Makna ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan - USD Repository

Gratis

0
0
169
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MAKNA EKARISTI BAGI SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik Oleh Fransiska Siki NIM. 141124025 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI MAKNA EKARISTI BAGI SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN Oleh: Fransiska Siki NIM: 141124025 Telah disetujui oleh: Pembimbing \ /\)~ Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, S.1., M. Ed. ii Tanggal18 Desember 2018

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKREPSI MAKNA EKARISn BAGl SPlRITUALlTAS PELAV "']'\ .4.N PRODlAKON PAROla SANTA PERAWAN MARIA TAK BF;RCELA NANGGlJLAN Dipersiapkan dan diwlis oleh f· ranslska Siki NIM: 1-11124025 TtJ,~ Nama Kelua lit .. Sekretaris Anggola 1. Drs. FX. !-lcryatno,Wol'o Wulung,SJ., I\ J)~:d A1'11·· C-v .... • ~ ;.~ 'y"'ogyaJ:arta) 11 Jarillari 2019 Fakultas Keguruan dan Emu Pendidikan ·UniV:';\i::.:itas Sanata Dharma, Dc,:;kan, ,~enahoY ·H.arsoyo.. S,Pd" .\1".Si. in - .

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini penulis persembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa dengan penuh kasih membimbing, menuntun dan menyertai perjalanan proses pendidikan serta hidup penulis. Kedua orang tua penulis bapak Theodurus Siki dan ibu Nanci Agnes, abang Rafael Siki, adik Bartolomeus Daytim Siki dan Angelia Novita Siki serta Korbinianus Fritz C.N yang senantiasa mendukung, memberikan semangat dan mendoakan penulis Sahabat-sahabatku yang terkasih Sesilia Selpiana, Juli Sunarti, Yunita Fuin Pomarci, Sr. Maxima PI, Sr. Elisa PPYK, Retno Wulandari, Santi Utami, Andrianus Heriskurniawan, Sirniko, FX. Adswi Fransibena, Kristianus Lejiw serta seluruh teman-teman angkatan 2014 Keluarga besar Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, Paroki Santa Gemma Galgani dan keuskupan Ketapang serta keluarga besar Program Studi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang membimbing, mendidik dan memperkembangkan penulis. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO Milikilah kesabaran dalam setiap hal, tetapi yang paling pertama adalah dengan diri sendiri. (Fransiskus de Sales) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebut dalam kutipan serta daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 11 Januari 2019 CJ Fransiska Siki vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Fransiska Siki Nomor Mahasiswa : 141124025 Demi pengembangan i1mu pengetahuan, penulis memberikan wewenang kepada perpustakaan Universitas Sanata Dhanna karya ilmiah penulis yang berjudul: MAKNA EKARISTI BAGI SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN, beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian, penulis memberikan kepada pepustakaan Universitas Sanata Dhanna hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk perangkat data, mendistribusikan secara terbatas dan tanpa perlu ijin maupun memberikan royalti kepada penulis, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pemyataan ini penulis buat dengan sebenamya. Yogyakarta, II Januari 2019 YGj"k", Fransiska Siki vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Skripsi ini berjudul “MAKNA EKARISTI BAGI SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN”. Judul ini mengacu dari kehidupan prodiakon paroki yang memiliki kedekatan hubungan dengan Ekaristi. Begitupula bagi para prodiakon yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Kedekatan hubungan prodiakon dengan Ekaristi ini dapat dilihat dari tugas utama pelayanannya yakni membantu imam membagikan komuni. Jangan sampai kedekatan hubungan ini hanya sebatas tugas semata, tetapi prodiakon perlu menghayati makna yang ada di dalam Ekaristi. Makna Ekaristi yang dihayati prodiakon dapat membantu memperkembangkan spiritualitas pelayanannya. Hal ini dikarenakan Ekaristi merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Gereja termasuk hidup pelayanan prodiakon. Sebab melalui Ekaristi, prodiakon menimba kekuatan, semangat dan inspirasi dari Kristus sendiri yang telah mengorbankan diri-Nya bagi banyak orang. Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah menemukan gambaran makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan serta usaha apa yang dibutuhkan untuk membantu meningkatkan penghayatan dan pelaksanaan prodiakon terhadap Ekaristi. Menanggapi pokok persoalan tersebut, penulis melakukan studi pustaka dan penelitan secara langsung di lapangan. Studi pustaka yang penulis gunakan bersumber dari Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja serta pandangan para ahli mengenai Ekaristi dan spiritualitas pelayanan prodiakon. Sedangkan penelitian yang digunakan penulis adalah kualitatif melalui wawancara terhadap prodiakon berdasarkan lamanya masa jabatan sebagai prodiakon. Pemilihan responden ini berdasarkan disuksi dan kesepakatan bersama dengan romo paroki serta ketua bidang pewartaan. Hasil akhir menunjukkan sebagian prodiakon telah sungguh menyadari bahwa Ekaristi memiliki peranan yang sangat penting bagi spiritualitas pelayanannya. Prodiakon juga menghayati bahwa Ekaristi berhubungan erat dengan hidup rohani serta pelayananannya. Meskipun demikian masih ada beberapa prodiakon yang kurang menghayati Ekaristi sebagai dasar dan pusat pelayanannya. Hal ini bisa terjadi di mana saja dan disebabkan berbagai faktor. Sebagian besar responden berharap agar teman-teman prodiakon semakin mencintai dan menaruh perhatian yang lebih terhadap Ekaristi. Untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini, penulis mengusulkan pelaksanaan kegiatan rekoleksi sebagai bentuk pendampingan dan pembekalan bagi para prodiakon yang baru dilantik. Harapannya melalui kegiatan ini prodiakon semakin menghidupi Ekaristi sebagai pusat hidup dan berdampak positif pada pelayananya yang nyata. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT The title of this thesis is “THE MEANING OF THE EUCHARIST FOR SERVICE SPIRITUALITY OF PRODIAKON PARISH OF SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN.” This title was referring from the lives of the prodiakon at the parish who have close relations with the Eucharist. Likewise the prodiakon who are in the Parish of Santa Maria Tak Bercela Nanggulan. The closeness relationship of prodiakon with the Eucharist can be seen from the main task of their ministry which is to help the priests sharing the communion. Do not let the closeness of this relationship be limited to the task alone, but prodiakon needs to live up to the meaning in the Eucharist. The Eucharistic meaning experienced by the prodiakon can help them develop the spirituality of their service. This is because the Eucharist is the source and the peak of the whole life of the Church including the life service of prodiakon. Since through the Eucharist, prodiakon draw strength, enthusiasm and inspiration from Christ Himself who sacrificed Himself for many people. The main problem in this thesis is to found the meaning of the Eucharist for service spirituality of prodiakon Parish of Santa Maria Tak Bercela Nanggulan and what efforts are needed to help them increase the appreciation and implementation of the Eucharistic. Responding to the subject matter, writer conducted a literature study and research directly in the field. The literature study that the writer used comes from the Scriptures, Church documents and the views of experts on the Eucharist and the service spirituality of prodiakon. While the research used by writer is qualitative through interviews with prodiakon based on the length of tenure as a prodiakon. The selection of respondents was based on the discussion and mutual agreement with the parish priest and the head of the preaching department. The results show that some prodiakon realize that the Eucharist has a very important role in the service spirituality. Prodiakon also recognize that the Eucharist is closely related to their spiritual life and ministry. Even so, there are still a number of prodiakon who still lacking of the living of the Eucharist as the basis and center of service. This can happen anywhere and is caused by various factors. Most of the respondents hoped that their fellow will love and pay more attention to the Eucharist. To follow up on the results of this study the writer proposes the implementation of recollection activities as a form of mentoring and debriefing for new producers to be appointed. It is hoped that through this activity, prodiakon will increasingly live the Eucharist as the center of life and have a positive impact for its real servants. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atas segala berkat, menyelesaikan bimbingan skripsi SPIRITUALITAS dan yang penyertaan-Nya berjudul PELAYANAN sehingga MAKNA PRODIAKON penulis EKARISTI PAROKI dapat BAGI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN. Skripsi ini ditulis sebagai sumbangan bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon dengan menjadikan Ekaristi sebagai sumber inspirasi dan puncak pelayanannya. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini dapat terselesaikan berkat dukungan berbagai pihak yang dengan sabar dan setia mendampingi, memberikan semangat serta kritikan yang membangun. Maka dari itu penulis ingin menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada: 1. Drs. F.X Heryatno Wono Wulung, SJ., M.Ed., selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan penuh kesabaran membimbing, mendampingi, memberikan masukan serta motivasi bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi. 2. Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ selaku kaprodi Pendidikan Agama Katolik yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat bagi penulis. 3. F.X. Dapiyanta, SFK., M.Pd. selaku dosen pembimbing akademik dan dosen penguji II yang dengan setia mendampingi, membimbing serta memberikan motivasi maupun insipirasi bagi penulis. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Dr. C. Putranto, SJ, selaku dosen penguji III yang telah bersedia menjadi dosen penguji pada pertanggungjawaban skripsi ini. 5. Para staff dosen dan karyawan Program Studi Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang dengan penuh kasih membimbing, mendidik dan memperkembangkan penulis selama menjalankan studi di kampus. 6. Romo Modestus Supriyanta, Pr dan romo Petrus Sajiyono, Pr selaku romo Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, bapak Agustinus Susiyantoro selaku ketua bidang pewartaan, bapak Paulus Marjana selaku ketua tim kerja prodiakon serta seluruh anggota prodiakon yang telah mendukung dan mau bekerja sama selama penulis melakukan penelitian di paroki. 7. Orang tuaku bapak Theodurus Siki dan ibu Nanci Agnes yang dengan setia menemani, mendukung, mendoakan dan berkorban bagi penulis. 8. Romo Paroki Santa Gemma Galgani dan Keuskupan Ketapang yang telah mendukung penulis untuk menempuh studi di Program Studi Pendidikan Agama Katolik dengan memberikan beasiswa. 9. Teman-teman angkatan 2014 dengan segala keunikannya dan ciri khasnya masing-masing yang memperkembangkan serta meneguhkan penulis selama menjalani masa studi. 10. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu per satu, mereka yang ikut membantu, mendoakan, mendanai dan mendukung xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI penulis selama masa studi sehingga pada akhimya penulis dapat menyelesaikan pendidikan. Semoga kasih dan berkat Tuhan senantiasa melimpah atas mereka yang dengan ikhlas hati mendukung penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini maupun dalam masa studio Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dan para pembaca demi perbaikan skripsi ini. Yogyakarta, 11 Januari 2019 ~ Fransiska Siki xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... iv MOTTO .......................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... vi LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ...................................................... vii ABSTRAK ...................................................................................................... viii ABSTRACT ...................................................................................................... ix KATA PENGANTAR .................................................................................... x DAFTAR ISI ................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ........................................................................................... xvii DAFTAR SINGKATAN ................................................................................ xviii BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah ................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................ 5 C. Tujuan Penulisan .............................................................................. 5 D. Manfaat Penulisan ............................................................................ 5 E. Metode Penulisan ............................................................................. 6 F. Sistematika Penulisan ...................................................................... 7 BAB II. POKOK- POKOK-POKOK EKARISTI DAN SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON........................................................... 9 A. Pokok-pokok Ekaristi ....................................................................... 9 1. Hakikat Ekaristi ........................................................................... 9 2. Dasar Biblis Ekaristi .................................................................... 13 a. Injil Sinoptik ........................................................................... 13 b. Injil Yohanes........................................................................... 16 c. Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus ........ 17 3. Dasar Teologis Ekaristi ............................................................... 19 a. Sacrosanctum Concilium ....................................................... xiii 19

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Ensiklik Ecclesia de Eucharistia ........................................... 21 c. Kitab Hukum Kanonik ........................................................... 23 4. Ekaristi dalam Hidup Beriman .................................................... 25 B. Gambaran Spiritualitas dalam Pelayanan Prodiakon ........................ 27 1. Hakikat Spiritualitas .................................................................... 27 2. Pelayanan ................................................................................... 31 3. Prodiakon ................................................................................... 34 4. Spiritualitas Pelayanan Prodiakon .............................................. 40 C. Ekaristi sebagai Dasar Pelayanan Prodiakon .................................... 43 D. Fokus Penelitian ................................................................................ 47 BAB III. GAMBARAN MAKNA EKARISTI BAGI SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN ...................................... 49 A. Gambaran Umum Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan ......................................................................................... 50 1. Profil Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan ..... 50 a. Letak Geografis Paroki ......................................................... 50 b. Sejarah Paroki ....................................................................... 50 c. Visi dan Misi Paroki ............................................................. 53 2. Pelaksanaan Ekaristi di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan ................................................................................... 55 3. Gambaran Prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan ................................................................................... 55 B. Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian Gambaran Makna Ekaristi bagi Spiritualitas Pelayanan Prodiakon ............................................ 57 1. Metodologi Penelitian ................................................................. 57 a. Latar Belakang Penelitian ................................................... 57 b. Tujuan Penelitian ................................................................ 59 c. Jenis Penelitian ................................................................... 60 d. Desain Penelitian ................................................................ 60 e. Instrumen Penelitian ............................................................ 61 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI f. Responden............................................................................ 62 g. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................. 62 h. Teknik Pengolahan Data ...................................................... 63 2. Laporan dan Pembahasan Hasil Penelitian ................................. 63 a. Gambaran makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon ............................................................................. 64 1) Mendeskripsikan makna Ekaristi .................................... 64 2) Mensyukuri panggilan sebagai prodiakon ...................... 67 3) Makna spiritualitas pelayanan bagi prodiakon................ 68 4) Makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon .. 70 b. Faktor pendukung dan penghambat dalam Ekaristi .............. 71 1) Faktor pendukung ........................................................... 71 2) Faktor penghambat .......................................................... 73 c. Harapan untuk Ekaristi dan hubungannya bagi spiritualitas pelayanan prodiakon ............................................................. 74 1) Harapan akan perkembangan sprititualitas pelayanan prodiakon melalui Ekaristi .............................................. 74 2) Harapan akan Ekaristi ..................................................... 75 3. Kesimpulan Penelitian ................................................................ 76 BAB IV. UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PENGHAYATAN DAN PELAKSANAAN EKARISTI BAGI PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN ... 78 A. Pemikiran Dasar Kegiatan................................................................. 79 B. Rekoleksi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Penghayatan dan Pelaksanaan Ekaristi bagi Prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan ..................................................................... 81 1. Latar Belakang Kegiatan Rekoleksi Prodiakon .......................... 81 2. Tema dan Tujuan Rekoleksi ....................................................... 82 3. Peserta ......................................................................................... 83 4. Tempat dan Waktu Pelaksanaan ................................................. 83 5. Matriks Kegiatan Rekoleksi........................................................ 84 Tabel 1: Matriks Kegiatan Rekoleksi xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Contoh Satuan Pertemuan I ........................................................ 88 BAB V. PENUTUP .......................................................................................... 95 A. Kesimpulan ....................................................................................... 95 B. Saran .................................................................................................. 97 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 100 LAMPIRAN .................................................................................................... Lampiran 1 : Surat Izin Penelitian ................................................ (1) Lampiran 2 : Surat Keterangan Selesai Penelitian ........................ (2) Lampiran 3 : Daftar Pertanyaan Wawancara ................................. (3) Lampiran 4 : Hasil Transkip Wawancara ..................................... (5) Lampiran 5 : Daftar Nama Prodiakon ............................................ (46) xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1: Matriks Kegiatan Rekoleksi............................................................... xvii 84

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Dokumen Resmi Gereja EE : Ecclesia de Eucharistia Surat Ensiklik Paus Yohanes Pulus II kepada para uskup, imam dan diakon, penyandang hidup bakti, pria dan perempuan dan segenap para beriman tentang Ekaristi dan hubungannya dengan Gereja tanggal 17 April 2003 SC : Sacrosanctum Concilium Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci tanggal 4 Desember 1963. LG : Lumen Gentium Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja tanggal 21 November 1964. CD : Christus Dominus Dekrit tentang tugas pastoral para uskup dalam Gereja tanggal 28 Oktober 1965. AG : Ad Gentes Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja tanggal 18 November 1965. KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex Iurs Canonici), diundangkan oleh Paus xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1983. KGK : Katekismus Gereja Katolik edisi Indonesia, diterjemahkan oleh Herman Embuiru berdasarkan edisi Jerman tahun 1995. DV : Dei Verbum Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi. Diresmikan oleh Paus Paulus VI pada 18 November 1965. B. Singkatan lain KAS : Keuskupan Agung Semarang kan : kanon dll : dan lain-lain KLMTD : Kecil Lemah Miskin Tersingkir dan Difabel WIB : Waktu Indonesia Barat R : Responden HP : Hand Phone art. : artikel dsb. : dan sebagainya bdk. : bandingkan DSA : Doa Syukur Agung G30S : Gerakan 30 September Pr : Projo xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MSF : Missionarium a Sacra Familia SJ : Serikat Jesus TPE : Tata Perayaan Ekaristi xx

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ekaristi merupakan poros kehidupan umat beriman. Poros kehidupan merupakan daya yang mampu menggerakkan seluruh hidup umat beriman. Karena merupakan poros kehidupan maka umat beriman hendaknya menjadikan Ekaristi sebagai pusat hidupnya. Melalui Ekaristi umat menimba kekuatan rohani dari Kristus sendiri. Hidup umat beriman akan dikuatkan serta dibangun dalam terang iman apabila senantiasa berakar pada perayaan Ekaristi. Semua perayaan ibadat, pekerjaan, pelayanan dalam kehidupan Kristiani berkaitan erat dengan perayaan Ekaristi: bersumber dari padanya dan tertuju kepadanya (PUMR, 2002: 30). Ekaristi juga merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani. Hal ini sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II yang terdapat dalam LG 11, SC 10, CD 30 dan AG 9. Hal ini dikarenakan Ekaristi merupakan pengungkapan iman Gereja yang paling resmi dan penuh. Ekaristi merangkum seluruh sikap penyerahan dan pembaktian umat beriman. Disebut sumber dan puncak, karena Ekaristi merupakan pengungkapan iman Gereja yang paling penuh dan menjadi dasar bagi segala bentuk pengungkapan iman lainnya. Pengungkapan iman lain yang dimaksud misalnya sakramen-sakramen, doa maupun devosi. Iman umat beriman tentu tidak hanya diungkapkan dalam doa-doa dan perayaan yang khusus melainkan, diwujudnyatakan dalam tindakan dan perbuatan setiap hari. Perayaan Ekaristi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja bersama seluruh umat sebagai sakramen kesatuan. Setiap umat beriman

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 diundang untuk hadir dan ambil bagian dalam perayaan tersebut. Oleh karena itu, perayaan Ekaristi bukan hanya milik petugas liturgi atau para imam melainkan seluruh umat yang hadir. Perayaan Ekaristi mempertandakan kehadiran Tuhan dalam hidup umat. Ekaristi tidak hanya menghubungkan masing-masing orang secara pribadi dengan Allah, tetapi juga menjadi ikatan persatuan antar umat sebagai Gereja (Martasudjita, 2000: 34). Dari hakikatnya liturgi menuntut partisipasi penuh, sadar dan aktif seluruh umat beriman (SC 14). Dan salah satu bentuk partisipasi itu adalah menjadi petugas liturgi yakni sebagai prodiakon. Prodiakon adalah kaum awam yang diperkenankan melayani diseputar altar, yaitu membantu imam atau diakon untuk menerimakan komuni kepada umat (Sugiyana, 2006: 69-70). Tugas resmi prodiakon yang paling sering dan teratur di paroki-paroki adalah membantu menerimakan komuni. Tugas tersebut bisa berlangsung saat perayaan Ekaristi hari Minggu. Selain itu prodiakon biasanya juga memimpin Ibadat Sabda, mengirim komuni kepada orang yang sakit termasuk mereka yang di penjara. Prodiakon pada umumnya juga bertugas memberikan homili pada saat Ibadat Sabda, memimpin upacara pemakaman, serta memimpin doa untuk berbagai ujud dan keperluan di lingkungan. Setiap tugas pelayanan yang dilakukan oleh prodiakon berhubungan erat dengan hidup rohaninya. Hidup rohani tentu bukan hanya berkaitan dengan pengetahuan tetapi, sejauh mana pribadi seseorang memiliki relasi yang dekat dan mendalam dengan apa yang ia imani. Salah satu penghayatan iman yang baik adalah bagaimana seseorang memiliki spiritualitas dalam hidupnya. Spiritualitas

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 hidup dapat membantu prodiakon menjiwai tugas pelayanannya dengan bimbingan Roh Kudus dalam Kristus. Prodiakon juga perlu memiliki spiritualitas pelayanan, seperti Tuhan Yesus sendiri yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani. Dengan memiliki spiritualitas pelayanan, prodiakon dapat melihat dan memaknai bahwa tugas yang ia lakukan bukanlah suatu pekerjaan, melainkan pelayanan bagi Tuhan dan sesama. Ada berbagai macam sumber spiritualitas yang dihidupi umat beriman dan diyakini memiliki daya penggerak. Salah satunya dengan menimba spiritualitas melalui perayaan Ekaristi. Ada banyak kekayaan makna yang terdapat dalam Ekaristi yang dapat meneguhkan pribadi umat beriman baik itu awam, biarawan/biarawati maupun kaum tertahbis. Karena melalui kurban Ekaristi seluruh umat beriman yang percaya kepada Yesus Kristus telah ditebus. Begitu pula dengan para prodiakon paroki yang diperkenankan melayani Tuhan secara sangat dekat dalam Ekaristi. Mereka mendapatkan kesempatan yang sangat berharga untuk memaknai Ekaristi secara lebih mendalam. Prodiakon yang baik mengikuti Perayaan Ekaristi bukan hanya karena ia sedang bertugas untuk ikut menerimakan komuni dalam Perayaan Ekaristi tetapi, ia mengikutinya sebagai sumber dan puncak hidup serta pelayananannya (Martasudjita, 2010: 32). Prodiakon dipanggil untuk menimba kekuatan dan sumber inspirasi pelayanannya melalui Ekaristi. Dengan demikian, perayaan Ekaristi sungguh menjadi sumber dan puncak hidup serta pelayanan prodiakon maupun seluruh umat beriman.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Prodiakon bukanlah suatu jabatan supaya dilihat orang tetapi merupakan sebuah pelayanan secara tulus, tanpa pamrih dan menampilkan wajah Kristus bagi orang-orang yang dilayani. Hal itu pula yang dihayati para prodiakon di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Sebagian besar prodiakon di paroki ini terdiri dari guru, petani serta pensiunan. Para prodiakon yang ada di Paroki Nanggulan ini secara keseluruhan sudah memahami tugas dan tanggung jawabnya. Mereka juga menyadari bahwa panggilan sebagai prodiakon merupakan suatu pelayanan. Banyak di antara prodiakon yang ada meskipun sudah berusia lanjut tetapi dengan penuh semangat tetap setia dalam pelayanan. Kedekatan hubungan antara prodiakon dengan Ekaristi perlu sungguh dihayati sebagai sumber kekuatan hidup pelayanannya. Prodiakon tidak hanya dekat dengan Ekaristi sebatas kewajiban tetapi perlu menghidupinya sebagai dasar dan pusat pelayanannya. Sebagai seorang pelayan, prodiakon tentunya tidak hanya sekedar tahu dan memahami tugas serta tanggung jawabnya tetapi perlu sungguh menghidupi makna hidup sebagai seorang pelayan yang terpanggil. Prodiakon dipanggil untuk memiliki kedekatan hubungan rohani dengan Yesus sang sumber hidup yang memberikan diri-Nya secara penuh bagi keselamatan banyak orang. Oleh karena itu, prodiakon perlu menggali dan mendalami Ekaristi demi perkembangan spiritualitas pelayanannya agar tidak menjadi kering dan hanya dijalankan sebatas tugas. Dengan melihat kedekatan hubungan antara prodiakon dengan Ekaristi, penulis tertarik untuk menulis “MAKNA EKARISTI BAGI SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN”.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 B. Rumusan Masalah 1. Apa pokok-pokok Ekaristi dan hubungannya dengan spiritualitas pelayanan prodiakon? 2. Apakah makna Ekaristi dihayati sebagai spiritualitas pelayanan bagi prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan? 3. Upaya macam apa yang perlu diusahakan untuk memupuk perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan? C. Tujuan Penulisan 1. Mendalami pokok-pokok Ekaristi dan hubungannya dengan spiritualitas pelayanan prodiakon. 2. Mendapatkan gambaran makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. 3. Mengemukakan upaya yang dilakukan untuk memupuk perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan melalui Ekaristi. D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan Membantu Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan agar dapat merencanakan atau mengagendakan kegiatan yang dapat membantu dan memperkembangkan spiritualitas pelayanan prodiakon terutama dengan menggali

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 makna Ekaristi. Selain itu, juga membantu menggali dan menemukan apa yang menjadi kerinduan serta harapan-harapan prodiakon. 2. Bagi Prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan Membantu prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan untuk semakin mendalami dan menghayati makna Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanannya 3. Bagi program studi PAK USD Mengajak mahasiswa untuk semakin mendalami makna Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani yang mengarah kepada perkembangan spiritualitas untuk melayani Tuhan dan sesama serta menyiapkan mahasiswa untuk dapat mengkader prodiakon. 4. Bagi penulis Semakin diperkaya dengan menemukan makna yang terkandung dalam Ekaristi terhadap perkembangan spiritualitas untuk melayani umat serta apa yang didapat melalui pengalaman bersama prodiakon paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan dapat dijadikan bekal untuk pelayanan sebagai katekis. E. Metode Penulisan Metode penulisan yang akan digunakan oleh penulis dalam skripsi adalah deskripsi analisis. Deskripsi analisis adalah metode yang menggambarkan dan

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 menganalisis data yang diperoleh melalui studi pustaka dan diperkuat dengan adanya penelitian. Dalam rangka mendapatkan data yang valid, penulis akan terlibat langsung dan melakukan wawancara kepada beberapa prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. F. Sistematika Penulisan Bab I berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II menguraikan hasil studi pustaka dengan berdasarkan dokumendokumen Gereja, pandangan para ahli serta Kitab Suci yang mendukung penulisan skripsi terkait dengan pokok-pokok Ekaristi dan spiritualitas pelayanan prodiakon. Penulis membaginya kedalam 4 bagian pokok. Pokok bahasan pertama yaitu pokok-pokok Ekaristi yang meliputi hakikat, dasar biblis, dasar teologis serta Ekaristi dalam hidup beriman. Pokok bahasan kedua membahas tentang gambaran spiritualitas dalam pelayanan prodiakon yang terdiri dari hakikat, pelayanan, prodiakon dan spiritualitas pelayanan prodiakon. Pokok bahasan ketiga yakni Ekaristi sebagai dasar pelayanan prodiakon. Pokok bahasan terakhir membahas fokus penelitian yang menjadi dasar panduan pertanyaan wawancara dalam penelitian. Bab III berisi uraian tentang gambaran penghayatan prodiakon dalam Ekaristi demi perkembangan spiritualitas pelayanannya. Penulis membaginya kedalam 2 pokok bahasan. Pokok bahasan pertama membahas tentang gambaran umum Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Bagian ini terdiri

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 dari: letak geografis, sejarah paroki serta visi misi Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Pokok bahasan kedua adalah penelitian dan pembahasan hasil penelitian penghayatan prodiakon dalam Ekaristi demi perkembangan spiritualitas pelayanannya. Bagian ini meliputi: metodologi penelitian, laporan dan pembahasan hasil penelitian serta kesimpulan. Bab IV berisi tindak lanjut dari hasil penelitan yang berupa sumbangan pemikiran melalui kegiatan rekoleksi sebagai usaha untuk meningkatkan penghayatan dan pelaksanaan Ekaristi bagi prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Penulis membagi bab IV ini dalam 2 pokok bahasan. Pokok bahasan pertama menguraikan latar belakang pemilihan kegiatan rekoleksi. Pokok bahasan kedua berisi gambaran usulan kegiatan rekoleksi. Bab V merupakan bab terakhir dari penulisan skripsi ini. Penulis membaginya kedalam 2 pokok bahasan. Pokok bahasan pertama berisi tentang kesimpulan terkait makna Ekaristi terhadap perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon. Pokok bahasan kedua berisi saran bagi pihak-pihak yang terkait demi mengembangkan spiritualitas pelayanan prodiakon melalui Ekaristi.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 BAB II POKOK-POKOK EKARISTI DAN SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON Bab II merupakan tindak lanjut dari bab sebelumnya dan akan menjawab permasalahan yang pertama yaitu terkait dengan pokok-pokok Ekaristi dan hubungannya dengan spiritualitas pelayanan prodiakon. Penulis akan mendeskripsikan pokok-pokok Ekaristi dan hubungannya dengan spiritualitas pelayanan prodiakon, berdasarkan hasil studi pustaka, dokumen-dokumen Gereja, pandangan para ahli serta Kitab Suci yang mendukung. Pada bab II ini, penulis akan membaginya ke dalam tiga pokok bahasan. Pokok bahasan pertama mendeskripsikan tentang pokok-pokok Ekaristi meliputi: hakikat Ekaristi, dasar biblis Ekaristi, dasar teologis Ekaristi dan Ekaristi dalam hidup beriman. Pokok bahasan kedua mendeskripsikan tentang spritualitas pelayanan prodiakon yang meliputi: hakikat spiritualitas, pelayanan, prodiakon dan spiritualitas pelayanan prodiakon. Pokok bahasan ketiga menjelaskan tentang Ekaristi sebagai dasar pelayanan prodiakon. A. Pokok-pokok Ekaristi 1. Hakikat Ekaristi Martasudjita (2005: 28) menegaskan bahwa istilah Ekaristi berasal dari bahasa Yunani eucharistia yang berarti puji syukur. Kata eucharistia adalah sebuah kata benda yang berasal dari kata kerja bahasa Yunani eucharistein yang berarti memuji, mengucap syukur. Ekaristi merupakan ucapan syukur atas karya penyelamatan Allah bagi umat manusia, yang terlaksana melalui Yesus Kristus.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 Allah sungguh mengasihi umat manusia. Ia rela mengutus Putera Tunggal-Nya ke dalam dunia untuk menyelamatkan mereka. Puncak karya penyelamatan Allah terjadi dalam peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus. Kristus sendiri harus menderita sengsara sampai wafat di kayu salib dan pada akhirnya dapat bangkit mulia demi menyelamatkan umat manusia. Dengan demikian, melalui Ekaristi umat beriman bersama-sama mengungkapakan syukur dan terimakasih atas karya penyelamatan Allah melalui misteri penebusan Kristus. KGK (1995: 373) nomor 1358 mengatakan “Dengan demikian kita harus memandang Ekaristi sebagai syukuran dan pujian kepada Bapa, sebagai kenangan akan Kurban Kristus dan tubuh-Nya, sebagai kehadiran Kristus oleh kekuatan perkataan-Nya dan Roh-Nya.” Perlu ditegaskan bahwa Ekaristi merupakan syukuran dan pujian kepada Bapa atas segala kebaikan-Nya. Melalui Kristus yang adalah jalan kebenaran dan hidup, Gereja dapat mempersembahkan pujian kepada Bapa sebagai ungkapan terimakasih. Ekaristi sebagai kenangan akan Kurban Kristus dan tubuh-Nya dapat dipahami sebagai kenangan Paska Kristus yang dihadirkan dan menjadi hidup lagi serta akan selalu tinggal dan berbuah. Kehidupan seluruh umat beriman yang adalah Gereja dipersatukan dengan Kristus berkat kurban diri-Nya. Ekaristi sungguh menghadirkan Kristus melalui kekuatan Sabda dan Roh-Nya. Kehadiran Kristus menjadi nyata dalam kekuatan Sabda Kitab Suci yang kita dengar dan melalui komuni suci. Ia hadir di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya (Mat.18:20), terutama dalam orang miskin, sakit, tahanan, terutama dalam kedua rupa Ekaristi (SC 7).

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Ekaristi termasuk salah satu dari ketujuh sakramen yang ada dalam Gereja Katolik. Dalam diktat mata kuliah sakramentologi (Madya Utama: 3) sakramen diartikan sebagai tanda yang menghasilkan rahmat. Konferensi Waligereja Indonesia (1996: 402-403) dalam buku Iman Katolik mempertegas kembali bahwa Ekaristi merupakan tanda dan sarana, artinya sakramen persatuan dengan Allah dan kesatuan antarmanusia. Sebagai sakramen, Ekaristi bukan hanya sekedar tanda tetapi menghadirkan apa yang ditandakan yakni Kristus. Melalui Ekaristi, rahmat Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus ditandakan dan dihadirkan dalam kurban Ekaristi, sehingga berkat merayakan Ekaristi dan menerima komuni suci umat beriman dipersatukan dengan Kristus dan Gereja (umat beriman). Perayaan Ekaristi dibagi dalam 2 bagian besar yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi (SC 56). Suharyo (2011: 33) mengatakan umat yang berhimpun akan mendapat makanan dari meja Sabda karena manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Dengan mendengarkan Sabda Allah dan meresapkannya, iman kita dapat semakin dihidupkan dan diteguhkan. Suharyo (2011: 35) menegaskan bahwa Sabda tidak hanya informatif (menerangkan), tetapi berdaya transformatif (mengubah, membarui). Hal ini mau menjelaskan bahwa Sabda Allah tidak hanya terbatas pada mendengarkan dan menerangkan. Sabda Allah berdaya transformatif bagi hidup iman umat-Nya. Sabda Allah yang berdaya transformatif misalnya: menjadikan umat semakin teguh dan setia mengikuti Yesus, mampu memperbaiki diri, mudah memaafkan, peduli terhadap sesama dan situasi disekitarnya, dsb.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Suharyo (2011: 33) menegaskan bahwa Yesus, Sang Roti Hidup diterima dari dua meja yaitu meja Sabda dan meja Ekaristi (bdk. DV 21). Maksudnya Tuhan sendiri yang adalah roti kehidupan, diterima oleh umat beriman melalui meja Sabda maupun komuni. Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja, maka Ia hadir dalam Sabda-Nya (SC 7). Melalui Sabda-Nya yang kita dengar, Yesus Kristus sendiri berbicara, menyapa dan selanjutnya mengundang kita ke perjamuan Ekaristi. Oleh karena itu, setelah umat dikenyangkan dengan Sabda Allah, perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi. Liturgi Ekaristi, diawali dengan persiapan persembahan sampai pada doa sesudah komuni. Sedangkan puncak dari perayaan Ekaristi adalah Doa Syukur Agung yang dilanjutkan dengan menerima tubuh dan darah Kristus. Roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah Kristus menunjukkan pemberian diri-Nya seutuhnya bagi keselamatan banyak orang. Penting untuk dipahami bersama bahwa roti dan anggur dalam Ekaristi bukan hanya melambangkan tubuh dan darah Kristus, tetapi sungguh menjadi tubuh dan darah Kristus (Hadisumarta 2013: 107). Hakikat Ekaristi dapat ditegaskan sebagai ungkapan syukur dan pujian atas karya penyelamatan Allah bagi umat manusia dan merupakan tanda yang menghadirkan Kristus. Umat beriman bersyukur kepada Allah berkat karya penyelamatan-Nya yang terjadi dalam peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus serta atas segala kebaikan karya penciptaan-Nya. Ekaristi yang adalah sakramen, bukan hanya sekedar tanda tetapi menghadirkan apa yang ditandakan yakni Kristus. Kehadiran Kristus yang sungguh nyata terutama dalam kedua rupa

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 Ekaristi (SC 7). Selain itu, Kristus juga hadir melalui Sabda-Nya yang kita dengar karena Ia sendirilah yang berbicara dan menyapa semua umat beriman. Oleh karena itu, Ekaristi dibagi dalam 2 bagian besar yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi (SC 56). 2. Dasar Biblis Ekaristi a. Injil Sinoptik Martasudjita (2005: 219) menegaskan bahwa Luk. 22:15-20, Mrk. 14:22- 25, Mat. 26:26-29 merupakan teks dalam Injil Sinoptik yang mengisahkan tentang tindakan dan perkataan Yesus pada waktu perjamuan malam terakhir. Teks Kitab Suci tersebut menjadi dasar perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh Gereja. Tuhan Yesus sendiri bersabda “Perbuatlah ini guna memperingati Aku” (Luk.22: 19). Dengan demikian, perayaan Ekaristi dalam Gereja, pertama-tama didasarkan pada tindakan dan Sabda Yesus sendiri. Perjamuan malam dapat dimaknai sebagai penetapan Ekaristi. Martasudjita (2005: 233) menjelaskan bahwa kata-kata Yesus, “Perbuatlah ini guna memperingati Aku”, dipandang sebagai kata-kata penetapan Ekaristi. Dari kata-kata Yesus tersebut dapat disimpulkan bahwa Yesus memberikan perintah kepada Gereja untuk mengenangkan seluruh hidup, pelayanan bahkan karya penebusan-Nya melalui perayaan Ekaristi. Melalui perjamuan malam terakhir Tuhan Yesus sendiri yang menetapkan Ekaristi. Oleh sebab itu, perayaan Ekaristi yang dirayakan Gereja ditetapkan oleh Tuhan sendiri dan bukan sebatas keinginan manusia.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 Eko Riyadi (2011: 206) menegaskan bahwa Mrk. 14:22-25 merupakan perikop Kitab Suci yang berbicara mengenai penetapan perjamuan. Markus secara khusus menggarisbawahi peristiwa pemecahan roti dan pembagian cawan anggur yang diartikan sebagai tubuh dan darah Yesus sendiri. Markus memaknai pemberian tubuh dan darah Yesus bagi banyak orang sebagai pembaharuan yang mengokohkan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Darah Yesus yang ditumpahkan menyatukan banyak orang dalam kesatuan perjanjian dengan Allah (Eko, 2011: 213). Umat beriman mengalami persatuan dengan Allah berkat makan tubuh dan minum darah Yesus. Dengan demikian, Markus memaknai Ekaristi sebagai persatuan umat beriman dengan Yesus Kristus berkat makan tubuh dan minum darah-Nya. Injil Matius mengisahkan secara singkat mengenai penetapan perjamuan malam yakni terdapat dalam Mat. 26:26-29. Eko Riyadi (2011: 228) memberikan perhatian khusus pada kata-kata Yesus yang menyertai pembagian roti dan anggur. Kata-kata Yesus tersebut berkaitan dengan liturgi dalam jemaat. Kita juga mendengar kata-kata tersebut dalam DSA yakni Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikan kepada para murid sambil berkata “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku”. Hal yang sama juga Ia lakukan terhadap cawan anggur. Selain itu, Matius juga mau menegaskan bahwa wafat Kristus merupakan kematian untuk pengampunan dosa. Ia yang adalah Sang Juruselamat rela memberikan diri sehabis-habisnya demi membebaskan umat manusia dari dosa. Melalui sengsara hingga wafat-Nya, Tuhan Yesus tidak hanya menebus dosa sebagian orang tertentu saja melainkan semua orang.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Martasudjita (2005: 227) menjelaskan bahwa perjamuan malam terakhir juga merupakan perjamuan paskah baru, sebagaimana disebutkan dalam Luk. 22:15. Perjamuan paskah baru ini berarti paskah lama telah diganti dengan paskah baru yang berpuncak pada penyerahan diri Yesus Kristus di kayu salib. Tindakan Allah yang menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir adalah inti kenangan perayaan paskah lama. Sedangkan yang menjadi inti paskah baru adalah tindakan penyelamatan Allah yang membebaskan seluruh umat manusia dari perbudakan dosa dan maut melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus (Martasudjita, 2005: 228). Dengan demikian, perayaan Ekaristi berciri eskatologis maksudnya umat beriman ikut mencicipi perjamuan eskatologis yang berupa kebersamaan dengan Allah secara kekal. Dasar biblis Ekaristi dalam Injil Sinoptik terdapat dalam Luk. 22:15-20, Mrk. 14:22-25, Mat. 26:26-29. Ketiga Injil Sinoptik tersebut berbicara mengenai perjamuan malam terakhir. Perjamuan malam terakhir yang terdapat dalam ketiga Injil Sinoptik tersebut dimaknai sebagai penetapan Ekaristi. Markus 14:22-25 memaknai Ekaristi sebagai persatuan umat beriman dengan Yesus Kristus berkat makan tubuh dan minum darah-Nya. Sedangkan Matius 26:26-29 mau menegaskan bahwa wafat Kristus sebagai kurban Ekaristi merupakan kematian untuk pengampunan dosa banyak orang. Lukas 22:15-20 mau mengaskan bahwa Ekaristi merupakan tindakan penyelamatan Allah yang membebaskan seluruh umat manusia dari perbudakan dosa dan maut melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 b. Injil Yohanes Injil Yohanes membicarakan Ekaristi secara berbeda dari Injil Sinoptik maupun tulisan Paulus (1Kor). Yohanes 6 dipandang sebagai ajaran pokok Ekaristi. Perikop ini berbicara mengenai diri Yesus sebagai roti hidup. Lebih mendalam lagi, teks yang menunjukkan inti Ekaristi terdapat dalam Yoh. 6:51-58. Prasetyantha (2008: 55) kembali mempertegas pendapat Bultmann yang tanpa ragu menyatakan bahwa Yoh. 6:51-58 menunjuk pada perjamuan Ekaristi di mana daging dan darah Anak Manusia disantap dengan akibat bahwa santapan ini memberikan kehidupan kekal. Mereka yang berpartisipasi di dalam perjamuan dijamin dengan kebangkitan yang akan datang. Pendapat ini kembali memperkuat bahwa dalam rupa roti dan anggur, Yesus sungguh hadir karena itu benar-benar tubuh dan darah Kristus. Hal ini kembali memperjelas bahwa roti dan anggur yang ada dalam perayaan Ekaristi bukanlah hanya simbol belaka. Buah yang didapat dari makan daging dan minum darah-Nya bukan hanya sekedar menghilangkan rasa lapar dan haus tetapi menjamin bahwa mereka mempunyai hidup kekal dan Yesus akan membangkitkan mereka pada akhir zaman. Hidup kekal yang dimaksud adalah keselamatan yang berupa kesatuan dengan Allah. Dengan beriman dan percaya kepada Yesus, hidup kekal sudah diberikan dan ada dalam diri orang tersebut. Iman dan kepercayaan itu menjadi konkret dengan menerima tubuh dan darah Kristus saat perayaan Ekaristi. Prasetyantha (2008: 64) menjelaskan bahwa Yohanes menampilkan refleksi Ekaristi yang agak berbeda dari para penulis Perjanjian Baru. Yohanes menampakkan bahwa keselamatan itu dianugerahkan sekarang bagi mereka yang makan daging dan minum darah

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Yesus; artinya mereka yang menyambut Ekaristi. Maka Ekaristi merupakan peristiwa persatuan dengan Yesus yang membuahkan keselamatan. Dengan demikian, keselamatan pertama-tama terjadi ketika setiap orang beriman tinggal dalam kesatuan dengan Yesus sendiri. Hidup yang diberikan oleh Yesus tidak hanya terjadi pada akhir zaman nanti, tetapi juga untuk saat ini. Ekaristi menjadi momen ketika seorang beriman menyambut daging dan darahNya dan dengan demikian tinggal dalam kesatuan erat dengan sang Sumber Hidup (Prasetyantha, 2008: 66). Makna Ekaristi dalam Yoh. 6:51-58 menegaskan mengenai Yesus roti hidup. Yesus sebagai roti hidup bukan hanya sekedar menghilangkan rasa lapar dan haus tetapi menjamin bahwa umat beriman mempunyai hidup kekal. Hidup kekal yang dimaksud adalah keselamatan yang berupa kesatuan dengan Allah. Yohanes menampakkan bahwa keselamatan itu dianugerahkan sekarang bagi mereka yang makan daging dan minum darah Kristus dalam komuni. Roti dan anggur dalam Ekaristi sungguh-sungguh menghadirkan Kristus karena itu benarbenar tubuh dan darah-Nya. c. Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus Teks tentang Ekaristi dalam tulisan Paulus terdapat dalam 1Kor. 10:1- 5.14-22 dan 1Kor. 11:17-34. Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus pada saat itu bertujuan untuk menjawab pertanyaan jemaat. Ada banyak persoalan yang terjadi pada jemaat Korintus dan Paulus mencoba menjawabnya.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Paulus menjawab berbagai persoalan tersebut dengan menyampaikan banyak pengajaran tentang iman Kristiani. Ada beberapa makna yang bisa kita ambil melalui surat pertama rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, terkait dengan Ekaristi. Martasudjita (2005: 236-237) menjelaskan 1Kor. 10:16 sebagai pernyataan iman akan realis praesentia (kehadiran Kristus yang nyata dalam rupa roti dan anggur) dan Ekaristi merupakan kesatuan kebersamaan dengan warga Gereja. Ajaran realis praesentia menyatakan bahwa yang ada bukan lagi roti dan anggur, tetapi tubuh dan darah Tuhan sendiri. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi dipahami sebagai kehadiran secara sungguh, real dan substansial. Melalui Ekaristi kita berjumpa dan bersatu dengan Kristus sendiri. Kebersamaan dalam Ekaristi pertama-tama dibangun oleh Kristus sendiri sebagai Tuan Rumah melalui hidangan-Nya, yang adalah Diri-Nya sendiri. Ekaristi tidak hanya menjadi pemersatu dan kebersamaan kita dengan Kristus tetapi juga sebagai kesatuan kebersamaan dengan warga Gereja. Martasudjita (2005: 238) mengajak kita melihat dan memaknai cara berpikir Paulus yakni “Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah partisipasi/persekutuan kita dengan tubuh Kristus (ekaristis). Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh (Gereja), karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor. 10:16-17). Dengan demikian, Gereja menjadi tubuh Kristus berkat disatukan melalui Ekaristi. Dalam teks 1Kor. 11:17-30 kita dapat menemukan bahwa perjamuan Tuhan adalah pemberian diri Tuhan sendiri (Martasudjita, 2005: 237-238). Roti

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 dan anggur adalah tubuh dan darah Kristus sendiri yang diserahkan bagi kita. Ia memberikan diri sehabis-habisnya demi keselamatan banyak orang. Tuhan Yesus sendiri juga memberikan perintah yakni “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (1Kor. 11:24.25). Dengan demikian, melalui Ekaristi Yesus sungguh hadir bersama kita berkat pemberian diri-Nya sendiri dan apa yang telah Ia perintahkan kepada umat-Nya. Makna Ekaristi dalam surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus (1Kor. 10:1-5.14-22 ;1Kor. 11:17-34) dapat ditegaskan sebagai pemersatu dan kebersamaan umat beriman dengan Kristus serta kesatuan kebersamaan dengan seluruh warga Gereja. Berkat Ekaristi kita menerima roti yang satu dari tubuh Tuhan sendiri. Oleh karena itu, Gereja menjadi tubuh Kristus sendiri berkat disatukan melalui Ekaristi. 3. Dasar Teologis Ekaristi a. Sacrosanctum Concilium SC 47 secara ringkas merumuskan ajaran mengenai Ekaristi. Artikel tersebut menegaskan bahwa Tuhan Yesus sendiri yang menetapkan Ekaristi, yakni pada malam perjamuan terakhir. Penetapan Ekaristi oleh Yesus sendiri mau menekankan bahwa Ekaristi bukanlah hasil pemikiran manusia. Peristiwa perjamuan malam terakhir menjadi saat penyerahan diri Yesus kepada Bapa dan demi keselamatan dunia. Penyerahan diri Yesus kepada Bapa-Nya sebagai bentuk kasih dan ketaatan-Nya sampai Ia rela menyerahkan nyawa-Nya (Yoh. 10:17-18). Dengan demikian, dalam Ekaristi Kristus tidak hanya mengorbankan diri-Nya

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 demi keselamatan banyak orang tetapi, pertama-tama sebagai penyerahan diri kepada Bapa. Tuhan Yesus sendiri juga mempercayakan kepada Gereja mempelai-Nya yang terkasih, untuk mengabadikan kurban salib dan mengenangkan karya penebusan-Nya yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan-Nya. Tindakan yang dikenangkan dalam perjamuan Ekaristi adalah tindakan penyelamatan Allah. Kini tindakan penyelamatan Allah di masa lampau, dihadirkan secara nyata, itulah yang menjadi objek pengenangan (Martasudjita, 2005: 296). Karya penyelamatan Allah bagi umat-Nya ini akan mendapat kepenuhannya pada akhir zaman. Dengan demikian, dalam perayaan Ekaristi, kurban salib Kristus yang sekali dan untuk selamanya kini dikenang dan dirayakan bersama Kristus dan Gereja-Nya dalam rupa roti dan anggur. SC 47 menegaskan bahwa Ekaristi adalah sakramen cintakasih, lambang kesatuan dan ikatan cintakasih. Istilah “sakramen” menunjuk kehadiran Kristus dalam Sakramen Mahakudus atau hosti suci (Martasudjita, 2005: 297). Pendapat ini semakin menguatkan kehadiran Yesus yang sungguh nyata dalam rupa roti dan anggur. Dikatakan sebagai sakramen cintakasih karena di dalamnya Tuhan Yesus sendiri mengorbankan diri-Nya sebagai bentuk kasih kepada Bapa dan umat manusia. Sedangkan dikatakan sebagai lambang kesatuan dan ikatan cintakasih karena Ekaristi merupakan lambang kesatuan baik dengan Allah maupun dengan Gereja. Menerima tubuh dan darah Kristus dalam komuni menjadikan kita semakin bersatu dan dekat dekat bersama Dia dan Gereja-Nya. Persatuan Yesus

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 dan Gereja-Nya dalam Ekaristi memampukan umat beriman untuk semakin bersatu serta mengasih Allah maupun sesamanya. Kalimat terakhir SC 47 mengatakan “Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang”. Kalimat ini kembali mempertegas bahwa dalam rupa roti dan anggur yang diterima dalam komuni adalah sungguh Kristus sendiri. Dengan menyambut tubuh dan darah Kristus jiwa kita dipenuhi rahmat. Maksud dipenuhi rahmat adalah semakin dipersatukan dengan Allah melalui Yesus Kristus dan bersama semua umat beriman. Berkat Ekaristi kita juga dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang. Jaminan kemuliaan yang akan datang dapat kita pahami sebagai kedatangan Kristus yang kedua kalinya pada akhir zaman. SC 48 menegaskan kepada kita semua untuk ikut serta secara aktif ambil bagian dalam perayaan Ekaristi dan bukan menjadi penonton yang bisu. Tujuannya agar melalui upacara dan doa-doa kita sungguh memahami misteri iman itu dengan baik. Kita juga diajak untuk rela diajar oleh Allah dan disegarkan melalui santapan Tubuh Tuhan yang melahirkan syukur kepada Allah. Selain itu, SC 48 juga mengajak kita semua untuk belajar mempersembahkan diri dari hari ke hari kepada Allah, seperti yang telah dilakukan oleh Kristus sendiri. b. Ensiklik Ecclesia de Eucharistia EE art. 1 menegaskan bahwa Gereja hidup dari Ekaristi. Gereja menjadi hidup berkat berakar dan berpusat pada Ekaristi. Hal ini dikarenakan melalui Ekaristi, Gereja sungguh bersukacita atas kehadiran Kristus sendiri yang adalah

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 pemberi hidup. Sudah semestinya Ekaristi juga menjadi pusat hidup setiap paroki, komunitas dan pusat hidup setiap pribadi umat Kristiani. EE art. 34 kembali menegaskan bahwa Gereja akan terus hidup dan berkembang berkat Ekaristi. Gereja akan terus hidup dan berkembang sebab dalam Ekaristi terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja yakni Kristus sendiri. Kita sebagai Gereja dipersatukan dan ikatan persaudaraan kita semakin diperkuat melalui Ekaristi. Hendaknya baik bersama-sama maupun secara pribadi kita senantiasa mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan melalui Ekaristi sebagi sumber hidup dan kekuatan kita. Ekaristi adalah sungguh misteri iman, yang mengatasi pemahaman kita dan hanya dapat diterima oleh iman. Secara tegas dalam Kitab Suci, Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa yang diberikan demi keselamatan banyak orang adalah sungguh tubuh dan darah-Nya. Ekaristi tidak hanya menjadi peringatan atau kenangan akan sengsara dan wafat Tuhan, tetapi penghadiran sakramental Kristus sendiri (EE art. 11). Sebab kehadiran-Nya pada misa adalah yang paling penuh: kehadiran substantial, di mana Kristus, Allah-Manusia, seluruhnya hadir secara penuh (EE art. 15). Hanya oleh iman yang dapat memampukan kita sungguh meyakini kehadiran Kristus yang nyata dalam rupa roti dan anggur yang kita santap. EE menegaskan bahwa Ekaristi tidak hanya menghadirkan misteri sengsara dan wafat Juruselamat, tetapi juga misteri kebangkitan-Nya, yang memahkotai pengurbanan-Nya (EE art. 14). Berkat kebangkitan-Nya, Yesus mengalahkan maut. Melalui Ekaristi, Yesus yang bangkit juga senantiasa hidup dan tinggal dalam hati kita. Umat beriman yang menghadiri perayaan Ekaristi

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 juga mengalami sukacita berkat Yesus yang bangkit mengalahkan maut. Oleh karena itu, melalui Ekaristi kita dipanggil untuk mewartakan Kristus yang bangkit dalam hidup kita. c. Kitab Hukum Kanonik Sakramen yang terluhur ialah Ekaristi mahakudus, di dalamnya Kristus Tuhan sendiri yang dihadirkan, dipersembahkan dan disantap, dan melaluinya Gereja selalu hidup dan berkembang. Kurban Ekaristi, kenangan wafat dan kebangkitan Tuhan, dimana Kurban salib diabadikan sepanjang masa, adalah puncak seluruh ibadat dan kehidupan kristiani dan sumber yang menandakan serta menghasilkan kesatuan umat Allah dan menyempurnakan pembangunan tubuh Kristus. Sedangkan sakramen-sakramen lain dan segala karya kerasulan gerejawi berhubungan erat dengan Ekaristi Mahakudus dan diarahkan kepadanya (KHK Kan.897). KHK kanon 897 ini kembali menegaskan kepada kita semua bahwa Tuhan Yesus sendiri sungguh hadir dan disantap melalui Ekaristi mahakudus. Melalui Ekaristi Gereja selalu hidup dan berkembang. Selain itu, Ekaristi ditetapkan sebagai puncak dan pusat seluruh kehidupan Kristiani. Prasetyantha (2008: 82) menjelaskan bahwa baik sakramen-sakramen lain, semua pelayanan gerejani maupun karya kerasulan Gereja, bertalian erat dengan Ekaristi dan semuanya terarah ke sana. Oleh karena itu, kehidupan dan perkembangan Gereja selalu terkait erat dengan Ekaristi dan terarah kepada Ekaristi.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 Berkaitan dengan Ekaristi dalam KHK kanon 899, Prasetyantha (2008: 8384) membahasnya berdasarkan masing-masing paragraf. Paragraf pertama berbicara mengenai Ekaristi sebagai tindakan Kristus dan tindakan Gereja. Dikatakan sebagai tindakan Kristus karena Ia sungguh hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur. Ia sendiri yang dipersembahkan sebagai santapan rohani. Dan berkat menerima tubuh dan darah-Nya umat beriman dipersatukan dengan Kristus sendiri. Dikatakan sebagai tindakan Gereja karena melalui pelayanan seorang imam, Kristus sendiri mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah. Paragraf kedua dalam kan. 899 berbicara mengenai seluruh umat Allah secara bersama-sama dan dengan caranya sendiri ikut ambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Penting untuk disadari bahwa perayaan Ekaristi adalah perayaan bersama seluruh umat beriman yang hadir, di bawah pimpinan Uskup atau imam. Setiap pribadi yang hadir dalam perjamuan diundang menghidupi peranannya masing-masing. Uskup atau imam adalah kaum tertahbis yang mewakili Kristus sehingga hanya mereka yang berhak memimpin perayaan Ekaristi tersebut. Paragraf ketiga dalam kan. 899 menegaskan bahwa perayaan Ekaristi menghasilkan buah-buah rohani yang melimpah bagi mereka yang berpartisipasi. Tuhan Yesus sendiri mengadakan kurban Ekaristi agar kita bisa memetik hasil buahnya yang menjadikan kita semakin mencintai Kristus dan mengasihi sesama. Selain itu, buah yang kita terima melalui Ekaristi memampukan kita menjalani peziarahan hidup bersama Yesus. Buah Ekaristi tersebut tampak pula dalam

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 tingkah laku dan tutur kata kita serta menjadikan kita sebagai saksi Kristus di tengah dunia. 4. Ekaristi dalam Hidup Beriman Suharyo (2011: 11-12) mempertegas kembali apa yang dikatakan dalam salah satu dokumen tentang Ekaristi (Eucharisticum Mysterium no. 13) mengenai dampak perayaan Ekaristi pada kehidupan sehari-hari umat beriman yakni: Apa yang diterima umat dengan iman dan secara sakramental dalam perayaan Ekaristi, harus memberikan dampak nyata dalam tingkah laku mereka. Oleh karena itu, hendaklah umat berusaha menempuh seluruh hidup mereka dengan gembira dan penuh rasa syukur ditopang oleh santapan surgawi, sambil turut serta dalam wafat dan kebangkitan Tuhan. Sebab tidak ada satu umat Kristiani pun dapat dibangun, kecuali kalau berakar dan berporos pada perayaan Ekaristi Mahakudus. Salah satu nomor dalam dokumen Eucharisticum Mysterium tentang Ekaristi yang dikeluarkan pada tanggal 25 Mei 1967 membahas mengenai dampak perayaan Ekaristi pada kehidupan sehari-hari umat beriman (Suharyo, 2011: 11). Apa yang disampaikan dalam dokumen Eucharisticum Mysterium no. 13 ini, semakin mempertegas LG 11 bahwa Ekaristi merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani. Seluruh perjalanan hidup umat Kristiani dapat dibangun dengan berakar dan berporos pada perayaan Ekaristi Mahakudus. Karena melalui perayaan Ekaristi, umat beriman dipersatukan dengan Kristus dan sesama. Berkat persatuan dengan Kristus dan sesama ini diwujudnyatakan dalam tingkah laku sehari-hari. Umat beriman yang telah turut serta dalam wafat dan kebangkitan Kristus seharusnya menghidupi semangat Kristus itu sendiri dan siap sedia

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 menjadi saksi Kristus dalam segala hal. Dengan demikian, melalui Ekaristi hidup umat Kristiani senantiasa dipenuhi oleh sikap syukur kepada Allah yang melahirkan sukacita dalam tugas perutusan menjadi saksi Kristus. Ekaristi juga menghasilkan banyak buah bagi umat yang ikut ambil bagian dalam perayaan syukur tersebut, terutama melalui Sabda dan santapan rohani. Berbuah melalui Ekaristi berarti orang yang mengalami kasih Tuhan secara mendalam dalam perayaan suci didorong untuk meneruskan kasih kepada sesama (Martasudjita, 2012: 146). Hal ini dikarenakan Allah terlebih dahulu telah mengasihi kita dengan mengutus Putera tunggal-Nya ke dalam dunia. Kasih tersebut terlaksana dan terwujud nyata dalam diri Yesus Kristus. Sebelum pada akhirnya dibangkitkan, Ia rela menderita sengsara bahkan wafat di kayu salib sebagai bentuk kasih-Nya yang begitu besar bagi umat manusia. Dengan demikian, berkat merayakan kurban kasih Yesus, hati umat beriman dipenuhi kasih dan diutus untuk membagikan kasih kepada sesama. Karena mengalami kasih Tuhan yang begitu mendalam melalui kurban Ekaristi, seharusnya umat beriman semakin mengasihi keluarganya, sahabat, kenalan, tetangga, serta mampu memaafkan orang yang membencinya. Martasudjita (2012: 146) menegaskan bahwa: Manusia Ekaristi bukanlah orang yang mau cuci tangan terhadap segala urusan dunia. Sebaliknya manusia Ekaristi adalah orang yang justru karena mengalami kasih Tuhan yang begitu mendalam melalui perayaan suci didorong untuk ikut ambil bagian dalam perjuangan hidup yang konkret bagi dunia yang lebih baik dan masyarakat yang lebih damai, adil dan penuh kasih.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Pendapat ini menegaskan bahwa Ekaristi memiliki implikasi bagi kehidupan sosial. Umat beriman yang telah ikut ambil bagian dalam Ekaristi dipanggil untuk membuka mata terhadap realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat dan lingkungan. Ekaristi sebagai perjamuan cinta kasih seharusnya menjadi dasar bagi umat beriman untuk semakin peduli pada kehidupan masyarakat yang lebih damai, adil dan penuh kasih. Tuhan Yesus dalam hidup-Nya di dunia juga menunjukkan bentuk kepedulian terhadap sesama terutama mereka yang berkekurangan, miskin dan tersingkir. Perikop dalam Kitab Suci mengenai Yesus memberi makan lima ribu orang mengajak kita semua para murid-Nya untuk bertanggungjawab bagi sesama yang kesusahan dan tidak melimpahkan tanggungjawab tersebut kepada orang lain. Selain itu, Tuhan Yesus juga mengajak kita semua untuk menghidupi semangat berbagi. Dengan menghidupi semangat berbagi memapukan kita untuk berkorban bagi sesama, sehingga memungkinkan tidak ada seorang pun yang berkekurangan dan merasa tersingkir. B. Gambaran Spiritualitas dalam Pelayanan Prodiakon 1. Hakikat Spiritualitas Spiritualitas berasal dari kata sifat Latin spiritualis atau Inggris spiritual yang kedua-duanya secara harafiah berarti mempunyai sifat atau ciri spiritual, rohani, dan dirasuki serta dipengaruhi oleh Roh Allah. Dalam arti popular, di kalangan masyarakat umum, spiritualitas adalah cara-cara yang digunakan untuk berhubungan dan mengalami yang transenden dengan Allah (Mangunhardjana, 2017: 42).

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 Pendapat ini kembali dipertegas pula oleh Piet Go, dkk (1994: 18) yang menyatakan bahwa spiritualitas harus dikaitkan dengan Roh Allah sebagai hidup menurut dan dalam Roh. Sedangkan transenden adalah suatu hal yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan maupun pemikiran manusia dan hanya berkat kuasa Allah, sehingga manusia dapat sampai kepada-Nya. Tidak bisa dijangkau oleh pemikiran manusia karena Allah maupun rencana-Nya sungguh begitu besar. Martasudjita (2010: 27) menegaskan bahwa spiritualitas menunjuk bentuk kehidupan rohani yang dilandasi oleh bimbingan Roh Kudus sendiri. Spiritualitas Kristiani selalu menunjuk hidup rohani yang dipimpin oleh Roh Kudus untuk semakin mengimani dan mencintai Tuhan Yesus Kristus dan semakin berkembang dalam iman, harapan dan kasih. Orang yang hidup dengan memiliki spiritualitas, bersedia dituntun dan mendengarkan bimbingan Roh Kudus sendiri. Bersedia mendengarkan tuntunan dan bimbingan Roh Kudus menjadikan seseorang tidak asal bertindak sesuai dengan keinginan dirinya sendiri. Orang yang bersedia dituntun berdasarkan bimbingan Roh Kudus akan semakin mengenal dan mencintai Kristus secara mendalam. Dengan semakin mengenal dan mencintai Kristus secara mendalam, hidup umat beriman akan semakin berkembang dalam iman, harapan dan kasih baik kepada Tuhan, sesama maupun alam semesta. Iman, harapan dan kasih merupakan tanda nyata bahwa orang memiliki spiritualitas di dalam hidupnya. Prasetyantha (2008: 139-140) menegaskan bahwa Spiritualitas pada umumnya dimengerti sebagai hubungan pribadi seorang beriman dengan Allah dan perwujudannya dalam sikap hidup: pikiran, perkataan dan perbuatan. Hubungan pribadi umat beriman dengan Allah dapat dibangun melalui doa, bermatiraga,

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 berziarah, berpuasa, dll. Selain itu, spiritualitas kristiani yang sehat akan menjaga hubungan dengan sumber-sumber asli, antara lain merenungkan Kitab Suci. Hubungan yang telah dibangun dengan Allah tidak hanya berhenti dan disimpan bagi diri sendiri, tetapi diwujudnyatakan dalam hidup bersama orang lain melalui pikiran, perkataan dan perbuatan. Karena iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Dengan menyatukan hubungan pribadi umat beriman dengan Allah dan mewujudnyatakannya dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan menjadikan spiritulitas sungguh hidup dan sehat. Banawiratma SJ, dkk (1994: 169) juga menegaskan bahwa keterpautan hati pada Tuhan memampukan umat beriman untuk membangun gaya hidup yang benar-benar mewujudkan semangat kesatuan dengan Allah. Secara lebih jelas dan sederhana Heryatno Wono Wulung dalam buku mata kuliah PAK sekolah (77-78) memberikan kesimpulan bahwa spiritualitas berkaitan dengan penyatuan seluruh daya dan aspek pengalaman hidup manusia yang berusaha memperkembangkan hidupnya ke arah lebih baik dan hal itu dikaitkan dengan relasinya pada Tuhan, sesama dan lingkungannya. Pendapat tersebut mau mempertegas bahwa selain mencakup hidup doa dan penghayatan iman, spiritualitas juga mencakup seluruh pengalaman hidup manusia. Pengalaman hidup manusia menjadikan spiritualitas itu seperti air hidup yang mengalir dari sumber terdalamnya yakni pengalaman perjumpaan orang dengan Kristus (Madya Utama, 2018: 236). Pengalaman perjumpaan orang dengan Kristus dipadukan dengan hidup rohani, hidup sosial serta politik. Orang yang berspiritualitas juga senantiasa

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 mengarahkan hidupnya ke arah yang lebih baik. Maksudnya adalah mau meninggalkan hal yang buruk dan memperbaharui diri menjadi lebih baik. Tujuan dari memadukan hidup doa dengan sosial-politik adalah membangun relasi yang semakin mendalam dengan Tuhan dan diwujudnyatakan dalam kehidupan konkret sehari-hari. Inilah yang menjadi pusat dan dasar spiritualitas Kristiani yakni membangun relasi yang mendalam dengan Yesus Kristus. Spiritualitas berfungsi sebagai sumber inspirasi, motivasi dan animasi untuk menghayati hidup dan karya yang diharapkan sungguh menyatu dan dapat memancar sebagai kesaksian (Hadisumarta, 2013: 94). Hidup umat beriman semakin diperkaya dan diteguhkan apabila ia memiliki spiritualitas dalam menjalani kehidupannya. Umat beriman yang memiliki spiritualitas akan menjalani kehidupannya dengan gembira, penuh rasa syukur, bersemangat dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi persoalan hidup. Pada akhirnya spiritualitas menjadikan umat beriman siap menjadi saksi Kristus dalam segala hal, sehingga seluruh hidup dan karya pelayanan umat beriman tersebut senantiasa berakar dan berpusat pada Yesus Kristus. Spiritualitas dapat ditegaskan sebagai daya hidup yang digerakkan oleh Roh Kudus. Daya hidup yang digerakkan oleh Roh Kudus tersebut menghantar umat beriman untuk membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan. Relasi yang mendalam dengan Tuhan membuat umat beriman semakin dekat dan mencintai-Nya. Hubungan pribadi umat beriman dengan Tuhan diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari melalui pikiran, perkataan dan perbuatan yang selaras dengan bimbingan Roh Kudus. Selain itu, relasi yang mendalam dengan

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Tuhan disatukan pula dengan seluruh daya dan aspek pengalaman hidup umat beriman yang berusaha memperkembangkan hidup iman maupun hidup sosialnya ke arah yang lebih baik. 2. Pelayanan Ignatius Suharyo melukiskan dengan sangat indah mengenai makna pelayanan Paulus. Paulus menegaskan bahwa hidup seorang pelayan sejati adalah menyatakan kehidupan Kristus. Pernyataan tersebut memberikan penegasan kepada kita semua bahwa dalam pelayanan yang kita nyatakan adalah hidup Kristus sendiri dan bukan diri pribadi kita. Suharyo (1994: 36) menegaskan bahwa dalam 1Kor.1:12 St. Paulus mau menunjukkan bahwa kita jangan hanya melihat hikmah manusiawi yang tampak dalam diri para pelayan, tetapi pada kekuatan Allah (1Kor.2:5). Apa yang kita wartakan dalam pelayanan, bukanlah diri pribadi supaya dikagumi banyak orang karena pendidikan dan kepandaian kita, melainkan mewartakan Kristus sendiri, sehingga semakin banyak orang mengenal dan mencintai Kristus secara mendalam. Pribadi kita sebagai seorang pelayan hanyalah alat atau sarana supaya orang sampai pada merasakan dan mengalami cinta Kristus yang sungguh nyata dalam hidupnya. Paulus menyebut Gereja sebagai Kristus, karena merupakan kelanjutan pelayanan Yesus. Maka dari itu Gereja memiliki bentuk dasar pelayanan, karena Gereja adalah Kristus di dunia. Gereja tidak ada demi dirinya sendiri melainkan mempunyai misi. Paulus memberikan jawaban secara tegas dalam Flp. 2: 14-16 mengenai bagaimana misi tersebut dijalankan antara lain: tidak bersungut-sungut,

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 berbantah-bantah sehingga kamu bercahaya seperti bintang-bintang (Suharyo, 1994: 31). Karya misi tersebut dilaksanakan tidak hanya dengan kata-kata melainkan melalui kekuatan Roh Kudus serta dengan memberikan seluruh diri. Kita semua adalah Gereja yang menjadi perpanjangan tangan pelayanan Yesus di dunia. Sebagai pelayan kita perlu memberikan seluruh diri dengan mohon kekuatan Roh Kudus, sehingga tidak hanya mengandalkan kemampuan pribadi saja. Kekuatan Roh Kudus yang hadir menjadikan pelayanan kita tidak hanya tugas semata yang mengandalkan pengetahuan tetapi mampu menghantar umat yang kita layani semakin mencintai Kristus. Oleh karena itu, dalam tugas pelayanan kita perlu memohon rahmat Allah yang mengalir dari misteri Paskah Kristus. Rahmat adalah pertolongan sukarela yang Allah berikan, agar kita dapat menjawab panggilan-Nya (KGK 1996). Teladan utama Paulus dalam pelayanannya adalah Kristus sendiri. Ciri khas pelayanan Kristus adalah melayani dan bukan dilayani (Mat.20:28). Seluruh hidup Kristus merupakan suatu pelayanan sebagai bentuk ketaatan dan kasih-Nya kepada Bapa serta semua umat manusia. Ia yang adalah Putera Allah Mahatinggi rela merendahkan diri bahkan sampai wafat di kayu salib. Yesus adalah penyelamat dari dalam yang lemah dan bukan penyelamat yang ada di luar (Suharyo, 1994: 32). Penyelamat dari dalam yang lemah maksudnya adalah Yesus datang ke dunia dan tinggal bersama umat manusia. Hidup dan perutusan Yesus tertuju pada mereka yang lemah, miskin dan tersingkir. Ia memperhatikan banyak orang dalam kebutuhan-kebutuhan mereka yang paling pribadi. Ia memperhatikan wanita dipinggir sumur, Maria Magdalena, Nikodemus dan dua murid yang

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 pulang ke Emaus sehingga hati mereka berkobar-kobar ketika Ia berbicara dengan mereka (Nouwen, Hendri J.M 1986: 86). Pribadi seorang pelayan dipanggil untuk terutama meneladani hidup Yesus yang memperhatikan dan mengenali kebutuhan umat paling dalam, sehingga mereka sungguh merasakan cinta kasih Allah. Peristiwa pembasuhan kaki merupakan bentuk perendahan diri Yesus yang disimbolkan dengan pelayanan seorang hamba yang membasuh kaki para peserta perjamuan (Martasudjita, 2005: 241). Kisah pembasuhan kaki para murid hanya ada di dalam Injil Yohanes, yang selalu dibacakan pada hari Kamis Putih. Kisah tentang Yesus membasuh kaki para murid-Nya ini terdapat dalam Yohanes 13. Pada saat itu Yesus mengadakan perjamuan terakhir bersama murid-murid-Nya. Eko Riyadi, 2011: 302 menyampaikan bahwa kemudian Yesus bangkit dari perjamuan dan menanggalkan jubah-Nya. Jubah adalah simbol keagungan si pemakainya. Orang menanggalkan jubah berarti juga menanggalkan kemapanannya. Peristiwa pembasuhan kaki ini mengingatkan kita akan kerendahan hati dan kedatangan Yesus ke dalam dunia untuk melayani. Ia yang adalah Putera Tunggal Allah Mahatinggi rela melakukan apa yang dilakukan seorang budak pada saat itu. Apa yang diperbuat Yesus pada saat itu merupakan tindakan Tuhan dan Guru yang memberikan teladan kepada para murid-Nya. Yesus yang adalah Guru dan Tuhan telah menanggalkan jubah-Nya dan membasuh kaki para murid, mengajak kita semua untuk menanggalkan kekuasaan dan tidak menjadi orang yang sombong. Yesus mewujudnyatakan di dalam diri-Nya apa yang diharapkanNya tumbuh di dalam diri para murid yakni kerendahan hati dan pelayanan (Eko

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Riyadi, 2011: 306). Pembasuhan kaki merupakan sebuah cara hidup yang harus dilaksanakan oleh murid-murid Kristus yakni saling membasuh kaki. Saling membasuh kaki maksudnya adalah antara murid yang satu dan lainya harus saling melayani. Dengan demikian, lewat pembasuhan kaki Tuhan Yesus juga mau mengajarkan kepada kita semua untuk saling mengasihi yaitu dengan saling melayani. Pelayanan dapat ditegaskan sebagai pemberian seluruh diri untuk siap melayani sesama, terutama mereka yang lemah, miskin dan tersingkir. Teladan utama dalam pelayanan adalah Kristus yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani (Mat.20:28). Selain itu, peristiwa pembasuhan kaki (Yoh.13) juga mengajarkan kepada kita semua untuk menjadi seorang pelayan yang rendah hati. Pribadi seorang pelayan merupakan alat atau sarana supaya umat yang dilayani merasakan dan mengalami cinta kasih Kristus yang sungguh nyata dalam hidupnya. Oleh karena itu, dalam menjalankan tugas pelayanan kita perlu memohon kekuatan dari Roh Kudus agar kita mampu menyatakan kehidupan Kristus. Dengan memohon kekuatan dari Roh Kudus kita dimampukan untuk melayani dengan gembira, rendah hati, tidak bersungut-sungut, tidak hanya mementingkan diri sendiri, ingin dipuji, dll. 3. Prodiakon Martasudjita (2010: 10) menjelaskan bahwa: Prodiakon merupakan bentukan kata dari bahasa Latin pro dan diakon. Kata pro memiliki banyak arti, antara lain: demi untuk, untuk, demi kepentingan, sebagai ganti, selaku, bagaikan, seolaholah. Sedangkan kata Latin diakon aslinya bentukan kata yang

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 berasal dari kata Yunani: diakonos dari kata kerja diakonein yang berarti: melayani, membuat pelayanan, mengurusi, menyelesaikan. Kata diakon menunjuk pelayan atau pengurus. Secara harafiah, istilah prodiakon berarti demi kepentingan atau selaku pelayan (Gereja) sebagai ganti diakon. LG 31 mengaskan bahwa prodiakon adalah orang awam, orang Kristiani, warga umat Allah, anggota Gereja, yang tidak termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Tugas yang diberikan uskup kepada prodiakon adalah membantu menerimakan Tubuh Tuhan (komuni) dalam rangka Perayaan Ekaristi, liturgi sabda dan kepada orang sakit serta untuk memimpin ibadat non-sakramental dan tanpa (memberikan) berkat. Prodiakon paroki adalah tetap awam, dilantik, tidak menerima materai imamat, berlaku sementara (tiga tahun) dan dapat dipilih serta dilantik kembali. Wilayah pelayanan prodiakon hanya parokinya sendiri serta tugas-tugas yang dilakukan sesuai dengan penugasan dari uskup dan pastor paroki setempat. Prasetya (2007: 32-36) menjelaskan mengenai sejarah prodiakon paroki berawal dari situasi dan keadaan Gereja Keuskupan Agung Semarang pada tahun 1966 ketika umat beriman Katolik mengalami pertambahan jumlah yang sangat mencolok dikarenakan peristiwa G30S. Seluruh warga negara Indonesia dihadapkan pada masalah untuk memilih agama agar tidak dianggap komunis. Ternyata banyak warga negara memilih menjadi Katolik. Oleh karena itu, muncullah beberapa masalah antara lain jumlah imam yang kurang memadai, sedangkan jumlah umat beriman Katolik semakin bertambah banyak. Umat beriman Katolik merasa kurang diperhatikan dalam hal-hal rohani karena sedikitnya jumlam imam. Selain itu, imam cukup kesulitan apabila harus

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 membagikan komuni sendiri kepada banyak umat beriman Katolik yang hadir dalam perayaan ekaristi. Berdasarkan situasi seperti ini, Yustinus Kardinal Darmajuwana (Uskup Agung KAS saat itu) menyampaikan permohonan ke Vatikan agar diperkenankan menunjuk kaum awam yang dinilai pantas untuk membantu imam dalam melayani umat beriman Katolik, khususnya untuk membagikan Komuni, baik didalam maupun diluar perayaan ekaristi. Pada awalnya, kaum awam yang ditunjuk atau terpilih ini diberi nama diakon awam. Jangka waktu yang diberikan kepada diakon awam untuk terlibat dalam pembagian komuni adalah satu tahun, sebagaimana ditentukan Vatikan. Kehadiran diakon awam ini sangat membantu kehidupan umat beriman Katolik, terutama dalam kegiatan liturgi dan peribadatan. Meski demikian, sebutan diakon awam ini rancu dengan status diakon tertahbis. Hal ini dikarenakan istilah diakon dalam kamus Gereja hanya digunakan untuk orang yang ditahbiskan bagi jabatan diakonat sehingga orang tersebut dimasukkan ke dalam kelompok klerus dan hierarki serta tidak lagi seorang awam. Pada tahun 1983, Mgr. Alexander Djajasiswaja (Vikaris Kapitularis KAS saat itu) mengganti istilah diakon awam dengan istilah diakon paroki. Istilah ini dimunculkan untuk menunjukkan bahwa diakon paroki bukanlah diakon tertahbis. Istilah diakon paroki mau menegaskan bahwa awam yang ditugaskan ini diambil dari paroki dan dibaktikan bagi pelayanan paroki tertentu. Ternyata, istilah diakon paroki masih menimbulkan masalah. Hal ini terkait dengan status diakon tertahbis.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Akhirnya pada tahun 1985, Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ (Uskup Agung KAS saat itu), melalui pastor I. Wignyasumarta, MSF (sekretaris KAS), mengganti istilah diakon paroki menjadi prodiakon paroki. Istilah ini dimunculkan untuk menghindari masalah yang berkaitan dengan diakon tertahbis. Hal ini mau menegaskan bahwa prodiakon paroki melakukan sebagian tugas diakon tertahbis. Dengan demikian, seorang prodiakon adalah seorang yang melakukan tugas pelayanan dalam Gereja sebagai ganti diakon. Namun, tidak berarti bahwa prodiakon sama dengan diakon. Seorang prodiakon bagaimanapun juga bukan seorang diakon tertahbis. Keberadaan dan jati diri prodiakon paroki bersifat sementara, yaitu selama tiga tahun, dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kondisi dirinya sendiri dan kebijakan parokinya (Prasetya 2007: 35). Prodiakon adalah petugas Gereja yang diangkat uskup atas dasar usulan pastor paroki untuk membantu pelaksanaan tugas imamat pastor paroki. Maka prodiakon juga disebut asisten imam, asisten pastoral. Prodiakon adalah petugas ibadat, orang awam, yang diangkat oleh Uskup melalui Surat Keputusan/Surat Tugas untuk tempat tertentu, selama jangka waktu tertentu dan serta tugas tertentu (Martasudjita, 2010: 9). Keberadaan dan jati diri prodiakon paroki ini tidak dapat dilepaskan dari kehidupannya sehari-hari, baik dalam keluarga maupun sebagai anggota Gereja dan anggota masyarakat. Hidup seorang prodiakon sungguh menjadi sorotan umat Katolik lainnya. Hal ini berarti bahwa keberadaan dan jati diri prodiakon dapat dinilai secara transpran dan menyeluruh oleh umat beriman Katolik. Oleh karena itu, prodiakon paroki sungguh diharapkan mampu menjadi teladan yang baik dalam segala aspek kehidupan. Keteladanan ini sungguh

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 penting dan diperlukan untuk membantu umat membangun intimitas dengan Allah, dalam pribadi Yesus Kristus. Untuk dapat menjadi prodiakon bukanlah sekedar dituntut mau dan rela, tetapi Gereja menetapkan beberapa syarat, demi menjamin kualitas hidup dan tugas perutusan prodiakon paroki. Prasetya (2007: 46-48) menyampaikan tentang syarat-syarat pokok menjadi prodiakon, antara lain memiliki nama baik sebagai pribadi dan keluarga, diterima oleh umat dan mempunyai penampilan layak. Prodiakon paroki haruslah mempunyai nama baik, dalam perilaku, hidup iman dan hidup moralnya. Nama baik prodiakon paroki, tidak hanya berlaku untuk pribadinya sendiri karena kesalehan dan aktivitasnya, tetapi berlaku juga untuk seluruh anggota keluarganya. Selain itu, prodiakon paroki haruslah pribadi yang sungguh diterima oleh umat beriman Katolik di lingkungan tempat tinggalnya dan hidup bersama dengan umat. Pemilihan dan pencalonan menjadi prodiakon paroki hendaknya dilakukan oleh seluruh umat beriman Katolik di lingkungan itu sendiri, jangan hanya ditunjuk langsung oleh ketua lingkungan atau pastor paroki. Prodiakon paroki juga harus memiliki penampilan yang layak, baik fisik maupun intelektual. Paroki di KAS telah menentukan beberapa syarat bagi calon prodiakon paroki yang mengacu pada persyaratan bagi anggota dewan paroki. Persyaratan tersebut antara lain: orang Katolik yang aktif dalam lingkungan atau kelompok kategorial, bersemangat hidup menggereja dengan bersedia melayani umat, mempunyai nama baik di tengah umat dan masyarakat, diterima oleh umat, mempunyai kemampuan bekerja sama dan bermusyawarah serta rajin mengikuti

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 perayaan Ekaristi atau ibadat hari Minggu (Prasetya, 2007: 49-50). Syarat-syarat prodiakon paroki disamakan dengan anggota dewan paroki ini dikarenakan ada kemungkinan keberadaan dan jati diri prodiakon paroki tidak dapat dilepaskan dari struktur dewan paroki. Bisa saja prodiakon paroki ini menjadi salah satu tim kerja di bidang liturgi dan peribadatan yaitu tim kerja prodiakon paroki. Keuskupan Agung Semarang telah menetapkan beberapa tugas yang dapat dilakukan dan dipercayakan kepada prodiakon paroki yaitu, membagikan komuni pada upacara ibadat Sabda atau perayaan Ekaristi serta memberikan komuni kepada orang sakit, melakukan tugas yang diberikan oleh pastor paroki, misalnya memberikan khotbah/homili, memimpin upacara pemakaman, memimpin doa untuk berbagai ujub dan keperluan misalnya midodareni, mitoni, peringatan arwah (Martasudjita, 2010: 21). Pelaksanaan tugas pelayanan prodiakon paroki ada dalam kesatuan reksa pastoral paroki dan dalam koordinasi pastor paroki. Hal ini berarti bahwa prodiakon paroki tidak boleh mengambil keputusan sendiri dan bertindak sendiri atau semaunya tetapi, memperhatikan kebijakan pastoral paroki, termasuk dinamika kehidupan paroki dan senantiasa membangun komunikasi yang baik dengan pastor paroki. Dalam melaksanakan tugas pelayanannya, prodiakon paroki juga memiliki wewenang sebagai seorang prodiakon. Wewenang prodiakon meliputi: menjalankan tugas di seluruh wilayah paroki dimana prodiakon diangkat dalam koordinasi dengan prodiakon-prodiakon lain, memberi khotbah atau homili dalam ibadat Sabda yang dipimpin sendiri atau dipimpin oleh prodiakon lain serta

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 memimpin ibadat dan doa yang dapat dilakukan oleh seorang awam: ibadat Sabda, ibadat Sakramentali dan Devosional (Martasudjita, 2010: 22-23). Prodiakon dapat ditegaskan sebagai seorang awam Kristiani yang bertugas selaku pelayan Gereja. Prodiakon diangkat oleh uskup melalui Surat Keputusan/Surat Tugas atas usulan pastor paroki untuk tempat tertentu (paroki sendiri) dan selama jangka waktu tertentu (masa tugas 3 tahun dan dapat dipilih kembali). Tugas prodiakon yakni membantu menerimakan Tubuh Tuhan, memimpin ibadat non sakramental dan melaksanakan tugas yang diberikan oleh pastor paroki. Syarat untuk menjadi prodiakon paroki yakni memiliki nama baik sebagai pribadi maupun keluarga, diterima oleh umat, bersemangat hidup menggereja, bersedia melayani umat, mampu bekerjasama, berpenampilan layak, dll. 4. Spiritualitas Pelayanan Prodiakon Martasudjita (2010: 19) menegaskan bahwa tugas pelayanan prodiakon merupakan sebuah panggilan, yakni panggilan dari Tuhan. Tuhan memanggil para prodiakon melalui sebuah proses yang sangat manusiawi, termasuk dipilih oleh umat dan kemudian diusulkan oleh pastor paroki kepada uskup dan akhirnya uskup mengangkat para prodiakon paroki melalui suatu Surat Keputusan. Tugas pelayanan prodiakon sebagai bentuk panggilan ini, berhubungan erat dengan iman dan kerelaan diri untuk siap melayani. Dalam menjalankan tugas pelayanan tersebut, prodiakon sebagai manusia biasa terkadang juga bisa rapuh. Bahkan dalam tugas pelayanan tersebut, ia bisa mengalami berbagai macam tantangan

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 atau bahkan godaan. Oleh karena itu, dalam menjalani panggilan sebagai seorang prodiakon dibutuhkan spiritualitas yang sungguh dihayati dan menjadi kesaksian dalam kehidupan konkret sehari-hari. Seperti pada pembahasan sebelumnya, secara garis besar spiritualitas menunjuk pada hidup rohani yang dipimpin oleh bimbingan Roh Kudus, hubungan pribadi seorang beriman dengan Allah dan perwujudannya dalam sikap hidup: pikiran, perkataan dan perbuatan serta terkait penyatuan seluruh daya dan aspek pengalaman hidup manusia yang berusaha memperkembangkan hidupnya ke arah lebih baik. Begitu pula dengan spiritualitas pelayanan prodiakon yakni penyatuan seluruh daya dan pengalaman hidup berdasarkan bantuan Roh Kudus sehingga dapat membangun hubungan pribadi dengan Allah yang diwujudkan dalam bentuk pelayanan. Seluruh karya pelayanan sebagai prodiakon hanya bisa ada, hidup dan tumbuh karena mengalir dari Tuhan Yesus Kristus sendiri serta merupakan karya Gereja sendiri yang dibangun atas dasar para rasul maupun nabi (Martasudjita, 2006: 47). Pusat dari spiritualitas pelayanan prodiakon maupun umat beriman lainnya adalah Yesus Kristus sebagai pokok anggur dan kita adalah rantingnya. Hanya dengan tinggal, melekat dan bersatu dalam Yesus maka pelayanan prodiakon dapat berkembang serta menghasilkan buah. Setiap pelayanan yang dilakukan prodiakon merupakan karya Gereja sendiri yang dibangun atas hidup para rasul dan para nabi. Prodiakon meneruskan karya pelayanan yang sudah dibangun itu dalam satu kesatuan sebagai Gereja.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Memiliki spiritualitas pelayanan sebagai prodiakon sangatlah penting. Jika prodiakon tidak memiliki spiritualitas pelayanan maka mereka cenderung hanya mengandalkan kemampuan pribadi dan mencari kepuasan diri (Mangunhardjana, A. M (2017: 46). Justru di sinilah sebagai manusia yang mudah rapuh, dengan memiliki spiritualitas pelayanan prodiakon diingatkan untuk memohon bimbingan Roh Kudus agar mereka dijauhkan dari perbuatan semacam itu. Mereka perlu menyadari bahwa tugas sebagai pelayan adalah membantu orang menuju hidup yang secara mendalam dijiwai oleh Roh Kudus dalam Kristus, dan bukan diri sendiri atau sekedar aktivisme keagamaan. Prodiakon paroki perlu memiliki spiritualitas kasih dalam pelayanannya seperti Kristus sendiri. Prodiakon perlu menghindari kecenderungan hidup rohani yang ditujukan demi kesenangan dan kepuasan diri, tanpa memperhatikan Allah dan keadaan orang lain (Mangunhardjana, 2017: 46). Selain itu, dalam tugas pelayanan prodiakon paroki seharusnya bersikap rendah hati, tidak bersikap sombong, merasa diri paling tahu dan paling benar, mudah meremehkan yang lain, maunya dilayani, dll. Umat akan merasa lebih tersapa apabila prodiakon paroki mampu bersikap dan bersemangat pelayanan yang sederhana dan rendah hati dalam hidupnya. Dengan demikian, dalam tugas pelayanannya prodiakon paroki tidak mewartakan dan menampilkan dirinya sendiri tetapi yang diwartakan dan ditampilkan adalah pribadi Yesus Kristus. Spiritualitas pelayanan sebagai seorang prodiakon hendaknya meneladani Tuhan Yesus yang pada perjamuan malam terakhir membasuh kaki para muridNya (Yoh.13:13). Pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Yesus kepada para

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 murid-Nya merupakan bentuk perendahan diri yang disimbolkan dengan pelayanan seorang hamba. Menjadi seorang pelayan Kristus berarti siap memancarkan wajah Kristus kepada mereka yang kita layani. Seperti yang Yesus lakukan membasuh kaki para murid demikian pun kita semua harus saling melayani sesama terlebih mereka yang membutuhkan. Dengan menghidupi semangat pelayanan Kristus, memapukan prodiakon untuk menjadi pelayan yang rendah hati, tidak sombong atau gengsi, tidak pilih-pilih dalam melayani, dll. Spiritualitas pelayanan prodiakon dapat ditegaskan sebagai penyatuan seluruh daya dan pengalaman hidup berdasarkan bimbingan Roh Kudus sehingga dapat membangun relasi yang mendalam dengan Allah dan diwujudkan dalam bentuk pelayanan. Jika prodiakon tidak memiliki spiritualitas pelayanan maka akan cenderung mengandalkan kemampuan pribadi dan mencari kepuasan diri. Teladan utama dalam spiritualitas pelayanan prodiakon adalah Yesus sendiri yang datang untuk melayani. Selain itu, prodiakon juga perlu meneladani apa yang telah diperbuat Yesus pada peristiwa pembasuhan kaki. Spiritualitas pelayanan menjadikan prodiakon dapat memancarkan wajah Kristus kepada umat yang dilayani. C. Ekaristi sebagai Spiritualitas Pelayanan Prodiakon Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup seluruh umat Kristiani (LG 11), hendaknya dihidupi dan dihayati oleh prodiakon. Prodiakon dan kita semua dipanggil untuk menjadikan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup (Martasudjita, 2010: 33). Melalui Ekaristi hidup kita disegarkan dan memperoleh

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 sumber kekuatan baru, untuk siap sedia melayani sesama seperti Tuhan Yesus sendiri. Ekaristi juga merupakan Sakramen Cinta Kasih karena mengungkapkan kasih kepada Allah dan umat manusia. Oleh karena itu, berkat Ekaristi dasar pelayanan yang pertama-tama perlu dimiliki prodiakon adalah kasih kepada Allah dan kepada mereka yang dilayani. Kita ingat kembali bahwa pada malam perjamuan terakhir, Yesus membasuh kaki para murid-Nya yang mengungkapkan bentuk perendahan diri dengan pelayanan seorang hamba (Yoh.13). Pembasuhan kaki dalam Injil Yohanes melukiskan makna Ekaristi sebagai ungkapan kasih Yesus yang begitu besar bagi para murid-Nya. Apa yang telah diperbuat Yesus dengan membasuh kaki para murid-Nya juga hendaknya menjadi dasar pelayanan yang dimiliki oleh prodiakon dan semua murid Kristus. Melalui pembasuhan kaki, Yesus memberikan suatu teladan bagi kita semua untuk saling melayani satu sama lain seperti Dia yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani. Begitu pula prodiakon paroki, dalam pelayanannya ia harus menanggalkan semua anggapan dan pemikiran bahwa dirinya lebih pandai, harus diistimewakan, dll. Hidup seorang prodiakon sebagai pelayan sejati adalah menyatakan kehidupan Kristus, seperti yang Paulus lakukan (Suharyo, 1994: 27). Paus Benediktus XVI menyampaikan bahwa orang yang semakin mendalami dan menghidupi Ekaristi justru akan menjadi orang yang semakin terlibat aktif dalam kegiatan Gereja dan masyarakat. Justru dalam Ekaristi, orang tersebut memperoleh kekuatan dan topangan hidup perutusannya. Tanpa dasar dan jiwa pengalaman kesatuan dengan Tuhan terutama dalam Ekaristi, karya

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 pelayanan prodiakon menjadi kosong dan hampa, serta cenderung menjadi pencarian nama diri. Tanpa pernah mau tinggal dalam Kristus khususnya dalam Ekaristi, karya pelayanan prodiakon cenderung menjadi sarana pencarian pujian dan kemuliaan diri sendiri dan bukan demi kemuliaan Allah (Martasudjita, 2012: 148). Apa yang telah disampaikan oleh Benediktus XVI juga berlaku bagi pelayanan prodiakon yakni menjadikan Ekaristi sebagai sumber kekuatan utama dan topangan hidup tugas perutusannya. Hal ini terjadi, berkat Ekaristi prodiakon mengalami kesatuan dengan Tuhan Yesus sendiri. Hanya melalui kesatuan dengan Tuhan Yesus yang didasari iman menjadikan prodiakon senantiasa dipenuhi sukacita, penghiburan dan kekuatan dalam tugas pelayanannya. Kesatuan prodiakon dengan Tuhan Yesus, pertama-tama memampukan prodiakon untuk melaksanakan tugas utama pelayanannya yakni demi kemuliaan Allah dan bukan pencarian nama diri. Martasudjita, 2010: 34 menegaskan bahwa mengikuti perayaan Ekaristi dan ambil bagian dalam komuni suci, menjadikan kita turut serta dalam seluruh misteri paskah Kristus yakni wafat dan kebangkitan-Nya. Ikut serta dalam misteri Paskah berarti juga turut serta dalam semangat berbagi hidup dari Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus yang adalah Putera Tunggal Allah, rela berbagi hidup dengan memberikan diri sepenuhnya bagi keselamatan banyak orang. Begitu pula bagi para prodiakon yang memiliki jati diri sebagai seorang pelayan. Berkat ikut serta dalam perayaan Ekaristi yang dihayati dengan sepenuh hati akan memapukan prodiakon menghidupi semangat berbagi kepada sesama dalam pelayanannya.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Berkat ambil bagian dalam Ekaristi, setiap orang beriman termasuk prodiakon dipanggil untuk melayani setiap orang dengan murah hati dan gembira. Secara khusus, Tuhan Yesus sendiri mengajak kita memberikan perhatian lebih kepada orang-orang yang hina dina, seperti yang terdapat dalam Mat.25:40 (Martasudjita, 2010: 34). Bahkan dalam seluruh karya dan hidup-Nya, Yesus senantiasa hadir bagi mereka yang miskin, lemah, tersingkir dan dianggap berdosa. Hal inilah yang semestinya menjadi semangat pelayanan prodiakon yakni meneladani Kristus sendiri, dimana Ia hadir memberikan sukacita dan harapan bagi mereka yang miskin, lemah, tersingkir dan dianggap berdosa. Sikap yang perlu dihindari oleh prodiakon dalam tugas pelayanannya adalah pilih-pilih terhadap umat yang dilayani. Selain itu, dalam menjalankan tugas pelayanan sebagai prodiakon janganlah mengharapkan upah/imbalan. Sebab, Tuhan Yesus sendiri berfirman kepada kita semua untuk murah hati seperti Bapa yang adalah murah hati (Luk.6:36). Ekaristi merupakan dasar pelayanan prodiakon dapat dirangkum sebagai penghayatan iman yang menjadikan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup serta pelayanan prodiakon. Berkat ambil bagian dalam Ekaristi, prodiakon dan umat beriman mengalami kesatuan dengan Tuhan Yesus. Pengalaman kesatuan dengan Tuhan merupakan kekuatan utama dan topangan hidup tugas perutusn prodiakon. Hanya melalui kesatuan dengan Tuhan Yesus yang didasari iman prodiakon senantiasa dipenuhi sukacita, penghiburan dan kekuatan dalam tugas pelayanannya. Kesatuan prodiakon dengan Tuhan Yesus, pertama-tama

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 memampukan seorang prodiakon untuk melaksanakan tugas utama pelayanannya yakni demi kemuliaan Allah. D. Fokus Penelitian Fokus penelitian merupakan batasan masalah dalam penelitian kualitatif yang berisi pokok masalah dan bertujuan untuk mempertajam penelitian (Sugiyono, 2014: 285-286). Berdasarkan hasil studi pustaka penulis menetapkan fokus penelitian pada makna Ekaristi dan hubungannya bagi spiritualitas pelayanan prodiakon. Pelayanan prodiakon dibatasi pada membantu menerimakan komuni di dalam perayaan Ekaristi atau pun di luar perayaan Ekaristi (mengirim komuni), memimpin ibadat Sabda, memberikan homili, memimpin upacara pemakaman serta memimpin doa untuk berbagai ujud dan keperluan di lingkungan. Berdasarkan fokus penelitian ini, penulis merumuskan pertanyaan wawancara untuk penelitian sebagai berikut: 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda!

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang Anda wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon ? 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda!

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 BAB III GAMBARAN MAKNA EKARISTI BAGI SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN Pada bab III ini, penulis akan menguraikan gambaran situasi umum Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Situasi umum paroki yang penulis paparkan dalam bab III ini berdasarkan pengamatan langsung serta wawancara dengan pastor paroki dan para prodiakon serta tokoh umat lainnya. Penulis juga melakukan studi dokumen dari buku Benih Iman Umat Nanggulan Menyejarah yang berisi tentang sejarah umat Nanggulan. Pokok permasalahan yang diangkat dalam bab III ini adalah makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon. Oleh karena itu, pada bab III penulis akan menyusunnya menjadi 2 pokok bahasan. Pokok bahasan yang pertama memaparkan tentang gambaran umum Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Pokok bahasan kedua memaparkan tentang penelitian dan pembahasan hasil penelitian mengenai makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon. Untuk memperoleh data penulis akan melakukan penelitian sederhana dengan wawancara terstruktur yang ditujukan kepada prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 A. Gambaran Umum Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan 1. Profil Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan a. Letak Geografis Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan merupakan bagian dari sebuah kecamatan yang ada di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kecamatan Nanggulan merupakan bagian tengah dari Kabupaten Kulon Progo dan merupakan daerah pegunungan. Karena merupakan daerah pegunungan sebagian besar mata pencaharian umat adalah petani. Selain itu ada juga yang berprofesi sebagai pegawai, wirausaha dan pensiunan. Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan terdiri dari 4 wilayah (Kembang, Jatisarono, Giripurwo, Wijimulyo) dan 20 lingkungan serta terdapat 1 paroki administratif Santa Maria Fatima Pelem Dukuh (Ignatius, Sukawalyana 2006: 4147). Batas wilayah menurut gereja meliputi: Barat : Paroki Administratif Pelem Dukuh Utara : Paroki Boro Timur : Paroki Klepu Selatan : Paroki Sedayu b. Sejarah Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan Benih-benih Sabda di Nanggulan mulai tumbuh sejak tahun 1930 melalui karya misi yang dibawa oleh para imam Serikat Jesus (SJ). Karya misi dan pelayanan juga mencakup daerah sekitar Nanggulan yakni Boro (pada saat itu menjadi pusat) serta Ploso (Promasan). Disinyalir arus pewartaan iman bertemu di

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Kenteng – Nanggulan yaitu arus pewartaan dari Kotabaru (Yogyakarta) → Gubug (Sedayu) → Wijilan (Nanggulan) dan arus pewartaan yang mengalir dari Mendut → Boro → Kenteng (Nanggulan). Karena dipertemukan 2 arus besar pewartaan misi maka jumlah umat Katolik semakin bertambah dan muncul gagasan untuk mendirikan suatu gereja sendiri di Nanggulan sebagai lahan pertemuan pewartaan (Benih-Benih Iman Umat Nanggulan Menyejarah 2006: 10). Gagasan untuk mendirikan gedung gereja di Nanggulan muncul dari Bapak Sebastianus Sutodimedjo. Gagasan itu mendapat tanggapan yang baik dari Romo Prennthaler, S.J. selaku Romo Kepala Paroki Boro. Pada tahun 1934, Romo Prennthaler, S.J. menugasi Romo F.X.Satiman,S.J., romo pembantu Paroki Boro – yang memang bertugas di wilayah Nanggulan hampir 5 tahun untuk membeli sebidang tanah di kawasan Nanggulan. Sebelum membeli tanah yang dimaksud, Romo F.X. Satiman,S.J. membahasnya bersama Bapak Sutodimedjo, Mbah Pait, serta Bapak Setrodrono. Romo F.X Satiman S.J meminta ijin kepada Ndara Wedana Kawedanan Nanggulan – seorang pribumi, namun keinginan tersebut ditolak. Merasa diperlakukan kurang adil, maka Bapak Sebastianus Sutodimedjo – seorang abdi Dalem Kraton Ngayogyahadiningrat – bersama Romo F.X. Satiman, S.J. menghadap Sri Sultan Hamengku Buwono VIII untuk melaporkan hambatan dalam pembelian tanah untuk gedung gereja Katolik di Nanggulan. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memperhatikan keluhan tersebut dengan memberi surat untuk dibawa ke Gubernur Adam. Pada tahun 1935 keinginan memiliki sebidang tanah untuk gedung gereja di kawasan Nanggulan terkabulkan. Bapak Adi

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 Asmoro – putera Bapak Setrodrono – dengan suka rela menyediakan tanahnya di Karang seluas 4.000 meter persegi dengan harga 34 gelo. Status tanah tersebut atas nama Gereja Katolik Boro. Tidak lama kemudian di atas tanah tersebut didirikan brak untuk pembangunan gedung gereja. Namun, berhubung belum ada ijin dari pemerintah kolonial Belanda, brak tersebut buru-buru dibongkar. Romo F.X. Satiman, S.J. meminta bantuan kepada Romo Strater, S.J. di Gereja Kota Baru terkait dengan perijinan pendirian gedung gereja. Dengan ijin tersebut pembangunan gedung gereja dimulai. Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 13 Januari 1936. Biaya pembangunan semua ditanggung oleh pihak Keuskupan Batavia. Orang-orang yang ambil bagian dalam pembangunan gereja Nanggulan di antaranya adalah Bapak Prawirokoro sebagai pelaksana dan penyedia material. Untuk masalah birokrasi juga terlibat di dalamnya Bapak B. Sinangjoyo sebagai satu-satunya orang Katolik yang bekerja di pemerintahan. Gereja yang berdiri di Karang ini diberi nama Gereja Katolik Santa Perawan Maria Tak Bercela. Gedung gereja ini diberkati oleh Bapa Uskup Mgr. P.J. Willekens, SJ, Vikaris Apostolik Batavia (Keuskupan Batavia) pada tanggal 5 Juli 1936. Misa pemberkatan ini dihadiri oleh 1.500 umat. Peringatan Santa Perawan Maria Tak Bercela sebagai pelindung paroki jatuh pada tanggal 8 Desember (Sukawalyana 2006: 10-11). Pada 20 tahun pertama meskipun gedung gereja Nanggulan sudah diberkati tetapi seluruh pelayanan adminstrasi (baptisan, krisma, perkawinan, dll) masih menjadi satu dengan Boro. Seiring perjalanan gereja Nanggulan resmi menjadi paroki sendiri sejak 25 Maret 1956 (Benih-Benih Iman Umat Nanggulan

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Menyejarah 2006: 13). Kehidupan Gereja Nanggulan juga tidak terlepas dari situasi politik dan perang yang ada pada saat itu. Meskipun demikian, Gereja tetap bertahan dalam ajaran dan tampil dalam persahabatan murni ditengah masyarakat. c. Visi dan Misi Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan 1) Visi Paroki “Umat Allah Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, dalam bimbingan Roh Kudus berupaya semakin menjadi persekutuan paguyubanpaguyuban murid Yesus Kristus yang mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan. Mewujudkan Kerajaan Allah berarti bersahabat dengan Allah, mengangkat martabat pribadi manusia, dan melestarikan keutuhan ciptaan agar semakin signifikan dan relevan bagi warganya dan masyarakat.” Visi Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan yang telah dirumuskan mengarah pada terwujudnya Kerajaan Allah yang memerdekakan melalui umat yang dibimbing oleh Roh Kudus sebagai persekutuan paguyubanpaguyuban murid Kristus. Di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan terdapat berbagai paguyuban-paguyuban seperti paguyuban Wanita Katolik, paguyuban Legio Maria Bunda Kerahiman, paguyuban Yohanes Maria Vianey, dll. Paguyuban-paguyuban ini diharapkan menjadi tempat terwujudnya Kerajaan Allah dan diwartakan kepada sesama. Hal utama dalam mewujudkan Kerajaan Allah tersebut adalah memiliki hubungan yang mendalam sebagai sahabat dengan Allah. Hubungan yang mendalam dengan Allah memapukan umat beriman untuk menghormati sesamanya dan menjaga alam ciptaan.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 2) Misi Paroki a) Dalam konteks masyarakat Indonesia yang sedang berjuang menuju tata hidup baru yang berkeadilan, demokratis, damai sejahtera, umat Paroki Nanggulan terlibat secara aktif membangun habitus baru berdasarkan semangat Injil dengan iman yang mendalam dan tangguh. b) Umat Paroki Nanggulan membangun hidup beriman dengan berpolakan pada Bunda Maria sang hamba Allah; meneladan kesetiaannya dalam beriman dan memiliki kesiapsediaan diri ambil peran dalam membangun paguyubanpaguyuban yang berpihak pada kaum KLMTD. c) Memberdayakan orang muda, remaja, dan anak-anak Katolik untuk memiliki iman yang mendalam dan tangguh, berjiwa militan dan memiliki kepegasan hidup serta terlibat dalam pengembangan umat dan menyumbangkan potensi untuk kesejahteraan hidup bersama di tengah masyarakat. Tiga misi paroki yang telah dirumuskan merupakan usaha bersama dalam mewujudkan visi paroki. Umat beriman pertama-tama perlu memiliki iman yang mendalam dan tangguh akan Allah. Teladan utama umat Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda dalam membangun hidup beriman adalah Bunda Maria. Umat sebagai paguyuban-paguyuban yang memiliki iman mendalam dan tangguh diajak untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, merangkul semua golongan baik orang muda, remaja, anak-anak dan terlebih berpihak pada KLMTD.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 2. Pelaksanaan Ekaristi di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan Ekaristi merupakan sumber dan puncak hidup serta perutusan Gereja (LG 11). Oleh karena itu, Ekaristi memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan serta perutusan Gereja. Mengingat pentingnya Ekaristi bagi kehidupan Gereja, Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan telah menyusun jadwal perayaan Ekaristi secara rutin. Perayaan Ekaristi harian (Senin-Sabtu) diadakan setiap pukul 05.30 WIB. Perayaan Ekaristi Jumat Pertama diadakan pada hari Jumat pukul 16.00 WIB. Perayaan Ekaristi mingguan diadakan pada hari Sabtu pukul 16.00 WIB dengan menggunakan bahasa Jawa. Sedangkan pada hari Minggu perayaan Ekaristi diadakan pada pukul 05.30 WIB dan 07.30 WIB. Khusus untuk hari Minggu terakhir setiap bulannya perayaan Ekaristi pada pukul 07.30 WIB menggunakan bahasa Jawa dan diiringi gamelan. Terkait dengan perayaan Ekaristi, Gereja Katolik mengangkat prodiakon untuk membantu imam menerimakan komuni. Secara khusus, prodiakon diperkenankan melayani Tuhan secara sangat dekat yaitu membantu imam atau diakon di altar Tuhan untuk menerimakan komuni kepada umat (Martasudjita, 2010: 27). 3. Gambaran Prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan Untuk memperoleh data tentang prodiakon yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, penulis mengamati langsung tugas pelayanan prodiakon saat perayaan Ekaristi serta mengikuti pertemuan prodiakon. Penulis juga melakukan wawancara dengan bapak Agustinus Susiyantoro pada

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 tanggal 21 Oktober 2018 di pastoran paroki. Bapak Agustinus Susiyantoro merupakan ketua bidang pewartaan. Sebelumnya beliau juga pernah menjadi prodiakon selama 1 periode dan ketua bidang liturgi. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan bapak Agustinus Susiyantoro, beliau mengatakan Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan memiliki 4 wilayah dan 20 lingkungan dengan jumlah umat 2.600 orang. Untuk melayani kebutuhan umat yang ada di paroki, wilayah maupun lingkungan, pastor paroki dibantu oleh prodiakon. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan bapak Agustinus Susiyantoro jumlah prodiakon di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan pada saat ini adalah 53 orang. Data ini diperkuat dengan daftar nama 53 prodiakon periode 2016-2018 yang penulis dapatkan dari Pak Paulus Marjana sebagai ketua tim kerja prodiakon. Dalam perjalanan waktu 1 orang prodiakon meninggal dunia sehingga jumlah yang ada saat ini adalah 52. Sebagian besar prodiakon yang ada di Paroki Nanggulan merupakan pensiunan, guru dan petani. Prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan setiap minggu pertama pada awal bulan selalu mengadakan pertemuan rutin bersama di gedung pelayanan pastoral. Berdasarkan data yang penulis peroleh melalui wawancara dan mengikuti langsung kegiatan yang dilakukan adalah membahas agenda pelayanan prodiakon (menyesuaikan dengan liturgi gereja), sharing pengalaman dalam melayani, membahas perubahan-perubahan teknis, serta mendengarkan masukkan dari romo paroki. Keprihatinan yang terjadi saat

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 pertemuan masih banyak prodiakon yang tidak hadir sehingga mempersulit apabila ada informasi baru atau hal teknis yang disampaikan. Tugas pokok pelayanan prodiakon adalah membantu membagikan komuni pada perayaan Ekaristi hari Minggu dan memimpin perayaan liturgi lainnya sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Selain membantu membagikan komuni, tugas pelayanan yang dilakukan prodiakon di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan antara lain mengirim komuni kepada orang sakit, memimpin ibadat Sabda atau ibadat sakramental, memimpin upacara pemakaman dan pemberangkatan jenazah, memimpin doa untuk berbagai ujub dan keperluan (midodareni, mitoni, peringatan arwah, dll) serta memimpin pendalaman iman. B. Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian Gambaran Makna Ekaristi bagi Spiritualitas Pelayanan Prodiakon 1. Metodologi Penelitian a. Latar Belakang Penelitian Ekaristi merupakan poros kehidupan umat beriman. Poros kehidupan merupakan daya yang mampu menggerakan seluruh hidup umat beriman. Selain sebagai poros kehidupan umat beriman, Ekaristi juga merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani (LG 11). Melalui Ekaristi umat menimba kekuatan rohani dari Kristus sendiri. Segala kegiatan, pekerjaan, pelayanan kehidupan umat Kristiani berkaitan erat dengan perayaan Ekaristi: bersumber dari padanya dan tertuju kepadanya. Imam dalam perayaan Ekaristi dibantu oleh prodiakon untuk menerimakan komuni kepada umat. Setiap tugas pelayanan yang dilakukan oleh prodiakon

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 berhubungan erat dengan iman Kristiani. Salah satu penghayatan pelayanan yang baik adalah bagaimana seseorang memiliki spiritualitas dalam hidupnya. Spiritualitas dalam hidup dapat membantu prodiakon menjiwai tugas pelayanannya dengan bimbingan Roh Kudus dalam Kristus. Prodiakon juga perlu memiliki spiritualitas pelayanan, seperti Tuhan Yesus sendiri yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani. Dengan memiliki spiritualitas pelayanan, prodiakon dapat melihat dan memaknai bahwa tugas yang ia lakukan bukanlah suatu pekerjaan, melainkan pelayanan bagi Tuhan dan sesama. Ada berbagai macam spiritualitas yang dihidupi umat beriman termasuk prodiakon dan diyakini memiliki daya penggerak. Salah satunya dengan menimba spiritualitas melalui perayaan Ekaristi. Dalam Kompendium Tentang Prodiakon dikatakan bahwa prodiakon yang baik mengikuti Perayaan Ekaristi bukan hanya karena ia sedang bertugas untuk ikut menerimakan komuni dalam Perayaan Ekaristi itu. Tetapi, ia mengikuti Perayaan Ekaristi tersebut sebagai sumber dan puncak hidup dan pelayananannya. Prodiakon dipanggil untuk menimba kekuatan dan sumber inspirasi pelayanannya melalui Ekaristi. Dengan demikian, perayaan Ekaristi sungguh menjadi sumber dan puncak hidup serta pelayanan prodiakon maupun seluruh umat beriman. Melihat pentingnya Ekaristi bagi semangat pelayanan prodiakon, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai seberapa besar makna Ekaristi dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Pentingnya penelitian ini dilakukan untuk menggali seberapa mendalam

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 prodiakon menghayati Ekaristi. Kedekatan hubungan prodiakon dan Ekaristi akan dilihat apakah sebatas tugas semata atau sungguh-sungguh menjadi kesadaran bahwa Ekaristi merupakan sumber kekuatan semangat pelayanan prodiakon. Prodiakon bukanlah suatu jabatan supaya dilihat orang tetapi merupakan sebuah pelayanan yang tulus, tanpa pamrih dan menampilkan wajah Kristus bagi orang-orang yang dilayani. Oleh karena itu, melalui penelitian ini penulis berharap prodiakon yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan dapat semakin menghayati kekayaan makna yang terkandung dalam Ekaristi sebagai puncak hidup dan pelayanannya, sehingga menjadikan mereka sungguh sadar akan tugas dan panggilan mereka sebagai prodiakon untuk melayani banyak orang. b. Tujuan Penelitian 1) Mengetahui gambaran makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. 2) Mengemukakan faktor-faktor pendukung dan penghambat yang dialami prodiakon dalam pelaksanaan Ekaristi. 3) Memberikan usulan program atau harapan prodiakon demi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan melalui Ekaristi.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 c. Jenis Penelitian Penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif partisipatif dengan metode deskripsi analisis. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, penuh makna dan digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Kondisi obyek yang alamiah adalah obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak begitu mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut (Sugiono, 2014:13-14). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis deskripsi analisis yaitu metode yang menggambarkan dan menganalisis data yang diperoleh melalui studi pustaka dan diperkuat dengan adanya penelitian langsung di lapangan. Dalam rangka mendapatkan data yang valid, penulis akan terjun langsung mengamati dan melakukan wawancara kepada beberapa prodiakon yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Penelitiaan ini ingin mengungkapkan kejadian atau fakta yang terjadi di lapangan, khususnya yang dialami prodiakon terkait Ekaristi dan hubungannya terhadap perkembangan spiritualitas pelayanannya. d. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu fenomenologi. Fenomenologi akan menggali data untuk menemukan makna dari hal-hal mendasar yang lebih menekankan pada persoalan pengalaman pribadi. Dalam

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 penelitian ini masalah yang diteliti adalah makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. e. Instrumen Penelitian Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen penelitian adalah human instrument yaitu peneliti itu sendiri sebab ia memegang peranan kunci dalam seluruh proses penelitian. Selain peneliti itu sendiri, manusia lain juga merupakan instrument pengumpul data sebab hanya instrument manusia yang dapat betul-betul menangkap makna kata-kata dan tindakan seseorang. Peneliti sebagai instrument penelitian lebih menekankan peran pada menghimpun dan menganalisis data serta membuat laporan dengan menekankan bagaimana subjek memberikan makna (Rulam Ahmadi, 2014: 22). Peneliti akan terjun langsung ke lapangan untuk mengamati dan berdinamika bersama umat dan prodiakon yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Penelitian kualitatif sebagai human instrumen berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya (Sugiyono, 2014: 306). Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah wawancara mendalam. Pertanyaan-pertanyaan interaktif dalam wawancara diharapkan dapat mencapai tujuan penelitian. Hasil wawancara akan direkam menggunakan alat bantu HP sementara peneliti berfokus pada proses wawancara. Jadi penelitian akan dilakukan oleh peneliti sendiri sebagai instrumen

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 dan mewawancarai responden yaitu beberapa prodiakon paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. f. Responden Jumlah prodiakon yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan periode 2016-2018 adalah 53 orang dengan catatan 1 meninggal dunia. Data ini penulis peroleh dari bapak Paulus Marjana selaku ketua tim kerja prodiakon. Berdasarkan diskusi dan kesepakatan bersama antara penulis, bapak Agustinus Susiyantoro (ketua bidang pewartaan) dan romo paroki, responden atau sampel yang dipilih berdasarkan masa jabatan atau lamanya menjadi prodiakon (1 periode, 2 periode dan lebih dari 2 periode). Hal ini sesuai dengan pengertian teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling yaitu teknik pengumpulan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2014: 300). Peneliti diharapkan bisa menggali secara mendalam dan akhirnya bisa mendapatkan data serta lebih memahami apa yang menjadi harapan para prodiakon. g. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada akhir bulan Oktober 2018 sampai dengan awal November 2018 dan dilaksanakan di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 h. Teknik Pengolahan Data Pengolahan data atau analisis data dalam penelitian kualitatif adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain sehingga mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2014: 334-335). Proses deskripsi analisis yang penulis gunakan adalah mengumpulkan data, mereduksi, menata dan menarik kesimpulan. Sebenarnya pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai (Sugiyono, 2014: 337). Analisis data penelitian akan diamati dengan mempelajari seluruh data hasil wawancara dari berbagai sumber. Langkah selanjutnya yang penulis lakukan adalah mengadakan reduksi data dengan membuat rangkuman inti, menyusun dalam satuan-satuan yang kemudian dikategorikan dalam satu kelompok yang sama, kemudian pemeriksaan keabsahan data dan tahap yang terakhir adalah membuat kesimpulan. 2. Laporan dan Pembahasan Hasil Penelitian Pada bagian ini penulis akan melaporkan hasil penelitian yang berupa wawancara dan akan membahasnya secara berurutan sesuai dengan variabel penelitian yang telah tercantum pada bagian sebelumnya. Bagian ini berisi

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 jawaban-jawaban para responden yang sudah penulis pelajari dari seluruh sumber data penelitian. Jumlah responden yang diwawancarai berjumlah 13 orang prodiakon. 13 orang tersebut terdiri dari 4 orang prodiakon dengan masa jabatan 1 periode, 3 orang prodiakon dengan masa jabatan 2 periode dan 6 prodiakon lebih dari 2 periode. Penelitian dilaksanakan selama ± 2 minggu mulai tanggal 4 November sampai dengan 20 November 2018. Penulis melakukan wawancara secara bergilir baik di gereja, kapel maupun gedung pelayanan pastoral yang ada di paroki Nanggulan. Durasi wawancara yang penulis laksanakan ± 15 menit hingga 40 menit. Secara metodologis validasi data tidak penulis lakukan. a. Gambaran makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon Variabel ini mencakup 7 pertanyaan yang bertujuan mendapatkan gambaran makna Ekaristi bagi prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan dan hubungannya dengan spiritualitas pelayanan prodiakon. 1) Mendeskripsikan makna Ekaristi Berdasarkan hasil wawancara para prodiakon merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi. R2 dan R5 merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi karena merupakan kebutuhan hidup umat beriman (Lampiran 4: R2, R5). Menurut R3 dan R4 Ekaristi merupakan sesuatu yang dirindukan (Lampiran 4: R3, R4). Ekaristi menjadi kerinduan sebab apabila tidak mengikuti Ekaristi maka akan merasa gelisah (Lampiran 4: R3, R8). Secara tegas R6 dan R8 menyampaikan bahwa melalui Ekaristi Tuhan sungguh hadir maka kita bertemu

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 dan bersatu dengan-Nya (Lampiran 4: R6, R8). R8 juga menyampaikan bahwa melalui Ekaristi iman kita dipupuk (Lampiran 4: R8). Ekaristi juga dipandang sebagai jiwa kehidupan umat beriman (Lampiran 4: R6, R11). Secara tegas R7 dan R10 menyampaikan bahwa Ekaristi merupakan dasar dan puncak kehidupan Gereja (Lampiran 4: R7, R10). Dikatakan sebagai dasar dan puncak kehidupan Gereja sebab melalui Ekaristi Yesus berkorban (Lampiran 4: R13) dan memurnikan kita dari dosa (Lampiran 4: R5). Menurut R12 tanpa Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa (Lampiran 4: R12). R9 mengemukakan bahwa berkat yang kita terima melalui Ekaristi antara lain hati dan hidup kita menjadi tentram (Lampiran 4: R9). Para prodiakon merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi sebab ada penghayatan iman yang mereka dalami/resapi. R1 mengungkapkan pada saat mengikuti perayaan Ekaristi ia merasa tentram dan mendapat ketenangan lahir batin. (Lampiran 4: R1). Kemudian menurut R2 ia merasa dilindungi sebab melalui Ekaristi Tuhan sungguh hadir (Lampiran 4: R2). Selain itu R3, R5, R7, R8, R10, R11, R13 menegaskan hal yang sama bahwa Tuhan sungguh hadir dalam Ekaristi terutama pada saat konsekrasi (Lampiran 4: R3, R5, R7, R8, R10, R11, R13). Hal lain yang diresapi R3, R4, R5 dan R12 adalah bacaan Kitab Suci (Lampiran 4: R3, R4, R5, R12). R3 menyampaikan sebelum mengikuti perayaan Ekaristi sudah terlebih dahulu membiasakan diri untuk membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pada hari tersebut (Lampiran 4: R3).

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Menurut R4 dan R9 hal yang sungguh mereka dalami saat mengikuti perayaan Ekaristi adalah pada saat menerima sakramen Maha Kudus (Lampiran 4: R4, R9). Tiga responden lainnya yakni R5, R6 dan R10 menaruh perhatian pada khotbah romo sebagai sesuatu yang penting untuk diresapi saat mengikuti perayaan Ekaristi (Lampiran 4: R5, R6, R10). R7 menyampaikan bahwa doa tobat dan kemuliaan merupakan bagian Ekaristi yang membuatnya merasa tersentuh dengan kehadiran Tuhan. Menurut R8 saat membagikan komuni dalam perayaan Ekaristi ia menghayatinya sebagai suatu pelayanan (Lampiran 4: R8). Setiap bagian dalam Ekaristi mulai dari awal hingga akhir sebenarnya memiliki makna yang sangat mendalam. Oleh karena itu, umat beriman perlu sungguh mendalami makna yang ada dalam tata perayaan Ekaristi (Lampiran 4: R6). Berdasarkan hasil wawancara menurut R1, R3, R7 dan R13 melalui Ekaristi Tuhan Yesus mengorbankan diri-Nya demi keselamatan banyak orang (Lampiran 4: R1, R3, R7, R13). Berkat pengorbanan Yesus dalam Ekaristi R1, R3, R5, R7, R8 dan R12 merasa iman serta diri pribadi mereka semakin dikuatkan dan diteguhkan (Lampiran 4: R1, R3, R5, R7, R8, R12). Selain dikuatkan berkat pengorbanan Yesus R6 dan R8 merasa dikuatkan melalui Sabda Tuhan yang mengingatkan serta mempengaruhi sikap dan perilaku hidup (Lampiran 4: R6 dan R8). Oleh karena itu, apabila hidup sesuai dengan Sabda Tuhan maka akan mendapatkan kedamaian (Lampiran 4: R8). Setengah dari responden yakni R2, R3, R4, R7, R9 dan R11 merasakan Tuhan sungguh hadir dalam diri dan hati mereka saat perayaan Ekaristi (Lampiran 4: R2, R3, R4, R7, R9, R11). Sebagai konsekuensi kehadiran Tuhan dalam diri

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 pribadi, maka R4 dan R11 berusaha dan mampu mengendalikan diri/emosi (Lampiran 4: R4 dan R11). Menurut R12 Ekaristi pada dasarnya menuntun hidup pada kebaikan (Lampiran 4: R12). Berdasarkan jawaban-jawaban responden sebagian besar memaknai Ekaristi sebagai kebutuhan hidup umat beriman. Secara keseluruhan para responden mengungkapkan bahwa berkat Ekaristi mereka merasa gembira, diteguhkan, memperoleh ketenangan dan kedamaian. Salah satu responden memberikan jawaban yang khas sebagai prodiakon yakni saat membagikan komuni dalam perayaan Ekaristi ia merasa sungguh menghayatinya sebagai suatu bentuk pelayanan. Para responden menyakini bahwa berkat perayaan Ekaristi, Kristus sendiri sungguh hadir dan kita dipersatukan dengan-Nya serta seluruh anggota Gereja. Apa yang telah disampaikan oleh responden semakin memperkuat bahwa Yesus sungguh hadir dalam kedua rupa Ekaristi (SC 7). 2) Mensyukuri panggilan sebagai prodiakon Dipilih dan dilantik menjadi prodiakon adalah suatu panggilan. Prodiakon diajak untuk menaggapi panggilan tersebut dengan penuh rasa syukur. Berdasarkan hasil wawancara R1, R2, R3, R5, R6 dan R7 merasa bersyukur dengan panggilan mereka sebagai prodiakon sebab bisa melayani umat (Lampiran 4: R1, R2, R3, R5, R6, R7). Tentunya pelayanan ini dilakukan secara tulus terutama bagi mereka yang sangat membutuhkan. Menurut R4, R8 dan R11 hal yang mereka syukuri sebagai prodiakon adalah merasa lebih dekat dan mengenal Tuhan (Lampiran 4: R4, R8, R11). Kedekatan hubungan dengan Tuhan dapat

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 dirasakan melalui keikutsertaan dalam Ekaristi, kesempatan yang lebih besar untuk membaca Kitab Suci serta dalam melaksanakan tugas pelayanan sebagai prodiakon. Berdasarkan jawaban responden hal utama yang mereka syukuri sebagai prodiakon adalah bisa melayani umat. Pelayanan tersebut tentunya dilakukan secara tulus. Berkat yang responden dapatkan dengan menjadi prodiakon yakni lebih dekat dan mengenal Tuhan. Kedekatan hubungan prodiakon dengan Tuhan inilah yang menguatkan mereka dalam tugas pelayanan. Salah satu kedekatan hubungan ini dibangun melalui keikutsertaan dalam Ekaristi. 3) Makna spiritualitas pelayanan bagi prodiakon Dalam menjalani panggilan sebagai seorang prodiakon dibutuhkan spiritualitas pelayanan. Spiritualitas pelayanan yang sungguh dihayati akan membantu menyemangati dan menguatkan panggilan sebagai prodiakon. Menurut R1, R2, R3, R9, R10 dan R11 makna spiritualitas pelayanan prodiakon bagi mereka adalah siap untuk melayani sesama terlebih mereka yang sangat membutuhkan (Lampiran 4: R1, R2, R3, R9, R10, R11). R11 menegaskan kesiapsediaannya dalam melayani berdasarkan pribadi Tuhan Yesus sendiri yang datang bukan untuk dilayani melaikan melayani (Lampiran 4: R11). Menurut R4 makna spiritualitas pelayanan prodiakon baginya adalah bisa terlibat secara nyata dalam 5 tugas pokok Gereja (Lampiran 4: R4). Spiritualitas pelayanan sebagai prodiakon dimaknai R5 dan R7 sebagai berkat atau membagikan sesuatu yang saya bisa dan punya kepada orang lain

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 (Lampiran 4: R5, R7). Menurut R6 berkat ini berasal dari Tuhan dan dilakukan dengan ikhlas hati (Lampiran 4: R6). Oleh karena itu R8 berpendapat bahwa dalam semangat pelayanan prodiakon perlu bersama dan melibatkan Tuhan dalam segala hal (Lampiran 4: R8). R9 memaknai spiritualitas pelayanan prodiakon sebagai dorongan dari Roh Kudus yang memampukannya untuk siap sedia melayani (Lampiran 4: R9). Kemudian secara tegas menurut R12 makna spiritualitas pelayanan adalah tugas dan kewajiban yang diberikan pada masingmasing prodiakon oleh Tuhan sendiri (Lampiran 4: R12). Dengan demikian, R5 dan R13 memaknai pelayanan sebagai membantu meringankan beban orang lain (Lampiran 4: R5, R13). Penulis menegaskan sangatlah penting para prodiakon memaknai spiritualitas pelayanan mereka sebagai prodiakon. Jika prodiakon tidak memaknai semangat pelayanan yang terjadi cenderung hanya mengandalkan kemampuan pribadi dan mencari kepuasan diri (Mangunhardjana, 2017: 46). Beberapa responden menyadari betul pentingnya campur tangan Tuhan dengan bimbingan Roh Kudus dalam tugas pelayanan mereka. Teladan utama dalam pelayan yakni Kristus sendiri yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani (Mat.20:28). Seperti yang telah disampaikan beberapa responden dengan menghidupi spiritualitas pelayanan prodiakon memampukan mereka untuk memberikan diri dengan siap sedia melayani terlebih bagi mereka yang membutuhkan.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 4) Makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon Perayaan Ekaristi tentunya memberikan makna bagi semangat pelayanan prodiakon serta umat beriman yang ikut serta ambil bagian didalamnya. Menurut R4 hal positif yang ia pandang bisa memperkembangkan semangat pelayanannya sebagai prodiakon adalah pada saat konsekrasi, serta homili romo yang memotivasi (Lampiran 4: R4). Selain itu, R7 juga menaruh perhatian positif pada homili romo (Lampiran 4: R7). Menurut R7 dalam homili romo sering memotivasi dan menguatkan prodiakon untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik (Lampiran 4: R7). Makna Ekaristi yang telah dialami tentunya akan bermanfaat apabila dibagikan dan diterapkan dalam kehidupan konkret sebagai bentuk kesaksian. Menurut R1 dan R2 kesaksian hidup yang diwujudkan dalam keluarga yakni dengan membagikan sukacita dan berkat dalam keluarga serta orang yang dijumpai (Lampiran 4: R1, R2). Menurut R5, R6, R7, R8 dan R10 kesaksian hidup yang diwujudkan yakni mengupayakan doa atau ibadat bersama dalam keluarga serta aktif dalam mengikuti Ekaristi (Lampiran 4: R5, R6, R7, R8, R10). Menurut R9 kesaksian hidup yang ia terapkan dalam keluarga adalah tetap bersyukur dalam segala hal (Lampiran 4: R9). Berbeda dengan R11 ia berusaha agar bisa mengendalikan emosi dan tidak mudah marah (Lampiran 4: R11). Dengan demikian, hal yang paling penting menurut R13 adalah berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain (Lampiran 4: R13).

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Penulis mengaskan kembali bahwa pada dasarnya prodiakon dan kita semua dipanggil untuk menjadikan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup serta pelayanan (Martasudjita, 2010: 33). Hanya sedikit responden yang secara langsung mengaitkan makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanannya. Jawaban yang disampaikan yakni merasa semakin dikuatkan melalui konsekrasi dan homili romo. Homili yang disampaikan romo seringkali memotivasi prodiakon untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Prodiakon dan kita semua yang percaya pada Kristus dipanggil untuk menjadi saksi-Nya ditengah-tengah kehidupan bersama. Maka dari itu, Ekaristi tidak hanya berhenti sampai berkat dan lagu penutup tetapi perlu kita bagikan kepada sesama terutama umat yang dilayani. Pada intinya semua mengarah pada pembaruan/pengembangan diri agar lebih dewasa baik dalam iman maupun bersikap terutama demi pelayanan. b. Faktor pendukung dan penghambat dalam Ekaristi Variabel ini membahas mengenai faktor pendukung dan penghambat dalam Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon. Faktor pendukung sebagai suatu kekuatan dalam Ekaristi yang menyemangati prodiakon dalam tugas pelayanannya. Sedangkan faktor penghambat merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian lebih sehingga akhirnya diharapkan bisa membantu menyemangati tugas pelayanan prodiakon. 1) Faktor pendukung Ekaristi berhubungan erat dengan kehidupan umat beriman terlebih bagi prodiakon. Ada banyak kekayaan makna dalam Ekaristi yang mendukung

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 spiritualitas pelayanan prodiakon. Berdasarkan hasil wawancara, menurut R1, R3, R4 dan R12 faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan semangat pelayanan prodiakon adalah pada saat konsekrasi (Lampiran 4: R1, R3, R4, R12). Sedangkan menurut R2, R5 dan R11 yang mendukung justru dari kebersamaan dengan teman-teman prodiakon serta petugas liturgi lainnya dalam menjalankan tugas pelayanan (Lampiran 4: R2, R5, R11). Menurut R4 lagu-lagu saat perayaan Ekaristi yang menyentuh hati serta Sabda Tuhan yan didengar juga merupakan faktor pendukung dalam Ekaristi bagi perkembangan semangat pelayanan prodiakon (Lampiran 4: R4). Selain itu menurut R4 dan R8 khotbah romo yang memotivasi juga semakin menyemangati prodiakon (Lampiran 4: R4, R8). Menurut R10 faktor pendukung itu sebenarnya berasal dari dalam diri masing-masing pribadi untuk merayakan Ekaristi dan percaya sungguh pada ajaran Katolik (Lampiran 4: R10). Penulis mempertegas kembali apa yang telah disampaikan responden sesuai dengan EE no. 1 yakni Gereja hidup dari Ekaristi. Hal ini dapat dilihat dari para prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan yang menyadari bahwa hidup dan pelayanan mereka dibangun serta dikuatkan dengan berakar pada Ekaristi. Beberapa responden menyampaikan faktor pendukung yang mereka rasakan antara lain melalui Sabda Tuhan pada hari itu, khotbah romo yang memotivasi semangat pelayanan prodiakon, lagu-lagu yang familiar bagi umat serta konsekrasi. Tidak hanya itu faktor pendukung dalam Ekaristi juga berasal dari dalam diri masing-masing pribadi yang dengan hati terbuka datang kepada Tuhan. Selain itu, dukungan dari umat (hikmat, berpartisipasi aktif) serta

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 dukungan dari teman-teman prodiakon dan pelayan liturgi lainnya juga menjadi faktor yang memperkembangkan semangat pelayanan prodiakon. 2) Faktor penghambat Pada saat perayaan Ekaristi ditemukan pula keprihatinan atau faktor penghambat yang masih terjadi. Menurut R1, R8, R11 dan R12 keprihatinan yang terjadi adalah masih ada petugas yang kurang bertanggung jawab dan kurang menghayati peranannya (Lampiran 4: R1, R8, R11, R12). Hal ini dapat dilihat dari masih ada prodiakon yang tidak menginformasikan alasan ketidakhadirannya serta masih ada petugas liturgi yang datangnya mepet. Menurut R7 kadang yang menjadi kendala bukan dari semangat Ekaristinya tetapi dari perubahanperubahan yang terjadi ketika pastor yang satu dengan yang lainnya berbeda pemikiran/pendapat (Lampiran 4: R7). Berdasarkan jawaban-jawaban responden keprihatinan yang masih ditemukan sebagian besar dikarenakan kurangnya penghayatan iman dalam Ekaristi. Keprihatinan yang ditemukan antara lain: beberapa petugas liturgi kurang menghayati peranannya, gerakan liturgis yang terkesan hanya formalitas, perbedaan pemahaman antara imam yang satu dan lainnya. Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostoliknya Dies Domini juga menyampaikan berbagai keprihatinan yang terjadi terkait makna hari Minggu sebagai hari perjamuan Ekaristi (Martasudjita, Emanuel 2012: 53). Berbagai keprihatinan ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak dan ditindaklanjuti.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 c. Harapan untuk Ekaristi dan hubungannya bagi spiritualitas pelayanan prodiakon Variabel ini akan membahas mengenai harapan-harapan bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan melalui Ekaristi. Prodiakon memiliki hubungan yang dekat dengan Ekaristi. Pada intinya para prodiakon berharap agar melalui Ekaristi semangat pelayanan mereka semakin diteguhkan dan dikuatkan. 1) Harapan akan perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon melalui Ekaristi Harapan-harapan yang disampaikan prodiakon tidak terlepas dari faktor pendukung dan peghambat dalam Ekaristi yang mereka temukan. Menurut R1, R3 dan R8 yang menjadi harapan mereka dengan mengikuti Ekaristi yang berpuncak pada penerimaan tubuh dan darah Kristus teman-teman prodiakon semakin digugah hatinya untuk lebih semangat dalam melayani (Lampiran 4: R1, R3, R8). Harapan ini kembali dipertegas oleh R6 bahwa diharapkan semua teman-teman prodiakon semakin gembira, berkomitmen dan professional menjalankan tugas pelayanannya selama Ekaristi (Lampiran 4: R6). Menurut R2 harapannya apa yang didapat dalam Ekaristi itulah yang dibagikan kepada umat sebagai bentuk pelayanan (Lampiran 4: R2). R4 berharap pesan yang disampaikan dalam Ekaristi melalui khotbah romo bisa ditangkap dan menggunggah semangat pelayanan prodiakon (Lampiran 4: R4). Menurut R7, R10 dan R11 harapannya semua prodiakon sungguh

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 menghayati Ekaristi sebagai puncak dari seluruh kehidupan Gereja (Lampiran 4: R7, R10, R11). Apabila sungguh dihayati maka para prodiakon dapat lebih bertanggung jawab dalam tugas pelayanan mereka. Menurut R12 ia berharap prodiakon bisa menjadi contoh bagi yang lain dengan berusaha melalukan pembenahan diri dalam bertugas (Lampiran 4: R12). Penulis menegaskan bahwa kerinduan para responden yakni menjadikan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup serta pelayanan (Martasudjita, 2010: 33). Para Prodiakon dipanggil untuk menjadikan Ekaristi sebagai dasar dan penopang pelayanan mereka. Hal ini dapat dilihat dari hampir semua responden berharap agar mereka lebih menghayati Ekaristi, sehingga bisa lebih semangat, bahagia dan professional dalam tugas pelayanan. 2) Harapan akan Ekaristi Para prodiakon yang bertindak sebagai responden juga memiliki berbagai harapan bagi Ekaristi secara umum dengan berangkat dari pengalaman dan kerinduan hati mereka. R3, R6, R8 dan R11 berharap umat semakin lebih tekun dan bersemangat dalam mencintai Ekaristi serta menghayati setiap bagiannya (Lampiran 4: R3, R6, R8, R11). R5, R6 dan R13 berharap apa yang didapat melalui Ekaristi diterapkan dalam kehidupan konkrit ditengah-tengah masyarakat (Lampiran 4: R5, R6, R13). Berbeda dengan R13 ia berharap agar umat mengupayakan hikmat dalam Ekaristi (Lampiran 4: R13). Harapan yang disampaikan R9 adalah menjalankan Ekaristi sungguh-sungguh sesuai TPE

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 (Lampiran 4: R9). Dan yang terakhir R10 berharap para petugas dapat menyadari tugas dan tanggungjawabnya dalam melayani (Lampiran 4: R10). Menurut penulis secara keseluruhan harapan-harapan responden yakni semua pihak baik petugas liturgi maupun umat beriman yang hadir senantiasa saling mendukung satu sama lain sehingga makna dan martabat Ekaristi sungguh dihayati. Dukungan dari umat misalnya menjaga agar perayaan Ekaristi tetap hikmat. Sedangkan dukungan dari petugas liturgi membantu umat dalam menghayati dan menjiwai Ekaristi. Harapan penulis dan beberapa responden yang tidak kalah penting yakni agar semua umat beriman semakin mencintai Ekaristi. Hal ini ditunjukkan secara nyata dengan siap diutus memberikan kesaksian dalam kehidupan sehari-hari (Suharyo, I 2011: 98). Artinya Ekaristi tidak hanya berhenti saat selesai mengikuti perayaannya tetapi diteruskan, dibagikan dan diterapkan dalam kehidupan bersama secara konkrit terutama dalam pelayanan. 3. Kesimpulan Penelitian Berdasarkan pengamatan langsung, keterlibatan dalam kegiatan prodiakon serta hasil wawancara dengan para prodiakon, penulis mendapatkan gambaran makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon. Prodiakon yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan menyadari bahwa Ekaristi merupakan kebutuhan hidup umat beriman. Sebagian besar responden menjawab saat mengikuti perayaan Ekaristi memperoleh ketentraman, ketenangan lahir batin serta merasa diteguhkan. Sebagian besar umat beriman juga akan memberikan

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 jawaban yang sama. Poin pentingnya adalah kekhasan yang prodiakon dapatkan melalui Ekaristi. Sebagian responden sudah memaknai Ekaristi secara mendalam bagi spiritualitas pelayanan prodiakon. Berdasarkan jawaban beberapa responden Ekaristi memiliki peranan yang sangat penting bagi spiritualitas pelayanan prodiakon. Ekaristi dimaknai sebagai sumber kekuatan dan semangat bagi prodiakon dalam menjalani tugas pelayanannya. Sumber kekuatan utama tentunya berasal dari Tuhan Yesus Kristus. Para responden menegaskan mereka merasa dikuatkan dan diteguhkan terutama pada saat konsekrasi serta melalui bacaan KS maupun homili yang disampaikan romo. Kedekatan hubungan antara prodiakon dengan Ekaristi perlu dimaknai secara mendalam dan tidak sebatas menjalankan tugas. Prodiakon dipanggil untuk menjadikan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup serta pelayanannya. Jawaban responden yang menujukkan bahwa mereka memaknai Ekaristi sebagai spiritualitas pelayanan tampak nyata dalam perbuatan konkrit ketika melayani. Beberapa responden mengatakan apa yang didapat melalui Ekaristi itulah yang dibagikan kepada umat. Berkat ambil bagian dalam Ekaristi prodiakon menyadari sungguh bahwa ketika melayani ia membawa Kristus dalam dirinya. Ketika prodiakon menyadari sungguh bahwa ia membawa Kristus didalam dirinya maka akan memampukannya untuk senantiasa mengutamakan kasih dalam setiap tugas pelayanannya. Penulis menyimpulkan gambaran makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon masih kurang dihayati oleh beberapa responden dan perlu ditingkatkan.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 BAB IV UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PENGHAYATAN DAN PELAKSANAAN EKARISTI BAGI PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dibahas dalam bab III dapat dilihat bahwa makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon perlu ditingkatkan lagi. Secara keseluruhan para prodiakon menyadari bahwa Ekaristi memiliki peranan yang sangat penting baik bagi hidup rohani maupun pelayanan mereka sebagai prodiakon. Pada dasarnya untuk sampai pada suatu penghayatan yang mendalam tidaklah mudah, tetapi perlu untuk ditingkatkan secara terus-menerus. Prodiakon dipanggil tidak hanya secara pribadi tetapi dalam satu kesatuan tim untuk lebih menghayati Ekaristi sebagai puncak dan dasar pelayanan mereka. Pada bab IV penulis akan memaparkan usulan kegiatan pendampingan bagi para prodiakon dengan bentuk rekoleksi terkait pelaksanaan dan penghayatan dalam Ekaristi. Pemilihan kegiatan rekoleksi ini berdasarkan harapan-harapan yang disampaikan responden. Diharapkan melalui kegiatan rekoleksi ini para prodiakon semakin menghayati Ekaristi lebih mendalam lagi sebagai dasar semangat untuk melayani. Penulis akan membagi bab IV ini dalam dua bagian. Pertama, latar belakang kegiatan rekoleksi sebagai usaha untuk meningkatkan penghayatan prodiakon dalam Ekaristi. Sedangkan yang kedua adalah gambaran usulan kegiatan rekoleksi.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 A. Pemikiran Dasar Kegiatan Berdasarkan hasil penelitian pada bab III, prodiakon paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan memiliki harapan yang besar agar dirinya serta teman-teman prodiakon bisa lebih menghayati Ekaristi secara mendalam. Ekaristi yang adalah dasar dan puncak seluruh kehidupan Gereja harapannya juga dihidupi prodiakon sebagai pusat hidup pelayanannya. Tidak hanya itu, Ekaristi diyakini sebagai pemberi semangat, sukacita serta kekuatan dalam menjalani panggilan sebagai prodiakon. Dengan demikian, apabila Ekaristi sungguh dihayati dan dihidupi maka akan memampukan prodiakon setia dalam melayani serta bertanggungjawab atas tugas yang telah dipercayakan kepadanya. Beberapa prodiakon dalam penelitian menyampaikan bahwa untuk sungguh-sungguh menghayati Ekaristi terkadang ada banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan-tangan tersebut bisa berasal dari dalam diri maupun dari luar. Berangkat dari harapan dan tantangan yang dihadapi tersebut, para prodiakon perlu untuk semakin dikuatkan dan diteguhkan hidup rohaninya. Salah satu cara untuk membantu prodiakon meneguhkan dan menguatkan hidup rohaninya adalah melalui kegiatan rekoleksi. Rekoleksi dapat dipahami sebagai salah satu kegiatan untuk membina hidup rohani serta memampukan pribadi umat beriman menyadari kehadiran Tuhan melalui peristiwa yang dialami sehari-hari. Secara khusus melalui kegiatan rekoleksi, para prodiakon diajak secara mendalam untuk menemukan makna yang terkandung dalam Ekaristi. Ada banyak makna yang terkandung dalam Ekaristi. Tentu yang terpenting tidak hanya

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 pengetahuannya saja tetapi, kedalaman hubungan pribadi prodiakon dengan Ekaristi. Dalam Ekaristi prodiakon memiliki peranan yang penting yakni membantu imam untuk membagikan tubuh dan darah Kristus. Prodiakon bisa dikatakan sebagai tulang punggung Ekaristi berkat peranannya yang penting dalam Ekaristi. Prodiakon yang sungguh mendalami dan menghayati Ekaristi tanpa disadari juga akan membantu penghayatan umat. Hal ini dikarenakan prodiakon merupakan teladan umat dalam beriman Melalui kegiatan rekoleksi, para prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan diajak untuk semakin mendalami pribadi Tuhan Yesus yang telah menetapkan Ekaristi sebagai kenangan akan diri-Nya. Kegiatankegiatan yang dilakukan antara lain sharing pengalaman, peneguhan melalui Kitab Suci atau sumber lain, doa bersama, dll. Harapannya kegiatan ini bisa diikuti dengan penuh sukacita oleh para prodiakon sehigga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima. Pada akhirnya semoga melalui kegiatan rekoleksi ini para prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan semakin diteguhkan dan menemukan kesadaran baru akan apa yang perlu dilakukan bagi hidup Ekaristi mereka serta berdampak nyata pada tugas pelayanan sebagai prodiakon.

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 B. Rekoleksi sebagai upaya untuk meningkatkan penghayatan dan pelaksanaan Ekaristi bagi prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan 1. Latar belakang kegiatan rekoleksi prodiakon Prodiakon yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan sebagian besar dari latar belakang pekerjaan dan pendidikan yang berbeda. Mereka disatukan berkat menjawab panggilan Tuhan dengan bersedia melayani sebagai prodiakon. Setiap orang yang dipanggil menjadi prodiakon semuanya diajak secara lebih mendalam memiliki kedekatan hubungan dengan Ekaristi. Prodiakon yang baik mengikuti perayaan Ekaristi bukan hanya karena ia sedang bertugas tetapi, menjadikannya sebagai sumber dan puncak hidup serta pelayanannya (Martasudjita, 2010: 32). Dengan demikian, para prodiakon dengan latar belakang yang berbeda perlu dibekali dengan pendampingan bersama agar mampu memiliki kesadaran penuh akan pentingnya Ekaristi bagi hidup dan pelayanan mereka. Prodiakon yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang berbeda masa jabatannya sebagai prodiakon. Ada yang baru menjadi prodiakon selama 1 periode, 2 periode dan bahkan ada yang lebih dari 2 periode. Meskipun berbeda masa jabatannya satu dengan yang lain, para prodiakon saling menyemangati dan menghormati terutama dalam menjalankan tugas pelayanannya. Sikap positif ini perlu tetap dijaga, dibina dan dipupuk melalui kegiatan rekoleksi bersama teman-teman prodiakon.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Usulan kegiatan yang penulis tawarkan dalam bentuk rekoleksi dengan pokok bahasan utama yakni lebih menghayati dan melaksanakan Ekaristi. Rekoleksi ini merupakan kegiatan awal dan jangka pendek bagi para prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Melalui kegiatan ini para prodiakon diajak untuk menggali secara mendalam akan kekayan Ekaristi bagi hidup dan panggilan mereka serta satu sama lain saling berbagi pengalaman. Akhirnya yang diharapkan prodiakon semakin merasa tersapa oleh Tuhan sendiri melalui Ekaristi dan menemukan kesadaran baru untuk semakin mencintai Ekaristi. 2. Tema dan Tujuan Rekoleksi Penulis mengusulkan tema umum rekoleksi yaitu “Menghidupi Ekaristi sebagai Sumber dan Puncak Hidup serta Pelayanan Prodiakon”. Pemilihan tema ini juga bertitik tolak dari hasil penelitian. Prodiakon paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan yang memiliki harapan agar teman-teman prodiakon lebih menghayati Ekaristi sebagai dasar untuk melayani. Tujuan dari kegiatan rekoleksi ini adalah membantu para prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan agar semakin menghayati Ekaristi sebagai bagian yang terpenting, utama dan tak terpisahkan dari hidup serta pelayanannya.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 3. Peserta Setelah penulis berdiskusi bersama romo Modestus Supriyanta, Pr (pastor paroki) pada tanggal 5 Desember 2018 maka peserta yang akan mengikuti kegiatan rekoleksi ini adalah seluruh anggota prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan yang baru saja dilantik. 4. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Tempat kegiatan rekoleksi akan dilaksanakan di gedung pelayan pastoral Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Sedangkan waktu pelaksanaanya pada bulan Februari 2019.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Matrik Kegiatan Rekoleksi Tema umum : Menghidupi Ekaristi sebagai Sumber dan Puncak Hidup serta Pelayanan Prodiakon Tujuan : Membantu para prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan agar semakin menghayati Ekaristi sebagai bagian yang terpenting, utama dan tak terpisahkan dari hidup serta pelayanannya Tabel 1 Matrik Kegiatan Rekoleksi No Waktu Judul Pertemuan Tujuan Uraian Materi Metode Sarana Sumber Bahan Sabtu, 16 Februari 2019 1. 2. 16.00-16.30 WIB Registarsi peserta 16.30-17.00 WIB Pengantar dan doa pembuka Mendata kembali dan mengecek kehadiran peserta. Prodiakon memahami tujuan dari kegiatan rekoleksi yang diadakan serta memohon berkat atas kegiatan ini. Menyampaikan tema umum dan tujuan rekoleksi. Informasi - Presensi - Bolpoin - Mic - Speaker 84

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. 4. 5. 6. 17.00-18.30 WIB Sesi I 18.30-19.00 WIB Makan malam 19.00-21.00 WIB Sesi II 21.00-21.20 WIB Sharing pengalaman dan pendalaman hasil sharing terkait Ekaristi. Masing-masing prodiakon mengumpulkan kembali pengalamannya terkait Ekaristi & mensharingkannya . Membantu prodiakon Membangun mendalami dan semangat hidup menghayati rohani lewat Ekaristi hakikat Ekaristi, sehingga semangat hidup rohani yang menjadikan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidupnya dapat terbangun Refleksi pribadi dan doa malam Mengendapkan kembali pengalaman atau hal baru yang didapatkan pada - Menghidupi semangat Ekaristi dengan mendalami hakikat Ekaristi berdasarkan dokumendokumen Gereja, pandangan para ahli serta Kitab Suci. Materi sesi I dan II Sharing Laptop dan powerpoint untuk merangkum hasil sharing. - Pengayaan informasi - Mic - Speaker - LCD - Laptop - - Dialog - Tanya jawab Refleksi pribadi Pengalaman peserta - Katekismus Gereja Katolik - Iman Katolik - Pengalaman hidup peserta Powerpo int - Kitab Suci Deuterokanonika Handout - Dokumen Konsili Vatikan II - Dokumen EE - Ekaristi (Suharyo, 2011) - Buku - Bolpoin 85

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI hari ini. Minggu, 17 Februari 2019 7. 06.30-07.00 WIB Sarapan 8. 07.30-08.40 WIB Misa 9. 09.00-11.00 WIB Sesi III 10. 11.00-11.30 WIB Ekaristi berbuah nyata melalui kesaksian ditengah pelayanan Sesi IV Kesadaran baru yang akan dilakukan Membekali prodiakon untuk melanjutkan berkat yang diterima melalui Ekaristi dengan mewujudkan kesaksian ditengah-tengah pelayanan Prodiakon menemukan dan mengupayakan - Menggali dan mendalami Ekaristi sebagai dasar pelayanan prodiakon yang menghasilkan buah. - Pengayaan informasi - Laptop - Dialog - Powerpoi nt - Tanya Jawab - Video - Berbagi pengalaman - Mic - Kompendium Tentang Prodiakon (Martasudjita, 2010) - Ekaristi dalam Hidup Kita (Prasetyantha, Y.B, 2008) - Prodiakon Rasul Awam dalam Gereja (Sugiyana, 2006) - Video Paus Fransiskus mencuci dan mencium kaki imigran - Speaker - Handout - Refleksi - Buku - Sharing - Bolpoin 86

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan tindak lanjut dari rekoleksi 11. 11.30 WIB pembaharuan dalam dirinya serta menentukan kegiatatan tindak lanjut dari rekoleksi. Doa penutup dan sayonara 87

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 6. Contoh Satuan Pertemuan I a. Tema : Ekaristi berbuah nyata melalui kesaksian ditengah pelayanan b. Tujuan : Membekali prodiakon untuk melanjutkan berkat yang diterima melalui Ekaristi dengan mewujudkan kesaksian ditengah-tengah pelayanan c. Materi : Ekaristi Dasar Pelayanan Prodiakon d. Metode : Informasi, berbagi pengalaman, sharing, tanya jawab dan dialog e. Sumber Bahan : Ekaristi (Martasudjita, 2012), Kitab Suci, Kompendium Tentang Prodiakon (Martasudjita, 2010), video Paus Fransiskus mencuci dan membasuh kaki imigran f. Sarana : Mic, speaker, LCD, Laptop, powerpoint, video, handout g. Pengembangan Langkah-langkah: 1) Pengantar Bapak/ibu prodiakon yang terkasih kita sungguh bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan rahmat-Nya, karena pada hari ini dalam keadaan sehat kita dapat berkumpul bersama sebagai satu saudara. Terimakasih kepada bapak dan ibu yang dengan kerelaan hati telah berkenan hadir serta mendukung kegiatan bersama ini. Pada kesempatan ini, kita bersama-sama akan mendalami Ekaristi sebagai dasar pelayanan bapak/ibu sebagai prodiakon. Semoga melalui kesempatan

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 ini, kita dapat menemukan suatu kesadaran baru sehingga mampu menghasilkan pembaharuan dalam hidup serta pelayanan. Sebagai orang Kristiani terlebih dengan dipilih menjadi prodiakon bapak/ibu tentu memiliki hubungan yang dekat bahkan akrab terhadap perayaan Ekaristi. Kedekatan ini tentu bukan hanya suatu kebiasaan atau rutinitas. Ekaristi yang merupakan pusat dan puncak hidup maupun semua sakramen perlu untuk didalami maknanya. Bapak/ibu sebagai prodiakon juga dipanggil untuk menjadikan Ekaristi sebagai dasar pelayanan. Sebab berkat kesatuan dengan Kristus dalam Ekaristi, bapak/ibu ditopang dan dikuatkan dalam menjalani panggilan sebagai prodiakon. Marilah pada kesempatan yang berharga ini, kita bersama-sama semakin mendalami Ekaristi sebagai dasar utama kita dalam melayani. 2) Doa Pembuka Allah Bapa yang mahapengasih kami mengucap syukur kepada-Mu atas segala penyertaan-Mu sepanjang hidup kami. Secara khusus terimakasih Engkau telah mengumpulkan kami bersama di tempat ini. Pada kesempatan ini kami bersamasama akan mendalami Ekaristi sebagai dasar pelayanan kami. Maka kami mohon utuslah Roh Kudus-Mu ke tengah-tengah kami, sehingga hati kami dapat mengenal kehendak-Mu melalui tugas pelayanan yang Engkau percayakan. Kami juga mohon berkat-Mu atas seluruh rangkaian kegiatan kami dan semua yang terlibat didalamnya, agar kami saling mendukung dan menguatkan satu sama lain didalam panggilan.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Semua doa serta harapan ini kami sampaikan kepada-Mu melalui perantaraan PuteraMu terkasih Tuhan kami Yesus Kristus. Amin 3) Menyaksikan video Paus Fransiskus a) Pendamping menanyakan kepada peserta apa kesan mereka melihat cuplikan video tersebut? b) Menarik pesan dari video Paus Fransiskus dengan berdasarkan Mat. 5: 38-48. 4) Materi sesi IV: Ekaristi dasar pelayanan prodiakon Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup seluruh umat Kristiani (LG 11), hendaknya dihidupi dan dihayati oleh prodiakon. Prodiakon dan kita semua dipanggil untuk menjadikan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup (Martasudjita, 2010: 33). Melalui Ekaristi hidup kita disegarkan dan memperoleh sumber kekuatan baru, untuk siap sedia melayani sesama seperti Tuhan Yesus sendiri. Ekaristi juga merupakan Sakramen Cinta Kasih karena mengungkapkan kasih kepada Allah dan umat manusia. Oleh karena itu, berkat Ekaristi dasar pelayanan yang pertama-tama perlu dimiliki prodiakon adalah kasih kepada Allah dan kepada mereka yang dilayani. Kita ingat kembali bahwa pada malam perjamuan terakhir, Yesus membasuh kaki para murid-Nya yang mengungkapkan bentuk perendahan diri dengan pelayanan seorang hamba (Yoh.13). Pembasuhan kaki dalam Injil Yohanes melukiskan makna Ekaristi sebagai ungkapan kasih Yesus yang begitu besar bagi para murid-Nya. Apa yang telah diperbuat Yesus dengan membasuh kaki para murid-Nya juga hendaknya

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 menjadi dasar pelayanan yang dimiliki oleh prodiakon dan semua murid Kristus. Melalui pembasuhan kaki, Yesus memberikan suatu teladan bagi kita semua untuk saling melayani satu sama lain seperti Dia yang datang bukan untuk dilayani melainkan melayani. Begitu pula prodiakon paroki, dalam pelayanannya ia harus menanggalkan semua anggapan dan pemikiran bahwa dirinya lebih pandai, harus diistimewakan, dll. Hidup seorang prodiakon sebagai pelayan sejati adalah menyatakan kehidupan Kristus, seperti yang Paulus lakukan (Suharyo, 1994: 27). Paus Benediktus XVI menyampaikan bahwa orang yang semakin mendalami dan menghidupi Ekaristi justru akan menjadi orang yang semakin terlibat aktif dalam kegiatan Gereja dan masyarakat. Justru dalam Ekaristi, orang tersebut memperoleh kekuatan dan topangan hidup perutusannya. Tanpa dasar dan jiwa pengalaman kesatuan dengan Tuhan terutama dalam Ekaristi, karya pelayanan prodiakon menjadi kosong dan hampa, serta cenderung menjadi pencarian nama diri. Tanpa pernah mau tinggal dalam Kristus khususnya dalam Ekaristi, karya pelayanan prodiakon cenderung menjadi sarana pencarian pujian dan kemuliaan diri sendiri dan bukan demi kemuliaan Allah (Martasudjita, 2012: 148). Apa yang telah disampaikan oleh Benediktus XVI juga berlaku bagi pelayanan prodiakon yakni menjadikan Ekaristi sebagai sumber kekuatan utama dan topangan hidup tugas perutusannya. Hal ini terjadi, berkat Ekaristi prodiakon mengalami kesatuan dengan Tuhan Yesus sendiri. Hanya melalui kesatuan dengan Tuhan Yesus yang didasari iman menjadikan prodiakon senantiasa dipenuhi sukacita, penghiburan dan kekuatan dalam tugas

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 pelayanannya. Kesatuan prodiakon dengan Tuhan Yesus, pertama-tama memampukan prodiakon untuk melaksanakan tugas utama pelayanannya yakni demi kemuliaan Allah dan bukan pencarian nama diri. Martasudjita, 2010: 34 menegaskan bahwa mengikuti perayaan Ekaristi dan ambil bagian dalam komuni suci, menjadikan kita turut serta dalam seluruh misteri paskah Kristus yakni wafat dan kebangkitan-Nya. Ikut serta dalam misteri Paskah berarti juga turut serta dalam semangat berbagi hidup dari Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus yang adalah Putera Tunggal Allah, rela berbagi hidup dengan memberikan diri sepenuhnya bagi keselamatan banyak orang. Begitu pula bagi para prodiakon yang memiliki jati diri sebagai seorang pelayan. Berkat ikut serta dalam perayaan Ekaristi yang dihayati dengan sepenuh hati akan memapukan prodiakon menghidupi semangat berbagi kepada sesama dalam pelayanannya. Berkat ambil bagian dalam Ekaristi, setiap orang beriman termasuk prodiakon dipanggil untuk melayani setiap orang dengan murah hati dan gembira. Secara khusus, Tuhan Yesus sendiri mengajak kita memberikan perhatian lebih kepada orang-orang yang hina dina, seperti yang terdapat dalam Mat.25:40 (Martasudjita, 2010: 34). Bahkan dalam seluruh karya dan hidup-Nya, Yesus senantiasa hadir bagi mereka yang miskin, lemah, tersingkir dan dianggap berdosa. Hal inilah yang semestinya menjadi semangat pelayanan prodiakon yakni meneladani Kristus sendiri, dimana Ia hadir memberikan sukacita dan harapan bagi mereka yang miskin, lemah, tersingkir dan dianggap berdosa. Sikap yang perlu dihindari oleh prodiakon dalam

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 tugas pelayanannya adalah pilih-pilih terhadap umat yang dilayani. Selain itu, dalam menjalankan tugas pelayanan sebagai prodiakon janganlah mengharapkan upah/imbalan. Sebab, Tuhan Yesus sendiri berfirman kepada kita semua untuk murah hati seperti Bapa yang adalah murah hati (Luk.6:36). Ekaristi merupakan dasar pelayanan prodiakon dapat dirangkum sebagai penghayatan iman yang menjadikan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup serta pelayanan prodiakon. Berkat ambil bagian dalam Ekaristi, prodiakon dan umat beriman mengalami kesatuan dengan Tuhan Yesus. Pengalaman kesatuan dengan Tuhan merupakan kekuatan utama dan topangan hidup tugas perutusn prodiakon. Hanya melalui kesatuan dengan Tuhan Yesus yang didasari iman prodiakon senantiasa dipenuhi sukacita, penghiburan dan kekuatan dalam tugas pelayanannya. Kesatuan prodiakon dengan Tuhan Yesus, pertama-tama memampukan seorang prodiakon untuk melaksanakan tugas utama pelayanannya yakni demi kemuliaan Allah. 5) Tanya jawab Pendamping memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya terkait Ekaristi sebagai dasar pelayanan prodiakon. Apabila ada peserta yang ingin membagikan pengalamannya untuk meneguhkan satu sama lain terkait Ekaristi sebagai dasar pelayanannya juga dipersilahkan.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 6) Doa Penutup Allah, Bapa yang mahabaik, kami bersyukur atas berkat dan penyertaan-Mu selama kegiatan kami pada hari ini. Kami juga bersyukur atas setiap pribadi yang kami jumpai dan pengalaman yang boleh kami dapatkan. Mampukanlah kami untuk semakin mencintai Ekaristi dan mewujudnyatakannya dalam pelayanan kami seharisehari. Semoga melalui Ekaristi, kami senantiasa meneladani Engkau Sang tedalan utama kami dalam melayani. Kami serahkan seluruh hidup dan pelayanan kami kedalam tangan-Mu. Biarlah kehendak-Mu yang terjadi atas diri kami, karena hidup kami sepenuhnya adalah milik-Mu. Semua ini kami sampaikan kepada-Mu, dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. (Amin)

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 BAB V PENUTUP Pada bagian terakhir ini penulis akan menyampaikan dua pokok bahasan. Bagian pertama merupakan kesimpulan terkait makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon. Sedangkan bagian kedua berisi saran bagi pihak-pihak yang terkait dalam penulisan skripsi ini. A. Kesimpulan Ekaristi merupakan bagian terpenting dalam kehidupan seluruh umat beriman sebagai Gereja umat Allah, yang dipersatukan dengan Kristus berkat kurban diri-Nya. Hal ini dapat kita temukan dan diperkuat dalam bacaan Kitab Suci serta dokumendokumen Gereja yang berbicara mengenai Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristi, keterlibatan prodiakon memiliki peranan yang cukup penting yakni membantu imam untuk menerimakan tubuh dan darah Kristus kepada umat beriman. Oleh karena itu, prodiakon adalah seorang awam yang memiliki kedekatan hubungan dengan Ekaristi. Kedekatan hubungan ini hendaknya didasari penghayatan dan kepercayaan iman yang teguh untuk menjadikan Ekaristi sebagai dasar dan pusat pelayanan prodiakon. Berdasarkan hasil penelitan, prodiakon paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan sebagian besar mengemukakan bahwa bagian Ekaristi yang paling menyentuh dan memperkembangkan hidup beriman maupun pelayanan mereka adalah pada saat liturgi Sabda dan konsekrasi. Pendapat ini kembali

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 mempertergas SC 56 yang mengatakan bahwa bagian pokok Ekaristi terdiri dari 2 bagian besar yakni liturgi Sabda dan liturgi Ekaristi. Hal ini berdasar pada iman yang teguh bahwa melalui Sabda Tuhan dan komuni, Kristus sungguh hadir secara nyata. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa para prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan menyadari akan peranan Ekaristi yang penting bagi hidup pelayanan mereka. Meskipun demikian, hanya beberapa responden yang sungguh-sungguh meya. Teladan utama para prodiakon dalam menjalankan tugas pelayanan adalah Kristus sebagai kurban Ekaristi, yang rela memberikan diri-Nya demi keselamatan banyak orang. Maka dari itu, para prodiakon pun mau memberikan dirinya demi melayani orang lain terutama mereka yang sangat membutuhkan. Para Prodiakon menyadari bahwa Ekaristi menguatkan mereka dalam menjalani panggilan. Bacaan Kitab Suci, homili dan terlebih berdasarkan kesatuan dirinya dengan Kristus melalui komuni suci, memampukan mereka untuk siap diutus sebagai saksi Kristus ditengah-tengah hidup maupun pelayanan sebagai prodiakon. Dalam menjalani panggilan sebagai prodiakon tidak terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi. Terkadang muncul pula berbagai keprihatinan yang terjadi dalam pelaksanaan pelayanan. Untuk itu, prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan memiliki harapan agar pertama-tama teman-teman prodiakon lebih mencintai Ekaristi. Hal ini dapat terwujud melalui penghayatan dan peningkatan pelaksaan dalam Ekaristi baik saat bertugas maupun tidak. Apabila prodiakon sudah sungguh menghayati Ekaristi sebagai bagian terpenting bagi dirinya, maka ia dapat

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 lebih semangat, bertanggungjawab dan setia dalam pelayanan. Oleh karena itu, para prodiakon secara bersama-sama dalam keadaan lengkap perlu diberikan pendampingan atau pembekalan baik terkait hidup rohani maupun pengetahuan seputar panggilan dan tugas pelayanannya. Tujuannya agar mereka semakin diteguhkan dan disemangati serta dapat menemukan Tuhan dalam setiap peristiwa hidupnya. Dengan demikian, penulis mengusulkan kegiatan awal jangka pendek yang berbentuk rekoleksi untuk menggali dan mendalami Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup serta pelayanan prodiakon. B. Saran Berdasarkan kesimpulan, pengalaman serta refleksi penulis terkait penelitian makna Ekaristi terhadap perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, ada beberapa saran yang akan disampaikan. 1. Pastor paroki Peranan romo paroki sangat berpengaruh bagi prodiakon. Sapaan, dukungan dan perhatian romo paroki membuat prodiakon disemangati dalam tugas pelayanannya. Karena peranan romo paroki sangat penting, penulis menyarankan untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini dengan membuat suatu kegiatan atau program pendampingan yang terstruktur dalam bentuk pendalaman iman, sarasehan

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 rekoleksi atau seminar bagi prodiakon agar semakin berkembang terutama dalam hidup rohani, pengetahuan dan keterampilan. Maksud dari kegiatan atau program pendampingan tersebut adalah untuk membekali, menyemangati dan memupuk iman, pengetahuan serta keterampilan para prodiakon. Selain berupa kegiatan atau program pendampingan ternyata dukungan serta perhatian dari romo paroki juga dapat berupa kehadiran romo saat ada pertemuan prodiakon seperti yang saat ini sudah dilakukan. Kehadiran romo saat pertemuan prodiakon ini membuat mereka sungguh-sungguh merasa diperhatikan dan didukung sebagai mitra kerja dalam tugas pelayanan. 2. Dewan Pastoral Paroki Bidang Pewartaan Dewan pastoral paroki bidang pewartaan dapat bekerja sama dengan romo paroki untuk mengadakan suatu kegiatan yang mendukung perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon melalui Ekaristi. Kegiatan tersebut dapat berupa temu prodiakon antar paroki. Tujuan dari kegiatan ini untuk berbagi pengalaman, wawasan serta saling mendukung dan menyemangati satu sama lain. Dalam kegiatan ini dewan pastoral paroki bisa menghadirkan narasumber yang berkompeten dibidang spiritualitas pelayanan prodiakon. 3. Prodiakon Salah satu cara untuk mengembangkan hidup pelayanan, prodiakon perlu membuat program kerja bersama yang disepakati berdasarkan hasil diskusi. Harapannya program kerja bersama ini dapat meningkatkan pelayanan prodiakon

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 terhadap umat yang dilayani. Selain itu penulis juga menyarankan agar prodiakon saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain. Tanpa disadari sapaan, perhatian dan kepedulian terhadap teman-teman prodiakon satu sama lain membuahkan hal yang positif. Meskipun terlihat sederhana namun memiliki kedalaman makna. Dukungan ini dapat berupa saling memotivasi, berbagi pengalaman dan informasi, mengingatkan untuk datang pertemuan, dll. Selain itu prodiakon juga perlu menyemangati dan memperkembangkan dirinya dengan rajin mengikuti Ekaristi sebagai suatu kerinduan, membaca Kitab Suci, membina hidup doa, membuat jadwal pribadi, memasang dan menstabilo jadwal bertugas di gereja, mengikuti kegiatan-kegiatan yang memperkembangankan hidup beriman, dll.

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 DAFTAR PUSTAKA Banawiratma., Tom Jacobs., Kieser., Suharyo dan Emmy Tranggani. (1994). Teologi dan Spiritualitas. Yogyakarta: Kanisius. Eko Riyadi (2011). Yohanes “Firman Menjadi Manusia”. Yogyakarta: Kanisius. . Markus “Engkau adalah Mesias”. Yogyakarta: Kanisius. . Matius “Sungguh Ia ini adalah Anak Allah”. Yogyakarta: Kanisius. Go P.O., Jacobus Tarigan., Krissantono dan Djoko Pranoto. (1994). Bahan Pengembangan Kerasulan Awam. Jakarta: PT Gramedia. Hadisumarta, F.X. (2013). Ekaristi. Jakarta: Obor. Hardawiryana, R. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Obor. Heryatno, F.X. (2009). Buku PAK Sekolah IPPAK USD. Yogyakarta. Komisi Liturgi KWI. (2002). Pedoman Umum Misale Romawi. Jakarta: Obor. Konferensi Waligereja Indonesia. (1995). Katekismus Gereja Katolik. Edisi Indonesia. Diterjemahkan oleh: Herman Embuiru. Ende: Arnoldus .(1996). Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius. Lembaga Alkitab Indonesia. (2009). Kitab Suci Deuterokanonika. Jakarta: LAI. Madya Utama, Ignatius L. Diktat Mata Kuliah Sakramentologi. .(2018). Menjadi Katekis Handal di Zaman Sekarang.Yogyakarta: Sanata Dharma University Press. Mangunhardjana. (2017). Prodiakon, Jati Diri, Wewenang Dan Tugasnya. Jakarta: Obor. Martasudjita, E. (2000). Mencintai Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius. .(2005). Ekaristi Tinjauan Teologis, Liturgis dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius. .(2006). Spiritualitas Pelayanan Kristiani. Yogyakarta: Kanisius. .(2010). Kompendium Tentang Prodiakon. Yogyakarta: Kanisius. .(2012). Ekaristi Makna Dan Kedalamannya Bagi Perutusan Di Tengah Dunia.Yogyakarta: Kanisius. Nouwen, Hendri J.M. (1986). Pelayanan Yang Kreatif. Yogyakarta: Kanisius. Prasetya, L. (2007). Prodiakon Itu Awam, Lho!. Yogyakarta: Kanisius. Prasetyantha, Y.B. (2008). Ekaristi dalam Hidup Kita. Yogyakarta: Kanisius. Rulam Ahmadi. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-ruzz media Sekretariat KWI. (1991). Kitab Hukum Kanonik : Terjemahan. Jakarta: Obor & Sekretariat KWI. Siswata, Y. (1991). Prodiakon Paroki. Yogyakarta: Kanisius. Sugiyana, F.X. (2006). Prodiakon Rasul Awam Dalam Gereja.Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara. Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Suharyo, I. (2011). Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius. . (1994). Kristus Dan Pelayanan. Bandung: Justitia Offset. Majalah Melintas, Hal 27-38. Edisi Tahun 1994. Sukawalyana, Ignatius. (2006). Benih-Benih Iman Umat Nanggulan Menyejarah. Nanggulan Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. (2014). Ecclesia de Eucharistia (Ekaristi dan Hubungannya dengan Gereja). Terjemahan oleh Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFM.Cap. Jakarta http://www.mirifica.net/2017/01/26/10-pernyataan-bijak-fransiskus-dari-salestentang-membangun-budaya-damai/ diakses 17 Desember 2018 pukul 17.16 WIB

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1: Surat Ijin Penelitian (1)

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2: Surat Keterangan Selesai Penelitian (2)

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3: Daftar Pertanyaan Wawancara Pertanyaan Wawancara 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor (3)

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon ? 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! (4)

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4: Hasil Transkip Wawancara No Identitas Kode: R1 1 Nama A.G Umur 72 Pekerjaan Petani Masa jabatan 2 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Merasa gembira dan diteguhkan oleh Tuhan” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Mendapat ketenangan dan ketentraman lahir batin”. 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Iman diteguhkan melalui pengorbanan Yesus dalam Ekaristi”. 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! “Bisa melayani umat secara tulus dan ikhlas terutama bagi mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan. Misalnya: melayani mereka yang tidak bisa hadir ke gereja karena sudah berusia lanjut”. 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Bisa melayani umat yang betul-betul tidak bisa hadir dalam Ekaristi”. (5)

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Melayani umat dalam Ekaristi tidak pandang bulu. Setiap petugas datang apabila berhalangan tetap dikomunikasikan terlebih dahulu”. 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Dalam keluarga: sepulang mengikuti perayaan Ekaristi bersalaman kepada istri dan anak, sebagai tanda kegembiraan dan berkat. Dalam masyarakat yang majemuk: berusaha bisa merata dan membaur dengan warga masyarakat. 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Berkat dilantik Bapak Uskup dalam Ekaristi kita yang diberi kewenangan harus bertanggung jawab. Karena Tuhan Yesus sendiri yang melantik melalui Bapak Uskup untuk membantu pastor. Bagian Ekaristi yang paling mendukung perkembangan spiritualitas pelayanan sebagai prodiakon adalah pada saat konsekrasi.” 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Rasa tanggungjawab dalam bertugas masih kurang dipegang teguh”. 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon ? “Dengan menerima Tubuh Kristus seharusnya menggugah hati nurani dan semangat dalam pelayanan”. 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! (6)

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Dengan adanya misa inkulturasi bisa mendukung kedalaman dan kerinduan iman umat”. (7)

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R2 2 Nama Y. B Umur 64 Pekerjaan Pensiunan Masa jabatan 1 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Merasa diteguhkan dan gembira karena itu merupakan panggilan serta kebutuhan (seperti manusia perlu makan apabila tidak dipenuhi makan akan lapar).” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Merasa dilindungi, diberi perjanjian akan karunia Tuhan yang akan kita terima apabila kita tekun mengikuti Ekaristi. Melalui Ekaristi, Tuhan sendiri yang datang. Kita berdoa Tuhan perbuatlah sekehendak-Mu atas diri saya untuk menuntun berbuat baik, berbakti kepada Tuhan dan melayani sesama”. 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Tuhan datang secara pribadi dalam Ekaristi. Oleh karena itu kita harus tekun dan sungguh-sungguh memperhatikan (fokus). Harus fokus memperhatikan karena pikiran seseorang biasanya tidak stabil. Maunya ketika ke luar dari rumah mau ke gereja harusnya fokus untuk mendengar Sabda-Nya, perkataan-Nya. Kita semua adalah tamu dalam perayaan Ekaristi maka kita perlu menghormati dan mempersiapkan diri”. 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! (8)

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Menghayatinya sebagai suatu panggilan. Merupakan suatu kesempatan untuk mengabdi Tuhan dan melayani sesama mumpung masih ada waktu dan berusaha melakukan sebaik-baiknya.” 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Suatu karunia yang luar biasa untuk melayani sesama (seperti mengirim komuni kepada orang sakit”. 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Kebutuhan umat terlayani dengan adanya 3 kali misa, misa di lingkungan juga tercukupi”. 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Menyiapkan diri sebelum misa dan ketika pulang menebarkan sukacita baik dalam keluarga maupun orang yang kita jumpai.” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Teman-teman prodiakon yang datang melaksanakan tugasnya sesuai jadwal dan apabila berhalangan dikomunikasikan terlebih dahulu”. 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Lagu baru yang kurang familiar bagi umat”. 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon ? (9)

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Pelayanan utama prodiakon dalam Ekaristi. Kemudian apa yang didapat dalam Ekaristi itulah yang dibagikan kepada umat sebagai bentuk pelayanan”. 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Sudah standar. Petugas koor sebaiknya memberitahukan lagu baru dan halaman lagu yang dinyanyikan supaya dapat lebih meresap dihati umat yang hadir.” (10)

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R3 3 Nama F.X.S Umur 53 Pekerjaan Karyawan perusahaan Masa jabatan 1 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Ekaristi dipandang sebagai suatu penghayatan yang sungguh dirindukan. Apabila tidak ikut misa 1 kali saja dalam satu Minggu rasanya sudah lama tidak mengikutinya. Melalui Ekaristi juga semakin diteguhkan. Pernah punya pengalaman misalnya tidak enak badan tetapi tetap pergi ke gereja. Ketika pulang merasakan badan sudah baikkan”. 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Bacaan Kitab Suci (sebelum mengikuti perayaan Ekaristi sudah dari dulu membiasakan diri untuk membaca dan merenungkan Sabda-Nya). Hal pokok dalam Ekaristi selain bacaan Kitab Suci adalah konsekrasi.” 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Yesus sungguh hadir melalui Ekaristi. Pernah punya pengalaman saat konsekrasi melihat hosti menjadi lebih besar dan piala bersinar serta melihat isi dalam gereja penuh dengan umat. Selain itu, melalui Ekaristi semakin diteguhkan sebab Yesus wafat untuk kita.” 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! “Bersyukur karena bisa melayani umat baik di lingkungan maupun paroki, bisa membantu membagikan dan mengantarkan komuni. Merasa senang (11)

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bisa melayani meskipun banyak tantangan tetap dijalani dengan sukacita. Awal menjadi prodiakon merasa ragu dan takut tapi lama kelamaan dibentuk oleh Tuhan Yesus sendiri.” 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Selama saya masih dapat melayani maka saya akan tetap melayani. Misalnya meskipun umat yang datang sedikit ketika akan doa bersama tetap melaksanakannya. Dan yang terpenting melalui doa umat merasakan sukacita”. 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Semuanya positif. Jadwal perayaan Ekaristi yang ada membantu umat untuk menyesuaikan dengan waktu mereka masing-masing. Susunan perayaan Ekaristi (liturgi dan tata caranya) di Nanggulan maupun paroki lain sebenarnya sama hanya yang membedakan terbiasa dan tidaknya.” 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Sebagai suami-istri satu sama lain saling mendukung dan mengingatkan terutama ketika mau bertugas. Sesuatu yang didapat melalui Ekaristi nantinya dikembangkan dalam lingkungan. Selain dalam Ekaristi juga terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan seperti: gotong royong, dll. Apabila ada tugas gereja yang bertepatan dengan hari kerja maka biasanya ijin dari perusahaan meskipun nanti gajinya dipotong. Hal ini dilakukan untuk membalas kebaikan Tuhan yang telah rela mengorbankan diri demi kita.Percaya bahwa Tuhan akan memberi lebih banyak” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? (12)

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Dukungan dari keluarga dan sebagian umat yang mendukung tugas pelayanan sebagai seorang prodiakon. Bagian Ekaristi yang dianggap sangat membantu memperkembangkan semangat pelayanan sebagai prodiakon adalah konsekrasi. Hal ini dihayati sebagai doa dan ungkapan syukur meskipun Yesus tahu bahwa Ia akan dihukum mati. Begitupula kita harus tetap bersyukur dalam suasana apapun baik saat sulit maupun gembira.” 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Saat perayaan Ekaristi berlangsung masih saja ada yang mainan HP, ada yang bicara keras-keras. Selain itu masih saja ada yang datang terlambat sehingga mengganggu. Terkadang ada pula petugas yang tidak datang padahal sudah dijadwalkan.” 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon ? “Semakin diteguhkan sehingga lebih sungguh-sungguh dalam melayani baik didalam Ekaristi, keluarga maupun doa-doa lingkungan.” 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Ekaristi itu sudah baik, yang diperlukan adalah bagaimana kita sungguhsungguh memaknainya.” (13)

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R4 4 Nama M.K Umur 47 Pekerjaan Guru Masa jabatan 2 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Merasa gembira tetapi hal itu sulit diungkapkan. Hal ini tergantung dari prosesi Ekaristi, terutama khotbah romo serta bacaan Kitab Suci (ada yang mudah dimengerti dan pas dengan situasi kehidupan). Ekaristi adalah sesuatu hal yang dirindukan. Terkadang juga terasa monoton atau sebatas formalitas” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Pertama-tama Bacaan Kitab Suci (yang ditekankan adalah mendengarkan tetapi karena ada teks sebagian besar umat membaca). Kemudian berusaha untuk konsentrasi pada waktu penerimaan Sakramen Maha Kudus meskipun kadang-kadang gagal karena pikiran kacau. Saat bertugas menjadi prodiakon berusaha semaksimal mungkin meresapi bahwa saya membagikan Sang Kristus.” 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Harus mengingat setelah menerima Tubuh Kristus bahwa Tuhan ada dalam diri saya. Pernah punya pengalaman dihadapkan pada situasi yang memancing emosi tetapi setelah mengingat bahwa membawa Kristus dalam diri saya maka hal tersebut saya tahan, meskipun terkadang juga tidak bisa terkontrol. Selain itu juga mendapatkan pengalaman iman dari (14)

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bacaan yang mengena dengan peristiwa hari itu, sehingga merasa mantap (diteguhkan)." 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! “Pertama secara manusiawi saya terprogram atau teragendakan harus dekat dengan Kristus dan harus Ekaristi (saat dulu pada singkon tertentu pernah merasa malas untuk datang ke gereja). Kedua, mendapat kesempatan yang lebih besar untuk membaca Kitab Suci. Misalnya saja perlu membuka dan membaca Sabda Tuhan ketika akan memipin ibadat atau doa. 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Merasakan saya bisa terlibat dalam 5 tugas pokok gereja. Kemudian sebagai prodiakon merasa lebih dimantapkan dalam melayani umat baik ketika doa, memberi renungam atau ketika dibutuhkan. Dengan menjadi prodiakon keterlibatan saya dalam tugas pokok gereja menjadi tampak nyata bagi diri saya.” 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Pada moment tertentu saat penghayatan lebih besar meskipun sedang tidak bertugas sebagai prodiakon terutama dalam konsekrasi Yesus berkorban, maka apa yang bisa saya korbankan. Hal ini menambah titik semangat sehingga saya berusaha memberikan diri saya pada gereja. Terkadang juga merasa diberi semangat untuk membaktikan diri pada gereja melalui lagu-lagu saat perayaan Ekaristi (Contohnya lagu persembahan ‘Betapa Hatiku’). Selain itu, melalui homili romo terkadang juga mengingatkan dan membangkitkan semangat pelayanan prodiakon. (15)

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Tanpa kata-kata mengarah kepada mrytria. Karena membawa Tuhan Yesus dalam diri maka saya berlaku baik dalam keluarga. Contohnya: bakti kepada orang tua (menjenguk) sebagai bentuk kasih dan hormat kepada orang tua. Begitu pula di masyarakat berusaha membuka dan memberikan diri menjenguk warga yang sedang sakit atau datang ketika ada yang meninggal meskipun tengah malam. Meskipun demikian, sekarang dirasa kurang karena pengaruh lingkungan.” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Lagu-lagu saat perayaan yang mengena, khotbah romo, Sabda Tuhan yang mengarah pada pelayanan dan kehidupan menggereja, serta penghayatan saat konsekrasi.” 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Pertama, pelaksanaan gerakan liturgis yang terkesan hanya formalitas (sistem yang sudah terbiasa sejak lama tetapi tetap diterapkan) dan kelihatannya sepele tetapi menghambat karena hal tersebut kurang dipahami maksud atau maknanya. Kedua, pedoman Ekaristi berkaitan dengan doa permohonan pada hari Minggu yang utama adalah mohon untuk Gereja, nusa bangsa, KLMTD serta untuk kita. Kadang-kadang yang dijumpai dalam kenyataan susunannya tidak seperti itu. Kemudian jawaban dalam doa umat dulu rata-rata ‘kabulkanlah doa kami’ tetapi kemudian ada ‘selamatkanlah kami’, dll. Selain itu lagu-lagu dalam Ekaristi kadang-kadang umat tidak bisa mengikuti karena lagu baru dari teks tetapi sekarang romo sudah mengingatkan untuk menggunakan madah bakti sehingga umat bisa terlibat. Kendala teknis yang terjadi alat untuk (16)

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menulis nomor lagu kadang-kadang eror dan nomor lagu kadang lupa diberitahukan kepada umat. Selain itu umat yang terlambat datang dalam Ekaristi juga menjadi keprihatinan.” 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon ? “Harapannya Ekaristi enak diikuti dan bisa ditangkap pesannya bisa menambahkan gairah semangat pelayanan prodiakon. Misalnya khotbah romo yang enak (tidak memvonis) tetapi kesempatan untuk mengguggah keterlibatan umat secara keseluruhan.” 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Dari segi Ekaristinya enak untuk diikuti umat mulai dari lagu (sehingga umat lebih aktif dan tidak terkesan menunggu), lektor membaca bacaan dengan jelas, kejelasan vocal pemazmur, khotbah romo yang tidak monoton dan mengena, prosesi konsekrasi yang sakral perlu sungguhsungguh dijiwai. Harapannya umat juga semakin belajar untuk menghayati Ekaristi dan nantinya bisa menerapkannya baik dalam keluarga maupun masyarakat.” (17)

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R5 5 Nama P.S Umur 72 Pekerjaan Pensiunan Masa jabatan 3 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Merasa senang dan gembira karena dimurnikan kembali melalui seruan tobat serta Ekaristi merupakan kebutuhan. Dengan Ekaristi kita bersih kembali serta ada kepasrahan total kepada Tuhan.” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Bacaan Kitab Suci dan khotbah romo serta pada waktu konsekrasi (Tuhan hadir).” 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Merasa diteguhkan dan dikuatkan serta merupakan kesempatan penyerahan diri secara total karena disitu ada seruan tobat sehingga merasa bersih kembali.” 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! “Bisa membagi pengalaman dan merasa senang karena orang lain pun turut bahagia atas tugas yang saya lakukan. Selain itu juga merasa senang karena bisa membantu membagikan komuni serta melayani orang sakit.” (18)

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Bisa meringankan beban, membantu menyelesaikan persoalan serta membagikan sesuatu yang kita punya (tentu tidak hanya sebatas omongan dan yang terpnting adalah tanpa pamrih). Saya juga bersyukur atas rahmat yang Tuhan berikan (kesehatan jasmani & rohani, semua fasilitas). Rasa syukur tersebut saya wujudkan dalam pelayanan di gereja maupun masyarakat.” 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Dengan budaya kita yang menyatu dengan Ekaristi membuat umat lebih bisa mengekspresikan diri terhadap kasih Tuhan. Contohnya hari-hari tertentu menggunakan busana Jawa, gamelan.” 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Keluarga merupakan bagian dari Kristus (dengan Kristus sebagai kepala). Oleh karena itu, dalam kebersamaan baik dalam keluarga maupun masyarakat kita harus saling menghargai, membantu serta ikut merasakan apa yang dirasakan satu sama lain. Selain itu, dalam keluarga setiap sore mengadakan ibadat penutup hari (setelah doa malaikat Tuhan).” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Kebersamaan dalam menjalankan tugas-tugas sebagai prodiakon serta memiliki kepekaan terhadap situasi dan kondisi yang terjadi. Misalnya ketika kita sudah datang, ternyata prodiakon kurang maka segera masuk dan bertugas.” (19)

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Mencari dan mengangkat yang muda atau keluarga muda untuk menjadi prodiakon. Selain itu yang menjadi keprihatinan adalah ada prodiakon yang kurang berani memimpin ibadat Sabda dengan alasan kurang pengetahuan dan kemampuan.” 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon ? “Ekaristi tidak hanya cukup di gereja tetapi diteruskan melalui ibadat di rumah bersama keluarga sekaligus untuk membimbing yang muda-muda.” 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Sepulang Ekaristi menyadari bahwa kita orang bersih, lepas dari segala ketidakpastian dan kekhawatiran. Contohnya habis misa tidak mudah marah terhadap sesama. Kita semua diajak untuk pasrah kepada Tuhan secara total seperti dalam Ekaristi.” (20)

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R6 6 Nama Y.M Umur 71 Pekerjaan Pensiunan Masa jabatan 5 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Pasti merasa gembira sebab itu memang jiwa kita. Selama Ekaristi kita bertemu sendiri dengan Tuhan. Selain itu juga merasa diteguhkan dan dikuatkan sebagai seorang beriman.” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Ketika romo memberikan khotbah (sejauh mana Sabda Tuhan itu bisa menyentuh/menyapa pribadi sehingga bisa diaktualisasikan pada kehidupan). Selain itu, tata Ekaristi perlu sungguh didalami maknanya.” 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Sabda Tuhan yang mengingatkan serta mempengaruhi sikap dan perilaku kehidupan kita (hidup sesuai Sabda Tuhan).” 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! “Bukan suatu kehormatan (biar dilihat orang) tetapi bisa menjadi tangan kanan Gereja untuk melayani umat.” 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! (21)

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Merupakan suatu berkat yang berasal dari Tuhan sendiri. Pelayanan perlu dilakukan dengan ikhlas dengan harapan Tuhan juga memberkati rahmat/berkat bagi pribadi maupun keluarga.” 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Antar prodiakon saling membantu dan bekerjasama ketika salah satu berhalangan hadir. Hal ini di Nanggulan sudah berjalan dengan baik (kadang juga sulit) tapi tetap diarahkan dimana ada kekosongan teman yang hadir tanggap untuk membantu.” 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Makna dan jiwa Ekaristi berangkat dari Sabda Tuhan dan berpuncak pada penerimaan tubuh dan darah Kristus menjadi kekuatan untuk mengabdi keluarga, masyarkat dan kepada Tuhan sendiri. Dalam keluarga: membudayakan doa bersama (setiap pagi, paling tidak bersama istri). Doa bersama tersebut diawali dengan ungkapan syukur, membaca Kitab Suci pada hari itu (dijabarkan/direnungkan semampunya lewat Sabda hari ini saya harus seperti apa dan bagaimana). Setelah itu memanjatkan doa tidak hanya untuk kepentingan pribadi dan keluarga tetapi, juga mendoakan Bapa Paus dan semua pelayan Gereja baik yang masih aktif bekerja dan mereka yang sudah meninggal serta mendoakan sanak saudara tetangga maupun saudara yang berada di tempat jauh. Kemudian dalam masyarakat yang plural mengutamakan toleransi, hormat-menghormati kepercayaan lain. Contoh konkrit ketika tetangga mengadakan doa, kami diundang dan sebaliknya. Mereka yang hadir berdoa sesuai imannya masing-masing. Berusaha untuk menjadi garam dan pelita dalam kehidupan bermasyarakat semaksimal mungkin. Peran saya sebagai orang gereja untuk melayani (22)

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI masyarakat. Tuhan masih memakai pribadi saya untuk mengembangkan kabar keselamatan.” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Ketenangan umat (berpartisipasi aktif dalam semua proses Ekaristi).” 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Keprihatinan untuk mencari generasi penerus prodiakon.” 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Harapannya semua teman-teman prodiakon semakin happy, komit dan professional menjalankan pelayanannya selama Ekaristi.” 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Harapannya semoga umat semakin mencintai Ekaristi (tidak hanya sekedar datang tetapi tetap tekun dan menerapkan maknanya dalam kehidupan konkrit).” (23)

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R7 7 Nama P.M Umur 58 Pekerjaan Guru Masa jabatan 1 periode (Tim kerja) 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Melalui Ekaristi saya merasa senang, diteguhkan dan dikuatkan iman serta pengharapan akan kehidupan yang akan datang karena Ekaristi merupakan puncak kehidupan Gereja.” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Sejak awal peranan romo sangat berpengaruh bagi saya pribadi (cara pengahayatan/pembawaan dalam memimpin Ekaristi). Bagian dalam Ekaristi yang sungguh saya hayati yaitu doa tobat, kemuliaan dan berpuncak pada konsekrasi. Pada bagian konsekrasi saya sungguh merasa tersentuh dengan kehadiran Tuhan dalam Ekaristi meskipun tidak selalu.” 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Semakin dikuatkan pada saat konsekrasi dimana Tuhan Yesus hadir dalam rupa anggur dan roti. Saya menghayati Yesus sungguh hadir dan mengorbankan diri-Nya (jiwa dan raga) untuk keselamatan saya dan semua orang beriman. Hal ini saya hayati mulai dari doa tobat (mengakui dan menyadari kelemahan serta kekurangan) dan berpuncak pada konsekrasi.” 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! (24)

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Awalnya saya merasa tidak pantas dan kurang percaya diri. Setelah dijalani saya merasa bersyukur karena dipercaya oleh umat seturut kehendak Tuhan menjadi prodiakon untuk melayani umat sebisa saya. Bersyukur bisa naik ke altar dan bersama-sama romo membantu membagikan hosti.” 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Memberikan sesuatu yang saya bisa (waktu, diri pribadi) untuk orang lain khususnya dalam mengambil bagian sebagai imam, nabi dan raja.” 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Dalam khotbah-khotbahnya romo sering menyinggung mengenai semangat pelayanan prodiakon (mengakui tidak semua prodiakon siap dalam menjalankan tugasnya). Selain itu dalam khotbahnya romo senantiasa memotivasi serta menguatkan prodiakon untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Terkadang dalam menyampaikan khotbahnya romo secara positif mendorong dan kadang mencela prodiakon yang kurang professional /komitmen (hal ini kadang menjadikan prodiakon putus asa tetapi kalau orang yang positif akan menjadikan ini sebagai pemacu untuk memperbaiki diri dalam pelayanan).” 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Keluarga: pernah merintis untuk membiasakan doa bersama dalam keluarga. Mayarakat: saya menyampaikan kepada umat sebagai orang Katolik yang sudah diselamatkan Tuhan kita mesti bersyukur dengan hadir di gereja menyatakan rasa syukur dengan mengikuti Ekaristi dan mendengarkan Sabda Tuhan, mengikuti pertemuan lingkungan, dll. Tuhan sudah banyak memberi kemudahan dan fasilitas tetapi kita kurang (25)

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menyadari dan hanya mengandalkan kemampuan kita padahal apa yang kita kerjakan merupakan penyertaan dari Tuhan.” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Secara spesifik keseluruhan Ekaristi menyemangati dan mendukung saya untuk memberikan pelayanan hanya saja perlu untuk sungguh-sungguh dihayati. Motivasi saya bahwa saya telah diselamatkan Tuhan dan Ia berkorban untuk saya maka saya harus memberikan apa yang saya mampu untuk membantu Tuhan didalam karya penyelamatan-Nya.” 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Bagi saya didalam Ekaristi tidak ada yang menghambat semangat pelayanan hanya kadang yang menjadi kendala bukan dari semangat Ekaristinya tetapi dari perubahan-perubahan yang terjadi ketika pastor yang satu dengan yang lainnya berbeda pemikiran/pendapat. Hal ini kadang-kadang mengubah apa yang sudah disepakati terdahulu dan kita perlu menyesuaikan. Terkadang hal ini tidak mudah untuk diikuti temanteman prodiakon yang lain. Prinsip saya tidak masalah dan ikuti saja pastor yang ada. Karena dalam Ekaristi pastor adalah perwujudan dari Tuhan Yesus.” 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon ? “Semua prodiakon yang hadir sungguh-sungguh menghayati Ekaristi sebagai puncak dari kehidupan Gereja. Harapan saya Ekaristi bisa memberikan motivasi semangat pelayanan kepada prodiakon-prodiakon yang lain. Bagi prodiakon harapannya Ekaristi sungguh-sungguh dihayati dalam hati dan bukan hanya sekedar rutinitas. Kemudian dengan (26)

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menghayati Ekaristi prodiakon-prodiakon terdorong/termotivasi untuk lebih meningkatkan pelayanannya.” 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Ekaristi perlu lebih dihidupkan supaya bisa semarak dan benar-benar dirasakan oleh umat serta berguna dalam kehidupan sehari-hari serta umat selalu bersyukur. Harapannya umat tidak hanya sekedar mengikuti Ekaristi tetapi perlu sungguh menghayati Ekaristi dan lebih semangat lagi dalam berpartisipasi aktif menjawab jawaban umat (aklamasi), doa-doa maupun nyanyian. Harapan yang selanjutnya adalah pembawaan dan penghayatan romo dalam Ekaristi akan sungguh membantu serta menuntun umat untuk lebih menghayati Ekaristi.” (27)

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R8 8 Nama Y.M Umur 50 Pekerjaan Tani Masa jabatan 3 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Merasa gembira dan dipanggil oleh Tuhan untuk bersama-sama melayani umat. Bukan untuk dilayani melainkan melayani. Kita sebagai anak Allah perlu mendengarkan Sabda Tuhan dan bersatu dengan-Nya. Apabila tidak mengikuti Ekaristi merasa gelisah. Melalui Ekaristi kita memohon berkat untuk diri pribadi dan sesama serta memupuk iman kita akan Kristus.” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Pada saat konsekrasi ketika imam mengangkat hosti dan piala karena Tuhan sungguh hadir. Selain itu, ketika membantu membagikan komuni kepada umat saya mendalaminya sebagai pelayanan.” 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Dengan mengikuti Ekaristi membuat iman saya lebih kuat dan hidup saya dalam berkeluarga diberi kedamaian apabila bisa melaksanakan Sabda Tuhan.” 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! “Sedikit demi sedikit saya lebih mengenal Tuhan dan dekat dengan Tuhan. Dengan menjadi prodiakon kita memberi contoh bagi umat lainnya. Misalnya: lebih terketuk untuk ikut sembayang lingkungan.” (28)

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Tuhan rela mengorbankan diri di kayu salib demi menebus dosa-dosa manusia maka dalam semangat pelayanan kita perlu bersama dan melibatkan Tuhan dalam segala hal.” 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Semakin dekat dengan Tuhan, menjadi lebih banyak saudara. Bagian yang mengembangkan semangat pelayanan saya sebagai prodiakon adalah ketika membantu membagikan komuni karena bisa mewartakan kabar gembira bagi sesama. Selain itu bahasa Jawa dan gamelan yang kadang digunakan dalam Ekaristi lebih mengena dihati umat.” 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Dalam keluarga: mengamalkan semangat rajin berdoa dan mengikuti Ekaristi supaya tetap dekat dengan Tuhan. Kemudian dalam masyarakat: saling mengasihi dan membantu. Misalnya: mengikuti gotong royong (tanpa disuruh).” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Homili romo yang mengajak prodiakon tetap semangat dalam pelayanannya dan memperkaya diri.” 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? (29)

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Semangat prodiakon dalam bertugas masih kurang dan ketidakhadiran prodiakon saat bertugas masih menjadi keprihatinan.” 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon ? “Teman-teman prodiakon lebih bersemangat dalam pelayanan dan tidak merepotkan teman yang lain.” 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Umat lebih bersemangat dalam mengikuti Ekaristi dan menghayati setiap bagiannya serta belajar melihat tugas dan peranan prodiakon sehingga nantinya ada regenarasi prodiakon.” (30)

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R9 9 Nama F.X.K Umur 67 Pekerjaan Pensiunan Masa jabatan 5 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Merasa diteguhkan melalui Ekaristi karena hati dan keluarga saya menjadi tentram. Tuhan selalu melindungi apa yang kami kerjakan serta kami serahkan kepada Tuhan, Ia pasti membantu dan memberi jalan keluar.” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Terutama ketika menerima sakramen Ekaristi. Apabila mengikuti Ekaristi kita perlu siap dari sebelumnya dengan datang lebih awal.” 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Dalam sakramen Ekaristi kita menerima Tuhan maka dari itu kita perlu sungguh-sungguh mempersiapkan diri dan datang lebih awal.” 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! “Hal yang disyukuri dengan menjadi prodiakon adalah bisa mengendalikan diri (emosi) dan bisa menjadi contoh baik bagi umat Katolik maupun masyarakat pada umumnya.” 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! (31)

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Didorong oleh Roh Kudus maka ketika masih sehat kita bekerja sekuat tenaga untuk melayani umat. Tidak hanya tampil didepan umum tapi yang perlu dihayati sungguh adalah pelayanannya.” 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Jadwal Ekaristi yang sudah ada. Perlu mengikuti Ekaristi dengan niat yang sungguh.” 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Dalam keluarga: tetap bersyukur dalam segala hal. Bersyukur menjadi orang Katolik, bisa membangun keluarga, menyekolahkan anak. Di masyarakat: hidup jujur, bisa dipercaya dan mau bekerja tanpa pamrih misalnya gotong royong, dll.” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Prodiakon berusaha belajar menyesuaikan dengan kehendak romo-romo yang saat ini bertugas di paroki. Selain itu, faktor yang mendukung adalah bagaimana kita mendalami dan mengikuti Ekaristi secara sungguh. Intinya adalah bagaimana kita bisa mempersiapkan diri.” 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Masih ada umat yang datang terlambat. Kemudian dari diri pribadi: terkadang kondisi badan yang tidak sehat juga menjadi faktor penghambat.” (32)

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Adanya regenerasi prodiakon yang lebih muda karena sebenarnya banyak yang bisa menjadi prodiakon hanya saja tidak mau. Kemudian harapannya prodiakon semakin mau melayani dengan berbuat amal kebaikan.” 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Menjalankan sungguh-sungguh sesuai dengan TPE.” (33)

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R10 10 Nama R.S Umur 72 Pekerjaan Pensiunan Masa jabatan 1 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Sebagai orang Kristiani saya merasa gembira karena menurut Kitab Suci Tuhan selalu mendampingi dan carilah dahulu Kerajaan Allah maka yang lain akan ditambahkan. Selain itu, Ekaristi merupakan dasar dan puncak kehidupan Gereja.” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Hal yang sungguh saya perhatikan terlebih dahulu adalah khotbah romo diambil dari Kitab Suci yang mana. Selain itu yang penting adalah konsekrasi karena menyatukan diri kepada Tuhan.” 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Semakin rajin berdoa semakin banyak godaan/cobaan yang saya alami.” 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! “Saya sangat bersyukur karena dengan menjadi prodiakon yang saya rasakan secara nyata adalah sembuh dari sakit. Saya merasa Tuhan benarbenar menolong.” 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! (34)

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Sebenarnya melayani umat sama saja dengan melayani dirinya sendiri. Jadi, jika kami melayani umat dengan sungguh-sungguh berarti diri kami akan dilayani oleh Tuhan.” 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Perayaan Ekaristi serta jadwal yang ada saat ini di paroki Nanggulan saya rasa sudah bagus.” 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Keluarga: selalu memberikan arahan kepada anak cucu untuk datang ke gereja. Kemudian dalam masyarakat yang majemuk, kadang saya merasa terhimpit sebagai orang Katolik tetapi yang saya hidupi adalah tetap teguh dalam iman akan Yesus Kristus.” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Dasarnya adalah semangat dari dalam diri saya untuk merayakan Ekaristi dan percaya kepada ajaran Katolik.” 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Keprihatinan yang masih ditemukan adalah saat perayaan Ekaristi dimulai masih saja ada yang datang terlambat. Menurut saya umat belum sungguh menghayati imannya dalam Ekaristi. Selain itu Ekaristi dipandang sebagai kewajiban.” 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon ? (35)

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Prodiakon sungguh menyadari tugas dan tanggungjawabnya dalam melayani.” 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Umat tidak terlambat datang lagi ketika akan mengikuti perayaan Ekaristi serta sungguh-sungguh mampu menghayati imannya dalam Ekaristi.” (36)

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R11 11 Nama L.M Umur 62 Pekerjaan Pensiunan Masa jabatan 4 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Senang sekali karena sejak SMP setiap pagi ikut misa pagi. Melalui Ekaristi saya merasa terpanggil dan saya menggapi panggilan itu. Ekaristi menjadi sumsum bagi kehidupan keluarga kami. Didalam Ekaristi saya termasuk pegang peranan menyiapkan lagu, membantu tugas prodiakon apabila kurang, dll.” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Saya merasa paling tersentuh pada bagian konsekrasi dan bagian ini sungguh saya hayati. Saya berusaha untuk fokus walaupun sebelum Ekaristi kegiatan saya banyak bahkan doa persiapan pun kadang tidak bisa karena harus mencari misdinar, membantu menyiapkan piala, menata pakaian romo, dll.” 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Saya merasa Tuhan Yesus ada didalam hati. Saya merasa diri saya sebagai tabernakel Sakramen Maha Suci sehingga saya berusaha untuk mengendalikan emosi.” 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! (37)

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Saya merasa lebih dekat dengan Tuhan walaupun banyak tantangantantangan yang saya hadapi. Saya percaya Tuhan tidak akan mencobai diri saya melampaui kemampuan saya. Dengan menjadi prodiakon saya juga menjadi punya banyak teman dan pengalaman serta sering menjadi pendamping bagi anak-anak.” 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Siap untuk melayani siapa saja yang membutuhkan pelayanan seperti Tuhan Yesus melayani kita semua. Prinsip saya sepanjang sisa hidup saya akan saya curahkan untuk pelayanan bagi mereka yang membutuhkan baik Gereja, masyarakat maupun keluarga.” 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Umat yang mendukung dalam Ekaristi. Misalnya: ketenangan, keikutsertaan secara aktif baik dalam liturgi Sabda maupun Ekaristi.” 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Dalam keluarga: tidak mudah marah dan bisa mengendalikan emosi. Saya mempunyai keyakinan bahwa kalau saya banyak melayani banyak orang yang mendoakan saya supaya sehat jasmani dan rohani sehingga bisa menolong mereka. Begitu pula dalam masyarakat saya cukup berperan menjadi pengurus dan tentunya harus bisa mengendalikan emosi.” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Dalam Ekaristi saya merasa terdukung apabila teman-teman petugas liturgi sudah siap (prodiakon, misdinar, dll).” (38)

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Petugas liturgi yang datangnya mepet. Selain itu didalam melaksanakan tugas prodiakon jarang memberi tahu apabila berhalangan hadir padahal sudah dijadwalkan, kadang juga cuek, lupa membawa alat, dll.” 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Prodiakon lebih taat dan setia sebagai pelayan serta lebih menghayati Ekaristi sehingga lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.” 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Umat lebih tekun dalam beribadah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya pulang gereja selesai tidak ada apaapa. Harapan kita pulang membawa berkat untuk semua dan berbagi kepada sesama.” (39)

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R12 12 Nama S Umur 65 Pekerjaan Pensiunan Masa jabatan 6 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Merasa gembira karena keyakinan iman yang sudah diterima sejak dulu dan saya berusaha melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari menurut kemampuan saya. Tuhan tetap mendampingi diri saya dalam keadaan apapun karena tanpa Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa.” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Ekaristi merupakan puncak perayaan kita karena Sabda Tuhan melalui bacaan Kitab Suci menyelamatkan kita semua umat manusia. Kalau tidak mengikuti Ekaristi saya merasa hambar. 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Apa yang pernah saya ikuti dalam Ekaristi semuanya menuntun pada kebaikan. Pernah punya pengalaman mengikuti ibadat di gereja Kristen banyak doa dan pujian. Pada prinsipnya Ekaristi menguatkan iman kita.” 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! “Bisa belajar sabar dan mengendalikan diri pribadi (emosi) dalam pelayanan baik di keluarga, lingkungan maupun masyarakat. Selain itu, dengan menjadi prodiakon iman saya semakin dikuatkan melalui Ekaristi, pertemuan masa advent, prapaskah dan mendengarkan bacaan-bacaan (40)

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kitab Suci dan syukur dapat melaksanakannya menurut kemampuan saya pribadi.” 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Tugas dan kewajiban yang diberikan pada masing-masing prodiakon oleh Tuhan sendiri, apa yang sudah kami terima kami jalankan dengan sukarela, sadar dan senang hati. Karena bersifat pelayanan maka kita harus melayani baik bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan atau pedukuhan, paroki dan ditujukan kepada siapa saja menurut situasi yang ada.” 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Dari awal sudah ada petugas yang menyambut umat yang hadir dan mencarikan tempat duduk serta petugas dekorasi sudah dijadwalkan. Selain itu, perayaan yangg menggunakan gamelan memberikan semangat tersendiri.” 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Perilaku yang saya lakukan berusaha sesuai dengan Sabda Tuhan. Perilaku atau tindakan konkrit ini diwujudkan dalam keluarga, pedukuhan, lingkungan. Dalam keluarga mengupayakan yang terbaik agar bisa dicontoh oleh anak. Sedangkan di masyarakat mengikuti kegiatan yang ada seperti terlibat dalam gotong royong, kerja bakti, dll.” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Sejak awal sampai akhir memperkembangkan semangat pelayanan sebagai prodiakon. Pada prinsipnya saat konsekrasi Tuhan mau hadir pada kita secara keseluruhan melalui tubuh dan darah-Nya.” (41)

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Terkadang masih ada pelayanan/petugas liturgi yang masih kurang menghayati peranannya bahkan tidak hadir. Kita perlu belajar dan melatih diri sendiri untuk dapat sungguh-sungguh melayani (tidak hanya teori saja tetapi perlu tindakan konkrit).” 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon ? “Karena prodiakon menjadi contoh bagi umat lainnya maka perlu berusaha untuk sebaik-baiknya melakukan pembenahan diri/perubahan sikap dalam tugas pelayanannya agar menghindari pandangan negatif dari yang lain dan tentu perlu memiliki niat/tekad yang kuat.” 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Mudah-mudahan umat ada perubahan artinya perubahan hidup yang dibangun dalam keluarga oleh orang tua (sehingga ciri-ciri orang Katolik sungguh tampak). (42)

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Identitas Kode: R13 13 Nama L.A.W Umur 47 Pekerjaan Petani Masa jabatan 2 periode 1. Apakah Anda merasa gembira dan diteguhkan melalui Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Merasa senang karena Tuhan sudah berkorban untuk saya jauh melebihi orang tua. Saya berusaha untuk membalas cinta Tuhan dengan menjadi prodiakon (meskipun sedikit saya sudah berperan serta).” 2. Hal apa saja yang Anda dalami dan resapi saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Pada saat konsekrasi ketika imam mengatakan tubuh dan darah Kristus berarti saya akan menyambut Kristus dalam hati saya. Maka saya berusaha untuk menjadi orang yang pantas walaupun saya belum pantas tetapi tetap berusaha.” 3. Pengalaman iman macam apa yang Anda dapatkan saat mengikuti perayaan Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Saya berusaha menaggapi cinta Tuhan karena Dia menebus dosa saya. Saya merasa senang ketika menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk hadir dan mengirim komuni bagi orang yang sakit, sudah tua, tidak punya keluarga dan hidup sendirian.” 4. Apa yang Anda syukuri sebagai seorang prodiakon? Ceritakan menurut pengalaman Anda! “Saya bersyukur walaupun bukan orang yang pantas tapi berusaha untuk terlibat di gereja meski peran saya kecil.” (43)

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Apa makna spiritualitas pelayanan bagi Anda sebagai prodiakon? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Kalau saya membantu orang maka saya juga akan dibantu oleh orang lain meskipun bukan melalui orang yang saya bantu. Saya berusaha menabur dan nanti akan dituai.” 6. Sebutkan segi-segi positif perayaan Ekaristi di Nanggulan yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon! Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Adanya inkulturasi yang menggembangkan budaya setempat.” 7. Melalui Ekaristi, kesaksian apa saja yang ada wujudkan dalam keluarga dan masyarakat? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Walaupun kecil saya berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang dengan membantu mereka. Contoh konkrit: pernah mempunyai pengalaman yang mengesan ketika ada orang meninggal dan hanya dia satu-satunya yang Katolik di lingkungannya serta harus dimakamkan hari itu. Meskipun hari itu saya capek sekali tetapi tetap berangkat. Saya merasa bahwa saya telah memanusiakan manusia. Sehingga sampai akhir di liang kubur orang itu tetap Katolik dan dimakamkan dengan tata cara Katolik walapun bukan lingkungan Katolik.” 8. Menurut Anda, apa sajakah faktor pendukung dalam Ekaristi yang memperkembangkan spiritualitas pelayanan Anda sebagai prodiakon? “Ekaristi sebagai satu kesatuan yang utuh dari awal sampai akhir positif dan mendukung.” 9. Menurut Anda, apa yang masih menjadi keprihatinan atau faktor penghambat dalam Ekaristi bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? (44)

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “Ketika misa lingkungan di luar kecuali rumah saya merasa tidak nyaman. Misalnya saja di makam. Harus menyiapkan tempat, belum lagi kalau hari akan hujan sehingga tidak fokus atau konsen di Ekaristinya.” 10. Melalui Ekaristi, apa harapan Anda bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon? “Dengan sering mengikuti Ekaristi kita semakin berkembang dan menggapi cinta Tuhan dengan sepenuh hati.” 11. Apa harapan Anda untuk Ekaristi? Jelaskan menurut pengalaman Anda! “Sebisa mungkin mengupayakan untuk hikmat sehingga kita merasakan kehadiran Tuhan dan kita berterimakasih serta mengembangkannya di masyarakat walaupun sekecil apapun kita berguna bagi orang lain.” (45)

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5: Daftar Nama Prodiakon DAFTAR PRODIAKON MASA PELAYANAN 2016-2018 No Nama Asal Lingkungan 1. Paulus Marjana St. Petrus Niten 2. Pontianus Slamet Sugeng St. Petrus Niten 3. Yohanes Madi St. Petrus Niten 4. Albertus Subiyanto St. Petrus Niten 5. Benedictus Suyitno St. Benedictus Kamal 6. Fransiskus Xaverius Kuwatno St. Benedictus Kamal 7. Stefanus Wawan Laksana St. Benedictus Kamal 8. Martha Sri Hartiningsih St. Benedictus Kamal 9. Restituta Sumiratmi St. Thomas Watumurah 10. Remigius Suparjana St. Thomas Watumurah 11. Antonius Suratman St. Fransiskus de Sales Plugon 12. Yohanes Kuswanhadi St. Cosmas Nanggulan 1 13. Fransiskus Xaverius Djemidi St. Cosmas Nanggulan 1 14. Alloysius Widodo St. Robertus Nanggulan 2 15. Benedictus Dwi Nugroho Santosa St. Robertus Nanggulan 2 16. Agustinus Jais Sunaryo St. Robertus Nanggulan 2 17. Luciannus Sukidjo St. Andreas Krinjing 18. Tarsisius Tugiyo St. Andreas Krinjing (46) Keterangan

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. Dhorotea Sugihartini St. Andreas Krinjing 20. Ignatius Darto St. Antonius Grubug 21. Lucia Murwanti St. Antonius Grubug 22. Lourentius Agus Wasito St. Albertus Janti 23. Yakobus Sudiyono St. Albertus Janti 24. Yustinus Sulistyo St. Albertus Janti 25. Agustinus Budi Wuryanto St. Damianus Demen 26. Albertus Trimulyo St. Damianus Demen 27. Antonius Suwardi St. Damianus Demen 28. Yohanes Marjono St. Damianus Demen 29. Tadeus Boirin Adisasmito St. Yusuf Setan 30. Yohanes Suhartono St. Yusuf Setan 31. Veronica Endang Ulupi St. Yusuf Setan 32. Ambrosius Suparno St. Gregorius Rejoso 33. Andreas Amat Gentar St. Gregorius Rejoso 34. Fransiskus Xaverius Supriyanto St. Stefanus Wijilan 35. Paulus Jumono Budi Utomo St. Blasius Dukuh 36. Andreas Mujiyo St. Paulus Pronosutan 37. Hilarius Soma Legimin St. Paulus Pronosutan 38. Yustinus Supadi St. Paulus Pronosutan 39. Thomas Suharyanto St. Paulus Pronosutan 40. Yutinus Agus Suwaryo St. Ambrosius Ngemplak 41. Yohanes Budi Hartono St. Ambrosius Ngemplak 42. Maria Magdalena Subiyati St. Hironimus Ngrojo 43. Yusuf Tukidjo St. Hironimus Ngrojo (47)

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44. Theodorus Tjatur Nugroho St. Hironimus Ngrojo 45. Markus Slamet Nugroho St. Fransiskus Xaverius Boto/ Wiyu 46. Robertus Sukarjo St. Fransiskus Xaverius Boto/ Wiyu 47. Yohanes Tugiyanto St. Fransiskus Xaverius Boto/ Wiyu 48. Yohanes Tugiyo St. Fransiskus Xaverius Boto/ Wiyu 49. Yohanes de Britto Sugiman St. Ignatius Loyola Kenteng 1 50. Agustina Sri Sudarmi St. Ignatius Loyola Kenteng 1 51. Yulianus Sumaryanto St. Ignatius Kenteng 2 52. Mateus Kusrianto St. Ignatius Kenteng 2 53. Markus Ngatijo St. Andreas Krinjing (48) Meninggal dunia

(170)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Aplikasi Pengolahan Arsip pada Gereja Katolik Santa Perawan Maria yang terkandung Tak Bernoda Garut
0
17
199
Aplikasi Pengolahan Arsip pada Gereja Katolik Santa Perawan Maria yang terkandung Tak Bernoda Garut
0
13
199
KEPUASAN UMAT PAROKI GEREJA KUMETIRAN KEPUASAN UMAT PAROKI GEREJA KUMETIRAN TERHADAP BULETIN KOMPAK (Studi Deskriptif Kuantitatif tentang Kepuasan Umat Paroki Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran Yogyakarta terhadap Buletin KOMPAK).
0
2
21
PENDAHULUAN KEPUASAN UMAT PAROKI GEREJA KUMETIRAN TERHADAP BULETIN KOMPAK (Studi Deskriptif Kuantitatif tentang Kepuasan Umat Paroki Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran Yogyakarta terhadap Buletin KOMPAK).
0
4
34
KESIMPULAN DAN SARAN KEPUASAN UMAT PAROKI GEREJA KUMETIRAN TERHADAP BULETIN KOMPAK (Studi Deskriptif Kuantitatif tentang Kepuasan Umat Paroki Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran Yogyakarta terhadap Buletin KOMPAK).
0
3
32
Happiness pada Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Perawan Maria Bunda Tujuh Kedukaan, Pandu, Bandung.
2
15
34
Makna spiritualitas Santo Tarsisius dalam tugas pelayanan misdinar di Paroki Santo Mikael Pangkalan Yogyakarta.
10
103
214
Kreativitas pendamping dalam pendampingan iman anak di paroki St. Maria Tak Bercela Nanggulan Yogyakarta.
0
2
139
Penghayatan spiritualitas keterlibatan umat berinspirasi pada Santa Maria dalam hidup menggereja di Paroki Santa Maria Kota Bukit Indah Purwakarta.
0
0
189
Peranan pelajaran komuni pertama bagi peserta terhadap penghayatan ekaristi di lingkungan Santo Fransiscus Xaverius Paroki Administratif Santa Maria Ratu Bayat, Klaten.
1
51
137
Penghayatan Devosi Jalan Salib sebagai sarana untuk memperkuat iman umat di Wilayah Maria Cordis Rogobelah, Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali, Jawa Tengah.
4
38
164
Makna kesamaan martabat manusia sebagai citra Allah bagi hidup berkomunitas pada Suster Santa Perawan Maria dari Amersfoort - USD Repository
0
0
169
Evaluasi prosedur pengelolaan kas berdasarkan petunjuk teknis keuangan dan akuntansi paroki : studi kasus pada Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran tahun 2009 dan 2010 - USD Repository
0
0
133
Makna spiritualitas cinta kasih bagi para suster yunior Kongregasi Suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yosef Provinsi Indonesia tahun 2011 - USD Repository
0
0
179
Pengaruh perayaan ekaristi bagi keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di wilayah Brayat Minulya, Balecatur, Paroki Santa Maria Assumta, Gamping, Yogyakarta - USD Repository
0
1
135
Show more