Full text

(1)

Asuhan Keperawatan Leukemia pada Anak

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. karena dengan rahmat dan hidayahnya penyusun dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan Leukemia Pada Anak, yang di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Keperawatan Anak.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Kami sadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang telah membaca makalah ini, demi perbaikan dimasa yang akan datang.

Majalengka, 18 April 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

halaman

KATA PENGANTAR ……… i

(2)

A. LATARBELAKANG ………. 1

B. TUJUAN PENYUSUNAN……….. 1

C. MANFAAT PENULISAN ……….. 1

D. SISTEMATIKA PENULISAN ………... 2

BAB II PEMBAHASAN LEUKEMIA ………. 3

A. KONSEP MEDIK ……….. 3

1. DEFINISI ………. 3

2. ETOLOGI ………. 3

3. PATOFISIOLOGI ………. 7

4. MANIFESTASI KLINIS ………. 8

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG ………. 9

6. PENATALAKSANAAN ………. 10

B. KONSEP KEPERAWATAN ……… 14

1. PENGKAJIAN .………... 14

2. ANALISA DATA ... 15

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN ….………. 15

4. INTERVENSI ... 16

BAB III PENUTUP ……… 26

A. KESIMPULAN ……….. 26

B. SARAN ……….. 27

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATARBELAKANG

Leukemia berasal dari bahasa yunani yaitu leukos yang berarti putih dan haima yang berarti darah. Jadi leukemia dapat diartikan sebagai suatu penyakit yang disebabkan oleh sel darah putih. Proses terjadinya leukemia adalah ketika seldarah yang bersifat kanker membelah secara tak terkontrol dan mengganggupembelahan sel darah normal.

Di Indonesia kasus leukemia sebanyak ± 7000 kasus/tahun dengan angkakematian mencapai 83,6 % (Herningtyas, 2004). Data dari International Cancer Parent Organization (ICPO) menunjukkan bahwa dari setiap 1 juta anak terdapat120 anak yang mengidap kanker dan 60 % diantaranya disebabkan oleh leukemia(Sindo, 2007). Data dari WHO menunjukkan bahwa angka kematian di AmerikaSerikat karena leukemia meningkat 2 kali lipat sejak tahun 1971 (Katrin, 1997).Di Amerika Serikat setiap 4 menitnya seseorang terdiagnosa menderita leukemia.Pada akhir tahun 2009 diperkirakan 53.240 orang akan meninggal dikarenakan leukemia (TLLS, 2009).

B. TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah :

1. Memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak

2. Mengetahui Proses Terjadinya Leukemia

3. Mengetahui Proses Asuhan Keperawatan pada Leukamia

C. MANFAAT PENULISAN

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada mahasiswa untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang asuhan keperawatan Leukemia. Manfaat lain dari penulisan makalah ini adalah dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan dapat memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak.

D. SISTEMATIKA PENULISAN

1. BAB I PENDAHULUAN

a. Latarbelakang

b. Tujuan Penulisan

c. Manfaat Penulisan

d. Sistematika Penulisan

(4)

A. KONSEP MEDIK

1. Definisi

2. Etiologi

3. Patofisiologi

4. Manifestasi Klinis

5. Pemeriksaan Penunjang

6. Penatalaksanaan

B. KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian

2. Analisa Data

3. Diagnosa Keperawatan

4. Intervensi Keperawatan

3. BAB III PENUTUP

a. Kesimpulan

b. Saran

(5)

BAB II

PEMBAHASAN LEUKAMIA

A. KONSEP MEDIK 1. DEFINISI

Istilah leukemia pertama kali dijelaskan oleh Virchow sebagai “darah putih” pada tahun 1874, adalah penyakit neoplastik yang ditandai dengan diferensiasi dan proliferasi sel induk hematopoetik.

Leukemia adalah suatu keganasan yang berasal dari perubahan genetik pada satu atau banyak sel di sumsum tulang. Pertumbuhan dari sel yang normal akan tertekan pada waktu sel leukemia bertambah banyak sehingga akan menimbulkan gejala klinis. Keganasan hematologik ini adalah akibat dari proses neoplastik yang disertai gangguan diferensiasi pada berbagai tingkatan sel induk hematopoetik sehingga terjadi ekspansi progresif kelompok sel ganas tersebut dalam sumsum tulang, kemudian sel leukemia beredar secara sistemik.

Leukemia adalah proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit yang lain daripada normal dengan jumlah yang berlebihan, dapat menyebabkan kegagalan sumsum tulang dan sel darah putih sirkulasinya meninggi. merupakan leukemia paling sering ditemukan pada anak-anak, dengan puncak insiden antara usia 2-4 tahun, LMA terdapat pada umur 15-39 tahun, sedangkan LMK banyak ditemukan antara umur 30-50 tahun. LLK merupakan kelainan pada orang tua (umur rata-rata 60 tahun). Insiden leukemia lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita. Tingkat insiden yang lebih tinggi terlihat di antara Kaukasia (kulit putih) dibandingkan dengan kelompok kulit hitam.

(6)

Penelitian Lee at all (2009) dengan desain kohort di The Los Angeles County-University of Southern California (LAC+USC) Medical Centre melaporkan bahwa penderita leukemia menurut etnis terbanyak yaitu hispanik (60,9%) yang mencerminkan keseluruhan populasi yang dilayani oleh LCA + USA Medical Center. Dari pasien non-hispanik yang umum berikutnya yaitu Asia (23,0%), Amerika Afrika (11,5%), dan Kaukasia (4,6%).

Faktor Genetik

Insiden leukemia pada anak-anak penderita sindrom down adalah 20 kali lebih banyak daripada normal. Kelainan pada kromosom 21 dapat menyebabkan leukemia akut. Insiden leukemia akut juga meningkat pada penderita dengan kelainan kongenital misalnya agranulositosis kongenital, sindrom Ellis Van Creveld, penyakit seliak, sindrom Bloom, anemia Fanconi, sindrom Wiskott Aldrich, sindrom Kleinefelter dan sindrom trisomi D.

Pada sebagian penderita dengan leukemia, insiden leukemia meningkat dalam keluarga. Kemungkinan untuk mendapat leukemia pada saudara kandung penderita naik 2-4 kali.19 Selain itu, leukemia juga dapat terjadi pada kembar identik.

Berdasarkan penelitian Hadi, et al (2008) di Iran dengan desain case control menunjukkan bahwa orang yang memiliki riwayat keluarga positif leukemia berisiko untuk menderita LLA (OR=3,75; CI=1,32-10,99) artinya orang yang menderita leukemia kemungkinan 3,75 kali memiliki riwayat keluarga positif leukemia dibandingkan dengan orang yang tidak menderita leukemia.

b. Agent

Virus

Beberapa virus tertentu sudah dibuktikan menyebabkan leukemia pada binatang. Ada beberapa hasil penelitian yang mendukung teori virus sebagai salah satu penyebab leukemia yaitu enzyme reserve transcriptase ditemukan dalam darah penderita leukemia. Seperti diketahui enzim ini ditemukan di dalam virus onkogenik seperti retrovirus tipe C yaitu jenis RNA yang menyebabkan leukemia pada binatang.

Pada manusia, terdapat bukti kuat bahwa virus merupakan etiologi terjadinya leukemia. HTLV (virus leukemia T manusia) dan retrovirus jenis cRNA, telah ditunjukkan oleh mikroskop elektron dan kultur pada sel pasien dengan jenis khusus leukemia/limfoma sel T yang umum pada propinsi tertentu di Jepang dan sporadis di tempat lain, khususnya di antara Negro Karibia dan Amerika Serikat.

(7)

Sinar radioaktif merupakan faktor eksternal yang paling jelas dapat menyebabkan leukemia. Angka kejadian LMA dan LGK jelas sekali meningkat setelah sinar radioaktif digunakan. Sebelum proteksi terhadap sinar radioaktif rutin dilakukan, ahli radiologi mempunyai risiko menderita leukemia 10 kali lebih besar dibandingkan yang tidak bekerja di bagian tersebut. Penduduk Hirosima dan Nagasaki yang hidup setelah ledakan bom atom tahun 1945 mempunyai insidensi LMA dan LGK sampai 20 kali lebih banyak. Leukemia timbul terbanyak 5 sampai 7 tahun setelah fenilbutazon) diduga dapat meningkatkan risiko terkena leukemia.18 Sebagian besar obat-obatan dapat menjadi penyebab leukemia (misalnya Benzene), pada orang dewasa menjadi leukemia nonlimfoblastik akut. Penelitian Hadi, et al (2008) di Iran dengan desain case controlmenunjukkan bahwa orang yang terpapar benzene dapat meningkatkan risiko terkena leukemia terutama LMA (OR=2,26 dan CI=1,17-4,37) artinya orang yang menderita leukemia kemungkinan 2,26 kali terpapar benzene dibandingkan dengan yang tidak menderita

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa merokok meningkatkan risiko LMA. Penelitian Hadi, et al (2008) di Iran dengan desain case controlmemperlihatkan bahwa merokok lebih dari 10 tahun meningkatkan risiko kejadian LMA (OR=3,81; CI=1,37-10,48) artinya orang yang menderita LMA kemungkinan 3,81 kali merokok lebih dari 10 tahun dibanding dengan orang yang tidak menderita LMA. Penelitian di Los Angles (2002), menunjukkan adanya hubungan antara LMA dengan kebiasaan merokok. Penelitian lain di Canada oleh Kasim menyebutkan bahwa perokok berat dapat meningkatkan risiko LMA. Faktor risiko terjadinya leukemia pada orang yang merokok tergantung pada frekuensi, banyaknya, dan lamanya merokok.

c. Lingkungan (Pekerjaan)

(8)

dilakukan di Jepang, sebagian besar kasus berasal dari rumah tangga dan kelompok petani. Hadi, et al (2008) di Iran dengan desain case control meneliti hubungan ini, pasien termasuk mahasiswa, pegawai, ibu rumah tangga, petani dan pekerja di bidang lain. Di antara pasien tersebut, 26% adalah mahasiswa, 19% adalah ibu rumah tangga, dan 17% adalah petani. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang bekerja di pertanian atau peternakan mempunyai risiko tinggi leukemia (OR = 2,35, CI = 1,0-5,19), artinya orang yang menderita leukemia kemungkinan 2,35 kali bekerja di pertanian atau peternakan dibanding orang yang tidak menderita leukemia.

3. PATOFISIOLOGI

Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai perintah, dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh. Leukemia meningkatkan produksi sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari normal. Mereka terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi seperti biasanya. Sel leukemi memblok produksi sel darah normal, merusak kemampuan tubuh terhadap infeksi. Sel leukemi juga merusak produksi sel darah lain pada sumsum tulang termasuk sel darah merah dimana sel tersebut berfungsi untuk menyuplai oksigen pada jaringan. Analisis sitogenik menghasilkan banyak pengetahuan mengenai aberasi kromosomal yang terdapat pada pasien dengan leukemia. Perubahan kromosom dapat meliputi perubahan angka, yang menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan struktur termasuk translokasi (penyusunan kembali), delesi, inversi dan insersi. Pada kondisi ini, dua kromosom atau lebih mengubah bahan genetik, dengan perkembangan gen yang berubah dianggap menyebabkan mulainya proliferasi sel abnormal.

(9)

4. MANIFESTASI KLINIS

Gejala klinis dari leukemia pada umumnya adalah anemia, trombositopenia, neutropenia, infeksi, kelainan organ yang terkena infiltrasi, hipermetabolisme.

a. Leukemia Limfositik Akut

Gejala klinis LLA sangat bervariasi. Umumnya menggambarkan kegagalan sumsum tulang. Gejala klinis berhubungan dengan anemia (mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada), infeksi dan perdarahan. Selain itu juga ditemukan anoreksi, nyeri tulang dan sendi, hipermetabolisme.21 Nyeri tulang bisa dijumpai terutama pada sternum, tibia dan femur.

b. Leukemia Mielositik Akut

Gejala utama LMA adalah rasa lelah, perdarahan dan infeksi yang disebabkan oleh sindrom kegagalan sumsum tulang. perdarahan biasanya terjadi dalam bentuk purpura atau petekia. Penderita LMA dengan leukosit yang sangat tinggi (lebih dari 100 ribu/mm3) biasanya mengalami gangguan kesadaran, napas sesak, nyeri dada dan priapismus. Selain itu juga menimbulkan gangguan metabolisme yaitu hiperurisemia dan hipoglikemia.

c. Leukemia Limfositik Kronik

Sekitar 25% penderita LLK tidak menunjukkan gejala. Penderita LLK yang mengalami gejala biasanya ditemukan limfadenopati generalisata, penurunan berat badan dan kelelahan. Gejala lain yaitu hilangnya nafsu makan dan penurunan kemampuan latihan atau olahraga. Demam, keringat malam dan infeksi semakin parah sejalan dengan perjalanan penyakitnya.

d. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik

LGK memiliki 3 fase yaitu fase kronik, fase akselerasi dan fase krisis blas. Pada fase kronik ditemukan hipermetabolisme, merasa cepat kenyang akibat desakan limpa dan lambung. Penurunan berat badan terjadi setelah penyakit berlangsung lama. Pada fase akselerasi ditemukan keluhan anemia yang bertambah berat, petekie, ekimosis dan demam yang disertai infeksi.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah tepi dan pemeriksaan sumsum tulang.

 Pemeriksaan Darah Tepi

(10)

penurunan eritrosit dan trombosit. Pada penderita LLK ditemukan limfositosis lebih dari 50.000/mm3, sedangkan pada penderita LGK/LMK

ditemukan leukositosis lebih dari 50.000/mm3.

 Pemeriksaan Sumsum Tulang

Hasil pemeriksaan sumsum tulang pada penderita leukemia akut ditemukan keadaan hiperselular. Hampir semua sel sumsum tulang diganti sel leukemia (blast), terdapat perubahan tiba-tiba dari sel muda (blast) ke sel yang matang tanpa sel antara (leukemic gap). Jumlah blast minimal 30% dari sel berinti dalam sumsum tulang. Pada penderita LLK ditemukan adanya infiltrasi merata oleh limfosit kecil yaitu lebih dari 40% dari total sel yang berinti. Kurang lebih 95% pasien LLK disebabkan oleh peningkatan limfosit B. Sedangkan pada penderita LGK/LMK ditemukan keadaan hiperselular dengan peningkatan jumlah megakariosit dan aktivitas granulopoeisis. Jumlah granulosit lebih dari 30.000/mm3.

6. PENATALAKSANAAN a. Kemoterapi

Kemoterapi pada penderita LLA  Tahap 1 (terapi induksi)

Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk membunuh sebagian besar sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. Terapi induksi kemoterapi biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit yang panjang karena obat menghancurkan banyak sel darah normal dalam proses membunuh sel leukemia. Pada tahap ini dengan memberikan kemoterapi kombinasi yaitu daunorubisin, vincristin, prednison dan asparaginase.  Tahap 2 (terapi konsolidasi/ intensifikasi)

Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan terapi intensifikasi yang bertujuan untuk mengeliminasi sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan juga timbulnya sel yang resisten terhadap obat. Terapi ini dilakukan setelah 6 bulan kemudian.

 Tahap 3 ( profilaksis SSP)

Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan pada SSP. Perawatan yang digunakan dalam tahap ini sering diberikan pada dosis yang lebih rendah. Pada tahap ini menggunakan obat kemoterapi yang berbeda, kadang-kadang dikombinasikan dengan terapi radiasi, untuk mencegah leukemia memasuki otak dan sistem saraf pusat.

 Tahap 4 (pemeliharaan jangka panjang)

(11)

Angka harapan hidup yang membaik dengan pengobatan sangat dramatis. Tidak hanya 95% anak dapat mencapai remisi penuh, tetapi 60% menjadi sembuh. Sekitar 80% orang dewasa mencapai remisi lengkap dan sepertiganya mengalami harapan hidup jangka panjang, yang dicapai dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum tulang dan SSP.

 Kemoterapi pada penderita LMA

 Fase induksi

Fase induksi adalah regimen kemoterapi yang intensif, bertujuan untuk mengeradikasi sel-sel leukemia secara maksimal sehingga tercapai remisi komplit. Walaupun remisi komplit telah tercapai, masih tersisa sel-sel leukemia di dalam tubuh penderita tetapi tidak dapat dideteksi. Bila dibiarkan, sel-sel ini berpotensi menyebabkan kekambuhan di masa yang akan datang.

 Fase konsolidasi

Fase konsolidasi dilakukan sebagai tindak lanjut dari fase induksi. Kemoterapi konsolidasi biasanya terdiri dari beberapa siklus kemoterapi dan menggunakan obat dengan jenis dan dosis yang sama atau lebih besar dari dosis yang digunakan pada fase induksi.

(12)

Kemoterapi pada penderita LLK

Derajat penyakit LLK harus ditetapkan karena menetukan strategi terapi dan prognosis. Salah satu sistem penderajatan yang dipakai ialah

<100.000/mm3dengan/tanpa gejala pembesaran hati, limpa, kelenjar.

Terapi untuk LLK jarang mencapai kesembuhan karena tujuan terapi bersifat konvensional, terutama untuk mengendalikan gejala. Pengobatan tidak diberikan kepada penderita tanpa gejala karena tidak memperpanjang hidup. Pada stadium I atau II, pengamatan atau kemoterapi adalah pengobatan biasa. Pada stadium III atau IV diberikan kemoterapi intensif.

Angka ketahanan hidup rata-rata adalah sekitar 6 tahun dan 25% pasien dapat hidup lebih dari 10 tahun. Pasien dengan sradium 0 atau 1 dapat bertahan hidup rata-rata 10 tahun. Sedangkan pada pasien dengan stadium III atau IV rata-rata dapat bertahan hidup kurang dari 2 tahun.

Kemoterapi pada penderita LGK/LMK  Fase Kronik

Busulfan dan hidroksiurea merupakan obat pilihan yag mampu menahan pasien bebas dari gejala untuk jangka waktu yang lama. Regimen dengan bermacam obat yang intensif merupakan terapi pilihan fase kronis LMK yang tidak diarahkan pada tindakan transplantasi sumsum tulang.

 Fase Akselerasi,

Sama dengan terapi leukemia akut, tetapi respons sangat rendah.

b. Radioterapi

Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel leukemia. Sinar berenergi tinggi ini ditujukan terhadap limpa atau bagian lain dalam tubuh tempat menumpuknya sel leukemia. Energi ini bisa menjadi gelombang atau partikel seperti proton, elektron, x-ray dan sinar gamma. Pengobatan dengan cara ini dapat diberikan jika terdapat keluhan pendesakan karena pembengkakan kelenjar getah bening setempat.

c. Transplantasi Sumsum Tulang

(13)

sel-sel darah yang rusak karena kanker. Pada penderita LMK, hasil terbaik (70-80% angka keberhasilan) dicapai jika menjalani transplantasi dalam waktu 1 tahun setelah terdiagnosis dengan donor Human Lymphocytic Antigen (HLA) yang sesuai. Pada penderita LMA transplantasi bisa dilakukan pada penderita yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan dan pada penderita usia muda yang pada awalnya memberikan respon terhadap pengobatan.

d. Terapi Suportif

(14)

B. KONSEP KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN

a. Riwayat penyakit

b. Kaji adanya tanda-tanda anemia:

Pucat

Kelemahan

Sesak

Nafas cepat

c. Kaji adanya tanda-tanda leukopenia:

Demam

Infeksi

d. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia:

Ptechiae

Purpura

Perdarahan membran mukosa

e. Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola:

Limfadenopati

Hepatomegali

Splenomegali

f. Kaji adanya pembesaran testis g. Kaji adanya:

Hematuria

Hipertensi

Gagal ginjal

Inflamasi disekitar rectal

Nyeri

(15)

2. ANALISA DATA

Diagnosa keperawatan menurut The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) adalah “ suatu penilaian klinis tentang respon individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar untuk pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan diamana perawat bertanggung gugat “ (Wong,D.L, 2004: 331).

Menurut Wong, D.L (2004 :596 – 610) , diagnosa pada anak dengan leukemia adalah:

a. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan

tubuh

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia

c. Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan

(16)

d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan

muntah

e. Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan

dengan efek samping agen kemoterapi

f. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan

dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis

g. Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia

h. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens

kemoterapi, radioterapi, imobilitas.

i. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan

cepat pada penampilan.

j. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang

menderita leukemia.

k. Antisipasi berduka berhubungan dengan perasaan potensial kehilangan

anak.

4. INTERVENSI KEPERAWATAN

Rencana keperawatan merupakan serangkaian tindakan atau intervensi untuk mencapai tujuan pelaksanaan asuhan keperawatan. Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan

Tempatkan anak dalam ruangan khusus

Rasional: untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber infeksi

Anjurkan semua pengunjung dan staff rumah sakit untuk menggunakan teknik mencuci tangan dengan baik

Rasional : untuk meminimalkan pajanan pada organisme infektif

Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasive Rasional: untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi

(17)

Rasional: untuk intervensi dini penanganan infeksi

Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan baik

Rasional: rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organism

Berikan periode istirahat tanpa gangguan

Rasional: menambah energi untuk penyembuhan dan regenerasi seluler

Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia

Rasional: untuk mendukung pertahanan alami tubuh

Berikan antibiotik sesuai ketentuan

Rasional: diberikan sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia

Tujuan:

terjadi peningkatan toleransi aktifitas Intervensi:

Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas sehari-hari

Rasional: menentukan derajat dan efek ketidakmampuan

Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan

Rasional: menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi seluler atau penyambungan jaringan

Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau dibutuhkan

Rasional: mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan intervensi

Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri

c. Resiko terhadap cedera/perdarahan yang berhubungan dengan

penurunan jumlah trombosit Tujuan:

klien tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan Intervensi:

Gunakan semua tindakan untuk mencegah perdarahan khususnya pada daerah ekimosis

Rasional: karena perdarahan memperberat kondisi anak dengan adanya anemia

Cegah ulserasi oral dan rectal

Rasiona: karena kulit yang luka cenderung untuk berdarah

(18)

Menggunakan sikat gigi yang lunak dan lembut Rasional: untuk mencegah perdarahan

Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah menurun, denyut nadi cepat, dan pucat)

Rasional: untuk memberikan intervensi dini dalam mengatasi perdarahan

Hindari obat-obat yang mengandung aspirin

Rasional: karena aspirin mempengaruhi fungsi trombosit

Ajarkan orang tua dan anak yang lebih besar ntuk mengontrol perdarahan hidung

Rasional: untuk mencegah perdarahan

d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan

muntah Tujuan:

Tidak terjadi kekurangan volume cairan

Pasien tidak mengalami mual dan muntah Intervensi:

Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi Rasional: untuk mencegah mual dan muntah

Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan program kemoterapi Rasional: untuk mencegah episode berulang

Kaji respon anak terhadap anti emetic

Rasional: karena tidak ada obat antiemetik yang secara umum berhasil

Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat

Rasional: bau yang menyengat dapat menimbulkan mual dan muntah

Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering

Rasional: karena jumlah kecil biasanya ditoleransi dengan baik

Berikan cairan intravena sesuai ketentuan Rasional: untuk mempertahankan hidrasi\

Inspeksi mulut setiap hari untuk adanya ulkus oral Rasional: untuk mendapatkan tindakan yang segera

Hindari mengukur suhu oral

Rasional: untuk mencegah trauma

(19)

Rasional: untuk menghindari trauma

Berikan pencucian mulut yang sering dengan cairan salin normal atau tanpa larutan bikarbonat

Rasional: untuk menuingkatkan penyembuhan

Gunakan pelembab bibir

Rasional: untuk menjaga agar bibir tetap lembab dan mencegah pecah-pecah (fisura)

Hindari penggunaan larutan lidokain pada anak kecil

Rasional: karena bila digunakan pada faring, dapat menekan refleks muntah yang mengakibatkan resiko aspirasi dan dapat menyebabkan kejang

Berikan diet cair, lembut dan lunak

Rasional: agar makanan yang masuk dapat ditoleransi anak

Inspeksi mulut setiap hari

Rasional: untuk mendeteksi kemungkinan infeksi

Dorong masukan cairan dengan menggunakan sedotan Rasional: untuk membantu melewati area nyeri

Hindari penggunaa swab gliserin, hidrogen peroksida dan susu magnesia Rasional: dapat mengiritasi jaringan yang luka dan dapat membusukkan gigi, memperlambat penyembuhan dengan memecah protein dan dapat mengeringkan mukosa

Berikan obat-obat anti infeksi sesuai ketentuan

Rasional: untuk mencegah atau mengatasi mukositis

Berikan analgetik

Rasional: untuk mengendalikan nyeri

f. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan

dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis

Tujuan:

pasien mendapat nutrisi yang adekuat

Intervensi:

Dorong orang tua untuk tetap rileks pada saat anak makan

Rasional: jelaskan bahwa hilangnya nafsu makan adalah akibat langsung dari mual dan muntah serta kemoterapi

Izinkan anak memakan semua makanan yang dapat ditoleransi, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat

Rasional: untuk mempertahankan nutrisi yang optimal

(20)

Rasional: untuk memaksimalkan kualitas intake nutrisi

Izinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan Rasional: untuk mendorong agar anak mau makan

Dorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering

Rasional: karena jumlah yang kecil biasanya ditoleransi dengan baik

Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient

Rasional: kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan untuk menghilangkan produk sisa suplemen dapat memainkan peranan penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein yang adekuat

Timbang BB, ukur TB dan ketebalan lipatan kulit trisep

Rasional: membantu dalam mengidentifikasi malnutrisi protein kalori, khususnya bila BB dan pengukuran antropometri kurang dari normal

g. Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia

Tujuan:

pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima anak

Intervensi:

 Mengkaji tingkat nyeri dengan skala 0 sampai 5

Rasional: informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan atau keefektifan intervensi

 Jika mungkin, gunakan prosedur-prosedur (misal pemantauan suhu non invasif, alat

akses vena

Rasional: untuk meminimalkan rasa tidak aman

 Evaluasi efektifitas penghilang nyeri dengan derajat kesadaran dan sedasi

Rasional: untuk menentukan kebutuhan perubahan dosis. Waktu pemberian atau obat

 Lakukan teknik pengurangan nyeri non farmakologis yang tepat

Rasional: sebagai analgetik tambahan  Berikan obat-obat anti nyeri secara teratur

Rasional: untuk mencegah kambuhnya nyeri

Berikan perawatan kulit yang cemat, terutama di dalam mulut dan daerah perianal Rasional: karena area ini cenderung mengalami ulserasi

(21)

Rasional: untuk merangsang sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit

Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan

Rasional: mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit

Kaji kulit yang kering terhadap efek samping terapi kanker

Rasional: efek kemerahan atau kulit kering dan pruritus, ulserasi dapat terjadi dalam area radiasi pada beberapa agen kemoterapi

Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk dan menepuk kulit yang kering Rasional: membantu mencegah friksi atau trauma kulit

Dorong masukan kalori protein yang adekuat

Rasional: untuk mencegah keseimbangan nitrogen yang negative

Pilih pakaian yang longgar dan lembut diatas area yang teradiasi Rasional: untuk meminimalkan iritasi tambahan

i. imobilitas Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau

perubahan cepat pada penampilan

Tujuan:

pasien atau keluarga menunjukkan perilaku koping positif

Intervensi:

 Dorong anak untuk memilih wig (anak perempuan) yang serupa gaya dan warna

rambut anak sebelum rambut mulai rontok

Rasional: untuk membantu mengembangkan penyesuaian rambut terhadap kerontokan rambut

 Berikan penutup kepala yang adekuat selama pemajanan pada sinar matahari, angin

atau dingin

Rasional: karena hilangnya perlindungan rambut

 Anjurkan untuk menjaga agar rambut yang tipis itu tetap bersih, pendek dan halus

Rasional: untuk menyamarkan kebotakan parsial

 Jelaskan bahwa rambut mulai tumbuh dalam 3 hingga 6 bulan dan mungkin warna

atau teksturnya agak berbeda

Rasional: untuk menyiapkan anak dan keluarga terhadap perubahan penampilan rambut baru

 Dorong hygiene, berdan, dan alat alat yang sesuai dengan jenis kelamin , misalnya

wig, skarf, topi, tata rias, dan pakaian yang menarik Rasional: untuk meningkatkan penampilan

j. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang

menderita leukemia

Tujuan:

(22)

Intervensi:

Jelaskan alasan setiap prosedur yang akan dilakukan pda anak Rasional: untuk meminimalkan kekhawatiran yang tidak perlu

Jadwalkan waktu agar keluarga dapat berkumpul tanpa gangguan dari staff Rasional: untuk mendorong komunikasi dan ekspresi perasaan

Bantu keluarga merencanakan masa depan, khususnya dalam membantu anak menjalani kehidupan yang normal

Rasional: untuk meningkatkan perkembangan anak yang optimal

Dorong keluarga untuk mengespresikan perasaannya mengenai kehidupan anak sebelum diagnosa dan prospek anak untuk bertahan hidup

Rasional: memberikan kesempatan pada keluarga untuk menghadapi rasa takut secara realistis

Diskusikan bersama keluarga bagaimana mereka memberitahu anak tentang hasil tindakan dan kebutuhan terhadap pengobatan dan kemungkinan terapi tambahan Rasional: untuk mempertahankan komunikasi yang terbuka dan jujur

Hindari untuk menjelaskan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada Rasional: untuk mencegah bertambahnya rasa khawatiran keluarga

k. Antisipasi berduka berhubungan dengan perasaan potensial kehilangan

anak

Tujuan:

pasien atau keluarga menerima dan mengatasi kemungkinan kematian anak

Intervensi:

 Kaji tahapan berduka terhadap anak dan keluarga

Rasional: pengetahuan tentang proses berduka memperkuat normalitas perasaan atau reaksi terhadap apa yang dialami dan dapat membantu pasien dan keluarga lebih efektif menghadapi kondisinya

 Berikan kontak yang konsisten pada keluarga

Rasional: untuk menetapkan hubungan saling percaya yang mendorong komunikasi  Bantu keluarga merencanakan perawatan anak, terutama pada tahap terminal

Rasional: untuk meyakinkan bahwa harapan mereka diimplementasikan  Fasilitasi anak untuk mengespresikan perasaannya melalui bermain

(23)

BAB III PENUTUP

a. KESIMPULAN

Leukemia berasal dari bahasa yunani yaitu leukos yang berarti putih dan haima yang berarti darah. Jadi leukemia dapat diartikan sebagai suatu penyakit yang disebabkan oleh sel darah putih. Proses terjadinya leukemia adalah ketika seldarah yang bersifat kanker membelah secara tak terkontrol dan mengganggupembelahan sel darah normal.

Leukemia ada 4 jenis berdasarkan asal dan kecepatan perkembangan selkanker yaitu Leukemia Mieloblastik Akut (LMA), Leukemia Mielositik Kronik (LMK), Leukemia Limfoblastik Akut (LLA), dan Leukemia Limfositik Kronik (LLK) (Medicastore, 2009).

Gejala – gejala yang dirasakan antara lain anemia,wajah pucat, sesak nafas, pendarahan gusi, mimisan, mudah memar, penurunanberat badan, nyeri tulang dan nyeri sendi.

Di Indonesia kasus leukemia sebanyak ± 7000 kasus/tahun dengan angkakematian mencapai 83,6 % (Herningtyas, 2004). Data dari International Cancer Parent Organization (ICPO) menunjukkan bahwa dari setiap 1 juta anak terdapat120 anak yang mengidap kanker dan 60 % diantaranya disebabkan oleh leukemia(Sindo, 2007). Data dari WHO menunjukkan bahwa angka kematian di AmerikaSerikat karena leukemia meningkat 2 kali lipat sejak tahun 1971 (Katrin, 1997).Di Amerika Serikat setiap 4 menitnya seseorang terdiagnosa menderita leukemia.Pada akhir tahun 2009 diperkirakan 53.240 orang akan meninggal dikarenakan leukemia (TLLS, 2009).

(24)

b. SARAN

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Kliegman, Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. EGC Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC

Nursalam, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Salemba Merdeka.

http://catatanperawat.byethost15.com/asuhan-keperawatan/asuhan-keperawatan-anak-leukimia/

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (25 pages)