ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF KEHAMILAN, PERSALINAN PADA KALA 1 MEMANJANG, BAYI BARU LAHIR, NIFAS FISIOLOGIS, DAN KELUARGA BERENCANA PADA NY.R UMUR 24 TAHUN G2P1A0 UMUR KEHAMILAN 39 MINGGU 4 HARI DI BPM NY. LILY ELISABETH, S.SIT KABUPATEN BANYUMAS - repos

Gratis

0
1
138
5 months ago
Preview
Full text

  BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KEHAMILAN

  1. DEFINISI Beberapa definisi mengenai kehamilan diantaranya :

  a. Kehamilan adalah masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40minggu atau 9 bulan 7hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Sarwono, 2009).

  b. Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan di definisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozzoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi.

  c. Menurut Sumarni, 2011 kehamilan normal adalah kehamilan dimana ibu dalam keadaan sehat, tidak ada riwayat obstetrik buruk, ukuran uterus sama atau sesuai usia kehamilan serta hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium normal

  d. Jadi definisi kehamilan itu sendiri adalah proses alamiah yang terjadi pada seorang wanita dalam keadaan yang sehat dimulai dari masa konsepsi sampai lahirnya seorang bayi selama 9 bulan

  2. Klasifikasi kehamilan

  a. Trimester 1 Umur kehamilan 0 – 12 minggu b. Trimester 2 Umur kehamilan 12 – 27 minggu

  c. Trimester 3 Umur kehamilan 27 – 40 minggu

  3. Mendiagnosa Kehamilan

  1. Untuk mendiagnosa kehamilan dari awal seringkali tidaklah mudah,diantaranya yaitu: a. Tanda Dugaan Kehamilan (Manuaba, 2010, h.107) 1) Amenorea (terlambat datang bulan) 2) Mual dan Muntah

  Karena adanya pengaruh dari hormon progesteron dan estrogen menyebabkan pengeluaran asam lambung yang berlebihan. Mual dan muntah terutama pada pagi hari sering disebut dengan morning sickness namun masih dalam batas fisiologis, keadaan ini masih bisa diatasi.

  3) Ngidam Biasanya wanita hamil pada umumnya mengalami ngidam atau menginginkan sesuatu pada saat dia hamil

  4) Sinkop atau pingsan Terjadi gangguan sirkulasi ke daerah kepala menyebabkan iskemia susunan syaraf pusat dan menimbulkan pingsa. Keadaan ini akan hilang usia kehamilan 16 minggu.

  5) Payudara tegang Pengaruh hormon estrogen dan progesteron dan somatomamotrofin menimbulkan deposit lemak, air, dan garam pada payudara. Payudara membesar dan terutama pada hamil pertama

  6) Sering miksi Desakan rahim ke depan menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh dan sering miksi

  7) Konstipasi Pengaruh progesteron dapat menghambat peristaltik usus, menyebabkan kesulitan untuk buang air besar

  8) Pigmentasi kulit Keluarnya melanophore stimulating hormone hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi kulit disekitar pipi,pada dinding perut,dan sekitar payudara. 9) Epulis

  Hipertrofi gusi yang disebut epulis, dapat terjadi pada saat kehamilan.

  10) Varises atau penampakan pembuluh darah vena Karena adanya pengaruh dari hormon estrogen dan progesteron terjadi penampakan pembuluh darah vena, terutama bagi mereka yang memiliki bakat penampakan ini terjadi pada daerah genetalia eksterna,kaki, dan beti, dan payudara. Dan penampakan pembuluh darah ini dapat menghilang setelah persalinan.

  b. Tanda tidak pasti kehamilan menurut Manuaba, 2010,h.108

  2) Pada pemeriksaan dalam ditemukan adanya berbagai tanda, diantaranya : a) Tanda hegar, merupakan perlunakan pada daerah isthmus uteri sehingga daerah ini pada penekanan mempunyai kesan lebih tipis dan uterus mudah difleksikan b) Tanda chadwicks dinding vagina mengalami kongesti, warna kebiru-biruan c) Tanda piscaseck , terjadinya pertumbuhan yang asimetris pada bagian uterus yang dekat denganimplantasi plasenta

  d) Kontraksi braxton hicks atau yang biasa disebut dengan kontraksi palsu e) Teraba ballottement

  3) Pemeriksaan test biologis kehamilan positif. Tetapi sebagian kemungkinan positif palsu c. Tanda pasti kehamilan(Manuaba, 2010, h.109) Tanda pasti kehamilan dapat ditentukan melalui a) Gerakan janin dalam rahim

  b) Terlihat atau teraba gerakan janin dan teraba bagian- bagian janin, biasanya menjadi jelas setelah minggu ke 22, gerakan janin dapat dirasakan dengan jelas setelah minggu 24.

  c) Denyut jantung janin, didengar dengan stetoskop dengan ultrasonografi. Pemeriksaan dengan alat canggih, yaitu rontgen untuk melihat kerangka janin, ultrasonografi.

  4. Memeriksaan diagnostik kehamilan(Kusmiati, 2009, h.97)

  a. Rontgenografi Gambaran tulang-tulang janin tampak setelah minggu ke 12 sampai ke 14. Pemeriksaan ini hanya boleh dikerjakan bila terdapat keragu-raguan dalam diagnosis kehamilan dan atas indikasi yang mendesak sekali, sebab janin sangat peka terhadap sinar X.

  b. Ultrasonografi Alat ini menjadi sangat penting dalam diagnosis kehamilan dan kelainan-kelainannya karena gelombang suara sampai saat ini dinyatakan tidak berbahaya. Pada minggu ke 6, sudah terlihat adanya gestasional sac atau kantong kehamilan.

  c. Fetal electro cardio grafi (ECG)

  d. Tes laboratorium

  Banyak tes yang dapat dipakai, tetapi yang paling terpopuler adalah test inhibisi koagulasi. Test ini bertujuan mendeteksi adanya HCG dalam urin. Kepekaan test ini sangat bervariasi antara 500 sampai 1000 mU/ml urin. Dasar test ini adalah inhibisi (hambatan) koagulasi oleh anti HCG.

  5. Perubahan Fisiologis dan psikologis dalam kehamilan Menurut Manuaba, 2010, h.85 dengan terjadinya kehamilan maka seluruh sistem genetalian wanita mengalami perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan pertumbuhan hormon somatomamotropin, estrogen, dan progeteron yang menyebabkan perubahan pada bagian-bagian tubuh dibawah ini : a. Uterus Uterus yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30 gram akan mengalami hipertropi dan hiperplasia, sehingga menjadi seberat 1000 gram saat akhir kehamilan. Otot rahim mengalami hiperplasia dan hipertrofi menjadi lebih besar, lunak, dan dapat mengikuti pembesaran rahim karena pertumbuhan janin.

  b. Vagina Vagina dan vulva mengalami peningkatan pembuluh darah karena pengaruh estrogen sehingga tampak makin berwarna merah dan kebiru-biruan (tanda chadwicks) c. Ovarium Dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu.

  d. Payudara sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi.

  Perkembangan payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh hormon saat kehamilan, yaitu estrogen, progeteron, dan somatomamotrofin.

  e. Sirkulasi Darah Ibu Peredaran darah ibu dipengaruhi beberapa faktor, antara lain :

  1) Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim. 2) Terjadi hubungan langsung antar aeteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter.

  3) Pengaruh hormon estrogen dan progesteron makin meningkat.

  Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan peredaran darah.

  4) Pengeluaran air liur secara berlebihan 5) Daerah lambung terasa lebih panas

  6) Terjadi mual dan sakit/ pusing kepala terutama pagi hari 7) Muntah yang terjadi disebut emesis gravidarum

  f. Plasenta dan air ketuban Plasenta berbentuk bundar dengan ukuran 15 cm X 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan berat plasenta 500 g.

  Tali pusat yang menghubungkan plasenta panjangnya 25 16 di mana desidua parietalis dan desidua kapsularis telah menjadi satu. Plasenta adalah akar janin untuk menghisap nutrisi dari ibu dalam berbentuk oksigen, asam amino, vitamin, mineral, dan zat lainnya ke janin dan membuang sisa metabolisme janin dan karbondioksida.

  g. Vulva Bentuk vulva adalah lonjong dengan ukuran panjang dari muka ke belakang. Vulva merupakan alat kelamin luar wanita yang terdiri atas : mons pubis, labia mayora, labia minora, klitoris, vestibulum, dan himen.

  h. Mons pubis

  Bagian ini menonjol yang meliputi bagian depan simpisis pubis dan terdiri jaringan lemak. Pada orang dewasa biasanya ditutpi rambut dan pada laki-laki rambut pubis sering meluas keatas sampai umbilikus. Mons pubis banyak mengandung kelenjar sebasea (minyak). Karena adanya bantalan lemak bagian ini sangat berperan dalam hubungan seksual dan dapat melindungi simpisis pubis saat koitus dari trauma. i. Labia mayora

  Labia mayora atau bibir-bibir besar terdiri atas dua bagian, yaitu bagian kanan dan kiri. Bagian ini merupakan lipatan kulit yang tebal karena jaringnan subkutannya banyak j. Labia minora

  Labia minora merupakan lipatan kulit di sebelah tengah labia mayora, dan selalu basah karena dilumasi oleh kelenjar-kelenjar labia minora. Pembuluh darah yang sangat banyak membuat labia berwarna kemerahan dan memungkinkan labia minora mengembang. k. Klitoris/kelentit

  Klitoris merupakan suatu tunggul atau organ yang sedikit menonjol dan identik dengan penis laki-laki. Organ ini mengandung banyak urat-urat syaraf sensoris dan erektil.Besarnya klitoris bervariasi antar setiap wanita.

  Klitoris terdiri atas glans klitoridis, korpus klitoridis, dan dua kruka yang menggantungkan klitorisnya ke os pubis. l. Vestibulum/serambi

  Vestibulum merupakan suatu rongga yang berbentuk seperti perahu atau lonjong dan dibatasi oleh labia minora kanan dan kiri, sebelah atas oleh klitoris dan disebelah belakang bawah oleh fourchet. Ada enam lubang yang bermuara ke dalam vestibulum, yaitu : 1) Satu buah orifisium uretra eksternum 2) Dua muara dari lubang muara kelenjar parauretralis 3) Introitus vagina 4) Dua muara yang berasal dari kelenjar bartolini yang vagina. m. Bulbus vestibuli

  Bulbus vestibuli merupakan kumpulan vena-vena yang terletak dibawah selaput lendir vestibulum, dan terletak disebelah kanan dan kiri linea mediana. Sebagian tertutup oleh muskulus bulbokavernosus. Dan muskulus iskiokavernosus. Ini identik dengan korpus spongiosus penis. Dalam persalian bagian ini dapat robekan yang menimbulkan perdarahan yang hebat. n. Himen(selaput darah)

  Himen merupakan lapisan yang tipis dan menutupi sebagian besar introitus vagian. Himen bersifat elastis tetapi kuat karena terdiri atas jaringan ikat elastis dan kolagen. Permukaannya ditutupi epitelium skuamosum kompleks. Himen mempunyai bentuk yang berbeda-beda. o. Perineum

  Perineum merupakan daerah muskular yang ditutupi kulit, yang membentang antara komisutra posterior dan anus.

  Panjangnya rata-rata 4 cm. Perineum dibentuk oleh diafragma pelvis dan diafragma urogenitalis. Diafragma pelvis terdiri dari muskulus levator ani dan muskulus koksigeus dan fasia yang menutupinya. p. Tuba Uterina

  Tuba uterina keluar dari korpus uteri, terdapat pada tepi kornu uteri kanan dan kiri. Panjang 8-14 dengan diameter kira-kira 0,6 cm. Perubahan psikologis pada kehamilan (Yunita, 2010)

  1) Perubahan psikologis pada trimester 1 Perubahan psikologis yang terjadi pada kehamilan trimester 1 didasari pada terori revarubin. Teori ini menekankan pada pencapaian peran sebagai ibu. Beberapa tahan aktifitas yang sangat penting sesorang menjadi ibu : a) Taking on

  Seorang wanita dalam pencapaian peran sebagai ibu akan memulainya dengan meniru dan melakukan peran ibu.

  b) Taking in Seorang wanita sudah mulai membayangkan peran yang dilakukan c) Letting Go

  Wanita mengingat kembali proses dan aktifitas yang sudah dilakukannya.

  a) Perubahan psikologi pada ibu (1) Terbuka atau diam—diam (2) Perassaan ambivalent terhadap kehamilannya (3) Berkembang perassaan khusus, mulai tertarik (4) Antipati karena ada perasaan tidak nyaman terutama pada saat ibu yang tidak menginginkan kehamilan

  (5) Perasaan gembira (6) Menerima atau menolak perubahan fisik

  b) Perubahan psikologi pada ayah (1) Berbeda tergantung dari : usia, jumlah anak, interest terhadap anak, stabilitas ekonomi.

  (2) Menerima atau menolak keadaan istrinya yang bisa di sebabkan karena adanya gangguan komunikasi. (3) Toleransi terhadap kebutuhan seksual, dorongan seksual dapat meningkat atau menurun.

  (4) Ayah dapat menjadi stress, untuk mengatasinya membuat kegiatan baru diluar rumah.

  2) Perubahan psikologi pada trimester II

  a) Perubahan psikologi pada ibu (1) Ibu mengalami perubahan fisik yang lebih nyata

  (2) Ibu merasakn adanya pergerakan janin karena ia menerima dan menganggap sebagai bagian dari dirinya

  (3) Dorongan seksual dapat meningkat atau menurun.

  (4) Mencari perhatian suami

  b) Perubahan psikologi pada ayah (1) Merasa senang dengan pergerakan janin (2) Melibatkan diri dengan masalah kehamilan istrinya (3) Memberikan perhatian kepada istrinya

  3) Perubahan psikologis pada trimester III

  a) Perubahan psikologi pada ibu (1) Kecemasan dan ketegangan semakin meningkat oleh karena perubahan postur tubuh atau terjadi gangguan body image

  (2) Merasakan tidak feminim menyebabkan perasaan takut perhatian suami berpaling atau tidak menyenangi kondisi

  (3) 6-8 minggu menjelang persalinan perasaan takut semakin meningkat, merasa cemas terhadap kondisi bayi dan dirinya. (4) Adanya perassaan tidak nyaman. (5) Menyibukan diri dalam persiapan menghadapi persalinan. b) Perubahan psikologi pada ayah (1) Meningkatkan perhatian pada kehamilan istrinya.

  (2) Meningkatkannya tanggung jawab finansial. (3) Perasaan takut kehilangan istri dan bayinya. (4) Adaptasi terhadap pilihan senggama karena ingin membahagiakan istrinya.

  Menurut Manuaba, 2010 Pembesaran perut wanita tidak selamanya merupakan kehamilan sehingga perlu dilakuka diagnosis banding diataranya :

  a) Hamil palsu atau kehamilan spuria. Dijumpai tanda dugaan hamil, tetapi dengan pemeriksaan alat canggih dan tes biologis tidak menunjukan kehamilan

  b) Tumor kandungan atau mioma uteri. Terdapat pembesaran rahim, tetapi tidak disertai tanda hamil. Bentuk pembesaran tidak merata. Perdarahan banyak saat menstruasi.

  c) Kista ovarium. Pembesaran perut, tetapi tidak disertai tanda hamil dan menstruasi terus berlangsung. Lamanya pembesran perut dapat melampaui usia kehamilan. Pemeriksaan tes biologis kehamilan dengan hasil negatif d) Hematometra. Terlambat datang bulan yang dapat melampaui usia kehamilan. Perut terasa nyeri setiap bulan. Terjadi tumpukan darah dalam rahim. Tanda dan pemeriksaan kehamilan tidak menunjukan hasil yang positif, karena himen in perforata e) Kandung kemih yang penuh. Dengan melakukan kateterisasi, maka pembesaran perut akan menghilang.

  7. Asuhan Pada Kehamilan Menurut Sarwono,2010 asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatn kesehatan obstetrik serangkaian kegiatan pematauan rutin selma kehamilan. Ada 6 alasan penting untuk mendapatkan asuhan antenatal, yaitu : 1) Membangun rasa saling percaya antara klien dan petugas kesehatan 2) Mengupayakn terwujudnya kondisi terbaik bagi ibu dan bayi yang dikandungnya 3) Memperoleh informasi dasar tentang kesehatan ibu dan kehamilannya 4) Mengidentifikasi dan menata laksana kehamilan resiko tinggi 5) Memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan dalam menjaga kualitas kehamilan dan merawat bayinya 6) Menghindarkan gangguan kesehatan selama kehamilan yang akan membahayakn keselamatan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya

  Tujuan pemeriksaan dan pengawasan ibu hamil menurut Rustam Mochtar,2012.h:38

  Tujuan umum adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan, dan nifas dengan demikian didapatkan ibu dan anak yang sehat Tujuan khusus adalah

  1) Mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang nifas.

  2) Mengenali dan mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita sedini mungkin.

  3) Menurunkan angka morbiditas dan mortaitas ibu dan anak.

  4) Memberikan nassihat-nasihat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga berencana kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi. Menurut Arifin Standar pelayanan ANC meliputi 14 T, sehingga ibu hamil yang datang memperoleh pelayanan yang komprehensif dengan harapan antenatal care dengan standar

  14 T dapat sebagai daya ungkit pelayanan kehamilan dan diharapkan ikuti andil dalam menurunkan angka kematian ibu.

  a) Kebijakan program Pelayanan ANC minimal 5 T, meningkatkan menjadi 7 T, dan sekarang 12 T, sedangkan untuk daerah gondok dan endemic malaria menjadi 14 T , yakni :

  1) Ukur tinggi badan atau berat badan

  2) Ukur tekanan darah 3) Ukur fundus uteri 4) Pemberian imunisasi tetanus tosiod (TT) lengkap 5) Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan 7) Temu wicara atau konseling 8) Test atau pemeriksaan hb 9) Test atau pemeriksaan urin protein 10) Test reduksi urine 11) Perawatan payudara 12) Pemeliharaan tingkat kebugaran 13) Terapi yodium kapsul (khusus daerah endemis gondok) 14) Terapi anti malaria (khusus daerah endemis malaria)

  Menurut Sumarni, 2011 Dalam asuhan kehamilan ada beberapa penangan kehamilan normal yaitu : a) Memantau kemajuan kehamilan seperti, tekanan darah, nadi, respirasu, oedema, suhu, tinggi fundus uteri, detak jantung janin, dan gerakan janin

  b) Memberikan zat besi

  c) Memrikan imunisai TT

Tabel 2.1 Jadwal pemberian imunisai TT pada ibu hamil

  Interval Lama % perlindungan perlindungan TT 1 Pada - - kunjungan

  ANC pertama kali

TT 2 4minggu 3 tahun 80%

aetelah TT 1 TT 3

  6 Bulan 5 tahun 95% setelah TT 2

TT 4 1 tahun 10 tahun 99%

aetelah TT 3

TT 5 1 tahun 25 tahun/ 99%

setelah TT 4 seumur hidup

  d) Memberikan konseling ;

  a. Gizi

  b. Senam

  c. Perubahan fisiologis bumil

  d. Kunjungan ulang

  e. Tanda bahaya

  f. Persiapan, rencana persalinan

  g. Personal hygiene

  h. Petunjuk dini untuk cegah t i. erlambat dalam ambil keputusan j. Perawatan payudara k. Ketidaknyamanan pada ibu hamil Hamil dengan masalah khusus

  a. Memberi seluruh asuhan ibu hamil normal

  b. Memberikan konseling khusus sesuai kebutuhan dan masalah c. Merujuk ke dokter untuk konsultasi

  d. Merencanakan secara dini jika tidak aman untuk partus dirumah Hamil dengan kegawatdaruratan

  a. Merujuk segera ke fasilitas kesehatan terdekat

  b. Sambil nunggu transportasi : beri pertolongan awal bila perlu beri pengobatan, beri infus c. Menemani ibu hamil dan keluarga

  d. Memberikan obat dan kebuthan lain

  e. Memberikan catatan medik atau kartu kesehatan ibu hamil dan surat perjanjian Jadwal kunjungan sesuai dengan perkembangan kehamilan ialah sebagai berikut: Menurut Sarwono, 2010 Untuk jadwal kunjungan asuhan antenatal itu sendiri sudah tentukan bila kehamilan normal jadwal asuhan cukup empat kali, dalam bahasa program kesehatan ibu dan anak, kunjungan antenatal ini diberikan kode angka K yang menunjukan singkatan dari kunjungan. Pemeriksaan antenatal yang lengkap adalah K1, K2, K3 dan K4, hal ini berarti, minimal dilakukan sekali kunjungan antenatal hingga usia kehamilan 28 minggu. Sekali kunjungan antenatal selama kehamilan 28-36 minggu dan sebanyak dua kali kunjungan antenatal pada usia kehamilan diatas 36 minggu. Menurut Manuaba, 2010. H: 114 jadwal pemeriksaan antenatal care 1) Trimester I dan II

  a) Setiap bulan sekali

  b) Diambil data tentang laboratorium

  c) Pemeriksaan ultrasonografi

  d) Nasehat tentang diet empat sehat lima sempurna, tambahan protein e) Observasi adanya penyakit yang dapat mempengaruhi kehamila, komplikasi kehamilan f) Rancangan untuk pengobatan penyakitnya, menghindari terjadinya komplikasi kehamilan dan imunisasi tetanus I

  2) Trimester III

  a) Settiap dua minggu sekali sampai ada tanda kelahiran

  b) Evaluasi data laboratorium untuk melihat hasil pengobatan c) Diet empat sehat lima sempurna

  d) Pemeriksaan ultrasonografi

  e) Imunisasi tetanus II f) Observasi adanya penyakit yang menyertai kehamilan, komplikasi hamil trimester ketiga g) Rencana pengobatan

  h) Nasihat tentang tanda in partu, kemana harus datang untuk melahirkan.

  Antenatal care sangat besar karena dapat mengetahui berbagai risiko dan komplikasi hamil sehingga ibu hamil dapat diarahkan untuk melakukan rujukian ke rumah sakit. Untuk evaluasi keadaan dan kemajuan inpartu di pergunakan partograf menurut WHO, sehingga pada saat mencapai garis waspada penderita sudah dapat dirujuk ke rumah sakit.

  Dengan demikian, diharapkan angka kematian ibu dan perinatal yang sebagian besar terjadi pada saat pertolongan pertama dapat diturunkan secara bermakna. menurut WHO bahwa dalam kehamilan, minimal kunjungan ANC adalah 4 kali selama kehamilan dengan penjelasan sebagai berikut: Kunjungan I : dilakukan sebelum minggu ke 14 pada trimester pertama Kunjungan II: dilakukan sebelum minggu ke 28 pada trimester kedua Kunjungan III: dilakukan pada saat antara minggu 28-36 trimester ketiga

  Kunjungan IV: dilakukan setelah minggu ke 266 pada trimester ketiga Menurut Roestam Muchtar, 2012. H: 38 jadwal kunjungan pemeriksaan antenatal adalah sebagai berikut

  1) Periksa pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambat 1bulan 2) Periksa ulang 1 kalli sebulan sampai umur kehamilan 7 bulan 3) Periksa ulang 2 kali sebulan sampai umur kehamilan 9 bulan 4) Periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan 5) Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan

  Asuhan Kehamilan Kunjungan Ulang Pengertiannya adalah waktu tepat untuk mempengaruhi kembali ikatan dengan klien, mengevaluasi data dan menentukan apakah kehamilan berkembang normal. Kunjungan pranatal berikutnya secara tradisionaldijadwalkan dengan interval 4 minggu sampai 28 minggu. Kemudian setiap 2 minggu sampai 36 minggu, dan setelah itu setiap minggu. Wanita dengan kehamilan bernyulit sering memerlukan kunjungan ulang setiap 1 sampai 2 minggu (Obstetri Wiliam, 2013)

  Pada pemeriksaan ulang perlu, diperhatikan agar puting susu sejak dini mendapatkan pemeliharaan yang baik. Puting susu yang belum menonjol ditarik keluar setiap saat dan dimasase dengan minyak. Puting susu yang masuk, perlu dilakukan tindakan operasi, tindakan ringan adalah menarik puting susu dengan menggunakan pompa susu (manuaba, 2010).

  8. Komplikasi Pada Kehamilan

  1. Abortus Spontan (Obstetri Wiliam, 2013) Lebih dari 80 persen abortus spontan terjadi pada 12 minggu pertama separuhnya disebabkan oleh anomali kromosom keguguran dini biasanya disertai oleh perdarahan kedalam desidua basalis dan disertai nekrosis jaringan sekitar.

  Klasifikasi klinis abortus spontan Abortus spontan dapat diklasifikasikan secara klinis melalui beberapa cara. Subkelompok-subkelompok yang sering digunakan adalah abortus mengancam (imminens), inkomplit, dan missed abortion. Yang terakhir keguguran berulang juga disebut recurrent pragnancy los adalah kegagalan dini kehamilan yang berurutan yang mengisyaratkan etiologi serupa. Penatalaksanaan Penanganannya dengan menunggu, medis, dan bedah semuanya masuk akal, kecuali jika terdapat perdarahan serius atau infeksi. Terapi bedah bersifat definitif dan dapat diperkirakan, tetapi invasif dan tidak semua wanita memerlukannya. Penanganan dengan menunggu tau secara medis mungkin dapat menghindari keharusan kuretase tetapi berkaitan dengan perdarahan yang tidak dapat diperkirakan.

  2. Abortus berulang-ulang Secara klasik hal ini didefinisikan sebagai keguguran tiga kali berturu-turut atau lebih pada 20 minggu atau kurang atau menyatakan tiga atau lebih keguguran, banyak yang sepakat bahwa avaluasi ini harus dipertimbangkan setelah bdua keguguran berturut-turut. Penatalaksanaan Penentuan waktu dan tingkat evaluasi wanita dengan tingkat evaluasi wanita dengan keguguran berulang didasarkan pada usia ibu, ada tidaknya infertilitas, gejala, dan tingkat kecemasan. Pada wanita tanpa kelainanlain.

  3. Abortus yang diinduksi Abortuss yang diinduksi adalah pengakhiran secara medis atau beda kehamilan sebelum janinviable (mampu hidup) Klasifikasi Abortus terapetik terdapat sejumlah penyakit medis dan bedah yang merupakan indikasi untuk mengakhiri kehamilan. Indikasi tersering saat ini adalah mencegah lahirnya janin dengan deformitas anatomik, metabolik, atau mental yang signifikan Abortus elektiv

  Pengakhiran kehamilan sebelum janin mampu hidup atau permintaan wanita yang bersangkutan, tetapi bukan atas alasan medis, basanya disebut abortus alektif atau voluntary abortion

  4. Perdarahan Pengertian setelah kehamilan 28 minggu. Perdarahan sebelum, sewaktu, dan sesudah bersalin adalah kelainan yang tetap berbahaya dan mengancam jiwa ibu.(Moctar, 2010.h:40) Klasifikasi 1) Plasenta Previa

  a) Pengertian keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagai atau seluruh pembukaan jalan lahir.

  (Moctar,2010. H : 187).

  b) Etiologi menurut Mochtar, 2012. H: 189 Banyak penyebab plasenta previa yang belum diketahui atau belum jelas. Teori dan faktor-faktor dikemukakan sebagia etiologinya.

  a) Endometrium yang inferior

  b) Chorion leave yang persisten

  c) Korpus luteum yang bereaksi lambat Tanda dan gejala

  Perdarahan pada kehamilan setelah 288 minggu atau pada kehamilan lanjut, sifat perdarahannya tanpa sebab, tanpa nyeri, dan berulang. Kadang-kadang perdarahan terjadi pada pagi hari setelah bangun tidur.

  2) Solusio Plasenta

  a) Pengertian Suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepass dari perlekatannya sebelum janin lahir biassanya dihitung sejka kehamilan 28 minggu.(Mochtar, 2012. H:194).

  b) Klasifikasi Menurut derajat lepasnya plasenta

  a) Solusio Plasenta Paralis Bila hanya sebagian saja plasenta yang terlepass dari tempat perlekatannya b) Solusio Plasenta Totalis

  Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari perlekatannya c) Kadang-kadang plasenta ini turun ke bawah dan dapata teraba pada pemeriksaan dalam, biasanya disebut dengan prolapsus plasenta

  Etiologi Solusio Plasenta Sebab yang jelas terjadi solusio plasenta belum diketahui hanya para ahli mengemukakan teori:

  Akibat turunya tekanan darah secra tiba-tiba oleh spasme dari arteri yang menuju keruangan interviler, terjadilah anoksemia dari jaringan bagian distalnya. Sebelum ini menjadi nekrotis spasme hilang dan darah kembali mengalir ke dalam intervili, namun pembuluh darah distal tadi sudah demikian rapuhnya serta lambat laun melepaskan plasenta dari rahim.

  Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain : (a)

  Faktor Vaskuler (80%-90%) yaitu toksemia gravidarum, glumerulonefritis kronika, dan hipertensi esensial. (b)

  Faktor utama

  a. Pengecilan yang tiba-tiba dari uterus pada hidramnion dan gemeli b. Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/ bebas, versi luar atau pertolongan persalinan.

  c. Faktor Parilitas Lebih banyak dijumpai pada multi dari pada primi.

  d. Pengaruh lain seperti anemia, malnutrisi, tekanan uterus pada vena cava inferior, dan lain-lain e. Trauma langsung seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain

  5. Ketuban Pecah Dini Definisi Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. (Sarwono, 2010).

  Disebabkan oleh kontraksi uterus dan peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu terjadi perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena seluruh selaput ketuban pecah.(Sarwono, 2010).

  Tanda dan gejala 1) Tanpa yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban yang merembees melalui vagina.

  2) Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes. 3) Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran.

  4) Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi. (Nugroho, 2012).

  6. Jantung

  Pada kehamilan dengan jantung normal, wanita dapat menyesuaikan kerjanya terhadap perubahan-perubahan secara fisiologis. Perubahan tersebut disebabkan oleh hipervolemia dimulai sejak kehamilan 8 minggu dan mencapai puncaknya pada 28-32 minggu lalu menetap dan karna jantung an diafragma terdorong keatas oleh karena dapat memperbesar penyakit jantung bahkan dapat menyebabkan payah jantung. (Mochtar, 2012).

  Klasifikasi penyakit jantung dalam kehamilan Kelas 1 : tanpa pembatasan kegiatan fisik dan tanpa gejala pada kegiatan biasa.

  Kelas 2 : sedikit dibatasi kegiatan fisik, waktu istirahat tidak ada keluhan, kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insufisiensi jantung, dan gejalanya adalah lelah, palpitasi, sesak nafas, dan nyeri pada dada.

  Kelas 3 : kegiatan fisik sangat dibatasi, waktu istirahat tidak ada keluhan, sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung. Kelas 4 : waktu istirahat dapat timbul keluhan insufisiensi jantung, apalagi kerja fisik yang tidak berat. (Mochtar, 2012).

  7. Anemia dalam kehamilan Definisi

  Anemia dalam kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, dan merupakan jenis anemia yang pengobatannya relatif mudah, bahkan murah. (Manuaba,2010,h.237) Klasifikasi Anemia Dalam Kehamilan (1) Anemia defisiensi besi (2) Anemia megaloblastik (4) Anemia hemolitik Tanda dan gejala Gejala dan tanda anemia antara lain adalah pusing. Rasa lemah, kulit pucat, mudah pingsan, sementara tensi masih dalam batass normal perlu dicurigai anemia defisiensi. Secara klinik dapat dilihat tubuh yang malnutrisi dan pucat. Pengaruh anemia terhadap kehamilan antara lain dapat menurunkan daya tahan ibu hamil sehingga ibu mudah sakit, menghambat pertumbuhan janin sehingga bayi lahir dengan berat badan rendah dan persalinan prematur. (Dewi, 2009).

  8. Hepatitis Penyebab hepatitis adalaah 2 jenis virus yang menyerang baik para remaja mauipun orang dewasa, baik oleh virus A dan virus B hepatitis., wanita hamil lebih sering menderita hepatitis.

  Penanganan a. Pengobatan hepatitis dalam kehamilan sama dengan keadaan tidak hamil, harus bekerja sama dengan ahli patologi klinik dan penyakit dalam.

  b. Penderita harus dirawat, istirahta, dan diet hepatitis.

  c. Diberikan infus cairan dan elektrolit yang cukup.

  d. Obat-obat antibiotika, kortikosteroid, dan obat protek hati.

  B. PERSALINAN

  1. DEFINISI

  a. Menurut obstetri wiliam, 2013 periode dari awitan kontraksi uterus yang reguler sampai ekspulsi plasenta. Proses terjadinya hal ini secara normal disebut persalinan.

  b. Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhiran dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu (Varney, 2008) c. Persalinan adalah proses pengeluaran hail konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir (Manuaba, 2010.H:164)

  d. Pada initinya proses persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dimatangkan didalam rahim lalu dikeluarkan melalui jalan lahir.

  2. Tahap – Tahap Persalinan

  a. Persalinan Kala satu

  Pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Lamanya kala satu untuk primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurva friedman, diperhitungkan pembukaan primigravida satu cm/jam dan pembukaan multigravida dua cm/jam. (Manuaba, b. Persalinan kala dua Persalinan ini dimulai ketika dilatasi servik lengkap dan berakhir dengan pelahiran janin. Durasi median sekitar 50 menit untuk nultipara dan sekitar 20 menit untuk multipara. (Obstetri Wiliam, 2013).

  c. Persalinan kala tiga Setelah kala dua, kontraksi uterus berhenti sekitar 5 sampai 10 menit. Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan dengan memperhatikan tanda-tanda uterus menjadi bundar, uterus terdorong keatas karena plasenta dilepaskan ke segmen bawah rahim, tali pusat memanjang, terjadi perdarahan. Melahirkan plasenta dilakukan dengan dorongan ringan secara crede pada fundus uteri. (Manuaba, 2010).

  Menurut Obstetri Wiliam, 2013 Segera setelah pelahiran neonatus, ukuran, dan konsistensi fundus uteri diperiksa. Jika uterus tetap keras dan tidak ada perdarahan yang abnormal, biasanya tunggu secra seksama hingga plasenta terpisah.

  Pemijatan sangat tidak dianjurkan. Tanda-tanda plasenta kadang-kadang muncul dalam 1 menit stelah pelahiran neonatus dan biasanya dalam 5 menit. Ketika plasenta telah terlepas, harus ditentukan bahwa uterus berkontraksi baik.

  d. Persalinan kala empat Beberapa jam segera setelah pelahiran adalah masa kritis, dan oleh sejumlah orang disebut sebagai persalinan kala pascapartum sebagai akibat atonia uteri lebih mungkin terjadi pada saat ini. Akibatnya, uterus dan perineum harus sering dievaluasi. (Obstetri Wiliam, 2013).

  3. Mendiagnosa Persalinan Tanda persalinan (Manuaba, 2010. H: 173)

  a. Terjadinya hist persalinan. His persalinan mempunyai ciri khas pinggang terasa nyeri yang mejalar ke depan, sifatnya teratur, interval makin pendek, dan kekuatannya makin besar, mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks, makin beraktivitas (jalan) kekuatan makin bertambah.

  b. Pengeluaran lendir dan darah (pembawa tanda). His persalinan terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan pendataran dan pembukaan.

  c. Pengeluaran cairan Terjadi ketuban pecah yang menimbulkan pengeluaran cairan.

  Sebagian besar ketubn baru pecah menjelang pembukaan lengkap. Dengan pecahnya ketuban diharapkan persalinan berlangsungg dalam waktu 24 jam.

  4. Perubahan Fisiologis dan Mekanisme dalam persalinan (Sarwono, 2010)

  a. Peruahan bentuk uterus Setiap kontraksi meghasilkan pemanjangan uterus berbentuk

  b. Gaya-gaya pada persalinan Setelah servik berdilatasi penuh, gaya yang paling penting pada proses ekspulsi janin adalah gaya yang dihasilkan oleh tekanan intraabdominal ibu yang meninggi. Gaya ini terbentuk oleh kontraksi otot-oto abdomen secara bersamaan melalui upaya pernapasan paksa dengan glotis tertutup.

  c. Perubahan-perubahan servik Tenaga yang efektif pada kala satu persalinan adalah kontraksi uterus, yang selanjutnya akan menghasilkan tekanan hidrostatik. Ke seluruh selaput ketuban terhadap serviks dan segmen bawah uterus.

  d. Perubahan pada vagina dan dasar panggul Jalan lahir disokong dan secara fungsional ditutup oleh sejumlah lapisan jaringan yang sama-sama membentuk dasar panggul. Struktur yang paling penting adalah m. Levator ani dan fasia yang membungkus permukaan atas dan bawahnya, yang demi praktisnya dapat dianggap sebgai dasar panggul. Mekanisme persalinan (Obstetri William, 2013) a. Engagement Mekanisme ketika diameter biparietal-diameter transversal terbesar pada presentasi oksiput melewati apertura pelvis superior.

  b. Fleksi Setelah kepala yang sedang desensus mengalami hambatan, kemudian terjadi fleksi kepala. Pada gerakan ini, dagu mengalami kontak lebih dekat dengan dada janin, dan diameter suboksipitobregmatikum yang lebih pendek mengganti diameter oksipitofrontalis yang lebih panjang.

  c. Rotasi internal Gerakan ini penting terdiri dari perputaran kepala sedemikian rupa sehingga oksiput secara bertahap bergerak ke arah simfisis pubis di bagian anterior dari posisi awal atau yang lebih jarang, kearah posterior menuju lengkungan sakrum.

  Rotasi internal penting untuk penuntasan persalinan, kecuali bila ukuran janin abnormal kecil.

  d. Ekstensi Setelah rotasi internal, kepala yang berada pada posisi fleksi maksimal mencapai vulva dan mengalami eksternal.

  e. Rotasi eksternal Setelah kepala lahir, dilakukan retitusi jika pada awalnya terarah ke kiri, oksiput berotasi menuju tuber iskiadikum kiri.

  Jika awalnya terarah kekanan, oksiput berotasi kekanan. f. Ekspulssi Hampir segera setelah rotasi eksternal, bahu anterior terlihat dibawah simfisis pubis, dan peineum segera terdistensi oleh bahu posterior. Setelah pelahiran bahu, bagian tubuh lainnya lahir dengan cepat.

  5. Diagnosa banding persalinan anda harud membedakan tidak hanya antara persalinan sejati dan palsu, tetapi juga antara persalinan dan rasa tidak nyaman atau komplikasi yang terlihat atau dapat disalahartikan sebagai persalionan. Komplikasi yang paling terjadi adalah infeksi saluran kemih. Wanita yang mengalami persalinan palsu dapat mengalami rasa tidak nyaman dan keletihan cukup besar akibat kontraksi yang dialami selama berhari-hari kontraksi yang demikian dapat dibedakan dari kontraksi persalinan sejati mengingat pada persalinan palsu, kontraksi tidak mengalami peningkatan frekuensi, durasi, dan intensitas. Nyeri suorapublik, pinggang, dan punggung yang berkaitan dengan infeksi saluran kemih sering kali disalahkan artikan, baik oleh wanita maupun pemeriksa, sebagai gejala persalinan. Kemungkinan salah interpretasi yang lain antara lain frekuensi dan urgensi berkemih akibat infeksi saluran kemih dipersepsikan sebagai akibat tekanan uterus yang membesar pada kandung kemih, terutama jika sudah terjadi lightenig.

  Ketika mencurigai infeksi saluran kemih harus dengan cermat mengkaji riwayat kesehatan wanita , mencakup infeksi saluran kemih sebelumnya demam, menggigil, mual dan muntah, frekuensi berkemih yang sering.

  Rasa sakit yang menyeluruh menjelang akhir kehamilan sering kali dialami, tetapi tidak terbatas pada wanita yang mengalami episode

  6. Asuhan Dalam Persalinan Dasar asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih dan aman selama persalinan dan setelah bayi lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama perdarahan pasca persalinan, hipotermia, dan asfiksia bayi baru lahir. (Sarwono, 2010) Tujuan asuhan persalinan normal adalah mengupayakn kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehtan yang tinggi bagi ibu dan bayinya. (Sarwono, 2010) Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya kepercayaan dan keinginan sang ibu. Salah satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga selam proses persalinan dan kelahiran bayi. (Sarwono, 2010)

  58 LANGKAH ASUHAN PERSALINAN NORMAL

  I. Mengenali gejala dan tanda kala II

  1. Mendengar, melihat dan memeriksa gejala dan tanda Kala Dua

  a. Ibu merasa ada dorongan kuat untuk meneran b. Ibu merasakan regangan yang semakin meningkat pada rektum dan vagina c. Perineum tidak menonjol

  d. Vulva dan spingter ani membuka

  II. Menyiapkan pertolongan persalinan

  2. Memastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial baru lahir. Untuk asfiksia Tempat datar dan keras, 2 kain dan 1 handuk bersih dan kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi a. Mengelar kain di atas perut ibu, tempat resusitasi dan ganjal bahu bayi b. Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set.

  3. Memakai celemek plastik

  4. Melepaskan dan simpan semua perhiasan yang dipakai, cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan dengan tisue atau handuk pribadi yang bersih dan kering.

  5. Memakai sarung tangan DTT untuk melakukan periksa dalam.

  6. Memasukan oksitosin kedalam tabung suntik (gunakan tangan yang memakai sarung tangan DTT dan steril (pastikan tidak terjadi kontaminasi pada alat suntik).

  III. Memastikan pembukaan lengkap pada keadaan janin baik

  7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang dibasahi air DTT.

  a. Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja, bersihkan dengan seksama dari arah depan ke belakang b. Membuang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam

  c. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0,5%

  8. Melakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap. aaila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi.

  9. Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkantangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% kemudian lepaskan dan rendam dalam keadaan terbalik dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan.

  10. Memeriksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi / saat relaksasi uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120-160 x/menit).

  a. Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal

  b. Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.

  IV. Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses bimbingan meneran

  11. Memberitahukan bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik dan bantu ibu dalam menemukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya.

  a. Menunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan semua temuan yang

  b. Menjelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran mereka untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran secara benar.

  12. Meminta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran. (Bila ada rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat, bantu ibu ke posisi setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu merasa nyaman).

  13. Melaksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada dorongan kuat untuk meneran: a. Membimbing ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif

  b. Mendukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara meneran apabila caranya tidak sesuai.

  Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama).

  c. Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi d. Menganjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu.

  e. Memberikan cukup asupan cairan per-oral (minum).

  f. Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai. g. Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah 120 menit (2jam) meneran (primigravida) atau 60 menit (1jam) meneran (multigravida).

  14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.

  15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm

  16. Meletakan kain bersih yang dilipat sepertiga bagian di bawah bokong ibu

  17. Membuka tutup partuset dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan

  18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan

  VI. PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI Lahirnya kepala

  19. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan kain bersih dan kering. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi depleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu untukmeneran perlahan sambil bernafas cepat dan dangkal.

  20. Memeriksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan segera lanjutkan proses kelahiran bayi a. Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi. b. Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua tempat dan potong diantara dua klem tersebut

  21. Menunggu kepala bayi melakukan paksi luar secara spontan Lahirnya bahu 22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara bipareatal.

  Anjurkan ibu untuk meneran saat ada kontraksi,. Dengan lembut gerakan arkus pubis dan gerakan ke arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang Lahirnya badan dan tungkai

  23. Setelah kedua bahu lahir, geser tangan ke arah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah, gunakan atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebaelah atas.

  24. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut kepunggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki (masukan telunjuk diantara kaki dan peganmg masing-masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya)

  VII. PENANGANAN BAYI BARU LAHIR

  25. Melakukan penilaian (selintas) :

  a. Apakah bayi menangis kuat dan bernapas tanpa kesulitan?

  b. Apakah bayi bergerak aktif Jika bayi tidak menangis, tidak bernapas atau megap-megap segera lakukan tindakan resusitasi (langkah 25 ini berlanjut ke langkag-langkah prosedur resusitasi bayi baru lahir dengan asfiksia).

  26. Mengeringkan dan posisikan tubuh bayi diatas perut ibu

  a. Mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya (tanpa membersihkan verniks) kecuali bagian tangan.

  b. Mengganti handuk basah dengan handuk kering

  c. Memastikan bayi dalam kondisi mantap dia atas perut ibu

  27. Memeriksa kembali perut ibu untuk memastikan tak adabayi lain dalam

  28. Memberitahukan pada ibu bahwa penolong akan menyuntikan oksitosin (agar uterus berkontraksi baik)

  29. Dalam waktu bsatu menit setelah bayi lahir, suntukan oksitosin 10 unit (intramuskular) di sepertiga paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).

  30. Dengan menggunakan klem, jepit tali pusat,( dua meit setelah lahir) pada sekitar 3 cm dari pusar (umbulikus) bayi. Dari sisi luar klem penjepit, dorong isi talipusatke arah distal (ibu dan lakukan penjepitan kedua pada 2 cm distal dari klem pertama.

  31. Memotong dan pengikatan tali pusat

  a. Dengan satu tangan, angkat tali pusat yang telah dijepit kemudian lakuakn pengguntingan tali pusat (lindungi perut bayi) dianatara dua klem tersebut.

  b. Mengikat tali pusat dengan benang DTT /steril pada satu sisi kemudian lingkarkan kembali benang kesisi berlawanan dan lakukan ikatan kedua menggunakan dengan simpul kunci.

  c. Melepaskan klem dan masukan ke dalam wadah yang telah disediakan.

  32. Menempatkan bayi untuk melakuakn kontak kulit ibu ke kulit bayi. Letakan posisi bayi tengkurap di dada ibu. Luaruskan bahu bayi sehingga bayi menempel dengan baik di dinding dada sampai perut ibu. Usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posoisi lebih rendah dari puting payudara ibu,.

  33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala

  VIII.PENATALAKSANAAN AKTIF KALA TIGA 34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga jarak 5-10 cm dari vulva.

  35. Meletakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.

  36. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang-atas (dorsokranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri). Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur diatas.

  a. Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi puting susu.

  Mengeluarkan Plasenta

  37. Melakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kraniak).

  a. Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjaraj sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta. b. Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat : 1. Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM.

  2. Melakukan katerisasi (asetik) jika kandung kemih penuh.

  3. Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan.

  4. Mengulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya.

  5. Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi 6. Bila terjadi perdarahan, lakukan plasenta manual.

  38. Saat plasenta muncul di introitus vagina , lahirkan plasenta dengan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta pada wadah yang telah disediakan.

  a. Jika selaput ketuban robek, pakai sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal.

  Rangsangan Taktil (Masase) Uterus

  39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase uterus, letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras) a. Melakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik melakukan rangsangan taktil/masase. lX MENILAI PERDARAHAN

  40. Memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukkan plasenta ke dalam kantung plastik atau tempat khusus.

  41. Mengevaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.

  Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan

  IX MELAKUKAN ASUHAN PASCAPERSALINAN

  42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.

  43. Memberikan cukup waktu untuk melakukan kontak kulit ibu-bayi (di dada ibu paling sedikit 1 jam).

  a. Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusui dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusui pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit. Bayi cukup menysu dari satu payudara.

  b. Membiarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu.

  44. Melakukan penimbangan bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin k 1 1 mg intramuskular di paha kiri anterolateral setelah satu jam kontak kulit ibu –bayi.

  45. Memberikan suntikan imunisasi hepatitis B (setelah 1 jam pemberian vitamin k1 ) dipaha kanan anterolateral.

  a. Meletakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu bisa disusukan.

  b. Meletakkan bayi kembali pada dada ibu bila bayi belum berhasil menyusu di dalam satu jam pertama dan biarkan sampai bayi menyusu. EVALUASI

  46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam a. 2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan

  b. Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan

  c. Setiap 20-30menit pada jam kedua pasca persalinan

  d. Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik,melakukan asuhan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri

  47. Mengajarkan ibu atau keluarga cara melakukan uterus dan menilai kontraksi

  48. Mengevaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah

  49. Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam ke 2 pasca persalinan

  a. Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam persalinan b. Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal

  50. Memeriksa kembali kondisi bayi yang telah memastikan bahwa bayi bernapas dengan baik (40-60 x/menit ) serta suhu tubuh normal (36,5- 37,5)

  KEBERSIHAN DAN KEAMANAN

  51. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi.

  52. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai

  53. Membersihkan badan ibu menggunakan air DTT. Membersihkansisa cairan ketuban, lendir dan darah. Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering 54. Memastikan ibu merasa nyaman. Membantu ibu memberikan ASI. yang diinginkan

  55. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%

  56. Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5%, balikan bagian dalam keluar dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.

  57. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan dengan tisue atau handuk pribadi yang kering dan bersih DOKUMENTASI

  58. Melengkapi patograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital dan asuhan kala IV.

  7. Komplikasi dalam persalinan 1) Distosia karena kelainan his.(Mochtar, 2012. H: 215)

  Pengertian Distosia adalah kesulitan dalam jalannya persalinan.

  Distosia karena kelainan his adalah his yang tidak normal, baik kekuatan maupun sifatnya, sehingga menghambat kelancaran persalinan. Etiologi a) Kelainan his sering dijumpai pada primigravida tua.

  b) Faktor herediter, emosi, dan ketakutan memegang peranan penting.

  c) Salah pimpinan persalinan, atau salah pemberian obat-obatan seperti oksitosin dan obat-obatan penenang.

  d) Bagian terbawah janin tidak berhubungan rapat dengan e) Kelainan uterus misalnya uterus bikomis unikolis.

  f) Kehamilan postmatur Penanganan

  a) Apabila dijumpai pada permualaan persalinan lakukan evaluasi secara keseluruhan untuk mencari sebab-sebabnya.

  b) Pada partus lama atau terlantar, berikan pengobatan penddahuluan yang disebut regim rehidrasi, yaitu (a)

  Infus dektrosa 5% atau larutkan garam fisiologis 1 liter dalam 1 jam pertama dan selanjutnya menurut kebutuhan. (b)

  Bila his menyebabkan rasa sakit yang berlebih berikan injeksi pethidin 50mg.

  (c) Memberrikan kortison 200mg. (d)

  Memberikan antibiotika secukupnya apalagi kalau ketuban sudah lama pecah.

  Komplikasi bagi ibu dan janin dengan distosia (obtetri wiliam, 2008)

  Komplikasi bagi ibu Koroamnionitis intrapartum dan infeksi panggul pasca partum lebih sering terjadi pada persalinan yang tidak menentu atau lama.

  Perdarahan pasca partum akibat atonia meningkatkan dengan persalinan lama dan yang diaugmentasi. Perdarahan akibat pelahiran caesar memeberikan peran, dan terdapat insiden yang lebih tinggi untuk terjadinya robekan uterus pada histerektomi jika kepala janin tetahan dalam panggul. Ruptur uterus Penipisan segmen bawah rahim yang abnormal menimbulkan bahaya serius selama persalinan lama, terutama pada perempuan dengan paritas tinggi dan pada mereka dengan riwayat pelahiran caesar.

  Pembentuka Fistula Pada distosia bagian terendah tertahan kuat di dalam pintu atas panggu dan tidak ada kemajuan untuk waktu yang lama. Jaringan jalan lahir yang membentang antara bagian terdepan dan dinding panggul dapat terkena tekanan yang berlebihan.

  Cedera Dasar Panggul Cedera pada otot dasar panggul, persyrafan, atau fasia penghubung adalah konsekuensi pelahiran pervaginam yang sering terjadi, terutama jika pelahirannya sulit.

  Cedera saraf pascapartum pada ekstermitas bawah Mekanisme yang paing sering adalah kompresi eksternal dan saraf peroneal, biasanya disebabkan oleh posisi kaki yang tidak tepat pada penopang kaki, terutama selama persalinan kala dua yang lama.

  Komplikasi perinatal Insiden sepsis peripartum pada janin meningkat pada persalinan yang lama. Cedra mekanis lebih sering terjadi karena cedera lebih bersifat operatif dan traumatik. Caput succedaneum dapat sangat nyata dan molding. Keadaan ini harus dibedakan dengan sefalohematoma. 2) Kelainan pada letak kepala (Mochtar, 2012. H: 237)

  Letak Defleksi (letak kepala tengadah)

  a) Presentasi pucuk kepala Bagia terbawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan dalam teraba ubun-ubu besar yang paling rendah, dan ubun—ubun besar sudah berputar kedepan. Etiologi Letak defleksi ringan ini biasanya disebabkan

  (a) Kelainan panggul

  (b) Kepala bentuknya bundar

  (c) Anak kecil atau mati

  (d) Kerusakan dasar panggul

  b) Presentasi Muka

  Adalah letak kepala tengadah sehingga bagian kepala yang terletak paling rendah ialah muka.

  Etiologi Sebab yang menghalangi terjadinya fleksi kepala dan sebab yang menyebabkan defleksi kepala (a) Primer karena ansefalus, hidrosefalus, kongenital anomali.

  Struma, kista leher, lilitah tali pusat pada leher beberapa kali.

  (b) Sekunder Panggul sempit, tangan menumbung disamping kepala, anak sangat besar,

  Terapi aktif Pada pembukaan lengkap, lakukan versi dan ekstrasi atau ekstrasi vacum, apabila pembukaan masih kecil lakukan sectio caesaria, pada primigravida lakukan sectio caesaria.

  c) Pressentasi Dahi Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada pada posisi terendah dan tetap paling depan.

  Etiologi

  a. Anak kecil atau sudah meninggal

  b. Penempatan dahi persisten

  c. Seperti letak muka

  9. Letak Sungsang (Mochtar, 2012. H: 243) Definisi Janin yang letaknya memanjang dalam rahim, kepala berada di fundus dan bokong berada dibawah.

  KLASIFIKASI

  a. Letak bokong (frank breech)

  b. Letak sungsang sempurna (complete breech) Letak bokong dimana kedua kaki ada di samping bokong

  c. Letak sungsang tidak sempurna (incomplete breech) Letak sungsang dimana selain bokong bagian terendah juga kaki atau lutut.

  Etiologi

  a. Fiksasi kepal pada pintu atas panggul tidak baik atau tidak ada , misalnya pada panggul sempit, hidrosefalus, plasenta previa, tumor-tumor pelvis.

  b. Janin mudah bergerak, seperti pada hidramnion, multipara, janin kecil.

  c. Gemeli.

  d. Kelainan uterus, seperti uterus arkuatus, bikornis, mioma uteri.

  e. Janin sudah lama mati.

  f. Sebab yang tidak diketahui.

  10. Letak lintang (Mochtar, 2012. H: 251) Definisi

  Apabila sumbu memanjang janin menyilang sumbu memanjang ibu secara tegak lurus atau mendekati 90 derajat.

  Etiologi Penyebab dari letak lintang sering merupakan kombinasi dari berbagai faktor, sering pula penyebabnya tetap merupakan suatu misteri. Fakto-faktor tersebut adalah hidrosefalus, plasenta previa, dan tumor-tumor pelvis.

  b. Janin sudah bergerak pada hidramnion multiparitas, anak kecil atau sudah mati.

  c. Gemeli.

  d. Kelainan uterus, seperti arkuatus, bikomus, atau septum.

  e. Lumbar skoliosis

  f. Monster

  g. Pelvic kidney dan kandung kemih seerta rektum yang penuh.

  C. Nifas

  1. Definisi

  a. Masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim, sampai enam minggu berikutnya. (Suherni, dkk, 2009).

  b. Masa nifas adalah suatu periode dalam minggu-minggu pertama setelah kelahiran. (Obstetri Wiliam,2008). c. Masa nifas adalah masa pemulihan kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat—alat kandungan kembali seperti prahamil.(Mochtar, 2012).

  2. Klasifikasi Masa Nifas Menurut Mochtar, 2012

  a. Puerperium Dini jalan.

  b. Puerperium intermediat Kepulihan menyeluruh alat-alat genetali yang lamanya 6-8 minggu.

  c. Puerperium lanjut Waktu yang diperlukan untuk pulih dan kembali sehat sempurna terutama jika selama hamil atau sewaktu persalinan timbul komplikasi.

  3. Perubahan Fisiologis Masa Nifas

  a. Uterus Secara berangsur-angsur menjadi kecil hingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. (Mochtar, 2012).

  Ukuran uterus mengecil kembali setelah 2 hari pasca persalinan, setinngi sekitar umbilikus, setelah 2 minggu massuk panggul, setelah 4 minggu kembali pada ukuran sebelum hamil. (Suherni, dkk. 2009)

  b. Bekas implantasi plasenta (Mochtar, 2012)

  Plasenta bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu keenam 2,4 cm, dan akhirnya pulih.

  c. Luka-Luka pada jalan lahir jika tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari. rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan.

  e. Lochea (Mochtar, 2012) Cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Diantaranya ada beberapa jenis lochea, yaitu a) Lochea Rubra

  Berasal dari darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel- sel desidua, vernik kaseosa, lanugo, dan mekonium, selama 2 hari pasca persalinan.

  b) Lochea sanguinolenta Berwarna merah kuning,, berisi darah dan lendir, hari ke 3-7 pascapersalinan.

  c) Lochea serosa Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7- 14 pascapersalinan.

  d) Lochea alba Cairan putih, setelah 2 minggu.

  e) Lochea purulenta Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk. f) Lohciotosis Lochea tidak lancar keluarnya.

  f. Perubahan pada vagina dan perineum (Suherni, dkk. 2009) Perlukan Vagina Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak sering dijumpai. Mungkin ditemukan setelah ekstrasi dengan cunam. Perubahan perineum Pada semua persalinan terjadi robekan perineum biasanya terjadi pada persalinan pertama tetapi juga kadang pada persalinan yang selanjjutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin terlau cepat.

  g. Perubahan pada saluran pencernaan (Suherni, dkk. 2009) Sering terjadi konstipasi pada ibu setelah melahirkan. Hal ini umumnya disebabkan karena makanan padat dan kurangnya serat selama persalinan.

  h. Perubahan perkemihan (Suherni, dkk. 2009) Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8 minggu, tergantung pada keadaan atau status sebelum persalinan, lamanya parrtus kala 2 dilalui, besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat persalinan. Lagi pula vesica urinaria masa nifas mempunyai kapasitas bertambah besar dan relatif tidak sensitif terhadap tekanan cairan intra vesica. i. Peruban Tanda-Tanda Vital pada Masa Nifas (Suherni, dkk.

  2012) Suhu Tubuh Sekitar hari ke 4 setelah persalinan suhu ibu mungkinnaik turun, antara 37,2 ⁰C-37,5⁰C. Apabila kenaikan 38⁰C pada hari kedua sampai hari-haari berikutnya, harus diwaspadai adanya infeksi atau sepsis nifas.

  Denyut nadi Denyut nadi ibu akan melambat sampai sekitar 60 X/ menit, yakni pada waktu habis persalinan karena ibu dalam kadaan istirahat penuh. Tekanan Darah Tekanan darah <140/90 mmHg. Teknan dara tersebut bisa meningkat dari pra persalinan pada 1- hari postpartum. Apabila tekanan darah menjadi rendah menunjukan adanya perdarahan postpartum.

  Respirasi Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal. Apabila ada respirasi cepat postpartum (>30x/menit),mungkin karena adanya ikutan tanda-tanda syok. j. Perubaha sistem muskuloskeletal / diatasis rectum abdominkus

  (Sukarni, 2013) Adaptasi ini mencangkup hal – hal yang membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahan pusat gravitasi ibu akibat pembesaran uterus.

  4. Adaptasi psikologis ibu dalam masa nifas Proses adaptasi psikologis pada seorang ibu sudah dimulai sejak dia hamil. Wanita hamil akan mengalami perubahan psikologis yang nyata sehingga memerlukan adaptasi. Perubahan mood seperti sering menangis, lekas marah, sering sedih atau cepat berubah menjadi senang merupakan manifestasi dari emosi yang lainnya. (Suherni, dkk. 2009).

  1 Fase taking in Yaitu periode ketergantungan. Periode ini berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan, pada fase ini, ibu sedang berfokus terutama pada dirinya sendiri. Ibu akan berulang kali menceritakan proses persalinan yang dialaminya dari awal sampai akhir.

  Gangguan psikologis yang mungkin dirasakan ibu adalah : 1) Kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan tentang bayinya.

  2) Ketidaknyamanan sebagai akibat dari perubahan fisik yang dialami ibu.

  3) Rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya. 4) Suami atau keluarrganya yang mengkritik ibu tentang cara merawat bayi dan cenderung melihatnya saja tanpa membantunya, ibu akan merasa tidak nyaman karena sebenarnya hal tersebut bukan hanya tanggung jaawab ibu semata.

  2 Fase taking hold Periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Fase ini ibu timbul rassa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Dukungan moril sangat diperlukan utntuk menumbuhan kepercayaan diri ibu.

  Periode menerima tanggung jawab akan peran barunya. Fase ini berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya.

  5. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas Normal Peran seorang bidan dalam melakukan asuhan kebidanan pada masa nifas adalah untuk memastikan ibu merasa nyaman dalam menjalani peran barunya dan selalu memberi dukungan dalam proses adaptasi yang dilakukan ibu. Asuhan masa nifas normal merupakan wewenang dan tanggung jawab bidan untuk melaksananakan kompetensi dan ketrampian memberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu. (Suherni, 2013) Menurut Obstetri Wiliam, 2008 Penatalaksanan perawatan selama puerperium meliputi penatalaksanaan perawatan selama puerperium awal, pedoman untuk sisa masa puerperium, pelaksanan, atau pengaturan kunjungan rumah sesuai indikasi, pelaksanaan kunjungan pada dua minggu pascapartum, dan pelaksanaan pemeriksaan pada empat hingg enam minggu pascapartum. Sebagai bidan mempunyai tanggung jawab sebagai berikut :

  1. Melakukan evaluasi kontinu dan penatalaksanaan perawatan kesejahteraan wanita.

  2. Memberikan pemulihan dan ketidaknyamanan fisik.

  3. Memberikan bantuan dalam menyusui.

  5. Melakukan pengkajian bayi selama kunjungan rumah.

  6. Memberikan pedoman antisipasi dan instruksi.

  7. Melakukan penapisan kontinu untuk komplikasi puerperium.

  6. Komplikasi Pada Masa Nifas

  A. Infeksi Masa Nifas Infeksi nifas adalah keadaan yang mencangkup semua peradangan alat- alat genetalia dalam masa nifas. Masuknya kuman-kuman dapat terjadi dalam kehamilan, waktu persalinan, dan nifas. (Mochtar, 2013) Etiologi Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan, seperti eksogen , autogen, dan endogen. Penyebab yang terbanyak dan lebih dari adalah streptokokus anaerob yang sebenarnya tidak patogen sebagai penghuni normal jalan lahir. Kuman – kuman yang sering menyebabkan infeksi adalah :

  a. Streplococcus haemoliticus aerobic, masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang ditularkan dari penderita lain.

  b. Staphylococus aureus, infeksi sedan banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit. c. Escherichie coli, sering berasal dari kandung kemih dan rektum, menyebabkan infeksi terbatas.

  d. Clostridium Welcheii, kuman anaerobik yang sangat berbahaya, sering ditemukan pada abortus kriminalis dan partus yang ditolong dukun dari luar rumah sakit.

  B. Kelainan-kelainan masa nifas (Mochtar, 2013) Sub-involusi uterus Adalah keadaan uterus mengecil oleh kontraksi rahim dimana rahm dari 1000 gram saat setelah bersalin, menjadi 40-60 gram 6 minggu kemudian. Etiologi Penyebabnya adalah infeksi endometritis, sisa plasenta, mioma uteri, bekuan-bekuan darah, dan lain sebagainya.

  Perdarahan Nifas sekunder Adalah perdarahan yang terjadi setelah lebih dari 24 jam pospartum, dan biasanya terjadi pada minggu kedua nifas.

  Etiologi Faktor penyebabnya kurang lebih sama seperti sub involusi, sisa plasenta, mioma uteri, kelainan uterus, inversio uteri, dan pemberian setrogen untuk menekan laktasi. Kelainan pada payudara Bendungan air susu

  Pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi atau kelenjar-kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada puting susu Mastitis Suatu peradangan pada payudara yang disebabkan kuman, terutama staphylococcus aureus melalui luka pada puting susu atau melalui Kelainan Jumlah air susu a) Tidak ada air susu (agalaksia).

  b) Air susu sedikit keluar (oligogalaksia).

  c) Air susu keluar melimpah ruah (poligalaksia).

  d) Air susu tetap keluar terus-menerus dan dalam waktu lama walaupun sudah menyapih (galaktorea).

  Kelainan puting susu a) Puting susu bundar dan menonjol.

  b) Puting susu terbenam dan cekung sehingga menyulitkan bayi untuk menyusu, bila tidak diperbaiki terpaksa air susu dipijat atau dipompa.

  c) Luka puting susu segera diobati dengan salep dan sementara menunggu sembuh, air susu dipompa.

  D. Bayi Baru Lahir

  1. Definisi Bayi yang lahir dalam presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dengan berat badan 2500-4000 gram, nilai apgar > 7 dan tanpa cacat bawaan.(Rukiyah, 2013).

  2. Tanda-tanda bayi baru lahir normal (Rukiyah, 2013) Bayi baru lahir dikatakan normal jika mempunyai beberapa tanda yang diataranya adalah : a. Appearance color (warna kulit) seluruh tubuh berwarna kemerah— b. Pulse (heart rate) atau frekuensi jantung >100x/menit.

  c. Grimace (reaksi terhadap rangsangan), menangis, batuk/ bersin.

  d. Activity (tonus otot) gerakan aktif.

  e. Respiration (usaha nafas) bayi menangis dengan kuat.

  3. Klasifikassi klinik nilai apgar (Mochtar, 2013)

  a. Nilai 7-10 bayi normal

  b. Nilai 4-6 bayi asfiksia ringan-sedang

  c. Nilai 0-3 bayi asfiksia berat

  4. Adaptasi Bayi Baru Lahir Terhadap Kehidupan Luar Uterus (Rukiyah, 2013) Periode adaptasi terhadap kehidupan di luar rahim disebut dengan periode transisi. Periode ini berlangsung hingga 1 bulan atau lebih setelah kelahiran untuk beberapa sistem tubuh, transisi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada siste pernafasan dan sirkulasi, sistem termoregulasi, dan dalam kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa.

  a. Perubahan sistem pernafasan

  Faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi yaitu hipoksia paada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat pernafasan otak dan tekanan terhadap rongga dada yang terjadi karena kompresi paru-paru selama persalinan yang merangsang masuknya udara kedalam paru—paru secaraa mekanisme Setelah lahir darah bayi harus melewati paru untuk untuk mengambil oksigen dan mengantarkan ke jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik guna mendukung kehidupan luar rahim harus terjadi 2 perubahan besar penutupan voramen ovale pada atrium jantung.

  c. Sistem pengaaturan tubuh 1) Pengaturan Suhu

  Suhu dingin lingkaran luar menyebabkan air ketuban menguap melalui kulit sehingga mendinginkan darah bayi.

  2) Mekanisme kehilangan panas Bayi dapat kehilangan panas tubuhnya melalui evaporasi yaitu penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh bayi sendiri karena setelah lahir tidak segera dikeringkan dan diselimuti. Konduksi yaitu melaui kontak lansung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Konveksi yaitu pada saat bayi terpapar udara yang lebih dngin. Radiasi adalah krtika bayi ditempatkan didekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi. 3) Metabolisme glukosa

  Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Pada BBL glukosa darah akan menurun dalam waktu cepat 1-2 jam. 4) Perubahan sistem gastrointestinal

  Reflek gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk pada saat lahir. Sedangkan sebelum lahir bayi sudah mulai terbatas. 5) Perubahan sistem kekebalan tubuh

  Sistem imunitas BBL belum matang sehingga rentan terhadap infeksi. Kekebalan alami yang dimiliki bayi diantaranya : perlindungan oleh kulit membran mukosa, fungsi jaringan saluran nafas, pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus, perlindungan kimia oleh lingkaran asam lambung, kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh sel darah yang membantu membunuh organisme asing.

  5. Asuhan pada bayi baru lahir Menurut Mochtar, 2013 perawatan bayi 2 pekan pertama

  1. Kebersihan Buang air kecil dan buang air besar harus dijaga dan selalu dibersihkan popok diganti. Tempat tidur dan pakaian bayi harus selalu bersih dan hangat.

  2. Menyusui bayi Pada 12 jam pertama, bayi dipuaskan kemudian baru disusui.

  3. Makanan tambahan kalau ASI kurang.

  4. Cara memandikan bayi dan merawat tali pusat harus diperhatikan.

  7. Komplikasi pada bayi baru lahir normal 1) Asfiksia

  Asfiksia adalah kegagalan untuk memulai dan melanjutkan pernafasan secara spontan dan teratur pada saat bayi baru lahir atau beberapa saat sesudah lahir. (Sudarti, 2013).

  a. Tidak bernafas atau nafas megap-megap atau pernafasan lambat.

  b. Pernafasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi.

  c. Tangisan lemah atau merintih.

  d. Warna kulit pucat atau biru.

  e. Tonus otot lemas atau ekstremitas terkulai.

  f. Denyut jantung tidak ada atau lambat. 2) Ikterik (Rukiyah, 2013)

  Ikterik terjadi apabila terdapat bilirubin dalam darah. Pada sebagian besar neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Ikterus ini pada sebagian lagi bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian. 3) Oral trush (Rukiyah, 2013)

  Lapisan atau bercak-bercak putih kekuningan yang timbul di lidah yang mungkin dikelilingi oleh daerah kemerahan.bentuk sariawan akan terlihat seperti vesikel atau bulatan kecil. Warnanya putih atau kekuningan.

  4) Muntah dan Gumoh (Rukiyah, 2013) Gumoh atau regurgitasi adalah gejala klinis dan merupakan keadaan fisiologis yang normal pada bayi berusia dibawah satu tahun. Gumoh terjadi karena ada udara di dalam lambung yang terdorong keluar kala makanan masuk kedalam lambung bayi. Berbeda dengan muntah, ketika isi perut keluar karena anak berusaha mengeluarkannya.

  5) Bayi baru lahir rendah (Rukiyah, 2013) Bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram.

  Klasifikasi BBLR 1) Bayi prematur sesuai masa kehamilan

  Bayi ini mempunyai sifat prematur dan matur. Beratnya seperti bayi matur akan tetapi sering timbul masalah seperti yang dialami bayi prematur. 2) Bayi prematur kecil untuk masa kehamilan

  Setiap bayi baru lahir (premature, matur dan post mature) mungkin saja mempunyai berat yang tidak sesuai dengan masa gestasinya. 6) Tetanus Neonatorium (Rukiyah, 2013)

  Penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus yang berusia kurang dari 1 bulan yang disebabkan oleh clostridium tetani yakni kuman yang mengeluarkan toksin dan menyerang sistem syaraf pusat. Tanda- tanda tetanus neonatorium Bayi tiba-tiba akan panas atau demam, Bayi mendadak tidak mau menyusu, mulut mecucu, disertai sianosis. E. Keluarga Berencana

  1. Definisi Menurut UU No.10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera adalah upaya peningkatan kependudukan dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia kawin, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, (Handayani, 2010) Program KB adalah bagian yang terpadu dalam program pembangunan nasional dan bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual dan sosial budaya penduduk indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan. (Handayani, 2010)

  2. Tujuan program KB Tujuan umum untuk lima tahun kedepan mewujudkan visi dan misi program KB yaitu membangun kembali dan melestarikan pondasi yang kokoh bagi pelaksanaan program KB dimasa mendatang. (Handayani, 2010). Tujuan umum program KB adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya (Sulistiawati, 2012)

  3. Ruang lingkup program KB (Sulistiawati, 2012) Ruang lingkup program KB mencakup sebgai berikut :

  1) Ibu Dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran. Adapun manfaat yang diperoleh oleh ibu adalah sebagai berikut.

  (1) Tercegahnya kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu yang terlalu pendek, sehingga kesehatan ibu dapat terpelihara terutama kesehatan organ reproduksinya. dimungkinkan oleh adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak dan beristirahat yang cukup karena kehadiran akan anak tersebut memang diinginkan. 2) Suami

  Dengan memberikan kesempatan suami agar dapat melakukan hal berikut.

  (1) Memperbaiki kesehatan fisik. (2) Mengurangi beban ekonomi keluarga yang ditanggungnya. 3) Seluruh Keluarga

  Dilaksanakan program KB dapat meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan sosial setiap anggota keluarga dan bagi anak dapat memperoleh kesempatan yang lebih besar dalam hal pendidikan serta kasih sayang orang tuanya.

  Ruang lingkup KB secara umum adalah sebagai berikut. 1) Keluarga berencana. 2) Kesehatan reproduksi remaja. 3) Ketahanan pelembagaan keluarga kecil berkualitas. 4) Keserasian kebijakan kependudukan.

  5) Pengelolaan SDM aparatur.

  4. Sasaran Program KB Sasarn program KB dibagi menjadi 2 yaitu sasaran langsung dan tidak langsung, tergantung dari tujuan yang ingin dicapai . sasaran langsungnya adalah pasangan usia subur yang bertujuan untuk menurunka tingkat kelahiran dengan cara penggunaan kontrasepsi pelaksanaan dan pengelolaan KB, dengan tujuan menurunkan tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang berkualitas, keluarga sejahtera. (Handayani, 2010).

  Menurut Sulistiawati, 2012. Sasaran program KB Sasaran program KB tertuang dalam RPIMN 2004-2009 sebagai berikut.

  1) Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi 1,14% pertahun.

  2) Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan.

  3) Menurunnya PUS yang tidak ingin mempunyai anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat atau cara kontrasepsi menjadi 6%. 4) Meningkatnya peserta KB laki-laki 4,5%. 5) Meningkatnya penggunaan meode kontrassepsi yang rasional, elektif, dan efisien.

  6) Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.

  7) Meningkatnya pertisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.

  8) Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga dan keluarga sejahtera 1 yang aktif dalam usaha ekonomi produktif. pelayanan program KB nassional.

  5. Hak – Hak konsumen KB (Handayani, 2010) 1) Hak atas informasi. Hak untuk mengetahui segala manfaat dan keterbatasan pilihan metode perencanaan keluarga.

  2) Hak akses. Yaitu hak untuk memperoleh pelayanan tanpa membedakan jenis kelamin, agama dan kepercayaan, suku, status sosial, status perkawinan dan lokasi. 3) Hak pilihan. Hak untuk memutuskan secara bebas tanpa paksaan dalam memilih dan menerapkan metode KB.

  4) Hak keamanan. Yaitu hak untuk memperoleh pelayanan yang aman dan efektif.

  5) Hak privasi. Setiap konsumen KB berhak untuk mendapatkan privasi atau bebas dari gangguan atau campur tangan orang lain dalam konseling dan pelayanan KB. 6) Hak kerahasiaan. Hak untuk mendapatkan jaminan bahwa informasi pribadi yang diberikan akan dirahasaiakan.

  7) Hak kenyamanan. Setiap konsumen KB berhak untuk memperoleh kenyamanan dalam pelayanan.

  8) Hak berpendapat. Hak untuk menyatakan pendapat secara bebas terhadap pelayanan yang ditawarkan.

  9) Hak ganti rugi. Hak untuk mendapatkan ganti rugi apabila terjadi pelanggaran terhadap hak konsumen.

  6. Macam-macam metode kontrasepsi yang ada dalam program KB diindonesia.

  Metode ini dibagi menjadi 2 yaitu metode kontrasepsi sederhana tanpa alat dan metode kontrasepsi dengan alat.

  1) Metode kontrasepsi sederhana tanpa alat (1) Metode alamiah

  a. Metode kalender

  a) definisi Adalah metode yang digunakan berdasarkan masa subur dimana harus digunakan berdasarkan masa subur dimana harus menghindari hubungan seksual.

  b) Keuntungan metode kalender (a) Dapat digunakan untuk mencegah atau mendapatkan kehamilan.

  (b) Tanpa resiko kesehatan yang berkaitan dengan metodenya.

  (c) Tanpa efek samping. (d) Murah

  c) Kekurangan metode kalender

  (a) Diperlukan pelatihan untuk bisa menggunakan dengan benar.

  (b) Memerlukan pemberian asuhan yang sudah terlatih.

  (c) Memerlukan penahanan nafsu selama fase kesuburan untuk menghindari.

  Tergantung pada keikhlasan mengikuti petunjuk, angka kegagalan 1-25 kehamilan per 100 wanita selama tahun pertama penggunaan.

  b. Metode suhu basal

  a) Definisi Suatu metode kontrasepsi yang dilakukan dengan mengukur suhu tubuh untuk mengetahui suhu tubuh basal, untuk menentukan masa ovulasi.

  b) Efektifitas metode suhu badan basal Metode ini cukup baik dengan angka kegagalan 0,3-6,6 kehamilan pada 100 wanita pertahun.

  c) Keuntungan Metode Suhu Basal (a) Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasangan terhadap mssa subur.

  (b) Membantu wanita yang mengalami siklus tidak teratur dengan cara mendeteksi ovulsi.

  (c) Dapat membantu menunjukan perubahan tubuh lain selain lendir servik.

  (d) Berda dalam kendali wanita. (e) Dapat digunakan untuk mencegah atau meningkatkan kehamilan.

  d) Kekurangan Metode suhu basal (a) Membutuhkan motivasi.

  (b) Perlu diajarkan oleh spesialis keluarga (c) Suhu tubuh basal dipengaruhi oleh penyakit, kurang tidur, stres/ tekanan emosional, alcohol.

  Penggunaan sedatifa, imunisasi, iklim, dan ganguan saluran cerna.

  (d) Apabila suhu tubuh tidak diukur pada sekitar waktu yang sama setiap hari ini akan menyebabkan ketidakakuratan suhu tubuh basal.

  (e) Tidak mendeteksi permulaan masa subur sehingga mempersulit untuk mencapai kehamilan. (f) Membutuhkan masa pantangan yang panjang/lama, karena ini hanya mendeteksi masa pasca ovulasi sehingga abstinen sudah harus dilakukan pada masa pra ovulasi.

  c. Metode lendir servik

  a) Definisi

  Metode kontrasepsi dengan menghubungkan pengawasan terhadap perubahan lendir servik wanita yang dapat dideteksi di vulva.

  b) Efektifitas Angka kegagalan metode kontrasepsi sedderhana MOB ini adalah 0,4-39,7 per wanita per tahun.

  (a) Dalam kendali wanita. (b) Memberikan kesempatan pada pasangan menyentuh tubuhnya.

  (c) Meningkatkan kesadaran terhadap perubahan pada tubuh.

  (d) Memperkirakan lendir yang subur sehingga memungkinkan kehamilan.

  (e) Dapat digunakan mencega kehamilan.

  d) Kekurangan metode lendir servik (a) Membutuhkan komitmen.

  (b) Perlu diajarkan oleh spesialis KB alami. (c) Dapat membutuhkan 2-3 siklus untuk mempelajari metode.

  (d) Infeksi vagina dapat menyulitkan identifikasi lendir yang subur.

  (e) Membutuhkan pantangan.

  d. Metode Amenorhea Laktasi

  a) Definisi

  Kontrasepsi yang mengandalkan pemberian air susu ibu secara eksklusif artinya hanyadiberikan asi saja tanpa pemberian makanan tambahan atau minuman apapun.

  b) Efektifitas Efektifitas metode amenorhea laktasi tinggi persalinan) c) Keuntungan MAL (a) Segera efektif.

  (b) Tidak mengganggu senggama. (c) Tidak ada efek samping secara sistemik. (d) Tidak perlu pengawasan medis. (e) Tidak perlu obat atau alat. (f) Tanpa biaya.

  d) Kerugian MAL (a) Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam 30 menit pasca persalinan. (b) Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi social.

  (c) Tidak melindungi terhadap IMS termasuk virus hepatitis B/HBV dan HIV/ AIDS.

  e. Coitus Interuptus (senggama terputus)

  a) Definisi

  Metode kontrasepsi dimana senggama diakhiri sebelum terjadi ejakulasi intra vagina. Ejakulasi terjadi jauh dari genetalia eksterna.

  b) Efektivitas Bila dilaksanakan dengan benar efektifitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk melaksanakannya.

  c) Keuntungan metode coitus interuptus (a) Tidak mengganggu produksi asi (b) Dapat digunakan sebagai pendukung metode

  KB lainnya (c) Tidak ada efek sampingnya.

  (d) Dapat digunakan setiap waktu. (e) Tidak membutuhkan biaya.

  d) Kerugian metode coitus interuptus Kerugian metode coitus interuptus ini adalah memutus kenikmatan berhubungan seksual.

  2) Metode sederhana dengan alat (Handayani, 2010) (1) Kondom

  a. Definisi Suatu selubung atau sarung karet yang terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks, plastik, atau bahan alami yang dipasang pada penis atau vagina (kondom wanita) pada saat berhubungan seksual. b. Efektivitas Kondom cukup efektif apabila dipakai secara benar pada setiap kali berhubungan seksual. Pada beberapa pasangan pemakaian kondom tidak efektif karena tidak dipakai secara konsisten.

  c. Keuntungan (b) Tidak mengganggu kesehatan klien.

  (c) Murah dan dapat dibeli secara umum. (d) Tidak perlu pemeriksaan medis. (e) Tidak mengganggu produksi ASI. (f) Mencegahan ejakulasi dini. (g) Membantu mencegah terjadinya kanker servik.

  d. Kerugian (a) Angka kegagalan relatif tinggi.

  (b) Perlu menghentikan sementara aktifitas dan spontanitas hubungan seksual.

  (c) Perlu dipakai secara konsisten. (d) Masalah pembuangan kondom bekas. (2) Spermisid

  a) Definisi Zat-zat kimia yang kerjanya melumpuhkan spermatozoa di dalam vagina sebelum spermatozoa bergerak kedalam traktus genetalia interna.

  b) Efektivitas

  Keberhasilannya sedang (6-26 kehamilan per 100 wanita selama tahun pertama pemakaian).

  c) Keuntungan (a) Aman.

  (b) Sebagai kontrasepsi pengganti untuk wanita dengan kontra indikasi pemakaian pil oral, iud, dan (c) Tidak memerlukan supervisi medik.

  d) Kerugian (a) Angka kegagalan reatif tinggi.

  (b) Harus digunakan sebelum senggama. (c) Ada wanita yang segan untuk melakukannya karena harus di letakkan dalam-dalam atau tinggi dalam vagina. (d) Harus diberikan berulang kali untuk senggama yang berturut-turut.

  (e) Dapat menimbulkan iritasi atau rasa panas pada beberapa wanita.

  (3) Difragma

  a) Definisi Kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks yang dimasukan ke dalam vaginasebelum melakukan hubungan saksual dan menutupi serviks.

  b) Jenis 1) Flat spring (lembar logam gepeng)

  2) Coil spring (kawat lengkung) 3) Arching spring (pegas logam kombinasi)

  c) Cara kerja Menahan sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba falopii) dan sebagai alat tempat spermisida.

  Efektivitas sedang (bila digunakan dengan spermisida angka kegagalan 6-18 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama penggunaan)

  e) Manfaat 1) Manfaat konservatif 2) Manfaat non konservatif (4) Kap servik.

  a) Definisi Yaitu suatu alat kontrasepsi yang hanya menutupi servik saja.

  b) Jenis (a) Prentif cavity rim servik.

  (b) Dumas atau vault cup.

  c) Efektifitas Cukup baik 8-20 per 100 wanita per tahun.

  d) Manfaat (a) Efektifitas meskipun tanpa spermisid.

  (b) Tidak terasa oleh suami saat senggama.

  (c) Dapat dipakai pada wanita yang mengalami kelainan anatomis atau disfunsional dari vagina.

  (d) Tidak perlu pengukuran. (e) Jarang terlepas saat senggama.

  e) Keterbatasan Pemasangan dan pengeluaran lebih sulit karena letak f) Efek samping dan komplikasi.

  Sekret yang bau dan infeksi saluran kemih.

  2. Metode Kontrasepsi Hormonal (Handayani, 2010) Mekanisme kerja kontrasepsi hormonal (Handayani, 2010) 1) Mekanisme Kerja Estrogen

  (1) Menekan ovulasi Menekan ovulasi pada efek dihipotalamus mengakibatkan seppresi pada FSH dan LH kelenjar hypophyse.

  Penghambatan tidak adanya estrogen pada pertengahan siklus, tidak adanya puncak FSH dan LH pada pertengahan siklus. (2) Mencegah implantasi Keseimbangan estrogen progesteron tidak dapat menyebabkan pola endometrium abnormal sehingga menjadi tidak baik untuk implantasi. Implantasi dari ovum yang telah dibuahi dapat dihambat oleh estrogen dosis tinggi.

  (3) Mempercepat transport gamet/ovum

  Transport gamet/ovum dipercepat oleh estrogen disebabkan efek hormonal pada sekresi dan peristaltik tuba serta kontraktilitas uterus. (4) Luteolysis Degenerasi dicorpus luteum menyebabkan penurunan cepat dari produksi estrogen dan progesteron diovarium.

  (1) Menghambat ovulasi Ovulasi dihambat karena terganggu fungsi proses hipotalamus, hypophyse, ovarium dan modifikasi dari FSH dan LH pada pertengahan siklus. (2) Menghambat implantasi

  Implantasi dapat dicegah bila diberikan progesteron praovulasi.

  Pemberian progesteron, eksogenous dapat menganggu kadar puncak FSH dan LH, walaupun terjadi ovulasi produksi progesteron yang berkurang dari corpus luteum menghambat implantasi.

  (3) Memperlambat transport gamet/ovum Pengangkutan ovum dapat di perlambat bila diberikan progesteron sebelum fertilisasi.

  Pengangkatan ovum yang lambat dapat menyebabkan peningkatan insiden implantasi ektopik tuba.

  (4) Luteolysis

  Pemberian jangka lama progesteron menyebabkan fungsi corpus luteum tidak adekuat pada siklus haid.

  (5) Mengentalkan lendir servic. (6) Lendir servik yang tidak ramah untuk sperma adalah lendir yang jumahnya sedikit dan kental.

  3. Alat Kontraksi Dalam Rahim (Handayani, 2010) (1) AKDR adalah suatu alat atau benda yang dimasukkan ke dalam rahim yang sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduktif.

  (2) AKDR adalah suatu usaha pencegahan kehamilaan dengan menggulung secarik kertas, diikat dengan benang lalu dimasukan ke dalam rongga rahim.

  2. Jenis – jenis AKDR (1) AKDR non-hormonal.

  (2) Iud yang mengandung hormonal.

  3. Mekanisme kerja Mekanisme kerja AKDR sampai saat ini belum diketahui secara pasti, ada yang berpendapat bahwa AKDR sebagai benda asing yang menimbulkan reaksi radang setempat dengan serbukan lekosit yang dapat melarutkan blastosis atau sperma. Sifat-sifat dari cairan uterus mengalami perubahan- perubahan pada pemakaian AKDR yang menyebabkan blastoksia tidak dapat hidup dalam uterus.

  4. Efektifitas Efektivitas dari IUD ditanyakan dalam angka kontinuitas yaitu berapa lam IUD tetap tinggal in-utero cepat tanpa ekspulsi spontan, terjadinya kehamilan dan pengangkatan atau pengeluaran karena alasan-alasan medis batau pribadi.

  5. Keuntungan (2) Metode jangka panjang (10tahun proteksi dari CUT-308A dan tidak perlu diganti).

  (3) Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat—ingat. (4) Tidak mempengaruhi hubungan seksual. (5) Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.

  (6) Tidakk ada efek samping hormonal dengan CU AKDR (CuT-380A).

  (7) Tidak mempengaruhi kualitas ASI.

  6. Kerugian Efek samping yang umum terjadi.

  (1) Perubahan siklus haid pada 8 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan.

  (2) Haid lebih lama dan banyak. (3) Perdarahan (sportting) antar mentruasi. (4) Saat haid lebih sakit. (5) Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.

  4. Metode kontrasepsi mantap (Handayani, 2010)

  A. Metode kontrasepsi pada laki-laki.

  1. Pengertian metode kontrasepsi mantap pada pria adalah suatu metode kontrasepsi oeratif minor pada pria yang sangat aman, sederhana dan sangat efektif, memakan waktu operasi yang singkat dan tidak memerlukan anestesi umum.

  Klien calon peserta kontap sebelumnya memerlukan pelayanan konseling umum memutuskan alat kontrasepsi yang dipilih.

  3. Syarat 1) Syarat sukarela 2) Syarat bahagia 3) Syarat sehat.

  4. Efektifitas Angka keberasian amat tinggi (99%), angka kegagalan 0- 2,2%, umumnya <1%.

  5. Kontra indikasi 1) Infeksi kulit lokal.

  2) Infeksi traktus genetali. 3) Kelainan skrotum. 4) Penyakit sitemik. 5) Riwayat perkawinan, psikologis atau seksual yang tidak stabil.

  6. Keuntungan

  1) Efektifitas, kemungkinan gagal tidak ada karena dapat di chek kepastian di laboratorium.

  2) Aman, morbiditas rendah dan tidak ada mortalitas. 3) Cepat, hanya memerlukan 5-10 menit dan pasien dan pasien tidak perlu dirawat di RS.

  4) Menyenangkan bagi akseptor karena memerlukan anestesi 5) Tidak mengganggu hubungan seksual selanjutnya.

  6) Biaya murah.

  7. Kerugian 1) Harus dengan tindakan operatif.

  2) Kemungkinan ada komplikasi seperti perdarahan dan infeksi.

  3) Tidak seperti sterilisasi wanita yang langsung menghasilkan steril permanen.

  4) Tidak dapat dilakukan pada orang yang masih ingin mempunyai anak lagi.

  B. Metode kontrasepsi pada wanita.(Handayani, 2010)

  1. Pengertian Setiap tindakan pada kedua saluran telur yang mengakibatkan orang atau pasangan yang bersangkutan tidak akan mendapatkan keturunan lagi.

  2. Persyaratan peserta kontap (1) Syarat sukarela (2) Syarat bahagia.

  (3) Syarat sehat.

  3. Indikasi (1) Wanita pada usia >26 tahun.

  (2) Wanita dengan paritas >2 (3) Wanita yang yakin telah mempunyai besar keluarga yang dikehendaki. resiko kesehatan yang serius. (5) Wanita pasca keguguran. (6) Wanita yang paham dan secara sekarela setuju dengan prosedur ini.

  4. Kontraindikasi 1) Wanita yang hamil.

  2) Wanita dengan perdarahan pervaginan yang belum jelas penyebabnya.

  3) Wanita dengan infeksi sistemik atau pelvik yang akut. 4) Wanita yang kurang pasti mengenai keinginan fertilitassnya dimasa depan.

  5. Macam - macam kontap (1) Penyinaran.

  (2) Operatif. (3) Laparoskopi.

  Landasan Hukum Kewenangan Bidan

  Dalam menjalankan tugas dan fungsinya dimasyarakat, seorang bidan mempunyai kewenangan yang diatur dalam peraturan dan perundang-undangan kesehatan. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi secara hukum baik untuk bidan maupun untuk masyarakat terhadap malpraktek yang mungkin dilakukan oleh bidan atau tenaga kesehatan, peraturan, perundangannya adalah sebagai berikut,

  Landasan hukum dalam praktik kebidanan yaitu :

  1. Peraturan menteri Peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor 1464/Menkes/per/x/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan (depkes RI, 2010)

  Bab III penyelenggaraan praktik Pasal 9 Bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan pelayanan meliputi ; 1) Pelayanan kesehatan ibu 2) Pelayanan kesehatan anak 3) Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana

  Pasal 10 1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimakssud dalam pasal 9 huruf 3 diberikan pada masa pra hal, kehamilan, masa persalinan, masa nifas, masa menyusui masa antara dua kehamilan.

  2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi ; a) Pelayanan konseling pada masa pra hamil

  b) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal

  c) Pelayanan persalinan normal

  d) Pelayanan ibu menyususi 3) Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 a) Episiotomi

  b) Penjahitan luka jalan lahir tingkat 1 dan 2

  c) Penanganan kegawat daruratan dilanjutkan dengan perujukan d) Pemberian tablet FE pada ibu hamil

  e) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifass

  f) Fasilitas/bimbingan inisiasi menyusui dini dan promosi air susu ibu eksslusif g) Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala 3 dan postpartum h) Penyuluhan dan konseling i) Bimbingan pada kelompok ibu hamil j) Pemberian surat keterangan kematian k) Pemberian surat keterangan cuti bersalin

  2. Standar pelayanan kebidanan

  a. Standar 9: asuhan persalinan kala 1 b. Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatiakan kebutuhan klien selama proses persalinan berlangsung.

  c. Standar 10: persalianan kala 2 yang aman

  d. Bidan memerlukan pertolongan persalinan yang aman dengan tradisi setempat e. Standar 11: penatalaksanaan aktif persaliana kala III

  f. Bidan melakukan penanganan tali pusat dengan benar untuk membantu pengeluaran plassenta dan selaput ketuban secara lengkap

  g. Standar 12: penanganan kala II dengan komplikasi gawat janin melalui episiotomi.

  h. Bidan mengenali secara tepat tandda gawat janin pada kala II yang lama dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk memperlancar persalian, diikuti dengan penjahitan perineum.

  

KALA 1 MEMANJANG, BAYI BARU LAHIR, NIFAS FISIOLOGIS, DAN

KELUARGA BERENCANA PADA NY.R UMUR 24 TAHUN G2P1A0

UMUR KEHAMILAN 39 MINGGU 4 HARI

DI BPM NY. LILY ELISABETH, S.SIT

  Tanggal : 11 Desember 2014 Tempat : Di BPM Lily Elisabeth, S.SIT

  A. Data Subyektif

  1. Identitas Diri Nama Klien : Ny. R Nama Suami : Tn. R Umur : 24 tahun Umur : 31 tahun Suku Bangsa : Jawa Suku Bangsa : Jawa Agama : Islam Agama : Islam Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta Alamat : Papringan RT I/V Alamat : Pap, I/V

  Banyumas

  2. Alasan Datang : Ibu ingin memeriksaan kehamilan

  3. Keluhan Utama : -

  4. Riwayat Kesehatan :

  a. Dahulu : Ibu mengatakan tidak pernah menderita Pengakit jantung, gula, darah tinggi, malaria, asma, HIV/AIDS

  b. Sekarang : Ibu mengatakan tidak pernah menderita Pengakit jantung, gula, darah tinggi, malaria, asma, HIV/AIDS c. Keluarga : Ibu mengatakan bahwa keluarganya dan keluarga suami menular, jantung, malaria, gula, dll.

  5. Riwayat Obstetri 1) Menarchea: 12 tahun 2) Siklus : teratur 3) Lamanya : 5 hari 4) Banyaknya: 1-3 hari ganti pembalut 3x

  4-5 hari ganti pembalut 2x 5) Sifat darah : cair 6) Flour albus: sebelum menstruasi 7) Dismenor : hari pertama menstruasi 8) HPHT : 9-3-2014 9) HPL :16-12-2014

  6. Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas yang lalu

  Hamil Usia Jenis BBL/P Jenis Keadaan Penolong Penyulit Nifas Ket Ke Kehamilan Partur B Kehamilan Anak

  • 1 Aterm Normal Bidan 2400/4 - Spontan Norm Sehat 3 al

  C. Riwayat Kehamilan Sekarang

  1. G P AO

  2

  1

  2. Frekuensi anc 2 x di dokter

  a. PP test : (+)

  b. Keluhan : pusing c. Obat : vitonal, PCT

  d. Nasihat : istirahat cukup

  3. Tm II 2 x di bidan

  a. Gerakan Janin yang dirasakan pertama kali oleh Ibu pada umur kehamilan 4 bulan b. Obat : Bioman IX

  4. Tm III 2x di bidan

  a. Obat : Biomam IX

  b. Nasehat : Istirahat cukup

  7. Riwayat Perkawinan

  a. Status perkawinan : Syah (KUA)

  b. Usia kawin : 19 thn

  c. Lama perkawinan : 7 thn

  8. Riwayat KB Ibu mengatakan setelah menikah memakai alat kontrasepsi.Menggunakan KB suntik 3 bulan setelah anak pertama Selama 5 thn. c. Spiritual

  b. Kultural

  C. Pola aktivitas Mobilisasi : aktif Aktifitas :Pekerjaan rumah Kurang aktif Pekerjaan rumah

  a. Psikosisial Ibu mengatakan bahwa suami dan keluarga sangat senang dengan kehamilan saat ini.

  10. Psikososial, Kultural, Spiritual

  F. Pola Seksual 3x seminggu 2 bulan sekali

  2x sehari 3x sehari 2 sehari 3x seminggu

  E. Pola Personal hygiene Mandi : 2x sehari Gosok gigi: 3x sehari Ganti pakaian: 2x sehari Keramas : 3x seminggu

  D. Pola istirahat Tidur siang: Jarang Tidur malam: 8 jam 2 jam 8 jam

  2. BAK Frekuensi : 2x sehari Konsistensi: Cair 2x sehari Cair

  9. Pola Kebutuhan Sehari-hari

  1. BAB Frekuensi : 1x sehari Konsistensi: lembek 1x sehari Lembek

  B. Pola Eliminasi

  2. Minum Frekuensi : 1x sehair Jenis : air putih 5x sehari Air putih

  3 sehari Nasi, lauk, sayur Tidak ada

  1. Makanan Frekuensi : 3x sehari Jenis : nasi, lauk,

sayur

Pantangan : tidak ada

  A. Pola nutrisi

  Pola Kebutuhan Sehari- hari Sebelum Hamil Selama Hamil

  • Ibu mengatakan tidak ada pantangnan atau adat istiadat yang berhubungan dengan kehamilan
  • Pengambil keputusan adalah suami
  • Ibu mengatakan tidak ada kebiasaan yang menyimpang
  • Ibu selalu menjalankan ibadahnya

  11. Data Pengetahuan Ibu Ibu mengatakan bahwa dia sudah mengerti semua tentang kehamilannya dan bahaya-bahaya pada saat kehamilan.

  12. Lingkungan tempat yang berpengaruh

  b. Hewan Peliharaan : Tidak memiliki Hewan Peliharaan

  c. Kondisi MCK : Bersih dan baik

  1. Keadaan umum : Baik

  2. Kesadaran : Composmetis

  3. Tanda-tanda vital : TD : 110/70, N= 80 x/m, s = 36,7 C, R = 21 x/m

  4. BB sekarang : 61 kg, BB sebelum : 50 kg

  5. TB : 155 cm

  6. Lila : tidak terkaji

  7. Status Present

  a. Kulit kepala : Dari hasil inspeksi Kulit Kepala terlihat bersih

  b. Rambut : hasil inspeksi rambut terlihat warna hitam, dan tidak rontok.

  c. Muka : dari penglihatan saya muka tidak terlihat cedema dan tidak pucat d. Mata : dari hasil Inspeksi tidak pucat

  e. Mulut : Tidak terlihat adanya caries f. Telinga : Terlihat bersih

  g. Hidung : Terlihat bersih

  h. Leher : Terlihat tidak adanya benjolan i. Dada dan axila: Terlihat tidak adanya benjolan j. Genetalia : Tidak dilakukan pengkajian k. Ekstremitas : Tidak dilakukan pengkajian

  8. Status Obstretikus

  a. Inspeksi Muka : Tidak terlihat adanya clousma gravidarum

  b. Dada Inspeksi : Mamae membesar, putting menonjol, Palpasi : belum ada kolostrum yang keluar.

  c. Abdomen : Terlihat adanya linea migra dan striae gravidarum

  d. Palpasi : Leopold I : Teraba bagian bulat lunak dan melenting Leopold II : Teraba bagian memanjang di sebelah kiri dan teraba potongan kecil-kecil di sebelah kanan Leopold III :Teraba bagian bulat, melenting keras Leopold IV : Sudah masuk panggul

  e. DJJ : 141 x/m, TBJ : 3255 gram

  f. TFU : 32 cm

  9. Pemeriksaan Penunjang

  • Golongan darah : O(PadaTanggal 8 Mei 2014)
A. Diagnosa Ny. R umur 21 tahun G2P1A0 umur kehamilan 39 minggu 4 hari dengan hamil normal.

  Data dasar :

  1. Ny. R umur kehamilan 39 minggu 4 hari G2P1Ao

  2. Ibu mengatakan ini anak yang kedua dan tidak pernah keguguran

  3. HPHT : 9 Maret 2014, HPL : 16-12-2014 Data Obyektif :

  a. Tanda-tanda vital : TD : 110/70 s : 36,7 c N : 80 x/m R : 21 x/m

  b. Palpasi : Leopold I : Teraba bagian bulat, lunak dan tidak melenting Leopold II : Teraba bagian memanjang kiri dan teraba bagian kecil-kecil di sebelah kanan Leopold III : Teraba bagian bulat dan melenting keras Leopold IV : Sudah masuk panggul

  c. TFU : 32 cm

  d. DJJ : 141 x/m

  e. Pemeriksaan Penunjangn Golongan darah : O (Pada Tanggal 8 Mei 2014)

  • Protein urin : negative (Pada Tanggal 15 November 2014)
III. Diagnosa Potensial

  • IV. Identifikasi Kebutuhan akan Tindakan Segera atu Konsultasi dan Kolaborasi -

  V. Perencanaan (Tanggal 11-12-2014, Pukul : 11.45 WIB)

  1. Beri Informasi hasil pemeriksaan kepada ibu hamil

  2. Beri penkes tentang persiapan persalinan

  3. Anjurkan cukup istirahat dan minum Fe secara teratur

  4. Anjuran ibu untuk periksa alat 4 hari lagi (15-12-2014)

  VI. Pelaksanaan (Tanggal 11-12-2014, pukul : 12.05 WIB)

  1. Memberikan informasi kepada ibu hamil tentang hasil pemeriksaan

  2. Memberikan penkes tentang persiapan persalinan seperi penolong persalinan yang aman yakni dokter/bidan, tempat persalinan yang aman yakni di fasilitas kesehatan (RS, RB Puskesmas, BPS), Perlengkapan yang diperlukan bayi dan baju ibu yakni baju ibu, baju bayi, pokok, topi bayi, bedong, kain ibu, waslap, handuk, dll, keuangan (tabungan persalinan), pendonor darah untuk jaga-jaga, transportasi, pendamping persalinan, pengambil keputusan serta KB pasca salin.

  3. Menganjurkan ibu untuk beristirahat dan minum rutin tablet Fe

  4. Menganjurkan ibu untuk datang 4 hari lagi (15-12-2014) VII. Evaluasi (Tanggal 11-12-2014, Pukul : 12.30 WIB)

  a. Ibu sudah paham dengan hasil pemeriksaannya

  b. Ibu mengerti dan sudah memahami tentang persiapan persalinan

  c. Ibu sudah bersedia untuk beristirahat dan bersedia juga untuk rutin

  d. Ibu bersedia untuk datang kembali 4 hari lagi (15-12-2014) Tanggal :21-12-2013 Jam : 19.15 WIB Tempat : BPM Lily Elisabeth

  1. Alasan datang : Ibu datang ke BPM Lily Elisabeth untuk bersalin

  2. Keluhan utama : Ibu mengatakan kenceng-kenceng sejak pukul 17.00 WIB tanggal 21-12-2014 dan sudah mengeluarkan lender.

  3. Pola Kebutuhan Sehari-Hari

  a. Pola nutrisi Ibu terakhir makan pukul 16.001 porsi makan (nasi, dan sayur kangkung) Ibu terakhir minum pukul 19.00 WIB sebanyak 1 botol Aqua ukuran sedang.

  b. Pola eliminasi Ibu BAB 1x kemarin pukul 20.00 WIB konsisten lunak dan warna kuning kecoklatan.

  Ibu BAB 1x pada saat berada di BPM pukul 19.30 WIB konsistensi cair dan warna kuning jernih.

  c. Pola aktifitas Ibu masih bisa berjalan-jalan pukul 19.15 dan pukul 19.16WIB baru miring ke kiri.

  d. Pola istirahat

  Ibu terakhir tidur pada pukul 13.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB

  B. Data Objektif

  1. Kesadaran umum : Baik

  2. Kesadran : composmetis

  3. TTV : TD : 110/70 mmHg R : 20 x/menit

  o

  4. Status obstreti

  a. Inspeksi Muka : Tidak ada cloasma gravidarum Dada Mamae : Membesar Aerola : Hiperpigmentasi Putting susu : menonjol Kolostrum : Belum keluar

  b. Palpasi Leopold I : Teraba bagian lunak, tidak melenting, dan kurang kuat

  Leopold II : Teraba satu bagian kecil terputus-putus dibagian kiri, dan teraba seperti papan memanjang dibagian kanan Leopold III : Teraba bagian bulat, keras, melenting, tidak dapat digoyangkan Leopold IV : Divergen (Kepala sudah masuk panggul) TFU : 32 cm

  Auskultasi : DJJ : 148 x/menit, teratur, punctum maximum di bawah pusat sebelah kiri terdengar jelas.

  c. Pemeriksaan genetalia : Tidak oedem, tidak lecet, ada pengeluaran pervaginam.

  d. Pemeriksaan dalam (Tanggal 21 Desember 2014, pukul 19.16 WIB) 2) Portio : Lunak 3) Dilatasi/Pembukaan : Ø 2 cm 4) Effacment/pendataran : kepala 5) Keadaan kulit ketuban : utuh 6) Bagian menumbung : tidak ada 7) Moulage : tidak ada 8) STLD : lendir (+), darah (+) 9) Pemeriksaan penunjang : tidak ada No Hari, tanggal Jam S O A P Minggu Terlampir di atas Terlampir di atas Ny. R umur 25

  1. Beritahukan hasil pemeriksaan kepada ibu 21-10-2014 Umur kehamilan 40

  2. Beritahukan ibu untuk tidak mengejan terlebih dahulu

  minggu 6 hari sebelum pembukaan lengkap dalam persalinan

  3. Anjurkan ibu miring ke kiri kala I fase laten

  4. Anjurkan ibu untuk makan dan minum

  5. Observasi perkembangan persalinan

  6. Siapkan alat partus set dan mendekatkan alat

  7. Anjurkan ibu memilih posisi yang nyaman saat persalinan

  8. Ajarkan ibu teknik relaksasi dan cara mengejan dengan baik

  1. Minggu

  1. Jam 19.16 WIB

  1. Ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaannya 21-12-2014 memberitahukan hasil, pemeriksaan kepada

  2. Ibu bersedia untuk tidak mengejan terlebih dahulu sebelum Pukul 19.16 WIB ibu, bahwa keadaan ibu dan janin baik. pembukaan lengkap TTV :

  3. Ibu bersedia untuk miring ke kiri dan ibu telah miring ke kiri

  a. Tekanan darah : 110/70 x/

  4. Ibu bersedia untuk makan dan minum saat tidak ada kontraksi

  b. R : 20 m x

  5. Telah dilakukan observasi dan pengawasan

  c. N : 82 /m o

  d. S : 36,5 C

  e. Pemeriksaan dalam : Ø2 cm x

  f. DJJ : 148 /m

  2. Jam 19.17 WIB memberitahu ibu untuk tidak mengejan terlebih dahulu sebelum pembukaan lengkap

  3. Jam 19.17 WIB menganjurkan ibu untuk miring ke kiri

  4. Jam 19.19 WIB menganjurkan ibu untuk makan dan minum saat tidak kontraksi

  5. Jam 19.20 WIB mengobservasi perkembangan persalinan, seperti pengawasan tekanan darah, dan

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 suhu setiap 4 jam, DJJ dan kontraksiuterus setiap ½ jam, pembukaan servik setiap 4 jam

  6. Jam 19.20 WIB menyiapkan alat partus set dan mendekatkan alat

  7. Jam 19.21 WIB menganjuka ibu memilih posisi yang nyaman saat persalinan

  8. Jam 19.20 WIB mengajarkan ibu tehnik relaksasi dan cara mengejan dengan baik, misalnya jika uterus berkonstraksi, mengajari ibu untuk menarik nafas dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut

  . No Hari, tanggal Jam S O A P

  1 Senin, 22-10-2014 Pukul 06.00 WIB Terlampir di atas Terlampir di atas Ny. R. Umur 24 tahun, umur kehamilan 40 minggu 6 hari dalam persalinan kala II

  1. Beritahu hasil pemeriksaan kepaa ibu

  2. Beritahu ibu untuk tidak mengejan terlebih dahulu sebelum pembukaan lengkap

  3. Anjurkan ibu untuk miring ke kiri

  4. Anjurkan ibu untuk makan dan minum

  5. Observasi perkembangan persalinan

  6. Anjurkan ibu untuk memilih posisi yang nyaman

  7. Anjurkan ibu teknik Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 relaksasi yang baik pada saat adanya kontraksi uterus.

  

No Hari, Tanggal Jam Implementasi Evaluasi Ttd Pelaksana

  1. Senin, 22 -12-2014

  1. Jam 06.00 wib

  1. Ibu sudah mengetahui hasil Pukul 06.00 WIB Memberitahukan hasil pemeriksaan pemeriksaan kepada ibu, bahwa ibu dan janin dalam

  2. Ibu bersedia untuk tidak mengejan keadaan baik terlebih dahulu sebelum pembukaan TTV lengkap

  a. Tekanan Darah : 110/80mmHg

  3. Ibu bersedia untuk miring ke kiri dan

  b. Respirasi : 22x/menit ibu telah miring ke kiri

  c. Nadi : 80x/menit

  4. Ibu bersedia untuk makan dan minum

  d. Suhu : 36C pada saat tidak ada kontraksi

  e. Djj : 146x/menit

  5. Telah dilakukan observasi dan f.

  VT : 4cm pengawasan.

  2. Jam 06.02 wib Memberitahu ibu untuk tidak mengejan terlebih dahulu

  3. Jam 06.03 wib Menganjurkan ibu untuk miring ke kiri

  4. Jam 06.05 wib Menganjurkan ibu untuk makan dan minum pada saat tidak ada kontraksi

  5. Jam 06.06 wib Mengobservasi perkembangan persalinan seperti pembukaan servik, suhu dan tekanan darah setiap 4 jam sekali, djj, kontraksi uterys, setiap ½ jam sekali

  6. Jam 06.07 wib Menganjurkan ibu untuk memilih posisi yang nyaman

  7. Jam 06.09 wib Mengajarkan ibu teknik relaksasi seperti tarik nafas dari hidung keluarkan secara

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 perlahan – lahan dari mulut.

  No Hari, tanggal Jam S O A P

  1 Senin, 22-10-2014 Pukul 09.30 WIB Ibu mengatakan ingin seperti BAB kontraksi uterus semakin kencang

  1. Keadaan umum :baik

  2. Kesadaran: composmentis

  3. DJJ : 146 x /m

  4. His : 4 x /10’/40

  5. Inspeksi :Terlihat adanya

dorongan, untuk mengejan,

tekanan pada anus, perineum menonjol, vulva membuka, dan kepala sudah terlihat

  6. Pemeriksaan dalam 7. dilatasi : 10 cm

  9. Keadaan kulit :Ketuban Pecah spontan

  10. Bagian terendah janin : Kepala Tidak ada 11. bagian yang

menumbung : Tidak

ada 12. tidak ada moulage

  Ny. R. Umur 24 tahun, umur kehamilan 40 minggu 6hari dalam persalinan kala II

  Pertolongan persalinan kala II

  

No Hari, Tanggal Jam Implementasi Evaluasi Ttd Pelaksana

  2. Senin, 22 -12-2014 Pukul 09.35 WIB

  1. Pukul 09.35 WIB Memastikan kelengkapan peralatan dan partus set Bayi baru lahir spontan tanggal 22 pukul 10.05

  WIB jenis kelamin laki-laki. Bayi menangis kuat, gerkan aktif warna kilit kemerahan, bayi IMD Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015

  2. Pukul 09.35 WIB pukul 10.23 WIB dan berada di atas Perut ibu Meletakkan handuk bersih di atas perut ibu bayi telah diselimuti dan memakai topi bayi

  3. Pukul 09.40 WIB Memakai APD, yaitu celemek, sandal, handcoon.

  4. Pukul 09.40 WIB Memasukan oxytosin ke dalam spuit

  5. Pukul 09.40 WIB Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan kepala bayi sudah terlihat.

  6. Pukul 09.40 WIB Melakukan bimbingan meneran saat ada kontraksi/His

  7. Pukul 09.40 WIB Meletakkan underped di bawah bokong ibu

  8. Pukul 09.45 WIB Menahan perineum dengan underped dan tangan didepan vulva serta tangan kiri menahan kepala agar tidak terjadi refleksi maksimal.

  9. Pukul 09.50 WIB Mengecek tali pusat setelah kepala bayi lahir

  10. Pukul 10.00 WIB Mengeluarkan kepala secara biparietal lalu lahirkan bahu depan dengan cunam ke bawah, dan lahirkan bahu belakang dengan cunam ke atas.

  11. Pukul 10.05 WIB Menggeser tangan untuk melukan sangga susur terhadap bayi

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015

  12. Pukul 10.10 WIB Setelah tubuh dan lengan bayi lahir, penelusuran tangan berlanjut ke punggung, bokong, tungkai, serta kaki, memegang kedua tangan serta mata kaki.

  13. Pukul 10.10 WIB Melakukan penilaian pada bayi meliputi tangisan, warna kulit, gerakan

  14. Pukul 10.12 WIB Meletakan bayi di atas perut ibu lalu mengeringkan bayi dengan handuk/kain bersih.

  15. Pukul 10.12 WIB Mengklem tali pusat 2-3 cm dari pusat dan klem kedua 2-3 cm dari klem pertama.

  16. Pukul 10.20 WIB Memotong dan mengikat tali pusat

  17. Pukul 10.20 WIB Melakukan pemeriksaan janin kedua Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015

  18. Pukul 10.22 WIB Menyuntik oksitosin lalu secara luas pada 1/3 paha luar.

  6. Kontraksi uterus keras

  1. Pukul 10.23 WIB Mendekatkan klem 5-10 cm dari vulva dan lakukan penegangan tali pusat terkendali serta lakukan bersamaan dorso cranial secara hati-hati.

  

No Hari, Tanggal Jam Implementasi Evaluasi Ttd Pelaksana

Senin, 22-12-2014 Pukul 10.00 WIB

  c. Adanya semburan Ny. R. Umur 24 tahun, umur kehamilan 40 minggu 6 hari dalam persalinan kala III Pertolongan persalinan kala III

  a. Tali pusat terlihat memanjang

  III, yaitu :

  7. Inspeksi tanda dan gejala kala

  5. Tali pusat telah diklem

  20. Melakukan IMD dengan meletakan bayi di atas perut ibu dan menyelimuti bayi dengan kain hangat serta topi bayi No Hari, tanggal Jam S O A P

  4. Oksitosin telah diberikan

  3. Bayi lahir spontan pukul 10.05 WIB menangis kuat, gerakan aktif, kulit kemerahan.

  2. Kesadaran:Composmetis

  1. Keadaan umum:baik

  1 Senin, 22-12-2-2014 Pukul 10.22 WIb Ibu mengatakan sangat senang karena bayinya bisa lahir dengan selamat dan ibu mengatakan merasa mules dan terasa keras

  Tanda tangan Pelaksana

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015

  2. Pukul 10.23 WIB Saat plasenta terlepas, menegangkan tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas, mengikuti poros jalan lahir dan tetap lakukan tekanan dorso cranial.

  3. Pukul 10.24 WIB Saat tali pusat bertambah panjang, memindahkan klem pada jarak 10 cm dari vulva dan lahirkan plasentanya.

  4. Pukul 10.26 WIB Menangkap plasenta setelah plasenta terlihat di introintus vagina lalu putar searah jarum jam sampai plasenta dan selaputnya keluar.

  5. Pukul 10.26 WIB Melakukan massase uterus selama 15 detik dengan telapak tangan difundus dan lakukan massase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus teraba keras)

  6. Pukul 10.27 WIB Memeriksa kelengkapan plasenta dan selaput ketuban lengkap dan utuh.

  7. Pukul 10.27 WIB Mengevaluasi adanya laserasi jalan lahir, laserasi jalan lahir tidak ada.

  8. Pukul 10.27 WIB Merendam alat partus ke dalam larutan klorin 0,5% lalu membersihkan ibu dan tempat bersalin.

  9. Pukul 10.30 WIB Mencuci tangan Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 No Hari, tanggal Jam S O A P Tanda tangan Pelaksana Senin, 22-12-2014,

  Pukul 10.30 WIB Ibu mengatakan merasa senang dengan kelahiran bayinya, dan kekhawatirannya telah hilang karena proses persalinannya telah berjalan normal dan lancer

  5. Mencuci tangan

  Ttd Pelaksana Senin, 22-12-2014 Pukul 10.30 WIB

  1. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam

  b. Setiap 30 menit pada 1 jam kedua pasca persalinan

  2. Mengajarkan ibu cara massase uterus

  3. Mengevaluasi dan mengestimasi jumlah kehilangan darah.

  4. Memastikan ibu nyaman, membantu ibu cara memberikan ASI.

  6. Melengkapi partograf dan dokumentasi

  5. Cuci tangan

  1. Pemantauan telah dilakukan 15 menit. Pada 1 jam pertama pasca persalinan dan 30 menit pada 1 jam kedua pasca persalinan

  2. Ibu dapat melakukan massase uterus

  3. Jumlah darah yang keluar 150 cc

  4. Ibu merasa nyaman dan dapat memberikan ASI pada bayinya

  5. Tangan telah bersih

  6. Telah dilakukan pengisian partograf dan dokumen pasien.

  6. Lengkapi partograf dan dokumentasi No Hari, Tanggal Jam Implementasi Evaluasi

  4. Pastikan ibu nyaman membantu ibu cara memberikan ASI.

  1. Keadaan umum : Baik

  5. TFU : 1 Jari di bawah pusar

  2. Kesadaran : CM

  3. Plasenta lahir lengkap

  4. TTV

  b. Nadi : 80 x /menit

  c. RR : 22 x /menit

  d. Suhu : 36,5 o C

  6. Perdarahan + 40 cc

  3. Evaluasi dan esfimasi jumlah kehilangan darah.

  7. Kandung kemih kosong

  8. Uterus teraba keras

  9. Pola nutrisi ibu sudah minum 1 gelas air teh manis Ny. Rumus 24 tahun, P 2 A o dalam persalinan kala IV

  1. Lanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.

  a. Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan.

  b. Setiap 30 menit pada 1 jam kedua pasca persalinan.

  2. Ajarkan ibu cara massase uterus

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 Tanggal : 22 Desember 2014 Jam : 12.40 WIB Tempat : BPM Lily Elisabet S.SIT

  A. DATA SUBYEKTIF

  1. Identitas BAyi Nama : Bayi Ny. R Jam : 10.40 WIB Jenis Kelamin : Laki-Laki

  2. Pola Kebutuhan Sehari-hari

  a. Pola Nutrisi Minum : Bayi IMD terakhir pukul 10.23 WIB

  Bayi terakhir menyusui pukul 12.00 WIb Jenis : ASI Volume : Sedang

  b. Pola eliminasi BAB : Bayi belum BAB BAK : Bayi BAK pertama kali pukul 11.00 WIB Frekuensi : 1 x Konsistensi: Cair Warna : Kuning jernih

  c. Pola aktivitas Aktivitas bayi : Bayi tidur, menangis kuat, pergerakan aktif, berkedip dan menyusui. d. Pola istirahat Bayi lebih banyak tidur dan menyusui

  B. DATA OBYEKTIF

  1. Keadaan umum : Baik

  2. Kesadaran : Composmetis

  a. Frekuensi Jantung : 120x/menit

  o

  b. Suhu : 36,6 C

  c. Respirasi : 42 x/m

  4. Pemeriksaan antropometri

  a. BBL : 3400gram

  b. PB : tidak terkaji

  c. LK :tidak terkaji

  d. LD :tidak terkaji

  e. LP :tidak terkaji

  f. Lila : tidak terkaji

  5. Pemeriksaan Fisik

  a. Kepala : Mesochepal, rambut tipis, tidak ada luka, teraba sutura, tidak ada caput suksadeneum, tidak ada chepal hematoma.

  b. Muka : Simetris, warna merah muda, tidak ada oedema, tidak ada tanda lahir c. Mata : Konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak ada kelainan bentuk mata, reflek mengedip mata. d. Telinga : Simetris, tidak ada serumen, tidak ada kelainan

  e. Mulut : Bibir simetris, warna merah muda, tidak ada sianosis, mukosa mulut basah, reflek isap ada, tidak labiokhisiz dan labiopalatokhisiz.

  f. Hidung : Bersih, simetris, tidak ada secret, tidak ada cuping hidung

  g. Leher : Tidak ada pembesaran limfe, tidak ada pembesaran tidak ada kelainan.

  h. Dada : Simetris dan tidak ada retraksi dinding dada i. Abdomen : Simetris, tidak kembung, ada gerakan peristaltik usus, tidak ada penonjolan di sekitar pusat, ketika menangis tidak ada perdarahan tali pusat, tidak ada kelainan. j. Punggung :Bentuk tulang belakang usus dan tidak ada kelainan k. Ekstremitas :

  1) Ekstremitas atas : Jumlah jari 10, ada reflek, warna kuku merah muda 2) Ekstremitas bawah : Jumlah jari 10, ada reflek, warna kuku merah muda l. Genetalia : Jenis kelamin laki-laki, skrotum sudah turun semua m. Anus : ada lubang anus, ada reflek anal n. Kulit : Berwarna kemerahan, ada vernik casiosa sedikit, elastisitas tidak transparan/tipis, ada lanugo, tidak ada tanda lahir, tidak ada tugor kulit. o. Reflek :

  1) Grasfing : (+) Saat diberi minum/dengan memasukan jari tangan kita ke dalam mulut bayi, bayi menghisap dengan kuat. 2) Moro : (+) Saat dikejutkan, kedua tangan dan kaki memperlihatkan gerakan seperti merangkul.

  3) Rooting : (+) Saat diberi rangsangan di pipi, langsung menoleh ke arah rangsangan 4) Sucking : (+) Saat telapak tangan disentuh, bayi menggenggam Hari, tanggal Tanda tangan No S O A P

  Jam Pelaksana

  1. Senin, 22-12- Terlampir di atas Terlampir di atas Bayi Ny. R umur

  1. Beritahu ibu dan keluarga mengenai hasil 2014 3 jam normal pemeriksaan Pukul 12.40

  2. Pastikan bayi dalam keadaan hangat, pakaian WIB bayi, popok bayi, bedong bayi dan selimut bayi, serta mengganti popok bayi jika basah.

  3. Pastikan ASI sudah keluar dan bayi dapat menyusu pada ibu.

  4. Berikan injeksi vitamin K 1 mg Im pada 1/3 atas bagian luar paha sebelah kiri.

  5. Berikan obat salep mata oxytetra pada mata kanan dan kiri bayi dan berikan imunisasi HBo

  6. Awasi tanda bahaya bayi baru lahir

No Hari, Tanggal Jam Implementasi Evaluasi Ttd Pelaksana

  1. Senin, 22-12-2014

  1. Pukul 12.00 WIB

  1. Ibu keluarga sudah mengetahui bahwa kondisi bayi Pukul 12.50 WIB Memberitahu ibu dan keluarga dalam keadaan baik, sehat dan mereka merasa lega.

  2. Pukul 12.51 WIB

  2. Bayi sudah dalam keadaan hangat Mengenai hasil pemeriksaan yaitu hasil pemeriksaan

  3. ASI sudah keluar dan bayi dapat menyusu bayi normal, keadaan umum baik, frekuensi jantung

  4. Telah dilakukan injeksi vitamin K 1 mg, 1Ml 1/3 atas

  3. Pukul 12.52 WIb bagian luar paha sebelah kiri, pukul 12.51 WIB Memastikan bayi dalam keadaan hangat, pakaikan

  5. Bayi diberi salep mata oxytetra pada mata kanan dan baju popok bayi, bedong bayi, topi bayi dan selimut mata kiri dan telah diberikan imunosisa si HBo bayi, serta mengganti pokok bayi jika basah.

  6. Bayi tidak mengalami tanda-tanda kegawatdaruratan.

  4. Pukul 12.53 WIB Memastikan ASI sudah keluar dan bayi dapat menyusui ibu

  5. Pukul 12.53 WIB Memberikan injeksi vitaminK1/mg IM pada 1/3 atas bagian luar paha sebelah kiri pada pukul 12.53 WIB.

  6. Pukul 12.53 WIB Memberikan obat salep mata pada masing-masing mata kanan dan kiri bayi dan memberikan imunisasi HBo.

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 Tanggal : 22 Desember 2014 Jam : 18.30 WIB Tempat : BPS Lily Elisabet S.SIT

  A. DATA SUBYEKTIF

  1. Alasan datang : Ny. R 6 jam Post partum normal di BPS Lily Elisabeth Ibu mengatakan sangat senang atas kelahiran bayinya, Ibu merasa lega

  2. Keluhan utama :Ibu merasakan perutnya terasa mulas

  3. Pola Kebutuhan sehari-hari

  a. Pola nutrisi Ibu terakhir makan pukul 15.00 WIB, setengah porsi nasi, sayur dan lauk Ibu minum terakhir pukul 15.30 WIB, 1 gelas air putih

  b. Pola eliminasi Ibu belum BAB Ibu BAK 1 kali dengan konsistensi cair, warna kuning jernih

  c. Pola aktifitas Mobilisasi ada, ibu sudah mulai miring kanan, kiri, dan mulai duduk

  4. Data adaptasi Psikologis dan Kultural

  a. Ibu berada pada masa fase taking in, dimana ibu berulang kali menceritakan proses persalinan yang telah dialaminya dari awal sampai akhir, ibu merasa mules, dan merasa kelelahan.

  b. Data Kultural Tidak ada kebiasaan adat istiadat yang berhubungan dengan ibu dan bayinya pada masa nifas 6 jam post partum. B. DATA OBYEKTIF

  1. Keadaan umum : Baik

  2. Kesadaran : Composmetis

  3. TTV

  a. Tekanan darah : 110/80 mmHg

  b. RR : 22 x/menit

  o

  d. Suhu : 36,5 C

  4. Pemeriksaan fisik

  a. Muka : Tidak pucat, tidak ada oedema

  b. Mata : Simetris, conjungtiva merah muda, sclera putih

  c. Mulut : Simetris, bibir lembab, gigi tidak ada caries

  d. Dada : Simetris, tidak ada retraksi intercostal, ASI sudah keluarteraba keras e. Perut : TFU 1 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik dan

  f. Genetalia : Tidak ada odema atau varises, lackhea rabra

  g. Ekstremitas : atas tidak odem Bawah tidak ada odem dan varises No Hari, tanggal Jam S O A P

  Tanda tangan Pelaksana

  c. Suhu : 36,5 o C

  6. Ibu telah minum obat

  5. Ibu telah mengetahui kebutuhan nutrisi dan cara merawat payudara seperti makan- makanan yang mengandung sayuran, buah, dan merawat payudara dengan mengoleskan ASI sebelum dan sesudah menyusui

  4. Ibu telah mengetahui tanda bahaya nifas dan ibu dapat mengulang kembai tanda bahaya nifas salah satunya yaitu perdarahan lewat jalan lahir dan payudara nyeri.

  3. Ibu sudah bisa miring kanan-kiri

  2. Telah dilakukan estimasi perdarahan

  1. Ibu dan keluarga telah mengetahui hasil pemeriksaan, bahwa keadaan ibu dan bayi sehat.

  e. Payudara bengkak, berwarna kemerahan dan sakit

  d. Nyeri atau panas pada tungkai

  c. Demam

  b. Keluar cairan yang berbau dari jalan lahir

  4. Pukul 18.34 WIB Memberikan pendidikan kesehatan tentang bahaya nifas, seperti : a. Perdarahan lewat jalan lahir

  3. Pukul 18.33 WIB Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini dengan miring kanan dan kiri

  2. Pukul 18.33 WIB Melakukan estimasi perdarahan

  d. Nadi : 80 x/menit

  b. RR : 22 x/menit

  1. Senin, 22-12- 2014 Pukul 18.30 WIB

  a. Tekanan darah: 110/80 mmHg

  1. Pukul 18.30 WIB Memberikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan bayi sehat ASI sudah keluar dan bayi dapat menyusu.

  18.30

  1. Senin, 22-12- 2014 Pukul

  Evaluasi Ttd Pelaksana

  Tanggal Jam Implementasi

  7. Anjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang jika ada keluhan. No Hari,

  6. Berikan ibu terapi obat fargetik 3x1, amoxilin 3x1, vitaminA 1X1, sangobion 1x1.

  5. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi dan merawat payudara

  4. Berikan pendidikan kesehatan tentang tanda bahaya nifas

  3. Anjurkan ibu untuk mobilisasi dini dengan miring kanan-kiri

  2. Lakukan estimasi perdarahan

  1. Beritahukan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga

  Terlampir di atas Terlampir di atas Ny. R umur 24 tahun P 2 A o dengan 6 jam

post partum normal

  7. Ibu bersedia untuk kunjungan ulang jika Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 f. Putting susu lecet ada keluhan.

  g. Ibu mengalami babyblues (menangis tanpa sebab, dan tidak peduli pada bayinya)

  5. Pukul 18.35 WIB Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi, misalnya makan makanan yang mengandung protein banyak cairan, sayur-sayuran, buah, serta cara merawat payudara, yaitu dengan mengoles sedikit ASI sebelum ibu menyusui, memakai BH yang menyokong payudara ibu.

  6. Pukul 18.35 WIB Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi, misalnya makan makanan yang mengandung protein banyak cairan, sayur-sayuran, buah, serta cara merawat payudara, yaitu dengan mengoles sedikit ASI sebelum ibu menyusui, memakai BH yang menyokong payudara ibu.

  7. Pukul 18.35 WIB Memberikan ibu terapi obat fargetik 3x1, vitamin A 1x1, Sangobion 1x1.

  8. Pukul 18.37 WIB menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang jika ada keluhan.

  Hari, tanggal Tanda tangan No S O A P

  Jam Pelaksana

  1. Minggu, 28

  a. Pola kebutuhan

  1. Keadaan umum : Baik Bayi Ny.R umur

  1. Beritahu ibu dan keluarga mengenai Desember 2014 sehari-hari

  2. Kesadaran : 6hari normal hasil pemeriksaan Pukul 09.00 WIB b. Pola nutrisi minum, composmetis

  2. Pastikan bayi dalam keadaan bayi menyusui on

  3. Tanda vital : frekuensi hangat, pakaiakan baju popok bayi, demand terakhir jantung:122x/menit bedong bayi, topi bayi dan selimuti o menyusui pukul Suhu : 36 C bayi, serta mengganti popok bayi jika

  00.30 WIB Respirasi : 42x/menit basah. pengeluaran ASI

  4. Berat badan bayi

  3. Pastikan bayi dapat menyusui baik lancer. setelahlahir : 3400 gram, dan benar Jenis : ASI BB bayi sekarang Tidak

  4. Pastikan tanda-tanda bahaya pada Volume : Sedang terkaji bayi c. Pola eliminasi BAB :

  5. Pemeriksaan fisik: Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 bayi sudah BAB 3x

  a. Abdomen simetris, BAK : Bayi sudah tidak kembung, tali BAK, terakhir pukul pusat sudah lepas

  08.00 WIB frekuensi pada hari Sabtu 6-7 kali sehari. tanggal : 27-12- Konsistensi : cair. 2014. Pukul 16.00 Warna kuning jernih tidak ada bernjolan d. Pola aktivitas di sekitar pusat, aktivitas bayi: Bayi saat bayi menangis tidur menangis kuat dan tidak ada gerakan aktif perdarahan tali menyusui dan pusat berkedip b. Kulit : berwarna

  e. Pola istirahat bayi kemerahan lebih banyak tidur dan menyusui Hari, Tanggal

  No Implementasi Evaluasi Ttd Pelaksana Jam

  Minggu, 28-12-

  1. Memberitahu ibu dan keluarga mengenai hasil 1.

  Ibu dan keluarga sudah mengetahui bahwa kondisi bayi 2014 pukul pemeriksaan bayi normal, keadaan umum baik o dalam keadaan baik, sehat dan mereka merasa lega.

  09.05 WIB frekuensi jantung 121 x/m suhu 36,6 C Respirasi 40 2.

  Bayi sudah dalam keadaan hangat x/m .

  3. Bayi dapat menyusui dengan baik

  2. Memastikan bayi dalam keadaan hangat. Pakaiakan 4.

baju, popok bayi, bedong bayi, topi bayi dan selimut Tidak terjadi tanda-tanda bahaya pada bayi

bayi serta mengganti popok bayi jika basah.

  3. Memasikan bayi dapat menyusul dengan baik dan benar

  4. Memastikan tanda bahaya pada bayi Hari, tanggal Tanda tangan No S O A P

  Jam Pelaksana

  1. Minggu, 28-12-

  1. Alasan datang melakukan

  1. Keadaan umum : baik Ny. R umur 24

  1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada 2014, Pukul kunjungan ulang 6 hari

  2. Kesadaran : CM tahun P 2 A o ibu.

  09.05 WIB setelah melahirkan

  3. TTV : dengan 6hari

  2. Beritahu ibu bahwa putting payudara

  2. Keluhan utama: Ibu

  a. Tekanan darah : post partum yang lecet merupakan hal yang Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 mengatakan putting payudara lecet dan sakit saat menyusui.

  a. Pola nutrisi 1) Makan Frekuensi sehari 1porsi nasi, lauk, dan sayur dan tidak ada keluhan

  d. dada : simetris konsistensi : keras, tidak tercium benjolan yang mencurigakan. ASI lancer.

  7. Evaluasi adanya tanda bahaya nifas.

  6. Pastikan involusi uterus berjalan normal

  5. Pastikan ibu cukup makan, minum, dan istirahat

  4. Berikan konseling kepada ibu mengenai teknik menyusui yang benar.

  3. Beritahu ibu untuk tetap menyusui bayinya agar tidak terjadi pembengkakan pada payudara dan bayi tetap mendapatkan nutrisi.

  g. Jahitan : tidak ada jahitan normal fisiologis disebabkan karena teknik menyusui kurang benar.

  f. Ekstremitas atas tidak odem. Bawah tidak ada odem dan varises

  e. Genetalia : tidak ada oedem/varises lochea sanguinolenta.

  a. Muka : tidak pucat dan tidak oedem b. Mata : simetris, sclera putih, conjungtiva : merah muda

  2) Minum, frekuensi 5-6 gelas/hari. Jenis : air putih

  d. Suhu : 36,7 x/m

  c. Nadi : 82 x/m

  f. Data adaptasi Psikologis dan kultural ibu berada pada fase taking hold dimana ibu merasa khawatir akan ketidak 124/80mmHg b. RR : 23x/m

  e. Pola seksual : tidak ada

  d. Pola istirahat Tidur siang + 1/2 jam, tidur malam + 5 jam, keluhan : seringnya terbangun waktu malam hari.

  c. Pola aktivitas Mobilisasi : ada aktivitas sehari-hari mengurus anak

  Konsistensi: cair Warna : kuning jernih Keluhan: tidak ada

  b. Pola eliminasi 1) BAB frekuensi : 3x seminggu konsistensi: lunak warna : kuning kecoklatan keluhan : tidak ada. 2) BAK Frekuensi : 5x hari

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 mampuan dan rasa tanggungjawab mengurus bayinya ibu kurang istirahat karena mengurus bayinya.

  g. Data kultural Tidak ada kebiasaan atau adat istiadat yang berhubungan dengan ibu dan bayinya pada masa nifas hari post partum

  No Hari, Tanggal Jam Implementasi Evaluasi Ttd Pelaksana

  1. Minggu, 28-12-2014

  1. Pukul 09.11 WIB

  1. Ibu telah mengetahui pemeriksaannya Pukul 09.11 WIB Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada

  2. Ibu mengerti bahwa keluhan yang dialami merupakan hal yang ibu, bahwa keadaan ibu sehat. fisiologis a. Tekanan darah : 120/80 mmHg

  3. Ibu bersedia untuk tetap menyusui bayi

  b. Respirasi : 23 x/menit

  4. Ibu mengetahui teknik menyusui yang benar

  c. Nadi : 82 x/menit o

  5. Ibu cukup makan dan minum tetapi istirahat masih kurang

  d. Suhu : 36,7 C

  2. Pukul 09.12 WIB Memberitahu ibu bahwa putting susu yang lecet merupakan hal yang fisiologis disebabkan karena kurang benar dalam teknik menyusuinya.

  3. Pukul 09.12 WIB Memberi tahu ibu untuk tetap menyusui bayinya agar tidak terjadi pembengkakan pada payudara.

  4. Pukul 09.13 WIB Berikan konseling kepada ibu mengenai teknik menyusui yang benar, yaitu :

  a. Mencuci tangan sebelum menyusui

  b. Memposisikan kepala bayi disiku ibu lengannya menyangga punggung dan Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 telapak tangan menyangga bokong.

  c. Kepala dan tubuh bayi lurus, tubuh bayi menghadap ke dada ibu, sehingga mulut bayi tepat berada di depan puting susu ibu.

  e. Mengeluarkan sedikit ASI kemudian mengoleskannya pada putting susu, memegang payudara dengan jari atas dan empat jari lainnya menyangga bagian bawah payudara, lalu tempelkan puting susu pada pipi bayi maupun bibir bayi untuk merangsang bayi agar membuka mulut setelah terbuka maka masukan putting susu dan bagian aerola mama ke dalam mulut bayi. Setelah bayi selesai menyusui, mengeluarkan putting susu dengan cara memasukan jari kelingking.

  f. Menyendawakan bayi di pundak ibu lalu ditepuk punggung bayi sampai bersendawa.

  5. Pukul 09.40 WIB Memastikan ibu cukup makan, minum dan beristirahat

  6. Pukul 09.41 WIB Memastikan involusi uterus berjalan normal

  7. Pukul 09.42 WIB Mengevaluasi adanya tanda bahaya nifas Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 No Hari, tanggal Jam S O A P Sabtu,10 januari 2013 Pukul 10:00 wib

  1. Alasan datang : melakukan kunjuan ulang 2 minggu setelah melahirkan.

  a. Muka: tidak terlihat pucat dan odem.

  6. Berikan konseling KB secara dini dan beritahu ibu bahwa 10hari lagi akan dilakukan kunjungan rumah pada tanggal 22 januari 2015.

  5. Pastikan ibu mendapatkan makanan yang bergizi dan cukup cairan.

  4. Pastikan ibu mendapatkan istirahat yang cukup

  3. Nilai adanya tanda- tanda demam, infeksi dan perdarahan.

  2. Pastikan involusi uterus berjalan dengan normal uterus berkontraksi dengan baik, tidak ada perdarahan abnormal.

  1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu.

  f. Genetalia tidak Ny. R umur 24 tahun P2A0 dengan 2 minggu post partum normal.

  c. Hidung : tidak terdapat secret, dan tidak ada polip d. Dada : terlihat simetris, konsistesi keras, dan tidak teraba adanya benjolan.ASI lancer e. Perut: TFU tidak teraba diatas sympisis.

  b. Mata : terlihat simetris, konjungtiva merah muda, sclera putih

  4. Pemeriksaan fisik

  2. Keluhan utama ibu: ibu mengatakan tidak ada keluhan.

  c. Nadi : 82x/menit d. Suhu : 36,5

  a. Tekanan darah : 120/80 b. RR : 23x/menit

  3. Tanda – tanda vital:

  

2. Kesadaran :

composmetis

  1. Keadaan umumu : baik

  c. Pola aktivitas Mobilisasi : ada Aktivitas sehari hari mengurus anak.

  3kali dalam sehari Konsistensi : cair Warna : kuning

  Frekuensi: 1kali dengan konsistensi lunak dan berwarna kuning kecoklatan. 2) BAK Frekuensi :

  a. Pola nutrisi 1) Makan sehari 3 kali dalam porsi 1 piring yang berisikan nasi sayur, lauk pauk 2) Minum Dalam sehari ibu minum sampai 5 gelas air putih b. Pola eliminasi 1) BAB

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 Tidur siang : 1jam ada odema, Tidur malam : 8 jam lochea Keluhan : sering sanguinolenta. terbangun pada

  g. Ekstremitas: malam hari. Atas : tidak

  psikologis dan Bawah : tidak cultural. oedema dan Ibu berada pada varises fase letting go, dimana ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya.

  f. Data cultural Tidak ada kebiasaan atau adat istiadat yang bersangkutan dengan ibu dan bayinya.

  No Hari, Tanggal, Jam Implementasi Evaluasi

  1. Sabtu , 10 januari 2015

  1. Memberitahukan hasil pemeriksaan kepada 1. Ibu dan keluarga sudah mengetahui hasil pemeriksaannya. Pukul : 10:00 wib ibu dan keluarga.

  2. Involusi uterus berjalan dengan normal dan berkontraksi dengan a. Tekanan darah : 120/80mmhg baik, TFU tidak teraba diatas sympisis.

  b. Nadi : 82X/menit

  3. Tidak ada tanda-tanda demam dan infeksi suhu ibu normal yaitu

  c. RR : 23x/menit 36,5.Perdarahan 1hari ganti pembalut 2x tidak penuh warna

d. Suhu : 36,5 perdarahan kuning kecoklatan.

  2. Memastikan involusi uterus berjalan dengan

  4. Ibu beristirahat cukup pada siang hari 1jam dan malam hari 8jam/ normal. Uterus berkontraksi baik dan tidak hari. ada perdarhan yang abnormal.

  5. Ibu cukup makanan dan cairan

  3. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi

  6. Ibu bersedia dilakukan kunjungan rumah pada tangal 22 januari dan perdarahan. 2015

  4. Memastikan ibu mendapat istirahat yang Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 cukup.

  5. Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan.

  6. Memberikan konseling KB secara dini

  7. Memberitahukan ibu bahwa aka nada kunjungan rumah 10 hari lagi pada tanggal 22januari2015.

  No Hari, tanggal S O A P Jam

  1. Tanggal : 10 Bayi terlihat nyaman

  1. Pemeriksaan umum Bayi Ny. R umur 2

  1. Beritahu ibu dan keluarga mengenai hasil Januari 2015 dan hangat.

  a. Keadaan umum : bayi Minggu normal. pemeriksaan Jam : 10.20 WIB Ibu mengatakan bayi baik dan sedang tidur

  2. Anjurkan ibu untuk menjaga kehangatan bayi. Tempat : Rumah minum ASI sehari 6- pada saat pengkajian.

  3. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi Ny. R

  10X/hari, BAB 1 - 2X b. Tanda – Tanda Vital bayi. sehari. 1) Jantung : 138x/menit 4. Pantau pertumbuhan dan perkembangan bayi. Warna kekuning- 2) Nadi : 120x/menit kuningan, lembek, 3) Pernafasan : BAK 6-8X sehari, putih 36x/menit jernih aktifitas bayi 4) Suhu : 36,5 lebih banyak tidur, dan

  c. Berat badan lahir : tidak ada keluha. 3400 gram d. Bb sekarang : tidak terkaji e. Panjang badan : 58 cm f. Lingkar kepala : 32 cm

  g. Lingkar dada : 31 cm

  h. Lingkar lengan : 11 cm.

  a. Kulit : kemerahan

  b. Kepala : tidak ada caput secedenum c. Rambut : hitam dan

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 bersih

  d. Mata : konjungtiva merah muda dan sclera putih

  e. Hidung : tidak ada pernafasan cuping hidung, bernafasspontan f. Telinga : bentuk normal, simetris, serumen sedikit

  g. Mulut : tidak ada sianosis, reflek isap ada

  h. Leher : tidak ada kaku kuduk, tidak ada vernik caseosa i. Dada : simetris, tidak ada retraksi dada j. Abdomen : tidak kembung k. Genetalia : jenis kelamin laki – laki, testis berada di skrotum l. Anus : berlubang m. Ekstremitas : tidak ada edema, tidak ada kelainan.

  a. Morro : (+) semakin kuat, saat dikejutkan kedua tangandan kaki memperlihatkan gerakan seperti merangkul.

  b. Rooting : (+) semakin kuat, saat diberi Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 rangsangandi pipi langsung menoleh kearah rangsangan

  c. Sucking : (+) semakin kuat, saat telapak tangan disentuh, bayi menggenggam dengan cepat

  d. Grasfing : (+) semakin kuat, saat diberi minum atau dengan memasukan jari kita kedalam mulut bayi, bayi menghisap dengan kuat.

  No Hari, Tanggal, Implementasi Evaluasi Jam

  1. Sabtu , 10

  1. Memberitahukan hasil kepada ibu hasil pemeriksaan 1. Ibu sudah diberitahu baha keadaan bayi baik dan sehat. januari 2015 bahwa kondisi bayinya baik dan sehat.

  2. Ibu sudah mengerti bahwa bayi harus dalam keadaan Pukul : 10:00

  2. Menganjurkan ibu untuk selalu menjaga kehangan hangat. wib bayi

  3. Ibu bersedia memberikan ASI eksklusif dan secara on 3. Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi deman. bayi yaitu memberikan ASI eksklusif dan on deman.

  4. Ibu bersedia ikut memantau pertumbuhan dan 4. Memantaupertumbuhan dan perkembangan bayi. perkembangan bayinya. Hari, tanggal No S O A P

  Jam Sabtu,22

  1. Alasan datang : melakukan

  1. Keadaan umum : Ny. R umur 24 tahun

  1. Menjelaskan hasil

januari 2015 kunjuangan ulang 32 hari setelah baik P2A0 dengan 32 hari pemeriksaan

Pukul 14:00 wib melahirkan.

  2. Kesadaran: post partum normal. kepada ibu.

  2. Keluhan utama ibu: ibu composmetis

  2. Pastikan ibu mengatakan tidak ada keluhan.

  3. Tanda – tanda vital: mendapatkan

  3. Pola kebtuhan sehari-hari:

  a. Tekanan darah istirahat yang Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 a. Pola nutrisi 1) Makan sehari 3 kali dalam porsi 1 piring yang berisikan nasi sayur, lauk pauk

  2) Minum Dalam sehari ibu minum sampai 5 gelas air putih b. Pola eliminasi 1) BAB

  a. Muka: tidak terlihat pucat dan odem.

  4. Berikan konseling tentang bermacam – macam jenis alat kontrasepsi

  3. Pastikan ibu mendapatkan makanan yang bergizi dan cukup cairan.

  g. Ekstremitas: Atas : tidak ada odem. Bawah:tidak odema dan varises cukup

  f. Genetalia tidak ada odema, lochea sanguinolenta.

  e. Perut:TFU tidak teraba diatas sympisis.

  d. Dada: terlihat simetris, konsistesi keras, dan tidak teraba adanya benjolan.ASI lancer

  b. Mata: terlihat simetris, konjungtiva merah muda, sclera putih c. Hidung: tidak terdapat secret, dan tidak ada polip

  4. Pemeriksaan fisik

  Frekuensi: 1kali dengan konsistensi lunak dan berwarna kuning kecoklatan. 2) BAK Frekuensi : 3kali dalam sehari

  c. Nadi : 80x/menit d. Suhu : 36,5

  b. RR : 20x/menit

  : 120/70

  f. Data cultural Tidak ada kebiasaan atau adat istiadat yang bersangkutan dengan ibu dan bayinya.

  e. Data adaptasi psikologis dan cultural. Ibu berada pada fase letting go, dimana ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya.

  d. Pola istirahat Tidur siang : 1jam Tidur malam : 8 jam Keluhan : sering terbangun pada malam hari.

  Aktivitas sehari hari mengurus anak.

  Konsistensi : cair Warna : kuning c. Pola aktivitas Mobilisasi : ada

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 No Hari, Tanggal, Jam Implementasi Evaluasi

  1. Sabtu , 22 januari 2015 Pukul : 14:00 wib

  1. Tanggal : 22 Januari 2015 Jam : 14.00 WIB Tempat : Rumah Ny. R Bayi terlihat nyaman dan hangat. Ibu mengatakan bayi minum ASI sehari 6-

  4. Pantau pertumbuhan dan perkembangan bayi.

  3. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dan melakukan imunisasi sesuai jadwal..

  2. Anjurkan ibu untuk menjaga kehangatan bayi.

  1. Beritahu ibu dan keluarga mengenai hasil pemeriksaan

  32 hari normal.

  2. Pemeriksaan fisik Kulit : kemerahan a. Kepala : tidak ada Bayi Ny. R umur

  b. Tanda – Tanda Vital 1) Jantung : 137x/menit 2) Nadi : 120x/menit 3) Pernafasan : 36x/menit 4) Suhu : 36,5 5) Berat badan lahir : 3400 gram 6) Bb sekarang : tidak terkaji

  a. Keadaan umum : bayi baik dan sedang tidur pada saat pengkajian.

  10X/hari, BAB 1 - 2X sehari. Warna kekuning- kuningan, lembek, BAK 6-8X sehari, putih jernih aktifitas bayi lebih banyak tidur, dan tidak ada keluhan.

  No Hari, tanggal Jam S O A P

  a. Tekanan darah : 120/70mmhg

  4. Ibu sudah mengerti dengan berapa macam alat kontrasepsi, rencana selnjtnya ibu akan melakukan kb menggunakan kondom untuk beberapa waktu kedepan.

  3. Ibu cukup makanan dan cairan

  2. Ibu beristirahat cukup pada siang hari 1jam dan malam hari 8jam/ hari.

  1. Ibu dan keluarga sudah mengetahui hasil pemeriksaannya.

  4. Memberikan konseling bermacam – macam jenis alat kontrasepsi seperti mow, mop, kondom, suntik 3bulan, pil, iud, implant, dari efek samping, indikasi, dan kontraindikasi.

  3. Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan.

  2. Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.

  d. Suhu : 36,5

  c. RR : 20x/menit

  b. Nadi : 80X/menit

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 caput secedenum

  b. Rambut : hitam dan bersih c. Mata : konjungtiva merah muda dan sclera putih

  d. Hidung : tidak ada pernafasan cuping hidung, bernafas spontan e. Telinga : bentuk normal, simetris, serumen sedikit

  f. Mulut : tidak ada sianosis, reflek isap ada

  g. Leher : tidak ada kaku kuduk, tidak ada vernik caseosa

  h. Dada : simetris, tidak ada retraksi dada i. Abdomen : tidak kembung j. Genetalia : jenis kelamin laki – laki, testis berada di skrotum k. Anus : berlubang l. Ekstremitas : tidak ada edema, tidak ada kelainan.

  a. Morro : (+) semakin kuat, saat dikejutkan kedua tangandan kaki memperlihatkan gerakan seperti merangkul.

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 saat diberi rangsangandi pipi langsung menoleh kearah rangsangan

  c. Sucking : (+) semakin kuat, saat telapak tangan disentuh, bayi menggenggam dengan cepat

  d. Grasfing : (+) semakin kuat, saat diberi minum atau dengan memasukan jari kita kedalam mulut bayi, bayi menghisap dengan kuat.

  No Hari, Tanggal, Jam Implementasi Evaluasi

  1. Sabtu , 22 januari 2015

  1. Memberitahukan hasil kepada ibu hasil 1. Ibu sudah diberitahu baha keadaan bayi baik dan sehat. Pukul : 14:00 wib pemeriksaan bahwa kondisi bayinya 2. Ibu sudah mengerti bahwa bayi harus dalam keadaan hangat. baik dan sehat.

  3. Ibu bersedia memberikan ASI eksklusif dan secara on demand 2. Menganjurkan ibu untuk selalu menjaga dan memberikan imunisasi sesuai jadwal. kehangan bayi

  4. Ibu bersedia ikut memantau pertumbuhan dan perkembangan 3. Menganjurkan ibu untuk memenuhi bayinya. kebutuhan nutrisi bayi yaitu memberikan ASI eksklusif dan on demand dan melakukan imunisasi sesuai jadwal.

  4. Memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi.

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 Tanggal : 23 januari 2015 Jam : 07:00 wib Tempat : BPM Ny.Lily Elisabeth

  A. Data Subyektif

  1. Alasan datang : Ibu ingin menggunakan KB kondom 3. Riwayat kontrasepsi yang lalu : Ibu mengatakan dahulu ibu menggunakan KB suntik.

  4. Pola Kebutuhan sehari-hari

  Pola kebutuhan sehari – hari.

  a. Pola nutrisi 1) Makan Frekuensi

  3X sehari 1 piring Jenis nasi, lauk, sayur 2) Minum Frekuensi 6-7 gelas/ hari

  Jenis air putih dan teh

  b. Pola Eliminasi 1) BAB Frekuensi

  1X sehari Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 Konsistensi lunak Warna kuning kecoklatan 2) BAK Frekuensi

  5 X/ hari Konsistensi cair Warna kuning jernih

  c. Pola aktifitas Mobilisasi ada Aktifitas sehari- hari mengurus anak

  d. Pola istirahat Tidur siang jarang Tidur malam 5-6 jam Keluhan sering bangun malam karna mengurus bayinya.

  e. Pola personal hygiene Mandi

  2X sehari Gosok gigi 3x sehari Ganti pakaian

  2X sehari Keramas

  3X seminggu

  f. Pola seksual Aktifitas seksual tidak ada Keluhan tidak ada

  5. Data adaptasi psikososial

  a. Pengetahuan ibu terhadap alat kontrasepsi Ibu mengatakan mengetahui beberapa alat kontrasepsi seperti KB suntik, IUD , Implant/ susuk, kondom.

  b. Pengetahuan ibu tentang alat kontrasepsi yang dipakai sekarang Ibu mengatakan sebelumnya sudah pernah menggunakan KB kondom dan ibu mengetahui cara menggunakan dan efek samping dari KB kondom ini.

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 c. Dukungan suami Ibu mengatakan hubungan suami dengan ibu baik, suami sangat mendukun menggunakan KB kondom.

  B. Data Obyektif

  1. Keadaan umum : baik

  2. Kesadaran : composmentis

  3. TTV

  b. RR : 22 x/menit

  c. Nadi : 80x/ menit

  d. Suhu : 36,5C

  e. BB : tidak terkaji

  4. Pemeriksaan fisik

  a. Muka : terlihat tidak pucat dan tidak odem

  b. Mata :terlihat simetris,sclera putih, dan konjungtiva merah muda

  c. Hidung :tidak ada polip

  d. Dada :terlihat simetris, tidak ada retraksi dada, ASI lancar

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015 e. Ekstermitas :ekstermitas atas dan bawah tidak odema

  No Hari, tanggal, jam S O A P Tanda tangan pelaksana

  a. Tekanan darah : 120/80 mmHg

  3. Memberitahukan efektivitas kondom.

  2. Kondom telah disediakan dan diberitahu cara penggunaan.

  1. Ibu dan keluarga merasa lega dengan hasil pemeriksaan ibu, bahwa keadaan ibu sehat.

  d. Suhu : 36,5C

  c. Nadi : 80x/menit

  b. RR : 22x/menit

  Hasil pemeriksaan :

  1 Jum’at, 23 januari 2015, pukul : 07:00 wib Terlamir diatas Terlampir diatas Ny. R umur 24 tahun P2A0AH2 dengan akseptor baru KB kondom.

  1. Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga bahwa keadaan ibu sehat.

  Pukul : 07:00 wib

  1 Jum’at, 23 januari 2015.

  3. Beritahu efektifitas kondom No Hari, Tanggal, Jam Implementasi Planning Tanda tangan pelaksana

  2. Siapkan kondom dan beritahu cara penggunaan.

  1. Beritahu hasil pemeriksaan kepada ibu.

  Asuhan Kebidanan Komprehensif..., Afdhila Fauziyah Fitri Mulyani, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2015

Dokumen baru

Download (138 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF KEHAMILAN, PERSALINAN, NIFAS, BAYI BARU LAHIR, DAN KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN PADA NY. A UMUR 29 TAHUN G2P1A0 UMUR KEHAMILAN 36 MINGGU 1 HARI DI BPM NY. N DESA SIRAU-KEMRANJEN-BANYUMAS TAHUN 2015 - repository perpustakaan
0
0
14
BAB I PENDAHULUAN - ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF KEHAMILAN, PERSALINAN, NIFAS, BAYI BARU LAHIR, DAN KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN PADA NY. A UMUR 29 TAHUN G2P1A0 UMUR KEHAMILAN 36 MINGGU 1 HARI DI BPM NY. N DESA SIRAU-KEMRANJEN-BANYUMAS TAHUN 2015 - reposit
0
0
7
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA KEHAMILAN FISIOLOGIS, PERSALINAN DENGAN KALA I LAMA, BAYI BARU LAHIR DENGAN MAKROSOMNIA, OBSTIPASI, DAN IKTERIK, NIFAS FISIOLOGIS, DAN KB IUD PADA NY. S UMUR 31 TAHUN G2P1A0 UMUR KEHAMILAN 38 MINGGU 6 HARI DI KEMRANJEN -
0
0
16
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF KEHAMILAN, PERSALINAN DENGAN KETUBAN PECAH DINI (KPD), BAYI BARU LAHIR, NIFAS DAN KELUARGA BERENCANA (KB) PADA NY.U G3P2A0 UMUR 30 TAHUN UMUR KEHAMILAN 11 MINGGU 5 HARI DI DESA KEBARONGAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS II KEMRANJEN
0
0
15
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR, NIFAS, KELUARGA BERENCANA PADA NY. R UMUR 19 TAHUN G1P0A0 UMUR KEHAMILAN 37 MINGGU 5 HARI DI PUSKESMAS II KEMRANJEN BANYUMAS - repository perpustakaan
0
0
16
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR, NIFAS DAN KELUARGA BERENCANA PADA NY. S UMUR 23 TAHUN G1P0A0 HAMIL 37+1 MINGGU DI BPS.SUPRI HASTUTI Amd.Keb. KABUPATEN BANYUMAS - repository perpustakaan
0
0
14
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR, NIFAS DAN KB NY.R UMUR 28 TAHUN G2P1A0 UMUR KEHAMILAN 37 MINGGU DI PUSKESMAS SOMAGEDE BANYUMAS - repository perpustakaan
0
0
12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KEHAMILAN - ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR, NIFAS DAN KB NY.R UMUR 28 TAHUN G2P1A0 UMUR KEHAMILAN 37 MINGGU DI PUSKESMAS SOMAGEDE BANYUMAS - repository perpustakaan
0
0
51
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR (BBL), NIFAS, DAN KELUARGA BERENCANA PADA Ny.E G2P1A0 UMUR 24 TAHUN DI BPM SURWENI SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS KARYA TULIS ILMIAH
0
0
30
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR DAN NIFAS PADA NY. M UMUR 21 TAHUN G1P0A0 UMUR KEHAMILAN 39 MINGGU 5 HARI DI PUSKESMAS 2 SOKARAJA BANYUMAS - repository perpustakaan
0
0
18
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR, NIFAS DAN KELUARGA BERENCANA (KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN) PADA NY. M UMUR 30 TAHUN G2P1A0 DI BPM NY.MARTIANA SOKAWERA CILONGOK BANYUMAS - repository perpustakaan
0
0
12
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR, NIFAS DAN KELUARGA BERENCANA (KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN) PADA NY. M UMUR 28 TAHUN G2P1A0 DI BPM NY. MARTIANA SOKAWERA CILONGOK BANYUMAS - repository perpustakaan
0
0
13
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA KEHAMILAN FISIOLOGIS, PERSALINAN DENGAN KALA I LAMA DAN KALA III AVULSI TALI PUSAT, BAYI BARU LAHIR (BBL) FISIOLOGIS, NIFAS FISIOLOGIS, DAN PERENCANAAN KELUARGA BERENCANA (KB) SUNTIK,PADA NY. O UMUR 27 TAHUN DI PUSKESMAS
0
1
14
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA KEHAMILAN,PERSALINAN, NIFAS, BAYI BARU LAHIR DAN KELUARGA BERENCANA PADA NY.R UMUR 30 TAHUN G1 P0 A0 UMUR KEHAMILAN 37 MINGGU 4 HARI DI PUSKESMAS SOMAGEDE KABUPATEN BANYUMAS - repository perpustakaan
0
0
13
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF KEHAMILAN, PERSALINAN, BAYI BARU LAHIR, NIFAS, DAN KELUARGA BERENCANA PADA NY D UMUR 28 TAHUN G2P1A0 UMUR KEHAMILAN 39 MINGGU DI BPM NY IROH RAKIT KABUPATEN BANJARNEGARA KARYA TULIS ILMIAH
0
0
12
Show more