Uji potensi antibakteri ekstrak etanol umbi binahong [Anredera cordifolia [Tenore] steen] terhadap staphylococcus aureus ATCC 25923 dan pseudomonas aeruginos ATCC 27853.

Gratis

0
4
99
2 years ago
Preview
Full text

INTISARI

  41Tabel III Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel GF 254 dan fase gerak butanol : asamasetat : air (4:1:5 ) dan pembanding rutin 0,05% untuk analisis flavonoid ........................................................... 51 Tabel VII Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam Tabel VIII Diameter zona hambat ekstrak etanol umbi binahong terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923……………… 55 Tabel IX Diameter zona hambat ekstrak etanol umbi binahong terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853…………… 56 DAFTAR GAMBAR Gambar 1.

10. Sahabat-sahabat hatiku, Johan, Wati, Ratih, Totok, Bambang, Ana, Tusti

  41Tabel III Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel GF 254 dan fase gerak butanol : asamasetat : air (4:1:5 ) dan pembanding rutin 0,05% untuk analisis flavonoid ........................................................... 51 Tabel VII Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam Tabel VIII Diameter zona hambat ekstrak etanol umbi binahong terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923……………… 55 Tabel IX Diameter zona hambat ekstrak etanol umbi binahong terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853…………… 56 DAFTAR GAMBAR Gambar 1.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Masalah Tumbuhan obat dan obat tradisional (OT) merupakan aset nasional yang perlu terus digali, diteliti, dikembangkan dan dioptimalkan pemanfaatannya. Untuk itu perlu dilakukan penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional dalam sistem pelayanan kesehatan formal (Sumaryono, 2000). Penggunaan obat tradisional memiliki kelebihan antara lain yaitu bahannya mudah

  Hilangnya pertahanan kulit dan terkelupasnya lapisan jaringan di bawah kulit yang basah dan kaya akan nutrien merupakan hal yang ideal untukkolonisasi bakteri pada area kulit yang terluka atau terbakar. Penyebab yang paling umum pada infeksi kulit yang terluka adalah Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus (Naim, 2006).

1. Permasalahan

  Kandungan kimia apa sajakah yang terdapat di dalam umbi binahong yang bermanfaat sebagai antibakteri? Manfaat praktisPenelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan yang berharga untuk mendalami pengobatan penyakit infeksi yang disebabkan oleh S.

3. Keaslian penelitian

  Sejauh penelusuran pustaka dan pengamatan peneliti, pernah dilakukan penelitian mengenai potensi antibakteri ekstrak kloroform dari herba Anredera cordifolia (Tenore) Steen terhadap Bacillus cereus, Bacillus pulmilus, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Enterobacter cloacae, Escherichia coli,Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, Serratia marcescens, dan Enterobacter aerogenes (Meyer, 2004). Bahan yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah herba dari binahong, maka perlu dilakukan penelitian mengenai potensi antibakteri dari salah satu organ tanaman B.

1. Mengetahui ada tidaknya potensi antibakteri ekstrak etanol umbi binahong terhadap S. aureus dan P. aeruginosa

  Mengetahui Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi BunuhMinimum ekstrak etanol umbi binahong pada pertumbuhan S. Mengetahui kandungan kimia yang terdapat di dalam umbi binahong yang bermanfaat sebagai senyawa antibakteri secara kualitatif melalui ujitabung dan uji Kromatografi Lapis Tipis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anredera cordifolia (Tenore) Steen

1. Deskripsi

  Tumbuh tersebar di berbagai kawasan di dunia termasuk di antaranya di Afrika,Australia dan wilayah Pasifik, Eropa, dan Amerika. Kandungan Kimia Binahong mengandung asam askorbat dan fenol dalam jumlah kecil(Sato, Nagata, dan Engle, 2005).

B. Penyarian

  Faktor yang mempengaruhi kecepatanpenyarian adalah kecepatan difusi zat yang larut melalui lapisan-lapisan batas antara cairan penyari dengan bahan yang mengandung zat tersebut. InfundasiInfundasi adalah proses penyarian (menyari simplisia dengan air o pada suhu 90 C selama 15 menit) yang umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati(Anonim, 1986).

C. Ekstrak etanol

  Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metodeekstraksi antara lain kesesuaian antara senyawa kimia yang terkandung dalam bahan dengan sifat pelarut yang digunakan (Houghton dan Raman, 1998). Dalam buku Farmakope Indonesia Edisi IV, disebutkan bahwa ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif darisimplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, Pelarut yang sering digunakan untuk ekstraksi adalah etanol.

2 H 5 OH) merupakan cairan yang mudah menguap, jernih, dan tidak berwarna

  Sebagai pelarut, etanol mempunyai kelebihan antara lain mempunyai toksisitas rendah dibanding metanol, lebih stabil dan lebih murah. Etanol bersifat semipolar,maka dapat digunakan untuk mengekstrasi senyawa-senyawa yang bersifat polar dan non polar (Houghton dan Raman, 1998).

D. Sterilisasi

  Pemilihan metode sterilisasididasarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan (Pelczer dan Chan, 1986 ) Cara umum yang sering digunakan untuk sterilisasi, antara lain: 1. Sterilisasi dengan penyaringanSterilisasi ini digunakan untuk bahan-bahan yang sangat peka terhadap pemanasan (serum, antibiotika, toksin) atau bahan yangrelatif tidak tahan terhadap pemanasan tinggi (medium yang mengandung senyawa gula).

1. Staphylococcus aureus

  aureus termasuk dalam familia Micrococcaceae adalah bakteri dengan sel-sel berbentuk bola dengan garis tengah sekitar 1µm dan tersusun dalam kelompok-kelompok tak beraturan. Bakteri ini menyebabkan penyakit pada hampir semua jaringan tubuh yang terutama adalah abses.

2. Pseudomonas aeruginosa

  aeruginosa termasuk dalam familia Pseudomonadaceae berbentuk batang, bergerak, dan merupakan bakteri gram negatif aerob yang menghasilkan pigmen yang larut dalam air dan berdifusi melalui pembenihanbuatan, tidak meragikan laktosa, dan membentuk koloni bulat halus dengan berfloresensi kehijau-hijauan dan bau aromatis (Jawetz, et al, 1996). Amoksisilin mempunyai aktivitas bekterisidaterhadap bakteri gram positif maupun gram negatif dengan mekanisme Ampisilin merupakan antibakteri yang mempunyai spektrum penghambatan yang lebih luas dibanding dengan penisilin.

G. Metode Pengujian Potensi Antibakteri

  Bahan antibakteri secara umum diartikan sebagai bahan yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme bakteri. Mikroba ditanam pada media yang sesuai dan di atasnya diletakkan kertas cakram yang mengandung bahan obat atau dibuatsumuran dengan diameter tertentu yang diisi larutan bahan obat dengan kadar tertentu (Hugo & Russel, 1987).

a. Cara Kirby Bauer

  Setelah suspensi mikrobia homogen,tuangkan di atas media agar dan dibiarkan membeku, kemudian di atasnya diletakan disk dan diinkubasi pada suhu 37ºC selama 18-24 jam, hasilnyadibaca dengan mengukur diameter hambat (Hugo dan Russel, 1987). Cara pengenceran serial dalam tabung (dilusi cair)Pada cara ini zat antibakteri yang akan diuji aktivitasnya diencerkan secara serial dengan metode pengenceran kelipatan dua didalam medium cair dan selanjutnya diinokulasikan dengan mikroba uji.

H. Kromatografi Lapis Tipis

  Kromatografi adalah cara pemisahan berbagai senyawa yang ada dalam sediaan dengan jalan penyarian berfraksi, penyerapan, dan pertukaran ion, padazat berpori dengan menggunakan cairan atau gas yang mengalir (Stahl, 1985). Pengembangan dan DeteksiLempeng yang telah ditotoli ditaruh di dalam bejana kecil yang berisi pelarut yang tingginya beberapa cm.

I. Flavonoid

  Kerangka flavonoidtersebut dapat digambarkan sebagai Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan, terikat pada gula sebagai glikosida dan aglikon flavonoid yang manapun mungkin saja terdapat dalam satutumbuhan dalam beberapa bentuk kombinasi glikosida (Robinson, 1991). Sedangkan tanin terkondendasi tidakterhidrolisis menjadi molekul yang lebih sederhana dan tidak mengandung gugus Tanin merupakan senyawa asam karboksilat fenol yang dapat dipisahkan menggunakan fase diam silica gel dan fase gerak toluene: etil formate: asamformat (50:40:10) (Stahl, 1969).

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental yang bersifat

B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

  eksploratif dengan perlakuan pemberian konsentrasi ekstrak etanol umbi binahong yang berbeda terhadap S. Penelitian dilakukan diLaboratorium Farmakognosi Fitokimia dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

1. Variabel Penelitian

  Variabel bebas yaitu ekstrak etanol umbi binahong dengan konsentrasi 100%, 75%, 50% dan 25%. Variabel terkendali antara lain waktu inkubasi (24 jam), suhu inkubasi(37ºC), jenis bakteri uji, volume suspensi bakteri uji yang diinokulasikan dalam media (0,2 ml), konsentrasi suspensi bakteri uji setara dengan 8 larutan standar Mc.

2. Definisi operasional

  aeruginosa ATCC 27853 yang dapat dilihat dari zona jernih yang menggambarkan zona hambat pertumbuhan bakteri,dibandingkan dengan DMSO sebagai pelarut. Ekstrak etanol umbi binahong merupakan hasil maserasi dari 175g umbi batang dari tanaman binahong dengan menggunakan pelarut etanol pa70% sebanyak 1312,5ml dimana pergantian cairan penyari dilakukan setiap 24 jam sekali dengan jumlah yang sama dan diperoleh ekstrakkental sebanyak 14,23 gram.

c. Staphylococcus aureus ATCC 25923 merupakan stock strain bakteri gram

e. Zona hambat adalah daerah di sekitar paperdisk yang tidak ditemukan

  positif, berbentuk coccus dengan diameter 0,5 -1,5 µm, nonmotil, mengalami metabolisme secara respirasi dan fermentasi, menunjukkanreaksi positif untuk uji katalase, dan negatif untuk reaksi oksidasi, diperoleh dari Dinas Kesehatan Propinsi D. aeruginosaATCC 27853 dan yang terdapat pertumbuhan bakteri dalam jumlah sedikit yang berupa zona jernih.

C. Bahan dan Alat Penelitian

1. Bahan

  Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah umbi binahong yang diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Obat di Tawangmangu, nutrienagar (oxoid) , DMSO sebagai kontrol negatif, aquadest steril, amoksisilin injeksi kering (Danoxilin® 1000 mg) sebagai kontrol positif, bakteri Staphylocuccus aureus ATCC 25923 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Propinsi D. Fase diam : lempeng KLT silika Gel GF 254 , dan selulosa, fase gerak toluene:etil asetat (93:7), etil asetat: metanol: air (70:20:10), toluene: etil asetat : metanol (70:20:10), n-Butanol: Asam asetat: Air (4: 1: 5), etil asetat :metanol : air (100 : 13,5 : 10), pembanding rutin, skopolamin, eugenol, 2.

1. Determinasi tanaman binahong

  Kemudian serbuk yang telah diperoleh, diayak dengan menggunakan pengayak 12/50,sehingga diperoleh serbuk dengan derajad halus yang homogen. Pembuatan ekstrak etanol dengan metode maserasi Sebanyak 175 g serbuk umbi binahong, diletakkan ke dalam 7 erlenmeyer terpisah, kemudian direndam dengan 187,5 ml pada tiaperlenmeyer selama 3 hari (serbuk : cairan penyari = 10:75) dan cairan penyari diganti setiap hari dengan jumlah yang sama.

a. Uji Tabung

  Pembuatan Larutan Uji untuk KLT dari Ekstrak Etanol Umbi Binahong Ekstrak etanol umbi binahong yang digunakan untuk uji KLT adalah ekstrak etanol dengan konsentrasi 10%. Pembuatan Fase Diam Fase diam yang digunakan dalam uji KLT untuk senyawa saponin, alkaloid, tanin dan senyawa fenolik adalah silika gel GF 254 sedangkanuntuk flavonoid digunakan selulosa.

c. Penjenuhan Fase Gerak di dalam Bejana

  1) Uji KLT flavonoid Fase diam yang digunakan yaitu selulosa dan fase gerak yang digunakan adalah butanol: asam asetat : air (4:1:5). 2) Uji KLT alkaloid Fase diam yang digunakan adalah silika gel GF dan fase gerak 254 yang digunakan adalah etil asetat: methanol: air (70:20:10).

a. Penyiapan stok bakteri uji

  Metode difusi Setelah pembiakan secara spread platting, siapkan paperdisk yang telah dijenuhkan dengan amoksisilin sebagai kontrol positif, DMSOsebagai kontrol negatif, ekstrak etanol umbi binahong dengan konsentrasi25%, 50%, 75%, dan 100% Petri-petri tersebut diinkubasikan selama 24 jam pada suhu 37ºC kemudian diamati ada tidaknya zona hambat di sekitarpaperdisk. Analisis DataAnalisis uji antibakteri dengan metode difusi paperdisk dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat yang dapat dilihat dari zonajernih di sekitar paperdisk Analisis hasil KLT bersifat deskriptif dan komparatif, dilakukan dengan menghitung harga Rf dan mengamati bercakyang timbul dari ekstrak etanol dan membandingkannya dengan standar yang sesuai.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Determinasi Determinasi tanaman dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Obat (BPTO) Tawangmangu. Diidentifikasi di BPTO menurut acuan C. A. Backer (1968). Identifikasi tanaman ini bertujuan untuk memastikan bahwa tanaman yang

  Dari hasil determinasi tersebut, tanaman binahong yang digunakan dalam penelitian inidiketahui memiliki nama ilmiah Anredera cordifolia (Tenore) Steen (Lampiran 1 dan lampiran 2). Umbi biasanya merupakan suatu bagian yang membengkak,bangun bulat, seperti kerucut atau tidak beraturan, merupakan tempat penimbunan makanan, dapat merupakan metamorfosis dari batang, dapat pula merupakanmetamorfosis dari akar.

B. Pengumpulan Bahan dan Pembuatan Serbuk

  Menurut Anonim (1986), maserasi pada umumnya dilakukan dengan cara 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan ke dalambejana, kemudian dituangi dengan 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari, sambil berulang-ulang kali diaduk. Untuk menghindari terjadinya penjenuhan cairan penyari, maka cairan penyari yang digunakan yaitu etanol diganti setiap 24 jam sekali, sehingga Setelah itu, hasil maserasi (maserat) disaring dan kemudian diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator.

D. Skrining Fitokimia

  Dalam penelitian ini skrining perlu dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya senyawa yang berpotensi sebagai antibakteri. Analisis kualitatif untuk mengetahui golongan senyawa dalam tumbuhan tersebut dapatdilakukan dalam dua tahap, yaitu uji tabung dan uji kualitatif secara KLT.

1. Uji tabung

  Tujuan utama uji tabung yaitu untuk mengetahui kandungan kimia umbi binahong, yang kemudian dipertegas dengan KLT. uji antrakinon, uji polifenol, uji tanin, uji kardenolida, dan uji saponin.

1 Terbentuk endapan coklat

  Untuk identifikasi alkaloid dapat dilakukandengan cara reaksi pengendapan dan reaksi warna yaitu dengan cara penambahan 2 gram serbuk binahong dengan HCl. Uji antrakinonPada uji ini, serbuk dididihkan selama 2 menit dengan KOH dan larutan hidrogen peroksida, kemudian disaring dengan kapas.

2. Uji kualitatif secara Kromatografi Lapis Tipis

  Analisis dengan KLTmempunyai beberapa keuntungan yaitu penanganannya sederhana, selain itu cuplikan dan pelarut yang digunakan sedikit. Uji KLT flavonoidFase diam yang digunakan yaitu selulosa gel dan fase gerak yang digunakan adalah butanol: asam asetat : air (4:1:5).

2 CaSO

  Reaksi antara flavonoid dengan NH 3 Warna kuning yang terjadi, dapat dengan cepat hilang karena di udara terdapat banyak uap air (H-OH) sehingga H dari uap air akan berikatan dengan O yang kelebihan elektron, sehingga struktur senyawatersebut akan kembali seperti semula. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel GF 254, fase gerak toluen, etil asetat, metanol (70:20:10) dan pembanding eugenol untuk analisis senyawa fenolikBercak No Deteksi UV 254 UV 365 FeCl 3 Rf Warna Rf Warna Rf Warna Sampel 1 3 .

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

  Ekstrak etanol umbi binahong tidak mempunyai potensi antibakteri terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Berdasarkan uji tabung yang dilakukan, serbuk umbi binahong diduga mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol, tanin, dan saponin.

B. Saran

  Perlu diteliti lebih lanjut mengenai kandungan kimia dari umbi binahong secara kuantitatif yaitu dengan metode KLT preparatif sehingga dapatdiketahui berapa kadar senyawa-senyawa yang terkandung di dalam umbi binahong. Perlu diteliti mengenai potensi antibakteri dari batang, bunga, atau bagian lainnya dari binahong.

DAFTAR PUSTAKA

  Foto Hasil KLT Ekstrak Etanol Umbi Binahong dengan Deteksi UV254, UV 365, dan uap amoniak pada Analisis Flavonoid Keterangan : I : Deteksi UV 254 a. Pembanding Glizerizae Radix 1% B: Kontrol Negatif (DMSO) C: Ekstrak etanol umbi binahong 100% D: Ekstrak etanol umbi binahong 75% E: Ekstrak etanol umbi binahong 50% F: Ekstrak etanol umbi binahong 25% B: Kontrol Positif (Amoksisilin 0,03 %) C: Ekstrak etanol umbi binahong 100% D: Ekstrak etanol umbi binahong 75% E: Ekstrak etanol umbi binahong 50% F: Ekstrak etanol umbi binahong 25% BIOGRAFI PENULIS Skripsi ini disusun oleh MartinaHerlianawati.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pembuatan Dan Uji Aktivitas Antibakteri Krim Minyak Kelapa Murni (VCO/virgin coconut oil) Terhadap Staphylococcus aureus ATCC 29737 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 25619
9
76
70
Uji potensi antifungi ekstrak etanol rimpang kecombrang (Nicolaia speciosa Horan) terhadap Trichohyton meniagrophyies dan Trichophyton rubrum
7
32
83
Perbandingan aktivitas dan mekanisme penghambatan antibakteri ekstrak air dengan ekstrak etil asetat gambir (uncario gambir roxb) terhadap bakteri staphylococcus epiderwidis, streptococcus mutans dan streptococeus pyogenes
4
30
100
Uji efektivitas antibakteri ekstrak etanol daun dan umbi bakung putih (crinum asiaticum L) terhadap bekteri penyebab jerawat
2
51
103
Uji aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol 96% kulit batang kayu Jawa (lannea coromandelica) terhadap bakteri staphylococcus aureus, escherichia coli, helicobacter pylori, pseudomonas aeruginosa.
32
210
72
Efektivitas ekstrak bawang dayak (eleutherine palmifolia) dalam menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus
0
6
50
Uji antioksidan dan antibakteri ekstrak air bunga kecombrang (edigera elatior) sebagai pangan fungsional terhadap staphylococcus aureus dan escherichia coli
0
45
83
Uji antioksidan dan antibakteri ekstrak air daun kecombrang (etlingera elatior) (Jack) R.M.Smith) sebagai pengawet alami terhadap escherichia coli dan staphylococus aureus
1
23
84
Pengaruh Iradiasi Gamma pada Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Etanol Temu Putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe.) dan Sambiloto (Andrographis paniculata Ness) terhadap Bacillus subtilis ATCC 6633 dan Staphylococcus aureus ATCC 25923
1
34
73
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Durian (Durio zibethinus L), Daun Lengkeng (Dimocarpus longan Lour), dan Daun Rambutan (Nephelium lappaceum L), Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25925 dan Escherichia coli ATCC 25922
8
60
79
Uji efektifitas ekstrak madu karet dalam menghambat pertumbuhan staphylococcus aureus
0
24
46
Aktivitas antibakteri ekstrak kulit buah kakao (Theobroma cacao L.) terhadap Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureus
1
11
8
Aktivitas antibakteri salep ekstrak etanol daun sirih hijau (Piper betleL.) Terhadap infeksi bakteri Staphylococcus aureus
0
0
6
Pengaruh kombinasi ekstrak etanol herba cecendet (Physalis angulata l.) dengan beberapa antibiotik terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Klebsiella pneumonie
0
0
6
FORMULASI KRIM EKSTRAK TOMAT (Solanumlycopersicum) dan UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERINYA TERHADAP Staphylococcus aureus ATCC 25923 FORMULATION CREAM OF EXTRACT TOMATO FRUIT (Solanumlycopersicum) And ANTIBACTERIAL ACTIVITY TEST FOR Staphylococcus aureus ATCC 25
0
0
9
Show more