JURNAL PSIKOLINGUISTIK LINDA

RP. 50,000

0
12
16
1 month ago
Preview
Full text

  
PERKEMBANGAN BELAJAR BAHASA PADA ANAK TUNARUNGU SMA-LB
PERTIWI DI MOJOKERTO DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBELAJARAN
  1 BAHASA INDONESIA DI SMA-LB
  2 Linda Eka Pradita
Program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
  
Universitas Sebelas Maret
ABSTRAK
  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan belajar bahasa anak tunarungu dari struktur fonologi, morfologi dan sintaksis, serta relevansinya dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA-LB. Objek yang diteliti yaitu anak tunarungu di SMA-LB PERTIWI kota Mojokerto. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dengan menggunakan pendekatan psikolinguistik. Bentuk penelitiannya berupa deskriptif kualitatif, yaitu data yang dikumpulkan berupa kata-kata atau kalimat untuk menggambarkan fokus penelitian atau masalah, menganalisisnya pada data yang ada. Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan observasi, wawancara, rekam dan catat. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi teori, triangulasi sumber, dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) perkembangan belajar bahasa anak tunarungu dari aspek fonologi, artikulasinya terlihat cukup jelas meskipun sering muncul beragam kesalahan dalam penyebutan kalimat atau kata; (2) perkembangan belajar bahasa anak tunarungu secara morfologi, anak tunarungu lebih mudah memunculkan morfem bebas daripada morfem terikat, pada morfem terikat anak tunarungu hanya mampu memunculkan prefiks, konfiks dan sufiks, morfem terikat muncul secara optimal apabila anak tunarungu membuat kalimat secara berulang-ulang; (3) perkembangan belajar bahasa anak tunarungu secara sintaksis sudah mampu membuat satu kalimat atau lebih, namun anak tunarungu ketika membuat kalimat tidak sesuai pola yang urut dari kalimat itu sendiri (S-P-O-K), sehingga terkesan tidak terstruktur pada susunan kalimatnya; (4) relevansi perkembangan belajar bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMA-LB agar siswa lebih mampu mengembangkan keterampilan bahasa. Kata Kunci : perkembangan bahasa, fonologi, morfologi, sintaksis, psikolinguistik
  
PENDAHULUAN sebagai kata. Ujaran satu kata ini tumbuh
  Pada umumnya, orang tidak merasakan menjadi ujaran dua kata dan akhirnya menjadi bahwa menggunakan bahasa merupakan suatu kalimat yang kompleks menjelang umur empat keterampilan yang luar biasa rumitnya. tahun atau lima tahun (Dardjowidjojo, 2003: Seorang bayi akan tumbuh bersamaan dengan 1). Saat seseorang mengungkapkan sesuatu, pertumbuhan bahasanya. Dari umur satu pada saat itu juga seseorang mengeluarkan sampai dengan satu setengah tahun seorang bunyi-bunyi yang disebut bahasa. Pemakaian bayi mulai mengeluarkan bentuk-bentuk bahasa merupakan cerminan dari kemampuan bahasa yang telah dapat diidentifikasikan yang hanya dapat dilakukan oleh manusia. Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya (Chaer, 2009: 167).
  Seseorang dapat berbahasa harus ditunjang oleh fungsi pendengaran yang baik, sebab pemerolehan bahasa dan perkembangan bahasa terbentuk melalui proses meniru dan mendengar. Bila fungsi pendengaran mengalami hambatan seperti pada anak tunarungu, maka proses perkembangan bahasa akan terganggu. Anak tunarungu dalam perkembangannya mendapatkan hambatan- hambatan yang mempengaruhi pribadi dan penyesuaian diri terutama efek dari keadaan kurang mendengar. Kurangnya pendengaran mempengaruhi juga proses komunikasi, pengertian, pembicaraan, membaca, dan bahasa. Seorang anak dengan intelegensi dan alat bicara normal, walaupun terhambat pendengarannya, mereka bisa berbahasa. Pada pemerolehan bahasa baik dari segi kosakata, struktur morfologis, maupun struktur sintaksis, mereka mempunyai karakteristik tersendiri dibandingkan dengan anak yang mempunyai pendengaran normal.
  Ada beberapa dasar analisis cabang- cabang linguistik yang terdiri dari: (1) fonologi merupakan cabang linguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai bunyi (Verhaar, 2001: 97). Fonologi yang memandang bunyi-bunyi ujar lazim disebut fonetik. Kedua, bunyi-bunyi ujar dipandang sebagai bagian dari suatu sistem bahasa. Bunyi-bunyi ujar merupakan unsur- unsur bahasa terkecil yang merupakan bagian dari struktur kata dan sekaligus berfungsi untuk membedakan makna. Fonologi yang memandang bunyi ujar sebagai bagian dari sistem bahasa lazim adalah fonemik; (2) morfologi merupakan cabang linguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfem ada dua, yaitu morfem bebas dan morfem terikat; (3) Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk frase, klausa, dan kalimat dengan satuan terkecilnya berupa bentuk bebas yaitu kata (Sukini, 2010: 2-3).
  Menurut Harley (dalam Dardjowidjojo, 2003: 7) berpendapat bahwa psikolinguistik adalah studi tentang proses mental-mental dalam pemakaian bahasa. Maka secara teoretis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya. Dengan kata lain, psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa dan bagaimana struktur ini diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan.
  Dalam penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Pujaningsih (Vol. 6, No.1) yang berjudul “Perkembangan Bahasa dan Gangguan Bahasa Pada Anak Berkebutuhan Khusus”, menyatakan bahwa gangguan bahasa pada anak berkebutuhan khusus tidak dapat lepas dari dampak keterbatasan yang ada pada mereka. Ditinjau dari perkembangan bahasa seorang anak justru lebih mudah memahami hambatan maupun gangguan bahasa pada seorang anak. Perkembangan bahasa juga dapat dipengaruhi oleh faktor dorongan atau motivasi dari lingkungannya.
  Penelitian yang dilakukan oleh Tati Hernawati (Vol. 7, No.1) yang berjudul “Pengembangan Kemampuan Berbahasa dan Berbicara Anak Tunarungu”. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian relevan yaitu terletak pada rumusan masalahnya, dalam penelitian relevan melmbahas tentang cara mengembangkan kemampuan berbahasa dan berbicara anak tunarungu, sedangkan penelitian ini membahas tentang perkembangan belajar bahasa dari aspek struktur fonologi, struktur morfologi, dan struktur sintaksis. Persamaannya terletak pada kajian yang digunakan yaitu psikolinguistik.
  Penelitian yang dilakukan oleh Yishan Gao, Yishan dan Zhang, Yi (Vol. 5, No. 6) yang berjudul “A Study of Psycholinguistic Empirical Studies in Second Language Acquisition: Research Methods and Methods of Data Collection”. Sebuah Studi Psikolinguistik Studi Empiris Pemerolehan Bahasa Kedua: Metode Penelitian dan Metode Pengumpulan Data. artikel ini berfokus pada analisis tren pengembangan, metode penelitian dan metode dari pengumpulan koleksi data dalam pemerolehan bahasa kedua. Pada pemerolehan bahasa kedua dapat menggunakan metode penelitian studi empiris yaitu observasi alam dan metode eksperimental.
  Penelitian yang dilakukan oleh Maftoon, Parviz dan Shakouri, Nima (Vol.1, No. 1) yang berjudul “Psycholinguistic Approach to Second Language Acquisition”.
  Artikel jurnal ini berkaitan dengan pendekatan psikolinguistik untuk pemerolehan bahasa kedua. Psikolinguistik hanya didefinisikan sebagai studi tentang hubungan antara bahasa manusia dan pikiran manusia. Psikolinguistik adalah cabang dari ilmu kognitif yang meneliti bagaimana sebuah penggunaan individu (memproduksi dan memahami serta memperoleh bahasa).
  Penelitian yang dilakukan oleh Hanifehzadeh, Sepeedeh (Vol. 1, No. 1) yang berjudul “The Comparative Effect of Different Task Processing Conditions and L2 Decision 107 Making Oral Production”. Artikel jurnal ini berkaitan dengan pengaruh berbagai kondisi sosial yang bisa mempengaruhi produksi ujaran bahasa kedua yang berlangsung melalui proses dan didukung oleh berbagai faktor baik dari dalam maupun dari luar karena seorang pembelajar bahasa kedua memerlukan dorongan dari dalam dan luar.
  Penelitian yang dilakukan oleh Marzban, Amir (Vol. 1, No. 1) yang berjudul “On the Role of Vocabulary Instruction in Communicative Performance of Iranian EFL Learners: Tasks Revisited”. Artikel jurnal ini berkaitan dengan penelitian ini dilihat dari tujuannya yaitu untuk menguji pengaruh instruksi kosakata tugas berdasarkan kemampuan komunikatif peserta didik EFL Iran. Pengaruh kosa kata berkaitan dengan pemerolehan bahasa khususnya pada tatanan kebahasaan karena terkait dengan aspek struktur fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik.
  Penelitian yang dilakukan oleh Okeke, Umera (Vol.1, No.1) yang berjudul “ The Psycholinguistics Of Early Childhood Language Aquisition” yang membahas sebuah kajian psikolinguistik tentang pemerolehan bahasa pertama. Studi ini melihat ke dalam hubungan antara psikologi dan linguistik (psikolinguistik) dan proses mental dalam pemerolehan bahasa anak sampai menguasai dasar struktur linguistik bahasa sekitar 3 tahun.
  METODE
  Penelitian ini bertempat di SMA-LB PERTIWI kota Mojokerto. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan pendekatan psikolinguistik. Peneliti menetapkan objek untuk diteliti yaitu anak tunarungu di SMA-LB PERTIWI kota Mojokerto. Dari beberapa anak tunarungu, peneliti memilih 6 anak tunarungu sebagai subjek penelitian dengan berbeda usia, dimulai dari usia 16 tahun sampai 21 tahun. Instrumen penelitian dalam penelitian ini yaitu peneliti, kartu data, dan catatan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif ini menggunakan teknik interaktif yang mencakup observasi dan wawancara, serta menggunakan teknik noninteraktif yang mencakup perekaman dan pencatatan. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis interaktif yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (Huberman, 1992: 16-21). Keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan triangulasi teori, triangulasi sumber, dan triangulasi metode. Kegiatan penelitian ini meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian pelaporan hasil penelitian dalam bentuk jurnal
  Hasil perkembangan bahasa anak tunarungu di SMA-LB PERTIWI dianalisis untuk mendeskripsikan perkembangan bahasa dari aspek struktur fonologi, struktur morfologi, dan struktur sintaksis. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan sebagai berikut:
  Perkembangan Bahasa dari Aspek Struktur Fonologi
  Fonologi merupakan kajian mendalam yang menyelidiki tentang persoalan bunyi. Persoalan bunyi-bunyi ujar ini dapat dipelajari dengan dua sudut pandang. Pertama, dari sudut pandang fonetik yaitu ilmu yang meneliti bunyi-bunyi ujar yang dihasilkan oleh alat ucap manusia tanpa memperhatikan makna. Kedua, dari sudut pandang fonemik yaitu bunyi bahasa yang membedakan makna kata. Sesuai dengan ujaran tersebut, maka penelitian dari struktur fonologi dibagi menjadi struktur fonetik dan struktur fonemik.
  Struktur Fonetik
  [Bajak] [pinandagh] [cacat] [tidak] [tiltapung] [dikolah] [lual] [biaca]. [Taat] [ni] [ada] [latusan] [pinandagh] [cacat] [yang] [tidak] [bica] [tiltapung] [di] SLB (mengucapkan SLB
  menggunakan bahasa isyarat). [Hal] [ni]
  [akat] [maih] [tilbatatnya] [kapacitat] [luang] [kolah] [dan] [jalak] [tapat] [tindal] [anak] [dinan] [kolah] [ngat] [jauh]. (SF/ATR1/FTK)
  Dari kalimat diatas terdapat perubahan bunyi bahasa, perubahan bunyi /e/ menjadi /i/, bunyi /r/ menjadi /l/, bunyi /m/ yang tidak muncul pada kata [tertampung] yang berubah menjadi [tiltapung]. Perubahan bunyi /ny/ yang berubah menjadi /j/ pada kata [banyak] yang berubah menjadi [bajak]. Selain itu, terdapat juga bunyi /i/ yang tidak muncul pada kata [ini] dan [ingat] yang berubah menjadi [ni] dan [ngat]. Perubahan bunyi /s/ menjadi / c/ pada kata [biasa] dan [kapasitas] yang berubah bunyi menjadi [biaca] dan [kapacitat], tetapi pada kalimat tersebut juga terjadi perubahan bunyi /s/ menjadi /t/, perubahan tersebut terjadi hanya di akhiran suku kata, seperti kata [terbatas] yang berubah menjadi [tilbatat], kata [kapasitas] berubah menjadi [kapacitat]. Bunyi /i/ yang awalnya tidak muncul pada kata [ni] dan [ngat], selang beberapa waktu ketika ATR 1 mengulangi mengucapkan kalimat tersebut, ternyata bunyi /i/ sudah bisa muncul dengan lancar sehingga menjadi kata [ini] dan [ingat]. Perubahan bunyi /s/ yang berubah menjadi bunyi /c/ pada kata [biasa] menjadi [biaca], selang beberapa waktu mengalami perubahan bunyi /s/ ke /c/ sudah berkembang menjadi bunyi /ts/, sehingga menjadi kata [biatsa]. [Dulutu] [telakyang] [dulutu] [teltinta]. [Tanpamu] [pa] [jadina] [atu]. [Tak] [bisa] [bata] [ulis] [ngelti] [banak] [hal]. [Dulutu] [telima] [tasihtu]. [sampai] [tapanpun] [dilimu] [tan] [selalu] [tu] [ingat]. [Takan] [pelna] [tulupatan]. (SF/ATR2/FTK)
  Dari kalimat tersebut terdapat perubahan bunyi /g/ menjadi /d/, bunyi /k/ menjadi /t/ pada kata [guruku] yang berubah bunyi menjadi [dulutu], namun bunyi /k/ yang terdapat di suku kata akhir tidak berubah menjadi bunyi /t/. Terdapat juga perubahan bunyi /c/ menjadi /t/ pada kata [tercinta] yang berubah menjadi [teltinta]. Terdapat juga perubahan bunyi yang hilang seperti huruf /a/ pada kata [apa] yang berubah menjadi [pa], kata [akan] berubah menjadi [kan], bunyi /t/ pada kata [tulis] yang berubah menjadi [ulis], bunyi /y/ pada kata [banyak] yang berubah menjadi [banak]. Kalimat tersebut ketika diucapkan berulang-ulang terdapat perkembangan pada kata [pelna], yang awalnya bunyi /h/ tidak muncul, akhirnya bisa muncul dengan perkembangan menjadi kata [pelnagh] dengan penambahan bunyi /gh/ diakhir suku kata.
  [Walopu] [aku] [tudah] [tak] [ngat] [tapa] [mu], [bahaimana] [bentuk] [wadahmu], [dina] [ko] [tindal], [huru] [bidan] [apa] [ko] [dan] [apatah] [ko] [matih] [idup] [tampai] [karang].
  [Tapi] [aku] [matih] [ngat] [elan-pelanmu] [dan] [adaranmu]. [Terima] [tatih] [banak] [huru]. (SF/ATR3/FTK).
  Kalimat tersebut terdapat perubahan bunyi /g/ berubah menjadi /h/ pada kata [bagaimana] yang berubah menjadi [bahaimana], kata [guru] berubah menjadi [huru]. Berubahnya bunyi /au/ menjadi /o/ juga terdapat dalam kalimat tersebut, seperti pada kata [walaupun] yang berubah menjadi [walopu], kata [kau] berubah menjadi [ko]. Tidak munculnya bunyi /h/ juga terdapat pada kata [hidup] yang berubah menjadi [idup]. Pada kalimat tersebut juga terdapat perkembangan bahasa pada bunyi /j/, yang awalnya berubah menjadi bunyi /d/ pada kata [ajaranmu] yang berubah menjadi [adaranmu]. Tetapi ketika diucapkan lagi kalimatnya oleh ATR 3 mengalami perkembangan sehingga menjadi [ajaranmu]. Perkembangan bunyi /j/ berubah menjadi /d/ dan sekarang kembali lagi pada bunyi yang asli yaitu bunyi /j/. perkembangan bunyi /k/ juga terjadi pada kata [kasih] yang berubah menjadi [tatih]. Awalnya bunyi /k/ berubah menjadi bunyi /t/, tetapi ketika diucapkan lagi oleh ATR 3 bunyi /k/ akhirnya muncul dengan sempurna sehingga menjadi [katih]. [Waopun] [aku] [tudah] [tak] [ngat] [tapa] [namamu], [badamana] [bentuk] [wajahmu],
  [dimana] [kau] [tidal], [dulu] [bidagh] [pa] [kau] [dan] [apakah] [kau] [matih] [hidup] [tampai] [kalagh]. [Tapi] [aku] [matih] [ngat] [petan-etanmu] [dan] [ajalan-jalanmu].
  [Telimakatih] [banyak] [dulu]. (SF/ATR4/ FTK)
  Perubahan bunyi /g/ pada suku kata pertama yang berubah menjadi /d/ terjadi pada kata [guru] yang berubah menjadi [dulu], dari kata tersebut juga terlihat perubahan bunyi /r/ menjadi /l/. Berubahnya bunyi /ng/ yang berubah menjadi bunyi /gh/ juga terdapat pada kata [bidang] dan kata [sekarang] yang berubah menjadi [bidagh] dan [kalagh]. Terdapat juga huruf yang tidak muncul atau lesap seperti /a/ pada kata [apa] yang berubah menjadi [pa]. /i/ yang lesap pada kata [ingat] sehingga menjadi [ngat]. Kata [tinggal] berubah menjadi [tidal], terdapat perubahan bunyi /ng/ menjadi /d/. ketika ATR mencoba mengulangi kalimat tersebut akhirnya bunyi / d/ mengalami perkembangan menjadi bunyi / ng/, bunyi yang benar sehingga menjadi kata [tingal], meskipun ketika mengucapkannya sedikit sengau. [Buna] [alna] [melah], [buna] [maal] [angi]. [Palfum] [ani]. [Palfum] [ani] [pelti] [itu] [buna] [maal]. [Jual] [beli] [palfum] [ani] [dan] [buna] [maal].[telama] [pai]. [Nama] [taya] [sandi].(SF/ATR5/FTK)
  Dari kalimat tersebut terdapat bunyi / g/, /w/ yang lesap, seperti pada kalimat [bunga] [warna] [merah] [bunga] [mawar] [wangi] [parfum wangi] yang berubah bunyi menjadi [Buna] [alna] [melah], [buna] [maal] [angi]. [Palfum] [ani]. Terdapat juga perubahan bunyi /r/ menjadi /l/, bunyi /s/ menjadi /t/ pada kata [merah] berubah menjadi [melah]. Kata [parfum] berubah menjadi [pal

Dokumen baru