Full text

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN

MISSOURI MATHEMATICS

PROJECT

TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

MATEMATIKA SISWA

I

Gst Ayu Agung Dwiningrat

1

, Ni Wyn. Suniasih

2

, I.B Surya Manuaba

3

1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: igaa.dwiningrat@yahoo.com

1

,Wyn_suniasih@yahoo.com

2

,

ibsm.co.id@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan kemampuan pemecahan masalah Matematika antara kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret dengan yang mengikuti pembelajaran konvensional. Rancangan Penelitian ini adalah nonequivalen control group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas V SD Gugus VI Abiansemal, sebanyak 174 siswa. Sampelnya sebanyak 70 siswa, yang terdiri dari kelas V SD No.3 Mambal sebagai kelompok eksperimen dan Kelas V SD No.1 Mambal sebagai kelompok kontrol. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kemampuan pemecahan masalah Matematika. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes dalam bentuk essay. Data dianalisis dengan statistik uji t. Hasil pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 5% dengan dk = 68, diperoleh ttabel = 2,00 dan thitung = 3,80. Dengan demikian thitung = 3,80 > ttabel = 2,00 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan pemecahan masalah Matematika antara siswa yang mengikuti model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Hal ini juga didukung oleh nilai rata-rata kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret lebih dari siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional

(X = 79,77 > X = 76,69). Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah Matematika siswa kelas V SD Gugus VI Abiansemal tahun ajaran 2013/2014.

Kata kunci : Missouri Mathematics Project

ABSTRAK

(2)

conventional learning. It is also supported by the average value of a group of students who take learning models Missouri Mathematics Project assisted with the concrete media following the conventional learning (X = 79,77 > X = 76,69). Can be concluded that the model-assisted learning media Missouri Mathematics Project concretely affect upon ability Math problem solving fifth grade elementary school students Force VI Abiansemal school year 2013/2014.

Keywords : Missouri Mathematics Project

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia. Tujuan pendidikan nasional menurut UU Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 Tahun 2003 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab. Mengingat pentingnya pendidikan itu, maka mutu pendidikan harus ditingkatkan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, pemerintah telah mengupayakan berbagai macam terobosan dan salah satu terobosan yang dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia agar mampu mengaktualisasikan diri dalam kehidupan, dimana pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk suatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari (Trianto, 2007:1).

Salah satu mata pelajaran yang erat kaitannya dengan masalah sehari-hari di sekolah dasar adalah Matematika. Siswa memerlukan Matematika untuk memenuhi kebutuhan praktis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dapat berhitung, dapat menghitung isi dan berat, dapat mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan menafsirkan data, dapat menggunakan kalkulator dan komputer.

Kemampuan pemecahan masalah adalah fokus dalam pembelajaran Matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah

terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model Matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusi.

Dalam setiap kesempatan, pembelajaran Matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi.

Aisyah (2007) Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep Matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti computer, media, atau media lainnya.

Pendapat Bruner (dalam Aisyah,2007:6) menyatakan proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi dan mengotak atik media yang tersedia untuk memahami suatu konsep Matematika. Peran guru dalam penyelenggaraan tersebut perlu memahami struktur mata pelajaran, pentingnya belajar aktif, supaya seseorang, dapat menemukan konsep-konsep sebagai dasar untuk memahami dengan benar dan pentingnya nilai berpikir induktif.

Pendapat Bruner (dalam Aisyah,2007:6) siswa dapat belajar suatu pengetahuan dimana pengetahuan tersebut dapat dipelajari sendiri secara aktif, dengan menggunakan benda-benda konkret atau dalam situasi nyata tanpa menggunakan imajinasi atau kata-kata tetapi melalui berbuat atau melakukan sesuatu.

Masalah yang biasanya terjadi dalam pembelajaran saat ini adalah aktifitas siswa dalam mengikuti pelajaran masih kurang. Pembelajaran cenderung berpusat pada

(3)

guru, pada saat menjelaskan konsep jarang menggunakan media konkret sehingga siswa hanya menerima penjelasan dari guru tanpa ada pemahaman.

Yang dimaksud dengan pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang biasa dilakukan oleh para guru. Pembelajaran konvensional (tradisional) pada umumnya memiliki kekhasan tertentu, misalnya lebih mengutamakan hapalan daripada pengertian, menekankan kepada keterampilan berhitung, mengutamakan hasil dari pada proses, dan pengajaran berpusat pada guru.

Metode mengajar yang lebih banyak digunakan oleh guru dalam pembelajaran konvensional adalah metode ekspositori. Menurut Ruseffendi (1991:124) “metode ekspositori ini sama dengan cara mengajar biasa (tradisional) kita pakai pada pengajaran Matematika”. Sebagai contoh, guru memberikan contoh soal dan penyelesaiannya, kemudian siswa diberikan soal latihan dan menyelesaikannya. Jadi kegiatan guru yang utama hanya menerangkan kepada siswa dan siswa mencatat dan mendengarkan.

Kejadian semacam ini adalah wajar, karena menurut Petersen (dalam http://putuwidyanto.wordpress.com) dalam proses belajar mengajar seorang pendidik menghadapi banyak peserta didik yang masing-masing mempunyai kepribadian, potensi, latar belakang kehidupan, serta masalah belajar yang berbeda tiap peserta didik. Dengan demikian peserta didik dalam menerima dan memahami uraian dari seorang pendidik juga mengalami perbedaan pula sesuai dengan kemampuan daya serap masing-masing. Ada yang cepat menerima dan memahami materi yang disajikan, ada pula yang lambat bahkan ada pula yang sangat lambat sekali, dan tidak menutup kemungkinan ada juga yang tidak dapat memahami walaupun dijelaskan pendidik.

Selain itu Rachman (dalam http://putuwidyanto.wordpress.com),

menyatakan tidak jarang ditemukan tenaga pengajar yang memaks kehendaknya. Anak dipaksa untuk mengerj, untuk belajar atau untuk mencapai target nilai tertentu. Sikap tenaga pengajar yang seperti ini tidak

hanya membuat anak menjadi tertekan tapi juga membuat anak berpikir bahwa belajar adalah kewajiban bukan kebutuhan.

Situasi seperti itu membuat siswa SD mengalami kejenuhan dalam belajar Matematika. Kejenuhan yang timbul mengakibatkan merosotnya hasil belajar siswa dalam pelajaran Matematika. Untuk itu satu usaha yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan memanfaatkan media konkret. Pada tingkat operasi konkret anak sekolah dasar perkembangan mentalnya melakukan pekerjaan-pekerjaan logis dapat dilakukan dengan bantuan benda-benda konkret. Sedangkan menurut Brunner (dalam pmat.uad.ac.id/teori-belajar-bruner.html), anak usia sekolah dasar untuk mendapatkan daya tangkap dan daya serapnya yang meliputi ingatan, pemahaman dan penerapan masih memerlukan mata dan tangan. Dengan demikian dalam pelajaran Matematika dituntut adanya media konkret dan benda konkret yang dapat digunakan untuk penerapan Matematika.

(4)

penelitian ide-ide baru dan relasi-relasi baru.

Komunikasi dalam Matematika juga merupakan bagian penting dalam pembelajaran Matematika. Kemampuan komunikasi matematis sangat penting dimiliki dan dikembangkan oleh siswa. Dengan komunikasi matematis, siswa dapat mengemukakan ide dengan cara mengkomunikasikan pengetahuan Matematika yang dimilikinya baik secara lisan maupun tulisan. Seringkali siswa tidak mampu menyelesaikan suatu permasalahan Matematika karena kesulitan dalam mengkomunikasikan idenya atau merepresentasikan permasalahan tersebut ke dalam bahasa matematis. Ketidakmampuan siswa dalam mengkomunikasikan permasalahan Matematika membuat siswa kesulitan dalam memecahkan permasalahan tersebut, karena permasalahan tersebut menjadi bias yang berdampak pada hasil belajar Matematikanya.

Selama ini pembelajaran Matematika terkesan kurang menyentuh kepada substansi pemecahan masalah. Siswa cenderung menghafalkan kosep-konsep Matematika sehingga kemampuan siswa delam memecahkan masalah sangat kurang.

Berdasarkan sumber

(http://www.prayudi. wordpress.com) menyatakan :

Di antara hasil terbaru penyempurnaan tersebut adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Salah satu kelebihan dari kurikulum terbaru ini adalah dinyatakan pemecahan masalah (problem solving), penalaran (reasoning), komunikasi (communication), dan menghargai kegunaan Matematika sebagai tujuan pembelajaran Matematika SD, SMP, SMA, dan SMK disamping tujuan yang berkaitan dengan pemahaman konsep yang sudah dikenal guru. Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum Matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaiannya, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan

serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah. Hal ini sesuai dengan pendapat Abdurrahman (2003: 254) bahwa:

“Pemecahan masalah adalah aplikasi dan konsep keterampilan. Dalam pemecahan masalah biasanya melibatkan beberapa kombinasi konsep dan keterampilan dalam suatu situasi baru atau situasi yang berbeda. Sebagai contoh, pada saat siswa diminta untuk mengukur luas selembar papan, beberapa konsep dan keterampilan ikut terlibat. Beberapa konsep yang terlibat adalah bujur sangkar, garis sejajar dan sisi; dan beberapa keterampilan yang terlibat adalah keterampilan mengukur, menjumlahkan dan mengalikan”.

Menurut Dodson dan Hollander (dalam http://amustofa70.wordpress.com) kemampuan pemecahan masalah yang harus ditumbuhkan adalah 1) kemampuan mengerti konsep dan istilah Matematika, 2) kemampuan mencatat kesamaan, perbedaan, dan analogi, 3) kemampuan untuk mengidentifikasi elemen terpenting dan memilikih prosedur yang benar, 4) kemampuan untuk mengetahui hal yang tidak berkaitan, 5) kemampuan untuk menaksirkan dan menganalisis, 6) kemampuan untuk memvisualisasi dan mengimplementasi kuantitas atau ruang, 7) kemampuan untuk memperumum (generalisasi) berdasarkan beberapa contoh, 8) kemampuan untuk mengganti metode yang telah diketahui, 9) mempunyai kepercayaan diri yang cukup dan merasa senang terhadap materinya.

(5)

masalah terselesaikan, ajaklah siswa untuk melihat kembali, melihat kemungkinan lain, mengatakan dengan bahasa mereka sendiri, kemudian ajaklah untuk mencari penyelesaian dengan cara yang lebih baik, 5) jika kita berhadapan dengan masalah yang sulit, tidak berarti kita harus menghindar. Tetapi gunakan cukup waktu untuk mengulang dan mengerj masalah yang lebih benyak. Mulailah dengan mengerjakan masalah serupa, dan kemudian masalah – masalah yang menantang, 6) fleksibelitas di dalam pemecahan masalah merupakan perilaku belajar yang baik.

Para siswa didorong supaya berpikir bahwa sesuatu itu multidimensi sehingga mereka dapat melihat banyak kemungkinan penyelesaian untuk suatu masalah. Menurut Gagne (Ruseffendi, 1991: 169), dalam pemecahan masalah biasanya ada 5 langkah yang harus dilakukan, yaitu: 1. Menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas; 2. Menyatakan masalah dalam bentuk yang operasional (dapat dipecahkan); 3. Menyusun hipotesis-hipotesis alternatif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik untuk dipergunakan dalam memecahkan masalah itu; 4. Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya (pengumpulan data, pengolahan data, dan lain-lain), hasilnya mungkin lebih dari satu; 5. Memeriksa kembali (mengecek) apakah hasil yang diperoleh itu benar, atau mungkin memilih alternatif pemecahan yang terbaik.

Menurut Polya (dalam http://pendekatan-pemecahan-masalah-menurut.html), solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah fase penyelesaian, yaitu: 1) Memahami masalah, kegiatan dapat yang dilakukan pada langkah ini adalah: apa (data) yang diketahui, apa yang tidak diketahui (ditanya), apakah informasi cukup, kondisi (syarat) apa yang harus dipenuhi, menyatakan kembali masalah asli dalam bentuk yang lebih operasional (dapat dipecahkan); 2) merencan pemecahannya, kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah: mencoba mencari atau mengingat masalah yang pernah diselesaikan yang memiliki kemiripan

dengan masalah yang dipecahkan, mencari pola atau aturan, menyusun prosedur penyelesaian (membuat konjektur); 3) menyelesaikan masalah sesuai rencana, kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah: menjalankan prosedur yang telah dibuat pada langkah sebelumnya untuk mendapatkan penyelesaian; 4) memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian, kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah ini adalah: menganalisis dan mengevaluasi apakah prosedur yang diterapkan dan hasil yang diperoleh benar, atau apakah prosedur dapat dibuat generalisasinya.

Menerapkan suatu pembelajaran yang tepat dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat berperan aktif dalam mengkomunikasikan pengetahuan yang ia miliki, akibatnya kemampuan komunikasi siswa dapat meningkat. Salah satu model pembelajaran yang memberi peluang kepada siswa untuk melatih kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran Matematika adalah Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project.

Dalam suatu proses pembelajaran terdapat berbagai komponen pembelajaran yang harus dikembangkan dalam upaya mendukung tercapainya tujuan pembelajaran dan keberhasilan siswa dalam tujuan pembelajaran dan keberhasilan siswa dalam belajar. Komponen-komponen tersebut diantaranya guru, siswa, model pembelajaran, metode pembelajaran, serta sumber dan media pembelajaran. Sebagai salah satu komponen pembelajaran, pemilihan model pembelajaran sangat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran. Saat ini terdapat berbagai model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Matematika. Salah satu diantaranya adalah model pembelajaran Missouri Mathematics Project.

(6)

menyatakan bahwa model pembelajaran Missouri Mathematics Project merupakan suatu model pembelajaran yang terstruktur.

Adapun urutan langkah – langkah dalam model pembelajaran Missouri

Mathematics Project menurut (Shadiq,

2009: 21)adalah sebagai berikut, langkah 1 : Pendahuluan atau Review, Kegiatan– kegiatan yang dapat dilakukan pada langkah 1 ( pendahuluan atau review ) ini adalah sebagai berikut: a. Meninjau ulang pelajaran sebelumnya terutama yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang sedang dilakukan. b. Membahas Soal pada Pekerjaan Rumah ( PR ) yang diberikan pada pelajaran sebelumnya yang dianggap paling sulit oleh siswa. c. Membangkitkan motivasi siswa, dengan cara memberikan 1 contoh soal yang berkaitan dengan soal PR yang dianggap sulit oleh para siswa tersebut. Langkah 2 : Pengembangan. Pada langkah kedua kegiatan yang dilakukan adalah a. penyajian ide baru dan perluasan konsep Matematika terdahulu, b. penjelasan materi yang dilakukan oleh guru atau siswa melalui diskusi, c. serta demonstrasi dengan menggunakan contoh yang konkret. Pada langkah ini pun guru juga dapat menyampaikan informasi tentang tujuan pembelajaran kepada siswa sebagai langkah antisipasi mengenai sasaran pembelajaran. Sebaiknya, kegiatan pada langkah ini dapat dilakukan melalui diskusi kelas. Untuk mencapai hal tersebut, guru dapat menyampaikan materi dengan metode Tanya jawab. Langkah 3 : Latihan Terkontrol. Pada langkah ini siswa diberikan latihan terkontrol atau latihan yang dilakukan dengan adanya pengawasan atau bimbingan guru. Pengawasan yang dilakukan oleh guru ini bertujuan untuk mencegah agar tidak terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran. Latihan yang diberikan kepada siswa dikerjakan secara berkelompok (belajar kooperatif). Langkah 4 : Seatwork ( Kerja Mandiri ). Pada langkah ini siswa secara individu atau berdasarkan kelompok belajarnya merespon soal untuk latihan atau perluasan konsep yang telah dipelajari pada langkah pengembangan. Langkah 5: Penugasan atau PR. Memberikan Penugasan atau PR kepada siswa ( peserta

didik ) agar peserta didik juga belajar dirumah. Soal dari PR tersebut merupakan materi pelajaran yang pada saat itu diajarkan. PR ini yang dijadikan sebagai bahan review untuk pembelajaran materi selanjutnya.

Adapun kelebihan model pembelajaran Missouri Mathematics Project, antara lain, penggunaan waktu yang diatur dengan relatif ketat sehingga banyak materi yang dapat tersampaikan pada siswa, dan banyak latihan sehingga siswa terampil dalam menyelesaikan berbagai macam soal.

Berdasarkan paparan di atas, Model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah Matematika siswa. Dugaan tersebut telah dibuktikan melalui penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project Berbantuan Media Konkret Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas V SD Gugus VI Abiansemal Tahun Ajaran 2013/2014”.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu, yang menggunakan design “Nonequivalent Kontrol Group Design”. Dantes (2007:111) menyatakan “Pada penelitian bentuk ini, sering digunakan intact group, seperti kelas, dimana randomisasi tidak dapat dilakukan. Pemberian prates biasanya digunakan untuk mengukur ekuivalensi atau penyetaraan kelompok”. Sukardi (2011:53) menjelaskan, “populasi pada prinsipnya adalah semua anggota kelompok manusia, binatang, peristiwa, atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu peristiwa”.

Sedangkan Sugiyono (2008:80) menyatakan, “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.

(7)

8 kelas. Jumlah seluruh populasi dalam penelitian ini adalah 174 orang siswa.

Tidak semua peneliti dapat melakukan studi terhadap semua anggota kelompok yang menjadi subjek penelitian, mereka hanya mengambil sebagian dari populasi yang ada. Sebagian dari jumlah populasi yang ada itu disebut sampel yang diambil datanya. Data yang terkumpul kemudian dianalisis. Hasil akhir penelitian yang didapat, kemudian digunakan untuk merefleksikan keadaan populasi yang ada (Sukardi, 2011:54).

Sampel dari penelitian ini adalah dua kelas V pada sekolah yang berbeda yang ada di SD Gugus VI Abiansemal yaitu kelas V di SD No 1 mambal sebagai kelompok kontrol dan SD No 3 Mambal sebagai kelompok eksperimen. Penentuan dua kelas yang dijadikan sampel peneliti ini dilakukan dengan cara random sampling atau acak kelas. Dari wawancara dengan masing-masing kepala sekolah dinyatakan bahwa semua kelas yang terdapat dalam setiap sekolah di Gugus VI Abiansemal adalah setara secara akademik. Untuk membuktikan hal tersebut juga dilakukan uji setara dengan menganalisis hasil pre-test siswa menggunakan pemetaan (matching) pada kedua kelompok.

Data hasil pre-test dengan memasangkan nilai yang diperoleh siswa pada kedua kelompok melalui pemetaan (matching) disajikan pada lampiran.

Dari tabel pemetaan (matching) didapatkan 35 orang siswa dari SD No.1 dan 35 orang siswa SD No.3 Mambal.

Jumlah sampel dari awal sampai akhir penelitian adalah 70 siswa. Kelompok eksperimen terdiri dari 35 orang siswa dan kelompok kontrol terdiri dari 35 orang siswa yang dijadikan sebagai unit analisis.

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat.

Variabel bebas (variabel independen)

sering disebut variabel stimulus, prediktor,

antecedent. Dalam bahasa Indonesia

sering disebut variabel bebas. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang memperngaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono,2008:39).

Pada penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah Model Pembelajaran

Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret.

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono,2008:39).

Pada penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah kemampuan pemecahan masalah Matematika.

Dalam penelitian ini data yang diperlukan adalah data kemampuan pemecahan masalah Matematika siswa yang berkaitan dengan hasil belajar siswa. Untuk pengumpulan data tersebut digunakan metode tes, yaitu tes kemampuan pemecahan masalah Matematika. “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok” (Arikunto, 2010:193)

Dalam penelitian ini menggunakan tes essay. Tes essay adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari suatu pertanyaan atau suatu suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian yang relatif panjang (Nurkancana, 1990:48). Jumlah butir soal pada tes essay umumnya terbatas.yaitu berkisar antara lima sampai dengan sepuluh butir. Tes ini dipilih karena meminta siswa untuk menjelaskan, membandingkan, menginterpretasikan dan mencari perbedaan yang dapat menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah siswa terhadap soal-soal Matematika. Semua bentuk pertanyaan atau suruhan tersebut mengharapkan siswa dapat menunjukkan pengertian mereka terhadap materi yang dipelajari.

Sudijono (2011:301) menyatakan pada tes uraian, pemberian skor umumnya mendasarkan diri kepada bobot (= weight) yang diberikan untuk setiap butir soal, atas dasar tingkat kesukarannya, atau atas dasar banyak sedikitnya unsur harus terdapat dalam jawaban yang dianggap paling baik (paling betul).

(8)

pemberian skor pada tes essay (Nurkancana,1990:83) menyatakan :

Metode yang dapat digunakan untuk memberi skor pada tes menguraikan, yaitu metode analisa adalah suatu cara menilai dengan meyiapkan sebuah model jawaban, dimana jawaban tersebut dianalisa menjadi beberapa step atau element dan tiap-tiap step atau element disediakan skor tertentu. Setelah satu model jawaban tersusun, jawaban masing – masing anak dibandingkan dengan model jawaban tersebut dan diberikan skor sesuai dengan tingkat kebenaran. Sebuah tes dikatakan valid atau sahih jika tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur (Arikunto,2002). Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud.

Nurkancana (1990:143) menjelaskan

Validitas isi artinya kejituan daripada suatu tes ditinjau dari isi tes tersebut. Suatu tes hasil belajar dapat dikatakan valid, apabila materi tersebut betul-betul merupakan bahan-bahan yang representatif terhadap bahan-bahan pelajaran yang diberikan.

Secara teknis pengujian validitas isi dapat dibantu dengan menggunakan kisi-kisi instrumen, atau matrik pengembangan instrumen. Dalam kisi-kisi itu terdapat variabel yang diteliti, indikatakanor sebagai tolak ukur dan nomor butir (item) pertanyaan atau pernyataan yang telah dijabarkan dari indikator. Dengan kisi-kisi instrumen itu maka pengujian validitas dapat dilakukan dengan mudah dan sistematis (Sugiyono, 2008:129).

Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang dikaitkan (Arikunto,2012:82). Validitas isi diusahakan tercapai dari menyusun tes dengan merinci materi dari kurikulum atau buku mata pelajaran.

Dari paparan tersebut, maka untuk menguji validitas isi dalam penelitian ini diperlukan kisi-kisi dalam penyusunan tes kemampuan pemecahan masalah.

Validitas isi dari suatu tes hasil belajar dapat diketahui dengan jalan membandingkan antara isi yang terkandung dalam tes hasil belajar yang telah ditentukan untuk masing-masing pelajaran (Sudijono,2011:165). Jika penganalisisan secara rasional tersebut menunjukkan hasil yang membenarkan tentang telah tercerminnya tujuan intruksional khusus di dalam tes hasil belajar, maka tes hasil belajar tersebut dinyatakan telah memiliki validitas isi.

Perangkat tes atau instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data kemampuan pemecahan masalah Matematika merupakan instrumen yang sudah sahih (valid) berdasarkan expert yang telah dilakukan sebelumnya dengan guru Matematika dan dosen Matematika.

Dari hasil validasi bersama dosen Matematika dan guru Matematika didapatkan 5 soal yang sahih untuk dijadikan data kemampuan pemecahan masalah Matematika.

Untuk mengetahui apakah sebaran data skor kemampuan pemecahan masalah Matematika siswa pada masing-masing kelompok berdistribusi normal atau tidak, digunakan analisis Chi-Square.

Kriteria pengujian data berdistribusi normal jika X2hit ≥ X2tabel. Pada taraf signifikansi yang digunakan adalah 5% dan derajat kebebasannya adalah (dk) = (k-1).

Uji homogenitas varians untuk kedua kelompok digunakan uji F. Kriteria pengujian tolak Ho jika Fhit ≥ Ftabel (n1-1, n2-1). Pengujian dilakukan pada taraf signifikan 5% dengan derajat kebebasan untuk pembilang n1-1 dan derajat kebebasan penyebut n2-1.

Setelah melakukan uji prasyarat analisis, kemudian dilakukan uji hipotesis. Untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan, digunakan analisis statistik uji-t.

HASIL DAN PEMBAHASAN

(9)

kelompok eksperimen X = 79,77 sedangkan nilai rata-rata data kemampuan pemecahan masalah Matematika pada kelompok kontrol adalah X = 76,69.

Dari hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji-t dilakukan pada taraf signifikansi 5% dengan dk = 68 diperoleh ttabel = 2,00 dan thitung = 3,80. Berikut disajikan rekapitulasi hasil analisis data dengan menggunakan uji-t pada Tabel 1.

Tabel 1. Rekapitulasi Analisis Uji-t

No Kelompok N Dk x S thit ttabel

1 Eksperimen 35

68 79,77 12.03 3,80 2,00

2 Kontrol 35 76,69 10,30

Dari tabel uji-t di atas menunjukkan thitung = 3,80 dan ttabel = 2.00. thitung > ttabel (3,80 > 2,00). Sehingga thitung = 3,80 > ttabel = 2,00. Jadi Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya Terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan pemecahan masalah Matematika antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret dengan siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional. Adanya perbedaan ini membuktikan, penerapan model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah Matematika siswa kelas V SD Gugus VI Abiansemal tahun ajaran 2013/2014.

Analisis data menunjukkan nilai rata – rata data kemampuan pemecahan masalah Matematika yang berbeda antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Nilai rata-rata data kemampuan pemecahan masalah Matematika pada kelompok eksperimen adalah X = 79,77 sedangkan nilai rata-rata data kemampuan pemecahan masalah Matematika pada kelompok kontrol adalah X = 76,69.

Dari hasil analisis diperoleh bahwa kedua kelompok berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen. Sehingga analisis dapat dilakukan dengan menggunakan rumus uji-t pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05) atau taraf kepercayaan 95% dengan dk= N-2 = 70-2 = 68 diperoleh ttabel sebesar 2,00 dan thitung sebesar 3,80. Sehingga thitung > ttabel yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima.

Hasil pengujian di atas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan pemecahan masalah Matematika antara siswa yang mengikuti model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan mendia konkret dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional berupa strategi eksporsitori.

Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya, salah satunya adalah Herlina Kumala Sari dari program studi pendidikan Matematika fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tahun 2010 melakukan penelitian yang dapat meningkatan partisipasi belajar siswa pada pembelajaran Matematika melalui model pembelajaran Missouri Mathematics Project. Sedangkan pada penelitian ini model pembelajaran Missouri Mathematics Project dipadukan dengan media konkret dan diterapkan pada mata pelajaran Matematika. “Temuan ini (2014) memperkuat simpulan Herlina Kumala Sari (2010)”.

(10)

PENUTUP

Berdasarkan hasil data kemampuan pemecahan masalah Matematika diketahui rata – rata nilai yang diperoleh siswa dikelompok eksperimen adalah X = 79,77 dan rata – rata yang diperoleh siswa di kelompok kontrol adalah X = 76,69. Hal ini menunjukkan bahwa rata – rata kemampuan pemecahan masalah yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret lebih baik dari rata – rata siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional berupa strategi ekspositori dan menunjukkan adanya perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara kedua kelompok. Uji hipotesis dilakukan dengan uji-t. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diperoleh harga thitung = 3,80 dan ttabel = 2,00 (pada taraf signifikansi 5% dan dk = 68). Sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan pemecahan masalah antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Jadi dapat dikatakan bahwa model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah Matematika siswa kelas V SD Gugus VI Abiansemal tahun ajaran 2013/2014.

Berkenaan dengan hasil penelitian yang diperoleh, dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut : Dalam membelajarkan siswa guru hendaknya lebih kreatif dan variatif dalam memilih strategi atau model pembelajaran yang tentunya disesuaikan dengan materi yang akan dibelajarkan agar siswa terlibat dalam pembelajaran yang bermakna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah Matematika siswa yang dibelajarkan dengan menerapkan model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah Matematika siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional berupa strategi ekspositori (ceramah), khususnya pada materi operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masalah. Sehingga disarankan bagi guru untuk menerapkan

model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret dalam mata pelajaran Matematika. Disarankan dalam membelajarkan siswa guru menggunakan media pembelajaran yang telah tersedia di sekolah maupun membuat media pembelajaran bagi siswa yang dapat membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran.

Diterapkannya model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran seperti model pembelajaran Missouri Mathematics Project berbantuan media konkret, diharapkan siswa lebih aktif dalam menemukan dan memecahkan permasalahan yang diberikan. Dengan demikian siswa akan memahami apa yang sedang dipelajari, sehingga dapat mengoptimalkan kemampuan pemecahan masalah.

Sekolah hendaknya menyediakan sarana dan prasarana yang memadai guna menunjang pembelajaran yang berlangsung. Sekolah diharapkan aktif dalam mencari informasi mengenai model – model pembelajaran inovatif lainnya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Materi pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini terbatas pada materi operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masala, untuk mengetahui kemungkinan hasil yang berbeda pada materi lainnya, disarankan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian yang sejenis pada mata pelajaran yang berbeda.

DAFTAR RUJUKAN

Aisyah,Nyimas,2007.Pengembangan

Pembelajaran Matematika

SD.Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi:Departemen Pendidikan Nasional

Amustofa.2009.Pembelajaran Matematika

yang Bermakna.Terdapat pada

http://amustofa70.wordpress.com/.(dia kses 1 Februari 2013)

Arikunto, Suharsimi.2010.Prosedur

Penelitian Suatu Pendekatan

(11)

Arikunto, Suharsimi.2012.Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta.

Bugin,M.Burhan.2008.Metodologi penelitian Kuantitatif.Jakarta:Kencana.

Dantes, N. 2007. Metodologi Penelitian

untuk Ilmu – ilmu Sosial dan

Humaniora. Singaraja : Universitas Pendidikan Ganesha.

Dikel.2012.Makalah Model Pembelajaran MODEL MISSOURI MATHEMATICS

PROJECT.Tersedia pada

http://micella-allabutmylife.blogspot.com/2012/05/m akalah-model-pembelajaran- Model

Missouri Mathematics

Project.html.(Diakses pada tanggal 1 Februari 2013).

Firdaus,Ahmad.2009.Kemampuan

Pemecahan Masalah

Matematika.Terdapat Pada

http://madfirdaus.wordpress.com/2009 /11/23/kemampuan-pemecahan-masalah-Matematika/. (diakses pada tanggal 8 Februari 2013).

Herliana,Elly.2009.Bermutu Penilaian Hasil Belajar.Jakarta:Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam

Hutabarat,Juandi.2012.Model

Pembelajaran Missouri Mathematics

Project.Tersedia pada

http://juandihutabarat.blogspot.com/. (diakses tanggal 1 Februari 2013).

Janiari,NiNyoman.2012.Penggunaan Media Konkret Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas III SD

N 2 Singapadu Tahun Ajaran

2011/2012.Skripsi (tidak

diterbitkan).Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar,FIP Undiksha.

Krismanto,A.2003.Beberapa Teknik Model dan Strategi dalam Pembelajaran Matematika.Yogyakarta:Pusat

Pengembangan dan Penataran Guru Matematika.

Kurniawan,Rudy.2009. Kemampuan Pemahaman, Pemecahan Masalah

Matematik Serta Pembelajaran

Kontekstual.Tersedia pada

http://rudyks3-majalengka.blogspot.com/2009/01/ke

mampuan-pemahaman-dan-pemecahan.html.(Diakses tanggal 1 Februari 2013).

Kumala Sari,Herlyna.2010. Peningkatan

Partisipasi Belajar Siswa Pada

Pembelajaran Matematika Melalui

Model Pembelajaran Missouri

Mathematics Project .Tersedia pada

http://telyna.wordpress.com/2010/12/2 7/my_proposal/.hh (diakses tanggal 20 Februari 2013)

Nesha.2010.Apakah Hakekat

Matematika.Terdapat pada

http://www.smansatase.sch.id/index.p hp/component/content/article/57-artpend/72-hakmat.(diakses pada tanggal 08 Februari 2013).

Nurkancana dan Sunartana.1990.Evaluasi

Hasil Belajar.Surabaya:Usaha

Nasional.

PPPPTK Matematika.2011. Peran, Fungsi, Tujuan, dan Karakteristik Matematika

Sekolah.Terdapat pada

http://p4tkMatematika.org/2011/10/per an-fungsi-tujuan-dan-karakteristik-Matematika-sekolah/.(diakses pada tanggal 08 Februari 2013).

Puspita Sari,Helyn.2011.Implementasi

Model Pembelajaran Missouri

Mathematics Project dengan Teknik untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIIIA SMPN

4 Sukasada.Skripsi (tidak

diterbitkan).Jurusan Pendidikan Matematika.FMIPA Undiksha.

Ruseffendi,dkk.1991.Pendidikan

Matematika 2.Jakarta:Departemen

(12)

Pembinaan Tenaga Kependidikan Tinggi.

---,1992. Pendidikan Matematika 3.Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Tinggi.

Ruseffendi,E.T (1991). Pengantar kepada Membantu Guru Mengem-bangkan

Kompetensinya dalam Pengajaran

Matematika untuk Meningkatkan

CBSA. Bandung: Tarsito

Shadiq,Fajar. 2009. Modul Matematika

SMP Program Bermutu : Model

Model Pembelajaran Matematika

Smp. Sleman.PPPPTK Matematika.

Sudijono,Anas.2010.Pengantar Statistik Pendidikan.Jakarta:Rajawali Pers.

Sudijono,Anas.2011.Pengantar Evaluasi Pendidikan.Jakarta:Rajawali Pers.

Sugiyono.2008.Metode Penelitian

Kuantitatif Kualitatif dan

R&D.Bandung:Alfabeta.

Sukardi.2011.Metodologi Penelitian Pendidikan.Jakarta:PT.Bumi Aksara.

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Trueno.2009.Metode Dalam Pembelajaran Matematika.Tersedia pada http://techonly13.wordpress.com/2009 /07/03/metode-dalam-pembelajaran-Matematika/.(diakses tanggal 1 Februai 2013).

Widiyanto.2011.Pembelajaran

Konvensional.Tersedia pada

http://putuwidyanto.wordpress.com/20

11/01/14/pembelajaran-konvensional/.(diakses pada tanggal 12 Februari 2013).

Winarsunu,Tulus.2009.Statistik dalam

Penelitian Psikologi &

Pendidikan.Malang:UMM Pers.

Yuriana,Asmi.2010. Tugas Evaluasi Pendidikan”Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika”. Tersedia pada http://rian.hilman.web.id/?p=52.

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (12 pages)