BAB II GAMBARAN UMUM MASYARAKAT KARO DAN KEBUDAYAANNYA - Katoneng-katoneng pada Upacara Cawir Metua dalam Budaya Karo: Kajian Fungsi, Struktur Musik, dan Makna Tekstual

Full text

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM MASYARAKAT KARO DAN KEBUDAYAANNYA

Suku Karo dikenal sebagai salah satu sub suku Batak1

Pada masa kini hanya sebahagian kecil orang Karo bertempat tinggal di wilayah asalnya Taneh Karo simalem. Berdasarkan data sensus yang dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Karo pada tahun 2010, orang Karo yang mendiami dataran tinggi hanya berkisar 350 ribu kepala keluarga (KK). Sedangkan sebagian besar orang Karo lainnya bertempat tinggal secara tersebar di wilayah , yang secara historis memiliki wilayah asalnya di daerah pegunungan (Bukit Barisan) di wilayah Provinsi Sumatera Utara Sekarang, khususnya di wilayah Kabupaten Karo dan sekitarnya. Mereka menyebut daerah tersebut dengan sebutan Taneh Karo Simalem (Tanah Karo Yang Sejuk).

1

Yang termasuk ke dalam kelompok suku Batak ini adalah: Karo, Pakpak-Dairi, Batak Toba, Simalungun, dan Mandailing-Angkola. Kelima sub suku ini memiliki persamaan-persamaan kultural dan sosial selain juga perbedaan-perbedaannya. Kelima-limanya memiliki konsep pembagian kelompok kerabat kepada tiga unsur yaitu: (1) kempompok keluarga besar satu marga atau klen yang ditarik berdasarkan keturunan dari pihak ayah (patrilineal), istilah untuk menyebutkannya adalah dongan sabutuha untuk Batak Toba, dengan sibeltek (Pakpak-Dairi), sembuyak (Karo), dan kahanggi (Mandailing-Angkola); (2) kelompok pemberi isteri kepada kelompok kita. Golongan ini disebut dengan istilah hula-hula (Batak Toba), kula-kula

(Pakpak-Dairi), kalimbubu (Karo), mora (Mandailing-Angkola), tondong (Simalungun). Kelompok ini paling dihormati dalam konteks adat mereka. Mereka dipandang sebagai dewa yang tampak di dunia ini. (3) Kelompok atau penerima isteri, yang diistilahkan anak boru

(2)

Provinsi Sumatera Utara, antara lain: Kota Medan, Kabupaten Langkat, kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak-Bharat, Kota Binjai, Kota Tebing Tinggi, Kota Pematang Siantar, dan lain sebagainya. Sebagian orang Karo lainnya, juga tersebar di pelosok wilayah negara kesatuan Republik Indonesia; mulai dari Sabang sampai Merauke.

Beberapa orang Karo bertempat tinggal di luar negeri (di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat) karena bekerja, menuntut ilmu, atau karena kawin dengan warga negara asing. Saat ini, perkumpulan orang Karo yang paling terkenal di luar negeri adalah Perkoeah dan Permakan (sumber: karosimalem.com). Mereka adalah orang-orang Karo yang sudah bertempat tinggal tetap di Eropa Barat (Belanda, Jerman, Perancis, Belgia, dan lainnya).

(3)

Aceh Raya, dan lain-lain, maka densitas akulturasinya lebih tinggi pada orang-orang Karo Jahe ini.

Peta 2.1 Kabupaten Karo

(4)

Gambar 2.1

Lambang Kabupaten Karo

Sumber: Pemerintah Kabupaten Karo, 2014

2.1 Geografis

Meskipun ada perbedaan antara wilayah budaya dan wilayah administratfi pemerintahan, tetapi pada bahagian ini dideskripsikan tentang wilayah geografis. Secara geografis, Kabupaten Karo berada pada ketinggian 400 sampai 1600 meter di atas permukaan laut, dengan luas wilayah seluruhnya kira-kira 2.127,25 km persegi, atau 27,9 % dari luas keseluruhan Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan klimatologi atau iklimnya Kabupaten Karo mempunyai iklim yang sejuk dengan suhu berkisar 16-17 derajat Celcius. Kabupaten Karo terletak pada koordinat 2° 50' lintang utara sampai 3° 19' lintang utara dan 97° 55' bujur timur sampai 98° 38' bujur timur.

(5)

Kota Medan, yang memiliki hubungan sejarah dengan orang Karo. Selanjutnya, perjalanan dari Kota Medan menuju Kota Kabanjahe, dalam kondisi lalu lintas normal dapat ditempuh dalam waktu dua jam dengan kenderaan umum; dan satu setengah jam dengan kenderaan pribadi.

Selain itu, Kabupaten Karo merupakan salah satu kabupaten dari sejumlah 33 kabupaten dan kota di wilayah Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan wilayah geografis, Kabupaten Karo berada pada posisi 2’50-3’19’ Lintang Utara, dan 97’35’-98’38’ Bujur Timur. Keseluruhan daerah Kabupaten Karo beriklim sejuk, berada di kisaran 14-26 derajat Celsius. Penggunaan lahan di Kabupaten Karo di dominasi oleh penggunaan lahan kering berupa perladangan dan perkebunan seluas 96.045 ha atau 41% dari luas wilayah. Selanjutnya diikuti oleh kawasan hutan seluas 77.142 ha. Tanah yang subur, udara yang sejuk, panorama yang indah, serta hutan lindung yang luas, sangat sesuai dengan usaha dibidang sektor pertanian (sumber: BPS Kabupaten Karo, 2012).

Pada sektor pertanian masyarakat Karo mengolah tanaman pangan, hortikultura (buah-buahan, sayur mayur, bunga-bungaan, dan biji-bijian). Sektor pariwisata mencakup : jalan hutan, gunung berapi, air panas, pemandangan yang indah, danau, air terjun, rumah tradisional, kebudayaan dan sebagainya. Sektor industri diharapkan mampu mendukung sektor pertanian, industri yang mengolah hasil pertanian dan industri yang mendukung sektor pariwisata seperti : cendera mata.

(6)

penduduk, dan kepadatan penduduk per kecamatan dapat dilihat pada rincian yang terdapat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1

Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, dan Kepadatan Penduduk Setiap Kecamatan di Kabupaten Karo

(Sumber: BPS Kabupaten Karo 2012).

Kabupaten Karo sebagai wilayah asal yang menjadi fokus kajian katoneng-katoneng ini, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara memiliki batas-batas sebagai berikut. (i) Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten

(7)

Langkat dan Kabupaten Deli Serdang, (ii) sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Samosir, (iii) sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun, dan (iv) sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD).

Walaupun berdasarkan administratif, etnik Karo bermukim di wilayah Kabupaten Karo, akan tetapi sejak awal mereka telah menempati beberapa wilayah kabupaten lainnya di Provinsi Sumatera Utara, terutama di kabupaten yang berbatasan langsung dengan kabupaten Karo seperti: Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Dairi, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Simalungun, Kota Medan dan ke sebelah barat Kabupatan Karo yaitu Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

(8)

2.2 Sistem Kekerabatan

Setiap suku bangsa mempunyai sistem kekerabatan sendiri dan merupakan ciri khas dari setiap suku bangsa. Setiap upacara adat tidak terlepas dari sistem kekerabatan yang ada. Begitu juga dengan suku Batak Karo yang juga memiliki sistem kekerabatan sendiri. Kerabat (kade-kade) memiliki pengertian yang sangat luas, baik atas dasar hubungan darah maupun hubungan yang disebabkan oleh terjadinya sebuah pernikahan, sehingga terjadilah hubungan kekerabatan baik antara pihak wanita dan pihak pria yang menikah.

Menurut Pritchard (1986:154) tiap-tiap masyarakat, walaupun dalam bentuk yang sederhana sekali, akan dapat menemui suatu bentuk kehidupan keluarga, pengakuan mengenai ikatan kekeluargaan, sistem ekonomi dan politik, status sosial, ibadah agama, cara menyelesaikan konflik dan hukuman terhadap penjahat dan lain-lain disamping kebudayaan material, suatu kumpulan pengerahuan mengenai alam semesta, teknik dan tradisi. Demikian halnya dengan masyarakat Karo memiliki memiliki sistem kekerabatan yang diwariskan secara turun-temurun yang mencakup bentuk ikatan kekeluargaan, sistem sosial dan politik, penyelesaian konflik, dan berbagai hal yang terkait dengan sistem kekerabatan.

(9)

Kelompok merga tersebut terdiri dari lima merga induk yaitu, (1) Karo-karo. (2) Ginting, (3) Tarigan, (4) Sembiring, dan (5) Perangin-angin,. Kelima merga induk ini disebut, merga silima. Setiap merga terdiri dari cabang-cabang merga. Istilah merga merupakan sebutan pada laki-laki, dan beru untuk perempuan. Kelima-lima merga dalam peradaban masyarakat karo tersebut dibentuk oleh merga-merga kecilnya, yang sepenuhnya dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini.

Tabel 2.2:

Induk Merga dan Sub Merga dalam Konteks Merga Silima

Induk Merga Sub Merga

(10)

16. Sinulingga 17. Sitepu 18. Surbakti

III. Perangin-angin 1. Bangun 2. Benjerang

IV. Sembiring 1. Brahmana

(11)

12. Tegur 13. Tua

Sumber: informasi yang diperoleh dari para narasumber (2014)

Selanjutnya, hubungan yang lebih luas dari perwujudan merga-merga

pada masyarakat Karo adalah rakut sitelu (ikat yang tiga). Rakut sitelu ini mirip dengan pengertian dalihan natolu pada masyarakat Batak Toba dan Mandailing-Angkola. Rakut sitelu pada masyarakat Karo merupakan suatu istilah untuk menyatakan sistem kekerabatan yang saling mengikat antara sesama anggota masyarakat. Sistem tersebut didapat melalui kelahiran dan perkawinan. Rakut sitelu dapat dipandang sebagai pembagian kelompok berdasarkan adat istiadat Karo.

Adapun kelompok-kelompok tersebut adalah (a) senina, (b) anak beru, dan (c) kalimbubu. Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa masyarakat Karo masing-masing sadar dan mengetahui poisisinya dalam sistem kekerabatan dalam adat-istiadat Karo dalam kaitannya antara merga silima dengan rakut sitelu. Sehingga dalam pelaksanaan sebuah upacara adat masing-masing individu (keluarga) telah mengetahui posisinya sebagai bagian dari upacara tersebut.

(12)

umumnya khawatir dan malu jika anaknya atau generasi yang lebih muda tidak memahami sistem kekerabatan. Oleh karena itu selalu disarankan agar para remaja yang menjelang dewasa supaya rajin mendengar cerita-cerita orang tua yang menyangkut nasihat dan sistem kekerabatan.

Bahwa orang tua akan merasa malu jika anaknya tidak memahami sistem kekerabatan yang menyangkut merga silima dan rakut sitelu. Jika hal ini tidak diwariskan secara lebih dini, maka dikhawatirkan generasi penerus tidak memahami dengan jelas tentang merga silima dan rakut sitelu yang penerapannya sangat jelas terlihat pada berbagai upacara adat dimana setiap keluarga harus memahami posisinya apakah ia berada pada kelompok senina,

anak beru, atau kalimbubu.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa di kalangan orang tua pada masyarakat Karo pada umumnya merasa khawatir jika anak-anak mereka sebagai generasi penerus, tidak tahu atau tidak memahami sistem kekerabatan masyarakat Karo sebagai sebuah identitas yaitu, mengetahui posisi klennya dalam konteks merga silima, dan posisinya saat pelaksanaan sebuah ritual adat dalam pemahaman rakut sitelu.

Selain merga dan beru, setiap individu dalam etnik Karo juga sekaligus mewarisi beru dari ibu kandungnya yang disebut dengan bere-bere

(13)

patrineal dan matrilineal yaitu menarik garis keturunan ayah dan garis keturunan ibu sekaligus (Bangun, 1989).

Sistem kekerabatan masyarakat Karo juga mengenal istilah rakut sitelu

atau daliken sitelu, yang mengandung pengertian adanya tiga unsur kelengkapan hidup dalam suatu keluarga luas. Adapun ketiga unsur dalam sistem kekerabatan masyarakat Karo tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Senina, adalah hubungan bersaudara antara orang-orang yang berasal dari satu merga (clan) yang sama tetapi tupang atau sub merga yang berbeda. Contohnya: Ginting Suka dengan Ginting Jawak. Tetapi di samping itu hubungan seseorang dengan orang lain dapat menjadi senina atau ersenina

sekalipun clan atau merga berbeda, hal itu karena: isterinya adik beradik; suaminya adik beradik; ataupun ibunya adik beradik.

2. Anak beru, adalah kelompok/golongan penerima anak dara atau wife taker. Kelompok anakberu mempunyai kedudukan penting sebagai pembawa kerukunan dan kedamaian dalam keluarga kalimbubu. Dalam pelaksanaan upacara-upacara adat anak beru yang memegang peranan sangat penting, baik menyangkut menyiapkan keperluan-keperluan pelaksanaan upacara adat, melakukan musyawarah dan pembicaraan-pembicaraan mengenai pelaksanaan upacara adat, sampai kepada pertanggungjawaban pelaksanaan upacara adat. Dalam pelaksanaan upacara adat, salah seorang anak beru bertugas sebagai

protokol; yang tugasnya lebih luas daripada tugas juru acara di dalam sesebuah acara yang bersifat formal.

(14)

kehidupan dan berkat. Masyarakat Karo menyebut kalimbubu sebagai dibata ni idah yang secara harafiah mengandungi pengertian tuhan yang nampak. Di dalam pelaksanaan adat, kalimbubu merupakan pihak yang selalu menjadi

penggurun (yang dimintai pendapatnya, yang diikuti). Apabila pihak kalimbubu

melihat ada sesuatu yang berlaku tidak sepatutnya, maka kalimbubu berhak

ngembarisa (meluruskannya, memperbaikinya).

Rakut si telu dalam ego adalah senina (saudara kandung atau saudara

semerga), kalimbubu (saudara laki-laki dari ibu), anak beru (saudara perempuan dari ayah). Dengan demikian, setiap ego orang Karo akan mempunyai senina, kalimbubu, dan anak beru. Selanjutnya, dalam suatu kegiatan adat atau upacara adat ketiga unsur rakut si telu tersebut mengacu kepada orang yang melaksanakan kegiatan adat yang dikenal dengan istilah sukut. Sukut juga dapat disebut sebagai ego, namun dalam satu kegiatan adat, sukut tidak hanya satu orang atau satu ego merupakan keluarga, dan sukut juga terdiri dari dua kelompok. Sebagai contoh dalam adat perkawinan, yang menjadi sukut adalah ayah ibu dan saudara kandung ayah kedua penganten (laki-laki dan wanita), dan dalam upacara tersebut terdapat dua sukut yakni sukut sinereh (kelompok pengantin wanita) dan sukut si empo (kelompok pengantin laki-laki). Jadi, rakut si telu dalam upacara adat mengacu pada kedua hal tersebut di atas. Jadi ketiga unsur dalam rakut si telu bermuara pada dua hal yakni pada diri atau ego dan kelompok dalam satu upacara adat yang disebut sukut.

(15)

hubungan darah. Selanjutnya, setiap orang Karo juga secara otomatis mempunyai peran sebagai senina, kalimbubu, dan anak beru dari orang kerabatnya. Jadi rakut si telu dalam masyarakat karo berfungsi sebagai melingkar (sirkular). Sistem kekerabatan yang tercakup dalam rakut si telu

tersebut selanjutnya berkembang menjadi delapan sub kekerabatan yang di sebut dengan tutur si waluh (kedudukan yang delapan) yaitu: (1) puang kalimbubu, (2) kalimbubu, (3) senina, (4) senina siparibanen, (5) senina sipemeren, (6) senina sipengalon sedalanen, (7) anak beru, dan (8) anak beru menteri.

Jika merga dan beru disandingkan atau dicantumkan sekaligus di belakang nama bere-bere tidak pernah dicantumkan. Kendati demikian bere-bere juga berperan penting dalam sistem kekerabatan pada etnik Karo. Setiap perkenalan (ertutur) antara sesame etnik Karo senantiasa menanyakan dan menyebut merga/beru dan bere-bere.

(16)

Bagan 2.1:

Hubungan Rakut Sitelu, Merga Silima, dan Tutur Siwaluh dalam Kebudayaan Karo

(17)

2.3 Sistem Kepercayaan

Kepercayaan yang paling tua di Tanah Karo adalah dinamisme dan animisme (roh). Dalam kepercayaan ini dilakukan pemujaan atau penyembahan kepada roh-roh yang dianggap suci dan berkuasa; pada tempat-tempat dan waktu-waktu tertentu (E.P. Ginting,1999).

Dalam kepercayaan dinamisme dan animisme, hidup orang Karo dikelilingi oleh kekuatan-kekuatan kosmis; ia memakai mitos-mitos untuk memahami hidup dan lingkungannya. Kepercayaan tradisional tersebut di atas disebut dengan perbegu. Karena istilah perbegu berkonotasi negatif, yang artinya orang yang berteman dengan begu (hantu), maka komunitas mereka menamai diri pemena, yang artinya kepercayaan paling awal; kepercayaan pemula.

Masuknya pengaruh Hindu sejak zaman pra-historis memperkenalkan orang Karo kepercayaan kepada dibata. Kepercayaan tersebut percaya bahwa segala yang ada di dunia ini, yang tampak maupun yang tak tampak, diciptakan oleh dibata, yang biasa juga disebut dengan sebutan dibata kaci-kaci. Kaci-kaci

adalah dewi wanita yang maha pengasih (H.G. Tarigan, 1998). Ianya menguasai seluruh wilayah kosmologi Karo.

Menurut kosmologi Karo, wilayah dunia ini dibagi atas tiga wilayah, yaitu wilayah dunia atas, wilayah dunia tengah dan wilayah dunia bawah. Ketiga bagian dunia ini menjadi tempat kedudukan dibata. Setiap bagian wilayah diperintah oleh seorang dibata sebagai wakil dibata kaci-kaci.

(18)

alam semesta dan ruang angkasa. Wilayah dunia tengah atau bumi diperintah oleh dibata tengah yang digelari tuan padukah ni aji. Dibata tengah menguasai seluruh bumi yang didiami oleh manusia. Sedangkan wilayah dunia bawah atau bawah bumi diperintah oleh dibata ni teruh yang dikenal dengan sebutan tuan banua koling. Ketiga dibata yang merupakan satu kesatuan itu dalam bahasa Karo disebut dibata si telu (tuhan yang tiga).

Di samping dibata si telu yang telah disebut di atas, masih terdapat dua unsur penguasa lain yang memberi kekuatan, yaitu: sindarmataniari dan si beru dayang. Sindarmataniari adalah penguasa yang bertempat tinggal di matahari; ianya mengikuti perjalanan matahari dari mulai terbit sehingga tenggelam. Sindarmataniari mempunyai kuasa memberi penerangan atau sinar yang sumbernya dari matahari; dan tugasnya adalah menjadi penghubung antara

butara guru, tuan padukah ni aji dan tuan banua koling. Sindarmataniari

bertugas menjaga agar keseimbangan kosmis tetap terjaga.

Sedangkan si beru dayang adalah penguasa yang bertempat tinggal di bulan, yang tugasnya membuat agar dunia tengah tetap kuat serta tak dapat diterbangkan angin taufan. Si beru dayang juga dipercayai terlihat pada saat terjadinya pelangi. Menurut mitologi Karo, si beru dayang ini berasal daribegu

(hantu, roh) seorang perempuan yang pernah berbuat cabul atau sumbang dengan ibu kandungnya sendiri.

(19)

J.T.H. Gremers, Direktur Perkebunan Tembakau Deli Maatschappij pada saat itu. Agama Nasrani masuk melalui desa Buluh Awar, kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara.

2.4 Sistem Pemerintahan Tradisional

Seperti yang dituturkan oleh para orang tua,keadaan masyarakat Karo pada dahulu kala adalah tidak stabil. Keadaan ini disebut dengan ermusuh; yang mengandung arti berperang. Perang antara desa, antar urung, dan antar kelompok ini terjadi terus menerus dan berlangsung cukup lama. Keadaan ini membuat rakyat menderita karena hidup tanpa rasa aman. Dalam pada itu, banyak anggota masyarakat yang pergi merantau mencari ilmu-ilmu bela diri, dan kemudian kembali lagi ke desanya untuk membela desa maupun membela kelompoknya. Keadaan ini berlangsung sehingga kedatangan utusan Sultan Aceh yang dilengkapi dengan persenjataan ke Tanah Karo.

Utusan Sultan Aceh selanjutnya kemudian menobatkan raja-raja atau

sebayak di Karo. Raja-raja Karo yang dinobatkan ketika itu adalah sebayak

Lingga; sebayak Suka; sebayak Sarinembah, sebayak Barus Jahe. Sedangkan

sebayak Kutabuluh karena begitu terkenal dengan sendirinya diakui orang Karo sebagai sebayak.

(20)

Suka berkedudukan di Suka, dan kerajaan Kutabuluh berkedudukan di Kutabuluh.

Kerajaan-kerajaan tadi dipimpin oleh seorang raja atau sebayak. Sebuah kerajaan terdiri dari beberapa urung (daerah) yang dipimpin oleh seorang Raja Urung, sedangkan sebuah urung terdiri dari beberapa kuta (desa/kampung) yang masing-masing dipimpin oleh seorang pengulu kuta.

Kerajaan Linggamempunyai 6 (enam) kerajaan urung, yaitu urungTelu Kuta berkedudukan di Lingga, urung Tigapancur di Tigapancur, urung Empat Teran di Naman, urung Lima Senina di Batu Karang, dan urung Tiganderket berkedudukan di Tiganderket.

Kerajaan Barus Jahe mempunyai 2 (dua) kerajaan urung, yaitu urung

Sipitu Kuta berkedudukan di Barusjahe, dan urung Sinaman Kuta berkedudukan di Sukanalu.

Kerajaan Sarinembah mempunyai 4 (empat) kerajaan urung, yaitu urung

Sepuluhpitu Kuta berkedudukan di Sarinembah, urung Perbesi di Perbesi, urung

Juhar di Juhar, dan urung Kuta Bangun berkedudukan di Kuta Bangun.

Kerajaan Suka mempunyai 4 (empat) kerajaan urung, yaituurung Suka di Suka, urung Sukapiring/Seberaya di Seberaya, urung Ajinembah di Ajinembah, dan urung Tongging berkedudukan di Tongging. Serta kerajaan Kuta Buluh mempunyai 2 (dua) kerajaan urung yaitu urung Namo Haji berkedudukan di Kutabuluh, dan urung Liang Melas di Samperaya.

(21)

kedatangan pemerintah kolonial Belanda ke Tanah Karo pada tahun 1890. Raja berempat tertakluk di bawah kekuasaan Belanda. Sedangkan sebayak Kutabuluh tetap melakukan perlawanan terhadap Belanda, yang akhirnya sebayak tersebut ditangkap dan dibuang ke Batavia (Jakarta sekarang) (Darwan & Darwin Prinst: 1985).

Ketika pendudukan Jepang di Tanah Karo pada tahun 1942, pemerintahan pribumi masih efektif, namun pengawalan administrasi dipegang oleh pemerintahan militer Jepang. Untuk wilayah Karolanden pemerintahan di kepalai pejabat militer dengan nama Gunseibu (Bunsyutyo) yang berkedudukan di Berastagi.

Demikian juga setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus 1945, pemerintahan pribumi Karo masih tetap diakui oleh pemerintahan pusat. Namun setelah revolusi sosial Karo pada bulan Maret 1946, pemerintahan pribumi dihapuskan dan diganti dengan pemerintahan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sekalipun kekuasaan sebayak tidak lagi eksis, namun kedudukan keluarga sebayak tetap dihormati masyarakat Karo.

2.5 Kesenian

(22)

aktivitas orang Karo; baik acara yang bersifat hiburan, seperti: pesta guro-guro aron (pesta muda-mudi); acara yang bersifat ritual, seperti: erpangir ku lau

(membersihkan diri), maupun acara yang bersifat adat, seperti: acara cawir metua (kematian), mengket rumah mbaru (memasuki rumah baru), kerja erdemu bayu (pesta perkawinan), dan lain sebagainya.

2.5.1 Seni sastra

Untuk menjadi perkolong-kolong yang profesional dan diberi kedudukan tersendiri di tengah-tengah masyarakat, sebagai seorang yang dipandang memiliki keahlian dan keterampilan dalam berkesenian, maka ia harus mempelajari seni sastra yang terdapat di dalam kebudayaan Karo. Perkolong-kolong ini kemudian menyajikannya secara musikal dalam berbagai bentuk seni suara termasuk di dalam penyajian katoneng-katoneng. Berikut ini dideskripsikan seni sastra tradisi yang terdapat di dalam kebudayaan Karo.

(23)

cakap lumat ini sering dipergunakan dalam upacara adat seperti perkawinan, memasuki rumah baru, maupun dalam pergaulan muda-mudi (ungkapan percintaan).

Seni sastra Karo dapat dibedakan atas beberapa kategori, di antaranya adalah seperti yang diuraikan berikut ini.

1. Tabas-Tabas (mantra), adalah jenis mantera yang diucapkan atau dilantunkan yang berisikan mantera untuk mengobati orang yang sakit.

Tabas biasanya diucapkan oleh seorang guru sibaso (bomoh). Contoh:

Mari me kam ku iap, kupanggil, kukunci

Alu beras telge-telge, tinaruh manuk,

Belo raja mulia, belo sinuntum,

Belo berkis-berkisen, tagan kinukut,

Kalakati penjabat, cincin pijer.

(Terjemahan:

Marilah kamu ku lambai, ku panggil, ku kunci, dengan beras yang baik, telur ayam,

sirih raja mulia, sirih yang rata,

sirih yang berikat-ikatan, empat kapur istimewa,

penjepit yang kuat, cincin yang baik. (H.G. Tarigan: 1988))

2. Kuning-kuningan, adalah sejenis teka-teki yang dipergunakan oleh anak-anak, muda-mudi maupun orang tua di waktu-waktu luang sebagai permainan untuk mengasah otak. Contoh:

Nguda-ngudana erbaju ratah,

(24)

[Terjemahan:

Pada waktu muda berbaju hijau,

pada waktu tua berbaju merah, Apakah itu?] (Sarjani Tarigan: 2008).

Adi itaka jumpa kuling, itaka kuling jumpa tulan.

Itaka tulan jumpa jukut, itaka jukut jumpa lau, kai e? [Terjemahan:

Kalau dibelah jumpa kulit, dibelah kulit jumpa tulang,

dibelah tulang jumpa daging, dibelah daging jumpa air, apakah itu?

(Sarjani Tarigan, 2008).

3. Ndung-dungen, yaitu sejenis pantun Karo yang terdiri dari empat baris. Dua baris terdiri dari sampiran, dan dua baris berikutnya merupakan isi. Contoh:

Adi langge si Kuta Buluh,

Pia-pia sanggar langge bakanta,

Adi lalap kita la beluh,

Sia-sia nggalar nande bapanta.

[Terjemahan:

Jika pohon keladi daripada Kutabuluh, rumput yang tinggi di dalam bakul kita. Jika kita tetap tidak pandai,

sia-sia membayar ibu bapa kita] (H.G.Tarigan: 1988).

Cike lambang bungana,

(25)

Ise pe lalit gunana,

Sada kena nomor satuna.

(Terjemahan:

Cike simbol bunganya,

lada jera gula batunya. Siapapun tidak ada gunanya,

hanya engkaulah nomor satunya.) (H.G. Tarigan: 1988).

4. Bilang-bilangadalah dendang duka yang merupakan ratapan seseorang yang mengalami duka nestapa. Contohnya karena teringat akan ibunya yang telah meninggal dunia; ataupun meratapi kekasih idaman hati yang telah meninggalkan dirinya, karena pergi merantau ke negeri orang. Contohnya sebagai berikut.

Emaka hio kute ndube bilang-bilang kin pe, bilang-bilang anak

Tarigan mergana, sinitubuhken nande beru Karo si melias lanai

teralang, kuta Lingga Julu ... dan seterusnya. (Terjemahan:

Sehingga hio kute dahulu bilang-bilang nya, bilang-bilang anak merga Tarigan,

yang dilahirkan oleh ibu beru Karo yang sangat baik, di desa Lingga Julu ... dan seterusnya (Sarjani Tarigan, 1985)

(26)

berkenaan, antara lain: Beru Patimar dan PawangTernaler, Panglima Cimpa Gabor-gabor, Gosing si Aji Bonar, Beru Rengga Kuning dan lain sebagainya.

Di dalam konteks katoneng-katoneng yang dinyanyikan oleh perkolong-kolong, termasuk dalam konteks upacara kematian cawir metua, maka bahasa yang digunakan para perkolong-kolong biasanya adalah bahasa Karo yang dikategorikan secara adat sebagai cakap lumat (bahasa halus). Artinya di dalam bahasa yang dinyanyikan perkolong-kolong tersebut mempunyai diksi tertentu dan tata aturan mengikuti sastra lisan Karo, yang penuh dengan nilai-nilai dan makna kebudayaannya.

2.5.2 Seni ukir

Meskipun tradisi seni ukir dan patung di Tanah Karo sudah sangat lama hidup, namun perkembangannya tidak seperti yang diharapkan; khususnya seni patungnya. Hanya beberapa orang Karo saat ini yang menekuni hidupnya dalam bidang berkenaan diatas. Di antaranya yang masih hidup boleh dicatatkan disini, adalah : Pauzi Ginting di Lingga, Joker Barus di Barusjahe, Kora Sembiring di Seberaya, Bangun Tarigan di Kabanjahe, A.G. Sitepu di Medan, dan lainnya. Mereka yang dicatatkan disini hanya seorang saja yang menekuni bidang seni patung; yaitu A.G. Sitepu, selebihnya menggeluti seni ukir.

(27)

(A.G. Sitepu: 1980). Jenis ukiran berkenaan dapat ditemukan pada alat-alat upacara, perkakas rumah tangga, alat-alat musik, hiasan dinding, Ayorumah siwaluh jabu2

Sedangkan seni patung pada orang Karo disebutgana-gana. Patung yang sangat terkenal di Tanah Karo adalah gana-gana saringitgit. Bentuk gana-gana saringgitgit sangat menyeramkan sehingga orang yang menciptakannya pun menjadi takut melihatnya. Namun, dari penelusuran yang penulis sudah lakukan, seni patung Karo saat ini sudah tidak ditemukan lagi; baik itu di museum-museum pemerintah dan swasta, maupun di toko-toko yang menjual cenderamata dan benda-benda antik Karo.

(dinding muka rumah adat Karo) dan lain sebagainya. Berupa benda-benda kerajinan antara lain adalah piso tumbuk lada (pisau khas Karo),

sertali(perhiasan yang terbuat dari perak), kalakati penjabat (alat untuk membelah pinang) dan lain sebagainya.

2.5.3 Seni musik

2.5.3.1 Pengertian musik

Musik pada masyarakat Karo diartikan sebagai gendang.Musik yang berkembang di kalangan kaum muda disebut dengan gendang si medanak

(musik anak muda).Musik yang saat ini popular di tengah-tengah masyarakat dikatakan dengan gendang si gundari (musik yang popular sekarang ini). Sedangkan musik tradisional Karo yang menggunakan sarune (serunai) sebagai

2Rumah si waluh jabu

(28)

alat musik melodisnya disebut dengan gendang telu sendalanen lima sada perarih atau yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan gendang sarune.

2.5.3.2 Jenis-jenis musik

Secara umum musik tradisional Karo berdasarkan sumber bunyinya dibagi atas dua bagian, yaitu musik vocal dan musik instrumental.Musik vocal adalah musik yang dihasilkan dari suara atau mulut manusia, sedangkan musik instrumental adalah musik yang dihasilkan oleh alat-alat musik tertentu.

2.5.3.2.1 Musik vokal

Ada berbagai jenis musik vocal yang berkembang pada masyarakat Karo hingga saat ini.Dalam penyajiannya, musik vokal tersebut ada yang diiringi dengan alat musik tertentu, namun ada pula yang dimainkan tanpa iringan musik. Musik vocal yang diiringi dengan alat musik tertentu diantaranya adalah:

kateneng-kateneng yaitu nyanyian yang dibawakan oleh perkolong-kolong

(penyanyi dan penari professional Karo) dalam sebuah acara adat; ende-enden

yaitu nyanyian yang dinyanyikan oleh seseorang (laki-laki atau perempuan) dalam sebuah acara. Sedangkan musik vocal tanpa diiringi alat musik adalah:

(29)

sedang sakit; didong doah yaitu nyanyian yang dibawakan oleh seorang perempuan dalam sebuah adat perkawinan; dan lain sebagainya3.

2.5.3.2.2 Musik instrumental

Musik instrumental Karo dihasilkan oleh alat musik solo (tunggal) maupun alat-alat musik yang tergabung dalam ensambel musik tertentu. Musik instrumental yang dimainkan dengan solo instrument, diantaranya: lebuh-lebuh; dilantunkan oleh surdam (alat musik tiup side blow); penganjak kuda si tajur; dimainkan oleh kulcapi (kecapi Karo), pingko-pingko; yang dimainkan dengan solo oleh alat musik belobat (alat musik tiup end blow), dan lain sebagainya.Musik instrumental yang dibawakan oleh ensambel tertentu biasanya tidak dinyanyikan tetapi hanya ditarikan, maupun hanya sekedar dilantunkan.Gendang perang 4 kali adalah musik yang hanya dilantunkan tanpa dinyanyikan maupun ditarikan.Gendang lima serangke (lima serangkai) adalah musik instrumental yang hanya ditarikan oleh penari khusus (biasanya oleh muda-mudi dengan cara berpasang-pasangan), dan lain sebagainya.

2.5.3.3 Ensembel Musik Tradisional Karo 2.5.4.4.1 Gendang Lima Sendalanen

Gendang Telu Sendalanen Lima Sada Perarih, yang sering juga disebut

gendang sarune, merupakan ensambel musik yang paling dikenal dalam khasanah musik tradisional Karo. Istilah gendang pada kasus ini dapat diartikan dengan alat musik, limaberarti jumlah kuantitatif sebanyak lima buah, dan

3

(30)

sedalanen berarti sejalan. Dengan demikian gendang lima sedalanen

mengandung pengertian lima buah alat musik, yaitu: sarune, gendang singanaki, gendang singindungi, penganak, dan gung.

Gambar 2.2:

Penarune

Sumber: Perikuten Tarigan (2008:53)

Masing-masing alat musik ini dimainkan oleh seorang pemain, dengan sebutan panarune untuk pemain sarune, penggual untuk sebutan pemain

gendang singanaki dan gendang singindungi. Lebih spesifik lagi, pemain

(31)

disebut simalu penganak, dan orang yang memainkan gung disebut simalu gung.Namun, pada saat sekarang ini, alat musik penganak dan gung sudah biasa dimainkan oleh hanya seorang pemain, dan sebutannya adalah simalu gung.

Gambar 2.3:

Pemain Musik Gendang Lima Sidalanen

Sumber: Perikuten Tarigan (2005: 56)

(32)

bermain dalam satu konteks upacara adat Karo. Ensembel Gendang Telu Sendalanen Lima Sada Perarih atau biasa juga disebut Gendang Lima Sendalanen terdiri dari:

(i) Sarune, merupakan alat musik tiup yang memiliki lidah ganda (double reed aerophone).Tabung alat musik ini berbentuk konis, mirip dengan alat musik obo (oboe). Panjang sarune lebih kurang 30 cm. Instrumen ini terdiri dari lima bagian alat yang dapat dipisah-pisahkan serta terbuat dari bahan yang berbeda pula yaitu: anak-anak sarune, tongkeh, ampang-ampang, batang sarune, dan gundal. Anak-anak sarune (reeds) terbuat dari dua helai kecil daun kelapa yang telah dikeringkan.Kedua helai daun kelapa itu diikatkan pada katir

(pipa kecil yang terbuat dari perak) sebagai penghubung anak-anak sarune

kepada bagian berikutnya.Tongkeh terbuat dari timah, bentuknya seperti pipa kecil yang berfungsi sebagai penghubung antara anak-anak sarune dengan

batang sarune.Ampang-ampang yakni sebuah lempengan berbentuk bundar yang terbuat dari kulit binatang baning (trenggiling) diletakkan di tengah

tongkeh.Ampang-ampang ini berfungsi sebagai penahan bibir pemain sarune

ketika sedang meniup alat tersebut.Batang sarune terbuat dari kayu selantam, yang harus dibentuk menjadi konis, dan bagian dalamnya juga dilobangi agar bentuknya menjadi konis juga.

Pada batang sarune inilah terdapat lobang-lobang sebanyak delapan buah.Gundal juga terbuat dari kayu selantam yang berada pada bagian bawah

(33)

tersebut tidak tercecer atau terpisah maupun hilang karena ukurannya kecil-kecil.

Gambar 2.4:

Sarune

sumber: dokumentasi penulis, 2014

(ii) Gendang Singanaki dan Gendang Singindungi, Gendang singanaki

dan gendang singindungi merupakan dua alat musik pukul yang memiliki membran yang terbuat dari kulit napuh (sejenis kancil), pada kedua sisi alat musik yang berbentuk konis ganda (doble headed double conical drums). Sisi depan/atas atau bagian yang dipukul disebut babah gendang, sisi belakang/bawah (tidak dipukul) disebut pantil gendang. Dibandingkan dengan alat musik gendang (drum) yang terdapat di Sumatera Utara, kedua gendang

(34)

gendang 5 cm, diameter pantil gendang 4 cm. Kedua alat musik tersebut memiliki kesamaan dari sisi: bahan, bentuk, ukuran, dan cara pembuatannya.

Berbeda dengan gendang singindungi, pada gendang singanaki terdapat lagi sebuah gendang kecil, yang disebut gerantung (panjang 11,5 cm) posisinya biasanya diikat pada bahagian tengah gendang singanaki dengan menggunakan tali yang terbuat dari kulit lembu, sedangkan pada gendang singindungi tidak memiliki anak (gerantung).

(35)

Gambar 2.5:

Gendang Singindungi

sumber: dokumentasi penulis (2014)

Gambar 2.6:

Gendang Singanaki

(36)

Pada bagian luar (dari ujung ke ujung) alat musik ini dililitkan tali yang terbuat dari kulit lembu.Tali yang dililitkan di seluruh badan gendang tersebut berfungsi untuk mengencangkan kulit gendang. Masing-masing gendang memiliki dua palu-palu gendang atau alat pukul sepanjang 14 cm. Kedua-dua

palu gendang singanaki, dan satu palu-palu gendang singindungi memiliki ukuran yang sama kecilnya, sementara itu satu lagi palu-palu gendang singindungi memiliki ukuran yang lebih besar dari yang lainnya.

(iii) Penganak dan Gung, Penganak dan gung memiliki persamaan dari segi konstruksi bentuk, yakni sama seperti gong yang memiliki pencu yang umumnya terdapat pada kebudayaan musik nusantara. Perbedaannya adalah dari segi ukuran (diameter) kedua alat yang demikian kontras.Gung

(37)

Gambar 2.7:

Penganak dan Palu-palu

(38)

Gambar 2.8:

Gung dan Palu-palu

(39)

2.5.3.3.2 Gendang Telu Sendalanen

Gendang Kulcapi biasa juga disebut dengan Gendang telu sedalanen

juga merupakan ensambel musik tradisionalyang terdapat dalam kebudayaan musik Karo. Gendang telu sedalanenmemiliki pengertian tiga alat musik yang sejalan, dimainkan secarabersama-sama dalam sebuah ensambel.Ketiga alat musik tersebut adalah kulcapi, keteng-keteng,dan mangkok.Adakalanya kulcapi, sebagai pembawa melodi dalamgendang telu sedalanen dapat pula diganti dengan instrumen belobat,sehingga istilah gendang telu sedalanen tersebut sering disebutberdasarkan nama alat musik pembawa melodi, yaitu gendang kulcapiatau gendang belobat.Gendang kulcapi berarti kulcapi sebagai pembawamelodi, dan gendang belobat berarti belobat sebagai pembawa melodi. Instrumen pengiring dalam gendang telu sedalanen atau

gendangkulcapi/gendang belobat adalah tetap, yaitu: keteng-keteng dan

mangkok.Masing-masing alat musik dimainkan oleh seorang pemain dengansebutan: perkulcapi untuk pemain kulcapi, parbalobat untuk pemainbalobat, simalu keteng-keteng untuk pemain keteng-keteng, dan

simalumangkok untuk pemain mangkok. Apabila musisi gendang telu sedalanenini bermain dalam suatu konteks upacara maka sebutan untuk mereka jugaadalah si erjabaten, namun dalam kehidupan sehari-hari hanya pemainkulcapi dan balobat yang biasanya tetap mendapat sebutan yakniperkulcapi dan perbalobat, sementara itu pemain keteng-keteng

(40)

permainankeempat alat musik tersebut walaupun tidak sempurna atau lengkap,senantiasa akan muncul dalam permainan keteng-keteng.

2.5.3.3.3 Solo Instrumen

Selain alat-alat musik yang termasuk dalam kedua ensambel yang telah diuraikan di atas, masih terdapat lagi beberapa alat musik tradisional Karo yang dimainkan secara individual (solo) tanpa disertai atau diiringi dengan alat musik yang lain (non-ensembel).Alat musik solo (individual) tersebut adalah kulcapi, balobat, surdam, embal-embal, empi-empi, murbab, genggong, dan tambur.

(1) Kulcapi,alat musik kulcapi yang dimaksud dalam alat musik solo ini sama dengan kulcapi yang telah diuraikan dalam kedua jenis ensambel musik tradisional di atas, namun perannya dalam kebudayaan musik Karo lebih dari satu yakni dapat dimainkan dalam ensambel, dan dapat juga dimainkan secara solo (tunggal).

Perbedaannya adalah konteks penyajian.Kulcapi sebagai alat musik solo biasa digunakan sebagai hiburan pribadi, maupun dihadapan sekelompok kecil pendengar yang tidak memiliki konteks tertentu. Sebagai alat musik pribadi,

kulcapi memiliki komposisi-komposisi tersendiri yang berisi tentang ceritera-cerita rakyat, seperti ceritera-cerita penganjak kuda sitajur, cerita perkatimbung beru tarigan, tangis-tangis seberaya, tangis-tangis guru, dan beberapa cerita lainnya.Masing-masing ceritera tersebut dimainkan melalui melodi Kulcapi.Jika didengarkan oleh sekelompok orang sebagai hiburan, kadangkadang timbul pertanyaan dari pendengar tentang arti melodi yang sedang dibawakan oleh

(41)

cerita dari melodi yang sedang ia mainkan sambil mengulangi melodi tersebut, sehingga pendengar akan semakin mengerti dengan melodi-melodi yang dimainkan perkulcapi.

(2) Belobat (block flute) sebagai instrumen solo juga merupakan alat musik yang sama dengan belobat yang terdapat dalam gendang belobat. Perbedaannya adalah konteks penyajian.Balobat sebagai instrumen solo digunakan sebagai hiburan pribadi ketika sedang mengembalakan ternak di padang rumput, ketika seseorang sedang menjaga padi di sawah atau di ladang.

(3) Surdam alat musik tiup yang terbuat dari bambu.Alat musik surdam ditiup dari belakang dengan ruas bambu yang terbuka (endblown flute).Secara konstruksi dan tehnik memainkan, surdam memiliki kemiripan dengan saluang

pada musik tradisional Minangkabau atau shakuhachi pada musik tradisional Jepang.Surdam dimainkan dengan teknik yang khusus.Alat musik surdam

biasanya dimainkan pada malam hari ketika suasana sepi.

(4) Embal-embal dan empi-empi, kedua alat musik ini sebenarnya merupakan alat musik yang hanya biasa ditemukan di sawah atau ladang ketika padi sedang menguning.Keduanya dimainkan atau digunakan sebagai alat musik hiburan pribadi di sawah atau di ladang ketika menjaga padi dari gangguan burung.Embal-embal (aerophone, single reed) terbuat dari satu ruas bambu yang dibuat lobang-lobang penghasil nada.Sebagai alat musik tiup, lidah (reed) embal-embal dibuat dari badan alat musik sendiri.

(42)

padi yang memiliki ruas. Akibat terpecahnya ruas batang padi menjadi beberapa bagian (tidak terpisah) maka ketika ditiup bagian yang terpecah tersebut akan menimbulkan bunyi. Sebagian yang tidak terpecah kemudian dibuat lobang-lobang untuk menghasilkan nada yang berbeda.Biasanya empi-empi mempunyai empat buah lobang nada.Untuk saat sekarang, embal-embal dan

empi-empi sudah semakin jarang ditemukan/dimainkan oleh masyarakat Karo, khususnya orang Karo yang berada di daerah pedesaan.

(5) Murbab dan genggong, alat musik murbab atau murdab merupakan alat musik gesek menyerupai rebab pada alat musik tradisional Jawa atau biola pada musik klasik Barat.Murbab terdiri dari dua senar, sedangkan resonatornya terbuat dari tempurung kelapa.Alat musik murbab dahulu dipergunakan sebagai alat musik solo dan dimainkan dihadapan beberapa orang sebagai hiburan.Alat musik ini kemungkinan besar telah hilang dari kebudayaan musik Karo.

Genggong adalah alat musik yang terbuat dari besi, dan dibunyikan dengan menggunakan mulut sebagai resonator.Selain sebagai resonator, mulut juga berfungsi untuk mengubah tinggi rendahnya nada yang diinginkan. Pada waktu dulu, genggong dipergunakan oleh anakperana (perjaka) untuk memanggil singuda-nguda (gadis) pujaan hatinya pada malam hari agar keluar dari rumah, sehingga mereka bisa memadu kasih asmara. Biasanya, seorang

(43)

2.5.4 Seni tari

Tari dalam bahasa Karo disebut landek. Kemampuan landek sangat diharapkan oleh setiap orang Karo. Karena dalam lingkaran hidup orang Karo dimulai sejak ianya sudah menjadi anak perana-singuda-nguda (pemuda-pemudi)sampai ianya nanti jadi tua-tua (orang tua), landek merupakan sebuah keharusan yang dilakukan dalam aktivitas adat dan budaya.Tari pada masyarakat Karo dalam penggunaannya dapat dibedakan atas tiga bagian, yaitu sebagai berikut.

2.5.4.1 Tari berkaitan dengan adat

Tari yang berkaitan dengan adat adalah tari yang merupakan bagian dari suatu upacara adat. Upacara yang dimaksudkan adalah pesta memasuki rumah baru, pesta perkawinan, upacara kematian dan lain sebagainya. Tarian adat bersifat komunal, dalam arti ianya melibatkan berbagai pihak. Pihak-pihak yang terlibat dalam tarian adat adalah kelompok sangkep nggeluh (anak beru, senina,

kalimbubu), teman meriah (kawan baik), perangkat desa (kepala desa dan stafnya), dan kelompok sukut (pemilik hajatan, tuan rumah).

Kelompok-kelompok tersebut di atas secara bergiliran menari bersama-sama dengan kelompok sukut. Contohnya: kelompok kalimbubudengan sukut; kelompok perangkat desa dengan sukut, dan seterusnya. Masing-masing kelompok menari dalam posisi petala-tala (berhadap-hadapan).

(44)

menyampaikan kata-kata adat (berisikan ucapan selamat, pesan dan nasihat) kepada kelompok sukut. Pola gerakan tari tamu adat pada umumnya sama dengan pola gerakan tari sukut.

Tarian pengalo-ngalo mempunyai pola yang sederhana dan tetap. Pola itu terus diulang-ulang sepanjang acara sampai kelompok tersebut selesai menyampaikan kata adat. Ketika seseorang hendak menyampaikan kata-kata adat, ianya tidak menari tetapi hanya berdiri sambil berbicara.

Pola gerakan tarian laki-laki pada umumnya adalah merupakan pola ragam dasar tari Karo. Pola tari laki-lakitersebut terdiri dari:

1. Kedua tangan di muka sejajar bahu dengan telapak tangan mengarah ke langit.

2. Kedua tangan di muka sejajar bahu, telapak tangan mengarah ke muka kepada lawan menari; dan kemudian setiap penggantian pola selalu dilakukan.

3. Petik yaitu posisi tangan mengepal di muka dada.

4. Tangan kiri di atas bahu dengan posisi telapak tangan mengarah langit, sedangkan tangan kanan sejajar pinggul.

Sedangkan pola gerakan tarian perempuan pada acara adat adalah sebagai berikut.

1. Kedua tangan di muka sejajar bahu dengan posisi telapak tangan mengarahkepada lawan menari.

(45)

3. Setiap pergantian pola dilakukan petik yaitu tangan menyilang di muka perut/pusat.

4. Kedua tangan sejajar pinggul dengan telapak tangan mengarah ke langit. Gerakan tari laki-laki maupun perempuan selalu disesuaikan dengan

buku gendang (tempo musik). Kelompok laki-laki pada umumnya dapat melakukan gerakan tangan sejauh jangkauan kedua belah tangannya. Sedangkan kelompok perempuan melakukan gerakan tangan hanya selebar tubuhnya.

2.545.2 Tari berkaitan dengan ritual keagamaan

Upacara yang berkaitan dengan ritual yang dilakonkan oleh guru sibaso

(dukun), adalah berdasarkan tuntunan ilmu atau roh penuntunnya. Karena ketika seorang guru sibaso (dukun) memimpin upacara, ianya memanggil

jinhujungnya (junjungannya) untuk “masuk” ke dalam dirinya, sehingga menjadi trance (kemasukan). Dengan demikian, pada upacara ritual terjadi proses transformasi (perubahan) terhadap sosok seorang guru sibaso.

Perubahan itu memunculkan dua wujud pribadi yang berbeda dalam dirinya; wujud pertama adalah pribadi dirinya sendiri, sedangkan wujud kedua adalah pribadi junjungannya. Ciri-ciri fisik yang dapat terlihat dari proses trance

(kemasukan) adalah muka seorang guru sibaso akan menjadi pucat atau kemerahan ketika “orang lain” masuk ke dalam dirinya.

(46)

sebagai guru permangmang; yaitu seorang guru yang melakukan pengobatan dengan cara ermangmang (menyanyikan mantera-mantera).

Pada penampilan pertama, pola gerakan tari guru sibaso adalah pola landek sada tan (tari dengan satu tangan); yaitu:

1. Tangan kanan pada posisi di bawah pinggul, tangan kiri bertumpu pada pinggul, sedangkan posisi tubuh diagonal ke arah kanan.

2. Tangan kanan sejajar perut/pusat, tangan kiri bertumpu pada pinggul, sedangkan posisi tubuh diagonal ke arah kiri.

3. Tangan kanan sejajar pinggul, tangan kiri bertumpu pada pinggul, sedangkan posisi tubuh diagonal ke arah kanan.

4. Tangan kanan sejajar dada, posisi tangan kiri tetap, sedangkan posisi tubuh diagonal ke arah kiri.

5. Tangan kanan sejajar bahu, tangan kiri tetap, sedangkan posisi tubuh diagonal menghadap kanan.

6. Tangan kanan sejajar mata/kuping, tangan kiri tetap, sedangkan posisi tubuh diagonal menghadap ke arah kiri.

7. Tangan kanan diatas kepala, posisi tangan kiri tetap, posisi tubuh diagonalmenghadap ke arah kanan.

8. Pucuk; jari tangan kanan membentuk sayap burung merak bertumpu pada kening, posisi tangan kiri tetap, posisi tubuh diagonal menghadap ke arah kiri.

(47)

Posisi kedua belah tangan dipertahankan untuk beberapa waktu, sedangkan posisi tubuh bergerak kearah kiri dan kanan dalam hitungan genap (hitungan dua, empat, atau delapan ketukan).

2.5.4.3 Tari berkaitan dengan hiburan

Tari Karo yang sifatnya hiburan dimainkan oleh dua atau lebih muda-mudi dengan cara berpasang-pasangan. Pasangan seseorang dengan lainnya seharusnya dihindarkan erturang (mudi-mudi yang berasal merga/beru

ataupun sub merga/beru yang sama). Karena keadaan demikian dianggap rebu

(sumbang, pantang) oleh orang Karo. Hal itu berhubungan dengan adanya larangan perkawinan satu merga/beru pada orang Karo.

Tari-tarian hiburan lain yang sangat digemari oleh masyarakat Karo, antara lain; ndikar (tari pencak silat); yang dibawakan laki-lakiatau perempuan dengan cara berpasang-pasangan, adu perkolong-kolong (tarian yang dibawakan oleh sepasang penari dan penyanyi profesional Karo), gundala-gundala (drama tari topeng Karo) yang dimainkan dengan lima orang pemain laki-laki, teater tradisional Karo perlanja sira (tari pemikul garam) yang lebih dikenal dengan tari mondong-mondong yang dimainkan oleh empat orang pemain laki-laki, dan lain sebagainya.

(48)

Sesuai dengan perkembangan zaman, di kalangan generasi muda Karo juga dikembangkan tari-tari kontemporer yang berjiwa dan semangat kekinian disertai dengan unsur-unsur tradisional. Tari-tari kontemporer yang dikembangkan dari kebudayaan tari tradisional Karo ini umumnya adalah untuk kepentingan eksplorasi estetika dari para seniman muda Karo, baik itu di Tanah karo sendiri atau juga di kota-kota besar terutama di ibukota Provinsi Sumatera Utara Medan ini. Tari kontemporer ini biasanya memiliki pendukung yang terbatas di kalangan pencinta tari kontemporer. Sebaliknya tari tradisi hidup dan berkembang di dlaam masyarakat tradisi yang juga mengalami perubahan-perubahan kebudayaan di sana-sini. Baik tari kontemporer maupun tradisi ini memiliki perannya sendiri di tengah-tengah kehidupan masyarakat Karo.

Dengan uraian-uraian berupa gambaran umum masyarakat Karo dan kebudayaannya tersebut di atas, maka dapat dilihat dengan jelas bahwa masyarakat Karo membagi wilayah budayanya kepada dua kategori yaitu Karo Gugung dan Karo Jahe. Secara umum Karo Gugung berada di kawasan dataran tinggi, terutama di Pegunungan Bukit Barisan dan sekitarnya yang dihuni oleh masyarakat Karo selama berabad-abad, sementara Karo Jahe berada di wilayah pesisir timur Provinsi Sumatera Utara terutama di Langkat, Deli, Serdang, sampai ke Serdang Bedagai. Namun terjadi juga persebaran etnik Karo ke seluruh penjuru Nusantara ini bahkan sampai ke Eropa.

(49)

masyarakat Karo sebagai bahagian dari kepercayaan akan Tuhan Yang Maha Kuasa dan diharapkan dapat menentramkan dan mengatur kehidupan mereka baik di dunia maupun akhirat. Orang Karo juga memiliki ciri khas di dalam bahasa, yaitu dengan menggunakan bahasa Karo. Di samping itu, orang-orang Karo juga memiliki sistem kekerabatan yang khas yang terkodifikasi di dalam tiga konsep kekerabatan yaitu: rakut sitelu, merga silima, dan tutur siwaluh. Mereka juga memiliki sistem pemerintahan tradisional. Kemudian orang-orang Karo ini memiliki kesenian-kesenian yang mengekspresikan kebudayaanya secara umum. Di antara kesenian Karo itu adalah, seni sastra dengan berbagai genrenya, seni musik, dan seni tari.

Gambar

Gambar 2.1 Lambang Kabupaten Karo
Gambar 2 1 Lambang Kabupaten Karo . View in document p.4
Tabel 2.1
Tabel 2 1 . View in document p.6
Tabel 2.2:
Tabel 2 2 . View in document p.9
Gambar 2.2:
Gambar 2 2 . View in document p.30
Gambar 2.3:
Gambar 2 3 . View in document p.31
Gambar 2.4:
Gambar 2 4 . View in document p.33
Gambar 2.5:
Gambar 2 5 . View in document p.35
Gambar 2.6:
Gambar 2 6 . View in document p.35
Gambar 2.7:
Gambar 2 7 . View in document p.37
Gambar 2.8:
Gambar 2 8 . View in document p.38

Referensi

Memperbarui...

Download now (49 pages)