BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Infeksi Menular Seksual 2.1.1 Definisi dan Epidemiologi Infeksi Menular Seksual - Studi Kualitatif Pencegahan Penyakit Infeksi Menular pada Komunitas Waria di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2013

Gratis

0
0
26
8 months ago
Preview
Full text

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Infeksi Menular Seksual

2.1.1 Definisi dan Epidemiologi Infeksi Menular Seksual

  Penyakit kelamin (veneral diseases) sudah lama dikenal dan beberapa diantaranya sangat populer di Indonesia yaitu sifilis dan gonore. Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, seiring dengan perkembangan peradaban masyarakat, banyak ditemukan penyakit-penyakit baru, sehingga istilah tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi Sexually Transmitted Disease (STD) atau Penyakit Menular Seksual (PMS) (Hakim, 2009; Daili, 2009).

  Perubahan istilah tersebut memberi dampak terhadap spektrum PMS yang semakin luas karena selain penyakit-penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit kelamin (VD) yaitu sifilis, gonore, ulkus mole, limfogranuloma venerum dan granuloma inguinale juga termasuk Uretritis Non Gonore (UNG), kondiloma akuminata, herpes genitalis, kandidosis, trikomoniasis, bakterial vaginosis, hepatitis, moluskum kontagiosum, skabies, pedikulosis dan lain-lain.

  Sejak tahun 1998, istilah STD mulai berubah menjadi STI (Sexually

  

Transmitted Infection) , agar dapat menjangkau penderita asimtomatik (Hakim, 2009;

  Daili, 2009). Peningkatan insidens IMS dan penyebarannya di seluruh dunia tidak dapat diperkirakan secara tepat.

  Di beberapa negara disebutkan bahwa pelaksanaan program penyuluhan yang intensif akan menurunkan insiden IMS atau paling tidak insidennya relatif tetap.

  Namun demikian, di sebagian besar negara, insiden IMS relatif masih tinggi dan setiap tahun beberapa juta kasus baru beserta komplikasi medisnya antara lain kemandulan, kecacatan, gangguan kehamilan, gangguan pertumbuhan, kanker bahkan juga kematian memerlukan penanggulangan, sehingga hal ini akan meningkatkan biaya kesehatan.

  Selain itu pola infeksi juga mengalami perubahan, misalnya infeksi klamidia, herpes genital dan kondiloma akuminata di beberapa negara cenderung meningkat dibanding uretritis, gonore dan sifilis. Beberapa penyakit infeksi sudah resisten terhadap antibiotik, misalnya munculnya galur multiresisten Neisseria gonorrhoeae, Haemophylus ducreyi dan Trichomonas vaginalis yang resisten terhadap metronidazole.

  Perubahan pola infeksi maupun resistensi tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya (Hakim, 2009; Daili, 2009). Menurut Hakim (2009), dalam Daili (2009), perubahan pola distribusi maupun pola perilaku penyakit tersebut di atas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu:

  1. Faktor dasar: adanya penularan penyakit, berganti-ganti pasangan seksual.

  2. Faktor medis: gejala klinis pada wanita dan homoseksual yang asimtomatis, pengobatan modern, pengobatan yang mudah, murah, cepat dan efektif, sehingga risiko resistensi tinggi dan bila disalahgunakan akan meningkatkan risiko penyebaran infeksi.

  3. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan pil KB hanya bermanfaat bagi pencegahan kehamilan saja, berbeda dengan kondom yang juga dapat digunakan sebagai alat pencegahan terhadap penularan IMS.

  4. Faktor sosial: mobilitas penduduk, prostitusi, waktu yang santai, kebebasan individu, ketidaktahuan.

  Peningkatan insidens tidak terlepas dari kaitannya dengan perilaku risiko tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa penderita sifilis melakukan hubungan seks rata-rata sebanyak 5 (lima) pasangan seksual yang tidak diketahui asal-usulnya, sedangkan penderita gonore melakukan hubungan seksual dengan rata-rata 4 (empat) pasangan seksual (Daili, 2009).

  Menurut Hakim (2009) dalam Daili (2009), yang tergolong kelompok risiko tinggi adalah:

  1. Usia: 20-34 tahun pada laki-laki, 16-24 tahun pada wanita, 20-24 tahun pada kedua jenis kelamin.

  2. Pelancong.

  3. Pekerja seksual komersial atau wanita tuna susila.

  4. Pecandu narkotik.

  5. Homoseksual.

  2.1.2 Penyebab Infeksi Menular Seksual

  Menurut Handsfield (2001), infeksi menular seksual dapat diklasifikasikan menurut agen penyebabnya, yakni:

  1. Dari golongan bakteri, yakni Neisseria gonorrhoeae, Treponema pallidum, Chlamydia trachomatis, Haemophilus ducreyi, Calymmatobacterium granulomatis, Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis, Gardnerella vaginalis, Salmonella sp., Shigella sp., Campylobacter sp., Streptococcus grup B., Mobiluncus sp.

  2. Dari golongan protozoa, yakni Trichomonas vaginalis, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, dan protozoa enterik lainnya.

  3. Dari golongan virus, yakni Human Immunodeficiency Virus (tipe 1 dan2), Herpes Simplex Virus (tipe 1 dan 2), Human Papiloma Virus (banyak tipe), Cytomegalovirus, Epstein-Barr Virus, Molluscum Contagiosum virus, Hepatitis B, dan virus-virus enterik lainnya.

  4. Dari golongan ekoparasit, yakni Pthirus pubis, Sarcoptes scabei.

  Sedangkan menurut Daili (2009), selain disebabkan oleh agen-agen di atas, infeksi menular seksual juga dapat disebabkan oleh jamur, yakni jamur Candida albicans.

2.1.3 Cara Penularan Infeksi Menular Seksual

  Cara penularan IMS adalah dengan cara kontak langsung yaitu kontak dengan eksudat infeksius dari lesi kulit atau selaput lendir pada saat melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang telah tertular. Lesi bisa terlihat jelas ataupun tidak terlihat dengan jelas. Pemajanan hampir seluruhnya terjadi karena hubungan seksual (vaginal, oral, anal).

  Penularan IMS juga dapat terjadi melalui darah dengan cara antara lain: 1. Transfusi darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV.

  2. Saling bertukar jarum suntik pada pemakaian narkoba.

  3. Tertusuk jarum suntik yang tidak steril secara sengaja/tidak sengaja.

  4. Menindik telinga atau tato dengan jarum yang tidak steril.

  5. Penggunaan alat pisau cukur secara bersama-sama (khususnya jika terluka dan 6.

  Menyisakan darah pada alat).

  7. Dari ibu kepada bayi: saat hamil, saat melahirkan, dan saat menyusui.

  Menurut Depkes RI (2006), penularan infeksi menular seksual dapat melalui beberapa cara, yakni bisa melalui hubungan seksual, berkaitan dengan prosedur medis (iatrogenik), dan bisa juga berasal dari infeksi endogen. Infeksi endogen adalah infeksi yang berasal dari pertumbuhan organisme yang berlebihan secara normal hidup di vagina dan juga ditularkan melalui hubungan seksual. Sedangkan infeksi menular seksual akibat iatrogenik disebabkan oleh prosedur-prosedur medis seperti pemasangan IUD (Intra Uterine Device), aborsi dan proses kelahiran bayi.

2.1.4 Gejala Klinis dan Diagnosa Infeksi Menular Seksual

  Terkadang infeksi menular seksual tidak memberikan gejala, baik pria maupun wanita. Beberapa infeksi menular seksual baru menunjukkan gejalanya setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, maupun bertahun-tahun setelah terinfeksi (Lestari, 2008). Mayoritas infeksi menular seksual tidak memberikan gejala (asimtomatik) pada perempuan (60-70% dari infeksi gonore dan klamidia). Pada perempuan, konsekuensi infeksi menular seksual sangat serius dan kadang-kadang bersifat fatal (misalnya kanker serviks, kehamilan ektopik dan sepsis).

  Konsekuensi juga terjadi pada bayi yang dikandungnya, jika perempuan tersebut terinfeksi pada saat hamil (bayi lahir mati, kebutaan) (Kesrepro, 2007).

  Gejala infeksi menular seksual bisa berupa gatal dan adanya sekret disekitar alat kelamin, benjolan atau lecet disekitar alat kelamin, bengkak disekitar alat kelamin, buang air kecil yang lebih sering dari bisaanya, demam, lemah, kulit menguning dan rasa nyeri disekujur tubuh, kehilangan berat badan, diare, keringat malam, pada wanita bisa keluar darah diluar masa menstruasi, rasa panas seperti terbakar atau sakit saat buang air kecil, kemerahan disekitar alat kelamin, rasa sakit pada perut bagian bawah pada wanita diluar masa menstruasi, dan adanya bercak darah setelah berhubungan seksual (WHO, 2001). Diagnosis infeksi menular seksual dilakukan melalui proses anamnesa, diikuti pemeriksaan fisik dan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium (Daili, 2009).

2.1.5 Komplikasi Infeksi Menular Seksual

  Infeksi menular seksual yang tidak ditangani dapat menyebabkan kemandulan, merusak penglihatan, otak dan hati, menyebabkan kanker leher rahim, menular pada bayi, rentan terhadap HIV dan beberapa infeksi menular seksual dapat menyebabkan kematian (Dinkes Surabaya, 2009).

  HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yaitu sel darah putih dan kemudian menimbulkan AIDS (Depkes 2005). Virus ini merupakan kelompok retrovirus yaitu kelompok virus yang mempunyai kemampuan untuk mengkopi cetak komponen genetika diri di dalam komponen genetika sel-sel yang ditumpanginya (Dep.Kes. RI, 2005). AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan kumpulan gejala penyakit spesifik yang disebabkan oleh rusaknya sistem kekebalan tubuh oleh virus HIV. Gejala yang ditimbulkan pada penyakit HIV pada fase yang pertama adalah disebut window period dengan ciri belum ada gejala sama sekali, belum terdeteksi melalui tes dan sudah dapat menularkan HIV. Window period 3 bulan setelah terinfeksi HIV, pada masa ini virus HIV masih belum terdeteksi.

  Kegiatan konseling yang menyediakan dukungan psikologis, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS, mencegah penularan HIV, mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggungjawab, pengobatan antiretroviral (ARV) dan memastikan pemecahan berbagai masalah terkait dengan HIV/AIDS yang bertujuan untuk perubahan perilaku ke arah perilaku lebih sehat dan lebih aman disebut konseling pre testing dalam VCT. Kegiatan yang dilakukan pada VCT antara lain konseling HIV, testing HIV, dan konseling post testing HIV. Tujuan adanya konseling VCT adalah mencegah penularan HIV, mengubah perilaku ODHA, pemberian dukungan yang dapat menumbuhkan motivasi dan meningkatkan kualitas hidup ODHA.

2.1.6 Pencegahan Infeksi Menular Seksual

  Menurut WHO (2006), pencegahan infeksi menular seksual terdiri dari dua bagian, yakni pencegahan primer dan pencegahan sekunder. Pencegahan primer terdiri dari penerapan perilaku seksual yang aman dan penggunaan kondom. Sedangkan pencegahan sekunder dilakukan dengan menyediakan pengobatan dan perawatan pada pasien yang sudah terinfeksi oleh infeksi menular seksual. Pencegahan sekunder bisa dicapai melalui promosi perilaku pencarian pengobatan untuk infeksi menular seksual, pengobatan yang cepat dan tepat pada pasien serta pemberian dukungan dan konseling tentang infeksi menular seksual dan HIV/AIDS.

  Depkes RI (2006), langkah terbaik untuk mencegah infeksi menular seksual adalah menghindari kontak langsung dengan cara berikut:

  1. Menunda kegiatan seks bagi remaja (abstinensia).

  2. Menghindari bergonta-ganti pasangan seksual.

  3. Memakai kondom dengan benar dan konsisten.

  Selain pencegahan diatas, pencegahan infeksi menular seksual juga dapat dilakukan dengan mencegah masuknya transfusi darah yang belum diperiksa kebersihannya dari mikroorganisme penyebab infeksi menular seksual, berhati-hati dalam menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan darah segar, mencegah pemakaian alat-alat yang tembus kulit (jarum suntik, alat tindik) yang tidak steril, dan menjaga kebersihan alat reproduksi sehingga meminimalisir penularan (Dinkes Surabaya, 2009).

2.2 Bahaya dan Dampak Sosial terhadap Penderita Infeksi Menular Seksual

  Sepuluh tahun terakhir, IMS (terutama HIV/AIDS) meningkat jumlahnya dan sangat mempengaruhi kehidupan berjuta-juta orang di seluruh dunia. Pada beberapa orang dan rumah tangga, efek dari HIV/AIDS menjadi berlipat ganda. Selain meningkatkan ketidaknormalan dan kematian, juga mengakibatkan kelumpuhan total yang dapat mengancam produktivitas disektor ekonomi keluarga maupun secara makro.

  Secara garis besar, dampak sosial terhadap penderita IMS (Infeksi Menular Seksual) terutama HIV/AIDS terbagi beberapa kategori, yaitu: ekonomi dan demografi, produktivitas pembangunan dan produksi pertanian, penekanan pada sektor kesehatan, rumah tangga dan keluarga, anak-anak, wanita, diskriminasi HIV/AIDS serta dampak HIV/AIDS terhadap seseorang (Kader Karang Taruna Jatim, 2001).

  1. Ekonomi dan Demografi Dampak ekonomi dari IMS dan HIV/ AIDS dapat memberikan kerugian, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kerugian secara langsung melalui kegiatan pencegahan, pengobatan dan penelitian. Sedangkan kerugian secara tidak langsung antara lain kehilangan harapan hidup yang diakibatkan oleh IMS/AIDS itu sendiri.

  Upaya untuk menilai kerugian yang ditimbulkan oleh IMS serta HIV/AIDS sangat luar bisaa, dimana hal ini perlu dilakukan seiring dengan kebutuhan akan pengukuran

  

“value of person’s life” terhadap pendapatan seseorang. Jadi dapat dikatakan bahwa

dampak dari IMS serta HIV/ AIDS adalah kehilangan pendapatan.

  2. Produktivitas Dampak dari IMS, HIV/AIDS terhadap tingkat produktivitas tidak hanya meningkatkan ketidaknormalan dan kematian, tetapi juga meningkatkan ketidakhadiran pekerja karena kesakitan. Pada beberapa kasus AIDS mengakibatkan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan dan otomatis menjadi memberi atau langganan dari pusat pelayanan kesehatan tersebut. Selain itu

  IMS/AIDS dapat menurunkan produktivitas. Adanya pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja yang terinfeksi HIV, tidak hanya akan meniadakan pendapatan pekerja tersebut, tetapi juga kesempatan berkontribusi di sektor ekonomi, diskriminasi di tempat kerja. Hal ini dilaporkan hampir terjadi di semua bagian.

  3. Pembangunan dan Produksi Pertanian Seperti juga disektor-sektor lain di atas, perusahaan dan sumber mata pencaharian di bidang pertanian juga terkena dampak dari terjadinya penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS, antara lain dapat mengakibatkan kemiskinan seseorang maupun masyarakat pertanian di seluruh sistem ekologi yang ada serta kerugian sosial yang tidak terukur dengan nilai.

2.3 Upaya Pengendalian Infeksi Menular Seksual

  IMS merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting untuk dikendalikan secara cepat dan tepat, karena mempunyai dampak selain pada aspek kesehatan juga politik dan sosial ekonomi. Kegagalan diagnosa dan terapi pada tahap dini mengakibatkan terjadinya komplikasi serius seperti infertilitas, kehamilan ektopik, disfungsi seksual, kematian janin, infeksi neonatus, bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), kecacatan bahkan kematian. Prinsip umum pengendalian IMS adalah bertujuan untuk memutus rantai penularan infeksi IMS dan mencegah berkembangnya IMS dan komplikasinya. Tujuan tersebut dapat dicapai bila ada penyatuan semua sumber daya dan dana untuk kegiatan pengendalian IMS, termasuk HIV/AIDS (Kader Karang Taruna Jatim, 2001).

  Upaya tersebut meliputi: 1. Upaya Promotif a.

  Pendidikan seks yang tepat untuk mengikis ketidaktahuan tentang seksualitas dan IMS.

  b.

  Meningkatkan pemahaman dan pelaksanaan ajaran agama untuk tidak berhubungan seks selain pasangannya.

  c.

  Menjaga keharmonisan hubungan suami istri tidak menyeleweng untuk meningkatkan ketahanan keluarga.

  2. Upaya Preventif a.

  Hindari hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan atau dengan pekerja seks komersial (PSK).

  b.

  Bila merasa terkena IMS, hindari melakukan hubungan seksual.

  c.

  Bila tidak terhindarkan, untuk mencegah penularan pergunakan kondom.

  d.

  Memberikan penyuluhan dan pemeriksaan rutin pada kelompok risiko tinggi.

  e.

  Penyuluhan dan pemeriksaan terhadap partner seksual penderita IMS.

  3. Upaya Kuratif a.

  Peningkatan kemampuan diagnosis dan pengobatan IMS yang tepat.

  b.

  Membatasi komplikasi dengan melakukan pengobatan dini dan efektif baik simtomatik maupun asimtomatik.

4. Upaya Rehabilitatif

  Memberikan perlakuan yang wajar terhadap penderita IMS, tidak mengucilkannya, terutama oleh keluarga dan partnernya, untuk mendukung kesembuhannya.

2.4 Waria

2.4.1 Pengertian Waria

  Waria adalah seorang laki-laki yang memiliki fisik dan penampilan seperti wanita. Salviana (2005), menjelaskan waria adalah orang yang secara jasmaniah laki- laki, namun berpenampilan dan bertingkah laku menyerupai perempuan sedangkan orientasi seksnya homoseks (menyukai sesama jenis). Secara fisik waria, baik yang berperan sebagai laki-laki maupun perempuan adalah bagian dari homoseksual. Namun demikian, ada suatu hal yang membatasi secara jelas antara kaum homoseks dan kaum waria. Misalnya saja dalam berpakaian, seorang homoseks tidak merasa perlu berpenampilan sebagaimana perempuan. Sebaliknya, seorang waria merasa bahwa dirinya adalah perempuan, sehingga harus berpenampilan sebagaimana seorang perempuan.

  Chaplin (dalam Roan, 1974), memberi defenisi homoseksual sebagai suatu hubungan antara dua jenis kelamin yang sama dan ketertarikan seksual pada jenis kelamin yang sama yang ditandai dengan adanya perilaku seksual yang overt, seperti masturbasi bersama cunilikasi, fellatio dan senggama seks. Cara yang bisaanya dilakukan berhubungan seks adalah dengan secara oral, anal dan kontak tubuh (body contact ).

  Secara umum sifat- sifat homoseks dapat dibedakan atas: a. Homoseks Ego-Distonik

  Homoseks jenis ego-distonik selalu merasa dirinya tidak serasi dengan gangguan yang dialaminya, sehingga selalu merasa risau dan menderita karenanya.

  b.

  Homoseks Ego-Sintonik Homoseks jenis ini merasa dirinya serasi dengan kelainan yang dialaminya, sehingga ia tidak bersedia merubah dirinya dan tetap mempertahankan dengan gigih kecenderungannya, merasa wajar saja dalam berkencan dengan sesama jenisnya.

  c.

  Homo-Hetero-Seksual Homoseks jenis ini tidak secara penuh bersifat pria atau wanita, diantara keduanya terdapat suatu daerah yang disebut daerah abu-abu (grey area). Jadi ada yang 100% bersifat pria dan kecenderungannya hanya pada wanita, ada pula yang 80% bersifat pria dan 20% bersifat wanita atau sebaliknya, bahkan ada yang 50% bersifat pria dan 50% bersifat wanita yang disebut dengan istilah biseksual d.

  Maskulinitas-Femininitas Diantara sifat-sifat homoseksual terdapat juga sifat kepriaan dan sifat kewanitaan. Homoseks yang berfungsi sebagai laki-laki akan aktif serta pengambil inisiatif dan segala perilaku yang dilakukan oleh pria dalam berhubungan seksual. Sebaliknya, homoseks yang berfungsi sebagai wanita akan lebih bersifat feminism, mereka menerima keadaan, kurang berinisiatif dalam berhubungan seks dan mengambil peran sebagai wanita.

  Perempuan yang terperangkap dalam tubuh laki-laki adalah perumpamaan yang bisa digunakan oleh para waria untuk menggambarkan bagaimana keadaan mereka sesungguhnya (Buletin Kesehatan, 1999).

2.4.2 Pembagian Waria

  Menurut Benny D. Setianto yang dikutip Salviana (2005), ada 4 (empat) kategori kewariaan:

  1. Pria menyukai pria.

  2. Kelompok yang secara permanen mendandani dirinya sebagai seorang perempuan.

  3. Kelompok yang karena desakan ekonomi harus mencari nafkah dengan berdandan dan beraktifitas sebagai perempuan.

  4. Kelompok coba-coba atau memanfaatkan keberadaan kelompok sebagai bagian dari kehidupan seksual mereka.

2.4.3 Faktor-faktor Pendukung Terjadinya Waria

  Puspitosari (2005), mengatakan bahwa faktor-faktor terjadinya waria adalah disebabkan oleh faktor biologis yang dipengaruhi oleh hormon seksual dan genetik seseorang. Hermaya (Nadia, 2005) berpendapat bahwa peta kelainan seksual dari lensa biologis dapat dibagi dalam keadaan 2 (dua) penggolongan besar yaitu :

  1. Kelainan seksual akibat kromosom Dari kelompok ini, seseorang ada yang berfenotip pria dan yang berfenotip wanita. Dimana pria dapat kelebihan kromosom X. Bisa XXY, XXYY atau bahkan XXXYY. Diduga penyebab kelainan ini karena tidak berpisahnya kromosom seks pada saat miosis (pembelahan sel) yang pertama dan kedua.

  Hal ini dikarenakan usia seorang ibu berpengaruh terhadap proses reproduksi. Artinya semakin tua seorang ibu mengandung, maka akan semakin tidak baik proses pembelahan sel tersebut dan akibatnya semakin besar kemungkinan menimbulkan kelainan kromosom seks pada anaknya.

  2. Kelainan seksual yang bukan karena kromosom.

  Menurut Moertiko (Nadia, 2005), mengatakan bahwa dalam tinjauan medis, secara garis besar kelainan: a.

  Pseudomale atau disebut sebagai pria tersamar. Ia mempunyai sel wanita tetapi secara fisik ia adalah pria. Testisnya mengandung sedikit sperma atau sama sekali mandul. Menginjak dewasa, payudaranya membesar sedangkan kumis dan jenggotnya berkurang.

  b.

  Pseudofemale atau disebut juga sebagai wanita tersamar. Tubuhnya mengandung sel pria. Tetapi, pada pemeriksaan gonad (alat yang mengeluarkan hormon dalam embrio) alat seks yang dimiliki adalah wanita. Ketika menginjak dewasa, kemaluan dan payudaranya tetap kecil dan sering tidak bisa mengalami haid.

  c.

  Female-pseudohermaprodite. Penderita ini pada dasarnya memiliki kromosom sebagai wanita (XX) tetapi perkembangan fisiknya cenderung menjadi pria.

  d.

  Male-pseudohermaprodite. Penderita ini pada dasarnya memiliki kromosom pria (XY) namun perkembangan fisiknya cenderung wanita.

  Nadia (2005), menyatakan bahwa secara umum faktor-faktor terjadinya waria (transsexual) disebabkan karena: 1.

  Susunan kepribadian seseorang dan perkembangan kepribadiannya, sejak ia berada dalam kandungan hingga mereka dianggap menyimpang.

  2. Menetapnya kebisaaan perilaku yang dianggap menyimpang.

  3. Sikap, pandangan dan persepsi seseorang terhadap gejala penyimpangan perilaku.

  4. Seberapa kuat perilaku menyimpang itu berada dalam dirinya dan dipertahankan.

  5. Kehadiran perilaku menyimpang lainnya yang bisaanya ada secara paralel.

  Menurut Tjahjono (1995), mengatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya transsexual yaitu:

  1. Anak laki-laki yang dibesarkan tanpa ayah atau dibesarkan tanpa kehadiran ayah selama periode waktu yang panjang menunjukkan minat-minat, sikap- sikap dan perilaku feminin.

  2. Hubungan yang terlalu dekat antara anak dengan orangtua yang berlawanan dengan jenis kelaminnya. Anak dan orangtua cenderung memiliki kontak yang sangat intim baik secara fisik maupun secara psikis, dan orangtua sering melaporkan adanya suatu hubungan “yang tidak dapat dipisahkan”. Dengan demikian anak hanya mempunyai sedikit kesempatan untuk mengidentifikasi orangtua yang sama dengan jenis kelaminnya dan kurang mengembangkan perilaku-perilaku sesuai dengan peran jenisnya.

  3. Beberapa orangtua, menginginkan anak dengan jenis kelamin yang lain, sehingga berusaha menjadikan anak perempuan bersikap seperti laki-laki yang tidak pernah dimilikinya atau sebaliknya.

  4. Seorang ibu yang membenci dan iri terhadap kejantanan bisa membentuk perilaku yang kurang jantan pada anak laki-lakinya. Ibu mungkin mengasosiasikan maskulinitas dengan kekerasan fisik dan agresifitas, penyalahgunaan seksual dan kekasaran. Ia lebih suka anak laki-lakinya lembut.

  5. Pengaruh-pengaruh genetik atau hormonal. Dari perspektif medis, pada waria ini terdapat kemungkinan disebabkan oleh presdisposisi hormonal, hormon faktor-faktor endokrin (kelenjar) konstitusi pembawaan dan beberapa diantaranya basis biologis pada masa prenatal atau masa didalam kandungan (Nadia, 2005). Crooks (1983), mengatakan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya transsexual antara lain yaitu:

  1. Faktor biologis, faktor biologis merupakan peran yang dapat menentukan identitas seseorang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Goy tahun 1970 menyatakan bahwa tingkah laku maskulin dapat bertambah pada perempuan

  2. Pengalaman pengetahuan sosial, seorang anak dapat terbuka dengan bermacam-macam pengalaman yang mendorong tingkah laku dalam sebuah pola secara tradisional yang berhubungan dengan jenis kelamin. Anak dapat mengembangkan sebuah keakraban, memperkenalkan hubungan dengan orang tua pada jenis kelamin yang berbeda sehingga dapat diperkuat oleh reaksi anak pada masa dewasa.

  . Diakses tanggal 06 Oktober 2009, 23:22:42.

2.4.4 Ciri-ciri Waria

  Waria dianggap memiliki Gangguan Identitas Jender (Gender Identity

  Disorder ), transeksual, memiliki krakteristik sebagai berikut: 1.

  Identifikasi yang kuat dan menetap terhadap lawan jenis.

2. Pada anak-anak, terdapat empat atau labih dari cirri, yaitu: a.

  Berulang kali menyatakan keinginan atau memaksakan diri untuk menjadi lawan jenis.

  b.

  Lebih suka memakai pakaian lawan jenis. c.

  Lebih suka berperan sebagai lawan jenis dalam bermain atau berfantasi menjadi lawan jenis terus-menerus.

  d.

  Lebih suka melakukan permainan lawan jenis.

  e.

  Lebih suka bermain dengan teman-teman dari lawan jenis.

  3. Pada remaja dan orang dewasa, simton-simtom seperti keinginan untuk menjadi lawan jenis, berpindah ke kelompok lawan jenis, ingin diperlakukan sebagai lawan jenis, kayakinan bahwa emosinya adalah tipikal lawan jenis.

  4. Rasa tidak nyaman yang terus menerus denganjenis kelamin biologisnya atau rasa terasing dari peran jender jenis kelamin tersebut.

  a.

  Pada anak-anak, terwujud dalam salah satu hal diantaranya, pada laki- laki, merasa jijik dengan penisnya dan yakin bahwa penisnya akan hilang seiring berjalannya wakti, tidak menyukai permainan sterotip anak laki- laki. Pada anak perempuan, menolak untuk buang air kecil dengan cara duduk, yakni bahwa penis akan tumbuh, merasa tidak suka dengan payudara yang besar dan mentruasi, merasa benci dan tidak suka terhadap perempuan yang konvensional.

  b.

  Pada anak remaja dan orang dewasa, terwujud dalam salah satu hal diantaranya, keinginan kuat untuk menghilangkan karakteristik jenis kelamin sekunder melalui pemberian hormone atau operasi, yakni bahwa dia dilahirkan dengan jenis kelamin yang salah.

  5. Tidak sama dengan kondisi fisik antas jenis kelamin.

  6. Menyebabkan distress dalam fungsi sosial dan pekerjaan (Davidson, Neale, & Kring, 2010).

  Menurut Maslim (2002), seseorang dapat dikatakan sebagai seorang waria jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Identitas transeksual harus sudah menetap selama minimal 2 (dua) tahun dan harus bukan merupakan gejala dari gangguan jiwa lain seperti skizofrenis, atau berkaitan dengan kelainan interseks, genetik atau kromosom.

  2. Adanya hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari kelompok lawan jenis, biasanya disertai perasaan risih atau tidak serasi dengan anatomi seksualnya.

  3. Adanya keinginan untuk mendapatkan terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan. Tanda-tanda untuk mengetahui adanya masalah identitas dan peran jenis, menurut Tjahjono (1995), yaitu:

  1. Individu enampilkan identitas lawan jenis secara berkelanjutan.

  2. Memiliki keinginan yang kuat berpakaian sesuai dengan lawan jenis.

  3. Minat-minat dan perilaku yang berlawanan dengan lawan jenis.

  4. Penampilan fisik hampir menyerupai lawan jenis kelaminnya.

  5. Perilaku individu yang terganggu peran jenisnya seringkali menyebabkan ia ditolak di lingkungannya.

  6. Bahasa tubuh dan nada suara seperti lawan jenisnya.

2.4.5 Budaya Waria

  Agak sulit mencari titik pangkal kapan dan dimana kebudayaan waria mulai muncul, sejarah belum pernah mencatat secara pasti. Jika dewasa ini mulai ada perhatian pada diri kaum waria, kemungkinan besar adalah bahwa ada keuntungan yang didapat dari eksploitas penampilannya, misalnya dalam dunia perfilman, baik dilayar kaca maupun peran. Waria yang atraktif ternyata mampu mendatangkan hiburan yang agak berbeda. Ini adalah komoditi ekonomi, demikian juga adanya ekshibisi sepak bola waria yang sering diadakan dalam rangka peristiwa-peristiwa tertentu. Semuanya tidak lebih dari sekedar memanfaatkan kelucuan-kelucuan mereka (Mastura, 2000).

  Dalam sejarah bangsa Yunani memang tercatat adanya kaum waria, seperti yang direkam oleh Hipocrates, telah muncul beberapa waria kelas elite seperti Raja Henry III dari Prancis, Abbe de Choisy Duta Besar Prancis di Siam serta Gubernur New York pada tahun 1702 Lord Combuny. Mereka berdandan sebagaimana wanita.

  Karena beberapa diantaranya adalah orang-orang terpandang, atribut mereka tidak ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut catatan ini, mereka laki-laki yang berjiwa perempuan, dengan pakaian perempuan dan lebih senang dianggap perempuan (Mastura, 2000).

  Pada bangsa Turco-Mongol di gurun Siberia, dukun pria pada umumnya berpakaian wanita. Lain halnya di Oman, di sana dikenal adanya Xanith. Di Oman pelacur wanita dikenal amat jarang dan mahal harganya. Xanith kemudian banyak beralih fungsi menjadi pelacur dengan harga yang amat rendah, pelacur-pelacur Xanith ini justru mendapat perlindungan dari norma masyarakat yang berlaku disana. Dengan demikian, busana wanita yang dipakai oleh pria di Oman yang disebut Xanith mengandung dua fungsi. Pertama merupakan fenomena budaya dan kedua menjadi daya tarik seksual ketika mereka berfungsi sebagai pelacur. Dari berbagai catatan tersebut, tidak jelas benar apakah mereka benar-benar kaum waria yang fenomena psikologisnya sebagaimana gejala transeksual atau sekedar gejala transvestet (Koeswinarno, 1996).

  Di Indonesia, budaya waria dapat kita temukan pada masyarakat Jawa Timur dengan kesenian Ludruk dan Reog di Ponorogo. Pada warok dikenal amat sakti.

  Warok yang memainkan reog akan kehilangan kesaktianya bila berhubungan seks dengan perempuan dan bila dia memerlukan gemblakan yaitu laki-laki muda berusia 9-17 tahun yang memiliki fungsi multidimensional bagi sang warok.

  Tugas para gemblakan ini dimulai dari pekerjaan membantu berbagai pekerjaan rumah tangga sang warok dan memberikan kebutuhan seksual bagi sang Warok. Jenis kegunaan yang terakhir ini membuat para warok selalu memilih gemnlakan lelaki muda yang berwajah cantik dan berkulit halus. Keadaan tersebut merupakan jalan keluar bagi setiap perguruan warok yang mematangkan murid- muridnya menggauli wanita, termasuk istri-istri sah mereka. Baru kemudian setelah ilmu mereka mencapai tingkat kematangan, mereka diperbolehkan kembali berhubungan seks dengan wanita ataupun istrinya.

  Perlakuan warok terhadap para gemblak inilah yang dapat menjuruskan perilaku seksual remaja tersebut menjadi seorang waria. Si warok seringkali memperlakukan gemblakannya sebagai wanita, baik dalam perilaku maupun cara berdandan.

  Budaya waria lain yang terdapat di Jawa Timur adalah yang ada dalam kesenian tradisional ludruk, yakni sebuah drama tradisional dari Jawa Timur, yang semua pemain panggungnya adalah laki-laki. Jika sebuah peran menuntut hadirnya seorang perempuan, kaum laki-laki itulah yang harus memerankan perempuan.

  Pelakon ini relatif menetap. Artinya, sekali mereka memerankan peran wanita, maka selamanya dalam permainan panggung ia berperan sebagai wanita (Mastura, 2000).

2.4.6 Penyakit Infeksi Menular Seksual di Kalangan Waria

  Dibandingkan dengan kelompok Gay, kelompok Wanita Penjaja Seks (WPS) dan kelompok Waria lebih berisiko terjangkit penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) dikarenakan pelanggannya adalah pria yang berkeluarga, sehingga dua kelompok ini harus lebih dipantau. Ada sekitar 3,3 juta laki-laki di Indonesia saat ini menjadi pembeli seks, padahal sebagian besar dari mereka sudah berkeluarga (Kompas, 2013).

  Umumnya waria sangat menyukai anak laki-laki yang ganteng dan masih sangat muda. Menjadi kebanggaan tersendiri apabila waria dapat menggaet pria muda dan melakukan relasi seks (Koeswinarno, 1996).

  Disamping itu pelacuran waria adalah sebuah mitos yang diwariskan oleh para pendahulu mereka. Dunia pelacuran juga merupakan wadah seorang waria untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan setelah mereka merasa terbuang, sekaligus memperoleh pengalaman kewariaan yang sesungguhnya (Kemala, 1987).

  Menurut Koeswinarno (1996), dalam kegiatan pelacuran ada 4 (empat) cara atau teknik hubungan seks yang dipakai oleh kaum waria adalah sebagai berikut:

  1. Fellatio atau oral seks.

  Teknik ini paling banyak dilakukan oleh waria. Dengan teknik ini biasanya air mani tidak ditelan begitu saja setelah seorang waria melakukan penyedotan hingga benar-benar tuntas. Ketika terjadi ejakulasi dini, maka dengan segera mereka memuntahkan air mani yang ada dimulutnya. Cara ini banyak dilakukan dalam praktek-praktek seksual disekitar pelacuran, karena lebih praktis dan tidak membutuhkan tempat khusus seperti kamar.

  2. Jepit.

  Yaitu pangkal paha waria berfungsi sebagaimana umumnya vagina pada kaum wanita. Penis pasangan waria dijepit diantara dua pangkal paha dan kemudian digosok-gosokkan hingga mencapai orgasme. Ketika penis pasangan waria dijepit diantara pangkal paha, maka sebaliknya penis waria berada diantara perut waria dan pasangannya. Sehingga ketika terjadi proses saling menggerakkan, maka kedua alat kelamin dapat mengalami ereksi dan terjadi ejakulasi. Untuk mencegah lecet, penis pasangan waria dan penis waria diolesi telebih dahulu dengan cream. Teknik ini merupakan cara teraman dari kemungkinan tertularnya penyakit kelamin.

  3. Sodomi atau anal.

  Konon kata sodomi sebagaimana yang ada dalam Kitab Injil sebagai seks yang pernah dilakukan Sodom dan Gomorah. Hampir semua waria menggemari teknik sodomi sebagai cara pemuasan nafsu seks. Pada teknik ini pihak yang aktif harus terlebih dahulu diolesi penisnya dengan cream untuk mencegah lecet pada alat kelamin.

4. Onani.

  Merupakan pemuasan seks yang tidak berdiri sendiri. Artinya onani dilakukan bersamaan dengan prilaku seks lainnya, seperti fellatio. Ketika seorang waria melakukan teknik fellatio kepada pasangannya, maka kadang-kadang lawan seks mengonanikan kelamin waria sehingga masing-masing pihak akan sama- sama mencapai orgasme. Berdasarkan hasil sebuah studi yang dilakukan di Mojo Wetan dan Mojo

  Kulon, lebih lanjut Koeswinarno (1996), menyatakan bahwa tidak semua konsumen seks kaum waria mau menerima semua perlakuan seks yang dilakukan waria Misalnya seks anal, tidak sembarang laki-laki mau melakukannya. Pada dasamya ada perasaan tidak enak atau jijik bagi orang awam untuk melakukan seks anal. Ini membuktikan bahwa rata-rata konsumen waria adalah pria normal, bukan seperti perkiraan bahwa konsumen waria adalah mereka yang juga mengalami penyimpangan seks. Laki-laki yang bersedia melakukan hubungan seks anal biasanya adalah kaum homoseksual dan suami-suami waria.

  Seks bagi waria bukan semata-mata dunia pelacuran seperti halnya WPS (Wanita Penjaja Seks) yang sebagian dari mereka menjadi pelacur karena himpitan ekonomi. Nyebong bagi waria merupakan nafas yang melekat dengan kehidupannya. Tidak sedikit dari mereka yang tidak dapat melepaskan dunia pelacuran (cebongan) atau seks bebas lainnya (Koeswinarno, 1996).

2.4.7 Konsumen Seks Kaum Waria

  Buddy Ibrahim (2000), memberi definisi pelanggan yaitu setiap orang dalam suatu mata rantai proses dianggap konsumen (pelanggan) oleh proses sebelumnya.

  Konsumen ini dibagi atas konsumen internal dan konsumen eksternal. Konsumen internal adalah pemakai produk/jasa internal atau proses berikutnya dalam suatu mata rantai proses produksi. Didalam dunia waria yang menjadi konsumen internal adalah suami si waria itu (laki-laki yang menjadi pacar si waria). Sedangkan konsumen eksternal adalah para pembeli produk atau pemakai jasa yang memberikan hasil dan laba. Konsumen eksternal didalam dunia waria adalah pelanggan atau tamu yang menggunakan atau memeli jasa atau produk waria dalam bentuk pelayanan seksual dimana para tamu ini akan memberikan hasil dan laba atas pelayanan seksual yang diberikan waria dalam bentuk uang.

Dokumen baru

Tags

Infeksi Menular Seksual Distribusi Penyakit Infeksi Menular Seksual Infeksi Menular Seksual Ims Penyakit Infeksi Menular Seksual Dan Inf Program Pengendalian Infeksi Menular Seksual Laporan Tutorial Infeksi Menular Seksual Pencegahan Penyakit Menular Seksual Penyakit Menular Seksual Perilaku Pemakaian Kondom Dengan Kejadian Infeksi Menular Seksual Distribusi Penyakit Menular Seksual
Show more

Dokumen yang terkait

Respon Berduka Pada Pasien Stroke di RSUP Haji Adam Malik Medan
0
0
22
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - Respon Berduka Pada Pasien Stroke di RSUP Haji Adam Malik Medan
0
0
17
BAB 1 PENDAHULUAN - Respon Berduka Pada Pasien Stroke di RSUP Haji Adam Malik Medan
0
0
8
Respon Berduka Pada Pasien Stroke di RSUP Haji Adam Malik Medan
0
0
12
Faktor-faktor yang Memengaruhi Penggunaan Komdom dalam Pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS) di Lokalisasi Bukit Maraja Kabupaten Simalungun Tahun 2013
0
0
18
BAB II TINJAUAN PUSAKA 2.1. Regionalisme - Regionalisme Arsitektur Melayu pada Kantor DPRD Langkat
0
0
56
BAB 2 LANDASAN TEORI 3.1 Definisi Graf - Implementasi Algoritma Genetik untuk Menyelesaikan Masalah Traveling Salesmen Problem (Studi Kasus: Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Medan)
0
0
28
BAB II - Penentuan Slack Bus pada Jaringan Tenaga Listrik Sumbagut 150 KV Menggunakan Metode Artificial Bee Colony
0
0
25
TUGAS AKHIR - Penentuan Slack Bus pada Jaringan Tenaga Listrik Sumbagut 150 KV Menggunakan Metode Artificial Bee Colony
0
0
11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ruang Luar 2.1.1. Pengertian Ruang dan Ruang Luar - Studi Hubungan Desain Front Yard dan Aktivitas (Studi Kasus: Front Yard Fakultas di Universitas Sumatera Utara)
0
0
26
Studi Hubungan Desain Front Yard dan Aktivitas (Studi Kasus: Front Yard Fakultas di Universitas Sumatera Utara)
0
0
19
BAB II TEORI PERUMAHAN DI PERKOTAAN 2.1 Perumahan 2.1.1 Perumahan dan Permukiman - Studi Bentuk Perumahan di Jalan Karya Wisata Medan (Studi Kasus : Perumahan Citra Wisata Dan Perumahan Johor Indah Permai I )
0
0
26
STUDI BENTUK PERUMAHAN DI JALAN KARYA WISATA MEDAN (Studi Kasus : Perumahan Citra Wisata dan Perumahan Johor Indah Permai I ) SKRIPSI
0
0
17
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komunikasi (Communication) - Hubungan Komunikasi Orangtua dan Anak Serta Kontrol Diri Siswa dengan Perilaku Seks Pranikah di SMA Prayatna Medan
0
0
37
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Hubungan Komunikasi Orangtua dan Anak Serta Kontrol Diri Siswa dengan Perilaku Seks Pranikah di SMA Prayatna Medan
0
0
12
Show more