Deskripsi pengaruh ekaristi kaum muda terhadap keterlibatan hidup menggereja Orang Muda Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
169
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM MUDA TERHADAP KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik Oleh: Andrianus Heriskurniawan (141124008) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM MUDA TERHADAP KETERLffiATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA Oleh: AnQriarius !Jeri.skumiawan (141124008) ~ ~ ".t :u I Telah disetujui Oleh: Pembimbing Do F: ", ~L ~< W,!oo. SJ, M.E
(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI DESKRIPSI PENGARUH EKARlSTl KAlJM MUDA TERHADAI> KETERLlBATAN HlDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK Dl PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA Dipersembahkan dan ditlilis oleh Andrianlls Heriskllrpiawan NIM: 141124008 Telah dine'-tahallkoalJ di depan Panitia Pengllj i ....".... ~ ........ ~ Pada tanggai:"!I' J~Uari C, r::t n. • • ~;: AIT N P~US . 1::. 2019 ~- ENGU): '0':t Nama .... t?mda tangan Ketlla Sekretaris Anggota ~ ::> : 1. Drs. F.X. Heryatno w:no Wllillng, SJ1.';"/I.E: 2. Yoseph Knstlanto, SFK., M.Pd 3. Dr. C. ~otnarlP ~ ,}L. . I L' ~M:rl SJ Yogyakarta, 1I Jalluari 2019 Fakliitas Kegurllan dan linn' PClldidikan II; [7#:11- , . _? . .

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada kedua orang tuaku Hermanus Ombak dan Damaris Arrang, kakakku Bernadetha Heriskurniati, Sahabat Korbinianus Fritz, Sirniko, F.X Adswi, Fransiska Siki, Kristianus Lejiw, Rendy Setiawan, Yogas Pranoto Darman dan teman-teman angkatan 2014, serta Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah mendidik dan memberikan pengalaman berharga bagi hidupku iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “ Tebarkanlah cinta kemanapun engkau pergi. Jangan ada seorang pun yang datang menemuimu tanpa menjadi lebih bahagia ketika meninggalkanmu” (Bunda Theresa) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesunggunya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakatia, YJ.4n..\.l).1'.( .20 ~ Penulis, Andrianus Heriskumiawan vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMlAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bel1anda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta: Nama : Andrianus Heriskurniawan NIM : 141124008 Demi pengembangan ilmu pengetahuan penulis memberikan wewenang kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah penulis yang berjudul: DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM MUDA TERHADAP KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian penulis memberikan hak kepada Perpustakaan Sanata Dhanna untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di media intemet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberikan royalty kepada penulis selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pemyataan ini penulis buat dengan sebenamya. Yogyakarta, II Januari 2019 Yang l~atkn, Andrianus Heriskurniawan vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Skripsi ini berjudul DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM MUDA TERHADAP KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA. Judul ini dipilih berdasarkan keingintahuan penulis untuk mengetahui dampak Ekaristi Kaum Muda (EKM) terhadap keterlibatan hidup menggereja OMK di Paroki St. Antonius Kotabaru. EKM adalah salah satu kegiatan khusus kaum muda. Kegiatan ini dapat menjadi sarana atau tempat bagi Orang Muda Katolik (OMK) untuk memupuk semangat hidup menggereja. Penulis tertarik pada hidup menggereja, karena merasa bahwa hidup menggereja adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan hidup iman umat dan kemajuan Gereja. Melalui EKM, penulis mau mencoba menggali apakah sejauh ini EKM yang sudah terlaksana memiliki dampak terhadap hidup menggereja OMK. Persoalan skripsi ini sejauhmana dampak EKM terhadap keterlibatan hidup menggereja OMK. Untuk menjawab persoalan tersebut penulis menggunakan studi pustaka dan penelitian. Studi pustaka dilaksanakan dengan mempelajari berbagai sumber yakni pandangan dari beberapa ahli yang berkaitan dengan Ekaristi dan hidup menggereja. Sedangkan penelitian yang digunakan oleh penullis adalah penelitian kualitatif. Untuk memperoleh data guna keperluan penelitian penulis memberikan kuesioner kepada 50 OMK sebagai responden. Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa EKM telah berdampak terhadap hidup menggereja OMK. EKM telah membangun suasana yang dapat memunculkan atau menciptakan keinginan OMK untuk terlibat dalam hidup menggereja. OMK telah mengitegrasikan antara EKM dan hidup menggereja sebagai suatu yang tak terpisahkan. EKM menjadi sumber dan pendorong untuk terlibat dalam hidup menggereja. Untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini, penulis mengusulkan pelaksanaan kegiatan rekoleksi sebagai upaya untuk meningkatkan semangat hidup menggereja OMK dalam hidup sehari-hari. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT This undergraduate thesis is entitled DESCRIPTION OF THE YOUTH EUCHARIST’S INFLUENCES TO THE PARTICIPATION OF CATHOLIC YOUTH’S CHURCH LIFE IN PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA. The title of this study is chosen based on the curiosity of the writer to discover the impact of Youth Eucharist to the involvement of the Catholic Youth’s church life in Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta. The Youth Eucharist is one of the special activities for the young ones. This activity could be a medium or a place for the Catholic Youth to be more active in church life. The writer is fully interested in church life because this could be one factor which can affect the development of people’s faith and the church itself. The writer of this undergraduate thesis would like to trace the Youth Eucharist whether it has a great effect to the Catholic Youth’s church life or not. The problem formulation in this undergraduate thesis is to know how far the impact of Youth Eucharist to the Catholic Youth’s church life. To answer this research question, the writer does literature review and a research. Literature review is carried out by studying the experts’ perspective of Catholic Eucharist and church life, while the research itself is a qualitative research. The writer of this study provides a questionnaire as the data for 50 respondent which is the Catholic Youth in Paroki Santo Antonius Kota Baru Yogya. The result of this research shows that the Youth Eucharist affects the church life of the Catholic Youth. Youth Eucharist has already built the great atmosphere in which the Catholic Youth are willing to participate in church life. The Catholic Youth has already connected the Youth Eucharist to the church life as the one that cannot be separated. Youth Eucharist is a source and also a stimulant for being active in church life. The writer would like to suggest to do a recollection as an effort to increase the passion of Catholic Youth’s church life in their daily basis to follow up this research. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM MUDA TERHADAP KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA. Skripsi ini disusun berdasarkan keingintahuan penulis untuk mengetahui sejauhmana Ekaristi Kaum Muda (EKM) berdampak terhadap keterlibatan hidup menggereja Orang Muda Katolik (OMK). Sejauh ini EKM telah terlaksana dengan baik dan tidak sedikit OMK yang turut hadir. Melalui karya tulis ini, penulis ingin menggali lebih dalam apakah EKM yang sudah terlaksana ini berdampak terhadap semangat hidup menggereja OMK. EKM bukan hanya sekedar perayaan misa atau ibadat saja, melainkan suatu unsur yang dapat menggerakkan, mendorong dan menyemangati OMK untuk senantiasa terlibat dalam kehidupan menggereja. Oleh sebab itu, skripsi ini dimaksudkan untuk memberi sumbangan pemikiran bagi Paroki, Tim Kerja EKM serta OMK untuk memanfaatkan EKM sebagai peluang dalam proses membangun dan mendorong OMK terlibat dalam hidup menggereja. Tersusunnya skripsi ini tidak lepas dari bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka pada kesempatan ini penulis dengan hati penuh syukur mengucapkan banyak terimakasih kepada : x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, SJ., M.Ed sebagai dosen pembimbing utama yang selalu memberikan perhatian, meluangkan waktu dan dengan penuh kesabaran membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 2. Yoseph Kristianto, SFK., M. Pd. selaku DPA sekaligus dosen penguji kedua yang telah bersedia membaca, menguji, memberikan kritik, masukan serta saran dalam menyelesaikan skripsi ini. 3. Dr. C. Putranta, SJ selaku dosen penguji ketiga yang telah meluangkan waktu untuk mempelajari skripsi dan memberi masukan dalam penyelesaian skripsi ini. 4. Seluruh staf dosen dan karyawan Program Studi Pendidikan Agama Katolik yang telah mendidik, dan membimbing penulis hingga dapat menyelesaikan studi di Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Universitas Sanata Dharma dengan baik. 5. Romo Paroki St. Antonius Kotabaru yang telah memberikan izin kepada saya untuk melaksanakan penelitian dan teman-teman OMK yang telah bersedia menjadi responden penelitian saya. 6. Orang tua, kakak, Korbinianus Fritz, F.X. Adswi, Sirniko, Kristianus Lejiw, Fransiska Siki, Rendy Setiawan, Yogas Pronoto, Darman, Malvin yang ikut memberikan dukungan, semangat, perhatian, dan doa selama saya menempuh perkuliahan. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Teman-teman mahasiswa terkhusus angkatan 2014 yang selalu memberi semangat, motivasi, dorongan, dan bantuan bagi penulis se1ama mengikuti proses perkuliahan hingga penyelesaikan skripsi ini. 8. Seluruh warga kampus Program Studi Pendidikan Agarna Katolik yang telah menemani, memberi semangat serta dukungan doa hingga dari awal perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini. 9. Teman Humas USD 2018 yang selalu mendukung dan menyemangati. 10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang dengan tulus ikhlas memberi masukan dan dorongan hingga penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu, penulis terbuka terhadap segala saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan dan pemanfaatan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bennanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Yogyakarta, II Januari 2019 iL Andrianus Heriskumiawan xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL………………………………………………………………...… i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………………..................................... ii HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………… iii HALAMAN PERSEMBAHAN…………………………………………….…………. iv MOTTO……………………………………………………………….………….……. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……………………………………………….. vi LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI…………………………….………………. vii ABSTRAK…………………………………………….……………………...……….. viii ABSTRACT…………………………………………………………………………… KATA PENGANTAR……………………………………………………………........ ix DAFTAR ISI…………………………………………………………………………... DAFTAR TABEL……………………………………………………….…………….. DAFTAR SINGKATAN…………………………………….…………..…………….. BAB I. PENDAHULUAN………………………………...…………….…….……… A. LATAR BELAKANG MASALAH……………………………………...……. B. RUMUSAN MASALAH……………………………………………….……... C. TUJUAN PENULISAN…………………………………….………................. D. MANFAAT PENULISAN………………………….……………………......... E. METODE PENULISAN………………………….…………………………… F. SISTEMATIKA PENULISAN………………………………………….…….. BAB II. POKOK-POKOK EKARISTI DAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK………………………………..……………………….... A. Pokok-Pokok Ekaristi…………….……………………………………............. 1. Hakikat Ekaristi………………………………….……………………….... a. Ekaristi Sebagai Sakramen…………………….………………………. b. Perjamuan Ekaristi……………………….……………………............. c. Kehadiran Kristus……………….……………………………………... xiii xx xiii xviii xix 1 1 11 12 12 13 13 14 15 15 18 20 21

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI d. Aspek Teologis, Yuridis dan Pastoral…………………………............. 22 1) Aspek Teologis Ekaristi………………………………………........ 22 2) Aspek Yuridis Ekaristi………………………………….…………. 22 3) Aspek Pastoral……………….…………………………….………. 23 2. Unsur-Unsur Perayaan Ekaristi…………………………………….…........ 24 a. Makna Ekaristi Sebagai Perayaan……………………….…………….. 24 1) Segi Kebersamaan…………………….……………………............ 24 2) Segi Partisipatif………………………………….………………… 24 3) Segi Kontekstual……………………………….…………………... 25 b. Partisipasi Umat Beriman…………………………………….…........... 25 c. Tata Gerak dan Sikap Tubuh…………………………………….…….. 26 3. Ekaristi Sebagai Liturgi………………………………...………………….. 27 a. Arti dan Sejarah Istilah Liturgi………………….……………………... 27 b. Pengertian Liturgi……………………………….……………………... 29 1) Pandangan Populer………………….……………………………... 29 2) Liturgi menurut Konsili Vatikan II……………………….………... 30 B. Hidup Menggereja Orang Muda Katolik ……………………..……………….. 31 1. Pengertian Kaum Muda……………………………….…………………… 33 2. Dinamika Kaum Muda…………………………………………...…........... 34 3. Permasalahan Kaum Muda…………………………………………...……. 36 a. Identitas Diri………………………………….………………...……… 36 b. Aktualisasi Diri………………………………….…………….….......... 36 c. Pendampingan…………………………………………………………. 37 4. Orang Muda Katolik……………………………………………………….. 37 a. Batasan Usia OMK…………………………………………………….. 38 b. Berbagai Realitas OMK Dewasa Ini…………………………………... 39 1) Realitas Sosiologis OMK………………………………………….. 39 2) Realitas Pastoral OMK………………………………….…….…… 40 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3) Realitas OMK Sebagai Orang Muda……………………….…........ 41 5. Hidup Menggereja………………………………….………..…………….. 42 a. Dasar-Dasar Dalam Hidup Menggereja……………………….…..…... 43 1) Partisipasi Dalam Imamat………………………………...……….. 43 2) Partisipasi Dalam Kenabian……………………………………….. 44 3) Partisipasi Dalam Pengabdian Rajawi…………….…………….…. 45 b. Bidang-Bidang Hidup Menggereja………………………….…………. 46 1) Liturgi……………………………………….…………………....... 46 2) Pewartaan…………………….……………………………………. 47 3) Persekutuan………………………………………………………… 47 4) Pelayanan……………………………………...…………………… 48 5) Kesaksian…………………………………………………………... 48 c. Pastoral OMK Dalam Hidup Menggereja……………………………... 49 1) Pastoral OMK Berpusat Pada Kristus…………………….……….. 49 2) Pastoral Gereja OMK……………………………………………… 49 3) Ruang Lingkup Pastoral OMK…………………………………….. 50 a) Formal………………………………………………………….. 50 b) Informal………………………………………………………... 52 BAB III. GAMBARAN EKARISTI KAUM MUDA BAGI ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA DAN HUBUNGANNYA DENGAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK………………………………………………………….……… A. Ekaristi Kaum Muda (EKM) Di Paroki St. Antonius Kotabaru Yogyakarta….. 53 54 1. Sejarah Singkat EKM Paroki St. Antonius Kotabaru……………………… 54 2. Visi dan Misi EKM Paroki St. Antonius Kotabaru………………………... 56 3. Tujuan EKM………………………………………………………….……. 57 4. Spritualitas EKM…………………………………………….…………….. 57 5. Penanggung Jawab EKM………………………………………….………. 58 6. Mekanisme Persiapan EKM……………………………………………….. 58 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Gambaran Pelaksanaan EKM……………………………………………… 62 B. Penelitian Peranan Ekaristi Kaum Muda Terhadap Keterlibatan Hidup Menggereja Orang Muda Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru…... 69 1. Desain Penelitian…………………………………………………………... 69 2. Latar Belakang Penelitian………………………………………………….. 69 3. Tujuan Penelitian……………………………………………………….….. 71 4. Definisi Operasional ……………………………………………………... 71 5. Jenis Penelitian……………………………………….………….……….... 72 6. Instrumen Penelitian……………………………………………………….. 73 Responden Penelitian……………………………………………………... 73 8. Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………………..…. 74 9. Variabel Penelitian………………………………………………………… 74 10. Teknik Analisis Data………………………………………………………. 75 C. Laporan Hasil Penelitian………………………………………………………. 76 1. Dampak Ekaristi Kaum Muda Terhadp Hidup Menggereja OMK………... 77 2. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat dari EKM……………………. 82 3. Usulan Kegiatan Untuk Meningkatkan EKM Demi Hidup Menggereja….. 86 D. Pembahasan Hasil Penelitian…………………………………………………... 88 1. Dampak Ekaristi Kaum Muda Terhadap Hidup Menggereja OMK………. 88 2. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat EKM………………………… 93 3. Usulan Kegiatan untuk Meningkatkan EKM Demi Hidup Menggereja…... 96 E. Kesimpulan Hasil Penelitian…………………………………………………... 96 BAB IV. USULAN KEGIATAN BAGI ORANG MUDA KATOLIK PAROKI ST. ANTONIUS KOTABARU SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN SEMANGAT HIDUP MENGGEREJA………….. A. Latar Belakang Kegiatan………………………………………………………. 99 99 B. Rumusan Tema dan Tujuan……………………………………………………. 100 C. Peserta………………………………………………………………………...... 101 D. Waktu Pelaksanaan…………………………………………………………….. 101 7. xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI E. Model Pelaksanaan…………………………………………………………….. 102 F. Matriks Program Kegiatan Rekoleksi…………………………………….…… 103 G. Contoh Persiapan Rekoleksi …………………………………………………. 106 H. Contoh Persiapan Kegiatan Rekoleksi Sesi III………………………………… 108 BAB V. PENUTUP………………………………………………...…………………. 122 A. Kesimpulan……………………………………….……………………………. 122 B. Saran…………………………………………………………………………… 123 1. Bagi Pengurus OMK Paroki St. Antonius Kotabaru……………………… 123 2. Bagi Pastor Paroki dan Dewan Pengurus Paroki…………………………... 124 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….. 125 LAMPIRAN…………………………………………………………………………… 127 Lampiran 1: Surat permohonan izin ke Paroki………………………………………… (1) Lampiran 2: Surat Izin Penelitian……………………………………………………… (2) Lampiran 3: Kuesioner Penelitian……………………………………………………... (3) Lampiran 4: Contoh Jawaban Responden………………………………………….….. (10) Lampiran 5: Jumlah OMK Paroki St. Antonius Kotabaru…………………………….. (16) Lampiran 6: Rekoleksi Sesi III………………………………………………………… (17) xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1: Variabel Penelitian……………………………………………………... 75 Tabel 2: Dampak Ekaristi Kaum Muda Terhadap Hidup Menggereja OMK (N=50)…………………………………………………………………………… Tabel 3: Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat EKM (N=50)……………... 77 82 Tabel 4: Usulan Kegiatan Untuk Meningkatkan EKM Demi Hidup Menggereja………………………………………………………………………. 87 Tabel 5: Jadwal Rekoleksi OMK Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta............................................................................................................. 106 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Alkitab Deuterokanonika © LAI 1976. (Alkitab yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru, yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, ditambah dengan kitab-kitab Deuterokanonika yang diselenggarakan oleh Lembaga Biblika Indonesia. Terjemahan diterimadan diakui oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia). Jakarta: LAI, 2009 B. Singkatan Dokumen Gereja AA: Apostolicam Actuositatem, Konsili Vatikan II Dekrit tentang Kerasulan Awam, 7 Desember1965. AG: Ad Gentes, Konsili Vatikan II Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja, 7 Desember 1965. EN: Evangelii Nuntiandi, Imbauan Apostolik Bapa Suci Paulus VI, tentang Karya Pewartaan Injil pada Jaman Modern, 8 Desember 1975. GS: Gaudium Et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II, tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, 7 Desember 1965. KHK: Kitab Hukum Kanonik (Codez Iuris Canonici), diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II, 25 Januari 1983. LG: Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964. xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PO: Presbyterorum Ordinis, Konsili Vatikan II Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja, 7 Desember 1965. SC: Sacrosantum Concilium, Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, 4 Desember 1963) C. Singkatan Lain AMKRI : Angkatan Muda Katolik Repulik Indonesia EKM : Ekaristi Kaum Muda KGK : Katekismus Gereja Katolik KWI : Konferensi Waligereja Indonesia Komkep KWI : Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia MAWI : Majelis Agung Waligereja Indonesia MKI : Muda Katolik Indonesia OMK : Orang Muda Katolik PBB : Perserikatan Bangsa-Bangsa SMP : Sekolah Menengah Pertama xx

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kaum muda merupakan generasi harapan keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa. Mereka menjadi tali penyambung kehidupan suatu kelompok, dengan mempersiapkan diri untuk mandiri baik dalam kehidupan keluarga, beragama, pekerjaan, kelompok, maupun kehidupan masyarakat luas. Kaum muda mengambil peranan penting dalam kemajuan bangsa dan seluruh bagian dalam kehidupan. Masa muda adalah masa pencarian jati diri. Di masa ini kaum muda menghadapi berbagai tantangan baik dengan dirinya sendiri, orang tuanya, teman-temannya, lawan jenisnya, sekolahnya, kehidupan imanya, maupun dengan masyakarat sekitarnya. Pada masa ini kaum muda berada dalam kondisi yang tidak stabil, senantiasa berubah melihat segala sesuatu dengan kacamatanya sendiri, dan kadang dalam pengambilan keputusan tidak logis dan umumnya mempunyai perangai pemberontak. Banyak orang muda Indonesia pada zaman ini yang sudah menunjukkan prestasi dan kemampuannya baik di bidang olahraga, sosial, ekonomi, pendidikan, kesenian, dan sebagainya. Misalnya di bidang olahraga ada Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon, ganda putra yang kerap disapa “The Minios” itu berhasil meraih gelar sebagai ganda putra nomor satu dunia setelah menjurai turnamen All England 2018 (Kompas, 18 Maret 2018). Egy Maulana Vikri pemain Timnas Indonesia yang masih berumur 19

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 tahun sudah berkarir di salah satu klub di Eropa, Lechia Gdansk, Polandia (Kompas, 13 Maret 2018). Di dunia musik ada ada Joey Alexander seorang pianis jazz muda asal Indonesia yang masuk nominasi Grammy Awards 2017 (Kompas, 07 Desember 2016). Di bidang pendidikan ada 2 pelajar SMA asal Solo yang berhasil menciptakan robot tempat sampah yang diberi nama “trash can zaman now”, mereka juga berhasil meraih juara 1 kontes Robotic Madrasah tingkat nasional tahun 2017 kategori mekanika (discovery robot) (Kompas, 27 November 2017). Di bidang ekonomi ada Riezka Rahmawati pemilik usaha “Justmine pisang ijo”. Ia adalah seorang entrepreneur atau pengusaha muda yang berhasil meraih kesuksesannya dalam usaha kuliner. Dia juga berhasil mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya adalah The Young Entreprenur Award (Metrotvnews, 03 Desember 2017). Di bidang fashion ada Dian Pelangi. Ia adalah seorang desainer muda asal Indonesia. Media fashion internasional BoF (Business of Fashion) memasukan namanya sebagai salah satu pelaku fashion paling berpengaruh di dunia. Ia memiliki empat tempat busana yakni Dian Pelangi, DP by Dian, Dian Pelangi Bride dan Dian Pelangi Kids (Boombastis, 02 Desember 2015). Tentu masih banyak lagi orang muda Indonesia yang sudah berprestasi dan mengharumkan bangsa Indonesia baik melalui talenta maupun karyakaryanya. Masa muda menjadi salah satu masa yang paling tepat untuk mengembangkan bakat dan talenta yang dimiliki. Berbagai kreativitas dan inovasi bermunculan baik di bidang fashion, kuliner, hiburan dan sebagainya. Setiap kaum muda tentu mengimpikan masa muda yang sukses yang bisa berguna bagi keluarga, teman-

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 teman, masyarakat, khususnya bagi dirinya sendiri. Namun impian mereka pun kadang terhalang oleh berbagai permasalahan yang mereka hadapi baik itu karena narkoba, pergaulan bebas, perjudian, kehamilan di luar nikah, kekerasan dalam rumah tangga, gerombolan anak muda yang menggunakan kekerasan dan sebagainya. Akhirnya mereka pun harus mengubur impian mereka dan tidak jarang karena situasi demikian mereka menjadi korban atau pelaku dari permasalahan ini. Contohnya tiga remaja asal Jember tewas akibat mengkonsumsi minuman keras oplosan. Polisi menduga ketiga korban tewas akibat mengoplos minuman keras dengan pil koplo (Liputan6, 11 April 2016). Di Bandarlampung, tiga siswa SMP nekat mencuri motor karena ingin membeli baju baru. Ketiganya mendapat tembakan di kaki, karena hendak kabur saat ditangkap. Siswa yang harusnya fokus belajar malah menjadi pelaku kejahatan (Kompas, 28 September 2017). Fakta demikian menjadi contoh permasalahan yang dialami kaum muda masa kini. Tentu masih banyak lagi berita atau informasi yang kita temukan terkait permasalahan pada kaum muda di zaman sekarang. Allah secara istimewa menaruh orang muda di dalam hati-Nya. Allah memanggil orang muda sebagai rekan kerja. Di antara mereka ada Musa, Allah memanggil dan mengutus Musa untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir (Kel 3); Yosua yang menggantikan Musa diutus untuk menjadi pemimpin bangsa Israel membawa masuk bangsa Israel ke tanah terjanji (Ul 31:7-8). Yeremia diutus oleh Allah untuk menjadi nabi-Nya, walapun ia sadar bahwa ia masih muda (Yer 1:410), Ruth, Yudith, Ester, dan tujuh pemuda sesaudara (2 Mak 7:1-42). Kisah para

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 tokoh muda itu menginspirasi sehingga sangat penting dijadikan inspirasi. Allah memilih Maria sebagai Bunda Yesus. Allah memilih perempuan muda menjadi ibu bagi putera-Nya yang menjelma menjadi manusia, yakni Yesus. Ini menjadi jelas bahwa pandangan Allah terhadap orang muda menjadi nyata dalam Yesus. Sang Emanuel ini membuat karya-Nya sebagai pembina orang muda sangat nyata karena Dia sendiri selalu muda dan memilih orang-orang muda pula sebagai murid-muridNya. Ia memperlihatkan masa muda sebagai tahap-tahap hidup yang sangat berharga (Luk 2:52). Yesus juga memperlihatkan betapa pentingnya pembinaan orang muda. Ia adalah contoh sebenarnya dari pastoral orang muda itu. Gereja melalui dokumen Apostolicam Actuocitatem (AA) 12, menyatakan pandangan terhadap orang muda sebagai berikut : Kaum muda merupakan kekuatan yang amat penting dalam masyarakat zaman sekarang. Situasi hidup, sikap-sikap batin serta hubungan-hubungan mereka dengan keluarga mereka sendiri telah amat banyak berubah. Bertambah pentingnya peran mereka dalam masyarakat itu menuntut dari mereka kegiatan merasul yang sepadan. Sifat-sifat alamiah mereka pun memang sesuai untuk menjalankan kegiatan itu. Mereka sendiri harus menjadi rasul-rasul pertama dan langsung bagi kaum muda, dengan menjalankan sendiri kerasulan di kalangan mereka, sambil mengindahkan lingkungan sosial kediaman mereka. Orang Muda Katolik (OMK) adalah bagian dari Gereja, bergaung di seluruh dunia Katolik, perhatian istimewa Paus dan para Uskup termasuk negara kita sendiri. Para Uskup menyetujui “ Indonesian Youth Day” dan aneka pekan OMK di keuskupan

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 dengan dilandasi pengertian bahwa OMK merupakan kekuatan pendorong (driving force) Gereja dan masyarakat Indonesia pada masa sekarang maupun masa mendatang. Gereja mempunyai tugas perutusan yaitu Evangelisasi. Evangelisasi lebih dalam dari pada sebuah prespektif, kegiatan, maupun teknik yang diprakarsai oleh Gereja. Evangelisasi atau pewartaan Kabar Gembira keselamatan merupakan “rahmat dan panggilan, … fungsi yang hakiki dari Gereja” (Evangelii Nuntiandi, 14). Tanpa evangelisasi, Gereja tidak berbeda dengan organisasi duniawi. Pastoral OMK karena ada dalam Gereja, mau tidak mau, merupakan evangelisasi. Evangelisasi berarti membawakan Injil kepada setiap bangsa sehingga dengan kekuatannya, Injil merasuki hati dan memperbaharui manusia (EN 18). Waktu luang OMK biasanya diisi dengan berkumpul, nongkrong, jalan-jalan, yang lainnya mengisi dengan kegiatan berkesenian, aktivitas di luar ruangan. Teknologi informasi mempengaruhi kehidupan orang muda. Meskipun materialisme dan konsumerisme mempengaruhi kehidupan orang muda pula, namun dirasakan ketahanan internal rata-rata masih terbentuk karena kuatnya moral dan iman dalam keluarga, kedalaman spritualitas Gereja dan kesehatan yang terjaga. OMK juga dihadapkan dengan berbagai macam situasi yang kurang baik seperti perjudian, kekerasan dalam rumah tangga, praktek ketenagakerjaan yang tidak adil, kehamilan di luar nikah, gerombolan anak muda yang menggunakan kekerasan, narkoba dan sebagainya. Disadari pula bahwa pengaruh globalisasi, modernisasi dan sekularisme telah memicu berkurangnya penghormatan terhadap agama dan tradisi Katolik serta kebudayaan.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Lalu bagaimana dengan situasi OMK yang juga merupakan bagian dalam Gereja sekaligus sebagai generasi penerus Gereja. Orang Muda Katolik saat ini akrab dengan budaya masa kini: selvi (foto diri untuk diunggah dalam media sosial) karena OMK sendiri merupakan bagian dari generasi yang oleh majalah TIME disebut “ The Me Me Me Generations”, generasi yang suka mengunggah diri sendiri di media jejaring sosial. (http://time.com/247/millennials-the-me-me-me-generation/ 17 Mei 2018). Orang Muda Katolik diutus ke tengah budaya di mana orang muda dengan mudah larut dalam gebyar daya tarik visual seperti facebook, instagram, whatsapp, youtube, twitter, path, line, dan media sosial lainnya yang berpendar-pendar setiap saat di smartphone elektronik mereka. Namun anehnya, dalam pendar-pendar cahaya layar gadget itu, makin sulit ditemukan kebaikan dan kebenaran (http://www.katolisitas.org/omk-yang-militan-bagaimana-membentuknya/ diakses 20 April 2018). Gereja Santo Antonius Kotabaru memiliki jumlah OMK yang lumayan banyak, tidak hanya dari wilayah Yogja saja melainkan OMK yang juga berasal dari luar Yogja. Mereka adalah mahasiswa-mahasiwi, dan pelajar yang sedang menempuh studi di berbagai Perguan Tinggi atau Sekolah yang ada di Yogja. Barangkali itu juga yang dialami oleh OMK Paroki Santo Antonius Kotabaru. Situasi zaman yang terus berkembang akan sangat mempengaruhi perkembangan hidup iman mereka, baik itu hal positif maupun negatif. Kecenderungan akan hal positif itu nampaknya kurang, lebih condong kepada hal yang negatif, namun ini bukan suatu pernyataan yang mutlak yang mau menyudutkan kaum muda terhadap

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 apa yang mereka lakukan, tentu berbagai faktor lain juga mempengaruhi. Contohnya gadget atau smartphone adalah salah satu alat komunikasi yang sudah tidak asing bagi OMK berbagai fitur, game, aplikasi, dan tawaran-tawaran lainnya membuat OMK kadang larut dan lupa terhadap hal-hal penting yang mereka perlu lakukan khususnya panggilan untuk hidup menggereja. Sudah jelas dalam dokumen AA No 12 ditegaskan bahwa “Mereka sendiri harus menjadi rasul-rasul pertama dan langsung bagi kaum muda, dengan menjalankan sendiri kerasulan di kalangan mereka, sambil mengindahkan lingkungan sosial kediaman mereka”. EKM adalah salah satu jembatan bagi orang muda untuk menemukan dan menghayati imannya sesuai dengan gaya kaum muda, mengetahui kebutuhan dan situasi yang mereka hadapi saat ini, sesuai dengan tujuan dari EKM itu sendiri yaitu terwujudnya “iman yang mendalam, dewasa, dan dinamis yang sesuai dengan kepribadian kaum muda yaitu inovatif dan kreatif”. Artinya melalui EKM orang muda dapat mengungkapkan imannya sesuai dengan pengalaman hidup mereka sehari-hari, sehingga mereka semakin merasa mantap sebagai orang muda yang dicintai oleh Tuhan. Ekaristi Kaum Muda merupakan salah satu kegiatan yang ramai diikuti oleh kaum muda khususnya di Paroki Kotabaru. Ekaristi Kaum Muda sangat populer bagi kalangan kaum muda yang ada di Gereja Kota Baru. EKM dilaksanakan pada minggu ketiga setiap bulannya. EKM ini bertujuan agar kaum muda dapat semakin mencintai Ekaristi dan terlibat aktif dalam hidup menggereja sesuai dengan gaya mereka sebagai kaum muda. Keprihatinannya apakah dengan adanya EKM ini kaum

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 muda sudah sungguh-sungguh terbantu untuk menjawab kebutuhan yang mereka harapkan. Perayaan Ekaristi adalah perayaan iman. Artinya, dalam perayaan Ekaristi diungkapkan iman seluruh Gereja akan penyelamatan Allah yang terjadi dalam Yesus Kristus. Konsili Vatikan II menyebut Ekaristi sebagai “Sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani” (LG 11) sakramen-sakramen lainnya berhubungan erat dengan Ekaristi dan terarah kepadanya (PO 5). Ekaristi merupakan pusat seluruh kehidupan kristen. Sebab dalam perayaan Ekaristi terletak puncak karya Allah yang menguduskan dunia dan puncak karya manusia yang memuliakan Bapa lewat Kristus, Putra Allah, dan Roh Kudus. Perayaan Ekaristi merupakan pengenangan misteri penebusan sepanjang tahun. Dengan demikian, boleh dikatakan misteri penebusan tersebut dihadirkan untuk umat. Segala perayaan ibadat lainnya, juga pekerjaan sehari-hari dalam kehidupan umat, berkaitan erat dengan perayaan Ekaristi, bersumber dari pada-Nya dan tertuju kepadaNya. Oleh karena itu umat Kristiani dipanggil untuk terus mengenangkan misteri penebusan itu lewat hidup sehari-hari sebagai ungkapan akan imannya. Di zaman sekarang tantangan terhadap partisipasi dalam Perayaan Ekaristi nampaknya juga menjadi persoalan khususnya bagi mereka kaum muda. Oleh karena itu Ekaristi harus menjadi sakramen cinta bagi mereka, seperti cinta Allah kepada manusia dengan mengutus putra-Nya Yesus Kristus. Yesus telah menjadikan kita sahabat-sahabat-Nya jika kita mau mengikuti apa yang diperintahkan-Nya, walaupun dalam diri kita kadang kurang menyadari anugerah besar tersebut. Sahabat sejati bagi

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 Yesus adalah mereka yang mau mengikuti apa yang diperintahkan-Nya, mengorbankan diri seutuhnya, mewartakan sabda-Nya, dan mengambil bagian dalam hidup menggereja. Hidup menggereja diibaratkan sebagai sebuah keluarga kecil, dimana umat khususnya Orang Muda Katolik sepantasnya terlibat akan seluruh aspek kehidupan yang terjadi. Gereja diartikan sebagai umat Allah, kita sebagai tubuh, dengan kepalanya adalah Kristus. Artinya bahwa kita hidup bersama dengan Yesus. Sungguh menjadi jelas keterlibatan dalam gereja merupakan suatu panggilan yang sangat istimewa, sebab kita adalah anggota tubuh Kristus. 1 Petrus 4:10 “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” Persis seperti yang dikatakan oleh Rasul Petrus bahwa berdasarkan karunia dan kasih Allah kita dipanggil untuk melayani Dia dan sesama. Pada tanggal 28 Oktober 2000 bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, untuk pertama kalinya di Gereja St. Antonius Kotabaru diselenggarakan Ekaristi dengan gaya anak muda. Ekaristi ini mendapat sambutan yang sungguh menggembirakan. Banyak sekali kaum muda yang hadir, sampai tumpah ruah di luar gerbang gereja, dengan segala atribut khas orang muda seperti celana sobek-sobek dan penuh rantai, tindik dan tato, sandal jepit, berkaos oblong, dan lain sebagainya. Selain menggembirakan, memang tak dipungkiri, pemandangan seperti itu juga menimbulkan kontra, ketidaksetujuan, terutama dari pihak kaum tua dan gereja lain dengan berbagai komentar. Namun dari sisi kaum muda dan dilihat dari tujuan

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 diadakannya ekaristi kaum muda maka ekaristi dengan cara itu kaum muda merasa disapa dan mendapat tempat di gereja. Muncul pertanyaan yang kembali menantang kaum muda yang mempersiapkan ekaristi tersebut. “Dari begitu banyak kaum muda yang datang, apakah mereka telah menemukan Allah dan mau terlibat untuk hidup menggereja?” Tantangan tersebut kembali dijawab dengan membuat komunitas/tim liturgi kaum muda yang sampai sekarang yaitu Komunitas Ekaristi Kaum Muda. Ekaristi dengan gaya kaum muda diselenggarakan secara rutin sebulan sekali setiap minggu III pukul 18.00 wib, dengan melibatkan komunitas-komunitas kaum muda sebagai penyelenggara dengan dibantu tim liturgi kaum muda. Inilah cikal bakal terbentuknya Ekaristi Kaum Muda (EKM). Ekaristi yang merupakan perayaan iman itu telah dikemas sedemikian rupa oleh Orang Muda Katolik menjadi “Ekaristi Kaum Muda” yang dilandasi oleh situasi dan kebutuhan kaum muda untuk mengungkapkan imannya dengan cara mereka sendiri. Berbagai kreativitas, ide-ide, lagu-lagu, penampilan teatrikal, dekorasi, dan lain sebagainya bertujuan agar Ekaristi Kaum Muda semakin diresapi dan dirindukan oleh kaum muda yang hadir sesuai dengan gaya dan dinamika kaum muda. Ekaristi Kaum Muda yang sudah dilaksanakan kembali menjadi perhatian penting bagi perkembangan kaum muda. Pertanyaan selanjutnya, apakah melalui Ekaristi Kaum Muda ini dengan harapan dapat memanggil dan menggerakan diri mereka untuk mengambil bagian dalam hidup menggereja. Berbagai persoalan yang sering mereka hadapi baik dari dalam diri, pergaulan, lingkungan dan situasi di zaman ini atau lebih

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 kerennya zaman now nampaknya menyulitkan mereka untuk mengambil bagian dalam hidup menggereja pula. Hadirnya EKM mewakili harapan Gereja Katolik bahwa OMK dapat memberikan diri seutuhnya kepada Kristus dan sesamanya, melalui berbagai kegiatan yang mereka hidupi dalam hidup menggereja. Dasar pengabdian Gereja adalah imannya akan Kristus. Barang siapa menyatakan diri murid Kristus, “Ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh 2:6). Melihat upaya yang telah dilakukan Tim Liturgi Kotabaru demi keterlibatan hidup menggereja Orang muda Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru melalui Ekaristi Kaum Muda, maka penulis tertarik untuk menuliskan skripsi dengan judul DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM MUDA TERHADAP KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTA BARU YOGYAKARTA. B. Rumusan Masalah 1. Apa pokok-pokok Ekaristi Kaum Muda dan hubungannya dengan hidup mengggereja kaum muda? 2. Sejauh mana dampak Ekaristi Kaum Muda terhadap hidup menggereja Orang Muda Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru? 3. Upaya macam apa yang perlu diusahakan untuk memupuk semangat hidup menggereja OMK di Paroki Santo Antonius Kotabaru?

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 C. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui pokok-pokok Ekaristi Kaum Muda dan hubungannya dengan hidup menggereja kaum muda 2. Mengetahui dampak Ekaristi Kaum Muda terhadap hidup menggereja Orang Muda Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru 3. Mengemukakan upaya yang dilakukan untuk memupuk semangat hidup menggereja OMK Paroki Santo Antonius Kotabaru D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Orang Muda Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru Membantu Orang Muda Katolik untuk mengetahui dampak Ekaristi Kaum Muda dalam meningkat semangat hidup menggereja 2. Bagi Program Studi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma. Membantu menemukan keunggulan dari Ekaristi Kaum Muda dalam rangka meningkatkan semangat hidup menggereja bagi Orang Muda Katolik. Dapat mendukung dengan mengambil bagian dalam pelaksaan EKM. 3. Bagi penulis Semakin menyadari dan memahami peran penting Ekaristi Kaum Muda dalam meningkatkan semangat hidup menggereja Orang Muda Katolik khususnya setelah menjadi Katekis dan Guru Agama Katolik.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 E. Metode Penulisan Dalam penulisan ini metode yang dipakai adalah deskriptif analitis yaitu mengambil data melalui kuesioner dan studi pustaka, kemudian data tersebut dianalisis dan ditarik suatu kesimpulan. F. Sistematika Penulisan Tulisan ini mengambil judul “DESKRIPSI PENGARUH EKARISTI KAUM MUDA TERHADAP KETERLIBATAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTA BARU YOGYAKARTA” dan dikembangkan menjadi lima bab : Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang penulisan, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode dan sistematika penulisan. Bab II menjelaskan kajian pustaka mengenai Ekaristi dan hidup menggereja kaum muda. Bab III membahas gambaran umum pelaksaanaan Ekaristi Kaum Muda Paroki St. Antonius Kotabaru Yogyakarta serta penelitian dan pembahasan data penelitian. Bab IV menguraikan latar belakang usulan kegiatan sebagai upaya meningkatan semangat hidup menggereja bagi OMK Paroki St. Antonius Kotabaru, rumusan tema dan tujuan, peserta kegiatan, waktu pelaksanaan, model pelaksanaan, matriks program kegiatan rekoleksi, dan contoh persiapan kegiatan rekoleksi sesi III. Bab V berisi kesimpulan dan saran.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 BAB II POKOK-POKOK EKARISTI DAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK Pada bab sebelumnya telah diuraikan beberapa pokok penting yang menjadi bagian awal dalam penulisan skripsi ini. Penulis tertarik dengan Ekaristi Kaum Muda (EKM) yang dilaksanakan di Paroki Kotabaru, apakah kegiatan tersebut sudah sungguh-sungguh membantu para Orang Muda Katolik (OMK) dalam mengembangkan hidup menggerejanya sebagai kaum muda, baik di lingkup Gereja maupun masyarakat. Oleh karena itu sangat menarik dan baik apabila pada bab ini semakin didalami lagi pokok-pokok Ekaristi dari EKM dan dan hidup menggereja Orang Muda Katolik. Dalam bab ini akan dipaparkan dua pokok penting yang dibahas secara bersama. Pertama yaitu pokok-pokok Ekaristi dan yang kedua adalah hidup menggereja Orang Muda Katolik. Dua bagian ini akan dijadikan landasan utama dalam menanggapi pembahasan/permasalahan sebelumnya. Dalam bab ini akan dibahas secara mendalam bagaimana Ekaristi itu dipahami, dihayati, dilaksanakan dan pengaruhnya terhadap orang-orang yang terlibat dalam Ekaristi tersebut. Begitu pula dengan bagian dalam hidup menggereja. Setiap bagian memiliki kadar atau isi yang dijadikan sumber atau pegangan dalam setiap pembahasan agar apa yang sungguh dibahas dapat dipertanggungjawabkan secara benar dan ilmiah.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Dalam bagian pokok-pokok Ekaristi akan dibahas mengenai: hakikat Ekaristi, Ekaristi sebagai Sakramen, Perjamuan Ekaristi, Kehadiran Kristus dalam Ekaristi, aspek Teologis, Yuridis, Pastoral Ekaristi, unsur-unsur Perayaan Ekaristi dan Ekaristi dalam Liturgi. Sedangkan pada bagian Hidup Menggereja OMK akan dibahas mengenai: hakikat kaum muda, dinamika kaum muda, permasalahan kaum muda, Orang Muda Katolik, batasan usia OMK, sejarah OMK di Indonesia, realitas OMK saat ini, dasar-dasar hidup menggereja, bidang-bidang hidup menggereja, dan pastoral OMK dalam hidup menggereja. A. Pokok-Pokok Ekaristi 1. Hakikat Ekaristi Istilah “Ekaristi” berasal dari bahasa Yunani eucharistia yang berarti puji syukur. Kata eucharistia adalah sebuah kata benda yang berasal dari kata kerja bahasa Yunani eucharistein yang berarti memuji dan mengucap syukur. Kata Ekaristi kita memiliki asal usulnya pada doa berkat yang berlangsung dalam perjamuan makan Yahudi (Martasudjita, 2005:28). Kata Ekaristi itu sudah digunakan untuk menunjuk seluruh Perayaan Ekaristi pada tiga abad pertama sejarah Gereja, seperti terdapat dalam tulisan Didakhe tulisan Santo Ignatius dari Antiokhia, Yustinus martir, dan Origenes. Namun, sejak abad IV baik di Gereja Timur maupun di Gereja Barat, istilah Ekaristi mulai menghilang. Khususnya di Barat, istilah Ekaristi semakin disempitkan untuk menyebutkan santapan ekaristis atau komuni. Pada abad XX, berkat pembaharuan liturgi dan

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 teologi yang menggali kekayaan liturgi dan teologi yang menggali kekayaan liturgi dan teologi Gereja abad-abad pertama, istilah Ekaristi kembali dipopulerkan dan kini praktis menjadi istilah paling lazim untuk menunjuk keseluruhan Perayaan Ekaristi. Tonggak penyebutan Ekaristi untuk seluruh Perayaan Ekaristi adalah Konsili Vatikan II, terutama melalui konstitusi liturgi Sacrosanctum Concilium, yang memberi judul bab II dengan “Misteri Ekaristi Suci” ( Martasujita, 2005: 28). Pada intinya, istilah Ekaristi menunjuk dengan bagus isi dari apa yang dirayakan dalam seluruh Perayaan Ekaristi. Kata Ekaristi mau mengungkapkan pujian syukur atas karya penyelamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus, sebagaimana berpuncak dalam peristiwa wafat dan kebangkitan-Nya. Dengan pujian syukur itu, Gereja mengenangkan misteri penebusan Kristus itu sekarang ini dan di sini ( Martasujita, 2005: 29). Menurut Musakabe (2011: 7) Ekaristi adalah kata yang dipakai untuk menyebut seluruh upacara misa, khususnya bagian kedua (sesudah perayaan Sabda), yang mencapai puncaknya pada konsekrasi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus dan berakhir dengan komuni. Ekaristi juga menunjukkan kehadiran nyata Kristus dalam rupa roti dan anggur. Ekaristi, yang diadakan Kristus pada perjamuan terakhir adalah yang paling agung di antara sakaramen-sakramen yang lain dan merupakan pusat hidup Gereja. Sebagai perjamuan, Ekaristi menjadikan kita sebagai peserta dalam perjamuan Tuhan sendiri dan mengungkapkan kesatuan kita yang terdalam dalam gereja. Sebagai kurban dan perjamuan, Ekaristi berdaya guna

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 melambangkan kurban persembahan diri bagi orang lain, yang merupakan panggilan semua orang Kristiani. Ekaristi adalah sakramen utama dalam Gereja. Dalam Ekaristi kita merayakan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus dalam rupa roti dan anggur. Gereja lahir, berpangkal, berpusat dan bersumber dari misteri Paskah Kristus yang kita rayakan dalam Ekaristi. Ekaristi juga adalah urat nadi hidup Gereja. Paguyuban orang beriman tumbuh dan berkembang dalam Ekaristi (Prasetyantha, 2008 : 11). Dikatakan juga bahwa Ekaristi itu sakramen utama. Ini sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II, yang menyebut Ekaristi “sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani” (LG 11; lih. SC 10); bahkan dikatakan bahwa “sakramen-sakramen lainnya berhubungan erat dengan Ekaristi dan terarah kepadanya” (PO 5; lih. UR 22). Perayaan Ekaristi adalah perayaan iman. Artinya, dalam perayaan Ekaristi diungkapkan iman seluruh Gereja akan penyelematan Allah yang terjadi dalam Yesus Kristus. Perayaan Ekaristi biasanya dibagi dalam dua bagian besar, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Dalam liturgi Ekaristi, nampaklah dua unsur pokok: perayaan syukur dan perjamuan. Ungkapan syukur itu dilaksanakan dalam bentuk perjamuan. Ekaristi sendiri berarti “syukur,” syukur karena kebaikan Allah yang telah kita alami. Maka, “syukur” juga berarti “ mengenangkan” peristiwa yang disyukuri. Inilah yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 20).

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 a. Ekaristi Sebagai Sakramen Pemahaman kita tentang sakramen bermula dari pengenalan tentang ketujuh sakramen Gereja. Dari sanalah kita menyebut sakramen sebagai: “tanda dan sarana yang mendatangkan rahmat”. Bukan hanya sekedar tanda saja, melainkan tanda yang mendatangkan rahmat. Misalnya Ekaristi sebagai sakramen, artinya melalui Ekaristi umat bersama-sama mengenangkan karya keselamatan Allah oleh Yesus Kristus sebagai tebusan akan dosa-dosa manusia, kemudian menerima tubuh dan darah-Nya dalam rupa roti dan anggur sebagai lambang persatuan antara Kristus dan umat-Nya (Purwatma dan Madya Utama, 2017:1) Kata sakramen sendiri berasal dari kata latin sacramentum, yang mempunyai dua macam arti yaitu, (1) sumpah perwira, dan (2) hal-hal yang berhubungan dengan yang kudus. Artinya kedua inilah yang kita pakai dalam pemahaman kita. Sakramen memang berkaitan dengan hal-hal kudus, namun demikian harus diingat pula bahwa dalam masyarakat Romawi, sumpah itu merupakan peristiwa keagamaan. Maka sumpah perwira itu juga mempunyai makna religius. Dengan sumpah itu orang mengingatkan diri dalam suatu perjanjian suci. Sakramen memang berkaitan dengan hal-hal yang kudus (Purwatma dan Madya Utama, 2017:1) Dalam sejarah agama Kristiani pada abad ke-III dalam penterjemahan Kitab Suci bahasa Yunani ke bahasa Latin, kata sacramentum dipakai untuk menterjemahkan kata Yunani mysterion (misteri). Dengan demikian, arti kata sakramen pertama-tama menggantikan arti kata misteri. Oleh karena itu, untuk memahami arti sakramen kita harus memahami arti misteri.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Dalam Kitab Suci, kata misteri dipakai untuk menjelaskan rencana Allah yang tersembunyi bagi manusia, tetapi telah diwartakan bagi orang-orang tertentu (Dan 1012). Misteri pertama-tama berkaitan dengan kehendak Allah, tetapi sekaligus sudah dibuka bagi orang-orang tertentu. Misteri berarti rencana Allah yang tersembunyi yang dinyatakan kepada manusia. Dalam terjemahan Latin, kata mysterion diterjemahkan dengan sacramentum. Dengan demikian sebetulnya, arti sakramen tidak berbeda dengan misteri, rencana Allah yang dinyatakan kepada manusia. Dengan kata lain, rencana Allah ditampilkan kepada manusia, melalui sabda maupun karya Allah sendiri, melalui tanda-tanda yang ditangkap (dipahami) oleh manusia. Dalam perkembangan selanjutnya, kata sakramen lebih menunjuk pada rencana Allah yang tersembunyi. Dengan demikian kata sakramen menunjuk tanda-tanda yang mengungkapkan karya Allah bagi manusia, tanda-tanda yang menghadirkan karya Allah bagi manusia (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 2). Sakramen merupakan suatu tanda atau simbol yang mendatangkan rahmat dan mewujudkan keselamatan Allah. Secara umum, dapat dibedakan dua macam simbol yang ada dalam agama. Pertama simbol ekspresif, yaitu simbol yang mengungkapkan pengalaman subjektif batiniah seseorang tentang yang transenden. Yang kedua adalah simbol raprensentatif yaitu simbol yang menunjuk dan menghadirkan realitas yang melampui yang biasa dan hanya tercapai melalui dan dalam simbol itu (Purwatma dan Madya Utama, 2017:3)

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Sebagai tanda atau simbol, sakramen merupakan tanda rapresentatif dan sekaligus tanda ekspresif, karena melalui sakramen itulah Gereja merasakan karya Allah, sekaligus mengungkapkan pengalaman imannya akan karya keselamatan Allah (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 3). b. Perjamuan Ekaristi Dalam perjamuan terakhir Yesus secara simbolis mengartikan kematian-Nya sebagai pemberian keselamatan bagi semua orang. Maka dapat dikatakan bahwa perjamuan terakhir merupakan kesimpulan dari pengartian seluruh sabda dan karya Yesus sendiri, yaitu tawaran keselamatan yang datang melalui Yesus sendiri, terutama melalui penyerahan-Nya di kayu salib. Dalam perjamuan itu, Gereja bersyukur atas karya penyelamatan Allah yang terjadi melalui wafat dan kebangkitan Kristus. Dengan mengambil bentuk doa syukur Yahudi, yang dalam Ekaristi menjadi doa Syukur Agung, Gereja mengenangkan pengalaman keselamatan yang terjadi dalam Yesus Kristus sendiri. Dengan demikian, yang menjadi inti pengenangan dalam perjamuan Ekaristi bukanlah pertama-tama perjamuan terakhir sendiri, tetapi pemberian diri Yesus yang terjadi dalam penyerahan diri-Nya di kayu salib. Dengan demikian inti kenangan itu ialah peristiwa keselamatan yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan Yesus. Inilah yang dikenangkan dalam perjamuan Ekaristi (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 23). Unsur pengenangan itu secara khsusus dalam Doa Syukur Agung dipusatkan pada kisah institusi, yang sering disebut sebagai bagian “konsekrasi” karena kata-kata

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 yang diucapkan imam atas roti dan atas anggur merupakan forma dari Sakramen Ekaristi. Bagian ini dipandang sebagai puncak seluruh Ekaristi, karena saat inilah terjadi perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Yesus (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 23). Pengenangan akan karya keselamatan juga menimbulkan ungkapan syukur dari pihak Gereja kepada Allah. Sebagaimana dalam tradisi Yahudi, ungkapan syukur itu juga dinyatakan dalam kurban pujian (Ibr 13:15). Namun dalam ini yang dimaksudkan bukanlah kurban sembelihan, tetapi penyerahan diri personal seorang kepada Allah sendiri, sebagai persembahan tak bercacat di hadapan-Nya (Rom 12: 1). Dalam hal ini, penyerahan diri Yesus kepada Bapa di kayu salib dapat disebut kurban, dan dengan demikian Ekaristi pun juga disebut kurba. Dalam perayaan Ekaristi keikutsertaan dalam persembahan roti dan anggur serta persembahan seluruh hidup kita. Dalam hal itu, ambil bagian dalam Ekaristi berarti ambil bagian dalam persembahan diri Yesus sendiri (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 24). c. Kehadiran Kristus Dalam Ekaristi kehadiran Kristus terjadi secara sakramental, artinya dalam tanda yang konkret. Dalam hal ini Gereja mengajarkan mengenai kehadiran Kristus secara real dalam rupa roti dan anggur. Artinya, roti dan anggur dalam Ekaristi bukan hanya melambangkan Kristus, tetapi sungguh menjadi tubuh dan darah Kristus. Roti dan anggur sungguh diubah menjadi tubuh dan darah Kristus (GS 38). Ajaran yang ditetapkan oleh konsili mengenai ajaran realis praesentia, artinya, kehadiran Kristus dalam Ekaristi memang kehadiran yang sungguh real, dan bukan hanya tanda, bukan

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 hanya simbol saja. Itulah sebabnya dikatakan bahwa dalam Sakramen Ekaristi “secara sungguh, real dan substansial ada tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus” (Purwatma dan Madya Utama, 2017: 25). d. Aspek Teologis, Yuridis dan Pastoral 1) Aspek Teologis Ekaristi: kan. 897 Misteri Ekaristi, khususnya perayaan Ekaristi, merupakan puncak dan pusat seluruh kehidupan kristiani, baik bagi Gereja universal maupun bagi komunitas lokal umat beriman. Itu berarti bahwa baik sakramen-sakramen lain, semua pelayanan gerejani maupun karya kerasulan Gereja, bertalian erat dengan Ekaristi dan semuanya terarah ke sana. Di dalam Ekaristi inilah mengalir kesejahteraan rohani Gereja, dalam arti bahwa melalui sakramen ini Kristus sendiri memberikan kehidupan kepada manusia dan melalui Ekaristi ini pula manusia disegarkan dan dikuduskan (PO 5). Karena itu perayaan Ekaristi merupakan sekaligus tindakan Kristus dan tindakan Gereja. Sebagai tindakan Kristus, Ekaristi menampilkan diri sebagai kurban, kenangan perjamuan. Dalam dan melalui perayaan Ekaristi ini, sekaligus dikenangkan dan diaktualisasikan wafat Kristus di salib dan kebangkitan dari alam maut, demi keselamatan manusia (Prasetyantha, 2008: 82). 2) Aspek Yuridis Ekaristi Ekaristi merupakan salah satu unsur struktural yang perlu dan tak terelakkan bagi komunitas umat beriman. Kristus sendiri telah mengadakan kurban ekaristis dari tubuh dan darah-Nya sendiri dan mempercayakannya kepada Gereja, sebagai sarana untuk mengaktualisasikan kurban salib-Nya. Gereja tidak mungkin dipisahkan dari

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Ekaristi, karena antara communio gerejani dan communio ekaristis berkaitan sangat erat sekali: melalui Ekaristi ini, Gereja mengungkapkan secara penuh pengakuan imannya; melalui Ekaristi pula, kesatuan Gereja dibangun dan ditampakan. Karena itu terlibat dalam perayaan Ekaristi berarti terlibat dalam kehidupan dan communio Gereja seluruhnya. Perayaan bersama ini, selain merupakan aktivitas sakramental, juga merupakan suatu tindakan yuridis, karena selain mengungkapkan kesatuan sakramental dengan Kristus, juga kesatuan umat beriman. Dalam Ekaristi ini normanorma kanonik mendapatkan titik puncaknya: hukum kanonik harus muncul dari dalam kerangka karya penyelamatan (Prasetyantha, 2008: 82). 3) Aspek Pastoral: kan. 898 Kanon ini secara khusus menunjukan kewajiban umum umat beriman dan para gembala umat sehubungan dengan Ekaristi Maha Kudus (Kan. 843 §2). Semuanya wajib menunjukan rasa hormatnya yang tinggi terhadap Ekaristi Mahakudus dan terhadap ibadat yang kudus ini. Rasa hormat itu ditunjukan dengan berpartisipasi secara aktif dalam perayaan-perayaan Ekaristi, secara kontinu menyambut sakramen itu dengan penuh rasa hormat dan bersembah sujud menghormatinya. Kewajiban ini muncul sebagai konsekuensi logis dari Ekaristi sebagai puncak dan pusat seluruh kehidupan umat beriman. Karena itu perlulah umat beriman ini mendapatkan bimbingan yang memadai agar memahami sungguh-sungguh arti dan makna Ekaristi dalam kehidupan mereka, sekaligus agar mereka berpartisipasi aktif dalam perayaan-perayaannya (Prasetyantha, 2008: 83).

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 2. Unsur-Unsur Perayaan Ekaristi a. Makna Ekaristi sebagai perayaan Sudah dari istilahnya kelihatan bahwa Perayaan Ekaristi merupakan sebuah perayaan. Kata “perayaan” menerjemahkan kata Latin celebration yang kata kerjanya: celebrare. Kata celebrare ini mempuyai banyak kemungkinan arti, seperti : merayakan, mengunjungi atau menghadiri dalam jumlah banyak, meramaikan, memenuhi, kerap kali melakukan, memuji atau memuja. Maka, makna dasar celebratio atau perayaan selalu berunsur plural, banyak. Dalam pengertian teologisliturgis, kata perayaan mengandung tiga arti pokok : 1) Segi kebersamaan Ekaristi sebagai sebuah perayaan pertama-tama adalah perayaan seluruh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni Kepala dan para anggota-Nya (SC 7). Subjek menunjuk siapa yang yang merayakan Ekaristi, yang merayakan Ekaristi adalah Kristus dan bersama seluruh Gereja. Konsili Vatikan II menegaskan makna eklesial Ekaristi dan semua kegiatan liturgis lainnya.; “Upacara-upacara liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai sakramen kesatuan” (Martasudjita, 2005: 106 ). 2) Segi Partisipatif Sebuah perayaan selalu menunjuk makna keterlibatan atau partisipasi dari seluruh hadirin. Demikian pula Ekaristi sebagai liturgi resmi menuntut “partisipasi sadar dan aktif” dari semua hadirin. Para Bapa Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa menurut hakikatnya, liturgi, terutama Ekaristi, menuntut partisipasi atau keterlibatan

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 yang sadar dan aktif dari seluruh umat beriman. Para Bapa Konsili Vatikan II menegaskan mendesak umat beriman agar mereka merayakan Ekaristi bukan sebagai penonton yang bisu, melainkan bisa memahami misteri yang dirayakan dengan baik dan ikut serta secara penuh, khidmat, dan aktif (Martasudjita, 2005: 107). 3) Segi kontekstual Sebuah perayaan selalu diselenggarakan menurut situasi dan kondisi setempat. Di sini unsur kebutuhan setempat, situasi, dan tantangan zaman, unsur-unsur budaya local ikut mempengaruhi sebuah perayaan. Demikian pula dengan perayaan Ekaristi kita. Ekaristi yang merupakan perayaan seluruh Gereja itu bagaimanapun juga dirayakan menurut gaya dan model penghayatan setempat. Perayaan Ekaristi mesti menjawab kebutuhan dan kerinduan aktual dan kontekstual dari umat beriman setempat. Itulah sebabnya, doa-doa terutama doa umat, misalnya, hendaknya disusun menurut situasi dan kondisi aktual Gereja setempat pada waktu itu (Martasudjita, 2005 : 107). b. Partisipasi Umat Beriman Bagian ini ingin lebih mendalami segi partisipatif dari Ekaristi sebagai perayaan. Perhatian utamanya adalah bagian-bagian manakah yang dapat menjadi saat partisipasi aktif umat dalam perayaan Ekaristi (Martasudjita, 2005 : 108). 1) Umat beriman diharapkan berpartisipasi secara sadar dan aktif dalam seluruh perayaan Ekaristi, sejak persiapan dan saat pelaksaannya (SC 14). Artinya, melalui kehadiran dan keikutsertaannya dalam seluruh bagian Perayaan Ekaristi, umat beriman berpartisipasi aktif.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 2) Partisipasi sadar dan aktif umat beriman dalam liturgi tersebut dilaksanakan menurut “tingkatan, tugas, serta keikutseraan mereka” (SC 26). Artinya dalam menjalankan partisipasi tersebut, masing-masing umat beriman “menjalankan dan melakukan seutuhnya, apa yang menjadi peranannya menurut hakikat perayaan serta kaidah-kaidah liturgi” (SC 28). 3) Selain para petugas tertahbis, di antara umat beriman juga dipilih para petugaspetugas liturgi yang ambil bagian dalam pelayanan liturgi bagi seluruh umat beriman. Mereka itu antara lain lektor, akolit, pelayanan komuni tak lazim, pemazmur, paduan suara atau kor, petugas musik, koster, komentator, kolektan, penyambut jemaat, dan sebagainya (Pedoman Umum Misale Romawi 98-107). Bagian-bagian Perayaan Ekaristi yang dapat menjadi kesempatan partisipasi aktif umat ialah aklamasi dan jawaban-jawaban umat terhadap salam dan doa-doa iman (PUMR 35), pernyataan tobat, syahadat, doa umat, doa Bapa Kami (PUMR 36). Umat sebaiknya juga ikut terlibat dalam pengucapan atau menyanyikan: nyanyian pembuka, kemuliaan, refren, Mazmur Tanggapan, bait pengantar Injil, nyanyian persiapan persembahan, kudus, aklamasi anamnesis, nyanyian pemecahan hosti (Agnus Dei), madah pujian sesudah komuni dan nyanyian penutup (PUMR 37). c. Tata gerak dan sikap tubuh Buku PUMR 2000 menyampaikan pedoman tata gerak dan sikap tubuh bagi para petugas liturgi dan seluruh umat beriman. Seluruh tata gerak dan sikap tubuh harus dilaksanakan menurut 3 patokan ini:

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 1) Tata gerak dan sikap tubuh memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun dari Perayaan Ekaristi. 2) Tata gerak dan sikap tubuh itu mengungkapkan dengan baik pemahaman yang tepat dan penuh atas aneka bagian perayaannya. 3) Tata gerak dan sikap tubuh itu membuat jemaat bisa sungguh berpartisipasi secara aktif. 3. Ekaristi Sebagai Liturgi a. Arti dan Sejarah Istilah Liturgi Kata “liturgi” berasal dari bahasa Yunani leitourgia. Kata leitourgia terbentuk dari kata ergon, yang berarti ‘karya’dan leiotos, yang merupakan kata sifat untuk kata benda laos (= bangsa). Secara harfiah, leitourgia berarti ‘kerja’ atau pelayanan yang dibaktikan bagi kepentingan bangsa. Istilah leitourgia, memiliki arti profan-politis, dan bukan hanya arti kultis sebagaimana biasa kita pahami sekarang ini. Sejak abad keempat sebelum masehi, pemakaian kata leitourgia diperluas, yakni untuk menyebutkan berbagai macam karya pelayanan (Martasudjita,1999:18). Istilah leitourgia mendapat arti kultis sejak abad kedua sebelum masehi. Dalam arti kultis, liturgi berarti pelayanan ibadat. Pengertian liturgi secara kultis ini terutama digunakan oleh kelompok Septuaginta (LXX), ketika mereka menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani pada abad III-II sebelum masehi. Dalam terjemahan Septuaginta itu, kata leitourgia digunakan untuk menunjuk pelayanan ibadat para imam atau kaum Lewi.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 Kata “liturgi” dalam Perjanjian Baru dihubungkan dengan pelayanan kepada Allah dan sesama. Pelayanan kepada Allah dan sesama itu tidak dibatasi hanya pada bidang ibadat saja, tetapi juga pada aneka bidang kehidupan lain. Perjanjian Baru hanya mengenal satu imamat saja, yaitu imamat Yesus Kristus. Imamat Yesus Kristus merupakan pelayanan yang jauh lebih agung dan berdaya guna dibandingkan dengan pelayanan imam Perjanjian Lama. Oleh karena itu, imamat dan tata liturgi Perjanjian Lama sudah tidak berlaku lagi, sebab Kristus adalah satu-satunya pelayanan, tempat kudus dan kemah sejati (Martasudjita,1999:20). Dalam sejarah Gereja selanjutnya pasca-para rasul, kata liturgi sudah digunakan untuk menunjuk kegiatan ibadat atau doa Kristiani. Sejak abad pertengahan, kata “liturgi” hanya terbatas digunakan untuk menyebut Perayaan Ekaristi saja. Pembatasan ini terjadi di Gereja Timur dan Gereja Barat. Istilah “liturgi” lama menghilangkan dalam kamus Gereja Barat. Hal ini kiranya berkaitan dengan penerjemahan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke bahasa Latin (Vulgata) yang dilakukan oleh Hironimus (th. 347-420). Dalam Vulgata ini, kata “liturgi” umumnya diterjemahkan dengan kata minister, atau juga officium, obsequium, caeramonia, munus, opus, servitus (Martasudjita,1999:23). Istilah “ liturgi” kembali dikenal dalam Gereja Barat mulai abad ke-16, yakni melalui pengaruh kaum humanis (seperti Beatus Rhenanus). Mula-mula kata “liturgi” digunakan oleh Gereja-Gereja Reformasi pada aba XVII dan XVIII dengan arti ‘ibadat Gereja’. Kemudian Gereja Katolik Roma mulai juga memakai kata sifat liturgicus untuk menunjuk hal-hal yang berkaitan dengan ibadat. Kata benda liturgia

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 baru digunakan dalam dokumen resmi Gereja Katolik Roma pada abad XVIII. Pada tahun 1947 Pius XII menggunakan kata “liturgi” dalam ensikliknya Mediator Dei. Akhirnya, Konsili Vatikan II membakukan istilah “liturgi” untuk menyebut ‘peribadatan Gereja’ dalam Sacrosanctum Concilium (Martasudjita,1999:23). b. Pengertian Liturgi 1) Pandangan Populer Di kalangan umat pandangan populer tentang “liturgi” biasanya dipahami sebagai upacara atau ibadat publik Gereja. Kalau berbicara mengenai liturgi, orang akan langsung berfikir tentang urutan upacara, para petugas, peralatan yang harus ada, dan sebagainya. Sebagai contoh misalnya umat yang belum tahu apa artinya membuat tanda salib kecil di dahi, mulut, dan dada sewaktu Injil akan dibacakan. Atau umat belum tahu apa artinya berlutut, membungkuk, dalam rangka upacara liturgis. Petugas koor salah memilih lagu karena lagu-lagu tidak sesuai dengan tema. Dan masih banyak contoh lain. Kalau kita perhatikan dengan baik, contoh-contoh itu hanya menunjuk berbagai makna upacara dan aturan yang dilaksanakan jemaat yang sedang beribadat bersama. Liturgi dilihat hanya sekadar suatu upacara dan aturan yang harus dilaksanakan di dalam peribadatan Gereja. Liturgi melulu dipandang sebagai kumpulan aturan ibadat. Ilmu liturgi hanya menjadi ilmu mengenai bagaimana orang melaksanakan ibadat secara benar, sehingga ibadat itu “sah” dan “manjur”. Pandangan makna liturgi seperti ini rupanya kini masih populer dan masih banyak dianut, sadar atau tidak sadar, oleh hampir semua lapisan umat beriman (Martasudjita, 1999: 24).

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 2) Liturgi menurut Konsili Vatikan II Makna dan hakikat liturgi dapat kita temukan di dalam dokumen resmi Konsili Vatikan II yaitu Sacrosantum Concilium (SC). Dokumen ini merupakan hasil perumusan dan perjuangan panjang gerakan pembaharuan liturgi, yang memuat hasil refleksi dan studi liturgis selama berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Dokumen Vatikan II Sacrosanctum Concilium boleh disebut sebagai puncak dan mahkota perjuangan panjang usaha pembaruan liturgi. Pernyataan paling penting Vatikan II tentang liturgi terdapat dalam SC 7: Maka memang wajar juga Liturgi dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; di situ pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masingmasing; di situ pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni Kepala beserta para anggota-Nya. SC 7 memandang liturgi sebagai suatu tanda kehadiran Yesus Kristus yang mempersembahan diri dalam kurban misa, baik dalam pribadi pelayan, “karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan Diri di kayu salib, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi. SC 7 juga memandang liturgi sebagai sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus oleh Tubuh Mistik Kristus, yaitu Kepala dan para anggota-Nya. Dalam SC 10 apa yang dirayakan di dalam liturgi dirumuskan begini: “Jadi dari liturgi, terutama dari Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus”. Karya keselamatan Allah yang dilaksanakan oleh

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Kristus itu kini senantiasa dikenang dan dihadirkan oleh Gereja di dalam liturgi. “Sebab melalui liturgilah, terutama dalam korban ilahi Ekaristi, terlaksana karya penebusan kita” (SC 2). Masih SC 2 : “Liturgi merupakan upacara yang sangat membantu kaum beriman untuk mengungkapkan misteri Kristus serta hakikat asli Gereja yang sejati”. Jadi isi perayaan liturgi adalah misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus yang berupa karya pengudusan umat manusia dan pemuliaan Allah (Martasudjita,1999:26). B. Hidup Menggereja Orang Muda Katolik Bila mendengarkan kata kaum muda, sepintas asumsi negatif yang biasa keluar tentang siapa itu kaum muda. Kaum muda sering diidentikan dengan berbagai kenakalannya seperti tawuran, narkoba, minuman keras, ngebut-ngebutan, dan lain sebagainya. Benar bahwa itu fakta yang terjadi. Namun orang-orang sering melupakan bahwa kaum muda adalah generasi penerus dan harapan bagi bangsa ini. Merekalah yang akan menentukan nasib keluarga, masyarakat dan bangsa ini ke depannya. Mereka mempunyai peranan dan tanggungjawab yang penting dalam mengembangkan kehidupan ini untuk semakin lebih baik dan maju. Kaum muda dengan berbagai dinamika, kebutuhan, dan permasalahannya, menjadi salah satu pokok penting yang perlu diperjuangkan bersama-sama. Tidak sekedar mengetahui tetapi juga memberikan solusi dan aksi bagi kaum muda di manapun mereka berada. Agar terciptalah kaum muda yang dapat berguna, aktif, inovatif, visioner dan mencintai kehidupannya sebagai pribadi kaum muda.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 1. Pengertian Kaum Muda Kaum muda adalah kata kolektif untuk orang yang berada pada rentang umur 11-25 tahun. Sedangkan Komisi Kepemudaan mengambil batas 13-30 tahun. Rentang umur 13-30 tahun ini merujuk pada buku “Pendidikan Politik Bagi Generasi Muda dan Keputusan Badan Koordinasi Penyelenggaraan Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda No.1/BK tahun 1982 tentang tentang petunjuk Pelaksanaan Pendidikan Politik bagi Generasi Muda” yang dikeluarkan oleh Kantor Menpora tahun 1985 (Komisi Kepemudaan Konferensi Wali Gereja Indonesia, 1993: 36). Rentang umur tersebut menunjukan bahwa kaum muda terdiri atas usia remaja sampai dengan dewasa awal. Dalam rapat Pengurus Pleno Komisi Kepemudaan KWI bulan Agustus 1991, rentang umur tersebut dikategorisasi lebih rinci demi efektivitas pembinaan. Kategorisasi tersebut sebagai berikut: a) Kelompok usia remaja (13-15tahun) b) Kelompok usia taruna (16-19tahun) c) Kelompok usia madya (20-24 tahun) d) Kelompok usia karya (25-30 tahun) Menurut Perserikat Bangsa-Bangsa (PBB), kaum muda mencakup anak-anak usia dari umur 15-24 tahun. Sedangkan menurut undang-undang perkawinan RI, tahun 1974, kaum muda meliputi para muda-mudi yang sudah melewati umur kanakkanak dan belum mencapai umur yang oleh undang-undang diperbolehkan menikah. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa kaum muda adalah mereka yang berusia 13 sampai dengan 30 tahun dan belum menikah sambil tetap memperhatikan situasi dan

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 kebiasaan tempat masing-masing. Organisasi kepemudaan mengkategorikan kaum muda, yaitu orang-orang yang berada di antara usia 15 tahun sampai 40 tahun. Kemudian, Organisasi Muda Katolik (OMK) menyebut kaum muda sebagai orang yang berusia SMU ke atas. Pembagian ini didasarkan pada hasil penelitian psikologis yang mengatakan bahwa kaum muda berada dalam masa remaja (adolescene) sekitar 13 sampai 18 tahun dalam masa muda (youth) sesudah 18 tahun ke atas sampai usia 40 tahun (http://sapereaudenias.blogspot.com/2008/08/kaum-muda-harapan-masadepan-gereja.html/ Diakses pada tanggal 14 Maret 2018) Berdasarkan beberapa pengertian di atas, kita dapat menegaskan bahwa yang disebut kaum muda adalah mereka yang berada dalam tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan baik secara mental, emosional, sosial maupun religius. Pada perkembangan seperti ini kaum muda berada dalam disposisi yang tidak menentu, terutama dalam menemukan identitas iman mereka yang sesungguhnya. Terlebih lagi dengan hadirnya “globalisasi” kaum muda seringkali merasa diombang-ambingkan oleh situasi perkembangan globalisasi itu sendiri yang semakin hari semakin berubah dan menantang mereka (http://sapereaudenias.blogspot.com/2008/08/kaum-mudaharapan-masa-depan-gereja.html/ Diakses pada tanggal 14 Maret 2018). Namun, terlepas dari pengertian di atas, Konsili Vatikan II (1962-1965) melalui Dokumen Apostolicam Actuositatem (AA 12) sebagai Konsili bersejarah dalam pembahruan Gereja mengatakan bahwa kaum muda adalah harapan dan masa depan Gereja dan masyarakat. Selain itu, kaum muda merupakan kekuatan amat penting

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 dalam masyarakat zaman sekarang. Dari sini jelas sekali bahwa Konsili Vatikan II tidak hanya menaruh perhatian pada bidang-bidang pembaharuan, seperti pembaharuan liturgi, kerasulan awam dan lain sebagainya, tetapi juga, Konsili ini mencurahkan perhatiannya kepada kaum muda sebagai harapan dan masa depan Gereja dan masyarakat. Konsili Vatikan II melihat bahwa kaum muda sebagai harapan dan masa depan Gereja memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan masa depan Gereja. Mereka adalah bagian integral yang sangat penting dalam perkembangan kehidupan menggereja, baik di keuskupan, paroki maupun stasi-stasi (http://sapereaudenias.blogspot.com/2008/08/kaum-muda- harapan-masa-depan-gereja.html/ Diakses pada tanggal 14 Maret 2018) 2. Dinamika Kaum Muda Dalam menjalani hidup kaum muda tentu merasakan dan mengalami dampak positif ataupun negatif dari kehidupan yang ditawarkan saat ini. Macam-macam tawaran yang menggiurkan dan instan sangat mudah didapatkan. Zaman sekarang ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi yang begitu pesat. Hal ini akan berdampak baik ataupun buruk bagi kaum muda dalam menjalani hidupnya seharihari. Bagian berikut akan menjelaskan tentang pengertian secara singkat tentang kaum muda zaman sekarang, karakteristik dan kaum muda zaman sekarang. a. Kaum muda zaman sekarang Kaum muda saat ini berada pada masa/era generasi Y yang lahir sekitar tahun 1981-1994). Generasi ini dikenal dengan sebutan generasi milenial atau milennium.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook, line, twiter, whatsapp dan instagram. Mereka juga suka main game online (https://www.4muda.com/mengenalgenerasi-x-y-dan-z-sebagai-generasi-dominan-masa-kini/ diakses 13 Juli 2018). b. Karakteristik kaum muda zaman sekarang Generasi Y memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) Generasi Y melihat karakteristik yang berbeda-beda, tergantung di mana ia dibesarkan, strata ekonomi dan sosial keluarganya. 2) Namun secara keseluruhan, generasi Y itu sangat terbuka pola komunikasinya dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. 3) Mereka juga pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi. 4) Lebih terbuka dengan pandangan politik dan ekonominya sehingga mereka terlihat sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya. 5) Generasi Y itu terlihat lebih fokus atau perhatian terhadap ‘wealth’ 6) Ciri-ciri Generasi Y pada setiap tahap kehidupannya akan sangat berbeda. Pada saat muda, Generasi Y ini sangat tergantung pada kerja sama kelompok. Pada saat mereka mulai dewasa mereka akan berubah menjadi orang-orang yang akan lebih bersemangat apabila bekerja secara berkelompok terutama di saat-saat krisis. 7) Pada saat paruh baya, mereka akan semakin energetik, berani mengambil keputusan dan kebanyakan mereka mampu menjadi pemimpin yang kuat. Pada

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 saat mereka tua, mereka akan menjadi sekelompok orang tua yang mampu memberikan kotribusi dan kritikan kepada masyarakat. 3. Permasalahan Kaum Muda a. Identitas Diri Masalah laten yang selalu menyertai orang muda adalah identitas diri. Tanpa ini orang muda tidak pernah akan tumbuh. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah pendampingan orang yang sudah melewati dan mengatasi permasalahan ini. Tahun 1992 Keuskupan Agung Jakarta membuat suatu penelitian dengan hasil akhir sebagai berikut. Ada tiga masalah utama yang mencekam orang muda: Orang muda yang ber umur 13-17 tahun, masalah terbesarnya adalah soal identitas diri. Sedang yang berumur 17-25 tahun umumnya menghadapi permasalahan menentukan karier. Plus umumnya bergulat dengan masalah perjodohan (http://www.katolisitas.org/bagaimana-mengelola-pastoral-kaum-muda-paroki-di-eradigital/ diakses pada tanggal 14 April 2018). b. Aktualisasi Diri Kecuali kebutuhan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, orang memerlukan kemudahan dan pendampingan dalam mengaktualisasikan dirinya. Secara sederhana orang muda butuh waktu dan tempat serta teman untuk dapat mengaktualisasikan diri secara maksimal. Orang dewasa sebetulnya lebih dibutuhkan kehadiran dan keberadaannya lebih sebagai teman daripada sebagai penasihat (http://www.katolisitas.org/bagaimana-mengelola-pastoral-kaum-muda-paroki-di-eradigital/ diakses pada tanggal 14 April 2018).

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 c. Pendampingan Pendampingan diperlukan orang muda bukan pertama karena pendamping lebih ahli daripada yang didampingi melainkan karena wibawa dan otoritas yang dimilikinya. Dari pendamping sebetulnya tidak dituntut suatu ilmu atau keahlian. Kalau pengalaman pendamping dibutuhkan pun tidak secara langsung diperlukan, sebab itu semua dapat mereka temukan sendiri. Sedangkan otoritas atau wewenang hanya dapat dimiliki oleh pendamping. Seperti kita tumbuh dan berkembang bersama orang lain, maka bila pendamping ada, maka pertumbuhan orang dapat lebih pesat karena orang muda punya kebanggaan lebih. Orang muda mendapat nilai tentang dirinya justru dengan aktualisasi dirinya (http://www.katolisitas.org/bagaimanamengelola-pastoral-kaum-muda-paroki-di-era-digital/ diakses pada tanggal 14 April 2018). 4. Orang Muda Katolik Muda berarti masih mentah, belum matang, itulah predikat yang biasa dikenakan pada orang muda. Masa muda adalah masa pertumbuhan. Dalam proses pertumbuhan macam-macam hal bisa terjadi. Dalam masa ini pula orang muda dapat mengembangkan dirinya untuk semakin menjadi pribadi yang dapat berguna bagi dirinya, orang lain dan lingkungannya. Orang muda adalah pribadi yang dikasihi oleh Allah. Allah menganugerahkan segala kemampuan dan bakat untuk dikembangkan. Begitu pula Orang Muda Katolik (OMK). Orang Muda Katolik (OMK) merupakan generasi penerus Gereja. Karena ditangan merekalah masa depan Gereja nantinya. Mereka menjadi mata rantai

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 penghubung masa depan dan masa kini. Oleh karena itu sangatlah penting memahami siapa itu OMK, dan mengetahui apa kebutuhan yang mereka inginkan saat ini. a. Batasan Usia OMK Tidak mudah memetakan usia OMK dengan angka. Beberapa acuan sebagai pertimbangan adalah sebagai berikut: Usia anak-anak-anak ialah sejak pembuahan hingga remaja belia. Menurut buku “Karya Kepausan” yang diterbitkan oleh Karya Kepausan Indonesia tahun 2007 hlm 31, usia ‘remaja belia’ didasarkan pada data bilbis yang mengacu pada berita Injil, yang mengatakan bahwa hingga usia remaja, Yesus masih berada di bawah asuhan orangtua-Nya (Maria dan Yosef). Indikasinya ialah kisah Yesus hilang di Bait Allah pada usia 12 tahun (Luk 2:42) (Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 17). Karya Kepausan Indonesia menetapkan sampai usia kira-kira kelas 3 SMP merupakan remaja. Sementara itu, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan pada pasal 1 menyebutkan bahwa kaum muda ialah manusia yang berusia 16-30 tahun (Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 18) Buku “Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda” terbitan Komkep KWI tahun 1998, menyebutkan bahwa OMK ialah lajang berusia 13-35 tahun. Seorang yang dibabtis, lajang dan berusia 13-35 tahun pantas sebagai identitas subjek penggembalaan oleh Pastoral Kepemudaan. Rentang usia 13-35 tahun masuk akal dalam pastoral OMK karena alasan perkembangan psikologis serta situasi Indonesia

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 yang beragam, supaya tercapailah maksud pendampingan pastoral sejak anak-anak, remaja sampai dewasa secara berkesinambungan Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 18). b. Berbagai realitas OMK dewasa ini Berikut beberapa ringkasan dan kisah-kisah yang diungkapkan Para Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan-Keuskupan se-Indonesia ketika mereka berkumpul dalam rapat pleno Komisi Kepemudaan KWI di Jakarata, pada bulan Februari 2011 dan Februari 2012. 1) Realitas Sosiologis OMK Luasnya wilayah keuskupan di Indonesia mempengaruhi timbulnya berbagai macam masalah seperti ekonomi-sosial-budaya. Dan sebagian besar paroki berada diluar kota. Hal ini memungkinkan aneka ragam sosial juga tantangan yang berbeda. Di kota besar, kesibukan metropolitan-modern dan bisnis-industrial membuat keadaan kejiwaan masyarakat berorientasi pada keuntungan ekonomi. Kesibukan dalam pekerjaan dan kegiatan ini berdampak pada gesekan/konflik antar warga. Di sisi lain, perhatian dan kepedulian warga kota terhadap dimensi rohani dalam hidup menjadi terlupakan. Karakter warga kota itu turut membentuk karakter OMK di kota besar. Sebagaian besar OMK yang tinggal di kota ialah OMK yang berasal dari desa. Fenomena ini diwarisakan turun- temurun oleh generasi sebelumnya dan dilakukan dengan kesadaran akan kebutuhan praktis yaitu meningkatkan taraf ekonomi. Mereka

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 berpindah ke kota besar untuk menempuh studi lanjut setelah sekolah menengah atau bekerja. Sebagian besar OMK Indonesia di daerah, berlatar belakang keluarga petani, pekerja perkebunan, pekerja sektor mikro atau pengusaha tingkat tengah dan bawah, sebagian pegawai negeri sipil, karyawan swasta dan sebagian kecil memiliki latar belakang ekonomi yang tengah-atas. Kesempatan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan bagi OMK di daerah belum bisa mendekati tingkat yang dicapai oleh teman-temannya di perkotaan. Sebagian OMK di daerah bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil atau aparat negara sementara yang berstatus pengangguran tetap membutuhkan perhatian yang lebih agar segera mandiri (Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 33). 2) Realitas Pastoral OMK Sebagian besar paroki-paroki di keenam regio yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Makassar-Amboina-Manado, Nusa Tenggara, dan Papua memiliki banyak stasi/wilayah. Kondisi ini membuat waktu kunjungan pastoral imam sangat terbatas. Dari sisi kehidupan beriman OMK, masih banyak terpengaruh oleh aneka dominasi Protestan. Selain itu, katekese yang kurang membuat OMK tidak mengetahui banyak mengenai iman Katolik Di kota-kota besar, bermunculan aneka komunitas OMK berdasarkan minat dan pelayanan doa. Sebagian Komisi Kepemudaan Keuskupan kepemudaan Paroki belum tampak perannya sebagai dan sebagian seksi pemersatu dan komunikator/penghubung atas berbagai komunitas tersebut. Namun diakui, acara

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 bersama yang melibatkan semua komunitas OMK di Keuskupan dan dekenat serta paroki dirasakan manfaatnya bagi kesatuan dalam keberagaman Komisi (Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 36). 3) Realitas OMK sebagai Orang Muda Biasanya waktu luang OMK diisi dengan berkumpul, nongkrong, dan jalanjalan. Yang lain mengisinya dengan kegiatan berkesenian, aktivitas luar ruangan. Teknologi informasi mempengaruhi kehidupan orang muda. Walaupun materialisme dan konsumerisme mempengaruhi kehidupan orang muda pula, namun dirasakan ketahanan internal rata-rata masih terbentuk karena kuatnya moral dan iman dalam keluarga, kedalaman spritualitas Gereja dan kesehatan yang terjaga. Di luar hal-hal yang baik, permasalahan OMK sosial mulai merebak dalam diri OMK: perjudian, kekerasan, dalam rumah tangga, praktek ketenagakerjaan yang tidak adil, kehamilan di luar nikah, gerombolan anak muda yang menggunakan kekerasan, dan narkoba mulai nyata dan meluas pula. Dalam situasi ini, orang muda Katolik masih menggunakan doa sebagai upaya untuk menghadapi berbagai persoalan. Pada umumnya OMK masih mau menyelesaikan permasalahan secara rasional dengan meminta pendapat orang lain. Disadari pula bahwa pengaruh globalisasi, modernisasi dan sekularisme telah memicu berkurangnya penghormatan terhadap agama dan tradisi Katolik serta kebudayaan di antara orang muda Katolik di beberapa wilayah (Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 37).

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 5. Hidup Menggereja Semua umat Kristiani dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya perutusan, semua ditugaskan oleh Tuhan sendiri lewat babtis dan krisma untuk mewartakan Kabar Gembira kepada seluruh dunia. Artinya bahwa kita dipanggil untuk hidup merasul oleh daya Roh Kudus sebagai ungkapan iman kepada Yesus. Konsili Vatikan II memberi lukisan “ kerasulan” sebagai berikut : “Gereja didirikan agar dengan menyebarkan Kerajaan Kristus di seluruh dunia demi kemuliaan Allah Bapa, semua orang mengambil bagian dalam penebusan dan keselamatan dan lewat mereka dunia sungguh-sungguh diarahkan kepada Kristus. Setiap kegiatan Tubuh Mistik yang terarah pada tujuan itu disebut kerasulan dan Gereja mewujudkannya dengan pelbagai cara lewat para warganya; karena panggilan Kristiani pada hakikatnya sekaligus adalah panggilan untuk merasul atau hidup menggereja” (AA 2). Gereja dalam dokumen-dokumen khusus tentang kerasulan awam menegaskan lingkup kerasulan awam: AA 2 “Sedangkan kaum awam yang berpartisipasi dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi dan raja, mengemban perannya dalam perutusan seluruh umat Allah di dalam Gereja dan dunia.” Tugas awam sebagai imam dikaitkan dengan pengudusan atau perayaan yang dilakukan dalam perayaan liturgi misalnya seperti memimpin kebaktian, ibadat sabda, dll. Tugas awam sebagai nabi ialah tugas yang berhubungan dengan kesaksian iman mereka, baik itu penghayatan dan pengalaman hidup sehar-hari. Tugas awam sebagai raja ialah tugas yang mengambil bagian dalam hidup pelayanan. Membaktikan diri kepada Allah dan sesama dengan membagi waktu, tenaga dan pikirannya. Khususnya bagi mereka yang miskin, telantar, janda, difabel dan lain-lain.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Demikian kaum awam mengambil peranan dalam Gereja dan Dunia. Selain berpartisipasi dalam tugas perutusan Gereja, kaum awam juga mengambil peran penting dalam tata dunia. Bersaksi melalui hidup berkeluarga, pekerjaan, hidup bermasyarakat, dan relasi antar umat beragama. a. Dasar-dasar dalam hidup menggereja Kaum awam sebagai pengemban tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja mempunyai peranan aktifnya dalam hidup dan karya Gereja (AA 10). Perlu disadari bahwa partisipasi kaum awam bukan hanya terbatas pada lingkup intern gerejawi seperti koor, ibadat, misa, doa-doa lingkungan dan sebagainya, melainkan harus menjangkau dan meliputi juga lingkup tata dunia. Ada pun beberapa dasar-dasar dalam hidup menggereja : 1) Partisipasi dalam Imamat Partisipasi Gereja dalam tugas Kristus sebagai imam dikaitkan dengan pengudusan yang terutama dilaksanakan dalam perayaan liturgi, lebih khusus lagi Ekaristi (SC 7, KHK kan. 834). Dalam LG 10 yang khusus membahas imamat umum/kaum beriman diberi penjabaran sebagai berikut: “Umat beriman berdasarkan imamat rajawi berperan serta dalam persembahan Ekaristi. Imamat itu mereka laksanakan dalam menyambut sakramen-sakramen, dalam doa, dan bersyukur, dengan memberi kesaksian hidup suci, dengan pengingkaran diri serta cintakasih yang aktif”. Melalui tugas imamat ini, umat beriman dipanggil untuk mempersembahkan korban rohani sebagai ungkapan syukur atas karya penebusan Allah melalui Yesus

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Kristus sebagai Imam Agung. Umat beriman sesuai dengan kekhasan masing-masing baik itu imamat jabatan dan imamat umum keduanya harus saling melengkapi, karena keduanya dengan caranya masing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus. Imam dengan kekuasaan kudus yang ada padanya membentuk dan memimpin umat dalam perkembangan imannya. Menyelenggarakan perayaan Ekaristi atas nama Kristus, dan mempersembahkannya kepada Allah atas nama seluruh umat. Sedangkan umat beriman juga mengambil bagian dalam pengudusan itu melalui keterlibatan aktif dalam perayaan Ekaristi baik sebagai prodiakon, lektor, pemazmur, misdinar, kotatatib dan aktif dalam ibadat-ibadat kudus lainnya. 2) Partisipasi dalam Kenabian Partisipasi dalam tugas kenabian Kristus berkisar pada kesaksian iman (lewat penghayatan serta pengalamannya) serta pewartaan iman lainnya, dan dengan demikian termasuk kerasulan dalam lingkup gerejawi dan juga lingkup tata dunia. Dalam tugas kenabian Kristus, demikian pula sedikit penjabaran dalam beberapa jenis kegiatan, dalam LG 12 : Umat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus, dengan menyebarluaskan kesaksian hidup tentang-Nya terutama melalui hidup iman dan kasih, pun pula dengan mempersembahkan kepada Allah kurban pujian, buah-hasil bibir yang mengakui nama-Nya. Keseluruhan kaum beriman yang telah diurapi oleh Yesus Kristus tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui citarasa iman adikodrati segenap umat. Gagasan ini diteguhkan kembali dalam LG 35 yang khusus menjabarkan partisipasi kaum awam dalam tugas kenabian Kristus: “.. tetapi juga melalui kaum awam, yang karenanya diangkat-Nya menjadi saksi-saksi dan dibekali dengan citarasa iman serta

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 rahmat sabda, agar daya Injil bersinar dalam hidup sehari-hari, hidup keluarga,dan kemasyarakatan”. Sudah jelas bahwa seluruh umat beriman atas dasar imanya kepada Kristus, dipanggil dan diutus untuk memberi kesaksian dan mewartakan imannya kepada siapapun dan dimanapun ia berada baik di lingkup gereja maupun dunia. Semua yang dilakukan dalam hidup ini diharapkan berdasarkan atas rahmat iman dan sabda akan Yesus Kristus, sehingga kehidupan yang mereka jalani merupakan suatu pewartaan dan kesaksian yang berpusat kepada Yesus Kristus atau Kristosentris. 3) Partisipasi dalam pengabdian Rajawi Dalam Christifideles Laici (CL) 14 diajukan gagasan sebagai berikut: “Berdasarkan penggabungannya pada Kristus, Tuhan dan Raja dunia, kaum awam berpartisipasi dalam tugas rajawi-Nya. Mereka dipanggil oleh-Nya untuk pengabdian kepada Kerajaan Allah dan pengembangannya dalam sejarah. Kaum awam menghayati tugas rajawi Kristus terutama dengan perjuangan rohaninya untuk mengalahkan kekuasan dosa dalam dirinya sendiri, dan dengan penyerahan diri, untuk mengabdi dalam kasih dan keadilan Yesus yang hadir dalam semua saudarasaudarinya, terutama yang paling miskin”. Artinya umat beriman senantiasa terpanggil pada suatu usaha perubahan dalam hidup ini baik itu untuk dirinya, orang lain dan lingkungan sekitarnya. Perubahan yang didasari oleh tugas Rajawinya dengan mengemban tugas pelayanan, kepemimpinan, dan pengembalaan. Misalnya seperti mengambil bagian dalam tugas kepengurusan paroki, menjadi donatur kepada

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 kaum miskin, menjadi ketua atau anggota panitia 17 Agustus tingkat RT, menjadi pendamping bagi anak-anak muda yang ada di tingkat stasi maupun paroki, dan lain sebagainya. Kiranya partisipasi kaum awam dalam aneka pelayanan Gereja dan dunia berupa tugas kepemimpinan, penggembalaan dan bimbingan dalam rangka tanggung jawab bersama dapat menumbuhkan semangat kasih kepada orang lain terlebih kepada Tuhan. b. Bidang-bidang Hidup Menggereja Katekismus Gereja Katolik merumuskan Gereja sebagai “himpunan orangorang yang digerakkan untuk berkumpul oleh Firman Allah, yakni berhimpun bersama untuk membentuk Umat Allah dan dipelihara oleh Tubuh Kristus, menjadi Tubuh Kristus sendiri” (No 777). Eksistensi himpunan Umat Allah ini diwujudkan (secara lokal) dalam hidup berparoki. Di dalam paroki inilah himpunan Umat Allah mengambil bagian dan terlibat dalam menghidupkan panca atau lima tugas Gereja yaitu liturgia, kerygma, koinonia, diakonia dan martyria https://renungankatolik.wordpress.com/2016/06/09/panca-tugas-gereja/Diakses pada 27 Juli 2018). 1) Liturgi Ikut serta dalam perayaan ibadat resmi yang dilakukan Yesus Kristus dalam Gereja-Nya kepada Allah Bapa. Ini berarti mengamalkan tiga tugas pokok Kristus sebagai Imam, Guru dan Raja. Dalam kehidupan menggereja, peribadatan menjadi sumber dan pusat hidup beriman. Melalui bidang karya ini, setiap anggota

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 menemukan, mengakui dan menyatakan identitas Kristiani mereka dalam Gereja Katolik. Hal ini dinyatakan dengan doa, simbol, lambang-lambang dan dalam kebersamaan umat. Partisipasi aktif dalam bidang ini diwujudkan dalam memimpin perayaan liturgis tertentu seperti: memimpin Ibadat Sabda/Doa Bersama; membagi komuni; menjadi: lektor, pemazmur, organis, misdinar, paduan suara, penghias Altar dan Sakristi; dan mengambil bagian secara aktif dalam setiap perayaan dengan berdoa bersama, menjawab aklamasi, bernyanyi dan sikap badan. 2) Pewartaan Ikut serta membawa Kabar Gembira bahwa Allah telah menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa melalui Yesus Kristus, Putera-Nya. Melalui bidang karya ini, diharapkan dapat membantu Umat Allah untuk mendalami kebenaran Firman Allah, menumbuhkan semangat untuk menghayati hidup berdasarkan semangat Injili, dan mengusahakan pengenalan yang semakin mendalam akan pokok iman Kristiani supaya tidak mudah goyah dan tetap setia. Beberapa karya yang termasuk dalam bidang ini, misalnya: pendalaman iman, katekese para calon baptis dan persiapan penerimaan sakramen-sakramen lainnya. Termasuk dalam kerygma ini adalah pendalaman iman lebih lanjut bagi orang yang sudah Katolik lewat kegiatan-kegiatan katekese. 3) Persekutuan Ikut serta dalam persekutuan atau persaudaraan sebagai anak-anak Bapa dengan perantaraan Kristus dalam kuasa Roh Kudus-Nya. Sebagai orang beriman, kita dipanggil dalam persatuan erat dengan Allah Bapa dan sesama manusia melalui

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Yesus Kristus, PuteraNya, dalam kuasa Roh Kudus. Melalui bidang karya ini, dapat menjadi sarana untuk membentuk jemaat yang berpusat dan menampakkan kehadiran Kristus. Hal ini berhubungan dengan ‘cura anima’ (pemeliharaan jiwa-jiwa) dan menyatukan jemaat sebagai Tubuh Mistik Kristus. Oleh karena itu diharapkan dapat menciptakan kesatuan: antar umat, umat dengan paroki/keuskupan dan umat dengan masyarakat. Paguyuban ini diwujudkan dalam menghayati hidup menggereja baik secara territorial (Keuskupan, Paroki, Stasi /Lingkungan, keluarga) maupun dalam kelompok-kelompok kategorial yang ada dalam Gereja. 4) Pelayanan Ikut serta dalam melaksanakan karya karikatif atau cinta kasih melalui aneka kegiatan amal kasih Kristiani, khususnya kepada mereka yang miskin, telantar dan tersingkir. Melalui bidang karya ini, umat beriman menyadari akan tanggungjawab pribadi mereka akan kesejahteraan sesamanya. Oleh karena itu dibutuhkan adanya kerjasama dalam kasih, keterbukaan yang penuh empati, partisipasi dan keiklasan hati untuk berbagi satu sama lain demi kepentingan seluruh jemaat (Kis 4:32-35). 5) Kesaksian Ikut serta menjadi saksi Kristus bagi dunia. Hal ini dapat diwujudkan dalam menghayati hidup sehari-hari sebagai orang beriman di tempat kerja maupun di tengah masyarakat, ketika menjalin relasi dengan umat beriman lain, dan dalam relasi hidup bermasyarakat. Melalui bidang karya ini, umat beriman diharapkan dapat menjadi ragi, garam dan terang di tengah masyarakat sekitarnya. Sehingga mereka

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. c. Pastoral OMK dalam Hidup Menggereja 1) Pastoral OMK berpusat pada Kristus Sama seperti bidang-bidang pastoral lainnya, Pastoral OMK berpusat pada Yesus Kristus: hidup dan pribadi-Nya, karya dan sabda-Nya, wafat dan kebangkitanNya. Kristus menjiwai dan menjadi roh pastoral OMK, sehingga terjadi perjumpaan personal dengan-Nya. Hidup Yesus mengarahkan seluruh tugas pastoral OMK. Sama seperti Yesus yang berjalan bersama dua murid yang berjalan ke Emaus ( Luk 24:1335), dalam pastoral OMK kita berjalan bersama OMK. Perjalanan ini bermakna hanya jika mengikuti pelayanan Kristus sebagai model (Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 97). 2) Pastoral Gereja OMK Pastoral OMK tak terpisahkan dari Gereja. Gereja adalah locus pastoral OMK. Locus itu bukan hanya merujuk pada tempat melainkan juga sebagai titik fokus atau konvergensi. Gereja selain sebagai tempat dilakukannya pelayanan, asal dan pondasi pastoral merupakan sumber mandat perutusan, yang asalnya dari Kristus sendiri. Kesatuan pastoral OMK dan Gereja terwujud dengan melibatkan diri secara aktif dalam hidup dan misi gereja. Pastoral OMK berasal dan melibatkan dirinya dalam pelayanan Gereja. Bagaimanpun juga, ada keterkaitan antara keduanya; di satu pihak, pastoral OMK membantu OMK pada kedewasaaan Kristiani; di lain pihak, Gereja merayakan anugerah OMK yang diterimanya. Gereja sekaligus menghargai

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 energi, kreativitas, keterlibatan, dan kepemimpinan OMK; sekaligus kegembiraan dan harapan, duka, dan kecemasan mereka (GS 1) (Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 98). 3) Ruang Lingkup Pastoral OMK “Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka” (Luk 24:15). Pastoral OMK mengandaikan adanya keterbukaan dalam merangkul OMK. Seperti juga Yesus, kita diajak untuk datang dan berjalan bersama mereka, hadir di tempat mereka berada, dengan tujuan melayani mereka. Dalam hal ini ada dua konteks: formal dan informal (Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia, 2014: 104). a) Formal Konteks formal merujuk pada situasi atau tempat para OMK biasanya hadir, memiliki struktur, program, rencana, dan organisasi yang jelas. Yang termasuk di dalamnya:  Paroki Paroki, dengan mengacu pada KHK kanon 515, adalah tempat jemaat lokal berkumpul, berbagi iman, dan ikut serta dalam hidup, perayaan, kebersamaan, dan pelayanan bersama. Paroki menjadi latar pastoral OMK karena paroki melayani reksa pastoral umat dalam wilayah yang tertentu; dimana satu di antaranya ( dalam jumlah yang cukup besar) adalah OMK. Pastoral OMK (bersinergi dengan layanan-layanan pastoral lain) seharusnya dapat membuat para OMK merasa tinggal di rumah mereka sendiri, feel at home, merasa kerasan. Pastoral OMK perlu membuat program yang

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 mengakomodasi bakat dan peran unik OMK dalam hidup menggereja. OMK memberikan kontribusi.  Kampus (Sekolah, Universitas, dan semacamnya) Kampus adalah lingkup dunia akademik, baik lembaga pendidikan formal maupun non-formal. Gereja melihat dunia akademik ini sebagai sesuatu yang penting bagi tempat perkembangan orang muda umumnya dan OMK pada khususnya. Iman perlu dialami sebagai bagian integral dalam menuntut ilmu. Karya pendidikan Katolik merupakan panggilan Gereja dalam rangka pewartaan Kabar Gembira terutama di kalangan kaum muda.  Komunitas Basis Gerejawi Komunitas Basis Gerejawi (KBG) adalah komunitas ketetanggan yang berupaya membangun relasi satu sama lain sebagai keluarga yang berdasarkan sabda Allah, mencoba menjawab kebutuhan komunitas, dan menautkan diri dengan Gereja universal sebagai kesatuan. Mereka mengalami Gereja sebagai keluarga-keluarga yang dikumpulkan bersama karena iman mereka kepada Yesus (Kis 2: 42). Mereka berbagi dan saling memperhatikan satu sama lain (Kis 2: 44-47) model Gereja macam inilah yang kita dambkan terwudud dalam konteks lokal. OMK pun perlu diajak turut serta terlibat dala mewujudkan visi Gereja yang demikian.  Keluarga Kita lahir dalam keluarga. Keluarga jugalah yang membentuk nilai-nilai dan keutamaan sejak kita lahir. Sebagai ranah perkembangan bagi kaum muda untuk

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 menjadi manusia seutuhnya, keluarga dipanggil untuk ikut serta dalam tugas pewartaan Gereja dengan menghadirkan dirinya sebagai komunitas kehidupan dan cinta, yang mengabdi pada Gereja dan masyarakat (Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, 50) Dapat dikatakan bahwa keluarga menjadi batu pijakan terpenting bagi kehidupan yang pertama. Keluarga juga merupakan sekolah doa dan tempat evangelisasi yang pertama ketika seluruh anggota kelurga berbagi satu sama lain dalam terang Kristus. b) Informal Konteks informal adalah situasi yang berada di luar lembaga dan mungkin tidak memiliki struktur yang baku. Orang muda bergaul satu sama lain dengan standar moral, nilai, dan keyakinan yang mereka tentukan sendiri. Kemajuan media dan komersialisme membantu menciptakan dan mendorong keadaan yang demikian. Konteks ini merupakan ajang di mana orang muda mengungkapkan individualitas mereka dan tempat berkumpul membentuk suatu kelompok. Mereka saling menerima dan merasa diri sebagai bagian dari kelompok. Dalam situasi ini, tidak ada program atau rencana yang terstrukur. Contohnya mal, kafe internet, lapangan sepakbola, dan sebagainya.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 BAB III GAMBARAN EKARISTI KAUM MUDA BAGI ORANG MUDA KATOLIK DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA DAN HUBUNGANNYA DENGAN HIDUP MENGGEREJA ORANG MUDA KATOLIK Pada bab sebelumnya telah dibahas berbagai pokok penting Ekaristi dan hidup menggereja Orang Muda Katolik (OMK). Dua bagian ini memberikan gambaran tersendiri bagaimana Ekaristi dan hidup menggereja itu dipahami, walaupun tidak secara luas dipaparkan di setiap bagiannya. Namun penulis mencoba untuk lebih menyederhanakan dua unsur tersebut dengan mengambil dan memilih berbagai referensi yang dirasa penting dan relevan untuk penelitian ini. Dua pokok penting ini merupakan unsur yang sangat menarik untuk didalami dan dibahas untuk melihat sejauh mana pemahaman OMK terhadap Ekaristi dan kaitannya dengan hidup menggereja OMK. Bagian awal pada bab ini akan menguraikan secara umum bagaimana Ekaristi Kaum Muda (EKM) di Paroki St. Antonius Kotabaru dipahami dan dijalankan dalam suatu perayaan, dalam bentuk Ekaristi dengan gaya kaum muda. Proses EKM ini dilakukan mulai dari persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Kemudian pada bagian kedua bab ini, akan dipaparkan dan dibahas hubungan antara dua pokok penting yaitu EKM dan hidup menggereja OMK. Penulis mencoba mendalami dan mencari tahu apakah sejauh ini EKM sudah berpengaruh terhadap hidup menggereja OMK. Untuk mendalami dan mengetahui hal tersebut, maka penulis dalam bab ini akan melakukan

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 penelitian dengan metode kualitatif untuk menemukan hal-hal yang dibutuhkan dalam penelitian ini. A. Ekaristi Kaum Muda (EKM) di Paroki St. Antonius Kotabaru Yogyakarta 1. Sejarah singkat EKM Paroki St. Antonius Kotabaru Kaum muda identik dengan perubahan dan kreatifitas. Mereka ingin mencari dan menemukan hal-hal baru yang dirasa lebih sesuai dengan jiwa kaum muda, termasuk mengenal peribadatan atau Liturgi Ekaristi. Maka tidaklah mengherankan apabila, sebelum menyatakan diri sebagai Gereja yang terbuka bagi keterlibatan kaum muda, Gereja Santo Antonius Kotabaru melalui kaum mudanya telah beberapa kali menyelenggarakan perayaan Ekaristi dengan nuasa kaum muda. Biasanya itu, diselenggarakan untuk event-event tertentu seperti: HUT Proklamasi RI, Valentine’s Day, Sumpah Pemuda, dll. Namun seiring perjalanan waktu, Ekaristi semacam ini semakin jarang diselenggarakan, bahkan akhirnya tidak pernah lagi diadakan. Gereja Antonius Kotabaru mencoba mengajak kaum muda untuk terlibat dan menuangkan kreativitasnya dalam suatu bentuk “Perayaan Ekaristi” yang sesuai dengan jiwa dan semangat kaum muda, karena disadari bahwa kaum muda merupakan penerus kehidupan Gereja yang dengan segala kepribadian memiliki jiwa yang bebas dan dinamis dalam pencarian jati-dirinya. Upaya kaum muda dalam pencarian jati-diri melalui kebebasan berekspresi itu tidak langsung begitu saja diterima dan dipahami oleh sebagian umat. Misalnya, umat menilai penampilan atau cara berpakaian kaum muda saat mengikuti perayaan

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Ekaristi tidak layak. Akhirnya umat merasa perlu ada batasan atau “peraturan” sebagai standar kepantasan apabila mengikuti perayaan Ekaristi. Dalam hal ini, kaum muda merasa tidak diberi kesempatan untuk membuat suatu pilihan sesuai dengan keinginannya, akibatnya mereka merasa tersingkir dan tidak nyaman untuk datang di Gereja serta mengikuti perayaan Ekaristi. Kendati demikian, hal ini tidak mengurungkan niat mereka untuk tetap bereksperesi sesuai dengan jiwa dan gaya mereka dalam menghayati imannya. Kaum muda tidak sendirian namun ada salah satu romo paroki yang senantiasa hadir dan membantu. Hal ini berawal ketika romo paroki menantang kaum muda yang ada pada saat itu untuk membuat ekaristi yang menarik dan semarak, yang dapat mendatangkan orang muda sebanyak mungkin di Gereja. Gasasan ini muncul untuk menanggapi situasi yang memprihatinkan di mana makin sedikit saja kaum muda yang datang ke gereja untuk merayakan ekaristi maupun terlibat aktif dalam kegiatan hidup menggereja. Menjawab tantangan tersebut, dengan berbekal pengetahuan tentang liturgi yang minim, tim pun mulai membuat konsep ekaristi yang sesuai dengan jiwa, gaya dan karakter kaum muda. Setelah melalui persiapan yang cukup panjang, akhirnya pada 28 Oktober 2000 bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, untuk pertama kalinya, di Gereja St. Antonius Kotabaru diselenggarakan ekaristi dengan gaya anak muda (Agung & Susi, Rohani 2008: 60)

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 2. Visi dan Misi EKM Paroki St. Antonius Kotabaru a. Visi EKM Terwujudnya iman kaum muda yang mendalam, dewasa, dan dinamis, melalui Liturgi Ekaristi yang sesuai dengan kepribadian kaum muda yaitu inovatif dan kreatif (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010: 11). b. Misi EKM Demi mewujudkan visi yang telah ada, maka beberapa misi yang perlu dilaksanakan demi tercapainya visi tersebut. Pertama mewujudkan Perayaan Ekaristi yang sesuai dengan kepribadian dan semangat kaum muda. Misi ini bertujuan supaya Ekaristi yang dirayakan sungguh dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan kaum muda dalam hidup sehari-hari dan menghadirkan nuasa kaum muda yang kreatif dan inovatif sesuai dengan gaya mereka. Kedua melibatkan kaum muda dalam penyusunan Liturgi Ekaristi, dengan memberi kebebasan dan kepercayaan kepada mereka untuk menuangkan kreativitas. Hal ini dilakukan agar para kaum muda tidak hanya menjadi penonton melainkan perancang dan pelaku dari Ekaristi itu sendiri, sehingga Ekaristi yang mereka rindukan atau harapankan dapat selaras dengan situasi dan kebutuhan mereka sebagai kaum muda. Ketiga membangun keterlibatan kaum muda sedemikian rupa, sehingga mereka dapat berpartisipasi aktif dalam perayaan Ekaristi. Hadirnya EKM memberikan tempat bagi kaum muda untuk mengambil bagian dalam Ekaristi sesuai dengan kebutuhan dan situasi mereka saat itu (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010: 11).

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 3. Tujuan EKM Tujuan diadakannya EKM adalah pertama mengajak kaum muda untuk mengenal liturgi dan belajar menyusun liturgi Ekaristi yang sesuai dengan kriteria kaum muda. Kedua menanggapi kebutuhan iman kaum muda, dalam usaha mereka untuk berjumpa dengan Allah. Ketiga membagi pengalaman iman kaum muda. Berbagai tujuan ini diharapkan dapat membantu kaum muda untuk semakin mencintai Ekaristi sebagai bagian utuh dalam hidupnya dan melalui EKM itu pula mereka memiliki pengalaman baru yang dapat meneguhkan hati dan iman mereka (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010: 12). 4. Spritualitas EKM Spritualitas EKM ialah membangun perjumpaan pribadi dengan Allah dalam berbagai suasana dengan dengan cara dan ciri khas kaum muda yang berbeda-beda. EKM bermula dari kaum muda, diolah dan dipersiapkan oleh kaum muda, serta dipergunakan untuk mewujudkan iman kaum muda yang dinamis. EKM menjadi salah satu jembatan bagi kaum muda untuk berjumpa dan berkomunikasi dengan Allah sesuai dengan gaya dan cara mereka mengungkapkannya. Melalui EKM, harapannya segala sesuatu yang berkaitan dengan kaum muda dapat sungguh disatukan dan diserahkan kepada kehendak Allah dengan penuh iman dan harapan. Semua yang telah direncanakan dan dilaksanakan dalam EKM, merupakan kerinduan dan harapan para kaum muda untuk menjawab

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 tantangan, kebutuhan dan situasi kaum muda dalam menjalani hidupnya sebagai kaum muda (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010: 12). 5. Penanggung jawab EKM Gereja Santo Antonius Kotabaru memberi kesempatan dan kepercayaan kepada komunitas-komunitas kaum muda baik komunitas kategorial (KMK, SMU, PIA, Teater, dan lain-lain) maupun teritorial ( Komunitas Kaum Muda Lingkungan Gereja Santo Antonius Kotabaru) untuk menjadi penyelenggara EKM pada setiap bulan. Tim Kerja dan petugas EKM sebagai penyelenggara bertanggungjawab penuh pada persiapan dan pelaksanaan EKM. Selama proses persiapan dan pelaksanaan EKM, komunitas kaum muda penyelenggara EKM (sponsor) akan didampingi dan dibantu oleh tim EKM Gereja Santo Antonius Kotabaru. Tim EKM sendiri harus terus-menerus mengevaluasi pelaksanaan EKM untuk setiap bulan dan mempertanggung-jawabkan pelaksanaan EKM kepada Pastor Kepala Gereja Santo Antonius Kotabaru (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010: 14). 6. Mekanisme Persiapan EKM Ada beberapa mekanisme atau langkah-langkah dalam mempersiapkan EKM. Persiapan ini bertujuan agar EKM yang akan dilaksanakan dapat sungguh berjalan dengan baik dan sungguh bermanfaat bagi perkembangan iman dan hidup menggereja orang muda sesuai dengan situasi dan kondisi OMK. Berikut mekanisme atau langkah-langkah dalam persipan EKM (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010: 19).

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 a. Penentuan Tema EKM: Penentuan tema EKM diawali dengan latar belakang. Latar belakang ini berisi keprihatinan yang ada di masyarakat atau keprihatinan yang ada di kalangan kaum muda. Tujuan ini dapat dipahami sebagai sasaran yang diharapakan dari tema dan pesan yang akan disampaikan melalui tema. Tema inilah yang kemudian dijadikan sebagai landasan untuk proses selanjutnya. Maka penting tema dirumuskan secara baik dan matang. Sebuah tema EKM yang baik adalah tema yang dapat menginspirasi sekaligus menggerakan seluruh OMK untuk ambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Tim EKM pun perlu Medialogkan secara mendalam teks Kitab Suci dengan konteks kehidupan orang muda (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010: 25). b. Pemilihan bacaan I dan bacaan Injil: Dalam penentuan bacaan I dan bacaan Injil tim perlu memahami apa isi dari bacaan-bacaan yang dipilih dan apakah ada kaitannya dengan tema. Oleh karena itu penting apabila tim EKM juga membaca dan menafsirkan isi bacaan tidak sembarangan saja memilih. Tujuannya agar penyelenggara EKM sungguh memahami misteri Kristus dalam sejarah keselamatan. Membaca Kitab Suci penting bagi penyelenggara EKM karena dari Kitab Suci dikutip bacaan-bacaan yang dibacakan dan dijelaskan dalam homili, serta mazmur-mazmur yang dinyanyikan. c. Penentuan alur suasana EKM Penentuan alur sangat penting dalam menciptakan suasana EKM. Suasana itu perlu disusun di dalam run down atau rangkaian acara, agar EKM yang dilaksanakan

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 dapat berjalan dengan baik dan membantu orang muda untuk menemukan pesan yang disampaikan dalam setiap bagian dalam EKM. Waktu pelaksanaan EKM perlu diperhatikan, tidak mengulur-ulur waktu dan bertele-tele, diusahakan waktu yang digunakan dapat efisien. Penentuan alur EKM hendaknya selaras dengan tema dan tujuan dari EKM dan sedapat mungkin membantu orang muda untuk merasakan suasana orang muda yang energik, inovatif dan kreatif (http://gemaliturgi.blogspot.co.id/2015/07/menyiapkan-ekaristi-kaummuda.html/diakses pada tanggal 20 April 2018). d. Perumusan Doa-doa EKM Dalam doa, orang muda berkomunikasi atau menghadap Allah. Dalam doa, orang muda mengalami Allah sebagai Pribadi yang dekat. Penyelenggara EKM perlu merumuskan doa yang baik dan selaras dengan situasi hidup orang muda, dengan menghindari doa yang terlalu formalistik. Kandungan doa berangkat dari arti Allah bagi seseorang. Ada hubungan timbal balik antara doa dan pengalaman hidup. Oleh karena itu, doa-doa yang sampaikan diharapkan dapat mewakili perasaan, situasi, dan kebutuhan orang muda. Misalnya dalam doa tobat; ini dimaksudkan untuk membuka hati bagi Tuhan, dan dengan demikian ada kesatuan kembali dengan Dia. Doa pembukaan; mempersiapkan hati dan pikiran untuk menyambut kehadiran Tuhan dalam Ekaristi. Doa umat; ini dimaksudkan untuk memohon agar pesan Sabda Allah dapat terlaksana dalam hidup konkret. Di samping itu, doa umat juga dapat dimohon untuk pribadi-pribadi di sekitar kita. Doa persiapan persembahan untuk mengantarkan persembahan roti anggur bersama segala harapan termasuk keprihatinan kita kepada

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Tuhan. Doa penutup; ini dimaksudkan untuk secara resmi berterima kasih kepada Tuhan sekaligus kesanggupan diri kita untuk melaksanakan pesan-Nya. Doa Syukur Agung. Tentang ini, pilihan dapat dilakukan dengan melihat inti sari dari masingmasing rumusan doa, atau pesan yang mau disampaikan dalam setiap rumusan doa, serta keterkaitan dengan tema bacaan-bacaan (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010: 26). e. Pemilihan lagu-lagu EKM: Syair dan aransemen lagu-lagu harus dikenali dan dapat dinyanyikan oleh umat supaya umat ikut bernyanyi dan tidak kesulitan untuk mengikuti irama atau ritme. Lagu harus mendukung suasana yang akan dibangun sebisa mungkin masih bernuansa liturgis. Makna syair lagu harus terkait dengan tema dan pesan yang akan diarah melalui lagu itu dan bukan hanya melalui homili dan doa, melainkan juga dari syair lagu yang dinyanyikan secara baik dan harmonis (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010: 27). f. Variasi Liturgi EKM: Dalam persiapan perayaan EKM, pembahasan variasi-variasi liturgi merupakan sesuatu yang penting. Ini dapat berupa visualisasi, tarian, drama, dll. Variasi liturgi EKM ini berfokus pada pembahasan yang meliputi makna gerakan tari atau isi naskah teater atau visualisasi, ada keterkaitan dengan tema dan pesan yang disampaikan (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010: 27). g. Persiapan Pelaksanaan EKM Para anggota tim EKM akan berkoordinasi terkait kesiapan para petugas liturgi: imam, koor, lektor, petugas dan tata laksana dan para pendukung visualisasi (teater

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 atau penari). Tim kerja EKM juga akan menentukan waktu latihan atau gladi kotor dan bersih dengan menyesuaikan waktu dari semua pihak yang terkait dalam perayaan EKM (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010: 28). h. Pelaksanaan EKM i. Evaluasi dan laporan EKM Setelah rangkaian persiapan dan pelaksanaan EKM selesai, kemudian tim kerja EKM bersama dengan petugas EKM akan mengadakan evaluasi bersama untuk membahas seluruh proses persiapan, pelaksanaan selama EKM dan laporan dari setiap bidang mengenai hasil litbang, anggaran, dan lain-lain. 7. Gambaran Pelaksanaan EKM Contoh salah satu pelaksanaan EKM Paroki St. Antoniuskotabaru Yogyakarta, 29 Oktober 2000. Tema : Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Dalam Cinta PEMBUKAAN Nyanyian “ Bangun Pemuda Pemudi” Seruan Tobat I: Yesus, bumi dan Nusantara kami terancam perpecahan, terlebih dengan adanya provokasi dari orang-orang yang licik. U: Buatlah kami mengenali dan menangkal kelicikan setiap usaha memecah-belah kesatuan Nusantara. I: Yesus keanekaragaman budaya kadang malah dipakai untuk memiskinkan kekayaan budaya bangsa.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 U: Buatlah kami justru menghargai dan mau mengembangkan keunikan masingmasing budaya kami. I: Yesus, aneka bahasa yang ada di Ibu Pertiwi semestinya menjadi sarana komunikasi yang mempersatukan. U: Ajarilah kami bahasa cinta-Mu melalui aneka bahasa yang kami miliki. Tuhan Kasihanilah Kami (Didoakan) Doa Pembuka I: Marilah Berdoa. Ya Allah, Ibu-Bapa kami, pandanglah kami, kaum muda, yang kini bersama-sama menghadap-Mu di tempat ini. (hening sejenak) U: Jadikan kebersamaan ini sungguh menjadi tanda kehadiran-Mu yang menyatukan kami sebagai saudara satu bagi yang lain. Amin. Ikhrar Sumpah Pemuda Kami, putera puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia. Kami, putera puteri Indonesia, mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia. Kami, putera puteri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Menyanyikan “Satu Nusa Satu Bangsa”

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Bacaan Injil I: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (9:35-38) Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belaskasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian-tuaian itu.” I: Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya. U: Tanamkanlah sabda-Mu ya Tuhan dalam hati kami Homili Aku Percaya (didoakan dari MB 114) Doa Umat I: Saudara dan saudaraku, pekerjaan banyak di hadapan kita, kaum muda Indonesia. Namun betapa tidak setiap dari kita mau dan rela menyingsingkan lengan untuk membangun Indonesia baru.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 L: Bapa Kaum Muda, bukalah pikiran dan hati kami, agar jangan tertutup oleh egoism dan idealisme. P: Tunjukan kepada kami, jalan menuju persatuan melalui Bahasa Cinta-Mu. Reff. Ajarilah kami Bahasa cintaMu…… L: Ya Tuhan, dampingilah kami, semua kaum muda, dalam memperjuangkan terjalinnya persatuan di Indonesia tercinta dan bangsa kami. P: Tuntutlah langkah-langkah kami, agar jangan terbawa gejolak arus yang menjerumuskan kami pada kehancuran mental kaum muda. Reff. Ajarilah kami bahasa cintaMu….. L: Bapa mahabijaksana, turunkanlah Roh kebijaksanaan-Mu kepada kaum muda agar dapat menentukan langkah dan berani mengambil sikap sebagai kaum muda yang bertanggungjawab. P: Bantu kami mewujudkan negara ini dengan kebijaksanaan yang Kaulimpahkan, agar dapat terwujud bangsa yang penuh cinta, damai dan sejahtera. Reff. Ajarilah kami bahasa cintaMu….. L: Bapa kami, dalam peringatan Sumpah Pemuda ini, berkenanlah kiranya Engkau menghidupkan semangat satu nusa, satu negara, yang kini sedang tercabik-cabik oleh ulah orang-orang yang tak bertanggung jawab dengan bahasa kasih-Mu.

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 P: Bimbingan kami, agar sebagai generasi muda, kami mampu menjadi generasi pemersatu bangsa dan negara tercinta ini. ….Saat hening- doa pribadi….. I: Demikianlah Ya Bapa, doa-doa yang kami hunjukkan kepada-Mu. Kami percaya, Engkau pasti mendengarkan doa-doa kami. Amin. Nyanyian “Indonesia Jaya” Indonesia Jaya Hari-hari terus berlalu tiada pernah berhenti S’ribu rintang jalan jalan berliku bukan satu penghalang Hadapilah segala tantangan Mohon petunjuk yang kuasa Ciptakanlah kerukunan bangsa Kobarkanlah dalam dada semangat jiwa Pancasila Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan Tanpa pengorbannan mulia adanya Terpeganglah tangan satu dalam cita Demi masa depan Indonesia jaya

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 PUJI SYUKUR KEPADA ALLAH Doa Persembahan I: Bapa penuh cinta, satukan kami putera-puteri Indonesia. Dalam pengabdian dan pengorbanan dengan satu bahasa surga dan dunia, bahasa cinta. U: Bimbinglah kami ya Bapa, untuk senantiasa satu hati satu jiwa mengusahakan kesejahteraan demi rakyat Indonesia. Amin. Doa Syukur Agung V (MB No. 132) MENYAMBUT TUHAN Bapa Kami (KE. 003) Komuni Novena “Orang Muda” PENGUTUSAN DAN BERKAT Doa Penutup I: Marilah Berdoa. I+U: Sertailah kami orang muda jaman ini. Hidupilah kami dengan roh cinta-Mu agar kami cepat tanggap pada derita dan kebingungan orang muda, sehingga

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 mampu membuka kebutaan mata kami untuk melihat wajah-Mu di dalam wajah sesama teman muda kami. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin. Nyanyian “Doa Anak Negeri” Doa Anak Negeri Sinar mentari cantik berseri ada bangga lekat di hati S’moga lestari s’moga doa kami dari anak neg’ri Puji Syukur kami berikan neg’ri ini tentram sentosa Bangunlah semua satukan cinta ‘tuk neg’ri tercinta Indonesia Doa kami dari anak neg’ri bangga kami pada pertiwi T’rima kasih kepadamu neg’ri Pembangunan ini miliki kami Doa dari kami anak negeri S’moga engkau melangkah pasti Dan teruskanlah pembangunan ini Dari generasi ke generasi Dan teruskanlah pembangunan ini Dari generasi ke generasi.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 B. Penelitian Peranan Ekaristi Kaum Muda terhadap keterlibatan hidup menggereja Orang Muda Katolik di Paroki St. Antonius Kotabaru 1. Desain Penelitian Penelitian ini sebagai upaya awal untuk mengetahui keterlibatan Orang Muda Katolik Paroki St. Antonius Kotabaru dalam hidup menggereja. Pada bagian ini, penulis akan memaparkan latar belakang penelitian, tujuan penelitian, jenis penelitian, instrumen penelitian, responden, tempat dan waktu penelitian dan variabel penelitian. 2. Latar Belakang Penelitian Orang Muda Katolik (OMK) adalah harapan dan masa depan Gereja. Mereka memiliki andil penting dalam perkembangan dan kemajuan suatu kehidupan baik segi sosial, politik, budaya, pendidikan, agama dll. Kehadiran OMK khususnya dalam Gereja san gat dibutuhkan. Sumbangan pemikiran, tenaga moril dan kreativitas orang muda dapat memperkembangkan Gereja ke arah yang lebih maju. OMK adalah salah satu kelompok yang ada di dalam Gereja, baik itu tingkat Keuskupan, Paroki, dan Stasi. Gereja memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada OMK untuk ambil bagian dalam setiap tugas dan tanggungjawab. Karena hal ini dapat membantu dan menggerakan OMK untuk semakin menyadari bahwa mereka memiliki andil penting dalam Gereja. Melalui kerjasama pastor Paroki, Dewan Pastoral, Umat, Tim Liturgi dan seluruh Komunitas kaum muda, Ekaristi Kaum Muda (EKM) dapat terlaksana dan dapat diikuti OMK yang ada di Paroki Kotabaru, sebagai bentuk perhatian Gereja

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 kepada kaum muda yang ada di Paroki Kotabaru. EKM menjadi sarana bagi OMK untuk mengekspersikan iman mereka berdasarkan kebutuhan, pengalaman dan kondisi orang muda dewasa ini. Hadirnya EKM yang sudah cukup lama ini, tentu sudah memberikan manfaat dan sesuatu yang positif bagi OMK terlebih dalam rangka mengajak para OMK untuk hadir dan terlibat dalam hidup menggereja dalam segala aspeknya. Hidup menggereja OMK tidak terbatas pada lingkup Gereja saja yang melulu soal ibadat, doa, petugas koor, lektor, kotatib, panitia paskah /natal dan lain-lain. Hidup menggereja harus menjangkau lapisan di luar Gereja atau dunia sebagai bentuk keterlibatan hidup menggereja yang sesungguhnya. Hidup menggereja sangat luas, tidak hanya lingkup Gereja melainkan kehidupan di masyarakat pada umumnya. EKM adalah salah satu dasar dalam hidup menggereja. EKM harus sampai pada kesaksian iman dan menghadirkan Kerajaan Allah bagi Gereja maupun dunia atau masyarakat. Pertanyaan yang muncul apakah EKM sudah sungguh membantu dan menyemangati OMK untuk menghayati panggilannya dalam hidup menggereja? Atau EKM dipahami sebagai suatu kegiatan untuk mengisi kekosongan, mengusir rasa sepi atau asumsi lain yang tidak selaras dengan hakikat dan tujuan EKM? Menanggapi hal tersebut, perasaan dan keingintahuan terhadap peranan EKM terhadap hidup menggereja OMK ini menjadi alasan bagi penulis untuk mencari tahu dan mendalami sejauh mana EKM memberikan manfaat atau buah bagi OMK dalam hidup menggereja.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Maka melalui penelitian ini penulis sangat tertarik untuk mengetahui sejauh mana EKM sudah memberikan manfaat bagi kaum muda dalam perkembangan hidup menggereja OMK di paroki Santo Antonius Kotabaru. 3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini dilaksanakan antara lain: a) Mengetahui sejauh mana Ekaristi Kaum Muda berdampak kepada hidup menggereja OMK. b) Mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat dari EKM. c) Mengemukakan sumbangan pemikiran atau usulan yang dapat diberikan untuk meningkatkan EKM kedepannya demi memupuk semangat hidup menggereja OMK di Paroki St. Antonius Kotabaru. 4. Definisi Operasional Kata “Hidup menggereja” tentu tidak asing bagi umat Gereja. Kata ini sering didenga dan diucapkan oleh Pastor, suster, ketua umat, katekis dan lain-lain dalam setiap perjumpaan. Terlepas dari kata itu sendiri, hidup menggereja sesungguhnya merupakan panggilan kudus dari Allah yang mengajak umatnya untuk berpartisipasi dalam karya perutusan baik dalam lingkup Gereja maupun luar Gereja atau dunia. Hidup menggereja dekat dalam hidup sehari-hari. Dalam kehidupan ini, umat Kristiani harus senantiasa hadir dan terlibat dalam memberikan kesaksian dan menghadirkan Kerajaan Allah bagi setiap orang yang membutuhkan belaskasih dan sapaan.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Sama seperti OMK, hidup menggereja adalah suatu panggilan yang murni dari Allah kepada orang muda. Allah memanggil orang muda untuk senantiasa menghidupi imannya melalui partisipasi dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi dan raja. OMK diutus untuk memberikan kesaksian dan mewartakan imannya kepada siapapun dan dimanapun ia berada baik di lingkup gereja maupun dunia. Seperti Yesus yang hadir dan menolong dengan ketulusan dan kasih sayang, begitu pula OMK bagi Gereja dan dunia. 5. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif. Moleong (2014: 6) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, presepsi, motivasi, tindakan, dll. Penelitian kualitatif ini dilakukan secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penulis memilih penelitian ini karena metode penelitian kualitatif berupaya mengungkapkan keunikan individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi tertentu dalam kehidupan sehari-hari secara komprehensif atau holistik dan rinci. Pendekatan ini merupakan suatu metode penelitian yang diharapkan dapat menghasilkan deskripsi tentang ucapan, tulisan, atau perilaku yang dapat diamati dari individu, kelompok, masyarakat atau organisasi tertentu dalam suatu latar tertentu (Djunaidi Ghony dan Almanshur, 2014: 32).

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 6. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Menurut Sugiyono (2016: 199) kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Sedangkan menurut Arikunto (1997: 128) kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. Kuisioner ditujukan bagi OMK Paroki Santo Antonius Kotabaru. 7. Responden Penelitian Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016: 117). Penelitian ini mengambil populasi OMK yang terlibat dalam kegiatan EKM baik sebagai petugas maupun tim kerja EKM yang terhitung sesuai dengan informasi dari lingkungan dan tim kerja paroki. Karena ada beberapa lingkungan dan tim kerja paroki yang tidak memiliki data terkait jumlah OMK. Maka berdasarkan hasil survei dan perhitungan yang telah dilakukan oleh penulis, jumlah OMK yang ada pada tahun 2018 di Paroki Santo Antonius Kotabaru adalah berjumlah 175 OMK (Lampiran). Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2016: 118). Penelitian ini mengambil responden OMK yang terlibat dalam EKM dengan jumlah 50 orang.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Pengambilan sampelnya dilakukan dengan cara sampling purposive. Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan, atau penelitian tentang kondisi politik di suatu daerah, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli politik (Sugiyono, 2016: 124). Penulis memilih teknik ini karena teknik ini cocok dengan situasi yang ada di lapangan. EKM adalah kegiatan yang dibuat, dilaksanakan, dan diperuntukan untuk orang muda, maka sangat tepat apabila sampelnya adalah orang muda. 8. Tempat dan Waktu Penelitian Penulis melaksanakan penelitian ini Paroki Santo Antonius Kotabaru dan waktu penelitian dilaksanakan pada awal bulan Oktober 2018 sampai dengan akhir bulan Oktober 2018. 9. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016: 60). Aspek-aspek yang akan diteliti yakni berhubungan dengan Ekaristi Kaum Muda terhadap keterlibatan hidup menggereja Orang Muda Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta. Maka dari itu penulis mengelompokkan variabel penelitian ke dalam tabel sebagai berikut:

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Tabel 1. Variabel Penelitian No Variabel-variabel No. Item Jumlah (1) (2) (3) (4) 1-10 10 a. Faktor pendukung : 11-16 5 b. Faktor penghambat : 17-20 4 22 1 1 Dampak EKM terhadap hidup menggereja OMK 2 Faktor-faktor Pendukung dan penghambat dari EKM 3 Usulan kegiatan untuk meningkatkan EKM demi hidup menggereja 20 Total 10. Teknik Analisis Data Moleong (2011: 280) mendefinisikan analisis data sebagai proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari sumber yakni kuesioner. Setelah mendapat data, penulis akan menyampaikan data dan persentase dalam bentuk deskripsi atau kalimat. Sebagai tahap terakhir, penulis melakukan pemeriksaan data kembali dan menafsirkan data yang sesungguhnya berdasarkan hasil penelitian (Moleong, 2011: 247).

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Penulis memperoleh persentase suara responden dengan cara membagi frekuensi suara masuk (F) dengan jumlah responden keseluruhan (N) kemudian dikalikan dengan 100% atau dengan rumus : Keterangan : F x 100% N F: Suara Masuk / N: Jumlah Responden C. Laporan Hasil Penelitian Pada bagian ini penulis akan memaparkan laporan hasil penelitian berkaitan dengan peranan EKM terhadap keterlibatan hidup menggereja OMK di Paroki Kotabaru berdasarkan data yang penulis peroleh melalui kuesioner. Dalam penyebaran dan pengumpulan kuesioner, penulis tidak langsung memberikan kepada responden melainkan melalui bantuan ketua OMK. Penulis akan menyajikan dalam bentuk tabel-tabel. Hasil penelitian yang penulis laporkan meliputi: dampak EKM terhadap hidup menggereja OMK, Faktorfaktor Pendukung dan penghambat dari EKM dan usulan kegiatan untuk meningkatkan EKM demi hidup menggereja. Jawaban dari setiap item instrumen dalam kuesioner mempunyai gradasi positif sampai negatif. Jawaban Sangat Setuju (SS) dan Setuju (S) menunjukkan jawaban positif bahwa pernyataan yang diberikan sesuai dengan jawaban atau fakta yang dialami responden. Jawaban Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS)

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 menunjukan jawaban negatif bahwa pernyataan yang diberikan tidak sesuai dengan jawaban atau fakta yang dialami responden. Sedangkan untuk jawaban Netral (N) tidak perhitungkan. Dalam kuesioner ini yang diperhitungkan hanya jawaban yang terbanyak positif (SS dan S) atau negatif (TS dan STS). 1. Dampak Ekaristi Kaum Muda terhadap hidup menggereja OMK Tabel 2 memaparkan hasil penelitian penulis mengenai dampak EKM terhadap hidup menggereja OMK. Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam tabel berikut. Tabel 2. Dampak Ekaristi Kaum Muda terhadap hidup menggereja OMK (N=50) No Item 1. Pernyataan Total jawaban Persentase (%) a. Sangat setuju 21 42% b. Setuju 20 40% c. Netral 9 18% d. Tidak setuju - - e. Sangat tidak setuju - - a. Sangat setuju 24 48% b. Setuju 15 30% c. Netral 11 22% d. Tidak setuju - - e. Sangat tidak setuju - - EKM sebagai sarana pengaktualisasian diri OMK 2. EKM sebagai sarana OMK untuk mengungkapkan iman kepada Yesus

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 3. EKM membantu OMK semakin menghayati Ekaristi 4. 5. a. Sangat setuju 15 30% b. Setuju 24 48% c. Netral 11 22% d. Tidak setuju - - e. Sangat tidak setuju - - a. Sangat setuju 16 32% b. Setuju 29 58% c. Netral 5 10% d. Tidak setuju - - e. Sangat tidak setuju - - a. Sangat setuju 26 52% b. Setuju 22 44% c. Netral 2 4% d. Tidak setuju - - e. Sangat tidak setuju - - - - a. Sangat setuju 12 24% b. Setuju 30 60% c. Netral 8 16% d. Tidak setuju - - OMK telah menghidupi spritualitas EKM EKM memotivasi OMK untuk mengikuti Perayaan Ekaristi 6. EKM membantu menjawab kebutuhan OMK e. Sangat tidak setuju 7. EKM sebagai sumber semangat OMK

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 dalam hidup menggereja 8. a. Sangat setuju 18 36% b. Setuju 25 50% c. Netral 7 14% d. Tidak setuju - - e. Sangat tidak setuju - - a. Sangat setuju 16 32% b. Setuju 26 52% c. Netral 8 16% d. Tidak setuju - - e. Sangat tidak setuju - - - - b. Setuju 15 30% c. Netral 32 64% d. Tidak setuju 3 6% e. Sangat tidak setuju - - a. Sangat setuju 18 36% b. Setuju 27 54% c. Netral 5 10% d. Tidak setuju - - e. Sangat tidak setuju - - EKM membantu OMK untuk mendalami hidup rohani 9. EKM sebagai sarana untuk mempersatukan OMK yang berbeda latar belakang a. Sangat setuju 10. EKM menampilkan situasi dan persoalan kaum muda

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Item 1 berbicara mengenai EKM sebagai sarana pengaktualisasian diri OMK. Data menunjukan sebanyak 42% responden menyatakan diri sangat setuju kalau EKM sebagai sarana pengaktualisaasian diri, 40% menyatakan setuju, 18% menyatakan ragu-ragu atau netral bahwa dengan EKM dirinya dapat mengaktualisasikan diri. Item 2 berbicara tentang EKM sebagai sarana OMK untuk mengungkapkan iman kepada Yesus. Data menunjukan sebanyak 48% responden menyatakan diri sangat setuju bahwa EKM sarana untuk mengungkapkan iman akan Yesus, 30% menyatakan setuju dan 22% menyatakan ragu-ragu atau netral bahwa EKM sebagai tempat dimana dirinya mengungkapkan iman akan Yesus. Item 3 berbicara tentang EKM membantu OMK semakin menghayati Ekaristi. Data menunjukan sebanyak 48% responden setuju bahwa EKM membantu semakin menghayati Ekaristi, 30% menyatakan sangat setuju, dan 22% menyatakan ragu-ragu atau netral. Item 4 berbicara mengenai OMK telah menghidupi spritualitas EKM. Data menunjukan sebanyak 58% respoden setuju telah menghidupi spritualitas EKM, 32% menyatakan sangat setuju, dan sebanyak 10% menyatakan ragu-ragu atau netral. Item 5 berbicara mengenai pelaksanaan EKM secara umum seperti visualisasi, tarian, koor, dekorasi dan lain-lain, memotivasi OMK untuk mengikuti Perayaan Ekaristi. Data menunjukan 52% responden menyatakan sangat setuju bahwa EKM

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 memotivasi OMK untuk mengikuti Perayaan Ekaristi, 44% menyatakan setuju, dan yang terkahir 4% menyatakan ragu-ragu atau netral. Item 6 berbicara tentang EKM membantu menjawab kebutuhan OMK. Data yang diperoleh menunjukan 60% menyatakan setuju bahwa EKM membantu menjawab kebutuhan OMK, 24% menyatakan sangat setuju dan 16% menyatakan ragu-ragu atau netral. Item 7 berbicara tentang EKM sebagai sumber semangat OMK dalam hidup menggereja. Data yang diperoleh menunjukan 50% menyatakan setuju EKM sebagai sumber semangat OMK dalam hidup menggereja, 36% menyatakan sangat setuju dan 14% menyatakan ragu-ragu atau netral. Item 8 berbicara tentang EKM membantu OMK untuk mendalami hidup rohani. Data menunjukan 52% menyatakan setuju bahwa EKM membantu OMK untuk mendalami hidup rohani. Sedangkan 32% menyatakan sangat setuju, dan 16% menyatakan ragu-ragu atau netral. Item 9 berbicara tentang EKM sebagai sarana untuk mempersatukan OMK yang berbeda latar belakang. Data menunjukan 64% menyatakan setuju bahwa EKM sebagai sarana untuk mempersatukan OMK yang berbeda latar belakang, 30% menyatakan sangat setuju, dan 6% menyatakan ragu-ragu atau netral. Item 10 berbicara tentang EKM menampilkan situasi dan persoalan kaum muda. Data menunjukan 54% menyatakan setuju bahwa EKM menampilkan situasi dan

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 persoalan kaum muda, 36% menyatakan sangat setuju, dan 10% menyatakan raguragu atau netral. 2. Faktor-faktor pendukung dan penghambat dari EKM Tabel 3 memaparkan hasil penelitian penulis mengenai faktor-faktor pendukung dan penghambat dari EKM. Nomor item 11-16 mengenai faktor pendukung dan nomor item 17-20 mengenai faktor penghambat. Untuk urutan item nomor, nomor 12 tidak dicantumkan, dikarenakan kekeliruan dari penulis. Nomor item pada tabel ini sesuai dengan kuesioner yang sudah ada. Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam tabel berikut. No Item 11. Tabel 3. Faktor-faktor pendukung dan penghambat EKM (N=50) Pernyataan Total Persentase jawaban (%) Lagu-lagu EKM menyenangkan a. Sangat setuju 13. - - b. Setuju 18 36% c. Netral 30 60% d. Tidak setuju 2 4% e. Sangat tidak setuju - - a. Sangat setuju 14 28% b. Setuju 33 66% c. Netral 3 6% d. Tidak setuju - - Dengan visualisasi dan tarian EKM menjadi menarik

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 e. Sangat tidak setuju 14. - - a. Sangat setuju 17 34% b. Setuju 31 62% c. Netral 2 4% d. Tidak setuju - - e. Sangat tidak setuju - - Ekaristi 10 20% a. Sangat setuju 33 66% b. Setuju 7 14% c. Netral - - d. Tidak setuju - - a. Sangat setuju 7 14% b. Setuju 40 80% c. Netral 3 6% d. Tidak setuju - - e. Sangat tidak setuju - - a. Sangat setuju 3 6% b. Setuju 9 18% c. Netral 14 28% Tema EKM setiap bulan menarik dan menginspirasi OMK 15. Petugas EKM memotivasi bersemangat OMK untuk dan merayakan e. Sangat tidak setuju 16. Dekorasi, penampilan, dan kreativitas EKM membantu OMK semakin menghayati Ekaristi 17. EKM bertele-tele

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 18. d. Tidak setuju 15 30% e. Sangat tidak setuju 9 18% a. Sangat setuju 9 18% b. Setuju 5 10% c. Netral 13 26% d. Tidak setuju 17 34% e. Sangat tidak setuju 6 12% a. Sangat setuju 6 12% b. Setuju 11 22% c. Netral 13 26% d. Tidak setuju 14 28% e. Sangat tidak setuju 6 12% a. Sangat setuju 8 16% b. Setuju 4 8% c. Netral 23 46% d. Tidak setuju 12 24% e. Sangat tidak setuju 3 6% Petugas koor EKM menyanyikan lagu yang tidak dikenal OMK 19. Suasana EKM tidak khusuk seperti Ekaristi biasanya 20. EKM sebagai pertunjukan atau show off Berdasarkan tabel di atas, item 11 berbicara tentang lagu-lagu EKM menyenangkan. Data menunjukan sebanyak 60% responden menyatakan setuju bahwa lagu-lagu EKM menyenangkan, 36% menyatakan sangat setuju, dan 4% menyatakan ragu-ragu atau netral.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Item 13 berbicara tentang dengan adanya visualisasi dan tarian EKM menjadi menarik. Data menunjukan sebanyak 66% responden menyatakan setuju bahwa dengan adanya visualisasi dan tarian, EKM menjadi menarik, 28% menyatakan sangat setuju, dan 6% menyatakan ragu-ragu atau netral. Item 14 berbicara tentang tema EKM setiap bulan menarik dan mengispirasi OMK. Data menunjukan sebanyak 62% responden menyatakan setuju bahwa tema EKM setiap bulan menarik dan mengispirasi OMK, 34% menyatakan sangat setuju, dan 4% menyatakan ragu-ragu atau netral. Item 15 berbicara tentang petugas EKM bersemangat dan memotivasi OMK untuk merayakan Ekaristi. Data menunjukan sebanyak 66% responden menyatakan setuju bahwa petugas EKM bersemangat dan memotivasi OMK merayakan Ekaristi, 20% menyatakan sangat setuju, dan 14% menyatakan ragu-ragu atau netral. Item 16 berbicara tentang dekorasi, penampilan dan kreativitas EKM membantu OMK semakin menghayati Ekaristi. Data menunjukan sebanyak 80% responden menyatakan setuju bahwa dekorasi, penampilan dan kreativitas EKM membantu semakin menghayati Ekaristi, 14% menyatakan sangat setuju dan 6% menyatakan ragu-ragu atau netral. Item 17 berbicara tentang EKM bertele-tele. Data menunjukan sebanyak 30% responden menyatakan tidak setuju bahwa EKM bertele-tele, 28% menyatakan ragu-

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 ragu atau netral, 18% menyatakan setuju dan sangat tidak setuju, sisanya 6% menyatakan sangat setuju. Item 18 berbicara tentang petugas koor EKM menyanyikan lagu yang tidak dikenal OMK. Data menunjukan sebanyak 34% responden menyatakan tidak setuju kalau petugas koor EKM menyanyikan lagu yang tidak dikenal OMK, 26% menyatakan netral, 18% menyatakan sangat setuju, 12% menyatakan sangat tidak setuju dan 10% menyatakan setuju. Item 19 berbicara tentang suasana EKM tidak khusuk seperti Ekaristi biasanya. Data menunjukan sebanyak 28% responden menyatakan tidak setuju kalau suasana EKM tidak khusuk seperti Ekaristi biasanya, 26% menyatakan netral, 22% menyatakan setuju dan 12% menyatakan sangat setuju dan sangat tidak setuju. Item 20 berbicara tentang EKM sebagai pertunjukan atau show off. Data menunjukan sebanyak 46% menyatakan ragu-ragu atau netral kalau EKM sebagai pertunjukan atau show off, 24% menyatakan tidak setuju, 16% menyatakan sangat setuju, 8% menyatakan setuju dan 6% menyatakan sangat tidak setuju. 3. Usulan kegiatan untuk meningkatkan EKM demi hidup menggereja Tabel 4 akan memaparkan hasil penelitian penulis mengenai usulan kegiatan untuk meningkatkan EKM demi hidup menggereja. Untuk lebih jelas dapat dilihat dalam tabel berikut.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Tabel 4. Usulan Kegiatan untuk meningkatkan EKM demi hidup menggereja No. Pertanyaan 22. Usulan kegiatan yang Total jawaban Persentase (%) diberikan bagi OMK Paroki St. Antonius Kotabaru untuk semakin menghayati EKM dalam rangka memumpuk semangat hidup menggereja a. Rekoleksi 17 34% b. Retreat 16 32% c. Kegiatan dalam 9 18% 8 16% bentuk pelayanan pastoral d. Sarasehan Berdasarkan tabel di atas, item 22 berbicara tentang usulan kegiatan yang diberikan bagi OMK Paroki St. Antonius Kotabaru untuk semakin menghayati EKM dalam rangka memumpuk semangat hidup menggereja. Data menunjukan sebanyak 34% responden memilih kegiatan Rekoleksi, 32% memilih Retreat, 18% memilih kegiatan dalam bentuk pelayanan pastoral dan 16% memilih kegiatan sarasehan.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 D. Pembahasan Hasil Penelitian Bagian ini akan membahas setiap variabel yang sudah ditentukan dalam penelitian. Ada 3 bagian yang dibahas: pertama adalah dampak Ekaristi Kaum Muda terhadap hidup menggereja OMK. Kedua adalah faktor-faktor pendukung dan penghambat EKM, dan yang ketiga adalah usulan kegiatan untuk meningkatkan EKM demi hidup menggereja. 1. Dampak Ekaristi Kaum Muda terhadap hidup menggereja OMK Berdasarkan data dari hasil penelitian, penulis menyatakan bahwa Ekaristi Kaum Muda sebagai sarana pengaktualisasian diri bagi OMK. Seperti Kristus yang telah mengadakan kurban Ekaristis melalui tubuh dan darah-Nya dan mempercayakannya kepada Gereja, sebagai sarana untuk mengaktualisasikan kurban salib-Nya. Gereja mengungkapkan secara penuh pengakuan imannya melalui Ekaristi. Terlibat dalam perayaan Ekaristi berarti terlibat dalam kehidupan dan communio Gereja seluruhnya (Prasetyantha, 2008: 82), begitu pula dengan EKM. EKM membuka ruang dan kesempatan kepada OMK yang mau terlibat dalam hidup menggereja. Banyak kesempatan yang bisa dilakukan oleh OMK untuk mengaktualisasikan dirinya melalui EKM. Bisa sebagai Tim Kerja EKM maupun sebagai sponsor atau petugas EKM. Ekaristi adalah perayaan iman. Begitu juga dengan EKM. Artinya, dalam Perayaan EKM diungkapkan iman seluruh umat (OMK) akan penyelamatan Allah yang terjadi dalam Yesus Kristus. EKM menjadi sarana yang menghadirkan dan menyatukan Pribadi Yesus Kristus dengan umat. Seluruh usaha, niat baik dan kerja

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 keras yang dilakukan oleh Tim Kerja EKM maupun petugas EKM, mau mengungkapkan dan mensyukuri atas iman yang mereka miliki. Iman kepada Yesus Kristus yang senantiasa meneguhkan dan menyemangati mereka dalam suka maupun duka. Karena dalam EKM Kristus hadir secara sakramental, artinya dalam tanda yang konkret. Kehadiran Kristus secara real dalam rupa hosti dan anggur. Artinya, roti dan anggur dalam Ekaristi bukan hanya melambangkan Kristus, tetapi sungguh menjadi tubuh dan darah Kristus (GS 38). Maka EKM sangatlah tepat menjadi salah satu sarana untuk mengungkapkan iman kepada Yesus. OMK menyatakan bahwa EKM membantu mereka untuk semakin menghayati Ekaristi. EKM dirancang khusus untuk kaum muda. Di dalam EKM tampak jelas konsep Ekaristi disajikan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialami kaum muda. Ekaristi yang dikemas sedemikian, membantu OMK untuk semakin menghayati Ekaristi sesungguhnya. Karena dengan EKM orang muda semakin dekat, tersapa dan memiliki semangat untuk merayakan Ekaristi. Spritualitas EKM ialah membangun perjumpaan pribadi dengan Allah dalam berbagai suasana dengan cara dan ciri khas kaum muda yang berbeda-beda (Tim Ekaristi Kaum Muda, 2010:12). Berdasarkan pengertian tersebut dan data dari hasil penelitian, OMK menyatakan bahwa mereka menghidupi Spritualitas EKM. Menghidupi spritualitas EKM berarti mereka telah membangun perjumpaan pribadi dengan Allah dengan segala situasi dan kekhasan yang mereka miliki. Perjumpaan dengan Allah ini nampak dalam kehidupan OMK sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan hidup menggereja. Perjumpaan dengan Allah tidak terbatas pada upacara misa

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 atau doa, melainkan dalam hidup sehari-hari bersama dengan orang lain. Dengan mengambil bagian dalam setiap tugas dan tanggungjawab yang dipercaya. Sadar bahwa semua yang dilakukan merupakan ungkapan kasih kepada Allah yang terus hadir dalam perjalan hidup ini. OMK menyatakan bahwa EKM memotivasi untuk mengikuti Perayaan Ekaristi. Pada hakikatnya Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani”, sama EKM juga demikian. EKM menjadi sumber dan pusat hidup bagi OMK, melalui Ekaristi hidup menjadi berarti dan bermakna, karena Ekaristi adalah Kristus sendiri yang hadir dan menyertai hidup ini. EKM yang dikemas dengan konsep atau nuansa kaum muda memberi warna tersendiri terhadap Ekaristi yang dirayakan. Ekaristi yang menyenangkan, menarik, kreatif dan menginspirasi adalah salah satu alasan yang dapat memotivasi OMK untuk hadir dalam Perayaan Ekaristi. OMK menyatakan bahwa EKM menjawab kebutuhan mereka. Kebutuhan yang dimaksud disini adalah situasi dan kondisi secara umum yang dihadapi oleh OMK. Secara garis besar kehadiran EKM telah membantu para OMK yang sedang bergulat dalam seluruh aspek kehidupan baik itu rohani, asmara, sosial, pendidikan, pekerjaan dll. EKM mencoba memberikan tanggapan atas apa yang telah terjadi dengan memberikan motivasi, dukungan, semangat, nasehat, doa dan berbagai macam cara yang dapat memberikan manfaat dan bekal bagi para OMK. Hidup menggereja berkaitan dengan beberapa tugas Gereja yaitu liturgia, koinonia, kerygma, diakonia dan martyria. EKM menjadi sumber dalam mengamalkan 5 aspek tugas Gereja tersebut. Melalui EKM setiap OMK menemukan,

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 mengakui dan menyatakan identitas Kristiani mereka dalam Gereja Katolik. Hal ini dinyatakan melalui doa, simbol, lambang-lambang dan lain-lan. Mereka berpartisipasi dengan mengambil bagian sebagai lektor, pemazmur, organis, misdinar, paduan suara, penghias altar dan lain-lain. Melalui EKM, OMK ikut serta membawa kabar gembira bagi siapapun yang dijumpai dengan terang Injili. EKM menjadi wadah persekutuan atau persaudaraan orang muda yang dicintai oleh Allah dengan perantaraan Yesus Kristus dalam kuasa Roh Kudus-Nya. EKM ini tidak hanya menyatukan OMK saja, melainkan menciptakan kesatuan antar umat dan juga masyarakat. EKM juga mengajak OMK untuk prihatin dan melaksanakan karya cinta kasih kepada sesamanya, khususnya mereka yang miskin, telantar dan tersingkir. Melalui EKM ini pula, OMK ikut menjadi saksi Kristus bagi dunia. Menghayati hidup sehari-hari sebagai orang beriman baik di rumah, sekolah, kampus, tempat kerja maupun di tengah masyarakat. OMK menyatakan EKM membantu untuk mendalami hidup rohani. Ini sesuai dengan visi dan misi EKM Paroki St. Antonius Kotabaru. EKM menjadi sarana OMK untuk mengungkapkan pujian syukur atas rahmat penyertaan dan keselamatan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. EKM menciptakan kedekatan personal antara pribadi Allah dengan OMK. Allah tidak jauh di surga, melainkan Allah dekat dan hadir bersama OMK khususnya dalam perayaan EKM. Dengan EKM inilah hidup rohani OMK semakin mendalam, dewasa dan dinamis sesuai dengan kepribadian kaum muda.

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 OMK menyatakan EKM mempersatukan mereka. EKM adalah kebersamaan, kekeluargaan dan persaudaraan. EKM menghimpun orang muda yang beriman kepada Kristus untuk bersama-sama mengungkapkan dan merayakan imannya atas segala kebaikan Tuhan yang nyata dalam hidup sehari-hari. EKM bukan sekedar misa atau ibadat saja, tetapi sebagai suatu simbol yang menggambarkan diri Yesus Kristus sebagai Kepala dan anggota-Nya (SC 7). Ini menunjukan bahwa dalam EKM Kristus hadir bersama OMK yang berhimpun atas nama-Nya. Perbedaan seperti suku, warna kulit, status sosial, kaya miskin, dan lain-lain bukan menjadi penghalang, tetapi telah diubah menjadi suatu kesatuan dan keindahan yang dimiliki oleh OMK Paroki St. Antonius Kotabaru. EKM bermula dari kaum muda, diolah dan dipersiapkan oleh kaum muda, serta dipergunakan untuk mewujudkan iman kaum muda yang dinamis. Pelaku utama EKM adalah kaum muda/OMK. Mereka mengetahui apa yang menjadi situasi dan persoalan mereka sendiri. Mereka pula yang mencari jawaban dan solusi dari situasi dan persoalan yang dihadapi mereka. Melalui EKM, mereka mencoba memproyeksikan situasi dan persoalan mereka dalam terang kasih Tuhan. Melibatkan Tuhan dalam seluruh situasi dan persoalan yang mereka hadapi setiap hari. Harapannya bahwa EKM tidak hanya menampilkan situasi dan persoalan kaum muda, tetapi juga dapat memberikan semangat /dukungan baik itu melalui doa, homili, visualisasi, lagu-lagu, dan lain sebagainya.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 2. Faktor-faktor pendukung dan penghambat EKM OMK senang dengan lagu-lagu yang dinyanyikan ketika EKM. Hal ini karena lagu-lagu yang dipilih oleh Tim kerja dan petugas koor EKM sesuai dengan tema EKM. Lagu-lagu dibawakan memiliki makna dan berkaitan dengan situasi dan kondisi kaum muda. Lagu-lagunya pun nyaman dan mudah untuk diikuti, sehingga tidak hanya petugas koor yang menyanyi tetapi juga para umat/OMK yang hadir saat itu. Ini menunjukan kebersamaan dan kesatuan bahwa Ekaristi yang dirayakan bukan untuk kelompok tertentu, melainkan ungkapan syukur bersama-sama. Semua orang diberi kesempatan untuk berpatisipasi dalam seluruh perayaan khususnya dalam nyanyian-nyanyian. OMK merasa terbantu dengan adanya visualisasi dan tarian EKM menjadi menarik. Visualisasi dan tarian menjadi salah satu unsur yang dapat menciptakan Ekaristi menjadi lebih semarak dan menyentuh hati. Ini bertujuan agar Ekaristi yang dirayakan dapat membantu OMK untuk semakin menghayati Ekaristi sesungguhnya. Bukan sekedar tampilan penghibur belaka, melainkan sebagai instrumen yang dapat membantu OMK semakin menghayati dan mencintai Ekaristi. OMK menyatakan bahwa tema EKM setiap bulannya menarik dan menginspirasi. Tema EKM merujuk pada konteks hidup orang muda. Tema yang ditentukan mengandung unsur yang menarik dan menginspirasi. Salah satunya dengan memilih bahasa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari anak muda, karena dengan diksi yang tepat dan familiar, akan membantu untuk menciptakan tema yang menarik dan menginspirasi. Tidak mudah menciptakan suatu

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 tema yang menarik dan menginspirasi. Butuh ketelitian, kreativitas serta semangat untuk berfikir bagaimana menciptakan tema yang sedemikian menarik dan menginspirasi. Tema yang menarik dan menginspirasi inilah yang akan menggerakan, memunculkan, dan menyemangati OMK untuk semakin menghayati Ekaristi dalam konteks hidupnya sehari-hari. Petugas EKM telah menunjukan kualitas dan profesionalitasnya sebagai orang yang bertanggungjawab atas EKM. Mereka adalah pelayan Tuhan yang secara khusus mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi baik sebagai MC, lektor, pemazmur, tatalaksana, paduan suara, penari, dan lain sebagainya. Mereka secara iklhas mengorban tenaga dan waktunya untuk berlatih atau mempersiapakan EKM secara matang. Mereka telah menunjukan semangat pelayanan yang totalitas , semuanya demi kelancaran EKM. Dekorasi, penampilan dan kreativitas petugas EKM telah membantu OMK untuk semakin menghayati Ekaristi. Suasana yang dibangun oleh petugas melalui dekorasi, penampilan (visualisasi/tarian) dan berbagai kreativitas merupakan cara yang dilakukan agar EKM yang dirayakan menjadi semarak dan menarik. Hal itu perlu dibangun, supaya EKM yang dirayakan dapat membantu OMK untuk menangkap pesan yang disampaikan dalam EKM tersebut. EKM berbeda dengan Ekaristi pada umumnya. Seperti pada hari minggu atau hari raya lainnya. EKM memiliki kekhasan dalam susunan liturginya, beberapa bagian dimodifikasi atau ditambah, namun tidak sama sekali mengurangi esensi liturgi Ekaristi sesungguhnya. Terlihat bertele-tele, tapi sesungguhnya tidak

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 demikian, karena dari segi waktu dan pengkondisian, EKM telah diatur sesuai dengan Ekaristi pada umumnya. Bukan suatu masalah atau hambatan bila EKM tetap dipertahankan sebagaimana telah terlaksana. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh petugas koor dalam EKM sejauh ini tidak terlalu menjadi masalah. Petugas koor menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan seperti Ekaristi pada umumnya. Biasanya hanya diubah bentuk lagu dan musiknya sesuai dengan tema EKM saat itu. Lagu-lagu yang dibawakan masih bernuansa liturgis, kemungkinan besar OMK pun pernah mendengar dan biasa menyanyikannya. EKM masih memberikan suasana yang khusuk dalam setiap perayaannya. EKM bukan kegiatan hura-hura, melainkan suatu Perayaan Syukur yang dirayakan bersama oleh OMK dengan segala kreativitas dan keunikannya dalam merayakan Ekaristi. EKM tidak bisa dilihat dari sudut pandang yang sempit, tetapi perlu secara luas melihat dan memahaminya. EKM memberikan suasana yang menarik dan semarak, namun tidak menghilangkan kedalaman penghayatan terhadap makna Ekaristi. Tim Kerja dan Petugas EKM memiliki harapan agar pelaksanaan EKM berjalan lancar dan dapat membantu OMK untuk memaknai Ekaristi. Hal ini tidak terlepas dari penampilan yang dibawakan oleh para petugas EKM. Misalnya seperti paduan suara, visualisasi, tarian dan lain sebagainya. EKM bisa dilihat sebagai suatu ajang pertunjukan atau show off, namun bisa juga dilihat sebagai totalitas dari performance pelaksanaan EKM itu sendiri. EKM yang baik perlu mempersiapkan dan

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 menampilkan segala sesuatunya dengan matang dan serius. Namun, bisa jadi orang yang melihatnya itu sebagai suatu ajang pertunjukan yang menampilkan kehebatan. Petugas dan Tim Kerja EKM perlu memperhatikan hal ini, agar tidak memiliki kesan sebagai faktor penghambat yang akan menghilangkan esensi dari Ekaristi. 3. Usulan kegiatan untuk meningkatkan EKM demi hidup menggereja Berdasarkan hasil penelitian, OMK mengusulkan kegiatan Rekoleksi. Kegiatan rekoleksi ini menjadi pilihan bagi OMK dalam rangka menghayati EKM sebagai semangat dalam hidup menggereja. Penulis merasa kegiatan rekoleksi menjadi pilihan yang tepat bagi OMK untuk semakin memaknai Ekaristi dan hidup menggereja. Melalui kegiatan ini, harapannya OMK dapat terbantu dan tergerak untuk terus aktif dalam EKM sebagai landasan dalam hidup menggereja. E. Kesimpulan Hasil Penelitian Hasil penelitian sudah memberikan jawaban atas pertanyaan yang telah diberikan melalui kuesioner. Kesimpulan ini mengacu dari tujuan diadakannya penelitian. Penelitian ini berfokus pada EKM dan kaitannya dengan hidup menggereja OMK. Dua poin ini menjadi alasan mendasar dari penulis untuk mengetahui apakah sejauh ini EKM sudah berpengaruh terhadap perkembangan hidup menggereja OMK Paroki St. Antonius Kotabaru. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikatakan bahwa EKM telah berdampak positif terhadap hidup menggereja OMK. EKM bukan hanya sekedar perayaan misa saja, banyak hal yang bisa digali lebih dalam dari EKM. EKM berpengaruh terhadap banyak hal seperti pengaktualisasian diri, tempat perjumpaan dengan Yesus,

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 memotivasi untuk hadir Ekaristi, menumbuhkan semangat hidup menggereja, mendalami hidup rohani dan lain sebagainya. Dapat dikatakan bahwa EKM berhasil memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada OMK dalam semangat hidup menggereja. Hidup menggereja dapat dialami dalam EKM, karena banyak hal yang bisa diambil dan dikembangkan di dalamnya. Secara garis besar EKM menjadi pondasi yang kuat bagi OMK dalam menumbuhkembangkan semangat pelayanan dalam lingkup Gereja dan masyarakat. Ada beberapa faktor yang berpotensi menjadi pendukung dan penghambat dalam EKM. EKM berbeda dari Ekaristi biasanya, ada bagian-bagian tertentu yang dimodifikasi atau ditambahkan. Hal ini bertujuan agar pelaksanaan EKM menjadi semarak dan membantu OMK untuk semakin memaknai Ekaristi dalam kacamata mereka. Ini didukung oleh variasi liturgi yang dibuat oleh Tim kerja dan Petugas EKM. Konsep yang telah dibuat sejauh ini sudah berjalan dengan baik. OMK merasa bahwa variasi yang telah dibuat dalam EKM telah memberikan warna baru dalam Ekaristi. Variasi ini meliputi visualisasi, tarian, dekorasi, tema dan lagu-lagu. Variasi liturgi EKM menjadi kekuatan dan kekhasan bagi OMK dalam merayakan Ekaristi. Ini menjadi pendukung dalam pelaksanaan EKM. Semua yang diberikan dalam EKM sesungguhnya untuk kehidupan OMK yang lebih baik, menjadikan mereka sebagai kaum muda yang aktif, kreatif dan mencintai Ekaristi dalam hidup mereka masingmasing.

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Sebagai tindak lanjut dari hasil kesimpulan atau penelitian, penulis akan mengusul kegiatan rekoleksi bagi OMK untuk semakin meningkat semangat hidup menggereja OMK. Kegiatan rekoleksi ini akan dijelaskan pada bab IV.

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 BAB IV USULAN KEGIATAN BAGI ORANG MUDA KATOLIK PAROKI ST. ANTONIUS KOTABARU SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN SEMANGAT HIDUP MENGGEREJA Pada bab ini akan dijelaskan mengenai usulan kegiatan sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian yang diperoleh. Penulis akan menguraikan usulan kegiatan rekoleksi bagi Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Antonius Kotabaru. Maka dari itu, penulis perlu memikirkan dan merencanakan segala sesuatu yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan ini antara lain: latar belakang kegiatan, rumusan dan tujuan, penjabaran kegiatan dan contoh persiapan kegiatan. A. Latar Belakang Kegiatan Paroki St. Antonius Kotabaru telah memberikan perhatian dan dukungan kepada setiap umatnya, secara khusus kepada OMK. OMK mendapat kesempatan istimewa, karena setiap bulan pada minggu ketiga, OMK mengadakan Ekaristi Kaum Muda. Ekaristi ini bertujuan agar OMK semakin dekat dengan Allah dan peka terhadap panggilan-Nya, baik dalam lingkup Gereja maupun luar Gereja/masyarakat. Panggilan ini merupakan buah dari EKM yang senantiasa menggerakan OMK untuk melibatkan diri dengan mengorbankan waktu, tenaga, materi, emosi, dan lain sebagainya. Sejauh ini OMK telah menghidupi panggilannya dalam hidup menggereja, salah satunya mengambil bagian sebagai Tim Kerja EKM dan Petugas

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 EKM. Mereka menyadari bahwa EKM telah berdampak terhadap hidup menggereja dan imannya. Dengan ini, kehidupan menggereja khususnya, dipengaruhi oleh EKM yang menjadi motor atau penggerak OMK untuk semangat dalam hidup menggereja. Tentu hal ini perlu semakin disadari dan dimaknai dalam terang kasih Tuhan. Agar segala sesuatu yang sudah ada dan diberikan melalui EKM sungguh berdampak terhadap perkembangan iman dan hidup menggereja OMK. Sesuai dengan usualan kegiatan yang diminati OMK, penulis mengusulkan kegiatan rekoleksi, secara khusus bagi OMK yang yang terlibat dalam kegiatan EKM baik sebagai petugas maupun tim kerja EKM yang terhitung sesuai dengan informasi dari lingkungan dan tim kerja paroki. Kegiatan rekoleksi ini diadakan sebagai upaya meningkatkan semangat hidup menggereja OMK dalam tugas pelayan baik dalam lingkup Gereja maupun masyarakat. Sebuah panggilan hidup tidak cukup bila hanya dilakukan begitu saja tanpa memahami dan memaknai apa yang dilakukan. Perlu ada pengolahan dalam masing-masing pribadi agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan hidup menggereja. B. Rumusan Tema dan Tujuan Tema beserta penjabaran masing-masing sesi dalam kegiatan rekoleksi bagi OMK Paroki St. Antonius Kotabaru akan diuraikan pada bagian ini. Uraian tema dan tujuan kegiatan serta judul kegiatan masing-masing sesi yang akan digunakan dalam kegiatan rekoleksi ini adalah sebagai berikut: Tema : Menjadi OMK yang peduli dan terlibat dalam hidup menggereja

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Tujuan : OMK semakin peduli dan terlibat dalam hidup menggereja sebagai generasi penerus Gereja. Tema I : Panggilan Hidup Menggereja Tujuan : OMK semakin menghayati panggilannya dalam hidup menggereja sehingga dapat terus mantap dan diteguhkan dalam menjalani panggilan tersebut. Tema II : Hidup Menggereja Tujuan : OMK semakin memahami arti hidup menggereja sesungguhnya Tema III : Memaknai hidup menggereja OMK Tujuan : OMK mampu mengolah dan mendalami pengalaman hidup menggereja sebagai sesuatu yang bermanfaat dan meneguhkan dalam menghidupi semangat hidup menggereja. C. Peserta Peserta yang ikut dalam kegiatan rekoleksi ini adalah OMK yang terlibat dalam EKM baik sebagai Tim Kerja dan Petugas EKM. Namun tidak menutup kemungkinan bagi OMK yang juga mau ikut bergabung dalam rekoleksi ini. D. Waktu Pelaksanaan Waktu pelaksanaan dimengerti dalam arti waktu kapan kegiatan rekoleksi diadakan dan dalam arti berapa lama kegiatan rekoleksi itu akan berlangsung.

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Rekoleksi dapat diadakan pagi, siang, sore atau malam hari. Waktu kapan rekoleksi diadakan akan mempengaruhi pada kesegaran peserta ataupun pendamping. Dari segi waktu, rekoleksi bisa diadakan selama beberapa jam atau satu hari penuh (Mangunharjana, 1985: 33). Untuk kegiatan rekoleksi ini, penulis menyarankan sebaiknya dilaksanakan pada saat hari sabtu atau minggu, dikarenakan hari tersebut libur. E. Model Pelaksanaan Program kegiatan rekoleksi ini diusulkan untuk OMK Paroki St. Antonius Kotabaru yang dikemas dengan model berbagi pengalaman. Model ini menekankan pada proses yang bersifat dialogis dan partisipatif yang bermaksud mendorong peserta, berdasarkan konfrontasi antara “tradisi” dan “visi” Kristiani, agar baik secara pribadi maupun bersama, mampu mengadakan penegasan dan mengambil keputusan demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam kehidupan manusia yang terlibat dalam dunia. Model ini memiliki lima langkah yang berurutan dan saling berkaitan satu sama lain. Kelima langkah tersebut antara lain: mengungkapkan pengalaman hidup peserta, mendalami pengalaman hidup peserta, menggali iman Kristiani dalam situasi peserta konkret dan mengusahakan suatu aksi konkret.

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 F. Matriks Program Kegiatan Rekoleksi No 1 Tema : Menjadi OMK yang peduli dan terlibat dalam hidup menggereja Tujuan : OMK semakin peduli dan terlibat dalam hidup menggereja sebagai generasi penerus Gereja. Judul Sesi (2) Panggilan Hidup Tujuan Uraian Materi (3) OMK semakin Menggereja menghayati tentang panggilannya Sumber (7) - KGK no. 1878- pengalaman - Speaker 1979, hal. 464 “Tukang - Tanya jawab - Hand out - KGK no. 1913 dalam hidup Tambal Ban - Diskusi menggereja pendiri SLB” - Nonton - Panggilan (5) - Sharing Sarana (6) - Laptop sehingga dapat (4) - Video singkat Metode - Direktorium Formatio Iman KAS, hal 44 terus mantap dan manusia - https://www.youtub diteguhkan dalam - Tanggung e.com/watch?v=kG menjalani jawab dan panggilan tersebut keterlibatan - Menggereja dan memasyarakat NOldEL2vk

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 2 Hidup OMK semakin Menggereja memahami arti hidup menggereja sesungguhnya - Keikutsertaan - Tanya jawab - Alat tulis - Dokumen Konsili dalam perutusan - Bernyanyi - Hand out Vatikan ke II “ Gereja - Diskusi - Speaker Apostolicam - Laptop Actuositatem (AA) - Video No. 2 - Dasar-dasar hidup “Hidup ini menggereja - Bidang-bidang adalah kesempatan” hidup - KGK no. 783-786, hal 208 - Renungankatolik.wo rdpress.com/panca- menggereja tugas-gereja 3 Memaknai hidup OMK mampu menggereja OMK mengolah dan mendalami - Pengalaman hidup peserta - Cerita tentang - Ceramah - Laptop - Tanya jawab - Speaker - Sharing - Teks lagu - https://www.qureta.c - Hand Out om/post/kisah-ahok- pengalaman hidup “Kisah Ahok menggereja dan - Diskusi “Kisah Ahok sebagai sesuatu Perjuangannya” - Nyanyi dan pengalaman - Kitab Suci: Kisah Para Rasul 2:41-47 dan-perjuangannya - PS 682 dan 695”

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 yang bermanfaat - Bacaan KS: dan meneguhkan Kisah Para dalam Rasul 2:41-47 perjuangannya ” - Sumarno Ds., (2017). Program Pengalaman menghidupi Lapangan semangat hidup Pendidikan Agama menggereja Katolik - Bergant, Dianne dan Karris, Robert OFM. (2002). Tafsir Perjanjian Baru

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 G. Contoh Persiapan Rekoleksi 1) Tema : Menjadi OMK yang peduli dan terlibat dalam hidup menggereja 2) Tujuan : OMK semakin peduli dan terlibat dalam hidup menggereja sebagai generasi penerus Gereja. 3) Susunan acara : Tabel 5. Jadwal Rekoleksi OMK Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta No Waktu Kegiatan Keterangan 1. 2. 15.30-16.00 16.00-16.15 Registrasi peserta + snack Salam dan kata pembuka Panitia Panitia 3. 16.15-16.30 Panitia 4. 16.30-16.45 Nyanyian dan doa pembuka Ice breaking Sesi I “Panggilan Hidup Menggereja” 5. 16.45- 18.00 - OMK diajak untuk menonton video singkat tentang “Tukang Tambal Ban pendiri SLB” - Pendamping menjelaskan materi panggilan manusia, tanggung jawab dan keterlibatan dan menggereja dan memasyarakat Pendamping Rekoleksi Pendamping rekoleksi

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 6. 18.00-18.30 Sharing pengalaman dalam kelompok 7. 8. 18.30- 19.00 Pleno kelompok 19.30- 21.30 “Makan malam” - Api Unggun Pendamping rekoleksi Pendamping rekoleksi Panitia - bakar-bakar jagung dan sosis 9. 21.30-21.40 Doa Malam sebelum tidur Peserta 10. 05.30-06.00 Istirahat Malam Senam Pagi Panitia 11. 06.00-07.00 Out Bound/ Games Panitia 12. 07.00-07.30 Mandi 13. 07.30-08.00 Sarapan pagi Panitia 14. 08.00-08.15 Ice Breaking Pendamping Rekoleksi 15. 08.15-09.30 Sesi II “Hidup Menggereja” Pendamping Menjelaskan materi keikutsertaan dalam Panitia dan peserta Pedamping Rekoleksi perutusan Gereja, dasar-dasar hidup menggereja dan bidangbidang hidup menggereja 16. 17. 09.30-09.45 Pendamping rekoleksi dan peserta Sesi III “ Memaknai Hidup Menggereja OMK” 09.45-10.30 Pendamping Pendamping mengajak rekoleksi dan peserta untuk peserta mengsharingkan Ice breaking/games pengalaman hidup

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 menggerejanya 18. 10.30-11.00 Mendalami Teks Kitab Suci dari Kisah Para Rasul 2:41- Pedamping rekoleksi dan peserta 47 19. 11.00-11.30 Refleksi Pribadi Peserta 20. 11.30-12.00 Pleno Refleksi Peserta 21. 12.00-12.05 Doa Angelus Peserta 22. 12.05-12.30 Peneguhan dari pendamping Pendamping Rekoleksi 23. 12.30-12.45 Persiapan misa Panitia 24. 12.45-13.45 Misa penutup Panitia dan peserta 25. 13.45-selesai Makan dan foto bersama Panitia dan peserta H. Contoh Persiapan Kegiatan Rekoleksi Sesi III 1. Identitas a. Tema : Memaknai Hidup Menggereja b. Tujuan : Bersama pendamping, peserta mampu mendalami dan mengolah pengalaman hidup menggereja sebagai sesuatu yang bermanfaat dan meneguhkan dalam menghidupi semangat hidup menggereja. c. Peserta : OMK St. Antonius Kotabaru Yogyakarta d. Tempat : Penting Sari

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 e. Hari /Tgl : Minggu, 25 November 2018 f. Waktu : Pukul 09.45-12.30 WIB g. Model : Berbagi pengalaman h. Metode : refleksi pribadi, informasi dan tanya jawab i. Sarana : Hand out lagu dan cerita, speaker, laptop j. Sumber bahan : - Bacaan Kisah Para Rasul 2: 41-47 - https://www.qureta.com/post/kisah-ahok-dan-perjuangannya - PS 682 dan 695 - Sumarno Ds., (2017). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik. Hal 18-31. - Bergant, Dianne dan Karris, Robert OFM. (2002). Tafsir Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 218 2. Pemikiran Dasar Kaum muda adalah generasi harapan keluarga, Gereja, Nusa dan Bangsa. Mereka mempunyai peranan penting dalam kemajuan dan perkembangan kehidupan ini. Gereja sebagai rumah kedua menjadi tempat untuk membina dan memupuk iman mereka ke tahap iman yang dewasa. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan kaum muda untuk ambil bagian dalam hidup menggereja. Memberikan tempat dan kesempatan sebanyak mungkin agar mereka dapat mengaktualisasikan diri dan mengembangkan pontensi yang ada dalam diri mereka masing-masing, sehingga terciptalah kaum muda yang dapat berguna bagi Gereja maupun masyarakat.

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Kehidupan menggereja penting bagi kaum muda, dengan harapan mereka sungguh menjadi pelaku atau perpanjangan tangan Kristus di dunia, baik bagi keluarga, Gereja dan masyarakat. OMK Paroki St. Antonius Kotabaru telah sungguh menjadi pelaku hidup menggereja. Mereka mengambil bagian dari setiap kegiatan ataupun kepengurusan yang ada dalam Paroki, misalnya menjadi Tim Kerja dan Petugas EKM. Dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki mereka telah berusaha memberikan yang terbaik dengan melibatkan diri dalam kehidupan menggereja. Hidup menggereja ini belum lengkap apabila tidak sungguh dimaknai sebagai suatu karya Tuhan yang nyata dalam diri OMK. Oleh karena itu sangat baik dan bermanfaat apabila itu dapat direfleksikan dalam kasih Tuhan yang senantiasa hadir dalam kehidupan menggereja OMK. Bacaan dari Kisah Para Rasul 2: 41-47 melukiskan kehidupan komunitas beriman yang ditandai dengan kerukunan dalam persekutuan, berdoa bersama, sikap saling memperhatikan, solidaritas, kepemilikan bersama, hubungan yang penuh kasih persaudaraan di antara anggota. Melalui kesaksian kotbah Petrus dan rasul-rasul mereka memberikan diri untuk dibabtis dan bergabung dalam komunitas mereka. Setelah dibabtis mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (Kerygma) dan dalam persekutuan, selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (liturgi). Mereka membentuk persekutuan (koinonia) dan memiliki kepedulian serta rasa solidaritas yang tinggi satu sama lain. Hal ini nampak dalam sikap mereka bahwa segala

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluannya masingmasing (diakonia). Cara hidup jemaat semacam itulah yang membuat orang tertarik dan menyukai mereka. Melalui pertemuan ini kita semua semakin menyadari dan menghidupi panggilan kita khusus dalam hidup menggereja. Terdorong untuk mengambil bagian dalam setiap tugas ataupun pelayan yang ada dalam Gereja maupun masyarakat. Kehadiran kita mewaliki kehadiran Allah yang nyata, dengan berani memberikan diri seutuhnya kepada hidup menggereja. 3. Pengembangan langkah-langkah a. Pembukaan 1) Pengantar Teman-teman yang terkasih dalam Yesus Kristus, pada sesi yang ketiga ini kita akan bersama-sama mencoba memaknai pengalaman selama kita hidup menggereja, tentu banyak hal yang menarik dan menginspirasi yang bisa kita petik. Ekaristi Kaum Muda adalah salah tempat atau sarana bagi kita untuk menemukan, mengembangkan dan menyalurkan seluruh kemampuan dan keterampilan yang kita miliki sebagai ungkapan atas iman yang kita miliki. Kita mempersembahan diri untuk Allah dengan berpartisipasi dalam Ekaristi-Nya sebagai dasar atau sumber yang mendorong dan menyemangati hidup kita. Tentu kita pun juga harus berterimakasih atas kurban Ekaristi yang diberikan, caranya dengan membangun persekutuan dalam

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 persaudaraan bersama siapapun, tekun dalam hidup doa, melayani sesama yang membutuhkan, menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari dimanapun kita berada baik dalam lingkup Gereja maupun masyarakat. Persis seperti jemaat perdana yang senantiasa menghidupi itu semua, begitu pula dalam hidup kita saat ini. Maka pada kesempatan ini, marilah kita semua dengan rendah hati memohon agar Tuhan mencurahkan Roh Kudus-Nya atas hati kita masing-masing agar kita pun mampu memaknai pengalaman hidup menggereja kita selami hidup ini. Dan semoga melalui kegiatan ini kita semua terus bersemangat untuk menjadi penggerak dan pelaku hidup menggereja. b. Langkah I : Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta 1) Pendamping membagikan teks cerita yang berjudul “Kisah Ahok dan Perjuangannya” kepada peserta dan memberikan kesempatan kepada salah satu orang untuk membacakannya. 2) Peserta mengungkapkan isi cerita: pendamping memberikan kesempatan kepada salah seorang peserta untuk menceritakan apa yang ia pahami setelah membaca dan merenungkan teks cerita tersebut. 3) Intisari dari teks cerita “Kisah Ahok dan perjuangannya” Cerita ini menggambarkan seseorang yang menginspirasi, Ia adalah seorang Gubernur DKI Jakarta yang bernama Basuki Tjahaja Purnama Alias Ahok. Ia terkenal dengan ketegasan dan kejujuran dalam menjalan tugas dan tanggungjawabnya. Hampir dari seluruh penjuru Indonesia mengetahui siapa itu

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 Ahok. Dalam cerita Ahok digambarkan sebagai seorang yang cerdas dan memiliki prinsip hidup. Ahok adalah seorang Nasrani walaupun dalam cerita tidak disebutkan apa agama Ahok. Ia berasal dari keluarga yang berkecukupan bisa dibilang Kaya, namun ini tidak menjadikan dia sombong dan memanfaatkan kekayaan keluarganya. Kim Nam adalah Ayah dari Ahok. Ia merupakan pengusaha yang sukses dan terkenal. Ia termasuk pusat inspirasi bagi anak-anaknya, termasuk Ahok. Ahok senang membagikan waktu dan materi kepada mereka yang membutuhkan (rakyat kecil) ini bersumber dari kisah bapaknya yang juga tak kalah gemar menolong orangorang susah di tempatnya. Seperti membantu urusan sekolah, berobat, hingga soal makan. Selain itu pula, Ahok sangat tidak suka dengan para koruptor yang sering kali datang ke rumanya untuk meminta uang kepada Ayahnya. Itulah yang membuat dia sampai saat ini memerangi para pejabat yang tidak jujur atau korupsi. Karakterik Ahok tidak lepas dari pengalaman ia semasa kecil. Itulah yang membuat Ahok menjadi sosok yang berani dan tegas, menyuarakan kebenaran dalam hidupnya demi kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya. Bagi Ahok semuanya yang dilakukan adalah untuk rakyat, bukan untuk kepentingannya semata. Ia adalah pelayan bagi rakyat. 4) Pengungkapan pengalaman: pendamping mengajak peserta untuk mendalami teks cerita tersebut dengan tuntunan pertanyaan sebagai berikut. a) Dari teks tersebut menurut teman-teman apakah yang dapat kita petik dari sosok Ahok?

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 b) Dalam hidup menggereja apakah teman-teman juga sudah meneladani atau mengambil sikap seperti Ahok yang rela menjadi pelayan bagi masyarakat? jika ada, silahkan ceritakan. 5) Suatu arah rangkuman Sosok Ahok adalah sosok yang dapat dijadikan teladan dalam hidup menggereja. Ia mengabdikan hidupnya untuk masyarakat dengan berlaku jujur, tegas dan berani. Ia senantiasa memegang kepercayaan atau amanah dari masyarakat bahwa sebagai pejabat publik ia diharapakan dapat menjadi pelayan bagi rakyat yang membutuhkan. Ia menjadi sosok yang dapat diteladani karena melalui kesaksian hidupnya ia menunjukan bahwa hidup ini tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain, khususnya mereka yang membutuhkan. Rela memberikan apapun baik itu waktu, tenanga, pikiran bahkan tidak sekali-kali uang dari kantong kita sendiri. Sosok Ahok telah memberikan contoh hidup menggereja yang sesungguhnya, ia telah memberi kesaksian yang nyata dalam ini khususnya dalam hidup menggereja. Sebagai Orang Muda Katolik kita diajak untuk meneladani sikap Ahok yang senantiasa mengabdikan dirinya bagi orang lain. Berani mengatakan dan berbuat kebenaran demi kepentingan bersama. Walaupun kita tidak seperti Ahok, namun kita juga dipanggil untuk menjadi pelayan bagi orang lain khususnya bagi Tuhan di dalam Gereja maupun masyarakat. Caranya adalah dengan melibatkan diri dalam hidup menggereja. Kita semua terpanggil untuk mengambil bagian dalam hidup menggereja, karena kita adalah pelaku hidup menggereja yang sesungguhnya.

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 c. Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta 1) Pendamping mengajak peserta merefleksikan sharing pengalaman hidup yang telah diungkapankan di langkah I, dengan panduan pertanyaan sebagai berikut:  Peran apa yang sudah ada berikan bagi hidup menggereja baik di lingkup Gereja maupun masyarakat?  Makna/manfaat apa yang teman-teman dapatkan dengan terlibat di kegiatan hidup menggereja ? 2) Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping memberikan arah rangkuman sebagai berikut. Teman-teman yang terkasih, pengalaman hidup menggereja memberikan kita manfaat dan pelajaran yang berharga. Banyak hal yang kita peroleh antara lain: kita menjadi berani mengaktualisasikan diri, peka terhadap kebutuhan orang lain, dapat berelasi dengan siapapun, dan lain sebagainya. Hidup menggereja menjadi salah satu media bagi kita untuk memaknai tujuan hidup ini, karena melalui hidup menggereja, sesungguh kita telah mengungkapkan iman yang kita miliki sebagai tanda terimakasih dan syukur yang diberikan Tuhan kepada kita dalam hidup ini. d. Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani 1) Pendamping meminta kepada salah seorang peserta untuk membacakan teks atau perikop Kitab Suci, yang diambil dari kutipan Kisah Para Rasul 2: 41-47.

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 2) Pendamping memberikan waktu sesaat kepada peserta untuk hening sejenak sambil secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dengan dibantu beberapa pertanyaan sebagai berikut: a) Dari bacaan Kitab Suci tersebut, ayat-ayat mana yang menunjukan dinamika kehidupan menggereja jemaat perdana ? b) Makna apa yang dipetik dari kehidupan jemaat perdana dalam hidup menggereja? 3) Pendamping memberikan peneguhan sebagai berikut. Bacaan dari Kisah Para Rasul 2:41-47 mau memberikan gambaran yang ideal terhadap kehidupan jemaat pertama. Unsur-unsur kehidupan jemaat pertama yang disoroti dalam perikop ini adalah kerukunan dalam persekutuan, berdoa bersama, sikap saling memperhatikan, solidaritas, kepemilikan bersama, hubungan yang penuh kasih persaudaraan di antara anggota. Berkat kesaksian khotbah Petrus dan rasul-rasul mereka menyediakan diri untuk dibabtis dan bergabung dalam komunitas jemaat. Setelah dibabtis mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (kerygma) dan dalam persekutuan, selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (liturgia) (Ay 42). Kebersamaan begitu ditekankan, dengan adanya kebersamaan akan membantu sesama yang berkekurangan terlebih kekurangan kebutuhan rohani. Berbagi pengalaman iman itu tentu salah satu hal yang sangat mendukung hidup menggereja. Tidak cukup bila hanya rajin ke gereja saja. Mereka membentuk persekutuan (koinonia) dan memiliki kepedulian serta rasa solidaritas yang tinggi satu sama lain (Ay 44). Hal ini nampak dalam sikap mereka bahwa segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 membagi-bagikannya kepada semua orang yang sesuai dengan keperluan masingmasing (diakonia) (Ay 45). Cara jemaat semacam itulah yang menimbulkan perhatian dan daya tarik bagi orang lain, sehingga mereka disukai semua orang (Ay 47). Para Rasul memberi kesaksian dalam hidupnya, yang menunjukkan kedekatannya dengan Yesus. Ada keterbukaan hati untuk berbagi pengalaman maupun juga apa saja yang ia miliki, semua demi kemajuan dalam hidup bersama. Kebersamaan dan menganggap semua adalah milik bersama mengungkapkan persahabatan yang ideal pada waktu itu. Yang pokok dan hendak ditekankan adalah sikap ketekunan, kesetiaan, kebersamaan, kegembiraan dalam suatu persekutuan demi terwujudnya kelompok yang sungguh berarti dan berkembang demi kehidupan jemaat yang lebih luas lagi yakni gereja secara keseluruhan (bukan hanya demi kelompok tertentu tetapi demi keutuhan dan perkembangan seluruh jemaat). Jemaat pertama menjadi dasar dinamika hidup menggereja yang diwarnai oleh kegiatan-kegiatan menggereja. Sebagai OMK, kita dituntut untuk berperan aktif dalam tugas-tugas Gereja. Kita mengambil peranan penting dalam Gereja, disatu sisi untuk sarana belajar dan disatu sisi untuk mengembangkan Gereja semakin lebih baik. e. Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam Situasi Peserta Konkret 1) Pengantar Teman-teman terkasih, kita telah mendengarkan sabda Tuhan yang menjadi pegangan dalam hidup kita. Marilah kita hening sejenak untuk merenungkan dan meresapkan sabda Tuhan.

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 2) Saat hening diiringi dengan lagu dari laptop dengan judul “Hati sebagai Hamba” untuk mengiringi renungan secara pribadi pesan KS dengan situasi konkret. a) Sikap-sikap mana yang dapat kita teladani agar kita semakin semangat dan menghayati panggilan kita dalam hidup menggereja seperti teladan yang dberikan oleh jemaat pertama? b) Apakah teman-teman semua merasa ditegur atau disadarkan untuk semakin menghayati panggilan dalam hidup menggereja ? 3) Arah rangkuman penerapan pada situasi peserta Teman yang terkasih, kita tahu jemaat perdana telah memberikan gambaran kehidupan menggereja. Mereka sehati sejiwa dan memberikan diri. Para Rasul memberikan kesaksian dalam hidupnya, yang menunjukkan kedekatannya dengan Yesus. Ada keterbuakaan hati untuk berbagi baik berbagi pengalaman maupun apa saja yang ia miliki, semua demi kemajuaan dalam hidup bersama, mereka saling memperhatikan satu sama lain, tidak ada prasangka satu sama lain, dan setia dalam kebersamaan. Oleh karena itu, sebagai Orang Muda Katolik kita dapat bercermin dari kehidupan jemaat pertama tersebut. Keterbukaan hati untuk berbagi kepada sesama dapat kita wujudkan melalui keterlibatan kita dalam hidup menggereja. Dengan terlibat dalam kehidupan menggereja berarti kita ikut terlibat juga dalam mengembangkan Gereja dan iman umat. Dengan demikian, tidak alasan bagi kita untuk tidak terlibat dalam kegiatan hidup menggereja.

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 f. Langkah V: Mengusahakan Suatu Aksi Konkret 1) Pengantar Teman-teman yang terkasih, kita telah bersama-sama menggali pengalaman kita lewat cerita “Kisah Ahok dan Perjuangannya” yang menceritakan ketulusan dan kebaikan Ahok kepada rakyat yang dipimpinnya. Ahok menjadi teladan bagi kita dalam hidup menggereja. Ahok bukan hanya sekedar pejabat publik tetapi Ia adalah pelayan rakyat. Demikian pula kita sebagai orang beriman. Melalui pengalaman hidup kita, kita pun telah memberikan yang terbaik bagi orang lain tidak hanya untuk diri kita sendiri. Kita pun bisa menunjukkan kesaksian hidup kita kepada orang lain atau sesama kita melalui terlibat aktif dalam kegiatan hidup menggereja. Kisah Para Rasul 2:41-47 menggambarkan kehidupan jemaat pertama di mana mereka pertama-tama mendengar pewartaan dari para rasul lalu memberikan diri dibabtis. Sebagai OMK, kita pun dipanggil dan diutus, kita telah dibabtis dan memiliki tanggungjawab dalam Gereja, salah satunya adalah dengan mengambil bagian dalam kegiatan hidup menggereja. Kehidupan jemaat perdana memberikan gambaran corak dinamika hidup menggereja sampai sekarang ini. Untuk itu mari kita wujudkan hidup beriman kita kepada Kristus dengan terlibat dalam kegiatan hidup menggereja untuk membantu umat beriman lainnya semakin berkembang dalam iman dan pelayan dalam Gereja. Marilah kita memikirkan niat dan tindakan apa yang dapat kita lakukan untuk melayani sesama melalui terlibat dalam kehidupan menggereja.

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 2) Membangun niat-niat konkret dalam bentuk keterlibatan baru (pribadi, kelompok atau bersama) untuk memperbaharui diri dalam hidup sehari-hari, dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut: a) Niat-niat apa yang bisa kita usahakan sebagai Orang Muda Katolik (OMK) dalam menjalankan peran kita di kegiatan hidup menggereja di lingkungan tempat kita ? b) Hal-hal apa yang perlu kita perhatikan dalam mewujudkan usaha tersebut (unsurunsur yang mendukung dan menghambat)? 3) Selanjutnya peserta diberi kesempatan dalam suasana hening merenungkan secara pribadi tentang niat-niat pribadi maupun bersama yang akan dilakukan. 4) Selanjutnya, peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan dan mensharingkan niat atau keputusan pribadi. Kemudian peserta diajak mendiskusikan dan mengambil keputusan bersama sehubungan dengan niat atau tindakan yang bisa dilakukan secara bersama sebagai OMK. g. Penutup . 1) Doa Penutup Allah sumber hidup kami, syukur kami ucapkan kepada-Mu atas berkat bimbingan Roh-Mu yang menerangi hati dan budi kami sehingga dapat melihat peran penting kami sebagai Orang Muda Katolik dalam kehidupan menggereja demi perkembangan Gereja. Terlebih kami juga Kau semangati untuk bercermin dari kehidupan jemaat pertama yang mempunyai keterbukaan hati untuk melayani sesama. Kami juga masih mohon berkat-Mu untuk melaksanakan niat-niat yang telah kami

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 bicarakan sehingga seturut dengan ajaran-Mu. Semoga berkat-Mu dapat menguatkan kami dalam mewujudkan niat, usaha dan semangat kami dalam melayani sesama kami. Doa permohon ini kami haturkan melalui perantaraan Tuhan kami Yesus Kristus. Amin.

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 BAB V PENUTUP Pada bagian penutup karya tulis ini, penulis akan membaginya dalam dua pokok bahasan. Pokok bahasan pertama, penulis akan memberikan kesimpulan sehubungan dengan peranan Ekaristi Kaum Muda (EKM) terhadap keterlibatan hidup menggereja Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta. Pokok bahasan kedua, penulis akan menyampaikan saran bagi pihak yang terkait dalam penulisan karya tulis ini. A. Kesimpulan Peranan Ekaristi Kaum Muda (EKM) telah memberikan manfaat kepada OMK St. Antonius Kotabaru dalam rangka menghidupi semangat hidup menggereja. EKM telah mengambil bagian penting dalam memperkembangkan dan menumbuhkan semangat OMK dalam menjalani panggilannya dalam hidup menggereja. EKM menjadi tempat atau sarana bagi OMK untuk mengungkapkan imannya. Ungkapan iman itu nyata dalam ketelibatan hidup menggereja. Contohnya sebagai Tim Kerja dan Petugas EKM. Peranan ini diambil sebagai contoh perwujudan atas iman yang mereka miliki. Selain sarana untuk mengungkapkan iman, EKM juga menjadi tempat bagi OMK untuk mengembangkan talenta dan keterampilan yang dimiliki. Hidup menggereja menjadi aktualisasi OMK dalam menghayati Ekaristi. Karena OMK menyadari bahwa penghayatan terhadap EKM tidak sebatas ibadat saja melainkan suatu keterlibatan, yaitu hidup menggereja. Bisa dikatakan muara EKM

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 adalah hidup menggereja. OMK telah menghidupi dan memaknai Ekaristi dengan mengambil bagian dalam hidup menggereja. Walaupun dirasa belum sepenuhnya OMK sudah terlibat, namun tetap disyukuri bahwa masih ada OMK yang mau mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan menggereja, khusus sebagai Tim Kerja dan Petugas EKM. Sebagai langkah awal untuk semakin menyadari dan menghayati hidup menggereja, penulis mengusulkan kegiatan rekoleksi yang diharapkan dapat menyemangati OMK untuk terus siap dan terlibat dalam hidup menggereja baik di lingkup Gereja maupun masyarakat. Rekoleksi ini menjadi salah satu kegiatan yang diminati oleh OMK untuk meningkatkan semangat hidup menggeja mereka. B. Saran Pada bagian ini dipaparkan beberapa saran sebagai upaya membantu Orang Muda Katolik (OMK) dalam menyemangati panggilan hidup menggereja. Beberapa saran tersebut adalah: 1. Bagi Pengurus OMK Paroki St. Antonius Kotabaru Peranan OMK Paroki St. Antonius Kotabaru dalam kegiatan hidup menggereja sudah nampak. Melibatkan diri dalam setiap kegiatan-kegiatan ataupun kepengurusan dalam Gereja. Khususnya mengambil bagian dalam kepengurusan EKM baik sebagai Tim Kerja maupun Petugas EKM. Melalui EKM, hendaknya OMK senantiasa terlibat dalam hidup menggereja. EKM adalah tempat yang tepat bagi OMK untuk mengembangkan dan menghidupi semangat hidup menggereja. Oleh karena itu, OMK diharapkan dapat memanfaatkan kegiatan ini sebaik-baiknya. EKM yang sudah

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 ada ini diharapkan dapat terus ditingkat lebih baik lagi. Melibatkan sebanyakbanyaknya OMK dari berbagai kelompok atau kalangan untuk mengambil bagian dalam EKM. EKM harus merujuk pada hidup menggereja, jika tidak demikian, EKM dirasa belum menghasil buah bagi OMK maupun orang lain. 2. Bagi Pastor Paroki dan Dewan Pengurus Paroki Sebagai pimpinan Paroki, pastor paroki perlu meningkatkan pemberdayaan bagi OMK. Contonya dengan mengagendakan kegiatan rekoleksi bergaya orang muda yang dilaksanakan maksimal setahun 2 kali. Kegiatan ini dirasa akan membantu OMK untuk semakin menghayati panggilannya dalam hidup menggereja. Rekoleksi ini dikemas dengan gaya kaum muda, agar rekoleksi menjadi lebih menarik dan memberi semangat OMK dalam mengikuti rekoleksi. Misalnya mengundang pembicara muda dari luar, tempat yang menarik dan cocok untuk orang muda, ada tempat untuk outbound dan lain-lain. Selain Pastor Paroki, Dewan Pengurus Paroki (DPP) juga memiliki tugas penting dalam pemberdayaan OMK. DPP dapat mengagendakan jadwal pertemuan rutin khusus OMK setiap bulan untuk memantau, meninjau dan melihat sejauh mana perkembangan OMK dalam kehidupan menggereja. Misalnya dengan duduk bersama, saling berbagi pengalaman dan memberikan masukan satu dengan yang lain. Kegiatan ini dirasa akan membantu OMK untuk meningkatkan kualitas dan semangat OMK dalam hidup menggereja. Melalui kegiatan ini OMK merasa akan disapa dan diperhatikan bahwa Gereja juga memiliki tanggungjawab terhadap mereka.

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 DAFTAR PUSTAKA Andalas, Mutiara, SJ (2013). Ekaristi Sebagai Fiesta Kehidupan. Yogyakarta. Arikunto Suharsimi. (1997). Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Asdi Mahasatya. Bergant, Dianne dan Karris, Robert OFM. (2002). Tafsir Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Djunaidi Ghony, M dan Almanshur, Fauzan. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Hadisumarta, F.X. (2013). Ekaristi. Jakarta : OBOR Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia. (1993). Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda. Jakarta: Konferensi Wali Gereja Indonesia Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (1994). BahanPengembangan Kerasulan Awam. Jakarta. _____., Sahabat Sepeziarahan: Pedoman Karya Pastoral Orang Muda Katolik Indonesia. Jakarta, Konferensi Wali Gereja Indonesia, 2014. Konferensi Waligereja Indonesia (1996) Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius Martasudjita, E. (1999). Pengantar Liturgi: Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi. Martasudjita E. (2005) Ekaristi; tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta :Kanisius Musakabe, Herman. (2011). Menuju hidup yang lebih Ekaristis. Bogor : Cintra Insan Pembaru Moleong, Lexy J. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Prasetyantha, Y.B. (2008). Ekaristi dalam hidup kita. Yogyakarta : Kanisius Shelton, Charles.M (1987). Spritualitas Kaum Muda; Bagaimana mengenal dan mengembangkannya. Yogyakarta : Kanisius. Sugiyono. (2010) Metode penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta Sumarno Ds., (2017). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik Tim Ekaristi Kaum Muda Gereja St. Antonius Kotabaru (2010). 60 hari mengenal Ekaristi Kaum Muda. Yogyakarta. Windhu, Marsana. (1997). Mengenal 25 sikap liturgi. Yogyakarta: Kanisius. Purwatma, M. Pr dan L. Ignatius Madya Utama, SJ “ Diktat Sakramentologi”. Universitas Sanata Dharma. 2017

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 Sumber Internet: http://sapereaudenias.blogspot.co.id/2008/08/kaum-muda-harapan-masadepan-gereja.html (diakses pada tanggal 14 maret 2018) http://www.katolisitas.org/bagaimana-mengelola-pastoral-kaum-muda-parokidi-era-digital/ (diakses pada tanggal 14 april 2018) http://gemaliturgi.blogspot.co.id/2015/07/menyiapkan-ekaristi-kaummuda.html(dakses pada tanggal 20 April 2018) https://olahraga.kompas.com/read/2018/03/19/10313001/juara-all-england2018-marcuskevin-dapat-hadiah-rp-1-miliar/ diakses 25 Mei 2018). https://entertainment.kompas.com/read/2016/12/07/084035510/joey.alexander .masuk.nominasi.grammy.awards.2017 diakses pada 25 Mei 2018) https://regional.kompas.com/read/2017/09/28/23230131/mengaku-ingin-beli-bajubaru-tiga-remaja-jadi-pelaku-begal/ diakses pada 25 Mei 2018) http://time.com/247/millennials-the-me-me-me-generation/ diakses pada 18 Mei 2018) http://news.metrotvnews.com/read/2017/12/03/796533/ini-tiga-pengusahamuda-terkaya-di-indonesia/ diakses pada 27 Mei 2018) https://regional.kompas.com/read/2017/11/27/19311581/dua-pelajar-di-solociptakan-robot-tempat-sampah/ diakses pada 27 Mei 2018) https://id-id.facebook.com/notes/iman-katolik/panca-tugas-gereja-liturgiakoinonia-kerygma-diakonia-martyria/10150456710675178 (diakses pada 29 Mei 2018) https://renungankatolik.wordpress.com/2016/06/09/panca-tugas-gereja/ (diakses pada 27 Juli 2018) https://www.qureta.com/post/kisah-ahok-dan-perjuangannya (diakses pada 25 November 2018)

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 LAMPIRAN

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(170)

Dokumen baru

Download (169 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Peranan pendampingan sakramen penguatan bagi kaum muda dalam keterlibatan hidup menggereja di Paroki Santa Lidwina Bandar Jaya Lampung Tengah.
3
38
161
Peranan lagu rohani ekaristi dalam meningkatkan pemaknaan perayaan ekaristi bagi kaum muda Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru.
0
3
146
Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Paroki Santo Petrus Sungai Kayan Keuskupan Tanjung Selor Kalimantan Utara.
1
42
171
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari.
0
3
159
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala yang Baik Paroki Santo Yusuf Batang dalam hidup menggereja melalui katekese kaum muda.
6
28
156
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari
2
17
157
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala yang Baik Paroki Santo Yusuf Batang dalam hidup menggereja melalui katekese kaum muda
2
2
154
Upaya inovasi pelaksanaan liturgi perayaan ekaristi di Paroki ST. Fransiskus Xaverius Kidul Loji Yogyakarta demi keterlibatan kaum muda - USD Repository
0
0
123
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Paroki Santo Antonius, Bade, Keuskupan Agung Merauke melalui shared christian praxis - USD Repository
0
0
141
Pengaruh Ibadat Taize terhadap perkembangan iman kaum muda di Paroki Santo Yakobus, Bantul - USD Repository
0
0
110
Pengaruh perayaan ekaristi bagi keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki Santa Maria Assumta, Gamping, Yogyakarta - USD Repository
0
0
135
Upaya meningkatkan keterlibatan hidup menggereja bagi kaum muda Paroki Kristus Raja Sintang Kalimantan Barat melalui katekese - USD Repository
0
0
236
Peranan mengikuti kegiatan persekutuan doa Karismatik Katolik di Gereja Santo Antonius Kotabaru Keuskupan Agung Semarang terhadap keaktifan anggota dalam hidup menggereja - USD Repository
0
0
159
Pemahaman Sakramen Baptis dalam keterlibatan hidup menggereja bagi kaum muda di Paroki Santo Ignatius Danan, Wonogiri, Jawa Tengah - USD Repository
0
0
151
Makna perayaan ekaristi bagi anggota misdinar di Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. - USD Repository
0
0
122
Show more