PENGARUH PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN PENEMUAN PADA POKOK BAHASAN LENSA TIPIS TERHADAP MINAT, KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR DI KELAS X SMA BOPKRI II YOGYAKARTA Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Progra

Gratis

0
0
98
4 months ago
Preview
Full text

  

PENGARUH PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN PENEMUAN

PADA POKOK BAHASAN LENSA TIPIS TERHADAP MINAT,

KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR DI KELAS X

SMA BOPKRI II YOGYAKARTA

  

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

  

Oleh:

Titik Utaminingsih

NIM: 021424023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

  

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN

  Skripsi ini Kupersembahkan untuk

  

Keluargaku & saudaraku yang telah memberikan semangat dalam hidupku

Orang- orang yang kusayangi yang membuat hidupku lebih berarti

  

Pengaruh Pembelajaran dengan Pendekatan Penemuan pada Pokok Bahasan

Lensa Tipis terhadap Minat, Keaktifan dan Prestasi Belajar di Kelas X

SMA Bopkri II Yogyakarta

Oleh: Titik Utaminingsih

  

NIM: 021424023

ABSTRAK

  Penelitian tentang pembelajaran dengan pendekatan penemuan terhadap prestasi belajar fisika perlu diungkap melalui sebuah penelitian yang dirancang dan diimplementasikan dalam suatu studi eksperimen untuk dilihat efektifitasnyaTujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh pembelajaran dengan pendekatan penemuan pada pokok bahasan lensa tipis terhadap minat, keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta.

  Metode Penemuan merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, beroreientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Proses pembelajaran harus dipandang sebagai suatu stimulus atau rangsangan yang dapat menantang peserta didik untuk merasa terlibat atau berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran. Peranan guru sebagai fasilitator dan pembimbing atau pemimpin pengajaran yang demokratis, peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam kelompok memecahkan masalah dengan bimbingan guru.

  Dari hasil analisis data tes prestasi, minat dan keaktian siswa, dapat diketahui bahwa pendekatan metode penemuan (discovery) pada pembelajaran Fisika mempunyai pengaruh yang berarti terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta, yaitu ada peningkatan hasil belajar yang cukup signifikan pada kelas penelitian, yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan metode penemuan. Minat belajar siswa di kelas penelitian lebih tinggi dibanding kelas kontrol, dimana siswa lebih menyukai proses pengajaran, siswa dapat mencerna materi pelajaran, serta lebih berminat untuk mempelajari bidang studi Fisika. Selain itu, diperoleh hasil bahwa dengan pendekatan penemuan, keaktifan siswa dalam belajar di kelas lebih baik, dimana siswa kelas menjadi lebih aktif dalam mengemukakan pendapat, bertanya pada guru, bertanya pada siswa lain, berdiskusi dengan siswa lain, pengerjaan tugas/laporan serta dalam menjawab pertanyaan lisan dari guru.

  Titik Utaminingsih NIM: 021424023

  

The Influence of Learning Method by Discovery Approach on the Major of

Thin Lens towards the X Grade Students’ Interest, Activity and Performance

at SMA Bopkri II Yogyakarta By: Titik Utaminingsih Student Number: 021424023

  The research of learning method by discovery approach on the physics major needs to conduct through a research which designed and implemented on an experimental research to know its effectiveness. This research aims to gain the information of the influence of learning method by discovery approach on the thin lens major towards the X grade students’ interest, activity and performance at SMA Bopkri II Yogyakarta

  Discovery Method is one of the educational practice components which includes the method learning that advances the active, process oriented, self- direct, self-finding and reflective way of study. A learning process should be considered as a stimulus or an incentive that challenges the students to have the feeling of being involved or participated along the learning process. The domocratic role of teacher as a facilitator and a guide or a learning leader makes the students involved more to either self-conduct or in group solving problems, with the guidance of the teacher.

  From the data analysis based on performance tests, the result indicates that discovery approach learning method on the physics major has a significant influence toward the performance of X grade students of SMA Bopkri II Yogyakarta, that is, a significat increasing of study performance to the research class which receive lerning method by discovery approach. The result shows that the interest of students in the research class is higher compared to the control class, in which they prefer more to the learning process, they could better assimilating the subject matters as well as they have a higher interest to learn physics major. Furthermore, this research results indicate that through discovery approach, students activity in class is better, in which they become more active to give their opinions, to propose more questions either to the teacher or to other students, to have discussions with other students, to fulfill assignments/reports as well as to answer the oral questions from their teacher.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan, karena penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ” PENGARUH PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN PENEMUAN PADA POKOK BAHASAN LENSA TIPIS TERHADAP MINAT, KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA KELAS X SMA II BOPKRI YOGYAKARTA”.

  Perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan memang sulit. Namun dengan kemauan dan keinginan untuk meraih masa depan telah mendorong penulis untuk tetap berusaha.

  Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya skripsi ini, khususnya kepada :

  1. Drs.A. Atmadi, M.Si. selaku dosen pembimbing yang nemberikan dorongan, semangat, saran dan kritikan serta membimbing penulis dalam penulisan skripsi ini.

  2. Kepala sekolah SMA BOPRI II Yogyakarta.

  3. Bapak Ornan Hendrawan, selaku guru bidang studi fisika kelas X SMA BOPKRI II Yogyakarta.

  4. Dra. Maslichah Asy’ari, M.Pd. selaku Dosen pembimbing akademik.

  5. Semua dosen Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  6. Bapak dan ibu tercinta untuk doa, dukungan, nasehat dan kasih sayangnya.

  8. Mas Ali, bapak n ibu’e yang selalu memberi semangat ”Kapan luluse...!!!”

  9. Adikku Dinda n Sheva yang manis-manis terima kasih atas canda tawanya.

  10. Sahabat-sahabatku Rahul, Cicik, Heru, Idang, Ceceh, Erna, terima kasih atas doa, curhatan dan dukungannya selama ini.

  11. Teman-temanku seangkatan PFIS 2002, terima kasih atas persahabatannya.

  12. Teman-teman maen dan mas rizky, terima kasih untuk semuanya.

  13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan dan doa selama perjalanan studi dan proses penyusunan skripsi ini. Akhirnya penulis sadar bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, dan untuk itu saran dan kritik yang membangun senantiasa diharapkan. Semoga tulisan yang sederhana ini bermanfaat bagi perkembangan dunia pendidikan.

  Yogyakarta........................

  Penulis Titik Utaminingsih

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................... v ABSTRAK ...................................................................................................... vi

  ..................................................................................................... vii

  ABSTRACT

  KATA PENGANTAR .................................................................................... viii DAFTAR ISI ................................................................................................... x DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………….... xv

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1 B. Perumusan Masalah ..................................................................... 5 C. Tujuan Penelitian ......................................................................... 6 D. Pembatasan Masalah .................................................................... 6 E. Manfaat Penelitian ...................................................................... 6

  BAB II. LANDASAN TEORI A. Mata Pelajaran Fisika ................................................................. 8 B. Macam-macam Metode Pembelajaran ........................................ 12 C. Metode Penemuan (Discovery) ................................................... 13

  1. Pengertian .............................................................................. 13

  2. Pelaksanaan Metode Penemuan ............................................. 15

  3. Kelebihan dan Kekurangan .................................................... 18

  D. Prestasi Belajar, Minat dan Keaktifan Belajar Siswa .................... 20

  1. Prestasi Belajar ........................................................................ 20

  2. Minat Siswa.. ........................................................................... 21

  3. Keaktifan Siswa ....................................................................... 22

  E. Ragam Tes ................................................................................... 23

  BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ........................................................................... 25 B. Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................... 25 C. Subyek Penelitian ........................................................................ 25 D. Prosedur Pengambilan Data ......................................................... 26 E. Instrumen Penelitian .................................................................... 34 F. Analisis Data ............................................................................... 35

  a. Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 35

  b. Metode Analisis Data ............................................................. 35

  BAB IV PEMBAHASAN A. Prestasi Belajar Siswa ................................................................. 46 B. Minat Belajar Siswa ..................................................................... 49 C. Keaktifan Siswa dalam Belajar .................................................... 53 BAB V PENUTUP A. Keimpulan .................................................................................. 59 B. Saran .......................................................................................... 60 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 61 LAMPIRAN

  

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Selisih Nilai Pre Tes dan Pos Tes ................................................. 23Tabel 3.2 Selisih Nilai Pre Tes dan Pos Tes pada Kelas Kontrol dan Kelas

  Penelitian ................................................................................................... 54

Tabel 3.3 Variasi Jawaban Angket Minat Siswa .......................................... 55Tabel 3.4 Kriteria Tingkat Minat Belajar Siswa ........................................... 57Tabel 3.5 Hasil Klasifikasi Minat Belajar Siswa .......................................... 59Tabel 3.6 Penilaian Keaktifan Siswa ........................................................... 59Tabel 3.7 Skor Keaktifan Siswa .................................................................. 6Tabel 3.8 Kriteria Tingkat Keaktifan Siswa ................................................. 61Tabel 3.9 Hasil Klasifikasi Keaktifan Siswa ................................................ 61Tabel 4.1. Selisih nilai pos tes dan pre tes pada kelas kontrol maupun kelas penelitian ............................................................... 42Tabel 4.2. Ringkasan Hasil Analisis Tes Prestasi .......................................... 43Tabel 4.3. Kriteria Minat Siswa terhadap Proses Pembelajaran

  Pada Kelas Kontrol dan Kelas Penelitian ..................................... 44

Tabel 4.4. Skor Total Aspek Keaktifan Siswa

  Kelas Kontrol dan Kelas Penelitian .............................................. 48

Tabel 4.5. Kriteria Keaktifan Siswa Pada Kelas Kontrol maupun pada Kelas Penelitian ................................................................... 49

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1. Grafik Nilai Tes Prestasi Belajar Siswa Kelas Kontrol

  Skema Model Penelitian ........................................................... 40

Gambar 4.2. Grafik Histogram Nilai Tes Prestasi Belajar Siswa Kelas

  Penelitian .................................................................................. 41

Gambar 4.3. Grafik Persentase Jumlah Siswa pada Kategori Minat ............... 45Gambar 4.4. Grafik Skor Total Aspek Keaktifan Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Penelitian ................................................................. 48

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Minat adalah sebuah hal yang diperlukan untuk menekuni dan dapat berhasil

  dalam suatu bidang. Minat dapat ditumbuh-kembangkan melalui beberapa sarana dan media. Sekolah adalah salah satu tempat yang seringkali dianggap sebagai tempat yang tepat untuk menemukan dan mengembangkan minat yang ada. Tetapi, seringkali minat dari para siswa semakin terpendam dan bahkan terhenti justru karena tidak mendapatkan penyaluran yang proporsional di sekolah. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Kapasitas siswa dalam menyerap pelajaran atau keengganan untuk terus belajar adalah faktor-faktor internal, sedangkan proses belajar-mengajar yang tidak kondusif atau metode pengajaran oleh guru pengampu yang kurang aktif-kreatif merupakan faktor-faktor eksternal yang dapat menjadi penghambat pengembangan minat siswa terhadap sebuah mata pelajaran. Karena itulah, guru-guru pengampu perlu mengembangkan pendekatan dan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi-materi pelajaran untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

  Pendekatan dan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif terutama sangat diperlukan untuk mata pelajaran yang umumnya kurang diminati siswa didik karena alasan-alasan tertentu. Mata pelajaran fisika misalnya, ”Nyawa” dari fisika terletak pada teori dan rumus-rumus serta aplikasinya ke dalam soal-soal yang daftar mata pelajaran yang tidak disukai bahkan menjadi momok bagi kebanyakan siswa. Kondisi ini dapat memburuk jika cara penyampaian materi oleh guru pengampunya tidak mendapatkan simpati dan perhatian dari siswa. Dampak dari kondisi ini adalah siswa menjadi pasif sehingga pada akhirnya dapat menurunkan prestasi belajar anak didik.

  Fakta di lapangan menunjukkan masih banyaknya sistem pembelajaran yang bersifat tradisional dan konvensional, yaitu pembelajaran yang terpusat pada guru (teacher centered). Sistem ini tentu saja menghambat siswa untuk belajar secara aktif-kreatif, terlebih jika diterapkan pada mata pelajaran fisika yang merupakan bagian dari sains. Fisika dipandang sebagai suatu proses dan sekaligus produk sehingga dalam pembelajarannya harus mempertimbangkan strategi atau metode pembelajaran yang efektif dan efesien yaitu salah satunya melalui kegiatan praktik (Masofa, 2008). Oleh sebab itu, guru hendaknya dapat menyediakan atau memberikan kegiatan yang melibatkan keaktifan siswa dalam bentuk praktek-praktek yang dapat merangsang keingintahuan siswa dan membantu mereka mengekspresikan gagasan-gagasan mereka serta mengkomunikasikan ide ilmiah mereka, bukan hanya menyampaikan materi-materi secara pasif.

  Reorientasi sistem pembelajaran baru yang lebih efektif dapat dilakukan melalui berbagai macam metode dan pendekatan. Pendekatan dan metode merupakan dua hal yang sering kita jumpai penggunaannya secara bersamaan dalam sebuah penelitian atau sistem pembelajaran. Dalam prakteknya, penggunaan kedua kata ini seringkali saling menggantikan meskipun memiliki pengertian yang berbeda. pengembangan yang lebih konkret dari teori tersebut, berupa prosedur-prosedur berdasarkan teori tersebut di dalam berbagai bentuk kegiatan kelas.

  Untuk pembelajaran fisika, salah satunya pendekatan yang efektif digunakan adalah pendekatan penemuan. Masih menurut Masofa (2008), pembelajaran ilmu sains pada hakekatnya merupakan aktivitas yang berlangsung didalam pikiran orang yang berkecimpung didalamnya karena adanya rasa ingin tahu dan hasrat untuk memahami fenomena alam. Dengan pendekatan penemuan (discovery), rasa keingintahuan siswa dapat tersalurkan karena dalam pembelajaran dengan pendekatan ini , guru menyajikan permasalahan kepada siswa dan meminta mereka untuk memecahkan maslah tersebut melalui kegiatan penilitian. Pendekatan ini dapat menstimulasi siswa untuk lebih bersikap aktif dan kreatif karena pendekatan ini berorientasi pada proses, yaitu proses untuk menangkap permasalahan yang diajukan oleh guru, mengamati obyek yang diteliti dalam praktek penelitian, memunculkan hipotesa, mempresentasikan hasil penelitian mereka, dan mengambil kesimpulan.

  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendekatan penemuan adalah suatu pendekatan dimana dalam proses belajar mengajar, siswa-siswanya diberi kesempatan untuk menemukan sendiri informasi dan materi-materi bahasan yang secara tradisional hanya diberitahukan atau diceramahkan saja oleh guru mereka.

  Seperti yang telah disampaikan diatas, metode merupakan pengembangan yang lebih konkret dari sebuah teori (pendekatan), berupa prosedur-prosedur berdasarkan teori tersebut di dalam berbagai bentuk kegiatan kelas. Dalam kaitannya dengan pendekatan penemuan, metode konflik kognitif dapat diterapkan sebagai diminta menemukan informasi melalui penelitian yang mereka lakukan, akan muncul konsep-konsep yang tidak selalu sama dari semua siswa. Metode konflik kognitif adalah serangkaian kegiatan pembelajaran dengan mengkomunikasikan dua atau lebih rangsangan berupa sesuatu yang berlawanan atau berbeda kepada peserta didik agar terjadi proses internal yang intensif dalam rangka mencapai keseimbangan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi. Secara spesifik Van den Berg (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa metode konfik kognitif dalam pembelajaran fisika cukup efektif untuk mengatasi miskonsepsi pada siswa dalam rangka membentuk keseimbangan ilmu yang lebih tinggi.

  Berpikir kreatif menurut Lawson (1980) dimaknai sebagi suatu proses kreatif, yaitu merasakan adanya kesulitan, masalah, kesenjangan informasi, adanya unsur yang hilang, dan ketidak harmonisan, mendefinisikan masalah secara jelas, membuat dugaan-dugaan atau merumuskan hipotesis tentang kekurangan-kekurangan, menguji dugaandugaan tersebut dan kemungkinan perbaikannya, pengujian kembali atau bahkan mendefinisikan ulang masalah, dan akhirnya mengkomunikasikan hasilnya.

  Pemasangan antara pendekatan penemuan dengan metode konflik kognitif sebagai penciptaan sebuah sistem pembelajaran aktif - kreatif disini cukup jelas terlihat; pendekatan penemuan mendorong siswa aktif dalam melakukan penelitian untuk sebuah penemuan dan metode konflik kognitif membantu mereka semakin berpikir kreatif dalam mencermati, mengolah dan menyatukan konsep-konsep yang berbeda dengan antara konsep yang mereka temukan dengan konsep-konsep dari siswa (kelompok) lain untuk kemudian memperoleh kesimpulan yang disepakati secara

  Penerapan sistem pembelajaran dengan menerapkan pendekatan dan metode yang kreatif dan inovatif diharapkan dapat memicu minat siswa dalam aktivitas belajar yang tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Tujuan lain yang dapat dicapai dengan keberhasilan pendekatan dan metode tersebut adalah terciptanya lingkungan belajar yang kondusif dan berkualitas. Lingkungan belajar yang kondusif dan berkualitas memberi pengaruh nyata bagi subyek didik mengembangkan potensi dan intelektualitasnya. Dengan bertolak dari uraian di atas, maka penelitian tentang pembelajaran dengan pendekatan penemuan terhadap prestasi belajar fisika perlu diungkap melalui sebuah penelitian yang dirancang dan diimplementasikan dalam suatu studi eksperimen untuk dilihat efektifitasnya. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengadakan sebuah penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh pembelajaran dengan pendekatan penemuan (discovery) terhadap minat, keaktifan dan prestasi belajar, khususnya pada siswa kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta, khususnya lagi pada pokok bahasan lensa tipis.

B. Perumusan Masalah

  Dari uraian latar belakang diatas, penulis merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut: “Bagaimanakah pengaruh pembelajaran dengan pendekatan penemuan pada pokok bahasan lensa tipis terhadap minat, keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta?”

  C. Tujuan Penelitian

  Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh pembelajaran dengan pendekatan penemuan pada pokok bahasan lensa tipis terhadap minat, keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta.

  D. Pembatasan Masalah

  Dalam melakukan penelitian, suatu batasan penelitian perlu ditentukan agar penelitian lebih terarah pada tujuan penelitian. Adapun batasan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengenai pendekatan pembelajaran yang digunakan, yaitu pendekatan penemuan.

  2. Mengenai pokok bahasan pelajaran Fisika yang akan diberikan, yaitu pokok bahasan Lensa Tipis.

  3. Mengenai obyek penelitian, yaitu siswa kelas X di SMA Bopkri II Yogyakarta E.

   Manfaat Penelitian

  1. Manfaat praktis

  a. Sebagai bahan tertulis dan pertimbangan bagi guru-guru Fisika SMA, khususnya bagi guru-guru Fisika di SMA Bopkri II Yogyakarta dan bagi guru-guru FISIKA SMA pada umumnya, dalam menjalankan b. Bagi siswa, model pembelajaran ini diharapkan dapat memotivasi belajar sains secara umum, aspek fisika secara khusus.

  c. Bagi pengembang kurikulum, hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan dalam pengembangan kurikulum dan model pembelajaran sains di SMA serta merekomendasikan beberapa faktor pendukung kepada pihak penentu kebijakan (Departemen Pendidikan Nasional).

  d. Memberikan pengalaman penelitian dan sebagai bahan informasi tertulis kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Manfaat teoritis

  a. Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi konsep dalam upaya mengembangkan metode belajar-mengajar mata pelajaran Fisika yang optimal.

  b. Menjadi bahan kontribusi acuan bagi peneliti lain dalam mengkaji masalah metode pembelajaran penemuan dari sudut pandang yang berbeda.

BAB II LANDASAN TEORI A. Mata Pelajaran Fisika Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis,

  sehingga sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan Sains di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di kehidupan sehari- hari.

  Pendidikan Sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Sains diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

  Mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran dalam rumpun Sains yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis induktif dan deduktif dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar, baik secara kualitatif maupun kuantitatif dengan menggunakan matematika, serta dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri.

  Fungsi dan Tujuan mata pelajaran fisika di SMA dan MA adalah sebagai

  1. Menyadari keindahan dan keteraturan alam untuk meningkatkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;

  2. Memupuk sikap ilmiah yang mencakup:

  a) jujur dan obyektif terhadap data;

  b) terbuka dalam menerima pendapat berdasarkan bukti-bukti tertentu;

  c) ulet dan tidak cepat putus asa;

  d) kritis terhadap pernyataan ilmiah yaitu tidak mudah percaya tanpa ada dukungan hasil observasi empiris; e) dapat bekerjasama dengan orang lain;

  3. Memberi pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalaui percobaan: merancang dan merakit instrumen percobaan, mengumpulkan, mengolah, dan menafsirkan data, menyususn laporan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis;

  4. Mengembangkan kemampuan berpikir analisis induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip fisika untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan menyelesaian masalah baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Pada kelas X perangkat matematika yang mendukung fisika adalah aljabar. Pada kelas XI selain aljabar penggunaan kalkulus juga diperkenalkan di beberapa bagian. Di Kelas XII penggunaan kalkulus diferensial dan integral dilakukan dengan porsi yang lebih banyak lagi;

  5. Menguasai pengetahuan, konsep dan prinsip fisika serta mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi;

  6. Membentuk sikap positif terhadap fisika dengan menikmati dan menyadari keindahan keteraturan perilaku alam serta dapat menjelaskan berbagai peristiwa alam dan keluasan penerapan fisika dalam teknologi. Materi pokok fisika di SMA dan MA merupakan kelanjutan dari materi pokok fisika SMP dengan perluasan pada konsep abstrak yang dibahas secara kuantitatif analitis. Materi pokok tersebut umumnya diperoleh dari berbagai kegiatan yang menggunakan keterampilan proses dalam lingkup melakukan kerja ilmiah.

  Secara garis besar materi pokok fisika di SMA meliputi:

  a. Kelas X Besaran, pengukuran dan vektor; karakteristik gerak; penerapan hukum Newton; tata surya; suhu dan kalor; cahaya; hakekat gelombang elektromagnetik; listrik dinamis. Keseluruhan materi pokok ini penekanannya pada kecakapan hidup dan sebagai dasar untuk belajar pada program penjurusan di kelas XI.

  b. Kelas XI Gerak dengan analisis vektor; energi, usaha, dan daya; impuls dan momentum; momentum sudut dan rotasi benda tegar; fluida; teori kinetik gas; termodinamika. c. Kelas XII Gaya listrik dan medan listrik; medan magnet, gaya Lorentz dan induksi elektromagnetik; gelombang dan bunyi, radiasi benda hitam, teori atom, relativitas, zat padat/semikonduktor; radioaktivitas; jagat raya. Pada pembelajaran dengan pokok bahasan lensa tipis, diharapkan siswa dapat:

  1. menentukan salah satu besaran pada kasus pembiasan pada permukaan lengkung bila disajikan data secukupnya; 2. mendefinisikan pengertian lensa dengan benar; 3. membedakan sifat lensa positif dan lensa negatif dengan benar; 4. melukis bayangan benda yang diletakkan pada jarak tertentu di depan lensa positif; 5. melukis bayangan benda yang diletakkan pada jarak tertentu di depan lensa negatif; 6. menentukan sifat bayangan suatu benda yang diletakkan pada jarak tertentu di depan lensa positif dengan metode penomoran ruang; dan 7. menghitung salah satu besaran bekaitan dengan pembiasan pada lensa tipis bila disajikan data seperlunya

  Permukaan sebuah lensa dapat berupa bola, parabola atau silinder. Namun uraian materi modul ini hanya membicarakan lensa tipis dengan permukaan- permukaannya merupakan permukaan bola. Lensa dibedakan atas lensa positif atau lensa cembung (gambar 1.a) dan lensa negatif atau lensa cekung (gambar 1.b).

  Gambar 1. Model Lensa Tipis Keterangan: (a) Lensa positif terdiri dari: 1) lensa bikonveks (cembung ganda); 2) plankonfeks (cembung-datar); dan 3) cembung-cekung (konfeks-konkaf).

  (b) Lensa negatif terdiri dari: 4) bikonkaf (cekung ganda); 5) plan-konkaf (cembung-datar); dan 6) cekung-cembung (konkaf-konveks).

B. Macam-Macam Metode Pembelajaran

  Metodologi mengajar adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang sistematis dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai. Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik, maka perlu mengetahui, mempelajari beberapa metode mengajar, serta dipraktekkan pada saat mengajar. Terdapat beberapa jenis metode pembelajaran, antara lain: a. Metode Ceramah (Preaching Method)

  b. Metode Diskusi ( Discussion Method ) d. Metode Ceramah Plus

  e. Metode Resitasi ( Recitation Method )

  f. Metode Percobaan ( Experimental Method )

  g. Metode Karya Wisata

  h. Metode Perancangan ( Project Method ) i. Metode Discovery j. Metode Inquiry

C. Metode Penemuan (Discovery)

1. Pengertian Metode Penemuan

  Salah satu metode mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery, hal itu disebabkan karena metode discovery ini: (a) Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif, (b) Dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa, (c) Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain, (d) Dengan menggunakan strategi penemuan, anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkannya sendiri, (e) dengan metode penemuan ini juga, anak belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan probela yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan

  Metode Penemuan menurut Suryosubroto (2002:192) diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi. Metode Penemuan merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, beroreientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Menurut

  

Encyclopedia of Educational Research , penemuan merupakan suatu strategi

  yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk mengajarkan ketrampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode discovery adalah suatu metode dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.

  Suryosubroto (2002:193) mengutip pendapat Sund (1975) bahwa penemuan adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya.

  Metode Penemuan menurut Rohani (2004:39) adalah metode yang berangkat dari suatu pandangan bahwa peserta didik sebagai subyek di samping sebagai obyek pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang mereka

  Proses pembelajaran harus dipandang sebagai suatu stimulus atau rangsangan yang dapat menantang peserta didik untuk merasa terlibat atau berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran. Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing atau pemimpin pengajaran yang demokratis, sehingga diharapkan peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan masalah atas bimbingan guru.

  Metode Penemuan menurut Roestiyah (2001:20) adalah metode mengajar mempergunakan teknik penemuan. Metode Penemuan adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.

  Pada metode Penemuan, situasi belajar mengajar berpindah dari situasi teacher dominated learning menjadi situasi student dominated learning.

  Dengan pembelajaran menggunakan metode Penemuan, maka cara mengajar melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.

2. Pelaksanaan Metode Penemuan

  Menilai kebutuhan dan minat siswa, dan menggunakannya sebagai dasar untuk menentukan tujuan yang berguna dan realities untuk mengajar dengan penemuan, (b) Seleksi pendahuluan atas dasar kebutuhan dan minat siswa, prinsip-prinsip, generalisasi, pengertian dalam hubungannya dengan apa yang akan dipelajarai, (c) Mengatur susunan kelas sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran siswa dalam belajar dengan penemuan, (d) Berkomunikasi dengan siswa akan membantu menjelaskan peranan penemuan, (e) menyiapkan suatu situasi yang mengandung masalah yang minta dipecahkan, (f) Mengecek pengertian siswa tentang maslah yang digunakan untuk merangsang belajar dengan penemuan, (g) Menambah berbagai alat peraga untuk kepentingan pelaksanaan penemuan, (h) memberi kesempatan kepada siswa untuk bergiat mengumpulkan dan bekerja dengan data, misalnya tiap siswa mempunyai data harga bahan-bahan pokok dan jumlah orang yang membutuhkan bahan-bahan pokok tersebut, (i) Mempersilahkan siswa mengumpulkan dan mengatur data sesuai dengan kecepatannya sendiri, sehingga memperoleh tilikan umum, (j) Memberi kesempatan kepada siswa melanjutkan pengalaman belajarnya, walaupun sebagian atas tanggung jawabnya sendiri, (k) memberi jawaban dengan cepat dan tepat sesuai dengan data dan informasi bila ditanya dan diperlukan siswa dalam kelangsungan kegiatannya, (l) Memimpin analisisnya sendiri melalui percakapan dan eksplorasinya sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses, (m) Mengajarkan ketrampilan untuk belajar merundingkan strategi penemuan, mendiskusikan hipotesis dan data yang terkumpul, (o) Mengajukan pertanyaan tingkat tinggi maupun pertanyaan tingkat yang sederhana, (p) Bersikap membantu jawaban siswa, ide siswa, pandanganan dan tafsiran yang berbeda. Bukan menilai secara kritis tetapi membantu menarik kesimpulan yang benar, (q) Membesarkan siswa untuk memperkuat pernyataannya dengan alasan dan fakta, (r) Memuji siswa yang sedang bergiat dalam proses penemuan, misalnya seorang siswa yang bertanya kepada temannya atau guru tentang berbagai tingkat kesukaran dan siswa- siswa yang mengidentifikasi hasil dari penyelidikannya sendiri, (s) membantu siswa menulis atau merumuskan prinsip, aturan ide, generalisasi atau pengertian yang menjadi pusat dari masalah semula dan yang telah ditemukan melalui strategi penemuan, (t) Mengecek apakah siswa menggunakan apa yang telah ditemukannya, misalnya teori atau teknik, dalam situasi berikutnya, yaitu situasi dimana siswa bebas menentukan pendekatannya.

  Sedangkan langkah-langkah menurut Richard Scuhman yang dikutip oleh Suryosubroto (2002:199) adalah : (a) identifikasi kebutuhan siswa, (b) Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian, konsep dan generalisasi yang akan dipelajari, (c) Seleksi bahan, dan problema serta tugas- tugas, (d) Membantu memperjelas problema yang akan dipelajari dan peranan masing-masing siswa, (e) Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan, (f) Mencek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan tugas-tugas siswa, (g) Memberi kesempatan kepada siswa mengarahkan dan mengidentifikasi proses, (j) Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa, (k) memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses penemuan, (l) Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil penemuannya.

3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Penemuan

  Metode Penemuan memiliki kelebihan-kelebihan seperti diungkapkan oleh Suryosubroto (2002:200) yaitu: (a) Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa, andaikata siswa itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan, jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu, (b) Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian retensi dan transfer, (c) Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan, (d) metode ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri, (e) metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus, (f) Metode Penemuan dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan pada siswa dan guru berpartisispasi sebagai sesame dalam situasi penemuan yang jawabannya belum diketahui sebelumnya, (h) Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.

  Penggunaan metode Penemuan ini guru berusaha untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Sehingga metode Penemuan menurut Roestiyah (2001:20) memiliki keunggulan sebagai berikut: (a) Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasaan ketrampilan dalam proses kognitif/pengenalan siswa, (b) Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi/individual sehingga dapat kokoh atau mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut, (c) Dapat meningkatkan kegairahan belajar para siswa.

  Kekurangan-kekurangan metode Penemuan menurut Suryosubroto (2002:2001) adalah: (a) Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini. Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subyek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi pada siswa yang lain, (b) Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian besar waktu dapat ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudahy biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional, (d) Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan. Sedangkan sikap dan ketrampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan emosional sosial secara keseluruhan, (e) Dalam beberapa ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide, mungkin tidak ada, (f) Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru, demikian pula proses-proses di bawah pembinaannya. Tidak semua pemecahan masalah menjamin penemuan yang penuh arti.

D. Prestasi Belajar, Minat dan Keaktifan Belajar Siswa 1. Prestasi Belajar

  Prestasi merupakan hasil yang dicapai setelah seseorang atau siswa melakukan kegiatan. Seorang anak dikatakan memiliki prestasi yang tinggi jika hasil evaluasi yang didapat adalah tinggi, begitu sebaliknya anak dapat dikatakan memiliki prestasi rendah apabila hasil yang didapat dari evaluasi rendah (Arikunto, 2001 : 32). Sementara menurut Oemar Hamalik (1982: 28), prestasi adalah hasil yang diperoleh dari hasil kegiatan belajar, yaitu dari yang tidak mengerti menjadi mengerti. dan sebagainya. Sedangkan pengertian prestasi belajar menurut Tabrani dan Rusyan (1989: 8), prestasi belajar merupakan tingkat atau besarnya perubahan tingkah laku yang dapat dicapai dari suatu pengalaman yang mengarah pada penguasaan pengetahuan, kecakapan dan kebiasaan. Jadi, belajar saja tidak cukup, harus diiringi dengan pengalaman. Pengalaman lebih mudah untuk dipahami, untuk mencapai penguasaan dan kecakapan dalam belajar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa prestasi belajar matematika merupakan hasil belajar yang diperoleh siswa setelah mengalami proses belajar Matematika.

2. Minat Siswa

  Menurut Tyler (1973) dalam Mustikasari (2007), tujuan sekolah yang berkaitan dengan minat dapat diterima apabila aktivitas sekolah memberi konstribusi terhadap pengembangan individu, kompetensi sosial, atau kepuasan hidup. Tujuan pemelajaran afektif, khususnya minat, harus memperluas minat siswa belajar hal-hal penting dari berbagai bidang dan meningkatkan minat siswa belajar pada bidang khusus. Oleh karena itu disarankan agar tujuan pemelajaran mata pelajaran tertentu memuat tujuan afektif, misalkan meningkatkan minat membaca buku.

  Pada setiap evaluasi pengajaran yang dilakukan, hasil yang diperoleh ada yang memuaskan dan ada pula yang tidak memuaskan, termasuk dalam pengajaran fisika pada umumnya. Tentu saja banyak faktor yang berpengaruh, di antaranya adalah minat belajar siswa terhadap pelajaran yang dimaksud, pantas untuk dipertanyakan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Abu Ahmadi

3. Keaktifan Siswa Orientasi pengajaran fisika kita saat ini cenderung sangat prosedural.

  Secara gamblang seorang guru menyatakan bahwa selama ini mereka (para guru fisika) mengajarkan siswa-siswa menghafalkan rumus-rumus atau prosedur fisika tertentu. Agar pembelajaran bermakna bagi siswa maka idealnya pembelajaran fisika dimulai dengan masalah-masalah yang realistik.

  Kemudian siswa diberi kesempatan menyelesaikan masalah itu dengan caranya sendiri dengan skema yang dimiliki dalam pikirannya. Artinya siswa diberi kesempatan melakukan refleksi, interpretasi, dan mencari strateginya yang sesuai.

  Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran haruslah dipahami sebagai keaktifan melakukan kegiatan belajar yang memuat kegiatan refleksi dan aktivitas konstruksi. Rekonstruksi terjadi bila siswa dalam aktivitasnya melakukan refleksi, interpretasi, dan internalisasi. Rekonstruksi itu dimugkinkan terjadi dengan probabilitas yang lebih besar melalui diskusi, baik dalam kelompok kecil maupun diskusi kelas atau berbagai bentuk interaksi dan negosiasi. Guru membimbing mereka untuk menarik kesimpulan bagi diri masing-masing-masing. Secara perlahan siswa dilatih untuk melakukan rekonstruksi atau reinvention. (Marpaung, 2001 dalam Mustikasari, 2007).

E. Ragam Tes

  Cronbach (dalam Silverius, 1991: 4-5) mendefinisikan tes adalah suatu prosedur sistematis untuk mengamati dan mencandrakan satu atau lebih karakteristik seseorang dengan menggunakan skala numerik atau sistem kategori. Sejalan dengan hal tersebut, Anastasi dan Urbina (1997: 3) menyatakan bahwa tes psikologis pada dasarnya adalah alat ukur yang objektif dan dibakukan atas sampel perilaku tertentu.

  Berbicara tentang ragam tes, tidak terlepas dari sifat tes itu sendiri, misalnya: tipe tes, bentuk tes, dan ragam tes. Namun pemberian nama sifat tes tersebut kadang berbeda dari orang yang berbeda.

  Arikunto (2005) menyatakan tes tertulis terdiri dari bentuk tes dan macam tes. Tes subjektif dan tes objektif merupakan bentuk tes dan tes benarsalah, tes pilihan ganda, dan tes menjodohkan termasuk macam tes.

  Suherman dan Sukjaya (1990: 94) menggolongkan tes subjektif dan tes objektif sebagai tipe tes; tes benar-salah, tes pilihan ganda, tes menjodohkan, dan tes melengkapi sebagai bentuk tes. Di samping itu tes pilihan ganda terbagi lima, yaitu: pilihan ganda biasa, hubungan antar hal, analisis kasus, asosiasi pilihan ganda, dan membaca diagram yang merupakan ragam tes.

  Umar, dkk (1999: 22) menyatakan bahwa secara umum setiap soal pilihan ganda terdiri dari pokok soal dan pilihan jawaban (option). Pilihan jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh (distractor). Kunci jawaban

  Ragam tes yang dimaksudkan dalam tulisan ini dibatasi hanya pilihan ganda biasa dan asosiasi pilihan ganda. Ragam tes pilihan ganda dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuan siswa yang lebih tinggi dan dapat diskor secara objektif (Safari, 1997: 64).

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan ini bersifat deskriptif analitis yaitu

  suatu usaha mengumpulkan, menyusun, menginterpretasikan data yang ada kemudian menganalisa data tersebut, menggambarkan dan menelaah secara lebih jelas dari berbagai faktor yang berkaitan dengan keadaan situasi dan fenomena yang diselidiki. Dalam hal ini penulis mencari fakta dan data untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh pembelajaran dengan pendekatan penemuan pada pokok bahasan lensa tipis terhadap minat, keaktifan dan prestasi belajar siswa di kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta.

  B. Waktu dan Tempat Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas Bopkri II Yogyakarta yaitu pada tanggal 21 Juli sampai dengan 23 Agustus 2008.

  C. Subyek Penelitian

  Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X semester gasal Tahun Ajaran 2007/2008 SMA Bopkri II Yogyakarta. Dua dari lima kelas yang ada dipilih sebagai sampel, yaitu kelas X.B sebagai kelompok penelitian dan kelas X.A sebagai kelompok kontrol. Jumlah siswa kelas X.B dan X.A masing-masing fisika dengan guru yang sama, serta tidak ada kelas unggulan. Oleh karena itu, kelima kelas mempunyai peluang yang sama atau dikatakan homogen untuk menjadi sampel penelitian karena tidak ada perlakuan khusus kepada siswa.

D. Prosedur Pengambilan Data

  Pengambilan data dilakukan pada masing-masing kelas, yaitu pada kelas penelitian yang diajarkan dengan pendekatan penemuan, sedangkan kelas kontrol diajarkan dengan pendekatan metode ceramah. Prosedur pengambilan data dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui minat, keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta. Secara umum, prosedur penelitian ini mencakup tiga tahapan, yaitu:

  a) Pre Tes pada Setiap Kelas

  Pada pertemuan awal, siswa pada masing-masing kelas yang diteliti diberikan pengarahan singkat mengenai pokok bahasan yang akan diajarkan.

  Pengarahan tersebut berupa deskripsi mengenai bidang ajar lensa tipis serta gelombang dan optika. Setelah itu, dilaksanakan tes kemampuan awal siswa (pre tes) pada masing-masing kelas. Pre tes diberikan dengan soal yang sama untuk setiap kelas yang diteliti.

  b) Pembelajaran pada Setiap Kelas 1) Langkah-langkah Pembelajaran Kelas Penelitian

  1. Kegiatan Pendahuluan

  Kegiatan pendahuluan pada kelas penelitian ini terdiri dari: a. Menentukan pokok bahasan. Untuk mendukung tercapainya tujuan dari penelitian yang berkaitan dengan konsep, tingkat kematangan berpikir subyek didik dan konteks lingkungan, penulis menentukan sebuah materi pokok. Dalam penelitian ini penulis memilih “Lensa Tipis” sebagai materi pokok yang akan dipelajari.

  b. Menyusun silabus. Dibantu oleh guru pengajar, peneliti menyusun sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menyusun lembar kerja siswa dalam bentuk silabus yang berisi standar kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu dan instrumen penelitian berupa alat peraga.

  Adapun standar kompetensi dalam penelitian pembelajaran dengan pendekatan penemuan pada pokok bahasan lensa tipis ini adalah: 1) Menerapkan prinsip kerja alat-alat optik, dan 2) Menerapkan konsep dan prinsip gejala gelombang dan optika dalam menyelesaikan masalah.

2. Kegiatan inti

  Dalam tahap ini peneliti melaksanakan langkah-langkah pembelajaran untuk diterapkan di dalam kelas. Dengan menggunakan acuan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan penemuan menurut Gilstrap (1975) dalam Suryobroto (2002: 197), seperti yang diuraikan dalam BAB II, kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini dilaksanakan dengan mengikuti prosedur sebagai berikut:

  a.

   Memusatkan perhatian siswa

  Peneliti yang bertindak sebagai guru menarik dan memusatkan perhatian siswa dengan memberikan contoh-contoh kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang pernah ditemui atau dialami oleh siswa yang berkaitan dengan pokok bahasan sesusai dengan yang direncanakan oleh guru. Pentingnya menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari sebagai landasan pengembangan pendekatan pembelajaran ditujukan untuk: 1) memotivasi belajar siswa; 2) melatih berpikir kritis, kreatif, analitik; 3) mengembangkan keterampilan proses dan keterampilan sosial (Sidharta, 2008).

  Dengan topik bahasan lensa tipis, guru dapat mengajak siswa untuk menyebutkan macam-macam dan kegunaan alat optik khususnya lensa tipis yang pernah ditemui atau digunakan oleh siswa. Penggalian dan pengingatan kembali fenomena-fenomena yang pernah temui tersebut merupakan pengalaman belajar singkat yang dapat dijadikan dasar dan modal untuk memasukkan topik bahasan yang direncanakan.

  b.

   Memunculkan pertanyaan-pertanyaan

  Rowe (1970) mengungkapkan hasil penelitiannya bahwa terdapat korelasi yang tinggi antara rangsangan pertanyaan yang diajukan guru dengan tanggapan kreatif siswa. Dengan pengalaman dan pengetahuan dasar yang telah dimiliki oleh siswa, peneliti mencoba menstimulasi perhatian dan minat siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan yang dapat memancing rasa keingintahuan mereka untuk mengadakan pembelajaran dan penelitian lebih lanjut.

  Rangsangan berupa konflik kognitif dapat dimasukkan dalam tahap ini. Rangsangan konflik kognitif dalam pembelajaran akan sangat membantu proses asimilasi menjadi lebih efektif dan bermakna dalam pergulatan intelektualitas siswa. Peneliti mengkomunikasikan dua atau lebih rangsangan berupa sesuatu yang berlawanan atau berbeda kepada siswa agar terjadi proses internal yang intensif dalam rangka mencapai keseimbangan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi. Pemetaan masalah diperlukan untuk melihat permasalahan yang mungkin timbul dari sebuah konsep serta kemungkinan masalah-masalah lain.

  c.

   Memberikan motivasi

  Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan. Dari kedua tahap di atas, guru dapat melihat tanggapan siswa terhadap topik bahasan yang akan dipelajari. Kemudian peneliti memberikan motivasi kepada siswa untuk mengadakan penyelidikan lebih lanjut mengenai pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan-permasalahan yang muncul dari pembelajaran singkat diatas. Sebisa mungkin peneliti memberikan motivasi kepada siswa untuk terlibat aktif dan kreatif untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya.

  d.

   Pengelolaan kelas

  Tahap ini meliputi pembagian kelompok dan pengaturan atau seting kelas. Siswa pada kelas yang dijadikan sebagai kelompok penelitian diberi perlakuan pendekatan penemuan dan untuk lebih mengoptimalkan interaksi kognitif, kelas dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan eksperimen.

  e.

   Pendahuluan pembelajaran

  Pendahuluan pembelajaan diselenggarakan dengan memberikan penjelasan skenario pembelajaran, penjelasan tujuan pembelajaran, pelaksanaan pretes untuk mencari gambaran tentang pemahaman siswa tentang materi yang akan diajarkan, pembagian lembar kerja siswa sesuai dengan alur yang ditentukan, pembagian alat peraga dan petunjuk penggunaannya.

  f.

   Pelaksanaan pembelajaran

  Siswa melakukan kegiatan sesuai dengan alur yang ditentukan dalam lembar kerja siswa Pada tahap pelaksanaan penelitian, pada sub pokok bahasan lensa tipis, dengan masing-masing kelompoknya, siswa diminta untuk 1) menganalisis alat-alat optik secara kualitatif dan kuantitatif, dan 2) menerapkan alat-alat optik dalam kehidupan sehari- hari. Sedangkan pada sub pokok bahasan gelombang dan optika, siswa diminta untuk 1) menganalisis sifat-sifat cahaya, dan 2) memformulasikan besaran-besaran fisika tentang gelombang elektromagnetik secara

  Untuk lebih memperlancar pelaksanaannya, sistematika kegiatan pembelajaran mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1) Kegiatan penelitian oleh siswa dengan masing-masing kelompoknya sesuai dengan pokok-pokok bahasan yang telah ditentukan. Tahap pelaksanaan penelitian ini dilakukan oleh siswa dan dibimbing oleh guru kelas, sedangkan peneliti bertindak sebagai observer yang mengamati kegiatan-kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Aktivitas ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan dan bekerja dengan data serta merumuskan hasil penelitian kelompok mereka. 2) Mengadakan sesi presentasi yang memberikan kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk menyajikan hasil-hasil pembelajaran mereka kepada forum kelas. 3) Membuka sesi diskusi kelas untuk membahas perbedaan- perbedaan konsep dalam hasil atau kesimpulan penemuan yang dibuat oleh masing-masing kelompok yang mengemuka dari sesi presentasi.

  4) Pemberian konflik kognitif oleh guru kepada siswa. Dari hasil sesi presentasi dan diskusi, diharapkan dapat muncul perbedaan- perbedaan konsep atau hasil penelitian dari tiap-tiap kelompok. Perbedaan-perbedaan tersebut oleh guru kemudian dijadikan untuk mengkondisikan kegiatan pembelajaran yang terbuka, responsif dan mengakomodasi perbedaan individu. Semua siswa, baik mewakili perseorangan maupun mewakili kelompoknya, memiliki kesempatan yang sama untuk menyatakan argumen- argumen serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan atas argumen dari kelompok-kelompok lain.

  5) Kemudian guru mengelola konflik kognitif tersebut dengan menyajikan data pembanding lain berupa informasi, pendapat maupun teori-teori pendukung. Bersama dengan guru, semua siswa dalam kelas menarik satu atau beberapa hipotesis dari hasil diskusi kelas. 6) Menyelenggarakan penelitian kedua dalam level penelitian kelas (bukan oleh kelompok-kelompok).

  g.

   Observasi Keaktifan Siswa

  Selama proses pembelajaran berlangsung, observer mencatat keaktifan setiap siswa pada aspek Mengemukakan pendapat, Bertanya pada guru, Bertanya pada siswa/kelompok lain, Berdiskusi dengan siswa/kelompok, Pengerjaan tugas/laporan, serta Menjawab pertanyaan lisan dari guru.

  Penilaian terhadap keaktifan siswa dilakukan dengan memberikan skor.

3. Kegiatan Penutup

  Kegiatan penutup adalah kegiatan akhir dari satu proses hipotesis, merangkum seluruh rangkaian kegiatan, serta untuk memberikan evaluasi berupa tanya jawab lisan, latihan soal maupun pekerjaan rumah

b. Langkah-langkah Pembelajaran Kelas Kontrol

  Pada kelas kontrol, langkah-langkah pembelajaran yang diterapkan adalah pembelajaran biasa dengan metode ceramah, dimana peneliti sebagai guru lebih dominan dalam proses belajar mengajar. Berikut prosedur pembelajaran yang diberikan bagi kelas kontrol:

  1) Kegiatan Pendahuluan

  a. Sebelum melaksanakan proses pengajaran, terlebih dahulu guru menyusun dan mempersiapkan materi yang akan diajarkan, yaitu Lensa Tipis.

  b. Memberikan pengantar sertam menyampaikan kembali materi pelajaran yang telah dibahas sebelumnya.

  c. Mengajukan atau menawarkan pada siswa jika ingin bertanya mengenai bahasan sebelumnya.

  2) Kegiatan Inti

  a. Peneliti berbicara di depan kelas untuk menyampaikan materi bahan ajar kepada siswa dengan bantuan papan tulis sebagai media untuk menjelaskan materi.

  b. Penjelasan mengenai teori-teori yang ada dengan memberikan sedikit

  3) Kegiatan Penutup

  Kegiatan penutup adalah kegiatan akhir dari satu proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dan siswa untuk membuktikan hipotesis, merangkum seluruh rangkaian kegiatan, serta untuk memberikan evaluasi berupa tanya jawab lisan, latihan soal maupun pekerjaan rumah

  c) Pos Tes dan Kuisioner pada Setiap Kelas

  Pada kegiatan akhir dari pembelajaran, peneliti merangkum seluruh rangkaian kegiatan, serta memberikan evaluasi latihan soal (pos tes). Sebagai akhir dari kegiatan penutup adalah pengisian kuisioner kepada siswa untuk mengetahui tanggapan siswa atas model pembelajaran yang telah diselenggarakan.

E. Instrumen Penelitian

  Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui prestasi belajar fisika bagi siswa yang diajar melalui pendekatan penemuan (pada kelompok penelitian) dan prestasi belajar fisika bagi siswa yang diajar melalui pendekatan konvensional (metode ceramah). Efektivitas pembelajaran dengan penemuan ini dapat diketahui melaui penilaian dari tiga aspek, yaitu 1) minat, 2) keterlibatan/keaktifan, dan 3) prestasi siswa. Untuk melakukan penilaian dari tiga aspek tersebut, dibutuhkan instrumen penelitian. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Lembar Tes Tertulis

  Lembar tes tertulis berisi 15 butir soal yang bertujuan untuk mengukur penguasaan konsep lensa tipis, mengukur keterampilan berpikir kreatif dan keterampilan proses sains, baik sebelum maupun sesudah pembelajaran.

  2. Angket

  Angket digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai model pembelajaran yang diimplementasikan, mengetahui pendapat siswa terhadap pembelajaran sains fisika khususnya pokok bahasan lensa tipis serta pendapat siswa mengenai keaktifan dan minat mereka.

  3. Observasi

  Dalam penelitian ini, data observasi diperoleh dengan menggunakan lembar skala Likert. Lembar observasi berisi hasil pengamatan peneliti mengenai keaktifan siswa. Selama proses observasi, peneliti dibantu oleh beberapa rekan yang berpartisipasi melakukan pengamatan dan memberikan penilaian terhadap keaktifan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.

F. Analisis Data

a. Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui:

  1. Tes tertulis sebelum pembelajaran (Pre Tes)

  2. Tes tertulis setelah pembelajaran (Pos Tes)

  4. Hasil observasi

b. Metode Analisis Data

  Pada Penelitian ini, data hasil belajar siswa akan dianalisis secara deskriptif analitis. Sedangkan analisis uji beda (Uji - t), digunakan untuk menguji keberartian pengaruh perlakuan pendekatan penemuan terhadap prestasi belajar. Analisis komparasi kualitatif akan digunakan untuk melihat sejauhmana minat belajar dan keaktifan siswa di kelas.

  Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran dengan pendekatan penemuan yang telah dilakukan, penulis melakukan pengujian apakah terdapat perbedaan minat, keaktifan dan prestasi belajar siswa antara kelompok kontrol dan kelompok penelitian. Prestasi belajar diukur dari selisih hasil pos tes dan pre tes, minat siswa diukur dengan menggunakan kuisioner, sedangkan keaktifan siswa diukur dari hasil observasi.

1. Prestasi Belajar Siswa

a. Hipotesis

  Dengan parameter selisih nilai pos tes dan pre tes ( X)pada kedua kelompok kelas, maka untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan prestasi belajar diantara kedua kelas, hipotesis pengujian dapat diberikan sebagai berikut:

  Ho : Tidak terdapat perbedaan selisih nilai postes dan pretes antara kelompok kontrol dan kelompok penelitian H : Terdapat perbedaan selisih nilai postes dan pretes antara

  1

  kelompok kontrol dan kelompok penelitian Hasil jawaban Pre Tes dan Pos Tes siswa yang sudah diperoleh, dirangkum seperti pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Selisih Nilai Pre Tes dan Pos Tes

  Nilai Selisih Nilai Siswa

  Pre Tes (X ) Pos Tes (X ) Pos tes – Pre tes ( X)

  1

  2 A ... ...

  B .. ... C ... ...

  Dari Tabel 3.1, selanjutnya. hasil belajar ini digunakan pula untuk membandingkan prestasi belajar kelompok penelitian dan kelompok kontrol.

Tabel 3.2 Selisih Nilai Pre Tes dan Pos Tes pada Kelas Kontrol dan Kelas Penelitian

  Selisih Nilai Pre Tes dan Pos Tes ( X) Siswa pada kelompok:

  Kontrol ( X ) Penelitian ( X )

  k p A ... ...

  B .. ... C ... ...

  c. Pengujian Data

  Dari data pada Tabel 3.2, selanjutnya dilakukan analisa mengenai perbedaan prestasi belajar siswa pada kelas kontrol dengan kelas penelitian. Statistik uji yang digunakan, yaitu:

  ∆

  X k − ∆ X p ( )

  =

  t hitung 2

  1

  1

  • S

  nk np

  dengan: 2 2

  ( nk − +

  1 ) S ( npk p 1 ) S

  2 S = ( nk np

  • 2 )

  2 2 ( )

  X k Xk n k S = k 2 ( n k 2 X ) p Xp n p S = p k n p

  ∆

  X = rata-rata selisih nilai pos tes dan pre tes kelompok kontrol

p = rata-rata selisih nilai pos tes dan pre tes kelompok penelitian

  ∆

  X

  nk = jumlah siswa kelompok kontrol np = jumlah siswa kelompok penelitian

  2 Sk = variansi selisih nilai tes siswa kelompok kontrol

  2 Sp = variansi selisih nilai tes siswa kelompok penelitian

  Pengambilan keputusan yang diberikan yaitu bahwa Ho diterima jika t < t , dan Ho ditolak jika t > t , dengan

  hitung tabel hitung tabel

  db=(nk+np-2). Apabila Ho diterima maka tidak terdapat perbedaan selisih nilai postes dan pretes antara kelompok kontrol dan kelompok penelitian. Sebaliknya, jika Ho ditolak maka terdapat perbedaan selisih nilai postes dan pretes antara kelompok kontrol dan kelompok penelitian.

2. Minat Siswa

  a. Hipotesis

  Untuk menguji apakah terdapat perbedaan minat belajar diantara kelompok penelitian dan kelompok kontrol, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

  Ho : Tidak terdapat perbedaan minat belajar siswa antara kelompok kontrol dan kelompok penelitian H : Terdapat perbedaan minat belajar siswa antara kelompok

  1

  kontrol dan kelompok penelitian

  b. Data minat belajar siswa

  Untuk jawaban angket mengenai minat belajar siswa bagi kedua kelompok kelas, setiap alternatif jawaban diberikan skor, yaitu sangat tidak setuju (skor 1), tidak setuju (skor 2), ragu-ragu (skor 3), setuju (skor 4), sangat setuju (skor 5). Selanjutnya dapat disajikan seperti pada Tabel 3.2 berikut ini:

Tabel 3.3 Variasi Jawaban Angket Minat Siswa

  Item Pertanyaan Rata-rata Skor

  Siswa

  1 2 ...

  8 Jawaban A B C

  Skor tanggapan siswa dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria dan jumlah skala yang telah ditentukan semula dengan rentangan antar kriteria yang ditentukan dengan cara sebagai berikut:

  Skor tertinggi = HS (High Score) Skor terendah = LS (Low Score) Jumlah skala = 5 Panjang rentangan = (HS-LS)/5

  Dengan panjang rentangan (HS-LS)/5 = (5 – 1)/5 = 0,8, rata- rata skor jawaban reponden pada Tabel 3.3 digolongkan ke dalam 5 kategori ukuran minat siswa sebagai berikut:

Tabel 3.4 Kriteria Tingkat Minat Belajar Siswa

  Skor Kriteria Interval

  1 Sangat Rendah 1,00 – 1,8

  2 Rendah 1,81 – 2,6

  3 Sedang 2,61 – 3,4

  4 Tinggi 3,41 – 4,2

  5 Sangat Tinggi 4,21 – 5,00 Berdasarkan kriteria minat belajar siswa pada Tabel 3.4, maka skor rata-rata setiap siswa pada kelas kontrol maupun kelas penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Hasil Klasifikasi Minat Belajar Siswa

  Skor minat belajar Siswa

  K.Kontrol K.Penelitian A ... ... B ... ... C ... ...

  b. Pengujian Data

  Pengujian terhadap hipotesis di atas, dilakukan dengan menggunakan uji Mann Whitney. Uji hipotesis di atas, dilakukan dengan

  • = k k k p k k

  R

  lebih kecil atau sama dengan U tabel, maka keputusannya adalah menolak Ho dan menerima H1. Dengan menggunakan perhitungan software SPSS, jika nilai probabilitas (Asymp. sig.) kurang dari atau sama dengan nilai taraf nyata (α=0,05), maka keputusannya adalah menolak Ho dan menerima H

  hitung

  . Apabila U

  p

  dan U

  k

  dilakukan dengan mengambil nilai terkecil dari U

  hitung

  = jumlah ranking data kelas kontrol Penentuan U

  k

  = nilai Mann-Whitney untuk kelas penelitian nk = banyaknya sampel kelas kontrol np = banyaknya sampel kelas penelitian

  komparatif dua sampel independen bila datanya berbentuk ordinal. Data yang dianalisis adalah hasil rekapitulasi data kuisioner pada Tabel 3.5, dimana rata-rata skor minat belajar masing-masing siswa pada setiap kelas diukur dan digolongkan ke dalam 5 kategori tingkat minat siswa.

  p

  = nilai Mann-Whitney untuk kelas kontrol U

  k

  dimana: U

  U n n U − =

  1 k p k p

  2

  

R

n n U n n

  −

  ( )

  Dengan menggunakan statistik uji hipotesis di atas, dilakukan dengan menggunakan uji Mann Whitney, maka dapat ditentukan keputusan untuk menolak atau menerima Ho. Statistik Mann-Whitney ditentukan dengan rumus:

  1 . Jika n lebih besar dari 20 (n>20), maka tabel Mann Whitney tidak dapat dipergunakan. Namun pengujian dilakukan dengan menggunakan rumus pendekatan distribusi normal:

  nk × np Uobs

  2 Z = hitung nk + × np × ( nk + np 1 )

  12 Kriteria pengujian: Jika Z hitung terletak pada interval Z tabel Z hitung Z tabel, maka keputusannya adalah menerima Ho. Sebaliknya, jika -Z hitung < -Z tabel atau Z hitung > Z tabel, maka keputusannya adalah menolak Ho.

3. Keaktifan Siswa

  a. Hipotesis

  Pengujian apakah terdapat perbedaan keaktifan siswa antara kelompok kontrol dan kelompok penelitian dianalisis dari hasil observasi.

  Pengajuan hipotesis dapat diberikan sebagai berikut: Ho : Tidak terdapat perbedaan keaktifan siswa antara kelompok kontrol dan kelompok penelitian H : Terdapat perbedaan keaktifan siswa antara kelompok kontrol

  1

  dan kelompok penelitian

  b. Data Keaktifan Siswa

  Observasi mengenai keaktifan belajar dilakukan oleh peneliti pada kedua kelompok kelas. Penilaian keaktifan untuk setiap siswa dilakukan dengan memberi skor, yaitu sangat kurang baik (skor 1), kurang baik (skor 2), cukup (skor 3), baik (skor 4), sangat baik (skor 5). Selanjutnya penilaian keaktifan dapat disajikan seperti pada Tabel 3.6 berikut ini:

Tabel 3.6 Penilaian Keaktifan Siswa

  Skor No. Aspek keaktifan yang diobservasi

  Penilaian

  1 Mengemukakan pendapat

  2 Bertanya pada guru

  3 Bertanya pada siswa/kelompok lain

  4 Berdiskusi dengan siswa/kelompok

  5 Pengerjaan tugas/laporan

  6 Menjawab pertanyaan lisan dari guru Berdasarkan Tabel 3.6, maka dalam satu kelas dapat diukur rata- rata skor keaktifan untuk setiap siswa (Tabel 3.7) untuk dianalisis lebih lanjut mengenai perbedaan keaktifan siswa pada kedua kelompok tersebut.

Tabel 3.7 Skor Keaktifan Siswa

  Aspek keaktifan Rata-rata Skor Siswa

  1 2 ...

  6 Keaktifan A B C

  Skor keaktifan siswa dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria dan jumlah skala yang telah ditentukan semula dengan rentangan antar kriteria yang ditentukan dengan cara seperti pada bagian minat belajar siswa di atas. Dengan panjang rentangan (HS-LS)/5 = (5 – 1)/5 = 0,8, rata- rata skor keaktifan siswa pada Tabel 3.7 digolongkan ke dalam 5 kategori

Tabel 3.9 Hasil Klasifikasi Keaktifan Siswa

  K.Kontrol K.Penelitian A B C

  Skor Kriteria Interval

  1

  2

  3

  4

  5 Sangat Tidak Aktif Kurang Aktif

  Cukup Aktif

  Sangat Aktif 1,00 – 1,8 1,81 – 2,6 2,61 – 3,4 3,41 – 4,2

  4,21 – 5,00 Berdasarkan kriteria keaktifan siswa pada Tabel 3.8, maka skor rata-rata setiap siswa pada kelas kontrol maupun kelas penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.9.

Tabel 3.8 Kriteria Tingkat Keaktifan Siswa

  Siswa Skor Keaktifan Siswa

c. Pengujian Data

  Sama halnya pada pengujian minat siswa, pengujian terhadap hipotesis di atas, dilakukan dengan menggunakan uji Mann Whitney. Data yang dianalisis adalah hasil rekapitulasi data keaktifan pada Tabel 3.9, dimana rata-rata skor masing-masing siswa pada setiap kelas diukur dan digolongkan ke dalam 5 kategori tingkat keaktifan siswa. Statistik Mann- Whitney ditentukan dengan rumus:

  ( )

  • = k k k p k k

  −

  

R

n n U n n

  2

  1 k p k p

  U n n U − =

  dimana:

  U = nilai Mann-Whitney untuk kelas penelitian

  p

  nk = banyaknya sampel kelas kontrol np = banyaknya sampel kelas penelitian R = jumlah ranking data kelas kontrol

  k

  Penentuan U dilakukan dengan mengambil nilai terkecil dari

  hitung

  U dan U . Apabila U lebih kecil atau sama dengan U tabel, maka

  k p hitung

  keputusannya adalah menolak Ho dan menerima H1. Dengan menggunakan perhitungan software SPSS, jika nilai probabilitas (Asymp. sig.) kurang dari atau sama dengan nilai taraf nyata (α=0,05), maka keputusannya adalah menolak Ho dan menerima H .

  1 Jika n lebih besar dari 20 (n>20), maka tabel Mann Whitney tidak

  dapat dipergunakan. Namun pengujian dilakukan dengan menggunakan rumus pendekatan distribusi normal:

  nk × np

  −

  U obs

  2 Z = hitung nk + + × np × ( nk np 1 )

  12 Kriteria pengujian: Jika Z hitung terletak pada interval Z tabel Z hitung Z tabel, maka keputusannya adalah menerima Ho. Sebaliknya, jika -Z hitung < -Z tabel atau Z hitung > Z tabel, maka keputusannya adalah menolak Ho.

BAB IV PEMBAHASAN A. Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan salah satu indikator untuk menilai

  

kemampuan siswa dalam suatu proses pembelajaran. Dari hasil penelitian

pada siswa kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta, dapat diperoleh nilai tes yang

menunjukkan prestasi belajar siswa dari hasil pembelajaran. Sebaran nilai pre

tes dan pos tes dari hasil tes prestasi pada kelas kontrol secara umum dapat

digambarkankan seperti pada Gambar 4.1. Pada grafik tersebut terlihat bahwa

sebagian besar siswa pada kelas kontrol memiliki kenaikan nilai prestasi.

  8

  7 a w

  6 is S r

  5 ja

  Pre Tes la e

4 Pos Tes

   B s

  3 e T i a

  2 il N

  1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Siswa Kelas Kontrol

  43 Untuk distribusi nilai pre tes dan pos tes dari hasil tes prestasi pada kelas penelitian secara umum dapat digambarkankan seperti pada Gambar 4.2.

  2

Gambar 4.2. Grafik Histogram Nilai Tes Prestasi Belajar Siswa Kelas Penelitian

  Pre Tes Pos Tes

  7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Siswa Kelas Penelitian N il a i T e s B e la ja r

  6

  5

  4

  3

  1

  Pada grafik tersebut terlihat bahwa sebagian besar siswa pada kelas penelitian memiliki kenaikan nilai prestasi. Kenaikan nilai tes prestasi pada kelas penelitian lebih merata pada setiap siswa, selain itu peningkatan yang tajam juga lebih banyak terdapat pada kelas penelitian dibandingkan dengan kelas kontrol.

  8

  7

  6

  5

  4

  3

  2

  1

  Hasil tes prestasi yang telah dilakukan oleh siswa pada kelas kontrol dan kelas penelitian selanjutnya dihitung selisih antara pos tes dan pre tes. Hal ini dilakukan sebagai langkan dalam menganalisa apakah terdapak perbedaan pada prestasi belajar antara kedua kelas, yaitu kelas kontrol yang diajarkan

  44

memberikan pendekatan penemuan pada mata pelajaran Fisika dengan materi

lansa tipis. Selisih nilai pos tes dan pre tes pada kedua kelas dapat dilihat

seperti pada Tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1. Selisih nilai pos tes dan pre tes pada kelas kontrol maupun kelas penelitian

  Siswa Selisih Nilai Pos Tes dan Pre Tes Kelas

  Kontrol Kelas Penelitian 1 0,00 1,00

  2 2,30 0,70 3 0,70 1,70 4 0,60 2,00 5 1,30 2,60 6 2,70 1,30 7 1,40 1,00 8 1,00 0,70 9 0,60 1,00

  10 1,30 1,60 11 2,30 2,00 12 0,70 2,00 13 0,70 1,60 14 0,60 2,00 15 2,70 3,00 16 1,30 0,30 17 1,60 3,70 18 1.40 3,30 19 0,70 1,60 20 1,00 2,00 21 0,60 2,60

  Rata-rata 1,21 1,80 Daru Tabel 4.1. di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata selisih nilai pos tes

dan pre tes bagi kelas kontrol dan kelas penelitian, masing-masing adalah 1,21

dan 1,80. Untuk menguji sejauh mana keberartian perlakuan pendekatan

  45

penemuan yang diberikan pada kelas penelitian dalam pembelajaran fisika

terhadap prestasi belajar siswa, digunakan uji-t pada taraf signifikan 0,05. Dari

Tabel 4.1 di atas setelah dilakukan pengujian diperoleh t hitung = 2,296 (Tabel 4.2). Harga ini jauh lebih besar dari t tabel (α=0,05; db=40) yaitu 2,021. Selain

  

nilai t, nilai Sig diperoleh sebesar 0,024 atau lebih kecil dari α=0,050. Dengan

demikian, keputusan yang diambil adalah menolak Ho dan menerima H ,

  1

sehingga dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa pada pelajaran fisika

pokok bahasan lensa tipis di kelas penelitian berbeda dengan kelas kontrol.

Tabel 4.2. Ringkasan Hasil Analisis Tes Prestasi Kelas Jumlah Rata- Rata- Rata- T T Sig.

  hitung tabel Siswa rata rata rata Pre Tes Pos Tes Selisih

  Kontrol 21 4,37 5,90 1,21 2,296 2,021 0,027 Penelitian 21 4,11 5,58 1,80

B. Minat Belajar Siswa

  Pada penelitian ini, juga diukur tingkat minat siswa terhadap mata pelajaran Fisika khususnya pada pokok bahasan lensa tipis. Dalam hal ini, pengukuran dilakukan berdasarkan hasil kuesioner mengenai minat siswa dalam proses belajar mengajar baik pada kelas kontrol maupun kelas penelitian. Hasil pengukuran minat siswa pada kelas kontrol dan kelas penelitian (Lampiran 2) dapat dikategorikan dalam kriteria minat seperti pada

Tabel 4.3 berikut ini:

  46

Tabel 4.3. Kriteria Minat Siswa terhadap Proses Pembelajaran Pada

  

Kelas Kontrol dan Kelas Penelitian

Kelas Kontrol Kelas Penelitian No. Kriteria

  Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase 1 sangat rendah 4 19,05% 0,00% 2 rendah 5 23,81% 1 4,76% 3 sedang 9 42,86% 2 9,52% 4 tinggi 3 14,29% 10 47,62% 5 sangat tinggi 0,00%

  8 38,10% Jumlah 21 100,00% 21 100,00% Dari Tabel 4.3. dapat dilihat bahwa pada kelas kontrol, siswa paling

banyak dikategorikan dalam kriteria sedang, yaitu sebanyak (42,86%). Pada

kelas kontrol tidak terdapat siswa yang dikategorikan dalam kriteria sangat

tinggi (0%). Sebaliknya, pada kelas penelitian sebagian besar dikategorikan

dalam kriteria tinggi, yaitu sebanyak 47,62%. Hal ini menunjukkan bahwa

siswa pada kelas kontrol cenderung memiliki minat yang sedang terhadap

pokok bahasan lensa tipis dengan pengajaran biasa (ceramah), sedangkan

pada kelas penelitian dapat dikatakan bahwa siswa lebih mempunyai minat

yang tinggi terhadap pokok bahasan lensa tipis dengan pengajaran melalui

pendekatan metode penemuan.

  47 50,00% 45,00% 40,00% a w is 35,00% S h

  30,00% la

  K.Kontrol m u

  25,00% J

  K.Penelitian e s

  20,00% ta n e

  15,00% rs e P

  10,00% 5,00% 0,00%

  1

  2

  

3

  4

  5 Kriteria Minat Siswa Keterangan:

  1. Sangat Rendah

  2. Rendah

  3. Sedang

  4. Tinggi

  5. Sangat Tinggi

Gambar 4.3. Grafik Persentase Jumlah Siswa pada Kategori Minat Untuk membuktikan kebenaran bahwa terdapat perbedaan minat

  

siswa terhadap pokok bahasa lensa tipis pada kelas kontrol dan kelas

penelitian dilakukan pengujian data hasil penelitian dengan menggunakan uji

Mann Whitney.

Tabel 4.4. Hasil Perhitungan Uji Mann Whitney untuk Menguji Perbedaan Minat Belajar siswa

  U hitung U tabel Sig.

  44,50 141 0,000

  48 Dari hasil pengujian hipotesis (tercantum pada Lampiran 6.) diperoleh

hasil sebagaimana tersaji pada Tabel 4.4., bahwa nilai Mann Whitney adalah

sebesar 44,50 dengan nilai Sig. sebesar 0,000. Oleh karena nilai U tabel =141,

berarti nilai U hitung < U tabel , sehingga keputusannya adalah menolak Ho.

  

Dengan cara yang lain, oleh karena nilai sig < (α=0,05), maka diputuskan

untuk menolak Ho, yang berarti bahwa terdapat perbedaan minat belajar siswa

antara kelas kontrol dan kelas penelitian. Dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa minat belajar siswa kelas penelitian terhadap mata

pelajaran Fisika pada pokok bahasan lensa tipis lebih tinggi dibandingkan

dengan kelas kontrol.

  Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa penggunaan metode

penemuan (discovery) dapat membangkitkan minat belajar siswa kelas X

SMU Bopkri II pada pelajaran Fisika dengan pokok bahasan lensa tipis. Bagi

siswa kelas kontrol yang diajarkan dengan metode ceramah biasa tidak

memacu minat siswa terhadap pelajaran ini. Hal ini dikarenakan pada metode

pembelajaran biasa, siswa hanya memperoleh materi dari guru tanpa banyak

berpartisipasi langsung dalam mempelajari konsep dari materi yang diajarkan.

Dengan menggunakan metode penemuan, siswa lebih leluasa untuk mencari

jawaban dari permasalahan yang diajukan oleh guru.

  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat dikatakan

bahwa melalui pembelajaran dengan metode penemuan, siswa lebih menyukai

  49 proses pembelajarannya, siswa merasa lebih mudah dalam mencerna pelajaran Fisika yang disampaikan, siswa lebih fokus terhadap materi yang diajarkan, siswa menginginkan pembelajaran Fisika, siswa lebih berminat dalam mencatat hasil-hasil diskusi/ pembelajaran, siswa lebih rajin mengerjakan tugas maupun laporan praktikum, siswa lebih menikmati proses pembelajaran, serta siswa lebih berminat dalam mempelajari bidang studi Fisika.

C. Keaktifan Siswa dalam Belajar

  Selain prestasi, indikator keberhasilan sebuah metode pengajaran dapat dilihat dari tingkat keaktifan siswa yang diamati dan dinilai oleh pengajar. Keaktifan yang ditunjukkan oleh siswa merupakan bentuk tanggapan mereka terhadap sesi atau metode pengajaran yang sedang diterapkan oleh guru didalam kelas. Adapun indikator keaktifan siswa dalam penelitian ini adalah kuantitas siswa dalam mengemukakan pendapat, bertanya kepada guru, bertanya kepada sesama siswa lain, berdiskusi dengan siswa/kelompok lain, pengerjaan tugas atau laporan, dan menjawab pertanyaan lisan dari guru.

  Dari hasil observasi kelas untuk menilai tingkat keaktifan dalam proses belajar mengajar siswa kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta, dapat disusun tabel skor total untuk setiap aspek yang diteliti. Aspek-aspek yang digunakan sebagai indikator keaktifan siswa ajar diantaranya adalah 1)

  50

lain, 4) Berdiskusi dengan siswa lain, dan 5) Pengerjaan tugas/laporan, 6)

Menjawab pertanyaan lisan dari Guru. Observasi terhadap keaktifan

dilakukan pada kelas kontrol dan kelas penelitian. Hasil skor total pada

masing-masing aspek, dapat dlihat seperti pada Tabel 4.5 berikut ini:

  3

  40

  50

  60

  70

  80

  90

  1

  2

  4

  20

  5

  6 Aspek Keaktifan S k o r T o ta l

  Kelas Kontrol Kelas Penelitian Keterangan:

  1. Mengemukakan pendapat

  2. Bertanya pada Guru

  3. Bertanya pada siswa lain

  4. Berdiskusi dengan siswa lain

  5. Pengerjaan tugas/laporan

  6. Menjawab pertanyaan lisan dari Guru

  30

  10

Tabel 4.5. Skor Total Aspek Keaktifan Siswa

  3 Bertanya pada siswa lain

  

Kelas Kontrol dan Kelas Penelitian

No Aspek Keaktifan

  Skor Total Kelas Kontrol Kelas

  Peneitian

  1 Mengemukakan pendapat

  38

  68

  2 Bertanya pada Guru

  50

  66

  53

  84

  75

  4 Berdiskusi dengan siswa lain

  52

  64

  5 Pengerjaan tugas/laporan

  66

  83

  6 Menjawab pertanyaan lisan dari Guru

  46

Gambar 4.4. Grafik Skor Total Aspek Keaktifan Siswa Kelas Kontrol

  51 Berdasarkan Tabel 4.5 dan Gambar 4.4. dapat diketahui bahwa siswa

pada kelas kontrol memiliki tingkat keaktifan lebih rendah dibandingkan

siswa pada kelas penelitian. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa siswa

kelas penelitian lebih aktif dibandingkan dengan siswa kelas kontrol.

  

Persentase siswa yang termasuk dalam kriteria sangat tidak aktif, kurang

aktif, cukup, aktif, sangat aktif dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6. Kriteria Keaktifan Siswa Pada Kelas Kontrol maupun pada Kelas Penelitian

  Kelas Kontrol Kelas Penelitian Kriteria

No. Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase

1 sangat tidak aktif

  1 4,76% 0,00% 2 kurang aktif 14 66,67% 1 4,76% 3 cukup

  5 23,81% 7 33,33% 4 aktif 1 4,76% 11 52,38% 5 sangat aktif 0,00%

  2 9,52% Jumlah 21 100,00% 21 100,00% Berdasarkan Tabel 4.6. di atas, dapat dilihat bahwa pada kelas

kontrol, siswa paling banyak dikategorikan dalam kriteria kurang aktif, yaitu

sebanyak (66,67%). Pada kelas kontrol tidak terdapat siswa yang

dikategorikan dalam kriteria sangat tinggi (0%). Sebaliknya, pada kelas

penelitian sebagian besar dikategorikan dalam kriteria aktif, yaitu sebanyak

52,38 %. Hal ini menunjukkan bahwa siswa pada kelas kontrol cenderung

kurang aktif pada pembelajaran pokok bahasan lensa tipis dengan pengajaran

metode biasa (ceramah), sedangkan untuk siswa kelas penelitian dapat

  52

dikatakan lebih aktif dalam proses pembelajaran pokok bahasan lensa tipis

melalui pengajaran metode penemuan.

  70% a

  60% w is s

  50% h la

  40% m

  Kontrol u J

  Penelitian 30% e s ta

  20% n e rs e 10% P

  0%

  1

  2

  3

  4

  5 Kriteria Keaktifan Keterangan:

  1. Sangat Tidak Aktif

  2. Kurang Aktif

  3. Cukup Aktif

  4. Aktif

  5. Sangat Aktif

Gambar 4.5. Grafik Persentase Jumlah Siswa pada Kategori Keaktifan Untuk membuktikan kebenaran bahwa terdapat perbedaan keaktifan

  

siswa kelas kontrol dan kelas penelitian pada pokok bahasan lensa tipis,

dilakukan pengujian data hasil penelitian dengan menggunakan uji Mann

Whitney.

Tabel 4.7. Hasil Perhitungan Uji Mann Whitney untuk Menguji Perbedaan Keaktifan Siswa

  U hitung U tabel Sig.

  43,00 141 0,000

  53 Dari hasil pengujian hipotesis (tercantum pada Lampiran 7.) diperoleh

hasil seperti yang tersaji pada Tabel 4.7., yaitu bahwa nilai Mann Whitney

hitung (U hitung ) adalah sebesar 43,00 dengan nilai Sig. sebesar 0,000. Oleh

karena nilai U tabel =141, berarti nilai U hitung < U tabel , sehingga keputusannya

adalah menolak Ho. Dengan cara yang lain, oleh karena nilai sig < (α=0,05),

maka diputuskan untuk menolak Ho, yang berarti bahwa terdapat perbedaan

yang signifikan pada keaktifan siswa antara kelas kontrol dan kelas penelitian.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode

penemuan dapat meingkatkan keaktifan siswa kelas X SMA Bopkri II

Yogyakarta dalam proses belajar mengajar, khususnya dalam mata pelajaran

Fisika pada pokok bahasan lensa tipis.

  Dari hasil penelitian yang telah dibahas di atas, secara umum dapat

disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode penemuan (discovery)

mempengaruhi prestasi belajar, minat serta keaktifan siswa kelas X SMA

Bopkri II Yogyakarta dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya pada mata

pelajaran Fisika dengan pokok bahasan lensa tipis. Dengan menggunakan

strategi penemuan, siswa belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang

akan dapat dikembangkannya sendiri.

  Penggunaan metode penemuan menjadikan siswa dapat

mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasaan ketrampilan

dalam proses pengenalan dan kognitif siswa. Hasil ini didukung oleh pendapat

  54 Vernon A. Magnesen (1983) dalam DePorter, dkk., (2000) yang menjelaskan

bahwa kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita

dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar,

70% dari apa yang kita katakan, 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.

  

Artinya seseorang bisa menyerap informasi paling banyak pada saat dia

melakukan atau mempraktekkan materi yang telah diterimanya.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat

  diperoleh kesimpulan bahwa:

  1. Pendekatan metode penemuan (discovery) pada pembelajaran Fisika mempunyai pengaruh yang berarti terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta, yaitu ada peningkatan hasil belajar yang cukup signifikan pada kelas yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan metode penemuan.

  2. Metode penemuan yang diberikan bagi siswa kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta pada pembelajaran fisika mampu meningkatkan minat belajar siswa di kelas, dimana siswa lebih menyukai proses pengajaran, siswa dapat mencerna materi pelajaran, serta lebih berminat untuk mempelajari bidang studi Fisika.

  3. Pendekatan metode penemuan pada pembelajaran Fisika di kelas X SMA Bopkri II Yogyakarta, dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar di kelas, dimana siswa kelas menjadi lebih aktif dalam mengemukakan pendapat, bertanya pada guru, bertanya pada siswa lain, berdiskusi dengan siswa lain, pengerjaan tugas/laporan serta dalam menjawab

  60

B. Saran

  Dengan segala keterbatasannya, maka dari hasil penelitian ini dikemukakan saran sebagai berikut :

  1. Jumlah sampel perlu ditambah dan perlu dilakukan pada jenjang pendidikan lainnya.

  2. Dari sisi teknis pembelajaran, karena kelas dan norma pembelajaran bersifat terbuka maka penggunaan pendekatan penemuan harus dilakukan dengan hati-hati dan cermat, pengelolaan kelas dan waktu harus efisien.

  3. Agar proses pembelajaran lebih bermakna dan terkontrol , maka perlu ada refleksi bersama, baik dengan siswa maupun sesama guru.

  4. Pembelajaran dengan pendekatan ini menuntut kreativitas, inovasi dan semangat guru untuk selalu berpihak pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, untuk itu perlu adanya keberanian dan kerja keras.

  

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dkk,. 1998. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

  Arikunto, S. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. _________ . 2005. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. DePorter, Bobbi., Reardon, Mark, Mourie, Sarah Singer. 2000. Quantum Teaching: Mempraktikkan quantum learning di ruang-ruang kelas.

  Bandung: PT. Mizan Pustaka. Hamalik, O. 1982. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito. Mustikasari, 2007. Artikel Pendidikan: Guru Harus Menjadi Model Dalam

  Penyampaian Materi. http://mustikasari- artikelpendidikan.blogspot.com/2007/06/artikel-matematika.html Roestiyah. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta Rohani, Ahmad.2004. Pengelolaan Pengajaran. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta. Rowe, B.M. 1970. Wait-time and reward as instructional variabel: Influence on inquiry and sense and fate control . New York : Columbia University. Safari, 1997. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Sidharta, Arief. 2000. Model Pembelajaran Asam Basa Berbasis Inkuiri

Laboratorium Sebagai Wahana Pendidikan Sains Siswa SMP . Silverius, Suke. 1991. Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta : PT Grasindo. Singgih. SPSS 10. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta. 2001. Suherman dan Sukajaya. 1990. Evaluasi Pendidikan. Bandung: Wijaya Kusumah. Suryosubroto, B. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Penerbit Tirtarahardja, Umar dan La Sulo. 1999. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Tabrani dan Rusyan. 1989. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: PT Rineka Cipta. Umar, H dkk. 1999. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta. Urbina dan Anastasi. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Bumi Aksara. Van den Berg, Euwe. 1991. Miskonsepsi Fisika dan Remidiasi. Salatiga: UKSW

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan RIZKI DWI JAYANTI NIM 20101112035
0
0
15
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
15
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
17
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
26
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan WAHYU ALAM SARI NIM: 20131111032
0
0
21
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Manajemen
0
0
17
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi
0
0
129
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
0
0
97
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi
0
0
81
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
205
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Show more