Bab II - DOCRPIJM 1ff5db12a9 BAB IIUPDATE BAB II KONSEP PERENCANAAN BIDANG CIPTA KARYA

 0  0  51  2019-03-15 02:43:41 Laporkan dokumen yang dilanggar

Bab II Arahan Perencanaan Pembangunan Bidang Cipta Karya 2.1. KONSEP PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PROGRAM DITJEN CIPTA KARYA Konsep perencanaan dan pelaksanaan bidang Cipta Karya merupakan

  Keterkaitan dari kebijakan-kebijakan amanat pembangunan berkelanjutan dengan kondisi eksisting dari pembangunan Bidang Cipta Karya, isu-isu strategis,serta permasalahan dan potensi yang dimiliki daerah akan menghasilkan rencana dan program bidang Cipta Karya dan pelaksanaan pembangunanbidang Cipta Karya. Dengan dukungan dari stakeholder, dalam hal ini pihak dari daerah(provinsi/kota/kabupaten), dunia usaha dan masyarakat secara tepat, maka cita-cita untuk mewujudkan permukiman yang layak huni dan berkelanjutanakan dapat terlaksana dan tercapai.

2.2. AMANAT PEMBANGUNAN NASIONAL 1. RPJP Nasional 2005 – 2025 (UU No.17 Tahun 2007)

A. Umum

  Untuk itu dalam 20 tahun mendatang sangat penting dan mendesak bagi Bangsa Indonesia untuk melakukan penataankembali berbagai langkah-langkah antara lain dibidang pengelolaan sumber daya alam, sumber daya manusia, lingkungan hidup dan kelembagaannyasehingga bangsa Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dan mempunyai posisi yang sejajar, serta daya saing yang kuat didalam pergaulan masyarakatinternasional. Konsep Perencanaan dan Pembangunan Bidang Cipta KaryaDengan ditiadakannya Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai pedoman penyusunan rencana pembangunan nasional dan diperkuatnyaotonomi daerah dan desentralisasi pemerintahan dalam Negara KesatuanRepublik Indonesia, maka untuk menjaga pembangunan yang berkelanjutan,Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional sangat diperlukan.

B. Visi dan Misi Pembangunan Nasional Tahun 2005 – 2025

  Berdasarkan kondisi Bangsa Indonesia saat ini, tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yangdimiliki oleh bangsa Indonesia dan amanat pembangunan yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945, visi pembangunan Nasional tahun 2005 Dalam mewujudkan visi pembangunan nasional tersebut ditempuh melalui 8 (delapan) misi pembangunan nasional sebagai berikut : 1. Acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah non kementerian untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaanpercepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masing-masing, yang dituangkan dalam dokumen rencana strategismasing-masing kementerian/lembaga pemerintah non kementerian sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan.

3. Memperkuat kemampuan SDM dan IPTEK nasional untuk mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi

  Pendekatan KPI dilakukan untuk mempermudah identifikasi, pemantauan, dan evaluasi ataskegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat dengan faktor konektivitas dan SDM IPTEK yang sama. Pendekatan KPI dilakukan untuk mempermudah identifikasi, pemantauan, dan evaluasi atas kegiatan ekonomiatau sentra produksi yang terikat dengan faktor konektivitas dan SDM IPTEK yang sama.

NO KORIDOR KPI

1 Koridor Ekonomi (KE) Sumatera Sei Mangkei, Tapanuli Selatan, Dairi Dumai, Tj Api-Api – Tj Carat,Muaraenim – Pendopo, Palembang Prabumulih, Bangka Barat, Babel,Batam, Bandar Lampung, Lampung Timur, Besi Baja Cilegon 2 Koridor Ekonomi (KE) Jawa Banten, DKI Jakarta, Karawang Bekasi, Purwakarta, Cilacap,Surabaya Gresik, Lamongan, Pasuruan

3 Koridor Ekonomi (KE) Bali Badung, Buleleng, Lombok Tengah

  Koridor ini dapat menjadi benchmark perubahan ekonomi yang telah suksesberkembang dalam rantai nilai dari yang sebelumnya fokus di industri primer menjadi fokus di industri tersier, sebagaimana telah terjadi di Singapura, Shenzendan Dubai. Koridor Ekonomi Jawa memiliki beberapa hal yang harus dibenahi, antara lain: Tingginya tingkat kesenjangan PDRB dan kesenjangan kesejahteraan di antara provinsi di dalam koridor; Pertumbuhan tidak merata sepanjang rantai nilai, kemajuan sektor manufaktur tidak diikuti kemajuan sektor-sektor yang lain; Kurangnya investasi domestik maupun asing;  Kurang memadainya infrastruktur dasar.

2.2.4. MP3KI

  Master plan tersebut adalah Master Plan Percepatan dan PerluasanPengurangan Kemiskinan (MP3KI), yang bertujuan memeratakan pertumbuhan ekonomi dalam mengurangi kesenjangan. MP3KI adalah affirmative action, sehingga pembangunan ekonomi yang terwujud tidak hanya Pro-growth, tetapi juga Pro-Poor, Pro-job dan Pro-environment; termasuk penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat miskin.

2. Lahan usaha petani dan nelayan makin terbatas 3

  Sesuai dengan hal tersebut, KEK terdiri atas satu atau beberapa Zona, antara lain Zona pengolahan ekspor,logistik, industri, pengembangan teknologi, pariwisata, dan energi yang kegiatannya dapat ditujukan untuk ekspor dan untuk dalam negeri. Fasilitas tersebut terdiri atasfasilitas fiskal, yang berupa perpajakan, kepabeanan dan cukai, pajak daerah dan retribusi daerah, dan fasilitas nonfiskal, yang berupa fasilitas pertanahan,perizinan, keimigrasian, investasi, dan ketenagakerjaan, serta fasilitas dan kemudahan lain yang dapat diberikan pada Zona di dalam KEK, yang akandiatur oleh instansi berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

2.2.6. Direktif Presiden (Inpres No.3 Tahun 2010)

  Jiwa dan semangat yang tertuang dalam Agenda 21 dan Deklarasi Habitat II adalah bahwa rumah merupakan kebutuhan dasar manusia dan menjadi hakbagi semua orang untuk menempati hunian yang layak dan terjangkau(adequate and affordable shelter for all). Undang-undang perumahan dan kawasan permukiman ini juga mencakup pemeliharaan dan perbaikan yang dimaksudkan untuk menjagafungsi perumahan dan kawasan permukiman agar dapat berfungsi secara baik dan berkelanjutan untuk kepentingan peningkatan kualitas hidup orangperseorangan yang dilakukan terhadap rumah serta prasarana, sarana, dan utilitas umum di perumahan, permukiman, lingkungan hunian dan kawasanpermukiman.

2.3.2. UU No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

  Pembangunan nasional untuk memajukan kesejahteraan umum sebagaimana dimuat di dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada hakekatnyaadalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia yang menekankan pada keseimbangan pembangunan,kemakmuran lahiriah dan kepuasan batiniah, dalam suatu masyarakat Indonesia yang maju dan berkeadilan sosial berdasarkan Pancasila. Undang-undang tentang Bangunan Gedung mengatur fungsi bangunan gedung, persyaratan bangunan gedung, penyelenggaraan bangunan gedung,termasuk hak dan kewajiban pemilik dan pengguna bangunan gedung pada setiap tahap penyelenggaraan bangunan gedung, ketentuan tentang peranmasyarakat dan pembinaan oleh pemerintah, sanksi, ketentuan peralihan, dan ketentuan penutup.

2.3.3. UU No. 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air

  Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsimenampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakanpemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Perencanaan Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun untuk menghasilkan rencana yang berfungsi sebagai pedoman dan arahan dalam pelaksanaan Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun sesuai dengan prosedur dan persyaratan melalui tahapan yang ditetapkan dalam standarperencanaan yang berlaku secara nasional yang mencakup inventarisasi sumber daya air, penyusunan, dan penetapan rencana pengelolaan sumber daya air.

2.3.4. UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Persampahan

  Pemerintah dan pemerintahan daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungansesuai dengan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.  Sampah yang timbul akibat bencana;  Sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun;  Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun; Sampah spesifik, meliputi : c.

1. Pengurangan sampah

  Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan kegiatan sebagai berikut:  Menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam jangka waktu tertentu;  Memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan;  Memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan;  Memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur ulang; dan  Memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang. Pemerintah memberikan:  Insentif kepada setiap orang yang melakukan pengurangan sampah; dan  Disinsentif kepada setiap orang yang tidak melakukan pengurangan sampah.

2. Penanganan sampah

  Kompensasi  Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan  Relokasi;  Pemulihan lingkungan;  Biaya kesehatan dan pengobatan; dan/atau  Kompensasi dalam bentuk lain. Kemitraan dituangkan dalam bentuk perjanjian antara pemerintah daerah kabupaten/kota dan badanusaha yang bersangkutan.

2.3.5. UU No. 20 Tahun 2011 Tentang Rumah Susun

  Dalam memenuhi kebutuhan hunian yang layak, Ditjen Cipta Karya turut serta dalam pembangunan Rusunawa yang dilakukan berdasarkan UU No. Dalam undang-undang tersebut Rumah susun didefinisikan sebagai bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yangterbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dan tanahbersama.

2.4. AMANAT INTERNASIONAL 1. Agenda Habitat

  Dalam rangka mewujudkan hunian yang layak bagi semua orang(adequate shelter for all), pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan fasilitas kepada masyarakat agar dapat menghuni rumah yang layak, sehat,aman, terjamin, mudah diakses dan terjangkau yang mencakup sarana dan prasarana pendukungnya. Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan program-program pembangunan perumahan dan permukiman, baik berupa intervensi langsung (provider) maupun melalui penciptaan iklim yang kondusif (enabler)sehingga pembangunan perumahan dan permukiman dapat berjalan dengan efisien dan berkelanjutan.

2.4.2. Rio+20

  Perubahan manusia ekosistem laut, air tawar dan darat terus mempercepat padakecepatan yang lebih intens daripada di periode lain dalam sejarah. Sementara kami menggunakan ekosistem telah menyebabkan keuntungan dalam modalfisik dan manusia, telah habis modal alam (stok ekosistem yang menghasilkan arus barang dan jasa ekosistem).

2. Sebuah kerangka kelembagaan untuk pembangunan berkelanjutan

  Dengan perkiraan 50.000 peserta, pengamat, pemimpin, aktivis dan wartawan berkumpul di Rio, KTT ini menawarkan kesempatan utama bagipemerintah, bisnis dan organisasi seperti CI untuk menghubungkan satu sama lain, bertukar pikiran dan memprioritaskan pendanaan untuk proyek-proyek barudan yang sudah ada. Ini adalah awal, Tim CI akan berada di Rio untuk memastikan bahwa 20 tahun dari sekarang, pada 2032 kamitelah membangun ekonomi yang sehat dan berkelanjutan didasarkan pada kehati-hatian menggunakan karunia alam planet kita untuk mendukung anak-anak kita dan anak-anak selama beberapa generasi mendatang.

2.4.3. Millenium Development Goals

  Deklarasi ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak untuk martabat, kebebasan,kesetaraan, standar dasar hidup yang mencakup bebas dari kelaparan dan kekerasan, dan mendorong toleransi dan solidaritas. Tujuan Delapan settujuan dan target bagi negara maju untuk mencapai "kemitraan global untuk pembangunan" dengan mendukung perdagangan yang adil , penghapusanutang untuk negara-negara berkembang, meningkatkan bantuan dan akses ke obat-obatan penting dengan harga terjangkau, dan transfer teknologi maju.

1. Combating poverty 2

  Ide ini melibatkan hidup dalam daya dukung ekosistem, sehingga untuk menghindari sumber daya pemanfaatan ritme yang lebih tinggi dari generasisumber daya satu, dan jumlah polusi yang unggul kuantitas bahwa sistem alami mampu menyerap atau menetralisir. Dalam bab ke-28, lembaga lokal didesak untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan untuk memulai dialog terbuka dan partisipatif dengan warga,organisasi dan entitas untuk mengadopsi rencana aksi lingkungan dan pembangunan terutama dihitung untuk masalah-masalah lokal, peluang dannilai-nilai, dan dimaksudkan untuk membuat kota lebih berkelanjutan, layak huni dan adil.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2019-03-13

Bab II - DOCRPIJM 1ff5db12a9 BAB IIUPDATE BAB..

Gratis

Feedback