

  10. My Lovely Dhany Apriyanto, yang selalu menemani dan selalu ada bersamaku, makasi baget ya atas cinta, perhatian, kesabaran, dukungan dan bantuannya selama ini. Kamu sangat berarti untukku.

  11. My best friends, The Lonchiez (Ita, Tyas, Vera, Anita, Mami, Cynthia, dan Yayack) makasi ya...kalian sudah menjadi teman yang baik untukku, mau mendengarkan curhatku, berbagi suka dan duka. Mizz u prend. mengerjakan skripsi.

  13. Untuk anjing kesayanganku, almarhum Poci (ciwawa) dan si nakal Kresi. (Golden, Chow-chow dan Herder). Makasi ya, kalian dah mau maen bareng ma aku. Luv u so.

  14. Untuk adik angkatku Helga, makasi ya dah mau berbagi kesedihan dan kebahagiaan bersamaku.

  15. Untuk adik-adik angkatan Psikologi Sanata Dharma, makasi dah mau membantuku dalam mengerjakan skripsi.

  16. Teman-teman kuliah di Fakultas Psikologi Sanata Dharma, terima kasih atas canda dan tawanya selama ini.

  17. Untuk masa laluku, makasi ya karena kalian aku jadi tau apa arti hidup yang harus bertahan dengan sekuat hati.

  18. Pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu, yang telah ikut membantu baik langsung maupun tidak langsung, tanpa bantuan kalian skripsi ini tidak akan terselesaikan. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna karena memiliki berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.

  Akhir kata, semoga skripsi ini berguna bagi kita semua.

  Yogyakarta, Oktober 2007 Penulis

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. v ABSTRAK ........................................................................................................... vi ABSTRACT ......................................................................................................... vii KATA PENGANTAR ........................................................................................ viii DAFTAR ISI ........................................................................................................ x DAFTAR TABEL ………………………………………………….................. xiv DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………….................. xv

  BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………. .................. 1 A. Latar Belakang Masalah ………………………………..................... 1 B. Rumusan Masalah …………………………………….... .................. 6 C. Tujuan Penelitian ………………………………………. .................. 6 D. Manfaat Penelitian ……………………………………... .................. 6 BAB II. LANDASAN TEORI ............................................................................ 7 A. Sikap ................................................................................................... 7

  1. Definisi Sikap ............................................................................ 7

  2. Komponen sikap dan interaksinya ............................................ 8

  a. Komponen kognitif ............................................................. 8

  1. Pengertian Perilaku seksual ....................................................... 12

  E. Sikap Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Terhadap Perilaku Seksual Homoseks ................................................29

  D. Mahasiswa .......................................................................................... 26

  3. Perbedaan Waria dan Homoseksual ......................................... 25

  2. Klasifikasi Homoseksual ........................................................... 20

  1. Pengertian Homoseksual .......................................................... 17

  C. Homoseksual ...................................................................................... 17

  2. Tahap-tahap perilaku seksual .................................................... 15

  B. Perilaku Seksual ................................................................................. 12

  b. Komponen afektif ............................................................... 9

  f. Pengaruh faktor emosional ................................................. 12

  e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama .......................... 11

  d. Media massa ........................................................................ 11

  c. Pengaruh kebudayaan .......................................................... 11

  b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting ....................... 10

  a. Pengalaman pribadi ............................................................. 10

  c. Komponen konatif ............................................................... 9

  BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ........................................................... 31 A. Jenis Penelitian ................................................................................... 31 B. Identifikasi Variabel Penelitian .......................................................... 31

  C. Definisi Operasional Variabel Penelitian ........................................... 32

  1. Sikap ............................................................................................. 32

  2. Perilaku Seksual ........................................................................... 32

  4. Mahasiswa Universitas Sanata Dharma....................................... 32

  D. Subjek Penelitian ................................................................................ 33

  E. Prosedur ……………………………………………………………. 33

  F. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 34

  G. Estimasi Validitas dan Reliabilitas .................................................... 37

  1. Validitas ............................................................................... 37

  2. Reliabilitas ............................................................................... 37

  H. Analisis Data ..................................................................................... 39

  BAB IV. PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN .................................. 41 A. Persiapan Penelitian ........................................................................... 41

  1. Uji coba (try-out) alat ukur ………………………………………41

  2. Analisis item …………………………………………………… 42

  B. Pelaksanaan Penelitian ....................................................................... 42

  C. Deskripsi Subjek Penelitian ............................................................... 43

  D. Hasil Penelitian …………………………………………………….. 43

  E. Pembahasan Hasil Penelitian .............................................................. 45

  BAB V. PENUTUP .............................................................................................. 49 A. Kesimpulan ........................................................................................ 49 B. Saran ................................................................................................... 50

  DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 52 LAMPIRAN ......................................................................................................... 55 \

  

DAFTAR TABEL

  Tabel I. Spesifikasi Skala Sikap Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyarta Terhadap Perilaku Seksual Homoseks....................................

  Tabel II. Distribusi Item Sebelum Uji coba (try-out) ........................................... Tabel III. Blue Print Setelah Uji Coba .................................................................. Tabel IV. Blue Print Penelitian ............................................................................. Tabel V. Gambara Subjek Penelitian ................................................................... Tabel VI. Analisis Data Penelitian ....................................................................... Tabel VII. Hasil Analisis Umum dan Analisis Khusus ........................................ Tabel VIII. Hasil Analisis Teoritik dan Empirik Aspek Sikap (Kognitif)............ Tabel IX. Hasil Analisis Teoritik dan Empirik Aspek Sikap (Afektif) ................ Tabel X. Hasil Analisis Teoritik dan Empirik Aspek Sikap (Konatif) ................ Tabel XI. Hasil Analisis Teoritik dan Empirik Tahapan Perilaku Seksual (Bergandengan) ..........................................

  Tabel XII. Hasil Analisis Teoritik dan Empirik Tahapan Perilaku Seksual (Berpelukan) ..............................................

  Tabel XIII. Hasil Analisis Teoritik dan Empirik Tahapan Perilaku Seksual (Berciuman) .............................................

  Tabel XIV. Hasil Analisis Teoritik dan Empirik Tahapan Perilaku Seksual (Meraba) ..................................................

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran A. Try-out

  1. Reliabilitas

  2. Skala Ujicoba (try-out) Lampiran B. Penelitian

  1. Reliabilitas

  2. Skala penelitian

  3. Data Penelitian Lampiran C. Daftar Tabel

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada masa sekarang ini masalah seksualitas dapat lebih terbuka untuk

  dibicarakan. Banyak sekali literatur-literatur yang yang membahas tentang seksualitas, bahkan informasi-informasi tentang seksualitas dapat diperoleh dengan bebas dan cepat. Ini berarti masalah seksualitas cukup menarik untuk dikaji bagi masyarakat luas. Terlebih lagi jika hal itu terjadi pada individu yang berbeda dari individu lainnya, misalnya saja yang terjadi pada homoseksual. Homoseks merupakan sesuatu yang unik sehingga biasanya menarik untuk dibicarakan.

  Homoseks menurut Kartini Kartono (1989) adalah ketertarikan seksual kepada orang lain yang berjenis kelamin sama dengan dirinya sendiri daripada kepada jenis kelamin yang berlawanan. Bagi perempuan disebut

  lesbian dan bagi laki-laki disebut gay. Namun di Indonesia kata homoseks

  oleh awam hanya dipakai untuk mengacu pada laki-laki homoseks. Antara kaum homoseksual dan kaum waria memiliki suatu persamaan yaitu dalam hal orientasi seksualnya. Mereka merupakan orang-orang yang tertarik secara emosional maupun seksual kepada orang yang berjenis kelamin sama. Namun dunia waria memiliki ciri khas yang membedakannya, dimana secara fisik jenis kelamin mereka normal (dalam hal ini laki-laki), namun secara psikis cenderung untuk menampilkan diri sebagai lawan jenis (perempuan). Dengan sendirinya gejala ini menjadi sangat berbeda dengan homoseksualitas yang semata-mata merujuk pada perilaku relasi seseorang (Manshur, dalam Wahyuningtyas, 2003). Dari segi jumlah homoseks antara laki-laki dan perempuan, kaum gay lebih banyak ditemui daripada kaum

  

lesbian . Hal ini mungkin berkaitan dengan beberapa hal, misalnya

  perempuan kurang ekspresif dalam seks dan cenderung tertutup, sementara laki-laki dianggap lebih terbuka dan bebas (www.geocities.com).

  Pandangan sosial budaya di Yogyakarta dan masyarakat Indonesia umumnya masih menganggap perilaku homoseksual sebagai pola hidup dari Negara Barat yang berusaha ditiru sekelompok kecil masyarakat (www.kompas.com). Dalam seminar “Pemberdayaan Hak-hak Sosial Politik bagi Masyarakat Homoseksual di Indonesia“, terungkap bahwa upaya mengaktualisasikan kehidupan lesbian, gay, biseksual dan transjender (LGBT) di Yogyakarta jauh lebih memprihatinkan ketimbang daerah lain, menyusul peristiwa penyerbuan kegiatan mereka di kawasan wisata Kaliurang Yogyakarta, 11 November silam (www.kompas.com).

  Tindak kekerasan yang dilakukan sekelompok pria di Kaliurang tersebut makin menguatkan stigma bahwa kalangan homoseksual tidak pantas diberi ruang di tengah masyarakat. Hilarus Mero dari Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (www.kompas.com) mengatakan, kondisi traumatis yang dihadapi homoseksual di Yogya merupakan ekses dari minimnya perhatian Negara terhadap hak warga untuk hidup berbeda. Belum ada satupun produk hukum yang secara gamblang mengakui hak warga Negara untuk memilih homoseksual sebagai pilihan hidup. Selain itu mahasiswa di Yogyakarta yang mengatakan bahwa eksistensi mereka sebagai kaum gay masih sering mendapat stigma dan perlakuan negatif dari masyarakat, termasuk aparat hukum. Mereka makin bertambah was-was seiring dengan masuknya ketentuan dalam RUU KUHP yang mengkriminalisasi pelaku hidup bersama tanpa terikat perkawinan (www.hukumonline.com).

  Masyarakat Yogyakarta menganggap bahwa keberadaan orang-orang yang memiliki orientasi homoseks merupakan kaum minoritas yang sering kali diabaikan, dianggap tidak normal. Hilarus Mero juga mengatakan bahwa semua kaum minoritas selalu sulit mendapatkan ruang gerak, termasuk kaum homoseksual. Homoseks dianggap menyimpang dari norma masyarakat, karena itu sangat sulit untuk mengakui orientasi yang dimiliki (www.kompas.com). Berbagai pandangan dari masyarakat ini berkaitan erat dengan bagaimana sikap mereka terhadap homoseksual. Seperti yang dikemukakan oleh Thurstone dan Charles Osgood (dalam Azwar 1988) yaitu bahwa sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) ataupun perasaan tidak mendukung (unfavorable) objek tersebut (Azwar, 1988). Dilihat dari strukturnya, sikap terdiri dari 3 komponen yang saling menunjang. Dalam bukunya (Azwar,1995) merumuskan komponen tersebut sebagai komponen kognitif (kepercayaan), komponen afektif (perasaan, emosional) dan komponen konatif (perilaku).

  Keberadaan kaum homoseksual saat ini tentu saja tidak lepas dari bagaimana sikap masyarakat terhadap mereka. Dengan adanya sikap yang negatif (tidak mendukung/tidak setuju) terhadap keberadaan kaum homoseksual dari masyarakat, maka dapat dimungkinkan bahwa masyarakat juga tidak setuju terhadap perilaku seksual homoseks. Hal ini dapat berpengaruh terhadap sikap mahasiswa terhadap perilaku seksual homoseks, karena hampir 20 % penduduk produktifnya adalah pelajar dan terdapat 137 perguruan tinggi, maka Yogyakarta merupakan kota yang diwarnai dinamika pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia (www.wikipedia.org).

  Azwar (1998) mengatakan bahwa perilaku merupakan reaksi yang dapat bersifat sederhana/kompleks. Masters dkk (1982:1986) melihat seksualitas dari berbagai dimensi diantaranya dimensi biologis, dimensi psikososial dan dimensi perilaku. Dimensi biologis memandang dari fungsi seksualitas sebagai cara mendapatkan keturunan, hasrat seksual dan kepuasan seksual. Dimensi psikososial menyatakan bahwa seksualitas melibatkan faktor psikososial yaitu adanya emosi, pikiran dan kepribadian yang terlibat.

  Seksualitas dari dimensi perilaku atau disebut perilaku seksual adalah hasil dari perpaduan dimensi biologis dan psikososial.

  Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana sikap mahasiswa Yogyakarta terhadap perilaku seksual homoseks, dimana masyarakat Yogyakarta belum bisa menerima kaum homoseksual. Padahal Misalnya di Sulawesi Selatan, kaum homoseks (orang Bugis biasa menyebutnya bissu/calabay) mendapat posisi sebagai penasihat raja dan sangat berkuasa dalam mengurusi banda pusaka (Oetomo, 2001).

  Sebagaimana kita tahu bahwa mahasiswa adalah golongan pemuda (18- 30 tahun) yang secara resmi terdaftar pada salah satu Perguruan Tinggi dan aktif dalam Perguruan Tinggi yang bersangkutan (Sarlito, dkk 1979), sehingga berdasarkan usia, mereka dapat digolongkan pada usia dewasa awal. Pada usia dewasa awal, seseorang sudah harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru, mampu mencari jalannya sendiri, tidak dikuasai oleh orang tua, mampu mengungkapkan perasaan-perasaannya dan mampu menemukan kelompok sosial yang cocok (Hurlock, 1999). Dengan demikian, mereka diharapkan dapat mengungkapkan sikap mereka sendiri terhadap perilaku seksual homoseks, yang mungkin saja berbeda dari sikap masyarakatnya.

  Peneliti juga hanya membatasi pada kaum gay saja karena ditemukannya perilaku yang berbeda-beda pada masing-masing orang dalam merespon sesuatu termasuk didalamnya merespon terhadap stimulus yang sifatnya erotik (Masters dkk, 1986), yang berarti bahwa antara laki-laki dan perempuan mempunyai respon yang berbeda terhadap suatu stimulus, termasuk juga stimulus yang bersifat erotik. Dalam hal ini berarti bahwa kaum gay lebih dapat terbuka dalam mengungkapkan orientasi seksualnya daripada kaum lesbian sehingga perilaku seksualnya akan lebih mudah daripada kaum lesbian.

  B. Rumusan Masalah

  Bagaimana sikap mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta terhadap perilaku seksual homoseks?

  C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sikap mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta terhadap perilaku seksual homoseks.

  D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat teoritis: Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi ilmu psikologi khususnya psikologi sosial.

  2. Manfaat praktis:

  a. Bagi mahasiswa dan masyarakat luas: dapat mengetahui sikap mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta (penerimaan/penolakan) terhadap perilaku seksual homoseksual.

  b. Bagi homoseksual: dengan mengetahui adanya sikap (menolak/menerima) dari mahasiswa, sehingga diharapkan kaum homoseksual dapat menempatkan diri ketika akan melakukan perilaku seksual di tempat-tempat umum.

BAB II LANDASAN TEORI A. SIKAP

1. Definisi Sikap

  Sikap memiliki beberapa definisi yang berbeda-beda. Sikap merupakan suatu kecenderungan seseorang untuk berperilaku atau melakukan tindakan yang sesuai dengan pikiran dan perasaan orang tersebut terhadap sesuatu hal tertentu. Individu tersebut akan bertindak sesuai dengan apa yang diyakininya. Menurut Secord dan Backman (dalam Azwar, 1988), sikap adalah keteraturan dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi) dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya. Menurut Louis Thurstone dan Charles Osgood (dalam Azwar, 1988), sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap objek adalah perasaan mendukung atau memihak ataupun perasaan tidak mendukung objek tersebut (Azwar, 1988).

  Menurut Allport, sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap sesuatu objek dengan cara-cara tertentu (dalam Azwar, 1988). Sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai penghayatan terhadap objek tertentu (Mar’at, 1981). Sikap terutama digambarkan sebagai kesiapan untuk selalu menanggapi dengan cara tertentu. Sikap sebagai “organisasi yang bersifat menetap dan proses motivasional, emosional, perceptual dan kognitif (Sears, 1994). Sikap negatif adalah kecenderungan untuk menjauhi, membenci, menghindari ataupun tidak menyukai keberadaan suatu objek, menyenangi, mendekati, menerima atau bahkan mengharapkan kehadiran objek tertentu (Rukminto, 1994).

  Sikap merupakan kemampuan internal yang berperanan sekali dalam mengambil tindakan (Winkel, 1991). Sikap juga relatif stabil, kecenderungan menetap untuk berpikir, merasakan dan bertindak dengan jalan yang konsisten mengenai objek tertentu, peristiwa, orang-orang, situasi atau konsep-konsep (Chaplin, 1985).

  Dari definisi-definisi diatas, peneliti mengambil arti sikap yang merupakan bentuk evaluasi atau reaksi perasaan, yaitu perasaan mendukung atau memihak ataupun perasaan tidak mendukung dari objek tersebut.

2. Komponen Sikap Dan Interaksinya

  Dalam bukunya, Azwar (1995) menjelaskan bahwa ada tiga komponen sikap, yaitu: a. Komponen Kognitif

  Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Kepercayaan datang dan apa yang dilihat atau apa yang telah diketahui sebelumnya. Berdasarkan apa yang telah dilihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat dan karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan ini terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan dipengaruhi oleh pengalaman pribadi seseorang, apa yang diceritakan orang lain mengenai objek sikap, dan kebutuhan emosional dirinya sendiri. Mann (dalam Azwar, 1995) menyebutkan bahwa komponen kognitif berisi persepsi, kepercayaan dan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu.

  b. Komponen Afektif Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif atau perasaan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek sikap. Mar’at

  (1981) menambahkan bahwa dalam komponen afektif terdapat evaluasi negatif atau positif, berupa perasaan suka-tidak suka terhadap suatu objek sikap. Komponen afektif ini berpengaruh besar dalam pembentukan dan penghayatan sikap (Azwar, 1995).

  c. Komponen Konatif atau Perilaku Komponen mi menunjukkan perilaku atau kecenderungan berperilaku dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual. Sikap ini akan tercermin dalam bentuk tendensi perilaku dengan cara tertentu terhadap objek.

  Interaksi yang terjadi antara ketiga komponen mi bersifat selaras sama, ketiga komponen itu harus menuju kearah sikap yang sama. Jika ada salah satu di antara ketiga komponen sikap yang inkonsisten dengan yang lain, maka akan terjadi ketidakselarasan yang akan menyebabkan timbulnya mekanisme perubahan sikap sedemikian rupa sehingga konsistensi itu tercapai kembali (Azwar, 1995). Sebagai contoh, ketika A mempunyai anggapan bahwa B adalah orang yang jahat (komponen kognitif), ia menjadi tidak menyukai B (komponen afektif) sehingga A selalu menghindari pembicaraan dengan B (komponen konatif). Dalam hal ini A mempunyai sikap negatif terhadap B. Tetapi ketika suatu saat B menolong A di saat A benar-benar membutuhkan pertolongan, A merasa senang dengan perlakuan B. Pada saat itulah terjadi inkonsistensi pada komponen afektif. Maka secara alami akan terjadi perubahan sikap untuk menyeimbangkan kembali inkonsistensi tersebut. Pada akhimya A yang semula mempunyai sikap negatif terhadap B bisa berubah menjadi positif.

3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap

  Dalam interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Menurut Azwar (1995) ada enam faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap: a. Pengalaman Pribadi Pengalaman seseorang yang berkaitan dengan objek psikologis akan membentuk suatu respon atau tanggapan. Tanggapan ini menjadi mengemukakan bahwa jika tidak ada pengalaman pribadi sama sekali dengan suatu objek psikologis, sikap yang terbentuk akan cenderung negatif terhadap objek tersebut.

  b. Pengaruh Orang Lain yang Dianggap Penting Seseorang yang berarti khusus bagi individu, seseorang yang diharapkan persetujuannya bagi tingkah laku dan pendapat individu, atau seseorang yang tidak ingin dikecewakan, akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap individu tersebut terhadap sesuatu.

  Orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri, atau suami, dan lain-lain.

  Pada umumnya, individu cenderung memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.

  Kecenderungan ini dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.

  c. Pengaruh Kebudayaan Kebudayaan di mana individu hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar dalarn pembentukan sikap individu tersebut. Tanpa disadari, kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap individu terhadap berbagai masalah. Kebudayaan membentuk pengalaman individu yang mengikutinya.

  Sebagai sarana penyampaian informasi, media massa seringkali membawa pesan-pesan yang mengandung sugesti. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.

  e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama Lembaga pendidikan serta lembaga agama mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan diperoleh dan ajaran-ajaran agama yang dianut.

  f. Pengaruh Faktor Emosional Kadang-kadang suatu sikap merupakan pemyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai penyaluran frustrasi dan pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Hal ini bisa bersifat sementara maupun menetap. Sikap yang dipengaruhi faktor emosional biasanya berbentuk prasangka.

B. PERILAKU SEKSUAL

1. Pengertian Perilaku seksual

  Perilaku merupakan reaksi yang dilakukan individu terhadap stimulus yang diterimanya. Chaplin (1989) membagi perilaku menjadi 2 yaitu perilaku yang langsung dapat diamati/overt behavior dan perilaku sebagai proses mental yang tidak langsung dapat diamati/covert

  behavior. Perilaku yang dapat diamati, dicatat dan diukur secara langsung meliputi apa yang dilakukan, dikatakan dan ditulisnya.

  Perilaku yang tidak dapat diamati, dicatat dan diukur secara langsung meliputi proses mental seperti perasaan, harapan, sikap, pikiran, ingatan, motivasi, persepsi, kepercayaan, tanggapan yang ada diotak, dan proses mental lainnya.

  Morgan (1987), mengartikan perilaku seksual sebagai segala sesuatu yang dapat dilakukan individu dan yang dapat diobservasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Morgan (1987), juga menjelaskan bahwa perilaku itu dapat diukur dengan melihat apa yang dilakukan seorang individu dan mendengarkan apa yang dikatakannya, sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan mengenai perasaan, sikap, pemikiran dan proses mental yang melatarbelakangi dan yang sedang terjadi.

  Perilaku merupakan reaksi yang dilakukan individu terhadap stimulus yang diterima. Azwar (1998), menyatakan bahwa perilaku merupakan reaksi yang dapat bersifat sederhana dan kompleks. Artinya stimulus yang sama belum tentu menimbulkan reaksi yang sama dan sebaliknya reaksi yang sama belum tentu karena stimulus yang sama.

  Sementara itu menurut Masters dkk (1986), seksualitas berasal dari dimensi pribadi yang menunjukkan bagaimana seseorang merespon sesuatu yang sifatnya erotis. Seksualitas adalah hal yang sangat unik karena proses ini bersifat sangat pribadi. Masalah seksualitas selalu menarik bagi manusia dari waktu ke waktu, terlihat dari tema seksualitas yang selalu ada dalam sejarah dan literatur. Nilai-nilai dalam seksualitas dipengaruhi oleh agama, filosofi, sistem sosial, dan pola hidup manusia yang sangat kompleks.

  Menurut Martono (dalam Hanani,1995), seksualitas merupakan energi psikis atau kekuatan yang mendorong organisme untuk melakukan sesuatu yang sifatnya seksual, baik untuk tujuan reproduksi maupun tujuan lain. Sarwono (1994), menyatakan bahwa pengertian seksualitas dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pengertian dalam arti sempit dan dalam arti luas. Pengertian dalam arti sempit ialah bahwa seksualitas berarti kelamin yang terdiri dari alat kelamin, anggota- anggota tubuh dan ciri-ciri badaniah yang membedakan laki-laki dan perempuan, kelenjar dan hormon kelamin, hubungan seksual, serta pemakaian alat kontrasepsi. Pengertian dalam arti luas adalah bahwa seksualitas itu merupakan segala hal yang terjadi sebagai akibat dari adanya perbedaan jenis kelamin, seperti perbedaan tingkah laku, atribut, peran atau pekerjaan, dan hubungan laki-laki dan perempuan.

  Master dkk (1982;1986), melihat seksualitas dari berbagai dimensi perilaku. Dimensi biologis memandang dari fungsi seksualitas sebagai cara mendapatkan keturunan, hasrat seksual dan kepuasan seksual. Dimensi psikososial menyatakan bahwa seksualitas melibatkan faktor psikososial yaitu adanya emosi, pikiran, dan kepribadian yang terlibat.

  Seksualitas dari dimensi perilaku atau disebut perilaku seksual adalah hasil dari perpaduan dimensi biologis dan psikososial.

  Kallen, dkk (1984), menyatakan bahwa perilaku seksual merupakan salah satu perilaku sosial yang diatur melalui norma-norma dan dipelajari melalui proses sosialisasi. Perilaku seksual dapat ditujukan pada lawan atau sesama jenis dan bertujuan untuk memperoleh kepuasan serta dipengaruhi oleh pola-pola belajar yang diperoleh individu melalui proses belajar (Isriati, 1999). Lebih lanjut dijelaskan oleh Faturochman (1990), bahwa perilaku seksual sebenarnya perilaku yang wajar dalam arti sebagian besar manusia pada akhirnya mengalami hal itu. Perilaku seksual melibatkan orang lain berarti perilaku seksual merupakan perilaku sosial. Seperti perilaku sosial yang lain, maka perilaku seks dalam kehidupan sosial diatur sesuai norma yang berlaku. Salah satu norma yang mengatur perilaku seksual menyatakan bahwa hubungan seksual hanya bisa dilakukan dalam lembaga perkawinan.

  Sementara itu Sarwono (1994), menyatakan bahwa bentuk ekspresi seksual. Sedangkan Master dkk (1982), berpendapat bahwa perilaku seksual tidak hanya aktivitas seks saja seperti masturbasi, berciuman, sampai bersenggama. Namun menyangkut berkencan, bercumbu dan membaca bacaan porno. Objek seksual dalam hal ini bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri (Sarwono, 2002). Stimulus- stimulus erotis tersebut muncul akibat dari dorongan seksual pada masa remaja (Jersild, 1963).

  Masters dkk (dalam Naryanti, 2001), secara garis besar melihat perilaku seksual dalam dua bentuk, yaitu noncoital sex play (perilaku seksual tanpa coitus/sanggama) dan coital sex play ( perilaku seksual dengan coitus/sanggama). Banyak yang mendiskripsikan semua aktivitas seksual sebelum melakukan intercouse disebut foreplay yang artinya permulaan untuk melakukan intercouse. Terkadang aktivitas yang menyerupai foreplay dilakukan sesudah melakukan intercouse yang disebut afierplay. Bila hanya melakukan foreplay tanpa dilanjutkan dengan intercouse maka disebut noncoital seks play.

  Dari definisi-definisi yang telah disebutkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku seksual adalah reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang bersifat erotis yang melibatkan dimensi biologis (sebagai hasrat seksual, kepuasan sosial) dan dimensi psikososial (melibatkan emosi, pikiran dan kepribadian).

  Master dkk (dalam Naryanti, 2001), membuat pengertian tahap-tahap perilaku seksual sebagai berikut: a. Memegang dan bergandengan tangan

  Memegang dan bergandengan tangan adalah salah satu bentuk dari sentuhan. Sentuhan adalah salah satu bentuk perilaku dan dapat berarti beberapa hal. Menyentuh sebagai salah satu bentuk komunikasi, contohnya memberi selamat, mengucapkan salam, dan lain-lain. Sentuhan dapat berarti pula untuk mendapatkan kesenangan seksual. Tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu untuk memberikan rasa nyaman dan kepercayaan.

  b. Berpelukan Berpelukan adalah salah satu satu bentuk sentuhan fisik dimana dua orang saling merapatkan tubuh yang dapat berarti simbol afeksi dan dapat bersifat sangat sensual.

  c. Berciuman Berciuman adalah salah satu bentuk sentuhan yang dapat berarti simbol afeksi dan dapat bersifat sangat sensual. Ciuman dapat berupa ciuman ringan seperti cium kening, cium pipi, dan dapat berupa ciuman yang bersifat sensual seperti ciuman bibir dan ciuman di leher (necking). d. Menyentuh dengan memberi stimulasi untuk kesenangan seksual pada bagian tubuh yang peka, contohnya menyentuh payudara. Biasanya dilakukan pria kepada wanita.

  Memberi stimulasi pada alat vital akan memberi kesenangan secara seksual, sebab daerah genital adalah tempat yang sangat sensitif untuk disentuh. Bila pasangan saling memegang alat kelamin kemudian memberi stimulasi secara kontinyu, sering disebut saling memasturbasi.

  f. Petting

  Petting adalah kontak fisik antara pria dan wanita dalam usaha

  menghasilkan kesenangan seksual tanpa coitus (tanpa masuknya penis ke vagina). Ada pendapat bahwa petting dilakukan untuk membantu mempersiapkan organ genital sebelum seseorang siap untuk melakukan penetrasi (memasukkan penis ke vagina). Petting sering disebut hampir melakukan hubungan seksual. Terdapat pendapat bahwa petting dilakukan untuk mengekspresikan perilaku seksual, namun tetap menjaga keperawanan.

  g. Oral genital seksual

  Oral genital seksual adalah perilaku seksual yang menekankan

  pemberian stimulus genital oleh mulut. Pemberian stimulus genital oleh mulut juga sering dilakukan sebelum orang melakukan coital seksual. Oral

  

genital seksual yaitu memberi stimulasi pada alat kelamin laki-laki dengan

  mulut dan lidah yang disebut fellatio, sedangkan memberi stimulasi pada alat kelamin wanita dengan mulut dan lidah disebut cunnilingus. Oral genital seksual dapat berupa jilatan, hisapan, ciuman, dan gigitan.

  h. Anal seksual penis pria atau dengan benda lain. Pasangan dengan orientasi homoseksual sering menggunakan metode ini untuk aktivitas seksualnya. Saat ini terdapat pasangan heteroseksual yang mencoba anal seksual, tapi cara ini tidak dianjurkan sebab rektum (anus) dapat menjadi luka.

  Perilaku seksual homoseksual yang dimaksud disini adalah perilaku yang langsung dapat diamati /overt behavior yaitu perilaku bergandengan tangan, berpelukan, berciuman dan meraba organ seks.

C. HOMOSEKSUAL

1. Pengertian Homoseksual

  Homoseks berasal dari bahasa Yunani "homo" yang berarti manusia sejenis, bukan berasal dari bahasa bahasa latin "homo" yang berarti lelaki. Batasan ini jelas menekankan pada kesamaan jenis dua manusia yang terlibat dalam hubungan seksual (Hawkins, dalam Thadeus, 2003).

  Menurut Chaplin (1999), homoseksualitas ini bisa mencakup segenap jajaran tingkah laku, dari seksualitas yang tampak jelas yaitu masturbasi timbal balik, menjilat kemaluan wanita (cunniliction) memasukkan penis dalam mulut orang lain lalu menggesek- gesekkannya dengan bibir serta lidah untuk membangkitkan orgasme (fellatio), atau persenggaman dubur (anal intercourse) sampai pada hasrat terhadap lawan jenis kelamin yang ditekan kuat-kuat. orientasi atau pilihan seks pokok atau dasarnya, entah diwujudkan atau dilakukan ataupun tidak, diarahkan kepada sesama jenis kelaminnya.

  Oetomo mengungkapkan bahwa seksualitas homoseksual adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan seks dalam diri seorang homoseksual yang terdiri atas 3 aspek, yaitu:

  1. Orientasi (arah atau sasaran) seksual: Orientasi seksual disini menunjukkan arah atau sasaran ketertarikan fisik dan emosi pada orang lain, apakah itu pada sesama jenis kelamin atau lawan jenisnya atau kedua-duanya. Orientasi seks merupakan bagian yang manunggal (integral) dan tidak dapat diubah dari dalam diri. Oleh karena masyarakat cenderung menekankan heteroseksualitas sebagai norma, maka banyak orang berorientasi homoseks menolak, menyembunyikan atau menekan orientasi seksualnya.

  2. Identitas (jati diri atau konsep diri) seksual: Identitas seksual berkaitan dengan bagaimana individu mmandang dirinya dan menghadirkan dirinya pada orang lain.

  Masyarakat menganggap semua orang berorientasi heteroseks.

  Bagi orang yang beridentitas homoseks, hal ini dapat menyebabkan kebingungan dan kecemasan pada individu homoseksual. Untuk itulah, seorang homoseksual diminta untuk berani coming out atau keluar dari identitas palsu atau semu.

  3. Perilaku (perbuatan atau kegiatan) seksual: Perilaku seksual adalah cara-cara untuk menyatakan atau mengekspresikan diri secara seksual atau perbuatan dan kegiatan seksual yang dilakukan. Menurut Sukadana (dalam Oetomo, 2001), terdapat 2 hubungan homo seksual, yang diwujudkan antar laki-laki yaitu:

  1. Hubungan yang non-genital (tidak melibatkan alat kelamin).

  Contoh: mengagumi orang sesama jenis, merasa dekat dengan orang sesama jenis sehingga menggandeng tangan, memeluk, mencium atau membelai-belai bagian-bagian tubuh yang bukan alat kelamin.

  2. Hubungan yang genital (melibatkan alat kelamin).

  a. Hubungan tanpa kontak langsung, seperti masturbasi dual.

  b. Hubungan dengan kontak langsung, seperti masturbasi mutual, koitus interfemoral (sela paha), dan koitus oral atau anal. Berdasarkan definisi-definisi diatas, homoseks dapat diartikan sebagai seseorang yang merasa tertarik secara seksual terhadap orang lain yang berjenis kelamin sama, yang diwujudkan dalam bentuk

2. Klasifikasi Homoseksual

  Ada beberapa klasifikasi homoseksual yang dikemukakan oleh beberapa tokoh, diantaranya oleh Tripp. Tripp (dalam Mayasari, 2001) menjadi 2 (dua) macam, yaitu:

  a. Homoseksual Eksklusif Homoseksual eksklusif yaitu ketertarikan erotis seseorang hanya pada sesama jenis, daya tarik lawan jenis tidak dapat memunculkan minat seksual orang tersebut. Mereka biasanya baik secara terbuka maupun tertutup mcngakui identitas seksual mereka adalah homoseksual.

  b. Homoseksual Fakultif Homoseksual fakultatif yaitu pada situasi-situasi yang tertentu perilaku homoseksual dilakukan untuk menyalurkan dorongan seksualnva karena tidak adanya pasangan lawan jenis. Identitas seksual yang diakui dari orang-orang yang terrnasuk dalam kelompok ini biasanya adalah heteroseksual.

  c. Biseksual.

  Biseksual yaitu orang yang dapat memperoleh kepuasan erotis baik: dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis. Identitas seksual yang diakui biasanya antara biseksual atau heteroseksual.

  Coleman, dkk (1988) juga membagi homoseksual dalam beberapa kelompok, yaitu: a. Blantant Homosexuals (homoseksual Tulen)

  

Blantant Homosexuals lebih dikenal dengan istilah stereotipi

  homoseksual, karena jenis ini memenuhi gambaran stereotipik populer Supratiknya, 1995) sehingga mempunyai ciri-ciri berbicara berdesis dan ayunan tangan yang lemah gemulai sebagai karikatur kewanitaannya.

  Kaum yang tergolong blantant homosexuals ialah (tranventif yaitu individu-individu yang lebih senang memakai pakaian dan sering berperilaku sebagai lawan jenis seksnya atau lebih sering disebut dengan waria).

  b. Desperate Homosexuals (Homoseksual Malu-Malu).

  

Desperate Homosexuals yaitu kaum Iaki-laki yang lebih senang

  mendatangi tempat-tempat umum seperti toilet umum atau steambath (tempat mandi uap); kelihatannya seperti untuk memenuhi dorongan rangsangan dari homosexual behaviour, namun tidak berani mengadakan hubungan pribadi untuk melakukan perilaku homoseksualitasnva. selain itu mereka mengadakan komunikasi yang dilakukan secara berbisik-bisik dan menutupi identitasnya.

  c. Secret Homosexuals (Homoseksual Tersembunyi).

  Kebanyakan anggota kelompok ini berasal dari lapisan sosial kelas menengah dan memiliki status yang dirasa perlu dilindungi (Coleman, dkk, dalam Supratiknya, 1995), sehingga mereka tetap mempertahankan kedudukannya namun berusaha untuk menutupi atau menyembunyikan homoseksualitas yang mereka miliki. Kebanyakan dari mereka menikah dan mengenakan cincin kawin agar tidak diketahui orientasi seksualnya yang cenderung tertarik pada sesama jenis. Sebagian besar Homoseksualitas mereka biasanya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu yang jumlahnya sangat terbatas, seperti sahabat-sahabat karib dan kekasih mereka (Coleman, dkk, dalam Supratiknya, 1995).

  d. Situasional Homosexuals (Homoseksual Situasional).

  

Situasional Homosexuals adalah individu yang melakukan kegiatan

  homoseksual akibat situasi saat itu yang dapat mendorong orang mempraktikkan homoseksualitas tanpa disertai komitmen yang mendalam (Coleman, dkk, dalam Supratiknya, 1995), seperti di penjara, medan perang, atau tempat-tempat isolasi. Akibatnya, setelah mereka lepas dari situasi tersebut, biasanya mereka akan kembali menjadi heteroseksual.

  e. Bisexuals (Biseksual).

  

Bisexuals yaitu individu yang dapat mengadakan hubungan

  homoseksual dan heteroseksual sekaligus selama periode kehidupannnya. Individu yang termasuk kategori ini adalah desperate

  homosexuals, walaupun individu tersebut telah menikah.

  f. Adjusted Homosexuals (Homoseksual Mapan).

  Golongan ini dapat menerima keadaan dirinya (homoseksualitasnya), dapat memenuhi aneka peran kemasyarakatan secara bertanggung jawab, memenuhi aturan sosial, dan membentuk atau mengikatkan diri dengan komunitas homoseksual setempat.

  Bell dan Weinberg (dalam Mayasari, 2001) mengklasifikasikan (lima) tipe, yaitu: a. Close Coupled.

  Close Coupled merupakan sebuah relasi antara dua orang

  homoseksual yang terikat oleh sebuah komitmen seperti halnya sebuah perkawinan dalam dunia heteroseksual.

  b. Open Coupled.

  Open Coupled merupakan sebuah bentuk hubungan antara dua

  orang homoseksual yang terikat oleh sebuah komitmen tetapi memungkinkan terjadinya hubungan lain di luar komitmen tersebut, namun tipe hubungan ini seringkali mengalami banyak permasalahan, misalnya kecemburuan.

  c. Functional.

  Functional adalah seorang homoseksual yang tidak terikat suatu

  komitmen dengan seseorang tetapi memiliki pasangan seksual yang cukup banyak.

  d. Dysfunctional.

  Dysfunctional adalah seorang homoseksual yang tidak memiliki

  pasangan yang tetap dan memiliki banyak pasangan seksual, tetapi banyak memiliki permasalahan seksual. e. Asexual.

  Asexual adalah seorang homoseksual yang kurang memiliki

  keinginan untuk mencari pasangan, baik pasangan tetap maupun Dari segi psikiatri (dalam Sukadana, 1987), ada 2 (dua) macam homoseksual, yaitu: a. Homoseksual Ego Sintonik (sinkron dengan egonya).

  Seorang homoseks ego sintonik adalah seorang homoseks yang tidak merasa terganggu oleh orientasi seksualnya, tidak ada konflik bawah sadar yang ditimbulkan, serta tidak ada desakan, dorongan, atau keinginan untuk mengubah orientasinya. Dengan kata lain, kaum homoseks ini sangat menerima keadaan dirinya dan hidup dengan senang sebagai homoseksual.

  b. Homoseksual Ego Distonik (tidak sinkron dengan egonya).

  Kaum homoseks ini tidak bisa menerima keadaan dirinya atau merasa dirinya tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, sehingga mereka terus-menerus berada dalam keadaan konflik batin selama hidupnya. Seorang homoseks ego distonik adalah homoseks yang mengeluh dan merasa terganggu dengan konflik psikis. la sedikit sekali terangsang dengan lawan jenisnya atau bahkan tidak sama sekali dan ini menyebabkan hambatan untuk mcmulai dan mempertahankan hubungan heteroseksual yang sebenarnya didambakannya. Secara terus terang ia menyatakan dorongan homoseksualnya menyebabkan ia merasa tidak disukai, cemas, dan sedih. Konflik psikis tersebut menyebabkan perasaan bersalah, kesepian, malu, cemas, dan gangguan psikoseksual.

  Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis/klasifikasi dari homoseksual yang tergolong dalam homoseksual mapan (Coleman, 1988) yang dapat menerima keadaan dirinya, dapat memenuhi aturan sosial, dan dapat membentuk/mengikatkan diri dengan komunitas homoseksual setempat. Tidak termasuk didalamnya golongan biseksual, karena biseksual mempunyai ketertarikan pada laki-laki dan perempuan, sedangkan homoseks dalam penelitian ini hanya mengambil ketertarikan pada sesama jenis saja, khususnya laki-laki.

3. Perbedaan Waria dan Homoseksual

  Secara umum, waria memiliki ciri khas yang membedakannya dengan homoseksual, dimana secara fisik jenis kelamin mereka normal (dalam hal ini laki-laki), namun secara psikis cenderung untuk menampilkan diri sebagai lawan jenis (perempuan). Berbeda dengan homoseksual yang semata-mata merujuk pada perilaku relasi seseorang yang merasa tertarik dan mencintai orang lain dari jenis kelamin yang sama (Manshur, dalam Wahyuningtyas, 2003).

  Kaum waria merupakan laki-laki yang bersifat, bertingkah laku, serta berperasaan seperti wanita (www.forum.literatica.com), karena dirinya merasa terjebak (terperangkap) di dalam tubuh yang salah dengan memainkan peran sosial lawan jenisnya, sehingga secara fisik mereka berusaha mengadakan perubahan sesuai dengan karakteristik khas perempuan seperti bentuk tubuh yang sintal dan suara yang lembut (Supraktiknya, 1995).

  Sedangkan pria homoseksual manyadari bahwa dirinya laki-laki, tapi tertarik pada sesama jenis. Karena menyadari dirinya seorang laki- laki, maka seorang homoseksual pria bisa jadi berpenampilan sangat maskulin (www.kompas.com). Seorang homoseks tidak merasa perlu berpenampilan dengan memakai pakaian wanita karena ia memang tidak menganggap dirinya sebagai seorang wanita.

D. MAHASISWA

  Mahasiswa adalah sebutan bagi mereka yang menjalankan studi di perguruan tinggi. Direktorat Kemahasiswaan Ditjen Perguruan tinggi dan Departemen P dan K (dalam Sarlito Wirawan Sarwono dan kawan-kawan 1979) mendefinisikan mahasiswa sebagai golongan pemuda (umur 18-30 tahun) yang secara resmi terdaftar pada salah satu perguruan tinggi dan aktif dalam perguruan tinggi yang bersangkutan. Sehingga mahasiswa Universitas Sanata Dharma dapat diartikan sebagai golongan pemuda yang berusia 18-30 tahun yang secara resmi terdaftar pada Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan aktif dalam Universitas Sanata Dharma. Menurut Hurlock (1999), batasan umur dewasa awal adalah 18-40 tahun, dengan ciri-ciri masa dewasa awal adalah

  1. Masa dewasa awal sebagai “Masa pengaturan” Hari-hari kebebasan telah berakhir dan saatnya tiba untuk menerima tanggung jawab sebagai orang dewasa.

  2. Masa dewasa awal sebagai “Usia Reproduktif” Menjadi orang tua merupakan salah satu peran yang paling penting dalam hidup orang dewasa.

  3. Masa dewasa awal sebagai “Masa Bermasalah” Mereka sudah dapat membeikan suaranya, memiliki harta benda, kawin tanpa persetujuan orang tua, namun kebebasan baru ini menimbulkan masalah-masalah yang berhubungan dengan penyesuaian diri dalam berbagai aspek kehidupan orang dewasa.

  4. Masa dewasa awal Masa Ketegangan Emosional Emosi yang menggelora merupakan ciri tahun-tahun awal. Ketika mereka melihat dunia dari menara gading mereka tidak menyukai apa yang mereka lihat dan ingin mengubahnya.

  5. Masa dewasa awal sebagai Masa Keterasingan Sosial Keterlibatan dalam kegiatan kelompok diluar rumah akan terus berkurang dan akan mengalami keterpencilan sosial.

  6. Masa dewasa awal sebagai Masa Komitmen Sebagai orang dewasa yang mandiri, maka mereka harus dapat menentukan pola hidup baru, memikul tanggung jawab baru dan

  7. Masa dewasa awal Sering Merupakan Masa Ketergantungan.

  Meskipun telah resmi mencapai status dewasa pada usia 18 tahun, banyak orang muda yang masih agak tergantung pada orang lain selama jangka waktu yang berbeda-beda. Ketergantungan ini misalnya pada orang tua yang membiayai pendidikan mereka.

  8. Masa dewasa awal sebagai Masa Perubahan Nilai Banyak nilai masa kanak-kanak dan remaja berubah karena pengalaman dan hubungan sosial yang lebih luas dengan orang- orang yang berbeda usia. Alasan yang menyebabkan perubahan nilai pada masa dewasa awal karena: a. Jika orang muda dewasa ingin diterima oleh anggota– anggota kelompok orang dewasa, mereka harus menerima nilai-nilai kelompok ini.

  b. Kebanyakan kelompok sosial berpedoman pada nilai-nilai konvensional dalam hal keyakinan dan perilaku.

  9. Masa dewasa awal sebagai Masa Penyesuaian diri dengan Cara Hidup Baru

  Dalam masa dewasa ini gaya-gaya hidup baru paling menonjol di bidang perkawinan dan peran orang tua. Perkawinan sesudah kehamilan tidak dianggap hal yang perludirahasiakan seperti dulu.

  Orang muda banyak yang bangga karena lain dari yang umum. Bentuk kreatifitas tergantung pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya. Bradbury (1975) menyatakan bahwa sejak usia 20 tahun sampai pada usia 30-an, orang menemukan diri mereka dalam suatu dunia baru.

  Mereka kini bebas. Orang tua tidak lagi menguasai mereka. Masyarakat menerima mereka sebagai anggota penuh dan sebaliknya memberi mereka kesempatan untuk menyumbangkan sesuatu kepada masyarakat. Namun, justru karena kesempatan mereka begitu besar, kaum dewasa awal menghadapi tanggung jawab yang sama besarnya, yaitu mereka harus menentukan pola hidup mereka sendiri.

  Tugas perkembangan lainnya dari masa dewasa awal adalah menemukan kelompok sosial yang cocok (Hurlock. 1999). Dalam menyesuaikan diri dengan kelompok-kelompok sosial yang dimasukinya, orang dewasa awal perlu bersikap terbuka dan mampu mengungkapkan perasaan-perasaan, kebutuhankebutuhan, dan ide-idenya pada orang lain agar orang lain dapat mengerti dan memahami keinginan, perasaaan dan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, mereka perlu bersikap asertif dalam menyesuaikan diri dengan kelompok-kelompok sosial tersebut. Selain itu juga pada masalah agama, biasanya sesudah orang menjadi dewasa, ia telah dapat mengatasi keragu-raguan di bidang kepercayaan atau agamanya, yang mengganggunya apa waktu ia masih remaja. Setelah menjadi dewasa ia biasanya sudah mempunyai suatu pandangan hidup, yang didasarkan pada agama, yang memberikan kepuasan baginya (Hurlock, 1999).

  Oleh karena itu, mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta diharapkan dapat mengungkapkan sikap mereka secara terbuka terhadap perilaku seksual yang terjadi pada homoseksual, karena seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa pada usia dewasa awal, mereka sudah harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru, mampu mencari jalannya sendiri, tidak dikuasai oleh orang tua, mampu mengungkapkan perasaan-perasaannya, serta mampu menemukan kelompok sosial yang cocok.

E. SIKAP MAHASISWA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL HOMOSEKS

  Sikap mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap perilaku seksual homoseksual yang dimaksud disini adalah bagaimana sikap mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, apakah mendukung atau tidak mendukung terhadap perilaku seksual homoseks. mendukung/memihak/setuju terhadap perilaku seksual. Sedangkan jika mempunyai sikap yang negatif yaitu tidak mendukung/tidak memihak/tidak setuju terhadap perilaku seksual homoseks, karena pada Homoseksual di Indonesia”, mengatakan bahwa masyarakat Yogyakarta belum bisa menerima kehidupan homoseksual (www.kompas.com).

  Mereka dianggap tidak normal, menyimpang dari norma yang ada. Hal ini diperkuat dengan adanya tindak kekerasan terhadap kaum homoseks yang terjadi di kawasan wisata Kaliurang Yogyakarta pada tanggal 11 November 2000 (www.kompas.com). Selain itu juga karena adanya pengakuan beberapa mahasiswa di Yogyakarta yang mengatakan bahwa eksistensi mereka sebagai seorang gay masih sering mendapat stigma dan perlakuan negatif dari masyarakat, termasuk aparat hukum. Mereka makin bertambah was-was seiring dengan masuknya ketentuan dalam RUU KUHP yang mengkriminalisasi pelaku hidup bersama tanpa terikat perkawinan (www.hukumonline.com).

  Karena kaum homoseksual belum bisa diterima oleh masyarakat Yogyakarta, maka peneliti tertarik untuk melihat bagaimana sikap mahasiswa Yogyakarta terhadap perilaku seksual yang dilakukan oleh homoseks.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian mi adalah penelitian deskriptif. Penelitian

  deskriptif adalah peneitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum (Sugiyono, 1999).

  Berdasarkan pada teori diatas, maka penelitian ini menggunakan data kuantitatif mengenai variabel yang diperoleh melalui analisis skor jawaban subyek pada kuisioner yang digunakan sebagaimana mestinya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan sikap mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap perilaku seksual homoseks, tanpa membuat kesimpulan yang berlaku secara umum di luar subyek penelitian.

B. Identifikasi Variabel Penelitian

  Pada penelitian ini yang menjadi variabel penelitian adalah sikap mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap perilaku seksual homoseks.

C. Definisi Operasional Variabel Penelitian

  1. Sikap Sikap adalah suatu bentuk kecenderungan keteraturan pemikiran (kognisi), tindakan (konasi) dan evaluasi/reaksi perasaan (afeksi) mendukung atau memihak ataupun perasaan tidak mendukung/tidak memihak terhadap suatu objek.

  2. Perilaku seksual Perilaku seksual adalah reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang bersifat erotis yang melibatkan dimensi biologis (sebagai hasrat seksual, kepuasan seksual) dan dimensi psikososial (melibatkan emosi, pikiran dan kepribadian). Dalam penelitian ini diambil perilaku yang bisa diamati/overt behavior. Tahap-tahap perilaku seksual:

  a. Bergandengan tangan

  b. Berpelukan

  c. Berciuman

  d. Meraba organ seks

  3. Homoseks Homoseks adalah seseorang yang tertarik secara seksual terhadap orang lain yang berjenis kelamin sama dengan dirinya.

  4. Mahasiswa Universita Sanata Dharma Mahasiswa Universitas Sanata Dharma dapat diartikan sebagai golongan pemuda yang berusia 18-30 tahun yang secara resmi terdaftar pada Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan aktif dalam Universitas Sanata Dharma

  D. Subjek Penelitian

  Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sampel penelitian diambil secara purposive sampling dipilih berdasarkan ciri-ciri yang telah ditentukan yaitu:

  • Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - Berusia 18-30 tahun

  Adapun alasan penelitian kelompok subjek ini karena mahasiswa Psikologi Sanata Dharma mengerti tentang arti sikap dari segi psikologis dan mengerti tentang arti homoseksual. Selain itu juga dikarenakan peneliti merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi Sanata Dharma Yogyakarta sehingga memudahkan untuk pengambilan sampel.

  E. Prosedur

  Prosedur/langkah-langkah yang diambil dalam penelitian ini adalah:

  1. Membuat skala sikap dengan metode rating yang dijumlahkan (summated rating)

  2. Melakukan uji kesahihan butir dan reliabilitas skala untuk mendapatkan butir yang sahih dan data yang reliabel.

  3. Menentukan subjek penelitian yang sesuai dengan kriteria dan kemudian mengukur sikap mahasiswa Yogyakarta dengan cara subjek mengisi skala yang telah diuji kesahihannya dan

  4. Menganalisis data yang masuk dengan uji statistik deskriptif (penyajian data melalui tabel, perhitungan nilai maksimum, nilai minimum, mean teoritis, mean empiris dan standar deviasi serta perhitungan prosentase) untuk melihat sikap mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terhadap perilaku seksual homoseks.

  5. Membuat kesimpulan berdasarkan analisis tersebut.

F. Teknik Pengumpulan Data 1. Data dalam penelitian ini adalah dengan cara pengisian skala.

  Menurut Kerlinger (1983), skala adalah kesimpulan/lambang/simbol yang disusun dengan cara tertentu sehingga simbol/angka itu dengan cara tertentu dapat diberikan kepada individu. Skala yang akan diberikan kepada subjek adalah skala sikap, berdasarkan indikator-indikator sikap dan perilaku seksual homoseks. Metode penyusunan skala yang digunakan adalah Summated Rating dengan menggunakan skala Likert, dimana skala terdiri dari item-item yang bersifat favorable dan

  unfavorable (Azwar, 1999). Terdapat 4 kategori respon yang disediakan. Dalam jawaban ini ditiadakan jawaban tengah yaitu ragu-ragu. Hal ini menurut Hadi (1990) didasarkan pada 3 alasan:

  • Kategori undedicated yaitu mengarti ganda bisa

  (menurut konsep asli), bisa juga diartika netral dikatakan setuju tidak, tidak setujupun tidak, atau bahkan ragu-ragu.

  • Tersedianya jawaban yang ditengah itu menimbulkan kecenderungan menjawab tengah (central tendency effect) terutama bagi mereka yang ragu-ragu atas arah kecenderungan jawabannya, kearah setuju atau tidak setuju.
  • Maksud kategorisasi jawaban SS-S-TS-STS adalah terutama untuk melihat kecenderungan pendapat responden, kearah setuju atau tidak setuju. Jika disediakan jawaban tengah akan banyak kehilangan data penelitian sehingga mengurangi banyaknya informasi yang dapat dijaring dari responden.

  Kategorisasi respon yang disiapkan yaitu: Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Detuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS), dimana masing-masing pilihan mencerminkan sikap yang ingin diungkap.

  Item yang favorable merupakan item yang mengindikasikan sikap

  yang positif (setuju) dengan uraian SS diberi skor 4, S diberi skor

  3, TS diberi skor 2, STS diberi skor 1. Sedangkan item unfavorable merupakan item yang mengindikasikan sikap negatif (tidak setuju) dengan uraian SS diberi skor 1, S diberi skor 2, TS diberi skor 3, diujicobakan. Aspek-aspek yang digunakan dalam menyusun skala ini adalah: Aspek-aspek sikap:

  a. Kognitif

  b. Afektif

  c. Konatif Aspek-aspek perilaku seksual:

  a. Bergandengan tangan

  b. Berpelukan

  c. Berciuman

  d. Meraba organ seks

  Tabel I Spesifikasi Skala Sikap Mahasiswa Universitas Sanata Dharma

  Yogyakarta Terhadap Perilaku Seksual Homoseks (sebelum

  PERILAKU SEKSUAL TOTAL BERGANDENGAN MERABA ORGAN NO SIKAP TANGAN BERPELUKAN BERCIUMAN SEKS FAV UNFAV FAV UNFAV FAV UNFAV FAV UNFAV

  

1 KOGNITIF 1,25,49 13,37,61 2,26,50 14,38,62 3,27,51 15,39,63 4,28,52 16,40,64 24

  2 AFEKTIF 17,41,65 5,29,53 18,42,66 6,30,54 19,43,67 7,31,55 20,44,68 8,32,56

  24

  3 KONATIF 9,33,57 21,45,69 10,34,58 22,46,70 11,35,59 23,47,71 12,36,60 24,48,72

  24

  72 G. Estimasi Validitas dan Reliabilitas

  1. Validitas Validitas adalah taraf ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Hadi, 1990). Jadi, sebuah alat ukur dapat dikatakan valid jika alat ukur tersebut dapat memberikan hasil ukur sesuai dengan maksud pengukuran tersebut.

  Penelitian ini menggunakan validitas isi dalam estimasinya. Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional

  judgement . Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini

  adalah sejauhmana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur atau sejauhmana isi tes kesahihan merupakan tingkat kemampuan alat penelitian untuk mengungkap sesuatu yang menjadi sasaran pokok penelitian yang dilakukan dengan alat penelitian tersebut (Hadi, 1990).

  Reliabilitas adalah proporsi variabilitas skor tes yang disebabkan oleh perbedaan yang sebenarnya diantara individu, sedangkan ketidakreliabelan adalah proporsi variabilitas skor tes yang disebabkan oleh eror pengukuran (Azwar, 2001). Pendekatan yang digunakan dalam perhitungan reliabilitas alat tes ini adalah reliabilitas koefisien Alpha Cronbach (SPSS for windows versi

  15.0 ), sebab koefisien alpha mempunyai nilai praktis dan efisien

  yang tinggi karena hanya dilakukan satu kali pada kelompok subjek.

  Tabel II Distribusi item sebelum uji coba (try out)

  Perilaku Seksual TOT begandengan berpelukan berciuman meraba NO Sikap

  • * FAV UNF FAV UNF FAV UNF FAV UNF

  1 KOG 1,25,49 13,37,61 2,26,50 14,38,62 3,27,51 15,39,63 4,28,52 16,40,64

  24 *

AFEK 17,41,65 5,29,53 18,42,66 6,30,54 19,43,67 7,31,55 20,44,68 8,32,56

  24

  2

  3 KON 9,33 ,57 21,45*,69 10,34,58 22,46*,70 11,35,59 23,47,71* 12,36,60 24,48,72*

  24

  72 Keterangan: item yang diberi tanda * adalah item yang gugur Tabel III

  Blue Print setelah uji coba

  6

  3

  4

  6

  5

  18 2 afektif

  4

  5

  (setelah disesuaikan agar setiap aspek terwakilkan secara proporsional) Perilaku seksual

  3

  18 3 konatif

  4

  5

  5

  4

  No Sikap bergandengan berpelukan berciuman meraba Jumlah 1 kognitif

  Blue Print Penelitian

  Perilaku seksual No Sikap bergandengan berpelukan berciuman meraba

  6

  Jumlah 1 kognitif

  6

  6

  6

  5

  23 2 afektif

  6

  18 Tabel IV

  6

  6

  24 3 konatif

  4

  5

  5

  4

  18

H. Analisis Data

  Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistik deskriptif yang meliputi penyajian data melalui tabel, perhitungan nilai maksimum, nilai minimum, mean teoritis, mean empiris dan standar deviasi serta perhitungan prosentase.

  Subjek dibedakan ke dalam sikap yang positif atau negatif dengan cara melakukan uji perbandingan mean antara mean empirik dengan mean teoritik. Apabila mean empirik > teoritik, maka sikap subjek positif, namun jika mean empirik < mean teoritik maka sikap subjek adalah negatif.

  Analisis data dilakukan secara umum untuk melihat sikap yang dimiliki oleh sebagian besar subjek penelitian. Selain pengkategorian secara umum, dilakukan pula pengkategorian untuk setiap aspek sikap dan indikator-indikator perilaku seksual.

  Keterangan: Skor maksimum teoritik: Skor paling tinggi yang diperoleh subjek pada skala Skor minimum teoritik: Skor paling rendah yang diperoleh subjek pada skala Skor maksimum empirik: Skor paling tinggi yang diperoleh subjek pada penelitian Skor minimum empirik: Skor paling rendah yang diperoleh subjek pada penelitian

  Mean teoritik: Rata-rata teoritik dari skor maksimum dan minimum Mean empirik: Rata-rata dari skor subjek penelitian Median: Nilai tengah yang dihasilkan SD: Simpangan baku menunjukkan variasi jawaban subjek Varians: Kuadrat standart deviasi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Persiapan penelitian

  1. Uji coba (try out) alat ukur Sebelum melakukan penelitian maka alat ukur penelitian perlu melewati tahap uji coba agar diperoleh alat ukur dengan kualitas yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Uji coba pada penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan skala kepada 65 orang subjek dengan karakteristik yang sama dengan subjek penelitian, yaitu mahasiswa dengan batasan usia berusia 18-30 tahun dan Penyebaran alat ukur uji coba dimulai dari tanggal 9 Juni 2007 hingga tanggal 20 Juni 2007. Dari 65 skala yang disebarkan, 4 skala tidak dikembalikan kepada peneliti sehingga jumlah keseluruhan subjek uji coba sebanyak 61 subjek.

  a. Uji Validitas alat ukur (skala) Validitas yang digunakan dalam skala ini adalah validitas isi. Validitas isi dilakukan oleh professional judgment atau orang yang dianggap ahli. Dalam penelitian ini peneliti meminta bantuan dosen pembimbing skripsi sebagai professional judgment, untuk melihat kesesuaian item soal dengan blue print yang telah dibuat sebelumnya dan juga keterwakilannya setiap aspek sikap, yaitu b. Uji Reliabilitas alat ukur Uji reliabilitas dilakukan dengan teknik Alpha Cronbach

  program SPSS versi 15.00 for windows . Dari hasil pengukuran dan reliabilitas skala dapat dilihat pada lampiran.

  2. Analisis item Dari hasil terhadap 72 item soal uji coba, maka diperoleh 7 item soal yang gugur atau tidak layak untuk digunakan sebagai alat ukur penelitian. Sedangkan item soal yang layak digunakan sebagai alat ukur penelitian sebanyak 65 item, dengan koefisien korelasi yang bergerak dari 0,412 sampai 0,889. Dari 65 item yang layak tersebut kemudian dipilih 54 item dengan koefisien terbaik dari masing-masing komponen disesuaikan dengan komposisi blue print agar masing- masing komponen dapat terwakili secara proporsional (lihat tabel II,

  III, dan tabel IV).

B. Pelaksanaan Penelitian

  Setelah dilakukan uji coba terhadap alat ukur penelitian, maka didapatkan item yang terbaik yang selanjutnya akan digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian. Penelitian diawali dengan pembagian skala kepada 102 mahasiswa fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pembagian skala ada yang dilakukan di dalam kelas setelah jam kuliah selesai dengan terlebih dahulu meminta izin dosen yang bersangkutan. Pembagian skala ini dimulai dari tanggal 20 Juli 2007 hingga 27 Juli 2007.

  Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Sanata Dharma Fakultas Psikologi Yogyakarta (berusia 18-24 tahun). Berdasarkan data identitas pada skala penelitian yang diperoleh, maka dibuat tabel rangkuman gambaran subjek penelitian (lihat tabel VI).

  Tabel VI Gambaran Subjek Penelitian

  Keterangan Jumlah % 18 tahun 20 19,6 % 19 tahun 43 42,15 % 20 tahun 15 14,7 % 21 tahun 10 9,8 % 22 tahun

  5 4,9 % 23 tahun 3 2,9 % 24 tahun 6 5,8 %

  Total 102 100 %

D. Hasil Penelitian

  1. Analisis Secara Umum Berdasarkan hasil analisis deskriptif dengan perhitungan program lebih kecil dari mean teoritik (114,74 < 135) lihat tabel VII. Hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelompok penelitian lebih kecil dari rata-rata teoritik, maka dapat diartikan bahwa secara umum subjek dari penelitian ini memiliki sikap yang negatif terhadap perilaku seksual homoseks.

  Tabel VII Hasil analisis umum dan analisis khusus

  Hasil No Analisis data

  Mean empirik Mean teoritik analisis sikap

  1 Analisis umum 114,74 135 negatif

  2 Analisis khusus kognitif 37,71 45 negatif afektif 36,61 45 negatif

  a. Aspek sikap konatif 40,42 45 negatif b.Indikator gandeng 25,14 27,5 negatif perilaku pelukan 32,46 37,5 negatif seksual ciuman 34,3 40 negatif meraba 23,4

  30 negatif

  2. Analisis secara khusus

  A. Aspek sikap

  1. Kognitif kecil dari mean teoritiknya (37,71 < 45), artinya subjek memiliki sikap yang negatif terhadap perilaku seksual homoseks.

  2. Afektif Dari hasil analisis diketahui bahwa mean empirik lebih kecil dari mean teoritiknya (36,61 < 45), artinya subjek memiliki sikap yang negatif terhadap perilaku seksual homoseks.

  3. Konatif Dari hasil analisis diketahui bahwa mean empirik lebih kecil dari mean teoritiknya (40,42 < 45), ini berarti subjek memiliki sikap yang negatif terhadap perilaku homoseks.

  B. Indikator Perilaku Seksual Dari hasil analisis pada setiap indikator perilaku seksual, diketahui bahwa mean empirik lebih kecil daripada mean teoritiknya (lihat pada tabel VII). Hal ini terlihat pada indikator bergandengan (25,14 < 27,5), berpelukan (32,46 < 37,5), berciuman (34,3 < 40), dan meraba (23,4 < 30). Hal ini menunjukkan bahwa subjek memiliki sikap yang negatif terhadap perilaku seksual homoseks.

  Dari hasil perbandingan mean menunjukkan bahwa mean empirik < mean teoritik (114,74 < 135). Hal tersebut berarti bahwa secara umum subjek pada penelitian ini memiliki sikap yang negatif. Dengan kata lain, hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Sanata Darma Yogyakarta memiliki sikap yang negatif terhadap perilaku seksual homoseks. Sikap berisi 3 aspek yang saling berhubungan, yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek konatif. Dari hasil analisis sikap tehadap aspek kognitif, diketahui bahwa mean empirik < mean teoritik (37,71 < 45), yang artinya subjek memiliki sikap negatif. Hal ini dapat dikatakan bahwa dalam konsep pemikiran serta keyakinan subjek menolak/tidak setuju dengan perilaku seksual yang dilakukan oleh homoseks. Pada aspek ini terlihat bahwa subjek masih berpedoman pada nilai-nilai konvensional dalam hal keyakinan- keyakinan dan perilaku. Hurlock (1999) mengatakan bahwa jika orang muda dewasa ingin diterima oleh anggota-anggota kelompok orang dewasa, mereka harus menerima nilai-nilai kelompok ini. Dalam hal ini nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat adalah menolak/belum bisa menerima kaum homoseksual, sehingga subjek bersikap menolak/tidak setuju terhadap perilaku seksual yang dilakukan oleh homoseks dengan tujuan supaya mereka dapat diterima menjadi anggota kelompok dalam masyarakat tempat mereka tinggal.

  Aspek selanjutnya dari sikap adalah aspek afektif. Dari hasil teoritik (36,61 < 45), yang berarti subjek memiliki sikap negatif. Hasil ini menunjukkan bahwa subjek memiliki perasaan tidak senang dengan perilaku seksual yang dilakukan oleh homoseks. Perasaan tidak senang ini dapat muncul karena didasari oleh faktor emosi. Faktor emosi ini bisa dipengaruhi oleh usia. Sebagaimana kita tahu bahwa dalam penelitian ini, subjek termasuk dalam usia dewasa awal, dimana pada tahun-tahun awal mereka masih mempunyai emosi yang menggelora (Hurlock, 1999). Emosi yang menggelora ini dapat bersifat sementara ataupun menetap dan biasanya berbentuk prasangka, sehingga akan menghasilkan perasaan tidak senang terhadap perilaku seksual yang dilakukan oleh homoseks.

  Aspek yang terakhir dari sikap adalah aspek konatif. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa mean empirik lebih kecil dari mean teoritik (40,42 < 45), artinya subjek memiliki sikap negatif. Hal ini dapat diartikan bahwa subjek memiliki reaksi yang negatif terhadap perilaku seksual homoseks. Reaksi ini merupakan kecenderungan subjek untuk bertindak/berperilaku secara negatif terhadap perilaku seksual yang dilakukan oleh homoseks. Bentuk dari perilaku subjek ini bisa didapat dari pengalaman-pengalaman pribadinya. Lewat pengalaman-pengalaman pribadinya itu seseorang akan membentuk suatu respon/tanggapan. Tanggapan ini menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Middlebrook (1974) mengatakan bahwa jika tidak sikap yang terbentuk akan cenderung negatif terhadap objek itu. Hal ini dapat dikatakan bahwa sikap negatif yang ditunjukkan mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta terhadap perilaku seksual homoseks dikarenakan mereka tidak mempunyai pengalaman pribadi sebagai seorang homoseks ataupun karena tidak mempunyai pengalaman pribadi dengan seseorang yang homoseks (misalnya teman/saudara yang homoseksual) sehingga mereka cenderung bersikap negatif.

  Pada indikator perilaku seksual, diketahui bahwa mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta pada penelitian ini memiliki sikap yang negatif terhadap perilaku bergandengan tangan, berpelukan, berciuman dan meraba organ seks yang dilakukan oleh homoseks. Mereka menolak/tidak setuju dengan perilaku-perilaku seksual tersebut yang dilakukan oleh homoseks. Hal ini dapat diketahui dari perbandingan mean pada setiap tahap perilaku seksual yang menyatakan bahwa mean empirik < mean teoritiknya. Perbandingan mean empirik dan mean teoritik pada setiap tahap perilaku seksual yang dilakukan oleh homoseks adalah sebagai berikut: pada tahap bergandengan [(mean empirik < mean teoritik (25,14<27,5)], berpelukan [(mean empirik < mean teoritik (34,2<30)], berciuman

  [(mean empirik < mean teoritik (34,2<40)], meraba organ seks[(mean empirik < mean teoritik (23,4<30)].

  Sikap negatif yang ditunjukkan subjek terhadap perilaku dilakukan oleh homoseks ini dapat disebabkan karena pengaruh agama. Hurlock (1999) mengatakan bahwa setelah menjadi dewasa ia biasanya sudah mempunyai suatu pandangan hidup, yang didasarkan pada agama yang memberi kepuasan baginya. Azwar (1995) mengemukakan bahwa lembaga pendidikan dan lembaga agama mempunyai pengaruh dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan diperoleh dari ajaran-ajaran agama yang dianut.

  Dalam agama manapun tidak diajarkan tentang homoseks, maka subjek bersikap tidak setuju terhadap perilaku seksual yang dilakukan oleh homoseks karena bertentangan dengan agama yang mereka anut. Azwar (1995) juga mengemukakan bahwa media massa sebagai sarana penyampaian informasi juga berpengaruh terhadap pembentukan sikap seseorang. Media massa seringkali membawa pesan-pesan yang mengandung sugesti. Homoseksual dalam media massa seringkali ditampilkan dalam bentuk negatif, misalnya saja mereka dianggap menyimpang dari norma masyarakat (Kompas 29 juni 2002). Hal ini membuat mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta bersikap negatif terhadap perilaku seksual homoseks.

  Berdasarkan hasil penelitian dan faktor-faktor yang mempengaruhi, memiliki sikap kognitif, sikap afektif dan sikap konatif yang negatif (menolak/tidak setuju/tidak memihak) terhadap perilaku seksual (bergandengan, berpelukan, berciuman dan meraba organ seks) yang dilakukan oleh homoseks.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian terhadap mahasiswa Sanata Dharma Fakultas Psikologi Yogyakarta, dapat diambil kesimpulan bahwa :

  1. Mahasiswa Sanata Dharma memiliki pemikiran dan keyakinan (kognitif) yang negatif/tidak setuju terhadap perilaku seksual homoseksual, dengan perbandingan mean empirik lebih kecil daripada mean teoritis (37,71 < 45).

  2. Mahasiswa Sanata Dharma memiliki perasaan yang tidak senang (afektif) terhadap perilaku seksual homoseks, dengan perbandingan mean empirik lebih kecil daripada mean teoritik (36,61 < 45).

  3. Mahasiswa Sanata Dharma berperilaku (konatif) negatif/tidak setuju terhadap perilaku seksual homoseksual, dengan perbandingan mean empirik lebih kecil daripada mean teoritik (40,42 < 45).

  4. Mahasiswa Sanata Dharma memiliki sikap yang tidak setuju terhadap perilaku bergandengan yang dilakukan oleh homoseksual, dengan perbandingan mean empirik lebih kecil dari mean teoritik ( 25,14 < 27,5).

  5. Mahasiswa Sanata Dharma memiliki sikap yang tidak setuju terhadap perilaku berpelukan yang dilakukan oleh homoseksual, dengan perbandingan mean empirik lebih kecil dari mean teoritik ( 32,46 < 37,5).

  6. Mahasiswa Sanata Dharma memiliki sikap yang tidak setuju terhadap perilaku berciuman yang dilakukan oleh homoseksual, dengan perbandingan mean empirik lebih kecil dari mean teoritik ( 34,3 < 40). perilaku meraba organ seks yang dilakukan oleh homoseksual, dengan perbandingan mean empirik lebih kecil dari mean teoritik ( 23,4 < 30).

B. Saran

  Berdasarkan hasil penelitian yang telah diungkapkan di atas, maka terdapat beberapa saran yang dapat diberikan :

  1. Bagi mahasiswa, diharapkan mahasiswa dapat memaklumi perilaku seksual yang dilakukan oleh homoseksual.

  2. Bagi homoseksual, sebaiknya mereka tidak melakukan perilaku seksual di tempat-tempat umum karena akan menggangu orang-orang disekitarnya.

  Ini terlihat dari sikap negatif yang ditunjukkan oleh masyarakat Yogyakarta dan mahasiswa Sanata Dharma.

  3. Untuk peneliti selanjutnya yang akan meneliti tentang sikap mahasiswa terhadap perilaku seksual homoseks, a. dapat dilengkapi dengan data yang lebih mendukung pada angket penelitian misalnya dengan mencantumkan agama, tempat tinggal/daerah asal dan suku bangsa karena pembentukan sikap dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pengalaman pribadi, oranglain yang dianggap penting, kebudayaan, media massa, faktor emosional, lembaga pendidikan dan lembaga agama.

  b. Dapat dilakukan penelitian lain sebagai pembanding untuk melakukan penelitian sikap mahasiswa terhadap perilaku seksual terhadap heteroseks, karena masalah yang dikaji disini cukup pribadi yaitu tentang perilaku seksual seseorang. Sehingga hasil penelitian dapat benar-benar mengukur sikap mahasiswa terhadap perilaku seksual homoseks, bukan karena faktor perilaku seksual yang bersifat pribadi tersebut.

  DAFTAR PUSTAKA Azwar, S. 1988. Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Liberty.

  Azwar, S. 1995. Sikap manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Sigma Alpha. Azwar, S. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Azwar, S. 1998. Sikap Manusia. Yogykarta : Pustaka Pelajar.

  Azwar, S. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Chaplin, J.P. 1999. Kamus Lengkap Psikologi (terjemahan). Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

  Coleman, J.C., Butcher, S.N., and Carson, R.C. 1988. Abnormal Psychology and th (6 editions).London:London Scott Forestman and Co.

  Modern life

  Faturochman. 1990. Sikap dan Perilaku Seksual Remaja Di Bali. Laporan Penelitian. Yogyakarta : Fakultas Psikologi, UGM. Gerungan, W.A. 1987. Psikolagi Sosial. Bandung:PT.Eresco. Hadi, S. 1990. Analisis Butir untuk Instrumen Angket, Tes dan Skala Nilai Dengan BASICA . Yogyakarta : Andy Offet. Hanani, M. 1995. Hubungan antara Minat terhadap Media Erotika dengan

  

Perilaku Seks pada Remaja . Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta :

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

  Heerdjan, Soeharto. 1987. Apa itu Kesehatan Jiwa. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hurlock, Elizabeth B. 1999. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Edisi Ketujuh). Jakarta : Erlangga. Istriati, I. 1999. Perbedaan Perilaku Seksual pada Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Sanata

  Dharma.

  nd

  Jersild, A.T. 1963. The Psychology of Adolescence (2 edition). New York : The Macmillan.

  Kartini Kartono . 1989. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas seksual. Bandung: Bandar Maju. Kerlinger, F.N. 1983. Asas-asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

  Penelitian Keependidikan UGM. Kujur, Sunita 1999. The blue Book; What you want to know about your self 15+ year . Japan: TARSHI.

  Mar’at. 1981. Sikap manusia: Perubahan Serta Pengukuran. Bandung : Ghalia Indonesia. Masters, W.H, Johnson, V.E & Kolodny, R.C. 1982. Human Sexuality. Canada : Little Brown & Company (Canada) Limited. Masters, W.H, Johnson, V.E & Kolodny, R.C. 1986. On Sex & Human Loving.

  Canada : Little Brown & Company (Canada) Limited. Mayasari, Fridya. 2001. Kebermaknaan Hidup Kaum Gay. Laporan Kerri Praktek bidang Psikologi Sosial, Program Profesi Psikologi, Fakultas

  Psikologi UGM Yogyakarta (tidak diterbitkan). Naryati, V.R. 2001. Hubungan Perilaku Seksual dengan Pendidikan Orang Tua dan Adanya Teman yang telah Melakukan Hubungan Seksual pada

  Remaja SMU Sanjaya Nanggulan Kulon Progo Yogyakarta, Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  Mc Connel, J.V. 1992. Understanding Human Behaviour (7 th editions). Florida: Harcort Brace Javanovich. Oetomo,Dede. 2001. Memberi Suara Pada yang Bisu. Yogyakarta : Galang Press. Oetomo, Dede 1994. _______________. GAYa NUSANTARA edisi 25. Surabaya : Bumi Persada.

  Pedoman Penulisan Skripsi . 1998. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.

  Sarlito Wirawan Sarwono dkk. 1979. Studi Pengembangan Tentang Latar

  Belakang Kehidupan, Data Pribadi dann Kehidupan Mahasiswa Indonesia . Jakarta : Ditjen PT.

  Sarwono, S.W. 1994. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Press.

  Sears, D; Freedman, J.L, Peplau, L.A. 1994. Psikologi Sosial. Jakarta : Erlangga. Sugiono, 1999. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta. Sukadana, A.A. 1987. Aspek Sosioantropologi Manifestasi Perilaku Homoseksualitas .Surabaya:Ladio Medik.

  Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta:Kanisius. Thadeus, W.E.P.S. 2003. Efektivitas Thematic Apperception Test (TAT) untuk

  mengungkap kencenderungan Homoseksual . Skripsi Fakultas Psikologi, Universitas Proklamasi 45, Yogyakarta (tidak terbit).

  Wahyunigtyas, Nungki.2003. Profil Kehidupan Waria: Suatu Penelitian

  Deskriptif tentang Kehipupan Waria di Griya Lentara PKBI . Skripsi

  Jurusan Ilmu Sosial Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta (tidak diterbutkan). Discussion Board. 2006. Diakses pada tanggal 6 November 2006. http: //forum.literotica.com/archive/index.phplt-368635.html Kaum Homoseksual Kembali Kritik RUU KUHP 2004. Diakses pada tanggal 2 Februari2006.http://hukumonline.com/detail.asp?id=10625&cl=Berita. Kota Yogyakarta. 2007. Diakses pada tanggal 20 Januari 2007. http:id.wikipedia.org/wiki/kota_yogyakarta Masyarakat Yogya Belum Terima Kehidupan Homoseksual. 2002. Diakses pada tanggal 30 Januari 2006. http://www.kompas.com/kompas- cetak/0206/29/Jateng/masy lg.htm

  Utamadi, Guntoro & Hidayati. Bicara Soal Orientasi Seksual. 2001. Diakses pada tanggal21April2006.http://www.geocities.com/guntoroutamadi/artikel- bicara-orientasi-seksual.html

  LAMPIRAN A

  4. Reliabilitas

  5. Skala Ujicoba (try-out)

  6. Data Ujicoba (try-out)

  Reliability try-out Warnings The covariance matrix is calculated and used in the analysis.

  The determinant of the covariance matrix is zero or approximately zero. Statistics based on its inverse matrix cannot be computed and they are displayed as system missing values.

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  61 100.0 Excluded(a) .0 Total

  61 100.0 a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardized

  Alpha Items N of Items .975 .976

  72 Summary Item Statistics Maximum / Mean Minimum Maximum Range Minimum Variance N of Items

  Item Means 2.101 1.426 3.197 1.770 2.241 .184

  72 The covariance matrix is calculated and used in the analysis.

   Item-Total Statistics Scale Corrected Squared Cronbach's Scale Mean if Variance if Item-Total Multiple Alpha if Item

  

Item Deleted Item Deleted Correlation Correlation Deleted

  VAR00001 148.82 2045.550 .412 . .975

  VAR00002 149.15 2019.361 .718 . .975

  VAR00003 149.43 2009.082 .797 . .975

  VAR00004 149.54 2017.886 .736 . .975

  VAR00005 149.23 2024.280 .723 . .975

  VAR00006 149.28 2027.871 .640 . .975

  VAR00007 149.62 2038.405 .594 . .975

  VAR00008 149.77 2038.813 .579 . .975

  VAR00009 148.98 2031.283 .622 . .975

  VAR00010 149.49 2033.021 .634 . .975

  VAR00011 149.70 2038.378 .587 . .975

  VAR00045 148.30 2058.545 .275 . .976

  VAR00037 149.07 2009.296 .784 . .975

  VAR00038 149.26 2026.863 .591 . .975

  VAR00039 149.51 2027.221 .674 . .975

  VAR00040 149.57 2033.049 .607 . .975

  VAR00041 149.31 2028.751 .568 . .975

  VAR00042 149.57 2018.349 .775 . .975

  VAR00043 149.72 2033.238 .636 . .975

  VAR00044 149.54 2044.219 .438 . .975

  VAR00046 148.18 2066.150 .228 . .976

  VAR00035 149.33 2017.224 .728 . .975

  VAR00047 148.95 2035.181 .501 . .975

  VAR00048 149.36 2014.634 .781 . .975

  VAR00049 148.97 2036.099 .500 . .975

  VAR00050 148.82 2020.517 .632 . .975

  VAR00051 149.34 2017.296 .745 . .975

  VAR00052 149.43 2006.482 .876 . .975

  VAR00053 149.10 2021.723 .635 . .975

  VAR00054 149.61 2016.976 .785 . .975

  VAR00055 149.56 2004.784 .889 . .975

  VAR00036 149.10 2010.957 .705 . .975

  VAR00034 148.75 2042.789 .406 . .976

  VAR00012 148.43 2087.549 -.010 . .976

  VAR00022 149.31 2048.285 .403 . .975

  VAR00013 149.30 2007.545 .774 . .975

  VAR00014 149.57 2029.315 .674 . .975

  VAR00015 149.03 2026.466 .612 . .975

  VAR00016 149.48 2007.020 .856 . .975

  VAR00017 149.66 2023.963 .700 . .975

  VAR00018 149.31 2022.018 .618 . .975

  VAR00019 149.87 2034.983 .627 . .975

  VAR00020 149.79 2024.170 .690 . .975

  VAR00021 149.36 2008.234 .801 . .975

  VAR00023 148.21 2060.404 .335 . .976

  VAR00033 148.10 2090.623 -.042 . .976

  VAR00024 149.31 2049.885 .406 . .975

  VAR00025 148.95 2043.814 .422 . .975

  VAR00026 148.87 2027.316 .574 . .975

  VAR00027 148.87 2019.749 .658 . .975

  VAR00028 149.02 2020.083 .624 . .975

  VAR00029 149.23 2014.213 .750 . .975

  VAR00030 149.39 2009.343 .841 . .975

  VAR00031 149.34 2006.996 .844 . .975

  VAR00032 149.43 2017.782 .728 . .975

  VAR00056 148.87 2043.016 .432 . .975

  VAR00058 149.46 2041.586 .528 . .975

  VAR00059 149.15 2031.495 .587 . .975

  VAR00060 148.98 2042.050 .448 . .975

  VAR00061 148.98 2021.483 .639 . .975

  VAR00062 149.25 2017.589 .754 . .975

  VAR00063 149.54 2016.519 .763 . .975

  VAR00064 148.48 2069.754 .155 . .976

  VAR00065 149.10 2034.890 .560 . .975

  VAR00066 149.74 2042.597 .597 . .975

  VAR00067 149.85 2048.395 .533 . .975

  VAR00068 149.66 2033.796 .622 . .975

  VAR00069 149.31 2014.418 .763 . .975

  VAR00070 149.11 2008.337 .842 . .975

  VAR00071 148.34 2068.396 .183 . .976

  VAR00072 148.21 2067.037 .207 . .976

  

SKALA UJI COBA

SIKAP MAHASISWA YOGYAKARTA TERHADAP

PERILAKU SEKSUAL HOMOSEKS

Nama : ………………………………….

  Umur : …………………………………. Jenis kelamin : …………………………………. Pendidikan : …………........................................

  Petunjuk: Dalam skala ini terdapat 72 pernyataan mengenai perasaan, pikiran dan perilaku seseorang berkaitan dengan perilaku seksual yang dilakukan oleh pasangan homoseks (laki-laki). Anda diminta untuk memilih salah satu alternatif jawaban yang paling sesuai dengan keadaan anda sendiri dengan memberi tanda silang ( X ) pada kolom yang telah disediakan. Oleh karena itu pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan keadaan anda sendiri.

  Pilihan jawabannya adalah: SS : Sangat Setuju bila pernyataan sangat sesuai dengan keadaan diri anda S : Setuju bila pernyataan sesuai dengan diri anda TS : Tidak Setuju bila pernyataan tidak sesuai dengan diri anda STS : Sangat Tidak Setuju bila pernyataan sangat tidak sesuai dengan diri anda

SELAMAT MENGERJAKAN

  n o PERNYA TA A N SS S TS STS

  1 Saya berpendapat bahwa berpegangan tangan antar sesama pasangan homoseks menunjukkan bahwa mereka saling menyayangi

  2 Saya berpendapat bahwa wajar ketika melihat pasangan homoseks saling berpelukan untuk memperoleh rasa aman

  3 Saya berpendapat bahwa wajar ketika melihat pasangan homoseks saling berciuman bibir, sama dengan yang dilakukan oleh pasangan heretoseks

  4 Saya berpendapat bahwa saling meraba organ seks yang dilakukan oleh pasangan homoseks merupakan bukti keseriusan hubungan mereka

  5 Saya merasa jijik melihat pasangan homoseks saling bergandengan tangan di tempat-tempat keramaian

  6 Saya merasa terganggu jika ada pasangan homoseks yang saling berpelukan jika bertemu dengan teman- teman mereka

  7 Saya merasa malu bila melihat pasangan homoseks saling berciuman bibir

  8 Saya merasa kurang nyaman ketika mengetahui pasangan homoseks melakukan perabaan organ seks ketika berjalan-jalan di mall

  9 Saya akan tersenyum ramah ketika melewati pasangan homoseks yang sedang bergandengan tangan

  10 Saya akan balas memeluk ketika ada teman saya yang homoseks menyapa saya dengan pelukan

  11 Saya juga akan berciuman bibir dengan pacar saya ketika melihat pasangan homoseks yang saling berciuman bibir

  12 Saya akan berlaku diam ketika melihat pasangan homoseks yang saling meraba organ seks

  13 Saya berpendapat bahwa pasangan homoseks yang bergandengan tangan di depan umum akan mengganggu orang yang melihatnya

  14 Saya berpandangan bahwa saling berpelukan antar pasangan homoseks di tempat-tempat keramaian merupakan tindakan yang kurang pantas untuk dilakukan

  15 Saya berpandangan bahwa ciuman bibir hanya boleh dilakukan oleh pasangan heteroseks bukan oleh pasangan homoseks

  16 Saya berpandangan bahwa saling meraba organ seks yang dilakukan oleh pasangan homoseks sebaiknya dihindari

  17 Merupakan hal yang menyenangkan bagi saya ketika melihat pasangan homoseks berpegangan tangan

  18 Saya merasa nyaman-nyaman saja ketika melihat pasangan homoseks yang saling berpelukan

  19 Saya merasa puas jika melihat pasangan homoseks saling berciuman bibir

  20 Saya merasa senang melihat pasangan homoseks yang saling meraba organ seks

  21 Saya akan langsung menghindar jika ada pasangan homoseks yang saling bergandengan tangan

  22 Saya akan bersikap acuh tak acuh ketika mengetahui ada pasangan homoseks yang saling berpelukan

  23 Saya akan berkata kasar ketika melihat pasangan homoseks berciuman bibir

  24 Saya akan pura-pura tidak melihat jika ada pasangan homoseks yang saling meraba organ seks

  25 Saya berpendapat bahwa cara pasangan homoseks untuk menunjukkan kemesraan diantara mereka adalah dengan bergandengan tangan

  26 Saya berpendapat bahwa saling berpelukan pada pasangan homoseks adalah hal yang sudah biasa terjadi

  27 Berciuman bibir yang dilakukan oleh pasangan homoseks bukan masalah bagi saya karena pasangan heteroseks pun juga melakukan hal tersebut

  28 Saya berpendapat bahwa meraba organ seks pada pasangan homoseks merupakan salah satu bentuk kepuasan bagi mereka

  29 Saya merasa risi jika melihat pasangan homoseks bergandengan tangan

  30 Saya benci melihat pasangan homoseks yang berpelukan ketika membonceng kendaraan

  31 Saya merasa kecewa jika melihat ada pasangan homoseks yang berciuman bibir

  32 Saya merasa prihatin jika melihat pasangan homoseks saling meraba organ seks

  33 Saya akan bersikap sopan jika melewati pasangan homoseks yang sedang bergandengan tangan

  34 Saya akan merespon balik jika ada teman saya yang homoseks menyapa saya dengan pelukan

  35 Saya akan menyambut dengan hangat jika ada teman saya yang seorang homoseks mencium pipi saya ketika bertegur sapa

  36 Saya bersikap wajar jika melihat ada pasangan homoseks yang melakukan perabaan organ seks terhadap pasangannya

  37 Saya berpandangan bahwa saling bergandengan tangan yang dilakukan oleh pasangan homoseks merupakan tindakan yang kurang pantas untuk dilakukan

  38 Saya berpandangan bahwa saling berpelukan antar pasangan homoseks merupakan perilaku yang menyimpang

  39 Saya menganggap ciuman bibir yang dilakukan oleh pasangan homoseks mengganggu kenyamanan orang yang melihatnya

  40 Saya menganggap perabaan organ seks yang dilakukan oleh pasangan homoseks merupakan tindakan yang kurang tepat untuk dilakukan

  41 Perasaan saya tenang jika melihat pasangan homoseks yang bergandengan tangan

  42 Saya mendukung tindakan pasangan homoseks yang berani berpelukan ketika sedang berada di tempat keramaian

  43 Saya merasa tertarik untuk melihat pasangan homoseks yang melakukan ciuman bibir

  44 Saya merasa beruntung bisa melihat pasangan homoseks saling meraba organ seks terhadap pasangannya

  45 Saya akan langsung meludah di dekat pasangan homoseks jika mereka saling bergandengan tangan

  46 Saya akan berusaha membunyikan suara keras di depan pasangan homoseks yang sedang berpelukan

  47 Saya akan mencibir jika mengetahui pasangan homoseks yang berciuman bibir

  48 Saya akan memalingkan muka begitu mengetahui ada pasangan homoseks yang meraba organ seks pasangannya

  49 Bagi saya, pasangan homoseks yang saling bergandengan tangan menunjukkan bahwa mereka takut kehilangan pasangannya

  50 Saya berpendapat bahwa pasangan homoseks yang saling berpelukan hanyalah salah satu cara mereka untuk melepas kangen

  51 Saya berpendapat bahwa salah satu bentuk kasih sayang pasangan homoseks terhadap hubungan yang sedang mereka jalani adalah dengan berciuman bibir

  52 Saya berpendapat bahwa wajar ketika mengetahui pasangan homoseks melakukan parabaan organ seks terhadap pasangannya

  53 Saya merasa bosan melihat pasangan homoseks bergandengan tangan dengan mesra di tempat- tempat umum

  54 Saya merasa sedih jika melihat pasangan homoseks sudah berani berpelukan di tempat-tempat umum

  55 Saya jengkel jika melihat pasangan homoseks saling berciuman bibir

  56 Saya akan marah mengetahui pasangan homoseks melakukan perabaan organ seks terhadap pasangannya

  57 Saya akan bersikap ramah ketika berpapasan dengan pasangan homoseks yang sedang bergandengan tangan

  58 Saya mau bergabung dengan pasangan homoseks yang sedang berpelukan dengan pasangannya ketika dikenalkan oleh teman

  59 Saya akan tetap bertegur sapa jika melihat teman saya yang homoseks sedang berciuman dengan pasangannya

  60 Saya hanya akan tersenyum-senyum kecil ketika melihat pasangan homoseks melakukan perabaan organ seks terhadap pasangannya

  61 Saya berpandangan bahwa bergandengan tangan hanya boleh dilakukan oleh pasangan heteroseks bukan pasangan homoseks

  62 Saya beranggapan bahwa saling berpelukan yang dilakukan oleh pasangan homoseks merupakan tindakan yang kurang sopan

  63 Saya beranggapan bahwa pasangan homoseks yang berciuman bibir di depan umum melanggar norma kesopanan dalam masyarakat

  64 Saya beranggapan bahwa pasangan homoseks yang berani melakukan perabaan organ seks terhadap pasangannya patut dikucilkan dari masyarakat

  65 Saya cukup bersimpati terhadap pasangan homoseks yang bergandengan tangan di tempat makan

  66 Saya kagum atas tindakan pasangan homoseks yang berani berpelukan di depan umum

  67 Saya merasa bersemangat jika melihat pasangan homoseks berciuman bibir

  68 Saya mendukung tindakan pasangan homoseks yang melakukan perabaan organ seks terhadap pasangannya seperti yang dilakukan oleh pasangan heteroseks

  69 Saya akan pergi menjauh ketika melihat pasangan homoseks bergandengan tangan

  70 Saya enggan lewat jika melihat ada pasangan homoseks yang sedang berpelukan di tempat itu

  71 Saya akan melotot terhadap pasangan homoseks yang berciuman bibir

  72 Saya akan memukul pasangan homoseks jika mereka berani melakukan perabaan organ seks di tempat- tempat umum

  LAMPIRAN B

  1. Reliabilitas

  2. Skala penelitian

  3. Data Penelitian

  Reliability Penelitian Warnings The covariance matrix is calculated and used in the analysis.

  The determinant of the covariance matrix is zero or approximately zero. Statistics based on its inverse matrix cannot be computed and they are displayed as system missing values.

  Case Processing Summary N % Cases Valid a 61 100.0 Excluded

  .0 Total 61 100.0 a.

  Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Cronbach's Standardized Alpha Items N of Items .979 .980 Alpha Based on 65 Summary Item Statistics Maximum / Mean Minimum Maximum Range Minimum Variance N of Items

  Item Means 2.004 1.426 3.082 1.656 2.161 .104

  65 The covariance matrix is calculated and used in the analysis.

  

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted

  VAR00030 128,31 1913,685 ,843 . ,979

  VAR00022 127,18 1967,084 ,317 . ,980

  VAR00023 128,28 1952,638 ,437 . ,979

  VAR00024 127,92 1948,543 ,432 . ,979

  VAR00025 127,84 1933,173 ,577 . ,979

  VAR00026 127,84 1926,839 ,649 . ,979

  VAR00027 127,98 1926,150 ,626 . ,979

  VAR00028 128,20 1920,327 ,753 . ,979

  VAR00029 128,36 1915,968 ,840 . ,979

  VAR00031 128,39 1923,976 ,729 . ,979

  VAR00020 128,33 1914,857 ,800 . ,979

  VAR00032 127,72 1944,638 ,443 . ,979

  VAR00033 128,30 1923,111 ,733 . ,979

  VAR00034 128,07 1917,329 ,706 . ,979

  VAR00035 128,03 1915,666 ,786 . ,979

  VAR00036 128,23 1932,946 ,591 . ,979

  VAR00037 128,48 1932,820 ,679 . ,979

  VAR00038 128,54 1939,152 ,605 . ,979

  VAR00039 128,28 1934,404 ,571 . ,979

  VAR00021 128,28 1952,204 ,421 . ,979

  VAR00019 128,75 1930,089 ,693 . ,979

  Scale Variance if Item Deleted Corrected

  VAR00007 128,59 1944,313 ,593 . ,979

  Item-Total Correlation Squared Multiple

  Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted

  VAR00001 127,79 1949,537 ,429 . ,979

  VAR00002 128,11 1926,037 ,713 . ,979

  VAR00003 128,39 1916,609 ,786 . ,979

  VAR00004 128,51 1924,354 ,734 . ,979

  VAR00005 128,20 1929,494 ,735 . ,979

  VAR00006 128,25 1933,022 ,650 . ,979

  VAR00008 128,74 1944,163 ,584 . ,979

  VAR00018 128,84 1940,406 ,633 . ,979

  VAR00009 127,95 1935,781 ,640 . ,979

  VAR00010 128,46 1939,119 ,632 . ,979

  VAR00011 128,67 1943,591 ,594 . ,979

  VAR00012 128,26 1913,397 ,781 . ,979

  VAR00013 128,54 1934,619 ,683 . ,979

  VAR00014 128,00 1933,000 ,607 . ,979

  VAR00015 128,44 1914,017 ,851 . ,979

  VAR00016 128,62 1929,639 ,705 . ,979

  VAR00017 128,28 1929,471 ,606 . ,979

  VAR00040 128,54 1924,852 ,773 . ,979

  VAR00041 128,69 1938,651 ,642 . ,979

  VAR00054 128,43 1947,282 ,529 . ,979

  VAR00064 128,28 1920,538 ,766 . ,979

  VAR00063 128,62 1940,572 ,612 . ,979

  VAR00062 128,82 1952,750 ,550 . ,979

  VAR00061 128,70 1948,011 ,602 . ,979

  VAR00060 128,07 1939,029 ,579 . ,979

  VAR00059 128,51 1923,321 ,758 . ,979

  VAR00058 128,21 1923,470 ,759 . ,979

  VAR00057 127,95 1928,314 ,633 . ,979

  VAR00056 127,95 1948,548 ,440 . ,979

  VAR00055 128,11 1937,803 ,583 . ,979

  VAR00053 127,70 1943,911 ,488 . ,979

  VAR00042 128,51 1948,687 ,451 . ,979

  VAR00052 127,84 1953,039 ,388 . ,979

  VAR00051 128,52 1912,320 ,879 . ,979

  VAR00050 128,57 1923,982 ,777 . ,979

  VAR00049 128,07 1926,629 ,648 . ,979

  VAR00048 128,39 1914,876 ,856 . ,979

  VAR00047 128,31 1923,085 ,751 . ,979

  VAR00046 127,79 1925,437 ,645 . ,979

  VAR00045 127,93 1939,429 ,526 . ,979

  VAR00044 128,33 1920,657 ,785 . ,979

  VAR00043 127,92 1939,977 ,512 . ,979

  VAR00065 128,08 1915,543 ,834 . ,979

  SKALA PENELITIAN SIKAP MAHASISWA YOGYAKARTA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL HOMOSEKS Nama : ………………………………….

  Umur : …………………………………. Jenis kelamin : …………………………………. Pendidikan : …………........................................

  Petunjuk: Dalam skala ini terdapat 54 pernyataan mengenai perasaan, pikiran dan perilaku seseorang berkaitan dengan perilaku seksual yang dilakukan oleh pasangan homoseks (laki-laki). Anda diminta untuk memilih salah satu alternatif jawaban yang paling sesuai dengan keadaan anda sendiri dengan memberi tanda silang ( X ) pada kolom yang telah disediakan. Oleh karena itu pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan keadaan anda sendiri.

  Pilihan jawabannya adalah: SS : Sangat Setuju bila pernyataan sangat sesuai dengan keadaan diri anda S : Setuju bila pernyataan sesuai dengan diri anda TS : Tidak Setuju bila pernyataan tidak sesuai dengan diri anda STS : Sangat Tidak Setuju bila pernyataan sangat tidak sesuai dengan diri anda

SELAMAT MENGERJAKAN

  n o PERNYA TA A N SS S TS STS

  1 Saya berpendapat bahwa wajar ketika melihat pasangan homoseks saling berpelukan untuk memperoleh rasa aman

  2 Saya berpendapat bahwa wajar ketika melihat pasangan homoseks saling berciuman bibir, sama dengan yang dilakukan oleh pasangan heretoseks

  3 Saya berpendapat bahwa saling meraba organ seks yang dilakukan oleh pasangan homoseks merupakan bukti keseriusan hubungan mereka

  4 Saya merasa jijik melihat pasangan homoseks saling bergandengan tangan di tempat-tempat keramaian

  5 Saya merasa terganggu jika ada pasangan homoseks yang saling berpelukan jika bertemu dengan teman- teman mereka

  6 Saya merasa malu bila melihat pasangan homoseks saling berciuman bibir

  7 Saya akan tersenyum ramah ketika melewati pasangan homoseks yang sedang bergandengan tangan

  8 Saya akan balas memeluk ketika ada teman saya yang homoseks menyapa saya dengan pelukan

  9 Saya juga akan berciuman bibir dengan pacar saya ketika melihat pasangan homoseks yang saling berciuman bibir

  10 Saya berpendapat bahwa pasangan homoseks yang bergandengan tangan di depan umum akan mengganggu orang yang melihatnya

  11 Saya berpandangan bahwa saling berpelukan antar pasangan homoseks di tempat-tempat keramaian merupakan tindakan yang kurang pantas untuk dilakukan

  12 Saya berpandangan bahwa ciuman bibir hanya boleh dilakukan oleh pasangan heteroseks bukan oleh pasangan homoseks

  13 Saya berpandangan bahwa saling meraba organ seks yang dilakukan oleh pasangan homoseks sebaiknya dihindari

  14 Merupakan hal yang menyenangkan bagi saya ketika kelihat pasangan homoseks bergandengan tangan

  15 Saya merasa nyaman-nyaman saja ketika melihat pasangan homoseks yang saling berpelukan

  16 Saya merasa puas jika melihat pasangan homoseks saling berciuman bibir

  17 Saya merasa senang melihat pasangan homoseks yang saling meraba organ seks

  18 Saya akan langsung menghindar jika ada pasangan homoseks yang saling bergandengan tangan

  19 Saya akan bersikap acuh tak acuh ketika mengetahui ada pasangan homoseks yang saling berpelukan

  20 Saya akan berkata kasar ketika melihat pasangan homoseks berciuman bibir

  21 Saya akan pura-pura tidak melihat jika ada pasangan homoseks yang saling meraba organ seks

  22 Berciuman bibir yang dilakukan oleh pasangan homoseks bukan masalah bagi saya karena pasangan heteroseks pun juga melakukan hal tersebut

  23 Saya berpendapat bahwa meraba organ seks pada pasangan homoseks merupakan salah satu bentuk kepuasan bagi mereka

  24 Saya merasa risi jika melihat pasangan homoseks bergandengan tangan

  25 Saya benci melihat pasangan homoseks yang berpelukan ketika membonceng kendaraan

  26 Saya kecewa jika melihat ada pasangan homoseks yang berciuman bibir

  27 Saya prihatin jika melihat pasangan homoseks saling meraba organ seks

  28 Saya akan akan merespon balik jika ada teman saya yang homoseks menyapa saya dengan pelukan

  29 Saya akan menyambut dengan hangat jika ada teman saya yang seorang homoseks mencium pipi saya ketika bertegur sapa

  30 Saya bersikap wajar-wajar saja jika melihat ada pasangan homoseks yang melakukan perabaan organ seks terhadap pasangannya

  31 Saya berpandangan bahwa saling bergandengan tangan yang dilakukan oleh pasangan homoseks merupakan tindakan yang kurang pantas untuk dilakukan

  32 Saya menganggap ciuman bibir yang dilakukan oleh pasangan homoseks mengganggu kenyamanan orang yang melihatnya

  33 Saya menganggap perabaan organ seks yang dilakukan oleh pasangan homoseks merupakan tindakan yang kurang tepat untuk dilakukan

  34 Saya mendukung tindakan pasangan homoseks yang berani berpelukan ketika sedang berada di tempat keramaian

  35 Saya merasa tertarik untuk melihat pasangan homoseks yang melakukan ciuman bibir

  36 Saya akan mencibir jika mengetahui pasangan homoseks yang berciuman bibir

  37 Saya akan memalingkan muka begitu mengetahui ada pasangan homoseks yang meraba organ seks pasangannya

  38 Saya berpendapat bahwa pasangan homoseks yang saling berpelukan hanyalah salah satu cara mereka untuk melepas kangen

  39 Saya berpendapat bahwa salah satu bentuk kasih sayang pasangan homoseks terhadap hubungan yang sedang mereka jalani adalah dengan berciuman bibir

  40 Saya berpendapat bahwa wajar ketika mengetahui pasangan homoseks melakukan parabaan organ seks terhadap pasangannya

  41 Saya bosan melihat pasangan homoseks bergandengan tangan dengan mesra di tempat- tempat umum

  42 Saya merasa sedih jika melihat pasangan homoseks sudah berani berpelukan di tempat-tempat umum

  43 Saya jengkel jika melihat pasangan homoseks saling berciuman bibir

  44 Saya akan bersikap ramah ketika berpapasan dengan pasangan homoseks yang sedang bergandengan tangan

  45 Saya mau bergabung dengan pasangan homoseks yang sedang berpelukan dengan pasangannya ketika dikenalkan oleh teman

  46 Saya akan tetap bertegur sapa jika melihat teman saya yang homoseks sedang berciuman dengan pasangannya

  47 Saya hanya akan tersenyum-senyum kecil ketika melihat pasangan homoseks melakukan perabaan organ seks terhadap pasangannya

  48 Saya berpandangan bahwa bergandengan tangan hanya boleh dilakukan oleh pasangan heteroseks bukan pasangan homoseks

  49 Saya beranggapan bahwa saling berpelukan yang dilakukan oleh pasangan homoseks merupakan tindakan yang kurang sopan

  50 Saya beranggapan bahwa pasangan homoseks yang berciuman bibir di depan umum melanggar norma kesopanan dalam masyarakat

  51 Saya kagum atas tindakan pasangan homoseks yang berani berpelukan di depan umum

  52 Saya mendukung tindakan pasangan homoseks yang melakukan perabaan organ seks terhadap pasangannya seperti yang dilakukan oleh pasangan heteroseks

  53 Saya akan pergi menjauh ketika melihat pasangan homoseks bergandengan tangan

  54 Saya enggan lewat jika melihat ada pasangan homoseks yang sedang berpelukan di tempat itu

   Statistics SIKAP Valid

  102 N Missing Mean

  114,74 Median 114,00 Mode

  92(a) Std. Deviation 28,613 Variance

  818,731 Skewness ,354 Std. Error of Skewness ,239 Kurtosis

  • ,005 Std. Error of Kurtosis ,474 Range

  136 Minimum

  58 Maximum 194

  10 75,30 25 93,00 50 114,00 75 134,50

  Percentiles

  90 146,00

SIKAP

  

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

  58 1 1,0 1,0 1,0 63 1 1,0 1,0 2,0 66 1 1,0 1,0 2,9 67 1 1,0 1,0 3,9 68 1 1,0 1,0 4,9 69 1 1,0 1,0 5,9 73 2 2,0 2,0 7,8 75 2 2,0 2,0 9,8 76 1 1,0 1,0 10,8 79 1 1,0 1,0 11,8 81 2 2,0 2,0 13,7 84 1 1,0 1,0 14,7 85 1 1,0 1,0 15,7 87 1 1,0 1,0 16,7 89 2 2,0 2,0 18,6 91 2 2,0 2,0 20,6 92 3 2,9 2,9 23,5 93 2 2,0 2,0 25,5 94 1 1,0 1,0 26,5

  Valid

  95

  97 1 1,0 1,0 29,4 98 2 2,0 2,0 31,4 99 1 1,0 1,0 32,4 101 2 2,0 2,0 34,3 102 2 2,0 2,0 36,3 103 3 2,9 2,9 39,2 104 1 1,0 1,0 40,2 106 1 1,0 1,0 41,2 107 1 1,0 1,0 42,2 108 1 1,0 1,0 43,1 109 1 1,0 1,0 44,1 110 1 1,0 1,0 45,1 111 1 1,0 1,0 46,1 112 2 2,0 2,0 48,0 113 1 1,0 1,0 49,0 114 2 2,0 2,0 51,0 115 2 2,0 2,0 52,9 116 1 1,0 1,0 53,9 118 1 1,0 1,0 54,9 119 1 1,0 1,0 55,9 120 2 2,0 2,0 57,8 121 2 2,0 2,0 59,8 122 1 1,0 1,0 60,8 123 2 2,0 2,0 62,7 124 1 1,0 1,0 63,7 126 2 2,0 2,0 65,7 127 2 2,0 2,0 67,6 128 2 2,0 2,0 69,6 129 1 1,0 1,0 70,6 131 1 1,0 1,0 71,6 132 1 1,0 1,0 72,5 133 1 1,0 1,0 73,5 134 2 2,0 2,0 75,5 136 1 1,0 1,0 76,5 137 1 1,0 1,0 77,5 138 2 2,0 2,0 79,4 139 2 2,0 2,0 81,4 141 1 1,0 1,0 82,4 142 1 1,0 1,0 83,3 143 2 2,0 2,0 85,3 144 2 2,0 2,0 87,3 145 2 2,0 2,0 89,2 146 2 2,0 2,0 91,2 149 1 1,0 1,0 92,2 152 1 1,0 1,0 93,1 156 1 1,0 1,0 94,1

  177 1 1,0 1,0 96,1 178 1 1,0 1,0 97,1 180 1 1,0 1,0 98,0 187 1 1,0 1,0 99,0 194 1 1,0 1,0 100,0 Total 102 100,0 100,0

   Statistics KOGNITIF Valid

  102 N Missing Mean

  37,71 Std. Deviation 10,435 Range

  50 Minimum

  18 Maximum

  68 KOGNITIF

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

  18 2 2,0 2,0 2,0 21 2 2,0 2,0 3,9 22 2 2,0 2,0 5,9 23 1 1,0 1,0 6,9 24 4 3,9 3,9 10,8 25 1 1,0 1,0 11,8 26 1 1,0 1,0 12,7 27 5 4,9 4,9 17,6 28 2 2,0 2,0 19,6 29 3 2,9 2,9 22,5 30 6 5,9 5,9 28,4 31 4 3,9 3,9 32,4 32 1 1,0 1,0 33,3 33 5 4,9 4,9 38,2 34 3 2,9 2,9 41,2 35 2 2,0 2,0 43,1 36 7 6,9 6,9 50,0 37 2 2,0 2,0 52,0 38 2 2,0 2,0 53,9 39 6 5,9 5,9 59,8 40 1 1,0 1,0 60,8 41 3 2,9 2,9 63,7 42 5 4,9 4,9 68,6 43 1 1,0 1,0 69,6 44 6 5,9 5,9 75,5 45 2 2,0 2,0 77,5 46 2 2,0 2,0 79,4 47 3 2,9 2,9 82,4 48 3 2,9 2,9 85,3 49 6 5,9 5,9 91,2 51 2 2,0 2,0 93,1 53 1 1,0 1,0 94,1

  Valid

  56

  60 2 2,0 2,0 97,1 63 1 1,0 1,0 98,0 64 1 1,0 1,0 99,0 68 1 1,0 1,0 100,0 Total 102 100,0 100,0

   Statistics AFEKTIF Valid

  102 N Missing Mean

  36,61 Std. Deviation 10,812 Range

  47 Minimum

  18 Maximum

  65 AFEKTIF

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

  18 4 3,9 3,9 3,9 19 3 2,9 2,9 6,9 21 4 3,9 3,9 10,8 23 1 1,0 1,0 11,8 24 2 2,0 2,0 13,7 25 3 2,9 2,9 16,7 26 5 4,9 4,9 21,6 27 2 2,0 2,0 23,5 28 2 2,0 2,0 25,5 29 2 2,0 2,0 27,5 30 2 2,0 2,0 29,4 31 4 3,9 3,9 33,3 32 4 3,9 3,9 37,3 33 3 2,9 2,9 40,2 34 2 2,0 2,0 42,2 35 3 2,9 2,9 45,1 36 2 2,0 2,0 47,1 37 5 4,9 4,9 52,0 38 2 2,0 2,0 53,9 39 4 3,9 3,9 57,8 40 5 4,9 4,9 62,7 41 5 4,9 4,9 67,6 42 4 3,9 3,9 71,6 43 4 3,9 3,9 75,5 44 2 2,0 2,0 77,5 45 3 2,9 2,9 80,4 46 5 4,9 4,9 85,3 47 3 2,9 2,9 88,2 48 2 2,0 2,0 90,2 49 1 1,0 1,0 91,2 50 2 2,0 2,0 93,1

  Valid 55 1 1,0 1,0 94,1

  57 1 1,0 1,0 95,1 58 1 1,0 1,0 96,1 59 1 1,0 1,0 97,1 61 1 1,0 1,0 98,0 65 2 2,0 2,0 100,0 Total 102 100,0 100,0

   Statistics KONATIF Valid

  102 N Missing Mean

  40,75 Std. Deviation 8,706 Range

  46 Minimum

  20 Maximum

  66 KONATIF

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

  20 1 1,0 1,0 1,0 21 2 2,0 2,0 2,9 22 2 2,0 2,0 4,9 25 1 1,0 1,0 5,9 26 1 1,0 1,0 6,9 27 1 1,0 1,0 7,8 29 1 1,0 1,0 8,8 30 3 2,9 2,9 11,8 32 1 1,0 1,0 12,7 33 5 4,9 4,9 17,6 34 2 2,0 2,0 19,6 35 6 5,9 5,9 25,5 36 7 6,9 6,9 32,4 37 3 2,9 2,9 35,3 38 4 3,9 3,9 39,2 39 4 3,9 3,9 43,1 40 5 4,9 4,9 48,0 41 2 2,0 2,0 50,0 42 4 3,9 3,9 53,9 43 6 5,9 5,9 59,8 44 10 9,8 9,8 69,6 45 2 2,0 2,0 71,6 46 5 4,9 4,9 76,5 47 2 2,0 2,0 78,4 48 2 2,0 2,0 80,4 49 7 6,9 6,9 87,3 50 3 2,9 2,9 90,2 51 2 2,0 2,0 92,2 52 1 1,0 1,0 93,1 53 2 2,0 2,0 95,1 54 1 1,0 1,0 96,1 57 1 1,0 1,0 97,1

  Valid

  59

  61 1 1,0 1,0 99,0 66 1 1,0 1,0 100,0 Total 102 100,0 100,0

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara media elektronik terhadap perilaku seksual remaja di kecamatan Sumbersari kabupaten Jember
0
3
97
Pengaruh agama terhadap perilaku berbusan muslimah studi kasus: mahasiswa UIN syarih Hidayatullah
1
8
99
Pengaruh ponografi media internet terhadap perilaku seksual remaja : studi kasus remaja desa cisetu kecamatan rajagaluh kabupaten majalengka
2
8
69
Hubungan antara persepsi tentang dampak merokok terhadap kesehatan dengan tipe perilaku merokok mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
1
7
88
Hubungan pengetahuan, sikap, persepsi, dan keterampilan mengendara mahasiswa terhadap perilaku keselamatan mengendara (safety riding) di Universitas Gunadarma Bekasi tahun 2009
12
63
98
Pengaruh pengetahuan keuangan dan materialisme terhadap perilaku menabung pada mahasiswa Dengan impulsive consumption Sebagai variabel mediasi - Perbanas Institutional Repository
0
0
18
Pengaruh pengetahuan keuangan dan materialisme terhadap perilaku menabung pada mahasiswa Dengan impulsive consumption Sebagai variabel mediasi - Perbanas Institutional Repository
0
0
15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Pengaruh pendidikan keuangan di keluarga dan kecintaan pada uang terhadap perilaku pengelolaan keuangan mahasiswa - Perbanas Institutional Repository
0
0
14
Pengaruh peer group dan pendidikan keuangan Keluarga terhadap perilaku Menabung mahasiswa - Perbanas Institutional Repository
0
0
16
Pengaruh peer group dan pendidikan keuangan Keluarga terhadap perilaku Menabung mahasiswa - Perbanas Institutional Repository
0
0
16
Pengaruh peer group dan pendidikan keuangan Keluarga terhadap perilaku Menabung mahasiswa - Perbanas Institutional Repository
0
0
16
Pengaruh pengetahuan keuangan dan sikap terhadap uang pada perilaku menabung mahasiswa yang Dimediasi oleh locus of control - Perbanas Institutional Repository
0
0
18
HALAMAN JUDUL - Pengaruh pengetahuan keuangan dan sikap terhadap uang pada perilaku menabung mahasiswa yang Dimediasi oleh locus of control - Perbanas Institutional Repository
0
0
14
Pengaruh pengetahuan keuangan dan sikap terhadap uang pada perilaku menabung mahasiswa yang Dimediasi oleh locus of control - Perbanas Institutional Repository
0
0
17
Sikap Pemustaka terhadap Interpersonal Skill Pustakawan di Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Yogyakarta (Berdasarkan Perbedaan Jenis Kelamin dan Usia Pemsustaka) - Repository Universitas Ahmad Dahlan
0
0
111
Show more