Laporan Mengemas Kebosanan Pasca Menikah v.4.0 Unesco

Gratis

0
0
311
1 month ago
Preview
Full text

SALINAN

  NOMOR 4692 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PENERIMA BANTUAN PENINGKATAN MUTU PENELITIAN TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

  DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan mutu penelitian para dosen di lingkungan PTKI, dipandang perlu diberikan bantuan penelitian Tahun Anggaran 2015; b. bahwa nama-nama dosen sebagaimana disebut dalam

  Lampiran Keputusan ini dipandang memenuhi syarat dan ketentuan menerima bantuan dana peningkatan mutu penelitian Tahun Anggaran 2015; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Direktur

  Jenderal Pendidikan Islam tentang Penerima Bantuan Peningkatan Mutu Penelitian Tahun Anggaran 2015. Mengingat : 1.

  Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

  Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301); 3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaaan

  Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan (Lembaran Negera Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negera Republik Indonesia Nomor 4400); 4.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan

  Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2014 tentang Perubahan Kelima Atas Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; 8. Peraturan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2010 tentang

  Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 80 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Perubahan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama; 9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 170/PMK.05/2010 tentang

  Penyelesaian Tagihan Atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pada Satuan Kerja; 10. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 tentang

  Tata Cara Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; 11. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81/PMK.05/2012 Tentang

  Belanja Bantuan Sosial Pada Kementerian Negara/Lembaga; 12. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 53/PMK.02/2014 tentang

  Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2015; 13. Peraturan Menteri Agama Nomor 45 Tahun 2015 Tentang Pejabat Pembendaharaan di Lingkungan Kementerian Agama.

  

MEMUTUSKAN

  Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN

  ISLAM TENTANG PENETAPAN PENERIMA DANA BANTUAN PENINGKATAN MUTU PENELITIAN TAHUN ANGGARAN 2015. KESATU : Menetapkan nama-nama sebagaimana tercantum pada kolom 2 dalam Lampiran Keputusan ini sebagai penerima dana bantuan peningkatan mutu penelitian Tahun Anggaran 2015, dengan jumlah sebagaimana tercantum pada kolom enam dalam Lampiran Keputusan ini. KEDUA : Mekanisme pencairan dan penggunaan bantuan:

  1. Proses pencairan bantuan ini dilakukan berdasarkan peraturan yang ditetapkan.

  2. Penggunaan bantuan ini adalah untuk membantu para dosen dalam pelaksanaan peningkatan mutu penelitian pada PTKI.

  025.04.1.426302/2015, 05 Desember 2014 dengan Kode Mata Anggaran Nomor (025.04.1)2132.008.001.011.A. 521219. KEEMPAT : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

  Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 18 Agustus 2015

  A.N DIREKTUR JENDERAL DIREKTUR PENDIDIKAN TINGGI ISLAM

  TTD,

  1 Mohammad Sutrisno Hardiono Metode Sutrisno (MasTris) Sebuah Inovasi Penjumlahan Angka

  Banyak STAI al-Jawami Cileunyi Bandung

  50,000,000 Rp

  2 Zulfikar, M.Si Kombinasi Estimator Kernel Gaussian Order Tinggi dengan Simulasi Historikal terhadap Pengukuran Value at Risk (VaR) STAI Bahrul

  UlumTambakberas Jombang 50,000,000 Rp

  3 Muhammad Rizal Pendidikan Dayah dalam Bingkai Otonomi Khusus Aceh STAI Almuslim Bireuen Aceh 50,000,000 Rp

  4 Muhammad Jafar Shodiq Pengembangan Soft Skill sebagai Upaya Menuju UIN Sunan Kalijaga sebagai PTAIN Berbasis Enteroreneurship

  UIN Sunan Kalijaga 50,000,000 Rp

  5 Dr. Mustain Mengemas Kebosanan Pasca Menikah: Rekonseptualisasi Konseling Perkawinan dalam Bentuk Manafikan

  IAIN Purwokerto 50,000,000 Rp

  IAIN Imam Bonjol Padang 50,000,000 Rp

  

NOMOR : 5046

  Lampiran: I

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM

TENTANG

PENERIMA BANTUAN PENINGKATAN MUTU PUBLIKASI DAN JURNAL ILMIAH

TAHUN ANGGARAN 2015

SALINAN

  7 Dr. Rumadi, MA Fikih Hubungan Antaragama: Studi Fatwa NU, Muhammadiyah dan MUI tentang Hubungan Islam dan non-Islam UIN Syarif

  12 Drs. Dede Sukandar, M.Si panapisan Bioaktivitas Tanaman Pangan Fungsional Masyarakat Jawa Barat dan Banten

  15 Raswan Validitas Tes Masuk Program Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Jakarta

  IAI Latifah Mubarokiyah 50,000,000 Rp

  14 Raden Asep Hamdan Munawar Filsafat Ekonomi Syari dan Rsquo

  STAI Jami'atut Tarbiyah 50,000,000 Rp

  13 Fauzan Pembelajaran Bahasa Arab Pada Lembaga Pendidikan Islam di Aceh

  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 50,000,000 Rp

  STAIN Pekalongan 50,000,000 Rp

  Hidayatullah Jakarta 50,000,000 Rp

  11 Rinda Asytuti Isu-Isu Kontemporer Lembaga Keuangan Mikro Syariah di Indonesia

  STAI Nahdlatul Ulama Madiun 50,000,000 Rp

  10 Muhammad Muchlish Huda Sintesa Antara Pesantren dan Pendidikan Tinggi di Jawa (Tinjauan Atas Educational Relationship Pesantren Tebuireng dan Universitas Hasyim (UNHASY); Ke Arah Tradisi Baru Dalam Pendidikan

  IAI Ibrahimy Situbondo 50,000,000 Rp

  Kontinuitias Tradisi Keagamaan Universitas Islam Madura 50,000,000 Rp

  8 Mohammad Affan, S.S, MA, M.Ag Pesantren dan Salafisme: Kontestasi Perebutan Otentisitas dan

  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 50,000,000 Rp

  16 Zulfahmi, S. Hut, M.Si Genetic Diversity of Eurycoma longifolia Jack Using Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) Marker In Forest Reserve

  22 Dr. Bunyana Sholihin, M,Ag Kaidah Hukum Islam Dalam Tertib Dan Fungsi Perundang- Undangan

  25 Satih Saidiyah, Dipl.Psy, M.Si Proses Memaafkan Istri yang di tinggal Suami : Studi Pemulihan Pasca Perselingkuhan

  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 50,000,000 Rp

  24 M. Tabah Rosyadi Optimasi Pasokan Daging Halal Nasional Menuju Indonesia Sebagai Pusat Pangan Halal Dunia

  STAIN Kediri 50,000,000 Rp

  23 Dr. A. Halil Thahir, MHI Ijtihad Maqasidi : Rekonstruksi Hukum Islam Berbasis Interkoneksitas Maslahah

  IAIN Raden Intan Lampung 50,000,000 Rp

  UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 50,000,000 Rp

  UIN Sultan Syarif Kasim Riau 50,000,000 Rp

  21 Dr. Saifullah, SH, M.Hum Tipologi Penelitian Hukum (Kajian Sejarah, Paradigma dan Pemikiran Tokoh)

  UIN Walisongo Semarang 50,000,000 Rp

  20 Ismail, M.Ag Pemberdayaan Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Masjid di Kota Semarang

  STAIN Ponorogo 50,000,000 Rp

  19 Dr. Abid Rohmanu, MHI Jihad dan Benturan Peradaban (The Clash of Civilizations): Menyelami Identitas Poskolonial Khaled Mendhat Abou El Fadl

  IAIN Samarinda 50,000,000 Rp

  17 Ahmad Muthohar, M.Si Islam Dayak : Studi Dialektika Identitas Dayak Tidung dalam Relasi Sosial Keagamaan di Kalimantan Timur

  UIN Sunan Kalijaga 50,000,000 Rp Muhandis Konvensi Bahasa dan Harmonisasi Sosial (Telaah Linguistik dalam

  26 STAIN Pekalongan Rp 50,000,000 Azzuhri, Lc, MA Percakapan Campuran) JUMLAH

  Rp 1,300,000,000 Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal : 03 September 2015 a.n. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Direktur Pendidikan Tinggi Islam

  TTD,

MENGEMAS KEBOSANAN PASCA-MENIKAH

  

Rekonseptualisasi Konseling Perkawinan

dalam Bentuk Menafikan Keegoisan Diri

untuk Meneguhkan Sikap Saling Memberi,

Menerima, Memahami, dan Menjaga

  UU No 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Fungsi dan Sifat hak Cipta Pasal 2

  

1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang Hak

Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak Terkait Pasal 49

  

1. Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang

pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, atau menyiarkan rekaman suara dan/atau gambar pertunjukannya. Sanksi Pelanggaran Pasal 72

  

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan

sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

  

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,

atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

  ii

MENGEMAS KEBOSANAN PASCA-MENIKAH

  iii

  

Rekonseptualisasi Konseling Perkawinan

dalam Bentuk Menafikan Keegoisan Diri

untuk Meneguhkan Sikap Saling Memberi,

Menerima, Memahami, dan Menjaga

  

Jl. Rajawali, G. Elang 6, No 3, Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman

Jl.Kaliurang Km.9,3

  • – Yogyakarta 55581

    Telp/Faks: (0274) 4533427

    Website: www.deepublish.co.id

    www.penerbitdeepublish.com

    e-mail: deepublish@ymail.com

Katalog Dalam Terbitan (KDT) MUSTA’IN

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah: Rekonseptualisasi Konseling Perkawinan dalam Bentuk Menafikan Keegoisan Diri untuk Meneguhkan Sikap

Saling Memberi, Menerima, Memahami, dan Menjaga/oleh Musta’in.--Ed.1, Cet. 1--

Yogyakarta: Deepublish, Desember 2015. xxxiv, 270 hlm.; Uk:15.5x23 cm

  I. Judul 158.3 Desain cover : Herlambang Rahmadhani Penata letak : Dyah Wuri Handayani

  

PENERBIT DEEPUBLISH

(Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA)

Anggota IKAPI (076/DIY/2012)

Copyright © 2015 by Deepublish Publisher

  

All Right Reserved

Isi diluar tanggung jawab percetakan

Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau

memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini

tanpa izin tertulis dari Penerbit.

  iv

  MENCINTAI DENGAN HATI: Mempertegas Asumsi atau Mencari Solusi atas Anggapan bahwa Manusia Dihinggapi Kodrat Rasa Bosan Oleh: ARSAM Dosen IAIN Purwokerto

  etika saya menulis kata pengantar ini, sering sekali saya menekan tombol backspace pada keyboard. Terlalu sering, bahkan. Saya mencoba merenungi berapakali saya

  K mengalami kebosanan semenjak remaja hingga sekarang ini.

  Walhasil, jawabannya sama dengan tombol backspace diatas. Dulu bahkan saya pernah merasa bosan dengan diri sendiri. Pingin mengakhiri hidup tapi nggak berani (takut dosa pula). Muak dengan kondisi yang biasa-biasa saja, terkungkung dalam kemiskinan dan penderitaan hidup. Galau. Miskin ilmu, miskin harta. Rasanya ingin teriak dan memaki Sang Pencipta kenapa hidup ini tidak adil. Saya tering at perkataan Charles Noble, ‚You must have long term goals to keep you from being frustrated by short term failures.‛ Long term goals, agaknya ini salah satu rahasia besar untuk menghalau galau dan kebosanan. Sepanjang kita v punya target/cita-cita jangka panjang maka terhentinya diri ini untuk melakukan sesuatu sebab bosan dan sebagainya tidak akan sampai menyurutkan pergerakan kita. Target jangka panjang akan membuat kita tetap semangat bila dihayati dengan baik. Ia akan menjadi pemicu agar diri ini tetap istiqomah meski harus menjumpai seabrek masalah, kegagalan dan rasa bosan. Namun jangan dilupakan juga untuk tetap berdoa pada Allah agar senantiasa membimbing kita dalam mencetak prestasi dan melakukan kebaikan.

  Secara psikologi, rasa bosan didefinisikan oleh Fisher sebagai ‚suatu kondisi perasaan (afektif) yang tidak menyenangkan dan bersifat sementara, yang ditandai seseorang merasakan suatu kehilangan minat dan sulit konsentrasi terhadap aktivitas yang sedang dilakukannya‛. Leary mendefinisikannya secara sama, namun sedikit lebih ringkas, yaitu: suatu pengalaman afektif (berkaitan dengan perasaan) yang berhubungan dengan proses- proses kogni- tif dalam hal perhatian‛. Definisi-definisi itu memperjelas bahwa rasa bosan muncul bukan karena tak ada sesutu untuk dikerjakan, tetapi karena ketidakmampuan untuk terikat dalam suatu aktivitas tertentu. Meskipun sering muncul hasrat yang sangat dalam ke arahnya.

  Kebosanan pada orang dewasa seringkali merupakan suatu tanda kurangnya stimulasi intelektual. Dalam kasus yang tidak begitu banyak, orang yang berulang kali mengeluh bosan bisa jadi menderita suatu keadaan klinis semacam depresi.Ada tiga tipe umum kebosanan yang biasa muncul, semuanya berkaitan dengan masalah adanya perhatian. Jenis-jenis kebosanan itu meliputi waktu saat kita dicegah terlibat dalam sesuatu, ketika dipaksa vi terlibat dalam aktivitas yang tidak kita inginkan, atau ketika kita hanya tak mampu tanpa alasan yang muncul untuk mempertahankan keterlibatan kita dalam suatu aktivitas atau pertunjukkan. Salah satu konsep psikologis yang penting adalah kecenderungan bosan (boredom proneness); Suatu kecenderungan untuk mengalami semua jenis rasa bosan. Konsep ini biasanya diukur dengan skala kecenderungan bosan (the Boredom Proneness

  

Scale) . Selaras dengan definisi tersebut, penelitian menemukan

  bahwa kecenderungan bosan secara jelas dan konsisten terkait dengan gangguan-gangguan perhatian. Rasa bosan dan kecenderungan bosan, keduanya secara teori dan kenyataan berhubungan dengan depresi dan gejala-gejalanya. Namun, kecenderungan bosan telah terbukti terkolerasi secara kuat dengan hilangnya fokus/perhatian, sebagaimana depresi.

  Menurut riset rasa bosan itu menjadi lima macam. Peneliti Thomas Goetz mengatakan, jenis kebosanan itu dibedakan dari tingkat gairah mental (dari tenang hingga gelisah) dan bagaimana kita merasa tingkatan kebosanan Anda (positif atau negatif). Penemuan kebosanan ini didasarkan data dari 63 mahasiswa dan 80 siswa SMA di Jerman. Penelitian ini dipimpin para peneliti University of Konstanz dan Thurgau University of Teacher Education. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Motivation and Emotion. Inilah lima kebosanan yang sering Anda rasakan seperti dikutip HuffingtonPost, Minggu, 24 September 2013. Pertama: Bosan masa bodoh. orang yang mengalami kebosanan jenis ini merasa ingin menyendiri, masa bodoh, dan santai. Kedua: Bosan kalibrasi.

  Orang dengan tipe ini merasa bimbang dan sangat reseptif dengan perubahan atau gangguan. Ketiga: Bosan mencari. Orang yang vii mengalami kebosanan ini resah dan aktif mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatian. Keempat: Bosan reaktan. Orang yang mengalami kebosanan ini termotivasi meninggalkan situasi yang mereka hadapi. Kelima: Kebosanan apatis. Ini jenis kebosanan yang paling baru ditemukan. Ini jenis kebosanan yang tak menyenangkan yang menyerupai ketidakberdayaan atau depresi. Ini terkait dengan rendahnya tingkat gairah dan tingkat keengganan. Apakah ada diantara kita yang tidak pernah merasakan jenuh atau bosan dalam melakukan sesuatu hal yang rutin? Setiap manusia normal pastilah pernah merasakan kebosanan. Entah itu bosan dalam belajar, bosan sebab sekolah, bosan mengajar (bagi guru), bosan bekerja, bosan bermain, bosan dalam menjalin hubungan dengan seseorang, bosan mengurus rumah, merawat anak dan seabrek bosan lainnya yang mustahil disebutkan satu per satu disini.Sebenarnya perasaan bosan adalah hal wajar yang hinggap di kepala kita atas sesuatu yang kita lakukan. Bosan menjadi penanda apakah seorang manusia masih melakukan aktifitas kehidupan atau tidak. Maka bersyukurlah bila dalam kita beraktifitas tiba-tiba muncul rasa bosan yang membuat hati terasa gamang. Namun demikian rasa bosan tidak dapat disepelekan. Bosan yang terus berkelanjutan dapat berakibat rasa malas yang akut, self confidence yang rendah, membuat hubungan dengan orang lain berakhir dan menjadikan kita pribadi yang terpuruk. Orang yang mudah bosan pada segala hal biasanya tidak akan sukses dalam mengerjakan apa saja.

  Masalahnya tidak semua orang memiliki pengetahuan dan ketrampilan memadai dalam memperlakukan rasa bosan. Manajemen Bosan, inti dari manajemen bosan adalah dengan viii menjadi pribadi yang kreatif dan mengejutkan‛. Ya, kata kuncinya cuma ini: Kreatif dan Mengejutkan. Sebagai contoh, kalau kita bosan terhadap pekerjaan yang kita jalani tiap hari maka kita mesti ‚menyelipkan‛ banyak hal dalam pekerjaan tersebut dengan sesuatu yang asing/nyeleneh. Hanya perlu diingat kalau yang asing/nyeleneh itu masih dalam aturan s yar’i, tidak melanggar aturan perusahaan dan tidak merugikan orang lain. Misalnya supaya suasana berangkat dan pulang kerja tidak sama setiap harinya maka tidak ada salahnya mencoba rute/jalan lain yang belum pernah kita lewati. Ayolah, mayoritas orang jika berangkat ke kantor melewati Rute A dan pulang kerja menempuh Rute B maka setiap harinya ia akan melalui Rute A lalu Rute B. Padahal tidak tertutup kemungkinan ia bisa mencari rute lainnya yang akan membuat suasana perjalanan menjadi berbeda. Atau kalau tiap hari kita berangkat kerja menggunakan sepeda motor maka suatu hari cobalah berangkat memakai angkutan umum. Naik sepeda ontel atau malah jalan kaki juga boleh. Syaratnya Anda harus cerdas dan tahu diri akan jarak yang mesti ditempuh. Sungguh, saya tidak menyarankan berjalan kaki kalau antara rumah Anda dengan kantor jaraknya 40 Km. Menempuh jalan/rute baru, menggunakan alternatif transportasi lain, menata kembali letak meja & kursi kantor, memberikan hiasan pada dinding kantor, mengganti desain wallpaper komputer, dan hal-hal kreatif lainnya akan membuat kita ‚bertemu‛ dengan suasana baru serta memunculkan berbagai kemungkinan positif untuk menekan rasa bosan yang muncul.

  Contoh diatas merupakan sedikit bahasan tentang bosan pada pekerjaan. Masalahnya lantas bagaimana kalau bosan sama pasangan. Kita bisa mulai mencari jawaban demngan merunut ix pendapat Agus Supriatna, yang memaknai bosan sebagai keadaan di mana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu. Dan sebagai manusia, wajar jika terkadang kita merasa bosan, termasuk bosan terhadap pasangan. Bosan itu tidak hanya terjadi kepada pasangan yang masih dalam taraf kenalan/penjajakan, pasangan yang sudah menikah pun seringkali dihinggapi rasa bosan. Bertemu mata tiap hari, ngobrol tiap hari, SMS-an setiap hari, dan melakukan rutinitas yang sama setiap hari. Apalagi kalau keduanya sama-sama bekerja dan satu kantor. Di dunia nyata ketemu, di dunia maya pun ketemu. Di rumah ketemu, di kantor pun ketemu. Pada pasangan model begini tingkat kebosanan menjadi cukup tinggi.

  Percaya atau tidak, sebenarnya bosan itu inspirasi. Ketika bosan tengah melanda, otomatis pasangan tersebut mencoba menemukan cara supaya rasa bosan itu hilang. Cara yang unik, cara yang simple, cara yang menyenangkan supaya bosan itu berubah menjadi rindu. Rindu untuk terus bersama. Tapi ingat, jangan hanya karena merasa bosan, terus langsung minggat dari rumah atau mencoba untuk selingkuh. Ada yang bilang ‚Rumput tetangga jauh lebih subur ketimbang rumput sendiri‛. Saya sendiri belum membuktikan kebenaran kata-kata tersebut tetapi saya percaya kalau rumput lain itu lebih subur. Sebab memang setan menjadikan indah segala godaan yang muncul didepan mata kita. Dan setan selalu mencari celah agar pasangan suami-istri yang sah dapat berpisah/bercerai. Selalu ada kekurangan yang bisa kita cari- cari/ungkit-ungkit ketika melihat pasangan kita, dan sialnya selalu x ada kelebihan untuk disanjung/dibanggakan ketika melihat orang lain.

  Pernikahan adalah suatu bentuk kerjasama antara suami dan istri namun tidak selamanya suatu pernikahan berjalan dengan mulus. Selalu ada pasang surut yang terjadi. Karena itu dibutuhkan kedewasaan kedua belah pihak untuk mengatasi semua masalah yang dapat timbul kapan saja di dalam rumah tangga. Namun kadang kala suami atau istri kurang bekerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah atau malah cenderung untuk memperkeruh suasana. Situasi yang demikian dapat membuat pernikahan menjadi tidak sehat. Hubungan yang kondisinya tak sehat tersebut, jika didiamkan, akan menjadi sakit parah. Seperti rasa jenuh terhadap situasi di dalam rumah tangga Anda yang terlalu monoton, sehingga timbullah rasa kebosanan. Setiap orang pasti akan mengalami masa-masa itu. Rasa bosan pasti pernah singgah dalam kehidupan rumah tangga Anda. Bahkan mungkin suatu waktu akan datang kembali. Rasa bosan dalam kehidupan berumah tangga adalah wajar, mengingat memang tidak ada yang sempurna dalam kehidupan di dunia ini. Maka, setinggi apapun prestasi, kebaikan, atau keistimewaan, selama masih ada di dunia, pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Akibatnya, kebosanan- kebosanan menyergap kehidupan rumah tangga Anda. Tiba-tiba Anda merasa bosan pada keadaan rumah, bosan terhadap penampilan pasangan, bosan terhadap keadaan anak-anak, atau bosan menghadapi segala permasalahan rumah tangga.

  Apapun yang tidak seimbang akan berakhir pada kebosanan. Harapan yang terlalu tinggi terhadap pasangan akan menimbulkan kekecewaan jika ternyata pasangan tidak mampu memenuhi xi harapan Anda. Misalnya saja, Anda menginginkan suami selalu bersemangat dalam menyelesaikan setiap permasalahan karena bagi Anda suami ideal adalah suami yang selalu tegar menghadapi masalah rumah tangga. Namun, kenyataannya, suami Anda malah down, dan sebagainya. Ini adalah suatu gejala di mana pada masa awal hubungan Anda berdua, segala kekurangan Anda atau pasangan mungkin merupakan hal yang menyenangkan. Tetapi jika hubungan Anda mulai suram, sehingga menimbulkan gejala- gejala kecil yang menganggu. Walau ini hanya gejala yang bisa dibilang kecil, di balik itu tersembunyi pertanda bahwa anda atau dia mungkin sudah bosan dengan segala prilaku yang ditunjukan.

  Ketika seseorang merasa bosan pada pasangannya, ia cenderung memusatkan perhatian pada kurangnya sesuatu yang baru atau kurangnya stimulasi dari lingkungan. Karena itu, diperlukan kematangan untuk mengantisipasi rasa bosan terhadap pasangan. Salah satunya adalah secara rutin meluangkan waktu untuk pergi berdua as second honeymoon. Komunikasi rutin juga harus diubah menjadi komunikasi kreatif. Tidak hanya bertanya sudah makan atau pulang jam berapa, tapi carilah topik yang lebih menggairahkan, misalnya merayu untuk sex after lunch. Selain itu beri kejutan dengan kartu atau bunga, atau tiket menonton konser kesukaan pasangan, ‚Bangun kembali keyakinan bahwa pasangan adalah seseorang yang berharga dan Anda tidak salah pilih,‛ Pada dasarnya, kebosanan bisa dijadikan sinyal untuk ‘menyuntik’ kembali hubungan agar menjadi segar dan sehat kembali. Memulai kembali tradisi bicara dari hati ke hati juga merupakan strategi yang efektif, karena pasangan yang telah menjalin relasi cukup lama bi asanya cenderung ‘lepas tangan’ dan menyerahkan kepada xii pasangannya untuk mengembangkan hubungan. Bila kita bosan dengan hidup, itu artinya Anda mengalami kebosanan secara eksistensial. Sebuah penelitian yang dimuat dalam The Journal of

  

Social and Clinical Psychology (2009) menyatakan, kurangnya

  makna hidup menjadi penyebab kebosanan. Namun, kebosanan biasanya kurang diperhatikan karena dianggap sepele. Padahal kebosanan yang diabaikan dapat menurunkan kualitas hidup dan butuh penanganan yang serius.

  Yang juga penting adalah mencoba bercermin, melakukan introspeksi terhadap diri anda sendiri. Apakah selama ini anda sudah benar-benar melakukan hal yang terbaik yang dapat anda lakukan untuk pasangan? Dan apakah Anda sudah berusaha sebaik-baiknya untuk membina hubungan yang sehat? Apapun masalahnya, jika salah satu atau kedua pihak dalam suatu hubungan yang sakit berusaha untuk menyembuhkan penyakit tersebut, pasti ada jalan keluarnya. Atau Anda juga dapat menyusun perencanaan dan manajemen rumah tangga Anda kembali. Kebosanan banyak datang karena tidak adanya perencanaan dan manajemen yang baik dalam menata aktivitas rumah tangga. Setelah sekian lama berumah tangga, ada saatnya Anda berdua merenung. Mungkin karena kesibukan urusan kantor atau rumah, Anda berdua tidak sempat saling mengingatkan pada niat semula menjalani rumah tangga. Anda berdua perlu mengukur kembali keikhlasan Anda dalam menghadapi berbagai problematika rumah tangga.

  Rasa jenuh muncul secara tiba-tiba. Biasanya rasa jenuh ini muncul pada hubungan yang sudah terjalin lama. Memang menjalani hari dengan orang yang sama dan kegiatan yang sama xiii dapat menimbulkan rasa bosan. Oleh karenanya dalam menjalani hubungan perlu diberikan sentuhan

  • – sentuhan baru yang dapat meminimalisir rasa jenuh. Rasa jenuh dalam hubungan asmara dapat timbul karena adanya faktor internal atau karena faktor eksternal. Penyebab kejenuhan dalam hubungan asmara jika dilihat dari faktor internal dapat disebabkan karena tertarik dengan orang lain atau rasa bosan yang timbul dari diri sendiri. Rasa ketertarikan dengan orang lain memang masih dapat terjadi meskipun kita sudah berada pada keadaan telah memiliki kekasih. Mengapa?, karena perasaan suka akan muncul secara tiba- tiba. Tanpa kita sadari perasaan akan muncul begitu saja. Sehingga dengan alih- alih tersebut mengungkapkan bahwa dirinya bosan dengan hubungan yang sedang dijalani saat ini. Namun rasa bosan juga dapat timbul secara personal. Rasa bosan ini bisa muncul karena
  • – perasaan yang tidak terkendalikan atau karena persoalan persoalan yang muncul dalam sebuah hubungan yang tidak dapat diatasi. Namun jika kita lihat faktor penyebab kejenuhan dari eksternal, ada banyak faktor yang menyebabkan timbulnya rasa jenuh ini. Salah satunya yaitu kebersamaan yang terlalu sering, komunikasi yang tidak efektif, kurangnya perhatian atau ada pihak ketiga yang menyebabkannya. Memang dalam menjalin hubungan waktu sangat diperlukan. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa senjata kelancaran hubungan adalah waktu namun jika kita terlalu sering meluangkan waktu untuk bertemu pasangan kita, rasa jenuh akan semakin cepat menghampiri. Upayakan dapat mengatur waktu untuk bertemu. Jangan terlalu sering dan jangan terlalu jarang, sesuaikanlah waktunya. Komunikasi juga turut menyumbang penyebab kejenuhan. Ada hal yang harus xiv
diperhatikan dalam berkomunikasi yakni apa yang sedang kita komunikasikan. Jangan sampai komunikasi yang kita lakukan justru membuat pasangan menjadi jenuh. Faktor lain yang turut menyumbang adalah hadirnya pihak ketiga. Ini yang sulit untuk dibendung karena sangat ampuh menimbulkan kejenuhan. Saat kita sudah tertarik dengan orang lain sudah otomatis jenuh muncul.

  Oleh karena itu kenali Penyebab kejenuhan dalam hubungan asmara dan minimalisirlah kejenuhan tersebut agar tidak merugikan hubungan yang sudah terjalin. Semoga pembahasan ini bermanfaat untuk semua pihakMenjaga keutuhan rumahtangga bukan soal mudah. Banyak sekali godaan yang dapat menghancurkan hubungan. Apalagi, perkawinan adalah bersatunya dua hati yang memiliki karakter yang berbeda. Belum lagi jika pasangan suami-istri sama-sama berkarier di luar rumah, sehingga waktu berkomunikasi dan berduaan pun menjadi sangat terbatas, yang terkadang memicu timbulnya masalah. Coba lihat apa yang terjadi pada pasangan Haris dan Elsa. Sama-sama sukses di karier, berpenghasilan tinggi, serta memiliki kedudukan penting di kantor. Sayang, dalam hal membina rumahtangga, yang terjadi adalah sebaliknya. Nyaris tiada hari tanpa keributan. Sering, masalah pemicunya cuma persoalan sepele. Contohnya, soal sarapan pagi. Sebagai kepala keluarga, Haris merasa harus dilayani Elsa, dan bukan oleh pembantu. ‚Apa gunanya punya istri kalau tidak bisa melayani suami. Masak, sih tidak ada waktu sedikitpun untuk menemani suaminya makan,‛ keluh Haris pada Anton, sahabatnya. Namun, lain lagi apa kata Elsa pada Tami, sahabatnya di kantor. ‚Masak, begitu saja harus diributkan. Seharusnya ia, kan xv tahu istrinya itu wanita karier yang harus berpacu dengan waktu. Bagaimana menemani sarapan pagi, wong berangkat ke kantor saja pukul enam pagi. Dasar, ia memang terlalu banyak menuntut.

Pernah, lho kita tidak bicara selama seminggu, gara- gara soal itu!‛

  Ya, kasus seperti yang dialami Haris dan Elsa seringkali dianggap sepele oleh pasangan suami-istri. Sepintas, memang terlihat itu hanyalah masalah kecil. Namun, bila dibiarkan berlarut- larut, tentu bisa membahayakan keutuhan rumah tangga. Nah, sebelum terlambat, simak beberapa tanda bahaya yang bisa mengganggu dan merusak hubungan rumahtangga beserta solusinya.

  1. Masalah Menumpuk. Terkadang, masalah-masalah tak diperhatikan oleh pasangan suami-istri, dan bahkan dibiarkan begitu saja. Misalnya, tak memberi perhatian. Bahkan, bisa saja hari ini pasangan kurang perhatian, besok bersikap kasar, esoknya lagi bersikap acuh pada Anda. Anda sendiri lebih memilih diam dan membiarkan masalah menumpuk. Padahal, ini salah besar. Karena bila dibiarkan terus-menerus, masalah tak bakal membaik, namun justru bertambah runyam. Pertengkaran pun tak dapat dihindari. Saling menuding dan menyalahkan satu sama lain pasti akan menghiasi hari-hari Anda dan pasangan. Sebaiknya bila ada masalah yang tidak berkenan di hati Anda, segera utarakan pada pasang-an. Jangan pendam sampai menggunung. Apalagi menunggu pasangan menyadari kesalahannya. Kalau ia sadar bahwa perbuatan yang dilakukannya salah, pasti ia tidak akan melakukannya pada Anda. Untuk itu, setiap kali Anda dan pasangan mengalami masalah, cobalah xvi menyelesaikannya dengan pikiran dingin dan hati yang tenang. Pasti ada jalan keluarnya.

  2. Kritik. Tak semua orang bisa menerima kritik, sekalipun kritik yang bersifat membangun. Contohnya Elsa, yang tak sudi menerima kritik dari Haris, suaminya, soal badannya yang makin hari makin mekar ke samping. Apalagi, setiap kali ia menyantap mie goreng kesukaannya, ada saja kata- kata Haris yang menyindir bentuk tubuhnya. Jelas, Elsa tersinggung. Padahal tujuan Haris baik. Bagaimana mengatasinya?. Sebenarnya, untuk menyampaikan kritik yang tepat pada sasaran tidaklah sulit. Yang perlu diperhatikan adalah, cara penyampaiannya agar tidak menyinggung perasaan. Nah, pergunakanlah bahasa yang sopan dan waktu yang tepat untuk menyampaikannya. Jangan memberi kritik saat ia berbuat sesuatu yang menurut Anda tidak benar. Jelas saja ia tidak bisa terima. Jika Anda ingin menyampaikan kritik yang membangun pada pasangan, sampaikan di saat Anda berdua menikmati waktu santai, misalnya. Misanlya, ‚Ma, Papa senang, lho kalau bentuk pinggang Mama diperkecil ukurannya. Biar enak merangkulnya. Kalau mama terlihat langsing, pasti akan semakin can tik!‛ Tentu, pasangan tidak akan tersinggung, dibanding bila Anda menyerangnya dengan kata-kata pedas.

  3. Menghina. Terkadang, tanpa disadari, apa yang Anda perbuat dan ucapkan pada pasangan bisa menyinggung perasaannya. Contohnya, ‚Bodoh banget sih! Masak mengerjakan hal semudah itu kamu tidak mampu. Katanya sarjana teknik, tapi televisi rusak saja harus ke tukang servis!‛ xvii

  Mendengar lontaran kata yang begitu pedas, jangan kaget jika pasangan terhina, harga dirinya terinjak-injak. Apalagi Anda membumbui dengan kata-kata, tolol, bodoh, nggak punya otak. Belum lagi bila Anda hobi menyampaikan sindiran yang bersifat sarkartis, seperti si Ompong (karena giginya ompong) atau si Tambun (karena badannya gendut). Meski maksud Anda bercanda, tetapi bukan berarti Anda dapat semena- mena menyampaikan kata penghinaan yang menyinggung perasaan pasangan. Kalaupun Anda merasa tak puas dengan cara kerja pasangan, cobalah membiasakan diri bertutur dengan kata- kata sopan, sehingga ia tidak tersinggung. ‚Eh, Pa! Bukannya Papa dulu pernah praktik memperbaiki televisi ketika kuliah. Pasti Papa sudah lupa, ya cara kerjanya. Ayo, coba diingat- ingat lagi!‛ Ini jauh lebih baik dibandingkan "hinaan" Anda yang pertama tadi.

  Kalau Papa... mana?‛ Sifat suka membandingkan pasangan dengan orang lain, jika dibiarkan, sungguh tak baik untuk keutuhan rumah tangga. Apalagi bila Anda membandingkan pasangan dengan orang yang lebih baik dari dia. Sadarilah bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Mungkin pasangan kurang romantis, tetapi untuk urusan perhatian ia lebih jago daripada suami teman Anda. Kalaupun Anda mengizinkan pasangan berlaku sama seperti orang lain, katakan, ‚Pa, Mama ingin, lho dicium setiapkali Papa berangkat kerja. Seperti yang ada di televisi itu lho! Papa mau, kan melakukannya untuk Mama?‛ Hal ini lebih xviii baik dibandingkan Anda membandingkan dirinya dengan orang lain.

  5. Diam Membisu. Inilah salah satu sikap yang "menyimpan" bahaya. Ketika pertengkaran tidak bisa dihindari, bosan ribut-ribut, maka sikap yang diambil bisanya diam membisu. Saling bertahan pada pendapat masing-masing, merasa dirinya lebih benar dibandingkan pasangannya. ‚Kalau dia perlu, pasti ia akan mengajak bicara duluan. Wong, yang salah dia, kok!‛ begitu biasanya Anda berkelit. Padahal, tanpa Anda sadari, pasangan pun bersikap serupa. Ia merasa dirinyalah yang benar, sehingga ia pun enggan memulai pembicaraan sebelum Anda menyapanya. Nah, apa yang terjadi jika kedua pihak sama-sama bersikeras mempertahankan ego-nya?. Cobalah untuk berintrospeksi. Mungkin ada benarnya juga ucapan pasangan tentang diri Anda. Kalaupun Anda berencana mendiamkannya, sebaiknya bukan dalam jangka waktu lama. Sebaiknya, tujuan berdiam diri lebih untuk mencari ketenangan dan meredam emosi. Bila emosi sudah terkendali, biasanya Anda atau pasangan bisa menguasai diri. Tidak saling menyalahkan, tetapi saling memaafkan. Tapi ingat, komunikasi dan saling terbuka jauh lebih baik daripada berdiam diri.

  6. Mencari Pelarian. Mencari pelarian ke tempat hiburan atau curhat ke lawan jenis sering dilakukan pasangan suami-istri yang sedang bermasalah. Dengan berbagi cerita pada orang lain, mereka merasa bebannya akan jauh berkurang. Ini memang bisa saja jalan keluar yan baik, apalagi jika orang yang diajak bicara bisa memberikan jalan keluar yang tepat. xix

  Tapi, bagaimana jika ia justru mengambil kesempatan dengan mencuri simpati Anda, atau ia justru si Kompor yang justru memanas-manasi Anda, sehingga Anda makin benci pada pasangan? Masalah pasti akan jadi lebih runyam. Sadarilah bahwa setiap rumahtangga pasti punya masalah. Tergantung bagaimana Anda dan pasangan menyikapinya, apakah mau diperkecil atau diperbesar. Nah, jika Anda merasa masalah yang Anda hadapi bersama pasangan adalah masalah besar dan tidak ada jalan keluarnya, cobalah minta orang terdekat pasangan, misalnya mertua, untuk menasihatinya. Jangan melibatkan orang ketiga dalam permasalahan rumah tangga Anda, karena jauh lebih berisiko.

  7. Dendam. Suatu hari, pasangan melakukan kesalahan yang menurut Anda tak dapat dimaafkan. Misalnya, Anda pernah memergoki ia selingkuh dengan wanita lain. Apapun bentuk pernyataan maaf yang diungkapkan pasangan, tidak membuat hati Anda luluh. Sekali dendam, tetap dendam. Merasa di pihak yang benar, Anda bertahan untuk tidak mau memaafkan dan terus membenci. Nah, karena pintu maaf tidak terbuka, tak menutup kemungkinan pasangan akan mengulang kembali perbuatannya, kan?.Sifat mendendam sebaiknya dibuang jauh-jauh. Apalagi dendam pada pasangan. Tentu, tak ada wanita yang tak sakit hati memergoki pasangannya berselingkuh. Namun, jika ia sudah mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya kembali, apakah Anda masih juga menaruh dendam? Kalaupun memang Anda marah, ungkapkan dengan kata- kata, ‛Ingat, kali ini saya maafkan.Tetapi lain xx kali, tiada maaf bagimu!‛ Mungkin itu cuma gertakan Anda, tetapi dapat membuat pasangan berpikir dua kali untuk melakukankesalahan yang sama. Berikut beberapa tips lain agar terhindar dari rasa bosan terhadap pasangan. Pertama: Memberikan Kejutan. Supaya keharmonisan dengan istri bisa sedikit berwarna, bolehlah kita tambahkan pemanis di tiap rutinitas yang ada. Beri kejutan-kejutan kecil yang bisa membuat pasangan bahagia. Ajaklah pasangan untuk belanja bersama, makan lesehan di pinggir jalan, traveling bersama, masak bersama, sholat di masjid yang belum pernah dikunjungi bersama. Kedua: Cuek lawan Perhatian. Ada kalanya seseorang bosan dengan sikap cuek atau perhatian yang diberikan oleh pasangannya. Nah bagi anda yang suka memberikan perhatian, sekali waktu cobalah untuk memainkan ‘sandiwara’ cuek terhadap pasangan, begitu juga sebaliknya. Ketiga: Mengenang Bersama. Melihat foto atau video tentang Anda dan pasangan, tentang Anak yang masih bayi dulu, membaca kembali surat yang pernah pasangan berikan, dll. Kenanglah semua hal yang bisa membuat Anda tersenyum dan semakin sayang dengan pasangan. Beragam tips inilah yang akan banyak dijumpai dalam buku ini, oleh karenanya selamat membaca dan semoga mendapat pemahaman baru tentang eksistensi rasa bosan dalam rumah tangga.

  Kadang atas nama kebosanan kita menginginkan perubahan, padahal, hidup bukanlah sekadar kreatifitas dan variasi semata. Hidup adalah selarasnya pemahaman dan tindakan

  xxi Kata-kata diatas tepat untuk direnungkan ditengah semakin menjamurnya penghianatan dalam pernikahan yang harusnya dilandasi dengan kepercayaan dan cinta. Bahkan salah satu atau mungkin krisis terbesar dalam pernikahan adalah pengkhianatan itu sendiri. Berita bahwa pasangan telah berselingkuh dapat diibaratkan seperti badai yang secara sekejab melanda dan menyapu bersih kehidupan yang telah dibangun bersama. Marilah kita pelajari kembali dinamika perselingkuhan dan apakah yang dapat dilakukan untuk menghindar dari bencana pengkhianatan ini.

  Krisis pernikahan adalah krisis pengkhianatan. Lebih luas dan dalam daripada sekadar perselingkuhan. Biasanya merupakan puncak dari tumpukan masalah. Apa pun penyebab pengkhianatan itu, hasil akhirnya adalah: rasa tidak puas, rasa buntu, tidak bisa menembus pasangan, rasa sepi dan hampa. Pada umumnya usaha demi usaha sudah dikerahkan untuk menyelesaikan masalah, namun perubahan hanya berlangsung sementara atau malah tidak ada perubahan sama sekali. Pada akhirnya perselingkuhan menjadi sebuah alternatif lain, ketimbang hidup dalam ketidakbahagiaan, sebuah peristirahatan dari kemelut yang menyusahkan. Dari sinilah kata-kata romatis kadang menjadi kamuflase dari kejenuhan yang mulai mengejala.

  Kita sering mengucap: ‚aku mencintaimu dan tak terbersit

  

sedikitpun dalam akalku untuk menduakanmu karena kamu selalu di

hatiku ‛. Bukan menggeneralisir kadar cinta masing-masing orang

  terhadap pasangannya. Namun jika mau jujur. Sebenarnya banyak yang mengklaim istri/ suaminya selalu dihati. Padahal sebenarnya lebih sering istri/suami mereka sekarang hanya ada di ‚kepala‛ xxii mereka. Karena keinginan bertanggung jawab, agar tidak dipandang sebagai orang kejam yang berkhianat atau yang lebih sering adalah menjaga komitmen. Banyak yang mengatakan bahwa rasa cinta hanya ada saat sepasang kekasih meningkatkan hubungan mereka ke jenjang perni-kahan. Sedangkan dalam kehidupan setelah pernikahan itu berlangsung yang ada hanyalah ‚komitmen‛. Menjaga komitmen pernikahan adalah sebagian besar yang dilakukan pasangan setelah pernikahan mereka.

  Pendapat itu memang tidak sepenuhnya benar tetapi masuk akal. Mengingat manusia dihinggapi kodrat rasa bosan. Tiap hari tinggal satu rumah, ngobrol, bercinta, tidur dengan wanita/pria yang sama. Secantik atau setampan apapun pasangannya, rasa bosan itu wajar ada. Jika sampai rasa bosan itu dipelihara. Apalagi dibumbui sikap kurang bijak terhadap perbedaan-perbedaan yang berujung pertengkaran, itu sangat berbahaya. Pada titik terendah hubungan suami istri ini yang perlu ditanamkan adalah niat untuk menjaga komitmen itu. Itu tindakan minimal untuk kelanggengan pernikahan.

  Sebenarnya rasa cinta itu jangan sampai menipis ditimpa penyakit kebosanan dan perbedaan. Suatu tahap yang sering terlupakan dalam hubungan pernikahan itu adalah rasa kasih sayang yang melebihi rasa cinta. Jika rasa kasih sayang itu dipupuk dan subur maka yang terwujud adalah pasangan kita itu nyata ada di hati. Jika sudah ada di hati maka akan merujuk pula tuntutan bahwa pasangan kita selalu pula ada di kepala. Kita dapat menilai apakah pasangan kita itu ada dihati atau hanya ada di kepala dengan sebuah pertanyaan: ‚Siapkah dan relakah kita kehilangan dirinya dari sudut hati terdalam?‛ Jika seseorang sama sekali tidak xxiii memiliki rasa sedih ataupun takut kehilangan pasangannya. Meski ia adalah orang setia selama ini, maka dapat dipastikan bahwa pasangan hidupnya hanya tinggal didalam kepala dan tidak tinggal di hatinya.

  Ketentuan ini tentu saja bukan hanya berlaku dalam perenungan akan pasangan kita. Namun juga sama rasanya untuk sosok-sosok lain dalam hidup kita. Kita dapat jujur mengakui siapa sajakah sosok-sosok yang ada di hati kita ataupun sosok-sosok yang hanya ada di kepala kita. Anak-anak, Orang Tua, Mertua, Saudara ataupun sosok lain yang hadir. Menempatkan sosok-sosok selain istri dan anak-anak di dalam kepala kita mungkin dapat dimaklumi untuk pribadi yang telah dewasa dan mandiri. Namun sebuah sikap hidup yang perlu direnungi jika sampai kita menempatkan pasangan hidup dan anak-anak kita hanya di kepala saja. Tempat yang layak untuk mereka adalah di hati kita.

  Jadi, apakah hal terbaik yang perlu dilakukan dan sadari?. Berikut adalah beberapa saran yang mungkin bisa mencerahkan, diantaranya adalah: Seharusnya lebih berhati-hati memilih pasangan: banyak bencana dapat dihindarkan kalau saja kita lebih berhati-hati. Seharusnya juga lebih memfokuskan pada yang hal- hal yang positif ketimbang negatif. Ingat, umumnya hal yang menyatukan kita adalah hal yang penting sedang hal yang memisahkan kita dan membuat kita bertengkar terus adalah hal yang tidak penting. Seharusnya kita juga lebih memfokuskan perhatian pada pengembangan diri yang sehat, karena diri yang sehat akan menghasilkan komunikasi yang sehat dan relasi yang sehat. xxiv Seharusnya kita juga memberi lebih banyak waktu untuk belajar mengambil keputusan bersama dan memberi lebih banyak waktu untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan konflik, karena di dalam yang benar, ada yang salah dan di dalam yang salah, ada yang benar. jadi, jangan terlalu yakin terhadap kebenaran menurut diri sendiri. Hal lain yang terpenting adalah memahami dan menyampaikan pemahaman adalah separuh jalan menuju perdamaian. Dan menyadari kenyataan bahwa kerugian dari mengalah ternyata tidak seburuk yang dibayangkan dan keuntungan dari kemenangan ternyata tidak semanis yang dibayangkan. Seharusnya lebih membatasi diri dan lebih mengawasi pasangan dalam pergaulan. ingat: rasa ingin tahu melahirkan ingin puas dan ingin puas melahirkan ingin lagi

  Penelitian ini mengajak untuk menyadari bagaimana mencintai dengan hati, ditengah badai kebosanan dan tuntutan untuk mendua. Penelitian ini juga mengajak untuk belajar dari beberapa kisah nyata dari berbagai lembaga konsultasi keluarga di Purwokerto untuk memberikan sedikit pengertian tentang membina hubungan dengan pasangan secara cerdas dan dewasa. xxv

  

Memaknai dan Mempelajari Hidup Melalui Realitas Catatan

Seorang Konselor Oleh: KHOLIL LUR ROCHMAN Dosen Konseling IAIN Purwokerto

  ata siapa konseling itu sulit? Yang penting anda punya keinginan untuk mendengarkan orang lain yang sedang bercerita pada anda. Anda tidak perlu menganalisis dulu,

K

  dengarkan saja dia. Dari mendengarkan itu anda pasti belajar sesuatu. Belajar tentang dirinya, tentang perasaannya, tentang kehidupannya dan tentang hidup. Itulah indahnya mendengarkan. Mungkin yang sulit bukan konseling tetapi menikmati konseling yang pada dasarnya proses mendengarkan aktif. Kita coba telaah bagaimana melakukan konseling dengan menguasai keterampilan mendengarkan aktif.

  Dengan mendengarkan aktif, anda bisa memahami seseorang. Memahami seseorang bukan berarti menyetui apa yang dilakukannya. Misalnya, seorang teman datang pada anda dan mengatakan dia benci pada pasangannya yang menduakan dirinya xxvi sehingga ia ingin balas dendam dengan mempermainkan pria lain supaya tidak hanya dia saja yang sakit hati tapi orang lain juga. Anda bisa memahami dia karena keinginan anda untuk mendengarkan sungguh-sungguh, tapi tidak berarti anda menyetujuinya. Tidak mudah untuk menikmati percakapan jika anda tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh atau aktif. Keterampilan mendengarkan aktif membuat anda bisa menikmati percakapan dengan orang yang sedang bicara dengan anda.

  Ada yang ajaib dalam mendengarkan aktif, yaitu belajar tentang sesuatu, khususnya pengalaman hidup orang tersebut. Pernah suatu ketika, saya mendapatkan seorang klien yang sangat membuat saya terpana dengan kehidupannya. Dia seorang anak SMA yang cool dan pernah jadi ketua OSIS. Ketika dia datang ke saya karena sering datang terlambat, dia bercerita bahwa dia terlambat karena membantu ibunya mempersiapkan diri untuk berjualan nasi uduk sejak ayahnya meninggal dunia. Dia menceritakan, tanpa rasa malu ataupun gengsi sama sekali bagaimana dia membantu ibunya setiap pagi dan membantu adiknya yang masih kecil untuk berangkat ke sekolah. Anak ini membuat saya belajar tentang perjuangan hidup, tentang kerendahan hati dan tanggung jawab. Satu hal yang penting, Jangan membayangkan bahwa ketika mendengarkan aktif, kita memberikan bantuan berupa nasehat, jalan keluar, solusi dan sebagainya. Bantuan yang kita berikan adalah telinga, waktu, hati dan pikiran kita. Orang yang kita dengarkan akan terbantu, karena begitu banyak orang yang tidak pernah didengarkan orang lain, seumur hidupnya. xxvii

  Hal hal diatas penting untuk diperhatikan selain teknik mendengarkan aktif yang menjadi dasar dari teknik konseling. Mendengarkan dengan penuh kesungguhan tanpa bermaksud menggurui, menilai, memaksakan kehendak akan membantu anda untuk mengerti orang yang anda ajak bicara, menikmati percakapannya, belajar sesuatu dan pada akhirnya memberikan bantuan pada orang itu berupa perasaan lega, rileks dan nyaman karena ada yang mengerti dan memahami, ketegangan yang turun karena ada orang yang menyediakan telinga dan hatinya bagi dia. Itu semua adalah akibat positif dari mendengarkan aktif. Jadi, mendengarkan aktif bisa dipelajari, dilatih dan dilakukan setiap kali kita melakukan konseling.

  Ketika saya memulai karir sebagai konselor tidak pernah terbayang bahwa kehidupan saya begitu kaya. Kaya atas pengalaman orang lain yang mengalami masalah, kaya karena mendengarkan orang lain yang datang pada saya, kaya karena saya belajar tentang kehidupan itu sendiri. Ternyata saya kaya karena saya mendengarkan mereka. Mendengarkan membuat saya merasa hidup menjadi indah. Saya mudah bersyukur pada Tuhan karena hidupku tidak sesulit kehidupan klien saya yang menceritakan kehidupan dan persoalannya. Hidup saya menjadi lebih bermakna karena saya bisa melakukan sesuatu untuk para klien saya dengan mendengarkan. Makna itu semakin terasa karena saya merasakan betapa Tuhan sungguh baik.

  Karena saya sering mendapatkan klien pasangan suami istri yang memiliki persoalan dalam pernikahannya, maka kehidupan pernikahan sayalah yang sering saya refleksikan. Ketika seorang istri datang dengan mengeluh bahwa suaminya tidak pernah bisa xxviii memahami dia, saya mencoba mendengarkan dengan hati dan pikiran saya, apa yang sesungguhnya terjadi dengan dia? Suaminya mengatakan hal serupa, istrinya tidak bisa mendengarkannya dan tidak pernah menghargainya. Tuntutan demi tuntutan menjadi kesehariannya. Suami ini juga merasa bahwa istrinya tidak menghormatinya karena seringkali melakukan semua kegiatannya tanpa mengkomunikasikan kepadanya. Pasangan ini datang cukup sering ke tempat praktek konseling saya. Kehadiran mereka memang membuat saya bekerja keras untuk memahami persoalan hidup pernikahan mereka serta karakter masing-masing. Namun selain memahami karakter mereka, sayapun belajar sesuatu dari mereka, kehidupan perkawinan saya sendiri.

  Dari pasangan ini saya melihat ke dalam kehidupan saya. Apakah saya setia dan menghormati pasangan saya walaupun saya juga sering merasa tidak puas padanya? Nampaknya saya memang harus bercermin bahwa kebahagiaan perkawinan bukanlah sekadar anugerah dari Tuhan, tapi harus diperjuangkan. Tuhan sudah membantu saya mengambil keputusan penting dalam hidup ini yaitu menikah. Namun, apakah kami berdua menikmati setiap anugerahNya dan merasakan kebahagiaan dalam perkawinan? Saya harus terus merefleksikannya. Pengalaman para klien saya membantu saya dalam proses refleksi tadi. Dengan mendengarkan mereka, saya mencoba belajar untuk melihat apa yang masih harus saya perjuangkan dalam pernikahan saya sendiri.

  Mendengarkan dalam konseling merupakan inti dari konseling itu sendiri. Tidak mungkin ada solusi sebuah masalah yang diperlukan oleh klien kalau saya sebagai konselor tidak mendengarkan. Kedewasaan hidup menjadi seorang konselor juga xxix bukan karena sudah berapa tahun saya hidup, tapi karena sudah berapa banyak pengalaman hidup orang-orang yang saya dengarkan di ruang konseling. Kekayaan yang saya sebut di ataslah yang membuat hidup ini menjadi semakin indah. Saya memang bersimpati pada semua klien saya, tapi terlebih lagi saya belajar menikmati semua proses konseling itu karena saya belajar sesuatu dari mereka. Mungkin terdengar agak aneh bahwa sesungguhnya saya berterimakasih pada mereka karena merekalah yang membantu saya menghargai pasangan saya, anak-anak saya, orang tua saya, pekerjaan saya dan akhirnya hidup saya.

  Dari para klien yang datang ke ruang konseling inilah saya melihat bahwa tidak ada manusia yang tidak mengalami masalah dalam hidupnya. Pertanyaannya bagaimana manusia melihat pengalaman hidup dan segala pernik persoalannya sebagai sumber makna hidupnya atau sebaliknya sebagai hanya sekadar masalah yang membuatnya membenci hidupnya atau lebih ekstrim lagi membenci Tuhan yang kata mereka, telah membuat hidup mereka berantakan. Saya tidak pernah mau menyalahkan hidup saya, apalagi Tuhan. Bagaimana mungkin, ketika saya sedang mengalami masalah dalam pekerjaan, dengan pasangan, dengan mertua, keluarga, maka praktek konseling atau cerita-cerita klien sayalah yang akhirnya memberikan perspektif lain memandang kehidupan saya. Hidup saya menjadi lebih bermakna, seperti yang dikatakan oleh Frankl, bahwa sumber makna hidup juga dapat kita peroleh dari apa yang kita ‘ambil’ dari dunia ini (experiential values), nilai-nilai pengalaman. Memaknai pengalaman dengan alam semesta, dengan orang lain, dengan Tuhan. xxx Melalui perjumpaan dengan para klien saya, yang kebetulan datang dengan persoalan rumah tangga dan pernikahan, maka saya tidak terlalu mudah menyalahkan Tuhan atas masalah perkawinan saya. Saya mencoba untuk melihat bahwa perkawinan saya memang tidak sempurna, tapi setidaknya, saya merasa lebih beruntung dari para klien yang pada akhirnya pernikahannya tidak bisa diselamatkan karena masing-masing tidak mau mencari titik temu. Itu sebabnya saya percaya bahwa mendengarkan itu adalah proses untuk belajar tentang hidup. Mendengarkan memang indah, seindah hidup ini.

  Purwokerto, September 2015 Penulis xxxi

  PENGANTAR EDITOR

  MENCINTAI DENGAN HATI: Mempertegas Asumsi atau Mencari Solusi atas Anggapan bahwa Manusia Dihinggapi Kodrat Rasa Bosan ................................................................................ v

  PENGANTAR PENULIS

  INDAHNYA MENDENGARKAN: Memaknai dan Mempelajari Hidup Melalui Realitas Catatan Seorang Konselor ............................................................................................ xxvi

  

DAFTAR ISI ................................................................................... xxxii

EXECUTIVE SUMMARY

  MENGEMAS KEBOSANAN PASCA-MENIKAH: Sebuah Cerita dan Tausiyah Singkat ................................................................. 1

  BAB 1 Pendahuluan ....................................................................................... 27 A. Latar Belakang Masalah ............................................................ 27 B. Pokok Permasalahan ................................................................. 50 C. Tujuan Penelitian....................................................................... 51 D. Signifikasi Penelitian ................................................................. 51

  xxxii

  xxxiii Kerangka Teoritik ..................................................................... 52 E.

  Tinjauan Pustaka ....................................................................... 54 F.

  BAB II Konseling Perkawinan dan Keluarga: Sebuah Penjelajahan

Teoritis ................................................................................................ 58

Substansi Menikah: Tidak Semata Mengejar A. Kesenangan dan Kenikmatan Melainkan Juga Tangung jawab dan Pengorbanan ........................................... 60 Memahami Konsep Konseling Perkawinan: Belajar B. Memaknai Perasaan dan Berempati dengan Hati .................. 68 Konstruksi Konsep Konseling Keluarga: Tinjauan C. Kritis Terhadap Teori.............................................................. 121 BAB III Metodologi Penelitian ..................................................................... 158 Lokasi Penelitian ..................................................................... 158 A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ............................................ 159 B. Subjek Penelitian ..................................................................... 160 C. Sumber Data ............................................................................ 160 D. Metode Pengumpulan Data ................................................... 161 E. Metode Analisis Data.............................................................. 162 F. BAB IV Menikmati Kebosanan Pasca-Menikah: Studi Kasus di

Beberapa Biro Konsultasi Keluarga di Purwokerto..................... 164

Kodrat Kebosanan: Perspektif Konselor ............................... 182 A. Sebab dan Tanda Munculnya Rasa Bosan ............................ 205 B. Solusi terhadap Kebosanan: Perspektip Konselor ................ 215 C.

  BAB V Sedikit Tausiyah dan Cerita Singkat: Sebagai Kesimpulan

Akhir .................................................................................................. 251

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 266

  xxxiv

  

MENGEMAS KEBOSANAN PASCA-MENIKAH

Sebuah Cerita dan Tausiyah Singkat

Abstrak

  Pernikahan adalah suatu bentuk kerjasama antara suami dan istri namun tidak selamanya suatu pernikahan berjalan dengan mulus. Selalu ada pasang surut yang terjadi. Karena itu dibutuhkan kedewasaan kedua belah pihak untuk mengatasi semua masalah yang dapat timbul kapan saja di dalam rumah tangga Anda. Namun kadang kala suami atau istri kurang bekerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah atau malah cenderung untuk memperkeruh suasana. Situasi yang demikian dapat membuat pernikahan menjadi tidak sehat. Hubungan yang kondisinya tak sehat tersebut, jika didiamkan, akan menjadi sakit parah. Seperti rasa jenuh terhadap situasi di dalam rumah tangga Anda yang terlalu monoton, sehingga timbullah rasa kebosanan. Kebosanan berhubungan erat dengan tujuan hidup. Makin jelas dan bermakna tujuan hidup, makin mudah kita mengatasi kebosanan. Sebaliknya tanpa tujuan hidup yang jelas dan bermakna, makin sukar kita melawan kebosanan. Kita harus menjalankan roda kehidupan sesuai dengan arah tujuan hidup; kita mesti mengatur dan merencanakan aktivitas dalam hidup untuk mencapai tujuannya

  Kata Kunci: Pernikahan, Permasalahan dan Kebosanan Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  Saat pernikahan terjadi, awalnya adalah saat-saat paling indah, dan lambat laun bisa menjadi saat-saat paling buruk dalam sejarah hidupnya jika kedua insan yang menikah tidak bisa mensikapi perbedaan dengan bijaksana dan tidak bisa memaknai pernikahan dengan hati dan pikiran yang jenih. Maka wajar apabila ada rumusan 3 sampai 4 tahun pertama pernikahan adalah cinta, selanjutnya adalah pengertian. mengerti akan kelebihan dan kekurangan. Apabila pada 4 tahun selanjutnya masih menuntut cinta tanpa mengerti, itulah perceraian

  1

  . Hubungan pernikahan yang mulai hambar seringkali tak disadari pasangan. Terutama setelah pernikahan berjalan lebih dari 5 tahun. Tak jarang, banyak yang mencari jalan pintas dengan berselingkuh

  2

  . Mencari WIL atau PIL wanita atau pria idaman lain. Di Amerika, sebuah survei dari Pew Research Center menemukan, 40 persen responden 1 Ahmad Mubarok. (2002). Konseling Perkawinan. PT. Bina Rena Pariwara

  Cetakan ketiga Tahun 2002, hlm. 12 Lihat juga Ali Qaimi. (2007), terjemahan:

Abu Hamida MZ. Pernikahan: Masalah & Solusinya. Jakarta: Cahaya, hlm. 76

2 Lafal selingkuh berasal dari Bahasa Jawa yang artinya perbuatan tidak jujur, sembunyi-sembunyi, atau menyembunyikan sesuatu yang bukan haknya.

  Dalam makna itu ada pula kandungan makna perbuatan serong. Meskipun demikian lafal selingkuh di Indonesia muncul secara nasional dalam bahasa Indonesia dengan makna khusus hubungan gelap atau tingkah serong orang yang sudah bersuami atau beristri dengan pasangan lain. Lafal selingkuh kemudian menjadi terkenal dengan makna hubungan gelap orang yang sudah bersuami atau beristri dengan pasangan lain sebelum kematian Lady Diana, yang Diana sendiri pada waktu itu masih bersuamikan Pangeran Charles membeberkan hubungan gelapnya dengan lelaki lain. Hubungan gelap itulah yang di media massa Indonesia diterjemahkan dengan perselingkuhan. Sehingga begitu bahasa Jawa selingkuh ini mencuat jadi bahasa Indonesia tahun 1995-an, langsung punya makna lain (tersendiri) yaitu hubungan gelap ataupun perzinaan orang yang sudah bersuami atau

beristri. Ini satu perpindahan makna bahasa serta budaya bahkan ajaran. menyatakan perkawinan adalah "lembaga yang sudah usang" dan menjadi "sumber kebosanan". Sementara studi terbaru atas pasangan usia 18-29 menemukan, pasangan kini lebih menganggap penting "menjadi orangtua yang baik, ketimbang "memiliki perkawinan yang baik".

  Sebuah perkawinan yang mulai goyah ditandai dengan perasaan biasa kepada pasangan, gairah menurun dan konflik yang rendah, namun disertai rasa puas yang rendah pula. Pada perkawinan yang terasa hambar, stabilitas yang ada terasa salah dan tidak nyaman. Kita merasa ada hal yang serius dalam perkawinan walaupun tak ada konflik yang serius. Survei terhadap 3.341 orang yang dilakukan Kristen Mark of The Kinsey Institute for Research Sex, Gender and Reproduction menemukan, 25 persen pasangan yang terikat pernikahan monogami mengakui berada diambang kebosanan. Menurut lan Kerner, penulis buku Love in the

  

time of Coiic A New Parents Guide to Getting It On Again, "bukan

  sebuah kebetulan, satu dari lima orang yang setia pada pasangan didera rasa bosan". Dari survey di atas juga ditemukan sebagian besar wanita yang berada dalam pernikahan hambar mengaku

  3 merasa kesepian, sedangkan pria mengaku terperangkap .

A. Cerita tentang Kebosanan dalam Rumah Tangga

  Dalam buku ‚A Philosophy of Boredom,‛ Lars Svendsen mengemukan bahwa konsep ‘menarik’ (‘interesting’) muncul 3 kurang lebih pada saat yang bersamaan dengan berkembangnya

  Abu Azzam Abdillah. (2007). Agar Suami tak Berpoligami: Meraih Simpati Suami Tanpa Menentang Syari. Bandung: Iqomatuddin Press, hlm. 34

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah konsep ‘individualisme’. Manusia mulai memilah-milah apa yang menarik dan yang tidak menarik. Menyenangkan dan tidak menyenangkan. Enak dan tidak enak. Demikianlah manusia mulai mencari apa yang menarik, menyenangkan, dan enak bagi mereka. Dengan konsep yang baru ini mereka memperjuangkan hak memperoleh kebahagiaan dan hak untuk terus dipenuhi kebutuhannya. Maka kebosanan pun terjadi ketika hal-hal yang ada tidak lagi memuaskan mereka. Dengan kemajuan teknologi, manusia yakin bisa menemukan apa yang mereka cari. Mereka menciptakan berbagai macam sarana untuk memuaskan keinginan dirinya. Semakin lama semakin cepat, semakin banyak, semakin bervariasi. Tapi nyatanya, keinginan manusia berevolusi jauh lebih cepat lagi. Satu hal yang menarik yang diungkapkan oleh Patricia M. Spacks adalah bahwa selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, faktor ketiga yang berandil besar memperkuat kebosanan masal ini adalah hilangnya pengaruh agama dalam masyarakat.

  Jika begitu kenyataannya maka tidak aneh apabila kita melihat lelaki yang mengkhianati istri atau kekasihnya, yang kelihatannya begitu sempurna: cantik, pinter, pokoknya segalanya yang membuat dia menjadi impian setiap lelaki. Ketika ditanya, dengan entengnya dia bilang, ‚Sapa bilang sop buntut ngga enak. Tapi sesekali pengen juga makan ikan asin pa ke sambel terasi.‛ Jawaban ini membawa pesan tentang kebosanan. Kadang, seorang lelaki tidak bisa memberikan alasan yang kuat, bahkan alasan apapun4, untuk berkhianat. Perempuan juga sama, tapi 4 frekuensinya jauh lebih kecil

  Ketika engkau mencintaiku, engkau menghormatiku. Dan ketika engkau membenciku, engkau tidak mendzalimiku. (Dr. Ramdhan Hafidz). Dari

  5 Terkadang, pernikahan terasa membosankan karena kita

  menetapkan standar yang terlalu tinggi, bahwa pernikahan akan

  sinilah saya teringat kisah temen saya dan istrinya. Aku masih ingat saat malam pertama kita, saat itu engkau mengajakku shalat Isya’ berjamaah.

Setelah berdoa engkau kecup keningku lalu berkata: ‚Dinda, aku ingin engkau menjadi pendampingku Dunia- Akhirat‛. Mendengar ucapan itu

  akupun menangis terharu. Malam itu engkau menjadi sosok seperti sayyidina Ali yang bersujud semalam suntuk karena bersyukur mendapatkan sosok istri seperti Siti Fatimah. Apakah begitu berharganya aku bagimu sehingga engkau mensyukuri kebersamaan kita? Malam itu, aku tidak bisa mengungkapkan rasa syukurku ini dengan ucapan. Aku hanya bisa mengikutimu, bersujud di atas hamparan sajadah. Tanpa bisa aku bendung, air mata ini tiada hentinya mengalir karena mensyukuri anugerah Allah yang diberikan padaku dalam bentuk dirimu. Akupun berikrar, aku ingin menjadi sosok seperti Siti Fatimah, dan aku akan berusaha menjadi istri sebagaimana yang engkau impikan. Tidakkah kita merindukan suasana 5 seperti itu Kebosanan merupakan keadaan jiwa yang mengganggu manusia dalam berbagai tingkat. Sebagian orang hampir tidak pernah merasakan kebosanan, sementara yang lainnya merasa kebosanan merupakan ciri pembawaannya. Yang terakhir mungkin mempunyai segalanya —kekayaan, kekuasaan, bahkan kesuksesan namun tetap merasakan kebosanan. Mereka melihat hidupnya hampa, diisi dengan pekerjaan rutin dan kurang mempunyai arah hidup. Mereka berusaha mengatasi kebosanan dengan melakukan hal-hal yang kurang pantas seperti berpakaian menyolok atau tata rambut yang seronok, berjudi, terlibat pencurian dan perkelahian yang memalukan, yang sesungguhnya hanyalah untuk menciptakan kesenangan dalam hidup mereka. Tetapi karena mereka asyik dengan diri mereka sendiri dan keinginan yang serakah, untuk mengalihkan usaha mereka ke arah kebaikan, namun kebosanan itu tetap berlanjut tanpa mereda. Seperti suatu usaha yang sia-sia, mencoba menimbun jurang tanpa dasar dengan segenggam batu kerikil. Kadang-kadang keluar dari jurang kebosanan,orang beralih pada alkohol untuk menghilangkan kebosanan maupun kesepian mereka. Sayangnya alkohol tidak dapat membersihkan kesulitan seseorang; malah hanya memperburuk persoalan, bagaikan menuang bensin ke dalam api, Imam Subarno (2004), Menikah Sumber Masalah, Yogyakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. 45.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah memberi hal yang banyak dalam pernikahan. Banyak pasangan yang terjebak dengan harapan dan romantisme pasca-pernikahan. Saat mengalami bosan dalam pernikahan, mereka lebih memilih berselingkuh karena lebih menantang. Banyak orang merasa tergoda untuk berpetualang secara seksual setelah menikah. Penyebab yang tersering adalah kebosanan seksual, emosional atau keduanya. Manusia secara alami tertarik dengan variasi dan perubahan. Bagi yang memilih terikat dalam hubungan perkawinan karena banyak alasan, misalnya rasa aman, tetapi dengan mengambil keputusan tersebut, mereka juga membatasi

  6

  pilihan . Semakin panjang usia seseorang, semakin tinggi harapan seksual dan emosional. Sangat kecil kemungkinannya orang yang tinggal bersama selama lebih dari sepuluh tahun tak pernah dihinggapi kebosanan.

  Bagi banyak orang, terutama mereka yang mempercayai ungkapan romantis tentang apa yang akan diberikan cinta atau

  7

  perkawinan, akan cepat kecewa . Ketertarikan menghilang, kebosanan timbul. Wajah yang gembira, sentuhan yang menggetarkan, dan kepribadian yang menarik, akhirnya semata- mata menjadi kenyamanan. Seks menjadi rutin dan mekanis. Sebagian orang sedih atas kehilangan itu. Sebagian lainnya 6 berpetualang. Sebagian lagi berhasil menemukan cara baru untuk

  Bimo Walgito.(1984). Bimbingan dan Konseling Perkawinan.Yogyakarta: Yabit Fak. Psikologi UGM, hlm. 34, lihat juga Brammer, Lawrence M.(1979). The Helping Relationship, Process and skills, Prentice Hall Inc.,Englewood Cliffs, 7 New Jersey.

  TO. Ihromi, Bunga Rampai sosiologi Keluarga, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999, hlm, 11. Lihat pula Wimpie Pangkahila. (2006). Seks yang Membahagiakan: Menciptakan Keharmonisan Suami Istri. Jakarta: Kompas, hlm.

  76 saling menggembirakan pasangan. Umumnya, orang percaya bahwa penangkal kebosanan cuma seksual seperti posisi yang bervariasi, teknik baru, sex toy, dan video. Sebagian orang melangkah lebih jauh lagi. Mereka yakin getaran dapat diperoleh dengan cinta yang baru. Mendapatkan kegembiraan dari hubungan yang lama masih mungkin dilakukan, tetapi juga memerlukan perhatian terhadap masalah nonseksual yang dialami pasangan saat hidup bersama.

  Persoalan-persoalan ini muncul karena setelah menikah biasanya kita sudah lupa dengan saat-saat romantis yang tetap perlu dibina. Mungkin di saat pacaran kita begitu perhatian, romantis pada pasangan kita. Setelah menikah hal-hal yang pernah dilakukan selama pacaran sudah dilupakan karena beranggapan tidak diperlukan lagi. Ada banyak alasan orang untuk tidak romantis terhadap pasangannya, ada yang malu dilihat anaknya, ada yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, malu pada pembantu dan lain-lain. Yang terjadi kemudian adalah rasa bosan yang umumnya terjadi di setiap hubungan suami istri yang telah lama menikah. Biasanya karena setiap hal yang dilakukan sudah menjadi suatu kebiasaan, mulai dari bangun pagi sampai beristirahat di malam hari. Hal itu otomatis membuat mereka tidak merasakan ada yang spesial lagi, sehingga ada ungkapan setelah menikah tidak ada yang berubah, yang terjadi hanyalah pengulangan- ulangan yang klimaknya mengangggap pernikahan hanya sekadar

  8 8 kebodohan untuk menghadapi kebosanan .

  Saat seseorang mencari pasangan, ia harus menyadari bahwa tidak ada orang yang sempruna; setiap orang pasti mempunyai kesalahan dan kelemahan. indahnya pernikahan justru kala menemukan suami atau istri yang dapat

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Tentu saja kebiasaan dan rutinitas dapat membunuh kerinduan suami terhadap istri. Untuk itu, harus ada dinamika agar tak ada kebosanan rumah tangga. Agar hubungan intim tidak semakin hambar dan hanya dianggap sebatas kewajiban. Yang perlu diperhatian di sini, kita tidak harus membahas kejenuhan seksual secara berlebihan, karena kehidupan rumah tangga bisa dinamis dan tetap menyenangkan. Kejenuhan temporal dalam rumah tangga tidaklah membawa masalah apa pun. Tapi kalau ia semakin bertambah dan hampir menjadi fenomena, maka tak ada jalan lain kecuali mengubah segala sesuatunya.

  Dari sisi psikologis, satu hal yang perlu diingat bahwa secara naluriah setiap manusia senantiasa merindukan untuk memiliki apa yang belum dimilikinya. Ketika membayangkan sesuatu yang dia dambakan dia merasa sangat bahagia seakan-akan telah memilikinya, sehingga untuk mencapai apa yang diinginkan itu, orang berupaya keras mati-matian. Anehnya, ketika yang didambakan itu telah dia miliki, lama kelamaan, seiring dengan perjalanan waktu, perhatiannya terhadap yang telah dimilikinya itu semakin memudar dan bahkan pada suatu waktu ia bosan terhadap yang dulunya sangat dirindukannya itu. Lalu, keinginananya kemudian berpindah lagi kepada lainnya yang

  menjadi teman dalam pencarian spiritual, mitra membangun hidup, dan pelipur meskipun dia mempunya kelemahan. Menjadi suami atau istri yang baik bukanlah hal yang mudah, menjaga keseimbangan antara deskripsi masing-masing. karena menjaga kebahagiaan rumah tangga itu sangat rumit, tiap pasangan suami-istri haruslah mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan itu dan memahami realitas tersebut sebelum menikah, Dadang Hawari (2006). Marriage Counseling (Konsultasi Perkawinan). Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, hlm. 49. Lihat juga Elida Prayitno, Konseling Keluarga, Padang: FIP Universitas Negeri Padang, hlm. 23 belum dimilikinya. Dari sinilah kebosanan itu muncul. Yang membuat pernikahan bahagia bukan tingkat kecocokan kita dengan pasangan, tetapi seberapa besar kemampuan dan kesediaan kita

  

9

  untuk mengatasi ketidakcocokan . Cinta mungkin terlihat ideal, tetapi sesungguhnya pernikahanlah yang benar-benar aktual. Ketidakjelasan antara yang ideal (apa seharusnya) dan yang aktual (apa adanya) memang tak pernah berujung. Statistik memperlihatkan perlunya menemukan kiat menempuh pernikahan yang sukses. Mengajukan pertanyaan yang tepat kepada pasangan bisa menjadi alternatif solusi melanggengkan perkawinan yang sehat, serasi dan bahagia. Memperhatikan saran orang lain sebelum dan sesudah menikah sangatlah membantu.

  Rasa bosan pasti pernah singgah dalam kehidupan rumah tangga kita, bahkan mungkin suatu waktu akan datang kembali. Perasaan bosan itu ibarat gelapnya malam yang memang harus kita lalui untuk kemudian kita menikmati indahnya pagi dan hangatnya mentari. Rasa bosan dalam kehidupan berumah tangga adalah wajar, mengingat memang tidak ada yang sempurna dalam kehidupan di dunia ini. Maka, setinggi apapun prestasi, kebaikan, atau keistimewaan, selama masih ada di dunia, pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Artinya, seistimewa apapun pasangan hidup kita, pasti punya kekurangan. Akibatnya, kebosanan- 9 kebosanan menyergap kehidupan rumah tangga. Tiba-tiba kita

  James T Burtchaell (1990), Keputusan untuk Menikah: Kenapa Harus Seumur Hidup?, Terj. Petrus Bere, Yogyakarta: Kanisius, hlm, 56.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah merasa bosan pada keadaan rumah, bosan terhadap penampilan pasangan, bosan terhadap keadaan anak-anak, atau bosan menghadapi segala permasalahan rumah tangga. Rumah tangga yang sudah disergap kebosanan biasanya diwarnai dengan sikap yang serba tidak maksimal. Suami tidak maksimal mengelola ke- qawaman-nya dalam rumah tangga sehingga berimbas kepada sikap istri yang juga tidak maksimal dalam melayani suami, juga dalam menjaga amanah rumah dan anak-anak. Bisa jadi, suami-istri pun tidak maksimal mengekspresikan rasa cinta kasihnya. Akibatnya, muncul ketegangan atau bahkan sikap apatis, suami- istri berjalan sendiri-sendiri mengikuti idealisme masing-masing.

  Ada suatu masa dalam perkawinan timbul perasaan tidak puas terhadap suami/istri kita, yang mungkin muncul karena tidak mampu memahami kekurangan ataupun perbedaan yang terjadi dengan pasangan kita. Perasaan yang jika tidak dapat dikontrol dengan baik akan menjadi bahaya laten yang akan menghancurkan rumah tangga kita. Sering kita mendengar ada perkawinan yang baru beberapa bulan dijalani, kemudian berakhir dengan perceraian. Kadang ada yang berpendapat

  ‚Mencintai hingga

terluka‛, mungkin itulah pernikahan. Kalau ada yang mengatakan

  "Akhirnya mereka menikah, dan hidup berbahagia selamanya..." itu hanya ada di dongeng. Sah menikah itu baru awalnya saja sedangkan bahagia selamanya itu adalah usaha yang keras dari

  10 10 kedua belah pihak Kadang masalah yang timbul bukanlah Menikah secara mudah diartikan sebagai persatuan dua pribadi yang berbeda. Konsekuensinya, akan banyak terdapat perbedaan yang muncul saat menjalani perkawinan. Satu hal yang sering kurang disadari oleh orang yang menikah adalah bersatunya dua pribadi bukanlah persoalan sederhana.

  Setiap orang mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri dan latar belakang yang masalah yang prinsip. hanya cara kita bicara, atau mencuci baju, cara menyapu, cara makan, bahkan cara "ngunyah" makanan bisa membuat suasana jadi tidak enak.

  Sebagian orang ada yang merasa heran, kenapa cara mencintai setelah menikah rasanya tak seindah cinta remaja yang masih pacaran?. Model cinta atau lebih tepatnya pola hubungan pasangan sebelum menikah dan yang sudah menikah tentulah berbeda. Sebelum menikah, pola hubungannya lebih tertutup karena memang aspek gengsi atau ketidakinginan dicela lebih dominan. Akibatnya, dalam banyak hal, kedua belah pihak cenderung bersikap defensif. Seperti perang dingin, masing-masing lebih banyak menutupi kelemahan dan memamerkan kekuatan. Tidak heran kalau kemudian yang tampak hanya yang indah-indah saja. Disamping juga, ada andil setan yang mengipasi imajinasi dan perasaan. Adapun setelah menikah, polanya adalah pola hubungan terbuka. Bahkan sangat terbuka. Diksi dalam al Quran sendiri sangat tepat dalam menggambarkan pola ini dengan mewakilkan kata ‚afdha‛ untuk menjelaskannya (QS. An Nisa’ 21). Para ulama memang menafsirkannya dengan ‚jima’‛ atau hubungan badan.

  seringkali sangat jauh berbeda, entah latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal ataupun pengalaman pribadinya selama ini. Oleh karenanya perkawinan adalah proses untuk menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut. Berdasar itulah, kesuksesan perkawinan ditandai bukan hanya oleh berapa lama hubungan tersebut terjalin, tapi juga intensitas perasaan yang dialami dua orang yang menjalin relasi perkawinan. Bisa saja di tahun ke-5, proses sharing sudah enggak jalan. Yang ada cuma kekesalan dan kekecewaan. Perkawinan tidak lagi nyaman, tinggal tunggu satu pemicu saja, maka semuanya akan berakhir, Sayekti Pujosuwarno, 1994. Bimbingan Dan Konseling Keluarga. Yogyakarta: Menara Mas Offset, hlm 33, lihat pula Sikun Pribadi dan Subowo. (1981). Menuju Keluarga Bijaksana, Bandung: Yayasan Sekolah Istri Bijaksana, hlm. 23

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Tapi kalau kita renungi, dari segi bahasa ‚Afdha‛ itu berasal dari kata dasar yang bermakna ‚ lapang, atau luar angkasa‛ (fadha’) yang menggambarkan keterbukaan yang sangat luas. Ketika suami istri telah berjima’, berarti keduanya benar-benar telah membuka diri. Setelah menjadi suami istri, masing-masing tak merasa gengsi lagi jika hal-hal yang dulu mereka tutupi diketahui pasangannya. Suami tak gengsi lagi mengaku bokek alias tak punya duit. Istri pun tak malu lagi ketika suaminya tahu, ternyata tidurnya usil. Suka sikut sana tendang sini, misalnya.

Pada ‚era keterbukaan‛ ini, atsmosfir hubungan tentu akan berubah. Perlu sikap dan mental dewasa untuk menghadapinya

  Pasalnya, seperti kita tahu, ada banyak hal yang jika telah terbuka dan berlalu cukup lama akan menjadi hambar, membosankan dan basi. Pasangan kekasih yang secara prematur menghadirkan era ini sebelum menikah, hubungan mereka banyak yang cepat basi setelah menikah. Padahal sejatinya, inilah musimnya cinta sejati ditumbuhkan. Setelah menikah, pola hubungan yang terjadi semestinya lebih berupa koneksi antar hati. Hubungan hati yang didasarkan pada keinginan untuk berkomitmen, saling memberi, menerima, menguatkan dan kesadaran bahwa inilah salah satu

  

11

11 pintu untuk meraih ridha-Nya . Bukan lagi berdasarkan fisik Selain hal diatas ketaqwaan juga menjadi hal penting. Hendaklah pasangan suami istri mampu menjadikan ketaqwaan sebagai pondasi dasar pernikahan mereka. Adanya ketaqwaan mampu melahirkan ketenangan jiwa pada masing-masing diri suami maupun istri karena masing-masing dari mereka sama-sama cinta dan takut kepada Allah. Dengan begitu masing-masing akan berusaha menjaga diri dari perbuatan buruk atau tercela, baik yang terjadi di dalam maupun luar rumah sehingga hal-hal menyimpang yang mampu menciptakan kisruh dalam rumah tangga dapat diminimalisir.

  Bukankah kisruh dalam rumah tangga selalu disebabkan oleh hal-hal tercela semata, sebagaimana yang terjadi sebelum menikah. Fisik memang menjadi media, tapi asalkan jalinan hatinya baik dan kuat, banyak pasangan yang mampu bertahan meski kekasihnya berubah secara fisik.

  Cinta pada masa ini adalah cinta yang harus diusahakan agar mewujud dan dipelihara agar tidak layu. Bukan cinta yang tiba-tiba ‚jatuh‛ ke hati yang seakan-akan merupakan anugerah yang ada begitu saja. Tidaklah salah kalau orang mengatakan, ‚Lebih penting mencintai orang yang dinikahi daripada menikahi orang yang dicintai‛. Artinya cinta kepada suami atau istri adalah cinta yang wujudnya kata kerja ‚mencintai‛ dan menjadi pekerjaan yang terus menerus dilakukan. Lebih dari sekadar objek berupa perasaan suka yang bercokol di dada. Jadi, kalau kita menyadari hal ini, perubahan pola hubungan itu insyaallah bukan masalah. Yang masalah adalah apabila kita masih saja terjebak angan-angan romantis yang memang hanya berupa angan, atau masih saja terkungkung nostalgia masa lalu. Enggan membangun cinta sejati yang sebenarnya jauh lebih indah, lebih damai dan lebih nyata wujudnya.

  Hanya saja, secara jujur harus diakui bahwa menyemai cinta sejati tak semudah menanam singkong. Membangun cinta dalam rumah tangga tidak sama dengan membangun rumah, menata bata di atas bata. Bisa diukur dan diprediksi secara presisi segala akibat dan kemungkinannya. Tapi, membangun cinta dalam rumah

  yang dilakukan baik oleh suami atau istri maupun kedua-duanya? lalu bagaimana tidak padam api kekisruhan tersebut jika suami istri selalu mampu dan kompak untuk menghadirkan mata air ketaqwaan yang mampu mematikan api kekisruhan serta segar lagi menyejukan suasana

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah tangga adalah aktifitas paling nyeni di dunia karena dipenuhi berbagai kemungkinan yang tak terduga. Dan, semua sangat riil. Ada kompensasi maupun konsekuensi yang nyata. Berbeda dengan aktifitas membangun cinta saat pacaran yang kebanyakan seperti bermain game. Bisa curang, bahkan memutusnya saat permainan sedang seru-serunya pun tak akan membawa dampak berarti bagi pelakunya. Meski tidak mudah, tapi bukan berarti hal itu tidak bisa dilakukan. Kata pepatah, tidak ada orang yang tidak layak mendapat cinta. Yang ada hanyalah orang yang tidak bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain cinta kepadanya. Maka dari itu marilah senantiasa belajar. Belajar untuk menjadi pecinta sejati dan belajar menjadi orang yang layak mendapat cinta sejati.

  Banyak hal yang membuat pasangan harus bisa belajar bersabar untuk menerima dan melengkapi kekurangan masing-

  12

  masing . Tidak seperti masa pacaran, yang bisa tidak mengangkat telpon, atau tidak mau keluar kamar saat lagi berantem, setelah menikah, mau tidak mau, suka tidak suka, malam harinya tetap harus tidur di ranjang yang sama. Kalau ingin menyimpan marah sampai besok paginya dijamin tidur malam ga nyenyak, karena hati gelisah. Jadi, mulailah pembicaraan dan minta maaf, tidak peduli salah atau tidak, karena itulah pernikahan. Tidak akan ada yang menang atau kalah, yang ada dua-duanya terluka, jadi jalan terbaik adalah menyelesaikannya. Tapi, seperti lautan yang ada pasang surutnya, begitu juga sebuah pernikahan. Ada "saat tertentu" kita 12 harus berhadapan dengan masalah, tapi bukankah masalah itu

  

Sawitri Supardi Sadarjoen.(2005). Konflik Marital: Pemahaman Konseptual, Aktual, dan Alternatif Solusinya. Bandung: Refika Aditama, hlm. 56 hanya datang pada "saat tertentu"?. Lebihnya adalah saat-saat bahagia, seperti bangun pagi bisa bercanda dengan muka yang kusut dan mata masih sayu, atau sarapan pagi dengan teh manis karena kesiangan dan tidak sempat masak, atau bisa ngepel rumah bareng-bareng atau jajan makanan pinggir jalan padahal sudah bawa bekal dari rumah, atau masih banyak lagi kebahagiaan dalam pernikahan.

  Yang perlu dipahami bahwa menikah itu adalah proses bersatunya dua insan yang kalau boleh kita umpamakan karakter dan sifat kedua insan itu dengan 10 hal maka di antara 10 hal tersebut hanya ada 3 persamaan selebihnya adalah perbedaan. Karena proporsi perbedaan itu sangat besar, maka peluang untuk terjadi konflik itu juga lebih besar. Dan jika kita tidak bisa mengelola perbedaan itu maka akan berakhir dengan sesuatu yang tidak kita inginkan.

  Bagaimana mengelola perbedaan itu? Terkadang terasa sangat sulit terutama jika ego sudah berada di atas segalanya. Mungkin kita harus sering mengingat bahwa suami/istri kita adalah orang pilihan yang terbaik menurut kita, sehingga sudah selayaknya kita saling mecintai yaitu mengerti orang yang kita cintai tanpa menuntut mereka mengerti diri kita. Kedengarannya memang kurang fair, tapi kalau dipikir lebih jauh jika suami/istri menerapkan hal itu ke masing-masing pasangannya, mama rumah tangga kita akan lebih terasa

  13

  bermakna . Yang menjadi masalah bagaimana kalau kita khilaf 13 atau sulit menerima makna cinta yang seperti itu. Kita mau

  Mahmudah, 2009, Memaknai Perkawinan Dalam Perspekif Kesetaraan Studi Kritis

Hadis-Hadis Tentang Perkawinan, Jakarta: Rajagrafindo Persada, hlm. 21

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah mengerti pasangan kita dengan syarat, pasangan kita juga harus mengerti diri kita. Jika memegang prinsip ini, sementara yang terjadi hanya satu pihak yang selalu mengerti, kalau tidak dewasa dalam menjalaninya maka akan memunculkan banyak masalah dalam rumah tangga.

  Jadi dengan kata lain pernikahan itu seperti suatu keseimbangan, suatu equilibrium di mana harus ada keseimbangan antara dua faktor itu. Perlu diingat bahwa pada dasarnya pernikahan perlu dipupuk, agar kuat dan supaya yang menjalani bisa merasakan keamanan. Rasa aman perlu ditanamkan dan dipupuk dalam pernikahan. Satu hal yang juga perlu dimengerti bahwa, cinta itu bisa padam. Ada orang yang beranggapan dan berharap, sekali mencintai akan selama-lamanya mencintai. Atau

  14

  sekali dicintai selama-lamanya akan dicintai . Kenyataannya tidaklah demikian, kita bisa kurang mencintai dan kebalikannya pasangan kita bisa kurang mencintai kita pula. Kalau cinta itu sampai padam, sulit untuk menghidupkannya kembali. Jauh lebih sulit daripada memupuk hubungan pernikahan agar cinta itu tidak

  15 14 padam . Kita perlu membangun suatu hubungan yang saling Mencintai haruslah berkolaborasi positip dengan kesetiaan. Tipologi kesetiaan salah satunya dapat dimengerti dari kisah seekor anjing dalam film, Hachiko: A Dog’s Story, karya sutradara Lasse Hallstrom dan dibintangi Richard Gere, Joan Allen, dan Sarah Roemer. Lewat film ini kita bisa memetik pelajaran berharga tentang sisi-sisi humanis yang menyentuh hati nurani.

  Sebuah pelajaran tentang cinta dan kesetiaan yang bisa jadi kian tergerus kemajuan zaman. Kisah kesetiaan tanpa pamrih inilah yang ditawarkan

Hachiko: A Dog’s Story, yang diadaptasi dari kisah nyata seekor anjing yang

  15 hidup pada kurun waktu 1930-an di Jepang bernama Hachiko.

  Kadang dipahami kesetiaan itu nggak akan berpaling ke orang lain dengan alasan apapun dari seseorang yang dicintainya. Banyak juga yang bilang kalau kesetiaan itu kunci dari berjalannya sebuah hubungan cinta dua anak mengisi. Maksudnya, mengisi kebutuhan mendasar, sehingga waktu kita diperhatikan dan dicintai, kita merasakan diri ini berharga.

  

C. Sedikit Tausiyah dan Cerita Singkat: Sebagai Kesimpulan

Akhir

  Sedikit tausiyah sebagai penutup, saya teringat sebuah surat dari seorang suami kepada istrinya yang terpisah jauh secara geografis karena tugas negara. Surat itu berisi refleksi terhadap relasi dan perasaan mereka. Surat tersebut berbunyi sebagai berikut:

  Selamat ulang tahun perkawinan istriku, 5 tahun sudah kita bersama mengarungi bahtera kehidupan. Banyak sudah marah, senyum, tangis dan tawa yang kita bagi berdua. dan itu semua belum berakhir, masih banyak derai airmata, tawa terbahak yang akan kita lalui. bukankah kita sudah berikrar untuk selalu bersama? Bukankah hanya kematian yang akan memisahkan kita? Maafkan aku yang masih saja meragukan akan arti dan makna sebuah perkawinan. Kebodohan dan kepicikan yang membuat aku belum sanggup menemukannya. Yang aku tau, aku mempunyai tekad dan niat untuk hidup bersamamu. Tekad yang kadang goyah, walau berhasil lagi kita tegakkan.

  manusia. Banyak yang merencanakan akan setia sehidup semati dengan pasangannya, nggak akan berpaling ke siapapun dalam keadaan apapun. Tapi dalam kenyataannya, nggak gampang untuk terus memegang kesetiaan. Kesetiaan nggak bisa direncanakan. Kesetiaan kadang datang berlawanan dengan apa yang direncanakan.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Anak anak kita menjadikan aku semakin kabur dalam memaknai perkawinan, ketika semua perhatian tercurah kepada mereka berdua, cinta dan perhatian, membuat aku kadang lupa bahwa kamu ada disampingku. Bahkan ketika jarak memisahkan kita, sering aku menelpon hanya untuk berbicara dengan anak anak kita. Maafkan aku istriku, ketika mata ini berani memandang nakal wanita lain yang melintas didepan mata. Kamu tak pernah cemburu, tak pernah marah melihat kedekatanku dengan wanita lain, kadang membuat aku ragu akan cintamu. " Aku percaya penuh kamu" itu katamu selalu bila kutanyakan hal itu. Istriku, malam ini ingin aku memelukmu. Mengatakan bahwa sepanjang jalan hidup kita kedepan, masih banyak yang harus kita tautkan. Masih banyak tekad dan niat yang harus diwujudkan. Selamat tidur, peluklah anak anak kita dengan mesra, tegarkan mereka yang belum puas bermain dengan bapaknya. Yang berusaha dan mencoba untuk mengerti alasan bapaknya pergi dan meninggalkan mereka. Karena Tuhan tau yang terbaik buat kita, sekarang dan pada akhirnya.

  Cinta adalah sebuah proses yang tidak akan pernah mencapai definisi yang pasti dan sempurna. Selama kita mencintai, selama itu pula kita berproses dengan cinta, dalam cinta dan belajar dari cinta. Ketika kita mencintai, maka berarti kita harus belajar memberi, mengerti dan berbagi, belajar menerima kekurangan dan menghargai kelebihan, serta belajar menjaga mata dan hati. Di saat kita mencintai, maka kita pun belajar memaafkan dan mencintai ketidaksempurnaan karena cinta bisa saling melengkapi dan saling mengisi. Namun, dalam mencintai, bersikaplah wajar dan apa adanya, jangan berlebihan dan menganggap sempurna karena hanya Yang Maha Cinta yang pantas menerima penghambaan sempurna.

  Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Rasulullah saw. bersabda Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah musuh atau orang yang kamu benci sewajarnya saja, karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu.

  Hadits ini memiliki makna yang dalam dan perlu perenungan yang benar-benar tulus. Ketika kita mencintai sesuatu atau seseorang, biasanya kita menganggapnya yang paling istimewa bahkan sempurna, sehingga ketika suatu hari menemukan kekurangannya kita merasa kecewa bahkan terluka luar biasa. Tanpa cinta, memang sengsara. Namun, berharap pada cinta manusia, tak selalu indah. Bersandar pada cinta insani, tak selalu bahagia. Kewajaran dalam mencintai dapat menuntun hati pada kesiapan menerima berbagai kemungkinan. Kalaupun sakit, tidak larut dalam rasa sakit dan memelihara luka. Jika bahagia pun, tidak lena dalam rasa bahagia hingga lupa berpijak pada kenyataan. Karena itulah, cinta merupakan proses belajar mencintai cinta itu sendiri, bukan sekadar merasakan dan menikmati rasa cinta semata.

  Belajar mencintai berarti belajar mengelola harapan. Ketika kita berharap banyak pada cinta manusia, maka bersiaplah terluka karena harapan tak selalu seindah kenyataan. Dan di saat kita memberi harapan pada seseorang hingga ia mulai mencintai kita, maka kita harus menjaga hatinya. Sekali kita melukainya atau meninggalkannya begitu saja, maka mungkin saja akan menjadi

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah kenangan pahit dalam hidupnya yang tidak bisa dilupakannya sepanjang ia mengingat kita.

  Belajar mencintai berarti belajar menerima apa adanya bukan mengharapkan kesempurnaannya.. Menerima kekurangannya, menghargai kelebihannya, sehingga kita tidak akan membanding- bandingkannya. Mungkin tanpa kita sadari, membandingkan merupakan tanda mengejar kesempurnaan yang kelak akan kita sesali ketika kita kehilangannya. Belajar mencintai berarti belajar untuk memiliki dan belajar membebaskannya. Memiliki hatinya tak berarti mengungkung raga dan pemikirannya. Cinta bukan sekadar benar atau salah, kepatuhan atau pembangkangan. Cinta adalah penghargaan, pengertian dan penyesuaian, bukan sekadar menyamakan segala bentuk keinginan dan mematikan segala bentuk perbedaan. Cinta itu ketulusan untuk saling membahagiakan dengan yang ada yang kita bisa. Perbedaan merupakan warna indah yang akan menyemarakkan nuansa cinta. Persamaan merupakan ikatan yang akan membangun kepercayaan satu sama lain.

  Kalau demikian adanya maka kebosanan menjadi hal yang naif dan selayaknya disikapi secara dewasa karena kebosanan merupakan kodrat dan keniscayaan setiap manusia, sehingga kebosanan bukan harus dimusuhi tetapi dinikmati. Terkait dengan menikmati kebosanan ini ada cerita menarik sebagai berikut.

  Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya. Tamu:

  ‛Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?‛ Pak Tua:

  ‛Bosan adalah keadaan di mana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.‛ Tamu:

  ‛Kenapa kita merasa bosan?‛ Pak Tua:

  ‛Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.‛

  Tamu: ‛Bagaimana menghilangkan kebosanan?‛

  Pak Tua: ‛Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.‛ Tamu:

  ‛Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?‛ Pak Tua:‛Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?‛ Tamu: ‛Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.‛ Pak Tua: ‛Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.‛ Tamu: ‚Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?‛ Pak Tua:

  ‛Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.‛ Lalu Tamu itu pun pergi. Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi. Tamu: ‛Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?‛ Pak Tua:

  ‛Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak- kanakan.‛ Tamu:

  ‛Contohnya?‛

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Pak Tua: ‛Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.‛ Lalu Tamu itu pun pergi. Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua. Tamu:

  ‛Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?‛ Sambil tersenyum Pak Tua berkata: ‚Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.‛ Setiap orang yang telah menjalin hubungan pasti pernah merasakan bosan dengan pasangannya terutama bagi orang yang sudah menikah. Ada anggapan bahwa semakin panjang usia pernikahan, makin redup cinta dihati, yang tersisa hanyalah rutinitas dan interaksi yang hambar dalam keseharian. Dalam islam pernikahan adalah komitmen untuk membangun dunia akhirat. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kematangan dan kesiapan pribadi- pribadi yang terikat dalam pernikahan itu. Kematangan dicirikan dengan kesiapannya memposisikan diri sebagai pemberi kebaikan. Di dalam pernikahan sumber energinya adalah cinta. Dengan cinta yang tulus, masing-masing pribadi akan mampu selalu memberikan yang terbaik bagi pasangannya. Cinta sejati akan mendorong seseorang melakukan kebaikan pada pasangan dan selalu berusaha membuat pasangannya menjadi semakin baik dari waktu ke waktu, dengan berbagai cara agar pasangannya dapat terus tumbuh dan berkembang. Cinta merupakan pekerjaan hati yang perlu terus dipupuk dan dirawat agar tetap hidup. Cinta yang dibiarkan tak terawatt ibarat tanaman yang kering, gersang dan lama-lama akan mati. Merawat cinta harus ada keinginan dari dua pihak, yaitu suami dan istri. Tidak bisa hanya dari satu pihak saja. Komitmen cinta perlu dijaga sepanjang waktu agar kehidupan rumah tangga tidak sekadar rutinitas

  Abu Azzam Abdillah. (2007). Agar Suami tak Berpoligami: Meraih

  Simpati Suami Tanpa Menentang Syari. Bandung: Iqomatuddin Press.

  Ahmad Mubarok. (2002). Konseling Perkawinan. PT. Bina Rena Pariwara Cetakan ketiga Tahun 2002. Ali Qaimi. (2007), terjemahan: Abu Hamida MZ. Pernikahan: Masalah & Solusinya. Jakarta: Cahaya. Bimo Walgito.(1984). Bimbingan dan Konseling

Perkawinan.Yogyakarta: Yabit Fak. Psikologi UGM.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Brammer, Lawrence M.(1979). The Helping Relationship, Process and skills, Prentice Hall Inc.,Englewood Cliffs, New Jersey. Burgess, Ernest W & Locke, Harvey J. (1960). The Family, From

  Institution to Companionship. New York: American Book Company.

  Dadang Hawari (2006). Marriage Counseling (Konsultasi Perkawinan).

  Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dinarsari Ekadewi, ‚Psikologi Perkawinan dan Keluarga‛makalah disampaikan dalam Acara Kursus Calon Pengantin di

  Queen Garden Hotel Baturaden Purwokerto, 2-5 Juni 2010 Elida Prayitno, Konseling Keluarga, Padang: FIP Universitas Negeri

  Padang Imam Subarno, Menikah Sumber Masalah, Yogyakarta: Gramedia

  Pustaka Utama, 2004, James T Burtchaell, Keputusan untuk Menikah: Kenapa Harus Seumur

  

Hidup?, Terj. Petrus Bere, Yogyakarta: Kanisius, 1990

  Mahmudah, 2009, Memaknai Perkawinan Dalam Perspekif Kesetaraan

  Studi Kritis Hadis-Hadis Tentang Perkawinan, Jakarta: Rajagrafindo Persada.

  Sawitri Supardi Sadarjoen.(2005). Konflik Marital: Pemahaman

  Konseptual, Aktual, dan Alternatif Solusinya. Bandung: Refika Aditama.

  Sayekti Pujosuwarno, 1994. Bimbingan Dan Konseling Keluarga.

  Yogyakarta: Menara Mas Offset

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  Sikun Pribadi dan Subowo. (1981). Menuju Keluarga Bijaksana, Bandung: Yayasan Sekolah Istri Bijaksana. TO. Ihromi, Bunga Rampai sosiologi Keluarga, Jakarta: Yayasan Obor

  Indonesia, 1999 Wimpie Pangkahila. (2006). Seks yang Membahagiakan: Menciptakan Keharmonisan Suami Istri. Jakarta: Kompas.

  MENGEMAS KEBOSANAN PASCA-MENIKAH Rekonseptualisasi Konseling Perkawinan dalam Bentuk Menafikan Keegoisan Diri untuk Meneguhkan Sikap Saling Memberi, Menerima, Memahami, dan Menjaga menikah karena pertimbangan budaya, karena sudah waktunya menikah, karena ingin status sosial yang jelas, karena ingin mendapatkan legalitas untuk melakukan hubungan seksual, karena ingin melanjutkan keturunan, dan alasan-alasan klise lainnya yang sering tidak melalui pertimbangan yang mendalam dari kedua pihak apa tujuan mereka sebenarnya untuk menyatu dalam suatu perkawinan dan bagaimana cara mencapai tujuan bersama tersebut

  16 16 nantinya .

  Saat seseorang mencari pasangan, ia harus menyadari bahwa tidak ada orang yang sempruna; setiap orang pasti mempunyai kesalahan dan kelemahan. indahnya pernikahan justru kala menemukan suami atau istri yang dapat menjadi teman dalam pencarian spiritual, mitra membangun hidup, dan pelipur meskipun dia mempunya kelemahan. Menjadi suami atau istri yang baik bukanlah hal yang mudah, menjaga keseimbangan antara deskripsi masing-masing. karena menjaga kebahagiaan rumah tangga itu sangat rumit,

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Tidak jelas, sudah berapa lama budaya perkawinan itu muncul dalam peradaban manusia, tetapi yang perlu dimengerti, mungkin budaya atau hukum mengenai perkawinan itu sendiri pada awalnya bertujuan memberikan manusia hak untuk memilih pasangan dalam melakukan hubungan seksual dan melanjutkan keturunan, mengatur agar pasangan yang sudah terikat perkawinan mendapatkan hak untuk tidak bisa diganggu oleh pihak lain, dan mungkin untuk membatasi agar manusia tidak melampiaskan nafsu seksualnya sesuka mereka yang bisa

  17 berpotensi mengacaukan tata kehidupan sosial di antara mereka .

  Kalau benar analisa tersebut, itu berarti pada mulanya memang perkawinan diadakan agar kehidupan sosialisasi diantara manusia yang hidup bermasyarakat lebih teratur, terutama dalam

  tiap pasangan suami-istri haruslah mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan itu dan memahami realitas tersebut sebelum menikah, Rohadi

Abddul Fatah, ‚Mengelola Problematika Perkawinan dan Keluarga‛, dan Dinarsari Ekadewi, ‚Psikologi Perkawinan dan Keluarga‛makalah

  disampaikan dalam Acara Kursus Calon Pengantin di Queen Garden Hotel 17 Baturaden Purwokerto, 2-5 Juni 2010 Menikah secara mudah diartikan sebagai persatuan dua pribadi yang berbeda. Konsekuensinya, akan banyak terdapat perbedaan yang muncul saat menjalani perkawinan. Satu hal yang sering kurang disadari oleh orang yang menikah adalah bersatunya dua pribadi bukanlah persoalan sederhana. Setiap orang mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri dan latar belakang yang seringkali sangat jauh berbeda, entah latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal ataupun pengalaman pribadinya selama ini. Oleh karenanya perkawinan adalah proses untuk menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut.

  Berdasar itulah, kesuksesan perkawinan ditandai bukan hanya oleh berapa lama hubungan tersebut terjalin, tapi juga intensitas perasaan yang dialami dua orang yang menjalin relasi perkawinan. Bisa saja di tahun ke-5, proses sharing sudah enggak jalan. Yang ada cuma kekesalan dan kekecewaan. Perkawinan tidak lagi nyaman, tinggal tunggu satu pemicu saja, maka semuanya akan berakhir (Burtchaell: 1990, 67) kecenderungan untuk memilih pasangan hidup. Baru sejalan dengan perkembangan budaya manusia, perkawinan diberikan makna-makna yang lebih mendalam sebagai ikatan dua manusia yang ingin hidup bersama karena saling mencinta, ingin hidup bahagia bersama selamanya, sehingga setiap orang merasa punya hak untuk mendapatkan kebahagiaan selamanya dari perkawinan yang mereka lakukan. Dan akhirnya, pada saat mereka merasa tidak menemukannya, mereka merasa berhak bercerai, dan mencari kembali kebahagiaan yang belum mereka dapatkan melalui perkawinan lainnya.

  Setiap orang yang memasuki kehidupan berkeluarga melalui perkawinan, tentu menginginkan terciptanya suatu keluarga atau rumah tangga yang bahagia sejahtera lahir dan batin serta memperoleh keselamatah hidup di dunia dan di akhirat nanti. Dari keluarga bahagia sejahtera inilah kelak akan terwujud masyarakat yang rukun, damai serta adil dan makmur material dan spiritual (Bp-4 Depag Jateng, 2004: 2). Agar cita-cita dan tujuan itu dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya maka suami istri yang memegang peran utama dalam mewujudkan keluarga bahagia sejahtera, perlu meningkatkan pengetahuan dan pengertian tentang bagaimana membina keluarga sesuai dengan tuntunan agama dan khususnya suami istri mampu menciptakan ‚stabilitas kehidupan rumah tangga yang penuh dengan ketentraman dan kedamaian ‛ (Bp-4 Depag Jateng, 2004: 3).

  Selain sebagai sarana menyalurkan fitrah hidup atas keinginan seksual dan keinginan mempertahankan keturunan, menikah ternyata mempunyai makna yang demikian luas dan mendalam bagi kehidupan manusia, terutama yang menjalaninya.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Menikah bisa merubah kehidupan manusia secara drastis jika dibandingkan kehidupan sebelum menikah. Perubahan itu bisa berupa perubahan sifat, pola pikir dan kebiasaan. Perubahan itu juga bisa kearah yang lebih baik atau lebih buruk. Hal ini terjadi dikarenakan menikah merupakan perpaduan dua insan manusia yang berbeda, baik fisik maupun psikis, tentunya akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi baru yang harus dijalani keduanya. Walaupun ada yang mengalami masa pacaran dalam waktu yang lama sebelum menikah, tetapi masa itu tidak bisa dijadikan pedoman untuk saling mengenal pribadi masing-masing, bahkan masa pacaran itu bisa jadi penuh dengan kepura-puraan dan kepalsuan, sebab masing-masing pihak pada masa pacaran akan mencoba saling memberikan gambaran yang sebaik-baiknya terhadap pasangannya. Sehingga kelemah-an dan sifat asli akan ditutup-tutupi sedemikian rupa dengan berbagai macam topeng kepalsuan.

  Saat pernikahan terjadi, awalnya adalah saat-saat paling indah, dan lambat laun bisa menjadi saat-saat paling buruk dalam sejarah hidupnya jika kedua insan yang menikah tadi tidak bisa mensikapi perbedaan dengan bijaksana dan tidak bisa memaknai pernikahan dengan hati dan pikiran yang jenih. Maka wajar apabila ada rumusan 3-4 tahun pertama pernikahan adalah cinta, selanjutnya adalah pengertian. mengerti akan kelebihan dan kekurangan. Apabila pada 4 tahun selanjutnya masih menuntut cinta tanpa mengerti, itulah perceraian.

  Fakta menunjukkan bahwa banyak pasangan tidak mampu mewujudkan harapan pernikahan dalam kehidup-an rumah tangga

  18

  mereka . Ikatan pernikahan mereka rapuh, sendi-sendinya lemah, akibatnya konflik mudah terjadi. Indikasi ini tampak pada tingginya tingkat perselisihan yang dialami oleh pasangan pernikahan, yang mencapai 40% dari jumlah pernikahan, 12-15% di antaranya sampai pada perceraian, dari jumlah tersebut 80% di antaranya perceraian terjadi pada usia pernikahan di bawah lima tahun (BP4: 2001, 23). Indikasi lain, ditunjukkan oleh banyaknya kasus pernikahan yang harus ditangani oleh Pengadilan Tinggi Agama di Indonesia. Pada tahun 2002 Pengadilan Tinggi Agama di seluruh Indonesia menerima 143.890 kasus pernikahan, dan khusus pada Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Barat pada tahun 2003 menerima 306 kasus, sementara itu dalam kurun waktu delapan bulan dari bulan Januari sampai bulan Agustus 2004 sudah masuk 333 kasus (sumber PTA Sumatera Barat, 21 Juni 2004). Data tersebut menujukkan betapa rapuhnya ikatan pernikahan yang dibangun oleh pasangan suami istri.

  Hubungan pernikahan yang mulai hambar seringkali tak disadari pasangan. Terutama setelah pernikahan berjalan lebih dari 18 5 tahun. Tak jarang, banyak yang mencari jalan pintas dengan

  Ternyata, usia perkawinan yang sudah terbilang lama bukan jaminan perkawinan tersebut akan langgeng. Ketika artis, Dewi Yul, memutuskan bercerai dari suaminya, Ray Sahetapy, banyak orang terkejut. Di mata masyarakat, perkawinan mereka yang telah membuahkan empat anak itu tampak adem-ayem dan sepi dari gosip. Siapa sangka, setelah 24 tahun bersama-sama menjalani manis-pahitnya biduk perkawinan, akhirnya pasangan ini pun berpisah. Memang, tak ada yang bisa meramal usia perkawinan, apakah bakal langgeng atau putus di tengah jalan (Subarno: 2004, 45). Perkawinan adalah proses perjalanan panjang hidup bersama. Apabila di dalam proses itu tak ada kesepakatan, bisa saja putus di tahun berapapun (Ihromi: 1999, 131).

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah berselingkuh

  19 . Mencari WIL atau PIL wanita atau pria idaman lain.

  Di Amerika, sebuah survei dari Pew Research Center menemukan, 40 persen responden menyatakan perkawinan adalah "lembaga yang sudah usang" dan menjadi "sumber kebosanan". Sementara studi terbaru atas pasangan usia 18-29 menemukan, pasangan kini lebih menganggap penting "menjadi orangtua yang baik, ketimbang "memiliki perkawinan yang baik".

  Sebuah perkawinan yang mulai goyah ditandai dengan perasaan biasa di antara pasangan, gairah menurun dan konflik yang rendah, namun disertai rasa puas yang rendah pula. Pada perkawinan yang terasa hambar, stabilitas yang ada terasa salah dan tidak nyaman. Anda merasa ada hal yang serius dalam perkawinan walaupun tak ada konflik yang serius.

  Survei terhadap 3.341 orang yang dilakukan Kristen Mark of The Kinsey Institute for Research Sex, Gender and Reproduction menemukan, 25 persen pasangan yang terikat pernikahan monogami mengakui berada diambang kebosanan. Kebosanan 19 Lafal selingkuh berasal dari Bahasa Jawa yang artinya perbuatan tidak jujur, sembunyi-sembunyi, atau menyembunyikan sesuatu yang bukan haknya.

  Dalam makna itu ada pula kandungan makna perbuatan serong. Meskipun demikian lafal selingkuh di Indonesia muncul secara nasional dalam bahasa Indonesia dengan makna khusus hubungan gelap atau tingkah serong orang yang sudah bersuami atau beristri dengan pasangan lain. Lafal selingkuh kemudian menjadi terkenal dengan makna hubungan gelap orang yang sudah bersuami atau beristri dengan pasangan lain sebelum kematian Lady Diana, yang Diana sendiri pada waktu itu masih bersuamikan Pangeran Charles membeberkan hubungan gelapnya dengan lelaki lain. Hubungan gelap itulah yang di media massa Indonesia diterjemahkan dengan perselingkuhan. Sehingga begitu bahasa Jawa selingkuh ini mencuat jadi bahasa Indonesia tahun 1995-an, langsung punya makna lain (tersendiri) yaitu hubungan gelap ataupun perzinaan orang yang sudah bersuami atau

beristri. Ini satu perpindahan makna bahasa serta budaya bahkan ajaran. pada dasarnya seperti kuman yang menyerang sistem kekebalan hubungan. Menurut lan Kerner, penulis buku Love in the time of

  

Coiic A New Parents Guide to Getting It On Again, "bukan sebuah

  kebetulan, satu dari lima orang yang setia pada pasangan didera rasa bosan". Dari survey di atas juga ditemukan sebagian besar wanita yang berada dalam pernikahan hambar mengaku merasa kesepian, sedangkan pria mengaku terperangkap.

  20 Terkadang, pernikahan terasa membosankan karena kita

  menetapkan standar yang terlalu tinggi, bahwa pernikahan akan memberi hal yang banyak dalam pernikahan. Banyak pasangan yang terjebak dengan harapan dan romantisme pasca-pernikahan. Saat mengalami bosan dalam pernikahan, mereka lebih memilih berselingkuh karena lebih menantang.

  berbagai tingkat. Sebagian orang hampir tidak pernah merasakan kebosanan, sementara yang lainnya merasa kebosanan merupakan ciri pembawaannya. Yang terakhir mungkin mempunyai segalanya —kekayaan, kekuasaan, bahkan kesuksesan namun tetap merasakan kebosanan. Mereka melihat hidupnya hampa, diisi dengan pekerjaan rutin dan kurang mempunyai arah hidup. Mereka berusaha mengatasi kebosanan dengan melakukan hal-hal yang kurang pantas seperti berpakaian menyolok atau tata rambut yang seronok, berjudi, terlibat pencurian dan perkelahian yang memalukan, yang sesungguhnya hanyalah untuk menciptakan kesenangan dalam hidup mereka. Tetapi karena mereka asyik dengan diri mereka sendiri dan keinginan yang serakah, untuk mengalihkan usaha mereka ke arah kebaikan, namun kebosanan itu tetap berlanjut tanpa mereda. Seperti suatu usaha yang sia-sia, mencoba menimbun jurang tanpa dasar dengan segenggam batu kerikil. Kadang-kadang keluar dari jurang kebosanan,orang beralih pada alkohol untuk menghilangkan kebosanan maupun kesepian mereka. Sayangnya alkohol tidak dapat membersihkan kesulitan seseorang; malah

hanya memperburuk persoalan, bagaikan menuang bensin ke dalam api.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Perselingkuhan sering dianggap "mengasyikkan" karena para pelaku berpikir bahwa pasangan selingkuh bukan miliknya dan karenanya memberikan "tantangan" dan "kenikmatan tersendiri". Sementara dengan pasangan tetap sudah tak ada tantangan lagi. Karena itu, pasangan yang telah menikah mengubah paradigma itu. Cobalah "pacaran lagi" dan menikmati cara berselingkuh" dengan pasangan resmi Anda selama ini.

  Banyak orang merasa tergoda untuk berpetualang secara seksual setelah menikah cukup lama. Penyebab yang tersering adalah kebosanan seksual, emosional atau keduanya. Manusia secara alami tertarik dengan variasi dan perubahan. Bagi yang memilih terikat dalam hubungan perkawinan karena banyak alasan, misalnya rasa aman, tetapi dengan mengambil keputusan tersebut, mereka juga membatasi pilihan. Semakin panjang usia seseorang, semakin tinggi harapan seksual dan emosional. Sangat kecil kemungkinannya orang yang tinggal bersama selama lebih dari sepuluh tahun tak pernah dihinggapi kebosanan.

  Bagi banyak orang, terutama mereka yang mempercayai ungkapan romantis tentang apa yang akan diberikan cinta atau perkawinan, akan cepat kecewa. Ketertarikan menghilang, kebosanan timbul. Wajah yang gembira, sentuhan yang menggetarkan, dan kepribadian yang menarik, akhirnya semata- mata menjadi kenyamanan. Seks menjadi rutin dan mekanis. Sebagian orang sedih atas kehilangan itu. Sebagian lainnya berpetualang. Sebagian lagi berhasil menemukan cara baru untuk saling menggembirakan pasangan. Umumnya, orang percaya bahwa penangkal kebosanan cuma seksual seperti posisi yang bervariasi, teknik baru, sex toy, dan video. Sebagian orang melangkah lebih jauh lagi. Mereka yakin getaran dapat diperoleh dengan cinta yang baru. Mendapatkan kegembiraan dari hubungan yang lama masih mungkin dilakukan, tetapi juga memerlukan perhatian terhadap masalah nonseksual yang dialami pasangan saat hidup bersama.

  Persoalan-persoalan ini muncul karena setelah menikah biasanya kita sudah lupa dengan saat-saat romantis yang tetap perlu dibina. Mungkin di saat pacaran kita begitu perhatian, romantis pada pasangan kita. Setelah menikah hal-hal yang pernah dilakukan selama pacaran sudah dilupakan karena beranggapan tidak diperlukan lagi. Ada banyak alasan orang untuk tidak romantis terhadap pasangannya, ada yang malu dilihat anaknya, ada yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, malu pada pembantu dan lain-lain. Yang terjadi kemudian adalah rasa bosan yang umumnya terjadi di setiap hubungan suami istri yang telah lama menikah. Biasanya karena setiap hal yang dilakukan sudah menjadi suatu kebiasaan, mulai dari bangun pagi sampai beristirahat di malam hari. Hal itu otomatis membuat mereka tidak merasakan ada yang spesial lagi, sehingga ada ungkapan setelah menikah tidak ada yang berubah, yang terjadi hanyalah pengulangan- ulangan yang klimaknya mengangggap pernikahan hanya sekadar kebodohan untuk menghadapi kebosanan.

  Tentu saja kebiasaan dan rutinitas dapat membunuh kerinduan suami terhadap istri. Untuk itu, harus ada dinamika agar tak ada kebosanan rumah tangga. Juga agar hubungan intim tidak semakin hambar dan hanya dianggap sebatas kewajiban. Yang perlu diperhatian di sini, kita tidak harus membahas kejenuhan seksual secara berlebihan. Toh, kehidupan rumah tangga bisa

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah dinamis dan tetap menyenangkan. Kejenuhan temporal dalam rumah tangga tidaklah membawa masalah apa pun. Tapi kalau ia semakin bertambah dan hampir menjadi fenomena, maka tak ada jalan lain kecuali mengubah segala sesuatunya.

  Dari sisi psikologis, satu hal yang perlu diingat bahwa secara naluriah setiap manusia senantiasa merindukan untuk memiliki apa yang belum dimilikinya. Ketika membayangkan sesuatu yang dia dambakan dia merasa sangat bahagia seakan-akan telah memilikinya, sehingga untuk mencapai apa yang diinginkan itu, orang berupaya keras mati-matian. Anehnya, ketika yang didambakan itu telah dia miliki, lama kelamaan, seiring dengan perjalanan waktu, perhatiannya terhadap yang telah dimilikinya itu semakin memudar dan bahkan pada suatu waktu ia bosan terhadap yang dulunya sangat dirindukannya itu. Lalu, keinginananya kemudian berpindah lagi kepada lainnya yang belum dimilikinya. Dari sinilah kebosanan itu muncul. Yang membuat pernikahan bahagia bukan tingkat kecocokan kita dengan pasangan, tetapi seberapa besar kemampuan dan kesediaan kita untuk mengatasi ketidakcocokan. Cinta mungkin terlihat ideal, tetapi sesungguhnya pernikahanlah yang benar-benar aktual. Ketidakjelasan antara yang ideal (apa seharusnya) dan yang aktual (apa adanya) memang tak pernah berujung. Statistik memperlihatkan perlunya menemukan kiat menempuh pernikahan yang sukses. Mengajukan pertanyaan yang tepat kepada pasangan bisa menjadi alternatif solusi melanggengkan perkawinan yang sehat, serasi dan bahagia. Memperhatikan saran orang lain sebelum dan sesudah menikah sangatlah membantu. Di sisi lain, Tidak bisa disangkali juga bahwa sebagai manusia

  21

  kita gampang bosan , baik dalam pekerjaan, dalam situasi tertentu, bahkan juga di dalam pernikahan. Kejenuhan adalah sesuatu yang bisa timbul pada diri siapa saja. Kejenuhan yang muncul secara berkala dan bukan dalam derajat yang tinggi masih bisa dimaklumi. Meskipun idealnya, kalau itu muncul kita harus melihat hal itu sebagai tanda awas dan kemudian mengevaluasi diri, kenapa sampai muncul perasaan jenuh seperti itu. Sebab kalau pernikahan itu diisi dengan hal-hal yang dinamis dan menyenangkan seharusnya kejenuhan itu tidak muncul. Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya rasa jenuh yaitu problem yang tak terselesaikan dan harapan yang tak terpenuhi.

  Rasa bosan pasti pernah singgah dalam kehidupan rumah tangga Anda. Bahkan mungkin suatu waktu akan datang kembali. Perasaan bosan itu ibarat gelapnya malam yang memang harus Anda lalui untuk kemudian Anda menikmati indahnya pagi dan hangatnya mentari. Rasa bosan dalam kehidupan berumah tangga adalah wajar, mengingat memang tidak ada yang sempurna dalam kehidupan di dunia ini. Maka, setinggi apapun prestasi, kebaikan, atau keistimewaan, selama masih ada di dunia, pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Artinya, seistimewa apapun pasangan hidup Anda, pasti punya kekurangan. Akibatnya, kebosanan- kebosanan menyergap kehidupan rumah tangga Anda. Tiba-tiba 21 Anda merasa bosan pada keadaan rumah, bosan terhadap

  Tidak sedikit orang yang menjadikan kebosanan sebagai antiklimaks yang mengawali sikap atau perilaku buruk. Mereka berdalih mencari kompensasi rasa bosannya itu dengan mengerjakan hal-hal negative dengan dalih untuk mencari suasana baru. Padahal jika disikapi denga baik, kebosanan akan memunculkan kreativitas yang melahirkan kekuatan baru

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah penampilan pasangan, bosan terhadap keadaan anak-anak, atau bosan menghadapi segala permasalahan rumah tangga. Rumah tangga yang sudah disergap kebosanan biasanya diwarnai dengan sikap yang serba tidak maksimal. Suami tidak maksimal mengelola ke-qawaman-nya dalam rumah tangga sehingga berimbas kepada sikap istri yang juga tidak maksimal dalam melayani suami, juga dalam menjaga amanah rumah dan anak-anak. Bisa jadi, suami-istri pun tidak maksimal mengekspresikan rasa cinta kasihnya. Akibatnya, muncul ketegangan atau bahkan sikap apatis, suami- istri berjalan sendiri-sendiri mengikuti idealisme masing-masing

  Jadi dengan kata lain pernikahan itu seperti suatu keseimbangan, suatu equilibrium di mana harus ada keseimbangan antara dua faktor itu. Perlu diingat bahwa pada dasarnya pernikahan perlu dipupuk, agar kuat dan supaya yang menjalani bisa merasakan keamanan. Rasa aman perlu ditanamkan dan dipupuk dalam pernikahan. Satu hal yang juga perlu dimengerti bahwa, cinta itu bisa padam. Ada orang yang beranggapan dan berharap, sekali mencintai akan selama-lamanya mencintai. Atau

  22 22 sekali dicintai selama-lamanya akan dicintai . Kenyataannya Mencintai haruslah berkolaborasi positip dengan kesetiaan. Tipologi kesetiaan salah satunya dapat dimengerti dari kisah seekor anjing dalam film, Hachiko: A Dog’s Story, karya sutradara Lasse Hallstrom dan dibintangi Richard Gere, Joan Allen, dan Sarah Roemer. Lewat film ini kita bisa memetik pelajaran berharga tentang sisi-sisi humanis yang menyentuh hati nurani.

  Sebuah pelajaran tentang cinta dan kesetiaan yang bisa jadi kian tergerus kemajuan zaman. Kisah kesetiaan tanpa pamrih inilah yang ditawarkan

Hachiko: A Dog’s Story, yang diadaptasi dari kisah nyata seekor anjing yang

  hidup pada kurun waktu 1930-an di Jepang bernama Hachiko. Hachiko adalah anjing ras akita asli Jepang yang lahir pada November 1923 di Odate, Jepang. Begitu tersohornya kisah mengenai kesetiaannya, sampai-sampai dibangun sebuah patung Hachiko di sebuah taman di depan pintu Stasiun tidaklah demikian, kita bisa kurang mencintai dan kebalikannya pasangan kita bisa kurang mencintai kita pula. Kalau cinta itu sampai padam, sulit untuk menghidupkannya kembali. Jauh lebih sulit daripada memupuk hubungan pernikahan agar cinta itu tidak

  23

  padam . Kita perlu membangun suatu hubungan yang saling mengisi. Maksudnya, mengisi kebutuhan mendasar, sehingga

  Kereta Api Shibuya, tempat Hachiko dulu menanti kedatangan tuannya. Hachiko menjadi salah satu perlambang kesetiaan bagi orang Jepang. Dengan model flashback, film bergenre drama ini menggunakan latar masa kini.

  Diceritakan seorang dosen seni, Parker Wilson (diperankan oleh Richard Gere), menemukan seekor anak anjing di Stasiun Kereta Api Bedridge, Wonsocked, Amerika Serikat, sepulang bekerja. Awalnya sang profesor bermaksud mencari pemilik anjing kecil itu. Namun, karena usahanya tak menemui jalan, Parker akhirnya membawa anjing tersebut ke rumah dan memeliharanya. Anjing itu kemudian diberi nama Hachi--sesuai dengan simbol yang tertulis di kalung yang melingkar di lehernya, yang dalam bahasa Jepang berarti delapan, angka yang, menurut budaya setempat, diasosiasikan dengan keberuntungan. Istri Parker, Cate (Joan Allen), yang tadinya geram karena tidak suka ada binatang peliharaan di rumah mereka, akhirnya luluh melihat bagaimana Parker mencintai anjing itu. Hachi yang tumbuh besar makin terikat dengan Parker. Setiap pagi, anjing cerdas yang tidak mau mengejar bola yang dilemparkan seperti anjing pada umumnya tersebut setia mengantar Parker ke stasiun kereta api dan menyongsong tuannya itu saat pulang bekerja. Tak pernah telat, setiap pukul lima sore Hachi duduk manis di taman, tepat di muka pintu stasiun, bersiap menyambut kedatangan tuannya. Bahkan ketika majikan tersayangnya itu 23 tak pernah lagi muncul.

  Kadang dipahami kesetiaan itu nggak akan berpaling ke orang lain dengan alasan apapun dari seseorang yang dicintainya. Banyak juga yang bilang kalau kesetiaan itu kunci dari berjalannya sebuah hubungan cinta dua anak manusia. Banyak yang merencanakan akan setia sehidup semati dengan pasangannya, nggak akan berpaling ke siapapun dalam keadaan apapun. Tapi dalam kenyataannya, nggak gampang untuk terus memegang kesetiaan. Kesetiaan nggak bisa direncanakan. Kesetiaan kadang datang berlawanan dengan apa yang direncanakan.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah waktu kita diperhatikan dan dicintai, kita merasakan diri ini berharga.

  Hal-hal di atas muncul dikarenakan saya melihat pernikahan sebagai sesuatu yang mempunyai dua sisi yang kelihatannya paradoks: kita menikah karena pernikahan itu memenuhi kodrat kita sebagai manusia sosial, kita inginkan kedekatan dan keintiman, itu sebabnya kita menikah. Di pihak lain, sebetulnya pernikahan itu mempunyai sisi yang berlawanan dengan kodrat manusiawi, yaitu kita adalah orang yang tidak tahan lama dengan sesuatu yang

  24

  sama. Dari sinilah kebosanan dan problematika pasca-menikah secara umum itu muncul.

  Beberikut adalah beberapa kisah nyata terkait dengan problematika pasca-menikah yang dimuat di www.konseling.net.

  1. Mas Har (samaran) adalah lelaki yang ganteng, baik, dan tegas. Namun bagiku, dia tak lebih dari seorang lelaki yang telah membuat hatiku tersiksa begitu lama. Di luar rumah, Mas Har demikian suamiku biasa aku panggil memang terlihat sebagai lelaki yang nyaris sempurna. Selalu baik terhadap orang lain, tegas dalam memimpin. Maklum suamiku yang asli orang jawa timur adalah seorang ketua salah satu satu perkumpulan ditempat tinggal kami. Ya, 24 sejenis organisasi kemasyarakatan gitu! Aku juga berasal dari

  Kebosanan adalah hidup penuh dengan impian, namun serba ditelikung oleh ketidakberdayaan. Kebosanan adalah memiliki ide sangat bagus untuk sebuah novel, namun tidak tahu bagaimana mendramatisasikannya atau menyisipkan dialog-dialog yang cergas. Kebosanan adalah berjumpa dengan selaksa orang, namun tidak mengingat satu nama pun. Kebosanan adalah tersedia segala-galanya, namun tidak kunjung terpuaskan. Kebosanan adalah kata-kata yang meletup-letup di kepala, namun terbungkam, tak terungkapkan. sebuah kampung di jawa timur. Kami ketemu saat berada di sebuah pusat perbelanjaan. Di kota Hujan ini aku bekerja sebagai penjaga sebuah toko. Namun setelah menikah, akupun berhenti bekerja. Dikantornya juga dikenal tegas dan sangat disiplin. karena, itu, dalam waktu tidak terlalu lama, dia dipromosikan menjadi salah satu kepala bagian diperusahaan tempatnya bekerja. Dia sangat dikenal sangat memperhatikan karyawan, terutama bawahannya. Namun itu sangat berbeda dengan apa yang dilakukannya di rumah. Dia begitu kurang perhatian. Bahkan, semua pekerjaan di kantornya selalu dibawa ke rumah. Sehingga jarang ada waktu buatku. Bahkan, setiap kali aku ajak diskusi masalah rumah tangga, dia selalu marah. ‚Jangan ganggu, aku lagi merampungkan pekerjaan kantor,‛ begitu alasannya. Di samping itu, dia juga tak pernah memandangku sebagai istri, seperti layaknya kebanyakan istri orang. Bayangkan, tak pernah dia mengajakku jalan-jalan hanya untuk refreshing atau shoping. Sekali minta, langsung dimarahi. ‚Lebih baik pergi sendiri, aku sibuk,‛ katanya. Hingga memiliki satu anak, sikap suamiku tak berubah. Bahkan, kepada anaknya yang kini berusia dua tahun pun kurang ada perhatian. Ketika dia mengerjakan pekerjaan kantor dan anaknya menangis, bukannya menolong tapi malah memarahinya. Aku prihatin. Padahal, saat itu aku sementara memasak. Belakangan, sikapnya juga dibawa ke tempat tidur. Bila selesai mengerjakan pekerjaan kantor, dia langsung saja tidur. Tak pernah lagi memperhatikan aku. Menjamahkupun kini dalam beberapa bulan hanya bisa dihitung dengan jari. Itu

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah pun terkadang (maaf) dengan cara yang terbilang kasar. Memaksa dan main pukul. Sebagai istri, aku sangat mengharapkan belaiannya, tapi itu seakan hanya mimpi. Kian hari, makin menjadi. Bahkan, kini sering menjelek-jelekkanku bila sudah marah. Bila aku disuruh, tapi tidak bisa, dia langsung mengejekku. ‚Ah, dasar wanita kampung, begitu saja tidak bisa,‛ katanya. Aku betul-betul sedih. Sikapnya makin menjadi. Anehnya, sikapnya itu tidak pernah dia perlihatkan bila di luar rumah. Kalau kepada tetangga, dia begitu baik dan murah senyum. Tapi kalau kepada istri dan anaknya sendiri, jangankan senyum, menatap pun hanya kalau dia mau saja. Entah apa yang membuatnya kini berbuat begitu. Padahal, sepertinya aku tidak pernah berbuat salah.

  Bahkan, aku berusaha untuk melayani dengan baik sebagai seorang istri. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Pernah aku berpikir, jangan-jangan dia punya simpanan di luar. Hal inilah yang kini tengah aku selidiki. Kalau itu benar terjadi, duh, sungguh sakit hatiku. Semoga saja, apa yang aku takutkan itu tak terbukti. Dengan sikap suamiku yang cuek dan meremehkanku saja sudah membuat hatiku sakit, apalagi kalau memang dia telah mendua hati. Oh, entah apa yang akan terjadi denganku. Entahlah!.

  2. Entah apa yang salah dari perkawinan kami. Setelah kutahu

  25 25 kalau suamiku punya WIL (wanita idaman lain) , akupun Asya (2000) mendefinisikan perselingkuhan (Selingkuh) diartikan sebagai perbuatan seorang suami (istri) dalam bentuk menjalin hubungan dengan seseorang di luar ikatan perkawinan yang kalau diketahui pasangan syah akan dinyatakan sebagai perbuatan menyakiti, mengkhianati, melanggar kesepakatan, di luar komitmen. Dengan kata lain selingkuh terkandung nekat membalasnya dengan memelihara seorang lelaki untuk dijadikan teman selingkuh. Ini adalah cerita nyata hidupku dari kecil sampai ku beranjak dewasa. Cerita tentang kehancuran rumah tanggaku mulai terkuak ketika aku mendapati suamiku, Ardi (nama samaran) berselingkuh dengan seorang wanita muda yang masih berstatus mahasiswa. Mereka ternyata telah menikah, diam-diam. Pikiranku kacau, aku tak mampu mengendalikan diri. Perasaan cinta dan kesetiaan yang kujaga selama ini telah dihancurkan Ardi. Meski aku mencoba bertahan dengan kondisi rumah tangga yang sudah awut-awutan, namun imanku sudah terkoyak. Jadinya apa? Hanya dendam yang membelenggu di benakku. Aku mulai mencari bagaimana mengobati sakit hatiku selama ini. Kalau harus cerai dengan Ardi, aku harus berpikir dulu karena tidak punya apa-apa lagi di kota ini. Kedua orang tuaku sekarang ada di Jawa, sementara aku sama sekali tidak punya pekerjaan untuk menopang hidup seorang diri. Makanya, aku mencoba mempertahankan rumah tangga kami. Suamiku yang seorang pengusaha, menjanjikan akan memenuhi semua kebutuhan asal aku tidak lagi meributkan pernikahannya dengan wanita itu. Untuk langkah pertama, aku menerima keputusan itu. Aku pikir, itu jauh lebih baik ketimbang mengambil tindakan yang bisa merugikan rencanaku. Tepat sekali, ketika Ardi

  

makna ketidakjujuran, ketidakpercayaan, ketidaksaling menghargai, dan

kepengecutan dengan maksud menikmati hubungan dengan orang lain

sehingga terpenuhi kebutuhan afeksi-seksualitas (meskipun tidak harus

terjadi hubungan sebadan).

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah pergi berbulan madu dengan istri mudanya ke Jakarta, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari hiburan di luar rumah. Kebetulan saja, Ardi memberi uang belanja untuk sebulan, yang jumlahnya lumayan banyak untuk kuhamburkan. Mulailah aku berkenalan dengan dunia malam dan cerita pun berkembang menjadi hot. Beberapa diskotik, bar dan tempat hiburan kelas atas kujelajahi. Sampai suatu hari aku berkenalan dengan seorang pemuda di suatu tempat hiburan di hotel berbintang. Ketampanannya cukup membuatku tergiur, apalagi selama ini, hampir tak pernah lagi Ardi menyentuhku. Sebagai wanita normal, tentu saja aku sangat mengharapkan belaian hangat seorang lelaki dewasa. Perkenalanku dengan pemuda yang bernama Haris (samaran), seolah membuka kesempatan bagiku untuk balas dendam. Apalagi kulihat, Haris cukup dewasa dan pandai menaklukan wanita, termasuk aku. Hanya dalam tempo seminggu setelah perkenalan kami malam itu, aku dan Haris sudah melanjutkan hubungan di atas ranjang. Tak terpikirkan lagi olehku, bagaimana dosa yang harus kutanggung atas perselingkuhan ini. Yang penting aku bisa menikmati kehangatan Haris dan membalas sakit hatiku pada Ardi. Berbulan-bulan hubungan gelap itu kujalani dengan Haris. Hingga kinipun, aku dan Haris masih terus berhubungan. Kalau suami lagi nginap di rumah istri mudanya, maka Harislah yang menggantikannya untuk menghangatkan malamku. Atau kalau tidak, kami bisa melakukannya di hotel. Begitulah seterusnya hubungan terlarang ini berlanjut. Entah kapan semua ini akan kuakhiri. Yang pasti, aku

menikmatinya. Sayang, kini bukan lagi karena dendam, namun rasa

  • –rasanya aku mulai benar–benar jatuh cinta pada Haris, Demikian sebuah cerita dewasa yang kupersembahkan buat para pembaca.

  3. Pembaca yang budiman. Kata temanku, aku wanita manis dan seksi, dinikahkan saat baru selesai kuliah D3 di salah satu perguruan tinggi di Kendari. Kira – kira usiaku 20 tahun. Suamiku adalah seorang kepala personalia sebuah perusahaan swasta. Terus terang saja, aku tidak mengenal wataknya. Bayangkan, bertemu pun baru satu minggu menjelang pernikahan. Aku semula menolak, namun karena nasihat ibuku, akhirnya aku terima. Tahun 1990 aku menikah. Setelah itu, aku diboyong oleh suamiku yang usianya sekitar 10 tahun lebih tua dariku ke rumah orang tuanya. Di sini kami merasakan pahit manisnya berumah tangga dan Cerita ku mulai disini. Oh ya, nama suamiku adalah Bahar (bukan nama sebenarnya). Sebulan setelah menikah, barulah aku mulai tahu sifat suamiku yang ternyata terlalu kekanak- kanakan. Maklum saja, dia adalah anak tunggal. Bahkan, dia tidak pernah protes ketika kedua orang tuanya ikut-ikutan dalam urusan rumah tangga kami. Sebagai orang tua, kalau ada masalah di rumah tanggaku, mereka selalu menyalahkanku aku, tanpa melihat permasalahannya. Aku ac apkali jadi ‚terdakwa‛ dalam ‚persidangan‛ mereka. Mungkin karena pada dasarnya aku tak mencintainya, aku selalu protes setelah ‘disidang’. Aku tak mau terima diperlakukan seperti itu. Sebagai suami, seharusnya Bahar lebih dewasa dariku. Masa masalah rumah tangga, sekecil

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah apapun itu, selalu dilaporkan pada orang tuanya.Apalagi kalau aku berbuat salah. Wah, bisa tiga hari tiga malam aku kena omelan mertua. Berbagai nasihat akan dikeluarkan mereka secara bergantian. Aku dibuatnya tak berkutik. Mulutku sudah pegal menyunggingkan senyum keramahan. Sementara dadaku bergolak karena marah. Suatu hari aku kena ‘semprot’ lagi. Gara-garanya, aku kesal sama anakku yang menangis terus-menerus. Aku marahi dia. Tapi tidak sampai memukul. Tiba-tiba, Bahar menghampiriku. Diraihnya anakku dengan sedikit kasar. Kukira dia ikut mengomeli anak itu. Nyatanya, dia malah memarahiku. ‚Bukan begitu mengajari anak. Kamu ini bisa apa tidak sih mengurus anak?‛ katanya sembari ngeloyor pergi. Mungkin caraku ngajari anak kurang benar, tapi seharusnya Bahar memahami aku yang capek seharian mengasuh dia. Aku marah saking lelahnya. Dan lagi- lagi aku ‘diadili’. Bahar mengadukan masalah itu kepada kedua orang tuanya. Aku muak dengan mulutnya yang nyinyir. Aku minta cerai kepada Bahar, tapi dia menolak. Karena tak tahan, aku nekat kabur dari rumah membawa putriku. Kami kembali ke rumah orangtuaku, sampai sekarang.

  Yang memprihatinkan, saat angka perceraian terus meningkat dari tahun ke tahun, pernikahan justru terus mengalami penurunan. Jumlah pernikahan tahun 2005 lalu, bahkan hanya sedikit meningkat dibanding 1950-an, di saat jumlah penduduk baru 50 juta orang. ‚Jumlah pernikahan tahun 1950-an lalu sudah mencapai 1,4 juta, lho, (Republika, Ahad 7 Januari 2007 Kisah-kisah ini mengindikasikan menikah bukanlah melulu sesuatu yang indah yang dihiasi bunga-bunga, menikah juga

  26

  masalah . kadang kala suami atau istri kurang bekerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah atau malah cenderung untuk memperkeruh suasana. Situasi yang demikian dapat membuat pernikahan menjadi tidak sehat. Hubungan yang kondisinya tak sehat tersebut, jika didiamkan, akan menjadi sakit parah. Seperti rasa jenuh terhadap situasi di dalam rumah tangga Anda yang terlalu monoton, sehingga timbullah rasa kebosanan.

  Kehidupan perkawinan dapat disebut menyatukan dua keunikan. Perbedaan watak, karakter, selera dan pengetahuan dari dua orang (suami dan istri) disatukan dalam rumah tangga, hidup 26 bersama dalam waktu yang lama. Ada pasangan yang cepat

  Rumusnya, cinta adalah sebuah proses yang tidak akan pernah mencapai definisi yang pasti dan sempurna. Selama kita mencintai, selama itu pula kita berproses dengan cinta, dalam cinta dan belajar dari cinta. Ketika kita mencintai, maka berarti kita harus belajar memberi, mengerti dan berbagi, belajar menerima kekurangan dan menghargai kelebihan, serta belajar menjaga mata dan hati. Di saat kita mencintai, maka kita pun belajar memaafkan dan mencintai ketidaksempurnaan karena cinta bisa saling melengkapi dan saling mengisi. Namun, dalam mencintai, bersikaplah wajar dan apa adanya, jangan berlebihan dan menganggap sempurna. Hal ini dikarenakkan ketika kita mencintai sesuatu atau seseorang, biasanya kita menganggapnya yang paling istimewa bahkan sempurna, sehingga ketika suatu hari menemukan kekurangannya kita merasa kecewa bahkan terluka luar biasa. Tanpa cinta, memang sengsara. Namun, berharap pada cinta manusia, tak selalu indah. Bersandar pada cinta manusia, tak selalu bahagia. Kewajaran dalam mencintai dapat menuntun hati pada kesiapan menerima berbagai kemungkinan. Kalaupun sakit, tidak larut dalam rasa sakit dan memelihara luka. Jika bahagiapun, tidak lena dalam rasa bahagia hingga lupa berpijak pada kenyataan.Karena itulah, cinta merupakan proses belajar mencintai cinta itu sendiri, bukan sekadar merasakan dan menikmati rasa cinta semata.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah menyatu, ada yang lama baru bisa menyatu, ada yang kadang menyatu kadang-kadang bertikai, ada yang selalu bertikai tetapi mereka tak sanggup berpisah. Hanya di tempat tidur mereka menyatu, tetapi di luar itu mereka selalu bertikai. Kehidupan berumah tangga ada yang berjalan mulus, lancar, sukses dan bahagia, ada yang setelah lama mulus tiba-tiba dilanda badai, ada yang selalu menghadapi ombak dan badai tetapi selalu bisa menyelamatkan diri. Komunikasi antara suami istri bersifat khas, tidak mesti logis. Hal-hal yang logis justru sering disalah fahami, karena komunikasi suami istri tidak semata-mata menggunakan nalar, tetapi juga sarat dengan muatan perasaan. Hal-hal yang menurut nalar sesungguhnya kecil, bisa saja menjadi sumber prahara rumah tangga jika disikapi dengan sepenuh rasa. Ada suami istri yang selalu bisa menyelesaikan perselisihan tanpa bantuan orang lain, tetapi banyak suami istri yang justeru memerlukan bantuan orang lain untuk meluruskan pikiran dan perasaannya.

  Oleh karenanya kita perlu menyadari bahwa cinta merupakan proses belajar mencintai cinta itu sendiri, bukan sekadar merasakan dan menikmati rasa cinta semata. Belajar mencintai berarti belajar mengelola harapan. Ketika kita berharap banyak pada cinta manusia, maka bersiaplah terluka karena harapan tak selalu seindah kenyataan. Dan di saat kita memberi harapan pada seseorang hingga ia mulai mencintai kita, maka kita harus menjaga hatinya. Sekali kita melukainya atau meninggalkannya begitu saja, maka mungkin saja akan menjadi kenangan pahit dalam hidupnya yang tidak bisa dilupakannya sepanjang ia mengingat kita. Belajar mencintai berarti belajar menerima apa adanya bukan mengharapkan kesempurnaannya. menerima kekurangannya, menghargai kelebihannya, sehingga kita tidak akan membanding- bandingkannya. Mungkin tanpa kita sadari, membandingkan merupakan tanda mengejar kesempurnaan yang kelak akan kita sesali ketika kita kehilangannya. Belajar mencintai berarti belajar untuk memiliki dan belajar membebaskannya. Memiliki hatinya tak berarti mengungkung raga dan pemikirannya. Cinta bukan sekadar benar atau salah, kepatuhan atau pembangkangan. Cinta adalah penghargaan, pengertian dan penyesuaian, bukan sekadar menyamakan segala bentuk keinginan dan mematikan segala bentuk perbedaan. Cinta itu ketulusan untuk saling membahagiakan dengan yang ada yang kita bisa. Perbedaan merupakan warna indah yang akan menyemarakkan nuansa cinta. Persamaan merupakan ikatan yang akan membangun kepercayaan satu sama lain

  27 Dalam kerangka berpikir semacam inilah konseling keluarga 27 dibutuhkan untuk membantu keluarga dalam mencapai kondisi Inti dari pelaksanaan konseling keluarga sebagai salah satu layanan profesional dari seorang konselor didasari oleh asumsi dasar sebagai berikut: pertama, terjadinya perasaan kecewa, tertekan atau sakitnya seorang anggota keluarga bukan hanya disebabkan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh interaksi yang tidak sehat dengan anggota keluarga yang lain. Kedua, ketidaktahuan individu dalam keluarga tentang peranannya dalam menjalani kehidupan keluarga. Ketiga, situasi hubungan suami-istri dan antar keluarga lainya. Keempat, penyesuaian diri yang kurang sempurna dalam sebuah keluarga sangat mempengaruhi situasi psikologis dalam keluarga. Kelima, konseling keluarga diharapkan mampu membantu keluarga mencapai penyesuaian diri yang tinggi diantara seluruh anggota keluarga. Keenam, Interaksi kedua orang tua sangat mempengaruhi hubungan semua anggota keluarga (Perez:1979, 79)

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah psikologis yang serasi atau seimbang sehingga semua anggota keluarga bahagia. Ini berarti bahwa sebuah keluarga membutuhkan pendekatan yang beragam untuk menyelesaikan masalah yang dialami oleh anggota keluarga. Rumusan di atas memuat dua implikasi yaitu; terganggunya kondisi seorang anggota keluarga merupakan hasil adaptasi/interaksi terhadap lingkungan yang sakit yang diciptakan didalam keluarga. Kedua, seorang anggota keluarga yang mengalami gangguan emosional akan mempengaruhi suasana dan interaksi anggota keluarga yang lain, sehingga diupayakan pemberian bantuan melalui konseling keluarga. Terlaksananya konseling keluarga akan membantu anggota keluarga mencapai keseimbangan psiko dan psikis sehingga terwujudnya rasa bahagia dan kenyamanan bagi semua anggota keluarga.

  B.

   Pokok Permasalahan

  Dalam perspektip semacam inilah penelitian ini akan mengungkap sisi realistis dari masalah-masalah yang muncul pasca-menikah yang disebabkan munculnya rasa bosan terhadap pasangan untuk mencari tahu lebih jauh genealogis persoalan apakah masuk pada wilayah conflict habituated, devitalized, passive

  

congenial, utilitarian, vital, total dan bagaimana proses konseling

  keluarga terhadap persoalan yang ada tersebut di implementasikan. Pada wilayah proses ini akan di fokuskan pada teori mana yang dipilih yang biasanya terdiri dari tiga teori dasar yaitu teori peran, teori perkembangan dan teori sistem dan pendekatan apa yang dipakai yang biasanya terdiri dari psikodinamik, bowen, experiental, behavioral, struktural, narative, komunikasi dan sollusi fokus, apakah memilih satu pendekatan atau mengkolaborasikan beberapa pendekatan.

  C.

Tujuan Penelitian

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan teoritik konseptual terhadap perkembangan konseling pada umumnya dan konseling keluarga khususnya. Di samping itu, temuan dan produk penelitian akan memperkaya khasanah dakwah Islam di bidang konseling, dengan menawarkan suatu Model Konseling keluarga yang menekankan prioritas sasaran pada karakteristik masyarakat lokal. Penelitian juga ini diharapkan memberikan sumbangan terhadap upaya peningkatan kualitas kehidupan berkeluarga menuju pernikahan yang dewasa dan membahagiaakan. Lebih kongkritnya memberikan sumbangan pemikiran konseptual praktis dalam upaya membantu mahasiswa membangun keutuhan pribadi melalui penataan konsep diri menuju pernikahan yang bermartabat.

  D.

Signifikasi Penelitian

  Dengan diberlakukannya kurikulum 2011 di Prodi Bimbingan Konseling Islam, maka terdapat mata kuliah- mata kuliah baru yang diharapkan mampu meningkatkan profesionalitas lulusan.

  Diantara mata kuliah baru tersebut adalah Konseling Keluarga. Oleh karenanya penelitian ini diarahkan menjadi salah satu referensi perkuliahan ditengah minimnya literatur yang menempatkan proplematika keluarga sebagai obyek kajian, apalagi yang fokus pada kebosanan.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Penelitian juga diharapkan memberi pengkayaan wacana terhadap persoalan-persoalan pasca-menikah berdasarkan realitas empiris masyarakat Purwokerto yang sedang merangkak menjadi wilayah metropolitan baru di selatan Jawa tengah yang ditandai dengan menjamurnyapusat-pusat hiburan dengan kehidupan malam yang mulai bebas yang tentu berimplikasi pada kepraktisan dan keinstanan pada wilayah apapun, terutama pada wilayah materi dan kepuasan yang berkonsekwensi pada pemakluman dan kelongggran terhadap pelanggaran nilai-nilai moral pada relasi antar manusia yang mengancam keagungan institusi keluarga.

  E.

Kerangka Teoritik

  Konseling keluarga memandang keluarga secara keseluruhan bahwa anggota keluarga adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan baik dalam melihat permasalahannya maupun penyelesaiannya. Sebagai suatu system, permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Pada mulanya konseling keluarga diarahkan untuk membantu anak agar dapat beradaptasi lebih baik untuk mempelajari lingkungannya melalui perbaikan lingkungan keluarganya. Yang menjadi klien adalah orang yang memiliki masalah pertumbuhan di dalam keluarga. Sedangkan masalah yang dihadapi adalah menetapkan apa kebutuhan dia dan apa yang akan dikerjakan agar tetap survive di dalam sistem keluarganya. Pada masa lalu, konseling keluarga terfokus pada salah satu atau dua hal, yaitu (1) keluarga terfokus pada anak yang mengalami bantuan yang berat seperti gangguan perkembangan dan skizofrenia, yang menunjukan jelas-jelas mengalami gangguan; dan (2) keluarga yang salah satu atau kedua orang tua tidak memiliki kemampuan, menelantarkan anggota keluarganya, salah dalam member kelola anggota keluarga, dan biasanya memiliki sebagian masalah.

  Anak di dalam suatu keluarga sering kali mengalami masalah dan berada dalam kondisi yang tidak berdaya di bawah tekanan dan kekuasaan orang tua. Permasalahan anak adakalanya diketahui oleh orang tua dan sering kali tidak diketahui orang tua. Permasalahan yang diketahui orang tua jika fungsi-fungsi psikososial dan pendidikannya terganggu orang tua akan mengantarkan anaknya ke konselor jika mereka memahami bahwa anaknya sedang mengalami gangguan yang berat. Karena itu konseling keluarga lebih banyak memberikan pelayanan terhadap keluarga dengan anak yang mengalami gangguan. Hal kedua berhubungan dengan keadaan orang tua. Banyak dijumpai orang tua tidak berkemampuan dalam mengelola rumah tangganya, menelantarkan kehidupan rumah tangganya sehingga tidak terjadi kondisi yang berkesinambungan dan penuh konflik, atau memberi perlakuan secara salah (ubuse) pada anggota keluarga lain, dan sebagainya merupakan keluarga yang memiliki berbagai masalah. Jika mengerti dan berkeinginan untuk membangun kehidupan keluarga yanag lebih stabil, mereka membutuhkan konseling.

  Perkembangan belakangan konseling keluarga tidak hanya menangani dua hal tersebut. Permasalahan lain yang juga ditangani karena anggota keluarga mengalami kondisi yang kurang harmonis di dalam keluarga akibat stressor perubahan-perubahan budaya, cara-cara baru dalam mengatur keluargannya, dan cara menghadapi dan mendidik anak-anak mereka. Berdasarkan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah pengalaman dalam penanganan konseling keluarga, masalah yang dihadapi dan dikonsultasikan kepada konselor antara lain: keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap harapan orangtua, konflik antaranggota keluarga, perpisahan diantara anggota keluarga karena kerja di luar daerah dan anak yang mengalami kesulitan belajar atau sosialisasi.

  F.

   Tinjauan Pustaka

  Kami belum menemukan kajian yang secara komprehensif mengkaji permasalahan-permasalahan yang muncul setelah menikah yang disebabkan adanya rasa bosan terhadap pasangan dalam satu literatur yang utuh. Terkait dengan tema ini kebanyakan masih berbentuk esai dan artikel. Diantaranya adalah esai yang berjudul ‚10 Masalah Utama Setelah Menikah‛ yang dimuat oleh Harian Kompas 31 Mei 2010 yang menempatkan kebosanan dalam urutan pertama yang harus dihadapi pasca- menikah. Hal ini dikarenakan melalui setiap saat bersama orang yang sama seumur hidup bisa jadi hal yang menakutkan untuk sebagian besar orang. Tak heran jika salah satu dari pasangan atau malah keduanya mengalami kebosanan. Sudah bisa dipastikan, dalam sebuah pernikahan pasti akan terbentur dengan rasa bosan. Namun, jangan pandang kebosanan akan rutinitas menjadi suatu momok. Lakukan sesuatu untuk membuatnya kembali bergairah.

  Artikel lain yang terkait dengan kebosanan ditulis oleh tim redaksi Tabloid Nakita Edisi VII Tahun 2009. Menurutnya, kebosanan adalah kondisi jiwa yang negative terhadap sesuatu yang akan memberikan dampak negative dalam kehidupan rumah tangga, baik terhadap suami/istri maupun orang lain. Jika dampak negative tersebut ditolerir, maka bukan tidak mungkin akan merusak sendi-sendi kebahagiaan dan kelestarian hidup dari sebuah perkawinan. Dampak kebosanan terhadap suami atau istri, ialah: tumbuhnya kejenuhan, menjadi pasif, menarik diri dari kegiatan dan pergaulan; terjadinya perubahan-perubahan dalam perilaku; menjadi acuh tak acuh terhadap lingkungan, mudah marah; mudah tergoda oleh gadis/wanita atau pemuda lain, dan beberapa keadaan lain yang sejiwa dan senada. Sedang bagi orang lain dalam keluarga (termasuk anak-anak) ialah; mengalami kebingungan; serba salah, salah pengertian, mudah terjadi konflik atau perselisihan, mudah mutung dan terputus asa; balas dendam, lari dari kenyataan mencari ketenangan dan kepuasan batin di luar rumah, bertingkah aneh-aneh untuk menarik perhatian atau hanya dimaksudkan sebagai kompensasi atau wujud dari protes untuk menunjukkan penolakannya, dan beberapa kondisi serta ekspresi lain yang senada.

  Memperhatikan dampak kebosanan demikian luasnya dalam kehidupan keluarga atau perkawinan, jelas bahwa hal itu sangat membahayakan kelestarian hidup suatu keluarga, minimal sangat potensial untuk mengurangi kebahagiaan, kerukunan dan kesejahteraannya. Berapa jumlah keluarga yang retak hingga pecah berkeping-keping disebabkan kebosanan yang tidak teratasi sebagaimana mestinya. Beberapa keluarga nampaknya masih utuh beratu tetapi sebenarnya telah runtuh berserak dan bercerai-berai. Penyimpangan perilaku suami atau istri dalam sebuah perkawinan bukan tidak mungkin bersumber dari keluarga yang dirayapi rasa bosan yang sangat mendalam dan sukar untuk disembuhkan. Kurang pantas jika kita biarkan kebosanan dalam perkawinan terus

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah menerus mengembangkan sayap pengrusakannya hingga menghancurkan sendi-sendi rumah tangga yang dengan susah

  28

  payah ditegakkan dan diperjuangkan mendirikannya . Kebosanan positif dan konstruktif dalam menghayati kehidupan berkeluarga memang perlu dirintis dan dikembangkan secara sistematis.

  Kajian tentang kebosanan juga dapat ditemukan dalam www.konselingindonesia.com yang pada intinya menilai sebagai sebuah kewajaran apabila kehidupan berumah tangga telah melewati 5 tahun mengalami ‚masa futur‛, dan tidak mengapa pula terjadi masa-masa bosan yang bersifat temporer dan sepintas. Yang terpenting jangan berkepanjangan, dan jangan sampai menghancurkan kehidupan berumah tangga. Di sini kebosana di derivasi menjadi tiga kategori dasar yaitu Kebosanan Umum: yaitu kebosanan yang terjadi akibat rutinitas kehidupan sehari-hari, Kebosanan Emosional: yaitu hilangnya rasa cinta kasih di antara suami istri dan Kebosanan Seksual: yaitu menjalankan hubungan seksual seakan-akan merupakan sebuah kewajiban atau tidak ada pembaharuan di dalamnya.

  Di sini juga dikaji sebab-sebab terjadinya future dalam kehidupan rumah tangga adalah:

  1. Memasuki kehidupan berumah tangga dengan berbagai 28 prediksi dan obsesi ideal (jauh dari fakta). Bisa jadi suami

  Dampak lanjutan dari kebosanan ini adalah perselingkuhan yang berkolaborasi dengan perceraian. Menurut penelitian Umar, I Wayan

Suardika ‚Agar Engkau Terhindar dari Perceraian‛, dimuat dalam laporan utama Buletin Mujahid edisi II Tahun 2004, hal. 7, menyebutkan bahwa pada

  tahun 1999 – 2001, pasangan selingkuh di Yogyakarta mencapai 90% yang didominasi oleh pasangan selingkuh dari strata social kelas bawah. Ini artinya perselingkuhan terjadi tidak hanya eksekutif muda, artis maupun keluarga yang secara ekonomi duanggap mapan. atau istri tidak merasakan idealismenya, lalu ia hidup dalam kenyataan yang bisa jadi membuatnya kecewa berat, lalu merasa future, lalu meyakini bahwa kehidupan rumah tangganya telah gagal, dan bahwasanya solusinya adalah mengakhiri kehidupan rumah tersebut dengan perceraian.

  2. Pengulangan dan rutinitas harian yang membosankan.

  3. Masing-masing pihak tidak berusaha dengan sungguh- sungguh untuk meningkatkan level kehidupan rumah tangganya ke tingkat yang lebih baik, juga tidak sungguh- sungguh dalam mencari solusi atas setiap problem yang dihadapinya.

  4. Kecurigaan dan kecemburuan secara berlebih dari salah satu suami atau istri, dan hal ini menanamkan bibit futur dalam hubungan di antara keduanya.

  5. Bisa jadi sebagian penyakit fisik atau jiwa berakibat munculnya futur dengan segala bentuknya, misalnya: depresi, cemas dan schizophrenia atau split personality.

  6. Hilangnya cinta kasih diantara suami dan istri dalam tempo yang lama.

  Terkait dengan minimnya literatur tersebut maka penelitian ini mencoba merangkai data-data penting yang tersebar dalam beberapa artikel, opini, esai dan website menjadi sebuah kesatuan teori yang realis untuk kemudian ditarik pada wilayah obyek penelitian yang menempatkan biro-biro konsultasi keluarga sebagai pengalaman empirik dan keberagaman masalah lokal masyarakat Purwokerto.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  d

  anyak pasangan enggan mengemukakan pertanyaan- pertanyaan penting sebelum menikah karena keterbatasan pengetahuan dan rasa canggung yang ada serta takut

B

  menemukan ketidakcocokan yang bisa jadi menggagalkan rencana pernikahan, Tetapi, mengetahui hal-hal tersebut sebelum menikah jelas lebih baik daripada harus mengalami stres setelah manikah. Tiap pasangan biasanya mempunyai banyak alasan untuk menikah, tapi konflik satu hal saja dapat mengarahkan mereka untuk bercerai. Banyak pasangan yang tidak siap menikah dan mereka tidak diberi kesempatan belajar mengenai hal-hal yang bisa melanggengkan hubungan rumah tangga mereka, bahkan mereka juga tidak mengetahui kriteria pasangan yang tepat untuk mereka. Pernikahan bukan sekadar perencanaan atau seperti gambaran pengantin ideal di televisi dan di film-film. Saat seseorang mencari pasangan, ia harus menyadari bahwa tidak ada orang yang sempurna; setiap orang pasti mempunyai kesalahan dan kelemahan. indahnya pernikahan justru kala menemukan suami atau istri yang dapat menjadi teman dalam pencarian spiritual, mitra membangun hidup, dan pelipur meskipun dia mempunya kelemahan.

  Dari realitas semacam inilah maka Kementrian Agama melalui Direktur Urais dan Pembinaan Syariah merencanakan sebuah kebijakan nasional tentang kewajiban kursus pra nikah bagi semua pasangan calon pengantin di Indonesia. Dalam kursus ini diajarkan banyak hal yang dapat mendukung suksesnya kehidupan rumah tangga pengantin baru. Materi yang diberikan pada kursus pranikah antara lain, kesehatan organ reproduksi, UU perkawinan, UU KDRT dan sebagainya. Dengan adanya pemaparan materi- materi itu, pasangan baru tersebut diharapkan mengetahui apa hak dan kewajiban masing-masing secara undang-undang. Program ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian koordinator Kesejahteraan Rakyat melalui Deputi IV bidang pendidikan dan Agama, serta juga didukung oleh BKKBN. Beberapa program sosialisasi yang sudah dilaksanakan Kemenag RI diantaranya adalah Pilot Project di Auditorium Fakultas psikologi UI Ged. H lt.

  4. Acara ini diikuti oleh 30 peserta. Untuk menunjang program ini Kemenag RI dan BKKBN juga mengadakan ‚Workshop Pendidikan Pra- Nikah dan Parenting‛ beberapa waktu lalu di Jakarta.

  Keseriusan pihak Departemen Agama dan BKKBN dalam menyusun kurikulum kursus pra nikah ini terlihat dari sejumlah narasumber yang dihadirkan.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

   Substansi Menikah: Tidak Semata Mengejar A.

  Kesenangan dan Kenikmatan Melainkan Juga Tangung jawab dan Pengorbanan Menikah bukan hanya untuk menyatukan dua hati, atau menyalurkan hasrat dan birahi, atau menyatukan persamaan Menikah adalah sebuah bentuk ibadah yang di dalamnya ada usaha untuk saling melengkapi dan menguatkan. Ada usaha pewarisan dan pelestarian budaya. Ada proses edukasi untuk menciptakan generasi penerus yang lebih baik. Ada hal-hal yang tentunya tak bisa diketahui jika belum menikah, meskipun telah hidup bersama.

  Satu hal yang perlu dipahami, menjadi suami atau istri yang baik bukanlah hal yang mudah, menjaga keseimbangan antara deskripsi masing-masing. Karena menjaga kebahagiaan rumah tangga itu sangat rumit, tiap pasangan suami-istri haruslah mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan itu dan memahami realitas tersebut sebelum menikah. Pada posisi seperti inilah memahami konsep konseling perkawinan dan keluarga menjadi penting

  29 . 29 Para ahli di bidang Sosiologi memberikan porsi untuk membahas masalah ‚cinta‛ dalam kaitannya dengan perkawinan. Rasa cinta menjadi salah satu alasan mengapa seseorang memutuskan untuk menikah – walaupun seiring dengan perkembangan zaman, alasan individu untuk menikah telah mengalami pergeseran, lebih dari sekadar perasaan cinta (mis. keamanan finansial). Hasil penelitian menunjukkan bahwa laki-laki cenderung bersikap dengan berlandaskan perasaan cinta mereka yang terjadi secara spontan.

  Sementara wanita lebih menaruh perhatian terhadap intensitas rasa cinta seorang laki-laki terhadap dirinya dibandingkan perasaannya sendiri. Karena perkawinan akan sangat menentukan status sosial dan ekonomi kebanyakan wanita, mereka akan melakukan apa yang disebut ‚emotion work‛. Wanita lebih ‚mengarahkan‛ dan ‚membentuk‛ perasaan mereka terhadap laki-laki Intinya, pernikahan bukanlah sesuatu yang hanya bersifat transaksional saja, yang terbatas pada peran dan kewajiban statis seseorang atas konsekuensi logis dari pernikahan itu sendiri. Pernikahan adalah agenda manusia yang bersifat transformasional. Sebuah proses kemitraan emosional dan intelektual antara suami dan istri, di mana ada sebuah proses untuk saling mengisi saling melengkapi, proses saling belajar untuk menjadi lebih baik terhadap dirinya maupun pasangannya, proses saling memperbaiki saling mengoreksi, proses yang mengubah pasangan menjadi lebih cerdas secara emosional, intelektual maupun spiritual yang pada akhirnya pernikahan akan membentuk pribadi- pribadi suami istri yang semakin berkualitas baik secara individu maupun pasangan suami istri itu sendiri sebagai sebuah kesatuan keluarga. Pernikahan adalah sarana yang akan mengantarkan kita pada keberkahan, ketenangan hidup dan keindahan hidup dalam mengarungi setiap detik putaran waktu kehidupan meraih curahan rahmat Sang Pencipta.

  Saat ini tampaknya banyak orang yang salah memaknai arti sebuah pernikahan. Banyak orang yang salah dalam menjalankan sebuah bahtera pernikahan. Banyak orang yang salah dalam menyusun pondasi pernikahan. mungkin semua disebabkan kesalahan paradigma yang digunakan dalam melihat pernikahan. Banyak yang memandang persamaan adalah kunci keberhasilan dalam pernikahan. Banyak yang menikah karena merasa sama

  yang dinilai ‚tepat‛. Para sosiolog juga melihat adanya kecenderungan individu untuk menikahi individu lain dengan karakteristik sosial yang sama, atau disebut dengan ‚homogami‛. Karakteristik sosial tersebut antara lain latar belakang kelas, ras, agama, dan kepribadian individu (Collins dan Coltrane: 1996, 234).

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah dengan yang akan dinikahi. Banyak yang menikah karena sepemikiran dengan yang dinikahi. Menikah karena sevisi dalam menjalani kehidupan.

  Paradigma itu memang benar tapi kurang tepat. Sebab sebenarnya menikah bukannya menyatukan persamaan, tetapi menyatukan beragam perbedaan untuk dapat saling melengkapi. Pria baik-baik hanya untuk wanita baik-baik, dan wanita baik-baik hanya untuk pria baik-baik. Banyak yang menganggap menikah hanya untuk menyatukan dua hati. Mereka menikah hanya untuk menyalurkan rasa cinta mereka. Mereka tak peduli terhadap pandangan orang lain tentang pernikahan mereka dan mereka menikah karena terdorong oleh ego dan nafsu. Padahal pernikahan adalah salah satu upaya perkembangbiakan manusia. Pemeliharaan eksistensi manusia. Eksistensi manusia yang manusia. Manusia yang memiliki budaya manusia dan bertingkah sesuai fitrahnya sebagai manusia sekaligus cara pewarisan budaya yang ada.

  Banyak yang menikah karena hanya ingin bisa menyalurkan birahi saja. Mereka memilih menikah hanya sebagai syarat untuk melegalkan keinginan birahi mereka. Mereka tidak mempersiapkan diri untuk melakukan sebuah pendidikan keluarga. Mereka kurang menyiapkan diri untuk memelihara keturunan mereka. Padahal menikah bukan hanya untuk itu. Menikah berarti langkah untuk menguatkan keimanan. Menikahpun merupakan usaha untuk saling melindungi dan menguatkan. Menikah memiliki konsekuensi yang cukup berat karena berarti setelah menikah maka akan ada tugas pembentukan generasi penerus yang lebih baik dari mereka. minimal tugas mereka adalah menjadi teladan bagi para generasi penerus mereka. Mungkin kesalahan-kesalahan paradigma tersebut yang memicu orang untuk memilih tidak menikah. Mungkinpula hal itulah yang memilih orang untuk mengharamkan/menolak poligami. Mungkin fenomena kawin-cerai disebabkan kesalahan paradigma juga. Menikah bukan hanya untuk menyatukan dua hati, atau menyalurkan birahi, atau menyatukan persamaan. Menikah adalah sebuah bentuk ibadah di dalamnya ada usaha untuk saling melengkapi dan menguatkan. Ada usaha pewarisan dan pelestarian budaya. Ada proses edukasi untuk menciptakan generasi penerus yang lebih baik. Ada hal-hal yang tentunya tak bisa diketahui jika belum menikah, meskipun telah hidup bersama.

  Di tengah masyarakat yang semakin beragam memaknai pernikahan, semoga kita tetap memiliki sudut pandang terbaik tentangnya. Betapa banyak orang yang menikah secara lahir, tapi tidak secara batin dan pikiran. Tidak sedikit yang terjebak mempersepsikan pernikahan sebatas cerita roman picisan dan aktifitas fisik. Hingga wajar jika banyak remaja yang belum menikah saat mendengar kata menikah adalah kesenangan dan kenikmatan. Hal itu ditunjang oleh buku-buku pernikahan yang isinya memang mempertegas hal itu. Sementara sesungguhnya yang harus dilakoni adalah tanggung jawab dan pengorbanan. Memang pernikahan berarti memperoleh pendamping hidup, pelengkap sayap kita yang hanya sebelah. Tempat untuk berbagi dan mencurahkan seluruh jiwa. Tapi jangan lupa bahwa siapapun pasangan hidup kita, ia adalah manusia biasa. Seseorang yang alur dan warna hidup sebelumnya berbeda dengan kita. Seberapa jauh sekalipun kita merasa mengenalnya, tetap akan banyak 'kejutan' yang tak pernah kita duga sebelumnya. Upaya adaptasi dan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah komunikasi bakal jadi ujian yang cuma bisa dihadapi dengan senjata kesabaran.

  Pasangan kita, yang kita cintai adalah manusia biasa. Dan ciri khas makhluk bernama manusia adalah memiliki kekurangan dan

  30

  kelemahan diri . Memahami diri sendiri sebagai manusia sama pentingnya dengan memahami orang lain sebagai manusia. Pemahaman ini penting untuk dijaga, karena cepat atau lambat kita akan menemukan kekurangan atau kebiasaan buruk pasangan kita. Oleh karena itu, bagi yang belum menikah, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu dengan memilih pasangan hidup saja. Apalagi parameternya tak jauh dari penampilan, fisik, encernya otak, anak orang kaya, pekerjaan mapan, penghasilan besar. Lebih dari itu, pernikahan dalam konteks dakwah merupakan tangga selanjutnya dari perjalanan panjang dakwah membangun peradaban ideal dan tegaknya kalimat Allah. Namun tujuan mulia pernikahan akan menjadi sulit direalisasikan jika tidak memahami bahwa pernikahan dihuni oleh dua jiwa. Setiap jiwa punya warna tersendiri, dan pernikahan adalah penyelarasan warna-warna itu. Karenanya merupakan sebuah tugas untuk bersama-sama mengenali warna dan karakter pasangan kita. Belajar untuk 30 memahami apa saja yang ada dalam dirinya. Menerima dan

  Yang perlu disadari juga bahwa mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaan itu. Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat. Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. menikmati kelebihan yang dianugerahkan padanya dan membantu membuang karat-karat yang mengotori jiwa dan pikirannya.

  Menikah berarti mengerjakan sebuah proyek besar dengan misi yang sangat agung: melahirkan generasi yang bakal meneruskan perjuangan. Pernahkan terpikir betapa tidak mudahnya misi itu? Berawal dari keribetan kehamilan, perjuangan hidup mati saat melahirkan, sampai kurang tidur menjaga si kecil? Ketika bertambah usia, kadang ia lucu menggemaskan tapi tak jarang membuat kesal. Dan seterusnya hingga ia beranjak dewasa, belajar berargumentasi atau mempertentangkan idealisme yang orangtuanya tanamkan. Sungguh, tantangan yang sulit dibayangkan jika belum mengalaminya sendiri.

  Menikah berarti berubahnya status sebagai individu menjadi sosial (keluarga). Keluarga merupakan lingkungan awal membangun peradaban. Dan tentu sulit membangun peradaban jika kondisi 'dalam negeri' masih tidak beres. Maka butuh keterampilan untuk memanajemen rumah tangga, menjaga kesehatan rumah dan penghuninya, mengatur keuangan, memenuhi kebutuhan gizi, menata rumah, dan masih banyak lagi keterampilan yang mungkin tak pernah terpikirkan. Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa yang kokoh untuk menghapuskan pemisahan. Kesatuan agung yang menggabungkan kesatuan- kesatuan yang terpisah dalam dua ruh. Ia adalah permulaan lagu kehidupan dan tindakan pertama dalam drama manusia ideal. Di sinilah permulaan vibrasi magis itu yang membawa para pencinta dari dunia yang penuh beban dan ukuran menuju dunia mimpi dan ilham. Ia adalah penyatuan dari dua bunga yang harum semerbak, campuran dari keharuman itu menciptakan jiwa ketiga.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Menikah adalah saat di mana gerbang kesucian mulai dibentangkan. Menikah adalah saat di mana ketidaksempurnaan

  31

  bukan lagi masalah yang mesti diperdebatkan . Menikah adalah saat di mana akar dirajut dari benang-benang pemikiran. Menikah adalah saat di mana ketulusan diikatkan sebagai senyum kasih saying. Menikah adalah saat di mana kesendirian dicampakkan sebagai sebuah kebersamaan. Menikah adalah saat di mana kegelisahan beralih pada ketenangan. Menikah adalah saat di mana kehinaan beralih pada kemuliaan. Menikah adalah saat di mana peluh bergulir lanjutkan perjuangan. Menikah adalah saat di mana kesetiaan adalah harga mati yang tak bisa dilelang. Menikah adalah saat di mana bunga-bunga bersemi pada taman-taman. Menikah adalah saat di mana kemarau basah oleh sapaan air hujan. Menikah adalah saat di mana hati yang membatu lapuk oleh kasih saying. Menikah adalah sebuah pilihan antara jalan Tuhan dan jalan setan. Menikah adalah sebuah pertimbangan antara hidayah dan kesesatan. Menikah adalah saat di mana suka dan duka saling datang. Menikah adalah saat di mana tawa dan air mata saling berdendang. Menikah adalah saat di mana ikan dan karang bersatu 31 dalam lautan.

  Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji. Menikah adalah saat di mana dua hati menyatu dalam ketauhidan. Menikah adalah saat di mana syahwat tidak lagi bertebaran di jalan-jalan. Menikah adalah saat di mana ketakwaan menjadi teluk perhentian. Menikah adalah saat di mana kehangatan menyatu dalam pekatnya malam. Menikah adalah saat di mana cinta pada Allah dan rasul-Nya dititipkan. Menikah adalah saat di mana dua hati berganti peran pada kedewasaan. Menikah adalah saat di mana kecantikan adalah sebuah ujian. Menikah adalah saat di mana kecerewetan diperindah oleh aksesori kesabaran. Menikah adalah saat di mana pemahaman-pemahaman mulai disemikan. Menikah adalah saat di mana amal-amal mulai ditumbuhkan. Menikah adalah saat di mana keadilan mulai ditegakkan. Menikah adalah saat di mana aktivitas dibangun atas dasar ketaatan. Menikah adalah saat di mana perbedaan ciptakan kemesraan. Menikah adalah saat di mana belaian bak kumbang yang teteskan madu-madu kehidupan. Menikah adalah saat di mana kecupan bak mentari yang segarkan dedaunan dari kemarau panjang. Menikah adalah saat di mana goresan bayang-bayang yang kulukis pada mimpi-mimpi malam berubah menjadi kenyataan.

  32 Ingatlah bahwa pasangan kita adalah cermin diri kita . Jika 32 kita hitam, maka cermin akan memantulkan bayangan bahwa kita Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya. Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya. Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah hitam. Begitu juga jika kita bertaqwa, insya Allah bayangan yang terpantul adalah orang yang bertaqwa. Itulah pasangan kita. Maka taqwakan diri terlebih dahulu jika ingin mendapatkan pasangan yang bertaqwa. Salehkan diri dulu jika ingin mendapatkan pasangan yang saleh. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki- laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki- laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) (QS An-Nur: 26). Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin (QS An-Nur: 3) B.

   Memahami Konsep Konseling Perkawinan: Belajar Memaknai Perasaan dan Berempati dengan Hati Suami dan istri selayaknya saling mencintai, sesuai dengan rumus cinta yakni memberi dan menerima (give and receive), dan bukannya memberi dan meminta (give and take). Suami harus memberi kepada istrinya, tetapi juga menerima dari istrinya tanpa memintanya. Demikian pula istri harus memberi kepada suaminya, tetapi juga menerima dari suaminya tanpa memintanya namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu Sebelum kita mengkaji kriteria-kriteria dalam sebuah perkawinan, ada baiknya kita mengulas seputar cinta dan kasih sayang yang merupakan syarat utama bagi hidup berumahtangga.

  Sepasang pengantin baru yang mengawali kehidupan bersama dengan penuh cinta dan kasih sayang, mungkin setelah melangsungkan pernikahan sama sekali tidak berpikir akan ada masalah dan kesulitan di antara mereka. Mereka berpikir karena saling mencinta, selamanya mereka akan hidup damai dan rukun. Akan tetapi realita berkata sebaliknya. Setelah pernikahan berjalan beberapa waktu, mereka baru sadar ada jurang pemisah di antara keduanya. Akibatnya, perselisihan dan adu mulut merebak di tengah mereka. Akhirnya rasa saling cinta mulai terkikis. Mereka mulai sadar bahwa selama ini mereka belum memiliki pemahaman yang benar tentang kehidupan, dan membangun rumah tangga atas dasar gambaran yang keliru. Sang istri mungkin merasa bahwa selama ini sang suami telah menipunya sedang tampil berbeda dengan kepribadiannya yang sesungguhnya.

  Kebanyakan orang, khususnya anak muda beranggapan bahwa saat cinta datang menyapa, berarti pintu untuk berumah tangga telah terbuka. Padahal, para konselor, psikolog, dan antropolog berkeyakinan bahwa cinta semata tidak cukup menjadi jaminan untuk membentuk keluarga yang bahagia. Cinta adalah rasa indah dan menyenangkan yang ada pada manusia. Perasaan adalah warna kehidupan manusia, dan rasa senang akan menghiasi kehidupan dan membuatnya indah. Cinta adalah kecenderungan dan rasa memiliki seseorang kepada orang lain dirasakan dalam dirinya. Akan tetapi, rasa cinta ini perlu dilengkapi dengan kriteria-

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah kriteri khusus. Adanya kriteria tersebut, akan mengurangi masalah dan kemelut dalam kehidupan bersama.

  Dr. Kahari seorang psikolog Iran mengulas kriteria-kriteria

  33

  cinta sejati dalam kehidupan bersama , ia berpendapat; Salah satu bagian penting dari cinta adalah memahami kebutuhan, kecenderungan, dan perasaan pasangan.

  Pasangan suami-istri harus mengetahui kecenderungan dan perasaan masing-masing, dan harus saling membantu untuk mencapai keinginan-keinginan yang wajar, bukan malah menjadi penghalang bagi pasangannya. Hal lain yang tak kalah penting adalah rasa saling hormat. Saat sepasang suami-istri sudah saling cinta, mereka akan saling menghormati dan menghargai. Tentu saja pengkhianatan, amarah, tuduhan, dan cacian adalah tanda-tanda cinta semu di antara suami-istri. Kahari juga berkeyakinan bahwa rasa tanggung jawab dan saling perhatian adalah kriteria lain dari cinta sejati. Ia mengatakan; Rasa tanggung jawab dalam kehidupan, masa depan dan kesehatan jasmani dan rohani pasangan adalah ciri-ciri cinta

  34 33 sejati . Jika yang terjadi sebaliknya, maka hubungan suami- Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam.

  Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan. Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang 34 untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta.

  Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu. Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada istri mengalami masalah. Sangat disayangkan dalam banyak kesempatan bahwa apa yang dinamakan cinta tidak lebih dari ketergantungan mental dan kecenderungan kepada penghibur. Oleh karena itu, dalam menjalin hubungan asmara dengan calon pasangan hidup kriteria dan ciri-ciri tertentu perlu diperhatikan.

  Perkawinan adalah sebuah keputusan penting dalam kehidupan, sementara keputusan dilandasi oleh akal dan rasio. Sepanjang waktu, perasaan mengalami pasang surut dan cinta lahiriyah juga berubah seiring dengan perjalanan waktu. Oleh karena itu, keputusan penting semisal perkawinan harus disikapi dengan akal sehat dan pemikiran yang matang, jangan sampai perasaan dan rasa kagum menguasai seseorang hingga mengalahkan akal sehatnya.

  Coba Anda bayangkan Anda mendatangi sebuah toko untuk membeli pakaian. Apakah Anda akan memilih pakaian dengan corak dan harga asal jadi? Bagaimana jika Anda harus membeli buku atau bepergian? Apakah Anda akan memilih karena rasa suka atau tidak suka semata? Tentu saja tidak demikian. Jika Anda teliti melihat, Anda akan mengerti bahwa dalam banyak kesempatan bahkan dalam hal kecil sekalipun, Anda memutuskan karena pertimbangan akal sehat. Walaupun sekilas terlihat karena rasa suka akan sebuah pakaian, tapi ada hal-hal lain yang menjadi

  disisi kita. Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah perhatian Anda seperti ukuran, kecocokan, harga, corak dan lainnya. Keharusan dalam perkawinan adalah seseorang dengan sadar memilih orang lain yang memiliki banyak keselarasan dengannya untuk hidup bersama. Akan tetapi, tidak seorang pun menyandang semua kriteria yang diinginkan pasangannya. Meski demikian, ada beberapa kriteria utama yang perlu diperhatikan.

  Poin lain yang perlu diperhatikan adalah mengambil keputusan rasional dalam perkawinan bukan berarti mengesampingkan perasaan dan cinta. Tentu saja jika cinta dan kasih sayang hadir dalam kehidupan bersama, hubungan suami-

  

35

  istri akan lebih indah dan hangat . Alangkah baiknya jika rasa dan cinta dibangun atas pondasi yang kokoh. Rasulullah saw. bersabda, "Setelah nikmat Islam, kenikmatan terbesar dalam kehidupan adalah memiliki istri yang salehah".

  Tentu saja untuk sampai pada anugerah Allah ini perlu memperhatikan kritera yang benar dan tepat. Para psikolog berkata:

  1 bahagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya terpijak. Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya. Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta Dalam ranah perkawinan, terkadang orang mengalami goncangan hebat dalam menentukan kriteria pasangan hidupnya. Hasrat dan keinginan seksual, kecantikan, status sosial dan keyakinan, dan juga pendapat orang sekitar adalah sekelumit masalah yang membebani psikis seseorang. Psikilog Iran bernama dr. Navabi Nejad mengatakan,

  Jika seorang pria dan wanita dari sisi psikologis dan kultur memiliki kedekatan satu sama lain, maka kehidupan rumah tangga mereka akan lebih langgeng. Kriteria-kriteria ini dalam Islam dikenal dengan sebutan "Prinsip Kesetaraan" yang dapat diterapkan dalam berbagai dimensi seperti; usia, kejiwaan, kultur, keyakinan, status sosial, dan ekonomi".

  Dari hal-hal seperti inilah diharapkan pernikahan dapat membawa pada konsep keharmonisan keluarga yang berujung

  36 pada sakinah dan kebahagiaan .

  Apa yang terbayang oleh anda begitu mendengar istilah keluarga harmonis? Apakah anda membayangkan sebuah hubungan di mana tidak pernah terjadi pertengkaran, perbedaan pendapat, tidak pernah terjadi konflik? Mungkin ada yang apatis karena merasa keluarga harmonis hanya ada di negeri dongeng, terlalu muluk untuk menjadi kenyataan. Bahkan beberapa dari 36 anda sudah memutuskan bahwa keluarga harmonis itu mustahil

  Keluarga sakinah ibarat sebuah taman yang penuh bunga, dan dengan memilih pasangan yang tepat kunci taman impian ada di tangan Anda. Akan tetapi, taman impian ini memerlukan perhatian dan perawatan ekstra agar ia selalu nampak cerah dan segar. Sejauh ini, pernahkan Anda bertanya pada diri sendiri mengapa sebagian pasangan hidup mesra dan sehati? Atau kenapa sebagian pasangan setelah berumah tangga harus mengakhirinya dengan perceraian?

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah untuk diwujudkan. Setiap orang bisa memiliki pendapat yang berbeda tentang keluarga yang harmonis. Satu hal yang pasti, keluarga yang harmonis itu bisa anda miliki dan wujudkan! Tentu butuh usaha, kerja keras, komitmen, kemauan untuk berubah, kemauan untuk tumbuh agar hal ini bisa terwujudkan. Buang jauh- jauh dari pemikiran anda bahwa keluarga harmonis itu artinya tidak pernah terjadi perbedaan pendapat, pertengkaran- pertengkaran kecil. Anda dan pasangan anda adalah dua individu yang berbeda, di mana pasti terdapat perbedaan-perbedaan dari cara pandang, pola pikir, nilai-nilai yang dipegang dan masih banyak lainnya.

  Besar kemungkinan pada saat anda membaca tulisan ini, kondisi kehidupan pernikahan anda baik baik saja dan sedang tidak butuh perbaikan. Ibarat kunjungan ke dokter, jarang sekali ada yang secara sengaja mengunjungi dokter selagi masih sehat, sekadar untuk check up . Sebagian besar ‘terpaksa’ harus ke dokter karena sudah mengalami sakit. Paling ringan mungkin anda mengalami flu yang membandel, sudah beberapa waktu tidak juga kunjung sembuh. Demikian juga dengan ‘keinginan’ untuk mencari informasi tentang konsultasi atau konseling pernikahan. Bedanya dengan kunjungan ke dokter, mereka yang ‘terpaksa’ harus mencari informasi ini biasanya kondisi kehidupan pernikahannya sudah berada dalam stadium lanjut. Jarang yang kondisi kehidupan pe rnikahannya masih sehat atau mulai ‘flu’ sudah mencari konselor. Yang sering terjadi, mereka sudah berada dalam stadium 3 atau 4. Baru tersadarkan setelah di ujung jurang.

  Seperti juga mereka yang secara medis mengalami masalah kesehatan di stadium 3 atau 4, untuk bisa sembuh dari penyakitnya dibutuhkan keberanian dan komitmen untuk mau menjalani proses pengobatan yang tidak nyaman ini. Jika ternyata memang benar kondisi kehidupan pernikahan anda saat ini sedang dalam masalah, dibutuhkan keberanian dari anda untuk segera mengambil tindakan nyata untuk memperbaikinya. Sebagian dari kita mungkin masih belum yakin untuk melakukan konseling. Masih belum merasa urgensi untuk melakukan konseling. Yang perlu dimengerti dengan menunda melakukan tindakan nyata, sama saja dengan membiarkan krisis kehidupan pernikahan tergelincir masuk ke stadium yang lebih tinggi lagi. Dan bisa dipastikan dibutuhkan waktu dan usaha yang jauh lebih keras dan sulit untuk memperbaikinya. Mengutip Mary R jones, ada 4 langkah yang harus dilakukan saat mengalami krisis di kehidupan pernikahan:

  

Quit the blaming game, Take responsibility, Get help from experts, Take

action. Dengan ‘do nothing’, semakin besar kerusakan yang tercipta.

  Penyesalan selalu datang terlambat.

  1. Konseling Perkawinan: Sebuah Penelusuran Konsep

  37 Kehidupan perkawinan dapat disebut menyatukan dua 37 keunikan. Perbedaan watak, karakter, selera dan pengetahuan dari Dalam ajaran agama disebutkan bahwa perkawinan adalah salah satu proses yang sangat sakral, karena melibatkan banyak nyawa manusia dan melindungi kesucian generasi. Dengan perkawinan tersebut, manusia bisa terjaga dari kemusnahan. Untuk itu, tidak aneh jika agama (terutama Islam) sangat memperhatikan perkawinan ini, sehingga pengaturannya begitu rigid dan komplit. Kesalahan dalam salah satu tahap/proses akan dapat mengganggu proses keturunan. Banyak hikmah yang timbul dari perkawinan tersebut. Perkawinan dapat menumbuhkan naluri kebapakan (ubuwwah) dan keibuan (umuwwah), naluri kemanusiaannya (gharizah jinsiyyah) tersalurkan, dan relasi antar manusia makin abadi karenanya.

  Namun tidak selalu hikmah positif tersebut ini melekat pada perkawinan. Malahan tidak jarang sebuah perkawinan dapat menimbulkan kesengsaraan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah dua orang (suami dan istri) disatukan dalam rumah tangga, hidup bersama dalam waktu yang lama. Ada pasangan yang cepat menyatu, ada yang lama baru bisa menyatu, ada yang kadang menyatu kadang-kadang bertikai, ada yang selalu bertikai tetapi mereka tak sanggup berpisah. Hanya di tempat tidur mereka menyatu hingga anaknya banyak, tetapi di luar itu mereka selalu bertikai. Kehidupan berumah tangga ada yang berjalan mulus, lancar, sukses dan bahagia, ada yang setelah lama mulus tiba-tiba dilanda badai, ada yang selalu menghadapi ombak dan badai tetapi selalu bisa menyelamatkan diri.

  Komunikasi antara suami istri bersifat khas, tidak mesti logis. Hal-hal yang logis justeru sering disalah fahami, karena komunikasi suami istri tidak semata-mata menggunakan nalar, tetapi juga sarat dengan muatan perasaan. Hal-hal yang menurut nalar sesungguhnya kecil, bisa saja menjadi sumber prahara rumah tangga jika disikapi dengan sepenuh rasa. Ada suami istri yang selalu bisa menyelesaikan perselisihan tanpa bantuan orang lain, tetapi banyak suami istri yang justeru memerlukan bantuan orang lain untuk meluruskan pikiran dan perasaannya. Dalam istilah psikologi, orang yang bisa membantu orang lain mengatasi masalah kejiwaan (al irsyad an nafsy) mereka disebut konselor, dalam bahasa Arab disebut muhtasib.

  Dari fakta yang kita amati langsung di masyarakat maupun dari yang kita ketahui dari media masa, kita dapat mengatakan bahwa begitu banyak masalah yang muncul ke permukaan berkaitan dengan kehidupan keluarga sebagai akibat dari perkawinan. Masalah-masalah dalam keluarga khususnya yang menyangkut hubungan suami-istri, demikian merebak dan susul- menyusul seolah tak ada akhirnya. Masalah-masalah tersebut selayaknya diatasi sesegera mungkin, dan kalau tidak segera diatasi atau tertunda pengatasannya, tidak saja mengakibatkan terganggunya komunikasi mereka; namun juga dapat berakibat lebih jauh berupa terganggunya kualitas perilaku seksual mereka dan tidak menutup kemungkinan menjadi betul-betul tidak sehat perilaku seksualnya.

  Kehidupan keluarga yang harmonis, utamanya hubungan suami-istri yang harmonis tentu saja menjadi harapan atau keinginan siapapun yang akan dan telah melakukan perkawinan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua yang telah melakukan perkawinan atau pernikahan selalu diikuti suatu keharmonisan dalam hubungan mereka, dan bahkan tidak sedikit yang akhirnya mengalami kegagalan dalam perkawinannya.

  Setelah dikaji, sumber penyebab ketidak harmonisan hubungan mereka bermacam-macam dan berbeda-beda; ada yang karena belum atau tidak memahami karakteristik pasangannya, ada yang karena tidak tahu bagaimana seharusnya berkomunikasi yang tepat dengan pasangannya, ada yang karena salah satu tidak mencintai pasangannya sepenuh hati, ada yang karena mencintai pasangannya namun tidak bisa mewujudkan cintanya, dan lain sebagainya. Komunikasi yang tidak harmonis dapat berakibat perilaku seksual dirinya tidak sehat, demikian pula pasangannya; dan sebaliknya karena perilaku seksualnya tidak sehat dapat mengakibatkan rusaknya hubungan harmonis mereka sebagai suami-istri.

  Demikianlah kejadian itu berjalan bagaikan lingkaran setan, namun kajian kali ini lebih ditekankan pada dampak ketidak

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah harmonisan hubungan suami-istri terhadap perilaku seksualnya, dan bukan sebaliknya dampak ketidak-sehatan perilaku seksual terhadap keharmonisan hubungan dengan pasangannya. Banyak cara atau upaya yang dapat dilakukan agar terhindar atau teratasi keadaan yang mengerikan itu. Konseling perkawinan merupakan salah satu alternatif cara atau upaya yang dapat dilakukan agar tercipta hubungan yang harmonis pada pasangan suami-istri, yang pada gilirannya perilaku seksual yang sehat dapat terwujud dan ternikmati atas ridha Allah Yang Mahakuasa.

  Kajian ini, dimaksudkan untuk dapat lebih memahami pentingnya tiga hal yaitu hubungan suami-istri, dan kesehatan seksual, serta implikasinya ini dalam kehidupan kita, dan selanjutnya diharapkan dapat memberi manfaat kepada kita calon suami dan calon istri, serta pasangan suami-istri yang membutuhkannya.

  Hubungan seks suami istri sering menjadi tawar ketika mereka telah menikah. Mereka jadi jarang melakukan hubungan seks lagi. Padahal semasa awal pernikahan mereka mengebu-gebu dalam hal ini. Mungkin kalau ditanyakan penyebabnya mereka pasti mengatakan terlalu sibuk untuk hal lainnya sehingga bila ingin melakukan hubungan seks sudah enggan karena kecapaian. Sebenarnya ini hanyalah alasan belaka. Inti persoalannya mungkin bukanlah hal tersebut. Inti penyebab masalah tersebut adalah seringnya pria merasa ditolak oleh istrinya dan hilangnya rasa kemesraan yang diinginkan oleh seorang istri yang tidak diperolehnya dari suaminya. Bagi seorang pria seks merupakan cara untuk memperoleh dan merasakan cinta dari pasangannya, berbeda dengan wanita yang perlu merasakan cinta terlebih dahulu barulah ia dapat menikmati seks dengan suaminya. Seringnya pria mendapat penolakan dari istrinya karena istri tidak mood membuat para suami menjadi kecewa dan dia enggan untuk meminta seks lagi kepada istrinya.

  Oleh karena itu sering didapati para pria yang berselingkuh dengan wanita lain karena ia mendapatkan penerimaan dari wanita lain dan tidak demikian dengan istrinya. Pria juga tidak menyadari bahwa wanita memerlukan kemesraan dan rasa disayang sebelum dia mendapat mood dalam melakukan hubungan seks dengan suaminya. Jadi perlu dibina komunikasi yang baik, positif diantara suami istri sehingga setiap kali istri tidak mood melakukan hubungan seks, pria tidak merasa ditolak. Pada saat istri mengajak suaminya untuk berbincang-bincang tetapi disaat tersebut dia tidak berminat, sang suami bisa saja mengatakan ‚Saya senang bisa berbincang-bincang dengan kamu tapi ijinkan saya menyendiri sejenak dan nanti saya akan menemanimu berbincancang- bincang.‛

  Dengan ungkapan tersebut sang istri mengetahui bahwa suaminya peduli padanya.

  Demikian pula bila suaminya mengajak bercinta dan kebetulan istr i tidak berminat, ia dapat berkata ‚Boleh juga tapi saat ini kita ‘main’ kilat saja, ya.‛ Main kilat di sini maksudnya sang suami tidak perlu merangsang istrinya dan menunggu istrinya orgasme tetapi ia dapat orgasme sendiri. Dengan perkataan tersebut sang pria merasa tidak ditolak Ketika suami sudah kehilangan inisiatif untuk mengajak istrinya melakukan hubungan seks, dia akan dengan sabar menunggu sampai istrinya mood.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Ketika ia merasa bahwa ia harus selalu menunggu istrinya mood, ia akhirnya akan kehilangan hasratnya tanpa ia tahu sebabnya. Jadi bagi para istri haruslah berhati-hati dengan perkataan khususnya mengenai seks. Perkataan ‚Malas, ah, saya sedang nggak mood‛ atau ‚Saya lagi capek nih‛, tanpa disadari dapat mematikan hasrat seks suami. Dan mungkin di lain kesempatan, suami akan takut untuk mengajak istrinya berhubungan badan lagi dan mencari wanita lain. Bila suami telah kehilangan hasratnya, istri mulai panik dan terus mengajak suaminya bercinta. Suami yang terus dikejar makin tidak berhasrat melakukan hubungan seks tanpa ia tahu sebabnya. Sebagian pria tidak menyadari semakin agresif seorang wanita semakin padam gairah seks mereka. Mulanya mereka gembira melihat agresivitas pasangan mereka namun lama kelamaan mereka tidak tahu mengapa gairah seksnya hilang terhadap pasangannya.

  Sebagai jalan keluarnya seorang wanita dapat mengajak berhubungan seks suaminya secara tidak langsung dengan memberikan isyarat. Isyarat tersebut dapat berupa: berpakaian tidur yang seksi antara lain sutera merah muda, mengenakan parfum dengan aroma merangsang, mengenakan pakaian dalam yang seksi, dll. Baik juga bila sekai-sekali istri yang berinisiatif bercinta tapi jangan terus menerus. Hubungan seks menjadi begitu penting dalam kehidupan suami-istri yang romantis.

  Kesehatan seksual menunjuk kepada suatu rentang kondisi perilaku seksual dari yang tidak sehat sampai pada yang sehat. Perilaku seksual yang sehat dapat disejajarkan dengan perilaku seksual yang normal, yang adekwat, dan yang tidak mengalami gangguan fungsi; dan sebaliknya perilaku seksual yang tidak sehat dapat disejajarkan dengan perilaku seksual yang tidak normal, tidak adekwat, dan mengalami gangguan fungsi (disfungsi seksual). sesuai dengan topik pembicaraan kali ini, istilah-istilah tersebut diwakili oleh istilah perilaku seksual yang sehat untuk keadaan perilaku seksual yang positif, dan perilaku seksual yang tidak sehat untuk perilaku seksual yang negatif meskipun demikian dalam penyampaiannya akan digunakan istilah-istilah tersebut bergantian.

  Kondisi perilaku seksual seseorang dan pasanganya, baik yang sehat maupun yang tidak sehat mewarnai kualitas hidup yang bersangkutan dan pasangannya; artinya perilaku seksual yang sehat dapat membuat hidupnya berkualitas dan sebaliknya perilaku seksual yang tidak sehat dapat membuat hidupnya tidak berkualitas. Hal ini sejalan dengan pandangan Wimpie Pangkahila (2006:13-14) yang menyatakan bahwa pada akhirnya disfungsi seksual dapat mengganggu kualitas hidup yang bersangkutan dan pasangannya. Pendapat ini menggambarkan betapa urgentnya kondisi perilaku seksual seseorang dalam kehidupannya. Kualitas hidup seseorang seolah tergantung pada kesehatan perilaku seksualnya. Namun, banyak yang tidak menyadari akan hal itu. Banyak orang tidak menyadari bahwa kehidupan seksual sangat mempengaruhi kualitas hidup.

  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencantumkan bahwa aktivitas seksual sebagai salah satu aspek dalam menilai kualitas hidup manusia. Berarti kalau kehidupan seksual terganggu, maka kualitas hidup juga terganggu. Sebaliknya, kalau kehidupan seksual baik dan menyenangkan, maka kualitas hidup menjadi lebih baik (Wimpie Pangkahila, 2006:3). Ternyata bercinta yang

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah sering bisa memberikan manfaat buat pasangan suami istri, selain memberikan kemesraan juga bisa mencegah pasangan suami istri dari penyakit. Sebuah penelitian menemukan, menjalani seks lebih sering bisa menghambat pertumbuhan sel-sel kanker dalam tubuh, selain itu ternyata hubungan sek yang sering bagi suami istri bisa dijadikan alat diet yang paling effektif bagi pasangan suami istri dan masih menurut sebuah survey bahwa berhubungan intim bagi pasangan bisa membakar 50-60 kalori. Selain itu, Berhubungan mesra di ranjang bagi suami istri juga bisa menekan angka perceraian bagi suami istri karena menurut survay juga salah satu angka perselingkuhan yang berujung perceraian karena kurang hangatnya saat berhubungan di atas ranjang. Sayangnya orang baru sadar setelah akibat darinya sudah terlalu jauh, sudah memporak porandakan kebahagiaan yang selama ini telah dicapai dan yang akan dicapainya.

  Rono Sulistyo (1977:103-107) menggolongkan perilaku seksual manusia tidak memadai ke dalam tiga golongan,yakni: (1) cara-cara yang tidak normal dalam pemuasan keinginan seks, seperti: sadisme, masochisme, exhibitionisme, scoptophilia, voyeurisme, dll; (2) partner seksual yang tidak normal, seperti: homoseksualitas, pedophilia, bestiality, necrophilia, frottage, dll;  (3) derajat ketidak normalan daripada keinginan dan kekuatan dorongan seksual, seperti: anorgasme, dyspareunia, vaginisme, frigidity, impotency, dll. Wimpie Pangkahila (2006:3-5) mengemukakan jenis-jenis disfungsi seksual pada pria, yakni: (1) mengalami gangguan dorongan seksual atau gairah seksual, (2) mengalami gangguan ereksi, (3) mengalami gangguan ejakulasi, (4) mengalami disfungsi orgasme, (5) mengalami dyspereunia. Sedangkan jenis-jenis disfungsi seksual pada wanita, yakni: (1) mengalami gangguan dorongan seksual atau gairah seksual, (2) mengalami gangguan bangkitan seksual, (3) mengalami gangguan orgasme, (4) mengalami gangguan yang menimbulkan rasa sakit pada kelamin dan sekitarnya,dan kekejangan abnormal otot vagina 1/3 bagian luar. Itulah jenis-jenis perilaku seksual yang tidak memadai atau yang mengalami gangguan yang sengaja dikemukakan secara garis besar, sebagai gambaran tentang perilaku seksual yang tidak sehat; yang perlu mendapatkan perhatian dan yang sedang dikaji dari sudut pandang konseling perkawinan saat ini.

  Perilaku seksual tidak sehat pada seseorang, dapat disebabkan oleh banyak faktor, namun dapat dikelompokkan kedalam dua faktor besar yakni: faktor fisik dan psikis. Dalam hal ini, Wimpie Pangkahila (2006:7-9) mengemukakan bahwa pada dasarnya disfungsi seksual, baik pada pria maupun wanita, dapat disebabkan oleh faktor fisik dan faktor psikis. Faktor fisik ialah semua penyebab yang berupa gangguan fisik atau penyakit yang berpengaruh terhadap fungsi seksual. Sedang faktor psikis, ialah semua penyebab yang secara kejiwaan dapat mengganggu reaksi seksual terhadap pasangannya sehingga fungsi seksual terganggu. Tanpa mengurangi perhatian saya terhadap faktor fisik, saya akan lebih fokus kepada faktor psikis yang dapat mempengaruhi fungsi seksual seseorang, karena faktor psikis penyebab sehat tidaknya perilaku seksual inilah yang merupakan bidang kajian konseling perkawinan.

  Dalam hal faktor psikis yang dapat mengakibatkan disfungsi seksual, lebih lanjut Wimpie Pangkahila (2006:8) menyatakan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah bahwa faktor psikis yang dapat mengakibatkan disfungsi seksual meliputi semua faktor dalam semua periode kehidupan, yaitu periode anak-anak, remaja, dan dewasa. Faktor psikis tersebut dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, dan faktor pembinaan. Faktor predisposisi, misalnya pandangan yang negatif tentang seks, trauma seksual, pendidikan seks kurang, hubungan keluarga terganggu, masalah gaya hidup, dan tipe kepribadian. Faktor presipitasi, misalnya akibat psikis karena penyakit atau gangguan fisik, proses penuaan, ketidak setiaan terhadap pasangan, harapan yang berlebihan, depresi dan kecemasan, dan kehilangan pasangan atau yang disebut widower syndrome. Faktor pembinaan misalnya karena pengalaman sebelumnya, hilangnya daya tarik pasangan, komunikasi tidak baik, takut yang berkaitan dengan keintiman, dan informasi seks yang kurang.

  Seksualitas manusia mengalami perkembangan. Fundasi perkembangan seks dan seluruh kepribadian manusia telah ditentukan pada umur lima tahun pertama. Perkembangan kepribadian manusia sebagian besar ditentukan oleh perkembangan seksualitasnya (Sigmund Freud,dalam Sikun Pribadi (1981:184). Pendapat tersebut memberi gambaran kepada kita bahwa begitu eratnya hubungan antara seks dan kepribadian. Dalam hubungan ini, Masters Johnson, dalam Sikun Pribadi (1981:184) menyatakan bahwa seksualitas adalah dimensi (aspek) dan pernyataan dari kepribadian (sexuality is a dimension and

  

expression of personality). Pendapat ini dapat dimaknai bahwa

  kesehatan perilaku seksual seseorang diwarnai oleh kesehatan kepribadiannya. Dengan kata lain, sehat tidaknya perilaku seksual seseorang tergantung pada sehat tidaknya kepribadian seseorang tersebut. Pertanyaan yang sering muncul dan ditunggu-tunggu jawabannya adalah apakah perilaku seksual yang tidak sehat tersebut dapat diatasi apa tidak? Jawabnya adalah dapat.

  Perilaku seksual yang tidak sehat dapat diatasi. Bagaimana caranya? Dalam hal cara mengatasi, Wimpie Pangkahila (2006:14- 15) menyatakan bahwa pada dasarnya cara mengatasi disfungsi seksual, baik pada pria maupun wanita, terdiri dari: (1) konseling seksual, (2) sex therapy, (3) penggunaan obat, dan (4) penggunaan alat bantu. Dengan demikian, konseling khususnya konseling seksual sebagai salah satu alternatif cara dapat ditempuh guna membantu klien-klien yang sedang menderita karena tidak sehat perilaku seksualnya.

  Hubungan suami-istri yang harmonis merupakan dambaan setiap pasangan. Burgess dan Locke (1960: 294-306) mengemukakan bahwa keharmonisan hubungan suami-istri meliputi komponen- komponen: (1) saling mencintai, (2) adanya saling ketergantungan emosional, (3) adanya pemahaman yang simpatik, (4) adanya kesesuaian temperamental (saling melengkapi dan salaing menutup kekurangan yang ada), dan (5) adanya saling ketergantungan peranan, perilaku seksual, dan keluarga ekstra. Sebagai suami, selayaknya memerankan diri sebagai sex partner

  38 38 yang setia bagi istrinya , yang membatasi dirinya dalam Perkawinan dalam ilmu biologi berkaitan dengan fungsi reproduksi, atau sering disebut juga dengan istilah kopulasi (pada manusia disebut koitus).

  Kopulasi atau persenggamaan merupakan tindakan yang dilakukan Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah memuaskan nafsu birahinya, sehingga suami yang bijaksana mengerti apa artinya cinta itu, yaitu bukan saja minta dicintai melainkan juga mampu mencintai yang sangat dibutuhkan sang istri. Demikian pula sebaliknya, istri pun selayaknya juga memerankan diri sebagai sex partner bagi suaminya atas dasar cinta. Jadi, jelas bahwa suami dan istri selayaknya saling mencintai, sesuai dengan rumus cinta yakni memberi dan menerima (give and

  

receive), dan bukannyamemberi dan meminta (give and take). Suami

  harus memberi kepada istrinya, tetapi juga menerima dari istrinya tanpa memintanya. Demikian pula istri harus memberi kepada suaminya, tetapi juga menerima dari suaminya tanpa memintanya.

  Demi kelanggengan hidup bersama, setiap pasangan suami- istri memerlukan bangunan kaidah dan ketentuan yang khas. Artinya, kehidupan suami-istri hanya mungkin tegak dan berlangsung dalam suasana tenteram dan damai bila dilandasi perasaan cinta dan kasih sayang. Dengannya, pasangan suami-istri akan mampu melewati jalan kehidupan dan memperoleh kesempurnaan yang didamba. Kehidupan bersama yang kosong dari pengaruh cinta, pengorbanan, dan toleransi, akan menjadi tidak berarti. Kehidupan tanpa cinta dan saling menghargai

  sepasang hewan (termasuk manusia) dengan menggabungkan atau menyentuhkan alat kelamin kepada alat kelamin pasangannya. Dalam ilmu Biologi juga dikenal istilah feromon sebagai suatu zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan memiliki daya pikat. Zat ini berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesame jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Feromon pada manusia juga berfungsi sebagai daya tarik seksual. Para ahli kimia dari Huddinge University Hospital di Swedia malah mengkalim bahwa feromon juga mempunyai andil dalam menghasilkan perasaan suka, naksir, cinta, bahkan gairah seksual seorang manusia pada manusia lainnya merupakan kehidupan yang hina dan tidak bernilai, bahkan kita tidak dapat menyebutnya sebagai kehidupan (Ali Qaimi, terjemahan: Abu Hamida MZ, 2007:20).

  Salah satu motif seorang wanita berani menerjunkan diri dalam kehidupan berumah tangga salah karena cinta, yaitu ingin memberikan cinta tetapi juga ingin menerima cinta. Cinta adalah simbol psikologis bagi setiap wanita, sebab bila faktor ini tidak ada maka suasana rumah tangga akan dingin tanpa kehangatan dan kegembiraan. Hal ini penting juga bagi perkembangan anak-anak yang dilahirkan dalam kehidupan berkeluarga. Tanpa suasana hangat yang penuh dengan cinta, anak-anak tidak akan dapat mengembangkan inteligensinya, dan tidak akan dapat mengembangkan rasa simpatinya terhadap sesama manusia sebagai makhluk sosial. Ketidak mampuan anak dalam pergaulan sosial (sikap mengundurkan diri, sifat pemalu, konflik dengan anak-anak lain) justru karena kekurangan suasana hangat dan lembut dari sang ibu yang penuh kasih sayang (Sikun Pribadi, 1981: 42).

  Kasih sayang dari ibu kepada anak sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak di masa-masa selanjutnya. Artinya, kalau pada masa kecil utamanya pada masa balita anak cukup mendapatkan kasih sayang dari orang tua utamanya ibu, dapat diyakini bahwa anak tersebut kelak akan tumbuh dan ber¬kembang dengan baik dan positif; sebaliknya kalau kekurangan kasih sayang tidak mustahil anak tersebut kelak akan mengalami kesulitan dalam menyayangi atau mencintai orang lain termasuk mencintai suami atau istrinya. Mereka mengaku sangat menyayangi atau mencintai suami atau istrinya, tetapi tidak bisa

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah mewujudkan rasa sayang dan cintanya itu dalam perilaku nyata; sehingga tidak mustahil dapat berakibat mengalami kegagalan dalam perkawinannya. Kemungkinan kegagalan itu dapat diatasi dengan jalan mengubah atau meningkatkan kualitas kemampuannya dalam menyayangi atau mencintai pasangannya itu dalam tindakan nyata. Dengan demikian, disertai faktor-faktor pendukung lainnya tujuan perkawinan dapat tercapai tanpa banyak permasalahan yang menghadangnya, misalnya: sering terjadi pertengkaran, pasangan melakukan perselingkuhan, dan lain sebagainya.

  39 Perkawinan tidak akan terelakkan dari konflik-konflik .

  Tidak mungkin dua orang yang hidup bersama dari tahun ke tahun tanpa pertengkaran, kecuali kalau salah satu dari pasangan memutuskan bahwa adalah paling baik untuk tidak melakukan konfrontasi (Sawitri Supardi Sadarjoen, 2005:35). Di antara berbagai persoalan yang memicu terjadinya pertengkaran suami-istri 39 khususnya pasangan muda, tetapi juga dapat terjadi pada

  Kadang emosi dan marah bukan malah menyelesaikan masalah, justru malah menimbulkan masalah yang baru. Ketersingungan dengan apa yang diucapkan orang lain terhadap kita juga juga akan memacu emosi dalam jiwa. Rasa marah memang seringkali datang lebih cepat daripada rasa sabar kita. Dan selalu rasa sesal akan datang belakangan. Teringat kisah di mana waktu jaman Muhammad SAW, yang mana seorang ibu kehilangan anaknya, dan diminta sabar oleh ibunya oleh Muhammad SAW, tetapi tanpa melihat wajahnya, sang ibu hanya berucap kau tidak merasakan apa yang kurasa. Maka Muhammad SAW pun pergi , kemudian beberapa orang mengatakan kepada Sang ibu bahwa yang berbicara tadi adalah Nabi Muhammad SAW, maka serta merta ibu tersebut pergi menemui Muhammad SAW dan mengatakan kalau dia sudah sabar. Maka jawaban Muhammad SAW waktu itu adalah: Sabar itu adanya di awal, ketika hentakan pertama menghunjam, itulah sabar‛ pasangan yang sudah berusia lanjut; adalah perbedaan pendapat dan pandangan tentang kehidupan. Biasanya, jejaka dan gadis yang memasuki gerbang pernikahan, pada waktu yang bersamaan memiliki pendapat, impian, dan harapan yang berbeda-beda; dan biasanya khayalan dan harapan masing-masing menghalangi keduanya untuk lebih saling mengenal satu sama lain. Akhirnya, tanpa disertai pengetahuan dan kemampuan masing-masing tersebut; keduanya mulai membina kehidupan bersama.

  Bagaimana perjalanan selanjutnya? Setelah melewati masa dua atau tiga tahun kehidupan yang serba tenang, dimulailah fase perhitungan, penilaian, dan evaluasi terhadap segala hal. Ketika itu, sinar mentari menyeruakkan kabut-kabut khayalan dan fantasi mereka yang selama ini menggumpal dan menumpuk sedemikian rupa. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, masing-masing pihak berusaha saling membiarkan dan mendiamkan satu sama lain. Segeralah sikap buruk dan kedengkian yang selama ini terpendam mencuat ke permukaan. Sejak itu dimulailah babak pertengkaran dan pertentangan di antara keduanya (Ali Qaimi, terjemahan: Abu Hamida MZ, 2007: 17). Berarti hubungan mereka sudah tidak harmonis lagi, meski wujud ketidak harmonisan tidak hanya ditandai adanya pertengkaran.

  Kaitannya dengan pertengkaran ini, sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa seringkali pertengkaran itu dipicu oleh hal- hal yang kecil saja. Namun, pada tahap berikutnya pertengkaran tersebut cepat meluas hingga mengancam bangunan keluarga; dimulai dari kata-kata menyakitkan yang berhamburan sedemikian rupa, kemudian dilanjutkan dengan pertengkaran yang adakalanya disertai tindak kekerasan fisik, dan berujung pada hasrat untuk

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah bercerai dan berpisah. Pertengkaran itu sendiri, baik yang menyertakan intensitas emosional ringan maupun berat, baik yang menyertakan tindak kekerasan fisik maupun yang tidak; akan menyita energi psikis mereka yang pada gilirannya akan berpengaruh negatif secara nyata bagi kesehatan fisik dan mental mereka.

  Penelitian di Amerika, hasilnya menunjukkan bahwa pertengkaran seperti itu memberikan efek negatif, seperti: (1) adanya peningkatan resiko psikopatologi, (2) meningkatnya kecelakaan mobil yang berakibat fatal, (3) meningkatnya kasus percobaan bunuh diri, (4) meningkatnya perlakuan kekerasan antar pasangan, (5) kehilangan daya tahan tubuh yang menyebabkan kerentanan terhadap penyakit, (6) kematian karena penyakit yang diderita oleh ketegangan psikis (Bloom,et.al, 1978; dalam Sawitri Supardi Sadarjoen, 2005: 2). Pertengkaran yang berlarut-larut apalagi disertai tindak kekerasan fisik, dapat juga berakibat masing-masing pihak menemukan dirinya berada dalam pusaran angin kencang yang menderu-deru dan menghempaskan keduanya ke dalam keterasingan dan kabut penyelewengan.

  Tidak menutup kemungkinan pertengkaran akan berujung perceraian. Perceraian mungkin saja tidak berdampak negatif secara berarti bagi pasangan yang bercerai, namun yang pasti anaklah yang menjadi korbannya. Penelitian di Amerika membuktikan bahwa orang dewasa yang pernah mengalami perceraian kedua orang tuanya pada masa anak-anak, merasa lebih rentan terhadap situasi stres dibanding dengan mereka yang tidak mengalami peristiwa perceraian pada kedua orang tuanya. Kecuali itu, mereka juga merasa tidak nyaman berada di antara keluarga dan teman-temannya, serta lebih menderita kecemasan yang amat sangat. Mereka juga mengalami kesulitan untuk mengatasi stres kehidupan yang mereka hadapi dalam kehidupan selanjutnya (Sawitri Supardi Sadarjoen, 2005: 2).

  Secara teoritis pertengkaran juga didasarkan pada beragam tipe perkawinan. Dari tipe-tipe yang berbeda inilah memunculkan keunikan dan keragaman permasalahan yang muncul secara variatif dari masing-masing pasangan. Setidaknya ada 6 tipe yang dikenal di masyarakat.

  1. Conflict-habituated. Tipe conflict-habituated boleh dibilang

  sebagai ‚partner in crime‛. Tipe ini adalah tipe pasangan yang jatuh dalam kebiasaan mengomel dan bertengkar tiada henti. Kebiasaan ini menjadi semacam ‚jalan hidup‛ bagi mereka. Tak heran kalau secara konstan mereka selalu menemukan ketidaksepakatan. Dengan kata lain, stimulasi perbedaan individu dan konflik justru mendukung kebersamaan pasangan tersebut.

  2. Tipe hubungan devitalized merupakan Devitalized.

  karakteristik pasangan yang sekali waktu dapat mengembangkan rasa cinta, menikmati seks, dan satu sama lain saling menghargai. Namun mereka cenderung merasakan kehampaan hidup perkawinan kendati tetap berada bersama-sama. Karena kebersamaan mereka lebih karena dorongan demi anak atau citra mereka dalam komunitas masyarakat. Menariknya, pasangan tipe ini tak merasa dirinya maupun perkawinannya tidak bahagia. Mereka berpikir bahwa kondisi saat ini merupakan hal biasa setelah berlalunya tahun-tahun penuh gairah. Ironisnya, tipe

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah perkawinan inilah yang paling banyak ditemukan dalam masyarakat manapun.

  3. Passive-congenial. Pada dasarnya, pasangan tipe passive- congenial memiliki kesamaan dengan pasangan tipe devitalized. Hanya saja kehampaan yang dirasakan telah

  berlangsung sejak awal perkawinan. Boleh jadi karena perkawinan seperti ini biasanya berangkat dari berbagai pertimbangan ekonomis atau status sosial dan bukannya relasi emosional. Seperti halnya pasangan tipe devitalized yang minim keterlibatan emosi, pasangan passive-congenial juga tidak terlalu berkonflik, namun kurang puas menjalani perkawinannya. Dalam keseharian, pasangan-pasangan tipe ini lebih sering saling menghindar dan bukannya saling peduli.

  menekankan peran ketimbang hubungan. Misalkan peran sebagai ibu, ayah atau peran-peran lain. Terdapat perbedaan sangat kontras bila dibandingkan dengan tipe vital dan total yang bersifat intrinsik, yaitu mengutamakan relasi perkawinan itu sendiri 5.

Vital. Cirinya, pasangan suami-istri terikat satu sama lain

  terutama oleh relasi pribadi antara yang satu dengan yang lain. Di dalam relasi tersebut, satu sama lain saling peduli untuk memuaskan kebutuhan psikologis pihak lain. Mereka berdua pun saling berbagi dalam melakukan berbagai aktivitas kendati masing-masing individu memiliki identitas kepribadian yang kuat. Yang mengesankan, komunikasi mereka mengandung kejujuran dan keterbukaan. Kalaupun mengalami konflik biasanya lantaran ada hal-hal yang sangat penting. Untungnya, baik suami maupun istri saling berupaya menyelesaikannya dengan cepat dan bijak. Tentu saja tipe ini merupakan tipe relasi perkawinan yang paling memuaskan. Tak heran kalau tipe ini paling sedikit persentasenya dalam masyarakat.

  bedanya pasangan ini sedemikian saling menyatu hingga menjadi ‚sedaging‛. Mereka selalu dalam kebersamaan secara total yang meminimalkan adanya pengalaman pribadi dan konflik. Akan tetapi tidak seperti pasangan tipe devitalized, kesepakatan di antara mereka biasanya dibangun demi hubungan itu sendiri. Sayangnya, tipe perkawinan seperti ini sangat jarang. Pertengkaran, yang berarti pula ketidak harmonisan hubungan suami-istri dan memberikan efek negatif sejauh itu, tentu saja ada penyebabnya. Di samping faktor perbedaan pendapat dan pandangan tentang kehidupan sebagaimana telah diutarakan, faktor-faktor penyebab pertengkaran adalah: (1) tidak adanya pengalaman hidup berumah tangga, (2) kedua belah pihak memiliki harapan-harapan yang terlampau muluk, (3) adanya prasangka buruk, (4) hasrat untuk berkuasa dan mendominasi, (5) tidak adanya ketegaran, (6) tidak adanya saling pengertian, (7) tujuan dan sebab-sebab material, (8) tutur kata yang buruk, (9) hilangnya kemesraan (Ali Qaimi, terjemahan: Abu Hamida MZ, 2007: 39-40).

  Tipe istri dan tipe suami tertentu, juga potensial menjadi penyebab terjadinya pertengkaran atau ketidak harmonisan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah hubungan suami-istri. Beberapa tipe istri yang dapat mengancam keharmonisan hubungan suami-istri, yaitu: (1) tipe xantipte: yang terus menerus menjajah suami dan seluruh keluarga, (2) tipe erotis seksual: yang menuntut amat banyak dari suaminya, dan kalau tidak terpenuhi mencari pada lelaki lain, (3) tipe penjudi: yang menjudikan seluruh harta benda, dirinya, dan seluruh pernikahannya. Sedangkan tipe suami yang mengancam keharmonisan hubungan suami-istri, yaitu: (1) tipe brute: yang berlaku kasar terhadap istrinya, (2) tipe sadist: merasa senang jika mengganggu, menghina, atau menyakiti istrinya secara jasmaniah atau rokhaniah, (3) tipe hiperseksual: yang tidak puas dengan koitus berkali-kali dengan istrinya, dan masih memerlukan wanita- wanita lain untuk memberikan kepuasan seksualnya, (4) tipe suami yang hemat: yang selalu menegur istrinya untuk berhemat, (5) tipe pekerja berat: yang mementingkan kerja, sehingga tidak ada waktu berrekreasi bersama keluarga, dan (6) tipe eksplosif: yang lekas marah, tidak sabar dan menguasai (S.J. Warouw: 1964, dalam Sinolungan, 1979: 126-127).

  Keharmonisan hubungan suami-istri besar pengaruhnya terhadap kesehatan perilaku seksual mereka. Hubungan keluarga yang terganggu, komunikasi suami-istri yang tidak baik, dapat menjadi penyebab terjadinya gangguan fungsi seksual mereka (Wimpie Pangkahila, 2008: 8).

  Perkawinan adalah suatu ikatan antara pria dan wanita sebagai suami istri berdasarkan hukum (UU), hukum agama atau adat istiadat yang berlaku (Dadang Hawari, 2006: 58). Sedangkan menurut Undang-Undang Perkawinan (Undang-Undang No. 1 Tahun 1974) yang dimaksud dengan perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri

  40

  dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam perkawinan terdapat ikatan lahir batin, yang berarti bahwa dalam perkawinan itu perlu adanya ikatan tersebut pada keduanya. Ikatan lahir adalah merupakan ikatan yang menampak, ikatan formal sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada. Ikatan formal ini adalah nyata, baik yang mengikat dirinya yaitu suami dan istri, maupun bagi orang lain yaitu masyarakat luas. Ikatan batin adalah ikatan yang tidak nampak secara langsung, tetapi merupakan ikatan psikologik. Antara suami dan istri harus ada ikatan ini, harus saling mencintai satu sama lain, tidak adanya paksaan dalam perkawinan. Bila perkawinan dengan paksaan, tidak adanya cinta kasih satu dengan yang lain, maka berarti bahwa dalam 40 perkawinan tersebut tidak ada ikatan batin (Bimo Walgito, 1984:10).

  Gary S. Becker, seorang ahli di bidang ekonomi membuat suatu teori tentang perkawinan dari sudut pandang ekonomi. Teori tersebut menjelaskan tentang proses keputusan menikah seorang individu. Diawali dengan identifikasi yang dilakukan individu terhadap pasangan-pasangan yang mungkin dinikahi. Pasangan-pasangan yang mungkin dinikahi adalah orang- orang di mana ketika individu memutuskan untuk menikah dengan orang tersebut akan menjadi lebih bahagia daripada hidup sendiri (individu diasumsikan bersikap rasional). Individu kemudian akan memilih pasangan yang akan menghasilkan output pernikahan yang paling besar, paling memberikan kebahagiaan diantara semua alternatif yang ada. Menurut model ekonomi perkawinan, seorang individu akan memutuskan untuk menikah jika pernikahan akan lebih memberikan kebahagiaan daripada hidup sendiri (Bryant dan Zick: 2006, 45-47).

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Pengertian perkawinan dapat disejajarkan dengan pengertian pernikahan. Dalam hal nikah, Sikun Pribadi (1981:33) mengemukakan bahwa nikah; ialah ikatan janji cinta antara dua jenis kelamin, yang bertemu dalam hatinya. Dalam pengertian cinta, ada dua unsur yaitu saling menyayangi dan tarik-menarik karena birahi. Di dalam gejala birahi terdapat unsur seks, yang selalu ada pada setiap manusia yang normal. Seks ialah energi psikis, yang mewujudkan diri dalam berbagai bentuk, terutama dalam bentuk hubungan antar manusia sebagai pria dan wanita. Atas dasar pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa perkawinan atau pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami-istri atas dasar cinta dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal ber;dasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

  Tujuan perkawinan implisit di dalam rumusan tentang pengertian perkawinan sebagaimana diuraikan di muka. Lebih jelasnya, dalam pasal 1 Undang-Undang Perkawinan tersebut dikemukakan bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Rumusan tujuan perkawinan tersebut mengisyaratkan bahwa tujuan kedua individu yang melakukan perkawinan itu haruslah sama. Tidaklah termasuk ke dalam pengertian ini kalau tujuannya berbeda. Kalau sampai terdapat tujuan yang berbeda, tentu saja perlu mendapatkan perhatian yang serius,  karena tujuan yang tidak sama antara suami dan istri akan merupakan sumber permasalahan dalam keluarga. Untuk membentuk keluarga yang bahagia perlu mempersatukan tujuan yang akan dicapai dalam perkawinan itu.

  Di samping tujuan yang akan dicapai harus sama antara suami dan istri, kebahagiaan dalam keluarga perlu dijadikan arah dan bila perlu dijadikan target yang harus dicapai; karena bahagia merupakan ukuran hidup yang sebaik-baiknya, yaitu sebagai seni hidup, ukuran bagi kebaikan dalam arti etika humanistik (Erich Fromm, dalam Sikun Pribadi, 1981:163). Jadi, menurut Erich Fromm hidup bahagia itu adalah kriteria bagi kehidupan yang utama, bagi kehidupan yang etis. Itulah seni hidup yang paling sukar. Jika kondisi itu tercapai, dapat dikatakan bahwa hidup kita telah berhasil sebagai hidup yang produktif. Hidup yang produktif ialah hidup yang sangat besar manfaatnya, hidup yang banyak amalnya, yang tidak konsumtif sebagai parasit yang hidup dari usaha orang lain. Tidak ada suatu perkawinan yang tidak mengalami cobaan, bagaikan peribahasa yang mengatakan dalam mengarungi bahtera rumah tangga itu tidak selamanya angin dari arah buritan, terkadang badai menghadang. Di sinilah seni hidup, mereka yang berhasil melampuainya akan berakhir pada tujuan kebahagiaan rumah tangga (Dadang Hawari, 2006: ix).

  Konflik atau masalah-masalah yang dialami oleh pasangan suami-istri selayaknya diatasi dan bukan dihindari. Menghindari masalah tak ubahnya merusak diri (self-defeating). Konseling perkawinan merupakan salah satu pendekatan dalam mengatasi konflik atau masalah dalam perkawinan tersebut. Lalu apa konseling perkawinan itu?. Konseling perkawinan yang memiliki istilah lain: couple counseling, marriage counseling, dan marital

  

counseling, marupakan konseling yang diselenggarakan sebagai Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah metode pendidikan, metode penurunan ketegangan emosional, metode membantu partner-partner yang menikah untuk memecahkan masalah dan cara menentukan pola pemecahan masalah yang lebih baik (Klemer dalam Latipun, 2008: 221). Konseling perkawinan merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh konselor kepada individu atau sekelompok individu klien, yang dimungkinkan akan atau sedang mengalami sesuatu masalah yang berhubungan dengan hidup sebagai pasangan suami-istri, yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapinya (Soeharto, 2007: 5).

  Klemer (1965) mengartikan konseling perkawinan sebagai konseling yang di selenggarakannya sebagai metode pendidikan, metode penurunan ketegangan emosional, metode membantu patner-patner yang menikah untuk memecahkan masalah dan cdara menentukan pola pemecahan masdalah yang lebih baik. Dikatakan sebagai metode pendidikan karena konseling perkawinan memberikan pemahaman kepada pasangan yang berkonsultasi tentang diri, pasangannya, dan masalah- masalah hubungan perkawinan yang dihadapi serta cara- cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan perkawinan.

  Penurunan ketegangan emosional dimaksudkan sebagai konseling perkawinan dilaksanakan biasanya saat kedua belah pihak berada pada situasi emosional yang sangat berat. Dengan konseling, pasangan dapat melakukan ventilasi, dengan jalan membuka emosionalnya sebagai katartis terhadap tekanan-tekanan emosional yang dihadapi selama ini. Yang membantu disebut konselor seorang konselor bukan subyek, karena konselor hanya membantu, subyeknya adalah klien itu sendiri dan obyeknya adalah masalah yang dihadapi. Yang dapat dilakukan oleh seorang konselor antara lain membantu klien untuk: 1. memahami diri sendiri. 2. mengukur kemampuannya. 3. mengetahui kesiapan dan kecenderungannya. 4. memperjelas orientasi, motivasi dan aspirasinya. 5. mengetahui kesulitan dan problem lingkungan di mana ia hidup, serta peluang yang terbuka baginya. 6. membantu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menetapkan tujuan yang paling kongkrit bagi dirinya. 7. mendorong klien untuk berani mengambil keputusan yang sesuai dengan kemampuannya, dan memanfaatkan se optimal mungkin potensi yang ada pada dirinya untuk merebut peluang yang terbuka. Jika klien nya orang awam, konseling dibutuhkan untuk: membantu pengembangan diri dan memilih gaya hidup (life style) yang sesuai dengan aspirasinya. Menjaga agar mereka tidak terjatuh pada keadaan merasa tidak wajar dan tidak bahagia. Membantu menentukan pilihan-pilihan. Memban-tu meringankan perasaan, frustrasi dn sebangsanya.

  Konseling perkawinan bebeda dengan konseling pranikah dan konseling keluarga. Konseling pranikah (premarital counseling) merupakan konseling yang diselenggarakan kepada pihak-pihak yang belum menikah, sehubungan dengan rencana pernikahannya, seperti: dalam rangka membuat keputusan agar lebih mantap dan dapat melakukan penyesuaian di kemudian hari secara lebih baik; Sedangkan konseling keluarga (family counseling) secara umum dibatasi sebagai konseling yang berhubungan dengan masalah-masalah keluarga, seperti: hubungan peran di keluarga, masalah komunikasi, tekanan dan peraturan keluarga, ketegangan orang tua-anak, dan lain-lain. Pemecahan masalah yang dialami oleh anggota keluarga perlu

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah adanya keterlibatan anggota keluarga lainnya. Sementara konseling perkawinan lebih menekankan pada masalah-masalah pasangan suami-istri (Latipun, 2008: 222-230).

  Membedakan secara sangat ketat antara konseling perkawinan dan konseling keluarga adalah tidak gampang, dan oleh karenanya dalam kajian ini ada kemungkinan menyentuh wilayah konseling keluarga. Yang jelas, pemecahan masalah- masalah baik yang dialami oleh pasangan suami-istri maupun yang dialami oleh anggota keluarga, adalah menggunakan pendekatan konseling. Pendekatan konseling bercirikan pemecahan masalah yang ditempuh melalui komunikasi dua arah (two way traffic) antara konselor dengan klien, dan bukan satu arah (one way traffic) seperti dalam kepenasihatan.

  Konseling perkawinan diselenggarakan tidak dimaksudkan untuk mempertahankan suatu pasangan. Konselor perkawinan menyadari betul bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk menentukan apakah suatu pasangan suami-istri harus bercerai atau tidak. Tujuan konseling perkawinan adalah membantu klien- kliennya untuk mengaktualisasikan yang menjadi perhatian pribadi, apakah dengan jalan bercerai atau tidak (Brammer Shostrom, 1982: 348-349); membantu klien membuat keputusannya sendiri bercerai atau tidak, dan konselor bertanggung jawab membantunya berpikir secara rasional, dan oleh karenanya klien dapat hidup dengan keputusan yang dibuatnya (Gibson and Mitchell, 1986: 100).

  Dalam konseling perkawinan, konselor membantu klien (pasangan) untuk melihat realitas yang dihadapi, dan membantu membuat keputusan yang tepat bagi keduanya. Keputusannya dapat berbentuk menyatu kembali, berpisah, cerai; dalam rangka mencari kehidupan yang lebih harmonis, dan menimbulkan rasa aman bagi keduanya. Huff dan Miller, mengemukakan bahwa tujuan jangka panjang daripada konseling perkawinan adalah: (1) meningkatkan kesadaran dirinya dan dapat saling empati di antara pasangan, (2) meningkatkan kesadaran tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing, (3) meningkatkan sikap saling membuka diri, (4) meningkatkan hubungan yang lebih intim, (5) mengembangkan ketrampilan komunikasi, pemecahan masalah, dan mengelola konfliknya (Brammer and Shostrom, 1982: 348-349).

  Sesuai dengan pengertian dan tujuan konseling perkawinan tersebut, berikut ini konselor perkawinan menyampaikan pandangannya dan pandangan-pandangan lain seputar bagaimana menciptakan hubungan suami-istri atau keluarga yang harmonis, serta mengatasi masalah berkaitan dengan ketidak harmonisan hubungannya sebagai suami-istri dan ketidak sehatan perilaku seksualnya secara garis besar.

  Di bagian depan telah dijelaskan bahwa pada dasarnya suatu perkawinan tidak akan terelakkan dari konflik. Adalah wajar dalam suatu perkawinan terjadi pertengkaran antara suami dengan istri. Di samping nilai negatifnya, pertengkaran suami-istri terdapat juga nilai positifnya. Beberapa terapis perkawinan, menekankan bahwa memang dalam situasi yang tepat, pertengkaran dapat memproduksi kedekatan yang lebih di antara pasangan (Sawitri Supardi Sadarjoen, 2005: 100). Beberapa terapis perkawinan tersebut menyarankan beberapa cara untuk mengatasi konflik secara adil dan produktif, sebagai berikut:

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  1. Hendaknya pasangan mengungkapkan keluhan secara spesifik dan meminta pasangannya untuk melakukan perubahan-perubahan perlakuan dan tingkah laku yang memang bisa diubah agar segala sesuatu menjadi lebih baik. Untuk itu, pasangan harus mengungkapkan keurutan isu-isu tertentu yang pasti pada waktu yang tepat.

  2. Pasangan hendaknya memahami diri masing-masing, dengan mencoba meminta dan memberikan umpan balik dari pasangannya.

  3. Pasangan tidak dibenarkan untuk membuat keputusan tentang karakteristik spesifik tertentu pasangannya, misalnya: Kamu keras kepala, Kamu pembohong. Pasangan juga tidak dibenarkan membuat keputusan seolah pasangannya tidak mungkin untuk konsisten terhadap kesepakatan yang telah ditentukan oleh pasangan, apalagi dengan kata-kata yang mengandung unsur sarkastik.

  4. Pasangan hendaknya mengkomunikasikan hal-hal yang terjadi, di sini dan pada saat ini, sehingga tidak akan terkomplikasi dengan muatan-muatan perilaku negatif dan kesusahan-kesusahan terdahulu yang telah terjadi pada masa lalu, atau bahkan menyertakan keluhan-keluhan yang tidak relevan dengan masalah aktual yang saat ini dan pada waktu ini terjadi.

  5. Pasangan hendaknya mempertimbangkan kemungkinan untuk selalu mencari jalan kompromi, karena tidak akan pernah menjadi pemenang tunggal dalam argumentasi yang jujur di antara pasangan perkawinan. Dalam hal ini, pasangan harus mengingat bahwa mereka adalah satu tim dan bukan dua kelompok yang berbeda dan terpisah.

  6. Pasangan harus trampil untuk berkomunikasi dengan penuh empati sehingga mampu memahami sudut pandang pasangannya. Pasangan hendaknya memiliki optimisme bahwa akan selalu dapat dicapai satu jalan terbaik bagi penyelesaian konflik yang mereka hadapi. Kita semua baik yang sudah menikah maupun yang baru akan menikah pasti menginginkan pernikahan/ perkawinan kita mencapai hubungan perkawinan yang sehat dan bahagia. Untuk itu perlu adanya pegangan atau kriteria yang jelas untuk perwujudannya. Adapun pegangan atau kriteria menuju hubungan perkawinan yang sehat dan bahagia, atau keluarga yang harmonis, adalah sebagai berikut: 1.

Kehidupan beragama dalam keluarga. Ciptakan kehidupan beragama dalam keluarga, sebab dalam agama terdapat nilai-

  nilai moral atau etika kehidupan. Landasan utama dalam kehidupan keluarga berdasarkan ajaran agama ialah kasih sayang. Cinta mencintai dan kasih mengasihi berarti silaturahmi tidak terputus, tetapi diperbaiki dan dikembangkan. Hasil penelitian lain yang mendukung hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa keluarga yang tidak religius, yang komitmen agamanya lemah, dan keluarga yang tidak mempunyai komitmen agama sama sekali, mempunyai resiko empat kali untuk tidak berbahagia dalam keluarganya.

  2. Waktu bersama keluarga. Waktu untuk bersama keluarga itu harus ada. Menciptakan suasana kebersamaan dengan unsur keluarga itu penting. Untuk memelihara perkawinan itu;

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah sendiri, seorang suami harus menyempatkan waktu untuk istrinya. Berdua saja, tidak dengan anak-anak lagi pergi ke mana saja secara pribadi.

  3. Hubungan yang baik antar anggota keluarga. Harus diciptakan hubungan yang baik antara anggota keluarga.

  Harus ada komunikasi yang baik (timbal balik), demokratis. Ayah dan ibu dituntut untuk menciptakan suasana yang komunikatif dan demokratis.

  4. Saling harga menghargai antar anggota keluarga. Seorang anak perlu menghargai sikap ayahnya, begitu juga ayah bisa menghargai prestasi anak atau sikap anak. Seorang istri menghargai sikap suami dan sebaliknya suami menghargai sikap istri.

  5. Hubungan yang erat dalam keluarga. Hubungan antara ayah, ibu, dan anak harus erat dan kuat. Jangan longgar dan rapuh.

  Hubungannya harus menghasilkan keadaan dekat di mata dekat dihati. Setidaknya jauh di mata dekat di hati, dan bukannya dekat di mata jauh di hati atau jauh di mata jauh di hati.

  6. Keutuhan keluarga. Jika keluarga mengalami krisis karena sesuatu persoalan, maka prioritas utama adalah keutuhan keluarga. Keluarga harus kita pertahankan, baru apa masanya atau apa krisisnya kita selesaikan. Jangan karena krisis, lalu kita pisah, kita cerai saja. Apapun alasan perceraian, yang menjadi korban adalah anak-anaknya. Mungkin si istri atau suami bahagia, tetapi anak-anaknyap; akan menderita (Dadang Hawari, 2006:17-25). Berikut sejumlah panduan sebagai bahan pertimbangan pada saat Anda merasa memerlukan bantuan profesional untuk memperbaiki bahtera rumah tangga.

  Sering kali seorang konsultan mengatakan, dia adalah terapis perkawinan yang baik dan sudah berpengalaman. Ia pun mengaku sudah menolong sekian banyak pasangan yang bermasalah, terutama dalam menangani salah satu pihak (suami atau istri saja dan bukan keduanya). Pada kenyataannya, kita tidak dapat mengidentifikasikan suatu jenis terapi hanya dengan jumlah klien yang datang. Terapi perkawinan memerlukan suatu keahlian dan keterampilan khusus demi membantu mengatasi perbedaan suami-istri yang tinggal serumah. Mereka harus mencari tahu penyebab perselisihan. Bisa saja seorang terapis amat piawai membantu seseorang dalam mengatasi suatu masalah, tetapi untuk membantu menyelesaikan masalah dari dua orang yang tinggal serumah haruslah memiliki keahlian tertentu. Oleh karena itu, Anda tidak perlu ragu-ragu untuk menanyakan kepada si konsultan mengenai jam terbang, ilmu, dan pengalamannya.

  2. Pastikan terapis Anda cenderung memberi jalan keluar yang terbaik bagi perkawinan Anda yang sedang guncang dan bukan menganjurkan perpisahan. Jangan ragu untuk menanyakan kepada si terapis tentang persentase pasangan suami-istri yang akhirnya bercerai serta yang berhasil rukun dan bahagia lagi setelah berkonsultasi dengannya. Walaupun mungkin ia tidak akan menyukai

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah pertanyaan tersebut dan tidak mau memberi angka yang spesifik, Anda dapat menemukan jawabannya dari raut mukanya pada saat membicarakan hal ini. Anda harus memastikan perasaan dan keyakinan Anda bahwa tujuan utama konsultan yang Anda pilih adalah mempersatukan kembali Anda dan pasangan.

  Bila terapis hanya memihak Anda atau pada pasangan, jelas ia bukan konsultan yang tepat. Terapis yang baik harus dapat mengerti permasalahan dan cerita yang disampaikan oleh kedua belah pihak dan membantu pasangan tersebut mencari jalan keluar. Bila Anda merasa tidak setuju dengan saran yang disampaikannya, sebaiknya ungkapkan dengan terus terang. Bila ia memberi umpan balik yang baik, hal itu merupakan pertanda baik. Bila tidak, sebaiknya tinggalkan terapis tersebut.

  4. Pandangan terapis terhadap hubungan suami-istri berperan penting dalam hal kerja sama dengan Anda Bicara mengenai mencintai dan dicintai serta untuk tetap saling menyintai, maka tidak ada peraturan yang universal. Oleh karena itu, bila si terapis mengatakan hanya ada satu cara dalam mencapai suatu perkawinan yang bahagia, sebaiknya cari konsultan yang lain.

  5. Pastikan pasangan dan terapis menyusun sasaran dan tujuan yang konkret sedini mungkin.

  Bila tidak, kemungkinannya setiap minggu sesudah terapi Anda tak akan ada kemajuan serta tidak jelas arah tujuan dari terapi tersebut. Begitu Anda sudah menentukan sasaran yang akan dicapai, sebaiknya perhatikan kemajuan yang diperoleh. Bila tidak merasakan suatu kemajuan atau keadaan tak membaik sesudah dua atau tiga pertemuan, sebaiknya diskusikan dengan si konsultan.

  6. Biasanya pasangan yang sedang menghadapi masalah dalam rumah tangganya tidak tahu cara mencari jalan keluar yang terbaik. Bila konsultan memusatkan terapinya pada masalah masa lalu Anda berdua, minta ia melakukan pendekatan yang berorientasi ke masa depan. Bila tidak, sebaiknya cari ahli lainnya yang mau melakukan terapi sesuai dengan permintaan Anda.

  7. Memahami bahwa sebagian besar dari masalah rumah tangga dapat diatasi Jangan biarkan si konsultan mengatakan, perubahan merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Manusia merupakan makhluk yang menakjubkan dan sanggup melakukan hal-hal yang luar biasa. Terutama untuk orang yang dicintainya.

  Dari naluri, Anda akan mengetahui, apakah seorang terapis akan membantu atau tidak. Jangan lakukan terapi dengan seorang konsultan yang hanya menginginkan uang Anda. Cari yang sungguh-sungguh akan membantu mengembalikan kerukunan Anda berdua.

  9. Cara yang terbaik untuk mendapatkan seorang terapis yang baik adalah dari mulut ke mulut.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Tidak ada promosi yang lebih baik dibanding masukan yang diberikan langsung dari seorang pelanggan yang merasa puas. Walaupun kadang ada perasaan malu untuk mencari informasi mengenai terapis yang baik dan bagus, Anda tetap harus melakukannya demi rumah tangga Anda berdua. Jangan menyerah untuk melakukan terapi, tetapi Anda harus menyerah dengan terapi yang buruk. Andalah yang menentukan, apa yang terbaik bagi Anda. Banyak yang harus dilakukan dalam mencari nasehat dari orang ketiga yang dapat membantu menemukan jalan keluar yang terbaik bagi masalah kehidupan rumah tangga yang rumit.

  Kaitannya dengan pembinaan rumah tangga yang harmonis, Rasullullah Muhammad SAW memberi nasihat kepada pasangan yang hendak menikah dengan mengemukakan 3 hal menjadi suami yang baik dan 3 hal menjadi istri yang baik. Suami yang baik, adalah suami yang: (1) setia pada istrinya, (2) bertanggung jawab terhadap istri dan keluarganya (anak-anaknya), (3) tidak kasar terhadap istrinya. Sedangkan istri yang baik, adalah istri yang: (1) loyal pada suaminya, (2) hormat (respect) kepada suaminya, (3) melayani dan merawat suaminya dengan baik, lemah lembut, dan penuh kasih sayang. Konselor perkawinan sering menambahkan bahwa istri yang baik itu adalah istri yang anggun di depan umum, hemat di dapur, dan hangat di tempat tidur (Dadang Hawari, 2006: 9-12).

  Perkawinan

  41

  yang bahagia tidak cukup hanya didukung dengan cinta dan pemenuhan kebutuhan biologis saja, meskipun cinta diperlukan dan bahkan menjadi syarat dalam suatu perkawinan. Bekal cinta dan pemenuhan kebutuhan biologis saja Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  tidak cukup, karena pada hakekatnya kebahagiaan suatu perkawinan terletak pada sampai seberapa jauh kemampuan masing-masing pasangan untuk saling berintegrasi dari dua kepribadian yang berbeda. Cinta dan kepuasan biologik mungkin menyenangkan pada awal perkawinan, tetapi tidak akan berlangsung lama; karena masing-masing pasangan tidak mampu untuk saling berintegrasi dan beradaptasi menjaga hubungan silaturahmi (Dadang Hawari, 2006: 27-28).

  41 Dalam penelitiannya terhadap pasangan-pasangan

  perkawinan yang bertahan (tidak bercerai), Grunebaum, H.U (1990) menemukan 5 faktor yang mengikat suami-istri sehingga mereka mem¬pertahankan perkawinannya, yaitu: (1) saling memberi dan mene¬rima kasih sayang, (2) suami-istri merupakan kemitraan persahabatan (bukan rival atau pesaing satu dengan lainnya), (3) saling memuaskan dalam pemenuhan kebutuhan biologis (seksual) dan bertindak serta berperilaku sesuai dengan etika moral agama, (4) masing-masing pihak mempunyai komitmen 41 Setiap makhluk melaksanakan pernikahan atau perkawinan adalah karena

  ada sesuatu dalam diri setiap makhluk yang tidak kecil peranannya dalam wujud ini. Ia adalah naluri yang melahirkan dorongan seksual. Ikan- ikan mengarungi samudra yang luas menuju tempat terpencil, untuk memenuhi naluri itu guna melanjutkan generasinya. Pernahkah kita menyaksikan sepasang burung merpati berkicau dan bercumbu sambil merangkai sarangnya..? Tidakkah bunga- bunga mekar dengan indahnya, merayu burung dan lebah agar mengantarkan benihnya ke kembang lain untuk di buahi? Bahkan atom pun yang negatif dan positif, elektron dan proton bertemu untuk saling tarik demi memelihara eksistensinya. demikianlah naluri makhluk, masing masing memiliki pasangan dan berupaya bertemu dengan pasangannya. Inilah yang disebut dengan law of sex (hukum berpasangan) yang diletakan Sang Maha Pencipta bagi segala sesuatu. Dengan demikian perkawinan atau pernikahan adalah sunnatullah dalam arti ‚ketetapan Tuhan yang diberlakukannya terhadap semua makhluk‛ dalam pengambilan keputusan (keputusan bersama), (5) saling menjaga dan memelihara hubungan sosial dengan anak-anak dan keluarga kedua belah pihak. Kelima ikatan tersebut merupakan pilar bagi keharmonisan rumah tangga, sehingga terjadinya perselingkuhan amat kecil karena masing-masing saling menjaga terhadap intervensi pihak ketiga (Dadang Hawari, 2006: 43-44).

  Perselingkuhan dapat berakibat perceraian, namun perceraian dapat dihindari manakala masing-masing memiliki komitmen untuk memperhatikan faktor-faktor penting yang terkait dengan itu. Faktor-faktor yang menentukan perkawinan pasca- perselingkuhan dapat dipertahankan, adalah:

  1. Kesadaran dan pengakuan bahwa perselingkuhan itu adalah perbuatan yang melanggar norma-norma hukum perkawinan, moral etik agama. Atau dengan kata lain, suami atau istri yang berselingkuh itu menyadari kesalahannya.

  2. Adanya penyesalan, rasa bersalah dan berdosa terhadap perselingkuhan yang telah dilakukannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

  4. Adanya motivasi dari pasangan suami-istri untuk berniat mempertahankan perkawinan. Motivasi ini harus datang dari kedua belah pihak. Sehubungan dengan hal tersebut, konselor atau terapis hendaknya dapat menumbuhkan motivasi dan menghindarkan agar pihak yang bersangkutan tidak merasa dipojokkan ataupun menjadi kehilangan muka (Dadang Hawari, 2006: 140-143). Terkait dengan isu poligami yang belakangan ini banyak dibicarakan orang

  (terlepas dari pro atau kontra), konselor perkawinan menyarankan agar para istri berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi istri yang berbakti, demi meraih kasih sayang suami sepenuhnya. Di samping itu, senantiasa berlapang dada menerima apapun yang ditakdirkan Allah Swt., karena pilihan Allah adalah jalan terbaik yang diberikan-Nya.

  Beberapa ciri istri yang berbakti kepada suaminya dan taat kepada Allah Swt., adalah: (1) menaati suami, (2) mensyukuri segala sesuatu yang diberikan suami, (3) menjaga amanah, (4) selalu menjaga penampilan agar tetap menarik, (5) tidak buruk sangka dan cemburu buta, (6) bersikap lemah lembut, (7) pandai bergaul dengan keluarga suami, (8) selalu jujur dan terbuka, (9) menjaga perasaan suami, (10) membiasakan budaya musyawarah (Abu Azzam Abdillah, 2007: 73-81). Yang masih menjadi pertanyaan adalah, kalaulah semua itu sudah diupayakan dalam kualitas yang baik, apakah dapat dijamin bahwa suami tidak akan melakukan poligami atau berselingkuh? Wallahu alam. Yang jelas, masih ada hal lain yang harus kita pahami yakni sifat cinta laki-laki itu adalah jamak dan sifat cinta wanita adalah tunggal (Sikun Pribadi, 1981).

  Karena sifat cinta laki-laki jamak atau majemuk, memang memungkinkan cintanya dapat terdistribusikan ke mana-mana; sedangkan karena sifat cinta wanita tunggal menungkinkan cintanya hanya tertuju kepada suami yang dicintainya saja. Di samping itu, pria (maskulin) yang normal, dalam arti komposisi unsur maskulinitas dan femininitas pada dirinya proporsional; adalah wajar apabila jatuh cinta kepada wanita. Sebaliknya, wanita (feminin) yang normal dalam arti komposisi unsur femininitas dan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah maskulinitasnya proporsional, adalah juga wajar apabila jatuh cinta kepada pria. Justru kalau pria malahan lebih tertarik kepada sesama pria (homoseks), dan wanita lebih tertarik kepada sesama wanita (lesbian); itu pertanda komposisi unsur maskulinitas dan femininitas dalam dirinya tidak proporsional. Lalu harus bagaimana? Upaya lahiriah tersebut harus dilakukan sebaik- baiknya, disertai permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT dengan pengharapan semoga Allah memberikan yang terbaik kepada kita semua dan kepada yang telah keliru diberi kekuatan untuk kembali ke jalan yang benar.

  Kaitannya dengan komunikasi seksual yang memba- hagiakan, pasangan suami-istri selayaknya memperhatikan pentingnya komuni;kasi yang baik dengan pasangannya. Terdapat empat area penting dalam kualitas komunikasi yang berpengaruh pada perbaikan komunikasi seksual, yaitu: pertanda (signals), makna (meaning), perasaan (feeling), dan peranan (roles) (Sawitri Supardi Sadarjoen, 2005: 101-104).

  1. Pertanda (signals). Untuk melakukan dan meningkatkan komunikasi seksual,pasangan dapat menggunakan pertanda (signals) sebagai komunikasi non-verbal. Komunikasi non- verbal memang paling sukses untuk meningkatkan komunikasi seksual, apabila rabaan dapat dirasakan, desahan dapat didengarkan, dan senyuman dapat dilihat. Jadi, orang yang menerima signal juga harus mampu mendengar aktif, melihat, mengarahkan perhatian, dan mengenali signal- signal; yang signifikan. Namun, yang sering terjadi justru pasangannya tidak mampu membaca signal dengan baik. Dengan demikian, tanggung jawab signal sebetulnya hanya bernilai separuh dari apa yang diharapkan. Dalam hal peningkatan komunikasi seksual, pada pasangan yang berhasil ditemukan bahwa pasangan dapat meningkatkan komunikasi seksual mereka dengan belajar memahami masing-masing signal yang diberikan oleh pasangannya. Kesimpulan yang menyatakan bahwa setiap orang secara alami akan mampu memahami signal yang diberikan oleh pasangannya, sehingga tidak perlu belajar memahaminya; malahan menjadi sumber kesulitan kehidupan seksualya (Bell dan Lobzenz, 1977).

  2. Makna (Meanings). Makna dibalik kata-kata atau gestur dapat saling dipahami, dan menjadi fasilitator yang baik. Pasangan harus mampu menangkap makna yang terkandung dari setiap kejadian. Misalnya, kemampuan menangkap makna yang terkandung dari kejadian seorang istri memasukkan tangannya ke dalam kemeja suaminya atau mengencangkan ikatan dasi suaminya, berpengaruh terhadap respon lanjut yang akan diberikan oleh suaminya. Namun, mungkin saja pasangan mengalami kesulitan dalam menangkap makna dari signal yang diberikan oleh pasangannya. Misalnya, seorang suami yang mengatakan bahwa Saya mau tidur sekarang, sering istri tidak menangkap makna yang tersirat dari ungkapan tersebut dan berpendapat bahwa suaminya memang lelah dan mau tidur lebih dulu, sehingga istri dapat melanjutkan menikmati tayangan televisi. Padahal, dengan ungkapan tersebut suami memberikan signal bahwa ia membutuhkan kesediaan istrinya untuk melakukan hubungan seksual.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  3. Perasaan (Feelings). Perasaan hampir selalu menyertai pasangan dalam perilaku seksualnya. Pasangan yang terbuka satu sama lain tentang apa yang mereka rasakan, adalah penting. Karena keterbukaan itu menjadi informasi yang berguna bagi peningkatan pemahaman simpati yang juga berperan sebagai fasilitator komunikasi seksual. Kesediaan pasangan untuk mendengar penjelasan pasangannya tentang perasaannya dan menghargai bahwa perasaan tersebut memang tepat (walaupun belum tentu pasangannya menyetujuinya), akan meningkatkan keintiman seksual. Misalnya, istri menyatakan perasaannya dengan kata-kata Aku kangen mas, akan membuat tumbuh empati suaminya dan selanjutnya bertambah intim komunikasi seksualnya.

  4. Peranan (Roles). Kesadaran akan peran yang harus diambil olah pasangan dalam aktivitas seksual merupakan hal vital dalam komunikasi seksual yang baik. Pasangan yang tahu apa yang diharapkan dari pasangannya dan apa yang secara sadar diketahui tentang tuntutan pasangannya, merupakan hal yang penting dalam kelancaran komunikasi seksual. Dalam aktivitas seksual, baik peran laki-laki maupun perempuan dapat dinegosiasikan oleh pasangan ingin menyertakan peran apa. Yang terpenting,peran yang dipilih oleh salah satu dari pasangan itu mendapatkan peran resiprokal sebagai peran dari pasangannya. Dengan menetapkan satu peran, salah satu dari pasangan seyogyanya memproyeksikan peran resiprokal yang harus dilakukan oleh pasangannya. Misalnya, perempuan yang percaya bahwa hendaknya laki-lakilah yang harus menjadi insiator dalam perilaku seksual, tentu akan merasa kecewa apabila pasangannya tidak berinisiatif dalam perilaku seks. Dalam peranannya sebagai penunggu inisiatif pasangannya, akhirnya ia tidak tahu harus berbuat apa apabila ternyata keyakinan akan peran laki-laki dan perempuan tidak sesuai dengan kenyataan yang ia hadapi.

  Kajian terhadap 3 (tiga) variabel di atas, mengandung implikasi sebagai berikut:

  Pertama, Kesehatan perilaku seksual suami, istri, atau suami-

  istri; akan mewarnai kualitas hidup mereka, akan mewarnai kebahagiaan hidup mereka; artinya suami, istri, atau suami-istri yang sehat perilaku seksualnya dimungkinkan mempunyai peluang untuk dapat berkualitas hidupnya, bahagia hidupnya; dan sebaliknya yang tidak sehat perilaku seksualnya tidak mempunyai peluang untuk berkualitas hidupnya, untuk bahagia hidupnya.

  Kedua, Sehat tidaknya perilaku seksual suami, istri, atau

  suami-istri dapat dipengaruhi oleh faktor harmonis tidaknya hubungan mereka. Dengan kata lain, keharmonisan hubungan suami-istri dapat mempengaruhi kesehatan perilaku seksual mereka; demikian pula sebaliknya kesehatan perilaku seksual suami, istri, atau suami-istri dapat mempengaruhi keharmonisan hubungan mereka. Kalau ketidak sehatan perilaku seksual suami atau istri adalah positif karena hubungan dengan pasangannya sedang tidak harmonis, tidak usah bingung-bingung mencari obat kuat (bagi suami) atau obat perangsang gairah seksual (bagi istri) atau ke dokter. Upaya itu akan sia-sia. Diselesaikan masalahnya dan dinetralisir perasaan-perasaan negatif yang ada saja dulu, Insya Allah potensi untuk dapat lagi melakukan hubungan seksual

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah akan muncul kembali, dan keberhasilan akan diraih atas ridho Allah Swt.

  Ketiga, Layanan konseling perkawinan mempunyai kontribusi

  yang berarti bagi upaya penciptaan hubungan suami-istri yang harmonis, yang pada gilirannya dapat tercipta perilaku seksual yang sehat pada diri mereka, berkualitas hidupnya, dan bahagia hidupnya; sesuai tujuan perkawinannya dan menjadi dambaan banyak pasangan. Layanan konseling perkawinan yang diselenggarakan oleh siapapun atau institusi manapun selayaknya menjadi kebutuhan bagi yang memerlukan, baik untuk tujuan- tujuan preventif, kuratif, maupun preservatif agar keadaan yang mengerikan idak terjadi.

  Terkait dengan penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia yang sudah akan diperluas di mana tidak lagi hanya di sekolah-sekolah, melainkan juga di masyarakat; berarti perlu penataan kembali kurikulum Program Studi Bimbingan dan Konseling yang sesuai secara bertahap. Ini berarti pula bahwa kajian yang saya lakukan terhadap variabel-variabel di atas bermakna sekaligus menjemput bola atas terselenggaranya layanan bimbingan dan konseling yang lebih luas sebagaimana diharapkan. Tidak berlebihan kiranya apabila dikatakan bahwa berpikir dan mengupayakan terwujudnya hal ini adalah salah satu kewajiban bagi kita semua.

  Kebosanan sering melanda perkawinan keluarga yang telah menginjak usia perkawinan yang cukup lanjut. Memang demikianlah apa yang biasa terjadi pada manusia sebagai makhluk pembosan. Apalagi dikeluarga tersebut sering timbul riak-riak yang menyebabkan pertengkaran, maka akan semakin membuat suasana menjadi tambah keruh dan membosankan. Tidak jarang kebosanan tersebut membuat seseorang melakukan perselingkuhan. Kondisi perselingkuhan yang parah tidak jarang akan menyebabkan perceraian.

  Segala resiko yang mungkin timbul seperti digambarkan di atas, hendaknya dapat diantisipasi sesegera mungkin bila sudah ada tanda-tanda ke arah itu. Jika Anda membiarkannya berlarut- larut, maka segalanya bisa menjurus ke arah yang sangat buruk bagi hubungan perkawinan Anda. Beberapa pasangan yang telah mengalami situasi yang sulit seperti itu menyarankan agar mengikuti terapi perkawinan, supaya terjadi penyegaran pada perkawinan tersebut. Terapi tersebut bisa didapatkan melalui bulan madu kedua bagi Anda berdua. Di mana hanya Anda berdua yang berada di dalam masa bulan madu kedua tersebut. Anda mungkin akan teringat terhadap kenangan-kenangan yang tak terlupakan masa lalu. Masa di mana Anda bisa tertawa-tawa berduaan terhadap hal-hal lucu yang muncul di masa lalu tersebut.

  Atau bisa juga Anda berdua mengunjungi tepat konseling pernikahan, di mana para tenaga ahli konseling akan memberikan solusi atas kejenuhan yang Anda berdua alami. Jika Anda berdua menerapkan usul atau saran yang diberikan oleh para konseling tersebut, maka paling tidak saran atau usulan tersebut mampu mencegah perceraian yang biasanya terlalu cepat diputuskan. Biasanya hasil akhir yang diinginkan oleh para peserta konseling pernikahan yang rutin mengikuti terapi adalah mampu mengembalikan kondisi ideal yang sama seperti mereka baru saja menikah atau awal pernikahan mereka. Mengenai apa saja yang dibicarakan di masa konseling itu, sebenarnya tidak ada batasan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah sama sekali. Sepanjang apa yang dibicarakan itu bisa dibantu ditemukan solusinya oleh si konseling pernikahan, maka itu akan sangat membantu menyembuhkan permasalahan yang mungkin timbul di dalam bahtera perkawinan tersebut. Jadi hendaklah kedua belah pihak berterus terang di masa konseling tersebut, agar permasalahan yang menyebabkan perpecahan dapat segera diatasi di antara keduanya.

  Dari berbagai problem kerumahtanggaan seperti tersebut diatas, maka tujuan konseling perkawinan adalah agar klien dapat menjalani kehidupan berumah tangga secara benar, bahagia dan mampu mengatasi problem-problem yang timbul dalam kehidupan perkawinan. Oleh karena itu maka konseling perkawinan pada prinsipnya berisi dorongan untuk menghayati atau menghayati kembali prinsip-prinsip dasar, hikmah, tujuan dan tuntunan hidup berumah tangga menurut ajaran agama. Konseling diberikan agar suami/istri menyadari kembali posisi masing-masing dalam keluarga dan mendorong mereka untuk melakukan sesuatu yang terbaik bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya.

  Konseling pernikahan bisa membantu pasangan yang tengah berkonflik untuk menyehatkan kembali hubungannya. Konflik dalam pernikahan bisa diatasi dengan bantuan konseling, asalkan kedua pasangan menyepakatinya. Jika pasangan menikah memutuskan mencari bantuan konseling, ini menunjukkan adanya keinginan kuat untuk tetap menjaga komitmen hubungan pernikahan. Berikut adalag syarat seorang konselor.

  Pertama, Objektivitas. Terapis atau profesional yang menjadi mediator bagi pasangan menikah, bisa mengurangi intimidasi pada pasangan yang sedang berkonfrontasi. Dengan kehadiran konselor, pasangan bisa saling mengekspresikan perasaannya tanpa adanya interupsi dari suami dan atau istri. Peran terapis adalah mengevaluasi sikap dari setiap individu dengan lebih obyektif. Sebagai profesional di bidangnya, terapis dan atau konselor juga akan memberikan saran yang lebih konstruktif kepada pasangan dalam menghadapi konflik pernikahan.

  Tugas utama terapis adalah menunjukkan masalah utama dalam konflik pernikahan. Baik suami atau istri yang terlibat konflik pernikahan kadang memiliki persepsi berbeda, bahkan dalam melihat sumber masalah. Dengan bantuan terapis, setiap individu bisa melewati tahapan evaluasi personal sebelum dipertemukan dalam satu sesi konseling. Artinya konselor bisa memiliki kesempatan untuk mengevaluasi bagaimana setiap individu melihat masalah atau konflik yang terjadi. Alhasil, konselor mendapatkan formulasi yang tepat untuk mengatasi masalah yang sebenarnya dan menyarankan program terapi yang sesuai.

  Kedua, Meningkatkan komunikasi. Membangun komunikasi akan meningkatkan berbagai aspek kehidupan pernikahan. Konselor fungsinya adalah juga memfasilitasi pasangan agar bisa saling menyampaikan perasaan lebih efektif, terutama yang terkait dengan isu yang menimbulkan ketidaksepahaman. Dengan konseling, pasangan yang menghadapi konflik bisa lebih membuka wawasan berpikirnya sehingga bisa melihat dasar masalah pernikahan lebih jernih. Melalui konseling dengan pakar, pasangan juga berkesempatan untuk membangun interaksi yang lebih konstruktif.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Ketiga, Mencapai kesepahaman. Keputusan untuk mendatangi konseling pernikahan membutuhkan kesadaran bersama dan niat untuk memupuk kembali hubungan. Konsekuensinya, agar terapi bisa berhasil, masing-masing individu harus mau dan bisa menerima perubahan pada pasangan yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi saling menerima dan mengerti satu sama lain. Memahami bahwa suami maupun istri memiliki keinginan dan harapan yang sifatnya individual, menjadi awal yang penting untuk mewujudkan sikap saling menghargai. Pernikahan yang sehat, bagaimanapun juga, membutuhkan sikap saling jujur, percaya, menghargai, dan menyetarakan. Belajar menemukan resolusi dari konflik Konseling pernikahan memang bertujuan untuk memfasilitasi pasangan agar mampu membangun komunikasi dan kemampuan untuk saling memberdaya-kan sebagai pasangan. Harapannya, kelak pasangan bisa menyelesaikan masalah yang muncul kembali dalam pernikahan. Terapi dan metode yang didapat pasangan menikah dari konseling adalah membantu setiap individu untuk mengembangkan pola interaksi yang saling membangun. Melalui komunikasi dan sikap yang saling mengapresiasi pasangan, suami dan istri bisa tumbuh dalam intimasi yang lebih kuat dan pernikahan yang lebih sehat.

  Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketidak harmonisan hubungan suami-istri dapat berakibat tidak sehatnya perilaku seksual mereka, dan pada tingkat tertentu berpengaruh negatifterhadap kualitas hidupnya. Pasangan suami-istri tidak perlu khawatir dalam menyikapi kondisi yang mengerikan itu, karena ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghadapinya baik secara preventif, kuratif, maupun preservatif. Konseling perkawinan yang diselenggarakan baik oleh perorangan atau kelembagaan, merupakan salah satu alternatif yang cukup menjanjikan untuk dapat diperolehnya kembali keharmonisan dan kebahagiaan sebagai suami-istri, dan pada gilirannya perilaku seksual yang sehat dapat dinikmati kembali atas ridho Allah SWT. Sesuai dengan tuntutan perkembangan dan kebutuhan, layanan bimbingan dan konseling di Indonesia sudah saatnya diperluas tidak lagi hanya diselenggarakan di sekolah-sekolah; tetapi juga di masyarakat, seperti: layanan konseling perkawinan, konseling keluarga, konseling seksual, dan lain-lain. Tentu saja diawali dengan penataan kurikulum yang sesuai secara bertahap.

  C.

  

Konstruksi Konsep Konseling Keluarga: Tinjauan Kritis

Terhadap Teori Ada orang yang menolong dengan sungguh tetapi di tolak bahkan dicurigai, ada yang menolong dengan menyewa jurnalis agar diliput. Ada yang pura-pura menolong tetapi ada maunya, ada yang tulus hati menolong tetapi tidak mendapatkan tempat. Begitulah kehidupan sekitar kita. Tidak bisa memang kita menyalahkan begitu saja, tetapi bagaimana caranya agar kehidupan lebih baik dan respek

dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan tepat pada waktunya

  Pada dasarnya, bimbingan merupakan usaha pembimbing untuk membantu mengoptimalkan individu. Bimbingan merupakan suatu alat untuk mendewasakan seseorang. Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya. Bimbingan dan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan kepada seseorang dan atau sekelompok orang yang bertujuan agar masing-masing individu mampu mengembangkan dirinya secara optimal, sehingga dapat mandiri dan atau mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

  Tujuan bimbingan adalah agar individu dapat: 1. merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier, serta kehidupan pada masa yang akan datang. 2. mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin. 3. menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan kerjanya. 4. mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, ataupun lingkungan kerjanya.

  Sedangkan fungsi bimbingan yaitu sebagai berikut: 1. fungsi pengembangan, merupakan fungsi bimbingan dalam mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki individu. 2. fungsi penyaluran, merupakan fungsi bimbingan dalam membantu individu memilih dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan ciri-ciri kepribadian lainnya. 3. fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan khususnya guru atau dosen, wydiaiswara, dan wali kelas untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan individu. 4. fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu menemukan penyesuaian diri dari perkembangannya secara optimal. Tujuan Konseling pada umumnya adalah sebagai berikut: 1. mengadakan perubahan perilaku pada diri individu sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan. 2. memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif. 3. penyelesaian masalah. 4. mencapai keefektifan pribadi. 5. mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya.

  Jenis bimbingan dibagi menjadi empat bagian yaitu: 1. bimbingan akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah akademik. 2. bimbingan sosial pribadi, merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial pribadi. 3. bimbingan karier, yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan, mengembangkan, dan menyelesaikan masalah- masalah karier, seperti pemahaman terhadap tugas-tugas kerja. 4. bimbingan keluarga, merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin atau anggota keluarga agar mereka mapu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdaya diri secara produktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, serta berperan serta berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.

  Keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di dalam masyarakat tetapi menempati kedudukan yang primer dan fundamental. Faktor keluarga sangatlah penting karena merupakan lingkungan pertama bagi seorang anak, di mana keluarga memiliki peranan di dalam pertumbuhan dan perkembangan pribadi

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah seorang anak. Di dalam keluarga seringkali terjadi permasalahan yang muncul baik dari luar mapun dari dalam keluarga itu sendiri. Salah satu dari adanya masalah keluarga adalah anak. Banyak faktor yang menyebabkan seorang anak menjadi masalah di dalam sebuah keluarga. Kesalahan pendidikan dari orang tua meupun faktor lingkungan anak yang kurang kondusif dapat mengakibatkan permasalahan di dalam keluarga. Sebuah keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khususpun seringkali menjadi sebuah masalah dalam keluarga. Layanan bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam keluarga. Dalam bimbingan keluarga mengupayakan pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin atau anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara produktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, serta berperan atau berpartisipasi aktif dalam mencapai keluarga yang bahagia.

  Pusat dari system interpersonal dalam tiap kehidupan seseorang adalah keluarga. Seorang bayi belajar bagaimana hidup dan menerima kehidupan itu melalui interaksinya dalam keluarga. Interaksi seseorang di masa depan memperlihatkan intensitas ikatan emosi dan kepercayaan dasar terhadap diri dan dunia luar yang dihasilkan pada interaksi awal dalam keluarga (Framo, 1976, dalam Kendall, 1982: 517). Saat anak-anak tumbuh dan matang, mereka berubah dalam banyak hal dan keluargapun berubah pula. Hal ini berlangsung selama perkembangan seseorang dalam rentang kehidupannya. Jika anak, remaja, atau orang dewasa mengalami disfungsi psikologis, masalah ini mungkin berawal dari konflik yang tak terpecahkan dalam keluarga di masa lalu (Jackson, 1965, dalam Kendall, 1982). Misalnya suatu pasangan mungkin membawa anak mereka untuk konseling/terapi, hanya untuk menyatakan bahwa masalah mereka dengan anaknya hanyalah masalah sekunder dalam konflik perkawinannya. Hal ini mungkin kasus di mana anak terjebak di tengah-tengah diantara masalah kedua orangtuanya, yang dapat mengembangkan tanda-tanda seperti kegelisahan, tidak patuh atau gagal di sekolah, di mana hal ini menyebabkan tekanan terhadap situasi keluarga. Demikian juga halnya dengan klien dewasa, di mana mungkin berusaha menanggulangi perasaan depresinya, sebagai akibat dari konflik perkawinannya yang sangat mengganggu kepercayaan dirinya, dengan mengembangkan penghargaan diri yang besar.

  Weakland (1960, dalam Imbercoopersmith, 1985) membuat hipotesa bahwa seseorang yang mengalami gangguan perilaku berat merupakan korban dari pesan-pesan ketidakrukunan satu pihak dengan pihak lain dalam keluarga. Minuchin (1974, dalam Imbercoopersmith, 1985) menjelaskan tentang ‚Tiga rangkain yang kaku‛, yaitu meliputi: (1) ‚detouring‛, di mana orang-orang yang lebih dewasa menyerang atau overproteksi terhadap anak; (2) ‚koalisi orang tua –anak‛, di mana salah satu orang tua dan anak bersekutu untuk melawan orang tua yang lain, dan (3) ‚triangulasi‛, di mana anggota (biasanya anak) berada dalam koalisi yang tertutup dengan dua anggota lain yang sedang mengalami konflik.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Imbercoopersmith (1985) menyatakan bahwa Family Conselor/Therapist harus memliki kemampuan menganalisa bagaimana pola triadic di dalam keluarga, melakukan intervensi yang efektif bagi pola triadic dengan memberikan tugastugas, dan menghindari hubungan yang kurang baik antara hubungan triadic para anggota keluarga dengan professional. Meskipun masalah klien bukan karena disfungsi dalam keluarga, keluarga dapat menjadi sumber yang penting dalam proses konseling/terapi. Jadi, konselor/terapist berusaha memberi gambaran mengenai dukungan dan dorongan anggota keluarga jika individu berusaha untuk keluar dari permasalahan melalui proses konseling/terapi ini. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan seluruh anggota keluarga. Jika konselor/terapist melakukan intervensi terhadap keluarga atau pasangan, seluruh anggota keluarga hendaknya terlibat bersama. Hal ini disebut konseling gabungan/terapi, karena seluruh keluarga dilihat sebagai kelompok tunggal. Jadi, permasalahan tidak hanya didiskusikan dengan satu atau dua anggota keluarga saja. Konseling/terapi ini memliki keuntungan membawa seluruh anggota keluarga secara langsung dalam proses terapi. Hal ini memungkinkan adanya kesepakatan untuk bekerjasama untuk perubahan dan memperkecil kemungkinan anggota keluarga yang lain memberikan bimbingan yang berbeda (Kendall et al., 1982: 517- 518).

  Masalah keluarga merupakan gejala interpersonal. Kondisi emosi salah satu anggota keluarga berpengaruh pada setiap anggota yang lain. Bila satu anggota keluarga merasa tidak enak/discomfort, maka hal ini akan mempengaruhi anggota lainnya. Kondisi keluarga dapat dianalogikan dengan kondisi individu dalam keadaan homeostasis. Jadi dalam konseling/terapi, keadaan homeostasis struktur keluarga ini, anak-anak merupakan emotional product dari orang tua. Bila diperlukan konseling/terapi keluarga, maka ini diartikan bahwa terjadi hal yang tidak seimbang dalam keluarga, misalnya salah satu anggota kelurga mengembangkan suatu symptom tertentu yang tidak dapat ditoleransikan oleh anggota lainnya. Orang yang mengembangkan gejala ini disebut ‚identified patient‛. Walaupun demikian ‚identified

  

patient ‛ tidak selalu berarti penderita, karena mungkin saja anggota

  lain yang merasa lebih menderita dengan gejala yang dikembangkan oleh ‚identified patient‛.

Dari sudut pandang conselor/terapist, ‚identified patient‛ merupakan penyebab dan juga mungkin kontributor dari

  gangguan-gangguan interpersonal keluarga. Gangguan ini berakar pada penilaian keluarga dan sikap, yang saling terjalin pula dengan emosi para anggota keluarga. Berdasarkan uraian tersebut di atas, Family Conseling/Therapy dapat didefinisikan sebagai suatu proses interaktif yang berupaya membantu keluarga memperoleh keseimbangan homeostasis, sehingga setiap anggota keluarga dapat merasa nyaman (comfortable). Dengan maksud tersebut, conselor/ terapist bekerja berdasarkan beberapa asumsi, yaitu: 1. Manifestasi keluhan salah satu anggota keluarga tidak datang dari dirinya sendiri, tetapi sebagai hasil interaksinya dengan satu atau lebih anggota keluarga lainnya. 2. Satu atau dua nggota keluarga mungkin saja menunjukkan perilaku yang well-adjusted. Gambaran ini menunjukkan bahwa ‚identified patient‛ tidak selalu berarti penderita. 3. Bila keluarga secara kontinu mengikuti terapi, maka

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah ini berarti ada motivasi yang tinggi untuk menghasilkan kondisi homeostasis. 4. Relasi orangtua akan mempengaruhi relasi di antara seluruh anggota keluarga (Perez, 1979).

  Keluarga merupakan satuan terkecil dari masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Secara lebih luas (Sayekti Puja Suwarno, 1994: 2) bahwa keluarga merupakan suatu ikatan dasar atas dasar perkawinan antara dua orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama antara seorang laki-laki dengan perempuan yang sudah mempunyai anak atau tanpa anak baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga. Disamping itu Emil Salim 1983 menyatakan bahwa keluarga merupakan bagian terkecil dari susunan masyarakat yang akan menjadi dasar dalam mewujudkan suatu negara. Menurut pengertian psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan dan saling menyerahkan diri (Soelaeman, 1994: 5-10). Sedangkan dalam pengertian

Pedadogis keluarga adalah ‚satu‛ persekutuan hidup yang dijalin oleh kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yang

  kukuhkan dengan pernikahan, yang bermaksud untuk saling menyem-purnakan diri itu terkandung perealisasian peran dan fungsi sebagai orang tua (Soelaeman, 1994: 12).

  Keluarga merupakan sistem sosial yang alamiah, berfungsi membentuk aturan-aturan, komunikasi, dan negosiasi diantara para anggotanya. Keluarga melakukan suatu pola interaksi yang diulang-ulang melalui partisipasi seluruh anggotanya. Strategi- strategi konseling keluarga terutama membantu terpeliharanya hubungan-hubungan keluarga, juga dituntut untuk memodifikasi pola-pola transaksi dalam memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang mengalami perubahan.

  Dalam perspektif hubungan, konselor keluarga tidak menghilangkan signifikansi proses intrapsikis yang sifatnya individual, tetapi menempatkan perilaku individu dalam pandangan yang lebih luas. Dengan demikian, ada perubahan paradigma dari cara-cara tradisional dalam memahami perilaku manusia kedalam epistimologi cybernetic. Paradigma ini menekankan mekanisme umpan balik beroperasi dalam menghasilkan stabilitas serta perubahan. Kausalitas sirkuler terjadi didalam keluarga. Konselor keluarga lebih memfokuskan pemahaman proses keluarga daripada mencari penjelasan- penjelasan yang sifatnya linier. Dalam kerangka kerja seperti ini, simptom yang ditunjukan pasien dipandang sebagai cerminan dari sistem keluarga yang tidak seimbang.

  Satu cara untuk memahami individu-individu dan keluarga mereka, yaitu dengan cara meneliti perkembangan mereka lewat siklus kehidupan keluarga. Berkesinambungan dan berubah merupakan ciri dari kehidupan keluarga. Sistem keluarga itu mengalami perkembangan setiap waktu. Perkembangan keluarga pada umumnya terjadi secara teratur dan bertahap. Apabila terjadi kemandegan dalam keluarga, hal itu akan mengganggu sistem keluarga. Kemunculan perilaku simptomatik pada anggota keluarga pada saat transisi dalam siklus kehidupan keluarga menandakan keluarga itu mengalami kesulitan dalam menyesuaikan dengan perubahan. Siklus kehidupan keluarga

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah mengarah pada suatu pengaturan tema mengenai pandangan bahwa keluarga itu sebagai sistem yang mengalami perubahan.

  Ada tugas-tugas perkembangan khusus yang harus dipenuhi untuk setiap perkembangannya. Dalam keluarga, laki-laki dan perempuan dibesarkan dengan perbedaan harapan peranan, pengalaman, tujuan, dan kesempatan. Perbedaan jenis kelamin ini, kelak mempengaruhi interaksi suami istri. Banyaknya perempuan yang memasuki dunia kerja akhir-akhir ini mempengaruhi juga tradisi peran laki-laki dan perempuan mengenai tanggung jawab rumah tangga dan kerja di luar rumah. Kesukuan dan pertimbangan sosio-ekonomi juga mempengaruhi gaya hidup keluarga. Terlebih dahulu, hal yang harus diperhatikan adalah membantu menentukan bagaimana keluarga itu membentuk nila- nilai, menentukan pola-pola perilaku, dan menentukan cara-cara mengekspresikan emosi, serta menentukan bagaimana mereka berkembang melalui siklus kehidupan keluarga. Hidup dalam kemiskinan dapat mengikis struktur keluarga dan menciptakan keluarga yang tidak terorganisasi. Dalam keluarga miskin, perkembangan siklus kehidupan sering dipercepat oleh kehamilan dini dan banyaknya ibu-ibu yang tidak menikah. Tidak adanya ayah dirumah memungkinkan nenek, ibu dan anak perempuan itu lebih saling berhubungan.

  Teori sistem umum memberikan dasar teoritis pada teori dan praktik konseling keluarga. Konsep-konsep menegnai organisasi dan keutuhan menekankan secara khusus, bahwa sistem itu beroperasi secara utuh terorganisasi. Sistem tidak dapat dipahami secara tepat jika dibagi kedalam beberapa komponen. Keluarga mencerminkan sistem hubungan yang komplit, terjadi kausalitas sikuler dan multidimensi. Peran-peran keluarga sebagian besar tidak statis, perlu dipahami oleh anggota keluarga untuk membantu memantapkan dan mengatur fungsi keluarga. Keseimbangan dicapai dalam keluarga melalui proses interaksi yang dinamis.

  Hal ini membantu memulihkan stabilitas yang sewaktu- waktu terancam, yaitu dengan pengaktifan aturan yang menjelaskan hubungan-hubungan. Pada saat perubahan keluarga terjadi, siklus umpan balik positif dan negatif membantu memulihkan keseimbangan. Subsistem-subsistem dalam keluarga melakukan fungsi-fungsi keluarga secara khusus. Hal terpenting dan berarti adalah subsistem suami istri, orang tua, dan saudara kandung. Batas-batas sistem membantu memisahkan sitem-sistem, sebaik memisahkan subsistem-subsitem di dalam sistim secara keseluruhan. Sistem-sistem keluarga berinteraksi dengan sistem- sistem yang lebih besar lagi di luar rumah, seperti sistem tempat peribadatan, sekolah dan tempat perawatan. Dalam beberapa kasus, terjadi pengaburan masalah-masalah keluarga dan pertentangan penyelesaian dari para pemberi bantuan dalam sistem makro. Dalam konteks yang lebih luas, batas-batas diantara para pemberi bantuan sama baiknya dengan batas-batas diantara keluarga klien. Batas-batas itu mungkin perlu dijelaskan dalam sistem makro agar beroperasi secara efektif.

  Konsep dasar dari pelayanan konseling keluarga adalah untuk membantu keluarga menjadi bahagia dan sejahtera dalam mencapai kehidupan efektif sehari-hari. Konseling keluarga

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah merupakan suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam mencapai kondisi psikologis yang serasi atau seimbang sehingga semua anggota keluarga bahagia. Ikatan bathin merupakan ikatan yang bersifat psikologis. Maksudnya diantara suami dan istri harus saling mencintai satu sama lain, tidak ada paksaan dalam menjalani perkawinan. Kedua ikatan, yaitu ikatan lahir dan bathin merupakan tuntutan dalam perkawinan yang sangat mempengaruhi keutuhan sebuah keluarga. Tipe keluarga yang umumnya dikenal adalah dua tipe, yaitu keluarga inti (nuclear family) dan keluarga yang diperluas (extended family).

  Beberapa karakteristik keluarga bahagia yang menjadi tujuan dari konseling keluarga antara lain: (1) menunjukkan penyesuaian yang tinggi, (2) menunjukkan kerja sama yang tinggi, (3) mengekspresikan perasaan cinta kasih sayang, altruistik dan teman sejati dengan sikap dan kata-kata (terbuka), (4) tujuan keluarga difokuskan kepada kebahagiaan anggota keluarga, (5) menunjukkan komuni-kasi yang terbuka, sopan, dan positif, (6) menunjukkan budaya saling menghargai dan memuji, (7) menunjukkan budaya saling membagi, (8) kedua pasangan menampilkan emosi yang stabil, suka memperhatikan kebutuhan orang lain, suka mengalah, ramah, percaya diri, penilaian diri yang tinggi, dan (9) komunikasi terbuka dan positif.

  Keberadaan sebuah keluarga pada hakikatnya untuk memenuhi fungsi-fungsi sebagai berikut: (1) fungsi kasih sayang, yaitu memberikan cinta erotik, cinta kasih sayang, cinta altruistik, dan cinta teman sejati, (2) fungsi ekonomi, (3) fungsi status, (4) fungsi pendidikan, (5) fungsi perlindungan, (6) fungsi keagamaan, (7) fungsi rekreasi, dan (8) fungsi pengaturan seks. Pada umumnya masalah-masalah yang muncul dalam keluarga adalah berkenaan dengan: (1) masalah hubungan sosialemosional antar anggota keluarga, (2) masalah hubungan antar keluarga, (3) masalah ekonomi, (4) masalah pekerjaan, (5) masalah pendidikan, (6) masalah kesehatan, (7) masalah seks, dan (8) masalah keyakinan atau agama.

  Adapun inti dari pelaksanaan konseling keluarga sebagai salah satu layanan profesional dari seorang konselor didasari oleh asumsi dasar sebagai berikut: 1. Terjadinya perasaan kecewa, tertekan atau sakitnya seorang anggota keluarga bukan hanya disebabkan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh interaksi yang tidak sehat dengan anggota keluarga yang lain. 2. Ketidak tahuan individu dalam keluarga tentang peranannya dalam menjalani kehidupan keluarga. 3. Situasi hubungan suami-istri dan antar keluarga lainya. 4. Penyesuaian diri yang kurang sempurna dalam sebuah keluarga sangat mempengaruhi situasi psikologis dalam keluarga 5. Konseling keluarga diharapkan mampu membantu keluarga mencapai penyesuaian diri yang tinggi diantara seluruh anggota keluarga. 6. Interaksi kedua orang tua sangat mempengaruhi hubungan semua anggota keluarga. Hal ini dikemukakan oleh Perez (1979) menyatakan sebagai berikut: Family

  

therapi is an interactive proses which seeks to aid the family in regainnga

homeostatic balance with all the members are confortable.

  Dari definisi di atas konseling keluarga merupakan suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam mencapai kondisi psikologis yang serasi atau seimbang sehingga semua

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah anggota keluarga bahagia. Ini berarti bahwa sebuah keluarga membutuhkan pendekatan yang beragam untuk menyelesaikan masalah yang dialami oleh anggota keluarga. Rumusan di atas memuat dua implikasi yaitu; terganggunya kondisi seorang anggota keluarga merupakan hasil adaptasi/interaksi terhadap lingkungan yang sakit yang diciptakan didalam keluarga. Kedua, seorang anggota keluarga yang mengalami gangguan emosional akan mempengaruhi suasana dan interaksi anggota keluarga yang lain, sehingga diupayakan pemberian bantuan melalui konseling keluarga. Terlaksananya konseling keluarga akan membantu anggota keluarga mencapai keseimbangan psiko dan psikis sehingga terwujudnya rasa bahagia dan kenyamanan bagi semua anggota keluarga.

  Tujuan dari konseling keluarga pada hakikatnya merupakan layanan yang bersifat profesional yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut: 1.

Membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan

  antar anggota keluarga.

  2. Membantu anggota keluarga dapat menerima kenyataan bahwa bila salah satu anggota keluarga mengalami masalah, dia akan dapat memberikan pengaruh, baik pada persepsi, harapan, maupun interaksi dengan anggota keluarga yang lain.

  3. Upaya melaksanakan konseling keluarga kepada anggota keluarga dapat mengupayakan tumbuh dan berkembang suatu keseimbangan dalam kehidupan berumah tangga.

  4. Mengembangkan rasa penghargaan diri dari seluruh anggota keluarga kepada anggota keluarga yang lain.

  5. Membantu anggota keluarga mencapai kesehatan fisik agar fungsi keluarga menjadi maksimal.

  6. Membantu individu keluarga yang dalam keadaan sadar tentang kondisi dirinya yang bermasalah, untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri dan nasibnya sehubungan dengan kehidupan keluarganya.

  Agar mampu mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, maka seorang konselor keluarga hendaknya memiliki kemampuan sebagai berikut: 1.

  Memiliki kemampuan berpikir cerdas, berwawasan yang luas, serta komunikasi yang tangkas dengan penerapan moral yang laras dengan penerapan teknik-teknik konseling yang tangkas.

  2. Etika professional, yakni kemampuan memahami dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah pelayanan konseling yang dipadukan dalam hubungan pelayanan konseling terhadap anggota keluarga.

  3. Terlatih dan terampil dalam melaksanakan konseling keluarga.

  4. Mampu menampilkan ciri-ciri karakter dan kepribadian untuk menangani interaksi yang kompleks pasangan yang sedang konflik dan mendapatkan latihan untuk memiliki keterampilan khusus.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  5. Memiliki pengetahuan yang logis tentang hakikat keluarga den kehidupan berkeluarga.

  6. Memiliki jiwa yang terbuka dan fleksibel dalam melaksanakan konseling keluarga.

  7. Harus obyektif setiap saat dalam menelaah dan menganalisa masalah.

  5. Pengertian Konseling Keluarga

  Konseling adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang pembimbing (konselor) kepada seseorang konseli atau sekelompok konseli (klien, terbimbing, seseorang yang memiliki problem) untuk mengatasi problemnya dengan jalan wawancara dengan maksud agar klien atau sekelompok klien tersebut mengerti lebih jelas tentang problemnya sendiri dan memecahkan problemnya sendiri sesuai dengan kemampuannya dengan mempelajari saran- saran yang diterima dari Konselor. Sedangkan arti dari keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak, baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.

  Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi yang khusus. Konseling keluarga ini secara memfokuskan pada masalah-masalah berhubungan dengan situasi keluarga dan penyeleng-garaannya melibatkan anggota keluarga. Menurut D. Stanton konseling keluarga dapat dikatakan sebagai konselor terutama konselor non keluarga, yaitu konseling keluarga sebagai (1) sebuah modalitas yaitu klien adalah anggota dari suatu kelompok, yang (2) dalam proses konseling melibatkan keluarga inti atau pasangan (Capuzzi, 1991). Konseling keluarga memandang keluarga secara keseluruhan bahwa anggota keluarga adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari anak (klien) baik dalam melihat permasalahannya maupun penyelesaiannya. Sebagai suatu system, permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Pada mulanya konseling keluarga terutama diarahkan untuk membantu anak agar dapat beradaptasi lebih baik untuk mempelajari lingkungannya melalui perbaikan lingkungan keluarganya (Brammer dan Shostrom,1982). Yang menjadi klien adalah orang yang memiliki masalah pertumbuhan di dalam keluarga. Sedangkan masalah yang dihadapi adalah menetapkan apa kebutuhan dia dan apa yang akan dikerjakan agar tetap survive di dalam sistem keluarganya.

  Pada masa lalu, menurut Moursund (1990), konseling keluarga terfokus pada salah satu atau dua hal, yaitu (1) keluarga terfokus pada anak yang mengalami bantuan yang berat seperti gangguan perkembangan dan skizofrenia, yang menunjukan jelas- jelas mengalami gangguan; dan (2) keluarga yang salah satu atau kedua orang tua tidak memiliki kemampuan, menelantarkan anggota keluarganya, salah dalam member kelola anggota keluarga, dan biasanya memiliki sebagian masalah. Anak di dalam suatu keluarga sering kali mengalami masalah dan berada dalam kondisi yang tidak berdaya di bawah tekanan dan kekuasaan orang tua. Permasalahan anak adakalanya diketahui oleh orang tua dan sering kali tidak diketahui orang tua.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Permasalahan yang diketahui orang tua jika fungsi-fungsi psikososial dan pendidikannya terganggu orang tua akan mengantarkan anaknya ke konselor jika mereka memahami bahwa anaknya sedang mengalami gangguan yang berat. Karena itu konseling keluarga lebih banyak memberikan pelayanan terhadap keluarga dengan anak yang mengalami gangguan. Hal kedua berhubungan dengan keadaan orang tua. Banyak dijumpai orang tua tidak berkemampuan dalam mengelola rumah tangganya, menelantarkan kehidupan rumah tangganya sehingga tidak terjadi kondisi yang berkesinambungan dan penuh konflik, atau memberi perlakuan secara salah (ubuse) pada anggota keluarga lain, dan sebagainya merupakan keluarga yang memiliki berbagai masalah. Jika mengerti dan berkeinginan untuk membangun kehidupan keluarga yanag lebih stabil, mereka membutuhkan konseling.

  Perkembangan belakangan konseling keluarga tidak hanya menangani dua hal tersebut. Permasalahan lain yang juga ditangani karena anggota keluarga mengalami kondisi yang kurang harmonis di dalam keluarga akibat stressor perubahan-perubahan budaya, cara-cara baru dalam mengatur keluargannya, dan cara menghadapi dan mendidik anak-anak mereka. Berdasarkan pengalaman dalam penanganan konseling keluarga, masalah yang dihadapi dan dikonsultasikan kepada konselor antara lain: keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap harapan orangtua, konflik antar anggota keluarga, perpisahan diantara anggota keluarga karena kerja di luar daerah dan anak yang mengalami kesulitan belajar atau sosialisasi. Berbagai permasalahan-permasalahan keluarga tersebut dapat diselesaikan melalui konseling keluarga. Konseling keluarga menjadi efektif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut jika semua anggota keluarga bersedia untuk mengubah system keluarganya yang telah ada dengan cara-cara baru untuk membantu mengatasi anggota keluarga yang bermasalah.

  Sebagaimana di kemukakan di bagian awal, konseling keluarga dalam beberapa hal memiliki keuntungan. Namun demikian konseling keluarga juga memiliki beberapa hambatan dalam pelaksanaannya, dan perlu dipertimbangkan oleh konselor jika bermaksud melakukannya. Hambatan yang dimaksud di antarannya: 1). Tidak semua anggota keluarga bersedia terlibat dalam proses konseling karena mereka menganggap tidak berkepentingan dengan usaha ini, atau karena alasan kesibukan, dan sebagainya; dan 2). Ada anggota keluarga yang merasa kasulitan untuk menyampaikan perasaan dan sikapnya secara terbuka dihadapan anggota keluarga lain, padahal konseling membutuhkan keterbukaan ini dan saling percayaan satu sama lain.

  Prinsip-prinsip konseling keluarga adalah: 1. Bukan metode baru untuk mengatasi human problem. 2. Setiap anggota adalah sejajar, tidak ada satu yang lebih penting dari yang lain. 3. Situasi saat ini merupakan penyebab dari masalah keluarga dan prosesnyalah yang harus diubah. 4. Tidak perlu memperhatikan diagnostik dari permasalahan keluarga, karena hal ini hanya membuang waktu saja untuk ditelusuri. 5. Selama intervensi berlangsung, konselor/terapist merupakan bagian penting dalam dinamika keluarga, jadi melibatkan dirinya sendiri.

  6. Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Konselor/terapist memberanikan anggota keluarga untuk mengutarakan dan berinteraksi dengan setiap anggota keluarga dan menjadi ‚intra family involved‛. 7. Relasi antara konselor/terapist merupakan hal yang sementara. Relasi yang permanen merupakan penyelesaian yang buruk. 8. Supervisi dilakukan secara riil/nyata (conselor/ therapist center) (Perez,1979).

  Sejarah dan Perkembangan Konseling Keluarga Konseling keluarga ini distimuli oleh penelitian mengenai keluarga yang anggotanya mengalami schizophrenia. Konseling keluarga berkembang mencapai kemajuan pada tahun 1950-an. Pada tahun 1960-an, para pelopor konseling keluarga memutuskan untuk bekerja sama dengan para konselor yang berorientasi individual. Teknik-teknik dalam konseling keluarga berkembang dengan pesat memasuki tahun 1970-an. Inovasi teknik terapeutik diperkenalkan termasuk pendekatan behavioral yang dikaitkan dengan masalah- masalah keluarga. Pada tahu 1980-an, konseling perkawinan dan konseling keluarga menjadi satu. Para praktisi dari berbagai disiplin keahlian menjadikan konseling keluarga sebagai ciri propesional mereka. Pada saat sekarang, konseling keluarga lebih menekankan penanganan masalah-masalah secara kontekstual daripada secara terpisah dengan individu-individu. Tantangan yang dihadapi oleh konseling keluarga pada tahun 1980-an adalah mengintegrasikan berbagai pendekatan konseling keluarga dan menggunakan kombinasi-kombinasi dari teknik-teknik yang dibutuhkan untuk populasi-populasi yang berbeda. Untuk memahami mengapa suatu keluarga bermasalah dan bagaimana cara mengatasi masalah-masalah keluarga tersebut, berikut akan dideskripsikan secara singkat beberapa pendekatan konseling keluarga. Tiga pendekatan konseling keluarga yang akan diuraikan berikut ini, yaitu pendekatan system, conjoint, dan struktural.

  Sebagian besar, pandangan psikodinamik berdasar pada model psikoanalisis, memberikan perhatian terhadap latar belakang dan pengalaman setiap anggota keluarga sebanyak pada unit keluarga itu sendiri. Para konselor psikodinamik menaruh perhatian yang tinggi terhadap masa lalu yang melekat pada individu-individu, dalam model psikodinamik, pasangan suami istri yang menderita dikaitkan dengan introjeksi pathogenic setiap pasangan yang membawanya pada hubungan. Nathan Acherman, pelopor konselor keluarga berupaya mengintegrasikan teori psikoanalitik yang berorientasi pada intrapsikis dengan teori sistem dengan menekankan hubungan antarpribadi. Dia memandang ketidakberfungsian keluarga akibat hilangnya peran yang saling melengkapi diantara para anggota, akibat konflik yang tetap tidak terselesaikan, dan akibat korban yang merugikan. Upaya-upaya teurapetiknya bertujuan untuk membebaskan ‛pathologis‛ yang berpautan satu sama lain.

  James Framo, konselor keluarga generasi pertama, meyakini bahwa konflik intrapsikis yang tidak terselesaikan dibawa dari keluarganya, diteruskan dalam bentuk proyeksi kedalam hubungan-hubungan yang terjadi pada saat ini, seperti hubungan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah suami istri atau anak. Dengan menggunakan pendekatan hubungan objek, Framo berusaha menghilangkan introjeksi-introjeksi. Dalam proses ini, dia berbicara dengan pasangan suami istri itu sendirian, kemudian memasuki kelompok pasangan suami istri, dan akhirnya mengadakan pertemuan-pertemuan secara terpisah dengan setiap pasangan dan anggota keluarganya yang asli.

  Ivan Boszormenyi-Nagy dan kelompoknya memfokuskan pada pengaruh masa lalu terhadap fungsi-fungsi sekarang dalam seluruh anggota keluarga. Dalam pandangan ini, keluarga mempunyai loyalitas yang invisible (tidak tampak), kewajiban- kewajiban yang berakar pada generasi lalu, dan perhitungan- perhitungan yang tidak menentu. Hal-hal seperti itu perlu diseimbangkan atau ditata. Pendekatan teraputik kontekstual dari Boszormenyi-Nagy berupaya untuk menata kembali tanggung jawa, perilaku yang terpercaya, dan memperhitungkan hak-hak dari seluruh kepeduliannya. Robin Skynner berpendapat, bahwa orang dewasa yang mengalami kesulitan berhubungan telah mengembangkan harapan-harapan yang tidak realistis terhadap orang lain dengan cara membentuk sistem-sistem projeksi yang dikaitkan dengan kekurangan-kekurangan pada masa kanak- kanak. Upaya terapeutik Skinner, yaitu secara khusus mengembankan versi berupaya memfasilitasi perbedaan-perbedaan diantara pasangan-pasangan perkawinan. Dengan demikian, setiap pasangan menjadi lebih independent.

  John Bell, pendiri konseling keluarga mendasarkan pendekatannya pada teori-teori psikologis sosial tentang perilaku kelompok kecil. Pendekatan konseling kelompok keluarga mempromosikan interaksi; memfasilitasi komunikasi, menjelaskan, dan menafsirkan. Pada tahun-tahun sekarang ini, Bell mengarahkan perhatiannya untuk membantu menciptakan lingkungan- lingkungan keluarga meningkat dengan menggunakan teknik- teknik intervensi yang ia sebut dengan konseling kontekstual. Pendekatan ini menggunakan cara dan strategi psikoterapi individual dalam situasi Keluarga dengan: - mendorong munculnya insight tentang diri sendiri dan anggota keluarga. - untuk membantu keluarga dalam pertukaran emosi Kontak konselor hanya sementara dan konselor akan menarik diri jika keluarga telah mampu mengatasi problemnya secara konstruktif.

  Dasar Pemikiran pendekatan ini adalah pemahaman bahwa proses unconsciousness (bawah sadar) mempengaruhi hubungan kebersamaan antaranggota keluarga dan mempengaruhi individu dalam membuat keputusan tentang siapa yang dia nikahi. Objects (orang-orang yang penting/signifikan dalam kehidupan) diidentifikasi atau ditolak. Kekuatan unconsciousness benar-benar dianggap sangat berpengaruh.

  Peranan Konselor adalah Seorang guru dan interpreter pengalaman (analisis). Treatment dilakukan secara individual, kadang-kadang dengan keluarga. Tujuan Treatment adalah untuk memecahkan interaksi yang tidak berfungsi dalam keluarga yang didasarkan pada proses unconsciousness (bawah sadar), untuk merubah disfungsional individu. Teknik yang dipakai adalah

  

transference, analisa mimpi, konfrontasi, focusing pada kekuatan-

  kekuatan, riwayat hidup. Aspek-aspek yang unik dari pendekatan ini adalah konsentrasi pada potensi unconsciousness (bawah sadar) dalam perilaku individu,mengukur defence mechanism (mekanisme pertahanan diri) yang dasar dalam hubungan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah keluarga, menyarankan treatment mendalam pada disfungsionalitas (ketidakmampuan berfungsi).

Para konselor keluarga eksperensial atau humanistik menggunakan ‛immediacy‛ terapeutik dalam menghadapi anggota-

  anggota keluarga untuk membantu memudahkan keluarga itu berkembang dan memenuhi potensi-potensi individunya. Pada dasarnya, pendekatan ini tidak menekankan pada teoritis dan latar belakang sejarah. Pendekatan ini lebih menekankan pada tindakan daripada wawasan dan interpretasi. Pendekatan ini memberikan pengalaman-pengalaman dalam meningkatkan perkem-bangan, yaitu melalui interaksi antara konselor dan keluarga.

  Praktisi utama pendekatan eksperensial adalah Carl Whitaker dan Walter Kempler. Dalam kerjanya, Whitaker menekankan perlunya memperhatikan hambatan-hambatan intrapsikis dan hubungan antarpribadi dalam mengembankan dan mematangkan keluarga. Pendekatan konseling keluarga sering melibatkan ko- konselor, pendekatanya dirancang untuk menggunakan pengalam- an-pengalaman nyata dan simbolis yang muncul pada saat proses terapeutik. Dia mengakui, bahwa intervensinya sebagian besar dikendalikan oleh ketidaksadarannya. Whitaker m emperkenalkan ‛ konseling yang tidak masuk akal‛ dirancang untuk mengejutkan, membingungkan, dan akhirnya menggerakkan sistem keluarga yang terganggu.

  Kempler, seorang praktisi dari konseling keluarga Gestalt membimbing individu-individuuntuk mengatasi hal-hal yang akan memperdayakan dirinya di luar kebiasaanya, serta mempertahankan dirinya. Dia mengkonfrontasikan dan menantang seluruh anggota keluarga untuk mengeksplorasi sebagaimana kesadaran diri mereka sendiri terhambat dan bagaimana menyalyrkan kesadaran mereka ke dalam hubungan yang lebih produktif dan terpenuhi dengan anggota lainnya. Konselor keluarga terkenal yang berorientasi pada humanistik adalah Virginia Satir. Dalam pendekatannya, dia memadukan kesenjangan komunikasi antara anggota keluarga dan orientasi humanistik dalam upaya membangun harga diri dan penilaian diri seluruh anggota keluarga. Dia meyakini, bahwa dalam diri manusia terdapat sumber-sumber yang diperlukan manusia untuk berkembang. Dia memandang tugasnya sebagai orang yang membantu manusia memperoleh jalan untuk memelihara potensi- potensinya mengajarkan manusia menggunakan potensinya secara efektif.

  Dasar pemikiran yang dipakai oleh kelompok ini adalah masalah-masalah keluarga berakar dari perasaan-perasaan yang di tekan, kekakuan, penolakan/pengabaian impuls-impuls, kekurangwaspadaan, dan kematian emosional. Konselor menggunakan pribadinya sendiri. Mereka harus terbuka, spontan, empatic, sensitive dan harus mendemonstrasikan perhatian dan penerimaan. Mereka harus memperlakukan dengan terapi regresi dan mengajari anggota keluarga keterampilan-keterampilan baru dalam mengkomunikasikan perasaan-perasaan secara gamblang. Unit Treatment difokuskan pada individu dan ikatan-ikatan pasangan. Whitakern mengkonsentrasikan perhatiannya dengan mempelajari tiga generasi keluarga. Tujuan Treatment untuk mengukur pertumbuhan, perubahan, kreativitas, fleksibilitas, spontanitas dan playfulness, untuk membuat terbuka apa yang

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah tertutup, untuk mengembangkan ketertutupan emosional dan mengurangi kekakuan, untuk membuka defence-defence, serta untuk meningkatkan self-esteem. Teknik yang dipakai adalah Memahat keluarga dan koreografi , keterampilan-keterampilan komunikasi terbuka, humor, terapi, seni, keluarga, role-playing, rekonstruksi keluarga, tidak memperhatikan teori-teori dan menekankan pada intuitive spontan, berbagi perasaan dan membangun atmosfer emosional mendalam dan memberi sugesti- sugesti serta arahan-arahan.

  Aspek-aspek unik dari pendekatan ini adalah mempromosikan kreativitas dan spontanitas dalam keluarga, mendorong anggota-anggota keluarga untuk mengubah peran mengembangkan pengertian terhadap diri sendiri dan pengertian pada yang lain, humanistik dan memperlakukan seluruh anggota keluarga dengan status yang sama, mengembangkan kewaspadaan perasaan di dalam dan diantara anggota keluarga, mendorong pertumbuhan.

  Pendekatan Murray Bowen terkenal dengan teori sistem keluarga. Pendekatan ini dianggap sebagai sesuatu yang menjembatani pendangan-pandangan yang berorientasi psikodinamik dengan pandangan-pandangan yang lebih menekankan pada sistem. Bowen mengkonseptualisasikan keluarga sebagai sistem hubungan emosional. Bowen mengemukakan, ada delapan konsep yang saling berpautan dalam menjelaskan proses emosional yang terjadi dalam keluarga ini dan keluarga yang diperluas. Landasan dasar teori Bowen adalah konsep diferensial diri. Konsep ini berkembang di mana anggota keluarga dapat memisahkan fungsi intelektualnya dengan emosionalnya. Mereka menghindari fusi dan sewaktu-waktu emosi mendominasi keluarga. Dalam keadaan tegang, hubungan dua anggota keluarga mempunyai kecenderungan untuk mencari anggota yang ketiga (melakukan triangulasi) untuk menurunkan intensitas ketegangan dan memperoleh kembali kestabilan. Sistem emosional keluarga inti, biasanya dibentuk oleh pasangan-pasangan perkawinan yang mempunyai kemiripan tingkat diferensiasi. Jika sistem tidak stabil, para pasangan mencari cara untuk mengurangi ketegangan dan memelihara keseimbangan. Posisi saudara kandung orang tua dalam keluarga asal mereka memberikan tanda terhadap anak yang dipilihnya dalam proses projeksi keluarga. Bowen menggunakan konsep emosional cutoff untuk menjelaskan bagaimana sebagian anggota keluarga berupaya memutuskan hubungan dengan keluarga mereka atas anggapan yang keliru bahwa mereka dapat mengisolasi diri mereka dari fusi. Posisi saudara kandung dari setiap pasangan perkawinan akan mempengaruhi interaksi mereka. Dalam pengembangan teorinya terhadap masyarakat yang lebih luas, Bowen percaya bahwa tekanan-tekanan eksternal yang kronis merendahkan tingkat berfungsinya diferensiasi masyarakat, hal itu hsil pengaruh regresi masyarakat.

  Sebagai bagian konseling keluarga sistem Bowen, wawancara evaluasi keluarga menekankan objektivitas dan netralitas. Genogram-genogram itu membantu memberikan gambaran tentang sistem hubungan keluarga kurang lebih tiga generasi. Secara terapeutik, Bowen bwkwerja secara hati-hati dan tenang dengan pasangan-pasangan perkawin-an, berupaya mengatasi fusi

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah diantara mereka. Tujuannya adalah mengurangi kecemasan dan mengatasi simptom-simptom. Tujuan akhirnya adalah memaksimalkan diferensi diri setiap orang di dalam sistem keluarga inti dan dari keluarga asalnya.

  Aktivitas konselor sebagai pelatih dan guru dan berkonsentrasi pada isu-isu keterikatan dan diferensiasi. Unit Treatment difokuskan pada individu atau pasangan. Tujuan konseling untuk mencegah triangulasi dan membantu pasangan dan individu berhubungan pada level cognitive, untuk menghentikan pengulangan pola-pola intergenerasi dalam hubungan keluarga. Teknik yang dipakai adalah genograms, kembali ke rumah, detriangulasi, hubungan orang perorang, perbedaan self. Aspek uniknya adalah mengukur hubungan- hubungan intergenerasi dan pola-pola yang diulang, systematic, dalam teori yang mendalam.

  Pendekatan struktural dalam konseling keluarga terutama dikaitka dengan Salvador Minuchin dan koleganya di pusat Bimbingan Anak Philadelphia. Pendekatan ini dilandasi sistem. Teori konseling keluarga memfokuskan pada kegiatan, keseluruhan yang terorganisasi dari unit keluarga, dan cara-cara di mana keluarga mengatur dirinya sendiri melalui pola-pola transaksional diantara mereka. Secara khusus, sistem-sistem keluarga, batas- batas, blok-blok, dan koalisi-koalisi ditelaah dalam upaya memahami struktur keluarga. Tidak berfungsinya struktur menunjukkan, bahwa aturan-aturan yang tidak tampak yang membangun transaksi keluarga tidak berjalan atau mebutuhkan negosiasi kembali aturan-aturan. Konseling keluarga struktural dilengkapi untuk transaksi sehari-hari dan memberikan prioritas tinggi terhadap tindakan daripada wawasan atau pemahaman. Seluruh perilaku termasuk simptom-simptom yang ditunjukkan pasien dipandang dalam konteks struktur keluarga. Permulaan keluarga memberikan teknik pengamatan sederhana terhadap peta pola-pola transaksi keluarga. Intervensi- intervensi Minuchin tersebut adalah aktif, penuh perhitungan, berupaya untuk mengubah kekakuan, kuno, atau tidak melaksanakan struktur. Dengan kerja sama keluarga dan keamahan, dia memperoleh pemahaman tentang masalah-masalah keluarga, membantu mereka mengubah susunan keluarga yang tidak berfungsi dan menata kembali organisasi keluarga. Enactments (menyuruh keluarga menunjukkan situasi-situasi konflik khusus dalam sesi konseling) dan reframing (menjelaskan kembali suatu masalah sebagai suatu masalah sebagai suatu fungsi dari struktur keluarga) adalah teknik-teknik terapeutik yang sering digunakan. Teknik-teknik tersebut membawa perubahan struktur keluarga. Tujuan akhir konseling adalah menyusun kembali aturan- aturan transaksi keluarga dengan mengembangkan lebih tepat lagi batas-batas diantara sub-sub sistem dan memperkuat aturan hierarki keluarga.

  Dasar pemikiran yang melandasi adalah suatu patologi keluarga muncul akibat dari perkembangan rekasi yang disfungsional. Fungsi-fungsi keluarga meliputi struktur keluarga, subsistem dan keterikatannya. Peraturan-peraturan tertutup dan terbuka dan hirarki-nya harus dimengerti dan dirubah untuk membantu penyesuaian keluarga pada situasi yang baru. Peran konselor adalah memetakan aktivitas mental dan kerja keluarga

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah dalam sesi konseling Seperti sutradara teater, mereka memberi instruksi pada keduanya untuk berinteraksi melalui ajakan-ajakan dan rangkaian aktivitas spontan. Unit treatment terfokus pada keluarga sebagai satu system atau subsistem, tanpa mengabaikan kebutuhan individu. Tujuannya mengungkap perilaku-perilaku problematik sehingga konselor dapat mengamati dan membantu mengubahnya, untuk membawa perubahan-perubahan struktural didalam keluarga, seperti pola-pola organisasional dan rangkaian perbuatan.

  Teknik yang dipakai diantaranya kerjasama, akomodating, restrukturusasi, bekerja dengan interaksi (ajakan, perilaku-perilaku spontan), pendalamam, ketidakseimbangan, reframing, mengasah kemampuan dan membuat ikatan-ikatan. Aspek-aspek uniknya adalah membangun keluarga-keluarga dengan sosioekonomis yang rendah, sangat pragmatis, dipengaruhi oleh profesi psikiatri untuk menghargai konseling keluarga sebagai suatu pendekatan treatment; dengan prinsip-prinsip dan teori-nya Minuchin dkk, efektif untuk keluarga dari para pecandu, para penderita gangguan makan dan bunuh diri, penelitian-penelitian yang baik, systematis, masalah difokuskan untuk masa sekarang, umumnya dilaksanakan kurang dari 6 bulan, konselor dan keluarga sama-sama aktif.

  Teori-teori komunikasi, muncul dari penelitian Lembaga Penelitian Mental (MRI) di Palo Alto pada tahun 1950-an. Teori- teori komunikasi ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap konseling keluarga dengan menyusun kembali maslah-masalah manusia sebagai masalah interaksi dan sifatnya situasional.

  Epistimoligi dari Beteson, Jakson, dan yang lain merupakan dasar bagi upaya-upaya terapeutik dari MRI, konseling keluarga strategis yang dikembangkan oleh Haley dan Madanes, dan pendekatan sistematik dari Selvini-Pallazzoli dan tim Milan. Karakteristik khusus pendekatan ini menggunakan doube binds terapeutik atau teknik-teknik paradoksial ini menggunakan aturan-aturan keluarga dan pola-pola hubungan. Paradocks kontradiksi yang mengikuti deduksi yang tepat dari premis-premis yang konsisten digunakan secara terapeutik untuk mengarahkan individu atau keluarga yang tidak mau berubah sesuai dengan apa yang diharapkan.

  Prosedur ini mempromosikan perubahan tersebut bukan dalam bentuk tindakan atau penolakan. Jkcson, Watzlawick, dan ahli strategis lainnya menggunakan ‛precribing‛ simptom-simptom sebagai teknik paradoks untuk mengurangi penolakan berubah dengan mengubah simptomnya itu tidak berguna. Pendekatan konseling keluarga strategis ditandai oleh taktik-taktik yang teren- cana dan hati-hati, serta langsung menangani masalah-masalah keluarga yang ada. Haley sangat memengaruhi para praktisi dalam menggunakan perintah-perintah atau penyelesaian tugas-tugas sebaik intervensi-intervensi paradoksional yang sifatnya tidak langsung. Madanes, konselor keluarga strategis lainnya menggunakan teknik- teknik ‛pretend‛ (menganggap diri) dan intervensi-intervensinya yang tidak konfrontattif diarahkan pada tercapainya perubahan tanpa mengundang penolakan.

  Konseling keluarga sistematis yang dipraktikan group Milan, tekniknya didasarkan pada epistimologi sirkuler dari Bathson. Teknik-tekniknya mengalami sejumlah perubahan dalam beberapa tahun berikutnya dan melanjutkannya dengan menyajikan teknik- teknik baru. Berdasarkan prosedur ‛long brief therapy‛ yang setiap

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah pertemuannya mempunyai jarak kurang lebih satu bulan, keluarga itu ditangani oleh tim yang bersama-sama merencanakan strategi. Satu atau dua orang konselor bekerja secara langsung dengan keluarga, sementara konselor yang lainnya mengamati dari belakang kaca yang satu arah. Keluarga itu dibei tugas-tugas dalam setiap peremuannya, biasanya didasarkan pada perintah-perintah yang sifatnya paradoks. Tujuan dari model Milan, yaiotu memberikan ‛informasi‛ supaya keluarga mengubah aturan- aturan, mengubah kesalah yang berulang-ulang mengenai permainan-permainan yang menggagalkan diri.

  Pendekatan Milan beranggapan, bahwa pesan-pesan paradoksial dari keluarga hanya dapat dihadapi oleh counter paradox terapeutik. Kelompok Milan telah memperkenalkan sejumlah teknik wawancara, seperti hypothesizing, pertanyaan sirkuler, netralitas, konotasi positif, dan ritual-ritual keluarga. Menurut Jay Haley dan Cloe Madanes; keluarga bermasalah akibat dinamika dan Orang dan keluarga dapat berubah dengan cepat. Treatment (perlakuan) dapat sederhana dan pragmatis dan berkonsentrasi pada perubahan perilaku symptomatic dan peran- peran yang kaku. Perubahan akan muncul melalui ajakan-ajakan, cobaan berat (siksaan), paradox, pura-pura/dalih dan ritual-ritual (strategic and systemic therapis), difokuskan pada pengecualian terhadap disfungsionalitas, solusi-solusi hipotetik dan perubahan- perubahan kecil. (solution-focused therapies).

  Peran Konselor menanggapi munculnya daya tahan/ perlawanan dalam keluarga dan mendesign rangkaian cerita tentang strategi-strategi untuk memecahkan masalah. Menerima munculnya perlawanan/daya tahan melalui penerimaan positif terhadap problem-problem yang dibawa keluarga. Konselor lebih seperti seorang dokter dalam tanggung-jawab terhadap keberhasilan treatment dan harus merencanakan dan membangun strategi-strategi. Unit treatmentnya fokus pada keluarga sebagai suatu sistem, meskipun pendekatan-pendekatannya secara selektif dipergunakan pada pasangan-pasangan dan individu-individu. Tujuan treatment adalah untuk mengatasi problem-problem masa sekarang. Menemukan solusi-solusi,membawa perubahan- perubahan, menemukan target tujuan perilaku, untuk menimbul- kan insigt, untuk mengabaikan hal-hal yang bukan masalah.

  Teknik yang dipakai adalah Reframing (memasukkan dalam konotasi positif), direktif, kerelaan dan pertentangan berdasarkan pada paradox (termasuk penentuan symptom-symptom), mengembangan perubahan selanjutnya, mengabaikan interpretasi, pura-pura, hirarki kooperatif, cobaan-cobaan (siksaaan), ritual, tim, pertanyaan-pertanyaan berputar, solusi hipotetis (dengan menanyakan ‚pertanyaan ajaib‛). Aspek-aspek uniknya adalah terdapat penekanan pada pemeriksaan pada pemeriksaan symptom dengan cara yang positif. Treatment-nya singkat (biasanya 10 sesi atau beberapa). Fokus pada pengubahan perilaku problematik masa sekarang. Tekniknya dirancang khusus untuk setiap keluarga. Tretment yang inovatif dan penting. Pendekaannya fleksibel, berkembang dan kreatif. Secara mudah dapat dikombinasikan dengan teori-teori lain. struktur keluarga yang disfungsional. Perilaku yang bermasalah merupakan usaha individu untuk mencapai kekauasaan dan rasa aman.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Konseling keluarga behavioral, terakhir masuk dalam bidang konseling keluarga, berupaya membawa metode ilmiah dalam proses-proses terapeutik mengembangkan monitoring secara tetap dan mengembangnkan prosedur-prosedur intervensi berdasarkan data. Pendekatan ini mengambil prinsip-prinsip belajar manusia, seperi classical dan operant conditioning, penguatan positif dan negatif, pembentukan, extinction, dan belajar sosial. Pendekatan behavioral menekankan lingkungan, situasional, dan faktor-faktor sosial dari perilaku. Dalam tahu-tahun terakhir ini, pengaruh dari faktor-faktor kognitif, seperti peristiwa-peristiwa yang memediasi interaksi-interaksi keluarga juga diperkenalkan oleh sebagian besar penganut behavioral.

  Konselor yang berorientasi behavioral berupaya untuk meningkatkan inteaksi yang positif diantara anggota-anggota keluarga, mengubah kondisi-kondisi lingkungan yang menentang atau menghambat interaksi-interaksi, dan melatih orang untuk memelihara perubahan-perubahan perilaku positif yang diperlukan. Pendekatan behavioral memberikan pengaruh yang signifikan terhadap empat bidang yang berbeda, yaitu konseling pekawinan behavioral, pendidikan dan latihan keterampilan orangtua behavioral, konseling keluarga fungsional, serta penanganan tidak berfungsinya seksual.

  Pendidikan dan latihan keterampilan-keterampilan orangtua behavioral, sebagian besar didasarkan pada teori belajar sosial, berupaya untuk melatih orang tua dengan prinsip-prinsip behavioral dalam pengelolaan anak. Secara khusus, Patterson memfokuskan terhadap hubungan dua orang (dyad), biasanya antara ibu dan anak, serta menekankan bahwa perilaku anak itu kemungkinan dikembangkan dan dipelihara melalui hubungan timbal balik mereka. Secara khusus, intervensinya berupaya membentu keluarga mengembangkan sejumlah kontingensi penguatan baru dengan maksud memulai belajar perilaku-perilau baru. Konseling keluarga fungsional berupaya menginyegrasikan teori sistem, behavioral, dan kognitif dalam bekarja dengan keluarga. Konseling keluarga fungsional berpandangan, bahwa semua perilaku sebagai fungsi antarpribadi mengenai hasil khusus dari konsekuensi-konsekuensi perilaku. Konselor keluarga fungsional tidak mencoba mengubah perilaku-perilaku yang berguna untuk memelihara fungsi-fungsi.

  Dasar pemikiran dari pendekatan ini adalah perilaku dipertahankan atau dikurangi melalui konsekuensi-konsekuensi, perilaku maladaptive dapat diubah (dihapus) atau dimodifikasi. Perilaku adaptive dapat dipelajari, melalui kognisi, rational maupun irational. Perilaku dapat dimodifikasi dan hasilnya akan membawa perubahan-perubahan. Peran konselor lebih Directiv, melakukan pengukuran dan intervensi dengan hati-hati, konselor tampak seperti guru, ahli dan pemberi penguat, dan focus pada problem masa sekarang. Unit Treatmentnya adalah training orang tua, hubungan perkawinan dan komunikasi pasangan dan treatment pada disfungsi sexual, menekankan pada interaksi pasangan, kecuali dalam terapi peran keluarga. Tujuan treatment untuk menimbulkan perubahan melalui modifikasi pada antecedent-antecedent atau konsekuen-konsekuen dari perbuatan, memberikan perhatian spesial untuk memodifikasi konsekuensi- konsekuensi, menekankan pada pengurangan perilaku yang tidak

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah diharapkan dan menerima perilaku positif, untuk mengajarkan keterampilan sosial dan mencegah problem-problem melalui mengingatkan kembali, untuk meningkatkan kompetensi individu dan pasangan-pasangan serta memberikan pengertian tentang dinamika perilaku.

  Teknik yang dipakai adalah operant conditioning, classical

  • – conditioning, social learing theory, strategi-strategi kognitif behavioral, teknik systematic desensitization, reinforcement positif, reinforcement sekejap/singkat, generalisasi, kehilangan, extinction, modeling, timbal balik, hukuman, token-ekonomis, quid proquo exchanges, perencanaan, metode-metode psikoedukasional. Aspek- aspek unik dari pendekatan ini adalah Pendekatan-pendekatannya secara langsung melalui observasi, pengukuran, dan penggunaan teori ilmiah. Menekankan pada treatment terhadap problem masa sekarang. Memberikan waktu khusus untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan sosial khusus dan mengurangi keterampilan yang tak berguna. Hubungan dibangun diatas kontrol positif dan lebih pada penerangan prosedur-prosedur pendidikan dibanding hukuman. Behaviorisme adalah intervensi yang simple dan pragmatis dengan teknik-teknik yang bermacam-macam. Data riset yang bagus membantu pendekatan-pendekatan ini dan keefektifannya dapat diukur. Perlakuannya pada umumnya dalam waktu yang singkat.

  Peran konselor dalam membantu klien dalam konseling keluarga dan perkawinan dikemukakan oleh Satir (Cottone, 1992) di antaranya sebagai berikut. 1). Konselor berperan sebagai ‚facilitative a comfortable‛, membantu klien melihat secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan-tindakannya sendiri. 2). Konselor menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi. 3). Berusaha menghilangkan pembelaan diri dan keluarga. 4). Membelajarkan klien untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan malakukan self-control. 5). Konselor menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan menginterpretasi pesan-pesan yang disampaikan klien atau anggota keluarga. 6). Konselor menolak perbuatan penilaian dan pembantu menjadi congruence dalam respon-respon anggota keluarga.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah atas studi lapangan pendahuluan terhadap beberapa biro konsultasi keluarga yang kemudin di klasifikasi dan dan dipilih bersadarkan tingkat keeksisannya di Purwokerto.

  Pemilihan ketiga obyek penelitian ini juga didasarkan pada beberapa karakteristik pertimbangan yaitu: Biro Konsultasi Keluarga ‚Metafora‛, dimiliki dan ditangani oleh Tim yang terdiri dari beberapa konselor lintas agama terutama Islam. Biro Konsultasi Psikologi UMP juga dikelola secara Tim yang menangani beragam dimensi persoalan oleh karenanya dalam konteks penelitian ini akan difokuskan pada layanan konsultasii keluarga dan Katolik. Biro Konsultasi Keluarga ‚Andika‛ dimiliki dan dikelola secara pribadi dan lingkupnya juga tidak sebesar Biro Konsultasi Keluarga ‚Metafora‛ dan Biro Konsultasi Psikologi UMP.

  B.

Jenis dan Pendekatan Penelitian

  Sesuai rumusan masalah yang terdeskripsikan dengan berbagai aspek yang melingkupinya dan dengan pertimbangan bahwa dalam penelitian ini tidak mengejar yang terukur, menggunakan logika matematik dan membuat generalisasi atas neraca maka jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif (Muhajir, 1996: 47, Arifin, 1982: 12). Dalam kontek penelitian ini, peneliti dalam memperoleh data tidak diwujudkan dalam bentuk angka, namun data itu diperoleh dalam bentuk penjelasan dan berbagai uraian yang berbentuk lisan maupun tulisan. Penelitian kualitatif secara garis besar dikelompokan menjadi tiga, yaitu penelitaian kualitatif naturalistik, penelitian kualitatif teks dan penelitian kualitatif historis. Dari ketiga model diatas, penelitian ini sesuai dengan judulnya masuk pada model ketiga, yaitu penelitian kualitatif naturalistik.

  Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif dan mengikuti beberapa ciri utama penelitian kualitatif yang disampaikan oleh Patton (1990) dalam Sigit (2001: 186-188), misalnya,

  a) Naturalistic inquiry (telaah alami)

  b) Inductive analysis (analisis induktif) c) Holisitic perspective (pandangan menyeluruh) d) Qualitative data (data kualitatif) e) Design flexibility (fleksibilitas desain), dan lain-lain.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah secara teknis pendekatan yang digunakan dalam penelitian

  42

  ini juga melibatkan pendekatan studi kasus . Pendekatan ini secara teknis menjelaskan mengenai berbagai aspek yang terkait dengan teori yang mendasari, proses dari tahap awal sampai akhir dengan berbagai teknik, pendekatan dan metode yang dipaktekkan di Konsultasi Keluarga ‚Metafora‛, Biro Konsultasi Keluarga ‚Andika‛ dan bagian konsultasi keluarga Biro Konsultasi Psikologi UMP.

  C.

   Subjek Penelitian

  Subjek penelitian merupakan sumber tempat memperoleh keterangan penelitian. Subyek utama dari penelitian ini adalah permasalahan-permasalahan yang muncul setelah menikah yang disebabkan adanya rasa bosan terhadap pasangan di Biro Konsultasi Keluarga ‚Metafora‛, Biro Konsultasi Keluarga ‚Andika‛ dan bagian konsultasi keluarga Biro Konsultasi Psikologi UMP yang kemudian diklasifikasi dalam beberapa tema dan karakter permasalahan untuk kemudian dicari beberapa kasus yang relevan dalam penelitian ini.

  D.

   Sumber Data

  Menurut Moelong (1995, 12), sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah ‚kata-kata‛, selebihnya adalah data tembahan seperti dokumen dan lain-lain. Berkaitan dengan hal itu 42 pada bagian ini jenis datanya dibagi kedalam kata-kata dan sumber

  Studi kasus adalah uraian dan penjelasan komprehensif mengenai berbagai aspek secara indifidu maupun kelompok, suatu program atau suatu situasi social. data tertulis. Kata- kata orang marupakan sumber utama. ‚Kata- kata‛ disini diarahkan pada proses wawancara dengan konselor dan konseli yang masih dalam proses pendampingan dan penyelesaian masalah yang dihadapi. Di sisi lain sumber tertulis walaupun dikatakan bahwa sumber data di luar kata merupakan sumber kedua. Jelas hal itu tidak dapat diabaikan. Dilihat dari segi sumber data, bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis dapat dibagi atas, Panduan resmi, buku dan majalah ilmiah, serta arsip penting lainnya.

  E.

   Metode Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data yang akan Peneliti gunakan beragam. Pertama-tama, Peneliti akan menggunakan teknik Focus

  

Group Discussion (FGD). FGD adalah suatu proses pengumpulan

  informasi tentang suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok. Biar sesuai dengan topik ini, salah satu opsi untuk melakukan FGD adalah dengan kelompok yang terdiri orang yang berbeda, misalnya dengan pasangan yang baru menikah, yang belum mapan, yang sudah mapan dan beragam variasi yang lain. Dengan cara ini, setiap orang itu dapat mewakili kelompok sosial masing-masing, dan Peneliti bisa mendapatkan opini-opini mengenai topik ini yang bermacam-macam, karena linkungan sosial masing-masing akan mempengharui pendapat mereka.

  Pengumpul an data juga memakai ‚Observasi Partisipasi‛ (ngobrol santai), ini digunakan untuk meminimalisir hambatan emotional. Pola ini dipakai untuk mewawancarai para pelaku pernikahan terkait dengan adanya realitas kebosanan dengan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah pasangan masing-masing. Pengumpulan data juga memakai ‚Wawancara Berstruktur‛, berupa pertanyaan-pertanyaan yang berada diluar bidang emosional, ini dipergunakan untuk berdialog dengan para konselor, psikolog yang banyak tau tentang masalah- masalah yang muncul pasca-menikah dan untuk menggali beragam alternatif solusi yang ditawarkan F.

Metode Analisis Data

  Setelah proses memperoleh data-data dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, langkah selanjutnya adalah mengklasifikasi sesuai dengan permasalahan yang diteliti, kemudian data-data tersebut disusun dan dianalisa dengan metode analisis data. Metode analisis data adalah jalan yang ditempuh untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan mengadakan perincian terhadap obyek yang diteliti atau cara penanganan terhadap suatu objek ilimiah tertentu dengan jalan memilah-milah antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain, guna sekadar memperoleh kejelasan mengenai halnya.

  Setelah itu, perlu dilakukan telaah lebih lanjut guna mengakaji secara sistematis dan obyektif. Untuk mendukung hal tersebut, maka penulis dalam menganalisa secara garis besar menggunakan motode deskriptif analisis dan content analisis. Metode

  

deskriptif analisis adalah sebuah metode yang mendeskripsikan dan

  menafsirkan data yang ada. Setelah data terdeskripsikan langkah selanjutnya adalah menganalisisnya dengan menggunakan metode

  

content analisis. Metode ini secara garis besar menganalisis secara

  detail metode dan cara pengobatan di kedua panti rehabilitasi tersebut. Secara aplikatif dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode analitis kritis. Metode ini merupakan pengembangan dari metode deskriptif (Sevilla: 1993, 7), jika metode tersebut terakhir hanya berhenti pada pendeskripsian atau penggambaran gagasan atau konsep tanpa suatu analisis yang bersifat kritis, maka metode analitis kritis adalah merupakan deskripsi yang disertai dengan analisis yang bersifat kritis.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  d

Menikah merupakan sesuatu hal yang sangat didambakan bagi

setiap manusia normal. Dan menikah itu juga merupakan suatu hal

yang dipandang sakral oleh semua agama. Tetapi didalam hidup

berumah tangga itu juga merupakan mistri tersendiri dari

kebahagiaan. Ada kalanya orang yang hidup dengan sangat

sederhana, tetapi mereka merasakan suatu kebahagiaan yang

‘premium‘ dalam kehidupan berumah tangga. Dan sebaliknya ada

orang yang telah memiliki segala kelengkapan hidup yang

‘premium‘, tetapi mereka tidak menemukan yang apa yang mereka

dambakan, suatu kebahagian. Setiap manusia akan/telah

menghadapi berbagai masalah atau problem, termasuk juga

permasalahan di seputar pernikahan atau kehidupan berkeluarga.

Ada kalanya perlu mengatasi permasalahan tersebut secepatnya dan memerlukan bantuan pihak ketiga. da suatu masa dalam perkawinan timbul perasaan tidak puas terhadap suami/istri kita, yang mungkin muncul karena tidak mampu memahami kekurangan ataupun

  A

  perbedaan yang terjadi dengan pasangan kita. Perasaan yang jika tidak dapat dikontrol dengan baik akan menjadi bahaya laten yang akan menghancurkan rumah tangga kita. Sering kita mendengar ada perkawinan yang baru beberapa bulan dijalani, kemudian berakhir dengan perceraian. Kadang ada yang berpendapat

  

‚Mencintai hingga terluka‛, mungkin itulah pernikahan. Kalau ada

  yang mengatakan "Akhirnya mereka menikah, dan hidup berbahagia selamanya..." itu hanya ada di dongeng. Sah menikah itu baru awalnya saja sedangkan bahagia selamanya itu adalah usaha yang keras dari kedua belah pihak. Kadang masalah yang timbul bukanlah masalah yang prinsip. hanya cara kita bicara, atau mencuci baju, cara menyapu, cara makan, bahkan cara "ngunyah" makanan bisa membuat suasana jadi tidak enak.

  Sebagian orang ada yang merasa heran, kenapa cara mencintai setelah menikah rasanya tak seindah cinta remaja yang masih pacaran? Model cinta atau lebih tepatnya pola hubungan pasangan sebelum menikah dan yang sudah menikah tentulah berbeda. Sebelum menikah, pola hubungannya lebih tertutup karena memang aspek gengsi atau ketidakinginan dicela lebih dominan. Akibatnya, dalam banyak hal, kedua belah pihak cenderung bersikap defensif. Seperti perang dingin, masing-masing lebih banyak menutupi kelemahan dan memamerkan kekuatan. Tidak heran kalau kemudian yang tampak hanya yang indah-indah saja. Di samping juga, ada andil setan yang mengipasi imajinasi dan perasaan.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Adapun setelah menikah, polanya adalah pola hubungan terbuka. Bahkan sangat terbuka. Diksi dalam al Quran sendiri sangat tepat dalam menggambarkan pola ini dengan mewakilkan kata ‚afdha‛ untuk menjelaskannya (QS. An Nisa’ 21). Para ulama mem ang menafsirkannya dengan ‚jima‛ atau hubungan badan. Tapi kalau kita renungi, dari segi bahasa ‚Afdha‛ itu berasal dari kata dasar yang bermakna ‚ lapang, atau luar angkasa‛ (fadha’) yang menggambarkan keterbukaan yang sangat luas. Ketika suami istri telah berjima’, berarti keduanya benar-benar telah membuka diri. Setelah menjadi suami istri, masing-masing tak merasa gengsi lagi jika hal-hal yang dulu mereka tutupi diketahui pasangannya. Suami tak gengsi lagi mengaku bokek alias tak punya duit. Istri pun tak malu lagi ketika suaminya tahu, ternyata tidurnya usil. Suka sikut sana tendang sini, misalnya.

  P ada ‚era keterbukaan‛ ini, atsmosfir hubungan tentu akan berubah. Perlu sikap dan mental dewasa untuk menghadapinya. Pasalnya, seperti kita tahu, ada banyak hal yang jika telah terbuka dan berlalu cukup lama akan menjadi hambar, membosankan dan basi. Pasangan kekasih yang secara prematur menghadirkan era ini sebelum menikah, hubungan mereka banyak yang cepat basi setelah menikah. Padahal sejatinya, inilah musimnya cinta sejati ditumbuhkan. Setelah menikah, pola hubungan yang terjadi semestinya lebih berupa koneksi antar hati. Hubungan hati yang didasarkan pada keinginan untuk berkomitmen, saling memberi, menerima, menguatkan dan kesadaran bahwa inilah salah satu

  

43 43 pintu untuk meraih ridha-Nya . Bukan lagi berdasarkan fisik Selain hal diatas ketaqwaan juga menjadi hal penting. Hendaklah pasangan suami istri mampu menjadikan ketaqwaan sebagai pondasi dasar pernikahan semata, sebagaimana yang terjadi sebelum menikah. Fisik memang menjadi media, tapi asalkan jalinan hatinya baik dan kuat, banyak pasangan yang mampu bertahan meski kekasihnya berubah secara fisik.

  Cinta pada masa ini adalah cinta yang harus diusahakan agar mewujud dan dipelihara agar tidak layu. Bukan cinta yang tiba-tiba ‚jatuh‛ ke hati yang seakan-akan merupakan anugerah yang ada begitu saja. Tidaklah salah kalau oran g mengatakan, ‚Lebih penting mencintai orang yang dinikahi daripada menikahi orang yang dicintai‛. Artinya cinta kepada suami atau istri adalah cinta yang wujudnya kata kerja ‚mencintai‛ dan menjadi pekerjaan yang terus menerus dilakukan. Lebih dari sekadar objek berupa perasaan suka yang bercokol di dada. Jadi, kalau kita menyadari hal ini, perubahan pola hubungan itu insyaallah bukan masalah. Yang masalah adalah apabila kita masih saja terjebak angan-angan romantis yang memang hanya berupa angan, atau masih saja terkungkung nostalgia masa lalu. Enggan membangun cinta sejati yang sebenarnya jauh lebih indah, lebih damai dan lebih nyata wujudnya.

  mereka. Adanya ketaqwaan mampu melahirkan ketenangan jiwa pada masing-masing diri suami maupun istri karena masing-masing dari mereka sama-sama cinta dan takut kepada Allah. Dengan begitu masing-masing akan berusaha menjaga diri dari perbuatan buruk atau tercela, baik yang terjadi di dalam maupun luar rumah sehingga hal-hal menyimpang yang mampu menciptakan kisruh dalam rumah tangga dapat diminimalisir. Bukankah kisruh dalam rumah tangga selalu disebabkan oleh hal-hal tercela yang dilakukan baik oleh suami atau istri maupun kedua-duanya? lalu bagaimana tidak padam api kekisruhan tersebut jika suami istri selalu mampu dan kompak untuk menghadirkan mata air ketaqwaan yang mampu mematikan api kekisruhan serta segar lagi menyejukan suasana

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Hanya saja, secara jujur harus diakui bahwa menyemai cinta sejati tak semudah menanam singkong. Membangun cinta dalam rumah tangga tidak sama dengan membangun rumah, menata bata di atas bata. Bisa diukur dan diprediksi secara presisi segala akibat dan kemungkinannya. Tapi, membangun cinta dalam rumah tangga adalah aktifitas paling nyeni di dunia karena dipenuhi berbagai kemungkinan yang tak terduga. Dan, semua sangat riil. Ada kompensasi maupun konsekuensi yang nyata. Berbeda dengan aktifitas membangun cinta saat pacaran yang kebanyakan seperti bermain game. Bisa curang, bahkan memutusnya saat permainan sedang seru-serunya pun tak akan membawa dampak berarti bagi pelakunya. Meski tidak mudah, tapi bukan berarti hal itu tidak bisa dilakukan. Kata pepatah, tidak ada orang yang tidak layak mendapat cinta. Yang ada hanyalah orang yang tidak bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain cinta kepadanya. Maka dari itu marilah senantiasa belajar. Belajar untuk menjadi pecinta sejati dan belajar menjadi orang yang layak mendapat cinta sejati.

  Banyak hal yang membuat pasangan harus bisa bela-jar bersabar untuk menerima dan melengkapi kekurangan masing- masing. Tidak seperti masa pacaran, yang bisa tidak mengangkat telpon, atau tidak mau keluar kamar saat lagi berantem, setelah menikah, mau tidak mau, suka tidak suka, malam harinya tetap harus tidur di ranjang yang sama. Kalau ingin menyimpan marah sampai besok paginya dijamin tidur malam ga nyenyak, karena hati gelisah. Jadi, mulailah pembicaraan dan minta maaf, tidak peduli salah atau tidak, karena itulah pernikahan. Tidak akan ada yang menang atau kalah, yang ada dua-duanya terluka, jadi jalan terbaik adalah menyelesaikannya.

  Tapi, seperti lautan yang ada pasang surutnya, begitu juga sebuah pernikahan. Ada "saat tertentu" kita harus berhadapan dengan masalah, tapi bukankah masalah itu hanya datang pada "saat tertentu

  ‛? Lebihnya adalah saat-saat bahagia, seperti bangun pagi bisa bercanda dengan muka yang kusut dan mata masih sayu, atau sarapan pagi dengan teh manis karena kesiangan dan tidak sempat masak, atau bisa ngepel rumah bareng-bareng atau jajan makanan pinggir jalan padahal sudah bawa bekal dari rumah, atau masih banyak lagi kebahagiaan dalam pernikahan

  Yang perlu dipahami bahwa menikah itu adalah proses bersatunya dua insan yang kalau boleh kita umpamakan karakter dan sifat kedua insan itu dengan 10 hal maka di antara 10 hal tersebut hanya ada 3 persamaan selebihnya adalah perbedaan. Karena proporsi perbedaan itu sangat besar, maka peluang untuk terjadi konflik itu juga lebih besar. Dan jika kita tidak bisa mengelola perbedaan itu maka akan berakhir dengan sesuatu yang tidak kita inginkan (Mahmudah: 2009, 12).

  Bagaimana mengelola perbedaan itu? Terkadang terasa sangat sulit erutama jika ego sudah berada di atas segalanya. Mungkin kita harus sering mengingat bahwa suami/istri kita adalah orang pilihan yang terbaik menurut kita, sehingga sudah selayaknya kita saling mecintai yaitu mengerti orang yang kita cintai tanpa menuntut mereka mengerti diri kita. Kedengarannya memang kurang fair, tapi kalau dipikir lebih jauh jika suami/istri menerapkan hal itu ke masing-masing pasangannya, mama rumah tangga kita akan lebih terasa

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah bermakna. Yang menjadi masalah bagaimana kalau kita khilaf atau sulit menerima makna cinta yang seperti itu. Kita mau mengerti pasangan kita dengan syarat, pasangan kita juga harus mengerti diri kita. Jika memegang prinsip ini, sementara yang terjadi hanya satu pihak yang selalu mengerti, kalau tidak dewasa dalam menjalaninya maka akan memunculkan banyak masalah dalam rumah tangga.

  Sebagai pengantar, berikut adalah salah satu ungkap-an seorang klien terhadap permasalahan rumah tangganya di Biro

Konsultasi Keluarga ‚Metafora‛:

  Dear Konselor, saya Vina (40 tahunan), sudah menikah 10 tahun, dan punya dua anak. Pertanyaan saya adalah apakah hubungan seks itu penting bagi kehidupan pernikahan? Bagi saya rasanya kesetiaan dan tanggung-jawab lebih penting, apalagi saya bekerja dan kesibukan bekerja serta mengurus dua anak seringkali membuat saya malas melayani suami. Mencintai seseorang kan seharusnya tidak harus rutin berhubungan seks? Perlu diketahui kami sudah tidak berhubungan selama lebih dari enam bulan tetapi kami masih tidur sekamar. Akhir-akhir ini suami saya mengeluh pada mama saya tentang hal ini. Ini membuat saya tambah jengkel dan lebih malas lagi melayani dia. Rasanya suami saya hanya mau enaknya saja sendiri dan tidak mau tahu kelelelahan saya. Seharusnya dia sadar, kalau saya tidak bekerja bagaimana keluarga bisa sampai ke level kehidupan saat ini. Mohon sarannya.Vina Bandung. Konselor. Vina...., tuntutan hidup saat ini rasanya memang bisa membuat kehidupan wanita menjadi tidak mudah, di samping harus mempertahankan fungsi sebagai ibu yang melahirkan anak, kemudian membesarkan anak, juga harus tetap menjaga fungsi sebagai ibu rumah tangga yang memastikan semua urusan rumah tangga beres, ditambah lagi harus bekerja membantu suami untuk kelangsungan hidup keluarga. Tekanan kondisi tersebut bisa membuat kita menjadi lelah, sehingga tanpa kita sadari kita menjadi lebih fokus pada hal-hal yang menurut kita lebih utama yaitu bagaiman bertahan hidup dan kemudian mengurangi perhatian kita pada relasi yang harus dibangun bersama pasangan kita.

  Sebagai masukan untuk Vina, saya mengajak Vina untuk merenungkan beberapa hal sebagai berikut: 1) Dalam pernikahan, saya melihat paling tidak ada tiga hal penting yang harus dijaga yaitu: komitmen, keintiman, dan hasrat (ketertarikan secara) fisikal. Ketiga hal tersebut idealnya terbentuk seperti sebuah segitiga sama sisi, di mana pasangan suami istri terus menjaga keseimbangan ketiganya. Pernikahan tanpa komitmen tentunya akan menjadi pernikahan yang tidak bertanggung jawab di mana bisa saja terjadi perselingkuhan atau tidak mau bertanggung jawab untuk kehidupan keluarga atau menyesuaikan peran dalam kehidupan yang tentunya berbeda antara kehidupan bujangan dan pernikahan.

  Hal yang kedua adalah keintiman. Menjaga komitmen tentu penting, tetapi rasanya menjaga komitmen saja, walaupun baik bagi pernikahan itu sendiri, rasanya kurang lengkap ketika pasangan tersebut tidak lagi mempunyai keinginan untuk menikmati waktu bersama seperti rekreasi atau makan malam berdua atau pergi berdua, atau kegiatan berdua lainnya yang diharapkan bisa semakin mendekatkan pasangan satu dengan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah lainnya. Yang ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah Hasrat Fisikal, di mana hubungan seks adalah salah satu sarana yang membuat ikatan pernikahan menjadi semakin kuat. Hubungan seks tidak selalu diakhiri persetubuhan, tetapi bisa juga terjadi dalam sentuhan-sentuhan baik itu dalam bentuk dekapan, berpegangan tangan, saling tatap di mana perasaan cinta dikomunikasikan melalui bahasa tubuh dan membuat masing-masing merasa yakin bahwa pasangannya masih mencintainya. Jadi hubungan seks pun tidak sekadar memuaskan libido dan kebutuhan biologis semata.

  Ketika hubungan seks hanya dilihat sebagai sarana memuaskan libido/kebutuhan biologis semata, maka bisa saja muncul perasaan- perasaan negatif yang akhirnya membuat kualitas dan keinginan untuk berhubungan menjadi semakin berkurang.

  Ajaran agama menegaskan peran istri sebagai Penolong yang Sepadan, tentunya tidak boleh melampaui apa yang seharusnya dikerjakan suami, artinya apa pun yang dikerjakan oleh istri, walaupun kemudian hasilnya bisa lebih baik dari suami, tentunya tidak boleh sampai membuat suami kehilangan peran sebagai kepala keluarga. Dalam konteks inilah, agama menghendaki para istri untuk mendukung suami sehingga mereka bisa menjalankan peran yang diinginkan oleh Tuhan dalam kehidupan mereka. Peran istri menjadi penolong yang sepadan tentunya merupakan tanggung-jawab yang luar biasa, bukan hal yang mudah. Untuk itu apa pun yang istri lakukan (secara sukarela) seharusnya membuat suami semakin baik dalam melaksanakan peran mereka dan bukan sebaliknya membuat mereka menjadi pribadi yang tidak matang baik secara spiritual maupun secara psikologis. Dari kedua hal tersebut di atas, perlu Vina renung-kan, yang pertama, kira-kira apakah yang dikerjakan selama ini semakin membuat suami menjadi suami yang memuliakan Tuhan? Yang kedua, kalau Vina merasa sudah melakukan hal yang terbaik bagi keluarga, apakah Vina juga sudah melakukan hal yang terbaik bagi pernikahan Vina (relasi suami istri)? Berkaitan dengan hal yang kedua tersebut, coba Vina pikirkan apakah betul bahwa keinginan suami untuk berhubungan semata-mata untuk memuaskan kebutuhan biolois, atau jangan-jangan merupakan cara dia untuk lebih mendekatkan diri pada istri dan meyakinkan dirinya bahwa dalam pernikahan ini masih ada hasrat untuk saling memuaskan dan melengkapi, sehingga tiga hal penting dalam pernikahan (komitmen, keintiman dan hasrat fisikal) tetap terjaga dengan baik.

Berikut adalah kisah yang lain di Biro Konsultasi Keluarga ‚Andika‛. Dear Konselor Kami menikah 10 tahun dengan 2 anak

  Suami kaku dan keras kepala. Kami berdua bekerja, meskipun pekerjaan di rumah saya kelola sendiri. Suami tidak peduli kerepotannya, masih mengeluh katanya saya tidak mengurusi suami. Penghasilannya untuk keperluan bulanan dan keperluan pribadinya, sedangkan gaji saya untuk keperluan harian yang tidak kalah banyak. Sekarang saya tidak bekerja (sementara), suami mengeluh lagi, katanya dia yang bekerja keras mencarai nafkah, saya tidak bergaji. Dalam hubungan seksual saya tidak dapat menikmatinya karena maunya to the point, tapi kadang mengonani. Saya meski saya jijik. Dia pernah selingkuh.

  Tahun lalu saya bertemu rekan kerja, terlibat affair, yang akhirnya tahu nikmatnya hubungan seks. Yang saya sesalkan kenapa tidak dengan suami. Saya tahu berbuat dosa dan ingin

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah mengakhirinya. Di keluarganya suami anak bungsu yang selalu dimanja. Saya dinasehati kakak-kakak ipar agar sabar dan momong suami. Bukankah harusnya suami yang momong istri dan anak- anaknya?. Saya menyesal dengan perkawinan ini. Tapi cerai saya hindari demi anak-anak. bisakah saya bertahan berdampingan dengan suami yang perkataanya menyakitkan? Saya pernah bilang mungkin saya tidak berumur panjang bila suami tidak mengubah sikapnya.

  Konselor memberikan pendapatnya, nampaknya ibu begitu kecewa dengan pernikahan yang sudah dijalani selama 10 tahun. Berada dalam sebuah keluarga yang diri kita merasa tidak nyaman bersama pasangan memang merupakan siksaan batin yang berkepanjangan. Ketidak-puasan serta konflik dalam rumah yang tak terselesaikan memang membuka celah bagi setan untuk menggiring kita pada maksiat. Oleh karena itu seharusnya problem dalam rumah tangga tidak dibiarkan berlarut-larut dan berujung pada hal yang dimurkai Allah.

  Menyelesaikan masalah memang tak cukup hanya sekadar bersabar dalam arti sekadar pasrah atas apa yang diterima, namun harus diiringi dengan usaha merubah keadaan. Namun ketika keadaan tidak juga berubah dan diri kita khawatir jatuh pada maksiat maka yang terbaik adalah mengambil jalan terbaik di antara pilihan yang tidak baik dengan penilaian Allah sebagai pertimbangan utama. Hal tersebut pernah dilakukan oleh seorang wanita di zaman Rasulullah, ia meminta agar diceraikan dari suami-nya karena khawatir akan agamanya. Dan Rasulullahpun mengizinkan dan tidak menghalang-halanginya demi terjaganya agama wanita tersebut. Dalam hal ini saya menyarankan ibu sebaiknya memperbaiki dulu pernikahan ini semaksimal mungkin dan tidak dibutakan nafsu sesaat. Cobalah mengawali dengan membuka komunikasi yang lebih baik kepada suami dan mengkomunikasikan ketidakpuasan ibuatas pernikahan ini. Mungkin saja suami sendiri tidak tahu sedalam apa rasa tertekan yang ibu alami sehingga iapun menganggap segalanya masih dapat diatasi. Jika masalah- nya adalah dengan bagaimana ibu mengkomunikasikan hal tersebut kepada suami maka hadirkan orang ketiga. Misalnya datangi konselor pernikahan atau siapapun yang ibu serta suami percayai yang dapat menjadi jembatan antara ibu dengan suami dan membantu memandang masalah secara objektif.

  Saya sendiri tak tahu sejauh mana ibu sudah berusaha memperbaiki pernikahan ini, namun yang jelas mengambil jalan instant dengan berselingkuh tidak menyelesaikan masalah bahkan bisa jadi menambah masalah baru. Akhirnya ibupun tak pernah tenang hidupnya berputar dalam masalah yang tak kunjung selesai. Jika ibu merasa bertahan dalam pernikahan adalah untuk anak- anak, maka apakah menurut ibu bertahan namun berselingkuh tidak akan menyakiti mereka? Padahal demikian banyak anak-anak yang hancur ketika tahu ada orangtuanya yang berselingkuh dan dampaknya bisa jadi lebih merusak dibandingkan dari perpisahan yang dilakukan dengan baik. Akhirnya semua pilihan akan kembali kepada diri kita sendiri. Dekatkanlah terus diri ibu kepada Allah dan bertobatlah. Bersabar, berusaha dan berdoa semoga membawa pada jalan keluar yang Allah ridho, meski tak selalu indah di mata manusia.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah pasca-pernikahan yang kebetulan dua-duanya diadukan oleh pihak istri. Apakah memang istri cepat bosan dalam menjalani perkawinan. Benarkah hidup dalam bingkai perkawinan membuat kaum wanita cepat merasa bosan? Setidaknya itulah yang diberitakan Dailymail Media ini, Selasa 26 April 2011, mewartakan tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh sebuah universitas di Kanada bahwa setidaknya 70 persen wanita merasakan kehampaan setelah menjalani masa perkawinan. ‚Rata-rata mereka didera kebosanan karena mengalami konflik, pengkhianatan atau keegoisan dalam rumah tangga mereka,‛ kata Beverley Fehr, peneliti dari Universitas Winnipeg Kanada. Penelitian ini dilakukan terhadap 88 pasangan yang menikah. Para peneliti menanyakan 44 tentang kegiatan sehari-hari dan penjelasan lengkap tentang

  Ada lisah lain yang menurut saya sepele tetapi jarang kita sadari. Suasana berubah tidak enak kalau sudah sampe rumah selepas pulang kantor, saya takut diajak berhubungan intim oleh suami, bukan karna ada hal yang sembunyikan, tapi karna saya takut menolak, katanya menolak ajakan suami berdosa, itu yang saya takuti, Bagi saya, berhubungan badan bukan hanya menuntut kesehatan fisik, tapi juga keikhlasan hati....dan itu hal yang sulit buat saya, kenapa?. suami saya orang yang temperament, segala tindakannya penuh emosi, nggak boleh ada kesalahan yang saya lakukan kalau udah dirumah, kata-katanya selalu saja keluar begitu saja tanpa dipikirkan saya akan sakit hati atau tidak kalau mendengarnya. setiap kali coba saya diskusikan, tidak pernah menemukan hasil, hanya tambah bikin suami marah. Akhirnya saya pendam sendiri semua perasaaan sedih saya, itulah yang buat saya sulit untuk bisa ikhlas melayani suami untuk berhubungan. Paling paling cuma malem jum'at aja. Selebihnya saya lebih banyak beralasan.Sekarang keadaan keluarga saya tambah dingin, suami ggak akan bicara kalau saya nggak bicara duluan, telfon, sms pun demikian. Terus saya harus bagaimana? Padahal saya menikah baru 3 tahun. tolong kasih saya solusi....rasanya ingin sekali menangis yang keras, tapi saya nggak pernah bisa. hubungan asmara mereka setelah menikah Fehr menambahkan temuan lain yang tak kalah menarik dalam penelitian ini. Rupanya perkawinan dianggap lebih membosankan daripada kencan. ‚Kebosanan relatif kecil ketika berpacaran karena mereka dapat lebih mudah melepaskan diri dari hubungan tersebut,‛ katanya.

  Ternyata, dalam penelitian ini juga menyebutkan bahwa pria menikah cenderung tidak bosan dengan pasangan mereka. Namun perlu dicatat, kebanyakan pria justru cepat bosan dengan wanita yang belum mereka nikahi.

  45 Bagaimana hubungan Anda dengan pasangan saat ini ?

  Apakah Anda merasa interaksi Anda menjadi semakin dekat, sayang, terbuka, percaya, bergairah, saling menguatkan, saling menghargai, atau malah sebaliknya? Akibatnya kehidupan 45 perkawinan menjadi semakin jauh, tiada rasa, datar, hambar

  Selama bertahun-tahun hidup dengan istri/suami, kadang ada nggak rasa bosan itu muncul?‛Saya menanyakan ini kebeberapa kenalan, baik di dunia nyata maupun teman-teman di maya. Bukan karena saya mulai bosan terhadap istri seperti yang mereka balik tanyakan kepada saya, tapi karena cinta yang teramat sangatlah saya jadi penasaran untuk men-survey tentang ini. Rasa sayang dan takut kehilangan dirinya membuat saya bertanya-tanya, apakah rasa ini suatu hari nanti akan berubah? Adakah akan muncul rasa bosan terhadapnya suatu hari kelak? Rasa takut yang mungkin berlebihan.

Dari sekian banyak kenalan yang saya tanya, Sembilan puluh persen menjawab, ‚Ya, ada.‛ Dan sisanya mengaku ‚Alhamdulillah, tidak.‛Istri juga

  manusia, suami juga manusia, ada tingkah laku, kata-kata, dan sikap yang sewaktu-waktu tidak disukai. Tapi betapa kejamnya jika kesalahannya itu yang merupakan kekurangannya lantas dijadikan alasan untuk menghindar darinya karena rasa bosan kita. Apalagi jika sampai membawa kita keperbuatan selingkuh. Jika rasa bosan muncul terhadap pasangan kita, mencari hal-hal baru yang ada dalam dirinya adalah hal yang tepat. Mengadakan kegiatan baru bersama. Mengulang bulan madu juga hal yang sangat menyenangkan. Titipkan anak-anak ke saudara atau orangtua tuk sementara, lalu pergi ke suatu tempat yang menyenangkan. Berhibur berdua

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah dan membosankan seolah sekadar menjalankan kewajiban rutin suami istri ataupun rumah tangga. Adapun salah satu penyebab rasa bosan pada pria antara lain karena terlalu sering dikritik ataupun diatur, padahal kebanyakan pria sangat tidak suka dikendalikan

  46

  . Apa yang dapat wanita harapkan dari pasangan pria yang merasa tidak di hargai, kecuali sikap ‚dingin‛ darinya karena tidak ingin mengecewakan, namun sekaligus tidak suka dikritik pasangannya.

  Mengapa Anda tidak terus membiarkan pria merasa hebat, merasa serba bisa, sekalipun Anda sudah memiliki semua jawabannya dan dapat melakukannya sendiri?. Begitu pula pada wanita, salah satu penyebab rasa bosan pada wanita karena tidak ada lagi kejutan yang menyenangkan, tatapan kekaguman, pujian yang memabukkan, perhatian yang berlebihan. Apa yang dapat 46 Dalam memahami kritik dari pasangan berikut ada kisah yang bisa kita

  jadikan bahan renungan. Alkisah suatu ketika, Kapak, Gergaji, Palu, dan Nyala Api sedang mengadakan perjalanan bersama-sama. Di suatu tempat, perjalanan mereka terhenti karena terdapat sepotong besi baja yang tergeletak menghalangi jalanan. Mereka berusaha menyingkirkan baja tersebut dengan kekuatan yang mereka miliki masing- masing. ‚Itu bisa Aku singkirkan,‛ kata Kapak. Pukulan-pukulannya keras sekali menghantam baja yang kuat dan keras juga itu. Tapi tiap bacokan hanya membuat kapak itu lebih tumpul sendiri sampai ia berhenti. ‚Sini, biar aku yang urus,‛ kata Gergaji. Dengan gigi yang tajam tanpa perasaan, ia pun mulai menggergaji. Tapi kaget dan kecewa ia, semua giginya jadi tumpul dan rontok. ‚Apa kubilang,‛ kata Palu, ‚Kan aku sudah omong, kalian tidak bisa. Sini, sini aku tunjukk an caranya.‛ Tapi baru sekali ia memukul, kepalanya terpental sendiri, dan baja tetap tak berubah. ‚Boleh aku coba?‛ tanya Nyala Api. Dan ia pun melingkarkan diri, dengan lembut menggeluti, memeluk, dan mendekapnya erat-erat tanpa mau melepaskannya. Baja yang keras itu pun akhirnya meleleh dan cair. Ininya jangan hadapi amarah dengan amarah dan kritik dengan kritik. pria harapkan dari pasangan wanita yang merasa tidak tersanjung, kecuali wajah ‚cemberut‛ karena merasa tidak lagi diperhatikan pasangannya? Walau terkesan gombal dan agak mengada ada, mengapa Anda tidak terus membiarkan pasangan wanita merasa di awang awang.

  Hal ini dipertegas sebuah anggapan bahwa salah satu penyebab pria cepat bosan adalah jika kekasihnya sangat posesif dan terlalu mengatur kehidupannya. Jika Anda tidak merubah sikap Anda, maka dapat berujung pada perpisahan. Selain posesif ada beberapa hal lainnya yang membuat pria jenuh.

  Pertama, Terlalu Posesif. Tanpa sadar wanita sering terlalu

  posesif pada pasangannya. Posesif bisa disebabkan karena rasa cemburu yang berlebihan dan ketakutan jika dia tidak mencintainya lagi. Ketakutan tersebut menyebabkan seseorang selalu ragu dengan kesetiaan pasangannya dan berusaha mengontrol pasangannya. Seperti sering melarang si dia pergi bersama teman-temannya. Mungkin pada awalnya si dia menuruti Anda ketika dia tidak diizinkan pergi. Namun jangan pikir dia akan terus bisa menuruti Anda. Lama-kelamaan dia bisa bosan dan kesal dengan sikap Anda. Jika hubungan ingin langgeng, berhenti mengekangnya dan buang rasa curiga yang terlalu berlebihan padanya.

  Kedua, Tidak Menjaga Penampilan. Pada awal pendekatan

  dan awal pacaran dulu, Anda pasti sangat menjaga penampilan di hadapannya. Setelah menjalin hubungan yang cukup lama, Anda menjadi lebih cuek pada penampilan. Jangan anggap remeh penampilan. Meskipun dia mengatakan dia mencintai Anda apa adanya. Namun menjaga penampilan dan rutin mengubah

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah penampilan cukup penting untuk menghindarinya dari kebosanan. Tidak perlu membeli busana tiap minggu. Cukup rajin perawatan wajah dan tubuh. Selain itu ubahlah gaya rambut setiap beberapa bulan sekali.

  Ketiga, Diam Saat Marah. Tipikal wanita ketika marah adalah

  mendiamkan kekasihnya. Ingatlah, pria bukan makhluk yang sensitif. Dia malah bingung dan kesal jika didiamkan tanpa diberi penjelasan. Jadi daripada buang waktu untuk mendiamkannya dan berharap dia mengetahui kesalahannya, lebih baik beritahukan apa yang membuat Anda kesal. Keempat, Terlalu Sering Mengkritik. Terlalu banyak kritk tidak hanya membuat pria kesal tapi dapat 'menghantam' egonya. Pria menganggap jika wanita terlalu sering mengkritiknya berarti dia tidak pernah benar. Dengan begini dia merasa direndahkan oleh kekasihnya. Jika ingin mengkritiknya, bicarakan dengan sopan dan jangan seolah-olah mengguruinya.

  Rasa bosan pasti pernah singgah dalam kehidupan rumah tangga, bahkan mungkin suatu waktu akan datang kembali. Perasaan bosan itu ibarat gelapnya malam yang memang harus Anda lalui untuk kemudian Anda menikmati indahnya pagi dan hangatnya mentari. Rasa bosan dalam kehidupan berumah tangga adalah wajar, mengingat memang tidak ada yang sempurna dalam kehidupan di dunia ini. Maka, setinggi apapun prestasi, kebaikan, atau keistimewaan, selama masih ada di dunia, pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Artinya, seistimewa apapun pasangan hidup Anda, pasti punya kekurangan. Akibatnya, kebosanan- kebosanan menyergap kehidupan rumah tangga. Tiba-tiba merasa bosan pada keadaan rumah, bosan terhadap penampilan pasangan, bosan terhadap keadaan anak-anak, atau bosan menghadapi segala

  47

  permasalahan rumah tangga . Rumah tangga yang sudah disergap kebosanan biasanya diwarnai dengan sikap yang serba tidak maksimal. Suami tidak maksimal mengelola rumah tangga sehingga berimbas kepada sikap istri yang juga tidak maksimal dalam melayani suami, juga dalam menjaga amanah rumah dan anak-anak. Bisa jadi, suami-istri pun tidak maksimal mengekspresikan rasa cinta kasihnya. Akibatnya, muncul ketegangan atau bahkan sikap apatis, suami-istri berjalan sendiri- sendiri mengikuti idealisme masing-masing.

  Rasulullah mewanti-wanti agar jika muncul rasa bosan atau jenuh, pelampiasan yang dipilih hendaknya tidak keluar dari kebenaran sebagaimana sabda beliau ini: ‚Setiap amal itu ada masa semangatnya, dan pada setiap masa semangat itu ada masa futur 47 (bosan). Barangsiapa yang ketika futur tetap berpegang kepada Profesi ibu rumah tangga oleh beberapa orang juga dianggap menjenuhkan.

  Hal ini sering membuat seorang wanita gampang tersinggung, suka cemberut, atau bahkan mudah marah.Profesi sebagai ibu rumah tangga adalah profesi yang sungguh mulia. Namun ada kalanya dalam menjalankan tugas yang mulia ini seorang ibu rumah tangga merasakan adanya satu kejenuhan. Seringkali sebagai seorang ibu rumah tangga merasa jenuh terhadap tugas sehari-hari. Tugas yang harus diselesaikan rasanya banyak sekali, mengurus anaklah, suami, rumah, dan lain-lain. Sementara sebagai anggota masyarakat pun kita dituntut untuk memberikan peran positif yang tak kurang menyibukkan. Kita rasanya telah berbuat banyak, mengurus anak, suami, rumah tangga, dan lain-lain, tetapi yang didapat hanya letih. Tak seorangpun yang tahu kelelahan kita. Pekerjaan masih menumpuk, ada lagi dan ada lagi. Seolah-olah tak kunjung selesai, dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi. Karenanya kondisi rasa bosan dalam kehidupan berumah tangga adalah wajar, mengingat memang tidak ada yang sempurna dalam kehidupan di dunia ini. Maka, setinggi apapun prestasi, kebaikan, atau keistimewaan, selama masih ada di dunia, pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Akibatnya, kebosanan-kebosanan menyergap kehidupan rumah tangga Anda.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk dan barang-siapa yang ketika futur berpegang kepada selain sunnahku, maka sesungguhnya ia telah tersesat? (HR al-Bazaar).

  A.

   Kodrat Kebosanan: Perspektif Konselor

  Berikut adalah cerita tentang kebosanan yang dikemukanan oleh Andi, konselor dari Biro Konsultasi Keluarga Metafora.

  Manusia dan Kebosanan Manusia dan kebosanan sedang duduk berhadapan di satu meja bermain catur. Manusia menggerakkan pion, Menarik nafas panjang Dan bertanya pada kebosanan "kenapa lagi- lagi kamu yang bermain bersamaku?" kebosanan menggerakkan kuda dan menjawab "karena tak ada orang lain yang bermain bersamamu... Masih untung kau kutemani. Daripada kamu bermain dengan kesendirian... Atau kau mau kesepian yang menemanimu?" "haaaah... Kalian sama saja" kata manusia sambil memakan pion milik kebosanan. Waktu terus bergulir dan permainan terus berlanjut.."skak mat!" teriak kebosanan kegirangan... Manusia berpikir lamaaaa sekali.... Kenapa ia selalu kalah dengan kebosanan... "hahahaha... Aku menang lagi hai manusia...! Kamu terlalu lama berpikir... Berpikir apa yang akan kamu lakukan untuk membuat aku kalah... Sehingga kau bisa mengusirku...Atau

kamu terlalu banyak diam... Berharap aku akan pergi sendiri...

Harusnya kamu segera melakukan sesuatu... Paling tidak mengganti permainan menjadi yang lebih menyenenagkan agar kecerian datang menggatikan aku..."

  Oleh Karenanya menurut Indra konselor dari Biro Konsultasi Keluarga Andika, menilai wajar apabila Sir Cecil Beaton berkata: ‛Barangkali kejahatan terbesar kedua di dunia adalah kebosanan, dan yang nomor satu: menjadi orang yang membosankan!‛ Kebosananlah, yang menjadi virus penghancur hampir seluruh bentuk hubungan antarmanusia, membuat mimpi padam sebelum waktunya, memaksa orang mati sebelum ajalnya. Sorren Kierkegaard mengatakan bahwa ‚kebosanan adalah akar segala kejahatan‛.

  Dewa-dewa bosan, maka mereka menciptakan manusia. Adam bosan, sebab ia seorang diri, maka Hawa diciptakan. Para filsuf pun tertular oleh virus kebosanan ini; Plato bosan dengan dunia nyata lalu melarikan diri ke dalam dunia idealnya. Fayerabend bosan dengan persoalan metodologi lalu menulis buku

  

Against Method. Rousseau bosan dengan anak-anaknya lalu

  kemudian menitipkan semua anaknya ke panti asuhan. Kafka bosan hidup di dalam modernitas lalu memilih hidup di dalam tulisan-tulisannya, tak heran ketika ia berpesan kepada sahabatnya bahwa kalau kelak ia sudah meninggal maka tulisan-tulisannya pun harus dimusnahkan, karena tulisan-tulisannya harus sudah lenyap seiring nyawanya lenyap. Seniman bosan dengan keindahan alam apa adanya, sehingga harus menciptakan sendiri keindahan versi mereka sendiri.

  Kebosanan, menurut Maulana, konselor dari Biro Konsultasi Keluarga UMP, memang bukanlah barang baru dan di dalam dunia inipun bukan hal aneh yang hanya dialami oleh sebagian orang saja. Seperti kebanyakan orang, mungkin kita berpikir ini hal yang biasa, hanya sebuah perasaan yang akan berlalu dengan sendirinya.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Orang bisa saja merasa bosan ketika mendengarkan kuliah yang panjang. Atau ketika membaca sebuah buku yang tidak ia disukai. Sah-sah saja. Tetapi yang akan kita lihat di sini bukanlah kebosanan-kebosanan sementara yang spesifik seperti itu, melainkan sebuah bentuk kebosanan yang lebih luas jangkauannya, lebih permanen sifatnya, jauh lebih merusak, dan yang seringkali dengan tidak kita sadari sudah merasuk kehidupan manusia dan tidak terkecuali kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan.

  Selama mencari bahan untuk tulisan ini kami menemukan begitu banyak website yang menyodorkan bermacam-macam cara untuk mengatasi kebosanan. Demikian juga blog-blog yang membahas masalah kebosanan tidak kalah banyaknya. Artikel- artikel tentang kebosanan, baik oleh para ahli maupun orang-orang awam, memenuhi daftar website ini. Hal ini menunjukkan bahwa rasa bosan sudah begitu mencengkeram kehidupan manusia zaman ini. Ia sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat modern. Tapi, mungkin kita bertanya-tanya mengapa kebosanan bisa merajalela di tengah- tengah modernitas yang penuh dengan PlayStation, Xbox, TV, Disneyland, online game, internet, jet coaster, mall, dan segudang pabrik-pabrik hiburan lainnya? Bukankah kita tinggal pilih saja mau yang mana lalu habis perkara?.

  Patricia M. Spacks, dalam bukunya ‚Boredom: The Literary

  

History of a State of Mind ,‛ mengemukakan bahwa Revolusi Industri,

  dengan penemuan-penemuan barunya yang menggeser kedudukan tenaga manusia, juga menciptakan sebuah konsep ‘waktu luang’ yang baru, yang kemudian menciptakan konsep ‘kebosanan’ yang berbeda dengan zaman sebelumnya. Dengan mesin-mesin sebagai pelaku utama, pekerjaan-pekerjaan menjadi monoton dan menekan daya kreasi manusia. Waktu luang yang tersedia pun semakin banyak, maka semakin banyak orang-orang yang merasa bosan karena tidak melakukan sesuatu untuk jangka waktu yang lama. Lama-kelamaan orang-orang tidak lagi hanya merasa bosan di waktu luang mereka, mereka juga merasa bosan bahkan di saat bekerja. Seiring dengan hal itu, perhatian masyarakat terhadap hak- hak individual mereka semakin menguat. Mereka juga semakin sadar akan kompleksitas kebutuhan batiniah mereka.

  Menariknya, dalam buku ‚A Philosophy of Boredom,‛ Lars Svendsen mengemukan bahwa konsep ‘menarik’ (‘interesting’) muncul kurang lebih pada saat yang bersama-an dengan berkembangnya konsep ‘individualisme’. Manusia mulai memilah- milah apa yang menarik dan yang tidak menarik. Menyenangkan dan tidak menyenangkan. Enak dan tidak enak. Demikianlah manusia mulai mencari apa yang menarik, menyenangkan, dan enak bagi mereka. Dengan konsep yang baru ini mereka memperjuangkan hak memperoleh kebahagiaan dan hak untuk terus dipenuhi kebutuhannya. Maka kebosanan pun terjadi ketika hal-hal yang ada tidak lagi memuaskan mereka. Dengan kemajuan teknologi, manusia yakin bisa menemukan apa yang mereka cari. Mereka menciptakan berbagai macam sarana untuk memuaskan keinginan dirinya. Semakin lama semakin cepat, semakin banyak, semakin bervariasi. Tapi nyatanya, keinginan manusia berevolusi jauh lebih cepat lagi. Satu hal yang menarik yang diungkapkan oleh Patricia M. Spacks adalah bahwa selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, faktor ketiga yang berandil besar memperkuat

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah kebosanan masal ini adalah hilangnya pengaruh agama dalam masyarakat.

  Jika begitu kenyataannya maka tidak aneh apabila kita melihat lelaki yang mengkhianati istri atau kekasihnya, yang kelihatannya begitu sempurna: cantik, pinter, pokoknya segalanya yang membuat dia menjadi impian setiap lelaki. Ketika ditanya, dengan entengnya dia bilang, ‚Sapa bilang sop buntut ngga enak. Tapi sesekali pengen juga makan ikan asin pake sambel terasi.‛ Jawaban ini membawa pesan tentang kebosanan. Kadang, seorang lelaki tidak bisa memberikan alasan yang kuat, bahkan alasan apapun

  48

  , untuk berkhianat. Perempuan juga sama, tapi frekuensinya jauh lebih kecil. Perempuan bukannya punya karakter lebih setia dari pria, tetapi Tuhan tampaknya memberikan kemampuan lebih kepada wanita untuk menghadapi kebosanan. Buktinya, mereka mampu membawa janin di kandungannya 48 Ketika engkau mencintaiku, engkau menghormatiku. Dan ketika engkau

  membenciku, engkau tidak mendzalimiku. (Dr. Ramdhan Hafidz). Dari sinilah saya teringat kisah temen saya dan istrinya. Aku masih ingat saat malam pertama kita, saat itu engkau men gajakku shalat Isya’ berjamaah.

Setelah berdoa engkau kecup keningku lalu berkata: ‚Dinda, aku ingin engkau menjadi pendampingku Dunia- Akhirat‛. Mendengar ucapan itu

  akupun menangis terharu. Malam itu engkau menjadi sosok seperti sayyidina Ali yang bersujud semalam suntuk karena bersyukur mendapatkan sosok istri seperti Siti Fatimah. Apakah begitu berharganya aku bagimu sehingga engkau mensyukuri kebersamaan kita? Malam itu, aku tidak bisa mengungkapkan rasa syukurku ini dengan ucapan. Aku hanya bisa mengikutimu, bersujud di atas hamparan sajadah. Tanpa bisa aku bendung, air mata ini tiada hentinya mengalir karena mensyukuri anugerah Allah yang diberikan padaku dalam bentuk dirimu. Akupun berikrar, aku ingin menjadi sosok seperti Siti Fatimah, dan aku akan berusaha menjadi istri sebagaimana yang engkau impikan. Tidakkah kita merindukan suasana seperti itu selama 9 bulan penuh, sementara laki-laki, menggendong setengah jam aja udah ngeluh. Perempuan juga bisa betah di rumah untuk masa yang lebih panjang dari pria, yang satu hari saja sudah gelisah mau keluar rumah. Jadi, cara mencegah lelaki berselingkuh bukanlah dengan melakukan pengawasan yang super ketat tapi temukan faktor yang membuatnya bosan.

  Salah satu masalah yang umum terjadi pada hubung-an jangka panjang, adalah kebosanan. Jika kebosanan dalam hubungan juga terjadi pada kita ternyata kita tidak sendiri. Menurut survei terkini, ribuan orang mengalami masalah serupa. Kebosanan dalam hubungan jangka panjang muncul berkali-kali dalam hubungan. Ada yang mengaku kebosanan muncul seminggu sekali, bahkan tak sedikit responden yang mengaku bosan setiap hari dalam hubungannya.

  Lembaga penelitian Good in Bed Research, mengadakan survei kepada 3.341 responden (1.418 laki-laki dan 1.923 perempuan). Hasilnya, setengah dari responden ini mengaku bosan

  49 49 dengan hubungan berpasangannya saat ini . Hasil penelitian ini Sebuah studi tentang pernikahan telah diadakan melibatkan 123 pasangan menikah di Michigan, Amerika Serikat. Dari studi tersebut diketahui bahwa secara rata-rata, usia kebosanan pernikahan terjadi ketika menginjak tahun ke-7 dan ke-16. Pada tahun-tahun tersebut, masing-masing pasangan diberikan 3 pertanyaan: 1. Selama sebulan terakhir, seberapa sering Anda merasa hubungan pernikahan ini terasa membosankan? Apakah Anda selalu melakukan hal yang sama setiap waktu dan jarang melakukan kegiatan menyenangkan sebagai pasangan?. 2. Secara keseluruhan, seberapa puaskah Anda dengan pernikahan yang Anda miliki?. 3. Partisipan diminta untuk melihat 7 pasang lingkaran bertumpuk-tumpuk yang tingkat keruwetannya berbeda, lalu diminta gambar yang paling tepat untuk melukiskan pernikahannya. "Kebosanan terbesar di tahun ke-7 secara signifikan memprediksi ketidakpuasan di tahun ke-16. Namun, kepuasan yang

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah menunjukkan sekitar 800 responden (25 persen) tengah berada di ambang kebosanan dalam hubungannya. Dari jumlah ini, puluhan orang mengaku rasa bosan dalam hubungan muncul setidaknya seminggu sekali. Ada juga yang merasa bosan dengan hubungannya, setiap hari (16,8 persen responden yang mengaku bosan setiap hari).

  Masih menurut survei tersebut, 40 persen responden mengaku rasa bosan muncul berkali-kali dalam hubungan-nya. Bahkan, 20 persen responden mengaku, perselingkuh-an kerap terjadi akibat bosan dalam hubungan jangka panjang. Kabar baiknya, meski mengaku bosan, banyak responden yang mencari cara mengusir kebosanan dalam hubungan. Sebanyak 69 persen laki-laki dan 50 persen perempuan, berupaya mengusir kebosanan dalam hubung-an dengan mencoba sesuatu yang baru dalam hubungan seks. "Kebosanan pada dasarnya seperti serangan pada sistem kekebalan hubungan, bisa melemahkan. Dan masalah itu, rentan menimbulkan penyakit,‛ jelas Ian Kerner, PhD, pakar seks dan pakar hubungan terkenal, serta pendiri Good in Bed."Ini bukan suatu kebetulan bahwa seperlima dari responden mengaku tidak setia pada pasangan mereka karena rasa bosan."Beberapa faktor menjadi tonggak munculnya kebosanan. Berikut beberapa penyebab kebosanan yang dikutip dalam penelitian ini: Kehamilan (8%), Pernikahan (13,8%), Pindah bersama (15,6%), Memiliki anak (32,2%) dan Mengalami penuaan (38,5%).

  dirasakan pada tahun ke-7 tidak secara signifikan memastikan bahwa akan hal yang sama di tahun ke-16," seperti dituliskan oleh salah satu peneliti dalam laporannya. Lihat di http://www.terangdunia.com Namun, sebelum Anda kehilangan semua harapan atau hubungan Anda di masa depan, perlu diingat bahwa studi seperti ini memiliki keterbatasan. Namun, efek dari rasa bosan bisa memicu terjadinya perselingkuhan dan mematikan hubungan. Jika hubungan Anda berada di ambang kebosanan, itu bukan berarti Anda tidak dapat menghidupkan kembali hubungan Anda dengan pasangan.

  sejak dulu, meski ada hukum dan norma tegas yang membatasi dan mengekang hak berselingkuh setiap orang, hal itu tentu saja tidak berpengaruh banyak, dan malah sama sekali tidak berpengaruh. Mahluk yang sering dituduh suka berselingkuh adalah pria, hal ini bukanlah tuduhan yang tidak berdasar, karena, kita perhatikan saja

  51 50 kawan, di TV, radio, Facebook, Twitter , dan sekitar kita pasti ada Setiap orang yang menikah sudah tentu mendambakan dan mencita-citakan bisa menempuh kehidupan perkawinan yang harmonis. Namun bagaimana pun juga, kita tidak bisa melupakan bahwa sebuah perkawinan pada dasarnya terdiri dari 2 orang yang mempunyai kepribadian, sifat dan karakter, latar belakang keluarga dan problem yang berbeda satu sama lain.

  Semua itu sudah ada jauh sebelum keduanya memutuskan untuk menikah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kehidupan perkawinan pada kenyataan selanjutnya tidak seindah dan seromantis harapan pasangan tersebut. Persoalan demi persoalan yang dihadapi setiap hari, belum lagi ditambah dengan keunikan masing-masing individunya, sering menjadikan kehidupan perkawinan menjadi sulit dan hambar. Jika sudah demikian, maka kondisi itu semakin membuka peluang bagi timbulnya perselingkuhan 51 di antara mereka Seringnya memelihara pandangan, pendengaran dan pikiran tentang hasrat seksual, semisal berbicara hal-hal yang yang porno sesama rekan atau teman dekat. Biasanya selingkuh diawali oleh hasrat seksual yang atraktif, bahkan bersifat sesaat. Semisal melihat gadis-gadis cantik (perjaka ganteng) yang setiap hari ada di pinggir jalan, di sekolah, di toko, mall atau di manapun.

  Hasrat ini semakin menguat ketika pasangan di rumah kurang kreatif dalam Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah saja selalu wanita yang curhat tentang pasangan prianya gemar berselingkuh namun ia tetap bertahan, dan ada juga yang sudah tidak dapat mentolerir lagi sikap pasangan prianya tersebut lantas memutuskan putus hubungan dengan pria tersebut lalu, jika kita diajak merumuskan mengapa seorang pria berselingkuh atau mengapa kaum pria gemar berselingkuh maka beberapa jawabannya adalah:

  Pertama, karena nafsu, bukan hal yang tabu mengatakan

  nafsu adalah alasan utama mengapa pria berselingkuh, banyak artikel psikologi yang mengatakan jika pria memiliki nafsu yang jauh lebih besar ketimbang wanita, nafsu itu, adalah nafsu temporer dan biasanya hanya untuk memenangkan diri dari rasa penasaran.

  Kedua, karena rasa penasaran, tidak jarang seorang pria

  memutuskan untuk berselingkuh hanya karena penasaran terhadap wanita lain atau wanitanya sendiri, kalau penasaran dengan wanita lain, hal itu wajar, namun jika penasaran dengan wanitanya sendiri, mungkin terkesan janggal, dalam hal ini yang dimaksud adalah penasaran tentang seberapa besar cinta wanita tersebut kepadanya dengan cara dia memantikkan api cemburu untuk mengetahui rasa penasarannya tersebut.

  teknik seksologi. Proses yang ditahapi: (1) mengawali dengan coba-coba, (2) lalu terjebak dan (3) sulit menghentikan (4) konflik (5) resiko berkelanjutan. Media pornografi dan pornoaksi yang mudah diperoleh, bahkan disediakan oleh media televisi secara terselubung. Semisal acara musik dengan latar penari yang seronok yang seksi, bagi para penonton berhasrat seks cukup tinggi, atau mudah terangsang, dapat menjadi ingatan sesaat yang muncul untuk mencari penyaluran lain selain pasangan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Ketiga, karena bosan, merupakan alasan yang wajar untuk

  berselingkuh, bosan juga menghinggapi kaum wanita, namun bedanya wanita yang masih berprinsip pada adat timur dengan sangat mudah bisa meredam rasa kebosanannya dan sangat jarang mengimplementasikan kebosanannya, tetapi pria, biasanya bosan karena hal yang dangkal seperti fisik dan sebagainya, dan pria sangat mudah mengambil keputusan untuk mengimplemen- tasikan kebosanannya dengan cara berselingkuh

  52 .

  Keempat, karena rendah diri, hal ini terjadi pada pria yang

  memiliki istri yang secara ekonomi dan sosial derajatnya lebih tinggi darinya, satu pertanyaan mendasar, mengapa pria menyia- nyiakan wanita yang memiliki prospek sosial dan ekonomi lebih baik darinya, jawabannya adalah pria adalah mahluk egosentris yang naturenya mengatakan dia harus lebih tinggi dan jauh lebih tinggi derajatnya dibanding pasangannya.

  Kelima, karena merasa tertantang, pria sangat mudah

  menerima tantangan dan sangat berambisi untuk meme-nangkan tantangan tersebut, dalam konteks berselingkuh, tidak jarang 52 Pada beberapa kasus selingkuh, kedua belah pihak memperoleh manfaat

  sesaat. Mereka menyadari resikonya dan karenanya sepakat untuk hanya sekadar berenjoy ria secara seksual dan mengaturnya secara canggih sehingga tidak sampai membuat bubar keluarga masing-masing. Kalau ketahuan akan sama-sama menolaknya dan sama-sama mengakhirinya. Mereka menjalaninya sebatas aman saja.. Kecemasan akan kehamilan akibat sek bebas semakin kecil, karena hampir 95% mereka yang selingkuh telah memahami fungsi kontrasepsi atau bagaimana caranya seks tanpa kehamilan. Sebagaimana juga terjadi di kalangan remaja putri yang terlibat pada perselingkuhan dengan ‚om senang‛. Dalam hal ini penelitian Kainuna (2001) mengindikasikan bahwa teknologi kehamilan memberikan 70% kontribusi pada keberanian seseorang untuk melakukan seks bebas dengan rasa aman dari kehamilan seorang pria berselingkuh hanya sebagai unjuk kebolehan dan mengangkat harkat di depan teman-temannya saja. Keenam karena godaan WIL (Wanita Idaman Lain), jangan pernah menyangka jika pria berselingkuh hanya karena nafsu, hasrat, dan kemauannya sendiri, karena tidak jarang justru ada Wanita lain yang kesengsem dengan pria yang sudah resmi memiliki pasangan lantas menggodanya, pria yang berselingkuh karena tergoda WIL ini terbagi menjadi empat jenis: jenis pertama, pria opportunis, yang mengambil manis godaan wanita tersebut dan merespon balik tidak kalah manisnya; jenis kedua pria malu-malu kucing, yang mau tapi malu; jenis ketiga pria plin-plan yang pada awalnya merespon, lalu menjauhkan diri lagi, dan akhirnya merespon lagi; dan yang keempat pria tangguh dan setia pada awalnya tetapi bertekuklutut pada akhirnya dengan godaan wanita penggoda tersebut.

  Keenam, kerena sudah merasa tidak cocok dengan pasangan,

  hal ini beda dengan alasan karena bosan dan biasanya terjadi kepada pasangan yang sedang dirundung masalah komunikasi percintaan.

  Ketujuh, karena untuk cek dan ricek cinta, hal ini biasanya

  dilakukan pria yang sedang bimbang akan cintanya kepada seorang wanita, lantas dia mengambil langkah berselingkuh untuk mengkomparasi wanita pasangan resminya dengan wanita selingkuhannya, dengan ini dia bisa meyakinkan dirinya apakah masih cinta atau sudah tidak ada lagi cinta diantara dirinya dan pasangannya.

  Lemahnya institusi masyarakat dalam masalah moral sosial dan hukum menjadi lahan subur selingkuh. Rumah Tangga (RT) seolah memperoleh ancaman serius dari lingkungan. RT yang sejak awal sudah bagus semacam digerus perlahan-lahan oleh lingkungan yang memfasilitasi kebejatan moral atau memperbolehkan (permisivitas masyarakat). Bagaimana tidak aneh, di satu sisi di RT dituntut kesucian, kesetiaan pada saat yang sama diijinkannya melakukan selingkuh di lokalisasi berizin. Hal yang sama terjadi dalam bingkai kehidupan yang lainnya. Ketika kampanye anti merokok sedang gencar, tetapi iklan rokok secara terbuka menyatakan bahayanya. Setiap hari kita disuguhi agar miras diberantas, pada saat yang sama ia berada di tempat-tempat ‚berizin‛. Dalam teori psikologi, kenyataan ini akan menciptakan dissonance cognitive-kekacauan berpikir. Dalam istilah umum orang harus terbiasa bermuka dua, bersikap yes dan no pada kasus yang sama, untuk pro dan kontra secara bersamaan dalam peristiwa yang sama. Hal inipun menular dalam RT, seperti mencintai sekaligus selingkuh.

  Nampaknya tidak semua kaum selingkuh ini menda-patkan dampratan masyarakat, tetapi juga memperoleh penerimaan dari komunitas tertentu-meskipun terbatas. Bisa kita bayangkan bahwa orang dengan bangga mengumbar pengalaman selingkuhnya sebagai sebuah prestasi keperkasaan, atau keseksian. Ada saja orang yang bangga kalau ia telah berhasil menggaet ‚daun muda‛, atau b ahkan merasakan ‚goyang randa‛. Sebagaimana ada pula yang bangga kalau ia berhasil menaklukan bos, atau menjerat suami orang walau hanya sesingkat ‚short time‛. Komunitas (Purwanto, 1999) ini mudah terbentuk di lingkungan kerja, di mana interaksi pria-wani ta sering terjadi. ‚Tresno jalaran soko kulino‛ menjadi alasan paling banyak (33%) terjadinya selingkuh.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Sedangkan di masyarakat komunitas yang kontra selingkuh semakin menipis kekuatan daya tangkalnya. Hal ini karena selingkuh dianggap sebagai fenomena yang terlalu sering terjadi.

  Secara umum masyarakat kita sangat mudah memaafkan kesalahan. Walaupun kesalahan itu sangat fatal menurut kacamata agama. Sedikit sekali kasus selingkuh diproses menjadi kasus hukum.

  Di Amerika Serikat kasus selingkuh sudah melanda 60% keluarga, bahkan jutaan bayi lahir tanpa lembaga perkawinan, tetapi dengan bangga mereka mengakuinya, semisal aktris Madonna.

  Prediksi penulis di Indonesia kasus selingkuh terbongkar dan yang dibawa ke pengadilan dan berakhir dengan perceraian hanya 5%, 8% masuk penjara. padahal kasus yang tidak terbongkar jauh lebih besar. Sisanya diselesaikan diselesaikan secara kekeluargaan, tahu-sama tahu, dilupakan, mengambang, dihukum secara sosial, di keluarga hanya pisah ranjang. Kenyataan ini semakin memperbesar komunitas penerimaan terhadap kasus selingkuh.

  Kembali ke masalah kebosanan, hal inilah yang sedang terjadi pada diri kita, kejenuhan hidup yang manusiawi ini sedang menyelimuti hati kita. Bagaimana tidak, mungkin anggap saja, kita baru pertama mencinta atau jadian dengan seseorang. Kemudian kita sudah terlalu sering dengannya. Terlalu sering bercengkerama atau yang lainnya. Mungkin awal-awalnya semua seakan begitu indah dan mengasyikan. Namun waktu terus berlalu dan berjalan. kitapun seakan dihadapkan pada nuansa hidup yang itu-itu saja, walaupun awal-awalnya tidak begitu adanya. Namun inilah sifat manusia yang selalu dihadapkan pada suatu hal yang selalu sama. Maka, bisa dipastikan bahwa kejenuhan dan kebosanan segera tiba.

  Apalagi kita hidup dengan banyak ragam dan nuansa yang lainnya. Kemudian kitapun menjadi terpengaruh juga. Ragam dan nuansa yang seakan berbeda namun sebenarnya hakekatnya sama. Bagaimana hakekatnya tidak sama, kalau saja kita sering berkunjung di banyak tempat wisata yang pada dasarnya cuma laut, gunung, bangunan, air terjun, dan lereng-lereng. Kemanapun kita pergi, kemanapun juga ,di belahan dunia ini, yang kita temui pada tempat wisata ternyata pada dasarnya hanya laut, gunung, bangunan, air terjun, dan lereng-lereng. Memang tampaknya berbeda tempat, ragam, pesona dan nuansanya, apapun katanya, semua tetap hanya berupa laut, gunung, bangunan, air terjun, dan lereng-lereng. Begitulah hidup, kalau tidak berhati-hati dan berusaha memehaminya, maka kita mudah tergoda dengan ragam dan nuansa lainnya. Ragam dan pesona yang sebenarnya tidak jauh berbeda, bahkan nyaris sama!

  Itulah yang sedang kita hadapi itu, kita belum berusaha mencari makna dari perasaan yang sedang menyelimuti cinta itu. Kejenuhan cinta yang seakan membedakan perasaan kita. Untuk itu cobalah memahami tentang sesuatu itu hakekatnya sama. Kalau kita bisa memahami kesamaan hakekat akan pesona, ragam dan nuansa yang tampak berbeda itu, maka kejenuhan cinta, sangat mungkin bisa dibangun kembali. Dan yakinlah, banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangun cinta menjadi punya nuansa yang berbeda. Sehingga kemudian perasaan dan cinta itupun

  53 seakan bisa menyatu kembali.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Untuk itu, cobalah mencari penyebab kejenuhan yang ada. Kemudian usahakan mencoba mengatasi kejenuhan yang ada terhadap apa yang terjadi pada cinta anda itu. Sebab jika kita mampu melakukannya maka kedewasaan, harga diri, kesuksesan hidup dan kemudahan-kemudahan yang lainnya, akan segera

  53 menghampiri.

  Di kota-kota besar seperti Jakarta, pusat-pusat hiburan hampir selalu ramai dikunjungi orang. Bisa ditebak, mereka yang datang adalah sebagian orang yang tengah mencari hiburan sebagai salah satu cara mengatasi kebosanan. Sebab, pada umumnya, ritme kehidupan manusia cenderung berulang setiap hari. Seolah-olah 53 manusia diatur oleh waktu, seperti harus bangun pagi pukul

  Bagaimana sebetulnya cinta yang kokoh bisa terbangun? Cinta itu terdiri dari tiga unsur. Pertama adalah adanya keakraban, yang didasari perasaan untuk membangun kedekatan dan keterikatan. Kedua, adanya hasrat dalam mengekspresikan keinginan dan kebutuhan di segala sisi, termasuk sisi seksual. Ketiga, adanya kesepakatan seperti bertemu secara reguler, sederet aturan yang semuanya bertujuan untuk mempertahankan hubungan yang mereka miliki. Ketiga unsur ini (keintiman, hasrat, dan komitmen) harus hadir secara bersamaan. Kalau yang berkembang melulu sisi keintiman saja, jadilah hubungan suami-istri yang penuh persahabatan. Kelihatannya akrab, tapi hubungan mereka seperti jalur rel kereta api. Saling bersisian, tapi tak pernah melebur bersama. Kadang dalam perjalanan waktu sering muncul ancaman yang mengganggu keintiman. Ini terutama jika masing-masing pihak merasa sudah memahami apa yang diinginkan pasangannya. Komunikasi yang seharusnya bisa tetap hadir, lama-lama bisa makin berkurang. Akhirnya yang ada cum a komunikasi ‘kebatinan‘. Padahal, tiap individu mengalami perkembangan dan bisa saja ada perubahan-perubahan yang seharusnya dikomunikasikan. Kalau yang dipelihara sisi hasratnya saja, bentuknya bisa lain lagi. Jenis hubungan semacam ini awalnya dipenuhi oleh hal yang serba menggebu-gebu. Ada keterpikatan yang mengasyikan secara psikologis dan fisik. Tetapi, begitu ada perubahan psikologis dan fisik, hasrat ini serentak bisa hilang. Gejolak cinta tanpa keintiman dan komitmen, apalah artinya? Stok cinta bakal cepat habis terkuras. sekian, harus bekerja pukul sekian, dan seterusnya. Ada orang yang tenang-tenang saja menjalani hal-hal yang monoton dalam hidupnya. Namun, ada sebagian orang yang melihat kerutinan hidupnya sebagai hal yang membosankan. Salah satu inti kebosanan, adalah adanya perbedaan yang mencolok antara situasi yang dihadapi dengan situasi lain yang dianggap lebih menyenangkan yang acap kali memaksa orang untuk berkhayal. Salah satu penyebab ketidakbahagiaan manusia adalah kebosanan. Karena itu, perlu suatu daya tertentu agar manusia mampu menanggung kebosanan. Selain itu, kebosanan manusia sesungguhnya disebabkan karena kemampuan seseorang yang tidak sepenuhnya digunakan.

  Kebosanan merupakan salah satu bentuk penderitaan yang

  54

  umum dihadapi manusia . Itu sebabnya, ada begitu banyak kegiatan yang umumnya dilakukan manusia untuk mengatasi kebosanan seperti berorganisasi, ikut arisan, kegiatan sosial, dan sebagainya. Sejauh kegiatan itu positif tidak jadi masalah. Penderitaan yang muncul akibat kebosanan dapat lebih serius dari yang muncul secara sekilas pertama kali. Kebosanan bahkan sering menjadi penyebab tak langsung terjadinya gangguan-gangguan psikomatis (gangguan emosi yang menimbulkan penyakit) yang 54 hebat. Bentuk yang lebih ringan dari kebosanan bisa berakibat pada

  Basri (1999: 63-67) berpendapat, Kebosanan merupakan salah satu penyebab utama terjadinya perceraian. Menurut Basri, kebosanan adalah kondisi jiwa yang negative terhadap sesuatu yang akan memberikan dampak negative dalam kehidupan rumah tangga, baik terhadap suami/istri maupun orang lain. Jika dampak negative tersebut ditolerir, maka bukan tidak mungkin akan merusak sendi-sendi kebahagiaan dana kelestarian hidup dari sebuah perkawinan..

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah kehilangan minat dan antusiasme. Bahkan kebosanan juga bisa menumpulkan daya intelektual dan memudarkan kesadaran manusia.

  Kebosanan datang dari dalam diri seseorang. Kita tak perlu harus menjadi kaya untuk mengatasi kebosanan, tak harus mengadakan perjalanan keliling dunia untuk menghibur diri. Kebosanan bisa berguna bagi kita di mana kebosanan itu dapat memberikan hasil positif. Seseorang yang merasa bosan, dapat mengembangkan minat baru dalam hidupnya. Namun tak jarang, orang mengatasi kebosanannya dengan melakukan hal-hal yang justru negatif. Entah jadi kecanduan obat-obat terlarang, atau foya-foya di pusat-pusat hiburan. Kebosanan demikian yang membuat manusia menjadi tumpul. Karena tidak ada kegiatan akan hal yang bermakna.

  Kebosanan yang dialami orang-orang modern, diduga juga disebabkan karena terpisahnya mereka dari kehidupan alam. Otomatisasi, dan semua yang serba instan, membuat manusia semakin gampang bosan karena kegiatan fisik yang mereka 55 lakukan kian berkurang. Biasanya, orang-orang yang punya banyak

  Dampak kebosanan terhadap suami atau istri, ialah: tumbuhnya kejenuhan, menjadi pasif, menarik diri dari kegiatan dan pergaulan; terjadinya perubahan-perubahan dalam perilaku; menjadi acuh tak acuh terhadap lingkungan, mudah marah; mudah tergoda oleh gadis/wanita atau pemuda lain, dan beberapa keadaan lain yang sejiwa dan senada. Sedang bagi orang lain dalam keluarga (termasuk anak-anak) ialah; mengalami kebingungan; serba salah, salah penegrtian, mudah terjadi konflik atau perselisihan, mudah mutung dan terputus asa; balas dendam merajuk; lari dari kenyataan mencari ketenangan dan kepuasan batin di luar rumah; bertingkah aneh-aneh untuk menarik perhatian atau hanya dimaksudkan sebagai kompensasi atau wujud dari protes untuk menunjukkan penolakannya; dan beberapa kondisi serta ekspresi lain yang senada uang bisa segera mengatasi kebosanannya dengan memilih cara hidup tertentu. Namun, acapkali hal ini tampak seperti suatu paradoks. Orang yang terbiasa melarikan diri dari kebosanan, biasanya akan mudah menjadi mangsa kebosanan. Orang yang biasa mengatasi kebosanannya terhadap kerutinan hidup, dengan menonton pertunjukkan film, suatu saat akan merasa jenuh juga menonton film. Bisa jadi ia butuh hiburan lain yang lebih menyenangkan dari sekadar nonton film. Begitu seterusnya, orang bisa terperangkap dalam kebosanan yang sebenarnya merupa-kan masalah dari dalam dirinya.

  Kebosanan sesungguhnya merupakan pernyataan dari pikiran seseorang. Jangan pernah berhenti berkem-bang. Pikiran kita hidup selama kita masih hidup. Biarkan imajinasi kita berjalan dengan bebas. Impikanlah apa yang ingin kita buat. Kemudian lakukanlah.

  ‚Saya bisa belajar‛ ‚Saya bisa menikmati‛ ‚Saya bisa menciptakan‛ ‚Saya bisa mencintai‛ ‚Saya tidak pernah bosan‛ ‚Dunia ini penuh dengan kejutan‛ ‚Sesuatu yang indah sesungguhnya bisa terjadi setiap hari…‛-freedom, equality and brotherhood- Sesungguhnya faktor kebosanan adalah hal yang sangat wajar dalam diri manusia, setiap orang akan mengalami kebosanan dalam kurun waktu tertentu dalam hidupnya atau berkaitan dengan aktivitas atau pekerjaan-nya. Termasuk dalam kaitannya

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  

56

  dengan hubungan suami istri atau bahkan dalam masa berpacaran. Kebosanan terjadi karena faktor rutinitas atau aktivitas yang berulang-ulang dan dalam ritme yang mungkin sangat monoton. Dalam kaitannya dengan pernikahan faktor kebosanan tidak boleh menjadi alasan untuk selingkuh atau putus hubungan atau bercerai, karena itu bukan alasan yang benar.

  Selain itu jika Anda bosan dengan pasangan Anda yang sekarang, kebosanan itu pun akan terjadi lagi jika Anda memulai lagi sebuah hubungan. Jikalau kebosanan muncul karena kurang variasi dalam aktivitas dan kreativitas hidup, maka berarti dibutuhkan usaha untuk menciptakan variasi dan kreativitas hidup, seperti pergi bersama pasangan atau keluarga di waktu liburan, pergi keluar seminggu sekali untuk makan hanya dengan pasangan Anda tanpa kehadiran orang lain (Anda dapat menitipkan anak Anda pada orangtua atau orang dekat, jika anak- anak masih kecil mungkin harus dibawa juga tidak apa-apa). Apakah Anda sedang bosan dengan hidup Anda atau dengan pasangan Anda? Seringkali masalahnya bukan pada lingkungan atau pada pasangan Anda, mungkin inti masalahnya terletak pada diri Anda sendiri. Mungkin Anda terlalu fokus pada diri Anda sendiri, Anda ingin diperlakukan spesial senantiasa, namun apakah 56 Anda memperlakukan pasangan Anda secara special.

  Sahabat merupakan orang yang dekat dengan Anda di mana Anda bisa berbagi suka dan duka dengannya. Dalam pernikahan, suami/istri merupakan sahabat terdekat Anda. Suami/istri adalah orang yang selalu dekat dengan Anda. Anda juga harus bisa menjadi sahabat bagi pasangan Anda sehingga ia tidak malu untuk membicarakan rahasia-rahasia ataupun suka dukanya kepada Anda. Sebagai seorang sahabat haruslah bisa menimbulkan perasaan kepuasan, diinginkan dan dibutuhkan. Berikanlah hal itu bagi pasangan Anda. Lakukanlah kegiatan-kegiatan yang akan berdampak positif bagi hubungan Anda dengan pasangan dan keluarga Anda, dsb. Hidup membutuhkan kreativitas dan pengembangan-pengembangan dalam segala aspek yang dapat dikembangkan. Nikmatilah hidup bersama pasangan Anda dan keluarga Anda secara kreatif dan positif.

  Yang juga perlu dipahami setelah pusing merencana-kan dan akhirnya melewati hari pernikahan, beberapa perempuan cenderung mengalami stres. Belakangan, kondisi ini menyisakan penderitaan dan kekecewaan. Beberapa indikasi bahwa perempuan bisa mengalami stres setelah pernikahan antara lain, ditandai dengan mudah marah, gelisah, merasa berbuat kesalahan dengan menikah, bosan, sering berdebat dengan pasangan tentang hal-hal sepele, dan menurun aktivitas seksualnya. Perubahan status yang dialami seorang perempuan sebelum menikah menjadi seorang istri dapat memengaruhi kondisi psikologinya karena pernikahan bukan hanya memper-temukan dua orang suami dan istri, tetapi juga dua keluarga besar yang tak jarang memiliki perbedaan, baik budaya, prinsip, maupun kebiasaan. Ketika seseorang perempuan yang baru menikah dan belum memiliki anak biasanya menghadapi perbedaan kebiasaan yang gradual. Tahap ini merupakan tahun yang sangat kritis karena seseorang mengalami transisi dalam kehidupannya. Tahun pertama pernikahan akan menentukan perkembangan pernikahan selanjutnya.

  Pasangan suami-istri yang memiliki latar belakang sama akan lebih mudah menyesuaikan diri satu sama lain, karena mempunyai ekspektasi yang sama terhadap pasangannya, sedangkan perbedaan latar belakang keluarga (seperti agama, suku, bangsa,

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah sosial, dan latar belakang keluarga yang retak) akan mengganggu proses penyesuaian diri pasangan setelah pernikahan. Secara psikologis, akan terjadi perubahan pada perempuan yang baru memasuki gerbang pernikahan. Perempuan yang baru menjadi seorang istri akan cenderung egois jika ia tidak terbiasa untuk berbagi dengan pasangannya dan tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kedudukannya sebagai seorang istri. Tanggung jawab yang harus ditanggung oleh perempuan yang baru menjadi seorang istri juga dapat berpengaruh pada kondisi psikologi yang akan menyebabkan timbulnya rasa ketidakpedulian.

  Solusinya, adalah saling terbuka dengan pasangan dan menjaga kepercayaan serta tidak terlalu banyak menaruh kecurigaan terhadap pasangan. Yang paling penting, saling beradaptasi dengan kebiasaan masing-masing pasangan dan berdialog dari hati ke hati tentang ekspektasi masing-masing. Sebab, ketidaksiapan untuk menjadi seorang istri juga dapat memicu permasalahan dalam rumah tangga yang akan berdampak pada citra seorang istri yang akan dianggap sebagai istri yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, permasalahan ekonomi juga sering dihadapi oleh perempuan yang baru memasuki pintu pernikahan. Biasanya pasangan yang baru menikah mempunyai harapan- harapan tertentu. Jika harapan itu tidak terpenuhi, akan menjadi tekanan dalam rumah tangga. Satu cara untuk menyelesaikannya adalah dengan membicarakannya. Berusaha untuk jujur dengan pasangan mengenai masalah keuangan yang dihadapi dan seberapa banyak aset yang dimiliki serta tidak menutupi pengeluaran yang dilakukan. Untuk mengatasi berbagai tekanan dan permasalahan yang ada, perlu dibutuhkan rasa saling pengertian, saling memahami,

  57 serta saling menerima kelebihan dan kelemahan dari pasangan .

  Pada dasarnya, menikah atau membina rumah tangga yang baik jadi idaman semua orang. Semua menginginkan dapat membina hubungan rumah tangga yang kekal sampai akhir zaman, kendati sulit terwujud. Banyak faktor yang memengaruhi retaknya hubungan rumah tangga. Berikut tips menciptakan rumah tangga yang harmonis.

  1. Hindari Sikap Buruk Sangka Suami-Istri. Memang kehidupan suami-istri penuh warna. Kadang kala timbul kelucuan karena perkara remeh-temeh yang menyebabkan percekcokan. Justru sebagai suami-istri, semua pihak perlu bijak mengenali pasangan masing-masing dan menghindari perkara kecil menjadi besar untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Perasaan buruk sangka sepatutnya dihindari jika suami-istri ingin keharmonisan rumah tangga tercipta. Sifat cemburu atau mencari-cari keburukan pasangan juga perlu dikurangi. Jauhkan sikap buruk sangka dalam diri karena akan merusak rumah tangga dan besar kemungkinan akan mengakibatkan perceraian.

  2. Menahan Rasa Marah. Suami-istri yang senantiasa sibuk dengan aktivitasnya masing-masing sering menghadapi

  pengingkaran, kemudian lenyap tak berbekas karena pengkhianatan. Jangan sampai hal itu terjadi karena akan sulit bagi kita untuk memperolehnya kembali.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah tekanan jiwa dan bisa mudah tersinggung yang menyebabkan timbulnya marah.

  3. Saling Memberi Nasihat. Jika suami atau istri melakukan sesuatu yang menyinggung perasaan, pihak kedua hendaklah memberikan nasihat dan peringatan. Hal ini penting agar pihak yang melakukan kesalahan sadar akan kesalahannya yang mungkin tidak disengaja supaya tidak mengancam kestabilan hubungan suami-istri.

  4. Berbincang untuk Kedamaian. Jika terjadi perseli-sihan serius, carilah penyelesaian dengan mencari jalan damai melalui perbincangan dari hati ke hati agar menjamin keutuhan rumah tangga. Jika tidak dapat diselesaikan, mintalah kepada pihak lain yang netral dan bisa membantu menyelesaikan masalah seperti konseling pernikahan dan sebagainya.

  5. Menghindari Perceraian. Adakala pertengkaran sukar mencapai jalan penyelesaian, si suami bertindak terburu-buru dalam menceraikan istrinya. Namun, coba kenangkan saat- saat bahagia yang pernah dilalui bersama.

  6. Berbincang Berdua. Setiap pasangan harus berbincang dalam memenuhi keinginan masing-masing. Hal ini akan mampu menghindari salah paham dan perasaan tidak puas atas tindakan pihak pasangan yang menimbulkan ketegangan.

  7. Mintalah Nasihat Orang Lain. Ketika menghadapi situasi tertekan dan ada masalah pribadi, keluarga, maupun sosial, Anda dan pasangan disarankan meminta nasihat serta pandangan dari orang lain yang telah dikenal dan mampu membantu maupun menyelesaikan masalah berdua.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Cinta itu damai. Tanpanya, sesuatu apapun tidak akan indah.

  Dan cintalah yang menghidupkan orang menjadi baik dan membaikkan diri. Tidak ada yang dibangun dalam hidup ini tanpa cinta. Jadikan bentuk terindah dari cinta untuk selalu dalam kegembiraan dan kata maaf. Cinta tidak akan pernah selesai dibicarakan. Karena cinta meliarkan sikap dan perilaku kita dalam dalam kehidupan. Cinta dan Kesetiaan tak selalu dipahami secara utuh dewasa. Makna cinta dan kesetiaan yang harmonis indah, kerap diseret ke dalam pemahaman yang sempit gelap demi kepentingan pribadi

   Sebab dan Tanda Munculnya Rasa Bosan B.

  Rasa bosan

  58

  dalam kehidupan rumah tangga berkaitan dengan faktor internal dan eksternal. Secara internal, rasa bosan seorang suami ataiu istri berkaitan dengan apresiasi dirinya terhadap kondisi rumah tang-ganya

  59

  . Mungkin seorang suami 58 Kebosanan berhubungan erat dengan tujuan hidup. Makin jelas dan

  bermakna tujuan hidup, makin mudah kita mengatasi kebosanan. Sebaliknya tanpa tujuan hidup yang jelas dan bermakna, makin sukar kita melawan kebosanan. Kita harus menjalankan roda kehidupan sesuai dengan arah tujuan hidup; kita mesti mengatur dan merencanakan aktivitas dalam hidup untuk mencapai tujuannya. 59 Pernikahan adalah suatu bentuk kerjasama antara suami dan istri namun tidak selamanya suatu pernikahan berjalan dengan mulus. Selalu ada pasang surut yang terjadi. Karena itu dibutuhkan kedewasaan kedua belah pihak untuk mengatasi semua masalah yang dapat timbul kapan saja di dalam rumah tangga Anda. Namun kadang kala suami atau istri kurang bekerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah atau malah cenderung untuk memperkeruh suasana. Situasi yang demikian dapat membuat pernikahan menjadi tidak sehat. Hubungan yang kondisinya tak sehat tersebut, jika didiamkan, akan menjadi sakit parah. Seperti rasa jenuh melihat keadaan rumah yang tidak rapi setiap pulang kerja. Atau istri mendapati suami pulang kerja dengan setumpuk permasalahan kantor yang kemudian menjadi pekerjaan rumah. Tidak ada waktu untuk bercengkerama atau sekadar ngobrol sehingga rumah tangga rasanya berjalan seperti angin lalu, tanpa ruh. Atau suami menginginkan istri siap jika dia memerlukan teman diskusi pekerjaan kantor.

  Di sisi lain suami tidak peduli pada pekerjaan rumah tangga istri yang tidak henti-hentinya. Artinya, di satu sisi suami atau mengharapkan pasangannya memahami keadaannya namun di pihak lain tidak ada itikad yang memudahkan harapan itu bisa terealisasi. Secara eksternal, sebab-sebab munculnya rasa bosan berasal dari hal-hal di luar diri. Mungkin memang sudah saatnya Anda mengubah posisi tempat tidur atau mengganti gorden kamar Anda. Mungkin saatnya juga Anda mengganti warna cat rumah dengan warna yang lebih segar. Anda juga mungkin sudah saatnya mencoba menu makanan baru atau mengganti penampilan di depan suami Anda.

  Kadang istri menganggap bahwa suami sudah tidak seperti ketika masa pacaran dulu atau merasa sang suami terlalu sibuk bekerja hingga istri merindukan hal-hal romantis bersama dengan suami tercinta. Atau ada yang merasa bahwa suami tidak perhatian, egois, dan sebagainya. Dan berikut ini beberapa ciri-ciri suami idaman dalam perspektip istri.

  1. Setia Mendengar. Kadang-kadang untuk mendengar-kan itu susah. Tetapi seorang istri akan lebih suka jika memiliki

  terhadap situasi di dalam rumah tangga Anda yang terlalu monoton, sehingga timbullah rasa kebosanan. suami yang mau mendengar cerita atau keluhan atau obrolan dari sang istri. Bagi suami kadang-kadang untuk mendengarkan perkataan istri sering dianggap tidak penting tetapi yang diinginkan oleh sang istri hanyalah perkataan dia di dengar dan difahami saja.

  2. Menghargai. Semua manusia tentu ingin dihargai, termasuk juga istri. Seorang suami yang selalu menghargai istri baik dalam sikap maupun perkataan tentu akan selalu dirindukan oleh seorang istri. Penghargaan yang diharapkan oleh istri bukanlah mahal atau besar, awali dengan perbuatan- perbuatan kecil/sepele seperti memberikan pujian jika sang istri memasak atau memberi ciuman selamat pagi.

  60

  3. Tidak Suka Menyalahkan . Seorang istri juga manusia yang tak luput dari kesalahan, ketika sang istri berbuat kesalahan, sang suami sebaiknya menegur dengan sikap yang cerdas, tidak dengan kasar atau menyalahkan hingga keluar emosi

  60

  yang berlebihan. Daripada marah-marah kepada istri 60 sebaiknya menanyakan/meminta penjelasan dari sang istri

  Perselisihan dalam kehidupan pernikahan mungkin terjadi. Tetapi bagaimana agar pertengkaran yang timbul jangan sampai menimbulkan dendam ataupun kebencian pada pasangan. Dalam pertengkaran sepasang suami istri pastilah ingin mempertahankan pendapatnya, ego pastilah berperan.Setiap pertengkaran pasti ada mutiara yang dapat diambil. Pertengkaran dapat menimbulkan keakraban karena bisa lebih mengenal pasangan. Segera setelah pertengkaran, Anda harus membuka pintu supaya Anda dapat berjalan melaluinya untuk mengetahui apa yang dirasakan dan dibutuhkan pasangan. Daripada diam lebih baik menggunakan sikap: Senang juga bertengkar karena akan membuat kita berdua mengetahui lebih banyak satu dengan yang lain dan lebih mengasihi satu dengan yang lain

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah kenapa berbuat itu dan memberi nasihat agar tidak terulang lagi.

  4. Bisa menerima pendapat istri. Suami sebagai kepala keluarga, sebaiknya tidak bersikap otoriter tetapi sebaliknya suami dapat mendengar dan menerima pendapat dari istri jika pendapat itu memang merupakan keputusan yang terbaik. Suami istri perlu memutuskan suatu keputusan secara bersama-sama tidak sepihak dan sang istri harus memahami apa-apa yang diputuskan oleh suami.

  5. Sayang diri sendiri. Kalau suami menyayangi istri dan keluarga, tentu istri juga ingin agar sang suami juga menyayangi diri sendiri. Seperti menjaga kesehatan, pola makan, tidur yang cukup, dan tidak merokok.

  6. Pulang dengan senyuman. Tekanan di tempat kerja tidak membuat sang suami membawa perasaan itu didalam rumah, kerja yang membuat stress atau meletihkan tetapi ketika sampai di rumah semuanya dihiasai dengan senyuman, sehingga istri tidak menjadi sedih atau salah bersikap. Jika ada masalah di tempat kerja, suami bisa berbagi cerita kepada istri dan istri pun bisa menjadi motivasi atau memberi sokongan kepada suami yang sedang menghadapi masalah.

  61

  7. Romantis . Istri mana yang tidak bahagia memiliki suami 61 yang penuh kasih sayang, perhatian dan romatis. Memang

  Perselisihan juga memberi kesempatan untuk menyatakan kasih sayang fisik dan emosional. Bila Anda bertengkar dan istri Anda mulai menangis, cobalah untuk memeluknya dan katakan ‚ Saya minta maaf atas perkataan kasar saya sehingga melu kai perasaanmu.‛ Pada saat itu si istri mulai merasa tenang.

  Dan yang membuatnya tenang kembali adalah rasa menyesal dan sentuhan lembut Anda. Meskipun di saat Anda bertengkar, istri tidak menangis, akan agak susah mengharapkan suami menunjukkan rasa sayang dan cinta kepada istri setiap hari. Tetapi suami bisa melakukannya pada saat tertentu, misal hari jadi pernikahan, atau hari ulang tahun istri. Sesekali suami mengajak istri untuk berduaan seperti ketika waktu pacaran.

  8. Membantu urusan rumah tangga dan anak. Inilah suami idaman yang dinantikan oleh para istri, yaitu suami yang mau membantu dan melakukan kerja rumah tangga. Disela- sela kesibukan mencari nafkah, suami masih ’sempat’ meluangkan waktu untuk membantu istri dan anak.

  9. Senantiasa menambah ilmu rumah tangga. Biasanya sang istri yang mencari informasi berkenaan dengan rumah tangga, tetapi alangkah baiknya kalau sang suami juga mencari informasi/ilmu mengenai rumah tangga.

  Ada tiga hal yang diindikasikan menjadi penyebab munculnya rasa bosan untuk Anda kenali:

  1. Anda melakukan kesalahan berulang-ulang. Bisa jadi istri memasak terlalu asin dan itu terjadi berulang kali untuk masakan kesukaan sang suami. Istri kembali memakai baju warna gelap yang tidak disukai suami. Atau suami selalu menyimpan baju-baju kotor di belakang pintu sehingga istri harus sering razia baju kotor. Dengan demikian, Anda berdua sudah terperosok dua kali pada lubang yang sama.

  lebih baik bila pertengkaran telah usai saling berpelukan dan merasakan kasih pasangan satu sama lain. Pertengkaran berpotensi mendekatkan Anda berdua. Janganlah takut atau menghindar dari pertengkaran. Hadapilah setiap perselisihan tapi bukan untuk mencari siapa yang benar tetapi mencari penyelesaian yang terbaik bagi Anda berdua.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Akibatnya, Anda berdua merasa bosan dengan keadaan yang terus berulang, sementara Anda berdua tidak menghendaki keadaan seperti itu terjadi.

  2. Beban Anda memang berat dan tidak pernah henti. Mungkin istri beraktivitas kegiatan sosial atau bahkan juga bekerja sehingga ketika sampai di rumah ingin suasana yang sedikit santai untuk mengendorkan urat saraf, sementara suami datang dengan segudang permasalahan kantor dan tuntutan pelayanan dari istri. Atau mungkin kondisi ekonomi rumah tangga kurang mencukupi sehingga suami atau istri harus bekerja keras. Kendati begitu ternyata gaji ternyata gaji berdua tidak cukup untuk membayar rekening-rekening tagihan. Fisik lelah dan pikiran jenuh, akhirnya tidak ada waktu lagi untuk sekadar bermanis-manis dengan pasangan. Yang ada adalah ketegangan demi ketegangan yang lama kelamaan menimbulkan kebosanan-kebosanan dalam menghadapi permasalahan hidup.

  3. Idealisme Anda terlalu tinggi. Apapun yang tidak seimbang akan berakhir pada kebosanan. Harapan yang terlalu tinggi terhadap pasangan akan menimbulkan kekecewaan jika ternyata pasangan tidak mampu memenuhi harapan Anda. Misalnya saja, Anda menginginkan suami selalu bersemangat dalam menyelesaikan setiap permasalahan karena bagi Anda suami ideal adalah suami yang selalu tegar menghadapi masalah rumah tangga. Namun, kenyataannya, suami Anda malah down. Atau Anda mengharapkan istri Anda bisa berbisnis seperti istri-istri lain yang bisa menambah income bulanan dengan berbisnis busana muslim. Kenyataannya istri tidak berbakat dagang sehingga tidak balik modal. Akhirnya, Anda patah arang, lalu malah tidak semangat lagi mengejar harapan tersebut. Akhirnya Andapun bosan mengejar sesuatu yang memang tidak bisa Anda paksakan kepada pasangan Anda.

  Apa jadinya jika anda suatu saat bertemu dengan seseorang yang pernah menyakiti anda? Perasaan tidak suka, benci dan dendam tentu saja akan segera muncul. Bagaimana jika orang yang pernah menyakiti kita tersebut adalah pasangan kita yang hidup serumah dengan kita? Bisa jadi rumah seharusnya menjadi surga akan menjadi neraka dunia. Rumah tangga memang penuh dengan problema, dari dua karakter manusia yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, pola pikir yang berbeda, latar belakang keluarga hingga pendidikan yang berbeda adalah pintu-pintu bagi terbukanya konflik dalam rumah tangga. Walaupun kecil, jika dipendam dan dibiarkan bisa jadi akan menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak. Bisa jadi sebelum bom itu meledak muncul perasaan bosan dengan pasangan.

  Sebuah hipotesa menunjukan bahwa sebagian besar orang akan merasa bosan dengan pasangan. Entah itu karena sikapnya, tingkah laku atau penampilannya. Seperti disebutkan di awal bahwa rasa bosan ini sesuatu yang wajar, karena bertemu setiap hari dengan suasana yang itu-itu saja tentu saja sangat monoton dan membosankan. Apalagi jika beberapa kali pasangan kita berbuat sesuatu yang menyakiti kita. Bosan dengan pasangan bisa jadi karena rumah tangga tidak memiliki aktifitas yang menyegarkan semisal rekreasi, jalan-jalan bareng atau sekadar keluar mencari udara segar. Dalam kehidupan suami istri tentu saja

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah rasa bosan akan muncul, terutama pada pasangan yang telah menikah lebih dari sepuluh tahun.

  Bagaimana agar rasa bosan dengan pasangan itu hilang, minimal berkurang? Jawabannya adalah membuat suasana menyenangkan dengan mengadakan refreshing dan menciptakan suasana berbeda di rumah. Namun bagaimana jika hal tersebut tidak mengobati rasa bosan? Jawabannya adalah kembali ke ajaran Islam, yaitu merasa cukup dengan yang halal dan tidak melihat orang lain yang seolah-olah lebih bahagia dari kita. Kebosanan itu muncul karena rasa tidak puas dengan apa yang ada, padahal hal ini sangat tidak disukai oleh Islam, jika engkau bersyukur maka akan ditambah kenikmatan tersebut. Selain itu rasa bosan terhadap pasangan adalah salah satu dari godaan syetan agar terjadi konflik dalam pasangan rumah tangga tersebut. Karena itu kuatkan iman agar rasa bosan dengan pasangan tidak menimpa kita.

  Saat awal menikah semuanya serba indah dan serba menyenangkan. Si dia sangat menikmati semua hal yang dia lakukan dengan anda. Semua yang anda lakukan untuknya, seakan merupakan hal terindah yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Namun, setelah semua berjalan beberapa lama, si dia mulai menunjukkan perubahan sikap dan sifat. Dia menjadi tidak responsif dan mulai melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukannya, mulai dari mencueki anda sampai berani berbohong kepada anda. Apakah yang sebenarnya terjadi? Jika hal ini terjadi kepada pasangan andaa, bisa jadi pasangan anda sudah mulai merasakan bosan terhadap kehidupan romansa yang dia bangun bersama anda. Bisa jadi pula dia sudah tidak memiliki chemistry dan keinginan lagi untuk membina hubungan lagi dengan anda. Jika anda tidak bisa menangkap sinyal-sinyal ini, maka pada saat ultimatum darinya nanti, sudah terlambat bagi anda untuk memperbaiki semuanya, karena nasi telah menjadi bubur.

  Berikut beberapa tanda pasangan mulai bosan berhubungan dengan anda. Tangkap sinyal ini, dan segera perbaiki, agar hubungan anda bisa kembali ke jalan yang seharusnya.

  1. Menjatuhkan Dirinya Sendiri. Sinyal yang pertama adalah, dia mulai menjatuhkan dirinya sendiri di depan anda, atau mengangkat nama cewek lain didepan anda. Bisa dengan berkata ‚Aku tidak pantas lagi bagimu‛ atau ‛Si dia lebih cocok untukmu‛. Jika pasangan sudah mulai mengatakan hal ini, segeralah membangun daya tarik lagi dari awal. Jangan tanyakan kenapa, apa dan bagaimana. Ini adalah tugas anda untuk memahami dan memper-baikinya. Satu hal yang bisa dilakukan saat dia mengatakan hal ini adalah dengan berkata, ‚hmm, mungkin juga. Oke deh, bisa kujadikan pilihan = D‛ (sambil bercanda) dan kembali membangun hubungan yang fun lagi dari awal. Jangan ngambeg, ngarep atau merengek. Kepemimpinan anda sedang di uji disini.

  2. Menggoda Pria Lain. Jika si dia mulai maen mata atau mulai berusaha membuat anda cemburu dengan menggoda pria lain, ini artinya dia sedang mengetes seberapa cool anda dalam menghadapinya. Hati-hati dalam bersikap jika dia mulai melakukan hal ini. Salah sedikit dan dikuasai emosi, anda akan merusak semua image yang telah anda bangun di matanya selama ini. Jika hal ini terjadi, tenang dan jangan terpengaruh sama sekali. Yang perlu dilakukan adalah anda tidak ngarep dan anda menanggapinya secara friendly dan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah dewasa. Juga memperlihatkan sikap seorang alpha male dengan mendominasi pria lain didepannya. Dengan begini, anda tetap menjaga daya tarik anda sebagai seorang pria yang menarik, dari pada marah, ngambek dan cemburu karena takut kehilangan.Dan jika anda tidak lulus test ini dengan marah dan cemburu, itu hanya akan menurunkan daya tarik anda di matanya, yang mana akan semakin membuat dia eneuk dengan anda.

  3. Dia Mulai tidak Nurut. Saat si dia mulai cuek dan mulai tidak nurut kepada anda, ini adalah tanda si dia mulai kehilangan respect terhadap diri anda. Penyebabnya banyak, mulai dari hilangnya sisi kepemimpinan anda sebagai seorang pria, tidak lagi tegas, dan tidak lagi menarik atau worth casting. Jika dia mulai menilai diri anda mudah didapatkan dan tidak lagi menantang untuk dikejar, maka secara psikologis, dia akan mulai bosan dengan anda. Logikanya seperti, jika anda menginginkan suatu barang, namun suatu saat barang tersebut bisa didapatkan dengan mudah, maka barang tersebut tidak lagi menarik untuk didapatkan bukan? Olh karenanya kalo dia sudah mulai tidak nurut, stay back, dan sedikit menghilanglah dari kehidupannya. Act like, dia sudah tidak seru lagi dan malah membuat dunia anda menjadi tidak asik dengan hawa negatifnya. Gunakan konsep reward and punishment disini. Jika dia berbuat baik, kasih perhatian. Tapi jika dia tidak berbuat baik, cuekin balik. Kamu punya pilihan lain.

  4. Mood nya Monoton. Ini, terjadi saat hubungan anda tidak lagi memberikan roller coster emosional pada dirinya. Semua yang ada dalam hubungan anda telah menjadi monoton dan tidak seru. Apa yang dia harapkan dari anda, bisa dia dapatkan dengan mudah.Anda, setelah menjadi pasangan juga menjadi open dan mudah ditebak. Anda kehilangan sisi mistrius anda, yang justru yang membuat dia dulu tertarik kepada anda. Saat ini terjadi, biasanya dia tidak lagi seceria biasanya, dan lebih banyak diam dan menjawab semua pertanyaan anda seadanya. Jika hal ini terjadi, segeralah memberikan suasana baru untuknya. Anda bisa membalas drama ini dengan drama. Seperti yang kita tahu bahwa wanita adalah seorang drama queen. Mereka tergila-gila dengan drama. Anda tidak boleh terjatuh dalam drama yang dibuatnya, namun anda justru bisa bermain bersama-nya di dalam drama yang dia perbuat. Buatlah drama anda sendiri, dan masukkan drama dia menjadi bagian dari drama yang anda buat.

  Itu tadi beberapa tanda wanita mulai bosan dengan pria. jika pasangan anda mulai melakukan satu atau 2 diantaranya, waspadalah dan segeralah melakukan antisipasi agar hubungan anda bisa kembali seperti semula, asik, seru dan penuh warna

  C.

   Solusi terhadap Kebosanan: Perspektip Konselor

  Dalam bulan November 2011 di Kabupaten Sikka, terjadi tiga kasus suami membunuh istri hingga meninggal dunia. Setelah membunuh istri dengan parang, suami mencoba membunuh diri sendiri. Namun nyawa para suami ini masih bisa diselamatkan karena mereka dilarikan ke rumah sakit oleh warga setempat. Ada

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah beragam alasan. Ada yang dilatari oleh rasa cemburu. Yang lain karena pertengkaran yang awalnya sepele, lalu tak terkendali. Akhirnya berujung pada kematian.

  Jika dilihat dari umur pelaku dan korban, rata-rata mereka berusia di atas 30-an tahun dan umur perkawinan mereka paling tinggi enam atau tujuh tahun. Dalam usia perkawinan yang relatif muda itu, terjadi krisis perkawinan yang luar biasa besarnya. Budaya damai di dalam rumah tangga sudah sirna. Budaya cinta akan kehidupan telah mati. Keluarga-keluarga muda ini tidak lagi menemukan jalan damai untuk menyelesaikan krisis rumah tangga mereka.

  Krisis kehidupan rumah tangga telah melanda desa-desa kita. Ini tidak berarti dulu tidak ada suami yang membunuh istri hingga meninggal. Namun dilihat dari intesitasnya, belakangan makin meningkat. Kita saksikan bahwa makin banyak keluarga-keluarga muda berantakan lantaran suami mereka merantau ke Malaysia tanpa kabar balik. Istri-istri muda itu terpaksa menjadi orang tua tunggal dan menghidupi anak-anaknya seorang diri. Hal seperti menimbulkan krisis moral perkawinan. Dari satu sisi extended family (keluarga besar) yang dianut dalam budaya kita memberikan keuntungan, tetapi di lain pihak merepotkan keluarga-keluarga muda dalam hal mem-bangun keharmonisan di dalam keluarga mereka. Campur tangan mertua. Beban belis yang berat. Ongkos sosial kehidupan keluarga besar begitu menekan.

  Kesumpekan ini telah membuat keluarga muda ini gampang tersulut emosinya.Kasus kekerasan dalam rumah tangga saat ini sudah sampai pada tingkat mengkhawatirkan. Kita perlu menolong

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  keluarga-keluarga muda ini agar menyelesaikan masalah mereka dengan jalan damai.

  Dalam sebuah keluarga tidak lepas dari suatu masalah. Dari permasalahan itu banyak orang yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka atau bercerai. Kebanyakan pada saat itu hanya ego yang mereka gunakan, tanpa melihat dampak buruk dari perceraian itu sendiri. Untuk itu kita harus waspada dan segera mungkin mencari langkah-langkah untuk menghindari sikap dan perilaku yang dapat menyebabkan keretakan hubungan. Berikut ada beberapa langkah atau tips untuk menghindari keretakan ini.

  1. Tanamkan pada diri dan keluarga anda bahwa perkawinan adalah komitmen yang serius dan tidak bisa dianggap enteng.

  2. Pastikan bahwa pasangan anda tahu bahwa mereka adalah prioritas utama dalam hidup Anda.

  3. Menjaga Komunikasi antar pasangan. Keterbukaan dalam segala hal membantu anda dalam menghindari permasalahan dalam keluarga.

  4. Kesampingkan ego pribadi, Jangan merasa diri selalu benar dan selalu menyudutkan pasangan.

  5. Ingat anak, cobalah ingat anak-anak Anda, buah cinta kasih Anda.

  6. Jika mengalami keretakan, cobalah untuk mengenang dan memunculkan memori pada saat menikah dulu.

  7. Cemburu dan selingkuh, Bukan barang baru bahwa banyak perselisihan terjadi gara-gara rasa cemburu, yang lebih sering berakar dari salah tafsir dan kurangnya keterbukaan.

  Kebutuhan emosional manusia sangatlah kompleks, sebenarnya dapat diringkas sebagai kebutuhan akan cinta. Kaum pria dan wanita masing-masing mempunyai setidaknya enam kebutuhan cinta yang khas dan sama-sama penting. Dengan mengetahuinya dengan mudah dapat melihat mengapa pasangan Anda merasa tidak dicintai. Dan yang paling penting, daftar ini dapat memberi Anda arah untuk memperbaiki hubungan- hubungan Anda dengan lawan jenis bila Anda tidak tahu harus berbuat apa. Tentu saja setiap pria dan wanita pada akhirnya membutuhkan kedua belas jenis cinta itu. Mengakui keenam jenis cinta yang dibutuhkan kaum wanita tidak berarti kaum pria tidak membutuhkan jenis cinta tersebut. Yang dimaksud kebutuhan primer adalah orang perlu lebih dulu memuaskan kebutuhan primernya sebelum sanggup sepenuhnya menerima dan menghargai jenis-jenis cinta yang lain.

  Pria baru dapat sepenuhnya menerima dan menghargai keenam jenis cinta yang terutama dibutuhkan kaum wanita setelah kebutuhan-kebutuhan primernya sendiri terpenuhi. Demikian pula wanita. Memahami jenis-jenis cinta primer yang dibutuhkan pasangan Anda merupakan rahasia yang paling ampuh untuk memperbai-ki hubungan dengan pasangan Anda.

  

1. Membutuhkan Perhatian, Pria Membutuhkan

Wanita Kepercayaan. Saat pria memperhatikan minat terha-dap

  perasaan-perasaan wanita dan menunjukkan kepedulian mendalam akan kesejahteraan wanita, si wanita merasa dicintai dan diperhatikan. Dengan membuat si wanita merasa istimewa dengan cara yang penuh cinta, pria itu berhasil memuaskan kebutuhan primernya yang pertama. Tentu saja si wanita makin mempercayainya. Rasa percaya ini membuatnya lebih terbuka dan lebih mudah menerima. Bila wanita menunjukkan sikap terbuka dan mudah menerima terhadap pria, pria itu merasa dipercaya. Mempercayai pria berarti meyakini bahwa ia melakukan yang terbaik dan bahwa pria tersebut menginginkan yang terbaik bagi pasangannya. Bila reaksi-reaksi si wanita mengungkapkan kepercayaan positip terhadap kemampuan dan niat pria, kebutuh-an cinta utama pria itu pun terpuaskan. Otomatis pria itu jadi lebih penuh cinta dan perhatian terhadap perasaan-perasaan dan kebutuhan si wanita.

  

2. Wanita Membutuhkan Pengertian, Pria Membutuhkan

Penerimaan. Bila pria mendengarkan tanpa mengha-kimi,

  tetapi dengan empati dan kedekatan terhadap wanita yang sedang mengungkapkan perasaan-perasaannya, wanita itu merasa didengarkan dan dipahami. Sikap penuh pengertian tidak berarti mengetahui pikiran atau perasaan seseorang, melainkan berusaha mengumpulkan makna-makna dari apa yang didengar, dan bergerak untuk membenarkan apa yang disampaikan. Semakin terpenuhi kebutuhan wanita untuk didengarkan dan dimengerti, semakin mudah baginya untuk memberi penerimaan yang dibutuhkan pasangannya. Bila wanita dengan penuh cinta menerima pria tanpa berusaha mengubahnya, pria itu merasa diterima. Sikap menerima itu tidak menolak, melainkan menegaskan bahwa pria itu diterima dengan gembi-ra. Ini tidak berarti si wanita yakin pria itu sempurna, melainkan menegaskan bahwa ia tidak mencoba memperbaiki pria itu, bahwa ia mempercayai si pria

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah untuk membuat perbaikan-perbaikan sendiri. Setelah merasa diterima, lebih mudah bagi pria untuk mendengarkan dan memberi wanita pemahaman yang dibutuhkan dan layak diterimanya.

  3. Wanita Membutuhkan Rasa Hormat, Pria Membutuhkan Penghargaan. Wanita merasa dihormati bila pria

  menanggapinya dengan mengakui dan mengutama-kan hak- hak, harapan, dan kebutuhan-kebutuhannya. Bila tingkah laku pria itu mempertimbangkan pikiran-pikiran dan perasaannya, wanita tersebut pasti merasa dihormati. Ungkapan-ungkapan rasa hormat fisik dan nyata, misalnya dengan memberi bunga dan mengingat ulang tahun, sangat penting untuk memuaskan kebutuhan cinta utama nomor tiga pada wanita. Bila wanita merasa dihormati, jauh lebih mudah baginya untuk memberi suaminya penghar-gaan yang layak diterimanya. Bila wanita mengakui telah menerima manfaat dan nilai pribadi dari usaha-usaha dan tingkah laku pria, si pria jadi merasa dihargai. Penghargaan merupakan reaksi alami terhadap perasaan didukung. Setelah merasa dihargai, pria tahu usahanya tidak sia-sia; dengan demikian, ia didorong untuk memberi lebih banyak. Pria yang merasa dihargai secara otomatis lebih bersemangat dan terdorong untuk lebih menghormati pasangannya.

  

4. Wanita Membutuhkan Kesetiaan, Pria Membutuhkan

Kekaguman. Bila pria mengutamakan kebutuhan-kebutuhan

  wanita dan dengan bangga mendukung dan memuaskan si wanita, kebutuhan utama cinta nomor empat wanita tersebut terpuaskan. Wanita berkembang subur jika ia merasa dipuja dan istimewa. Pria dapat memenuhi kebutuhan ini dengan lebih mementingkan kebutuhan dan perasaan wanita itu daripada minat-minatnya sendiri seperti pekerjaan, pelajaran, dan rekreasi. Jika si wanita merasa dirinyalah yang terpenting dalam kehidupan pria itu, dengan mudah ia akan memberikan kekagumannya. Seperti halnya wanita perlu merasakan perhatian pria, pria pun perlu merasakan kekaguman wanita. Mengagumi pria adalah memandangnya dengan penuh kekaguman, rasa senang, dan persetujuan yang menyenangkan. Pria merasa dikagumi jika wanita gembira dan takjub akan sifat-sifat khasnya atau bakat- bakatnya yang mungkin mencakup rasa humor, keperkasaan, ketekunan, kejujuran, intergritas, kemesraan, kebaikan hati, cinta, pengertian, dan sifat-sifat baik lainnya yang disebut nilai-nilai lama. Bila pria dikagumi, ia akan merasa cukup aman untuk membaktikan diri bagi istrinya dan menyanjungnya.

  Bila pria tidak keberatan atau tidak menentang perasaan dan kebutuhan wanita, melain-kan menerimanya dan menegaskan keabsahannya, wanita akan betul-betul merasa dicintai, karena kebutuhan primernya yang kelima telah terpuaskan. Sikap mengesankan pria menegaskan hak wanita untuk merasa sebagaimana dirasakannya. (Perlu diingat pria dapat menghargai sudut pandang wanita, meski ia sendiri mempunyai sudut pandang yang berbeda). Setelah pria belajar menunjukkan pada wanita sikap mengiyakan ini, pria itu pasti memperoleh persetujuan yang terutama dibutuhkan-

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah nya. Jauh didalam lubuk hatinya, setiap pria ingin menjadi pahlawan atau ksatria dengan baju baja berkilau bagi wanita. Tanda bahwa pria telah lulus ujian dari seorang wanita adalah persetujuannya. Sikap menyetujui ini berupa pengakuan atas kebaikan dalam diri si pria dan mengungkapkan kepuasan menyeluruh terhadap pria itu. (Ingat memberi restu kepada pria tidak lalu berarti sependapat dengannya). Sikap menyetujui berarti mengakui atau mencari alasan-alasan yang baik di balik apa yang dilakukan pria itu. Setelah pria menerima persetujuan yang dibutuhkan, jadi lebih mudah baginya untuk menghargai perasaan-perasaan si wanita.

  ulang memperhatikan bahwa ia memper-hatikan, memahami, menghormati, menghargai dan menyayangi pasangannya, kebutuhan utama pasangan untuk diyakinkan telah terpenuhi. Sikap menyakinkan membuat wanita merasa senantiasa dicintai. Pria umumnya membuat kekeliruan dengan menganggap bahwa sekali ia telah memenuhi semua kebutuhan cinta primer istrinya, dan istrinya merasa bahagia dan aman, maka sejak saat itu istrinya harus tahu bahwa ia dicintai. Padahal itu tidak cukup. Untuk memuaskan kebutuhan cinta primer nomor enam istrinya, pria harus ingat untuk meyakinkannya berulang kali Pertengkaran merupakan suatu hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan suami istri. Tetapi karena terbawa emosi, sering perkataan ataupun tindakan anda menimbul-kan sakit hati yang mendalam bagi pasangan. Oleh karenanya bagaimana caranya agar tidak mengakibatkan sakit hati dalam suatu pertengkaran. Berikut akan diurai-kan mengenai beberapa pantangan dalam bertengkar:

  1. Hindarilah pertengkaran yang sudah melibatkan tindakan fisik (kekerasan). Antara lain menampar, memukul. Jauhilah tindakan tersebut karena akan menimbulkan trauma pada salah satu pihak dan mungkin saja Anda akan dituntut di pengadilan karena melakukan tindakan kekerasan pada suami/ istri Anda.

  2. Ungkapkanlah perasaan Anda secara terbuka. Bila Anda sedih, kecewa, marah, putus asa, dan merasa diabaikan, ungkapkan perasaan tersebut dengan kata-kata dan jangan dipendam. Kekecewaan yang dipendam akan mendatangkan penyakit pada diri Anda sendiri antara lain sakit maag dan dapat menimbulkan stres. Lebih baik terbuka atas segala kekecewaan pada pasangan sehingga ia mengetahui-nya dan memperbaiki hubungan Anda berdua.

  3. Hindari kata-kata yang sifatnya menjatuhkan harga diri pasangan (misalnya: malas, goblok, dll) apalagi di depan anak-anak. Bertengkar di depan anak sebaiknya dihindarkan pula karena kurang baik bagi perkembangan psikologis mereka nantinya. Kemung-kinan mereka akan bersikap murung, tidak menghargai salah satu orangtuanya karena sikap orang tuanya juga begitu.

  4. Kalau Anda mau mengkritik pasangan sebaiknya yang dikritik adalah perilakunya bukan karakternya. Misalnya: pasangan Anda membeli handphone lagi, dan Anda sebaiknya tidak mengatakan ‚Sayang, boros sekali, kan masih ada handphone yang lama‛, tetapi lebih baik ‚Sayang, model

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  handphone-nya trendy ya, bagaimana kalau handphone yang

  lama dijual saja?‚ 5. Dengarkan pasangan Anda. Mendengarkan merupa-kan suatu kegiatan yang jarang sekali bisa dilakukan dengan baik, karena orang yang sedang mendengar-kan selalu punya kecendrungan untuk menyela. Mendengarkan dengan penuh perhatian pada apa yang diucapkan pasangan akan membuat pasangan Anda merasa dihargai dan dipercaya.

  6. Berdebat tentang isu nyata. Sering ditemui pada pasangan yang salah satunya sedang memendam rasa kecewa, sedikit saja kekeliruan atau kesalah-pahaman sudah dapat menjadi kobaran api perteng-karan di antara mereka. Misalnya: membuang bungkus permen tidak pada tempatnya. Tetapi bukan kejadian inilah yang membuatnya marah tetapi ada penyebab lainnya yaitu ketidakpuasan seks. Sebaiknya hal- hal yang menjadi pokok kekecewaan-lah yang didiskusikan dan bukan hal lainnya. Karena tanpa Anda mengungkapkan kekecewaan, tentu saja pasangan tidak akan mengerti apa yang membuat Anda marah atau kecewa padanya.

  7. Peganglah prinsip: win for win solution yang artinya penyelesaian di mana tidak seorangpun yang kalah tetapi keduanya adalah pemenang. Tidak ada yang merasa dirugikan ataupun disalahkan tapi berdua bersama mencari penyelesaian yang terbaik bagi hubungan Anda. Hal lain yang layak diperhatikan dalam relasi suami istri yang terkait dengan kebosanan adalah isu perselingkuhan. Perselingkuhan seringkali jadi penyebab utama rusaknya pernikahan dan jalinan asmara sebagai pelarian sesaat karena adanya rasa bosan pada pasangan. Padahal saling percaya menjadi salah satu pondasi paling kuat dalam percintaan. Sekali kepercayaan dikhianati, akan sulit untuk kembali merajut cinta seperti sedia kala. Oleh karena itu, mempertahankan pernikahan pasca-perseling-kuhan tentu bukan hal yang mudah. Tidak hanya mengutarakan permohonan maaf saja, Anda juga harus benar- benar menunjukkan pada pasangan rasa bersalah tersebut. Selain itu, cobalah beberapa cara untuk menyelamatkan pernikahan Anda pasca-selingkuh, seperti yang dikutip dari Sheknows.

  1. Akui Bahwa Anda Salah. Hindari untuk menyalahkan orang lain mengenai alasan apapun yang membuat Anda berselingkuh. Hanya Anda satu-satunya yang dapat bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan diri sendiri, bukan pasangan ataupun selingkuhan Anda.

  2. Berkonsultasi. Tak ada salahnya jika Anda menemui seorang pakar pernikahan, karena ada kalanya pernikahan yang berada di ujung tanduk membutuhkan saran yang objektif. Hal ini berguna agar kedua belah pihak bisa melihat masalah dari cara pandang yang berbeda, lalu memahaminya dan mau memaafkan satu sama lain.

  3. Yakinkan Pasangan Anda Lagi. Biarkan mereka tahu bahwa perselingkuhan yang Anda lakukan benar-benar murni kesalahan Anda. Yakinkan padanya bahwa ialah satu-satunya orang yang Anda cintai, inginkan dan peduli di dunia ini.

  4. Berikan Ruang Pada Orang Lain. Orang lain di sini bisa berarti pasangan atau keluarga. Bagi mereka, masalah perselingkuhan bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Terkadang tinggal berjauhan sampai mereka siap berbicara

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah dapat membantu memperbaiki keadaan. Hal tersebut juga memberi arti bahwa Anda sangat peduli terhadap perasaan mereka yang terluka. Maka dari itu, sangat penting untuk saling menjaga rasa percaya antara Anda dan pasangan. Hendaklah suami dan istri saling memberikan kepercayaan terhadap pasangan yang dilandasi ketaqwaan kepada Tuhan.Adanya nilai-nilai ketaqwaan dalam kehidupan berumah tangga, insya Allah akan lebih memudahkan lahirnya sikap saling percaya antara suami dan istri. Karena dengan adanya sikap taqwa dimasing-masing pihak baik suami maupun istri, maka akan terbentuk sebuah penilaian di hati. Suami akan menyaksikan dengan mata dan hatinya bahwa istrinya adalah seorang yang bertaqwa, begitu juga sebaliknya. Sehingga dari penilaian tersebut terciptalah suatu lafal dihati mereka yaitu pasanganku adalah orang yang bertaqwa, dikarenakan ketaqwaannya, insya Allah pasanganku akan mampu menjaga diri dari prilaku yang tercela. Tumbuh keyakinan dihatinya bahwa dengan ketaqwaan berarti pasanganku akan selalu menjaga Allah dengan menjaga amalan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Disebabkan pasanganku telah menjaga Allah, maka aku yakin Allah pun akan menjaga dia.

  Tercipta kemantapan batinnya, bahwa dengan ketaqwaan maka pasanganku akan selamat dari sifat kemunafikan. Insya Allah perkataannya bukanlah dusta. Janjinya selalu ditepati dan tatkala amanah kepercayaan telah kuberikan padanya, maka tak sekalipun dia menyia-nyiakannya apalagi mengkhianatinya. Itulah dinding dan atap kepercayaan. Jika dinding tersebut kokoh sedang atapnya perkasa menjulang, maka akan sulit bagi setan baik dari golongan jin maupun manusia untuk memprovokasi ketentramannya. Tak jua bisikan atau hasutan mampu merobohkannya. Segala penjuru akan terjaga dari penglihatan mata-mata kedengkian

  Tapi bagaimanapun juga, manusia kadang tak bisa luput dari kesalahan, dan kemungkinan Anda atau pasangan berselingkuh pun tetap ada. Lalu, bagaimana jika pasangan mengetahui Anda menjalin cinta dengan orang lain? Jika Anda ingin mempertahankan hubungan dan menyadari kesalahan, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan agar pasangan mau memaafkan dan menerima Anda kembali, seperti dilansir Your Romance Guide.

  1. Katakan Alasan Kenapa Anda Selingkuh. Ini hal pertama yang paling penting saat pasangan mengeta-hui Anda berselingkuh. Anda harus mengatakan alasan sejujur-jujurnya kenapa berselingkuh. Apakah karena persoalan emosional atau fisik? Jika tidak jujur, jangan harap Anda bisa menerima pemberian maafnya.

  2. Ubah Cara Pandang. Jika alasan Anda selingkuh ha-nya karena godaan fisik semata, segera perbaiki cara pandang Anda dalam berhubungan. Sebagian orang selingkuh karena hal-hal yang kurang mendasar, hanya ketertarikan seksual atau sekadar mencari tantangan. Jika benar-benar ingin memperbaiki hu-bungan, berjanjilah dengan kesungguhan dan ketu-lusan hati kalau Anda tidak akan mengulanginya.

  3. Ungkapkan dengan Tindakan. Ungkapkan kalau Anda benar- benar ingin dia kembali dengan tin-dakan. Misalnya memberi hadiah, kartu atau selalu berusaha menghubunginya untuk meminta maaf. Usaha yang gigih mungkin bisa meluluhkan hati dan membangun kepercayaannya kembali pada Anda.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  4. Meminta Maaf dan Bertanggungjawab. Tatap matanya, dan katakan maaf dengan tulus. Tunjukkan kepada pasangan bahwa Anda sangat mengerti dengan konsekuensi yang telah Anda lakukan dan bisa mempertanggungjawabkannya. Katakan pada-nya bahwa Anda siap dengan komitmen baru dan jika mengulangi kesalahan yang sama, Anda rela kehilangan dia.

  5. Bicarakan Masa Depan. Bicarakan masa depan Anda dan pasangan. Katakan bahwa Anda selalu memba-yangkan masa depan dan sudah punya banyak rencana untuk anak dan kalian berdua. Buatlah si dia pecaya bahwa Anda ingin menghabiskan masa tua bersama, dan perselingkuhan itu adalah sebuah 'kecelakaan' yang mengerikan.

  6. Jangan Balikkan Kesalahan Padanya. Jangan bersi-keras membenarkan tindakan Anda berselingkuh. Hindari menyampaikan alasan bahwa Anda berselingkuh karena dia kurang perhatian atau tidak bisa membahagiakan Anda.

  7. Bersabar. Memergoki pasangan berselingkuh adalah pukulan terberat sekaligus penghinaan besar baginya. Mungkin akan butuh waktu lama untuk membuatnya memaafkan Anda. Bersabar adalah satu-satunya jalan. Jika pasangan belum mau bertemu atau menghubungi Anda, jangan terburu-buru bereaksi. Pemberian maaf memerlukan waktu yang tidak sebentar.

  8. Tambah Momen Romantis. Banyak kasus perseling-kuhan disebabkan hubungan yang kurang romantis. Saat pasangan sudah mulai menerima Anda kembali, coba sediakan waktu untuk lebih banyak habiskan waktu bersama.

  9. Turuti Permintaannya. Dia setuju untuk menerima Anda kembali, tapi dengan beberapa syarat. Mungkin pasangan Anda akan lebih protektif dengan memo-nitor kemana dan dengan siapa Anda pergi untuk berjaga-jaga agar tidak 'kecolongan' lagi. Mungkin juga, dia akan meminta nomor telepon keluarga atau teman Anda untuk menanyakan informasi tentang kegiatan Anda selama tidak bersamanya. Anda mungkin akan sedikit terganggu, tapi jika hal tersebut bisa membangun kembali kepercayaannya, ada baiknya jika Anda menurutinya. Yang juga penting adalah mencoba bercermin, melakukan introspeksi terhadap diri anda sendiri. Apakah selama ini anda sudah benar-benar melakukan hal yang terbaik yang dapat anda lakukan untuk pasangan? Dan apakah Anda sudah berusaha sebaik-baiknya untuk membina hubungan yang sehat? Apapun masalahnya, jika salah satu atau kedua pihak dalam suatu hubungan yang sakit berusaha untuk menyembuhkan penyakit tersebut, pasti ada jalan keluarnya. Atau Anda juga dapat menyusun perencanaan dan manajemen rumah tangga Anda kembali. Kebosanan banyak datang karena tidak adanya perencanaan dan manajemen yang baik dalam menata aktivitas rumah tangga. Setelah sekian lama berumah tangga, ada saatnya Anda berdua merenung. Mungkin karena kesibukan urusan kantor atau rumah, Anda berdua tidak sempat saling mengingatkan pada niat semula menjalani rumah tangga. Anda berdua perlu mengukur kembali keikhlasan Anda dalam menghadapi berbagai problematika rumah tangga.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Tidak sedikit orang yang menjadikan kebosanan sebagai antiklimaks yang mengawali sikap atau perilaku buruk. Mereka berdalih mencari kompensasi rasa bosannya itu dengan mengerjakan hal-hal negative dengan dalih untuk mencari suasana baru. Padahal jika disikapi denga baik, kebosanan akan memunculkan kreativitas yang melahirkan kekuatan baru. Berikut tips-tips yang bisa dicoba:

  1) Perbarui niat. Setelah sekian lama berumah tangga, ada saatnya Anda berdua menekan tombol pause untuk merenung. Mungkin karena kesibukan urusan kantor atau rumah, Anda berdua tidak sempat saling mengingatkan pada niat semula menjalani rumah tangga sebagai ibadah. Anda berdua perlu mengukur kembali keikhlasan Anda dalam menghadapi berba-gai problematika rumah tangga.

  Keihklasan adalah sumber kekuatan jiwa dan fisik sehingga Anda akan kuat menjalani kondisi apapun dalam hidup.

  Kebosanan banyak datang karena tidak adanya perencanaan dan manajemen yang baik dalam menata aktivitas rumah tangga. Akibatnya, tenaga, pikiran, waktu, dan dana tidak terpakai maksimal untuk hal-hal yang penting.

  62

  3) Pahami keutamaan-keutamaan amal . Allah akan 62 memberikan ganjaran untuk pekerjaan yang dilakukan

  Saya jadi teringat sebuah cerita yang terkait dengan hal ini. Di suatu hari di awal musim semi, seekor siput memulai perjalanannya memanjat sebuah pohon ceri. Beberapa ekor burung di sekitar pohon itu melihat sang siput dengan pandangan aneh. "Hei, siput tolol," salah seekor dari mereka mencibir, "Pikirmu kemana kamu akan pergi?". Mengapa kamu memanjat pohon itu?" berkata yang lain, "Di atas sana tidak ada buah ceri." "Pada saat dengan dasar ikhlas dan benar. Lelahnya suami mencari nafkah dihitung sebagai fi sabilillah. Peluh, kelelahan, dan kesulitan dalam mencari nafkah akan memperoleh pahala besar. Pekerjaan istri mengurus rumah tangga dengan benar dan ikhlas akan mengantarkannya pada surga. Jadi, hadirkan dalam diri kita kenikmatan surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang beramal saleh. 4)

  Ajaklah pasangan Anda melakukan ibadah sunnah berdzikir, beribadah, dan mendekatkan diri kepada Allah ketika kita diterpa kegelisahan dan rasa bosan adalah di antara kebiasaan yang dilakukan salafussaleh. Allah akan menyertai orang-orang yang menjalankan amalan-amalan sunnah setelah menjalankan amalan-amalan wajib. 5)

  Bercerminlah pada orang lain. Anda berdua bisa bertanya kepada orang-orang tua atau yang lebih berpengalaman tentang kiat-kiat mereka mengatasi kelelahan atau kebosanan dalam menjalani cobaan-cobaan hidup. Uraian mereka akan memacu semangat Anda dalam mengatasi kebosanan. Tips-tips di atas memang bukan hal yang mudah untuk direalisasikan. Semuanya membutuhkan kesung-guhan, keseriusan, dan kerja keras. Namun, jika dikerjakan akan menjadi

  63 solusi bagi rasa antara Anda dan pasangan Anda . saya tiba di atas," kata si siput, "Pohon cerinya akan berbuah." Intinya kita harus selalu bergerak untuk melakukan hal-hal yang posistif dalam hidup ini.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah yang harus mereka ikuti yang kadang berakibat pada kejenuhan

  64

  dan bosan . Misalnya saja, Anda dan suami harus selalu melakukan segalanya bersama-sama, menyelesaikan perselisihan tanpa bertengkar, tidak boleh tidur dalam keadaan marah, dan masih banyak lagi. Dalam bukunya, 'Why Did I Marry You Anyway', psikoterapis Barbara Bartlein mengungkapkan tidak selamanya Anda harus mengikuti seluruha aturan yang ada. Melanggar aturan tersebut justru bisa berdampak baik pada pernikahan Anda. Berikut ini bagian pertama dari 10 aturan pernikahan yang dapat dilanggar.

  mencari tahu, apa keinginan hati kecil Anda. Langkah pertama yang juga harus Anda lakukan yakni dengan memberitahu pasangan Anda tentang kegelisahan dari problem Anda. 1. Kembalikan Kenangan Indah Masa Lalu. Tentu sudah banyak hal yang Anda arungi bersama dengan pasangan Anda. Kenang kembali dan buka lembaran-lembaran indah bersamanya. Dengan demikian, Anda tak akan mungkin mudah untuk memutuskan berpisah denganya setelah banyak kenangan yang sudah Anda dapatkan bersamanya. Jujurlah pada diri sendiri bahwa masa lalu yang sudah Anda lewati sangat membahagiakan Anda. 2. Memafkan Segalanya dan Beri Kesempatan. Jalan terbaik dari segala permasalahan yakni dengan memaafkan segala kesalahan yang pernah dibuat pasangan Anda. Beri juga dia dan Anda sendiri 64 kesempatan untuk bisa memperbaiki hubungan Anda.

  Kebosanan juga bukan kata akhir yang tidak ada solusinya. 3. Hargai Semua PendapatJika orang-orang di sekeliling Anda mulai memberikan pendapat tentang hubungan Anda, hargai mereka. Meski tidak harus percaya 100 persen tapi Anda perlu ingat bahwa hidup Anda tidak akan terlalu menyenangkan bersama seseorang yang banyak tidak disukai orang-orang yang ada di sekeliling Anda.Bila akhirnya meski menyakitkan, keputusan untuk tidak bersama adalah akhir dari masalah kebosanan Anda. Akan tetapi

terlebih dahulu, Anda mengukur kembali kadar cinta Anda dengannya Pertama, Jangan Tidur Dalam Keadaan Marah. Menyelesaikan perselisihan sebelum naik ke tempat tidur memang baik untuk hubungan Anda dan suami. Namun kalau hal itu dilakukan saat Anda dan pasangan sama-sama dalam keadaan lelah dan stres, tentunya malah bisa berdampak buruk. Elizabeth Lombarodi, PhD, psikolog dan penulis 'A Happy You: Your Ultimate Prescription for Happines', menganggap saran untuk tidak tidur dalam keadaan marah, tak harus selalu diikuti.

  Menurutnya lebih baik Anda dan suami beristirihat dulu, baru selesaikan perselisihan itu setelah kalian sudah merasa segar. Dengan cara ini, perselisihan pun lebih bisa diselesaikan dengan kepala dingin.

  Kedua, Harus Jujur 100%. Kejujuran memang salah satu faktor penting dalam pernikahan. Namun bukan berarti Anda harus mengatakan dengan jujur semuanya. Ada beberapa hal yang sebaiknya Anda simpan sendiri, selama itu memang tidak penting diketahui oleh suami dan mempengaruhi pernikahan. Misalnya saja, Anda tidak perlu memberitahukan semua detail kisah masa lalu Anda dengan mantan kekasih. "Hal itu dapat membuat terjadi perbandingan. Saat Anda membandingkan, orang akan merasa direndahkan," ujar Bartlein.

  Ketiga, Tidak Boleh Liburan Tanpa Suami/Istri. Seringkali Anda mendengar nasihat untuk selalu menghabiskan waktu bersama pasangan dan keluarga, saat Anda memiliki waktu luang atau hari libur. Nasihat itu tidak selamanya benar. Menurut Dr. Lombardo, nasihat itu bisa menjadi masalah saat Anda dan pasangan punya definisi yang berbeda soal liburan. Misalnya, bagi suami liburan adalah pergi ke tempat yang dia bisa menikmati

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah pantai, sedangkan untuk Anda liburan artinya bisa bersantai di udara yang sejuk.Tidak hanya soal perbedaan tujuan saja, pandangan bahwa 'Anda dan suami harus selalu bersama-sama melakukan segalanya', juga dianggap Dr. Lombardo kurang realistis. Terkadang Anda perlu melakukan sesuatu sendiri, seperti pergi ke salon dan melakoni crembath atau spa. Sementara suami mungkin juga mau bersenang-senang dengan temannya berolahraga sepeda.

  Keempat, Bertengkar = Buruk untuk Pernikahan. Bartlein menjelaskan, penelitian menunjukkan, pasangan yang tidak pernah bertengkar lebih berisiko cerai. Mereka tak pernah bertengkar karena selalu menghindari konflik. Padahal konflik tidak mungkin bisa dihindari dalam sebuah pernikahan. Tinggal bagaimana Anda dan pasangan bisa menyelesaikan konflik itu dengan sehat dan produktif, bukan saling menyalahkan dan berteriak-teriak satu sama lain.

  Kelima, Setelah Punya Anak, Anak Harus Dinomorsatukan. "Seringkali aku melihat pasangan mengorbankan hubungannya demi menjadi orangtua yang baik," ujar Dr. Lombardo.

  Menurutnya, justru dengan mengutamakan kelanggengan hubungan Anda dan suami, bukan hanya baik untuk Anda, tapi juga anak-anak. Anak akan merasa aman hidup dengan orangtua yang saling mencintai. "Ciptakan waktu khusus untuk berduaan saat Anda dan suami tidak berdiskusi soal tagihan atau anak-anak. Waktu di mana Anda bisa saling menikmati keberesamaan itu," saran Lombardo.

  Keenam, Tidak Boleh Tidur di Ranjang Terpisah. Pasangan Anda kerap tidur dengan suara mendengkur yang keras? Tentu dengkurannya itu bisa mengganggu tidur Anda. Namun karena anggapan suami-istri harus selalu tidur satu ranjang, Anda pun mau tidak mau bertahan. Alhasil karena ada suara dengkuran yang keras, tidur Anda pun kurang nyenyak. Orang yang kurang tidur biasanya akan cenderung lebih moody keesokan harinya. Oleh karena itu Dr. Lombardo percaya, anggap suami-istri harus selalu tidur satu ranjang tidak perlu diikuti. "Mendapatkan tidur yang cukup itu sangat penting untuk kesehatan pikiran, tubuh dan pernikahan," ujarnya. Hanya saja kalau memang Anda memilih tidur terpisah, Lombardo menyarankan, jangan lupa untuk tetap menjaga keintiman dengan pasangan.

  Ketujuh, Berhenti Melakukan Hobi yang Disukai. Setelah menikah, bukan berarti Anda harus berhenti melakukan hobi yang disukai hanya karena suami tak punya hobi sama. Menurut Bartlein, melepaskan hobi tersebut bisa membuat Anda merasa kehilangan kebebasan. "Tanpa kebebasan itu orang-orang yang menikah bisa merasa terjebak," jelasnya. Hanya saja dalam melakukan hobi itu, jangan sampai juga melupakan waktu bersama-sama keluarga. Bartlein mengatakan, tetaplah jalani apa yang Anda suka dan kalau bisa temukan kegiatan yang memang bisa Anda lakukan bersama-sama dengan pasangan.

  Kedelapan, Saat Tidak Ada Lagi Getaran = Pernikahan Retak. Cukup banyak pasangan menikah yang percaya mereka tidak akan selamanya dimabuk cinta saat sudah menjalin hubungan bertahun- tahun lamanya. "Tapi banyak juga yang percaya, saat getaran itu hilang, mereka merasa berada dalam hubungan yang salah dan berusaha mencari yang baru," ujar Bartlein. Pernikahan atau sebuah

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah hubungan jangka panjang bisa bertahan karena adanya komitmen dan kepercayaan. Seiring waktu, cinta yang ada pun tumbuh.

  Kesembilan, Bosan Itu Buruk untuk Pernikahan. Beberapa orang kerap merasa bosan saat hal-hal yang mereka jalani, seperti pernikahan sudah dapat diprediksi setiap harinya. Orang-orang ini biasanya haus akan drama. Sedikit drama dalam pernikahan memang mengasyikan, namun kalau terjadi terus tentu bisa berdampak kurang baik pada hubungan Anda dan pasangan. "Lebih baik memiliki kehidupan yang aman, rileks dan membosankan setiap harinya bersama pasangan," ujar Bartlein. Untuk menambahkan bumbu dalam hubungan itu, Anda bisa pergi berlibur bersama atau melakukan suatu aktivitas yang belum pernah dilakoni sebelumnya.

  Kesepuluh, Agar Pasangan Bahagia, Tidak Boleh Menolak untuk Bercinta. Masalah di atas biasanya dialami para wanita, khususnya ibu. "Seks berada dalam daftar hal-hal yang harus dilakukan. Wanita khususnya para ibu berpikir, mereka harus melakukannya demi keutuhan pernikahan dan kebahagiaan suami," jelas Dr. Lombardo. Kedua alasan tersebut memang tidak salah. Tapi seharus-nya bukan dua alasan itu saja yang membuat wanita bercinta dengan suaminya. "Seks itu untuk kepentingan Anda dan pasangan," tegas Dr. Lombardo. Jadi lakukan hubungan intim tersebut karena memang Anda mau dan senang melakukannya. Kalau Anda sedang tidak merasa mood atau lelah, beritahu pasangan. Komunikasi bisa jadi kunci untuk mengatasi masalah tersebut.

  Akhir dari semua ini perlu kita sadari dibeberapa Negara seperti Inggris, banyak orang mulai tidak tertarik untuk menikah. Sebagian mereka merasa cukup tinggal bersama tanpa ikatan yang sah. Perkawinan malah dianggap beban. Fenomena lain adalah, Sebagian pasangan yang sudah menikah enggan punya anak. Mereka menunda sampai lama sekali. Jika perlu cukup mengadopsi atau membantu anak-anak miskin.yang perlu dipahami saat bumi dijadikan Tuhan Allah, Manusia Pertama, Adam, diberi mandat mengelola ciptaan. Sebagai Imago Dei, Adam diberi kecakapan Ilahi mengelola bumi. Tentu tidak mudah bagi Adam mengelola Taman Eden sendirian. Maka Tuhan memberikannya seorang penolong yakni Hawa. Institusi pernikahan ditetapkan seiring dengan penciptaan itu sendiri. Perkawinan bukanlah temuan manusia, tetapi merupakan gagasan Allah. Gagasan ini sudah ada sejak manusia belum jatuh dalam dosa.

  Implikasinya adalah: 1. Setiap Orang yang mau menikah perlu memberikan mengenal Allah sang pendiri lembaga ini. 2. Memberikan Tuhan tempat (otoritas) dalam hubungan suami-istri. Dengan demikian hubungan atau relasi suami-istri bersifat Trialog: Tuhan-Suami-istri. Allah dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan penting, dan masing-masing merendahkan diri dihadapan Tuhan agar pasutri bisa saling menghargai. 3. Perkawinan itu diikat komitmen seumur hidup, sebab perjanjian perkawinan itu bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Allah. Dengan demikian masing-masing pihak perlu bergantung

  65 65 pada kekuatan Allah selama menjalani Pernikahan .

  Tina Tessina dalam bukunya "How to Be a Couple and Still Be Free" berpendapat, memiliki kebiasaan yang dilakukan setiap hari bersama pasangan adalah salah satu rahasia untuk menjaga kemesraan perkawinan. "Kalau Anda ingin hubungan tetap awet, punya kebiasaan harian adalah cara mudah untuk menguatkan ikatan cinta," katanya. Salah satu kebiasaan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Yang perlu disadari juga bahwa selain sebagai sarana menyalurkan fitrah hidup atas keinginan seksual dan keinginan mempertahankan keturunan, menikah ternyata mempunyai makna yang demikian luas dan mendalam bagi kehidupan manusia, terutama kehidupan menusia yang menjalaninya. Menikah bisa merubah kehidupan manusia secara drastis jika dibandingkan kehidupan sebelum menikah. Perubahan itu bisa berupa perubahan sifat, pola pikir dan kebiasaan. Perubahan itu juga bisa kearah yang lebih baik atau lebih buruk. Betapa tidak, perpaduan dua insan manusia yang berbeda, baik fisik maupun psikis, akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang baru yang harus dijalani keduanya. Walaupun ada yang mengalami masa pacaran, dalam waktu yang lama, sebelum menikah, tapi masa itu tidak bisa dijadikan pedoman untuk saling mengenal pribadi masing-masing. Bahkan masa pacaran itu bisa jadi penuh dengan kepura-puraan dan kepalsuan, sebab masing-masing insan pada masa pacaran akan mencoba saling memberikan gambaran yang sebaik-baiknya terhadap pasangannya. Sehingga kelemahan dan sifat asli akan ditutup-tutupi sedemikian rupa dengan berbagai macam topeng kepalsuan.

  Saat kedua insan manusia menikah, di awal-awal pernikahan adalah saat-saat paling indah, dan lambat laun bisa jadi menjadi saat-saat paling buruk dalam sejarah hidupnya jika kedua insan yang menikah tadi tidak bisa mensikapi perbedaan dengan

  tersebut adalah melakukan ibadah bersama. Dalam survei yang dilakukan, 75 persen mengatakan, mereka yang punya kebiasaan berdoa bersama pasangan mengaku memiliki perkawinan yang "sangat bahagia". beribadah bersama pasangan diyakini mampu meningkatkan rasa respek satu sama lain dan melancarkan komunikasi.. Lihat http://www.terangdunia.com bijaksana dan tidak bisa memaknai pernikahan dengan hati dan pikiran yang jenih. Lalu ada makna apa dalam pernikahan itu?

  1. Ibadah

  Menikah adalah perintah Allah dan ajaran para Nabi dan Rosul, sehingga melaksanakannya berarti bentuk suatu ketundukkan dan kepatuhan kepada Allah yang bisa mendatangkan pahala jika niatnya ikhlas. Menikah juga memperluas kesempatan untuk beribadah dan mendapatkan pahala yang lebih banyak, karena ketika dua insan menikah maka banyak hal yang kelihatan sepele tetapi ternyata bernilai ibadah. Dan pahalanya pun dilipat gandakan dibandingkan saat seblum menikah. Misalnya hubungan seksual yang dilakukan setelah menikah menjadi bernilai ibadah, tapi jika dilakukan sebelum menikah akan menjadi dosa besar yang hukumannya sangat berat.

  2. Sabar

  Karena menikah itu mempertemukan dua insan yang berbeda jenis, maka akan banyak pula perbedaan perbedaan yang dijumpai pada diri keduanya. Jika perbedaan itu disikapi dengan egoisme pribadi maka yang akan muncul berikutnya adalah perpecahan. Diperlukan kesabaran yang tak terbatas untuk menghindari perpecahan ini. Kesabarab untuk menerima kenyataan bahwa pasangan kita memiliki kekurangan-kekurangan dan kesabaran untuk tidak bersikap egois dan mempertahankan diri atas sifat dan kebiasaan masing-masing.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  3. Saling Membantu

  Ketika pernikahan dilaksanakan maka akan melahirkan hak dan kewajiban baru untuk masing-masing insan. Misalnya, suami berkewajiban memberi nafkah untuk anak dan istrinya. Sedangkan istri berkewajiban merawat dan membimbing anak-anak. Apakah hak dan kewajiban suami dan istri ini mempunyai batas yang tegas? Secara teoritis, iya. Tetapi secara prakteknya tidak sedemikian kaku seperti teori. Masing-masing harus saling membantu jika pasangannya mengalami kesulitan dalam melaksanakan tuga dan kewajibannya. Misalnya, saat suami berusaha memenuhi kebutuhan nafkah anak istrinya belum mampu terpenuhi semua, terutama kebutuhan pokok, maka istri sebaiknya membantu suaminya memenuhi kebutuhan itu, atau minimal tidak menambahi beban pengeluaran dengan menuntut pemenuhan kebutuhan yang bersifat tambahan/tersier.

  4. Saling Memahami

  Kalau tolong menolong diatas berkaitan dengan perbuatan fisik maka saling memahami berkaitan dengan perasaan. Bahasa lainnya saling berempati. Yaitu seolah-olah ikut merasakan apa yang pasangan kita rasakan. Misalnya, saat istri mengalami menstruasi biasanya menjadi sensitif dan tingkat emosionalnya meningkat, maka sebagai suami harus bisa memahami keadaan istri tersebut dengan tidak ikut- ikutan emosional saat istri sedang uring-uringan. Contoh lain, istri juga harus memahami keadaan cape suami saat baru pulang kerja maka istri harus menyambut dengan keadaan yang menyenangkan bukan sebaliknya. Kesalahan pemaknaan terhadap pernikahan akan mengakibatkan usia pernikahan tidak berlangsung lama. Ketika pernikahan hanya dimaknai sebagai penyaluran hasrat seks semata

  66

  maka kebosanan akan segera menghinggapi pasangan ini, sebab semakin bertambah usia kemampuan fisik akan semakin turun dan rupa fisik pun semakin memudar. Di awal pernikahan cinta dan nafsu menjadi landasannya, dan semakin bertambah umur masing- masing pasangan dan umur pernikahan maka seharusnya keikhlasan dan kasih sayang yang menjadi landasannya karena cinta dan nafsu tumbuh berlandaskan keindahan fisik, sedangakn kasih sayang tumbuh berlandaskan kemuliaan hati dan jiwa.

  Kesalahan pemaknaan dapat terjadi sebelum pernikahan dilangsungkan sehingga mengakibatkan pernikahan menjadi tertunda atau bahkan tidak terjadi pernikahan. Contoh kasus, ketika seseorang hanya memaknai pernikahan sebagai pelampiasan hasrat seksual saja maka orang bisa saja berpikir kenapa harus menikah kalau cuma untuk melampiaskan hasrat seks, dijalanan 66 juga banyak di jajakan ‘alat’ pemuas hasrat.

  Apapun yang tidak seimbang akan berakhir pada kebosanan. Harapan yang terlalu tinggi terhadap pasangan akan menimbulkan kekecewaan jika ternyata pasangan tidak mampu memenuhi harapan Anda. Misalnya saja, Anda menginginkan suami selalu bersemangat dalam menyelesaikan setiap permasalahan karena bagi Anda suami ideal adalah suami yang selalu tegar menghadapi masalah rumah tangga. Namun, kenyataannya, suami Anda malah down, dan sebagainya.Ini adalah suatu gejala di mana pada masa awal hubungan Anda berdua, segala kekurangan Anda atau pasangan mungkin merupakan hal yang menyenangkan. Tetapi jika hubungan Anda mulai suram, sehingga menimbulkan gejala-gejala kecil yang menganggu. Walau ini hanya gejala yang bisa dibilang kecil, di balik itu tersembunyi pertanda bahwa anda atau dia mungkin sudah bosan dengan segala prilaku yang ditunjukan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Salah satu kesalahan pemaknaan yang juga sering terjadi adalah menganggap pernikahan itu selalu penuh kesenangan dan keindahan saja sehingga saat mengalami cobaan setelah menikah sekian lama menjadi shock dan tertekan. Kesimpulannya, penting sekali untuk memberi makna pada sebuah pernikahan untuk orang yang akan menikah atau telah menikah agar pernikahan bisa bertahan samapai ajal menjemput. Kesalahan pemberian makna akan berakibat bubarnya pernikahan dalam waktu yang singkat. Hal-hal penting dalam pernikahan.

  1. Pernikahan itu bukan kumpulan kesenangan dan kemudahan belaka. Bisa jadi pernikahan menjadi pintu ujian kesulitan.

  Baca dan renungkan kisah keluarga Nabi Nuh dan Luth. Anak dan istri mereka menjadi orang yang menentang perintah Allah dan akhirnya anak dan istrinya di azab Allah.

  

2. Pernikahan adalah gerbang untuk memperbanyak pahala

  atau lebih dekat dengan Allah. Ujian yang datang dalam pernikahan bisa berupa ujian kebahagiaan atau ujian kesulitan atau kesedihan. Sebagai seorang muslim, dalam mensikapi kedua ujian seharusnya seperti yang disabdakan Nabi: "Betapa baiknya urusan seorang Muslim, jika dia mendapat nikmat ia bersyukur, jika ia mendapat ujian kesulitan ia bersabar".

  3. Pernikahan itu bukan seperti perusahaan di mana ada bos

  dan anak buah. Suami bukan seperti bos yang main suruh dan tunjuk dengan cara-cara yang tidak ahsan. Dan istri bukanlah anak buah yang harus selalu siap diperintah. Ada saat-saat di mana istri berargumen dengan perintah suaminya. Rumah tangga adalah kumpulan hak dan kewajiban yang harus dimengerti dan disadari oleh anggotanya. Sehingga anggota harus menyediakan banyak

  

67

kata maaf dan terima kasih.

  Setelah menikah biasanya kita sudah lupa dengan saat-saat

  67

  romantis yang tetap perlu dibina. Mungkin di saat pacaran kita begitu perhatian, romantis pada pasangan kita. Setelah menikah hal-hal yang pernah dilakukan selama pacaran sudah dilupakan karena beranggapan tidak diperlukan lagi. Ada banyak alasan orang untuk tidak romantis terhadap pasangannya, ada yang malu dilihat anaknya, ada yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, malu pada orang lain yang serumah misal pembantu, dll. ebenarnya alasan tersebut di atas bukanlah penghalang untuk menunjukkan sikap romantis pada pasangan. Anda seharusnya bangga bila 67 sampai tua masih romantis dengan pasangan. Anda bisa menjadi

  Dalam hubungan antara pria dan wanita sering ditemui bahwa hanya karena perkataan yang salah ternyata bisa mengacaukan suatu hubungan tanpa disengaja. Ada pepatah yang mengatakan bahwa lidah itu lebih tajam daripada mata pedang. Ternyata memang benar demikian jika kita tidak hati- hati dalam mengucapkan sesuatu. Pria dan wanita memiliki gaya berbicara yang berbeda. Pria lebih suka berbicara logis, mengenai politik, bisnis, mobil, olahraga, dan hal lainnya yang mewakili kejantanannya. Berbeda dengan wanita yang biasanya topik pembicaraannya berkisar tentang anak, gosip, masakan, maupun keluh kesah hatinya dan lebih banyak melibatkan perasaan. Kadang-kadang mungkin mereka satu sama lain kurang berminat terhadap topik yang sedang dibahas oleh pasangannya. Sebagai pria, mereka ingin dilihat sebagai pemecah masalah, sehingga sering bila wanita berkeluh kesah bagi pria kedengarannya wanita tersebut meminta bantuan darinya. Mulailah pria memberikan solusi atas keluh kesah pasangannya. Padahal saat itu wanita sedang tidak mencari solusi atas apa yang dikeluhkannya, ia hanya membutuhkan seorang teman untuk mendengarkan tanpa memberikan komentar. Akibat nasihat maupun usul dari pasangan tersebut si wanita jadi bertambah kesal.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah contoh bagi orang lain khususnya anak Anda tentang cinta yang masih berkembang di antara Anda berdua.

  Jarang ditemui pasangan yang setelah menikah beberapa tahun tetap romantis pada pasangannya, meskipun ada, mungkin sangat sedikit. Menciptakan suasana romantis diantara Anda berdua bukanlah sesuatu yang sulit, semuanya tergantung kemauan dan keinginan kedua belah pihak. Bila Anda telah berjanji sehidup semati, haruslah diusahakan untuk menjaga gairah cinta itu tetap ada. Kehidupan berdua pastilah melalui rutinitas yang kadang-kadang menimbulkan kebosanan. Anda dapat mengambil cuti setahun sekali atau dua kali hanya untuk beberapa hari pergi ke luar kota bersama istri/suami Anda dan melupakan kesibukan sehari-hari.

  Pergi berlibur bersama merupakan sesuatu hal yang penting buat Anda berdua di mana Anda terlepas dari rutinitas yang menimbulkan kebosanan. Bila Anda kesulitan mengambil cuti, cobalah Menciptakan suasana bulan madu di rumah. Kegiatan yang akan dilakukan oleh Anda berdua semuanya tergantung kesepakatan bersama, apa yang membuat Anda nyaman melaksanakannya. Tindakan sederhana seperti membeli setangkai bunga buat istri Anda dapat membuatnya gembira dan dia pun tahu bahwa Anda masih memperhatikannya. Misalnya istri Anda alergi bunga janganlah dibelikan bunga karena itu menandakan Anda kurang perhatian padanya. Seorang wanita biasanya lebih senang bila diberi setangkai ataupun dua tangkai bunga daripada tanaman dalam pot. Karena bunga satu tangkai akan cepat layu dan dia berharap suaminya akan membelikannya lagi. Berbeda dengan tanaman dalam pot yang tidak akan mati. Bila ia menghendaki suaminya memberikan padanya bunga lagi, maka ia tidak akan meminta tetapi meletakkan vas bunga yang telah kosong di meja. Ini merupakan pertanda bahwa ia ingin dibelikan bunga lagi.

  Dengan cara ini ia menciptakan romantisme di antara mereka berdua. Suaminya merasa benar-benar dibutuhkan dan dihargai hadiahnya meskipun cuma setangkai atau dua tangkai bunga. Mungkin istrinya bisa saja membeli sendiri bunga tersebut tetapi dia membiarkan suaminya yang melakukannya baginya sehingga terciptalah romantisme di antara mereka. Pelukan meskipun nampaknya sederhana tetapi dengan berpelukan sehari sekali membuat Anda berdua terasa dekat satu sama lain. Istri akan merasa didukung, dicintai dengan dipeluk. Wajah istri Anda yang berseri-seri akan membuat Anda merasa dicintai pula. Bila Anda terus memelihara romantisme, Anda berdua akan hidup dengan penuh kegembiraan dan saling menghargai, tidak melihat kekurangan pasangan hidup sebagai penghalang tetapi saling mengisi dan mendukung satu sama lain.

  Untuk menyiasati agar hubungan Anda dan pasangan tetap mesra dan jauh dari kebosanan, ada baiknya Anda dan pasangan mengikuti kiat-kiat berikut ini agar cinta Anda berdua tetap bekembang dan harmonis:

  1. Kebahagiaan tidak muncul begitu saja. Anda harus menciptakannya sendiri.

  2. Kesuksesan pasangan haruslah membuat yang lain bahagia, bukannya menderita.

  3. Menikah bukanlah untuk mencari jalan keluar dari suatu masalah.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  4. Cinta itu berarti menerima kekurangan si dia dan menghargai kelebihannya.

  5. Pasangan Anda bukan peramal yang bisa membaca pikiran Anda. Komunikasi terbuka adalah sangat penting.

  6. Hubungan pernikahan selalu berubah sejalan dengan perguliran waktu. Anda harus memahami perubahan dalam diri Anda.

  7. Kalau cinta sudah tercemar oleh pengkhianatan, susah untuk membangun rasa percaya dan saling menghargai.

  8. Jangan menyalahkan. Hal ini hanya akan menghambat komunikasi, dan membuat dia kehilangan rasa percaya dirinya.

  9. Bila pasangan Anda merasa dirinya dicintai, diterima, dan dihargai, dia akan membuat Anda merasakan hal yang sama.

  10. Cinta bukan menghukum, tetapi memaafkan. Memang, melupakan kata-kata atau tindakan menyakitkan yang dilakukan pasangan Anda adalah sulit, tetapi dengan memaafkan setidaknya hubungan yang sehat akan terus berjalan.

  11. Walaupun hubungan suami-istri adalah hubungan yang dekat, keduanya harus menghargai kebebasan masing- masing untuk mengembangkan minat dan bergaul dengan orang lain.

  Akhirnya saya akan berkisah tentang Yin dan Yang. Ini adalah sebuah kisah yang tidak diketahui kapan pertama kali muncul dalam peradaban manusia. Kisah tentang dua orang bersahabat yang bernama Yin dan Yang. Mereka berdua adalah orang yang saleh, berjiwa besar, dan penuh cinta kasih. Mungkin suatu kebetulan bahwa nama mereka mengingatkan kita pada konsep Yin-Yang yang berlawanan itu, namun memang demikianlah, mereka (Yin dan Yang) selalu berlawanan. Yin mempunyai keyakinan atau agama yang berbeda dengan Yang. Mereka secara teratur bertemu untuk mendiskusikan keyakinan mereka, dengan tujuan mencari sesuatu yang tak mereka ketahui namanya. Walaupun mereka saling menghormati dan mengajukan argumentasi dengan penuh adab, namun pada setiap akhir pertemuan, mereka tidak pernah merasa puas. Segala cara dan metode diskusi yang diketahui telah mereka tempuh tapi tetap tidak menghasilkan apa-apa. Ketika nyaris frustasi, mereka mulai kehilangan kendali diri, dalam hati masing-masing mulai muncul rasa "lebih benar". Akhirnya tercetus kata-kata.

  Yin: "Ah, seandainya engkau adalah aku, tentu akan bisa memahami apa yang ingin kusampaikan, dan diskusi ini akan dapat membawa kita lebih mengerti 'sesuatu' itu."

  Yang: "Hei, aku juga berpikir begitu. Tapi bagaimana cara kita saling tukar diri kita?" Karena memang mereka tidak dapat saling tukar diri, maka tak lama kemudian mereka menemukan pemecahan yang disetujui paling tepat. Diputuskan, Yin akan mempelajari agama/keyakinan Yang dan Yang akan mempelajari agama/keyakinan Yin. Dan karena mereka memang menginginkan hasil terbaik dan terbenar, maka mereka berikrar akan mempelajari dengan sepenuh hati, berusaha memahami dengan hati terbuka, tidak malah mencari-cari titik kelemahan yang akan digunakan untuk menyerang lawannya.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Diputuskan, setelah 40 tahun mereka akan bertemu lagi untuk "duel sampai titik darah penghabisan". Akhirnya, 40 tahun kemudian, Yin dan Yang yang telah semakin tua, bertemu pada senja hari di tempat terakhir mereka bertemu. Mereka saling berpandangan, tak sepatah kata pun yang terucapkan. Sinar mata mereka penuh kasih yang menghanyutkan sukma, senyum mereka begitu halus dan tulus. Mereka saling memeluk. Resonansi getaran jiwa mereka pada angin yang membelai, pada daun-daun yang berbisik, pada seluruh relung ruang di jagad raya ini: "Saudaraku, kau selalu dalam aku, dan aku dalam engkau." Sejak saat itu tak ada lagi diskusi, karena dalam pelukan itu mereka mengerti tanpa mengetahui dan mendapatkan tanpa mencari.

  Cinta memang sebuah perasaan yang universal, akan tetapi sulit untuk bisa menjabarkan pengertiannya atau pun mendefinisikannya. Kita hanya mengetahui sedikit unsur yang membangun perasaan cinta. Natalie Angier, dalam bukunya,

  

Woman an Intimate Geography, mencoba untuk membahas mengapa

  kita membutuhkan cinta. Menurutnya, yang paling mendasar adalah karena manusia harus mencintai. Selanjutnya dikatakan olehnya bahwa manusia mencintai karena membutuhkan perlindungan dan pengakuan. Tak hanya itu, ternyata menurut analisis, kita mencintai pun untuk mengusir kebosanan. Jadi jelas bahwa kita memang mempunyai alasan untuk mencintai, namun ternyata untuk memahami cinta kita tidak boleh mengesampingkan agresi karena jalur cinta dan agresi, menurutnya saling berkaitan dan kadang tumpang tindih.

  Tak hanya itu, dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh sejumlah psikolog, telah diketahu bahwa dalam mendefinisikan cinta: Pria lebih mengutamakan seks dibanding wanita. Wanita lebih memilih hubungan yang mapan. Wanita secara alamiah tertarik pada pria berstatus sosial atas dengan penghasilan yang memadai.

  Pria secara alamiah tertarik pada kemudaan dan kecantikan. Dengan kata lain, pria mencari ciri-ciri usia muda, seperti kulit yang halus dan payudara berisi. Mereka pun menghendaki pasangan yang masih bisa membuahkan keturunan. Pria juga menghendaki keperawanan. Wanita yang menggoda dan sedikit liar disukai untuk sekadar melewatkan malam minggu. Tapi pada saat mencari pasangan, mereka mencari kesederhanaan dan keang- gunan. Wanita sebaliknya, dia mencari sosok ‘pemberi’. Wanita menginginkan pria yang mapan dan ambisius. Mereka ingin tahu apakah pria tersebut bisa menghidupi dirinya dan anak-anaknya. Wanita mengharapkan pria yang bisa memimpin, bahkan sedikit mendominasi. Memilih pria yang mapan sudah dilakukan wanita sejak dulu sampai sekarang, bahkan bagi wanita yang mandiri secara keuangan dan sukses dalam berkarir. Bahkan ada pula pendapat yang mengatakan bahwa pria dilahirkan sebagai petualang dan tidak bisa setia hanya pada seorang wanita.

  68 68 Petualangan Bill Clinton sering dijadikan contoh ketidaksetiaan Cinta dan Kesetiaan – dua sisi dalam satu mata keping yang tidak terpisahkan. Cinta menjadi landasan sebuah Kesetiaan. Di dalam kesetiaan terkandung nilai cinta yang mempersatukan. Sulit membayangkan ada cinta berdiri sendiri tanpa disertai kesetiaan. Demikian pula sulit memahami, ada sebuah kesetiaan tanpa landasan cinta di dalamnya. Cinta tanpa kesetiaan adalah kosong. Dan kesetiaan tanpa didasari cinta adalah kepura-puraan.

  Dalam kesetiaan ada komitmen melayani tanpa pamrih tulus ikhlas apa adanya berlandaskan welas asih. Cinta bermakna amat luas sebebas kesetiaan. Para pemikir barat klasik bahkan sampai memilah-milah arti dan

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah seorang pria. Namun mereka pun kadang tersiksa oleh keinginan untuk setia namun tergoda oleh nafsu bertualang. Bagaimana menurut Anda? Masihkah ada cinta yang tanpa pamrih?

  perwujudan cinta ke dalam beberapa istilah. Ada eros untuk cinta bernuansa erotis dan romantis yang lebih bersifat fisik. Ada philia – sebuah cinta bernuansa kasih persaudaraan persahabatan. Dan ada pula agape untuk cinta yang bersifat spiritual – cinta kepada Sang Pencipta Mahakuasa dan sesama. Dan inilah level cinta tertinggi.

  d

  Sedikit tausiyah sebagai penutup, saya teringat sebuah surat dari seorang suami kepada istrinya yang terpisah jauh secara geografis karena tugas negara. Surat itu berisi refleksi terhadap relasi dan perasaan mereka. Surat tersebut berbunyi sebagai berikut:

  Selamat ulang tahun perkawinan istriku, 5 tahun sudah kita bersama mengarungi bahtera kehidupan. Banyak sudah marah, senyum, tangis dan tawa yang kita bagi berdua. dan itu semua belum berakhir, masih banyak derai airmata, tawa terbahak yang akan kita lalui. bukankah kita sudah berikrar untuk selalu bersama? Bukankah hanya kematian yang akan memisahkan kita? Maafkan aku yang masih saja meragukan akan arti dan makna sebuah perkawinan. Kebodohan dan kepicikan yang membuat aku belum sanggup menemukannya.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  Yang aku tau, aku mempunyai tekad dan niat untuk hidup bersamamu. Tekad yang kadang goyah, walau berhasil lagi kita tegakkan. Anak anak kita menjadikan aku semakin kabur dalam memaknai perkawinan, ketika semua perhatian tercurah kepada mereka berdua, cinta dan perhatian, membuat aku kadang lupa bahwa kamu ada disampingku. Bahkan ketika jarak memisahkan kita, sering aku menelpon hanya untuk berbicara dengan anak anak kita. Maafkan aku istriku, ketika mata ini berani memandang nakal wanita lain yang melintas di depan mata. Kamu tak pernah cemburu, tak pernah marah melihat kedekatanku dengan wanita lain, kadang membuat aku ragu akan cintamu. "Aku percaya penuh kamu" itu katamu selalu bila kutanyakan hal itu. Istriku, malam ini ingin aku memelukmu. Mengatakan bahwa sepanjang jalan hidup kita kedepan, masih banyak yang harus kita

tautkan. Masih banyak tekad da niat yang harus diwujudkan.

Selamat tidur, peluklah anak anak kita dengan mesra, tegarkan mereka yang belum puas bermain dengan bapaknya. Yang berusaha dan mencoba untuk mengerti alasan bapaknya pergi dan meninggalkan mereka.. Karena Tuhan tau yang terbaik buat kita, sekarang dan pada akhirnya.

  Cinta adalah sebuah proses yang tidak akan pernah mencapai definisi yang pasti dan sempurna. Selama kita mencintai, selama itu pula kita berproses dengan cinta, dalam cinta dan belajar dari cinta. Ketika kita mencintai, maka berarti kita harus belajar memberi, mengerti dan berbagi, belajar menerima kekurangan dan menghargai kelebihan, serta belajar menjaga mata dan hati. Di saat kita mencintai, maka kita pun belajar memaafkan dan mencintai ketidaksempurnaan karena cinta bisa saling melengkapi dan saling mengisi. Namun, dalam mencintai, bersikaplah wajar dan apa adanya, jangan berlebihan dan menganggap sempurna karena hanya Yang Maha Cinta yang pantas menerima penghambaan sempurna.

  Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda

  : ‚Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah musuh atau orang yang kamu benci sewajarnya saja, karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu. ‛ Hadits ini memiliki makna yang dalam dan perlu perenungan yang benar-benar tulus. Ketika kita mencintai sesuatu atau seseorang, biasanya kita menganggapnya yang paling istimewa bahkan sempurna, sehingga ketika suatu hari menemukan kekurangannya kita merasa kecewa bahkan terluka luar biasa. Tanpa cinta, memang sengsara. Namun, berharap pada cinta manusia, tak selalu indah. Bersandar pada cinta insani, tak selalu bahagia. Kewajaran dalam mencintai dapat menuntun hati pada kesiapan menerima berbagai kemungkinan. Kalaupun sakit, tidak larut dalam rasa sakit dan memelihara luka. Jika bahagia pun, tidak lena dalam rasa bahagia hingga lupa berpijak pada kenyataan. Karena itulah, cinta merupakan proses belajar mencintai cinta itu sendiri, bukan sekadar merasakan dan menikmati rasa cinta semata.

  Belajar mencintai berarti belajar mengelola harapan. Ketika kita berharap banyak pada cinta manusia, maka bersiaplah terluka karena harapan tak selalu seindah kenyataan. Dan di saat kita memberi harapan pada seseorang hingga ia mulai mencintai kita,

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah maka kita harus menjaga hatinya. Sekali kita melukainya atau meninggalkannya begitu saja, maka mungkin saja akan menjadi kenangan pahit dalam hidupnya yang tidak bisa dilupakannya sepanjang ia mengingat kita.

  Belajar mencintai berarti belajar menerima apa adanya bukan mengharapkan kesempurnaannya.. Menerima kekurangannya, menghargai kelebihannya, sehingga kita tidak akan membanding- bandingkannya. Mungkin tanpa kita sadari, membandingkan merupakan tanda mengejar kesempurnaan yang kelak akan kita sesali ketika kita kehilangannya. Belajar mencintai berarti belajar untuk memiliki dan belajar membebaskannya. Memiliki hatinya tak berarti mengungkung raga dan pemikirannya. Cinta bukan sekadar benar atau salah, kepatuhan atau pembangkangan. Cinta adalah penghargaan, pengertian dan penyesuaian, bukan sekadar menyamakan segala bentuk keinginan dan mematikan segala bentuk perbedaan. Cinta itu ketulusan untuk saling membahagiakan dengan yang ada yang kita bisa. Perbedaan merupakan warna indah yang akan menyemarakkan nuansa cinta. Persamaan merupakan ikatan yang akan membangun kepercayaan satu sama lain.

  Kalau demikian adanya maka kebosanan menjadi hal yang naif dan selayaknya disikapi secara dewasa karena kebosanan merupakan kodrat dan keniscayaan setiap manusia, sehingga kebosanan bukan harus dimusuhi tetapi dinikmati. Terkait dengan menikmati kebosanan ini ada cerita menarik sebagai berikut. Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya. Tamu:

  ‛Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?‛ Pak Tua: ‛Bosan adalah keadaan di mana pikiran menginginkan perubahan,mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.‛ Tamu:

  ‛Kenapa kita merasa bosan?‛ Pak Tua:

  ‛Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.‛ Tamu: ‛Bagaimana menghilangkan kebosanan?‛ Pak Tua: ‛Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.‛ Tamu:

  ‛Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?‛ Pak Tua:‛Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?‛ Tamu: ‛Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.‛ Pak Tua: ‛Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.‛ Tamu: ‚Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?‛ Pak Tua: ‛Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat.

  Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.‛ Lalu Tamu itu pun pergi.

  Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi. Tamu: ‛Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?‛

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Pak Tua: ‛Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak- kanakan.‛ Tamu: ‛Contohnya?‛

Pak Tua: ‛Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.‛

  Lalu Tamu itu pun pergi. Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

  Tamu: ‛Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?‛ Sambil tersenyum Pak Tua berkata: ‚Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.‛ Setiap orang yang telah menjalin hubungan pasti pernah merasakan bosan dengan pasangannya terutama bagi orang yang sudah menikah. Ada anggapan bahwa semakin panjang usia pernikahan, makin redup cinta dihati, yang tersisa hanyalah rutinitas dan interaksi yang hambar dalam keseharian. Bagaimana hal itu menurut pandangan Islam? Dalam islam pernikahan adalah komitmen untuk membangun dunia akhirat. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kematangan dan kesiapan pribadi-pribadi yang terikat dalam pernikahan itu. Kematangan dicirikan dengan kesiapannya memposisikan diri sebagai pemberi kebaikan. Di dalam pernikahan sumber energinya adalah cinta. Dengan cinta yang tulus, masing-masing pribadi akan mampu selalu memberikan yang terbaik bagi pasangannya.

  Cinta sejati akan mendorong seseorang melakukan kebaikan pada pasangan dan selalu berusaha membuat pasangannya menjadi semakin baik dari waktu ke waktu, dengan berbagai cara agar pasangannya dapat terus tumbuh dan berkembang. Cinta merupakan pekerjaan hati yang perlu terus dipupuk dan dirawat agar tetap hidup. Cinta yang dibiarkan tak terawatt ibarat tanaman yang kering, gersang dan lama-lama akan mati. Merawat cinta harus ada keinginan dari dua pihak, yaitu suami dan istri. Tidak bisa hanya dari satu pihak saja. Komitmen cinta perlu dijaga sepanjang waktu agar kehidupan rumah tangga tidak sekadar rutinitas. Ada beberapa fase perkembangan dalam pernikahan yang perlu diwaspadai agar cinta tidak semakin redup dan kemudian padam. Beberapa fase rawan dalam pernikahan itu antara lain: 1.

  Masa awal pernikahan. Tahu-tahun pertama memang masa bulan madu yang penuh bunga tetapi sekaligus juga merupakan fase penyesuaian diri. Terkadang muncul rasa kaget mengetahui sosok asli atau siapa sebenarnya pasangan kita yang mungkin bisa saja memunculkan kekecewaan. Sehingga dibutuhkan upaya untuk saling membantu dalam beradaptasi.

  2. Masa punya balita. Masa ini memunculkan kesibukan mengurus bayi yang bisa mengakibatkan kelelahan. Tetapi

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah disisi lain sebenarnya dapat semakin memekarkan cinta dengan hadirnya buah cinta.

  3. Masa anak mulai sekolah. Rata-rata keluarga muda akan mengalami berbagai persoalan terkait masalah ini. Misalnya, kelelahan mendampingi anak belajar, masalah keuangan terkait biaya sekolah,juga mendampingi anak menghadapi fase baru dalam hidupnya. Semua itu bisa menjadi batu sandungan dalam menjaga cinta.

  4. Masa anak mulai beranjak remaja. Pada masa ini anak terkadang mulai susah diatur yang terkadang bisa berimbas pada hubungan cinta orang tua. Saling menyalahkan dan saling merasa benar dalam proses mendidik. Terkadang suami menganggap istri tidak mendidik anak dengan benar sementara istri merasa bahwa mendidik anak bukan hanya kewajiban istri tapi juga kewajiban suami sebagai ayah. Terkadang muncul perasaan pada ibu bahwa ayah tidak terlalu peduli pada masalah anak. Hal ini bisa menjadi batu sandungan dalam merawat cinta antara suami dan istri.

  5. Masa anak-anak beranjak dewasa. Dan mulai mandiri, kemudian pergi dari rumah untuk terpisah hidup terpisah dari orang tua. Masa ini bisa menim-bulkan kekosongan. Sehingga jangan jadikan anak sebagai satu-satunya perekat cinta suami dan istri.

  Lalu bagaimana menjaga cinta itu?.Pernikahan boleh semakin berumur, tetapi bara cinta harus tetap menyala. Ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk menjaga cinta agar selalu baru, antara lain:

  Pertama, eksperimen cinta. Cinta harus diekspresikan agar pasangan tahu dan merasakan bahwa kita mencintainya.

  Mengekspresikan cinta bisa dengan berbagai cara. Ucapkan lewat kata kata, tuliskan dalam bentuk surat cinta, puisi atau kirim lewat pesan-pesan singkat.

  Kedua, Bagaimana dengan efek sentuhan cinta?. Setiap kali

  sentuhan kasih sayang diberikan pada manusia, tubuhnya segera memproduksi oxytocin yang akan merangsang munculnya rasa tentram, kata Anne Taylor. Itu juga sebabnya, anak yang sering mendapat sentuhan kasih sayang dari orang tuanya sejak bayi akan menjadi semakin sehat fisik dan psikologis. Sesekali berikan sedikit sentuhan-sentuhan kecil terhadap pasangan, mengusap kepala, mengusap tngan, menjawil pipi, menggaruk punggung, akan menguatkan deklarasi cinta anda. Tentu saja anda memperhatikan situasi dan di mana anda memberikan sentuhan ini.

  Ketiga, Beri bantuan. Kerjasama rumah tangga mungkin saja

  sudah menjadi bagian rutin hari-hari anda berdua. Pola pembagian pun menjadi begitu jelas. Ayah bekerja di kantor dan bunda dirumah, atau ayah mencuci dan ibu menyetrika. Tetapi bantuan- bantuan kecil yang tidak diminta mempunyai arti plus pada hubungan anda. Bila selama ini suami selalu menyiapkan segala keperluannya sendiri, tentu akan menjadi sesuatu yang manis jika istri sesekali menyiapkan keperluan kerja suami. Begitu juga istri akan merasa terkejut dan bahagia apabila di tengah kelelahannya, ia pulang dan mendapati kamar tidur sudah rapid an wangi. Bantuan-bantuan tak terduga semacam ini tentu akan menambah hangat hati pasangan dan semakin hari semakin bertambah rasa cintanya pada anda.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  Keempat, Dukunglah cinta anda. Cinta tidak hanya hasrat dan

  sayang. Cinta adalah juga kerelaan untuk mendampingi pasangan dalam susah maupun senangnya, dalam sempit maupun lapangnya, dan sibuk dan santainya, dalam suka dan dukanya, dalam kaya dan miskinnya, dalam sukses dan gagalnya, dalam sehat dan sakitnya. Memberikan segelas minuman hangat saat ia, misalnya gagal dalam meraih kemenangan dalam lomba penulisan, bahkan sekadar memberikan senyum paling manis saat suami berkata uang bulanan sudah menipis adalah contoh dukungan- dukungan kecil yang dapat anda tunjukkan pada pasangan.

  Kelima, Jangan pelit pujian. Mengucapkan aspek positif diri pasangan dihadapannya langsung, dapat menurunkan kadar stress.

  Sebaliknya, mengugkapkan aspek negative pasangan akan menambah beban stresnya. Tak heran, Rasulullah saw yang tengah mengalami keguncangan dan ketakutan pasca-pertemuan pertamanya dengan jibril di gua hira merasa tentram setelah khadijah ra, yang memulai penghiburannya dengan pujian terhadap pribadi rasul.

  Keenam, Munculkan segala kebaikannya.Meskipun anda tidak

  sedang berada di dekat pasangan anda, kenang dan munculkan selalu segala kebaikannya. Ungkapkan hanya yang indah, positif dan baik tentang pasangan anda. Tak ada gunanya mempublikasikan keluhan dan complain tentang pasangan ke ruang public. Sebaliknya, tinggalkan atau alihkan apabila teman atau tetangga anda mulai mengeluh tentang suami atau istrinya.

  Ketujuh, Sisihkan waktu berdua.Sesibuk apapun anda berdua

  dalam mengurus pekerjaan dan rumah tangga, selalu sisihkan waktu untuk berdua saja. Tanpa anak-anak, orang tua, mertua dan urusan lain. Menyisihkan waktu sepanjang malam, menjelang tidur, untuk saling bercerita tentang kejadian hari itu, atau merancang program-program untuk esok hari juga bermanfaat dalam meneguhkan hubungan anda menjadi lebih dekat dan harmonis.

  Kedelapan, Berikan panggilan khusus. Banyak terjadi, nama kita berubah sejak menikah, menjadi papa mama atau ayah bunda.

  Sebagai peneguh peran keibuan dan kebapakan tentu tidak masalah. Tetapi membuat panggilan khusus untuk membahasakan diri anda berdua justru akan mengingatkan bahwa diri anda masih memiliki peran lain, masih bisa bermanja dan masih menjadi orang yang istimewa di mata pasangan. Panggilan sayang tidak hanya terdengar romantic tetapi juga lebih mengungkapkan cinta dan sayang. Jangan pernah menganggap pasangan kita adalah bekas pacar atau mantan kekasih karena hakikatnya justru setelah menikah dia adalah kekasih atau pacar kita sesungguhnya. Bahkan Rasulullah pun mempunyai panggilan sayang untuk istrinya. Sehingga istrinya bisa membedakan suasana hati rasul hanya dari cara rasul memanggilnya.

  Kesembilan, Dengarkan. Terampil berkomunikasi bukan hanya

  terampil bicara melainkan juga terampil mendengar. Saat pasangan tengah memiliki masalah yang membebani pikiran, maka mencurahkan perasaannya akan mampu mengurangi sebagian besar problem dan membuat lega, bahkan banyak orang yang bersedia membayar mahal seorang psikolog untuk sekadar mendengar segala keluh kesah dan curhat dari segala problem yang sedang dihadapi. Karena itu cobalah untuk tidak memotong perkataan pasangan yang sedang berkeluh kesah. Bahkan ketika

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah sedang bertengkar, latihlah untuk bergantian mendengar semua complain.

  Kesepuluh, Bagaimana menghadapi kejengkelan pasangan?

  Tiga kata ajaib. Tolong, terima kasih, dan maaf adalah tiga kata ajaib pemanis hubungan yang bahkan telah diajarkan kepada kita sejak masih dalam buaian. Tiga kata ini diakui para ahli sebagai kata yang paling menyenangkan dan menenangkan hati. Karenanya jangan pernah merasa aneh atau segan bila setiap kali suami memberikan uang belanja, kita katakan terima kasih dengan tulus (walaupun kita merasa toh itu sudah kewajiban dia). Atau ketika istri mengambilkan makan untuk suami, suami pun mengucapkan hal yang sama dengan tulus pula. Apa yang keluar dari hati, pasti akan mampu menyentuh hati pasangan kita.

  Kesebelas, Cemburu. Banyak yang berpendapat cemburu

  adalah tanda dan bumbu cinta, asalkan tidak berlebihan dan tetap pada tempatnya. Cemburu juga bisa menjadi salah satu benteng untuk menjaga agar pasangan tidak melakukan sesuatu yang menyimpang. Kita harus merasa cemburu ketika pasangan melakukan sesuatu yang menyimpang. Kita harus merasa cemburu ketika pasangan melakukan sesuatu yang tidak sesuai tuntunan. Selama rasa cemburu itu masih rasional, maka itu justru akan memperkuat hubungan dengan pasangan.

  Atas Nama Kebosanan dan segala sesuatu yang terkait dengannya, berikut adalah cerita singkat sebagai kata akhir. Wajah tirusnya tampak bercahaya, meski dipenuhi kerutan sebagai simbol kalau usianya tak muda. Selebihnya, tak ada yang berubah dari diri Pak Masykuri. Bicaranya irit dan masih perlahan namun sangat tertata, bahkan cenderung menjauhi banyak basa-basi. Tatapan pria paruh baya ini tetap khas dan menyejukkan, senantiasa membuat orang lain betah berada di dekatnya.

Lakon hidupnya masih sama, menjadi imam shalat maghrib dan isya’ selepas berladang di sepetak lahannya. Sejak dahulu

  sampai sekarang, surat Alquran yang dibacanya setelah surat al-Fatihah (pembukaan), tidak ada yang berubah. Rakaat pertama dia membaca surat al-Kafirun (orang-orang kafir), kemudian rakaat keduanya membaca surat al-Ikhlas (Memurnikan Keesaan Allah). Selalu, selalu dan selalu begitu, tidak pernah berubah. Banyak jamaahnya yang merasa jemu dan bosan dengan kebiasaan Pak Maskuri. Padahal kami tahu kalau Pak Masykuri juga banyak hafal surat-surat yang lain, seperti al- A’la (Yang Paling Tinggi) atau al-Insyiqaq (Terbelah). Yang lumayan lebih panjang. Terbukti kalau beliau kebagian giliran mengimami shalat jum’at, surat-surat tersebut kerap dibacanya. Kebiasaan tersebut sudah berlangsung sekian lama, dan tak ada orang yang berani protes. Bisa jadi karena Pak Masykuri termasuk tokoh sepuh dilingkungan kami. Seorang anak muda yang sekaligus masih keponakannya yang memendam rasa penasaran, sebenarnya saya sih juga sih, namun karena beliau adalah mertua jadi pekewuh untuk memberanikan diri bertanya saat kami menunggu keputusan pemerintah penentuan Idul Fitri kemarin. ‚Kenapa sih kalau Pak De selalu membaca qul ya…dan qul hu …(istilah untuk menyebut surat al-Kafirun dan al-Ikhlas), apa nggak ada yang lain?‛ kami yang berkumpul diberanda mushalla sontak merasa senang karena pertannyaan kami selama ini terwakili. Mendengar pertannya tersebut beliau tampak tenang. Ia tak terlihat kaget atau gusar, meski pertanyaan sepupu tadi tak

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah sesuai dengan yang kami perbincangkan saat itu, yang membincang tidak seragamnya umat Islam bangsa ini dalam berlebaran. Raut wajahnya tetap kalem. Sesungging senyum membuat deretan giginya yang tak lagi utuh terlihat jelas. ‘‘Pertanyaan yang bagus. Sudah sejak lama saya menunggu- nunggunya!‛ kami merasa tambah penasaran dan tak sabar untuk mendengar alasannya. ‚Kalau kita bicara jemu atau bosan, perasaan saya sama seperti kalian-kalian saat menjadi makmum shalat saya.

  Persoalannya tidak sesederhana itu. Saya bisa memvariasikan bacaan surat Alquran dalam tiap-tiap rakaatnya. Tapi tidak mau! Hati saya berat.‛ Kami bertambah bingung dengan jawaban-jawaban Pak Masykuri. Kena bapak mertua saya ini begitu berat untuk membaca surat-surat Alquran yang lain? Sepertinya tidak ada persoalan yang perlu dikhawatirkan. Malah dengan memvariasikan bacaan surat Alquran dalam tiap-tiap rakaat shalat, membuat jamaah tidak jemu dan bosan, dugaan saya dalam hati. ‚sebelum saya tuntaskan jawaban, saya terlebih dahulu ingin bertanya, ‚Apakah kalian semua tahu arti atau kandungan ayat-ayat dalam surat Alquran yang saya baca?‛ ‚Insya Allah, taulah Pak De!‛ ‚Saya kira sebagian besar dari kita tahu, tapi sekadar hanya tahu, tidak lebih! Di situlah persoalannya.‛ Kami dibuat semakin bingung dengan jawaban-jawaban beliau. ‚he..he..he..(ketawa kecil ini pun langka buat beliau) maaf kalau saya membuat kalian semua bingung. Saya merasa begitu berat kalau tidak membaca Qul ya

  … dan Qul hu… dalam rakaat shalat. Sebab, banyak dari kita hanya sebatas tahu artinya, tapi sedikit yang mau mengamalkannya. Surat al-Kafirun tegas-tegas menyatakan kalau sebagai pengikut Nabi Muhammad saw. Kita tidak boleh menyembah apa yang menjadi sesembahan orang kafir. Tapi apa yang terjadi? Perilaku keseharian kita tidak jauh beda dengan mereka. Kita percaya tiada Tuhan selain Allah, tapi tanpa sadar kita menjadikan penunggu pohon beringin besar, penunggu rumah tua atau penguasa laut selatan sebagai tuhan.

  ‚Dalam surat al-Ikhlas juga diberi penegasan tentang kemurnian ke-esaan Allah Swt. Dan meolak segala kemusyrikan serta menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya. Tapi lagi-lagi kita hanya faham artinya. Perilaku yang kita perlihatkan benar-benar jauh dari maksud ayat tersebut. Kita begitu gandrung dengan ajimat atau rajah yang kata pembuatnya bisa menghindarkan seseorang dari marabahaya. Padahal hanya Allah Swt. yang merajai dan mempunyai kuasa terhadap alam semesta. Saya merasa, sampai detik ini kita masih saja melakukan ritual-ritual yang tak perlu itu. Saya akan tetap menbaca qul ya…dan qul hu…dalam shalat, sepanjang kita tetap belum merubah perilaku kita yang salah. Bagi saya, itu menjadi bagian dari cara berdakwah ‛. Kalau saya menyimpulkan dialog diatas memberikan hikmah bahwa kebiasaan orang tua kita dulu yang membaca qul

  ya

  …dan qul hu…saat menjadi imam shalat, sebagai mana yang dilakukan Pak Masykuri mertua saya, ternyata mempunyai falsafah hidup yang begitu bernilai. Kadang atas nama kebosanan kita menginginkan perubahan, padahal, hidup bukanlah sekadar kreatifitas dan variasi semata. Hidup adalah selarasnya pemahaman dan tindakan.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Abu Azzam Abdillah. (2007). Agar Suami tak Berpoligami: Meraih

  Simpati Suami Tanpa Menentang Syari. Bandung: Iqomatuddin Press.

  Ahmad Mubarok. (2002). Konseling Perkawinan. PT. Bina Rena Pariwara Cetakan ketiga Tahun 2002. Ali Qaimi. (2007). terjemahan: Abu Hamida MZ. Pernikahan: Masalah & Solusinya. Jakarta: Cahaya. Bernard, Hatorld W. & Fullmer, D.W. 1987. Principle of Guidance.

  Secon Edition. New York: Harper and Row Publisher. Bimo Walgito. (1984). Bimbingan dan Konseling Perkawinan.Yogyakarta: Yabit Fak. Psikologi UGM.

  BP4, Munas BP-4 XII dan Pengukuhan Nasional Keluarga Sakinah, Jakarta: BP4, 2001

  Brammer, L.M Shostrom, E.L. (1982). Therapeutic Psychology:

  Fundamentals of Counseling and Psychotherapy. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

  Brammer, Lawrence M. & Shostrom, E.L. 1982. Thepetic Psychology:

  Foundamentals of Counseling and Psychoterapy.New Jersey: Prentice-Hall. Brammer, Lawrence M. (1979). The Helping Relationship, Process and

skills, Prentice Hall Inc.,Englewood Cliffs, New Jersey.

Brown Duance J. Srebalus David. 1988. An Introduction to the

  Counseling Profession. USA: by Allyn & Bacon

  Bryant WK, Zick CD. 2006. The Economic Organization of the

  Household, Second Edition. Cambridge: Cambridge University Press. Buletin Mujahid edisi II Tahun 2004

  Burgess, Ernest W & Locke, Harvey J. (1960). The Family, From

  Institution to Companionship. New York: American Book Company.

  Collins R dan Coltrane S. 1996. Sociology of Marriage and the Family:

  Gender, Love, and Property. Fourth Edition. Chicago: Nelson-

  Hall Publishers Corey, Gerald. (2004). Theory and Practice of Counseling and

  Psychotherapy. Monterey, California: Brooks/Cole Publishing

  Company Dadang Hawari (2006). Marriage Counseling (Konsultasi Perkawinan). Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dadang Hawari, (2006). Marriage Counseling. Balai Penerbit FK.UI.Jakarta tahun 2006. Dagun, 2002, Psikologi Keluarga, Jakarta Dinarsari Ekadewi, ‚Psikologi Perkawinan dan Keluarga‛makalah disampaikan dalam Acara Kursus Calon Pengantin di

  Queen Garden Hotel Baturaden Purwokerto, 2-5 Juni 2010

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah Elida Prayitno, Konseling Keluarga, Padang: FIP Universitas Negeri Padang

  Gibson, Robert L Mitchell, Marianne H. (1986). Introduction to

  Counseling and Guidance. New York: MacMillan Publishing Company.

  Gonsuelo Sevilla, Pengantar Metode Penelitian, terj. Alimudin Tuwu, Jakarta: UI Press, 1993 Hershenson, David B.; Power, Paul W.; & Waldo, Michael. 1996.

  Community Counseling, Contemporer Theory and Practice.

  Massachusetts, A Simon & Scuster Company. hhtp://www.konseling.net http://www.alenatore.com/belajar-mencintai.html.

  Imam Subarno, Menikah Sumber Masalah, Yogyakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004, Imbercoopersmith, Evan. 1985. Teaching Trainee To Think In Triad.

  Journal of Marital and Family Therapy, Vol.11, No.1,61-66. James T Burtchaell, Keputusan untuk Menikah: Kenapa Harus Seumur

  

Hidup?, Terj. Petrus Bere, Yogyakarta: Kanisius, 1990

  Kendall, Philip C. & Norton-Ford, Julian. Professional Dimension

  Scientific and Professional Dimension. USA, John Willey and Sons, Inc.

  Latipun. (2008). Psikologi Konseling. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. Lembaran Negara RI Tahun 1974 No. 1. (1974). Undang-Undang

  Republik Indonesia Nomer 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

  Mengemas Kebosanan Pasca-Menikah

  Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995)

  M. Arifin, Tatang, Menyusun Rencana Penelitian, (Jakarta: Rajawali Pers, 1982)

  Mahmudah, 2009, Memaknai Perkawinan Dalam Perspekif Kesetaraan

  Studi Kritis Hadis-Hadis Tentang Perkawinan, Jakarta: Rajagrafindo Persada.

  May Rollo.2003. The Art of Counseling. New Jersey: Prentice Hall, Inc Mohammad Surya (1995). Bina Keluarga. Kumpulan Naskah dalam

  Acara Psikologi Keluarga di TVRI Stasiun Bandung dan Tulisan-tulisan Mengenai Pendidikan dalam keluarga. Yayasan Amal Bakti Ibu, Bandung. Nichols, F.H. dan Goldstein, A.P. 1984. Family Therapy: Concept and Methods. New York: Gardner Press Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake

  Sarasin, 1996 Perez JF. Family Counseling, New York: Van Nostrand, 1979 Perez, Joseph F. 1979. Family Counseling: Theory and Practice. New York, Van Nostrand, Co.

  Redaksi, ‚10 Masalah Utama Setelah Menikah‛ yang dimuat oleh Harian Kompas 31 Mei 2010

  Rohadi Abddul Fatah, ‚Mengelola Problematika Perkawinan dan

Keluarga‛, makalah disampaikan dalam Acara Kursus

  Calon Pengantin di Queen Garden Hotel Baturaden Purwokerto, 2-5 Juni 2010 Rono Sulistyo. (1977). Pendidikan Sex. Bandung: Elstar Offset.

  Sawitri Supardi Sadarjoen. (2005). Konflik Marital: Pemahaman

  Konseptual, Aktual, dan Alternatif Solusinya. Bandung: Refika Aditama.

  Sayekti Pujosuwarno, 1994. Bimbingan Dan Konseling Keluarga.

  Yogyakarta: Menara Mas Offset Sikun Pribadi dan Subowo. (1981). Menuju Keluarga Bijaksana, Bandung: Yayasan Sekolah Istri Bijaksana.

  Sinolungan, A.E. (1979). Pengaruh Keluarga di Dalam Masalah Kecenderungan Nakal Siswa Remaja pada SMA-SMA Manado.

  (Disertasi). Bandung: Sekolah Pascasarjana IKIP Bandung. Soeharto. (1986). Sumbangan Keutuhan Keluarga dan Inteligensi Anak

  Terhadap Adekuasi Penyesuaian Dirinya (Thesis). Bandung: Fakultas Pasca-Sarjana.

  Soeharto. (2007). Konseling Kesehatan Seksual. (Makalah).

  Surakarta: Pusat Studi Kesehatan Seksual. Sofyan Willis. (1997). Konseling Keluarga, Sejarah, Teknik, dan Proses. Diktat Perkuliahan Jurusan PPB FIP IKIP Bandung.

  Tabloid Nakita Edisi VII Tahun 2009 TO. Ihromi, Bunga Rampai Sosiologi Keluarga, Jakarta: Yayasan Obor

  Indonesia, 1999 Wimpie Pangkahila. (2006). Seks yang Membahagiakan: Menciptakan Keharmonisan Suami Istri. Jakarta: Kompas.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (311 Halaman)
Gratis