Peran Kampanye Bangga (Pride Campaign) Dalam Penguatan Lembaga Adat Pawang Uteun Untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan di Aceh Besar

Gratis

0
31
215
2 years ago
Preview
Full text
PERAN KAMPANYE BANGGA (PRIDE CAMPAIGN) DALAM PENGUATAN LEMBAGA ADAT PAWANG UTEUN UNTUKPENGELOLAAN HUTAN BERKELANJUTAN DI ACEH BESAR ZAKIAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 198 Sekarang kita coba bernyanyi bersama-sama ya. Kuneng akan menemani kita sambil menari dan bertepuk tangan Wah Kuneng senang sekali ya hari ini. Kalian juga senang kan?? bernyayi bersama-sama Kuneng sekarang mau cepat-cepat pulang, dia ingin menceritakan petualangannya hari ini Terima kasih buat semangat dari anak-anak, terima kasih buat sekolah. Mohon maaf kalo ada kata yang salah. Kuneng sebenarnya masih punya banyak hadiah. Kalian bisa mendapatkannya kalo kalian menulis cerita tentang hutan kemukiman Kueh, Lhoknga dan Leupung dan mengirimkannya kepada Kuneng. ceritanya tersebut dapat kalian serahkan kepada guru kalian, nanti kakak akan mengumpulkan cerita-cerita tersebut. Syair lagu anak UTEUN TAJAGA RAKYAT SEUJAHTRA NANGGROE ACEH NYO LEUPAH THAT MEUNGAH ALAM JIEH CIDAH INDAH LAGOINA JAK TA JAK RAKAN TAPULA KAYEE UTEUN TA JAGA RAKYAT SEUJAHTER REFF : UTEUN DENGON GLEE LUAH BUKON LEE…………. JAK TANYO JAGA BEU IE SABENA JAK TAJAK RAKAN TA PEUDONG ADAT UTEUN TA JAGA RAKYAT SEUJAHTRA Kembali ke Reff 2x HALAMAN PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Peran Kampanye Bangga Dalam Penguatan Lembaga Adat Pawang Uteun Untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Di Kabupaten Aceh Besar adalah karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Agustus 2008 Zakiah NRP. 051054175 ABSTRACT This research using Rare Pride methodology. This methodology adopts social marketing approach to solve conservation problems and other social problems. The objectives of this research is to analyze affectivity of pride campaign in improving level of knowledge, attitude and behavior after Pride Campaign implementation for better resources management. Through many kind of intervention during one year Pride Campaign, this campaign succeeded to encourage community behavior change.This behavior change is indicated by ; 90 members of group of forest farmer at Gampong Nusa and Kueh, 24 elite figure (20 men, 4 women) from 6 Villages has common agreement about revitalization custom institution ; Pawang Uteun, 100 Ha community field in Kemukiman Kueh for Peu Udeep Lampoh activity, 3000 Ha customary right for land forest managed by custom intitution : Pawang Uteun. Keyword : Social Marketing, Pawang Uteun, Suistanable Resourcer Management RINGKASAN Zakiah. Peran Kampanye Bangga Dalam Penguatan Lembaga Adat Pawang Uteun Untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Di Aceh Besar. Dibimbing oleh Rinekso Soekmadi dan Burhanuddin Masy’ud. Penelitian tentang Peran Kampanye Bangga Dalam Penguatan Lembaga Adat Pawang Uteun Untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Di Aceh Besar telah dilakukan sejak September 2006 sampai dengan Juli 2008 (22 bulan). Penelitian ini bertujuan pertama untuk mengidentifikasi pengetahuan, perilaku dan sikap masyarakat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan peranan lembaga adat sebelum dan sesudah Kampanye dan yang kedua mengetahui efektifitas penerapan metode Kampanye Bangga dalam peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan penguatan lembaga adat. Selain itu pada akhir penelitian ini juga akan dilihat metode mana yang paling efektif, membandingkan perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat sebelum dan sesudah kampanye di kemukiman Kueh, Lhokga dan Leupung selama 1 tahun menerima Program Kampanye Bangga yaitu dari Februari 2007 samapai dengan Februari 2008. Kemukiman Kueh, Lhoknga dan Leupung yang memiliki total populasi 23,000 jiwa dipilih sebagai lokasi target kampanye karena kawasan ini terletak berbatasan langsung dengan hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat baik itu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya maupun manfaat ekologi. Kampanye ini dilakukan untuk meningkatkan peran dan partisipasi aktif masyarakat di dalam pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan serta berkeadilan dari berbagai kegiatan yang merusak kawasan hutan yang sedang terjadi saat ini baik penebangan, pembukaan lahan dan kebakaran yang dilakukan secara legal maupun illega, yang pada akhirnya akan mendorong perubahan perilaku melalui perbaikan pengetahuan dan sikap masyarakat sasaran. Selain itu juga kawasan ini memiliki dua Daerah aliran Sungai yaitu DAS Kr. Geupu dan DAS Kr. Raba dan air yang mengalir disungai tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian dan industri/ PT. Semen Andalas Indonesia (PeNA 2006). Penelitian ini menggunakan metodologi Kampanye Bangga yang dikembangkan oleh Rare International yaitu metodologi penelitian yang memadukan pendidikan konservasi dengan teknik social marketing. Prosedur kerja Kampanye Bangga terdiri dari 3 tahapan yaitu tahapan perencanaan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan merancang sebuah program Kampanye Bangga yang sesuai dengan kondisi masyarakat target, tahapan pelaksanaan yang bertujuan untuk memberikan perlakuan-perlakuan dalam bentuk kegiatan-kegiatan kampanye guna mendorong perbaikan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat target, serta tahapan evaluasi yang bertujuan untuk mengkaji perubahan perilaku yang terjadi setelah pelaksanaan Kampanye Bangga serta mengkaji bentuk-bentuk pendekatan yang efektif di lokasi pelaksanaan Kampanye Bangga. Dampak dari kerusakan hutan yang nyata dirasakan saat ini adalah jika terjadi hujan maka banjir didaerah tersebut tidak dapat terhindari lagi seperti yang sering terjadi di Lamseunia kemukiman Leupung, gangguan binatang buas (harimau) semakin meningkat dan juga menurunnya debit air sungai pada saat musim kemarau tiba. Maka dari itu melalui kampanye Bangga dengan pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaannya diharapkan akan dapat menyelamatkan kawasan yang mereka miliki salah satunya adalah dengan mengaktifkan kembali peran dan fungsi Lembaga Adat Pawang Uteun sehingga mereka dapat menerapkan kembali kearifan lokal yang mereka miliki. Dengan menggunakan berbagai saluran komunikasi terpercaya seperti tokoh agama, guru, tokoh adat, para pemuda dan anggota keluarga, serta menggunakan berbagai materi komunikasi seperti poster, lembar fakta, lembar dakwah, billboard yang dikemas melalui berbagai bentuk kegiatan maka pada tahun pertama Kampanye Bangga di dikemukiman Kueh, Lhoknga dan Leupung telah berhasil memperbaiki pengetahuan dan sikap masyarakat dimana sebelum dilakukan kampanye masyarakat yang pernah mendengar konservasi sebesar 11, 8% masyarakat yang pernah dengar kata konservasi dan setelah kampanye meningkat menjadi 47, 3 %, kemudian sebelum kampanye masyarakat yang paham arti konservasi yaitu pemahaman “pemanfaatan hasil hutan secara adil dan bijaksana” dari 26,30 % meningkat menjadi 35,6 % (terjadi peningkatan 11 %), “perlindungan hutan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air”, dari 22,8 % sebelum kampanye dan menjadi 39,4 % (jadi meningkat sebesar 17 %). Sistem pengelolaan sumberdaya hutan yang baik juga dapat kita lihat dari keinginan masyarakat untuk ikut dilibatkan secara langsung dalam usaha pengelolaan. Sebelum kampanye dilakukan 40.0 % masyarakat mengatakan “pelibatan mayarakat secara langsung masyarakat akan lebih baik dalam sebuah pengelolaan” dan setelah dilakukan kampanye, persentasenya meningkat menjadi 50,2 %, jadi disini terjadi peningkatan sebesar 10,2 % dimana kontribusi dari kampanye sebesar 71, 56 %. Selain itu keterlibat juga sangat jelas terlihat dari masyarakat baik dalam membantu program kampanye maupun terlibat dalam berbagai pertemuan masyarakat yang dilakukan dan terakhit berhasilnya masyarakat kemukiman Leupung dalam pembuatan peta hutan ulayat seluas 3000 ha yang nantinya akan dikelola oleh lembaga adat Pawang Uteun. Capaian kampanye lainnya yang telah dihasilkan adalah lahirnya 18 kader pemuda konservasi untuk kemukiman Kueh, Lhoknga dan Leupung, 50 orang petani di Kueh menerapkan prinsip ekologi dalam kegiatan peu udeep lampoh, adanya draft kesepakatan masyarakat Kemukiman Lhoknga untuk memfungsikan kembali Pawang uteun. Hasil kajian terhadap bentuk pendekatan yang efektif pada masing-masing kelompok sasaran diperoleh bahwa kegiatan kegiatan kunjungan sekolah sangat efektif untuk menjangkau kelompok sasaran anak-anak, diskusi adat untuk menjangkau para tokoh dan pemuda, kegiatan peu udeep lampoh dan penggunaan meteri cetak. © Hak cipta milik IPB, tahun 2008 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian ini telah dilaksanakan sejak September 2006 – Juli 2008 dan diberi judul Peran Kampanye Bangga Dalam Penguatan Llembaga Adat Aawang Uteun Untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Di Kabupaten Aceh Besar. Terima kasih yang tidak terhingga penulis sampaikan kepada Bapak Dr.Ir. Rinekso Soekmadi M.ScF dan Bapak Dr. Ir. Burhanuddin Masy’ud MS yang telah dengan sabar membimbing penulis selama penelitian ini. Disamping itu terima kasih juga saya sampaikan kepada seluruh tim dosen Program Khusus Pendidikan Konservasi kerjasama IPB dan Rare International, kepada Manajer Kursus Rare Indonesia Hari Kushardanto dan Ni Putu Sariani Wirawan atas asistensi selama pelaksanaan program Kampanye Bangga. Terima kasih juga kepada teman Angkatan 1 Bogor – PIZSA. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Ayahanda M.Najdy (Alm) dan Ibunda Rasyidah (Almh), Juli Ermiansyah Putra, Naufal Phounna Putra JeZ, Yeyen, Ti Hem, serta seluruh keluarga atas segenap cinta dan do’a tulusnya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Banda Aceh pada tanggal 16 Desember 1976 dari Ayah M. Najdy dan Ibu Rasyidah. Penulis merupakan putri bungsu dari delapan bersaudara. Tahun 1995 penulis lulus dari Sekolah Menengah Teknologi Pertanian (SMTP) Jantho Aceh Besar dan pada tahun yang sama lulus seleksi Ujian Masuk Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Tengku Chik Pante Kulu Banda Aceh. Penulis memilih Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Tahun 2006 penulis lulus seleksi Program Pascasarjana Kelas Khusus Pendidikan Konservasi di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. PERAN KAMPANYE BANGGA (PRIDE CAMPAIGN) DALAM PENGUATAN LEMBAGA ADAT PAWANG UTEUN UNTUKPENGELOLAAN HUTAN BERKELANJUTAN DI ACEH BESAR ZAKIAH Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesi pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 HALAMAN PENGESAHAN Judul Penelitian : Peran Kampanye Bangga (Pride Campaign) Dalam Penguatan Lembaga Adat Pawang Uteun Untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan di Aceh Besar Nama : Zakiah NRP : E 051054175 Disetujui Komisi Pembimbing, Dr.Ir. Rinekso Soekmadi,M.ScF Dr.Ir.Burhanuddin Masy’ud, MS Ketua Anggota Diketahui Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana IPB Prof.Dr.Ir. Imam Wahyudi,MS Prof.Dr.Ir. Khairil A. Notodiputro, MS Tanggal Ujian: 25 Agustus 2008 Tanggal Lulus: Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI............................................................................................................ i DAFTAR TABEL.................................................................................................... iii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... iv DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................ vi 1 PENDAHULUAN .................................................................................................1 1.1 Latar Belakang .................................................................................................1 1.2 Perumusan Masalah .........................................................................................3 1.3 Kerangka Pikir .................................................................................................5 1.4 Tujuan Penelitian .............................................................................................8 1.5 Manfaat Penelitian ...........................................................................................8 2 TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................9 2.1 Kampanye Bangga ...........................................................................................9 2.1.1 Pelaksanaan Kampanye Bangga ...............................................................11 2.1.2 Tahap Kampanye Bangga .........................................................................13 2.1.3 Capaian dalam Kampanye Bangga ...........................................................15 2.1.4 Sosial Marketing .......................................................................................17 2.1.5 Perubahan Perilaku ...................................................................................18 2.2 Lembaga Adat .................................................................................................20 2.2.1 Kontrak Sosial...........................................................................................21 2.2.2 Sistem Adat ...............................................................................................22 2.3 Pengelolaan Hutan Berkelanjutan ...................................................................24 3 KEADAAN UMUM LOKASI ............................................................................26 3.1 Kemukiman Kueh, Lhoknya dan Leupung Kabupaten Aceh Besar ...............26 3.2 Deskripsi Kawasan Target ..............................................................................27 3.3 Karakteristik Fisik Target ...............................................................................28 3.3.1 Gambaran Topografi .................................................................................28 3.3.2 Kondisi Geologi ........................................................................................28 3.3.3 Iklim dan Cuaca ........................................................................................29 3.4 Deskripsi umum Ekosistem Kemukiman Kueh Lhoknga dan Leupung.........29 3.4.1 Karakteristik Ekosistem ............................................................................29 3.4.2 Keanekaragaman Hayati ...........................................................................31 3.5 Deskripsi Masyarakat......................................................................................32 3.5.1 Demografi dan Populasi............................................................................32 3.5.2 Ekonomi ....................................................................................................33 3.5.3 Budaya ......................................................................................................33 3.5.4 Keriarifan Lokal dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam..........................35 3.5.5 Situasi Politik ............................................................................................36 3.6 Konservasi Alam dan Kawasan Target ...........................................................37 3.6.1 Sejarah dan Status Kawasan .....................................................................37 3.6.2 Ancaman terhadap Kawasan .....................................................................37 i 4 METODE PENELITIAN.....................................................................................39 4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian ..........................................................................39 4.2 Alat dan Bahan................................................................................................39 4.3 Metode ............................................................................................................40 4.3.1 Penentuan Lokasi dan Responden.............................................................40 4.3.2 Informasi dan Data ...................................................................................42 4.3.3 Tahapan dalam Kampanye Bangga...........................................................43 5 HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................52 5.1 Gambaran Demografi Responden Pra Kampanye .........................................52 5.1.1 Kelompok Target ......................................................................................52 5.1.2 Kelompok Kontrol ....................................................................................53 5.2 Pilihan dan Jenis Media ..................................................................................54 5.2.1 kelompok Target .......................................................................................54 5.2.2 Kelompok Kontrol ....................................................................................57 5.3 Hasil Tahapan Perencanaan .............................................................................58 5.3.1 Studi Literatur ............................................................................................58 5.3.2 Stakeholder Workshop Pertama.................................................................59 5.3.3 Kelompok Diskusi Terfokus ......................................................................62 5.3.4 Survei Pra Kampanye.................................................................................67 5.3.5 Pertemua Stakeholder Workshop Kedua ...................................................69 5.3.6 Menetapkan Sasaran SMART....................................................................70 5.3.7 Flagship Spesies .........................................................................................71 5.3.8 Merancang Kegiatan Kampanye ................................................................74 5.3.9 Menyusun Rencana Kerja ..........................................................................76 5.3.10 Hasil Tahap Pelaksanaan..........................................................................76 5.4 Hasil Analisis Efektifitas dan Implikasi Pendekatan Kampanye Bangga........93 5.4.1 Peningkatan Pengetahuan dan Perubahan Sikap........................................93 5.4.2 Perubahan Perilaku ....................................................................................98 5.4.3 Tinjuan Kritis Kegiatan Kampanye Bangga .............................................102 5.4.4 Bentuk Kegiatan yang Efektif...................................................................111 5.4.5 Bentuk Kegiatan yang Kurang Efektif......................................................113 5.4.6 Rekomendasi .............................................................................................113 6 SIMPULAN DAN SARAN ................................................................................115 6.1 Simpulan .......................................................................................................115 6.2 Saran...............................................................................................................115 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................117 DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................................119 ii DAFTAR TABEL Halaman 1 Perbedaan antara corporate marketing dengan sosial marketing ..........................17 2 Alat –alat untuk penelitian ....................................................................................39 3 Bahan-bahan untuk penelitian...............................................................................40 4 Banyak Gampong dan penduduk yang menjadi fokus penelitian.........................42 5 Contoh matriks stakeholder...................................................................................44 6 Ilustrasi rangking ancaman ...................................................................................46 7 Proporsi tingkat pendidikan Responden kelompok target ....................................53 8 Proporsi jenis pekerjaan kelompok target .............................................................53 9 Stasiun radio favorit menurut pekerjaan responden kelompok target...................56 10 Program acara yang digemari responden kelompok target .................................56 11 Jenis musik yang digemari responden kelompok target .....................................56 12 Jenis kesenian favorit responden kelompok target..............................................57 13 Bentuk-bentuk pendekatan dalam Kampanye Bangga .......................................75 14 Persentase perubahan masyarakat pra dan pasca kampanye...............................97 iii DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Kerangka pemikiran penguatan lembaga adat Pawang Uteun melalui Kampanye Bangga .................................................................................7 2 Proses Kampanye Bangga melestarikan alam (Pride Campaign) ......................13 3 Peta DAS dan wilayah target kampanye bangga ...............................................20 4 Kecamatan Lhoknga sebelum dan sesudah Tsunami 26 Desember 2006..........30 5 Model pemikiran yang dilambangkan dalam pertemuan stakeholder................45 6 Proporsi jenis kelamin responden kelompok target ...........................................52 7 Proporsi tingkat usia responden kelompok target ..............................................52 8 Proporsi jenis kelamin kelompok control ..........................................................53 9 Proporsi tingkat usia responden kelompok control............................................54 10 Kebiasaan mendengar radio kelompok target ....................................................55 11 Kebiasaan membaca koran kelompok target......................................................55 12 Tingkat kepecayaan kelompok target kepada guru............................................57 13 Kebiasaan mendengar radia kelompok kontrol..................................................57 14 Kebiasaan membaca koran kelompok kontrol ...................................................58 15 Peserta stakeholder workshop sedang menyampaikan idenya dengan menggunakan metaplan (kiri) dan fasilitator membantu dalam menyusun faktor ancaman pada stiki wall (kanan) ..................................60 16 Proses pelatihan enumerator (kiri), pelaksanaan survei (kanan)........................68 17 Cempala Kuneng (Copsycus pirrpygus) ............................................................72 18 Poster Uteun Tajaga Rakyat Seujahtra...............................................................77 19 Anak sekolah dasar memakai pin kampanye Bangga ........................................78 20 Lembar fakta yang selalu digunakan dalam setiap diskusi masyarakat.............79 21 Lembar dakwah..................................................................................................79 22 Stiker Kampanye Bangga...................................................................................80 23 Buku tulis Kampanye Bangga............................................................................80 24 Meja belajar Kampanye Bangga ........................................................................81 25 Masyarakat dengan tim kampanye sedang membaca peta dasar yang dijadikan landasan pada saat pembuatan peta hutan ulayat ...............................85 26 Diskusi kelompok tani Mukim Kueh .................................................................87 Halaman iv 27 Para peserta workshop guru sedang membuat draft kunjungan sekolah............88 28 Seorang pelajar sedang membaca cara menjaga hutan bersama Si Kuneng ......89 29 Kegiatan sahabat alam, guru dan murid sedang melakukan penanaman ...........90 30 Penyerahan hadiah kepada pemenang lomba lukis lingkungan.........................92 31 Foto bersama, peserta dan pemateri pada kegiatan pelatihan kader konsevasi ..................................................................................................93 32 Grafik responden kelompok target yang merasa tahu arti konservasi ...............94 33 Grafik responden kelompok kontrol yang merasa tahu arti konservasi.............94 34 Pemahaman masyarakat target mengenai makna konservasi.............................95 35 Pemahaman kelompok kontrol mengenai makna konservasi ............................95 36 Kegiatan penebangan berdampak pada ketersediaan air (kelompok target dan kontrol) ..............................................................................................................96 37 Pelibatan masyarakat secara langsung sebagai sistem pengelolaan yang baik (kelompok target dan kontrol) ..........................................................100 38 Pembukaan lahan berpengaruh pada penerunan debit air sungai (kelompok target dan kontrol)...........................................................................101 v DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Tabel matrik pemangku kepentingan ...................................................................119 2 Tabel pertanyaan yang digunakan pada saat FGD...............................................123 3 Gambar model konsep .........................................................................................125 4 Rencana kerja Kampanye Bangga .......................................................................126 5 Rencana monitoring .............................................................................................161 6 Ringkasan materi yang diproduksi.......................................................................165 7 Kostum Cempala Kuneng ....................................................................................166 8 Ringkasan kegiatan Kampanye yang sudah dilakukan ........................................167 9 Peta Hutan Ulayat ................................................................................................170 10 Lembar kuesioner survei ....................................................................................171 11 Skenario panggung boneka ................................................................................185 12 Lembar evaluasi kunjungan sekolah ..................................................................189 13 Siaran pers..........................................................................................................190 14 Format kegiatan kunjungan sekolah dasar .........................................................191 vi I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hukom (baca hukum) adat tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh dan sepanjang pelaksanaannya tidak bertentangan dengan syari’at Islam maka perlu dipelihara dan dilestarikan. Hukom adat oleh masyarakat Aceh sudah dilaksanakan secara turun temurun, dihormati dan dipatuhi meskipun tidak tertulis (Syarif 2005). Sejak zaman Sultan Iskandar Muda, masyarakat Aceh telah memiliki kearifan tradisional dalam berbagai hal, begitu juga dalam pengelolaan sumber daya alam. Baik itu dalam hal pemanfaatan maupun tata kelola sumber daya alam yang mereka miliki dan pertahankan. Pandangan indatu (nenek moyang) yang menyiratkan hukom ngon adat lagee zat ngon sifet (hukum dan adat bagaikan zat dengan sifat yang artinya tidak dapat dipisahkan), sangat dipegang teguh. Salah satu contoh dapat kita baca dalam sejarah Aceh yaitu mengenai aturan pengelolaan sumberdaya alam yang ada, misalnya hutan. Pawang Uteun adalah sebuah lembaga adat lokal yang ada di Aceh dan secara stuktural berada dibawah lembaga adat Mukim yang diketuai oleh seorang Imum Mukim. Lembaga Pawang Uteun diketuai oleh seorang ketua yang biasa disebut Panglima Uteun atau Peutua Uteun atau juga Pawang Uteun. Pawang Uteun di angkat dan dipilih melalui musyarah gampong (baca desa) karena memiliki kemampuan dan mengerti seluk beluk hutan. Pada masa dulu Pawang Uteun dipilih karena dia memiliki kemampuan khususnya dalam menangkal jin dan menjinakkan binatang buas, sehingga disebut Pawang. Selain itu dia juga memiliki tugas dan wewenang khusus yang berkaitan dengan hutan. Tugas dan wewenang ini diantaranya : 1. Menegakkan adat hutan (uteun/gle) 2. Menentukan masa berburu 3. Mengawasi agar pohon-pohon yang dilindungi oleh adat tidak ditebang, seperti pohon ara ditepi sungai, pohon kayu tempat lebah madu bersarang 4. Menyelesaikan sengketa yang terjadi antara pengumpul hasil hutan di wilayah Uteun/Gle 2 5. Menjaga pelestarian hutan dan tanaman pelindung sumber mata air Akan tetapi dengan diberlakukannya UU No 5 tahun 1979 tentang pemerintahan desa, ruang bagi kehidupan adat menjadi sempit sehingga menyebabkan penurunan fungsi serta peran dari lembaga adat yang ada di Aceh. Fungsi beberapa jabatan pemangku adat menjadi tidak berjalan bahkan hilang [seperti Imum mukim, Petua Seunebok (petua kebun), Pawang Uteun (petua hutan) dan beberapa lembaga lainnya]. Dengan kata lain, hak-hak warga negara secara hukum adat yang pernah hidup subur dikalangan warganya layu kembali karena sudah tercabut dari akarnya. Hukum adat diperlakukan sebagai pelengkap saja mendampingi hukum nasional yang diadopsi dari hukum sipil Barat (Syarif 2005) Upaya untuk memperkuat kembali lembaga adat yang perlu dilakukan, salah satunya adalah lembaga adat Pawang Uteun sebagai lembaga yang mengurus dan mengatur pengelolaan kawasan hutan dan memiliki tugas dan kewenangan tersendiri seperti telah disebutkan diatas. Memperkuat kembali sistem adat, baik berupa aturan maupun kelembagaan tidak dapat dilakukan dengan serta merta dan tergesa-gesa akan tetapi memerlukan proses atau tahapantahapan agar dapat dicapai kesepakatan yang utuh melalui mufakat. Salah satu cara yang harus ditempuh untuk memperkuat kembali sistem adat ditingkat mukim adalah melakukan kontrak sosial baru. Selanjutnya kesepakatankesepakatan yang telah dihasilkan harus dideklarasikan kepada segenap warga dan instansi terkait (Juned 2002). Namun demikian, harapan kearah kembalinya terbentuk sistem pemerintahan dan sistem peradilan asli menurut hukum adat mulai muncul. Hal ini tersirat dalam pasal 2 Undang-Undang No 18 tahun 2001 tentang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang menetapkan Gampong dan Mukim sebagai badan pemerintahan dibawah Camat. UU tersebut menyatakan bahwa kedua lembaga itu sebagai persekutuan masyarakat hukum. Selain itu ada juga adanya Qanun No 4 Tahun 2003 tentang pemerintahan mukim sehingga membuat masyarakat semakin kuat untuk kembali kepada hukum adat indatu. Memperhatikan fakta dari kajian tersebut, maka sangatlah mendesak untuk melakukan sebuah rencana aksi untuk mendukung konservasi hutan ulayat 3 melalui penguatan lembaga adat di Kemukiman Kueh, Lhoknga, dan Leupung. Metodologi Kampanye Pride (Kampanye Bangga Melestarikan Alam—untuk selanjutnya akan disebut Kampanye Bangga) dengan pendekatan sosial marketing merupakan cara yang dipilih untuk meningkatkan peran dan partisipasi aktif masyarakat di dalam pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan serta berkeadilan. Kampanye Bangga ini ditargetkan bagi setidaknya 23,000 jiwa di Kemukiman Kueh, Lhoknga dan Leupung. Kampanye Bangga ditujukan untuk mendorong perubahan perilaku melalui perbaikan pengetahuan dan sikap masyarakat sasaran (PeNA 2006). Kelebihan metode Kampanye Bangga adalah bentuk pendidikan konservasi yang menggunakan teknik pemasaran sosial, memiliki beragam bentuk pendekatan yang bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat serta dapat direplikasikan. Teknik pemasaran sosial yang dikembangkan oleh Rare ini telah direplikasikan dan sukses mengurangi permasalahan konservasi di lebih 40 negara (Rare 2006). Metode pendidikan konservasi ini disebut dengan Kampanye Bangga karena kampanye ini akan menginspirasikan orang untuk memiliki kebanggaan terhadap sumber daya alam yang mereka miliki dan mendorong mereka untuk menghargai dan melindungi sumber daya alam yang dimiliki tersebut, termasuk sistem kelembagaan sosial seperti Pawang Uteun yang berperan penting dalam pengelolaan dan pelestarian sumberdaya hutan. 1.2 Perumusan Masalah Beberapa kegiatan yang berlangsung di dalam dan sekitar kawasan hutan Kueh, Lhoknga dan Leupung cenderung mengancam kelestarian ekosistem hutan yang terdapat di wilayah utara barat daya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ini. Kegiatan berupa penebangan liar, pembukaan lahan, galian C, kebakaran hutan, dan gangguan binatang merupakan ancaman yang langsung mempengaruhi kelestarian hutan di Kueh, Lhoknga dan Leupung ini. Berdasarkan tiga kriteria dampak ancaman (Area, intensitas dan urgensi) dapat diidentifikasi 3 ancaman terbesar bagi ekosistem ini: peringkat pertama adalah penebangan liar, kedua kebakaran hutan, dan ketiga yaitu alih fungsi lahan (PeNA 2006). 4 Maraknya kegiatan penebangan liar didorong oleh tuntutan kebutuhan ekonomi, kurangnya sosialisasi tentang pemanfaatan sumberdaya hutan secara berkelanjutan dari instansi terkait dan juga karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat akan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut. Rendahnya pendapatan masyarakat (terutama belum pulihnya perekonomian pasca tsunami) serta masih terpakunya masyarakat pada pemenuhan kebutuhan hidup dasar memberikan kontribusi terhadap meningkatnya aktifitas yang mengancam kelestarian ekosistem hutan dalam bentuk-bentuk kegiatan sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Rendahnya penerapan serta penegakan hukum dan juga tidak berfungsinya lembaga adat, maka kegiatan-kegiatan ilegalpun dilakukan dengan sangat terbuka seperti penebangan, pembukaan lahan, pembakaran lahan dan hutan. Hasil survei yang dilakukan Yayasan Peduli Nanggroe Atjeh pada tahun 2006 menemukan bahwa adanya keinginan yang besar dari masyarakat untuk kembali mengaktifkan lembaga adat lokal yang mereka miliki dengan menerapkan kearifan lokal yang sudah pernah ada guna melindungi kawasannya. Menurut Primark (2005), jika ditinjau dari ilmu ekologi populasi maka punahnya suatu jenis tumbuhan atau hewan akan menggangu sistem rantai makanan dan menganggu keseimbangan ekologi secara global. Untuk mendorong perubahan perilaku di masyarakat maka perlu juga dilakukan upaya peningkatan pengetahuan dan memperbaiki sikap positif masyarakat tentang pola pengelolaan sumber daya alam yang lebih baik (Sarwono 2002). Untuk menyikapi berbagai masalah yang terjadi itu maka akan dijawab dengan mendorong perubahan perilaku masyarakat di sekitar kawasan hutan dengan menggunakan metode pendidikan konservasi dengan sistem social marketing yang disebut Kampanye Bangga. Metode ini telah direplikasikan di banyak tempat di seluruh dunia dan terbukti telah mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Oleh karena itu pertanyaan penelitian yang harus dijawab adalah: Apakah Kampanye Bangga dengan teknik social marketing juga efektif mendorong perubahan perilaku masyarakat di Kemukiman Keuh, Lhoknga dan Leupung, Kabupaten Aceh Besar. 5 1. Mengetahui bagaimana pengetahuan masyarakat tentang fungsi hutan. 2. Mengetahui bagaimana sikap masyarakat tentang peran / fungsi lembaga adat sebelum dan sesudah kampanye 3. Bagaimana sikap masyarakat tentang pola pengelolaan hutan bersama. 4. Bagaiman sikap masyarakat terhadap pengaktifan kembali lembaga adat lokal. 5. Bagaimana bentuk perubahan perilaku yang dihasilkan dari Kampanye Bangga (dalam hal ini aksi dan keterlibatan masayrakat). 1.3 Kerangka Pemikiran Kerangka pemikiran ini didasari atas kondisi hutan Kemukiman Kueh, Lhoknga dan Leupung yang merupakan salah satu sumber mata pencaharian masyarakat selain juga nilai ekologi yang dimiliki, yang terancam oleh berbagai kegiatan penebangan, kebakaran hutan dan alih fungsi lahan. Berbagai ancaman tersebut telah menyebabkan menurunnya kualitas hutan sebagai tempat hidup berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Akibat lanjutan dari kerusakan hutan tersebut adalah terjadinya banjir, meningkatnya ganguan binatang semakin meningkat dan berkurangnya debit air sungai yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan. Melemahnya peran dan fungsi lembaga adat Pawang Uteun juga sangat berpeluang untuk terjadinya kerusakan hutan di kawasan tersebut, karena kearifan lokal yang mereka miliki tidak dapat diterapkan untuk melindungi kawasan. Melihat kondisi diatas, maka diperlukan suatu usaha pengelolaan terhadap kawasan dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan secara langsung dalam lembaga adat Pawang Uteun yang mereka miliki sehingga dapat menerapkan kembali aturan dan kearifan yang ada di masyarakat. Lembaga adat merupakan milik masyarakat dengan aturan yang mereka sepakati bersama, dan dengan rasa kepemilikan yang mereka punyai maka keinginan untuk melindungi juga akan menjadi lebih besar. Penguatan Lembaga Adat Pawang Uteun ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara salah satunya adalah melalui metode Kampanye Bangga Melestarikan Alam (Pride Campaign). Kampanye Bangga adalah sebuah 6 metodelogi yang memadukan pendidikan konservasi konvensional dengan teknik pemasaran sosial yang bertujuan untuk perubahan perilaku yang di kembangkan oleh Rare Internasional. Laju kerusakan sumberdaya alam yang terjadi di kemukiman Kueh, Lhoknga dan Leupung akan ditangani melalui kegiatan pendidikan konservasi dengan berbagai aksi, materi dan juga pendampingan guna peningkatan pengetahuan, perubahan sikap dan perilaku masyarakat terhadap upaya konservasi. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan ini akan mendorong terjadinya peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat sehingga pada akhirnya lembaga adat yang mereka miliki dapat berperan aktif kembali dan mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Dengan perbaikan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tersebut dalam pengelolaan hutan maka akan memberi dampak positif bagi keberlanjutan hutan sebagai penghidupan bagi masyarakat sekitar kawasan (Setiana 2005). Pada Gambar 1 di bawah ini dapat dilihat kerangka pemikiran penelitian yang akan dilakukan di Kemukiman euh, Lhoknga dan Leupung dengan Kampanye Bangga. 7 Hutan Kemukiman Kueh, Lhoknga dan Leupung Penebangan Pembukaan Lahan Kebakaran -Hilangnya Peran dan Fungsi Lembaga Adat Lokal -Masyarakat tidak dilibatkan Aktif dalam Pengelolaan Degradasi Hutan Pengelolaan Hutan Penguatan Lembaga Adat Penerapan Kearifan Lokal Kampanye Bangga - Penggunaan Materi Cetak - Pendampingan - Pelatihan - Aksi Pengetahuan Sikap Perilaku - Kuatnya Lembaga Adat - Pengakuan terhadap peran dan fungsi Lembaga Adat Gambar 1 Kerangka pemikiran penguatan Lembaga Adat Pawang Uteun melalui Kampanye Bangga 8 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah : 1. Mengidentifikasi pengetahuan, perilaku dan sikap masyarakat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dan peranan lembaga adat sebelum dan sesudah Kampanye. 2. Mengetahui efektifitas penerapan metode Kampanye Bangga dalam peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan penguatan lembaga adat. 1.5. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai konservasi dan masukan bagi upaya penguatan Lembaga Adat untuk mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan, melalui teknik social marketing. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kampanye Bangga Kalau kita bicara tentang kampanye orang pasti akan berpikir dan membayangkan seseorang yang berdiri diatas podium dan menyampaikan orasinya sehingga audien akan memilih seorang pemimpin ataupun satu partai yang akan dan dapat mewakili aspirasi mereka untuk sesuatu hal, itulah yang biasa dilakukan oleh seorang calon pemimpin ataupun sebuah partai. Masyarakat sudah sangat akrab dengan istilah kampanye, karena semua calon kandidat atau partai mulai berjualan (jual diri/partai) supaya dapat memenangkan sebuah pemilihan. Memang kampanye itu adalah merupakan suatu kegiatan penjualan karena dia selalu dikaitkan dengan pemasaran. Untuk menjual sesuatu kita memang memerlukan kampanye sehingga orang tahu apa yang akan dijual. Penjualan /pemasaran tidak hanya bisa dilakukan pada barang tetapi juga pada jasa, itulah yang dilakukan Rare International untuk memfasilitasi program pendidikan konservasi guna mendapatkan perubahan perilaku yang disebut dengan Kampanye Bangga Melestarikan Alam (Pride Campaign). Pendekatan yang dilakukan pada Kampanye Bangga Melestariakan Alam adalah pendekatan pemasaran sosial untuk menjual produk yang diberi nama perubahan perilaku. Perubahan perilaku yang diharapkan nantinya adalah adanya perubahan perilaku kearah yang lebih baik dalam mengelola sumber daya alam sehingga mereka dapat memanfaatkannya secara berkelanjutan yang dirancang dengan baik sehingga semua orang dapat menerimanya dengan mudah. Hal paling penting dalam metode yang digunakan teori perubahan adalah kondisi-kondisi yang harus dipenuhi maupun yang tidak mutlak diperlukan dalam mencapai hasil jangka panjang yang diinginkan. Teori perubahan ini menggunakan pemetaan ke belakang, yang mengharuskan orang untuk berpikir mundur ke belakang mulai dari sasaran jangka panjang hingga ke sasaran terdekat saat itu, kemudian ke perubahan di awal-awal yang dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan yang diinginkan. Langkah tersebut akan menciptakan sejumlah hasil yang berkaitan satu sama lain, yang dikenal dengan istilah “alur 10 perubahan (a pathway of change)”. Secara grafik, sebuah “alur perubahan” mewakili proses perubahan, karena alur itulah yang dipahami oleh para perencana dan merupakan rangka di mana elemen-elemen teori lainnya dikembangkan. Langkah tersebut seperti flowchart mundur yang membantu memberikan gambaran tentang apa saja yang diperlukan untuk bisa mencapai sasaran utama dari yang direncanakan. Sama seperti yang dilakukan oleh banyak pihak yang dengan latar belakang pihak komersil menjual berbagai produknya. Begitu juga yang dilakukan oleh Kampanye Bangga Melestarikan Alam yang juga memiliki berbagai macam pendekatan yang digunakan untuk menjual produknya. Maka setiap masyarakat/ orang akan memiliki dan memilih sendiri pendekatan yang ditawarkan sehingga mereka memiliki ketertarikan yang berbeda pula terhadap masing-masing pendekatan. Dalam dunia pemasaran komersil ada satu hal yang diyakini oleh para penjual bahwa ketika orang sudah mau melihat, mendengar, atau membicarakan tentang sebuah produk yang dijualnya walaupun belum membelinya maka itu adalah kemenangan. Kampanye Bangga Melestarikan Alam merupakan perpaduan antara pemasaran sosial dan pengelolaan adaptif sehingga memiliki tujuan untuk memberikan perubahan dalam perilaku dan memiliki tujuan konservasi (Kushardanto 2008). Kegiatan-kegiatan yang telah dirancang dalam tahap awal kampanye harus dievaluasi untuk menilai efektivitasnya. Menurut Kushardanto (2008) dalam memantau efektivitas kegiatan maka ada setidaknya 3 elemen penting yang harus ditinjau yaitu Process Monitoring, Performance, dan Outcome Monitoring. Asumsi dasar (based assumption) pada sosial marketing diindikasikan dengan mengukur perilaku masyarakat. Untuk menuju pada titik perubahan sosial, ukuran perilaku komunitas juga menjadi dasar untuk membangun aktivitasaktivitas perubahnya. Ujung dari aktivitas (disebut sebagai targeting) dalam sosial marketing adalah tumbuhnya kesadaran (awareness) yang berdampak pada aksi mobilisasi komunitas. Program kampanye bangga ini adalah suatu perkawinan antara pendidikan konservasi secara tradisional dan tehnik-teknik sosial marketing yang bertumpu 11 kepada perubahan perilaku. Kampanye bangga membangkitkan perluasan advokasi publik dan tekanan dari orang-orang yang dikenal (peer pressure) untuk mendorong perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku. Keunggulan dari kampanye Bangga ini adalah dia selalu dilakukan melalui suatu kombinasi teknik akar rumput (grassroot) dan mass marketing, bervariasi dari lagu yang menarik mengenai spesies kunci sampai dengan lembar khotbah mesjid dan panggung boneka. Kampanye ini membangkitkan dukungan luas bagi ekosistem yang dilindungi ditingkat lokal maupun nasional. Kampanye Bangga selalu dilakukan ditingkat lokal oleh pendidikan konservasi. Sasaran dari Kampanye Bangga, spesies kunci, dan kelompok sasaran kemudian secara hatihati dipilih untuk mengatasi masalah yang spesifik. 2.1.1 Pelaksanaan Kampanye Bangga 1) Pemilihan Manajer Kampanye Kunci kesuksesan seorang Manajer kampanye adalah kemauan untuk belajar dan bekerja keras, dan untuk mengambil kebanggaan pribadi dalam pekerjaannya. Antusiasme sulit untuk diukur, akan tetapi elemen penting dalam kesuksesan suatu Kampanye Bangga. Manajer Kampanye harus mampu berinteraksi dengan berbagai tingkat stakeholder (mulai dari petani atau nelayan, guru, pelaku bisnis dan staf pemerintah), dan memotifasi mereka untuk mengambil aksi. Idealnya, calon Manajer Kampanye lahir (atau setidaknya tinggal) disasaran kampanye. Manajer Kampanye yang berpotensial harus mendapatkan setidaknya tingkat pendidikan diperguruan tinggi dan bekerja penuh untuk organisasi yang akan menandatangani Memo Kesepakatan (MOU) dengan RARE. Manajer Kampanye harus bekerja secara khusus untuk Kampanye Bangga ini selama 18 bulan. 2) Pelatihan Manajer Kampanye berpartisipasi dalam pelatihan diperguruan tinggi sebelum dan sesudah kampanyenya. Program perguruan tinggi ini – saat ini dikembangkn secara bersama dengan University of Kent at Cantebury (UKC) di Inggris dan University of Guadalajara’s Centro de la Costa Sur ( CUCSUR), dan Institut Pertanian Bogor (IPB) termasuk dua tahap pengaran formal di universits- 12 universitas tersebut dimana Manajer Kampanye akan mendapatkan latar belakan dan prinsip atau teknik mengenai ekologi, pendidikan, evaluasi dan pemasaran konservasi. Bagian terpentingnya adalah Kampanye itu sendiri, diaman Manajer Kampanye mengembangkan dan melaksanakan secara penuh Kampanye di kawasannya. Melalui keberhasilan pada tahap pendidikan dan implementasi di kawasannya, Manejer Kampanye akan menerima pengakuan dan sertifikat/ijazah dari perguruan tinggi tersebut. 3) Perencanaan Dibelakang setiap poster dan pin adalah suatu sasaran konservasi yang nyata. Memahami suatu kawasan dan masyarakat yang tinggal di dan sekitarnya adalah kunci untuk mengatasi ancaman atau masalah. Kampanye ini menyadari bahwa keberhasilan didasari oleh perencanaan yang hati-hati, identifikasi dan manfaat dari pelaku yang berkelanjutan, analisa kelompok sasaran, serta perancangan strategi komunikasi, dan pengembangan pesan kunci secara hati-hati. Setiap Kampanye dimulai dengan suatu penilaian kawasan secara lengkap dan tahap pengumpulan data. Hasilnya membantu Manejer Kampanye dan pengawasnya (supervisor) untuk membuat sasaran yang dapat diukur dan spesifik dalam mengurangi ancaman keanekaragaman hayati (misalnya, meningkatkan 25% jumlah penduduk di kawasan yang mengadopsi teknik pertanian yang berkelanjutan). Manejer Kampanye bekerja dekat dengan staf setempat dan anggota masyarakat untuk merancang Kampanyeny, termasuk spesies sasaran, populasi sasaran, dan pesan-pesan pendidikan, sehingga kampanye mendukung sasaran konservasi kawasan yang lebih luas. 4) Pelaksanaan dan Evaluasi Melalui serangkaian lebih dari 26 kegiatan yang menarik, kampanye akan menggunakan semua media untuk menyiarkan pesan-pesannya mulai dari lembar fakta (fact sheet), stiker dan papan iklan (billboar) sampai dengan teknik massmarketing lainnya ( lagu kampanye, ilkan TV dan radio, artikel disurat kabar dan video musik), presentasi sekolah, pesta rakyat, lembar dakwah dan panggung boneka. Seluruh lapisan di populasi sasaran akan dijangkau mulai dari petani, pemburu atau nelayan, sampai dengan pemuka agama, guru, pemerintah, penegak hukum dan anak sekolah. Setiap kampanye diukur dan dievaluasi. Teknik dan 13 prosedur pemantauan atau monitoring dipilih berdasarkan pertanyaan yang perlu dijawab dan berapa lama serta dana yang tersedia untuk melaksanakannya. 2.1.2 Tahap Kampanye Bangga Untuk melakukan sebuah Kampanye Bangga harus melalui beberapa tahap mulai dari pemilihan manejer, pelatihan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Seorang manejer kamapanye harus mempunyai kemauan untuk belajar dan bekerja keras, itulah yang disebut dengan kunci kesuksesan manajer kampanye.Setelah melalui pemilihan calon manajer kampanye, maka simanajer harus mengikuti palatihan di sebuah universitas yang telah dipilih dalam hal ini Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mendapatkan berbagai macam materi yang akan membantu saat pelaksanaan kampanye. Kemudian setelah mengikuti pelatihan selama 11 minggu di kampus IPB Manajer kembali ke wilayah kerjanya untuk melakukan implementasi (pelaksanaan kampanye). Sebelum kampanye dilaksanakan manajer membuat sebuah rencana kerja yang dilakukan bersama-sama dengan masyarakat dampingan, baru setelah itu melaksanakan kampanye yang diakhiri dengan evaluasi terhadap capaian yang dihasilkan. Detailnya dapat kita lihat pada gambar dibawah ini. LANGKAH-LANGKAH PRIDE 11-minggu pelatihan di IPB Stakeholder workshop Focus Group Discussions Community (Pre) Survey Sasran SMART dan Rencana Laporan Akhir dan kembali ke IPB Studi Pustaka

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisis Yuridis Putusan Lembaga Adat Aceh Dalam Penyelesaian Sengketa Pembagian Warisan Di Kota Banda Aceh
6
89
155
Tinjauan Yuridis Terhadap Hak Waris Istri Dalam Perkawinan Siri Pada Masyarakat Adat Aceh Di Kecamatan Darul Imarah Mukim Daroy/Jeumpet Desa Garot Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh
2
149
137
Pengelolaan Perkebunan kakao Rakyat Berkelanjutan Melalui Program Organik Berbasis Masyarakat di Serukei Aceh Utara
3
61
73
Efektifitas Putusan Lembaga Adat Aceh Dalam Penyelesaian Sengketa (Studi Di Lembaga Adat Aceh Tinggkat Gampong Di Kabupaten Aceh Besar)
4
139
125
Peranserta Masyarakat Dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Di Kecamatan Serba Jadi Kabupaten Aceh Timur
1
24
81
Keanekaragaman dan Konservasi Vegetasi Hutan Gunung Sinabung Untuk Pembangunan Berkelanjutan
0
30
31
Model Pengelolaan Hutan Agroforestri Ditinjau Dari Perpektif Hukum Lingkungan Untuk Pembangunan Hutan Berkelanjutan
1
52
8
Penguasaan Atas Pengelolaan Hutan Adat Oleh Masyarakat Hukum Adat (Mukim) Di Provinsi Aceh
16
179
457
Kedudukan Gadai Adat Tanah Sawah Di Kabupaten Aceh Besar
0
63
3
Kajian Sistem Pengelolaan Hutan Alam Dalam Kawasan Hutan Produksi
1
74
14
Peran Hutan Dalam Mereduksi Pemanasan Global
1
52
20
392 Peran Koperasi Dalam Upaya Penguatan Kelembagaan Petani di Kecamatan Arongan Lambalek KabupatenAcehBarat
0
0
8
BAB II LEMBAGA ADAT ACEH SEBAGAI TEMPAT MENYELESAIKAN SENGKETA PEMBAGIAN WARISAN A. Pengertian Adat dan Masyarakat Adat - Analisis Yuridis Putusan Lembaga Adat Aceh Dalam Penyelesaian Sengketa Pembagian Warisan Di Kota Banda Aceh
0
0
49
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Analisis Yuridis Putusan Lembaga Adat Aceh Dalam Penyelesaian Sengketa Pembagian Warisan Di Kota Banda Aceh
0
0
33
Kesatuan Pengelolaan Hutan: Sebuah Kajian Rencana untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan di Sumatera Utara
1
1
8
Show more