Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
321
10 months ago
Preview
Full text

  

TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU

PENGAMPU KELAS BAWAH: SEBUAH SURVEI BAGI GURU-GURU

SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA YOGYAKARTA

SKRIPSI

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

  

Oleh :

Agustiyana OlympiaVitessa

101134233

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

  

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU

PENGAMPU KELAS BAWAH: SEBUAH SURVEI BAGI GURU-GURU

SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA YOGYAKARTA

SKRIPSI

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

  

Oleh :

Agustiyana OlympiaVitessa

101134233

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

  

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  • Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka, apabila kamu selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh- sungguh (urusan) yang lain. (Al Qur’an surat Al-

  Insyiroh ayat 6-7)

  • Few things make the life of a parent more rewarding and sweet as successfull children. (Nelson Mandela)
  • Semua orang memiliki mimpi, namun bagi saya bukan seberapa besar mimpi yang kamu punya tetapi seberapa besar usaha kamu mewujudkan mimpi itu. (Penulis)

  

ABSTRAK

TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU

PENGAMPU KELAS BAWAH : SEBUAH SURVEI BAGI GURU-GURU

SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA YOGYAKARTA

  Oleh Agustiyana Olympia Vitessa

  NIM 101134233 Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan peneliti tentang tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta. Peneliti juga ingin mengetahui perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik dilihat dari faktor demografi jumlah guru dan jumlah rekan guru yang menggunakan tematik.

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh para guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dan perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh para guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa dan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Penelitian ini menggunakan desain penelitian non eksperimental cross sectional dengan metode survey. Populasi penelitian adalah semua guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di Kota Yogyakarta yang berjumah 328 guru dengan sampel yang diambil 190 guru. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan distribusi frekuensi dan analisis statistik uji Independent Sample t-Test maupun uji Mann Whitney.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tematik oleh guru-guru pengampu kelas bawah di kota Yogyakarta termasuk dalam kriteria tinggi. Hasil menunjukkan nilai Sig.(2-tailed

  ) (0,209) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa. Hasil menunjukkan nilai Z =

  • –0,193 dengan Sig.(2-tailed) (0,847) < α (0,05) maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi jumlah rekan

  

ABSTRACT

  

IMPLEMENTATION LEVEL OF THEMATIC INSTRUCTION BY

LOWER GRADE TEACHERS: A SURVEY TO ELEMENTARY SCHOOL

  By: Agustiyana Olympia Vitessa

  NIM. 101134233 This research was conducted based on th e researcher’s curiousity on the implementation of the thematic instruction by middle-low class teachers of

  

elementary schools in Yogyakarta. The researcher were to know differences of the

  implementation level of thematic learning by middle-low class teachers of

  

elementary schools in Yogyakarta seen from the teachers demography number of

students and number of teachers who used thematic instruction.

  The purposes of the research were to know the implementation level of thematic instruction by middle-low class teachers of elementary schools in

  

Yogyakarta , know the differences of the implementation level of thematic

learning by middle-low class teachers of elementary schools in Yogyakarta seen

  from number of students and know the differences of the implementation level of thematic learning by middle-low class teachers of elementary schools in

  

Yogyakarta seen from number of teachers who used thematic instruction. This

  non-experimental research used cross sectional design in survey method. The population included 328 middle-low class teachers of elementary schools in Yogyakarta and the sample used was 190 teachers. This research used questionnaire in collecting data. The analyse used distribution of frequency and PAP 1 and Independent Sample t-Test and Mann Whitney test.

  The results of the research showed that the implementation level of thematic learning by middle-low class teachers of elementary schools in Yogyakarta was high. The results of the research showed Sig.(2-tailed

  ) (0,209) ≥ 0,05, showed the implementation level of the thematic instructional not differed according the number of students. The results of the research Z=

  • –0,193 with (2-tailed Sig.

  ) (0,847) < α (0,05), showed the implementation level of the thematic instructional not differed according the number of teachers who used thematic instruction. Key words : themathic instruction, the theachers demography Puji dan syukur kupanjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan kasih-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi dengan judul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru

Pengampu Kelas Bawah : Sebuah Survey bagi Guru-Guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta” ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam

  memperoleh gelar sarjana pendidikan guru sekolah dasar Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penyusunan skripsi ini dapat terlaksana dengan baik atas bantuan, perhatian, dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis dengan setulus hati mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Rohandi, Ph.D. Selaku Dekan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi ini.

  2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. Selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi ini.

  3. Ibu Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D dan Ibu Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingannya selama ini.

  4. Bapak dan Ibu Dosen beserta karyawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan ilmu dan dukungan kepada penulis.

  5. Seluruh Guru Sekolah Dasar Negeri di kota Yogyakarta yang telah memberikan sumbangan yang besar dalam penelitian ini.

  6. Ibu Indah Mumpuni selaku orang tua yang selalu senantiasa menyertaiku dengan doa dan dorongan sehingga skripsi dapat terselesaikan.

  7. Adikku, Nasywa Lintang Sasikirana, terima kasih untuk dukungan dan

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................... iii

PERSEMBAHAN ....................................................................................................... iv

MOTTO ...................................................................................................................... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................................... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ...................................... vii

ABSTRAK ................................................................................................................. viii

ABSTRACT ............................................................................................................... ix

KATA PENGANTAR ................................................................................................. x

DAFTAR ISI ............................................................................................................... xii

DAFTAR TABEL ...................................................................................................... xiv

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xvi

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................. xviii

  BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1 B. Batasan Masalah ................................................................................... 7 C. Rumusan Masalah................................................................................. 8 D. Tujuan penelitian .................................................................................. 8 E. Manfaat Penelitian ................................................................................ 9 F. Definisi Operasional ............................................................................. 10 BAB II. KAJIAN TEORI A. Tinjauan Teoritik ....................................................................................... 11

  1. Reformasi pendidikan secara global ..................................................... 11

  2. Reformasi pendidikan di Indonesia ...................................................... 13

  3. Reformasi kurikulum di Indonesia ....................................................... 15

  4. Kurikulum 2013 dan kurikulum 2006 .................................................. 22

  5. Pembelajaran terpadu .......................................................................... 26

  6. Pembelajaran tematik ........................................................................... 32

  7. Implikasi pembelajaran tematik ............................................................ 36

  8. Karakteristik pembelajaran tematik ...................................................... 38

  D. Hipotesis Penelitian .................................................................................... 51

  BAB III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian ...................................................... 52 B. Waktu dan Tempat Penelitian .................................................................... 53

  1. Waktu Penelitian .................................................................................. 53

  2. Tempat Penelitian ................................................................................ 53

  C. Variabel Penelitian ..................................................................................... 53

  D. Populasi dan Sampel ................................................................................... 54

  E. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................... 55

  F. Instrumen Penelitian ................................................................................... 56

  G. Validitas Instrumen..................................................................................... 63

  H. Reliabilitas Instrumen ................................................................................ 79

  I. Prosedur Analisis Data ............................................................................... 81 J. Jadwal Penelitian ....................................................................................... 104

  BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Penelitian ................................................................................... 106 B. Tingkat Pengembalian Kuesioner ............................................................... 107 C. Hasil Penelitian ........................................................................................... 107 D. Pembahasan Hasil Penelitian ..................................................................... 133 BAB V. KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN A. Kesimpulan ................................................................................................. 139 B. Keterbatasan .............................................................................................. 140 C. Saran .......................................................................................................... 140 DAFTAR REFERENSI .................................................................................... 142

  DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Keunggulan KBK dengan kurikulum 1994 ..................................... 19Tabel 2.2 Reformasi pendidikan di Indonesia ................................................. 21Tabel 2.3 Perbedaan esensial kurikulum 2006 dengan kurikulum 2013 ......... 23Tabel 2.4 Landasan pengembangan kurikulum 2013 ...................................... 25Tabel 3.1 Penjabaran Skor Item Positif dan Item Negatif ............................... 57Tabel 3.2 Sebaran item positif dan item negatif .............................................. 58Tabel 3.3 Kisi-kisi instrumen penelitian ......................................................... 61Tabel 3.4 Kriteria Revisi ................................................................................. 64Tabel 3.5 Hasil expert judgment indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa ...................................................................................... 65Tabel 3.6 Hasil expert judgment indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar ................................................................... 66Tabel 3.7 Hasil expert judgment indikator pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas ............................................................................. 67Tabel 3.8 Hasil expert judgment indikator pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran .................................................................. 69Tabel 3.9 Hasil expert judgment indikator pembelajaran bersifat fleksibel .... 70Tabel 3.10 Hasil expert judgment indikator hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa ................................................ 71Tabel 3.11 Hasil expert judgment indikator prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa .............................................................. 73Tabel 3.12 Validitas muka .............................................................................. 75Tabel 3.13 Hasil validitas implementasi pembelajaran tematik ...................... 78Tabel 3.14 Koefisien Reliabilitas .................................................................... 80Tabel 3.15 Hasil reliabilitas ............................................................................. 81Tabel 4.1 Panjang kelas interval ..................................................................... 109Tabel 4.2 Hasil perhitungan daftar distribusi .................................................. 109Tabel 4.3 Hasil uji normalitas tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jumlah siswa sedikit ......................... 112Tabel 4.4 Hasil uji normalitas tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jumlah siswa banyak ......................... 115Tabel 4.5 Hasil uji homogenitas tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah siswa .................................................... 119Tabel 4.6 Hasil uji Independent Sample t-Test tingkat

  Implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah siswa ...... 121

Tabel 4.7 Hasil uji normalitas tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jumlah rekan guru yang

  menggunakan pembelajaran tematik sedikit ..................................... 123

Tabel 4.8 Hasil uji normalitas tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran

  tematik banyak .................................................................................. 127

Tabel 4.9 Hasil uji homogenitas tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah rekan guru

  yang menggunakan pembelajaran tematik ....................................... 131

Tabel 4.10 Tabel hasil uji Mann Whitney tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah

  rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik ..................... 132

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema penelitian yang relevan .................................................... 49Gambar 3.1 Hubungan antar variabel .............................................................. 53Gambar 3.2 Rumus Korelasi .......................................................................... 77Gambar 3.3 Rumus Koefisien Alpha Cronbach .............................................. 79Gambar 3.4 Rumus Jarak atau Rentangan ....................................................... 87Gambar 3.5 Rumus Jumlah Kelas ................................................................... 87Gambar 3.6 Rumus Panjang Kelas .................................................................. 87Gambar 3.7 Rumus Jarak atau Rentangan ....................................................... 89Gambar 3.8 Rumus Jumlah Kelas ................................................................... 89Gambar 3.9 Rumus Panjang Kelas .................................................................. 90Gambar 3.10 Rumus Uji Normalitas ............................................................... 93

  Gambar 3.11

Rumus Lavene’s Test ................................................................ 96

Gambar 3.12 Rumus uji t-Dua Sampel ............................................................ 100Gambar 3.13 Rumus Independent- Sample T-test ............................................ 100Gambar 3.14 Rumus Uji Mann Whitney ......................................................... 101Gambar 3.15 Rumus Effect Size jika data normal ........................................... 102Gambar 3.16 Rumus Effect Size jika data tidak normal .................................. 102Gambar 3.17 Rumus koefisien determinasi ..................................................... 103Gambar 4.1 Uji normalitas P-P Plot data

  Implementasi dengan jumlah siswa sedikit ................................. 113

Gambar 4.2 Uji normalitas histogram data

  Implementasi dengan jumlah siswa sedikit ................................. 114

Gambar 4.3 Uji normalitas P-P Plot data

  Implementasi dengan jumlah siswa banyak ................................. 116

Gambar 4.5 Uji normalitas P-P Plot data

  Implementasi dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik sedikit ................................ 124

Gambar 4.6 Uji normalitas histogram data

  Implementasi dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik sedikit ................................ 125

Gambar 4.7 Uji normalitas P-P Plot data

  Implementasi dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik banyak .................................. 128

Gambar 4.8 Uji normalitas histogram data

  Implementasi dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik banyak .................................. 129

  DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian dan Telah Melakukan Penelitian ................. 147 Lampiran 2 Kuesioner Sebelum dan Sesudah Validasi ................................... 151 Lampiran 3 Expert Judgment dan Validitas Muka .......................................... 157 Lampiran 4 Data Validitas ............................................................................... 254 Lampiran 5 Hasil Validitas .............................................................................. 255 Lampiran 6 Data Reliabilitas ........................................................................... 257 Lampiran 7 Hasil Reliabilitas .......................................................................... 258 Lampiran 8 Data Asli ...................................................................................... 262 Lampiran 9 Hasil Output Deskripsi Implementasi Pembelajaran Tematik ..... 263

  Lampiran 10 Hasil Distribusi Frekuensi Tingkat Implementasi pembelajaran tematik .......................................................................................... 264 Lampiran 11 Hasil Perhitungan Daftar Distribusi Frekuensi ......................... 265 Lampiran 12 Hasil Distribusi Frekuensi Demografi Jumlah Siswa ............... 266 Lampiran 13 Hasil Hasil Distribusi Frekuensi Faktor Demografi Jumlah Rekan

  Guru yang Menggunakan Pembelajaran Tematik ..................... 267 Lampiran 14 Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran

  Tematik Terhadap Faktor Demografi Jumlah Siswa Kelompok Sedikit ........................................................................................ 268

  Lampiran 15 Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Faktor Demografi Jumlah Siswa Kelompok Banyak .......................................................... 272

  Lampiran 16 Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Faktor Demografi Jumlah Rekan Guru yang Menggunakan Pembelajaran Tematik Kelompok Sedikit ......... 276

  Lampiran 17 Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Faktor Demografi Jumlah Rekan Guru yang Menggunakan Pembelajaran Tematik Kelompok banyak .......... 280

  Lampiran 19 Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran tematik Terhadap Faktor Demografi Jumlah Rekan Guru yang Menggunakan Pembelajaran tematik ......................................... 284

  Lampiran 20 Hasil uji Independent sample t-test Implementasi pembelajaran tematik terhadap Faktor Demografi Jumlah Siswa .................... 285 Lampiran 21 Hasil Uji Mann whitney Imlementasi Pembelajaran tematik

  Terhadap Faktor Demografi Jumlah Rekan Guru yang Menggunukan pembelajaran Tematik ........................................ 286

  Lampiran 22 Tabel Krenjcie ............................................................................ 287 Lampiran 23 Contoh Instrumen Kuesioner ..................................................... 288 Lampiran 24 Contoh Instrumen yang Sudah Dikerjakan ................................ 294 Lampiran 25 Tingkat Pengembalian Instrumen ............................................. 299 Lampiran 26 Biodata Penulis .......................................................................... 230

  bagian tersebut yaitu latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional.

A. Latar Belakang Masalah

  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Depdiknas, 2008: 326) mengartikan pendidikan adalah suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Proses pengubahan sikap dan tata laku seiring dengan tujuan pendidikan yang memberikan arah bagi segala kegiatan pendidikan. Pengubahan sikap dan tata laku yang baik dilakukan kepada anak sejak kecil. Pendidikan dasar dapat mengubah anak dan menyelaraskannya dengan kegiatan pendidikan.

  Pendidikan dasar menurut KBBI adalah pendidikan minimum (terendah) yang diwajibkan bagi semua warga negara (Depdiknas, 2008: 326). Pendidikan wajib ditempuh setiap orang selama 9 tahun Pendidikan merupakan suatu hak yang didapatkan oleh seseorang untuk menjadi pribadi yang baik di lingkungannya. Suatu pendidikan memerlukan adanya kurikulum. Trianto (2012: 13) menjelaskan bahwa dalam perkembangan selanjutnya istilah kurikulum digunakan di dalam dunia pendidikan. Kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu Curir berarti pelari, dan Curere berarti tempat berpacu atau tempat lomba. disimpulkan sebagai sejumlah pengetahuan atau mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai suatu tingkatan atau ijasah.

  Kurikulum yang berlaku di Indonesia sudah beberapa kali mengalami perubahan. Trianto (2010: 54

  • –71) menjelaskan bahwa kurikulum berubah dari masa orde lama hingga masa orde reformasi. Masa orde lama menggunakan Rencana Pelajaran 1947 dan kemudian berubah dengan istilah Rencana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum 1947 menekankan pada cara mengajar yang dilakukan oleh guru dan cara siswa memahami materi pelajaran. Kurikulum 1952 terlihat lebih menonjol pada setiap mata pelajaran karena harus memperhatikan setiap isi pelajaran yang telah dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

  Masa orde lama kemudian masuk ke masa orde baru. Saat masa orde baru telah terjadi empat kali perubahan kurikulum, yakni kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984 (keterampilan proses), dan kurikulum 1994. Kurikulum 1968 memiliki sifat correlated subject curriculum yang berarti bahwa materi pelajaran pada tingkat bawah berhubungan dengan kurikulum tingkat lanjutan. Kurikulum 1968 dipandang kurang, maka dari itu tercipta kurikulum baru yang disebut dengan kurikulum 1975. Kurikulum 1975 mencantumkan tujuan kurikulum untuk setiap bidang studi, sedangkan untuk setiap pokok bahasan mencantumkan tujuan instruksional khusus. Kurikulum selanjutnya adalah kurikulum 1984. Kurikulum 1984 disebut sebagai kurikulum keterampilan proses karena pada kurikulum ini menggunakan pendekatan keterampilan proses yang

  Masa orde baru kemudian memasuki masa reformasi. Masa reformasi terjadi dua kali perubahan kurikulum, yakni kurikulum 2004 atau sering disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan kurikulum 2006 atau sering disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum 2004 merupakan kurikulum pertama yang berhasil diterapkan di Indonesia pada masa reformasi.

  Pemerintah mulai memunculkan model pembelajaran tematik saat kurikulum 2004 diterapkan. Kurikulum kedua yang berhasil diterapkan di masa reformasi ialah kurikulum 2006. Kurikulum 2006 merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk menciptakan sekolah yang efektif, produktif, maupun berprestasi.

  Masa reformasi berakhir, kemudian masuk ke masa sekarang dimana menggunakan kurikulum 2013 sebagai acuan pendidikan. Mulyasa (2013: 66) menjelaskan bahwa kurikulum 2013 adalah tindak lanjut dari kurikulum 2006 dan merupakan suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kompetensi sehingga hasilnya dapat dilaksanakan sendiri oleh siswa. Kurikulum 2013 diharapkan mampu melahirkan siswa yang produktif, kreatif, dan inovatif.

  Pembelajaran tematik disajikan dalam kurikulum 2013.

  Pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna untuk siswa (Depdiknas dalam Trianto, 2010: 5). Pembelajaran tematik mengambil tema sebagai sentral pembelajaran yang di mengajar kelas IV sampai kelas VI menggunakan pendekatan mata pelajaran. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas, 2008: 4) menjelaskan bahwa pembelajaran tematik dianggap sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang melihat segala sesuatunya sebagai suatu keutuhan (holistic). Pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran terpisah akan menyebabkan kurang berkembangannya anak untuk berpikir secara holistic dan membuat kesulitan bagi peserta didik.

  Pembelajaran tematik diterapkan di kelas I, II, dan III atau sering disebut dengan kelas bawah. Guru kelas I sampai guru kelas III tidak mengajarkan pelajaran secara terpisah-pisah akan tetapi mengajarkan pelajaran secara terintegrasi atau terpadu.

  Erickson dalam Rismiati (2012: 5) mengatakan bahwa aim of the integrated

  curricu lum was “to cause students to integrated their thinking at a conceptual

level by seeing the patterns and connections between transferable and

connections between transferable, conceptual ideas and topic under study”. Arti

  dari kata-kata Erickson adalah tujuan dari kurikulum terintegrasi ialah memadukan pikiran para siswa pada level konseptual dengan pola dan hubungan antara mengirim konsep ide dan topik di bawah mata pelajaran. Kurikulum terintegrasi memadukan pola pikir siswa yang mempunyai topik atau tema.

  Majalah DIKBUD dalam Sururiaziz (2013) menyebutkan bahwa pentingnya suatu pembelajaran terpadu dikarenakan oleh beberapa hal. Hal yang menyebabkan pentingnya suatu pembelajaran terpadu antara lain (1) hasil sekolah dasar dengan definisi kompetensi yang berbeda menghasilkan banyak keluaran yang sama, dan (3) keterkaitan satu sama lain antar mata pelajaran sekolah dasar menyebabkan keterpaduan konten pada berbagai mata pelajaran dan arahan siswa untuk mengaitkan antar mata pelajaran akan meningkatkan hasil pembelajaran siswa.

  Pembelajaran tematik dipilih untuk menjadi salah satu sifat dari kurikulum baru. Alasan dari dipilihnya pembelajaran tematik menjadi salah satu sifat kurikulum yang baru adalah karena tematik dianggap sebagai suatu pembelajaran yang dapat mempersatukan seluruh elemen pendidikan seperti siswa, guru, manajemen satuan pendidikan bahkan masyarakat umum. Elemen pendidikan tersebut nantinya yang akan lebih banyak dibahas pada penelitian ini adalah guru, karena gurulah yang memiliki peran penting dalam pengimplementasian kurikulum. Guru sebagai ujung tombak penerapan kurikulum yang diharapkan dapat membuka diri terhadap beberapa kemungkinan perubahan.

  Depdiknas (2008: 11) menjelaskan bahwa guru belum memiliki kesadaran dan kepekaan terhadap kebutuhan siswa. Bukan hanya faktor guru yang belum baik, tetapi ada faktor lain yang harus diperhatikan pemerintah. Faktor-faktor lain tersebut sering disebut dengan faktor demografi dalam mempengaruhi kesiapan pelaksanaan kurikulum. Rismiati (2012: 12) menjabarkan faktor demografi antara lain dukungan dari kepala sekolah, pengalaman menggunakan pembelajaran tematik, status kepegawaian, jumlah jam training pembelajaran tematik, jumlah

  Faktor demografi yang ada dan dikatakan baik kondisinya, maka diharapkan dapat ikut memotivasi guru untuk mengimplementasikan kurikulum secara baik.

  Sebagai contoh jika terdapat jumlah rekan guru yang mengajar dengan hal dan jumlahnya banyak maka guru akan semakin termotivasi untuk dapat menerapkan kurikulum itu secara baik karena guru memiliki teman untuk dapat berbagi dan belajar dengan rekannya tersebut.

  Pembelajaran tematik yang diberlakukan di sekolah dasar terkadang masih menjadi kendala bagi guru. Adanya guru yang pengalaman mengajarnya kurang dan pengalaman mengajar tersebut akan memberikan dampak yang negatif kepada siswa. Dampak negatifnya adalah siswa menjadi kurang paham akan materi yang diajarkan. Dampak negatif akan bertambah parah apabila anak yang masuk sekolah dasar tersebut tidak pernah mengalami pengalaman belajar sebelumnya.

  Pengalaman yang dimaksudkan ialah saat anak duduk di bangku taman kanak- kanak (TK). Alasan lain yang menjadi kendala dalam pembelajaran tematik dan akan dibahas oleh penulis lebih lanjut dalam penelitian ini.

  Laporan diskusi dari kajian kurikulum pendidikan dasar (Depdiknas, 2008: 5- 6) terindikasi bahwa masih banyaknya kekurangan yang berasal dari pihak guru untuk melakukan reformasi pendidikan. Kekurangan-kekurangan yang dimaksud antara lain seperti (1) sebagian besar guru mengalami kesulitan dalam menyusun Rencana Pelakasanaan Pembelajaran (tematik) khususnya guru kelas awal sekolah dasar, (2) guru-guru masih mengalami kesulitan dalam menjabarkan standar

  (4) kemampuan guru di dalam menyusun pengembangan silabus dari kompetensi dasar ke indikator masih kurang, (5) sumber daya manusia guru sekolah dasar kelas awal kurang mumpuni karena kebanyakan berpendidikan diploma II, dan (6) pemahaman tentang pembelajaran terpadu diantara guru sekolah dasar masih kurang. Kekurangan dari guru tersebut yang menjadi landasan penelitian ini untuk dijabarkan lebih lanjut lagi.

  Uraian di atas dimaksudkan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai seberapa tinggi pelaksanaan pembelajaran tematik di kelas bawah. Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan implementasi pembelajaran tematik dilihat dari faktor demografi jumlah siswa dan jumlah rekan yang menggunakan pembelajaran tematik. Penelitian ini tentang,

  “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Sebuah Survei Bagi Guru-Guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ”.

  Penelitian ini untuk meneliti guru-guru kelas I, kelas II, dan kelas III yang sudah menerapkan pembelajaran tematik pada kurikulum 2006 (KTSP) dan guru yang dianggap sebagai ujung tombak dari sebuah reformasi kurikulum. Penelitian ini juga dibatasi untuk meneliti guru-guru sekolah dasar negeri di wilayah kota Yogyakarta. Selain itu, penelitian ini dibatasi untuk dua faktor demografi. Faktor demografi yang pertama adalah jumlah siswa. Faktor demografi yang kedua

C. Rumusan Masalah

  Berdasarkan hal-hal yang diuraikan dari latar belakang masalah maka penelitian ini mengambil rumusan masalah antara lain:

  1. Bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta?

  2. Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa?

  3. Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik?

  D. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Mengetahui bagaimana implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta.

  2. Mengetahui perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa.

  3. Mengetahui perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran

  Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Bagi guru sekolah dasar Hasil penelitian diharapkan mampu membantu guru untuk melaksanakan pembelajaran tematik dengan sebaik-baiknya.

  2. Bagi peneliti Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bekal peneliti saat menjadi guru sekolah dasar.

  3. Bagi mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar Hasil penelitian diharapkan dapat membantu mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar untuk mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar.

  4. Bagi institusi Hasil penelitian diharapkan dapat membantu institusi dalam melihat kendala- kendala yang dialami oleh semua guru sekolah dasar dan mampu memberikan solusi atas kendala yang dihadapi.

F. Definisi Operasional

  Berikut definisi operasional yang digunakan dalam penellitian ini:

  1. Pembelajaran tematik adalah pendekatan yang mengintegrasikan kompetensi pembelajaran menggunakan tema untuk mengaitkan mata pelajaran (disebut juga pembelajaran tematik integratif).

  2. Kurikulum adalah seperangkat rencana yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.

  3. Demografi adalah faktor yang dapat mempengaruhi perilaku atau tingkah laku seseorang.

  4. Reformasi adalah perubahan yang dilakukan oleh suatu negara untuk perbaikan di bidang sosial, politik, dan agama.

  5. Implementasi adalah pelaksanaan dari kurikulum yang telah dibuat.

  6. Guru kelas bawah adalah seseorang yang mengajar kelas I, II, dan III.

  7. Survei adalah kegiatan atau penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan informasi dari sebagian populasi.

  8. Jumlah siswa adalah ukuran kelas dengan jumlah siswa kelompok sedikit dan kelompok banyak.

  9. Jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik adalah ukuran guru yang sama-sama menggunakan pembelajaran tematik dalam satu sekolah. relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. Tinjauan teoritik dibagi dalam sub bab reformasi pendidikan secara global, reformasi pendidikan di Indonesia, reformasi kurikulum di Indonesia, kurikulum 2013 dan kurikulum 2006, pembelajaran tematik, implikasi pembelajaran tematik, karakteristik pembelajaran tematik, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kurikulum.

  Tinjauan teoritik akan membahas sembilan bagian. Bagian pertama reformasi pendidikan secara global. Bagian kedua reformasi pendidikan di Indonesia.

  Bagian ketiga reformasi kurikulum di Indonesia. Bagian keempat kurikulum 2013 dan kurikulum 2006. Bagian kelima pembelajaran terpadu. Bagian keenam pembelajaran tematik. Bagian ketujuh implikasi pembelajaran tematik. Bagian kedelapan karakteristik pembelajaran tematik. Bagian yang terakhir yaitu faktpr- faktor yang mempengaruhi pelaksanaan reformasi pendidikan.

  1. Reformasi pendidikan secara global Reformasi atau perubahan tidak hanya yang kita ketahui dalam bidang politik, melainkan reformasi juga terjadi di dunia pendidikan (Suyanto dan

  Hisyam dalam Sanaky, 2009: 1). Reformasi merupakan kata kunci di dalam kebutuhan yang muncul di masyarakat dalam bidang pendidikan. Abad ke 19-20, siapa saja yang tidak bisa memenuhi persyaratan global atau tidak bisa mengikuti perkembangan jaman akan tersingkir secara sendirinya (Suyanto dan Hisyam dalam Sanaky, 2009: 1). Jalal dan Supriyadi (2010) menyebutkan bahwa reformasi pendidikan digunakan untuk mengembangkan sistem pendidikan agar menjadi lebih baik, lebih mantap, dan lebih maju. Pengembangan sistem pendidikan tersebut digunakan untuk memberdayakan segala potensi yang ada di daerahnya dan partisipasi dari masyarakat. Sistem pendidikan Indonesia perlu beradaptasi dengan perkembangan era globalisasi. Indonesia juga perlu menjaga dan mengembangkan jati dirinya.

  Perubahan dalam bidang pendidikan dilaksanakan sejak tahun 1998. UNESCO telah berpendapat bahwa terdapat dua basis landasan. Dua basis landasan tersebut diantaranya (1) pendidikan harus diletakkan pada empat pilar yaitu belajar mengetahui, belajar melakukan, belajar hidup dalam kebersamaan, dan belajar menjadi diri sendiri, (2) belajar seumur hidup (Mulyasa, 2013:2).

  Sistem pendidikan mengarah pada orientasi penyediaan sumber daya manusia yang unggul dalam interaksi dan pergaulan dan pendidikan global. Manusia diharapkan mampu memberi perubahan pada dunia pendidikan. Manusia yang memiliki toleransi dan inisiatif yang baik untuk melakukan suatu tindakan berkaitan dengan perubahan yang terjadi disebut dengan manusia pro aktif (Sanaky, 2009: 2). Perubahan-perubahan di era global menuntut adanya untuk memperbaiki sistem pendidikan agar terus berkembang menjadi yang lebih baik.

  2. Reformasi pendidikan di Indonesia Indonesia diharapkan mampu memajukan kualitas pendidikan jika dilihat dari kondisi pendidikan secara global. Negara Indonesia sebenarnya kurang siap dalam menghadapi persaingan global. Tenaga ahli atau sering disebut dengan angkatan kerja di bidang pendidikan dianggap kurang memadai. Sebanyak 53% angkatan kerja adalah tidak berpendidikan, berpendidikan dasar sebanyak 34%, berpendidikan menengah sebanyak 11%, dan berpendidikan tinggi sebanyak 11% (Boediono dalam Sanaky, 2009: 82). Data yang didapat mengenai angkatan kerja tersebut, semakin memperjelas bahwa Indonesia kurang mempunyai tenaga kerja yang kurang memadai.

  Kondisi Indonesia yang memasuki era reformasi (Tilaar dalam Sanaky, 2009: 2). Masyarakat Indonesia melakukan perubahan dalam semua aspek termasuk aspek pendidikan. Era reformasi dianggap mengalami beberapa kendala. Kendala pertama terdapat pada pendidikan di Indonesia yaitu kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan. Kesempatan mendapatkan pendidikan masih terbatas pada tingkat sekolah dasar. Beberapa anak yang tidak mampu ingin bersekolah namun karena beberapa faktor menjadi tidak bersekolah. Faktor-faktor tersebut dapat berupa faktor keuangan yang dimiliki keluarga kurang mampu sehingga anak-anaknya tidak memperoleh pendidikan yang layak, faktor kurangnya layanan

  Kendala kedua dalam dunia pendidikan Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan. Rendahnya mutu pendidikan dilihat dari prestasi siswa-siswi Indonesia. Kendala ketiga yaitu rendahnya tingkat relevansi pendidikan terhadap kebutuhan. Banyaknya lulusan sekolah yang mengganggur menjadi penanda akan rendahnya relevansi pendidikan terhadap kebutuhan. Terlihat adanya ketidakserasian antara kebutuhan dunia kerja dan hasil pendidikan. Lulusan pendidikan tinggi tidak menjamin pekerjaan yang mapan. Tidakserasian tersebut disebabkan karena kurikulum yang materinya kurang fungsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja. Kendala keempat yaitu masih rendahnya efisiensi pendidikan nasional jika dilihat dari penyebaran guru yang tidak merata dan juga masalah rendahnya anggaran pendidikan terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

  Era reformasi memiliki tujuan mengembalikan pendidikan pada fungsinya. Fungsi dari tujuan era reformasai yaitu memberdayakan masyarakat untuk menjadi lebih maju dan mapan. Begitu pula dengan pendidikan nasional perlu direformasi untuk mewujudkan visi baru masyarakat Indonesia yaitu masyarakat madani Indonesia (Tilaar dalam Sanaky, 2009: 3). Masyarakat madani sendiri berarti masyarakat yang menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku di masyarakat. Indonesia perlu mewujudkan masyarakat madani dalam hal pendidikannya.

  Masalah-masalah yang telah diuraikan, maka perlu diadakannya reformasi reformasi pendidikan adalah menciptakan manusia yang lebih baik lagi dan menciptakan manusia yang memiliki kualitas yang lebih tinggi lagi.

  3. Reformasi kurikulum di Indonesia Kurikulum merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, dan sekaligus digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan proses belajar mengajar pada berbagai jenis dan tingkat sekolah (Dikti, 2012). Indonesia sendiri sudah sembilan kali melakukan perubahan akan kurikulum pendidikannya.

  Perubahan kurikulum dilakukan dalam rangka menyempurnakan sistem pendidikan karena dinilai kurang dalam kawasan Asia. Trianto (2010: 54

  • –71) menjelaskan bahwa kurikulum berubah dari masa ke masa.

  Awal orde lama, Indonesia menggunakan kurikulum dengan nama rencana

  pelajaran 1947. Kurikulum ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah dengan jumlah mata pelajaran untuk sekolah rakyat atau yang sekarang sering disebut dengan Sekolah Dasar (SD) yaitu 16 bidang studi. Perubahan di masa orde lama terjadi lagi menjadi rencana pelajaran terurai 1952. Silabus mata pelajaran untuk kurikulum 1952 jelas dan seorang guru hanya mengajar satu mata pelajaran (Muzamiroh, 2013: 42). Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Kurikulum 1952 terlihat menonjol pada setiap rencana pelajaran yang harus memperhatikan isi pelajaran yang telah dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari atau kontekstual.

  Setelah masa orde lama kemudian masuk ke orde baru. Masa ini terjadi empat kurikulum 1994. Kurikulum 1968 ditandai dengan pendekatan pengorganisasian materi pelajaran. Pendekatan pengorganisasian materi pelajaran berarti mengelompokkan suatu pelajaran yang berbeda dan dilakukan secara korelasional. Korelasi antar mata pelajaran diharapkan dapat memudahkan siswa untuk belajar, tetapi batas antar mata pelajaran masih terlihat jelas dan juga belum terkait erat dengan keadaan nyata. Kurikulum 1968 tercipta dikarenakan di tahun 1965 terjadi peristiwa Gerakan 30 September yang menandai berakhirnya masa orde lama. Gerakan 30 September banyak memberikan pengaruh di berbagai bidang, terutama di bidang pendidikan. Kurikulum 1968 mempunyai tujuan untuk menciptakan masyarakat sosialis Indonesia (Trianto, 2010: 56). Masa ini lebih ditekankan untuk membentuk manusia Pancasila.

  Kurikulum selanjutnya yaitu kurikulum 1975. Setiap bidang studi mencantumkan tujuan kurikulum, sedangkan pada setiap pokok bahasan mencantumkan tujuan instruksional khusus. Selama proses pembelajaran berlangsung, guru berusaha agar tujuan instruksional khusus dapat tercapai.

  Setelah mata pelajaran atau pokok bahasan selesai, kemudian guru menyajikan metode penyampaian santun bahasa yang sering disebut dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). PPSI dibuat satuan pelajaran yang berupa rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Kurikulum ini menganut pendekatan integrative atau setiap mata pelajaran memiliki arti dan peranan yang dapat menunjang akan tercapainya tujuan yang lebih integratif. Kurikulum 1975

  Berakhirnya kurikulum 1975, kemudian masuk ke kurikulum 1984 atau sering disebut sebagai kurikulum keterampilan proses. Kurikulum 1984 mengusung process skill approach, yang sejalan dengan tuntutan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1983. Pendidikan harus mencetak siswa yang kreatif, bermutu, dan efisien kerja. Process skill approach atau pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktivitas, dan kreativitas siswa dalam memperoleh pengetahuan, nilai, dan sikap, serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Mulyasa, 2013: 99) . Kurikulum ini memposisikan siswa sebagai subjek belajar (Trianto, 2010: 60). Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1975. Perubahan tersebut didasarkan bahwa kurikulum merupakan suatu wadah atau tempat proses belajar mengajar berlangsung secara dinamis. Ciri dari kurikulum ini yaitu berorientasi pada tujuan instruksional. Menggunakan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), yaitu pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif baik dalam hal fisik, mental, maupun intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal (dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor).

  Kurikulum yang terakhir pada masa orde baru yaitu kurikulum 1994. Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan dari kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem dalam satu tahun menjadi tiga tahap. Perubahan tersebut diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran lebih banyak.

  Setelah masa orde baru berakhir lalu berlanjut ke masa reformasi. Pada masa ini terjadi tiga kali pergantian kurikulum, yakni kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan kurikulum 2013. Depdiknas (2008) menjelaskan bahwa kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum ini memfokuskan pemerolehan kompetensi tertentu yang dilakukan oleh siswa.

  Kurikulum berbasis kompetensi diciptakan sebagai jawaban yang berasal dari berbagai kritikan masyarakat terhadap kurikulum 1994. Secara yuridis, kurikulum ini tercipta sebagai respon dari adanya tuntunan reformasi. Tuntutan tersebut diantaranya Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah diubah menjadi Undang-undang No. 32 tahun 2004, dan Undang-undang No. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom yang telah diubah dengan Undang-undang No. 33 tahun 2004, dan Tap MPR No. IV/MPR/1999 tentang arah kebijakan pendidikan nasional (Trianto, 2010: 63

  • –64). Tabel 2.1 berikut menunjukkan keunggulan KBK apabila

  Tabel 2.1

  Keunggulan KBK dengan Kurikulum 1994 Subjek Kurikulum 1994 KBK

  Utama Penguasaan materi Hasil belajar dan kompetensi Paradigma pembelajaran Tidak terdapat paradigma pembelajaran Versi UNESCO: belajar mengetahui, belajar untuk bertindak, belajar hidup bersama, dan belajar menjadi diri sendiri

  Silabus Disamakan dengan sekolah lain Silabus menjadi tanggung jawab guru Jumlah jam pelajaran 40 jam per minggu 32 jam per minggu, namun jumlah mata pelajaran belum bisa dikurangi Metode pembelajaran Keterampilan proses Tercipta metode pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) dan CTL (Contextual Teaching Learning)

  Sistem penilaian Terfokus pada aspek kognitif Pemaduan keseimbangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan menekankan nilai yang berbasis kelas pada penilaiannya

  Sumber: Trianto (2010:64)

Tabel 2.1 menunjukkan keunggulan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi

  (KBK) dengan kurikulum 1994. Terlihat bahwa KBK lebih memadukan keseimbangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta lebih menekankan metode Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM). Kurikulum ini hanya berlaku sampai tahun 2006.

  Berakhirnya kurikulum 2004 kemudian digantikan dengan kurikulum 2006 atau yang sering dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

  KTSP merupakan kurikulum operasional yang dikembangkan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan karakteristik dan perbedaan daerah (desentralistik). Salah satu ciri-ciri dalam kurikulum ini yaitu berorientasi pada hasil belajar (learning out comes) dan keberagaman, yang menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, dan salah satu kurikulum yang penilaiannya menekankan proses dan hasil belajar dalam upaya penugasaan atau pencapaian. penegas KBK. Kurikulum 2006 dikembangkan sebagai upaya untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. Kurikulum ini bertujuan untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui kewenangan kepada lembaga pendidikan. Sistem yang digunakan oleh masing-masing sekolah dasar adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

  Kurikulum terakhir yaitu kurikulum 2013. Penelitian ini berlangsung pada saat diterapkannya kurikulum 2013 di Indonesia dan belum sepenuhnya digunakan di sekolah-sekolah. Belum diterapkannya kurikulum 2013 karena kurikulum 2013 ini termasuk kurikulum yang sulit untuk diterapkan.

  Pengembangan kurikulum 2013 merupakan bagian dari strategi meningkatkan pencapaian pendidikan (Majid, 2014). Terdapat pro dan kontra terhadap kurikulum ini. Kurikulum ini menggunakan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik berarti antar mata pelajaran dinaungi oleh suatu tema. Perubahan- perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia dapat dilihat pada tabel 2.2.

  Tabel 2.2

  3. Menekankan pada efektivitas dalam

hal daya dan waktu

  3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat menerima materi Kurikulum ini dibuat sebagai penyempurnaan dari kurikulum 1984.

  2. Menggunakan sistem catur wulan yaitu pembagian dalam satu tahun menjadi tiga tahap

  1. Dilaksanakan sesuai dengan Undang- Undang no 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional

  Kurikulkum 1994

  5. Melibatkan siswa secara aktif dalam hal fisik, mental, intelektual, dan emosional Kurikulum ini menganut pendekatan integrative. Kuikulum 1984 merupakan kurikulum penyempurnaan dari kurikulum 1975.

  4. Menggunakan cara belajar siswa aktif (CBSA)

  

3. Berorientasi pada tujuan

instruksional

  2. Kurikulum merupakan suatu wadah atau tempat proses belajar mengajar yang berlangsung secara dinamis

  

1. Disebut sebagai kurikulum

keterampilan proses

  Kurikulum 1984 (keterampilan proses)

  5. Menganut pendekatan integrative atau setiap mata pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang akan tercapainya tujuan yang lebih integrative Kurikulum 1975 lebih menekankan efektivitas daya dan waktu. Beroirentasi pada suatu tujuan yang hendak dicapai.

  2. Setelah mata pelajaran atau pokok bahasan selesai, guru lalu menyajikan metode penyampaian santun bahasa

  Reformasi Pendidikan di Indonesia Masa Nama Kurikulum Keunggulan Perubahan

  1. Setiap bidang studi mencamtumkan tujuan kurikulum, sedangkan pada pokok bahasan dicantumkan tujuan

instruksional khusus

  Kurikulum 1975

  2. Batas antar mata pelajaran masih terlihat jelas dan belum terikat

dengan keadaan nyata

Ditandai dengan pendekatan pengorganisasian materi.

  1. Mengelompokkan suatu pelajaran yang berbeda dan dilakukan secara korelasi

  Orde baru Kurikulum 1968

  Mulai mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional.

  

2. Setiap rencana pelajaran harus

memperhatikan isi pelajaran yang telah dihubungkan dengan kehidupan

sehari-hari (kontekstual).

  1. Sudah mengarah pada suatu sistem

pendidikan nasional

  2. Jumlah mata pelajaran untuk tiap

tingkatan berbeda-beda

Kurikulum pertama yang digunakan di Indonesia Rencana pelajaran teruari 1952

  1. Menggunakan bahasa Indonesia

sebagai bahasa pengantar

  Orde lama Rencana pelajaran 1947

  Mengubah sistem semester ke sistem catur wulan.

  Masa Nama Kurikulum Keunggulan Perubahan Masa reformasi

  1. Menggunakan pembelajaran tematik

  Setiap kuikulum memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Setiap perubahan yang dilakukan adalah penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya.

Tabel 2.2 menunjukkan adanya reformasi pendidikan di Indonesia. Reformasi terjadi pada perubahan kurikulum dari masa orde lama hingga masa reformasi.

  Sumber Majid (2014)

  4. Perpindahan antar materi terjadi secara halus Kurikulum ini belum sepenuhnya diterapkan di sekolah karena kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang susah untuk diterapkan. Kurikulum 2013 menggunakan pembelajaran tematik dan ada beberapa mata pelajaran yang dihapus.

  3. Ada beberapa mata pelajaran yang dihapus

  2. Mengaitkan antar mata pelajaran yang satu dengan yang lain

menggunakan tema

  Kurikulum 2013

  Kurikulum berbasis kompetensi (KBK)

  4. Menekankan pada ketercapaian

kompetensi siswa

Kurikullum ini menekankan pada hasil yang dicapai dan menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa.

  3. Berorientasi pada hasil belajar (learning out comes) dan keberagaman

  2. Memperhatikan karakteristik dan perbedaan daerah (desentralistik)

  1. Merupakan kurikulum operasional yang dikembangkan oleh satuan pendidikan

  2. Siswa menemukan sendiri hal-hal yang berkaitan dengan materi

pelajaran (inkuiri)

Siswa diminta terlibat secara aktif dan menemukan sendiri materi pelajaran yang belum dijelaskan oleh guru Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)

  1. Siswa terlibat secara aktif

  4. Kurikulum 2013 dan kurikulum 2006 Kurikulum 2013 berbeda dengan kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Mulyasa (2013: 169) menjelaskan beberapa perbedaan kurikulum 2006 dengan kurikulum 2013. Tabel 2.3 menunjukkan perbedaan esensial kurikulum 2006 dengan kurikulum 2013.

  Tabel 2.3

  Perbedaan Esensial Kurikulum 2006 dengan Kurikulum 2013

Kurikulum 2006 Kurikulum 2013

  

Mata pelajaran tertentu mendukung kompetensi Tiap mata pelajaran mendukung semua

tertentu kompetensi yang meliputi kognitif, afektif dan

psikomotorik

Mata pelajaran disusun secara sendiri dan Mata pelajaran disusun saling berkaitan antara

mempunyai kompetensi sendiri yang satu dengan yang lainnya dan juga

mempunyai kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas.

Bahasa Indonesiasejajar dengan mata pelajaran yang Bahasa Indonesia sebagai penghubung mata

lain pelajaran lain.

  

Setiap mata pelajaran diajarakan dengan Semua mata pelajaran dilakukan dengan

menggunakan pendekatan yang berbeda-beda pendekatan yang sama

Tiap jenis konten pembelajaran diajarkan terpisah Bermacam-macam jenis konten pembelajaran

diajarkan terpadu antara yang satu dengan yang lainnya Konten ilmu pengetahuan diitegrasikan dan dijadikan penggerak pembelajaran yang lainnya. Tematik untuk kelas bawah (I. II. dan III) Tematik Integratif untukkelas I, II,II dan IV Sumber: Mulyasa (2013: 169)

Tabel 2.4 menunjukkan bahwa kurikulum 2013 lebih banyak memiliki keunggulan dibandingkan kurikulum 2006. Kurikulum 2013 menekankan pada

  kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Kurikulum 2006 menekankan pada pembelajaran tematik yang diajarkan pada kelas I, II, dan III, sedangkan pada kurikulum 2013 diajarkan dari kelas I hingga kelas VI.

  Mulyasa (2013: 163

  • –164) mengatakan bahwa kurikulum 2013 diharapkan dapat menghasilkan manusia yang produktif, kreatif, dan inovatif. Perubahan kurikulum dianalisis oleh berbagai pihak dan dilihat untuk menerapkan kurikulum berbasis kompetensi dan berbasis karakter. Kurikulum 2013 menekankan pada
sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tuntunan teknologi. Orientasi kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge) (Majid, 2014).

  Kurikulum 2013 memiliki tiga keunggulan. Pertama kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah (kontekstual). Pendekatan yang bersifat alamiah (konstektual) disebabkan fokus dari kurikulum ini terdapat pada pengembangan berbagai kompetensi peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing. Kurikulum 2013 lebih menekankan pada siswa, karena siswa merupakan subjek belajar yang secara aktif menggali dan mengalami proses belajar bukan karena transfer pengetahuan.

  Keunggulan kedua yaitu kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis karakter dan kompetensi. Karakter dan kompetensi ini mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lainnya. Kemampuan yang berkembang tidak hanya kemampuan dalam bidang akademik tetapi kemampuan bersosialisasi siswa dapat berkembang. Keuntungan yang terakhir adalah pada bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi terutama yang berkaitan dengan keterampilan. Keunggulan-keunggulan tersebut menjelaskan bahwa kurikulum 2013 mengembangkan kemampuan siswa bukan hanya dalam bidang akademik tetapi juga dalam hal sosialisasi dengan masyarakat.

  Mulyasa (2013: 64-65) mengatakan terdapat tiga landasan pengembangan Kurikulum 2013. Landasan-landasan tersebut yaitu landasan filosofis, landasan yuridis, dan landasan konsteptual seperti yang dijelaskan pada tabel 2.4.

  Tabel 2.4

   Landasan Pengembangan Kurikulum 2013

Landasan Filosofis Landasan Yuridis Landasan Konseptual

  a. Filosofis Pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan.

  b. Filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat.

  a. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014 Sektor Pendidikan, tentang

perubahan metodologi pembelajaran

dan penataan kurikulum.

  b. Peraturan Pemerintah (PP) No. 19

Tahun 2005 tentang standar nasional

pendidikan.

  c. Instruktur Presiden (INPRES) No. 1 Tahun 2010, tentang percepatan

pelaksanaan prioritas pembangunan

nasional, penyempurnaan kurikulum

dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya

bangsa untuk membentuk daya saing

dan karakter bangsa.

  a. Relevansi pendidikan (link and match).

  b. Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter.

  c. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning ).

  d. Pembelajaran aktif (Student Active Learning ).

  e. Penilaian yang valid, utuh, dan menyeluruh. Sumber: Mulyasa (2013:64-65)

Tabel 2.4 menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum 2013 dilaksanakan berdasar landasan pada tabel. Landasan-landasan tersebut tidak bersumber dari

  peraturan pemerintah saja namun juga bersumber pada nilai-nilai luhur yang berlaku di masyarakat. Landasan lain terdapat pada teori para ahli dalam bidang pendidikan. Pengembangan kurikulum 2013 mempunyai tujuan yang baik untuk sistem pendidikan di Indonesia agar memiliki arah yang jelas dalam usahanya mendidik siswa.

  Kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebelum dicanangkannya kurikulum 2013. Perubahan dan pengembangan kurikulum harus satuan pendidikan (KTSP) dapat diartikan sebagai sebuah pandangan baru dalam pengembangan kurikulum. Pandangan baru tersebut memberikan otonomi kepada satuan pendidikan untuk melibatkan masyarakat dalam pengefektifan belajar mengajar di sekolah.

  Trianto (2010: 67) mengatakan ada tujuh prinsip dalam pengembangan KTSP, antara lain (1) berpusat pada potensi, pengembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dengan lingkungannya; (2) beragam dan terpadu; (3) tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (4) berkaitan dengan kebutuhan kehidupan; (5) menyeluruh dan berkesinambungan; (6) long life education; dan (7) seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Ketujuh prinsip dalam pengembangan KTSP tersebut digunakan sebagai landasan penerapan kurikulum di Indonesia.

  5. Pembelajaran terpadu Pembelajaran terpadu akan membahas tiga pokok bahasan. Pokok bahasan yang pertama yaitu pengertian pembelajaran terpadu. Pokok bahasan yang kedua yaitu pengertian pembelajaran terpadu. Pokok bahasan yang terakhir yaitu model- model pembelajaran terpadu.

  a. Pengertian pembelajaran terpadu Prastowo (2013: 106) mengartikan pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek, baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Tujuan dari pembelajaran menjadi bermakna. Sukayati (dalam Prastowo, 2013: 106) menjelaskan bahwa bermakna yang dimaksud adalah siswa dapat memahami konsep-konsep yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan pengelaman nyata. Pemahaman konsep tersebut menghubungkan antara konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran.

  Trianto (2013: 147-148) menjelaskan bahwa pembelajaran terpadu merupakan model pembelajaran untuk implementasi kurikulum terpadu (integrated curriculum approach). Strategi pembelajaran pendekatan kurikulum terpadu memiliki tujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan maupun bermakna bagi siswa. Pembelajaran terpadu memiliki fungsi sebagai tempat beberapa pokok bahasan dan beberapa mata pelajaran yang mempunyai keterpaduan pemahaman. Kurikulum terpadu yang dikemukakan oleh Prastowo (2013: 107).

  “Istilah lain yang sering digunakan untuk menyebut kurikulum terpadu yaitu kurikulum interdisipliner. Kurikulum interdisipliner didefinisikan sebagai organisasi kurikulum yang melintasi batas-batas mata pelajaran untuk berfokus pada permasalahan kehidupan yang komprehensif atau studi luas yang menggabungkan berbagai segmen kurikulum ke dalam asosiasi yang bermakna

  ”. Humphreys (dalam Indrawati, 2009: 17) mengartikan pembelajaran terpadu adalah studi dimana para siswa dapat mengeksplorasi pengetahuan mereka dalam pelajaran yang dipusatkan pada suatu masalah atau topik tertentu, misalnya suatu masalah diangkat menjadi suatu topik dan semua mata pelajaran dirancang untuk mengacu pada topik tertentu. Kurikulum semacam ini dilaksanakan melalui pelajaran unit dan setiap unit memiliki tujuan yang mengandung makna bagi siswa. Setiap tujuan yang mengandung makna dituangkan dalam bentuk masalah. Apapun yang guru jelaskan di kelas sama dengan kejadian di lingkungan siswa. Anak belajar untuk aktif mencari pengetahuannya sendiri.

  b. Ciri-ciri pembelajaran terpadu Karli (dalam Indrawati, 2009: 22) menjelaskan ada beberapa ciri-ciri pembelajaran terpadu, yaitu: (1) Holistik berarti suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi; (2) Bermakna berarti keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan mampu menerapkan perolehan belajar untuk memecahkan masalah-masalah nyata di dalam kehidupan; (3) Aktif berarti pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan diskoveri-inkuiri.

  Peserta didik terlibat secara aktif dan memiliki kemampuan untuk membangun pengetahuan.

  c. Model-model pembelajaran terpadu Fogarty (dalam Prastowo, 2013: 109-117) menjelaskan ada sepuluh model pembelajaran terpadu, antara lain: pertama, model penggalan (fragmented). Model

  Kedua, model keterhubungan (connected). Hal yang mendasari model keterhubungan adalah butir-butir pembelajaran dapat dipadukan oleh induk mata pelajaran. Trianto (2013: 111) menjelaskan keunggulan model keterhubungan ialah konsep-konsep utama saling terhubung, mengarah pada pengulangan (review), rekonseptualisasi, dan asimilasi gagasan dalam suatu disiplin ilmu. Kelemahan dari model ini ialah disiplin ilmu yang tidak berkaitan dan konten tetapberfokus pada satu disiplin.

  Ketiga, model sarang (nested). Model sarang adalah keterpaduan dari berbagai bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran. Trianto (2012: 45) menyebutkan ada tiga tahap yang dilalui dalam setiap pembelajaran terpadu yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Keterampilan sosial, berpikir, dan konten (contents skill) dicapai dalam satu mata pelajaran (subject area). Kelebihan model sarang adalah dalam waktu bersamaan dapat memberi perhatian pada berbagai mata pelajaran yang berbeda dalam waktu bersamaan. Kekurangan dari model ini adalah siswa menjadi bingung dan kehilangan arah mengenai konsep-konsep utama dari suatu kegiatan atau pelajaran.

  Keempat, model urutan atau rangkaian (sequenced). Model urutan atau rangkaian merupakan pemaduan dari topik-topik antar mata pelajaran yang berbeda secara paralel. Topik-topik antar mata pelajaran dipadukan pembelajarannya pada alokasi yang sama. Kelebihan model urutan ialah mampu yang tinggi. Guru-guru lebih sedikit memiliki otonomi dalam mengurutkan (merancang) kurikulum.

  Kelima, model bagian (shared). Model bagian merupakan bentuk pemaduan pembelajaran akibat adanya kelebihan konsep atau ide pada dua mata pelajaran atau lebih. Kelebihan model bagian adalah adanya pengalaman instruksional bersama dan dengan dua orang guru di dalam satu tim akan lebih mudah berkolaborasi (Trianto, 2013: 111). Kelemahan model bagian adalah membutuhkan banyak waktu, komitmen, dan kompromi.

  Keenam, model jaringan laba-laba (webbed). Model jaringan laba-laba ialah model pemaduan yang paling populer. Trianto (2012: 21) mengartikan model jaring laba-laba ialah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Pemaduan dilakukan menggunakan pembelajaran tematik. Tema dapat digunakan untuk mengikat kegiatan pembelajaran baik dalam mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Kelebihan model jaringan laba-laba ialah dapat memberikan motivasi siswa dan membantu siswa melihat hubungan antar gagasan. Kelemahannya ialah tema yang digunakan harus dipilih secara selektif dan relevan dengan konten.

  Ketujuh, model galur (threaded). Model ini merupakan model pemaduan bentuk keterampilan. Kelebihan dari model galur adalah siswa mampu mempelajari cara belajar dan memfasilitasi trnsfer pertukaran selanjutnya. Kelemahan dari model galur tidak ada. memiliki arti yang sama sebagai sebuah topik tertentu. Kelebihan model keterpaduan adalah mendorong siswa untuk melihat hubungan diantara disiplin- disiplin ilmu. Kelemahan dari model ini adalah membutuhkan tim antar bidang studi yang memiliki pereencanaan dan waktu pengajaran yang sama.

  Kesembilan, model celupan (immersed). Model ini dirancang untuk dapat membantu siswa dalam hal menyaring dan memadukan berbagai pengalaman maupun pengetahuan. Siswa memadukan apa yang sudah dipelajarinya dengan cara memandang seluruh pembelajaran melalui bidang yang disukai. Kelebihan model celupan adalah keterpaduan berlangsung di dalam siswa itu sendiri. Kelemahan model celupan adalah dapat mempersempit fokus dari siswa.

  Kesepuluh, model jaringan (networked). Model jaringan merupakan pemaduan pembelajaran yang mengandaikan kemungkinan perubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, dan tuntutan bentuk keterapilan baru. Siswa melakukan proses pemaduan topik yang dipelajari melalui sumber-sumber ahli dan sumber daya yang ada. Kelebihan dari model ini adalah pembelajaran bersifat proaktif, sedangkan kelemahannya adalah dapat memecah perhatian siswa dan upaya yang dilakukan menjadi tidak efektif.

  Prabowo (dalam Trianto, 2013: 112-113) menjelaskan bahwa dari kesepuluh model pembelajaran tersebut yang layak untuk dikembangkan di sekolah dasar yaitu model keterhubungan (connected, jaring laba-laba (webbed), keterpaduan

  

(integrated). Penelitian ini menggunakan pembelajaran tematik yang merupakan sebagai bentuk kegiatan pembelajaran yang terstruktur dengan program satuan pembelajaran untuk satu pokok bahasan.

  6. Pembelajaran tematik Pembelajaran tematik membahas dua bagian inti. Bagian inti yang pertama adalah pengertian pembelajaran tematik. Bagian inti yang kedua adalah keuntungan dan kelemahan pembelajaran tematik.

  a. Pengertian pembelajaran tematik Model pembelajaran tematik menurut Rusman (2010: 249) adalah salah satu model dalam pembelajaran terpadu (Intregated Instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik. Tematik diberikan dengan maksud menyatukan konten kurikulum dalam unit-unit atau satuan-satuan yang utuh dan membuat pembelajaran terpadu, bermakna, dan mudah dipahami oleh siswa SD/MI. Trianto (2010: 78) menyebutkan pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Pembahasan tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran.

  Depdiknas (2008: 6) menjelaskan bahwa pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil menghasilkan sesuatu (learning by doing). Penerapan pembelajaran tematik dapat memberikan keterhubungan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya dalam pembicaraan. Tema tersebut memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Depdiknas (2008: 12) mengatakan bahwa rambu-rambu pembelajaran tematik antara lain: (1) Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan; (2) Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester; (3) Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara tersendiri; (4) Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalu tema lain maupun disajikan secara tersendiri; (5)Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral; (6) Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan dan daerah setempat.

  Rambu-rambu pembelajaran tersebut yang menjadi landasan dalam pembelajaran tematik. Guru yang akan mengajarkan pembelajaran tematik diharapkan dapat mempertimbangkan rambu-rambu pembelajaran. Pertimbangan yang dilakukan guru akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih bervariasi.

  b. Keuntungan dan kelemahan pembelajaran tematik Rusman (2010: 258) mengemukakan beberapa manfaat dari penggunaan pembelajaran tematik, antara lain: pertama, penggabungan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkam dihilangkan. Kedua, siswa dapat terpecah-pecah karena siswa dilengkapi dengan pengalaman belajar yang lebih terpadu sehingga akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang lebih terpadu juga. Keempat, memberikan penerapan-penerapan dari dunia nyata, sehingga dapat mempertinggi kesempatan transfer belajar (transfer of learning).

  Kelima, adanya pemaduan antarmata pelajaran, maka penugasan materi pembelajaran akan semakin baik dan meningkat. Manfaat-manfaat tersebut yang dianggap sebagai keuntungan dalam menggunakan pembelajaran tematik.

Mas’ud (dalam Zhara, 2011: 22) menjelaskan bahwa ada empat keunggulan dari pembelajaran tematik, yaitu: pertama, mendorong guru untuk

  mengembangkan kreativitas. Guru dituntut untuk selalu memiliki wawasan dan kreativitas yang tinggi. Serta guru didorong untuk memahami keterkaitan tentang pokok bahasan yang satu dengan pokok bahasan yang lain. Kedua, memberikan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan kondisi pembelajaran yang utuh, dinamis dan bermakna. Pembelajaran tematik memberikan kesempatan terjadinya pengembangan ilmu pengetahuan. Ketiga, mempermudah dan memotivasi siswa untuk mengenal, menerima, menyerap dan memehami keterkaitan antar konsep, pengetahuan dan nilai yang terdapat dalam pokok bahasan. Menggunakan pembelajaran tematik secara psikologis, siswa diajak untuk berpikir luas dan mendalam untuk meangkap dan memahami hubungan konseptual yang disajikan oleh guru. Keempat, menghemat waktu, tenaga dan sarana serta biaya pembelajaran. Adanya proses penyatuan sejumlah unsur, tujuan, materi serta lebih untuk pembelajaran tematik. Keunggulan tersebut membuat guru tertarik untuk menerapkannya saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

  Kesimpulan yang dapat diambil yaitu pembelajaran tematik memiliki keunggulan dari pembelajaran lain yang terletak pada kegiatan selama proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan yang dimaksud yaitu guru dituntut untuk mengembangkan kegiatan belajar mengajar agar lebih bermakna. Guru yang menggunakan pembelajaran tematik akan merasa terbantu dengan pembelajaran tematik. Keuntungan dari pembelajaran tematik itulah yang mendasari banyak guru beralih ke pembelajaran tematik.

  Pembelajaran termatik memiliki keuntungan, namun adapula kelemahan dari pembelajaran tematik. Indrawati (2009: 24) menjelaskan bahwa kelemahan atau keterbatasan pembelajaran tematik terletak pada pelaksanaannya, yaitu pada perancangan dan pelaksanaan evaluasi. Guru dituntut untuk selalu melakukan evaluasi pada kegiatan belajar yang telah dilakukan. Evaluasi yang dilakukan oleh guru akan mengurangi banyak waktu yang dimiliki oleh guru.

  Ramadhan dalam Zahra (2001: 24) mengemukakan senada dengan Indrawati bahwa kelemahan pembelajaran tematik terletak pada pelaksanaannya. Hal tersebut terjadi karena guru belum mengerti prosedur pelaksanaan pembelajaran tematik. Ketidakpahaman guru mengenai prosedur pelaksanaan tematik membuat guru bingung untuk memilih metode yang akan digunakan.

  Melihat penjelasan yang disampaikan, dapat disimpulkan bahwa membuat guru menjadi bingung dalam menentukan metode pembelajaran yang akan dipakai mengajar. Kelemahan lain adalah guru harus melakukan evaluasi pembelajaran yang dapat menghabiskan waktu guru.

  7. Implikasi pembelajaran tematik Trianto (2011: 173) menjelaskan bahwa pembelajaran tematik menggabungkan berbagai disiplin ilmu. Pembelajaran tematik tidak mudah untuk dilaksanakan sebagai suatu model pembelajaran inovasi. Pembelajaran- pembelajaran tematik yang diterapkan di kelas-kelas memberikan beberapa implikasi. Implikasi-implikasi yang dimaksud memiliki dua sisi. Sisi yang pertama memberi keuntungan dan yang sisi yang kedua memberikan konsekuensi- konsekuensi yang harus ditanggung oleh orang yang menerapkannya.

  Depdiknas (2008: 11

  • –12) menyebutkan implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi, antara lain: pertama, implikasi bagi guru. Implikasi bagi guru berarti pembelajaran tematik membutuhkan guru yang kreatif. Guru perlu kreatif dalam menyiapkan kegiatan atau pengalaman belajar bagi anak. Guru dapat memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.

  Kedua, implikasi bagi siswa. Siswa siap untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya. Kegiatan yang dilakukan siswa memungkinkan siswa untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok bervariasi secara aktif, misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah.

  Ketiga, implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media. Implikasi ini meliputi 4 hal. Antara lain: (a) pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun secara kelompok. Penekanan tersebut dimaksudkan untuk aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistic dan otentik. Pelaksanaan pembelajaran tematik memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar; (b) pembelajaran tematik perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didesain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by

  

design) , maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat

  dimanfaatkan (by utilization); (c) pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervasriasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak; (d) penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini. Masing-masing mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi.

  Keempat, implikasi terhadap pengaturan ruangan. Pengaturan ruang tersebut meliputi: (a) ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan; (b) susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung; (c) peserta didik tidak pembelajaran tematik perlu melakukan pengaturan ruang agar suasana belajar menyenangkan.

  Kelima, implikasi terhadap pemilihan metode. Pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode.

  Pembelajaran yang perlu disipakan misalnya: percobaan, bermain peran, tanya jawab, demonstrasi, bercakap-cakap. Implikasi ini sesuai dengan karakterisitik pembelajaran tematik.

  8. Karakteristik pembelajaran tematik Depdiknas (2008: 9) menjelaskan bahwa pembelajaran tematik memiliki karakteristik. Antara lain: pertama, berpusat pada siswa (student centered).

  Karakteristik ini sesuai dengan pendekatan belajar modern. Pendekatan belajar modern lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan- kemudahan kepada siswa dalam melakukan aktivitas belajar.

  Kedua, memberikan pengalaman langsung. Pengalaman langsung selama

  kegaiatan belajar mengajar dapat didapatkan jika guru menerapkan pembelajaran tematik. Siswa diajak mengetahui pelajaran secara nyata sebagai dasar dalam memahami hal-hal abstrak. Karakteristik ini membantu siswa untuk memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru.

  Ketiga, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas. Pembelajaran diarahkan untuk membahas tema yang paling dekat dengan kehidupan nyata dari siswa.

  Antar mata pelajaran diapyungi oleh satu tema tertentu sehingga antar mata

  Keempat, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran. Penyajian konsep dari berbagai mata pelajaran ke dalam satu proses pembelajaran. Penyajian konsep dirancang dalam suatu tema untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran sekaligus. Proses pembelajaran dapat menjadikan siswa memahami konsep-konsep yang diberikan guru secara utuh.

  Kelima, pembelajaran bersifat fleksibel. Fleksibel berarti pembelajaran tematik bersifat luwes. Pembelajaran tematik dikatakan fleksibel karena guru dapat mengaitkan bahan ajar antar mata pelajaran dan dapat mengaitkannya dengan kehidupan siswa yang nyata. Guru memiliki tugas untuk memberitahu siswa tentang berita maupun kejadian yang sedang terjadi di masyarakat.

  Keenam, hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Materi dan penilaian yang digunakan sesuai dengan kebutuhan siswa. Penilaian yang biasa digunakan ialah penilaian unjuk kerja. Siswa diberi kesempatan dalam mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhan dari siswa.

  Ketujuh, prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa. Kegiatan belajar mengajar yang dapat menarik siswa ialah pembelajaran yang menggunakan permainan. Permainan dapat berupa bermain peran, simulasi, bermain tebak-tebakan, menyanyi, menari, dan lain sebagainya. Pendekatan yang digunakan ialah pembelajaran kelompok kooperatif seperti jigsaw, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan lain sebagainya. Keseluruhan konsep

  Ketujuh karakteristik tersebut yang digunakan sebagai acuan dalam penelitian ini. Karakteristik yang ada dikembangkan menjadi beberapa pernyataan.

  Pernyataan yang telah disusun masuk dalam kuesioner implementasi pembelajaran tematik.

  9. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan reformasi pendidikan Perubahan sebagai suatu upaya perbaikan pada bidang sosial, politik, dan agama. Perubahan itulah yang disebut dengan reformasi. Reformasi bukan hanya dilakukan untuk bidang sosial, politik, dan agama, melainkan dapat dilakukan untuk bidang pendidikan. Perbaikan pada bidang pendidikan sudah dilakukan oleh pemerintah demi terciptanya generasi penerus yang berkualitas.

  Terdapat beberapa faktor dianggap masih mempengaruhi pelaksanaan reformasi. Salah satu faktor yang dianggap mempengaruhi implementasi pelaksanaan perubahan adalah faktor demografi. Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) (Depdiknas, 2008: 309) menjelaskan demografi merupakan ilmu yang memberikan gambaran statistik tentang suatu bangsa dari sudut sosial.

  Chairunniza (2012: 10) menjelaskan beberapa faktor demografi yang mempengaruhi pembelajaran tematik antara lain usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status kepegawaian, status perkawinan, masa kerja dan pelatihan yang diikuti. Wexley (dalam Chairunniza, 2012: 11) menjelaskan bahwa seseorang yang berusia 20-30 tahun mempunyai motivasi kerja yang relatif rendah dibandingkan dengan pekerja yang memiliki usia yang lebih tua. Seseorang yang

  Faktor demografi yang kedua ialah jenis kelamin. Jenis kelamin dibagi dalam menjadi perempuan dan laki-laki. Ilyas dan Syain (dalam Chairunniza, 2012: 11) menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan produktivitas kerja antara wanita maupun laki-laki. Jenis kelamin diartikan sebagai kelompok yang terbentuk dalam suatu spesies yang dijadikan sebagai sarana dalam suatu spesies yang dijadikan sebagai sarana dalam proses reproduksi seksual untuk mempertahankan kelangsungan spesies tersebut. Perubahan reformasi dimungkinkan dapat terjadi karena adanya jenis kelamin yang berbeda.

  Faktor demografi yang ketiga adalah tingkat pendidikan. Sihombing (dalam Chairunniza 2012: 12) mengartikan tingkat pendidikan merupakan suatu proses jangka panjang yang menggunakan aturan yang sistematis dimana pekerja mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum. Latar belakang pendidikan dapat dipenuhi dengan membandingkan kemampuan dapat atau tidaknya seorang menempuh pendidikan yang tinggi.

  Faktor demografi yang keempat adalah status kepegawaian. Status kepegawaian dibagi menjadi dua macam. Undang-undang ketenagakerjaanlah yang membagi status kepegawaian menjadi dua yaitu pegawai terikat atau pegawai kontrak. Pegawai terikat adalah seseorang yang bekerja dalam suatu instansi dengan perjanjian kerja yang tentu. Pegawai kontrak adalah seseorang yang bekerja dalam suatu instansi dengan perjanjian kerja yang tidak tentu.

  Faktor yang kelima adalah masa kerja. Masa kerja diibaratkan dengan kejadian-kejadian yang telah dilaluinya selama mengajar. Pengalaman seseorang dalam bekerja tergantung seberapa lama orang tersebut telah bekerja di suatu tempat.

  Faktor keenam yaitu jumlah jam training. Pelatihan yang dilakukan adalah proses mengajarkan pengetahuan dan kemampuan tertentu dan sikap agar guru semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik (Chairunizza, 2012: 14). Pelatihan yang memerlukan waktu tersebut yang disebut dengan pelatihan training. Sumantri (dalam Chairunniza, 2012: 14) mengartikan training merupakan proses pendidikan dalam jangka pendek yang menggunakan prosedur yang telah diatur. Guru yang sedang menjalani masa pelatihan akan mempelajari pengetahuan dan keterampilan tertentu.

  Cruickshank (2014) memaparkan terdapat faktor yang mempengaruhi cara pengajaran di kelas. Faktor tersebut antara lain gender atau jenis kelamin, usia dan pengalaman, teknologi, kepribadian, keyakinan, gaya mengajar, cara diajar, pengetahuan, persiapan mengajar, perbedaan karakteristik siswa terhadap pengajaran, kelas, rekan guru, ketersediaan materi, ketersediaan waktu, tujuan, dan kebijakan nasional. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jumlah siswa dan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

  Cruickshank (2014: 14) menjelaskan bahwa jumlah siswa yang diajar akan berpengaruh terhadap cara guru mengajar. Holloway (Cruickshank, 2014: 14) menjelaskan bahwa penelitian-penelitian menemukan bahwa guru yang mengajar individu dan kelompok-kelompok kecil. Kelas dengan jumlah siswa yang kecil lebih memberikan konstribusi dalam peningkatan kemampuan di bidang akademis. Kelas dengan jumlah siswa yang banyak memberikan peluang kepada siswanya untuk tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh guru. Jadi jumlah siswa dapat mempengaruhi atau tidaknya pelaksanaan pembelajaran tematik akan dibahas dalam penelitian ini.

  Holloway (dalam Cruickhsank, 2014: 14) menjelaskan bahwa di sisi lain terdapat penelitian yang berisi perbedaan jumlah siswa dalam kelas tidak mengarah kepada perbedaan yang signifikan. Jumlah siswa yang banyak maupun jumlah siswa sedikit tidak mempengaruhi cara pengajaran guru di kelas.

  Penelitian menemukan bahwa cara guru mengajarlah yang dapat mempengaruhi hasil dari proses pembelajaran. Dua penelitian yang mengatakan bahwa adanya pengaruh dan tidak adanya pengaruh jumlah siswa dijadikan sebagai uji dua belah pihak (two tailed).

  Faktor demografi lain yang digunakan yaitu jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Cruickshank (2014: 16) menjelaskan bahwa guru-guru lain dan para supervisor dapat mempengaruhi pengajaran. Pengaruh yang diberikan bisa berupa pengaruh yang membangun dengan meningkatkan interaksi dan kolaborasi antar guru. Goddard dalam Cruickshank (2014: 16) memaparkan bahwa efek dari kolaborasi antar guru dapat meningkatkan kemampuan sekolah untuk mendorong prestasi para siswa. Suasana yang diharapkan yaitu suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa, menarik, memberikan rasa aman, memberikan ruang pada siswa untuk berpikir aktif, kreatif, dan inovatif dalam mengeksplorasi kemampuannya. Guru menjadi pribadi yang profesional (Rusman, 2013: 19).

  Profesionalisme guru merupakan faktor penentu proses pendidikan yang berkualitas. Guru yang berkualitas akan dapat melaksanakan tugas sebagai pendidik dan pengembang kurikulum sehingga dapat melaksanakan pembelajaran tematik dengan baik. Guru juga diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Guru yang profesional harus memiliki beberapa aspek kompetensi (Rusman, 2013: 23). Kompetensi yang dimaksud ialah kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi personal, dan kompetensi sosial. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki setiap guru tersebut dapat memberikan pengaruh yang lebih. Pengaruh akan terlihat apabila guru-guru saling berkolaborasi terutama dalam menggunakan pembelajaran tematik. Jadi penelitian ini akan mencari ada perbedaan atau tidaknya jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Tinjauan mengenai penelitian jumlah rekan guru menunjukkan bahwa penelitian ini menggunakan uji satu pihak (one tailed).

  Ada lima hasil penelitian yang relevan dengan judul penelitian ini. Peneliti akan memaparkan beberapa penelitian yang relevan. Pertama, penelitian dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi pembelajaran tematik yang dilakukan oleh guru kelas awal di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Srandakan.

  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh guru kelas awal yang berada di sekolah dasar negeri se- Kecamatan Srandakan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan berupa analisis deskriptif dengan presentase dan menggunakan interprestasi kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran oleh guru sekolah dasar negeri se-Kecamatan Srandakan masuk dalam kategori sangat baik dengan presentase 86,66%.

  Kedua, penelitian dari Nurkhayati (2012) berjudul “Implementasi Model Pembelajaran Tematik di Kelas III Sekolah Dasar Pada Gugus 1 Kecamatan

Srandakan Kabupaten Bantul”. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan rencana pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran

  tematik, model penilaian yang digunakan dalam pembelajaran tematik, hambatan- hambatan dalam implementasi model pembelajaran tematik di kelas III SD pada gugus 1 Kecamatan Srandakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas III SD Gugus 1 di Kecamatan Srandakan. Terpilihnya sekolah dasar tersebut karena sekolah sudah menerapkan pembelajaran tematik dengan jumlah kelas 8.

  Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket, wawancara dan pembelajaran tematik, namun di dalam proses belajar mengajar terdapat pemisahan mata pelajaran, guru sudah melakukan penilaian proses pembelajaran dan hasil pembelajarannya, hambatan dalam implementasi model pemebelajaran tematik adalah kurangnya pemehaman guru tentang konsep model pembelajaran tematik.

  Ketiga, penelitian yang juga relevan berasal dari artikel penelitian milik Gumelar, dkk (2013). Judul artikel ini adalah

  “Pelaksanaan Model Pembelajaran Tematik dalam Peningkatan Proses dan Hasil Belajar dengan Tema Kegemaran

Siswa Kelas III Sekolah Dasar”. Penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan kelas. Tekniknya yakni peneliti terjun secara langsung untuk

  mendapatkan data yang dibutuhkan. Penelitian ini dilaksanakan karena peneliti melihat suatu realita di lapangan khususnya di kelas III Sekolah Dasar Negeri Panjer yang memiliki masalah yaitu rendahnya keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Peran dari guru masih sangat mendominasi keterlibatan siswa dalam interaksi, berbuat maupun mengalami secara langsung dalam proses belajar. Minat yang ditunjukkan siswa juga masih rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran tematik dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri Panjer Tahun ajaran 2012/ 2013. Dengan hasil belajar setiap siklus yang diambil dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor dengan memperoleh presentase ketuntasan siklus I 39,13%, Siklus II 81,82%, dan siklus III 96,65%.

  Teaching

  ”. Teknik penelitian ini adalah investigasi tentang cara guru mengenalkan segala kegiatan yang berpusat pada siswa dalam keadaan kelas yang sangat ramai dan menggunakan teknik kualitatif. Penelitian ini dilakukan di program studi Pendidikan Guru Ilmu Kependudukan dan Sejarah Fakultas Pendidikan Ataturk Universitas Marmara dan SD Kartal Gurbuz Istanbul. Penelitian dilakukan berdasarkan cara siswa menggunakan antusias, melalui kemampuan dan ketertarikannya terhadap pembelajaran kependudukan dan sejarah.

  Kelima, penelitian dari Fatnawati (2012) berjudul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Tematik Dengan Menggunakan Media Gambar Pada Mata

  Pelajaran IPA, Bahasa Indonesia dan Matematika Terhadap Hasil Belajar Siswa di Kelas II SDN Semester II Tahun Pelajaran 2011/ 2012”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penerapan model pembelajaran tematik menggunakan media gambar pada mata pelajaran IPA, Bahasa Indonesia dan Matematika terhadap hasil belajar siswa di kelas II SDN tuntang dan Kanisius Cungkup. Teknik penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen. Sampel dalam penelitian ini ialah seluruh siswa kelas II di dua SD yaitu SD Kanisius Cungkup sebagai kelas kontrol yang berjumlah 24 siswa dengan menggunakan metode konvensional dan SDN Tuntang 02 sebagai kelas eksperimen berjumlah 28 siswa dengan metode gambar. Kelas eksperimen dalam pembelajaran dengan menggunakan media gambar, sedangkan kelas kontrol menggunakan pendekatan konvensional. Hasil menggunakan model transmisi pengetahuan mata pelajaran IPA, Bahasa Indonesia, dan Matematika terhadap dua SD.

  Kelima penelitian yang telah dijabarkan berhubungan dengan penelitian yang sudah peneliti lakukan. Kelima penelitian tersebut sama-sama membahas mengenai model pembelajaran tematik dan dapat dijadikan acuan oleh peneliti sebagai tambahan referensi. Penelitian ini akan membahas tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta. Hubungan tersebut akan dijabarkan dan dirangkum dalam gambar 2.1.

Gambar 2.1 Skema penelitian yang relevan C.

  Reformasi pendidikan yang dilakukan pemerintah Indonesia ialah upaya

  Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah : Survei Bagi Guru- Guru Pengampu Kelas Bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta Astuti. 2012. Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Kelas Awal di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Srandakan

  Nurkhayati. 2012. Implementasi Model Pembelajaran Tematik di Kelas III Sekolah Dasar pada Gugus I Kecamatan Srundukan Kabupaten Bantul.

  Gumelar, dkk. 2013. Pelaksanaan Model Pembelajaran Tematik dalam Peningkatan Proses dan Hasil Belajar dengan Tema Kegemaran Siswa Kelas III Sekolah Dasar

  Dilek. 2002. Using a Thematic Approach Based on Pupil’s Skill and Interest in Social Studies Teaching

  Fatnawati. 2012. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Tematik dengan Menggunakan Media Gambar pada Mata Pelajaran IPA, Bahasa

Indonesia, dan Matematika Terhadap Hasil Belajar

Siswa di Kelas II SD Kanisius Tahun Pelajaran 2011/2012

Kerangka Berpikir

  dari guru tanpa melakukan kegiatan dirasa tidak efektif dalam proses pemerolehan informasi dan pengalaman bagi siswa. Alasan dari dilaksanakannya pembelajaran dengan gaya bank dikarenakan siswa tidak dapat mengalami sendiri proses pemerolehan informasi sehingga informasi yang telah didapat oleh siswa hanya bersifat statis atau tidak mampu mengendap dalam jangka waktu yang lama. Pemerintah Indonesia memperbarui sistem pendidikan serupa dengan memperbarui kurikulum yang telah digunakan.

  Indonesia telah beberapa kali melakukan pergantian kurikulum. Pergantian kurikulum dilakukan demi adanya pembaruan dalam sistem pendidikan.

  Pembaruan kurikulum dilakukan untuk menciptakan generasi penerus yang berkualitas sehingga mutu pendidikan di Indonesia juga turut meningkat. Tujuan dari pembaruan kurikulum tersebut belum diimbangi dengan adanya perbaikan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa masih terdapat di bawah Standar Kompetensi Lulusan (SKL), karena hanya sedikit siswa yang mampu mencapai nilai di atas SKL.

  Pembaruan kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah tersebut melalui penerapan pembelajaran tematik. Tujuan dari penerapan itu yaitu dapat meningkatkan kualitas lulusan. Pembelajaran tematik menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar. Siswa dituntut untuk turut serta dan aktif dalam menemukan pengalaman dan pengetahuan sehingga dapat lebih bermakna. Perlu diketahui bahwa pembelajaran tematik juga memiliki kelebihan maupun pembelajaran lainnya. Karakteristik tersebut terlihat dari pengkaitan berbagai macam mata pelajaran menjadi satu tema pokok.

  Terdapat sembilan faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan reformasi pendidikan. Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan reformasi pendidikan disebut faktor demografi. Penelitian ini berfokus pada dua faktor demografi yaitu jumlah siswa dan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Faktor demografi jumlah siswa melihat seberapa jumlah siswa yang ada di dalam kelas. Jumlah siswa sedikit atau banyak dapat mempengaruhi penerapan pembelajaran tematik. Jumlah rekan guru yang secara bersama-sama menggunakan pembelajaran tematik dapat mempengaruhi penerapan pembelajaran tematik.

  Berdasarkan kajian pustaka dan permasalahan yang telah diuraikan di dalam penelitian ini, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

  1. Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta adalah tinggi.

  2. Ada perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa.

  3. Ada perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, validitas instrumen, reliabilitas instrumen, dan prosedur analisis data.

A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian

  Penelitian ini menggunakan jenis penelitian non experimental dengan cross

  

sectional melalui metode survei. Christensen (Rismiati 2012: 21) menjelaskan

  bahwa variabel independent dalam penelitian tidak bisa dimanupulasi dan tidak ada “random assigment” yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian survei mengambil sampel dari populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta dan mengetahui hubungan antara faktor demografi guru dengan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah di sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta.

  Penelitian ini termasuk dalam kerangka penelitian yang kerangka teorinya sudah ada dan dipergunakan sebagai dasar untuk menentukan atau menginterpretasikan data. Hubungan antar variabel dapat dilihat pada diagram 3.1.

  X

  X

  2 Gambar 3.1 Hubungan Antar Variabel

  Keterangan: X : Jumlah siswa

  1 X 2 : Jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik

  Y : Implementasi pembelajaran tematik

  B. Waktu dan Tempat Penelitian Waktu dan tempat penelitian terdiri dari dua bagian yang akan dijabarkan.

  Bagian-bagian tersebut adalah waktu penelitian dan tempat penelitian.

  1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 11 bulan sejak bulan September 2013 sampai dengan bulan Juli 2014.

  2. Tempat Penelitian Penelitian mengambil data sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta yang berjumlah 97 sekolah.

  C. Variabel Penelitian variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Objek dari penelitian yang dipakai sebagai pedoman dalam penelitian tersebut. Ada 2 jenis variabel dalam penelitian ini, yaitu:

  1. Variabel independent (variabel bebas) Variabel independent (variabel bebas) adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent (terikat)

  (Sugiyono, 2011: 39). Kata lain dari variabel independent adalah variabel bebas. Variabel independent ialah faktor demografi guru. Penelitian ini menggunakan variabel independent yaitu faktor demografi jumlah siswa dan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

  2. Variabel dependent (variabel terikat) Sugiyono (2011: 39) menjelaskan bahwa variabel dependent merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel

  

independent . Kata lain dari variabel dependent adalah variabel terikat. Variabel

dependent dalam penelitian ini yaitu tingkat implementasi pembelajaran tematik

  oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta.

D. Populasi dan Sampel

  Sugiyono (2011: 297) menjabarkan bahwa populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek dan subyek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian dasar negeri di kota Yogyakarta yang berjumlah 328 guru. Data 328 diperoleh dari Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta (lihat lampiran 1). Kuesioner disebar sebanyak 328 kuesioner. Kuesioner yang kembali berjumlah 251 kuesioner. Sebanyak 61 kuesioner digunakan untuk perhitungan uji validitas. Sampel dalam penelitian ini adalah 190 kuesioner dari guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta sesuai dengan tabel Krejcie (Usman dan Akbar, 2008: 362).

  Penelitian ini menggunakan teknik sampling dengan purposive random

sampling atau gabungan antara purposive sampling dan simple random sampling.

  

Purposive sampling ialah metode pengambilan sampel dengan

  mempertimbangkan apa yang dianggap relevan. Simple random sampling sendiri berarti suatu metode pengambilan yang diambil secara acak, namun satuan dari elementernya mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih. Sampel yang sudah ditentukan dalam penelitian ini ialah guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri. Purposive sampling dalam penelitian ini adalah guru pengampu kelas bawah yaitu guru kelas I, II, dan III. Random sampling dalam penelitian ini adalah diambilnya sampel secara acak dari 328 guru menjadi 190 guru tanpa melihat latar belakang dari guru. pernyataan tertulis kepada responden. Kuesioner dalam penelitian ini berisi 28 pernyataan tertutup dengan menggunakan skala likert lima pilihan dan 2 pernyataan terbuka faktor demografi. Kuesioner terdiri dari 7 indikator terdiri dari item positif dan item negatif. Tujuh indikator yaitu kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar, pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas, pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran, pembelajaran bersifat fleksibel, hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, dan prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap atau pendapat dan persepsi seseorang/ responden mengenai fenomena sosial (Sugiyono, 2011: 136).

F. Instrumen Penelitian

  Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah lembar kuesioner implementasi pembelajaran tematik yang telah dikembangkan oleh Rismiati (2012). Lembar kuesioner tersebut tersusun atas 43 item yang terdiri dari 28 item dengan penyataan tertutup tentang tingkat implementasi pembelajaran tematik, 6 item dengan pernyataan tertutup tentang dukungan kepala sekolah pada pembelajaran tematik, dan 9 item pernyataan terbuka dan pernyataan tertutup tentang faktor demografi guru. Jumlah keseluruhan item adalah 43 item. Pernyataan tertutup terdiri dari item nomor 1 sampai item nomor 34 dan untuk

  Lembar kuesioner implementasi pembelajaran tematik dikembangkan dari 7 indikator. Setiap indikator terdiri dari item postif dan item negatif. Lembar kuesioner implementasi pembelajaran tematik terdiri dari 28 item, dimana 24 item merupakan item positif dan 4 item lainnya merupakan item negatif. Lembar kuesioner ini untuk mengukur tingkat implementasi pembelajaran tematik dan untuk melihat perbedaan implementasi pembelajaran tematik dilihat dari faktor demografi. Pernyataan dalam kuesioner tentang faktor demografi berjumlah 15 item. Lembar kuesioner implementasi pembelajaran tematik disusun dengan

  

“summate raiting scale” atau dapat disebut dengan skala likert (Sugiyono, 2011:

  136). Skala ini diubah menjadi lima pilihan jawaban untuk pilihan skor 1-5 untuk item positif dan pilihan skor 5-1 untuk item negatif. Item positif diberi skor dari “Sangat Tidak Setuju” ke “Sangat Setuju”, sedangkan untuk item negatif diberi skor dari “Sangat Setuju” ke “Sangat Tidak Setuju”. Penjabaran untuk skor item positif dan item negatif dapat dilihat pada tabel 3.1.

  Tabel 3.1

  Penjabaran Skor Item Positif dan Negatif No Kategori Skor Keterangan

  1. Item Positif

  1 Sangat Tidak Setuju

  2 Tidak Setuju

  3 Ragu-ragu

  4 Setuju

  5 Sangat Setuju

  2. Item Negatif

  1 Sangat Setuju

  2 Setuju

  3 Ragu-ragu

  4 Tidak Setuju

  5 Sangat Tidak Setuju Sumber: Sugiyono (2011: 136) positif berarti sangat tidak setuju. Skor 2 berarti tidak setuju. Skor 3 berarti ragu- ragu. Skor 4 berarti setuju. Skor 5 berarti sangat setuju. Skor 1 untuk kategori item negatif berarti sangat setuju. Skor 2 berarti setuju. Skor 3 berarti ragu-ragu. Skor 4 berarti tidak setuju. Skor 5 berarti sangat tidak setuju.

  Item positif dan item negatif yang ada di dalam kuesioner implementasi pembelajaran tematik dijabarkan dalam tabel 3.2.

  Tabel 3.2

  Sebaran Item Positif dan Item Negatif

No No

Indikator Item Positif Item Negatif

  

Item Item

Kegiatan pembelajaran

  1. Saya menggunakan

yang berpusat pada siswa kepada siswa untuk ceramah sebagai metode

menentukan cara mereka utama untuk belajar. menyampaikan materi.

  3. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator pembelajaran.

  4. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang

memungkinkan siswa untuk

memegang peran utama dalam kelas. Siswa mengalami

  5. Saya menggunakan kegiatan pengalaman langsung

“belajar dengan melakukan

dalam belajar atau belajar dengan mengalami” (learning by

doing ) untuk pembelajaran

di kelas seperti siswa

melakukan percobaan atau

siswa melakukan presentasi.

  6. Saya meminta siswa untuk

membawa artefak (barang)

pribadi agar mereka lebih

mudah memahami materi

pembelajaran.

  7. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan

media/teknologi yang bisa

diraba, dilihat atau didengar

siswa).

  8. Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat

  Indikator No Item

Item Positif

  Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran.

  Saya memberitahu siswa

tentang hal-hal yang saat ini

sedang menjadi perdebatan

di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll.

  20. Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti

kerumahtanggaan, kota dan

lingkungan alam.

  19.

  18.

  17.

  Pembelajaran bersifat fleksibel

  16 Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan Matematika, Selasa mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst).

  15 Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran sekaligus.

  No Item Item Negatif Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas 10.

  14.

  Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran 13.

  9. Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SD-an secara terpisah (Matematika, Bahasa, PPKn, IPA dan IPS).

  Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus.

  Saya menyatukan paling

sedikit dua atau lebih mata

pelajaran secara rutin.

  12. Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat mengerti adanya keterkaitan antar mata pelajaran.

  11.

  Saya mengaitkan materi

dengan pengalaman hidup

siswa. Ketika mengembangkan

Pembelajaran Tematik, saya

menggunakan tema-tema yang sesuai dengan pengalaman hidup dan budaya para siswa.

  

No No

Indikator Item Positif Item Negatif

Item Item

  Hasil pembelajaran yang

  21. Saya menggunakan materi

  22. Saya menggunakan tes sesuai dengan minat dan atau alat penilaian yang tertulis (misalnya esai,

kebutuhan siswa sesuai dengan kebutuhan pilihan ganda, benar salah)

setiap siswa. sebagai metode utama

  23. Saya menggunakan dalam menilai hasil belajar penilaian unjuk kerja untuk siswa.

menilai hasil belajar siswa.

  24. Saya menggunakan portofolio kerja untuk

menilai hasil belajar siswa.

Prinsip belajar sambil

  25. Saya menggunakan belajar dan bermain yang permainan, bermain peran, menyenangkan bagi siswa simulasi dan strategi

pembelajaran lainnya yang

melibatkan siswa secara aktif.

  26. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar.

  27. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang

memungkinkan siswa untuk

aktif bergerak ketika belajar.

  28. Saya menggunakan pembelajaran kelompok

kooperatif seperti: Jigsaw,

STAD, kepala bernomor,

investigasi kelompok, dan

sebagainya.

Tabel 3.2 menunjukkan di dalam lembar kuesioner pembelajaran tematik terdapat 7 indikator. Indikator pertama memiliki 3 item positif (item nomor 2, 3,

  4) dan 1 item negatif (item nomor 1). Indikator kedua memiliki 4 item positif (item nomor 5, 6, 7, dan 8). Indikator ketiga memiliki 3 item positif (item nomor 10. 11, 12) dan 1 item negatif (item nomor 9). Indikator keempat memiliki 3 item positif (item nomor 13, 14, 15) dan 1 item negatif (item nomor 16). Indikator kelima memiliki 3 item positif ( item nomor 17, 18, 19, 20). Indikator keenam memiliki 3 item positif (item nomor 21, 23, 24) dan 1 item negatif (item nomor

  Seluruh item berjumlah 28 item. Tabel 3.3 menunjukkan kisi-kisi instrumen penelitian.

  Tabel 3.3

  Kisi-kisi Instrumen Penelitian Variabel Indikator No. Item Jenis Variabel

  Tingkat implementasi Kegiatan pembelajaran yang 1, 2, 3, 4 pembelajaran tematik berpusat pada siswa

Siswa mengalami 5, 6, 7, 8

pengalaman langsung dalam belajar Pemisahan pada setiap mata 9, 10, 11, 12 pelajaran tidak begitu jelas Pembelajaran yang 13, 14, 15, 16 menyajikan konsep dari satu Variabel Terikat mata pelajaran Pembelajaran bersifat 17, 18, 19, 20 fleksibel Hasil pembelajaran yang 21, 22, 23, 24 sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa Prinsip belajar sambil 25, 26, 27, 28 bermain yang menyenangkan bagi siswa Faktor Demografi Dukungan dari kepala 29, 30, 31, 32, 33, sekolah

  34

  35 Pengalaman mengajar

  36 Jenjang kelas

  37 Lama mengajar tematik

  38 Pengalaman training pembelajaran tematik

  39 Variabel Bebas Jumlah siswa yang diajar menggunakan pembelajaran tematik

  40 Pendidikan terakhir guru Status kepegawaian guru

  41

  42 Jumlah rekan guru yang menggunakan pembalajaran tematik

  43 Struktur kurikulum Tabel 3.3 menguraikan kisi-kisi tentang instrumen penelitian pada kuesioner. tematik mempunyai 7 indikator dengan masing-masing indikator terdapat 4 item. Tingkat implementasi pembelajaran tematik termasuk dalam variabel terikat. Variabel faktor demografi mempunyai 9 indikator. Indikator pertama yaitu dukungan dari kepala sekolah terdapat 6 item pernyataan. Indikator kedua yaitu pengalaman mengajar terdapat 1 item pertanyaan. Item nomor 36 atau indikator jenjang kelas tidak masuk ke dalam faktor demografi karena item tersebut termasuk pertanyaan tentang jenjang kelas yang diampu. Indikator ketiga sampai indikator kelima yaitu lama mengajar tematik, pengalaman training, jumlah siswa, pendidikan terakhir guru, status kepegawaian masing-masing terdapat 1 item pertanyaan. Indikator yang terakhir yaitu jumlah rekan guru yang bersama-sama mengajar tematik terdapat 2 item pertanyaan. Item nomor 42 pada indikator terakhir berisi pertanyaan mengenai jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Item nomor 43 berisi pernyataan status kurikulum 2013 di sekolah. Seluruh indikator faktor demografi termasuk dalam variabel bebas.

  Penelitian ini hanya untuk meneliti tingkat pelaksanaan implementasi pelaksanaan pembelajaran tematik dan faktor demografi. Khususnya meneliti faktor demografi jumlah siswa dan faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Faktor demografi yang lain merupakan penelitian dari anggota kelompok studi.

  Data faktor demografi yang ada dikelompokkan menjadi 2 kelompok bagian. Pengelompokkan tersebut berdasarkan atas teori yang dikemukakan oleh siswa dan kelompok dengan jumlah siswa yang sedikit. Pengelompokkan data faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik berdasarkan atas teori yang dikemukakan oleh Cruickshank (2014: 16). Data faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok dengan jumlah rekan yang sedikit dan kelompok dengan jumlah rekan yang banyak. Pengelompokkan tersebut berdasarkan atas distribusi frekuensi menggunakan rumus Strurges (Riduwan, 2008: 70-72).

  Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dimana alat ukur tersebut mampu mengukur apa yang ingin diukur (Siregar, 2010: 162). Penelitian menggunakan tiga teknik validitas yaitu validitas isi, validitas muka, dan validitas konstruk.

  1. Validitas isi (content validity) Siregar (2010: 163) menjelaskan validitas isi berkaitan dengan kemampuan suatu instrumen dalam mengukur isi (konsep) yang harus diisi. Suatu alat ukur diharapkan dapat mengungkap isi suatu konsep atau variabel yang akan diukur. Kuesioner dalam penelitian ini mengukur tingkat implementasi pembelajaran tematik pada sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta. Validitas isi dilakukan dengan expert judgement pada ahli dalam mengukur konsep ini. Expert judgement tematik. Hasil yang didapatkan dilihat dengan kriteria revisi yang peneliti tetapkan bersama kelompok studi. Tabel 3.4 menjelaskan kriteria revisi yang digunakan untuk mengukur validitas isi.

  Tabel 3.4

  Kriteria Revisi Kriteria Pernyataan/ Komentar Revis/Tidak Revisi

  > 2,5 Positif Tidak Revisi Negatif Tidak Revisi ≥ 2,5 Positif Revisi ≤ 2,5 < 2,5 Negatif Revisi

Tabel 3.4 menjelaskan kriteria revisi untuk setiap item yang telah diperiksa oleh para ahli. Skor yang diperoleh masing-masing item lebih dari 2,5 berisi

  pernyataan atau komentar positif berarti pernyataan tidak perlu dilakukan revisi. Skor yang diperoleh lebih atau sama dengan 2,5 berisi pernyataan negatif, maka pernyataan tidak perlu dilakukan revisi. Skor kurang dari atau sama dengan 2,5 dan berisi pernyataan positif maka perlu dilakukan revisi. Skor yang diperoleh kurang dari 2,5 dan berisi pernyataan negatif, maka pernyataan perlu direvisi.

Tabel 3.5 sampai tabel 3.11 menjabarkan hasil dari validasi isi untuk masing- masing indikator.

  Tabel 3.5

  Hasil Expert Judgement Indikator Kegiatan Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa No Validator

  1

  2

  3

  4 Rata-rata

  1 Dosen a

  3

  4

  4 4 3,75

  2 Dosen b

  1

  3

  4 3 2,75

  3 Dosen c

  3

  3

  3

  3

  3

  4 Guru a

  2

  3

  4 4 3,25

  5 Guru b

  3

  4

  3 4 3,5

  6 Guru c

  3

  2

  3

  4

  3

  7 Kepsek a

  3

  4

  4 4 3,75

  8 Kepsek b

  4

  4

  4

  4

  4 Rata-rata 2,75 3,375 3,625 3,75

Tabel 3.5 menunjukkan rata-rata indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan nomor item 1 sebesar 2,75. Rata-rata item nomor 1

  dan komentar positif dari validator menunjukkan item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 1 dari salah satu validator “pernyataan sudah jelas,

  

sudah bisa digunakan untuk mengetahui kebiasaan yang sering digunakan dalam

pembelajaran

  ”. Rata-rata untuk item nomor 2 sebesar 3,375. Rata-rata item nomor 2 menunjukkan item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Alasan tidak perlu dilakukan revisi karena skor lebih dari 2,5 dan komentar yang diberikan oleh validator berisi komentar negatif. Komentar untuk item 2 dari salah satu validator adalah

  “kata (pilihan) mungkin bisa diganti dengan kata (kebebasan) karena kata

  pilihan itu terbatas sedangkan kata kebebasan tidak terbatas ”.

  Rata-rata item nomor 3 sebesar 3,625. Rata-rata item nomor 3 dan komentar

  bagus

  ”. Rata-rata item nomor 4 sebesar 3,75. Rata-rata item nomor 4 dan validator memberikan komentar positif menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 4 dari salah satu validator adalah “pernyataan sudah bagus dan bisa dipahami oleh guru”. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah keempat item untuk indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa tidak diperlukan revisi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

  Tabel 3.6

  Hasil Expert Judgement Indikator Siswa Mengalami Pengalaman Langsung

dalam Belajar

Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar No Validator

  1

  2

  3

  4 Rata-rata

  1 Dosen a

  4

  4

  4

  4

  4

  2 Dosen b

  4

  4

  4

  4

  4

  3 Dosen c

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Guru a

  4

  3

  4 3 3,5

  5 Guru b

  3

  3

  3 4 3,25

  6 Guru c

  4

  4

  4 3 3,75

  7 Kepsek a

  4

  4

  4

  4

  4

  8 Kepsek b

  4

  3

  3 4 3,5 Rata-rata 3,875 3,625 3,75 3,75

Tabel 3.6 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar dengan nomor item 1 sebesar 3,875. Rata-rata

  item nomor 1 dan komentar validator berisi komentar positif menunjukkan item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar dari salah satu validator untuk item 1 adalah

  “pernyataan sudah bagus, sudah diberi contoh pembelajaran learning by

  2 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar dari salah satu validator untuk item 2 adalah “pernyataan sudah baik, mudah dipahami oleh guru”.

  Rata-rata item nomor 3 sebesar 3,75. Rata-rata item nomor 3 dan komentar positif yang diberikan validator menunjukkan item nomor 3 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 3 dari salah satu validator yaitu “pernyataan sudah

  baik, mudah dipahami oleh guru ”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,75.

  Rata-rata nomor item 4 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 4 dari salah satu validator

  “pernyataan sudah baik, hanya masih perlu diberi penjelasan tentang

  contoh sumber belajar macam apa yang dimaksud

  ”. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah item untuk indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar tidak perlu dilakukan revisi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

  Tabel 3.7

  Hasil Expert Judgement Indikator Pemisahan pada Setiap Mata Pelajaran

tidak Begitu Jelas

Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas

  

No Validator Rata-rata

  1

  2

  3

  4

  1 Dosen a

  3

  3

  4 4 3,5

  2 Dosen b

  1

  4

  3

  4

  3

  3 Dosen c

  3

  3

  3

  3

  3

  4 Guru a

  3

  3

  4 4 3,5

  5 Guru b

  3

  4

  3 3 3,25

  6 Guru c

  4

  3

  4 4 3,75

  7 Kepsek a

  4

  3

  3 4 3,5

  8 Kepsek b

  4

  4

  4

  4

  4 Rata-rata 3,125 3,375 3,5 3,75

Tabel 3.7 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas item nomor 1 sebesar 3,125. Rata-rata

  nomor item 1 dan komentar dari validator berisi komentar negatif menunjukkan item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 1 dari salah satu validator adalah

  “pernyataan ini bertentangan dengan indikator, lebih baik

  diganti (saya mengajar materi lima bidang studi secara terpadu)

  ”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,375. Rata-rata item nomor 2 dan komentar negatif dari validator menunjukkan item nomor 2 tidak perlu dilakukan revisi. Salah satu komentar dari validator untuk item nomor

  2 yaitu “pada RPP hendaknya

  dirancang betul atau dikondisikan adanya keterkaitan ”.

  Rata-rata item nomor 3 sebesar 3,5. Rata-rata nomor item 3 dan komentar yang diberikan validator berisi komantar negatif maka diambil kesimpulan item nomor 3 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 3 dari salah satu validator adalah

  “kata (atau lebih) lebih baik dihilangkan”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,75. Rata-rata item nomor 4 dan komentar positif dari validator menunjukkan item nomor 4 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 4 dari salah satu validator yaitu “pernyataan sudah baik, jelas,

  dan mudah dipahami oleh guru

  ”. Kesimpulan untuk seluruh item indikator pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas tidak perlu dilakukan revisi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

  Tabel 3.8

  Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran yang Menyajikan Konsep

dari Satu Mata Pelajaran

Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran

  No Validator

  1

  2

  3

  4 Rata-rata

  1 Dosen a

  4

  4

  4 3 3,75

  2 Dosen b

  4

  4

  4

  4

  4

  3 Dosen c

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Guru a

  3

  3

  3

  3

  3

  5 Guru b

  4

  3

  4 3 3,5

  6 Guru c

  4

  4

  3 4 3,75

  7 Kepsek a

  4

  4

  4

  4

  4

  8 Kepsek b

  4

  4

  4

  4

  4 Rata-rata 3,875 3,75 3,75 3,625

Tabel 3.8 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran. Rata-rata item nomor 1 sebesar

  3,875. Rata-rata item nomor 1 dan komentar positif dari validator menunjukkan item nomor 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 1 dari salah satu validator adalah

  “pernyataan sudah baik, jelas, dan mudah dipahami

  oleh guru

  ”. Item 2 memiliki rata-rata sebesar 3,75. Rata-rata untuk item nomor 2 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item nomor 2 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 2 dari salah satu validator yaitu “pernyataan sudah bagus, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”.

  Rata-rata untuk item nomor 3 sebesar 3,75. Rata-rata nomor item 3 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item nomor 3 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 3 dari salah satu validator adalah positif dari salah satu validator menunjukkan bahwa item 4 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 4 dari salah satu validator yaitu “pernyataan

  

yang dibuat sudah baik, kata-kata yang digunakan sudah jelas karena sudah

diberi keterangan dalam kurung

  ”. Kesimpulan yang dapat diambil adalah keempat item pada indikator pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran tidak perlu dilakukan revisi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

  Tabel 3.9

  Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran Bersifat Fleksibel Pembelajaran bersifat fleksibel No Validator

  1

  2

  3

  4 Rata-rata

  1 Dosen a

  4

  3

  4 4 3,75

  2 Dosen b

  4

  2

  4 4 3,5

  3 Dosen c

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Guru a

  3

  3

  4 4 3,5

  5 Guru b

  4

  3

  4 4 3,75

  6 Guru c

  4

  3

  4 4 3,75

  7 Kepsek a

  4

  3

  4 4 3,75

  8 Kepsek b

  4

  3

  4 4 3,75 Rata-rata 3,875

  3

  4

  4 Tabel 3.9 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator pembelajaran bersifat

  fleksibel. Rata-rata untuk item nomor 1 sebesar 3,875. Rata-rata item nomor 1 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 1 dari salah satu validator adalah

  “pernyataan sudah

  

bagus, menanyakan tentang kaitan antar materi dan tema. Tema tidak hanya

tentang lingkungan, bisa kegemaran, binatang, diri sendiri, pengalaman, dll

  ”. komentar dari validator untuk item nomor 2 dari adalah “pernyataan sudah cukup

  bagus ”.

  4 4 3,75

  3

  2

  4 4 3,25

  5 Guru b

  3

  4

  3 3 3,25

  6 Guru c

  3

  4

  7 Kepsek a

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  8 Kepsek b

  4

  4

  4

  4

  4 Rata-rata 3,5 3,625 3,875 3,875

  4 Guru a

  4

  Rata-rata item nomor 3 sebesar 4. Rata-rata item nomor 3 dan komentar positif dari validator menunjukkan item nomor 3 tidak perlu dilakukan revisi.

  3

  Komentar untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah jelas dan mudah dimengerti

  guru

  ”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 4. Rata-rata item nomor 4 dan komentar positif dari validator menunjukkan item nomor 4 tidak perlu dilakukan revisi.

  Komentar untuk item 4 “pernyataan yang dibuat sudah bagus, kalimat

  jelas dan mudah dipahami maksudnya

  ”. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah keempat item indikator pembelajaran bersifat fleksibel tidak perlu dilakukan revisi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

  Tabel 3.10

  Hasil Expert Judgement Indikator Hasil Pembelajaran yang sesuai dengan Minat dan Kebutuhan Siswa No Validator Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa

  1

  2

  4 Rata-rata

  4

  1 Dosen a

  4

  3

  4 4 3,75

  2 Dosen b

  3

  4

  4 4 3,75

  3 Dosen c

  4

  4

Tabel 3.10 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator hasil pembelajaran nomor 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 1 dari salah satu validator yaitu “pernyataan masih ngawang. Mungkin lebih dijelaskan lagi

  

kebutuhan setiap siswa yang seperti apa. Pernyataan yang mengukur minat siswa

belum kelihatan. Indikator: hasil pembelajaran. Namun, pernyataan-pernyataan

berisi tentang penilaian. Usul: indikator diubah menjadi penilaian hasil

pembelajaran

  ”. Rata-rata item nomor 2 sebesar 3,625. Rata-rata item nomor 2 dan komentar negatif dari validator menunjukkan item nomor 2 tidak perlu dilakukan revisi. Salah satu komentar dari validator untuk item nomor 2 yaitu “yang lebih

  mendekati kebutuhan siswa itu tes esai ”.

  Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,875. Rata-rata item nomor 3 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item nomor 3 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar dari salah satu validator untuk item 3 yaitu “pernyataan sudah bagus dan jelas”. Item nomor 4 memiliki rata-rata sebesar 3,875. Rata-rata item nomor 4 dan komentar positif dari validator menunjukkan item nomor 4 tidak perlu dilakukan revisi. Salah satu komentar dari validator untuk item nomor 4 yaitu “pernyataan sudah bagus dan jelas serta mudah

  dipahami

  ”. Seluruh item untuk indikator hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa tidak perlu dilakukan revisi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

  Tabel 3.11

  4

  3 3 3,25

  6 Guru c

  4

  4

  3 4 3,75

  7 Kepsek a

  4

  4

  4

  4

  4

  8 Kepsek b

  4

  4

  4

  4

  4 Rata-rata 4 3,875 3,5 3,25

Tabel 3.11 menunjukkan bahwa rata-rata untuk indikator prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa item nomor 1 sebesar 4. Rata-rata

  item nomor 1 dan komentar positif dari validator menunjukkan item nomor 1 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 1 dari salah satu validator yaitu “pernyataan yang dibuat sudah bagus, jelas, dan dapat dimengerti”. Rata-rata item 2 sebesar 3,875. Rata-rata item nomor 2 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item 2 tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item 2 dari salah satu validator yaitu “pernyataan sudah bagus, jelas, dan mudah

  dimengerti ”.

  Item nomor 3 memiliki rata-rata sebesar 3,5. Rata-rata item nomor 3 dan komentar positif dari validator menunjukkan bahwa item 3 tidak perlu dilakukan revisi. Validator memberikan komentar untuk item nomor 3 adalah

  3

  5 Guru b

  Hasil Expert Judgement Indikator Prinsip Belajar Sambil Bermain yang Menyenangkan bagi Siswa No Validator Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa

  2 Dosen b

  1

  2

  3

  4 Rata-rata

  1 Dosen a

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3 3 3,5

  4 3 2,75

  3 Dosen c

  4

  4

  4

  4

  4

  4 Guru a

  4

  4

  “pernyataan revisi. Komentar untuk item 4 dari salah satu validator adalah “pernyataan sudah

  

bagus, jelas, dan dapat dimengerti karena diberi contoh pembelajaran dengan

model kelompok

  ”. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah keempat item untuk indikator prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa tidak perlu dilakukan revisi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

  2. Validitas muka (face validity) Siregar (2010:163) mengartikan validitas muka ialah kemampuan suatu instrumen untuk mengukur isi yang harus diukur. Validitas muka menunjukkan kualitas suatu indikator tampak beralasan atau logis untuk mengukur suatu variabel (Morrisan, 2012:104). Pengukuran validitas muka akan tampak baik jika melihat indikator pengukuran yang digunakan. Tabel 3.12 menunjukkan hasil dari validitas muka.

  Tabel 3.12

  Validitas Muka Skor untuk No Indikator No item pernyataan

  1

  3

  2

  3 Kegiatan pembelajaran yang berpusat

  1 pada siswa

  3

  4

  4

  3

  5

  2

  6

  2 Siswa mengalami pengalami

  2 pengalaman langsung dalam belajar

  7

  4

  8

  3

  9

  2

  10

  3 Pemisahan pada setiap mata pelajaran

  3 tidak begitu jelas

  11

  4

  12

  4

  13

  4

  14

  4 Pembelajaran yang menyajikan

  4 konsep dari satu mata pelajaran

  15

  3

  16

  3

  17

  3

  18

  2

  19

  3

  20

  3

  21

  3

  22

  4 Hasil pembelajaran yang sesuai

  6 dengan minat dan kebutuhan siswa

  23

  4

  24

  4

  25

  4 Prinsip belajar sambil bermain yang

  26

  4 7 menyenangkan bagi siswa

  27

  3

  28

  4 Rata-rata 3,29

Tabel 3.12 menunjukkan skor untuk tiap indikator dan tiap item. Hasil sampai item 4 dalam indikator pertama kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Terdapat dua komentar untuk indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar. Komentar yang pertama dari validator untuk item 5 berbunyi

  “untuk kelas rendah anak belum bisa melakukan presentasi”. Komentar kedua pada indikator pertama untuk item 6 yaitu “perjelas nama-nama barang

  yang harus dibawa oleh siswa ”. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

  Indikator ketiga pemisahan pada setiap mata pelajaran terdapat satu komentar pada item 9. Komentar item nomor 9 yaitu “tematik dalam penyampaian selalu

  

berkaitan antara pelajaran yang satu dengan yang lain dan tidak boleh menyebut

mata pelajaran yang kita sampaikan

  ”. Indikator keempat pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran tidak terdapat komentar untuk memperbaiki item. Indikator kelima pembelajaran bersifat fleksibel hanya berisi satu komentar pada item nomor

  

adalah anak kelas 1-3 jadi masalah yang ada di lingkungan adalah seputar anak,

misalnya tertib di rumah, di sekolah, dan masyarakat contoh gotong royong

  ”. Indikator keenam yaitu hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa tidak ada komentar untuk perbaikan. Indikator terakhir yaitu indikator ketujuh prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa tidak terdapat komentar untuk perbaikan. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3. Validitas konstruk adalah validitas yang berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur suatu konsep yang diukurnya (Siregar, 2010:163).

  Validitas konstruk mempunyai teknik pengukuran yang paling kompleks merupakan upaya menghubungkan suatu instrumen pengukuran dengan keseluruhan kerangka kerja teoritis. Validitas konstruk dilakukan untuk memastikan penelitian memiliki hubungan logis dengan konsep lainnya yang ada dalam kerangka kerja teoritis yang bersangkutan.

  Penelitian ini menerapkan validitas konstruk terhadap 28 item pernyataan mengenai implementasi pembelajaran tematik dan 2 item faktor demografi jumlah siswa dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Intrumen diujicobakan kepada 61 responden yaitu guru-guru sekolah dasar negeri kota Yogyakarta yang tidak menjadi bagian dari sampel. Penentuan responden dilakukan secara acak. Validitas konstruk yang didapat dari 61 responden tersebut kemudian di analisis menggunakan menggunakan SPSS 16. Pengujian dilakukan dengan mengkorelasikan skor menggunakan korelasi Product Moment (Martono, 2010: 243). Rumus dari korelasi Product Moment. r =

  xy

Gambar 3.2 Rumus Korelasi

  Keterangan r xy = Koefisien korelasi

  = Jumlah skor dalam sebaran y (skor item per total) = Jumlah hasil kali skor x dan skor y yang berpasangan = Jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x = Jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y = Jumlah responden

  13 Item 13 0,668** 0,254 Valid

  26 Item 26 0,698** 0,254 Valid

  25 Item 25 0,741** 0,254 Valid

  24 Item 24 0,660** 0,254 Valid

  23 Item 23 0,744** 0,254 Valid

  

22 Item 22 -0,170 0,254 Tidak valid

  21 Item 21 0,480** 0,254 Valid

  20 Item 20 0,768** 0,254 Valid

  19 Item 19 0,533** 0,254 Valid

  

18 Item 18 -0,243 0,254 Tidak valid

  17 Item 17 0,655** 0,254 Valid

  

16 Item 16 -0,034 0,254 Tidak valid

  15 Item 15 0,634** 0,254 Valid

  14 Item 14 0,698** 0,254 Valid

  12 Item 12 0,653** 0,254 Valid

Tabel 3.13 menjabarkan hasil dari validitas konstruk. Perhitungan dengan korelasi Product Moment menggunakan program SPSS 16.

  11 Item 11 0,598** 0,254 Valid

  10 Item 10 -0,426** 0,254 Valid

  

9 Item 9 0,141 0,254 Tidak valid

  8 Item 8 0,673** 0,254 Valid

  7 Item 7 0,393** 0,254 Valid

  6 Item 6 0,426** 0,254 Valid

  5 Item 5 0,655** 0,254 Valid

  4 Item 4 0,598** 0,254 Valid

  3 Item 3 0,356* 0,254 Valid

  2 Item 2 0,522** 0,254 Valid

  1 Item 1 0,310* 0,254 Valid

  Hasil Validitas Implementasi Pembelajaran Tematik

No. No Item r hitung r tabel Valid / Tidak valid

  Tabel 3.13

  27 Item 27 0,453** 0,254 Valid

Tabel 3.13 menunjukkan bahwa item nomor 9 dan 16 adalah item tidak valid.

  Item nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28 merupakan item-item yang valid. Item yang valid dengan tanda (*) dan memiliki taraf kepercayaan sebesar 95%. Seluruh item dengan tanda (**) dan memiliki taraf kepercayaan 99%. Hasil validitas konstruk terdapat 2 item yang tidak valid, maka penelitian hanya menggunakan 26 item untuk menganalisis perhitungan-perhitungan selanjutnya. Penggunaan r tabel dengan melihat r hitung > r tabel dan item dinyatakan valid. Penentuan r tabel dengan melihat jumlah populasi yang ada (Sugiyono, 2011: 631). Hasil analisis uji validitas yang menggunakan program SPSS 16 secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 5.

  Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana alat ukur dapat dipercaya. Reliabilitas mempunyai sebutan lain seperti kepercayaan, keajegan, keterandalan, konsisten, dan kestabilan. Alat ukur disebut reliable atau mempunyai keandalan jika konsisten memberikan jawaban yang sama. Penelitian ini menggunakan rumus Alpha Cronbach. Berikut adalah rumus koefisien Alpha

  Cronbach (Siregar, 2010: 176):

Gambar 3.3 Rumus Koefisien Alpha Cronbach Keterangan : Hasil dari perhitungan yang telah diperoleh menunjukkan ketetapan suatu alat dalam mengukur apa saja yang alat itu ukur. Tabel 3.14 menjelaskan antara koefisien reliabilitas beserta keterangannya.

  Tabel 3.14

  Koefisien Reliabilitas

Koefisien Reliabilitas Keterangan

  0,91 Sangat Tinggi

  • – 1,00

    0,71 Tinggi

    – 0,90 0, 41 Cukup Tinggi – 0,70 0,21 Kurang Tinggi – 0,40 Negatif Sangat Kurang Tinggi – 0,20 Sumber: Masidjo (1995:209)
  • – Tabel 3.14 menunjukkan apabila koefisien reliabilitas berada diantara 0,91
  • >– 1,00 maka dinyatakan sangat tinggi. Koefisien reliabilitas berada diantara 0,71 0,90 maka dinyatakan tinggi. Koefisien reliabilitas berada diantara 0,41
  • – 0,70 maka dinyatakan cukup tinggi. Koefisien reliabilitas berada diantara
  • – 0,40 maka dinyatakan kurang tinggi. Koefisien reliabilitas berada diantara kurang dari 0,20 maka hubungan dinyatakan sangat kurang tinggi.
Hasil analisis dari validitas yang berjumlah 26 item yang valid diolah reliabilitasnya. Item-item yang valid tersebut diolah reliabilitasnya menggunakan program SPSS 16. Hasil dari pengolahan dapat dilihat pada tabel 3.15.

  Tabel 3.15

  Hasil Reliabilitas Cronbach's Alpha Based on

  Standardized Cronbach's Alpha Items N of Items .891 .898

  24 Tabel 3.15 menunjukkan nilai reliabilitas Cronbach Alpha (α) sebesar 0,891.

  Hasil dari analisis diperoleh α = 0,891, maka reliabilitas dinyatakan tinggi. Hasil analisis untuk uji reliabiltas secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 7.

  Prosedur analisis data pada penelitian ini ada empat tahap. Tahap pertama adalah menentukan hipotesis statistik, tahap kedua pengelolaan data, tahap ketiga menganalisis data deskriptif, tahap keempat menentukan taraf signifikansi, tahap kelima menguji asumsi klasik hipotesis, dan tahap kelima uji hipotesis.

  1. Menentukan hipotesis statistik Rumusan masalah dalam penelitian ini dilihat dan dapat disusun untuk hipotesis statistik sebagai berikut: a. Rumusan masalah 1 : Bagaimana implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah

  Rumusan masalah ini tidak memiliki hipotesis karena jawaban dari pertanyaan adalah deskriptif.

  b. Rumusan masalah 2 : Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa? Data untuk variabel jumlah siswa dibagi menjadi dua kelompok.

  Kelompok pertama untuk jumlah siswa kelompok sedikit ( µ

  1 ) dan kelompok kedua untuk jumlah siswa kelompok banyak ( ).

  µ

  2 Hipotesis nol (Ho) : Tidak terdapat perbedaan tingkat

  implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa ( µ 1 = µ

  2 ).

  Hipotesis alternatif (Ha) : Terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa ( µ

  

1 µ 2 ). tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik?

  Data untuk variabel jumlah siswa dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama untuk jumlah siswa kelompok sedikit ( µ

  1 ) dan

  kelompok kedua untuk jumlah siswa kelompok banyak ( µ 2 ). Hipotesis nol (Ho) : Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik (

  µ 1 = µ 2 ).

  Hipotesis alternatif (Ha) : Terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik ( µ

  1 µ 2 ).

  2. Pengolahan data Pengolahan data dalam penelitian ini ada empat, yaitu : coding, editing, data

  

entry, dan data cleaning (Irraosi dalam Rismiati, 2012: 154). Siregar (2010: 206)

  mengatakan bahwa coding merupakan suatu kegiatan di dalam pemberian kode pada tiap-tiap data yang masih dalam kategori yang sama. Kode tersebut dapat berupa angka maupun huruf. Coding pada penelitian ini adalah pemberian kode pada kuesioner. Tujuan dari pemberian kode untuk membedakan data guru satu dengan guru lain dalam satu sekolah maupun di luar sekolah. Contoh dari pengkodean dijelaskan pada tabel 3.16.

  Tabel 3.16

  Contoh Pengkodean Nama Sekolah Kode Kode Guru Kode Guru Kode Guru Kelas III Sekolah Kelas I Kelas II SD Negeri Sury 1

  57

  57.1.1

  57.2.1

  57.3.1 SD Negeri Kara

  63

  63.1.1

  63.2.1

  63.3.1 Tabel 3.16 menjelaskan bahwa untk SD Negeri Sury 1 menggunakan kode

  57. Kode untuk guru pengampu kelas 1 adalah kode 57.1.1, berarti bahwa kuesioner tersebut berasal dari SD Negeri Sury 1 yang telah diisi oleh guru pengampu kelas I guru pertama. Kode 57.2.1 digunakan untuk kuesioner dari SD Negeri Sury 1 yang telah diisi oleh guru pengampu kelas II. Kode 57.3.1 diberikan kepada guru pengampu kelas III dari SD Negeri Sury 1. Guru yang terdapat pada SD Negeri Sury 1 maka kode yang diberikan adalah 57.1.2 dan seterusnya. juga berpendapat bahwa tujuan dari editing adalah untuk mengoreksi kesalahan- kesalahan dari data yang terdapat di lapangan. Editing dalam penelitian ini dilakukan dengan memeriksa kembali data yang tidak sesuai dengan jawaban pada lembar kuesioner.

  Editing juga dilakukan terhadap data dari seorang responden yang mengisi

  kuesioner kurang dari 80% dari total seluruh item (American Association for

  

Public Opinion dalam Rismiati, 2012:130). Keseluruhan item untuk implementasi

  pembelajaran tematik berjumlah 24 item valid ditambah 2 item faktor demografi menjadi 26 item. Item yang harus terisi 80% dari 26 item yaitu 21 item. Sebanyak 21 item harus terisi di dalam kuesioner, apabila isi kuesioner kurang dari 21 item dinyatakan responden gugur. Data yang telah dikumpulkan dalam penelitian dilihat satu persatu dan didapatkan 1 responden dinyatakan gugur. Gugurnya responden tersebut dikarenakan kuesioner hanya terisi 15 item dan dinyatakan jauh dari kriteria untuk dianggap layak. Terhapusnya seorang responden maka dapat mempengaruhi jumlah sampel yang seharusnya 190 responden menjadi 189 responden.

  Data entry merupakan proses memasukkan data yang telah diperiksa ke

  dalam Mocrosoft Excel 2007. Validitas dan reliabilitasnya dihitung menggunakan Program SPSS 16. Hasil yang didapat diketahui data valid dan tidak valid, maka proses yang selanjutnya adalah data cleaning.

  Data cleaning merupakan proses membersihkan data-data yang tidak pertanyaaan yang tidak diisi dan responden tersebut dinyatakan gugur. Sejumlah 189 responden dilakukan data cleaning untuk faktor demografi jumlah siswa hingga jumlahnya menjadi 186 reponden. Sebanyak 3 responden dianggap tidak memenuhi syarat karena terdapat data blank atau tidak terisi pada bagian kuesioner faktor demografi jumlah siswa.

  Peneliti kembali melakukan data cleaning untuk menghilangkan responden yang tidak mengisi pernyataan tentang jumlah rekan guru yang menggunakan tematik. Terdapat 6 responden yang tidak mengisi pernyataan demografi jumlah siswa atau data blank, maka jumlahnya menjadi 183 responden. Responden tersebut dinyatakan gugur dan kuesionernya tidak dapat digunakan untuk menghitung demografi jumlah siswa. Data yang akan digunakan untuk menghitung demografi jumlah siswa berasal dari 189 responden. Data dari 189 responden itulah yang akan digunakan untuk analisis implementasi pembelajaran tematik dengan faktor demografi jumlah siswa. Responden yang dinyatakan gugur karena tidak mengisi item demografi jumlah rekan guru yang menggunakan tematik yaitu 6 responden. Gugurnya responden tersebut mengubah jumlah sampel untuk analisis demografi jumlah rekan guru yang menggunakan tematik menjadi 186 responden. Data dari 186 responden itulah yang akan digunakan untuk analisis implementasi pembelajaran tematik dengan faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan tematik.

  3. Menganalisis data deskriptif statistik deskriptif berdasarkan pada distribusi frekuensi menggunakan rumus

  

Sturges (Riduwan, 2008: 70-72). Hasil implementasi pembelajaran tematik

  dikategorikan menjadi lima kategori (Masidjo, 1995: 153). Lima kategori tersebut adalah sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah.

  Penentuan distribusi frekuensi dilakukan melalui tujuh tahap (Riduwan, 2008: 70-72). Tujuh tahap distribusi frekuensi adalah: a. Tahap pertama dengan mengurutkan data yang terkecil sampai yang terbesar.

  b. Tahap kedua dengan menghitung jarak atau rentangan (R)

  

(R): Data tertinggi-data terendah

Gambar 3.4 Rumus Jarak atau Rentangan c. Tahap ketiga dengan menghitung jumlah kelas (K).

  Rumus: 1+3,3 log n.

Gambar 3.5 Rumus Jumlah Kelas d. Tahap keempat dengan menghitung panjang kelas interval (P).Gambar 3.6 Rumus Panjang Kelas e. Tahap kelima dengan menentukan batas interval panjang kelas.

  f. Tahap keenam dengan menghitung urutan interval kelas.

  g. Tahap ketujuh dengan membuat urutan inetrval kelas menjadi acuan kategorisasi.

  Ketujuh tahapan distribusi frekuensi dilanjutkan dengan mengkategorikan data total implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta sesuai interval kelas yang telah dibuat.

  4. Menentukan taraf signifikansi Tahap ini untuk prosedur analisis data ialah menentukan taraf signifikansi.

  Taraf signifikansi digunakan dalam interprestasi data statistik. Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi α = 5% atau 0,05 (two tailed). Artinya peneliti mentolerir kesalahan sebesar 5% (Hartono, 2012: 147). Azwar (2005: 6) menjelaskan bahwa pemilihan taraf signifikansi 1% atau 5% hanya berdasarkan kesepakatan para peneliti tanpa sebab yang jelas. Taraf signifikansi

  (α) menunjukkan peluang kesalahan yang dapat terjadi ataupun dialami oleh peneliti dalam mengambil keputusan untuk mendukung atau menolak Ho (Field, 2009: 252). Taraf signifikansi yang digunakan dalam pengambilan keputusan dari hipotesis sebesar 5%. Taraf signifikansi 5% memungkinkan tingkat kepercayaan dari pengambilan keputusan tersebut 95% dan kemungkinan kesalahan 5%.

  Hasil peninjauan teori pada bab dua menunjukkan dua teori yang bertolak belakang untuk teori faktor demografi jumlah siswa. Penelitian menunjukkan faktor demografi jumlah siswa mempengaruhi dan tidak mempengaruhi pengajaran di dalam kelas. Tinjauan teori tersebut memperlihatkan hipotesis untuk faktor demografi jumlah siswa termasuk hipotesis dua pihak (two tailed). Peninjauan teori menunjukkan kecenderungan satu hasil untuk faktor demografi menggunakan pembelajaran tematik terhadap pengajaran di dalam kelas. Tinjauan teori tersebut menunjukkan hipotesis untuk faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik termasuk hipotesis satu pihak (one

  

tailed ). Adanya kecenderungan hipotesis satu pihak tetapi penelitian ini tetap

  menggunakan dua pihak karena dalam banyak jurnal penelitian tetap menggunakan uji dua pihak (Christensen dan Johnson, 2008: 506).

  5. Menguji asumsi klasik Data yang diolah untuk uji asumsi klasik untuk menjawab rumusan masalah 2 dan rumusan masalah 3 yaitu pembelajaran tematik dan faktor demografi. Uji asumsi klasik yang dilakukan adalah uji normalitas dan uji homogenitas. Sebelum uji asumsi klasik maka penelitian ini menetukan daftar distribusi terlebih dahulu.

  Penentuan distribusi frekuensi dilakukan melalui tujuh tahap (Riduwan, 2008: 70- 72). Tujuh tahap distribusi frekuensi adalah: a. Tahap pertama dengan mengurutkan data yang terkecil sampai yang terbesar.

  b. Tahap kedua dengan menghitung jarak atau rentangan (R)

  

(R): Data tertinggi-data terendah

Gambar 3.7 Rumus Jarak atau Rentangan c. Tahap ketiga dengan menghitung jumlah kelas (K).

  Rumus: 1+3,3 log n.

Gambar 3.8 Rumus Jumlah KelasGambar 3.9 Rumus Panjang Kelas e. Tahap kelima dengan menentukan batas interval panjang kelas.

  f. Tahap keenam dengan menghitung urutan interval kelas.

  g. Tahap ketujuh dengan membuat urutan inetrval kelas menjadi acuan kategorisasi.

  Apabila ketujuh tahap dari distribusi normal sudah selesai maka dilanjutkan dengan uji normalitas dan uji homogenitas. Data yang diolah untuk uji asumsi klasik adalah data implementasi pembelajaran tematik dan faktor demografi. Faktor demografi yang diuji adalah jumlah siswa dan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

  a. Uji normalitas Keadaan data berdistribusi normal merupakan sebuah persyaratan yang harus terpenuhi (Sudaryono, 2012: 129). Tujuan dilakukannya uji normalitas ialah untuk mengetahui distribusi sebuah data mengikuti atau mendekatai distribusi normal (Santoso, 2012: 34). Uji normalitas menggunakan 3 cara yaitu menggunakan

  

Kolmogorov Smirnov Test, visualisasi P-P Plot, dan histogram. Tes Kolmogorov

Smirnov merupakan test yang digunakan dalam penelitian ini. Hipotesis untuk uji

  normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov Uji normalitas ini dilakukan untuk menjawab rumusan masalah 2 dan rumusan 3. Rumusan masalah kedua dalam penelitian ini adalah

  “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi mempunyai dua data. Data yang pertama adalah implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah. Data yang kedua adalah jumlah siswa.

  Hipotesis statistik berdasarkan data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah ditinjau dari jumlah siswa.

  Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed)

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal).

  Data faktor demografi jumlah siswa dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok sedikit dan banyak. Uji normalitas dilakukan pada masing- masing kelompok. Apabila kedua kelompok memiliki data berdistribusi normal memiliki data berdistribusi tidak normal maka menggunakan statistik non parametrik.

  Rumusan masalah ketiga dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik?

  ”. Rumusan masalah ketiga mempunyai dua data. Data yang pertama adalah implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah. Data yang kedua adalah jumlah siswa. Hipotesis statistik berdasarkan data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

  Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed)

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal).

  Data faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok sedikit dan banyak. Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok. Apabila kedua kelompok memiliki data berdistribusi normal maka menggunakan statistik parametrik. Apabila terdapat salah satu kelompok memiliki data berdistribusi tidak normal maka menggunakan statistik non parametrik.

  Uji normalitas juga diketahui menggunakan visualisasi grafik P-P Plot. Grafik P-P Plot diperoleh dengan menggunakan program SPSS. Output berupa grafik yang digunakan untuk mengetahui apakah data normal atau tidak normal.

  Titik-titik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data. Apabila titik-titik tersebut terletak di sekitar garis artinya data berdistribusi normal (Field, 2009: 136). Normal atau tidaknya persebaran data dapat dilihat melalui histogram dengan kurva normal. Apabila histogram membentuk atau mirip kurva normal maka dapat dinyatakan data berdistribusi normal (Field, 2009: 136). Perhitungan menggunakan Kolmogorov-Smirnov dengan pogram SPSS 16. Rumus dari uji normalitas dapat dilihat pada gambar 3.4 (Uyanto, 2009: 54).

Gambar 3.10 Rumus Uji Normalitas Keterangan: = fungsi distribusi empiris

   = fungsi distribusi kumulatif

  b. Uji homogenitas Siregar (2013:167) menjelaskan bahwa uji homogenitas memiliki tujuan untuk mengetahui kesamaan varian dalam objek yang diteliti. Uji homogenitas dilakukan pada rumusan masalah 2 dan rumusan masalah 3. Rumusan masalah kedua dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa?

  ”. Hipotesis statistik berdasarkan data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah ditinjau dari jumlah siswa. Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau jumlah siswa. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dan Rumusan masalah ketiga dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik?

  ”. Hipotesis statistik berdasarkan data implementasi pembelajarn tematik oleh guru pengampu kelas bawah ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

  Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

  Terdapat dua kriteria dalam pengambilan keputusan uji homogenitas. Kriteria pertama apabila harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Artinya tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok. Kriteria

  Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan

  Lavene’s test

  menggunakan program SPSS 16. Rumus

  Lavene’s test dapat dilihat pada gambar 3.5 (Nordstokke, 2011: 3).

Gambar 3.11 Rumus Lavene’s test

  Keterangan: n = jumlah observasi

  k = banyaknya kelompok

  = rata-rata dari kelompok ke i = rata-rata dari kelompok dari Z

  = rata-rata menyeluruh

  6. Uji hipotesis Santoso (2010:79) menjelaskan bahwa uji hipotesis digunakan untuk menguji kuat atau tidaknya data dari sampel. Uji hipotesis dilakukan setelah peneliti melakukan uji homogenitas dan uji normalitas. Santoso (2012: 94) menjelaskan bahwa data bersifat interval atau rasio dan distribusi data normal maka menggunakan statistik parametrik yaitu uji t dua sampel bebas (independent

  

sample t test). Apabila data bersifat nominal atau ordinal maupun data bersifat parametrik. Statistik non parametrik menggunakan uji dua sampel bebas (uji mann whitney). Apabila hasil analisis menunjukkan data berdistribusi normal dan data memiliki varian yang sama atau data bersifat homogen, maka data selanjutnya diolah menggunakan Independent Sample t-Test pada program SPSS 16.

  Sebaliknya jika data yang diolah berdistribusi tidak normal dan data tidak memiliki varian yang sama atau bersifat tidak homogen, maka data diolah menggunakan uji Mann Whitney pada program SPSS 16.

  Uji hipotesis digunakan untuk menjawab rumusan masalah 2 dan rumusan masalah 3. Rumusan masalah 2 dalam penelitian ini adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa?”. Hipotesis yang digunakan dalam rumusan masalah 2 adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa (

  1 = ).

  penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa (

  1 Data untuk faktor demografi jumlah siswa dibagi ke dalam dua kelompok dan termasuk dalam data interval. Uji hipotesis dalam rumusan masalah 2 menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika Sig.(2-tailed)

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa atau Ho gagal ditolak dan Ha ditolak.

  

Kedua , jika Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan

  tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa atau Ho ditolak dan Ha gagal ditolak.

  Rumusan masalah 3 dalam penelitian i ni adalah “Apakah ada perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik

  ?”. Hipotesis yang digunakan dalam rumusan masalah 2 adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Hipotesis alternatif (Ha) : Terdapat perbedaan tingkat implementasi ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

  Data untuk faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik dibagi ke dalam dua kelompok dan termasuk data interval.

  Uji hipotesis dalam rumusan masalah 3 menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik atau Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik atau Ho ditolak dan Ha gagal ditolak.

  Independent Sample T-Test atau uji t dua sampel digunakan untuk menguji

  signifikansi beda rata-rata dua kelompok (Wiyono, 2011: 240). Uji ini biasanya digunakan untuk menguji pengaruh satu variabel independen terhadap satu atau lebih variabel dependen. Santoso (2014: 79) menjelaskan bahwa rata-rata dari dua grup yang tidak memiliki hubungan satu dengan yang lain. Tujuan dari perbandingan tersebut apakah kedua grup mempunyai rata-rata yang sama atau tidak. Riduwan (2008: 213) menjelaskan bahwa uji ini tergolong dalam uji

  =

  (membedakan) kedua data (variabel) sama atau berbeda. Rumus dari uji t dua sampel dapat dilihat pada gambar 3.6 (Field, 2009: 336).

Gambar 3.12 Rumus Uji t-Dua Sampel

  Dimana

Gambar 3.13 Rumus Independent- Sample T-test

  Keterangan: r = nilai korelasi dengan dan = jumlah sampel

  = rata-rata sampel ke-1 = rata-rata sampel ke-2 = varian sampel ke-1 = varian sampel ke-2 = standar deviasi gabungan Selain uji hipotesis Independent Sample T-Test terdapat uji Mann Whitney.

  Uji Mann Whitney merupakan uji statistik non parametrik. Santoso (2012: 94) sampel yang bebas berasal dari populasi yang sama atau tidak. Uji Mann Whitney ekivalen dengan uji jumlah peringkat Wilcoxon (Wilcoxon Rank Sum Test).

  Uyanto (2009: 322) mengartikan uji Mann Whitney merupakan alternatif dari uji

  

t-dua sampel independen. Uji Mann Whitney digunakan untuk membandingkan

  dua sampel independen dengan skala ordinal atau skala interval tidak terdistrbusi normal (Uyanto, 2009: 322). Uji Mann Whitney berdasarkan jumlah peringkat dari data. Data dari kedua sampel digabungkan untuk diberi peringkat dari terkecil hingga terbesar. Pengujian ini termasuk dalam statistik non parametrik dengan program SPSS 16. Rumus dari uji Mann Whitney dapat dilihat pada gambar 3.7.

Gambar 3.14 Rumus Mann Whitney

  dengan: Keterangan:

  = jumlah peringkat sampel pertama = jumlah sampel 1 = jumlah sampel 2 Hasil yang didapat apabila terdapat perbedaan untuk implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari kedua faktor demografi maka menggunakan uji besar efek. Besar efek atau effect size merupakan suatu ukuran objektif yang digunakan sebagai standar atau tolok ukur untuk mengetahui besarnya efek yang dihasilkan (Field, 2009: 57). Kriteria effect size yaitu apabila r = 0,10 (efek kecil) maka setara dengan 1% pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas, r = 0,30 (efek menengah) setara dengan 9%, dan r = 0,50 (efek besar) setara dengan 25%. Rumus untuk menghitung effect size pada data berdistribusi normal dapat dilihat pada gambar 3.8 (Field, 2009: 332).

  2 t r

  

  2  df t

Gambar 3.15 Rumus Effect Size Jika Data Normal

  Keterangan : r : Besarnya pengaruh (effect size) menggunakan koefisien korelasi Pearson. t : Harga uji t. df : Harga derajad kebebasan (degree of freedom).

  Apabila data berdistribusi tidak normal menggunakan rumus effect size untuk data tidak normal. Rumus dapat dilihat pada gambar 3.9 (Field, 2009: 550).

  Z r  Keterangan : Z = harga konversi standar deviasi.

  N = Jumlah total observasi.

  Field (2009: 179) menjelaskan kriteria untuk mengetahui besar efek yang ditimbulkan. Kriteria yang ditentukan yaitu efek kecil, sedang, dan besar. Hasil perhitungan effect size dapat dilihat dalam kriteria berikut:

  0,10 - 2,29 = small effect (efek kecil) 0,30 - 0,49 = medium effect (efek sedang) 0,50 - 1,00 = large effect (efek besar) Hasil dari perhitungan effect size yang diperoleh dapat digunakan untuk

  2

  menganalisis koefisien determinasi (R ). Field (2009: 179) menjelaskan bahwa koefisien determinasi adalah suatu ukuran jumlah variabilitas dalam satu variabel yang dibagikan pada yang lain. Rumus koefisien determinasi yang digunakan dalam analisis rumusan masalah dapat dilihat pada gambar 3.10.

  2

  2 R = r x 100%

Gambar 3.17 Rumus Koefisien Determinasi

J. Jadwal Penelitian

  Jadwal penelitian dapat dilihat pada tabel 3.11 Tabel 3.11

  Jadwal Penelitian

NO Kegiatan Bulan Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul ‘13 ‘13 ‘13 ‘13 ‘14 ‘14 ‘14 ‘14 ‘14 ‘14 ‘14

  1 Penyusunan proposal

  • –III

  3 Bimbingan dengan dosen

  4 Meminta surat ijin ke dinas

  5 Melakukan penelitian

  6 Revisi Bab I-III

  7 Analisis data

  9 Ujian skripsi

Tabel 3.17 menunjukkan jadwal penelitian yang dimulai dari bulan

  September 2013 dan berakhir pada bulan Juli 2014. Penyusunan proposal dimulai pada bulan September 2013. Konsultasi bab I sampai bab III mulai bulan September 2013 sampai bulan Desember 2013. Bimbingan dengan dosen dimulai dari bulan September 2013 sampai bulan Mei 2014. Meminta surat ijin untuk melakukan penelitian ke dinas dilakukan pada bulan Oktober 2013. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2013 sampai bulan Februari 2014. dan bab V dilakukan pada bulan Maret 2014 hingga bulan Juni 2014. Ujian skripsi dilaksanakan bulan Juli 2014.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab IV berisi empat bagian, yaitu: deskripsi penelitian, tingkat pengembalian kuesioner, hasil analisis, dan pembahasan hasil penelitian. A. Deskripsi Penelitian Penelitian ini berjudul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah : Sebuah Survei bagi Guru-Guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta”. Penelitian dilaksanakan mulai bulan September

  2013. Penelitian ini dilakukan oleh peneliti beserta anggota kelompok studi dengan meminta surat ijin ke Dinas Perijinan Kota Yogyakarta pada bulan Oktober 2013. Peneliti mulai membagikan kuesioner implementasi pembelajaran tematik ke seluruh sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta. Penyebaran kuesioner dilakukan mulai bulan Desember 2013 hingga pertengahan bulan Februari 2014.

  Teknik pembagian kuesioner dilakukan dengan mendatangi setiap sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dan bertemu langsung dengan kepala sekolah untuk meminta ijin. Ijin yang sudah didapat dari kepala sekolah, selanjutnya membagikan kuesioner kepada guru kelas bawah dan membuat deadline untuk pengambilan kuesioner. Guru sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta berjumlah 328 guru. Tidak semua guru di setiap sekolah bersedia mengisi kuesioner karena pada waktu pembagian tepat dengan pengisian rapor, jadi guru- guru ada yang sedang sibuk mengisi rapor.

  B. Tingkat Pengembalian Kuesioner

  Seluruh guru pengampu yang menjadi populasi sebanyak 328 guru kelas bawah di sekolah dasar negeri kota Yogyakarta. Sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini menurut tabel Krenji minimal berjumlah 175 responden. Kuesioner yang kembali berjumlah 251 kuesioner atau 76,52% dari jumlah populasi.

  Sebanyak 190 kuesioner digunakan untuk sampel dan sisanya sebanyak 61 kuesioner digunakan untuk menghitung validitas maupun reliabilitas (lihat lampiran 25).

  Terdapat 23,75% kuesioner tidak dikembalikan oleh guru pengampu yang menjadi populasi. Kuesinoner tidak kembali karena berbagai alasan. Alasan tidak kembalinya kuesioner dikarenakan kurangnya waktu. Pembagian kuesioner bertepatan dengan ujian akhir sekolah yang menyebabkan guru sibuk mengurus rapor. Alasan lain tidak dikembalikannya kuesioner karena ada guru yang sedang mengambil cuti.

  C. Hasil Penelitian

  Penelitian ini berisi tiga rumusan masalah yaitu bagaimana implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah demografi jumlah siswa, dan perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah ditinjau dari faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Berikut penjabaran untuk hasil analisis dari ketiga rumusan masalah.

  1. Hasil analisis implementasi pembelajaran tematik Data implementasi pembelajaran tematik yang diperoleh dan diolah menggunakan distribusi frekuensi (Riduwan, 2008: 70-72). Distribusi frekuensi memiliki tujuh tahap. Data implementasi pembelajaran tematik dihitung melalui tujuh tahap distribusi frekuensi. Tahap pertama dengan mengurutkan kategori dari yang terkecil yang tebesar. Tahap kedua dengan menghitung jarak atau rentangan (R). Jarak atau rentangan (R) dihitung dengan mengurangkan data tertinggi dengan data terendah. Hasil yang didapat menunjukkan jarak atau rentangan (R) sebesar 79 (lampiran 10).

  Tahap ketiga dengan menghitung jumlah kelas (K). Jumlah kelas telah ditetapkan menurut Masidjo (1995: 153). Jumlah kelas tersebut terdiri dari lima kelas yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah. Tahap keempat dengan menghitung panjang kelas interval (P). Panjang kelas interval (P) dihitung dengan membagi rentangan dan jumlah kelas. Panjang kelas interval diperoleh hasil sebesar 16 (lampiran 10).

  Tahap kelima dengan menentukan kelas interval. Kelas interval dapat dilihat pada tabel 4.1.

  Tabel 4.1

  Panjang Kelas Interval

Panjang Kelas Kategori

  49 Sangat Rendah

  • – 64

  

65 Rendah

  • – 80

    81 - 96 Cukup

  

97 Tinggi

  • – 112 113 Sangat Tinggi – 128

  Tahap keenam dengan menghitung urutan interval kelas. Hasil dari perhitungan tahap keenam dapat dilihat lampiran 11. Tahap ketujuh dengan memindahkan semua angka distribusi ke dalam hasil akhir. Hasil akhir perhitungan distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4.2.

  Tabel 4.2

  Hasil Perhitungan Daftar Distribusi

Kategori Panjang Kelas Frekuensi Presentase

Sangat Tinggi 113

  34 17,99%

  • – 128 Tinggi

  97 145 76,72%

  • – 112 Cukup

  65 10 5,29%

  • – 80 Rendah

  81 0%

  • – 96 Sangat Rendah

  49 0%

  • – 64 Total 189 100%

Tabel 4.2 menunjukkan hasil perhitungan daftar distribusi. Hasil yang diperoleh menunjukkan sebanyak 34 responden masuk ke dalam kategori sangat

  tinggi dengan persentase 17,99% untuk pengimplementasian pembelajaran tematik. Sejumlah 145 responden masuk ke dalam kategori tinggi dengan persentase 76,72% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Sejumlah 10 responden masuk dalam kategori cukup atau dengan persentase 5,29%. Sebanyak 0% responden masuk ke dalam kategori rendah dan sangat rendah. Hasil keseluruhan menunjukkan bahwa tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengamppu kelas bawah sekolah

  2. Hasil analisis perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa Data faktor demografi jumlah siswa dibagi menjadi dua kelompok menggunakan distribusi frekuensi. Data yang ada diolah berdasarkan ketujuh langkah yang ada. Langkah pertama dengan mengurutkan data faktor demografi jumlah siswa. Data berjumlah 186 dengan data tertinggi 36 dan data terendah 1, maka didapatkan jarak atau rentangan sebesar 35. Langkah berikutnya menentukan jumlah kelas menggunakan rumus Sturges yaitu 2 kelas. Penetapan kelas berdasarkan atas teori dari Cruickshank (2014) yaitu siswa dengan jumlah sedikit dan banyak. Data kemudian ditentukan panjang kelas interval dan didapatkan hasil 17,5 atau dibulatkan menjadi 18. Tahap terakhir dengan menentukan batas-batas kelas interval dan urutannya. Hasil yang didapat adalah data dengan jumlah siswa antara 1 sampai 18 siswa masuk ke dalam kategori sedikit. Jumlah siswa antara 19 sampai 36 masuk ke dalam kategori banyak (lampiran 12).

  Pengolahan data selanjutnya untuk menganalisis data dari tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik dan faktor demografi jumlah siswa. Pengolahan data tersebut bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi jumlah siswa. Data-data yang ada dianalisis menggunakan program SPSS 16. Pengukuran dilakukan dengan menghitung uji normalitas dan uji homogenitas dianggap berdistribusi normal atau tidak normal. Setelah uji normalitas kemudian dilakukan uji homogenitas.

  Uji normalitas dilakukan pada data implementasi pembelajaran tematik dan faktor demografi jumlah siswa. Pengujiam normalitas ini dilakukan pada dua kelompok data. Kelompok data pertama adalah tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit. Kelompok data kedua adalah tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa banyak. Santoso (2010: 25) menjelaskan bahwa uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk mengecek apakah data penelitian kita berasal dari populasi yang sebenarnya normal. Pengolahan uji normalitas menggunakan program SPSS 16 dengan Kolmogorov-Smirnov. Uji normalitas terdapat hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha).

  Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.3.

  Tabel 4.3

  Hasil Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Dengan

Jumlah Siswa Sedikit

Variabel Asymp. Sig. Keterangan

  Jumlah siswa sedikit 0,438 Data berdistribusi normal

Tabel 4.3 menunjukkan hasil uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di

  kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit. Uji normalitas data ini mendapatkan hasil nilai Sig.(2

  • –tailed) sebesar 0,438. Nilai Sig.(2–tailed) sebesar

  0,438 ≥ 0,05, yang berarti Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Hasil SPSS uji normalitas dapat dilihat pada lampiran 14.

  Uji normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot. Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan data data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.1.

Gambar 4.1 Uji Normalitas P-P Plot Data Implementasi Dengan Jumlah Siswa SedikitGambar 4.1 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah

  dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa kelompok sedikit. Titik- titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4.1 menunjukkan bahwa titik-titik berlubang terletak di sekitar garis, maka data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa kelompok sedikit berdistribusi normal (lampiran 14). Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat

Gambar 4.2 Uji Normalitas Histogram Data Implementasi Dengan Jumlah Siswa SedikitGambar 4.2 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah

  dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit. Data dikatakan normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136).

Gambar 4.2 menunjukkan bahwa histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data

  tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit berdistribusi normal (lampiran 14).

  Kelompok data kedua adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan

  16 dengan Kolmogorov-Smirnov. Uji normalitas terdapat hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha).

  Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed)

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.4.

  Tabel 4.4

  Tabel Hasil Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik

Dengan Jumlah Siswa Banyak

Variabel Asymp. Sig. Keterangan

  Jumlah siswa banyak 0,239 Data berdistribusi normal

Tabel 4.4 menunjukkan hasil uji normalitas data tingkat implementasi mendapatkan hasil nilai Sig.(2

  • –tailed) sebesar 0,239. Nilai Sig.(2–tailed) sebesar

  0,239 ≥ 0,05, yang berarti Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Hasil SPSS uji normalitas dapat dilihat pada lampiran 15.

  Uji normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot. Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan data data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.3.

Gambar 4.3. Uji Normalitas P-P Plot Data Implementasi Dengan Jumlah Siswa BanyakGambar 4.3 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah

  dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa kelompok banyak. Titik- titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4.3 menunjukkan bahwa pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa kelompok banyak berdistribusi normal (lampiran 15). Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.4.

Gambar 4.4 Uji Normalitas Histogram Data Implementasi Dengan Jumlah Siswa BanyakGambar 4.2 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah

  dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa banyak. Data dikatakan normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136).

Gambar 4.2 menunjukkan bahwa histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa banyak berdistribusi normal (lampiran 15).

  Pengujian normalitas telah dilakukan pada kedua kelompok. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit mendapatkan hasil data berdistribusi normal. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa banyak mendapatkan hasil data berdistribusi normal. Kedua data dapat disimpulkan data berdistribusi normal, maka selanjutnya dilakukan uji homogenitas.

  Rumusan masalah kedua yang telah di uji normalitasnya dan berdistribusi normal, selanjutnya di uji homogenitasnya. Data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta di uji homogenitasnya dengan SPSS 16. Pengujian menggunakan metode

Lavene’s test. Hipotesis dalam uji homogenitas ini adalah:

  Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran oleh guru pengampu kelas bawah sekolh dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah siswa. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa.

  Terdapat dua kriteria dalam pengambilan keputusan uji homogenitas. Kriteria pertama apabila harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Artinya tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok (data

  

homogen ). Kriteria kedua apabila harga Sig.(2-tailed) < 0,05, maka Ho ditolak

  dan Ha gagal ditolak. Artinya terdapat perbedaan varian antara dua kelompok (data tidak homogen). Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.5.

  Tabel 4.5

  Hasil Uji Homogenitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik

Ditinjau Dari Jumlah Siswa

Variabel Nilai Keterangan

  Tingkat Implementasi pembelajaran tematik 0,005 Ho ditolak ditinjau dari jumlah siswa

Tabel 4.5 menunjukkan hasil uji homogenitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di

  kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa. Uji homogenitas data ini mendapatkan hasil nilai Sig.(2

  • –tailed) sebesar 0,005. Nilai Sig.(2–tailed) sebesar

  0,005 < α (0,05), yang berarti ada perbedaan varian antara tingkat implmentasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa (data tidak homogen). Data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau jumlah siswa telah di uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas mendapatkan hasil data berdistribusi normal. Data memenuhi syarat untuk melakukan uji statistik parametrik. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 18.

  Pengolahan data menggunakan pengujian statistik parametrik menggunakan

  

Independent Sample t-Test. Hipotesis yang diuji dalam pengolahan statistik ini

  adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa.

  Hipotesis alternatif (Ha) : Terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa.

  Uji hipotesis dalam rumusan masalah 2 menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa atau Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika

  

Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat

  implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa atau Ho

  Tabel 4.6

  

Hasil Uji Independent Sample t-Test Tingkat Implementasi Pembelajaran

Tematik Ditinjau Dari Jumlah Siswa

Sig. ( 2-tailed) Nilai Keterangan

  Equal variances not assumed 0,209 Ho gagal ditolak

Tabel 4.6 menunjukkan hasil uji Independent sample t-test mendapatkan hasil nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,209. Sig.(2-tailed) (0,2

  09) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Berarti tidak ada perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa. Jumlah siswa dengan kelompok sedikit dan jumlah siswa dengan kelompok banyak sama-sama memiliki tingkat implementasi pembelajaran tematik tinggii, maka tidak dilakukan effect size dan uji koefisien determinasi. Hasil SPSS dari uji Independent sample t-test selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 20.

  3. Hasil analisis perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik

  Data faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik dibagi menjadi dua kelompok menggunakan distribusi frekuensi. Data yang ada diolah berdasarkan ketujuh langkah yang ada. Langkah pertama dengan mengurutkan data faktor demografi jumlah siswa. Data berjumlah 183 dengan data tertinggi 33 dan data terendah 2, maka didapatkan jarak atau rentangan sebesar 31. Langkah berikutnya menentukan jumlah kelas banyak. Data kemudian ditentukan panjang kelas interval dan didapatkan hasil 15,5 atau dibulatkan menjadi 16. Tahap terakhir dengan menentukan batas-batas kelas interval dan urutannya. Hasil yang didapat adalah data dengan jumlah rekan guru antara 2 sampai 17 siswa masuk ke dalam kategori sedikit. Jumlah rekan guru antara 18 sampai 33 masuk ke dalam kategori banyak (lampiran 13).

  Pengolahan data selanjutnya untuk menganalisis data dari tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik dan faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Pengolahan data tersebut bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Data-data yang ada dianalisis menggunakan program SPSS 16. Pengukuran dilakukan dengan menghitung uji normalitas dan uji homogenitas terlebih dahulu. Uji normalitas dilakukan dan mendapatkan hasil dahwa data dianggap berdistribusi normal atau tidak normal. Setelah uji normalitas kemudian dilakukan uji homogenitas.

  Uji normalitas dilakukan pada data implementasi pembelajaran tematik dan faktor demografi jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

  Pengujiam normalitas ini dilakukan pada dua kelompok data. Kelompok data pertama adalah tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru sedikit. Kelompok data kedua adalah tingkat implementasi

  (2010: 25) menjelaskan bahwa uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk mengecek apakah data penelitian kita berasal dari populasi yang sebenarnya normal. Pengolahan uji normalitas menggunakan program SPSS 16 dengan

  

Kolmogorov-Smirnov . Uji normalitas terdapat hipotesis nol (Ho) dan hipotesis

alternatif (Ha).

  Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed)

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Kriteria yang kedua adalah jika nilai Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.7.

  Tabel 4.7

  Hasil Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Dengan

Jumlah Rekan Guru Sedikit

Variabel Asymp. Sig. Keterangan

Tabel 4.7 menunjukkan hasil uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di

  kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit. Uji normalitas data ini mendapatkan hasil nilai Sig.(2

  • –tailed) sebesar 0,030. Nilai Sig.(2–tailed) sebesar

  0,030 < 0,05, yang berarti Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Hasil SPSS uji normalitas dapat dilihat pada lampiran 16. Uji normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot.

  Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan data data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.5.

Gambar 4.5 Uji Normalitas P-P Plot Data Implementasi Dengan Jumlah Rekan Guru Yang Menggunakan Pembelajaran Tematik SedikitGambar 4.5 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat pembelajaran tematik kelompok sedikit. Titik-titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4. menunjukkan bahwa titik-titik berlubang berada tidak di sekitar garis, maka data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pebelajaran tematik kelompok sedikit berdistribusi tidak normal (lampiran 16). Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.6.

Gambar 4.6 Uji Normalitas Histogram Data Implementasi Dengan Jumlah Jumlah Rekan Guru Yang Menggunakan Pembelajaran Tematik SedikitGambar 4.6 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data tingkat normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136).

Gambar 4.2 menunjukkan bahwa histogram membentuk atau tidak mirip dengan kurva normal. Histogram membentuk atau tidak mirip dengan kurva normal

  maka data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pebelajaran tematik sedikit berdistribusi tidak normal (lampiran 16).

  Kelompok data kedua adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa banyak . Pengolahan uji normalitas menggunakan program SPSS 16 dengan Kolmogorov-Smirnov. Uji normalitas terdapat hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha). Hipotesis nol (Ho) : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Hipotesis alternatif (Ha) : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Penelitian ini menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan di dalam uji normalitas. Kriteria yang pertama yaitu jika nilai Sig.(2-tailed)

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha gagal ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi tidak normal). Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.8.

  Tabel 4.8

  Hasil Uji Normalitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Dengan Jumlah Guru Yang Menggunakan Pembelajaran Tematik Banyak Variabel Asymp. Sig. Keterangan

  Jumlah siswa banyak 1,000 Data berdistribusi normal

Tabel 4.8 menunjukkan hasil uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di

  kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik banyak. Uji normalitas data ini mendapatkan hasil nilai Sig.(2

  • –tailed)

  sebesar 1,000. Nilai Sig.(2

  • –tailed) sebesar 1,000 ≥ 0,05, yang berarti Ho gagal

  ditolak dan Ha ditolak yang berarti bahwa distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Hasil SPSS uji normalitas dapat dilihat pada lampiran 17. Uji normalitas juga dilakukan dengan visualisasi grafik P-P Plot. Titik-titik pada grafik P-P Plot merupakan data data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil normalitas dengan P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.7.

Gambar 4.7 Uji Normalitas P-P Plot Data Implementasi Dengan Jumlah Jumlah Rekan Guru Yang Menggunakan Pembelajaran Tematik BanyakGambar 4.7 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah

  dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik kelompok banyak. Titik-titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Gambar 4.3 menunjukkan bahwa titik-titik berlubang terletak di sekitar garis, maka data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik kelompok banyak berdistribusi normal (lampiran 17). Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.8.

Gambar 4.8 Uji Normalitas Histogram Data Implementasi Dengan Jumlah Jumlah Rekan Guru Yang Menggunakan Pembelajaran Tematik BanyakGambar 4.8 menunjukkan visualisasi histogram uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah

  dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa banyak. Data dikatakan normal jika histogram membentuk atau mirip kurva normal (Field, 2009: 136).

Gambar 4.2 menunjukkan bahwa histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data

  tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa banyak berdistribusi normal (lampiran 17).

  Pengujian normalitas telah dilakukan pada kedua kelompok. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan jumlah siswa sedikit mendapatkan hasil data berdistribusi normal. Data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta dengan dapat disimpulkan data berdistribusi normal, maka selanjutnya dilakukan uji homogenitas.

  Rumusan masalah kedua yang telah di uji normalitasnya dan berdistribusi normal, selanjutnya di uji homogenitasnya. Data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta di uji homogenitasnya dengan SPSS 16. Pengujian menggunakan metode

Lavene’s test. Hipotesis dalam uji homogenitas ini adalah:

  Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran oleh guru pengampu kelas bawah sekolh dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari faktor jumlah siswa. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari faktor dukungan kepala sekolah. Terdapat dua kriteria dalam pengambilan keputusan uji homogenitas. Kriteria pertama apabila harga Sig.(2-tailed)

  ≥ 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Artinya tidak terdapat perbedaan varian antara dua kelompok (data

  

homogen ). Kriteria kedua apabila harga Sig.(2-tailed) < 0,05, maka Ho ditolak

  Tabel 4.9

  Tabel hasil uji homogenitas tingkat implementasi pembelajaran tematik

ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik

Variabel Nilai Keterangan

  Tingkat Implementasi pembelajaran tematik Ho ditolak

  0,220 ditinjau dari jumlah siswa

Tabel 4.9 menunjukkan hasil uji homogenitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di

  kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa. Uji homogenitas data ini mendapatkan hasil nilai Sig.(2

  • –tailed) sebesar 0,220. Nilai Sig.(2–tailed) sebesar

  0,220 < α (0,05), yang berarti tidak ada perbedaan varian antara tingkat implmentasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik (data homogen). Data implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik telah di uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas mendapatkan hasil data berdistribusi tidak normal. Data juga telah di uji homogenitasnya dan hasilnya data tidak memiliki perbedaan varian (data homogen). Data yang berdistribusi tidak normal dan homogen memenuhi syarat untuk melakukan uji statistik non parametrik. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 19.

  Pengolahan data menggunakan pengujian statistik parametrik menggunakan uji Mann Whitney. Hipotesis yang diuji dalam pengolahan statistik ini adalah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

  Hipotesis alternatif (Ha) : Terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Uji hipotesis dalam rumusan masalah 2 menggunakan dua kriteria pengambilan keputusan. Pertama, jika Sig.(2-tailed)

  ≥ 0,05 maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik atau Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kedua, jika Sig.(2-tailed) < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik atau Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Hasil pengolahan menggunakan Independent Sample t-Test dapat dilihat pada tabel 4.10.

  Tabel 4.10

  

Tabel Hasil Uji Mann Whitney Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik

Ditinjau dari Jumlah Rekan Guru yang Menggunakan Pembelajaran Tematik

Nilai Keterangan

  

Asymp. Sig 0,847 Ho gagal ditolak

  tailed ) (0,847

  ) < α (0,05) maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Berarti tidak ada perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik kelompok sedikit dan jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik kelompok banyak sama-sama memiliki tingkat implementasi pembelajaran tematik tinggi, maka tidak dilakukan

  

effect size dan uji koefisien dterminasi. Hasil SPSS dari uji Mann Whitney

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 21.

D. Pembahasan Hasil Penelitian

  Tujuan dari penelitian yang dilakukan untuk mengetahui : (1) tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta; (2) perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa; (3) perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditnjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Berikut akan dijabarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan melihat masing-masing rumusan masalah:

  1. Tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta.

  Hasil penelitian dan pengukuran menggunakan distribusi frekuensi (Riduwan, 2008: 70-72). Hasil menunjukkan bahwa sejumlah 34 guru dianggap masuk dalam kategori sangat tinggi mengimplementasikan pembelajaran tematik. Sejumlah 145 guru dianggap masuk dalam kriteria tinggi dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Terdapat 10 guru yang dianggap masuk kategori cukup dalam implementasi pelaksanaan pembelajaran tematik. Peneliti dapat menyimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta adalah tinggi. Pelaksanaan pembelajaran tematik dianggap sedikit sulit untuk diterapkan di kelas bawah. Hal tersebut yang menunjukkan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta tidak mencapai tingkat kategori sangat tinggi.

  Pembelajaran tematik merupakan sesuatu yang baru maka dalam pengimplementasiannya masih dianggap kurang seperti yang diharapkan.

  Model pembelajaran tematik tidak mudah untuk diterapkan karena memerlukan penyesuaian dan adaptasi yang baik (Trianto, 2011: 173). Pembelajaran tematik lebih menuntut guru untuk dapat menyampaikan pembelajaran yang menarik, bermakna, dan menyenangkan bagi siswa. Tuntutan tersebut yang

  Rusman (2013: 206) menjelaskan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran tematik dipengaruhi oleh seberapa jauh suatu pembelajaran direncanakan sesuai dengan kondisi dan potensi yang dimiliki oleh siswa. Guru harus dapat merencanakan sesuatu pembelajaran yang baik dan dianggap sesuai dengan kondisi siswanya. Tuntutan untuk guru tersebut dirasa masih kurang karena kurangnya penerapan konsep mengajar yang baik.

  2. Perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa.

  Hasil penelitian menunjukkan uji Independent sample t-test mendapatkan hasil nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,209. Sig.(2-tailed ) (0,209) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Berarti tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa.

  Cruickshank (2014: 16) menjelaskan bahwa jumlah siswa di dalam kelas tampaknya mempengaruhi seberapa baik para siswa mengikuti pembelajaran dan berperilaku. Siswa dengan jumlah siswa yang relatif banyak cenderung tidak kondusif dan terasa sangat ramai. Sebaliknya apabila kelas dengan jumlah siswa relatif sedikit cenderung anak-anaknya tidak terlalu ramai karena masih dapat diatur oleh guru. Ukuran kelas atau jumlah siswa ini sangat berpengaruh dalam proses pengajaran di kelas. mendapatkan hasil bahwa jumlah siswa tidak mempengaruhi proses pengajaran yang terjadi di kelas khususnya penggunaan pembelajaran tematik. Teori tersebut bertolak belakang dengan penelitian ini karena penelitian ini tidak ditemukan perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta. Jumlah siswa dalam kelompok yang sedikitmaupun banyak tidak mempengaruhi adanya perbedaan antara implementasi pembelajaran tematik dengan faktor demografi jumlah siswa.

  Penelitian ini menjelaskan bahwa jumlah siswa di dalam kelas dikategorikan menjadi dua kelompok dengan jumlah siswa banyak dan sedikit. Jumlah siswa masuk kategori sedikit apabila jumlah siswa antara 1 sampai 18 siswa. Jumlah siswa masuk kategori banyak apabila jumlah siswa antara 19 sampai 36 siswa.

  Jumlah siswa banyak maupun sedikit tidak membedakan tingkat implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta.

  3. Perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik.

  Hasil penelitian menunjukkan hasil uji Mann Whitney untuk hipotesis memberikan nilai Z =

  • –0,193 dengan nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,847. Sig.(2-

  tailed

  ) (0,847) < α (0,05) maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Berarti tidak ada perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh Cruickshank (2014: 16) menjelaskan bahwa cara terstruktur ketika guru- guru berkolaborasi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Guru-guru kelas saling bekerja sama untuk dapat memenuhi tujuan dan kebutuhan siswa. Efek samping dari kolaborasi antar guru dapat meningkatkan kemampuan sekolah untuk mendorong prestasi para siswa (Goddard dalam Cruickshank, 2014: 16). Efek yang ditimbulkan dianggap sangat positif karena dianggap mampu meningkatkan mutu akademik.

  Hasil penelitian dari Cruickshank (2014) tidak sejalan dengan hasil penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak adanya perbedaan antara implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik. Data penelitian ini dikelompokkan menjadi 2 kelompok dinyatakan dalam kelompok sedikit maupun kelompok yang banyak. Banyak sedikitnya jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik tidak mempengaruhi implementasi pembelajaran tematik. Jumlah siswa dalam kelompok yang sedikitmaupun banyak tidak mempengaruhi adanya perbedaan antara implementasi pembelajaran tematik dengan faktor demografi jumlah siswa. Jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik masuk kategori sedikit apabila jumlah rekan guru antara 2 sampai 17 jumlah rekan guru. Jumlah rekan guru yang menggunakan pembelajaran tematik masuk kategori banyak apabila jumlah rekan guru antara membedakan tingkat implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta.

  1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta termasuk dalam kategori tinggi dalam pelaksanaannya. Pengkategorian juga dilihat sejumlah 145 guru atau 76,72% dari total keseluruhan 189 guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta masuk dalam kategori tinggi.

  2. Hasil penelitian menunjukkan hasil uji Independent Sample t-Test nilai

  Sig. (2-tailed) sebesar 0,209. Sig.(2-tailed

  ) (0,209) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Berarti tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah siswa.

  3. Hasil penelitian menunjukkan hasil uji Mann Whitney untuk hipotesis memberikan nilai Z =

  • –0,193 dengan nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,847.

  Sig. (2-tailed ) (0,847) < α (0,05) maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak.

  Berarti tidak terdapat perbedaan tingkat implementasi penggunaan pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar negeri

B. Keterbatasan

  Keterbatasan yang dialami oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang dilakukan secara mandiri.

  Pengisian kuesioner secara mandiri tersebut menyebabkan peneliti tidak dapat mengukur tingkat kejujuran dari responden.

  2. Waktu penelitian dilakukan setelah Ujian Akhir Semester (UAS) semester gasal yang berarti responden merasa terbebani. Responden yang seorang guru keberatan untuk mengisi kuesioner karena sedang sibuk mengisi hasil rapor siswanya.

  3. Pengambilan kuesioner bersamaan dengan pelaksanakan program pengalaman lapangan (PPL) sehingga peneliti kesulitan dalam membagi waktu.

  4. Indikator dalam kuesioner masih bisa dikembangkan.

  C. Saran

  Saran untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Instrumen penelitian tidak hanya menggunakan kuesioner saja, akan tetapi kalau bisa ditambahkan dengan observasi dengan responden secara langsung agar data yang diperoleh lebih dapat dipercaya.

  2. Penelitian sebaiknya dilakukan sebelum Ujian Akhir Semester (UAS) agar responden memiliki lebih banyak waktu untuk mengisi kuesioner

  3. Penelitian dilakukan sebelum pelaksaan program perngalaman lapangan (PPL) agar tidak sulit dalam membagi waktu.

  4. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan lebih detail. Astuti, Ika Puji. 2012. Implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas awal di sekolah dasar negeri se-kecamatan Srandakan tahun ajaran 2011/2012.

  Yogyakarta: Skripsi (Online) s 15 januari 2014). Azwar, Saifuddin. 2005. Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Chairunniza. 2012. Pengnaruh Karakterristik Demografi dan Motivasi Kerja

  Terhadap Prestasi Kerja Pegawai Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Aceh Utara. Jakarta: Universitas Terbuka

  Creswell, J.W. (2013). Research design.Yogyakarta: Pustaka Pelajar Cruickshank, Donald. 2014. Perilaku Mengajar. Jakarta: Salemba Humanika.

  Depdiknas. 2006. Model Pembelajaran Tematik Kelas Awal Sekolah Dasar.

  Jakarta: Puskur Balitbang __________. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Gramedia.

  __________. 2008. Laporan hasil diskusi: Kajian kurikulum pendidikan dasar.

  Jakarta: Puskur Balitbang. Djohar. 2006. Pengembangan pendidikan nasional menyongsong masa depan.

  Yogyakarta: CV. Grafika Indah. Dikti. 2012. Suplemen bahan ajar: Unit 4-Perkembangan kurikulum. Jakarta: Dikti.

  Dilek, Dursun. 2002. Using a thematic teaching approach based on

  pupil’s skill and interest and social studies teaching. Istanbul: Marmara University

  (Thesis). Fatnawati. 2012. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Tematik dengan

  Menggunakan Media Gambar pada Mata Pelajaran IPA, Bahasa Indonesia, dan Matematika Terhadap Hasil Belajar Siswa di Kelas II SD Kanisius Tahun Pelajaran 2011/2012. Field, Andi. 2009. Discovering Statistic Using SPSS (3

  rd

  ed.). London: Sage Gumelar, dkk. 2013. Pelaksanaan Model Pembelajaran Tematik dalam

  

Peningkatan Proses dan Hasil Belajar dengan Tema Kegemaran Siswa

Kelas III Sekolah Dasar.

  Hague, Paul (Terjemahan Fery Dwi Nugroho). 1995. Merancang kuesioner.

  Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Hartono. 2012. Statistik untuk penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hidayattulah, Anang Arif. 2012. Pelaksanaan pembelajaran tematik sd kelas

  rendah di Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara. Yogyakarta:

  Skripsi (Online) (eprints.uny.ac.id/5491/1/Anang%20Arif%20Hidayattulah.pdf diakses pada 15 Januari 2014 ).

  Indrawati. 2009. Model Pembelajaran Terpadu. 2009. Jakarta: Pusat Pengebangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam Jalal dan Supriadi. 2010.Reformasi pendidikan dalam konteks otonomi daerah.

  Jakarta:Adicita Karya Nusa. Johnshon, B & Chistensen, L. (2008). Education research third edition. USA: SAGE Publication.

  Majid, Abdul. 2013. Statistik pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. __________. 2014. Pembelajaran tematik terpadu. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Martono, Nanang. 2010. Statistik sosial: Teori dan aplikasi program SPSS.

  Yogyakarta: Gava Media. Mashudi. 2010. Implementasi pembelajaran tematik berdasarkan kurikulum

  tingkat satuan pendidikan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II

SDN Sonoageng 2 Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Surakarta:

  Tesis (Online) s 12 januari 2014). Masidjo. 1995. Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Mulyasa, H.E. 2013. Pengembangan dan implementasi kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Muzamiroh, Milda Latifatul. 2013. Pendekatan Statistik Modern Untuk Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika. Morrisan. 2012. Metode penelitian survei. Jakarta: PT. Kencana Prenadamedia Nordstokke. (2011).The operating characteristics od the non parametric Lavene’s test for equal variances with assesment and evaluation data. Practical

  assesment, rearch and evaluation. 10(5), p.1-8.

  Nurkhayati, Siti. 2012. Implementasi model pembelajaran tematik di kelas III

sekolah dasar pada gugus 1 Kecamatan Srandakan Kabupaten Bantul .

  Yogyakarta: Skripsi (Online) (http:// eprints.uny.ac.id/7842/1/cover%20- %2008108241111.pdf diakses 12 Januari 2014 ). Prasetyo, Giri. 2012. Pelaksanaan pembelajaran terpadu model tematik kelas 3

  sekolah dasar gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri. Yogyakarta: Skripsi (Online)

  (http://eprints.uny.ac.id/7784/1/cover%20-%2008108241020.pdf diakses 12 Januari 2014).

  Prastowo, Andi. 2013. Pengembangan bahan ajar tematik. Yogyakarta: Diva Press Riduwan. 2008. Dasar-dasar statistika. Bandung: Alfabeta.

  Rismiati, Catur. 2012.

  Teachers’ concerns regarding the implementation of

integrated thematic instruction: a study of primary grade teachers in

Kanisius Catholic Schoolsin Yogyakarta, Indonesia. Loyola University

Chicago.

  Sanaky, Hujair. A.H. 2009. Reformasi pendidikan suatu keharusan untuk memasuki milenium III (Suatu renungan untuk pendidikan Islam).

  Makalah. Santoso, Singgih. 2010. Statistik Non Parametrik. Jakarta: Kompas Gramedia. __________. 2012. Aplikasi SPSS pada statistik non parametrik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

  __________. 2014. Statistik Non Parametrik. Jakarta: Kompas Gramedia.

  

Sedayu, Bantul, Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010 . Yogyakarta:

Universitas Sanata Dharma.

  Siregar, S. 2010. Statistika Deskriptif Untuk Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Sudaryono. 2012. Statistik Probabilitas. Yogyakarta:Andi Offset Yogyakarta.

  Sugiarto, Pergibson Siagian. 2006. Metode statistik untuk bisnis dan ekonomi.

  Jakarta. Sugiyono. 2011. Metodologi Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:

  Alfabeta __________. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:

  Alfabeta Sururiaziz. 2013. Pengembangan Kurikulum 2013. Kementerian Pendidikan dan

  Kebudayaa

  s pada 12 Januari 2014 ) Suyatno, 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. jakarta: PT. Bumi Aksara.

  Syah, Muhibbin. 2002. Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sudrajat, Ahmad. 2008. Model tematik kelas awal. Makalah. Sugiyono. 2009. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta. __________. Metodologi penelitian kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. Trianto. 2010. Mengembangkan model pembelajaran tematik. Jakarta: PT.

  Prestasi Pustakaraya __________. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

  __________. 2012. Model pembelajaran terpadu. Jakarta: Bumi Aksara __________. 2013. Desain pengembangan pembelajaran tematik bagi anak usia

  dini TK/RA/dan anak kelas awal SD/MI . Jakarta : Kencana Prenada Media

  Uyanto, Stannislaus. 2009. Pedoman Analisis Data Dengan SPSS. Yogyakarta: Graha Ilmu

  Wiyono, Gendro. 2011. Merancang Penelitian Bisnis dengan Alat Analisis SPSS dan SmartPLS. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Yulius, Oscar. 2010. Kompas I.T Kreatif SPSS 18. Yogyakarta: Panser Pustaka Zhara, Rita. 2011. Pengaruh Tematik Terhadap Hasil Belajar IPA. Jakarta:

  Skripsi (online)

  s pada 15 Januari 2014 )

  Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian dan Telah Melakukan Penelitian

  Lampiran 2 Kuesioner Sebelum dan Sesudah Validasi

  Kepada Yth. Bpk./Ibu Guru SD Dengan hormat, Bersama ini saya mohon partisipasi Bpk/Ibu dalam penelitian awal survei yang berjudul: Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi (PTT): Sebuah Survey

  

pada Guru-Guru di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1)

  tingkat implementasi PTT oleh guru di kelas, dan (2) hubungan antara keadaan demografi guru dengan tingkat implementasi PTT. Tidak akan ada resiko apapun untuk keterlibatan Bpk/Ibu dalam studi ini. Walaupun Bpk/Ibu tidak akan mendapat manfaat secara pribadi, hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi masyarakat umum di masa mendatang. Pengisian survei akan memakan waktu sekitar 30 menit. Jika Bpk/Ibu memiliki pertanyaan, atau saran, dimohon untuk menghubungi saya pada alamat atau nomer telpon pada bagian akhir surat pengantar ini atau dosen pembimbing saya Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. dengan alamat email ematuris@gmail.com. Terima kasih atas waktu dan dukungan Bapak/Ibu.

  Hormat saya, Koordinator peneliti survei Agus Praditha Deo Agitya (Phone 085729886542, Email Primary School Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University Dosen pembimbing : Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D Patangpuluhan WB 3/298 Yogyakarta, 55251.

  

hone 0274 379917 (home) or 081227286363 (mobile)

  1. Saya menggunakan ceramah sebagai metode utama untuk 1 2 3 4 5 menyampaikan materi.

  2. Saya memberi pilihan kepada siswa untuk menentukan cara mereka 1 2 3 4 5 belajar.

  3. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator 1 2 3 4 5 pembelajaran.

  4. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa 1 2 3 4 5 untuk memegang peran utama dalam kelas.

  5. Saya menggunakan kegiatan “belajar dengan melakukan atau belajar 1 2 3 4 5 dengan mengalami” (learning by doing) untuk pembelajaran di kelas seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi.

  6. Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar 1 2 3 4 5 mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran.

  7. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan 1 2 3 4 5 materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa)

  8. Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat mendalami tema pembelajaran melalui berbagai cara dan 1 2 3 4 5 material.

  9. Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SD-an secara terpisah 1 2 3 4 5 (Matematika, Bahasa, PPKn, IPA dan IPS).

  10. Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat 1 2 3 4 5 rutin.

  12. Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus.

  18. Saya memberitahu siswa tentang hal-hal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll.

  1 2 3 4 5

  23. Saya menggunakan penilaian unjuk kerja untuk menilai hasil belajar siswa.

  1 2 3 4 5

  22. Saya menggunakan tes tertulis (misalnya esai, pilihan ganda, benar salah) sebagai metode utama dalam menilai hasil belajar siswa.

  1 2 3 4 5

  21. Saya menggunakan materi atau alat penilaian yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa.

  1 2 3 4 5

  20. Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai dengan pengalaman hidup dan budaya para siswa.

  1 2 3 4 5 19. Saya mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa. 1 2 3 4 5

  1 2 3 4 5

  1 2 3 4 5

  17. Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam.

  1 2 3 4 5

  16. Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan Matematika, Selasa mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst).

  1 2 3 4 5

  15. Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran.

  1 2 3 4 5

  14. Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran.

  1 2 3 4 5

  13. Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran sekaligus.

  24. Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar 1 2 3 4 5 pembelajaran lainnya yang melibatkan siswa secara aktif.

  26. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar.

  31. Kepala Sekolah saya mengkomunikasikan kepada para guru tentang pentingnya mengajar dengan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  34. Kepala Sekolah saya secara positif mengenali penggunaan Pembelajaran Tematik untuk kepentingan jabatan, kedudukan, status dan pangkat.

  1 2 3 4 5

  33. Kepala Sekolah saya memiliki sikap yang positif terhadap pengajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  1 2 3 4 5

  32. Kepala Sekolah saya mengetahui cara menilai kualitas pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  1 2 3 4 5

  1 2 3 4 5

  1 2 3 4 5

  30. Kepala Sekolah saya mengetahui adanya tambahan beban kerja yang ada sehubungan dengan pelaksanaan Pembelajaran Tematik.

  1 2 3 4 5

  29. Kepala Sekolah saya mendukung para guru yang mengajar dengan menggunakan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  1 2 3 4 5

  28. Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya.

  1 2 3 4 5

  27. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar.

  1 2 3 4 5

  Bagian III. Demografi Pada bagian ini, Bpk/Ibu dipersilahkan untuk mengisi pertanyaan yang ada sesuai dengan situasi Bpk/Ibu saat ini.

  35. Berapa tahun pengalaman mengajar Bpk/Ibu pada tingkat pendidikan dasar? _____________ tahun.

  36. Saat ini Bapak/Ibu mengajar di kelas _____________

  37. Berapa tahun Bpk/Ibu telah menggunakan PendekatanTematik? _____________ tahun.

  38. Sekitar berapa jam keterlibatan Bpk/Ibu dalam pengembangan profesional berkaitan dengan Pembelajaran Tematik? (catatan: jumlah jam pengembangan profesional adalah jumlah total jam dari kegiatan-kegiatan formal yang Bpk/Ibu ikuti tentang Pembelajaran Tematik misalnya lokakarya, pelatihan, seminar, program, kursus, atau konferensi). ___________ jam.

  39. Berapa jumlah siswa di kelas Bpk/Ibu sekarang? _________ siswa.

  40. Silakan melingkari pendidikan terakhir Bpk/Ibu dengan tabel berikut ini!

  A. Sekolah Menengah Umum atau Kejuruan (SMU atau SMK)

  B. Sekolah Pendidikan Guru (SPG)

  C. Sarjana Pendidikan non PGSD (misalnya P. Mat., P. Fis., P. Ekonomi, P. Sejarah)

  D. Sarjana D2-PGSD

  E. Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

  F. Master (S2)

  G. Lainnya

  41. Silakan mengisi status kepegawaian Bpk/Ibu dengan menggunakan tabel berikut ini ! A. Pegawai Tidak Tetap Yayawan (Honor, Kontrak, dll.)

  B. Pegawai Tetap Yayasan

  42. Berapakah jumlah rekan kerja guru di sekolah Bpk/Ibu yang menggunakan Pembelajaran Tematik? ___________ orang.

  43. Apakah sekolah Bp/Ibu saat ini menerapkan kurikulum 2013?

  A. Ya

  B. Tidak

  • Terima Kasih atas Kebaikan Anda***

  Lampiran 3 Expert Judgement dan Validitas Muka

  Validitas Muka

  Lampiran 4 Data Validitas

  254

  Lampiran 5 Hasil Validitas Descriptive Statistics

N Mean Std. Deviation

item_1

  61 3.10 .870 item_2 61 3.48 1.026 item_3 59 3.98 .861 item_4 61 3.79 .968 item_5 60 3.63 .901 item_6 60 3.15 .988 item_7 61 3.97 .730 item_8 61 3.64 .775 item_9 61 3.41 1.086 item_10 61 2.74 1.094 item_11 61 3.57 .826 item_12 61 3.30 1.131 item_13 61 3.25 .960 item_14 61 3.57 1.056 item_15 61 3.67 .851 item_16 61 2.67 1.091 item_17 61 3.98 .719 item_18 61 2.90 1.060 item_19 59 4.03 .809 item_20 60 3.73 1.039 item_21 61 3.79 .878 item_22 61 3.10 1.261 item_23 61 3.80 .833 item_24 61 3.59 1.055 item_25 61 3.92 .802 item_26 61 3.93 .793

  256

  Lampiran 6 Data Reliabilitas

  257

  Lampiran 7 Hasil Reliabilitas Case Processing Summary N % Cases Valid

  54

  88.5 Excluded a

  7

  11.5 Total 61 100.0

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha

  Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items

  .891 .898

  24

  Item Statistics Mean Std. Deviation N item_1

  54 item_15 3.67 .847

  54 item_28 3.41 .765

  54 item_27 3.83 .771

  54 item_26 3.96 .776

  54 item_25 3.94 .763

  54 item_24 3.59 1.037

  54 item_23 3.81 .779

  54 item_21 3.80 .810

  54 item_20 3.76 1.008

  54 item_19 4.02 .835

  54 item_17 4.02 .687

  54 item_14 3.52 1.077

  3.09 .896

  54 item_13 3.19 .953

  54 item_12 3.24 1.132

  54 item_11 3.52 .818

  54 item_10 2.78 1.110

  54 item_8 3.70 .768

  54 item_7 4.02 .658

  54 item_6 3.26 .955

  54 item_5 3.61 .920

  54 item_4 3.78 1.022

  54 item_3 3.96 .846

  54 item_2 3.48 1.059

  54

  260

  

Summary Item Statistics

Mean Minimum Maximum Range Maximum /

  Minimum Variance N of Items Item Means 3.623 2.778 4.019 1.241 1.447 .110

  24 Item Variances .805 .434 1.281 .847 2.953 .062

  24 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if Item Deleted Corrected Item- Total

  Correlation Squared Multiple Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted item_1

  

83.87 127.209 .218 .510 .893

item_2

83.48 120.443 .467 .486 .887

item_3

83.00 126.377 .280 .600 .892

item_4

83.19 117.890 .608 .725 .883

item_5

83.35 119.213 .615 .603 .883

item_6

83.70 123.609 .372 .589 .890

item_7

82.94 128.091 .261 .439 .891

item_8

83.26 120.498 .672 .776 .883

item_10

84.19 147.701 -.612 .792 .917

item_11

83.44 121.006 .597 .705 .884

item_12

83.72 116.242 .610 .737 .883

item_13

83.78 117.384 .684 .844 .881

item_14

83.44 114.516 .726 .781 .880

item_15

83.30 120.137 .623 .685 .884

item_17

82.94 122.846 .598 .718 .885

item_19

82.94 122.204 .515 .550 .886

item_20

83.20 115.260 .745 .751 .879

item_21

83.17 125.349 .353 .661 .890

item_23

83.15 119.563 .719 .833 .882

item_24

83.37 118.049 .589 .843 .884

item_25

83.02 120.547 .674 .777 .883

item_26

83.00 120.604 .657 .782 .883

item_27

83.13 124.832 .406 .589 .889

  Lampiran 8

Data Asli implementasi Pembelajaran Tematik dan Faktor Demografi Jumlah Siswa

  Lampiran 9

Data Asli implementasi Pembelajaran Tematik dan Faktor Demografi Jumlah Rekan

Guru yang Menggunakan Pembelajaran Tematik

  Lampiran 10

Hasil Distribusi Frekuensi Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik

  Perhitungan dengan daftar frekuensi: Jarak atau rentangan (R) = data tertinggi

  • – data terendah = 128
  • – 49 = 79

  Panjang kelas interval (K) = = =15,8 dibulatkan menjadi 16

  Lampiran 11 Hasil Perhitungan Daftar Distribusi Frekuensi

  Kategori Panjang Kelas Frekuensi Presentase Sangat Tinggi 113 34 17,99%

  • – 128 Tinggi

  97 145 76,72%

  • – 112 Cukup

  65 10 5,29%

  • – 80 Rendah

  81 0%

  • – 96 Sangat Rendah

  49 0%

  • – 64 Total 189 100%

  Keterangan: 1.

  = 17,99% 2.

  = 76,72% 3. = 5,29% 4. = 0% 5. = 0%

  Lampiran 12 Hasil Distribusi Frekuensi Faktor Demografi Jumlah Siswa

  Perhitungan dengan daftar frekuensi: Jarak atau rentangan (R) = data tertinggi

  • – data terendah = 36
  • – 1 = 35

  Jumlah kelas (K) = 2 Panjang kelas interval (K) =

  = =17,5 dibulatkan menjadi 18

  Panjang kelas interval:

  Panjang Kelas Kategori

  1 Sedikit

  • – 18

  19 Banyak

  • – 36

  Lampiran 13

Hasil Distribusi Frekuensi Faktor Demografi Jumlah Rekan Guru Yang

Menggunakan Pembelajaran Tematik

  Perhitungan dengan daftar frekuensi: Jarak atau rentangan (R) = data tertinggi

  • – data terendah = 33
  • – 2 = 31

  Jumlah kelas (K) = 2 Panjang kelas interval (K) =

  = =15,5 dibulatkan menjadi 16

  Panjang kelas interval:

  Panjang Kelas Kategori

  2 Sedikit

  • – 17

  18 Banyak

  • – 33

  Lampiran 14

Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Faktor

Demografi Jumlah Siswa Kelompok Sedikit Uji Kolmogorov-Smirnov

  

Descriptive Statistics

N Mean Std. Deviation Minimum Maximum implm_trhdp_jml_siswa

  52 93.37 9.023 81 120 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test implm_trhdp_jml _siswa

  N a

  52 Normal Parameters Mean

  93.37 Std. Deviation 9.023 Most Extreme Differences Absolute .120 Positive .120 Negative -.085

  Kolmogorov-Smirnov Z .868 Asymp. Sig. (2-tailed) .438

  Uji P P-Plot Uji Histogram Statistics implm_trhdp_jml_siswa N Valid

  implm_trhdp_jml_siswa Frequency Percent Valid Percent Cumulative

  1.9

  1

  78.8 101

  3.8

  3.8

  2

  98

  75.0

  3.8

  3.8

  2

  97

  71.2

  1.9

  1.9

  1

  96

  69.2

  5.8

  5.8

  3

  95

  63.5

  5.8

  5.8

  3

  94

  1.9

  80.8 102

  1.9

  1.9

  1.9

  1.9

  1

  96.2 118

  1.9

  1.9

  1

  94.2 114

  1.9

  1.9

  1

  92.3 107

  1.9

  1

  1

  90.4 106

  1.9

  1.9

  1

  88.5 105

  5.8

  5.8

  3

  82.7 103

  1.9

  1.9

  57.7

  1.9

  Percent Valid

  1.9

  87

  26.9

  7.7

  7.7

  4

  86

  19.2

  9.6

  9.6

  5

  85

  9.6

  1.9

  1.9

  1

  83

  7.7

  5.8

  5.8

  3

  82

  1.9

  1.9

  1.9

  1

  81

  1

  1.9

  1

  7.7

  93

  55.8

  5.8

  5.8

  3

  92

  50.0

  3.8

  3.8

  2

  91

  46.2

  7.7

  28.8

  4

  90

  38.5

  5.8

  5.8

  3

  89

  32.7

  3.8

  3.8

  2

  88

  98.1

  Lampiran 15

Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Faktor

Demografi Jumlah Siswa Kelompok Banyak Uji Kolmogorov-Smirnov

  

Descriptive Statistics

N Mean Std. Deviation Minimum Maximum implm_trhdp_jml_siswa 134

  91.63 6.361 74 113 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test implm_trhdp_jml _siswa

  N a 134 Normal Parameters Mean

  91.63 Std. Deviation 6.361 Most Extreme Differences Absolute .089 Positive .089 Negative -.061

  Kolmogorov-Smirnov Z 1.030 Asymp. Sig. (2-tailed) .239

  Uji P P-Plot Uji Histogram Statistics implm_trhdp_jml_siswa N Valid 134

  Missing implm_trhdp_jml_siswa

  Cumulative

  75

  95

  4

  97

  79.9

  3.7

  3.7

  5

  96

  76.1

  5.2

  5.2

  7

  70.9

  3.0

  4.5

  4.5

  6

  94

  66.4

  5.2

  5.2

  7

  93

  61.2

  11.2

  11.2

  3.0

  82.8

  92

  3

  1.5

  1.5

  2

  97.8 107

  97.0 105

1 .7 .7

  96.3 103

1 .7 .7

  2.2

  2.2

  3

  94.0 102

  2.2

  2.2

  91.8 101

  98

  3.0

  3.0

  4

  88.8 100

  3.0

  3.0

  4

  99

  85.8

  3.0

  3.0

  4

  15

  50.0

  2

  2

  3.7

  5

  85

  9.7

  1.5

  1.5

  2

  84

  8.2

  1.5

  1.5

  83

  13.4

  6.7

  82

1 .7 .7

  6.0

  3.0

  3.0

  4

  81

  3.0

  80

1 .7 .7

  2.2

  1.5

  1.5

  3.7

  86

  8.2

  89

  8.2

  11

  91

  41.8

  4.5

  4.5

  6

  90

  37.3

  7.5

  7.5

  10

  29.9

  5

  7.5

  7.5

  10

  88

  22.4

  5.2

  5.2

  7

  87

  17.2

  3.7

  3.7

  99.3 113 1 .7 .7 100.0

  Lampiran 16

Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Faktor

Demografi Jumlah Rekan Guru Yang Menggunakan Pembelajaran Tematik

Kelompok Sedikit Uji Kolmogorov-Smirnov

  

Descriptive Statistics

N Mean Std. Deviation Minimum Maximum implm_trhdp_jml_rekan_guru 180

  92.15 7.315 74 120 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test implm_trhdp_jml _rekan_guru

  N a 180 Normal Parameters Mean

  92.15 Std. Deviation 7.315 Most Extreme Differences Absolute .108 Positive .108 Negative -.064

  Kolmogorov-Smirnov Z 1.451 Asymp. Sig. (2-tailed) .030 a. Test distribution is Normal.

  Uji P P-Plot Uji Histogram Statistics implm_trhdp_jml_rekan_guru N Valid 180

  Missing implm_trhdp_jml_rekan_guru

  75

  5.6

  6

  98

  80.0

  3.3

  3.3

  6

  97

  76.7

  3.3

  3.3

  6

  96

  73.3

  5.6

  3.3

  10

  95

  67.8

  3.3

  3.3

  6

  94

  64.4

  4.4

  4.4

  8

  93

  60.0

  3.3

  83.3

  10.0

  2.2

  1.7

  1.7

  3

  96.1 107

  95.6 106

1 .6 .6

  1.1

  1.1

  2

  94.4 105

  2.2

  2.2

  4

  92.2 103

  2.2

  99

  4

  90.0 102

  2.2

  2.2

  4

  87.8 101

  2.2

  2.2

  4

  85.6 100

  2.2

  2.2

  4

  10.0

  18

  2

  7.2

  5.6

  10

  85

  10.0

  1.1

  1.1

  2

  84

  8.9

  1.7

  1.7

  3

  83

  2.2

  15.6

  2.2

  4

  82

  5.0

  2.8

  2.8

  5

  81

  2.2

  80

1 .6 .6

  1.7

  1.1

  1.1

  5.6

  86

  92

  13

  50.0

  6.7

  6.7

  12

  91

  43.3

  5.6

  5.6

  10

  90

  37.8

  7.2

  7.2

  89

  8

  30.6

  6.1

  6.1

  11

  88

  24.4

  4.4

  4.4

  8

  87

  20.0

  4.4

  4.4

  97.8

  118

1 .6 .6

  99.4 120 1 .6 .6 100.0 Total 180 100.0 100.0

  Lampiran 17

Hasil Uji Normalitas Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Faktor

Demografi Jumlah Rekan Guru Yang Menggunakan Pembelajaran Tematik

Kelompok Banyak Uji Kolmogorov-Smirnov

  

Descriptive Statistics

N Mean Std. Deviation Minimum Maximum implm_trhdp_jml_rekan_guru

  3 91.00 3.000

  88

  94 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test implm_trhdp_jml _rekan_guru N a

  3 Normal Parameters Mean

  91.00 Std. Deviation 3.000 Most Extreme Differences Absolute .175 Positive .175 Negative -.175

  Kolmogorov-Smirnov Z .303 Asymp. Sig. (2-tailed) 1.000 a. Test distribution is Normal.

  Uji P P-Plot Uji Histogram Statistics implm_trhdp_jml_rekan_guru N Valid

  implm_trhdp_jml_rekan_guru Cumulative

  91

  1

  33.3

  33.3

  66.7

  94

  1

  33.3 33.3 100.0 Total

3 100.0 100.0

  Lampiran 18

Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap

Faktor Demografi Jumlah Siswa

  

Test of Homogeneity of Variances

implm_trhdp_jml_siswa Levene Statistic df1 df2 Sig.

  8.271 1 184 .005

  Lampiran 19 Hasil Uji Homogenitas Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap

Faktor Demografi Jumlah Rekan Guru Yang Menggunakan Pembelajaran

Tematik

  Test of Homogeneity of Variances implm_trhdp_jml_rekan_guru Levene Statistic df1 df2 Sig.

  1.512 1 181 .220

  Lampiran 20 Hasil Uji Independent Sample t-Test Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap Faktor Demografi Jumlah Siswa Group Statistics jml_sis wa_rent ang N Mean Std. Deviation Std. Error Mean implm_trhdp_jml_siswa

  1

  52 93.37 9.023 1.251 2 134 91.63 6.361 .549

  

Independent Samples Test

Levene's Test for

  Equality of Variances t-test for Equality of Means F Sig. t df Sig. (2- tailed) Mean

  Differenc e Std.

  Error Differen ce 95% Confidence

  Interval of the Difference Lower Upper implm_trhdp_jml_siswa Equal variances assumed

  8.271 .005 1.472 184 .143 1.731 1.176 -.589 4.051 Equal variances not assumed

1.267 71.547

  .209 1.731 1.367 -.993 4.456

  Lampiran 21 Hasil Uji Mann Whitney Implementasi Pembelajaran Tematik Terhadap

Faktor Demografi Jumlah Rekan Guru Yang Menggunakan Pembelajaran

Tematik

  Ranks jml_rek an_gur u_renta ng N Mean Rank Sum of Ranks implm_trhdp_jml_rekan_guru 1 180 92.10 16577.50

  2

  3 86.17 258.50 Total 183 Test Statistics a implm_trhdp_jml _rekan_guru

  Mann-Whitney U 252.500 Wilcoxon W 258.500 Z -.193 Asymp. Sig. (2-tailed) .847 a. Grouping Variable: jml_rekan_guru_rentang

  Lampiran 22 Tabel Krejcie

  Lampiran 23 Contoh Instrumen Kuesioner

  Kepada Yth. Bpk./Ibu Guru SD Dengan hormat, Bersama ini saya mohon partisipasi Bpk/Ibu dalam penelitian awal survei yang berjudul: Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi (PTT): Sebuah Survey

  

pada Guru-Guru di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1)

  tingkat implementasi PTT oleh guru di kelas, dan (2) hubungan antara keadaan demografi guru dengan tingkat implementasi PTT. Tidak akan ada resiko apapun untuk keterlibatan Bpk/Ibu dalam studi ini. Walaupun Bpk/Ibu tidak akan mendapat manfaat secara pribadi, hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi masyarakat umum di masa mendatang. Pengisian survei akan memakan waktu sekitar 30 menit. Jika Bpk/Ibu memiliki pertanyaan, atau saran, dimohon untuk menghubungi saya pada alamat atau nomer telpon pada bagian akhir surat pengantar ini atau dosen pembimbing saya Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. dengan alamat email ematuris@gmail.com. Terima kasih atas waktu dan dukungan Bapak/Ibu.

  Hormat saya, Koordinator peneliti survei Agus Praditha Deo Agitya (Phone 085729886542, Email Primary School Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University Dosen pembimbing : Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D Patangpuluhan WB 3/298 Yogyakarta, 55251.

  

hone 0274 379917 (home) or 081227286363 (mobile)

  1. Saya menggunakan ceramah sebagai metode utama untuk 1 2 3 4 5 menyampaikan materi.

  2. Saya memberi pilihan kepada siswa untuk menentukan cara mereka 1 2 3 4 5 belajar.

  3. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator 1 2 3 4 5 pembelajaran.

  4. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa 1 2 3 4 5 untuk memegang peran utama dalam kelas.

  5. Saya menggunakan kegiatan “belajar dengan melakukan atau belajar 1 2 3 4 5 dengan mengalami” (learning by doing) untuk pembelajaran di kelas seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi.

  6. Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar 1 2 3 4 5 mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran.

  7. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan 1 2 3 4 5 materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa)

  8. Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat mendalami tema pembelajaran melalui berbagai cara dan 1 2 3 4 5 material.

  9. Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SD-an secara terpisah 1 2 3 4 5 (Matematika, Bahasa, PPKn, IPA dan IPS).

  10. Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat 1 2 3 4 5 rutin.

  12. Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus.

  18. Saya memberitahu siswa tentang hal-hal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll.

  1 2 3 4 5

  23. Saya menggunakan penilaian unjuk kerja untuk menilai hasil belajar siswa.

  1 2 3 4 5

  22. Saya menggunakan tes tertulis (misalnya esai, pilihan ganda, benar salah) sebagai metode utama dalam menilai hasil belajar siswa.

  1 2 3 4 5

  21. Saya menggunakan materi atau alat penilaian yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa.

  1 2 3 4 5

  20. Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai dengan pengalaman hidup dan budaya para siswa.

  1 2 3 4 5 19. Saya mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa. 1 2 3 4 5

  1 2 3 4 5

  1 2 3 4 5

  17. Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam.

  1 2 3 4 5

  16. Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan Matematika, Selasa mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst).

  1 2 3 4 5

  15. Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran.

  1 2 3 4 5

  14. Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran.

  1 2 3 4 5

  13. Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran sekaligus.

  24. Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar 1 2 3 4 5 pembelajaran lainnya yang melibatkan siswa secara aktif.

  26. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar.

  31. Kepala Sekolah saya mengkomunikasikan kepada para guru tentang pentingnya mengajar dengan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  34. Kepala Sekolah saya secara positif mengenali penggunaan Pembelajaran Tematik untuk kepentingan jabatan, kedudukan, status dan pangkat.

  1 2 3 4 5

  33. Kepala Sekolah saya memiliki sikap yang positif terhadap pengajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  1 2 3 4 5

  32. Kepala Sekolah saya mengetahui cara menilai kualitas pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  1 2 3 4 5

  1 2 3 4 5

  1 2 3 4 5

  30. Kepala Sekolah saya mengetahui adanya tambahan beban kerja yang ada sehubungan dengan pelaksanaan Pembelajaran Tematik.

  1 2 3 4 5

  29. Kepala Sekolah saya mendukung para guru yang mengajar dengan menggunakan pendekatan Pembelajaran Tematik.

  1 2 3 4 5

  28. Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya.

  1 2 3 4 5

  27. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar.

  1 2 3 4 5

  Bagian III. Demografi Pada bagian ini, Bpk/Ibu dipersilahkan untuk mengisi pertanyaan yang ada sesuai dengan situasi Bpk/Ibu saat ini.

  35. Berapa tahun pengalaman mengajar Bpk/Ibu pada tingkat pendidikan dasar? _____________ tahun.

  36. Saat ini Bapak/Ibu mengajar di kelas _____________

  37. Berapa tahun Bpk/Ibu telah menggunakan PendekatanTematik? _____________ tahun.

  38. Sekitar berapa jam keterlibatan Bpk/Ibu dalam pengembangan profesional berkaitan dengan Pembelajaran Tematik? (catatan: jumlah jam pengembangan profesional adalah jumlah total jam dari kegiatan-kegiatan formal yang Bpk/Ibu ikuti tentang Pembelajaran Tematik misalnya lokakarya, pelatihan, seminar, program, kursus, atau konferensi). ___________ jam.

  39. Berapa jumlah siswa di kelas Bpk/Ibu sekarang? _________ siswa.

  40. Silakan melingkari pendidikan terakhir Bpk/Ibu dengan tabel berikut ini!

  A. Sekolah Menengah Umum atau Kejuruan (SMU atau SMK)

  B. Sekolah Pendidikan Guru (SPG)

  C. Sarjana Pendidikan non PGSD (misalnya P. Mat., P. Fis., P. Ekonomi, P. Sejarah)

  D. Sarjana D2-PGSD

  E. Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

  F. Master (S2)

  G. Lainnya

  41. Silakan mengisi status kepegawaian Bpk/Ibu dengan menggunakan tabel berikut ini ! A. Pegawai Tidak Tetap Yayawan (Honor, Kontrak, dll.)

  B. Pegawai Tetap Yayasan

  42. Berapakah jumlah rekan kerja guru di sekolah Bpk/Ibu yang menggunakan Pembelajaran Tematik? ___________ orang.

  43. Apakah sekolah Bp/Ibu saat ini menerapkan kurikulum 2013?

  A. Ya

  B. Tidak

  • Terima Kasih atas Kebaikan Anda***

  Lampiran 24 Contoh Instrumn Yang Sudah Dikerjakan

  Lampiran 25 Tingkat Pengembalian Kuesioner NO. Nama Sekolah Responden Tidak kembali Rusak Gagal Jumlah

  3

  9

  24 SDN KOTAGEDE 1 9 - - -

  3

  23 SDN Karangmulyo 3 - - -

  3

  22 SDN DALEM KOTAGEDE 3 - - -

  21 SDN VIDYA QASANA 3 - - -

  3

  3

  20 SDN KYAI MOJO 3 - - -

  3

  

3

  19 SDN JETISHARJO

  3

  25 SDN KOTAGEDE 4 3 - - -

  26 SDN KOTAGEDE 7 3 - - -

  3

  30 SDN REJOWINANGUN 3 3 - - -

  33 SDN KEPUTRAN A 3 - - -

  6

  32 SDN KEPUTRAN 2 6 - - -

  12

  31 SDN KEPUTRAN 1 12 - - -

  3

  6

  3

  29 SDN REJOWINANGUN 1 6 - - -

  3

  28 SDN RANDUSARI 3 - - -

  2

  1 - -

  

3

  27 SDN PILAHAN

  18 SDN JETIS 2 3 - - -

  17 SDN GONDOLAYU 3 - - -

  1 SDN LEMPUYANGWANGI

  4 SDN SOSROWIJAYAN 3 - - -

  7 SDN KLITREN 3 - - -

  3

  6 SDN DEMANGAN 3 - - -

  3

  5 SDN BHAYANGKARA 3 - - -

  3

  3

  8 SDN LANGENSARI 3 - - -

  

3

2 - -

  3 SDN GEDONGTENGEN

  6

  2 SDN TEGALPANGGUNG 6 - - -

  3

  

3

7 - -

  3

  3

  3

  13 SDN SAYIDAN 3 - - -

  16 SDN COKROKUSUMAN 3 - - -

  6

  15 SDN BUMIJO 6 - - -

  6

  14 SDN BADRAN 6 - - -

  3

  3

  9 SDN SERAYU 12 - - -

  12 SDN NGUPASAN 3 - - -

  5

  

6

1 - -

  11 SDN UNGARAN 1

  

6

6 - - -

  10 SDN TERBANSARI 1

  12

  3

  NO. Nama Sekolah Responden Tidak kembali Rusak Gagal Jumlah

  3

  3

  52 SDN KARANGREJO 3 - - -

  3

  53 SDN PINGIT 3 - - -

  3

  54 SDN TEGALREJO 2 3 - - -

  3

  55 SDN GLAGAH 3 - - -

  3

  56 SDN GOLO 6 - - -

  6

  57 SDN KOTAGEDE 3 3 - - -

  58 SDN WARUNGBOTO 3 - - -

  6

  3

  59 SDN PATANGPULUHAN 3 - - -

  3

  60 SDN SINDUREJAN 3 - - -

  3

  61 SDN Tamansari 1 3 - - -

  3

  62 SDN Tamansari 2 3 - - -

  3

  63 SDN Tamansari 3 6 - - -

  6

  64 SDN Tegalmulyo 3 - - -

  51 SDN BANGUNREJO 1 3 - - -

  50 SDN TUKANGAN 6 - - -

  37 SDN Suryodiningratan 1 3 - - -

  3

  3

  38 SDN SURYODININGRATAN 2 3 - - -

  3

  39 SDN SURYODININGRATAN 3 6 - - -

  6

  40 SDN SURYOWIJAYAN

  3

  1 - -

  2

  41 SDN KARANGANYAR 3 - - -

  3

  42 SDN KINTELAN 2 3 - - -

  43 SDN PRAWIROTAMAN 3 - - -

  3

  3

  44 SDN PUJOKUSUMAN 1

  13 2 - -

  11

  45 SDN SUROKARSAN 3 - - -

  3

  46 SDN TIMURAN 3 - - -

  3

  47 SDN SERANGAN 3 - - -

  3

  48 SD PUROPAKUALAMAN 1 6 - - -

  6

  49 SDN MARGOYASAN 3 - - -

  3 JUMLAH 251

  Lampiran 26

Biodata Penullis

  Agustiyana Olympia Vitessa dilahirkan pada tanggal 10 Agustus 1992 di Becilen, Kajoran, Klaten Selatan, Klaten. Dipanggil dengan nama Tessa yang juga merupakan mahasiswi di Universitas Sanata Dharma (USD). Ia sedang menempuh program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar di USD untuk mendapatkan gelar sarjana. Lulus dari TK Aisyiyah Bustanul Alfath Pandes Wedi Kalten tahun 1998 dan lulus

dari SD Negeri Karang 1 Wedi Klaten tahun 2004. Tahun 2007 lulus

dari SMP Negeri 3 Klaten. Lulus dari SMA Negeri 1 Jogonalan Klaten

Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam tahun 2010.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman.
0
1
167
Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman.
0
1
171
Perbedaan persepsi guru terhadap implementasi kurikulum 2013 ditinjau dari pengalaman guru mengajar dan jenjang pendidikan guru : survei pada guru-guru di SMA yang telah mengimplementasikan kurikulum 2013 di Kabupaten Bantul.
2
15
199
st pelatihan implementasi pembelajaran tematik guru di wukirsari imogiri bantul 2012
0
0
1
Pemahaman dan praktik pendidikan multikultural dalam pembelajaran di sekolah : studi kasus guru-guru mata pelajaran IPS SMP Negeri Kota Surakarta - USD Repository
0
0
146
Sikap guru terhadap program sertifikasi dalam peningkatan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
111
Pemanfaatan komputer oleh guru fisika dalam pembelajaran fisika di SMA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta [sebuah survei pada tahun 2008] - USD Repository
0
0
190
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
2
147
Perbandingan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika di kelas XI SMA yang dikelola oleh dua orang guru - USD Repository
0
1
161
Teknik pembelajaran menulis bagi siswa kelas II SLB/C Bakti Siwi Sleman Yogyakarta - USD Repository
0
11
113
Persepsi guru terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan, golongan jabatan, masa kerja, dan usia guru : survei guru-guru Sekolah Menengah Pertama Negeri dan Swasta Kabupaten Sleman - USD Repository
0
0
191
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
123
Identitas kebangsaan anak Sekolah Dasar di Yogyakarta - USD Repository
0
1
242
Representasi materi pembelajaran oleh dua orang guru fisika pada dua SMA di Yogyakarta - USD Repository
0
0
252
Perbedaan kompetensi guru sebelum dan sesudah mengikuti program sertifikasi : studi kasus guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri dan swasta di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
197
Show more