Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta

Gratis

2
10
289
2 years ago
Preview
Full text

  

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK

DALAM RANAH KELUARGA NELAYAN

DI KAMPUNG NELAYAN PANTAI TRISIK, DESA BANARAN

DAN PANTAI CONGOT, DESA JANGKARAN,

KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA

  

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  

Disusun oleh:

Nuridang Fitranagara

091224089

POGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

  

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK

DALAM RANAH KELUARGA NELAYAN

DI KAMPUNG NELAYAN PANTAI TRISIK, DESA BANARAN

DAN PANTAI CONGOT, DESA JANGKARAN,

KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA

  

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  

Disusun oleh:

Nuridang Fitranagara

091224089

POGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

  

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

SKRIPSI KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK DALAM RANAH KELUARGA NELAYAN DI KAMPUNG NELAYAN PANTAI TRISIK, DESA BANARAN DAN PANTAI CONGOT, DESA JANGKARAN, KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA

  Disusun oleh: Nuridang Fitranagara

  091224089 Telah disetujui oleh:

  Dosen Pembimbing I Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. Tanggal 10 Desember 2013 Dosen Pembimbing II Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum. Tanggal 10 Desember 2013

  

SKRIPSI

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK

DALAM RANAH KELUARGA NELAYAN

DI KAMPUNG NELAYAN PANTAI TRISIK, DESA BANARAN

DAN PANTAI CONGOT, DESA JANGKARAN,

  

KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA

  Dipersiapkan dan disusun oleh: Nuridang Fitranagara

  091224089 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 27 Januari 2014 dan dinyatakan telah memenuhi syarat

  Susunan Panitia Penguji Nama Lengkap Tanda Tangan Ketua : Dr. Yuliana Setiyaningsih ......................

  Sekretaris : Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum. ...................... Anggota 1 : Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. ...................... Anggota 2 : Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum. ...................... Anggota 3 : Prof. Dr. Pranowo, M.Pd. ......................

  Yogyakarta, 27 Januari 2014 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Dekan,

  

MOTTO

Berkacalah pada semut

Sikap gotong royongnya mampu membuat sesuatu yang besar

menjadi seringan kapas dihadapan mereka.

Dan mereka takkan pernah menyerah sampai tercapainya tujuan mereka.

  

(Nuridang Fitranagara)

Tiadanya keyakinanlah yang membuat orang takut menghadapi tantangan; dan

saya percaya pada diri saya sendiri.

  

(Muhammad Ali)

  

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan kepada:

Tuhan Yang Maha Esa yang selalu mendampingi dan melindungi saya

  

Kedua orang tua saya yang tercinta Bapak Nurgito dan Ibu Ngadiyem

yang selalu mendoakan, memberikan semangat, mendukung, membimbing,

dan menyayangi saya

Adikku tersayang Nuranggi Fanjari Pangestu

  

Teman-temanku seperjuangan Catarina Erni Riyanti, Clara Dika Ninda Natalia,

Katarina Yulita Simanulang, dan Valentina Tris Marwati, kebersamaan dan

perjuangan kita tidak akan pernah terlupakan dan tergantikan

Seluruh sahabat PBSI 2009

  

Dwi Desember Tiana, Amd.Keb. yang senantiasa selalu memberikan dukungan,

semangat, dan doa kepada saya

Skripsi ini saya persembahkan sebagai tanda terima kasih yang sebesar-besarnya

atas dukungan yang telah diberikan selama ini.

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 27 Januari 2014 Penulis Nuridang Fitranagara

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Nuridang Fitranagara Nomor Mahasiswa : 091224089

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

  

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK DALAM

RANAH KELUARGA NELAYAN DI KAMPUNG NELAYAN PANTAI

TRISIK, DESA BANARAN DAN PANTAI CONGOT, DESA

JANGKARAN, KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTA

  Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk keperluan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 27 Januari 2014 Yang menyatakan (Nuridang Fitranagara)

  

ABSTRAK

  Fitranagara, Nuridang. 2014. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik dalam

  Ranah Keluarga Nelayan di Kampung Nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Skripsi, Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD.

  Penelitian ini membahas tentang bentuk-bentuk tuturan tidak santun dalam ranah keluarga nelayan. Penelitian ini ingin menjawab tiga masalah, yaitu: (a) wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa apa saja yang terdapat dalam ranah keluarga nelayan, (b) penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa apa saja yang digunakan oleh keluarga nelayan, dan (c) maksud apa sajakah yang mendasari orang menggunakan bentuk-bentuk kebahasaan yang tidak santun dalam ranah keluarga nelayan.

  Dilihat berdasarkan metodenya, penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah anggota keluarga nelayan di kampung nelayan pantai Trisik, Desa Banaran dan pantai Congot, Desa Jangkaran, Kulonprogo, Yogyakarta. Data penelitian ini berupa tuturan tidak santun yang diucapkan oleh keluarga nelayan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan metode cakap dengan teknik sadap dan teknik pancing. Instrumen dalam penelitian ini adalah pedoman atau panduan wawancara (daftar pertanyaan), pancingan, daftar kasus, dan peneliti sendiri. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kontekstual.

  Sesuai dengan rumusan masalah, hasil dari penelitian ini adalah pertama wujud ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa tuturan lisan yang telah ditranskripsi, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatik berupa cara yang menyertai tuturan lisan tidak santun yang disampaikan oleh penutur. Kedua penanda ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa (1) intonasi, (2) kata fatis, (3) nada tutur, (4) tekanan, dan (5) pilihan kata (diksi). Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan. Konteks tersebut meliputi (1) penutur dan mitra tutur, (2) tujuan penutur, (3) situasi dan suasana, (4) tindak verbal, dan (5) tindak perlokusi. Ketiga maksud yang mendasari orang menggunakan bentuk-bentuk kebahasaan yang tidak santun meliputi (1) kategori melanggar norma meliputi maksud berbohong, membela diri, dan menunda; (2) kategori mengancam muka sepihak meliputi maksud menggoda, mengejek, menghindar, membela diri, berbohong, dan menolak; (3) kategori melecehkan muka meliputi maksud mengusir, menolak, malas, menyindir, kesal, memaksa, menakut-nakuti, membela diri, berbohong, kecewa, menagih, mengejek, dan memarahi; (4) kategori menghilangkan muka meliputi maksud kesal, kecewa, memarahi, menasihati, mengejek, dan menggoda; dan (5) kategori menimbulkan konflik meliputi maksud kesal, kecewa, memberitahu, dan menolak.

  

ABSTRACT

  Fitranagara, Nuridang. 2014. Linguistic and Pragmatic Impoliteness in

  Fisherman Family Domain The Fishing Village Trisik Beach, Banaran Village and Congot Beach, Jangkaran Village, Kulonprogo, Yogyakarta.

  Thesis, Yogyakarta: PBSI, PBSI, FKIP, USD. This research discuss about the types of impoliteness utterances which is used by fisherman family domain. This research try to find out three research problems; (a) forms of linguistic and pragmatic impoliteness in using language which happened is fisherman family domain, (b) linguistic and pragmatic impoliteness marker in language used by the fisherman family domain, and (c) what is the basic purpose for someone who is using impolite utterances in fisherman family domain.

  According to the method, this research is including to the qualitative descriptive research. The source of the data for this research is family members of fisherman family at fisherman village of Trisik beach, Banaran village and Congot beach, Jangkaran village, Kulonprogo, Yogyakarta. The data of this research are the impolite utterances which are used by the fisherman family. The method of data gathering that is used by this research is listening method and speaking method with tapping technique and enticement technique. The instrument that is used in this research is guideline of questionnaire (list of questions), enticement, list of case, and the researcher himself. The data analysis technique in this research is using the method of contextual.

  According to the research problem, the results of this research are; first, the form of linguistic impolite which is found is the oral utterances that the writer has made the transcript of it, on the other hand the form of pragmatic impolite is oral utterances is how the utterances is delivered by the speaker. Second is the label of the linguistic impolite that is found are (1) intonation, (2) phatic word, (3) tone, (4) stress and (5) diction. The sign of pragmatic impolite can be seen according to the context which contains utterances in it. The context contains of (1) the speaker and partner, (2) the purpose of the speaker, (3) situation and the condition, (4) verbal action, and (5) perlocutionary act. Third, the basic purpose someone who is using the form of impolite utterances are (1) category of impolite which is break the norm contains of lying, defend one self, and delaying, (2) category of face threaten unilaterally impoliteness contains of tease, mocking, avoid, defend one self, lying, dan refuse; (3) category of face threatening impoliteness contains of extrude, refuse, lazy, satirize, annoyed, require, scare, defend one self, lying, disappointed, remind, mocking, and rebuke; (4) category of impolite omitting the face contains of annoyed, disappointed, rebuke, advise, mocking, and tease; and (5) category of impolite rising conflict contains of annoyed, disappointed, notify, and refuse.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan berkatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik dalam Ranah

  

Keluarga Nelayan di Kampung Nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai

Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Skripsi ini disusun

  sebagai syarat untuk menyelesaikan studi dalam kurikulum Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni (JPBS), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini berhasil diselesaikan karena bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Caecilia Tutyandari, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  3. Dr. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  4. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  5. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., sebagai dosen pembimbing I yang dengan bijaksana, sabar, dan penuh ketelitian membimbing, mengarahkan, memotivasi, dan memberikan berbagai masukan yang sangat berharga bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  6. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., sebagai dosen pembimbing II yang selalu mengarahkan, membimbing, memotivasi, dan memberikan berbagai masukan yang memjadikan penulis lebih baik dan dapat menyelesaikan

  7. Seluruh dosen prodi PBSI yang dengan karakteristik masing-masing telah membekali penulis dengan berbagai ilmu pengetahuan yang penulis butuhkan

  8. Robertus Marsidiq, selaku karyawan sekretariat prodi PBSI yang dengan sabar memberikan pelayanan administratif kepada penulis dalam menyelesaikan berbagai urusan administrasi.

  9. Seluruh keluarga nelayan di Desa Banaran dan Desa Jangkaran, kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta yang telah membantu penulis dalam melaksanakan penelitian.

  10. Teman-teman seperjuangan Catarina Erni Riyanti, Clara Dika Ninda Natalia, Katarina Yulita Simanulang, dan Valentina Tris Marwati yang selalu penulis sayangi dan selalu bersama dalam tawa dan duka, jatuh dan bangkit, serta yang selalu berjuang bersama dengan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

  11. Konco-konco kenthel Mikael Jati Kurniawan, S.Pd., Theresia Banik Putriana, S.Pd., Bambang Sumarwanto, S.Pd., Dedy Setyo Herutomo, Ade Henta Hermawan, Yudha Hening Pinanditho, Ignatius Satrio Nugroho, Reinardus Aldo Aggasi, Fabianus Angga Renato, Yustinus Kurniawan, Yohanes Marwan Setiawan, Danang Istianto, Prima Ibnu Wijaya, Petrus Temistokles, Agatha Wahyu Wigati, Rosalina Anik Setyorini, Cicilia Verlit Warasinta, Martha Ria Hanesti, Asteria Ekaristi, Yustina Cantika Advensia, Elizabeth Ratih Handayani dan semua kawan-kawan PBSI 2009 yang penulis cintai dan yang telah bersama-sama dalam suka, semangat, lelah, jatuh, duka, dan akhirnya bersama-sama meraih sukses dari PBSI.

  12. Teman-teman kost Narendra Ignatius Satrio Nugroho, Reinardus Aldo Aggasi, Ulius Ferdian, Ardiansyah Fauzi, Claudius Hans Christian Salvatore, Faida Fitria Fatma yang selalu selo untuk memberikan semangat dalam hal apapun.

  13. Seluruh keluarga yang selalu mendukung dari awal hingga akhir.

  14. Semua pihak yang belum disebutkan yang turut membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas kehadiran kalian yang telah memberikan pengalaman luar biasa untuk penulis. Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak sekali kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan memberikan inspirasi bagi penelitian selanjutnya.

  Yogyakarta, 27 Januari 2014 Penulis Nuridang Fitranagara

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN MOTO .................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ...................................... vii

ABSTRAK ................................................................................................... viii

ABSTRACT .................................................................................................. ix KATA PENGANTAR ................................................................................. x

DAFTAR ISI ............................................................................................... xiii

DAFTAR BAGAN ....................................................................................... xviii

DAFTAR TABEL ....................................................................................... xix

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

  1.1 Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1

  1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 6

  1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................... 6

  1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................. 7

  1.5 Sistematika Penelitian ............................................................................. 8

  BAB II KAJIAN PUSTAKA ...................................................................... 9

  2.1 Penelitian yang Relevan .......................................................................... 9

  2.2 Pragmatik ................................................................................................ 15

  2.3 Fenomena Pragmatik .............................................................................. 16

  2.3.1 Praanggapan .................................................................................. 16

  2.3.2 Tindak Tutur ................................................................................. 17

  2.3.3 Implikatur ...................................................................................... 19

  2.3.4 Deiksis .......................................................................................... 21

  2.3.5 Kesantunan ................................................................................... 23

  2.4 Teori Ketidaksantunan ........................................................................... 27

  2.4.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher .......................................................................................... 28

  2.4.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Bousfield ...................................................................................... 29

  2.4.3 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Culpeper ....................................................................................... 31

  2.4.4 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Terkourafi .................................................................................... 32

  2.4.5 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher and Watts ......................................................................... 34

  2.5 Konteks .................................................................................................. 36

  2.6 Unsur Segmental .................................................................................... 44

  2.6.1 Diksi ............................................................................................. 44

  2.6.2 Kategori Fatis ............................................................................... 50

  2.7 Unsur Suprasegmental ........................................................................... 52

  2.7.1 Tekanan ......................................................................................... 53

  2.7.2 Intonasi .......................................................................................... 53

  2.7.3 Nada .............................................................................................. 54

  2.8 Maksud dan Makna ................................................................................ 55

  2.9 Kerangka Pikir ....................................................................................... 57

  

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................. 61

  3.1 Jenis Penelitian ....................................................................................... 61

  3.2 Data dan Sumber Data ........................................................................... 62

  3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ................................................. 64

  3.4 Instrumen Penelitian ............................................................................... 65

  3.5 Metode dan Teknik Analisis Data .......................................................... 66

  3.5.1 Metode dan Teknik Analisis Data secara Linguitik ...................... 67

  3.5.2 Metode dan Teknik Analisis Data secara Pragmatik .................... 67

  3.6 Sajian Hasil Analisis Data ...................................................................... 68

  

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................... 70

  4.1 Deskripsi Data ........................................................................................ 70

  4.2 Analisis Data .......................................................................................... 74

  4.2.1 Melanggar Norma ........................................................................ 75

  4.2.1.1 Subkategori Menegaskan ................................................. 75

  4.2.1.2 Subkategori Menunda ...................................................... 78

  4.2.2 Mengancam Muka Sepihak .......................................................... 80

  4.2.2.1 Subkategori Menegaskan ................................................. 80

  4.2.2.2 Subkategori Mengejek ...................................................... 82

  4.2.2.3 Subkategori Menunda ...................................................... 84

  4.2.2.4 Subkategori Menolak ....................................................... 85

  4.2.3 Melecehkan Muka ........................................................................ 86

  4.2.3.1 Subkategori Menyindir .................................................... 87

  4.2.3.2 Subkategori Menegaskan ................................................. 88

  4.2.3.3 Subkategori Memerintah ................................................. 89

  4.2.3.4 Subkategori Menegur ...................................................... 90

  4.2.3.5 Subkategori Menolak ....................................................... 92

  4.2.3.6 Subkategori Memperingatkan ......................................... 93

  4.2.3.7 Subkategori Mengancam .................................................. 94

  4.2.3.8 Subkategori Mengusir ..................................................... 95

  4.2.3.9 Subkategori Menagih ....................................................... 96

  4.2.3.10 Subkategori Mengejek ................................................... 97

  4.2.3.11 Subkategori Menasihati ................................................. 98

  4.2.4 Menghilangkan Muka .................................................................. 99

  4.2.4.1 Subkategori Menyindir .................................................... 100

  4.2.4.2 Subkategori Mengejek ..................................................... 101

  4.2.4.3 Subkategori Menegur ...................................................... 104

  4.2.4.4 Subkategori Menyinggung .............................................. 105

  4.2.5 Menimbulkan Konflik .................................................................. 107

  4.2.5.1 Subkategori Menegaskan ................................................. 107

  4.2.5.3 Subkategori Menyinggung .............................................. 111

  4.2.5.4 Subkategori Mengumpat ................................................. 112

  4.2.5.5 Subkategori Menegur ...................................................... 113

  4.2.5.6 Subkategori Mengancam ................................................. 115

  4.3 Pembahasan ............................................................................................ 116

  4.3.1 Kategori Melanggar Norma ......................................................... 117

  4.3.1.1 Subkategori Menegaskan ................................................. 117

  4.3.1.2 Subkategori Menunda ...................................................... 122

  4.3.2 Kategori Mengancam Muka Sepihak ........................................... 127

  4.3.2.1 Subkategori Menegaskan ................................................. 127

  4.3.2.2 Subkategori Mengejek ..................................................... 131

  4.3.2.3 Subkategori Menunda ...................................................... 136

  4.3.2.4 Subkategori Menolak ....................................................... 139

  4.3.3 Kategori Melecehkan Muka ......................................................... 143

  4.3.3.1 Subkategori Menyindir .................................................... 143

  4.3.3.2 Subkategori Menegaskan ................................................. 145

  4.3.3.3 Subkategori Memerintah ................................................. 148

  4.3.3.4 Subkategori Menegur ...................................................... 150

  4.3.3.5 Subkategori Menolak ....................................................... 153

  4.3.3.6 Subkategori Memperingatkan ......................................... 155

  4.3.3.7 Subkategori Mengancam ................................................. 157

  4.3.3.8 Subkategori Mengusir ..................................................... 159

  4.3.3.9 Subkategori Menagih ....................................................... 162

  4.3.3.10 Subkategori Mengejek ................................................... 164

  4.3.3.11 Subkategori Menasihati ................................................. 166

  4.3.4 Kategori Menghilangkan Muka ................................................... 169

  4.3.4.1 Subkategori Menyindir .................................................... 169

  4.3.4.2 Subkategori Mengejek ..................................................... 174

  4.3.4.3 Subkategori Menegur ...................................................... 178

  4.3.4.4 Subkategori Menyinggung .............................................. 182

  4.3.5.1 Subkategori Menegaskan ................................................. 185

  4.3.5.2 Subkategori Menolak ....................................................... 188

  4.3.5.3 Subkategori Menyinggung .............................................. 191

  4.3.5.4 Subkategori Mengumpat ................................................. 194

  4.3.5.5 Subkategori Menegur ...................................................... 196

  4.3.5.6 Subkategori Mengancam ................................................. 199

  

BAB V PENUTUP ....................................................................................... 202

  5.1 Simpulan ................................................................................................ 202

  5.1.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik ..................... 202

  5.1.2 Penanda Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik .................. 202

  5.1.2.1 Kategori Ketidaksantunan Melanggar Norma ................. 203

  5.1.2.2 Kategori Ketidaksantunan Mengancam Muka Sepihak .. 203

  5.1.2.3 Kategori Ketidaksantunan Melecehkan Muka ................ 204

  5.1.2.4 Kategori Ketidaksantunan Menghilangkan Muka ........... 204

  5.1.2.5 Kategori Ketidaksantunan Menimbulkan Konflik .......... 205

  5.1.3 Maksud Ketidaksantunan Penutur ............................................... 206

  5.2 Saran ....................................................................................................... 206

  5.2.1 Bagi Peneliti Lanjutan .................................................................. 206

  5.2.2 Bagi Keluarga Nelayan ................................................................ 207

  5.2.3 Implikasi Penelitian ..................................................................... 207

  

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 209

  DAFTAR BAGAN

  Bagan Kerangka Pikir ................................................................................... 57

  DAFTAR TABEL

  Tabel 1 Data Tuturan Melanggar Norma ...................................................... 70 Tabel 2 Data Tuturan Mengancam Muka Sepihak ....................................... 71 Tabel 3 Data Tuturan Melecehkan Muka ...................................................... 71 Tabel 4 Data Tuturan Menghilangkan Muka ................................................ 73 Tabel 5 Data Tuturan Menimbulkan Konflik ................................................ 73

  

LAMPIRAN ................................................................................................. 212

BIOGRAFI PENULIS

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Makhluk hidup tidak akan pernah terpisahkan oleh bahasa dan komunikasi, khususnya manusia. Manusia berkomunikasi melalui bahasa, Sumarsono (2004:53) memaparkan bahwa masyarakat manusia, apa pun bentuknya, selalu memerlukan alat atau cara untuk berkomunikasi di antara sesama warganya.

  Sedangkan, untuk mengukur apakah seseorang memiliki kepribadian baik atau buruk adalah dengan melalui ungkapan pikiran dan perasaan melalui tindak bahasa (baik verbal maupun nonverbal) (Pranowo, 2009:3). Bahasa verbal adalah bahasa yang diungkapkan secara lisan (bentuk ujaran) atau tertulis, sedangkan bahasa nonverbal adalah bahasa yang diungkapkan dalam bentuk mimik, gestur, sikap, atau perilaku. Bahasa sangat penting dalam kehidupan menusia walaupun sering secara tak sadar kita menganggap itu hanya hal yang sepele.

  Linguistik merupakan ilmu yang mengkaji dan menjelaskan tentang bahasa. Bahasa adalah salah satu ciri yang paling khas manusiawi yang membedakannya dari makhluk-makhluk yang lain. Ilmu yang mempelajari hakekat dan ciri-ciri bahasa disebut ilmu lingustik. Linguistiklah yang mengkaji unsur-unsur bahasa serta hubungan-hubungan unsur itu dalam memenuhi fungsinya sebagai alat perhubungan antarmanusia (Nababan, 1984:1). Linguistik memiliki dua aspek, yaitu aspek internal bahasa dan aspek eksternal bahasa. Aspek internal bahasa mengkaji tentang fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan, aspek praanggapan, tindak tutur, implikatur, deiksis, dan kesantunan. Pragmatik merupakan ilmu yang mempelajari tentang penggunaan bahasa dan selalu terkait dengan konteks. Rahardi (2003:16) mengemukakan bahwa ilmu pragmatik sesungguhnya mengkaji maksud penutur di dalam konteks situasi dan lingkungan sosial-budaya tertentu. Pragmatik yang mengkaji maksud penutur di dalam konteks situasi dan lingkungan sosial tertentu berkaitan dengan kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa.

  Berbahasa secara baik dan benar, secara santun, bahkan berbahasa dengan menggunakan bahasa slengekan (bahasa slang) merupakan beberapa penyampaian informasi kepada mitra tutur oleh penutur. Pranowo (2009:4) mengemukakan bahwa struktur bahasa yang santun adalah struktur bahasa yang disusun oleh penutur atau penulis agar tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembaca. Berbahasa secara santun biasanya digunakan kepada orang yang lebih tua, lebih tinggi tingkat sosialnya, atau dapat dikatakan dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi. Sebenarnya untuk berbicara secara santun tidak perlu melihat tingkat sosial, umur, atau apa pun. Kita sebagai manusia yang mempunyai jiwa sosial tinggi seharusnya sadar harus selalu berbicara dengan santun kepada siapa pun sesuai dengan situasi dan kondisinya.

  Kenyataan tersebut menjadi tujuan bagi peneliti untuk mengetahui bagaimana tingkat ketidaksantunan di dalam keluarga nelayan. Miriam A. Locher (2008:3) mendefinisikan ketidaksantunan sebagai behaviour that is face-

  ‘ aggravating in a particular context

  . Jadi, menurut Miriam A. Locher yang melecehkan muka ( face-aggravating ) di dalam keadaan yang sebenarnya. Dalam buku Impolineteness in Language (2008:3), Derek Bousfield juga memaparkan tentang ketidaksantunan yang dipahaminya sebagai,

  ‘I take

impoliteness as constituting the issuing of intentionally gratuitous and conflictive

face- threatening act (FTAs) that are purposeflly performed’. Maksud Bousfield

  mengenai ketidaksantunan adalah apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka, dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono ( gratuitous ), hingga akhirnya tindakan sembrono tersebut mendatangkan konflik, atau bahkan pertengkaran, dan tindakan itu dilakukan dengan kesengajaan ( ).

  purposeflly

  Ketidaksantunan akan dapat menyebabkan rasa curiga, kebencian, sikap berprasangka buruk oleh mitra tutur terhadap penutur. Contohnya, saat seorang nelayan pulang dari melaut dalam keadaan lapar dan di rumah tidak ada makanan. Nelayan yang emosi dengan spontan mengatakan demikian kepada istrinya,

  

“sedino ki ngopo wae? Wong lanang sayah golek duwit, tekan omah kon mangan

piring!”. Hal ini yang seharusnya dihindari oleh penutur agar terjalin hubungan

  yang baik, penuh dengan pikiran positif, dan menjadikan hidup penuh dengan kebahagiaan dan kesejahteraan. Manusia hidup membutuhkan bantuan manusia lainnya, manusia hidup secara sosial, perilaku berbahasa sangatlah penting bagi manusia dalam berkomunikasi, jadi hindari ketidaksantunan dalam berbahasa.

  Status sosial atau strata sosial yang terjadi di dalam masyarakat dapat mempengaruhi cara berkomunikasi atau berbahasa. Kelompok masyarakat terkecil berkomunikasi atau berbahasa, dan itu berkiatan dengan status sosial masing- masing keluarga. Secara umum, status sosial dibagi menjadi tiga kelas atau tingkatan, yaitu level masyarakat kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Kelas atas merupakan kelompok atau keluarga elite di masyarakat seperti keluarga pejabat dan kelompok lainnya. Kelas menengah mewakili kelompok

  elite

  profesional, kelompok pekerja, wiraswasta, pedagang, dan kelompok fungsional lainnya, sedangkan kelas bawah mewakili kelompok pekerja kasar, buruh harian, buruh lepas, dan kelompok bawah lainnya. Bungin (2006:49

  • –50) mengemukakan

  bahwa kelas sosial ini terjadi pada lingkungan-lingkungan khusus pada bidang tertentu sehingga strata sosial sangat spesifik berlaku pada

  content varian

  lingkungan itu. Strata sosial tidaklah hanya berpengaruh terhadap cara berkomunikasi di lingkungan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi bagaimana cara berkomunikasi di dalam keluarga.

  Kenyataannya kini banyak orang yang kurang santun terhadap orang lain, bahkan di dalam keluarga. Ketidaksantunan merupakan penyimpangan dari kesantunan berbahasa yang dilakukan secara tidak sengaja, sengaja, bahkan sudah menjadi kebiasaan. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya ketidaksantunan. Salah satunya adalah faktor keluarga. Pendidikan setiap orang berawal dari keluarga. Keluarga memiliki pengaruh besar terhadap cara berbahasa seseorang. Pranowo (2009:26 –27) mengemukakan bahwa orang tua yang mendidik anak di rumah dengan bahasa yang santun, halus, dan baik, ketika mereka berkomunikasi dengan orang lain di luar rumah, mereka juga akan mendidik anak-anaknya dengan keras dan dengan kata-kata yang kurang santun membuat anak akan menirukan apa yang dilakukan orang tuanya, sehingga bisa saja terjadi ketidaksantunan berbahasa dalam ranah keluarga.

  Tuturan yang diambil sebagai sampel adalah tuturan-tuturan yang dihasilkan oleh keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik dan Congot, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Peneliti memilih tuturan keluarga nelayan sebagai sumber data karena ingin mengetahui ketidaksantunan berbahasa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari keluarga nelayan di Kabupaten Kulonprogo. Pantai Trisik yang terletak di Desa Banaran, Galur, Kulonprogo dan Pantai Congot di Desa Jangkaran, Temon, Kulonprogo memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan pantai-pantai yang lainnya di Kulonprogo, sebab nuansa nelayan dan perikanannya yang begitu kuat. Selain itu, kedua desa tersebut merupakan desa yang nelayannya paling aktif dan memiliki pelabuhan perikanan paling ramai di Kabupaten Kulonprogo. Pantai Trisik terletak di Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo, sedangkan Pantai Congot terletak di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo.

  Berdasarkan latar belakang di atas, penilitian ini bermaksud mengkaji ketidaksantunan dalam ranah keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik di Desa Banaran dan Pantai Congot di Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta yang ditinjau dari kajian pragmatik.

  1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1)

  

Wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik apa sajakah yang terdapat

  dalam ranah keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta?

  2)

  

Penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik apa saja yang digunakan

  oleh keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta?

  3)

  

Maksud apa sajakah yang mendasari orang menggunakan bentuk-bentuk

  kebahasaan yang tidak santun dalam ranah keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta?

  1.3 Tujuan Penelitian

  Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1)

  

Mendeskripsikan wujud-wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik

  dalam ranah keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

  2)

  

Mendeskripsikan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik apa saja

  Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

  3)

  

Mendeskripsikan maksud yang mendasari orang menggunakan bentuk-

  bentuk kebahasaan yang tidak santun dalam ranah keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil bagi berbagai pihak.

  Manfaat-manfaat tersebut antara lain sebagai berikut. 1)

  Manfaat teoretis

  a)

  Penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu bahasa, khususnya pragmatik di PBSI.

  b)

  Memperluas kajian dan memperkaya khasanah teoretis tentang ketidaksantunan dalam berbahasa sebagai fenomena pragmatik baru.

  Fenomena pragmatik yang tidak dikaji secara mendalam, tidak akan bermanfaat banyak bagi perkembangan ilmu bahasa, khususnya pragmatik. Jadi, peneliti akan mengkaji secara mendalam mengenai fenomena ketidaksanunan dalam berbahasa agar dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu bahasa, khususnya pragmatik. 2)

  Manfaat praktis

  a)

  Kajian ini akan dapat digunakan oleh para praktisi dalam ranah keluarga

  untuk mempertimbangkan bentuk-bentuk ketidaksantunan berbahasa b)

  Kajian ini akan dapat memperkuat pendidikan karakter dalam lingkup

  keluarga, yang merupakan faktor penting dan berpengaruh bagi pembentukan karakter bangsa.

1.5 Sistematika Penyajian

  Penelitian ini terdiri dari lima bab. Bab I adalah bab pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penelitian.

  Bab II berisi landasan teori yang akan digunakan untuk menganalisis masalah-masalah yang akan diteliti, yaitu tentang ketidaksantunan berbahasa. Teori-teori yang dikemukakan dalam bab II ini adalah teori tentang (1) penelitian- penelitian yang relevan, (2) fenomena pragmatik, (3) teori pragmatik, (4) teori ketidaksantunan, (5) teori mengenai konteks, (6) unsur segmental, (7) unsur suprasegmental, dan (8) maksud dan makna.

  Bab III berisi metode penelitian yang memuat tentang cara dan prosedur yang akan digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data. Dalam bab III akan diuraikan (1) jenis penelitian, (2) subjek penelitian, (3) metode dan teknik pengumpulan data, (4) instrumen penelitian, (5) metode dan teknik analisis data, (6) sajian hasil analisis data, dan (7) trianggulasi data.

  Bab IV berisi tentang (1) deskripsi data, (2) analisis data, dan (3) pembahasan hasil penelitian. Bab V berisi tentang kesimpulan penelitian dan saran untuk penelitian selanjutnya berkaitan dengan penelitian ketidaksantunan berbahasa.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini menguraikan penelitian yang relevan, landasan teori, dan kerangka

  pikir. Penelitian yang relevan berisi tinjauan terhadap topik-topik sejenis yang dilakukan oleh peneliti-peneliti lain. Landasan teori berisi tentang teori-teori yang digunakan sebagai landasan analisis dari penelitian ini yang terdiri atas teori pragmatik, fenomena pragmatik, teori ketidaksantunan, konteks, unsur segmental, unsur suprasegmental, dan maksud dan makna. Kerangka pikir berisi tentang acuan teori yang digunakan dalam penelitian ini atas dasar penelitian terdahulu dan teori terdahulu yang relevan yang akan digunakan untuk menjawab rumusan masalah.

2.1 Penelitian yang Relevan

  Kajian pragmatik tentang ketidaksantunan dalam berbahasa merupakan fenomena pragmatik baru dan belum banyak dikaji secara mendalam oleh peneliti bahasa. Maka itu, penelitian pragmatik yang mengkaji tentang ketidaksantunan berbahasa ini belum banyak ditemukan. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa penelitian sebelumnya yang mengkaji tentang ketidaksantunan berbahasa sebagai penelitian yang relevan. Penelitian-penelitian tentang ketidaksantunan berbahasa yang ditemukan oleh peneliti adalah penelitian yang dilakukan oleh Agustina Galuh Eka Noviyanti (2013), Ceacilia Petra Gading May Widyawari (2013), Elizabeth Rita Yuliastuti (2013), dan Olivia Melissa

  Penelitian tentang kesantunan berbahasa yang dilakukan oleh Galuh Eka

  Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa

  Noviyanti (2013) berjudul

  

Antarsiswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 . Jenis

  penilitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif komunikatif. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode simak dan metode cakap dengan teknik sadap dan teknik pancing, dengan instrumen berupa pedoman atau panduan wawancara, pancingan, dan daftar kasus. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode kontekstual. Pada penelitian

  Pertama,

  ini, peneliti menemukan bahwa wujud ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa tuturan lisan yang telah ditranskripsi, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatik berupa uraian konteks yang melingkupi setiap tuturan.

  Kedua,

  penanda ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa (1) nada, (2) tekanan, (3) intonasi, dan (4) pilihan kata (diksi). Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan. Konteks tersebut meliputi (1) penutur dan mitra tutur, (2) situasi dan suasana, (3) tindak

  Ketiga

  verbal, dan (4) tindak perlokusi. , makna penanda ketidaksantunan dari masing-masing jenis ketidaksantunan meliputi (1) makna penanda ketidaksantunan melecehkan muka adalah penutur menyindir, menghina, dan mengejek mitra tutur sehingga dapat melukai hati mitra tutur, (2) makna penanda ketidaksantunan memainkan muka adalah penutur membuat kesal dan jengkel mitra tutur dengan tingkah laku penutur yang tidak seperti biasanya, (3) makna penanda ketidaksantunan kesembronoan yang disengaja adalah penutur menutup kemungkinan bahwa candaannya tersebut dapat menimbulkan konflik, (4) makna penanda ketidaksantunan menghilangkan muka adalah penutur membuat mitra tutur benar-benar malu di hadapan banyak orang, dan (5) makna penanda ketidaksantunan mengancam muka adalah penutur memberikan ancaman atau tekanan kepada mitra tutur yang menyebabkan mitra tutur terpojok dan tidak memberikan pilihan bagi mitra tutur.

  Penelitian yang mengkaji tentang ketidaksantunan juga dilakukan oleh Caecilia Petra Gading May Widyawari (2013) dengan judul Ketidaksantunan

  

Linguistik dan Pragmatik Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi PBSID

Angkatan 2009 2011 Universitas Sanata Dharma . Jenis penelitian dari

  penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, serta makna ketidaksantunan berbahasa yang digunakan antarmahasiswa PBSID Angkatan 2009

  Peneliti menggunakan dua mtode —2011 di Universitas Sanata Dharma.

  pertama

  dalam penelitan ini, metode simak dengan teknik dasar berupa teknik sadap dan teknik lanjutan berupa teknik simak libat cakap dan teknik cakap,

  

kedua metode cakap dengan teknik dasar berupa teknik pancing dan dua teknik

  lanjutan berupa teknik lanjutan cakap semuka dan tansemuka. Simpulan dari penelitian ini tidak jauh berbeda dengan simpulan hasil penelitian yang dilakukan

  

Pertama

  oleh Galuh Eka Noviyanti (2013). , wujud ketidaksantunan linguistik dapat dilihat dari tuturan antarmahasiswa yang terdiri dari melecehkan muka, ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks (penutur, mitra

  Kedua, tutur, situasi, suasana, tindak verbal, tindak perlokusi dan tujuan tutur).

  penanda ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks tuturan yang berupa penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tindak

  Ketiga,

  verbal, tindak perlokusi, dan tujuan tutur. makna ketidaksantunan berbahasa yaitu: (1) melecehkan muka, ejekan penutur kepada mitra tutur dan dapat melukai hati, (2) memain-mainkan muka, membingungkan mitra tutur dan itu menjengkelkan, (3) kesembronoan, bercanda yang menyebabkan konflik, (4) menghilangkan muka, mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang, dan (5) mengancam muka, menyebabkan ancaman pada mitra tutur.

  Penelitian tentang ketidaksantunan berbahasa lainnya dilakukan oleh Elizabeth Rita Yuliastuti (2013) berjudul Ketidaksantunan Linguistik dan

  

Pragmatik Berbahasa antara Guru dan Siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta

Tahun Ajaran 2012/2013 . Pengumpulan data pada penelitian ini serupa dengan

  penelitian ketidaksantunan sebelumnya, yakni dengan menggunakan metode simak dan metode cakap. Pada penelitian ini, peneliti menemukan bahwa

  

pertama, wujud ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan tuturan lisan

  yang tidak santun antara guru dan siswa yang berupa tuturan melecehkan muka, memain-mainkan muka, kesembronoan, mengancam muka, dan menghilangkan muka, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan uraian konteks berupa penutur, mitra tutur, tujuan tutur, situasi, suasana, tindak ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi, serta penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks yang menyertai tuturan yakni penutur, mitra tutur, situasi, suasana, tujuan tutur,

  Ketiga

  tindak verbal, dan tindak perlokusi. , makna ketidaksantunan (1) melecehkan muka yakni hinaan dan ejekan dari penutur kepada mitra tutur hingga melukai hati mitra tutur, (2) memain-mainkan muka yakni tuturan yang membuat bingung mitra tutur sehingga mitra tutur menjadi jengkel karena sikap penutur yang tidak seperti biasanya, (3) kesembronoan yang disengaja yakni penutur bercanda kepada mitra tutur sehingga mitra tutur terhibur, tetapi candaan tersebut dapat menimbulkan konflik, (4) mengancam muka yakni penutur memberikan ancaman kepada mitra tutur sehingga mitra tutur merasa terpojokkan, dan (5) menghilangkan muka yakni penutur mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang.

  Penelitian tentang ketidaksantunan berbahasa selanjutnya dilakukan oleh Olivia Melissa Puspitarini (2013) yang mengangkat judul Ketidaksantunan

  

Linguistik dan Pragmatik Berbahasa antara Dosen dan Mahasiswa Program

Studi PBSID, FKIP, USD, Angkatan 2009 2011

  . Penelitian yang menjadikan

  

  dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID sebagai sumber data ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, serupa dengan penelitian yang telah dilakukan oleh ketiga peneliti di atas. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode simak dan metode cakap, dengan menggunakan instrumen berupa panduan wawancara, daftar pertanyaan pancingan, dan daftar kasus. Penelitian ini ketidaksantunan linguistik berdasarkan tuturan lisan dan wujud ketidaksantunan

  Kedua,

  pragmatik berbahasa yaitu uraian konteks tuturan tersebut. penanda ketidaksantunan linguistik yaitu nada, intonasi, tekanan, dan diksi, serta penanda pragmatik yaitu konteks yang menyertai tuturan yakni penutur, mitra tutur, situasi, dan suasana. Ketiga, makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa meliputi (1) melecehkan muka yakni penutur menyindir atau mengejek mitra tutur, (2) memainkan muka yakni penutur membuat jengkel dan bingung mitra tutur, (3) kesembronoan yang disengaja yakni penutur bercanda kepada mitra tutur dan mitra tutur terhibur namun candaan tersebut dapat menimbulkan konflik bila candaan tersebut ditanggapi secara berlebihan, (4) menghilangkan muka yakni penutur mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang, dan (5) mengancam muka yakni penutur memberikan ancaman atau tekanan kepada mitra tutur yang menyebabkan mitra tutur terpojok.

  Keempat penelitian di atas merupakan penelitian yang mengkaji mengenai ketidaksantunan berbahasa, khususnya ketidaksantunan berbahasa dalam ranah pendidikan. Keempat penelitian tersebut menemukan tiga hal penting mengenai masalah ketidaksantunan, yakni wujud, penanda, dan makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa dalam ranah pendidikan. Dengan mengacu pada keempat penelitian di atas, peneliti akan mengkaji lebih dalam mengenai ketidaksantunan berbahasa, khususnya dalam ranah keluarga nelayan.

2.2 Pragmatik

  Bahasa merupakan alat utama dalam komunikasi. Bahasa sangat dibutuhkan oleh manusia, karena dengan bahasa manusia bisa menemukan kebutuhan mereka dengan cara berkomunikasi dengan manusia lainnya. Sebagai anggota masyarakat yang mempunyai jiwa sosial tinggi, masyarakat merupakan orang yang sangat bergantung pada penggunaan bahasa. Terjadinya komunikasi tidak pernah lepas dari suasana dan konteks. Salah satu cara untuk mengetahui tentang hal tersebut adalah melalui sudut pandang pragmatik.

  Pragmatik merupakan ilmu yang mempelajari tentang penggunaan bahasa dan selalu terikat dengan konteks (siapa yang diajak berbicara, kapan, di mana, apa, dan dalam keadaan yang bagaimana). Dalam kehidupan bersosial atau bermasyarakat pasti terjadi komunikasi. Komunikasi yang terjadi di masyarakat memiliki maksud dan tujuan. Studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis mengenai apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya (Yule, 2006:3).

  Yule (2006:3) menyebutkan 4 definsi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara, (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang mengkaji tentang bagaimana agar lebih banyak yang disampaikan daripada yang dituturkan, dan (4) bidang yang mengkaji tentang ungkapan dari jarak hubungan.

  pragmatics is the systematic study of Huang (2007:2) memaparkan bahwa “ meaning by virtue of, or dependent on, the use of language

  ”. Huang menjelaskan

  definisi pragmatik sebagai studi sistematis tentang makna yang berdasarkan atau

  Pragmatik &

  (1983:9) via Nadar (2009:4) dalam bukunya yang berjudul

  Penelitian Pragmatik

  , yang mendefinisikan pragmatik sebagai berikut:

  

Pragmatics is the study of those relations between language and context that are

“ grammaticalized, or encoded in the structure of language

  . Maksud dari definisi

  Levinson adalah pragmatik merupakan kajian hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatikalisasi atau terkodifikasi dalam struktur bahasa.

  Dari definisi beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan ilmu kebahasaan yang mengkaji mengenai maksud sebuah tuturan yang berdasar pada penggunaan bahasa dan selalu terikat dengan konteks situasi di mana tuturan itu terjadi. Dengan demikian, pragmatik adalah ilmu yang mengkaji antara hubungan bahasa dan konteks.

2.3 Fenomena Pragmatik

  Pragmatik sebagai cabang ilmu bahasa yang berkembang telah mengkaji lima fenomena, yaitu praanggapan, tindak tutur, implikatur, deiksis, dan kesantunan. Kelima fenomena tersebut akan dijelasakan lebih lanjut sebagai berikut.

2.3.1 Praanggapan

  Manusia setiap harinya pasti melakukan komunikasi. Dalam berkomunikasi pasti terdapat gagasan apa yang akan dituturkan kepada mitra tutur. Anggapan bahwa ketika penutur menyampaikan informasi tertentu sudah diketahui oleh pendengarnya. Karena informasi tersebut dianggap sudah diketahui, maka informasi yang demikian biasanya tidak akan dinyatakan dan akibatnya akan

  Praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan (Yule, 2006:43).

  Yule (2006:46) membagi presupposisi menjadi enam jenis, yaitu presupposisi eksistensial, presupposisi faktif, presupposisi nonfaktif, presupposisi leksikal, presupposisi struktural, presupposisi faktual tandingan.

  Levinson (1983:201-202) dalam Nadar (2009:66) menyimpulkan dari berbagai definisi-definisi pragmatik yang dikemukakan oleh para ahli bahasa, mengemukakan bahwa presupposisi pragmatik mengandung dua hal pokok yaitu kesesuaian

  ‘appropriateness’ atau kepuasan ‘felicity’ dan pemahaman bersama

‘mutual knowledge’, atau ‘common ground’ dan ‘joint assumption’. Dengan

  demikian pemahaman bersama

  ‘common ground’ dan kesesuaian

‘appropriateness’ merupakan hal-hal mendasar dalam berbagai definisi mengenai

  presupposisi pragmatik. Jadi, praanggapan merupakan sesuatu yang dianggap (oleh penutur) sudah diketahui oelh lawan tutur.

2.3.2 Tindak tutur

  Tindakan-tindakan yang ditampilkan melalui tuturan biasanya disebut tindak tutur. Tindakan yang ditampilkan dengan menghasilkan suatu tuturan akan mengandung tiga tindak yang saling berhubungan. Yang pertama adalah tindak lokusi, merupakan tindak dasar tuturan atau menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna. Kedua adalah tindak ilokusi, merupakan beberapa fungsi yang terbentuk oleh tuturan di dalam pikiran. Tindak ilokusi ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan. Ketiga adalah tindak perlokusi,

  (Yule, 2006:83

  • –84). Jadi, tindak tutur merupakan suatu uajaran yang mengandung

  tindakan sebagai suatu fungsional dalam komunikasi yang mempertimbangkan aspek situasi tutur.

  Yule (2006:92

  • –94) mengklasifikasi tindak tutur menjadi 5 jenis fungsi

  umum, yaitu: 1)

  

Deklarasi, adalah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan

Contoh: Saya nikahkan (penutur harus mempunyai peran institutional). Anda . Penutur harus memiliki peran institusional khusus, dalam konteks

  khusus, untuk menampilkan suatu deklarasi secara tepat. Pada waktu menggunakan deklarasi penutur mengubah dunia dengan kata-kata.

  2)

  

Representatif, adalah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini

  penutur kasus atau bukan. Berupa suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Contoh: Bumi itu bundar . Pada waktu menggunakan sebuah representatif, penutur mencocokkan kata-kata dengan dunia (kepercayaannya).

  3)

  

Ekspresif, adalah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuau yang dirasakan

  oleh penutur, berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, dan kesengsaraan. Contoh: Sungguh, saya minta

  maaf

  . Tindak tutur itu mungkin disebabkan oleh sesuatu yang dilakukan oleh penutur atau pendengar, tetapi semuanya menyangkut pengalaman penutur. 4)

  

Direktif, adalah jenis tindak tutur yang dpakai oleh penutur untuk menyuruh

  Contoh: Tolong matikan lampu itu!

  saran, permohonan, dan lain-lain. Pada waktu menggunakan direktif, penutur berusaha menyesuaikan dunia dengan kata (lewat pendengar). 5)

  

Komisif, adalah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk

  mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang,

  Contoh: Saya akan kembali

  berupa janji, ancaman, penolakan, ikrar. . Pada waktu menggunakan komisif, penutur berusaha untuk menyesuaikan dunia dengan kata-kata (lewat penutur).

2.3.3 Implikatur

  Yule (2006:61) berpendapat bahwa, seorang pendengar mendengar ungkapan dari seorang penutur, dan dia harus berasumsi bahwa penutur sedang melaksanakan kerja sama dan bermaksud untuk menyampaikan informasi. Informasi itu tentunya memiliki makna yang lebih banyak daripada kata-kata yang dikeluarkan oleh penutur. Makna itulah yang disebut dengan implikatur. Jadi bisa diartikan bahwa, implikatur merupakan maksud yang tersirat di balik tuturan atau ujaran yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan. Dalam rangka memahami apa yang dimaksudkan oleh penutur, lawan tutur harus selalu melakukan interpretasi pada tuturan-tuturannya (Nadar, 2009:60). Implikatur merupakan contoh utama dari banyaknya informasi yang disampaikan daripada yang dikatakan. Supaya implikatur-implikatur tersebut dapat ditafsirkan maka beberapa prinsip kerja sama dasar harus lebih dini diasumsikan dalam pelaksanannya (Yule, 2006:62).

  Pada banyak kesempatan, asumsi kerja sama itu begitu meresap sehingga asumsi kerja sama dapat dinyatakan sebagai prinsip kerja sama percakapan dan dapat dirinci ke dalam empat sub-prinsip, yang dimaksud dengan maksim (mengikuti prinsip kerja sama Grice) (Yule, 2006:63).

  Yule (2006:69

  • –80) membedakan implikatur menjadi lima macam:

  1)

  Implikatur percakapan

  Penutur yang menyampaikan makna lewat implikatur dan pendengarlah yang mengenali makna-makna yang disampaikan lewat inferensi.

  Kesimpulan yang sudah dipilih ialah kesimpulan yang mempertahankan asumsi kerja sama.

  2)

  Implikatur percakapan umum

  Jika pengetahuan khusus tidak dipersyaratkan untuk memperhitungkan makna tambahan yang disampaikan, hal ini disebut implikatur percakapan umum. 3)

  Implikatur berskala

  Informasi tertentu yang selau disampaikan dengan memilih sebuah kata yang menyatakan suatu nilai dari suatu skala nilai. Ini secara khusus tampak jelas dalam istilah-istilah untuk mengungkapkan kuantitas, seperti yang ditunjukkan dalam skala (semua, sebagian besar, banyak, beberapa, sedikit) dan (selalu, sering, kadang-kadang), di mana istilah-istilah itu didaftar dari skala nilai tertinggi ke nilai terendah. Dasar implikatur berskala adalah bahwa semua bentuk negatif dari skala yang lebih tinggi dilibatkan apabila

  4)

  Implikatur percakapan khusus

  Percakapan sering terjadi dalam konteks yang sangat khusus di mana kita mengasumsikan informasi yang kita ketahui secara lokal. Inferensi-inferensi yang sedemikian dipersyaratkan untuk menentukan maksud yang disampaikan menghasilkan amplikatur percakapan khusus.

  5)

  Implikatur konvensional

  Kebalikan dari seluruh implikatur percakapan yang dibahas sejauh ini, implikatur konvensional tidak didasarkan pada prinsip kerja sama atau maksim-maksim. Implikatur konvensional tidak harus terjadi dalam percakapan, dan tidak bergantung pada konteks khusus untuk menginterpretasikannya. Seperti halnya presupposisi leksikal, implikatur konvensional diasosiasikan dengan kata-kata khusus dan menghasilkan maksud tambahan yang disampaikan apabila kata-kata tersebut digunakan.

  Kata yang memiliki implikatur konvensional adalah kata ‘bahkan’ dan ‘tetapi’.

2.3.4 Deiksis

  Deiksis adalah istilah teknis (dari bahasa Yunani) untuk salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Deiksis berart

  i ‘penunjukan’ melalui

bahasa. Bentuk linguistik yang dipakai untuk menyelesaikan ‘penunjukan’ disebut

ungkapan deiksis. Ketika seseorang menunjuk suatu objek dan bertanya, “Apa

itu?”, maka ia telah menggunakan ungkapan deiksis (“itu”) untuk menunjuk

  sesuatu dalam suatu konteks secara tiba-tiba (Yule, 2006:13).

  Deiksis mengacu pada bentuk yang terkait dengan konteks penutur, dan membedakan antara ungkapan- ungkapan deiksis ‘dekat penutur (proksimal)’ dan

  

‘jauh dari penutur (distal)’. Ungkapan yang termasuk dalam deiksis dekat penutur

  (proksimal) adalah di sini, ini, sekarang, sedangkan deiksis jauh dari penutur (distal) menggunakan ungkapan itu, di sana, pada saat itu. Istilah-istilah proksimal

  

biasanya ditafsirkan sebagai istilah ‘tempat pembicara’, atau ‘pusat deiksis’,

sehingga ‘di sini’ umumnya dipahami sebagai acuan terhadap titik atau keadaan

  pada saat tuturan penutur terjadi di tempatnya. Sementara itu, untuk istilah distal

  

yang menunjukkan ‘jauh dari penutur’, tetapi dapat juga digunakan untuk

  membeda

  kan antara ‘dekat dengan lawan tutur’ dan ‘jauh dari penutur maupun lawan tutur’ (Yule, 2006:14).

  Deiksis terbagi menjadi 3 jenis, yakni: 1)

Deiksis persona, yang artinya ungkapan-ungkapan untuk menunjuk orang.

  Misalnya: ku, mu, saya, kamu, dia. 2)

Deiksis spasial, yang artinya ungkapan-ungkapan untuk menunjuk tempat.

  Misalnya: di sini, di sana, di situ. 3)

Deiksis temporal, yang artinya ungkapan-ungkapan untuk menunjuk waktu.

  Misalnya: sekarang, kemudian, kemarin, besok, hari ini, nanti malam. Levinson (1983:62) via Nadar (2009:55) juga menyebutkan bahwa deiksis

  person deixis)

  dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu deiksis persona ( ,

  

(place deixis) (time deixis)

  deiksis ruang , dan deiksis waktu . Definisi yang dipaparkan oleh Levinson (1983) dalam Nadar (2009:55-56) tidak jauh berbeda dengan pemahaman mengenai peserta pertuturan dalam situasi pertuturan di mana tuturan tersebut dibuat. Deiksis tempat berhubungan dengan pemahaman lokasi atau tempat yang dipergunakan peserta pertuturan dalam situasi pertuturan. Deiksis waktu berhubungan dengan pemahaman titik ataupun rentang waktu saat tuturan dibuat.

2.3.5 Kesantunan

  Bahasa Indonesia sudah memiliki kaidah tentang bahasa yang baik dan benar. Seseorang yang mampu berbahasa secara baik berarti ia mampu menggunakan bahasa sesuai dengan ragam dan situasi, sedangkan bagi seseorang yang mampu berbahasa secara benar berarti ia mampu menggunakan bahasa dengan kaidah-kaidah yang berlaku (Panowo, 2009:4

  • –5). Namun, masih terdapat satu kaidah berbahasa lagi yang perlu mendapat perhatian yaitu kesantunan.

  Ketika seseorang sedang berkomunikasi sebaiknya tidak hanya memperhatikan penggunaan bahasa yang baik dan benar saja, melainkan penggunaan bahasa yang santun juga harus diperhatikan. Jika seseorang mampu bertutur kata secara halus dan santun tentu akan mudah diterima dalam masyarakat dan dapat belajar menghargai atau menghormati lawan tutur. Pranowo (2009:3) mengungkapkan bahwa, bahasa merupakan cermin kepribadian seseorang. Bahkan, bahasa merupakan cermin kepribadian bangsa. Melalui bahasa yang diungkapkan, baik verbal maupun nonverbal akan terlihat bagaimana kepribadian seseorang baik atau buruk.

  Pranowo (2009:3) menjelaskan bahasa verbal adalah bahasa yang bahasa nonverbal adalah bahasa yang diungkapkan dalam bentuk mimik, gerak gerik tubuh, sikap atau perilaku. Pemakaian bahasa verbal lebih mudah untuk dilihat atau diamati. Namun, di samping itu terdapat pula bahasa nonverbal yang mendukung pengungkapan kepribadian seseorang, yakni berupa mimik, gerak- gerik tubuh, sikap, atau perilaku.

  Struktur bahasa yang santun adalah struktur bahasa yang disusun oleh penutur/penulis agar tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembaca (Pranowo, 2009:4). Ketika berkomunikasi, penggunaan bahasa dengan baik dan benar saja belum cukup. Agar dapat membentuk perilaku seseorang menjadi lebih baik hendaknya juga menerapkan penggunaan bahasa yang santun.

  Pemakaian bahasa seseorang berbeda-beda, dalam masyarakat masih terdapat penggunaan bahasa yang santun maupun tidak santun. Pada kenyataannya, penggunaan bahasa yang tidak santun lebih banyak terjadi dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Pranowo (2009:51) memaparkan beberapa alasan yang mendasari hal tersebut, antara lain (a) tidak semua orang memahami kaidah kesantunan, (b) ada yang memahami kaidah tetapi tidak mahir menggunakan kaidah kesantunan, (c) ada yang mahir menggunakan kaidah kesantunan dalam berbahasa, tetapi tidak mengetahui bahwa yang digunakan adalah kaidah kesantunan, dan (d) tidak memahami kaidah kesantunan dan tidak mahir berbahasa secara santun. Maka dari itu, agar terwujudnya dominasi penggunaan bahasa santun daripada bahasa yang tidak santun perlu melakukan hal berikut (a) kaidah kesantunan berbahasa sudah dideskripsikan dengan baik, (b) masyarakat, (c) pimbinaan terus menerus melalui berbagai jalur (sekolah, kantor, lembaga-lembaga lain yang menjadi tempat berkimpulnya orang bnyak), (d)

  

pengawasan yang sifatnya “sapa senyum” agar masyarakat semakin sadar untuk

menggunakan bahasa yang santun terus menerus (Pranowo, 2009:52).

  Pemakaian bahasa, baik santun maupun tidak dapat dilihat dari dua hal, yaitu pilihan kata (diksi) dan gaya bahasa. Pilihan kata yang dimaksud adalah ketepatan pemakaian kata untuk mengefektifkan pesan dalam konteks tertentu sehingga menimbulkan efek tertentu pada mitra tutur. Sedangkan, gaya bahasa digunakan untuk memperindah tuturan dan kehalusan budi pekerti penutur. Beberapa gaya bahasa yang dapat digunakan untuk melihat santun tidaknya pemakaian bahasa dalam bertutur, antara lain: majas hiperbola, majas perumpamaan, majas metafora, dan majas eufemisme. Selain hal tersebut, Pranowo (2009:76

  • –79) menjelaskan adanya dua aspek penentu kesantunan, yaitu

  aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan. Aspek kebahasaan meliputi aspek intonasi (keras lembutnya intonasi ketika seseorang berbicara), aspek nada bicara (berkaitan dengan suasana emosi penutur: nada resmi, nada bercanda atau bergurau, nada mengejek, nada menyindir), faktor pilihan kata, dan faktor struktur kalimat. Sedangkan, aspek nonkebahasaan berupa pranata sosial budaya masyarakat (misalnya aturan anak kecil yang harus selalu hormat kepada orang yang lebih tua, dan sebagainya), pranata adat (seperti jarak bicara antara penutur dengan mitra tutur, gaya bicara, dan sebagainya).

  Melihat fenomena-fenomena kebahasaan yang terjadi dalam masyarakat, adalah penanda yang dapat dijadikan penentu apakah pemakaian bahasa seseorang

  • – dapat dikatakan santun atau tidak. Dell Hymes (1978) dalam Pranowo (2009:100

  101) menyatakan bahwa ketika seseorang berkomunikasi hendaknya memerhatikan beberapa komponen tutur yang meliputi latar, peserta, tujuan komunikasi, pesan yang ingin disampaikan, bagaimana pesan itu disampaikan, segala ilustrasi yang ada di sekitar peristiwa penutur, pranata sosial kemasyarakatan, dan ragam bahasa yang digunakan. Sedangkan, Grice (2000) dalam Pranowo (2009:102) lebih menekankan tata cara ketika berkomunikasi.

  Kemudian Leech (1983) via Pranowo (2009:102

  • –103), memaparkan prisnsip

  kesantunannya sebagai indikator kesantunan berbahasa, yakni: maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim kerendahan hati, maksim kesetujuan, maksim simpati, dan maksim pertimbangan. Selanjutnya, Pranowo (2009:103

  • –105) mengemukakan indikator kesantunan berupa nilai-nilai luhur

  yang mendukung kesantunan, yaitu sikap rendah hati. Sikap rendah hati seseorang dapat tumbuh dan berkembang jika seseorang mampu memanifestasikan nilai-

  (angon rasa, adu rasa), angon wayah,

  nilai lain, seperti tenggang rasa mau

  empan papan, berkorban, mawas diri, dan sebagainya.

2.3.6 Ketidaksantunan

  Ketidaksantunan berbahasa ini muncul dengan melihat realita di masyarakat dalam menggunakan bahasa atau berkomunikasi. Penggunaan bahasa yang santun dalam berkomunikasi masih jauh dari yang diharapkan.

  Ketidaksantunan berbahasa merupakan bentuk yang menunjuk pada kelima fenomena di atas, muncul fenomena baru yang belum banyak dikaji oleh para ahli linguistik dan pragmatik, fenomena tersebut merupakan ketidaksantunan berbahasa. Pranowo (2009:68-71) memaparkan gejala penutur yang bertutur secara tidak santun, yaitu penutur menyampaikan kritik secara langsung (menohok mitra tutur) dengan kata atau frasa kasar, penutur didorong rasa emosi yang berlebihan ketika bertutur sehingga terkesan marah kepada mitra tutur, penutur kadang-kadang protektif terhadap pendapatnya (hal demikian dimaksudkan agar tuturan mitra tutur tidak dipercaya oleh pihak lain), penutur sengaja ingin memojokkan mitra tutur dalam bertutur, penutur terkesan menyampaikan kecurigaan terhadap mitra tutur.

  Atas dasar identifikasi di atas, Pranowo (2009:72-73) menyebutkan empat

  Pertama,

  faktor yang menyebabkan ketidaksantunan pemakaian bahasa. ada orang yang memang tidak tahu kaidah kesantunan yang harus dipakai ketika berbicara.

  Kedua Ketiga

  , faktor pemerolehan kesantunan. , ada orang yang sulit meninggalkan kebiasaan lama dalam budaya bahasa pertama sehingga masih

  Keempat

  terbawa dalam kebiasaan baru (interferensi bahasa Indonesia). , karena sifat bawaan

  “gawan bayi” ang memang suka berbicara tidak santun di hadapan mitra tutur.

2.4 Teori Ketidaksantunan

  Impoliteness in Language: Studies on its Interplay with Power

  Dalam buku

  in Teory and Practice

  yang disusun oleh Bousfield dan Locher (2008) dan telah

  

dibahasakan oleh Rahardi (2012) dalam presentasinya yang berjudul “Penelitian

  (Family Domain)

  Keluarga

  ”, tampak bahwa beberapa ahli telah menelaah

  fenomena baru ini. Berikut pemaparan beberapa ahli mengenai ketidaksantunan berbahasa.

2.4.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher

  Miriam A Locher (2008) dalam Rahardi (2012) berpendapat bahwa

  iour

  ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut,

  ‘…behav that is face- aggravating in a particular context.’ Maksud Locher adalah bahwa

  (face- ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka aggravate)

  . Perilaku melecehkan muka itu sesungguhnya lebih dari sekadar

  face-threaten ), seperti yang ditawarkan dalam banyak ‘mengancam’ muka (

  definisi kesantunan klasik Leech (1983), Brown and Levinson (1987), atau sebelumnya pada tahun 1978, yang cenderung dipengaruhi konsep muka Erving Goffman (cf. Rahardi, 2009).

  Interpretasi lain yang berkaitan dengan definisi Locher terhadap ketidaksantunan berbahasa ini adalah bahwa tindakan tersebut sesungguhnya bukanlah sekadar perilaku

  ‘melecehkan muka’, melainkan perilaku yang ‘memain

  • mainkan muka’. Jadi, ketidaksantunan berbahasa dalam pemahaman Miriam A.

  Locher adalah sebagai tindak berbahasa yang melecehkan dan memain-mainkan

  aggravate muka, sebagaimana yang dilambangkan dengan kata ‘ ’ itu.

  Berikut ini disampaikan contoh tuturan yang mengandung ketidaksantunan menurut Locher (2008).

  Latar belakang situasi: Kakak sedang menemani adiknya belajar. Kakak

  Kakak

  :“Nulis kayak gitu aja lama!” (sambil melihat tulisan adiknya) “Pantesan lama, ngebatik gitu ko’ nulisnya.”

  Adik

  : “Biarin.”

  Berdasarkan contoh tersebut, dapat dilihat seorang kakak yang

  ‘melecehkan

muka’ adiknya. Dari percakapan di atas, dapat diketahui bahwa sang kakak

  bermaksud untuk mengejek tulisan adiknya. Hal tersebut terlihat dari tuturan kakak

  “pantesan lama, ngebatik gitu ko’ nulisnya”, kalimat tersebut menandakan

  bahwa terdapat tuturan yang tidak santun, walaupun disampaikan kepada adiknya sendiri dan penyampaian tuturan tersebut disampaikan dengan nada guyonan, tetapi tuturan tersebut seharusnya tidak disampaikan karena akan menyinggung perasaan mitra tutur.

  Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher ini menfokuskan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang memiliki maksud untuk melecehkan dan menghina mitra tuturnya.

2.4.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Bousfield

  Dalam pandangan Bousfield (2008:3) dalam Rahardi (2012),

  The issuing of intentionally ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai, ‘

gratuitous and conflictive face-threatening acts (FTAs) that are purposefully

perfomed.’ Bousfield memberikan penekanan pada dimensi ‘kesembronoan’

(gratuitous), (conflictive)

  dan konfliktif dalam praktik berbahasa yang tidak santun itu. Jadi, apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka. hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian mendatangkan konflik, atau bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan

  

(purposeful) . Berhubungan dengan dimensi-dimensi tersebut, tindakan berbahasa

itu merupakan realitas ketidaksantunan.

  Berikut ini disampaikan contoh tuturan yang mengandung ketidaksantunan menurut Bousfield (2008).

  Latar belakang situasi: Sore hari bapak dan ibu duduk santai di beranda rumah. Tiba-tiba janda kembang menyapa mereka.

  Janda : “Permisi, Pak, Bu...”(Sambil melanjutkan perjalanan). Bapak : (Menggrutu kepada sang istri) “Ayu-ayu ko’ janda yo, Bu.

  Eman-eman banget .”

  Ibu : “Ya sana, kawin meneh karo jandane kae!” Berdasarkan contoh tersebut, dapat dilihat bahwa bapak menyampaikan tuturan secara

  ‘sembrono’, hingga tindakan berkategori sembrono demikian

  mendatangkan

  • konflik

   . Hal tersebut terlihat dari tuturan bapak “ayu ayu ko’ janda yo, Bu. Eman- eman banget”. Kalimat tersebut menandakan bahwa terdapat

  tuturan yang tidak santun, walaupun disampaikan bukan dengan maksud yang negatif (suka atau mempunyai rasa terhadap janda tersebut). Tuturan tersebut seharusnya tidak disampaikan, karena jelas disampaikan secara sembrono dan mungkin akan menimbulkan konflik. Kemungkinan timbulnya konflik telihat dalam tuturan yang dilontarkan oleh ibu

  “ya sana, kawin meneh karo jandane kae! . Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield (2008) ini lebih menfokuskan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang memiliki maksud mengancam muka yang dilakukan secara sembrono dan dapat memungkinkan terjadinya konflik antara penutur dan mitra tutur.

2.4.3 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Culpeper

  Pemahaman Culpeper (2008) dalam Rahardi (2012) tentang ketidaksantunan

  Impoliteness, as I would define it, involves communicative berbahasa adalah, ‘ or perceived by the target behavior intending to cause the “face loss” of a target

to be so.’ Dia memberikan penekanan pada fakta ‘face loss’ atau ‘kehilangan

muka’, kalau dalam bahasa Jawa mungkin konsep itu dekat dengan konsep

‘kelangan rai’ (kehilangan muka). Jadi, ketidaksantunan dalam berbahasa itu

  merupakan perilaku komunikatif yang diperantikan secara intensional untuk

  (face loss),

  membuat orang benar-benar kehilangan muka atau setidaknya orang tersebut

  ‘merasa’ kehilangan muka.

  Berikut ini disampaikan contoh tuturan yang mengandung ketidaksantunan menurut Culpeper.

  Latar belakang situasi: Malam hari sekitar pukul 19.00 sedang ada perkumpulan keluarga besar.

  Pakde : “Kamu ambil jurusan apa kuliahnya Jon?” Jono

  : “Ambil Pendidikan Bahasa Indonesia, Pakde.”

  Pakde : “Lho, anak STM ko’ ngambil pendidikan? Bisa po?

  Jono : (Tersenyum berat) Berdasarkan contoh di atas, dapat dilihat bahwa Jono merasa

  ‘kehilangan

muka’ akibat tuturan yang dikeluarkan oleh Pakdenya. Tuturan yang disampaikan

  pakde yaitu

  “lho, anak STM ko’ ngambil pendidikan? Bisa po?” sebenarnya

  merupakan suatu candaan atau bisa juga berupa sindiran. Tetapi, candaan atau sindiran tersebut kurang pantas, karena tuturan itu disampaikan tanpa memperhatikan konteks situasinya. Konteks situasi di atas adalah dalam konteks situasi yang sedang ramai karena terdapat kumpul keluarga besar. Dalam hal ini tuturan tersebut dapat dikatakan sebagai tuturan yang tidak santun.

  Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa mitra tutur merasa dipermalukan oleh penutur. Ketidaksantunan berbahasa yang diterapkan dalam situasi di atas, termasuk dalam teori menurut pandangan Culpeper, yakni teori yang menfokuskan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang memiliki maksud untuk mempermalukan mitra tuturnya.

2.4.4 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Terkourafi

  Terkourafi (2008) dalam Rahardi (2012), memandang ketidaksantunan sebagai,

  ‘impoliteness occurs when the expression used is not conventionalized r

elative to the context of occurrence; it threatens the addressee’s face but no

face- threatening intention is attributed to the speaker by the hearer.’ Jadi

  perilaku berbahasa dalam pandangannya akan dikatakan tidak santun bilamana

  (addressee) (face

  mitra tutur merasakan ancaman terhadap kehilangan muka threaten), (speaker)

  dan penutur tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya.

  Berikut ini disampaikan contoh tuturan yang mengandung ketidaksantunan menurut Terkourafi.

  Latar belakang situasi: Sebuah keluarga yang beranggotakan Bapak, Ibu, Kakak, dan Adik sedang makan malam di ruang keluarga sambil menonton suatu acara di salah satu stasiun televisi swasta.

  Kakak

  : “Minta baksonya, Dik.” (Sambil mengambil satu bakso dari

  mengkok adiknya) Adik

  : “Waaaasss... Udah punya ko’ masih minta-minta! Kayak gembel aja

  .”

  Kakak : (Memakan bakso yang diminta dari adiknya dengan asiknya tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh adiknya).

  Berdasarkan tuturan di atas, menunjukkan bahwa kakak berusaha meminta bakso milik adiknya, namun hal tersebut membuat adik merasa tidak nyaman.

  Dari tuturan yang dihasilkan oleh adik menunjukkan bahwa dia merasakan ancaman terhadap kehilangan muka, hal ini terlihat dalam tuturan

  • minta! Kayak gembel aja

  

“waaaasss...udah punya ko’ masih minta . Tetapi

  kakak tidak merasakan ancaman muka yang dilakukan oleh adiknya yang bertutur

  

“udah punya ko’ masih minta minta! Kayak gembel aja”, hal ini terlihat bahwa

  • kakak tidak merespon ancaman muka yang dilontarkan kepadanya, bahkan kakak tidak menghiraukannya.
Berdasarkan ilustrasi di atas, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa menurut pandangan Terkourafi (2008) lebih menfokuskan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan penutur yang membuat mitra tutur merasa mendapat ancaman terhadap kehilangan muka, tetapi penutur tidak menyadari bahwa tuturannya telah memberikan ancaman muka mitra tuturnya.

2.4.5 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher and Watts

  and

  Locher Watts (2008) dalam Rahardi (2012), berpandangan bahwa perilaku tidak santun adalah perilaku yang secara normatif dianggap negatif

  (negatively marked behavior),

  lantaran melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Juga mereka menegaskan bahwa ketidaksantunan merupakan peranti untuk menegosiasikan hubungan antarsesama ( a means to

  negotiate meaning

  ). Selengkapnya pandangan mereka tentang ketidaksantunan tampak berikut ini, -aggravating behaviour more

  ‘…impolite behaviour and face generally is as much as this negation as polite versions of b ehavior.’ (cf. Lohcer and Watts, 2008:5).

  Berikut ini disampaikan contoh tuturan yang mengandung ketidaksantunan

  and menurut Locher Watts.

  Latar belakang situasi: Terdapat anak perempuan bernama Jenni yang sedang makan di ruang makan.

  Jenni : (Sedang makan dengan kaki kanan naik ke atas kursi).

  Ibu

  : “Nduk, turunin kakinya! Gak sopan cewek kok makan sambil jegang gitu.”

  Jenni : (Kaget)

  “Yahh lupa, Bu. Tapi kan gak ada orang lain, Bu, jadi yaa gak papa dikit- dikit. Heheheee.”

  Ibu

  : “Gimana sihh kamu tuh, kelakuan jelek kayak gitu kok dipelihara.”

  Bahasa tubuh yang dilakukan oleh Jenni merupakan tindakan yang tidak santun yakni melanggar norma-norma sosial dalam masyarakat sehingga membuat ibu marah. Dari percakapan di atas, dapat diketahui bahwa Jenni sebenarnya tahu bahwa apa yang dia lakukan adalah tindakan yang tidak santun dengan melanggar norma-norma sosial yang berada dalam masyarakat, terutama keluarga. Selain itu, Jenni menanggapi hal tersebut dengan tuturan yang bernada tanpa rasa bersalah.

  Hal ini terlihat dari tuturan yang dihasilkan oleh Jenni

  “Yahh lupa, Bu. Tapi kan gak ada orang lain, Bu, jadi yaa gak papa dikit-dikit. Heheheee

  . Tuturan

  tersebut merupakan tuturan yang tidak sopan karena telah mengacuhkan dan melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.

  Berdasarkan ilustrasi di atas, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts (2008) ini lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur

  ,

  yang secara normatif dianggap negatif karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu).

  Sebagai rangkuman dari teori yang telah dikemukakan di atas, dapat ketidaksantunan berbahasa adalah tindak berbahasa yang melecehkan dan memain-mainkan muka mitra tutur atau bisa dikatakan menyinggung perasaan mitra tutur. Kedua, ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield (2008) adalah perilaku berbahasa yang mengancam muka dilakukan secara sembrono, hingga mendatangkan konflik. Ketiga, ketidaksantunan menurut pandangan Culpeper (2008) adalah perilaku berbahasa untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka, atau setidaknya orang tersebut

  ‘merasa’ kehilangan muka.

  Keempat, ketidaksantunan berbahasa menurut pandangan Terkourafi (2008) adalah perilaku berbahasa yang bilamana mitra tutur merasakan ancaman terhadap kehilangan muka, dan penutur tidak mendapat maksud ancaman muka tersebut

  and

  dari mitra tutur. Kelima, ketidaksantunan menurut pandangan Locher Watts (2008) adalah perilaku berbahasa yang secara normatif dianggap negatif, karena melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Kelima teori ketidaksantunan tersebut akan digunakan sebagai landasan untuk melihat kenyataan berbahasa yang tidak santun dalam ranah keluarga, khususnya keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik dan Pantai Congot, Kulonprogo, Yogyakarta.

2.5 Konteks

  Kajian pragmatik tidak lepas dari konteks situasi dan lingkungan sosial tertentu untuk mengartikan maksud penutur kepada mitra tutur. Rahardi (2003:8) memaparkan bahwa konteks situasi tuturan yang dimaksud menunjuk pada aneka macam kemungkinan latar belakang pengetahuan yang muncul dan dimiliki non-kebahasaan lainnya yang menyertai, mewadahi, serta melatarbelakangi hadirnya sebuah tuturan.

  Konteks telah dibicarakan oleh Malinowsky (1923) jauh sebelum para pakar linguistik dan pragmatik lainnya membicarakan tentang konteks. Malinowsky khususnya membahas mengenai konteks yang berdimensi situasi. Malinowsky (1923) dalam Verschueren (1998:75) via Rahardi (2012) mengatakan,

  ‘Exactly as

in the reality of spoken or written languages, a word without linguistics context is

a mere figment and stands for nothing by itself, so in the reality of a spoken living

tongue, the utterance has no meaning except in the context of situation

  . Jadi,

  Malinowsky (1923) memandang kehadiran konteks situasi menjadi mutlak untuk menjadikan sebuah tuturan benar-benar bermakna.

  Sejalan mengenai apa yang dipaparkan oleh Malinowsky (1923), Verschueren (1998) dalam Rahardi (2012) mengatakan bahwa

  ‘utterer’ (penutur)

  dan

  ‘interpreter’ (mitra tutur) menjadi titik utama dalam pragmatik. Verschueren

  (1998:76) via Rahardi (2012) menyebutkan empat dimensi konteks yang sangat mendasar dalam memahami makna sebuah tuturan.

  Pertama adalah

  ‘The utterer’ dan ‘The interpreter’ adalah dimensi yang

  paling signifikan dalam pragmatik. Jadi, penutur dan mitra tutur menjadi titik

  utterer (many voice)

  fokus dalam pragmatik. Penutur atau memiliki banyak suara

  interpreter

  atau memiliki banyak kemungkinan kata, sedangkan mitra tutur atau

  utterer

  memiliki banyak peran. Bahkan seorang penutur atau ada kalanya berperan

  interpreter

  sebagai mitra tutur atau . Jadi, selain penutur berperan sebagai penutur diucapkannya. Hal lain yang juga harus diperhatikan dalam kaitan dengan penutur dan mitra tutur selain apa yang telah dipaparkan sebelumnya adalah jenis kelamin, adat-kebiasaan, dan semacamnya. Hal tersebut adalah mengenai

  ‘the influence of

numbers’ alias ‘pengaruh dari jumlah’ orang yang hadir dalam sebuah

  pertutursapaan. Jadi, memang akan menjadi sangat berbeda makna kebahasaan yang muncul bilamana sebuah pertutursapaan dihadiri orang dalam jumlah

  (utterer

  banyak, dan bilamana hanya dihadiri dua pihak saja, yakni penutur ) dan mitra tutur ( interpreter). Seorang penutur tunggal akan sedikit banyak memiliki beban psikologis jika berhadapan dengan publik yang jumlahnya tidak sedikit. Sebaliknya, jika mitra tutur hanya berjumlah satu, sedangkan penutur jumlahnya jauh lebih banyak, mitra tutur itu akan cenderung menginterpretasi dengan hasil yang berbeda daripada juka penutur itu hanya satu orang saja jumlahnya. Jadi, kehadiran penutur yang banyak, cenderung akan mempengaruhi proses interpretasi makna oleh mitra tutur. Demikian juga sebaliknya, jika jumlah penutur itu banyak, maka interpretasi kebahasaan yang akan silakukan mitra tutur pasti sedikit banyak terpengaruh.

  Dimensi kedua yang dipaparkan oleh Verschueren (1998) adalah mengenai aspek-aspek mental

  Language users ‘language users’ (pengguna bahasa). utterer interpreter

  sesungguhnya dapat menunjuk dua pihak, yakni (penutur) dan (mitra tutur). Selain hadirnya pihak ke-1 dan pihak ke-2 dalam suatu pertuturan, kadangkala hadir juga pihak-pihak lain yang perlu sekali dicermati peran dan pengaruhnya terhadpa bentuk kebahasaan yang muncul. Kehadiran mereka semua

  

‘the utterer’. Dengan kata lain harus juga dinyatakan bahwa dimensi-dimensi

  mental

  ‘language users’ dalam peristiwa pertuturan itu berubah. Jadi jelas sekali,

  bahwa dimensi-dimensi mental penutur dan mitra tutur benar-benar sangat penting dalam kerangka perbincangan konteks pragmatik itu. Dalam konteks pragmatik, aspek kepribadian atau

  ‘personality’ dari penutur dan mitra tutur, , ternyata mengambil peranan yang sangat dominan.

  ‘utterer’ dan ‘interpreter’

  Aspek lain yang harus diperhatikan dalam kaitan dengan komponen penutur dan mitra tutur ini adalah aspek warna emosinya ( emotions ). Selain dimensi

  

‘personality’ dan ‘emotions’, terdapat pula dimensi ‘desires’ atau ‘wishes’,

  dimensi

  ‘motivations’ atau ‘intentions’, serta dimensi kepercayaan atau ‘beliefs’ yang juga harus diperhatikan dalam kerangka perbicangan konteks pragmatik ini.

  Dimensi-dimensi mental

  ‘language users’ yang telah disebutkan sebelumnya,

  semuanya berpengaruh besar terhadap dimensi kognisi dan emosi penutur dan mitra tutur dalam pertuturan sebenarnya.

  Dimensi yang ketiga adalah aspek-aspek sosial

  ‘language users’ adalah

  dimensi-dimensi yang berkaitan dengan keberadaannya sebagai warga masyarakat dan kultur atau budaya tertentu. Kajian pragmatik sama sekali tidak dapat lepas dari fakta-fakta sosial-kultural. Aspek-aspek sosial, atau dapat pula diistilahkan sebagai

  ‘social setting’ alias seting sosial atau oleh Verschueren (1998) disebut

‘ingredient of the communicative context’ harus diperhatikan dengan benar-benar

  baik dalam analisis pragmatik. Aspek kultur juga merupakan satu hal yang sangat penting sebagai penentu makna dalam pragmatik, khususnya yang berkaitan

  Dimensi keempat atau yang terakhir dijelaskan oleh Verschueren (1998)

  deixis

  adalah mengenai aspek-aspek fisik

  ‘language users’. Fenomena deiksis (

phenomenon ), baik yang berciri persona ( personal deixis ), deiksis perilaku

attitudinal deixis temporal deixis

  ( ), deiksis waktu ( ), maupun deiksis tempat ( spatial deixis ) menjadi dimensi-dimensi fisik yang menarik perhatian para pakar linguistik dan pragmatik. Verschueren (1998) telah menegaskan,

  ‘…phenomena have exerted a strong fasci nation on linguists, from long before ‘pragmatics’ became a common notion

  , yang artinya bahwa fenomena deiksis telah menjadi

  perhatian linguis, bahkan sejak jauh sebelum pragmatik terlahir. Deiksis persona, lazimnya menunjuk pada penggunaan kata ganti orang, misalnya penggunaan kata

  

‘saya’, ‘kami’, ‘kita’, dan sebagainya. Selanjutnya masih berkaitan dengan

  persoalan deiksis, tetapi yang sifatnya temporal, misalnya saja kapan harus digunakan ucapan

  ‘selamat pagi’ atau ‘pagi’ saja dalam bahasa Indonesia. Dalam

  konteks waktu pula, kapan orang harus berhati-hati, kapan harus menggunakan

  

‘event time’ seperti ‘pada Senin’ atau ‘pada 2012’, kapan harus menggunakan

‘time of utterence’ seperti ‘kemarin’, ‘sekarang’, ‘besok’, dan kapan pula harus

  menggunakan

  ‘reference time’ seperti pada ‘ketika, pada saat, manakala’ dan

  seterusnya. Aspek-aspek fisik konteks lain di luar apa yang disebutkan di depan itu adalah ihwal jarak spasial atau

  ‘space distance’. Ketika orang sedang bertutur

  sapa, jarak spasial yang demikian ini sangat menentukan maksud, juga persepsi terhadap makna yang disampaikan oleh

  ‘interpreter’.

  Leech (1983) via Rahardi (2012) menggunakan istilah

  ‘speech situations’ bermacam-macamnya maksud yang dikomunikasikan oleh penuturan sebuah

  

tuturan, Leech (1983) dalam Wijana (1996:10−13) mengemukakan sejumlah

aspek yang senantiasa harus dipertimbangkan dalam rangka studi pragmatik.

  Aspek-aspek itu adalah sebagai berikut. 1)

  Penutur dan lawan tutur

  Konsep penutur dan lawan tutur ini juga mencakup penulis dan pembaca bila tuturan bersangkutan dikomunikasikan dengan media tulisan. Aspek- aspek yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur ini adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya.

  2)

  Konteks tuturan

  Konteks tuturan penelitian linguistik adalah konteks dalam semua aspek fisik atau setting sosial yang relevan dari tuturan bersangkutan. Konteks yang bersifat fisik lazim disebut koteks (cotext) , sedangkan konteks setting sosial disebut konteks. Di dalam pragmatik konteks itu pada hakikatnya adalah semua latar belakang pengetahuan (back ground knowledge) yang dipahami bersama oleh penutur dan lawan tutur.

  3)

  Tujuan penutur

  Bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertentu. Dalam hubungan ini bentuk-bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama. Atau sebaliknya, berbagai macam maksud dapat diutarakan dengan tuturan yang sama. Di dalam pragmatik, berbicara merupakan aktivitas yang mendasar antara pandangan pragmatik yang bersifat fungsional dengan pandangan gramatika yang bersifat formal. Di dalam pandangan yang bersifa formal, setiap bentuk lingual yang berbeda tentu memiliki makna yang berbeda.

  4)

  Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas

  Bila gramatika menangani unsur-unsur kebahasaan sebagai entitas yang abstrak, seperti kalimat dalam studi sintaksis, proposisi dalam studi semantik, dan sebagainya, pragmatik berhubungan dengan tindak verbal

  (verbal act)

  yang terjadi dalam situasi tertentu. Dalam hubungan ini, pragmatik menangani bahasa dalam tingkatannya yang lebih konkret dibanding dengan tata bahasa. Tuturan sebagai entitas yang konkret jelas penutur dan lawan tuturnya, serta waktu dan tempat pengutaraannya.

  5)

  Tuturan sebagai produk tindak verbal

  Tuturan yang digunakan di dalam rangka pragmatik, seperti yang dikemukakan dalam kriteria keempat merupakan bentuk dari tindak tutur.

  Oleh karenanya, tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal. Sebagai contoh, kalimat Apakah rambutmu tidak terlalu panjang? Dapat ditafsirkan sebagai pertanyaan atau perintah. Dalam hubungan ini,

  (sentence)

  dapat ditegaskan ada perbedaan yang mendasar antara kalimat

  (utturance)

  dengan tuturan . Kalimat adalah entitas gramatikal sebagai hasil kebahasaan yang diidentifikasikan lewat penggunaannya dalam situasi tertentu.

  Kemudian Le

  vinson (1983:22−23) via Nugroho (2009:119) menjelaskan

  bahwa untuk mengetahui konteks, seseorang harus membedakan antara situasi aktual sebuah tuturan dalam semua keserbaragaman ciri-ciri tuturan mereka, dan pemilihan ciri-ciri tuturan tersebut secara budaya dan linguistis yang berhubungan dengan produksi dan penafsiran tuturan.

  Hymes (1974) via Nugroho (2009:119) menghubungkan konteks dengan situasi tutur. Hymes melibatkan istilah ‘komponen tutur’ dalam menjelaskan tentang konteks. Seperti yang dikutip ol

  eh Sumarsono (2008:325−334), Hymes

  menyebutkan terdapat enam belas komponen tutur, yaitu (1) bentuk pesan ( message form ), (2) isi pesan ( message content ), (3) latar ( setting ), (4) suasana

  scene speaker, sender addressor

  ( ), (5) penutur ( ), (6) pengirim ( ), (7) pendengar

  hearer, receiver audience addressee

  ( , ), (8) penerima ( ), (9) maksud-hasil ( purpose-outcome ), (10) maksud-tujuan ( purpose-goal ), (11) kunci ( key ), (12)

  channel forms of speech norm

  saluran ( ), (13) bentuk tutur ( ), (14) norma interaksi (

  

of interaction ), (15) norma interpretasi ( norm of interpretation ), dan (16) kategori

genre

  wacana ( ). Dalam situasi tutur tersebut, terdapat delapan komponen yang mempengaruhi tuturan seseorang. Kedelapan komponen tutur tersebut meliputi latar fisik dan latar psikologis ( setting and scene ), peserta tutur ( participants ),

  ends acts keys

  tujuan tutur ( ), urutan tindak ( ), nada tutur ( ), saluran tutur

  instruments norms genres

  ( ), norma tutur ( ), dan jenis tutur ( ) (Hymes, 1974) via (Nugroho, 2009:119).

  Berdasarkan penjelasan di atas, konteks dapat diartikan sebagai segala belakang pengetahuan yang sama atas apa yang dituturkan dan dimaksudkan oleh penutur. Konteks tersebut disertai dengan komponen-komponen tuturan yang sangat mempengaruhi tuturan seseorang. Kehadiran konteks berhubungan dengan produksi dan penafsiran dari tuturan.

2.6 Unsur Segmental

  Unsur segmental berkenaan dengan wujud tuturan. Unsur segmental hanya akan didapati pada bahasa tulisan, bukan pada bahasa lisan. Unsur ini mencakup penggunaan diksi, gaya bahasa, dan kategori fatis yang terdapat dalam tuturan. Berikut pemaparan dari setiap unsur tersebut.

2.6.1 Diksi

  Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokkan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Keraf (1986:24) mendefinisikan pilihan kata atau diksi sebagai kemampuan membedakan secara tepat bentuk-benuk makna dari gagasan yang disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud dengan perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa. Penggunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua sebuah gagasan, hal atau barang yang akan diamanatkan, dan kedua, kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan kata tadi.

  Keraf (1986:87

  −101) menjelaskan bahwa, pendayagunaan kata pada

  dasarnya dibagi menjadi dua persoalan pokok, yakni

  pertama

  , ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis dan pembicara. Beberapa butir perhatian dan persoalan berikut hendaknya diperhatikan setiap orang agar bisa mencapai ketepatan pilihan kata itu. Berikut persyaratan ketepatan diksi.

  1)

  

Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi. Dari dua kata yang

  mempunyai makna yang mirip satu sama lain, harus menetapkan mana yang akan dipergunakan untuk mencapai tujuan. Kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan disebut denotasi, sedangkan makna kata yang mengandung arti tambahan, perasaan tertentu, nilai rasa tertentu di samping arti yang umum, dinamakan konotasi

  2)

  

Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim. Kata-kata

yang bersinonim tidak selalu memiliki distribusi yang saling melengkapi.

  Sebab itu, penulis atau pembicara harus berhati-hati memilih kata dari sekian sinonim yang ada untuk menyampaikan apa yang diinginkannya, sehingga tidak timbul interpretasi yang berlainan

  3)

  

Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaannya. Bila penulis atau

  penutur tidak mampu membedakan kata-kata yang mirip ejaannya itu, maka

  4)

  

Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang

  sesuai dengan perkembangan dalam masyarakat. Perkembangan bahasa pertama-tama tampak dari pertambahan jumlah kata baru. Namun, hal itu tidak berarti bahwa setiap orang boleh menciptakan kata baru seenaknya. Kata baru biasanya muncul untuk pertama kali karena dipakai oleh orang- orang terkenal atau pengarang terkenal. Bila anggota masyarakat lainnya menerima kata itu, maka kata itu lama-kelamaan akan menjadi milik masyarakat. Neologisme atau kata baru atau penggunaan sebuah kata lama dengan makna dan fungsi yang baru termasuk dalam kelompok ini. 5)

  

Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing, terutama kata-kata asing

yang mengandung akhiran asing tersebut.

  6)

Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatis.

7)

  

Untuk menjamin ketepatan diksi, penulis atau pembicara harus

  membedakan kata umum dan kata khusus. Kata khusus lebih tepat menggambarkan sesuatu daripada kata umum. Dengan demikian, semakin khusus sebuah kata atau istilah, semakin dekat dengan titik persamaan atau pertemuan yang dapat dicapai antara penulis dan pembaca. Sebaliknya, semakin umum sebuah istilah, semakin jauh pula titik pertemuan antara penulis dan pembaca. Sebuah istilah atau kata yang umum dapat mencakup sejumlah istilah yang khusus. 8)

Mempergunakan kata-kata indria yang menunjukkan persepsi yang khusus.

  Suatu jenis pengkhususan dalam memilih kata-kata yang tepat adalah diserap oleh pancaindria (serapan indria pengelihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman. Karena kata-kata indria melukiskan suatu sifat yang khas dari penserapan pancaindria, maka pemakaiannya pun harus tepat. 9)

  

Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah

  dikenal. Kenyataan yang dihadapi oleh setiap pemakai bahasa adalah bahwa makna kata tidak selalu bersifat statis. Dari waktu ke waktu, makna kata- kata dapat mengalami perubahan sehingga akan menimbulkan kesulitan- kesulitan baru pemakain yang terlalu bersifat konservatif. Sebab itu, untuk menjaga agar pilihan kata selalu tepat, maka setiap penutur bahasa harus selalu memperhatikan perubahan-perubahan makna yang terjadi. Perubahan- perubahan makna yang penting diketahui oleh pemakai bahasa adalah perluasan arti, penyempitan arti, ameliorasi, peyorasi, metafora, dan metonimi. 10)

  Memperhatikan kelangsungan pilihan kata. Kalangsungan pilihan kata

  adalah teknik memilih kata yang sedemikian rupa, sehingga maksud atau pikiran seseorang dapat disampaikan secara tepat dan ekonomis.

  Kelangsungan dapat terganggu bila seorang pembicara atau pengarang mempergunakan terlalu banyak kata untuk suatu maksud yang dapat diungkapkan secara singkat, atau mempergunakan kata-kata yang kabur,

  ambiguitas yang bisa menimbulkan (makna ganda).

  Persoalan kedua dalam penggunaan kata-kata adalah kecocokan atau kesesuaian. Terdapat beberapa hal yang perlu diketahui setiap penulis atau dan tidak akan menimbulkan ketegangan antara penulis atau pembicara dengan para hadirin atau para pembaca. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut (Keraf, 1986:102 −111). 1)

  

Hindarilah sejauh mungkin bahasa atau unsur substandar dalam suatu situasi

  yang formal. Bahasa substandar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya bahasa ini hanya digunakan untuk pergaulan biasa, tidak dipakai pada tulisan- tulisan, bersenda-gurau, berhumor, atau untuk menyatakan sarkasme atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan. Dengan demikian, dalam suasana formal, harus dipergunakan unsur-unsur bahasa standar, harus dijaga agar unsur- unsur nonstandar tidak boleh menyelinap ke dalam tutur seseorang. 2)

  

Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi

  yang umum hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata-kata populer. Kata-kata populer adalah kata-kata yang dikenal dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Sedangkan kata-kata ilmiah adalah kata-kata yg biasa dipakai oleh kaum terpelajar, dalam pertemuan-pertemuan resmi, diskusi-diskusi khusus, teristimewa dalam diskusi ilmiah. 3) jargon dalam tulisan untuk pembaca umum. Jargon merupakan

  Hindarilah

  bahasa yang khusus sekali, maka tidak akan banyak artinya bila dipakai untuk suatu sasaran yang umum.

  4)

  

Penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari pemakaian kata-kata

slang slang

  . Kata-kata adalah semacam kata percakapan yang tinggi atau arbitrer

  secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara ; atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam percakapan.

  Kadangkala kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadangkala berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain. 5)

  

Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan. Kata percakapan

  adalah kata-kata yang biasa dipakai dalam percakapan atau pergaulan orang- orang yang terdidik. Kata-kata percakapan mencakup kata-kata populer, kata-kata idiomatis, kata-kata ilmiah, dan kata-kata yang tidak umum (slang) yang biasa dipakai oleh golongan terpelajar saja.

  6)

  

Hindarilah ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati). Idiom adalah

  pola-pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis atau secara gramatikal, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya.

  7)

  

Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artifisial. Yang dimaksud bahasa

  artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni. Bahasa yang artifisial tidak terkandung dalam kata yang digunakan, tetapi dalam pemakaiannya untuk menyatakan suatu maksud. Bahasa standar dan bahasa nonstandar digunakan dalam pemilihan kata, penulis atau pembicara harus dapat membedakan kedua bentuk bahasa tersebut.

  Keraf (1986:104) memaparkan pengertian bahasa standar dan bahasa nonstandar tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Secara kasar kelas ini dianggap sebagai kelas terpelajar. Kelas ini meliputi pejabat-pejabat pemerintah, ahli-ahli bahasa, ahli-ahli hukum, dokter, pedagang, guru, penulis, penerbit, seniman, insinyur, serta semua ahli lainnya, bersama keluarganya. Bahasa nonstandar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak dipakai dalam tulisan-tulisan. Kadang-kadang unsur nonstandar dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam bersenda-gurau, berhumor, atau untuk menyatakan sarkasme atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan. Bahasa nonstandar dapat juga berlaku untuk suatu wilayah yang luas dalam wilayah bahasa standar tadi.

2.6.2 Kategori Fatis

  Kridalaksana (1986:111) mengartikan kategori fatis sebagai kategori yang bertugas melalui, mempertahankan, atau mengkukuhkan pembicaraan antara pembicara dan lawan bicara. Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri ragam lisan. Ragam lisan pada umumnya merupakan ragam non-standar, maka kebanyakan kategori fatis terdapat dalam kalimat-kalimat non-standar yang banyak mengandung unsur-unsur daerah atau dialek regional.

  Berikut adalah bentuk-bentuk dari kata fatis (Kridalaksana, 1986:113 –116).

  ah 1) menekankan rasa penolakan atau acuh tak acuh. ayo 2) menekankan ajakan. deh

  3) menekankan pemksaan dengan membujuk, pemberian persetujuan, pemberian garansi, sekedar penekanan.

  4) dong digunakan untuk menghaluskan perintah, menekankan kesalahan kawan bicara.

  5) ding menekankan pengakuan kesalahan pembicara.

  halo

  6) digunakan untuk memulai dan mengukuhkan pembicaraan di telepon, serta menyalami kawan bicara yang dianggap akrab.

  7) kan apabila terletak pada akhir kalimat atau awal kalimat, maka kan

  bukan bukanlah,

  merupakan kependekan dari kata atau dan tugasnya ialah menekankan pembuktian. Apabila kan terletak di tengah kalimat maka kan juga bersifat menekankan pembuktian atau bantahan.

  kek

  8) mempunyai tugas menekankan pemerincian, menekankan perintah, dan menggantikan kata saja .

  kok Kok

  9) menekankan alasan dan pengingkaran. dapat juga bertugas sebagai pengganti kata tanya mengapa atau kenapa bila diletakkan di awal kalimat.

  • lah 10) menekankan kalimat imperatif dan penguat sebutan dalam kalimat.

  lho

  11) bila terletak di awal kalimat bersifat seperti interjeksi yang menyatakan kekagetan. Bila terletak di tengah atau di akhir kalimat, maka lho bertugas menekankan kepastian.

  mari 12) menekankan ajakan. nah

  13) selalu terletak pada awal kalimat dan bertugas untuk minta supaya kawan bicara mengalihkan perhatian ke hal lain. pun

  14) selalu terletak pada ujung konstituen pertama kalimat dan bertugas menonjolkan bagian tersebut.

  15) selamat diucapkan kepada kawan bicara yang mendapatkan atau mengalami sesuatu yang baik.

  16) sih memiliki tugas menggantikan tugas tah dan kah , sebagai makna

  • ‘memang’ atau ‘sebenarnya’, dan menekankan alasan.

  toh

  17) bertugas menguatkan maksud; adakalanya memiliki arti yang sama dengan tetapi .

  ya

  18) bertugas mengukuhkan atau membenarkan apa yang ditanyakan kawan bicara, bila dipakai pada awal ujaran dan meminta persetujuan atau pendapat kawan bicara bila dipakai pada akhir ujaran.

  yah

  19) digunakan pada awal atau di tengah-tengah ujaran, tetapi tidak pernah pada akhir ujaran, untuk mengungkapkan keragu-raguan atau ketidakpastian terhadap apa yang diungkapkan oleh kawan bicara atau yang tersebut dalam kalimat sebelumnya, bila dipakai pada awal ujaran; atau keragu-raguan atau ketidakpastian atas isi konstituen ujaran yang mendahuluinya, bila di tengah ujaran.

2.7 Unsur Suprasegmental

  Dalam bahasa tulisan, tanda baca memiliki peranan penting. Namun, dalam bahasa lisan tidak akan didapati tanda baca tersebut. Disinilah peranan unsur suprasegmental. Unsur suprasegmental hanya akan didapati pada bahasa lisan, unsur ini adalah tekanan, intonasi, nada, jeda. Berikut akan dipaparkan unsur-

  2.7.1 Tekanan

  Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti dibarengi dengan tekanan lunak. Tekanan ini mungkin terjadi secara sporadis, mungkin juga telah berpola, mungkin juga bersifat distingtif, dapat membedakan makna, mungkin juga tidak distingtif

  

(Achmad & Alek, 2013:33−34). Sebelumnya Samsuri (1969:56) dalam bukunya

  yang berjudul Fonologi mengungkapkan untuk menandai tekanan dapat dipakai tanda-

  

tanda diakritik [ “ ] untuk tekanan primer, [ ‘ ] untuk tekanan sekunder.

  2.7.2 Intonasi

  Intonasi dalam bahasa Indonesia sangat berperan dalam pembedaan maksud kalimat. Bahkan, dengan dasar kajian pola-pola intonasi ini, kalimat bahasa Indonesia dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar-turun. Kalimat tanya (interogatif) ditandai dengan pola intonasi datar-turun. Kalimat perintah (imperatif) ditandai dengan pola intonasi datar-tinggi

  (Muslich, 2009:115−117).

  Keraf (1991:208) menambahkan kalimat seru ke dalam kalimat bahasa Indonesia. Kalimat seru adalah kalimat yang menyatakan perasaan hati, atau keheranan terhadap suatu hal. Kalimat seru ditandai dengan intonasi yang lebih

2.7.3 Nada

  Dalam penuturan bahasa Indonesia, tinggi-rendahnya (nada) suara tidak fungsional atau tidak membedakan makna. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembedaan makna, nada dalam bahasa Indonesia tidak fonemis. Walaupun demikian, ketidakfonemisan ini tidak berarti nada tidak ada dalam bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor ketegangan pita suara, arus udara, dan posisi pita suara ketika bunyi itu diucapkan. Makin tegang pita suara, yang disebabkan oleh arus udara dari paru-paru, makin tinggi pula nada bunyi tersebut. Begitu juga posisi pita suara. Pita suara yang bergetar lebih cepat akan menentukan tinggi nada suara ketika berfonasi (Muslich, 2009:112).

  Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada tinggi. Sebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi getaran rendah,tentu akan disertai juga dengan nada rendah. Achmad & Alek

  (2013:33−34) membedakan empat macam nada, yaitu:

  1)

  Nada yang paling tinggi, diberi tanda dengan angka 4

  2)

  Nada tinggi, diberi tanda dengan angka 3

  3)

  Nada sedang atau biasa, diberi tanda dengan angka 2

  4)

  Nada rendah, diberi tanda dengan angka 1

  Nada ditandai dengan diakritik- diakritik [ ] untuk nada naik, [ ] untuk nada turun, [ - ] untuk nada datar, dan [

  ̌ ] untuk nada turun-naik, sedangkan [ ̂ ] untuk nada naik-turun.

2.8 Maksud dan Makna

  Rahardi (2003:16 −17) menjelaskan bahwa pragmatik mengkaji bahasa untuk memahami maksud penutur di dalam konteks situasi dan lingkungan sosial- budaya tertentu. Pragmatik dapat dikatakan sejajar dengan semantik dalam beberapa hal karena pragmatik mengkaji maksud penutur dalam menyampaikan tuturannya. Semantik merupakan cabang ilmu bahasa yang mengkaji makna bahasa, tetapi makna bahasa itu dikaji secara internal. Jadi, yang membedakan antara pragmatik dan semantik adalah bahwa pragmatik mengkaji makna satuan lingual tertentu secara eksternal, sedangkan semantik mengkaji makna satuan lingual secara internal. Makna yang dikaji dalam pragmatik bersifat terikat

  (context dependent)

  konteks , sedangkan makna yang dikaji secara semantik

  (context independent)

  berciri bebas konteks . Makna yang dikaji di dalam semantik bersifat diadik (diadic meaning)

  (dapat dirumuskan dengan pertanyaan ‘Apa (triadic makna x itu?’), sedangkan dalam pragmatik makna itu bersifat triadik meaning)

  (dapat dirumuskan dengan pertanyaan ‘Apakah yang kamu maksud

dengan berkata x itu?’). pragmatik mengkaji bahasa untuk memahami maksud

  penutur, semantik mempelajarinya untuk memahami makna sebuah satuan lingual

  

an sich , yang notabene tidak perlu disangkut-pautkan dengan konteks situasi

masyarakat dan kebudayaan tertentu yang menjadi wadahnya.

  Wijana & Muhammad (2008:10 –11) juga menjelaskan bahwa makna berbeda dengan maksud dan informasi karena maksud dan informasi bersifat di luar bahasa. Maksud ialah elemen luar bahasa yang bersumber dari pembicara, Maksud bersifat subjektif, sedangkan informasi bersifat objektif. Lebih jelasnya dapat dilihat pada kalimat (6), (7), (8), dan (9) berikut.

  (6) Anak itu memang pandai. Nilai bahasanya 9. (7) Anak itu memang pandai. Nilai bahasanya saja 4,5. (8) Ayah membeli buku. (9) Buku ini dibeli ayah.

  Kata “pandai” dalam kalimat (6) bermakna “pintar” karena secara internal

memang kata “pandai” bermakna demikian. Kata “pandai” dalam kalimat (7) yang

bermakna internal “pintar” dimaksudkan secara subjektif oleh penuturnya untuk

  mengungkapkan bahwa dia bodoh. Pengungkapannya yang bersifat subjektif

  

inilah yang disebut “maksud”. “Pandai” yang menyatakan “pintar” pada kalimat

(6) disebut makna linguistik (linguistic meaning), sedangkan “pandai” yang

menyatakan “bodoh” pada kalimat (7) disebut makna penutur (speaker meaning).

  Makna linguistik (makna) menjadi bahan kajian semantik, sedangkan makna penutur (maksud) menjadi bahan kajian pragmatik. Kalimat (8) jelas memiliki perbedaan makna (gramatikal) dengan kalimat (9). Kalimat (8) adalah kalimat aktif, sedangkan kalimat (9) adalah kalimat pasif. Akan tetapi, berdasarkan isi tuturan secara objektif kedua kalimat di atas menyatakan informasi yang sama, yakni “ayah yang membeli buku” dan “buku yang dibeli ayah”.

2.9 Kerangka Pikir

  

FENOMENA KETIDAKSANTUNAN

BERBAHASA DI RANAH KELUARGA

TEORI KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA

LOCHER BOUSFIELD TERKOURAFI LOCHER AND CULPEPER

(2008) (2008) (2008) WATTS (2008) (2008)

(2008)

  

METODE PENELITIAN DESKRIPTIF

KUALITATIF

METODE PENGUMPULAN DATA:

METODE SIMAK DAN METODE CAKAP

  

METODE DAN TEKNIK ANALISIS DATA:

KONTEKSTUAL

HASIL PENELITIAN

WUJUD LINGUISTIS PENANDA MAKSUD PENUTUR DAN PRAGMATIS KETIDAKSANTUNAN

  Ketidaksantunan dalam berbahasa dapat terjadi di mana saja, kapan saja, pertama kali dilakukan adalah pengambilan data atau tuturan yang tidak santun dalam keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik dan Pantai Congot, Kulonprogo.

  Langkah kedua, penggolongan tuturan yang tidak santun ke dalam teori- teori ketidaksantunan berbahasa. Terdapat lima teori ketidaksantunan berbahasa yang digunakan dalam penelitian ini. Pertama, teori ketidaksantunan menurut

  melecehkan (face-

  Miriam A Locher (2008), yakni tindak berbahasa yang

  

aggravate) dan memain-mainkan muka . Kedua, teori ketidaksantunan berbahasa

  menurut Bousfield (2008), yakni apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka, dan ancaman tersebut dilakukan secara sembrono (gratuitous) ,

  sembrono konflik

  hingga akhirnya tindakan berkategori demikian mendatangkan

  (conflictive)

  , atau bahkan pertengakaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan

  

kesengajaan (purposeful) . Ketiga, teori ketidaksantunan berbahasa menurut

  Culpeper (2008), yakni perilaku komunikasi yang diperantikan secara intensional untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka (face lose) , atau setidaknya orang tersebut merasa kehilangan muka. Keempat, teori ketidaksantunan berbahasa menurut Terkourafi (2008), yakni apabila ketidaksantunan tuturan penutur yang membuat mitra tutur merasa mendapat ancaman (addressee)

  kehilangan muka

  terhadap , tetapi penutur tidak menyadari bahwa tuturannnya

  ancaman muka

  telah memberikan mitra tuturnya. Kelima, teori ketidaksantunan

  and

  berbahasa menurut Locher Watts, yakni lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang secara normatif dianggap negatif, karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu).

  Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini mendeskripsikan fenomena ketidaksantunan berbahasa dalam ranah keluarga, khususnya keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Artinya, penelitian ini bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian (perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan sebagainya), secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata- kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2007:6).

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan metode cakap. Peneliti mengumpulkan tuturan keluarga nelayan dalam berbagai situasi yang terjadi di dalam keluarga tersebut. Tuturan ini diperoleh dengan memerantikan metode simak, yakni menyimak pertutuan langsung maupun tidak langsung di dalam keluarga nelayan. Teknik yang digunakan dalam penerapan metode simak ini adalah teknik catat dan teknik rekam, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan secara terbuka maupun tersembunyi. Metode cakap adalah metode penyediaan data yang dilakukan dengan cara mengadakan percakapan. Teknik yang digunakan dalam menerapkan metode cakap ini adalah teknik pancing. Teknik pancing merupakan teknik dasar memberi stimulus (pancingan) pada informan untuk memunculkan gejala kebahasaan yang diharapkan oleh peneliti (Mahsun, 2007:95).

  Metode dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini secara kontekstual, yakni dengan memerantikan dimensi-dimensi konteks dalam menginterpretasi data yang telah berhasil diidentifikasi, diklasifikasi, dan ditipifikasikan. Konteks yang diperantikan adalah metode analisis kontekstual, yang artinya adalah cara analisis yang diterapkan pada data dengan mendasarkan dan mengaitkan konteks (cf. Rahardi, 2004; Rahardi, 2006 dalam Rahardi, 2009:36).

  Hasil penelitian ini berupa wujud-wujud atau bentuk ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, dan maksud ketidaksantunan penutur dalam ranah keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini berisi uraian tentang jenis penelitian, subjek penelitian, metode dan

  teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, metode dan teknik analisis data, serta sajian hasil analisis data.

3.1 Jenis Penelitian

  Penelitian ini berjenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang mencoba untuk memberi gambaran secara sistematis tentang situasi, permasalahan, fenomena, layanan atau program, ataupun menyediakan informasi tentang, misalnya, kondisi kehidupan suatu masyarakat pada suatu daerah, tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena,

  • – pengukuran yang cermat tentang fenomena dalam masyarakat (Widi, 2010:47 48). Penelitian ini mendeskripsikan fenomena kebahasaan yang berkaitan dengan seluk-beluk ketidaksantunan berbahasa dalam ranah keluarga, khususnya keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Artinya, penelitian ini tidak memanfaatkan metode-metode kuantifikasi tertentu, mengingat bahwa tujuan pokok penelitian ini tidak menuntut pemerantian dari semuanya itu. Moleong (2007:6) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian subjek penelitian (perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll), secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai suatu penelitian ilmiah yang bertujuan untuk memahami fenomena dalam konteks secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti (Herdiansyah, 2010:9).

3.2 Data dan Sumber Data

  Sudaryanto (1993:3) via Mahsun (2006:19) dalam bukunya yang berjudul

  

Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya

  mengatakan bahwa, data merupakan bahan jadi (lawan dari bahan mentah), yang ada karena pemilihan aneka macam tuturan (bahan mentah). Wujud data penelitian ini berupa bermacam-macam wujud tuturan yang diperoleh secara natural dalam ranah keluarga, khususnya keluarga nelayan yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk kebahasaan yang secara linguistis maupun nonlinguistis mengandung maksud yang tidak santun. Objek sasaran penelitian dan konteksnya berupa bentuk-bentuk kebahasaan yang bermakna tidak santun baik secara linguistis maupun nonlinguistis tersebut merupakan objek sasaran penelitiannya dan sisa bentuk kebahasaan yang ada merupakan konteksnya. Data dari penelitian ini berupa gabungan keduanya, yakni objek sasaran penelitian yang berupa bentuk-bentuk kebahasaan yang tidak santun bersama entitas kebahasaan yang mengikuti dan mengawalinya.

  Suharsimi Arikunto (2010:172) mengatakan bahwa, sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data diperoleh. Sumber data merupakan tempat asal muasal data diperoleh. Sumber data dari penelitian ini diperoleh dari keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai

  

Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Kata ‘nelayan’

  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:779) adalah orang yang mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan (di laut). Sedangkan arti kata

  

‘keluarga’ adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga

  dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga nelayan yang dimaksudkan peneliti dalam penelitian ini adalah sekelompok keluarga yang tinggap pada satu tempat atau daerah yang memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan.

  Sumber data penelitian ini berasal dari berbagai macam cuplikan tuturan yang semuanya diambil secara natural dalam praktik-praktik perbincangan dalam ranah keluarga, khususnya keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Sumber data penelitian ketidaksantunan berbahasa ini juga dapat berupa rekaman hasil simakan tuturan para orangtua dan anggota keluarga yang diperoleh baik secara terbuka maupun tersembunyi, sehingga diharapkan data penelitian yang diperoleh dari sumber termaksud bersifat natural, andal, dan tepercaya.

  Untuk mempermudah penelitian, peneliti memberikan batasan-batasan kriteria keluarga nelayan. Keluarga nelayan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keluarga yang memiliki beberapa atau salah satu ciri berikut. 1)

  

Keluarga yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan di Pantai Trisik

dan Pantai Congot, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

  2)

  

Keluarga yang tinggal di daerah pesisir, khususnya di kampung nelayan

  Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

  Metode pengumpulan data yang menghasilkan terkumpulnya data merupakan tahapan strategi pertama dalam linguistik menangani bahasa (Sudaryanto, 1988:57). Tujuan dari tahapan ini adalah tertulisnya dan tertatanya data secara sistematis dalam transkripsi tertentu dan pada kartu data tertentu.

  Penelitian ini menggunakan dua metode, yaitu metode simak dan metode cakap. Peneliti mengumpulkan tuturan dari keluarga nelayan dalam berbagai situasi yang terjadi di dalam keluarga tersebut. Tuturan ini diperoleh dengan memerantikan metode simak, yakni menyimak pertuturan langsung di dalam keluarga nelayan, yang dipresumsikan di dalamnya terdapat bentuk-bentuk kebahasaan yang mengandung makna linguistis maupun nonlinguistis. Metode penyediaan data ini diberi nama metode simak karena cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa (Mahsun, 2006:92). Teknik yang digunakan untuk melaksanakan metode simak ini adalah secara terbuka mauoun secara tersembunyi. Dari catatan dan rekaman pertuturan itulah tuturan-tuturan kebahasaan yang di dalamnya mengandung wujud ketidaksantunan diperoleh sebagai bahan jadi penelitian ketidaksantunan berbahasa ini.

  Metode cakap adalah metode penyediaan data yang dilakukan dengan cara mengadakan percakapan. Metode cakap dapat pula disejajarkan dengan metode wawancara (Rahardi, 2009:34). Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu (Mulyana, 2008:180). Terdapat dua jenis wawancara, yaitu wawancara tak terstruktur (wawancara mendalam) dan wawancara terstruktur. Teknik yang digunakan dalam menerapkan metode cakap adalah teknik pancing. Mahsun (2006:95) mengartikan teknik pancing sebagai teknik dasar dari metode cakap, karena dimungkinkan muncul jika peneliti memberi stimululasi (pancingan) pada informan untuk memunculkan gejala kebahasaan yang diharapkan oleh peneliti. Sejalan dengan Mahsun, Rahardi (2009:34) mengemukakan bahwa teknik pancing merupakan teknik dasar dari metode cakap yang dilakukan dengan cara memancing seseorang atau beberapa orang agar mereka berbicara.

3.4 Instrumen Penelitian

  Suharsimi Arikunto (2010:203) menjelaskan bahwa instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya menjadi lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih digunakan dalam penelitian ketidaksantunan berbahasa ini adalah pedoman atau panduan wawancara (daftar pertanyaan, pancingan, dan daftar kasus) dengan berbekal teori ketidaksantunan berbahasa. Teori-teori tersebut akan digunakan untuk menganalisis bentuk tuturan dalam keluarga nelayan. Data-data yang didapat akan dicatat untuk kemudian dianalisis lebih lanjut selanjutnya.

3.5 Metode dan Teknik Analisis Data

  Analisis data merupakan upaya yang dilakukan untuk mengklasifikasi atau mengelompokkan data. Sugiyono (2012:244) menyimpulkan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

  Analisis dilakukan secara kontekstual, yakni dengan memerantikan dimensi- dimensi konteks dalam menginterpretasi data yang telah berhasil diidentifikasi, diklasifikasi, dan ditipifikasikan. Adapun konteks yang diperantikan adalah metode analisis kontekstual, yang artinya adalah cara analisis yang diterapkan pada data dengan mendasarkan dan mengaitkan konteks (cf. Rahardi, 2004; Rahardi, 2006 dalam Rahardi, 2009:36). Secara garis besar metode kontekstual ini sejalan dengan metode padan. Terdapat dua metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini, yakni metode padan intralingual dan

  3.5.1 Metode dan Teknik Analisis Data secara Linguistik

  Metode dalam analisis data secara linguistik menggunakan metode padan intralingual. Metode padan intralingual adalah metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda (Mahsun, 2006:118). Teknik yang digunakan dalam pelaksanaan metode ini adalah teknik dasar teknik hubung banding yang bersifat lingual.

  3.5.2 Metode dan Teknik Analisis Data secara Pragmatik

  Metode dalam analisis data secara pragmatik menggunakan metode padan ekstralingual. Metode padan ekstralingual adalah metode analisis yang digunakan untuk menganalisis unsur yang bersifat ekstralingual, seperti menghubungkan masalah bahasa dengan hal yang berada di luar bahasa (Mahsun, 2006:120).

  Teknik yang digunakan dalam pelaksanaan metode ini adalah teknik dasar teknik hubung banding yang bersifat ekstralingual.

  Peneliti menganalisis data dalam penelitian ini dengan tahapan sebagai berikut.

1) Peneliti mengumpulkan dan mentranskripsi data (tuturan ketidaksantunan).

  2)

  Peneliti mengelompokkan data ke dalam teori-teori ketidaksantunan berbahasa.

  3)

  Peneliti memasukkan dan mengklasifikasi data ke dalam tabulasi yang berisi

  tuturan, penanda ketidaksantunan (penanda lingual dan nonlingual), dan presepsi ketidaksantunan.

  4)

  Peneliti menganalisis data yang telah dikelompokkan secara linguistik dan pragmatik dengan mengacu pada tabulasi yang telah disusun.

  5)

  Peneliti mendeskripsikan dan menyimpulkan hasil analisis data dan

  pembahasan ke dalam teori-teori ketidaksantunan berbahasa dalam bentuk sajian hasil analisis.

  3.6 Sajian Hasil Analisis Data

  Tujuan akhir analisis data kualitatif adalah untuk memperoleh makna, menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep serta mengembangkan hipotesis atau teori baru. Data yang telah diinterpretasi dalam tahapan analisis data itu kemudian hasilnya disajikan secara tidak formal, dalam arti bahwa hasil analisis data itu dirumuskan dengan kata-kata biasa, bukan dengan simbol-simbol tertentu karena memang hasil penelitian ini tidak menuntut model sajian demikian itu.

  3.7 Trianggulasi Data

  Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan dan pembanding terhadap data (Moleong, 2007:330). Penelitian ketidaksantunan berbahasa dalam ranah keluarga nelayan ini menggunakan dua teknik trianggulasi data. Pertama, teknik trianggulasi teori yang befungsi untuk membandingkan hasil temuan dengan teori ketidaksantunan berbahasa dari para ahli bahasa.

  

Kedua , teknik trianggulasi penyidik, yakni dengan membandingkan hasil analisis

  Bukan hanya penggunaan kedua teknik trianggulasi diatas, peneliti juga melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing, yaitu Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum dan Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data

  Data penelitian yang diambil berupa tuturan lisan dalam situasi tertentu anggota keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta selama bulan April 2013 sampai Juni 2013. Data diambil berdasarkan fenomena kebahasaan yang berwujud tidak santun. Jumlah data yang terkumpul diidentifikasi atau dikategorikan menurut kategori ketidaksantunannya.

  Tuturan melanggar norma ini memiliki arti bahwa tuturan tersebut secara normatif dianggap negatif, lantaran melanggar norma-norma atau aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat atau keluarga. Berikut merupakan tuturan tidak santun yang termasuk ke dalam kategori melanggar norma.

  

Tabel 1: Data Tuturan Melanggar Norma

No Tuturan Kode Sukategori

  1 Enggak! A1 Menegaskan

  2 Yoben... Wong arep ngaji kok ra oleh. A2 Menegaskan

  3 Mengko sek, Pak! A3 Menunda

  4 Mengko Pak! Filme jek apik kie. A4 Menunda Tuturan yang mengancam muka sepihak memiliki arti bahwa tuturan tersebut dapat memberikan ancaman pada mitra tutur sehingga membuat mitra tutur malu dan tersinggung. Akan tetapi, penutur tidak menyadari bahwa tuturan yang telah dituturkannya membuat mitra tutur malu dan tersinggung. Berikut

  merupakan tuturan tidak santun yang termasuk ke dalam kategori mengancam muka sepihak.

  

Tabel 2: Data Tuturan Mengancam Muka Sepihak

No Tuturan Kode Subkategori

  1 Sinau barang! (Menyenggol adiknya). B1 Mengejek

  2 Mengko ahh... (Melanjutkan tidurnya). B2 Menunda

  3 Cah enom kok yahene turu, Bu. B3 Menegaskan

  4 Iki lagek nen dalan. (padahal masih di B4 Menegaskan lokasi).

  5 Wegah, males! B5 Menolak 6 (menginjak kaki kakaknya) Walah... B6 Menegaskan kepidak...

  7 Timbangane ra dibuang mah mung B7 Menegaskan marakke penyakit.

  8 Iya... aaa... iya... aaa... (bernada seperti B8 Mengejek nada tertawa).

  9 Resiko! B9 Mengejek Tuturan yang melecehkan muka memiliki arti bahwa tuturan tersebut dapat mengarah pada rasa sakit hati mitra tutur. Tuturan tersebut juga dapat menimbulkan rasa tersinggung karena mitra tutur merasa seperti dihina oleh penutur dengan tuturannya itu. Berikut merupakan tuturan tidak santun yang termasuk ke dalam kategori menghilangkan muka.

  

Tabel 3: Data Tuturan Melecehkan Muka

No Tuturan Kode Subkategori

  1 Nyoh tak kei duwit geg ndang lungo’o. C1 Memerintah Rasah ganggu Bapak Ibu sek, lagek nyambut gawe!

  2 Alaaah... jupuk dewe, Pak! C2 Memerintah

  3 Cah gede kok jeh do gelud. C3 Menyindir

  4 Emoh! C4 Menolak

  5 Kalo gak mau makan, kamu gag boleh C5 Mengancam

  abang. Hiii... Makanan ini buatnya bekas cucian orang nyuci lho dek.

  7 Wes nyendal motor galho!” (sambil C7 Menegaskan berjalan keluar ruangan).

  8 Aaassss... minggat kono!” (melanjutkan C8 Mengusir tidurnya).

  9 Yo jupuk dewe mbah, manja! C9 Memerintah

  10 Kok mung diturahi sak emprit? (nada C10 Menegur tinggi).

  11 Pak, udah cair belum? C11 Menagih

  12 Jenggote koyo kowe, Pak. C12 Mengejek

  13 Bu, kok masakane enak temen. Cubo C13 Menyindir njenengan cicipi.

  14 Adik kok ditukokke dolanan, q ra C14 Menegaskan ditukokke?

  15 Gemang, jeg sayah! C15 Menolak

  16 Kalo memang niatnya masih mau C16 Menasihati sekolah, Bapak masih ingin ngragati.

  Kalo emang maunya nikah, bilang aja pengen nikah. Bapak nikahke.

  17 Mripatmu ki ndokke sikel? C17 Menegur

  18 Makanya kalo siang itu maen terus C18 Menyindir seharian.

  19 Karang nggone yo koyo ngene, rakyo C19 Menegaskan sesok.

  20 Sesok, nek ngomongke sesok, ndag lali! C20 Memperingatkan

  21 Koe arep nendi? C21 Menegur

  22 Iki le ngenei no hp kie tenan po etok- C22 Menyindir etokkan? Nek dibel ra nyaut blas, disms ra ono balesi blas.

  23 Pergantian pengurus disms raono balesi, C23 Menyindir yowes tinggal bali acarane rampung!

  24 Yo embuh! C24 Menegaskan Tuturan menghilangkan muka memiliki arti bahwa tuturan tersebut dapat menimbulkan rasa tersinggung dan membuat mitra tutur merasa benar-benar malu karena tuturan tersebut dikatakan oleh penutur di hadapan orang banyak. Berikut merupakan tuturan tidak santun yang termasuk ke dalam kategori menghilangkan muka.

  

Tabel 4: Data Tuturan Menghilangkan Muka

No Tuturan Kode Subkategori

  1 Mboten masak, wong wingi dimasakke D1 Menyindir yo mboten kepangan kok!

  2 Nih kamu gak naik kelas! Gak malu apa D2 Menegur sama yang lain? Besok lagi yang rajin belajarnya agar naik kelas. Kalo gak naik kelas lagi mesti kamu mung diisin- isin karo konco-koncomu.

  3 Koyo adimu kae lho iso ngoopo-ngopo, D3 Menyindir koe kok tura-turu wae.

  4 Wah, opo-opo dinas... opo-opo dinas... D4 Menyindir

  5 Makanya kalo kamu itu mau belajar ya D5 Menegur belajar, gag belajar cuman maen.

  6 Halah... Nelayan seprono-seprene D6 Mengejek gaweane kok muni ra ngerti!

  7 Tak inggoni pitmu motor mas, koe nek D7 Mengejek nulisi ora ngono kae! Tulisi ojo dumeh...

  8 Nyuwun ngapunten nggeh, ha kok D8 Mengejek njenengan meneng wae.

  9 Wah bapak kie pelit, ngene-ngene ra D9 Menyinggung oleh! Tuturan menimbulkan konflik memiliki maksud bahwa tuturan tersebut dapat mengarah pada rasa tersinggung mitra tutur, sehingga tuturan tersebut dapat menimbulkan konflik antara penutur dan mitra tutur karena tuturan dikatakan secara sembrono dan disengaja oleh penutur. Berikut merupakan tuturan tidak santun yang termasuk ke dalam kategori menimbulkan konflik.

  Tabel 5: Data Tuturan Menghilangkan Muka No Tuturan Kode Subkategori

  1 Itu kan tanggungjawab suami. E1 Menyinggung

  2 Wolha kurang ajar! Asu cenan. E2 Mengumpat

  3 Mbog le noto kayu ora teng jlempah. E3 Menegur Nanti kalo ada tamu, nanti kalo ada

  4 Ngematke matane, bawal ko ngene kok E4 Menegaskan dianggep BS.

  5 Ayo... iso meneng ora! (digeblek atau E5 Mengancam dipukul).

  6 Alaah Mbok, mbok rasah gemrumung!! E6 Menegaskan Ijek banter mau bengi. Kui yo wes tak akonke uwong.

  7 Gak mau! E7 Menolak

  8 Wegah! E8 Menolak

  9 Iki nggonaku, udu nggonamu iki! E9 Menegaskan

4.2 Analisis Data

  Data atau tuturan yang terkumpul diidentifikasi, dikategorisasi, dan dikodifikasi berdasarkan lima kategori ketidaksantunan, yakni melanggar norma, mengancam muka sepihak, melecehkan muka, menghilangkan muka, dan menimbulkan konflik. Aspek-aspek yang diidentifikasi yakni wujud ketidaksantunan, penanda ketidaksantunan, dan konteks tuturan. Aspek-aspek tersebut dimasukkan ke dalam tabulasi.

  Wujud laporan ini berupa hasil analisis data berdasarkan makna ketidaksantunan yang meliputi 3 hal berikut, yaitu (1) wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, (2) penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, dan (3) maksud katidaksantunan dari masing-masing kategori ketidaksantunan.

  Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan tidak santun yang telah ditranskrip. Sedangkan, wujud ketidaksantunan pragmatik berupa cara yang menyertai tuturan lisan tidak santun yang disampaikan oleh penutur. Penanda ketidaksantunan linguistik berupa intonasi, penggunaan kata fatis, nada tutur, tekanan, dan diksi. Sedangkan, penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat penutur, situasi dan suasana, tindak verbal, dan tindak perlokusi. Maksud ketidaksantunan penutur merupakan maksud penutur menuturkan tuturannya.

  Maksud ketidaksantunan ini hanya dimiliki dan diketahui oleh masing-masing penutur. Berikut ini adalah analisis mengenai ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam keluarga nelayan berdasar lima kategori ketidaksantunan, yakni melanggar norma, mengancam muka sepihak, melecehkan muka, menghilangkan muka, dan menimbulkan konflik.

4.2.1 Melanggar Norma

  and

  Locher Watts (2008) dalam Rahardi (2012), lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang secara normatif

  (negatively marked behavior),

  dianggap negatif karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu). Kategori ketidaksantunan yang melanggar norma memiliki dua subkategori, yaitu subkategori menegaskan dan menunda. Berikut ini adalah analisis tuturan yang termasuk dalam subkategori tersebut.

4.2.1.1 Subkategori Menegaskan Cuplikan tuturan 1 (A1)

  MT

  : “Tadi beli es ya?” P : “Enggak!”

  MT

  

: “Makanya jangan beli es sembarangan! Jadi sakit to?”

  (Konteks A1: Tuturan tersebut terjadi pada malam hari saat penutur akan tidur. Penutur merupakan anak berusia 12 tahun, sedangkan MT merupakan ayah dari penutur. Sebelumnya penutur melanggar aturan untuk tidak minum es sembarangan. Penyakit penutur kambuh karena ia telah minum es. MT bertanya kepada penutur apakah ia melanggar aturannya atau tidak.)

  Cuplikan tuturan 2 (A2)

  MT

  : ”Mau kemana dek?”

  P : ”Arep ngaji!” MT

  : “Kui...mbasan ono gawean malah alasan ngaji, nek raono mung dolan wae.” P : “Yo ben... wong arep ngaji kok ra oleh.”

  MT

  : “Dia gag nyapu dibiarin. Malah aku yang jadinya nyapu.” (mengadu kepada pamannya).

  (Konteks A2: Tuturan ini terjadi di rumah pada jam 4 sore. Penutur merupakan laki-laki berusia 12 tahun, sedangkan MT merupakan perempuan berusia 15 tahun, kakak dari penutur. Penutur akan pergi mengaji. MT bertanya kepada penutur dan menegaskan mengenai kewajibannya. Aturan yang dibuat mengenai pembagian tugas bersih- bersih rumah.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melanggar norma subkategori menegaskan adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan A1 : Enggak!

Tuturan A2 : Yoben... Wong arep ngaji kok ra oleh. (Biarin... Ingin

mengaji kok tidak boleh.)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan A1 : Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua, yakni ayah dari

  penutur. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus. Penutur melanggar aturan yang telah dibuat oleh ayahnya dan telah disepakati oleh penutur. Penutur melanggar aturan untuk tidak minum es sembarangan. Penutur berbohong kepada MT.

  Tuturan A2 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua, yakni kakak

  dari penutur. Tuturan penutur disampaikan dengan cara ketus. Penutur melanggar aturan yang telah dibuat oleh pamannya dan telah disepakati bersama termasuk oleh penutur. Penutur tidak melaksanakan tugasnya. Penutur beralasan untuk pergi mengaji demi menghindari tugasnya, sedangkan penutur melimpahkan tugasnya kepada MT.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan A1 : Diksi yang terdapat dalam tuturan A1 adalah penggunaan bahasa nonstandar (bahasa tidak baku) dan penggunaan bahasa populer.

  Tuturan A1 merupakan tuturan yang berintonasi seru. Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan yang terdapat dalam tuturan A1 adalah tekanan

  enggak keras pada kata .

  Tuturan A2 : Diksi yang terdapat dalam tuturan A2 adalah penggunaan

  bahasa nonstandar (bahasa Jawa. Tuturan A2 merupakan tuturan yang berintonasi berita. Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan yang

  Yo ben terdapat dalam tuturan A2 adalah tekanan keras pada frasa .

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan A1 : Tuturan tersebut terjadi pada malam hari saat akan tidur

  malam. Penutur merupakan anak berusia 12 tahun, sedangkan MT merupakan ayah dari penutur. Penutur menjawab pertanyaan MT dengan kebohongan. Penutur melanggar aturan untuk tidak minum es sembarangan. Sebelumnya telah disepakati bahwa penutur tidak boleh membeli es karena MT dan penutur tahu bahwa penutur mempunyai suatu penyakit yang apabila penutur minum es sembarangan penyakitnya akan kambuh. Tujuan penutur untuk membohongi MT, karena penutur tahu telah melanggar janji dan penutur takut akan dimarahi MT bila ketahuan telah melanggar janjinya. Tindak verbal dari tuturan tersebut adalah tindak representatif. Tindak perlokusi MT adalah menasihati penutur, karena MT tahu bahwa penutur telah berbohong dan melanggar janjinya untuk tidak minum es sembarangan.

  Tuturan A2 : Tuturan ini terjadi di rumah pada jam 4 sore. Penutur

  merupakan laki-laki berusia 12 tahun, sedangkan MT merupakan perempuan berusia 15 tahun, kakak dari penutur. Dalam keluarga telah dibuat peraturan untuk bersih-bersih rumah. Adik mendapat tugas untuk bersih-bersih halaman rumah, sedangkan kakak mendapat tugas untuk bersih-bersih dalam rumah. Penutur melanggar aturan yang telah disepakati bersama. MT menyuruh penutur untuk menyapu halaman rumah karena sudah kotor, tetapi penutur tidak mau dan beralasan mengaji. Penutur beralasan untuk tidak menyapu halaman rumah yang sudah menjadi tugasnya. Tujuan penutur adalah menghindari tugasnya untuk membersihkan halaman rumah yang kotor dengan alasan pergi mengaji. Tindak verbal tuturan penutur adalah tindak representatif. Tindak perlokusi MT adalah melapor kepada pamannya karena penutur tidak mau melaksanakan tugasnya, kemudian MT mengeluh karena justru dia yang disuruh menyapu halaman rumah.

5) Maksud Penutur Penutur A1 : penutur memiliki maksud membohongi MT. Penutur A2 : penutur memiliki maksud membela diri.

4.2.1.2 Subkategori Menunda Cuplikan tuturan 3 (A3)

  MT

  : “Belajar sek le. Ayo TVne dipateni, PRe geg ndang digarap!” P : “Mengko sek, Pak!” MT : (langsung mematikan televisi).

  (Konteks A3: Tuturan ini terjadi di rumah saat jam belajar malam. Penutur sedang asik menonton televisi. MT menyuruh penutur untuk belajar tetapi penutur tidak menghiraukannya dan lebih memilih untuk melanjutkan menonton televisi. MT sudah membuat aturan mengenai jam belajar untuk anaknya (penutur) kecuali pada saat hari libur jam belajar tidak berlaku. Penutur melanggar aturan yang telah dibuat oleh MT.)

  Cuplikan tuturan 4 (A4)

  MT

  

: “Maghrib, ndang shalat, sinau, TVne ayo dipateni!”

P : “Mengko Pak! Filme jek apik kie.” MT : (Mematikan sekering listrik).

  (Konteks A4: Penutur sedang asik menonton salah satu acara di televisi. MT menyuruh penutur untuk mematikan televisi kemudian shalat dan belajar, karena sudah memasuki waktu untuk belajar. Penutur menunda suruhan MT dan memilih untuk menonton televisi. MT (ayah) telah membuat peraturan untuk tidak menyalakan televisi pada saat maghrib dan dilanjutkan untuk belajar, setelah itu baru boleh menonton televisi. Penutur melanggar aturan yang telah dibuat oleh MT.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melanggar norma subkategori menunda adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  (Nanti dulu, Pak!) Tuturan A3 : Mengko sek, Pak!

  (Nanti Pak! Filmnya Tuturan A4 : Mengko Pak! Filme jek apik kie. masih bagus nih.)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan A3 : Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua, yakni ayah dari

  penutur. Tuturan disampaikan penutur dengan cara ketus. Penutur melanggar aturan, yakni tidak belajar pada saat jam belajar, dan penutur lebih memilih menonton televisi. Penutur sudah berkali-kali disuruh untuk belajar oleh MT.

  Tuturan A4 : Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua, yakni ayah dari

  penutur. Tuturan penutur disampaikan dengan cara ketus. Penutur melanggar aturan, yakni tidak kunjung shalat maghrib kemudian belajar. Penutur lebih memilih melanjutkan menonton televisi. Penutur menjawab suruhan MT dengan tidak memperhatikan MT.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan A3 : Diksi yang terdapat dalam tuturan A3 adalah penggunaan

  bahasa nonstandar (bahasa Jawa). Tuturan A3 merupakan tuturan yang berintonasi berita. Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan yang

  Mengko sek,

  terdapat dalam tuturan A3 adalah tekanan keras pada kalimat Pak! .

  Tuturan A4 : Diksi yang terdapat dalam tuturan A4 adalah penggunaan

  bahasa nonstandar (bahasa Jawa). Tuturan A4 merupakan tuturan yang berintonasi berita. Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan yang

  Mengko Pak! terdapat dalam tuturan A4 adalah tekanan keras pada frasa .

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan A3 : Tuturan ini terjadi di rumah saat jam belajar. Penutur

  merupakan anak laki-laki berusia 9 tahun, sedangkan MT merupakan ayah dari penutur, berusia 48 tahun. Penutur sedang asik menonton televisi. MT menyuruh penutur untuk belajar tetapi penutur tidak menghiraukannya dan lebih memilih untuk melanjutkan menonton televisi. MT sudah membuat aturan mengenai jam belajar untuk anaknya (penutur) kecuali pada saat hari libur jam belajar tidak berlaku. Penutur melanggar aturan yang telah dibuat oleh MT. Tujuan penutur adalah menunda belajarnya dan memilih untuk melanjutkan menonton salah satu acara di televisi. Tindak verbal tuturan tersebut adalah tindak komisif. Tindak perlokusi MT adalah dengan melakukan tindakan mematikan televisi.

  Tuturan A4 : Penutur merupakan laki-laki berusia 6 tahun, anak dari MT, sedangkan MT merupakan laki-laki berusia 32 tahun, ayah dari penutur.

  Penutur sedang asik menonton salah satu acara di televisi. MT menyuruh penutur untuk mematikan televisi kemudian shalat dan belajar, karena sudah memasuki waktu untuk belajar. Penutur menunda suruhan mitra tutur dan memilih untuk menonton televisi. MT (ayah) telah membuat peraturan untuk setelah itu baru boleh menonton televisi. Penutur melanggar aturan yang telah dibuat oleh MT. Tujuan penutur adalah menunda suruhan mitra tutur untuk shalat kemudian belajar, penutur lebih memilih untuk melanjutkan menonton televisi. Tindak verbal tuturan tersebut adalah tindak komisif. Tindak perlokusi MT adalah mematikan sekering listrik.

5) Maksud Penutur Tuturan A3 : penutur memiliki maksud menunda belajar.

  Tuturan A4 : penutur memiliki maksud menunda belajar.

4.2.2 Mengancam Muka Sepihak

  Terkourafi (2008) dalam Rahardi (2012) memandang ketidaksantunan

  (face

  bilaman mitra tutur merasakan ancaman terhadap kehilangan muka

threaten) , dan penutur tidak mendapatkan maksud ancaman muka dari mitra tutur.

  Kategori ketidaksantunan yang mengancam muka sepihak memiliki empat subkategori, yaitu subkategori menegaskan, mengejek, menunda, dan menolak.

  Berikut ini adalah analisis tuturan yang termasuk dalam subkategori tersebut.

4.2.2.1 Subkategori Menegaskan Cuplikan tuturan 7 (B3)

  MT

  : “Langsung tidur aja, gak usah malem2.” P : “Cah enom kok yahene turu, Bu.”

  MT

  : “Ohh. Nek cah enom koyo ngno to?” (Konteks B3: Tuturan terjadi di rumah, pada malam hari saat jam tidur.

  Penutur sedang menonton televisi. MT menyuruhnya untuk tidur, karena sudah larut malam. Penutur menolak suruhan MT dengan sanggahan.)

  Cuplikan tuturan 10 (B6) P : (menginjak kaki kakaknya) “Walah... kepidak...”

  MT

  : “Mah dipidak!!!”

  P

  : “Salahe mundur-mundur.” (Konteks B6: Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga.

  MT sedang asik mengganggu penutur. Secara tidak sengaja penutur

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik mengancam muka sepihak subkategori menegaskan adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan B3 : Cah enom kok yahene turu, Bu. (Anak muda kok jam segini tidur, Bu.) (Walah...

  Tuturan B6 : (menginjak kaki kakaknya) Walah... kepidak... terinjak...)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B3 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua, yakni ibu dari

  penutur. Penutur menyanggah suruhan dari MT. Tuturan penutur disampaikan dengan cara sinis. Penutur memiliki persepsi bahwa anak muda belum pantas tidur pada jam-jam tersebut. Penutur tidak memperhatikan MT.

  Tuturan B6 : Penutur berbicara dan melakukan tindakan kepada orang yang

  lebih tua, yakni kepada kakaknya. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara spontan. Mitra tutur merasa marah karena tindakan penutur. Penutur tidak menyadari bahwa tindakan dan tuturannya telah mengancam muka MT, sedangkan penutur justru berbalik menyalahkan MT.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B3 : Tuturan B3 mempunyai intonasi berita. Terdapat kata fatis kok .

  Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa Cah enom

  Bu dan . Diksi: bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  Tuturan B6 : Tuturan tersebut mempunyai intonasi berita. Penutur berbicara

  dengan nada sedang (tetapi kakinya menginjak mitra tutur). Tekanan lunak pada kata kepidak . Diksi: bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B3 : Tuturan terjadi di rumah, pada malam hari saat jam tidur.

  Penutur laki-laki berusia 16 tahun, anak dari MT. MT perempuan, ibu dari penutur. Penutur sedang menonton televisi. MT menyuruhnya untuk tidur, karena sudah larut malam. Penutur menolak suruhan MT dengan sanggahan. Tujuan penutur adalah menegaskan bahwa ia belum ingin tidur, karena penutur representatif. Tindak perlokusi MT adalah menanggapi tuturan penutur dengan pertanyaan yang sedikit kesal, tetapi penutur tidak menghiraukan MT dan tetap menonton televisi.

  Tuturan B6 : Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga.

  Penutur laki-laki berusia 12 tahun, adik dari MT, sedangkan MT laki-laki berusia 22 tahun, kakak dari penutur. MT sedang asik mengganggu penutur. Secara tidak sengaja penutur menginjak kaki MT. Tujuan: penutur tidak sengaja menginjak kaki MT dan dalam bawah sadarnya, penutur mengeluarkan kata-kata yang membuat MT merasa terganggu. Tindak verbal tuturan tersebut adalah tindak representatif. Tindak perlokusi MT adalah dengan mengeluarkan kata-kata kasar, tetapi penutur malah menyalahkan MT karena telah mengganggunya.

5) Maksud Penutur Tuturan B3 : penutur memiliki maksud membela diri.

  Tuturan B6 : penutur memiliki maksud mengejek.

4.2.2.2 Subkategori Mengejek Cuplikan tuturan 5 (B1) P : “Sinau barang!” (Menyenggol adiknya).

  MT

  : “Ngopo to? Ganggu wae.” P : (Tidak menghiraukan dan pergi begitu saja).

  (Konteks B1: Tuturan ini terjadi di rumah saat mitra tutur sedang belajar di ruang keluarga pada tanggal 26 April 2013 jam 19.00. Penutur sedang berjalan ingin keluar rumah, melewati ruang keluarga dan melihat MT sedang belajar. Penutur menyenggol MT dengan sengaja. MT merasa dirinya diganggu oleh penutur.)

  Cuplikan tuturan 13 (B9)

  MT

  : “Seng jenengane paku, papan itu kan lama2 menua, padahal yo jaluk renovasi iku tetep muni.” P : “Resiko!”

  MT : “Yo jenenge wong urip aku percoyo resiko. Tapi kan menjadi

  

tambah, kudune pikirane awak dewe ra tekan kono.”

P : “Resiko.”

  (Konteks B9: Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di teras rumah sekitar pukul 4 sore pada tanggal 20 April 2013. MT sedang bercerita mengenai keluhannya tentang renovasi kapal yang menjadi tanggungan sendiri.

  Selain penutur dan MT, terdapat juga 2 orang lainnya yang sedang mendengarkan.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik mengancam muka sepihak subkategori mengejek adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  (Belajar segala!) Tuturan B1 : Sinau barang! (Menyenggol adiknya).

  Tuturan B9 : Resiko! 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B1 : Penutur mengganggu MT yang sedang belajar. Penutur

  menyampaikan tuturannya dengan sinis. Penutur menyenggol MT dengan sengaja. Penutur tidak menyadari bahwa dirinya telah mengancam MT.

  Tuturan B9 : Penutur berbicara dengan tamunya. Penutur menyampaikan

  tuturannya dengan cara menyepelekan MT. MT merasa kesal sehingga menyanggah tuturan penutur. Penutur tetap mengejek MT dengan kata-kata yang sama.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B1 : Tuturan B1 mempunyai intonasi seru. Penutur berbicara

  dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa sinau barang . Diksi yang digunakan dalam tuturan B1 adalah bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  Tuturan B9 : Tuturan tersebut mempunyai intonasi seru. Penutur berbicara resiko dengan nada sedang. Tekanan lunak pada kata . Diksi: bahasa populer.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B1 : Tuturan ini terjadi di rumah saat MT sedang belajar di ruang

  keluarga pada tanggal 26 April 2013 jam 19.00. Penutur laki-laki berusia 12 tahun, kakak dari MT. MT laki-laki berusia 6 tahun, adik dari penutur. Penutur sedang berjalan ingin keluar rumah, melewati ruang keluarga dan melihat MT sedang belajar. Penutur menyenggol MT dengan sengaja. MT merasa dirinya diganggu oleh penutur. Tujuan dari penutur adalah penutur tidak memiliki maksud tertentu, penutur hanya lewat, kemudian melihat MT sedang belajar dan menghampirinya dengan melakukan tindakan menyenggol/ menggoda.

  menanggapi penutur dengan ancaman, tetapi penutur pergi begitu saja dengan acuh.

  Tuturan B9 : Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di teras rumah sekitar

  pukul 4 sore pada tanggal 20 April 2013. Penutur laki-laki berusia 42 tahun, tuan rumah/ kepala nelayan. MT laki-laki berusia 41 tahun, tamu/rekan penutur. MT sedang bercerita mengenai keluhannya tentang renovasi kapal yang menjadi tanggungan sendiri. Selain penutur dan MT, terdapat juga 2 orang lainnya yang sedang mendengarkan. Tujuan tuturan penutur adalah hanya mengejek MT yang sedang mengeluh. Tindak verbal tuturan penutur adalah tindak ekspresif. Tindak perlokusi MT adalah menanggapi tuturan penutur dengan sanggahan.

  5) Maksud Penutur Tuturan B1 : penutur memiliki maksud menggoda.

  Tuturan B9 : penutur memiliki maksud mengejek.

  4.2.2.3 Subkategori Menunda Cuplikan tuturan 6 (B2)

  MT

  : “Tangi-tangi... Mengko bar tangi langsung asah-asah piring.” P : “Mengko ah...” (Melanjutkan tidurnya).

  MT

  : “Wolhaa... Anak jaman saiki nek dikon ra tau mangkat.”

  (Konteks B2: Tuturan ini terjadi di rumah tepatnya di kamar penutur pada pagi hari. MT membangunkan penutur kemudian menyuruhnya untuk mencuci piring.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik mengancam muka sepihak subkategori menunda adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  (Nanti ahh...) Tuturan B2 : Mengko ahh... (Melanjutkan tidurnya).

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B2 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur

  menunda suruhan dari MT dan malah melanjutkan tidurnya. Tuturan ini

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik ah Tuturan B2 : Tuturan B2 mempunyai intonasi seru. Terdapat kata fatis .

  Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa mengko ah... . Diksi yang digunakan dalam tuturan B2 adalah bahasa nonstandar (bahasa jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B2 : Tuturan ini terjadi di rumah tepatnya di kamar Penutur pada

  pagi hari. Penutur laki-laki berusia 16 tahun, anak dari MT. MT perempuan, ibu dari penutur. MT membangunkan penutur kemudian menyuruhnya untuk mencuci piring. Tujuan tuturan penutur adalah menunda suruhan MT. Tindak verbal tuturan penutur adalah tindak komisif. Tindak perlokusi MT adalah bergumam terhadap kelakuan penutur, tetapi penutur malah melanjutkan tidurnya tanpa memperhatikan MT.

  5) Maksud Penutur Tuturan B2 : penutur memiliki maksud menghindar.

4.2.2.4 Subkategori Menolak Cuplikan tuturan 9 (B5)

  MT

  : “Tukokke iki neng warung!” P : “Wegah, males!”

  MT

  : “Awas koe!”

  (Konteks B5: Tuturan ini terjadi di rumah. Penutur dan MT sedang santai. Penutur disuruh oleh kakaknya (MT) untuk membelikannya sesuatu. Penutur menolak suruhan MT.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik mengancam muka sepihak subkategori menolak adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan B5 : Wegah, males! (Tidak mau, malas!)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B5 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur menolak suruhan MT. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus.

  MT merasa kesal dengan jawaban penutur. Penutur tidak menyadari bahwa tuturannya telah mengancam muka (membuat kesal) MT.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B5 : Tuturan penutur mempunyai intonasi seru. Penutur berbicara wegah

  dengan nada tinggi. Tekanan keras pada kata . Diksi: bahasa nonstandar (penggunaan bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B5 : Tuturan ini terjadi di rumah. Penutur laki-laki berusia 16 tahun, adik dari MT. MT laki-laki berusia 21 tahun, kakak dari penutur.

  Penutur dan MT sedang santai. Penutur disuruh oleh kakaknya (MT) untuk membelikannya sesuatu. Penutur menolak suruhan MT. Tujuan penutur adalah menolak suruhan MT. Tindak verbal tuturan penutur adalah tindak komisif. Tindak perlokusi MT adalah menanggapi tuturan penutur dengan ancaman, tetapi penutur tetap santai dan diam saja.

  5) Maksud Penutur Tuturan B5 : penutur memiliki maksud menolak.

4.2.3 Melecehkan Muka

  Miriam A Locher (2008) dalam Rahardi (2012) berpendapat bahwa

  (face- ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka

aggravate) . Perilaku melecehkan muka itu sesungguhnya lebih dari sekadar

face-threaten

  ). Kategori ketidaksantunan yang melecehkan

  ‘mengancam’ muka (

  muka memiliki sebelas subkategori, yaitu subkategori menyindir, menegaskan, memerintah, menegur, menolak, memperingatkan, mengancam, mengusir, menagih, mengejek, dan menasihati. Berikut ini adalah analisis tuturan yang termasuk dalam subkategori tersebut.

4.2.3.1 Subkategori Menyindir Cuplikan tuturan 35 (C22) P : “Iki le ngenei no hp kie tenan po etok-etokan? Nek dibel ra nyaut blas, disms ra ono balesi blas.”

  MT

  : “Mburi dewe piro? Enem belas?”

  P

  : “Payah tenan koe kie!”

  MT : “lha rak kelep to?” P

  : “seng keri, lemu ngenei seng keri!”

  MT

  :” yo ijek yo, aku ra tau ganti-ganti! Nek janji siji ra kelep.”

  (Konteks C22: Tuturan ini terjadi di teras rumah sekitar jam setengah 5 sore, pada tanggal 20 April 2013. MT adalah tamu, sedangkan penutur adalah tuan rumah dan pada saat itu masih terdapat 2 orang tamu lainnya. MT sudah berpamitan, tetapi penutur menghambat MT dengan bertanya.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melecehkan muka subkategori menyindir adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan C22 : Iki le ngenei no hp kie tenan po etok-etokkan? Nek dibel ra

  nyaut blas, disms ra ono balesi blas. (Ini memberikan nomer

  HP ini benar apa bohong-bohongan? Kalau ditelpon tidak masuk sama sekali, disms tidak membalas sama sekali.) 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan C22 : Penutur berbicara dengan tamunya. Penutur menyampaikan

  tuturannya dengan cara kesal. MT sudah berpamitan dan sudah berada di halaman rumah tetapi penutur menghambatnya dengan tuturannya. Penutur tidak percaya dengan nomor Handphone yang MT berikan.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C22 : Tuturan C22 mempunyai intonasi tanya dan berita. Penutur

  berbicara dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa ra nyaut blas dan balesi blas . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C22 : Tuturan ini terjadi di teras rumah sekitar jam setengah 5 sore, pada tanggal 20 April 2013. Penutur laki-laki berusia 42 tahun, tuan rumah.

4.2.3.2 Subkategori Menegaskan Cuplikan tuturan 20 (C7)

  

P : “Wes nyendal motor galho!” (sambil berjalan keluar

ruangan).

  (Sudah menyalakan motor itu!)

  Tuturan C7 : Wes nyendal motor ga lho!” (sambil berjalan keluar ruangan).

  Wujud ketidaksantunan linguistik melecehkan muka subkategori menegaskan adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  (Konteks C7: Tuturan ini terjadi di rumah. MT pulang kerja (melaut) dengan keadaan capek, tetapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Penutur merasa kesal karena MT pergi seharian tetapi tidak membawa hasil yang diharapkan. MT meminta penutur untuk mengambilkan makan dan minum.)

  : “Ha iyo shalat sek! Nanggung.”

  MT

  MT : “Shalat sek, wes sarungan ngono kok.”

  MT laki-laki berusia 41 tahun, tamu. MT adalah tamu, sedangkan penutur adalah tuan rumah dan pada saat itu masih terdapat 2 orang tamu lainnya. MT sudah berpamitan, tetapi penutur menghambat MT dengan bertanya. Tujuan penutur adalah bertanya kepada MT mengenai kebenaran nomor

  : “Lungo dijak Bapak.”

  P

  : “Arep nendi?”

  MT

  5) Maksud Penutur Tuturan C22: penutur memiliki maksud kesal terhadap MT.

  MT yang diberikan kepada penutur dan penutur mengeluh dengan sikap MT yang apabila di sms tidak membalas dan ditelepon tidak diangkat. Tindak verbal tuturan penutur adalah tindak representatif. Tindak perlokusi MT adalah menanggapi tuturan penutur dengan pertanyaan.

  handphone

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C7 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. MT menyuruh

  penutur dengan baik. Penutur menjawab suruhan MT dengan ketus sambil berlalu meninggalkan MT. Penutur menolak suruhan MT.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C7 : Tuturan C7 mempunyai intonasi berita. Penutur berbicara

  dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa nyendal motor . Diksi: bahasa

  nyendal nonstandar dan bahasa slang pada kata .

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C7 : Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga, pukul

  16.30 WIB, tanggal 28 April 2013. Penutur laki-laki berusia 12 tahun, adik dari MT. MT laki-laki berusia 23 tahun, kakak dari penutur. Penutur sudah memakai sarung hendak beribadah shalat dzuhur. MT sedang tiduran di ruang keluarga sambil menonton televisi. MT menegur penutur yang tadinya sudah memakai sarung untuk pergi shalat, tetapi justru melepaskannya kembali karena diajak ayahnya. Tujuan penutur adalah memberitahu kepada MT bahwa motornya sudah hidup. Tindak verbal tuturan C7 adalah tindak representatif. Tindak perlokusi MT diam saja karena adiknya susah dinasihati.

  5) Maksud Penutur Tuturan C7: penutur memiliki maksud membela diri.

4.2.3.3 Subkategori Memerintah Cuplikan tuturan 15 (C2)

  MT

  : “Gawekno wedang ro jupukno maem, Bu...” P : “Alaaah... jupuk dewe, Pak!” MT : (mengambil minuman sendiri dengan raut wajah kesal).

  (Konteks C2: Tuturan ini terjadi di rumah. MT pulang kerja (melaut) dengan keadaan capek, tetapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Penutur merasa kesal karena MT pergi seharian tetapi tidak membawa hasil yang diharapkan. MT meminta penutur untuk mengambilkan makan dan minum.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melecehkan muka subkategori memerintah adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan C2 : Alaaah... jupuk dewe, Pak! (Alaaah... ambil sendiri, Pak!) 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan C2 : Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua (suaminya

  sendiri). Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus. Penutur justru menyuruh MT setelah mendapat suruhan dari MT.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C2 : Tuturan C2 mempunyai intonasi perintah. Penutur berbicara

  dengan nada sedang. Tekanan keras pada kata Alaaah dan Pak . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C2 : Tuturan ini terjadi di rumah. Penutur perempuan berusia 32

  tahun, istri dari MT. MT laki-laki, suami dari MT, berusia 34 tahun. MT pulang kerja (melaut) dengan keadaan capek, tetapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Penutur merasa kesal karena MT pergi seharian tetapi tidak membawa hasil yang diharapkan. MT meminta penutur untuk mengambilkan makan dan minum. Tujuan penutur adalah kesal terhadap MT dan menyuruh MT untuk mengambil makanan dan minuman sendiri. Tindak verbal yang terdapat dalam tuturan C2 adalah tindak direktif. Tindak perlokusi MT adalah mengambil sendiri minuman yang dia inginkan.

  5) Maksud Penutur Tuturan C2 : penutur memiliki maksud menolak suruhan MT.

4.2.3.4 Subkategori Menegur Cuplikan tuturan 30 (C17) P : “Mripatmu ki ndokke sikel?” MT : (Diam).

  P

  : “Anake nangis neng andinge yo mung meneng wae!”

  (Konteks C17: Tuturan ini terjadi di rumah. Penutur melihat anaknya yang belum genap berusia 1 tahun rewel/ menangis. MT hanya diam saja, padahal ia tahu bahwa anaknya sedang menangis.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melecehkan muka subkategori menegur adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  (Matamu itu ditaruh di kaki!) Tuturan C17 : Mripatmu ki ndokke sikel? 2)

   Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C17 : Penutur berbicara menggunakan kata-kata kasar. Penutur

  berbicara kepada istrinya sendiri. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara keras. Penutur dalam keadaan marah.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C17 : Tuturan C17 mempunyai intonasi tanya. Penutur berbicara

  dengan nada tinggi. Tekanan keras pada frasa Mripatmu ki . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C17 : Tuturan ini terjadi di rumah. Penutur laki-laki, suami dari MT.

  MT perempuan, istri dari penutur. Penutur melihat anaknya yang belum genap berusia 1 tahun rewel/ menangis. MT hanya diam saja, padahal ia tahu bahwa anaknya sedang menangis. Tujuan penutur adalah memarahi MT karena tidak tanggap dengan keadaan anaknya yang menangis. Tindak verbal tuturan C17 adalah tindak ekspresif. Tindak perlokusi MT adalah diam saja karena MT merupakan orang yang sabar menghadapi penutur dan MT langsung berusaha menenangkan anaknya yang masih bayi.

  5) Maksud Penutur Tuturan C17 : penutur memiliki maksud kesal.

4.2.3.5 Subkategori Menolak Cuplikan tuturan 17 (C4)

  MT

  : “Ayo... belajar.” P : “Emoh!”

  MT

  : “Kalo gak belajar gak tak kasih uang jajan!”

  (Konteks C4: Tuturan ini terjadi di rumah, pada saat jam belajar tiba. MT menyuruh penutur untuk belajar. Penutur memang susah bila disuruh untuk belajar.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melecehkan muka subkategori menolak adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan C4 : Emoh! (Tidak mau!) 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C4 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. MT menyuruh

  penutur dengan bahasa yang halus. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara keras. Penutur menolak suruhan MT dengan suara yang keras.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C4 : Tuturan C4 mempunyai intonasi berita. Penutur berbicara

  Emoh!

  dengan nada tinggi. Tekanan keras pada kata . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C4 : Tuturan ini terjadi di rumah, pada saat jam belajar tiba. MT

  menyuruh penutur untuk belajar. Penutur memang susah bila disuruh untuk belajar. Penutur laki-laki berusia 6 tahun, anak dari MT. MT laki-laki, bapak dari penutur, berusia 32 tahun. Tujuan penutur adalah menolak suruhan MT untuk segera belajar. Tindak verbal yang tredapat dalam tuturan C4 adalah tindak komisif. Tindak perlokusi MT adalah mengancam penutur.

  5) Maksud Penutur

4.2.3.6 Subkategori Memperingatkan Cuplikan tuturan 33 (C20)

  

MT : “Sesok nek ono seng neng kono meneh, aku tak nang...”

  P

  : “Sesok, nek ngomongke sesok, ndag lali!”

  (Konteks C20: Tuturan ini terjadi di teras rumah sekitar jam 4 sore, pada tanggal 20 April 2013. MT menerima 3 tamu yang mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda-beda. MT sedang berbicara atau menyampaikan sesuatu kepada salah satu tamunya (penutur). Penutur langsung menanggapi tuturan MT, padahal MT belum selesai berbicara.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melecehkan muka subkategori memperingatkan adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan C20 : Sesok, nek ngomongke sesok, ndag lali! (Besok, kalau membicarakan besok, nanti lupa!)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C20 : Penutur berbicara dengan tuan rumah. Penutur berbicara pada

  saat MT belum menyelesaikan bicaranya. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C20 : Tuturan C20 mempunyai intonasi seru. Penutur berbicara ndag lali

  dengan nada tinggi. Tekanan keras pada frasa . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C20 : Tuturan ini terjadi di teras rumah sekitar jam 4 sore, pada

  tanggal 20 April 2013. Penutur laki-laki berusia 41 tahun, tamu. MT laki-laki berusia 42 tahun, tuan rumah. MT menerima 3 tamu yang mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda-beda. MT sedang berbicara atau menyampaikan sesuatu kepada salah satu tamunya (penutur). Penutur langsung menanggapi tuturan MT, padahal MT belum selesai berbicara. Tujuan penutur adalah menanggapi tuturan MT. Tindak verbal tuturan C20 adalah tindak direktif. Tindak perlokusi MT adalah diam saja.

5) Maksud Penutur Tuturan C20 : penutur memiliki maksud kesal.

4.2.3.7 Subkategori Mengancam Cuplikan tuturan 18 (C5)

  P : “Makan dulu, mainnya nanti lagi!” MT

  : “Gak mau, nanti aja.” P : “Kalo gak mau makan, kamu gag boleh pergi sama dia (temannya)!”

  (Konteks C5: Tuturan ini terjadi di rumah, pada siang hari. MT sedang ingin pergi bermain bersama teman-temannya. Penutur menyuruh MT untuk makan terlebih dahulu, kemudian baru boleh bermain. MT menolak suruhan penutur.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melecehkan muka subkategori mengancam adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  

Tuturan C5 : Kalo gak mau makan, kamu gag boleh pergi sama dia

  (temannya)!

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C5 : Penutur mengeluarkan kata-kata ancaman agar MT menaati

  perintahnya. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara kesal. MT merasa takut dengan ancaman penutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C5 : Tuturan C5 mempunyai intonasi perintah. Penutur berbicara gag boleh pergi sama dia dengan nada sedang. Tekanan lunak pada frasa .

  Diksi: penggunaan bahasa populer.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C5 : Tuturan ini terjadi di rumah, pada siang hari. Penutur laki-laki

  berusia 32 tahun, ayah dari MT. MT laki-laki berusia 6 tahun, anak dari

  menyuruh MT untuk makan terlebih dahulu, kemudian baru boleh bermain. MT menolak suruhan penutur. Tujuan penutur adalah mengancam MT karena susah makan. Tindak verbal tuturan C5 adalah tindak ekspresif. Tindak perlokusi MT adalah melakukan apa yang diperintah penutur.

  5) Maksud Penutur Tuturan C5 : penutur memiliki maksud memaksa.

  4.2.3.8 Subkategori Mengusir Cuplikan tuturan 21 (C8)

  MT : “Tangi-tangi... wes jam telu!” (menendang-nendang kaki kakaknya yang sedang tidur).

  P : “Aaassss... minggat kono!” (melanjutkan tidurnya).

  MT

  : “Yowes... damuk kapok mengko.”

  (Konteks C8: Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga pada sore hari sekitar jam 3 sore, tanggal 28 April 2013. Penutur sedang tidur di ruang keluarga. MT membangunkan penutur karena sudah sore dan MT disuruh oleh ibunya agar membangunkan penutur. MT membangunkan penutur dengan menendang-nendang kaki penutur.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melecehkan muka subkategori mengusir adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan C8 : Aaassss...minggat kono! (melanjutkan tidurnya).

  (Aaassss...pergi sana!) 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C8 : Penutur mengusir MT dengan suara keras dan kata-kata kasar.

  MT memiliki niat baik kepada penutur. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara keras. MT pergi karena penutur marah.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C8 : Tuturan C8 mempunyai intonasi perintah. Penutur berbicara

  dengan nada tinggi. Tekanan keras pada frasa minggat kono! . Diksi: bahasa

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C8 : Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga pada

  sore hari sekitar jam 3 sore, tanggal 28 April 2013. Penutur laki-laki, kakak berusia 23 tahun. MT laki-laki, adik berusia 12 tahun. Penutur sedang tidur di ruang keluarga. MT membangunkan penutur karena sudah sore dan MT disuruh oleh ibunya agar membangunkan penutur. MT membangunkan penutur dengan menendang-nendang kaki penutur. Tujuan penutur untuk menyuruh pergi MT karena telah mengganggu tidurnya. Tindak verbal tuturan C8 adalah tindak ekspresif. Tindak perlokusi MT adalah pergi meninggalkan penutur.

  5) Maksud Penutur Tuturan C8 : penutur memiliki maksud mengusir.

4.2.3.9 Subkategori Menagih Cuplikan tuturan 24 (C11) P : “Pak, udah cair belum?”

  MT

  : “Belum.”

  (Konteks C11: Tuturan terjadi di rumah pukul 09.00 WIB, tanggal 5 Mei 2013. MT pernah membuat janji dengan penutur akan membelikan sesuatu bila sudah mempunyai uang. Penutur menagih janji MT.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melecehkan muka subkategori menagih adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan C11 : Pak, udah cair belum? 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C11 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur

  menyampaikan tuturannya dengan cara sinis. Penutur tidak melihat/tahu kondisi keuangan MT. Penutur menagih janji kepada MT.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C11 : Tuturan C11 mempunyai intonasi tanya. Penutur berbicara

  dengan nada sedang (sinis). Tekanan lunak pada frasa udah cair belum . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa) dan bahasa slang pada kata cair .

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C11 : Tuturan terjadi di rumah pukul 09.00 WIB, tanggal 5 Mei

  2013. Penutur laki-laki berusia 15 tahun, anak dari MT. MT laki-laki berusia 43 tahun, bapak dari penutur. MT pernah membuat janji dengan penutur akan membelikan sesuatu bila sudah mempunyai uang. Penutur menagih janji MT. Tujuan penutur untuk meminta uang kepada MT untuk membeli sesuatu. Tindak verbal tuturan C11 adalah tindak ekspresif. Tindak perlokusi MT adalah menanggapi pertanyaan MT.

  5) Maksud Penutur Tuturan C11 : penutur memiliki maksud menagih janji MT.

4.2.3.10 Subkategori Mengejek Cuplikan tuturan 25 (C12) P : “Jenggote koyo kowe, Pak.”

  MT

  : “Kok, kowa-kowe to, ora pantes.” (Konteks C12: Tuturan terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga.

  Penutur perempuan, anak dari penutur. MT laki-laki, ayah dari penutur. Penutur dan MT sedang menonton televisi di ruang keluarga.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melecehkan muka subkategori mengejek adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan C12 : Jenggote koyo kowe, Pak. (Jenggotnya seperti kamu, Pak.) 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan C12 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur

  menyamakan MT dengan seseorang yang berada di TV. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara bercanda. Penutur menggunakan kata “kowe” kepada orang yang lebih tua (bapak dari penutur).

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C12 : Tuturan C12 mempunyai intonasi berita. Penutur berbicara

  Jenggote koyo koe, Pak dengan nada sedang. Tekanan lunak pada kalimat .

  Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C12 : Tuturan terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga. Penutur

  perempuan, anak dari penutur. MT laki-laki, ayah dari penutur. Penutur dan MT sedang menonton televisi di ruang keluarga. Tujuan penutur adalah mengejek MT (menyamakan mitra tutur dengan apa yang dilihat penutur dalam TV) . Tindak verbal tuturan C12 adalah tindak representatif. Tindak perlokusi MT adalah memperingatkan penutur.

  5) Maksud Penutur Tuturan C12 : penutur memiliki maksud mengejek MT.

4.2.3.11 Subkategori Menasihati Cuplikan tuturan 29 (C16) P : “Kalo memang niatnya masih mau sekolah, Bapak masih ingin ngragati. Kalo emang maunya nikah, bilang aja pengen nikah. Bapak nikahke.”

  MT

  : “Lho kok ngono, Pak!

  (Konteks C16: Tuturan ini terjadi saat di rumah dan pada saat situasi santai. Penutur menasihati MT menganai hubungannya dengan lawan jenis (pacaran). MT merasa dirinya disalahkan dan sedang terpojok.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik melecehkan muka subkategori menasihati adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  

Tuturan C16 : Kalo memang niatnya masih mau sekolah, Bapak masih

  ingin ngragati ( biayai) . Kalo emang maunya nikah, bilang

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C16 : Penutur membuat pilihan yang memojokkan MT. Penutur

  menyampaikan tuturannya dengan cara kesal. Secara tidak langsung penutur telah menuduh MT lebih mementingkan pacaran daripada sekolah.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C16 : Tuturan C16 mempunyai intonasi berita. Penutur berbicara

  dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa Bapak nikahke . Diksi: bahasa nonstandar (campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C16 : Tuturan ini terjadi saat di rumah dan pada saat situasi santai.

  Penutur laki-laki, ayah dari MT. MT perempuan, anak dari penutur. Penutur menasihati MT menganai hubungannya dengan lawan jenis (pacaran). MT merasa dirinya disalahkan dan sedang terpojok. Tujuan penutur menasihati MT mengenai pendidikan atau pacaran. Tindak verbal tuturan C16 adalah tindak direktif. Tindak perlokusi MT adalah menanggapi nasihat dari penutur dengan sangkalan.

  5) Maksud Penutur Tuturan C16 : penutur memiliki maksud memarahi.

4.2.4 Menghilangkan Muka

  Culpeper (2008) dalam Rahardi (2012) memberikan penekanan pada fakta

  dekat dengan konsep

  ‘kelangan rai’ (kehilangan muka). Jadi, ketidaksantunan

  dalam berbahasa itu merupakan perilaku komunikatif yang diperantikan secara intensional untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka

  (face loss),

  atau setidaknya orang tersebut

  ‘merasa’ kehilangan muka. Kategori ketidaksantunan

  yang mengancam muka sepihak memiliki empat subkategori, yaitu subkategori menyindir, mengejek, menegur, dan menyinggung. Berikut ini adalah analisis

  

‘face loss’ atau ‘kehilangan muka’, kalau dalam bahasa Jawa mungkin konsep itu

4.2.4.1 Subkategori Menyindir Cuplikan tuturan 40 (D3) P : “Koyo adimu kae lho iso ngopo-ngopo, koe kok tura-turu wae.”

  MT

  

: “Joni kae rak tritikan ngene-ngene mesti pengen.”

  (Konteks D3: Tuturan terjadi di rumah. MT sedang tiduran dan menonton televisi. Penutur dan orang ketiga (adik MT) akan pergi bekerja karena pada saat itu merupakan hari libur. Penutur membandingkan MT dengan orang ketiga dihadapan orang ketiga.)

  Cuplikan tuturan 41 (D4)

  MT

  : “ Habis kumpulan dari kabupaten, ini monggo dicakke.” P : “Wah, opo-opo dinas... opo-opo dinas...”

  (Konteks D4: Tuturan ini terjadi pada saat diadakan perkumpulan nelayan pantai congot. Penutur laki-laki, nelayan. MT laki-laki, ketua nelayan salah satu pantai di Kulonprogo. MT sedang mengumumkan hasil rapat dari Kabupaten mengenai perintah kerja/ pelatihan kerja. Penutur merasa bahwa MT selalu patuh terhadap dinas.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik menghilangkan muka subkategori menyindir adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  

Tuturan D3 : Koyo adimu kae lho iso ngopo-ngopo, koe kok tura-turu

wae. Tuturan D4 : Wah, opo-opo dinas... opo-opo dinas... 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan D3 : Penutur membandingkan MT dengan adik MT. Penutur

  menyampaikan tuturannya dengan cara kesal. Penutur membandingkan MT di depan orang lain. MT merasa dirinya kehilangan muka akibat tuturan dari penutur.

  Tuturan D4 : Penutur berbicara dengan ketua nelayan salah satu pantai di

  KP. Penutur kesal kepada MT yang selalu patuh kepada dinas. Penutur berbicara dengan nada keras kepada MT di hadapan nelayan-nelayan lainnya.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik lho kok Tuturan D3 : Tuturan D3 mempunyai intonasi berita. Kata fatis: dan .

  Penutur berbicara dengan nada sedang. Tekanan lunak pada frasa koe kok tura- turu wae . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  Tuturan D4 : Tuturan D4 mempunyai intonasi berita. Penutur berbicara opo-opo dinas

  dengan nada tinggi. Tekanan keras pada frasa . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D3 : Tuturan terjadi di rumah. Penutur laki-laki, ayah dari MT. MT

  laki-laki berusia 21 tahun, anak dari penutur. MT sedang tiduran dan menonton televisi. Penutur dan orang ketiga (adik MT) akan pergi bekerja karena pada saat itu merupakan hari libur. Penutur membandingkan MT dengan orang ketiga dihadapan orang ketiga. Tujuan penutur adalah menyindir MT. Tindak verbal tuturan D3 adalah tindak ekspresif. Tindak perlokusi MT adalah menanggapi tuturan penutur dengan sanggahan.

  Tuturan D4 : Tuturan ini terjadi pada saat diadakan perkumpulan nelayan

  pantai congot. Penutur laki-laki, nelayan. MT laki-laki, ketua nelayan salah satu pantai di Kulonprogo. MT sedang mengumumkan hasil rapat dari Kabupaten mengenai perintah kerja/ pelatihan kerja. Penutur merasa bahwa MT selalu patuh terhadap dinas. Tujuan penutur untuk menyindir MT yang selalu taat/patuh kepada dinas. Tindak verbal tuturan D4 adalah tindak ekspresif. Tindak perlokusi MT langsung menanggapi penutur, walaupun begitu MT merasa dirinya dipermalukan di depan rekan-rekan nelayan.

  5) Maksud Penutur Tuturan D3 : penutur memiliki maksud menyindir.

  Tuturan D4 : penutur memiliki maksud kecewa.

4.2.4.2 Subkategori Mengejek Cuplikan tuturan 43 (D6)

  P : “Gampang nek mung kur ngono. Solusino piro anggarane sayap?

  Ngertimu piro?”

  MT

  : ”Rung ngerti aku.” P : “Halah... Nelayan seprono-seprene gaweane kok muni ra ngerti!”

  sedang membahas biaya perbaikan kapal yang sayapnya patah karena diterjang ombak. Sebelumnya penutur bertanya kepada MT mengenai anggaran perbaikan sayap kapal, tetapi pertanyaan tersebut hanya menguji pengetahuan MT. MT menjawab pertanyaan tersebut.)

  Wujud ketidaksantunan linguistik menghilangkan muka subkategori mengejek adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan D7 : Penutur berbicara dengan tamu yang baru ia kenal pada saat

  pantai setempat. Penutur berbicara dengan MT di hadapan tamu lain. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara sinis. MT merasa kehilangan muka dengan tuturan tersebut sehingga mengalihkan pertanyaan kepada orang lain.

  Tuturan D6 : Penutur berbicara dengan tuan rumah sekaligus ketua nelayan

  

Tuturan D7 : Tak inggoni pitmu motor mas, koe nek nulisi ora ngono

kae! Tulisi ojo dumeh... 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  ngerti!

  

Tuturan D6 : Halah... Nelayan seprono-seprene gaweane kok muni ra

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Cuplikan tuturan 44 (D7) P : “Tak inggoni pitmu motor mas, koe nek nulisi ora ngono kae! Tulisi ojo dumeh...”

  MT2 : (sambil menyela) “iya...aaa... iya...aaa...” (Konteks D7: Tuturan ini terjadi di teras rumah sekitar jam setengah 5 sore, pada tanggal 20 April 2013. Penutur berada di halaman rumah dan berada di samping motornya. Di samping motor penutur terdapat motor MT. Penutur mengomentari tulisan atau stiker yang ada di motor MT. MT berada di teras rumah beserta 2 orang lainnya.)

  dumeh koe ki ayu, aku yo iso.”

  lapangan sewengi ra rampung-rampung nek ojo dumeh, ojo

  : “Ojo dumeh koe kie sugeh, ojo dumeh koe kie waras, wong sak

  P

  : “Diwarai mas.”

  MT2

  itu. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara bercanda. Penutur berbicara di hadapan tuan rumah dan tamu lain, tuturan penutur bermaksud untuk mengejek MT. MT merasa kehilangan muka sehingga ia hanya diam saja

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik kok

  Tuturan D6 : Tuturan D6 mempunyai intonasi seru. Kata fatis: . Penutur

  berbicara dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa muni ra ngerti . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  Tuturan D7 : Tuturan D7 mempunyai intonasi seru. Penutur berbicara koe nek nulisi ora ngono kae dengan nada sedang. Tekanan lunak pada frasa .

  Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D6 : Tuturan ini terjadi di teras rumah sekitar jam setengah 5 sore,

  pada tanggal 20 April 2013. Penutur laki-laki berusia 41 tahun, tamu. MT laki- laki berusia 42 tahun, tuan rumah sekaligus ketua nelayan. Dalam situasi ini penutur dan MT sedang membahas biaya perbaikan kapal yang sayapnya patah karena diterjang ombak. Sebelumnya penutur bertanya kepada MT mengenai anggaran perbaikan sayap kapal, tetapi pertanyaan tersebut hanya menguji pengetahuan MT. MT menjawab pertanyaan tersebut. Tujuan penutur adalah mengejek MT kapal. Tindak verbal tuturan D6 adalah tindak representatif. Tindak perlokusi MT menimpali pertanyaan tersebut kepada tamunya yang lain yang merupakan seorang nelayan berpengalaman juga.

  Tuturan D7 : Tuturan ini terjadi di teras rumah sekitar jam setengah 5 sore,

  pada tanggal 20 April 2013. Penutur laki-laki berusia 41 tahun, tamu. MT laki- laki berusia 23 tahun, tamu. Penutur berada di halaman rumah dan berada di samping motornya. Di samping motor penutur terdapat motor MT. Penutur mengomentari tulisan atau stiker yang ada di motor MT. MT berada di teras rumah beserta 2 orang lainnya. Tujuan penutur adalah mengomentari sekaligus mengejek tulisan yang ada di motor MT. Tindak verbal tuturan D7 adalah tindak direktif. Tindak perlokusi MT hanya tersenyum karena malu.

  5) Maksud Penutur Tuturan D6 : penutur memiliki maksud mengejek.

  Tuturan D7 : penutur memiliki maksud menggoda.

4.2.4.3 Subkategori Menegur Cuplikan tuturan 39 (D2) P : “Nih kamu gak naik kelas! Gak malu apa sama yang lain? Besok lagi yang rajin belajarnya agar naik kelas. Kalo gak naik kelas lagi mesti kamu mung diisin-isin karo konco- koncomu.”

  (Konteks D2: Tuturan terjadi di halaman rumah. Penutur pulang dari sekolah mengambil raport anaknya. Tuturan ini terjadi saat penutur, MT, dan orang ketiga sedang bercakap-cakap membahas nilai MT.)

  Cuplikan tuturan 42 (D5) P : ”Makanya kalo kamu itu mau belajar ya belajar, gag belajar cuman maen.”

  (Konteks D5: Tuturan ini terjadi di rumah. MT mendapat nilai jelek, hal ini berbanding terbalik dengan keponakan penutur. Dalam situasi ini terdapat orang ketiga yakni, istri dan keponakan penutur.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik menghilangkan muka subkategori menegur adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan D2 : Nih kamu gak naik kelas! Gak malu apa sama yang lain?

  Besok lagi yang rajin belajarnya agar naik kelas. Kalo gak naik kelas lagi mesti kamu mung diisin-isin karo konco- koncomu.

  Tuturan D5 : Makanya kalo kamu itu mau belajar ya belajar, gag belajar cuman maen. 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan D2 : Penutur berbicara dengan MT di depan orang lain. Penutur

  menakut-nakuti MT bila tidak naik kelas lagi. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara halus. MT merasa kehilangan muka karena dipermalukan di depan orang lain.

  Tuturan D5 : Penutur menegur MT di hadapan orang lain. Penutur mengomentari nilai buruk yang didapat keponakan istrinya dengan kesal.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan D2 : Tuturan D2 mempunyai intonasi seru. Penutur berbicara

  dengan nada sedang. Tekanan keras pada kalimat Nih kamu gak naik kelas dan

  Gak malu

  pada frasa . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa dan bahasa tidak baku).

  Tuturan D5 : Tuturan D5 mempunyai intonasi berita. Partikel: ya . Penutur

  berbicara dengan nada tinggi. Tekanan keras pada frasa gag belajar cuman

  maen . Diksi: bahasa populer.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D2 : Tuturan terjadi di halaman rumah. Penutur laki-laki, ayah dari

  MT. MT laki-laki, anak dari penutur. Penutur pulang dari sekolah mengambil raport anaknya. Tuturan ini terjadi saat penutur, MT, dan orang ketiga sedang bercakap-cakap membahas nilai MT. Tujuan penutur adalah menasihati anaknya yang tidak naik kelas di hadapan orang ketiga (ibunya). Tindak verbal tuturan D2 adalah tindak direktif. Tindak perlokusi MT adalah merasa malu dan hanya diam saja sambil menundukkan kepala.

  Tuturan D5 : Tuturan ini terjadi di rumah. Penutur laki-laki, paman dari MT.

  MT laki-laki, keponakan dari istri penutur. MT mendapat nilai jelek, hal ini berbanding terbalik dengan keponakan penutur. Dalam situasi ini terdapat orang ketiga yakni, istri dan keponakan penutur. Tujuan penutur adalah menasihati MT yang mendapat nilai jelek, secara tersirat penutur juga menyindir dan membandingkan MT dengan keponakannya yang mendapatkan nilai baik. Tindak verbal tuturan D5 adalah tindak direktif. Tindak perlokusi MT hanya diam saja.

  5) Maksud Penutur Tuturan D2 : penutur memiliki maksud marah.

  Tuturan D5 : penutur memiliki maksud menasihati.

4.2.4.4 Subkategori Menyinggung Cuplikan tuturan 46 (D9)

  P

  : “Ayo neng pasar, tukokke mobil-mobilan.”

  MT

  : “Sesok yo le.” P : “Wah bapak kie pelit, ngene-ngene ra oleh!”

  MT : “Bapak durung due duit le.”

  (Konteks D9: Tuturan ini terjadi di rumah. Awalnya penutur bermain bersama teman-temannya. Penutur meminta mainan seperti milik temannya kepada MT. MT menolak karena uangnya dipakai untuk hal yang lebih penting terlebih dahulu dan MT memberi penawaran kepada penutur untuk lebih sabar, pasti besok akan dibelikan.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik menghilangkan muka subkategori menyinggung adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan D9 : Wah bapak kie pelit, ngene-ngene ra oleh! 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D9 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur

  berbicara kepada MT dihadapan teman-teman penutur. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara kesal. Penutur menuduh MT pelit. MT merasa kehilangan muka karena tuturan tersebut disampaikan di depan orang lain (teman-teman penutur).

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan D9 : Tuturan D9 mempunyai intonasi seru. Penutur berbicara bapak kie pelit

  dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D9 : Tuturan ini terjadi di rumah. Penutur laki-laki berusia 6 tahun,

  anak dari MT. MT laki-laki berusia 33 tahun, ayah dari penutur. Awalnya penutur bermain bersama teman-temannya. Penutur meminta mainan seperti milik temannya kepada MT. MT menolak karena uangnya dipakai untuk hal yang lebih penting terlebih dahulu dan MT memberi penawaran kepada penutur untuk lebih sabar, pasti besok akan dibelikan. Tujuan penutur adalah menuduh MT pelit karena tidak membelikan mainan. Tindak verbal tuturan D9 adalah tindak ekspresif. Tindak perlukosi MT adalah menanggapi tuturan penutur dengan malu dan mengakui kalau penutur belum mempunyai uang.

  5) Maksud Penutur

4.2.5 Menimbulkan Konflik

  Bousfield (2008:3) dalam Rahardi (2012) memberi penekanan pada dimensi

  ‘kesembronoan’ (gratuitous), dan konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa

  yang tidak santun itu. Jadi, apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka. Kemudian ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (

  gratuitous)

  , hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian mendatangkan konflik, atau bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful) . Kategori ketidaksantunan yang menimbulkan konflik memiliki enam subkategori, yaitu subkategori menegaskan, menolak, menyinggung, mengumpat, menegur, dan mengancam. Berikut ini adalah analisis tuturan yang termasuk dalam subkategori tersebut.

4.2.5.1 Subkategori Menegaskan Cuplikan tuturan 50 (E4) P : “Ngematke matane, bawal ko ngene kok dianggep BS.”

  MT

  : “Njajal ayo ditakokke ro liyane iki BS po ora?”

  (Konteks E4: Tuturan ini terjadi di TPI (tempat pelelangan ikan). Para nelayan sedang mengelompokkan ikan bawal.)

  Cuplikan tuturan 52 (E6)

  MT : “Banyune ki jek banter kae!”

  P : “Alaah Mboook, mbog rasah gemrumung!! Ijek banter mau bengi. Kui yo wes tak akonke uwong.”

  MT

  : “Ha iyo gek didandani!”

  (Konteks E6: Tuturan ini terjadi pada saat penutur berada di dalam rumah dan MT berada di luar rumah hendak mengambil wudhu. Tuturan ini terjadi pada saat jam shalat maghrib. MT memberitahu bahwa pralon airnya masih bocor. Penutur merasa emosi karena MT selalu cerewet.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik menimbulkan konflik subkategori menegaskan adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  

Tuturan E4 : Ngematke matane, bawal ko ngene kok dianggep BS.

  (Perhatikan, bawal seperti ini kok dianggap BS.) Tuturan E6 : Alaah Mboook, mbog rasah gemrumung!! Ijek banter mau

  (Alaah Bu, jangan bengi. Kui yo wes tak akonke uwong. ribut! Masih deras tadi malam. Itu juga saya sudah suruh orang.)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E4 : Penutur berbicara dengan nelayan lainnya. Penutur berbicara

  kasar dengan orang lain. Penutur menyampaikan tuturannya dengan suara keras dan dengan cara ketus. Tuturan penutur menyebabkan terjadi adu argumen antar nelayan yang berada di sana.

  Tuturan E6 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur

  berbicara dengan suara yang keras kepada MT. Penutur menyampaikan tuturannya dengan kesal. MT merasa tidak terima karena suara penutur dianggap terlalu kasar dan keras sehingga mitra tutur menimpali dengan nada yang tinggi pula.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik kok

  Tuturan E4 : Tuturan E4 mempunyai intonasi berita. Partikel: . Penutur Ngematke matane

  berbicara dengan nada tinggi. Tekanan keras pada frasa dan frasa dianggep BS . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa) dan penggunaan

  BS jargon pada kata . yo

  Tuturan E6 : Tuturan E6 mempunyai intonasi berita. Partikel: . Penutur Alaah Mboook

  berbicara dengan nada tinggi. Tekanan keras pada frasa dan kata gemrumung . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E4 : Tuturan ini terjadi di TPI (tempat pelelangan ikan). Penutur

  laki-laki, nelayan. MT laki-laki, nelayan. Para nelayan sedang mengelompokkan ikan bawal. Tujuan penutur adalah menegaskan dan adalah tindak ekspresif. Tindak perlokusi MT adalah menanggapi penutur dengan kata-kata kasar juga.

  Tuturan E6 : Tuturan ini terjadi pada saat penutur berada di dalam rumah

  dan MT berada di luar rumah hendak mengambil wudhu. Tuturan ini terjadi pada saat jam shalat maghrib. Penutur perempuan berusia 36 tahun, anak dari MT. MT perempuan berusia 70-80 tahun, nenek/ ibu dari penutur. MT memberitahu bahwa pralon airnya masih bocor. Penutur merasa emosi karena MT selalu cerewet. Tujuan penutur adalah membela diri. Tindak verbal penutur adalah tindak ekspresif. Tindak perlokusi MT menanggapi tuturan penutur dengan nada tinggi juga.

5) Maksud Penutur Tuturan E4 : penutur memiliki maksud memberitahu.

  Tuturan E6 : penutur memiliki maksud kesal.

4.2.5.2 Subkategori Menolak Cuplikan tuturan 53 (E7)

  MT

  : “Ayo ngewangi bapak!” P : “Gak mau!”

  MT : “ Koe nek ra ngewangi bapak, trus sopo seng arep biayani” (Konteks E7: Tuturan ini terjadi di rumah. Penutur menolak ajakan ayahnya untuk membantu pekerjaannya. MT merasa tersinggung dengan ucapan penutur kemudian memarahinya.)

  Cuplikan tuturan 54 (E8)

  MT

  : “Tipine dipindah, Mas?” P : “Wegah!” MT : (Berlari mencari orang tua dan minta untuk digendong).

  (Konteks E8: Tuturan ini terjadi di ruang keluarga. Penutur dan MT sedang asik menonton salah satu acara televisi. MT merasa bahwa ia tidak menyukai acara televisi yang sedang mereka tonton. MT menyuruh

  channel

  penutur untuk mengganti /acara televisi tersebut. Penutur menolak perintah dari MT karena ia menyukai acara televisi tersebut. Terdapat orang ketiga yang nantinya memarahi penutur karena tindakannya terhadap MT.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik menimbulkan konflik subkategori menolak adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan E7 : Gak mau! Tuturan E8 : Wegah! (Tidak mau!) 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan E7 : Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur

  menolak ajakan MT dengan cara spontan. Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus. MT merasa penutur tidak patuh terhadapnya dan kemudian memarahinya.

  Tuturan E8 : Penutur tidak mau mengalah dengan MT. Penutur menjawab suruhan MT dengan spontan sambil mempertahankan remote TV-nya dari MT.

  Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus. MT tidak terima dan memanggil MT 2 (bapaknya), dan MT 2 memarahi penutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan E7 : Tuturan E7 mempunyai intonasi seru. Penutur berbicara

  Gak mau

  dengan nada sedang. Tekanan keras pada kalimat . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa tidak baku) dan bahasa populer.

  Tuturan E8 : Tuturan E8 mempunyai intonasi seru. Penutur berbicara Wegah

  dengan nada sedang. Tekanan keras pada kata . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E7 : Tuturan ini terjadi di rumah. Penutur laki-laki berusia 16

  tahun, anak dari MT. MT laki-laki, ayah dari penutur. Penutur menolak ajakan ayahnya untuk membantu pekerjaannya. MT merasa tersinggung dengan ucapan penutur kemudian memarahinya. Tujuan penutur adalah menolak ajakan ayahnya untuk membantunya bekerja. Tindak verbal penutur adalah tindak komisif. Tindak perlokusi MT memarahi penutur.

  Tuturan E8 : Tuturan ini terjadi di ruang keluarga. Penutur laki-laki berusia

  6 tahun, kakak. MT laki-laki berusia 3 tahun, adik. Penutur dan MT sedang channel

  mengganti /acara televisi tersebut. Penutur menolak perintah dari MT karena ia menyukai acara televisi tersebut. Terdapat orang ketiga yang nantinya memarahi penutur karena tindakannya terhadap MT. Tujuan penutur adalah menolak suruhan MT untuk mengganti channel /acara di televisi. Tidak verbal penutur adalah tindak komisif. Tindak perlokusi MT pergi mencari orang ketiga (ayah), kemudian orang ketiga memarahi penutur.

5) Maksud Penutur Tuturan E7 : penutur memiliki maksud menolak.

  Tuturan E8 : penutur memiliki maksud menolak.

4.2.5.3 Subkategori Menyinggung Cuplikan tuturan 47 (E1)

  MT

  : “Haduh, Bu. Dino iki ra oleh opo-opo, Bu.” P : “Itu kan tanggungjawab suami.”

  MT

  : “Wolha kurang ajar.”

  (Konteks E1: Tuturan ini terjadi di rumah. Tuturan ini terjadi saat penutur dan MT sedang bercakap-cakap. Penutur tidak memperhatikan keadaan MT saat menyampaikan tuturannya. MT sedang dalam keadaan letih sepulang dari bekerja.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik menimbulkan konflik subkategori menyinggung adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan E1 : Itu kan tanggungjawab suami. 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan E1 : Penutur berbicara dengan suaminya. Penutur berbicara tanpa

  berpikir (ngelantur/ ceplas-ceplos). Penutur berbicara dengan cara ketus. MT menanggapi tuturan penutur dengan kata-kata kasar sehingga menimbulkan konflik.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik kan

  Tuturan E1 : Tuturan E1 mempunyai intonasi berita. Partikel: . Penutur

  berbicara dengan nada sedang. Tekanan keras pada frasa itu kan dan pada kata suami . Diksi: bahasa populer.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E1 : Tuturan ini terjadi di rumah. Penutur perempuan, istri dari MT.

  MT laki-laki berusia 43 tahun, suami dari penutur. Tuturan ini terjadi saat penutur dan MT sedang bercakap-cakap. Penutur tidak memperhatikan keadaan MT saat menyampaikan tuturannya. MT sedang dalam keadaan letih sepulang dari bekerja. Tujuan penutur adalah menegaskan bahwa mencari nafkah merupakan tanggung jawab MT. Tindak verbal penutur adalah tindak representatif. Tindak perlokusi MT tidak terima dengan tuturan penutur, sehingga MT menanggapi tuturan penutur dengan kata-kata kasar.

  5) Maksud Penutur Tuturan E1 : penutur memiliki maksud kecewa.

4.2.5.4 Subkategori Mengumpat Cuplikan tuturan 48 (E2)

  MT

  : “Itu kan tanggungjawab suami.” P : “Wo lha kurang ajar! Asu cenan.”

  MT

  : “Huuusss... Omongane, Pak.”

  (Konteks E2: Tuturan terjadi di halaman rumah. Tuturan ini terjadi saat penutur dan MT sedang bercakap-cakap. Penutur menanggapi tuturan MT yang kurang berkenan bagi penutur. Penutur sedang dalam keadaan letih sepulang kerja.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik menimbulkan konflik subkategori mengumpat adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  (Wolha kurang aja! Tuturan E2 : Wo lha kurang ajar! Asu cenan. Memang anjing.

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E2 : Penutur berbicara kasar kepada istrinya. Penutur berbicara

  tanpa berpikir (ceplas-ceplos). Penutur menyampaikan tuturannya dengan suara keras. MT merasa tidak terima dengan tuturan penutur sehingga MT memberi peringatan kepada penutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan E2 : Tuturan E2 mempunyai intonasi perintah. Penutur berbicara kurang ajar asu

  dengan nada tinggi. Tekanan keras pada frasa dan pada frasa

  cenan . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E2 : Tuturan terjadi di halaman rumah. Penutur laki-laki berusia 43

  tahun, suami. MT perempuan, istri dari penutur. Tuturan ini terjadi saat penutur dan MT sedang bercakap-cakap. Penutur menanggapi tuturan MT yang kurang berkenan bagi penutur. Penutur sedang dalam keadaan letih sepulang kerja. Tujuan penutur adalah tidak terima dan menanggapi tuturan MT yang kurang berkenan di hati penutur. Tindak verbal penutur adalah tindak ekspresif. Tindak perlokusi MT menanggapi tuturan penutur dengan peringatan.

  5) Maksud Penutur Tuturan E2 : penutur memiliki maksud kesal.

4.2.5.5 Subkategori Menegur Cuplikan tuturan 49 (E3) P : “Mbog le noto kayu ora teng jlempah. Nanti kalo ada tamu, nanti kalo ada orang lewat. Wong omah yo neng pinggir d alan.”

  MT

  : “Karang nggone yo koyo ngene, rakyo sesok!”

  P

  : “Welha...malah nesu.”

  (Konteks E3: Tuturan terjadi di halaman rumah pada sore hari. Terdapat rumah kayu di samping rumah. Penutur menasihati MT untuk merapikan tatanan kayunya, karena rumah kayunya berada di samping rumah, sekaligus di pinggir jalan. Tuturan terjadi pada saat MT sedang merapikan kayu dan penutur sedang duduk-duduk di depan rumah.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik menimbulkan konflik subkategori menegur adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan E3 : Mbog le noto kayu ora teng jlempah. Nanti kalo ada tamu,

  nanti kalo ada orang lewat. Wong omah yo neng pinggir

  (Menata kayunya jangan acak-acakan. Nanti kalau dalan. ada tamu, nanti kalau ada orang lewat. Rumah juga di pinggir jalan.)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E3 : Penutur berbicara kepada istrinya. Penutur menyampaikan

  tuturannya dengan cara sinis. Tuturan penutur sangat sembrono karena tidak melihat apa yang dilakukan MT dan apa yang dilakukan penutur. MT merasa dirinya disalahkan, sedangkan penutur tidak melakukan apa-apa melainkan hanya duduk santai. MT menyanggah tuturan penutur sehingga terjadi adu mulut.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik yo

  Tuturan E3 : Tuturan E3 mempunyai intonasi berita. Partikel: . Penutur Mbog le noto kayu

  berbicara dengan nada sedang. Tekanan lunak pada kalimat

  ora teng lempah . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa) dan bahasa populer.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E3 : Tuturan terjadi di halaman rumah pada sore hari. Penutur laki- laki, suami. MT perempuan, istri. Terdapat rumah kayu di samping rumah.

  Penutur menasihati MT untuk merapikan tatanan kayunya, karena rumah kayunya berada di samping rumah, sekaligus di pinggir jalan. Tuturan terjadi pada saat MT sedang merapikan kayu dan penutur sedang duduk-duduk di depan rumah. Tujuan penutur adalah menyindir sekaligus menasihati MT untuk merapikan tatanan kayunya. Tindak verbal penutur adalah tindak direktif. Tindak perlokusi MT adalah tetap melanjutkan merapikan kayunya sambil menanggapi tuturan dari penutur dengan sanggahan.

  5) Maksud Penutur Tuturan E3 : penutur memiliki maksud memberitahu.

4.2.5.6 Subkategori Mengancam Cuplikan tuturan 51 (E5)

  MT : (menangis)

  P

: “Ayo... iso meneng ora!” (digeblek atau dipukul).

  (Konteks E5: Tuturan terjadi di halaman rumah. Tuturan terjadi pada saat MT sedang menangis. Penutur pulang bekerja dengan keadaan yang letih. Penutur tersulut emosinya karena anaknya rewel terus-terusan.)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik menimbulkan konflik subkategori mengancam adalah berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan E5 : Ayo... iso meneng ora! (digeblek atau dipukul). (Ayo...bisa diam tidak!)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E5 : Penutur berbicara dengan anaknya. Penutur menyampaikan

  tuturannya dengan suara keras dan dengan cara ketus. Penutur bermain tangan (memukul) terhadap MT. Tindakan penutur membuat MT 2 tidak terima. MT 2 marah kepada penutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik ayo Tuturan E5 : Tuturan E5 mempunyai intonasi perintah. Partikel: . iso meneng

  Penutur berbicara dengan nada tinggi. Tekanan keras pada frasa

  ora . Diksi: bahasa nonstandar (bahasa Jawa).

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E5 : Tuturan terjadi di halaman rumah. Penutur laki-laki berusia 34

  tahun, ayah dari MT. MT laki-laki berusia 6 tahun, anak dari penutur. Tuturan terjadi pada saat MT sedang menangis. Penutur pulang bekerja dengan keadaan yang letih. Penutur tersulut emosinya karena anaknya rewel terus-terusan. Tujuan penutur adalah menyuruh anaknya untuk tidak rewel lagi, tetapi disertai

  geblek

  dengan pukulan kecil (istilah Jawa di ). Tindak verbal penutur adalah tindak komisif. Tindak perlokusi MT melakukan apa yang diperintah penutur, tetapi terdapat orang ketiga, yakni istrinya yang marah kepada penutur.

5) Maksud Penutur Tuturan E5 : penutur memiliki maksud kesal.

4.3 Pembahasan

  Hasil dari kajian yang dilakukan terhadap tuturan yang ada di dalam ranah keluarga nelayan di kampung nelayan Desa Jangkaran, Pantai Trisik dan Desa Banaran, Pantai Congot, Kulonprogo, Yogyakarta ditemukan beberapa tuturan yang mengandung ketidaksantunan. Tuturan yang termasuk ke dalam tuturan yang tidak santun tersebut terbagi menjadi lima kategori ketidaksantunan, yaitu (a) melanggar norma, (b) mengancam muka sepihak, (c) melecehkan muka, (d) menghilangkan muka, dan (e) menimbulkan konflik. Tuturan-tuturan ketidaksantunan tersebut dianalisis berdasarkan wujud linguistik dan pragmatik, penanda linguistik dan pragmatik, dan maksud penutur. Wujud linguistik berisi mengenai bentuk tuturan tidak santun dari penutur, dan hasilnya berupa transkrip tuturan ketidaksantunan, sedangkan wujud pragmatik berisi mengenai cara penutur dalam menyampaikan tuturannya, sehingga tuturan tersebut dianggap tidak santun. Penanda ketidaksantunan linguistik meliputi nada, kata fatis, tekanan, intonasi dan pilihan kata atau diksi, sedangkan penanda ketidaksantunan pragmatik meliputi aspek-aspek konteks yang dikemukakan oleh Leech (1983), yakni penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Kedua penanda tersebut digunakan sebagai acuan untuk mengkategorikan setiap tuturan yang berbentuk tidak santun tersebut ke dalam lima kategori ketidaksantunan yang pragmatik juga digunakan sebagai acuan untuk menentukan subkategori dari setiap tuturan.Berikut ini adalah contoh tuturannya.

4.3.1 Kategori Melanggar Norma

  Locher

  and

  Watts (2008) dalam Rahardi (2012), lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang secara normatif dianggap negatif

  (negatively marked behavior),

  karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu).

4.3.1.1 Subkategori Menegaskan Cuplikan tuturan 1 (A1)

  MT : “Tadi beli es ya?”

  P : “Enggak!”

  MT Sedangkan pada penutur A2, penutur melimpahkan pekerjaan yang seharusnya dilakukan penutur menjadi dilakukan mitra tutur.

  : “Makanya jangan beli es sembarangan! Jadi sakit to?” Cuplikan tuturan 2 (A2)

  MT : ”Mau kemana dek?” P :

  ”Arep ngaji!”

  MT

  : “Kui...mbasan ono gawean malah alasan ngaji, nek raono mung dolan wae.” P : “Yo ben... wong arep ngaji kok ra oleh.”

  MT : “Dia gag nyapu dibiarin. Malah aku yang jadinya nyapu.” (mengadu kepada pamannya). Cuplikan tuturan di atas merupakan contoh tuturan yang termasuk dalam kategori melanggar norma dengan subkategori menegaskan. Kedua tuturan di atas memiliki beberapa kesamaan. Penutur tidak mengindahkan teguran atau suruhan mitra tutur, hal ini ditunjukkan penutur dengan cara ketus dalam penyampaian tuturannya. Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua, sehingga membuat tuturannya tidak santun. Yang membedakan wujud pragmatik dari kedua tuturan tersebut adalah ada tuturan A1, penutur berusaha berbohong kepada mitra tutur.

  Dilihat dari penanda linguistik, tuturan A1 menggunakan pilihan kata bahasa populer, sedangkan tuturan A2 menggunakan pilihan kata bahasa nonstandar. Diksi bahasa populer yang digunakan pada tuturan A1 adalah penggunaan bahasa Indonesia tidak baku, dan kata-kata ini telah dikenal dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Sedangkan pada tuturan A2, penutur lebih memilih bahasa nonstandar sebagai pilihan katanya. Bahasa nonstandar disini adalah bahasa yang memiliki unsur kedaerahan, yakni bahasa Jawa.

  Tuturan A1 dan A2 dituturkan dengan tekanan keras. Tekanan keras pada tuturan A1 dimaksudkan untuk menegaskan apa yang penutur yakini. Penutur A1

  enggak

  memberi tekanan kerasnya pada kata seru . Sedangkan pada tuturan A2, penutur hanya memberi tekanan keras pada frasa Yo ben dari keseluruhan tuturannya yang tidak santun. Penutur A2 menekankan tuturannya dengan tujuan menyanggah dengan tegas pernyataan mitra tutur.

  Intonasi yang digunakan oleh penutur dalam tuturan A1 dan A2 berbeda. Tuturan A1 menggunakan intonasi seru. Kalimat seru adalah kalimat yang menyatakan perasaan hati, atau keheranan terhadap suatu hal. Kalimat seru ditandai dengan intonasi yang lebih tinggi dari kalimat inversi (Keraf, 1991:208). Penutur A1 menggunakan intonasi seru dalam penyampaian tuturannya karena ia menjawab dengan tegas pertanyaan dari mitra tutur. Selain itu, penutur mencoba untuk menyakinkan mitra tutur dengan kebohongannya. Sedangkan, penutur A2 ditandai dengan pola intonasi datar-

  turun (Muslich, 2009:115−117). Tuturan A2

  berintonasi berita karena tuturan tersebut .memiliki tujuan untuk memberitahukan alasan penutur menghindar dari kewajibannya.

  Penutur A1 dan A2 sama-sama menggunakan nada sedang dalam menyampaikan tuturannya. Meskipun kedua tuturan tersebut memiliki nada sedang dalam penyampaiannya, kedua tuturan tersebut tetap dianggap tidak santun. Hal ini dikarenakan pada tuturan A1, penutur berbohong kepada mitra tutur sekaligus melanggar aturan yang telah disepakati. Tindakan yang serupa juga dilakukan oleh penutur A2, walaupun ia menggunakan nada sedang, tetapi penutur telah melanggar aturan yang telah disepakati, sehingga tuturannya dianggap tidak santun.

  Pembahasan penanda ketidaksantunan pragmatik akan dibahas dengan menggunakan aspek-aspek konteks menurut Leech (1983) dalam Wijana (1996:10

  −13), yakni aspek penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan

  penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal.

  Aspek penutur dan lawan tutur dalam kategori ketidaksantunan melanggar norma berdasar subkategori menegaskan mengambil contoh pada tuturan A1 dan A2. Pada tuturan A1, penutur merupakan perempuan berusia 12 tahun, sedangkan mitra tutur adalah laki-laki, ayah dari penutur. Hubungan mereka berdua adalah anak dan ayah. Penutur masih duduk di bangku sekolah, yakni SMP. Sedangkan mitra tutur, bekerja sebagai nelayan di pantai Congot. Penutur dengan tuturan A2 perempuan berusia 15 tahun, kakak dari penutur. Mereka berdua masih duduk di bangku sekolah, penutur menempuh pendidikannya di SMP dan mitra tutur menempuh pendidikannya di SMA. Tingkat keakraban mereka sangat erat, karena mereka merupakan adik kakak kandung.

  Aspek yang kedua adalah konteks tuturan yang berisi mengenai semua latar

  (back ground knowledge)

  belakang pengetahuan yang dipahami oleh penutur dan mitra tutur. Konteks tuturan A1 adalah penutur dan mitra tutur telah menyepakati sebuah aturan, yakni penutur tidak boleh membeli dan meminum es sembarangan, karena penutur mempunyai penyakit yang apabila minum es sembarangan, penyakit tersebut langsung kambuh. Penutur malanggar aturan tersebut dan berusaha menutupinya dengan kebohongan, tetapi mitra tutur tahu bahwa penutur telah melanggar aturan, hal ini terlihat dari penutur yang kambuh kembali penyakitnya. Sedangkan pada tuturan A2, penutur dan mitra tutur telah diberikan tanggung jawab masing-masing mengenai tugasnya dalam bersih-bersih rumah dan lingkungannya oleh peman mereka. Penutur dan mitra tutur tinggal di rumah pamannya. Penutur diberi tanggung jawab untuk mengurus kebersihan halaman rumah dan mitra tutur mengurus kebersihan di dalam rumah. Mitra tutur menyuruh penutur untuk menyapu halaman rumah karena sudah kotor, tetapi penutur tidak mau dan justru beralasan mengaji. Penutur sadar bahwa dirinya telah melanggar peraturan yang telah disepakati oleh bersama.

  Aspek ketiga yang dikemukakan oleh Leech (1983) dalam Wijana (1996) adalah tujuan penutur. Tujuan penutur A1 berbicara demikian adalah untuk tutur karena ia takut akan dimarahi mitra tutur bila tahu ia telah melanggar janjinya. Tujuan dari tuturan penutur A2 adalah menghindari pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya, yakni membersihkan halaman rumah. Penutur berbicara demikian karena dipojokkan oleh mitra tutur.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini akan membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Tuturan A1 terjadi pada malam hari saat penutur akan tidur malam di rumah, tepatnya di kamar penutur. Sedangkan, tuturan A2 di halaman rumah, pada jam 4 sore saat penutur akan pergi mengaji.

  Aspek yang terakhir adalah tuturan sebagai tindak verbal. Leech (1983) menjelaskan bahwa aspek ini memaparkan tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur A1 dan A2 adalah tindak representatif. Tindak representatif pada penutur A1 adalah menegaskan apa yang diyakini oleh penutur. Penutur menegaskan bahwa ia tidak minum es sembarangan, hal ini dilakukan untuk meyakini mitra tutur. Sedangkan, tindak representatif penutur A2 hampir sama dengan tindakan penutur A1, yakni sama- sama melakukan penegasan, yang membedakan hanyalah kasusnya. Pada tuturan A2, secara tersirat penutur menegaskan bahwa mengaji lebih penting daripada membersihkan halaman. Tindak perlokusi mitra tutur dari tuturan A1 adalah menasihati penutur, karena mitra tutur sebenarnya mengetahui bahwa penutur telah berbohong dan telah minum es. Mitra tutur mengetahui keadaan tersebut terlihat dari kondisi penutur yang jatuh sakit karena penyakitnya kambuh. Mitra tutur pada tuturan A2 memilih tindak perlokusi berupa aduan. Mitra tutur mengadu kepada pamannya selaku pembuat peraturan.

  Berdasar aspek penanda pragmatik yang telah dikemukanan di atas, tuturan A1 dan A2 termasuk ke dalam subkategori menegaskan. Hal ini terlihat dari tindak verbal kedua penutur yang menggunakan tindak verbal representatif, dan mereka cenderung untuk menegaskan apa yang mereka yakini.

  Kedua penutur dalam subkategori ini memiliki maksud yang berbeda dalam penyampaian tuturannya. Maksud penutur dalam tuturan A1 adalah untuk membohongi mitra tutur. Ia melakukan kebohongan tersebut karena takut ketahuan bahwa penutur telah melanggar aturannya. Sedangkan, penutur A2 memiliki maksud membela diri. Penutur merasa dirinya tidak bersalah, karena mengaji memang penting bagi penutur. Alasan lain sehingga penutur mempunyai maksud membela diri adalah ia dipojokkan oleh mitra tutur.

4.3.1.2 Subkategori Menunda Cuplikan tuturan 3 (A3)

  MT

  : “Belajar sek le. Ayo TVne dipateni, PRe geg ndang digarap!” P : “Mengko sek, Pak!” MT : (langsung mematikan televisi). Cuplikan tuturan 4 (A4)

  MT

  

: “Maghrib, ndang shalat, sinau, TVne ayo dipateni!”

P : “Mengko Pak! Filme jek apik kie.” MT : (Mematikan sekering listrik).

  Cuplikan tuturan di atas merupakan contoh tuturan yang termasuk dalam kategori melanggar norma dengan subkategori menunda. Kedua tuturan di atas memiliki beberapa kesamaan. Penutur tidak mengindahkan suruhan mitra tutur, Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua, sehingga membuat tuturannya tidak santun. Kedua penutur tersebut juga lebih mementingkan menonton televisi ketimbang belajar.

  Bukan hanya dari wujud pragmatik saja yang memiliki kesamaan antara tuturan A3 dan A4, dilihat dari penanda pragmatiknya, kedua tuturan tersebut juga mempunyai kesamaan. Pilihan kata yang digunakan kedua penutur di atas adalah bahasa nonstandar. Bahasa nonstandar disini adalah bahasa yang memiliki unsur kedaerahan, yakni bahasa Jawa.

  Tuturan A3 dan A4 dituturkan dengan tekanan keras. Penutur A3 memberi penekanan keras pada frasa Mengko sek karena penutur menekankan bahwa ia

  Mengko sek

  masih ingin melanjutkan menonton televisi. Kata dalam bahasa

  Nanti dulu

  Indonesia berarti . Jadi, disini penutur jelas menunda belajanya. Hal sama juga dilakukan oleh penutur A4, ia menekankan pada frasa Mengko Pak dengan tekanan keras.

  Intonasi yang digunakan oleh kedua penutur pun sama. Mereka berdua menggunakan intonasi berita dalam tuturannya. Kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar- turun (Muslich, 2009:115−117). Tuturan A3 dan A4 berintonasi berita karena tuturan tersebut .memiliki tujuan untuk memberitahukan alasan penutur menunda belajarnya. Selain itu, penutur A4 memberitahukan bahwa acara televisi yang sedang ia saksikan bagus.

  Penutur A3 dan A4 sama-sama menggunakan nada sedang dalam menyampaikan tuturannya. Meskipun kedua tuturan tersebut memiliki nada santun. Hal ini dikarenakan pada tuturan A3 dan A4, penutur menentang mitra tutur sekaligus melanggar aturan yang telah disepakati.

  Pembahasan penanda ketidaksantunan pragmatik akan dibahas dengan menggunakan aspek-aspek konteks menurut Leech (1983) dalam Wijana

  

(1996:10−13), yakni aspek penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan

  penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal.

  Setiap tuturan pasti terdapat orang yang menuturkan tuturan dan orang yang mendengarkan atau menanggapi tuturan tersebut. Aspek pertama dari Leech (1983) akan membahas aspek tersebut, yakni aspek penutur dan lawan tutur dalam kategori ketidaksantunan melanggar norma berdasar subkategori menunda. Pada tuturan A3, penutur merupakan laki-laki berusia 9 tahun, sedangkan mitra tutur juga laki-laki, berusia 48 tahun. Hubungan keakraban mereka adalah anak sebagai penutur dan ayah sebagai mitra tutur. Penutur masih bersekolah pada tingkatan SD, sedangkan mitra tutur bekerja sebagai nelayan. Penutur dengan tuturan A4 adalah laki-laki berusia 6 tahun. Mitra tutur pada tuturan A4 adalah laki-laki berusia 32 tahun. Hubungan mereka berdua adalah anak dan ayah, sehingga memiliki hubungan keakraban yang erat. Tingkat sosial penutur masih bersekolah pada tingkat sekolah dasar, sedangkan mitra tutur bekerja sebagai nelayan di pantai Trisik.

  Aspek yang kedua adalah konteks tuturan yang berisi mengenai semua latar

  (back ground knowledge)

  belakang pengetahuan yang dipahami oleh penutur dan mengenai jam belajar, yakni setelah maghrib penutur harus belajar setidaknya 1 jam setiap hari kecuali esoknya adalah hari libur. Penutur sudah mengetahui aturan tersebut dan menyetujuinya. Pada saat waktu belajar tiba, penutur masih asik menonton televisi, dan ia pun tahu bahwa sudah tiba waktunya untuk belajar.

  Penutur melanggat aturan tersebut dengan sengaja. Hal hampir sama juga ditunjukkan dalam konteks tuturan A4. Penutur dan mitra tutur telah menyepakati sebuah aturan mengenai waktu untuk belajar, yakni setelah maghrib televisi harus sudah mati dan setelah shalat maghrib penutur harus belajar, kemudian setelah belajar, penutur boleh melanjutkan menonton televisi.

  Aspek ketiga yang dikemukakan oleh Leech (1983) dalam Wijana (1996) adalah tujuan penutur. Tujuan penutur A3 dan A4 sama, yakni untuk melanjutkan menonton televsi. Tindakan tersebut membuat kegiatan belajarnya tertunda, dan hal ini berarti penutur telah melanggar aturannya sendiri.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini akan membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Tuturan A3 terjadi pada malam hari saat jam belajar tiba, yakni setelah maghrib.

  Sedangkan, tuturan A4 terjadi di rumah saat adzan maghrib berkumandang.

  Aspek yang terakhir adalah tuturan sebagai tindak verbal. Leech (1983) menjelaskan bahwa aspek ini memaparkan tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindakan kedua penutur tersebut termasuk ke dalam tindak komisif. Karena tindak komisif merupakan jenis tndak tutur yang dipahami oelh penutur untuk mengikat dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan tersebut sama-sama memiliki janji atau aturan yang sudah mengikat diri penutur, tetapi tuturan yang disampaikan penutur mengidikasikan bahwa penutur melanggar suatu tindakan yang telah mengikat dirinya tersebut. Kedua penutur menunda suatu tindakan yang seharusnya mereka lakukan sekarang. Penutur saat itu sadar bahwa dirinya sudah melanggat aturan yang telah mengikat dirinnya, hal ini terlihat bahwa mitra tutur sudah mengingatkan dan penutur tetap tidak meresponnya. Selain tindak verbal kedua penutur A3 dan A4 yang sama, tindak perlokusi mitra tutur juga hampir sama, yakni mereka sama-sama melakukan suatu tindakan. Tindak perlokusi mitra tutur A3 adalah mematikan televisi yang sedang penutur saksikan. Mitra tutur merasa kesal dengan tindakan penutur yang

  

tidak patuh terhadapnya. Bagi mitra tutur, tidak ada kata “toleransi” untuk belajar.

  Lagi pula penutur sudah sering melakukan hal sama saat tiba waktu belajar. Tindakan hampir sama juga dilakukan oleh mitra tutur A4. Jika mitra tutur A3 mematikan televisi, maka mitra tutur A4 mematikan sekering listrik. Penyebab apa yang dilakukan oleh mitra tutur A4 selain penutur tidak menghiraukan suruhannya untuk belajar, alasan mitra tutur mematikan sekering listrik adalah karena penutur takut gelap, sehingga ia akan melaksanakan apa yang diperintahkan mitra tutur.

  Berdasar aspek penanda pragmatik yang telah dikemukanan di atas, tuturan A3 dan A4 termasuk ke dalam subkategori menunda. Hal ini terlihat dari tindak verbal kedua penutur yang menggunakan tindak verbal komisif, dan tindakan mereka dengan jelas terlihat bahwa menunda kegiatan belajarnya. Penutur acara televisi tersebut setelah itu mereka akan pergi belajar, mereka hanya menunda belajarnya sebentar. Jadi, maksud penutur sama dengan subkategori tuturan tersebut yakni penutur memiliki maksud menunda.

4.3.2 Kategori Mengancam Muka Sepihak

  Terkourafi (2008) dalam Rahardi (2012) memandang ketidaksantunan

  (face

  bilaman mitra tutur merasakan ancaman terhadap kehilangan muka

  threaten) , dan penutur tidak mendapatkan maksud ancaman muka dari mitra tutur.

4.3.2.1 Subkategori Menegaskan Cuplikan tuturan 7 (B3)

  MT : “Langsung tidur aja, gak usah malem2.”

  P : “Cah enom kok yahene turu, Bu.”

  MT

  : “Ohh. Nek cah enom koyo ngno to?” Cuplikan tuturan 10 (B6) P : (menginjak kaki kakaknya) “Walah... kepidak...”

  MT

  : “Mah dipidak!!!”

  P

  : “Salahe mundur-mundur.”

  Cuplikan di atas merupakan wujud linguistik dari kategori mengancam muka sepihak yang termasuk ke dalam subkategori menegaskan. Kesamaan dari kedua tuturan tersebut adalah penutur tidak peduli bahwa tuturan atau tindakannya telah mengancam muka mitra tutur. Penutur pada cuplikan tuturan 7 tidak mengindahkan suruhan dari mitra tutur, penutur justru menyanggah suruhan mitra tutur dengan cara sinis. Pada tuturan B6, penutur berbicara dengan spontan, karena ia tidak sengaja menginjak kaki mitra tutur, tetapi tuturannya seolah-olah mengejek mitra tutur. Kedua penutur tersebut sama-sama berbicara dengan orang yang lebih tua, yakni penutur pada tuturan B3 berbicara dengan ibunya dan

  Penanda linguis terdiri dari intonasi, nada tutur, kata fatis, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur B3 dan B6 memiliki intonasi yang sama dalam tuturannya. Mereka menggunakan intonasi berita. Penutur B3 memberi informasi kepada mitra tutur bahwa anak muda tidak pantas untuk tidur pada saat mitra tutur menyuruh penutur untuk tidur, sekitar pukul 21.00. sedangkan intonasi berita pada tuturan B6 adalah penutur memberi tahu mitra tutur bahwa ia menginjak mitra tutur, padahal tanpa diberi tahu oleh penutur, mitra tutup pun sudah tahu. Selain memiliki kesamaan dalam intonasi, kedua penutur juga memiliki kesamaan dalam hal nada tutur mereka. Kedua penutur di atas menggunakan nada sedang dalam penyampaian tuturannya. Walaupun menggunakan nada yang sedang kedua tuturan tersebut menjadi tidak santun karena penutur B3 tidak menuruti suruhan mitra tutur, justru ia menyanggah suruhan mitra tutur dengan maksud membela diri, sedangkan tuturan B6 memiliki maksud mengejek mitra tutur. Penutur B3

  kok

  menggunakan kata fatis dalam tuturannya. Kata fatis yang digunakan oleh penutur B3 memiliki maksud menekankan alasan dan pengingkaran, seperti dijelaskan oleh Kridalaksana (1986: 113

  • –116). Tekanan keras yang dilakukan

  Bu

  penutur B3 terletak pada kata sapaan . Penutur menekankan pada kata tersebut karena ia menegaskan sedang berbicara dengan ibunya. Lain halnya dengan

  kepidak

  tuturan B6, penutur lebih memilih menggunakan tekanan lunak pada frasa untuk menandakan bahwa tuturannya menjadi tidak santun. Persamaan lain dari kedua tuturan di atas adalah pilihan kata yang penutur gunakan. Hampir seluruh tuturan yang terkumpul menggunakan pilihan kata bahasa nonstandar, yakni bahasa daerah (bahasa Jawa). Hal tersebut juga dilakukan oleh penutur B3 dan B6.

  Penanda pragmatik terdiri dari aspek penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal (Leech, 1983). Aspek yang wajib ada dalam sebuah percakapan adalah aspek penutur dan lawan tutur. Aspek ini membicarakan mengenai hal yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur, seperti usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya. Pada tuturan B3, penutur merupakan laki-laki berusia 16 tahun. Penutur masih duduk di bangku sekolah. Mitra tutur merupakan perempuan, ia adalah ibu dari penutur.

  Mitra tutur memiliki pekerjaan sebagai petani selain sebagai ibu rumah tangga. Berdasar apa yang telah dijelaskan oleh penutur, tingkat keakraban penutur dan mitra tutur hanya biasa saja. Hal ini dikarenakan penutur lebih dekat dengan ayahnya yang bekerja sebagai nelayan. Alasan penutur mengatakan demikian adalah karena penutur lebih dikenalkan dengan dunia luar oleh ayahnya, misalnya penutur sering diajak ayahnya melaut dan melakukan pekerjaan lainnya. Penutur merasa senang bila ayahnya mengajaknya untuk membantu pekerjaan ayahnya.

  Aspek yang kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Tuturan B3 memiliki konteks bahwa pada saat itu penutur dan mitra tutur sedang berada di ruang keluarga, sebelumnya mereka sedang menonton televisi. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, mitra tutur beranjak dari ruang keluarga menuju kamar tidurnya sembari menyuruh penutur untuk tidur. Penutur belum membuat mitra tutur kesal. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 10 adalah penutur dan mitra tutur sedang bercanda. Mitra tutur yang merupakan kakak penutur mengganggu penutur karena ia gemas dengan penutur yang memiliki badan gemuk. Penutur menginjak kaki mitra tutur dengan tidak sengaja, dan penutur mengucapkan tuturannya dengan spontan, hal ini yang membuat mitra tutur kesal dan penutur justru berbalik menyalahkan mitra tutur.

  Kedua penutur di atas memiliki tujuan masing-masing dalam penyampaian tuturannya. Tujuan penutur B3 adalah untuk melanjutkan menonton televisi dan belum ingin tidur. Sedangkan penutur B6 tidak memiliki tujuan yang pasti dalam tuturannya, ia hanya menegaskan bahwa ia telah menginjak kaki mitra tutur.

  Waktu dan tempat terjadinya percakapan juga menjadi salah satu aspek yang selalu ada dalam komunikasi. Tuturan B3 terjadi di ruang keluarga sekitar pukul 21.00. sedangkan tuturan B6 terjadi di ruang keluarga pada siang hari.

  Aspek yang terakhir adalah tuturan sebagai tindak verbal. Leech (1983) menjelaskan bahwa aspek ini memaparkan tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal kedua penutur tersebut termasuk ke dalam tindak representatif. Tindak representatif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur suatu kasus atau bukan, hal ini bisa berupa fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Kedua penutur di atas sama- sama menegaskan tuturan mereka. Penutur B3 menegaskan bahwa ia belum pantas untuk tidur pada waktu yang telah dijelaskan di atas. Penutur B6 menegaskan bahwa ia telah menginjak kaki mitra tutur. Selain menjelaskan perlokusi dari mitra tutur. Tindak perlokusi inilah yang menentukan santun tidaknya penutur. Tindak perlokusi mitra tutur dalam cuplikan tuturan 7 adalah mitra tutur menanggapi tuturan penutur dengan pertanyaan yang sedikit kesal, tetapi penutur tidak menghiraukan mitra tutur dan tetap melanjutkan menonton televisi. Mitra tutur pada cuplikan tuturan 10 lebih memilih untuk membentak penutur sebagai tindak perlokusinya. Bentakan mitra tutur justru menjadi menjadi tameng bagi penutur, dan ia berbalik menyalahkan mitra tutur. Tindakan kedua penutur yang tidak menghiraukan kekesalan mitra tutur menjadikan tuturan penutur termasuk ke dalam kategori mengancam muka sepihak.

  Masuknya tuturan B3 dan B6 ke dalam subkategori menegaskan karena kedua tuturan tersebut memiliki tindak verbal representatif yakni menegaskan suatu kasus yang diyakini oleh penutur. Penutur B3 menjelaskan maksud dirinya mengutarakan tuturan demikian adalah untuk membela diri dari suruhan mitra tutur. Maksud yang berbeda diutarakan oleh penutur B6, ia menggunakan maksud mengejek karena ia telah diganggu oleh mitra tutur dan dengan tidak sengaja ia menginjak mitra tutur, sehingga tindakan tersebut menjadi senjata untuk berbalik mengejek mitra tutur.

4.3.2.2 Subkategori Mengejek Cuplikan tuturan 5 (B1) P : “Sinau barang!” (Menyenggol adiknya).

  MT : “Ngopo to? Ganggu wae.” P : (Tidak menghiraukan dan pergi begitu saja).

  Cuplikan tuturan 13 (B9)

  MT : “Seng jenengane paku, papan itu kan lama2 menua, padahal yo

  jaluk renovasi iku tetep muni.”

  MT

  : “Yo jenenge wong urip aku percoyo resiko. Tapi kan menjadi tambah, kudune pikirane awak dewe ra tekan kono.” P : “Resiko.”

  Cuplikan di atas merupakan wujud linguistik dari kategori mengancam muka sepihak yang termasuk ke dalam subkategori mengejek. Kesamaan dari kedua tuturan tersebut adalah penutur tidak bahwa tuturan atau tindakannya telah mengancam muka mitra tutur. Penutur B1 menyampaikan tuturannya dengan cara sinis, sehingga tuturan tersebut menjadi tidak santun. Selain itu penutur bermain fisik (menyenggol mitra tutur) dan membuat mitra tutur terganggu. Hal yang menarik terjadi pada penutur B9, ia menyampaikan tuturannya dengan cara menyepelekan, padahal penutur berbicara dengan tamunya.

  Pembahasan mengenai penanda linguistik dapat dilihat dari unsur segmental dan suprasegmental, yakni diksi atau pilihan kata, gaya bahasa, kata fatis, intonasi, tekanan, dan nada bicara penutur. Tuturan B1 dan B9 mengandung empat unsur bila dilihat dari segi linguistik. Kedua tuturan tersebut menggunakan intonasi yang sama, yakni intonasi seru. Kalimat seru adalah kalimat yang menyatakan perasaan hati, atau keheranan terhadap suatu hal.

  Kalimat seru ditandai denan intonasi yang lebih tinggi dari kalimat inversi. Nada yang mereka gunakan juga sama, yakni menggunakan nada sedang dalam penyampaian tuturannya. Alasan mereka menggunakan nada sedang adalah karena mereka tidak sedang dalam keadaan emosi, mereka berdua dalam keadaan santai saat menyampaikan tuturannya, tetapi penutur membuat mitra walaupun penutur hanya menggunakan nada sedang. Kesamaan berikutnya terletak pada pilihan kata yang kedua penutur gunakan. Bahasa nonstandar menjadi pilihan kata yang penutur pilih. Mereka berdua menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan mitra tutur. Aspek yang berbeda dari kedua tuturan tersebut bila dilihat dari segi linguistik terletak pada tekanan dalam

  Sinau barang

  tuturan. Penutur B1 menekankan kata dengan tekanan keras bertujuan untuk mengekspresikan apa yang dilihat penutur. Berbeda dengan penutur B1 yang menggunakan tekanan keras pada tuturannya, penutur B9 hanya memakai tekanan lunak pada tuturannya. Walaupun menggunakan tekanan lunak pada tuturan Resiko , tuturan tersebut bermaksud mengejek mitra tutur, sehingga menjadikan tuturan tersebut menjadi tidak santun.

  Sama halnya dengan penanda linguitik yang membahas lima aspek, penanda pragmatik juga membahas lima aspek menurut Leech (1983). Kelima aspek tersebut adalah aspek penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal.

  Pertama, aspek penutur dan lawan tutur. Aspek ini membicarakan mengenai usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya. Pada tuturan B1 penutur merupaka laki-laki berusia 12 tahun. Ia merupakan kakak dari mitra tutur. Sedangkan, mitra tutur adalah laki-laki berusia 6 tahun. Mereka berdua masih duduk di bangku sekolah. Hubungan mereka pun dapat dikatakan sangat erat karena mereka berdua sering bercanda B9, penutur dan mitra tutur merupakan laki-laki, mereka berdua adalah nelayan. Usia penutur 42 tahun, ia merupakan tuan rumah sekaligus ketua nelayan di pantai Congot. Mitra tutur berusia 41 tahun, kerabat sekaligus rekan seprofesi penutur. Penutur memiliki kedudukan dalam perkumpulan nelayan pantai Congot, sedangkan mitra tutur merupakan pengurus kelompok nelayan di pantai Glagah. Hubungan mereka sangat akrab, hal ini terlihat dari bagaimana mereka bercanda dan saling mengejek, walaupun mereka kesal satu sama lain tapi mereka dengan cepat mengembalikan keadaan menjadi santai kembali.

  Aspek yang kedua adalah konteks tuturan yang berisi mengenai semua latar belakang pengetahuan (back ground knowledge) yang dipahami oleh penutur dan mitra tutur. Konteks tuturan B1 adalah mitra tutur sedang di ruang keluarga. Penutur dan mitra tutur memiliki intensitas berkomunikasi yang cukup tinggi. Mereka berdua sering saling ganggu, saling goda, dan saling bertengkar. Penutur sedang berjalan ingin keluar rumah, ia melewati ruang keluarga dan melihat mitra tutur sedang konsentrasi belajar. Melihat mitra tutur yang sedang konsentrasi belajar, penutur berbuat jahil dengan menggoda mitra tutur, tidak dengan tuturan saja penutur dalam menggoda adiknya, ia juga menyenggol mitra tutur. Konteks yang lebih serius terjadi pada tuturan B9. Penutur dan mitra tutur merupakan nelayan senior yang sudah berpengalaman, sehingga mereka berdua memiliki jabatan dalam kelompok nelayan daerah mereka masing-masing. Selain mereka berdua, terdapat 2 mitra tutur lain yang berada di sana, salah satu dari kedua mitra tutur tersebut adalah nelayan pantai Congot dan yang satunya kepada penutur, yakni mengenai renovasi kapal yang menjadi tanggungan pribadi atau kelompok, padahal pemerintah telah berjanji akan membantu. Mitra tutur yang sedang berbicara serius ditanggapi dengan ejekan oleh penutur. Ejekan penutur tersebut disampaikan di depan kedua mitra tutur lain sehingga tuturan penutur dapat digolongkan ke dalam kategori ketidaksantunan mengancam muka sepihak.

  Aspek ketiga yang dikemukakan oleh Leech (1983) adalah tujuan penutur. Penutur tidak memiliki maksud tertentu, penutur hanya lewat, kemudian melihat mitra tutur sedang belajar dan menghampirinya dengan melakukan tindakan menyenggol atau menggoda. Sedangkan, penutur B9 memang hanya memiliki tujuan untuk mengejek mitra tutur, karena menurut penutur apa yang dikeluhkan mitra tutur memang tanggungan dari mitra tutur tersebut.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini akan membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Tuturan B1 terjadi di ruang keluarga pada tanggal 26 April 2013 pukul 19.00 saat mitra tutur sedang belajar. Tuturan B9 terjadi di teras rumah penutur sekitar pukul 16.00 pada tanggal 20 April 2013.

  Aspek yang terakhir adalah tuturan sebagai tindak verbal. Leech (1983) menjelaskan bahwa aspek ini memaparkan tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindakan kedua penutur tersebut termasuk ke dalam tindak ekspresif. Karena kedua penutur tersebut mengutarakan tuturannya dengan ekspresif. Tindak verbal ekspresif merupakan jenis tindak tutur yang kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, dan kesengsaraan. Bila penutur memiliki tindak verbal, mitra tutur memiliki tindak perlokusi. Tindak perlokusi mitra tutur B1 adalah menanggapi tuturan dan tindakan penutur dengan ancaman, karena dirinya merasa telah diganggu oleh penutur, tetapi penutur tidak peduli dengan ancaman mitra tutur, dan penutur pergi begitu saja dengan acuh. Sedangkan mitra tutur B9 memiliki tindak perlokusi yang sama yakni menaggapi tuturan penutur. Mitra tutur menanggapi penutur dengan sanggahan karena ia merasa benar, tetapi penutur tetap saja mengejeknya dengan ejekan yang sama.

  Penutur B1 mengungkapkan bahwa dirinya hanya bermaksud sekedar menggoda mitra tutur, dan tidak memiliki maksud lain. Penutur B9 memiliki maksud mengejek karena ia menilai apa yang dikeluhkan mitra tutur tidak sepenuhnya benar, dan penutur lebih memilih untuk mengejeknya ketimbang menanggapi mitra tutur dengan pernyataan.

4.3.2.3 Subkategori Menunda Cuplikan tuturan 6 (B2)

  MT

  : “Tangi-tangi... Mengko bar tangi langsung asah-asah piring.” P : “Mengko ah...” (Melanjutkan tidurnya).

  MT : “Wolhaa... Anak jaman saiki nek dikon ra tau mangkat.” Berdasar hasil analisis, hanya terdapat 1 tuturan yang termasuk ke dalam kategori mengancam muka sepihak dengan subkategori menunda, yakni pada tuturan B2. Dilihat dari segi wujud pragmatik tuturan ini dikatakan tidak santun karena penutur berbicara dengan orang yang lebih tua dan dengan menggunakan cara yang ketus dalam penyampaian tuturannya. Selain itu, penutur yang menunda suruhan mitra tutur justru melanjutkan tidutnya dan tidak peduli bahwa tindakannya membuat mitra tutur kesal.

  Pembahasan mengenai penanda linguistik dapat dilihat dari unsur segmental dan suprasegmental, yakni diksi atau pilihan kata, gaya bahasa, kata fatis, intonasi, tekanan, dan nada bicara penutur. Tuturan B6 memiliki intonasi seru, yakni dengan ditandai dengan intonasi yang lebih tinggi dari kalimat inversi.

  Kalimat seru adalah kalimat yang mengungkapkan perasaan hati. Hal ini terlihat dari tuturan B2 yang menggambarkan perasaan hati penutur yang masih malas untuk bangun. Penutur juga menggunakan kata fatis dalam tuturannya. Kata fatis yang penutur gunakan adalah kata fatis ahh , yang artinya menekankan rasa penolakan atau acuh tak acuh. Makna kata fatis tersebut tergambar dari penolakan penutur dari suruhan mitra tutur. Nada yang digunakan penutur dalam menyampaikan tuturannya adalah nada sedang. Meskipun penutur menggunakan nada sedang, tuturannya tetap menjadi tuturan tidak santun karena mitra tutur merasa tidak dihiraukan oleh penutur. Nada yang digunakan penutur adalah nada sedang, tetapi penutur menekankan tuturannya dengan tekanan keras. Tekanan keras yang diberikan penutur karena ia menuturkan dengan sedikit tegas, yang memiliki arti bahwa ia benar-benar belum ingin bangun. Pilihan kata bahasa nonstandar menjadi pilihan kata yang digunakan penutur. Faktor utama alasan penutur memilih diksi ini adalah bahwa setiap hari ia berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dengan keluarganya.

  Penanda ketidaksantunan pragmatik yang dipaparkan oleh Leech (1983) tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek yang pertama adalah aspek penutur dan mawan tutur. Penutur B2 adalah laki-laki berusia 16 tahun, sedangkan lawan tuturnya adalah perempuan, yakni ibu dari penutur. Penutur bersekolah di salah satu SMA di kabupaten Bantul. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Mitra tutur adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki pekerjaan sebagai petani. Suami mitra tutur atau ayah dari penutur berkerja sebagai nelayan, selain bekerja sebagai nelayan, ia mempunyai pekerjaan sampingan sebagai petani. Hubungan antara penutur dan mitra tutur tidaklah sedekat penutur dengan ayahnya. Keadaan tersebut dikarenakan penutur lebih sering bersama dengan ayahnya dalam melakukan banyak hal.

  Aspek yang kedua adalah konteks tuturan, yakni mengenai semua latar belakang pengetahuan (back ground knowledge) yang dipahami oleh penutur dan mitra tutur. Konteks tuturan B2 adalah penutur masih tidur saat mitra tutur berusaha membangunkannya. Terdapat kerjaan yang harus dilakukan penutur setelah bangun tidur, yakni mencuci piring. Penutur menunda suruhan mitra tutur dan melanjutkan tidurnya. Mitra tutur merasa kesal karena suruhannya tidak dilaksanakan sesuai kehendak mitra tutur. Tanggapan mitra tutur yang kesal tersebut menjadikan tuturan penutur tidak santun.

  Aspek ketiga yang dikemukakan oleh Leech (1983) dalam Wijana (1996) adalah tujuan penutur. Tujuan penutur B2 adalah melanjutkan tidurnya, sehingga penutur harus menunda suruhan mitra tutur.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini akan membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Tuturan B2 saat pagi hari di kamar tidur penutur.

  Aspek yang terakhir adalah tuturan sebagai tindak verbal. Leech (1983) menjelaskan bahwa aspek ini memaparkan tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindakan penutur tersebut termasuk ke dalam tindak komisif. Karena tindak komisif merupakan jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikat dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang, hal ini bisa berupa janji, ancaman, penolakan, dan ikrar. Penutur B2 menunda suruhan mitra tutur, sehingga ia menunda suatu tindakan di masa datang yang seharunya akan penutur kerjakan. Tindak perlokusi mitra tutur adalah bergumam terhadap kelakuan penutur yang sulit untuk dibangunkan. Mitra tutur semakin kesal karena penutur tidak memperhatikan mitra tutur dalam bertutur kata dan justru melanjutkan tidurnya. Hal ini yang menjadi ciri dari tuturan B2 termasuk ke dalam kategori mengancam muka sepihak dan masuk ke dalam subkategori menunda.

  Penutur menjelaskan bahwa sebenarnya ia malas dengan kerjaan mencuci piring, apalagi pada waktu itu masih pagi. Sehingga penutur menyampaikan tuturannya dengan maksud menghindari pekerjaan yang diberikan mitra tutur.

4.3.2.4 Subkategori Menolak Cuplikan tuturan 9 (B5)

  MT

  : “Tukokke iki neng warung!” P : “Wegah, males!”

  MT : “Awas koe!” Sama halnya dengan subkategori menunda yang hanya terdapat 1 tuturan, subkategori menolak juga demikian. Hanya tuturan B5 saja yang masuk ke dalam subkategori menolak. Tuturan ini disampaikan secara ketus oleh penutur. Bukan hanya itu saja yang menggambarkan wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan ini, wujud yang lain adalah penutur berbicara dengan orang yang lebih tua, dan ia tidak merasa dirinya telah mengancam muka mitra tutur.

  Penanda linguistik yang terdapat dalam tuturan B5 adalah pertama, intonasi seru. Keraf (1991) menjelaskan bahwa kalimat seru adalah kalimat yang menyatakan perasaan hati, atau keheranan terhadap suatu hal. Kalimat ini ditandai dengan intonasi yang lebih tinggi dari kalimat inversi. Selain ditandai dengan hal-

  (!)

  hal tersebut, dalam intonasi ini juga ditandai dengan tanda baca seru . Penutur memperlihatkan perasaan yang sedang ia rasakan saat itu, yakni perasaan malas.

  Kedua, nada tutur yang digunakan saat menyampaikan tuturannya adalah nada tinggi. Nada tinggi yang diperlihatkan penutur seperti orang membentak. Selain itu, nada tinggi juga ditandai dengan emosinya si penutur saat menyampaikan tuturannya. Pranowo (2012:77) memaparkan bahwa jika suasana hati sedang marah, emosi, nada bicara penutur menaik dengan keras, kasar sehingga terasa menakutkan. Suasana hati penutur sedang kesal karena ia selalu disuruh oleh mitra tutur untuk apa saja, dalam tuturan ini penutur disuruh untuk pergi ke warung. Ketiga, selain nada yang digunakan penutur adalah nada tinggi, penutur

  wegah

  juga memberikan penekanan keras pada frasa . Penekanan pada frasa tersebut membuktikan bahwa penutur benar-benar menolak keras suruhan mitra menggunakan bahasa Jawa, sehingga diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar (bahasa yang terdapat unsur kedaerahan).

  Penanda ketidaksantunan pragmatik yang dipaparkan oleh Leech (1983)

  

dalam Wijana (1996:10−13) meliputi aspek penutur dan mitra tutur, konteks

  tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek yang pertama adalah aspek penutur dan mawan tutur. Penutur B5 adalah laki-laki berusia 16 tahun, sedangkan lawan tuturnya adalah kakaknya sendiri, yakni laki-laki berusia 21 tahun. Penutur bersekolah di salah satu SMA di kabupaten Bantul. Mitra tutur sudah berkuliah di salah satu Univesitas besar di Yogyakarta. Mereka mempunyai hubungan yang akrab, hal ini dijelaskan sendiri oleh penutur bahwa dirinya dan mitra tutur sebenarnya mempunyai hubungan yang sangat dekat. Penutur yang setiap hari tidak bisa berjumpa dengan mitra tutur karena mitra tutur tinggal di Jogja dan hanya pulang ke rumah pada akhir minggu, mengaku bahwa mereka sering berkomunikasi melalui telepon genggam dengan intensitas yang cukup tinggi.

  Aspek yang kedua adalah konteks tuturan, yakni mengenai semua latar

  (back ground knowledge)

  belakang pengetahuan yang dipahami oleh penutur dan mitra tutur. Konteks tuturan B5 adalah penutur dan mitra tutur sedang bersantai dan tiba-tiba mitra tutur menyuruh penutur untuk pergi ke warung membelikan sesuatu untuk mitra tutur. Penutur kesal karena ia selalu disuruh melakukan apapun yang sebenarnya mitra tutur bisa lakukan. Penutur menolak suruhan mitra tutur.

  Aspek ketiga yang dikemukakan oleh Leech (1983) dalam Wijana (1996) adalah tujuan penutur. Tujuan penutur B5 adalah menolak suruhan mitra tutur untuk pergi ke warung. Jelas terlihat bahwa tuturan B5 memiliki tujuan menolak,

  Wegah hal ini terlihat jelas pada frasa .

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini akan membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga pada siang hari.

  Aspek yang terakhir adalah tuturan sebagai tindak verbal. Leech (1983) menjelaskan bahwa aspek ini memaparkan tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindakan penutur tersebut termasuk ke dalam tindak komisif. Karena tindak komisif merupakan jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikat dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang, hal ini bisa berupa janji, ancaman, penolakan, dan ikrar. Tuturan penutur sudah menandakan bahwa penutur menolak suruhan mitra tutur, dan bukti itu menggambarkan mengenai pengertian tindak verbal komisif. Tindak perlokusi mitra tutur adalah menanggapi penolakan penutur dengan ancaman. Mitra tutur mengancam penutur karena ia kesal dengan tindakan mitra tutur yang menolak suruhannya. Kekesalan mitra tutur tidak diperhatikan oleh penutur, dan penutur justru sibuk sendiri dengan aktivitasnya.

  Penutur membenarkan bahwa ia memang memiliki maksud menolak suruhan mitra tutur. Penutur kesal dengan mitra tutur karena ia selalu menjadi korban kemalasan mitra tutur.

4.3.3 Kategori Melecehkan Muka

  Miriam A Locher (2008) dalam Rahardi (2012) berpendapat bahwa

  (face- ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka aggravate)

  . Perilaku melecehkan muka itu sesungguhnya lebih dari sekadar face-threaten ).

  ‘mengancam’ muka (

4.3.3.1 Subkategori Menyindir Cuplikan tuturan 35 (C22) P : “Iki le ngenei no hp kie tenan po etok-etokan? Nek dibel ra nyaut blas, disms ra ono balesi blas.”

  MT

  : “Mburi dewe piro? Enem belas?”

  P

  : “Payah tenan koe kie!”

  MT : “lha rak kelep to?” P

  : “seng keri, lemu ngenei seng keri!”

  MT

  :” yo ijek yo, aku ra tau ganti-ganti! Nek janji siji ra kelep.”

  Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menyindir dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan C22 adalah penutur berbicara dengan kesal dan tuturan tersebut disampaikan kepada tamunya.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur C22 menggunakan intonasi tanya dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk menanyakan kebenaran nomor Hp yang diberikan oleh mitra tutur. Penutur menggunakan nada sedang dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada sedang penutur tetap menjadi tidak santun karena secara tidak langsung penutur menuduh mitra tutur berohong. Penutur menggunakan tekanan keras pada balesi blas

  . Penutur menekankan pada frasa tersebut karena frasa tersebut merupakan wujud dari kekesalan penutur. Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Bahasa nonstandar merupakan bahasa yang mengandung unsur kedaerahan. Penutur memilih diksi ini karena sudah menjadi bahasa sehari-hari.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 35 adalah penutur dan mitra tutur merupakan laki-laki. Usia penutur adalah 42 tahun, sedangkan mitra tutur lebih muda 1 tahun dari penutur. Mereka berdua merupakan nelayan, dan penutur adalah ketua nelayan pantai Congot. Mereka memiliki hubungan yang sangat akrab, hal ini tergambar dari ejekan mereka yang selalu ditanggapi dengan santai.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 35 adalah mitra tutur adalah tamu, sedangkan penutur adalah tuan rumah dan di situ masih terdapat 2 orang tamu lainnya. Dulu mitra tutur telah memberikan nomor Hp nya kepada penutur. Mitra tutur susah dihubungi. Mitra tutur sudah berpamitan akan pulang. Penutur menghambat mitra tutur dengan bertanya.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur C22 adalah penutur bertanya kepada mitra tutur mengenai kebenaran sms

  mengeluh dengan sikap mitra tutur yang bila di tidak membalas dan ditelepon tidak diangkat.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 35 terjadi di teras rumah penutur. Waktu terjadinya tuturan pada tanggal

  20 April 2012, sekitar pukul 16.30.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur C22 adalah tindak verbal representatif. Tindak verbal representatif adalah tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan, berupa suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Tindak perlokusi mitra tutur adalah mitra tutur langsung menanggapi tuturan penutur dengan pertanyaan.

  Berdasar penanda pragmatik di atas, tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menyindir. Setiap penutur memiliki maksud masing-masing dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur C22 memiliki maksud kesal dalam tuturannya. Kekesalan penutur muncul karena mitra tutur yang sulit dihubungi bila penutur ada perlu dengannya.

4.3.3.2 Subkategori Menegaskan Cuplikan tuturan 20 (C7)

  MT

  : “Arep nendi?”

  P

  : “Lungo dijak Bapak.”

  MT

  : “Shalat sek, wes sarungan ngono kok.” P : “Wes nyendal motor galho!” (sambil berjalan keluar ruangan). Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menegaskan dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan C7 adalah penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Mitra tutur menyuruh penutur dengan baik, tetapi penutur justru menjawab pertanyaan mitra tutur dengan ketus.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur C7 menggunakan intonasi berita dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk memberitahukan bahwa ayahnya telah menghidupkan motor. Penutur menggunakan nada sedang dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada sedang penutur tetap menjadi tidak santun karena mitra tutur menjadi kesal dan merasa tidak dihargai. Penutur menggunakan tekanan keras pada tuturannya. Tekanan keras tersebut terletak pada keseluruhan kalimat, yakni Wes nyendal

  motor galho

  . Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Bahasa nonstandar merupakan bahasa yang mengandung unsur kedaerahan. Penutur memilih diksi ini karena sudah menjadi bahasa sehari-hari. Selain penggunaan bahasa nonstandar, penutur juga menggunakan bahasa slang dalam tuturannya, yakni nyendal . Kata nyendal merupakan istilah Jawa untuk

  kick starter meng motor.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 20 adalah penutur dan mitra tutur merupakan laki-laki. Usia penutur adalah 12 tahun, sedangkan mitra tutur berusia 23 tahun. Mereka berdua merupakan adik kakak. Penutur masih bersekolah pada tingkat SMP, sedangkan penutur merupakan mahasiswa salah satu universitas di DIY.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 20 adalah penutur sudah memakai sarung hendak beribadah shalat dzuhur. Mitra tutur sedang tiduran di ruang keluarga sambil menonton televisi. Mitra tutur menegur penutur yang tadinya sudah memakai sarung untuk pergi shalat justru melepaskannya kembali karena diajak pergi oleh ayah.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur C7 adalah penutur memberitahu kepada mitra tutur bahwa motornya sudah hidup.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 20 terjadi di ruang keluarga. Waktu terjadinya tuturan pada tanggal 28 April 2013, sekitar pukul 16.30.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur C7 adalah tindak verbal representatif. Tindak verbal representatif adalah tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur Tindak perlokusi mitra tutur adalah mitra tutur menanggapi penutur, tetapi karena ia tidak dihiraukan kemudian mitra tutur diam saja karena adiknya susah dinasihati.

  Berdasar penanda pragmatik di atas, tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menegaskan. Setiap penutur memiliki maksud masing-masing dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur C7 memiliki maksud membela diri dalam tuturannya. Pembelaan diri penutur muncul karena mitra tutur memojokkannya.

4.3.3.3 Subkategori Memerintah Cuplikan tuturan 15 (C2)

  MT

  : “Gawekno wedang ro jupukno maem, Bu...” P : “Alaaah... jupuk dewe, Pak!” MT : (mengambil minuman sendiri dengan raut wajah kesal).

  Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori memerintah dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan C2 adalah penutur menyampaikan tuturannya dengan ketus kepada orang yang lebih tua. Penutur justru berbalik menyuruh mitra tutur, padahal sebelumnya mitra tutur yang menyuruh penutur.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur C2 menggunakan intonasi perintah dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk memerintahkan kedapa mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Penutur menggunakan nada sedang dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada sedang penutur tetap menjadi tidak santun karena penutur bertindak tidak sopan

  Alaaah

  tuturannya. Tekanan keras tersebut terletak pada frasa . Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Bahasa nonstandar merupakan bahasa yang mengandung unsur kedaerahan. Penutur memilih diksi ini karena sudah menjadi bahasa sehari-hari.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 15 adalah penutur merupakan perempuan berusia 32 tahun, sedangkan mitra tutur berusia 34 tahun. Penutur merupakan istri dari mitra tutur. Mitra tutur memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan penutur hanya sebagai ibu rumah tangga. Hubungan keakraban mereka sangat dekat, karena mereka adalah suami istri.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 15 adalah mitra tutur pulang kerja (melaut) dengan keadaan capek, tetapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Penutur merasa kesal karena mitra tutur pergi seharian tetapi tidak membawa hasil yang diharapkan. Mitra tutur meminta penutur untuk mengambilkan makan dan minum.

  Penutur justru menyuruh mitra tutur untuk mengambil sendiri makan dan minumnya.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur C2 adalah penutur kesal terhadap mitra tutur dan menyuruh mitra tutur

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 15 terjadi di ruang keluarga. Waktu terjadinya tuturan adalah pada siang hari sekitar jam 2 siang.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur C2 adalah tindak verbal direktif. Tuturan penutur dikatakan tindak verbal direktif karena ia memerintah mitra tutur untuk melakukan sesuatu.

  Tindak perlokusi mitra tutur adalah mitra tutur mengambil sendiri makanan dan minuman yang dia inginkan..

  Berdasar penanda pragmatik di atas, tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori memerintah. Setiap penutur memiliki maksud masing-masing dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur C2 memiliki maksud menolak dalam tuturannya. Penolakan penutur dilakukan karena penutur sudah terlanjur kesal dengan mitra tutur.

4.3.3.4 Subkategori Menegur Cuplikan tuturan 30 (C17) P : “Mripatmu ki ndokke sikel?” MT : (Diam).

  P

  : “Anake nangis neng andinge yo mung meneng wae!”

  Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menegur dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan C17 adalah penutur berbicara dengan kata-kata kasar kepada istrinya dan penyampaiannya dengan cara keras.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur C17 menggunakan intonasi seru dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk menyerukan tuturannya. Penutur dalam keadaan emosi dengan tingkah mitra tutur. Penutur menggunakan nada tinggi dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada tinggi penutur karena penutur emosi dengan mitra tutur yang tidak peduli apapun. Penutur menggunakan tekanan keras pada tuturannya.

  Tekanan keras tersebut terletak pada frasa Mripatmu . Tekanan keras yang ditekankan pada frasa tersebut memperlihatkan betapa tidak santunnya penutur.

  Kata mripatmu termasuk dalam kata-kata kasar dalam bahasa Jawa. Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Bahasa nonstandar merupakan bahasa yang mengandung unsur kedaerahan. Penutur memilih diksi ini karena sudah menjadi bahasa sehari-hari.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 30 adalah penutur merupakan laki-laki berusia 30 tahun, sedangkan mitra tutur perempuan berusia 26 tahun.

  Penutur merupakan suami dari mitra tutur. Penutur memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan penutur hanya sebagai ibu rumah tangga. Hubungan keakraban mereka sangat dekat, karena mereka adalah suami istri.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 30 adalah penutur melihat anaknya yang belum genap berusia 1 tahun rewel atau menangis. Mitra tutur hanya diam saja, padahal ia tahu bahwa anaknya sedang menangis. Penutur marah melihat mitra tutur yang tidak melakukan tindakan terhadap anaknya.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur C17 adalah penutur memarahi mitra tutur karena tidak tanggap dengan keadaan anaknya yang menangis.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 30 terjadi di ruang keluarga tepatnya di depan televisi karena mitra tutur sedang menonton televisi.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur C17 adalah tindak verbal ekspresif. Tuturan penutur dikatakan tindak verbal ekspresif karena ia marah dengan perilaku mitra tutur.

  Tindak perlokusi mitra tutur adalah mitra tutur diam saja karena mitra tutur merupakan orang yang sabar menghadapi penutur dan mitra tutur langsung berusaha menenangkan anaknya yang masih bayi daripada menambah keributan.

  Berdasar penanda pragmatik di atas, tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menegur. Tuturan ini masuk ke dalam kategori melecehkan muka karena tindak perlokusi mitra tutur yang langsung tanggap dengan maksud tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur C17 memiliki maksud kesal dalam tuturannya.

4.3.3.5 Subkategori Menolak Cuplikan tuturan 17 (C4)

  MT : “Ayo... belajar.”

  P : “Emoh!”

  MT

  : “Kalo gak belajar gak tak kasih uang jajan!”

  Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menolak dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan C4 adalah penutur berbicara dengan cara penyampaian tuturan keras kepada mitra tutur yang usianya lebih tua daripada penutur.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur C4 menggunakan intonasi seru dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk menyerukan penolakannya terhadap suruhan mitra tutur. Penutur menggunakan nada tinggi dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada tinggi penutur karena penutur memang susah untuk disuruh belajar. Penutur menggunakan tekanan keras pada

  Emoh

  tuturannya. Tekanan keras tersebut terletak pada kata . Tekanan keras yang ditekankan pada kata tersebut memperlihatkan betapa tidak santunnya penutur kepada orang tua. Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Bahasa nonstandar merupakan bahasa yang mengandung unsur kedaerahan. Penutur memilih diksi ini karena sudah menjadi bahasa sehari-hari.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 17 adalah penutur merupakan laki-laki berusia 6 tahun, sedangkan mitra tutur laki-laki berusia 32 tahun. Penutur merupakan anak dari mitra tutur. Penutur masih bersekolah pada tingkat SD, sedangkan penutur berkerja sebagai nalayan di pantai Trisik. Hubungan keakraban mereka sangat dekat, karena mereka adalah keluarga.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 17 adalah bahwa penutur sulit untuk disuruh belajar. Mitra tutur menyuruh penutur untuk belajar.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur C4 adalah penutur menolak ajakan mitra tutur untuk segera belajar.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 17 terjadi di ruang keluarga tepatnya di depan televisi karena mitra tutur sedang menonton televisi. Waktu terjadinya tuturan pada saat jam belajar tiba, yakni setelah maghrib.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur C4 adalah tindak verbal komisif. Tuturan penutur dikatakan tindak verbal komisif karena menolak ajakan atau suruhan mitra tutur untuk belajar. Tindak perlokusi mitra tutur adalah langsung mengancam penutur untuk segera belajar, karena dengan begitu penutur akan menurut dengan mitra

  Berdasar penanda pragmatik di atas, tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menolak. Setiap penutur memiliki maksud masing-masing dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur C4 memiliki maksud malas dalam tuturannya. Penutur menjelaskan alasan mengapa ia menolak suruhan mitra tutur karena penutur malas untuk belajar.

4.3.3.6 Subkategori Memperingatkan Cuplikan tuturan 33 (C20)

  

MT : “Sesok nek ono seng neng kono meneh, aku tak nang...”

  P

  : “Sesok, nek ngomongke sesok, ndag lali!”

  Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori memperingatkan dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan C20 adalah penutur berbicara dengan cara penyampaian tuturan ketus kepada mitra tutur yang merupakan tuan rumah. Penutur memotong pembicaraan mitra tutur.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur C20 menggunakan intonasi seru dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk menyerukan ketidaksatujuannya dengan tuturan mitra tutur. Penutur menggunakan nada tinggi dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada tinggi penutur karena memang ciri khas dari penutur. Penutur menggunakan

  nek

  tekanan keras pada tuturannya. Tekanan keras tersebut terletak pada frasa

  ngomongke sesok

  . Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Bahasa nonstandar merupakan bahasa yang mengandung unsur Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 33 adalah penutur merupakan laki-laki berusia 41 tahun, sedangkan mitra tutur laki-laki berusia 42 tahun.

  Penutur dan mitra tutur merupakan nelayan. Penutur adalah nelayan pantai Glagah, sedangkan mitra tutur adalah nelayan pantai Congot. Mitra tutur memiliki kedudukan tertinggi di dalam kelompok nelayan pantai Congot. Mereka berdua merupakan teman dekat, sehingga tingkat keakraban mereka sangat tinggi.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 33 adalah mitra tutur menerima 3 tamu yang mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Mitra tutur sedang berbicara atau menyampaikan sesuatu kepada salah satu tamunya (penutur). Penutur langsung menanggapi tuturan mitra tutur, padahal mitra tutur belum selesai berbicara.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur C20 adalah penutur menanggapi tuturan mitra tutur karena ia tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh mitra tutur.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 33 terjadi di teras rumah mitra tutur. Waktu tuturan tersebut terjadi pada

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur C20 adalah tindak verbal direktif. Tuturan penutur dikatakan tindak verbal direktif karena penutur sebenarnya memberi saran kepada mitra tutur. Tindak perlokusi mitra tutur adalah diam saja, karena ia sadar akan kalah bila berdebat dengan penutur.

  Berdasar penanda pragmatik di atas, tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori memperingatkan. Setiap penutur memiliki maksud masing-masing dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur C20 memiliki maksud kesal dalam tuturannya. Kekesalan penutur adalah karena urusan besok justru dibicarakan sekarang.

4.3.3.7 Subkategori Mengancam Cuplikan tuturan 18 (C5)

  P

  : “Makan dulu, mainnya nanti lagi!”

  MT

  : “Gak mau, nanti aja.” P : “Kalo gak mau makan, kamu gag boleh pergi sama dia (temannya)!”

  Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori mengancam dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan C5 adalah penutur berbicara dengan cara penyampaian tuturan kesal kepada mitra tutur. Penutur mengeluarkan kata-kata ancaman agar mitra tutur menuruti perintahnya.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur C5 menggunakan intonasi mitra tutur seperti yang penutur inginkan. Penutur menggunakan nada sedang dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada sedang penutur sudah membuat mitra tutur takut. Penutur menggunakan tekanan lunak pada tuturannya. Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa populer, yakni bahasa kata-kata yang dikenal dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 18 adalah penutur merupakan laki-laki berusia 32 tahun, sedangkan mitra tutur laki-laki berusia 6 tahun. Penutur adalah ayah dari mitra tutur. Penutur merupakan nelayan pantai Trisik. Hubungan keakraban mereka adalah hubungan keluarga.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 18 adalah mitra tutur ingin pergi bermain bersama teman-temannya. Penutur menyuruh mitra tutur untuk makan terlebih dahulu, kemudian baru boleh bermain. Mitra tutur menolak suruhan penutur. Penutur mengancam mitra tutur agar mau makan.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur C20 adalah menyuruh penutur untuk makan, walaupun suruhannya harus disertai ancaman.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. tuturan 18 terjadi di rumah penutur dan mitra tutur. Waktu tuturan tersebut terjadi pada siang hari.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur C5 adalah tindak verbal ekspresif. Tindak verbal ekprseif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan penutur, berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, dan kesengsaraan. Tindak perlokusi mitra tutur adalah mitra tutur melakukan apa yang diperintah penutur, karena mitra tutur sangat takut bila tidak mempunyai teman.

  Berdasar penanda pragmatik di atas, tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori mengancam. Setiap penutur memiliki maksud masing-masing dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur C5 memiliki maksud memaksa dalam tuturannya. Paksaan perlu dilakukan penutur karena mitra tutur memang susah untuk disuruh makan bila ia sudah bermain bersama teman-temannya.

4.3.3.8 Subkategori Mengusir Cuplikan tuturan 21 (C8)

  MT : “Tangi-tangi... wes jam telu!” (menendang-nendang kaki kakaknya yang sedang tidur).

  P : “Aaassss... minggat kono!” (melanjutkan tidurnya).

  MT

  : “Yowes... damuk kapok mengko.”

  Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori mengusir dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan C8 adalah penutur mengusir mitra tutur dengan suara keras dan kata- kata kasar. Mitra tutur sebenarnya memiliki maksud baik dengan penutur, tetapi penutur justru mengusirnya.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur C8 menggunakan intonasi perintah dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk memerintah mitra tutur pergi, karena penutur merasa terganggu. Penutur menggunakan nada tinggi dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada tinggi penutur menandai bahwa emosi penutur meningkat. Penutur menggunakan tekanan keras pada

  minggat kono

  tuturannya. Penutur menekankan pada frasa , hal ini menandakan bahwa penutur benar-benar terganggu dan menginginkan mitra tutur untuk pergi.

  Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Penutur menggunakan bahasa Jawa dalam pemilihan katanya karena bahasa Jawa telah menjadi bahasa komunikasi dalam keluarga ini.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 21 adalah penutur merupakan laki-laki berusia 23 tahun, sedangkan mitra tutur laki-laki berusia 12 tahun.

  Penutur adalah kakak dari mitra tutur. Penutur berkuliah di salah satu universitas di Yogyakarta, sedangkan mitra tutur bersekolah pada tingkat SMP. Hubungan keakraban mereka sangat dekat, walaupun penutur sering memarahi mitra tutur.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 21 adalah penutur sedang tidur di ruang tengah di depan televisi. Hari sudah sore, sekitar pukul 3 sore dan mitra tutur disuruh oleh ibunya untuk membangunkan penutur. Mitra tutur membangunkan dengan cara menendang-nendang penutur. Penutur tidak mempermasalahkan bagaimana cara mitra tutur membangunkannya, hanya saja ia belum ingin bangun, sehingga menganggap mitra tutur telah mengganggu penutur.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur C8 adalah menyuruh penutur pergi, karena telah mengganggu tidurnya, dan penutur masih ingin meneruskan tidurnya.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 21 terjadi di rumah penutur dan mitra tutur, tepatnya di ruang keluarga.

  Waktu tuturan tersebut terjadi pada sore hari, sekitar pukul 15.00.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur C5 adalah tindak verbal ekspresif. Tindak verbal ekprseif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan penutur, berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, dan kesengsaraan. Tindak perlokusi mitra tutur adalah mitra tutur menanggapi tuturan penutur dengan pergi meninggalkan penutur.

  Berdasar penanda pragmatik di atas, tuturan tersebut tergolong ke dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur C8 memiliki maksud mengusir dalam tuturannya.

4.3.3.9 Subkategori Menagih Cuplikan tuturan 24 (C11) P : “Pak, udah cair belum?”

  MT : “Belum.” Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menagih dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan C11 adalah penutur berbicara dengan cara sinis kepada orang yang lebih tua.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur C11 menggunakan intonasi tanya dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk menanyakan apakah mitra tutur sudah mempunyai uang atau belum, tetapi dibalik pertanyaan penutur, sebenarnya penutur menagih janji mitra tutur. Penutur menggunakan nada sedang dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada sedang penutur tidak menandakan naiknya emosi penutur, tetapi tuturannya tetap dianggap tidak santun karena ia berbicara dengan sinis. Penutur menggunakan tekanan lunak pada tuturannya. Penutur menekankan pada frasa udah cair belum . Penggunaan tekanan yang halus menjadi tidak santun akibat cara penyampaian penutur yang sinis dan bisa saja membuat mitra tutur tersinggung. Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa populer, yakni bahasa yang dimengerti atau dikenal oleh masyarakat. Bukan hanya itu, penutur juga menggunakan bahasa slang cair . Maksud kata cair dalam tuturan tersebut adalah mengenai kepemilikan apakah ia sudah mempunyai

  uang. Penutur menanyakan kepada mitra tutur,

  uang?

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 24 adalah penutur merupakan laki-laki berusia 15 tahun, sedangkan mitra tutur laki-laki berusia 43 tahun.

  Penutur adalah anak dari mitra tutur. Penutur masih bersekolah pada tingkat SMA dan mitra tutur bekerja sebagai nelayan di pantai Congot. Hubungan keakaban mereka adalah keluarga, selayaknya anak dengan ayah.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 24 adalah sebelumnya penutur pernah meminta sesuatu kepada mitra tutur, tetapi mitra tutur belum bisa memberikan pada saat itu, sehingga ia menjanjikan akan memberikan sesuatu tersebut bila sudah mempunyai uang. Selang beberapa hari penutur menagih janji kepada mitra tutur secara tidak langsung.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur C11 adalah menagih apa yang penutur telah minta kepada mitra tutur.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 24 terjadi di rumah, tepatnya di halaman rumah saat mitra tutur sedang memperbaiki jaring. Waktu tuturan tersebut terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 09.00.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur C11 adalah tindak verbal komisif. Penutur menggunakan tindak verbal ini karena ia menagih janji mitra tutur. Tindak perlokusi mitra tutur adalah mitra tutur menjawab pertanyaan penutur.

  Berdasar penanda pragmatik di atas, tuturan tersebut jelas tergolong ke dalam subkategori menagih dan maksud penutur pun menagih janji mitra tutur.

4.3.3.10 Subkategori Mengejek Cuplikan tuturan 25 (C12) P : “Jenggote koyo kowe, Pak.”

  MT : “Kok, kowa-kowe to, ora pantes.” Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori mengejek dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan C12 adalah penutur menyamakan bentuk fisik mitra tutur dengan orang yang berada dalam sebuah acara televisi. Mitra tutur merupakan orang tua dari penutur, dan penutur tetap mengejeknya.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur C12 menggunakan intonasi berita dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk memberitahu mitra tutur mengenai apa yang dipahami penutur. Penutur menggunakan nada sedang dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada menggunakan tekanan lunak pada tuturannya. Penutur menekankan pada frasa

  jenggote koyo kowe

  , hal ini yang menandakan bahwa penutur sedang mengejek mitra tutur. Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Penutur menggunakan bahasa Jawa dalam pemilihan katanya karena bahasa Jawa telah menjadi bahasa komunikasi dalam keluarga ini.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 25 adalah penutur merupakan perempuan, anak dari mitra tutur. Sedangkan, mitra tutur adalah ayah dari penutur. Penutur masih bersekolah pada tingkatan SD kelas 6 dan penutur bekerja sebagai nelayan di pantai Congot. Mitra tutur memiliki jabatan dalam kelompok nelayan di daerah tersebut, ia merupakan sekretaris kelompok nelayan pantai Congot. Hubungan mereka berdua adalah keluarga.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 25 adalah seluruh anggota keluarga sedang berkumpul menonton salah satu acara televisi. Mereka adalah penutur, mitra tutur,

  jenggot

  dan ibu dari penutur. Mitra tutur memiliki yang lumayan lebat, dan dalam acara televisi tersebut juga terdapat laki-laki yang hampir sama dengan mitra tutur, sehingga penutur spontan mengejek mitra tutur.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur C12 adalah mengejek mitra tutur dengan menyamakan dirinya dengan orang yang berada dalam acara televisi.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 25 terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga. Waktu tuturan tersebut terjadi saat mereka sedang berkumpul menonton televisi, yakni setelah makan malam.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur C5 adalah tindak verbal representatif. Tindak verbal representatif adalah jenis tintur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan, berupa suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Tindak perlokusi mitra tutur adalah mitra tutur menanggapi tuturan penutur dengan memperingatkan penutur, karena penutur menggunakan kata-kata yang tidak pantas diucapkan terhadap orang tua.

  Berdasar penanda pragmatik di atas, tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori mengejek dan memiliki maksud yang sama dengan subkategorinya, yakni maksud mengejek.

4.3.3.11 Subkategori Menasihati Cuplikan tuturan 29 (C16) P : “Kalo memang niatnya masih mau sekolah, Bapak masih ingin ngragati. Kalo emang maunya nikah, bilang aja pengen nikah. Bapak nikahke.”

  Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori mengejek dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan C16 adalah penutur penutur menyampaikan tuturannya dengan kesal dan ia berusaha memojokkan mitra tutur.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur C16 menggunakan intonasi berita dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk memberitahu mitra tutur mengenai apa yang dirasakan penutur. Penutur merasa kesal dengan sikap mitra tutur. Penutur menggunakan nada sedang dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada sedang penutur tetap masuk ke dalam kategori tidak santun karena ia memojokkan mitra tutur. Penutur menggunakan tekanan keras pada tuturannya. Tekanan keras ini menandakan bahwa penutur benar-benar menekankan tuturannya agar mitra tutur paham. Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa dan diselingi bahasa Indonesia. Penutur menggunakan bahasa Jawa dalam pemilihan katanya karena bahasa Jawa telah menjadi bahasa komunikasi dalam keluarga ini.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 29 adalah penutur merupakan ayah dari mitra tutur dan mitra tutur adalah perempuan berusia 16 tahun. Penutur Mitra tutur masih bersekolah di salah satu SMA di kecamatan Temon. Hubungan mereka berdua adalah ayah dan anak dan memiliki tingkat keakraban selayaknya keluarga pada umumnya.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 29 adalah mitra tutur memiliki pacar dan penutur tidak senang karena mitra tutur masih bersekolah tetapi sudah berpacaran.

  Penutur ingin mitra tutur fokus pada pendidikan terlebih dahulu. Ketidaksenangan penutur dengan tindakan mitra tutur membuat penutur kesal dan harus menasihati mitra tutur.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur C16 adalah menasihati mitra tutur agar ia bisa lebih mementingkan pendidikannya daripada berpacaran.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 29 terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga. Waktu tuturan tersebut terjadi saat mereka sedang bersantai sehabis makan malam.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur C16 adalah tindak verbal direktif. Tindak verbal direktif jenis tintur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Meliputi perintah, pemesanan, pemberian saran, permohonan. Tindak perlokusi mitra tutur adalah mitra tutur menanggapi tuturan penutur karena ia

  Berdasar penanda pragmatik di atas, tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menasihati, karena tujuan penutur adalah menyadarkan anaknya yang telah bertindak keliru dalam pandangan penutur. Walaupun tuturan penutur masuk ke dalam subkategori menasihati, tetapi penutur memiliki maksud memarahi mitra tutur agar mitra tutur takut dan tidak melakukan kesalahan yang sama.

4.3.4 Kategori Menghilangkan Muka

  Culpeper (2008) dalam Rahardi (2012) memberikan penekanan pada fakta

  

‘face loss’ atau ‘kehilangan muka’, kalau dalam bahasa Jawa mungkin konsep itu

  dekat dengan konsep

  ‘kelangan rai’ (kehilangan muka). Jadi, ketidaksantunan

  dalam berbahasa itu merupakan perilaku komunikatif yang diperantikan secara

  (face loss),

  intensional untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka atau setidaknya orang tersebut

  ‘merasa’ kehilangan muka.

4.3.4.1 Subkategori Menyindir Cuplikan tuturan 40 (D3) P : “Koyo adimu kae lho iso ngopo-ngopo, koe kok tura-turu wae.”

  MT

  

: “Joni kae rak tritikan ngene-ngene mesti pengen.”

Cuplikan tuturan 41 (D4)

  MT : “ Habis kumpulan dari kabupaten, ini monggo dicakke.”

  P : “Wah, opo-opo dinas... opo-opo dinas...”

  Cuplikan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menyindir dalam kategori ketidaksantunan menghilangkan muka. Bila dibahas dalam wujud pragmatik, penutur D3 berbicara dengan cara kesal kepada mitra tutur. Penutur membandingkan mitra tutur dengan adik mitra tutur di hadapan adiknya. Hal yang hampir sama juga dilakukan oleh penutur D4, ia menyampaikan tuturan tidak tuturannya dengan cara keras kepada mitra tutur, hal ini mengindikasikan bahwa penutur sedang dalam keadaan emosi (Pranowo, 2012:77). Kedua tuturan tersebut disampaikan di hadapan orang lain dan membuat mitra tutur kehilangan muka, sehingga tuturan tersebut dapat digolongkan ke dalam kategori menghilangkan muka.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Intonasi yang terdapat pada tuturan D3 dan tuturan D4 adalah intonasi berita. Muslich (2009) menjelaskan bahwa kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar-turun.

  Penutur D3 memberitahukan kepada mitra tutur bahwa adiknya lebih rajin daripada dirinya. Sedangkan, penutur D4 menginformasikan sekaligus menyindir mitra tutur bahwa ia selalu bergantung pada dinas. Penutur D3 menggabungkan 2 kata fatis dalam tuturannya, kata fatis tersebut adalah lho dan kok . Kata fatis lho yang digunakan penutur D3 terletak di tengah kalimat, berarti kata fatis tersebut bertugas untuk menekankan kepastian. Pada frasa pertama memang penutur

  kok

  memastikan bahwa adik mitra tutur bisa apa saja. Kata fatis pada tuturan D3 menggambarkan penekanan alasan penutur menjadi kesal. Nada tutur penutur D3 menggunakan nada sedang dalam penyampaian tuturannya. Walaupun menggunakan nada sedang, tuturan penutur tetap tidak santun karena mitra tutur merasa kehilangan muka. Penutur D4 yang sudah emosi dengan tindakan mitra tutur memilih menggunakan nada tinggi dalam pengucapannya. Nada tinggi penutur mengindikasikan bahwa ia sedang marah atau emosi dengan mitra tutur.

  Penutur hanya menekankan tuturan tersebut dengan tekanan lunak, tetapi memiliki makna menyindir mitra tutur. Hal yang berbeda dilakukan penutur D4 dalam menekankan tuturannya. Ia menekankan frasa opo-opo dinas dengan menggunakan tekanan keras. Seperti apa yang telah dijelaskan pada nada tutur penutur D4 bahwa penutur sedang dalam keadaan emosi sehingga tuturannya diucapkan dengan tekanan yang keras. Kedua penutur menggunakan diksi bahasa nonstandar. Domisili mereka yang berada dalam daerah berbahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari menjadi faktor kuat penggunaan diksi ini.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 40 adalah penutur sebagai laki- laki, ayah dari mitra tutur yang bekerja sebagai nelayan di pantai Trisik. Mitra tutur adalah anak laki-laki penutur yang berusia 21 tahun dan sedang menempuh pendidikan pada tingkat mahasiswa di salah satu universitas di Yogyakarta.

  Seperti yang dijelaskan oleh nara sumber bahwa mitra tutur memiliki tingkat sosial yang tidak suka bekerja di lapangan seperti membantu penutur saat melaut atau bertani. Tingkat keakraban panutur dan mitra tutur adalah tingkat kekeluargaan biasa, tidak ada yang istimewa pada tingkatan ini. Aspek penutur dan lawan tutur pada cuplikan tuturan 41 adalah penutur dan mitra tutur merupakan laki-laki dan mereka merupakan anggota nelayan pantai Congot. Mitra

  Hubungan keakraban mereka adalah sebagai teman dan rekan kerja. Selain itu, mereka mempunyai hubungan dalam kelompok nelayan sebagai ketua dan anggota dari kelompok tersebut.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 40 adalah mitra tutur sedang tiduran dan menonton televisi, sedangkan penutur akan pergi ke ladang bersama adik mitra tutur. Penutur tidak pergi melaut dikarenakan ombak sedang besar, sehingga ia bekerja di ladang sebagai pekerjaan kedua. Adik mitra tutur sangat rajin membantu penutur bekerja di ladang, sedangkan mitra tutur tidak suka dengan pekerjaan kasar seperti itu. Melihat mitra tutur yang hanya malas-malasan, penutur menyindirnya dengan membandingkan mitra tutur dengan adiknya. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 41 adalah sedang diadakannya rapat kelompok tani. Mitra tutur mendapat perintah dari Kabupaten mengenai pelatihan kerja. Mitra tutur mengumumkan hasil keputusan dari Kebupaten mengenai perintah atau pelatihan kerja kepada seluruh anggota nelayan.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan tuturan D3 adalah penutur menyindir mitra tutur karena tidak mau membantu penutur bekerja, padahal saat itu adalah hari libur dan mitra tutur hanya bersantai di rumah, sedangkan adiknya membantu penutur untuk bekerja. Selain penutur menyindir mitra tutur, ia juga membandingkan mitra tutur yang pemalas dengan adiknya yang rajin membantu orang tua. Tujuan penutur D4 adalah menyindir mitra tutur yang selalu patuh kepada dinas. Selain itu, penutur juga memiliki

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Tuturan D3 terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga. Waktu tuturan ini terjadi pada saat hari libur. Cuplikan tuturan 41 terjadi di basecamp nelayan pantai Congot, di Desa Jangkaran, Kulonprogo saat diadakannya kumpulan rutin nelayan pantai Congot.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur D3 dan D4 adalah tindak ekspresif. Mereka berdua mengekspresikan kekesalan mereka kepada mitra tutur di hadapan orang lain.

  Tindak verbal ekspresif merupakan jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan penutur, berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, dan kesengsaraan. Tindak perkokusi mitra tutur D3 adalah menanggapi tuturan penutur dengan sanggahan. Sedangkan, tindak perlokusi pada penutur D4 adalah menanggapi tuturan penutur, walaupun penutur tetap tenang dan tidak emosi, mitra tutur merasa dirinya dipermalukan di depan anggota nelayan lainnya.

  Kedua tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menyindir, hal ini teridentifiksi berdasar pada penanda pragmatik tiap tuturan. Walau berada dalam subkategori yang sama, kedua penutur tersebut memiliki maksud yang berbeda dalam penyampaian tuturannya. Maksud ketidaksantunan penutur hanya diketahui oleh masing-masing penutur. Penutur D3 memiliki maksud menyindir dalam tuturannya, karena ia memang ingin menyindir mitra tutur yang kerjaannya hanya

  terhadap tindakan mitra tutur yang selalu patuh terhadap perintah dari dinas. Kedua mitra tutur merasa dirinya dipermalukan di depan orang lain sehingga ia merasa kehilangan muka.

  4.3.4.2 Subkategori Mengejek Cuplikan tuturan 43 (D6)

  P

  : “Gampang nek mung kur ngono. Solusino piro anggarane sayap? Ngertimu piro?”

  MT

  : ”Rung ngerti aku.” P : “Halah... Nelayan seprono-seprene gaweane kok muni ra ngerti!” Cuplikan tuturan 44 (D7) P : “Tak inggoni pitmu motor mas, koe nek nulisi ora ngono kae! Tulisi ojo dumeh...”

  MT2

  : “Diwarai mas.”

  P

  : “Ojo dumeh koe kie sugeh, ojo dumeh koe kie waras, wong sak

  lapangan sewengi ra rampung-rampung nek ojo dumeh, ojo dumeh koe ki

  ayu, aku yo iso.”

  MT2 : (sambil menyela) “iya...aaa... iya...aaa...” Cuplikan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori mengejek dalam kategori ketidaksantunan menghilangkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan D6 adalah penutur menyampaikan tuturannya dengan cara sinis kepada mitra tutur. Mitra tutur merupakan tuan rumah dan penutur merupakan tamu.

  Tuturan penutur disampaikan di hadapan tamu lain mitra tutur. Sedangkan pada tuturan D7, penutur dan mitra tutur sama-sama tamu dari ketua nelayan pantai Congot. Penutur mengejek mitra tutur, padahal mereka baru saja kenal. Tuturan penutur membuat mitra tutur malu, karena ia diejek di hadapan orang lain. Kedua wujud pragmatik tersebut yang menunjukkan bagaimana tuturan penutur menjadi tidak santun.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur D6 menggunakan intonasi seru dalam tuturannya. Intonasi seru ini ditandai dengan tanda seru dalam tuturannya. Intonasi ini juga ditandai dengan perasaan hati penutur yang kesal terhadap mitra tutur. Intonasi yang terdapat dalam tuturan D7 adalah intonasi perintah. Kalimat perintah (imperatif) ditandai dengan pola intonasi datar-tinggi

  kok

  (Muslich, 2009). Penutur D6 menggunakan kata fatis dalam tuturannya. Kata fatis kok yang digunakan penutur terletak di bagian tengah kalimat, hal ini menandakan bahwa kata fatis tersebut juga dapat bertugas menggantikan kata tanya mengapa atau kenapa . Persamaan kedua penutur dari segi penanda linguistiknya adalah pada penyampaian nada tutur dan pilihan kata yang digunakan. Nada tutur yang mereka gunakan adalah nada sedang. Nada sedang dapat mengindikasikan bahwa penutur tidak dalam keadaan marah, tetapi tuturan tersebut tetap dianggap tidak santun karena penutur membuat mitra tutur merasa kehilangan muka. Pilihan kata yang mereka gunakan adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Mereka menggunakan bahasa Jawa dalam tuturannya karena bahasa tersebut merupakan bahasa sehari-hari dalam berkomunikasi. Tekanan yang terdapat dalam tuturan D6 adalah tekanan keras. Penutur menekankan kata

  Halah

  dengan tekanan keras karena penutur merasa tidak percaya dengan tuturan

  Tulisi ojo dumeh

  mitra tutur. Sedangkan, penutur D7 menekankan frasa dengan tekanan lunak dalam tuturannya karena selain mengkomentari motor mitra tutur,

  ojo dumeh ia menyuruh mitra tutur untuk menulisi motornya dengan tulisan . Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 43 adalah penutur sebagai laki- laki berusia 41 tahun, ia merupakan tamu dari mitra tutur. Mitra tutur adalah laki- laki berusia 42 tahun dan ia merupakan tuan rumah. Mereka berdua adalah nelayan, penutur nelayan di pantai Glagah dan mitra tutur nelayan di pantai Congot. Hubungan keakraban mereka sangat akrab, selain sebagai rekan seprofesi, dapat dikatakan mereka adalah teman dekat, karena mereka sangat santai dalam berkomunikasi walaupun mereka saling ejek. Pada cuplikan tuturan 44, penutur merupakan laki-laki berusia 41 tahun, sedangkan mitra tutur adalah laki-laki berusia 23 tahun. Mereka berdua adalah tamu dari ketua nelayan pantai Congot. Penutur berpancaharian sebagai nelayan, sedangkan mitra tutur adalah mahasiswa salah satu universitas di Yogyakarta. Mereka berdua baru saling kenal pada saat itu juga, sehingga hubungan keakraban mereka biasa saja.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 43 adalah penutur dan mitra tutur sedang membahas biaya perbaikan kapal yang sayapnya patah karena diterjang ombak.

  Sebelumnya penutur bertanya kepada mitra tutur mengenai anggaran perbaikan sayap kapal, tetapi pertanyaan tersebut bernadakan untuk menguji pengetahuan mitra tutur. Konteks tuturan 44 adalah terdapat 4 orang di sana pada saat itu, berada di halaman rumah dan berada di samping motornya, dan di samping motor penutur terdapat motor mitra tutur. Penutur mengomentari tulisan atau stiker yang ada di motor mitra tutur.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan tuturan D6 adalah untuk mengejek mitra tutur yang sudah menjadi nelayan senior tetapi tidak tahu berapa anggaran sayap kapal. Tujuan tuturan D7 adalah penutur mengomentari dan mengejek tulisan yang ada di motor mitra tutur, setelah itu penutur memberi saran kepada mitra tutur.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 43 dan 44 memiliki tempat yang sama yakni, terjadi di rumah mitra tutur, tepatnya di teras rumah pada pada tanggal 20 April 2012 sekitar pukul 16.30.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur D6 adalah tindak representatif, karena penutur mengutarakan kesimpulan dari pernyataan mitra tutur. Walaupun mungkin mitra tutur berbohong. Tindak verbal penutur D7 adalah tindak direktif. Tindak verbal direktif adalah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Meliputi perintah, pemesanan, pemberian saran, permohonan. Tuturan penutur termasuk dalam tindak verbal direktif karena penutur menyuruh mitra tutur untuk mengganti tulisan yang ada di motornya. Tindak perlokusi mitra tutur D6 adalah mitra tutur menimpali pertanyaan tersebut Sedangkan, penutur D7 memiliki tindak perlokusi berupa tindakan. Mitra tutur D7 hanya tersenyum malu dengan dituturkannya tuturan penutur.

  Kedua tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori mengejek, mengejek adalah situasi dimana penutur sedang dalam keadaan santai. Walau dalam keadaan santai, bisa saja tuturan tersebut menjadi tidak santun bila mitra tutur merasa kehilangan muka. Kesamaan subkategori tidak menandakan bahwa maksud dari kedua penutur tersebut juga sama. Penutur D6 memiliki maksud mengejek. Maksud mengejek penutur D6 memiliki adalah ia mengejek mitra tutur yang merupakan nelayan senior sekaligus ketua nelayan pantai Congot tetapi tidak tahu anggaran perbaikan sayap kapal. Sedangkan, maksud penutur D7 adalah maksud menggoda. Alasan penutur menggoda mitra tutur karena ia melihat stiker yang

  ojo gondoel FU

  ada di motor mitra tutur bertuliskan , sehingga ia menyarankan agar diganti dengan tulisan ojo dumeh . Walaupun tuturan kedua penutur di atas tidak dalam situasi serius, mitra tutur tetap merasa malu karena mereka diejek dan digoda di hadapan orang lain.

4.3.4.3 Subkategori Menegur Cuplikan tuturan 39 (D2) P : “Nih kamu gak naik kelas! Gak malu apa sama yang lain? Besok lagi yang rajin belajarnya agar naik kelas. Kalo gak naik kelas lagi mesti kamu mung diisin-isin karo konco- koncomu.” Cuplikan tuturan 42 (D5) P : ”Makanya kalo kamu itu mau belajar ya belajar, gag belajar cuman maen.”

  Cuplikan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menegur dalam kategori ketidaksantunan menghilangkan muka. Wujud pragmatik dari mitra tutur. Cara halus yang digunakan penutur justru membuat mitra tutur takut karena secara tidak langsung mitra tutur sedang dimarahi penutur. Mitra tutur ditegur oleh penutur di depan orang lain. Sedangkan pada tuturan D5, penutur menegur mitra tutur di depan bibi dan saudaranya yang mendapat nilai lebih bagus dari mitra tutur. Penutur menyampaikan tuturannya dengan kesal dan penuh dengan kekecewaan.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur D2 menggunakan intonasi seru dalam tuturannya. Intonasi ini ditandai dengan perasaan hati penutur yang kesal terhadap mitra tutur. Intonasi yang terdapat dalam tuturan D5 adalah intonasi berita. Kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar- turun (Muslich, 2009). Penggunaan kata fatis hanya terdapat pada tuturan D5, yakni kata fatis ya . Kata fatis ya bertugas mengukuhkan atau membenarkan apa yang ditanyakan kawan bicara, bila dipakai pada awal ujaran dan meminta persetujuan atau pendapat kawan bicara bila dipakai pada akhir ujaran. Penutur

  ya

  D5 menggunakan kata fatis bermaksud untuk mengukuhkan dan membenarkan pendapat penutur. Nada tutur yang digunakan penutur D2 adalah nada sedang.

  Sedangkan, penutur D5 menggunakan nada tinggi dalam penyampaian tuturannya. Nada tinggi dapat mengindikasikan bahwa penutur benar-benar kesal dengan mitra tutur. Tekanan keras sama-sama menjadi pilihan penutur dalam menekankan

  Nih kamu gak naik kelas

  tuturannya. Penutur D2 menekankan pada frasa ,

  kalo mau belajar ya belajar sedangkan penutur D5 menekankan pada frasa . katanya. Penggunaan bahasa populer ini mereka gunakan karena agar lebih dipahami oleh mitra tutur. Bahasa populer adalah kata-kata yang dikenal dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 39 adalah sebagai berikut. Penutur dan mitra tutur merupakan laki-laki, penutur adalah ayah dan mitra tutur adalah anak. Penutur bekerja sebagai nelayan di pantai Trisik, sedangkan mitra tutur masih duduk di bangku SD. Penutur dan mitra tutur pada cuplikan tuturan 42 adalah laki-laki. Penutur merupakan paman dari mitra tutur. Penutur bekerja sebagai nelayan di pantai Congot dan mitra tutur masih bersekolah pada tingkatan SD.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 39 adalah penutur pulang dari sekolah mengambil raport mitra tutur. Mitra tutur mendapat raport jelek dan tidak naik kelas. Tuturan ini terjadi saat penutur, mitra tutur, dan orang ketiga sedang bercakap-cakap membahas nilai mitra tutur. Konteks tuturan 42 adalah mitra tutur mendapat nilai jelek, hal ini berbanding terbalik dengan keponakan penutur. Mitra tutur merupakan keponakan dari istri yang tinggal bersama penutur. Dalam situasi ini terdapat orang ketiga yakni, istri dan keponakan penutur.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan tuturan D2 adalah penutur menasihati anaknya yang tidak naik kelas di hadapan orang ketiga (ibunya). Tujuan tuturan D5 adalah penutur menasihati mitra tutur yang mendapat nilai jelek, secara tersirat penutur juga menyindir dan membandingkan mitra tutur dengan keponakannya yang mendapatkan nilai baik.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 39 bertempat di halaman rumah penutur pada siang hari setelah penutur pulang dari mengambil raport. Cuplikan tuturan 42 bertempat di rumah penutur pada siang hari setelah penutur pulang dari mengambil raport.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur D2 dan D5 adalah tindak verbal ekspresif. Tindak verbal ini merupakan jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan penutur, berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, dan kesengsaraan. Kedua penutur tersebut merasa kesal dan kecewa dengan apa yang didapat mitra tutur. Tindak perlokusi mitra tutur D2 dan D5 hampir sama yakni, mereka merasa malu dan hanya diam saja sambil menundukkan kepala.

  Kedua tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menegur, menegur adalah situasi dimana mitra tutur melakukan hal yang salah sehingga membuat penutur harus memperingatkannya dengan teguran. Penutur D2 bermaksud untuk mitra tutur. Sedangkan penutur D5 bermaksud untuk menasihati mitra tutur yang mendapat nilai jelek. Kedua penutur di atas sama-sama merasa kecewa dengan hasil yang diperoleh mitra tutur, tetapi mereka memiliki cara masing-masing dalam menyampaikan maksud mereka.

4.3.4.4 Subkategori menyinggung Cuplikan tuturan 46 (D9)

  P

  : “Ayo neng pasar, tukokke mobil-mobilan.”

  MT : “Sesok yo le.”

  P : “Wah bapak kie pelit, ngene-ngene ra oleh!”

  MT

  : “Bapak durung due duit le.”

  Cuplikan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menyinggung dalam kategori ketidaksantunan menghilangkan muka. Wujud pragmatik dari tuturan D9 adalah penutur berbicara dengan cara kesal dengan orang yang lebih tua dan tuturan tersebut disampaikan di hadapan teman-teman penutur.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur D9 menggunakan intonasi seru dalam tuturannya. Intonasi ini ditandai dengan perasaan hati penutur yang kesal terhadap mitra tutur. Nada tutur yang digunakan penutur D9 adalah nada sedang. Walaupun penutur menggunakan nada sedang dalam pengucapannya, hal tersebut sudah membuat mitra tutur malu. Tekanan keras menjadi pilihan penutur

  Wah bapak ki

  dalam menekankan tuturannya. Penutur D9 menekankan pada frasa

  pelit

  dengan tekanan keras karena frasa tersebut yang membuat mitra tutur kehilangan muka. Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa oleh penutur karena penutur menggunakan

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 46 adalah penutur merupakan laki-laki berusia 6 tahun, sedangkan mitra tutur juga merupakan laki-laki berusia 33 tahun. Penutur merupakan anak dari mitra tutur yang masih sekolah tingkat SD. Mitra tutur bekerja sebagai nelayan di pantai Trisik. Hubungan mereka berdua adalah hubungan keluarga.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 46 adalah penutur sedang bermain dengan teman-temannya. Teman penutur mempunyai mainan baru, dan penutur menginginkan mainan tersebut. Kemudian penutur memohon kepada mitra tutur untuk dibelikan mainan yang sama dengan mainan milik temannya. Mitra tutur menolak karena uangnya dipakai untuk hal yang lebih penting terlebih dahulu dan mitra tutur memberi penawaran kepada penutur untuk lebih sabar, pasti besok akan dibelikan.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan tuturan D9 adalah penutur menuduh mitra tutur pelit karena tidak mau membelikan mainan.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 46 bertempat di rumah penutur pada siang hari saat penutur pulang dari bermain.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur D9 adalah tindak verbal ekspresif. Tindak verbal ini merupakan jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan penutur, berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, dan kesengsaraan. Penutur merasa kesal dengan tindakan mitra tutur yang tidak ingin membelikan mainan. Tindak perlokusi mitra tutur D9 yakni, mitra tutur menanggapi tuturan penutur dengan malu dan mengakui kalau penutur belum mempunyai uang.

  Tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menyinggung, karena penutur menyinggung mitra tutur dengan tuduhannya. Penutur D9 memiliki maksud kesal dalam tuturannya karena ia kecewa dengan mitra tutur yang tidak ingin membelikannya mainan.

4.3.5 Kategori Menimbulkan Konflik

  Bousfield (2008:3) dalam Rahardi (2012) memberi penekanan pada dimensi

  (gratuitous), dan konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa ‘kesembronoan’

  yang tidak santun itu. Jadi, apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka. Kemudian ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono

  gratuitous)

  ( , hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian mendatangkan konflik, atau bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan

4.3.5.1 Subkategori Menegaskan Cuplikan tuturan 50 (E4)

  

P : “Ngematke matane, bawal ko ngene kok dianggep BS.”

  MT

  : “Njajal ayo ditakokke ro liyane iki BS po ora?” Cuplikan tuturan 52 (E6)

  MT : “Banyune ki jek banter kae!”

  P : “Alaah Mboook, mbog rasah gemrumung!! Ijek banter mau be ngi. Kui yo wes tak akonke uwong.”

  MT

  : “Ha iyo gek didandani!”

  Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menegaskan dalam kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik. Wujud pragmatik dari tuturan E4 adalah penutur berbicara dengan cara kasar kepada mitra tutur. Sedangkan penutur E6 dengan suara keras dan dengan suasana hati kesal kepada mitra tutur, padahal mitra tutur merupakan orang tua penutur dan umurnya sudah sangat tua.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur E4 dan E6 menggunakan intonasi berita dalam tuturannya. Intonasi ini ditandai dengan pola intonasi datar- turun. Kedua penutur tersebut memberitahu pemahamannya mengenai sesuatu kepada mitra tutur. Kedua penutur tersebut juga menggunakan kata fatis dalam tuturannya. Penutur E4 menggunakan kata fatis kok . Kata fatis ini dapat

  

mengapa kenapa

  menggantikan kata tanya atau . Sedangkan, penutur E6

  ya ya

  menggunakan kata fatis . Kata fatis pada awal kalimat bertugas mengukuhkan atau membenarkan apa yang ditanyakan mitra tutur. Nada tutur yang digunakan kedua penutur di atas adalah nada tinggi. Kedua penutur tersebut mereka menggunakan nada tinggi. Selain kedua penutur di atas memiliki intonasi yang sama, mereka juga menggunakan tekanan yang sama pula dalam tuturannya, yakni tekanan keras. Penutur E4 menekankan pada frasa Ngematke matane ,

  Kui yo wes tak akonke uwong sedangkan penutur E6 menekankan pada frasa .

  Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa oleh penutur karena penutur menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari dengan mitra tutur.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 50 adalah penutur dan mitra tutur merupakan laki-laki, nelayan pantai Congot. Hubungan keakraban mereka hanya sebatas rekan kerja dan teman biasa. Aspek penutur dan lawan tutur pada cuplikan tuturan 52 adalah penutur dan mitra tutur merupakan perempuan. Penutur berusia 36 tahun, merupakan anak dari mitra tutur yang berusia 70-80 tahun. Penutur bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional, sedangkan mitra tutur tidak memiliki pekerjaan karena ia sudah lanjut usia. Hubungan keakraban mereka adalah keluarga.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 50 adalah para nelayan pantai Congot naik dari melaut, mereka memanen ikan bawal. Nelayan mengelompokkan ikan bawal banyaknya nelayan, juga banyak pelelangan ikan. Konteks cuplikan tuturan 52 adalah pralon air di depan rumah bocor sejak sehari yang lalu. Mitra tutur akan mengambil wudhu pada kran yang pralonnya bocor. Mitra tutur memberitahu bahwa pralonnya masih bocor. Penutur emosi karena mitra tutur bersuara keras saat menyampaikan berita tersebut.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur E4 adalah untuk memberitahu kepada mitra tutur bahwa bawalnya bukan BS. Cara pemberitahuan penutur sangatlah kasar sehingga tuturan ini masuk ke dalam tuturan yang tidak santun. Tujuan penutur E6 menyampaikan tuturannya adalah memberitahu mitra tutur bahwa penutur sudah tahu kalau pralon air di depan rumah bocor dan sudah menyuruh orang untuk memperbaiki pralon tersebut.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 50 terjadi di tempat pelelangan ikan sekitar pukul 2 siang. Sedangkan cuplikan tuturan 52 terjadi di rumah pada waktu maghrib tiba.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur E4 dan E6 adalah tindak verbal ekspresif. Tindak verbal ini merupakan jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan penutur, berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, dan kesengsaraan. Tindak perlokusi mitra tutur E4 yakni, mitra tutur menanggapi tindak perlokusi mitra tutur E6 adalah menanggapi dengan nada tinggi. Tindak perlokusi mitra tutur yang tidak terima dengan tuturan penutur merupakan salah satu faktor menjadikan tuturan ini masuk ke dalam kategori menimbulkan konflik.

  Tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menegaskan, karena penutur menegaskan apa yang diyakininya. Penutur E4 bermaksud memberitahu bahwa bawal yang didapatnya bukanlah bawal BS. Sedangkan, penutur E6 memiliki maksud kesal, karena mitra tutur selalu banyak bicara walaupun sudah lanjut usia.

4.3.5.2 Subkategori Menolak Cuplikan tuturan 53 (E7)

  MT

  : “Ayo ngewangi bapak!” P : “Gak mau!”

  MT

  : “ Koe nek ra ngewangi bapak, trus sopo seng arep biayani” Cuplikan tuturan 54 (E8)

  MT

  : “Tipine dipindah, Mas?” P : “Wegah!” MT : (Berlari mencari orang tua dan minta untuk digendong).

  Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menolak dalam kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik. Wujud pragmatik dari tuturan E7 adalah penutur berbicara dengan cara spontan dan sembrono kepada mitra tutur, padahal mitra tutur lebih tua dari penutur. Sedangkan penutur E8 dengan cara ketus kepada mitra tutur.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur E7 dan E8 menggunakan intonasi seru dalam tuturannya. Kedua penutur tersebut menyerukan denga tegas penutur di atas adalah nada sedang. Walaupun penutur menggunakan nada sedang, tuturan mereka tetap dianggap tidak santun. Selain kedua penutur di atas memiliki intonasi dan nada yang sama, mereka juga menggunakan tekanan yang sama pula dalam tuturannya, yakni tekanan keras. Penutur E7 menekankan pada kata Gak mau , sedangkan penutur E8 menekankan pada kata Wegah . Diksi yang digunakan penutur E7 adalah bahasa populer, yakni kata-kata yang dikenal dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Sedangkan, penutur E8 menggunakan diksi bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa oleh penutur karena penutur menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari- hari dengan mitra tutur.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 53 adalah penutur dan mitra tutur merupakan laki-laki. Penutur berusia 161 tahun merupakan anak dari mitra tutur.

  Penutur masih bersekolah, sedangkan mitra tutur bekerja sebagai nelayan di pantai Trisik. Hubungan mereka adalah hubungan keluarga. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 54 adalah penutur dan mitra tutur adalah laki- laki. Penutur berusia 6 tahun, sedangkan mitra tutur baru berusia 3 tahun. Penutur sudah bersekolah di tingkat SD dan mitra tutur belum bersekolah. Hubungan keakraban mereka adalah hubungan keluarga, karena penutur adalah kakak dari

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 53 adalah hari saat tuturan ini terjadi adalah hari libur. Mitra tutur akan pergi menjala di pinggiran pantai Mitra tutur mengajak penutur untuk membantunya bekerja. Konteks pada cuplikan tuturan 54 adalah penutur dan mitra tutur sedang menonton televisi.

  • MT merasa bahwa ia

  tidak menyukai acara televisi yang sedang mereka tonton. Mitra tutur menyuruh penutur untuk mengganti channel atau acara televisi tersebut. Penutur menolak perintah dari mitra tutur karena ia menyukai acara televisi tersebut. Terdapat orang ketiga yang nantinya memarahi penutur karena tindakannya terhadap mitra tutur.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur E7 adalah penutur menolak ajakan bapaknya untuk membantunya bekerja. Tujuan penutur E8 adalah penutur menolak suruhan mitra tutur untuk mengganti channel acara di televisi.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 53 terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga pada pagi hari. Sedangkan, cuplikan tuturan 54 terjadi di ruang keluarga, saat penutur dan mitra tutur menonton TV.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur E7 dan E8 adalah tindak verbal komisif. Tindak verbal ini dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang, berupa janji, ancaman, penolakan, ikrar. Tindak perlokusi mitra tutur E7 yakni, mitra tutur memarahi dan menyindir penutur. Sedangkan, tindak perlokusi mitra tutur E8 adalah mitra tutur pergi mencari orang ketiga (bapak), kemudian orang ketiga memarahi penutur karena tidak mau mengalah dengan adiknya. Tindak perlokusi mitra tutur yang tidak terima dengan tuturan penutur merupakan salah satu faktor menjadikan tuturan ini masuk ke dalam kategori menimbulkan konflik.

  Tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menolak, karena penutur menolak suruhan mitra tutur. Setiap penutur memiliki maksud masing-masing dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur E7 dan E8 memiliki maksud menolak dalam tuturannya. Mereka sama-sama menolak suruhan mitra tutur, tetapi penolakan tersebut justru membuat permasalahan jadi semakin panjang sehingga timbullah konflik antara penutur dan mitra tutur.

4.3.5.3 Subkategori Menyinggung Cuplikan tuturan 47 (E1)

  MT

  : “Haduh, Bu. Dino iki ra oleh opo-opo, Bu.” P : “Itu kan tanggungjawab suami.”

  MT : “Wolha kurang ajar.” Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menyindir dalam kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik. Wujud pragmatik dari tuturan E1 adalah penutur berbicara dengan cara ketus dan ngelantur kepada mitra tutur, padahal mitra tutur merupakan suami dari penutur.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, berita dalam tuturannya. Intonasi ini memberitakan atau menginformasikan sesuatu kepada mitra tutur. Penutur menginformasikan dan mengingatkan kembali kepada mitra tutur bahwa bekerja dan mencari nafkah itu sudah menjadi tanggung

  kan

  jawab suami. Penutur menggunakan kata fatis pada tuturannya, dan diletakkan pada tengah kalimat. Kridalaksana (1986) menjelaskan bahwa apabila

  kan kan

  terletak di tengah kalimat maka juga bersifat menekankan pembuktian atau bantahan. Nada tutur yang digunakan penutur adalah nada sedang. Walaupun nada tutur yang digunakan adalah nada sedang, tetapi sudah membuat mitra tutur marah, tuturan tersebut dianggap tidak santun. Seluruh tuturan penutur ditekankan dengan keras oleh penutur. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya penutur benar-benar kesal dengan mitra tutur. Diksi yang digunakan penutur E1 adalah bahasa populer, yakni kata-kata yang dikenal dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 47 adalah penutur merupakan perumpuan berusia 40 tahun dan mitra tutur merupakan laki-laki berusia 43 tahun.

  Penutur merupakan istri dari mitra tutur. Pekerjaan penutur adalah ibu rumah tangga, dan mitra tutur bekerja sebagai nelayan di pantai Congot. Mereka berdua mempunyai hubungan suami istri, jadi hubungan keakraban mereka adalah sangat

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 47 adalah mitra tutur baru saja pulang dari melaut, tapi tidak mendapat hasil yang memuaskan. Mitra tutur dalam keadaan lelah sepulangnya dari bekerja. Penutur dan mitra tutur bercakap-cakap di teras rumah, dan mitra tutur memberitahu penutur bahwa ia tidak membawa hasil yang banyak. Penutur kesal karena mitra tutur yang bekerja seharian justru pulang dengan tidak membawa hasil apa-apa.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur E1 adalah penutur memberitahu mitra tutur bahwa mencari nafkah merupakan tanggung jawab mitra tutur.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 47 terjadi di rumah, tepatnya di teras rumah pada siang hari.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur E1 adalah tindak verbal representatif. Tindak verbal ini merupakan jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan, berupa suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Tuturan ini masuk ke dalam jenis tindak verbal representatif karena penutur mencoba untuk menegaskan sesuatu yang diyakini oleh penutur. Tindak perlokusi mitra tutur adalah karena mitra tutur sedang dalam keadaan lelah, kemudian emosinya juga menaik dan mitra tutur tidak terima dengan tuturan penutur,

  Tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menyinggung, karena tuturan penutur cenderung menyinggung perasaan mitra tutur. Setiap penutur memiliki maksud masing-masing dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur E1 memiliki maksud kecewe dalam tuturannya. Kekecewaan penutur karena mitra tutur yang pergi seharian tetapi tidak membawa hasil apa-apa.

4.3.5.4 Subkategori Mengumpat Cuplikan tuturan 48 (E2)

  MT

  : “Itu kan tanggungjawab suami.” P : “Wo lha kurang ajar! Asu cenan.”

  MT : “Huuusss... Omongane, Pak.” Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori mengumpat dalam kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik. Cuplikan tuturan 48 ini merupakan kelanjutan dari cuplikan tuturan 47. Wujud pragmatik dari tuturan E2 adalah penutur berbicara dengan cara keras, kasar, dan ngelantur kepada mitra tutur, padahal mitra tutur merupakan istri dari penutur.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur E2 menggunakan intonasi seru dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk membentak mitra tutur yang sudah membuatnya kesal. Penutur menggunakan nada tinggi dalam penyampaian tuturannya. Nada tinggi digunakan oleh penutur karena ia sedang dalam keadaan emosi. Penutur juga menggunakan tekanan keras pada tuturannya.

  kurang ajar Asu cenan

  Tekanan keras tersebut terletak pada frasa dan . Penutur menekankan pada frasa tersebut karena frasa tersebut yang membuat tuturan nonstandar, yakni bahasa Jawa. Bahasa nonstandar merupakan bahasa yang mengandung unsur kedaerahan. Penutur memilih diksi ini karena selain sudah menjadi bahasa sehari-hari, keadaan penutur sangat emosi sehingga keluarlah bahasa Jawa sebagai bahasa yang sering ia gunakan.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 48 adalah penutur merupakan laki-laki berusia 43 tahun dan mitra tutur merupakan perumpuan berusia 40 tahun.

  Penutur merupakan suami dari mitra tutur. Pekerjaan penutur adalah nelayan pantai Congot, dan mitra tutur bekerja sebagai ibu rumah tangga. Mereka berdua mempunyai hubungan suami istri, jadi hubungan keakraban mereka adalah sangat dekat.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 48 adalah penutur baru saja pulang dari melaut, tapi tidak mendapat hasil yang memuaskan. penutur dalam keadaan lelah sepulangnya dari bekerja. Penutur dan mitra tutur bercakap-cakap di teras rumah, dan penutur memberitahu mitra tutur bahwa ia tidak membawa hasil yang banyak.

  Mitra tutur kesal karena penutur yang bekerja seharian justru pulang dengan tidak membawa hasil apa-apa, sehingga mitra tutur menyinggung penutur dengan kata- kata yang sembrono.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur E2 adalah penutur menanggapi tuturan mitra tutur yang kurang berkenan di hati penutur.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 48 terjadi di rumah, tepatnya di teras rumah pada siang hari.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur E2 adalah tindak verbal ekspresif. Tindak verbal ekspresif penutur dikarena ia tidak senang dengan tuturan mitra tutur yang disampaikan dengan sembrono. Tindak perlokusi mitra tutur adalah mitra tutur menanggapi tuturan penutur dengan peringatan.

  Tuturan tersebut tergolong ke dalam subkategori mengumpat, karena tuturan penutur menekankan umpatan yang dituturkan penutur. Setiap penutur memiliki maksud masing-masing dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur E2 memiliki maksud kesal dalam tuturannya.

  Kekesalan penutur karena mitra tutur yang berbicara seenaknya tanpa memperhatikan keadaan yang sebenarnya.

4.3.5.5 Subkategori Menegur Cuplikan tuturan 49 (E3) P : “Mbog le noto kayu ora teng jlempah. Nanti kalo ada tamu, nanti kalo ada orang lewat. Wong omah yo neng pinggir dalan.”

  MT : “Karang nggone yo koyo ngene, rakyo sesok!” P : “Welha...malah nesu.” Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori menegur dalam kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik. Wujud pragmatik dari tuturan E3 adalah penutur berbicara kepada istrinya dengan sembrono dan tuturan penutur disampaikan dengan cara sinis.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur E3 menggunakan intonasi berita dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk memberitahu mitra tutur mengenai tatanan kayu yang sedang ia tata. Kata fatis yang digunakan

  ya ya

  penutur adalah . Kata fatis bertugas mengukuhkan atau membenarkan apa yang ditanyakan lawan bicara. Penutur menggunakan nada sedang dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada sedang penutur tetap menjadikan tuturannya tidak santun karena disampaikan dengan sembrono dan tidak dalam situasi yang tepat. Penutur menggunakan tekanan lunak pada tuturannya. Tekanan

  Mbog le noto kayu ora teng jlempah

  keras tersebut terletak pada frasa . Penutur menekankan pada frasa tersebut karena frasa tersebut yang membuat tuturan menjadi sangat tidak santun dan membuat mitra tutur kesal. Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Bahasa nonstandar merupakan bahasa yang mengandung unsur kedaerahan. Penutur memilih diksi ini karena sudah menjadi bahasa sehari-hari.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 49 adalah penutur merupakan laki-laki berusia 42 tahun dan mitra tutur merupakan perumpuan berusia 39 tahun.

  Penutur merupakan suami dari mitra tutur. Pekerjaan penutur adalah nelayan pantai Congot, dan mitra tutur bekerja sebagai pedagang dan ibu rumah tangga.

  Mereka berdua mempunyai hubungan suami istri, jadi hubungan keakraban mereka adalah sangat dekat.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 49 adalah terdapat rumah kayu di samping rumah penutur. Penutur sedang duduk santai di teras rumah, sedangkan mitra tutur sedang sibuk menata kayu. Penutur menegur mitra tutur untuk merapikan tatanan kayunya, karena rumah kayunya berada di samping rumah, sekaligus di pinggir jalan, sehingga bila tidak rapi akan merusak pemandangan.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur E3 adalah penutur menegur mitra tutur untuk merapikan tatanan kayunya.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 49 terjadi di rumah, penutur berada di teras rumah, sedangkan mitra tutur berada di samping rumah. Waktu tuturan ini terjadi pada sore hari.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur E3 adalah tindak verbal direktif. Tindak verbal direktif penutur dikarena ia menyuruh mitra tutur untuk melakukan sesuatu, yakni melanjutkan merapikan kayunya sambil menanggapi tuturan dari penutur dengan sanggahan.

  Berdasar penanda pragmatik di atas, uturan tersebut tergolong ke dalam subkategori menegur. Setiap penutur memiliki maksud masing-masing dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur E3 memiliki maksud memberitahu dalam tuturannya. Pemberitahuan penutur sebenarnya baik, tetapi ia tidak melihat situasi yang sedang terjadi saat itu, sehingga justru membuat suasana menjadi tidak enak.

4.3.5.6 Subkategori Mengancam Cuplikan tuturan 51 (E5)

  MT : (menangis)

  P

: “Ayo... iso meneng ora!” (digeblek atau dipukul).

  Cuplikan tuturan di atas merupakan wujud linguistik dari subkategori mengancam dalam kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik. Wujud pragmatik dari tuturan E5 adalah penutur berbicara dengan ketus dan dibarengi dengan ancaman terhadap mitra tutur.

  Pembahasan penanda linguistik berdasar pada aspek intonasi, kata fatis, nada tutur, tekanan, dan pilihan kata atau diksi. Penutur E5 menggunakan intonasi perintah dalam tuturannya. Penutur menggunakan intonasi ini untuk memerintahkan mitra tutur melakukan sesuatu. Kata fatis yang digunakan penutur

  ayo ayo

  adalah . Kata fatis bertugas menekankan ajakan atau suruhan. Penutur menggunakan nada tinggi dalam penyampaian tuturannya. Penggunaan nada tinggi penutur dikarenakan penutur kesal dengan mira tutur yang selalu menangis

  Iso meneng ora

  tersebut terletak pada frasa . Penutur menekankan pada frasa tersebut karena frasa tersebut merupakan ancaman dari penutur. Diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar, yakni bahasa Jawa. Bahasa nonstandar merupakan bahasa yang mengandung unsur kedaerahan. Penutur memilih diksi ini karena sudah menjadi bahasa sehari-hari.

  Pembahasan dari segi penanda pragmatik menggunakan aspek-aspek yang dijelaskan oleh Leech (1983). Aspek-aspek penanda pragmatik tersebut adalah aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek penutur dan lawan tutur dalam cuplikan tuturan 51 adalah penutur dan mitra tutur merupakan laki-laki. Usia mitra tutur baru 6 tahun. Penutur bekerja sebagai nelayan di pantai Trisik. Hubungan keakraban mereka adalah ayah dan anak.

  Aspek kedua yang dipaparkan oleh Leech (1983) adalah konteks tuturan. Konteks tuturan pada cuplikan tuturan 51 adalah tuturan terjadi pada saat mitra tutur sedang nangis di rumah. Penutur pulang bekerja dengan keadaan yang letih.

  Penutur tersulut emosinya karena anaknya rewel terus-terusan.

  Aspek yang ketiga adalah tujuan penutur menyampaikan tuturannya. Tujuan penutur E5 adalah penutur menyuruh anaknya untuk tidak rewel lagi, tetapi disertai dengan ancaman akan memukul.

  Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Cuplikan tuturan 51 terjadi di rumah, tepatnya di halaman rumah.

  Aspek yang terakhir adalah aspek tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek ini membahas tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindak verbal penutur E5 adalah tindak verbal komisif. Tindak verbal komisif penutur dikarena ia mengancam mitra tutur. Tindak perlokusi mitra tutur adalah mitra tutur melakukan apa yang diperintah penutur, tetapi terdapat orang ketiga, yakni istrinya yang marah kepada penutur karena kasar terhadap anak.

  Berdasar penanda pragmatik di atas, uturan tersebut tergolong ke dalam subkategori mengancam. Setiap penutur memiliki maksud masing-masing dalam penyampaian tuturannya dan hanya penutur itu sendiri yang tahu. Penutur E5 memiliki maksud kesal dalam tuturannya. Kekesalan penutur muncul karena anaknya yakni mitra tutur sering menangis, ditambah lagi dengan keadaan penutur yang letih sehabis pulang dari kerja.

BAB V PENUTUP Dalam bab ini akan diuraikan dua hal, yaitu (1) simpulan dan (2) saran. Simpulan meliputi rangkuman atas keseluruhan penelitian ini. Saran meliputi hal-

  hal relevan yang kiranya perlu diperhatikan, baik untuk mahasiswa jurusan pendidikan bahasa maupun penelitian lanjutan.

5.1 Simpulan

  Dari hasil analisis data ditemukan tuturan yang tidak santun dalam interaksi dalam ranah keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Simpulan hasil analisis dapat dikemukakan sebagai berikut.

  5.1.1 Wujud Ketidaksantunan Lingustik dan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan linguistik yang ditemukan dalam ranah keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta berupa tuturan lisan tidak santun yang telah ditranskrip, yakni tuturan yang melanggar norma, mengancam muka sepihak, melecehkan muka, menghilangkan muka, dan menimbulkan konflik. Sedangkan, wujud ketidaksantunan pragmatiknya berupa cara yang menyertai tuturan lisan tidak santun yang disampaikan oleh penutur.

  5.1.2 Penanda Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa intonasi, penggunaan kata fatis, nada tutur, tekanan, dan diksi yang dapat diuraikan dalam pragmatik dapat dilihat berdasar konteks yang melingkupi tuturan. Konteks tuturan tersebut meliputi penutur dan mitra tutur, tujuan penutur, situasi dan suasana, tindak verbal, dan tindak perlokusi. Selanjutnya diuraikan dalam masing- masing kategori ketidaksantunan di bawah ini.

  5.1.2.1 Kategori ketidaksantunan melanggar norma

  Kategori ketidaksantunan melanggar norma ditandai dengan intonasi berita; nada tutur sedang; tekanan keras; dan penggunaan pilihan kata bahasa nonstandar. Tuturan yang melanggar norma biasanya dikatakan oleh anak.

  Tuturan kategori melanggar norma cenderung dikatakan oleh anak, karena biasanya aturan dalam keluarga akan diberikan kepada anak.

  Tuturan ini dapat terjadi dalam suasana yang cenderung santai. Tindak verbal penutur dalam kategori melanggar norma berupa tindak representatif dan komisif. Sedangkan, tindak perlokusi mitra tutur dalam kategori melanggar norma cenderung berusaha melakukan sesuatu sehingga penutur melakukan kewajibannya tersebut.

  5.1.2.2 Kategori ketidaksantunan mengancam muka sepihak

  Kategori ketidaksantunan mengancam muka sepihak ditandai dengan intonasi berita dan seru; nada tutur sedang; tekanan keras dan lunak; dan penggunaan pilihan kata bahasa nonstandar, terdapat juga penggunaan pilihan kata slang dan artifisial.

  Tuturan yang mengancam muka sepihak biasanya dapat dikatakan banyak menggunakan tuturan dalam kategori mengancam muka sepihak. Tuturan kategori mengancam muka sepihak dapat terjadi dalam suasana yang santai dan serius. Tindak verbal penutur dalam kategori melanggar norma berupa tindak representatif, ekspresif, dan komisif. Sedangkan, tindak perlokusi mitra tutur dalam kategori mengancam muka sepihak adalah mitra tutur merasa tersinggung, kemudian menanggapi ketidaksantunan penutur, tetapi tidak disadari oleh penutur.

  5.1.2.3 Kategori ketidaksantunan melecehkan muka

  Kategori ketidaksantunan melecehkan muka ditandai dengan intonasi berita, perintah, dan seru; kata fatis , , dan ; nada tutur

  kok ya lho

  tinggi dan sedang; tekanan keras dan lunak; dan penggunaan pilihan kata bahasa nonstandar.

  Tuturan yang melecehkan muka dapat dikatakan oleh siapa saja dalam anggota keluarga. Tuturan kategori melecehkan muka terjadi dalam berbagai suasana, dapat terjadi dalam susasana santai maupun serius. Tindak verbal penutur dalam kategori melecehkan muka berupa tindak ekspresif, representatif, direktif, dan komisif. Sedangkan, tindak perlokusi mitra tutur dalam kategori melecehkan muka adalah biasanya mitra tutur diam saja; mitra tutur pergi; dan mitra tutur menanggapi penutur kerena ia merasa kesal dengan penutur.

  5.1.2.4 Kategori ketidaksantunan menghilangkan muka

  Kategori keidaksantunan melanggar norma ditandai dengan tinggi; tekanan keras dan lunak; dan penggunaan pilihan kata bahasa nonstandar dan bahasa populer.

  Tuturan yang menghilangkan muka dapat dikatakan oleh siapa saja dalam anggota keluarga, bahkan tamu pun bisa mengatakannya. Tuturan kategori menghilangkan muka terjadi dalam suasana yang cenderung santai dan serius. Tindak verbal penutur dalam kategori menghilangkan muka berupa tindak ekspresif. Sedangkan, tindak perlokusi mitra tutur dalam kategori menghilangkan muka cenderung menanggapi tuturan penutur karena dirinya merasa dipermalukan atau telah kehilangan muka.

5.1.2.5 Kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik

  Kategori keidaksantunan melanggar norma ditandai dengan intonasi seru dan tanya; kata fatis yo ;nada tutur tinggi dan sedang; tekanan keras; dan penggunaan pilihan kata bahasa nonstandar.

  Tuturan yang menimbulkan konflik dapat dikatakan oleh seluruh angggota keluarga. Tuturan kategori menimbulkan konflik terjadi dalam suasana yang santai dan serius. Tindak verbal penutur dalam kategori menimbulkan konflik berupa tindak ekspresif, komisif, dan representatif.

  Sedangkan, tindak perlokusi mitra tutur dalam kategori menimbulkan konflik cenderung berusaha menanggapi tuturan penutur dengan suasana hati yang emosi, biasanya hingga terjadi adu mulut atau bertengkar.

5.1.3 Maksud Ketidaksantunan Penutur

  Maksud ketidaksantunan merupakan maksud penutur menuturkan tuturannya. Maksud ketidaksantunan ini hanya dimiliki oleh masing-masing penutur dan hanya penutur yang mengerti maksud tuturannya.

  Kategori melanggar norma ditemukan 3 maksud penutur dari 4 penutur yang berbeda, yakni maksud berbohong, membela diri, dan menunda. Kategori mengancam muka sepihak ditemukan 6 maksud penutur dari 9 penutur yang berbeda, yakni maksud menggoda, mengejek, menghindar, membela diri, berbohong, dan menolak. Kategori melecehkan muka ditemukan 13 maksud penutur dari 24 penutur yang berbeda, yakni maksud mengusir, menolak, malas, menyindir, kesal, memaksa, menakut-nakuti, membela diri, berbohong, kecewa, menagih, mengejek, dan memarahi. Kategori menghilangkan muka ditemukan 7 maksud penutur dari 9 penutur yang berbeda, yakni maksud kesal, kecewa, memarahi, menasihati, mengejek, dan menggoda. Kategori terakhir adalah menimbulkan konflik, dalam kategori ini ditemukan 4 maksud penutur dari 9 penutur yang berbeda, yakni maksud kesal, kecewa, memberitahu, dan menolak.

5.2 Saran

  Berdasarkan hasil yang telah ditemukan, peneliti memberikan beberapa saran bagi peneliti lanjutan yang ingin meneliti topik yang serupa dengan penelitian ini. Berikut ini adalah saran-saran peneliti.

5.2.1 Bagi Peneliti Lanjutan

  1)

  

Penelitian ini hanya meneliti ketidaksantunan berbahasa linguistik dan penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan subjek dan ranah yang berbeda.

  2) Instrumen dalam penelitian ini masih membutuhkan penyempurnaan, sehingga untuk penelitian selanjutnya dapat mengembangkan instrumen penelitian ini menjadi lebih luas. 3) Penelitian ini hanya sebatas analisis mengenai wujud dan penanda ketidaksantunan berbahasa, serta maksud ketidaksantunan penutur. Oleh sebab itu, untuk peneliti selanjutnya dapat memperdalam konsep ketidaksantunan ini.

  5.2.2 Bagi Keluarga Nelayan

  Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan atau gambaran umum mengenai bentuk ketidaksantunan berbahasa dalam keluarga, khususnya keluarga nelayan. Sehingga, dengan adanya acuan ketidaksantunan dalam berbahasa, anggota keluarga dapat mengurangi bahkan menghindari percakapan atau komunikasi yang tidak santun. Dengan hasil penelitian yang telah diuraikan, adanya ikatan kekeluargaan yang erat seharunya dapat menghindari penggunaan bahasa yang tidak santun antar anggota keluarga maupun dengan orang lain.

  5.2.3 Implikasi Penelitian

  Fenomena ketidaksantunan berbahasa dalam keluarga membuat dampak negatif bagi semua anggota keluarga. Cara yang efektif untuk mencegah atau menanggulangi ketidaksantunan berbahasa dalam keluarga nelayan adalah melalui pendidikan dini yang diajarkan kepada anak. Anak-anak rentan akan perilaku berbahasa yang buruk, karena anak-anak akan menerima apa yang biasa ia lihat, ia alami, dan kemudian ia pelajari.

  Sosialisasi kepada orang tua agar berkomunikasi dengan baik, benar, dan santun merupakan cara yang akan membantu berkurangnya ketidaksantunan berbahasa dalam keluarga nelayan. Jadi, bila orang tua membiasakan berbahasa dengan baik, benar, dan santun, anak akan mengikuti kebiasaan baik orang tuanya tersebut, sehingga komunikasi dalam keluarga akan terjalin dengan baik dan harmonis.

  

DAFTAR PUSTAKA

Achmad dan Alek Abdullah. 2013.

  Pragmatics . New York: Oxford Univercity Perss.

  

Metodologi Penelitian Kualitatif

  . Skripsi. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD. Moleong, Lexy J. 2007.

  2011

  Berbahasa antara Dosen dan Mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, Angkatan 2009

  . Jakarta: Raja Grafindo Persada. Melissa Puspitarini, Olivia. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya

  Mahsun. 2006.

  Principles of Pragmatics . London: Longman.

  Leech, Geoffrey. 1983.

  ___________. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia . Jakarta: Grasindo. Kridalaksana, Harimurti. 1986. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia . Jakarta: Gramedia.

  Diksi dan Gaya Bahasa . Jakarta: Gramedia.

  Keraf, Gorys. 1987.

  Huang, Yan. 2007.

  Linguistik Umum . Jakarta: Erlangga.

  Sosial . Jakarta: Salemba Humanika.

  . Jakarta: Balai Pustaka. George, Yule. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Herdiansyah, Haris. 2010. Metodologi Penelitian Kualiitatif untuk Ilmu-ilmu

  Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga

  Depdiknas. 2005.

  Disempurnakan . Jakarta: Gramedia.

  . Jakarta: Kencana. Depdikbud. 2009. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang

  Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat

  . New York: Mouton de Gruyter. Bungin, Burhan. 2006.

  on its Interplay with Power in Theory and Pratice

  Jakarta: Rineka Cipta. Bousfield, Derek dan Miriam A. Locher.2008. Impoliteness in Language: Studies

  Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik .

  Arikunto, Suharsimi. 2010.

  . Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mulyana, Deddy. 2008.

  Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya

  “Penelitian Kompetensi: Ketidaksantunan Pragmatik

  Asas-asas Metodologi Penelitian: Sebuah Pengenalan dan Penuntun Langkah demi Langkah Pelaksanaan penelitian

  Widi, Restu Kartiko. 2010.

  Filsafat Bahasa . Jakarta: Grasindo.

  . Bandung: Alfabeta. Sumarsono. 2004.

  Metode Penelitian Kuantitatif kualitatif dan R&D

  . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sugiyono. 2012.

  Metode Linguistik: Bagian Pertama, ke Arah Memahami Metode Linguistik

  Malang: Lembaga Penerbitan IKIP Malang. Sudaryanto. 1988.

  Presentasi. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD. _______________. 2012 . “Re-interpretasi Konteks Pragmatik”. Jurnal. Samsuri. 1969. Fonologi: Ichtisar Analisa Bahasa Pengantar Kepada Linguistik .

  (Family Domain) ”.

  dan Linguistik Berbahasa dalam Ranah Keluarga

  . Malang: Dioma. _______________. 2009. Sosiopragmatik . Jakarta: Erlangga. _______________. 2012.

  . Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Muslich, Masnur. 2009.

  Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik

  Rahardi, Kunjana. 2003.

  Berbahasa secara Santun . Yogyakarta: Pusataka Pelajar.

  . Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Pranowo. 2009.

  o, Miftah. 2009. “Konteks dalam Kajian Pragmatik” dalam Peneroka Hakikat Bahasa

  Nugroh

  Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa Antarsiswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 . Skripsi. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD.

  Noviyanti, Agustina Galuh Eka. 2013.

  Pragmatif & Penelitian Pragmatik . Yogyakarta: Graha Ilmu.

  Jakarta: Bumi Aksara. Nababan. 1984. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar . Jakarta: Gramedia. Nadar, F.X. 2009.

  Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia.

  . Yogyakarta: Graha Ilmu. Ketidaksantunan Linguistik dan Widyawari, Caecilia Petra Gading May. Pragmatik Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009 2011 Universitas Sanata Dharma

  . Skripsi. Yogyakarta: PBSID,

   JPBS, FKIP, USD.

  Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik . Yogyakarta: Andi.

  Semantik: Teori dan Wijana, I Dewa Putu & Muhammad Rohmadi. 2008. Analisis . Surakarta: Yuma Pustaka.

  Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Yuliastuti, Elizabeth Rita. 2013. Berbahasa antara Guru dan Siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 . Skripsi. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD.

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KATEGORI MELANGGAR NORMA

  PENANDA KETIDAKSANTUNAN PRESEPSI NO. KODE TUTURAN NONLINGUAL LINGUAL

  KETIDAKSANTUNAN (Topik dan Situasi)

  1. A1

  Cuplikan tuturan 1  Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi di rumah pada  Jenis ketidaksantunan: malam hari saat akan tidur malam. melanggar norma.

   Nada tutur: penutur MT: “Tadi beli es ya?”

  berbicara dengan

   Penutur perempuan, anak berusia 12  Makna ketidaksantunan:

P: “Enggak!” nada sedang. tahun. MT laki-laki, bapak dari penutur. menegaskan.

  M

  T: “Makanya jangan  Tekanan: keras pada  Penutur melanggar aturan atau janji  Wujud ketidaksantunan:

  beli es sembarangan! yang telah disepakati.

  kata “enggak”.

  • Penutur berbicara dengan Jadi sakit to?” orang yang lebih tua.

   Diksi: bahasa  Penutur dan MT telah sepakat bahwa

  populer. penutur tidak diperbolehkan membeli

  • Tuturan disampaikan dengan

  cara ketus es sembarangan, karena penutur mempunyai salah satu penyakit yang

  • Penutur melanggar aturan

  (tidak boleh membeli es apabila meminum es sembarangan langsung kambuh. sembarangan).

  • Penutur berbohong kepada

   Penutur melanggar aturannya sendiri MT.

  dengan meminum es.

   MT mengetahui bahwa penutur telah melanggar aturannya.  Tujuan: penutur membohongi MT bahwa dirinya tidak membeli es.  Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT tahu bahwa

  penutur bohong dan MT pun tahu bahwa penutur telah minum es, kemudian MT menasihati penutur.

  Cuplikan tuturan 2  Intonasi berita.  Tuturan ini terjadi di rumah pada jam 4 melanggar norma.

   2. A2 Jenis ketidaksantunan:

  sore.

   Nada tutur: MT

  Makna ketidaksantunan:

  MT: ”Mau kemana

   berbicara dengan  Penutur laki-laki, adik berusia 12 tahun. menegaskan.

  dek?” nada sedang. MT perempuan, kakak dari penutur, P: :Arep ngaji!”

   Wujud ketidaksantunan: berusia 15 tahun.

   Tekanan: keras frasa

  Penutur berbicara dengan

  MT: “Kui...mbasan ono

  • Yo ben.. .

   Terdapat aturan yang telah disepakati

  gawean malah alasan orang yang lebih tua. bersama mengenai tugas-tugas di

   Diksi: nonstandar

  Tuturan disampaikan dengan rumah terutama mengenai bersih-bersih cara ketus.

  • ngaji, nek raono mung

  dolan wae.” rumah.

  P: “Yo ben... wong

  • Penutur melanggar aturan

   Penutur melanggar aturan mengenai

  (tidak melaksanakan

  arep ngaji kok ra bersih-bersih rumah.

  tugasnya untuk bersih-bersih

  oleh.”  MT menyuruh penutur untuk menyapu halaman rumah).

  MT: “Dia gag nyapu

  halaman rumah karena sudah kotor,

  Penutur melarikan diri tetapi penutur tidak mau dan beralasan

  • dibiarin. Malah aku

  yang jadinya nyapu.”

  dengan mengaji sebagai mengaji. (mengadu kepada alasannya.

   Tujuan: penutur beralasan untuk tidak

  Penutur melimpahkan menyapu halaman rumah yang sudah tugasnya kepada MT. menjadi tugasnya.

  • pamannya).

   Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT melapor kepada

  pamannya karena penutur tidak mau melaksanakan tugasnya.

  Cuplikan tuturan 3  Intonasi berita.  Tuturan terjadi di rumah pada saat jam melanggar norma.

   3. A3 Jenis ketidaksantunan:

  belajar.

   Nada tutur: penutur MT: “Belajar sek le.

   Makna ketidaksantunan: berbicara dengan  Penutur laki-laki, anak berusia 9 tahun. Ayo TVne dipateni, menunda. nada sedang. MT laki-laki, ayah dari penutur, berusia

   PRe geg ndang Wujud ketidaksantunan: 48 tahun.

   Tekanan: keras.

  Penutur berbicara dengan

  digarap!”

  • MT sudah membuat aturan mengenai

   Diksi: nonstandar orang yang lebih tua.

  P: “Mengko sek,

  jam belajar untuk anaknya (penutur)

  Pak!”

  • Tuturan ini disampaikan
MT: (langsung kecuali pada saat hari libur. dengan cara ketus.

  Penutur melanggar aturan

  • mematikan televisi).

   Penutur melanggar aturan tersebut,

  (tidak belajar pada saat jam yakni asik menonton televisi pada saat belajar telah tiba). jam belajar.

  • Penutur lebih memilih untuk  MT menyuruh penutur untuk belajar.

  menonton televisi daripada

   Tujuan: penutur ingin menunda belajar.

  belajarnya karena masih ingin

  • Penutur sudah berkali-kali menonton televisi disuruh untuk belajar oleh

   Tindak verbal: komisif MT.  Tindak perlokusi: MT mematikan televisi.

   4. A4 Cuplikan tuturan 4 Jenis ketidaksantunan:

   Intonasi berita.  Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di melanggar norma.

  ruang keluarga.

   Nada tutur: penutur MT: “Maghrib, ndang

   Makna ketidaksantunan: berbicara dengan  Penutur laki-laki, anak berusia 6 tahun. shalat, sinau, TVne ayo menunda. nada sedang. MT laki-laki, ayah dari penutur, berusia

  Wujud ketidaksantunan:

  dipateni!”

   32 tahun

   Tekanan: keras pada P: “Mengko Pak!

  • Penutur berbicara dengan frasa Mengko Pak! .

   MT (bapak) telah membuat peraturan Filme orang yang lebih tua. jek apik kie.”

  untuk tidak menyalakan televisi pada

   Diksi: nonstandar

  Tuturan disampaikan dengan saat maghrib dan dilanjutkan untuk sekering listrik). cara ketus. belajar, setelah itu baru boleh menonton

  • MT: (Mematikan
  • Penutur melanggar aturan televisi.

  (saat maghrib TV harus mati

   Penutur melanggar aturan tersebut

  dan setelah shalat maghrib dengan tetap menonton televisi pada dilanjutkan belajar). jam shalat maghrib.

  • Penutur lebih memilih

   Penutur menolak suruhan MT untuk menonton televisi.

  shalat maghrib dan memilih

  • Penutur menjawab suruhan melanjutkan menonton televisi.

  MT dengan tidak

   Tujuan: penutur menunda suruhan MT

  memperhatikan MT, dan lebih memilih melanjutkan melainkan lebih asik dengan menonton televisi. acara di televisi.

  

 Tindak verbal: komisif.

 Tindak perlokusi: MT langsung

  mematikan sekering listrik dan membuat seisi rumah yang membutuhkan listrik menjadi mati. Hal ini dilakukan karena penutur takut gelap.

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KATEGORI MENGANCAM MUKA SEPIHAK

  PENANDA KETIDAKSANTUNAN PRESEPSI NO. KODE TUTURAN NONLINGUAL LINGUAL

  KETIDAKSANTUNAN (Topik dan Situasi)

  1. B1

  Cuplikan tuturan 5  Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi di rumah saat MT  Jenis ketidaksantunan: sedang belajar di ruang keluarga pada mengancam muka sepihak.

   Nada tutur: penutur P: “Sinau barang!” tanggal 26 April 2013 jam 19.00.

  berbicara dengan

   Makna ketidaksantunan: (Menyenggol nada sedang.

  mengejek.

   Penutur laki-laki, kakak berusia 12 adiknya).

  tahun. MT laki-laki, adik dari penutur,

   Tekanan: keras pada  Wujud ketidaksantunan: MT: “Ngopo to? berusia 6 tahun.

  frasa sinau barang .

  • Penutur mengganggu MT Ganggu wae.” yang sedang belajar.

   Penutur sedang berjalan ingin keluar  Diksi: nonstandar.

  P: (Tidak menghiraukan rumah, melewati ruang keluarga dan

  • Penutur menyampaikan dan pergi begitu saja).

  melihat MT sedang belajar. tuturannya dengan sinis.

  • Penutur menyenggol MT

   Penutur menyenggol MT, dan terus dengan sengaja.

  berjalan.

  • Penutur tidak menyadari

   MT merasa dirinya diganggu oleh

  bahwa dirinya telah penutur. mengancam muka MT.

   Tujuan: penutur tidak memiliki maksud

  tertentu, penutur hanya lewat, kemudian melihat MT sedang belajar dan menghampirinya dengan melakukan tindakan menyenggol/ menggoda.

   Tindak verbal: ekspresif  Tindak perlokusi: MT merasa dirinya

  terganggu oleh penutur, kemudian MT menanggapi penutur dengan ancaman, tetapi penutur pergi begitu saja dengan acuh.

   2. B2 Jenis ketidaksantunan:

  Cuplikan tuturan 6  Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi saat pagi hari.

  mengancam muka sepihak.

   Kata fatis: ahh.  Tuturan ini terjadi di rumah tepatnya di

  MT Makna ketidaksantunan: : “Tangi-tangi...

   kamar Penutur.

   Nada tutur: MT

  Mengko bar tangi menunda. berbicara dengan

   Penutur laki-laki, anak berusia 16

   langsung asah-asah Wujud ketidaksantunan: nada sedang. tahun. MT perempuan, ibu dari penutur.

  piring.”  Tekanan: keras pada  MT membangunkan penutur kemudian orang yang lebih tua.

  • penutur berbicara dengan

  P: “Mengko ah...” frasa mengko ahh... . menyuruhnya untuk mencuci piring.

  • (Melanjutkan

  Penutur menunda suruhan  Diksi: bahasa  Tujuan: penutur menolak suruhan MT.

  tidurnya).

  dari MT dan malah nonstandar.

   Tindak verbal: komisif.

  MT : “Wolhaa... Anak melanjutkan tidurnya.

   Tindak perlokusi: MT bergumam

  Tuturan ini disampaikan terhadap kelakuan penutur, tetapi dengan cara ketus.

  • jaman saiki nek dikon

  ratau mangkat.”

  penutur malah melanjutkan tidurnya

  • MT merasa kesal dengan tanpa memperhatikan MT.

  penutur.

  • Penutur tidak menyadari bahwa tuturannya telah mengancam muka MT.

   3. B3 Cuplikan tuturan 7 Jenis ketidaksantunan:  Intonasi berita.  Tuturan terjadi di rumah. menghilangkan muka sepihak.

   Nada tutur: penutur  Malam hari saat jam tidur.

  : “Langsung tidur

  berbicara dengan

   MT Makna ketidaksantunan:

   Penutur laki-laki, anak berusia 16 menegaskan. aja, gak usah malem2.” nada sedang.

  tahun. MT perempuan, ibu dari penutur

   Wujud ketidaksantunan:

  P: “Cah enom kok  Partikel: kok.

   Penutur sedang menonton televisi. yahene turu, Bu.”

  • Penutur berbicara dengan  Tekanan: keras.

   MT menyuruhnya untuk tidur, karena orang yang lebih tua. MT: “Ohh. Nek cah sudah larut malam.

   Diksi: bahasa

  Penutur menyanggah

  gno to?”

  • enom koyo n

  nonstandar dengan

   Tujuan: menegaskan bahwa panutur suruhan MT.

  menggunakan belum ingin tidur, karena penutur masih

  • Penutur memiliki persepsi bahasa Jawa ingin menonton televisi, dan penutur bahwa anak muda pada jam masih muda sehingga belum pantas
tidur pada saat itu. tersebut belum pantas untuk tidur.

   Tindak verbal: representatif.

  • Penutur menyampaikan

   Tindak perlokusi: MT menanggapi

  tuturannya dengan cara tuturan penutur dengan pertanyaan sinis. yang sedikit kesal, tetapi penutur tidak

  • MT merasa kesal karena menghiraukan MT dan tetap menonton tuturan penutur.

  televisi.

  • Penutur tidak menyadari bahwa tuturannya telah mengancam muka MT.

   4. B4 Cuplikan tuturan 8 Jenis ketidaksantunan:

   Intonasi berita.  Tuturan ini terjadi pada malam hari saat mengancam muka sepihak.

  penutur tidak berada di rumah, dan MT

   Nada tutur: penutur

  MT Makna ketidaksantunan:

  : “Koe nandi kok

   berada di rumah. berbicara dengan menegaskan.

  belum pulang?” nada tinggi.

   Penutur laki-laki, anak berusia 16 P

  Wujud ketidaksantunan:

  : “Iki lagek nen

   tahun. MT perempuan, ibu dari penutur.

   Tekanan: keras pada

  dalan.” (padahal kata . dalan

  • Penutur berbicara dengan

   MT menelepon penutur yang sedang masih di lokasi).

  orang yang lebih tua.

  

  berada di luar rumah karena telah larut

   Diksi: bahasa

  • Penutur menyampaikan malam dan belum pulang.

  nonstandar tuturannya dengan cara

   Saat pergi penutur tidak pamit kepada ketus.

  MT akan pergi kemana dan sampai

  • Penutur menegaskan kapan.

  kepada MT tetapi  MT merasa khawatir terhadap penutur. membohongi MT yang

   Tujuan: penutur membohongi MT, MT mengkhawatirkan penutur.

  khawatir dengan keadaan penutur

  • Penutur tidak menyadari karena sudah larut malam belum pulang bahwa tindakannya dan tidak pamit saat ia pergi membuat khawatir MT.

   Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT menaanggapi

  tuturan dengan menyuruh penutur untuk segera pulang. tuturannya dengan cara spontan.

  melakukan tindakan kepada orang yang lebih tua.

   Makna ketidaksantunan: menolak.

   Jenis ketidaksantunan: mengancam muka sepihak.  Makna ketidaksantunan: menegaskan.  Wujud ketidaksantunan:

   Tindak verbal: representatif.

  menginjak kaki MT dan dalam bawah sadarnya, penutur mengeluarkan kata- kata yang membuat MT merasa terganggu.

   Tujuan: penutur tidak sengaja

   MT sedang asik mengganggu penutur.  Secara tidak sengaja penutur menginjak kaki MT.

  MT laki-laki, kakak berusia 22 tahun.

   Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga.  Penutur laki-laki, adik berusia 12 tahun.

  nonstandar

   Tekanan: lunak pada kata kepidak .  Diksi: bahasa

  berbicara dengan nada sedang (tetapi kakinya menginjak MT).

   Nada tutur: penutur

  kakaknya) “Walah... kepidak...” MT: “Mah dipidak!!!” P: “Salahe mundur- mundur.”  Intonasi berita.

  6. B6 Cuplikan tuturan 10 P: (menginjak kaki

   Wujud ketidaksantunan:

   Jenis ketidaksantunan: mengancam muka sepihak.

  • Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara ketus.
  • MT merasa kesal dengan jawaban penutur.
  • Penutur tidak menyadari bahwa tuturannya telah mengancam muka MT.
  • Penutur berbicara dan
  • Penutur menyampaikan
  • MT merasa marah karena tindakan penutur.
  • Penutur tidak menyadari

  tuturan penutur dengan ancaman, tetapi penutur tetap santai dan diam saja.

   Penutur disuruh oleh kakaknya untuk membelikannya sesuatu.  Penutur menolak suruhan MT.  Penutur dan MT sedang santai.  Tujuan: penutur menolak suruhan MT.  Tindak verbal: komisif.  Tindak perlokusi: MT menanggapi

  MT laki-laki, kakak berusia 21 tahun.

   Penutur laki-laki, adik berusia 16 tahun.

  nonstandar  Tuturan ini terjadi di rumah.

   Tekanan: keras pada kata wegah .  Diksi: bahasa

  berbicara dengan nada tinggi.

   Nada tutur: penutur

  : “Awas koe!”  Intonasi seru.

  MT

  : “Tukokke iki neng warung!” P: “Wegah, males!”

  MT

  Cuplikan tuturan 9

  5. B5

  • Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.
  • Penutur menolak suruhan MT.

  • Penutur menyalahkan MT.
  • Sebelumnya penutur buang

  8. B8 Cuplikan tuturan 12 MT:

   Jenis ketidaksantunan: mengancam muka sepihak.  Makna ketidaksantunan:

  membela diri/ mengelak/ menegaskan.

   Wujud ketidaksantunan:

  angin (kentut) pada saat makan malam bersama anggota keluarga.

  tuturannya dengan cara bercanda.

  keluarga lainnya merasa terganggu dan mengeluh.

  dirinya telah mengancam muka MT dan anggota keluarga.

  “Aku kroso ora

   Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT hanya

  diperhatekke nang  Intonasi seru.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada sedang.

   Tekanan: lunak pada  tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di

  teras rumah sekitar pukul 4 sore pada tanggal 20 April 2013.

   Penutur laki-laki, tuan rumah/ kepala

  nelayan berusia 42 tahun. MT laki-laki,

  menggeleng-gelengkan kepala sambil mengeluh.

  mengarah kepada pembelaan diri mengenai tindaknnya.

   Jenis ketidaksantunan: mengancam muka sepihak.  Makna ketidaksantunan: mengejek.  Wujud ketidaksantunan:

   Intonasi berita  Nada tutur: penutur

   Tindak perlokusi: MT mengeluarkan

  kata-kata kasar, tetapi penutur malah menyalahkan mitra tutur karena telah mengganggunya.

  bahwa tindakan dan tuturannya telah mengancam muka MT.

  7. B7 Cuplikan tuturan 11 P: (Buang angin).

  MT: “Ealah Pak, wong

  yo lagi do mangan kok ngentute dise

  rokke.” P: “Timbangane ra dibuang mah mung marakke penyakit.”

  berbicara dengan nada sedang.

   MT mengeluh terhadap tindakan penutur.  Tujuan: penutur beralasan atau lebih

   Tekanan: lunak pada

  frasa mung marakke

  penyakit .

   Diksi: bahasa

  nonstandar

   Tuturan ini terjadi di rumah pada saat jam makan malam.  Penutur laki-laki, suami. MT perempuan, istri.  Penutur buang angin (kentut) pada saat

  sedang makan malam bersama anggota keluarganya.

  • Penutur menyampaikan
  • MT beserta anggota
  • Penutur tidak merasa bahwa

  frasa tamu/rekan penutur berusia 41 tahun. kabupaten, ora opo-opo.

  • Penutur berbicara dengan iya..aaa..iya...aaa... .

  tamunya. Mergane opo? Mergane

   MT sedang bercerita mengenai keluhannya terhadap pemerintah.

  • MT belum selesai berbicara

   Diksi: bahasa slang

  kelompok nek ra eksis tetapi penutur langsung dan bahasa artifisial.

   Selain penutur dan MT, juga terdapat 2 pancen yo tibo nangi.

  menimpali dengan tuturan orang lainnya yang sedang Ketika nibo nangi tersebut. mendengarkan. tulung seng 30 ton itu

  • Penutur menyampaikan

   Tujuan: penutur hanya mengejek MT

  buat contoh yang di tuturannya dengan cara yang sedang mengeluhkan perhatian seperti tertawa tetapi

  Pacitan, maupun 30 ton pemerintah. dibuat-buat. yang baru. Mana  Tindak verbal: ekspresif.

  • MT merasa kesal dengan

  hasilnya?

   Tindak perlokusi: MT menanggapi tuturan penutur.

  penutur dengan pertanyaan kesal dan

  P: “Iya... aaa... iya...

  • Penutur tidak menyadari menjawabnya sendiri.

  aaa... (bernada seperti

  bahwa tuturannya telah nada tertawa). mengancam muka MT. MT:

  “lha kepiye?

  Sama-sama dari provinsi maupun pemerintah.

  ”

  9. B9 Cuplikan tuturan 13

   Intonasi seru.  tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di  Jenis ketidaksantunan: teras rumah sekitar pukul 4 sore pada mengancam muka sepihak.  Nada tutur: penutur

   Makna ketidaksantunan: paku, papan itu kan nada sedang.

  MT: “Seng jenengane tanggal 20 April 2013. berbicara dengan

  mengejek.

   Penutur laki-laki, tuan rumah/ kepala

  nelayan berusia 42 tahun. MT laki-laki, lama2 menua, padahal  Tekanan: lunak pada

   Wujud ketidaksantunan: tamu/rekan penutur berusia 41 tahun.

  kata .

  resiko

  • Penutur berbicara dengan

  yo jaluk renovasi iku tamunya.

   MT sedang bercerita mengenai  Diksi: bahasa tetep muni.

  ”

  keluhannya tentang renovasi kapal populer.

  • Nada bicara penutur seperti

  P: “Resiko!” menjadi tanggungan sendiri. orang mengejek.

  MT: “Yo jenenge wong

  • Penutur menyampaikan

   Selain penutur dan MT, juga terdapat 2

  urip aku percoyo resiko. Tapi kan menjadi tambah, kudune pikirane awak dewe ra tekan kono.

  • MT merasa kesal sehingga

  ” P: “Resiko.”

  orang lainnya yang sedang mendengarkan.

   Tujuan: penutur hanya mengejek MT yang sedang mengeluh.  Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: menanggapi tuturan penutur dengan sanggahan.

  tuturannya dengan cara menyepelekan.

  menyanggah tuturan penutur.

  • Penutur tetap mengejek MT

  dengan kata-kata yang sama.

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KATEGORI MELECEHKAN MUKA

   Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: memerintah.  Wujud ketidaksantunan:  Penutur memarahi MT.

  NO. KODE TUTURAN PENANDA KETIDAKSANTUNAN PRESEPSI KETIDAKSANTUNAN LINGUAL NONLINGUAL (Topik dan Situasi)

  1. C1

  Cuplikan tuturan 14 P: “Ngopo nyusul dene?”

  MT: (Rewel atau menangis).

  P: “Nyoh tak kei duwit geg ndang lungo’o. Rasah ganggu Bapak Ibu sek, lagek nyambut gawe!”  Intonasi perintah.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada sedang.

   Tekanan: keras.  Diksi: nonstandar

   Tuturan ini terjadi di ladang pada siang hari.  Penutur laki-laki, bapak berusia 34

  tahun. MT laki-laki, anak dari penutur, berusia 6 tahun.

   Penutur memiliki pekerjaan sampingan

  sebagai petani, selain pekerjaan pokoknya sebagai nelayan.

  • Penutur menyampaikan

  bekerja dengan keadaan rewel/ menangis.

  • Penutur seolah mengusir

   Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: memerintah.

  tahun. MT laki-laki, suami dari MT, berusia 34 tahun.

   Tuturan ini terjadi di rumah.  Penutur perempuan, istri berusia 32

  berbicara dengan nada sedang.

   Nada tutur: penutur

  Bu...”  Intonasi perintah.

  ro jupukno maem,

  : “Gawekno wedang

  2. C2 Cuplikan tuturan 15 MT

  MT dengan memberinya uang.

  tuturannya dengan cara ketus.

   MT menghampiri penutur yang sedang

  kemudian pergi dan tidak menggangu pekerjaan yang dilakukan orang tuanya.

   Tindak verbal: direktif.  Tindak perlokusi: MT menerima uang,

  anak penutur yang mengganggu orang tuanya saat bekerja.

   Tujuan: penutur memarahi MT sebagai

  • Penutur berbicara kepada
  • Penutur menyampaikan
  • Penutur bergantian

  MT1&MT2: (bertengkar).

  4. C4 Cuplikan tuturan 17

  tuturannya dengan cara sinis.

   Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyindir.  Wujud ketidaksantunan:

   Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT berhenti berkelahi.

  yang masih saja berkelahi walaupun sudah besar.

   Tujuan: penutur menyindir kedua MT

   Terdapat MT1 dan MT2.  MT1 dan MT2 merupakan kakak-adik.  MT1 dan MT2 sedang berkelahi layaknya kakak-adik.

  laki-laki, adik dan kakak, remaja berusia 16 tahun dan 22 tahun.

   Penutur laki-laki, bapak dari MT. MT

  nonstandar  Tuturan ini terjadi di rumah.

   Tekanan: keras pada kata gelud .  Diksi: bahasa

  berbicara dengan nada sedang.

   Partikel: kok.  Nada tutur: penutur

  P: ”Cah gede kok jeh do gelud.”  Intonasi berita.

  Cuplikan tuturan 16

   Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi di rumah, pada saat  Jenis ketidaksantunan:

  seharian tetapi tidak membawa hasil yang diharapkan.

  P : “Alaaah... jupuk dewe, Pak! ”

  MT: (mengambil minuman sendiri dengan raut wajah kesal).

   Tekanan: keras.  Diksi: nonstandar

   MT pulang kerja (melaut) dengan

  keadaan capek, tetapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.

   Penutur merasa kesal karena MT pergi

   MT meminta penutur untuk mengambilkan makan dan minum.  Tujuan: penutur kesal terhadap MT dan

  3. C3

  menyuruh MT untuk mengambil makanan dan minuman sendiri.

   Tindak verbal: direktif.  Tindak perlokusi: MT mengambil sendiri minuman yang dia inginkan.

   Wujud ketidaksantunan:

  orang yang lebih tua (suaminya sendiri).

  tuturannya dengan cara ketus.

  menyuruh MT setelah mendapat suruhan dari MT.

  • Penutur secara langsung menyindir kedua MT.
  • Penutur menyampaikan
  • MT merupakan anak dari penutur.

  • Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.
  • MT menyuruh penutur dengan bahasa yang halus.
  • Penutur menyampaikan

  • Penutur menolak suruhan

  MT dengan suara yang keras.

  5. C5 Cuplikan tuturan 18

  P: “Makan dulu, mainnya nanti lagi!” MT: “Gak mau, nanti aja.” P: “Kalo gak mau makan, kamu gag boleh pergi sama dia (temannya)!”  Intonasi perintah.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada sedang.

   Tekanan: lunak.  Diksi: bahasa populer.

  tahun. MT laki-laki, anak dari penutur, berusia 6 tahun.

   Tuturan ini terjadi di rumah, pada siang hari.  Penutur laki-laki, bapak berusia 32

   MT sedang ingin pergi bermain bersama teman-temannya.  Penutur menyuruh MT untuk makan

  terlebih dahulu, kemudian baru boleh bermain.

   MT menolak suruhan penutur.  Tujuan: penutur mengancam MT karena susah makan.

   Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT melakukan apa

   Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: mengancam.  Wujud ketidaksantunan:

  kata ancaman agar MT menaati perintahnya.

  tuturannya dengan cara keras.

  mengancam penutur untuk segera belajar. melecehkan muka.

   Makna ketidaksantunan: menolak.  Wujud ketidaksantunan:

   Tujuan: penutur menolak ajakan MT untuk segera belajar.  Tindak verbal: komisif.  Tindak perlokusi: MT langsung

  MT

  : “Ayo... belajar.” P : “Emoh!”

  MT:

  “Kalo gak belajar

  gak tak kasih uang

  jajan!”  Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada tinggi.

   Tekanan: keras.  Diksi: nonstandar.

  jam belajar tiba.

   MT menyuruh penutur untuk belajar.  Penutur memang susah bila disuruh untuk belajar.

   Penutur laki-laki, anak berusia 6 tahun.

  MT laki-laki, bapak dari penutur, berusia 32 tahun.

  • Penutur mengeluarkan kata-
  • Penutur menyampaikan

  tuturannya dengan cara kesal.

  • MT merasa takut dengan ancaman penutur.
yang diperintah penutur.

  6. C6 Cuplikan tuturan 19

   Intonasi seru  Tuturan ini terjadi di depan/ halaman  Jenis ketidaksantunan: rumah, pada siang hari. melecehkan muka.  Partikel: lho MT: “Pak, tumbas

   Penutur laki-laki, bapak berusia 32  Makna ketidaksantunan:  Nada tutur: penutur kae?” tahun. MT laki-laki, anak dari MT, memperingatkan.

  berbicara dengan

  nada tinggi pada saat

   Wujud ketidaksantunan: kae enek banyune

  P: “Rasah! Deloken berusia 3 tahun.

  melarang anaknya

   Terdapat penjual jajanan (bakso tusuk)  Penutur memperingatkan abang. Hiii...

  untuk jajan.. berhenti di halaman rumah. MT dengan suara keras,

  Makanan ini buatnya

  padahal MT baru berusia 3

   Tekanan: keras pada  MT meminta penutur untuk bekas cucian orang tahun.

  kata rasah . membelikan jajanan yang lewat di jalan

  nyuci lho dek.” dekat rumahnya.

  • Penutur memberikan

   Diksi: bahasa

  stimulus/ penegasan kepada nonstandar

   Tujuan: penutur menginginkan agar

  MT dengan kata-kata yang MT tidak jajan sembarangan. kurang pantas didengar

   Tindak verbal: representatif anak usia balita.  Tindak perlokusi: MT tidak jadi jajan.

  7. C7 Cuplikan tuturan 20

   Intonasi berita.  Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di  Jenis ketidaksantunan: ruang keluarga, pukul 16.30 WIB, melecehkan muka.  Nada tutur: penutur

   Makna ketidaksantunan:

  MT : “Arep nendi?” tanggal 28 April 2013. berbicara dengan

  P : “Lungo dijak nada sedang. menegaskan.

   Penutur laki-laki, adik berusia 12 tahun.

  Bapa

  k.” MT laki-laki, kakak berusia 23 tahun.

   Tekanan: keras.

   Wujud ketidaksantunan:

  MT

  : “Shalat sek, wes

  • Penutur berbicara dengan

   Diksi: bahasa  Penutur sudah memakai sarung hendak sarungan ngono kok.” nonstandar dan beribadah shalat dzuhur. orang yang lebih tua.

  bahasa slang pada

  • MT menyuruh penutur

  P : “Wes nyendal

   MT sedang tiduran di ruang keluarga motor galho!” (sambil

  dengan baik kata nyendal . sambil menonton televisi.

  berjalan keluar

  • Penutur menyampaikan

   MT menegur penutur yang tadinya ruangan).

  tuturannya dengan cara sudah memakai sarung untuk pergi MT

  : “Haiyo shalat sek! ketus..

  shalat malah melepaskannya kembali

  Nanggung.”

  karena diajak Bapaknya.  Penutur menjawab suruhan

  • Penutur menolak suruhan MT.

  9. C9 Cuplikan tuturan 22

  sudah sore dan MT disuruh oleh ibunya agar membangunkan penutur.

   MT membangunkan penutur sambil menendang-nendang kaki penutur.  Tujuan: penutur menyuruh pergi MT karena telah mengganggu tidurnya.  Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT pergi.

   Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: mengusir.  Wujud ketidaksantunan:

  dengan suara keras dan kata-kata kasar.

  tuturannya dengan cara keras.

  kemudian MT pergi begitu saja.

  P: “Arep maem ra mbah?” MT: “Yo keno.” P: “Yo jupuk dewe mbah, manja!”  Intonasi perintah.

  tahun. MT laki-laki, adik berusia 12 tahun.

   Partikel: yo.  Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada sedang.

   Tekanan: lunak.  Diksi: bahasa

  nonstandar

   Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di meja makan pada jam makan malam.  Penutur laki-laki, cucu berusia 12

  tahun. MT perempuan, nenek berusia 70-80 tahun.

   Penutur sedang ingin mengambil makan malam.  MT sedang menonton televisi.

   Penutur sedang tidur di ruang keluarga.  MT membangunkan penutur karena

   Penutur laki-laki, kakak berusia 23

  di ruang keluarga pada sore hari sekitar jam 3 sore, tanggal 28 April 2013.

   Tujuan: penutur memberitahu kepada MT bahwa motornya sudah hidup.  Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT diam saja karena adiknya susah dinasihati.pergi.

  MT dengan ketus dan sambil berlalu meninggalkan MT.

  8. C8 Cuplikan tuturan 21 MT

  : “Tangi-tangi... wes jam telu!” (menendang-

  nendang kaki kakaknya yang sedang tidur).

  • Penutur mengusir MT

  P : “Aaassss... minggat kono!” (melanjutkan tidurnya).

  MT : “Yowes... damuk

  kapok mengko.”  Intonasi perintah.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada tinggi.

   Tekanan: keras.  Diksi: bahasa

  nonstandar

   Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di

  • MT memiliki niat baik kepada penutur.
  • Penutur menyampaikan
  • merasa penutur marah

   Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: memerintah.  Wujud ketidaksantunan:

  • Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.
  • Sebelumnya penutur
    • Penutur menyampaikan

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa

      tuturannya dengan cara keras.

      dengan tindakan yang dilakukan MT (hanya menyisakan sedikit pakan ikan).

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menegur.  Wujud ketidaksantunan:

       MT memberikan sisa makanan ikan tersebut kepada penutur.  Tujuan: penutur bertanya kepada MT.  Tindak verbal: ekspresi.  Tindak perlokusi: MT langsung

       MT melaksanakan suruhan penutur.  MT hanya menyisakan sedikit pakan ikannya.

      menyisakan separuh pakan ikan yang diberikan.

       Penutur menyuruh MT untuk

      makan ikan di kolam yang berada di samping rumah.

       Penutur menyuruh MT untuk memberi

      80 tahun dan MT laki-laki, cucu dari penutur, berusia 12 tahun.

       Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di dapur pada pagi hari sekitar jam 8.  Penutur perempuan, nenek berusia 70-

      nonstandar dan bahasa slang pada kata emprit .

      berbicara dengan nada tinggi.

       Partikel: kok.  Nada tutur: penutur

    • Penutur kurang terima

      sakmono!”  Intonasi tanya.

      kok arep dipakani

      MT: “Iwak sakmono

      P: “Kok mung diturahi sak emprit?” (nada tinggi).

      10. C10 Cuplikan tuturan 23

      tuturannya dengan cara sinis.

      menawarkan ingin mengambilkan makan untuk MT, tetapi penutur berbalik menyuruh dan mengejek MT.

       Tindak verbal: direktif.  Tindak perlokusi: MT diam saja.

      mengambil sendiri makanannya, padahal sebelumnya penutur menawarkan kepada MT..

       Penutur menawarkan kepada MT untuk diambilkan makan sekalian atau tidak.  MT menyetujui tawaran penutur untuk diambilkan makan malam.  Tujuan: penutur menyuruh MT untuk

    • Penutur menyampaikan
    • Penutur berbicara dengan

      suara yang keras padahal MT tidak berada jauh dari penutur.

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menagih.  Wujud ketidaksantunan:

    • penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.
    • Penutur menyampaikan

      dengan seseorang yang berada di TV.

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: mengejek.  Wujud ketidaksantunan:

       Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT memperingatkan penutur.

      (menyamakan MT dengan apa yang dilihat penutur dalam TV) .

       Tuturan terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga.  Penutur perempuan, anak. MT laki-laki, bapak dari MT.  Penutur dan MT sedang menonton televisi di ruang keluarga.  Tujuan: penutur mengejek MT

      nonstandar

       Tekanan: lunak.  Diksi: bahasa

      berbicara dengan ada sedang.

       Intonasi berita.  Nada tutur: penutur

      P: “Jenggote koyo kowe, Pak.” MT: “Kok, kowa-kowe to, ora pantes.”

      12. C12 Cuplikan tuturan 25

      tuturannya dengan cara sinis.

       Penutur menagih janji MT.  Tujuan: menagih janji mitra tutur.  Tindak verbal: komisif.  Tindak perlokusi: MT menanggapi pertanyaan MT.

      penutur akan membelikan sesuatu bila sudah mempunyai uang.

       MT pernah membuat janji dengan

      tahun. MT laki-laki, bapak dari penutur, berusia 43 tahun.

       Tuturan terjadi di rumah pukul 09.00 WIB, tanggal 5 Mei 2013.  Penutur laki-laki, anak, berusia 15

      populer dan bahasa slang cair .

       Tekanan: lunak.  Diksi: bahasa

      berbicara dengan nada sedang (sinis).

       Nada tutur: penutur

      P: “Pak, udah cair belum?” MT: “Belum.”  Intonasi tanya.

      11. C11 Cuplikan tuturan 24

      menjawab pertanyaan MT.

    • Penutur tidak melihat/ tahu kondisi keuangan MT.
    • Penutur menagih janji kepada MT.
    • penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.
    • Penutur menyamakan MT
    • Penutur menyampaikan

      tuturannya dengan cara bercanda.

    • Penutur menggunakan kata “kowe” kepada orang yang
    • Penutur menyindir masakan MT.
    • Penutur menyampaikan

    • Sindiran penutur

      14. C14 Cuplikan tuturan 27

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menegaskan.  Wujud ketidaksantunan:

       Tindak verbal: ekspresif.

      karena dibelikan mainan baru dan penutur ingin dibelikan juga.

       Tuturan ini terjadi di rumah, siang hari saat kakak pulang sekolah.  Penutur laki-laki, anak. MT perempuan, ibu dari penutur.  Kakak melihat adiknya mempunyai mainan baru.  Kakak merasa iri karena adiknya dibelikan mainan dan dia tidak.  Tujuan: penutur merasa iri dengan MT

      nonstandar

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa

      berbicara dengan nada sedang.

       Intonasi tanya.  Partikel: kok.  Nada tutur: penutur

      ono duwite.” P: “Emoh!” MT: “Yo sesuk to le.” P: “Tenan lo, Bu.”

      adimu sek wae, durung

      P: “Adik kok ditukokke dolanan, aku ra ditukokke?” MT: “Jileh nggone

      menggunakan kata-kata yang halus, tetapi membuat MT tersinggung.

      tuturannya dengan cara sinis.

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyindir.  Wujud ketidaksantunan:

       Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT menanggapi sindiran penutur dengan bertanya.

      MT dan menyindir masakan MT, kemudian penutur menyuruh M T untuk mencicipi masakannya.

       Penutur laki-laki, suami. MT perempuan, istri dari penutur.  Penutur sedang makan di meja makan.  MT sedang melakukan sesuatu, tetapi jarak mereka tidak begitu jauh.  Masakan MT kurang berkenan (keasinan/ kurang asin) bagi penutur.  Tujuan: penutur menanggapi masakan

      nonstandar  Penutur makan di meja makan.

       Tekanan: lunak pada kata Bu .  Diksi: bahasa

      berbicara dengan nada sedang.

       Intonasi perintah.  Partikel: kok.  Nada tutur: penutur

      Cuplikan tuturan 26 P: “Bu, kok masakane enak temen. Cubo njenengan c icipi.” MT: “Kenging nopo, Pak? Kasinen nopo?”

      13. C13

      lebih tua (bapak dari penutur).

    • Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.
    • Penutur tidak mau kalah dengan adiknya.
    • Penutur menyampaikan

      tuturannya dengan cara kesal.

    • Penutur merasa MT tidak adil.

    • Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.
    • Penutur menolak suruhan MT dengan nada tinggi.
    • Penutur menyampaikan

    • Penutur sedang santai dan hanya menonton TV.
    • Penutur membuat pilihan yang memojokkan MT.
    • Penutur menyampaikan
    • Secara tidak langsung

      16. C16 Cuplikan tuturan 29

      P: “Kalo memang niatnya masih mau sekolah, Bapak masih ingin ngragati. Kalo emang maunya nikah, bilang aja pengen nikah. Bapak nikahke.” MT: “Lho kok ngono, Pak!”

       Intonasi berita.  Nada tutur: penutur

      berbicara dengan nada sedang.

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa

      nonstandar (campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa).

      perempuan berusia 16 tahun, anak dari penutur.

       Tuturan ini terjadi saat di rumah dan pada saat situasi santai.  Penutur laki-laki, bapak. MT

       Penutur menasihati MT menganai

      hubungannya dengan lawan jenis (pacaran).

       MT merasa dirinya salah dan sedang terpojok.  Tujuan: penutur memarahi MT dan

      menasihati MT mengenai pendidikan

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menasihati.  Wujud ketidaksantunan:

      tuturannya dengan cara kesal.

      tuturannya dengan cara ketus.

       Tindak verbal: komisif.  Tindak perlokusi: penutur memaklumi keadaan MT.

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menolak.  Wujud ketidaksantunan:

      umbah?” P : “Gemang, jeg sayah! ”  Intonasi seru.

       Tindak perlokusi: MT menjawab atau menanggapi pertanyaan penutur.

      15. C15

      Cuplikan tuturan 28

      MT

      : “Mbog tulung kae

      nek mamak agek repot diewangi umbah-

       Nada tutur: penutur

      untuk membantu ibunya yang sedang repot karena MT sedang capek/ letih.

      berbicara dengan nada tinggi.

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa

      nonstandar

       Tuturan ini terjadi di rumah saat penutur pulang sekolah.  Penutur perempuan, anak. MT laki-laki, bapak dari penutur.  MT melihat penutur sedang santai menonton televisi.  MT melihat istrinya sedang sibuk dan

      repot sehingga menyuruh penutur untuk membantu.

       Tujuan: MT menolak suruhan penutur

      penutur telah menuduh MT

    • Penutur berbicara
    • Penutur berbicara kepada istrinya sendiri.
    • Penutur menyampaikan
    • Penutur dalam keadaan marah.
    • Penutur berbicara dengan keponakannya.
    • Penutur menyampaikan

       Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT diam saja karena

      kerjaannya hanya bermain, tidak tidur siang.

       Tuturan terjadi di rumah pada malam hari, saat jam belajar.  Penutur laki-laki, paman. MT laki-laki, keponakan dari penutur.  Sebelumnya, pada siang hari MT

      kata makanya dan frasa maen terus

       Tekanan: keras pada

      berbicara dengan nada sedang.

       Intonasi berita.  Nada tutur: penutur

      P: “Makanya kalo siang itu maen terus seharian.” MT: (diam).

      18. C18 Cuplikan tuturan 31

      tuturannya dengan cara keras.

      menggunakan kata-kata kasar.

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menegur.  Wujud ketidaksantunan:

      MT merupakan orang yang sabar menghadapi penutur dan MT langsung berusaha menenangkan anaknya yang masih bayi.

      tidak tanggap dengan keadaan anaknya yang menangis.

      atau pacaran.

       Penutur melihat anaknya yang belum genap berusia 1 tahun rewel/ menangis.  MT hanya diam saja, padahal ia tahu bahwa anaknya sedang menangis.  Penutur marah melihat MT tidak melakukan tindakan terhadap anaknya.  Tujuan: penutur memarahi MT karena

       Tuturan ini terjadi di rumah.  Penutur laki-laki, suami. MT perempuan, istri dari penutur.

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa nonstandar.

      berbicara dengan nada tinggi.

       Nada tutur: penutur

      meneng wae!”  Intonasi seru.

      andinge yo mung

      P: “Anake nangis neng

      P: “Mripatmu ki ndokke sikel?” MT: (Diam).

      17. C17 Cuplikan tuturan 30

      lebih mementingkan pacaran daripada sekolah.

       Tindak verbal: direktif.  Tindak perlokusi: MT menanggapi nasihat dari penutur dengan sangkalan.

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyindir.  Wujud ketidaksantunan:

    • Penutur kesal kepada

    • Penutur berbicara dengan suaminya.
    • Penutur berbicara dengan
    • Penutur menyampaikan
    • Penutur menanggapi tuturan

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.

      sekitar jam 4 sore, pada tanggal 20

       Nada tutur: penutur  Tuturan ini terjadi di teras rumah

      MT dengan tidak memperhatikan MT.

      tuturannya dengan cara kesal.

      nada tinggi dan dalam keadaan kesal.

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menegaskan.  Wujud ketidaksantunan:

       Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT menanggapi tuturan penutur.

      bahwa tempatnya tidak memungkinkan kemudian menjanjikan untuk dilakukan besok (tapi entah kapan).

       Tuturan terjadi di halaman rumah, pada sore hari.  Penutur perempuan, istri. MT laki-laki, suami dari penutur.  Di samping rumah terdapat rumah kayu.  Penutur sedang merapikan kayu bakar.  MT sedang duduk-duduk santai di depan rumah.  MT mengkomentari tatanan kayu yang sedang dilakukan penutur.  Tujuan: penutur memberitahu MT

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa nonstandar.

      berbicara dengan nada tinggi.

      ” P: “Karang nggone yo koyo ngene, rakyo sesok. ”  Intonasi berita.

       Partikel: yo.  Nada tutur: penutur

      Nanti kalo ada tamu, nanti kalo ada orang lewat, wong omah yo neng pinggir dalan.

      “Mbog le noto kayu ora teng jlempah.

      19. C19 Cuplikan tuturan 32 MT:

      keponakannya karena tidak belajar.

      tuturannya dengan cara kesal.

       Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT lalu diam atas tuturan penutur tersebut.

      tidak belajar melainkan tidur karena kecapekan seharian bermain.

       Tujuan: penutur menyindir MT yang

      membuat penutur kesal karena MT tidak belajar melainkan tidur.

       Keadaan MT mengantuk sehingga

       Diksi: bahasa populer.

      seharian .

    20. C20 Cuplikan tuturan 33  Intonasi seru.

    • Penutur berbicara dengan tuan rumah.
    • Penutur berbicara pada saat
    • Penutur menyampaikan

       Tuturan ini terjadi di teras rumah

      MT:

      “Ealah, iki mau yo wes tak omongke.

      ”  Intonasi tanya.

       Nada tutur: penutur

      berbicara dengan nada tinggi.

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa nonstandar.

      sekitar jam setengah 5 sore, pada tanggal 20 April 2013.

      Aku tak mlaku-mlaku.

       Penutur laki-laki, tuan rumah berusia

      42 tahun. MT laki-laki, tamu berusia 41 tahun.

       MT adalah tamu.  MT ingin berpamitan.  Tujuan: penutur bertanya kepada MT,

      padahal sebelumnnya MT sudah memberitahu tujuannya selanjutnya.

       Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT menanggapi

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menegur.  Wujud ketidaksantunan:

      tuturannya dengan cara ketus.

      ” P: “Koe arep nendi?”

      “Monggo le pengandikan ditutukke.

      bahwa MT berpamitan dan tetap menanyainya.

      tahun. MT laki-laki, tuan rumah berusia 42 tahun.

      MT: “Sesok nek ono

      seng neng kono meneh,

      aku tak nang...” P: “Sesok, nek ngomongke sesok, ndag lali !”

      berbicara dengan nada tinggi.

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa nonstandar.

      April 2013.

       Penutur laki-laki, tamu berusia 41

       MT menerima 3 tamu yang mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda-beda.  MT sedang berbicara atau

      21. C21 Cuplikan tuturan 34 MT:

      menyampaikan sesuatu kepada salah satu tamunya (penutur).

       Penutur langsung menanggapi tuturan

      MT, padahal MT belum selesai berbicara.

       Tujuan: penutur menanggapi tuturan MT.  Tindak verbal: direktif.  Tindak perlokusi: MT diam saja.

       Makna ketidaksantunan: memperingatkan.  Wujud ketidaksantunan:

      MT belum menyelesaikan tuturannya.

      tuturannya dengan cara ketus.

    • Penutur berbicara dengan tamunya.
    • Penutur menyampaikan
    • Penutur sudah mengetahui

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyindir.  Cara penyampaian: kesal.  Wujud ketidaksantunan:

       Penutur laki-laki, tuan rumah berusia

      42 tahun. MT laki-laki, tamu berusia 41 tahun.

       MT adalah tamu, sedangkan penutur

    • Penutur berbicara dengan tamunya.
    • Penutur menyampaikan

      adalah tuan rumah dan di situ masih terdapat 2 orang tamu lainnya.

       MT sudah berpamitan.  Penutur menghambat MT dengan bertanya.

       Tujuan: penutur bertanya kepada MT

      mengenai kebenaran nomor handphone MT yang diberikan kepada penutur dan penutur mengeluh dengan sikap MT yang bila disms tidak membalas dan ditelepon tidak diangkat.

       Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT langsung

      menanggapi tuturan penutur dengan pertanyaan.

      tuturannya dengan cara kesal.

       Tuturan ini terjadi di teras rumah

      sudah berada di halaman rumah tetapi penutur menghambatnya dengan tuturan tersebut.

      dengan nomor HP yang MT berikan.

      23. C23

      Cuplikan tuturan 36 P: “Pergantian pengurus disms raono balesi, yowes tinggal  Intonasi berita.

       Nada tutur: penutur

      berbicara dengan nada sedang.

       Tekanan: keras pada  Tuturan ini terjadi di teras rumah

      sekitar jam setengah 5 sore, pada tanggal 20 April 2013.

       Penutur laki-laki, tuan rumah berusia

      42 tahun. MT laki-laki, tamu berusia 41

      sekitar jam setengah 5 sore, pada tanggal 20 April 2013.

      nonstandar

       Diksi: bahasa

      tuturan penutur dengan jawaban kesal.

      22. C22

      Cuplikan tuturan 35 P:Iki le ngenei no hp kie tenan po etok- etokan? Nek dibel ra nyaut blas, disms ra ono balesi blas .”

      MT : “Mburi dewe piro? Enem belas?

      ”

      P:

      “Payah tenan koe

      kie!

      ”

    • MT sudah berpamitan dan

      MT:

      “lha rak kelep to?”

      P:

      “seng keri, lemu

      ngenei seng keri!

      ”

      MT: ” yo ijek yo, aku ra tau ganti-ganti! Nek janji siji ra kelep.

      ”  Intonasi tanya  Nada tutur: penutur

      berbicara dengan nada sedang.

       Tekanan: keras pada

      frasa ra nyaut blas dan balesi blas .

    • Penutur tidak percaya

       Jenis ketidaksantunan: melecehkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyindir.  Wujud ketidaksantunan: frasa tahun.

      bali acarane pergantian

    • Penutur berbicara dengan

      pengurus dan tamunya. rampung! ”

       MT adalah tamu, sedangkan penutur acarane rampung .

      adalah tuan rumah dan di situ masih

    • Penutur menyampaikan

      MT:

      “Lha iki panggilan

      tuturannya dengan cara terdapat 2 orang tamu lainnya.

       Diksi: bahasa

      ra terjawab wae ra nonstandar kesal.

       Awalnya penutur bertanya mengenai krungu. ”

      kepastian nomor handphone MT.  Penutur merasa kesal P: “Podo aku.” dengan MT.

      Hp nya tenggelam,  MT beralasan bahwa

      tetapi nomornya tetap menggunakan nomor yang dahulu..

       Penutur masih tetap kesal.  Tujuan: penutur mengeluhkan sikap

      MT yang bila disms tidak membalas, padahal sedang diadakan rapat pergantian kepengurusan anggota nelayan.

       Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT beralasan bahwa

      sering tidak tahu bila ada telepon masuk.

      24. C24 Cuplikan tuturan 37

       Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi di teras rumah  Jenis ketidaksantunan: sekitar jam setengah 5 sore, pada melecehkan muka.  Partikel: yo.

       Makna ketidaksantunan:  Nada tutur: penutur menegaskan.

      MT : “Takon seng wes tanggal 20 April 2013.

      pengalaman wae. Piro berbicara dengan

       Penutur laki-laki, tamu berusia 35

      tahun. MT laki-laki, tuan rumah berusia nada sedang. pak Sujad? ”

       Wujud ketidaksantunan: 42 tahun.

    • Penutur berbicara dengan  Tekanan: keras.

      P: “Yo embuh!” tuan rumah.

       Dalam situasi ini penutur dan MT  Diksi: bahasa

      MT :

      “Kok embuh,

      sedang membahas biaya perbaikan nonstandar.

    • Penutur menjawab

      digenahke iki!

      ”

      kapal yang sayapnya patah karena pertanyaan MT dengan diterjang ombak. spontan.

    • Penutur menyampaikan

       MT menanyakan anggarannya kepada

      tuturannya dengan cara penutur. ketus.

       MT menganggap penutur lebih

      berpengalaman.  MT yakin bahwa penutur mengerahui apa yang

       Tujuan: penutur menjawab pertanyaan ditanyakan MT.

      MT.

       Tindak verbal: representatif.

     Tindak perlokusi: MT menanggapi

    tuturan penutur dengan kesal.

    KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KATEGORI MENGHILANGKAN MUKA

       Penutur perempuan, istri. MT laki-laki, suami dari MT.  Penutur sedang bercengkrama dengan tetangganya di depan rumah.  Tujuan: penutur memberitahu MT

       Jenis ketidaksantunan: Menghilangkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyindir.  Wujud ketidaksantunan:

      NO. KODE TUTURAN PENANDA KETIDAKSANTUNAN PRESEPSI KETIDAKSANTUNAN LINGUAL NONLINGUAL (Topik dan Situasi)

      1. D1

      Cuplikan tuturan 38 MT: “Wes masak durung, Bu?” P: “Mboten masak, wong wingi dimasakke yo mboten kepangan kok!”  Intonasi berita.

       Nada tutur: penutur

      berbicara dengan nada sedang.

       Tekanan: lunak.  Partikel: kok dan yo.  Diksi: bahasa nonstandar.

       Tuturan ini terjadi di rumah saat MT

      pulang bekerja dan merasa lapar, kemudian MT bertanya kepada penutur sudah masak atau belum.

    • Penutur berbicara dengan suaminya.
    • Penutur menyindir MT di depan tetangganya.
    • Penutur menyampaikan

      bahwa ia tidak memasak dan menyindir MT.

       Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT merasa malu

      tuturannya dengan cara sinis.

    • Walaupun nada tutur yang

      digunakan penutur halus tetapi membuat MT malu.

      2. D2 Cuplikan tuturan 39

      P: “Nih kamu gak naik kelas! Gak malu apa sama yang lain? Besok lagi yang rajin belajarnya agar naik  Intonasi seru.

       Nada tutur: MT

      berbicara dengan nada sedang.

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa  Tuturan terjadi di halaman rumah.

       Penutur laki-laki, bapak. MT laki-laki, anak dari penutur.  Penutur pulang dari sekolah mengambil raport anaknya.  Tuturan ini terjadi saat penutur, MT,

       Jenis ketidaksantunan: Menghilangkan muka.

       Makna ketidaksantunan: memperingatkan.

       Wujud ketidaksantunan:

      karena terdapat orang lain yang mendengarnya, kemudian MT menanggapi penutur.

    • Penutur berbicara dengan MT di depan orang lain.
    • Penutur menakut-nakuti MT bila tidak naik kelas lagi.

    • Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara halus.
    • MT merasa kehilangan muka karena dipermalukan di depan orang lain.

    • Penutur membandingkan MT dengan adik MT.
    • Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara kesal.
    • Penutur membandingkan MT di depan orang lain.
    • MT merasa dirinya kehilangan muka akibat tuturan dari penutur.

       Intonasi berita.  Tuturan ini terjadi pada saat kumpulan

      4. D4 Cuplikan tuturan 41

       Wujud ketidaksantunan:

       Makna ketidaksantunan: menyindir.

       Jenis ketidaksantunan: Menghilangkan muka.

       Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT menanggapi tuturan penutur dengan sanggahan.

      tidak mau membantu bapaknya bekerja, penutur mambandingkan MT dengan orang ketiga yang rajin membantu orang tua.

       Penutur membandingkan MT dengan orang ketiga dihadapan orang ketiga.  Tujuan: penutur menyindir MT karena

      akan pergi bekerja karena pada saat itu merupakan hari libur.

       MT sedang tiduran dan menonton televisi.  Penutur dan orang ketiga (adik MT)

       Tuturan terjadi di rumah.  Penutur laki-laki, bapak. MT laki-laki, anak berusia 21 tahun.

      nonstandar (bahasa Jawa).

       Tekanan: lunak.  Diksi: bahasa

      berbicara dengan nada sedang.

       Kata fatis: lho, kok.  Nada tutur: penutur

      mesti pengen.”  Intonasi berita.

      tritikan ngene-ngene

      Cuplikan tuturan 40 P: “Koyo adimu kae lho iso ngopo-ngopo, koe kok tura-turu wae.” MT: “Joni kae rak

      3. D3

      hanya diam saja sambil menundukkan kepala.

       Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT merasa malu dan

      yang tidak naik kelas di hadapan orang ketiga (ibunya).

       Tuturan ini terjadi di rumah.  Tujuan: penutur menasihati anaknya

      nonstandar (bahasa Jawa dan bahasa tidak baku). dan orang ketiga sedang bercakap- cakap membahas nilai MT.

      kelas. Kalo gak naik kelas lagi mesti kamu mung diisin-isin karo konco- koncomu.”

       Jenis ketidaksantunan: nelayan yang dihadiri oleh nelayan- Menghilangkan muka.

       Nada tutur: penutur

      nelayan pantai congot. Makna ketidaksantunan:

      MT: “ Habis

       berbicara dengan nada kumpulan dari menyindir. tinggi.

       Penutur laki-laki, nelayan. MT laki-

       kabupaten, ini monggo Wujud ketidaksantunan: laki, ketua nelayan salah satu pantai di

       Tekanan: keras. dicakke.”

    • Kulonprogo. Penutur berbicara dengan

       Diksi: bahasa

      ketua nelayan salah satu

      P: “Wah, opo-opo

      nonstandar (bahasa

       MT sedang mengumumkan hasil rapat dinas... opo-opo pantai di KP.

      dari Kabupaten mengenai perintah Jawa).

      Penutur kesal kepada MT

      dinas...”  kerja/ pelatihan kerja.

      yang selalu patuh kepada

       Penutur merasa bahwa MT selalu patuh dinas.

      terhadap dinas

    • Penutur menyampaikan

       Tujuan: penutur menyindir MT yang

      tuturannya dengan cara selalu taat/ patuh kepada dinas. keras.

       . Tindak verbal: ekspresif.

    • Penutur berbicara dengan

       Tindak perlokusi: MT langsung

      nada keras kepada MT di menanggapi penutur, walaupun begitu hadapan nelayan-nelayan

      MT merasa dirinya dipermalukan di lainnya. depan rekan-rekan nelayan.

    • MT merasa tidak dihargai dan kehilangan muka oleh tuturan dari penutur

       5. D5 Cuplikan tuturan 42 Jenis ketidaksantunan:  Intonasi berita.  Tuturan ini terjadi di rumah.

      Menghilangkan muka.

       Partikel: ya.  Penutur laki-laki, paman. MT laki-laki,

      Makna ketidaksantunan: keponakan dari penutur.

       P: ”Makanya kalo

       Nada tutur: penutur menegur. kamu itu mau

      berbicara dengan nada

       MT mendapat nilai jelek, hal ini

      Wujud ketidaksantunan: tinggi. berbanding terbalik dengan keponakan

       belajar ya belajar,

      Penutur berbicara menegur penutur.

    • gag belajar cuman

       Tekanan: keras.

      MT di hadapan orang lain.

      maen.”  MT merupakan keponakan istri yang  Diksi: bahasa populer.

    • Penutur mengomentari nilai tinggal bersama penutur.

      buruk yang didapat

       Dalam situasi ini terdapat orang ketiga

      keponakan istrinya dengan yakni, istri dan keponakan penutur.

    • Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara kesal.
    • Penutur kecewa terhadap MT.
    • MT merasa dirinya kehilangan muka karena tuturan tersebut disampaikan di depan orang lain.

    • Penutur berbicara dengan
    • Penutur berbicara dengan MT di hadapan tamu lain.
    • Penutur menyampaikan
    • MT merasa kehilangan

      tuturannya dengan cara sinis.

      tuan rumah sekaligus ketua nelayan pantai setempat.

       Jenis ketidaksantunan: Menghilangkan muka.  Makna ketidaksantunan: mengejek.  Wujud ketidaksantunan:

       MT menjawab pertanyaan tersebut (belum tahu aku).  Tujuan: penutur mengejek MT yang

      MT mengenai anggaran perbaikan sayap kapal, tetapi pertanyaan tersebut bernadakan hanya menguji pengetahuan MT.

       Sebelumnya penutur bertanya kepada

      sedang membahas biaya perbaikan kapal yang sayapnya patah karena diterjang ombak.

       Dalam situasi ini penutur dan MT

      tahun. MT laki-laki, tuan rumah sekaligus ketua nelayan berusia 42 tahun.

       Penutur laki-laki, tamu berusia 41

      sekitar jam setengah 5 sore, pada tanggal 20 April 2013.

       Tuturan ini terjadi di teras rumah

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa

      nonstandar (bahasa Jawa).

      berbicara dengan nada sedang.

       Kata fatis: kok.  Nada tutur: penutur

      P: “Halah... Nelayan seprono-seprene gaweane kok muni ra ngerti! ”  Intonasi seru.

      MT: ”Rung ngerti aku. ”

      ”

      Solusino piro anggarane sayap? Ngertimu piro?

      “Gampang nek mung kur ngono.

      6. D6 Cuplikan tuturan 43 P:

      kesal.

       Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT hanya diam saja.

      mendapat nilai jelek, secara tersirat penutur juga menyindir dan membandingkan MT dengan keponakannya yang mendapatkan nilai baik.

       Tujuan: penutur menasihati MT yang

      muka dengan tuturan tersebut sehingga mengalihkan pertanyaan kepada orang lain. tahun. MT laki-laki, tamu berusia 23 tahun.

      sekitar jam setengah 5 sore, pada tanggal 20 April 2013.

      berbicara dengan nada sedang.

       Tekanan: lunak.  Diksi: bahasa

    • Penutur berbicara dengan

      nonstandar (bahasa Jawa).

       Tuturan ini terjadi di teras rumah

      tamu yang baru ia kenal pada saat itu.

       Jenis ketidaksantunan: Menghilangkan muka.  Makna ketidaksantunan: mengejek.  Wujud ketidaksantunan:

       Nada tutur: penutur

       Penutur sudah berpamitan ingin pulang.  Penutur berada di halaman rumah dan berada di smaping motornya.

       Penutur laki-laki, tamu berusia 41

    • Penutur menyampaikan

      tuturannya dengan cara bercanda.

    • Penutur berbicara di

      hadapan tuan rumah dan tamu lain, tuturan penutur bermaksud untuk mengejek MT.

       Di samping motor penutur terdapat motor MT.  Penutur mengomentari tulisan atau stiker yang ada di motor MT.  MT berada di teras rumah beserta 2 orang lainnya.  Tujuan: penutur mengomentari tulisan yang ada di motor MT.  Tindak verbal: direktif.  Tindak perlokusi: MT hanya tersenyum karena malu.

    • MT merasa kehilangan

      “iya...aaa...

      ”  Intonasi perintah.

      iya...aaa...

      MT2: (sambil menyela)

      ”

      sugeh, ojo dumeh koe kie waras, wong sak lapangan sewengi ra rampung-rampung nek ojo dumeh, ojo dumeh koe ki ayu, aku yo iso.

      “Ojo dumeh koe kie

      P:

      “Diwarai mas.”

      MT2:

      P: “Tak inggoni pitmu motor mas, koe nek nulisi ora ngono kae! Tulisi ojo dumeh. ..”

      7. D7 Cuplikan tuturan 44

      pertanyaan tersebut kepada tamunya yang lain yang merupakan seorang nelayan berpengalaman juga.

       Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT menimpali

      sudah menjadi nelayan senior tetapi tidak tahu berapa anggaran sayap kapal.

      muka sehingga ia hanya diam saja dan sedikit tersenyum.

    • Penutur berbicara dengan

      tamu yang baru ia kenal pada saat itu.

    • Penutur berbicara di
    • Penutur menyampaikan

      hadapan tuan rumah dan tamu lain.

      tuturannya dengan cara bercanda.

      muka sehingga ia hanya sedikit tersenyum.

      9. D9 Cuplikan tuturan 46

      P: “Ayo neng pasar,

      tukokke mobil-

      mobilan.” MT: “Sesok yo le.” P: “Wah bapak kie pelit, ngene-ngene ra oleh!” MT: “Bapak durung due duit le.”

       Intonasi seru.  Nada tutur: penutur

      berbicara dengan nada sedang.

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa

      nonstandar (bahasa Jawa).

       Tuturan ini terjadi di rumah.  Penutur laki-laki, anak berusia 6 tahun.

      MT laki-laki, bapak dari penutur berusia 33 tahun.

       Awalnya penutur bermain bersama teman-temannya.  Penutur meminta mainan seperti milik temannya kepada MT.  MT menolak karena uangnya dipakai

      untuk hal yang lebih penting terlebih dahulu dan MT memberi penawaran

       Jenis ketidaksantunan: Menghilangkan muka.  Makna ketidaksantunan: menyinggung.  Cara penyampaian: kesal.  Wujud ketidaksantunan:

       Jenis ketidaksantunan: Menghilangkan muka.  Makna ketidaksantunan: mengejek.  Wujud ketidaksantunan:

      tadi hanya diam saja karena motornya dikomentari oleh penutur.

       Tindak verbal: eksprsif.  Tindak perlokusi: MT hanya tersenyum karena malu.

       Tujuan: penutur mengejek MT yang

      8. D8

      Cuplikan tuturan 45

      P:

      “Monggo mas?”

      MT:

      “Nggeh Pak.” P: “Nyuwun ngapunten nggeh, ha kok njenengan meneng wae. ”  Intonasi berita.

       Partikel: kok.  Nada tutur: penutur

      berbicara dengan nada sedang.

       Tekanan: lunak.  Diksi: bahasa

      nonstandar (bahasa Jawa).

       Tuturan ini terjadi di teras rumah

      sekitar jam setengah 5 sore, pada tanggal 20 April 2013.

       Penutur laki-laki, tamu berusia 41

      tahun. MT laki-laki, tamu berusia 23 tahun.

       Sebelumnya penutur berpamitan dan MT meanggapi tuturan penuutur.  Penutur berada di halaman rumah,

      sedangkan MT berada di teras rumah bersama 2 orang lainnya.

    • Tuturan penutur bermaksud untuk mengejek M.
    • MT merasa kehilangan
    • penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.
    • Penutur berbicara kepada

      MT dihadapan teman-teman penutur. kepada penutur untuk lebih sabar, pasti besok akan dibelikan.

    • Penutur menyampaikan

      

     Tujuan: penutur menuduh MT pelit

    karena tidak dibelikan mainan.  Tindak verbal: ekspresif.

     Tindak perlukosi: MT menanggapi

    • Penutur menuduh MT pelit.
    • MT merasa kehilangan

      tuturan penutur dengan malu dan mengakui kalau penutur belum mempunyai uang.

      tuturannya dengan cara kesal.

      muka karena tuturan tersebut disampaikan di depan orang lain (teman- teman penutur).

    KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KATEGORI MENIMBULKAN KONFLIK

      sedang bercakap-cakap dan disampaikan secara ngelantur.

      NO. KODE TUTURAN PENANDA KETIDAKSANTUNAN PRESEPSI KETIDAKSANTUNAN LINGUAL NONLINGUAL (Topik dan Situasi)

      1. E1

      Cuplikan tuturan 47 MT: “Haduh, Bu.

      Dino iki ra oleh opo-

      opo, Bu.” P: “Itu kan tanggungjawab suami.” MT: “Wolha kurang ajar.”

       Intonasi berita.  Kata fatis: kan.  Nada tutur: penutur

      berbicara dengan nada sedang.

       Jenis ketidaksantunan: Menimbulkan konflik.  Makna ketidaksantunan: menyinggung.  Wujud ketidaksantunan:

       Tuturan ini terjadi di rumah.  Penutur perempuan, istri. MT laki-laki, suami dari penuutur, berusia 43 tahun.

       Tuturan ini terjadi saat penutur dan MT

    • penutur berbicara dengan suaminya.
    • Penutur berbicara tanpa

       Penutur tidak memperhatikan keadaan MT saat menyampaikan tuturannya.  MT sedang dalam keadaan letih sepulang dari bekerja.  Tujuan: penutur memberitahu MT

    • Penutur berbicara dengan cara ketus.
    • MT menanggapi tuturan

       Nada tutur: penutur

       Makna ketidaksantunan: mengumpat.

       Jenis ketidaksantunan: Menimbulkan konflik.

      tahun. MT perempuan, istri dari

       Penutur laki-laki, suami berusia 43

      berbicara dengan nada  Tuturan terjadi di halaman rumah.

      MT: “Itu kan

      tanggungjawab  Intonasi seru.

      bahwa mencari nafkah merupakan tanggung jawab MT.

      2. E2 Cuplikan tuturan 48

      penutur dengan kata-kata kasar sehingga menimbulkan konflik.

      berpikir (ngelantur/ ceplas- ceplos).

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa populer.

      dengan tuturan penutur, sehingga MT menanggapi tuturan penutur dengan kata-kata kasar.

       Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT tidak terima

    • penutur berbicara kasar kepada istrinya.
    • penutur berbicara tanpa berpikir (ceplas-ceplos).
    • Penutur menyampaikan tuturannya dengan keras.
    • MT merasa tidak terima dengan tuturan penutur sehingga MT memberi peringatan kepada penutur.

      yo koyo ngene, rakyo

       Makna ketidaksantunan: menegur.

       Jenis ketidaksantunan: Menimbulkan konflik.

       Tuturan terjadi di halaman rumah.  Tujuan: penutur menyindir sekaligus

      merapikan kayu dan penutur sedang duduk-duduk di depan rumah.

       Tuturan terjadi pada saat MT sedang

      tatanan kayunya, karena rumah kayunya berada di samping rumah, sekaligus di pinggir jalan.

       Tuturan terjadi di halaman rumah pada sore hari.  Penutur laki-laki, suami. MT perempuan, istri.  Rumah kayu berada di samping rumah.  Penutur menegur istri untuk merapikan

      nonstandar (bahasa Jawa)

       Tekanan: lunak.  Diksi: bahasa

      berbicara dengan nada sedang.

       Partikel: yo.  Nada tutur: penutur

      sesok!” P: “Welha...malah nesu.”  Intonasi berita.

      P: “Mbog le noto kayu ora teng jlempah. Nanti kalo ada tamu, nanti kalo ada orang lewat. Wong omah yo neng pinggir dalan.” MT: “Karang nggone

      3. E3 Cuplikan tuturan 49

       Wujud ketidaksantunan:

       Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT menanggapi tuturan penutur dengan peringatan.

      MT yang kurang berkenan di hati penutur.

       penutur menanggapi tuturan MT yang kurang berkenan bagi penutur.  penutur sedang dalam keadaan letih sepulang kerja.  Tujuan: penutur menanggapi tuturan

      sedang bercakap-cakap dan disampaikan secara ngelantur.

       Tuturan ini terjadi saat penutur dan MT

      nonstandar (bahasa Jawa). penutur.

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa

      Omongane, Pak.” tinggi.

      ” P: “Wo lha kurang ajar! Asu cenan.” MT: “Huuusss...

      suami.

       Wujud ketidaksantunan:

    • Penutur berbicara kepada istrinya.
    • Penutur menegur MT yang sedang sibuk menata kayu tetapi penutur hanya duduk santai di teras rumah.
    • Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara sinis.
    • Tuturan penutur sangat
    menegur MT untuk merapikan tatanan sembrono karena tidak kayunya. melihat apa yang dilakukan MT dan apa yang dilakukan  Tindak verbal:direktif. penutur.

       Tindak perlokusi: MT tetap

    • MT merasa dirinya melanjutkan merapikan kayunya disalahkan sedangkan sambil menanggapi tuturan dari penutur penutur tidak melakukan dengan sanggahan.

      apa-apa.

    • MT meyanggah tuturan penutur sehingga terjadi adu mulut.

       4. E4 Cuplikan tuturan 50 Jenis ketidaksantunan:

      

     Intonasi berita.  Tuturan ini terjadi di TPI (tempat

    Menimbulkan konflik.

      pelelangan ikan).

       Partikel: kok.

      P: “Ngematke  Penutur laki-laki, nelayan. MT laki-

       Makna ketidaksantunan:

       Nada tutur: penutur matane, bawal ko menegaskan.

      laki, nelayan. berbicara dengan nada

      Wujud ketidaksantunan: tinggi.

       ngene kok dianggep

       Para nelayan sedang mengelompokkan

      BS.” ikan bawal.

    • Penutur berbicara dengan

       Tekanan: keras.

      M T: “Njajal ayo nelayan lainnya.

       Tujuan: penutur memberitahu kepada  Diksi: bahasa

      Penutur berbicara kasar MT bahwa bawalnya bukan BS. nonstandar (bahasa dengan orang lain.

    • ditakokke ro liyane iki

      BS po ora?”

      Jawa) dan penggunaan  Tindak verbal: ekspresif.

    • Penutur menyampaikan jargon.

       Tindak perlokusi: MT langsung

      tuturannya dengan cara menanggapi penutur dengan cara keras. penyampaian yang ketus.

    • Tuturan penutur menyebabkan terjadi adu argumen antar nelayan yang berada di sana.
    • Penutur berbicara dengan anaknya.

       Wujud ketidaksantunan:

      tahun. MT laki-laki, anak dari penutur, berusia 6 tahun.

       Makna ketidaksantunan: mengancam.

       Jenis ketidaksantunan: Menimbulkan konflik.

      yang diperintah penutur, tetapi terdapat orang ketiga, yakni istrinya yang marah kepada penutur.

       Tindak verbal: komisif.  Tindak perlokusi: MT melakukan apa

      digeblek ).

      untuk tidak rewel lagi, tetapi disertai dengan pukulan kecil (istilah Jawa

       Tuturan terjadi pada saat MT sedang nangis di rumah.  Penutur pulang bekerja dengan keadaan yang letih.  Penutur tersulut emosinya karena anaknya rewel terus-terusan.  Tujuan: penutur menyuruh anaknya

       Tuturan terjadi di halaman rumah,  Penutur laki-laki, bapak berusia 34

      nonstandar (bahasa Jawa).

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa

      berbicara dengan nada tinggi.

       Intonasi perintah.  Kata fatis: ayo.  Nada tutur: penutur

      P: “Ayo... iso meneng ora! ” (digeblek atau dipukul).

      MT: (menangis)

      Cuplikan tuturan 51

      5. E5

    • Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara keras.

    • Penutur bermain tangan dengan memukul MT.
    • Tindakan penutur membuat MT2 tidak terima.
    • MT2 marah kepada penutur.
    • Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.

    • Penutur berbicara dengan suara yang keras kepada MT.
    • Penutur menyampaikan tuturannya dengan cara kesal dan keras.
    • MT merasa tidak terima karena suara penutur dianggap terlalu kasar dan keras sehingga MT menimpali dengan nada yang tinggi pula.

      tuturan penutur dengan nada tinggi juga.

       Makna ketidaksantunan: menolak.

       Jenis ketidaksantunan: Menimbulkan konflik.

       Penutur laki-laki, anak berumur 16 tahun. MT laki-laki, bapak dari penutur.  Penutur menolak ajakan bapaknya untuk membantu pekerjaannya.  MT merasa tersinggung kemudian memarahinya.

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa populer,  Tuturan ini terjadi di rumah.

      berbicara dengan nada sedang.

       Nada tutur: penutur

      Koe nek ra ngewangi bapak, trus sopo seng arep  Intonasi seru.

      Cuplikan tuturan 53 MT: “Ayo ngewangi bapak!” P: “Gak mau!” MT: “

      7. E7

       Wujud ketidaksantunan:

       Makna ketidaksantunan: menegaskan.

       Jenis ketidaksantunan: Menimbulkan konflik.

       Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT menanggapi

      penutur sudah tahu dan sudah berusaha menyuruh orang untuk memperbaiki pralon tresebut.

       MT memberitahu bahwa pralon airnya masih bocor.  Penutur merasa emosi karena MT dianggap selalu cerewet.  Tujuan: memberitahu MT bahwa

      tahun. MT perempuan, nenek/ ibu dari penutur, berusia 70-80 tahun.

       Tuturan ini terjadi pada saat jam shalat maghrib.  Penutur perempuan, anak berusia 36

      berada di dalam rumah dan MT berada di luar rumah hendak mengambil wudhu.

       Tuturan ini terjadi pada saat penutur

      nonstandar (bahasa Jawa).

       Tekanan: keras.  Diksi: bahasa

      berbicara dengan nada tinggi.

       Intonasi berita.  Partikel: yo.  Nada tutur: penutur

      Cuplikan tuturan 52 MT: “Banyune ki jek banter kae!” P: “Alaah Mboook, mbog rasah gemrumung!! Ijek banter mau bengi. Kui yo wes tak akonke uwong.” MT: “Ha iyo gek didandani!”

      6. E6

       Wujud ketidaksantunan:

    • Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.
    • Penutur menolak ajakan
    biayani MT dengan spontan

      ”  Tujuan: penutur menolak ajakan menjawabnya.

      bapaknya untuk membantunya dalam

    • Penutur menyampaikan bekerja.

      tuturannya dengan cara  Tindak verbal: komisif. ketus.

       Tindak perlokusi: MT memarahi

    • MT merasa penutur tidak penutur.

      patuh terhadapnya dan kemudian memarahinya.

       8. E8 Jenis ketidaksantunan:

      Cuplikan tuturan 54  Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi di ruang keluarga.

      Menimbulkan konflik.

      

     Nada tutur: penutur  Penutur laki-laki, kakak berusia 6

      : “Tipine dipindah,

       MT Makna ketidaksantunan:

      berbicara dengan nada tahun. MT laki-laki, adik berusia 3 menolak. sedang. tahun.

      Mas?”

       Wujud ketidaksantunan:

      P:  Tekanan: keras.  Penutur dan MT sedang asik menonton “Wegah!”

    • penutur tidak mau salah satu acara televisi.

       Diksi: bahasa

      MT: (Berlari mencari mengalah dengan MT. nonstandar (bahasa

       MT merasa bahwa ia tidak menyukai

      orang tua dan minta

    • Penutur menjawab suruhan

      Jawa). acara televisi yang sedang mereka untuk digendong).

      MT dengan spontan sambil tonton. mempertahankan remote

       MT menyuruh penutur untuk TV-nya dari MT.

      mengganti channel/ acara televisi

    • Penutur menyampaikan tersebut.

      tuturannya dengan cara

       Penutur menolak perintah dari MT ketus.

      karena ia menyukai acara televisi

    • MT tidak terima dan tersebut.

      memanggil MT2

       Terdapat orang ketiga yang nantinya

      (bapaknya), MT2 memarahi memarahi penutur karena tindakannya penutur. terhadap MT.

       Tujuan: penutur menolak suruhan MT

      untuk mengganti channel/ acara di televisi.

       Tidak verbal: komisif.  Tindak perlokusi: MT pergi mencari

      orang ketiga (bapak), kemudian orang ketiga memarahi penutur.

      9. E9 Cuplikan tuturan 55

       Intonasi seru.  Tuturan ini terjadi di rumah.  Jenis ketidaksantunan: Menimbulkan konflik.  Nada tutur: penutur  Penutur adalah laki-laki, kakak berusia

      P: “Iki nggonaku,

      berbicara dengan nada 10 tahun. MT laki-laki, adik penutur

       Makna ketidaksantunan: udu nggonamu iki! ” tinggi. berusia 6 tahun. menegaskan.

      MT: ”Ra wae!  Tekanan: keras.  Penutur dan MT berebut mainan.  Wujud ketidaksantunan: Nggonku kok.”

    • Penutur berbicara dengan

       Diksi: bahasa  Tujuan: penutur merebut mainan dari P: “Nggonku!”

      MT sambil merebut mainan nonstandar (bahasa adiknya yang sedang bermain dan MT. Jawa). menyatakan bahwa mainan itu miliknya.

    • Penutur menyampaikan

      tuturannya dengan cara  Tindak verbal: representatif. kesal.

       Tindak perlokusi: MT merebut kembali

    • MT tidak mau kalah

      mainan tersebut dari tangan penutur, sehingga mainan tersebut hingga akhirnya mereka berdua saling direbut kembali. berebut.

    • Penutur dan MT berebut mainan.
    • tif dan komisif. Tindak perlokusi: melakukan sesuatu sehingga penutur melakukan tugasnya.

      Ganggu

      MT: (lang- sung mematikan televisi).

      “Ngopo to?

      MT:

      P: “Sinau barang!” (Menyengg ol adiknya).

      Tindak verbal: representa

      Waktu terjadiny a tuturan bisa kapan saja. Tempat terjadiny

      Menangga pi tuturan lawan tutur.

      Tuturan dalam kategori ini dapat terjadi dalam situasi santai dan

      Orang yang terlibat dalam tuturan kategori ini bisa siapa saja dalam anggota

      Diksi yang digunaka n adalah bahasa nonstan- dar (bahasa

      Tuturan ditekank an dengan tekanan keras dan lunak.

      Intonasi yang digunak an ada- lah intonasi berita dan

      Tidak ditemu kan kata fatis dalam kategor i ini.

      2. Mengancam muka sepihak Tuturan dikata- kan dengan nada sedang.

      digarap!” P: “Meng- ko sek, Pak!”

      PARAMETER PENENTU KETIDAKSANTUNAN No Kategori ketidaksantunan Lingual Nonlingual Contoh cuplikan tuturan Nada Kata fatis Into- nasi Tekan- an Diksi Penutur dan lawan tutur Situasi tutur Tujuan tuturan Waktu dan tempat Tindak verbal dan tindak perlokusi 1.

      Ayo TVne dipateni, PRe geg ndang

      MT: “Bel- ajar sek le.

      Tindak verbal: representa

      Waktu terjadiny a tuturan bisa kapan saja. Tempat terjadiny a tuturan bisa dimana saja.

      Menolak atau menunda tuturan lawan tutur yang menyuruh nya untuk melakukan tugasnya.

      Situasi terjadinya tuturan adalah situasi santai.

      Orang yang terlibat dalam tuturan kategori ini bisa siapa saja yang terlibat dalam komunikasi dan yang melanggar aturan.

      Diksi yang digunaka n adalah bahasa nonstan- dar (bahasa Jawa).

      Tuturan ditekank an dengan tekanan keras.

      Intonasi yang digunak an ada- lah intonasi berita

      Tidak ditemu kan kata fatis dalam kategor i ini.

      Tuturan dikata- kan dengan nada sedang.

      Melanggar norma

    • tif, ekspresif, dan komisif. Tindak

      MT: “Yo

      Tuturan ini dapat terjadi dalam berbagai suasana, baik santai maupun serius.

      P: “Aaassss... minggat kono!” (melanjutk an tidurnya).

      (menendang

      jam telu!”

      tangi... wes

      “Tangi-

      MT:

      Tindak verbal: ekspresif, represen- tatif, direktif, dan komisif. Tindak perlokusi: lawan tutur diam saja atau lawan tutur menangga pi penutur karena ia

      Waktu terjadiny a tuturan bisa kapan saja. Tempat terjadiny a tuturan bisa dimana saja.

      Menangga pi tuturan lawan tutur.

      Orang yang terlibat dalam tuturan kategori ini bisa siapa saja dalam anggota keluarga yang terlibat komunikasi.

      seru. Jawa), slang, dan artifisial. keluarga yang terlibat komunikasi. serius. a tuturan bisa dimana saja. perlokusi: menangga pi tuturan penutur dengan kesal/ tersinggun

      Diksi yang digunaka n adalah bahasa nonstan- dar (bahasa Jawa).

      Tuturan ditekan- kan dengan tekanan keras dan lunak.

      Intonasi yang digunak an ada- lah intonasi berita, perinta h, dan seru.

      kok, ya, dan lho .

      Terda- pat kata fatis

      3. Melecehkan muka Tuturan dikata- kan dengan nada tinggi dan sedang.

      P: (Tidak menghirauk an dan pergi begitu saja).

      wae.”

      g, tetapi tidak disadari oleh penutur.

    • nendang kaki kakaknya yang sedang tidur).
    merasa kesal dengan penutur. wes... damuk kapok

      mengko.” 4. Menghilangkan

      dicakke.” P: “Wah, opo-opo dinas... opo-opo dinas...” 5.

      P: “Ngematke matane, bawal ko ngene kok dianggep BS.” MT: “Njajal

      Tindak verbal: ekspresif, komisif, dan repre- sentatif. Tindak perlokusi: menangga pi tuturan

      Waktu terjadiny a tuturan bisa kapan saja. Tempat terjadiny a tuturan bisa

      Menangga pi tuturan lawan tutur.

      Tuturan ini dapap tejadi dalam suasana yang santai dan serius

      Orang yang terlibat dalam tuturan kategori ini bisa siapa saja dalam anggota keluarga yang

      Diksi yang digunaka n adalah bahasa nonstan- dar (bahasa Jawa).

      Tuturan ditekan- kan dengan tekanan keras.

      Intonasi yang diguna- kan adalah intonasi seru dan tanya.

      Terda- pat kata fatis yo ( ya ).

      muka Tuturan dikata- kan dengan nada tinggi dan sedang.

      Menimbulkan

      kumpulan dari kabupaten, ini monggo

      muka Tuturan dikata- kan dengan nada sedang dan tinggi.

      MT: “Habis

      Tindak verbal: ekspresif. Tindak perlokusi: menangga pi tuturan penutur karena dirinya merasa dipermalu kan atau telah kehilangan muka.

      Waktu terjadiny a tuturan bisa kapan saja. Tempat terjadiny a tuturan bisa dimana saja.

      Menangga pi tuturan lawan tutur.

      Tuturan ini dapap tejadi dalam suasana yang santai dan serius.

      Orang yang terlibat dalam tuturan kategori ini bisa siapa saja dalam anggota keluarga yang terlibat komunikasi

      Diksi yang digunaka n adalah bahasa nonstan- dar (bahasa Jawa) dan bahasa populer.

      Tuturan ditekan- kan dengan tekanan keras dan lunak.

      Intonasi yang diguna- kan adalah intonasi berita dan seru.

      ya .

      dan

      kok

      Terda- pat kata fatis

      ayo ditakokke terlibat dimana penutur ro liyane iki komunikasi saja. dengan BS

      po ora?”

      suasana hati yang emosi, biasanya hingga terjadi adu mulut atau bertengkar .

      INSTRUMEN MAKSUD TUTURAN KETIDAKSANTUNAN No Jenis/ Kategori Makna/ Subkategori Kode Tuturan Maksud Penutur 1.

      Melanggar norma

      Menegaskan A1 Enggak! Berbohong

      A2 Yoben... Wong arep ngaji kok ra oleh. Membela diri Menunda A3 Mengko sek, Pak!

      Menunda A4 Mengko Pak! Filme jek apik kie. Menunda 2.

      Mengancam muka

      sepihak Mengejek B1 Sinau barang! (Menyenggol adiknya). Menggoda

      B8 Iya... aaa... iya... aaa... (bernada seperti nada tertawa). Mengejek B9 Resiko!

      Mengejek Menunda B2 Mengko ahh... (Melanjutkan tidurnya). Menghindar Menegaskan B3 Cah enom kok yahene turu, Bu. Membela diri

      B4 Iki lagek nen dalan. (padahal masih di lokasi). Berbohong B6 (menginjak kaki kakaknya) Walah... kepidak... Mengejek B7 Timbangane ra dibuang mah mung marakke penyakit. Membela diri

      Menolak B5 Wegah, males! Menolak 3.

      Melecehkan muka

      Memerintah C1 Nyoh tak kei duwit geg ndang lungo o. Rasah ganggu Bapak Ibu sek, lagek nyambut gawe!

      Mengusir C2 Alaaah... jupuk dewe, Pak! Menolak C9 Yo jupuk dewe mbah, manja! Malas

      Menyindir C3 Cah gede kok jeh do gelud. Menyindir C13 Bu, kok masakane enak temen. Cubo njenengan cicipi. Menyindir C18 Makanya kalo siang itu maen terus seharian. Kesal C22 Iki le ngenei no hp kie tenan po etok-etokkan? Nek dibel ra nyaut blas, disms ra ono balesi blas.

      Kesal

      C23 Pergantian pengurus disms raono balesi, yowes tinggal bali Kesal acarane rampung! Menolak C4 Emoh!

      Malas C15 Gemang, jeg sayah!

      Menolak Mengancam C5 Kalo gak mau makan, kamu gag boleh pergi sama dia Memaksa

      (temannya)! Memperingatkan C6 Rasah! Deloken kae enek banyune abang. Hiii... Makanan ini Menakut-nakuti buatnya bekas cucian orang nyuci lho dek.

      C20 Sesok, nek ngomongke sesok, ndag lali! Kesal Menegaskan C7

      Wes nyendal motor galho!” (sambil berjalan keluar ruangan). Membela diri

      C14 Adik kok ditukokke dolanan, q ra ditukokke? Kesal C19 Karang nggone yo koyo ngene, rakyo sesok. Membela diri C24 Yo embuh!

      Berbohong Mengusir C8

      Mengusir Aaassss... minggat kono!” (melanjutkan tidurnya). Menegur C10 Kok mung diturahi sak emprit? (nada tinggi). Kecewa

      C17 Mripatmu ki ndokke sikel? Kesal C21 Koe arep nendi?

      Menggoda Menagih C11 Pak, udah cair belum?

      Menagih Mengejek C12 Jenggote koyo kowe, Pak. Mengejek Menasihati C16 Kalo memang niatnya masih mau sekolah, Bapak masih ingin Memarahi ngragati. Kalo emang maunya nikah, bilang aja pengen nikah.

      Bapak nikahke.

      4. Menyindir D1 Mboten masak, wong wingi dimasakke yo mboten kepangan Kesal

      Menghilangkan

      muka kok!

      D3 Koyo adimu kae lho iso ngoopo-ngopo, koe kok tura-turu Menyindir

      wae. D4 Wah, opo-opo dinas... opo-opo dinas... Kecewa

      Menegur D2 Nih kamu gak naik kelas! Gak malu apa sama yang lain? Memarahi Besok lagi yang rajin belajarnya agar naik kelas. Kalo gak naik kelas lagi mesti kamu mung diisin-isin karo konco- koncomu. D5 Makanya kalo kamu itu mau belajar ya belajar, gag belajar Menasihati cuman maen.

      Mengejek D6 Halah... Nelayan seprono-seprene gaweane kok muni ra Mengejek ngerti! D7 Tak inggoni pitmu motor mas, koe nek nulisi ora ngono kae! Menggoda Tulisi ojo dumeh... D8 Nyuwun ngapunten nggeh, ha kok njenengan meneng wae. Menggoda

      Menyinggung D9 Wah bapak kie pelit, ngene-ngene ra oleh! Kesal

      5. Menyinggung E1 Itu kan tanggungjawab suami. Kecewa

      Menimbulkan

      konflik Mengumpat E2 Wolha kurang ajar! Asu cenan. Kesal Menegur E3 Mbog le noto kayu ora teng jlempah. Nanti kalo ada tamu, Memberitahu nanti kalo ada orang lewat. Wong omah yo neng pinggir dalan. Menegaskan E4 Ngematke matane, bawal ko ngene kok dianggep BS. Memberitahu

      E9 Iki nggonaku, udu nggonamu iki! Kesal E6 Alaah Mbok, mbok rasah gemrumung!! Ijek banter mau Kesal bengi. Kui yo wes tak akonke uwong.

      Mengancam E5 Ayo... iso meneng ora! (digeblek atau dipukul). Kesal Menolak E7 Gak mau!

      Menolak E8 Wegah!

      Menolak

      Kasus/Situasi

    KUESIONER PENELITIAN KETIDAKSANTUNAN DALAM

    BERBAHASA

    A.

       Pertanyaan Kasus/Situasi untuk Orang Tua dalam Relasi dengan Anggota Keluarga

      PETUNJUK: Tulislah bentuk kebahasaan yang akan Anda gunakan sebagai respons Anda terhadap situasi-situasi berikut dengan sejujurnya (pertanyaan disesuaikan dengan situasi dalam keluarga)!

      Situasi 1:

      Keluarga Anda memiliki jam belajar pukul 20.00 WIB. Ketika waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, anak Anda belum juga belajar, tetapi justru masih menonton televisi. Apa yang akan Anda katakan untuk memperingatkan anak Anda? Respons Anda:

      Situasi 2:

      Saat Anda menasihati anak Anda ketika terlibat perkelahian di sekolah, anak Anda justru memainkan handphone dan tidak memperdulikan nasihat Anda. Apa yang akan Anda katakan untuk memperingatkan anak Anda? Respons Anda:

    • Situasi 3: Ketika Anda sedang menerima telepon dari teman, anak Anda menghidupkan musik dengan volume yang keras dan tidak menyadari bahwa hal itu mengganggu percakapan Anda. Apa yang akan Anda katakan untuk memperingatkan anak Anda? Respons Anda:
    •   Kasus/Situasi Situasi 4:

        Ketika sedang menonton sebuah acara televisi favorit Anda, tiba-tiba anak Anda mengganti saluran televesi tersebut tanpa meminta izin dari Anda. Apa yang akan Anda katakan untuk memperingatkan anak Anda? Respons Anda:

        Situasi 5:

        Keluarga Anda membuat kesepakatan jam malam untuk anak Anda sampai pukul 22.00 WIB. Suatu malam, anak Anda pulang melampaui jam yang telah disepakati. Apa yang akan Anda katakan untuk memperingatkan anak Anda? Respons Anda:

      • B.

        

      Pertanyaan Kasus/Situasi untuk Anggota Keluarga dalam Relasi dengan

      Orang Tua

        PETUNJUK: Tulislah bentuk kebahasaan yang akan Anda gunakan sebagai respons Anda terhadap situasi-situasi berikut dengan sejujurnya (pertanyaan disesuaikan dengan situasi dalam keluarga)!

        Situasi 1:

        Anda meminta supaya dibelikan handphone baru karena handphone lama Anda sudah ketinggalan zaman. Anda sudah meminta berulang kali, tetapi belum juga dibelikan. Apa yang akan Anda katakan kepada orang tua Anda? Respons Anda:

        Situasi 2:

        Anda dipaksa oleh ibu Anda untuk membeli sayur di pasar, padahal Anda tidak suka berbelanja di pasar. Apa yang akan Anda katakan dalam situasi

        Kasus/Situasi

        Respons Anda:

        Situasi 3:

        Anda diajak teman-teman keluar rumah pada malam hari. Namun, orang tua tidak mengizikinkan Anda untuk pergi. Apa yang akan Anda katakan kepada orang tua Anda di depan teman-teman Anda? Respons Anda:

        Situasi 4: Ketika Anda pulang sekolah dan merasa lapar, tidak ada makanan di rumah.

        Apa yang akan Anda katakan kepada orang tua Anda? Respons Anda:

        Situasi 5:

        Ketika Anda sedang dimarahi oleh orang tua karena Anda dianggap pergi tanpa seizin mereka, padahal Anda merasa sudah meminta izin kepada orang tua Anda. Apa yang akan Anda katakan dalam situasi seperti ini? Respons Anda:

        

      Instrumen Penelitian Maksud Penutur

        Kode Tuturan : 1.

        :

        Lokasi 2.

        :

        Suasana 3.

        :

        Keadaan emosi 4.

        :

        Identitas penutur

        a. :

        Gender

        b. :

        Umur

        c. :

        Pekerjaan

        d. :

        Domisili

        e. :

        Daerah Asal

        f. :

        Bahasa yang dipakai sehari-hari 5.

        :

        Identitas lawan tutur

        a. :

        Gender

        b. :

        Umur

        c. :

        Pekerjaan

        d. :

        Domisili

        e. :

        Daerah Asal

        f. :

        Bahasa yang dipakai sehari-hari 6.

        :

        Tanggal percakapan 7.

        :

        Waktu percakapan

        Tuturan:----------------------------------------------------------------------------------------

        Maksud:----------------------------------------------------------------------------------------

         Panduan Wawancara A. Daftar Pertanyaan untuk Orang Tua dalam Relasi dengan Anggota Keluarga

        PETUNJUK: Gunakan daftar pertanyaan berikut untuk mewawancarai informan, kemudian tulislah atau rekamlah bentuk kebahasaan yang disampaikan oleh informan (pertanyaan disesuaikan dengan situasi dalam keluarga)! 1.

        Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda jika anak

        perempuan Anda yang sudah cukup dewasa belum bisa memasak atau anak lelaki Anda yang sudah cukup dewasa hanya bermalas-malasan di rumah? (melecehkan muka) Penjelasan Informan:

      • 2.

        Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda ketika

        anak Anda menjawab sekenanya dan terkesan acuh saat Anda memberikan nasihat? (menimbulkan konflik) Penjelasan Informan:

      • 3.

        Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda jika anak

        Anda yang sudah kuliah semester 12 belum lulus atau anak Anda yang masih bersekolah tidak naik kelas jika situasinya sedang ada pertemuan keluarga? (menghilangkan muka) Penjelasan Informan:

      • 4.

        Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda jika anak

        Anda yang sedang membersikan rumah tanpa sengaja mengganggu aktivitas Anda (misalnya menulis, membaca, atau menonton televisi)? (mengancam muka sepihak) Penjelasan Informan:

         Panduan Wawancara

      • 5.

        Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda jika anak

        Anda terlambat pulang ke rumah tanpa alasan yang jelas, padahal sudah disepakati bersama dalam keluarga bahwa batasan jam pulang malam tidak boleh dilanggar? (melanggar aturan) Penjelasan Informan:

      • B.

        

      Daftar Pertanyaan untuk Anggota Keluarga dalam Relasi dengan Orang

      Tua

        PETUNJUK: Gunakan daftar pertanyaan berikut untuk mewawancarai informan, kemudian tulislah atau rekamlah bentuk kebahasaan yang disampaikan oleh informan (pertanyaan disesuaikan dengan situasi dalam keluarga)! 1.

        Bagaimana respon Anda ketika mengetahui bahwa orang tua Anda tidak

        dapat mengoperasikan komputer? (melecehkan muka) Penjelasan Informan:

      • 2.

        Bagaimana respon Anda ketika orang tua Anda menegur Anda karena

        mendengarkan musik dengan volume yang keras? (menimbulkan konflik) Penjelasan Informan:

      • 3.

        Bagaimana respon Anda ketika orang tua Anda berusaha membanding-

        bandingkan nilai Anda dengan kakak/adik yang memiliki nilai lebih baik dari Anda? (menghilangkan muka) Penjelasan Informan:

         Panduan Wawancara

        4. Bagimana respon Anda bila saat Anda belajar, orang tua Anda meminta bantuan Anda, tetapi hanya dengan meneriakkan nama Anda tanpa memberikan penjelasan mengenai bantuan apa yang diperlukan? (mengancam muka sepihak) Penjelasan Informan:

      • 5.

        Bagaimana respon Anda ketika orang tua Anda mengotak-atik handphone

        Anda dan membaca pesan singkat antara Anda dengan teman dekat Anda? (melanggar aturan) Penjelasan Informan:

      BIOGRAFI PENULIS

        Nuridang Fitranagara lahir di Kulonprogo, Yogyakarta, tanggal 15 April 1990. Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri Cibinong 3, Komplek. Yon Bekang 1 Cibinong, Bogor tahun 1996

      • – 2000. Ia menamatkan pendidikan

        tingkat sekolah dasar di SD Negeri Kanoman 2, Panjatan, Kulonprogo tahun 2000

      • – 2002. Pada tahun 2002 – 2005, ia melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 1 Panjatan, Kulonprogo.

        Pendidikan tingkat menengah atas ditempuhnya di SMK Negeri 1 Temon, Kulonprogo tahun 2005

      • – 2008. Setahun kemudian, ia menempuh studi S1

        Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Masa pendidikan S1 tersebut berakhir pada tahun 2014.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisis Masalah Kemiskinan Nelayan Tradisional Di Desa Padang Panjang Kecamatan Susoh Kabupaten Aceh Barat Daya Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam
4
53
173
DETERMINAN PENDAPATAN NELAYAN DI PANTAI DEPOK, YOGYAKARTA
14
43
122
POTENSI DAN PENGEMBANGAN OBJEK WISATA KAMPUNG NELAYAN PANTAI DRINI DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL
0
6
82
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga nelayan di kampung nelayan Pantai Trisik, Desa Banaran dan Pantai Congot, Desa Jangkaran, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.
0
4
291
Kata fatis penanda ketidaksantunan pragmatik dalam ranah keluarga.
0
1
22
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga pendidik di Kotamadya Yogyakarta.
0
3
234
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga di lingkungan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta.
0
0
300
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul Yogyakarta.
0
0
332
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga pedagang yang berdagang di Pasar Besar Beringharjo Yogyakarta.
7
21
317
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga pendidik di Kotamadya Yogyakarta
1
2
232
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga di lingkungan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta
0
3
298
Potensi dan pengembangan objek wisata kampung nelayan pantai drini di Kabupaten Gunungkidul Eko Saputro
0
0
82
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga pedagang yang berdagang di Pasar Besar Beringharjo Yogyakarta - USD Repository
0
8
315
KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK DALAM RANAH KELUARGA PETANI DI KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA
0
0
330
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa dalam ranah agama Islam di wilayah kotamadya Yogyakarta - USD Repository
0
1
305
Show more