BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Strategi Pengembangan Pengelolaan Laboratorium IPA di SMA Negeri 1 Boja

Gratis

0
0
39
10 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Strategi

2.1.1 Konsep Strategi

  Menurut Rangkuti (2014:3) strategi adalah alat untuk mencapai tujuan. Menurut Daft (2010:249) mendefinisikan strategi (strategy) secara eksplisit, yaitu rencana tindakan yang menerangkan tentang alokasi sumber daya serta berbagai aktivitas untuk menghadapi lingkungan, memperoleh keunggulan bersaing, dan mencapai tujuan perusahaan. Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktifitas dalam kurun waktu tertentu. Di dalam strategi yang baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi faktor pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efisien dalam pendanaan dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara efektif. Strategi dibedakan dengan taktik yang memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dan waktu yang lebih singkat.

  Pengertian strategi lainnya seperti yang diutarakan Craig & Grant (2002) adalah strategi merupakan penetapan sasaran dan tujuan jangka panjang sebuah perusahaan dan arah tindakan serta alokasi sumber daya yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan. Jadi, dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa strategi adalah gabungan dari kegiatan yang direncanakan dan diimplementasikan dalam sebuah aktivitas untuk mengantisipasi persaingan dan perkembangan yang tidak terduga.

2.1.2 Manajemen Strategis

  Manajemen strategis semakin penting arti dan manfaatnya apabila diingat bahwa lingkungan organisasi mengalami perubahan yang semakin cepat dan komplek, sehingga keberhasilan manajemen strategis ditentukan oleh para menejer atau pimpinannya. Menurut Siagian (2004:15) menyatakan pengertian manajemen strategi adalah serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi tersebut. Menurut Rindaningsih (2009) pengertian manajemen strategis adalah proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara pelaksanaannya, yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organisasi, untuk mencapai tujuannya.

  Lebih lanjut menurut Akdon (dalam Rindaningsih, 2009) menuturkan manajemen strategik berkaitan dengan upaya memutuskan persoalan strategi dan perencanaan, dan bagaimana strategik tersebut dilaksanakan dalam praktiknya. Manajemen strategik dapat dipandang sebagai hal yang mencakup tiga macam elemen utama. Pertama, terdapat adanya analisis strategik dimana penyusunan strategi yang bersangkutan berupaya untuk memahami posisi strategik organisasi yang bersangkutan. Kedua, terdapat pula adanya pilihan strategik yang berhubungan dengan perumusan aneka macam arah tindakan, evaluasinya, dan pilihan antara mereka. Ketiga, terdapat pula implementasi strategi yang berhubungan dengan merencanakan bagaimana pilihan strategi dapat dilaksanakan.

2.1.3 Rencana Strategis

  Menurut Edward (Umar, 2002), rencana strategis adalah rencana yang dilakukan oleh para manager paling atas dan menengah untuk mencapai tujuan organisasi yang lebih luas. Menurut Tjokroamidjojo (2000) rencana strategis adalah suatu cara bagaimana mencapai tujuan sebaik-baiknya dengan menggunakan sumber-sumber yang ada supaya lebih efisien dan efektif, dengan menentukan tujuan apa yang akan dicapai atau yang akan dilakukan, bagaimana, bilamana dan oleh siapa.

  Untuk itu dalam penerapannya di sekolah, kepala sekolah perlu membuat suatu rencana strategis yang mana dikoordinasikan dengan para guru dan komite untuk dijalankan bersama demi mencapai tujuan yang diharapkan. Rencana strategis merupakan bagian yang penting dalam Total Quality Managenent (TQM). Tanpa adanya perencanaan baik itu jangka panjang maupun jangka pendek yang jelas dan terukur, maka institusi atau lembaga tidak akan bisa merencanakan peningkatan mutu.

  Rencana strategis suatu lembaga pendidikan menerapkan prinsip-prinsip sebagai berikut: mampu memperbaiki hasil pendidikan, membawa perubahan yang lebih baik, prioritas kebutuhan, partisipasi, keterwakilan, realitas sesuai dengan hasil analisis SWOT, mendasarkan pada hasil review dan evaluasi, keterpaduan menyeluruh, transparan, dan keterkaitan serta kesepadanan secara vertikal dan horizontal dengan rencana-rencana lain (Tilaar, 2000).

  Dari beberapa pendapat di atas maka rencana strategis pengelolaan laboratorium dalam penelitian ini adalah rencana yang dilakukan oleh stakeholder sekolah dengan memperhatikan prinsip perbaikan hasil pengelolaan laboratorium, membawa perubahan yang lebih baik, prioritas kebutuhan, partisipasi, keterwakilan, realitas sesuai dengan hasil analisis SWOT, mendasarkan pada hasil review dan evaluasi, keterpaduan menyeluruh, transparan, dan keterkaitan serta kesepadanan secara vertikal dan horizontal dengan rencana-rencana lain.

2.1.4 Tahap-tahap Penyusunan Rencana Strategis

  Tim SP4 UGM (Somantri, 2014) mengemukakan bahwa proses penyusunan rencana strategis pendidikan dapat dilakukan dalam tiga tahap yaitu : 1.

  Diagnosis Tahap diagnosa dimulai dengan pengumpulan berbagai informasi perencanaan sebagai bahan kajian. Kajian lingkungan internal bertujuan untuk memahami kekuata-kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness) dalam pengelolaan pendidikan. Sementara kajian lingkungan eksternal bertujuan untuk mengungkap peluang-peluang (opportunities) dan tantangan-tantangan (threats) dalam penyelenggaraan pendidikan.

2. Perencanaan

  Tahap perencanaan dimulai dengan menetapkan visi dan misi. Visi (vision) merupakan gambaran (wawasan) tentang keadaan yang diinginkan di masa depan. Sementara misi (mission) ditetapkan dengan jalan mempertimbangkan rumusan penugasan, yang merupakan tuntutan tugas dari luar organisasi dan keinginan dari lembaga berkaitan dengan visi masa depan dan situasi yang dihadapi saat ini. Setelah menetapkan visi, misi, tahap selanjutnya adalah tahap pengembangan dirumuskan berdasarkan misi yang diemban dan dalam rangka menghadapi isu utama (isu strategis). Urutan strategis pengembangan disusun sesuai dengan isu-isu utama. Dalam rumusan strategi pengembangan dapat dibedakan menurut kelompok strategi, dengan rincian terdiri atas tiga tingkat (strategi utama, substrategi, dan rincian strategi).

  Jadi dapat dirangkum bahwa dalam tahap perencanaan terlebih dahulu dilakukan penetapan visi dan misi, selanjutnya visi dan misi tersebut dikembangkan kedalam bentuk isu-isu strategis, dari masing-masing isu strategis maka dibuat strategi untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan.

3. Menyusun dokumen rencana strategis

  Tahap penyusunan dokumen rencana strategis dirumuskan secara singkat, tidak terlalu tebal supaya dipahami dan dapat dilaksanakan oleh tim manajemen secara luwes. Perumusannya dapat dilakukan sejak saat pengkajian telah menghasilkan temuan. Rumusan visi yang disepakati bersama akan dijadikan sebagai panduan dalam merumuskan misi dan tujuan organisasi pendidikan. Hasil kajian tentang kekuatan dan kelemahan organisasi pendidikan serta peluang dan tantangan eksternalnya di suatu sisi serta rumusan visi, misi dan tujuan organisasi pendidikan dapat menghailkan isu-isu utama dalam pembangunan pendidikan dalam konteks masing-masing. Di antara isu-isu yang dikaji, pemilihan terhadap strategi pengembangan kegiatan dan pembangunan pendidikan. Alternatif rencana yang terbaik adalah alternatif perencanaan yang paling memungkinkan adanya perubahan manakala dalam proses implementasinya memerlukan adanya penyesuaian keadaaan.

2.2 Pengelolaan

  Kata “Pengelolaan” dapat disamakan dengan manajemen, yang berarti pula pengaturan atau pengurusan (Arikunto, 1993: 31). Banyak orang yang mengartikan manajemen sebagai pengaturan, pengelolaan, dan pengadministrasian, dan memang itulah pengertian yang populer saat ini. Pengelolaan diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujuan tertentu.

  Manajemen adalah kemampuan dan keterampilan khusus untuk melakukan suatu kegiatan, baik bersama orang lain maupun melalui orang lain dalam mencapai tujuan organisasi (Sudjana, 2000:17). Stoner (Handoko, 2005: 50) menyatakan bahwa manajemen merupakan proses perencanan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan, usaha-usaha para anggota organisasi dan pengguna sumber daya organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, apabila dalam sistem dan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, penganggaran, dan sistem pengawasan tidak baik, proses manajemen secara keseluruhan tidak lancar sehingga proses pencapaian tujuan akan terganggu atau mengalami kegagalan (Qalyubi, 2007: 271).

  Perencanaan merupakan proses dasar dari suatu kegiatan pengelolaan dan merupakan syarat mutlak dalam suatu kegiatan pengelolaan. Kemudian pengorganisasian berkaitan dengan pelaksanaan perencanaan yang telah ditetapkan. Sementara itu pengarahan diperlukan agar menghasilkan sesuatu yang diharapkan dan pengawasan yang dekat. Dengan evaluasi, dapat menjadi proses monitoring aktivitas untuk menentukan apakah individu atau kelompok memperolah dan mempergunakan sumber-sumbernya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Proses merencanakan, mengorganising, memimpin, dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.

  Slameto (2009:2) berpendapat bahwa dalam proses manajemen terlibat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang manajer atau pimpinan, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organising), pemimpin (leading), dan pengawasan (controlling). Oleh karena itu, manajemen diartikan sebagai upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien. Henry Fayol (dalam Salirawati, 2009) menyatakan bahwa pengelolaan laboratorium hendaknya dijalankan berkaitan dengan unsur atau fungsi-fungsi manajer, yakni perencanaan, pengorganisasian, pemberian komando, pengkoordinasian, dan pengendalian Menurut Luther M. Gullick (dalam Rosbiono, 2004:24) menyatakan fungsi-fungsi manajemen yang penting adalah perencanaan, pengorganisasian, pengadaan tenaga kerja, pemberian bimbingan, pengkoordinasian, pelaporan, dan penganggaran. Pendapat lain dikemukakan oleh Terry (dalam Salirawati, 2009) yang mengemukakan fungsi manajemen menjadi empat, yaitu perencanaan (Planning), organisasi (Organizing), pelaksanaan (Actuating ), dan pengawasan (Controlling).

  Berdasarkan definisi manajemen di atas secara garis besar dapat disimpulkan bahwa tahap-tahap dalam melakukan manajemen meliputi melakukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan.

2.3 Laboratorium IPA

2.3.1 Konsep Laboratorium IPA

  Menurut Poerwodarminto (1999:75), laboratorium berarti tempat untuk mengadakan percobaan/ penyelidikan, dan sebagainya segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu fisika, kimia, dan sebagainya. Subiyanto (1998:79), menyatakan secara sempit laboratorium diartikan sebagai ruangan yang dibatasi oleh dinding yang di dalamnya terdapat alat- alat dan bahan-bahan beranekaragam yang dapat digunakan untuk melakukan eksperimen. Sudaryanto, dkk (1998:2) mendefinisikan laboratorium sebagai salah satu sarana pendidikan IPA, sebagai tempat peserta didik berlatih dan kontak dengan objek yang dipelajari secara langsung, baik melalui pengamatan maupun percobaan.

  Laboratorium adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali (Anonim, 2007:75). Sementara menurut Emha (2006:89), laboratorium diartikan sebagai suatu tempat untuk mengadakan percobaan, penyelidikan, dan sebagainya yang berhubungan dengan ilmu fisika, kimia, dan biologi atau bidang ilmu lain. Pengertian lain menurut Sukarso (2005), laboratorium ialah suatu tempat dimana dilakukan kegiatan kerja untuk menghasilkan sesuatu. Tempat ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, misalnya kebun dan lain-lain.

  Secara lebih umum laboratorium diartikan sebagai suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian (Depdikbud,1994:7). Pengertian ini bermakna lebih luas, karena tidak membatasi laboratorium sebagai suatu ruangan, artinya kebun, lapangan, ruang terbuka pun dapat menjadi laboratorium.

  Berdasarkan definisi tersebut, laboratorium adalah suatu tempat yang digunakan untuk melakukan percobaan maupun pelatihan yang berhubungan dengan ilmu fisika, biologi, dan kimia atau bidang ilmu lain, yang merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka seperti kebun dan lain-lain.

2.3.2 Fungsi Laboratorium

  Menurut Sukarso (2005), secara garis besar laboratorium dalam proses pendidikan adalah sebagai berikut:

  1)Sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual melalui kegiatan pengamatan, pencatatan dan pengkaji gejala- gejala alam; 2) Mengembangkan keterampilan motorik siswa. Siswa akan bertambah keterampilannya dalam mempergunakan alat-alat media yang tersedia untuk mencari dan menemukan kebenaran; 3) Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu objek dalam lingkungn alam dan sosial; 4) Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon ilmuan; dan 5) Membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan dan pengetahuan atau penemuan yang diperolehnya.

  Lebih jauh dijelaskan dalam Anonim (2003), bahwa fungsi dari laboratorium adalah sebagai berikut:

  1)

Laboratorium sebagai sumber belajar. Tujuan

pembelajaran IPA dengan banyak variasi

dapat digali, diungkapkan, dan

dikembangkan dari laboratorium.

Laboratorium sebagai sumber untuk

memecahkan masalah atau melakukan

percobaan. Berbagai masalah yang berkaitan

dengan tujuan pembelajaran terdiri dari tiga

ranah yakni: ranah pengetahuan, ranah

sikap, dan ranah keterampilan/afektif;

2) Laboratorium sebagai metode pembelajaran.

  

Di dalam laboratorium terdapat dua metode

dalam pembelajaran yakni metode percobaan

dan metode pengamatan; dan 3)

  

Laboratorium sebagai prasarana pendidikan

atau wadah proses pembelajaran.

  

Laboratorium terdiri dari ruang yang

dilengkapi dengan berbagai perlengkapan

dengan bermacam-macam kondisi yang dapat

dikendalikan, khususnya peralatan untuk

melakukan percobaan.

2.3.3 Peranan Laboratorium Sekolah

  Menurut Emha (2002) menyatakan peranan laboratorium sekolah antara lain:

  1. sekolah sebagai tempat Laboratorium

timbulnya berbagai masalah sekaligus sebagai

tempat untuk memecahkan masalah tersebut.

  2. Laboratorium sekolah sebagai tempat untuk

melatih keterampilan serta kebiasaan

menemukan suatu masalah dan sikap teliti.

  3. Laboratorium sekolah sebagai tempat yang

dapat mendorong semangat peserta didik

untuk memperdalam pengertian dari suatu

fakta yang diselidiki atau diamatinya.

  4. Laboratorium sekolah berfungsi pula sebagai

tempat untuk melatih peserta didik bersikap

cermat, bersikap sabar dan jujur, serta

berpikir kritis dan cekatan.

  5. Laboratorium sebagai tempat bagi para peserta

didik untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya. Lebih lanjut Sudaryanto, dkk (1998:7) menyatakan peranan dan fungsi laboratorium ada tiga, yaitu sebagai (1) sumber belajar, artinya laboratorium digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor atau melakukan percobaan, (2) metode pendidikan, meliputi metode pengamatan dan metode percobaan, dan (3) sarana penelitian, tempat dilakukannya berbagai penelitian sehingga terbentuk pribadi peserta didik yang bersikap ilmiah.

2.4 Pengelolaan Laboratorium IPA

  Pengelolaan atau manajemen laboratorium (laboratory management) adalah usaha untuk mengelola laboratorium. Manajemen laboratorium merupakan suatu proses pendayagunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara optimal dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya. Manajemen laboratorium berkaitan dengan pengelola dan pengguna, fasilitas laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, spesimen biologi, bahan kimia), dan aktivitas yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya. Dalam konteks laboratorium pengelolaam nencakup kegiatan perencanaan, penataan, pengadministrasian, perawatan, keselamatan dan kesehatan kerja, serta monitoring dan evaluasi.

  Manajemen laboratorium dapat diartikan sebagai kegiatan menata, mulai dari perencanaan, penataan, pengadministrasian, pengamanan, perawatan dan pengawasan. Dapat disimpulkan bahwa manajemen laboratorium adalah sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian/ evaluasi pengelolaan laboratorium dalam rangka untuk menunjang proses pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

1. Perencanaan (Planning)

  Menurut Sutarno (2004:109), perencanaan diartikan sebagai perhitungan dan penentuan tentang apa yang akan dijalankan dalam rangka mencapai tujuan tertentu, dimana menyangkut tempat, oleh siapa pelaku itu atau pelaksana dan bagaimana tata cara mencapai itu. Cropper (1998:1) berpendapat:

  

Planning is the basis from which all other function are

spawned. Without a congruent plan, organizations

usually lack a central focus. Bahwa perencanaan adalah

  dasar yang akan dikembangkan menjadi seluruh fungsi berikutnya. Tanpa rencana yang tepat dan padu sebuah organisasi akan kehilangan fokus sentral berpijak bukan sekedar daftar kegiatan yang harus dilakukan.

  Perencanaan merupakan suatu proses mempersiapkan serangkaian pengambilan keputusan untuk dilakukanya tindakan dalam mencapai tujuan organisasi, dengan dan tanpa menggunakan sumber- sumber yang ada. Rencana formal merupakan rencana bersama anggota korporasi, artinya setiap anggota harus mengetahui dan menjalankan rencana itu. Rencana formal dibuat untuk mengurangi ambiguitas dan menciptakan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan.

  Menurut Griffin (2010), kegiatan dalam fungsi perencanaan meliputi:

  1) Menetapkan tujuan dan target organisasi. 2)

Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan

dan target organisasi tersebut. 3)

Menentukan sumber-sumber daya yang

diperlukan. 4)

Menetapkan standar/indikator keberhasilan

dalam pencapaian tujuan dan target

organisasi.

  Adapun aspek perencanaan meliputi: 1.

  Apa yang dilakukan? 2. Siapa yang melakukan? 3. Di mana akan melakukan? 4. Apa saja yang diperlukan agar tercapainya tujuan dapat dilakukan?

  5. Bagaimana melakukannya? 6.

  Apa aja yang dilakukan agar tercapainya

tujuan dapat maksimum? (Arikunto,1993:

38)

  Dengan demikian kunci keberhasilan dalam suatu pengelolaan atau manajemen tergantung atau terletak pada perencanaanya. Perencanaan merupakan suatu proses dan kegiatan pimpinan (manager) yang terus menerus, artinya setiap kali timbul sesuatu yang baru. Perencanaan merupakan langkah awal setiap manajemen. Perencanaan merupakan kegiatan yang akan dilakukan di masa depan dalam waktu tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pula. Sebuah perencanaan yang baik adalah yang rasional, dapat dilaksanakan dan menjadi panduan langkah selanjutnya. Oleh karena itu, perencanaan tersebut sudah mencapai permulaan pekerjaan yang baik dari proses pencapaian tujuan organisasi.

  Berdasarkan uraian di atas, perencanaan pada hakekatnya merupakan proses pemikiran yang sistematis, analisis, dan rasional untuk menentukan apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa pelaksananya, dan kapan kegiatan tersebut harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

  Perencanaan laboratorium

  IPA meliputi perencanaan dan pemeliharaan alat-alat dan bahan- bahan serta sarana/prasarana, perencanaan kegiatan yang akan dilaksanakan, serta rencana pengembangan laboratorium. Beberapa hal yang perlu direncanakan dalam manajemen laboratorium adalah : a.

  Pengadministrasian Alat-alat dan Bahan-bahan Laboratorium

  Tujuan pengadministrasian alat-alat dan bahan- bahan lababoratorium ini adalah agar dapat dengan mudah diketahui : (1) jenis alat atau bahan yang ada, (2) jumlah masing-masing alat dan bahan, (3) jumlah pembelian atau tambahan, dan (4) jumlah yang pecah, hilang, atau habis (Depdikbud, 1979 : 41).

  Untuk keperluan pencatatan alat dan bahan laboratorium ini diperlukan format atau buku perangkat administrasi yang meliputi buku inventaris, kartu stok, kartu permintaan/ peminjaman alat/bahan, buku catatan harian, kartu alat/bahan yang rusak, kartu reparasi, dan format label (Depdikbud, 1999 : 26). Buku lainnya yang dapat melengkapi perangkat administrasi antara lain daftar alat dan bahan yang sesuai dengan LKS, jadwal kegiatan laboratorium, dan program semester kegiatan laboratorium.

  b.

  Pengadaan Alat/Bahan Laboratorium Untuk melengkapi atau mengganti alat/bahan kimia yang rusak, hilang, atau habis dipakai diperlukan pengadaan. Sebelum pengusulan pengadaan alat/bahan, maka perlu dipikirkan: (1) percobaan apa yang akan dilakukan, (2) alat/bahan apa yang akan dibeli (dengan spesifikasi jelas), (3) ada tidaknya dana/anggaran, (4) prosedur pembelian (lewat agen, langganan, beli sendiri), dan (5) pelaksanaan pembelian (biasanya awal tahun pelajaran baru) (Depdikbud, 1999:32).

  Prosedur pengadaan dimulai dengan penyusunan alat/bahan yang akan dibeli yang dikumpulkan dari usulan masing-masing guru IPA yang dikoordinasi oleh penanggung jawab laboratorium. Sebelum pembelian, hendaknya ditentukan terlebih dahulu di toko atau perusahaan mana alat/bahan itu akan dibeli. Sebaiknya setiap sekolah telah membuat jalinan kerja sama dengan perusahaan atau toko alat dan bahan kimia tertentu, sehingga akan memperoleh harga yang relatif murah dan sewaktu-waktu memerlukan tambahan alat/bahan kimia di luar jadwal pengadaan dapat dengan mudah dikontak dan disuplai.

  c.

  Alokasi Dana Laboratorium Bagi sekolah Negeri, sumber dana sekolah dibagi menjadi dua, yaitu dana dari Pemerintah yang umumnya berupa dana rutin (biaya operasional dan perawatan fasilitas) dan dana dari masyarakat yang dapat berasal dari orang tua peserta didik maupun sumbangan masyarakat luas/dunia usaha (Depdikbud, 1999:95). Dana laboratorium diperoleh dari proyek OPF (Operasional dan Perawatan Fasilitas) yang dituangkan dalam APBS (Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) yang disediakan untuk membiayai kegiatan yang bersifat teknis edukatif dan kegiatan penunjang proses belajar-mengajar.

2. Pengorganisasian (Organizing)

  Organisasi laboratorium adalah suatu sistem kerja sama dari kelompok orang, barang, atau unit tertentu tentang laboratorium untuk mencapai tujuan (Sudaryanto, 1998:5). Mengorganisasikan laboratorium berarti menyusun sekelompok orang/petugas dan sumber daya lain untuk melaksanakan suatu rencana atau program dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara yang berdaya guna terhadap laboratorium. Pengorganisasian laboratorium meliputi pengaturan dan pemeliharaan alat-alat dan bahan-bahan laboratorium, pengadaan alat-alat dan bahan-bahan, dan menjaga kedisiplinan dan keselamatan laboratorium.

  Orang-orang yang terlibat langsung dalam organisasi laboratorium adalah Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, koordinator laboratorium, penanggung jawab teknis laboratorium, laboran, dan guru-guru mapel IPA (Kimia, Fisika, Biologi). Tugas Kepala Sekolah adalah memberikan bimbingan, motivasi, pemantauan, dan evaluasi kepada seluruh staf yang terlibat dalam pengelolaan laboratorium, menyediakan dana keperluan operasional laboratorium. Dalam menjalankan tugas ini dibantu oleh Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum yang juga bekerja sama dengan koordinator laboratorium dalam pelaksanaan kegiatan laboratorium.

  Tugas koordinator laboratorium adalah mengkoordinasikan masing-masing guru mapel IPA segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan laboratorium dan mengusulkan kepada penanggung jawab laboratorium untuk pengadaan alat/bahan praktikum. Penanggung jawab teknis laboratorium bertanggung jawab atas kelengkapan administrasi laboratorium, kelancaran kegiatan laboratorium, mengusulkan kepada Kepala Sekolah tentang pengadaan alat/bahan laboratorium, dan bertanggung jawab atas kebersihan, penyimpanan, perawatan, dan perbaikan alat-alat laboratorium. Tugas laboran adalah mengerjakan administrasi laboratorium, mempersiap- kan alat/bahan yang diperlukan untuk praktikum, dan bertanggung jawab atas kebersihan alat/bahan dan ruangan laboratorium beserta perlengkapannya sebelum dan sesudah praktikum.

  a.

  Penyimpanan Alat/Bahan Laboratorium Setelah Pemeliharaan

  Penyimpanan alat/bahan kimia dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yaitu : (1) alat/bahan yang sering dipakai, (2) alat/bahan dimana peserta didik diijinkan untuk mengambil sendiri, seperti beaker glass, gelas ukur, pipet, larutan encer garam, asam, basa, (3) alat/bahan yang jarang dipakai, dan (4) alat/bahan yang berbahaya, seperti alat yang peka, mahal, dan mudah rusak, dan bahan yang beracun, radioaktif, mudah terbakar/meledak.

  Penyimpanan masing-masing alat/bahan tergantung pada keadaan dan susunan laboratorium, serta fasilitas ruangan (termasuk luas sempitnya laboratorium). Alat/bahan yang sering digunakan sebaiknya diletakkan di almari yang dapat dibuka dan diambil sendiri oleh peserta didik, sehingga efisien waktu dan tenaga. Namun jika pertimbangan keamanan dan kedisiplinan peserta didik diragukan, maka jumlah yang tersedia dibatasi.

  Bahan-bahan kimia yang beracun, eksplosif (mudah meledak), dan mudah terbakar sebaiknya ditempatkan terpisah dari bahan yang lain dan diusahakan diletakkan di tempat yang tidak mudah dilihat peserta didik (di ruangan khusus dan hanya laboran yang tahu). Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, jika ada peserta didik yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Demikian juga dengan alat-alat laboratorium, diletakkan sesuai jenis dan bahannya, seperti alat dari kaca, porselin, kayu, atau logam diletakkan secara terpisah. Hal ini untuk mempermudah jika akan digunakan, juga mempermudah inventarisasi ulang. Prinsip dari penyimpanan alat/bahan laboratorium adalah alat/bahan tersebut dalam keadaan aman, mudah dicari dan diambil sewaktu-waktu dibutuhkan.

  Seringkali terjadi kerusakan alat-alat laboratorium disebabkan salah menangani alat tersebut. Oleh karena itu sangat penting bagi guru sebelum praktikum diadakan dilakukan asistensi, yaitu kegiatan pengenalan mulai dari pengenalan alat/bahan yang akan digunakan dalam praktikum, baik fungsi dan cara penggunaannya, sampai pada mata praktikum yang akan dijalani untuk kurun waktu satu semester dengan penjelasan garis besarnya, serta bagaimana cara berpraktikum yang baik, tata tertib praktikum, dan format penyusunan laporan praktikum. Dengan demikian peserta didik memperoleh bekal yang cukup untuk bekerja di laboratorium.

  Hal penting lainnya adalah penanaman kesadaran pada diri peserta didik bahwa laboratorium adalah juga bagian dari sekolah yang membantu prestasi belajar mereka, sehingga mereka harus ikut merawat dan menjaga. Sebagai contoh, setiap kali selesai praktikum, mereka membersihkan alat dan meja praktikum seperti sebelum praktikum, termasuk lantai dan bak air. Agar semua peserta didik mengerti tanggung jawab menjaga kebersihan laboratorium, maka dibuatkan jadwal piket, sehingga semua mendapat giliran.

  b. Disiplin di Laboratorium Dalam rangka menjaga keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium, maka penegakan disiplin bagi semua yang terlibat harus diterapkan, baik itu peserta didik, guru, laboran, maupun asisten (jika ada). Kebebasan memang diperlukan bagi peserta didik yang berpraktikum, namun kebebasan yang dimaksud bukan kebebasan tanpa batas. Hal ini disebabkan di dalam laboratorium sangat banyak alat/bahan yang berbahaya jika digunakan tanpa disiplin sesuai aturan penggunaan alat/bahan yang bersangkutan. Jika hanya kerusakan alat atau kelebihan pemakaian bahan mungkin masih dapat ditoleransi, namun jika yang terjadi kesalahan pemakaian alat/bahan yang menimbulkan kebakaran/ledakan atau bahaya lainnya akan sangat fatal akibatnya.

  Berkaitan dengan disiplin di laboratorium, maka peserta didik sebelum beraktivitas (praktikum) di laboratorium perlu mengetahui tata tertib yang harus ditaati ketika bekerja di laboratorium. Namun demikian, disiplin yang diterapkan di laboratorium hendaknya tidak terlalu kaku dalam beberapa hal yang tidak berbahaya, misalnya larangan berbicara ketika berpraktikum. Jika memang peserta didik ingin mendiskusikan dengan temannya karena ada hasil percobaan yang tidak sesuai dengan teori, maka perlu diberi kelonggaran agar mereka menemukan penyebab kegagalannya dengan segera.

  Pelanggaran terhadap tata tertib yang berlaku perlu diberikan sanksi, mulai dari peringatan secara halus, peringatan keras, sampai pada pelarangan mengikuti praktikum maupun mengikuti pelajaran di sekolah (scorsing). Selain tata tertib untuk peserta didik, juga ada peraturan semacam tata tertib untuk guru. Sebenarnya tata tertib untuk peserta didik sebagian juga berlaku untuk guru, seperti larangan makan dan minum di laboratorium, merokok. Tata tertib dan peraturan tersebut dibuat oleh koordinator laboratorium beserta guru-guru mapel IPA.

3. Pelaksanaan (Actuating)

  Pelaksanaan merupakan salah satu fungsi manajemen yang sangat penting, karena tanpa pelaksanaan terhadap apa yang telah direncanakan dan diorganisasikan tidak akan pernah menjadi kenyataan.

  Kegiatan laboratorium IPA diartikan sebagai kegiatan yang berkaitan dengan pengamatan atau percobaan yang menunjang kegiatan belajar-mengajar

  IPA. Untuk melaksanakan kegiatan laboratorium IPA perlu perencanaan secara sistematis agar dicapai tujuan pembelajaran secara optimal (Depdikbud, 1999:13).

  Adapun langkah-langkah pelaksanaan kegiatan laboratorium IPA adalah : a.

  Setiap guru IPA pada awal semester/tahun pelajaran baru sebaiknya menyusun program semester/tahunan sesuai kegiatan laboratorium yang ditandatangani Kepala Sekolah. Tujuan penyusunan program ini adalah mengidentifikasi kebutuhan alat/bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan praktikum selama satu semester/tahunan dan menyusun jadwal bagi penanggung jawab teknis untuk ketiga mapel (Kimia, Fisika, Biologi) agar tidak terjadi tumbukan dalam pemakaian laboratorium. Selain itu berguna untuk keperluan supervisi/ pengawasan bagi Kepala Sekolah.

  b.

  Setiap akan melaksanakan praktikum, setiap guru sebaiknya mengisi format permintaan/peminjaman alat/bahan yang kemudian diserahkan kepada laboran minimal seminggu sebelum pelaksanaan, sehingga laboran secara dini dapat mempersiapkan dan mengecek ada tidaknya alat/bahan yang dibutuhkan. c.

  Setelah kegiatan laboratorium selesai sebaiknya guru mengisi buku harian untuk mengetahui kejadian-kejadian selama kegiatan laboratorium serta untuk keperluan supervisi.

  d.

  Alat/bahan yang telah selesai digunakan segera dibersihkan dan disimpan kembali di tempat semula.

  Dalam kegiatan praktikum, penilaian terhadap hasil belajar peserta didik harus dilakukan, baik kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk aspek kognitif, biasanya dilakukan melalui pre-test sebelum praktikum diadakan, bisa dilakukan secara lisan maupun tertulis, tergantung waktu yang tersedia. Pre-test terutama dilakukan untuk mengetahui sejauhmana pemahaman peserta didik terhadap konsep yang akan dipraktikumkan. Sebaiknya pre-test tidak berisi pertanyaan teoretis, tetapi lebih difokuskan pada konsep yang berkaitan dengan praktikum.

  Penilaian dari aspek afektif dapat dilakukan guru dengan menggunakan lembar observasi khusus yang telah dipersiapkan guru yang berisi nilai-nilai atau sikap yang harus dimiliki oleh seorang praktikan, seperti kejujuran menulis data percobaan, kebersihan, dan teliti dalam pengamatan. Pada kenyataannya, sebagian besar guru tidak mempersiapkan lembar observasi ini, sehingga penilaian aspek afektif ini hanya ditinjau secara sepintas yang kemudian disimpulkan sebagai nilai afektif, baik dinyatakan sebagai kedisiplinan/ketelitian. Penilaian aspek psikomotor adalah yang utama dalam suatu praktikum, karena salah satu tujuan utama praktikum adalah melatih keterampilan dan mengukur penguasaan teknik peserta didik dalam menggunakan alat/bahan kimia/IPA ketika melaksanakan praktikum. Penilaian ini dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh guru yang meliputi aspek-aspek penting yang harus dikuasai peserta didik dalam melaksanakan suatu mata praktikum. Dengan demikian, setiap mata praktikum akan memiliki tekanan aspek psikomotor yang berbeda.

  Secara umum, dalam praktikum guru terutama menilai ketrampilan peserta didik dalam menggunakan alat/bahan, ketepatan, baik dalam hal ketepatan pemilihan alat, pengambilan data yang tepat, pengendalian variabel, perumusan hipotesis dan pengujiannya, serta penyimpulan berdasarkan data yang diperoleh, dan ketelitian yang sangat menentukan keberhasilan praktikum yang berupa pembuktian kebenaran suatu konsep (Dahar, 1986: 5.22).

4. Pengawasan (Controlling)

  Pengawasan adalah kegiatan membandingkan atau mengukur yang sedang atau sudah dilaksanakan dengan kriteria, norma-norma standar atau rencana- rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya (Sutarno, 2004:128). Sementera menurut Terry (dalam Salirawati, 2009), pengawasan atau sering disebut pula supervisi ditentukan oleh apa yang telah dilakukan, yaitu evaluasi terhadap tindakan dan bila perlu menggunakan pengukuran koreksi sehingga tindakan tersebut sesuai dengan rencana.

  Pengawasan atau kontrol yang merupakan bagian terakhir dari fungsi manajemen dilaksanakan untuk mengetahui: 1.

  Apakah semua kegiatan telah dapat berjalan sesuai dengan rencana sebelumnya.

  2. Apakah didalam pelaksanaan terjadi hambatan, kerugian, penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang, penyimpangan dan pemborosan.

  3. Untuk mencegah terjadinya kegagalan, kerugian, penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang penyimpangan, dan pemborosan.

4. Untuk meningkatkan efisien dan efektifitas organisasi.

  Adapun tujuan pengawasan dalam manajemen sebagai berikut: a)

  Menentukan dan menghilangkan sebab-sebab yang menimbulkan kesulitan sebelum kesulitan itu terjadi.

  b) Mengadakan pencegahan dan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang terjadi.

c) Mendapatkan efisiensi dan efektifitas.

  Proses pengawasan terdiri atas beberapa tindakan pokok, yaitu: (1) penentuan ukuran/pedoman baku sebagai pembanding/alat ukur untuk menjawab pertanyaan dari hasil pelaksanaan, (2) penilaian/pengukuran terhadap tugas yang sudah atau yang sedang dikerjakan, baik secara lisan maupun tertulis, atau pertemuan langsung dengan petugas, (3) perbandingan antara pelaksanaan pekerjaan dengan ukuran/pedoman yang telah ditetapkan untuk mengetahui penyimpangan/perbedaan yang terjadi dan perlu tidaknya perbaikan, (4) perbaikan terhadap penyimpangan yang terjadi agar pekerjaan sesuai dengan apa yang direncanakan.

  Ada beberapa prinsip dasar pengawasan yang harus diterapkan agar manajemen laboratorium menjadi baik, yaitu : 1.

  Pengawasan bersifat membimbing dan membantu mengatasi kesulitan dan bukan mencari kesalahan.

  Kepala Sekolah harus menfokuskan perhatian pada usaha mengatasi hambatan yang dihadapi guru, bukan sekedar mencari kesalahan. Kekeliruan guru harus disampaikan Kepala Sekolah sendiri dan tidak di depan orang lain.

  2. Bantuan dan bimbingan diberikan secara tidak langsung, artinya diupayakan agar yang bersangkutan mampu mengatasi sendiri, sedangkan Kepala Sekolah hanya membantu. Hal ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri yang pada akhirnya menumbuhkan motivasi kerja yang lebih baik.

  3. Balikan atau saran perlu segera diberikan, agar yang bersangkutan dapat memahami dengan jelas keterkaitan antara balikan dan saran tersebut dengan kondisi yang dihadapi. Dalam memberikan balikan sebaiknya dalam bentuk diskusi, sehingga terjadi pembahasan terhadap masalah yang terjadi secara bersama.

4. Pengawasan dilakukan secara periodik/berkala, artinya tidak menunggu sampai terjadi hambatan.

  Jika tidak ada hambatan, kehadiran Kepala Sekolah akan dapat menumbuhkan dukungan moral bagi guru yang sedang mengerjakan tugas.

  Pengawasan dilaksanakan dalam suasana kemitraan, agar guru dengan mudah dan tanpa takut menyampaikan hambatan yang dihadapi, sehingga dapat segera dicari jalan keluarnya. Suasana kemitraan juga akan menumbuhkan hubungan kerja yang harmonis, sehingga tercipta tim kerja yang kompak.

2.4.1 Standar Ruang Laboratorium IPA

  Dalam lampiran peraturan menteri pendidikan nasional nomor 24 tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana ruang laboratorium harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Ruang laboratorium IPA berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran IPA secara praktik yang memerlukan peralatan khusus.

  2. Ruang laboratorium IPA hanya dapat menampung minimum satu rombongan belajar

  3. Rasio minimum luas ruang laboratorium 2,4 m

  2

  per peserta didik. Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang yang diperlukan adalah 48 m

  2

  termasuk ruang penyimpanan dan persiapan 18 m

  2

  , dengan lebar minimim sebesar 5 m.

  4. Ruang laboratotium IPA dilengkapi dengan pencahayaan yang memadai untuk membaca buku dan mengamati obyek percobaan.

  5. Dilengkapi dengan air bersih

6. Ruang laboratorium IPA dilengkapi dengan sarana yang tercantum dalam tabel berikut.

2.4.2 Standar tenaga laboratorium sekolah

  Tenaga laboratorium sekolah merupakan salah satu tenaga kependidikan yang sangat diperlukan untuk mendukung peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah melalui kegiatan laboratorium. Sebagaimana tenaga kependidikan lainnya, tenaga laboratorium sekolah juga merupakan tenaga fungsional. Oleh karena itu diperlukan adanya kualifikasi, standar kompetensi, dan sertifikasi. Menurut Permendiknas No. 26 tahun 2008, tenaga laboratorium terdiri dari Kepala Laboratorium Sekolah (Kompetensi: kepribadian, sosial, manajerial, profesional);Teknisi Laboratorium Sekolah (Kompetensi: kepribadian, sosial, administratif, profesional); dan Laboran Laboratorium Sekolah (Kompetensi: kepribadian, sosial, administratif, profesional)

2.5 Analisa SWOT

  SWOT merupakan akronim dari Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (kesempatan), dan Threats (ancaman, rintangan, dan halangan). Rangkuti (2009: 55) menjelaskan Strengths adalah beberapa hal yang merupakan kelebihan dari sekolah yang bersangkutan. Weaknesses adalah komponen-komponen yang kurang menunjang keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang ingin dicapai sekolah. Opportunity adalah kemungkinan- kemungkinan yang dapat dicapai apabila potensi- potensi yang ada di sekolah mampu dikembangkan secara optimal. Threats adalah kemungkinan yang mungkin terjadi atau pengaruh terhadap kesinambungan dan keberlanjutan kegiatan penyelenggaraan sekolah.

  Hisyam (1998), mengemukakan langkah-langkah analisis SWOT adalah sebagai berikut :

  1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan acaman yang dihadapi.

  2. Menentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

  3. Menetukan bobot relatif masing-masing faktor berdasarkan tingkat kepentingannya sebagai penentu keberhasilan dalam pengembangan 4. Menentukan rating atau skor (1 sampai dengan 5) dari masing-masing faktor yang menggambarkan kondisi internal dan eksternal 5. Menghitung total skor dengan mengalikan bobot dan rating untuk masing-masing faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

  6. Menghitung total skor akhir faktor internal (kekuatan- kelemahan) dan faktor eksternal (peluang - ancaman).

  7. Menentukan posisi strategis dari faktor internal dan faktor eksternal.

  8. Menentukan rencana strategis berdasarkan posisi dari hasil analisis SWOT.

  Kekuatan dan kelemahan akan dimasukkan ke dalam tabel IFAS. Sementara itu untuk faktor peluang dan ancaman akan dimasukkan ke dalam tabel EFAS, kemudian dihitung bobot dan skornya.

  

Tabel 2.1

Internal Factors Analysis Summary (IFAS)

NO STRENGTHS SKOR BOBOT TOTAL

  1

  2 Dst Dst Total kekuatan

NO WEAKNESS SKOR BOBOT TOTAL

  1

  2 Dst Total Kelemahan SELISIH TOTAL KEKUATAN - TOTAL KELEMAHAN = S - W = X

  Sumber: Hisyam, 1998 (http:/daps.bps.go.id) Tabel 2.2

  External Factors Analysis Summary (EFAS) OPPORTUNITY

NO SKOR BOBOT TOTAL

  1

  2 Dst Dst Total Peluang

NO THREAT SKOR BOBOT TOTAL

  1

  2 Dst Total Ancaman Total Total Total Ancaman Ancaman Ancaman

SELISIH PELUANG - TOTAL KELEMAHAN =

O - T = Y

  Sumber: Hisyam, 1998 (http:/daps.bps.go.id)

  Setelah dihitung dari masing-masing faktor internal dan faktor eksternal, maka dapat diketahui skor IFAS dan skor EFAS, selanjutnya dimasukkan ke dalam diagram SWOT untuk mengetahui posisi strategi berada pada kuadran I, II, III, atau IV. Berikut dijelaskan strategi dari masing-masing kuadran yang ada di diagram analisis SWOT.

Gambar 2.1 Diagram Analisis SWOT

  

Sumber: Rangkuti, 2009

  Dari diagram analisis SWOT diatas yang dimaksudkan dengan strategi agresif (SO) sebuah strategi yang digunakan dengan memanfaatkan seluruh kekuatan sekolah untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Strategi diversifïkasi (ST) dilakukan dengan memanfaatkan seluruh kekuatan yang dimiliki sekolah untuk mengatasi masalah.

  

Strategi turn-around (WO) dilakukan dengan

  meminimalkan kelemahan yang ada di sekolah untuk menangkap peluang. Sedangkan Strategi defensif (WT) dilakukan dengan meminimalkan kelemahan yang ada di sekolah untuk menghindari ancaman.

  Kuadran I (positif, positif). Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang kuat dan berpeluang. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Progresif, artinya organisasi dalam kondisi prima dan mantap sehingga sangat dimungkinkan untuk terus melakukan ekspansi, memperbesar pertumbuhan dan meraih kemajuan secara maksimal.

  Kuadran

  II (positif, negatif). Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang kuat namun menghadapi tantangan yang besar. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Strategi Diversifikasi, artinya organisasi dalam kondisi mantap namun menghadapi sejumlah tantangan berat sehingga diperkirakan roda organisasi akan mengalami kesulitan untuk terus berputar bila hanya bertumpu pada strategi sebelumnya. Oleh karenanya, organisasi disarankan untuk segera memperbanyak ragam strategi taktisnya.

  Kuadran

  III (negatif, positif). Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang lemah namun sangat berpeluang. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah turn-around (Ubah Strategi), artinya organisasi disarankan untuk mengubah strategi sebelumnya. Sebab, strategi yang lama dikhawatirkan sulit untuk dapat menangkap peluang yang ada sekaligus memperbaiki kinerja organisasi.

  Kuadran

  IV (negatif, negatif). Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang lemah dan menghadapi tantangan besar. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Strategi Bertahan, artinya kondisi internal organisasi berada pada pilihan dilematis. Oleh karenanya organisasi disarankan untuk menggunakan strategi bertahan, mengendalikan kinerja internal agar tidak semakin terperosok. Strategi ini dipertahankan sambil terus berupaya membenahi diri.

  Jika pihak stakeholder sekolah memahami dan terbuka dengan strategi tersebut di atas maka sekolah akan sangat tertolong dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang muncul, baik dari pihak internal ataupun dari eksternal.

2.6 Penelitian yang Relevan

  Nyoman, dkk (2014) melakukan penelitian mengenai Analisis Standarisasi Laboratorium Biologi dalam Proses Pembelajaran di SMA Negeri Kota Denpasar. Penelitian ini relevan karena variabel yang digunakan sama walaupun tidak sama persis, yaitu tentang laboratorium, hanya saja Nyoman dkk melakukan penelitian di delapan sekolah SMA Negeri yang ada di kota Denpasar sementara penulis hanya melakukan penelitian di satu sekolah yaitu SMA Negeri

  1 Boja. Jenis penelitian yang digunakan juga berbeda, Nyoman dkk menggunakan korelasi sedangkan penulis menggunakan R&D. Hasil penelitian Nyoman dkk menunjukkan bahwa kondisi daya dukung fasilitas alat-alat laboratorium IPA/Biologi yang ada di delapan sekolah negeri kota denpasar menunjukkan bahwa kondisinya belum memenuhi standar minimal 100% yang telah ditetapkan yakni. 1)Fasilitas daya dukung sarana prasarana yang ada di ruang laboratorium

  IPA/Biologi yang ada di delapan sekolah SMA Negeri Kota Denpasar belum memenuhi standar minimal 100% (80.56%). 2)Kompetensi pengelolaan laboratorium yang di delapan sekolah SMA Negeri Kota Denpasar 86.04% dengan kualifikasi sangat baik baik. 3) efektivitas dalam pemanfaatan laboratorium a) efektivitas dalam pemanfaatan laboratorium yang ada di delapan sekolah SMA Negeri yang ada di Kota Denpasar berada pada kisaran 94.24%, b) used factor dalam intesnitas pemanfaatan pada kegiatan pratikum biologi berda pada kisaran 28.12% dengan kualifikasi rendah.

  Indriastuti, dkk (2013) melakukan penelitian dengan judul Kesiapan laboratorium biologi dalam Menunjang Kegiatan Praktikum SMA Negeri di Kabupaten Brebes. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, tingkat kesiapan laboratorium dalam menyediakan sarana dan prasarana, kesiapan pengelolaan penyelenggaraan praktikum dan kesiapan kegiatan laboratorium secara berturut-turut memperoleh skor 67,40%, 83,75% dan 68,72%. Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan Indriastuti dkk adalah, laboratorium biologi SMA Negeri di Kabupaten Brebes siap dalam menunjang kegiatan praktikum pada pembelajaran biologi dengan rata-rata tingkat kesiapan sebersar 73,29%. Penelitian ini relevan karena sama-mana melakukan penelitian terhadap laboratorium biologi pada tingkat SMA namun jenis penelitiannya yang berbeda yaitu menggunakan deskriptif kualitatif sedangkan penulis menggunakan pendekatan penelitian pengembangan.

  Penelitian yang dilakukan Nur Riana Novianti (2011) tentang Kontribusi Pengelolaan Laboratorium dan Motivasi Siswa terhadap Efektivitas Proses Pembelajaran (Penelitian pada SMP Negeri dan Swasta di Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Pengelolaan laboratorium IPA berkriteria baik, 2) Motivasi belajar siswa berkriteria sangat baik, 3) Efektivitas proses pembelajaran IPA berkriteria sangat baik, 4) Kontribusi pengelolaan laboratorium IPA terhadap efektivitas proses pembelajaran menunjukkan tingkat kontribusi yang rendah; 5) Kontribusi motivasi belajar siswa terhadap efektivitas proses pembelajaran menunjukkan tingkat kontribusi yang kuat; 6) Kontribusi pengelolaan laboratorium IPA dan motivasi belajar siswa terhadap efektivitas proses pembelajaran menunjukkan tingkat kontribusi yang cukup kuat. Penelitian ini hampir mirip dengan yang dilakukan peneliti yaitu mengenai pengelolaan laboratorium, hanya saja peneliti kemudian mengembangkan strategi pengembangan pengelolaan laboratorium sedangkan dalam penelitian ini lebih pada menganalisis kontribusi pengelolaan laboratorium IPA dan motivasi belajar siswa terhadap efektivitas proses pembelajaran IPA.

  E. Peniati, dkk (2013), melakukan penelitian tentang Model Analisis Evaluasi Diri Untuk Mengembangkan Kemampuan Mahasiswa Calon Guru

  IPA Dalam Merancang Pengembangan Laboratorium Di Sekolah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa model analisis evaluasi diri laboratorium yang dikembangkan dinyatakan layak berdasarkan penilaian pakar laboratorium IPA. Kemampuan mahasiswa dalam merancang pengembangan laboratorium dapat ditingkatkan melalui penerapan model analisis diri laboratorium. Penelitian ini sama dengan yang dilakukan peneliti yaitu pengembangan laboratorium hanya saja peneliti dalam menganalisis potensi dan masalah laboratorium IPA di SMA Negeri 1 Boja menggunakan analisis SWOT sedangkan yang dilakukan E. Peniati dkk adalah pengembangan model analisis evaluasi diri laboratorium.

  Dhirendra Sharma and Vikram Singh (2010) melakukan penelitian dengan judul ICT in Universities

  

of the Western Himalayan Region of India II : A

Comparative SWOT Analysis. Hasil dari penelitian ini

  adalah kegiatan ICT memiliki peran penting sebagai perngarah / kebijakan yang didiadopsi oleh perguruan tinggi untuk mencapai kualitas dan keunggulan dalam sistem pendidikan tinggi di wilayah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa, konsistensi relatif antara tiga kategori universitas, dengan penelitian sebelumnya. Penelitian yang dilakukan Dhirendra dan Vikram sama dengan yang dilakukan peneliti yaitu menggunakan analisis SWOT hanya saja peneliti menganalisis pengembangan laboratorium sedangkan Dhirendra dan Vikram menganalisis mengenai ICT.

  Christian ugwuda dan Adegbite A Ayoade (2015) melakukan penelitian tentang The Perception of Dental

  

Practitioners on Laboratory Management for Effective

Dental Health Care Deliveri : A Case Study of Some

Selected Dental Laboratories in Lagos State, Negeria.

  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keadaan laboratorium perlu ditingkatkan dalam rangka memenuhi standar negara digital dari peralatan global saat ini, maka pengelolaan laboratorium dengan persepsi staf mempengaruhi kualitas layanan perawatan gigi yang diberikan kepada pasien. Analisis SWOT menunjukkan bahwa peluang dalam profesi adalah kecukupan pelatihan dan profesionalisme, sedangkan bahaya pekerja dukun, usangnya peralatan, pasokan listrik yang tidak memenuhi untuk menjalankan peralatan dan kurangnya pemerintah memungkinkan lingkungan yang ancaman dan kelemahan yang mempengaruhi kegiatan laboratorium gigi. Studi ini menyimpulkan bahwa keadaan laboratorium gigi masih membutuhkan lebih banyak perbaikan dengan menggunakan peralatan modern dan digital, perlunya pelatihan ulang merupakan kekuatan dan peluang. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk lokakarya, konferensi dan untuk mendidik professional pada peralatan terbaru pada tingkat global. Kemudian, Pemerintah harus memulai infrastruktur pengembangan fasilitas gigi yang ada dan mendorong individu-individu. Penelitian ini sama yaitu tentang manajemen laboratorium dengan melakukan analisis SWOT hanya saja penelitian yang dilakukan Christian ugwuda dan Adegbite A Ayoade pada manajemen laboratorium gigi sedangkan yang dilakukan peneliti pada laboratorium IPA.

2.7 Kerangka Pikir

  Berikut ini adalah kerangka pikir dari alternatif Strategi Pengembangan Pengelolaan Laboratorium IPA di SMA Negeri 1 Boja.

  Menyusun Draf Renstra Perbaikan Validasi Draf

  Draf Renstra Renstra

Gambar 2.2 Kerangka pikir

  Strategi pengembangan pengelolaan laboratorium

  IPA adalah suatu rencana yang komprehensif dengan melibatkan segala sumber kemampuan untuk meningkatkan fungsi dan peran laboratorium yang optimal. Indentifikasi visi, misi dan tujuan laboratorium

  IPA adalah bagian yang sangat penting untuk mewujudkan alternatif strategi pengelolaan laboratorium IPA. Selanjutnya yang harus dilakukan adalah menganalisis lingkungan internal dan

  

eksternalnya untuk mengukur atau mengidentifikasi

  faktor kekuatan, kelemahan dan faktor peluang, ancaman. Dari faktor-faktor tersebut jika dianalisa secara komprehensif maka akan menghasilkan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun alternatif strategi pengembangan pengelolaan laboratorium IPA. Jika alternatif strategi tersebut dilaksanakan maka akan ada monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan dengan tujuan untuk memperbaiki strategi dimasa yang akan datang. Namun dalam penelitian ini penulis hanya akan melakukan pembahasan sampai pada perumusan rencana strategis.

  Dengan adanya rencana strategis (renstra) baru ini diharapkan bisa menjadi strategi alternatif bagi laboratorium IPA di SMA Negeri 1 Boja dalam rangka memberikan layanan yang lebih baik bagi para pengguna jasa laboratorium IPA.

Dokumen baru

Download (39 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Self Efficacy (Efikasi Diri) Siswa yang Rendah di Kelas XI IPS SMAN I Kendal Melalui Layanan Konseling Kelompok Behavioral
0
0
24
BAB III METODE PENELITIAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Self Efficacy (Efikasi Diri) Siswa yang Rendah di Kelas XI IPS SMAN I Kendal Melalui Layanan Konseling Kelompok Behavioral
0
1
10
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Self Efficacy (Efikasi Diri) Siswa yang Rendah di Kelas XI IPS SMAN I Kendal Melalui Layanan Konseling Kelompok Behavioral
0
0
16
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Self Efficacy (Efikasi Diri) Siswa yang Rendah di Kelas XI IPS SMAN I Kendal Melalui Layanan Konseling Kelompok Behavioral
0
0
16
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Self Efficacy (Efikasi Diri) Siswa yang Rendah di Kelas XI IPS SMAN I Kendal Melalui Layanan Konseling Kelompok Behavioral
0
2
104
Bab II Kajian Teori - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Evaluasi Manajemen Sarana Prasarana Di SMP Negeri 1 Limbangan Kabupaten Kendal Tahun 2014/2015
0
0
24
Bab III Metode Penelitian - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Evaluasi Manajemen Sarana Prasarana Di SMP Negeri 1 Limbangan Kabupaten Kendal Tahun 2014/2015
0
0
14
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Evaluasi Manajemen Sarana Prasarana Di SMP Negeri 1 Limbangan Kabupaten Kendal Tahun 2014/2015
0
0
38
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Evaluasi Manajemen Sarana Prasarana Di SMP Negeri 1 Limbangan Kabupaten Kendal Tahun 2014/2015
0
0
14
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Evaluasi Manajemen Sarana Prasarana Di SMP Negeri 1 Limbangan Kabupaten Kendal Tahun 2014/2015
0
0
33
BAB I PENDAHULUAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Harga Diri Melalui Bimbingan Kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok Peserta Didik SMP Negeri 2 Patebon Kendal
0
0
8
BAB II LANDASAN TEORI - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Harga Diri Melalui Bimbingan Kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok Peserta Didik SMP Negeri 2 Patebon Kendal
0
0
22
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Harga Diri Melalui Bimbingan Kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok Peserta Didik SMP Negeri 2 Patebon Kendal
0
0
14
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Meningkatkan Harga Diri Melalui Bimbingan Kelompok dengan Teknik Diskusi Kelompok Peserta Didik SMP Negeri 2 Patebon Kendal
0
0
78
BAB I PENDAHULUAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Strategi Pengembangan Pengelolaan Laboratorium IPA di SMA Negeri 1 Boja
0
0
9
Show more