Perbedaan prestasi belajar siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository

273 

Full text

(1)

DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

KOOPERATIF TIPE

JIGSAW I

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Novia Catur Wiji Asih NIM: 101134078

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V

SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN MODEL

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

JIGSAW I

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Novia Catur Wiji Asih NIM: 101134078

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

PERSEMBAHAN

Peneliti dengan segenap hati mempersembahkan skripsi ini kepada :

Tuhan Yesus Kristus Sang Raja Damai, atas bulir-bulir kasih-Nya yang senantiasa membimbing langkah hidup saya hari lepas hari.

Kedua orang tua saya Bapak Sukiran dan Ibu Darsih, terimakasih Ayah dan Ibu yang senantiasa memberikan dukungan, doa, dan semangat yang tidak pernah saya dapatkan dari orang lain. Ayah dan Ibu adalah seorang guru SD yang selama ini menjadi motivasi saya. Terimakasih Ayah dan Ibu, Engkau adalah segalanya dalam hidup saya.

Ketiga kakak saya Kristian Mulyani, Dwi Astuti, dan Agus Triwiyanto yang senantiasa memberikan dukungan semangat dan doa serta teladannya sebagai pribadi yang berkualitas.

Semua dosen di Program Studi PGSD Universitas Sanata Dharma yang senantiasa membimbing dan mendidik saya dari awal semester hingga akhir semester untuk menjadi seorang guru yang berkualitas.

Semua teman-teman dan sahabat-sahabat saya yang selalu ada bagi saya di saat senang maupun susah.

(6)

v MOTTO

Berdoa dan bersyukur itu kunci menuju kedamaian yang

sejati.

Jika engkau melakukan segala sesuatu lakukanlah

semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan.

Indahlah hari-harimu jika kau tersenyum dan menjadi

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan atau daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 26 Mei 2014

Penulis

(8)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Novia Catur Wiji Asih

Nomor Mahasiswa : 101134078

Demi pengembangan ilmu pengetahuan., saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya berjudul: PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW I

Dengan demikian, saya memberitahukan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelola dalam bentuk pangkalan data mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikan ke dalam internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa meminta ijin dari saya, atau memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 26 Mei 2014 Yang menyatakan,

(9)

viii

ABSTRAK

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

KOOPERATIF TIPE JIGSAW I

Novia Catur Wiji Asih Universitas Sanata Dharma

2014

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar IPS pada siswa kelas V atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw 1. Penelitian dilakukan pada semseter genap di tahun ajaran 2013/2014. Sekolah yang digunakan sebagai tempat penelitian adalah SD Karitas Nandan.

Penelitian ini adalah quasi eksperimental dengan tipe nonequivalent control group design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas V SD Karitas Nandan yang seluruhnya berjumlah 55 siswa. Sedangkan sampel penelitiannya terdiri sampel kelas VA dengan jumlah siswa 28 siswa sebagai kelompok kontrol dan sampel kelas VB dengan jumlah siswa 27 siswa sebagai kelompok eksperimen. Materi pelajaran IPS yang digunakan dalam peneltian ini adalah perjuangan melawan penjajah. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan tes tertulis dengan instrumen soal pilihan ganda sebanyak 25 soal sebagai soal pretest dan postest yang diujikan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji validitas instrumen dilakukan menggunakan point biserialdengan jumlah soal yang valid sebanyak 25 soal, dan uji reliabilitasnya menggunakan alpha cronbach dengan koefisien reliabilitas 0,810 yaitu menunjukkan kualifikasi yang tinggi. Analisis data dilakukan melalui 3 tahap yang diolah menggunakan SPSS 20. Langkah pertama yaitu uji prasyarat yang meliputi uji normalitas(perbedaan skor pretest dan postest) dan uji homogenitas (perbedaan skor

pretest), setelah itu baru dilakukan uji perlakuan (uji beda posttest kelas eksperimen dan posttest kelas eksperimen).

Setelah dilakukan analisis data terbukti bahwa penelitian ini menunjukkan ada perbedaan pengaruh yang signifikan pada prestasi belajara siswa kelas V di SD Karitas Nandan antara kelompok yang diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw 1 dan kelompok yang tidak diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw 1. Hal itu dapat dilihat pada hasil perhitungan yang menunjukkan angka 0,000 yaitu lebih kecil dari 0,05.

(10)

ix

ABSTRACT

THE DIFFERENCES OF IPS (SOCIAL SCIENCE) LEARNING ACHIEVEMENT IN 5TH GRADE PRIMARY SCHOOL USING JIGSAW

TYPE I COOPERATIVE LEARNING MODEL

Novia Catur Wiji Asih Sanata Dharma University

2014

The purpose of this research is to identify the difference influences of IPS learning achievement in 5th grade students based on the application of Jigsaw type I Cooperative Learning Model. The research was performed in second semester of study year 2013/2014. School used as the site of research is SD Karitas Nandan.

The type of research used was quasi experimental with nonequivalent control group design. Subjects chosen in this research were all 5th grade students in SD Karitas Nandan amounting to 55 students. Research sample consisted of sample from VA classroom amounting to 28 students as control class and sample from VB class room amounting to 27 students as experimental class. The material of IPS lessons used in this research was struggling against oppressors. In collecting data, the researcher used written test with multiple choice instrument as many as 25 items as pretest and posttest tested in experimental and control groups. Instrument validity test was performed by using biserial points with the number of valid items amounting to 25 items, and its reliability test was alpha cronbach with reliability coefficient 0,810 showing high qualification. Data analysis was conducted through 3 stages processed with SPSS20. The first step was prerequisite test that includes normality test ( the differences of pretest and posttest scores ) and homogeneity test ( pretest score differences), just then treatment test was conducted ( difference test between posttest

experimental class and posttest control class)

After data analysis had been conducted, it was proven that this research showed the significance differences of influence on learning achievement in 5th grade students of SD Karitas Nandan between group treated with Jigsaw type I Cooperative Learning Model and that of not treated with Jigsaw type I Cooperative Learning Model. It could be seen in the calculation results showing the number of 0,000 that is smaller than 0,05

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan segala berkat, kasih dan KaruniaNya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe

Jigsaw I ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dalam Progran Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari dan merasakan bahwa adanya bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada :

1. Rohandi, Ph.D selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J. S.S., BST., M.A., selaku kepala program pendidikan PGSD Universitas Sanata Dharma.

3. Drs. Y. B. Adi Massana, M.A. dan Rusmawan, M.Pd. selaku dosen pembimbing 1 dan II yang telah bersedia memberikan bimbingan, petunjuk dan arahan selama proses penelitian dan penulisan skripsi hingga selesai.

4. Agustinus Walidi, S.Pd selaku Kepala SD Karitas Nandan yang telah memberikan ijin tempat untuk melakukan penelitian.

5. Rosalia Astri K. selaku guru kelas V SD Karitas Nandan yang telah bersedia memberikan bantuan dalam proses penelitian.

6. Siswa siswi Kelas V SD Karitas Nandan selaku subjek penelitian yang telah bersedia untuk membantu saya dalam proses penelitian.

7. Bapak dan Ibu Guru serta karyawan/karyawati SD Karitas Nandan yang telah memberikan bantuan sehingga proses penelitian berlangsung dengan lancar. 8. Bapak Sukiran dan Ibu Darsih selaku orangtua yang telah memberikan semangat

(12)

xi

9. Teman-teman PPL SD Karitas Nandan yang selalu memberi dukungan dan bantuan kepada penulis dalam proses penelitian.

10. Teman-teman PGSD angkatan 2010 atas semangat, dukungan dan kerjasama selama berproses dalam kegiatan perkuliahan. Untuk teman-teman kelas B terimakasih atas kebersamaannya selama ini, kalian semua telah menjadi bagian hidup saya selama delapan semester. Untuk teman-teman kos (Dina, Deta, Ucik, Windri, Wulan, Pani, Tere, Ragil, dan Rita) terimakasih kalian telah menjadi keluarga selama delapan semester.

11.Semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan satu per satu yang telah memberikan doa, semangat, dukungan dan bantuan kepada penulis.

Penulis merasa masih jauh dari sempurna, begitu pula dalam penulisan skripsi ini juga masih jauh dari sempurna. Untuk itu, saran dan kritik sangat penulis terima sebagai masukan dalam perbaikan dalam penelitian lain. Atas segala kelebihan dan kekurangannya, semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk semua pihak.

Terima kasih.

Yogyakarta, 26 Mei 2014 Penulis,

(13)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Pembatasan Masalah ... 5

1.3 Perumusan Masalah ... 6

1.4 Tujuan Penelitian ... 6

1.5 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori ... 7

2.1.1 Teori-teori yang Mendukung ... 7

2.1.1.1 Belajar ... 7

2.1.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif ... 18

2.1.1.3 Ilmu Pengetahuan Sosial ... 29

(14)

xiii

2.2 Kerangka Berpikir... 46

2.3 Hipotesis Penelitian... 48

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 49

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 51

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 53

3.4 Variabel Penelitian ... 54

3.5 Definisi Operasional Variabel ... 55

3.6 Teknik Instrumen Pengumpulan Data ... 55

3.7 Vailiditas dan Reliabilitas Instrumen ... 57

3.8 Teknik Pengumpulan Data ... 63

3.9 Teknik Analisis Data ... 64

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... ...…. 69

4.2 Pembahasan ... 83

BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan ... …. 86

5.2 Keterbatasan Penelitian ... ... 87

5.3 Saran ... 87

DAFTAR REFRENSI ... 89

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

TABEL 2.1 Faktor Pengaruh Keberhasilan Belajar ... 9

TABEL 2.2 Indikator Prestasi Belajar ... 12

TABEL 3.1 Waktu Pengambilan Data ... 52

TABEL 3.2 Jadwal Penelitian ... 53

TABEL 3.3 Kisi-kisi Instrumen Penelitian ...56

TABEL 3.4 Pengembangan InstrumenPenelitian ...56

TABEL 3.5 Nomor Soal yang Valid ... ... 59

TABEL 3.6 Penentuan Validitas ... 60

TABEL 3.7 Kriteria Reliabilitas Soal ... 62

TABEL 3.8 Hasil Perhitungan Reliabilitas ... 63

TABEL 3.9 Pengumpulan Data Variabel Prestasi Belajar... 64

TABEL 4.1 Data Prestasi Belajar ... 69

TABEL 4.2 Hasil Uji Normalitas Variabel Prestasi Belajar Eksperimen ...74

TABEL 4.3 Hasil Uji Normalitas Variabel Prestasi Belajar Kontrol ... 75

TABEL 4.4 Homogenitas Nilai Pretest ...78

TABEL 4.5 Hasil Perhitungan Uji Beda Pretest ... 79

TABEL 4.6 Independen T test ... 78

TABEL 4.7 Rangkuman Nilai Pretest&Posttest Eksperimen dan Kontrol....83

TABEL 4.8 Hasil Uji Normalitas Kelompok Eksperimen... 83

(16)

xv

TABEL 4.10 Data Homogenitas dari Pretest Variabel Prestasi Belajar...83

TABEL 4.11 Perbandingan Nilai Posttest Eksperimen dan Kontrol ...83

TABEL 4.12 Hasil Perhitungan Uji Beda Pretest ...83

TABEL 21 Rangkuman Penghitungan Z skor Keaktifan Siswa ... 137

TABEL 22 Perolehan Nilai Kognitif, Psikomotor dan Produk... 139

TABEL 23 Hasil Prestasi Belajar Siswa Siklus 1 ...141

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 2.1 Bagan Penelitian Relevan ... 45

GAMBAR 2.2 Bagan Kerangka Berpikir ... 48

GAMBAR 3.1 Rancangan Penelitian ... 50

GAMBAR 3.2 Variabel Penelitian ... 54

GAMBAR 3.3 Rumus effect size ... 69

GAMBAR 4.1 Kurva Normalitas Data Pretest Eksperimen ... 74

GAMBAR 4.2 Kurva Normalitas Data Posttest Eksperimen ... 75

GAMBAR 4.3 Kurva Normalitas Data Pretest Kontrol ... 75

GAMBAR 4.4 Kurva Normalitas Data Posttest Kontrol ... 76

GAMBAR 4.5 Grafik Prestasi Belajar IPS Siswa kelas V... 82

(18)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Surat Permohonan Ijin Penelitan ... 92

LAMPIRAN 2 Surat Keterangan Telah Selesai Penelitian... 93

LAMPIRAN 3 Kisi-kisi Soal Pretest dan Posttest ... 94

LAMPIRAN 4 Instrumen Sebelum Validasi ... 95

LAMPIRAN 5 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ... 106

LAMPIRAN 6 Kisi-kisi Instrumen Setelah Validasi ... 108

LAMPIRAN 7 Format nstrumen Siap Diujicobakan ... 109

LAMPIRAN 8 Instrumen Validasi Perangkat Pembelajaran... 113

LAMPIRAN 9 Silabus Kelas Eksperimen ... 125

LAMPIRAN 10 RPP Kelas Eksperimen ... 132

LAMPIRAN 11 Silabus Kelas Kontrol ... 168

LAMPIRAN 12 RPP Kelas Kontrol ... 174

LAMPIRAN 13 Rangkuman Materi IPS ... 210

LAMPIRAN 14 Lembar Pengamatan Pelaksanaan Jigsaw I ... 221

LAMPIRAN 15 Foto-Foto Kegiatan Pembelajaran ... 225

LAMPIRAN 16 Tabel Data Hasil Pretest dan Posttest ... 228

LAMPIRAN 17 Nilai r Tabel Product Moment ... 229

LAMPIRAN 18 Hasil Uji Normalitas dan Homogenitas dari SPSS ... 230

(19)

xviii

LAMPIRAN 20 Statistik Deskriptif ... 232

LAMPIRAN 21 LKS Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 233

LAMPIRAN 22 Hasil Jawaban Siswa Pada Pretest dan Posttest ... 250

(20)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah sarana untuk menyukseskan anak-anak bangsa. Setiap anak berhak menempuh pendidikan untuk dapat mengembangkan potensinya. Pendidikan dasar merupakan hak asasi bagi semua anak Indonesia, keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dikelas adalah ciri dari pendidikan dasar yang ideal (Rahardjo,2012:249). Piaget dalam Yusuf (2009:6) mengungkapkan bahwa usia siswa sekolah dasar dasar adalah 6-11 tahun, yaitu termasuk pada tahap pra-operasional konkret. Pembelajaran di kelas yang berlangsung secara efektif dan menyenangkan akan lebih berdampak positif bagi siswa sekolah dasar. Pendidikan dasar yang baik tentu akan berdampak pada perkembangan siswa ke arah yang positif.

Pola interaksi yang terbentuk selama proses pembelajaran akan memberikan dampak bagi siswa terkait dengan pemahaman materi dan pencapaian prestasi belajar siswa. Menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pasal I ayat 20 pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Untuk membentuk pola interaksi yang baik selama proses pembelajaran di kelas tentu memerlukan model pembelajaran inovatif yang melibatkan siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Di Indonesia banyak terdapat model-model pembelajaran inovatif yang baik untuk dilaksanakan dalam proses pembelajaran di kelas. Guru dapat menyesuaikan penggunaan model pembelajaran dengan materi yang akan diajarkannya di kelas

(21)

(Rahardjo,20I2:241). Pada kenyataannya banyak satuan pendidikan dasar di Indonesia yang belum menerapkan model pembelajaran inovatif di kelas dalam proses pembelajaran. Guru menyampaikan materi pelajaran untuk siswa dengan metode ceramah, dan pembelajaran terasa sangat membosankan bagi siswa. Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar cukup terbatas karena siswa hanya duduk diam mendengarkan penjelasan materi dari guru. Setiap metode tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing tergantung pada penerapannya. Metode ceramah akan baik diterapkan apabila cakupan materi yang diajarkan cukup sempit, sehingga guru dapat mengembangkan pengetahuan siswa dengan memberikan ceramah. Metode ceramah tidak harus selalu digunakan, apalagi jika materi pelajaran yang hendak diajarkan cukup luas seperti pada mata pelajaran IPS.

(22)

yang dipelajari cukup luas. Guru hendaknya menerapkan model pembelajaran inovatif yang sesuai untuk mata pelajaran IPS khususnya kelas V agar proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien, yang nantinya berdampak positif prestasi belajar siswa.

Prestasi adalah hasil belajar yang meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa (Syah,2003:216). Prestasi siswa sangat ditentukan oleh proses pembelajaran yang diikuti. Pembelajaran yang berkualitas dapat berpengaruh postitif pada prestasi belajar siswa. Materi pelajaran yang dikemas oleh guru hendaknya dibuat menarik agar pembelajaran berlangsung dengan menyenangkan. Guru dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dengan mengoptimalkan penerapan model pembelajaran yang telah ditetapkan.

(23)

yang melibatkan siswa untuk aktif, dan menjadi pilihan oleh para guru dalam mengatasi masalahnya terkait dengan prestasi belajar (Isjoni,2012:23).

Model pembelajaran kooperatif memiliki banyak tipe yang dalam penerapannya dapat disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaiakan kepada siswa (Suprijono, 2009). Salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif adalah Jigsaw. Jigsaw yang paling orisinal adalah Jigsaw I sebelum dikembangkan Jigsaw II dan Jigsaw III. Dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe JigsawI, guru mengelompokan siswa ke dalam dua kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Model pembelajaran kooperatif Jigsaw I

menekankan pada tanggung jawab masing-masing individu di dalam kelompok pada proses pembelajaran. JigsawI merupakan model pembelajaran kooperatif tipe

Jigsaw yang paling mudah dalam implikasinya, dengan keefektifan yang tidak kalah dengan Jigsaw II dan Jigsaw III yaitu menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara (Lie,20I0:69).

(24)

Setelah itu masing-masing siswa kembali ke kelompok asal untuk menjelaskan informasi yang didapat dari hasil diskusi pada kelompok ahli. Jadi dalam model kooperatif tipe Jigsaw I siswa bekerja kelompok selama dua kali yakni dalam kelompok asal dan kelompok ahli (Huda,2012:121). Kelompok dibentuk dengan anggota yang heterogen, yaitu adanya perbedaan gender, kemampuan akademik, agama, suku dan ras (Sanjaya,2011:248).

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I akan lebih efektif apabila diterapkan dalam mata pelajaran yang berbentuk narasi atau mata pelajaran yang mengandung banyak sub materi, seperti pada mata pelajaran IPS (Isjoni,20I2:83). Penelitian yang dilakukan oleh Elmia umar (2011) membuktikan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe JigsawI dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Penelitian yang dilakukan oleh Rukiyah (2012), H. Mashudi (2010), dan Dian Ria Susanti (2008), membuktikan bahwa model pembelajaran kooperatif Jigsaw I berpengaruh pada prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS.

1.2Pembatasan Masalah

(25)

Kompetensi Dasar 5.1 Mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.

1.3Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah diatas, dapat dirumuskan rumusan masalah penelitian sebagai berikut:

Apakah ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan peneliti melakukan penelitian ini adalah:

Mengetahui adanya perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat bagi beberapa pihak, yaitu:

1.5.1 Bagi sekolah, penelitian ini memberikan acuan dalam pembuatan kebijakan program pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

1.5.2 Bagi guru, penelitian ini memberikan wawasan sehingga akan terbentuk inovasi untuk mendorong kualitas prestasi belajar para siswa.

1.5.3 Bagi siswa, penelitian ini memberikan acuan untuk terus meningkatkan prestasi belajar serta menjadi contoh pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.

(26)

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab ini bersi kajian teori, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. Kajian teori membahas teori-teori yang mendukung dan beberapa kajian penelitian yang relevan. Kerangka berpikir berisi alur pemikiran dan hipotesis berisi dugaan sementara.

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Teori-teori Yang Mendukung

2.1.1.1Belajar

1. Pengertian belajar

Teori Kognitivisme berpandangan bahwa belajar merupakan proses internal manusia yang mencakup beberapa aspek seperti ingatan, pengolahan informasi, emosi dan aspek kejiwaan lainnya (Suyono dan Hariyanto, 2011:75). Belajar merupakan suatu aktivitas mental ataupun psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan dan dapat menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengalaman, keterampilan, nilai, dan sikap yang dimiliki oleh seseorang (Winkle, 2004:59). Belajar merupakan cara seseorang dalam memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian dengan melakukan aktivitas.

Belajar adalah mengunpulkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau dalam bentuk materi pelajaran (Syah, 2003:64). Belajar merupakan proses memperoleh pengetahuan, yaitu proses memahami dan

(27)

menjadi tahu melalui pengalaman nyata dalam bentuk informasi. Pengetahuan dilahirkan dari pengalaman yang terjadi berulang kali. Pada dasarnya, pengetahuan sudah tersedia di alam, siswa berkesempatan untuk mengeksplorasi, menggali dan menemukan untuk memperoleh pengetahuan. Melalui belajar seseorang membentuk pola respon yang baru yaitu keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan.

Belajar merupakan proses usaha yang dilakukan seseorang dalam memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman sendiri dengan lingungan sekitarnya (Slameto, 2010:2). Jadi, belajar tidak terbatas pada pembelajaran di sekolah, tetapi belajar mengandung arti luas yaitu sebagai suatu kegiatan manusia dalam usaha memperoleh pengetahuan. Belajar dapat dilakukan manusia di setiap harinya dalam hidup bersama dengan manusia lain. Belajar merupakan proses perolehan pengetahuan dan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang. Akibat dari pengalaman belajarnya, seseorang dapat mengubah pola perilakunya ke arah yang positif sesuai dengan perolehan pengetahuan dari pengalaman belajarnya.

2. Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar

(28)

belajarnya, demikian pula dengan lingkungan sosial maupun lingkungan nonsosialnya.

Berikut ini adalah tabel yang berisi faktor-faktor pengaruh keberhasilan belajar menurt Syah (2003:156):

Tabel 2.1 faktor pengaruh keberhasilan belajar

Ragam Faktor dan Unsur-unsurnya

Internal siswa Eksternal siswa Faktor pendekatan 1. Aspek fisiologis

Menurut Hanafiah dan Cucu (2012:18) belajar sebagai kegiatan sistematis dan kontinu memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Belajar berlangsung seumur hidup

b. Proses belajar adalah kompleks namun terorganisir

c. Belajar berlangsung dari yang sederhana menuju yang kompleks d. Belajar dari yang faktual menuju konseptual

e. Belajar mulai dari yang kongkret menuju abstrak belajar merupakan bagian dari perkembangan.

(29)

g. Belajar mencangkup semua aspek kehidupan yang penuh makna, dalam rangka membangun manusia seutuhnya dan bulat, baik dari sisi agama, ideologi, politik ekonomi, sosial budaya, dan ketahanan

h. Kegiatan belajar berlangsung pada setiap tempat dan waktu, baik dalam lingkungan keluarga, sebagai pendidikan awal bagi lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolahnya.

i. Belajar keberlangsungan dengan guru maupun tanpa guru. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, tetapi masih banyak sumber belajar lainnya. j. Belajar yang berencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi.

k. Dalam belajar dapat terjadi hambatan-hambatan lingkungan internal seperti hambatan psikis dan fisik, dan eksternal, seperti lingkungan yang kurang emndukung, baik sosial, budaya, ekonomi, keamanan, dsb.

l. Kegiatan belajar tertentu diperlukan adanya bimbingan dari orang lain, emngingat tidak semua bahan ajar dapat dipelajari sendiri.

4. Prestasi Belajar

a. Pengertian Prestasi Belajar

(30)

belajar yang baik apabila banyak memperoleh pengetahuan dari proses belajarnya, prestasi yang baik dapat memberikan rasa puas bagi diri siswa sekaligus sebagai motivasi belajar untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi.

Prestasi adalah hasil belajar yang meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa (Syah, 2003:216). Jadi, prestasi belajar adalah gambaran hasil belajar siswa yang meliputi perubahan tingkah laku akibat dari proses belajar yang dialami siswa dalam waktu tertentu. Prestasi siswa dapat mengalami perubahan dengan hasil usahanya selama melangsungkan kegiatan belajar baik di kelas maupun di luar kelas.

b. Indikator Prestasi Belajar

Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data keberhasilan siswa dalam belajar adalah dengan mengetahui garis-garis besar indikator sebagai penunjuk bahwa adanya prestasi yang akan diukur (Syah, 2003:216). Untuk mengetahui sejauh mana prestasi belajar yang diperoleh oleh siswa, maka yang harus diketahui terlebih dahulu adalah indikator-indikatornya yang dalam hal ini adalah indikator prestasi belajar.

(31)

Tabel 2.2 Indikator Prestasi Belajar

Ranah/Jenis Prestasi Indikator Cara Evaluasi

A. Ranah cipta (Kognitif) 1. Pengamatan

2. Dapat menunjukkan kembali

1. Dapat menjelaskan 2. Dapat mendefinisikan

dengan lisan sendiri

1. Dapat memberikan contoh 2. Dapat menggunakan secara

tepat

B. Ranah Rasa (Afektif) 1. Penerimaan

1. Menganggap penting dan bermanfaat

2. Menganggap indah dan harmonis

3. Mengaguni

1. Mengakui dan meyakini 2. Mengingkari

1. Melembagakan atau meniadakan

2. Menjelmakan dalam pribadi dan perilaku sehari-hari

(32)

2. Kecakapan ekspresi verbal dan non-verbal

1. Kefasihan

melafalkan/mengucapkan 2. Kecakapan membuat mimik

dan gerakan jasmani mengetahui sejauh mana keberhasilan siswa dalam belajar. Menurut Gronlund dalam Azwar (2012:18) prinsip dasar dalam pengukuran prestasi adalah sebagai berikut:

1) Tes prestasi harus mengukur hasil belajar yang telah dibatasi secara jelas sesuai dengan tujuannya.

2) Tes prestasi harus mengukur suatu sampel dari hasil belajar dan dari materi yang dicakup oleh materi ajar.

3) Tes prestasi harus berisi butir-butir soal dengan tipe yang paling cocok guna mengukur hasil belajar yang diinginkan.

4) Tes prestasi harus dirancang sedemikian rupa dengan maksud agar sesuai dengan tujuan penggunaan hasilnya.

5) Reliabilitas atau keterpercayaan tes prestasi diusahakan setinggi mungkin dan hasil ukurnyaharus ditafsirkan secara hati-hati.

6) Tes prestasi harus dapat digunakan untuk meningkatkan belajar para siswa.

(33)

Seseorang dapat mencapai prestasi belajar yang baik dari hasil interaksinya dengan berbagai faktor yang ada, faktor tersebut terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal (Slameto, 2010).

1) Faktor Internal

Faktor yang berasal dari dalam diri siswa disebut faktor intern. Faktor intern yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa diantaranya adalah faktor Jasmani, faktor psikologis, Inteligensi siswa, bakat siswa, minat siswa, dan kematangan (Slameto, 2010).

2) Aspek Fisiologis

Faktor kesehatan dan kondisi tubuh dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, cacat tubuh pada seorang siswa juga akan berpengaruh terhadap prestasi yang dicapainya. Kondisi jasmani yang ideal akan mempengaruhi semangat siswa dalam melangsungkan kegiatan belajar. Kondisi tubuh yang lemah dan organ-organ tubuh yang tidak ideal, dapat menurunkan semangat dan kualitas belajar siswa. Kondisi tubuh yang sehat akan lebih baik untuk melangsungkan proses belajar dan mencapai prestasi yang baik, untuk itu seorang siswa hendaknya dapat memelihara kesehatan agar tidak mengganggu belajarnya, dengan demikian siswa akan mendapat prestasi yang mamuaskan.

3) Aspek Psikologis

(34)

a) Inteligensi siswa

Intelegensi merupakan kemampuan psikologi dan fisik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan secara tepat (Syah, 2012:131). Intelegensi juga disebut sebagai kempuan umum dimana seseorang dapat menyesuaikan diri, belajar, serta berpikir abstrak (Subini, dkk. 2012:86). Siswa yang memiliki tingkat intelensi tinggi lebih memiliki potensi untuk mencapai prestasi yang tinggi daripada yang memiliki tingkat intelegensi yang rendah. Intelegensi memiliki pengaruh yang besar terhadap pencapaian prestasi belajar.

b) Sikap siswa

Sikap siswa merupakan dimensi afektif sebagai gejala internal yang memiliki kecenderungan untuk merespon objek tertentu secara relatif tetap (Syah, 2012:132). Sikap memiliki kecenderungan bagaimana seorang individu merespon atau memberi reaksi terhadap situasi, sikap juga menentukan apa yang dicari oleh seorang individu dalam hidupnya (Syah, 2012:132). Dalam proses belajar sikap siswa menentukan bagaimana prestasi belajar yang diperolehnya, guru dapat mengetahui hal itu melalui perilaku siswa dalah kesehariannya.

c) Bakat siswa

(35)

ilmu yang tidak sesuai dengan bakatnya. Siswa akan dengan mudah mengolah pengetahuannya terhadap materi pelajaran tertentu ketika ia sudah memiliki bakat terhadap bidang ilmu tersebut.

d) Minat siswa

Pada dasarnya minat merupakan suatu rasa ketertarikan atau rasa lebih suka terhadap suatu hal atau aktifitas tertentu tanpa adanya dorongan dari orang lain (Slameto, 2002:180). Pengaruh yang besar terhadap prestasi belajar siswa salah satunya adalah minat siswa dalam belajar. Ketika siswa mempelajari suatu bidang ilmu disukainya, prestasi belajar yang diperolehnya akan lebih tinggi dibandingkan siswa yang mempelajari suatu bidang ilmu yang tidak disukainya.

e) Motivasi siswa

Motivasi dibedakan menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, motivasi intrinsik merupakan dorongan yang berasaol dari dalam diri seseorang sedangkan motivasi ekstrinsik adalah dorongan dari luar diri seseorang (Syah, 2012:89). Motivasi berperan penting dalam usaha manusia mencapai keberhasilan pada suatu bidang, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. 2) Faktor Eksternal

(36)

a) Faktor Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan yang paling menentukan bagaimana pola kehidupan anak dan berpengaruh pada kehidupan anak (Subini, dkk., 2012:92). Orang tua yang mendidik anak dengan cara yang baik, akan berbengaruh terhadap pencapaian prestasi belajar siswa, demikian juga dengan relasi yang baik antar anggota keluarga dan suasana rumah yang menyenangkan. Dalam hal tertentu, ekonomi yang cukup dlam suatu keluarga juga dapat berpengaruh terhadap pencapaian prestasi belajar siswa terkait dengan pemenuhan kebutuhan dalam pendidikan.

b) Faktor Sekolah

Kurikulum merupakan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Subini,dkk., 2012:96). Sekolah yang menerapkan kurikulum yang baik dan sesuai akan mendukung siswa dalam meraih prestasi belajar secara optimal.

(37)

memahami setiap pokok materi yang dipelajari, sehingga model pembelajaran yang sesuai dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Kurikulum merupakan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Subini, dkk., 2012:96). Sekolah yang menerapkan kurikulum yang baik dan sesuai akan mendukung siswa dalam meraih prestasi belajar secara optimal.

c) Faktor Masyarakat

Pergaulan siswa di lingkungan masyarakat dapat mempengaruhi pencapaian prestasi belajar siswa. Masyarakat yang baik dan peduli terhadap pendidikan akan memotivasi siswa untuk belajar lebih giat hingga dapat mencapai prestasi yang baik, tetapi masyarakat yang tidak mempedulikan pendidikan tidaka akan memotivasi siswa untuk belajar seshingga tidak mendapat prestasi belajar yang memuaskan

2.1.1.2Model Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

(38)

berbeda (Sanjaya, 2011:242). Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mementingkan kerja sama dalam kelompok.

Guru menyajikan beberapa informasi kepada siswa terkait dengan materi yang akan dipelajari secara spesifik. Selanjutnya guru mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yaitu kelompok belajar. Siswa masuk ke dalam masing-masing kelompoknya dan guru membimbing siswa dalam belajar di dalam kelompok, guru juga memfasilitasi siswa dalam kelompok belajar menggunakan media pembelajaran yang telah disiapkan oleh guru. Pembelajaran berlangsung dengan interaksi yang positif dalam kelompok dan guru menjadi pendamping siswa selama menjalani proses pembelajaran. Setelah kegiatan pembelajaran selesai, guru mengevaluasi hasil belajar siswa tentang materi pembelajaran yang telah dipelajari dalam kelompok. Evaluasi diberikan kepada masing-masing indivisu untuk mengukur kempuan siswa dalam memahami materi pelajaran.

Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan menjelaskan materi pelajaran yang akan dipelajari serta memotivasi siswa agar semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran (Rahardjo, 2012). Pembelajaran kooperatif dilaksanakan dengan langkah-langkah jelas dan sangat nampak dalam pelaksanaannya. Jadi dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif harus menggunakan langkah-langkah yang telah ditetapkan agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung seacara efektif.

(39)

kelompok-kelompok kecil dalam proses kegiatan belajarnya. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda, dan tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan ras, budaya, dan suku (Sanjaya, 2011:248). Dalam proses pembelajaran yang mengguanakan model pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk bekerja sama dan berkoordinasi dengan kelompoknya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Kerja sama dalam model pembelajaran kooperatif sangat penting dalam menyelesaikan permasalahan dalam memproses pengetahuan yang dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif telah dibuktikan dapat diterapkan dalam berbagai mata pelajaran dan untuk semua usia (Isjoni, 2012:23).

2. Unsur-unsur Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Lie (2010:30-35) terdapat lima unsur model pembelajaran kooperatif, yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka atau interaksi promotif, komunikasi antar anggota, dan pemrosesan kelompok, yang akan diuraikan sebagai berikut:

a. Saling ketergantungan positif

(40)

harus menyelesaikan tugasnya masing-masing dan anggota kelompok yang lain juga dapat mencapai tujuannya (Lie, 2010:32).

Ada beberapa cara membangun sikap saling ketergantungan positif antar anggota kelompok yaitu dengan menumbuhkan keyakinan bahwa dengan bekerja sama maka tujuan akan tercapai, saling mendukung, saling melengkapi, dan saling percaya (Suprijono, 2009:59).

b. Tanggung jawab perseorangan

Tanggung jawab perseorangan merupakan akibat langsung dari adanya unsur ketergantungan positif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik demi tercapainya tujuan di dalam kelompok (Lie, 2010:33).

Tanggung jawab perseorangan di dalam kelompok dapat ditumbuhkan, diantaranya dengan cara meminimalisir anggota kelompok, melakukan penilaian terhadap siswa, mengamati siswa di dalam kelompok dan mencatat frekuensinya dalam berpartisipasi aktif, menugasi salah satu anggota kelompok untuk memeriksa pekerjaan kelompoknya (Suprijono, 2009:60)

c. Tatap muka atau interaksi promotif

Tatap muka atau interaksi promotif dapat menghasilkan saling ketergantungan positif, ciri-ciri interaksi promotif menurut Suprijono (2009:60) adalah sebagai berikut:

1) Saling membantu secara efektif dan efisien.

2) Saling memberi informasi dan sarana yang diperlukan.

(41)

4) Saling mengingatkan.

5) Saling membantu dalam merumuskan dan mengembangkan argumentasi serta meningkatkan kemampuan wawasan terhadap masalah yang dihadapi.

6) Saling percaya.

7) Saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama di dalam kelompok.

d. Komunikasi antar anggota

Tidak semua siswa di dalam kelompok memiliki keahlian dalam hal mendengarkan dan berbicara, untuk itu guru perlu mengajarkan teknik berkomunikasi mengingat keberhasilan suatu kelompok dalam pembelajaran kooperatif juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan menyampaikan pendapat (Lie, 2010:34).

Keterampilan yang perlu dikembangkan dalam komunikasi antar anggota yaitu dengan saling mengenal dan mempercayai, saling berkomunikasi, saling menerima dan memberi dukungan, serta mampu menyelesaikan konflik kelompok dengan baik (Suprijono, 2009:61)

e. Pemrosesan kelompok

(42)

dilakukan setiap pembelajaran selesai atau bisa dilakukan beberapa waktu kemudian setelah beberapa kali diadakan pembelajaran (Lie, 2010:35).

3. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif dilaksanakan dengan tujuan untuk mencapai hasil belajar yang berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan mengembangkan keterampilan sosial (Suprijono, 2009:61). Peneapan model pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa dalam mencapai hasil belajar yang maksimal. Hasil belajar yang dicapai tidak hanya terbatas pada prestasi akademis, tetapi meliputi banyak hal termasuk keterampilan sosial.

Tujuan utama model pembelajaran kooperatif adalah agar siswa dapat belajar di dalam kelompok bersama dengan teman-temannya dan saling menghargai pendapat orang lain serta membeerikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan gagasannya (Isjoni, 2012:9). Tujuan pembelajaran kooperatif adalah membentuk semua anggota kelompok menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam kegiatan belajar bersama (Suprijono, 2009:60).

4. Model-model Pembelajaran Kooperatif

(43)

Model pembelajaran kooperatif terdiri dari beberapa tipe, yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, model pembelajaran kooperatif tipe

Number Heads Together (NHT), model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Divisions (STAD), model pembelajaran kooperatif tipe

Team Assited Individualization (TAI), model pembelajaran kooperatif tipe

Team Games Tournament (TGT), model pembelajaran kooperatif tipe

Learning Together, model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) (Rahardjo, 2012:243).

5. Jigsaw I

Penelitian ini lebih dominan membahas model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I, karena penelitian ini dilakukan untuk menguji perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V semester 2 antara kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan kelas yang tidak menggunakannya.

Jigsaw I mengembangkan kegiatan membaca menulis, mendengarkan, dan berbicara, serta cocok untuk diterapkan di semua kelas dan tingkatan (Lie, 2010:69). Jigsaw I dapat digunakan secara efektif di setiap tingkatan kelas dimana siswa telah memiliki pemahaman pemahaman yang baik, dapat membaca, serta memiliki keterampilan bekerja sama di dalam kelompok (Isjoni, 2012:83). Jadi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I dapat diterapkan di semua level pendidikan dengan syarat siswa yang ada dalam level pendidikan tersebut telah mendapatkan keterampilan-keterampilan seperti yang dikemukakan oleh Isjoni.

(44)

pertama kali dikembangkan oleh seorang ahli yang bernama Aronson pada tahun 1975, yaitu Jigsaw I. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I

merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif yang dalam penerapannya menggunakan kelompok-kelompok kecil dalam kegiatan pembelajarannya (Huda, 2012).

Jigsaw I adalah salah satu dari model pembelajaran kooperatif yang unik, siswa dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Masing-masing siswa mendapat tanggung jawab untuk mempelajari bagian kecil materi yang menjadi tujuan belajar. Peran guru dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah sebagai fasilitator dan mediator. Guru mendampingi siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Guru memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan siswa ketika mengalami kesulitan dalam belajar pad diskusi kelompok. Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan pemberian evaluasi oleh guru kepada siswa untuk dikerjakan secara individu.

6. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw I

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa untuk aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal (Isjoni, 2012:77). Dalam penerapannya, model pembelajaran koperatif tipe Jigsaw I dilakukan dengan langkah-langkah yang telah ditetapkan sebagai acuan dalam penggunaannya.

(45)

dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Setiap kelompok memiliki beranekaragam kemampuan, ras, dan gender (Daryanto dan Rahardjo, 2012:243). Penyetaraan bukan hanya pada kemampuan, ras dan gender juga disetarakan untuk menghindari perasaan sensitif yang muncul dalam proses pembelajaran.

Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa. Setelah selesai pembentukan kelompok asal, setiap siswa masing-masing diberi tugas untuk mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran. Masing-masing siswa bertanggung jawab mempelajari bagian materi yang ditugaskan (Daryanto dan Rahardjo, 2012:243). Contoh pembagian kelompok untuk pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yaitu, misalnya dalam suatu kelas terdapat 30 siswa, dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajaran yang terdiri 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 30 siswa akan terbentuk 6 kelompok asal yang masing-masing beranggotakan 5 siswa, dan terbentuk 5 kelompok ahli yang terdiri dari 6 siswa dalam setiap kelompoknya. Pembentukan kelompok yang pertama disebut dengan kelompok asal.

(46)

Setelah selesai mendiskusikan materi dalam kelompok ahli, siswa diminta untuk kembali bergabung bersama kelompok asal dan menyampaikan hasil belajarnya masing-masing sesuai dengan bagian materi yang menjadi tanggung jawabnya (Daryanto dan Rahardjo, 2012:244).

Guru menjadi fasilitator ketika siswa berdiskusi, baik diskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal (Daryanto dan Rahardjo, 2012:244). Guru bertugas memberi penjelasan kepada siswa apabila terjadi kesulitan dalam memahami materi pelajaran saat berdiskusi dalam kelompok.

Setelah siswa selesai berdiskusi dalam kelompok asal dan kelompok ahli, kemudian siswa diminta untuk mempresentasikan hasil belajarnya bersama masing-masing kelompok asal. Apabila waktu yang tersedia terbatas, guru dapat menunjuk salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil belajarnya di depan kelas (Daryanto dan Rahardjo, 2012:244). Guru memberi penegasan dan meluruskan apabila terjadi kesalahpahaman dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Di akhir pembelajaran guru memberikan kuis untuk dikerjakan oleh siswa secara indidual (Daryanto dan Rahardjo, 2012:244).

(47)

belajar satu sama lain. Di akhir pembelajaran diadakan kuis untuk mengecek seberapa paham siswa terhadap materi yang telah dipelajari.

7. Pembelajaran IPS Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe

Jigsaw I

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I dapat digunakan dalam beberapa mata pelajaran, salah satunya adalah IPS (Lie, 2010:69). Jenis materi yang paling mudah digunakan untuk penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I adalah materi pelajaran yang berbentuk narasi (Isjoni, 2012:83). Pembelajaran IPS dapat dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I.

Pembelajaran IPS yang dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I menurut Trianto (2011:73) adalah sebagai berikut:

a. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok yang tiap kelompoknya beranggotakan 5-6 orang.

b. Siswa dibagikan materi pelajaran IPS dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadai beberapa sub bab.

c. Setiap anggota kelompok membaca sub bab sesuai tugasnya masing-masing dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.

(48)

e. Jika kegiatan diskusi pada kelompok ahli telah selesai dilaksanakan maka siswa kembali ke dalam kelompok asal dan saling bertukar pemahaman dari masing-masing materi yang berbeda sesuai yang ditugaskan.

f. Guru memberikan evaluasi di akhir pembelajaran IPS, evaluasi dapat berupa kuis.

2.1.1.3Ilmu Pengetahuan Sosial

1. Hakikat IPS

Hakikat IPS adalah sebagai pengembangan konsep berpikir yang dilandaskan pada realita kondisi sosial di lingkungan sekitar siswa, maka dengan diterapkannya pendidikan IPS siswa dapat memiliki kepribadian yang baik dan bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara (Susanto, 2013:138). IPS memberikan wawasan yang luas kepada siswa dalam mengembangkan sikap yang baik. IPS mempelajari fenomena-fenomena sosial yang nyata ditemui dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak dipungkiri bahwa IPS merupakan ilmu yang terus berkembang dan dapat membuka wawasan bagi yang mempelajari.

Ilmu Pengetahuan Sosial adalah mata pelajaran yang mempelajari tentang kehidupan sosial di masyarakat. Ilmu Pengetahuan Sosial terintegrasi dari berbagai cabang ilmu sosial ilmu yaitu geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi, ilmu politik (Sumaatmadja, 1984:13). Geografi mempelajari tentang gejala-gejala alam yang nampak di lingkungan sekitar yang berhubungan dengan pola kehidupan manusia. Sejarah merupakan cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau, peristiwa dalam sejarah bersifat kronologis. Ekonomi merupakan

(49)

cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Sosiologi mempelajari tentang relasi sosial manusia dan pengertian yang mendasar tentang kemasyarakatan. Cabang ilmu sosial antropologi terkait dengan lapisan-lapisan masyarakat yang didalamya memuat keanekaragaman manusia yang hidup bersama di suatu tempat.

Setiap cabang ilmu sosial memiliki kajian masing-masing berdasarkan ruang lingkupnya (Sumaatmadja, 1984:13). Di dalam ilmu sosial terdapat ilmu politik, ilmu politik terkait dengan suatu sistem pemerintahan (Daldjoeni, 1981:15). Sebagai makhluk sosial, manusia dilahirkan untuk berhubungan dan bergaul dengan sesamanya karena manusia tidak akan pernah dapat menjalani hidup sendiri tanpa campur tangan orang lain. Itulah pentingnya ilmu sosial dalam kehidupan sehari-hari termasuk dengan hubungan dalam sistem pemerintahan.

2. Tujuan Pembelajaran IPS

Tujuan dari pembelajaran IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar pada siswa untuk mengembangkan dirinya, membantu dalam pemecahan masalah yang dihadapi agar semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial. (Solihatun&Raharjo, 2008:15). Di dalam Kehidupan bermasyarakat tentu banyak terdapat banyak konflik dan fenomena sosial yang penting untuk dipelajari dan dimengerti. Pembelajaran IPS membekali siswa dalam pengembangan diri terkait dengan hal tersebut.

(50)

kehabisan bahan untuk dapat membina sikap siswa, memperkuat kepribadian, dan membentuk budi pekerti yang luhur (Sumaatmadja, 1984:66). Pengalaman yang nyata merupakan sebuah pembelajaran berharga, demikian pula dengan pembelajaran IPS yang bersumber pada kehidupan manusia di masyarakat. Dengan belajar bermasyarakat maka siswa akan semakin membina sikapnya, memperkuat karakternya. Kehidupan bermasyarakat juga turut membentuk budi pekerti yang luhur dengan mempelajari nilai-nilai yang ada di masyarakat.

3. Pembelajaran IPS di SD

Mata pelajaran IPS di SD merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib ditempuh oleh setiap siswa di sekolah. IPS wajib diikuti oleh seluruh peserta didik di kelas empat sampai dengan kelas enam SD (Mendiknas, 2006). Belajar ilmu sosial berarti siswa secara langsung belajar berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama, sehingga diharapkan siswa dapat menjalin hubungan yang baik dengan sesama warga masyarakat.

Pembelajaran IPS di sekolah dasar mempelajari manusia dalam semua aspek kehidupan dan interaksinya di dalam masyarakat (Susanto, 2013:143). Pembelajaran IPS di sekolah dasar memiliki cakupan yang luas. Dalam mempelajari pola interaksi di masyarakat, pembelajaran IPS tentu saja mengaitkan dengan realita dalam kehidupan.

(51)

melibatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Kehidupan masyarakat yang dimaksud dalam hal ini yaitu didasari dengan perilaku-perillaku yang baik dan bernilai, serta barmakna bagi kepentingan masyarakat. Hal itu banyak dipelajari di dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar, mengingat pendidikan di sekolah dasar adalah sebagai dasar pembentukan kepribadian siswa.

Rumusan tentang pembelajaran IPS di sekolah dasar memiliki tujuan yang luhur, dengan adanya mata pelajaran IPS di sekolah dasar dapat berguna bagi siswa dalam bermasyarakat karena sudah dibekali dengan ilmu sosial. Siswa dapat belajar mengidentifikasi, menganalisa fenomena sosial yang terjadi serta mampu belajar untuk memecahkan masalah sosial dalam kehidupan sehari-hari.

4. Posisi Pembelajaran IPS di SD

IPS di sekolah dasar berkedudukan sebagai mata pelajaran yang wajib diikuti oleh semua siswa seperti yang tertulis di dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 39 (Sapriya, 2009:12). IPS merupakan mata pelajaran wajib bagi siswa sekolah dasar yang dirancang sebagai alat untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.

(52)

merupakan bekal yang penting bagi siswa dalam mengembangkan sikap yang baik sebagai warga negara Indonesia.

5. Tujuan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar

Pembelajaran IPS di sekolah dasar memiliki tujuan utama yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar lebih peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketidakseimbangan yang terjadi dalam suatu konflik, serta terampil dalam mengatasi masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa diri sendiri maaupun orang lain atau masyarakat (Susanto, 2013:145). Sekolah dasar merupakan tempat yang efektif sebagai sarana pengembangan diri siswa, mengingat usia siswanya yang sedang dalam proses perkembangan. Pembelajaran IPS membekali siswa dalam mempersiapkan dirinya dalam menghadapi setiap fenomena sosial yang yang ditemuinya di lingkungannya masing-masing

Pemerintah telah memberikan arah yang jelas pada tujuan pembelajaran IPS yang digunakan sebagai bahan ajar di sekolah. Dalam kaitannya dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), tujuan pembelajaran IPS menurut Susanto (2013:149) yaitu:

a. Siswa dapat mengenal konsep-konsep yang terkait dengan aspek kehidupan suatu masyarakat dan lingkungannya.

(53)

c. Siswa memiliki kesadaran dan komitmen terhadap nilaia-nilai sosial dan kemanusiaan yang berlaku di masyarakat.

d. Siswa dapat berkomunikasi aktif, bekerja sama, serta berkompetisi baik di tingkat lokal maupun di tingkat nasional atau global.

Berdasarkan kurikulum sekolah dasar 1994, tujuan pembelajaran IPS adalah agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang kelak berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya (Susanto, 2013:148). IPS membekali siswa dalam berbagai kemampuan, tidak terbatas pada kemapuan berpikir. Dalam kehidupan sosial tentu banyak sekali fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, untuk itu siswa diharapkan dapat memiliki berbagai sudut pandang dalam menyikapinya. Hal itu dipelajari dalam IPS, sehingga siswa terampil dalam menyikapi setiap konflik yang terjadi di dalam kehidupannya.

6. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Standar kompetensi dalam penelitian ini adalah Standar Kompetensi yang kedua yaitu menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia. sedangkan Kompetensi Dasarnya adalah yang pertama yaitu mendeskripsikan perjuangan para tokoh pejuang pada masa penjajahan Belanda dan Jepang.

(54)

dan Kompetensi dasar tersebut yang digunakan dalam penelitian ini termasuk ke dalam materi sejarah. Pembelajaran IPS diberikan secara tepat kepada siswa dengan pokok bahasan yang sesuai dan disajikan secara terpadu, mengingat IPS terdiri dari berbagai aspek namun dalam penyajiannya tidak dilakukan secara terpisah.

7. Materi IPS di SD

Dalam KTSP, pembelajaran IPS di SD dikemas secara menarik yaitu disesuaikan dengan perkembangan kehidupan menggunakan prinsip masyarakat meluas, dengan tujuan agar siswa dapat belajar IPS secara menyeluruh dari lingkup yang sempit hingga lingkup yang luas sesuai dengan perkembangan pola pikirnya (Depdiknas, 2006). Materi yang disajikan dalam pembelajaran IPS di SD merupakan perpaduan dari berbagai cabang ilmu sosial yang didesain secara terpadu agar bermakna dan lebih kontekstual (Supardi, 2011). Menurut standar isi (KTSP:2006) jenis materi IPS yang dipelajari dalam IPS di SD berupa fakta-fakta, konsep, serta generalisasi yang terkait dengan tiga aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. IPS di SD juga disajikan dengan pembelajaran yang unik, yaitu mengaitkan masalah-masalah sosial di masyarakat dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara global. Inilah yang memudahkan siswa belajar secara terpadu dengan mengaitkan berbagai aspek dalam kehidupan.

Materi IPS yang diteliti adalah materi IPS kelas V semster 2 yaitu “perjuangan melawan penjajah”, dengan pokok materi sebagai berikut:

(55)

2) Latar belakang kedatangan kaum penjajah, untuk mencari kekayaan dan kejayaan, serta menyebarkan agama Nasrani, serta mencari rempah-rempah yang merupakan kebutuhan utama bangsa Eropa

3) Kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia, tujuannya untuk berdagang, tetapi selanjutnya berubah menjadi menjajah. Beberapa bangsa Eropa yang pernah menjajah Indonesia yaitu, Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris.

- Bangsa Belanda, sampai di Indonesia tanggal 22 juni 1596, tujuan utama untuk berdagang, mula-mula belanda menunjukkan sikap bersahabat, tetapi akhirnya belanda memperlihatkan sikap serakah, kedatangan belanda tidak disambut baik dari masyarakat Indonesia. - Lahirnya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), didirikan oleh belanda pada 20 maret 1602, yang berarti Persatuan Dagang Hindia Timur. Tujuan, mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan jalan melawan pesaing-pesaingnya, seperti Portugis, Inggris dan Spanyol.

- Hak monopoli VOC adalah membuat perjanjian dengan raja-raja, menyatakan perang dan mengadakan perjanjian, membuat senjata dan mendirikan benteng, mencetak uang, mengangkat dan memberhentikan pegawai.

(56)

Indonesia, pada abad ke-19 keadaan keuangan VOC memburuk dan mengalami kemunduran, 31 desember 1799 VOC dibubarkan. 4) Sistem Kerja Paksa dan Penarikan Pajak

Saat Napoleon mengangkat Herman Willem Daendels sebagai gubernur jendral belanda di indonesia, Daendels memerintahkan rakyat Indonesia bekerja paksa tanpa upah, sehingga membuat hubungan penguasa pribumi menjadi merenggang (Pangeran Kusumadinata dari Sumedang). Contohnya, dalam pembuatan jalan raya dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur). Daendels digantikan Jansen pada tahun 1811.

- Tanam Paksa(Cultuurstelsel)

Mengerahkan tenaga rakyat untuk menanam tanaman yang hasilnya dapat dijual di pasaran, teh, kopi, tembakau, tebu, dan lain-lain. Aturan tanam paksa,

 Penduduk desa diwajibkan menyediakan 1/5 tanahnya untuk dijadikan lahan tanaman.

 Tanaman yang dipakai untuk dipakai untuk tanaman yang diwajibkan bebas pajak tanah.

 Hasil tanaman wajib diserahkan pemerintah Hindia Belanda.

 Kerusakan-kerusakan yang tidak dapat dicegah oleh petani menjadi tanggungan pemerintah.

(57)

 Yang bukan petani hatus bekerja 66 hari setahun bagi pemerintah Belanda.

- Penentang Tanam Paksa

Douwes Dekker dan Pendeta Van Houvel, Douwes mengecam tanam paksa melalui buku yang berjudul “Max Havelaar”(memakai

nama samaran Multatuli), yang berisi penderitaan rakyat selama 31 tahun bangsa Indonesia mengalami keterbelakangan dan kebodohan.

5) Perjuangan Mengusir Penjajah Belanda Sebelum Kebangkitan Nasional - Thomas Matulessi/ Pattimura, lahir di maluku tahun 1983,

pelayaran Hongi bertujuan mengawasi setiap pulau dalam pelayaran perniagaan dan membinasakan rempah-rempah yang dianggap berlebihan. Pada 16 mei 1817 maluku menyerbu Benteng Duurstede, dalam penyerbuan itu Van den Berg mati terbunuh, kekalahan itu membuat belanda mengirim pasukan lebih banyak dipimpin laksamana Buykes, pasukan Pattimura akhirnya ditangkap.

- Tuanku Imam Bonjol, lahir di tanjung bunga tahun 1722, Imam Bonjol sebagai pemimpin kaum Paderi, belanda menggunakan siasat benteng untuk menguasai Bonjol, belanda mengeluarkan pernyataan, “Plakat Panjang” isinya:

 Tanam paksa dengan kerja paksa bagi masyarakat Minangkabau.

(58)

 Belanda akan bertindak sebagai penengah apabila ada perselisihan.

Tanggal 6 november 1864, Imam Bonjol wafat dan dimakamkan di Desa Pineleng, Manado.

- Pangeran Diponegoro, lahir di Yogyakarta tahun 1785, pangeran Diponegoro mendapat bantuan dari Kiai Maja, Pangeran Mangkubumi dan Sentot Ali Basyah Prawiradirja, perlawanan dilakukan sejak tahun 1825-1827, belanda menggunakan siasat perang benteng stelsel yang dipimpin Jendral Van de Kock, belanda menggunakan cara licik dengan menawarkan perundingan kepada Pangeran Diponegoro, tetapi Belanda mengkhianati perjanjian tersebut, Belanda menangkap Pangeran Diponegoro, kemudian dibawa ke Semarang, lalu ke Batavia, diasingkan ke Manado, lalu dipindahkan ke Makassar, dan wafat pada tanggal 8 Januari 1855.

- Pangeran Antasari, pada tahun 1859 Pangeran Antasari menyerang pos-pos pertahanan Belanda, dibantu Pangeran Hidayat, Kyai Demang Leman, Haji Hasrun, Haji Buyasin, dan Kiai Langlang, tahun 1862 Pangeran Antasari ditangkap dan dibuang di jawa, tahun 1862 Pangeran Antasari wafat dikarenakan terserang penyakit cacar.

(59)

Tawan Karang, tetapi Belanda menolak dikenakan Hukum Tawan Karang. Di bawah pimpinan Patih Ketut Gusti Jelantik, mengadakan perlawanan habis-habisan (puputan) terhadap Belanda. Pada tahun 1849 benteng Jagaraga jatuh ditangan Belanda, sekaligus menguasai Bali Utara, secara bertahap akhirnya Belanda menguasai seluruh Bali.

- Perlawanan Sisingamangaraja XII (1870-1907), Belanda datang untuk menguasai wilayah Tapanuli, tahun 1904 pasukan Belanda dipimpin Kapten Cristoffel menyerang pusat pertahanan Sisingamangaraja XII, dalam serangan Sisingamangaraja XII gugur pada tanggal 17 juni 1907.

- Perlawanan Rakyat Aceh (1873-1904), muncul tokoh-tokoh dalam perlawanan, Teuku Umar(1879-1899), Panglima Polim, Teuku Cik Di Tiro, Cut Nyak Dien(1899)dan lain-lain.

6) Organisasi Pergerakan Nasional

- Budi Utomo didirikan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo, tanggal 20 mei 1908, tujuan: meningkatkan derajat dan martabat Indonesia melalui pendidikan dan pengajaran, meningkatkan ekonomi rakyat dan mempererat kehidupan sosial.

- Serikat Dagang Islam (SDI), didirikan oleh Haji Samanhudi, tahun 1911, tujuan: meningkatkan kesejahteraan bangsa dibawah panji Islam.

(60)

- Muhammadiyah, didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, tahun 1912 bergerak dibidang politik, sosial budaya, tujuan: menjunjung tinggi agama islam dan hidup menurut aturan islam.

- Indische Partij, didirikan oleh tiga serangkai, tanggal 25 desember 1912, tujuan: membangun rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air dalam hati bangsa Indonesia.

- Perhimpunan Indonesia (PI) diketuai oleh Muh. Hatta, berdiri tahun 1922, tujuan: menuntut indonesia merdeka dengan melakukan propaganda melalui media cetak (majalah berjudul Hindia putra  Indonesia Merdeka).

- Perguruan Taman Siswa, didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, tanggal 2 juli 1922, tujuan: mendidik pemuda berjiwa kebangsaan yang kuat, cinta terhadap tanah air, bangsa dan kebudayaan Indonesia.

7) Sumpah Pemuda, kongres pemuda I (30 april-2 april 1926), kongres pemuda II (27 oktober 1928), menghasilkan Sumpah Pemuda, tokoh yang berperan, Wage Rudolf Supratman (pencipta Lagu Indonesia Raya), Muh. Yamin, Wongso Negoro, Kuncoro Purbopranoto, Dugondo Joyopuspito, Tirtodiningrat, dan lain-lain.

b. Pendudukan Jepang di Indonesia

(61)

Imamura. Belanda menyerah tanpa syarat. 3 cara jepang memikat hati rakyat Indonesia:

1) Mengijinkan Bendera Merah Putih berkibar. 2) Mengijinkan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3) Mengijinkan penggunaan Bahasa Indonesia.

Romusha, kerja paksa jaman jepang. Akibatnya rakyat menderita, rakyat Indonesia dipaksa mengerjakan pekerjaan berat, membuat jalan raya, jembatan, benteng pertahanan, lapangan udara.

Organisasi-organisasi Bentukan Jepang

1) Gerakan Tiga A, semboyan : jepang pemimpin Asia, jepang pelindung Asia, jepang cahaya Asia (didirikan 29 april 1942).

2) Organisasi Islam.

- Majelis Islam A’la Indonesia.

- Majelis Syuro Muslimin Indonesia.

3) PUTERA(Pusat Tenaga Rakyat), didirikan tahun 1943, dipimpin oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan K.H. Mas Mansur, tujuannya: memusatkan seluruh kekuatan rakyat Indonesia dalam membantu usaha Jepang melawan sekutu.

4) Heiho (pembantu prajurit), dibagi menjadi angkatan darat(rikugun Heiho) dan angkatan laut (kaigun Heiho).

5) PETA (pembela tanah air), tujuannya untuk membantu jepang dalam perang melawan sekutu.

Perlawanan Rakyat terhadap Jepang:

(62)

2) Biak (1943) 3) Pontianak (1944)

4) Rakyat Singaparna (1944) dipimpin K.H. Zainal Mustafa

5) Pemberontakan PETA di blitar (1943) dipimpin Shodanco Supriyadi

2.1.2 Kajian Penelitian Yang Relevan

Nani Ermawati (2011) meneliti tentang peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw kelas V di SD Negeri 01 Bedana Kabupaten Banjarnegara. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terbukti bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa secara maksimal.

Rukiyah (2012) meneliti tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I pada pembelajaran IPA untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SD Negeri Inderalaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I sangat berpengaruh dan efektif terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V di SD Negeri Inderalaya. Penelitian ini menyarankan kepada para guru untuk menggunakan model kooperatif tipe Jigsaw I sebagai variasi dalam strategi mengajar.

Gambar

TABEL 22 Perolehan Nilai Kognitif, Psikomotor dan Produk.................... 139
TABEL 22 Perolehan Nilai Kognitif Psikomotor dan Produk 139 . View in document p.16
Tabel 2.1 faktor pengaruh keberhasilan belajar
Tabel 2 1 faktor pengaruh keberhasilan belajar . View in document p.28
Tabel 2.2 Indikator Prestasi Belajar
Tabel 2 2 Indikator Prestasi Belajar . View in document p.31
Tabel 3.1 Waktu Pengambilan Data
Tabel 3 1 Waktu Pengambilan Data . View in document p.71
Tabel 3.2 Jadwal Penelitian
Tabel 3 2 Jadwal Penelitian . View in document p.72
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen
Tabel 3 3 Kisi kisi Instrumen . View in document p.75
Tabel 3.5 nomor soal yang valid
Tabel 3 5 nomor soal yang valid . View in document p.78
Tabel 3.6 Penentuan Validitas
Tabel 3 6 Penentuan Validitas . View in document p.79
Tabel 3.7 Kriteria Reliabilitas Soal (Masidjo, 1995:209)
Tabel 3 7 Kriteria Reliabilitas Soal Masidjo 1995 209 . View in document p.81
Tabel 3.8 Hasil Perhitungan Reliabilitas
Tabel 3 8 Hasil Perhitungan Reliabilitas . View in document p.82
Tabel. 3.9 Pengumpulan Data Variabel Prestasi Belajar
Tabel 3 9 Pengumpulan Data Variabel Prestasi Belajar . View in document p.83
Tabel 4.1 Data prestasi belajar
Tabel 4 1 Data prestasi belajar . View in document p.90
tabel dan kurva hasil uji normalitas data kelas kontrol dan kelas eksperimen dari
tabel dan kurva hasil uji normalitas data kelas kontrol dan kelas eksperimen dari . View in document p.93
Gambar 4.2 Kurva normalitas data posttest kelompok eksperimen
Gambar 4 2 Kurva normalitas data posttest kelompok eksperimen . View in document p.94
Tabel dan kurva diatas menujukkan bahwa semua data dari hasil pretest dan
Tabel dan kurva diatas menujukkan bahwa semua data dari hasil pretest dan . View in document p.95
Tabel 4.4  Homogenitas nilai pretest
Tabel 4 4 Homogenitas nilai pretest . View in document p.97
Tabel 4.5 Hasil perhitungan uji beda pretest
Tabel 4 5 Hasil perhitungan uji beda pretest . View in document p.98
Tabel 4.6 Independen T test
Tabel 4 6 Independen T test . View in document p.100
Tabel 4.8 Hasil uji normalitas pada kelompok eksperimen:
Tabel 4 8 Hasil uji normalitas pada kelompok eksperimen . View in document p.102
gambar emotikon yang ada.
gambar emotikon yang ada. . View in document p.163
gambar emotikon yang ada.
gambar emotikon yang ada. . View in document p.172
gambar emotikon yang ada.
gambar emotikon yang ada. . View in document p.181
gambar emotikon yang ada.
gambar emotikon yang ada. . View in document p.196
gambar emotikon yang ada.
gambar emotikon yang ada. . View in document p.205
gambar emotikon yang ada.
gambar emotikon yang ada. . View in document p.214
gambar emotikon yang ada.
gambar emotikon yang ada. . View in document p.223
Tabel data hasil pretest dan posttest
Tabel data hasil pretest dan posttest . View in document p.247

Referensi

Memperbarui...

Download now (273 pages)