Mencermati Kesiapan Indonesia Menghadapi Krisis Ekonomi Global

Gratis

0
0
60
11 months ago
Preview
Full text

  DAFTAR

  ISI Warta anggaran | 23 Tahun 2012

LAPORAN UTAMA

  5 LAPORAN KHUSUS

  9 PERENCANAAN ANGGARAN

  13 PNBP 26 PROFIL 30 BERITA 34 LIPUTAN 36 RENUNGAN 46 ENGLISH CORNER

  48 INTERMEZO 49 LAPORAN UTAMA

  5 POJOK FOTO

51 Berdasarkan data historis

  khususnya pada triwulan III 2011, Mencermati Kesiapan seluruh bursa saham di dunia,

  KALEIDOSKOP 53 mengalami volatilitas yang cukup

  Indonesia tinggi dan cenderung terkoreksi negatif tidak terkecuali Indonesia.

  PERISTIWA 58 Selama periode triwulan III 2011,

  Menghadapi Krisis Ekonomi Indeks Harga Saham Gabungan

  Global LAPORAN PROFILE DUTA SPAN (2) :

  Perlu Komitmen dan Kerjasama

  KHUSUS

  Yang Nyata dan Sungguh- Sungguh Agar SPAN Dapat

  Berhasil

  9 Penerapan

30 Klasifikasi Dalam

  CRA (Change Readiness Assessment)

  Penyusunan

  II merupakan salah satu tools yang

RKA-K/L

  berbentuk survey untuk melihat

  Undang-Undang Nomor 17 Tahun

  kesiapan para pegawai DJA dalam

  2003 tentang Keuangan Negara

  menerima perubahan terkait

Bab II Mengenai Kekuasaan

  implementasi SPAN. Partisipasi para

  Keuangan Negara, Pasal 6

  pegawai dalam CRA II dapat dijadikan

  mengatur bahwa “Presiden selaku

  parameter untuk melihat seberapa

  Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan

  jauh komitmen para pegawai untuk

  negara sebagai bagian dari

  mendukung implementasi SPAN

  kekuasaan pemerintahan, dan Kekuasaan tersebut dikuasakan kepada Menteri Keuangan, ...

  Redaksi menerima kritik saran, pertanyaan, atau sanggahan terhadap masalah-masalah yang berkait dengan keuangan sektor publik Salam Redaksi Edisi 23 Tahun 2012

  PENGARAH Direktur Jenderal Anggaran

PENANGGUNG JAWAB

  Sekretaris Ditjen Anggaran REDAKTUR

REDAKTUR PELAKSANA

  Warta anggaran |

  Hormat kami, Redaktur

  Akhirnya, selamat menikmati majalah Warta Anggaran, semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan para pembaca. Salam.

  Tentu untuk lebih memuaskan para pembaca Warta Anggaran, kami tidak lantas berpuas diri atas apa yang telah kami perbuat di tahun 2011. Kami akan terus berupaya memperbaiki Warta Anggaran baik dari sisi desain layout maupun content. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan masukan dari para pembaca untuk mewujudkan Warta Anggaran yang lebih bisa diterima di hati para pembaca. Saran dan masukan dapat disampaikan ke redaksi Warta Anggaran : wartaanggaran@gmail.com. Kami sangat berharap agar majalah Warta Anggaran dapat dijadikan salah satu referensi di bidang penganggaran.

  Guna memuaskan para pembaca maka kami berupaya memperbaiki kualitas majalah baik dari sisi penampilan maupun informasi yang akan disajikan kepada pembaca. Untuk itu, mulai edisi 23 tahun 2011 kami menambahkan rubrik baru : Pojok Photographi. Rubrik ini akan berisi tips, triks dan pengetahuan seputar photographi serta foto-foto terbaik hasil karya pegawai DJA.

  Hal penting lainnya adalah dimasukkannya pasal yang mengatur bagaimana penyelesaian krisis dalam UU APBN. Hal ini sebagai bukti bahwa setiap saat Pemerintah melakukan perbaikan terus menerus agar kualitas APBN semakin meningkat dari waktu ke waktu.

  Tahun 2011 merupakan tahun yang penuh dinamika terutama dalam penyusunan APBN 2012. Rapat- rapat pembahasan APBN 2012 yang dilakukan Pemerintah dengan DPR dilakukan secara terbuka sehingga masyarakat luas mengetahui apa yang terjadi dalam pembahasan APBN. Hal ini dilakukan semata- mata demi terwujudnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran Negara.

  Apabila ditanya apa resolusi anda dalam menghadapi hari yang baru di tahun yang baru, jawabannya pasti semua ingin menjadi lebih baik dari hari dan tahun sebelumnya. Pun apabila kami - team Majalah Warta Anggaran - ditanya tentang resolusi 2012 jawabnya adalah bisa memberikan informasi penganggaran bagi pembacanya. Berat memang, tapi memang itu harus terus diupayakan agar kebijakan-kebijakan penganggaran dapat disampaikan kepada sebanyak-banyaknya pihak yang membutuhkan informasi.

  Redaksi menerima artikel untuk dimuat dalam majalah ini. Artikel ditulis dalam huruf Arial 11 spasi 1.5 maksimal 5 hal. Artikel dapat dikirim ke wartaanggaran@gmail.com Isi majalah tidak mencerminkan kebijakan Direktorat Jenderal Anggaran

  Gedung Sutikno Slamet Lt. 11 Jl. Dr. Wahidin No.1 Jakarta 10710 Telepon : (021) 3435 7505

  Ihsan Maulana Eko Prasetyo ALAmAT

  Niken Ajeng Lestari

  Dana Hadi Mujono Basuki KEUANGAN

  Zunaidi - Arief Masdi - Sudadi

  I.G.A Krisna Murti - Agus Kuswantoro Puji Wibowo - Afrizal - Triana Ambarsari Rini Ariviani - Asrukhil Imro - Mujibuddawah Eko Widyasmoro - Sunawan Agung S. - Achmad

  Meriyam Megia Shahab

DESAIN GRAFIS DAN FOTOGRAPHER

TATA USAHA DAN DISTRIBUSI

23 Tahun 2012

AMA AMA UT UT LAPORAN LAPORAN

  Mencermati Kesiapan Indonesia Menghadapi Krisis Ekonomi Global

  23 Tahun 2012 Warta anggaran | Krisis utang dan fiskal di kawasan Eropa dan Amerika Serikat yang tak kunjung terselesaikan telah memicu kekhawatiran akan kembalinya krisis perekonomian global. Memburuknya kondisi perekonomian di kawasan Eropa yang dipicu risiko gagal bayar Yunani mengakibatkan penurunan rating utang beberapa negara Eropa lainnya, bahkan berujung pada pengunduran diri beberapa kepala pemerintahan.

  Sementara itu, Amerika Serikat saat ini sedang menghadapi resesi ekonomi sebagai dampak permasalahan fiskal dan pelemahan di sektor industri. Berbagai analisis menyatakan bahwa berlarut- larutnya penanganan krisis di Eropa dan Amerika Serikat berpotensi menyebabkan perlambatan perekonomian global sebagaimana krisis tahun pada tahun 2008-2009.

  Jika terjadi gejolak pada perekonomian global maka dampaknya secara langsung akan ditransmisikan ke suatu negara melalui jalur pasar keuangan. Krisis Eropa dan Amerika Serikat yang terjadi saat ini telah menyebabkan pasar keuangan di seluruh negara bergejolak. Gejolak tersebut timbul karena aksi penarikan modal oleh investor sebagai akibat meningkatnya sentimen negatif pasar akan risiko investasi, terutama sejak peringkat utang Amerika Serikat diturunkan dan

  Yunani berisiko gagal bayar.. Berdasarkan data historis khususnya pada triwulan III 2011, seluruh bursa saham di dunia, mengalami volatilitas yang cukup tinggi dan cenderung terkoreksi negatif tidak terkecuali Indonesia. Selama periode triwulan III 2011, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami pelemahan yang cukup tajam yaitu sebesar 8,7% meskipun pelemahan tersebut tidak seburuk pelemahan yang terjadi pada bursa saham negara-negara kawasan (lihat Grafik 1). Di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) juga terjadi aksi jual yang cukup besar khususnya selama bulan September 2011.

LAPORAN UT AMA

  Tercatat pada bulan September, asing menjual kepemilikannya pada SBN sebesar Rp29,3 triliun dan pada SBI Rp13,9 triliun (lihat Grafik 2). Jumlah tersebut merupakan aksi jual terbesar s e p a n j a n g berjalannya tahun

  2011.Selanjutnya, dampak krisis ekonomi global juga akan menyebar ke negara- negara di berbagai kawasan melalui jalur perdagangan. Krisis Amerika Serikat dan Eropa saat ini, diperkirakan akan berdampak pada pelemahan perekonomian global dan selanjutnya akan mengganggu p e r t u m b u h a n e k o n o m i n e g a r a - n e g a r a di dunia khususnya dari sisi ekspor.

  Data perekonomian dunia terakhir menunjukkan bahwa indikasi perlambatan ekonomi di berbagai kawasan sudah tampak sejak kuartal II tahun 2011, terutama di negara-negara maju (lihat Grafik 3). Terkait dengan hal tersebut IMF telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi di berbagai negara termasuk Indonesia (lihat Tabel 1).

  Sebagai negara dengan sistem perekonomian terbuka, Indonesia tentunya tidak dapat menghindar dari dampak negatif krisis perekonomian global mengingat perekonomian Indonesia saat ini sangat terkait dengan rantai perdangan dunia. Itulah sebabnya IMF turut menurunkan target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 menjadi 6,2 persen dan 6,4 persen pada tahun 2012. Hal ini menjadi perhatian setiap negara dalam rangka mengantisipasi dampak yang ditimbulkan. Lantas sejauh manakah kesiapan Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis ekonomi ke depan? Indonesia saat ini dinilai relatif lebih siap menghadapi dampak krisis ekonomi global. Optimisme tersebut antara lain dapat ditunjukkan oleh fundamental perekonomian Indonesia yang cukup baik, serta ditunjang dengan kondisi politik yang stabil. Pemerintah juga telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi

  K

  Mencer mati Kesiapan Indonesia Menghadapi Krisis Ekonomi

  • -14.6
  • -25.1 -25.4 -12.7 -8.7 -26.5 -11.4 -18.4 -23.1 -30.0 -25.0 -20.0 -15.0 -10.0 -5.0
  • 0.0 Cina Perancis Jerman India Indonesia Italia Jepang AS EU Persen (%) Grafik 1. Koreksi Bursa Saham Di Dunia, Juli - September 2011 Sumber: CEIC, diolah (2011) -29.29 -13.88 -60 -50 -40 -30 -20 -10 10 20 30 40 J an 1 Fe b 1 Ma r 1 A p r 1 Ma y 1 Ju n 1 J u l 1 A u g 1 S e p 1 O c t 1 N ov 1 D e c 1 J an 1 1 Fe b 1 1 Ma r 1 1 A p r 1 1 Ma y 1 1 Ju n 1 1 J u l 1 1 A u g 1 1 S e p 1 1 O

    c

    t

    1

    R

    1

    ( p t r il iu n ) Grafik 2. Net Foreign Buying (SBN dan SBI) SBI SBN Sumber: Bloomberg, diolah Warta anggaran |

    23 Tahun 2012

      dalam menghadapi krisis ekonomi global ke depan.

      Fundamental Ekonomi Indonesia Cukup Kuat

      Fundamental ekonomi Indonesia pada tahun 2011 memperlihatkan ketahanan yang cukup baik sebagai modal utama dalam menghadapi krisis ke depan. Kuatnya fundamental perekonomian Indonesia saat ini dapat ditunjukkan oleh beberapa indikator terkini makro ekonomi Indonesia terkini.

    LAPORAN UT AMA

      Di tengah kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dunia, ternyata pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai dengan triwulan III mampu tumbuh 6,5 persen (yoy). Ekspor, konsumsi, dan investasi masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011. Namun demikian, dampak krisis ekonomi Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan akan mulai terasa pada tahun 2012 terutama terhadap kinerja ekspor Indonesia. Meskipun demikian, perlambatan yang terjadi diharapkan tidak terlalu drastis mengingat total porsi ekspor Indonesia khususnya non migas ke Amerika Serikat dan seluruh Uni Eropa relatif kecil yaitu sekitar 23 persen (posisi Jan – Sep 2011). Saat ini ekspor Indonesia sebagian besar diarahkan ke negara- negara Asia (lihat Grafik 3). Indonesia tetap harus waspada terhadap second round effect krisis Amerika dan Eropa yang akan memukul kinerja ekspor Indonesia, terutama pada saat krisis secara global telah menyebar ke negara-negara Asia.

      Pertumbuhan ekonomi yang cukup menjanjikan pada tahun 2011 juga didukung oleh stabilitas moneter yang terkendali. Tingkat Inflasi sampai dengan bulan Oktober 2011 relatif rendah yaitu berada pada level 4,4 persen (yoy) dan sampai dengan akhir tahun 2011 diperkirakan berada dibawah 5 persen. Di sisi lain, meskipun menghadapi tingginya tekanan eksternal beberapa waktu terakhir yang sempat melemahkan posisi rupiah namun nilai tukar rupiah sampai dengan akhir Oktober masih mengalami apresiasi sekitar 5 persen (jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2010).

      Di sisi lain, berdasarkan posisi cadangan devisa saat ini, otoritas moneter dinilai masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan. Posisi cadangan devisa Indonesia sampai dengan bulan Oktober 2011 mencapai sebesar US$113,96 miliar atau cukup untuk membiayai 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri. Jumlah tersebut masih berada di atas standar International Monetary Fund (IMF) yang menetapkan batas aman cadangan devisa adalah untuk 3 sampai 4 bulan. Dengan demikian, stabilitas sektor moneter diharapkan akan tetap dapat terjaga dengan baik. Dari sisi perbankan, Indikator industri ini juga menunjukkan kondisi yang cukup baik sebagaimana tercermin pada rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR), Rasio Kredit Bermasalah (Non Performing Loan/NPL), dan pertumbuhan penyaluran kredit. Posisi CAR pada bulan September 2011 mencapai sekitar 16 persen atau jauh di atas standar minimal BI sebesar 8 persen. Sedangkan NPL pada periode yang sama yaitu sebesar 2,7 persen atau relatif masih cukup rendah jika dibandingkan standar maksimum BI sebesar 5 persen. Sampai dengan triwulan

      III 2011, penyaluran kredit perbankan juga masih menunjukkan peningkatan sebesar 24,2 persen (yoy) yang sebagian besar ditujukan untuk pembiayaan kegiatan ekonomi produktif. Indikator kinerja keuangan pemerintah relatif masih cukup sustainable. Defisit APBN cukup terkendali dibawah batas maksimum sebesar 3 persen terhadap PDB. Rasio utang pemerintah (sekitar 25% terhadap PDB) masih jauh dibawah

      ASEAN 21% CHINA 12% JEPANG 11%

      INDIA 9% USA 10% UNI EROPA 13% Korea Selatan 4%

      Lainnya 20% Grafik 3. Ekspor Non Migas Indonesia Berdasarkan Negara Tujuan (Jan-Sept 2011)

      Warta anggaran |

      23 Tahun 2012

      Mencer mati Kesiapan Indonesia Menghadapi Krisis Ekonomi Perkiraan Awal (Juni 2011) Perkiraan Terkini (Sept 2011) Perkiraan Awal (Juni 2011) Perkiraan Terkini (Sept 2011) Dunia 4,3 4,0 4,5 4,0 Negara Maju 2,2 1,6 2,6 1,9 AS 2,5 1,5 2,7 1,8 Zona Eropa 2,0 1,6 1,7 1,1 UK 1,3 1,1 2,3 1,6 Jerman 3,2 2,7 2,0 1,3 Jepang -0,7 -0,5 2,9 2,3 Cina 9,2 9,5 8,8 9,0 Negara Berkembang 6,6 6,4 6,4 6,1 Asean-5 5,4 5,3 5,7 5,6 Indonesia 6,2 6,4 6,5 6,3 Malaysia 5,5 5,2 5,2 5,1 Philipina 5,0 4,7 5,0 4,9 Thailand 4,0 3,5 4,5 4,8 Vietnam 6,3 5,8 6,8 6,3 Sumber: World Economic Outlook, IMF Tabel 1 : Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Kawasan 2011 2012 ambang batas maksimal sebesar 60% terhadap PDB. Rasio tersebut juga relatif lebih rendah di antara negara-negara di kawasan Asia. Disamping itu, tabungan pemerintah dalam bentuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) cukup memadai sebagai salah satu sumber pembiayaan defisit APBN apabila diperlukan (lihat Tabel 2).

    LAPORAN UT AMA

      3 Nilai Tukar (Rp/USD) 8.610,3 8.740,0 8.800,0

      Mencer mati Kesiapan Indonesia Menghadapi Krisis Ekonomi

      Warta anggaran |

      2012 Tabel 2 : Indikator Makro Ekonomi

      5 Rasio Utang (% thd PDB) 25,0 25,0 24,0 2011 Indikator No

      4 Defisit APBN (% thd PDB) 2,1 1,7 1,5

      Langkah Antisipasi Pemerintah

      Ibarat pepatah “Sedia Payung Sebelum Hujan”, pemerintah sedini mungkin telah mempersiapkan kebijakan untuk mengantisipasi krisis ekonomi Amerika Serikat dan Eropa sebelum berkembang menjadi krisis global yang semakin memburuk. Dari sisi fiskal, pemerintah telah mempersiapkan langkah-langkah kebijakan apabila terjadi keadaan darurat yang perlu mendapatkan penyelamatan dari APBN. Langkah antisipasi tersebut secara legal dituangkan di dalam UU APBN Perubahan Tahun Anggaran 2011 (pasal 36A) dan UU APBN Tahun Anggaran 2012 (pasal 40, 41, dan 43).

      1 Pertumbuhan Ekonomi (yoy) 6,5 6,5 6,7

      Realisasi s.d Oktober

    Outlook

      Wisynu Wardhana dan Arif Kelana Putra Seksi Analisis Ekonomi Makro, Subdit Analisis Ekonomi Makro dan Pendapatan Negara Direktorat Penyusunan APBN, DJA - Kemenkeu

      Kuatnya fundamental perekonomian domestik dan kebijakan antisipasi krisis yang dipersiapkan pemerintah cukup menggambarkan optimisme kesiapan Indonesia dalam menghadapi dampak krisis ekonomi global. Kesiapan tersebut tentunya perlu diikuti dengan ketepatan dan efektifitas implementasi kebijakan baik dari sisi waktu maupun instrumen yang digunakan dalam mitigasi krisis.

      Keuangan dalam rangka menstabilisasi pasar SBN domestik. Selanjutnya, kewenangan pemerintah terkait antisipasi krisis di perluas di dalam UU APBN 2012. Pada tahun 2012, Pemerintah diberikan kewenangan untuk mengambil diskresi kebijakan apabila terjadi (i) penurunan yang signifikan terhadap indikator asumsi ekonomi makro, (ii) krisis sistemik dalam sistem keuangan dan perbankan nasional, serta (iii) kenaikan biaya utang. Diskresi kebijakan tersebut meliputi (i) efisiensi dan efektivitas belanja negara, (ii) penerbitan utang baru di atas target yang ditetapkan serta (iii) mencari alternatif sumber pembiayaan lainnya, Langkah antisipasi pemerintah sebagaimana dijelaskan selanjutnya akan dituangkan secara teknis melalui Crisis Management Protocol (CMP) penanganan krisis. Kementerian Keuangan saat ini sedang menyelesaikan 3 CMP yaitu CMP di pasar Surat Berharga Negara (SBN), CMP di pasar modal, dan CMP di sisi fiskal. Secara teknis CMP ini merupakan Standard Operation Procedure (SOP) dalam mengambil langkah-langkah mitigasi jika terjadi krisis, agar tindakan pencegahan dan pemulihan dapat dieksekusi secara cepat dan efektif. Sementara itu, Pemerintah terus aktif dan intensif melakukan kerjasama dengan berbagai negara dalam mempercepat penyelesaian krisis ekonomi global, baik itu dikawasan regional ASEAN maupun pada forum G20. Di dalam negeri, pemerintah juga siap dengan program-program infrastruktur dan perlindungan sosial dalam rangka memperkuat permintaan domestik di tengah melemahnya permintaan eksternal. Pemerintah juga dinilai memiliki kapasitas fiskal yang cukup memadai untuk memberikan stimulus fiskal tambahan di luar program regular yang telah ada, apabila dibutuhkan dalam rangka mendorong perekonomian domestik seperti pada saat krisis tahun 2009 yang lalu.

      Di dalam UU APBN-P 2011, pemerintah diberikan kewenangan yang bersifat diskresi dalam menghadapi kondisi sudden reversal (penarikan secara tiba-tiba) di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Kewenangan tersebut meliputi tindakan untuk menggunakan SAL oleh Menteri

      2 Inflasi (%) 4,6 4,9 5,3

    23 Tahun 2012

    LAPORAN KHUSUS

      APBN Dari Kaca Mata Akademisi Wawancara dengan Dr. Kodrat Wibowo (Dosen Fakultas Ekonomi – UNPAD) “ APBN 2011 : Sudahkah Menjadi Trigger Bagi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat ? ” Untuk melengkapi topik bahasan Warta Anggaran pada edisi ini, team WARTA berkesempatan mewawancarai ekonom dari Universitas Padjadjaran – Bandung, Dr. Kodrat Wibowo. Dosen UNPAD yang merupakan alumnus University of Oklahoma, Norman, USA menyampaikan beberapa pandangannya terkait pengelolaan APBN dan kondisi perekonomian di Indonesia. Berikut beberapa pandangannya yang disampaikan kepada team WARTA (Riny, Ully dan Dhana)

      23 Tahun 2012 Warta anggaran |

      Menurut Anda bagaimana peranan APBN dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional?

    LAPORAN KHUSUS

      Subsidi berapapun tidak akan cukup jika subsidinya bersifat langsung untuk BBM. Kalau kita mau bicara masalah kesejahteraan, yang perlu dipikirkan yaitu subsidinya harus didorong atau dialihkan ke mana. Memang kita sadari, permasalahan mengenai subsidi tidak akan terselesaikan kalau secara sosial budaya program subsidi BBM ini didistribusikan ke masyarakat secara tidak bijak. Saya menghargai peran pemerintah yang membuat satu image bahwa BBM yang bersubsidi itu untuk masyarakat miskin tetapi halangan komunikasi dari tingkat atas ke bawah tidak mudah. Pada kenyataannya, subsidi BBM malah menggelembung terus, karena budaya kita tidak bisa melihat mana barang yang menjadi haknya dan mana yang bukan haknya sehingga subsidi BBM untuk orang miskin digunakan oleh orang yang mampu. Kita harus mengerti bahwa setiap kebijakan, terutama dalam kebijakan keuangan publik, kita punya masalah mengenai free rider. Apapun kebijakannya,

      Warta anggaran |

      Apapun yg kita punya, utamanya minyak sendiri ada 2 masalah, yaitu sebagai penerimaan dan sebagai beban subsidi. Harga minyak mentah internasional naik kita senang, karena pada awalnya penerimaan kita naik juga tetapi itu bukan sesuatu yang sekaligus kita terima. Pada saat yang sama atau setelah itu beban kita akan meningkat karena ada subsidi. Pemahaman kita adalah bagaimana cara meningkatkan produksi minyak sebesar-

      Meningkatkan produksi minyak nasional, untuk meningkatkan penerimaan migas. Bagaimana menurut Anda mengenai hal tersebut? Lifting minyak kita kan ada targetnya.

      Para free rider ini akan menyembunyikan frekuensi sebenarnya untuk kepentingan dia pribadi dengan membebankan kepada orang lain. Cara mengurangi beban subsidi ada beberapa cara, cara ekstrim yaitu dengan menghilangkan subsidi BBM secara langsung atau bertahap. Cara lain mungkin kita tetap dengan subsidi BBM tetapi dengan teknis di lapangan yang lebih bisa dikendalikan. Intinya, masalah ada di budaya kita, free rider memang tidak pernah menjadi pertimbangan dalam pembentukan kebijakan-kebijakan subsidi.

      free rider akan timbul bahkan di negara- negara maju sekalipun apalagi Indonesia.

      

    Alokasi subsidi sangat besar

    dan itu sangat membebani

    APBN kita. Strategi apa yang

    harus ditempuh pemerintah

    agar subsidi tidak berlebihan?

      APBN merupakan satu bagian dari sisi permintaan yang dianggap mampu memberikan dorongan kepada pertumbuhan ekonomi dengan bantuan

      memang kecil namun kalau kita budayakan akan menjadi pendorong yang cepat dalam pertumbuhan perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat.

      

    Social Responsibility (CSR). Pengaruh swasta

      Di Indonesia, APBN dalam porsinya terhadap PDB tidak mungkin hanya 20- 25% saja sehingga peran pemerintah tidak dominan. Ini berarti bahwa kalau kita bicara mengenai belanja modal yang sedikit, peran swasta yang kita harapkan. Tetapi perlu diingat bahwa pihak swasta mempunyai motif mencari untung. Sehingga swasta tidak dapat diharapkan untuk memberikan perhatian kepada publik secara penuh dan optimal. Dalam hal ini, Pemerintah harus tahu diri, posisinya dalam APBN dan perannya sebagai trigger, sehingga Pemerintah harus mengakomodasi kegiatan swasta. Sedangkan swasta berperan langsung dalam kapasitasnya sebagai lembaga swasta dan tanggung jawab sosialnya, misalnya sebagai Corporate

      

    Bagaimana Anda memandang

    campur tangan swasta dalam

    perekonomian nasional?

      lewat APBN masih kecil terhadap pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya dorongan langsung tetapi juga dorongan yang tidak langsung juga yaitu multiplikasi, ada semacam percepatan. Sedikit saja Pemerintah mendorong, pertumbuhan ekonomi bisa jadi akan lebih cepat. Sebagai bagian yang tidak dapat berdiri sendiri, pola kegiatan perekonomian masyarakat yang bisa menjadi andalan perekonomian nasional dan swasta akan saling mempengaruhi. Ketika kegiatan perekonomian masyarakat agak sedikit lambat atau baru mulai bergerak, swasta tidak dapat berperan banyak. Pada saat itulah peran APBN sangat penting. Kenapa dampak APBN tidak begitu nyata terhadap kesejahteraan masyarakat? Kita harus sadar, dalam hal ini pemerintah hanyalah trigger. Dalam kacamata keilmuan, tidak ada yang namanya perekonomian atau pertumbuhan PDB hanya didorong oleh Pemerintah semata kecuali kita berbicara mengenai sistem perekonomian yang sosialis atau komunis. Sedangkan sistem ekonomi politik kita adalah demokrasi dan membutuhkan dorongan dari pihak swasta. Sebesar-besarnya uang yang digelontorkan melalui APBN tidak ada gunanya kalau tidak men-trigger perekonomian di masyarakat swasta. Memang dalam hal ini, APBN yang ada kita rasakan tidak dapat menjadi trigger secara sempurna dalam perekonomian. Apabila Program-program yang ada sifatnya masih belanja rutin dan tidak langsung mana yang bisa sampai ke swasta kecuali dalam APBN kita mayoritas ada di belanja modal, akan terasa lebih berdampak langsung pada swasta.

      multiplayer. Pengaruh belanja pemerintah

    23 Tahun 2012

      besarnya. Dan itu bukan hanya tanggung jawab Kementerian Keuangan, ini juga berhubungan dengan BP Migas, kontrak dengan pihak asing yang resiko politiknya lebih besar. Dalam hal ini, janganlah berbicara tentang memproduksi dengan sebesar-besarnya. Kita harus mencari strategi lain, ketergantungan subisdi BBM ini harus kita kurangi. Hal ini bukan karena daya beli kita rendah. Memang budaya kita tidak bisa menerima kalau ada yang murah kenapa harus beli yang mahal.

    LAPORAN KHUSUS

      Bagaimana pandangan Anda soal utang luar negeri?

      Tidak haram sebuah negara berhutang bahkan negara yang paling maju pun punya utang banyak, contoh Amerika. Untuk menutupi defisit yang semakin besar, kita mau berusaha mencari jalan keluar yang mana? Kita punya pengalaman yang tidak baik tentang utang luar negeri, makanya kita beralih pada utang dalam negeri yaitu SBN, ORI dll. Kita bisa paham bahwa defisit itu meningkat bukan masalah ketidakmampuan kita, kadang itu suatu strategi. Jika defisitnya berkurang atau mendekati ke balance orang akan menilai kita lebih mampu. Tetapi bagi saya, kalau kita ingin maju kita harus defisit untuk mendorong semua orang seaktif dan seoptimal mungkin menutupi defisit ini. Pilihan utama memang utang, kalau kita bicara utang, misalnya utang dalam negeri, sama kah bahayanya dengan utang luar negeri? Kita melihat utang dalam negeri bisa menunjukkan bahwa tanggung jawab pembiayaan APBN diluar penerimaan dan belanja merupakan tanggung jawab masyarakat umum dimana ada opsi-opsi tertentu yang bisa dijadikan sebagai suatu alat penerimaan. Ini salah satu yang membuat Bank Indonesia agak sulit dalam mencapai target pencairan kredit investasi ke masyarakat. Umumnya, orang akan mencari portofolio yang paling aman, dengan jaminan yang jelas sehingga investasi yang produktif lebih memilih SBN. Pada intinya, utang itu bukan merupakan masalah asal dikelola dengan baik, utamanya utang domestik yang paling bijak.

      Apakah pengelolaan penerimaan perpajakan sudah optimal di mata anda?

      Bagi saya, yang namanya penerimaan negara itu penerimaan pajak. Itu harus menjadi merger source of revenue negara, tidak lagi tergantung SDA, minyak dan lain-lain. Di negara manapun sumbangsih masyarakat itu penting, satu rupiah pun itu adalah tanda kalau masyarakat peduli. Pajak harus didorong menjadi merger dalam APBN kita. Upaya Kementerian Keuangan sudah bagus, salah satunya adalah sensus pajak. Hal ini merupakan satu langkah strategis mengingat kita tahu siapa yang menjadi potensial wajib pajak dengan jumlah wajib pajak yang meningkat sampai 10 kali lipat dari 2005-2010 tetapi belum bisa dimanfaatkan. Jumlah NPWP ini coba disisir kembali dengan kemampuan wajib pajak itu membayar. Jujur saja, saya orang kampus masih bingung dalam mengisi SPT pajak, mana source of income kita yang memang bisa dipajak atau memang budaya terhadap para pihak yang mengambil atau memotong pajak kadang-kadang tidak terbiasa melaporkan kepada pembayar pajak sehingga tidak tahu berapa jumlah pajak yang dibayar. Dan yang lebih krusial penerimaan pajak beberapa tahun terakhir meningkat menuju arah yang dominan dalam penerimaan negara. Pembayar pajak yang dominan itu adalah pajak perusahaan dan mereka riskan terhadap gonjangan bisnis. Ketika mereka mengalami gulung tikar, penerimaan pajak bisa ambrol. Sedangkan pajak dari masyarakat tidak akan hilang sehingga penerimaan pajak kita potensial dari pajak individu. Kemenkeu seharusnya menciptakan mekanisme akuntabilitas/ mekanisme penerimaan pajak sampai ke belanjanya. Secara keilmuan memang tidak tepat karena ada korespondensi pajak dan ada slot tertentu dalam penggunaan pajak. Selama ini di kita, masalah pajak itu adalah masyarakat butuh kejelasan, mereka bayar pajak untuk apa?

      Beban belanja pegawai kita dalam APBN sangat tinggi sehingga salah satu upaya yang ditempuh oleh Pemerintah adalah diberlakukannya Moratorium penerimaan Pegawai Negeri Sipil. Bagaimana Anda memandang hal ini?

      Moratorium itu merupakan langkah insidentil dan responsive. Kita sadari, ini berbahaya kalau ada anggapan masyarakat bahwa mereka harus membayar pajak demi kesejahteraan para PNS. Belanja pegawai yang kita serap itu merupakan belanja langsung yang terkait dengan kinerja. Masyarakat yang membayar terhadap kinerja kita. Kita harus memiliki PNS yang tepat dan berkualitas bukan cuma kuantitas. Bagaimana kita membina PNS yang ada baik di pusat maupun daerah kalau kita masih berhadapan dengan pemikiran masyarakat jangan- jangan kita memperbesar belanja pegawai untuk sesuatu yang tidak terukur. Moratorium memang langkah responsive tetapi bukan langkah yang tepat. Direktorat Jenderal Anggaran bisa mendorong tiap K/L yang mengangkat Reformasi Birokrasi untuk membuat mekanisme penilaian kinerja pegawainya sehingga matriks insentif dan disinsentif bisa dijalankan demi meningkatkan produktifitas pegawai. Saya kira bukan masalah selama memang belanja pegawainya punya output dan outcome yg terukur.

      Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 Lahir di Bogor, 15 April 1971, Kodrat Wibowo merupakan salah satu Doktor muda yang dimiliki Universitas Padjajaran Bandung. Doktor yang mempunyai spesialisasi di bidang keuangan publik, mikroekonomi, ekonomi pembangunan dan ekonometrika, saat ini selain ditunjuk sebagai Lektor Kepala di UNPAD Bandung juga sebagai Ketua ISEI Bandung tahun 2011 - 2014. Untuk mempermudah menjalankan tugasnya tersebut, Kodrat Wibowo – yang juga alumnus UNPAD Bandung tahun 1994 jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan – saat ini tinggal di Jl. Antariksa No. 12 Arcamanik Bandung.

      Penyerapan belanja Pemerintah selalu menjadi sorotan karena realisasi penyerapannya selalu menumpuk di akhir tahun. Apa yang menyebabkan penyerapan K/L rendah?

      Bulan Juni kemarin masih ada K/L penyerapannya 10%, mungkin ini salah satu kesulitan kita yaitu keluar dari

    LAPORAN KHUSUS

      framework kalender anggaran. Mekanisme pencairan bisa jadi salah satu penyebabnya.

      Penyerapan yang lemah sangat tergantung dari rencana program dan kegiatan yang K/L punya. Pada saat disetujui mulai dari pagu indikatif sampai definitif tidak pernah jelas kapan mulainya, apa tujuannya dan lain-lain, sehingga membuat K/L terlambat dalam penyerapan. Pada bulan Agustus ada penyerapan 30%, justru yang terserap itu adalah belanja pegawai yang paling mudah, belanja modalnya belakangan dan kegiatan yang sifatnya produktif masih sedikit. Cara paling mudah adalah mencari simpul- simpul aliran dan penyerapan dana APBN, penyerapan yang rendah tandanya belum ada pekerjaan yang dilaksanakan. Ini sudah menjadi penyakit menahun dan menjadi kebiasaan, sampai masyarakat swastapun sudah hafal, sehingga swasta bukan bekerja berdasarkan target bulanan tetapi mereka akan selalu menunggu bulan- bulan rame penyerapan. Seharusnya perlu dipikirkan bagaimana cara membuat real time penyerapan K/L sebagai rewarning system (sistem deteksi dini) untuk melihat mana yang tidak memenuhi target.

      Bagaimana seharusnya mekanisme pengawasan Transfer ke Daerah?

      Harusnya ada suatu sistem informasi yang dibangun untuk memonitor transfer ke daerah. Ada satu celah yang dapat dimanfaatkan yaitu Penguatan Peran Gubernur sebagai wakil pusat di daerah. Kalau peran Gubernur semakin kuat, dia akan mampu melakukan pengawasan uang yang mengalir ke daerah dan kedepan akan dibangun juga yang disebut self assessment,

      pengawasannya dimulai dari daerah itu sendiri. Pengawasan penganggaran tidak akan optimal kalau ada hambatan informasi yang akurat dan cepat. Jangan sampai semua terlambat, masak kita masih mengurusi penyalahan anggaran 2 tahun yang lalu. Sangat kelihatan sekali kita masih lemah dalam masalah pengawasan ini sehingga kasus keluar ketika waktu sudah lewat. Seharusnya kan namanya pengawasan itu selama anggaran berjalan. Mungkin kalau setelah anggaran berjalan itu kewenangan audit.

      Terakhir, terkait dana pendidikan yang dialokasikan sebesar 20 persen dari anggaran belanja keseluruhan, apakah hal ini sudah sesuai dengan kaidah-kaidah penganggaran?

      Alokasi APBN sebesar 20 % untuk dana pendidikan adalah amanat UU. Suka atau tidak, kondisi ini menyebabkan terjadinya pengkotak-kotakan atau penguncian di beberapa bidang sehingga membuat kemampuan Kementerian Keuangan sebagai pengelola anggaran tidak fleksibel. Kita sering bicara masalah money follow

      function tetapi cuma sekedar cap saja, yang ada sebenarnya resource envelope .

      Pengalokasian anggaran seharusnya dikembalikan kepada prinsip money follow function, kecuali anggaran pendidikan yang sudah diamanatkan Undang-undang. Uang harus dialokasikan sesuai dengan apa yang sudah diatur sehingga apa yang menjadi aspirasi tidak terakomasi karena celah anggaran yang tidak dapat bergerak bebas. APBN yang kita harapkan sebagai salah satu pendorong perekonomian di sisi permintaan menjadi pendorong pertumbuhan paling minim peranannya. APBN sebagai trigger perekonomian dapat diimplimentasikan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara langsung.

    23 Tahun 2012

      Warta anggaran |

    PERENCANAAN ANGGARAN

      Penerapan Klasifikasi Anggaran Dalam Penyusunan RKA-K/L Anggaran Penerapan Klasifikasi

      Dalam Penyusunan RKA-K/L

      Oleh : Indro Trikuntjoro

      23 Tahun 2012 Warta anggaran | Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) telah menyelenggarakan sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor : 101/ PMK.02/2011 tentang Klasifikasi Anggaran tanggal 2 – 3 Nopember 2011, bertempat di Gedung Dhanapala, Jakarta Pusat. Acara tersebut bertujuan agar penerapan klasifikasi anggaran berdasarkan PMK baru dapat diterapkan dalam penyusunan RKA-K/L tahun anggaran 2012. Target utama peserta adalah para perencana di lingkungan DJA dan dari Kementerian Negara/Lembaga.

      PMK Nomor 101/PMK.02/2011 tentang Klasifikasi Anggaran merupakan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan RKA K/L. Klasifikasi anggaran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari implementasi pendekatan penganggaran terpadu. Pasal 5 ayat (2) PP No.90 Tahun 2010 menyatakan bahwa “RKA KL disusun secara terstruktur

      dan dirinci menurut klasifikasi anggaran, yang meliputi : (a) klasifikasi organisasi, (b) klasifikasi fungsi, (c) klasifikasi jenis belanja.

      Berdasarkan hal tersebut, PMK No.101/ PMK.02/2011 mengatur pedoman umum klasifikasi organisasi, klasifikasi fungsi, dan klasifikasi jenis belanja. Uraian di bawah ini menjelaskan substansi yang diatur dalam PMK dimaksud dan pemutakhiran penerapan akun belanja.

      Klasifikasi Organisasi

      Amanat Pasal 6 ayat (2) UU No.17 Tahun 2003 menyatakan bahwa Presiden selaku Kepala Pemerintahan memberikan kuasa pengelolaan keuangan negara, salah satunya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang Kementerian Negara/Lembaga (K/L) yang dipimpinnnya. Masing-masing K/L dapat mengetahui berapa alokasi anggaran yang dikelolanya melalui pengelompokkan alokasi anggaran berdasarkan nomenklatur K/L sebagaimana TUPOKSI yang didelegasikan Presiden. Daftar kelompok pengelola anggaran berasal dari APBN inilah yang kita kenal dengan istilah Bagian Anggaran (BA). Tata cara penilaian suatu K/L menjadi BA telah diatur dalam PMK Nomor 93/ PMK.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA KL. Saat ini, KL yang telah ditetapkan sebagai BA tersendiri berjumlah 113 Unit, tetapi yang saat ini aktif digunakan berjumlah 80 unit.

      klasifikasi fungsi

      Amanat Pasal 7 ayat (1) UU No.17 Tahun 2003 menyatakan bahwa kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara digunakan untuk mencapai tujuan bernegara. Makna tersirat dari pernyataan tersebut, alokasi belanja negara harus diarahkan kepada penyelenggaraan fungsi-fungsi suatu pemerintahan dalam rangka pencapaian tujuan bernegara. Nomenklatur fungsi dan sub fungsi (tercantum dalam lampiran

      II PMK), mengacu kepada Government Finance Statistics tahun 2001 (GFS Manual 2001). GFS Manual 2001 disusun oleh IMF berdasarkan hasil kajian atas penerapan fungsi-fungsi pemerintahan di seluruh dunia. Jumlah fungsi tersebut merupakan fungsi minimal (dasar) pemerintahan yang pasti ada di seluruh negara di dunia. Kesebelas fungsi tersebut terdiri dari : (1) Fungsi Pelayanan Umum; (2) Fungsi Pertahanan; (3) Fungsi Ketertiban dan Keamanan; (4) Fungsi Ekonomi; (5) Perlindungan Lingkungan Hidup; (6) Fungsi Perumahan dan Pemukiman; (7) Fungsi Kesehatan; (8) Fungsi Pariwisata dan Budaya; (9) Fungsi Agama; (10) Fungsi Pendidikan; dan (11) Fungsi Perlindungan Sosial.

      K/L pengemban suatu TUPOKSI yang secara tersurat memiliki kesesuaian dengan nomenklatur fungsi maupun subfungsi dan/atau sesuai dengan penjelasan pada subfungsi (tercantum pada lampiran II PMK ini), K/L tersebut mengelola sebagian keuangan negara pada alokasi belanja negara di kelompok fungsi dimaksud. Ada 2 (dua) fungsi yang perlu mendapat perhatian lebih dalam penerapan penyusunan RKA- K/L: Fungsi Pelayanan Umum; dan Fungsi Pendidikan. Tujuannya agar tidak salah memahami pengelompokan atas fungsi dimaksud. Fungsi Pelayanan Umum tidak identik dengan penyelenggaraan unit layanan umum yang ada pada semua kesekretariatan KL. Fungsi ini harus dilihat sebagai fungsi pemerintahan yang memberikan dukungan kepada penyelenggaraan fungsi utama lainnya. Oleh karena itu tidak

    PERENCANAAN ANGGARAN

      seharusnya alokasi belanja K/L pada

      unit kesekretariatan terpisah dengan unit teknis yang melaksanakan fungsi utama yang lain. Lebih tegasnya, tidak semua K/L melaksanakan fungsi ini.

      Fungsi Pendidikan merupakan amanat Pasal 49 ayat (1) UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Batasan pengertian pendidikan harus dipahami dengan bijak. Saat ini, batasan pengertian pendidikan masih terlalu luas, sehingga pengawasan penggunaan fungsi ini belum dapat dilakukan sebagaimana mestinya. Kecenderungan atas penggunaan fungsi ini lebih didominasi oleh kebijakan politis dan sarana bagi KL untuk mendapat alokasi belanja negara.

      Warta anggaran |

      Penerapan Klasifikasi Anggaran Dalam Penyusunan RKA-K/L

    23 Tahun 2012

      Klasifikasi Jenis Belanja

      Amanat Pasal 11 ayat (5) UU No.17 Tahun 2003 menyatakan bahwa belanja negara dirinci menurut organisasi, fungsi, dan jenis belanja. Klasifikasi jenis belanja lebih diarahkan untuk tujuan manajemen anggaran (baca : transaksi yang bersifat kas) yang sangat penting untuk pengendalian anggaran dan monitoring. Tegasnya, tujuan penerapan jenis belanja pada penyusunan RKA K/L: guna mewujudkan akuntabilitas transaksi sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran yang berperan mencatat transaksi yang telah terjadi, menyajikan dan mengungkapkannya dalam laporan keuangan.

    PERENCANAAN ANGGARAN

      Pemutakhiran Penerapan Akun Belanja

      3. Belanja Bantuan Sosial untuk Pemberdayaan Sosial;

      Penerapan Klasifikasi Anggaran Dalam Penyusunan RKA-K/L

      23 Tahun 2012

      Kepala Seksi Klasifikasi Anggaran Warta anggaran |

      Penulis adalah :

      6. Belanja Bantuan Sosial untuk Penanggulangan Bencana.

      5. Belanja Bantuan Sosial untuk Penanggulangan Kemiskinan;

      4. Belanja Bantuan Sosial untuk Perlindungan Sosial;

      2. Belanja Bantuan Sosial untuk Jaminan Sosial;

      Pengaturan lebih lanjut penerapan jenis belanja dalam penyusunan RKA K/L mengacu pada PMK No.91/PMK.05/2007 tentang Bagan Akun Standar. PMK ini mengatur bahwa Bagan Akun Standar selanjutnya dikelola/dikurangi/ditambah oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan c.q. Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan (selanjutnya disebut Dit. APK). Dalam rangka penganggaran tahun 2012, Dit. APK melakukan langkah berupa pemutakhiran beberapa akun belanja. Tujuannya jelas: 1) pengguna (para perencana) yang menyusun/menelah dokumen penganggaran mempunyai persepsi sama atas penerapan akun belanja; dan 2) penertiban penggunaan akun belanja dalam pengalokasian anggaran/ belanja sesuai dengan akidah akuntansi yang berlaku umum. Pemutakhiran ini berkaitan dengan dua jenis belanja: Belanja Barang dan Bantuan Sosial.

      Jenis belanja yang digunakan dalam penganggaran: (51) Belanja Pegawai, (52) Belanja Barang, (53) Belanja Modal, (54) Belanja Bunga Utang, (55) Belanja Subsidi, (56) Belanja Hibah, (57) Belanja Bantuan Sosial, dan (58) Belanja Lain-Lain. Sejak tahun anggaran 2011, penerapan klasifikasi jenis belanja pada dokumen RKA K/L dan DIPA menggunakan kelompok 2 (dua) digit. Namun demikian, penyusunan RKA K/L pada formulir kertas kerja tetap menggunakan kelompok 6 (digit) mengacu Bagan Akun Standar (BAS).

      Kelompok transaksi belanja barang ini untuk menampung pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan kepada masyarakat atau entitas lain yang tujuan kegiatannya tidak termasuk dalam kriteria kegiatan bantuan sosial. Termasuk dalam kelompok ini adalah kelompok transaksi belanja barang penunjang kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Sedangkan pemutakhiran akun belanja untuk Bantuan Sosial diatur lebih lanjut berupa pengelompokan akun belanjanya. Perbedaan pengaturan akun belanja Bantuan Sosial yang baru dengan yang lama: 1) penetapan kriteria Resiko Sosial (Bultek KSAP No.10 Tahun 2011) yang menjadi dasar klasifikasi belanja bantuan social; dan 2) pengelompokan yang lebih spesifik mengenai Bantuan Sosial. Pengelompokan belanja Bantuan Sosial tersebut terdiri dari :

      4. Belanja Barang untuk Masyarakat atau Entitas lain

      3. Belanja Barang Badan Layanan Umum Kelompok transaksi belanja barang ini untuk menampung semua pendanaan operasional BLU termasuk pembayaran gaji dan tunjangan pegawai BLU.

      2. Belanja Barang Non Operasional Kelompok transaksi belanja barang ini untuk menampung semua pendanaan dalam rangka pelaksanaan strategi pencapaian target kinerja suatu Satker dan umumnya pelayanan yang bersifat eksternal

      1. Belanja Barang Operasional Kelompok transaksi belanja barang ini untuk menampung semua pendanaan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar suatu Satker dan umumnya bersifat internal.

      Rincian Belanja Barang dalam PMK terbagi dalam:

      1. Belanja Bantuan Sosial untuk Rehabilitasi Sosial;

      PERENCANAAN ANGGARAN DJA Sukses “Naik Kelas” : Urgensi Dari Perumusan Arah, Proses, Prasyarat, Dan Identifikasi Peluang Serta Tantangannya

      Oleh : Purwiyanto Untuk suatu unit kerja yang mempunyai tugas rutin, proses kenaikan kelas bukanlah menjadi hal yang biasa. Hal ini dikarenakan platform unsur-unsurnya belum tentu secara khusus disiapkan untuk selalu naik kelas. Tentu berbeda dengan para siswa yang memang platformnya adalah naik kelas dan lulus. Meskipun terkait dan bisa didukung dengan baiknya kualitas pelaksanaan tugas rutin, tetapi kenaikan kelas bukanlah tugas rutin itu sendiri. Oleh karena itu, kenaikan kelas harus dikerjakan sejalan tetapi di luar tugas rutin, sehingga memerlukan upaya lebih keras.

    23 Tahun 2012

      Warta anggaran |

    LATAR BELAKANG PERLUNYA NAIK KELAS

      Menteri Keuangan, Agus Martowardojo berkali-kali menekankan agar Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) meningkatkan kemampuan nya sebagai pengelola anggaran negara. DJA diharapkan mampu meningkatkan perannya sehingga dapat “naik kelas” dari hanya sekedar budget administrator menjadi budget analyst.

    PERENCANAAN ANGGARAN

      Sebagai salah satu unit kerja pengelola keuangan negara, DJA mengemban tugas dan fungsi yang semakin berkembang dari waktu ke waktu, baik dalam pengelolaan belanja negara maupun pendapatan negara.

      Di sisi belanja, perkembangan tersebut menyangkut banyak aspek, baik volume anggarannya, kementerian negara/ lembaga (K/L) yang menjadi stakeholdernya, variasi komponen belanjanya, maupun jenis dan jumlah program/kegiatannya. Dalam tahun 2011, secara nominal belanja negara yang ditangani khususnya belanja pemerintah pusat (BPP) telah berkembang pesat sehingga mencapai sekitar 2,5 kali lipat dari kondisinya dalam tahun 2005. Perkembangan tersebut sejalan dengan tercapainya pertumbuhan rata-rata belanja pemerintah pusat yang mencapai 16,7 persen per tahun. Selain itu, PNBP yang menjadi tanggung jawab DJA secara nominal juga mengalami perkembangan pesat sehingga dalam tahun 2011 volumenya telah mencapai hampir dua kali lipat dari volumenya dalam tahun 2005. Perkembangan PNBP juga menyangkut banyak aspek, seperti volume pendapatan, jenis/ sumber pendapatan, tarif PNBP, serta pagu penggunaannya Konsekuensi logis dari perkembangan berbagai aspek pengelolaan anggaran negara tersebut, adalah meningkatnya tanggung jawab serta tantangan dan risiko yang harus dihadapi oleh DJA dalam pelaksanaan tugas, saat ini dan di masa depan. Dengan melihat trend perkembangan BPP dan PNBP dalam periode 2005-2011 tersebut, maka dalam lima tahun mendatang, volume anggaran yang harus dikelola oleh DJA bisa mencapai dua kali dari kondisi tahun 2011 yang berarti sekitar empat atau lima kali dari kondisinya dalam tahun 2005.

      Untuk mensikapi kondisi tersebut, siap memperbaiki kebijakan, regulasi, administrasi, serta manajemen pelaksanaan tugas agar kinerja DJA dalam pengelolaan anggaran negara di masa depan tidak mengalami penurunan, atau bahkan diharapkan menjadi jauh lebih baik dari kondisi sekarang. Kondisi tersebut sejalan dengan salah satu pendapat penting dalam teori ekonomi pembangunan yang menyatakan bahwa “untuk berada di tempat yang sama, kita harus selalu berlari lebih cepat”. Konsep tersebut kurang lebih dapat ditafsirkan bahwa untuk mempunyai kinerja yang sama pada tingkat tertentu, kita harus selalu bekerja secara lebih, dalam arti lebih keras, lebih cerdas, dan lebih baik. Naik kelas bagi DJA memang perlu diupayakan dengan sukses. Konsekuensinya, terdapat beberapa substansi penting yang perlu dipersiapkan dalam mencapai kesuksesan tersebut. Penulis bermaksud menyumbangkan pikiran untuk menyampaikan beberapa hal yang kiranya diperlukan bagi persiapan kenaikan kelas tersebut.

      ARAH NAIK KELAS

      Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

      Bab II Mengenai Kekuasaan Keuangan Negara, Pasal 6 mengatur bahwa “Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan, dan Kekuasaan tersebut dikuasakan kepada Menteri Keuangan, selaku pengelola fiskal dan Wakil Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang dipisahkan”. Selanjutnya, dalam

      Pasal 7 diatur bahwa “Kekuasaan atas pengelolaan keuangan negara digunakan untuk mencapai tujuan bernegara”, dan “Dalam rangka penyelenggaraan fungsi pemerintahan untuk mencapai tujuan bernegara tersebut, setiap tahun disusun APBN dan APBD. APBN yang merupakan wujud pengelolaan keuangan negara dan terdiri atas anggaran pendapatan, anggaran belanja, dan pembiayaan, harus disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan

      Di sisi pendapatan negara, yaitu penerimaan negara bukan pajak (PNBP), tugas DJA antara lain merumuskan kebijakan dan regulasi PNBP, perencanaan pagu penggunaan PNBP, dan monitoring serta evaluasi pengelolaan PNBP.

      Warta anggaran |

      23 Tahun 2012

      DJA Sukses “Naik Kelas”: Urgensi Dari Perumusan Arah, Proses, Prasyarat, Dan Identifikasi Peluang Ser ta T antangannya dalam menghimpun pendapatan negara. Secara teori, fungsi pemerintahan yang diselenggarakan untuk mencapai tujuan bernegara seperti disebut dalam undang- undang tersebut terdiri dari fungsi non ekonomi yang merupakan fungsi dasar pemerintahan dan fungsi ekonomi. Fungsi nonekonomi meliputi fungsi-pemerintah untuk menyelenggarakan pertahanan dan keamanan, peradilan, serta pelayanan umum. Sementara itu, fungsi ekonomi yang meliputi fungsi-fungsi (1) alokasi untuk membantu mengalokasikan sumber-sumber daya ekonomi secara efisien, (2) distribusi untuk memperbaiki distribusi pendapatan masyarakat, dan (3) stabilisasi untuk mengatasi masalah atau mencapai berbagai tujuan kinerja ekonomi makro. Sebagai bagian dari Kementerian Keuangan, DJA mempunyai tugas, baik di bidang belanja negara maupun di bidang pendapatan negara. Dengan demikian, dalam melaksanakan tugasnya, DJA harus mampu berperan dalam mencapai tujuan bernegara (menciptakan kesejahteraan masyarakat) sebaik mungkin melalui alokasi belanja negara secara efektif, efisien, dan berkualitas, sekaligus mengumpulkan pendapatan negara (PNBP) secara optimal.

    PERENCANAAN ANGGARAN

      Kondisi ideal dari tugas pengelolaan belanja negara antara lain adalah (1) perencanaan program/kegiatan yang sesuai kebutuhan, (2) alokasi anggaran yang efektif dan efisien, (3) pelaksanaan anggaran yang sesuai jadwal dan memenuhi kriteria

      good governance, serta (4) tercapainya output dan outcome yang direncanakan.

      Sehubungan dengan itu, pelaksanaan tugas DJA dalam mengalokasikan belanja negara (khususnya belanja pemerintah pusat) secara efektif, efisien dan berkualitas antara lain mencakup tugas-tugas terkait dengan (1) perumusan kebijakan dan regulasi di bidang belanja negara, (2) pengalokasian anggaran belanja negara, dan (3) monitoring serta evaluasi pelaksanaan anggaran. Dalam pelaksanaan tugas-tugas tersebut, belanja negara harus memenuhi kriteria efektif, efisien, dan berkualitas. Selanjutnya, penggunaan anggaran belanja negara secara efektif, efisien, dan berkualitas tersebut dapat dicapai melalui perencanaan anggaran yang akurat, serta proses pelaksanaan anggaran yang tepat jumlah, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat hasil. Oleh karena itu, kondisi naik kelas bagi DJA terkait dengan hal tersebut adalah meningkatnya kemampuan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kualitas belanja negara, khususnya belanja Pemerintah Pusat. Tolok ukur dari naik kelas tersebut, selain meningkatnya akurasi perencanaan yang antara lain ditunjukkan oleh tercapainya realisasi anggaran (penyerapan) secara tepat waktu dan jumlah, juga ditunjukkan oleh tercapainya

      

    output dan outcome dari kegiatan yang

    direncanakan dan anggaran yang digunakan.

      Di sisi pendapatan negara, yaitu penerimaan negara bukan pajak (PNBP), tugas DJA antara lain merumuskan kebijakan dan regulasi PNBP, perencanaan pagu penggunaan PNBP, dan monitoring serta evaluasi pengelolaan PNBP. Dalam hal ini, kondisi naik kelas bagi DJA adalah meningkatnya kemampuan untuk mengumpulkan pendapatan negara secara optimal, dalam arti melakukan perencanaan yang akurat, pengumpulan pendapatan yang optimal, dan mengelolanya sesuai dengan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG), sekaligus meningkatkan kinerja dari para stakeholder PNBP. Tolok ukur dari naik kelas tersebut, adalah meningkatnya akurasi perencanaan yang dihasilkan, yang antara lain ditunjukkan oleh tercapainya realisasi PNBP secara optimal dan tepat waktu. Perlu ditambahkan, bahwa pengertian optimal tersebut berarti sesuai dengan potensi yang ada, dengan tetap menjaga perkembangan objeknya.

      Selain DJA, dalam pelaksanaan proses pengelolaan anggaran juga melibatkan

      stakeholder lain, baik intern maupun

      ekstern Kementerian Keuangan. Dalam menjalani proses tersebut, tidak jarang diperlukan pembahasan sehingga diperlukan kemampuan untuk menjelaskan dan kekuatan tawar (bargaining power) yang tinggi. Secara filosofis, kemampuan untuk menjelaskan dan kekuatan tawar tersebut terkait dengan tingkat kompetensi organisasi dan SDM yang ditugaskan. Dalam hal ini, terminologi naik kelas bagi DJA kenaikan kemampuan untuk menjelaskan dan mempunyai posisi tawar yang kuat dalam berbagai pembahasan dan negosiasi di bidang pengelolaan anggaran dengan berbagai stakeholder.

    PROSES NAIK KELAS

      Untuk suatu unit kerja yang mempunyai tugas rutin, proses kenaikan kelas bukanlah menjadi hal yang biasa. Hal ini dikarenakan

      platform unsur-unsurnya belum tentu secara khusus disiapkan untuk selalu naik kelas.

      Tentu berbeda dengan para siswa yang memang platformnya adalah naik kelas dan lulus. Meskipun terkait dan bisa didukung dengan baiknya kualitas pelaksanaan tugas rutin, tetapi kenaikan kelas bukanlah tugas rutin itu sendiri. Oleh karena itu, kenaikan

      Warta anggaran |

      DJA Sukses “Naik Kelas”: Urgensi Dari Perumusan Arah, Proses, Prasyarat, Dan Identifikasi Peluang Ser ta T antangannya

    23 Tahun 2012

      kelas harus dikerjakan sejalan tetapi di luar tugas rutin, sehingga memerlukan upaya lebih keras. Untuk mencapai kenaikan kelas yang berkualitas, hal penting yang harus dimiliki oleh SDM DJA adalah platform seperti siswa berprestasi yang merasa harus naik kelas bahkan menduduki ranking tinggi, atau platform militer yang harus siap untuk menang dalam bertempur dan berperang dalam mempertahankan negara, atau para atlet yang harus menjadi juara dan mempertahankan kejuaraannya, atau bahkan memecahkan rekor. Untuk mencapai kesuksesan dalam mencapai suatu tujuan strategis tertentu, proses atau tahap-tahap pencapaian merupakan faktor penting dalam pencapaian tujuan tersebut. Oleh karena itu, proses pencapaian tersebut harus dirumuskan dengan matang, rinci, disepakati, dan dipahami, serta kemudian digunakan secara disiplin dan ditinjau ulang serta disempurnakan untuk menjalani langkah pencapaian tujuan tersebut.

    PERENCANAAN ANGGARAN

      DJA, khususnya identifikasi permasalahan yang bisa diselesaikan dan potensi yang bisa dikembangkan, (4) mempersiapkan rencana kerja dari implementasinya, payung hukum dan regulasi, serta anggaran dan fasilitas (5) implementasi pencapaian, yang dilakukan secara intensif, dan (6) monitoring, evaluasi, pelaporan, dan penyempurnaan terkait semua proses yang direncanakan dan dijalani.

      Prasyarat naik kelas secara berkualitas adalah hal-hal yang harus ada agar DJA bisa naik kelas secara berkualitas. Ketiadaan salah satu atau beberapa prasyarat tersebut akan menyebabkan tidak naik kelas, atau naik kelas tetapi tidak berkualitas. Sehubungan dengan itu, prasyarat yang harus tersedia dalam rangka naik kelas secara berkualitas antara lain adalah (1) kesepahaman dan kesediaan dari semua pemangku kepentingan DJA tentang perlunya naik kelas tersebut, serta kesadaran tentang dampak biaya dan manfaatnya (2) pengetahuan tentang posisi riil saat ini dan posisi kelas baru yang ingin dicapai, (3) PIC yang kredibel untuk menjadi agen pencapaian (mengelola) kenaikan kelas, (3) arah dan strategi yang jelas, terukur, konsisten, dan kontinyu, (4) SDM di tingkat analis dan teknis yang mempunyai disiplin keahlian yang memadai untuk berpikir dan bekerja multidimensi serta dikelola dan dikembangkan dengan baik dari semua aspek, baik recruitment, pembinaan, remunerasi/insentif, opportunity, maupun

      reward and punishment, (5) database yang

      memadai dalam arti valid, lengkap, tersedia secara kontinyu dan real time menyangkut pendapatan (langkah kebijakan, langkah administratif, realisasi penerimaan, potensi, tarif, objek, subjek, kondisi sektor ekonomi terkait, benchmark di negara lain), belanja (langkah kebijakan, langkah administratif, realisasi belanja negara, Volume input dan unit cost, ouput, outcome, benchmark di negara lain), (6) model yang akurat dan selalu dievaluasi serta disempurnakan (perencanaan, perk real, structural

      change, analisis dampak ekonomi makro),

    PRASYARAT NAIK KELAS

      (7) aturan yang representatif yang memperhitungkan implementasinya,

      Proses atau tahap yang diperlukan untuk naik kelas bagi DJA antara lain adalah (1) menyesuaikan pola pikir, sikap, perilaku, dan orientasi SDM dengan platform untuk naik kelas, antara lain menyadari bahwa tantangan tugas DJA akan semakin berat di masa depan, dan bila tidak disiapkan dari sekarang untuk menghadapinya maka tantangan tersebut akan menjadi masalah yang lebih kompleks di masa depan, (2) menyusun titik tujuan dari kenaikan kelas, strategi pencapaian, sekaligus organisasi atau task force sebagai PIC dari upaya untuk naik kelas (3) mengidentifikasi kondisi existing

      tertier), dampak dan respon stakeholder yg tidak distortif, (8) teknologi informasi yang representatif, (9) networking yang terkelola dengan baik sehingga dapat menjamin kelangsungan penyediaan dana, data/informasi, dan teknologi sesuai waktu, jumlah dan kualitas yang diperlukan, serta dukungan lain yang diperlukan. Selanjutnya, mengingat tugas DJA di bidang keuangan negara ini merupakan tugas yang selalu bekaitan dengan dinamika yang tinggi dari objek tugas tersebut, maka sikap antisipatif dan inovatif terhadapi perubahan tugas dan faktor penentunya, baik secara kuantitas maupun secara kualitas, (10) dilaksanakan tanpa menganggu kegiatan rutin DJA, atau bahwa diupayakan untuk bersinergi, (11) anggaran dan fasilitas yang diperlukan.

      PELUANG DAN TANTANGAN UNTUK NAIK KELAS

      Proses pengelolaan keuangan negara, baik di sisi pendapatan maupun di sisi belanja negara melibatkan banyak pemangku kepentingan, sejak dari tahap perencanaan, penentuan alokasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, serta upaya perbaikan dan penyempurnaannya. Dalam kesehariannya,

      Warta anggaran |

      23 Tahun 2012

      DJA Sukses “Naik Kelas”: Urgensi Dari Perumusan Arah, Proses, Prasyarat, Dan Identifikasi Peluang Ser ta T antangannya

      benefit dan costnya (primer, sekunder, dan masing-masing stakeholder tersebut dapat mempunyai posisi yang berbeda, bahkan tidak jarang nampak berlawanan, dengan posisi DJA.

      Sesuai dengan konsep-konsep ekonomi seperti kelangkaan (scarcity), hukum selalu naiknya peran pemerintah (The Law of Increasing State Activity – Adolf Wagner), hukum permintaan dan penawaran, game theory, general

    PERENCANAAN ANGGARAN

      equilibrium, prinsip dinamika ekonomi,

      dan konsep-konsep penting lainnya, maka pembahasan anggaran pendapatan dan belanja sering menjadi penuh tantangan karena berkaitan dengan aksi dan reaksi para pemangku kepentingan. Di sisi lain, banyak juga peluang yang tersedia untuk dimanfaatkan dalam mendukung pelaksanaan tugas yang ada. Berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperlancar pelaksanaan tugas DJA antara lain adalah terdapatnya berbagai undang-undang dan regulasi yang representatif, kondisi SDM, organisasi, dan manajemen yang memadai secara kuantitas dan kualitas, serta tingginya kesadaran dari stakeholder mengenai terdapatnya kepentingan bersama dalam rangka membangun negara untuk mensejahterakan masyarakat. Peluang lainnya adalah adanya kesadaran saling memerlukan dari para stakeholder dalam proses pengelolaan anggaran dan keuangan negara dan kesadaran sebagai abdi negara dan masyarakat yang harus melaksanakan tugas yang diembannya dengan baik. Selain daripada itu, perkembangan ilmu, teknologi, dan informasi juga sangat membantu dalam melaksanakan pengelolaan anggaran. Sementara itu, tidak sedikit tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan keuangan negara. Salah satunya adalah adanya kelangkaan, yang antara lain tercermin pada tingginya permintaan anggaran yang harus dipenuhi, sedangkan anggaran yang tersedia sangat terbatas, sehingga menimbulkan konsekuensi pada keperluan disusunnya prioritas secara akurat. Hal tersebut menimbulkan keperluan akan tingginya kompetensi untuk menyusun prioritas, membahas, dan menegosiasi alokasi anggaran, baik internal pemerintah yang dengan K/L, maupun antara pemerintah dengan lembaga negara lainnya seperti DPR dan DPD. Selain itu, terdapat aspek

      governance dalam pengelolaan anggaran

      yang berpotensi menimbulkan dampak urusan dengan auditor (BPKP dan BPK) dan lembaga pemberantas korupsi (KPK,), serta berbagai pendapat masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Tantangan lainnya adalah kondisi SDM yang lebih suka berada pada posisi status

      quo dan sulit diajak untuk naik kelas, SDM

      yang berfikir parsial (partial equilibrium), dan tidak mau mempertimbangkan reaksi stakeholder lain dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan dalam pengelolaan anggaran. Tantangan yang nampaknya paling sulit diatasi adalah sulitnya menjaga konsistensi utk mendudukkan upaya naik kelas pada prioritas yang semestinya, karena bisa terabaikan kalau tugas rutinnya banyak ditambah lagi dengan tugas ad hoc yang sering datang dengan waktu dan volume yang tidak terduga.

      PENUTUP Kesimpulan

      Dari pembahasan yang dilakukan dalam bagian sebelumnya, dapat disampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut :

      1. Untuk naik kelas, DJA mendefinisikan (i) arah dari kenaikan kelas yang ingin dicapai, (ii) proses dari kenaikan kelas yang akan ditempuh, (iii) prasyarat dari kenaikan kelas yang diperlukan, dan (iv) mengidentifikasi peluang dan tantangan dari kenaikan kelas,

      2. Arah dari kenaikan kelas DJA mencakup (i) di sisi belanja negara adalah meningkatnya kemampuan untuk memperbaiki efisiensi, efektivitas, dan kualitas belanja negara, khususnya belanja Pemerintah Pusat, (ii) di sisi pendapatan negara adalah meningkatnya kemampuan untuk mengumpulkan pendapatan negara secara optimal sesuai dengan prinsip- prinsip good corporate governance (GCG), (iii) di sisi koordinasi adalah naiknya kekuatan tawar dalam berbagai pembahasan dan negosiasi dalam

      Prasyarat kenaikan kelas DJA mencakup (i) kesepahaman dan kesediaan dari semua pemangku kepentingan untuk naik kelas, dan menanggung dampak biaya dan manfaatnya Warta anggaran |

      DJA Sukses “Naik Kelas”: Urgensi Dari Perumusan Arah, Proses, Prasyarat, Dan Identifikasi Peluang Ser ta T antangannya

    23 Tahun 2012

      pengelolaan anggaran

      5. Peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperlancar pelaksanaan tugas DJA antara lain adalah (i) undang-undang dan regulasi yang representatif, (ii) SDM dan organisasi yang memadai, (iii) tingginya kesadaran mengenai terdapatnya kepentingan bersama untuk mensejahterakan masyarakat, (iv) adanya kesadaran saling memerlukan, (v) kesadaran sebagai abdi negara dan masyarakat, dan (vi) perkembangan ilmu, teknologi, dan informasi. Sementara itu tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan keuangan negara adalah (i) kelangkaan anggaran, (ii) aspek governance dalam pengelolaan anggaran yang berpotensi menimbulkan dampak urusan dengan auditor (BPKP dan BPK) dan lembaga pemberantas korupsi (KPK,), (iii) berbagai pendapat masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) (iv) kondisi sebagian SDM yang lebih suka berada pada posisi status

      REKOMENDASI Warta anggaran |

      3. Proses dari kenaikan kelas DJA mencakup (i) menyesuaikan pola pikir, sikap, perilaku, dan orientasi SDM dengan platform untuk naik kelas, (ii) menyusun titik tujuan dari kenaikan kelas, strategi pencapaian, sekaligus organisasi atau task force sebagai PIC dari upaya untuk naik kelas (iii) mengidentifikasi kondisi

    PERENCANAAN ANGGARAN

      4. Prasyarat kenaikan kelas DJA mencakup (i) kesepahaman dan kesediaan dari semua pemangku kepentingan untuk naik kelas, dan menanggung dampak biaya dan manfaatnya (ii) pengetahuan tentang posisi riil saat ini dan posisi kelas baru yang ingin dicapai, (iii) PIC yang kredibel untuk menjadi agen, (iv) arah dan strategi yang jelas, terukur, konsisten, dan kontinyu, (v) SDM di tingkat analis dan teknis yang mempunyai disiplin keahlian yang memadai (vi) database yang memadai, (vii) model yang akurat dan selalu dievaluasi serta disempurnakan, (viii) aturan yang representatif, (ix) teknologi informasi yang representatif, (x) networking yang terkelola dengan baik, (xi) dilaksanakan tanpa menganggu atau bahkan bersinergi dengan tugas rutin, dan (xii) anggaran serta fasilitas yang diperlukan.

      quo dan sulit diajak untuk naik kelas,

      SDM yang berfikir parsial (parsial

      DJA, khususnya identifikasi permasalahan yang bisa diselesaikan dan potensi yang bisa dikembangkan, (iv) mempersiapkan rencana kerja dari implementasinya, payung hukum dan regulasi, serta anggaran dan fasilitas (v) implementasi pencapaian, yang dilakukan secara intensif, dan (vi) monitoring, evaluasi, pelaporan, dan penyempurnaan terkait semua proses yang direncanakan dan dijalani.

      mau mempertimbangkan reaksi

      stakeholder lain dalam perumusan

      kebijakan dan pengambilan keputusan dalam pengelolaan anggaran, (e) tidak terjaganya konsistensi utk mendudukkan upaya naik kelas pada prioritas yang semestinya,.

      (Penulis adalah Tenaga Pengkaji Bidang PNBP) Dalam rangka mencapai harapan untuk naik kelas bagi DJA, hal utama yang dapat penulis sarankan untuk ditempuh pertama kali adalah menunjuk PIC yang representatif sebagai agen dari upaya kenaikan kelas tersebut yang diberi tugas untuk merumuskan strategi pencapaian upaya tersebut, seperti mengidentifikasi arah, proses, prasyarat yang diperlukan, langkah solusi untuk memanfaatkan peluang dan tantangan yang ada. PIC yang ditunjuk memerlukan beberapa syarat, yaitu (1) paham mengenai proses bisnis DJA termasuk, siklus tugas, peta dan profil stakeholder, berbagai masalah yang akan untuk diselesaikan, potensi pengembangan yang akan diunggulkan, kekuatan SDM, dan (2) mampu meluangkan waktu khusus untuk menangani tugas kenaikan kelas tersebut, (3) mampu berkoordinasi dengan berbagai stakeholder DJA, dan (4) mempunyai kemampuan manajemen yang memadai. Selain itu, program kenaikan kelas tersebut harus segera diluncurkan untuk ditindaklanjuti.

      existing

      23 Tahun 2012

      DJA Sukses “Naik Kelas”: Urgensi Dari Perumusan Arah, Proses, Prasyarat, Dan Identifikasi Peluang Ser ta T antangannya

      equilibrium), dan tidak mampu/

      P N B P

    REVISI UU NOMOR 20 TAHUN 1997:

      QUO VADIS PNBP?

      Oleh : Arief Masdi

    23 Tahun 2012

      Warta anggaran | eformasi Tahun 1998 yang diawali dengan reformasi di bidang politik pada akhirnya merambah ke bidang ekonomi, sosial dan hukum, termasuk di dalamnya reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara. Pasca reformasi Tahun 1998, undang-undang yang mengatur tentang keuangan negara, perbendaharaan negara, pemeriksaan keuangan negara, perpajakan, kepabeanan telah mengalami perubahan atau revisi. Namun, ada satu Undang-undang yang sepertinya luput dari perhatian publik yaitu Undang- undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

      Ditetapkannya Undang-undang Nomor

    ADIS PNBP?

      23 Tahun 2012 P N B P REVISI UU NOMOR 20 T AHUN 1997: QUO V

      R Warta anggaran |

      PNBP, Instansi Pemerintah berikan kewenangan dapat menggunakan PNBP yang dipungut/dihasilkannya, untuk membiayai kegiatan tertentu dengan persetujuan Menteri Keuangan. Konsep earmarked dalam Undang-undang

      earmarked. Dalam konsep Earmarked

      Penegakan hukum dalam pengelolaan PNBP yang diusung Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP saat itu, tidak serta merta diterima oleh semua Instansi Pemerintah. Beberapa Instansi Pemerintah resisten dan berusaha bertahan dengan pola lama yang sarat dengan moral hazard. Kondisi ini menghasilkan bentuk ‘kompromi’ dalam pengelolaan PNBP yang dinamakan

      20 Tahun 1997 tentang PNBP ternyata mampu menjadi alat penertiban dan penegakan hukum dalam pengelolaan PNBP. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP mengatur konsep hukuman (punishment) yang cukup tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh wajib bayar dan pejabat pengelola PNBP pada Instansi Pemerintah. Hukuman dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 dapat berupa hukuman administrasi berupa denda dan sanksi pidana penjara. Konsep hukuman dalam pengelolaan PNBP ini ternyata membawa pengaruh cukup signifikan terhadap ketertiban dan kepatuhan Instansi Pemerintah dalam melaporkan dan menyetor PNBP.

      Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP merupakan salah satu Undang-undang yang di bidang keuangan negara khususnya pendapatan negara yang ditetapkan pada masa orde baru atau sebelum reformasi Tahun 1998. Undang- undang Nomor 20 Tahun 1997 masih mengacu pada Indische Comptabiliteitswet (Staatblad Tahun 1925 Nomor 448) sebagaimana telah diubah dan ditambah, terakhir dengan Undang-undang Nomor

      9 Tahun 1968. Padahal saat ini, Indische

      hazard pada Instansi Pemerintah yang melaksanakan pemungutan PNBP. Nomor 20 Tahun 1997, nampaknya disambut cukup baik oleh Instansi Pemerintah. Banyak Instansi Pemerintah yang kemudian melaporkan dan menyetorkan hasil pungutan PNBP ke Kas Negara. Jumlah penerimaan negara yang dikelola off budget pun semakin berkurang dan sedikit. Instansi Pemerintah mulai rajin melaporkan PNBP yang dipungut dengan harapan nantinya dapat menggunakan kembali PNBP tersebut untuk membiayai kegiatan Instansi mereka sendiri. Pengesahan Undang-undang Nomor

      Kondisi kekosongan peraturan perundang- undangan saat itu, menimbulkan moral

      Sebelum Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 ditetapkan, kondisi ekonomi Indonesia sedang membutuhkan sumber pembiayaan selain penerimaan dari perpajakan. Saat itu, potensi penerimaan negara lain yang paling menjanjikan dengan potensi penerimaan cukup besar adalah PNBP. Permasalahan saat itu, adalah belum adanya Undang-undang yang melandasi penyelenggaraan dan pemungutan PNBP. Padahal, kelompok PNBP yang ada pada Instansi Pemerintah (Kementerian/ Lembaga) cukup banyak, antara lain PNBP dari pemanfaatan sumber daya alam, dari hasil pengelolaan dana Pemerintah, dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan pemerintah, dari putusan pengadilan dan pengenaan denda administrasi dan dari hibah yang merupakan hak pemerintah.

      PNBP Riwayatmu Dulu

      Reformasi juga membawa perubahan signifikan di bidang sosial, termasuk sosiologi pembentukan peraturan perundang-undangan. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP ditetapkan pada masa/rezim pemerintah yang represif. Kondisi tersebut, sangat berbeda dengan saat ini dimana pemerintah diharuskan untuk bersikap responsif terhadap tuntutan masyarakat. Penguatan posisi masyarakat dalam hubungannya dengan pemerintah mewarnai pembentukan peraturan perundang-undangan pasca reformasi 1998. Secara sosiologis, materi muatan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 yang terkait hubungan negara, pemerintah dan masyarakat perlu ditinjau kembali.

      Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Secara yuridis, Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 sudah waktunya untuk direvisi.

      Comptabiliteitswet telah digantikan dengan

      Banyak Instansi Pemerintah yang enggan untuk melaporkan dan menyetor PNBP ke Kas Negara. Tidak adanya penegakan hukum (law enforcement) di bidang PNBP juga menjadi pendorong ketidakpatuhan Instansi Pemerintah dalam menyelenggarakan pengelolaan PNBP yang baik.

      20 Tahun 1997 tentang PNBP yang didalamnya mengatur dengan tegas tentang hukuman (punishment) dan penggunaan PNBP (earmarked), mampu meningkatkan realisasi PNBP cukup signifikan. Data realisasi PNBP menunjukkan, pada Tahun Anggaran 1996/1997 realisasi PNBP mencapai Rp 30,29 Triliun meningkat menjadi sebesar Rp 41,34 Triliun pada Tahun Anggaran 1997/1998. Peningkatan realisasi PNBP terus berlanjut pada Tahun Anggaran 1998/1999 dimana PNBP mencapai sebesar Rp 55,64 Triliun. Sementara itu, pada Tahun Anggaran 1999/2000 mampu mencapai sebesar Rp 91,52 Triliun.

      PNBP Mau Kemana?

      Kondisi yang melingkupi lahirnya Undang- undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP empat belas tahun yang lalu berbeda dengan kondisi saat ini atau pasca reformasi Tahun 1998. Gelombang reformasi di bidang keuangan negara ditandai dengan digantikannya Indische

      Compabiliteitswet (ICW) oleh Undang-

      undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Kemudian disusul dengan lahirnya Undang-undang Nomor

      1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Undang-undang Nomor

      15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

      Paket Undang-undang di bidang keuangan negara membawa perubahan mendasar dalam sistem pengelolaan keuangan negara. Perubahan mendasar dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, antara lain ruang lingkup keuangan negara termasuk sumber dan lingkup pendapatan negara; penegasan kewenangan Menteri dan Menteri/Pimpinan Lembaga; penekanan konsep penyetoran, pencatatan, pengelolaan, pelaporan dan pertanggungjawaban yang harus dikelola secara profesional, akuntabel, kredibel dan transparan. Perubahan-perubahan konsep mendasar di bidang pengelolaan keuangan negara tersebut, menjadi salah satu amanah yang juga harus dijalankan dalam pengelolaan keuangan negara termasuk PNBP.

      Dalam pengelolaan PNBP saat ini, terdapat beberapa substansi pokok yang akan disesuaikan dan diadaptasi ke dalam konsep revisi Undang-undang Nomor

      20 Tahun 1997 tentang PNBP. Substansi tersebut, antara lain penyesuaian dan penegasan konsep ruang lingkup PNBP termasuk definisi dan kelompok PNBP; kewenangan Menteri Keuangan dan Menteri/Pimpinan Lembaga; konsep penetapan jenis dan tarif; konsep penyetoran, pemungutan dan penagihan; konsep pemeriksaan, pengembalian, keberatan dan keringanan; konsep penggunaan (earmarked); konsep pembinaan dan pengawasan; konsep pelaporan dan pertanggungjawaban; dan konsep pemberian sanksi administrasi dan pidana. Substansi pokok tersebut telah menjadi bahan kajian bersama antara Kementerian Keuangan dan para stakeholder PNBP, guna menemukan bentuk konsep terbaik pengelolaan PNBP ke depan. Sebagai contoh, dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997, PNBP didefinisikan secara residual seperti keranjang sampah sekaligus sangat lentur. PNBP didefinisikan sebagai seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. Definisi PNBP yang keranjang sampah tersebut, misalnya dapat direvisi dengan memasukkan kelompok PNBP dalam definisi tersebut, sehingga menjadi penerimaan yang berasal dari pemanfaatan SDA, pengelolaan kekeyaan negara dan penerimaan berasal dari pelayanan yang diselenggarakan oleh negara.

    ADIS PNBP?

      Munculnya konflik kewenangan antara Menteri Keuangan dengan Menteri/ Pimpinan Lembaga ataupun antar Menteri/Pimpinan Lembaga terkait pengelolaan PNBP, seperti penetapan jenis dan tarif PNBP dan penggunaan PNBP Warta anggaran |

      P N B P REVISI UU NOMOR 20 T AHUN 1997: QUO V

    23 Tahun 2012

      Masalah kewenangan Menteri Keuangan dan Menteri/Pimpinan Lembaga di bidang pengelolaan PNBP juga menjadi isu pokok dalam revisi Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997, Menteri Keuangan diberikan kewenangan delegatif untuk menunjuk Instansi Pemerintah untuk menagih dan atau memungut PNBP yang terutang. Sementara itu dalam Undang- undang Nomor 17 Tahun 2003, Menteri/ Pimpinan Lembaga memiliki kewenangan atributif untuk melaksanakan pemungutan PNBP dan menyetorkannya ke kas negara. Jika dilihat, dalam pengelolaan PNBP saat ini, dibutuhkan pemberian kewenangan atributif kepada Menteri Keuangan dan Menteri/Pimpinan Lembaga yang lebih luas dan tegas guna menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada dibandingkan kewenangan yang dimiliki saat ini.

      negara lain;

      REVISI UU NOMOR 20 T AHUN 1997: QUO V

      23 Tahun 2012 P N B P

      Kepala Seksi pada Direktorat PNBP Warta anggaran |

      Penulis adalah :

      atas Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP merupakan pintu masuk sekaligus perangkat konstitusional untuk menjawab tantangan tersebut.

      governance). Oleh karena itu, revisi

      Pada dasarnya, tantangan besar yang di bidang pengelolaan Keuangan Negara khususnya pengelolaan PNBP merupakan tantangan Kementerian Keuangan (Direktorat Jenderal Anggaran) guna mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good

      6. Menyebarkan kuesioner untuk menampung masukan stakeholders terkait penyelenggaraan dan pengelolaan PNBP pada Kementreian/ Lembaga; 7. Melakukan focus group discussion.

      bechmarking pengelolaan PNBP di

      Munculnya konflik kewenangan antara Menteri Keuangan dengan Menteri/ Pimpinan Lembaga ataupun antar Menteri/ Pimpinan Lembaga terkait pengelolaan PNBP, seperti penetapan jenis dan tarif PNBP dan penggunaan PNBP, juga menjadi isu pokok yang akan dimasukkan dalam revisi Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997. Beberapa ahli hukum memberikan usulan bahwa permasalahan konflik kewenangan, dapat diselesaikan dengan mengembalikan kepada kewenangan Presiden. Selain itu, dapat juga dengan memberikan kewenangan atributif kepada Menteri atau Pejabat setingkat Menteri untuk menyelesaikan konflik kewenangan tersebut.

      5. Melakukan studi pustaka antara terkait

      4. Melakukan identifikasi ketentuan PNBP dalam Undang-Undang Sektoral;

    ADIS PNBP?

      3. Melakukan identifikasi ketentuan dalam UU Perpajakan dan UU Kepabeanan dan Cukai yang relevan sebagai pembanding bagi UU PNBP;

      2. Melakukan identifikasi ketentuan dalam UU PNBP terkait Paket UU Keuangan Negara;

      1. Melakukan identifikasi ketentuan dalam UU PNBP yang perlu direvisi;

      20 Tahun 1997 tentang PNBP telah masuk dalam Proglam Legislasi Nasional (Prolegnas) DPR RI Tahun 2010-2014, dimana pemerintah (Kementerian Keuangan) selaku inisiator. Permasalahan- permasalahan dalam pengelolaan PNBP tersebut telah menjadi bahan bahan kajian di Kementerian Keuangan (Direktorat Jenderal Anggaran) selaku unit yang mengkoordinir penyusunan draft naskah akademik dan draft RUU revisi Undang- undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP. Kementerian Keuangan (Direktorat Jenderal Anggaran), saat ini sedang melakukan kajian dengan berbagai pendekatan awal. Pendekatan awal yang saat ini sedang dilakukan antara lain :

      Saat ini revisi Undang-undang Nomor

      Prolegnas 2010-2014

      Permasalahan lain yang sering menjadi bahan perdebatan dalam kajian revisi Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP adalah penggunaan PNBP (earmarked). Sebagian ahli keuangan menganggap konsep earmarked tidak efisien dan memperpanjang administrasi, sedangkan sebagian pakar keuangan lain mengatakan konsep earmarked merupakan jawaban atas kelemahan penganggaran umum yang tidak mampu memberikan kepastian dalam mengalokasikan dana, khususnya kepada unit-unit yang menjalankan pelayanan publik.

      P N B P Askolani, Direktur Penerimaan Negara Bukan Pajak Mengapa Dan Bagaimana Revisi UU No. 20 Tahun 1997 Tentang PNBP

      Oleh : Robby martaputra dan Embun

    23 Tahun 2012

      Warta anggaran |

      S etelah lebih dari satu dasawarsa dijadikan sebagai landasan pengelolaan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), UU No. 20 Tahun 1997 akhirnya harus melalui tahap revisi. Proses tersebut diperkuat dengan telah masuknya revisi UU 20/1997 sebagai salah satu Program Legislasi Nasional 2010-2014.

      Mengetahui mengapa dan bagaimana proses revisi ini berlangsung merupakan kepentingan banyak stakeholders baik di lingkungan intern Kementerian Keuangan maupun ekstern seperti kementerian/lembaga, BUMN, Pemda, dan masyarakat pada umumnya. Tidak dapat dipungkiri, peranan PNBP sebagai salah satu penerimaan negara di luar pajak dan hibah semakin meningkat sejalan perkembangan waktu. Hal ini terlihat dari pertumbuhan realisasi PNBP yang signifikan selama sepuluh tahun terakhir, sebagaimana tampak pada grafik berikut ini: Reporter Warta Anggaran berkesempatan mewawancarai Askolani, Direktur Penerimaan Negara Bukan Pajak selaku Ketua Tim Perumus dan Penyusun revisi UU 20/1997. Meski baru 5 bulan terakhir memimpin Direktorat PNBP, sebenarnya PNBP bukan merupakan hal yang baru bagi pria kelahiran kota pempek pada 45 tahun silam ini. Sebelumnya Askolani menjabat sebagai Kepala Pusat Kebijakan APBN, Badan Kebijakan Fiskal selama 2,5 tahun setelah sempat menjabat sebagai Kepala Bidang Kebijakan Penerimaan Bukan Pajak selama periode Oktober – Desember 2008. Pada periode pernah bekerja di berbagai unit yang mengelola kebijakan belanja negara di Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan serta Badan Kebijakan Fiskal. Dengan pengalaman bekerja selama hampir 20 tahun di berbagai instansi yang berbeda tersebut, tampaknya lokomotif revisi UU PNBP kali ini berada di tangan “masinis” yang tepat. Berikut adalah petikan hasil wawancara dengan Askolani selama 30 menit di pagi yang terasa singkat, padat, namun ringan tersebut.

      Revisi atas UU No. 20 Tahun 1997 tentang PNBP saat ini telah masuk ke dalam Program Legislasi Nasional 2010-2014. Sebenarnya, apakah yang melatarbelakangi dilakukannya revisi atas UU No. 20 Tahun 1997 tersebut?

      Apabila kita lihat dari jangka waktunya, UU PNBP ini memang sudah berlaku cukup lama, hampir 14 tahun. Dari hasil evaluasi kita, memang ditemukan cukup banyak hal yang harus disesuaikan dengan perkembangan situasi aktual dan tantangan-tantangan di masa depan. Selain itu, dari sisi hukum sudah banyak perkembangan yang terjadi, seperti Amandemen UUD 1945, diterbitkannya Paket UU Keuangan Negara, lahirnya “Undang-Undang MD3” dan UU 9/2009 tentang Badan Hukum Pendidikan. Seluruh ketentuan perundangan tersebut bersifat dinamis, dan bersentuhan dengan basis UU 20/1997 tentang PNBP yang berkenaan dengan penerimaan SDA, laba BUMN, dan kementerian/lembaga, sehingga dalam perjalanannya banyak hal yang harus dibenahi atau diperbaiki. Revisi adalah langkah yang paling tepat untuk mengharmonisasikan dan menyesuaikan regulasi PNBP serta dalam rangka mengantisipasi kebijakan PNBP ke depan.

      UU 20/1997 tentang PNBP telah diterapkan selama hampir 14 tahun. Permasalahan apakah yang mengemuka di dalam pelaksanaannya sepanjang waktu tersebut?

      Tantangan yang kami evaluasi sepanjang 14 tahun pengelolaan PNBP berdasarkan UU 20/1997 ini setidaknya ada empat, yaitu: (1) mengoptimalkan potensi-potensi PNBP, (2) mendukung kebijakan fiskal yang

      sustainsble, (3) peningkatan kinerja BUMN,

      dan (4) peningkatan kualitas pelayanan kementerian/lembaga. Memang tidak semua pelayanan umum harus dikenakan biaya atau tarif, namun demikian kita tetap harus memegang prinsip kewajaran dan keadilan. Apabila dikenakan tarif pelayanan dan pengelolaan potensi PNBP tentunya harus tetap berpegang kepada prinsip- prinsip tersebut.

      Aspek-aspek apa sajakah yang menjadi titik fokus dalam revisi UU 20/1997 ini?

      Fokus pertama adalah manajemen pengelolaan PNBP yang baik, yaitu mengatur bagaimana hubungan antara fungsi Kementerian Keuangan sebagai Chief Financial Officer dengan kementerian/lembaga, atau hubungan antara Kementerian Keuangan bersama dengan kementerian/lembaga dalam menjalankan kebijakan publik. Selanjutnya mengupayakan agar seluruh lembaga pemerintah dapat bekerja dengan prinsip good goverannce, transparansi, dan akuntabilitas. Selain itu, kita juga meninjau kembali mekanisme penganggaran PNBP, penyetoran, dan pertanggungjawabannya, termasuk juga mengenai tarif dan sanksi atas keterlambatan penyetoran. Di dalam merancang revisi UU PNBP ini kami akan melihat bagaimana pengalaman di masa lalu, kondisi sekarang ini, dan juga mengantisipasi tantangan ke depannya.

      Salah satu isu pokok yang menjadi Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 P N B P Askolani, Direktur Penerimaan Negara Bukan Pajak Mengapa Dan Bagaimana Revisi UU No. 20 T ahun 1997 T entang PNBP

      perhatian para stakeholder dalam pengelolaan PNBP adalah earmarking. Kemana arah kebijakan mengenai earmarking dalam revisi UU yang akan disusun ini, apakah tetap sama seperti yang telah berjalan atau akan ada perubahan yang signifikan?

      Apabila yang dimaksudkan di sini adalah mekanisme penggunaan kembali PNBP, sebenarnya ini adalah mengenai insentif, yang salah satu bentuknya bisa berupa izin untuk menggunakan kembali sebagian PNBP. Kami menekankan bahwa pada prinsipnya apabila sebagian PNBP digunakan kembali maka penggunannya harus betul-betul tepat, yaitu dalam rangka mendukung tugas-tugas pokok kementerian/lembaga dalam rangka pelayanan publik dan juga untuk menghasilkan PNBP yang optimal.

      Terkait dengan aspek pemeriksaan dan pengawasan terhadap pengelolaan PNBP, apakah nantinya akan ada perubahan yang substantif apabila dibandingkan dengan praktik yang telah berjalan saat ini?

      Memang hal tersebut merupakan salah satu dari beberapa isu yang akan kami coba untuk menguraikan dan mencarikan regulasi yang lebih tepat untuk mengatasi permasalahan yang ada sepanjang proses revisi UU PNBP ini, seperti misalnya ada PNBP yang tidak disetorkan, tidak dilaporkan, disetorkan tapi terlambat, atau disetorkan namun jumlahnya tidak tepat, khususnya pada PNBP SDA yang tergantung pada volatilitas nilai tukar rupiah, harga minyak mentah, dan variabel- variabel lainnya. Usaha perbaikan dapat dilakukan dengan adanya peningkatan pada fungsi pengawasan. Namun demikian, fungsi pengawasan yang baik hanya dapat terlaksana apabila didahului dengan adanya regulasi yang tepat. Apabila regulasi sudah tepat dan dilaksanakan secara konsisten, baru kita bisa melaksanakan fungsi pengawasan tersebut.

      Saat ini cukup banyak UU Sektoral yang juga mengatur pengelolaan di bidang PNBP. Berkenaan dengan hal tersebut, strategi apa yang digunakan untuk mengharmonisasikan pengaturan pengelolaan PNBP dalam revisi UU PNBP dengan UU sektoral yang telah ada tersebut? Bagaimana caranya?

      Tehadap UU Sektoral, pada satu sisi dengan adanya Amandemen UU 1945 tentunya terjadi banyak perubahan yang menuntut dilakukannya penyesuaian-penyesuaian, selain juga karena adanya Paket UU Keuangan Negara. Harmonisasi itu penting, terutama harmonisasi kesetaraan, yaitu menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang serupa, dan harmonisasi dalam segi hukum. Dengan adanya harmonisasi, diupayakan tidak muncul adanya berbagai polemik setelah proses revisi UU PNBP 20/1997 ini selesai.

      Sebenarnya apakah yang menjadi tujuan/sasaran Pemerintah ke depan setelah revisi atas UU PNBP selesai dan UU yang baru tersebut diberlakukan?

      Harapan kita adalah: pertama, bagaimana PNBP dapat dikelola secara baik, adil dan sesuai dengan fungsinya, baik itu merupakan fungsi pelayanan pada kementerian/ lembaga maupun fungsi penerimaan sumber daya alam migas dan nonmigas, serta laba BUMN. Kedua, dengan adanya revisi UU PNBP ini kita dapat menyikapi dan menemukan penyelesaian atas berbagai permasalahan dalam pengelolaan PNBP selama ini. Ketiga, tentunya revisi ditujukan agar ketentuan perundangan yang baru tersebut dapat diimpementasikan dengan baik dan mendukung fungsi governance.

      Bagaimana perkembangan proses revisi UU 20/1997 sampai dengan saat ini?

      Sebelum menjelaskan mengenai perkembangannya, pertama-tama saya akan menjelaskan mengenai tahap- tahapnya. Revisi UU PNBP yang dilaksanakan pada tahun 2011 ini tentunya harus sejalan dengan perkembangan ketentuan perundangan, sebagaimana diketahui bahwa UU 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- Undangan baru saja digantikan dengan UU 12/2011. Selain pentahapan, hal kedua yang perlu diperhatikan adalah time table yang kita susun dengan mengikuti regulasi tersebut, bahwa pada akhir tahun ini 2011 kami merencanakan finalisasi draft Naskah Akademik. Apabila Naskah Akademik telah selesai, proses akan dilanjutkan ke penyusunan isi draft revisi UU PNBP tersebut. Dijadwalkan bahwa draft revisi UU PNBP akan dibahas dan diputuskan di Pimpinan pada tahun 2012. Apabila dapat disepakati Pimpinan, maka draft RUU akan diajukan untuk dibahas di DPR pada tahun 2013. Seperti diketahui, revisi UU 20/1997 telah termasuk dalam Program Legislasi Nasional sampai dengan tahun 2014. Dengan demikian untuk menunjang mekanisme di time table tersebut, sejak tahap penyusunan draft Naskah Akademik kami selalu memfasilitasi komunikasi antar pemangku kepentingan (stakeholders) baik dari pihak akademisi, praktisi hukum, sampai dengan instansi pemerintah. Komunikasi tersebut dibuat dalam bentuk diskusi, rapat,

      1. Paket UU Keuangan Negara terdiri dari UU17/2003 tentang Keuangan Negara, UU 1/2004 tentang Perbendaharaan, dan UU 15/ 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara

      2. “UU MD3” dimaksudkan dengan UU 27/2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD

      CATATAN: Warta anggaran |

      P N B P Askolani, Direktur Penerimaan Negara Bukan Pajak Mengapa Dan Bagaimana Revisi UU No. 20 T ahun 1997 T entang PNBP

    23 Tahun 2012

      atau forum yang terkait dengan masing- masing fungsi misalnya pengelolaan sumber daya alam, laba BUMN, dan kementerian/lembaga. Tentunya seluruh tahap komunikasi ini harus disusun secara sistematis dan terukur, sehingga dapat diperoleh masukan yang utuh dalam proses revisi UU PNBP, khususnya dalam

      P N B P

      mengembangkan draft Naskah Akademik dalam waktu yang dekat ini.

      Sesuai ketentuan, ketika pemerintah akan menetapkan tarif atas suatu entang PNBP layanan yang masuk dalam kategori PNBP maka harus ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP), namun ahun 1997 T demikian pada pratiknya ternyata ada beberapa pungutan yang tidak melalui proses penetapan dalam PP, contohnya tarif pendidikan di perguruan tinggi negeri. Bagaimana Pemerintah menyikapi hal ini dengan revisi UU PNBP? Apa strateginya ke depan supaya sesuai dengan ketentuan?

      Benar adanya bahwa persoalan biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri merupakan salah satu dari berbagai tantangan yang perlu disikapi dalam pengelolaan PNBP saat ini. Kami mengupayakan untuk menemukan solusi penyelesaian yang baik supaya di masa depan tidak timbul berbagai permasalahan. Lebih jauh lagi, karena hal ini juga terkait dengan fungsi badan layanan umum (BLU), maka sebaiknya diupayakan adanya harmonisasi dengan unit pengelola BLU dan juga unit yang menangani masalah pengelolaan aset, karena sebagaimana diketahui bahwa

    DATA PRIBADI

      ketentuannya mengacu kepada Peraturan Nama Lengkap : Askolani, SE. MA

      Pemerintah. Dengan demikian, kami Tempat /Tanggal Lahir : Palembang 11 Juni 1966 berharap hal-hal yang diatur di dalam

      Askolani, Direktur Penerimaan Negara Bukan Pajak Mengapa Dan Bagaimana Revisi UU No. 20 T

      Status/Jumlah Anak : Kawin / 2 revisi UU 20/1997 ini tidak lagi bersifat Strata II Master of Art : Univ. of Colorado at Denver, USA (Economics) parsial namun sudah menyeluruh dan komprehensif.

      Koresponden : Robby dan Embun

      23 Tahun 2012 Warta anggaran |

      PROFILE PROFILE DUTA SPAN (2) : Perlu Komitmen dan Kerjasama Yang Nyata dan Sungguh-Sungguh Agar SPAN Dapat Berhasil

      Photo bersama para Duta SPAN Koordinator (DSK) dan Duta SPAN Unit (DSU) dengan sekretaris DJA, Dirjen Anggaran dan DIrektur SP pada saat acara sosialisasi SPAN di DJA tanggal 26 September 2011

      

    Dari ki-ka : Aang Prabudi S. (Dit.Angg.I DSK), Aang Pugarista M. (Dit. Angg III-DSK), Mujono B. (Sekretaris-DSK) Alfian Mujiwardhani (Dit. PAPBN-DSU), Ari

    Wahyuni (Sekretaris Ditjen Anggaran), Herry Purnomo (Dirjen Anggaran), Masria H. Simandjuntak (Dit. Angg I-DSU), Rakhmat (Direktur SP), Dede Solihin

    (Dit. Angg.II-DSU), Kelik Umar Sumaji (Dit. Angg.III-DSU) dan Seprina Hasan Effendi (Dit.PNBP-DSU).

    23 Tahun 2012

      Warta anggaran |

      RA (Change Readiness Assessment)

      Communication (CMC) DJA untuk stream

      PROFILE Warta anggaran |

      (Public Financial Management ) dengan C

      didukung oleh Bank Dunia sebagai upaya untuk mereformasi pengelolaan keuangan pemerintah Indonesia. Salah satu komponen dari GFMRAP adalah PFM

      (Government Financial Management and Revenue Administrative Project) yang

      Sekedar untuk mengingatkan kembali bahwa sebagai tindak lanjut dari UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan UU No. 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara maka digulirkanlah program GFMRAP

      Peranan Duta SPAN dalam persiapan implementasi SPAN.

      Pada medio Nopember 2011, disela- sela kesibukannya berkesempatan untuk menyampaikan beberapa pandangannya mengenai persiapan implementasi SPAN kepada Warta Anggaran, dan berikut petikan wawancaranya dengan Warta Anggaran.

      Organisasi. Karena kesibukkan anggota lainnya dalam team CMC SPAN DJA, maka dia sering mewakili rapat-rapat mingguan Project SPAN. Alhasil, dia semakin intens terlibat dalam Project SPAN, terlebih-lebih setelah dirinya juga ditunjuk sebagai salah satu Duta SPAN Koordinator di DJA.

      2000 hingga pertengahan 2005 berkarier di Kanwil III DJA Padang Sumatera Barat, dan baru mulai 2005 kembali ke Jakarta bergabung di DJAPK dan sekarang berubah menjadi DJA ‘versi’ baru. Keterlibatannya dalam Project SPAN dimulai sekitar awal tahun 2011 (setahun setelah mutasi ke Setditjen Anggaran) yaitu tatkala ditunjuk sebagai salah satu anggota team Change Management and

      II merupakan salah satu tools yang berbentuk survey untuk melihat kesiapan para pegawai DJA dalam menerima perubahan terkait implementasi SPAN. Partisipasi para pegawai dalam CRA II dapat dijadikan parameter untuk melihat seberapa jauh komitmen para pegawai untuk mendukung implementasi SPAN

      Kariernya sebagai PNS di Kementerian Keuangan diawali di Pusat Pengolahan Data dan Informasi Anggaran (PPDIA) Bandung selepas dari Prodip III Keuangan Spesialisasi Anggaran (sekarang istilah Prodip III Keuangan sudah tidak ada lagi, melebur kedalam STAN) tahun 1992 hingga tahun 2000 yaitu saat mutasi besar- besaran alumni STAN-Prodip. Mulai tahun

      Ada cerita menarik yang terjadi disekitar tahun 2010 mengenai tempat tinggalnya. Bermula dari perbuatan seseorang yang tidak bertanggungjawab di kantornya. Menurut informasi yang diterimanya, selama beberapa hari rumahnya di ‘satroni’ oleh beberapa orang untuk melihat lebih dekat kondisi rumahnya. Orang tersebut seakan tidak percaya bahwa ada seorang pegawai DJA yang tinggal di kawasan kampung seperti itu. Mungkin karena secara kebetulan akses jalan maupun lokasi kampung tersebut berhimpitan langsung dengan kawasan Bintaro (Sektor 9) maka mereka berusaha selama hampir seminggu untuk memastikan apakah kondisi tersebut nyata atau tidak. “ Kawasan tempat saya tinggal itu mirip dengan kawasan dekat kampus STAN Jurangmangu era tahun 90-an, seperti di sekitar Jalan Jengkol atau kawasan orang kampung Betawi pada umumnya. Empang lele untuk menampung air limbah rumah tangga masih banyak terdapat di sekitar rumah saya meski lokasinya dekat dengan komplek Bintaro Permata, “ begitu dia mendiskripsikan tentang tempat tinggalnya.

      di perkampungan orang Betawi di wilayah Desa Perigi Lama, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, tepatnya 3 km sebelum masuk kawasan JPG (Jaringan Pipa Gas) suatu tempat dimana para pencinta sepeda gunung dan komunitas bike to work biasa berkumpul.

      BASUKI yang berzodiak Piscess, tinggal

      Pemilik nama lengkap MUJONO

      MUJONO, begitu teman-teman kantor atau mitra kerjanya biasa memanggilnya.

      Namun, dengan alasan untuk kemudahan pengurusan surat-surat kependudukan di kelak kemudian hari, dalam akta kelahiran akhirnya dicatat lahir di kota Purworejo. Meskipun begitu, pria ini mengaku pernah tinggal dan sekolah di Rembang hingga tahun 1977, saat dimana akhirnya ayahnya memutuskan untuk berdinas di Komando Rayon Militer (Koramil) Pituruh. Raut wajahnya sekilas, bila orang belum mengenal, sering mengira bahwa pria ini berasal dari Sumatera. Barangkali karena raut wajahnya yang mengisyaratkan ketegasan, senang to the point. Namun, begitu mendengar namanya, maka jelas bahwa pria ini asli orang Jawa Tengah.

      Hanif S.Q., Rayyan Sayyidil Dzaki, Hiliya Nasywa dan Hana Syakira ) pernah tercatat lahir di kota Rembang Jateng.

      Lahir di sebuah desa dan kecamatan terpencil, kecamatan Pituruh, sebuah kecamatan paling barat dari Kabupaten Purworejo Jateng yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Kebumen atau tepatnya 25 km dari pusat kota Kabupaten Purworejo Propinsi Jawa Tengah, hampir 41 tahun yang silam. Uniknya, menurut catatan Surat Tanda Kenal Lahir yang pernah dikeluarkan oleh pemerintah desa, Ayah lima anak ini ( Fadhilah Izzatul Mar’ah, Muhammad

      23 Tahun 2012 PROFILE DUT A SP AN (2) : Perlu Komitmen dan Kerjasama Y ang Nyata dan Sungguh-Sungguh Agar SP AN Dapat Berhasil tujuan untuk memperkuat efektifitas, keterbukaan and pertanggungjawaban dari pengeluaran pemerintah. Salah satu inisiatif untuk mencapai tujuan tersebut adalah modernisasi penganggaran dan pelaksanaan perbendaharaan (Modernize

      Budget & Treasury Operation).

      SPAN melekat di Sekretariat Ditjen yaitu Bagian OTL dan Bagian Kepegawaian maka keberadaan Duta SPAN (Koordinator dan Unit) masih tetap diperlukan. Hanya bedanya dengan Pusintek jika Duta SPAN Koordinator diambil alih langsung oleh team CMC SPAN Pusintek dan Duta SPAN Unit mewakili bagian/unit eselon III maka di DJA dari 3 DSK hanya 1 DSK yang sekaligus mewakili team CMC sedangkan 2 sisanya dipilih melalui seleksi wawancara serta untuk Duta SPAN Unit mewakili unit eselon II.

      PROFILE DUT A SP AN (2) : Perlu Komitmen dan Kerjasama Y ang Nyata dan Sungguh-Sungguh Agar SP AN Dapat Berhasil

      PROFILE Warta anggaran |

      SPAN- bahwa Duta SPAN bukanlah seorang salesman yang menjual produk dagangan, yang selalu mengatakan bahwa produknya adalah produk nomer 1, tapi peran Duta SPAN dalam project SPAN adalah membantu team CMC SPAN dalam menjelaskan cakupan project SPAN, manfaat yang akan diperoleh dan perubahan-perubahan apa yang bakal terjadi bila SPAN berjalan. Dengan demikian jelas, bahwa peranan Duta SPAN baik di DJA, DJPB dan Pusintek adalah membantu CMC SPAN di Unit Eselon I masing-masing dalam mengkomunikasikan tentang SPAN

      Sanker -perwakilan Bank Dunia di Project

      IT yang digunakan ? Mengutip, pernyataan

      Apakah seorang Duta SPAN wajib menguasai secara detail proses bisnis dan

      project SPAN dan anggota team CMC

      Selanjutnya, untuk mewujudkan hal itu maka digulirkanlah Program RPPN (Reformasi Penganggaran dan Perbendaharaan Negara) dengan beberapa produknya antara lain : SPAN, SAKTI, Bussiness Process,

      Perbendaharaan, maka guna membantu tugas dari team CMC SPAN dibuatlah program Duta SPAN Koordinator di tingkat pusat dan Duta SPAN Unit yang ada di masing-masing KPPN/Unit Eselon III. Lalu bagaimana dengan Ditjen Anggaran ? Meski cakupan organisasi DJA (juga Pusintek) tidak seluas Ditjen Perbendaharaan yang mempunyai kantor daerah di setiap propinsi, namun karena tidak ada unit khusus yang menangani

      Untuk itulah maka keberadaan CMC sangat diperlukan untuk memfasilitasi dan mengkomunikasikan segala hal yang diperlukan guna memdapatkan komitmen para pegawai selaku yang akan menjalankan SPAN. Namun, karena luasnya cakupan organisasi dan banyaknya pegawai yang harus mendapatkan penjelasan mengenai SPAN dan dipersiapkan untuk menerima perubahan, khususnya di Ditjen

      Disinilah titik kritis persiapan implementasi SPAN yaitu diperolehnya komitmen yang sungguh- sungguh dari para pegawai untuk menerima dan menjalankan SPAN. Mengapa ? Dalam banyak hal, secara umum bahwa manusia itu akan bersedia berubah bila mereka mengerti dan menerima alasan mengapa mereka harus berubah. Disisi lain komitmen manusia pada perubahan dapat diperoleh bila kebutuhan pribadi mereka dapat dipenuhi dan perubahan itu memberikan solusi atau manfaat bagi kebutuhan praktis mereka.

      Dampak dari implementasi SPAN nantinya tidak hanya terjadi perubahan pada proses bisnis internal dan IT saja namun juga akan berdampak pada perubahan peran pegawai pada unit yang terkena dampak langsung dari SPAN, misalnya kalau di DJA adalah para pegawai di lingkungan Direktorat Anggaran I, II dan III serta sebagian pegawai di unit Direktorat PNBP dan Direktorat Penyusunan APBN yang dalam tugasnya nanti berhubungan/ menggunakan akses data elektronik APBN. Untuk itu, diperlukan kesiapan para pegawai untuk menghadapi itu semua.

      Dengan demikian jelas bahwa SPAN itu milik Kementerian Keuangan yang implementasi harus dilaksanakan di Ditjen Anggaran, Ditjen Perbendaharaan dan Pusintek. Manfaat SPAN nantinya selain untuk ke-2 unit eselon I tersebut dan Pusintek juga akan dirasakan oleh seluruh satker di Kementerian Negara/lembaga.

      Change Management dan Service Desk.

    23 Tahun 2012

      baik secara formal (terlibat langsung dalam acara sosialisasi, diskusi/FGD tentang SPAN) maupun secara informal (melalui obrolan ringan/santai baik di kantin, diperjalanan maupun ditempat-tempat lain yang memungkinkan, menyebarkan leaflet dsb). Selain itu juga untuk memberikan informasi/umpan balik kepada CMC mengenai keluhan, harapan dan keinginan dari para pegawai terkait issue SPAN.

      Namun, idealnya memang seorang Duta SPAN perlu mengetahui cakupan SPAN yang lebih luas, tidak hanya pada sejarah/ latar belakang SPAN serta manfaatnya saja, tapi juga mengetahui secara benar tentang perubahan proses bisnis yang akan terjadi dan peranan IT dalam project SPAN nantinya. Sehingga fungsi dan peranan Duta SPAN dalam mengkomunikasikan SPAN kepada para pegawai bisa lebih optimal.

      Untuk itu, setiap perkembangan/perubahan proses bisnis internal (dengan segala implikasinya) dan IT yang terjadi secepatnya dapat disampaikan kepada Duta SPAN, dengan demikian diharapkan keraguan para pegawai terhadap keberhasilan implimentasi SPAN dapat dieleminir.

      Suami dari Neneng Kuswati (yang Asli Garut alias ASGAR) merupakan satu dari sedikit pegawai di DJA yang menyenangi kegiatan memancing di laut selain olahraga badminton setiap Jumat pagi dan juga travelling. Mengenai hobbi memancingnya ini, dia mengatakan bahwa yang menarik dari memancing adalah lebih kepada rasa sensasi saat menarik bearings untuk mengalahkan ikan yang menyambar umpan. Bagi sebagian orang lainnya sering mengatakan bahwa memancing merupakan pekerjaan yang sia-sia. “Ahh.. itu mah karena mereka gak suka memancing aja. Menurut saya, yang terpenting adalah jangan melalaikan untuk tetap ibadah (tetap sholat dalam kondisi apapun) dan tetap memperhatikan hak-hak keluarga,” begitu kilahnya.

      Komitmen yang sungguh-sungguh dari seluruh pihak terkait

      Dalam sebuah organisasi, setiap perubahan (kearah yang lebih baik) yang diharapkan selalu mengalami hambatan dan kendala.

      Masalah klasik yang selalu terjadi adalah masalah dana dan koordinasi. Menurutnya, hambatan dan kendala tersebut dapat dicari jalan keluarnya jika setiap pihak saling berkomitmen dan bekerjasama yang sungguh-sungguh untuk menerima dan mendukung pelaksanaan dari semua kebijakan yang telah diputuskan.

      Terkait dengan persiapan implementasi SPAN di DJA, maka koordinasi antara team CMC, BPI dan IT masih perlu ditingkatkan lagi. Dikatakannya : “Hingga saat ini antara team CMC, BPI dan IT terkesan masih jalan sendiri-sendiri. Kemajuan atau perkembangan business process dan IT seringkali tidak ter-update atau tidak diketahui oleh team CMC. Padahal didalam CMC-lah seluruh kegiatan persiapan implementasi SPAN direncanakan terutama terkait dengan training untuk para pegawai” Terkait alokasi dana untuk kegiatan persiapan implementasi SPAN di DJA juga masih menjadi kendala. “ Menurut yang saya ketahui, setidaknya untuk team CMC SPAN DJA, pada tahun anggaran 2011 tidak tersedia dana yang secara khusus dialokasikan untuk kegiatan SPAN. Demikian pula untuk tahun anggaran 2012 juga belum dialokasikan. Dari beberapa kegiatan SPAN yang berhasil dilaksanakan di TA 2011 hanya 1 kegiatan yang dananya khusus dialokasikan untuk itu yaitu kegiatan

      team building yang ditujukan untuk

      memperoleh komitmen dukungan dari jajaran pimpinan di DJA terhadap SPAN.

      Dan pada TA 2012 alokasi dana kegiatan SPAN adalah untuk kegiatan training end user hyperion sekitar 500 pegawai.”.

      Untuk meningkatkan koordinasi dan dalam rangka mendapatkan komitmen dukungan dari seluruh pihak, maka dalam rencana kerja CMC SPAN telah dirumuskan tentang perlunya team koordinasi yang diberi nama KIS (Komite Implementasi SPAN) baik di DJA, DJPB maupun Pusintek. Adapun bentuk ataupun struktur KIS diserahkan kepada masing-masing unit eselon I.

      “ Baik di Ditjen Perbendaharaan maupun Pusintek telah dibentuk team koordinasi dalam rangka persiapan implementasi SPAN, namun berbeda strukturnya teamnya. Jika di Ditjen Perbendaharaan dibentuk KISS (Komite Implementasi SPAN dan SAKTI) pada setiap unit eselon III di daerah dan 1 KISS ditingkat pusat maka di Pusintek menggunakan struktur team koordinasi yang sudah ada. Nach, untuk DJA saya berharap sebelum bulan April 2012 sudah berhasil dibentuk KIS guna meningkatkan komunikasi dan koordinasi antara team BPI, IT dan CMC serta unit- unit terkait lainnya.” Menaruh keinginan dan harapan yang tinggi kepada para pegawai untuk menerima dan mendukung implementasi SPAN, tidak akan tercapai secara maksimal jika kurang atau tidak disertai dengan komitmen dukungan dan kerjasama yang sungguh-sungguh dari semua unit atau pihak yang berkompeten, disamping koordinasi yang bagus diantara unit-unit yang terlibat langsung dalam implementasi SPAN. Salam Transformasi !!!

      (WA – MB) PROFILE

      Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 PROFILE DUT A SP AN (2) : Perlu Komitmen dan Kerjasama Y ang Nyata dan Sungguh-Sungguh Agar SP AN Dapat Berhasil

      BERITA Warta anggaran |

      Saat ini pembahasan dan penyelesaian RAPBN 2012 memasuki tahap krusial, yaitu alokasi pemanfaatan anggaran hasil optimalisasi pembahasan RAPBN 2012. Tercapainya tambahan anggaran hasil optimalisasi tersebut bukan merupakan penggelembungan anggaran atau maksud- maksud lain, namun merupakan pelaksana- an tugas konstitusi oleh Pemerintah dan DPR. Pemerintah dan DPR tetap menjaga governance proses penyusunan dan pem- bahasan RAPBN 2012, sehingga terjaga akuntabilitas, kredibilitas, dan transparansi proses penyelesaian RAPBN 2012. Untuk itu, pada tanggal 17 Oktober 2011 diadakan rapat koordinasi Penyelesaian RUU APBN 2012 di auditorium Dhana- pala Gedung Sutikno Slamet Kementerian Keuangan yang dihadiri oleh perwakilan seluruh Kementerian/Lembaga dan diisi dengan arahan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa dan Menteri Keuangan, Agus Martowardojo.

      Acara dibuka dengan laporan Direktur Jenderal Anggaran, Herry Purnomo yang menyampaikan laporan progress pemba- hasan dan penyelesaian RUU APBN 2012 dengan DPR.

      “Jangan memaksakan sesuatu karena ada bagian dari optimalisasi, kalau belum siap jangan dipaksakan apalagi dengan proyek yang tidak nyambung” demikian pesan Hatta Rajasa ketika menyampaikan ara- hannya.

      Selanjutnya Hatta Rajasa meminta kepada seluruh K/L untuk mencari terobosan- terobosan baru dalam pelaksanaan pro- gram dan kegiatan tapi tetap menjaga akuntabilitas dan transparansi, jangan ha- nya melakukan bussiness as usual. Dana optimalisasi bukanlah akal-akalan tapi merupakan proses yang akuntabel dan dilakukan untuk memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan rakyat. Selanjutnya, Menteri Keuangan, Agus Mar-

      Menko Perekonomian

    Memimpin Rapat Koordinasi Penyelesaian RAPBN 2012

      towardojo menyampaikan Pokok-pokok Hasil Pembahasan RAPBN 2012 dan penyelesaiannya .

      Menteri Keuangan menyampaikan ba- hwa dalam menyusun RKA-Kl Dalam menyusun RKA K/L Tahun 2012, harus memperhatikan (i) Tugas, Fungsi dan ke- wenangan masing-masing, (ii) Mengkaji ulang pembangunan gedung baru dan menundanya apabila tidak sangat mende- sak, (iii); Dalam mengalokasikan dana de- konsentrasi dan dana tugas pembantuan agar mengacu pada ketentuan peraturan perundang฀undangan, (iv) Kementerian Negara/Lembaga yang menyelenggarakan sekolah/ lembaga pendidikan agar men- cantumkan dalam klasifikasi fungsi pendidi- kan, dan (v) Dalam pengalokasian bantuan belanja sosial, dapat langsung diberikan kepada masyarakat dan/atau lembaga ke- masyarakatan guna melindungi terjadinya dari resiko sosial. (RA)

    23 Tahun 2012

      enteri Keuangan, Agus Martowardojo berpesan kepada seluruh jajaran Direktorat Jenderal Anggaran agar kita berpegang pada visi yang benar, kegiatan yang fokus, dan komitmen bersama untuk mewujudkan tujuan organisasi. “ Saudara-saudara perform exceeding expectation” apresiasi Agus, atas capaian kinerja Ditjen Anggaran selama tahun 2011.

      Hal tersebut dikatakan setelah Direk- tur Jenderal Anggaran, Herry Purnomo menyampaikan laporan singkat atas capaian-capaian Ditjen Anggaran se- panjang tahun 2011 dihadapan + 800 pegawai Ditjen Anggaran dalam acara Rapat Kerja Direktorat Jenderal Angga- ran yang diselenggarakan pada Kamis, 1

      Desember 2011 bertempat di ballroom Dhanapala Kementerian Keuangan, tur- ut hadir pula Wakil Menteri Keuangan I, Anny Ratnawati.

      Dalam laporannya Herry Purnomo menyampaikan bahwa proses pemba- hasan RUU APBN telah mengalami ke- majuan yang sangat baik dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas publik. Semua rapat-rapat kerja dalam pemba- hasan berbagai substansi APBN 2012 telah dilakukan secara terbuka, dan da- pat diakses oleh semua pihak. Hal ter- sebut juga mendapatkan apresiasi dari Agus Martowardojo.

      Selain itu, Herry Purnomo juga menyampaikan bahwa seluruh jajaran Direktorat Jenderal Anggaran sudah melaksanakan nilai-nilai

      Kementerian Keuangan dan selalu berusaha meningkatkan integritas, profesionalisme dan bersinergi dalam melaksanakan tugas. Selain itu juga berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan mencari terobosan-terobosan baru untuk mencapai nilai kesempurnaan. Secara simbolik, Menteri Keuangan menyematkan pin Nilai-nilai Kementerian Keuangan kepada Dirjen Anggaran dan diikuti oleh seluruh pegawai DItjen Anggaran. Hal yang menarik dalam acara rapat kerja adalah para pejabat eselon II Ditjen Anggaran menjadi petugas yang melayani seluruh pegawai untuk melakukan registrasi.

      M BERITA

      Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 Menteri Keuangan Mengapresiasi Kinerja Direktorat Jenderal Anggaran

      LIPUTAN Warta anggaran |

      Oleh : Hisyami Adib

    Liputan Rapim DJA Tahun 2011

    23 Tahun 2012

      aik Kelas, apa arti 2 kata tersebut untuk anda sekarang? Sebelum anda menjawab, cobalah bawa kembali ingatan anda ke beberapa (puluh) tahun silam, ketika anda masih duduk di bangku sekolah maupun kuliah, dan tanyakan pertanyaan yang sama. Momen kenaikan kelas adalah momen-momen yang penuh detail-detail nostalgia mulai dari berapa nilai raport anda (ada angka merahnya kah?), ketegangan ketika orangtua mengambilkan raport itu untuk kita, dan masih banyak lagi lainnya. Dalam sambutan pembukaan Rapat Kerja Ditjen Anggaran di audotarium Dhanapala,

      1 Desember 2010 yang lalu, Menteri Keuangan berkali-kali menyebut dua kata tersebut.

      Nampaknya beliau hendak menyampaikan pesan bahwa DJA sebagai salah satu unit vital di lingkungan Kementerian Keuangan telah bekerja dengan baik dalam melakukan tugasnya sebagai pengelola keuangan negara dan hal tersebut sangat diperhatikan oleh beliau. Namun begitu, beliau meminta agar segenap jajaran Direktorat Jenderal Anggaran tidak berpuas hati cukup sampai disini, atau yang disebut oleh beliau sebagai mental “Campers”. Dalam analoginya, Agus Martowardojo menjelaskan bahwa yang disebut dengan Campers adalah sikap mental yang puas dengan apa yang telah dicapai sekarang dan tidak tertantang untuk meraih hasil yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Beliau meminta agar seluruh warga DJA agar memiliki sikap mental Climbers yang selalu tertantang untuk mencapai hasil yang lebih baik dari sebelumnya dengan berbekalkan evaluasi atas yang telah dilakukan dan perencanaan matang sebelum melakukan pendakian kembali. Nampaknya tantangan Menteri Keuangan tersebut disambut hangat oleh segenap warga DJA. Hal itu terlihat pada rapat- rapat koordinasi yang langsung digelar selepas acara pembukaan rapat kerja tersebut. Rapat koordinasi yang dihadiri sebagian pejabat eselon III dan eselon IV perwakilan masing-masing unit eselon II serta seluruh pejabat eselon II terbagi dalam 3 komisi yang fokus membahas mengenai Revitalisasi PNBP Dalam Rangka Mendukung Peningkatan PNBP dan Perbaikan Pengelolaan PNBP, Penyusunan RAPBN 2013, Monitoring dan Evaluasi.

      Setelah rangkaian rapat-rapat komisi yang melelahkan tersebut dirampungkan, masing-masing komisi memberikan kesimpulan dan rekomendasi yang nantinya akan disampaikan oleh Ketua Komisinya pada saat Rapat Pimpinan DJA yang berlangsung di Tanah Lot, Bali pada tanggal 7 s.d 9 Desember 2011.

      Reformasi PNBP merupakan tema utama presentasi Komisi yang disampaikan langsung oleh Askolani, Direktur PNBP. Ada 2 (dua) issue yang muncul dari Komisi I ini yaitu pertama, usaha meningkatkan penerimaan PNBP dan kedua, memperbaiki pengelolaan PNBP. Issue tersebut sangat penting untuk diperhatikan mengingat bahwa peran PNBP dalam penerimaan negara adalah sangat penting, yang pada saat ini merupakan penyumbang kedua terbesar penerimaan negara setelah pajak. Namun perlu diingat, bahwa total penerimaan tersebut masih sangat bergantung pada harga minyak dunia dan total lifting minyak, sehingga sifatnya sangat fluktuatif, kemudian yang perlu dipahami juga bahwa PNBP juga sebagai unit pengelola subsidi BBM dan listrik yang menyedot hampir 11% dari total belanja APBN yang oleh beliau dianggap masih belum efisien dalam pengelolaannya akan menjadi target perbaikan kedepan meski bukan menjadi tugas utama dari direktorat PNBP. Menurutnya, perbaikan tersebut bisa dilakukan dengan cara meningkatkan komunikasi secara efektif dan secara konsisten memberikan peringatan kepada kementerian ESDM sebagai pengelola utama kebijakan energi nasional tentang betapa krusialnya perbaikan- perbaikan ini harus dilakukan.

      Selain itu, dia melihat masih banyak peraturan-peraturan PNBP yang masih menggunakan nama unit lama (non-DJA), sehingga dipandang perlu untuk merevisi peraturan-peraturan agar sejalan dengan kebijakan dan tupoksi DJA yang baru. Sesi presentasi yang kedua disampaikan oleh Direktur Anggaran I, Parluhutan Hutahean, mewakili Komisi III yang membahas mengenai proses penyusunan RAPBN 2013. Beberapa rekomendasi Komisi III antara lain DJA perlu me-

      revitalisasi perannya sebagai unit yang

      bertanggungjawab dalam menyusun APBN. Untuk itu beberapa hal yang perlu dilaksanakan : Melakukan penetapan prioritas anggaran dan alokasi anggaran belanja K/L

      N Rapim DJA tahun 2011 yang dilaksanakan di Bali tersebut mendapat atensi dari pimpinan puncak Kemenkeu. Meskipun Menteri Keuangan berhalangan hadir, namun kehadiran Wakil Menteri Keuangan, Anny Ratnawati, LIPUTAN Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 Liputan Rapim DJA T ahun

      (discretionary dan non discretionary), baik sendiri maupun bersama-sama dengan Bappenas. Memfokuskan pada fungsi perencanaan dan penganggaran yang bersifat strategis, sedangkan mengenai masalah-masalah revisi anggaran yang bersifat teknis administrasi penganggaran diusulkan untuk dialihkan ke Ditjen Perbendaharaan.

      Sesi terakhir presentasi dalam Rapim DJA tersebut disampaikan Direktur Sistem Penganggaran, Rakhmat, mewakili Komisi

      II yang membahas mengenai Monitoring dan Evaluasi Kinerja atas pelaksanaan RKA K/L. Menurutnya, saat ini masih terdapat berbagai permasalahan dalam melakukan proses Monitoring dan Evaluasi baik yang bersifat internal maupun eksternal. Permasalahan tersebut bervariasi mulai dari frekuensi revisi (baik revisi yang memerlukan persetujuan DPR maupun revisi oleh K/L) yang masih tinggi, sistem alokasi dan penelaahan yang belum mengalami perubahan, hingga tendensi

      trend penyerapan yang rendah di awal

      tahun dan menumpuk di akhir tahun. Untuk mengatasi hal tersebut dalam kesimpulan dan rekomendasinya, ditegaskan bahwa pelaksanaan tusi DJA harus disempurnakan sesuai dengan tuntutan peraturan perundang-undangan. DJA perlu mengubah mekanisme pelaksanaan tugas fungsinya, yang selama ini lebih berperan sebagai

      budget administrator ditingkatkan menjadi budget analyst.

      Beberapa rekomendasi Komisi II antara lain :

      Memperbaiki sistem penganggaran berbasis kinerja dalam rangka meningkatkan efektifitas kinerja KL .

      Memperbaiki standar biaya yang mencakup standarisasi kegiatan, standarisasi biaya dan metode perhitungan biaya sebagai instrumen pokok dalam efisiensi perencanaan anggaran Peningkatan analisa dan penilaian data perencanaan anggaran melalui mekanisme monitoring dan evaluasi yang akan menghasilkan rekomendasi .

      Rapim DJA tahun 2011 yang dilaksanakan di Bali tersebut mendapat atensi dari pimpinan puncak Kemenkeu. Meskipun Menteri Keuangan berhalangan hadir, namun kehadiran Wakil Menteri Keuangan, Anny Ratnawati, dalam Rapim tersebut seolah mengobati kekecewaan para peserta Rapim. Dalam arahannya, Anny Ratnawati menegaskan bahwa DJA tidak cukup hanya sekedar harus naik kelas, namun DJA harus naik kelas dengan ‘gelar’

      LIPUTAN Warta anggaran |

    23 Tahun 2012

      summa cum-laude, naik kelas dengan predikat ‘sangat memuaskan’. Maksudnya, proses kenaikan kelas ini hanya sekedar menaikkan level kinerja, namun juga harus merubah paradigma dalam membahas, membaca dan membicarakan mengenai sistem penganggaran yang tidak hanya untuk Kemenkeu saja tapi juga untuk seluruh negara (Kementerian / Lembaga). Lebih jauh, Anny Ratnawati, memuji langkah-langkah yang di lakukan oleh DJA dalam merubah paradigma sebagai Budget

      Administror menjadi Budget Analyst

      dan mendukung keinginan tersebut yang disebutnya sebagai salah satu cara untuk naik kelas secara summa

      cum-laude. Langkah lain yang

      dapat ditempuh adalah melalui peningkatan capacity building dan pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan bisnis proses.

      Rapim DJA 2012 yang berlangsung di Bali selama tiga hari ini mengambil tema “Implementasi Reformasi Penganggaran Yang Dilandasi Nilai-Nilai Kementerian Keuangan” selain berisi paparan tentang hasil kesimpulan dan rekomendasi dari Raker DJA sebelumnya, juga berisi kegiatan Team Building untuk menumbuhkan soliditas antar pejabat di seluruh unit eselon II yang ada di DJA. Arahan-arahan yang diberikan baik oleh Dirjen Anggaran maupun Wakil Menkeu mendapat tanggapan beragam dari para peserta Rapim. John David Siburian, Kasubdit Penerimaan K/L II Dit. PNBP, berpendapat bahwa ide-ide yang dipaparkan dalam rapim tersebut sangat jelas arahnya dan relatif dapat dilaksanakan. Namun, dia juga memberi catatan bahwa dalam segi pelaksanaannya seyogianya tetap mempertimbangkan aspek kemampuan SDM dan kemampuan organisasi, diantaranya dapat dilaksanakan dengan target dan tahapan yang lebih terencana agar hasilnya juga lebih maksimal.

      Lebih lanjut, dikatakannya bahwa terkait dengan peraturan perundang-undangan, akan sangat bermanfaat sekali jika ada semacam tahapan dalam mengevaluasi (kajian) situasi di lapangan terlebih dahulu sehingga dapat diketahui sejauh mana persoalan yang dihadapi oleh para pemangku kepentingan terkait peraturan perundang-undangan yang baru. Dengan demikian, diharapkan peraturan tersebut mampu menjawab tuntas segala permasalahan yang dihadapi. Senada dengan itu, Wawan Sunarjo, Kasubdit Harmonisasi Peraturan Jaminan Sosial Dit. HPP, berpendapat bahwa peningkatan kualitas SDM dan perubahan proses bisnis menjadi salah satu faktor kunci dalam perubahan pola pikir dari

      budget administrator menjadi budget anayst. Terkait dengan penelaahan RKA

      K/L, dia menyatakan setuju dengan sistem penelaahan RKA K/L on line atau penelaahan RKA K/L tanpa tatap muka, namun menurutnya sistem online bukan berarti tidak ada tatap muka sama sekali dengan K/L seperti misalnya terkait pembinaan kepada K/L yang tidak bisa dilakukan secara online. Untuk keberhasilan sistem penelaahan RKA K/L on line perlu didukung oleh teknologi informasi yang memadai.

      Namun apapun segala detail yang terjadi, perasaan optimis dalam menyambut tantangan yang ada di depan terasa sangat kental dalam acara tersebut. Selayaknya beberapa (puluh) tahun lalu ketika masih duduk di bangku sekolah, ternyata persoalan naik kelas masih menjadi persoalan yang tidak sederhana, sering membuat kita harap-harap cemas dan masih membutuhkan usaha yang keras dalam mewujudkannya, apalagi jika kali ini taruhannya bukan sekedar hadiah atau hukuman dari orangtua kita, akan tetapi nasib dari ratusan juta rakyat Indonesia yang menggantungkan harap mereka pada kita selaku pengelola anggaran. Tantangan dan tentangan pasti akan kita temui, namun dengan niat ikhlas karena Allah SWT dan tekad yang kukuh serta diiringi doa, pasti kita akan bisa naik kelas dengan predikat Summa Cum Laude dan pada akhirnya kita akan bisa mengulang senyum kebahagiaan yang sama seperti (puluhan) tahun lalu, bedanya kali ini yang tersenyum bukan hanya kita sendiri, tapi ratusan juta rakyat Indonesia yang menggantungkan asa mereka pada kerja keras kita semua warga DJA..

      Semoga….! Terkait dengan penelaahan RKA K/L, dia menyatakan setuju dengan sistem penelaahan RKA K/L on line atau penelaahan RKA K/L tanpa tatap muka, namun menurutnya sistem online bukan berarti tidak ada tatap muka sama sekali dengan K/L LIPUTAN Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 Liputan Rapim DJA T ahun

      LIPUTAN Berdiri (ki-ka) : Hery Arif (Dit.P-APBN), Sardi (Setditjen), Sutarsono (Dit.Angg.I), Hartanto (Dit.SP), Jauhar R.Y. (Dit.SP), Rice K. (Dit.P-APBN), Diah Dian Utami (Dit.PNBP),

      Handojo (Dit.Angg.III), Winarto (Dit.Angg.III).Herry Syafardi (Dit.PNBP), Agus Slamet R. (Dit. HPP), A.Ikhsan (dit. Angg.I), Agus Budi S.(Dit Angg.II), Sunandar (Dit.HPP), Wisnu T. (Dit.Angg.II) Duduk (ki-ka) : Agus Hermanto (Kapusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan), Herry Purnomo (Dirjen Anggaran), Ari Wahyuni (Sesditjen Anggaran) Managerial Skill Workshop For Potential Leader Direktorat Jenderal Anggaran

    23 Tahun 2012

      Warta anggaran | mewakili unit eselon II masing-masing. Akhirnya, pada awal Desember 2011 terpilih 16 (enam belas) pegawai berprestasi Ditjen Anggatan yaitu : Menurut Kapusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan, Agus Hermanto, bahwa secara umum workshop tersebut didesain berupa kegiatan-kegiatan tidak melelahkan, sifatnya fun namun tetap mempunyai manfaat. Sebagai pihak yang ditunjuk untuk menyelenggarakan acara tersebut, lebih lanjut Agus Hermanto mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan pilot project dari pemilihan pegawai berprestasi yang diselenggarakan di lingkungan Kementerian Keuangan. Harapannya kedepan kegiatan- kegiatan semacam ini bisa dikembangkan oleh unit-unit lain selain Ditjen Anggaran. Selain sebagai reward bagi pegawai yang mempunyai kinerja baik, juga dapat sebagai motivasi agar para pegawai bisa meningkatkan disiplin dan berkinerja yang baik sesuai dengan nilai-nilai keuangan. Selama 3 hari para peserta diberikan materi pelatihan kepemimpinan, self kompetensi berupa komunikasi efektif, cara pengambilan keputusan serta game- game kerjasama untuk meciptakan sinergi diantara para peserta. Pemateri dalam

      workshop ini bukan berasal dari pihak

         

      Warta anggaran |

      Sunandar   LIPUTAN

      Direktorat  HPP  Agus  Slamet R. 

      Jauhar  Rafid Y.  Hartanto  

      Herry  Syafardi  Direktorat   Sistem Penganggaran 

      Direktorat  PNBP  Diah  Dian Utami 

      Rice  Krisnawati  Hery  Arif 

      Handojo  Wibowo  Direktorat  Penyusunan  APBN 

      Direktorat  Anggaran III  Winarto  

      Agus  Budi S.  Wisnu  Trianggana 

      Sutarsono   Direktorat  Anggaran II 

      Direktorat   Anggaran I  Achmad  Ikhsan 

      Indrasworo  Bagus A.  Sardi  

      Unit  Eselon II  Pejabat  Eselon IV   Pelaksana    Sekretariat  Ditjen  

                                   

      BPPK saja, akan tetapi berasal dari pihak luar BPPK yang berkompeten dibidangnya. “BPPK tidak mengatakan ini yang terbaik ada awal bulan desember, tepatnya pada tanggal 6 sampai 8 Desember 2011,

                                                ‐  

                                                        

                            ‐                  

                                                     

      P

      Adalah suatu kehormatan dan bentuk dukungan atas penyelenggaraan workshop tersebut, dimana Direktur Jenderal Anggaran, Herry Purnomo, dan Sekretaris Ditjen Anggaran, Ary Wahyuni, berkenan hadir dan memberikan sambutan pada acara penutupan workshop. Dalam sambutannya, Dirjen Anggaran mengatakan “Dalam memimpin Organisasi, tantangannya adalah perubahan. Hal inilah yang harus bisa dicermati, perubahan apa saja yang harus dilakukan DJA, dan dalam mengendalikan perubahan diperlukan orang-orang yang handal”. Lebih lanjut Dirjen Anggaran mengharapkan kepada para peserta adalah pada saat kembali ke unit organisasi nantinya bisa menjalankan tugas lebih baik dan bisa memberikan motivasi kepada pegawai yang lain. “Jadilah agent of change dengan visi yang jelas yaitu bagaimana cara menyikapi kebutuhan-kebutuhan yang ada di DJA,” begitu pesan kunci Dirjen Anggaran dalam akhir sambutannya. ***

      BPPK lakukan untuk saat ini” demikian kata Agus Hermanto. Dijelaskannya, selama workshop diharapkan dapat merubah mindset, mempunyai prakarsa, disiplin yang tinggi, serta bagaimana berkomunikasi secara efektif.

      II yangbersangkutan, selanjutnya ditetapkan nominasi calon pegawai berprestasi peringkat 1 s.d peringkat 3 dan untuk kemudian dipilih 1 pasangan pegawai berprestasi oleh Direktur/Sesditjen yang BPPK berikan, tetapi inilah yang bisa

      III, 1 pasangan calon pegawai berprestasi (terdiri atas pejabat eselon IV dan pelaksana tersebut) kemudian dilakukan seleksi antar unit eselon III pada unit eselon

      Proses pemilihan pegawai berprestasi di DJA awalnya dimulai dari seleksi dari setiap unit eselon III, dimana setiap pegawai diwajibkan untuk mengisi kuisioner untuk memilih calon pegawai berprestasi 1 (satu) pejabat eselon IV dan 1 (satu) orang pelaksana, dari beberapa kandidat yang telah ditetapkan oleh Bagian Kepegawaian berdasar kriteria tertentu, diantaranya tingkat kehadiran dan tidak terkena hukuman disiplin pegawai. Setelah terpilih masing-masing unit eselon

      berupa kegiatan-kegiatan pelatihan yang tidak melelahkan tetapi namun tetap tidak menghilangkan esensinya untuk membekali setiap peserta dengan soft competency, yang bermanfaat tidak hanya kepada peserta, namun juga untuk unit eselon II maupun untuk Ditjen Anggaran. Selain tentu saja dimaksudkan untuk memberikan reward atas prestasi kerja yang telah peserta berikan untuk DJA.

      Workshop For Potential Leader” ini didesain

      Workshop yang bertajuk “Managerial Skill

      Ditjen Anggaran bekerja sama dengan Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan - BPPK Kemenkeu, mengadakan workshop yang diperuntukkan para pegawai berprestasi (saat ini masih diperuntukkan bagi pejabat eselon IV dan pelaksana) dari masing-masing unit eselon II di lingkungan DJA.

      23 Tahun 2012 Managerial Skill W orkshop For Potential Leader Direktorat Jenderal Anggaran

      LIPUTAN Profil Kantor Pelayanan Kepala KPPN Denpasar : Salah satu Kuncinya adalah SDM yang berkualitas Oleh : Faisal, Sammy dan Ully

      Rapi, bersih dan tertib adalah gambaran yang mucul ketika pertama kali menginjakkan kaki di pelataran parkir gedung KPPN Denpasar. Dan kesan baik itu makin terlihat nyata ketika memasuki kantor yang beralamat di Komplek Gedung Keuangan Negara Jalan Dr. Kusuma Atmaja Denpasar, Bali. Baik para customer yang sedang menanti giliran maupun yang telah selesai mengurus keperluannya nampak puas dengan layanan yang diberikan.

    23 Tahun 2012

      Warta anggaran | ejak beberapa tahun yang lalu, masing-masing unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan seakan berlomba untuk membuat produk pelayanan unggulan di lingkungan unitnya, tak terkecuali di Ditjen Anggaran yang pada tahun 2012 akan meluncurkan salah satu produk unggulannya yang diberi nama Pusat Layanan DJA. Pada proses perjalanan pembentukan Pusat Layanan DJA, sebelumnya, pada awal tahun 2011 telah diadakan kunjungan ke kantor pelayanan KPPN Yogyakarta. Menjelang akhir tahun 2011, team Warta Anggaran/WA (Sammy, Ully dan Faisal) berkesempatan melakukan kunjungan ke kantor pelayanan KPPN Denpasar yang pada tahun 2011 terpilih sebagai Juara II untuk kategori kantor pelayanan percontohan tingkat Ditjen Perbendaharaan. Selain melihat suasana pelayanan yang diberikan, team WA juga berkesempatan untuk mewancarai Kepala KPPN Denpasar,

      Moch. Chomnur Susanto, disela-

      sela kesibukannya menjelang akhir tahun anggaran. Berikut adalah petikan wawancaranya. Rapi, bersih dan tertib adalah gambaran yang mucul ketika pertama kali menginjakkan kaki di pelataran parkir gedung KPPN Denpasar. Dan kesan baik itu makin terlihat nyata ketika memasuki kantor yang beralamat di Komplek Gedung Keuangan Negara Jalan Dr. Kusuma Atmaja Denpasar,

      Bali. Baik para customer yang sedang menanti giliran maupun yang telah selesai mengurus keperluannya nampak puas dengan layanan yang diberikan.

      Bagaimana konsep pelayanan yang diberikan oleh KPPN Denpasar saat ini ?

      Mulai dicanangkan KPPN Percontohan, (prinsip) pertama adalah satker sebagai

      stakeholder hanya berhubungan satu

      pihak yaitu di FO (front office). Secara (seperti mekanisme) “ban berjalan”, dokumen mereka akan mengalir dengan sendirinya (hingga ke bagian pencairan).

      Kedua adalah kita buat SOP untuk

      mengurangi interaksi antara satker yang dilayani dengan staff-staff di KPPN, sehingga diharapkan satker tidak merasa di ‘pingpong’, dari satu meja kerja ke meja kerja yang lain. SOP itu bertujuan agar bendaharawan satker yakin bahwa tagihan/dokumen (SPM) yang disampaikannya itu apakah bisa disetujui/dibayar menjadi SP2D atau tidak.

      Antara KPPN percontohan dan (KPPN) non percontohan semuanya sama SOP-nya. Bedanya, jika di KPPN percontohan itu sudah mempunyai unit FO yang merupakan kunci pelayanan yang kita berikan. Pembayaran (SPM) bisa dilakukan/disetujui atau tidak tergantung oleh FO, karena petugas di FO melakukan pengujian atas tagihan/SPM yang diajukan, meski tidak tertutup kemungkinan di middle (proses selanjutnya-red) ada pengujian lagi. Jika di FO bagus pengujiannya, (maka) di middle tidak (akan) begitu banyak pengembalian dokumen.

      Bagaimana dengan konsep pelayanan “One Stop Service” yang ada di sini ?

      Dulu, saat kita masih bernama KPKN, proses kerjanya masih manual, tidak ada arsip data komputer (ADK). Jadi berkas harus rapi dan tebal. Berkas seharusnya terlebih dahulu masuk ke loket penerimaan SPP, namun umumnya bendaharawan satker masuk ke ruangan seksi perbendaharaan dengan membawa berkas (SPPD, bukti pengeluaran lainnya) dan berinteraksi secara langsung (tatap muka) baik dengan kepala seksi maupun pelaksananya. Pertemuan secara langsung itulah yang ditengarai terjadi proses kolusi. Memang, dahulu KPKN dikenal tidak bersih karena secara hukum. Kami memang punya kewenangan penuh (secara hukum/ peraturan) untuk menguji tagihan yang diajukan oleh bendaharawan satker. Dan kolusi terjadi karena antara pegawai KPPN dan bendaharawan satker saling mempunyai kepentingan. Oleh karena itu, SOP Layanan Unggulan

      1 Jam (One Stop Service) dibuat untuk mengurangi proses tatap muka antara

      S LIPUTAN

      Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 pegawai KPPN dengan bendaharawan satker dan cukup terjadi di FO. Berikutnya adalah adanya penyederhanaan dokumen. Dahulu, berkas kontrak secara lengkap harus disertakan ke KPKN pada saat mengajukan SPM. Namun sekarang berkas yang diajukan ke KPPN lebih sederhana. Satker cukup mengirimkan ringkasan kontraknya atau hanya SPTB- nya saja dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK). Dan ADK inilah yang berjalan dari FO sampai ke Bank. Singkatnya, interaksi tatap muka cuma terjadi dengan bendaharawan/pegawai dari satker yang bersangkutan yang telah didaftarkan ke KPPN yang dapat berinteraksi dengan pegawai KPPN dan itu hanya terjadi di FO. Pegawai KPPN yang ada di back office tidak bisa melakukan editing terhadap data itu atau tidak bisa melakukan rekayasa. Dalam hal ini kami hanya menguji secara formal dan substantif dan jika itu sudah beres/selesai bendaharawan satker bisa pulang.

      Apa yang dimaksud dengan “Layanan Unggulan 1 Jam” ?

      Pertama dari segi aplikasi sudah ada alat kontrolnya, dokumen masuk jam berapa dan keluar jam berapa. “Layanan Unggulan 1 jam” merupakan salah satu

      IKU dari KPPN Denpasar jadi tidak bisa di tawar-tawar lagi. Bisa dikatakan klien yang datang ke KPPN akan dilayani dalam 1 jam atau bahkan kurang dari 1 jam tergantung dari banyaknya keperluan, tapi mohon dipahami bahwa yang dimaksud pelayanan 1 Jam disini adalah 1 jam terhitung mulai dari

      LIPUTAN Warta anggaran |

      Profil Kantor Pelayanan Kepala KPPN Denpasar: “(Salah satu) Kuncinya adalah SDM yang berkualitas”

    23 Tahun 2012

      Profil Kantor Pelayanan Kepala KPPN Denpasar: “(Salah satu) Kuncinya adalah SDM yang berkualitas” berkas diterima sampai selesai proses.

      Semua KPPN yang ada, sekitar 177 KPPN sudah mengadopsi SOP percontohan, yang awalnya hanya ada pada beberapa daerah. Belum seluruh KPPN mengadopsi SOP Percontohan atau belum seluruhnya KPPN yang ada merupakan KPPN Percontohan. Secara bertahap seluruh KPPN akan mengarah kesana. Secara secara keseluruhan KPPN di tingkat provinsi merupakan KPPN Percontohan. Walaupun belum menjadi KPPN percontohan pada dasarnya seluruh KPPN telah mengadopsi SOP percontohan yaitu menjadikan “Layanan Unggulan1 Jam” menjadi produk unggulan KPPN.

      Apa saja hambatan dalam melakukan perubahan?

      Awalnya KPPN percontohan diterapkan sekitar tahun 2007, yang pada waktu itu para pegawai di bagian FO di seleksi/assessment terlebih dahulu. Seleksinya tidak hanya meliputi tentang teori pencairan dana, tapi juga integritas masing-masing pegawai yang akan ditempatkan di bagian FO. Awalnya, yang boleh mengikuti seleksi umurnya juga dibatasi. Namun kemudian, karena banyaknya manfaat/ keuntungan yang dirasakan dari dibentuknya KPPN Percontohan serta semakin banyaknya KPPN Percontohan yang dibentuk, maka saat ini pegawai yang bisa mengikuti seleksi dilonggarkan sampai pegawai yang berumur 50 thn.

      Yang terpenting dari hasil seleksi tersebut adalah merubah pola pikir pegawai dan hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

      Bagaimana kiat-kiat dalam memberikan pelayanan prima?

      Untuk memberikan pelayanan prima diperlukan standarisasi pelayanan mulai dari proses bisnisnya bahkan juga bentuk/format dokumen yang diharuskan dibuat oleh

      stakeholder. Selain itu juga kita harus

      menginformasikan secara cepat dan tepat setiap ada perubahan peraturan kepada stakeholder. Jadi harus ada standar baku dan ada komitmen, komitmen dari semua orang untuk menjadi lebih baik. Itulah yang selalu ditekankan oleh para pimpinan kami pada saat penerapan KPPN percontohan.

      Bagaimana proses pembentukan komitmen ?

      Beberapa hal dapat dilakukan untuk memperoleh komitmen dari pegawai, diantaranya melalui kegiatan GKM (Gugus Kendali Mutu). GKM merupakan sarana untuk berinteraksi antara pimpinan dengan lini yang ada di bawah guna menyatukan/menyamakan pendapat. Jika ada peraturan baru atau ada permasalahan di lapangan akan dibahas di GKM agar tercapai kesatuan/kesamaan cara pandang antara pegawai dan pimpinan. Jangan sampai kepala KPPN mengatakan ‘A’ tetapi FO mengatakan ‘C’. Melalui GKM itulah kita samakan pendapat dan kita samakan apa yang ingin kita capai, kendala apa yang dihadapi dan apa yang harus kita perbaiki. Itu salah satu sarana yang kami pakai untuk memperoleh komitmen dari setiap pegawai dan (juga) pimpinan.

      LIPUTAN Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 Profil Kantor Pelayanan Kepala KPPN Denpasar: “(Salah satu) Kuncinya adalah SDM yang berkualitas” Kepatuhan dan kepatutan Oleh : Asrukhil Imro

    23 Tahun 2012

      Warta anggaran | Di sebuah tempat parkir hotel berbintang di Jakarta, turunlah seseorang dari sebuah mobil dengan gagah, berbusana batik merah, terlihat mewah. Kebetulan kami melihat mobil yang ditumpangi. Ada sesuatu yang menarik dari mobil keren warna hitam yakni nomornya yang luar biasa, B 5241 DL. Bagi sebagian orang, nomor memiliki arti tersendiri. Dan nomor ini memiliki arti tersendiri bagi pemiliknya. Hingga orang lain ingin tahu artinya. Ketika tiba di loby, kami berpapasan dengannya dan bertegur sapa. Kami sampaikan pujian atas mobil keren dan penampilan menawan. Dia pun senang atas pujian tersebut, dengan senyum lebar dan penuh kebanggaan, dia menceritakan banyak hal tentang pekerjaanya, prestasinya dan pencapainnya yang membuat iri pendengarnya. Tentu yang menarik adalah kisah nomor mobilnya. “Agar kacang tidak lupa akan kulitnya,” begitulah kalimat yang keluar dari mulutnya. Kami tambah penasaran. Dengan tersipu malu dia menceritakan kalau mobil tersebut diperoleh dari hasil perjalanan dinas dan penugasan dari kantor. Woow…pantaslah nomor mobilnya mencerminkan nomor akun belanja perjalanan dinas dan DL adalah Dinas Luar. Mungkinkah perjalanan dinas bisa membuat orang kaya? Berbicara perjalanan dinas, tidak bisa lepas dari aturan PMK Nomor 45/ PMK.05/2007 tentang Perjalanan Dinas Dalam Negeri bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap. Dalam PMK tersebut, mengatur komponen perjalanan dinas yang terdiri dari uang harian yang meliputi uang makan, uang saku, dan transpor lokal; biaya transpor pegawai; dan biaya penginapan merupakan biaya yang diperlukan untuk menginap di hotel atau di tempat menginap lainnya. Dan apabila Anda sebagai pejabat eselon I dan II akan mendapatkan uang representative. Serta fasilitas lain berupa sewa kendaraan dalam kota untuk Pejabat Negara. Selain aturan perjalanan dinas ada batasan lain berupa standar biaya yang mengatur besaran biaya yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan dinas. Misalkan orang akan melakukan perjalanan dinas ke Semarang selama tiga hari dan menggunakan angkutan udara, maka yang bersangkutan akan mendapatkan uang harian selama tiga hari dikalikan tarif, uang transport yang meliputi tiket pesawat, airport tax, dan uang taksi serta biaya penginapan.

      Uang harian lebih bersifat lumpsum sedangkan uang transport dan biaya penginapan bersifat at cost. Gabungan keduanya diharapkan memberikan keleluasaan dan kenyamanan dalam melakukan perjalanan dinas. Ini sesuai dengan semangat dari aturan perjalanan dinas memberikan keleluasaan dan kepercayaan kepada pegawai yang melakukan perjalanan.

      Uang harian yang bersifat lumpsum sehingga membuat nyaman karena berapapun jumlah uang terpakai maka uang yang akan dipertanggungjawabkan tetaplah sebesar yang diterima. Berbeda dengan uang transport dan biaya penginapan yang bersifat at cost yaitu sesuai jumlah pengeluaran riil yang terjadi dan dibuktikan dengan tiket dan kuitansi. Apabila uang perjalanan dinas lebih dikembalikan ke kas negara.

      Melakukan perjalanan dinas bukanlah semata mematuhi rambu-rambu peraturan perjalanan dinas. Tetapi ada rambu-rambu lain yaitu kepatutan.

      Sebagai contoh uang taksi pergi-pulang bandara yang dipertanggungjawabkan (SPJ) dengan daftar pengeluaran riil. Dalam buku Standar Biaya jumlahnya cukup lumayan besar untuk tarif Jakarta, apakah seandainya yang bersangkutan pergi-pulang menggunakan bus bandara yang lebih murah harus di SPJ kan dengan menggunakan taksi? Keleluasan dan kepercayaan dalam melakukan perjalanan dinas sepatutnya di jaga dengan membuktikan hasil terbaik dan tentunya dengan bukti pengeluaran yang asli. Bukti pengeluaran palsu atau asli tapi palsu sungguh bukan hanya tidak patut tetapi sangat menjijikan. Mencederai kepercayaan, melukai integritas, merobek rasa keadilan, dan mengkhianati rakyat pembayar pajak. Teringat salah satu episode terbaik dalam sejarah. Yakni ketika Khalifah Umar bin Abdul Azis menerima putranya di malam hari. “Urusan apakah yang hendak kau bicarakan, urusan pribadi atau negara? Kalau urusan pribadi, lampu ini akan aku matikan sebab lampu ini dibiayai dari negara. Tetapi kalau urusan negara silakan,” begitu Umar menyampaikan.

      Aku menangis tersungkur ditengah malam, mohon ampun. Imro

      Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 I’m going to let you in on a little secret. Ready? Well, here it is: starting in 2012, we’re going to do the 360.

      If the name does not ring any bell at all, try ‘multi-rater review’, ‘multi-source feedback’, or ‘multi-source assessment’. I’m sure by now you have a pretty decent picture of what 360-degree is. Basically, it’s a method of performance review in which you are assessed, not only by your supervisor, but also two of your peers and a couple of subordinates. So, now, your take-home pay depends on the mercy of five people, instead of one. If you have to blame anyone, blame the Germans. They were the one who started this method in the first place. During the World War II, the German felt that they weren’t getting good enough performance reviews to start a proper, all-out war. Hence, they started ordering their soldiers to rate their officers and peers. Everyone reviewed everyone. Despite their eventual loss, the 360 system gained favorable attention. The first documented use of surveys to accomplish 360-degree feedback was in the 1950s, by the Esso Research and Engineering Company. With the invention of typewriter, which provided much needed anonymity, the usage grew even more. In 1990s, it was estimated that more than one-third of the total companies in the United States incorporated the 360-degree review in their performance management scheme. A decade later, it is claimed that 90% of the Fortune 500 firms were doing it. In 2011, it knocked at our door. I can see bitter resentments coming. First, the Balanced Scorecard, and then we have Performance Contract, and then the PMK 190 Staff Evaluation, and now this?!? Will we ever stop adopting management fads?, you might ask. First of all it’s not a fad. It CAN work. Secondly, no, we’re not going to stop adopting new methods. It’s part of our quest for excellence. It’s our way of creating a better and fairer work system. Remember how we complain about our supervisors being subjective during our evaluation? The 360 is one remedy for this situation. Also, our current performance review system just doesn’t really cut it. I’m looking at you, DP3. Back to being subjective. In the old days, your performance is how your supervisor sees it. No matter how hard you think you have worked, if your supervisor thinks you’re lazy slob who spends most of his time downloading Ayu Tingting’s latest clips, you can kiss your next raise goodbye. This time around, you have the opinion of your peers and your subordinates to back you up. That is, unless these guys also think that you’re a first-class procrastinator who is addicted to the internet and cute dangdut singers. If that is the case, then you probably are. The good thing about the 360 is, among many others, that it improves the overall quality of performance feedback. It introduces a fairer atmosphere in the workplace by making sure that your performance is rated accordingly and that your fate is not entirely decided by one man’s opinion. In our 360 scheme, you even get to nominate your rater. However, from the administrative point of view the 360 degree -review is a nightmare. On the average, one person will be evaluated by four people. In DJA, that translates into around 3200 results to read and file. Every six months. Don’t worry too much, though. I’ve heard that Secretariat General is developing an application for that purpose. All we have to do is point and click. So, the question at this point is not whether the 360-degree will work. It has been decided. The real question is how we are going to make it work. We can start by making an honest appraisal.

      The 360-Degree Review By Eko Widyasmoro ENGLSIH CORNER Warta anggaran |

    23 Tahun 2012

      “If NASA engineers had evidenced had the same level of forecasting skill as our top economists, the Cassini mission (salah satu misi luar angkasa NASA-pen)would have had a very different outcome. Not only the satellite have missed its orbit, but in all likelihood the rocket would have turned downward on lift-off, bored through the Earth’s crust, and exploded somewhere deep in the magma.”

      Pernyataan yang terdengar sinis dan kontroversial tersebut terpampang di halaman “Introduction” dari buku How an Economy

      Grows and Why it Crashes karya Schiff bersaudara, yaitu Peter dan Andrew Schiff.

      Bukan tanpa alasan mereka mengawali buku mereka dengan pernyataan tersebut, karena pada dasarnya pernyataan tersebut adalah inti dari seluruh buku setebal 233 halaman tersebut. Buku ini menceritakan tentang 3 orang sahabat-Able, Baker, and Charlie- yang terdampar di sebuah pulau dan tidak memiliki sumberdaya apapun untuk bertahan hidup kecuali perairan sekitar mereka yang – untungnya- berlimpah dengan ikan. Akan tetapi mereka tidak memiliki peralatan apapun untuk menangkap ikan kecuali dengan tangan, dan oleh karena tingkat kesulitannya yang tinggi waktu mereka seharian hanya cukup untuk menangkap 1 ekor ikan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka selama satu hari. Suatu hari Able memiliki ide untuk membuat semacam alat penangkap ikan agar dapat menangkap ikan dengan lebih banyak dan akhirnya memiliki simpanan ikan. Dengan menggunakan bahan2 sederhana yang ada, dia akhirnya memutuskan untuk menggunakan waktunya seharian untuk membuat jala dengan konsekuensi kehilangan kesempatan untuk menangkap ikan dan harus menahan lapar. Teman2nya (Baker dan Charlie) menertawakan idenya tersebut dan menyebut rencana Able itu sebagai rencana yang bodoh dan mereka juga mengancam tidak akan membantu Able jika ternyata dia gagal dan akhirnya kelaparan. Tapi ejekan itu berhenti ketika Able menunjukkan keberhasilannya menangkap ikan 2 kali lebih banyak. Setelah melihat keberhasilan Able, kedua temannya ingin meminjam jala tersebut, namun oleh Able permintaan tersebut ditolak mengingat semua ejekan yang dia dapatkan dan juga resiko rusaknya jala jika dipinjamkan. Oleh karena itu, dia menawarkan untuk meminjamkan ikan persediaannya (hasil tangkapan dengan jala) agar mereka berdua bisa memiliki waktu untuk membuat jala mereka sendiri tanpa harus kelaparan seperti dia dulu. Tapi sebagai imbalannya mereka harus mengembalikan 2 ekor ikan tiap 1 ekor ikan yang mereka pinjam. Ceritapun berlanjut dengan cerita tentang perkembangan sistem perekonomian yang makin lama semakin canggih, tapi apakah semakin canggih berarti meningkat juga kesejahteraan? Pertanyaan inilah yang akan dijawab pada kisah-kisah lain di buku ini. Secara umum, buku ini menerangkan tentang sistem perekonomian, khususnya di Amerika secara sederhana dan cenderung komikal sehingga mudah untuk dipahami orang awam yang tidak pernah mengerti mengenai sistem perekonomian.Konsep-konsep perekonomian makro seperti pengaruh ekspor impor, simpanan masyarakat, inflasi, rasio suku bunga, efek kredit konsumsi juga dijelaskan dengan penuh humor. Meski begitu kisah di buku ini memuat kejadian-kejadian yang nyata terjadi, misalnya “The Great Recession” di AS, “DotCom Bubble burst” yang terjadi di era tahun 2000an, hingga fakta bahwa selama ini, tiap tahun Amerika Serikat memiliki defisit anggaran hampir sebesar anggaran Indonesia dan mereka ternyata bertahan karena adanya utang dari negara lain.

      Terlepas dari reputasi Peter dan Andrew Schiff sebagai pakar ekonomi dan keuangan yang terkemuka di AS dan pengalaman mereka selama ini, buku ini memiliki sedikit kekurangan yaitu banyaknya “Economic Insight” alias opini pribadi yang bertebaran di buku ini. Akan tetapi meskipun begitu, buku ini tetap memenuhi janjinya seperti yang tertera di halaman kover belakang, “The story may

      appear simple on the surface but it will leave you with a powerful understanding of How an Economy Grows and Why it Crashes.

      Judul :

      How an Economy Grows and Why it Crashes (Hard Cover)

      Penulis :

      Peter D. Schiff & Andrew J. Schiff

      Penerbit : John Wiley & Sons, Inc.

      How an Economy Grows and Why It Crashes

      (Hardcover) Hisyami Adib.A | Pustakawan DJA Definisi hobi menurut Wikipedia adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. Kata Hobi merupakan sebuah kata serapan dari Bahasa Inggris “Hobby”. Hobi adalah bagian dari hidup setiap manusia modern. Hidup kita akan lebih berwarna, semangat, segar dan bisa mengurangi kebosanan dalam aktivitas hidup kita sehari-hari. Setiap orang pasti mempunyai hobi. Ada ratusan atau bahkan jutaan hobi yang dilakukan oleh tiap orang, misalnya ada hobi bersepeda, mendaki gunung, travelling, memelihara binatang, memasak, otomotif, dll. Dari sekian banyak hobi tersebut, ada satu hobi yang bisa dilakukan secara bersama-sama/simultan dengan hobi yang lain, yaitu fotografi. Selain itu beberapa hal di bawah ini mungkin bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi anda untuk menjadikan fotografi sebagai hobi.

    POJOK FOTO

      Modal dasar untuk memulai hobi fotografi tentu saja adalah sebuah kamera, apapun jenisnya. Setiap jenis kamera mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tetapi bukan ingin mengecilkan arti kamera jenis lain, sebuah kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) lebih dapat mengakomodasi semua kebutuhan yang diperlukan untuk belajar fotografi secara lebih optimal.

      23 Tahun 2012

      Warta anggaran |

      Penulis : Fr. Edy Santoso | Adalah staf pada Direktorat Anggaran III penghobi serius fotografi

      Ketika sedang belajar fotografi sebaiknya anda tidak membatasi diri dengan hanya mempelajari satu jenis fotografi saja, misalnya; hanya jenis landscape/pemandangan saja. Praktekkan berbagai macam jenis fotografi

      5. Jangan membatasi diri

      Ikutilah lomba-lomba foto yang sering diadakan oleh komunitas, majalah ataupun di kelompok kecil di mana anda terlibat, belum perlu mengikuti lomba foto bertaraf nasional apalagi internasional, sebagai ajang untuk mengasah kreatifitas visual juga sebagai ajang pengakuan terhadap hasil karya anda jika terpilih. Hal ini akan memacu semangat kita untuk terus memperdalam ilmu fotografi.

      4. Mengikuti kontes atau lomba foto

      Bergabung dengan komunitas atau milis fotografi akan sangat membantu proses pembelajaran anda. Selain itu mengikuti “hunting bareng” juga akan membantu anda mendapatkan ilmu/teknis fotografi yang baru.

      intermediate. Tapi pada akhirnya, anda juga harus mempunyai gaya/style sendiri.

      Saya mempelajari fotografi secara otodidak, sebab cara belajar ‘ trial and error ‘ yang selama ini saya lakukan, tampaknya lebih ada hasilnya bagi saya. Dewasa ini bermacam tempat kursus fotografi banyak bermunculan. Ada tempat kursus yang dimiliki oleh fotografer terkenal sampai ke forum-forum di internet atau komunitas. Di tempat kursus hanya dititikberatkan pada penguasaan dasar-dasar ilmu fotografi. Biasanya tempat kursus mengajarkan mulai dari tingkat basic, advance, maupun

      3. Belajar sendiri/otodidak atau kursus

      Membaca semua literatur yang berkaitan dengan fotografi akan membuka wawasan tentang hobi yang sedang anda tekuni ini. Baik itu literatur yang bersifat offline maupun online, akan sangat berguna.

      2. Baca semua hal tentang fotografi

      

      Setelah beberapa tahun menekuni hobi fotografi, ternyata fotografi adalah hobi yang sangat menyenang, unik, kreatif, bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja, sehingga tidak membosankan. Dikatakan unik, karena foto dapat dinikmati oleh siapa saja dengan bebas, bahkan kadang rasa yang ditawarkan oleh fotografer diterima berbeda oleh penikmat foto. Bisa dibilang kreatif, karena fotografi memberikan kemerdekaan/kebebasan kepada kita untuk berkreasi tanpa batas, sejauh imajinasi dan otak kita dapat berkolaborasi secara kreatif.

      Sama dengan hobi-hobi yang lain, untuk memulai hobi fotografi perlu dipersiapkan atau diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

      Hal-hal yang perlu dipersiapkan

      still life, makro dll) dengan menggunakan banyak pilihan alat (kamera analog film, kamera pocket, medium format, large format, panorama, range finder, DSLR, dll). Masing-masing pengertian/definisi dari jenis fotografi tersebut akan saya jelaskan dalam artikel berikutnya.

      interest”, landscape/alam, jurnalistik, travelling,

      Kita bisa memilih obyek dan jenis fotografi apa yang kita suka (model, “human

      

      masa, sisi dinamis dari fotografi yang selalu berkembang pada setiap jaman, baik dari sisi perkembangan teknologi dan dari sisi trend dan taste gambar (dari jaman analog/film dengan kamar gelap sampai jaman digital dengan software pengolah foto).

       Fotografi selalu berkembang setiap

      atau ide. Disinilah otak kiri dan otak kanan digunakan dalam hobby memotret kita.

      Mengapa Menjadikan Fotografi sebagai hobi ?

      adalah kegiatan teknis mengoperasikan kamera yang penuh perhitungan agar bisa mendapatkan visual atau gambar apa yang telah dipesankan pada kegiatan konsep

      of art” tersebut muncul. Kegiatan lainnya

      membantu kita untuk menyeimbangkan fungsi otak, karena fotografi secara umum dibagi dalam 2 (dua) kegiatan, yaitu satu kegiatan penggalian ide, perencanaan serta konsep di mana rasa dan “sense

       Kegiatan fotografi juga bisa

      1. Kamera dan aksesorinya.

    POJOK FOTO

      City Scape | by Wirawan Seti ‘Adji’ | EOS 60D, Lensa Canon 17-40mm, F/4 L Series,

      Lokasi : Menteng Jakarta Pusat

      ISO 400, Diafragma F/9, Foto diambil dari lantai 4 sebuah gedung di Menteng Jakarta Pusat. Sudah lama saya ingin memotret kota Jakarta Exposure 5 detik pada waktu malam, kebetulan pada waktu itu dapat spot yang bagus, maka jadilah foto ini, walaupun kondisi saat itu langit sedang mendung.

      yang anda sudah pelajari. Misalnya; fotografi makro, model, children, still life, dengan bermacam jenis angle dan pencahayaan. Dengan demikian wawasan fotografi anda semakin luas dan memudahkan ketika anda ingin memilih jenis fotografi apakah yang ingin anda focus dan untuk ditekuni.

    6. Latihan

      Ilmu fotografi terdiri dari sebagian kecil terdiri dari teori dan lebih banyak pada praktek. Jadi semakin sering dan semakin tekun anda mempraktekkan teori fotografi yang telah anda pelajari semakin cepat pula anda menguasai segala aspek berkenaan dengan fotografi. Sebagai penutup, apabila anda serius dengan hobi ini, ternyata fotografi juga bisa mendatangkan penghasilan yang lumayan. Kreatifitas dan keuletan anda bisa membuat hobi ini menjadi bisnis yang menguntungkan. Hampir setiap kegiatan pasti membutuhkan fotografi sebagai media dokumentasinya.

      Mulai edisi nomor 23 Warta Anggaran (WA) menambah rubrik baru : Pojok Photografi yang diasuh oleh Fransiskus Edy Santoso (Edy ‘ Singo’) Redaksi menerima pertanyaan dan foto-foto

      EOS 5D , Lensa Tamron Jalan Masih Panjang | By Edy ‘Singo’ |

      28-75mm F/2.8, ISO 200 , hasil karya Anda. Kirimkan foto hasil karya

      Lokasi : Pulau Rinca, Manggarai Barat NTT Diafragma F/11 , Exposure terbaik Anda, disertai data teknis, lokasi dan

      Foto ini saya ambil waktu trip dalam rangka promosi Pulau 1/200 dtk , Kompensasi Komodo menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Alam Dunia. narasi singkat ke email :

    • 1 Stop Sedikit dinaikan saturasinya untuk mendapatkan warna yang lebih

      wartaanggaran@gmail.com

      Kamis, 17 Februari 2011, bertempat di Ruang Rapat Direktur Jenderal Anggaran dilakukan serah terima jabatan Direktur Jenderal Anggaran dari Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara K.A. Badaruddin selaku plh. Direktur Jenderal Anggaran kepada Herry Purnomo yang telah dilantik menjadi Direktur Jenderal Anggaran. Acara serah terima yang dihadiri oleh sejumlah pejabat eselon III di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran ini berlangsung secara sederhana dan khidmat.

      Herry Purnomo yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Jenderal Perbendaharaan, dilantik sebagai Direktur Jenderal Anggaran menggantikan Anny Ratnawati yang telah diangkat sebagai Wakil Menteri Keuangan.

      Kamis, 10 Maret 2011, bertempat di Ruang Rapat Kresna Lantai P5 Gedung Sutikno Slamet diselenggarakan sosialisasi mengenai Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Peserta sosialisasi adalah para wajib LHKPN di lingkungan Ditjen Anggaran yang berjumlah kurang lebih 150 orang.

      Acara dibuka oleh Kepala Bagian Organisasi dan Tata Laksana DJA, Meriyam Megia Shahab. Dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai KMK Nomor 38/KMK.01/2011 tentang Penyelenggara Negara di Lingkungan Kementerian Keuangan yang Wajib Menyampaikan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara dengan narasumber Kepala Biro Sumber Daya Manusia Sekretariat

      Jenderal Kementerian Keuangan, Anis Said Basalamah. Sosialisasi mengenai tata cara pelaporan LHKPN disampaikan oleh wakil dari Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara, Komisi Pemberantasan Korupsi. Narasumber dari KPK menjelaskan tentang tata cara pengisian formulir LHKPN, yaitu formulir LHKPN Model KPK-A bagi yang wajib LHKPN yang baru pertama kali menyampaikan, dan formulir LHKPN Model KPK-B bagi wajib LHKPN yang telah menyampaikan LHKPN Model KPK-A.

      Pada hari Rabu, 16 Maret 2011, bertempat di Ruang Rapat Direktur Jenderal Anggaran Gedung Sutikno Slamet Lantai 4, dilaksanakan Penandatanganan Kontrak Kinerja Eselon II. Acara tersebut dihadiri Direktur Jenderal Anggaran, para pejabat eselon

      II, serta para pejabat eselon III dan IV di lingkungan DJA. Dengan disaksikan oleh Direktur Jenderal Anggaran, Pejabat Eselon II di lingkungan DJA menandatangani kontrak kinerja masing-masing. Dirjen Anggaran, Herry Purnomo menghimbau agar komitmen yang telah ditandatangani diperhatikan dan dijalankan dengan sungguh-sungguh. Dirjen Anggaran mengingatkan kepada para pejabat eselon II untuk menjaga capaian kinerja agar sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

      Senin, 28 Maret 2011 dilaksanakan Sosialisasi Peraturan Menteri

      Kaleidoskop KALEIDOSKOP 2011

    SERTIJAB DIRJEN ANGGARAN

    PENANDATANGANAN KONTRAK KINERJA PEJABAT ESELON II

    SOSIALISASI LHKPN

    SOSIALISASI TATA CARA REVISI ANGGARAN

      Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011 tentang Tata Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2011 bertempat di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan. Sosialisasi diikuti oleh para pegawai Direktorat Jenderal Anggaran dan Kementerian/Lembaga.

      Pemaparan PMK tentang Tata Cara Revisi Anggaran disampaikan oleh Made Arya Wijaya, Kepala Subdirektorat Pengembangan Sistem Penganggaran. Pada dasarnya, revisi anggaran bertujuan untuk antisipasi terhadap perubahan kondisi dan prioritas kebutuhan, mempercepat pencapaian kinerja, dan meningkatkan efektivitas, kualitas belanja dan optimalisasi penggunaan anggaran yang terbatas. Direktorat Jenderal Anggaran dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri berwenang dalam penetapan Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2022. Pengajuan revisi anggaran untuk APBN TA 2011 selambat- lambatnya 14 Oktober 2011, untuk Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran. Sedangkan untuk Revisi Anggaran pada Kantor Pusat/Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan selambat-lambatnya 28 Oktober 2011

    SOSIALISASI PETUNJUK PENYUSUNAN RKA- K/L

      DJA menyelenggarakan acara workshop Reviu Angka Dasar (Baseline) Tahun Anggaran 2012 pada tanggal 21-24 Juni 2011 bertempat di Auditorium Dhanapala, Kementerian Keuangan.

      Peserta workshop berasal dari K/L yang berbeda-beda agar lebih banyak pihak yang mendapatkan pemahaman yang baik tentang Baseline. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari prakiraan belanja pada angka dasar tahun 2012 dan 2013.

      Workshop dibuka oleh Direktur Sistem Penganggaran, Rakhmat dan Sekretaris Direktorat Jenderal Anggaran, Ari Wahyuni. Workshop dipandu oleh Ernest Patria Raihan, dengan pembicara Achmad Zunaidi dan Sean O’Grady dari Government Partnership Fund/Australian-Indonesia Partnership.

      Direktur Jenderal Anggaran menghimbau seluruh K/L untuk menghindari calo anggaran dan tidak memberi gratifikasi kepada petugas DJA dalam penyusunan dan penelaahan RKA-KL 2012. Hal tersebut disampaikan dalam sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-K/L. Sosialisasi dilakukan tanggal 5-6 Juli 2011 bertempat di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan. Sosialisasi dilakukan dalam rangka persiapan kegiatan penelaahan RKA-KL antara DJA dengan seluruh KL yang akan dilaksanakan pada tanggal 6-25 Juli 2011. Sosialisasi disampaikan kepada petugas penelaah, baik dari DJA maupun dari K/L. Sebelum dilakukan paparan oleh para pejabat DJA, Wakil Menteri Keuangan, Anny Ratnawati memberikan pesan bahwa tahun ini merupakan (tahun pertama pelaksanaan) Performance Based Budgetting sehingga orientasi alokasi anggaran belanja harus berdasarkan outcome dan output. Wamenkeu juga berharap agar terjalin komunikasi yang baik antara DJA dengan komisi terkait di DPR-RI agar proses penganggaran yang telah ditetapkan dapat berjalan lancar.

      Paparan sosialisasi disampaikan oleh Direktur Sistem Penganggaran dan Kasubdit Transformasi Penganggaran mengenai Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 93/PMK.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL. PMK ini merupakan pedoman dalam rangka pemantapan penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja dan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah secara penuh. Pada sesi terakhir disampaikan paparan mengenai Sistem Aplikasi RKA-KL oleh tim Aplikasi Sistem Penganggaran.

      Kaleidoskop KALEIDOSKOP 2011 Warta anggaran |

    WORKSHOP REVIEW BASELINE TAHUN ANGGARAN 2012

    23 Tahun 2012

      CAPACITY BUILDING : ONE MINUTE AWARENESS

      Dalam rangka meningkatkan integritas pegawai DJA, pada tanggal

      28 Juli 2011 bertempat di Auditorium Dhanapala dilaksanakan Training Integritas dan Motivasi, dengan pembicara utama training adalah Nanang Qosim Yusuf, yang telah dikenal sebagai master trainer dan penulis buku yang sukses.

      Nanang Qosim Yusuf, atau lebih akrab dipanggil Naqoy, menyampaikan materi training selama 2 jam. Dalam acara ini, peserta diajarkan untuk tidak boleh puas dengan keadaan good, tapi harus berusaha untuk mencapai great serta dilatih bagaimana menemukan sesuatu yang mendorong seseorang menuju kesuksesan. Naqoy mengatakan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan hanya dalam satu menit yang dapat mengubah hidup. Inilah yang disebutnya sebagai One Minute Awareness (OMA). One minute awareness ini berbeda-beda bagi tiap orang. Pada akhir sesi, Naqoy mengajak seluruh pegawai DJA yang mengikuti training untuk merenung dan mencari one minute awareness dalam dirinya masing-masing.

    PELATIHAN JURNALISTIK

      Pengelolaan anggaran negara yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel merupakan harapan dari seluruh masyarakat. Mewujudkan hal tersebut merupakan tugas berat yang harus dilaksanakan oleh DJA sebagai perencana anggaran. Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan dibangunnya Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). SPAN Project dibangun melalui penyempurnaan proses bisnis yang didukung oleh teknologi informasi yang terintegrasi. Itulah inti dari sambutan Dirjen Anggaran, Herry Purnomo, kepada seluruh pejabat dan pegawai di lingkungan DJA pada acara Sosialisasi SPAN (Senin/26 September 2011) yang mengambil tema : “Menuju Pengelolaan Anggaran Negara Yang Efisien, Efektif, Transparan, dan Akuntabel Melalui Penyempurnaan Proses Bisnis dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Yang Terintegrasi”.

      SPAN bukan merupakan urusan Ditjen Perbendaharaan saja, namun SPAN adalah milik semua unit eselon I di Kementerian Keuangan. Manfaat SPAN akan dirasakan tidak hanya bagi unit Eselon I di Kementerian Keuangan saja, tapi akan dirasakan juga oleh Kementerian/Lembaga serta stakeholder lainnya di bidang perencanaan penganggaran, pelaksanaan anggaran dan pelaporannya.

      Pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan selama dua hari, 11-12 Oktober 2011 di Jakarta dan diikuti oleh 25 orang pegawai DJA yang memiliki minat dan kemampuan untuk berkecimpung dalam media kehumasan DJA, bertujuan untuk menciptakan pengelola-pengelola media kehumasan baik media cetak dan media elektronik DJA yang dapat menjadi “corong” DJA dalam menyampaikan setiap kebijakan penganggaran kepada publik. Kegiatan pelatihan ini dibuka oleh Direktur Jenderal Anggaran, Herry Purnomo dengan didampingi oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Anggaran, Ari Wahyuni.

      Sebagai narasumber, DJA mendatangkan para pakar jurnalistik yang sangat berpengalaman di media cetak maupun media elektronik, yaitu Head of Corporate Communication Media Televisi Indonesia, Adjie S. Soera Atmadjie dan Produser Seputar Indonesia Pagi, Winarto.

    SOSIALISASI SPAN

    RAPAT KOORDINASI PENYELESAIAN RUU APBN

      

    2012

      Pada tanggal 17 Oktober 2011 diadakan rapat koordinasi

      KALEIDOSKOP 2011 Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 Penyelesaian RUU APBN 2012 di auditorium Dhanapala Gedung Sutikno Slamet Kementerian Keuangan yang dihadiri oleh perwakilan seluruh Kementerian/Lembaga dan diisi dengan arahan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa dan Menteri Keuangan, Agus Martowardojo. Acara dibuka dengan laporan Direktur Jenderal Anggaran, Herry Purnomo yang menyampaikan laporan progress pembahasan dan penyelesaian RUU APBN 2012 dengan DPR.

      Dalam arahannya, Hatta Rajasa meminta kepada seluruh K/L untuk mencari terobosan-terobosan baru dalam pelaksanaan program dan kegiatan tapi tetap menjaga akuntabilitas dan transparansi, jangan hanya melakukan bussiness as usual. Dana optimalisasi

    PENELAAHAN RKA-K/L (PAGU DEFINITIF)

      bukanlah akal-akalan tapi merupakan proses yang akuntabel dan dilakukan untuk memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan rakyat.

      Kegiatan Sosialisasi Nilai-Nilai Kementerian Keuangan yang diselenggarakan di komplek Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, pada hari Sabtu, 22 Oktober 2011 berlangsung cukup semarak dan penuh semangat. Kegiatan sosialisasi diawali dengan senam bersama Menteri Keuangan dan seluruh pegawai yang hadir. Dalam kesempatan itu Menteri Keuangan memperkenalkan seluruh para pejabat eselon I termasuk Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati dan Mahendra Siregar yang baru saja dilantik. Acara inti sosialisasi nilai-nilai Kementerian Keuangan diselingi dengan penampilan dari enam unit eselon I, yaitu Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Badan Kebijakan Fiskal, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, serta Direktorat Jenderal Anggaran yang dikomandani oleh Direktur Jenderal Anggaran, Herry Purnomo.

      Sejak tanggal 7 November 2011, ratusan petugas penelaah dari berbagai satuan kerja di Kementerian Negara/Lembaga (K/L) setiap harinya akan memadati komplek Kementerian Keuangan di Jl. Dr. Wahidin No. I untuk melakukan pembahasan akhir alokasi anggaran 2012 dengan Direktorat Jenderal Anggaran. Selama dua minggu kedepan, Gedung Sutikno Slamet telah disiapkan menjadi tempat penelaahan bagi Direktorat Anggaran III bersama mitra kerjanya (kementerian/lembaga bidang polhukam), sedangkan Gedung Radius Prawiro diperuntukan bagi Direktorat Anggaran I dengan mitra kerjanya (kementerian/lembaga bidang perekonomian), dan Aula Gedung R.M. Notohamiprodjo disiapkan untuk Direktorat Anggaran II dan mitra kerjanya (kementerian/ lembaga bidang kesra).

      PELANTIKAN LINTAS ESELON I

      Bertempat di Ruang Rapat Direktur Jenderal Anggaran, Senin, 21 November 2011, secara resmi Direktur Jenderal Anggaran, Herry Purnomo melantik Langgeng Suwito, S.E., M.Com sebagai Kasubdit Standar Biaya, dan Gede Ginarya, S.Sos. sebagai Kasubdit Teknologi dan Informasi Penganggaran.

      Selain dihadiri oleh para pejabat eselon II dan pejabat eselon

      III, hadir pula dalam acara pelantikan tersebut, mantan pejabat eselon III di Ditjen Anggaran, Afrizal dan Nuritawati, yang akan dilantik sebagai pejabat eselon III di lingkungan Direktorat Jenderal

      Kaleidoskop KALEIDOSKOP 2011 Warta anggaran |

    SOSIALISASI NILAI-NILAI KEMENTERIAN KEUANGAN

    23 Tahun 2012

      Perbendaharaan. ”Mutasi antar unit eselon I ini adalah hal yang wajar dalam rangka memenuhi kebutuhan organisasi. Sebelumnya Ditjen Anggaran juga telah melantik pejabat eselon II yang berasal dari luar Ditjen Anggaran”, demikian disampaikan Herry Purnomo dalam sambutannya. ”Kedepan, pelaksanaan mutasi lintas unit eselon I tidak hanya sampai pada level eselon III saja. Namun bisa juga dilaksanakan sampai dengan level eselon IV, karena kebutuhan dan perkembangan organisasi yang cukup dinamis. Terlebih lagi dengan adanya implementasi SPAN, yang akan merubah pelaksanaan pekerjaan yang semula bersifat manual menjadi bersifat otomatis. Hal ini tentunya akan menuntut perubahan mindset dari para pejabat di lingkungan Ditjen Anggaran”, tambah Herry Purnomo.

    RAKER DJA

      SOSIALISASI LANGKAH-LANGKAH TINDAK LANJUT ATAS UU APBN TAHUN 2012 DALAM RANGKA PENCIPTAAN NILAI LEBIH PELAKSANAAN APBN T.A. 2012

      Penyelenggaraan kegiatan sosialisasi ini sangat tepat dan berguna bagi kementerian negara/lembaga dalam rangka pelaksanaan APBN T.A. 2012, demikian disampaikan oleh Menteri Keuangan, Agus Martowardojo dalam sambutannya pada acara Sosialisasi Langkah- Langkah Tindak Lanjut Atas UU APBN Tahun 2012 Dalam Rangka Penciptaan Nilai Lebih Pelaksanaan APBN T.A. 2012, yang bertempat di Auditorium Dhanapala pada Selasa, 29 November 2011. Acara kemudian dilanjutkan dengan presentasi Direktur Jenderal Anggaran, Herry Purnomo tentang hal-hal terkait dengan arah kebijakan dan tindak lanjut hasil pembahasan APBN 2012 dan hasil penelaahan RKA-K/L 2012, disambung dengan presentasi Direktur Jenderal Perbendaharaan, Agus Suprijanto, yang membawakan materi tentang Overview Penyerapan APBN TA 2011 dan Persiapan Pelaksanaan Anggaran TA 2012.

      Menteri Keuangan, Agus Martowardojo berpesan kepada seluruh jajaran Direktorat Jenderal Anggaran agar kita berpegang pada visi yang benar, kegiatan yang fokus, dan komitmen bersama untuk mewujudkan tujuan organisasi. ”Saudara-saudara perform exceeding

      expectation” apresiasi Agus, atas capaian kinerja Ditjen Anggaran selama tahun 2011. Hal tersebut dikatakan setelah Direktur Jenderal Anggaran, Herry Purnomo menyampaikan laporan singkat atas capaian-capaian Ditjen Anggaran sepanjang tahun 2011 dihadapan + 800 pegawai

      Ditjen Anggaran dalam acara Rapat Kerja Ditjen Anggaran yang diselenggarakan pada Kamis, 1 Desember 2011 bertempat di ballroom Dhanapala Kementerian Keuangan, turut hadir pula Wakil Menteri Keuangan I, Anny Ratnawati. Dalam laporannya Herry Purnomo menyampaikan bahwa salah satu capaian penting Ditjen Anggaran adalah pelaksanaan pembahasan RAPBN 2012 dengan DPR secara transparan. Upaya tersebut juga mendapatkan apresiasi Menteri Keuangan. Selain berisi Laporan Dirjen Anggaran dan arahan Menteri Keuangan, rapat kerja juga diisi dengan internalisasi nilai-nilai Kementerian Keuangan. Dirjen Anggaran juga menyampaikan bahwa seluruh jajaran DJA sudah melaksanakan nilai-nilai Kementerian Keuangan dan selalu berusaha meningkatkan integritas, profesionalisme dan bersinergi dalam melaksanakan tugas. Selain itu juga berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan mencari terobosan-terobosan baru untuk mencapai nilai kesempurnaan. Secara simbolik, Menteri Keuangan menyematkan pin Nilai-nilai Kementerian Keuangan kepada Dirjen Anggaran dan diikuti oleh seluruh pegawai DItjen Anggaran.

      KALEIDOSKOP 2011 Warta anggaran |

      23 Tahun 2012 Raker bali, 8 des 2011 Sosialisasi SPAN

      Sosialisasi Dalam Rangka Menciptakan Penciptaan Nilai Lebih Foto Peristiwa

      Pembukaan Raker Jakarta, 1 des 2011 Penelaahan RKAKL Ta 2012 Penelaahan RKAKL TA 2012

      Rapat Komisi Pada Raker Jakarta, 1 Des 201

Dokumen baru

Tags

Krisis Ekonomi Global Pengertian Krisis Ekonomi Global Krisis Krisis Ekonomi Global Krisis Asia Krisis Ekonomi Global Krisis Final Krisis Ekonomi Global Krisis Kepemerinta Kesiapan Indonesia Menghadapi Masyarakat Menghadapi Krisis Ekonomi Global Tahun Krisis Ekonomi Global Dan Bagaimana Indonesia Menghadapinya Kesiapan Indonesia Dalam Menghadapi Era Ekonomi Polotik Global Dan Krisis
Show more