PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Gratis

0
0
64
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DESKRIPSI MOTIVASI BELAJAR SISWA-SISWI KELAS IVDAN KELAS V SD KOTAGEDE 5 TAHUN AJARAN 2013/2014 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (SI) Progaram studi Bimbingan dan Konseling Oleh: Yeti Remia NIM: 081114030 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DESKRIPSI MOTIVASI BELAJAR SISWA-SISWI KELAS IVDAN KELAS V SD KOTAGEDE 5 TAHUN AJARAN 2013/2014 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (SI) Progaram studi Bimbingan dan Konseling Oleh: Yeti Remia NIM: 081114030 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO DAN PERSEMBAHAN Bersukacitalah dalam pengharapan, Sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa …..! Skripsi ini kupersembahkan kepada: x Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai setiap langkah-langkahku. x Bapak saya(Sumantri) dan Ibu Saya yang berjuang membiayai kuliahku, selalu berdoa untuk ku dan selalu mengasihi ku. x Kakak laki-laki ku satu-satunya (Mas Yohan Purwanto) yang ikut membiayai kuliahku dan selalu mendukungku. x Tunanganku (Jhonisius Gonza Mamulak) yang selalu setia memberi ku semangat dan menguatkanku. x Semua keluarga besarku yang tersayang. x Dosen pembimbing dan semua dosen Bimbingan dan Konseling yang sabar dan penuh kasih. x Sahabat-sahabat ku semua di program studi Bimbingan dan Konseling yang kukasihi tanpa kecuali. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini, tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimanan layaknya karya ilmiah. Yogyakarta,11 Juni 2014 Penulis ( Yeti Remia ) v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Yeti Remia Nomor Mahasiswa : 081114030 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: DESKRIPSI MOTIVASI BELAJAR SISWA-SISWI KELAS IV DAN KELAS V SD KOTAGEDE 5 TAHUN AJARAN 2013/2014 beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 11Juli 2014 Yang menyatakan Yeti Remia vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK DESKRIPSI MOTIVASI BELAJAR KELAS IV DAN V SD KOTAGEDE 5 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014 Yeti Remia UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingginya motivasi belajar intrinsik dan ekstrinsik 52 orang siswa-siswi-siswi kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode survei melalui instrumen kuesioner. Kuesioner yang digunakan terdiri atas 38 item pernyataan dan disusun oleh peneliti. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kategorisasi PAP 1 (Marsidjo, 1995: 153). Adapun hasil penelitian yang ditemukan oleh peneliti sebagai berikut: Pertama,tingkat tingginya motivasi belajar intrinsik subjek penelitian dikategorikan berdasarkan kategori “sangat tinggi” sebanyak 18 siswa-siswi (35%), kategori “tinggi” sebanyak 21 siswa-siswi (40%), kategori “cukup” sebanyak 4 siswa-siswi (8%) dan kategori “rendah” sebanyak 1 siswa-siswi (2%). Kedua, tingkat tingginya motivasi belajar ekstrinsik dari subjek penelitian dikategorikan berdasarkan siswa-siswi yang termasuk dalam kategori “sangat tinggi” sebanyak 11 siswa-siswi (21%) dan kategori “tinggi” sebanyak 28 siswasiswi (54%), kategori “cukup” sebanyak 4 siswa-siswi (8%) dan kategori “rendah” sebanyak 1 siswa-siswi (2%). Dari kedua hasil penelitian tersebut dapat diperoleh tinggkat tingginya motivasi belajar intrinsik dan tingkat tingginyamotivasi ekstrinsiksiswa-siswi kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta tahunajaran 2013/2014. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Thesis LEARNING MOTIVATION CLASS IV AND V SD KOTAGEDE 5 YOGYAKARTA ACADEMIC YEAR 2013/2014 Yeti Remia Sanata Dharma University YOGYAKARTA 2014 This study aims to determine the high intrinsic and extrinsic motivation to learn the 52 students of grade-IV and V SD Kota Gede Yogyakarta 5 2013/2014 school year. This is a descriptive study using a questionnaire survey method through the instrument. The questionnaire used consists of 38 items and a statement prepared by the researcher. The data analysis technique used in this study is the categorization of PAP 1 (Marsidjo, 1995: 153). The research results were discovered by researchers as follows: First, the high level of intrinsic motivation to learn the subject of research categorized by category "very high" as many as 18 students (35%), "high" were 21 students (40%), category of "pretty" as much as 4 students (8%) and the category of "low" as 1 students (2%). Second, the high level of extrinsic motivation to learn the subject categorized based research students are included in the category of "very high" as many as 11 students (21%) and "high" were 28 students (54%), the category of "sufficient "as much as 4 students (8%) and the category of" low "as 1 students (2%). From both these results can be obtained tinggkat high intrinsic learning motivation and extrinsic motivation high level students of class IV and V SD Kota Gede Yogyakarta 5 2013/2014 school year. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji sapa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmat dan berkatnya sehingga penulis dapat menyeleksaikan sekripsi ini dengan baik. Penulis menyadari bahwa seluruh pengalaman yang di alami saat mengejakan sekripsi ini merupakan penyertaan dan pertolongan yang terindah dari Tuhan. Sekripsi ini disusun sebagai tugas akhir memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar pendidikan. Penulis juga menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu kelancaran dalam penulisan sekripsi ini. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada: 1. Dr. Gendon Barus, M.S.i., sebagai ketua program studi Bimbingan Dan Konseling. 2. Drs. Robertus Budi Sarwono, M.A., sebagai dosen pembimbing sekripsi yang selalu sabar untuk membimbing penulis, meluangkan waktu untuk penulis, banyak memberi masukan untuk penulis dan memberi motivasi dalam mengerjakan sekripsi sehingga penulis bertekat untuk segera menyelesaikannya. 3. Para dosen Universitas Sanata Dharma yang telah membekali ilmu banyak ilmu bagi pebulis selama kuliah dan sangat berguna untuk penulis. 4. Para teman-teman seangakatan, adek tinggkat dan kakak tinggkat yang memberi banyak pengalamdan pelajaran berharga. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Pak Moko sebagai pegawai adminitrasi program studi bimbingan dan konseling Universitas Sanata Dharma yang telah bersedia memberikan waktunya dalam proses penelitian atau kuliah. 6. Penulis menyadari akan kekurangan dan kelamahan penulis dalam mengerjakan skripsi ini. Penulis memohon maaf apabila dalam sekripsi ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan sekripsi ini. Terimakasih. Penulis (Yeti Remia) x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ……………………………………………………..……… i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING …………….……….... ii HALAMAN PENGESAHAN …………………........………………………….. iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN....................................................................... iii PENYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................................. v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ..................................................... vi ABSTRAK ........................................................................................................ vii ABSTRACT ...................................................................................................... vii KATA PENGANTAR ........................................................................................ ix DAFTAR ISI ...................................................................................................... xi DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiii DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xiv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 4 C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 5 E. Definisi Operasional Variabel ................................................................... 6 BAB II KAJIAN TEORITIS A. Motivasi Belajar Ekstrinsik dan Intrinsik ................................................... 7 B. Prinsip-prinsip Motivasi Belajar .............................................................. 10 C. Bentuk-Bentuk Motivasi Dalam Belajar .................................................. 12 D. Belajar .................................................................................................... 19 E. Anak Sekolah Dasar (SD)........................................................................ 23 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian........................................................................................ 28 B. Subyek Penelitian .................................................................................... 28 C. Istrumen Penelitian................................................................................. 29 D. Teknik Analisis Data ............................................................................... 35 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ....................................................................................... 37 B. Pembahasan ............................................................................................ 41 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ............................................................................................. 45 B. Saran ....................................................................................................... 46 C. Keterbatasan Peneliti ............................................................................... 47 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 48 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Rincian Jumlah Siswa Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 ........................................ 29 Tabel 2. Kisi-kisi Kuesioner Motivasi Belajar Ekstrinsik dan Intrinsik Siswa Kelas IV SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 (Uji Coba) ......................................... 30 Tabel 3. Kisi-kisi Skala Motivasi Belajar Ekstrinsik dan Intrinsik Setelah Uji Coba ....................................................................... 34 Tabel 4. Penilaian Acuan Patokan (PAP) Tipe 1 ....................................... 36 Tabel 5. Kategorisasi Motivasi Intrinsik Siswa Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 ................ Kategorisasi Motivasi Ekstrinsik Siswa Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 ................ 37 Hasil Kategorisasi Motivasi Intrinsik Siswa-siswi Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 ............................................................. 38 Tabel 6. Tabel 7. 36 Tabel 7.1. Diagram Hasil Kategorisasi Motivasi Intrinsik Siswa-siswi Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 Tabel 8. Hasil Kategorisasi Motivasi Ekstrinsik Siswa-siswi Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 .............................................................. 39 Tabel 8.1. Diagram Hasil Kategorisasi Motivasi Intrinsik Siswa-siswi Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 .............................................................. 40 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Instrumen Kuesioner Lampiran 2. Rekapitulasi Hasil Kuesioner Lampiran 3. Deskripsi Tanggapan Responden xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seorang konselor seyogyanya mampu memotivasi peserta didiknya untuk semangat dalam belajar, karena pengaruh dari luar diri sangat mempengaruhi motivasi belajar peserta didik. Suasana lingkungan dan orang – orang yang dekat dengan peserta didik juga sangat mempengaruhi motivasi peserta didik (Santrock, 2009: 203). Sebagai konselor kita harus mengetahui tingkat motivasi peserta didik. Anak usia SD (Sekolah Dasar) sangat membutuhkan motivasi ekstrinsik (motivasi dari luar diri), perilaku-perilaku peserta didik di kelas merupakan pengaruh dari luar diri peserta didik yang dilihat dan dirasakan sehari-hari. Jika pengaruh dari luar diri cenderung positif maka peserta didik akan menunjukkan perilaku positif didalam kelas dalam hal belajar, sebaliknya jika pengaruh dari luar diri cenderung negatif maka akan berdampak negatif dalam proses di dalam kelas, contoh faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi siswa adalah orang tua, suasana keluarga/rumah, keadaan ekonomi keluarga, hubungan dengan guru, cara mengajar guru, kondisi sekolah, lingkungan sosial tempat tinggal dan lain-lain (Supriyono dan Ahmadi, 1991: 81). Temanteman dekatnya atau teman-teman yang biasa bersama-sama dengan anak juga sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar anak, jika teman-teman dekatnya adalah anak-anak yang senang belajar pasti akan mempengaruhi 1

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 anak tersebut untuk rajin belajar pula, tetapi jika teman-teman dekat si anak pemalas maka si anak juga akan malas belajar (Supriyono dan Ahmadi, 1991: 87). Suasana dalam ruangan kelas dan lingkungan sekolah juga sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa, ruangan kelas yang rapi dan konduktif akan membuat nyaman proses belajar sebaliknya jika ruang kelas kotor dan tidak rapi akan membuat anak malas untuk mengikuti proses belajar di kelas (Supriyono dan Ahmadi, 1991: 86). Peran seorang guru di kelas juga sangat berpengaruh untuk menumbuhkan semangat belajar peserta didik di kelas (Supriyono dan Ahmadi 1991: 84). Siswa yang berada di sekolah dengan hubungan interpersonal yang penuh perhatian dan dukungan, mempunyai sikap dan nilai akademis yang lebih positif dan merasa lebih puas terhadap sekolah (Santrock, 2009: 203). Salah satu faktor penting dalam motivasi dan prestasi siswa adalah persepsi mereka tentang hubungan positif mereka dengan guru (Santrock, 2009: 203). Belajar sangat erat hubungannya dengan motivasi, tanpa motivasi siswa tidak akan dapat belajar dengan baik. Motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai (Sardiman, 1986: 75). Siswa dapat dimotivasi untuk mengerahkan segala tenaga yang dibutuhkan untuk belajar, antara lain dengan motivasi yang bersumber dari dalam diri dan motivasi dengan stimulasi dari luar diri (Djiwandono, 2002: 356).

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Menurut perspektif teori humanitis Maslow, latar belakang keluarga dalam mempengaruhi motivasi belajar siswa sangat penting, orang tua yang berpendidikan lebih tinggi biasanya lebih dapat mempengaruhi anaknya untuk semangat dalam belajar di sekolah dan sebaliknya. Faktor ekonomi juga sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa, hal ini terkait dengan kebutuhan dasar manusia yaitu makan dan minun. Jika anak belum terpenuhi kebutuhan dasarnya maka anak tidak dapat memenuhi kebutuhan diri selanjutnya. Hal ini menyangkut juga dengan kebutuhan nutrisi anak. Anak yang mendapat nutrisi yang baik tentunya lebih dapat mengikuti proses belajar mengajar di kelas dengan lebih baik pula karena mempunyai energi yang baik pula (Santrock, 2009: 201). Motivasi belajar ekstrinsik adalah dapat menumbuhkan motivasi belajar intrinsik. Motivasi belajar ekstrinsik adalah motif-motif yang timbul dari pengaruh luar diri. Motivasi belajar ekstrinsik juga diperlukan agar anak termotivasi dalam belajar (Djamarah, 2011: 151). Motivasi intrinsik adalah motivasi dari dalam diri sehingga tidak memerlukan lagi dorongan atau rangsangan dari luar. Seseorang yang mempunyai motivasi intrinsik akan melakukan kegiatannya secara sadar dan atas kemauannya sendiri tanpa pengaruh dari luar terlebih dahulu. Seorang yang mempunyai motivasi belajar intrinsik akan lebih giat belajar dan lebih maju (Djamarah, 2011: 150). Dalam penelitian ini akan diteliti seberapa besar pengaruh motivasi belajar intrinsik dan motivasi belajar ekstrinsik terhadap prestasi belajar peserta didik. Motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik sama-sama

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 mempengaruhi prestasi belajar peserta didik tetapi motivasi intrinsik lebih dapat berpengaruh permanen terhadap prestasi belajar peserta didik. Motivasi intrinsik sendiri timbul karena pengaruh motivasi ekstrinsik terlebih dahulu. Pada masa anak-anak sangat berpengaruh membentuk motivasi intrinsik dengan cara memotivasi dari luar dirinya dahulu, Jika pada masa anak-anak tidak mendapat motivasi dari luar yang baik maka dapat berpengaruh pada motivasi dari dalam dirinya nantinya. Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dipahami bahwa motivasi memegang peran strategis dalam proses pembelajaran siswa, termasuk siswa usia Sekolah Dasar (SD). Oleh sebab itu dalam penelitian ini penulis mengambil judul tentang “Deskripsi Motivasi Belajar Siswa-Siswi Kelas IV dan Kelas V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/ 2014”. Penelitian ini diarahkan lebih bersifat deskriptif untuk memperoleh gambaran tentang motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang ada pada siswa seusia Sekolah Dasar (SD). B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan, sebagai berikut: 1. Seberapa tinggi motivasi belajar intrinsik siswa di Kelas IV dan Kelas V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/ 2014? 2. Seberapa tinggi motivasi belajar ekstrinsik siswa di Kelas IV dan Kelas V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/ 2014?

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: 1. Mengetahui motivasi belajar intrinsik siswa di Kelas IV dan Kelas V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/ 2014. 2. Mengetahui motivasi belajar ekstrinsik siswa di Kelas IV dan Kelas V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/ 2014. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian bermanfaat bagi: 1. Bagi Wali Kelas SD Kotagede 5 Yogyakarta Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memotivasi anak dalam hal belajar. 2. Orang tua murid Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk sebagai bahan informasi dan evaluasi orang tua peserta didik agar dapat terlibat aktif dalam memotivasi siswa dalam belajar. 3. Bagi peserta didik. Hasil penelitian ini dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan melibatkan orang tua dan wali kelas.

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 E. Definisi Operasional Variabel Dalam penelitian ini digunakan dua variabel, yaitu: 1. Motivasi belajar intrinsik Motivasi belajar intrinsik merupakan motif-motif belajar yang kuat dari dalam diri sehingga tidak perlu rangsangan dari luar, karena di dalam individu ada dorongan yang kuat. 2. Motivasi belajar ekstrinsik Motivasi belajar ekstrinsik merupakan motif-motif belajar yang aktif karena adanya rangsangan dari luar.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II KAJIAN TEORITIS Bab ini disajikan dari buku yang dicantumkan di daftar pustaka sebagai pendukung teori yang dapat memperjelas topik bahasan penelitian yaitu: 1) motivasi belajar ekstrinsik dan intrinsik, 2) fungsi motivasi, 3) bentuk-bentuk motivasi dalam belajar, 4) belajar dan 5) anak sekolah dasar yang meliputi karakteristik anak SD dan prinsip-prinsip perkembangan. A. Motivasi Belajar Ekstrinsik dan Intrinsik 1. Pengertian Motivasi Motivasi dapat dikatakan sebagai perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan fisik, karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya. Seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya yang dapat dialakukan untuk mencapaianya (Djamarah, 2011: 148). Motivasi berasal dari kata “motif” yang diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Motif adalah dorongan/ alasan yang menyebabkan seseorang berbuat/ melakukan tindakan/ bersikap tertentu (Siallagan, 2005: 7). 7

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 Motivasi adalah sesuatu yang mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan. Fungsi motivasi itu ada 3 yaitu (Djamarah, 2011: 151): a. Motivasi sebagai pendorong perbuatan b. Motivasi sebagai penggerak perbuatan c. Motivasi sebagai pengarah perbuatan 2. Motivasi Belajar Ekstrinsik dan Intrinsik a. Motivasi Belajar Intrinsik Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang kuat dari dalam diri sehingga tidak perlu rangsangan dari luar, karena di dalam individu ada dorongan yang kuat. Anak yang mempunyai motivasi belajar akan belajar sesuatu karena ingin mendapat nilai-nilai dari ilmu tersebut bukan karena ingin mendapat hadiah semata. Seseorang yang mempunyai motivasi intrinsik akan melakukan kegiatanya berdasarkan minat tanpa motivasi dari luar dirinya. Seseorang yang mempunyai motivasi intrinsik akan melaukan belajar secara terus menerus karena yakin bahwa apa yang dipelajarinya berguna bagi dirinya nanti. Motivasi intrinsik dipengaruhi oleh pemikiran diri yang positif (Djamarah, 2011: 149). Motivasi intrinsik adalah motivasi untuk melakukan sesuatu demi sebuah tujuan itu sendiri, misalnya seorang anak belajar mata pelajaran karena menyukai pelajaran

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 tersebut dan merasa berguna bagi dirinya bukan karena akan mengikuti ujian (Santrock, 2009: 204). Ciri-ciri siswa yang memiliki motivasi intrinsik antara lain adalah 1) tekun mengerjakan tugas (melakukan pekerjaan terus menerus sebelum pekerjaan selesai dengan waktu yang cukup lama); 2) tidak gampang menyerah jika ada kesulitan; 3) berminat terhadap berbagai macam hal; 4) senang bekerja mandiri; 5) cepat bosan dengan pekerjaan yang di ulang-ulang atau kurang kreatif; 6) dapat mempertanggtung jawabkan pendapatnya yang sudah di yakini; 7) berpendirian kuat; 8) senang mencari dan memecahkan soal-soal, jadi jika siswa memiliki motivasi intrinsik akan selalu berubah lebih baik dan tekun dalam belajar walaupun melalui banyak rintangan, karena yakin bahwa belajar merupakan kebutuhan pribadinya yang berguna untuk dirinya sekarang dan dirinya nanti. b. Pengertian Motivasi Ekstrinsik Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang dapat membentuk motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi belajar ekstrinsik juga diperlukan dalam pembelajaran. Pemberian motivasi yang tepat akan membangkitkan semangat belajar anak (Djamarah,2011: 150). Motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu agar mendapat suatu tujuan yang dinginkan, motivasi ekstrinsik di pengaruhi oleh faktor eksternal seperti hukuman dan penghargan (Santrock, 2009: 204).

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Motivasi ekstrinsik ini juga baik dan penting, motivasi ekstrinsik tetap dibutuhkan dan diperlukan karena kadang keadaan siswa sering berubah-ubah dan terkadang proses belajar mengajar di kelas kurang menarik bagi siswa, sehingga motivasi ekstrinsik sangat di perlukan (Sardiman, 1986: 91). Motivasi ekstrinsik diperlukan dalam pendidikan agar siswa mau belajar. Berbagai cara dilakukan agar siswa mempunyai motivasi belajar. Guru yang berhasil dalam mengajar adalah guru yang dapat menumbuhkan minat belajar dikelas, sehingga proses belajar mengajar di kelas menjadi baik (Djamarah, 2011: 151). B. Prinsip-prinsip Motivasi Belajar Prinsip – prinsip motivasi belajar harus diketahui dan diterangkan dalam aktivitas belajar mengajar. Ada 6 prinsip motivasi belajar, yaitu (Djamarah, 2011: 152): 1. Motivasi sebagai penggerak yang mendorong aktivitas belajar. Seseorang belajar karena ada motivasi yang mendorongnya. Seseorang yang termotivasi belajar akan melakukan aktivitas belajar dengan waktu tertentu. Jadi motivasi dapat dikatakan sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar seseorang. 2. Motivasi intrinsik lebih utama daripada motivasi ekstrinsik. Anak yang mempunyai motivasi belajar intrinsik semangat belajarnya lebih kuat dan hanya sedikit pengaruh dari luar. Anak belajar bukan karena

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 menginginkan hadiah, pujian atau imbalan apapun tetapi ingin mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. 3. Motivasi berupa pujian lebih baik daripada hukuman. Hukuman diperlukan untuk memicu semangat belajar, tetapi masih lebih baik penghargaan berupa pujian. 4. Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar. Anak didik mempunyai kebutuhan yaitu belajar, tanpa belajar anak didik tidak akan mempunyai ilmu pengetahuan. Belajar merupakan upaya untuk mengembangkan potensi diri. Penghargaan sangat berperan penting dalam menumbuhkan motivasi anak. 5. Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar. Anak didik yang mempunyai motivasi belajar pasti akan melakukan tugasnya dengan baik, dia yakin bahwa belajar akan berguna untuk bekal ke depan. 6. Motivasi melahirkan prestasi dalam belajar. Salah satu yang mempengaruhi prestasi belajar adalah motivasi. Motivasi menjadi indicator prestasi belajar. Anak didik menyenangi mata pelajaran tertentu maka anak didik tersebut akan mempelajari mata pelajaran itu dengan senang hati.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 C. Bentuk-Bentuk Motivasi Dalam Belajar Dalam proses interaksi belajar mengajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, diperlukan untuk mendorong anak didik agar tekun belajar. Motivasi ekstrinsik sangat diperlukan bila ada di antara anak didik yang kurang berminat mengikuti pelajaran dalam jangka waktu tertentu. Peranan motivasi ekstrinsik cukup besar untuk membimbing anak didik dalam belajar. Hal ini perlu disadari oleh guru. Untuk itu seorang guru biasanya memanfaatkan motivasi ekstrinsik untuk meningkatkan minat anak didik agar lebih bergairah belajar meski terkadang tidak tepat. Wasty Soemanto (1984) mengatakan, bahwa guru-guru sangat menyadari pentingnya motivasi dalam bimbingan belajar murid. Berbagai macam teknik, misalnya kenaikan tingkat, penghargaan, peranan-peranan kehormatan, piagam-piagam prestasi, pujian, dan celaan telah dipergunakan untuk mendorong murid-murid agar ma u belajar. Adakalanya guru-guru mempergunakan teknik-teknik tersebut secara tidak tepat. Kesalahan dalam memberikan motivasi ekstrinsik akan berakibat merugikan prestasi belajar menjadi kurang harmonis. Tujuan pendidikan dan pengajaran pun tidak akan tercapai dalam waktu yang relative singkat, sesuai dengan target yang telah dirumuskan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai kondisi psikologis anak didik sangat diperlukan guna mengetahui gejala apa yang sedang dihadapi anak didik sehingga gairah belajarnya menurun (Djamarah, 2011: 158).

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Ada beberapa bentuk motivasi yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mengarahkan belajar anak didik di kelas, sebagai berikut: 1. Memberi Angka Angka dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Angka yang diberikan kepada setiap anak didik biasanya bervariasi, sesuai dengan hasil ulangan yang telah mereka peroleh dari hasil penilaian guru, bukan karena belas kasihan guru. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan prestasi belajar mereka di masa mendatang. Angka ini biasanya terdapat dalam buku rapor sesuai jumlah mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum. Angka atau nilai yang baik mempunyai potensi yang besar untuk memberikan motivasi kepada anak didik lebih giat belajar. Apalagi bila angka yang diperoleh oleh anak didik lebih tinggi dari anak didik lainnya. Namun, guru harus menyadari bahwa angka/nilai bukanlah merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna, karena hasil belajar seperti itu lebih menyentuh aspek kognitif. Bisa saja nilai itu bertentangan dengan afektif anak didik. Untuk itu, guru perlu memberikan angka/nilai yang menyentuh aspek afektif dan keterampilan yang diperlihatkan anak didik dalam pergaulan/ kehidupan sehari-hari. Penilaian harus juga diarahkan pada aspek kepribadian anak didik dengan cara mengamati kehidupan anak didik di sekolah, tidak hanya semata-mata berpedoman

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 pada hasil ulangan di kelas, baik dalam bentuk formatif atau sumatif (Djamarah, 2011: 159). 2. Hadiah Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan/cenderamata. Hadiah yang diberikan kepada orang lain bisa berupa apa saja, tergantung dari keinginan pemberi. Atau bisa juga disesuaikan dengan prestasi yang dicapai oleh seseorang. Penerima hadiah tidak tergantung dari jabatan, profesi, dan usia seseorang. Semua orang berhak menerima hadiah dari seseorang dengan motif-motif tertentu. Dalam dunia pendidikan, hadiah bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Hadiah dapat diberikan kepada anak didik yang berprestasi tinggi, ranking satu, dua atau tiga dari anak didik lainnya. Dalam pendidikan modern, anak didik yang berprestasi tertinggi memperoleh predikat sebagai anak didik teladan dan untuk perguruan tinggi/universitas disebagai mahasiswa teladan (Djamarah, 2011: 160). 3. Kompetisi Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar. Persaingan, baik dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam pendidikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif. Untuk menciptakan suasana

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 yang demikian, metode mengajar memegang peranan (Djamarah, 2011: 161). Bila iklim belajar yang kondusif terbentuk, maka setiap anak didik telah terlihat dalam kompetisi untuk menguasai bahan pelajaran yang diberikan. Selanjutnya, setiap anak didik sebagai individu melibatkan diri mereka masing-masing ke dalam aktivitas belajar. Kondisi inilah yang dikehendaki dalam pendidikan modern, yakni cara belajar siswa aktif (CBSA), bukan catat buku sampai akhir pelajaran yang merupakan kepanjangan dari CBSA pasaran. 4. Ego-Involvement Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah symbol kebanggaan dan harga diri. Begitu juga dengan anak didik sebagai subjek belajar. Anak didik akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya (Djamarah, 2011: 162).

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 5. Memberi Ulangan Ulangan bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi ulangan. Berbagai usaha dan teknik bagaimana agar dapat menguasai semua bahan pelajaran anak didik lakukan sedini mungkin sehingga memudahkan mereka untuk menjawab setiap item soal yang diajukan ketika pelaksanaan ulangan berlangsung, sesuai dengan interval waktu yang diberikan. Oleh karena itu, ulangan merupakan strategi yang cukup baik untuk memotivasi anak didik agar lebih giat belajar. Namun demikian, ulangan tidak selamanya dapat digunakan sebagai alat ukur motivasi. Ulangan yang guru lakukan setiap hari dengan tak terprogram, hanya karena selera, akan membosankan anak didik. Anak didik merasa jenuh dengan ulangan yang diberikan setiap hari. Kondisi seperti ini menyebabkan perubahan sikap anak didik yang kurang baik, anak didik bukan giat belajar, tetapi malas belajar, yang disebabkan merasa bosan dengan soal-soal yang diberikan. Lebih fatal lagi bila ulangan itu dianggap anak didik sebagai momok yang menakutkan. Oleh karena itu, ulangan akan menjadi alat motivasi bila dilakukan secara akurat dengan teknik dan strategi yang sistematis dan terencana.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 6. Mengetahui Hasil Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil, anak duduk terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi bila hasil belajar itu mengalami kemajuan, anak didik berusaha untuk mempertahankannya atau bahkan meningkatkan intensitas belajarnya guna mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik di kemudian hari atau pada semester atau catur wulan berikutnya (Djamarah, 2011: 163). 7. Pujian Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan sebagai alat motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Guru bisa memanfaatkan pujian untuk memuji keberhasilan anak didik dalam mengerjakan pekerjaan di sekolah. Pujian yang diberikan sesuai dengan hasil kerja, bukan dibuatbuat atau bertentangan sama sekali dengan hasil kerja anak didik (Djamarah, 2011: 164). 8. Hukuman Meski hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi bila dilakukan dengan tepat dan bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif, bukan karena dendam. Pendekatan edukatif dimaksud di sini sebagai hukuman yang mendidik dan bertujuan memperbaiki sikap dan perbuatan anak didik yang dianggap salah. Sehingga dengan hukuman yang diberikan itu anak didik tidak mengulangi

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 kesalahan atau pelanggaran. Minimal mengurangi frekuensi pelanggaran. Akan lebih baik bila anak didik berhenti melakukannya di hari mendatang (Djamarah, 2011: 165). 9. Hasrat untuk Belajar Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini lebih baik bila dibandingkan kegiatan tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik daripada anak didik yang tak berhasrat untuk belajar (Djamarah, 2011: 165). 10. Minat Minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap suatu aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat (Djamarah, 2011: 166). 11. Tujuan yang Diakui Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh anak didik merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, dirasakan anak sangat berguna dan menguntungkan, sehingga menimbulkan gairah untuk terus belajar.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Tujuan pengajaran yang akan dicapai sebaiknya guru beritahukan kepada anak didik, sehingga anak didik dapat memberikan alternatif tentang pilihan tingkah laku mana yang harus diambil guna menunjang tercapainya rumusan tujuan pengajaran (Djamarah, 2011: 168). D. Belajar 1. Definisi Belajar Belajar adalah suatu proses perubahan ke arah lebih baik, dari tidak bisa menjadi bisa dan dari tidak tahu menjadi tahu. Perubahan tersebut relatif lama dan menjadi permanen. Belajar merupakan usaha secara sadar agar lebih meningkat melalui latihan berulang-ulang dan perubahan yang terjadi bukan karena kebetulan (Mulyati, 2005: 4). Menurut Lyle E. Bourne belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan. Menurut Clifford T. Morgan, belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative tetap yang merupakan hasil pengamatan yang lalu. Menurut Guilford, belajar adalah perubahan tingkah laku yang di hasilkan dari rangsangan (Mustaqim, 2008: 33). Belajar menjadikan anak akan mendapat kemampuan dari sumber yang diwariskan. Untuk mendapatkan kemampuan anak harus mendapatkan kesempatan, jika anak tidak diberi kesempatan belajar maka anak tidak dapat mendapat kemampuan. Sebagai contoh seorang anak yang berbakat memainkan satu jenis musik dan belajar terus menerus akan menjadi bisa, sedangkan seorang anak yang mempunyai bakat bermain

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 musik tetapi tidak pernah diberi kesempatan untuk belajar maka anak tidak akan mampu memainkan alat musik. Belajar pada manusia boleh dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental/ psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan dan nilai–sikap (Winkel, 1987: 36). Proses belajar berasal dari latihan atau pengulangan suatu tindakan, hal tersebut akan membuat perilaku seseorang berubah atau disebut juga imitasi yang artinya meniru apa yang dilakukan orang lain secara sadar. Belajar juga merupakan proses identifikasi yang artinya seseorang berusaha menerima sikap, nilai, motivasi, dan perilaku orang yang dicintai dan dihormati. Belajar dapat juga diartikan kegiatan yang dipilih, diarahkan dan bertujuan. Anak melakukan kegiatan yang dipilih akan diarahkan oleh orang tua atau orang yang lebih dewasa (Hurlock, 1978: 28). 2. Prinsip-prinsip Belajar Prinsip-prinsip belajar dapat dijelaskan, sebagai berikut (Mustaqim, 2008: 69): a. b. c. d. e. f. g. h. Keberhasilan belajar karena adanya kemauan dan tujuan tertentu. Belajar lebih berhasil jika ada ulangan dan latihan. Belajar lebih berhasil jika hasinya sukses dan menyenangkan. Belajar lebih menyenangkan jika berhubungan dengan kebutuhan hidupnya sendiri. Belajar lebih behasil jika lebih dapat memahami bukan hanya menghafal. Belajar memerlukan bimbingan dan bantuan orang lain. Hasil belajar bisa dilihat dari perubahan diri siswa. Sebelum ulangan dan ujian harus diberi pemahaman.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 3. Karakteristik Perubahan Hasil Belajar Setiap perilaku belajar selalu ditandai dengan perubahan yang spesifik. Ciri-ciri perubahan yang khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting ada tiga (Syah, 2008: 117): a. Perubahan Intensional Perubahan di dalam proses belajar karena adanya pengalaman atau praktek yang dilakukan dengan sadar dan disadari. Siswa sadar pada dirinya ada perubahan seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan tertentu, ketrampilan dan seterusnya. Namun kesengajaan belajar itu tidak penting, yang penting bagaimana mengelola informasi yang diterima siswa pada waktu peristiwa belajar terjadi. Contohnya, kebiasaan bersopan santun di meja makan dan bertegur sapa dengan orang lain dengan orang di sekitar kita tanpa disadari. Semua itu belum tentu kita pelajari dengan sengaja. Jadi bahwa perubahan intensional tersebut bukan” harga mati”. b. Perubahan Positif-Aktif Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif. Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan. Penambahan pemahaman dan keterampilan baru termasuk dalam hal perubahan positif-aktif. Perubahan aktif tidak terjadi dengan sendirinya tetapi karena proses kematangan dan karena usaha sendiri. Contohnya bayi yang bisa merangkak setelah bisa duduk.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 c. Perubahan Efektif-Fungsional Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat efektif dan berguna. Perubahan yang terjadi membawa pengaruh, makna dan manfaat tertentu bagi siswa. Selain itu perubahan dalam belajar sifatnya fungsional atau relatif menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahannya dapat direproduksi dan dimanfaatkan. Perubahan yang efektif dan fungsional biasanya bersifat dinamis dan mendorong timbulnya perubahan potitif lainnya. Setiap hasil belajar mempunyai ciri-ciri perubahan yang spesifik, ada 3 ciri-ciri perubahan yang khas yaitu : 1) Perubahan intensional, perubahan yang ada dalam diri bukan terjadi begitu saja tetapi secara sadar mempunyai pengalaman dan praktek. Anak juga mempunyai perubahan seperti pengetahuan, kebiasaan, sikap, ketrampilan dan pandangan tertentu dan lain-lain. 2) Perubahan “positif-aktif” adalah perubahan karena cara berpikir positif dan aktif. Positif artinya baik, bermanfaat serta sesuai dengan harapan sedangkan positif aktif adalah penambahan pemahaman dan ketrampilan baru, semua itu tidak terjadi dengan sendirinya tetapi karena ada usaha dalam diri. 3) Perubahan “efektifitas-fungsional” adalah perubahan karena proses belajar yang sifatnya efektif dan berguna. Perubahannya juga bermanfaat, bermakna dan berpengaruh bagi siswa.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 E. Anak Sekolah Dasar (SD) 1. Karakteristik Anak SD Dalam buku karangan Yusuf, Piaget menyatakan bahwa anak usia 611 tahun sudah dapat membentuk pertahanan mental atas pengetahuan yang dimiliki, mereka dapat menambah, mengurangi dan mengubah. Pertahanan ini mejadikan anak untuk dapat memecahkan masalah secara logis (Yusuf, 2008: 6). Aristoteles mengemukakan bahwa umur 7-14 tahun adalah masa anak dan masa sekolah rendah. Kretscmer mengemukakan bahwa anak umur 7-13 tahun akan kelihatan pendek dan gemuk secar fisik, sedangkan menurut Elizabeth Hurlock usia 2 sampai puber disebut tahap childhood dan usia 11-13 adalah tahap pre adolensence. Comenius memandang dari segi pendidikan bahwa usia 6-12 tahun harus belajar tentang bahasa ibu disebut juga masa (scola vernaculan). Tahan perkembangan menurut Rosseau masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera (Yusuf, 2008: 20). 2. Prinsip-Prinsip Perkembangan Prinsip perkembangan yang aktif terletak di dalam diri anak sendiri. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor luar dan juga dipengaruhi oleh pembawaan, bakat dan kemauan anak. Ada 13 prinsip perkembangan menurut buku psikologi anak (Kartono,1986: 45) : a. Pertumbuhan sebagai proses “menjadi” Setiap individu selalu mempunyai prinsip selalu berproses untuk“ menjadi’, setiap individu mengalami kemajuan dan

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 perubahan, semua itu didasari oleh faktor pembawaan kodrati,dipicu oleh pengaruh lingkungan dan di kuatkan oleh faktor usaha belajar, jadi anak dapat memilih sebuah pilihan dan belajar menjalani kehidupannya dengan satu kebebasan. Anak dapat menentukan citacitanya dan keinginannya dengan bebas, tetapi kebebasan anak tetap dibatasi oleh faktor-faktor pembawaan kodrati dan dibatasi oleh kondisi lingkungan. b. Paduan antara dorongan-dorongan mempertahankan diri dan pengembangan diri Setiap proses perkembangan diri terdapat dorongan mempertahankan diri dan dorongan mengembangkan diri, untuk mempertahankan diri dan mengembangkan diri pada hidupnya, setiap orang mempunyai dorongan fisik dan dorongan psikis. Sebagi contoh pemeliharaan jasmaniah dapat dilakukan dengan cara memelihara pencernaan, pernafasan dan kesehatan yang lainnya, sedangkan untuk pemeliharaan rokhaniah dapat memperkaya ilmu pengetahuan. c. Individualitas anak dan perbedaan individual Sejak lahir bayi sudah memiliki ciri-ciri dan mempunyai karakteristik yang individual, ada anak yang aktif, lincah, tidak rewel ada pula anak yang rewel, tenang, mudah terkejut, penakut dan lain sebagainya. Perbedaan individual dan karakteristik tersebut, menjelaskan bahwa setiap individu anak merupakan pribadi yang

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI khas dan unik yang berusaha mengembangkan diri 25 dan melaksanakan diri (merealisasi-diri). d. Anak sebagai makhluk sosial Disamping memperhatikan individualitas anak juga harus memperhatikan masyarakat dimana anak di didik dan dibesarkan. Lingkungan sosial merupakan fasilitas dan area bermain anak untuk realisasi-diri. Anak memerlukan orang dewasa untuk menjadi manusia normal dan mencapai taraf kemanusiaan. Humanitas atau kemanusiaan bukan muncul sendiri dalam pribadi, tetapi terbentuk oleh faktor lingkungan masyarakat dan orang-orang terdekatnya. Setiap anak adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan lingkungan sosial dan masyarakat. Anak merupakan pribadi-sosial yang memerlukan relasi dan komunikasi dengan orang lain untuk memanusiakan dirinya dan diakui, dicintai serta dihargai. e. Hukum konvergensi dari William Stern Konvergensi tersebut adalah kerja sama, bertemu pada satu titik. Hukum konvergensi itu artinya adanya kerjasama antara faktor kodrat dan fakor sosial.Dalam setiap perkembangan anak faktor kodrat dan faktor sosial sangat mempengaruhi.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 f. Pemenuhan kebutuhan sebagai sumber dinamika aktivitas anak Setiap anak mempunyai kebutuhan tertentu (yang bersifat vital biologis, human, sosial-kulturil) untuk mempertahankan hidupnya. Kebutuhan tersebuat harus di penuhi agar tidak menimbulkan konflik batin dan frustasi, jika kebutuhan itu sudah terpenuhi maka akan tercipta keseimbangan. g. Penggunaan fungsi-fungsi secara spontan merupakan tanda dari kemampuan tubuh Anak yang sudah dapat berbuat dan berfikir secara matang, maka anak didorong oleh implus-implus yang kuat untuk menggunakannya. Misalnya anak yang itulanh kakinya sudah kuat untuk menyangga secara terus-terus akan belajar berdiri dan berjalan. h. Tempo dan ritme perkembangan yang khas Perkembangan anak berlangsung dengan adanya tempo atau kecepatan dan ritme atau irama yang setiap anak mempunyai kodrati sendiri-sendiri. Cepat lambatnya perkembangan anak berjalan secara konstan sifatnya. i. Kematangan dan masa peka Pertumbuhan dan kematangan dan kematangan itu berjalan diluar kontrol manusia, dan diluar kemauan anak. Tetapi setiap pengalaman positif dapat mengembangkan diri anak, sehingga anak lebih matang dan penghayatan hidupnya semakin bertambah

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 mendalam, sebaliknya pengalaman yang negative dapat menghambat perkembangan anak. j. Perkembangan sebagai proses diferensiasi Perkembangan anak itu harus di artikan sebagai proses diferensiasi, proses diferensiasi artinya ada prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas semakin lama akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan. k. Masa Trotzalter Ciri yang kuat pada periode Trotzalter adalah sikap keras kepala dan suka menentang, karena anak sedang mengalami fase menemukan diri atau menemukan AKU-nya, dan sudah menghayati kemampuan diri serta harga diri. Anak akan mencoba segala potensinya dan kemampuannya yang ditujuakan pada dunia luar. l. Perjuangan sebagai ciri dari perkembangan Hidup berhubungan dengan perjuangan dan perjuangan tidak akan berhenti. Anak semakin dewasa akan semain otonom yang dulu bergantung pada orang tua anak kadang akan menjadi menentang orang tua, karena menuntut pengakuan terhadap AKU-nya. m. Pemulihan diri dan revisi terhadap kebiasaan Kemampuan anak yang berperan membantu proses berkembangan anak adalah kemampuan anak untuk memikul kemalangan dan derita, dan mampu untuk memulihkan dirinya atau menyembuhkan diri sendiri.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini berisi uraian mengenai (1) Jenis penelitian, (2) Subyek penelitian, (3) Istrumen penelitian, dan (4) Teknik analisis data . A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah kuantitatif karena dapat dikembangkan dan ada data penelitian berupa angka – angka dan analisis menggunakan stastistik (Sugiyono, 2011 :13). Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survey. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilaksanakan untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat penelitian dilakukan (Furchan, 2007). Penelitia ini bertujuan untuk mendiskripsikan motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik siswa-siswi kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Aajaran 2013/2014. B. Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Kotagede 5 Yogyakarta yang berjumlah 24 siswa dan seluruh siswa kelas V SD Kotagede 5 Yogyakarta yang berjumlah 28 siswa. Adapun rincian jumlah siswa kelas IV dan V seperti yang disajikan dalam tabel 1. 28

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 Tabel 1 Rincian Jumlah Siswa Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/ 2014 Kelas Jumlah IV 24 V 28 Total Siswa 52 C. Istrumen Penelitian 1. Kuesioner Data dikumpulkan menggunakan koesioner, kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan penulisan kepada responden untuk dijawab (Sugiyono,2011 : 199). Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen kuesioner. Peneliti membuat 58 item pernyataan yang menggambarkan tentang motivasi belajar siswa. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup, yaitu kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban sehingga responden tinggal memilih salah satu alternatif yang ada (Suharsimi, 1990: 129). Item pernyataan dalam kuesioner disusun menggunakan skala likert 4, dimana masing-masing item pernyataan disediakan 4 (empat) alternatif jawaban yang dapat dipilih oleh responden. Berikut adalah tebel motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Tabel 2 Kisi-kisi Kuesioner Motivasi Belajar Ekstrinsik dan Intrinsik Siswa Kelas IV SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 (Uji Coba) No 1 Variabel yang diangkat Motivasi Intrinsik indikator Item Kuessioner uji coba Favorable Unfavorable Jumlah Kesehatan secara fisik mempengaruhi motivasi belajar. Kesiapan mental mempengaruhi motivasi belajar. Senang membaca buku yang relevan. 1,2,3 3 1,2 3 4,5,6,7,8,9,10, 11,12,13,14,15 7,8,9,10,11,13,1 4 4,5,6,12,15 12 16,17,18,19,20 16,17,19,20 18 5 4 Sekolah berguna untuk masa depan. 21,22,23,24 21,22,23 24 4 5 Keaktifan di kelas. 25,26,27,28,29 25,26,27,28 29 5 6 Kedisiplinan sekolah 30,31,32,33,34 30,31,33 32,34 5 Faktor orang tua dan suasana keluarga/rumah mempengaruhi motivasi belajar. Keadaan ekonomi keluarga mempengaruhi motivasi belajar Faktor sekolah mempengaruhi motivasi belajar. 35,36,37,38,39 35,36,39 37,38 5 40,41,42,43,44 40,41,42,43 44 5 45,46,47,48 45,46,48 47 4 2 3 7 8 9 Motivasi Ekstrinsik (Motivasi yang berasal dari luar diri) 10 Faktor media dan lingkungan mempengaruhi motivasi 49,50,51,52,53 52 49,50,51,53 5 11 Terdapat Pujian dan hukuman untuk membangkitkan motivasi Total iteam 54,55,56,57,58 54,56,57 58 6 58

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 2. Skoring Item Penentuan skor dan item-item pernyataan adalah sebagai berikut: a. Untuk pernyataan yang bersifat positif (favorable), jawaban sangat setuju (SS) diberi skor 4, setuju (S) diberi skor 3, tidak setuju (TS) diberi skor 2 dan sangat tidak setuju (STS) diberi skor 1. b. Untuk pernyataan yang bersifat negatif (unfavorable), jawaban sangat setuju (SS) diberi skor 1, setuju diberi skor 2, subyek diminta untuk memilih salah satu jawaban dari 4 alternatif jawaban yang disediakan pada setiap pernyataan dan memberi tanda centang (√) pada kolom alternatif jawaban. Untuk mengungkapkan deskripsi motivasi belajar siswa, keseluruhan jawaban diakumulasi. Semakin tinggi skor total item-item yang bersifat favorable maka skor total favorable maka semakin rendah pula motivasi belajar siswa. 3. Validitas dan Realilitas a. Validitas Validitas adalah ketepatan dan kecermatan dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau alat pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat yang bersangkutan menjalankan fungsi ukurnya, yaitu memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 pengukuran yang bersangkutan. Alat ukur yang valid tidak sekedar mampu mengungkapkan data yang tepat, akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data yang bersangkutan (Azwar,1997: 6). Penelitian ini menggunakan validitas isi, (content Validity). Validitas isi berkaitan dengan kemampuan suatu instrument mengukur isi (konsep) yang harus diukur.Ini berarti bahwa suatu alat ukur mampu mengungkapkan isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. Prosedur pengujian kesahihan item dilakukan dengan cara menganalisa setiap item dengan mengkorelasikan skor setiap item X dengan skor total seluruh item Y yang di peroleh setiap responden. Untuk perhitungan validitas ini digunakan teknik korelasi Pearson Product Moment sebagai berikut (Marsidjo, 1995: 246): Keterangan: rx = korelasi skor-skor total kuesioner dan total butir-butir N = jumlah subyek X = skor sub total kuesioner Y = skor total butir-butir kuesioner XY = hasil perkalian antara skor X dan skor Y

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Batasan yang digunakan adalah taraf signifikan 0,05 (5%). Penentuan validitas item-item menggunakan patokan koefisien korelasi minimum 0,30 dinyatakan gugur sehingga tidak dapat digunakan sebagai item pengumpulan data. Koefisien korelasi yang lebih digunakan sebagai item pengumpulan data (Azwar, 2009). Berikut ini adalah tabel validititas yang sudah di uji coba. Proses perhitungan taraf validitas dilakukan dengan memberi skor pada setiap item dan mentabulasi uji coba. Selanjutnya proses perhitungan dilakukan dengan program SPSS (Statistical Programe for Social Science) versi17.0 for windows agar lebih efektif dan efisien. Instrumen penelitian setelah ujicoba terdapat pada tabel 3.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Tabel 3 Kisi-kisi Skala Motivasi Belajar Ekstrinsik dan Intrinsik Setelah Uji Coba No 1 Variabel yang Diangkat Motivasi Intrinsik Indikator Favorable Unfavorable Jumlah Kesehatan secara fisik mempengaruhi motivasi belajar. 3 Kesiapan mental mempengaruhi motivasi belajar. Senang membaca buku yang relevan. 7,8,9,10,11,13, 14 4,6,12,15 11 16,20 18 3 4 Sekolah berguna untuk masa depan. 21,23 24 3 5 Keaktifan di kelas. 25,26 29 3 6 Kedisiplinan sekolah 30,33 34 3 Faktor orang tua dan suasana keluarga/rumah mempengaruhi motivasi belajar. Keadaan ekonomi keluarga mempengaruhi motivasi belajar Faktor sekolah mempengaruhi motivasi belajar. Faktor media dan lingkungan mempengaruhi motivasi Terdapat Pujian dan hukuman untuk membangkitkan motivasi 36 37,38 3 40,41 44 3 2 3 7 8 9 10 11 Motivasi Ekstrinsik (Motivasi yang berasal dari luar diri) 1 45,46,48 3 52 49,50, 53 4 54, 58, 2 38

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 D. Teknik Analisis Data Teknik analisis data untuk menilai tinggi rendahnya motivasi belajar siswa-siswi kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun ajaran 2013/2014, penelitian mengunakan PAP tipe 1 (Marsidjo, 1995: 153). PAP adalah suatu penilaian yang membandingkan perolehan skor yang dicapai oleh setiap individu. Di bawah ini peneliti menjelaskan langkah yang ditempuh dalam mengolah dan menganalisis data, yaitu : a. Peneliti memberi skor jawaban subyek sesuai sifat item. b. Peneliti memasukan skor jawaban subyek ke dalam tabulasi data bantuan Microsoft Excel Versi X.P 2007 for Windows. c. Peneliti menghitung besarnya presentase pada setiap skor subjek pada aspek, dengan cara skol total dibagi dengan skor maksimal, dikalikan 100%. Skor maksimal didapat dengan cara mengalihkan jumlah item dikalikan dengan alternative jawaban. d. Peneliti menentukan peringkat berdasarkan besarnya persentase pada subjek, dan mengurutkan persentase perolehan dari setiap subjek dari yang tertinggi sampai yang terendah. e. Untuk menjawab tentang motivasi belajar siswa kelas IV SD dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta, peneliti membuat skor-skor perolehan siswa yang diolah dengan menggunakan Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe I, Seperti tampak pada tabel 4.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Tabel 4 Penilaian Acuan Patokan (PAP) Tipe 1 Koefisen Korelasi 90% - 100% 80% - 89% 65% - 79% 55% - 64% Kurang 55 % Kualifikasi Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Berdasarkan perhitungan kategorisasi PAP Tipei 1 yang sudah dihitung ditemukan 2 kategorisasi yaitu kategorisasi Motivasi intrinsik pada tabel 1 dan kategorisasi motivasi ekstrinsik pada tabel 2. Tabel 5 Kategorisasi Motivasi Intrinsik Siswa-Siswi Kelas IV Dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Presentase Skor Kategorisasi 90% - 100% 80% - 89% 65% - 79% 55% - 64% Kurang 55 % 76 - 84 67 - 75 55-67 46-54 Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah >45 Tabel 6 Kategorisasi Motivasi Ekstrinsik siswa-siswi Kelas IV Dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Presentase Skor Kategorisasi 90% - 100% 80% - 89% 65% - 79% 55% - 64% Kurang 55 % 61 - 68 54 - 60 44 -53 37- 43 Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah >36

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi uraian mengenai hasil penelitian mengenai deskripsi tinggkat motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik siswa kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 dan pembahasan hasil penelitian. A. Hasil Penelitian 1. Tinggkat Motivasi Intrinsik Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun ajaran 2013/2014. Berdasarkan data yang terkumpul dan diolah dengan menggunakan PAP tipe 1 dapat diketahui tingkat motivasi intrinsik siswa – siswi kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 menggunakan kategorisasi seperti tampak pada tabel dan tabulasi di bawah ini. Tabel.7 Kategorisasi Motivasi Intrinsik Siswa-Siswi Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Presentase Skor Kategorisasi 90% - 100% 76 - 84 Sangat Tinggi 18 35 80% - 89% 67 - 75 Tinggi 21 40 65% - 79% 55-67 Cukup 4 8 55% - 64% 46-54 Rendah 1 2 Sangat Rendah 0 0 Kurang 55 % > 45 37 f %

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Diagram 7.1 Kategorisasi Motivasi Intrinsik Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Hasil perhitungan menggunakan kategorisasi intrinsik sangat tinggi tinggi sedang rendah Berdasarkan tabel diatas hasil dapat dilihat seperti berikut a. Terdapat 18 siswa (35%) yang mempunyai motivasi intrinsik sangat tinggi dari 52 siswa. b. Terdapat 21 siswa (40%) yang mempunyai motivasi intrinsik tinggi dari 52 siswa. c. Terdapat 4 siswa (8%) yang mempunyai motivasi intrinsik sedang dari 52 siswa. d. Terdapat 1 siswa (2%) yang mempunyai motivasi intrinsik rendah dari 52 siswa. e. Terdapat 0 siswa (0%) yang mempunyai motivasi intrinsik sangat rendah dari 52 siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penelitian dapat menyimpulkan bahwa rata-rata tingkat motivasi intrinsik siswa-

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 siswi kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 termasuk dalam tinggkat kategorisasi tinggi karena ada 21 anak yang mempunyai motivasi intrinsik tinggi. 2. Tinggkat Motivasi Ekstrinsik Berdasarkan data yang terkumpul dan diolah dengan menggunakan PAP tipe 1 dapat diketahui tingkat motivasi ekstrinsik siswa – siswi kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 pada tabel dan tabulasi di bawah ini. Tabel. 8 Kategorisasi Motivasi Ekstrinsik Siswa-Siswi Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 Berdasarkan tabel diatas hasil dapat dilihat seperti berikut Presentase Skor Kategorisasi 90% - 100% 61 - 68 Sangat Tinggi 11 21 80% - 89% 54 - 60 Tinggi 28 54 65% - 79% 44 -53 Cukup 12 23 55% - 64% 37- 43 Rendah 1 2 Sangat Rendah 0 0 Kurang 55 % >36 f %

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Diagram. 8.2 Kategorisasi Motivasi Ekstrinsik Siswa-Siswi Kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 a. Terdapat 11 siswa (21%) yang mempunyai motivasi ekstrinsik sangat tinggi dari 52 siswa. b. Terdapat 28 siswa (54%) yang mempunyai motivasi ekstrinsik tinggi dari 52 siswa. c. Terdapat 12 siswa (23%) yang mempunyai motivasi ekstrinsik sedang dari 52 siswa. d. Terdapat 1 siswa (2%) yang mempunyai motivasi ekstrinsik rendah dari 52 siswa. e. Terdapat 0 siswa (0%) yang mempunyai motivasi ekstrinsik sangat rendah dari 52 siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penelitian dapat menyimpulkan bahwa rata-rata tingkat motivasi ekstrinsik

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 siswa-siswi kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 termasuk dalam tinggkat kategorisasi tinggi karena ada 28 anak yang mempunyai motivasi ekstrinsik tinggi. B. Pembahasan Hasil penelitian ini membuktikan bahwa motivasi intrinsik mayoritas siswa-siswi kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 termasuk dalam tingkat kategori tinggi. Perhitungan data tentang jumlah siswa yang termasuk motivasi intrinsik dalam kategorisasi sangat tinggi ada 18 siswa (35%) dari 52 siswa, perhitungan data tentang jumlah siswa yang termasuk motivasi intrinsik dalam kategorisasi tinggi ada 21 siswa (40%) dari 52 siswa, perhitungan data tentang jumlah siswa yang termasuk motivasi intrinsik dalam kategorisasi sedang ada 4 siswa (8%) dari 52 siswa, perhitungan data tentang jumlah siswa yang termasuk motivasi intrinsik dalam kategorisasi rendah ada 1 siswa (2%) dan perhitungan data tentang jumlah siswa yang termasuk motivasi intrinsik dalam kategorisasi ahsangat rend ada 0 siswa (0%). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa motivasi ekstrinsik mayoritas siswa-siswi kelas IV dan V SD Kotagede 5 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 termasuk dalam tingkat kategori tinggi. Perhitungan data tentang jumlah siswa yang termasuk motivasi ekstrinsik dalam kategorisasi sangat tinggi ada 11 siswa (21%) dari 52 siswa, perhitungan data tentang jumlah siswa yang termasuk motivasi ekstrinsik dalam kategorisasi tinggi ada 28 siswa (54%) dari 52 siswa, perhitungan data tentang jumlah siswa yang

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 termasuk motivasi ekstrinsik dalam kategorisasi sedang ada 12 siswa (23%) dari 52 siswa, perhitungan data tentang jumlah siswa yang termasuk motivasi ekstrinsik dalam kategorisasi rendah ada 1 siswa (2%) dan perhitungan data tentang jumlah siswa yang termasuk motivasi ekstrinsik dalam kategorisasi sangat rendah ada 0 siswa (0%). Dalam penelitian ini, motivasi intrinsik siswa dalam belajar diukur dari sejauhmana mereka belajar secara rutin, keberadaan minat dan pikiran positif sebagai pendorong belajar, keinginan untuk menguasai materi pelajaran, kemajuan dalam hasil belajar, kesadaran akan manfaat materi yang dipelajari, adanya semangat belajar yang kuat serta adanya orientasi self study dalam kegiatan belajar, karena seseorang yang mempunyai motivasi akan melakukan aktifitas nyata berupak fisik yang mempunyai tujuan tertentu (Djamarah, 2011: 148). Motivasi intrinsik dapat ditumbuhkan diantaranya dengan menciptakan iklim kompetisi di dalam kelas. Kompetisi merupakan persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar. Persaingan, baik dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam pendidikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif. Bila iklim belajar yang kondusif terbentuk, maka setiap anak didik telah terlihat dalam kompetisi untuk menguasai bahan pelajaran yang diberikan. Target dari kompetisi ini nantinya adalah mengkondisikan peserta didik agar terlibat secara intensif dalam aktivitas belajar di kelas. Hal ini sesuai dengan teori bahwa motivasi

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 akan menjadi pendorong peerbuatan, motivasi sebagai penggerak perbuatan dan motivasi sebagai pengarah perbuatan (Djamarah, 2011: 151) Selain itu, motivasi intrinsik juga dapat ditumbuhkan dengan penyadaran peserta didik akan manfaat dari pemberian tugas-tugas dari guru. Para peserta didik dapat diberi penjelasan akan arti penting tugas sebagai tantangan yang perlu diupayakan terselesaikan dengan baik. Guru juga dapat mendorong motivasi intrinsik dengan cara menggali minat peserta didik. Minat merupakan kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Jika peserta didik sudah berhasil dikondisikan untuk mengenal kecenderungan arah minatnya, maka selanjutnya guru dapat memberikan motivasi lebih atas pilihan minat dari masing-masing peserta didik. Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa motivasi ekstrinsik penting dan dibutuhkan karena kadang siswa sering berubah-ubah motivasinya dan terkadang proses belajar mengajar di kelas kurang menarik bagi siswa, sehingga motivasi ekstrinsik sangat diperlukan (Sardiman, 1989: 91). Demikian juga halnya dengan motivasi ekstrinsik yang juga memberikan gambaran bahwa secara umum siswa-siswi kelas IV dan V SD Kotagede V Tahun Ajaran 2013/ 2014 memiliki motivasi ekstrinsik dalam belajar yang cenderung baik pula. Dalam penelitian ini, motivasi ekstrinsik siswa dalam belajar diukur dari sejauhmana peran dorongan dari luar diri siswa dalam belajar, seperti adanya orientasi pujian/ hadiah/ nilai bagus, keberadaan guru yang baik, adanya ketergantungan siswa pada orang lain. Selain itu motivasi ekstrinsik ini juga diukur dari kadar kepercayaan diri siswa.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 Upaya menumbuhkan motivasi ekstrinsik ini diantaranya dapat dilakukan melalui pemberian pujian bagi peserta didik yang berprestasi serta dan pemberian hukuman bagi peserta didik yang melanggar peraturan dan tugas guru. Mekanisme lainnya adalah melalui pemberian ulangan di kelas secara berkala. Sebab anak didik biasanya mempersiapkan diri dengan belajar jauhjauh hari untuk menghadapi ulangan. Hal tersebut berkaitan dengan 6 prinsip motivasi belajar yaitu motivasi sebagai penggerak yang mendorong aktivitas perbuatan, motivasi intrinsik lebih utama daripada motivasi ekstrinsik, motivasi berupa pujian lebih baik daripada hukuman, motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar, motivasi dapat memupuk optimisme dalam bealajar dan motivasi melahirkan prestasi dalam belajar (Djamarah, 2011: 152). Dalam proses interaksi belajar mengajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, diperlukan untuk mendorong anak didik agar tekun belajar. Motivasi ekstrinsik sangat diperlukan bila ada di antara adak didik yang kurang berminat mengikuti pelajaran dalam jangka waktu tertentu. Peranan motivasi ekstrinsik cukup besar untuk membimbing anak didik dalam belajar. Dalam upaya meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, hendaknya pihak guru mengkombinasikan upaya untuk mendorong motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Sebab kedua motivasi tersebut akan memegang peranan yang vital dalam menjaga stabilitas motivasi siswa dalam belajar.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Motivasi intrinsik siswa-siswi kelas IV dan V SD Kotagede V Tahun Ajaran 2013/ 2014 cenderung baik. Hal ini didasarkan pada skor rata-rata motivasi intrinsik sebesar 21 siswa dengan kategorisasi tinggi. Siswa motivasi Intrinsik yang tinggi dapat mempengaruhi semangat belajar yang kuat tanpa harus dipengaruhi dari faktor luar diri siswa. Siswa yang mempunyai motivasi intrinsik tinggi akan melakukan kegiatan belajarnya secara terus menerus dan dengan senang hati karena percaya belajar akan berguna untuk sekarang dan waktu yang akan datang. 2. Motivasi ekstrinsik siswa-siswi kelas IV dan V SD Kotagede V Tahun Ajaran 2013/ 2014 cenderung baik. Hal ini dikarenakan 28 siswa tergolong dalam kategorisasi motivasi ekstrinsik tinggi.Dalam penelitian ini, motivasi ekstrinsik siswa dalam belajar diukur dari sejauhmana peran dorongan dari luar diri siswa dalam belajar, seperti adanya orientasi pujian/ hadiah/ nilai bagus, keberadaan guru yang baik, adanya ketergantungan siswa pada orang lain karena motivasi ekstrinsik juga sangat diperlukan dalam proses belajar untuk menumbuhkan semangat belajar siswa. 45

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 B. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis dapat memberikan beberapa saran, sebagai berikut: 1. Pihak sekolah perlu senantiasa mendorong peningkatan motivasi intrinsik siswa dalam belajar, mengingat hal ini sangat penting untuk menciptakan kemandirian siswa dalam belajar. Upaya yang dapat dilakukan diantaranya dengan menanamkan pikiran positif tentang arti penting belajar secara mandiri. Motivasi dapat diberikan melalui cerita oleh guru maupun oleh siswa alumni dari sekolah yang bersangkutan yang dinilai memiliki prestasi akademik. 2. Pihak sekolah juga perlu mendorong peningkatan motivasi ekstrinsik siswa dalam belajar. Sebab motivasi internal siswa seringkali tidak stabil, sehingga perlu didorong melalui motivasi eksternal. Upaya yang dapat dilakukan diantaranya dengan memberikan tugas PR secara berkesinambungan sebagai sarana mengkondisikan kontinuitas siswa dalam belajar. Selanjutnya perlu diberlakukan pemberian penghargaan serta sanksi yang mendidik atas pelanggaran siswa dalam mengerjakan PR.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 C. Keterbatasan Peneliti Peneliti ini masih mempunyai keterbatasan dan kekurangan. Peneliti ini sadar bahwa masi banyak yang harus di perbaiki dan di sempurnakan. Adapun keterbatsan peneliti antara lain: 1. Aspek-aspek motivasi belajar yang ditemukan peneliti dari beberapa reverensi hanya berjumlah tiga belas, peneliti yakin bahwa masih banyak aspek lain yang terkait dengan motivasi belajar. 2. Peneliti kurang mampu memilih bahasa-bahasa yang lebih sederhana dan di pahami responden. 3. Peneliti kurang pintar dalam memilih kalimat dalam penulisan sekripsi. 4. Peneliti kurang teliti sehingga sering ada pengetikan yang salah. 5. Dalam mengembangkan indikataor-indikator dari setiap aspek motivasi belajar, hendaknya memilih bahasa yang lebih sederhana agar lebih dipahami oleh responden. 6. Peneliti kesulitan membahasan hasil SPSS kedalam kalimat yang baik dan benar karena hasil penelitian harus disimpulkan secara garis besar bukan satu persatu dari individu atau item-item.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Azwar, Saifuddin. 2009. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pelajar. Pustaka Djamarah, Saiful Bahri., 2011. Psikologi belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Djiwandono, Wuryani Sri esti. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo. Furchan, A. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. _________.2007. Pengantar PustakaPelajar. Penelitian Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Handoko, Martin. 1992. Motivasi ; Daya Penggerak Tingkah Laku. Yogyakarta: Kanisius. Hurlock B. Elizabeth. 1978. Perkembangan Anak, Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Kartono, Kartini. 1986. Psikologi Anak. Bandung: Alumni IKIP Bandung. Santrock W Jhon, 2009, Pendidikan Psikologi, Salemba Humanika, Lenteng Agung. Raya Sardiman. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: CV. Rajawali. Suharsimi, Arikunto. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: PT RinekaCipta. Sugiono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Supriyono Widodo dan Ahmadi Abu. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Grafindo Persada Masidjo, Ignasius. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belaja rSiswa di Sekolah. Yogyakarta : Kanisius. Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Andi Offet: Yogyakarta. 48

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Mustaqim. 2008. Psikologi Pendidikan, Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Winkel, W.S. 1987. Psikolgi Pengajaran. Yogaykarta: Gramedia. Winkel. W.S. 1996 Psikologi Pengajaran. Jakarta : Grasindo. Yusuf, Syamsu. 2008. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. .

(65)

Dokumen baru