BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH - 03 Rancangan Kerangka Ekonomi dan Keuangan 3

Gratis

0
0
34
1 year ago
Preview
Full text

BAB II I RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Rancangan kerangka ekonomi daerah dan kebijakan keuangan daerah

  pada tahun 2016 memberikan gambaran kondisi ekonomi makro daerah serta tantangan dan prospek perekonomian daerah, kebijakan yang akan ditempuhberkaitan dengan pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah dalam rangka pencapaian agenda pembangunan. Pembangunan ekonomimerupakan bagian yang integral dari proses yang berkelanjutan untuk mencapai tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat hal ini dapat terwujud bilapertumbuhan ekonomi berlangsung secara berkelanjutan dan hasil dari peningkatan kegiatan perekonomian tersebut dapat dinikmati oleh seluruhmasyarakat secara berkeadilan.

3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah

Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah menggambarkan kondisi dan analisis statistik perekonomian daerah, sebagai gambaran umum untuksituasi perekonomian Kabupaten Garut tahun 2014, bab ini juga membahas mengenai tantangan serta prospek perekonomian KabupatenGarut ke depan yang diperkirakan akan mempengaruhi kinerja perekonomian daerah.

3.1.1 Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2012-2014

  Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan pengukuran atas nilai tambah yang mampu diciptakan akibat adanya berbagaiaktivitas ekonomi dalam suatu daerah, secara keseluruhan pencapaian kinerja PDRB Kabupaten Garut selama tahun 2012-2014 yang diukur III - 1 Sedangkan untuk menganalisis perkembangan dari volume produk barang/jasa umumnya digunakan PDRB yang dihitung atas dasar hargakonstan. Namun demikian, apabila dibandingkan dengan perkembangan jumlah Angkatan Kerja Usia Kerja 15 Tahun Keatas, maka rasiopenduduk yang bekerja selama periode tahun 2012-2014 mengalami sedikit penurunan meskipun tidak terlalu signifkan sebesar 1,33% darisebesar 93,62% pada tahun 2012 menjadi sebesar 92,29% pada tahun 2014.

INDIKATOR KETENAGKERJAAN 2012 2013 2014

1 Jumlah penduduk yang bekerja Usia Kerja 15 Tahun Keatas (orang)936.552 922.194 943.727 2 Angkatan Kerja Usia Kerja 15 Tahun Keatas (orang)1.000.365 1.003.916 1.022.545

3 Rasio Penduduk bekerjaUsia Kerja

  15 Tahun Keatas (%) 93,62% 91,86% 92,29% 4 Jumlah Pengangguran Terbuka (orang)63.813 81.722 78.818 5 Tingkat Pengangguran (%) 6,38% 8,14% 7,71% Sumber: BPS RI, Data Statistik Angkatan Kerja Nasional (Agustus) Seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 yang diperkirakan tumbuh sebesar 4,93%, tingkat pengangguran terbukapada tahun 2014 mengalami penurunan sebesar 0,43% dari sebesar8,14% pada tahun 2013 menjadi sebesar 7,71% pada tahun 2014. Tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2014tersebut relatif lebih rendah apabila dibandingkan dengan tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat sebesar 8,45%, namun masih relatiflebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran terbuka Nasional sebesar 5,94%.

3.1.2 Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah

Tantangan dan prospek perekonomian Kabupaten Garut, tentunya akan banyak dipengaruhi oleh tantangan dan prospek pada tataran global,nasional, maupun lingkungan regional Jawa Barat.

3.1.2.1 Global dan Nasional

  Dari sisi permintaan, permintaan eksternal akan mendorong pertumbuhan ekspor hingga mencapai 4,8%-5,2%, yang didukung oleh membaiknya kondisi ekonomi global, terutama di pasar ekspor utama Indonesia, seperti AmerikaSerikat yang perekonomiannya mulai membaik.(2) Investasi diperkirakan tumbuh 8,6%-9,0 yang didorong oleh permintaan domestik yang meningkat dan membaiknya investasipada sektor yang berorientasi ekspor. Kebijakan peningkatan iklim investasi dan iklim usaha ini tentunya akan tetap berlanjut di tahun 2016, dengan lebih dititikberatkan padapembenahan dan penyederhanaan proses perijinan dan kepastian berusaha secara berkelanjutan untuk mendorong investasi yang lebihtinggi serta penerapan upaya konkrit untuk menciptakan iklim persaingan usaha yang lebih sehat dan adil.

3.1.2.2 Jawa Barat

  Tantangan utama yang dihadapi Jawa Barat adalah bagaimanan menciptakan produk inovatif yang berdaya saing tinggi dan didukungoleh sumber daya manusia yang profesional, infrastruktur, dan teknologi dan menciptakan iklim usaha yang kondusif. (2) Bidang Industri : Jawa Barat memiliki industri yang banyak baik skala besar, menengah, kecil dan mikro(3) Bidang Energi: Jawa Barat memiliki sumber daya alam sumber energy alternative yang cukup banyak, baik dari bahan tambangmaupun komoditas pertanian.(4) Bidang Teknologi: Jawa Barat memiliki Perguruan tinggi ternama dan lembaga litbang departemen maupun non departemen yangcukup banyak.

3.1.2.3 Kabupaten Garut

  Tekanan infasi diperkirakan sebesar 6% angka sementara, kondisi ini seiring dengan dampak kenaikan harga BBM bersubsidi, namundemikian, tekanan infasi diperkirakan muncul dari berbagai pengaruh seperti kenaikan tarif listrik, faktor cuaca yang mempengaruhi produksikomoditas pertanian. Meningkatkan produktivitas hutan dan pengembangan aneka usaha kehutanan, dengan penguatan kelembagaan dan kesejahteraanmasyarakat sekitar hutan; 4.

3.2 Arah Kebijakan Keuangan Daerah

Dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintahan Daerah, pengelolaan keuangan daerah merupakansubsistem dari sistem pengelolaan keuangan negara dan merupakan elemen pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Penyusunan arahkebijakan keuangan daerah secara umum mengacu pada KetentuanPerundangan, antara lainUndang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentangKeuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentangPerbendaharaan Negara, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentangPemerintahan Daerah, Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang

3.2.1 Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan

  Otonomi daerah dan desentralisasi berimplikasi pada semakin luasnya kewenangan daerahuntuk mengatur dan mengelola pendapatan daerah, sehubungan dengan hal tersebut, maka secara bertahap terus dilakukan upaya meningkatkankemandirian pendapatan daerah dengan mengoptimalkan seluruh potensi pendapatan yang dimiliki. Memberikan insentif/ bonus dan penghargaan kepada SKPD yang berhasil mencapai atau melampaui target, dan menjatuhkansanksi kepada SKPD yang tidak berhasil mencapai target penerimaan pendapatan daerah secara optimal dalam satu tahunanggaran; f.

1 PENDAPATAN 2.927,34 7,00 3.32,25 3.35,5

1.1 Pendapatan Asli Daerah 255,10 7,00 272,96 292,07

1.3.1 Pendapatan Hibah dari Pemerintah3,00 7,00 3,21 3,43 1.2.3 Dana Alokasi Khusus 146,58 7,00 156,85 167,82 1.2.2 Dana Alokasi Umum 1.702,45 7,00 1.821,62 1.949,14 1.2.1 Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan Pajak210,97 7,00 225,74 241,54 1.1.4 Lain-Lain PAD Yang Sah 183,55 7,00 196,39 210,14 1.1.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan3,56 -9,01 3,24 4,08 1.1.2 Hasil Retribusi Daerah 16,07 10,55 17,77 18,40 1.1.1 Hasil Pajak Daerah 51,92 7,00 55,56 59,45 (Milyar Rp) TingkatPertum buhan (%) Proyeksi (Milyar Rp) 2015 2016 No UraianData Tahun 2014 Tabel 3.5 ProyeksiTarget PendapatanTahun 2015 s.d Tahun 2016 3) Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah, diarahkan untuk dapat meningkatkan penerimaan pendapatan dari dana bagi hasil pajak dariprovinsi, bantuan keuangan dari provinsi maupun hibah dari pemerintah melalui peningkatan koordinasi dengan PemerintahProvinsi dan Pemerintah Pusat. c. Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil Bukan Pajak, Dana AlokasiUmum, dan Dana Alokasi Khusus; Dana Alokasi Khusus (DAK);

1.2 Dana Perimbangan 2.060,01 7,00 2.204,21 2.358,50

1.3 Lain-Lain Pendapatan Yang Sah 612,23 7,00 655,09 700,94

Data Tingkat Proyeksi (Milyar Rp) No Uraian Tahun 2014 Pertum 2015 2016 (Milyar Rp) buhan (%)Dana Bagi Hasil Pajak dari 1.3.2 72,14 7,00 77,19 82,59Provinsi Dana Penyesuaian dan 1.3.3 418,31 7,00 447,59 478,92 Otonomi Khusus :Bantuan Keuangan dari 1.3.4 Provinsi atau Pemerintah 118,78 7,00 127,10 135,99 Daerah LainnyaSumber : RPJMD Kabupaten Garut 2014-2019 Selama kurun waktu tahun 2014 - 2016, sumber dana pembangunanAPBD Kabupaten Garut secara rata-rata masih didominasi oleh sumber dana perimbanganserta lain-lain pendapatan yang sah, sementarakemampuan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya memberikan kontribusi yang tidak terlalu signifkan terhadap pendapatan. Untuk tahun 2016, pendapatan diproyeksikan mencapai Rp.3,35 trilyun, atau terdapat peningkatan pendapatan daerah sebesar 6,53%dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp.3,13 trilyun.

3.2.2 Arah Kebijakan Pendapatan Daerah

  Sejalan dengan kebutuhan pendanaan pembangunan daerah yang terus meningkat, intensifkasi dan ekstensifkasi pendapatan harus terusdilakukan baik terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), pendapatan yang bersumber dari pusat (Dana Perimbangan), serta pendapatan lain-lain. Memberikan insentif/bonus dan penghargaan kepada SKPD yang berhasil mencapai atau melampaui target, dan menjatuhkan sanksikepada SKPD yang tidak berhasil mencapai target penerimaan pendapatan daerah secara optimal dalam satu tahun anggaran.

3.2.3 Arah Kebijakan Belanja Daerah

  Penggunaan belanja daerah yang meliputi Belanja Langsung maupunBelanja Tidak Langsung dalam APBD ditujukan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupatenyang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapatdilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah. Kebijakan belanja daerah tahun anggaran 2016diarahkan dengan pengaturan pola pembelanjaan yang proporsional, efsien dan efektif, upaya tersebut antara lain adalah: 1.

A. Belanja Tidak Langsung 1.884,25 7,84% 2.032,00 2.197,98

1 Belanja Pegawai 1.782,15 1.938,02 2.107,75 8,75% 2 Belanja Bunga 3 Belanja Subsidi 4 Belanja Hibah 8,59 2,58 0,77 5 Belanja Bantuan Sosial 3,38 3,62 3,87 7,00% 6 Belanja Bagi Hasil 0,03 0,03 0,04 7,00% 7 Belanja Bantuan Keuangan 74,60 0,00% 74,60 74,60 8 Belanja Tidak Terduga 10,50 -70,00% 3,15 0,95 Dana Daerah Otonomi Baru 5,00 100,00% 10,00 10,00B. Belanja Langsung 1.115,35 1.193,43 1.276,97 7,00% 1 Belanja Pegawai 150,90 167,08 178,78 10,72% 2 Belanja Barang dan Jasa 564,83 608,65 651,25 7,76% 3 Belanja Modal 399,62 417,70 446,94 4,52%Total Belanja 2.999,60 7,53% 3.225,42 3.474,94 Sumber : RPJMD Kabupaten Garut 2014-2019

3.2.4 Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah

Kebijakan pembiayaan terhadap kebutuhan pembangunan daerah yang semakin meningkat akan berimplikasi pada kemungkinan terjadinyadefsit anggaran,untuk itu perlu dilakukan langkah-langka antisipasi, sehingga defsit anggaran tersebut dapat ditanggulangi antara lainmelalui:

A. Kebijakan Penerimaan Pembiayaan

  Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutanmaupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya, mencakup sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (Silpa);pencairan dana cadangan; hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan; penerimaan pinjaman daerah; penerimaan kembalipemberian pinjaman; dan penerimaan piutang daerah. Kebijakan penerimaan pembiayaan tahun 2016 meliputi :1) Sisa Lebih Anggaran tahun sebelumnya (SiLPA) dipergunakan sebagai sumber penerimaan pada APBD tahun berikutnya danrata-rata SilPA akan diupayakan seminimalkan mungkin dengan melaksanakan perencanaan dan pelaksanaan anggaran secarakonsisten.2) Defsit APBD ditutup melalui Sisa Lebih Anggaran Tahun Lalu, Pinjaman Daerah (Pinjaman jangka pendek dan jangka panjang) dan atau Transfer/Penarikan Dana Cadangan Daerah.

B. Kebijakan Pengeluaran Pembiayaan Daerah

  Selain itu program prioritas I ini berhubungan langsung dengan kepentingan publik, bersifat monumental,berskala besar, dan memiliki kepentingan dan nilai manfaat yang tinggi, memberikan dampak luas pada masyarakat dengan daya ungkit yang tinggipada capaian visi – misi Daerah serta diprioritaskan pada belanja yang wajib sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Rencana Alokasi Prioritas II, Yakni berkaitan dengan program unggulan ditingkat SKPD yang paling berdampak luas pada masing-masingSegmentasi Masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan layanan dasar sertatugas dan fungsi SKPD termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH - Bab IV
0
0
48
BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH - Bab V
0
2
14
Total Belanja (Urusan, Non Urusan, Belanja Tidak Langsung - Hibah)
0
0
6
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN CIAMIS TAHUN 2016
0
0
752
Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong Buku III Agenda Pembangunan Wilayah
1
1
516
2 BIDANG URUSAN KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH Pagu Indikatif (Rp.) Perkiraan Maju (Rp.) Desa Kelurahan Kecamatan Hasil Program Keluaran Kegiatan Hasil Kegiatan SKPD : DINAS KOPERASI, UMKM DAN BMT No UrusanBidang Urusan Pemerintah Daerah Dan ProgramKe
0
0
25
No UrusanBidang Urusan Pemerintah Daerah dan Program Kegiatan Indikator kinerja SKPD : BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIZINAN TERPADU Pagu Indikatif (Rp.) Hasil Program Keluaran Kegiatan Hasil Kegiatan Lokasi Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Perkir
0
0
7
SKPD : DINAS PETERNAKAN, PERIKANAN DAN KELAUTAN No UrusanBidang Urusan Pemerintahan Daerah Dan ProgramKegiatan Lokasi Indikator Kinerja Pagu Indikatif (Rp.) Perkiraan Maju (Rp.) Desa Kelurahan Kecamatan Hasil Program Keluaran Kegiatan Hasil Kegiatan Keter
0
0
7
Jenis Kegiatan SKPD : BADAN PELAKSANA PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN No Lokasi Indikator Kinerja Pagu Indikatif (Rp.) Perkiraan Maju (Rp.)
0
0
15
Kategori Kegiatan SKPD : DINAS PETERNAKAN, PERIKANAN DAN KELAUTAN No UrusanBidang Urusan Pemerintahan Daerah Dan ProgramKegiatan Lokasi Indikator Kinerja Pagu Indikatif (Rp.) Perkiraan Maju (Rp.) Keterangan
0
0
29
Program Efisiensi perdagangan Dalam Negeri SKPD : DINAS PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN DAN PENGELOLAAN PASAR No Lokasi Indikator Kinerja Pagu Indikatif (Rp.) Perkiraan Maju (Rp.) Desa Kelurahan Kecamatan Hasil Program Keluaran Kegiatan Hasil Kegiatan UrusanBid
0
9
5
SKPD Penanggung Jawab Jenis Kegiatan Kategori Kegiatan SKPD : DINAS PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN DAN PENGELOLAAN PASAR No UrusanBidang Urusan Pemerintah
0
4
12
SKPD : Dinas Tata Ruang dan Permukiman Tolok Ukur Target Tolok Ukur Target APBD II APBD I APBNPHLN Sumber Dana Lainnya Total 1 3 4 5 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 1. 1.500.000.000 1.650.000.000 Distarkim
0
1
11
SKPD : Dinas Tata Ruang dan Permukiman Tolok Ukur Target Tolok Ukur Target APBD II APBD I APBNPHLN Sumber Dana Lainnya Total 1 3 4 5 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
0
2
52
BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN - 02 Evaluasi RKPD pangripta 3
1
2
164
Show more