Tindak tutur ilokusi dalam novel La Barka karya NH. Dini

Gratis

0
1
111
2 years ago
Preview
Full text

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Sepertidikemukakan oleh Aminuddin (1987:88), bahwa penutur adalah 1) individu yang melakukan proses kreatif dan sebagai manusia ia memiliki dunia pengalamanpengetahuan tentang wujud dunia luar dan nilai sosial budaya, 2) pengolah ide yang membuahkan butir-butir preposisi sebagai pembentuk unit pesan yang disampaikandengan bertumpu pada konvensi sastranya dan sebagai pemapar hasil pembahasan pesan. Upaya mengungkap berbagai jenis tindak ilokusi itu beranjak dari keyakinan peneliti bahwatuturan-tuturan yang ada dalam novel bukanlah tuturan tanpa maksud (yang bersumber dari diri si penutur) dan mungkin terjadi maksud tuturan itu sesuai denganmaknanya (secara semantis) dan mungkin juga tidak sesuai (berlainan).

1.5 Batasan Istilah

  Pragmatik : merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang menempatkan tindak tutur sebagai dasar untuk menelaah penggunaan bahasa dalam kontekstertentu. Tindak tutur : Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di dalam pragmatik.

1.6 Sistematika Penyajian

  Bab ini berisi seputar tinjauan terhadap penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang saat ini sedang dilakukan oleh peneliti. Bab lima adalah bab penutup yang berisi kesimpulan mengenai hasil penelitian, dan saran-saran.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab ini, akan disampaikan beberapa kajian pustaka yang mengkaji novel

  dari sudut pandang ilmu pragmatik. Kajian tersebut berupa laporan penelitian, teori- teori, serta konsep-konsep yang digunakan sebagai landasan kerja penelitian yangrelevan dengan topik tulisan ini.

2.1 Penelitian yang Relevan

  Wijana (1996) dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Pragmatik membahas mengenai situasi tutur, tindak tutur dengan berbagai jenis yangmenyangkut ilmu pragmatik. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan di atas penelitian tentang tindak tutur sudah pernah dilakukan, akan tetapi penelitian yang menelitituturan dalam novel sebagai sumber penelitian belum banyak dilakukan .

2.2 Kajian Teori

Konsep-konsep teori yang digunakan dalam penelitian ini mencakupi: (1) pengertian pragmatik; (2) tindak tutur; (3) konteks; (4) jenis tindak tutur; (5) fungsitindak ilokusi.

2.2.1 Pengertian Pragmatik

  Hal tersebut dapat dihubungkan karena dalam berkomunikasi manusia selalu menggunakan bahasa baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan yang memilikimaksud yang perlu ditafsirkan. Kajian tersebut bertujuan untuk memahami maksud penutur, karena secara umum bahasa yang digunakan untukberkomunikasi selalu memiliki maksud yang sesuai dengan konteks, sehingga dapat dipahami oleh mitra tutur.

2.2.2 Konteks

  Konteks adalah bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Konteks ini meliputi penutur dan petutur, tempat, waktu, dan segalasesuatu yang terlibat di dalam ujaran tersebut.

2.2.3 Tindak Tutur

  Dalam analisis pragmatik objek yang dianalisis adalah objek yangberkaitan dengan penggunaan bahasa dalam peristiwa komunikasi, yaitu berupa ujaran atau tuturan yang yang diidentifikasikan maknanya dengan menggunakan teoripragmatik. Rumusan tersebut merupakan simpulan dari dua pendapat, yaitu pendapat Austin (1962) dan Gunarwan(1994:43) yang menyatakan bahwa mengujarkan sebuah tuturan dapat dilihat sebagai Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tindak tutur adalah suatu tindakan bertutur yang memiliki maksud tertentu yang dapatdiungkapkan secara eksplisit maupun implisit.

2.2.4 Jenis Tindak Tutur

  Pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari yang berupa tindakan bertutur tidak terbatas jumlahnya, karena setiap hari seseorang tidak dapat dipisahkan darikegiatan berkomunikasi, sehingga tindakan bertutur selalu digunakan untuk menyampaikan gagasan atau pesan untuk berkomunikasi dengan orang-orang disekitarnya. Meskipun demikian para ahli dapat mengklasifikasikan tindak tutur tersebut dalam berbagai jenis tindak tutur yang dikelompokkan berdasarkan jenistuturannya, kategori, modus dan sudut pandang kelayakan pelakunya.

2.2.4.1 Tindak Lokusi

  Pernyataan tersebut sama dengan Rustono (1999:35) bahwa lokusi atau lengkapnya tindak lokusi merupakan tindak tutur yang dimaksudkan untukmenyatakan sesuatu. Pernyataan yang diajukan berkenaan dengan lokusi ini adalah apakah makna tuturan yang diucapkan itu.

2.2.4.2 Tindak Ilokusi

  Tindak ilokusi tidak mudah diidentifikasi,karena tindak ilokusi berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan dan di Leech (dalam Rustono 1999:38) menjelaskan bahwa untuk mempermudah identifikasi ada beberapa verba yang menandai tindak tutur ilokusi, antara lainmelaporkan, mengumumkan, bertanya, menyarankan, berterimakasih, mengusulkan, mengakui, mengucapkan selamat, berjanji, mendesak, dan sebagainya. Berikut adalahtindak tutur ilokusi: 1) “Sejak kau datang, aku menjadi nomor dua di antara orang-orang yang bangun pagi di rumah i ni.” (hal.27) 2) “Di pasar ada ikan basah yang segar dan tidak mahal.“ (hal.

1. Tindak Tutur Representatif (asertif)

  Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan menunjukkan, menyebutkan, memberikan kesaksian, berspekulasi. Dari segi sopan santun, ilokusi-ilokusi ini cenderung netral yakni mereka termasuk kategori bekerjasama seperti yang telah dimaksudkan Leech (lihat fungsitindak ilokusi pada 2.2.5).

2. Tindak Tutur Direktif

  Tindak tutur direktif disebut juga tindak tutur imposif, yaitu tindak tutur yang dilakukan oleh penuturnya dengan maksud agar lawan tuturnya melakukan tindakanyang disebutkan dalam ujaran itu. Demikian juga dengan tuturan (2) masing-masing dimaksudkan untuk menyuruh mitra tuturnya untuk melakukan apa yang disebutkan oleh penutur.

3. Tindak Tutur Ekspresif

  Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannyadiartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan itu. Tindak Tutur Komisif Tindak tutur Komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya.

2.2.3.3 Tindak Tutur Perlokusi

  Sementaraitu Tarigan (1987:35) mengatakan bahwa ujaran yang diucapkan penutur bukan hanya peristiwa ujar yang terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan ujaran yangdiujarkan mengandung maksud dan tujuan tertentu yang dirancang untuk menghasilkan efek, pengaruh atau akibat terhadap lingkungan mitra tutur ataupenyimak. Berikut contoh tindak tutur perlokusi : “Aku terlambat.” (hal. 11) Tuturan di atas adalah tuturanyang dituturkan oleh seorang kawan kepada kawannyanya, tidak hanya memberitahu, tetapi juga minta maaf atasketerlambatannya yang berefek sang kawan tidak jadi marah-marah.

2.2.3.4 Tindak Tutur Langsung, Tak Langsung, Harfiah dan Tak Harfiah

  Tindak Tutur Langsung Secara umum tindak tutur langsung adalah tuturan yang digunakan sesuai dengan penggunaan yang seharusnya, yaitu bahwa kalimat tanya digunakanuntuk menanyakan sesuatu, kalimat berita digunakan untuk memberitahukan sesuatu dan kalimat perintah digunakan untuk menyatakan perintah, ajakan,atau permohonan. Tindak Tutur Tak Langsung Tindak tutur tak langsung merupakan tindak tutur yang digunakan tidak sesuai dengan penggunaan tuturan tersebut secara umum, yaitu apabila kalimat tanyadigunakan untuk menyuruh mitra tutur, kalimat berita digunakan untuk bertanya dan sebagainya.

2.2.4 Fungsi Tindak Ilokusi

  Fungsi bahasa dalam masyarakat tidak hanya memiliki satu fungsi saja akan tetapi ada beberapa fungsi lain, salah satunya yaitu fungsi ilokusi. Fungsi ilokusi dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis sesuai dengan hubungan fungsi-fungsi tersebut dengan tujuan-tujuan sosial berupa pemeliharaan perilaku yangsopan dan terhormat (Leech, 1993 : 162).

1. Kompetitif

  Bekerja sama Fungsi bekerja sama (collaborative) adalah fungsi tindak ilokusi yang tidak melibatkan sopan santun karena pada fungsi ini sopan santun tidak relevan. Pada ilokusi yang pertama (kompetitif), sopan santun mempunyai sifat negatif dan tujuannya adalah mengurangi ketidakharmonisan yangtersirat dalam kompetisi antara apa yang ingin dicapai oleh penutur dengan apa yang dituntut oleh sopan santun.

BAB II I METODE PENELITIAN

  3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif dokumentasi karena meneliti dokumen berupa novel dengan teknik baca dan catat(Suharsimi, 1991 : 188). 3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data Selanjutnya, penelitian ini dilakukan dengan tahap pengumpulan data dan penganalisisan, peneliti menggunakan teknik baca dan catat, hasil dari membaca isinovel tersebut kemudian dilanjutkan dengan teknik catat pada kartu data.

3.4 Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data dokumentasi

  Peneliti melakukan identifikasi terhadap data-data yang sudah diperoleh, dan membuat ciri-ciri data yang telah ada. Data yang terkumpul ditelaah, dibuat rangkuman,kemudian disimpulkan makna yang terkandung dari tuturan yang dituturkan.

3.5 Triangulasi data

  Triangulasi pakar, teknik triangulasi ini menguji keaslian data dengan konsultasi pakar yang sesuai dengan topik penelitian, dalam penelitian iniproses triangulasi pakar dilakukan dengan konsultasi Dosen Pembimbing. Dalampenelitian ini data yang dikumpulkan adalah seluruh tuturan yang ada dalam novel La Barka.

Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data Penelitian

  Tuturan di atas jelasterlihat bahwa ilokusinya adala h representatif “menyatakan” karena tuturan “menyatakan” merupakan tuturan yang berfungsi untuk menyatakan suatu hal yang sesuai kenyataan. 4.2 Hasil Analisis Data Hasil analisis data di bawah ini meliputi lima jenis tindak ilokusi, yaitu tindak ilokusi representatif, tindak ilokusi direktif, tindak ilokusi komisif, tindak ilokusiekspresif dan tindak ilokusi deklaratif.

4.3.1 Tindak Ilokusi Representatif

  Tindak tutur representatif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. dan Dari segi sopan santun, ilokusi-ilokusi ini cenderung netral yakni mereka termasuk kategori fungsibekerjasama seperti yang telah dimaksudkan Leech (lihat fungsi tindak ilokusi pada 2.2.5).

4.3.1.1 Tindakan Ilokusi Representatif Menyatakan Tuturan “menyatakan” adalah tuturan yang sesuai dengan kenyataan

  Penulis menemukan beberapa contoh tuturan menyatakan tersebut di dalam novel. Tuturan menyatakan tersebut dapat dilihat pada tuturan di bawah ini.

1. Petugas : anda sampai di luar stasiun. Nanti

  menyatakan bahwa tindak tutur representatif “menyatakan” adalah tindak tutur “menyatakan” karena dalam tuturan tersebut berisi suatu pernyataan Oleh karena itu, kutipan tuturan (1) termasuk dalam tindak ilokusi representatif petugas yang bermakna suatu pernyataan bahwa petugas tidak dapat membantu Rina sampai di luar stasiun, dan akan ada tukang pelat yang bisa membantu. tuturan “menyatakan” yang dituturkan oleh Makna tuturan (1) di atas adalah yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan.

4.3.1.2 Tindak Ilokusi Representatif Melaporkan Tuturan “melaporkan” juga termasuk dalam tindak ilokusi representatif

  Sejalan dengan teorinya Rustono (1999 : 38), tindak tutur representatif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur representatif “melaporkan” adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Begitu juga dengan teori Rahardi (2003 : 73) tindak tutur representatif atau yang biasa jugadisebut asertif, yakni bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya melaporkan.

4.3.1.3 Tindak Ilokusi Representatif Mengakui

  Sejalan dengan teorinya Rustono (1999 : 38), tindak tutur representatif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur representatif “mengakui” adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Begitu juga dengan teori Rahardi (2003 : 73) tindak tutur representatif atau yang biasa juga Tuturan “mengakui” merupakan tuturan yang menyatakan keadaan yang sebenarnya, mengakui untuk diri sendiri dan orang lain akan sesuatu hal.

4.3.1.4 Tindak Ilokusi Representatif Menyebutkan

  Tindak ilokusi representatif “menyebutkan” adalah tindak ilokusi yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang dituturkan dengan tuturan yang berisi menyebutkan, misalnya mengucapkan nama benda atau orang dan sebagainya. Sejalan dengan teorinya Rustono (1999 : 38), tindak tutur representatif seperti di atas menyatakan bahwa t indak tutur representatif “menyebutkan” adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan.

4.3.1.5 Tindak Ilokusi Representatif Menunjukkan

  Tindak ilokusi representatif “menunjukkan” adalah tindak ilokusi yang mengikat penuturnya atas apa yang dituturkannya dengan menggunakan tuturan yang berisi menunjukkan. Sejalan dengan teorinya Rustono (1999 : 38), tindak tutur representatif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur representatif “menunjukkan” adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan.

4.3.2. Tindak Ilokusi Direktif

  Tindak tutur direktif sering juga disebut dengan tindak tutur impositif, adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yangdisebutkan di dalam tuturan itu. Adapun yang termasuk ke dalam jenis tindak ilokusi memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, direktif antara lain tuturan mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, memberikan aba-aba, dan menantang.

4.3.2.1 Tindak Ilokusi Direktif Mengajak

  Sejalan dengan teorinya Gunarwan (1992:11), tindak tutur direktif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur direktif “mengajak” adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Begitu juga dengan teori Rahardi (2003 : 73) tindak tutur direktifyakni bentuk tutur kata yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar sang mitra tutur melakukan tindakan tertentu, misalnya saja mengajak.

4.3.2.2 Tindak Ilokusi Direktif Meminta

  Sejalan dengan teorinya Gunarwan (1992:11), tindak tutur direktif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur direktif “meminta” adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Begitu juga dengan teori Rahardi (2003 : 73) tindak tutur direktifyakni bentuk tutur kata yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar sang mitra tutur melakukan tindakan tertentu, misalnya saja meminta.

4.3.2.3 Tindak Ilokusi Direktif Menyuruh

  Sejalan dengan teorinya Gunarwan (1992:11), tindak tutur direktif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur direktif “menyuruh” adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Begitu juga dengan teori Rahardi (2003 : 73) tindak tutur direktifyakni bentuk tutur kata yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar sang mitra tutur melakukan tindakan tertentu, misalnya menyuruh.

4.3.2.4 Tindak Ilokusi Direktif Menyarankan

  Tindak ilokusi direktif “menyarankan” adalah tindak ilokusi yang dilakukan oleh penuturnya dengan maksud agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan yang berisi saran dan anjuran. Sejalan dengan teorinya Gunarwan (1992:11), tindak tutur direktif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur direktif “menyarankan” adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu.

4.3.3 Tindak Ilokusi Komisif

  Tindak tutur komisif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Tindak ilokusi komisif yang ditemukan dalam penelitin ini yaitu menawarkan, .menyatakan kesanggupan, dan berjanji Tuturan tersebut dapat dilihat pada kutipan wacana di bawah ini.

4.3.3.1 Tindak Ilokusi Komisif Menawarkan

  Tindak ilokusi komisif “menawarkan” adalah tindak ilokusi yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturan menawarkan. Sejalan dengan teorinya Rustono (1999 : 42), tindak tutur komisif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur komisif “menawarkan” adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya.

4.3.3.2 Tindak Ilokusi Komisif Menyatakan Kesanggupan

  Sejalan dengan teorinya Rustono (1999 : 42), tindak tutur komisif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur komisif “menyatakan kesanggupan” adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Begitujuga dengan teori Rahardi (2003 :73) tindak tutur komisif yaitu bentuk tutur yang Tindak Ilokusi komisif “menyatakan kesanggupan” adalah tindak ilokusi yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturan yang berfungsi untuk menyatakan kesanggupan.

4.3.3.3 Tindak Ilokusi Komisif Berjanji

  Sejalan dengan teorinya Rustono (1999 : 42), tindak tutur komisif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur komisif “berjanji” adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Janji itulah yang mengikat penutur untuk melakukan sesuatu pada masa yang akan datang (masa setelah tuturan itu diucapkan) sesuai dengan isi tuturan yang diaucapkan.

4.3.4 Tindak Ilokusi Ekspresif

  Tindak ilokusi ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, tuturan itu. Dalam tindak ilokusi ekspresif, ditemukan tuturan mengucapkan terima kasih, mengeluh dan memuji .

4.3.4.1 Tindak Ilokusi Ekspresif Mengucapkan Terima Kasih

  Sejalan dengan teorinya Rustono (1999 : 41), tindak tutur ekspresif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur ekspresif “mengucapkan terimakasih” adalah tindak ilokusi yang dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan yang berisi ucapan terimakasih. Begitu juga dengan teori Rahardi (2003 : 73) tindak tutur ekspresif adalah bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologispenutur terhadap suatu keadaan, misalnya saja berterima kasih Data di atas sesuai dengan yang dimaksud oleh Rustono dan Rahardi.

4.3.4.2 Tindak Ilokusi Ekspresif Mengeluh

  Sejalan dengan teorinya Rustono (1999 : 41), tindak tutur ekspresif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur ekspresif “mengeluh” adalah tuturan yang dilakukan untuk menyatakan susah karena penderitaan, kesakitan, dan kekecewaan. Begitu juga dengan teori Rahardi (2003 : 73) tindak tutur ekspresif adalah bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penuturterhadap suatu keadaan, misalnya saja mengeluh Data di atas sesuai dengan yang dimaksud oleh Rustono dan Rahardi.

4.3.4.3 Tindak Ilokusi Ekspresif Memuji

  Tin dak ilokusi ekspresif “memuji” adalah tindak ilokusi yang dilakukan dengan maksud agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan yang berisi pujian. Sejalan dengan teorinya Rustono (1999 : 41), tindak tutur ekspresif seperti di atas menyatakan bahwa tindak tutur ekspresif “memuji” adalah tuturan yang Makna tuturan (41) dituturkan oleh Monique untuk menunjukkan kekagumannya pada Sophie.

4.3.5 Tindak Ilokusi Deklarasi

  Tindak tutur deklarasi adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru. Oleh Searle mengizinkan, mengabulkan, mengangkat, menggolongkan, mengampunisendiri, tindakan-tindakan ini merupakan merupakan kategori tindak ujar yang sangat khusus, karena biasanya tindakan ini dilakukan oleh seseorang yang dalam sebuah kerangka acuan kelembagaan diberi wewenang untuk melakukannya.

4.3.5.1 Tindak Ilokusi Deklarasi Memutuskan

  Tindak ilokusi deklarasi “memutuskan” adalah tindak ilokusi yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk memutuskan suatu hal atau permintaan dari mitra tuturnya. Sejalan dengan teorinya Gunarwan (1992 : 12), tindak tutur deklarasi seperti di atas menyatakan bahwa tin dak tutur deklarasi “memutuskan” adalah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status, keadaan) yang baru.

4.4. Fungsi tindak tutur dalam novel La Barka pengarang Nh. Dini

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi tindak tutur ilokusi yang La Barka ditemukan dalam tuturan novel pengarang Nh. Dini adalah fungsi kompetitif, menyenangkan, bekerja sama, dan bertentangan.

4.4.1 Fungsi Kompetitif

  (competitive) Fungsi kompetitif adalah tuturan yang tidak bertatakrama discourteous ( ), misalnya meminta pinjaman dengan nada memaksa. Dini dapat termasuk fungsi “meminta” dalam novel dijelaskan pada data di bawah ini.

4.4.1.1 Fungsi Kompetitif Meminta

  Sejalan dengan teorinya Searle (dalam Leech yang diindonesiakan Oka 1993: The Principles of Pragmatics, 162) dalam bukunya yang berjudul fungsi kompetitif “meminta” seperti di atas menyatakan bahwa fungsi tuturan “meminta” termasuk negatif. Dalam fungsi kompetitif ini, sopan santun mempunyai sifat negatif dan tujuannya adalah mengurangi ketidakharmonisan yangtersirat dalam kompetisi antara apa yang ingin dicapai oleh penutur dengan apa yang dituntut oleh sopan santun.

4.4.2 Fungsi Menyenangkan

  Pada fungsi menyenangkan ini, sopan santun lebih positifbentuknya dan bertujuan mencari kesempatan untuk beramah tamah; misalnya tuturan dan mengucapkan selamat. Pada fungsi menyenangkan ini, peneliti menemukan beberapa tuturan yang bertatakrama dan mempunyai tujuan yang sejalan dengan tujuan sosial.

4.4.2.1 Fungsi Menyenangkan Mengucapkan Terimakasih

  Sejalan dengan teorinya Leech yang diindonesiakan oleh Oka (1993: 162) The Principles of Pragmatics, dalam bukunya yang berjudul data di atas termasuk ke Makna Tuturan (49) dituturkan oleh Rina kepada seorang laki-laki dengan maksud untuk berterimakasih karena telah dibantu menurunkan kopor danmenggendong anaknya keluar dari kereta. Oleh karena itu, tuturan (49) merupakan fungsi menyenangkan “mengucapkan terimakasih” sebab tuturan tersebut berisi ucapan terimakasih yang bertata karma, beramah tamah, dan melibatkan tujuan sosial.

4.4.2.2 Fungsi Menyenangkan Menawarkan

  Sejalan dengan teorinya Leech yang diindonesiakan oleh Oka (1993: 162) The Principles of Pragmatics, dalam buku pragmatiknya yang berjudul data di atas termasuk ke dalam fungsi menyenangkan “menawarkan” karena bertata krama, beramah tamah, dan melibatkan tujuan sosial. Makna tuturan (52) mengandung fungsi tuturan menyenangkan “menawarkan” karena penutur (Monique) berusaha bersikap ramah dan berlaku sopan dengan menawarkan mengajak ke pantai kepada Rina.

4.4.2.3 Fungsi Menyenangkan Menyapa

  Sejalan dengan teorinya Leech yang diindonesiakan Oka (1993: 162) dalam The Principles of Pragmatics, bukunya yang berjudul data di atas termasuk ke dalam fungsi menyenangkan “menyapa” karena bertata krama, beramah tamah, dan melibatkan tujuan sosial. Demikian juga dengan tuturan (56) dan tuturan (57) mengandung fungsi menyenangkan “menyapa” karena tuturan tersebut berfungsi untuk bertata krama, bersikap beramah tamah, dan melibatkan tujuan sosial.

4.4.3 Fungsi Bekerja Sama

  Fungsi kerja sama (collaborative) adalah tidak melibatkan sopan santun karena pada fungsi ini sopan santun tidak relevan. Pada penelitian ini ditemukan dua fungsi bekerja sama yaitu “mengumumkan” dan “melaporkan”.

4.4.3.1 Fungsi Bekerja Sama Mengumumkan

  Sejalan dengan teorinya Leech yang diindonesiakan Oka (1993: 162) dalam bukunya yang berjudul The Principles of Pragmatics, data di atas mengandung fungsi bekerjasama “mengumumkan” sehingga tuturan tersebut tidak perlu melibatkan sopan santun, tetapi memiliki tujuan sosial. Makna tuturan (58) di atas yang dituturkan oleh Monique adalah mengumumkan kepada Rina dan anaknya untuk segera berbelanja sebelum kehabisanikan basah.

4.4.3.2 Fungsi Bekerja Sama Melaporkan

  Tapi nugat pun tidak akan banyak yang dapat dipanen jika isteri Tuan Serge terus menerus datang." (Konteks : Joseph melaporkan bahwa musim ini yang banyak berbuah adalah almond an nugat, tetapi istri Tuan Serge selalu memetik buahsebelum waktu panen tiba sehingga akan sedikit buah yang dapat dipanen). Sejalan dengan teorinya Leech yang diindonesiakan oleh Oka (1993: 162) dalam buku pragmatiknya yang berjudul The Principles of Pragmatics, data di atas mengandung fungsi bekerjasama “melaporkan” sehingga tuturan tersebut tidak perlu melibatkan sopan santun, tetapi memiliki tujuan sosial.

4.4.4 Fungsi Bertentangan

  Pada fungsi bertentangan (conflictive) , unsur sopan santun tidak ada sama sekali karena fungsi ini pada dasarnya bertujuan menimbulkan kemarahan. Pada fungsi “bertentangan” ditemukan fungsi tuturan “mengancam” dan “memarahi”.

4.4.4.1 Fungsi Bertentangan Mengancam

  Sejalan dengan teorinya Leech yang diindonesiakan Oka (1993: 162) dalam The Principles of Pragmatics, bukunya yang berjudul data tuturan di atas mengandung fungsi bertentangan “mengancam”, karena unsur sopan santun tidak ada sama sekali sehingga bertentangan dengan tujuan sosial. Oleh karena itu, tuturan di atas merupakan fungsi bertentangan “mengancam”, karena unsur sopan santun tidak ada sama sekali sehingga bertentangan dengan tujuan sosial.

4.4.4.2 Fungsi Bertentangan Memarahi

  The Sejalan dengan teorinya Leech (1993:162) dalam bukunya yang berjudul Principles of Pragmatics yang diindonesiakan oleh Oka, data tuturan di atas merupakan tuturan yang berfungsi untuk memarahi, karena unsur sopan santun dalam tuturan “memarahi” tidak ada sama sekali sehingga tuturan tersebut bertentangan dengan tujuan sosial. Oleh karena itu, tuturan-tuturan di atas merupakan tuturan yang berfungsi untuk memarahi, karena unsur sopan santun dalam tuturan “memarahi” tidak ada sama sekali.

4.5 Pembahasan Hasil Penelitian

4.5.1 Jenis Tindak Ilokusi

  Contoh : Monique : "Bagaimana pun, sebaiknya dari sekarang kau berhati-hati kalau (68) berbicara dengan Ivonne." (Konteks : Monique menyuruh Rina untuk berhati- Oleh karena itu, tuturan (68) merupakan tindak i lokusi direktif “menyuruh” karena tuturan tersebut dimaksudkan agar mitra tutur mau melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang menjadi isi tuturannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Gunarwan (1992:11)yang menyatakan bahwa tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu.

4.5.2 Fungsi Tindak Tutur Ilokusi

  Temuan 4 fungsi tindak ilokusi yang ditemukan oleh peneliti tersebut, sama halnya dengan teori Leech yang diindonesiakan oleh Oka 1993: 162 dalam buku The Principles of Pragmatics, pragmatiknya yang berjudul bahwa fungsi ilokusi dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis sesuai dengan hubungan fungsi-fungsitersebut dengan tujuan-tujuan sosial berupa pemeliharaan perilaku yang sopan dan terhormat. Padailokusi yang pertama (kompetitif), sopan santun mempunyai sifat negatif dan tujuannya adalah mengurangi ketidakharmonisan yang tersirat dalam kompetisiantara apa yang ingin dicapai oleh penutur dengan apa yang dituntut oleh sopan santun.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan pada bab I, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

5.1.1. Ditemukan lima jenis tindak tutur ilokusi dalam tuturan novel La Barka

  Dari kelima tindak ilokusi tersebut, yang paling banyak muncul dalam tuturan novel adalah tindak ilokusi representatif. Sedangkan tindak ilokusi yang paling sedikit muncul adalah tindak ilokusi deklarasi yang hanya terdiridari 1 tuturan memutuskan.

5.1.2 Ditemukan pula empat fungsi tindak tutur dalam novel La Barka pengarang Nh. Dini

  Dari keempat fungsi tindak ilokusi tersebut, yang paling banyak muncul dalam tuturan novel adalah fungsi menyenangkan. Saran Beberapa saran yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :Dalam penelitian ini, peneliti hanya membahas dua hal, yaitu jenis tindak ilokusi dan fungsi tindak ilokusi.

Dokumen baru