Pengaruh penggunaan metode Mind Map terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi pada mata pelajaran IPA kelas V SD Pangudi Luhur Yogyakarta - USD Repository

164 

Full text

(1)

PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP TERHADAP KEMAMPUAN EVALUASI DAN INFERENSI

PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun oleh: Luciana Renny Febrianti

101134201

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP

TERHADAP KEMAMPUAN EVALUASI DAN INFERENSI PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V

SD PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun oleh: Luciana Renny Febrianti

101134201

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv MOTTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN

Ketika kamu melihat salib, kamu memahami betapa Yesus mencintaimu. Ketika kamu memandang Hosti Suci, kamu memahami betapa Yesus mencintaimu

sekarang.

-Mother Teresa-

Jangan mencari kekuatanmu melainkan carilah harapan dan mimpimu. Jangan berpikir tentang frustrasimu, tapi tentang potensi yang belum terpenuhi. Perhatikan dirimu bukan dengan apa yang telah kamu coba dan gagal, tapi dengan

apa yang masih mungkin bagimu untuk melakukan sesuatu. -Paus Yohanes XXII-

Real succes is determined by two factors. First is faith, and second is action. -Reza M. Syarief-

Karya ilmiah sederhana ini Penulis persembahkan kepada:

1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberkati dan menyertai setiap langkahku, serta mendengarkan dan mengabulkan permohonanku.

2. Bunda Maria perantara segala rahmat.

3. Kedua orang tua dan kakak yang selalu memberikan semangat dan banyak dukungan.

4. Seseorang yang selalu memberikan motivasi, dukungan, dan mendengarkan keluh kesah penulis.

(6)

v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar referensi sebagai layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 10 Juni 2014 Penulis,

(7)

vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma.

Nama : Luciana Renny Febrianti Nomor Mahasiswa : 101134201

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul:

“PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAP TERHADAP

KEMAMPUAN EVALUASI DAN INFERENSI PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V SD PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA” beserta perangkat yang diperlukan, (bila ada).

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 10 Juni 2014 Yang menyatakan,

(8)

vii ABSTRAK

Febrianti, Luciana Renny. (2014). Pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi pada mata pelajaran IPA kelas V SD Pangudi Luhur Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma.

Kata kunci: mind map, kemampuan evaluasi, kemampuan inferensi, mata pelajaran IPA.

Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengujicobakan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi kelas V di SD Pangudi Luhur Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi dan kemampuan inferensi pada siswa kelas V SD Pangudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Jenis penelitian adalah quasi experimental tipe non-equivalent control group design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas V SD Pangudi Luhur Yogyakarta. Sampel terdiri dari kelas V PL 3 sebanyak 39 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas V PL 4 sebanyak 39 siswa sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa satu soal essai untuk kemampuan evaluasi dan dua soal untuk kemampuan inferensi.

(9)

viii

ABSTRACT

Febrianti, Luciana Renny. (2014). Effects of the use of mind mapping method to the evaluation skills and inference to teaching science fifth grade elementary school Pangudi Luhur Yogyakarta. Thesis. Yogyakarta: Elementary Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University.

Keywords: mind map, evaluation skills, inference skills, teaching science.

The background of this study was to test the trialed method of mind mapping about evaluation skills and inference skills of fifth grade in elementary school Pangudi Luhur Yogyakarta. This study aims to determine the effect of the use of mind mapping method to evaluation skills and inferece skills of fifth grade elementary school Pangudi Luhur Yogyakarta academic year 2013/2014. The research used a quasi-experimental is the type of non-equivalent control group design. The study population was all students in the fifth grade elementary school Pangudi Luhur Yogyakarta. The sample consisted of fifth grade PL 3 of 39 students as the experimental group and fifth grade PL 4 of 39 students a control group.

(10)

ix KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala rahmat, kasih, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu. Skripsi dengan judul “Pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi pada mata pelajaran IPA kelas V SD Pangudi Luhur Yogyakarta” disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Karena itu, dengan segenap hati dan rasa syukur penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Gregorius Ari Nugrahanta, SJ, S.S., BST, M.A., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, sekaligus dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan motivasi dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dari awal penyusunan hingga selesai.

3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D., selaku Wakaprodi PGSD.

4. Agnes Herlina Dwi Hadiyanti, S.Si., M.T., M.Sc., selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan motivasi dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dari awal penyusunan hingga selesai.

5. Dra. Ignatia Esti Sumarah., M.Hum., selaku Dosen Penguji III yang telah banyak memberikan masukkan dan saran untuk skripsi ini.

6. FX. Teguh Supono selaku Koordinator Sekolah SD Pangudi Luhur Yogyakarta yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian di SD Pangudi Luhur Yogyakarta.

7. C. Retna Irawati, S.Ag., selaku Kepala Sekolah 2 SD Pangudi Luhur Yogyakarta yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian di SD Pangudi Luhur Yogyakarta.

(11)

x 9. Siswa kelas V PL 3 dan V PL 4 SD Pangudi Luhur Yogyakarta yang telah bekerjasama dan bersedia menjadi subjek penelitian sehingga penelitian berjalan lancar.

10. Sekretariat PGSD yang telah membantu proses perijinan penelitian sampai skripsi ini selesai.

11. Kedua orang tua tercinta, Rustana dan Enar Somyati yang selalu memberikan dukungan dan doa kepada penulis.

12. Kakakku, Ryan Herdianto atas bantuan, semangat, motivasi dan doanya. 13. Janu Tri Nugroho, yang selalu membantu, mendukung, dan memotivasi

penulis sehingga mampu menyelesaikan karya skripsi ini.

14. Teman satu penelitian Anjar dan Lia yang selalu menjadi teman setia dan selalu membantu ketika mengalami kesulitan dalam menyelesaikan karya skripsi ini.

15. Teman-teman penelitian kolaboratif payung IPA (Anjar, Lia, Mita Heny, Tri, Yolanda, Yuni, Patris, Luki, Farida, Lalak, Luci, Dani, Bowo, Probo, Mita, Sinta, Yanti) yang memberikan banyak masukkan dan bantuan kepada penulis dalam melakukan penelitian dan menyelesaikan karya skripsi ini. 16. Teman-teman kost 452 yang telah memberikan semangat dan dukungan

selama kuliah. Terima kasih atas kebersamaannya selama ini sehingga penulis merasa menemukan keluarga baru di Yogyakarta.

17. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas semuanya.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, untuk itu penulis berharap karya ilmiah sederhana ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa Universitas Sanata Dharma.

(12)

xi

HALAMAN MOTTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR ISI ... xi

2.1.1.4 Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam ...17

2.1.1.5 Materi IPA...18

2.1.1.6 Kemampuan Berpikir Kritis ...23

2.1.1.7 Kemampuan Evaluasi dan Inferensi ...24

2.1.2 Penelitian-penelitian yang Relevan ...25

2.1.2.1 Penelitian-penelitian tentang Mind Map ...25

(13)

xii

2.1.2.3 Literature Map ...29

2.2 Kerangka Berpikir ...29

3.8.2.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ...44

3.8.2.2 Uji Selisih Skor Pretest dan Posttest I ...44

3.8.3 Analisis Lebih Lanjut ...45

3.8.3.1 Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I ...45

3.8.3.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan (Effect Size) ...46

3.8.3.3 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ...47

3.8.3.4 Dampak perlakuan pada siswa ...48

3.8.3.5 Konsekuensi Lebih Lanjut ...51

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...52

4.1 Implementasi Pembelajaran ...52

4.1.1 Kelompok Eksperimen ...53

4.1.2 Kelompok Kontrol ...55

4.2Hasil Penelitian ...56

4.2.1 Pengaruh Penggunaan Mind Map terhadap Kemampuan Evaluasi ...58

4.2.1.1 Uji Normalitas Data ...58

4.2.1.2 Uji Pengaruh Perlakuan ...59

1) Uji Perbedaan Kemampuan Awal ...59

2) Uji Selisih Skor Pretest ke Posttest I...60

4.2.1.3 Analisis Lebih Lanjut ...61

(14)

xiii

2) Uji Besar Pengaruh Perlakuan (Effect Size) ...63

3) Uji retensi pengaruh perlakuan ...63

4.2.2 Pengaruh Penggunaan Mind Map terhadap Kemampuan Inferensi ...65

4.2.2.1 Uji Normalitas Data ...65

4.2.2.2 Uji Pengaruh Perlakuan ...65

1) Uji Perbedaan Kemampuan Awal ...65

2) Uji Selisih Skor Pretest ke Posttest I ...66

4.2.2.3Analisis Lebih Lanjut ...68

1)Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest ... 68

2)Uji Besar Pengaruh Perlakuan ...69

3)Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ...70

4.3 Pembahasan ...71

4.3.1 Pengaruh Penggunaan Mind Map terhadap Kemampuan Evaluasi ...71

4.3.2 Pengaruh Penerapan Mind Map terhadap Kemampuan Inferensi ...72

4.3.3 Dampak Perlakuan terhadap Siswa ...73

4.3.4Konsekuensi Lebih Lanjut ...76

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...78

5.1 Kesimpulan ...78

5.2 Keterbatasan Penelitian ...79

5.3 Saran...79

DAFTAR REFERENSI ...80

(15)

xiv DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Contoh Mind Map ... 16

Gambar 2.2 Prinsip kerja pengungkit golongan I ... 19

Gambar 2.3 Alat yang menggunakan pengungkit golongan I... 19

Gambar 2.4 Prinsip kerja pengungkit golongan II ... 19

Gambar 2.5 Alat yang menggunakan pengungkit golongan II ... 20

Gambar 2.6 Prinsip kerja pengungkit golongan III ... 20

Gambar 2.7 Alat yang menggunakan pengungkit golongan III ... 20

Gambar 2.8 Contoh penggunaan bidang miring ... 21

Gambar 2.9 Alat yang menggunakan prinsip kerja bidang miring ... 21

Gambar 2.10 Katrol tetap ... 22

Gambar 2.11 Katrol bebas... 22

Gambar 2.12 Katrol majemuk ... 22

Gambar 2.13 Roda berporos pada sepeda ... 23

Gambar 2.14 Literature map dari penelitian sebelumnya ... 29

Gambar 3.1 Desain penelitian ... 33

Gambar 3.2 Pemetaaan variabel ... 37

Gambar 3.3 Rumus persentase peningkatan ... 46

Gambar 3.4 Rumus besar efek untuk data normal ... 47

Gambar 3.5 Rumus besar efek untuk data tidak normal ... 47

Gambar 3.6 Rumus persentase penurunan/peningkatan ... 48

Gambar 4.1 Diagram batang yang menunjukan skor pretest dan posttest I pada kemampuan evaluasi ... 61

Gambar 4.2 Diagram garis hasil skor pretest dan posttest I pada kemampuan evaluasi ... 62

Gambar 4.3 Grafik perbandingan pretest, posttest I, dan posttest II pada kemampuan evaluasi ... 64

Gambar 4.4 Diagram batang antara skor pretest dan posttest I pada kemampuan inferensi ... 68

Gambar 4.5 Diagram garis hasil skor pretest dan posttest I pada kemampuan inferensi ... 69

(16)

xv DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Jadwal pretest dan posttest ... 35

Tabel 3.2 Matriks pengembangan instrumen ... 39

Tabel 3.3 Rubrik Penilaian ... 40

Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas dari semua variabel ... 41

Tabel 3.5 Hasil perhitungan reliabilitas ... 43

Tabel 3.6 Pertanyaan untuk siswa sebelum diberikan perlakuan ... 49

Tabel 3.7 Pertanyaan kelompok eksperimen setelah diberikan perlakuan ... 50

Tabel 3.8 Pertanyaan kelompok kontrol setelah diberikan pembelajaran ... 50

Tabel 3.9 Pertanyaan untuk guru sebelum memberikan perlakuan ... 50

Tabel 3.10 Pertanyaan untuk guru setelah memberikan perlakuan... 51

Tabel 4.1 Hasil uji normalitas kemampuan evaluasi ... 58

Tabel 4.2 Hasil uji perbedaan skor pretest kemampuan evaluasi ... 59

Tabel 4.3 Hasil uji selisih pretest ke posttest I kemampuan evaluasi ... 60

Tabel 4.4 Hasil peningkatan skor pretest ke posttest I... 62

Tabel 4.5 Hasil perhitungan effect size pada kemampuan evaluasi ... 63

Tabel 4.6 Hasil perbandingan skor posttest I ke posttest II ... 64

Tabel 4.7 Hasil uji normalitas kemampuan inferensi... 65

Tabel 4.8 Hasil uji perbedaan skor pretest kemampuan inferensi ... 66

Tabel 4.9 Hasil uji selisih pretest ke posttest I kemampuan inferensi ... 67

Tabel 4.10 Hasil peningkatan skor pretest ke posttest I ... 68

Tabel 4.11 Hasil perhitungan effect size pada kemampuan inferensi ... 70

(17)

xvi DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1.1 Silabus Pembelajaran Kelompok Eksperimen ... 84

Lampiran 1.2 Silabus Pembelajaran Kelompok Kontrol ... 87

Lampiran 1.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen ... 90

Lampiran 1.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol ... 98

Lampiran 2.1 Soal essai ... 106

Lampiran 2.2 Kunci Jawaban ... 110

Lampiran 2.3 Expert Judgment ... 114

Lampiran 3.1 Hasil Analisis SPSS Uji Validitas ... 115

Lampiran 3.2 Hasil SPSS Reliabilitas ... 118

Lampiran 3.3 Transkip Wawancara ... 119

Lampiran 3.4 Tabulasi Nilai Pretest, Posttest I, dan Posttest II ... 125

Lampiran 4.1 Hasil SPSS Uji Normalitas Data ... 133

Lampiran 4.2 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal ... 134

Lampiran 4.3 Hasil SPSS Uji Selisih ... 136

Lampiran 4.4 Hasil SPSS Uji Peningkatan Skor Pretest dan Posttest I ... 138

Lampiran 4.5 Hasil Uji Besar Peningkatan Perlakuan Evaluasi ... 139

Lampiran 4.6 Hasil Uji Besar Peningkatan Perlakuan Inferensi... 140

Lampiran 4.7 Hasil SPSS Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ... 141

Lampiran 5.1 Surat bukti Penelitian ... 142

Lampiran 6.1 Foto Penelitian ... 143

Lampiran 7.1 Surat Ijin Penelitian ... 146

(18)

1 BAB I

PENDAHULUAN

Bab I yaitu pendahuluan, berisi latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. Ke empat bagian tersebut diuraikan dalam subbab-subbab sebagai berikut.

1.1 Latar Belakang Penelitian

Pendidikan memiliki peranan penting dalam perkembangan hidup manusia. UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan menolong manusia untuk mengembangkan seluruh potensi dalam dirinya. Mata pelajaran IPA termasuk dalam lima mata pelajaran pokok di jenjang sekolah dasar. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran seharusnya dilakukan dengan aktif, kreatif, dan menarik. Hal tersebut disebabkan karena pelajaran IPA merupakan pelajaran yang berkaitan langsung dengan peristiwa alam dan lingkungan sekitar, sehingga siswa dapat memanfaatkan pengetahuan dasarnya atau pengalamannya untuk mengembangkan pengetahuan IPA di alam dan lingkungannya.

(19)

2 Berdasarkan penelitian dalam PBB memaparkan bahwa guru juga jarang sekali memberikan pekerjaan rumah maupun cara-cara bagaimana mengerjakannya. Selain itu juga, Artikel World Bank PBB (The World Bank, 2011: 65) menuliskan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih berada di bawah pencapaian rata-rata dibandingkan dengan negara tetangga. Salah satu contoh hasil Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2007 menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 49 negara untuk kualitas pembelajaran matematika dan posisi 35 untuk sains. Pada tahun 2006 juga pernah dilakukan penelitian oleh Program for International Student Asessment (PISA) yang meneliti mengenia kesiapan remaja usia 15 tahun untuk menghadapi situasi kehidupan nyata, dan menempatkan Indonesia pada posisi 48 dari 56 negara dalam hal membaca, 52 untuk sains dan 51 untuk matematika.

(20)

3 Indonesia. Dengan adanya usaha pemerintah tersebut guru juga dapat terpacu dan terdorong semangatnya oleh berbagai kesempatan baru untuk promosi dan kenaikan jabatannya yang secara tidak langsung akan meningkatkan tingkat pendapatannya secara bertahap. Namun besarnya tunjangan sertifikasi yang diberikan oleh pemerintah tidak berpengaruh terhadap mutu pengajaran yang diberikan di kelas dan pada kenyataannya tidak ada yang berubah dari kualitas pendidikan di Indonesia.

Pada umumnya, manusia mempunyai kemampuan berpikir. Kemampuan tersebut akan membantu dalam menjawab permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Karena kemampuan berpikir tersebut, manusia dapat mengkritisi beberapa hal yang ada di sekitarnya. Kemampuan berpikir kritis berbeda dari kemampuan menghafal. Kemampuan berpikir kritis membantu manusia untuk melihat permasalahan di sekitarnya secara mendalam dan berusaha menemukan solusi dari permasalahannya. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui pendidikan. Selain itu, hendaknya IPA juga menjadi salah satu pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada dimensi kognitif yaitu kemampuan evaluasi dan inferensi. Pembelajaran IPA seharusnya menggunakan metode-metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa di kelas. Siswa tidak hanya menerima pelajaran atau menyimak guru di kelas, namun siswa harus aktif belajar sendiri dan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya sendiri. Pembelajaran IPA di sekolah dasar sebaiknya menggunakan metode yang dapat membantu siswa dalam memotivasi diri dan menyenangkan bagi siswa, sehingga siswa dapat bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Guru yang baik mampu membangkitkan keinginan siswa untuk mengikuti aktivitas belajar dengan penuh sungguh-sungguh. Cara guru menyampaikan pelajaran dapat berpengaruh besar pada hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Seorang guru yang terampil dalam mengajar akan mampu membangkitkan minat pada pelajaran yang paling sulit sekalipun.

(21)

4 Peran guru di kelas lebih mendominasi dibandingkan dengan peran siswa yang hanya menerima informasi dari guru, sehingga peran siswa dalam pembelajaran masih kurang. Hal ini menyebabkan siswa menjadi pasif dan perkembangan berpikir kritis pada dimensi kognitif yaitu kemampuan evaluasi dan kemampuan inferensi kurang dikembangkan. Padahal perkembangan proses berpikir kritis pada dimensi kognitif yaitu kemampuan evaluasi dan kemampuan inferensi hendaknya sudah mulai dikembangkan pada saat siswa berada di jenjang pendidikan dasar karena akan berpengaruh pada perkembangan dan pengetahuan siswa pada tahap berikutnya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa yang dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2014, siswa mengatakan bahwa belajar IPA itu menyenangkan, namun mereka terkadang merasa bosan ketika guru menyuruh siswa mencatat mengenai pembelajaran yang sedang dijelaskan sehingga pada saat melaksanakan ulangan siswa sulit mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya. Peneliti juga menemukan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang menarik dan menantang. Kondisi tersebut menyebabkan siswa sulit dalam mengembangkan kemampuan evaluasi dan kemampuan inferensi dengan menemukan informasi sendiri dan memecahkan masalahnya sendiri. Hal tersebut menyebabkan pembelajaran di kelas menjadi kurang menarik dan kurang memotivasi siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya pada dimensi kognitif yang tingkatannya lebih tinggi.

(22)

5 menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar dari otak. Mind map memiliki banyak manfaat untuk otak, manfaat tersebut menurut Buzan (2008: 13) adalah bahwa mind map dapat mengaitkan setiap informasi baru dengan informasi lama yang telah tersimpan di dalam otak sehingga informasi lama tidak akan menghilang. Metode mind map merupakan salah satu metode yang menjadi solusi bagi permasalahan pada penelitian ini. Metode mind map dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran dan dapat mengembangkan pola pikir serta kemampuan sampai tingkat yang paling tinggi.

Penelitian ini dibatasi pada pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan evaluasi dan kemampuan inferensi pada mata pelajaran IPA materi pesawat sederhana pada siswa kelas V SD Pangudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Kemampuan evaluasi dan inferensi diukur dari hasil pretest, posttest I, dan posttest II. Kelas yang dipakai dalam penelitian ini adalah kelas V PL 3 sebagai kelompok eksperimen dengan jumlah 39 siswa dan kelas V PL 4 sebagai kelompok kontrol dengan jumlah 39 siswa. Standar kompetensi yang digunakan adalah 5. memahami hubungan antara gaya, gerak, dan energi, serta fungsinya. Kompetensi Dasar yang digunakan adalah 5.2 menjelaskan pesawat sederhana yang dapat membuat pekerjaan lebih mudah dan lebih cepat.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apakah penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi pada mata pelajaran IPA materi pesawat sederhana siswa kelas V SD Pangudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014?

1.2.2 Apakah penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan inferensi pada mata pelajaran IPA materi pesawat sederhana siswa kelas V SD Pangudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014?

1.3 Tujuan Penelitian

(23)

6 1.3.2 Mengetahui pengaruh penggunaan metode mind map terhadap kemampuan

inferensi pada mata pelajaran IPA materi pesawat sederhana siswa kelas V SD Pangudi Luhur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Guru

Guru mendapatkan pengalaman dan menambah wawasan dalam menggunakan metode mind map, sehingga dapat menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran di kelas, tidak hanya dalam pelajaran IPA saja tetapi pada berbagai mata pelajaran lainnya.

1.4.2 Bagi siswa

Siswa dapat belajar dengan lebih mudah dan lebih kreatif dalam mengungkapkan apa yang ia ketahui dengan menggunakan mind map. Selain itu siswa juga dapat mengembangkan kemampuan mereka pada level kognitif yang lebih tinggi.

1.4.3 Bagi Sekolah

Sekolah dapat menambah bahan bacaan terkait dengan penelitian khususnya materi pesawat sederhana dengan menggunakan metode mind map dan dapat meningkatkan wawasan warga di sekolah tentang metode pembelajaran.

1.4.4 Bagi Peneliti

Peneliti mendapat pengalaman dalam menerapkan metode mind map pada pelajaran IPA sehingga dapat lebih memahami metode mind map dan menjadi inspirasi bagi peneliti untuk menggunakan metode mind map dalam melakukan pembelajaran di kelas kelak.

1.5 Definisi Operasional

(24)

7 1.5.2 Mind map adalah suatu cara termudah dalam menempatkan suatu informasi yang bersifat umum dan menangkap informasi secara khusus menggunakan salah satu cara mencatat yang kreatif dan efektif.

1.5.3 Metode mind map adalah salah satu metode atau cara dalam melakukan kegiatan pembelajaran di kelas yang bertujuan untuk mengaktifkan dan mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran di kelas dengan baik.

1.5.4 Kemampuan berpikir adalah kemampuan berbicara dengan batin untuk menganalisis, mempertimbangkan, dan mendeskripsikan sesuatu hal.

1.5.5 Berpikir kritis adalah sebuah proses yang terarah dan jelas, dengan melibatkan kegiatan mental untuk memecahkan suatu masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, berpendapat, mengevaluasi bobot pendapat diri sendiri dan orang lain serta melakukan penelitian ilmiah.

1.5.6 Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir yang unik dan mempunyai tujuan di mana pemikir secara sistematis menentukan standar dan menetapkan kriteria, yang terdiri dari dimensi kognitif yang terdiri dari enam kecakapan, yaitu: interprestasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri.

1.5.7 Kemampuan evaluasi adalah kemampuan untuk menilai suatu pernyataan atau ungkapan lain yang mencerminkan persepsi, pengalaman, situasi, penelitian atau opini seseorang dan berguna untuk mempertimbangkan hasil dari suatu penalaran yang berkaitan dengan pernyataan, deskripsi, pertanyaan, atau bentuk ungkapan lain.

1.5.8 Kemampuan inferensi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memastikan penyataan-pernyataan yang diperlukan untuk menarik alasan yang logis untuk merumuskan dugaan dan hipotesis untuk mempertimbangkan informasi yang relevan dan untuk menarik konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari data, pernyataan, prinsip, bukti, penilaian, kepercayaan, atau bentuk ungkapan lain.

(25)

8 1.5.10 Pesawat sederhana adalah alat yang dapat mempermudah pekerjaan

manusia.

(26)

9 BAB II

LANDASAN TEORI

Bab II merupakan landasan teori yang berisi kajian pustaka, penelitian-penelitian yang mendukung, kerangka berpikir, dan hipotesis. Kajian pustaka membahas teori-teori yang mendukung dan hasil penelitian sebelumnya yang berisi pengalaman penelitian yang pernah ada dan dirumuskan dalam kerangka berpikir dan hipotesis yang berisi dugaan sementara atau jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian.

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Teori-Teori yang Mendukung

Teori yang mendukung merupakan teori yang berisi teori perkembangan anak, metode pembelajaran, mind map, hakikat Ilmu Pengetahuan Alam, materi IPA, kemampuan berpikir kritis, kemampuan evaluasi dan kemampuan inferensi. Semua teori tersebut akan diambil sebagai landasan karena disesuaikan dengan kenyataan pembelajaran yang terjadi di sekolah dasar pada umumnya. Penjelasan mengenai teori perkembangan anak akan dibahas pada subbab selanjutnya.

2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak

(27)

10 Perkembangan kognitif yang kedua (dalam Suparno, 2001: 26) adalah tahap pra-operasional. Tahap pra-operasional berlangsung pada usia 2-7 tahun, tahap ini memiliki ciri dengan adanya penggunaan simbol untuk menjelaskan atau mengungkapkan suatu objek yang tidak berada di dekatnya. Tahap pra-operasional dicirikan dengan adanya penggunaan simbol, selain itu tahap pra-operasional juga dicirikan dengan pemikiran intuitif pada anak. Piaget (dalam Suparno, 2001: 49) membagi perkembangan kognitif tahap pra-operasional dalam dua bagian yaitu: 1) umur 2-4 tahun, dicirikan oleh perkembangan pemikiran simbolis. Pemikiran simbolis merupakan penggunaan menggunakan simbol atau tanda, dimulai dari seorang anak suka menirukan sesuatu, baik menirukan orang tua atau pengasuhnya. Kemampuan seorang anak dalam menirukan hal-hal yang dialami di hidupnya akan membantu pembentukan pengetahuan simbolisnya. 2) Umur 4-7 tahun, dicirikan oleh perkembangan pemikiran intuitif. Pemikiran anak pada usia 4-7 tahun dicirikan oleh perkembangan intuitif yang berarti anak sudah mampu menerima gagasan atau gambaran langsung, namun anak belum mampu memberi alasan kegiatan atau gagasan tersebut.

Perkembangan kognitif yang ketiga (dalam Suparno, 2001: 26) adalah tahap operasi-konkret. Tahap ketiga berlangsung pada usia 7-11 tahun. Pada tahap operasi-konkret, anak sudah mampu berpikir secara logis yang dapat memecahkan persoalan-persoalan konkret yang dihadapi dan mampu untuk mengurutkan serta mengklasifikasikan objek. Piaget (dalam Woolfolk, 2009: 50) berpendapat bahwa pada tahap operasi-konkret ini logikanya didasarkan pada situasi-situasi konkret yang dapat diorganisasikan, diklasifikasikan, atau dimanipulasi.

(28)

11 Berdasarkan keempat tahap perkembangan kognitif Piaget dapat dilihat bahwa karena teori perkembangan Piaget banyak mempengaruhi dunia pendidikan, khususnya perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak sampai remaja. Jika dihubungkan dengan teori perkembangan kognitif Piaget, anak pada usia sekolah dasar temasuk dalam tahap operasi-konkret yaitu berusia 7-11 tahun. Anak pada tahap operasi-konkret ini sudah mampu untuk berpikir kritis, karena sudah mampu berpikir secara logis yang dapat memecahkan persoalan-persoalan konkret yang dihadapi dan mampu untuk mengurutkan serta mengklasifikasikan objek. Namun, dalam pelaksanaan pembelajarannya dibutuhkan sebuah metode pembelajaran yang mampu merangsang pemikiran anak terhadap hal-hal yang kritis supaya kemampuan berpikir kritis dapat muncul secara maksimal. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode mind map. Metode mind map mempunyai banyak manfaat yang mampu merangsang otak anak, sehingga anak mampu berpikir secara kritis dan kreatif. Mind map juga menggunakan cara berpikir logis dan membantu anak menarik kesimpulan dari pembelajaran sehingga sesuai jika diberikan kepada anak dalam tahap operasi-konkret yang telah mampu berpikir menggunakan logika didasarkan pada situasi-situasi konkret yang dapat diorganisasikan, diklasifikasikan, atau dimanipulasi.

2.1.1.2 Metode Pembelajaran

Burton (dalam Siregar & Nara, 2011: 4) mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses dalam perubahan tingkah laku yang semakin lama semakin berkembang karena adanya interaksi antar individu atau individu dengan lingkungannya sehingga individu tersebut mampu berinteraksi dengan baik. Witherington dalam Educational Psychology (dalam Siregar & Nara, 2011: 4) mengatakan bahwa belajar merupakan perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang sebagai pola baru berupa kecakapan sikap, keterampilan, dan pengetahuan setiap individu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan individu dalam kecakapan sikap, keterampilan, maupun pengetahuan, yang berlangsung dalam interaksi dalam lingkungannya.

(29)

12 Nara, 2011: 12) mengemukakan bahwa pembelajaran merupakan suatu rancangan atau tindakan yang telah direncanakan untuk mendukung proses pembelajaran siswa, berfokus pada rangkaian kejadian atau pengalaman-pengalaman yang dialami siswa. Gagne (dalam Siregar & Nara, 2011: 12) juga memaparkan bahwa pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang telah direncanakan untuk mengaktifkan , mendukung, dan mempertahankan dalam proses belajar mengajar siswa yang dilaksanakan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses tindakan yang direncanakan untuk mengaktifkan, mendukung, dan mempertahankan proses pembelajaran siswa yang dilihat dari pengalaman-pengalaman yang telah dialami oleh siswa.

Suatu pembelajaran di sekolah mampu berjalan dengan baik jika diimbangi dengan penggunaan metode pembelajaran yang sangat mempengaruhi peningkatan belajar setiap siswa. Penggunaan metode pembelajaran itu sangat penting diterapkan di kelas. Memilih metode pembelajaran yang tepat untuk digunakan di dalam kelas maupun di luar kelas, dapat membantu jalannya pembelajaran di kelas. Suyono dan Hariyanto (2011: 19) mengungkapkan bahwa metode pembelajaran adalah seluruh perencanaan dan prosedur maupun langkah kegiatan pembelajaran termasuk pilihan cara penilaian yang akan dilaksanakan pada pembelajaran di kelas. Menurut Yamin (2008: 152) metode pembelajaran merupakan cara melakukan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan di dalam pelajaran kepada siswa untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Surakhmad (dalam Suryosubroto, 2002: 148) mengatakan bahwa metode pengajaran adalah langkah-langkah pelaksanaan dalam proses pengajaran atau teknisnya suatu bahan pelajaran yang diberikan kepada murid-murid di sekolah. Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah salah satu cara untuk merencanakan dan menentukan langkah-langkah pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

(30)

13 kelas adalah mendengarkan dan mencatat hal-hal yang pokok yang dikemukan oleh guru. Kelebihan penggunaan metode ceramah di dalam pembelajaran adalah guru dapat menguasai seluruh arah kelas sehingga guru mampu menentukan dan menetapkan sendiri apa yang akan dibicarakan pada saat pembelajaran berlangsung. Kelemahan dari metode ceramah yaitu siswa cenderung merasa bosan selama mengikuti proses pembelajaran.

Metode demonstrasi dan eksperimen (dalam Sudirman dkk, 1987: 133) adalah salah satu bentuk penyajian pelajaran dengan menunjukkan suatu proses, situasi, atau benda yang sedang dipelajari serta disertai dengan penjelasan lisan. Menurut Yamin (2008: 154) menjelaskan bahwa peranan siswa di kelas setelah guru melakukan demonstrasi adalah melakukan latihan keterampilan seperti yang telah diperagakan oleh guru. Kelebihan penggunaan metode demonstrasi dan eksperimen di dalam pembelajaran adalah mampu menumbuhkan motivasi siswa untuk melakukan pembelajaran dan dapat mengurangi kesalahan-kesalahan karena siswa memperoleh gambaran secara nyata dari hasil pengamatannya. Demonstrasi menjadi kurang efektif bila tidak diikuti dengan sebuah aktivitas di mana para siswa sendiri dapat ikut bereksperimen dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai pengalaman pribadi. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk kelemahan dari metode demonstrasi dan eksperimen.

Yamin (2008: 156) mengatakan bahwa metode tanya jawab dapat dinilai sebagai metode yang paling tepat dilaksanakan apabila diselingi pembicaraan sehingga tetap mendapatkan perhatian dan mengarahkan pengamatan siswa. Kelemahan metode tanya jawab adalah metode ini mampu menimbulkan penyimpangan dari pokok persoalan yang sedang dipelajari.

(31)

14 yang tidak terbiasa berbicara di forum, sehingga dengan adanya metode diskusi dapat melatih tingkat keberanian siswa untuk berbicara di depan orang banyak.

Beberapa metode yang telah disebutkan merupakan metode yang seringkali digunakan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Peneliti memilih salah satu metode selain keempat metode yang telah dijelaskan yang sesuai dengan tahap berpikir siswa sehingga siswa mampu dengan mudah menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar otak. Metode tersebut memiliki kekhasan tersendiri sehingga mampu membuat siswa menjadi tertarik dalam mengikuti pembelajaran di kelas, metode pembelajaran tersebut yaitu metode pembelajaran mind map yang akan dibahas lebih lanjut sebagai berikut.

2.1.1.3 Mind map

Mind map berasal dari kata mind yang berarti pikiran dan map yang berarti peta (Gunawan, 2002: 243-237). Terkadang mind map disamakan dengan peta konsep, padahal peta konsep dan mind map memiliki perbedaan yang sangat jelas, yaitu pada mind map titik sentralnya diletakkan di tengah dan antar cabangnya tidak perlu dihubungkan dengan cabang-cabang yang lain, sedangkan pada konsep tidak terdapat titik sentral dan antar cabangnya dihubungkan satu sama lain untuk memetakan suatu konsep. Pengertian peta konsep menurut Martin (dalam Triatno, 2010: 158) adalah ilustrasi grafis yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-konsep lain pada kategori yang sama. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa peta konsep merangkaikan konsep dengan konsep lainnya sehingga akan terjadi keterkaitan antara konsep-konsep tersebut.

(32)

15 khusus. Senada dengan pengertian para ahli, peneliti menyimpulkan pengertian mind map adalah suatu cara termudah dalam menempatkan suatu informasi yang bersifat umum dan menangkap informasi secara khusus menggunakan salah satu cara mencatat yang kreatif dan efektif.

Mind map mampu bekerja dengan baik karena menggunakan imajinasi dan asosiasi. Menurut Buzan (2008: 12) dengan menggunakan imajinasi mampu membantu mengingat karena membuat segala sesuatu tampak lebih menarik dan semakin menarik akan semakin mudah untuk diingat. Sedangkan asosiasi adalah salah satu cara menghubungkan segala sesuatu yang telah diketahui atau yang telah dialami oleh siswa sendiri. Asosiasi akan sangat menyenangkan dan mudah memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memperluas imajinasi. Disimpulkan bahwa pengertian mind map adalah salah satu metode atau cara dalam melakukan kegiatan pembelajaran di kelas yang bertujuan untuk mengaktifkan dan mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran di kelas dengan baik.

Buzan (2008: 5) mengungkapkan bahwa semua mind map mempunyai kesamaan seperti menggunakan warna, memiliki struktur alami yang memancar dari pusat, menggunakan garis lengkung, simbol, kata dan gambar sesuai dengan satu rangkaian aturan yang sederhana, mendasar, alami, dan sesuai dengan cara kerja otak. Seseorang akan lebih mudah mengingat informasi jika menggunakan gambar untuk menyajikannya. Mind map menggunakan kemampuan otak akan pengenalan visual untuk mendapatkan hasil yang menyeluruh. Kombinasi warna, gambar, dan cabang-cabang melengkung, mind map lebih merangsang secara visual sehingga mampu mempermudah dalam mengingat informasi yang di pelajari.

(33)

16 yang membantu mengalihkan informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang.

Ada beberapa langkah dan bahan yang digunakan dalam pembuatan mind map. Buzan (2008: 14) menjelaskan alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan mind map adalah kertas HVS, pena atau pensil warna, otak atau pikiran, dan imajinasi. Berikut ini langkah-langkah dalam pembuatan mind map menurut Buzan (2008: 15) yaitu: a) letakkan kertas dalam posisi horizontal atau landscap, lalu mulailah dari bagian tengah kertas kosong; b) gunakan gambar atau foto untuk ide pokok, karena gambar akan lebih bermakna dan menarik sehingga dapat membuat konsentrasi menjadi terfokus; c) gunakan warna karena warna dapat membuat mind map yang dibuat menjadi lebih hidup dan berwarna, serta dengan warna juga dapat menimbulkan kesan menarik dengan perpaduan warna yang disukai; d) hubungkan cabang-cabang utama atau gagasan utama ke sub-topik dan hubungkan cabang ke banyak cabang lagi sesuai dengan yang diinginkan atau yang dikehendaki kemudian gunakan warna yang berbeda pada setiap sub-topik; e) buatlah garis hubung yang melengkung seperti cabang pohon, bukan garis lurus, lalu garis dimulai dari garis yang tebal pada cabang utama kemudian menipis pada sub-topik; f) gunakan satu kata kunci untuk setiap garis dengan menggunakan warna yang cocok atau serasi; g) gunakan gambar karena gambar dapat membantu dalam mengingat apa yang telah dituliskan. Berikut ini contoh mind map yang berkaitan dengan mata pelajaran IPA.

(34)

17 Penjelasan mengenai mind map, dapat disimpulkan bahwa metode mind map sangat tepat dan cocok digunakan untuk metode pembelajaran di kelas. Adanya metode pembelajaran mind map, siswa dapat lebih mudah dalam mengingat informasi khususnya dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang. Selain itu, mind map dapat membantu otak untuk berpikir lebih dalam dan merangsang kerja otak. Metode pembelajaran mind map juga mampu merangsang kreativitas siswa, karena sesuai dengan tingkat perkembangannya. Karena itu, mind map dapat digunakan sebagai metode yang baik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

2.1.1.4 Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam

Ilmu pengetahuan alam itu mulai muncul dari rasa ingin tahu seseorang, kemudian rasa keingintahuannya tersebut membuat seseorang untuk membuktikan dan mengamati mengenai gejala-gejala alam yang telah terjadi atau ada, dan manusia mencoba untuk memahaminya. Fowler (dalam Ahmadi dan Supatmo, 2008: 1) mengatakan bahwa IPA adalah pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan. Wahyana (Trianto, 2010: 136) berpendapat bahwa IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan yang sistematis, dan mempelajari mengenai gejala-gejala alam. Berdasarkan pengertian para ahli, dapat disimpulkan bahwa pengertian IPA adalah suatu pengetahuan yang sangat penting untuk dipelajari karena pengetahuan ini membicarakan tentang gejala-gejala alam atau kebendaan.

(35)

18 cara yang diberikan untuk mengetahui sesuatu atau riset yang nyata disebut dengan metode ilmiah.

Menurut Depdiknas (dalam Trianto, 2010: 138) fungsi dan tujuan IPA adalah: a) menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; b) mengembangakan keterampilan, sikap, dan nilai ilmiah; c) mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang melek sains dan teknologi; d) menguasai konsep sains untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

2.1.1.5 Materi IPA

Kompetensi IPA kelas V yang digunakan untuk penelitian ini adalah standar kompetensi 5. memahami hubungan antara gaya, gerak, dan energi, serta fungsinya dan kompetensi dasar yang digunakan adalah 5.2 menjelaskan pesawat sederhana yang dapat membuat pekerjaan lebih mudah dan lebih cepat.

Pesawat merupakan alat-alat yang dapat memudahkan pekerjaan manusia. Manusia memerlukan gaya untuk melakukan berbagai pekerjaan. Gaya itu dilakukan oleh otot. Kekuatan otot manusia terbatas. Pesawat dapat memperkecil gaya yang kamu keluarkan. Pesawat ada yang rumit dan ada yang sederhana. Pesawat rumit tersusun atas pesawat-pesawat sederhana. Pada prinsipnya, pesawat sederhana terbagi menjadi empat macam jenisnya, yaitu pengungkit atau tuas, bidang miring, katrol, dan roda berporos.

Jenis pesawat sederhana yang pertama (dalam Azmiyawati, dkk, 2008: 99) adalah pengungkit atau tuas. Contoh alat yang menggunakan prinsip kerja pengungkit atau tuas, seperti gunting dan pemotong kuku. Berdasarkan letak beban, kuasa, dan penumpunya, pengungkit dibedakan menjadi tiga golongan sebagai berikut.

(36)

19

(Sumber: Azmiyawati, dkk, 2008: 99) Gambar 2.2 Prinsip kerja pengungkit golongan I

(Sumber: Azmiyawati, dkk, 2008: 99)

Gambar 2.3 Alat yang menggunakan prinsip pengungkit golongan I

Kedua adalah pengungkit golongan II. Pada pengungkit golongan II, letak beban di antara titik tumpu dan kuasa. Kereta sorong, pembuka kaleng, dan pemotong kertas merupakan alat-alat yang menggunakan prinsip kerja pengungkit golongan II. Kereta sorong banyak digunakan oleh pekerja bangunan untuk mengangkut pasir atau material lain. Alat ini berguna untuk membawa benda-benda yang berat. Selain lebih cepat dan mudah, tenaga yang harus dikeluarkan pun lebih sedikit. Beberapa jenis kaleng mempunyai tutup yang menyatu dengan badannya. Tutup kaleng sulit dibuka dengan jari-jari tangan. Namun, dengan menggunakan tutup pembuka kaleng, kaleng tersebut dapat dibuka dengan mudah dan tidak melukai tangan. Pemotong kertas banyak digunakan oleh pegawai photo copy. Alat ini dapat membantu memotong kertas dalam jumlah banyak. Dengan alat ini, pekerjaan memotong kertas menjadi ringan.

(37)

20

(Sumber: Azmiyawati, dkk, 2008: 100)

Gambar 2.5 Alat-alat yang termasuk pengungkit golongan II

Ketiga adalah pengungkit golongan III (Azmiyawati, dkk, 2008: 100). Pada pengungkit golongan III, letak kuasa di antara beban dan titik tumpu. Stapler, pinset, dan sapu menggunakan prinsip kerja pengungkit golongan III.

(Sumber: Azmiyawati, dkk, 2008: 100) Gambar 2.6 Prinsip kerja pengungkit golongan III

(Sumber: Azmiyawati, dkk, 2008: 100)

Gambar 2.7 Alat-alat yang termasuk pengungkit golongan III

(38)

21

(Sumber: Azmiyawati, dkk, 2008: 101) Gambar 2.8 Contoh penggunaan bidang miring

Bidang miring berguna untuk membantu memindahkan benda-benda yang terlalu berat. Cara paling mudah memindahkan peti ke dalam truk yaitu dengan menggunakan bidang miring. Peti dapat didorong atau ditarik melalui bidang miring. Tenaga yang dikeluarkan lebih kecil daripada mengangkat peti secara langsung. Benda-benda tajam seperti pisau, kapak, pahat, dan paku menggunakan prinsip kerja bidang miring. Bagian yang tajam dari alat-alat tersebut merupakan bidang miring.

(Sumber: Azmiyawati, dkk, 2008: 102)

Gambar 2.9 Alat-alat yang menerapkan prinsip kerja bidang miring

Jenis pesawat sederhana yang ketiga (Sulistyanto & Wiyono, 2008:117) adalah katrol. Katrol merupakan roda yang berputar pada porosnya. Biasanya pada katrol juga terdapat tali atau rantai sebagai penghubungnya. Berdasarkan cara kerjanya, katrol merupakan jenis pengungkit karena memiliki titik tumpu, kuasa, dan beban. Katrol digolongkan menjadi tiga, yaitu katrol tetap, katrol bebas, dan katrol majemuk.

(39)

22

(Sumber: Sulistyanto & Wiyono, 2008:117) Gambar 2.10 Katrol tetap

Pada katrol bebas kedudukan atau posisi katrol berubah dan tidak dipasang pada tempat tertentu. Katrol jenis ini biasanya ditempatkan diatas tali yang kedudukannya dapat berubah. Katrol jenis ini ditemukan pada alat-alat pengangkat peti kemas dipelabuhan.

(Sumber: Sulistyanto & Wiyono, 2008:118) Gambar 2.11 Katrol bebas

Katrol majemuk merupakan perpaduan dari katrol tetap dan katrol bebas. Kedua katrol ini dihubungkan dengan tali. Berikut merupakan contoh katrol majemuk.

(Sumber: Sulistyanto & Wiyono, 2008:118) Gambar 2.12 Katrol majemuk

(40)

23 satu jenis pesawat sederhana yang banyak ditemukan pada alat-alat seperti setir mobil, setir kapal, roda sepeda, roda kendaraan bermotor, dan gerinda.

(Sumber: Sulistyanto & Wiyono, 2008:119) Gambar 2.13 Roda berporos pada sepeda

2.1.1.6 Kemampuan Berpikir Kritis

Berpikir merupakan kegiatan otak yang selalu dilakukan oleh manusia. Berpikir tingkat tinggi disebut dengan berpikir kritis. Pada masyarakat modern saat ini, anak-anak harus menguasi keterampilan berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi. Browne dan Keeley (dalam Johnson, 2007: 183) mengatakan bahwa kemampuan berpikir dengan jelas dan imajinatif, menilai bukti, bermain logika, dan mencari alternatif yang imajinatif dari suatu ide-ide, memberi sebuah jalan yang jelas bagi anak-anak di tengah pemikiran pada zaman teknologi saat ini. Berpikir kritis (dalam Johnson, 2007: 183) adalah sebuah proses yang terarah dan jelas, dengan melibatkan kegiatan mental untuk memecahkan suatu masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, berpendapat, mengevaluasi bobot pendapat diri sendiri dan orang lain serta melakukan penelitian ilmiah. Tujuan berpikir kritis adalah untuk mencapai pemahaman yang mendalam (Johnson, 2007: 185).

(41)

24 pengalaman, situasi, penelitian atau opini seseorang dan berguna untuk mempertimbangkan hasil dari suatu penalaran yang berkaitan dengan pernyataan, deskripsi, pertanyaan, atau bentuk ungkapan lain; 4) inferensi merupakan kecakapan untuk mengidentifikasi dan memastikan penyataan-pernyataan yang diperlukan untuk menarik alasan yang logis untuk merumuskan dugaan dan hipotesis untuk mempertimbangkan informasi yang relevan dan untuk menarik konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari data, pernyatan, prinsip, bukti, penilaian, kepercayaan, atau bentuk ungkapan lain; 5) eksplanasi merupakan kecakapan untuk menjelaskan dan memberikan alasan-alasan terhadap bukti, konsep, metode, kriteria, dan konteks yang digunakan untuk menarik kesimpulan dan untuk mengemukakan pendapat yang lebih logis; 6) regulasi diri merupakan kecakapan untuk melihat aktivitas kognitif dan mentalnya dalam menarik kesimpulan dengan menganalisis dan mengevaluasi penilaiannya sendiri dengan mempertanyakan, mengkonfirmasi, menvalidasi, atau mengoreksi penalarannya sendiri.

2.1.1.7 Kemampuan Evaluasi dan Inferensi

Facione (1990) menjelaskan bahwa evaluasi merupakan kecakapan untuk menilai suatu pernyataan atau ungkapan lain yang mencerminkan persepsi, pengalaman, situasi, penelitian atau opini seseorang dan berguna untuk mempertimbangkan hasil dari suatu penalaran yang berkaitan dengan pernyataan, deskripsi, pertanyaan, atau bentuk ungkapan lain. Kecakapan evaluasi terdiri dari dua sub-kecakapan, yaitu kecakapan untuk menilai klaim dan argumen.

(42)

25 2.1.2 Penelitian-penelitian yang Relevan

2.1.2.1 Penelitian-penelitian tentang Mind Map

Sutarni (2010) meneliti penerapan metode mind mapping untuk meningkatkan kemampuan mengerjakan soal cerita bilangan pecahan. Populasi dan sampel penelitian ini adalah siswa kelas V SD Kristen 3 BPK Penabur Jakarta dengan jumlah siswa 32 anak. Hasil penelitian tindakan ini menunjukkan bahwa pada siklus I pencapaian target masih belum tercapai, namun pada siklus II ada peningkatan prestasi siswa dalam mengerjakan soal cerita pecahan. Pada siklus I, persentase siswa yang dapat mengerjakan soal cerita yang menggunakan konsep pecahan dengan metode mind mapping 62,5% sedangkan siswa yang tidak dapat mengerjakan 37,5%. Persentase siswa yang dapat mengerjakan soal cerita yang menggunakan konsep pecahan dengan metode mind mapping dan alat peraga bagan kotak-kotak 87,5%. Persentase siswa yang tidak dapat mengerjakan soal cerita yang menggunakan mind mapping 12,5% sedangkan nilai tertinggi siswa adalah 100 dan terendah 40, pada akhir siklus II.

Kusmintayu, Suwandi, dan Anindyarini (2012) meneliti penerapan metode mind mapping untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa. Populasi dan sampel penelitian ini adalah siswa semester kelas VIIA SMP Negeri 5 Surakarta tahun 2011/2012 yang berjumlah 32 siswa. Hasil penelitian tindakan ini terjadi pada siklus I, siklus II, dan siklus III. Hasil penelitian tindakan ini adalah meningkatnya jumlah siswa yang aktif dan termotivasi dalam pembelajaran berbicara baik dari siklus I ke siklus II maupun dari siklus II ke siklus III. Peningkatan keaktifan dan motivasi siswa dalam pembelajaran berbicara mengindikasikan adanya peningkatan kualitas proses pembelajaran berbicara. Peningkatan kualitas hasil ditandai dengan siswa yang mampu menceritakan tokoh idola dengan pedoman kelengkapan identitas tokoh meningkat, siswa yang mampu mengorganisasikan perkataannya sehingga dapat menceritakan tokoh idola dengan terstruktur meningkat, dan siswa yang memperoleh nilai minimal 70 ( ) dalam pembelajaran berbicara meningkat. Peningkatan aspek tersebut mengindikasikan adanya peningkatan kualitas hasil pembelajaran berbicara.

(43)

26 bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mind map terhadap kemampuan mengaplikasi dan mencipta pada mata pelajaran IPA kelas V SD Kanisius Sorowajan pada semester genap tahun ajaran 2011/2012. Peneliti menggunakan metode eksperimen jenis quasi experimental tipe nonequivalent control group design. Subjek penelitian siswa kelas VA dan VB sebanyak 56 siswa. Kelas VA sebagai kelompok eksperimen dan VB sebagai kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mind map berpengaruh terhadap kemampuan mengaplikasikan. Hal ini ditunjukkan dengan harga sig.(2-tailed) sebesar 0,006 < 0,05. Penggunaan mind map berpengaruh terhadap kemampuan mencipta, ditunjukkan dengan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,003 < 0,05.

Berdasarkan penelitian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa mind map sangat berpengaruh terhadap tingkat kemampuan siswa, karena mind map mampu membuat pembelajaran di kelas menjadi lebih menarik. Mind map pula dapat membantu merencanakan dan mengatur hidup dalam mencapai keberhasilan, memunculkan ide-ide baru yang kreatif dan mangagumkan, dan mampu menyerap fakta serta informasi baru dengan mudah. Mind map berpengaruh dalam menggunakan kemampuan otak dan pengenalan visual untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

2.1.2.2 Penelitian-penelitian tentang Berpikir Kritis

(44)

sig.(2-27 tailed) sebesar 0,002 (atau < 0,05). Akan tetapi, kenaikan skor prestasi belajar pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak berbeda secara signifikan yang ditunjukkan dengan harga sig.(2-tailed) sebesar 0,326 (atau > 0,05). Peningkatan kemampuan berpikir kritis kategori kognitif siswa dengan menggunakan metode inkuiri yang ditunjukkan dengan harga sig.(2-tailed) 0,048 (atau < 0,05).

Hartati (2010), meneliti mengenai pengembangan alat peraga gaya gesek untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SMA. Metode penelitian ini menggunakan metode pengembangan, dengan alat gaya gesek yang dikembangkan kemudian diujikan pada siswa. Seluruh siswa SMAN Pekalongan kelas X yang berjumlah 238 siswa diambil sebagai populasi pada penelitian ini. Sedangkan sampel dilakukan dengan teknik random sampling, yaitu kelas X1 sebanyak 34 siswa. Sebelum menggunakan alat peraga pengembangan gaya gesek diperoleh rata-rata sebesar 62,03 selanjutnya setelah diterapkannya alat peraga gaya gesek pengembangan mengalami kenaikan menjadi 63,62. Peningkatan keterampilan berpikir kritis tersebut diuji kebenarannya menggunakan uji t dan diperoleh t hitung = 5,389 dengan taraf signifikansi (p value) = 0,000 < 0,05 yang berarti ada peningkatan keterampilan berpikir yang signifikan melalui kegiatam pratikum menggunakan alat peraga gaya gesek pengembangan. Sebelum menggunakan alat peraga pengembangan sebanyak 68,8% peserta didik memiliki kemampuan berpikir cukup, sebanyak 19,8% dalam kategori tinggi. Berbeda setelah mengikuti kegiatan pratikum, peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis ke arah yang lebih baik. Sebanyak 27,1% peserta didik mampu memiliki keterampilan berpikir tinggi, selebihnya 60,4% cukup. Hal ini menunjukkan bahwa alat peraga gaya gesek yang dikembangkan relevan dengan teori-teori berpikir kritis, yaitu menganalisa, mensintesa, menguji, dan sebagainya, dibuktikan dengan hasil peningkatan berpikir kritis yang signifikan.

(45)

28 Tindakan Kelas (PTK). Pada siklus I, anak sedikit mengalami kesulitan karena belum terbiasa belajar menggunakan LKS sehingga guru selalu mendampingi sampai siswa memahami. Pada siklus I keterampilan mengklasifikasikan mempunyai persentase sebesar 71,02% sedangkan pada siklus II sebesar 79,55%. Keterampilan mengamati pada siklus I mempunyai persentase nilai rata-rata sebesar 75,00% sedangkan pada siklus II adalah 81,82%. Pada siklus I keterampilan meminimalkan kesalahan mempunyai persentase sebesar 58,52 sedangkan pada siklus II adalah 71,59. Keterampilan menyimpulkan pada siklus I mempunyai persentase nilai rata-rata sebesar 59,09% sedangkan pada siklus II sebesar 71,02%. Dari data-data tersebut dapat digambarkan bahwa perkembangan keterampilan berpikir kritis siswa kelas IV SDN Sekaran 01 Gunungpati Semarang untuk keterampilan mengklasifikasikan, mengamati, meminimalkan kesalahan, dan menyimpulkan hasil pengamatan secara keseluruhan sudah baik dan meningkat. Peningkatan tersebut terjadi disebabkan karena pengetahuan siswa meningkat karena siswa menjadi pelaku dan berperan aktif dalam proses belajar mengajar.

(46)

29 2.1.2.3 Literature Map

Berikut ini literature map dari penelitian-penelitian terdahulu:

Gambar 2.14 Literature Map dari penelitian sebelumnya

2.2 Kerangka Berpikir

Mind map dapat mempermudah cara kerja otak dalam menerima informasi dari jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu mind map juga mempermudah menempatkan informasi ke otak, dan mengambil informasi ke luar otak. Metode tersebut dapat membantu siswa cepat menangkap informasi dengan mudah.

Kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan oleh siswa karena dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat dan memungkinkan siapa saja dapat memperoleh informasi secara cepat dan mudah dengan melimpah dari berbagai sumber dan tempat manapun. Hal ini dapat mengakibatkan cepatnya

Metode mind map Berpikir kritis

(47)

30 perubahan dalam kehidupan. Jika para siswa tidak dibekali dengan kemampuan berpikir kritis maka mereka tidak akan mampu mengolah, menilai, dan mengambil informasi yang dibutuhkan.

Mind map dipilih untuk meningkatan kemampuan evaluasi dan inferensi belajar siswa karena dengan pengguaan metode mind map siswa mampu dengan mudah menangkap informasi. Dengan meningkatkan kemampuan evaluasi dan inferensi siswa, di mana siswa mampu menilai pernyataan atau mengungkapkan persepsi maupun pengalaman dari suatu penalaran yang berkaitan dengan pernyataan. Sedangkan dalam kemampuan inferensi, siswa harus mampu untuk menarik alasan yang masuk akal untuk merumuskan dugaan dan hipotesis. Jika metode mind map digunakan di dalam mata pelajaran IPA untuk siswa kelas V di SD Pangudi Luhur Yogyakarta, penggunaan metode mind map akan berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi dan inferensi siswa.

2.3 Hipotesis

2.3.1 Penggunaan metode mind map berpengaruh terhadap kemampuan evaluasi pada mata pelajaran IPA kelas V di SD Pangudi Luhur Yogyakarta pada semester genap tahun ajaran 2013/2014.

(48)

31 BAB III

METODE PENELITIAN

Bab III membahas metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Pembahasan metode penelitian yaitu mengenai jenis penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, instrumen penelitian, uji validitas, dan uji instrumen, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah quasi experimental tipe nonequivalent control group design (Sugiyono, 2012: 118). Cresswell (2012: 19) mengatakan bahwa penelitian eksperimen berusaha menentukan atau mencari jawaban bahwa suatu perlakuan/treatment berpengaruh terhadap hasil sebuah penelitian tersebut. Penelitian ini termasuk dalam penelitian quasi experimental karena pemilihan sampel tidak dilakukan secara random, namun dilaksanakan secara diundi untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol dengan disaksikan oleh 4 orang guru. Penelitian eksperimen sangat melibatkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Treatment yang dilaksanakan hanya pada salah satu kelompok saja dan kelompok lain tidak diberikan treatment.

Sugiyono (2012: 109) berpendapat bahwa metode penelitian eksperimen diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Noor (2012: 42) mengatakan bahwa penelitian eksperimen dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung keadaan sebab akibat. Metode penelitian eksperimen termasuk dalam metode penelitian kuantitatif.

(49)

32 penelitian ini, peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penelitian) dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari jenis penelitian ini adalah sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari populasi tertentu. 3) Factorial design. Desain penelitian ini merupakan modifikasi dari design true experimental yaitu dengan memperhatikan kemungkinan adanya variabel yang mempengaruhi perlakuan (variabel independen) terhadap hasil (variabel dependen). Desain ini semua kelompok dipilih secara random, kemudian masing-masing diberi pretest. 4) Quasi experimental design. Bentuk eksperimen ini merupakan pengembangan dari true experimental design. Desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Desain ini dibagi menjadi dua bentuk yaitu time series design dan nonequivalent control group design.

Penelitian ini disebut quasi experimental karena kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dipilih secara tidak random. Peneliti memilih jenis penelitian Quasi experimental karena jenis penelitian ini menggunakan dua kelompok. Dari dua kelompok tersebut didapat kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, kemudian pemilihannya dengan cara diundi.

(50)

33 Campbell dan terminologi Stanley, efek dari intervensi eksperimental akan menghasilkan rumus: ( – ) – ( - ) apabila hasilnya negatif maka efeknya adalah negatif (tidak ada pengaruh) dan apabila hasil positif maka efeknya adalah positif (ada pengaruh). Penelitian dengan tipe nonequivalent control group design dapat dilihat dari tabel berikut:

Gambar 3.1 Desain Penelitian

Keterangan:

= hasil observasi skor pretest pada kelompok eksperimen = hasil observasi skor posttest pada kelompok eksperimen = hasil observasi skor pretest pada kelompok kontrol

= hasil observasi skor posttest pada kelompok kontrol X = perlakuan (treatment) dengan metode mind map

Garis putus-putus melambangkan cara pemilihan antara kelompok eksperimen dan kontrol yang dilakukan tidak secara random dan juga sebagai pemisah antara kelompok eksperimen dan kontrol yang disebut dengan n on-equivalent control.

3.2 Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Pangudi Luhur Yogyakarta yang mulai dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 2014 selama kurang lebih dua minggu sesuai dengan jadwal mata pelajaran IPA di sekolah SD Pangudi Luhur Yogyakarta. SD ini adalah sekolah yang berstatus swasta dengan akreditasi A yang dikelola dibawah naungan Yayasan Pangudi Luhur. SD Pangudi Luhur Yogyakarta terletak di tengah-tengah kota dan strategis, karena berada di pertengahan antara Malioboro dan Keraton Yogyakarta. Lebih tepatnya SD Pangudi Luhur Yogyakarta beralamat di Jalan Senopati Panembahan 18 Yogyakarta 55121.

SD Pangudi Luhur Yogyakarta memiliki empat kelas paralel yaitu PL 1, PL 2, PL 3, dan PL 4, sehingga memiliki 20 ruang kelas. Keunikan SD Pangudi

X - - -

(51)

34 Luhur Yogyakarta adalah memiliki dua orang Kepala Sekolah dengan satu koordinator. Jumlah guru di SD Pangudi Luhur Yogyakarta berjumlah 45 orang guru, 24 orang guru sebagai wali kelas dan 21 sebagai guru bidang studi dan karyawan. Jumlah siswa di SD Pangudi Luhur seluruhnya sebanyak 773 orang siswa, yang terdiri dari 410 orang siswa laki-laki dan 363 orang siswa perempuan. Karakter siswa PL 1 sampai PL 4 tidak dibedakan sesuai kemampuannya, semua kelas disetarakan.

SD Pangudi Luhur Yogyakarta memiliki banyak kebiasaan yang bermanfaat untuk melatih kedisiplinan siswa di sekolah, kebiasaan tersebut di antaranya siswa diperbolehkan masuk wilayah sekolah sebelum pukul 06.50, sebelum mulai pelajaran seluruh siswa dan guru berdoa bersama, setelah berdoa bersama siswa serta guru wajib membaca buku bacaan apapun selama 20 menit, guru datang sebelum siswa datang ke sekolah untuk memberikan contoh yang baik, dan terkhusus untuk kelas II sebelum memasuki kelas diadakan kegiatan mencongak pada pelajaran Matematika supaya siswa terampil menghitung dengan cepat.

SD Pangudi Luhur Yogyakarta memiliki berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler, diantaranya bina vocalia kecil, bina vocalia besar, ansamble musik, biola, menari kecil, menari besar, karawitan, Bahasa Inggris, catur, basket inti, basket reguler, renang, Tae Kwon Do, MGC (khusus untuk kelas 4), dan pramuka. Prestasi yang telah di raih oleh SD Pangudi Luhur juga cukup banyak baik dalam bidang akademik maupun non akademik, seperti meraih medali emas dalam Olimpiade Matematika Tingkat Nasional, meraih medali perunggu dalam Olimpiade Matematika Tingkat Internasional, meraih medali emas dalam Lomba Olahraga Dansa Tingkat Internasional, meraih medali perak dalam Olimpiade MIPA Tingkat Nasional, meraih medali perak dalam pertandingan Tae Kwon Do di Universitas Janabadra, meraih juara I lomba menyanyi tunggal tingkat Provinsi di SMAN 3 Yogyakarta, meraih juara I lomba menggambar “Kasih Bumi” tingkat Provinsi, meraih beberapa kali kejuaraan Dalang Cilik, dan lain-lain.

Gambar

gambar dapat membantu dalam mengingat apa yang telah dituliskan. Berikut ini
Berikut ini . View in document p.33
Gambar 2.2 Prinsip kerja pengungkit golongan I
Gambar 2 2 Prinsip kerja pengungkit golongan I . View in document p.36
Gambar 2.4 Prinsip kerja pengungkit golongan II
Gambar 2 4 Prinsip kerja pengungkit golongan II . View in document p.36
Gambar 2.3 Alat yang menggunakan prinsip pengungkit golongan I
Gambar 2 3 Alat yang menggunakan prinsip pengungkit golongan I . View in document p.36
Gambar 2.6 Prinsip kerja pengungkit golongan III
Gambar 2 6 Prinsip kerja pengungkit golongan III . View in document p.37
Gambar 2.5 Alat-alat yang termasuk pengungkit golongan II (Sumber: Azmiyawati, dkk, 2008: 100)
Gambar 2 5 Alat alat yang termasuk pengungkit golongan II Sumber Azmiyawati dkk 2008 100 . View in document p.37
Gambar 2.8 Contoh penggunaan bidang miring
Gambar 2 8 Contoh penggunaan bidang miring . View in document p.38
Gambar 2.9 Alat-alat yang menerapkan prinsip kerja bidang miring
Gambar 2 9 Alat alat yang menerapkan prinsip kerja bidang miring . View in document p.38
Gambar 2.10 Katrol tetap
Gambar 2 10 Katrol tetap . View in document p.39
Gambar 2.11 Katrol bebas
Gambar 2 11 Katrol bebas . View in document p.39
Gambar 2.13 Roda berporos pada sepeda
Gambar 2 13 Roda berporos pada sepeda . View in document p.40
Gambar  2.14 Literature Map dari penelitian sebelumnya
Gambar 2 14 Literature Map dari penelitian sebelumnya . View in document p.46
Gambar 3.2 Pemetaan Variabel
Gambar 3 2 Pemetaan Variabel . View in document p.54
Tabel 3.2 Matriks Pengembangan Instrumen
Tabel 3 2 Matriks Pengembangan Instrumen . View in document p.56
Gambar 3.5 Rumus besar efek untuk data tidak normal
Gambar 3 5 Rumus besar efek untuk data tidak normal . View in document p.64
Gambar 3.4  Rumus besar efek untuk data normal
Gambar 3 4 Rumus besar efek untuk data normal . View in document p.64
Gambar 3.6 Rumus persentase peningkatan
Gambar 3 6 Rumus persentase peningkatan . View in document p.65
Tabel 3.6 Pertanyaan untuk siswa sebelum diberikan perlakuan
Tabel 3 6 Pertanyaan untuk siswa sebelum diberikan perlakuan . View in document p.66
Tabel 3.8 Pertanyaan siswa kelompok kontrol setelah diberikan pembelajaran
Tabel 3 8 Pertanyaan siswa kelompok kontrol setelah diberikan pembelajaran . View in document p.67
Tabel 3.9 Pertanyaan untuk guru sebelum memberikan perlakuan
Tabel 3 9 Pertanyaan untuk guru sebelum memberikan perlakuan . View in document p.67
Tabel 4.1 Hasil uji normalitas kemampuan evaluasi
Tabel 4 1 Hasil uji normalitas kemampuan evaluasi . View in document p.75
Gambar 4.1 Diagram batang yang menunjukkan selisih skor kelompok eksperimen dan kontrol
Gambar 4 1 Diagram batang yang menunjukkan selisih skor kelompok eksperimen dan kontrol . View in document p.78
Tabel 4.4 Hasil uji peningkatan skor pretest ke posttest I
Tabel 4 4 Hasil uji peningkatan skor pretest ke posttest I . View in document p.79
Gambar 4.3 Grafik skor pretest, posttest I, dan postest II pada kemampuan evaluasi
Gambar 4 3 Grafik skor pretest posttest I dan postest II pada kemampuan evaluasi . View in document p.81
grafik yang akan memperlihatkan skor pretest, posttest I, dan postest II baik di
I dan postest II baik di . View in document p.81
Tabel 4.7 Hasil uji normalitas kemampuan inferensi
Tabel 4 7 Hasil uji normalitas kemampuan inferensi . View in document p.82
Gambar 4.4 Diagram batang yang menunjukkan selisih skor kelompok eksperimen dan kontrol
Gambar 4 4 Diagram batang yang menunjukkan selisih skor kelompok eksperimen dan kontrol . View in document p.85
Gambar 4.5 Diagram garis skor pretest dan posttest I  kemampuan inferensi pada kelompok
Gambar 4 5 Diagram garis skor pretest dan posttest I kemampuan inferensi pada kelompok . View in document p.86
Gambar 4.6 Grafik hasil pretest, posttest I, dan postest II pada kemampuan inferensi
Gambar 4 6 Grafik hasil pretest posttest I dan postest II pada kemampuan inferensi . View in document p.88
gambar juga untuk memperjelas maksud mengenai mind map yang mereka buat.
gambar juga untuk memperjelas maksud mengenai mind map yang mereka buat. . View in document p.140

Referensi

Memperbarui...

Download now (164 pages)