Bab II - DOCRPIJM 1ff5db12a9 BAB IIUPDATE BAB II KONSEP PERENCANAAN BIDANG CIPTA KARYA

Gratis

0
1
51
11 months ago
Preview
Full text

Bab II Arahan Perencanaan Pembangunan Bidang Cipta Karya 2.1. KONSEP PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PROGRAM DITJEN CIPTA KARYA Konsep perencanaan dan pelaksanaan bidang Cipta Karya merupakan

  suatu arahan dalam pencapaian pembangunan permukimn yang layak huni dan berkelanjutan. Dalam konsep perencanaan dan pelaksanaan bidang Cipta Karya memuat arahan kebijakan tentang amanat penataan ruang, amanat pembangunan nasional, amanat pembangunan bidang PU/CK, serta amanat internasional mengenai pembangunan berkelanjutan secara global.

  Dalam arahan konsep ini perlu diperhatikan juga kondisi eksisting dari pembangunan bidang Cipta Karya, isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan serta permasalahan-permasalahan dan potensi-potensi yang dimiliki daerah. Keterkaitan dari kebijakan-kebijakan amanat pembangunan berkelanjutan dengan kondisi eksisting dari pembangunan Bidang Cipta Karya, isu-isu strategis, serta permasalahan dan potensi yang dimiliki daerah akan menghasilkan rencana dan program bidang Cipta Karya dan pelaksanaan pembangunan bidang Cipta Karya.

  Dengan dukungan dari stakeholder, dalam hal ini pihak dari daerah (provinsi/kota/kabupaten), dunia usaha dan masyarakat secara tepat, maka cita-cita untuk mewujudkan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan akan dapat terlaksana dan tercapai.

2.2. AMANAT PEMBANGUNAN NASIONAL 2.2.1. RPJP Nasional 2005 – 2025 (UU No.17 Tahun 2007)

A. Umum

  Berdasarkan pasal 4 Undang-Undang No. 25 tahun Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional disusun sebagai penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bentuk visi, misi dan arah pembangunan nasional.

  Pembangunan Nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk itu dalam 20 tahun mendatang sangat penting dan mendesak bagi Bangsa Indonesia untuk melakukan penataan kembali berbagai langkah-langkah antara lain dibidang pengelolaan sumber daya alam, sumber daya manusia, lingkungan hidup dan kelembagaannya sehingga bangsa Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dan mempunyai posisi yang sejajar, serta daya saing yang kuat didalam pergaulan masyarakat internasional.

  Diagram 2.1.

  Konsep Perencanaan dan Pembangunan Bidang Cipta Karya Dengan ditiadakannya Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai pedoman penyusunan rencana pembangunan nasional dan diperkuatnya otonomi daerah dan desentralisasi pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka untuk menjaga pembangunan yang berkelanjutan, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional sangat diperlukan. Sejalan dengan Undang-Undang No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang memerintahkan penyusunan RPJP Nasional yang menganut paradigma perencanaan yang visioner, maka RPJP Nasional hanya memuat arahan secara garis besar. Kurun waktu RPJP Nasional adalah 20 tahun. Pelaksanaan RPJP Nasional 2005

  • – 2025 terbagi dalam tahap-tahp perencanaan pembangunan dalam periodesasi perencanaan pembangunan jangka menengah nasional 5 (lima) tahunanyang dituangkan dalam RPJM Nasional I tahun 2005
  • – 2009, RPJM Nasional II tahun
  • – 2014, RPJM Nasional III tahun 2015 – 2019, dan RPJM Nasional IV tahun 2020 – 2024.

B. Visi dan Misi Pembangunan Nasional Tahun 2005 – 2025

  Berdasarkan kondisi Bangsa Indonesia saat ini, tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan amanat pembangunan yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, visi pembangunan Nasional tahun 2005

  • – 2025 adalah, INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN MAKMUR.

  Dalam mewujudkan visi pembangunan nasional tersebut ditempuh melalui 8 (delapan) misi pembangunan nasional sebagai berikut :

  1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila

  2. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing 3.

  Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum 4. Mewujudkan Indonesia aman, damai dan bersatu 5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan 6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari 7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional

  8. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia 2.2.2.

   RPJM Nasional 2010 – 2014 (Perpres No. 05 Tahun 2010)

  Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang No.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dipandang perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014.

  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010

  • – 2014, yang selanjutnya disebut RPJM Nasional, adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/Lembaga tahun 2010
  • – 2014, yang selanjutnya disebut Rencana Strategis Kementerian/Lembaga, adalah dokumen perencanaan Kementerian/Lembaga untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2014.

  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang selanjutnya disebut RPJM Daerah, adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 5 tahun sesuai periode masing-masing pemerintah daerah. RPJM Nasional memuat strategipembangunan nasional, kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RPJM Nasional berfungsi sebagai : a.

  Pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga b. Bahan penyusunan dan perbaikan RPJM Daerah dengan memperhatikan tugas pemerintah daerah dalam mencapai sasaran nasional yang termuat dalam RPJM Nasional c. Pedoman pemerintah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah 2.2.3.

   MP3EI (Perpres No. 32 Tahun 2010)

  Dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005

  • – 2025 dan untuk melengkapi dokumen perencanaan guna meningkatkan daya saing perekonomian nasional yang lebih solid, diperlukan adanya suatu masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang memiliki arah yang jelas, strategi yang tepat, fokus dan terukur. Berdasarkan pertimbangan, maka perlu ditetapkan Peraturan Presiden tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011- 2025.

  Gambar 2.1.

  Kedudukan MP3EI dalam Konteks Perencanaan Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik

  Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang

  Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005

  • – 2025, maka ditetapkan Peraturan Presiden tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, yang selanjutnya disebut MP3EI.

  MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005

  • – 2025 dan melengkapi dokumen perencanaan.

  MP3EI tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini. MP3EI berfungsi sebagai : a.

  Acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah non kementerian untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masing-masing, yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga pemerintah non kementerian sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan.

  b.

  Acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota terkait.

  MP3EI dapat menjadi acuan bagi badan usaha dalam menanamkan modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Koordinasi pelaksanaan MP3EI dilakukan oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, yang selanjutnya disebut KP3EI. KP3EI mempunyai tugas: a.

  Melakukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan MP3EI b. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MP3EI c. Menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka penyelesaian permasalahan dan hambatan pelaksanaan MP3EI.

  MP3EI digagas untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui pengembangan 8 program utama, yang terdiri atas pertanian, pertambangan, energi, industri, kelautan, pariwisata, dan telematika, serta pengembangan kawasan strategis. Kedelapan program tersebut dibagi lagi ke dalam 22 kegiatan ekonomi utama (lihat gambar 2.2)

  Gambar 2.2.

  Kegiatan Ekonomi Utama Sedangkan strategi pengembangan 22 kegiatan ekonomi tersebut adalah mengintegrasikan tiga elemen utama, meliputi:

  1. Pengembangan potensi ekonomi wilayah di 6 Koridor Ekonomi Indonesia, yaitu: Koridor Ekonomi Sumatera, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi Kalimantan, Koridor Ekonomi Sulawesi, Koridor Ekonomi Bali

  • –Nusa Tenggara, dan Koridor Ekonomi Papua –Kepulauan Maluku; 2.

  Memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara global (locally integrated, globally connected);

3. Memperkuat kemampuan SDM dan IPTEK nasional untuk mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi.

  Dengan demikian pertumbuhan ekonomi akan makin terarah karena digenjot pada 8 program utama berbasis potensi nasional (yang terdiri dari 22 kegiatan ekonomi) dan berlangsung lintas wilayah di 6 koridor, terkoneksi, dan terintegrasi. Pada gilirannya strategi tersebut diharapkan menunjang penguatan kapasitas SDM dan penguasaannya terhadap pengembangan IPTEK.

  Gambar 2.3.

  Tema Pembangunan Masing Masing Koridor Ekonomi Dalam rangka transformasi ekonomi menuju negara maju dengan pertumbuhan ekonomi 7-9 persen per tahun, Pemerintah menyusun MP3EI yang ditetapkan melalui Perpres No. 32 Tahun 2011. Dalam dokumen tersebut pembangunan setiap koridor ekonomi dilakukan sesuai tema pembangunan masing-masing dengan prioritas pada kawasan perhatian investasi (KPI MP3EI). Ditjen Cipta Karya diharapkan dapat mendukung penyediaan infrastruktur permukiman pada KPI Prioritas untuk menunjang kegiatan ekonomi di kawasan tersebut. Kawasan Perhatian Investasi atau KPI dalam MP3EI adalah adalah satu atau lebih kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat atau terhubung dengan satu atau lebih faktor konektivitas dan SDM IPTEK. Pendekatan KPI dilakukan untuk mempermudah identifikasi, pemantauan, dan evaluasi atas kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat dengan faktor konektivitas dan SDM IPTEK yang sama. Gambar 2.4.

  Koridor Ekonomi Indonesia (KEI)

  

(Sumber ; Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025)

  Di dalam Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Kabupaten Gresik merupakan bagian dari Kawasan Perhatian Invesatasi (KPI) Koridor Jawa. Pengembangan MP3EI difokuskan pada Kawasan Perhatian Investasi (KPI) yang diidentifikasikan sebagai satu atau lebih kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat atau terhubung dengan satu atau lebih faktor konektivitas dan SDM IPTEK. Pendekatan KPI dilakukan untuk mempermudah identifikasi, pemantauan, dan evaluasi atas kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat dengan faktor konektivitas dan SDM IPTEK yang sama. Penetapan Lokasi Kawasan Perhatian Investasi (KPI) Koridor Jawa Berdasarkan Arahan Perpres Nomor 32 Tahun 2011 adalah;

Tabel 2.1. Penetapan Lokasi Kawasan Perhatian Investasi (KPI)

NO KORIDOR KPI

  

1 Koridor Ekonomi (KE) Sumatera Sei Mangkei, Tapanuli Selatan, Dairi

Dumai, Tj Api-Api – Tj Carat, Muaraenim – Pendopo, Palembang Prabumulih, Bangka Barat, Babel, Batam, Bandar Lampung, Lampung Timur, Besi Baja Cilegon

  

2 Koridor Ekonomi (KE) Jawa Banten, DKI Jakarta, Karawang

Bekasi, Purwakarta, Cilacap, Surabaya Gresik, Lamongan, Pasuruan

3 Koridor Ekonomi (KE) Bali Badung, Buleleng, Lombok Tengah,

  • – Nusa

    Tenggara Kupang, Sumbawa Barat, Aegela, Nusa Penida, Sumbawa

  

4 Koridor Ekonomi (KE) Kutai Kertanegara, Kutai Timur,

Kalimantan Rapak dan Ganal, Kotabaru, Ketapang, Kotawaringin Barat, Kapuas, Pontianak, Bontang, Tanah

  Bumbu Sanggau, Penajam Paser Utara

  

5 Koridor Ekonomi (KE) Makassar, Palopo (Luwu), Mamuju-

Sulawesi Mamasa, Parepare, Kendari Kolaka,Konawe Utara, Morowali, Parigi Moutang, Banggai, Bitung

  6 Koridor Ekonomi (KE) Merauke (Mifee), Timika, Halmahera, Papua Teluk Bintuni, Morotai, Ambon,

  • – Kep. Maluku Manokwari

  (Sumber ; Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025)

  Pengembangan Koridor Ekonomi Jawa mempunyai tema Pendorong Industri dan Jasa Nasional. Selain itu, strategi khusus Koridor Ekonomi Jawa adalah mengembangkan industri yang mendukung pelestarian daya dukung air dan lingkungan.

  Secara umum, Koridor Ekonomi Jawa memiliki kondisi yang lebih baik di bidang ekonomi dan sosial, sehingga Koridor Ekonomi Jawa berpotensi untuk berkembang dalam rantai nilai dari ekonomi berbasis manufaktur ke jasa. Koridor ini dapat menjadi benchmark perubahan ekonomi yang telah sukses berkembang dalam rantai nilai dari yang sebelumnya fokus di industri primer menjadi fokus di industri tersier, sebagaimana telah terjadi di Singapura, Shenzen dan Dubai.

  Koridor Ekonomi Jawa memiliki beberapa hal yang harus dibenahi, antara lain:  Tingginya tingkat kesenjangan PDRB dan kesenjangan kesejahteraan di antara provinsi di dalam koridor;  Pertumbuhan tidak merata sepanjang rantai nilai, kemajuan sektor manufaktur tidak diikuti kemajuan sektor-sektor yang lain;  Kurangnya investasi domestik maupun asing;  Kurang memadainya infrastruktur dasar.

  Fokus pembangunan ekonomi Koridor Ekonomi Jawa adalah pada kegiatan ekonomi utama makananminuman, tekstil, dan peralatan transportasi. Selain itu terdapat pula aspirasi untuk mengembangkan kegiatan ekonomi utama perkapalan, telematika, dan alat utama sistem senjata (alutsista).

  Gambar 2.5.

  Kawasan Perhatian Investasi Koridor Jawa MP3EI

  (Sumber ; Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025)

  Gambar 2.6.

  Peta Investasi Koridor Ekonomi Jawa

  (Sumber ; Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025)

Tabel 2.2. Aglomerasi Indikasi Investasi

  (Sumber ; Masterplan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025)

2.2.4. MP3KI

  Ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi menciptakan kesenjangan, ketidakstabilan dan meluasnya ketidaksejahteraan. Sehingga, membuat pemerintah merasa perlu untuk melengkapi master plan pertumbuhan ekonomi dengan master plan pengurangan kemiskinan agar dunia seimbang (equilibrium). Master plan tersebut adalah Master Plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan (MP3KI), yang bertujuan memeratakan pertumbuhan ekonomi dalam mengurangi kesenjangan.

  MP3KI adalah affirmative action, sehingga pembangunan ekonomi yang terwujud tidak hanya Pro-growth, tetapi juga Pro-Poor, Pro-job dan Pro- environment; termasuk penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat miskin. Substansi yang melatarbelakangi perluasan pengurangan kemiskinan melalui MP3KI dapat dirangkum dalam 9 alasan, yaitu: 1.

  Pertumbuhan penduduk yang besar (bisa jadi potensi, bisa juga jadi tantangan)

2. Lahan usaha petani dan nelayan makin terbatas 3.

  Peluang dan pengembangan usaha si miskin amat terbatas 4. Urbanisasi memperparah kemiskinan perkotaan (slum and squatter) 5. Rendahnya kualitas SDM usia muda 6. Rendahnya penyerapan kerja sector industri 7. Masih banyak daerah terisolir dengan akses pelayanan dasar yang rendah 8. Belum tersedianya jaminan sosial yang komprehensif 9. Masih terjadi marjinalisasi penduduk miskin, cacat, illegal, berpenyakit kronis, dsb.

  Gambar 2.7.

  Kerangka Desain MP3KI Tahapan Pelaksanaan MP3KI Periode 2013-2014:

  • Percepatan pengurangan kemiskinan untuk mencapai target 8% - 10% pada tahun 2014; • Perbaikan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan.
  • Pada kantong-kantong kemiskinan, sinergi lokasi dan waktu, serta perbaikan sasaran (seperti : Program Gerbang Kampung di Menko Kesra);
  • Sustainable livelihood penguatan kegiatan usaha masyarakat miskin, termasuk membangun keterkaitan dengan MP3EI; • Terbentuknya BPJS kesehatan pada tahun 2014 .

  Periode 2015

  • – 2019:
    • Transformasi program-program pengurangan kemiskinan;
    • Peningkatan cakupan, terutama untuk Sistem Jaminan Sosial menuju universal coverage;
    • Terbentuknya BPJS Tenaga Kerja; • Penguatan sustainable livelihood.

  Periode 2020-2025:

  • Pemantapan sistem penanggulangan kemiskinan secara terpadu; • Sistem jaminan sosial mencapai universal coverage.

  Gambar 2.8.

  Skenario Tahapan Pelaksanaan MP3KI Gambar 2.9.

  Kolaborasi MP3EI dengan MP3KI Gambar 2.10.

  Sinergi MP3EI dan MP3KI Dalam Pengembangan Lingkungan 2.2.5.

   KEK (UU No. 39 Tahun 2009)

  Untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu dilaksanakan pembangunan perekonomian nasional berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

  Sesuai dengan amanat Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVI/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka demokrasi ekonomi, diperlukan keberpihakan politik ekonomi yang lebih memberikan kesempatan dan dukungan pada usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), dan koperasi dan sekaligus memberikan manfaat bagi industri dalam negeri. Berkaitan dengan hal itu, dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) disediakan lokasi bagi UMKM dan koperasi agar dapat mendorong terjadinya keterkaitan dan sinergi hulu hilir dengan perusahaan besar, baik sebagai Pelaku Usaha maupun sebagai pendukung Pelaku Usaha lain.

  Dalam rangka mempercepat pencapaian pembangunan ekonomi nasional, diperlukan peningkatan penanaman modal melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategis. Kawasan tersebut dipersiapkan untuk memaksimalkan kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pengembangan KEK bertujuan untuk mempercepat perkembangan daerah dan sebagai model terobosan pengembangan kawasan untuk pertumbuhan ekonomi, antara lain industri, pariwisata, dan perdagangan sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

  Pasal 31 ayat (3) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal mengatur bahwa ketentuan mengenai Kawasan Ekonomi Khusus diatur dengan Undang-Undang. Ketentuan tersebut menjadi dasar hukum perlunya diatur kebijakan tersendiri mengenai KEK dalam suatu Undang-Undang. Ketentuan KEK dalam Undang-Undang ini mencakup pengaturan fungsi, bentuk, dan kriteria KEK, pembentukan KEK, pendanaan infrastruktur, kelembagaan, lalu lintas barang, karantina, dan devisa, serta fasilitas dan kemudahan.

  KEK merupakan kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. Fungsi KEK adalah untuk melakukan dan mengembangkan usaha di bidang perdagangan, jasa, industri, pertambangan dan energi, transportasi, maritim dan perikanan, pos dan telekomunikasi, pariwisata, dan bidang lain. Sesuai dengan hal tersebut, KEK terdiri atas satu atau beberapa Zona, antara lain Zona pengolahan ekspor, logistik, industri, pengembangan teknologi, pariwisata, dan energi yang kegiatannya dapat ditujukan untuk ekspor dan untuk dalam negeri.

  Kriteria yang harus dipenuhi agar suatu daerah dapat ditetapkan sebagai KEK adalah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah, tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung, adanya dukungan dari pemerintah provinsi/kabupaten/kota dalam pengelolaan KEK, terletak pada posisi yang strategis atau mempunyai potensi sumber daya unggulan di bidang kelautan dan perikanan, perkebunan, pertambangan, dan pariwisata, serta mempunyai batas yang jelas, baik batas alam maupun batas buatan.

  Untuk menyelenggarakan KEK, dibentuk lembaga penyelenggara KEK yang terdiri atas Dewan Nasional di tingkat pusat dan Dewan Kawasan di tingkat provinsi. Dewan Kawasan membentuk Administrator KEK di setiap KEK untuk melaksanakan pelayanan, pengawasan, dan pengendalian operasionalisasi KEK. Kegiatan usaha di KEK dilakukan oleh Badan Usaha dan Pelaku Usaha.

  Fasilitas yang diberikan pada KEK ditujukan untuk meningkatkan daya saing agar lebih diminati oleh penanam modal. Fasilitas tersebut terdiri atas fasilitas fiskal, yang berupa perpajakan, kepabeanan dan cukai, pajak daerah dan retribusi daerah, dan fasilitas nonfiskal, yang berupa fasilitas pertanahan, perizinan, keimigrasian, investasi, dan ketenagakerjaan, serta fasilitas dan kemudahan lain yang dapat diberikan pada Zona di dalam KEK, yang akan diatur oleh instansi berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

  Dalam hal pengawasan, ketentuan larangan tetap diberlakukan di KEK, seperti halnya daerah lain di Indonesia. Namun, untuk ketentuan pembatasan, diberikan kemudahan dalam sistem dan prosedur yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan tetap mengutamakan pengawasan terhadap kemungkinan penyalahgunaan atau pemanfaatan KEK sebagai tempat melakukan tindak pidana ekonomi.

  Dengan berlakunya Undang-Undang ini, diharapkan terdapat satu kesatuan pengaturan mengenai kawasan khusus di bidang ekonomi yang ada di Indonesia dengan memberi kesempatan kepada Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 251, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4053) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2007 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Menjadi Undang-Undang Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4775) untuk diusulkan menjadi KEK, baik dalam jangka waktu maupun setelah berakhirnya jangka waktu yang telah ditetapkan. Dengan berlakunya Undang-Undang ini, tidak terjadi lagi pembentukan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas.

2.2.6. Direktif Presiden (Inpres No.3 Tahun 2010)

  Untuk lebih memfokuskan pelaksanaan pembangunan yang berkeadilan, dan untuk kesinambungan serta penajaman Prioritas Pembangunan Nasional sebagaimana termuat dalam Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010, maka diinstruksikan kepada para menteri dan seluruh pimpinan lembaga yang berwenang untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing, dalam rangka pelaksanaan program- program pembangunan yang berkeadilan, yang meliputi program :

  1. Program pro rakyat, memfokuskan pada :  Program penanggulangan kemiskinan berbasis keluarga penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan  Program masyarakat  Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha mikro dan kecil 2.

  Program keadilan untuk semua, memfokuskan pada :  Program keadilan bagi anak  Program keadilan bagi perempuan  Program keadilan di bidang ketenagakerjaan  Program keadilan di bidang bantuan hukum  Program keadilan di bidang reformasi hukum dan peradilan  Program keadilan bagi kelompok miskin dan terpinggirkan 3. Program pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), memfokuskan pada :

   Program pemberantasan kemiskinan dan kelaparan  Program pencapaian pendidikan dasar untuk semua  Program pencapaian kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan  Program penurunan angka kematian anak  Program kesehatan ibu  Program pengendalian HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya  Program penjaminan kelestarian lingkungan hidup  Program pendukung percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Dari ke tiga program pembangunan tersebut, program pembangunan di bidang Cipta Karya tertuang didalam program pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium. Adapun program-program pembangunan bidang Cipta Karya yang tertuang didalam Rencana tindak upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.3. Rencana Tindak Upaya Pencapaian Tujuan Pembangunan

  Milenium

  No. Program Tindakan Sasaran Keluaran

  Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 28H ayat (1) menyebutkan, bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Tempat tinggal mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa sebagai salah satu upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya, berjati diri, mandiri, dan produktif sehingga terpenuhinya kebutuhan tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar

  Meningkatnya pelayanan infrastruktur air limbah

   PERATURAN PERUNDANGAN PEMBANGUNAN BIDANG PU/CK 2.3.1. UU No. 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Permukiman

  Community led total sanitation

  Jumlah desa yang melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat 2. Jumlah desa yang melaksanakan

  Meningkatnya akses penduduk terhadap sanitasi dasar 1.

  3. Peningkatan akses penduduk terhadap sanitasi dasar yang layak Peningkatan akses sanitasi dasar yang layak

  Terlayaninya kawasan dengan infrastruktur air limbah melalui sistem on-site

  1. Terlayaninya kawasan dengan infrastruktur air limbah melalui sistem off-site 2.

  2. Pengaturan, pembinaan, pengawasan, pengembangan sumber pembiayaan dan pola investasi, serta pengembangan infrastruktur sanitasi dan persampahan

  1. Program pengelolaan sumber daya air

  2. Terfasilitasinya kawasan perkotaan yang terlayani air minum

  Terfasilitasinya kawasan perkotaan yang terlayani air minum

  Meningkatnya pelayanan air minum terhadap MBR di perkotaan dan perdesaan 1.

  1. Pengaturan, pembinaan, pengawasan, pengembangan sumber pembiayaan dan pola investasi, serta pengembangan sistem penyediaan air minum

  2. Program pembinaan dan pengembangan infrastruktur permukiman

  Terbangunnya sarana dan prasarana air baku

  Penyediaan dan pengelolaan air baku Meningkatnya kapasitas dan layanan air baku untuk penyediaan air minum

  • *) keluaran dapat disesuaikan berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan secara berkala 2.3.
bagi setiap manusia, yang akan terus ada dan berkembang sesuai dengan tahapan atau siklus kehidupan manusia.

  Negara bertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia melalui penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman agar masyarakat mampu bertempat tinggal serta menghuni rumah yang layak dan terjangkau di dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia. Sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, idealnya rumah harus dimiliki oleh setiap keluarga, terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah dan bagi masyarakat yang tinggal di daerah padat penduduk di perkotaan. Negara juga bertanggung jawab dalam menyediakan dan memberikan kemudahan perolehan rumah bagi masyarakat melalui penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman serta keswadayaan masyarakat. Penyediaan dan kemudahan perolehan rumah tersebut merupakan satu kesatuan fungsional dalam wujud tata ruang, kehidupan ekonomi, dan social budaya yang mampu menjamin kelestarian lingkungan hidup sejalan dengan semangat demokrasi, otonomi daerah, dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

  Pembangunan perumahan dan kawasan permukiman yang bertumpu pada masyarakat memberikan hak dan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk ikut berperan. Sejalan dengan peran masyarakat di dalam pembangunan perumahan dan kawasan permukiman, Pemerintah dan pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab untuk menjadi fasilitator, memberikan bantuan dan kemudahan kepada masyarakat, serta melakukan penelitian dan pengembangan yang meliputi berbagai aspek yang terkait, antara lain, tata ruang, pertanahan, prasarana lingkungan, industri bahan dan komponen, jasa konstruksi dan rancang bangun, pembiayaan, kelembagaan, sumber daya manusia, kearifan lokal, serta peraturan perundang-undangan yang mendukung.

  Kebijakan umum pembangunan perumahan diarahkan untuk: a. Memenuhi kebutuhan perumahan yang layak dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat dan aman yang didukung prasarana, sarana, dan utilitas umum secara berkelanjutan serta yang mampu mencerminkan kehidupan masyarakat yang berkepribadian Indonesia b.

  Ketersediaan dana murah jangka panjang yang berkelanjutan untuk pemenuhan kebutuhan rumah, perumahan, permukiman, serta lingkungan hunian perkotaan dan perdesaan c. Mewujudkan perumahan yang serasi dan seimbang sesuai dengan tata ruang serta tata guna tanah yang berdaya guna dan berhasil guna d.

  Memberikan hak pakai dengan tidak mengorbankan kedaulatan negara e. Mendorong iklim investasi asing.

  Sejalan dengan arah kebijakan umum tersebut, penyelenggaraan perumahan dan permukiman, baik di daerah perkotaan yang berpenduduk padat maupun di daerah perdesaan yang ketersediaan lahannya lebih luas perlu diwujudkan adanya ketertiban dan kepastian hukum dalam pengelolaannya. Pemerintah dan pemerintah daerah perlu memberikan kemudahan perolehan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui program perencanaan pembangunan perumahan secara bertahap dalam bentuk pemberian kemudahan pembiayaan dan/atau pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas umum di lingkungan hunian. Penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman tidak hanya melakukan pembangunan baru, tetapi juga melakukan pencegahan serta pembenahan perumahan dan kawasan permukiman yang telah ada dengan melakukan pengembangan, penataan, atau peremajaan lingkungan hunian perkotaan atau perdesaan serta pembangunan kembali terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh. Untuk itu, penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman perlu dukungan anggaran yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara, anggaran pendapatan belanja daerah, lembaga pembiayaan, dan/atau swadaya masyarakat. Dalam hal ini, Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu melakukan upaya pengembangan sistem pembiayaan perumahan dan permukiman secara menyeluruh dan terpadu.

  Di samping itu, sebagai bagian dari masyarakat internasional yang turut menandatangani Deklarasi Rio de Janeiro, Indonesia selalu aktif dalam kegiatan- kegiatan yang diprakarsai oleh United Nations Centre for Human Settlements. Jiwa dan semangat yang tertuang dalam Agenda 21 dan Deklarasi Habitat II adalah bahwa rumah merupakan kebutuhan dasar manusia dan menjadi hak bagi semua orang untuk menempati hunian yang layak dan terjangkau (adequate and affordable shelter for all). Dalam Agenda 21 ditekankan pentingnya rumah sebagai hak asasi manusia. Hal itu telah sesuai pula dengan semangat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

  Pengaturan penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman dilakukan untuk memberikan kepastian hukum dalam penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman, mendukung penataan dan pengembangan wilayah serta penyebaran penduduk yang proporsional melalui pertumbuhan lingkungan hunian dan kawasan permukiman sesuai dengan tata ruang untuk mewujudkan keseimbangan kepentingan, terutama bagi MBR, meningkatkan daya guna dan hasil guna sumber daya alam bagi pembangunan perumahan dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan, baik di lingkungan hunian perkotaan maupun lingkungan hunian perdesaan, dan menjamin terwujudnya rumah yang layak huni dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, teratur, terencana, terpadu, dan berkelanjutan.

  Penyelenggaraan perumahan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia bagi peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat, yang meliputi perencanaan perumahan, pembangunan perumahan, pemanfaatan perumahan dan pengendalian perumahan.

  Salah satu hal khusus yang diatur dalam undang-undang ini adalah keberpihakan negara terhadap masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam kaitan ini, Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan memberikan kemudahan pembangunan dan perolehan rumah melalui program perencanaan pembangunan perumahan secara bertahap dan berkelanjutan. Kemudahan pembangunan dan perolehan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah itu, dengan memberikan kemudahan, berupa pembiayaan, pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas umum, keringanan biaya perizinan, bantuan stimulan, dan insentif fiskal.

  Penyelenggaraan kawasan permukiman dilakukan untuk mewujudkan wilayah yang berfungsi sebagai lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan yang terencana, menyeluruh, terpadu, dan berkelanjutan sesuai dengan rencana tata ruang. Penyelenggaraan kawasan permukiman tersebut bertujuan untuk memenuhi hak warga negara atas tempat tinggal yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur serta menjamin kepastian bermukim, yang wajib dilaksanakan sesuai dengan arahan pengembangan kawasan permukiman yang terpadu dan berkelanjutan.

  Undang-undang perumahan dan kawasan permukiman ini juga mencakup pemeliharaan dan perbaikan yang dimaksudkan untuk menjaga fungsi perumahan dan kawasan permukiman agar dapat berfungsi secara baik dan berkelanjutan untuk kepentingan peningkatan kualitas hidup orang perseorangan yang dilakukan terhadap rumah serta prasarana, sarana, dan utilitas umum di perumahan, permukiman, lingkungan hunian dan kawasan permukiman. Di samping itu, juga dilakukan pengaturan pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh yang dilakukan untuk meningkatkan mutu kehidupan dan penghidupan masyarakat penghuni perumahan kumuh dan permukiman kumuh. Hal ini dilaksanakan berdasarkan prinsip kepastian bermukim yang menjamin hak setiap warga negara untuk menempati, memiliki, dan/atau menikmati tempat tinggal, yang dilaksanakan sejalan dengan kebijakan penyediaan tanah untuk pembangunan perumahan dan kawasan permukiman.

2.3.2. UU No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

  Pembangunan nasional untuk memajukan kesejahteraan umum sebagaimana dimuat di dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia yang menekankan pada keseimbangan pembangunan, kemakmuran lahiriah dan kepuasan batiniah, dalam suatu masyarakat Indonesia yang maju dan berkeadilan sosial berdasarkan Pancasila.

  Bangunan gedung sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan produktivitas, dan jati diri manusia. Oleh karena itu, penyelenggaraan bangunan gedung perlu diatur dan dibina demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan serta penghidupan masyarakat, sekaligus untuk mewujudkan bangunan gedung yang fungsional, andal, berjati diri, serta seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya.

  Bangunan gedung merupakan salah satu wujud fisik pemanfaatan ruang. Oleh karena itu dalam pengaturan bangunan gedung tetap mengacu pada pengaturan penataan ruang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  Untuk menjamin kepastian dan ketertiban hukum dalam penyelenggaraan bangunan gedung, setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan teknis bangunan gedung, serta harus diselenggarakan secara tertib.

  Undang-undang tentang Bangunan Gedung mengatur fungsi bangunan gedung, persyaratan bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung, termasuk hak dan kewajiban pemilik dan pengguna bangunan gedung pada setiap tahap penyelenggaraan bangunan gedung, ketentuan tentang peran masyarakat dan pembinaan oleh pemerintah, sanksi, ketentuan peralihan, dan ketentuan penutup.

  Keseluruhan maksud dan tujuan pengaturan tersebut dilandasi oleh asas kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, dan keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya, bagi kepentingan masyarakat yang berperikemanusiaan dan berkeadilan.

  Masyarakat diupayakan untuk terlibat dan berperan secara aktif bukan hanya dalam rangka pembangunan dan pemanfaatan bangunan gedung untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi juga dalam meningkatkan pemenuhan persyaratan bangunan gedung dan tertib penyelenggaraan bangunan gedung pada umumnya.

  Perwujudan bangunan gedung juga tidak terlepas dari peran penyedia jasa konstruksi berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang jasa konstruksi baik sebagai perencana, pelaksana, pengawas atau manajemen konstruksi maupun jasa-jasa pengembangannya, termasuk penyedia jasa pengkaji teknis bangunan gedung. Oleh karena itu, pengaturan bangunan gedung ini juga harus berjalan seiring dengan pengaturan jasa konstruksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

  Dengan diberlakukannya undang-undang ini, maka semua penyelenggaraan bangunan gedung baik pembangunan maupun pemanfaatan, yang dilakukan di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah, swasta, masyarakat, serta oleh pihak asing, wajib mematuhi seluruh ketentuan yang tercantum dalam Undang-undang tentang Bangunan Gedung.

  Dalam menghadapi dan menyikapi kemajuan teknologi, baik informasi maupun arsitektur dan rekayasa, perlu adanya penerapan yang seimbang dengan tetap mempertimbangkan nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat dan karakteristik arsitektur dan lingkungan yang telah ada, khususnya nilai-nilai kontekstual, tradisional, spesifik, dan bersejarah.

  Pengaturan dalam undang-undang ini juga memberikan ketentuan pertimbangan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah terus mendorong, memberdayakan dan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk dapat memenuhi ketentuan dalam undang-undang ini secara bertahap sehingga jaminan keamanan, keselamatan, dan kesehatan masyarakat dalam menyelenggarakan bangunan gedung dan lingkungannya dapat dinikmati oleh semua pihak secara adil dan dijiwai semangat kemanusiaan, kebersamaan, dan saling membantu, serta dijiwai dengan pelaksanaan tata pemerintahan yang baik.

  Undang-undang ini mengatur hal-hal yang bersifat pokok dan normatif, sedangkan ketentuan pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya, termasuk Peraturan Daerah, dengan tetap mempertimbangkan ketentuan dalam undang-undang lain yang terkait dalam pelaksanaan undang-undang ini.

2.3.3. UU No. 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air

  Sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam segala bidang. Dalam menghadapi ketidakseimbangan antara ketersediaan air yang cenderung menurun dan kebutuhan air yang semakin meningkat, sumber daya air wajib dikelola dengan memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup dan ekonomi secara selaras.

  Pengelolaan sumber daya air perlu diarahkan untuk mewujudkan sinergi dan keterpaduan yang harmonis antar wilayah, antar sektor, dan antar generasi. Sejalan dengan semangat demokratisasi, desentralisasi, dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, masyarakat perlu diberi peran dalam pengelolaan sumber daya air. Undang-undang Nomor

  11 Tahun 1974 tentang Pengairan sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan keadaan, dan perubahan dalam kehidupan masyarakat sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru. Berdasarkan pertimbangan sebagaimana yang telah diuraikan tersebut, maka perlu dibentuk undang-undang tentang sumber daya air.

  Berdasarkan Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 20 ayat (2), Pasal 22 huruf D ayat (1), ayat (2), ayat (3), Pasal 33 ayat (3) dan ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia memutuskan menetapkan Undang-Undang tentang Sumber Daya Air.

  Ketentuan Umum Dalam Undang-Undang No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang dimaksud dengan :

  1. Sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya.

  2. Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat.

  3. Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah.

  4. Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah.

  5. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah.

  6. Daya air adalah potensi yang terkandung dalam air dan/atau pada sumber air yang dapat memberikan manfaat ataupun kerugian bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta lingkungannya.

  7. Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

  8. Pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

  9. Rencana pengelolaan sumber daya air adalah hasil perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan sumber daya air.

  10. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2.

  11. Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

  12. Cekungan air tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung.

  13. Hak guna air adalah hak untuk memperoleh dan memakai atau mengusahakan air untuk berbagai keperluan.

  14. Hak guna pakai air adalah hak untuk memperoleh dan memakai air.

  15. Hak guna usaha air adalah hak untuk memperoleh dan mengusahakan air.

  16. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah.

  17. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri.

  18. Konservasi sumber daya air adalah upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan, sifat, dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup, baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang.

  19. Pendayagunaan sumber daya air adalah upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna.

  20. Pengendalian daya rusak air adalah upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air.

  21. Daya rusak air adalah daya air yang dapat merugikan kehidupan.

  22. Perencanaan adalah suatu proses kegiatan untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan secara terkoordinasi dan terarah dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air.

  23. Operasi adalah kegiatan pengaturan, pengalokasian, serta penyediaan air dan sumber air untuk mengoptimalkan pemanfaatan prasarana sumber daya air.

  24. Pemeliharaan adalah kegiatan untuk merawat sumber air dan prasarana sumber daya air yang ditujukan untuk menjamin kelestarian fungsi sumber air dan prasarana sumber daya air.

  25. Prasarana sumber daya air adalah bangunan air beserta bangunan lain yang menunjang kegiatan pengelolaan sumber daya air, baik langsung maupun tidak langsung.

  26. Pengelola sumber daya air adalah institusi yang diberi wewenang untuk melaksanakan pengelolaan sumber daya air.

  Sumber daya air dikelola berdasarkan asas kelestarian, keseimbangan, kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian, keadilan, kemandirian, serta transparansi dan akuntabilitas. Sumber daya air dikelola secara menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sumber daya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras. Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupannya yang sehat, bersih, dan produktif.

  Sumber daya air dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar- besar kemakmuran rakyat. Penguasaan sumber daya air diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dengan tetap mengakui hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dan hak yang serupa dengan itu, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan peraturan perundang- undangan. Hak ulayat masyarakat hukum adat atas sumber daya air tetap diakui sepanjang kenyataannya masih ada dan telah dikukuhkan dengan peraturan daerah setempat. Atas dasar penguasaan negara ditentukan hak guna air.

  Hak guna air berupa hak guna pakai air dan hak guna usaha air. Hak guna air tidak dapat disewakan atau dipindahtangankan, sebagian atau seluruhnya. Hak guna pakai air diperoleh tanpa izin untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bagi perseorangan dan bagi pertanian rakyat yang berada di dalam sistem irigasi. Hak guna pakai air memerlukan izin apabila: a.

  Cara menggunakannya dilakukan dengan mengubah kondisi alami sumber air.

  b.

  Ditujukan untuk keperluan kelompok yang memerlukan air dalam jumlah besar.

  c.

  Digunakan untuk pertanian rakyat di luar sistem irigasi yang sudah ada.

  Izin diberikan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Hak guna pakai air meliputi hak untuk mengalirkan air dari atau ke tanahnya melalui tanah orang lain yang berbatasan dengan tanahnya. Hak guna usaha air dapat diberikan kepada perseorangan atau badan usaha dengan izin dari Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Pemegang hak guna usaha air dapat mengalirkan air di atas tanah orang lain berdasarkan persetujuan dari pemegang hak atas tanah yang bersangkutan. Persetujuan dapat berupa kesepakatan ganti kerugian atau kompensasi.

  Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun pola pengelolaan sumber daya air. Pola pengelolaan sumber daya air disusun berdasarkan wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah. Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha seluas-luasnya. Pola pengelolaan sumber daya air didasarkan pada prinsip keseimbangan antara upaya konservasi dan pendayagunaan sumber daya air.

  Wewenang dan Tanggung Jawab Wilayah sungai dan cekungan air tanah ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Presiden menetapkan wilayah sungai dan cekungan air tanah dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Sumber Daya Air Nasional. Penetapan wilayah sungai meliputi wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota, wilayah sungai lintas kabupaten/kota, wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional.

  Penetapan cekungan air tanah meliputi cekungan air tanah dalam satu kabupaten/kota, cekungan air tanah lintas kabupaten/kota, cekungan air tanah lintas provinsi, dan cekungan air tanah lintas negara. Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara penetapan wilayah sungai dan cekungan air tanah diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

  Wewenang dan tanggung jawab Pemerintah meliputi: a. Menetapkan kebijakan nasional sumber daya air; b.

  Menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; c.

  Menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; d. Menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; e. Melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; f.

  Mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional g.

  Mengatur, menetapkan, dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan cekungan air tanah lintas negara; h. Membentuk Dewan Sumber Daya Air Nasional, dewan sumber daya air wilayah sungai lintas provinsi, dan dewan sumber daya air wilayah sungai strategis nasional; i. Memfasilitasi penyelesaian sengketa antarprovinsi dalam pengelolaan sumber daya air; j.

  Menetapkan norma, standar, kriteria, dan pedoman pengelolaan sumber daya air; k.

  Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; dan l. memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.

  Wewenang dan tanggung jawab pemerintah provinsi meliputi: a. Menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya air di wilayahnya berdasarkan kebijakan nasional sumber daya air dengan memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya b. Menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; c.

  Menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya; d. Menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; e.

  Melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya; f.

  Mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; g. Mengatur, menetapkan, dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan, pengambilan, peruntukan, penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas kabupaten/kota; h. Membentuk dewan sumber daya air atau dengan nama lain di tingkat provinsi dan/atau pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; i.

  Memfasilitasi penyelesaian sengketa antarkabupaten/kota dalam pengelolaan sumber daya air; j.

  Membantu kabupaten/kota pada wilayahnya dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat atas air; k.

  Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota; dan l. Memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada pemerintah kabupaten/kota.

  Wewenang dan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota meliputi : a. Menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya air di wilayahnya berdasarkan kebijakan nasional sumber daya air dan kebijakan pengelolaan sumber daya air provinsi dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya; b.

  Menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota; c.

  Menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya; d. Menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota; e.

  Melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya; f. Mengatur, menetapkan, dan memberi izin penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan air tanah di wilayahnya serta sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota; g. Membentuk dewan sumber daya air atau dengan nama lain di tingkat kabupaten/kota dan/atau pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota; h. Memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari atas air bagi masyarakat di wilayahnya; dan i.

  Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.

  Wewenang dan tanggung jawab pemerintah desa atau yang disebut dengan nama lain meliputi: a.

  Mengelola sumber daya air di wilayah desa yang belum dilaksanakan oleh masyarakat dan/atau pemerintahan di atasnya dengan mempertimbangkan asas kemanfaatan umum; b. Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air yang menjadi kewenangannya; c.

  Memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari warga desa atas air sesuai dengan ketersediaan air yang ada; dan d.

  Memperhatikan kepentingan desa lain dalam melaksanakan pengelolaan sumber daya air di wilayahnya.

  Sebagian wewenang Pemerintah dalam pengelolaan sumber daya air dapat diselenggarakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam hal pemerintah daerah belum dapat melaksanakan sebagian wewenangnya, pemerintah daerah dapat menyerahkan wewenang tersebut kepada pemerintah di atasnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan sebagian wewenang pengelolaan sumber daya air oleh pemerintah daerah wajib diambil oleh pemerintah di atasnya dalam hal: a.

  Pemerintah daerah tidak melaksanakan sebagian wewenang pengelolaan sumber daya air sehingga dapat membahayakan kepentingan umum; dan/atau b. Adanya sengketa antarprovinsi atau antarkabupaten/kota.

  Konservasi Sumber Daya Air

  Konservasi sumber daya air ditujukan untuk menjaga kelangsungan keberadaan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air. Konservasi sumber daya air dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air, pengawetan air, serta pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Ketentuan tentang konservasi sumber daya air menjadi salah satu acuan dalam perencanaan tata ruang.

  Perlindungan dan pelestarian sumber air ditujukan untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya terhadap kerusakan atau gangguan yang disebabkan oleh daya alam, termasuk kekeringan dan yang disebabkan oleh tindakan manusia. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui: a.

  Pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air; b. Pengendalian pemanfaatan sumber air; c. Pengisian air pada sumber air; d.

  Pengaturan prasarana dan sarana sanitasi; e. Perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air; f.

  Pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu; g.

  Pengaturan daerah sempadan sumber air; h. Rehabilitasi hutan dan lahan; dan/atau i. Pelestarian hutan lindung, kawasan suaka alam, dan kawasan pelestarian alam.

  Upaya perlindungan dan pelestarian sumber air dijadikan dasar dalam penatagunaan lahan. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilaksanakan secara vegetatif dan/atau sipil teknis melalui pendekatan sosial, ekonomi, dan budaya. Ketentuan mengenai perlindungan dan pelestarian sumber air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

  Pengawetan air ditujukan untuk memelihara keberadaan dan ketersediaan air atau kuantitas air, sesuai dengan fungsi dan manfaatnya. Pengawetan air dilakukan dengan cara: a.

  Menyimpan air yang berlebihan di saat hujan untuk dapat dimanfaatkan pada waktu diperlukan; b.

  Menghemat air dengan pemakaian yang efisien dan efektif; dan/atau c. Mengendalikan penggunaan air tanah.

  Ketentuan mengenai pengawetan air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air ditujukan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang masuk dan yang ada pada sumber-sumber air. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. Pengendalian pencemaran air dilakukan dengan cara mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. Ketentuan mengenai pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan rusaknya sumber air dan prasarananya, mengganggu upaya pengawetan air, dan/atau mengakibatkan pencemaran air.

  Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai, danau, waduk, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, daerah tangkapan air, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan hutan, dan kawasan pantai. Pengaturan konservasi sumber daya air yang berada di dalam kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan hutan, dan kawasan pantai diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan. Ketentuan mengenai pelaksanaan konservasi sumber daya air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

  Pendayagunaan Sumber Daya Air

  Pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui kegiatan penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Pendayagunaan sumber daya air ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. Pendayagunaan sumber daya air dikecualikan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Pendayagunaan sumber daya air diselenggarakan secara terpadu dan adil, baik antarsektor, antarwilayah maupun antarkelompok masyarakat dengan mendorong pola kerja sama. Pendayagunaan sumber daya air didasarkan pada keterkaitan antara air hujan, air permukaan, dan air tanah dengan mengutamakan pendayagunaan air permukaan. Setiap orang berkewajiban menggunakan air sehemat mungkin. Pendayagunaan sumber daya air dilakukan dengan mengutamakan fungsi sosial untuk mewujudkan keadilan dengan memperhatikan prinsip pemanfaat air membayar biaya jasa pengelolaan sumber daya air dan dengan melibatkan peran masyarakat.

  Penatagunaan sumber daya air ditujukan untuk menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. Penetapan zona pemanfaatan sumber air merupakan salah satu acuan untuk penyusunan atau perubahan rencana tata ruang wilayah dan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. Penetapan zona pemanfaatan sumber daya air dilakukan dengan: a.

  Mengalokasikan zona untuk fungsi lindung dan budi daya; b. Menggunakan dasar hasil penelitian dan pengukuran secara teknis hidrologis; c.

  Memperhatikan ruang sumber air yang dibatasi oleh garis sempadan sumber air; d.

  Memperhatikan kepentingan berbagai jenis pemanfaatan; e. Melibatkan peran masyarakat sekitar dan pihak lain yang berkepentingan; dan f.

  Memperhatikan fungsi kawasan.

  Penetapan peruntukan air pada sumber air pada setiap wilayah sungai dilakukan dengan memperhatikan: a.

  Daya dukung sumber air; b. Jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhannya; c. Perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber daya air; dan d.

  Pemanfaatan air yang sudah ada.

  Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pengawasan pelaksanaan ketentuan peruntukan air. Penyediaan sumber daya air ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air dan daya air serta memenuhi berbagai keperluan sesuai dengan kualitas dan kuantitas. Penyediaan sumber daya air dalam setiap wilayah sungai dilaksanakan sesuai dengan penatagunaan sumber daya air yang ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan pokok, sanitasi lingkungan, pertanian, ketenagaan, industri, pertambangan, perhubungan, kehutanan dan keanekaragaman hayati, olahraga, rekreasi dan pariwisata, ekosistem, estetika, serta kebutuhan lain yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

  Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan sumber daya air di atas semua kebutuhan. Urutan prioritas penyediaan sumber daya air selain ditetapkan pada setiap wilayah sungai oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan-nya. Apabila penetapan urutan prioritas penyediaan sumber daya air menimbulkan kerugian bagi pemakai sumber daya air, Pemerintah atau pemerintah daerah wajib mengatur kompensasi kepada pemakainya.

  Penyediaan sumber daya air direncanakan dan ditetapkan sebagai bagian dalam rencana pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan- nya.

  Penyediaan sumber daya air dilaksanakan berdasarkan rencana pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Pemerintah atau pemerintah daerah dapat mengambil tindakan penyediaan sumber daya air untuk memenuhi kepentingan yang mendesak berdasarkan perkembangan keperluan dan keadaan setempat.

  Penggunaan sumber daya air ditujukan untuk pemanfaatan sumber daya air dan prasarananya sebagai media dan/atau materi. Penggunaan sumber daya air dilaksanakan sesuai penatagunaan dan rencana penyediaan sumber daya air yang telah ditetapkan dalam rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai bersangkutan. Penggunaan air dari sumber air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, sosial, dan pertanian rakyat dilarang menimbulkan kerusakan pada sumber air dan lingkungannya atau prasarana umum yang bersangkutan. Penggunaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari yang dilakukan melalui prasarana sumber daya air harus dengan persetujuan dari pihak yang berhak atas prasarana yang bersangkutan. Apabila penggunaan air ternyata menimbulkan kerusakan pada sumber air, yang bersangkutan wajib mengganti kerugian. Dalam penggunaan air, setiap orang atau badan usaha berupaya menggunakan air secara daur ulang dan menggunakan kembali air. Dalam keadaan memaksa, Pemerintah dan/atau pemerintah daerah mengatur dan menetapkan penggunaan sumber daya air untuk kepentingan konservasi, persiapan pelaksanaan konstruksi, dan pemenuhan prioritas penggunaan sumber daya air.

  Pengembangan sumber daya air pada wilayah sungai ditujukan untuk peningkatan kemanfaatan fungsi sumber daya air guna memenuhi kebutuhan air baku untuk rumah tangga, pertanian, industri, pariwisata, pertahanan, pertambangan, ketenagaan, perhubungan, dan untuk berbagai keperluan lainnya. Pengembangan sumber daya air dilaksanakan tanpa merusak keseimbangan lingkungan hidup.

  Pengembangan sumber daya air diselenggarakan berdasarkan rencana pengelolaan sumber daya air dan rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan: a.

  Daya dukung sumber daya air ; b.

  Kekhasan dan aspirasi daerah serta masyarakat setempat ; c. Kemampuan pembiayaan; dan d.

  Kelestarian keanekaragaman hayati dalam sumber air.

  Pelaksanaan pengembangan sumber daya air dilakukan melalui konsultasi publik, melalui tahapan survei, investigasi, dan perencanaan, serta berdasarkan pada kelayakan teknis, lingkungan hidup, dan ekonomi. Potensi dampak yang mungkin timbul akibat dilaksanakannya pengembangan sumber daya air harus ditangani secara tuntas dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait pada tahap penyusunan rencana. Pengembangan sumber daya air meliputi: a.

  Air permukaan pada sungai, danau, rawa, dan sumber air permukaan lainnya; b.

  Air tanah pada cekungan air tanah; c. Air hujan; dan d.

  Air laut yang berada di darat.

  Pengembangan air permukaan pada sungai, danau, rawa, dan sumber air permukaan lainnya dilaksanakan dengan memperhatikan karakteristik dan fungsi sumber air yang bersangkutan.

  Air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan. Pengembangan air tanah pada cekungan air tanah dilakukan secara terpadu dalam pengembangan sumber daya air pada wilayah sungai dengan upaya pencegahan terhadap kerusakan air tanah. Pengembangan fungsi dan manfaat air hujan dilaksanakan dengan mengembangkan teknologi modifikasi cuaca. Badan usaha dan perseorangan dapat melaksanakan pemanfaatan awan dengan teknologi modifikasi cuaca setelah memperoleh izin dari Pemerintah.

  Pengembangan fungsi dan manfaat air laut yang berada di darat dilakukan dengan memperhatikan fungsi lingkungan hidup. Badan usaha dan perseorangan dapat menggunakan air laut yang berada di darat untuk kegiatan usaha setelah memperoleh izin pengusahaan sumber daya air dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.

  Pemenuhan kebutuhan air baku untuk air minum rumah tangga dilakukan dengan pengembangan sistem penyediaan air minum. Pengembangan sistem penyediaan air minum menjadi tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah. Badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah merupakan penyelenggara pengembangan sistem penyediaan air minum. Koperasi, badan usaha swasta, dan masyarakat dapat berperan serta dalam penyelenggaraan pengembangan sistem penyediaan air minum.

  Pengaturan terhadap pengembangan sistem penyediaan air minum bertujuan untuk: a.

  Terciptanya pengelolaan dan pelayanan air minum yang berkualitas dengan harga yang terjangkau; b.

  Tercapainya kepentingan yang seimbang antara konsumen dan penyedia jasa pelayanan; dan c.

  Meningkatnya efisiensi dan cakupan pelayanan air minum.

  Pengaturan pengembangan sistem penyediaan air minum diselenggarakan secara terpadu dengan pengembangan prasarana dan sarana sanitasi. Untuk mencapai tujuan pengaturan pengembangan sistem penyediaan air minum dan sanitasi, Pemerintah dapat membentuk badan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada menteri yang membidangi sumber daya air.

  Pemenuhan kebutuhan air baku untuk pertanian dilakukan dengan pengembangan sistem irigasi. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah dengan ketentuan: a.

  Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder lintas provinsi menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah; b.

  Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder lintas kabupaten/kota menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah provinsi; c.

  Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder yang utuh pada satu kabupaten/kota menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Pengembangan sistem irigasi tersier menjadi hak dan tanggung jawab perkumpulan petani pemakai air. Pengembangan sistem irigasi dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dapat dilakukan oleh perkumpulan petani pemakai air atau pihak lain sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Pengembangan sumber daya air untuk industri dan pertambangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air baku dalam proses pengolahan dan/atau eksplorasi. Pengembangan sumber daya air untuk keperluan ketenagaan dapat dilakukan untuk memenuhi keperluan sendiri dan untuk diusahakan lebih lanjut.

  Pengembangan sumber daya air untuk perhubungan dapat dilakukan pada sungai, danau, waduk, dan sumber air lainnya. Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan dengan memperhatikan fungsi sosial dan kelestarian lingkungan hidup. Pengusahaan sumber daya air permukaan yang meliputi satu wilayah sungai hanya dapat dilaksanakan oleh badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah di bidang pengelolaan sumber daya air atau kerja sama antara badan usaha milik negara dengan badan usaha milik daerah. Pengusahaan sumber daya air selain dapat dilakukan oleh perseorangan, badan usaha, atau kerja sama antar badan usaha berdasarkan izin pengusahaan dari Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan-nya. Pengusahaan dapat berbentuk: a.

  Penggunaan air pada suatu lokasi tertentu sesuai persyaratan yang ditentukan dalam perizinan; b.

  Pemanfaatan wadah air pada suatu lokasi tertentu sesuai persyaratan yang ditentukan dalam perizinan; dan/atau c.

  Pemanfaatan daya air pada suatu lokasi tertentu sesuai persyaratan yang ditentukan dalam perizinan.

  Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya, mengatur dan menetapkan alokasi air pada sumber air untuk pengusahaan sumber daya air oleh badan usaha atau perseorangan. Alokasi air untuk pengusahaan sumber daya air harus didasarkan pada rencana alokasi air yang ditetapkan dalam rencana pengelolaansumber daya air wilayah sungai bersangkutan. Alokasi air untuk pengusahaan ditetapkan dalam izin pengusahaan sumber daya air dari Pemerintah atau pemerintah daerah. Dalam hal rencana pengelolaan sumber daya air belum ditetapkan, izin pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai ditetapkan berdasarkan alokasi air sementara.

  Pemerintah wajib melakukan pengawasan mutu pelayanan atas: a. badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air; dan b. badan usaha lain dan perseorangan sebagai pemegang izin pengusahaan sumber daya air.

  Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib memfasilitasi pengaduan masyarakat atas pelayanan dari badan usaha dan perseorangan. Badan usaha dan perseorangan wajib ikut serta melakukan kegiatan konservasi sumber daya air dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitarnya. Rencana pengusahaan sumber daya air dilakukan melalui konsultasi publik. Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan dengan mendorong keikutsertaan usaha kecil dan menengah. Pengusahaan sumber daya air dalam suatu wilayah sungai yang dilakukan dengan membangun dan/atau menggunakan saluran distribusi hanya dapat digunakan untuk wilayah sungai lainnya apabila masih terdapat ketersediaan air yang melebihi keperluan penduduk pada wilayah sungai yang bersangkutan. Pengusahaan sumber daya air didasarkan pada rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai bersangkutan.

  Pengusahaan air untuk negara lain tidak diizinkan, kecuali apabila penyediaan air untuk berbagai kebutuhan telah dapat terpenuhi. Pengusahaan air untuk negara lain harus didasarkan pada rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai yang bersangkutan, serta memperhatikan kepentingan daerah di sekitarnya. Rencana pengusahaan air untuk negara lain dilakukan melalui proses konsultasi publik oleh pemerintah sesuai dengan kewenangannya. Pengusahaan air untuk negara lain wajib mendapat izin dari Pemerintah berdasarkan rekomendasi dari pemerintah daerah dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

  Perencanaan

  Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun untuk menghasilkan rencana yang berfungsi sebagai pedoman dan arahan dalam pelaksanaan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Perencanaan pengelolaan sumber daya air dilaksanakan berdasar-kan asas pengelolaan sumber daya air. Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun sesuai dengan pola pengelolaan sumber daya air. Rencana pengelolaan sumber daya air merupakan salah satu unsur dalam penyusunan, peninjauan kembali, dan/atau penyempur-naan rencana tata ruang wilayah.

  Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun sesuai dengan prosedur dan persyaratan melalui tahapan yang ditetapkan dalam standar perencanaan yang berlaku secara nasional yang mencakup inventarisasi sumber daya air, penyusunan, dan penetapan rencana pengelolaan sumber daya air.

  Inventarisasi sumber daya air dilakukan pada setiap wilayah sungai diseluruh wilayah Indonesia. Inventarisasi dilaksanakan secara terkoordinasi pada setiap wilayah sungai oleh pengelola sumber daya air yang bersangkutan. Pelaksanaan inventarisasi sebagaimana dimaksud pada ayat dapat dilakukan oleh pihak lain berdasarkan ketentuan dan tata cara yang ditetapkan. Pengelola sumber daya air wajib memelihara hasil inventarisasi dan memperbaharui data sesuai dengan perkembangan keadaan.

  Penyusunan rencana pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai dilaksanakan secara terkoordinasi oleh instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya dengan mengikutsertakan para pemilik kepentingan dalam bidang sumber daya air. Instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya mengumumkan secara terbuka rancangan rencana pengelolaan sumber daya air kepada masyarakat. Masyarakat berhak menyatakan keberatan terhadap rancangan rencana pengelolaan sumber daya air yang sudah diumumkan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kondisi setempat.

  Instansi yang berwenang dapat melakukan peninjauan kembali terhadap rancangan rencana pengelolaan sumber daya air atas keberatan masyarakat. Rancangan rencana pengelolaan sumber daya air ditetapkan oleh instansi yang berwenang untuk menjadi rencana pengelolaan sumber daya air. Rencana pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai dirinci ke dalam program yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air oleh instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat.

2.3.4. UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Persampahan

  Pertambahan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat menimbulkan bertambahnya volume, jenis, dan karakteristik sampah yang semakin beragam. Pengelolaan sampah selama ini belum sesuai dengan metode dan teknik pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Sampah telah menjadi permasalahan nasional sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat. Dalam pengelolaan sampah diperlukan kepastian hukum, kejelasan tanggung jawab dan kewenangan Pemerintah, pemerintahan daerah, serta peran masyarakat dan dunia usaha sehingga pengelolaan sampah dapat berjalan secara proporsional, efektif, dan efisien. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka perlu dibentuk Undang-Undang tentang Pengelolaan Sampah

  Dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia menetapkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Sampah yang dikelola berdasarkan Undang-Undang tentang Pengelolaan Sampah, terdiri atas : a.

   Sampah yang secara teknologi belum dapat diolah; dan/atau

  Melaksanakan pengelolaan sampah dan memfasilitasi penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan sampah; e.

  Memfasilitasi, mengembangkan, dan melaksanakan upaya pengurangan, penanganan, dan pemanfaatan sampah; d.

  Melakukan penelitian, pengembangan teknologi pengurangan, dan penanganan sampah; c.

  Menumbuhkembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah; b.

  Pemerintah dan pemerintahan daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. Tugas Pemerintah dan pemerintahan daerah terdiri atas: a.

  Pengelolaan sampah diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab, asas berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan, asas keselamatan, asas keamanan, dan asas nilai ekonomi. Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.

   Sampah yang timbul secara tidak periodik.

   Puing bongkaran bangunan;

  Sampah rumah tangga Sampah rumah tangga berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik.

   Sampah yang timbul akibat bencana;

   Sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun;

   Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun;

  Sampah spesifik, meliputi :

  c.

  Sampah sejenis sampah rumah tangga Sampah sejenis sampah rumah tangga berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya.

  b.

  Mendorong dan memfasilitasi pengembangan manfaat hasil pengolahan sampah; f.

  Memfasilitasi penerapan teknologi spesifik lokal yang berkembang pada masyarakat setempat untuk mengurangi dan menangani sampah; dan g.

  Menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, dan pengawasan kinerja kabupaten/kota dalam pengelolaan sampah; dan d.

  Melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala setiap 6 (enam) bulan selama 20 (dua puluh) tahun terhadap tempat pemrosesan akhir sampah dengan sistem pembuangan terbuka yang telah ditutup; dan f. Menyusun dan menyelenggarakan sistem tanggap darurat pengelolaan sampah sesuai dengan kewenangannya.

  Menetapkan lokasi tempat penampungan sementara, tempat pengolahan sampah terpadu, dan/atau tempat pemrosesan akhir sampah; e.

  Menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/kota sesuai dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah; c. Melakukan pembinaan dan pengawasan kinerja pengelolaan sampah yang dilaksanakan oleh pihak lain; d.

  Menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi; b.

  Dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintahan kabupaten/kota mempunyai kewenangan: a.

  Memfasilitasi penyelesaian perselisihan pengelolaan sampah antarkabupaten/antarkota dalam 1 (satu) provinsi.

  Memfasilitasi kerja sama antardaerah dalam satu provinsi, kemitraan, dan jejaring dalam pengelolaan sampah; c.

  Melakukan koordinasi antarlembaga pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha agar terdapat keterpaduan dalam pengelolaan sampah.

  Menetapkan kebijakan dan strategi dalam pengelolaan sampah sesuai dengan kebijakan Pemerintah; b.

  Dalam menyelenggarakan pengelolaan sampah, pemerintahan provinsi mempunyai kewenangan: a.

  Menetapkan kebijakan penyelesaian perselisihan antardaerah dalam pengelolaan sampah.

  Menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, dan pengawasan kinerja pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah; dan e.

  Menetapkan kebijakan dan strategi nasional pengelolaan sampah; b. Menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria pengelolaan sampah; c. Memfasilitasi dan mengembangkan kerja sama antardaerah, kemitraan, dan jejaring dalam pengelolaan sampah; d.

  Dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah, Pemerintah mempunyai kewenangan: a.

  Penetapan lokasi tempat pengolahan sampah terpadu dan tempat pemrosesan akhir sampah merupakan bagian dari rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pembagian kewenangan pemerintahan di bidang pengelolaan sampah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

  Berdasarkan Undang-Undang tentang Pengelolaan Sampah, setiap orang memiliki hak didalam : a.

  Mendapatkan pelayanan dalam pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan lingkungan dari Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau pihak lain yang diberi tanggung jawab untuk itu; b. Berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, penyelenggaraan, dan pengawasan di bidang pengelolaan sampah; c.

  Memperoleh informasi yang benar, akurat, dan tepat waktu mengenai penyelenggaraan pengelolaan sampah; d.

  Mendapatkan pelindungan dan kompensasi karena dampak negatif dari kegiatan tempat pemrosesan akhir sampah; dan e.

  Memperoleh pembinaan agar dapat melaksanakan pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan lingkungan.

  Setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan. Pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya wajib menyediakan fasilitas pemilahan sampah. Setiap produsen harus mencantumkan label atau tanda yang berhubungan dengan pengurangan dan penanganan sampah pada kemasan dan/atau produknya. Produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam.

  Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha pengelolaan sampah wajib memiliki izin dari kepala daerah sesuai dengan kewenangannya. Izin diberikan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. Keputusan mengenai pemberian izin pengelolaan sampah harus diumumkan kepada masyarakat.

  Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah A.

  Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga terdiri atas:

1. Pengurangan sampah

  Pengurangan sampah meliputi kegiatan: Pembatasan timbulan sampah;

   Pendauran ulang sampah; dan/atau

    Pemanfaatan kembali sampah. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan kegiatan sebagai berikut:

   Menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam jangka waktu tertentu;

   Memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan;

   Memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan;

   Memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang; dan

   Memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang. Pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan menggunakan bahan produksi yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin, dapat diguna ulang, dapat didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh proses alam. Masyarakat dalam melakukan kegiatan pengurangan sampah menggunakan bahan yang dapat diguna ulang, didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh proses alam. Pemerintah memberikan:

   Insentif kepada setiap orang yang melakukan pengurangan sampah; dan

   Disinsentif kepada setiap orang yang tidak melakukan pengurangan sampah.

2. Penanganan sampah.

   Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/ atau sifat sampah;

   Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu;

  Kegiatan penanganan sampah meliputi:

   Sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir;

   Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah; dan/atau

   Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

  B.

  Pengelolaan Sampah Spesifik, pengelolaan sampah spesifik adalah tanggung jawab Pemerintah.

  Pembiayaan dan Kompensasi A.

  Pembiayaan Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membiayai penyelenggaraan pengelolaan sampah. Pembiayaan bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta anggaran pendapatan dan belanja daerah.

  B.

  Kompensasi

   Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan Pemerintah dan pemerintah daerah secara sendiri-sendiri atau bersama- sama dapat memberikan kompensasi kepada orang sebagai akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan penanganan sampah di tempat pemrosesan akhir sampah. Kompensasi berupa:

   Relokasi;

   Pemulihan lingkungan;

   Biaya kesehatan dan pengobatan; dan/atau

   Kompensasi dalam bentuk lain.

  Kerjasama dan Kemitraan A.

  Kerjasama Antar Daerah Pemerintah daerah dapat melakukan kerja sama antarpemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan sampah. Kerja sama dapat diwujudkan dalam bentuk kerja sama dan/atau pembuatan usaha bersama pengelolaan sampah.

  B.

  Kemitraan Pemerintah daerah kabupaten/kota secara sendiri-sendiri atau bersama- sama dapat bermitra dengan badan usaha pengelolaan sampah dalam penyelenggaraan pengelolaan sampah. Kemitraan dituangkan dalam bentuk perjanjian antara pemerintah daerah kabupaten/kota dan badan usaha yang bersangkutan.

  Peran Masyarakat

  Masyarakat dapat berperan dalam pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Peran dapat dilakukan melalui: a.

  Pemberian usul, pertimbangan, dan saran kepada Pemerintah dan/atau pemerintah daerah; b.

  Perumusan kebijakan pengelolaan sampah; dan/atau c. Pemberian saran dan pendapat dalam penyelesaian sengketa persampahan.

2.3.5. UU No. 20 Tahun 2011 Tentang Rumah Susun

  Dalam memenuhi kebutuhan hunian yang layak, Ditjen Cipta Karya turut serta dalam pembangunan Rusunawa yang dilakukan berdasarkan UU No. 20 Tahun 2011. Dalam undang-undang tersebut Rumah susun didefinisikan sebagai bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing- masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama. Peraturan ini juga mengatur perihal pembinaan, perencanaan, pembangunan, penguasaan, pemilikan, dan pemanfaatan, pengelolaan, peningkatan kualitas, pengendalian, kelembagaan, tugas dan wewenang, hak dan kewajiban, pendanaan dan sistem pembiayaan, dan peran masyarakat.

  Rumah susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan- satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama. Penyelenggaraan rumah susun bertujuan untuk: a. menjamin terwujudnya rumah susun yang layak huni dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan serta menciptakan permukiman yang terpadu guna membangun ketahanan ekonomi, sosial, dan budaya; b. meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan ruang dan tanah, serta menyediakan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan dalam menciptakan kawasan permukiman yang lengkap serta serasi dan seimbang dengan memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan; c. mengurangi luasan dan mencegah timbulnya perumahan dan permukiman kumuh; d. mengarahkan pengembangan kawasan perkotaan yang serasi, seimbang, efisien, dan produktif; e. memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi yang menunjang kehidupan penghuni dan masyarakat dengan tetap mengutamakan tujuan pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman yang layak, terutama bagi MBR; f. memberdayakan para pemangku kepentingan di bidang pembangunan rumah susun; g. menjamin terpenuhinya kebutuhan rumah susun yang layak dan terjangkau, terutama bagi MBR dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan dalam suatu sistem tata kelola perumahan dan permukiman yang terpadu; dan h. memberikan kepastian hukum dalam penyediaan, kepenghunian, pengelolaan, dan kepemilikan rumah susun.

2.4. AMANAT INTERNASIONAL 2.4.1. Agenda Habitat

  Pemenuhan kebutuhan hunian yang layak bagi semua orang merupakan amanat dari berbagai agenda internasional, diantarnya Agenda Habitat (The Habitat agenda, Istanbul Declaration on Human settlements). Sebagai salah satu dari 171 negara yang ikut menandatangani deklarasi tersebut, Indonesia turut melaksanakan komitmen untuk menyediakan rumah layak huni yang sehat, aman, terjamin, dapat mudah diakses dan terjangkau yang mencakup sarana dan prasarana pendukungnya bagi masyarakat.

  Pembangunan perumahan dan permukiman merupakan pembangunan multisektoral yang penyelenggaraannya melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Dalam rangka mewujudkan hunian yang layak bagi semua orang (adequate shelter for all), pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan fasilitas kepada masyarakat agar dapat menghuni rumah yang layak, sehat, aman, terjamin, mudah diakses dan terjangkau yang mencakup sarana dan prasarana pendukungnya. Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan program- program pembangunan perumahan dan permukiman, baik berupa intervensi langsung (provider) maupun melalui penciptaan iklim yang kondusif (enabler) sehingga pembangunan perumahan dan permukiman dapat berjalan dengan efisien dan berkelanjutan.

  Namun demikian hak dasar akan hunian yang layak dan terjangkau sampai saat ini masih belum sepenuhnya terpenuhi. Salah satu penyebabnya adalah adanya kesenjangan pemenuhan kuantitas dan kualitas kebutuhan perumahan yang masih sangat besar. Hal tersbut terjadi antara lain karena masih kurangnya kemampuan sebagian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan perumahannya, diantaranya keterbatasan daya beli kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

  Dalam Undang-Undang No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang nasional (RPJPN) tahun 2005

  • – 2025, dinyatakan bahwa sasaran pembangunan perumahan dan permukiman jangka panjang adalah terpenuhi kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukugnya bagi seluruh masyarakat yang dilengkapi oleh sistem pembiayaan perumahan jangka panjang yang berkelanjutan, efisien dan akuntabel, untuk mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh. Hal ini sejalan dengan sasaran MDGs yang terkait dengan bidang perumahan (tujuan 7 target 11), yaitu mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin dipermukiman kumuh pada tahun 2020.

2.4.2. Rio+20

  Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan (UNCSD), juga disebut sebagai KTT Bumi 2012 atau Rio +20, berlangsung 20-22 Juni 2012. Sementara itu jatuh pendek menghasilkan kesepakatan yang mengikat, konferensi menawarkan alasan untuk berharap - dengan baik di sektor swasta dan publik mengakui modal alam sebagai unsur inti penting dari pembangunan berkelanjutan dan, akhirnya, dari kesejahteraan manusia.

  Banyak yang telah berubah sejak pertama "Rio" KTT Bumi 1992. Perubahan manusia ekosistem laut, air tawar dan darat terus mempercepat pada kecepatan yang lebih intens daripada di periode lain dalam sejarah. Sementara kami menggunakan ekosistem telah menyebabkan keuntungan dalam modal fisik dan manusia, telah habis modal alam (stok ekosistem yang menghasilkan arus barang dan jasa ekosistem).

  Di Rio+20 , 193 negara memiliki kesempatan penting untuk memperbaharui komitmen mereka untuk pembangunan berkelanjutan dan mengadopsi upaya- upaya baru untuk mengentaskan kemiskinan dan bergerak ke arah ekonomi hijau global yang - yang dibangun pada penggunaan berkelanjutan dan pengelolaan yang berharga namun rapuh barang alam dan jasa.

  Dua tema utama KTT yang telah dihasilkan yaitu : 1.

   Ekonomi Hijau

  Ini elemen yang relatif baru dalam agenda internasional resmi telah memprovokasi diskusi luas sekitar definisi. Sekelompok kecil negara-negara berkembang tetap skeptis terhadap istilah "ekonomi hijau," yakin bahwa negara maju adalah mendorong konsep ini dalam rangka menjaga pertumbuhan ekonomi global mereka sendiri. CI percaya bahwa perkembangan yang sehat, berkelanjutan, "hijau", ekonomi sangatlah penting untuk masa depan kesejahteraan masyarakat, ekosistem dan seluruh bangsa.

2. Sebuah kerangka kelembagaan untuk pembangunan berkelanjutan

  Ini telah berada di bawah diskusi politik selama lebih dari 10 tahun, dengan tidak ada solusi yang jelas di cakrawala. Apakah fokusnya adalah tujuan pembangunan berkelanjutan atau tindakan baru pertumbuhan, banyak pemerintah tampaknya tidak mau melakukan perubahan mendasar terhadap kebijakan dan sistem PBB.

  Meskipun keberhasilan lengkap pada negosiasi informal telah terbukti sulit dipahami, perlu dicatat: Negosiasi jalan ke Rio telah memiliki dampak positif di seluruh dunia. Ini telah membawa pembangunan berkelanjutan menjadi fokus yang lebih tajam, dan kelompok warga galvanis 'dengan keinginan baru untuk mempengaruhi negosiasi pemerintah.

  Dengan perkiraan 50.000 peserta, pengamat, pemimpin, aktivis dan wartawan berkumpul di Rio, KTT ini menawarkan kesempatan utama bagi pemerintah, bisnis dan organisasi seperti CI untuk menghubungkan satu sama lain, bertukar pikiran dan memprioritaskan pendanaan untuk proyek-proyek baru dan yang sudah ada. Lebih dari 30 anggota tim global CI, termasuk banyak rekan-rekan dari Brasil CI-Brasil, akan ada, berbagi keahlian teknis dan advokasi untuk nilai ekosistem yang akan dimasukkan ke dalam sistem akuntansi nasional dan korporasi. Ini masih harus dilihat apakah semangat baru aktivisme akan tercermin dalam hasil yang ambisius yang memberikan harapan bagi generasi mendatang. Peningkatan pengetahuan yang diperoleh sejak tahun 1992 tentang bagaimana mendesain ulang pertumbuhan dan mengurangi kemiskinan adalah alat terkuat. Urgensi untuk ekosistem tegang bumi dan orang-orang yang kurang beruntung adalah reli menangis kita bersama.

  Rio+20 bukanlah akhir dari sebuah proses. Ini adalah awal, Tim CI akan berada di Rio untuk memastikan bahwa 20 tahun dari sekarang, pada 2032 kami telah membangun ekonomi yang sehat dan berkelanjutan didasarkan pada kehati-hatian menggunakan karunia alam planet kita untuk mendukung anak- anak kita dan anak-anak selama beberapa generasi mendatang.

2.4.3. Millenium Development Goals

  Tujuan dari MDGs adalah untuk mendorong pembangunan dengan meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi di negara-negara termiskin di dunia. Tujuan ini berasal dari target pembangunan internasional sebelumnya dan secara resmi dibentuk setelah KTT Milenium tahun 2000, di mana semua pemimpin dunia yang hadir mengadopsi Deklarasi Milenium PBB. Persiapan untuk KTT Milenium secara resmi diluncurkan dengan laporan Sekretaris Jenderal berjudul, "Kami Rakyat:. Peran PBB di Twenty-First Century" Masukan tambahan disiapkan oleh Forum Millenium, yang menghadirkan perwakilan dari lebih dari 1.000 organisasi masyarakat non-pemerintah dan masyarakat sipil dari lebih dari 100 negara. Forum ini bertemu pada Mei 2000 untuk menyimpulkan proses konsultasi dua tahun meliputi isu-isu seperti pengentasan kemiskinan, perlindungan lingkungan, hak asasi manusia dan perlindungan rentan. Persetujuan dari MDGs itu mungkin hasil utama dari KTT Milenium. Di bidang perdamaian dan keamanan, adopsi dari Laporan Brahimi dipandang sebagai benar melengkapi organisasi untuk melaksanakan mandat yang diberikan oleh Dewan Keamanan.

  MDGs berasal dari Deklarasi Milenium yang dihasilkan oleh PBB . Deklarasi ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak untuk martabat, kebebasan, kesetaraan, standar dasar hidup yang mencakup bebas dari kelaparan dan kekerasan, dan mendorong toleransi dan solidaritas. MDGs dibuat untuk mengoperasionalkan ide-ide ini dengan menetapkan target dan indikator untuk pengentasan kemiskinan untuk mencapai hak-hak yang diatur dalam Deklarasi pada set lima belas tahun.

  Hasil dari The Millennium Deklarasi KTT itu hanya sebagian dari asal-usul MDGs. Ini muncul bukan hanya dari PBB tetapi juga Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Bank Dunia , dan Dana Moneter Internasional . Pengaturan terjadi melalui serangkaian konferensi yang dipimpin PBB pada 1990-an yang berfokus pada isu-isu seperti anak-anak, gizi, hak asasi manusia, perempuan dan lain-lain. OECD mengkritik donor utama untuk mengurangi tingkat mereka Official Development Assistance (ODA). Dengan terjadinya peringatan 50 PBB, maka Sekjen PBB Kofi Annan melihat perlunya untuk mengatasi berbagai masalah pembangunan. Hal ini menyebabkan laporan berjudul, Kami Rakyat: Peran PBB di Abad 21 yang menyebabkan Deklarasi Milenium. Pada saat ini, OECD telah membentuk Tujuan Pembangunan Internasional nya (IDGs) dan itu dikombinasikan dengan upaya PBB dalam pertemuan Bank Dunia 2001 untuk membentuk MDGs.

  Fokus MDG pada tiga bidang utama, yaitu dari valorising modal manusia, memperbaiki infrastruktur, dan meningkatkan hak-hak sosial, ekonomi dan politik, dengan mayoritas fokus akan menuju peningkatan standar dasar hidup. Tujuan dipilih dalam fokus modal manusia termasuk perbaikan gizi, kesehatan (termasuk mengurangi tingkat kematian anak , HIV / AIDS , tuberkulosis dan malaria , serta meningkatkan kesehatan reproduksi), dan pendidikan. Untuk fokus infrastruktur, tujuan termasuk meningkatkan infrastruktur melalui peningkatan akses terhadap air minum yang aman, energi dan informasi / komunikasi teknologi modern, output pertanian penguatan melalui praktek-praktek berkelanjutan, meningkatkan infrastruktur transportasi, dan melestarikan lingkungan. Terakhir, untuk sosial, ekonomi dan politik fokus hak tujuan termasuk pemberdayaan perempuan, mengurangi kekerasan, meningkatkan suara politik, menjamin akses yang sama ke pelayanan publik, dan meningkatkan keamanan hak milik. Tujuan yang dipilih dimaksudkan untuk meningkatkan individu kemampuan manusia dan "memajukan sarana untuk kehidupan yang produktif". MDGs menekankan bahwa kebijakan individu yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini harus disesuaikan dengan kebutuhan negara individu, sehingga sebagian saran kebijakan bersifat umum.

  MDGs juga menekankan peran negara maju dalam membantu negara- negara berkembang, seperti diuraikan dalam Goal Delapan. Tujuan Delapan set tujuan dan target bagi negara maju untuk mencapai "kemitraan global untuk pembangunan" dengan mendukung perdagangan yang adil , penghapusan utang untuk negara-negara berkembang, meningkatkan bantuan dan akses ke obat-obatan penting dengan harga terjangkau, dan transfer teknologi maju. Dengan demikian negara-negara berkembang tidak dilihat sebagai tersisa untuk mencapai MDGs pada mereka sendiri, tetapi sebagai mitra dalam perkembangan bersama untuk mengurangi tingkat kemiskinan di dunia.

  Delapan Goal yang difokuskan dalam tujuan MDGs yaitu :

  Tujuan 1: Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan

  Target 1A : Menurunkan antara 1990 dan 2015, proporsi orang yang hidup dengan pendapatan kurang dari $ 1.25 sehari  Proporsi penduduk di bawah $ 1,25 per hari (PPP nilai)  Rasio kesenjangan kemiskinan [kejadian x kedalaman kemiskinan]  Proporsi kuintil termiskin dalam konsumsi nasional Target 1B : Mewujudkan Ketenagakerjaan yang Layak untuk Wanita, Pria, dan

  Kaum Muda  Pertumbuhan PDB per Kerja Orang  Tingkat Pekerjaan  Proporsi penduduk yang bekerja di bawah $ 1,25 per hari (PPP nilai)  Proporsi pekerja berbasis keluarga dalam populasi bekerja Target 1C : Menurunkan antara 1990 dan 2015, proporsi penduduk yang menderita kelaparan  Prevalensi kekurangan gizi di bawah usia lima tahun  Proporsi penduduk di bawah tingkat minimum konsumsi energi diet

  Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar Universal

  Target 2A : Pada tahun 2015, semua anak dapat menyelesaikan pendidikan dari sekolah dasar, anak perempuan dan anak laki-laki

   Pendaftaran di pendidikan dasar  Penyempurnaan pendidikan dasar

  Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

  Target 3A : Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005, dan di semua tingkatan pada tahun 2015

   Rasio perempuan terhadap laki-laki di pendidikan dasar, menengah dan tinggi  Kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor non- pertanian  Proporsi kursi yang diduduki perempuan di parlemen nasional

  Tujuan 4: Mengurangi Tingkat Kematian Anak

  Target 4A : Menurunkan oleh dua pertiga, antara 1990 dan 2015, angka kematian balita  Kematian balita tingkat  Bayi (di bawah 1) kematian tingkat  Proporsi anak-anak 1 tahun diimunisasi campak

  Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu

  Target 5A : Mengurangi sampai tiga perempat, antara 1990 dan 2015 angka kematian ibu rasio  Rasio kematian ibu  Proporsi kelahiran yang dibantu oleh tenaga kesehatan terlatih Target 5B : Mencapai, pada tahun 2015, Akses Universal Untuk Kesehatan Reproduksi  Tingkat prevalensi kontrasepsi  Angka kelahiran remaja  Cakupan pelayanan Antenatal  Unmet need untuk keluarga berencana

  Tujuan 6: Memerangi HIV / AIDS, Malaria, dan Penyakit Lainnya

  Target 6A : Mengendalikan tahun 2015 dan mulai membalikkan penyebaran HIV / AIDS

   Prevalensi HIV di antara penduduk usia 15-24 tahun  Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko tinggi terakhir  Proporsi penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV / AIDS

  Target 6B : pada tahun 2010, akses universal untuk pengobatan HIV / AIDS bagi semua orang yang membutuhkannya  Proporsi penduduk dengan canggih infeksi HIV dengan akses terhadap obat antiretroviral

  Target 6C : Mengendalikan pada tahun 2015 dan mulai membalikkan tingkat penyebaran malaria dan penyakit utama lainnya  Tingkat prevalensi dan kematian yang terkait dengan malaria

   Proporsi anak di bawah 5 tidur di bawah kelambu berinsektisida  Proporsi anak di bawah 5 dengan demam yang diobati dengan obat anti-malaria yang tepat  Tingkat insiden, prevalensi dan kematian yang terkait dengan TBC  Proporsi kasus TBC yang terdeteksi dan sembuh di bawah DOTS

  (Directly Observed Treatment Short Course)

  Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan

  Target 7A : Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan program nasional, kehilangan kebalikan dari sumber daya lingkungan

  Target 7B : Mengurangi keanekaragaman hayati kerugian, mencapai, pada tahun 2010, penurunan yang signifikan dalam tingkat kerugian  Proporsi luas lahan yang tertutup oleh hutan  Emisi CO 2 , total, per kapita dan per $ 1 GDP (PPP)  Konsumsi bahan perusak lapisan ozon  Proporsi persediaan ikan dalam batas biologis yang aman  Proporsi total sumber daya air yang digunakan  Proporsi wilayah darat dan laut yang dilindungi  Proporsi spesies terancam punah Target 7C : 2015, proporsi penduduk tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum yang aman dan dasar sanitasi (Untuk informasi lebih lanjut lihat entri pada pasokan air)  Proporsi penduduk dengan akses berkelanjutan terhadap sumber air yang diperbaiki , perkotaan dan pedesaan  Proporsi penduduk perkotaan dengan akses ke sanitasi yang Target 7D : 2020, telah mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan setidaknya 100 juta penghuni permukiman kumuh  Proporsi penduduk perkotaan yang tinggal di daerah kumuh

  Tujuan 8 : Mengembangkan Kemitraan Global Untuk Pembangunan

  Target 8A : Mengembangkan terbuka, berbasis peraturan, dapat diprediksi, perdagangan non-diskriminatif dan sistem keuangan  Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik , pembangunan, dan pengurangan kemiskinan - baik secara nasional dan internasional

  Target 8B : Kebutuhan Khusus Negara-negara Least Developed (LDCs)  Termasuk: tarif dan kuota akses bebas untuk ekspor LDC, disempurnakan program penghapusan utang untuk HIPC dan pembatalan utang bilateral resmi, dan lebih murah hati ODA (Official Development Assistance) untuk negara-negara berkomitmen untuk pengentasan kemiskinan

  Target 8C : Menangani kebutuhan khusus negara-negara berkembang daratan dan pulau kecil negara berkembang

   Melalui Program Aksi untuk Pembangunan Berkelanjutan Kecil Negara Berkembang Pulau dan hasil dari sesi khusus dua puluh dua Majelis Umum Target 8D : Menangani utang negara berkembang melalui upaya nasional maupun internasional agar pengelolaan hutang berkesinambungan dalam jangka panjang  Beberapa indikator yang tercantum di bawah dimonitor secara terpisah untuk setidaknya negara-negara maju (LDCs), Afrika, negara-negara berkembang daratan dan pulau kecil negara berkembang.

   Bantuan pembangunan resmi (ODA):

  • Net ODA, total dan untuk LDC, sebagai persentase OECD / DAC donor GNI
  • Proporsi total ODA sektor dialokasikan dari OECD / DAC donor terhadap pelayanan sosial dasar (pendidikan dasar, perawatan kesehatan dasar, gizi, air bersih dan sanitasi)
  • Proporsi ODA bilateral OECD / DAC donor yang mengikat
  • ODA yang diterima di negara-negara yang terkurung daratan sebagai proporsi GNIS mereka
  • ODA yang diterima kecil negara berkembang pulau itu sebagai proporsi GNIS mereka
  • Proporsi dari total impor negara maju (dengan nilai dan tidak termasuk senjata) dari negara-negara berkembang dan dari LDCs, mengaku bebas pajak
  • Tarif rata-rata yang dikenakan oleh negara-negara maju pada produk pertanian dan tekstil dan pakaian dari negara-negara berkembang
  • Dukungan estimasi pertanian untuk negara-negara OECD sebagai persentase dari PDB mereka
  • Proporsi ODA yang disediakan untuk membantu membangun kapasitas perdagangan

   Akses pasar:

   Keberlanjutan hutang:

  • Total jumlah negara yang telah mencapai mereka poin keputusan HIPC dan jumlah yang telah mencapai titik penyelesaian HIPC mereka (kumulatif)
  • Penghapusan utang dilakukan di bawah HIPC inisiatif, US $
  • Layanan utang sebagai persentase dari ekspor barang dan jasa

  Target 8E : Dalam kerjasama dengan perusahaan farmasi, menyediakan akses yang terjangkau, obat esensial di negara berkembang  Proporsi penduduk dengan akses ke obat-obatan penting dengan harga terjangkau secara berkelanjutan

  Target 8F : Dalam kerjasama dengan sektor swasta, dalam memanfaatkan teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi

   Sambungan telepon dan pelanggan telepon seluler per 100 penduduk  Komputer pribadi yang digunakan per 100 penduduk  Pengguna Internet per 100 Populasi 2.4.4.

   Agenda Pembangunan Pasca 2015 / Sustainable Development Goals

  Berbeda halnya dengan MDGs yang ditujukan hanya pada negara- negara berkembang, SDGs memiliki sasaran yang lebih universal. Perumusan yang jelas mengenai esensi dari SDGs telah disampaikan dalam KTT Rio+20 pada bulan Juni 2012. Isu-isu yang diangkat sebagai indikator dalam SDGs adalah:

1. Combating poverty 2.

  Changing consumption patterns 3. Promoting sustainable human settlement development 4. Biodiversity and forests 5. Oceans 6. Water resources 7. Advancing food securities 8. Energy, including from renewable sources

  Untuk itu, pembahasan terkait SDGs pada KTT Rio+20 ini diharapkan dapat memperoleh momentum politis tertinggi sehingga dapat satu suara mengenai pentingnya SDGs sebagai bagian dan pelengkap proses review implementasi MDGs. SDGs juga diharapkan dapat disepakati sebagai bagian dari agenda pembangunan global pasca 2015 dan dapat pula mengidentifikasi berbagai kesenjangan (gap) implementasi berbagai perangkat global untuk pembangunan berkelanjutan, seperti Rio Principles, Agenda21 dan Johannesburg Plan of Implementation (JPoI).

  Pada prinsipnya pembangunan berkelanjutan bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah proses (journey) yang terus berjalan. Diperlukan kerjasama dan koordinasi yang lebih terintegrasi antar instansi-instansi dengan melibatkan sektor swasta dan masyarakat madani dalam proses pembuatan kebijakan dan penerapan pembangunan berkelanjutan.

  Konsep pembangunan berkelanjutan telah diterapkan terlebih dahulu dalam dokumen resmi, "Our Common Future ', yang ditulis pada tahun 1987 oleh sebuah komisi yang dibuat oleh PBB. Dokumen ini memberikan definisi berikut untu k pembangunan berkelanjutan: “pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri”.

  Ide ini melibatkan hidup dalam daya dukung ekosistem, sehingga untuk menghindari sumber daya pemanfaatan ritme yang lebih tinggi dari generasi sumber daya satu, dan jumlah polusi yang unggul kuantitas bahwa sistem alami mampu menyerap atau menetralisir.

  Pada tahun 1992, konsep pembangunan berkelanjutan secara luas menyebar dalam KTT Bumi, Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan yang diadakan di Rio de Janeiro. Di antara dokumen yang ditandatangani, 'Agenda 21: Aliansi Global untuk Lingkungan dan Pembangunan' adalah salah satu yang luar biasa. Ini adalah rencana aksi untuk bagian pertama dari abad ke-21 dan merupakan dasar untuk aliansi global baru untuk pembangunan berkelanjutan dan perlindungan lingkungan.

  Agenda 21, adalah sebuah program aksi yang mempromosikan pembangunan berkelanjutan di tiga bidang mendasar: sosial, ekonomi dan lingkungan. Oleh karena itu, tindakan prioritas, antara lain adalah: mempromosikan pertumbuhan yang berkelanjutan, memerangi kemiskinan, kompatibilitas dinamika demografi dan keberlanjutan, efisiensi pemanfaatan sumber daya, manajemen produk kimia dan limbah, dan partisipasi sosial dan tanggung jawab.

  Dalam bab ke-28, lembaga lokal didesak untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan untuk memulai dialog terbuka dan partisipatif dengan warga, organisasi dan entitas untuk mengadopsi rencana aksi lingkungan dan pembangunan terutama dihitung untuk masalah-masalah lokal, peluang dan nilai-nilai, dan dimaksudkan untuk membuat kota lebih berkelanjutan, layak huni dan adil.

  Ide ini secara praktis diimplementasikan ketika Piagam Aalborg disetujui dan ditandatangani oleh kota peserta pada Konferensi Eropa pertama di Kota Berkelanjutan dan Kota, yang berlangsung di Aalborg (Denmark) pada 27 Mei 1994. Menurut piagam, kotamadya melibatkan diri dalam mengadopsi strategi lokal dan membuat keberlanjutan salah satu pilar utama aksi mereka. Komitmen penandatangan Piagam Aalborg (di antara mereka, ada lebih dari 150 kota Catalan) terdiri dari pelaksanaan Agenda 21 di skala lokal, dan mengikuti semua prinsip-prinsipnya.

  Meskipun sebagian besar dokumen hukum berkonsultasi pada lingkungan tidak mempertimbangkan variabel demografi sebagai faktor penting ketika kebijakan lingkungan dilaksanakan, kami telah menemukan dokumen menarik yang berisi beberapa refleksi di atasnya, meskipun berhubungan dengan Amerika Serikat. Ini adalah studi singkat tapi lengkap tentang variabel demografi yang harus dipertimbangkan ketika membuat kebijakan, yaitu: volume dan penyebaran penduduk, struktur umur (dengan minat khusus pada penuaan), komposisi etnis masyarakat, ekonomi status, migrasi dan komposisi rumah.

  Tepatnya, gagasan utama dari kebijakan lingkungan dengan perspektif demografis harus dimaksudkan, pertama, pada mempelajari apakah evolusi temporal beberapa variabel yang signifikan dari perspektif lingkungan, seperti konsumsi energi, emisi kontaminan dan gas rumah kaca, atau daur ulang, juga merespon perubahan volume, distribusi dan komposisi penduduk, perilaku diferensial individu sesuai dengan status sosial ekonomi mereka, dll, dan, kedua, pada analisis apakah perbedaan teritorial (antar daerah maupun antar negara) merespon dengan komplek penyebab, yang akan mencakup variabel demografis disebutkan sebelumnya.

Dokumen baru