OPTIMALISASI PERAN PROGRAM TANGGUNGJAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DALAM UPAYA PEMBANGUNAN DAERAH

Gratis

0
0
130
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI OPTIMALISASI PERAN PROGRAM TANGGUNGJAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DALAM UPAYA PEMBANGUNAN DAERAH Studi pada Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat TESIS PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN Diajukan oleh Marselina Evy 142222113 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL…………………………………………………………… LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ……………………… LEMBAR PERSETUJUAN TIM PENGUJI TESIS………………………… PERNYATAAN ORIGINALITAS…………………………………………… LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ILMIAH……... KATA PENGANTAR………………………………………………………….. DAFTAR ISI…………………………………………………………………… DAFTAR TABEL……………………………………………………………… DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………….. DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………… ABSTRAK ……………………………………………………………………... ABSTRACT…………………………………………………………………….. BAB 1. PENDAHULUAN…………………………………………………… 1.1. Latar Belakang………………………………………………... 1.2. Rumusan Masalah…………………………………………….. 1.3. Tujuan Penelitian……………………………………………… 1.4. Manfaat Penelitian……………………………………………. 1.5. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian………………………. BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………... 2.1. Corporate Social Responsibility (CSR)………………………….. Sejarah dan Praktik Corporate Social Responsibility 2.1.1. (CSR)……………………………………………………….. 2.1.2. CSR dalam Strategi Bisnis……………………………. 2.2. Pembangunan Daerah…………………………………………. Peran Pemerintah dalam Pembangunan Ekonomi 2.2.1. Daerah……..…………………………………………. Rencana Strategis Pemerintah Daerah Kabupaten 2.2.2. Sintang……………………………………………….. BAB 3. METODE PENELITIAN…………………………………………… 3.1. Teknik Penelitian……………………………………………… 3.2. Lokasi dan Subjek Penelitian…………………………………. 3.3. Metode Pengumpulan Data…………………………………… 3.4. Metode Analisis Data…………………………………………. 3.5. Pengecekan Keabsahan Data………………………………….. viii i ii iii iv v vi viii x xi xii xiii xiv 1 1 3 3 4 4 6 6 6 7 10 10 12 14 14 15 17 18 21

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB 4. PEMBAHASAN…………………………………………………… 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian………………………….. 4.1.1. Letak Geografis……………………………………..... 4.1.2. Demografis……………………………………………. 4.1.3. Sosial Budaya………………………………………… 4.1.4. Ekonomi……………………………………………… 4.1.5. Pemerintahan…………………………………………. 4.2. Temuan dalam Penelitian…………………………………….. 4.2.1. Langkah-Langkah Koordinasi Program CSR oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang ……………… 4.2.2. Implementasi Program CSR oleh PerusahaanPerusahaan yang Beroperasi di Kabupaten Sintang……………………………………………….. 4.3. Pembahasan …………………………………………………... 4.3.1. Lambatnya Implementasi Kebijakan Daerah…………. Perbedaan Pemahaman CSR antara Pemerintah 4.3.2. Daerah dan Perusahaan……………………………….. 4.3.3. Praktik CSR oleh Perusahaan………………………… BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………… 5.1. Kesimpulan……………………………………………………. 5.2. Saran…………………………………………………………... DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….. LAMPIRAN……………………………………………………………………. ix 23 23 23 24 25 25 26 29 29 31 41 41 50 53 63 63 64 66 68

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel Tabel 2.1. 4.1. Tabel 4.2. Tabel 4.3 Tabel 4.4 Dimentions of Sustainable Business Development (SBD)……… Kelompok Perusahaan yang Beroperasi di Kabupaten Sintang... Ringkasan Implementasi Kegiatan CSR Perusahaan-Perusahaan yang Beroperasi di Kabupaten Sintang………………………… Laporan Jumlah Kegiatan CSR di Kabupaten Sintang pada tahun 2014-2017…………………………..……………………. Laporan Jumlah Dana CSR yang Dikucurkan di Kabupaten Sintang pada tahun 2014-2017…………………………………. x 8 32 34 56 57

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1. Komponen-Komponen Analisis Data ………………………... xi 18

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Peraturan Bupati Sintang Nomor 54 Tahun 2016 tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan…………………………… Foto dan Rilis Berita Kegiatan CSR Perusahaan-Perusahaan yang Beroperasi di Kabupaten Sintang………………………... Transkrip Wawancara…………………………………………. xii 63 89 95

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tentang optimalisasi peran tanggung jawab sosial perusahaan dalam upaya pembangunan daerah. Penelitian ini dikaji dalam dua sub bagian yaitu, mengenai implementasi kebijakan daerah berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan dan praktik tanggung jawab sosial oleh perusahaan di Kabupaten Sintang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data berupa hasil wawancara dan dokumen milik pemerintah yang berkaitan dengan informasi tentang tanggung jawab sosial perusahaan.Penelitian ini menggunakan Narasumber dari unsur pimpinan daerah Kabupaten Sintang. Metode analisis data menggunakan model analisis interaktif: Miles dan Huberman. Penelitian ini menghasilkan temuan, yaitu: pelaksanaan koordinasi program CSR oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang belum optimal dan praktik CSR perusahaan belum sesuai dengan peraturan yang ada. Dari sisi waktu, terlihat gerak implementasi kebijakan daerah ini berjalan dengan lambat. Langkah sinkronisasi yang telah dilakukan pun belum efektif. Proses implementasi kebijakan daerah yang telah ditempuh belum membawa pemerintah dan perusahaan pada kesamaan pemahaman mengenai CSR, dalam hal ini belum sesuai dengan Peraturan Bupati Sintang nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan dan prime mover pembangunan Kabupaten Sintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kesenjangan jumlah yang cukup tinggi antara beberapa bidang yang diamanatkan dalam kebijakan daerah dengan yang dilakukan oleh perusahaan. Pada tahun 2017, perusahaan terlihat mulai meningkatkan kembali perhatiannya pada program CSR. Dari sisi sifat kegiatan, praktik CSR perusahaan belum berfokus pada upaya pemberdayaan masyarakat. Kata kunci: Peran Tanggungjawab Sosial Perusahaan, Implementasi Kebijakan Daerah, Praktik CSR. i

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT The aim of this research is to identify and to analyze about program of corporate social responsibility in a regional development efforts. This research was examined in two subsections: regarding the implementation of a regional policies relating to corporate social responsibility and corporate social responsibility practice at Sintang Regency. This research used a qualitative method. The data obtained from interviews and CSR document. The researcher interviews with the Sintang Regency government. This research used interactive analysis by Miles and Hubberman. The result of research shows that, implementation of coordination of CSR by regency government is not optimal and the CSR practice is not in accordance with existing regulation. By the time, implementation of regional policies is slowly. The synchronization step that has been done has not been effective. The government and the corporate was misunderstanding about CSR especially about the implementation process, in that mean is the CSR practice is not accordance with Sintang regent regulation number 54, 2016 about Corporate Social Responsibility and the prime mover development of Sintang Regency. The other result of this research is a fairy high gap between some field that mandated to regent policies with the practice. In 2017, corporate seems to increase its attention to the CSR programme. The CSR practice has not focused on community empowerment efforts. Keywords: The role of Corporate Social Responsibility, Implementation of regional policies, CSR practice. i

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kajian tentang Corporate Social Responsibility (CSR) telah berkembang sejak tahun 1950-an. Sejak saat itu, banyak peneliti telah menjabarkan berbagai teori konsep CSR. CSR tidak hanya sekedar kewajiban perusahaan sesaat, hanya pada kurun waktu tertentu, tetapi tanggung jawab yang berdampak jangka panjang. Tanggung jawab ini diharapkan dapat menjadi jaminan untuk kelestarian, keberadaan yang berkelanjutan bagi umat manusia, bumi dan perusahaan itu sendiri. Praktik CSR wajib dilakukan oleh perusahaan-perusahaan perseroan terbatas di Indonesia. Hal tersebut diatur melalui Undang-Undang nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan Undang-Undang nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Kebijakan pemerintah ini kemudian diterjemahkan hingga ketingkat pemerintahan daerah. Tujuannya untuk menjabarkan secara teknis pengaturan pelaksanaan CSR agar lebih sesuai dengan situasi dan kondisi di daerah tersebut. Bentuk kebijakan yang muncul di daerah-daerah setingkat kabupaten/kota berupa, Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Bupati (Perbup). Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang menerbitkan Peraturan Bupati Sintang nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan. 1

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Peraturan ini merupakan bentuk koordinasi antara Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang dengan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayahnya. Dalam Peraturan Bupati ini, CSR dimaksudkan sebagai sebuah bentuk komitmen perusahaan untuk berperan serta dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan. Koordinasi yang Pemerintah Daerah lakukan bertujuan untuk menata dan mengarahkan program CSR yang terjadi di wilayahnya agar sesuai dengan kebutuhan pembangunan di daerah tersebut. Penulis juga mengulas mengenai implementasi pelaksanaan program CSR yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang. Deskripsi dan analisis mengenai hal ini akan memberikan gambaran pelaksanaan program CSR yang telah terjadi di Kabupaten Sintang dalam beberapa tahun terakhir. Hasil pembahasannya akan menjadi pijakan untuk mengusulkan program-program CSR yang dapat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di masa mendatang. Pengaturan mengenai praktik CSR dalam bentuk Undang-Undang hingga Peraturan Bupati merupakan bentuk koordinasi Pemerintah dalam proses pembangunan daerah. Di sisi lain praktik tata kelola CSR oleh perusahaan merupakan bentuk rancangan dan impementasi tanggungjawab sosial perusahaan kepada masyarakat. Kedua hal tersebut diharapkan berjalan dengan selaras. Pemerintah mengharapkan dana dan kegiatan yang dilakukan perusahaan atau investor dalam bentuk CSR dapat diarahkan untuk membangun daerah pada berbagai bidang secara optimal dan merata. 2

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan uraian tersebut, penulis ingin mengkaji lebih mendalam masalah yang berkaitan dengan proses: Optimalisasi Peran Program Tanggungjawab Sosial Perusahaan dalam Upaya Pembangunan Daerah dengan Studi pada Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. 1.2. Rumusan Masalah Bertolak dari latar belakang masalah di atas, dapat penulis merumuskan suatu masalah pokok atau fokus penelitian yakni “Bagaimanakah upaya optimalisasi peran program Tanggungjawab Sosial Perusahaan dalam upaya pembangunan daerah?”. Agar penelitian ini lebih terarah dan memudahkan dalam penganalisaan terhadap hasil penelitian, maka masalah pokok tersebut dijabarkan dalam sub-sub masalah sebagai berikut: 1.2.1. Bagaimanakah Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang mengkoordinasi program TSP dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayahnya? 1.2.2. Bagaimanakah perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang mengimplementasikan program TSPnya? 1.3. Tujuan Penelitian Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mengungkapkan proses pembangunan di daerah yang dapat dilakukan melalui program CSR pada Kapubaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. 3

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tentang: 1.3.1. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang dalam mengkoordinasi program TSP dari perusahaanperusahaan yang beroperasi di wilayahnya. 1.3.2. Kegiatan-kegiatan TSP yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang. 1.4. Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan hasil penelitian ini dapat memberi konstribusi sebagai tambahan dalam khazanah riset-riset mengenai CSR di Program Studi Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma, dalam lingkup yang lebih besar di Indonesia. Penulis juga berharap hasil penelitian ini dapat menjadi rekomendasi bagi proses pendalaman literasi dan praktik CSR bagi pihakpihak yang tertarik pada riset CSR. Selain itu, penulis berharap hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu dokumentasi kajian ilmiah sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan di Kabupaten Sintang. 1.5. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penelitian: 1.5.1. CSR sebagai sebuah kewajiban dan pencitraan positif bagi perusahaan. 4

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.5.2. Kegiatan-kegiatan CSR yang telah dilakukan oleh perusahaanperusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang. 1.5.3. Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang pada praktik CSR perusahaan yang beroperasi di wilayah Sintang melalui kebijakan publik yaitu Peraturan Bupati Sintang nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan. 1.5.4. Alasan dan harapan Pemda Sintang atas keberadaan Peraturan Bupati Sintang nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan. 5

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Corporate Social Responsibility (CSR) 2.1.1. Sejarah dan Praktik Corporate Social Responsibility (CSR) Perkembangan CSR dalam tinjauan sejarah, dapat ditemukan dalam Idowu (2011) disebutkan mengenai beberapa tahun yang memiliki momen penting dalam perkembangan CSR. Sejarah CSR dapat dilihat pula dari sudut pandang pengaruh media, Frank (2007) mengungkapkan tentang perkembangan CSR melalui sudut pandang Financial Times. Dalam tulisan itu disebutkan bahwa topik mengenai CSR sejak tahun 1984 sampai dengan tahun 2003 mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama pada rentang tahun 1999 sampai dengan tahun 2003. Frank (2007) juga menunjukkan jumlah artikel mengenai CSR yang dimuat dalam The Financial Times, dari jumlah artikel yang kurang dari 20 hingga mencapai lebih dari 100 artikel dalam setahun. Riset tersebut mengungkapkan pula bahwa CSR melalui peran media telah menjadi trend dalam dunia bisnis. Sumodiningrat (dalam Untung, 2014), dalam kata sambutannya menyebutkan bahwa: John Elkington menuangkan konsep CSR dalam “canibals with Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business 1998”, dalam buku tersebut, Elkington menjelaskan bahwa CSR yang baik harus berpijak pada tiga prinsip: profit 6

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (keuntungan), people (masyarakat) dan Planet (lingkungan). Dengan adanya CSR, diharapkan perusahaan tidak hanya memiliki fokus untuk menciptakan profit menciptakan profit yang sebesar-besarnya tapi juga berperan aktif dalam pembangunan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan. Dari berbagai ulasan di atas, penulis meyimpulkan bahwa praktik corporate social responsibility (CSR) merupakan sesuatu yang dipraktikkan dalam jangka waktu panjang. Sebuah tanggung jawab yang berkelanjutan dari entitas bisnis. 2.1.2. CSR dalam Strategi Bisnis Galbreath (2009) dan Idowu (2011) mengusulkan agar perusahaan menggunakan CSR sebagai bagian dalam strategi bisnis. Mereka menyebut pengintegrasian dengan istilah pertumbuhan lestari dalam bisnis (sustainable development in business). Strategi ini menggunakan konsep CSR sebagai dasar penyusunannya. Pertumbuhan bisnis lestari (Sustainable business development-SBD) memiliki tiga dimensi yaitu: pertumbuhan ekonomi (economic growth), integritas lingkungan (environmental integrity) dan social responsiveness. 7

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 2.1 Dimensions of sustainable business development (SBD) Dimensions of SBD Economic growth Representative stakeholder Shareholders Investor Core aspect Key examples Creating value in a way that enables a company to remain economically viable for an indefinite time Sufficient cash-flow to ensure liquidity; persistent returns to capital providers; R & D Investment; an assets base that the market evaluates as having future valuecreation potential Environmental Natural Limiting impact Various emission integrity environment and of firm activities reduction actions in ecosystems on the natural company facilities Customers environment and processes; Communities while energy efficiency in Suppliers minimising the operation; riskuse of natural assessment of capital impacts on natural environment; reduced environmental impact of products/services Social Employees Continually Job evaluating responsiveness Customers contributing to systems; fair trade; communities the social wellwork-life balance; being of society human rights; gender and individuals mainstreamings; codes of ethics; employee training; health and safety precautions; product safety; sponsorships and donations Sumber: Samuel Idowu dan Celine Louche (2011: 98) Mardikanto (2014) menyebutkan ada 4 bentuk strategi yang menggunakan CSR sebagai basis, yaitu: strategi pemegang saham, strategi alturistik, strategi timbal balik dan strategi kewarganegaraan. 8

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada strategi pemegang saham, perusahaan bertanggung jawab kepada masyarakat hanya sebatas tanggung jawab ekonomi. Strategi alturistik lebih menekankan ‘memberi kembali’ kepada masyarakat dalam bentuk sumbangan kepada kelompok-kelompok masyarakat. Pada strategi timbal balik, perusahaan menawarkan beragam manfaat lain selain bidang keuangan. Strategi keempat, strategi kewarganegaraan lebih menargetkan bentuk-bentuk tanggung jawab yang berorientasi pada peningkatan penciptaan nilai jangka panjang bagi para stakeholder serta mempertimbangkan posisi keuangan dan reputasi perusahaan. Manajemen perusahaan mengaitkan prinsip-prinsip CSR dalam strategi bisnisnya sehingga CSR jadi kewajiban bagi perusahaan dan diadopsi menjadi mengharapkan kegiatan proses ini rutin akan perusahaan. membawa Perusahaan kelestarian bagi keberadaannya. Mardikanto (2014:212), menyampaikan hal berikut ini: Strategi tanggungjawab perusahaan kemudian adalah bagaiamana sebuah organisasi/perusahaan mencapai sustainability sedemikian rupa sehingga aktivitas CSR menjadi bagian dari cara perusahaan melakukan praktik bisnisnya. Idowu (2011) juga mengulas mengenai aspek manajemen perusahaan dalam konteks CSR di bagian awal bukunya. Idowu (2011) menunjukkan bahwa perusahaan melakukan CSR untuk mengungkapkan dan menghantarkan nilai mereka kepada publik. 9

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penulis menyimpulkan bahwa CSR menjadi sesuatu yang penting bagi perusahaan karena melalui program-program tersebut perusahaan dapat menunjukkan nilai ‘kemanusiaan’ perusahaan. ‘Manusia’ yang bertanggungjawab dan berintegritas. Perusahaan bukan hanya merupakan alat bisnis untuk tujuan profit semata atau hanya menghasilkan suatu produk. 2.2. Pembangunan Daerah Di Indonesia, sistem administrasi pemerintah daerah yang digunakan ialah sistem desentralisasi atau yang lebih dikenal dengan istilah otonomi daerah. Pemerintahan kabupaten dan kota dikepalai oleh Bupati dan atau Walikota. Selain itu, ada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang melakukan fungsi kontrol selaku badan legislatif daerah. Adanya kebijakan desentralisasi ini bertujuan agar pemerintah lebih dekat dengan rakyatnya sehingga pelayanan publik dapat dilakukan dengan lebih efisien, cepat dan efektif. 2.2.1. Peran pemerintah dalam Pembangunan Ekonomi Daerah Kuncoro (2014:171) menyebutkan bahwa pemerintah memiliki beberapa peran dalam proses pembangunan Ekonomi Daerah. Peryataannya berbunyi sebagai berikut: Dalam pembangunan ekonomi daerah peran pemerintah dapat mencakup peran-peran wirausaha (entrepreneur), koordinator, fasilitator, dan simulator. 10

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penulis memaparkan sekilas penjelasan dari masing-masing peran tersebut sebagai berikut: 2.2.1.1. Wirausaha, pemerintah dapat memanfaatkan potensi tanah dan bangunan untuk tujuan bisnis atau tujuan-tujuan yang bersifat ekonomi dan konservasi. Pemerintah menjalankan peran ini harus dengan jeli dan pro-aktif dalam memanfaatkan aset Pemda, mendorong pertumbuhan bisnis daerah dan memberdayakan masyarakat marginal. 2.2.1.2. Koordinator, selaku koordinator pemerintah mengusulkan strategi-strategi bagi pembangunan di daerahnya dan menetapkan kebijakan. Dalam peran ini, pemerintah dapat melibatkan kelompok-kelompok masyarakat, juga dapat bekerja sama dengan lembaga pemerintah, badan usaha untuk menyusun tujuan, perencanaan dan strategi ekonomi. 2.2.1.3. Fasilitator, pada peran ini, pemerintah melakukan perbaikanperbaikan dalam mempercepat pelaksanaan pembangunan di daerahnya. Pemerintah dapat melakukan beberapa hal, yaitu: mengefisienkan proses pembangunan, perbaikan prosedur, perencanaan dan penetapan peraturan. 2.2.1.4. Stimulator, melalui peran ini, pemerintah melakukan stimulasi penciptaan dan pengembangan usaha tindakan-tindakan khusus yang akan melalui mempengaruhi perusahaan-perusahaan untuk masuk ke daerah tersebut dan 11

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk menjaga agar perusahaan-perusahaan tetap berada di daerah tersebut dengan menyediakan berbagai macam fasilitas pendukung. 2.2.2. Rencana Strategis Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang Kuncoro (2014) menyebutkan bahwa rencana strategis suatu daerah diproses melalui tahapan yang bersifat teknis dan politis. Kuncoro (2014:115) mengatakan: Proses teknis berkenaan dengan pemakaian secara keilmuan data dan informasi yang tersedia, sedangkan proses politik berkenaan dengan keterlibatan para stakeholders secara bebas tanpa tekanan. Tahapan-tahapan tersebut mencakup 9 (Sembilan) langkah, mulai dari melakukan kesepakatan awal, perumusan mandat hingga pada merumuskan prinsip implementasi. Tahapan-tahapan itu meliputi, ada proses perumusan visi dan misi, identifikasi isu-isu strategis, analisis kondisi internal dan eksternal juga termasuk langkah merumuskan strategi, kebijakan, dan program-program strategis. Sejak bulan Februari tahun 2016, dr. Jarot Winarno, M.Med.PH memimpin Kabupaten Sintang sebagai bupati dan Drs. Askiman, MM sebagai wakil bupati. Kedua pemimpin tersebut mencetuskan visi pembangunan untuk tahun 2016-2021, sebagai berikut: ‘terwujudnya masyarakat Kabupaten Sintang yang cerdas, sehat, maju, religius, dan sejahtera yang didukung penerapan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih pada tahun 2021’. Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang menuangkan visi tersebut dalam sejumlah poin misi sebagai berikut: 2.2.2.1. Mulai dari melaksanakan pembangunan pendidikan berkualitas yang berakar pada budaya lokal. 12

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2.2.2. Melaksanakan pembangunan kesehatan yang menyeluruh, adil, dan terjangkau bagi masyarakat. 2.2.2.3. Mengoptimalkan penyediaan insfrastruktur dasar guna pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya daerah. 2.2.2.4. Mengembangkan ekonomi kerakyatan berbasis pedesaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 2.2.2.5. Meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan agama dalam kehidupan sosial. 2.2.2.6. Mengembangkan manajemen pemerintah daerah yang sesuai dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih. Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang menjabarkan kembali visi dan misi itu dalam 6 (enam) gerakan pembangunan yang disebut dengan Prime Mover Pembangunan Daerah Kabupaten Sintang. Keenam gerakan tersebut meliputi: 2.2.2.7. Membangun Kabupaten Sintang dari pinggiran, fokusnya pada pembangunan di desa-desa dan membangun koneksi antar desa. 2.2.2.8. Melakukan penataan dan pemekaran wilayah. 2.2.2.9. Melakukan hilirisasi produk. 2.2.2.10. Aksesibilitas terhadap sumber daya listrik. 2.2.2.11. Kegawatdaruratan insfrastruktur. 2.2.2.12.Tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih. 13

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Teknik Penelitian Penulis menggunakan pendekatan kualitatif pada penelitian ini. Penulis memilih pendekatan ini karna menganggap metode kualitatif cukup relevan dengan permasalahan yang hendak diteliti, yaitu fenomena kehidupan sosial masyarakat. Creswell (1998) juga mengemukakan hal serupa, bahwa pendekatan kualitatif cukup berguna dalam menjawab persoalan fenomena sosial. Creswell (1998), mengungkapkan demikian: Qualitative research is a inquiry process of understanding based on distinct methodological tradition of inquiry that explore a social or human problem. The researcher builds a complex, holistic picture, analyses words, reports detailed views of informants, and conducts the study in a natural setting. Kutipan di atas dapat menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah proses penelitian untuk memahami berdasarkan tradisi metodologi penelitian tertentu dengan cara menyelidiki masalah sosial atau manusia. Pada prosesnya, penulis akan membuat deskripsi mengenai objek penelitian, melaporkan pandangan-pandangan para narasumber secara rinci, dan melakukan penelitian dalam situasi alamiah. 14

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pendekatan kualitatif, menggunakan si peneliti sebagai instrumen utama (key instrument) dalam pengumpulan data, demikian pula pada penelitian ini. Moleong (2013) juga mengemukakan hal serupa. Moleong (2013:9) menyebutkan: Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. Hanya manusia sebagai alat sajalah yang dapat berhubungan dengan responden atau objek lainnya, dan hanya manusialah yang mampu memahami kaitan kenyataan-kenyataan di lapangan. 3.2. Lokasi dan Subjek Penelitian Nasution (1992) mengemukakan bahwa lokasi penelitian menggambarkan pada kondisi sosial yang ditandai oleh adanya tiga unsur, yakni tempat, pelaku dan kegiatan. Pelaksanaan penelitian ini berlokasi di Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat. Penulis memilih lokasi tersebut atas dasar pertimbangan bahwa selain lokasi tersebut relevan dengan masalah yang diteliti, lokasi tersebut juga cukup strategis letaknya, tidak terlalu jauh dari tempat tinggal penulis dan data-data yang mudah didapat. Sehingga, penulis dapat mengadakan penelitian mendalam mengenai permasalahan yang dimaksudkan di atas. Dalam penelitian kualitatif, sumber data dapat diperoleh dari informasi lisan maupun tulisan. Data primer yang dikumpulkan dari persepsi dan pemahaman personal narasumber serta deskripsi lainnya yang diberikan oleh narasumber berkaitan dengan fokus penelitian. Data sekunder 15

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI merupakan data yang diperoleh bukan dari sumber asli atau data yang didapat dari sumber kedua. Berdasarkan bentuk-bentuk data yang dikumpulkan dalam penelitian, maka sumber-sumber data penelitian ini meliputi manusia, benda, dan peristiwa. Manusia dalam penelitian kualitatif merupakan sumber data, berstatus sebagai informan mengenai fenomena atau masalah sesuai fokus penelitian. Benda merupakan bukti fisik yang berhubungan dengan fokus penelitian. Peristiwa merupakan informasi yang menunjukkan kondisi implementasi kegiatan CSR di Kabupaten Sintang. Data primer pada penelitian ini bersumber dari pejabat-pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang, terdiri dari: Bupati Sintang, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang, dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sintang. Penulis mengambil sumber data sekunder berupa data laporan kegiatan CSR milik perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang dan dokumen tentang kebijakan penyelenggaraan CSR di Kabupaten Sintang, yaitu dokumen Peraturan Bupati Sintang nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan. Data tersebut terkumpul di Bagian Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sintang. 16

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penulis juga menggunakan data sekunder berupa peristiwa. Dokumentasi peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan program CSR yang terjadi di Kabupaten Sintang. Penulis memakai dokumen foto dan rilis berita yang dimiliki Subbagian Peliputan dan Pemberitaan Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan akan didapatkannya datadata dari sumber selain yang telah ditetapkan di atas, penulis akan menggunakannya pula selama data tersebut dapat menunjang keberhasilan penyelidikan dalam penelitian ini. 3.3. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dan informasi dalam penelitian ini menggunakan berbagai cara dan teknik yang berasal dari berbagai sumber baik manusia maupun bukan manusia. Sugiyono (2008) mengemukakan bahwa bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan), dokumentasi dan interview gabungan (wawancara), keempatnya. kuesioner Penulis memakai (angket), teknik pengumpulan data dan informasi yang meliputi studi wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Moleong (2013) menyebutkan bahwa wawancara merupakan suatu percakapan yang dilakukan dengan maksud tertentu. Beberapa tujuan yang ingin dicapai melalui proses wawancara ialah memverifikasi, memperluas dan memperdalam informasi. Penulis menggunakan wawancara semi terstruktur 17

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada penelitian ini. Beberapa pertanyaan wawancara dibuat sebelum melakukan wawancara. Kemudian, penulis menambahkan pertanyaanpertanyaan baru yang disesuaikan jawaban dari narasumber untuk mendalami topik pembicaraan yang menjadi fokus penelitian. Penulis menggunakan studi dokumentasi untuk menggali, mengkaji, dan mempelajari sumber-sumber tertulis baik dalam bentuk laporan kegiatan, klipping rilis berita, dan dokumen negara (pemerintah). Pemilihan metode ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam sumber-sumber tertulis tersebut dapat diperoleh ungkapan gagasan, persepsi, pemikiran, serta sikap para praktisi CSR yang ada di Kabupaten Sintang. 3.4. Metode Analisis Data penelitian ini menggunakan teknik analisis data yang terdiri atas tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Analisis data milik Milles dan Huberman, (2007) ini merupakan proses berulang dan terus menerus dan merupakan rangkaian kegiatan analisis yang saling susul-menyusul atas kegiatan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan berikut: Pengumpulan data Penyajian data Reduksi data Kesimpulan: Penarikan/verifikasi Bagan 3.1 Komponen-komponen Analisis Data (sumber: Miles dan Huberman, 2007: 20) 18

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dari bagan di atas dapat dijelaskan bahwa terdapat tiga jenis kegiatan utama dan analisis data merupakan proses siklus yang interaktif. Dalam praktiknya, penulis harus bergerak diantara empat ”sumbu” kumparan itu. Selama penulis mengumpulkan data, berlangsung juga proses siklus interaktif diantara kegiatan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Pada penelitian ini, data-data berbentuk transkrip wawancara, dokumen laporan kegiatan CSR yang pernah dilakukan di Kabupaten Sintang, dokumen rilis berita yang berkaitan dengan CSR, dokumen Peraturan Bupati nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan serta dokumen lain yang terkait. Moleong (2013:277) menyebutkan: Penulisan dilakukan dengan mula-mula mengumpulkan catatancatatan dari setiap kategori. Pelajarilah catatan-catatan tersebut, kemudian lakukan penulisan. Penjelasan lebih rinci mengenai tahapan-tahapan proses analisis data dapat dilihat pada penjelasan berikut: 3.4.1. Reduksi Data Langkah pertama yang akan dilakukan penulis ialah melakukan reduksi data atas segala bahan yang diperoleh dari proses pengumpulan data. Reduksi Data (data reduction) merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Data yang diperoleh di lapangan jumlahnya cukup 19

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI banyak, sehingga memerlukan pencatatan secara teliti dan rinci. Datadata itu perlu dirangkum dan dipilih hal-hal yang pokok dan penting. Reduksi data ini dilakukan dengan cara mengelompokkan data sesuai dengan aspek-aspek permasalahan dalam penelitian. Pengelompokan tersebut dipakai untuk menentukan unit-unit analisis data penelitian. 3.4.2. Display Data Data hasil reduksi kemudian disajikan atau ditampilkan (display) dalam bentuk deskripsi sesuai dengan aspek-aspek penelitian. Penyajian data ini dimaksudkan untuk memudahkan penulis menafsirkan data serta menarik kesimpulan. Data atau informasi yang diperoleh dari lapangan mengenai kegiatan-kegiatan CSR yang dilakukan oleh perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang dan peran Pemerintah Daerah pada kegiatan-kegiatan tersebut disajikan untuk kemudian di gunakan untuk menarik kesimpulan, untuk diverifikasi dan direduksi kembali bilamana diperlukan. 3.4.3. Kesimpulan dan Verifikasi Penulis melakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi berdasarkan pemahaman terhadap data yang telah berhasil dikumpulkan. Penarikan kesimpulan ini dilakukan secara bertahap. Pertama, penulis melakukan penarikan kesimpulan sementara atau tentatif. Seiring dengan bertambahnya data maka penulis melakukan proses verifikasi data, dengan cara mempelajari kembali data yang 20

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI telah ada. Kemudian, verifikasi data juga dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari sumber tertentu dengan sumber-sumber lain. Pada akhirnya, penulis menarik kesimpulan akhir untuk mengungkapkan temuan-temuan penelitian ini. Laporan penelitian ini akan berbentuk narasi terstuktur, dengan menggunakan apa yang disebut disebut oleh John W. Creswell (1998) sebagai interpretasi yang dibangun dari natural daya yang ada. 3.5. Pengecekan Keabsahan data Secara umum, pemeriksaan keabsahaan data dalam penelitian kualitatif dapat menggunakan beberapa teknik. Keabsahan data ditetapkan dari sejumlah pemeriksaan dengan menggunakan beberapa teknik pemeriksaan yang didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Moleong (2013:320) menyebutkan: Pemeriksaan terhadap keabsahan data pada dasarnya merupakan unsur yang tidak terpisahkan dari tubuh pengetahuan penelitian kualitatif. Dengan kata lain, apabila peneliti melaksanakan pemeriksaan terhadap keabsahan data secara cermat sesuai dengan teknik yang ada, maka jelas bahwa hasil upaya penelitiannya benar-benar dapat dipertanggung jawabkan dari segala segi. Pada penelitian ini, penulis mengunakan dua teknik pemeriksaan keabsahan data. Penulis memilih untuk melakukan teknik pemeriksaan triangulasi guna memenuhi derajat kepercayaan (credibility) atas hasil penelitian ini. Selain itu, penulis juga berusaha untuk memenuhi kriteria kepastian (confirmability) dengan menyajikan uraian data secara rinci. 21

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Triangulasi merupakan pengecekan kebenaran data yang dikumpulkan dari suatu sumber berdasarkan kebenarannya dari sumber-sumber lain. Selain itu, triangulasi juga dilakukan untuk pengecekan kebenaran informasi atau data penelitian dari berbagai sumber dan atau teknik pengumpulan data. Misalnya, informasi atau data yang diperoleh melalui teknik wawancara dicek kebenarannya melalui teknik literasi. Uraian rinci (thick description) merupakan laporan hasil penelitian yang diuraikan dengan secermat mungkin dalam mendekripsikan konteks penelitian. Hasil penelitian kualitiatif sangat bergantung pada kesamaan konteks. Penulis harus melakukan uraian data yang cukup banyak segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pembaca agar temuan-temuan yang diperoleh dapat mudah dipahami. 22

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV PEMBAHASAN Berdasarkan rencana penelitian pada bab-bab sebelumnya, penulis menyajikan data dan hasil analisis data pada Bab IV ini. Penulis melakukan berbagai proses pada Bab ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pada rumusan masalah. 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penulis mengambil gambaran umum tentang Kabupaten Sintang ini dari Paparan Gambaran Umum Kabupaten Sintang yang disampaikan oleh Wakil Bupati Sintang, Drs. Askiman, MM pada tanggal 3 Agustus 2017. Ketika itu, Wakil Bupati Sintang, Drs. Askiman, MM membuka acara silahturahmi antar umat beragama Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Surakarta dan FKUB Kabupaten Sintang di Balai Praja Kompleks Kantor Bupati Sintang. 4.1.1. Letak Geografis Kabupaten Sintang terletak di bagian timur Provinsi Kalimantan Barat. Tepatnya berada diantara 1⁰ 05’ Lintang Utara dan 0⁰ 46’ Lintang Selatan. Serta diantara 110⁰ 50’ Bujur Timur dan 113⁰ 20’ Bujur Timur. Kabupaten Sintang memiliki luas 21.635 km2. Luas ini menjadikan Kabupaten Sintang sebagai daerah ketiga terluas di Kalimantan Barat. Bupati Sintang, dr. Jarot Winarno, M.Med.PH sering mengungkapkan bahwa luasan ini hampir setara dengan luas Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Sintang termasuk salah satu kabupaten yang berbatasan langsung dengan Negara Bagian Serawak Malaysia. Berdasarkan arah mata angin, batas administratif kabupaten ini pada 23

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kapuas Hulu dan Malaysia Timur (Serawak). Kabupaten Sintang di sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Melawi dan Kabupaten Ketapang. Kabupaten ini pada sisi sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Melawi dan di sisi barat berbatasan dengan Kabupaten Sanggau, Kabupaten Melawi serta Kabupaten Sekadau. Lebih dari 50 persen bentang alam, Kabupaten Sintang merupakan bentangan hutan hujan tropis. Kabupaten ini juga memiliki sejumlah bukit, danau dan sungai. salah satu bukit yang terkenal di Sintang, Bukit Kelam yang merupakan batuan monolite tunggal terbesar di dunia. Kabupaten ini dilewati oleh jalur aliran Sungai Kapuas. 4.1.2. Demografis Badan Pusat Statistik Kabupaten Sintang tahun 2015, mencatat ada 396.392 jiwa yang mendiami kabupaten ini. Jumlah penduduk tersebut meliputi 204.105 jiwa laki-laki dan 192.287 jiwa berjenis kelamin perempuan, dengan rata-rata jumlah anggota per keluarga sebanyak 4 orang. Berdasarkan usia, jumlah penduduk Kabupaten Sintang didominasi oleh angkatan non produktif, dengan rentang usia 0 -19 tahun dan diatas usia 50 tahun, mencapai 211.659 jiwa. Sedangkan penduduk usia produktif hanya 184.733 jiwa. Kabupaten Sintang memiliki tingkat kepadatan penduduk kurang lebih lebih 18 jiwa per km persegi. Kecamatan Sintang merupakan kecamatan terpadat dengan jumlah penduduk hingga 276 jiwa per km persegi. Kecamatan ini sekaligus merupakan ibukota Kabupaten Sintang. Kabupaten ini memiliki nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 70, berada pada peringkat 7 di Kalimantan Barat. 24

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3. Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Sintang merupakan masyarakat yang majemuk. Masyarakatnya terdiri dari beragam agama, suku dan budaya. Berdasarkan agama, penduduk Kabupaten Sintang paling banyak menganut agama Katolik, secara persentase umat Katolik mencapai 39%. Penduduk Kabupaten Sintang yang beragama Islam sebanyak 37% dari jumlah total masyarakat. Penduduk Kabupaten Sintang yang beragama Protestan sebanyak 24%. Ada juga penduduk yang beragama Budha sebanyak 0,7%, Kong Hu Chu sebanyak 0,2% dan masyarakat yang memeluk kepercayaan Kaharingan sebanyak 0,1%. Berdasarkan suku bangsa, penduduk Kabupaten Sintang terdiri dari berbagai suku dan budaya. Suku dayak mendominasi, mencapai 42% dari total jumlah penduduk. Kemudian, masyarakat suku Melayu yang mencapai jumlah hingga 19%, masyarakat suku Tiong Hoa sebesar 12%, masyarakat suku Jawa sebanyak 7%, masyarakat suku Batak sebanyak 6%, masyarakat suku Padang sebanyak 5%, masyarakat suku Bugis sebanyak 5% dan masyarakat suku Sunda 4%. 4.1.4. Ekonomi Pada sisi ekonomi, Kabupaten Sintang memiliki jumlah penduduk miskin mencapai 11% dari total jumlah penduduk. Kabupaten Sintang mempunyai sektor unggulan pada bidang pertanian, perkebunan, jasa dan perdagangan. Kabupaten Sintang memiliki produk unggulan berupa karet dan kelapa sawit. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sintang (2016) menyebutkan bahwa struktur perekonomian Kabupaten Sintang tahun 2015 didominasi oleh tiga kategori, pertanian, perdagangan dan konstruksi. Kategori pertanian memberikan kontribusi sebesar 24,41%. Sektor perdagangan 25

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menyumbang 17,77%. Sedangkan sektor konstruksi berkontribusi sebesar 113,09%. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sintang (2016) menyebutkan bahwa produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sintang memasuki tahun 2015 atas dasar harga berlaku mencapai 10,12 triliun rupiah. Hal ini berarti terjadi peningkatan nilai PDRB atas dasar harga konstan tahun 2010, dengan jumlah naik sebesar 4,65 % (persen) atau sebanyak 7,84 triliun rupiah. Apabila ditinjau dari PDRB per kapita maka masyarakat selama tahun 2015, satu orang penduduk Kabupaten Sintang memiliki pendapatan ratarata sebesar 25,7 juta setahun atau sebanyak 2,14 juta per bulan. Nilai PDRB juga dapat dilihat dari sisi penggunaannya. Pada tahun 2015, komponen konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Sintang, yaitu sebesar 56,48%. 4.1.5. Pemerintahan Sejak bulan Februari tahun 2016, Kabupaten Sintang dipimpin oleh dr. Jarot Winarno, M.Med.PH sebagai bupati dan Drs. Askiman, MM sebagai wakil bupati. Kedua pemimpin tersebut mencetuskan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) tahun 2016-2021 sebagaimana telah penulis paparkan dalam poin 2.2.2. di Bab 2. Tata kelola pemerintahan Kabupaten Sintang membagi wilayahnya secara administratif meliputi 14 kecamatan, 391 desa dan 16 kelurahan. Kecamatan terluas, Kecamatan Ambalau dengan luasannya mencapai hampir 30%, tepatnya 29,52% dari luas wilayah Kabupaten Sintang. Sedangkan, kecamatan terkecil, yakni Kecamatan Sintang yang luasnya hanya sebesar 1,28% dari luas Kabupaten Sintang. Kabupaten Sintang memiliki kecamatan lainnya, yaitu: Kecamatan Serawai, Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Dedai, Kecamatan Kelam Permai, Kecamatan Binjai, 26

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kecamatan Ketungau Hilir, Kecamatan Ketungau Tengah, Kecamatan Ketungau Hulu, Kecamatan Sungai Tebelian, Kecamatan Tempunak, dan Kecamatan Sepauk. Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang juga memiliki RPJMD. Kartiyus, SH, M.Si selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPEDA) Kabupaten Sintang memaparkan tentang implementasi perencanaan pembangunan Kabupaten Sintang pada acara sosialisasi Peraturan Bupati nomor 54 tahun 2016 di Gedung Pancasila Sintang, Senin (2/10/2017). Kartiyus mengatakan: Ada 6 (enam) bidang pembangunan pada RPJMD Sintang yang menjadi sasaran TSP, yaitu insfrastruktur, lingkungan, pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, olahraga, serta keagamaan, sosial seni dan budaya. Kartiyus lalu menjabarkan program-program prioritas pada RPJMD Kabupaten Sintang tahun 2016-2021 yang dapat diintegrasikan dengan bidang pembangunan yang berbasis tanggung jawab sosial perusahaan. Pengintegrasian itu dapat terjadi pada bidang pendidikan, ada program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, pendidikan menengah, pendidikan non formal, manajemen pelayanan pendidikan dan program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Kartiyus memberikan contoh implementasi pembangunan bidang pendidikan sebagaimana berikut: Kartiyus mengatakan: Salah satu contohnya, pembangunan SD kelas jauh, di Desa Margahayu Kecamatan Ketungau Tengah oleh PT PALJ Pada bidang kesehatan terdapat program pelayanan kesehatan masyarakat miskin, pencegahan dan penanggulangan penyakit menular, program pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan 27

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI prasarana puskesmas pembantu dan jaringannya. Program-program lainnya meliputi program peningkatan keselamatan ibu dan anak, peningkatan kesehatan anak balita, standarisasi pelayanan kesehatan dan upaya kesehatan masyarakat, program pengadaan, serta upaya peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit. Pada bidang insfrastruktur terdapat program pembangunan jalan dan jembatan, ada rehabilitasi dan pemeliharaan jalan jembatan, program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya; ada pembangunan insfrastruktur pedesaan, rehabilitasi dan pemeliharaan talud; ada pembangunan saran aprasarana serta gasilitas umum perumahan. Program lainnya meliputi program penyediaan dan pengelolaan air baku; ada progam legalitas tata ruang dan perencanaan tata ruang; ada program pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan; ada program pengendalian dan pengamanan lalu lintas; ada program peningkatan pelayanan angkutan serta program pengembangan komunikasi, informasi, media massa dan pemanfaatan teknologi informasi. Kartiyus mengatakan: Salah satu contoh pembangunan insfrastruktur yang menggunakan dana CSR, itu, pembangunan jembatan girder di Sungai Temuduk yanga ada di Kecamatan Ketungau Hulu. Bentangan jembatan sekitar 20 meter. Pada bidang ekonomi kerakyatan terdiri dari program peningkatan ketahanan pangan, peningkatan produksi pertanian, pengembangan budidaya perikanan, pengingkatan produksi hasil peternakan, pembangunan perkebunan, dan penciptaan iklim usaha yang kondusif pada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Pada bidang ini terdapat pula program pengembangan industri kecil dan menengah. Pada bidang lingkungan, meliputi program pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup, ada program peningkatan kualitas dan akses informasi sumber daya alam dan 28

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lingkungan hidup. Pada bidang ini juga terdapat program kinerja pengelolaan sampah, pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH), dan peningkatan kesiagaan pencegahan bahaya kebakaran. Terakhir pengembangan pada bidang destinasi sosial wisata, budaya terdapat program penataan kawasan budaya, pengelolaan kekayaan budaya dan pengembangan nilai budaya dan program peningkatan saran dan prasarana olahraga. Pada bidang ini terdapat pula program pembinaan dan pemasyarakatan olahraga. Ada program peningkatan peran serta kepemudaan, pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial serta ada program pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil (KAT), dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya. 4.2. Temuan dalam Penelitian Pada subbab ini, penulis menidentifikasi upaya koordinasi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang pada program CSR yang terjadi di wilayahnya. Penulis juga ingin menganalisis bentuk-bentuk implementasi kegiatan CSR milik perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Kabupaten Sintang. 4.2.1. Langkah-langkah Koordinasi Program CSR oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang Penulis menemukan ada 3 (tiga) langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang untuk mengkoordinasi program CSR yang terjadi di wilayahnya. Sebagai langkah pertama, Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang menerbitkan sebuah kebijakan hukum berupa, peraturan 29

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bupati. Kebijakan ini merupakan turunan dari produk hukum di atasnya yaitu Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Peraturan Bupati Sintang Nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan (TSP/CSR) juga merupakan pedoman dan arahan untuk melaksanakan program-program CSR di Kabupaten Sintang. Peraturan Bupati tersebut, terdiri dari 19 bab dan 29 pasal serta Bagian lampiran terdiri dari 7 (tujuh) berkas adminsitrasi yang berkaitan dengan teknis pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Kemudian, Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang mengenalkan Peraturan Bupati Sintang Nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan dalam sebuah acara sosialisasi. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Gedung Pancasila Sintang sebuah gedung serbaguna yang ada di Kabupaten Sintang- pada bulan Oktober 2017. Peserta kegiatan berasal dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang, unsur pimpinan dari berbagai perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang, para camat, para kepala desa, tokoh masyarakat dan sejumlah perwakilan Non Govermance Organization (NGO) yang ada di Kabupaten Sintang. Setelah itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang melakukan kegiatan sinkronisasi Peraturan Bupati Nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan sebagai langkah implementasi kebijakan daerah selanjutnya. Kegiatan ini dilaksanakan pada Februari 30

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2018. Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang mengharapkan lewat kegiatan ini akan ada penyesuaian antara program CSR yang dilakukan oleh pihak perusahaan dengan rencana pembangunan daerah milik Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang. 4.2.2. Implementasi program CSR yang dilakukan oleh perusahaanperusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang. Penulis melakukan pengumpulan data sekunder berupa dokumentasi kegiatan CSR yang terjadi di Kabupaten Sintang. Dokumen tersebut berupa laporan kegiatan CSR milik perusahaanperusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang dan dokumen rilis berita seputar CSR milik Subbagian Peliputan dan Pemberitaan Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang. Laporan-laporan tersebut disampaikan oleh perusahaan sebagai tindaklanjut atas surat Bupati Sintang tertanggal 30 Januari 2018 bernomor 582/0330/II-Bappeda dengan perihal surat tersebut tentang penyampaian laporan dan rencana CSR. Dalam lampiran surat tersebut ada 90 perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang. Dalam lampiran surat tersebut, perusahaan-perusahaan itu dikelompokkan sebagaimana tercantum dalam tabel 4.1 berikut: 31

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 1 2 3 4 5 6 7 Tabel 4.1 Kelompok Perusahaan yang Beroperasi di Kabupaten Sintang Frekuensi (f) F. absolut F. Bidang Usaha (perusahaan relatif ) (%) Perkebunan dan 48 53,33 Kehutanan Perbankan 17 18,89 Perhotelan 11 12,22 Credit Union 6 6,67 BUMN 4 4,44 Asuransi 3 3,33 BUMD 1 1,11 JUMLAH 90 100 Sumber: BAPPEDA Kabupaten Sintang (2018) Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa, perusahaan yang paling banyak beroperasi di Kabupaten Sintang adalah perusahaan bidang perkebunan dan kehutanan, ada 48 perusahaan perkebunan dan kehutanan, atau sebesar 53,33%. Perusahaan yang menempati urutan kedua terbanyak ialah perusahaan-perusahaan perbankan, sebanyak 17 perusahaan atau sebesar 18,89%. Perusahaan lainnya mencapai jumlah sebagai berikut: ada perusahaan-perusahaan bidang perhotelan sebanyak 11 perusahaan atau sebesar 12,22%; ada 6 credit union yang beroperasi di Kabupaten Sintang, dalam persentase, jumlah ini sebesar 6,67%, ada pula perusahaan BUMN sebanyak 4 perusahaan atau sebesar 4,44%, ada 3 perusahaan yang bergerak dibidang asuransi atau sebesar 3,33%, dan yang terakhir dalam daftar yaitu BUMD, hanya ada 1 perusahaan atau sebesar 1,11%. Penulis menemukan adanya beragam kegiatan CSR yang terjadi di Kabupaten Sintang pada laporan kegiatan CSR milik perusahaan. Laporan tersebut memuat 1.782 kegiatan CSR dari 20 perusahaan dengan rentang waktu yang beragam pada masing-masing perusahaan. Kegiatan-kegiatan CSR tersebut kemudian dikelompokkan dalam 32

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bidang-bidang tertentu. Data mengenai kondisi implementasi CSR tersebut tersaji pada tabel berikut ini: 33

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel.4.2. Ringkasan Implem`entasi Kegiatan CSR Perusahaan-perusahaan yang Beroperasi di Kabupaten Sintang Bidang Kegiata n Keaga maan Insfra strukt ur Sosial Pendidik an Olahraga Seni dan Budaya Kesehatan Ekonomi Kerakyata n Lingkun gan Total Kegiatan 189 81 55 54 25 13 9 11 1 2 440 87 87 51 66 27 31 20 22 2 8 401 159 70 22 23 31 15 20 7 0 0 347 147 56 15 13 7 4 2 6 0 0 250 72 19 17 11 9 5 4 3 0 0 140 65 25 9 12 5 8 3 1 0 0 128 36 14 2 5 0 0 0 0 0 0 57 6 2 1 1 0 0 0 0 0 0 11 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 8 765 358 172 185 104 76 58 51 3 10 1.782 Jumlah dana (Rp) Jumlah Pelapor Tahun 2017 2016 2015 2014 2013 2012 2011 2010 2009 2008 Total 4.097.100.855,00 2.710.874.274,00 1.226.441.760,00 3.775.909.700,00 670.740.000,00 606.843.879,00 466.086.982,00 438.450.298,00 4.997.000,00 385.175.000,00 14.382.619.748,00 20 14 7 7 4 2 2 2 1 1 60 Sumber: BAPPEDA Kabupaten Sintang (2018) Dari tabel di atas terlihat bahwa total laporan kegiatan CSR yang dikumpulkan oleh perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang sebanyak 60 berkas. Ada 1 perusahaan yang melaporkan kegiatan CSR dalam kurun waktu 10 tahun, 34

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yaitu sejak tahun 2008 hingga tahun 2017. Sementara itu di sisi lain, berdasarkan bidang kegiatan, ada 1.782 kegiatan, dengan rincian: total kegiatan pada Bidang Keagamaan ada 440 kegiatan; Bidang Insfrastruktur ada 401 kegiatan; Bidang Sosial ada 347 kegiatan; Bidang Pendidikan ada 250 kegiatan; Bidang Olahraga ada 140 kegiatan; Bidang Seni dan Budaya ada 128 kegiatan; Bidang Kesehatan ada 57 kegiatan; Bidang Ekonomi Kerakyatan ada 11 kegiatan; dan Bidang Lingkungan ada 8 kegiatan. Dengan total dana CSR yang dikucurkan sebesar Rp14.382.619.748,00 (empat belas milyar tiga ratus delapan puluh dua juta enam ratus sembilan belas ribu tujuh ratus empat puluh delapan rupiah). Pada tahun 2017 ada 20 berkas laporan, berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa total kegiatan CSR yang dilaporkan sebanyak 765 kegiatan dengan rincian sebagai berikut: Bidang Keagamaan ada 189 kegiatan; Bidang Sosial ada 159 kegiatan; Bidang Pendidikan ada 147 kegiatan; Bidang Insfrastruktur ada 87 kegiatan; Bidang Olahraga ada 72 kegiatan; Bidang Seni dan Budaya ada 65 kegiatan; Bidang Kesehatan ada 36 kegiatan; Bidang Ekonomi Kerakyatan ada 6 kegiatan; dan Bidang Lingkungan ada 4 kegiatan. Dengan total dana CSR yang dikucurkan sebesar Rp4.097.100.855,00 (empat milyar sembilan puluh tujuh juta seratus ribu delapan ratus lima puluh lima rupiah). 35

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada tahun 2016 ada 14 berkas laporan, berdasarkan laporan tersebut diketahui total kegiatan CSR yang dilaporkan sebanyak 358 kegiatan dengan rincian sebagai berikut: Bidang Insfrastruktur ada 87 kegiatan; Bidang Keagamaan ada 81 kegiatan; Bidang Sosial ada 70 kegiatan; Bidang Pendidikan ada 56 kegiatan; Bidang Seni dan budaya ada 25 kegiatan; Bidang Olahraga ada 19 kegiatan; Bidang Kesehatan ada 14 kegiatan; Bidang Lingkungan ada 4 kegiatan; dan Bidang Ekonomi Kerakyatan ada 2 kegiatan. Dengan total dana CSR yang dikucurkan sebesar Rp2.710.874.274,00 (dua milyar tujuh ratus sepuluh juta delapan ratus tujuh puluh empat ribu dua ratus tujuh puluh empat rupiah). Pada tahun 2015, ada 7 perusahaan yang melaporkan kegiatan CSRnya. Berdasarkan laporan tersebut diketahui total kegiatan CSR yang dilaporkan sebanyak 172 kegiatan dengan rincian kegiatannya sebagai berikut: Bidang Keagamaan ada 55 kegiatan; Bidang Insfrastruktur ada 51 kegiatan; Bidang Sosial ada22 kegiatan; Bidang Olahraga ada17 kegiatan; Bidang Pendidikan ada15 kegiatan; Bidang Seni dan budaya ada 9 kegiatan; Bidang Kesehatan ada 2 kegiatan; dan Bidang Ekonomi Kerakyatan ada 1 kegiatan, sementara bidang Lingkungan tidak ada kegiatan. Total dana CSR yang dikucurkan sebesar Rp1.226.441.760,00 (satu milyar dua ratus dua puluh enam juta empat ratus empat puluh satu ribu tujuh ratus enam puluh rupiah). 36

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada tahun 2014, ada 7 perusahaan yang melaporkan kegaitan CSRnya. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa total kegiatan CSR yang dilaporkan sebanyak 185 kegiatan dengan rincian sebagai berikut: Bidang Insfrastruktur ada 66 kegiatan; Bidang Keagamaan ada 54 kegiatan; Bidang Sosial ada23 kegiatan; Bidang Pendidikan ada13 kegiatan; Bidang Seni dan budaya ada12 kegiatan; Bidang Olahraga ada11 kegiatan; Bidang Kesehatan ada 5 kegiatan; dan Bidang Ekonomi Kerakyatan ada 1 kegiatan. Pada bidang lingkungan tidak ada kegiatan. Total dana CSR yang dikucurkan sebesar Rp3.775.909.700,00 (tiga milyar tujuh ratus tujuh puluh lima juta sembilan ratus sembilan ribu tujuh ratus rupiah). Pada tahun 2013, ada 4 perusahaan yang melaporkan kegiatan CSRnya. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa total kegiatan CSR yang dilaporkan sebanyak 104 kegiatan dengan rincian sebagai berikut: Bidang Sosial ada 31 kegiatan; Bidang Insfrastruktur ada 27 kegiatan; Bidang Keagamaan ada 25 kegiatan; Bidang Olahraga ada 9 kegiatan; Bidang Pendidikan ada 7 kegiatan; dan Bidang Seni dan budaya ada 5 kegiatan; Bidang Kesehatan, Bidang Lingkungan dan Bidang Ekonomi Kerakyatan tidak ada kegiatan. Total dana CSR yang dikucurkan sebesar Rp670.740.000,00 (enam ratus tujuh puluh juta tujuh ratus empat puluh ribu rupiah). Pada tahun 2012, ada 2 perusahaan yang melaporkan kegiatan CSRnya. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa total kegiatan 37

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CSR yang dilaporkan sebanyak 76 kegiatan dengan rincian sebagai berikut: Bidang Insfrastruktur ada 31 kegiatan; Bidang Sosial ada 15 kegiatan; Bidang Keagamaan ada 13 kegiatan; Bidang Seni dan budaya ada 8 kegiatan; Bidang Olahraga ada 5 kegiatan dan Bidang Pendidikan ada 4 kegiatan; Bidang Ekonomi Kerakyatan, Bidang Kesehatan dan Bidang Lingkungan tidak ada kegiatan. Total dana CSR yang dikucurkan sebesar Rp606. 843.879,00 (enam ratus enam juta delapan ratus empat puluh tiga ribu delapan ratus tujuh puluh sembilan rupiah). Pada tahun 2011, ada 2 perusahaan yang melaporkan kegiatan CSRnya. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa total kegiatan CSR yang dilaporkan sebanyak 58 kegiatan dengan rincian sebagai berikut: Bidang Insfrastruktur dan Bidang Sosial masing-masing ada 20 kegiatan; Bidang Keagamaan ada 9 kegiatan; Bidang Olahraga ada 4 kegiatan; Bidang Seni dan budaya ada 3 kegiatan; dan Bidang Pendidikan ada 2 kegiatan; Bidang Lingkungan, Bidang Kesehatan dan Bidang Ekonomi Kerakyatan tidak ada kegiatan.Total dana CSR yang dikucurkan sebesar Rp466.086.982,00 (empat ratus enam puluh enam juta delapan puluh ribu sembilan ratus delapan puluh dua rupiah). Pada tahun 2010, ada 2 perusahaan yang melaporkan kegaitan CSRnya. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa total kegiatan CSR yang dilaporkan sebanyak 51 kegiatan dengan rincian sebagai 38

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berikut: Bidang Insfrastruktur ada 22 kegiatan; Bidang Keagamaan ada 11 kegiatan; Bidang Sosial ada 7 kegiatan; Bidang Pendidikan ada 6 kegiatan; Bidang Olahraga ada 3 kegiatan; Bidang Seni dan Budaya serta Bidang Ekonomi Kerakyatan masing-masing ada 1 kegiatan; Bidang Lingkungan Bidang Kesehatan tidak ada kegiatan. Total dana CSR yang dikucurkan sebesar Rp438.450.298,00 (empat ratus tiga puluh delapan juta empat ratus lima puluh ribu dua ratus sembilan puluh delapan rupiah). Pada tahun 2009, hanya ada 1 perusahaan yang melaporkan kegiatan CSRnya. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa total kegiatan CSR yang dilaporkan sebanyak 3 kegiatan. Rincian sebagai berikut: Bidang Insfrastruktur ada 2 kegiatan dan Bidang Keagamaan ada 1 kegiatan; Bidang Lingkungan, Bidang Pendidikan, Bidang Kesehatan, Bidang Ekonomi Kerakyatan, Bidang Seni dan budaya, Bidang Olahraga dan Bidang Sosial tidak ada kegiatan. Total dana CSR yang dikucurkan sebesar Rp4.997.000,00 (empat juta sembilan ratus sembilan puluh tujuh ribu rupiah). Pada tahun 2008, juga hanya ada 1 perusahaan yang melaporkan kegiatan CSRnya. Berdasarkan laporan tersebut diketahui bahwa total kegiatan CSR yang dilaporkan sebanyak 10 kegiatan dengan rincian sebagai berikut: Bidang Insfrastruktur ada 8 kegiatan dan Bidang Keagamaan ada 2 kegiatan; Bidang Lingkungan, Bidang Pendidikan, Bidang Seni dan Budaya, Bidang Kesehatan, Bidang Ekonomi 39

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kerakyatan, Bidang Olahraga dan Bidang Sosial tidak ada kegiatan. Total dana CSR yang dikucurkan sebesar Rp385.175.000,00 (tiga ratus delapan puluh lima juta seratus tujuh puluh lima ribu rupiah). Selain data laporan kegiatan milik perusahaan, penulis juga mendapatkan dokumen beberapa rilis berita sebagai bahan penelitian. Dokumen rilis ini berisi deskripsi dan petikan wawancara dengan tokoh pimpinan daerah Kabupaten Sintang berkenaan dengan kegiatan sosialisasi dan acara sinkronisasi yang telah diadakan. Dari sejumlah temuan tersebut, penulis menemukan ada beberapa temuan menarik yang akan dianalisis lebih lanjut. Temuantemuan itu secara ringkas, sebagai berikut: 4.2.2.1. Lambatnya proses tindak lanjut antar langkah implementasi kebijakan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang. 4.2.2.2. Belum tuntasnya proses sinkronisasi. 4.2.2.3. Adanya perbedaan pemahaman tentang CSR antara Pemda Sintang dan Perusahaan. 4.2.2.4. Ada ketimpangan pada pelaksanaan CSR yang cukup besar antar bidang. 4.2.2.5. Ada peningkatan jumlah kegiatan dan jumlah dana untuk CSR dalam kurun waktu 2014-2017. 4.2.2.6. Banyak kegiatan CSR yang kurang memberdayakan masyarakat. Temuan-temuan ini, penulis bahas pada subbab selanjutnya. 40

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.3. Pembahasan 4.3.1. Lambatnya Implementasi Kebijakan Daerah Penulis sudah menyampaikan pada subbab sebelumnya tentang Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang yang menerbitkan sebuah kebijakan mengenai CSR dalam bentuk peraturan bupati. Kebijakan tersebut diterbitkan pada September 2016. Peraturan Bupati Sintang Nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan (TSP/CSR) bertujuan sebagai pedoman dan arahan untuk melaksanakan program-program CSR di Kabupaten Sintang. Pada Bab II tertulis tentang maksud dan tujuan. Bab II Perbup Sintang nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan, disebutkan: Peraturan Bupati ini dimaksudkan sebagai pedoman dan arahan dalam penyelenggaraan TSP dengan mensinergikan dan mengintegrasikan penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan program TSP Dalam Pasal 3 ayat d disebutkan: TSP bertujuan mewujudkan kepedulian pelaku usaha dengan masyarakat di sekitar lokasi usaha Peraturan Bupati Sintang Nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan ini merupakan turunan dari produk hukum di atasnya, Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan Undang-Undang nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Hal ini terlihat dari sejumlah peraturan 41

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perundangan yang disebutkan dalam pembukaan dan Bab I. Hal senada juga diungkapkan oleh Bupati Sintang dalam wawancara. dr. Jarot Winarno, M.Med,.PH mengatakan: CSR itukan dasar hukumnya itu UU no 40 tentang perseroan terbatas. Lalu dibawahnya ada banyak peraturan pemerintah yang menyebutkan masalah CSR. Kemudian juga peraturan pemerintah yang menyebutkan masalah permbangunan berkelanjutan dan sebagainya. payung hukum yang di atas tadi perlu peraturan yang lebih aplikatif. Makanya Pemkab membuat Perbup. dr. Jarot Winarno, M.Med,.PH menegaskan kembali hal tersebut dengan mengatakan: Satu, untuk meneruskan perintah UU dan perpen dan peraturanperaturan lain di atasnya. Dua, bisa mneyusun kegiatan yang lebih aplikatif, bisa dikerjakan di tingkat kabupaten, kan kalau dalam Undang-Undangkan bunyinya hanya begitu saja bahwa ada CSR dari perusahaan tapi yang mengaturnya bagaimana-bagaimananya kan ndak ada. Perbup kira-kira begitu. Peraturan Bupati Nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan terdiri dari 19 bab dan 29 pasal serta Bagian lampiran terdiri dari 7 (tujuh) berkas adminsitrasi yang berkaitan dengan teknis pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Babbab dalam Peraturan Bupati Sintang ini meliputi, bab I (satu) tentang ketentuan umum terdiri dari 1 pasal yang terdiri dari definisi berbagai isitilah yang terdapat dalam peraturan ini serta peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan. Bab II (dua) dengan judul maksud dan tujuan, terdiri dari 2 pasal. Pasal 2 menjelaskan tentang maksud dibuatnya perbup ini. Pasal 3 memaparkan tentang serangkaian tujuan dibuatnya perbup ini. Dalam pasal 4 disebutkan dengan judul ruang lingkup, mengenai cakupan ruang lingkup tanggung jawab sosial perusahaan dalam menurut Peraturan Bupati Sintang nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan ini. 42

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bab III menjabarkan tentang definisi dan klasifikasi perusahaan pelaksana TSP. Penjelasan dimulai dengan subjek pelaku tanggung jawab perusahaan mulai dari ketentuan yang mewajibkan semua perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang harus melaksanakan CSR sampai kategori perusahaan pelaksana. Bab IV dengan judul bab Kelembagaan memaparkan mengenai tim fasilitasi TSP. Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang menetapkan struktur sebuah tim yang terdiri dari berbagai unsur di lingkungan Pemerintahan Daerah untuk memfasilitasi berbagai kegiatan CSR perusahaan yang ada. Pada Bab V dipaparkan tentang bentuk tanggung jawab sosial perusahaan dan di Bab VI mengenai pelaksanaan TSP, masing-masing terdiri dari 2 pasal. Bab dan pasalpasal tersebut menjelaskan mengenai proses dan bentuk implementasi kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan. Keterangan tersebut dilanjutkan pada Bab VII dengan 1 pasal penjabaran dan Bab VIII dengan 4 pasal mengenai mekanisme dan prosedur serta tata laksana TSP. Kemudian ada pengaturan yang berkaitan dengan hak dan kewajiban para mitra TSP yang dituangkan dalam 1 pada di Bab IX. Selain itu, ada penjabaran peraturan berkenaan dengan perencanaan, pelaksanaan, moni-toring, evaluasi dan pelaporan di Bab XI. Bahasan bab ini dipaparkan secara detail dalam 4 bagian dengan 6 pasal. Pengaturan sehubungan dengan TSP ini dilanjutkan dengan keterangan bagian penghargaan di Bab XII. Bab XII menyebutkan dalam 1 pasal mengenai peran pemerintah. Paparan mengenai TSP berlanjut tentang proses pembinaan, pengawasan dan pemantauan di Bab XIV dalam terurai dalam 1 pasal. Serta pasal tentang pembiayaan dicetuskan dalam 1 pasal juga pada Bab XV. Bab-bab selanjutnya sehubungan tentang hal-hal berkaitan 43

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan hal-hal lain, seperti tentang sanksi administratif di Bab XVI pasal 26, Bab XVII tentang penyelesaian sengketa dan tentang ketentuan peralihan di Bab XVIII masing-masing tertuang dalam 1 pasal. Penulis mengamati bahwa meski sudah disebutkan dalam Bab XVI mengenai sanksi administratif yang akan diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang terhadap pelanggaran hak dan kewajiban perusahaan berkaitan dengan TSP namun sejak diterbitkan hingga penelitian ini berlangsung, belum ada dokumentasi yang menyebutkan adanya proses penegakkan pasal ini. Penulis menghubungkan dengan adanya perbedaan bentuk kegiatan CSR yang dihimbau oleh pemerintah dengan praktik CSR yang dilakukan oleh perusahaan tentu akan ada tindak lanjut sebagaimana disebutkan dalam peraturan Bupati tersebut. Namun, penulis menyarankan bahwa penerapan pasal ini belum perlu untuk diberlakukan secara ketat karena pemerintah dan perusahaan masih dalam tahap membangun sinergi melalui program CSR ini. Dari paparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa Peraturan Bupati Nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan ini untuk menunjukkan standarisasi yang diharapkan oleh Pemerintah Daerah pada pelaksanaan CSR di Kabupaten Sintang. Kemudian, Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang mengenalkan Peraturan Bupati Sintang Nomor 54 tahun 2016 tentang 44

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tanggungjawab Sosial Perusahaan dalam sebuah acara sosialisasi. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Gedung Pancasila Sintang sebuah gedung serbaguna yang ada di Kabupaten Sintang- pada hari Senin, 2 Oktober 2017. Kegiatan ini berlangsung selama 1 (satu) hari. Kegiatan dibagi dalam 2 (dua) sesi acara. Pada sesi pertama disajikan materi tentang CSR sebagai salah satu komponen pendukung pembangunan daerah. Disesi kedua diulas mengenai daya dukung CSR dalam implementasi perencanaan pembangunan di Kabupaten Sintang. Peserta yang terlibat pada kegiatan sosialisasi berjumlah 120 orang. Para peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari perwakilan Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang, unsur pimpinan dari berbagai perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Sintang, para camat, para kepala desa, tokoh masyarakat dan sejumlah perwakilan Non Govermance Organization (NGO) yang ada di Kabupaten Sintang. Masing-masing peserta mendapatkan salinan dari naskah Peraturan Bupati Sintang Nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan. Setelah itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang melakukan kegiatan sinkronisasi berkenaan dengan implementasi Peraturan Bupati Nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari Senin, 26 Februari 2018. Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta yang hadir di Balai Praja, aula Kantor Bupati Sintang tersebut. 45

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang melalui kegiatan ini, mengharapkan adanya penyesuaian antara program CSR yang dilakukan oleh pihak perusahaan dengan rencana pembangunan daerah milik Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang. Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang dalam hal ini diwakili oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) menyampaikan sejumlah Rencana Kegiatan Pembangunan Daerah (RKPD) milik Kabupaten Sintang. Kepala BAPPEDA juga menyampaikan beberapa contoh yang sudah dan yang diharapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang untuk dilakukan oleh pihak perusahaan melalui program CSR mereka. Proses sinkronisasi dilakukan dengan metode ceramah. Kepala BAPPEDA Kabupaten Sintang menyampaikan paparan tentang RKPD dan kemungkinan-kemungkinan kegiatan pembangunan yang dapat dilakukan oleh perusahaan. Penulis menganggap penggunaan metode tersebut kurang sesuai untuk mencapai tujuan dari proses sinkronisasi. Seyogyanya bila pemerintah ingin menyinkronkan standar yang sudah dibuat dalam bentuk Peraturan Bupati dengan pelaksanaan kegiatan CSR oleh perusahaan, tentu langkahnya tidak bisa hanya dengan menyampaikan RKPD dan contoh-contoh yang diharapkan, pemerintah harus mencocokkan RKPD dengan rencana CSR milik perusahaan-perusahaan. Pemerintah perlu melakukan langkah yang lebih efektif dan efisien seperti diskusi dalam group-group kecil, yang 46

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI di dalam proses diskusi perlu ada kegiatan analisis tertentu misalnya, SWOT Analysis atau SOAR Analysis sebagai pertimbangan. Pemerintah dan perushaan perlu juga menentukan mengenai indikator dan jadwal kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan CSR yang telah disepakati. Setelah kedua belah pihak mencapai suatu kesepakatan barulah dapat dikatakan telah terjadi sinkronisasi. Dari sisi lama pelaksanaan kegiatan sinkronisasi, penulis beranggapan bahwa sulit untuk mencapai kesesuaian antara rencana kerja milik pemerintah dan rencana CSR milik perusahaan sebagaimana yang diharapkan apabila hanya dilakukan dalam satu hari, terlebih bila melibatkan lebih dari 50 orang perwakilan dari 50 perusahaan. Para pihak terkait juga perlu memperhatikan bahwa tiap belum lagi perusahaan memiliki jumlah anggaran CSR yang berbeda dan kebijakan CSR perusahaan yang juga berbeda-beda. Penulis, menganggap bahwa dengan durasi yang hanya sehari, kedua belah pihak tidak memiliki cukup waktu berdiskusi secara mendalam. Kondisi ini dapat berarti bahwa belum dimungkinkan untuk mencapai kesepakatan kegiatan CSR yang akan dikerjakan bersama pemerintah daerah dan perusahaan atau kegiatan CSR yang dilakukan oleh perusahaan dalam arahan dan pengawasan oleh Pemerintah Kabupaten Sintang. Penulis menyimpulkan bahwa langkah ketiga dalam proses implementasi kebijakan daerah oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang masih belum tuntas. 47

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dalam wawancara usai membuka kegiatan tersebut, Bupati Sintang, dr. Jarot Winarno, M.Med,.PH menyebutkan bahwa kegiatan sinkronisasi ini bertujuan juga untuk memberikan penyadaran kepada para investor bahwa Kabupaten Sintang sangat mendukung dan bersedia memfasilitasi kegiatan CSR perusahaan. dr. Jarot Winarno, M.Med,.PH mengatakan: Hari ini pertemuan pertama kita dalam rangka mengimplementasikan Perbup no 54 tahun 2016 tentang CSR yang dalam Bahasa Indonesia jadi TSP. Kita buat Perbup, dalam Perbup ini kita juga buat Tim Fasilitasi TSP. Tujuannya jelas, satu untuk memberi penyadaran kepada seluruh perusahaan yang ada di Kabupaten Sintang bahwa Kabupaten Sintang ini kabupaten yang sangat terbuka. Kemudian lagi juga pro bisnis, mudah mengurus segala sesuatunya. Dan pemkab yang siap membantu semua perusahaan dalam kalau dia menghadapi masalah apapun juga. Dua, memberi penyadaran juga kepada para perusahaan bahwa tujuan kita berusaha di Sintang ini pada dasarnya tetap harus mengacu pada tripple bottom line-nya, ini garis bawah tujuan utamanya ini jadi tujuan ekonomi, mendapatkan laba dan keuntungan itu wajar, namanya orang beramal, beriktiar dan berusaha tetapi ia juga ingatkan dia ada juga tanggung jawab terhadap masyarakat di sekitar dan masyarakat Sintang dan yang ketiga ada tanggung jawab dia untuk menjaga keberlanjutan untuk menjaga kelestarian lingkungan kira-kira demikian. dr. Jarot Winarno, M.Med,.PH menambahkan: Dengan sadar seperti itu, maka CSR/TSP akan dilihat oleh perusahaan bukan saja ini adalah kawajiban yang memberatkan perusahaan untuk membantu masyarakat di sekitar tetapi memang menjadi juga tujuan meraka jadi untuk memenuhi perundang-undangan, untuk branding mereka dengan demikian dia juga membantu masyarakatlah ya dengan lebih sistematis, nah kemudian juga lagi apa yang mereka kerjakan ini bisa tercatat rapi, terencana rapi dan kita evaluasi 48

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selain itu juga, Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang mengharapkan bahwa dengan adanya proses sinkronisasi akan dapat memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai kegiatan CSR yang ada. Termasuk hal-hal di dalamnya yang diinginkan oleh Pemerintah Daerah untuk kiranya bisa dikerjakan oleh perusahaan melalui kegiatan CSR. dr. Jarot Winarno, M.Med,.PH mengatakan: Mudah-mudahan dengan pertemuan ini kedua belah pihak ini ya kan? Ini akan menghasilkan hasil yang baiklah. CSR perusahaan yang memang nyata, tersusun rapi, dan ya bisa mengisi kekurangan-kekurangan pemerintah atau program-program kegiatan yang belum dilakukan oleh pemerintah. dr. Jarot Winarno, M.Med,.PH menegaskan: We cannot stand alone! Kita ndak bisa menghadapi masalah Sintang ini sendirian. Jadi diharapkan CSR ini bisa mengisi rongga kosong, ruang-ruang kosong yang tidak bisa didanai dan diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten. Langkah-langkah ini merupakan bentuk dari peran Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang selaku koordinator dalam proses pembangunan daerah, sebagaimana dimaksud oleh Kuncoro (2014). Paparan berkaitan dengan ketiga langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang dalam upaya mengkoordinasi program CSR di atas terlihat, ada jarak waktu yang cukup jauh pada setiap langkahnya. Antara langkah pertama dan kedua, terentang waktu 13 bulan, lebih dari 1 tahun. Kemudian antara langkah kedua dan ketiga berjarak selama kurang lebih 4 bulan. Lambatnya 49

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI implementasi kebijakan daerah ini tentu mempengaruhi proses pembangunan di Kabupaten Sintang. 4.3.2. Perbedaan Pemahaman CSR antara Pemerintah Daerah dan Perusahaan Penulis telah menyebutkan pada subbab sebelumnya, di dalam Peraturan Bupati Nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial khususnya ada bab mengenai definisi CSR. Bab I pasal 1 ayat 4 berbunyi: Tanggungjawab sosial perusahaan yang selanjutnya disingkat TSP adalah komitmen perusahaan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perusahaan itu sendiri, komunitas setempat maupun masyarakat Kabupaten SIntang yang bersinergi dengan Pembangunan Daerah. Mengacu pada paparan definisi ini, penulis menilai jenis kegiatankegiatan CSR yang dilaporkan oleh perusahaan. Ada 9 bidang yang dilaporkan oleh perusahaan sebagai kegiatan CSR, yaitu: bidang insfrastruktur, bidang lingkungan, bidang pendidikan, bidang kesehatan, bidang ekonomi, bidang olahraga, bidang keagamaan, bidang sosial, serta bidang seni dan budaya. Berikut 10 contoh rincian kegiatan CSR yang dilakukan perusahaan seperti: bantuan pembelian 200 keping seng untuk gereja (Bidang Keagamaan); bantuan perbaikan jalan dan jembatan (Bidang Insfrastruktur); bantuan peralatan tapak lapangan bola desa (Bidang 50

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Olahraga); bantuan perataan halaman balai desa (Bidang Insfrastruktur); bantuan transportasi warga sakit atau meninggal (Bidang Sosial); bantuan perayaan Natal dan Tahun Baru (Bidang Keagamaan); bantuan pelaksanaan Gawai Dayak (Bidang Seni dan Budaya); bantuan hadiah turnamen peringatan HUT RI 17 Agustus (Bidang Olahraga); bantuan pengadaan pengobatan gratis bagi warga di sekitar kebun (Bidang Kesehatan); dan sosialisasi pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) (Bidang Lingkungan). Dari contoh kegiatan CSR perusahaan ini, penulis melakukan telaah kembali dengan mencocokkan sampel kegiatan dengan definisi yang tercantum di dalam kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang. Penulis melihat donasi perusahaan pada aspek sosial masyarakat (bidang keagamaan, sosial, olah raga, seni dan budaya) cukup tinggi. Keadaan ini dapat berimplikasi pada: dengan bantuan perusahaan, masyarakat dapat melestarikan budaya warisan nenek moyang. Dengan bantuan perusahaan dapat meningkatkan kesehatan fisik masyarakat melalui olahraga. Dengan bantuan perusahaan, masyarakat dapat meningkatkan rasa cinta tanah air lewat berbagai kegiatan pada peringatan HUT RI. Kegiatan lainnya yang dilakukan perusahaan seperti: peningkatan jumlah ruas jalan dan jembatan yang menghubungan satu desa dengan desa lain, dan dari desa ke kota menjadikan kegiatan ekonomi 51

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI masyarakat berputar dengan baik. Kondisi ini tergambar dari kemudahan dalam mengangkut hasil bumi dari desa ke kota begitu pula sebaliknya mudah dalam membawa barang produksi pabrik dari kota ke desa. Penulis lalu menelaah juga bentuk-bentuk CSR yang Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang harapkan sebagaimana tercantum dalam Bab V Peraturan Bupati Sintang nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan. Kutipan Bab V Pasal 7 Peraturan Bupati Sintang nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan berbunyi: Bentuk TSP melalui program pembangunan, meliputi: 1. Program Pendidikan, yang diarahkan untuk mencapai tujuan bebas putus sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah serta penambahan Ruang Kelas Baru (RKB), Unit Sekolah Baru (USB) dan Beasiswa; 2. Program Kesehatan yang diarahakan pada sarana dan prasarana kesehatan, alat kesehatan yang memadai, penignkatan kualitas tenaga kesehatan yang kompeten dan pengembangan puskesmas menjadi Puskesmas Mampu Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED); 3. Program Bina Lingkungan, yang diarahkan pada kegaitan pemberdayaan kondisi sosial masyarakat melalui pencegahan polusi, penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, mitigasi dan adaptasdi terhadap perubahan iklim serta proteksi dan restorasi lingkungan; 4. Program peningkatan ekonomi, yang diarahkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pengembangan sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil dn Menengah); 5. Program Pembangunan Insfrastruktur, yang diarahkan untuk meningkatkan sarana dan prasarana lingkungan pedesaan; dan 6. Program kegiatan lainnya yang dinilai mempunyai dampak luas bagi terwujudnya prinsip kerjasama yang saling menguntungkan dalam pelaksanaan pembangunan daerah. 52

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pada kutipan itu disebutkan ada 6 program yang ditetapkan pemerintah beserta beberapa bentuk contoh kegiatan namun kegiatan CSR perusahaan yang mendekati bentuk tersebut, hanya kegiatan bidang infrastruktur. Pada kegiatan lainnya, penulis menemukan belum terdapat kesesuaian, misalnya pada bidang kesehatan, bantuan pengobatan gratis diadakan oleh satu perusahaan saja dan hanya tercatat 1 (satu) kali dalam laporan. Dengan berdasarkan pada paparan di atas, penulis melihat bahwa pemahaman tentang CSR antara Pemerintah Daerah dan perusahaan belum selaras. Hal-hal lain yang mungkin dari penafsiran data ini, penulis menyarankan untuk adanya penelitian lebih lanjut, misalnya untuk mengetahui mengenai motif pemilihan bentuk kegiatan CSR oleh perusahaan. 4.3.3. Praktik CSR oleh Perusahaan Pada subbab sebelumnya, penulis telah menyebutkan bahwa proses analisis pada subbab ini diperoleh dari data sekunder dalam bentuk laporan dan rilis berita. Penulis menganalisis laporan pelaksanaan CSR yang pernah dilakukan perusahaan pada tahun 2017 dan beberapa tahun sebelumnya. Laporan tersebut berbeda dalam hal jumlah berkas dan format yang dilaporkan dari masing-masing perusahaan. Dari data yang terdapat pada subbab sebelumnya, penulis mengetahui ada kesenjangan yang cukup besar antar bidang kegiatan. 53

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penulis melihat perbedaan antara jumlah kegiatan CSR dibidang keagamaan dan bidang infrastruktur dengan jumlah kegiatan dibidang lingkungan sangat tinggi. Pada bidang keagamaan mencapai 440 kegiatan sementara kegiatan dibidang lingkungan hanya ada 8 (delapan) kegiatan). Kegiatan lingkungan pun muncul pada catatan laporan tahun 2016 dan tahun 2017, selain itu nihil. Hal serupa juga terjadi pada bidang-bidang lain, yaitu: bidang ekonomi kerakyatan yang hanya mendapat porsi 11 kegiatan dan bidang kesehatan yang mendapat 57 kegiatan. Pada bidang pendidikan terdapat 250 kegiatan, yang berarti ada perhatian yang cukup banyak pada bidang ini. Penulis menyayangkan bahwa bidang-bidang yang sedikit jumlah kegiatannya merupakan bidang-bidang yang diharuskan di dalam Bab V Peraturan Bupati Sintang nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan, yaitu: bidang program Bina Lingkungan, Program Peningkatan Ekonomi, Program Kesehatan dan Program Pendidikan. Sementara itu, penulis melihat pelaksanaan Program Pembangunan Insfrastuktur sudah selaras dengan yang disebutkan dalam perturan tersebut. Penulis juga melihat bahwa bidang kegiatan CSR yang dilakukan oleh perusahaan belum sesuai dengan prime mover pembangunan Kabupaten Sintang, kecuali bidang insfrastruktur. Bidang ini dilakukan sejalan dengan proses mengatasi kegawatdaruratan insfrastruktur. Penulis berpendapat bahwa gerakan 54

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hilirisasi produk dan aksesibilitas terhadap sumber daya listrik merupakan prime mover part yang lain merupakan salah satu pilihan yang dapat perusahaan lakukan melalui program CSR. Penulis menghubungkan kondisi kesenjangan ini dengan dimensi pembangunan berkelanjutan versi Jeremy Galbreath (2009). Penulis melihat bahwa pada laporan informasi tentang kegiatan internal perusahaan bidang lingkungan masih minim. Kegiatan yang dimaksudkan ialah seperti kegiatan penggunaan bahan biodiesel dari tempurung kelapa sawit pada operasional pabrik CPO. Padahal hal tersebut merupakan bentuk kepedulian perusahaan pada lingkungan alam. Penulis menemukan hal menarik lainnya yang muncul dalam pengolahan data laporan CSR perusahaan ini, ada geliat positif dalam program CSR di Kabupaten Sintang. Geliat yang dimaksudkan ialah ada peningkatan pada jumlah kegiatan CSR disetiap dari tahun ke tahun. Namun, penulis berpendapat bahwa karna hal ini juga selaras dengan peningkatan jumlah perusahaan yang menyampaikan laporan sehingga kurang relevan untuk menyebutkan gerakan positif dari program CSR. Penulis ingin lebih memastikan pendapat tersebut, guna melihat pola gerakan peningkatan kegiatan CSR oleh perusahaan. Penulis menggunakan sampel 7 perusahaan dari 20 perusahaan yang ada dengan rentang waktu yang diukur ialah 4 tahun dari tahun 2014 55

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hingga tahun 2017. Pemilihan sampel ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan kriteria tertentu.kriteria yang dimaksud ialah, perusahaan memiliki laporan kegiatan CSR minimal 4 tahun secara berturut-turut. Ada 7 perusahaan yang secara konsisten menyampaikan laporan selama kurun waktu 4 tahun. Rinciannya sebagai berikut: No 1 2 3 4 5 6 7 Tabel 4.3. Laporan Jumlah Kegiatan CSR di Kabupaten Sintang pada Tahun 2014 - 2017 Jumlah kegiatan CSR yang dilaksanakan Nama Perusahaan 2014 2015 2016 2017 PT Duta Sejahtera Utama 43 35 26 29 PT Duta Rendra Mulya 13 13 12 9 PT Sumatera Makmur Lestari 22 27 12 38 PT Bonti Permai Jayaraya 7 12 9 8 PT Perdana Sawit Plantation 41 41 33 19 PT Sinar Dinamika Kapuas 23 12 19 13 PT Perkasamas Langgeng 36 32 21 40 Jumlah 185 172 132 156 Total 645 kegiatan Sumber: BAPPEDA Kabupaten Sintang (2018) Data di atas memperlihatkan bahwa pada tahun 2014 jumlah kegiatan yang dilakukan oleh ketujuh perusahaan tersebut cukup banyak, mencapai 185 kegiatan. Namun jumlah tersebut menurun pada tahun 2015 menjadi 172 kegiatan, lebih sedikit 13 kegiatan dbanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2016, jumlah kegiatan kembali menurun menjadi 132 kegiatan, dibanding tahun 2015 jumlah ini 40 kegiatan lebih sedikit, jika dibandingkan dnegan tahun 2014, jumlah ini 53 kegiatan lebih kecil. Tetapi pada tahun 2017, jumlah 56

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kegaitan CSR naik menjadi 156 kegiatan, lebih banyak 24 kegiatan dibanding tahun 2016, namun jumlah ini masih lebih sedikit 16 kegiatan dibandingkan tahun 2015, sedangkan bila dibandingkan dengan tahun 2014, 29 kegiatan lebih kecil. Perubahan pada jumlah dana yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mengimplementasikan kegiatan CSR juga selaras polanya dengan pola pada jumlah kegiatan yang dilaksanakan. Berikut data rinci jumlah dana yang dikucurkan untuk kegiatan CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan sampel selama waktu sampling sebagai berikut: No 1 2 3 4 5 6 7 Tabel 4.4. Laporan Jumlah Dana CSR yang dikucurkan di Kabupaten Sintang pada Tahun 2014 - 2017 Jumlah dana CSR (dalam Rp. 1.000.000) Nama Perusahaan 2014 2015 2016 PT Duta Sejahtera Utama 249,0 308,0 142,6 PT Duta Rendra Mulya 89,0 200,2 34,8 PT Sumatera Makmur Lestari 70,2 215,9 102,3 PT Bonti Permai Jayaraya 2.734,4 103,0 68,1 PT Perdana Sawit Plantation 122,7 82,3 80,9 PT Sinar Dinamika Kapuas 56,1 33,5 34,9 PT Perkasamas Langgeng 454,2 283,3 281,8 Jumlah 3.775,6 1.226,2 745,4 Total 6.614,2 2017 110,9 68,6 102,0 35,7 66,0 53,8 430,0 867,0 Sumber: BAPPEDA Kabupaten Sintang (2018) Tabel di atas memperlihatkan bahwa dari total dana kegiatan yang mencapai lebih dari 6milyar rupiah, dan lebih dari separuh dana dikucurkan pada tahun 2014. Pada tahun 2015, kegiatan CSR perusahaan menyerap dana lebih dari 1,2milyar rupiah, tidak sampai 57

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI separuh dana di tahun sebelumnya. Pada tahun 2016, jumlah dana yang dikucurkan kembali turun menjadi lebih dari 700juta rupiah, nilai ini lebih rendah 480juta rupiah lebih dibandingkan tahun sebelumnya, dan lebih kecil 3,03milyar rupiah dari tahun 2014. Sedangkan pada tahun 2017, dana CSR perusahaan merangkak naik menjadi lebih dari 800juta rupiah, lebih banyak 121juta dibandingkan tahun 2016, tapi nilai ini lebih kecil 359juta rupiah dibandingkan tahun 2015, dan lebih rendah 2,9milyar rupiah dibandingkan tahun 2014. Penulis menganggap bahwa data ini dapat menjadi indikasi akan adanya dinamika kesadaran perusahaan untuk melakukan tanggungjawabnya terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitar tempat operasionalnya. Data ini juga dapat merupakan indikasi mengenai kenaikkan profit perusahaan pada tahun 2017 dibanding tahun 2016 dan 2015. Data ini dapat juga merupakan indikasi bahwa pada tahun 2014, perusahaan mulai membangun jalan dan jembatan yang notabene menggunakan jumlah dana yang besar, untuk kegiatan operasional tapi dilaporkan sebagai kegiatan CSR karna menghubungkan beberapa desa atau kecamatan. Namun, penulis berpendapat bahwa perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah memang demikian situasi yang terjadi, perlu dilakukan penelitian lain untuk mengecek motivasi dan kualitas program CSR yang dilakukan oleh perusahaan. 58

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selanjutnya, dalam proses menelaah laporan kegiatan CSR di Kabupaten Sintang, penulis menemukan bahwa banyak kegiatan CSR yang kurang memberdayakan masyarakat. Pada subbab sebelumnya telah diungkapkan ada 10 contoh rincian kegiatan CSR yang dilakukan oleh perusahaan. Selain contoh kegiatan tersebut, penulis juga menelusuri bentuk 8 (delapan) kegiatan di bidang lingkungan, hasilnya, sebagai berikut: 4.3.3.1 Pembagian pakaian pleton siaga api 4.3.3.2. Sosialisasi pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), dilakukan 2 (dua) kali di tempat yang berbeda oleh 2 (dua) perusahaan yang berbeda. 4.3.3.3. Penghijauan halaman sekolah 4.3.3.4. Bantuan sarana kebersihan 4.3.3.5. Pembangunan embung 4.3.3.6. Patroli Karhutla 4.3.3.7. Pemangkasan pohon tepi jalan Kegiatan-kegiatannya sebagian besar masih bersifat seremonial dan insidental semata, contoh lainnya, ketika ada kegiatan peringatan HUT RI, atau ketika ada Gawai Dayak, juga ketika ada kegiatan seminar dan pertemuan keagamaan. Penulis melihat bahwa khususnya kegiatan pemberdayaan ekonomi belum mendapat perhatian lebih baik. Pada penelusuran laporan tidak disebutkan jenis kegiatan yang dilakukan secara rinci 59

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada 11 kegiatan ekonomi kerakyataan yang tecatat. Penulis menangkap bahwa peningkatan ekonomi yang terjadi dari pemberian donasi kepada masyarakat hanya bersifat sesaat pada saat acara berlangsung dan ketika kegiatan telah selesai, keadaan ekonomi masyarakat kembali seperti biasa, berada di posisi ekonomi menengah ke bawah. Penulis berpendapat bahwa hal itu memperlihatkan kegiatan-kegiatan CSR belum mengarah pada peningkatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Sutikno (2016) menyebutkan bahwa upaya pemberdayaan masyarakat amatlah diperlukan agar upaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dapat sesuai dengan aspirasi masyarakat. Pemerintah dan perusahaan dapat memfasilitasi masyarakat untuk mandiri melalui pelatihan berkelanjutan sebagai bentuk upaya pemberdayaan. Beberapa bentuk kegiatan pelatihan masyarakat yang dapat dipilih antara lain melalui studi kelompok kecil, magang, temu wicara, panel forum dan pemeranan. Penulis berpendapat bahwa perusahaan perlu berdiskusi bersama masyarakat dalam menyusun program pelatihan. Selain itu, perusahaan perlu memfasilitasi masyarakat untuk belajar mengenai cara-cara pengelolaan sebuah program yang baik. Penulis menganggap bahwa selain pelatihan yang berkaitan erat dengan pokok pekerjaan masyarkarakat, perlu juga menyelenggarakan edukasi pada aspek-aspek soft skill lain seperti memberi motivasi kepada 60

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI masyarakat untuk berubah. Penulis berikan sebuah ilustrasi sebagai contoh upaya pemberdayaan yang dapat di lakukan oleh perusahaan, misalnya program pemberdayaan melalui pelatihan dan pendampingan budidaya cabai di area bekas ladang. Kegiatan pelatihan dan pendampingan direncanakan berjalan dalam kurun waktu 3 tahun. Dalam tahapan pelaksanaannya, perusahaan mendampingi satu kelompok kecil sebagai pilot project. Kegiatan-kegiatan pendampingan tidak hanya berkisar pada mengurus kebun cabai tapi disisipkan pula kesempatan kepada petani binaan untuk melakuan studi banding di daerah lain, sebagai sarana motivasi. Selanjutnya setelah lepas 3 tahun, perusahaan dapat memberdayakan kelompok tani binaannya tersebut untuk mendampingi kelompok-kelompok lain. Sehingga dalam jangka 5-10 tahun, perusahaan akan menciptakan suatu kawasan perkebunan cabai milik masyarakat yang meningkatkan taraf hidup masyarakat itu sendiri. Dari paparan pada bab ini, penulis meringkas temuan-temuan yang telah dibahas. Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang telah berusaha sebaik mungkin menjadi koordinator dan fasilitator dalam program CSR yang terjadi di wilayahnya, hanya saja proses implementasi kebijakan daerah belum optimal. Pemerintah memulainya dengan membuat kebijakan daerah berupa peraturan Bupati, lalu Pemerintah mensosialisasikannya Kabupaten Sintang kepada juga telah para stakeholder. berupaya untuk 61

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mensinkronkan rencana kerja daerah dengan program CSR perusahaan. Dari data mengenai praktik CSR yang telah dilakukan oleh perusahaan, penulis menemukan adanya peningkatan jumlah dan dana CSR yang dilakukan oleh perusahaan pada tahun 2017 dibanding 2 tahun sebelumnya. Penulis juga mendapati adanya kesenjangan yang cukup besar antar bidang kegiatan CSR, perbedaan jumlah antara kegiatan keagamaan dan kegiatan lingkungan cukup signifikan, hingga mencapai lebih dari 300 kegiatan. Selain itu, banyak kegiatan CSR yang kurang memberdayakan masyarakat. 62

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan deskripsi hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian terdahulu, pada bab ini, penulis merumuskan beberapa kesimpulan dan rekomendasi yang kiranya dapat bermanfaat pada penelitian ini. 5.1. Kesimpulan Dari paparan pada bab sebelumnya, penulis menyimpulkan bahwa pelaksanaan koordinasi program CSR oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang belum optimal. Dari sisi waktu, terlihat gerak implementasi kebijakan daerah ini berjalan dengan lambat. Langkah sinkronisasi yang telah dilakukan pun belum efektif. Proses implementasi kebijakan daerah yang telah ditempuh belum membawa pemerintah dan perusahaan pada kesamaan pemahaman mengenai CSR. Menilik praktik CSR yang dilakukan perusahaan, penulis menyimpulkan bahwa praktik CSR perusahaan belum sesuai dengan peraturan yang ada. Ketidaksesuaian itu muncul pada praktik CSR perusahaan dengan ketentuan bentuk CSR yang ada dalam Peraturan Bupati Sintang nomor 54 tahun 2016 tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan dan prime mover pembangunan Kabupaten Sintang. Ada kesenjangan yang cukup tinggi pada jumlah kegiatan antara bidang kegiatan CSR yang disebutkan dalam kebijakan daerah dengan bidang 63

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang dilakukan oleh perusahaan. Pada tahun 2017, perusahaan terlihat mulai meningkatkan kembali perhatiannya pada program CSR. Dari sisi sifat kegiatan, praktik CSR perusahaan belum berfokus pada upaya pemberdayaan masyarakat. 5.2. Rekomendasi Berdasarkan hasil penelitian, penulis merekomendasikan beberapa hal berkaitan dengan pengoptimalan peran program CSR sebagai alat dalam membangun daerah. Rekomendasi ini disampaikan kepada berbagai pihak terkait yang memiliki kontribusi kuat terhadap perencanaan dan tata kelola program CSR khususnya bagi pelaksana program CSR di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang. 5.2.1. Kepada Pimpinan Daerah Kabupaten Sintang diharapkan dapat terus meningkatkan upaya koordinasi dan monitoring juga proses evaluasi implementasi kebijakan CSR yang telah ada. Hal ini dapat dimulai dengan menuntaskan proses sinkronisasi program CSR dan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Sintang. Penulis menyarankan untuk merubah bentuk pertemuan dengan perusahaanperusahaan, agar dibuat dalam kelompok-kelompok kecil dan terjadwal. Kegiatan dapat berupa Focus Group Discussion (FGD) agar lebih efektif. Dalam persiapannya, pemerintah dapat menggunakan hasil penelitian ini guna menjadi bahan awal agar dalam merancang ketuntasan proses sinkronisasi dapat lebih efisien. 64

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.2.2. Kepada para pelaksana program CSR di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Kabupaten Sintang, untuk lebih memperhatikan aturan-aturan kebijakan daerah yang ada. Penulis juga menyarankan agar perusahaan dapat membuka diri untuk bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang dan pihak-pihak lain dalam praktik CSR. Sehingga kolaborasi tersebut dapat memunculkan program-program CSR yang lebih memberdayakan masyarakat, terarah, tepat dan berkelanjutan misalnya memfasilitasi berbagai program pelatihan bagi petani. Program pelatihan itu dapat mulai dari memfasilitasi petani untuk memanfaatkan lahan yang tidak menjadi areal perkebunan, membina petani melalui program pendampingan untuk berkebun produk-produk unggulan desa hingga proses hilirisasi produk. 5.2.3 Kepada peneliti selanjutnya yang tertarik dengan sisi lain dari penelitian ini dapat secara spesifik mengkaji dan menelaah aspek masyarakat terhadap keberadaan CSR perusahaan. Selain itu, peneliti selanjutnya dapat pula mulai untuk membuat bentuk-bentuk pilot project program CSR yang dapat menjadi role model bagi praktisi, pembuat kebijakan dan masyarakat agar dapat termotivasi untuk mengembangkan berbagai upaya dalam implementasi CSR yang tepat dan berkelanjutan. 65

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku Creswell, J.W. (1998) Research Design Qualitative & Quantitative Approach. London: Publications. den Hond, Frank, Frank G.A. de Bakker & Peter Neergard. (Eds). (2007). Managing Corporate Social Responsibility in Action. Talking, Doing and Measuring. Hampshire England: Ashgate Faisal, S. (1992). Format-format Penelitian Sosial (Dasar-dasar dan Aplikasi). Jakarta: Rajawali Pers. Idowu, Samuel O & Celine Louche. (Eds). (2011). Theory and Practice of Corporate Social Responsibility. Berlin: Springer Kuncoro, Mudrajad. (2014). Otonomi Daerah: Menuju Era baru Pembangunan Daerah Edisi 3. Jakarta: Penerbit Erlangga Mardikanto, Totok. (2014). CSR (Corporare Social Responsibility) (Tanggungjawab Sosial Korporasi). Bandung: Penerbit Alfabeta Moleong, Lexy J. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nasution, S. (2007). Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara. Sugiyono. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Sukino. (2016). Membangun Pertanian dengan Pemberdayaan Masyarakat Tani. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Baru Press. Untung, Budi. (2014). CSR dalam Dunia Bisnis. Jogjakarta: Penerbit Andi Sumber Jurnal Carrol, Archie.B (1986). ”A Three – Dimensional Concpetual Model of Corporate Performance”. Academy of Management Review Vol 4. 66

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Galbreath, Jeremy. (2009). “Building Corporate Social Responsibility into Strategy”. Jurnal Online. Tahun 2009. Geoffrey, P.Lantos. (2001). “The Boundaries of Strategic Corporate Social Responsibility”. Journal of Consumer Marketing. Vol. 18. Jurnal Online. Tahun 2001. Sumber Artikel: Carrol, Archie.B (1991). ”The Pyramid of Corporate Social Responsibility: Toward the Moral Management of organizational Stakeholders”. Business Horizon, July - August 1991. Carrol, Archie.B (1999). ”Corporate Social Responsibility. Evolution of Definitional Construct”. Business and Society, September 1999. Friedman, Milton. (1970). “The Social Responsibility of Business is to Increase its Profits”. The New York Times Magazine, 13 September 1970. Peraturan Perundang-undangan: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. File Online. 67

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN I PERATURAN BUPATI SINTANG NOMOR 54 TAHUN 2016 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN II FOTO DAN RILIS BERITA KEGIATAN CSR PERUSAHAAN-PERUSAHAAN YANG BEROPERASI DI KABUPATEN SINTANG

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN II FOTO DAN RILIS BERITA KEGIATAN CSR PERUSAHAANPERUSAHAAN YANG BEROPERASI DI KABUPATEN SINTANG LAMPIRAN 2.1. WABUP SINTANG BUKA SOSIALISASI PERBUP NOMOR 54 TAHUN 2016 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN SINTANG. Wakil Bupati Sintang Drs. Askiman, MM membuka acara Sosialisasi Peraturan Bupati Nomor 54 Tahun 2016 Tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Kabupaten Sintang Tahun 2017 Di Gedung Pancasila Sintang senin pagi (2/10/17) yang turut di hadiri unsur Forkopimda Kabupaten Sintang, Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Sintang,pimpinan perusahaan dan pelaku bisnis se-Kabupaten Sintang serta pihak terkait lainnya. Dalam kesempatan tersebut Askiman menjelaskan keberadaan Peraturan Bupati Nomor 54 Tahun 2016 Tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yakni sebagai tidak lanjut terhadap pelaksanaan corporate social responsibility (CSR) tanggung jawab sosial perusahaan. “tujuannya untuk mengarahkan, mensinergikan dan mengintegrasikan pelaksanaan program pemerintah daerah dengan program tanggung jawab sosial perusahaan, serta mewujudkan kepedulian pelaku usaha terhadap masyarakat di sekitar lokasi usaha” jelas askiman. 87

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Askiman menuturkan agar implementasi Peraturan Bupati ini dapat optimal, semua pihak yang terlibat perlu memahami secara utuh dan menyeluruh sehingga tercipta persepsi yang sama sehingga sangat perlu di lakukan sosialisasi terhadap Peraturan Bupati ini. Dalam konsep good governance, Askiman menjelaskan salah satu komponen yang di harapkan berperan optimal adalah kelompok bisnis karena dengan modal dan invetasi sebagai basis kekuatannya dimana kelompok bisnis dapat berkontribusi yakni melalui konsep corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan. “umumnya CSR di pahami sebagai komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis,sosial, dan lingkungan dan CSR juga cenderung menjadi sorotan kritis dan resintensi dari publik dengan tren ke arah tranparansi serta harapan bagi terwujudnya good corporate governance”jelas askiman. Selain itu ungkap askiman, konsep CSR bukan hanya untuk menunjukan kepedulian pelaku bisnis pada persoalan sosial dan lingkungan tapi juga mendukung terwujudnya pembangunan yang berkesinambungan dan bermanfaat secara merata. “yang menerima manfaat dari csr itu kan bukan hanya pemerintah dan perusahaan tapi juga bagi masyarakat di sekitar lokasi perusahaan yang harus di utamakan melalui pengelolaan kekanyaan sumber daya alam oleh pihak perusahaan yang mendapat izin dari pemerintah sehingga tidak ada penolakan terhadap kehadiran perusahaan tersebut”ungkap asakiman. 88

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Untuk itu askiman meminta baik perusahaan,masyarakat dan semua pihak yang terlibat tidak hanya memahami berbagai aspek aspek dari peraturan bupati tersebut namun harus juga di lakukan dalam tindakan yang nyata, hal itu guna untuk kepentingan bersama yakni mewujudakan pembangunan daerah yang maju dan berkembang. Askiman menambahkan pada wawancara dengan awak media usai pembukaan sosialisasi tersebut mengenai keberadaan badan usaha koperasi sebagai mitra perusahaan dan masyarakat dalam bekerjasama hendaknya dapat berfungsi dengan baik. “peraturan bupati ini juga merupakan bentuk pedoman pelaksanaan teknis penyelenggaraan CSR di Kabupaten Sintang,” kata Askiman. “persoalannya, masih banyak perusahaan di Sintang ini yang belum optimal dalam melaksanakan CSR,” tambahnya. “melalui kegiatan sosialisasi ini kita ingin melibatkan para pelaku bisnis dalam membicarakan peraturan mengenai CSR ini, agar perencanaan pembangunan kita baik di tingkat kecamatan hingga desa,” kata Askiman. “jika CSR ini dioptimalkan, saya yakin perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, social budaya di masyarakat pasti akan terjadi keselarasan dalam bekerja dan beroperasi, kita akan membua pakta inegritas untuk komitmen bersama antar aperusahaan dan pemerintah,” pungkas Askiman. Pada kesempatan ini, Ketua Panitia pelaksanaan kegiatan yang juga sekaligus kepala Dinas Penanaman Modal dan PelayananTerpadu Satu Pintu Kabupaten 89

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sintang, Sudiyanto, SH menyampaikan bahwa kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan informasi kepada perusahaan dan stakeholder dalam mengelola CSR/TPS sebagaimana yang diamanatkan dalam perbup. “kegiatan ini juga untuk mensinergikan, mengintegrasikan dan mengarahkan penyelenggaraan program CSR/TPS yang disusun oleh perusahaan dengan perencanaan pembangunan daerah di Kabupaten Sintang,“ kata Sudiyanto. Peserta kegiatan ini terdiri dari berbagai unsur masyarakat, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Perusahaan-perusahaan perkebunan, Ritel, Hotel, perusahaan Perbankan dan LSM/NGO yang ada di Sintang serta perangkat Kecamatan hingga tinggat desa dan kelurahan se-Kabupaten Sintang. Ada 120 orang peserta yang hadir pada kegiatan ini, terdiri dari 36 perusahaan, 12 opd, 9 kecamatan, tokoh masyarat ada 8 orang, 50 orang Kades, Bidang perbankan ada 5 orang. Kegiatan ini mengusung materi: CSR sebagai salah satu komponen pendukung pembangunan daerah, daya dukung SP/CSR dalam implementasi perencanaan pembangunan di Kabupaten Sintang dan pembahasan mengenai perbup no. 54 tahun 2016 dalam 2 sesi. Demikian Press Rilis Humas Pemkab. Sintang. 90

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Foto kegiatan: Sumber: Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang (2016) 91

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 2.2. SINKRONISASI RKPD KABUPATEN SINTANG TAHUN 2019 DENGAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintahan Kabupaten Sintang hari ini Senin,26.02/2018 melaksanakan Kegiatan Sinkronisasi Rencana Kegiatan Pembangunan Daerah(RKPD) Kabupaten Sintang Tahun 2019 dengan Corporate Social Responsibility(CSR) , yang dibuka secara langsung Bupati Sintang dr.H. Jarot Winarno,M.Med.PH di Balai Ruai. Bupati Sintang dr.H. Jarot Winarno,M.Med.PH dalam sambutan- nya menyatakan, Pemerintah kabupaten sintang merupakan pemerintahan yang Pro Bisnis, dan Pemerintah yang selalu memberikan keterbukaan peluang bisnis bagi investor yang akan melakukan usaha di daerah ini”tidak mungkin seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten ini membuat investor yang akan melakukan usahanya dipersulit, apa yang akan bisa dibantu akan saya bantu dan Pemerintah kabupaten Sintang selalu terbuka bagi para investor termasuk bagi masyarakat dunia usaha ”. Dengan semakin berkembang pesat dunia usaha didaerah saat ini Menurut Bupati Sintang dr.H. Jarot Winarno,M.Med.PH , peran Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu sangat penting guna melakukan segala prosedur perijinan usaha termasuk usaha sector perkebunan yang saat ini merupakan salah satu andalan bagi daerah”Pemerintah daerah saat ini sedang melakukan langkah Gerakan Open Goverment , kita ingin Pemerintah Derah kedepan menjadi 87

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pemerintah terbuka , mudah bagi siapapun dalam mengakses semua data, yang diharapkan kedepan menjadi pelopor Open Goverment.” dr.H. Jarot Winarno,M.Med.PH menjelaskan, bahwa masyarakat dunia usaha harus bisa melihat tripel butem live termasuk tanggung jawab sosial dan yang saat ini menjadi treent yaitu masalah lingkungan Corporate Social Responsibility(CSR).”sehingga diharapkan baik masyarakat maupun pihak perusahaan tidak ada yang dirugikan” Dalam kegiatan Kegiatan Sinkronisasi Rencana Kegiatan Pembangunan Daerah(RKPD) Kabupaten Sintang Tahun 2019 dengan Corporate Social Responsibility(CSR) juga dihadiri Wakil Bupati Sintang Askiman, Sekda Pemkab Sintang Yosepa Hasnah, Kepala BAPPEDA Kabupaten Sintang Kartius, serta Kepala Oorganisasi Perangkat daerah (OPD ) Sintang serta para Undangan para Pimpinan Perusahaan Swasta. (Eko Humas) 88

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Foto kegiatan: Sumber: Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang (2017) 89

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 2.3. BUPATI SINTANG MENGAPRESIASI PENYALURAN BANTUAN PENDIDIKAN PT INDOMARCO Sintang. Bupati Sintang, dr. Jarot Winarno, M.Med.Ph,meresmikan ruang belajar yang telah direnovasi dan menyerahkan bantuan beasiswa bagi siswa-siswi dari keluarga kurang mampu di SD Negeri 8 Kecamatan Sintang, Kamis (17/11/2016). Bupati menyampaikan bahwa pendidikan menjadi salah satu poin dalam visi pemerintah Kabupaten Sintang. “kita meletakkan dunia pendidikan menjadi pemeran utama, kita ingin mewujudkan yang cedas baru jadi sehat, religius dan sejahtera itu di topang dengan tata kelola pemerintahan yang bersih dan baik,” kata dr. Jarot. “segala permasalahan pendidikan menjadi fokus utama yang menjadi perhatian. Ini tantangan yang besar untuk kita semua, tahun ini kita baru bisa memperbaiki 66 ruangan dari 2.432 ruang belajar di 443 sekolah dasar yang ada di Sintang,” ungkap dr. Jarot. “Masih ada 10 ribu lebih orang Sintang yang masih buta hurup. Lama rata-rata sekolah orang Sintang, baru 6,7 tahun, jadi menyebabkan indeks manusia kita msh rendah,” kata orang nomor satu satu di Sintang itu. “Kita masih berkutat dengan akses dan kualitas pendidikan dasar kita. Hanya 50% siswa yang melanjutkan ke SMP, tidak semata-mata karena jumlah SMP yang kurang tapi juga akses jalan masih sulit,” terang Bupati. Dr. Jarot Winarno menungkapkan juga itu bahwa fokus yang juga penting berkaitan dengan kondisi kegawatdaruratan infrastuktur. 87

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Setelah memberikan arahan dan sambutannya, Bupati Sintang menyerahkan secara simbolis bantuan beasiswa bagi siswa-siswi Sekolah Dasar dari PT Indomarco Prismatama di Sintang. Bupati juga mengingatkan peran swasta dalam pembangunan kabupaten Sintang. “Semua sumber daya yang kita miliki akan kita kerahkan untuk membangun sektor pendidikan. Untuk ini peran pihak lain, pihak swasta melalui corporate social responsibility (CSR)-nya juga sangat penting, “ pungkas dr. Jarot. Pada kesempatan ini, Direktur Indomarco Primatama (Indomaret) Kalbar, Adi Sutono menerangkan mengenai program bantuan pendidikan ini. “Kami punya kewajiban dan tanggung jawab sosial dalam bentuk kegiatan CSR. Tahun ini, berupa program peduli pendidikan 2016,” kata pria berkacamata itu. “Kegiatannya merenovasi sekolah, secara nasional utnuk 13 sekolah di 13 kota dan beasiswa bagi siswa kurang mampu yang secara nasional diperuntukkan bagi 1.500 siswa di 27 kota,” terangnya lagi. Sintang dpt 55 beasiswa, 10 sekolah. Renovasi scr nas 13 sekoalh di 13 kota. Stg di sd 08. Kami berharap bantuan kami dapt bermanfaat, khususnya bg siswa siswi penerima beasiswa supaya bisa berprestasi lebih baik lagi. Pada kesempatan ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Drs. Marchues Afen, M.Si. mengungkapkan apresiasi positif atas bantuan ini. “kita hari ini syukuran, Sintang boleh mendapatkan bantuan renovasi di satu sekolah, SDN 8 ini dan ada 55 siswa-siswi kita dari 10 SD bisa mendapatkan bantuan ini” ungkap Kadis Dikbud Sintang sambil tersenyum. “Peran pihak swasta sangatlah 88

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diharapkan untuk ikut membangun pendidikan yang ada di Kabupaten Sintang ini,” katanya lagi. Kepala Sekolah SD N No. 8, hajah Rusniah, Spd,Sd menyampaikan terima kasihnya kepada smeua pihak karena sekolahnya boleh mendapatkan cukup banyak bantuan pada tahun 2016. “kami sangat senang banyak pihak atas bantuan ini, kepada TNI AD yang telah mau memberikan ijin hak pakai bagi sekolah, kepada Dinas pendidikan dan PT Indomarco Prismatama atas renovasi ruang belajar dan Dinas Pertamanan atas perbaikan halaman skeolah kami, “ ungkap kepala sekolah yang memimpin 201 siswa dan 16 guru itu. Senyum cerah dan bahagia tampak di wajah anak-anak penerima beasiswa dan orang tua yang hadir menyaksikan penyerahan beasiswa tersebut. Salah satu orang tua, Tuti menyatakan rasa senangnya. “Dengan bantuan ini Alhamdullilah ada yang bantu-bantu untuk meringankan kita dalam membeli alat dan kelengkapan sekolahnya,” kata ibu dari Ratri siswi kelas 1 SDN 17 Sintang. Turut hadir dalam kegiatan ini, perwakilan dari TNI POLRI, sejumlah guru dari beberapa SD Lain yang siswanya juga menjadi penerima bantuan beasiswa, Forkopimcam Kecamatan Sintang dan sejumlah sejumlah SKPD dan para camat serta para undangan. Demikian siaran berita dari Humas Pemda Sintang. 89

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Foto kegiatan: Sumber: Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang (2016) 90

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 2.4. BUPATI SINTANG HADIRI PENYERAHAN CSR BNI #pelihara cagar budaya SINTANG. Bupati Sintang, dr. Jarot Winarno M.Med.PH bersama Ketua DPRD Sintang, Jeffray Edward menghadiri penyerahan bantuan corporate sosial responsibilities (CSR) oleh Bank BNI 46 kepada pengurus Mesjid Jamik Sutan Nata di komplek rumah dinas Bupati Sintang, Selasa (23/01/2018). "Masjid ini cagar budaya," kata dr. Jarot. "Kami terima kasih atas bantuan ini selain bantuan dari BNI masjid Jamik juga mendapat pemugaran dari pusat," paparnya lagi. Bupati Sintang mengungkapkan bahwa daerah yang dipimpinnya merupakan pusat pertumbuhan di kawasan wilayah timur Kalbar. Bupati juga memaparkan kondisi dan potensi kabupaten Sintang. "Kita kota yang baru tumbuh, sektor riil, resto hotel,bisa hidup, " kata dr. Jarot. " kita harapkan yang milik BNI tentang KPR, rumah bersubsidi. PNS sintang,yang jumlahnya 6000 orang banyak yang belum punya rumah," paparnya lagi sekaligus memberi ilustrasi. " Kami harapkan kegiatan CSR ini bisa membantu percepatan pembangunan kabupaten Sintang," tambahnya lagi. Tahun ini Sintang akan ada festival investasi bukit kelam pada Augustus dan pekan olahraga provinsi. Tentu akan menumbuhkan sektor riil. Ada home industri yang belum berkembang. 91

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI "Terimakasih atas CSR. Rumah ibadah kami banyak. Kita juga perlukan CSR untuk menjadi kan ruang terbuka hijau dan ramah anak. Trotoar dan taman yang ramah anak," ungkap dr. Jarot. Imam Budi Sarjito selaku direksi kepatuhan dan resiko Bank Nasional Indonesia (BNI) 46 menyampaikan bahwa kedatangannya bersama tim juga untuk melakukan supervisi atas unit dan cabang BNI yang jarang dikunjungi oleh direksi pusat. "Kita juga menghadirkan agen 46 supaya jangkauan kerja kita lebih jauh dan luas lagi," kata Imam. "Mereka masih melakukan transaksi kecil-kecilan," katanya lagi. "Kita juga menyalurkan kredit usaha rakyat, sebagai bentuk kerja kita mendukung program pemerintah," kata Imam. "Kami ingin mengupayakan dukungan sebaik mungkin. Sebagai institusi bisnis. Kita juga mengembangkan teknologiteknologi yang bisa mendukung aktivitas Ekonomi," tambahnya. Imam juga menyampaikan bahwa kehadiran CSR perusahaan juga hendaknya menganut prinsip profit, planet dan people (3P). "Kita ingin sustainable. Salah satu bentuknya, dalam bentuk penyaluran CSR," kata Imam. "Dari otoritas kami sudah membuat semacam roadmap dalam menghimpun dana dan kredit sebagai core bisnisnya juga mencanangkan csr dengan memperhatikan 3p tersebut," terangnya lagi. "Kami harap di masa yang akan datang kita semakin bisa mendukung program pemerintah dan kerjasama saling mendukung ini dapat terus berlanjut," kata 92

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Imam. "Semoga bermanfaat untuk program yang di canangkan pemerintah daerah Sintang," pungkasnya Imam juga menyerahkan secara simbolis bantuan CSR sejumlah 150 juta kepada Deni Haryanto selaku pengurus masjid Jamik Sutan Nata Sintang. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi antar pihak BNI dengan OPD. Demikian siaran Berita Humas Setda Sintang. Foto kegiatan: Sumber: Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang (2018) 93

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN III TRANSKRIP WAWANCARA

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN III TRANSKRIP WAWANCARA 95

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Laporan Wawancara Dengan Alexander, selaku Kepala Sub Bagian Perundang-undangan Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang. Wawancara dilakukan pada tanggal 17 Januari 2018 pukul 09.30 – 09.50 wib. Transkrip wawancara Keterangan: P : penulis N : Narasumber P : Bagaimana proses teknis legalisasi sebuah peraturan bupati dalam hal ini Perbup nomor 54 tahun 2016 tentang CSR? N : Di kita, ada yang namanya dinas leading sektor. Mereka yang mengurus segala sesuatunya, mulai dari pengadaan dan melakukan perbaikan naskah peraturannya, rapat dan sosialisasi. Untuk perbup nomor 54 tahun 2016 tentang CSR itu, dinas leading sektornya adalah Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Sintang. Setelah draft naskah dibuat oleh DPMPTSP, diajukanlah oleh mereka ke Bagian Hukum Setda. Lalu kita adakan rapat pembahasan. Pesertanya perwakilan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Adalah usulan dan masukkannya dari dinas-dinas teknis tersebut. 96

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DPMPTSP lalu memasukkan perbaikan-perbaikan atas draft naskah berdasarkan hasil rapat tersebut. Kemudian, naskah finalnya dimasukkan lagi ke Bagian Hukum Setda untuk dikoreksi lagi dan di fasilitasi pengajuannya kepada pimpinan. Dalam hal ini, kita bawakan ke Sekretaris Daerah dan Bupati untuk ditandatangani. Untuk lebih jelasnya bisa tanyakan ke DPMPTSP, karna di Sintang ini urusan CSR ini kita banyak berhubungan dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit, coba wawancara juga dengan bapak Wakil Bupati, Drs. Askiman, MM karena beliau ketua Tim Koordinasi Pembina Pembangunan Perkebunan Kabupaten (TKP3K) Sintang. 97

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Laporan Wawancara Dengan dr. Jarot Winarno, M.Med.PH, selaku Bupati Kabupaten Sintang. Wawancara dilakukan pada tanggal 26 Februari 2018 pukul 13.00 -13.30 wib. Transkrip wawancara Keterangan: P : penulis N : Narasumber P : Sesuai evaluasi CSR pada 2017 inikan 2018, Bagaimana kondisi CSR di Sintang? N : Jadi begini, hari ini pertemuan pertama kita dalam rangka mengimplementasikan perbup no 54 tahun 2016 tentang CSR yang dalam bahasa indonesia jadi TSP. Kita buat perbup, dalam perbup ini kita jug abuat tim fasilitasi tsp. Tujuannya jelas 1) untuk memberi penyadaran kepada seluruh perusahaan yang ada di kabupaten sintang. bahwa kabupaten sintang ini kabupaten yang sangat terbuka. Kemudian lagi jug apro bisnis, mudah mengurus segala sesuatunya. Dan pemkab yang siap membantu semua perusahaan dalam kalau dia menghadapi masalah apapun juga. 2)memnberi penyadaran juga kepada para perusahaan bahwa tujuan kita berusaha di sintang ini pada dasarnya tetap harus mengacu 98

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pada 3 bottom linenya, ini garis bawah tujuan utamanya ini jadi tujuan ekonomi, mendapatkan laba dan keuntungan itu wajar, namanya orang beramal, beriktiar dan berusaha tetapi ia juga ingatkan dia ada juga tanggung jawab terhadap masyarakat di sekitar dan masyarakat sintang dan yang ke tiga ada tanggung jawab dia untuk menjaga keberlanjutan untuk menajga kelestarian lingkungan kira-kira demikian. Dengan sadar seperti itu, maka CSR/TSP akan dilihat oleh perusahaan bukan saja ini adalah kawajiban yang memberatkan perusahaan untuk membantu masyarakat di sekitar tetapi memang menjadi juga tujuan meraka jadi untuk memenuhi perundang-undangan 2) untuk branding mereka dengan demikian 3) dia juga memabntu masayrakatlah ya dengna lebih sistematis, nah kemudaian juga lagi apa yang mereka kerjakan ini bisa tercatat rapi, terencana rapi dan kita evaluasi Selama ini perusahaan sudah banyak membantu masyarakat membangun gedung sekolah tapikan satu saya koreksi tadi daripada membangun lokal penuh, di satu desa ya kan bagus dia bangun rumah guru yang memang sumber pendanaannya ndak ada bah, rumah guru yang rusak, menambah 1 lokal di Mbaleh misalnya. Itu laveragenya lebih tinggi. Kalau kesehatan, dia bangun puskesdes yang memang sumber dananya ndak ada, polindes itukan lebih baik untuk perusahaan. Jadi pertemuan ini 1) penyadaran 2)kita mulai kenalkan perusahaan dengan masalah kita di Sintang, ada maslaah stunting, ada masalah kemiskinan, kegawatdaruratan insfrastruktur dasar ya jalan, kesehatan dan 99

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sekolah ya kan. Dan masalah-masalah lainnya. Mudah-mudahan dengan pertemuan ini kedua belah pihak ini ya kan ini akan menghasilkan hasil yang baiklah. CSR perusahaan yang memang nyata, tersusun rapi, dan ya bisa mengisi kekurangan-kekurangan pemerintah atau program-program kegaitan yang belum dilakukan oleh pemerintah. P : Jadikan sinkronisasikan ya pak sebelumnya berarti tidak ada sinkronisasi ya pak? N : Ada tapi tidak mantap (diulangi 2 kali) artiny ahanya mengatasi masalah lokal. Misalnya jalan Pedadang tadi saya sebut kemudian jalan dari Simpang Yosep ke Pintas Keladan itukan selalu dirawat oleh BHA group. Jadi mengatasi masalah-masalah setempat saja ataupun pak akdes minta untuk bantuan 17an minta untuk rumah ibadah kira-kira begitu bah Dan sekarang sinkronisasi ini mudah-mudahan bisa lebih menyeluruh. Bahwa ada 1 desa yang perlu air besih mungkin perusahaan bisa bantu, ada desa yang perlu poskesdes seperti tadi say abilang, di Seputau II tu kan, mungkin dia bisa bantu. Jadi lebih sistematis dan lebih tercatat gitulah kira-kira. p : Mengapa Pemkab Sintang merasa perlu untuk membuat perbup tentang CSR? N : CSR itukan dasar hukumnya itu UU no 40 tentang perseroan terbatas. Lalu dibawahnya ada banyak peraturan pemerintah yang menyebutkan masalah CSR. kemudian juga peraturan pemerintah yang menyebutkan masalah permbangunan berkelanjutan dan sebagainya. payung hukum yang di atas 100

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tadi perlu peraturan yang lebih aplikatif. Makanya pemkab membuat perbup. 1) meneruskan perintah UU dan perpen dan epraturan-peraturan lain di atasnya 2) bisa mneyusun kegiatan yang lebih aplikatif, bisa dikerjakan di tingkat kabupaten kan kalau dalam UU kan bunyinya hanya begitu saja bahwa ada CSR dari perusahaan tapi yang mengaturnya bagaimana-bagaimannya kan ndak ada. Perbup kira-kira begitu. P : Harapan pemda untuk ada CSR di sintang bagaimana? N : We cannot stand alone! Kita ndak bisa menghadapi masalah sintang ini sendirian . masalah sintang ini mulai dari angka kemiskinan yang stagnan 10,12 menjadi sekarang 10,2 malah cenderung naik sedikit ini kitakan heran. Udah banyak program kita luncurkan kok masalah kemiskinan masih ada. Yang kedua, masalah stunting angka nasional 37 sintang biasanya 28, tiba-tiba dinkes mengeluarakn angka kalbar, bukan spesifik sintang ya 44. Weh luar biasa 44 anak kita tinggi badannya ndak sesuai umur. Menggambarkan asupan gizi, asupan kesehatan, intervensi lingkungan dan sosial yang tidak bagus pada 1000 hari pertama kehidupan ya kan. Inikan masalah yang ndak selesai-selesai. Yah kita punya masalah lama, insfrastruktur desa yang rusak. Insfrastruktur dasar kita ini murah diperlukan oleh guru, diperlukan dunia kesehatan, oleh masyarakat tetapi sumber dananya ndak ada. Dana Pemerintah yang mengalir pada kitakan tidak fleksibel. Misalnya rumah guru, mess guru hanya boleh 101

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menggunakan DAK Afirmasi hanya boleh di daerah perbatasan, padahalkan yang mengalami masalah mess guru, rumah guru ini ada di daerah lain. Jadi diharapkan CSR ini bisa mengisi rongga kosong, ruangruang kosong yang tidak bisa didanai dan diselenggarakan oleh Pemerintah kabupaten. P : Apakah ada rencana untuk menaikkan perbup ini menjadi perda? N : Eeeee...........peraturan itukan kalau sudah berjalan dengan baik melalui perbup cukuplah perbup. Ya kita punya payung hukum di atasnya kalau tadi CSR share bottom linenya ada pemabngunan berkelanjutan punya perda nomor 1 tentang lingkungan hidup. Yakan sudah ada. Tapi kalau disrasakan dengan perbup ini belum efektif, mungkin saja kita jadikan peraturan daerah. Say aberharap bisa sudah jalan seperti perbup tentang tanah kas desa toh bisa jalan. Perbup CSR harusnya berjalan. Kalau diperlukan boleh. 102

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Laporan Wawancara Dengan Wakil Bupati, Drs. Askiman, MM selaku ketua Tim Koordinasi Pembina Pembangunan Perkebunan Kabupaten (TKP3K) Sintang. Wawancara dilakukan pada tanggal 26 Februari 2018 pukul 13.30 -14.00 wib. Transkrip wawancara Keterangan: P : penulis N : Narasumber P : Banyaknya perusahaan perkebunan yang ada di sintang terkait CSR? N : Kita berharap mereka bisa membantu ya. Masyarakt yang ada di sekitar wilayah perkebunan. Karna itu emreupakan kewajiban bagi perusahaan untuk membangun, mensejahterakan masyarakat di sekitar area perkebunan. Inilah wujud dan bentuk CSRnya. Dan tentu kegiatan CSR ini karena adanya perbup no 54 tahun 2016 perlu untuk kita lakukan. Setelah disosialisasikan di tahun 2017 kemarin. Tindak lanjutnya pada tahun 2018 ini adalah kita akan membuat sebuah nota kesepahaman, kesepakatan berkaitan dengan tata cara, tata kelola CSR ini. jadi sekarang ktia sudah mendengar, bersyukur banyak perusahaan yang sudah melaksanakan CSRnya. Namun pemerintah daerah kabupaten sintang belum terekam 103

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI semua, rekam jejak, apa yang telah mereka perbantukan , sampai sejauhmana mereka lakukan bantuannya. Dan kita juga belum mengetahui secara utuh yang mereka kelola, apakah untuk kepentingan perusahaan seperti pembangunan peningkatan jalan dan lain sebagainya. tetapi kalau itu memang betul-betul untuk kebutuhan kondisi masyarakat setempat itulah yang memang kita akan lebih terapresiasi dan kedepannya kita akan melihat kalau mereka yang patuh dengan CSRnya kita akan memberikan reward untuk mereka P : Kalau di sintang perusahaan yang investasi mayoritas perkebunan sawit ya? N : Perkebunan sawit itu lebih banyak P : Apa ada kendala dalam pelaksanaan CSR ini? N : Bukan kendala. Laporan dari yang pernah mereka perbantukan itu yang belum terdata oleh kita. Tetapi mereka sesungguhnya sudah berbuat. Kita hanya ingin mensinkronisasikan sesuai dengan ketentuan aturan yang ada seharusnya, selayaknya 5% dari keuntungan perusahaan itu diambil untuk menjadi CSR di sekitar masyarakat kita sendiri. Tapi kan akita sulit mengukur, kan ndak mungkin mengaudit tingkat penghasilan perusahaan itu semua perlu adanya kesepakatan kita yang tertuang dalam nota kesepahaman. Apa berapa yang harus mereka perbantukan untuk masayrakat setiap tahunnya dan rencana kerjanya untuk apa sehingga jelas gitu. 104

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Laporan Wawancara Dengan Ir. Gunardi Sudarmanto, selaku Kepala Bidang Pengembangan Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang. Wawancara dilakukan pada tanggal 26 Februari 2018 pukul 14.00 -14.20 wib. Transkrip wawancara Keterangan: P : Penulis N : Narasumber P : Bagaiamana gambaran umum kondisi perkebunan di Kabupaten Sintang? N : Jadi perusahaan kelapa sawit ada 45 perusahaan dan 1 perusahaan perkebunan karet, PTPN XIII. Kondisinya dengan mekanisme penilaian usaha perkebunan baru kita bisa melihat kondisinya. Jadi sesuai dengan peraturan menterinya, ada perusahaan dalam tahap pembangunan dan ada tahap operasional. Jadi kalau tahap pembangunan itu penilaian perusahaan dilakukan setiap tahun. Yang tahap operasional itu dilakukan 3 tahun sekali. Bisa dilakukan penilaian apabila diperlukan pada tahap operasional, tidak mesti 3 tahun. Jadi kondisi yang kita lihat bahwa pada tahap pembangunan umumnya pada perkebunana kita itu masuk di kelas C, artinya perekebunan kita itu 105

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI masuk kelas sedang. Karna ada beberapa hal yang harus mereka tepati dilaksanakan tapi belum bisa dialksanakan secara sepenuhnya sehingga nilai yang kita berikan itu C. Sedangkan untuk yang operasional pad aumumnya sudah baik. Itu kelasnya II oleh karena itu secara umum kalau kita melihat bahwa semua perusahaan yang ada dari 46 baik itu karet maupun sawit pada umumnya masih tergolong kelas sedanglah. Tidak terlalu banyak yang masuk kelas baik hanya beberapa saja yang masuk kelas baik dengan kriteria-kriteria tertentu yang ktia lakukan penilaian usahanya. Jadi kita punya kualifikasi untuk petugas-petugas yang ada di sintang ini dengan untuk menilai rata-rata setiap tahun itu kurang lebih sektiar bealsan perusahaan yang harus dinilai baik itu perusahaan pembangunan maupun operasional kita disini kita punya 3 orang penilai. Ya saya sendiri termasuk petugas penilai kemudian ada 2 staf saya di perkebunan masuk dalam sertifikasi penilai. Kami sifatnya independen tidak melakukan secara subjektif tapi kit aberusaha menilai secara objektif jadi kita pandang perusahaan dari berbagai subsistem yang diatur oleh permentan 106

(131)

Dokumen baru

Download (130 Halaman)
Gratis

Tags